P. 1
Contoh Sekripsi Konseling Unnes

Contoh Sekripsi Konseling Unnes

|Views: 1,089|Likes:
Published by Sarif Efendi

More info:

Published by: Sarif Efendi on Oct 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2014

pdf

text

original

PERSEPSI KLIEN TENTANG KEEFEKTIFAN KONSELOR DALAM MELAKSANAKAN KONSELING INDIVIDUAL DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN, PENGALAMAN KERJA

DAN GENDER KONSELOR DI SMA NEGERI SE-KOTA SEMARANG TAHUN AJARAN 2004/2005

SKRIPSI
Diajukan dalam rangka Penyelesaian Studi Strata 1 untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Nama N I M : Kanthi Puji Solehhati : 1314980978

Program Studi : Bimbingan dan Konseling

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

ABSTRAK
Kanthi Puji Solehhati, 2005. Persepsi Klien tentang Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja, dan Gender Konselor di SMA Negeri se-Kota Semarang Tahun Ajaran 2004/2005. Pelaksanaan konseling individual hingga saat ini belum optimal, hal tersebut dapat dilihat dari masih adanya konselor sekolah dalam melaksanakan konseling individual kurang berprosedur/tidak sistematis. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keefektifan dan perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender konselor menurut persepsi klien. Penelitian ini menggunakan studi populasi, yaitu siswa di SMA Negeri se-Kota Semarang yang sudah pernah memanfaatkan konseling individual dengan minimal dua kali tatap muka dalam satu penyelesaian masalah yang berjumlah 99 responden. Variabel penelitian adalah variabel tunggal yakni keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual. Metode pengumpul data adalah skala psikologi, dengan alat pengumpul data skala persepsi. Skala tersebut berisi pernyataan sebanyak 125 item, diberikan kepada 55 responden. Uji validitas dengan menggunakan rumus Product Moment. Uji reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha. Analisis data menggunakan Analisis Deskriptif dan Analisis Statistika Inferensial U Mann Whitney dan Kruskal Wallis. Hasil perhitungan penelitian mengatakan bahwa (1) Klien mempunyai persepsi yang positif (baik) terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan (D3 BK = 2,66/67% dan S1 BK = 3,11/78%), pengalaman kerja (0 – 11 tahun = 2,62/66%, 12 - 23 tahun = 3,07/77%, dan > 24 tahun = 3,19/80%), dan gender konselor (wanita = 3,01/75% dan pria 3,14/79%). (2) Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor D3 dan S1 bimbingan dan konseling menurut persepsi klien (Zhitung = -2,561 < -Ztabel = -1,96) pada taraf signifikan 5% dengan U = 19. (3) Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja konselor 0 tahun – 11 tahun dengan konselor dengan masa kerja 12 tahun – 23 tahun dan > 24 tahun menurut persepsi klien (χhitung = 7,532 > χ²tabel = 5,99) dan (Zhitung = -2,448 < -Ztabel = -1,96) pada taraf signifikan 5% dengan U = 9 dan (Zhitung = -2,552 < -Ztabel = -1,96) pada taraf signifikan 5% dengan U = 1. (4) Tidak ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor pria dan wanita menurut persepsi klien (Zhitung = -0,849 < Ztabel = 1,96) pada taraf signifikan 5% dengan U = 87. Simpulan: (1) Klien mempunyai persepsi yang positif terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender konselor. (2) Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan dan pengalaman kerja konselor menurut persepsi klien. (3) Tidak ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor menurut persepsi klien. Saran: Untuk meningkatkan profesionalisme konselor di sekolah khususnya konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK dapat dilakukan melalui kegiatan ilmiah dalam bidang bimbingan dan konseling seperti seminar, loka karya, penataran, work shop, diskusi-diskusi melalui MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), maupun dengan melanjutkan studi ke jenjang S1 bimbingan dan konseling. Pengetahuan, keterampilan dan kualitas kepribadian akan diperoleh melalui pengalaman kerja, maka hendaknya konselor di sekolah dapat melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling, khususnya konseling individual dengan sebaik-baiknya. Sedangkan bagi peneliti lain sebagai dasar pijakan untuk penelitian lanjutan dengan menambah variabel yang diteliti seperti motivasi kerja, sarana-prasarana, kerja sama antar konselor dan variabel yang lainnya, sehingga diperoleh jawaban yang lebih jelas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual.

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, pada: Hari : Kamis,

Tanggal : 24 Maret 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Siswanto NIP. 130515769

Drs. Suharso, M.Pd NIP. 131754158

Anggota Penguji Pembimbing I

Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd NIP. 130607619

1. Drs. Suharso, M.Pd NIP. 131754158

Pembimbing II

2. Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd NIP. 130607619

Drs. Supriyo, M.Pd NIP. 130783045

3. Drs. Supriyo, M.Pd NIP. 130783045 iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO: 1. “Dosa terbesar adalah ketakutan. Rekreasi terbaik adalah bekerja. Musibah terbesar adalah keputus-asaan. Keberanian terbesar adalah kesabaran. Guru terbaik adalah pengalaman. Misteri terbesar adalah kematian. Kehormatan terbesar adalah kesetiaan. Karunia terbesar adalah anak yang soleh. Sumbangan terbesar adalah berpartisipasi. Modal terbesar adalah kemandirian” (Ali Bin Abi Thalib).

PERSEMBAHAN: Karya Penelitian Ini Kupersembahkan Kepada: 1. Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang. 2. Ayahanda (Bp. Sugiyono M.A) & Ibunda (Ny. Sri Sudartinah), Kakak (Mas Teguh & Mbak Eni), Adik (Priyo) & Keponakan (Andra) tersayang, yang telah memberikan kekuatan karena doa dan harapannya yang sangat besar pada diriku. 3. Mas Ardian Sayogo terkasih, yang menjadi sumber kekuatan karena kesabaran, doa, semangat dan dorongan yang telah diberikan pada diriku. 4. Almamater tercinta. iv

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, inayah dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: “Persepsi Klien tentang Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja, dan Gender Konselor di SMU Negeri se-Kota Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005)”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Studi Strata 1 (S1) pada Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan - Universitas Negeri Semarang. Penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan mendukung selama proses penyusunan skripsi dari awal hingga terselesaikannya skripsi ini, kepada: 1. Dr. A. T. Soegito, SH, MM Rektor Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Siswanto, MM Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. 3. Drs. Suharso, M.Pd Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, yang telah membantu penulis menetapkan judul skripsi. 4. Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd Dosen Pembimbing I, yang telah membimbing dan banyak memberikan pengarahan dan motivasi yang sangat berarti bagi penulis dalam menyusun skripsi ini. 5. Drs. Supriyo, M.Pd, Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dan banyak memberikan pengarahan dan motivasi yang sangat berarti bagi penulis dalam menyusun skripsi ini. 6. Tim Penguji, yang telah memberikan masukan dan saran guna perbaikan skripsi ini.

v

7. Drs. Sri Santoso, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang dan Bp/Ibu Kepala SMA Negeri se-Kota Semarang yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian. 8. Bapak/Ibu Guru Pembimbing di SMU Negeri se-Kota Semarang yang membantu pelaksanaan penelitian dan siswa di SMA Negeri Se-Kota Semarang, sebagai responden penelitian yang telah bersedia mengisi instrumen penelitian. 5. Kawan-kawan seperjuanganku angkatan 1998 Jurusan Bimbingan & Konseling FIPUNNES (khususnya Teguh: Ayo semangat!!!), yang telah bersama bahu membahu dalam menuntut ilmu dibangku kuliah. 6. Teman-teman terbaikku di PILAR PKBI-JATENG (Staff & Fasilitator), yang telah memberikan motivasi & perhatian pada diriku. 7. Ibu Kost & teman-teman terbaikku di Kost (Ika Brindil, Ova, Lina, Mba Alfi, Dwita, Sani, Ika Doo…, You see & Rita), yang telah memberikan suasana kondusif dikost. 9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah banyak membantu dalam proses penyusunan skripsi ini, dari awal hingga terselesaikannya skripsi ini. Penulis telah berusaha menyusun skripsi ini dari awal hingga akhir dengan sebaik-baiknya, namun dengan penuh kesadaran penulis mengakui bahwa skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu segala bentuk saran dan kritik yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan bagi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga hasil skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca yang budiman serta bagi pengembang ilmu pengetahuan.

Semarang, 24 Maret 2005 Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................ ABSTRAK ........................................................................................................ HALAMAN PENGESAHAN........................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................. KATA PENGANTAR....................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... i ii iii iv v vii ix xi

BAB I:

PENDAHULUAN A. Latar Belakang...................................................................... B. Permasalahan ....................................................................... C. Penegasan Istilah .................................................................. D. Tujuan Penelitian ................................................................. E. Manfaat Penelitian ............................................................... F. Sistematika Skripsi ..............................................................

1 6 7 9 10 11

BAB II :

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Persepsi 1.................................................................................. Pengertian Persepsi ............................................. 12 2.................................................................................. Faktorfaktor yang mempengaruhi terbentuknya Persepsi ........................................................................... 15 3.................................................................................. Syaratsyarat Terjadinya Persepsi ................ 17 B. Konselor Sekolah 1.................................................................................. Pengertian Konselor............................................ 20 2.................................................................................. Persyarata n Konselor......................................... 20 3.................................................................................. Tugas dan Tanggung Jawab Konselor................ 28 C. Konseling Individual 1. Pengertian Konseling Individual .....................................

30

vii

2.................................................................................. Tujuan Konseling Individual ........................ 32 3.................................................................................. Langkahlangkah Konseling Individual........... 33 4.................................................................................. Faktorfaktor yang Mempengaruhi Konseling Efektif .......................................................... 35 D. Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual .............................................................................

37

E. Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual Ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja, dan Gender Konselor menurut Persepsi Klien 1.................................................................................. Karakterist ik Konselor ditinjau dari Tingkat Pendidikan a. Pengertian Tingkat Pendidikan ................................... 44 b. Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Tingkat Pendidikan .................................................................. 2.................................................................................. Karakterist ik Konselor ditinjau dari Pengalaman Kerja a. Pengertian Tingkat Pendidikan ................................... b. Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Masa Kerja .......... 3.................................................................................. Karakterist ik Konselor diTinjau dari Gender a. Pengertian Tingkat Pendidikan ................................... b. Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Gender ................. D. Hipotesis .............................................................................. BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian..................................................................... B. Populasi Penelitian .............................................................. C. Variabel Penelitian .............................................................. D. Metode dan Alat Pengumpulan Data .................................. E. Validitas dan Reliabilitas ..................................................... F. Metode Analisis Data........................................................... 64 66 67 72 74 82 85

BAB IV :

HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian 1.................................................................................. Proses Perijinan................................................................ 89 viii

2.................................................................................. Gambaran Umum Populasi Penelitian ................................... 89 3.................................................................................. Rancangan Alat Pengumpul Data ........................................... 93 4.................................................................................. Uji Coba/Try Out Instrumen....................................... 93 5.................................................................................. Pengumpul an Data ................................................................. 96 6.................................................................................. Hasil Analisis Data ........................................................ 97 B. Pembahasan ......................................................................... 115 BAB V : SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ............................................................................. B. Saran.....................................................................................

127 127

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................

129 131

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Populasi Penelitian (Jumlah Klien yang sudah pernah Konseling

Halaman

Individual dengan Konselor yang Mempunyai Tingkat Pendidikan D3 Bimbingan dan Konseling dan S1 Bimbingan dan Konseling) ............ 2. Populasi Penelitian (Jumlah Klien yang sudah pernah Konseling 71

Individual dengan Konselor yang Mempunyai Masa Kerja 0 – 11 tahun, 12 – 23 tahun, dan > 24 tahun) ................................................................... 71

3. Populasi

Penelitian (Jumlah Klien yang sudah pernah Konseling 72

Individual dengan Konselor Pria dan Wanita) ............................................

4. Kisi-Kisi

Instrumen

Keefektifan Konselor dalam

Melaksanakan 78

Konseling Individual .................................................................................. 5. Kriteria Tingkat Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ....................................................................................................

98

6. Rata-rata

Keefektifan Konselor

dalam Melaksanakan Konseling 99

Individual diTinjau Dari Tingkat Pendidikan Menurut Persepsi Klien ..... 7. Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual

diTinjau Dari Tingkat Pendidikan Menurut Persepsi Klien pada setiap Indikator ...................................................................................................... 8. Rata-rata Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling 102 100

Individual diTinjau Dari Pengalaman Kerja Menurut Persepsi Klien......... x

9. Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling

Individual

diTinjau Dari Pengalaman Kerja Menurut Persepsi Klien pada setiap Indikator ...................................................................................................... 10. Rata-rata Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling 106 104

Individual diTinjau Dari Gender Menurut Persepsi Klien ....................... 11. Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual diTinjau Dari Gender Menurut Persepsi Klien pada setiap Indikator ...... 12. Hasil Analisis Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual diTinjau dari Tingkat pendidikan menurut Persepsi Klien (U Mann Whitney) ......................................................................... 13. Hasil Analisis Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual diTinjau dari Pengalaman Kerja menurut Persepsi Klien (Kruskall Wallis) ............................................................................. 14. Hasil Analisis Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual diTinjau dari Pengalaman Kerja menurut Persepsi Klien (U Mann Whitney) .......................................................................... 15. Hasil Analisis Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual diTinjau dari Gender menurut Persepsi Klien (U Mann Whitney) ................................................................................... 16. Perbedaan Karateristik Tingkat Pendidikan D3 Bimbingan dan Konseling dan S1 Bimbingan dan Konseling ........................................... 17. Perbedaan Seks dan Gender .....................................................................

108

110

112

113

114

117 124

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman 1. Identitas Konselor ....................................................................................... 2. Identitas Klien yang di Bimbing ................................................................. 3. Rancangan Kisi-Kisi Instrumen .................................................................. 4. Rancangan Instrumen Penelitian ................................................................ 5. Data dan Hasil Uji Coba Instrumen ............................................................ 6. Perhitungan Uji Validitas Instrumen .......................................................... 7. Perhitungan Uji Reliabilitas Instrumen ...................................................... 8. Kisi-Kisi Instrumen .................................................................................... 9. Instrumen Penelitian ................................................................................... 10. Data Hasil Penelitian .................................................................................. 11. Hasil Analis Deskriptif Data Penelitian ...................................................... 12. Hasil Analisis Statistik Data Penelitian (SPSS) .......................................... 13. Hasil Analisis Statistik Data Penelitian (Manual) ....................................... 14. Surat Ijin Mencari Data Awal Dari Fakultas Ilmu Pendidikan–UNNES ... 15. Surat Ijin Penelitian Dari Fakultas Ilmu Pendidikan–UNNES ................... 16. Surat Ijin Penelitian Dari Diknas Kota Semarang ...................................... 17. Surat Keterangan Penelitian (Try Out) Dari SMA N 4 Semarang ............. 18. Surat Keterangan Penelitian (Try Out) Dari SMA N 12 Semarang ........... 19. Surat Keterangan Penelitian (Try Out) Dari SMA N 5 Semarang ............. 20. Surat Keterangan Penelitian (Try Out) Dari SMA N 10 Semarang ........... 131 132 133 137 153 164 165 166 170 185 201 205 210 243 244 245 246 247 248 249

xii

21. Surat Keterangan Penelitian (Try Out) Dari SMA N 2 Semarang ............. 22. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 15 Semarang ............................ 23. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 11 Semarang ............................ 24. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 1 Semarang .............................. 25. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 3 Semarang .............................. 26. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 7 Semarang .............................. 27. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 14 Semarang ............................ 28. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 9 Semarang .............................. 29. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 6 Semarang .............................. 30. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 8 Semarang .............................. 31. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 13 Semarang ............................ 32. Surat Keterangan Penelitian Dari SMA N 16 Semarang ............................

250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam rangka usaha layanan bimbingan dan konseling serta pemberian bantuan melalui usaha layanan konseling adalah merupakan bagian yang sangat penting. Bahkan ada ahli yang mengatakan bahwa “layanan konseling adalah merupakan jantung hati dari usaha layanan bimbingan secara keseluruhan (counseling is the heart of guidance program). Oleh karena itu para petugas dalam bimbingan dan konseling perlulah kiranya memahami dan dapat melaksanakan usaha layanan konseling itu dengan sebaik-baiknya. Konseling adalah merupakan suatu proses usaha untuk mencapai tujuan, dimana tujuan yang ingin dicapai dalam konseling adalah perubahan pada diri klien, baik dalam bentuk pandangan, sikap, sifat maupun keterampilan yang lebih

memungkinkan klien itu dapat menerima dirinya sendiri, serta pada akhirnya klien dapat mewujudkan dirinya sendiri secara optimal (Sukardi, 1985: 11). Konseling juga merupakan suatu teknik dalam membimbing. Oleh karenanya setiap konselor selalu dituntut darinya untuk menguasai teknik yang satu ini dengan tujuan agar konselor dapat secara optimal didalam membantu memecahkan masalah yang dialami oleh klien.
Untuk dapat melaksanakan peranan profesional yang unik, sebagaimana tuntutan profesi tersebut diatas, kunci utamanya tentu adalah konselor itu sendiri. Ini merupakan unsur utama untuk bisa meraih hasil gemilang, artinya sebagai konselor harus memiliki bobot tertentu yang dapat memperlancar relasi konseling, yaitu: Memiliki pengetahuan dasar menyangkut teori dan praktik konseling, keterampilan wawancara konseling, yang bisa diperoleh baik secara pendidikan formal (dari jurusan bimbingan dan konseling, penataran, kursus-kursus dan latihan berjangka dibidang bimbingan

xiv

dan konseling), maupun pendidikan non formal (dari pengalaman bekerja, usaha dan belajar melalui bulletin, brosur-brosur yang sesuai dengan bidang bimbingan dan konseling), dan memiliki kualitas kepribadian, sehingga bisa dikatakan bahwa konselor akan efektif dalam melaksanakan layanan konseling individual.

Namun persoalannya adalah, dimana kenyataan dilapangan menunjukkan gejala yang belum semuanya sejalan dengan kondisi-kondisi yang digambarkan diatas. Berdasarkan pengamatan selama menjalankan tugas-tugas perkuliahan dan survey pra-penelitian ditingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri se-Kota Semarang ditemukan adanya beberapa kesenjangan. Dalam hubungannya dengan pemberian layanan konseling individual, khususnya yang dititik beratkan pada permasalahan tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender konselor sekolah dalam penelitian ini ditemui adanya perbedaan tingkat pendidikan, masa kerja, dan gender konselor sekolah di SMA Negeri se-Kota Semarang, yaitu konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK dengan jumlah 8 orang dan konselor dengan tingkat pendidikan S1 BK dengan jumlah 45 orang, dimana antara tingkat pendidikan D3 dan S1 bimbingan dan konseling mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Konselor dengan masa kerja konselor 0 tahun - 11 tahun berjumlah 5 orang dan konselor dengan masa kerja 12 23 tahun berjumlah 38 orang serta konselor dengan masa kerja > 24 tahun berjumlah 10, dimana konselor dengan masa kerja yang relatif banyak sudah lama berkecimpung dalam dunia bimbingan dan konseling, sehingga sudah banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman berkaitan dengan pelaksanaan konseling individual, dibandingkan dengan konselor dengan masa kerja yang relatif sedikit. Sedangkan konselor dengan jenis kelamin pria dengan jumlah 16 orang dan wanita berjumlah 37 orang yang mendasarkan pada karakteristik konselor pria dan wanita yang jelas-jelas mempunyai perbedaan baik dari segi biologis maupun non biologis, xv

dimana konselor pria yang cenderung dapat berpikir rasional tidak dapat melaksanakan layanan konseling individual dengan menempuh cara yang sama dari konselor wanita yang cenderung emosional, begitu pula sebaliknya. Dengan adanya perbedaan tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender konselor diatas, baik secara langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan persepsi klien yang berbeda (sangat baik, baik, cukup baik, agak kurang baik dan kurang baik) terhadap keefektifan konselor sekolah dalam melaksanakan layanan konseling individual, sehingga bisa dikatakan apakah konselor sudah sangat efektif, efektif, cukup efektif, agak kurang efektif dan kurang efektif dalam melaksanakan layanan konseling individual. Kenyataan di atas didukung oleh hal-hal seperti dibawah ini:
Adanya kecenderungan konselor sekolah dalam melaksanakan konseling individual kurang berprosedur/tidak sistematis. Adanya siswa yang lebih suka datang untuk memanfaatkan konseling individual dengan konselor dengan tingkat pendidikan S1 Bimbingan dan Konseling dan konselor yang lebih berpengalaman. Konselor wanita lebih diminati oleh klien ketika akan memanfaatkan konseling individual.

Terlepas dari bagaimana klien (siswa), konselor sekolah sebagai pihak yang memberikan bantuan mempunyai posisi yang harus mendapat perhatian dari berbagai pihak. Perhatian ini terutama diarahkan kepada: apakah konselor sekolah sudah secara sepenuh hati mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya dalam rangka membantu mengentaskan permasalahan yang dialami klien (siswa). Dengan kata lain, apakah konselor sekolah dalam memberikan layanan konseling individual sudah melaksanakan tugasnya secara efektif. Untuk melihat keefektifan konselor sekolah dalam memberikan layanan konseling individual kepada klien (siswa) ini bisa menggunakan suatu alat yang dinamakan Alat Penilaian Kemampuan Konseling

xvi

(APKK), dimana alat ini akan menyoroti kemampuan konselor sekolah dalam hal keefektifan penggunaan keterampilan-keterampilan dalam melakukan konseling. Cara lain untuk melihat keefektifan konselor sekolah dalam melaksanakan layanan konseling individual adalah melalui ungkapan atau pendapat (persepsi) klien (siswa yang bermasalah) tentang bagaimana konseling individual yang sudah dilaksanakan oleh konselor. Rasionalnya adalah bahwa klien sebagai orang yang mengalami dan merasakan langsung bagaimana proses konseling yang sudah dilakukan atau dijalaninya. Persepsi adalah penilaian seseorang terhadap peristiwa atau stimulus dengan melibatkan pengalaman yang berkaitan dengan objek tersebut dengan melibatkan proses kognisi dan efeksi untuk membentuk konsep tersebut (Hariyadi dkk, 1995: 112). Jadi persepsi dapat terjadi apabila seseorang melihat objek, peristiwa atau stimulus dengan melibatkan pengalaman yang ada. Maka persepsi yang ada dalam siswa (klien) akan menimbulkan perbedaan terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender konselor. Bila dikaitkan dengan penelitian ini adalah jika persepsi klien tentang konseling individual yang sudah dialaminya dari masing-masing konselor disekolahnya sangat baik, baik, cukup baik, agak kurang baik atau kurang baik, maka konselor tersebut sudah sangat efektif, efektif, cukup efektif, agak kurang efektif atau kurang efektif dalam melaksanakan konseling invidual. Hal ini akan ditunjukan dengan adanya kepuasan siswa (klien) terhadap konseling individual yang sudah dialaminya, dimana permasalahan yang dialaminya bisa diselesaikan dengan baik, tuntas dan memuaskan, sehingga siswa akan lebih terbuka, suka rela dan tidak mempunyai keraguan kepada

xvii

konselor dalam rangka pengentasan permasalahan yang dialaminya untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dialaminya. Uraian diatas merupakan salah satu alasan utama yang mendasari penulis memilih judul penelitian yang dianggap representatif untuk hal tersebut diatas, yaitu: PERSEPSI KLIEN TENTANG KEEFEKTIFAN KONSELOR DALAM MELAKSANAKAN KONSELING INDIVIDUAL DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN, PENGALAMAN KERJA, DAN GENDER KONSELOR DI SMU NEGERI SE-KOTA SEMARANG TAHUN AJARAN 2004/2005.

Permasalahan

Sesuai dengan latar belakang diatas, maka masalah yang ingin diungkap melalui penelitian ini adalah perbedaan keefektifan konselor sekolah dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2004/2005. Dalam pelaksanaannya, persepsi dari klien tersebut akan dilihat dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor. Ketiga faktor tersebut diasumsikan ikut memberi kontribusi pada aktifitas konselor sekolah dalam melaksanakan tugasnya sehingga mengarahkan pada konselor sangat efektif, efektif, cukup efektif, agak kurang efektif dan kurang efektif. Atas dasar hal tersebut maka dapatlah dikembangkan beberapa permasalahan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tingkat keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor menurut persepsi klien? 2. Apakah terdapat perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor D3 BK dan S1 BK menurut persepsi klien? 3. Apakah terdapat perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari masa konselor 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23 tahun, > 24 tahun menurut persepsi klien?

xviii

4.

Apakah terdapat perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari jenis kelamin konselor pria dan wanita menurut persepsi klien?

Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda tentang istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu ada penegasan istilah sebagai berikut:
1. Persepsi

Persepsi adalah suatu proses penilaian seseorang atau sekelompok orang terhadap objek, peristiwa atau stimulus dengan melibatkan pengalaman yang berkaitan dengan objek tersebut. Dalam penelitian ini persepsi yang dimaksud adalah proses penilaian siswa terhadap tingkat keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor.
2. Klien

Yang dimaksud klien dalam penelitian ini adalah siswa yang lebih ditekankan pada pelajar yang berada disebuah lembaga pendidikan tingkat atas yaitu SMA Negeri yang pernah memanfaatkan konseling individual dari guru pembimbing masing-masing disekolahnya, karena sedang mengalami suatu permasalahan baik pribadi, sosial, belajar, karier, dan lain-lain, dengan minimal dua kali tatap muka dalam satu penyelesaian masalah.
3. Perbedaan

Perbedaan berasal dari kata beda yang artinya tidak sama, selisih, beda dan terpaut antara dua atau lebih mengenai beberapa hal (Poerwardaminto, 1988: 104). Kaitannya dalam penelitian ini perbedaan yang dimaksud yaitu tentang keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual, yang dibagi menjadi 5 kategori yaitu: sangat efektif, efektif, cukup efektif, agak kurang efektif dan kurang efektif
4. Keefektifan

Secara etimologi keefektifan berasal dari kata efektif yang berarti tepat guna (Depdikbud, 1994: 77). Jadi keefektifan adalah suatu hal yang dikerjakan dengan waktu yang tepat dan tepat guna.
5. Konselor

Yang dimaksud konselor dalam penelitian ini adalah guru pembimbing, yaitu personil sekolah yang ditugasi untuk melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik (Prayitno, 1995: 9).
6. Konseling Individual

Adalah layanan yang memungkinkan klien (siswa) dalam hubungan langsung tatap muka secara perorangan dengan konselor sekolah dalam rangka pembahasan dan pengentasan masalah pribadinya.
7. Tingkat Pendidikan

Tingkat adalah jenjang tinggi rendah susunan yang berlapis-lapis (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001: 1197). Dalam UU RI No 2 tahun 1989 mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan xix

bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Didalamnya juga disebutkan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri dari tiga tingkatan yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan kaitannya dalam penelitian ini yaitu tingkat pendidikan tinggi konselor sekolah yang kami batasi dalam dua kategori yaitu: D3 BK dan S1 BK.
8. Pengalaman Kerja

Pengalaman adalah masa kerja sebagai seseorang yang ditandai dengan lamanya seseorang melaksanakan tugas profesinya. Dalam tulisan ini yang akan dijadikan penelitian adalah masa kerja konselor sekolah yang kami batasi menjadi tiga bagian yaitu: 0 tahun - 11 tahun, 12 - 23 tahun, dan > 24 tahun.
9. Gender

Kata gender berasal dari bahasa Inggris yaitu Gender, yang berarti “jenis kelamin”. Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Dalam tulisan ini yang akan dijadikan penelitian adalah gender konselor sekolah yang kami batasi menjadi dua karakteristik yaitu: pria dan wanita. 10. Dari keterangan di atas diperoleh penegasan istilah secara utuh yaitu: “Persepsi Klien tentang Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual Ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja, dan Gender Konselor di SMA Negeri se-Kota Semarang”.

