P. 1
BAB I, II, III

BAB I, II, III

|Views: 560|Likes:
Published by Zakia Helwah

More info:

Published by: Zakia Helwah on Oct 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kaum Muslimin memposisikan sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu

sumber ajaran Islam kedua setelah al-ur’an. Dan hadits selama ia sahih (valid) menempati posisi yang sangat strategis dalam khazanah hukum Islam. Hadits adalah ucapan, perilaku, persetujuan, penetapan dan sifat-sifat yang diungkapkan dan dipandang benar-benar dari Rosulullah. Dalam sunnah itulah kaum muslimin menemukan berbagai fakta historis mengenai bagaimana ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan oleh Tuhan dan diterjemahkan kedalam kehidupan nyata oleh Nabi Muhammad SAW. Karena sifatnya yang sangat praktis, dan tidak jarang mengikat secara keagamaan, al-Hadits sering menjadi lebih populer dan lebih menentukan dalam pembentukan tingkah laku sosio-keagamaan dibanding ayat-ayat Al-Qur’an. Namun disamping itu, terdapat problem dalam hadits (problematika hadits) diantaranya, pemalsuan hadits, ingkar as-sunnah dan kritik orientalis, yang menghambat perkembangan hadits.

Rumusan Masalah Bagaimana hukum membuat dan meriwayatkan hadits palsu? Apa saja argumentasi ingkar As-Sunnah? Bagaimana kritik sejumlah orientalis mengenai hadits? Tujuan Agar mengetahui hukum membuat dan meriwayatkan hadits palsu. Agar mengetahui argumentasi ingkar As-Sunnah.

1

Agar mengetahui kritik sejumlah orientalis mengenai hadits. BAB II PEMBAHASAN Pemalsuan Hadits Pengertian Hadits Palsu (Hadits Maudhu’) Secara etimologi hadits palsu (hadits maudhu’) merupakan bentuk isim maf’ul dari ‫ . وضع – يضع‬Kata “‫ ”وضضضع‬memiliki beberapa makna, antara lain menggugurkan, misalnya kalimat ‫( وضضضضع الجنايضضضة عنضضضه‬hakim menggugurkan hukuman dari seseorang). Juga bermakna “‫( ”الضضترك‬meninggalkan), selain itu juga bermakna ‫( الءفتراءوالءختلق‬mengada-ngada dan membuat-buat). Adapun pengertian hadits palsu (hadits maudhu’) secara terminilogi menurut para muhadditsin adalah: “Sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. secara mengada-ada dan dusta, yang tidak beliau sabdakan, beliau kerjakan ataupun beliau taqrirkan”. Ada juga yang berpendapat, bahwa hadits maudlu’ (palsu) itu ialah: “Hadits yang dicipta serta dibuat oleh seseorang (pendusta), yang ciptaan itu dibangsakan kepada Rasulullah saw. secara palsu dan dusta, baik hal itu disengaja, maupun tidak”.1 Dari pengertian tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa hadits maudhu’ adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW., baik perbuatan, perkataan maupun taqrirnya, secara rekaan atau dusta semata-mata. Dalam penggunaan masyarakat Islam, hadits maudhu’ disebut juga hadits palsu. Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadits Ada beberapa waktu yang disebutkan peneliti dalam masalah ini: Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam bahwa pemalsuan hadits terjadi pada zaman Rasulullah saw., pendapatnya ini hanya dibangun atas
1 Drs. Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits, (Bandung: PT. al-Ma’arif, 2000), Hal. 169

Dr Umar Fallatah ( salah seorang pengajar di Masjid Nabawi). Munculnya pemalsuan hadits bermula dari terjadinya fitnah pembunuhan Utsman. kekabilahan. ada yang sedikit. Dikala tugas memberi nasihat kepada umum dikendalikan oleh mereka 2 Prof. T. Ashabiyah Yakni. Keinginan menarik minat para pendengar dengan jalan kisah-kisah pengajaranpengajaran dan hikayat-hikayat yang menarik menakjubkan. Yang dimaksud dengan Zandaqah adalah rasa dendam yang bergelimang dalam hati sanubari golongan yang tidak menyukai kebangkitan islam dan kejayaan pemerintahannya. Untuk merusak dan mengeruhkan agama islam. fanatik kebangsaan. ialah : partai Syi’ah dan Rafidlah. kebahasaan dan keimaman mereka yang fanatik kepada kebangsaan Parsi.persangkaan saja dan tidak berdasar sama sekali. (Jakarta: Bulan Bintang. ada yang banyak membuat haditshadits palsu. DR. Hasbi Ash-Shiddieqy. terdapatlah dalam garis besarnya sebagai berikut:2 Perselisihan politik dalam soal khalifah Partai-partai politik pada masa itu. namun sebab-sebab itu kian hari kian bertambah juga. Faktor-Faktor Penyebab Timbulnya Usaha Pemalsuan Hadits Walupun pada mulanya yang menyebabkan timbul pemalsuan hadits urusan politik. fitnah Ali dan Muawiyah radhiyallohu anhum jami’andan munculnya firqah setelah itu. Maka jika dikumpulkan sebab-sebab pemalsuan hadits itu. /(Zandaqah). Berkisar tahun 35 H – 60 H inilah kesimpulan dari perkataan para peneliti hadits di zaman ini diantara nya Dr Mustafa Siba’i.M.246 3 . Hal. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang zindiq. Yang paling banyak membuat hadits untuk kepentinhan golongan.1980). Dr Abdul Shomad ( Dosen Al-Hadits di Universitas Islam Madinah).

