BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kaum Muslimin memposisikan sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu

sumber ajaran Islam kedua setelah al-ur’an. Dan hadits selama ia sahih (valid) menempati posisi yang sangat strategis dalam khazanah hukum Islam. Hadits adalah ucapan, perilaku, persetujuan, penetapan dan sifat-sifat yang diungkapkan dan dipandang benar-benar dari Rosulullah. Dalam sunnah itulah kaum muslimin menemukan berbagai fakta historis mengenai bagaimana ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan oleh Tuhan dan diterjemahkan kedalam kehidupan nyata oleh Nabi Muhammad SAW. Karena sifatnya yang sangat praktis, dan tidak jarang mengikat secara keagamaan, al-Hadits sering menjadi lebih populer dan lebih menentukan dalam pembentukan tingkah laku sosio-keagamaan dibanding ayat-ayat Al-Qur’an. Namun disamping itu, terdapat problem dalam hadits (problematika hadits) diantaranya, pemalsuan hadits, ingkar as-sunnah dan kritik orientalis, yang menghambat perkembangan hadits.

Rumusan Masalah Bagaimana hukum membuat dan meriwayatkan hadits palsu? Apa saja argumentasi ingkar As-Sunnah? Bagaimana kritik sejumlah orientalis mengenai hadits? Tujuan Agar mengetahui hukum membuat dan meriwayatkan hadits palsu. Agar mengetahui argumentasi ingkar As-Sunnah.

1

Agar mengetahui kritik sejumlah orientalis mengenai hadits. BAB II PEMBAHASAN Pemalsuan Hadits Pengertian Hadits Palsu (Hadits Maudhu’) Secara etimologi hadits palsu (hadits maudhu’) merupakan bentuk isim maf’ul dari ‫ . وضع – يضع‬Kata “‫ ”وضضضع‬memiliki beberapa makna, antara lain menggugurkan, misalnya kalimat ‫( وضضضضع الجنايضضضة عنضضضه‬hakim menggugurkan hukuman dari seseorang). Juga bermakna “‫( ”الضضترك‬meninggalkan), selain itu juga bermakna ‫( الءفتراءوالءختلق‬mengada-ngada dan membuat-buat). Adapun pengertian hadits palsu (hadits maudhu’) secara terminilogi menurut para muhadditsin adalah: “Sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. secara mengada-ada dan dusta, yang tidak beliau sabdakan, beliau kerjakan ataupun beliau taqrirkan”. Ada juga yang berpendapat, bahwa hadits maudlu’ (palsu) itu ialah: “Hadits yang dicipta serta dibuat oleh seseorang (pendusta), yang ciptaan itu dibangsakan kepada Rasulullah saw. secara palsu dan dusta, baik hal itu disengaja, maupun tidak”.1 Dari pengertian tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa hadits maudhu’ adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW., baik perbuatan, perkataan maupun taqrirnya, secara rekaan atau dusta semata-mata. Dalam penggunaan masyarakat Islam, hadits maudhu’ disebut juga hadits palsu. Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah saw., pendapatnya ini hanya dibangun atas
1 Drs. Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits, (Bandung: PT. al-Ma’arif, 2000), Hal. 169

terdapatlah dalam garis besarnya sebagai berikut:2 Perselisihan politik dalam soal khalifah Partai-partai politik pada masa itu. ada yang sedikit. ialah : partai Syi’ah dan Rafidlah. sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang zindiq. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. ada yang banyak membuat haditshadits palsu. Yang dimaksud dengan Zandaqah adalah rasa dendam yang bergelimang dalam hati sanubari golongan yang tidak menyukai kebangkitan islam dan kejayaan pemerintahannya.246 3 . fanatik kebangsaan. kebahasaan dan keimaman mereka yang fanatik kepada kebangsaan Parsi. Ashabiyah Yakni. kekabilahan. Untuk merusak dan mengeruhkan agama islam. /(Zandaqah). T. Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi). Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i. Hasbi Ash-Shiddieqy.persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali. Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah). namun sebab-sebab itu kian hari kian bertambah juga.1980). DR. Hal. Maka jika dikumpulkan sebab-sebab pemalsuan hadits itu. Yang paling banyak membuat hadits untuk kepentinhan golongan. (Jakarta: Bulan Bintang.M. Faktor-Faktor Penyebab Timbulnya Usaha Pemalsuan Hadits Walupun pada mulanya yang menyebabkan timbul pemalsuan hadits urusan politik. Dikala tugas memberi nasihat kepada umum dikendalikan oleh mereka 2 Prof. Keinginan menarik minat para pendengar dengan jalan kisah-kisah pengajaranpengajaran dan hikayat-hikayat yang menarik menakjubkan. fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman.

bid’ah. DR.3 Tanda-tanda yang Terdapat pada Sanad Perawi itu terkenal berdusta (seorang pendusta) dan tidak ada seorang rawi 3 Prof. tashauwuf. ta’ashshub kebangsaan. Pendapat yang membolehkan orang membuat hadits untuk kebaikan Ada golongan yang berpendapat bahwa tidak salah apabila kita membuat-buat hadits nabi untuk menarik minat umat kepada ibadah. Hasbi Ash-Shiddieqy. dapat membawa mereka bertangistangisan. kepartaian. mencari penghargaan manusia dan memegahkan diri. ingin menarik minat kepada kisah-kisah yang ganjil. Tegasnya. istimewa dari para khulafa. terbagi menjadi dua bagian. mereka juga membuat undangundang untuk mengetahui hadits maudlu’ (palsu). merekapun memalsukan berupa-rupa kisah dan hikayat.M.yang tidak bertaqwa. yaitu tanda-tanda yang diperoleh pada sanad dan pada matan. Tanda-Tanda Hadits Palsu Sebagaimana para ulama menciptakan undang-undang untuk mengetahui shahih. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. hasan atau dla’ifnya suatu hadits.237 . fakta-fakta yang menyebabkan timbul pemalsuan hadits adalah: Zandaqah. Perselisihan faham dalam masalah fiqh dan masalah kalam. Para pengikut madzhab dan pengikut-pengikut ulama kalam yang bodoh-bodoh membuat pula beberapa hadits palsu untuk menguatkan faham pendirian imamnya. ta’ashshub. Hal. dan tidak takut akan Allah dan yang mereka perlukan hanya menarik minat pendengar. Maka tanda-tanda kemaudlu’an hadits. Mereka menerangkan tandatanda yang perlu benar-benar diingat agar kita dapat membedakan hadits yang bukan maudlu’ dengan hadits yang maudlu itu. T. Mendekatkan diri kepada pembesar-pembesar negeri Untuk memperoleh penghargaan yang baik dari para pembesar.1980). ulama-ulama su’ membuat hadits-hadits yang dapat dipergunakan untuk membaikkan suatu perbuatan para pembesar itu. Mereka berpendapat bahwa berdusta untuk kebaikan boleh. (Jakarta: Bulan Bintang.