D. Tujuan Penelitian
Mengacu pada perumusan masalah sebagaimana pada maka yang bagian tujuan ini

dikemukakan sebelumnya, diadakannya

penelitian

adalah sebagai berikut:
Untuk mendeskripsikan tingkat keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor menurut persepsi klien. Untuk mengetahui perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor D3 BK dan S1 BK menurut persepsi klien.

xx

Untuk mengetahui perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja konselor 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23, dan > 24 tahun menurut persepsi klien. Untuk mengetahui perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor pria dan wanita menurut persepsi klien.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini adalah manfaat praktis, yaitu:
1. Bagi konselor sekolah, yaitu sebagai pijakan untuk melakukan “self evaluation” terhadap kinerjanya dan lebih meningkatkan profesionalitasnya dalam rangka pemberian layanan bimbingan dan konseling, khususnya konseling indivdidual. Hal ini sangat penting dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan kinerja atau unjuk kerja konselor yang selama ini mendapat sorotan tajam dari siswa, personil sekolah dan masyarakat. 2. Bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian dengan masalah yang sejenis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar pijakan penelitian yang akan dilakukan.

F. Sistematika Skripsi

Garis besar sistematika skripsi terdiri atas tiga bagian yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir skripsi.
Bagian Awal Skripsi, terdiri dari halaman judul, abstrak, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan daftar lampiran. Bagian Isi Skripsi, terdiri dari lima bab yang meliputi: Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang, permasalahan, penegasan istilah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.

Bab II Landasan Teori, berisi tentang Persepsi (terdiri dari: pengertian persepsi, faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi, syarat-syarat terjadinya persepsi), Konselor sekolah (terdiri dari pengertian konselor, persyaratan konselor, tugas dan tanggung jawab konselor), Konseling individual (terdiri dari pengertian konseling individual, tujuan konseling individual, langkah-langkah konseling individual dan faktor-faktor yang mempengaruhi konseling efektif), Keefektifan xxi

konselor dalam melaksanakan konseling individual, dan Perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor menurut persepsi klien (terdiri dari karakteristik konselor ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender), serta Hipotesis penelitian.
Bab III Metode Penelitian, yang meliputi jenis penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, metode dan alat pengumpulan data, validitas dan reliabilitas, serta metode analisis data. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, yang berisi tentang proses perijinan, gambaran umum populasi penelitian, rancangan alat pengumpul data, hasil uji coba instrumen, pengumpulan data, hasil analisis data dan pembahasan. Bab V Simpulan dan Saran, berisi simpulan dan saran yang berkaitan dengan hasil penelitian. Bagian Akhir Skripsi, berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

xxii

BAB II LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan menguraikan landasan teori penelitian mengenai perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor menurut persepsi klien. Hal-hal yang akan dikemukakan dalam bab ini adalah: Persepsi (terdiri dari: pengertian persepsi, faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi, syarat terjadinya persepsi), Konselor sekolah (terdiri dari pengertian konselor, persyaratan konselor, tugas dan tanggung jawab konselor), Konseling individual (terdiri dari pengertian konseling individual, tujuan konseling individual, langkah-langkah konseling individual dan factorfaktor yang mempengaruhi konseling efektif), Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual, dan Perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor menurut persepsi klien (terdiri dari karakteristik konselor ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender), serta Hipotesis penelitian. A. Persepsi 1. Pengertian persepsi Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan. Sedangkan penginderaan merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat penerima yaitu alat indera. Stimulus yang mengenai alat individu tersebut kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya itu (Walgito, 1978: 53). xxiii

Persepsi seseorang selalu didasarkan pada aktifitas kejiwaan berdasarkan rangsang yang diterima oleh inderanya. Disamping itu persepsi juga didasarkan pada pengalaman dan tujuan seseorang pada saat terjadi persepsi. Hal senada juga dikatakan bahwa persepsi adalah suatu pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan mengumpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Organisme dirangsang oleh suatu masukan tertentu (objekobjek dari luar, peristiwa dan lain-lain) dan organisme itu merespon dan menggabungkan masukan itu dengan salah satu kategori objek-objek atau peristiwa-peristiwa. Objek disekitar kita, kita tangkap dengan alat indera dan diproyeksikan pada bagian-bagian tertentu diotak, sehingga kita dapat mengamati objek tersebut. Sebagian besar tingkah laku dan penyesuaian diri individu ditentukan oleh persepsinya. Individu berbuat tersebut menanggapi suatu hal itu dengan persepsinya. Jadi yang membuat orang lain bahagia atau sengsara dikarenakan persepsi dan sikap dirinya tentang kejadian diluar dirinya. Teori diatas diperjelas bahwa persepsi merupakan proses aktif, dimana yang memegang peranan bukan hanya stimulus yang mengenai, tetapi juga individu sebagai kesatuan dengan pengalaman-pengalaman (Walgito, 1986: 1112). Individu dalam melakukan pengamatan untuk mengatakan rangsang yang diterima, agar proses pengamatan tersebut terjadi, maka perlu obyek yang diamati, alat indera yang cukup baik dan perhatian. Itu semua merupakan langkah-langkah sebagai suatu persiapan dalam pengamatan yang ditujukan dengan tahap demi tahap, yaitu tahap pertama merupakan tahapan yang dikenal

xxiv

dengan proses kealaman atau proses fisik, merupakan proses ditangkapnya stimulus oleh alat indera manusia. Sedangkan tahap kedua adalah tahap yang dikenal orang dengan proses fisiologi merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh persepstor keotak melalui syaraf-syaraf sensorik, dan tahap ketiga dikenal dengan proses psikologi merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima oleh persepstor. Persepsi merupakan dinamika yang terjadi dalam diri individu disaat ia menerima stimulus dari lingkungan dengan melibatkan panca indera dan aspek kepribadian yang lain. Dalam proses persepsi, individu mengadakan penyeleksian apakah stimulus itu berguna atau tidak baginya, serta menentukan apakah yang terbaik untuk dilakukan. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi Terbentuknya persepsi pada diri individu dipengaruhi oleh banyak hal seperti dibawah ini: a. Perhatian, biasanya tidak menangkap seluruh rangsang yang ada disekitar kita sekaligus, tetapi memfokuskan perhatian pada satu atau dua objek saja. Perbedaan fokus perhatian antara satu orang dengan orang yang lain akan menyebabkan perbedaan persepsi. b. Set, adalah harapan seseorang akan rangsang yang akan timbul. Perbedaan set akan menyebabkan adanya perbedaan persepsi. c. Kebutuhan, baik kebutuhan sesaat maupun menetap pada diri individu akan mempengaruhi persepsi orang tersebut. Kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan persepsi bagi tiap individu.

xxv

d. Sistem Nilai, dimana sistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat juga berpengaruh pula terhadap persepsi. e. Ciri Kepribadian, dimana pola kepribadian yang dimiliki oleh individu akan menghasilkan persepsi yang berbeda. Dikutip dari beberapa pendapat para ahli antara lain: David Krench dan Richard S. Crutchfield (1977) membagikan faktor-faktor yang menentukan persepsi menjadi dua, yaitu:

a. Faktor Fungsional, adalah faktor yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Faktor personal yang menentukan persepsi adalah objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. b. Faktor Struktural, adalah faktor yang berasal semata-mata dari sifat. Stimulus fisik efek-efek saraf yang ditimbulkan pada sistem saraf individu. Faktor struktural yang menentukan persepsi menurut teori Gestalt bila kita ingin mempersepsi sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Bila kita ingin memahami suatu peristiwa kita tidak dapat meneliti faktor-faktor yang terpisah, kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan (Rakhmad, 1989: 52). Menurut Kenneth, perhatian juga sangat berpengaruh terhadap persepsi. Dimana perhatian merupakan proses mental ketika stimulus

xxvi

atau rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimulus yang lainnya melemah (dalam Rakhmad, 1989: 52). Tertarik tidaknya individu untuk memperhatikan satu stimulus dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: a. faktor internal (kebiasaan, minat, emosi, dan keadaan biologis), dan b. faktor eksternal (intensitas, kebaruan, gerakan dan pengulangan stimulus). Proses terbentuknya persepsi sangat kompleks dan ditentukan oleh dinamika yang terjadi dalam diri seseorang. Ketika ia mendengar, mencium, melihat, merasa atau bagaimana ia memandang suatu objek yang melibatkan aspek psikologis dan panca inderanya. 3. Syarat-syarat terjadinya persepsi Dibawah ini akan dikemukakan beberapa syarat sebelum individu mengadakan persepsi, yaitu: a. Adanya objek (sasaran yang diamati) Objek atau sasaran yang diamati akan menimbulkan stimulus atau rangsangan yang mengenai alat indera. Objek dalam hal ini adalah kegiatan konseling individual, dimana konseling individual atau stimulus mengenai alat indera atau merupakan reseptor yang bisa berasal dari dalam maupun dari luar. b. Adanya indera yang cukup Alat indera yang dimaksud adalah alat indera yang menerima stimulus yang kemudian diterima dan diteruskan oleh syaraf sensorik yang selanjutnya akan disampaikan kesusunan saraf pusat sebagai kesadaran. Oleh karena itu siswa diharapkan mempunyai panca indera yang cukup baik sehingga stimulus yang diterima akan diteruskan kesusunan saraf otak. c. Adanya perhatian Perhatian adalah langkah awal atau yang kita sebut sebagai persiapan untuk mengadakan persepsi, sehingga perhatian siswa kepada kegiatan konseling individual adalah fokus utama yang kita laksanakan karena tanpa perhatian persepsi tidak akan terjadi (Walgito, 1989: 42). Pada proses persepsi terdapat bagian-bagian dan komponen kognisi yang memberikan informasi mengenai stimulus tersebut. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap atau
xxvii

dipersepsikan individu dan akhirnya komponen konasi individu akan berperan dalam menentukan terjadinya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada (Mar’at, 1981: 30). Dalam kaitan dengan tingkah laku individu, persepsi merupakan faktor yang menentukan terbentuknya sikap terhadap sesuatu manapun perilaku tertentu. Kesan yang diterima sangatlah tergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperolehnya pada masa lalu melalui proses berpikir dan belajar. Persepsi klien di SMA Negeri se-Kota Semarang terhadap tingkat keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender konselor akan berbeda, karena pada hakikatnya siswa adalah individu yang mandiri dengan “Individual Deferences”, baik pengalaman, kemampuan dan cara berpikir, maka setiap klienpun akan mempersepsi secara berbeda pula terhadap apa yang dirasakannya ketika mengikuti konseling individual.
B. Konselor Sekolah Pada prinsipnya bimbingan dan konseling adalah suatu profesi, karena bimbingan dan konseling adalah suatu pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya dan tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu. Seorang konselor sekolah di dalam menjalankan tugasnya harus mampu melakukan peranan yang berbeda-beda dari situasi ke situasi yang lainnya. Pada situasi tertentu kadang-kadang harus berperan sebagai seorang teman dan pada situasi berikutnya berperan sebagai pendengar yang baik atau sebagai pengobar/pembangkit semangat, atau peranan-peranan lain yang dituntut oleh klien dalam proses konseling. Oleh karena itu seorang konselor sekolah profesional harus memenuhi persyaratan pengetahuan meliputi: keterampilan, dan sikap/kepribadian. Berikut akan dijelaskan tentang pengertian konselor, persyaratan konselor, tugas dan tanggung jawab konselor:

xxviii

1.

Pengertian konselor Konselor merupakan petugas profesional yang mempunyai pendidikan khusus di Perguruan Tinggi dan mencurahkan waktunya pada layanan bimbingan dan konseling (Wibowo, 1986: 4).

Selain bahwa petugas

itu

dikatakan merupakan yang

konselor

profesional,

artinya secara formal mereka telah disiapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. secara Mereka untuk dididik untuk

khusus

menguasai kompetensi yang

seperangkat diperlukan

bagi pekerjaan bimbingan dan konseling. Jadi dengan

demikian dapatlah dikatakan bahwa konselor sekolah

memang sengaja dibentuk atau disiapkan untuk menjadi

tenaga-tenaga yang profesional dalam pengalaman pengetahuan, dan kualitas

pribadinya (Sukardi, 1984: 19). xxix

2. Persyaratan konselor Konselor sebagai

jabatan profesional, oleh karena itu orang yang menjabat

konselor harus memiliki atau memenuhi persyaratan khusus untuk menjadi konselor, yaitu: pengetahuan, keterampilan, dan sikap/kepribadian berikut: a. Pengetahuan konselor, yang diperoleh secara: 1). Pendidikan Formal Yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui program pendidikan formal dari jurusan bimbingan dan konseling ataupun penataran, kursus-kursus, dan latihan berjangka dibidang tersebut. yang juga meliputi berbagai ilmu pengetahuan, psikologi, bimbingan dan konseling (Hendrarno, dkk, 1987: 110). Persyaratan formal yang harus dimiliki oleh setiap konselor sekolah adalah: a). Secara umum seorang konselor sekolah serendah-rendahnya harus memiliki ijazah sarjana muda dari suatu pendidikan yang sah dan memenuhi syarat untuk menjadi guru (memiliki sertifikat mengajar) dalam jenjang pendidikan dimana ia ditugaskan. sebagai

xxx

b). Secara profesional seorang konselor sekolah hendaknya telah mencapai tingkat pendidikan sarjana bimbingan. Dalam masa pendidikannya pada institusi bersangkutan seorang konselor harus menempuh mata kuliah atau bidang studi tentang prinsip-prinsip dan praktik bimbingan. Dan bidang yang harus dikuasai meliputi antara lain: proses konseling, pemahaman individu, informasi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, jabatan, atau karir, administrasi dan kaitannya dengan program bimbingan, dan prosedur penelitian dan penilaian bimbingan. Di samping bidang tersebut diatas, perlu juga dikuasai bidang-bidang lainnya seperti: psikologi, ekonomi dan sosiologi (Wibowo, 1986: 95). 2). Pendidikan Non formal yaitu pengetahuan yang dapat diperoleh dengan cara pengalaman bekerja, usaha dan belajar melalui bulletin, surat kabar, brosur-brosur yang sesuai dengan bidang bimbingan dan konseling, yang juga meliputi berbagai ilmu pengetahuan, psikologi, bimbingan dan konseling (Hendrarno, dkk, 1987: 110). Seorang konselor sekolah profesional dalam bidangnya, hendaknya telah memiliki pengalaman mengajar atau melaksanakan praktik konseling selama dua tahun; ditambah satu tahun pengalaman bekerja diluar bidang persekolahan; tiga bulan sampai enam bulan praktik konseling yang diawasi team pembimbing atau praktik internship, dan pengalaman-pengalaman yang ada kaitannya dengan kegiatan sosial seperti misalnya: kegiatan sukarela dalam masyarakat, bekerja dengan

xxxi

orang lain dan menunjukkan kemampuan memimpin yang baik (Wibowo, 1986: 95). b. Keterampilan Konselor
Seorang konselor harus memiliki keterampilan-keterampilan yang mencukupi. Keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap konselor yakni: a). keterampilan antar pribadi yaitu semua keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun relasi dengan klien sehingga klien dapat terlibat dalam proses konseling, yang terdiri dari keterampilan verbal (kualitas vokal, alur verbal/menyesuaikan diri dengan topik pembicaraan klien, dan tanggapan verbal meliputi: parafrase, pencerminan perasaan-perasaan, penafsiran, peringkasan, penajaman, pertanyaan tertutup dan terbuka), keterampilan non verbal (menghadapi klien secara sejajar, memperlihatkan sikap tubuh terbuka, posisi tubuh ke depan, memperhatikan kontak mata, dan bersikap rileks. b). keterampilan mengamati yaitu dimana konselor dituntut untuk sungguhsungguh sadar akan apa yang sedang dikatakan klien khususnya melalui gerakan-gerakan tubuh mereka, raut wajah, kualitas vokal, dan ketidak sesuaian antara bahasa tubuh dengan ungkapan-angkapan verbal klien. c). keterampilan intervensi yaitu dimana konselor mampu melibatkan klien dalam pemecahan masalah. Dan d). keterampilan integrasi yaitu dimana konselor mampu menerapkan strategi-strategi pada situasi-situasi khusus, sambil mengingat konteks budaya dan sosio ekonomis klien (Yeo, 1994: 62-83). Dapat dijelaskan pula bahwa keterampilan yang sangat diperlukan untuk melakukan tugas bimbingan dan konseling adalah: keterampilan untuk ikut merasakan (empati) keadaan klien, ikut menghayati jalan pikiran klien, ikut memperhatikan (simpati) terhadap klien, dapat menerima dan mengerti keadaan klien, berkomunikasi secara verbal, dan menggunakan alat bimbingan baik yang tes maupun yang non tes (Hendrarno, dkk, 1987: 110). Hal ini didukung pula bahwa keterampilan yang harus dimiliki oleh konselor sekolah mencakup keterampilan memahami sifat-sifat klien, menilai situasi apakah persoalan klien mampu dibantu atau tidak, menciptakan rapport, melaksanakan proses konseling secara efektif, atending meliputi: posisi badan yang baik, kontak mata yang baik dan mendengarkan klien dengan baik, mengundang pembicaraan terbuka meliputi membantu memulai wawancara, membantu klien menguraikan masalahnya dan membantu memunculkan contoh-

xxxii

contoh perilaku khusus sehingga penjelasan klien dapat dipahami dengan lebih baik, paraprase yaitu menyatakan kembali suatu kata atau prase secara sederhana. Tujuannya adalah untuk mengatakan kembali kepada klien esensi dari klien dari apa yang telah dikatakan klien, identifikasi perasaan yaitu membantu klien untuk menjelaskan perasaanperasaannya sendiri, refleksi perasaan yaitu membantu klien dengan cara memahami perasaanya dan sebagai pemeriksa persepsi yang yang baik, konfrontasi yaitu guna membantu orang klien agar mengubah pertahanan yang telah dibangunnya guna menghindari pertimbangan bidang tertentu dan untuk meningkatkan komunikasi terus terang, meringkaskan yaitu suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu wawancara konseling, menafsirkan, penerimaan, memberi ketenangan, memimpin secara umum, mendengarkan, mengarahkan, memberi informasi, menghayati pikiran, perasaan, dan cita-cita klien, menyimpulkan, memberikan dorongan, menggunakan alat atau teknik pengumpulan data, memecahkan masalah dan pengambilan keputusan, menggunakan teknik pengubahan tingkah laku, menggunakan berbagai pendekatan konseling (Wibowo, 1986: 95-96).

c. Sikap/kepribadian Seorang konselor di dalam mengadakan kontak dengan klien haruslah memiliki sifat-sifat kepribadian tertentu, di antaranya: 1). Kepribadian yang matang dan penyesuaian diri yang baik. 2). Memiliki pemahaman terhadap orang lain secara objektif dan simpatik. 3). Memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain secara baik dan lancar. 4). Memahami batas-batas kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. 5). Memiliki minat yang mendalam mengenai murid-murid, dan berkeinginan sungguh-sungguh untuk memberikan bantuan kepada mereka. 6). Memiliki kedewasaan pribadi, spiritual, mental, sosial, dan fisik. 7). Peka terhadap berbagai sikap dan reaksi. xxxiii

8). Respek terhadap orang lain. 9). Memiliki kemampuan berkomunikasi. 10). Tidak mementingkan diri sendiri (Wibowo, 1986: 97-98). Menurut Munro dkk, kepribadian yang harus dimiliki oleh konselor sekolah yaitu: luwes, hangat, dapat menerima orang lain, terbuka, dapat merasakan penderitaan orang lain, tidak berpura-pura, menghargai orang lain, tidak mau menang sendiri, dan objektif, (dalam Prayitno, 1985: 29). Ada beberapa kepribadian yang harus dimiliki oleh konselor sekolah, yaitu bijaksana, jujur, dan tulus, ramah, akrab, tidak berpura-pura, menghargai siswa, tutur bahasanya enak didengar, perhatian, luwes/fleksibel, dapat menjadi contoh, rela berkorban, dapat menjaga rahasia/dapat dipercaya, selalu kelihatan gembira, bertanggung jawab, dan sabar (Slameto, 1990: 80) Selain itu kepribadian konselor yang diharapkan yaitu: memiliki pribadi yang matang (emosi yang stabil, tidak mudah terbawa/tenggelam dalam perasaan dan masalah klien, tenang dalam menghadapi masalah, dan cinta pada tugasnya), pribadi yang hangat, identitas pribadi, toleransi (menanggapi secara positif dan tidak mudah tersinggung), pribadi yang bebas dari kecemasan, pribadi penuh penerimaan, tidak mementingkan diri sendiri/penuh pengertian pada klien (tidak banyak bicara/bicara berlebihan), pribadi sebagai ibu, humoris, sederhana, rendah hati, hormat dan dapat dipercaya (Hendrarno dkk, 1987: 110-111). Sedangkan dalam National Vocational Guidance Association

(NVGA), Washington D.C, dalam journalnya yang berjudul “Counselor Preparation”, (1949), mengemukakan persyaratan ideal yang dituntut dari

xxxiv

konselor berkaitan dengan karakter konselor ialah: interest terhadap orang lain, sabar, peka terhadap berbagai sikap dan reaksi, memiliki emosi yang stabil dan objektif, serta ia sungguh-sungguh respek terhadap orang lain, dapat dipercaya, dan sebagainya (Sukardi, 1984: 22-28). 3. Tugas dan tanggung jawab konselor Dalam Pedoman BP, Buku IIIC (1975) konselor sekolah dalam hubungannya dengan program bimbingan dan konseling di sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. Menyusun program bimbingan dan konseling bersama kepala sekolah. b. Memberi garis-garis kebijaksanaan umum mengenai kegiatan bimbingan dan konseling. c. Bertanggung jawab terhadap jalannya program bimbingan dan konseling. d. Mengkoordinasikan laporan kegiatan pelaksanaan program sehari-hari.

e. Memberikan laporan kegiatan bimbingan dan konseling kepada kepala sekolah. f. Membantu siswa untuk memahami dan mengadakan penyesuaian pada diri sendiri, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial yang makin lama makin berkembang. g. Menerima dan mengklasifikasikan informasi pendidikan dan informasi lainnya yang diperoleh dan mengirimkannya sehingga menjadi catatan kumulatif siswa. h. Menganalisis dan menafsirkan data siswa guna mendapatkan suatu rencana tindakan positif terhadap siswa. i. Menyelenggarakan pertemuan staf.

xxxv

j. Melaksanakan bimbingan dan konseling baik secara kelompok maupun secara perorangan/individual. k. Memberikan informasi pendidikan dan jabatan kepada siswa-siswa dan menafsirkannya untuk keperluan perencanaan pendidikan dan jabatan. l. Mengadakan konsultasi dengan instansi-instansi yang berhubungan dengan program bimbingan dan konseling dan memimpin usaha penyelidikan masyarakat di sekitar sekolah, untuk mengetahui lapangan kerja yang tersedia. m. Bersama guru membantu siswa memilih pengalaman/kegiatan-kegiatan kurikuler yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. n. Membantu guru menyusun pengalaman belajar dan membuat penyesuaian metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan keadaan masing-masing siswa. o. Mengadakan penelaah lanjutan terhadap siswa-siswa tamatan sekolahnya dan terhadap siswa yang keluar sebelum tamat serta melakukan usaha penilaian yang lain secara tepat. p. Mengadakan konsultasi dengan orang tua siswa dan mengadakan kunjungan rumah. q. Menyelenggarakan pembicaraan kasus (case conference) r. Mengadakan wawancara konseling dengan siswa. s. Mengadakan program latihan bagi para petugas bimbingan dan konseling. t. Melakukan referal kepada lembaga atau ahli yang lebih berwenang (dalam Wibowo, 1986: 89-90).

C. Konseling individual xxxvi

Konseling individual merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk “guidance services” (layanan bimbingan). Layanan ini bahkan disebut-sebut sebagai layanan yang paling utama dari semua bentuk layanan bimbingan yang ada. Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas, dibawah ini akan dibahas tentang pengertian konseling individual dan langkah-langkah konseling individual, sebagai berikut:
1. Pengertian konseling individual

Konseling adalah serangkaian kegiatan paling pokok

bimbingan dalam membantu klien/konseli secara tatap muka, dengan tujuan agar klien dapat mengambil sendiri tanggung jawab berbagai (Winkel,

terhadap

persoalan/masalah 1997: 72). Konseling pemberian adalah bantuan

proses yang

dilakukan melalui wawancara konseling oleh seprang ahli (disebut individu konselor) yang kepada

bermasalah

(disebut klien) yang bertujuan untuk dapat merubah perilaku klien serta terbebas dari dari masalah xxxvii yang sedang

dihadapinya

(Prayitno

dan

Amti, 1994: 106). Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan

wawancara, dengan cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan (Walgito, 1989: 5). Konseling timbal adalah hubungan dua hidupnya

balik

antara

individu, yang seorang krn keahliannya (konselor) dapat membantu klien yang

mempunyai masalah melalui pertemuan/hubungan timbal

balik itu konselor berupaya menolong memahaami klien dirinya untuk dan

problemnya agar klien dapat mengatasi masalah yang sedang

xxxviii

dihadapinya (Thamtawy, 1993: 46). Menurut Rogers (1942) konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang tujuannya adalah memberikan bantuan kepadanya dalam merubah sikap (dalam Hendrarno dkk, 2003: 24). Sedangkan menurut Mortensen dan Schumuller (1964) konseling adalah suatu proses interaksi antara seorang dengan seseorang , orang yang satu dibantu oleh yang lain, bantuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan kesanggupan dalam menghadapi masalah (dalam Hendrarno dkk, 2003: 24). Dari beberapa rumusan tentang pengertian konseling diatas dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
2. Tujuan konseling individual Bila kita perhatikan secara seksama konseling individual mempunyai tujuan sebagai berikut: a. Agar para siswa memperoleh perubahan tingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain, situasi keluarga, prestasi akademik, sehingga para siswa menjadi lebih self actualited dan lebih produktif. b. Agar perkembangan mental murid-murid (individu) dapat berlangsung secara sehat tanpa mengalami gangguan yang berarti, sehingga dapat terbentuk kepribadian yang sehat pula. c. Agar murid memecahkan masalah yang dihadapi dengan kemampuan sendiri.

xxxix

d.

Agar murid mampu memahali potensi, bakat dan minat serta kecakapan, sehingga dapat membuat keputusan dan memnentukan program studi, bidang pekerjaan sesuai dengan keadaan dirinya.

e.

Agar murid mempunyai keefektifan personal atau pribadi yang efektif, artinya pribadi yang sanggup memperhitungkan diri, waktu dan tenaganya dan bersedia memikul resiko-resiko ekonomis, psikologi dan fisik, ia mempunyai kompetensi untuk mengenal, mendefinisikan dan memecahkan masalah (Hendrarno dkk, 2003: 42-43).