fakta-fakta yang menyebabkan timbul pemalsuan hadits adalah: Zandaqah. merekapun memalsukan berupa-rupa kisah dan hikayat. tashauwuf.237 .3 Tanda-tanda yang Terdapat pada Sanad Perawi itu terkenal berdusta (seorang pendusta) dan tidak ada seorang rawi 3 Prof. Tanda-Tanda Hadits Palsu Sebagaimana para ulama menciptakan undang-undang untuk mengetahui shahih. ulama-ulama su’ membuat hadits-hadits yang dapat dipergunakan untuk membaikkan suatu perbuatan para pembesar itu. ta’ashshub. hasan atau dla’ifnya suatu hadits. (Jakarta: Bulan Bintang. DR. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Hal. Hasbi Ash-Shiddieqy. Perselisihan faham dalam masalah fiqh dan masalah kalam. Para pengikut madzhab dan pengikut-pengikut ulama kalam yang bodoh-bodoh membuat pula beberapa hadits palsu untuk menguatkan faham pendirian imamnya. Mendekatkan diri kepada pembesar-pembesar negeri Untuk memperoleh penghargaan yang baik dari para pembesar. mereka juga membuat undangundang untuk mengetahui hadits maudlu’ (palsu). T. dan tidak takut akan Allah dan yang mereka perlukan hanya menarik minat pendengar. bid’ah. Mereka berpendapat bahwa berdusta untuk kebaikan boleh. dapat membawa mereka bertangistangisan. istimewa dari para khulafa. terbagi menjadi dua bagian.yang tidak bertaqwa. Maka tanda-tanda kemaudlu’an hadits. mencari penghargaan manusia dan memegahkan diri. Pendapat yang membolehkan orang membuat hadits untuk kebaikan Ada golongan yang berpendapat bahwa tidak salah apabila kita membuat-buat hadits nabi untuk menarik minat umat kepada ibadah.1980). kepartaian. Mereka menerangkan tandatanda yang perlu benar-benar diingat agar kita dapat membedakan hadits yang bukan maudlu’ dengan hadits yang maudlu itu. yaitu tanda-tanda yang diperoleh pada sanad dan pada matan. ingin menarik minat kepada kisah-kisah yang ganjil. Tegasnya.M. ta’ashshub kebangsaan.

dan dari segi lafadhnya. diantaranya sebagai berikut: Keburukan susunannya dan keburukan lafazhnya Kerusakan maknanya Karena berlawanan dengan akal sehat. Apabila sesuatu hadits menyalahi sharih Al-Quran dan tidak dapat dita’wilkan. Karena bertentangan dengan ilmu kedokteran. Karena menyalahi undang-undang (ketentuan-ketentuan) yang ditetapkan akal terhadap Allah. dihukumi maudlu’. sedang rawi itu pula 5 . Kenyataan sejarah mereka tidak mungkin bertemu Keadaan rawi dan faktor-faktor yang mendorngnya membuat hadits maudlu’. Karena mengandung dongeng-dongeng yang tidak masuk akal sama sekali. dapat ditinjau dari segi makna. Bertentangan dengan keterangan Al-Quran. hadits mutawatir. atau menyalahi kenyataan. hadits mutawatir.yang terpercaya yang meriwayatkan hadits dari dia. ijma’ dan dengan logika yang sehat. Menyalahi hakikat sejarah yang telah terkenal dimasa Nabi SAW. maka makna hadits itu bertentangan dengan: Al-Quran. Menyalahi keterangan Al-Quran yang terang. Pengakuan dari si pembuat sendiri. tegas. Tanda-tanda yang terdapat pada matan Ciri-ciri yang terdapat pada matan itu. Karena berlawanan dengan hukum akhlak yang umum. Terdapat banyak pula tanda-tanda hadits maudlu’ yang terdapat dalam matan. dan kaidahkaidah kulliyah. Dari segi maknanya. Sesuai hadits dengan madzhab yang dianut oleh rawi. Apabila menyalahi Sunnah yang mutawatirah. keterangan Sunnah Mutawatirah dan qaidah-qaidah kulliyah. Karena menyalahi hukum-hukum Allah dalam menciptakan alam.

Akan tetapi.Ag dan Agus Suryadi. sedangkan dari jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali. sudah mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits palsu. Mengandung (menerangkan) urusan yang menurut seharusnya. 187 . tidak ada dosa atasnya. ialah: Mengisnadkan hadits 4 Drs. (berdosa dari Kitab Minhatul Mughiits). (Bandung: Pustaka setia. Sebagian orientalis mengatakan. Lc. Adapun bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan sesudah meriwayatkan atau membacakannya). bahwa ulama-ulama Islam hanya menimbang sanad saja. 2009). hukumnya tidak boleh. Hukum Membuat dan Meriwayatkan Hadits Palsu Umat Islam telah sepakat bahwa hukum membuat dan meriwayatkan hadits maudhu’. kalau ada dinukilkan oleh orang ramai. kalau tetap dia amalkan. Hal. yaitu:4 Secara Muthlaq.nyatalah bahwa para ulama telah menetapkan : Empat tanda sanad dan tujuh tanda matan. M. tidak memperhatikan keadaan matan. Ilmu Hadits. Usaha-Usaha Para Ulama Dalam Memberantas Pemalsuan Hadits Usaha-usaha para ulama dalam memelihara sunnah dan membersihkannya dari pemalsuan hadits.Ag. Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu. M. Agus Solahudin. meriwayatkan Hadits-hadits Palsu itu hukumnya Haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa Hadits itu Palsu.orang yang sangat fanatik kepada madzhabnya. atau siksa yang sangat besar terhadap suatu perbuatan yang kecil. hendaklah segera dia tinggalkannya. Menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan yang sangat kecil. M. Apabila kita perhatikan pernyataan diatas. tidak ada dosa atasnya.