Karena menyalahi hukum-hukum Allah dalam menciptakan alam. maka makna hadits itu bertentangan dengan: Al-Quran. hadits mutawatir. dan kaidahkaidah kulliyah. Pengakuan dari si pembuat sendiri. Menyalahi hakikat sejarah yang telah terkenal dimasa Nabi SAW. Karena bertentangan dengan ilmu kedokteran. hadits mutawatir. atau menyalahi kenyataan. Bertentangan dengan keterangan Al-Quran. Menyalahi keterangan Al-Quran yang terang. Karena mengandung dongeng-dongeng yang tidak masuk akal sama sekali. dapat ditinjau dari segi makna. Dari segi maknanya. Karena menyalahi undang-undang (ketentuan-ketentuan) yang ditetapkan akal terhadap Allah. dan dari segi lafadhnya. Sesuai hadits dengan madzhab yang dianut oleh rawi. sedang rawi itu pula 5 . dihukumi maudlu’. tegas.yang terpercaya yang meriwayatkan hadits dari dia. Kenyataan sejarah mereka tidak mungkin bertemu Keadaan rawi dan faktor-faktor yang mendorngnya membuat hadits maudlu’. ijma’ dan dengan logika yang sehat. Terdapat banyak pula tanda-tanda hadits maudlu’ yang terdapat dalam matan. Apabila sesuatu hadits menyalahi sharih Al-Quran dan tidak dapat dita’wilkan. Apabila menyalahi Sunnah yang mutawatirah. diantaranya sebagai berikut: Keburukan susunannya dan keburukan lafazhnya Kerusakan maknanya Karena berlawanan dengan akal sehat. Karena berlawanan dengan hukum akhlak yang umum. Tanda-tanda yang terdapat pada matan Ciri-ciri yang terdapat pada matan itu. keterangan Sunnah Mutawatirah dan qaidah-qaidah kulliyah.

M. Ilmu Hadits. Mengandung (menerangkan) urusan yang menurut seharusnya. hukumnya tidak boleh. Usaha-Usaha Para Ulama Dalam Memberantas Pemalsuan Hadits Usaha-usaha para ulama dalam memelihara sunnah dan membersihkannya dari pemalsuan hadits. atau siksa yang sangat besar terhadap suatu perbuatan yang kecil. bahwa ulama-ulama Islam hanya menimbang sanad saja. yaitu:4 Secara Muthlaq. Akan tetapi.nyatalah bahwa para ulama telah menetapkan : Empat tanda sanad dan tujuh tanda matan. M. ialah: Mengisnadkan hadits 4 Drs. hendaklah segera dia tinggalkannya. tidak ada dosa atasnya. (Bandung: Pustaka setia.Ag. Agus Solahudin. Hal. tidak memperhatikan keadaan matan. sudah mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits palsu. Sebagian orientalis mengatakan. kalau ada dinukilkan oleh orang ramai. 187 .orang yang sangat fanatik kepada madzhabnya. kalau tetap dia amalkan. Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu. 2009).Ag dan Agus Suryadi. Menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan yang sangat kecil. tidak ada dosa atasnya. sedangkan dari jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali. M. Adapun bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan sesudah meriwayatkan atau membacakannya). Lc. (berdosa dari Kitab Minhatul Mughiits). meriwayatkan Hadits-hadits Palsu itu hukumnya Haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa Hadits itu Palsu. Hukum Membuat dan Meriwayatkan Hadits Palsu Umat Islam telah sepakat bahwa hukum membuat dan meriwayatkan hadits maudhu’. Apabila kita perhatikan pernyataan diatas.

Membuat ketentuan-ketentuan umum tentang klasifikasi hadits Mereka membuat ketentuan dan syarat-syarat bagi hadits shahih. Kitab-Kitab yang Membuat Hadits Palsu Para ulama muhadditsin. Menjelaskan tingkah laku rawi-rawinya Para sahabat.Bahwa para sahabat semula dalam menerima hadits tidak selalu menanyakan sanadnya. Mengambil tindakan kepada para pemalsu hadits Dalam rangka berhati-hati untuk menerima riwayat. diambilnya dan kalau terdiri dari ahli bid’ah ditolaknya. berhasil mengumpulkan hadits-hadits maudlu’ dalam sejumlah karya 7 . Kemudian setelah disebutkan sanadnya. dengan menggunakan berbagai kaidah studi kritis hadits. kelahirannya. kematiannya. maka sebagian dari mereka. mereka meminta untuk disebutkan sanadnya. melarang mereka meriwayatkannya dan menyerahkannya kepada penguasa. Membuat ketentuan-ketentuan untuk mengetahui ciri-ciri hadits maudlu’ (palsu). untuk membedakan haditshadits yang shahih dan yang palsu. Mereka membuat ketentuan mengenai tanda-tanda (ciri-ciri) hadits maudlu’ (palsu) baik ciri-ciri yang terdapat pada sanad maupun pada matnnya. Akan tetapi setelah terjadi fitnah. tabi’in dan tabi’it-tabi’in mempelajari biografi para rawi. hasan dan dla’if. menumpas para pemalsu hadits. keadilannya. daya ingatannya dan kemampuan menghafalnya. tingkah lakunya. Meningkatkan perlawatan mencari hadits Mereka meningkatkan perlawatan mencari hadits dari suatu kota ke kota untuk menemui para sahabat yang meriwayatkan hadits. kalau sanad itu terdiri dari ahli sunnah. ditelitinya.