Sedangkan menurut Ellis (1950) “Tujuan utama konseling adalah memperbaiki sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan, serta pandanganpandangan konseli yang irrasional dan illogis menjadi rasional dan logis agar konseli dapat mengembangkan diri, meningkatkan aktualisasi dirinya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif” (dalam Hariyadi, 2000: 11). Kemudian ditambahkan lagi bahwa konseling juga bertujuan untuk menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti: rasa benci, rasa takut, rasa bersalah, rasa cemas, sebagai konsekuensi dari cara berfikir dan sistem keyakinan yang keliru dengan jalan melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan, nilai-nilai dan kemampuan diri.
Dari dua rumusan tentang tujuan konseling individual diatas dapat diambil makna bahwa konseling pada hakekatnya bertujuan untuk memberikan bantuan kepada konseli sehingga hubungan yang terjadi dalam konseling adalah merupakan “helping relationship” (hubungan yang bersifat membantu). Dalam proses pemberian bantuan ini berlangsung suasana yang menunjang pencapaian tujuan melalui pertalian antara kepribadian dan keterampilan konselor dengan konseli. 3. Langkah-langkah konseling individual

Langkah-langkah konseling individual

dalam yaitu

sebagai berikut:

xl

a. Persiapan, meliputi: kesiapan fisik dan psikis konselor, tempat dan lingkungan sekitar, perlengkapan, pemahaman klien dan waktu. b. Rapport, yaitu menjalin hubungan pribadi yang baik antara konselor dan klien sejak permulaan, proses, sampai konseling berakhir, yang ditandai dengan adanya rasa aman, bebas, hangat, saling percaya dan saling menghargai. c. Pendekatan masalah, dimana konselor memberikan motivasi kepada klien agar bersedia menceritakan persolan yang dihadapi dengan bebas dan terbuka. d. Pengungkapan, dimana konselor mengadakan pengungkapan untuk

mendapatkan kejelasan tentang inti masalah klien dengan mendalam dan mengadakan kesepakatan bersama dalam menentukan masalah inti dan masalah sampingan, serta masalah yang dihadapi klien sendiri maupun yang melibatkan pihak lain. Sehingga klien dapat memahami dirinya dan mengadakan perubahan atas sikapnya. e. Diagnostik, adalah langkah untuk menetapkan latar belakang atau faktor penyebab masalah yang dihadapi klien. f. Prognosa, adalah langkah dimana konselor dan klien menyusun rencanarencana pemberian bantuan atau pemecahan masalah yang dihadapi klien. g. Treatment, merupakan realisasi dari dari langkah prognosa. Atas dasar kesepakatan antara konselor dengan klien dalam menangani masalah yang dihadapi, klien melaksanakan suatu tindakan untuk mengatasi masalah tersebut, dan konselor memberikan motivasi agar klien dapat

mengembangkan dirinya secara optimal sesuai kemampuan yang dimilikinya. h. Evaluasi dan tindak lanjut, langkah untuk mengetahui keberhasilan dan efektifitas konseling yang telah diberikan. Berdasarkan hasil yang telah

xli

dicapai oleh klien, selanjutnya konselor menentukan tindak lanjut secara lebih tepat, yang dapat berupa meneruskan suatu cara yang sedang ditempuh karena telah cocok maupun perlu dengan cara lain yang diperkirakan lebih tepat (Wibowo, 1986: 55-62).
Selain langkah-langkah diatas, berikut dua langkah dalam proses konseling individual, yaitu: a. persiapan, yaitu tahapan dimana konselor mempersiapkan konseli untuk masuk kedalam konseling. Tujuan dari persiapan ini ialah menciptakan perasaan-perasaan tenang, bebas, tanpa tekanan dalam diri klien dan untuk membangun hubungan yang baik dengan klien. Keterampilan dalam langkah ini yang harus dimiliki oleh konselor untuk penyelenggaraan konseling individual yaitu: attending/menunjukkan kehadiran secara penuh dengan tujuan melibatkan konseli dalam proses konseling, yang terdiri dari: menunjukkan perhatian lewat tanda-tanda lahiriah, mengamati dan mendengarkan. b. Pertolongan, yaitu tahapan dimana konselor mulai memberi bantuan-bantuan konseling dalam arti yang sesungguhnya. Keterampilan yang diperlukan dalam tahap ini yaitu: responding/menanggapi dimana konselor mampu mengartikulasikan pengalaman dan alasan dari perasaan tersebut, serta mampu membahasakan konten dari ekspresi konseli, ketika konselor menyampaikan kembali kepada konseli alasan dari perasaannya, dengan tujuan menunjukkan pemahaman yang empatik terhadap pengalaman perasaan konseli dan membangun kontak psikologis yang baik dengan konseli, memfasilitasi penelitian diri oleh konseli sendiri dengan

mengidentifikasi perasaan yang dinyatakan oleh konseli dan sebab-sebab yang ia sampaikan, mencek taraf kemampuan konselor dalam hal memahami perasaan konseli, membangun dasar dimana konselor dapat mempersonalisasi pemahaman konseli mengenai dirinya pada langkah konseling berikutnya; personalization/personalisasi yaitu dimana konselor mampu

melakukan pendalaman terhadap hal-hal yang diekspresikan konseli dengan menambahkan secara tepat pemahaman-pemahamannya terhadap materi-materi yang disajikan konseli, dengan tujuan untuk memungkinkan konseli memahami tujuan yang ingin ia capai dan apa yang menjadi kebutuhannya berkenaan dengan situasinya, yang terdiri dari: meletakkan dasar bagi tukar menukar tanggapan, personalisasi arti/maksud, masalah, perasaan dan tujuan (goal) ; Initating/menginisasi yaitu dimana konselor mampu mengidentifikasi rangkaian tindakan

xlii

yang akan menghantarkan konseli dari tempat dia berada ke tempat dimana ia akan menjadi, dengan tujuan memotivasi konseli untuk bertindak memecahkan masalah dengan menunjukkan hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dan dengan meletakkan langkah-langkah spesifik sedimikian rupa sehingga konseli sadar bahwa tujuan yang mau dicapainya dapat diraih (Konseng, 1996: 87-141). 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi konseling efektif

Keberhasilan konseling/efektifitas konseling sangat tergantung dari tiga faktor/unsur yang saling terkait yaitu kemampuan yang meliputi: sikap/kepribadian konselor (seperti empati, respek, otentik, konkret, konfrontasi dan imediasi), dan keterampilan konselor (seperti: menempatkan dan menampilkan diri secara penuh ketika menerima dan berhadapan dengan konseli, mendengarkan, menangkap arti dari bahasa yang dikemukakan konseli baik secara verbal maupun non verbal, peka dalam menangkap dan mengartikan perasaan konseli, memberikan tanggapan terhadap reaksi konseli), dan upaya belajar dari konseli dalam memberikan umpan balik (Konseng, 1996: 49-53). Ada lima hal yang yang harus disiapkan untuk keefektifan konseling yaitu: a. Kesiapan dari segi masalah, yang meliputi: 1) sifat masalah

(keunikannya), 2) bidang masalah (pribadi, sosial, belajar, karier dan lainnya) dan 3) berat atau ringannya masalah. b. Kesiapan dari segi konselor, yang yang meliputi: 1) kepribadian konselor yang menunjang dalam melaksanakan konseling individual

(berkomunikasi dan memahami klien, menjaga jarak emosi dengan klien, memahami statusnya sebagai konselor, tetapi dapat menjaga hubungan

xliii

dengan konseli, toleransi terhadap klien, menunjukkan kematangan, sabar. Tidak agresif, memiliki self control dan mampu mengamati serta mengukur perubahan-perubahan/kemajuan yang dicapai klien), 2) pengetahuan konselor yang memadai baik diperoleh secara formal maupun secara non formal, 3) pengalaman konselor dalam konseling individual sehingga konselor bisa lebih memahami konsep-konsep terapi yang ideal dan hubungan terapiutik akan lebih rapat dan 4) keterampilan atau kecakapan konselor yang diperoleh melalui latihan-latihan yang menunjang proses konseling individual. c. Kesiapan dari segi klien, yang meliputi: 1) kepribadian klien terhadap masalah (yaitu adanya motivasi yang kuat untuk menyelesaikan masalah bersama konselor, mempunyai system pertahanan diri yang baik sehingga klien akan memilih jalan yang yang baik untk mengatasi masalahnya, mempunyai harapan terhadap peranan konselor sehingga klien akan siap untuk melakukan konseling bersama konselor), 2) pengetahuan klien tentang konseling seperti maksud dan tujuan, proses, hasil, pelaksanaan dan manfaat bagi diri klien, 3) kecakapan intelektual klien, dimana makin tinggi kecakapannya maka klien akan semakin menyadari pentingnya menyelesaikan bersama konselor, 4) tingkat tilikan terhadap masalah dan dirinya sendiri, dimana klien yang mengerti masalah yang sedang dihadapinya beserta akibatnya yang mungkin timbul dan merugikan perkembangan dirinya, maka klien perlu untuk segera menyelesaikan masalahnya bersama konselor.

xliv

d. Kesiapan dari segi tempat dan lingkungan yang meliputi kondisi dan keadaan sekeliling yang mendukung proses konseling individual berjalan dengan baik. e. Kesiapan dari segi waktu yang meliputi kapan konseling akan dilakukan dan berapa lama dalam setiap pertemuannya, yang ditentukan secara bersama-sama antara klien dan konselor (Wibowo, 1986: 126-133).

D. Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual
Untuk menentukan apakah seorang konselor dapat dikatakan sebagai konselor yang efektif, kurang efektif dan tidak efektif dalam melaksanakan konseling individual tidak sesederhana dan semudah ungkapannya. Hal ini dikarenakan banyak sekali faktor yang mendukung dalam proses konseling itu sendiri. Kualitas pribadi, sikap dasar, pengetahuan dan ketrampilan konselor sekolah merupakan prasyarat keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual. Keterampilan yang harus dimiliki oleh konselor sekolah mencakup keterampilan memahami sifat-sifat klien, menilai situasi apakah persoalan klien mampu dibantu atau tidak, menciptakan rapport, melaksanakan proses konseling secara efektif, atending meliputi: posisi badan yang baik, kontak mata yang baik dan mendengarkan klien dengan baik, mengundang pembicaraan terbuka meliputi membantu memulai wawancara, membantu klien menguraikan masalahnya dan membantu memunculkan contoh-contoh perilaku khusus sehingga penjelasan klien dapat dipahami dengan lebih baik, paraprase yaitu menyatakan kembali suatu kata atau prase secara sederhana. Tujuannya adalah untuk mengatakan kembali kepada klien esensi dari klien dari apa yang telah dikatakan klien, identifikasi perasaan yaitu membantu klien untuk menjelaskan perasaan-perasaannya sendiri, refleksi perasaan yaitu membantu klien dengan cara memahami perasaanya dan sebagai pemeriksa persepsi yang yang baik., konfrontasi yaitu guna membantu klien agar mengubah pertahanan yang telah dibangunnya guna menghindari pertimbangan bidang tertentu dan untuk meningkatkan komunikasi terus terang, meringkaskan yaitu suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu wawancara konseling, menafsirkan, penerimaan, memberi ketenangan,

xlv

memimpin secara umum, mendengarkan, mengarahkan, memberi informasi, menghayati pikiran, perasaan, dan cita-cita klien, menyimpulkan, memberikan dorongan, menggunakan alat atau teknik pengumpulan data, memecahkan masalah dan pengambilan keputusan, menggunakan teknik pengubahan tingkah laku, menggunakan berbagai pendekatan konseling (Wibowo, 1986: 95-96).

Sedangkan sikap/kepribadian yang harus dimiliki konselor ketika melakukan kontak dengan klien yaitu: kepribadian yang matang dan penyesuaian diri yang baik, memiliki pemahaman terhadap orang lain secara objektif dan simpatik, memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain secara baik dan lancar, memahami batas-batas kemampuan yang ada pada dirinya sendiri, memiliki minat yang mendalam mengenai murid-murid dan berkeinginan sungguh-sungguh untuk memberikan bantuan kepada mereka, memiliki kedewasaan pribadi, spiritual, mental, sosial, dan fisik, peka terhadap berbagai sikap dan reaksi, respek terhadap orang lain, memiliki kemampuan berkomunikasi, tidak mementingkan diri sendiri (Wibowo, 1986: 97-98). Dalam suatu studi di Florida (USA) mengenai nilai dan kualitas-kualitas pribadi mengemukakan bahwa yang membuat konselor efektif yaitu: konselor yang memandang manusia sebagai pribadi, dan memiliki kapasitas untuk menangani masalah-masalahnya; memandang manusia sebagai orang yang ramah, yang bersedia menerima orang orang lain, dan bertujuan baik; menganggap manusia mempunyai pembawaan yang bernilai dan perlu dihargai; memandang manusia sebagai pribadi yang berkembang dari dalam, sebagai pribadi yang kreatif dan dinamis; memandang manusia sebagai pribadi yang dapat dipercaya, dapat digantungi, dapat bertanggung jawab, dan tingkah lakunya dipahami; memandang manusia sebagai pribadi yang secara potensial dapat mencapai kebahagiaan, mampu mengembangkan diri, serta dapat pula menjadi sumber bagi orang lain untuk memperoleh kepuasan dan kebahagiaan (Kartono, 1985: 28-30). Geroge dan Cristiani (1981) mengemukakan ciri-ciri konselor yang efektif yaitu: “Konselor yang membukakan diri, dan menerima pangalaman sendiri, menyadari akan nilai dan pendapatnya sendiri, bisa membina hubungan hangat dan mendalam dengan orang lain, bisa membiarkan diri sendiri dilihat orang lain sebagaimana adanya, menerima tanggung jawab pribadi dari perilakunya sendiri, dan mengembangkan tingkatan aspirasi yang realistik”(dalam Gunarsa, 1992: 66-68).
Beberapa ahli, Brammer (1979), Carkhuf (1969), Shertzer dan Stone (1980) memberikan rumusan yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya, menyatakan bahwa ada indikasi

xlvi

yang kuat, bahwa: “Keefektifan konseling yang dilakukan oleh konselor yang efektif berhubungan dengan ciri-ciri kepribadian konselor itu sendiri” (dalam Hariyadi, 2000: 7). Lebih lanjut Brammer mengemukakan ciri-ciri kepribadian konselor yang hendaknya dimiliki adalah: kesadaran akan nilainilai, kemampuan menganalisis perasaan sendiri, kemampuan untuk berfungsi sebagai model dan influencer, altruisme, perasaan yang kuat terhadap etika, dan tanggung jawab. Sedangkan hasil

penelitian Shertzer dan Stone menyimpulkan bahwa efektifitas konseling berkaitan erat dengan karakteristik kepribadian konselor yakni: toleransi terhadap ambigiutas, kematangan, pemahaman diri, kemampuan untuk memelihara jarak emosional dengan klien, dan kemampuan untuk memelihara hubungan interpersonal yang baik.

Brammer (1979), Carkhuf (1969), Shertzer dan Stone (1980) mengemukakan bahwa “Pada umumnya disepakati ada ciri-ciri pribadi yang berhubungan dengan keberhasilan melaksanakan konseling” (dalam Hariyadi, 2000: 7). Akan tetapi tidak disebutkan secara rinci pola kepribadian yang mana yang disepakati itu. Tyler sendiri berpendapat bahwa sifat pribadi yang paling penting bagi konselor adalah sikapsikapnya yang memungkinkan memahami dan menerima klien. Dibawah ini akan di kemukakan tentang ciri-ciri konselor yang efektif sebagai berikut: 1. Tujuan konseling (mengupayakan untuk membantu klien mencapai tujuannya dan mengikuti agenda klien serta memberikan alternatif-alternatif sarana dan arah terhadap kasus). 2. Pengembangan respon (mengembangkan dan menciptakan banyak respon yang bervariasi sesuai dengan situasi dan issue-issue yang ada). 3. Pandangan/wawasan (memahami dan melakukan dengan pandangan/wawasan yang luas). 4. Teori-teori psikologi dan konseling (memahami teori-teori dan bekerja atas dasar teori itu serta memilih banyak alternatif pendekatan). xlvii

5. Pemahaman budaya (mampu berkomunikasi dengan klien dari berbagai latar belakang budaya). 6. Kerahasiaan (memelihara kerahasiaan klien). 7. Keterbatasan (mengetahui keterbatasan dalam bekerja, berbagai teori, konsep dan pandangan dengan konselor lain). 8. Pengumpulan informasi (terfokus pada pemikiran, perasaan, dan pengalaman klien dalam wawancara dan tidak menyimpang ke hal-hal yang tidak relevan). 9. Martabat manusia (menghargai manusia, memperlakukan klien dengan respek, bermartabat dan keikhlasan). 10. Teori umum (dengan aktif terlibat kedunia klien, dengan menguasai teori, pengembangan individu, konsisten terhadap pendekatan teori (Mappiare, 1992: 135-137)
Dari beberapa pendapat mengenai keefektifan konseling (konselor yang efektif dalam melaksanakan konseling individual) sebagaimana dikemukakan di atas maka dapat diambil kesimpulan secara umum dan luas bahwa: konselor yang efektif dalam melaksanakan konseling individual ialah apabila konselor dapat melaksanakan tugas membantu klien dengan baik, dengan mengerahkan segala kemampuan meliputi: keterampilan serta sikap/kepribadian yang dimilikinya, sehingga masalah yang dihadapi klien (siswa) dapat terpecahkan secara memuaskan. Mengenai hal ini maka dapat disusun tentang Konselor yang Efektif yang berdasarkan pada pengelompokkan atributatribut keterampilan dan sikap/kepribadiaan konselor, sebagai berikut: 1. Keterampilan konselor a. Memahami sifat-sifat klien, yang meliputi tahu gerak-gerik/tingkah laku klien, dan karakter klien. b. Menilai situasi apakah persoalan klien mampu dibantu atau tidak. c. Menciptakan rapport yaitu menjalin hubungan pribadi yang baik antara konselor dan klien sejak permulaan sampai konseling berakhir.

xlviii

d. Melaksanakan proses konseling (persiapan, pendekatan masalah, pengungkapan masalah, diagnosa, prognosa, treatment, evaluasi dan tindak lanjut) secara efektif. e. Atending yaitu menunjukkan kehadiran secara penuh dengan tujuan melibatkan konseli dalam proses konseling yang meliputi: kualitas vokal, posisi badan yang baik, kontak mata yang baik dan rileks. f. Mengundang pembicaraan terbuka meliputi membantu memulai wawancara, membantu klien menguraikan masalahnya dan membantu memunculkan contoh-contoh perilaku khusus sehingga penjelasan klien dapat dipahami dengan lebih baik. g. Paraprase yaitu menyatakan kembali suatu kata atau prase secara sederhana. Tujuannya adalah untuk mengatakan kembali kepada klien esensi dari klien dari apa yang telah dikatakan klien. h. Identifikasi perasaan yaitu membantu klien untuk menjelaskan perasaan-perasaannya sendiri. i. Refleksi perasaan yaitu membantu klien dengan cara memahami perasaanya dan sebagai pemeriksa persepsi yang yang baik. j. Konfrontasi yaitu guna membantu klien agar mengubah pertahanan yang telah dibangunnya guna menghindari pertimbangan bidang tertentu dan untuk meningkatkan komunikasi terus terang. k. Meringkaskan yaitu suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu wawancara konseling. l. Menafsirkan, penerimaan, memberi ketenangan, memimpin secara umum, mendengarkan, mengarahkan, memberi informasi, menghayati pikiran, perasaan dan cita-cita klien, menyimpulkan, memberikan dorongan, menggunakan alat atau teknik pengumpulan data, memecahkan masalah dan pengambilan keputusan, menggunakan teknik pengubahan tingkah laku dan menggunakan berbagai pendekatan konseling. 2. Sikap/Kepribadian konselor

Seorang dalam

konselor

di

mengadakan

kontak

dengan klien haruslah memiliki

xlix

sifat-sifat kepribadian tertentu, di antaranya: a. Kepribadian yang matang (seperti mawas diri/hati-hati, self control/sadar diri, optimis, tanggung jawab, jujur, apa adanya, menyenangkan, pengaruh positif, terbuka) dan penyesuaian diri yang baik. b. Memiliki pemahaman terhadap orang lain secara objektif dan simpatik. c. Memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain secara baik dan lancar. d. Memahami batas-batas kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. e. Memiliki minat yang mendalam mengenai murid-murid, dan berkeinginan sungguh-sungguh untuk memberikan bantuan kepada mereka. f. Memiliki kedewasaan pribadi, spiritual, mental, sosial, dan fisik, seperti kalem/tenang, rendah hati, sabar, humoris, cerdas, kuat etika, wawasan luas, sederhana, hangat, dan figur ibu. g. Peka terhadap berbagai sikap dan reaksi. h. Respek terhadap orang lain. i. Memiliki kemampuan berkomunikasi. Dari uraian di atas diketahui bahwa konselor yang efektif terletak pada dimiliki dan dilaksanakannya secara baik atau tidak dari kedua atribut yakni: keterampilan dan sikap/kepribadian konselor.

E. Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja, dan Gender Konselor menurut Persepsi Klien
1. Karakteristik konselor ditinjau dari tingkat pendidikan

l

a.

Pengertian tingkat pendidikan

Tingkat mempunyai pengertian sesuatu yang disusun menurut tinggi rendahnya martabat (Poerwodarminto, 1986: 107). Sedangkan pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang/kelompok orang dalam usaha mendewasakan melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Suwardi, 2001: 5). Dalam UU RI No 2 tahun 1989 mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.
Tingkat pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli pada umumnya mengarah pada satu arah yang sama. Jika pengertian tersebut diperhatikan dan dibandingkan, maka dapat dianalisis: Tingkat pendidikan adalah usaha seorang individu untuk memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang diperoleh di bangku sekolah. Hal tersebut diharapkan setelah lulus individu dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki ilmu, cerdas, terampil, kreatif, penuh tanggung jawab, berbudi luhur, mencintai sesama manusia dan mencintai bangsanya. Dalam pelaksanaannya kegiatan pendidikan dapat berlangsung secara formal dan non formal, dimana keduanya sama-sama berperan membentuk sikap dan tingkah laku manusia, hanya medianya saja yang berbeda. 1). Pendidikan formal adalah pendidikan dari satuan pendidikan, lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah/masyarakat dengan pemenuhan syarat-syarat tertentu yang diatur dalam Undang-Undang yang berlaku saat ini (UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional) dengan tingkatan-tingkatan/ jenjang: pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. 2). Pendidikan non formal adalah pendidikan yang diperoleh tidak melalui lembaga pendidikan resmi yang didirikan pemerintah maupun masyarakat. Misalnya latihan keterampilan komunikasi efektif antara orang tua dan remaja di organisasi PKK. Dalam kaitannya dengan penelitian ini yang dimaksud dengan tingkat pendidikan adalah tingkat pendidikan formal yang ditempuh oleh konselor dalam jenjang pendidikan tinggi. Adapun pendidikan tinggi jurusan bimbingan konseling FIP-UNNES meliputi: D3, S1, S2, dan S3 bimbingan dan konseling. Selanjutnya dalam pasal 17 UU RI No 2 tahun 1989 dijelaskan tentang pendidikan tinggi sebagai berikut, yaitu:

li

a). Pendidikan terdiri dari akademik dan profesional. b). Sekolah tinggi, Institut, Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan atau profesional. c). Akademik dan politeknik menyelenggarakan profesional (Ekosusilo dan Kasiadi, 1993: 130). b. Perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor D3 BK dan S1 BK menurut persepsi klien Kompetensi profesional dari konselor sekolah selain berdasarkan bakat konselor sekolah pada diri seseorang, juga unsur pendidikan dan pengalaman kerja memegang peranan yang sangat penting. Konselor sekolah (School Counselor), ialah tenaga profesional, pria atau wanita yang mendapat pendidikan khusus Bimbingan dan Konseling, secara ideal berijazah sarjana dari FIP-IKIP, Jurusan/Program Studi Bimbingan dan Konseling atau Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, serta jurusan-jurusan/Program Studi yang sejenis. Para tamatan tersebut setelah disekolah adalah menjadi tenaga khusus. Tenaga ini dapat disebut “Full-time guidance counselor”, karena seluruh waktu dan perhatiannya dicurahkan pada pelayanan bimbingan dan karena dialah menjadi penyuluh utama disekolah”, W.S Winkel, 1981 (dalam Sukardi, 1984: 19). Persyaratan formal/pendidikan seorang guru pembimbing sekurang-kurangnya harus telah memiliki pendidikan setingkat sarjana muda dari suatu lembaga pendidikan yang sah dan memenuhi syarat untuk menjadi guru dalam tingkat sekolah di tempat dia ditugaskan. Secara profesional seorang guru pembimbing hendaknya telah mencapai tingkat sarjana pendidikan dengan mengikuti studi dalam bidang bimbingan. Dalam masa pendidikannya seorang guru pembimbing harus menempuh mata kuliah tentang prinsip-prinsip dan praktik bimbingan. Bidang yang harus dikuasainya meliputi bidang utama yang terdiri atas proses konseling, pemahaman individu, informasi dalam bidang pendidikan dan jabatan, administrasi bimbingan, prosedur penelitian, dan penilaian bimbingan. Bidang lain yang harus pula dikuasai oleh seorang guru pembimbing sebagai bidang tambahan meliputi psikologi, ekonomi, dan sosiologi (Wijaya, 1988: 127).

lii

Kaitannya dengan penelitian ini hanya akan dibahas lebih luas tentang pendidikan formal. Lebih khusus lagi adalah pendidikan formal yang memiliki jenjang/tingkatantingkatan tertentu seperti yang diatur dalam UU No. 2 tahun 1989. Inipun dibatasi hanya satu jenjang pendidikan yaitu jenjang pendidikan tinggi yang terdiri dari: 1). D3 BK, yang mempunyai karakteristik/ciri-ciri sebagai berikut: a). Lama pendidikan: 3 tahun (minimal) b). Jumlah SKS yang harus ditempuh: 105 SKS c). Syarat kelulusan: menyusun tugas akhir (TA) d). Tujuan: menyelenggarakan pendidikan akademik yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan. 2). S1 BK, yang mempunyai karakteristik/ciri-ciri sebagai berikut: a). Lama pendidikan: 4 tahun (minimal) b). Jumlah SKS yang harus ditempuh: 152 SKS c). Syarat kelulusan: menyusun skripsi d). Tujuan: menyelenggarakan pendidikan akademik yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih mendalam. Mengacu pada teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa persyaratan formal dari seorang konselor sekolah ada 2 yaitu minimal sarjana muda BK (D3 BK), dan sarjana BK (S1 BK) itu sendiri, dimana dilihat dari lama pendidikan, SKS yang harus ditempuh, persyaratan kelulusan dan tujuan pendidikan antara D3 BK dan SI BK berbeda. Maka diasumsikan akan berbeda pula keefektifan konselor dalam melaksanakan layanan konseling antara konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK dan S1 BK menurut persepsi klien. Dimana konselor dengan tingkat pendidikan S1 BK akan lebih efektif dalam melaksanakan layanan konseling dibandingkan dengan konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK. 2. Karakteristik konselor ditinjau dari pengalaman kerja. a. Pengertian pengalaman kerja Pengalaman yang dimiliki seseorang memberikan dasar kepada seseorang dalam melakukan kegiatan atas dasar pengalaman yang telah dimilikinya, seseorang akan memiliki kemampuan dan menjadi ahli.