melarang mereka meriwayatkannya dan menyerahkannya kepada penguasa. dengan menggunakan berbagai kaidah studi kritis hadits. maka sebagian dari mereka. menumpas para pemalsu hadits. untuk membedakan haditshadits yang shahih dan yang palsu. daya ingatannya dan kemampuan menghafalnya. kematiannya. berhasil mengumpulkan hadits-hadits maudlu’ dalam sejumlah karya 7 .Bahwa para sahabat semula dalam menerima hadits tidak selalu menanyakan sanadnya. diambilnya dan kalau terdiri dari ahli bid’ah ditolaknya. ditelitinya. kelahirannya. Akan tetapi setelah terjadi fitnah. kalau sanad itu terdiri dari ahli sunnah. Kitab-Kitab yang Membuat Hadits Palsu Para ulama muhadditsin. Mereka membuat ketentuan mengenai tanda-tanda (ciri-ciri) hadits maudlu’ (palsu) baik ciri-ciri yang terdapat pada sanad maupun pada matnnya. Kemudian setelah disebutkan sanadnya. Membuat ketentuan-ketentuan umum tentang klasifikasi hadits Mereka membuat ketentuan dan syarat-syarat bagi hadits shahih. Membuat ketentuan-ketentuan untuk mengetahui ciri-ciri hadits maudlu’ (palsu). Menjelaskan tingkah laku rawi-rawinya Para sahabat. tabi’in dan tabi’it-tabi’in mempelajari biografi para rawi. tingkah lakunya. keadilannya. Mengambil tindakan kepada para pemalsu hadits Dalam rangka berhati-hati untuk menerima riwayat. mereka meminta untuk disebutkan sanadnya. hasan dan dla’if. Meningkatkan perlawatan mencari hadits Mereka meningkatkan perlawatan mencari hadits dari suatu kota ke kota untuk menemui para sahabat yang meriwayatkan hadits.

karya As-Suyuthi (Ringkasan Ibnu Al-Jauzi dengan beberapa tambahan). 187 6 Ibid. Al-La’ali Al-Mashnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudlu’ah. M. Agus Solahudin. karya Ibnu ‘Iraq Al-Kittani (ringkasan kedua kitab tersebut) Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah. M. baik sebagian maupun keseluruhannya. baik sebagian maupun keseluruhannya. Penyebutan ingkar as-sunnah tidak semata-mata berarti penolakan total terhadap sunnah. Hal. Ada tiga jenis kelompok ingkar as-sunnah:6 Kelompok yang menolak hadits-hadits Rasulullah saw. Lc. karya Ibn Al-Jauzi (Ulama yang paling awal menulis dalam ilmu ini. Penolakan terhadap sebagian sunnah pun termasuk dalam kategori ingkar as-sunnah. 2009). Ilmu Hadits. Mereka membuat metodologi tertentu dalam menyikapi sunnah. 207 . secara keseluruhan. termasuk di dalamnya penolakan yang berawal dari sebuah konsep berpikir yang janggal atau metodologi khusus yang diciptakan sendri oleh segolongan orang. Hal ini mengakibatkan tertolaknya sunnah. Tanzihu Asy-Syari’ah Al-Marfu’ah ‘an Al-Ahadits Asy-Syani’ah AlMaudlu’ah. sedangkan konsep tersebut tidak dikenal dan diakui oleh ulama hadits dan fiqh. baik masa lalu maupun masa sekaran. INGKAR AS-SUNNAH Pengertian Ingkar As-Sunnah Ingkar as-sunnah adalah sebuah sikap penolakan terhadap sunnah Rasul. Kelompok yang hanya menerima hadits-hadits mutawatir dan menolak haditshadits ahad walaupun shahih. (Bandung: Pustaka setia. Hal.yang cukup banyak. di antaranya:5 Al-Maudlu’ Al-Kubra. 5 Drs.Ag dan Agus Suryadi.Ag. M. karya Al-Albani. Kelompok yang menolak hadits-hadits yang tak disebutkan dalam Al-Quran secara tersurat maupun tersirat.

yaitu masa klasik dan masa modern. Pada perkembangan selanjutnya setelah Zionis Yahudi mampu mengoyak kekuatan Islam.Ternyata apa yang terjadi di zaman sahabat. ingkar as-sunnah baik yang klasik maupun yang modern memiliki argumen-argumen yang dijadikan pegangan oleh mereka. Argumentasi Ingkar As-Sunnah Sebagai suatu paham atau aliran. muncullah firqah ekstrim yang sangat lantang menolak Sunnah untuk membuat kekacauan di tengah ummat. Ingkarus Sunnah bersifat individu. begitu pula Ayub As-Sukhtiyani. dan Sunnah telah diuji oleh mereka yang mengingkari kehujjahannya sebagai salah satu sumber penetapan syariat Islam. Mushthafa Al-Azhami dalam kitabnya Dirasat Fii Al Haditsi An Nabawi . dan oleh mereka yang mengingkari kehujjahan Sunnah yang tidak mutawatir (yaitu. Berikut ini akan dijelaskan argmen-argumen 9 .Sejarah Perkembangan Ingkar As-Sunnah Sejarah perkembangan Ingkar Sunnah hanya terjadi dua masa. Secara kebetulanorang-orang Ingkar Sunah saat itu banyak terdapat di Iraq. Imran bin Husain adalah orang Basrah. barangkali pemikiran itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa. gejala timbulnya Inkarus Sunnah sudah mulai tampak di zaman sahabat yakni adanya diantara merekayang kurang mewaspadai bahwa Al Hadits juga sumber syari`at. sebagaimana dijelaskan AlHasan: “ketika Imran bin Husain berbicara masalah Sunnah. berkatalah seorang laki-laki: “Ya Aba Najid berbicaralah kepada kami tentang AlQur`an…”Kemudian kisah Umayah bin Khalid telah mencoba membahas masalah dengan dalil Al Qur`an saja ketika berdialog dengan Abdulah bin Umar tentang sholat. Abad kedua Hijriah belum lewat. Menurut DR. belum merupakan firqah namun lama kelamaan jumlah mereka semakin bertambah. Sunnah atau hadits yang disaksikan didengar dan diriwayatkan oleh orang banyak) yaitu hadits yang datang. Tanpa argumen-argumen itu. Imam Syafi`i pun menjelaskan demikian.