Kelompok yang hanya menerima hadits-hadits mutawatir dan menolak haditshadits ahad walaupun shahih. Ilmu Hadits. (Bandung: Pustaka setia. Hal ini mengakibatkan tertolaknya sunnah. INGKAR AS-SUNNAH Pengertian Ingkar As-Sunnah Ingkar as-sunnah adalah sebuah sikap penolakan terhadap sunnah Rasul. karya Al-Albani. Hal. Lc. Al-La’ali Al-Mashnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudlu’ah. M. Mereka membuat metodologi tertentu dalam menyikapi sunnah. Agus Solahudin. Ada tiga jenis kelompok ingkar as-sunnah:6 Kelompok yang menolak hadits-hadits Rasulullah saw. Penyebutan ingkar as-sunnah tidak semata-mata berarti penolakan total terhadap sunnah. 207 . termasuk di dalamnya penolakan yang berawal dari sebuah konsep berpikir yang janggal atau metodologi khusus yang diciptakan sendri oleh segolongan orang. Hal.Ag. karya Ibn Al-Jauzi (Ulama yang paling awal menulis dalam ilmu ini. baik masa lalu maupun masa sekaran. baik sebagian maupun keseluruhannya. secara keseluruhan. baik sebagian maupun keseluruhannya.Ag dan Agus Suryadi. M. M. 2009). Kelompok yang menolak hadits-hadits yang tak disebutkan dalam Al-Quran secara tersurat maupun tersirat.yang cukup banyak. 187 6 Ibid. karya Ibnu ‘Iraq Al-Kittani (ringkasan kedua kitab tersebut) Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah. di antaranya:5 Al-Maudlu’ Al-Kubra. karya As-Suyuthi (Ringkasan Ibnu Al-Jauzi dengan beberapa tambahan). 5 Drs. sedangkan konsep tersebut tidak dikenal dan diakui oleh ulama hadits dan fiqh. Tanzihu Asy-Syari’ah Al-Marfu’ah ‘an Al-Ahadits Asy-Syani’ah AlMaudlu’ah. Penolakan terhadap sebagian sunnah pun termasuk dalam kategori ingkar as-sunnah.

Secara kebetulanorang-orang Ingkar Sunah saat itu banyak terdapat di Iraq. muncullah firqah ekstrim yang sangat lantang menolak Sunnah untuk membuat kekacauan di tengah ummat. barangkali pemikiran itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Menurut DR. sebagaimana dijelaskan AlHasan: “ketika Imran bin Husain berbicara masalah Sunnah. Pada perkembangan selanjutnya setelah Zionis Yahudi mampu mengoyak kekuatan Islam. dan Sunnah telah diuji oleh mereka yang mengingkari kehujjahannya sebagai salah satu sumber penetapan syariat Islam.Ternyata apa yang terjadi di zaman sahabat. Tanpa argumen-argumen itu. Imam Syafi`i pun menjelaskan demikian. Argumentasi Ingkar As-Sunnah Sebagai suatu paham atau aliran. Mushthafa Al-Azhami dalam kitabnya Dirasat Fii Al Haditsi An Nabawi . begitu pula Ayub As-Sukhtiyani. Ingkarus Sunnah bersifat individu. Berikut ini akan dijelaskan argmen-argumen 9 . belum merupakan firqah namun lama kelamaan jumlah mereka semakin bertambah. gejala timbulnya Inkarus Sunnah sudah mulai tampak di zaman sahabat yakni adanya diantara merekayang kurang mewaspadai bahwa Al Hadits juga sumber syari`at. yaitu masa klasik dan masa modern. Sunnah atau hadits yang disaksikan didengar dan diriwayatkan oleh orang banyak) yaitu hadits yang datang.Sejarah Perkembangan Ingkar As-Sunnah Sejarah perkembangan Ingkar Sunnah hanya terjadi dua masa. dan oleh mereka yang mengingkari kehujjahan Sunnah yang tidak mutawatir (yaitu. Abad kedua Hijriah belum lewat. Imran bin Husain adalah orang Basrah. berkatalah seorang laki-laki: “Ya Aba Najid berbicaralah kepada kami tentang AlQur`an…”Kemudian kisah Umayah bin Khalid telah mencoba membahas masalah dengan dalil Al Qur`an saja ketika berdialog dengan Abdulah bin Umar tentang sholat. ingkar as-sunnah baik yang klasik maupun yang modern memiliki argumen-argumen yang dijadikan pegangan oleh mereka.