liii

Pengalaman-pengalaman itu menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan yang selalu memberitahukan kepada diri untuk menentukan sikap perilaku yang diinginkan atas dasar pengalaman masa lalunya. Namun demikian pengalaman seseorang bisa menjadi guru dalam hidupnya dan bisa pula hanya menjadi sekedar kenangan sehingga tidak merubah perilaku dan kemampuannya. Pengalaman kerja sebagai konselor sekolah adalah masa kerja yang ditandai dengan lamanya seorang konselor sekolah melaksanakan tugas profesinya. Masa kerja ini memiliki peranan penting terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan tugastugasnya. Menurut Middlebrook “Tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk suatu sikap negatif terhadap objek tersebut” (dalam Hariyadi, 2000: 10). Baron (1988) mengemukakan “Sikap yang negatif akan melahirkan perilaku atau unjuk kerja yang negatif, karena perilaku pada umumnya merupakan manifestasi dari sikap seseorang. Perilaku yang negatif ini akan melahirkan ketidakefektifan konselor dalam melaksanakan tugas-tugasnya” (dalam Hariyadi, 2000: 10). Fazio dan Zana (1978) juga mengemukakan “Sikap yang terbentuk melalui pengalaman langsung mengenai suatu objek hasilnya lebih kuat dan lebih melekat” (dalam Hariyadi, 2000: 10). Sedangkan menurut Wu dan Schaffer (1987) “Sikap yang terbentuk melalui pengalaman langsung ternyata lebih tahan terhadap perubahan daripada sikap yang terbentuk melalui pengalaman tidak langsung”, (dalam Hariyadi, 2000: 10). b. Perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja konselor 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23 tahun, dan > 24 tahun menurut persepsi klien Selama menjalankan profesinya ini berarti konselor sekolah akan selalu berinteraksi dengan pekerjaannya maupun dengan teman-teman sejawatnya yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan individu dalam menekuni profesinya itu. Interaksi sosial dalam suatu organisasi berpengaruh signifikan terhadap kehidupan

liv

individu, termasuk didalamnya pembentukan sikap dan perilaku. Interaksi sosial yang positif akan melahirkan sikap dan perilaku yang positif. Jika sikap dan perilaku kerjanya positif maka hal ini akan mengantarkannya kepada konselor yang efektif, begitu juga sebaliknya (Johnson, 1970: 141). Seorang konselor sekolah yang profesional hendaknya telah memiliki pengalaman mengajar atau praktik bimbingan dan konseling selama dua tahun, ditambah satu tahun pengalaman kerja diluar bidang persekolahan, tiga bulan sampai enam bulan praktik konseling yang diawasi dan pengalaman-pengalaman yang baik dalam kegiatan sosial seperti kegiatan sukarela dalam masyarakat (Wijaya, 1988: 27-28). Kaitannya dalam penelitian ini, pengalaman kerja langsung bisa dilihat dari masa kerja konselor di sekolah. Masa kerja adalah menunjuk kepada berapa lama seseorang mengabdikan diri menjalankan profesinya sebagai konselor di sekolah. Menurut Chamberlin (1969) pengajaran dilaksanakan oleh tenaga-tenaga profesional dengan tingkat persiapan yang berbeda-beda. Tingkat-tingkat profesional itu bermacam-macam, yang terdiri dari: “Cadet Teacher, Executive Teacher, Lead Teacher, Master Teacher, Provisional Teacher, Profesional Teacher, Regullar Teacher, Senior Teacher, Special Teacher, Teacher Assiten, Teacher Intern dan Team Leader”, Chamberlin, 1969 (dalam Hamali, 1991: 90). Semua jenis guru mata pelajaran tersebut bertanggung jawab untuk mengajar, kendati tingkat otoritasnya tidak sama. Dari semua jenis staf profesional tersebut dibagi menjadi tiga kategori, dengan masa kerja masing-masing sebagai berikut: 1). Guru Provisional (Provisional Teacher), merupakan anggota staf yang telah menempuh program pendidikan guru, tetapi belum memiliki atau masih kurang pengalaman mengajar. Tingkatan guru ini sering disebut sebagai regular teacher, guru baru (beginning teacher), atau teacher provisional. Guru mata pelajaran yang masuk pada kategori ini yaitu guru dengan masa kerja 0 tahun - 14 tahun. 2). Guru Pelaksana (Executive Teacher). Executive teacher bertanggung jawab melaksanakan kegiatan-kegiatan instruksional, mereka bertanggung jawab

menyusun rencana dan melaksanakan pekerjaan sehari-hari yang menjadi tugas staf

lv

pengajar. Guru dalam jenis ini harus memiliki pengalaman mengajar dikelas. Guru mata pelajaran yang masuk pada kategori ini yaitu guru dengan masa kerja 15 tahun - 24 tahun. 3). Guru Profesional (Professional Teacher), senior teacher, master teacher dan profesional teacher dikelompokkan kedalam kategori ini. Guru profesional merupakan seseorang yang telah menempuh program pendidikan guru dan telah berpengalaman dalam mengajar dalam waktu yang lama. Guru-guru ini diharapkan dan dikulifikasikan untuk mengjar dikelas yang besar dan bertindak sebagai pimpinan bagi para anggota staf lainnya. Guru mata pelajaran yang masuk dalam kategori ini yaitu guru dengan masa kerja > 24 tahun. Sehubungan dengan penelitian yang akan dilakukan, masa kerja kerja konselor dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: 1). Konselor dengan masa kerja rendah, yaitu konselor sekolah dengan masa kerja 0 tahun - 11 tahun. 2). Konselor dengan masa kerja sedang, yaitu konselor sekolah dengan masa kerja 12 tahun - 23 tahun. 3). Konselor dengan masa kerja tinggi, yaitu konselor sekolah dengan masa kerja > 24 tahun. Rasional dibagi menjadi tiga kategori masa kerja konselor (rendah, sedang dan tinggi) dengan jarak masing-masing masa kerja selama 11 tahun, yaitu dihitung dari masa kerja konselor seluruhnya selama 35 tahun, yang diperoleh dari masa kerja terakhir/masa pensiun konselor (65 tahun), dikurangi dengan masa kerja pertama konselor (25 tahun), setelah mahasiswa berada pada semester terakhir (semester XIV) dan mempunyai kesempatan yang terakhir Perguruan Tinggi. Dari keterangan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa seorang konselor sekolah meskipun mempunyai pengertian yang sama, namun dari segi masa kerjanya konselor sekolah mempunyai banyak golongan. Masing-masing mempunyai tanggung jawab dan tugas pekerjaan sendiri-sendiri, dan menuntut kompetensi yang untuk menuntut ilmu S1 dalam sebuah

lvi

serasi dengan tugasnya, maka diasumsikan akan berbeda pula keefektifan konselor dalam melaksanakan layanan konseling individual antara konselor sekolah dengan masa kerja 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23 tahun, dan > 24 tahun menurut persepsi klien. Dimana konselor sekolah dengan masa kerja tinggi yaitu > 24 tahun akan lebih efektif dalam melaksanakan konseling individual bila dibandingkan dengan konselor sekolah dengan masa kerja sedang yaitu 12 tahun - 23 tahun, dan dengan konselor sekolah dengan masa kerja rendah yaitu 0 tahun -11 tahun. 3. Karakteristik konselor ditinjau dari gender a. Pengertian gender Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Sedangkan didalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa: “gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat” (Umar, 1999: 33). Pendapat ini sejalan dengan pendapat H.T Wilson dalam Sex and Gender yang mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini Elaine Showalter mengartikan gender lebih dari sekedar perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial dan budaya. Ia menekankannya sebagai konsep analisis (an analytic concept) yang dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu. Berbeda halnya dengan pendapat Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex and Gender: an introduction, mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (Cultural Expectations For Women and Men) (Umar, 1999: 40). Meskipun kata gender belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun istilah tersebut sudah lazim digunakan khususnya di kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan ejaan “jender”. Gender disini diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yaitu laki-laki dan

lvii

perempuan. Gender biasanya digunakan untuk menunjukan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. b. Perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor pria dan wanita menurut persepsi klien Bahwa banyak orang berusaha untuk menghilangkan perbedaan hakiki dan karakteristik antara antara laki-laki dan wanita, terutama orang berusaha yang

memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban,

yaitu sebagai wanita

kedudukannya sebagai warga negara. Namun betapapun hebat perjuangan feministis ini, orang tetap senantiasa menyadari akan perbedaan-perbedaan dan karakteristik yang fundamental antara kaum pria dan wanita (Kartono, 1992: 177). Perbedaanperbedaan/karakteristik tersebut dinyatakan antara lain dalam peristiwa sebagai berikut: 1). Betapapun baik dan cemerlangnya intelengensi wanita, namun pada intinya wanita itu hampir tidak pernah mempunyai intersse menyeluruh pada soal-soal seperti kaum laki-laki. Hal ini antara lain bergantung pada struktur otaknya serta misi hidupnya. Jadi wanita itu pada umumnya lebih tertarik pada hal yang praktis dari pada teoritis. 2). Kaum wanita lebih praktis, lebih langsung dan meminati segi-segi kehidupan konkrit, serta segera. Misalnya ia sangat menikmati masalah rumah tangga, kehidupan sehari-hari dan kejadian yang berlangsung di sekitar rumah tangganya. Sedang kaum pria pada umumnya cuma mempunyai interesse, jika peristiwanya mengandung latar belakang teoritis untuk difikirkan lebih lanjut, mempunyai tendensi tertentu, sesuai dengan minat pria, atau ada kaitannya dengan diri sendiri. Ringkasnya wanita lebih dekat pada masalah-masalah kehidupan yang praktis konkrit, sedang kaum laki-laki lebih tertarik pada segi-segi kejiwaan yang bersifat abstrak. 3). Wanita pada umumnya sangat bergairah, vivid dan penuh vitalitas hidup, karena itu wanita lebih spontan dan impulsif. Sehubungan dengan hal ini mereka disebut sebagai makhluk yang memiliki keremajaan dan penuh kelincahan hidup. Sehingga tepat kiranya bila wanita berfungsi sebagai teman bergaul bagi kaum laki-laki,

lviii

karena laki-laki pada umumnya selalu tertarik pada keremajaan dan kesegaran sifat-sifat wanita. 4). Wanita pada hakikatnya lebih bersifat hetero-sentris dan lebih sosial, karena itu lebih ditonjolkan sifat kesosialannya. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: terutama pada “penderitaan” orang lain. Karena itu mencari obyek perhatiannya diluar dirinya sendiri, terutama suami dan anak-anaknya, juga berminat pada lingkungannya. Sebaliknya kaum laki-laki, mereka lebih bersifat egosentris, dan lebih suka berfikir pada hal-hal yang zakelijk. Mereka lebih obyektif dan essensial. Memang adakalanya kaum pria mengerahkan dirinya pada partnernya (Aku lain), misalnya dalam kegiatan relasi seksual. Namun ini hanya berlangsung sekejap/sebentar saja selanjutnya kembali pada diri sendiri, yakni memikirkan diri sendiri. 5). Wanita lebih mengarah keluar, kepada subyek lain. Pada setiap kecenderungan kewanitaannya, misalnya pada caranya bergaya dan berhias, secara primer wanita mengarahkan aktifitasnya keluar, untuk menarik perhatian pihak lain, terutama seks lain. Karena itu kebebasan dan suka berhias dalam batas-batas normal merupakan bukti bahwa dalam dirinya terdapat instelling sosial yang murni feminim dan sehat. Sebab wanita yang sudah tidak berhasrat lagi untuk memperindah dirinya, dan tidak mau berhias sama sekali, lagi pula acuh tak acuh penampakan dirinya, wanita semacam ini tidak memiliki daya tarik lagi. Ia adalah wanita yang goyah, dan tengah mengalami dekadensi/kemunduran psikis yang serius. Pada banyak segi, wanita menganggap orang laki-laki/suaminya sebagai anaknya harus dituntun dengan penuh rasa keibuan dan diarahkan. Oleh karena itu wanita senantiasa terbuka hatinya bagi orang lain dan lebih mudah mengakseptir (Aku lain). Sehubungan dengan sosialitasnya ini, wanita cepat bersedia membuka diri bagi aku lain. Karena itu ia dikenal dengan sebutan “terminus terpercaya” (tempat pemberhentian akhir yang bisa dipercaya). 6). Kaum laki-laki disebut lebih egosentris/self oriented. Pria cenderung berperan sebagai pengambil inisiatif untuk memberikan stimulasi dan pengarahan,

lix

khususnya bagi kemajuan, dan menganggap dunia ini sebagai miliknya, sebagai ruang untuk berprestasi dan siap kerja. Segenap kegiatan dan hidupnya senantiasa dikaitkan pada macam-macam proyek dan material dari karyanya. Dia selalu berusaha mengejar cita-citanya dengan segala macam sarana dan upaya, baik upaya yang luhur maupun yang jahat. Oleh karena itu hidupnya dianggap sebagai substansi yang otonom; juga dilihat sebagai satu prospek yang mengarah pada masa jauh ke depan. Berkaitan dengan ini kegiatan kaum laki-laki itu bersifat ekspanif dan agresif; yaitu penuh daya serang untuk menguasai situasi dan ruang lingkup hidupnya, serta lebih bernapsu memperluas kekuasaannya. Wanita adalah sebaliknya biasanya ia tidak agresif. Sifatnya lebih pasif, lebih “besorgent”, lebih “open”, suka melindungi, memelihara, dan mempertahankan. Ringkasnya bersifat “conserverend”, memupuk, memelihara, mengawetkan terhadap barang-barang dan manusia lain. Oleh fungsinya sebagai “pemelihara” itu wanita dibekali oleh alam dengan sifat-sifat kelembutan dan keibuan, tanpa mementingkan diri sendiri, dan tidak mengharapkan balas jasa bagi segala perbuatannya. 7). Menurut Prof. Heymans, perbedaan antara laki-laki dan perempuan terletak pada sifat-sifat sekunderitas, emosionalitas, dan aktifitas dari fungsi-fungsi kejiwaan. Pada kaum wanita fungsi sekunderitasnya tidak terlihat dibidang intelek, akan tetapi pada perasaan. Oleh karena itu nilai perasaan dari pengalamanpengalamannya jauh lebih lama mempengaruhi struktur kepribadian, jika dibandingkan dengan nilai perasaan kaum laki-laki (Kartono, 1992: 181). 8). Kebanyakan wanita kurang berminat pada masalah politik; terlebih-lebih politik yang menggunakan cara-cara licik, munafik, dan kekerasan. Sikap tidak berminat ini disebabkan oleh karena tindak politik itu di anggap kurang sesuai dengan nilainilai etis dan perasaan halus wanita. Juga dari bidang intelek, kaum wanita lebih banyak menunjukkan tanda-tanda emosionalnya. Karena itu, biasanya wanita memilih bidang dan pekerjaan yang banyak mengandung unsur relasi emosional dan pembentukan perasaan. Misalnya pekerjaan guru, juru rawat, pekerja sosial, bidan, dokter, seni, dan lain sebagainya. Oleh emosi yang kuat, wanita lebih cepat

lx

mereaksi dengan penuh ketegasan; dia lebih cepat berkecil hati, bingung, takut, dan cemas. Akan tetapi jika menghadapi bahaya yang benar-benar laten, apalagi jika bahaya tersebut mengancam keselamatan anaknya, suami/orang yang dicintai, dalam menghadapi bahaya tersebut biasanya bersifat tabah dan kuat. Sehubungan dengan hal ini tampaknya seperti terdapat “kontra indikasi” pada kehidupan perasaan wanita. Yaitu ada kalanya bersifat mudah tegang, cemas, akan tetapi juga bisa tabah, berani, dan keras. 9). Wanita juga sangat peka terhadap nilai estetis. Hanya saja pada umumnya mereka kurang produtif. Hal ini terutama disebabkan oleh sangat kurangnya kesempatan untuk memperdalam suatu ketrampilan seni, banyaknya tugas-tugas rumah tangga, dan beratnya kewajiban mendidik anak-anaknya. Sehubungan dengan perasaan halus dan unsur keibuan yang penuh kelembutan, pada umumnya wanita kurang berminat pada pelontaran kritik-kritik tajam dibidang politik, kesenian, dan budaya. Mereka lebih suka menikmati hasil seni yang “indah” dari ketiga bidang itu. 10). Dalam kehidupan sehari-hari, wanita lebih aktif dan resolut tegas. Diantara kehidupan, kemauan dan aktifitasnya terhadap penyesuaian yang harmonis, jika seorang wanita sudah memilih sesuatu dan telah memutuskan untuk melakukan sesuatu, ia tak banyak berbimbang hati untuk melakukan langkah-langkah selanjutnya. Hal ini berbeda sekali dengan kaum laki-laki yang masih saja bimbang hati, dan masih saja terombang ambing diantara pilihan menolak dan menyetujui. Dengan begitu, wanita pada hakikatnya lebih spontan, dan lebih mempunyai kepastian jiwa terhadap keputusan-keputusan yang telah diambil. Pada umumnya wanita lebih antusias memperjuangkan pendiriannya dari pada kaum laki-laki. 11). Pada kaum pria terdapat garis pemisah yang jelas, antara kehidupan psikis dengan kehidupan indrawi, dan antara interesse pribadi dengan tugas kewajiban yang formal sehari-hari. Dia menghayati pemisahan ini sebagai elemen yang terintegrasi demi kepribadiannya. Ia menyadari, betapa eratnya diri sendiri itu terkait pada strutur-struktur psikis yang tampaknya kontraindikatif satu dengan yang lainnya. Oleh kesadaran itu ia ingin lebih berdiri diluar pagar sebagai “pengamat” dan

lxi

ingin lebih otonom. Bahkan seringkali bersikap agresif menghadapi kontraindikasikontraindikasi dan nasib hidupnya. 12). Kesatuan totalitas dari tingkah laku wanita bukan terletak pada kesadaran obyektif menuju pada satu tujuan, akan tetapi lebih terletak pada pada kehidupan perasaannya, yang didorong oleh efek-efek dan sentimen-sentimen yang kuat. Jika wanita tidak menyukai/membenci seseorang ia cenderung menolak, menghukum dan mengadili semua tingkah laku serta pribadi yang dibencinya. Dia tidak bisa/tidak mau membedakan antara person/pribadi orang yang dibenci itu dengan tingkah laku/perbuatan orang tersebut. Dari segala sesuatu yang keluar dari orang yang dibencinya itu, baik/buruk, pasti diterima dengan prasangka dan rasa antipati. 13). Wanita pada umumnya lebih akurat dan lebih mendetil 14). Secara ringkas dapat dikatakan bahwa, perbedaan kaum laki-laki dan wanita itu bukan terletak pada adanya perbedaan yang essential dari temperamen karaternya, akan tetapi pada perbedaan struktur jasmaniahnya. Perbedaan tersebut

mengakibatkan adanya perbedaan alam aktifitas sehari-hari. Dan hal ini menyebabkan timbulnya perbedaan pula pada fungsi sosialnya ditengah masyarakat. Jadi ada perbedaan dalam nuansa kualitatif dan bukan perbedaan secara kuantitatif saja.

15). Untuk menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dikatakan bahwa: “Perbedaan antara laki-laki dan perempuan semakin jauh antara lain terlihat pada laki-laki dan perempuan cenderung tumbuh dengan keahlian berhubungan dengan orang lain yang berbeda dalam hal sumber dan kekurangannya”, Michael Argyle (dalam Prihatono, 1986: 36). Argyle lebih lanjut mengatakan bahwa banyak studi riset yang menunjukkan bagaimana wanita lebih suka membentuk persahabatan erat dengan sesamanya. Namun mereka nampak lebih sulit daripada pria dalam menyatakan hierarki

lxii

(tingkatan), grup-grup terstruktur, yang berkaitan dengan tugas gabungan. Lebih jauh mereka jarang muncul sebagai pemimpin dari kelompok semacam ini (Prihatono, 1986: 37). Hal yang sama juga disampaikan bahwa perbedaan perilaku antara jenis kelamin sebagai akibat interaksi antara keadaan biologis dan masyarakatnya (Satmoko,1995: 449).
Perbedaan anatomi biologis antara keduanya cukup jelas. Akan tetapi efek yang timbul akibat perbedaan, karena ternyata perbedaan jenis kelamin secara biologi (sex) melahirkan seperangkat konsep budaya, interpretasi budaya terhadap perbedaan jenis kelamin inilah yang disebut gender. Adanya perbedaan antara perempuan dan laki-laki tidak dapat disangkal, itulah kodrat masing-masing. Perbedaan tersebut paling tidak dari segi biologis, Al-Quran mengingatkan: “Janganlah kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahkan Allah terhadap sebagian kamu atas sebagian yang lain. Laki-laki mempunyai hak atas apa atas apa yang diusahakannya” (Q.S An-Nisa/4: 32). Ayat diatas mengisyaratkan perbedaan masing-masing memiliki keistimewaan. Perbedaan yang ada tentu mengakibatkan perbedaan fungsi utama yang harus masingmasing emban. Secara umum Al-Quran mengakui adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah pembedaan/membedakan (diskrimination) yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lainnya. Dengan demikian secara fisik-biologis laki-laki dan perempuan tidak saja dibedakan oleh identitas jenis kelamin, bentuk, anatomi biologis lainnya, melainkan juga faktor interaksi sosial budaya dalam masyarakat. Pengaruh perbedaan ini sangat mempengaruhi pola kehidupan dan sikap dari masing-masing, bahwa laki-laki memiliki harapan/keinginan yang lebih tinggi dari perempuan dalam jalan kehidupannya adalah sah saja, begitu pula sebaliknya. Seorang laki-laki karena pertimbangan struktur sosial budaya dalam masyarakat dituntut untuk memiliki harapan terhadap peran sosial yang berbeda dengan perkembangan dikemudian hari. Di katakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan didalam mayarakat secara umum diklasifikasikan dalam 2

lxiii

kelompok. Pertama teori yang mengatakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan ditentukan oleh faktor biologis atau biasa disebut teori nature. Perbedaan tersebut melahirkan pemisahan fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Kedua teori yang mengatakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan ditentukan oleh faktor budaya atau biasa disebut dengan teori nurture (Umar, 1999: 31-39). Mengacu pada kedua teori yang disampaikan oleh Nasaruddin Umar dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan kedua jenis kelamin antara pria dan wanita bukan semata-semata ditentukan oleh faktor biologis, tetapi lebih dari itu sesungguhnya perbedaan kedua jenis kelamin antara pria dan wanita dikonstruksikan oleh budaya masyarakat, sehingga diasumsikan akan menimbulkan perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual antara konselor pria dan wanita menurut persepsi klien. Berbicara tentang keefektifan konselor sekolah dalam melaksanaan tugasnya adalah berbicara “performance” (unjuk kerja konselor). Tentang bagaimana “performance” (unjuk kerja) seorang konselor di sekolah akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal ialah semua hal yang bersumber dari dalam diri konselor itu sendiri, sedangkan faktor eksternal adalah semua hal yang bersumber dari luar diri konselor.

Disamping kedua atribut yang menandai konselor yang efektif seperti tersebut diatas, beberapa faktor internal yang menurut penulis ikut memberi kontribusi terhadap unjuk kerja konselor, sehingga mengantarkannya sebagai konselor yang sangat efektif, efektif, cukup efektif, agak kurang efektif dan kurang efektif yaitu: tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor. F. Hipotesis Penelitian Atas dasar kajian teoritis sebagaimana dikemukakan di atas, maka dapatlah dikemukakan beberapa hipotesis penelitian yang merupakan kesimpulan yang bersifat sementara dan masih harus dibuktikan kebenarannya, sebagai berikut :
1. Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor D3 BK dan S1 BK menurut persepsi klien. 2. Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari masa kerja konselor 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23 tahun, dan > 24 tahun menurut persepsi klien.

lxiv

3.

Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor pria dan wanita menurut persepsi klien.

lxv

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam melaksanakan penelitian. Penelitian dilakukan untuk mengumpulkan data secara obyektif dan dilakukan dengan prosedur yang jelas dan dapat dilacak secara empiris berdasarkan pada buktibukti yang memungkinkan. Bukti-bukti tersebut dikumpulkan melalui metode yang jelas dan sistematis. Metode penelitian sebagaimana kita kenal sekarang memberikan garisgaris yang sangat cermat dan mengajukan syarat-syarat yang keras pula. Maksudnya adalah untuk menjaga agar pengetahuan yang dicapai dari suatu penelitian mempunyai harga ilmiah yang setinggi-tingginya. (Hadi, 1994: 4). Peranan metode sangat menentukan dalam upaya menghimpun data yang diperlukan dalam penelitian. Dengan kata lain, metode penelitian akan memberikan petunjuk terhadap pelaksanaan penelitian atau petunjuk bagaimana penelitian itu dilaksanakan (Sudjana dkk, 1989: 16). Penggunaan metode penelitian harus tepat dan mengarah pada tujuan penelitian, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berikut akan dibahas mengenai jenis penelitian, populasi dan sampel, variabel penelitian, metode dan alat pengumpulan data, validitas dan reliabilitas, serta analisis data. A. Jenis Penelitian Pada dasarnya jika melihat judul penelitian ini maka tergolong penelitian komparatif sebab bertujuan guna membandingkan dua atau tiga jenis kelompok, dibawah ini akan diuraikan secara rinci mengenai penelitian komparasi.

lxvi

Penelitian komparasi adalah jenis penelitian deskriptif yang ingin menjawab secara mendasar tentang sebab akibat yang dijadikan dasar pembanding, namun penelitian ini tidak mempunyai kelompok kontrol (Nazir, 1999: 70). Penelitian komparasi akan dapat menemukan persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan tentang benda, orang, prosedur kerja, ide, kelompok terhadap suatu ide atau suatu prosedur. Dapat juga membedakan pandangan group atau negara terhadap kasus, peristiwa atau objek tertentu (Arikunto, 1997: 248).
Dalam penelitian ini adalah mencari jawaban secara mendasar sebagai dasar pembanding keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien pada: 1. Dua kelompok tingkat pendidikan konselor yaitu D3 Bimbingan dan Konseling dan S1 Bimbingan dan Konseling. 2. Tiga kelompok masa kerja konselor yaitu 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23 tahun, dan > 24 tahun. 3. Dua kelompok jenis kelamin konselor yaitu pria dan wanita.

Populasi Penelitian

Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki dan populasi dibatasi sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama (Hadi, 1988: 220). Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 1998: 115). Disebutkan pula bahwa populasi maknanya berkaitan dengan elemen, yaitu unit tempat diperolehnya informasi. Elemen tersebut bisa berupa individu, keluarga, rumah tangga, kelompok sosial, sekolah, kelas, maupun

lxvii

organisasi. Dengan kata lain populasi adalah kumpulan dari sejumlah elemen (Sudjana dkk, 1989: 83).
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa populasi adalah sejumlah individu dalam wilayah individu penelitian yang mempunyai paling sedikit satu sifat yang sama. Populasi dapat dibedakan berdasarkan keanggotaanya, sifatnya, dan idealismenya, antara lain sebagai berikut: a. Berdasarkan keanggotannya, populasi dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1). Populasi finit, yaitu populasi dengan jumlah individu tertentu dan pasti. 2). Populasi infinit, yaitu populasi dimana jumlah anggota dalam populasi tidak pasti. b. Berdasarkan sifatnya, populasi dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1). Populasi homogen yaitu sumber data yang unsurnya memiliki sifat yang sama sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. 2). Populasi heterogen yaitu sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. c. Berdasarkan idealismenya, populasi dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1). Populasi target yaitu populasi dimana peneliti ingin menggeneralisasikan hasil penelitian secara ideal. 2). Populasi realistis yaitu populasi dimana peneliti memilih objek penelitian.

Dalam penelitian ini tidak menggunakan sampel tetapi menggunakan populasi sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, yaitu penelitian dengan menggunakan anggota populasi, dengan alasan sebagai berikut: a. Jumlah subjek penelitian terjangkau oleh peneliti. b. Studi populasi akan memberikan hasil penelitian yang lebih akurat, karena semua sekolah diteliti.
Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah seluruh siswa di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2004/2005. Adapun ciri-ciri tentang siswa yang dimaksud, sebagai berikut: a. Siswa sudah pernah mengikuti konseling individual dikarenakan sedang mengalami permasalahan baik pribadi, sosial, karir dan lainnya dari masing-masing konselor disekolahnya.

lxviii

b. c.

Kelas bebas, jenis kelamin bebas, masalah yang diatasi bebas, prosedur konseling bebas. Dalam proses konseling individual minimal siswa sudah dua kali (2X) pertemuan/tatap muka dalam satu penyelesaian masalah. Hal ini dimaksudkan supaya siswa telah memiliki pengalaman berinteraksi secara ‘face to face’ dengan konselor disekolahnya.