Apabila kita mengambil dan memakai Sunnah. M.S.Ag. (Q. Agus Solahudin. Karena itu apabila agama Islam berlandaskan hadits-di samping AlQuran. M.mereka. (Q.ptø:$# $\«øŒx© ÇËÑȨ Artinya: “Sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun 7 Drs. Al-Baqarah: 1-2) Q. Al-Quran yang kita jadikan landasan agama itu bersifat pasti. dan tidak sampai pada peringkat pasti.Islam akan bersifat ketidakpastian. Fathir: 31) Sementara apabila agama agama islam itu bersumber dari hadits. diantaranya:7 Agama bersifat konkret dan pasti Mereka berpendapat bahwa agama harus dilandaskan pada suatu hal yang pasti.S. seperti dituturkan dalam ayat-ayat berikut: Q.S Al-Baqarah ayat 1 dan 2 O!9# ÇÊÈ y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Œw |=÷ŒuŒ ¡ Ïm ŒÏù ¡ ŒWŒèd$ z` ŒÉ)FßJù=Ïj9 ÇËÈ :Artinya “Alif Laam Miim (1) Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya. petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. An-Najm ayat 28: bÎ)ur £`©à9$# Œw ÓÍ_øó㌠z`ÏB Èd. ia tidak akan memiliki kepastian sebab keberadaan hadits – khususnya hadits Ahad bersifat zhanni (dugaan yang kuat).S. (Bandung: Pustaka setia.Ag dan Agus Suryadi. M. Dan ini dikecam oleh Allah dalam firman-Nya Q. 219 . Ilmu Hadits. Hal.ysø9$# $]%ÏdŒ|ÁãB $yJÏj9 tû÷üt/ Ïm÷ŒyŒtŒ 3 Artinya: “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu Yaitu Al kitab (Al Quran) Itulah yang benar. berarti landasan agama itu tidah pasti. 2009).S. Lc. Fathir ayat 31 üŒÏ%©!$#ur !$uZøŒym÷rr& y7øŒs9Î) z`ÏB É=»tGÅ3ø9$# uqèd Œ. dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya”.

ayat di atas membantah Al-Quran masih mengandung kekurangan. (Al-An’am: 38) Jika kita berpendapat Al-Quran masih memerlukan penjelasan. An-Najm: 28) Demikianlah argumen pertama ingkar as-sunnah.S. (Q. justru sebaliknya Al-Quran merupakan penjelasan terhadap segala hal.Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx«$ ŒYŒèdur ZpyJômuŒur 3ŒuŒô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang11 . tidak ada dalil lain. Argumen ini dipakai oleh Taufiq Aidqi dan Abu Rayyah. baik yang klasik maupun yang modern. Padahal. Oleh karena itu. Al-Quran sudah lengkap Dalam Syariat Islam. berfirman dalam surat Al-An’am ayat 38: B $uZôÛ§Œsù ŒÎû É=»tGÅ3ø9$# `ÏB &äóÓx« 4 ÇÌÑȨ$ Artinya: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Quran)”. Allah SWT. seperti diungkapkan oleh Taufiq Sidqi (Mesir) dan Jam’iyah ahl Al-Quran (Pakistan). kecuali Al-Quran. Al-Quran tidak memerlukan penjelas Al-Quran tidak memerlukan penjelasan. kecuali Al-Quran. berarti kita secara tegas mendustakan Al-Quran yang membahas segala hal secara tuntas.terhadap kebenaran”. dalam syariat Allah tidak mungkin diambil pegangan lain. Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 89 dan surat Al-An’am ayat 114: uZø9¨ŒtRur ŒŒøŒn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uŒö.

(Q.ptø:$# $º«øŒx© 4 7ÇÌÏÈ Artinya: “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. M. Hal.Ag dan Agus Suryadi. (Bandung: Pustaka setia. Al-Quran sendiri-meskipun kebenarannya sudah diyakini sebagai kalamullah-tidak semua ayat memberikan petunjuk hukum yang pasti sebab banyak ayat yang pengertiannya masih zhanni (zhanni ad-dalalah). Mereka adalah orangorang yang menolak hadits secara keseluruhan. baik dulu maupun kini.orang yang berserah diri”. Bantahan Terhadap Ingkar As-Sunnah8 Bantahan terhadap argumen yang pertama Alasan mereka bahwa Sunnah itu zhanni (dugaan kuat) sedang kita diharuskan mengikuti yang pasti (yakin).S. 2009). Ilmu Hadits. Al-An’am: 114) Ayat-ayat ini dipakai dalil oleh para pengingkar Sunnah. orang yang memakai pengertian ayat seperti ini juga tidak dapat meyakinkan bahwa pengertian itu bersifat pasti (yakin). Sebab. seperti Taufiq Sidqi abu Rayyah. M. 8 Drs. (Q. Bahkan. Dengan demikian. Mereka menganggap Al-Quran sudah cukup karena memberikan penjelasan terhadap segala masalah. berarti ia juga tetap mengakui pengertian ayat yang masih bersifat dugaan kuat (zhanni ad-dalalah).r& ŒwÎ) $ŒZsß 4 ¨bÎ) £`©à9$# Œw ÓÍ_øóãŒ$ z`ÏB Èd. Adapun firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 36 adalah: tBur ßìÎ7GtŒ óOèdçŒsYø. An-Nahl: 89) uqèdur üŒÏ%©!$# tAtŒRr& ãNà6øŒs9Î) |=»tGÅ3ø9$# Wx¢ÁxÿãB t ÇÊÊÍÈ Artinya: “Dan Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci”. masalahnya tidak demikian.S. Lc.Ag. M. 223 . Agus Solahudin.

Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx«$ ŒYŒèdur ZpyJômuŒur 3ŒuŒô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9 ÇÑÒÈ Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orangorang yang berserah diri”. masalahnya tidak demikian. umumnya ‘kekurangan waktu’ dalam mempelajari Al-Quran. Yunus: 36) Yang dimaksud dengan ‘kebenaran’ (al-haq) di sini adalah masalah yang sudah tetap dan pasti.S. Bantahan terhadap argumen kedua dan ketiga Kelompok pengingkar Sunnah. baik pada masa lalu maupun belakangan . Abu AlHusain Al-Bashri Al-Mu’tazili mengatakan. dalam syat 44 surat An-Nahl itu juga. tetapi kita mengikuti atau memakai zhann yang memang diperintahkan Allah. agar kamu menerangkan pada 13 . (Q. bahwa zhanni tidak dapat melawan melawan kebenaran yang sudah tetap dengan pasti. “Dalam menerima haditshadits ahad. Allah berfirman. Jadi. An-Nahl: 89) Padahal. Ï3 !$uZø9tŒRr&ur y7øŒs9Î) tŒò2Ïe%!$# tûÎiüt7çFÏ9 Ĩ$¨Z=Ï9 $tB tAÌhŒçR öNÍköŒs9Î) öNßg¯=yès9ur Œcr㌩3xÿtGtŒ ÇÍÍÈ Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran. sebenarnya kita memakai dalil-dalil pasti yang mengharuskan untuk menerima hadits-hadits itu”. Untuk membantah orang-orang yang menolak hadits ahad.S. Jadi sebenarnya kita tidak memakai zhann yang bertentangan dengan haq. maksud ayat ini selengkapnya adalah.Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran”. sedangkan dalam hal menerima hadits. Hal itu karena mereka kebanyakan hanya memakai dalil ayat 89 surat AnNahl: uZø9¨ŒtRur ŒŒøŒn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uŒö. (Q.

dan memakai Al-Quran sesuai pemahamannya sendiri seraya tidak mau memakai penjelasan-penjelasan yang berasal dari Nabi saw? apakah ini tidak berarti percaya kepada sejumlah ayat Al-Quran dan tidak percaya kepada ayat-ayat yang lain? Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 85: tbqãYÏB÷sçGsùr& ÇÙ÷èt7Î/ É=»tGÅ3ø9$# ŒcrãŒàÿõ3s?ur . melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Al-Baqarah: 85) Sedangkan argumen mereka dengan surat Al-An’am ayat 38: B $uZôÛ§Œsù ŒÎû É=»tGÅ3ø9$# `ÏB &äóÓx« 4 ÇÌÑȨ$ Artinya: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Quran)”. (Q. (Al-An’am: 38) Hal itu tidak pada tempatnya sebab Allah juga menyuruh kita untuk memakai apa yang disampaikan oleh Nabi saw. Seperti dalam firmannya surat Al-Hasyr ayat 7: tBur ãNä39s?#uä ãAqߌ§Œ9$# çnräŒãŒsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã$! (#qßgtFR$$sù ÇÐÈ . An-Nahl:44) Apabila Allah sendiri yang menurunkan Al-Quran itu sudah membebankan kepada nabi-Nya agar ia menerangkan isi Al-Quran.umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”.. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”.S. <Ù÷èt7Î/ 4 $yJsù âä!#tŒy_ `tB ã@yèøÿtŒ ŒŒÏ9ºsŒ öNà6YÏB ŒwÎ) ӌ÷ŒÅz ŒÎû Ío4quŒysø9$# $uŒ÷RŒŒ9$# ( tPöqtŒur ÏpyJ»uŒÉ)ø9$# tbrŒŒtŒãŒ #Œn<Î) ÏdŒx©r& É>#xŒyèø9$# 3 $tBur ª!$# @@Ïÿ»tóÎ/ $£Jtã tbqè=yJ÷ès? ÇÑÎÈ “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu.S. dapatkah dibenarkan seorang muslim menolak keterangan atau penjelasan tentang isi Al-Quran tersebut.. (Q.

istana itu sudah paling lengkap dan tidak perlu hal-hal lain. Kritik Orientalis Pengertian Kritik dan Orientalis 15 . Rasulullah saw.. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat. Al-Hasyr: 7) Allah SWT. Akan tetapi.S.. ia tidak mau memakai lampu sehingga pada malm hari.. baik berupa perintah maupun larangan.Artinya: “. 9`ÏB÷sßJÏ9 Œwur >puZÏB÷sãB #sŒÎ) Ó|Ós% ª!$#$ ÿ¼ã&è!qߌuŒur #·ŒøBr& br& tbqä3tŒ ãNßgs9 äouŒzŒÏŒø:$# ô`ÏB öNÏďøBr& 3 `tBur ÄÈ÷ètŒ ©!$# ¼ã&s!qߌuŒur ôŒs)sù ¨@| Ê Wx»n=|Ê $YZ ŒÎ7ŒB ÇÌÏÈ Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin. Maka tinggalkanlah. Akhirnya. istana itu gelap. dan apa yang dilarangnya bagimu. Maka terimalah. juga berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 36: tBur tb%x. ia menganggapbahwa gelap yang terdapat dalam istana itu sebenarnya sudah merupakan cahaya. Semua ini bersumber dari Al-Quran.. sajalah yang diberi tugas untuk menjelaskan kandunan Al-Quran.. sebab kabel-kabel lampu mesti disambung dengan pembangkit tenaga listrik di luar. apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan..”. akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Apabila istana itu dipasang lampu-lampu dan lain-lain. (Q. sesat yang nyata”. Kita tidak memasukkan unsur lain kedalam Al-Quran sehingga masih dianggap memiliki kekurangan. berarti ia masih memerlukan masalah lain.. sedangkan kita diwajibkan untuk menerima dan mematuhi penjelasan-penjelasan beliau.S. (Q. Sebab menurut dia. Hal ini tak ubahnya seperti seorang yang diberi istana yang megah yang lengkap dengan segala fasilitasnya.Apa yang diberikan Rasul kepadamu. Al-Ahzab:36) Berdasarkan teks Al-Quran.