Agus Solahudin.mereka.S Al-Baqarah ayat 1 dan 2 O!9# ÇÊÈ y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Œw |=÷ŒuŒ ¡ Ïm ŒÏù ¡ ŒWŒèd$ z` ŒÉ)FßJù=Ïj9 ÇËÈ :Artinya “Alif Laam Miim (1) Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya. berarti landasan agama itu tidah pasti. petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (Bandung: Pustaka setia. Karena itu apabila agama Islam berlandaskan hadits-di samping AlQuran.S.S. M. Al-Baqarah: 1-2) Q. An-Najm ayat 28: bÎ)ur £`©à9$# Œw ÓÍ_øó㌠z`ÏB Èd. Lc. 219 . diantaranya:7 Agama bersifat konkret dan pasti Mereka berpendapat bahwa agama harus dilandaskan pada suatu hal yang pasti. ia tidak akan memiliki kepastian sebab keberadaan hadits – khususnya hadits Ahad bersifat zhanni (dugaan yang kuat). Apabila kita mengambil dan memakai Sunnah. Hal.S. dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya”. Dan ini dikecam oleh Allah dalam firman-Nya Q. M. 2009).Islam akan bersifat ketidakpastian. (Q. Ilmu Hadits. Fathir ayat 31 üŒÏ%©!$#ur !$uZøŒym÷rr& y7øŒs9Î) z`ÏB É=»tGÅ3ø9$# uqèd Œ. Fathir: 31) Sementara apabila agama agama islam itu bersumber dari hadits. M.ysø9$# $]%ÏdŒ|ÁãB $yJÏj9 tû÷üt/ Ïm÷ŒyŒtŒ 3 Artinya: “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu Yaitu Al kitab (Al Quran) Itulah yang benar. (Q.ptø:$# $\«øŒx© ÇËÑȨ Artinya: “Sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun 7 Drs.S. seperti dituturkan dalam ayat-ayat berikut: Q.Ag.Ag dan Agus Suryadi. Al-Quran yang kita jadikan landasan agama itu bersifat pasti. dan tidak sampai pada peringkat pasti.

(Q. baik yang klasik maupun yang modern. berarti kita secara tegas mendustakan Al-Quran yang membahas segala hal secara tuntas.Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx«$ ŒYŒèdur ZpyJômuŒur 3ŒuŒô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang11 .terhadap kebenaran”. Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 89 dan surat Al-An’am ayat 114: uZø9¨ŒtRur ŒŒøŒn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uŒö. Al-Quran tidak memerlukan penjelas Al-Quran tidak memerlukan penjelasan. kecuali Al-Quran. ayat di atas membantah Al-Quran masih mengandung kekurangan. kecuali Al-Quran. (Al-An’am: 38) Jika kita berpendapat Al-Quran masih memerlukan penjelasan. Padahal. berfirman dalam surat Al-An’am ayat 38: B $uZôÛ§Œsù ŒÎû É=»tGÅ3ø9$# `ÏB &äóÓx« 4 ÇÌÑȨ$ Artinya: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Quran)”. Al-Quran sudah lengkap Dalam Syariat Islam. seperti diungkapkan oleh Taufiq Sidqi (Mesir) dan Jam’iyah ahl Al-Quran (Pakistan). Oleh karena itu. justru sebaliknya Al-Quran merupakan penjelasan terhadap segala hal.S. An-Najm: 28) Demikianlah argumen pertama ingkar as-sunnah. Argumen ini dipakai oleh Taufiq Aidqi dan Abu Rayyah. dalam syariat Allah tidak mungkin diambil pegangan lain. tidak ada dalil lain. Allah SWT.

orang yang memakai pengertian ayat seperti ini juga tidak dapat meyakinkan bahwa pengertian itu bersifat pasti (yakin). seperti Taufiq Sidqi abu Rayyah. Lc. Bahkan. Al-An’am: 114) Ayat-ayat ini dipakai dalil oleh para pengingkar Sunnah. Dengan demikian. Mereka menganggap Al-Quran sudah cukup karena memberikan penjelasan terhadap segala masalah. Al-Quran sendiri-meskipun kebenarannya sudah diyakini sebagai kalamullah-tidak semua ayat memberikan petunjuk hukum yang pasti sebab banyak ayat yang pengertiannya masih zhanni (zhanni ad-dalalah).ptø:$# $º«øŒx© 4 7ÇÌÏÈ Artinya: “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. 8 Drs. Sebab.Ag.Ag dan Agus Suryadi. M.r& ŒwÎ) $ŒZsß 4 ¨bÎ) £`©à9$# Œw ÓÍ_øóãŒ$ z`ÏB Èd. Hal. Ilmu Hadits. An-Nahl: 89) uqèdur üŒÏ%©!$# tAtŒRr& ãNà6øŒs9Î) |=»tGÅ3ø9$# Wx¢ÁxÿãB t ÇÊÊÍÈ Artinya: “Dan Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci”. Agus Solahudin. Bantahan Terhadap Ingkar As-Sunnah8 Bantahan terhadap argumen yang pertama Alasan mereka bahwa Sunnah itu zhanni (dugaan kuat) sedang kita diharuskan mengikuti yang pasti (yakin). 2009). berarti ia juga tetap mengakui pengertian ayat yang masih bersifat dugaan kuat (zhanni ad-dalalah).orang yang berserah diri”. masalahnya tidak demikian. 223 .S. M. Mereka adalah orangorang yang menolak hadits secara keseluruhan. Adapun firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 36 adalah: tBur ßìÎ7GtŒ óOèdçŒsYø.S. (Q. (Q. M. (Bandung: Pustaka setia. baik dulu maupun kini.