Adapun pemilihan subjek penelitian (siswa = klien) yang pernah mendapatkan layanan konseling individual, dilakukan oleh konselor masing-masing. Hal ini ditempuh karena hanya guru pembimbimbinglah yang mengetahui secara pasti siapasiapa siswa yang telah mendapatkan layanan konseling individual. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan lengkap mengenai jumlah populasi siswa dengan ciri-ciri yang sudah disebutkan diatas yang tersebar di 16 SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2003/2004 dapat dilihat pada tabel 1, 2 dan 3 dibawah ini:

No

Tabel 1. Populasi Penelitian Siswa yang pernah konseling Individual dengan konselor yang mempunyai tingkat pendidikan D3 BK dan S1 BK Jmlh siswa yang pernah konseling Individual Nama dengan konselor yang mempunyai Sekolah tingkat pendidikan D3 BK dan S1 BK D3 BK S1 BK SMA N 1 Semarang SMA N 2 Semarang SMA N 3 Semarang 9 siswa 19 siswa 16 siswa 1 siswa

Jumlah

1. 2. 3.

19 16 10

lxix

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

SMA N 4 Semarang SMA N 5 Semarang SMA N 6 Semarang SMA N 7 Semarang SMA N 8 Semarang SMA N 9 Semarang SMA N 10 Semarang SMA N 11 Semarang SMA N 12 Semarang SMA N 13 Semarang SMA N 14 Semarang SMA N 15 Semarang SMA N 16 Semarang J u m l a h

6 siswa 3 siswa 6 siswa 24 siswa

6 siswa 18 siswa 6 siswa 9 siswa 9 siswa 6 siswa 15 siswa 3 siswa 9 siswa 10 siswa 3 siswa 130 siswa

12 18 6 9 3 9 6 15 3 6 9 10 3 154

Tabel 2. Populasi Penelitian Siswa yang pernah konseling Individual dengan konselor yang mempunyai masa kerja 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23 tahun, dan > 24 tahun No Nama Jumlah Jumlah siswa yang pernah konseling Sekolah Individual dengan konselor yang mempunyai masa kerja 0 tahun - 11 thn, 12 tahun - 23 thn, dan > 24 thn 0 th-11th 12 th-23 th > 24 th 1. SMA N 1 Semarang 4 siswa 12 siswa 3 siswa 19 2. SMA N 2 Semarang 16 siswa 16 3. SMA N 3 Semarang 1 siswa 9 siswa 10 4. SMA N 4 Semarang 6 siswa 6 siswa 12 5. SMA N 5 Semarang 3 siswa 15 siswa 18 6. SMA N 6 Semarang 6 siswa 6 7. SMA N 7 Semarang 9 siswa 9 8. SMA N 8 Semarang 3 siswa 3 9. SMA N 9 Semarang 6 siswa 3 siswa 9 10. SMA N 10 Semarang 6 siswa 6 11. SMA N 11 Semarang 12 siswa 3 siswa 15 12. SMA N 12 Semarang 3 siswa 3 13. SMA N 13 Semarang 6 siswa 6 14. SMA N 14 Semarang 3 siswa 6 siswa 9 15. SMA N 15 Semarang 4 siswa 3 siswa 3 siswa 10 16. SMA N 16 Semarang 3 siswa 3 J u m l a h 17 siswa 104 siswa 33 siswa 154 Tabel 3. Populasi Penelitian Siswa yang pernah konseling Individual dengan konselor pria dan wanita Jml siswa yang pernah No. Nama konseling Individual Jumlah Sekolah dengan konselor pria dan wanita Pria Wanita 1. SMA N 1 Semarang 10 siswa 9 siswa 19 2. SMA N 2 Semarang 6 siswa 10 siswa 16 3. SMA N 3 Semarang 10 siswa 10 4. SMA N 4 Semarang 3 siswa 9 siswa 12

lxx

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

SMA N 5 Semarang SMA N 6 Semarang SMA N 7 Semarang SMA N 8 Semarang SMA N 9 Semarang SMA N 10 Semarang SMA N 11 Semarang SMA N 12 Semarang SMA N 13 Semarang SMA N 14 Semarang SMA N 15 Semarang SMA N 16 Semarang J u m l a h

6 siswa 3 siswa 3 siswa 6 siswa 6 siswa 3 siswa 46 siswa

12 siswa 3 siswa 6 siswa 3 siswa 3 siswa 6 siswa 9 siswa 3 siswa 6 siswa 6 siswa 10 siswa 3 siswa 108 siswa

18 6 9 3 9 6 15 3 6 9 10 3 154

C. Variabel Penelitian

Setiap masalah dalam penelitian harus mengandung variabel yang jelas, sehingga memberikan gambaran data dan informasi untuk yang diperlukan masalah

memecahkan

tersebut. Variabel adalah ciri atau karakteristik dari individu, objek, nilainya peristiwa bisa yang di

berubah-ubah.

Ciri tersebut memungkinkan untuk dilakukan pengukuran, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif (Sudjana dkk, 1989: 11). Variabel adalah subyek penelitian, atau apa lxxi

yang menjadi perhatian suatu penelitian (Arikunto, 1998: 99). Berikut dibahas dibawah ini akan jenis

mengenai

penelitian dan hubungan antar variabel:
1. Jenis Variabel

Variabel dalam sebuah penelitian dapat dikategorikan menjadi dua yaitu variabel bebas (independen variable) dan variabel tergantung (dependen variable), yang masingmasing diberikan lambang “X” dan “Y” (Suharsimi Arikunto, 1998: 101). Variabel bebas atau “X” adalah variabel yang menjadi sebab terjadinya variabel tergantung atau “Y” (Sigiarto, dkk, 2001: 15).
Berdasarkan pada pengertian variabel diatas dan judul dalam penelitian ini, maka dalam penelitian ini tidak ada variabel bebas maupun variabel terikatnya, karena variabelnya tunggal. Selain itu penelitian ini hanya ingin meneliti tentang Perbedaan, dan bukan meneliti tentang ada tidaknya hubungan ataupun meneliti tentang ada tidaknya pengaruh. Variabel yang dimaksud yaitu : “Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual. 2. Hubungan antar Variabel

Seperti diuraikan diatas bahwa dalam penelitian ini hanya ada satu veriabel yakni Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual, dimana variabel tersebut dalam penelitian ini akan menjadi bahasan yang akan diungkap dari populasi penelitian yakni siswa yang sudah pernah mendapatkan konseling individual dari masing-masing konselor disekolahnya, karena sedang mengalami permasalahan baik pribadi, sosial, belajar dan karier, dengan minimal 2X tatap muka dalam satu penyelesaian masalah. Jadi dalam penelitian ini tidak ada hubungan antar variabel.

lxxii

D. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
1. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data merupakan suatu cara yang ditempuh oleh peneliti untuk memperoleh data yang akan diteliti. Data merupakan faktor yang penting, karena dengan adanya data dapat ditarik suatu kesimpulan. Untuk memperoleh dan menyimpulkan data digunakan suatu cara atau alat yang tepat agar kesimpulan yang diambil tidak menyesatkan. Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah skala psikologi. Skala psikologi sebagai skala untuk pengukuran di bidang psikologis. Skala psikologi merupakan alat ukur aspek psikologis atau atribut afektif (Azwar, 2000: 2). Dalam skala psikologi dapat mengungkap tentang: a. Data yang diungkap berupa kontrak atau konsep psikologis yang menggambarkan kepribadian individu. b. Pertanyaan-pertanyaan sebagai stimulus tertentu pada indikator perilaku guna memancing jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subyek yang biasanya tidak disadari responnya. Pertanyaan/pernyataan yang diajukan memang dirancang untuk mengumpulkan sebanyak mungkin indikasi dari aspek kepribadian yang lebih abstrak. c. Respon tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan kesimpulan dari pertanyaan/pernyataan. d. Respon terhadap skala psikologi diberi skor lewat penskalaan. e. Skala psikologi hanya diperuntukkan untuk mengungkap atribut tunggal.
2. Alat pengumpulan data

Karena penelitian ini akan mengungkap aspek psikologis yakni persepsi, maka alat pengmpulan datanya menggunakan skala persepsi. Skala persepsi berujud kumpulan lxxiii

pernyataan-pernyataan persepsi yang ditulis, disusun, dan dianalisis sedemikian rupa, sehingga respon seseorang terhadap pernyataan tersebut dapat diberi skor atau angka yang kemudian dapat diinterpretasikan. Skala persepsi tidak hanya terdiri dari satu stimulus atau satu pernyataan saja, namun bisa selalu berisi banyak item (Azwar, 2000: 105). Skala persepsi harus dirancang dengan hati-hati, metode kontruksi yang benar dan ketepatan memberikan skor atas respon. Karena sebagai instrumen psikologis skala persepsi dituntut memenuhi kualitas dasar alat ukur yang standar, baik validitas, reliabilitas, maupun karakteristik berkenaan dengan penyajian dan administrasinya. Dalam penelitian ini skala persepsi yang digunakan adalah skala persepsi model Likert, yaitu merupakan penskalaan pernyataan persepsi yang menggunakan distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Skala persepsi berisikan seperangkat pernyataan yang merupakan pendapat mengenai subyek persepsi. Sebagian dari pernyataan-pernyataan itu memperlihatkan pendapat yang positif dan negatif. Dalam penskalaan yang akan dikembangkan adalah mengikuti model Skala Likert dengan lima buah pilihan alternatif jawaban atas pernyataan yang ada, yakni: Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Kurang Sesuai (KS) Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Sementara dalam penelitian ini guna menghindari responden yang cenderung pasif dan cenderung memilih posisi aman tanpa memberikan jawaban yang pasti, maka pilihan jawaban “Kurang Sesuai” (KS) tidak dijadikan salah satu bagian pilihan, sehingga responden akan menilai pernyataan dengan jawaban, Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Adapun jawaban untuk masing-masing soal dibuat skalanya menurut rangkaian kesatuan (kontinum) yang terdiri dari empat point dengan memberikan skor tertentu, dan

lxxiv

penskorannya sangat tergantung kepada jenis pernyataan, apakah unfavorable (negatif) atau favorable (positif). Jika pernyataan unfavorable (negatif) skornya dari nilai yang paling rendah ke nilai yang paling tinggi, yaitu jika jawaban: Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai (TS) (SS) (S) :3 :1 :2

Sangat Tidak Sesuai (STS) : 4 Sedangkan apabila pertanyaan/pernyataan yang favorable (positif) skornya dari nilai yang paling tinggi ke nilai yang paling rendah, yaitu jika jawaban: Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai (TS) (SS) (S) :2 :4 :3

Sangat Tidak Sesuai (STS) : 1 Dengan dasar obyek persepsi dalam penelitian ini serta rambu-rambu penyusunan skala persepsi tersebut diatas, maka dapat disusun rancangan atau kisi-kisi instrumen penelitian seperti pada tabel 4 berikut ini:

lxxv

lxxvi

lxxvii

lxxviii

lxxix

E. VALIDITAS DAN RELIABILITASI
Agar memenuhi kriteria instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu: valid dan reliabel. Validitas dan reliabilitas merupakan dua hal yang seiring berkaitan dan sangat berperan dalam menentukan kualitas alat ukur.

Validitas merujuk pada suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen, maka dengan ini suatu instrumen valid atau sahih juga dikatakan mempunyai validitas yang tinggi (Arikunto, 1998: 160). Untuk mendapatkan alat pengumpul data yang baik khususnya skala psikologi perlu dilakukan perhitungan validitas terhadap skala psikologi yang akan digunakan sebagai metode data. Untuk mengetahui kevalidan suatu instrumen yang akan diberikan kepada responden sesungguhnya sebagai obyek penelitian, maka instrumen yang telah disusun diuji cobakan. Suatu instrumen disebut valid jika data yang dihasilkan menunjukkan adanya kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan. Jenis validitas dalam penelitian ini adalah validitas konstruksi karena item diturunkan dari teori. Dengan kata lain ditetapkan terlebih dahulu definisi aspek yang ingin diukur berdasarkan landasan teori.

Reliabilitas adalah tingkat konsistensi hasil yang dicapai oleh sebuah alat ukur, meskipun digunakan secara berulang-ulang pada subjek yang sama atau berbeda (Danim, 1997: 199). Reliabilitas juga merujuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Jadi, makin tinggi reliabilitas sebuah instrumen semakin

lxxx

dipercaya dan diandalkan sebagai alat pengumpul data (Arikunto, 1998: 171).
Untuk menentukan validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini, maka dapat dilakukan seperti yang akan dijelaskan dibawah ini:

1.

Uji Validitas

Dalam penelitian ini uji validitas yang digunakan adalah validitas internal, yaitu suatu instrumen disebut valid jika data yang dihasilkan menunjukkan adanya kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan. Adapun jenis uji validitas internal yang digunakan dalam penelitian ini yaitu validitas butir, yaitu sebuah instrumen yang memiliki validitas tinggi jika butir-butir yang membentuk instrumen tidak menyimpang dari fungsi instrumen.
Validitas instrumen sebagai alat ukur diuji dengan homogenitas item yaitu dengan mengkorelasikan antara skor item/butir dengan skor total, dan mengkorelasikan skor faktor dengan skor total. Untuk itu rumus yang digunakan yaitu rumus korelasi “Product Moment” oleh Karl Pearson, sebagai berikut:

N (Σ XY) – (ΣXY) rxy =  [ NΣ X2 – (ΣX)2 ] [ NΣY2 – (ΣY)2 ]

Keterangan: rxy ΣX ΣY ΣXY N X² = koefisien korelasi antara X dan Y = Jumlah skor masing-masing item = Jumlah skor seluruh item (total) = Jumlah skor antara X dan Y = banyaknya subyek = Kuadrat dijumlah skor tiap item

lxxxi

= Kuadrat dari skor total (Arikunto, 1996 : 160)

Kriteria : Bila r hitung > r tabel, maka perangkat angket valid.

2. Uji Reliabilitas

Dalam penelitian ini reliabilitas instrumen hanya item-item yang valid diuji dengan reliabilitas internal karena perhitungan didasarkan dari instrumen saja. Teknik mencari reliabilitas yang digunakan peneliti adalah rumus alpha, karena dalam penelitian ini instrumen yang dipakai menggunakan skala penilaian, selain itu skor yang digunakan bukan 1 dan 0 melainkan rentangan 1 sampai 4 atau bertingkat seperti angket atau soal uraian (Arikunto, 1997: 192). Rumus Alpha tersebut adalah:
Σσb2

k

r11 = [  ] [ 1 −  ] (k–1)

σt

2

Keterangan:
r11 k Σσb2
2

= Reliabilitas instrumen = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal = Jumlah varians butir

σt

= Varians total (Suharsimi Arikunto, 1996: 191)

Hasil perhitungan reliabilitas yang telah diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan r tabel, sehingga apabila r11 > r tabel maka instrumen reliabel. Kriteria reliabilitas: 0,800 – 1,000 0,600 – 0,799 kriteria sangat tinggi kriteria tinggi

lxxxii

0,400 – 0,599 0,200 – 0,300 < 0,200

kriteria cukup kriteria rendah kriteria sangat rendah (Arikunto, 1989: 165).

E. METODE ANALISIS DATA Analisis data adalah proses pemecahan data dalam kelompok-kelompok kategorisasi sehingga data tersebut mempunyai makna untuk memecahkan masalah penelitian dan menguji hipotesis (Nasir, 1999: 405). Metode analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian guna memperoleh kesimpulan. Ada dua analisis yang dapat digunakan yaitu analisis statistik dan analisis non statistik (Hadi, 1984: 221).
Sesuai dengan tujuan penelitian, jenis pengukuran skala variabel, instrumen yang dikembangkan, serta hipotesis yang dikembangan maka penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian yang jenis datanya bersifat kuantitatif yang sifatnya numerikal. Maknanya belum menggambarkan apa adanya sebelum dilakukan pengolahan dan analisis lebih lanjut. Salah satu cara untuk mengolah dan menganalisis data kuantitatif adalah statistika. Menurut Hadi (1984: 221) analisis statistika adalah cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk penyelidikan yang berwujud angka. Kedua analisis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). Analisis Data Secara Deskripsi

Analisis ini dilakukan dengan maksud untuk memberikan gambaran mengenai hasil penelitian, bagaimana karakteristik subyek penelitian sehubungan dengan variabelvariabel yang diteliti. Dalam hal ini variabel yang akan diteliti dengan menggunakan analisis deskripsi adalah sebagai berikut:
a). Bagaimanakah keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor D3 BK dan S1 BK menurut persepsi klien. b). Bagaimanakah keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja konselor 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23 tahun, > 24 tahun menurut persepsi klien.

lxxxiii

c). Bagaimanakah keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor pria dan wanita menurut persepsi klien.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis persentase dengan penskoran model Likert, dengan skor tertinggi 4 dan skor terendah 1, yang digunakan untuk mendeskripsikan perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan layanan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor menurut persepsi klien seperti pada tabel 5 dibawah ini: Mean tertinggi Mean terendah = 1 Rentang = Mean tertinggi – mean terendah = 4 – 1 = 3 = 4

Banyak kelas = 5 (kurang efektif, agak kurang efektif, cukup efektif, efektif dan sangat efektif) Panjang kelas = Rentang : banyak kelas = 3 : 5 = 0,60

Tabel 5. Teknik persentase untuk analisis Desakriptif tentang Tingkat keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual No 1 2 3 4 5 Interval Mean
1,0 – 1,6 1,7 – 2,2 2,3 – 2,8 2,9 – 3,4 3,5 – 4,0

Interval persentase skor 25,00% - 40,00% 40,01% - 55,00% 55,01% - 70,00% 70,01% - 85,00% 85,01% - 100,00%

Kriteria Kurang efektif Agak kurang efektif Cukup efektif Efektif Sangat efektif

2). Analisis Data Secara Statistik Analisis ini dilakukan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya. Mengenai uji hipotesis ini dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Hipotesis pertama

lxxxiv

“Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor D3 BK dan S1 BK menurut persepsi klien di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2004/2005”. Untuk menguji hipotesis tersebut diatas digunakan uji statistik U Mann Whitney, dengan rumus:

U – (1/2.n1.n2)
z =  1/12.n1.n2.(n1 + n2 + 1)

b. Hipotesis kedua ”Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja konselor 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 23 tahun, > 24 tahun menurut persepsi klien di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2004/2005”. Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan uji statistik Kruskal Wallis yang dilanjutkan dengan uji statistik U Mann Whitney, dengan rumus:

12
U =  + [ n (n + 1)

Σ Rj² / nj ] – 3 [n + 1]

Yang kemudian dilanjutkan dengan uji statistik U Mann Whitney, dengan rumus:

U – (1/2.n1.n2)
z =  1/12.n1.n2.(n1 + n2 + 1)

c. Hipotesis ketiga “Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor pria dan wanita menurut persepsi klien di SMA Negeri seKota Semarang tahun ajaran 2004/2005”. Untuk menguji hipotesis tersebut diatas digunakan uji statistik U Mann Whitney, dengan rumus:

U – (1/2.n1.n2)
z =  1/12.n1.n2.(n1 + n2 + 1)

lxxxv

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan dan dilaporkan hasil penelitian yang dilaksanakan pada bulan Desember 2004 dan Januari 2005 di SMA Negeri se-kota Semarang tahun ajaran 2004-2005. Laporan ini terdiri dari dua bagian penting yaitu: pertama, hasil penelitian yang meliputi proses perijinan, gambaran umum populasi penelitian, rancangan alat pengumpul data, hasil uji coba instrumen, pengumpulan data dan hasil analisis data, dan kedua pembahasan. Secara berturut-turut dua hal penting dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut:

A. Hasil Penelitian
1. Proses Perijinan

Peneliti melakukan studi pendahuluan, guna mencari data pasti tentang tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor di SMA Negeri se-kota Semarang. Hal ini penting untuk dilakukan guna mengetahui populasi dari penelitian ini. Setelah diketahui selanjutnya peneliti mengajukan permohonan ijin penelitian dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Dinas Pendidikan Kota Semarang sebagai bekal peneliti untuk mengadakan penelitian di SMA Negeri sekota Semarang.
2. Gambaran Umum Populasi Penelitian

lxxxvi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian Populasi. Dalam penelitian ini ada 2 yaitu populasi lokasi dan populasi responden yang sudah pernah memanfaatkan konseling individual dengan minimal 2X tatap muka dalam satu penyelesaian masalah, yang akan ditanya tentang bagaimana persepsinya terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan gender konselor. Populasi ini sekaligus dijadikan sebagai wilayah penelitian, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Populasi lokasinya adalah SMA N 1, SMA N 11, SMA N 9, SMA N 15 (wilayah Semarang Selatan), SMA N 14 (wilayah Semarang Utara), SMA N 3 (wilayah Semarang Tengah), SMA N 6, SMA N 7, SMA N 8, SMA N 13, SMA N 16 (wilayah Semarang Barat). Sedangkan populasi respondennya berjumlah 99 siswa (klien) dengan rincian: jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai tingkat pendidikan D3 BK = 18 orang, jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai tingkat pendidikan S1 BK = 81. Sedangkan jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai masa kerja 0 tahun - 11 tahun = 14 orang, jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai masa kerja 12 tahun - 23 tahun = 58 orang, dan jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai masa kerja > 24 tahun = 27 orang. Dan jumlah klien yang konseling individual dengan konselor jenis kelamin pria = 37 orang, jumlah klien yang konseling individual dengan konselor jenis kelamin wanita = 62 orang. Tentang keadaan populasi responden/klien diperoleh informasi tentang karakteristiknya sebagai berikut: a. Dilihat dari komposisi jenis kelamin: laki-laki = 46 orang, perempuan = 53 orang lxxxvii

b. Dilihat dari kelas klien: kelas I = 23, kelas II = 43, kelas III IPA = 19, kelas III IPS = 13, kelas III Bahasa = 1 c. Dilihat dari jumlah konseling dalam satu penyelesaian masalah: satu kali (1X) = 3, dua kali (2X) = 15, tiga kali (3X) = 51, empat kali (4X) = 22, lima kali (5X) = 8 d. Dilihat dari jenis masalah: Masalah pribadi = 20 0rang, Masalah sosial, = 7 orang, Masalah belajar = 11 orang, Masalah karier = 4 orang, Masalah pribadi, sosial = 13 orang, Masalah pribadi, belajar = 16 orang, Masalah sosial, belajar = 9 orang, Masalah pribadi, sosial, belajar = 14 orang, Masalah pribadi, sosial, karier = 2 orang, Masalah pribadi, belajar, karier = 1 orang, Masalah pribadi, sosial, dan karier = 2 orang e. Dilihat dari prosedur konseling: Datang sendiri = 49 orang, Dipanggil guru pembimbing = 38 orang, Dikirim oleh personil lain = 8 orang, Semula dipanggil selanjutnya datang sendiri = 4 orang Data-data diatas memberi informasi dan pemahaman bahwa: pertama, komposisi responden hampir seimbang dilihat dari jenis kelaminnya. Dilihat dari kelasnya diperoleh informasi bahwa sebagian besar responden yang konseling individual adalah II, III, dan I. Hal ini menunjukkan bahwa responden dari kelas II sangat rentan mengalami permasalahan. Dilihat dari jumlah tatap muka dalam setiap penyelesaian masalah diperoleh informasi, bahwa sebagian besar responden membutuhkan 3X tatap muka dalam penyelesaian masalah secara tuntas. Keempat, dilihat dari masalah yang dikonsultasikan bahwa sebagaian besar adalah masalah pribadi dan masalah pribadi, belajar. Hal ini merupakan indikasi bahwa masalah pribadi merupakan masalah aktual disekolah, dan seringkali masalah pribadi ini terkait erat dengan masalah belajar. Kelima, dilihat dari bagaimana prosedur konseling individual, diperoleh informasi bahwa lxxxviii

sebagian besar responden mempunyai kemauan sendiri untuk menemui konselor di sekolahnya. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan yang cukup

menggembirakan, dimana siswa sudah mempunyai kesadaran akan keberadaan layanan bimbingan dan konseling disekolah, khususnya konseling individual. Konselor sekolah dipahaminya mempunyai kedudukan yang sama dengan guru bidang studi dengan penekanan tugas yang berbeda. Lebih dari itu hal tersebut akan memberikan dampak yang positif bagi siswa yang lain untuk memiliki persepsi yang sama (positif) tentang keberadaan bimbingan dan konseling, khususnya konseling individual. Sementara itu siswa yang dipanggil konselor juga cukup besar, hal ini menunjukkan bahwa konselor sekolah sangat peduli dengan keadaan atau permasalahan siswanya.