Maryam Jamilah menyatakan bahwa tujuan orientalis dalam penelitiannya tentang Islam dan hal ihwalnya dengan: . Sedang Kritik dalam Bahasa Arab adalah “naqd” yang diterjemahkan dengan ”mengkritik” atau “meneliti dengan cermat”. pengkritik. pengupas. atau menurut versi W. yakni segala sesuatu mengenai negeri-negeri Timur. kehidupannya dan lain-lain. Yang dapat kita pahami dari pengertian diatas adalah bahwa kritik/ mengkritik adalah upaya untuk menunjukkan / mendahulukan kesalahan daripada mencari kebenarannya. peradabannya. maka kebenaran yang adapun tidak tampak. Berdasarkan letak geografis. Ismail Ya’kub menyatakan bahwa orientalis adalah orang yang ahli tentang soal-soal ketimuran.S. agamanya. orientalis bisa juga diartikan orang yang ahli dibidang ketimuran. Tetapi konotasi yang diberikan oleh Barat tentang Timur adalah orang-orang Islam.adalah Asia Timur. Puerwodarminto mengkritik diartikan dengan “memberi pertimbangan dengan menunjukkan yang salah”. dapat diambil pengertian akan tujuan orientalis. terutama Negeri-negeri Arab pada umumnya dan Islam pada khususnya. tentang kebudayaannya. Dilihat dari segi terminologinya.Kritik. berasal dari bahasa Inggris “critic” yang dalam bahasa Indonesia diartikan pengecam. Melalui kritik-kritik yang dilontarkannya. dan bisa jadi karena sibuk dengan mencari kesalahan. maka dalam benak kita ketika memahami “kritik” akan dipenuhi dengan su’udzan. mereka menyisipkan “bom waktu” yang sewaktu-waktu dapat memporak-porandakan bangunan Islam apabila tidak segera dijinakkkan. Secara terminologi. pembahas. Sedangkan kata “orientalis” berasal dari kata orient yang berarti –salah satunya. memang benua Asia berada disebelah Timur benua Eropa. Dengan demikian. Karena itu.J. Dari pengertian diatas. kritik berarti upaya-upaya untuk menemukan kesalahan. atau berasal dari kata oriental yang berarti orang Timur atau Asia.

Ignace Goldziher mengatakan. 102 17 .“ … yang diupayakan (orientalis) secara mendalam bukanlah untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik dan orisinil melainkan hanya rencana jahat yang terorganisasikan untuk menghasut para pemuda kita (Islam) agar memberontak terhadap agama mereka. Endang Soetari Ad. hanya Al-Quranlah dasar pembinaan hukum islam.S. (Q.Si. 2008) Hal. Dengan berdalil pada firman Allah surat Al-An’am ayat 38 dan surat Al-Hijr ayat 9: B $uZôÛ§Œsù ŒÎû É=»tGÅ3ø9$# `ÏB &äóÓx« 4 ÇÌÑȨ$ Artinya: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab”. (Bandung: CV. Al-An’am:38) 9 Prof. H. bahwa hadits sebagian besar adalah hasil dari perkembangan politik dan kemasyarakatan dalam abad I dan II Hijriyah. Mereka berpendapat pula. bahwa hadits tidak dapat dijadikan dasar tasyri’. M. Hadits yang betul-betul dari nabi hanya sedikit sekali dan tidak dijadikan hujjah yang mu’tammad di zaman permulaan Islam. Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. Sejumlah Kritik Orientalis Terhadap Hadits Adapun kritik-kritik mereka tentang hadits sebagai berikut:9 Beberapa orientalis berpendapat bahwa sebagian besar hadits adalah buatan orang islam. bukan sabda Nabi SAW.Dr. dan mencemooh semua warisan sejarah Islam dan kebudayaannya sebagai warisa yang tidak berguna. Mimbar Pustaka. sinisme dan sekeptisisme”. Hal ini karena hadits tidak dapat diyakini keberadaannya mengingat banyaknya perbedaan lafazh dan pertentangan satu sama lain. Sasaran yang hendak dicapainya adalah menciptakan kekeliruan sebanyak-banyaknya dikalangan pemuda yang belum matang dan mudah ditipu dengan cara menanamkan benih keraguan.

RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“ tR t“ ø. bahwa untuk kepentingan golongan dan partai. Dikatakan bahwa penambahan ini oleh karena Abu Hurairah mempunyai sebidang tanaman/kebun. Hadits sebagaimana memelihara Al-Quran. seperti yang dilakukan oleh khalifah Bani Umayah untuk alasan dari praktek berkhutbah duduk dan berkhutbah sebelum hari raya. sebab terbukti bahwa ada sementara shahabat tidak adil. Hal ini pernah Abu Hurairah memberi tambahan. sebab Allah tidak memelihara kemurnian. .Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9¯$ tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran. hadits bukan dasar tasyri’. dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. Buktinya banyak pemalsuan hadits.S. Keragu-raguan juga dilontarkan kepada al-Zuhri sebagai pelopor pentadwin hadits. dan shahabat sudah pernah berkhutbah dengan cara duduk. Mereka mengatakan. Mereka menuduh. Mereka mengatakan bahwa al-Zuhri memalsukan hadits untuk kepentingan politik Bani Umayah. bahwa itu berdasarkan dari hadits Nabi saw. selain untuk berburu atau anjing penjaga binatang ternak. Al-Hijr: 9) Mereka mengatakan bahwa sumber Syari’at Islam hanyalah Al-Quran. Kalau hadits juga dasar tasyri’ maka hadits mestinya terpelihara pula. suka bersenda gurau dan membuat hadits untuk kepentingan sendiri. (Q. dengan kata-kata “atau anjing penjaga taman/kebun” pada hadits yang menerangkan bahwa pahala seseorang tiap hari akan berkurang dua qirath apabila memelihara anjing. bahwa yang oleh islam dikatakan adil ternyata benar. umat islam memalsukan hadits. Yang disoroti adalah Abu Hurairah sebagai perawi hadits ternyata seorang humoris.