sebenarnya kita memakai dalil-dalil pasti yang mengharuskan untuk menerima hadits-hadits itu”. Allah berfirman. “Dalam menerima haditshadits ahad. Hal itu karena mereka kebanyakan hanya memakai dalil ayat 89 surat AnNahl: uZø9¨ŒtRur ŒŒøŒn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uŒö. An-Nahl: 89) Padahal. (Q. (Q. baik pada masa lalu maupun belakangan . masalahnya tidak demikian.Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx«$ ŒYŒèdur ZpyJômuŒur 3ŒuŒô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orangorang yang berserah diri”. umumnya ‘kekurangan waktu’ dalam mempelajari Al-Quran. maksud ayat ini selengkapnya adalah. Yunus: 36) Yang dimaksud dengan ‘kebenaran’ (al-haq) di sini adalah masalah yang sudah tetap dan pasti. Jadi. Untuk membantah orang-orang yang menolak hadits ahad. dalam syat 44 surat An-Nahl itu juga.S.S. Bantahan terhadap argumen kedua dan ketiga Kelompok pengingkar Sunnah. Ï3 !$uZø9tŒRr&ur y7øŒs9Î) tŒò2Ïe%!$# tûÎiüt7çFÏ9 Ĩ$¨Z=Ï9 $tB tAÌhŒçR öNÍköŒs9Î) öNßg¯=yès9ur Œcr㌩3xÿtGtŒ ÇÍÍÈ Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran. sedangkan dalam hal menerima hadits. Abu AlHusain Al-Bashri Al-Mu’tazili mengatakan. Jadi sebenarnya kita tidak memakai zhann yang bertentangan dengan haq.Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran”. bahwa zhanni tidak dapat melawan melawan kebenaran yang sudah tetap dengan pasti. tetapi kita mengikuti atau memakai zhann yang memang diperintahkan Allah. agar kamu menerangkan pada 13 .

melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. An-Nahl:44) Apabila Allah sendiri yang menurunkan Al-Quran itu sudah membebankan kepada nabi-Nya agar ia menerangkan isi Al-Quran. Seperti dalam firmannya surat Al-Hasyr ayat 7: tBur ãNä39s?#uä ãAqߌ§Œ9$# çnräŒãŒsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã$! (#qßgtFR$$sù ÇÐÈ . (Al-An’am: 38) Hal itu tidak pada tempatnya sebab Allah juga menyuruh kita untuk memakai apa yang disampaikan oleh Nabi saw. (Q.S. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”.. dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. dan memakai Al-Quran sesuai pemahamannya sendiri seraya tidak mau memakai penjelasan-penjelasan yang berasal dari Nabi saw? apakah ini tidak berarti percaya kepada sejumlah ayat Al-Quran dan tidak percaya kepada ayat-ayat yang lain? Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 85: tbqãYÏB÷sçGsùr& ÇÙ÷èt7Î/ É=»tGÅ3ø9$# ŒcrãŒàÿõ3s?ur . (Q.. dapatkah dibenarkan seorang muslim menolak keterangan atau penjelasan tentang isi Al-Quran tersebut. Al-Baqarah: 85) Sedangkan argumen mereka dengan surat Al-An’am ayat 38: B $uZôÛ§Œsù ŒÎû É=»tGÅ3ø9$# `ÏB &äóÓx« 4 ÇÌÑȨ$ Artinya: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Quran)”. <Ù÷èt7Î/ 4 $yJsù âä!#tŒy_ `tB ã@yèøÿtŒ ŒŒÏ9ºsŒ öNà6YÏB ŒwÎ) ӌ÷ŒÅz ŒÎû Ío4quŒysø9$# $uŒ÷RŒŒ9$# ( tPöqtŒur ÏpyJ»uŒÉ)ø9$# tbrŒŒtŒãŒ #Œn<Î) ÏdŒx©r& É>#xŒyèø9$# 3 $tBur ª!$# @@Ïÿ»tóÎ/ $£Jtã tbqè=yJ÷ès? ÇÑÎÈ “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu.S.umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”.

Kritik Orientalis Pengertian Kritik dan Orientalis 15 . Maka terimalah. baik berupa perintah maupun larangan. Hal ini tak ubahnya seperti seorang yang diberi istana yang megah yang lengkap dengan segala fasilitasnya. apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan.”. sebab kabel-kabel lampu mesti disambung dengan pembangkit tenaga listrik di luar. Al-Ahzab:36) Berdasarkan teks Al-Quran. sesat yang nyata”. ia menganggapbahwa gelap yang terdapat dalam istana itu sebenarnya sudah merupakan cahaya.. ia tidak mau memakai lampu sehingga pada malm hari.S. Sebab menurut dia. Maka tinggalkanlah.. sedangkan kita diwajibkan untuk menerima dan mematuhi penjelasan-penjelasan beliau. Al-Hasyr: 7) Allah SWT.S. Semua ini bersumber dari Al-Quran... sajalah yang diberi tugas untuk menjelaskan kandunan Al-Quran. istana itu gelap.Artinya: “. istana itu sudah paling lengkap dan tidak perlu hal-hal lain. Akan tetapi. Akhirnya.. Apabila istana itu dipasang lampu-lampu dan lain-lain. Kita tidak memasukkan unsur lain kedalam Al-Quran sehingga masih dianggap memiliki kekurangan.Apa yang diberikan Rasul kepadamu. berarti ia masih memerlukan masalah lain. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat. (Q. 9`ÏB÷sßJÏ9 Œwur >puZÏB÷sãB #sŒÎ) Ó|Ós% ª!$#$ ÿ¼ã&è!qߌuŒur #·ŒøBr& br& tbqä3tŒ ãNßgs9 äouŒzŒÏŒø:$# ô`ÏB öNÏďøBr& 3 `tBur ÄÈ÷ètŒ ©!$# ¼ã&s!qߌuŒur ôŒs)sù ¨@| Ê Wx»n=|Ê $YZ ŒÎ7ŒB ÇÌÏÈ Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin.. (Q.. juga berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 36: tBur tb%x. Rasulullah saw. akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan apa yang dilarangnya bagimu.