Gambaran konselor sekolah di SMA N se-Kota Semarang yang dipersepsi tingkat keefektifannya dalam melaksanakan konseling individual yang berjumlah 33 konselor sekolah dengan rincian sebagai berikut: a. Jumlah dan komposisi jenis kelamin konselor: pria = 9 orang, wanita = 24 orang b. Tingkat pendidikan konselor: D3 Bimbingan dan Konseling = 5 orang, S1 Bimbingan dan Konseling = 28 orang c. Pengalaman kerja konselor: 0 tahun - 11 tahun = 4 orang, 12 tahun - 23 tahun = 21 orang, > 24 tahun = 8 orang Atas dasar data tersebut dapat dipahami bahwa sebagian besar jenis kelamin konselor sekolah yang dipersepsi oleh klien tentang bagaimana keefektifannya dalam melaksanakan konseling individual adalah konselor wanita. Sedangkan tingkat pendidikannya adalah S1
lxxxix

bimbingan dan konseling, dengan masa kerja yang cukup lama yaitu berkisar 12 tahun - 23 tahun. Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa konselor sekolah telah memiliki kompetensi yang cukup memadai yaitu kompetensi pengetahuan yang meliputi kompetensi keterampilan dan kepribadiannya.
3. Rancangan Alat Pengumpul Data

Dalam penelitian ini yang akan diukur oleh peneliti adalah keefektifan konselor dalam melaksanakaan konseling individual menurut persepsi klien. Setelah ditentukan variabelnya maka selanjutnya ditentukan sub varibel dan indikatornya, ada dua komponen yang diukur menggunakan skala persepsi yaitu keterampilan dan kepribadian konselor. Berdasarkan kisi-kisi instrumen yang dijabarkan dari kajian teori maka final dari alat pengumpul data yang berupa skala persepsi ini adalah 139 item pernyataan.
4. Hasil Uji Coba Alat Ukur (Try Out)

Uji coba alat ukur yakni skala persepsi digunakan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas sebuah alat ukur. Uji coba instrumen diberikan pada individu yang segolongan atau mempunyai karakteristik yang sama dengan subjek penelitian, yang selanjutnya tidak akan diikutsertakan dalam penelitian. Karena dalam penelitian ini adalah penelitian populasi yaitu SMA Negeri se-Kota Semarang dengan jumlah responden 154 orang, maka uji coba intrumen yang diberikan pada responden dengan jumlah 55 orang, diambil dari
xc

beberapa sekolah yang merupakan perwakilan dari masing-masing wilayah, yaitu: SMA Negeri 4 (perwakilan wilayah selatan) dengan jumlah konselor 4 dan jumlah klien 12, SMA Negeri 5 (perwakilan wilayah tengah) dengan jumlah konselor 6 dan jumlah klien 18, SMA Negeri 12 (perwakilan wilayah barat) dengan jumlah konselor 1 dan jumlah klien 3, dan SMA 2 (perwakilan wilayah timur) dengan jumlah konselor 7 dan jumlah klien 16, sehingga populasi dalam penelitian ini berjumlah 99 responden. Jumlah responden yang akan dijadikan uji coba instrumen penelitian adalah sebagai berikut: jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai tingkat pendidikan D3 BK = 6 orang, jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai tingkat pendidikan S1 BK = 49. Sedangkan jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai masa kerja 0 tahun - 11 tahun = 3 orang, jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai masa kerja 12 tahun - 23 tahun = 46 orang, dan jumlah klien yang konseling individual dengan konselor yang mempunyai masa kerja > 24 tahun = 6 orang. Dan jumlah klien yang konseling individual dengan konselor jenis kelamin pria = 18 orang, jumlah klien yang konseling individual dengan konselor jenis kelamin wanita = 37 orang. Uji coba dilaksanakan di beberapa SMA Negeri di kota Semarang pada tanggal 20 Desember 2004 di SMA N 4, tanggal 21 Desember 2004 di SMA N 12, tanggal 22 Desember 2004 di SMA N 5,
xci

tanggal 23 Desember 2004 di SMA N 10, dan tanggal 24 Desember di SMA N 2 kota Semarang. a. Validitas Validitas dalam penelitian ini adalah validitas konstruk yaitu kebenaran dari alat ukur ditinjau dari segi kecocokan dengan teori fundamentalnya, atau bertitik tolak dari konstruksi teori. Selain validitas kontruks juga digunakan validitas empiris yaitu validitas yang dilihat dari hasil ujicoba secara empiris. Untuk mengetahui kevaliditan instrumen penelitian dan untuk mengungkap data keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien menggunakan rumus product moment, sehingga dapat diketahui item yang valid dan tidak valid setelah melakukan uji coba/try out instrumen (lampiran 5 hal 138-148. Dari skala persepsi yang disusun sebanyak 139 item yang diajukan terhadap 55 responden (klien) terdapat 14 item yang dinyatakan tidak valid yaitu nomor 2, 8, 10, 16, 17, 20, 24, 27, 31, 32, 37, 54, 98, dan 119, dengan masing-masing rhitung sebesar 0,262, 0,248. 0,207, -0,037, -0,027, 0,249, 0,130, 0,130, -0,260, 0,222, 0,253, 0,005, 0,048, dan 0,083 kurang dari rtabel 0,266, yang selanjutnya akan dibuang karena masing-masing indikator variabel telah terwakili. Sedangkan item yang dinyatakan valid berjumlah 125 item yang akan dipertahankan untuk menjadi instrumen penelitian, karena dengan 125 tersebut semua indikator variebel telah terwakili.
xcii

b. Reliabilitas Alat pengukuran sebagai alat pengumpul data penelitian ini adalah skala persepsi. Untuk mengetahui tingkat reliabilitasnya skala persepsi ini digunakan rumus Alpha. Dengan menggunakan rumus Alpha dapat diketahui reliabilitas dari hasil try out instrumen skala persepsi klien terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual (lampiran 7 hal. 150). Hasil try out reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha diperoleh r11 = 0.963 > r tabel = 0.266 pada taraf kesalahan 5%, sehingga instrumen tersebut dinyatakan reliabel.
5. Pengumpulan Data Setelah hasil uji coba instrumen diketahui, maka barulah peneliti melaksanakan penelitian di SMA Negeri 1, SMA Negeri 3 SMA Negeri 6, SMA Negeri 7, SMA Negeri 8, SMA Negeri 9, SMA Negeri 10, SMA Negeri 11, SMA Negeri 13, SMA Negeri 14, SMA Negeri 15 dan SMA Negeri 16 di Kota Semarang. Sebelum penyebaran instrumen dilakukan, terlebih dahulu peneliti melakukan konsultasi dengan guru BK masing-masing SMA di kota Semarang, berkaitan dengan siswa yang sudah pernah memanfaatkan konseling individual, mekanisme pelaksanaan penelitian, maupun waktu pelaksanaan penelitian. Untuk menjaga objektifitas persepsi klien terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan layanan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender konselor, maka proses penyebaran instrumen penelitian, yakni skala persepsi siswa terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual dilakukan oleh peneliti sendiri. xciii

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 Desember di SMA N 15 dan SMA N 11, tanggal 29 Desember 2004 di SMA N 1 dan SMA N 3, tanggal 30 Desember 2004 di SMA N 7 dan SMA N 14, tanggal 10 Januari 2005 di SMA N 9, tanggal 11 Januari 2005 di SMA N 6 dan SMA N 8, dan pada tanggal 12 Januari 2005 di SMA N 13 dan 16 Semarang. Sebelum siswa mengisi instrumen terlebih dahulu peneliti menguraikan tujuan, ketidakterkaitan instrumen dengan prestasi belajar, prosedur atau cara pengisian, seperti tercantum dalam instrumen penelitian. Rata-rata siswa mengisi instrumen penelitian selama 30 menit dan semuanya berjalan dengan lancar. 6. Hasil Analisis Data Dalam penelitian ini analisis data ditempuh dengan metode: analisis deskriptif dan analisis statistik inferensial dengan menggunakan analisis U Mann Whitney dan analisis Kruskal Wallis. Berikut akan disajikan kedua analisis tersebut:

xciv

a. Analisis Deskriptif Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan gender menurut persepsi klien di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun 2004/2005 dapat diketahui dari hasil pengisian skala persepsi dengan penskoran model Likert, dengan skor tertinggi 4 dan skor terendah 1 dapat dibuat tingkat keefektifan seperti pada tabel 6. Mean tertinggi = Mean terendah = Rentang 4 1

= Mean tertinggi – mean terendah = 4 – 1 = 3 = 5 (kurang efektif, agak kurang efektif,

Banyak kelas

cukup efektif, efektif dan sangat efektif) Panjang kelas = Rentang : banyak kelas = 3 : 5 = 0,60

Tabel 6. Kriteria Tingkat Keefektifan Konselor dalam melaksanakan konseling individual No 1 2 3 4 5 Interval Mean
1,0 – 1,6 1,7 – 2,2

Interval persentase skor 25,00% - 40,00% 40,01% - 55,00% 55,01% - 70,00% 70,01% - 85,00% 85,01% - 100,00%
xcv

Kriteria Kurang efektif Agak kurang efektif Cukup efektif Efektif Sangat efektif

2,3 – 2,8 2,9 – 3,4 3,5 – 4,0

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa, apabila persepsi klien terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual memperoleh rentang 1,00 – 1,60, maka dapat dikategorikan bahwa konselor tersebut kurang efektif. Apabila rentang skor 1,7 – 2,2 dalam kategori agak kurang efektif, pada rentang skor 2,3-2,8 dalam

kategori cukup, 2,9 – 3,4 kategori efektif dan pada rentang skor 3,5 – 4,0 dalam kategori sangat efektif. Pada tahap selanjutnya kriteria ini digunakan untuk mendeskripsikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling

individual menurut persepsi klien dari setiap variabel, sub variabel dan indikator yang akan diukur. Berturut-turut dapat dilaporkan gambaran secara umum sebagai berikut: 1). Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Tingkat Pendidikan Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan menurut persepsi klien dapat dilihat pada tabel 7 dibawah ini:
Tabel 7. Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan menurut persepsi klien pada setiap sub variabel

xcvi

Sub Variabel

Tingkat Pendidikan

Jumlah konselor

Mean

%

Kriteria

Keterampilan Kepribadian Efektivitas

D3 S1 D3 S1 D3 S1

5 28 5 28 5 28

2,59 3,07 2,73 3,15 2,66 3,11

65% 77% 68% 79% 67% 78%

Cukup efektif Efektif Cukup efektif Efektif Cukup efektif Efektif

Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa dari 5 konselor dengan tingkat pendidikan D3 bimbingan dan konseling diperoleh rata-rata keefektifan dalam

melaksanakan konseling individual sebesar 2,66 atau 67% berada pada interval 2,3 – 2,8 dalam kategori cukup efektif, dan dari 28 konselor dengan tingkat pendidikan S1 bimbingan dan konseling mempunyai rata-rata 3,11 atau 78% pada interval 2,9 – 3,4 dalam kategori efektif. Ditinjau dari sub variabel keterampilan dalam melaksanakan konseling individual, rata-rata skor untuk konselor dengan tingkat pendidikan S1 bimbingan dan konseling sebesar 3,07 atau 77% sedangkan untuk konselor dengan pendidikan D3 bimbingan dan konselor sebesar 2,59 atau 65%. Rata-rata skor sub varibel kepribadian pada konselor dengan tingkat pendidikan S1 bimbingan dan konseling sebesar 3,15 atau 79% dan untuk tingkat pendidikan D3 bimbingan dan konseling sebesar 2,73 atau 68%. Berdasarkan kriteria pada tabel 6, tampak bahwa keterampilan dan kepribadian konselor dengan tingkat pendidikan D3 bimbingan dan konseling
xcvii

dalam melaksanakan konseling individual dalam kategori cukup efektif, sedangkan untuk tingkat pendidikan S1 bimbingan dan konseling dalam kategori efektif. Untuk lebih jelasnya keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual dapat dilihat pada setiap indikator yang tercantum pada tabel 8 dibawah ini:

xcviii

Tabel 8. Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan menurut persepsi klien pada setiap indikator
D3 Mean Ket 1 Paham sifat-sifat klien 2,18 AKE 2 Menilai situasi 2,63 CE 2,38 CE 3 Raport 4 Proses konseling 2,69 CE 5 Attending 2,56 CE 6 Mengundang pembicaraan terbuka 2,45 CE 7 Paraprase 2,80 CE 8 Identifikasi perasaan 2,83 E 9 Refleksi perasaan 2,90 E 2,60 CE 10 Konfrontasi 11 Meringkaskan 2,70 CE 12 Menafsirkan 2,60 CE 13 Penerimaan 2,83 E 14 Memberi ketenangan 2,80 CE 15 Memimpin secara umum 2,83 E 16 Mendengarkan 2,00 AKE 17 Mengarahkan 2,80 CE 18 Memberi informasi 2,67 CE 19 Menghayati pikiran, perasaan dan cita-cita 2,77 CE 20 Menyimpulkan 2,90 E 21 Memberi dorongan 2,70 CE 22 Menggunakan alat/ teknik pengumpul data 2,73 CE 23 Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan 2,52 CE 2,41 CE 24 Menggunakan teknik pengubahan tingkah laku 25 Menggunakan berbagai pendekatan konseling 2,37 CE 26 Kepribadian matang dan penyesuaian diri 2,83 E 27 Pemahaman terhadap orang lain 2,97 E 28 Mengadakan hubungan dan kerjasama 3,04 E 29 Batas kemampuan 2,58 CE 30 Perhatian dan minat pada masalah klien 2,81 E 31 Kedewasaan pribadi, mental, sosial dan fisik 2,58 CE 32 Peka terhadap berbagai sikap dan reaksi 2,70 CE 33 Respek terhadap orang lain 2,57 CE 34 Kemampuan komunikasi 2,59 CE 35 Tidak mementingkan diri sendiri 2,62 CE Indikator S1 Mean Ket 2,96 E 3,11 E 3,16 E 3,11 E 3,06 E 2,89 E 3,17 E 3,12 E 3,13 E 3,19 E 3,06 E 3,10 E 3,36 E 3,17 E 3,19 E 2,75 CE 3,26 E 3,16 E 3,14 E 3,15 E 3,26 E 3,01 E 3,14 E 2,96 E 2,87 E 3,22 E 3,28 E 3,19 E 3,05 E 3,20 E 3,09 E 3,19 E 3,12 E 3,08 E 3,08 E

No

Berdasarkan tabel 8 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar indikator kefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual dengan tingkat
xcix

pendidikan D3 bimbingan dan konseling menurut persepsi klien berada pada kategori efektif, namun ada beberapa indikator yang termasuk dalam kategori cukup efektif (yaitu berkaitan dengan menilai situasi, rapport, proses konseling, attending, mengundang pembicaraan terbuka, paraprase, memberi konfrontasi, ketenangan, meringkaskan, mengarahkan,

menafsirkan,

memberi informasi, menghayati pikiran, perasaan dan cita-cita, memberi dorongan, menggunakan alat/teknik pengumpulan pengambilan pengubahan data, pemecahan masalah dan teknik berbagai

keputusan, tingkah laku,

menggunakan menggunakan

pendekatan konseling, batas kemampuan, kedewasaan pribadi, mental, sosila, dan fisik, peka terhadap berbagai sikap dan reaksi, respek terhadap orang lain,

kemampuan komunikasi dan tidak mementingkan diri sendiri) dan agak kurang efektif (yaitu berkaitan dengan paham sifat-sifat klien dan mendengarkan). Sedangkan sebagian besar indikator keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual dengan tingkat
c

pendidikan S1 bimbingan dan konseling menurut persepsi klien, dalam kategori efektif dan ada indikator cukup sangat efektif yaitu mendengarkan. 2). Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Masa Kerja Konselor Rata-rata persepsi klien terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja dapat dilihat pada tabel 9 dibawah ini:

Tabel 9. Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual

ditinjau dari pengalaman kerja menurut persepsi klien
Sub Variabel Pengalaman kerja Jumlah konselor Mean % Kriteria

ci

Keterampila n Kepribadian

Efektivitas

0-11 th 12-23 th > 24 th 0-11 th 12-23 th > 24 th 0-11 th 12-23 th > 24 th

4 21 8 4 21 8 4 21 8

2,57 3,03 3,14 2,66 3,11 3,23 2,62 3,07 3,19

64% 76% 79% 67% 78% 81% 66% 77% 80%

Cukup Efektif Efektif Efektif Cukup Efektif Efektif Efektif Cukup Efektif Efektif Efektif

Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa dari 4 konselor dengan masa kerja 0-11 tahun diperoleh ratarata keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien sebesar 2,62 atau 66% berada pada interval 2,3 – 2,8 dalam kategori cukup efektif. Dari 21 konselor dengan masa kerja antara 12-23 dengan rata-rata 3,07 atau 77% pada interval 2,9 – 3,4 dalam kategori efektif, demikian juga dari 8 konselor yang mempunyai masa kerja lebih dari 24 tahun dengan rata-rata 3,19 atau 80% pada interval 2,9 – 3,4 dalam kategori efektif. Dilihat dari sub variabel keterampilan dalam melaksanakan konseling individual, rata-rata konselor dengan masa kerja 0 tahun - 11 tahun sebesar 2,57 atau 64%, rata-rata skor pada konselor dengan masa kerja 12 tahun – 23 tahun sebesar 3,03% atau 76%, sedangkan
cii

rata-rata skor pada konselor dengan masa kerja > 24 tahun sebesar 3,14 atau 79%. Untuk kelompok konselor dengan masa kerja 0-11 tahun mempunyai keterampilan dalam melaksanakan konseling individual dalam kategori cukup efektif sedangkan untuk masa kerja 12-23 tahun dan lebih dari 24 tahun dalam kategori efektif. Dilihat dari sub variabel kepribadian, rata-rata konselor dengan masa kerja antara 0 tahun - 11 tahun sebesar 2,66 atau 67%, untuk konselor dengan masa kerja 12 tahun - 23 tahun dengan rata-rata 3,11 atau 78%, dan konselor dengan masa kerja > 24 tahun mempunyai rata-rata skor kepribadian 3,23 atau 81%. Untuk kelompok konselor dengan masa kerja 0-11 tahun mempunyai kepribadian dalam melaksanakan konseling individual dalam kategori cukup efektif sedangkan untuk kelompok konselor dengan masa kerja 12-23 tahun dan lebih dari 24 tahun dalam kategori efektif. Untuk lebih jelasnya keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja

ciii

menurut persepsi klien pada setiap indikator dapat dilihat pada tabel 10 dibawah ini:

civ

Tabel 10. Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja menurut persepsi klien pada setiap indikator
No 0 - 11 th 12- 23 th > 24 tahun Mean Ket Mean Ket Mean Ket 1 Paham sifat-sifat klien 2,35 CE 2,92 E 2,88 E 2 Menilai situasi 2,85 E 3,00 E 3,21 E 3 Raport 2,53 CE 3,11 E 3,12 E 4 Proses konseling 2,62 CE 3,07 E 3,19 E 5 Attending 2,45 CE 3,01 E 3,19 E 6 Mengundang pembicaraan terbuka 2,25 CE 2,87 E 2,99 E 7 Paraprase 2,75 CE 3,07 E 3,41 SE 2,33 CE 3,10 E 3,39 E 8 Identifikasi perasaan 9 Refleksi perasaan 2,83 E 3,05 E 3,36 E 10 Konfrontasi 2,85 E 3,11 E 3,19 E 11 Meringkaskan 2,54 CE 2,99 E 3,26 E 12 Menafsirkan 2,63 CE 2,98 E 3,36 E 13 Penerimaan 2,73 CE 3,29 E 3,51 SE 14 Memberi ketenangan 2,69 CE 3,19 E 3,14 E 15 Memimpin secara umum 2,67 CE 3,14 E 3,37 E 16 Mendengarkan 2,25 CE 2,66 CE 2,75 CE 2,90 E 3,21 E 3,28 E 17 Mengarahkan 18 Memberi informasi 2,85 E 3,07 E 3,24 E 19 Menghayati pikiran, perasaan dan cita-cita 2,64 CE 3,09 E 3,29 E 20 Menyimpulkan 2,94 E 3,10 E 3,21 E 21 Memberi dorongan 2,94 E 3,15 E 3,37 E 22 Menggunakan alat/ teknik pengumpul data 2,58 CE 3,02 E 3,02 E 23 Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan 2,79 CE 3,08 E 3,10 E 2,42 CE 2,95 E 2,89 E 24 Menggunakan teknik pengubahan tingkah laku 25 Menggunakan berbagai pendekatan konseling 2,27 CE 2,84 E 2,93 E 26 Kepribadian matang dan penyesuaian diri 2,82 E 3,17 E 3,30 E 27 Pemahaman terhadap orang lain 2,81 E 3,27 E 3,35 E 28 Mengadakan hubungan dan kerjasama 2,58 CE 3,22 E 3,32 E 29 Batas kemampuan 2,69 CE 2,94 E 3,23 E 30 Perhatian dan minat pada masalah klien 2,70 CE 3,13 E 3,38 E 31 Kedewasaan pribadi, mental, sosial dan fisik 2,60 CE 3,06 E 3,11 E 32 Peka terhadap berbagai sikap dan reaksi 2,52 CE 3,20 E 3,19 E 33 Respek terhadap orang lain 2,56 CE 3,08 E 3,18 E 34 Kemampuan komunikasi 2,57 CE 3,05 E 3,12 E 35 Tidak mementingkan diri sendiri 2,50 CE 3,08 E 3,10 E Indikator

Berdasarkan tabel 10 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar indikator dari konselor dengan masa kerja 0 tahun - 11 tahun dalam kategori cukup efektif
cv

(yaitu berkaitan dengan paham sifat-sifat klien, rapport, proses konseling, attending, mengundang pembicaraan terbuka, paraprase, identifikasi perasaan, meringkaskan, menafsirkan, penerimaan, memberi ketenangan, menghayati

memimpin secara umum, mendengarkan,

pikiran, perasaan dan cita-cita, menggunakan alat/teknik pengumpulan pengambilan pengubahan data, pemecahan masalah dan teknik berbagai

keputusan, tingkah laku,

menggunakan menggunakan

pendekatan konseling, mengadakan hubungan dan kerja sama, batas kemampuan, perhatian dan minat pada masalah klien, kedewasaan pribadi, mental, sosila, dan fisik, peka terhadap berbagai sikap dan reaksi, respek terhadap orang lain, kemampuan komunikasi dan tidak mementingkan diri sendiri). Sedangkan untuk konselor dengan masa kerja 12 tahun – 23 tahun, sebagian besar indikator keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual juga dalam kategori efektif. Namun ada beberapa indikator dengan kategori cukup efektif yaitu: mendengarkan. Konselor dengan masa kerja > 24 tahun, sebagian besar indikator keefektifan keefektifan
cvi

konselor dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien dalam kategori efektif, namun ada beberapa indikator dengan kategori sangat efektif (yaitu: paraprase dan penerimaan) dan ada indikator dengan kategori cukup efektif yaitu mendengarkan. 3). Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Gender Konselor Rata-rata persepsi klien terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender dapat dilihat pada tabel 11 dibawah ini.

Tabel 11. Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender menurut persepsi klien
Sub Variabel Jenis kelamin Jumlah konselor Mean % Kriteria

Keterampilan Kepribadian Efektivitas

Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria

24 9 24 9 24 9

2,97 3,09 3,05 3,17 3,01 3,14

74% 77% 76% 79% 75% 79%

Efektif Efektif Efektif Efektif Efektif Efektif

Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa dari 24 konselor wanita mempunyai rata-rata keefektifan dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi
cvii

klien sebesar 3,01 atau 75% berada pada interval 2,9 – 3,4 dalam kategori efektif dan dari 9 konselor pria, ratarata skornya mencapai 3,14 atau 79% pada interval 3,5 – 4,0 dalam kategori efektif. Dilihat dari keterampilan dalam melaksanakan konseling individual, rata-rata konselor wanita sebesar 2,97 atau 74% dalam kategori efektif, sedangkan rata-rata skor pada konselor pria sebesar 3,09 atau 77% dalam kategori efektif. Dilihat dari sub variabel kepribadian, rata-rata konselor wanita sebesar 3,05 atau 76% dan untuk konselor pria rata-ratanya 3,17 79%. Kedua kelompok konselor ditinjau dari gender mempunyai kepribadian dalam melaksanakan konseling individual dalam kategori efektif. Untuk lebih jelasnya keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling ditinjau dari gender menurut persepsi klien pada setiap indikator dapat dilihat pada tabel 12 dibawah ini:

cviii

Tabel 12. Keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender menurut persepsi klien pada setiap indikator
No Indikator Wanita Pria Mean Ket Mean Ket 2,76 CE 3,06 E 2,98 E 3,19 E 2,95 E 3,27 E 3,02 E 3,10 E 2,96 E 3,06 E 2,78 CE 2,96 E 3,09 E 3,19 E 3,06 E 3,12 E 3,09 E 3,12 E 3,09 E 3,12 E 2,95 E 3,15 E 3,05 E 2,97 E 3,22 E 3,43 SE 3,05 E 3,30 E 3,08 E 3,30 E 2,57 CE 2,81 E 3,16 E 3,27 E 3,09 E 3,08 E 3,06 E 3,15 E 3,11 E 3,12 E 3,10 E 3,39 E 2,94 E 3,03 E 2,98 E 3,22 E 2,87 E 2,87 E 2,76 CE 2,89 E 3,13 E 3,22 E 3,20 E 3,32 E 3,18 E 3,14 E 2,94 E 3,09 E 3,08 E 3,30 E 2,97 E 3,13 E 3,05 E 3,29 E 3,01 E 3,12 E 2,97 E 3,09 E 2,98 E 3,11 E

1 Paham sifat-sifat klien 2 Menilai situasi 3 Raport 4 Proses konseling 5 Attending 6 Mengundang pembicaraan terbuka 7 Paraprase 8 Identifikasi perasaan 9 Refleksi perasaan 10 Konfrontasi 11 Meringkaskan 12 Menafsirkan 13 Penerimaan 14 Memberi ketenangan 15 Memimpin secara umum 16 Mendengarkan 17 Mengarahkan 18 Memberi informasi 19 Menghayati pikiran, perasaan dan cita-cita 20 Menyimpulkan 21 Memberi dorongan 22 Menggunakan alat/ teknik pengumpul data 23 Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan 24 Menggunakan teknik pengubahan tingkah laku 25 Menggunakan berbagai pendekatan konseling 26 Kepribadian matang dan penyesuaian diri 27 Pemahaman terhadap orang lain 28 Mengadakan hubungan dan kerjasama 29 Batas kemampuan 30 Perhatian dan minat pada masalah klien 31 Kedewasaan pribadi, mental, sosial dan fisik 32 Peka terhadap berbagai sikap dan reaksi 33 Respek terhadap orang lain 34 Kemampuan komunikasi 35 Tidak mementingkan diri sendiri

Berdasarkan tabel 12 di atas dapat dilihat bahwa semua indikator keefektifan konselor dalam

melaksanakan konseling individual pada konselor wanita
cix

dalam kategori efektif, namun ada beberapa indikator dengan kategori cukup efektif yaitu paham sifat-sifat klien, mengundang pembicaraan berbagai besar terbuka, pendekatan indikator

mendengarkan, konseling.

menggunkan

Sedangkan

sebagian

keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien pada konselor pria dalam kategori efektif. Namun ada beberapa indikator dalam kategori sangat efektif, yaitu: penerimaan.
b. Analisis Statistik Inferensial Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis yang dilakukan dengan menempuh prosedur, langkah serta serta teknnik statistik seperti yang dikemukakan pada bab III. Hasil pengujian hipotesis tersebut dapat dilaporkan secara berturut-turut sebagai berikut: 1). Hipotesis pertama “Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor menurut persepsi klien” Berdasarkan pengujian statistik dengan menggunakan U Mann Whitney diperoleh hasil seperti pada tabel 13 di bawah ini:

cx

Tabel 13. Hasil analisis perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan menurut persepsi klien menggunakan U Mann-Whitney
Test Statistics b Keterampilan 16.000 31.000 -2.711 .007 .004a Kepribadian 22.000 37.000 -2.410 .016 .013a Keefektifan 19.000 34.000 -2.561 .010 .008a

Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: Tingkat Pendidikan

Berdasarkan hasil uji U Mann-Whitney diperoleh nilai

U = 19,

dengan Z hitung = –2,561 dan signifikansi 0,010. Pada taraf kesalahan 0,05 diperoleh nilai Ztabel sebesar 1,96. Tampak bahwa nilai Z hitung (–2,561) < dari -Ztabel (-1,96) dan nilai signfikansi < dari α = 0,05, sehingga

hipotesis yang berbunyi ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individu ditinjau dari tingkat pendidikan menurut persepsi klien diterima. Dengan kata lain ada perbedaan keefektifan yang signifikan antara konselor dengan tingkat pendidikan D3 bimbingan dan konseling dan S1 bimbingan dan konseling dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien. Rata-rata skor keefektifan konselor dengan tingkat pendidikan S1 bimbingan dan konseling lebih besar daripada konselor dengan tingkat pendidikan D3 bimbingan dan konseling dalam melaksanakan konseling individual. Dilihat dari sub variabel keterampilan berdasarkan uji U Mann Whitney diperoleh nilai Zhitung sebesar –2,711 dengan probabilitas 0,007. Tampak bahwa nilai Z
hitung

(-2,711) < dari -Z

tabel

(-1,96) dengan taraf

cxi

kesalahan 5% yaitu –1,96 dan nilai probabilitasnya < dari 0,05, yang berarti signifkan. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan keterampilan konselor dalam melaksanakan konseling individual antara konselor dengan tingkat pendidikan D3 dan S1 bimbingan dna konseling. Dilihat dari rata-ratanya tampak bahwa keterampilan konselor dengan tingkat pendidikan S1 lebih besar daripada keterampilan konselor dengan tingkat pendidikan D3. Sedangkan dilihat dari kepribadiannya, diperoleh nilai Z hitung sebesar –2,410 dengan probabilitas 0,16 < 0,05, yang berarti signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa antara konselor dengan tingkat pendidikan S1 dan D3 ada perbedaan kepribadiannya dalam melaksanakan konseling individual, dimana rata-rata kepribadian konselor dengan tingkat pendidikan S1 lebih baik daripada konselor dengan tingkat pendidikan D3. 2). Hipotesis kedua “Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja konselor menurut persepsi klien” Berdasarkan pengujian statistik dengan menggunakan Kruskal Wallis diperoleh hasil seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel 14. Hasil analisis perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari masa kerja menurut persepsi klien menggunakan Uji Kruskall Wallis

cxii

Test Statistics Chi-Square 6.554 7.561 7.532

a,b

df 2 2 2

Keterampilan Kepribadian Keefektifan

Asymp. Sig. .038 .023 .023

a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: Masa Kerja

Berdasarkan hasil uji Kruskall Wallis tersebut diperoleh nilai chi kuadrat untuk keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari masa kerja sebesar 7,532 dengan signifikansi 0,023 < taraf kesalahan 0,05, yang berarti hipotesis yang menyatakan ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling

individual ditinjau dari pengalaman kerja menurut persepsi klien diterima. Dilihat dari sub variabel keterampilan diperoleh nilai chi kuadrat 6,554 dengan probabilitas 0,038 < 0,05, yang berarti signifikan dan menunjukkan bahwa ada perbedaan keterampilan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja konselor. Hasil uji Kruskall Wallis untuk sub variabel kepribadian diperoleh nilai chi kuadrat sebesar 7,561 dengan probabilitas 0,023 < 0,05, yang berarti ada perbedaan yang signifikan kepribadian dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerjanya. Ada kecenderungan bahwa konselor dengan pengalaman kerja yang lebih lama, mempunyai keterampilan dan kepribadian yang lebih baik daripada konselor yang pengalaman kerjanya lebih rendah. Untuk mengetahui lebih lanjut perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual antara konselor dengan masa cxiii

kerja 0 tahun - 11 tahun, 12 tahun - 24 tahun dan > 24 tahun dapat dilihat dari hasil uji U Mann Whitney pada tabel 15 berikut:
Tabel 15. Hasil Uji U Mann Whitney
Perbedaan antara 0-11 tahun dengan 12-23 tahun 0-11 tahun dengan > 24 tahun 12-23 tahun dengan > 24 tahun Sumber variasi Nilai U Z Sign. Kriteria Nilai U Z Sign. Kriteria Nilai U Z Sign. Kriteria Keterampilan 9 -2.448 0.014 Berbeda 1 -2.552 0.011 Berbeda 69 -0.732 0.464 Tidak berbeda Kepribadian 11 -2.298 0.022 Berbeda 2 -2.378 0.017 Berbeda 71 -0.634 0.526 Tidak berbeda Keefektifan 9 -2.446 0.014 Berbeda 1 -2.548 0.011 Berbeda 68.5 -0.756 0.449 Tidak berbeda

Berdasarkan tabel hasil analisis tersebut tampak bahwa, antara konselor dengan masa kerja 0 tahun - 11 tahun dan 12 tahun - 23 tahun, serta antara konselor dengan masa kerja 0 tahun - 11 tahun dan > 24 tahun ada perbedaan keefektifan dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien, yang ditunjukkan dari nilai probabilitas < dari 0,05, namun antara konselor dengan masa kerja 12 tahun - 23 tahun dan > 24 tahun tidak ada perbedaan keefektifan dalam melaksanakan konseling individual, ditunjukkan dari nilai probabilitas > dari 0,05.