(Bandung: CV. 104 19 . hadits adalah dasar syari’at islam yang menjadi 10 Prof. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh H. dan baru ditulis pada awal abad II Hijriyah. bahwa dalam bidang fiqh tidak dijumpai suatu perbedaan pendapat kecuali ada hadits-hadits yang menguatkan salah satu pihak dan yang menguatkan pihak yang lain. akan tetapi hanya memberikan bahan-bahan yang dapat dipakai untuk membangun system berkala. dan mereka juga menduga bahwa pemalsuan hadits sudah terjadi sejak masa Nabi saw. Endang Soetari Ad. Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. Karena pada masa nabi.Meragukan kebenaran hadits yang terdapat pada kitab-kitab hadits. Gibb yang mengutarakan. H. begitu pula pada masa Khulafa alRasyidin. terbukti bahwa ulama islam juga banyak yang tidak menerima hadits sebagai hasil tadwin tersebut.R. Ahmad Amin menerangkan.Dr. Mimbar Pustaka.Si. Ahmad Amin memberikan bukti dengan menerangkan. bahwa baik Al-Quran maupun hadits tidak memberikan kumpulan secara sistematis dalam peraturan hukum. Jawaban Terhadap Kritik Orientalis Terhadap Hadits Adapun jawaban terhadap kritik orientalis di atas adalah sebagai berikut:10 Sejak permulaan Islam. Mereka menilai bahwa sistematika tadwin hadits tidak baik dan tidak memenuhi persyaratan ilmiah serta tidak memudahkan untuk penggunaannya. sehingga dalam madzhab Hanafi yang terkenal sebagai madzhab yang tidak mau mempergunakan hadits kecuali sedikit (menurut Ibnu Khaldun hanya 17 buah saja) dengan hadits-hadits yang kadang-kadang menyerupai style fiqh. Mereka mengatakan bahwa diwan hadits secara keseluruhan tidak memuaskan. hadits tidak ditulis. Hal ini menyebabkan orang mudah memalsukan hadits. 2008) Hal. bahwa ada golongan yang memberanikan diri meletakkan hadits-hadits yang dinisbahkan kepada Rasul dengan jalan dusta. mungkin pemalsuan hadits sudah terjadi semenjak Rasul masih hidup. M.A.

politik dan kemasyarakatan islam di abad I dan II Hijriyah. Hadits berfungsi sebagai interpretasi Al-Quran tentang keumumannya. terhadap hadits shahih dan hasan. berlaku tetap dalam kebulatannya sebagai pedoman pelaksanaan agama islam. dalam Al-Quran telah ada pokok-pokok agama. jumhur ulama menetapkan sebagai huajjah. “al-kitab”. dimengerti dan diamalkan dengan penuh ketaatan. hadits bukanlah sekedar natijah dari proses perkembangan agama. perbuatan dan taqrir yang beliau sunnahkan untuk melengkapi maksud wahyu ilahi (Al-Quran). Dengan demikian. Melainkan ajaran Nabi saw. hukum-hukum. Tentang firman Allah surat Al-An’am ayat 38.pedoman pengamalan agama bagi umat islam dan telah menjadi darah daging umat islam sebab selalu dihafal. Hadits tidak bisa dipisahkan dari Al-Quran. tertera atau dapat dipahami dari diwan-diwan hadits. dan kebahagiaan makhluk pada umumnya”. Kemudian selanjutnya diajarkan dan disebarkan kepada generasi berikutnya dengan periwayatan yang berpedoman kepada keshahihan sanad dan kebenaran matan. yang berupa perkataan. norma-norma. Dengan demikian. Setiap hadits sesudah jelas derajat dan nilainya. kemujmalannya. tafsir Al-Quran Departemen Agama RI menjelaskan: “Sebagian mufassirin menafsirkan al-kitab itu dengan Lauh al-Mahfuzh dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauh al-Mahfuzh. hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia dunia akhirat.M. Dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran. Hadits mutawatir memfaidahkan yakin. kemuthlaqannya dan kemusykilannya. tidak sewajarnya untuk tidak menerima hadits sebagai dasar tasyri’. dengan arti. Hasbi Ash- . khususnya penafsiran tentang lafazh. Akhirnya. juga berhasil dihimpun dalam kitab-kitab hadits yang penyelenggaraannya menurut peraturan dan adab yang menjamin kemurnian hadits tersebut. Tentang firman Allah pada surat Al-Hijr ayat 9. menurut T.

kita dapat mengetahui hal ihwal Abu Hurairah yang sebenarnya. bila umat bisa percaya pada informasi mereka tentang kecacatan kedua tokoh tersebut. Adapun tuduhan bahwa khalifah Bani Umayyah merubah cara ibadah (khutbah Jum’at dan Hari Raya) dengan menbuat-buat hadits.Shiddieqy. dan berkhutbah sambil duduk karena badan gemuk dan Marwan berkhutbah pada Hari Raya sebelum shalat. maka para ulama telah membahasnya pula. sebab justru dua tokoh itulah pemuka hadits. Bahwa sasaran kritik orientalis tentang perawi hadits kepada Abu Hurairah dan al-Zuhri adalah dapat dimaklumi. Perbuatan Mu’awiyah membikin pagar tempat shalatnya. maksud kata “Al-Dzikr” disana adalah mencakup Al-Quran dan Al-Hadits. Dari kitab biografi yang mu’tabar dan dari kitab Jarh wa al-ta’dil. karena yang dimaksud adalah syara’ dan agama. maka hal ini memang kaum zindiq memalsukan hadits di berbagai bidang: akidah. tetapi ijtihad mereka dikala itu dengan adanya perubaghan sikap pada masyarakat. Umat Islam masa Nabi saw. imamah dan jama’ah. Pendakwaan bahwa pemalsuan hadits meluas pada bidang ibadah. karena terbiasa orangorang pulang setelah melakukan shalat tersebut selagi imam berkhutbah. maka akan hilanglah kepercayaan kepada semua ulama hadits yang lain dan lemah pulalah hadits karenanya. Harapan mereka. selalu berusaha mendapatkan hadits (pengajaran) 21 . bukan pula muslim yang taqwa. sedang syara’ dan agam terhimpun dalam Al-Quran dan Hadits. Abu Hurairah adalah perawi terbanyak dan al-Zuhri pelopor tadwin hadits. betul telah menimbulkan pemalsuan hadits. Dari adanya pertentangan politik. semuanya itu bukanlah pemalsuan hadits. Oknum-oknumnya ialah orang munafik. zindik yang tidak ikhlas beragama islam dan mau menyeret islam kepada kehancuran. akan tetapi mereka yang lemah imannya yang lebih mementingkan kepentingan golongan sendiri dengan merugikan agama. namun yang membuat hadits-hadits palsu tersebut bukanlah ulama-ulama hadits. ibadah.