berasal dari bahasa Inggris “critic” yang dalam bahasa Indonesia diartikan pengecam. Dilihat dari segi terminologinya. pengupas. peradabannya. Karena itu. kehidupannya dan lain-lain. pembahas. dapat diambil pengertian akan tujuan orientalis. Secara terminologi. Melalui kritik-kritik yang dilontarkannya.adalah Asia Timur. dan bisa jadi karena sibuk dengan mencari kesalahan. Puerwodarminto mengkritik diartikan dengan “memberi pertimbangan dengan menunjukkan yang salah”. Sedang Kritik dalam Bahasa Arab adalah “naqd” yang diterjemahkan dengan ”mengkritik” atau “meneliti dengan cermat”. mereka menyisipkan “bom waktu” yang sewaktu-waktu dapat memporak-porandakan bangunan Islam apabila tidak segera dijinakkkan. pengkritik. terutama Negeri-negeri Arab pada umumnya dan Islam pada khususnya. Berdasarkan letak geografis. agamanya. maka dalam benak kita ketika memahami “kritik” akan dipenuhi dengan su’udzan. memang benua Asia berada disebelah Timur benua Eropa. Yang dapat kita pahami dari pengertian diatas adalah bahwa kritik/ mengkritik adalah upaya untuk menunjukkan / mendahulukan kesalahan daripada mencari kebenarannya. atau menurut versi W.J. Dari pengertian diatas. maka kebenaran yang adapun tidak tampak. Ismail Ya’kub menyatakan bahwa orientalis adalah orang yang ahli tentang soal-soal ketimuran. orientalis bisa juga diartikan orang yang ahli dibidang ketimuran. Dengan demikian.Kritik. Tetapi konotasi yang diberikan oleh Barat tentang Timur adalah orang-orang Islam. yakni segala sesuatu mengenai negeri-negeri Timur. tentang kebudayaannya. Sedangkan kata “orientalis” berasal dari kata orient yang berarti –salah satunya.S. kritik berarti upaya-upaya untuk menemukan kesalahan. Maryam Jamilah menyatakan bahwa tujuan orientalis dalam penelitiannya tentang Islam dan hal ihwalnya dengan: . atau berasal dari kata oriental yang berarti orang Timur atau Asia.

Sasaran yang hendak dicapainya adalah menciptakan kekeliruan sebanyak-banyaknya dikalangan pemuda yang belum matang dan mudah ditipu dengan cara menanamkan benih keraguan. Mimbar Pustaka. Mereka berpendapat pula. Sejumlah Kritik Orientalis Terhadap Hadits Adapun kritik-kritik mereka tentang hadits sebagai berikut:9 Beberapa orientalis berpendapat bahwa sebagian besar hadits adalah buatan orang islam. Ignace Goldziher mengatakan. Dengan berdalil pada firman Allah surat Al-An’am ayat 38 dan surat Al-Hijr ayat 9: B $uZôÛ§Œsù ŒÎû É=»tGÅ3ø9$# `ÏB &äóÓx« 4 ÇÌÑȨ$ Artinya: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab”. 102 17 .S. (Q. 2008) Hal. Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. M.“ … yang diupayakan (orientalis) secara mendalam bukanlah untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik dan orisinil melainkan hanya rencana jahat yang terorganisasikan untuk menghasut para pemuda kita (Islam) agar memberontak terhadap agama mereka. bahwa hadits sebagian besar adalah hasil dari perkembangan politik dan kemasyarakatan dalam abad I dan II Hijriyah. Hadits yang betul-betul dari nabi hanya sedikit sekali dan tidak dijadikan hujjah yang mu’tammad di zaman permulaan Islam. Al-An’am:38) 9 Prof. H. hanya Al-Quranlah dasar pembinaan hukum islam. Endang Soetari Ad. bukan sabda Nabi SAW. (Bandung: CV. dan mencemooh semua warisan sejarah Islam dan kebudayaannya sebagai warisa yang tidak berguna. Hal ini karena hadits tidak dapat diyakini keberadaannya mengingat banyaknya perbedaan lafazh dan pertentangan satu sama lain. bahwa hadits tidak dapat dijadikan dasar tasyri’. sinisme dan sekeptisisme”.Dr.Si.

Keragu-raguan juga dilontarkan kepada al-Zuhri sebagai pelopor pentadwin hadits. Mereka mengatakan. Hal ini pernah Abu Hurairah memberi tambahan. Hadits sebagaimana memelihara Al-Quran. selain untuk berburu atau anjing penjaga binatang ternak. sebab terbukti bahwa ada sementara shahabat tidak adil. Al-Hijr: 9) Mereka mengatakan bahwa sumber Syari’at Islam hanyalah Al-Quran. bahwa yang oleh islam dikatakan adil ternyata benar. umat islam memalsukan hadits.S. bahwa untuk kepentingan golongan dan partai.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9¯$ tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran. hadits bukan dasar tasyri’. Mereka mengatakan bahwa al-Zuhri memalsukan hadits untuk kepentingan politik Bani Umayah. seperti yang dilakukan oleh khalifah Bani Umayah untuk alasan dari praktek berkhutbah duduk dan berkhutbah sebelum hari raya. suka bersenda gurau dan membuat hadits untuk kepentingan sendiri. dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Q. Yang disoroti adalah Abu Hurairah sebagai perawi hadits ternyata seorang humoris.RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“ tR t“ ø. dengan kata-kata “atau anjing penjaga taman/kebun” pada hadits yang menerangkan bahwa pahala seseorang tiap hari akan berkurang dua qirath apabila memelihara anjing. Mereka menuduh. Buktinya banyak pemalsuan hadits. Dikatakan bahwa penambahan ini oleh karena Abu Hurairah mempunyai sebidang tanaman/kebun. Kalau hadits juga dasar tasyri’ maka hadits mestinya terpelihara pula. bahwa itu berdasarkan dari hadits Nabi saw. . sebab Allah tidak memelihara kemurnian. dan shahabat sudah pernah berkhutbah dengan cara duduk.