3). Hipotesis ketiga “Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor menurut persepsi klien” Berdasarkan pengujian statistik dengan menggunakan U Mann Whitney diperoleh hasil seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel 16

cxiv

Hasil analisis perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau gender menurut persepsi klien menggunakan U Mann-Whitney
Test Statistics b Keterampilan 87.000 387.000 -.849 .396 .414a Kepribadian 87.000 387.000 -.849 .396 .414a Keefektifan 87.000 387.000 -.849 .396 .414a

Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Jenis kelamin

Berdasarkan hasil uji U Mann-Whitney diperoleh nilai U = 87, dengan Z hitung = –0,849 dan signifikansi 0,396. Pada taraf kesalahan 0,05 diperoleh nilai Ztabel sebesar 1,96. Tampak bahwa nilai Z hitung pada daerah –1,96 sampai 1,96 dan nilai signfikansi > dari α = 0,05, sehingga hipotesis yang berbunyi ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individu ditinjau dari gender menurut persepsi klien ditolak. Dengan kata lain tidak ada perbedaan keefektifan yang signifikan antara konselor wanita dan pria dalam melaksanakan konseling individual menurut persepsi klien. Hasil uji U-Mann Whitney untuk sub variabel keterampilan dan kepribadian diperoleh Z
hitung

= -0,849 dengan

probabilitas 0,396 > 0,05, yang berarti tidak ada perbedaan keterampilan dan kepribadian konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender.

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan diatas ternyata dari ketiga hipotesis yang diajukan terdapat dua hipotesis

cxv

yang teruji kebenarannya/diterima secara signifikan, dan satu hipotesis yang tidak teruji kebenarannya/ditolak secara signifikan. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa secara empirik, bahwa: 1. Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan menurut persepsi klien. Dari hasil penelitian dengan menggunakan U Mann Whitney telah terbukti bahwa Z hitung (-2,561) < -Ztabel (-1,96). Dengan demikian hipotesis kerja diterima yang berarti ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor menurut persepsi klien. Sehubungan dengan hal tersebut tidak ada kesenjangan antara teori dengan hasil penelitian karena telah terbukti ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan layanan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor menurut persepsi klien. Hal ini sejalan dengan pendapat Winkel, 1981 yang menyatakan bahwa konselor sekolah (School counselor), ialah tenaga profesional, pria atau wanita yang mendapat pendidikan khusus Bimbingan dan Konseling, secara ideal berijazah sarjana dari FIP-IKIP, Jurusan/Program Studi Bimbingan dan Konseling atau Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, serta jurusan-jurusan/Program Studi yang sejenis. Para tamatan tersebut setelah disekolah adalah menjadi tenaga khusus. Tenaga ini dapat disebut “Full-time guidance counselor”, karena seluruh waktu dan perhatiannya dicurahkan pada pelayanan bimbingan dan karena dialah menjadi penyuluh utama disekolah (dalam Sukardi, 1984: 19).

cxvi

Secara profesional seorang konselor sekolah hendaknya telah mencapai tingkat pendidikan sarjana bimbingan. Dalam masa pendidikannya pada institusi bersangkutan seorang konselor harus menempuh mata kuliah atau bidang studi tentang prinsip-prinsip dan praktik bimbingan. Dan bidang yang harus dikuasai meliputi antara lain: proses konseling, pemahaman individu, informasi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, jabatan, atau karir, administrasi dan kaitannya dengan program bimbingan, dan prosedur penelitian dan penilaian bimbingan. Di samping bidang tersebut diatas, perlu juga dikuasai bidang-bidang lainnya seperti: psikologi, ekonomi dan sosiologi (Wibowo, 1986: 95).

Berdasarkan perhitungan besarnya rata-rata keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual dari konselor dengan tingkat pendidikan D3 bimbingan dan konseling sebesar 2,66 atau 67% dengan ketegori cukup efektif, sedangkan besarnya rata-rata keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual dari konselor dengan tingkat pendidikan S1 bimbingan dan konseling sebesar 3,11 atau 78% dengan ketegori efektif, yang berarti bahwa selama ini siswa-siswi di SMA Negeri se-Kota Semarang mempunyai persepsi yang positif terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor. Secara nyata keefektifan konselor dengan tingkat

pendidikan S1 BK dalam melaksanakan konseling individual
cxvii

berada pada kategori efektif, sedangkan secara nyata keefektifan konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK dalam melaksanakan konseling individual berada pada kategori cukup efektif. Perbedaan ini juga dapat dilihat dari rata-rata kualitas keterampilan dan kepribadian konselor, di mana konselor dengan tingkat pendidikan S1 BK lebih baik daripada konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan karakteristik antara tingkat pendidikan D3 BK dan S1 BK yang berpengaruh terhadap keterampilan dan

kepribadiannya.
Tabel 17. Perbedaan Karakteritik Tingkat Pendidikan D3 BK dan S1 BK
Karakteristik Lama pendidikan Jumlah SKS yang harus ditempuh Syarat kelulusan Tujuan Menyusun TA Menyelenggarakan pendidikan akademik yang diarahkan terutama pada pengusaan ilmu pengetahuan Menyusun skripsi Menyelenggarakan pendidikan akademik yang diarahkan terutama pada pengusaan ilmu pengetahuan yang lebih mendalam D3 BK 3 tahun (minimal) 105 S1 BK 4 tahun (minimal) 152

Lama pendidikan D3 BK ditempuh minimal 3 tahun dengan 105 SKS yang lebih rendah daripada S1 BK yang harus menempuh minimal 4 tahun dengan 152 SKS. Adanya perbedaan ini menyebabkan pengetahuan dan keterampilan konselor dengan lulusan S1 BK secara nyata lebih tinggi daripada D3 BK,

cxviii

sehingga konselor dengan tingkat pendidikan S1 BK mampu melaksanakan konseling individual lebih baik daripada konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK. Berdasarkan hasil penelitian ternyata konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK kurang efektif dalam memahami sifat-sifat klien, mendengarkan klien, menggunakan teknik pengubahan tingkah laku dan

menggunakan berbagai pendekatan konseling.
Persepsi adalah suatu pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan mengumpulkan informasi serta menafsirkan pesan (Rakhmad, 1998: 51). Dalam persepsi ini klien dirangsang oleh suatu masukan atau stimulus dari konselor, sehingga klien akan memberikan respon dan bersikap. Klien yang mendapat stimulus tentang konseling individual untuk

meyelesaikan permasalahan yang diberikan dari konselor dengan tingkat pendidikan D3 bimbingan dan konseling dan S1 bimbingan dan konseling, akan merespon dengan mengambil sikap yang selanjutnya menanggapi stimulus yang ada.

Di samping itu persepsi merupakan dinamika yang terjadi dalam diri individu di saat ia menerima stimulus dari lingkungan dengan melibatkan panca indra dan aspek kpribadian yang lain. Adapun persepsi itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor. Persepsi dipengaruhi oleh: a) Perhatian, biasanya tidak

menangkap seluruh rangsangan yang ada disekitar kita secara
cxix

sekaligus, tetapi hanya memfokuskan pada satu atau dua objek saja. b) Set, adalah harapan seseorang akan rangsang yang akan timbul, sehingga individu mempunyai harapan pada setiap apa yang ia lakukan. c) Kebutuhan, kebutuhan sesaat maupun menetap pada diri individu akan mempengaruhi persepsi orang tersebut. Dengan adanya kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan persepsi bagi tiap individu. d) Sistem Nilai, sistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat juga berpengaruh pula terhadap persepsi. e) Ciri Kepribadian, pola kepribadian atau karakter yang dimiliki oleh individu akan menghasilkan baik/buruk persepsi seseorang terhadap suatu objek (Wirawan, 1982: 49). Persepsi yang baik dari klien tentang konseling individual yang sudah pernah dijalaninya dari konselor disekolahnya dalam rangka mengentaskan permasalahan baik pribadi, sosial, belajar, karier, dan lain-lain, sehingga gejala-gejala yang timbul dari siswa yang sedang mengalami permasalahan dapat segera memanfaatkan program layanan yang ada yaitu konseling individual.
Selain itu dengan adanya persepsi yang baik dari klien tentang konseling individual yang sudah dijalaninya, klien akan bersikap proaktif terhadap

cxx

berjalannya program layanan bimbingan dan konseling pada umumnya dan layanan konseling individual pada khususnya, sehingga wawasan klien tentang bagaimana keluar dari permasalahan yang sedang dialaminya akan bertambah, yang nantinya akan bermuara pada tercapainya aktualisasi pada dirinya, dengan terentaskannya permasalahan yang dihadapi, tergalinya potensinya yang dimiliki dan berkembangnya kemampuan yang dimilikinya. Akhirnya berdasarkan uraian di atas dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan konselor menurut persepsi klien di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2004/2005. 2. Ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja menurut persepsi klien. Dari hasil analisis data dengan menggunakan Kruskall Wallis diperoleh chi kuadrat 7,532 dengan probabilitas 0,023 < 0,05, dengan demikian hipotesis kerja diterima yang berarti ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalam kerja menurut persepsi klien. Dengan demikian tidak ada kesenjangan teori dengan hasil penelitian, karena telah terbukti ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari masa kerja konselor menurut persepsi klien. Hal ini sejalan dengan pendapat Middlebrook yang menyatakan bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk suatu sikap negatif terhadap objek tersebut (dalam Hariyadi, 2000: 10).

cxxi

Sedangkan menurut Baron (1988) sikap yang negatif akan melahirkan perilaku atau unjuk kerja yang negatif, karena perilaku pada umumnya merupakan manifestasi dari sikap seseorang. Perilaku yang negatif ini akan melahirkan ketidakefektifan konselor dalam melaksanakan tugas-tugasnya (dalam Hariyadi, 2000: 10). Fazio dan Zana (1978) mengemukakan bahwa sikap yang terbentuk melalui pengalaman langsung mengenai suatu objek hasilnya lebih kuat dan lebih melekat (dalam Hariyadi, 2000: 10). Wu dan Schaffer (1987) juga mengemukakan bahwa sikap yang terbentuk melalui pengalaman langsung ternyata lebih tahan terhadap perubahan daripada sikap yang terbentuk melalui pengalaman tidak langsung (dalam Hariyadi, 2000: 10). Berdasarkan perhitungan besarnya rata-rata keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual dari konselor yang mempunyai masa kerja 0 tahun - 11 tahun sebesar 2,62 atau 66% dengan ketegori cukup efektif, konselor dengan masa kerja 12 tahun - 23 tahun sebesar 3,07 atau 77% dengan kategori efektif dan konselor dengan masa kerja > 24 tahun sebesar 3,19 atau 80% dengan kategori efektif. Hal ini berarti bahwa siswa dan siswi di SMA Negeri se-Kota Semarang mempunyai persepsi yang positif terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari masa kerja konselor. Secara nyata keefektifan konselor dengan masa kerja antara 0 tahun - 11 tahun lebih rendah daripada keefektifan konselor dengan masa kerja antara 12 tahun - 23 tahun dan > 24 tahun dalam melaksanakan konseling individual. Hal ini juga dapat dilihat dari rata-rata kualitas keterampilan dan kepribadian konselor

cxxii

dengan masa kerja > 24 tahun dan konselor dengan masa kerja 11 tahun - 23 tahun lebih baik daripada konselor dengan masa kerja 0 tahun - 11 tahun. Perbedaan ini disebabkan karena semakin tinggi masa kerja konselor, semakin banyak pula jumlah dan jenis-jenis permasalahan yang sudah ditangani, sehingga konselor lebih banyak melakukan evaluasi pelaksanaan konseling individual. Akhirnya berdasarkan uraian di atas dinyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja menurut persepsi klien di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2004/2005. 3. Tidak ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor menurut persepsi klien. Dari hasil penelitian dengan menggunkan U Mann Whitney telah terbukti bahwa Z
hitung

untuk peningkatan kualitas

(-0,849) berada di antara -Ztabel (-1,96) dan Z

tabel

(1,96). Dengan

demikian hipotesis kerja yangh berbunyi ada perbedaan keefektifan konselor dalam melaksanakaan konseling individual ditinjau dari gender konselor menurut persepsi klien ditolak yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender menurut persepsi klien. Sehubungan dengan hal tersebut ada kesenjangan antara teori dengan hasil penelitian karena telah terbukti tidak ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan layanan konseling individual ditinjau dari gender menurut persepsi klien, yaitu teori yang menyatakan bahwa wanita cenderung lebih tertarik pada hal praktis dan teoritis, wanita lebih dekat dengan masalah-

cxxiii

masalah kehidupan yang praktis konkrit, wanita pada umumnya penuh kelincahan hidup. Wanita mempunyai sifat heterosentris dan lebih sosial terutama pada penderitaan orang lain, wanita bersifat feminim, lembut, keibuan, perasa, mementingkan orang lain dan ikhlas dalam memberikan pertolongan. Wanita juga lebih peka terhadap nilai estetis, lebih akurat dan mendetail (Kartono,1992: 177), sehingga dalam melaksanakan konseling individual konselor wanita akan cenderung lebih efektif dibandingkan dengan konselor pria.

Hasil penelitian ini ternyata lebih sejalan dengan teori tentang perbedaan seks dan gender. Seks adalah pembagian jenis kelamin yang telah ditentukan oleh Tuhan (disebut sebagai kodrat Tuhan), maka fungsinya tidak bisa diubah. Misalnya lakilaki memiliki sperma, penis dan jakun. Perempuan hamil, memiliki alat kelamin reproduksi seperti rahim, vagina, dan indung telur. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu, dan akan berlaku sampai kapan saja, dimana saja, suku bangsa apa saja, dan warna kulit apa saja. Sedangkan gender adalah pembagian peran serta tanggung jawab baik laki-laki maupun perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat dan budaya. Misalnya keyakinan bahwa laki-laki kuat, dan rasional, sedangkan perempuan lemah dan emosional, bukanlah ketentuan kodrat Tuhan, melainkan hasil sosialisasi melalui sejarah yang panjang. Karena di dalam kenyataannya ada perempuan yang kasar, kuat
cxxiv

dan rasional, sementara banyak sekali laki-laki yang lembut, lemah dan emosional (Imran dkk, 2000: 13). Dengan demikian perbedaan seks dan gender bisa dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 18 Perbedaan Seks dan Gender

Seks Tidak bisa berubah Tidak bisa dipertukarkan Berlaku sepanjang masa Berlaku dimana saja Berlaku bagi kelas dan warna kulit apa saja. Ditentukan oleh Tuhan atau kodrat.

Gender Bisa berubah Bisa dipertukarkan Tergantung musim Bergantung budaya Berbeda antara satu kelas dengan kelas lain Bukan kodrat Tuhan, tapi buatan masyarakat. (Imran, 2000: 19)

Selain itu dijelaskan pula bahwa konsep gender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh faktor-faktor sosial maupun budaya, sehingga lahir beberapa anggapan tentang peran sosial dan budaya laki-laki dan perempuan. Bentukan sosial atas laki-laki dan perempuan itu antara lain: kalau perempuan dikenal sebagai makhluk yang lemah lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Sedangkan lakilaki dianggap kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sifat-sifat diatas dapat dipertukarkan dan berubah dari waktu ke waktu (Handayani dan Sugiarti, 2002: 5-6).
cxxv

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan pendapat tokoh aliran feminisme liberial yang mempunyai pemikiran bahwa semua manusia diciptakan seimbang dan serasi dan mestinya tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai hal-hal khusus. Secara ontologis keduanya sama, hak-hak laki-laki dengan sendirinya juga menjadi hak-hak perempuan. Laki-laki dan perempuan hanya dibedakan pada reproduksinya saja, karena walau bagaimanapun juga fungsi organ reproduksi bagi perempuan membawa konsekuensi logis dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian organ reporduksi bukan merupakan

penghalang terhadap sikap, perilaku maupun peranannya (dalam Umar, 1999: 64). Berkaitan dengan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa meskipun organ reproduksi berbeda tidak akan mempengaruhi seseorang yaitu konselor untuk mempunyai sikap, perilaku, peran maupun harapan tertentu.
Berdasarkan perhitungan besarnya rata-rata keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual dari konselor dengan jenis kelamin wanita sebesar 3,01 atau 75% dengan ketegori efektif, sedangkan konselor dengan jenis kelamin pria sebesar 3,14 atau 79% dengan kategori efektif. Hal ini berarti bahwa siswa dan siswi di SMA Negeri se-Kota Semarang mempunyai persepsi yang

cxxvi

positif terhadap keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor. Dengan adanya persepsi yang baik pada diri klien tentang pelaksanaan konseling individual yang sudah dijalaninya dari konselor dengan jenis kelamin baik wanita maupun pria, maka konselor tersebut dikatakan efektif dalam melaksanakan konseling individual. Akhirnya berdasarkan uraian di atas dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender menurut persepsi klien di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2004/2005.

cxxvii

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka penelitian yang berjudul Perbedaan Keefektifan Konselor dalam Melaksanakan Konseling Individual ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja dan Gender Konselor menurut Persepsi Klien di SMA Negeri se-Kota Semarang tahun ajaran 2004/2005 dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Menurut persepsi klien, konselor dengan tingkat pendidikan S1 BK dan masa kerja 12-23 tahun serta lebih dari 24 tahun lebih efektif daripada konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK dan masa kerja 0-11 tahun dalam melaksanakan konseling individual. Menurut persepsi klien antara konselor pria dan wanita sama-sama efektif dalam melaksanakan konseling individual. 2. Ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari tingkat pendidikan menurut persepsi klien. 3. Ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari pengalaman kerja menurut persepsi klien. 4. Tidak ada perbedaan yang signifikan keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual ditinjau dari gender konselor menurut persepsi klien. B. Saran Berdasarkan temuan dalam penelitian ini maka dapat diajukan saran-saran yang bisa diterapkan untuk masukan kepada konselor sekolah di SMA Negeri se-Kota Semarang, Ilmu Bimbingan dan Konseling dan peneliti lain sebagai berikut:

cxxviii

1. Bagi konselor di SMA Negeri se-Kota Semarang Untuk meningkatkan profesionalisasi konselor di sekolah, khususnya konselor dengan tingkat pendidikan D3 BK dapat dilakukan melalui kegiatan ilmiah dalam bidang bimbingan dan konseling seperti seminar, loka karya, penataran, work shop, diskusi-diskusi melalui MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), maupun dengan melanjutkan studi ke jenjang S1 bimbingan dan konseling. Pengetahuan, keterampilan dan kualitas kepribadian akan diperoleh melalui pengalaman kerja, maka hendaknya konselor di sekolah dapat melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling, khususnya konseling individual dengan sebaik-baiknya. 2. Peneliti Lain Perlu adanya penelitian lanjutan dengan menambah variabel yang diteliti seperti motivasi kerja, sarana-prasarana, kerja sama antar konselor dan variabel yang lainnya, sehingga diperoleh jawaban yang lebih jelas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan konselor dalam melaksanakan konseling individual.

cxxix

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta Azwar Syaifudin. 2000. Sikap Manusia dan teori pengukurannya. Jogjakarta: Pustaka Pelajar Depdikbud, 1994. Pedoman Pembimbing dan Penyuluhan Siswa di Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Gunarsa, D Singgih, 1992. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia Hadi Sutrisno. 1989. Metode Research. Jojakarta: Fakultas Psikologi UGM Hamali Oemar. 1991. Pendidikan Guru. Bandung: Mandar Maju Handayani, Tri Sakti dan Sugiarti, 2002. Konsep dan Penelitian Gender. Malang: UMM Press Hariyadi Sugeng. 1999. Laporan Penelitian tentang Persepsi Siswa SMA terhadap tingkat keefektifan konselor dalam memberikan layanan Konseling Individual (Penelitian di SMA Negeri se-Kodia Semarang) ______________ dkk. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Semarang: IKIP Semarang Press Hendrarno, Eddy dkk. 1987. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang: Bina Putra __________________, 2003. Bimbingan dan Konseling (edisi revisi). Semarang: Swadaya Manunggal Imran, Irawati dkk. 2000 Seksualitas Remaja. Jakarta: PKBI Pusat Kartono Kartini. 1992. Psikologi Wanita. Bandung: Mandar Maju Kongseng A. 1996. Konseling Pribadi. Jakarta: Obor Mar’at, 1981. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia Mappiare, Andi AT. 1992. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: CV Rajawali Nasir Muhammad. 1999. Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia Prayitno, 1985. Penyuluhan. Jakarta: Ghalia Indonesia cxxx

Prayito dan Amti Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud Poewardaminto, 1988. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Rakhmad Jalaludin. 1989. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Santoso Singgih. 2001. Buku Latihan SPSS Statistik Non Parametrik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Sudjana dkk, 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Slameto, 1990. Perspektif Bimbingan Konseling dan Penerapannya diberbagai institusi. Semarang: Satya Wacana Sukardi, Ketut Dewa. 1984. Pengantar Teori Konseling, Jakarta: Ghalia Indonesia ________________, 1985. Ilmu Psikologi. Jakarta: Ghalia Indonesia Thamtawy. 1993. Kamus Bimbingan dan Belajar. Jakarta: IKIP Jakarta Umar Nasaruddin 1999. Argumen Kesetaraan Gender. Jakarta: Paramadina UU RI No. 2 tahun 1989. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sinar Grafika Walgito Bimo. 1989. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jogjakarta: Fakultas Psikologi UGM Wibowo, Mungin Eddy. 1986. Konseling di Sekolah. FIP IKIP Semarang Winkel. 199. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: PT Gramedia Wediasmara Indonesia Yeo Anthony. 1994. Konseling Suatu Pendekatan Pemecahan Masalah. Jakarta: Gunung Mulia

cxxxi

Lampiran 1 Lampiran 6

Lampiran 2 Lampiran 7

Lampiran 3 Lampiran 8

Lampiran 4 Lampiran 9

Lampiran 5 Lampiran 10

Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Lampiran 22 Lampiran 23 Lampiran 24 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27 Lampiran 28 Lampiran 29 Lampiran 30 Lampiran 31 Lampiran 32 Lampiran 33 Lampiran 34

ii 51 67 83 99 112 125 138 151 164 177 190 203 216 229 242 255

iii 52 68 84 100

iv 53 69 85

v

vi 54 70 86

vii 55 71 87

viii 56 72 88 57 73 89

ix

x 58 74 90 105 118

xi 59 75 91

xii 60 76 92

xiii 61 77 93 107 120 133 146 159 172 185

xiv 62 78 94 108 121 134 147 160 173 186

xv 63 79 95 109

xvi 64 80 96 110 65 81

xvii 66 82 98 111 124 137 150 163 176 189 202 215 228 241 254 267

97

101 114 127 140 153 166 179 192 205 218 231 244 257

102 115 128 141 154 167 180 193 206 219 232 245 258

103 116 129 142 155 168 181 194 207 220 233 246 259

104 117

106 119 132 145 158 171 184 197 210 223 236 249 262

113 126 139 152 165 178 191 204 217 230 243 256

122 123 135 148 161 174 187 200 213 226 239 252 265 136 149 162 175 188 201 214 227 240 253 266

130 131 143 156 169 182 195 208 221 234 247 260 144 157 170 183 196 209 222 235 248 261

198 199 211 224 237 250 263 212 225 238 251 264

cxxxii

Identitas Bp/Ibu Guru Pembimbing

1.

Nama

: ………………………………………………..

2.

Jenis Kelamin

: (Pilih dan lingkari salah satu) a. Pria b. Wanita

3.

Pendidikan

: (Pilih dan lingkari salah satu) a. D3 Bimbingan dan Konseling b. S1 Bimbingan dan Konseling

2.

Masa Kerja

: (Pilih dan lingkari salah satu) a. 0 s/d 11 tahun b. 12 s/d 23 tahun c. > 24 tahun

3.

Asal Sekolah

: SMA N…………………………..…Semarang

4.

Tugas lain selainsebagai Guru Pembimbing : a..….…………………………….……………. b…...………………………………………….. c……………………………………………….

5.

Identitas Klien yangpernah Konsultasi dengan Bp/Ibu Guru Pembimbing

: (Lihat tabel dibawah ini)

cxxxiii

SKALA

PSIKOLOGI

PERBEDAAN KEEFEKTIFAN KONSELOR DALAM MELAKSANAKAN KONSELING INDIVIDUAL DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN, PENGALAMAN KERJA DAN GENDER KONSELOR MENURUT PERSEPSI KLIEN DI SMA NEGERI SE-KOTA SEMARANG TAHUN AJARAN 2004/2005

cxxxiv

IDENTITAS SISWA A. Nama B. Kelas : ……………………………………………….. : ………………………………………………..

C. Asal Sekolah : SMA N……………………………..Semarang D. Nama Guru Pembimbing : ………………………………………………..

PETUNJUK MENGERJAKAN

Di bawah ini terdapat pernyataan-pernyataan yang menggambarkan keefektifan konselor (guru pembimbing) dalam melaksanakan konseling individual. Anda dimohon untuk membaca dengan cermat supaya dapat menentukan pilihan jawaban dengan tepat dengan cara memberikan tanda silang (X) pada salah satu kolom yang telah disediakan pada tiap-tiap nomor secara obyektif dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sewaktu Anda mengikuti proses konseling individual. Pilihan jawaban Anda berupa:
SS S TS : Apabila pernyataan dibawah Sangat Sesuai : Apabila pernyataan dibawah Sesuai : Apabila pernyataan dibawah Tidak sesuai

STS : Apabila pernyataan dibawah Sangat Tidak Sesuai

Pernyataan-pernyataan dibawah ini bukan tes, jadi tidak berpengaruh terhadap nilai raport Anda. Oleh karena itu Anda dapat menjawabnya dengan bebas sesuai dengan keadaan yang

sebenarnya. Jawaban Anda akan kami jamin kerahasiaannya. Demikian harapan kami, semoga jawaban-jawaban Anda akan menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi kami, bagi Anda, dan bagi sekolah Anda pada umumnya.