Adalah tidak benar jika madzhab Hanafi tidak menggunakan hadits sebagai dasar tasyri’. Dengan dilengkapi kitab penunjuk. Hal itu kitab-kitab fiqh madzhab hanafi bias menjadi saksi. Qiyas dan Is-tihsan. Islam memiliki kitab hadits dengan sistematika fiqh yang memiliki pula kitab fiqh. yang jauh tempat tinggalnya berusaha bergiliran mendatangi Nabi saw. Sedangkan pemalsuan hadits di masa nabi. ruthbah dasar tasyri’ menurut Abu Hanafi adalah: Kitab. tauhid. karena menurut kenyataan Abu Hanifah yang sangak ketat (keras) itu bukan meriwayatkan 17 hadits tetapi 17 kitab. Kami berpendapat bahwa sistematika penulisan hadits pada diwan-diwan hadits pada taraf terakhir. sudah memadai dan baik. yang paling kecil adalah kitab Abu Hanifah yang diriwatkan oleh al-Thahawi. Mengenai tulisan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya. agar mendapat pelajaran. pembukuan (tadwin) secara resmi diadakan sekitar tahun 80 Hijriyah. Dan resminya pentadwinan secara menyeluruh dimulai tahun 100 H. Menurut beliau. .dari Nabi saw. penyelenggaraannya memenuhi syarat ilmiah. bahwa perkataan Ibnu Khaldun itu sebagai suatu hal yang khilaf. kemudian disebarkan. hal itu adalah suatu kekhilafan. kitab mukhtashar. Penulisan hadits sudah dimulai sejak masa Nabi saw. bahwa Abu Hanifah hanya mempergunakan 17 hadits. hai itu tidak mustahil. sebab bertentangan dengan kenyataan. Hadits-hadits tersebut mereka amalkan dan dipelihara dalam hafalan. sunnah. namun pada waktu itu pula sudah ada penyelesaian karena wahyu masih sedang diturunkan. dan diperluas di masa sahabat dan tabi’in. karangan al-Hazimi. maka kitab-kitab hadits memenuhi hajat dan kebutuhan umat dalam rangka mencari dalil hukum syari’at. dan kitab fiqh (‘ulum) al-hadits. Ijma’. Dan kekhilafan ini sudah diralat oleh al-‘Alamah Muhammad Zahid alKautsari sebagai tertera pada kitab Ta’liq Syuruth al-Khamsah. dan tasawuf yang lengkap dengan dalildalil dari hadits. kitab syarh.

Kritik orientalis tersebut didasarkan kepada hasil penelitiannya terhadap hadits dan ilmu hadits. hendaklah segera dia tinggalkannya. BAB III SIMPULAN Hukum Membuat dan Meriwayatkan Hadits Palsu Secara Muthlaq. sudah mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits palsu. Namun yang paling penting.terhadap hadits ataupun ilmu hadits. Dan data-data itu diperoleh melalui penelitian juga. sedangkan dari jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali. Adapun bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan sesudah meriwayatkan atau membacakannya). kalau tetap dia amalkan. Akan tetapi. Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu. hukumnya 23 . dengan segala aspeknya -kekurangan dan kelebihannyakemudian dituangkan dalam bentuk yang argumentatif dan rasional – setidaknya menurut mereka. meriwayatkan Hadits-hadits Palsu itu hukumnya Haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa Hadits itu Palsu.maka secara implisit juga merangsang dan menantang umat Islam untuk mematahkan argumentasi mereka berdasarkan data-data yang sebenarnya. adalah dengan adanya kritik tersebut dapat menggugah kembali pikiran umat Islam untuk tidak menerima hadits begitu saja tanpa adanya penelusuran kembali (reserve). tidak ada dosa atasnya. tidak ada dosa atasnya.Hikmah Dibalik Kritik Orientalis Ada banyak hikmah yang dapat kita petik dari kritik orientalis –khususnya kritik Goldziher dan Joseph Schacht.

Meragukan kebenaran hadits yang terdapat pada kitab-kitab hadits. sebab terbukti bahwa ada sementara shahabat tidak adil. bahwa hadits tidak dapat dijadikan dasar tasyri’. .tidak boleh. (berdosa . Mereka mengatakan bahwa diwan hadits secara keseluruhan tidak memuaskan. bahwa untuk kepentingan golongan dan partai. bukan sabda Nabi SAW. hanya Al-Quranlah dasar pembinaan hukum islam. terbukti bahwa ulama islam juga banyak yang tidak menerima hadits sebagai hasil tadwin tersebut. Mereka mengatakan.dari Kitab Minhatul Mughiits). bahwa yang oleh islam dikatakan adil ternyata benar. Mereka menuduh. Argumentasi Ingkar As-Sunnah Agama bersifat konkret dan pasti Al-Quran sudah lengkap Al-Quran tidak memerlukan penjelas Kritik Orientalis Terhadap Hadits Beberapa orientalis berpendapat bahwa sebagian besar hadits adalah buatan orang islam. umat islam memalsukan hadits. Mereka menilai bahwa sistematika tadwin hadits tidak baik dan tidak memenuhi persyaratan ilmiah serta tidak memudahkan untuk penggunaannya. Mereka berpendapat pula.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->