Mereka mengatakan bahwa diwan hadits secara keseluruhan tidak memuaskan. Ahmad Amin menerangkan.Si. hadits adalah dasar syari’at islam yang menjadi 10 Prof. mungkin pemalsuan hadits sudah terjadi semenjak Rasul masih hidup. bahwa baik Al-Quran maupun hadits tidak memberikan kumpulan secara sistematis dalam peraturan hukum. Mimbar Pustaka. Ahmad Amin memberikan bukti dengan menerangkan. begitu pula pada masa Khulafa alRasyidin. M. bahwa ada golongan yang memberanikan diri meletakkan hadits-hadits yang dinisbahkan kepada Rasul dengan jalan dusta. (Bandung: CV. akan tetapi hanya memberikan bahan-bahan yang dapat dipakai untuk membangun system berkala. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh H. Jawaban Terhadap Kritik Orientalis Terhadap Hadits Adapun jawaban terhadap kritik orientalis di atas adalah sebagai berikut:10 Sejak permulaan Islam. 2008) Hal.A.Meragukan kebenaran hadits yang terdapat pada kitab-kitab hadits.Dr. dan mereka juga menduga bahwa pemalsuan hadits sudah terjadi sejak masa Nabi saw. terbukti bahwa ulama islam juga banyak yang tidak menerima hadits sebagai hasil tadwin tersebut.R. Karena pada masa nabi. Mereka menilai bahwa sistematika tadwin hadits tidak baik dan tidak memenuhi persyaratan ilmiah serta tidak memudahkan untuk penggunaannya. 104 19 . hadits tidak ditulis. H. Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. Gibb yang mengutarakan. Endang Soetari Ad. dan baru ditulis pada awal abad II Hijriyah. Hal ini menyebabkan orang mudah memalsukan hadits. bahwa dalam bidang fiqh tidak dijumpai suatu perbedaan pendapat kecuali ada hadits-hadits yang menguatkan salah satu pihak dan yang menguatkan pihak yang lain. sehingga dalam madzhab Hanafi yang terkenal sebagai madzhab yang tidak mau mempergunakan hadits kecuali sedikit (menurut Ibnu Khaldun hanya 17 buah saja) dengan hadits-hadits yang kadang-kadang menyerupai style fiqh.

M. khususnya penafsiran tentang lafazh. tidak sewajarnya untuk tidak menerima hadits sebagai dasar tasyri’. jumhur ulama menetapkan sebagai huajjah. Dengan demikian. tafsir Al-Quran Departemen Agama RI menjelaskan: “Sebagian mufassirin menafsirkan al-kitab itu dengan Lauh al-Mahfuzh dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauh al-Mahfuzh. dalam Al-Quran telah ada pokok-pokok agama. berlaku tetap dalam kebulatannya sebagai pedoman pelaksanaan agama islam. dengan arti. “al-kitab”. juga berhasil dihimpun dalam kitab-kitab hadits yang penyelenggaraannya menurut peraturan dan adab yang menjamin kemurnian hadits tersebut. Akhirnya. Melainkan ajaran Nabi saw. perbuatan dan taqrir yang beliau sunnahkan untuk melengkapi maksud wahyu ilahi (Al-Quran). Hadits berfungsi sebagai interpretasi Al-Quran tentang keumumannya. tertera atau dapat dipahami dari diwan-diwan hadits. politik dan kemasyarakatan islam di abad I dan II Hijriyah. dimengerti dan diamalkan dengan penuh ketaatan. Hadits mutawatir memfaidahkan yakin. Dengan demikian. Kemudian selanjutnya diajarkan dan disebarkan kepada generasi berikutnya dengan periwayatan yang berpedoman kepada keshahihan sanad dan kebenaran matan. menurut T.pedoman pengamalan agama bagi umat islam dan telah menjadi darah daging umat islam sebab selalu dihafal. Hasbi Ash- . terhadap hadits shahih dan hasan. Tentang firman Allah surat Al-An’am ayat 38. Dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran. Tentang firman Allah pada surat Al-Hijr ayat 9. hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia dunia akhirat. Hadits tidak bisa dipisahkan dari Al-Quran. hukum-hukum. norma-norma. dan kebahagiaan makhluk pada umumnya”. yang berupa perkataan. kemujmalannya. hadits bukanlah sekedar natijah dari proses perkembangan agama. kemuthlaqannya dan kemusykilannya. Setiap hadits sesudah jelas derajat dan nilainya.

tetapi ijtihad mereka dikala itu dengan adanya perubaghan sikap pada masyarakat.Shiddieqy. sedang syara’ dan agam terhimpun dalam Al-Quran dan Hadits. Adapun tuduhan bahwa khalifah Bani Umayyah merubah cara ibadah (khutbah Jum’at dan Hari Raya) dengan menbuat-buat hadits. maka para ulama telah membahasnya pula. maksud kata “Al-Dzikr” disana adalah mencakup Al-Quran dan Al-Hadits. akan tetapi mereka yang lemah imannya yang lebih mementingkan kepentingan golongan sendiri dengan merugikan agama. Dari kitab biografi yang mu’tabar dan dari kitab Jarh wa al-ta’dil. Abu Hurairah adalah perawi terbanyak dan al-Zuhri pelopor tadwin hadits. Oknum-oknumnya ialah orang munafik. Bahwa sasaran kritik orientalis tentang perawi hadits kepada Abu Hurairah dan al-Zuhri adalah dapat dimaklumi. Perbuatan Mu’awiyah membikin pagar tempat shalatnya. namun yang membuat hadits-hadits palsu tersebut bukanlah ulama-ulama hadits. Harapan mereka. ibadah. betul telah menimbulkan pemalsuan hadits. selalu berusaha mendapatkan hadits (pengajaran) 21 . Pendakwaan bahwa pemalsuan hadits meluas pada bidang ibadah. bukan pula muslim yang taqwa. bila umat bisa percaya pada informasi mereka tentang kecacatan kedua tokoh tersebut. kita dapat mengetahui hal ihwal Abu Hurairah yang sebenarnya. maka hal ini memang kaum zindiq memalsukan hadits di berbagai bidang: akidah. zindik yang tidak ikhlas beragama islam dan mau menyeret islam kepada kehancuran. Umat Islam masa Nabi saw. karena yang dimaksud adalah syara’ dan agama. maka akan hilanglah kepercayaan kepada semua ulama hadits yang lain dan lemah pulalah hadits karenanya. dan berkhutbah sambil duduk karena badan gemuk dan Marwan berkhutbah pada Hari Raya sebelum shalat. Dari adanya pertentangan politik. semuanya itu bukanlah pemalsuan hadits. imamah dan jama’ah. karena terbiasa orangorang pulang setelah melakukan shalat tersebut selagi imam berkhutbah. sebab justru dua tokoh itulah pemuka hadits.

Hadits-hadits tersebut mereka amalkan dan dipelihara dalam hafalan. bahwa perkataan Ibnu Khaldun itu sebagai suatu hal yang khilaf. hal itu adalah suatu kekhilafan. namun pada waktu itu pula sudah ada penyelesaian karena wahyu masih sedang diturunkan. maka kitab-kitab hadits memenuhi hajat dan kebutuhan umat dalam rangka mencari dalil hukum syari’at. sunnah. kitab syarh. kitab mukhtashar. ruthbah dasar tasyri’ menurut Abu Hanafi adalah: Kitab.dari Nabi saw. Mengenai tulisan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya. Sedangkan pemalsuan hadits di masa nabi. pembukuan (tadwin) secara resmi diadakan sekitar tahun 80 Hijriyah. yang jauh tempat tinggalnya berusaha bergiliran mendatangi Nabi saw. Dan kekhilafan ini sudah diralat oleh al-‘Alamah Muhammad Zahid alKautsari sebagai tertera pada kitab Ta’liq Syuruth al-Khamsah. dan kitab fiqh (‘ulum) al-hadits. Kami berpendapat bahwa sistematika penulisan hadits pada diwan-diwan hadits pada taraf terakhir. sudah memadai dan baik. karena menurut kenyataan Abu Hanifah yang sangak ketat (keras) itu bukan meriwayatkan 17 hadits tetapi 17 kitab. karangan al-Hazimi. Dengan dilengkapi kitab penunjuk. yang paling kecil adalah kitab Abu Hanifah yang diriwatkan oleh al-Thahawi. hai itu tidak mustahil. kemudian disebarkan. sebab bertentangan dengan kenyataan. Islam memiliki kitab hadits dengan sistematika fiqh yang memiliki pula kitab fiqh. Ijma’. bahwa Abu Hanifah hanya mempergunakan 17 hadits. Hal itu kitab-kitab fiqh madzhab hanafi bias menjadi saksi. Dan resminya pentadwinan secara menyeluruh dimulai tahun 100 H. Adalah tidak benar jika madzhab Hanafi tidak menggunakan hadits sebagai dasar tasyri’. dan diperluas di masa sahabat dan tabi’in. Penulisan hadits sudah dimulai sejak masa Nabi saw. Menurut beliau. agar mendapat pelajaran. Qiyas dan Is-tihsan. dan tasawuf yang lengkap dengan dalildalil dari hadits. penyelenggaraannya memenuhi syarat ilmiah. . tauhid.

dengan segala aspeknya -kekurangan dan kelebihannyakemudian dituangkan dalam bentuk yang argumentatif dan rasional – setidaknya menurut mereka. hendaklah segera dia tinggalkannya. adalah dengan adanya kritik tersebut dapat menggugah kembali pikiran umat Islam untuk tidak menerima hadits begitu saja tanpa adanya penelusuran kembali (reserve). Namun yang paling penting.maka secara implisit juga merangsang dan menantang umat Islam untuk mematahkan argumentasi mereka berdasarkan data-data yang sebenarnya. Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu.Hikmah Dibalik Kritik Orientalis Ada banyak hikmah yang dapat kita petik dari kritik orientalis –khususnya kritik Goldziher dan Joseph Schacht. BAB III SIMPULAN Hukum Membuat dan Meriwayatkan Hadits Palsu Secara Muthlaq. hukumnya 23 . tidak ada dosa atasnya. Dan data-data itu diperoleh melalui penelitian juga. sudah mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits palsu. Akan tetapi. sedangkan dari jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali. Adapun bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan sesudah meriwayatkan atau membacakannya). meriwayatkan Hadits-hadits Palsu itu hukumnya Haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa Hadits itu Palsu.terhadap hadits ataupun ilmu hadits. Kritik orientalis tersebut didasarkan kepada hasil penelitiannya terhadap hadits dan ilmu hadits. tidak ada dosa atasnya. kalau tetap dia amalkan.

umat islam memalsukan hadits. . Mereka mengatakan bahwa diwan hadits secara keseluruhan tidak memuaskan. terbukti bahwa ulama islam juga banyak yang tidak menerima hadits sebagai hasil tadwin tersebut.dari Kitab Minhatul Mughiits). hanya Al-Quranlah dasar pembinaan hukum islam. Meragukan kebenaran hadits yang terdapat pada kitab-kitab hadits. bahwa untuk kepentingan golongan dan partai. Mereka menilai bahwa sistematika tadwin hadits tidak baik dan tidak memenuhi persyaratan ilmiah serta tidak memudahkan untuk penggunaannya. (berdosa . Argumentasi Ingkar As-Sunnah Agama bersifat konkret dan pasti Al-Quran sudah lengkap Al-Quran tidak memerlukan penjelas Kritik Orientalis Terhadap Hadits Beberapa orientalis berpendapat bahwa sebagian besar hadits adalah buatan orang islam. Mereka berpendapat pula. bukan sabda Nabi SAW. Mereka menuduh. sebab terbukti bahwa ada sementara shahabat tidak adil.tidak boleh. bahwa yang oleh islam dikatakan adil ternyata benar. bahwa hadits tidak dapat dijadikan dasar tasyri’. Mereka mengatakan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.