Kerjakan sesuai dengan petunjuk,
cxxxv

selamat bekerja dan terima kasih atas partisipasinya !
No. 1. Berdasarkan Pernyataan pengalaman saya selama proses SS S TS STS

konseling, guru pembimbing bisa mengetahui gerakgerik/tingkah laku saya. 2. Guru pembimbing sok tahu dalam mengartikan tingkah laku dan permasalahan saya. 3. Perlakuan guru pembimbing kepada saya sesuai dengan karakter saya. 4. Guru pembimbing bisa menilai dengan tepat bahwa permasalahan saya termasuk dalam kategori sedang (tidak berat), sehingga bisa diselesaikan dengan baik. 5. Selama proses konseling, hubungan saya dengan guru pembimbing sangat dekat dan akrab sehingga saya merasa nyaman. 6. Selama proses konseling, guru pembimbing menjaga jarak dengan saya. 7. Tempat/Ruang konseling sangat kondusif sehingga membuat konseling. 8. Ketika proses konseling guru pembimbing tidak fokus krn sering berbicara dengan orang lain. saya merasa nyaman selama proses

9.

Guru pembimbing dan saya membuat kesepakatan pertemuan dan waktu pertemuan(sekitar 45 menit dalam sekali tatap muka) yang akan di tempuh selama proses konseling.

No. 10.

Pernyataan Ketika proses konseling guru pembimbing juga tidak fokus krn mengerjakan pekerjaan lain.

SS

S

TS

STS

11.

Guru pembimbing selalu mendorong/memotivasi saya untuk menceritakan masalah saya secara bebas dan terbuka.

12.

Ruang/lingkungan konseling acak-acakan dan rame sehingga selama proses konseling, saya tidak bisa

cxxxvi

konsentrasi. 13. Guru pembimbing membantu saya untuk menentukan orang-orang yang terlibat dalam masalah saya. 14. Pertemuan konseling/sekali tatap muka sangat lama (> 1 jam) sehingga saya jadi bosan dan jemu. 15. Guru pembimbing dan saya menyusun rencana alternatif-alternatif pemecahan masalah yang sedang saya hadapi 16. Setelah mengikuti proses konseling saya merasakan permasalahan saya jadi semakin ruwet. 17. Guru pembimbing dan saya juga menyusun beberapa konsekwensi/resiko yang akan dihadapi dari beberapa alternatif bagi pemecahan masalah saya. 18. Setelah mengikuti proses konseling saya menjadi semakin bingung dan pusing menghadapi

permasalahan saya.

No. 19. Guru

Pernyataan pembimbing memotivasi saya untuk

SS

S

TS

STS

mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan kemampuan saya. 20. Langkah-langkah dalam proses konseling (dari awal hingga akhir) yang ditempuh guru pembimbing asalasalan/tidak sistematis. 21. Saya tidak puas dengan proses konseling yang sudah diberikan oleh guru pembimbing, karena permasalahan saya tidak terselesaikan dengan baik. 22. Guru pembimbing tidak membantu saya, ketika saya akan memilih dan melaksanakan rencana alternatifalternatif pemecahan permasalahan yang sudah saya sepakati. 23. Selama proses konseling suara guru pembimbing sangat teratur sehingga enak didengar dan mudah dipahami. 24. Posisi badan/bahasa tubuh guru pembimbing

seenaknya sendiri sehingga saya tidak kerasan. 25. Guru pembimbing mengatur jarak duduk dengan saya, sehingga selama proses konseling saya merasa nyaman.

cxxxvii

26.

Guru pembimbing tidak memperhatikan saya, dimana guru pembimbing sering melihat kesana-kemari (tidak mengadakan kontak mata dengan saya).

27.

Guru pembimbing melontarkan beberapa pertanyaan untuk merangsang berfikir saya.

No. 28.

Pernyataan Guru pembimbing tidak bisa membantu menguraikan masalah saya dengan memberikan contoh perilakuperilaku khusus.

SS

S

TS

STS

29.

Guru pembimbing bisa mengulang suatu kata dari saya dengan tepat, menggunakan bahasanya sendiri secara sederhana.

30.

Guru

pembimbing

membantu

saya

memahami

perasaan-perasaan pada diri saya sendiri. 31. Guru pembimbing membantu saya untuk menjelaskan perasaan-perasaan yang ada pada diri saya. 32. Guru pembimbing membantu saya mempertegas kejelasan antara kata dan tingkah laku saya yang tidak sesuai. 33.

Guru pembimbing meringkas permasalahan yang sudah saya ceritakan dengan tepat, menggunakan bahasanya sendiri secara sederhana.

34.

Guru pembimbing menafsirkan permasalahan yang sedang saya alami dengan tepat, menggunakan bahasanya sendiri secara sederhana.

35.

Guru pembimbing menerima saya dengan tangan terbuka dan kapanpun saya mau.

36.

Disaat saya sedang kalut karena sedang dilanda masalah, guru pembimbing tidak bisa memberikan ketenangan sehingga beban saya jadi semakin berat.

No.

Pernyataan

SS

S

TS

STS

cxxxviii

37.

Guru pembimbing tidak bisa memimpin/memandu proses konseling dengan baik, sehingga membuat saya malas selama proses konseling.

38.

Selama

proses

konseling, pembicaraan

guru saya

pembimbing dengan baik,

mendengarkan

sehingga tahu permasalahan yang sedang saya alami. 39.

Selain itu guru pembimbing juga lebih banyak berbicara dari pada memberikan rangsangan supaya saya bisa bercerita dengan lengkap.

40.

Selama

proses

konseling,

guru

pembimbing

mengarahkan saya dengan baik, sehingga proses konseling berjalan dengan lancar. 41.

Guru pembimbing memberikan informasi yang sesuai dengan pemecahan bagi permasalahan yang sedang saya alami.

42.

Selama

proses

konseling,

guru

pembimbing

memusatkan perhatian pada pemikiran-pemikiran saya yang sebenarnya. 43.

Dalam proses konseling, guru pembimbing banyak memperhatikan data, informasi dan keterangan yang tidak penting dari saya.

44.

Dalam

proses

konseling,

guru

pembimbing

memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan saya yang sebenarnya.

45.

Guru pembimbing mengabaikan pemikiran, perasaan, cita-cita dan pengalamannya saya.

No. 46. Dalam proses

Pernyataan konseling, guru pembimbing

SS

S

TS

STS

memusatkan perhatian pada cita-cita saya yang sesungguhnya.

cxxxix

47.

Dalam

proses

konseling,

guru

pembimbing

memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman saya yang sesungguhnya. 48. Guru pembimbing menyimpulkan permasalahan yang sudah saya ceritakan dengan benar menggunakan bahasanya sendiri secara sederhana. 49. Guru pembimbing memberikan dorongan/motivasi kepada saya kearah terpecahkannya masalah saya. 50. Guru pembimbing mengerti dan mengetahui diri saya dengan baik dan benar. 51. Guru pembimbing menyerahkan sepenuhnya kepada saya untuk mengambil keputusan/pemecahan bagi masalah saya. 52. Guru pembimbing memaksakan saya untuk mengikuti kemauan/pilihannya. 53. Guru pembimbing menggunakan berbagai macam teknik pengubahan tingkah laku. 54. Guru pembimbing kurang terampil/kurang menguasai ketika menggunakan teknik pengubahan tingkah laku. 55. Teknik pengubahan tingkah laku yang diberikan oleh guru pembimbing pada saya sangat cocok. 56.

Guru pembimbing hanya menggunakan satu macam saja pendekatan konseling.

No. 57. Guru pembimbing

Pernyataan sangat terampil (menguasai)

SS

S

TS

STS

menggunakan beberapa pendekatan konseling. 58. Pendekatan konseling yang diberikan oleh guru pembimbing terhadap permasalahan yang sedang saya alami tidak cocok. 59.

Guru pembimbing menunjukkan sikap fleksibel (tidak kaku) dengan teknik

pengubahan tingkah laku yang dipilihnya.
60.

Guru pembimbing menunjukkan sikap yang kaku (tidak fleksibel) dengan pendekatan konseling yang dipilihnya.

61.

Guru pembimbing mempunyai sikap mawas diri/hati-

cxl

hati dalam membantu penyelesaian masalah saya. 62. Menurut saya guru pembimbing sering

berbohong/ingkar janji. 63. Menurut saya guru pembimbing mempunyai sadar diri (self control) yang bagus. 64. Saya juga merasa tidak nyaman karena perilaku guru pembimbing tidak wajar/dibuat-buat. 65. Guru pembimbing mempunyai sikap optimis dalam membantu pemecahan masalah saya, dimana saya bisa mengalami perubahan dalam diri saya kearah yang lebih baik. 66. Selama proses konseling saya merasa tidak nyaman karena guru pembimbing tidak menyenangkan.

No. 67.

Pernyataan Guru pembimbing mempunyai tanggung jawab yang besar dengan menyelesaikan masalah saya sebaikbaiknya.

SS

S

TS

STS

68.

Saya merasakan selama proses konseling, guru pembimbing memberikan pengaruh yang negatif kepada saya.

69.

Guru pembimbing bisa menyesuaikan diri dengan perbedaan budaya saya.

70.

Guru pembimbing sangat tertutup/tidak mau terbuka terhadap saya.

71.

Guru pembimbing bisa menyesuaikan diri dengan perbedaan agama saya.

72.

Ketika proses konseling, guru pembimbing canggung dengan adanya perbedaan budaya antara saya dengan guru pembimbing.

73.

Guru pembimbing bisa menyesuaikan diri dengan perbedaan jenis kelamin antara saya dan guru pembimbing.

74.

Ketika proses konseling, guru pembimbing canggung dengan adanya perbedaan agama antara saya dengan guru pembimbing.

75.

Ketika proses konseling, guru pembimbing canggung dengan adanya perbedaan jenis cxli

kelamin

antara

saya

dengan

guru

pembimbing.
76. Guru pembimbing menerima saya apa adanya (objektif). 77. Guru pembimbing pilih-pilih dalam membantu

pemecahan permasalahan siswa.

No. 78.

Pernyataan Selama proses konseling, kerjasama antara guru pembimbing dengan membantu). saya sangat bagus (saling

SS

S

TS

STS

79.

Guru pembimbing menceritakan kehidupan saya kepada orang lain tanpa seijin saya.

80.

Guru pembimbing menampakkan usaha yang sungguhsungguh untuk meyakinkan saya bahwa segala sesuatu yang dibicarakan akan dirahasiakan dan hanya milik berdua saja.

81.

Guru pembimbing menceritakan masalah saya pada orang lain tanpa seijin saya.

82.

Dalam kenyataannya, guru pembimbing benar-benar dapat menjaga kerahasiaan masalah saya (tidak ada satupun orang yang mengetahuinya selain guru pembimbing).

83.

Selama proses konseling, guru pembimbing tertib.

tidak

84.

Guru pembimbing menjelaskan kepada saya, bahwa walaupun ia siap membantu memecahkan masalah saya, ia juga memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu.

85.

Guru pembimbing sangat yakin terhadap keberhasilan alternatif bagi pemecahan masalah saya.

86.

Guru pembimbing juga menawarkan bantuan kepada ahli yang lainnya, jika seandainya ia tidak dapat membantu masalah saya.

cxlii

No. 87.

Pernyataan Dalam membantu memecahkan masalah saya, guru pembimbing menampakkan adanya sikap memaksakan diri dengan segala daya upaya sekalipun sudah tidak mampu lagi.

SS

S

TS

STS

88.

Menurut saya guru pembimbing sangat menaruh perhatian pada permasalahan yang sedang saya alami.

89.

Dalam membantu pemecahan masalah saya, guru pembimbing terlihat sangat terpaksa.

90.

Saya merasa nyaman ketika mengikuti konseling karena guru pembimbing sangat ramah.

91.

Menurut saya konselor tidak bersungguh-sungguh dalam membantu pemecahan masalah saya.

92.

Menurut saya guru pembimbing tulus memberikan konseling kepada saya.

93.

Selama proses konseling, rasa ingin tahu guru pembimbing terhadap permasalahan saya sangat kecil.

94.

Guru pembimbing sangat ulet ketika membantu pemecahan bagi masalah saya.

95.

Saya merasakan kalau guru pembimbing kurang berminat membantu pemecahan masalah saya.

96.

Guru pembimbing juga sangat teliti dalam membantu pemecahan saya.

97.

Selama mengikuti konseling saya merasa nyaman karena guru pembimbing kalem dan tenang.

No. 98.

Pernyataan Ketika proses konseling, guru pembimbing sering marah-marah.

SS

S

TS

STS

99.

Selama

proses

konseling,

guru

pembimbing

menunjukkan sikapnya yang rendah hati. 100. Saya merasa jemu konselor tidak bisa membuat proses konseling lebih kreatif/tidak monoton. 101. Guru pembimbing sangat sabar selama membantu saya menyelesaikan masalah. 102. Penampilan guru pembimbing yang kurang rapi dan bersih membuat saya merasa tidak nyaman ketika mengikuti konseling.

cxliii

103.

Saya sangat senang mengikuti konseling karena guru pembimbing humoris sehingga suasananya tidak menegangkan.

104.

Guru

pembimbing

tidak

nyambung

dengan

permasalahan yang saya ceritakan. 105. Dalam membantu pemecahan masalah saya, guru pembimbing mempunyai kecerdasan yang baik,

sehingga proses konseling berjalan dengan lancar. 106. Menurut pandangan saya, guru pembimbing tidak memiliki wawasan yang cukup luas ketika memberikan konseling kepada saya, sehingga konseling berjalan tidak lancar. 107. Selama proses konseling, guru pembimbing memegang kuat etika/norma yang ada. 108. Selama proses konseling, hubungan saya dengan guru pembimbing terjalin sangat dingin dan kaku. No. 109. Selama proses Pernyataan konseling, guru pembimbing SS S TS STS

menunjukkan sikap yang sederhana. 110. Selama proses konseling, guru pembimbing adalah figur ibu yang baik bagi saya. 111. Menurut saya, guru pembimbing turut merasakan (empati) permasalahan yang sedang saya alami. 112. Guru pembimbing cuek dengan permasalahan yang sedang alami. 113. Guru pembimbing sangat peduli dengan permasalahan yang sedang alami. 114. Saya merasa guru pembimbing tidak bisa menghargai dan mengerti saya. 115. Selama proses konseling, guru pembimbing sangat peka (sensitif) dengan perilaku dan keinginan saya. 116. 117. Guru pembimbing tidak menghormati saya. Guru pembimbing memberikan tanggapan yang positif terhadap apa yang saya kemukakan. 118. Tanggapan guru pembimbing terhadap masalah saya, selalu menyalahkan saya. 119. Guru pembimbing juga memberikan tanggapan-

tanggapan yang sesuai dengan masalah/ungkapan yang

cxliv

saya sampaikan 120. Tanggapan guru pembimbing terhadap masalah saya, selalu menyudutkan saya. 121. Selama proses konseling, pertanyaan guru pembimbing sangat relevan/sesuai dengan permasalahan saya. No. 122. Pernyataan Tanggapan guru pembimbing terhadap masalah saya selalu mengadili saya. 123. Selama proses konseling guru pembimbing sangat menguatamakan kepentingan saya 124. Selama proses konseling, guru pembimbing tidak toleransi terhadap pilihan saya pada alternatif SS S TS STS

pemecahan masalah saya. 125. Selama proses konseling perilaku guru pembimbing sangat kaku/tidak luwes.

cxlv

No. 1. Berdasarkan

Pernyataan pengalaman saya selama proses

SS

S

TS

STS

konseling, guru pembimbing bisa mengetahui gerakgerik/tingkah laku saya. 2. Guru pembimbing menyamaratakan karakter saya dengan teman-teman yang lain. 3. Perlakuan guru pembimbing kepada saya sesuai dengan karakter saya. 4. Guru pembimbing sok tahu dalam mengartikan tingkah laku dan permasalahan saya. 5. Guru pembimbing bisa menilai dengan tepat bahwa permasalahan saya termasuk dalam kategori sedang (tidak berat), sehingga bisa diselesaikan dengan baik. 6. Selama proses konseling, hubungan saya dengan guru pembimbing sangat dekat dan akrab sehingga saya merasa nyaman. 7. Selama proses konseling, guru pembimbing menjaga jarak dengan saya. 8. Selama proses konseling guru pembimbing tampak benar-benar sangat ahli (profesional). 9. Ketika proses konseling guru pembimbing tidak fokus krn sering berbicara dengan orang lain.

10.

Selama proses konseling kondisi guru pembimbing sangat prima (tidak sakit) sehingga konseling bisa berjalan dengan lancar.

No. 11.

Pernyataan Ketika proses konseling guru pembimbing juga tidak fokus krn mengerjakan pekerjaan lain.

SS

S

TS

STS

12.

Tempat/Ruang konseling sangat kondusif sehingga membuat konseling. saya merasa nyaman selama proses

13.

Ruang/lingkungan konseling acak-acakan dan rame sehingga selama proses konseling, saya tidak bisa konsentrasi.

cxlvi

14.

Guru pembimbing dan saya membuat kesepakatan pertemuan dan waktu pertemuan(sekitar 45 menit dalam sekali tatap muka) yang akan di tempuh selama proses konseling.

15.

Pertemuan konseling/sekali tatap muka sangat lama (> 1 jam) sehingga saya jadi bosan dan jemu.

16.

Guru pembimbing menjelaskan tujuan yang akan dicapai yaitu untuk membantu mengatasi/memecahkan masalah saya dengan menggunakan potensi yang saya miliki.

17.

Pertemuan konseling/sekali tatap muka sangat singkat (< 1 jam) sehingga saya tidak bisa mengungkapkan permasalahan saya dengan baik.

18.

Guru pembimbing selalu mendorong/memotivasi saya untuk menceritakan masalah saya secara bebas dan terbuka.

No. 19.

Pernyataan Setelah mengikuti proses konseling saya merasakan permasalahan saya jadi semakin ruwet.

SS

S

TS

STS

20.

Guru

pembimbing

membantu

saya

menetapkan

permasalahan inti dan permasalahan sampingan yang sedang saya hadapi. 21. Setelah mengikuti proses konseling saya menjadi semakin bingung dan pusing menghadapi

permasalahan saya. 22. Guru pembimbing membantu saya untuk menentukan orang-orang yang terlibat dalam masalah saya. 23. Langkah-langkah dalam proses konseling (dari awal hingga akhir) yang ditempuh guru pembimbing asalasalan/tidak sistematis. 24. Guru pembimbing membantu saya menetapkan

penyebab permasalahan yang sedang saya alami. 25. Saya tidak puas dengan proses konseling yang sudah diberikan oleh guru pembimbing, karena permasalahan saya tidak terselesaikan dengan baik.

cxlvii

26.

Guru pembimbing dan saya menyusun rencana alternatif-alternatif pemecahan masalah yang sedang saya hadapi

27.

Selama proses konseling, guru pembimbing tiada hentihentinya memberikan nasehat.

No. 28.

Pernyataan Guru pembimbing dan saya juga menyusun beberapa konsekwensi/resiko yang akan dihadapi dari beberapa alternatif bagi pemecahan masalah saya.

SS

S

TS

STS

29.

Guru pembimbing tidak membantu saya, ketika saya akan memilih dan melaksanakan rencana alternatifalternatif pemecahan permasalahan yang sudah saya sepakati.

30.

Guru

pembimbing

memotivasi

saya

untuk

mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan kemampuan saya. 31. Guru pembimbing tidak memantau

perkembangan/perubahan tingkah laku saya dengan cermat. 32. Guru pembimbing juga menindak-lanjuti

perkembangan/perubahan yang terjadi pada saya. 33. Selama proses konseling suara guru pembimbing sangat teratur sehingga enak didengar dan mudah dipahami. 34. Posisi badan/bahasa tubuh guru pembimbing

seenaknya sendiri sehingga saya tidak kerasan. 35. Guru pembimbing mengatur jarak duduk dengan saya, sehingga selama proses konseling saya merasa nyaman. 36. Guru pembimbing tidak memperhatikan saya, dimana guru pembimbing sering melihat kesana-kemari (tidak mengadakan kontak mata dengan saya). No. 37. Pernyataan Ketika proses konseling, guru pembimbing terlihat sangat santai (tidak cemas). 38. Guru pembimbing melontarkan beberapa pertanyaan untuk merangsang berfikir saya. SS S TS STS

cxlviii

39.

Guru pembimbing tidak bisa membantu menguraikan masalah saya dengan memberikan contoh perilakuperilaku khusus.

40.

Guru pembimbing bisa mengulang suatu kata dari saya dengan tepat, menggunakan bahasanya sendiri secara sederhana.

41.

Guru

pembimbing

membantu

saya

memahami

perasaan-perasaan pada diri saya sendiri. 42. Guru pembimbing membantu saya untuk menjelaskan perasaan-perasaan yang ada pada diri saya. 43. Guru pembimbing membantu saya mempertegas kejelasan antara kata dan tingkah laku saya yang tidak sesuai. 44.

Guru pembimbing meringkas permasalahan yang sudah saya ceritakan dengan tepat, menggunakan bahasanya sendiri secara sederhana.

45.

Guru pembimbing menafsirkan permasalahan yang sedang saya alami dengan tepat, menggunakan bahasanya sendiri secara sederhana.

46.

Guru pembimbing menerima saya dengan tangan terbuka dan kapanpun saya mau.

No. 47.

Pernyataan

SS

S

TS

STS

Disaat saya sedang kalut karena sedang dilanda masalah, guru pembimbing tidak bisa memberikan ketenangan sehingga beban saya jadi semakin berat.

48.

Guru pembimbing tidak bisa memimpin/memandu proses konseling dengan baik, sehingga membuat saya malas selama proses konseling.

49.

Selama

proses

konseling, pembicaraan

guru saya

pembimbing dengan baik,

mendengarkan

sehingga tahu permasalahan yang sedang saya alami. 50.

Selain itu guru pembimbing juga lebih cxlix

banyak berbicara dari pada memberikan rangsangan supaya saya bisa bercerita dengan lengkap.
51. Selama proses konseling, guru pembimbing mengarahkan saya dengan baik, sehingga proses konseling berjalan dengan lancar. 52.

Guru pembimbing memberikan informasi yang sesuai dengan pemecahan bagi permasalahan yang sedang saya alami.

53.

Selama

proses

konseling,

guru

pembimbing

memusatkan perhatian pada pemikiran-pemikiran saya yang sebenarnya.

54.

Dalam

proses

konseling,

guru

pembimbing

memusatkan perhatian pada pemikiran-pemikiran, perasaan, cita-cita dan pengalamannya sendiri.

No. 55. Dalam proses

Pernyataan konseling, guru pembimbing

SS

S

TS

STS

memusatkan perhatian pada perasaan-perasaan saya yang sebenarnya. 56.

Dalam proses konseling, guru pembimbing banyak memperhatikan data, informasi dan keterangan yang tidak penting dari saya.

57.

Dalam

proses

konseling,

guru

pembimbing

memusatkan perhatian pada cita-cita saya yang sesungguhnya. 58. Guru pembimbing mengabaikan pemikiran, perasaan, cita-cita dan pengalamannya saya. 59. Dalam proses konseling, guru pembimbing

memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman saya yang sesungguhnya. 60. Guru pembimbing menyimpulkan permasalahan yang sudah saya ceritakan dengan benar menggunakan

cl

bahasanya sendiri secara sederhana. 61. Guru pembimbing memberikan dorongan/motivasi kepada saya kearah terpecahkannya masalah saya. 62. Guru pembimbing mengerti dan mengetahui diri saya dengan baik dan benar. 63. Guru pembimbing menyerahkan sepenuhnya kepada saya untuk mengambil keputusan/pemecahan bagi masalah saya. 64. Guru pembimbing memaksakan saya untuk mengikuti kemauan/pilihannya. 65. Guru pembimbing menggunakan berbagai macam teknik pengubahan tingkah laku. No. 66. Pernyataan Guru pembimbing kurang terampil/kurang menguasai ketika menggunakan teknik pengubahan tingkah laku. 67. Teknik pengubahan tingkah laku yang diberikan oleh guru pembimbing pada saya sangat cocok. 68. SS S TS STS

Guru pembimbing hanya menggunakan satu macam saja pendekatan konseling.

69.

Guru

pembimbing

sangat

terampil

(menguasai)

menggunakan beberapa pendekatan konseling. 70. Pendekatan konseling yang diberikan oleh guru pembimbing terhadap permasalahan yang sedang saya alami tidak cocok. 71.

Guru pembimbing menunjukkan sikap fleksibel (tidak kaku) dengan teknik

pengubahan tingkah laku yang dipilihnya.
72.

Guru pembimbing menunjukkan sikap yang kaku (tidak fleksibel) dengan pendekatan konseling yang dipilihnya.

73.

Guru pembimbing mempunyai sikap mawas diri/hatihati dalam membantu penyelesaian masalah saya.

74.

Menurut

saya

guru

pembimbing

sering

berbohong/ingkar janji. 75. Menurut saya guru pembimbing mempunyai sadar diri (self control) yang bagus.

cli

76.

Saya juga merasa tidak nyaman karena perilaku guru pembimbing tidak wajar/dibuat-buat.

No. 77.

Pernyataan Guru pembimbing mempunyai sikap optimis dalam membantu pemecahan masalah saya, dimana saya bisa mengalami perubahan dalam diri saya kearah yang lebih baik.

SS

S

TS

STS

78.

Selama proses konseling saya merasa tidak nyaman karena guru pembimbing tidak menyenangkan.

79.

Guru pembimbing mempunyai tanggung jawab yang besar dengan menyelesaikan masalah saya sebaikbaiknya.

80.

Saya merasakan selama proses konseling, guru pembimbing memberikan pengaruh yang negatif kepada saya.

81.

Guru pembimbing bisa menyesuaikan diri dengan perbedaan budaya saya.

82.

Guru pembimbing sangat tertutup/tidak mau terbuka terhadap saya.

83.

Guru pembimbing bisa menyesuaikan diri dengan perbedaan agama saya.

84.

Ketika proses konseling, guru pembimbing canggung dengan adanya perbedaan budaya antara saya dengan guru pembimbing.

85.

Guru pembimbing bisa menyesuaikan diri dengan perbedaan jenis kelamin antara saya dan guru pembimbing.

86.

Ketika proses konseling, guru pembimbing canggung dengan adanya perbedaan agama antara saya dengan guru pembimbing.

No. 87.

Pernyataan

SS

S

TS

STS

Ketika proses konseling, guru pembimbing canggung dengan adanya perbedaan jenis kelamin antara saya dengan guru

pembimbing.

clii

88.

Guru

pembimbing

menerima

saya

apa

adanya

(objektif). 89. Guru pembimbing pilih-pilih dalam membantu

pemecahan permasalahan siswa. 90. Selama proses konseling, kerjasama antara guru pembimbing dengan membantu). 91. saya sangat bagus (saling

Guru pembimbing menceritakan kehidupan saya kepada orang lain tanpa seijin saya.

92.

Guru pembimbing menampakkan usaha yang sungguhsungguh untuk meyakinkan saya bahwa segala sesuatu yang dibicarakan akan dirahasiakan dan hanya milik berdua saja.

93.

Guru pembimbing menceritakan masalah saya pada orang lain tanpa seijin saya.

94.

Dalam kenyataannya, guru pembimbing benar-benar dapat menjaga kerahasiaan masalah saya (tidak ada satupun orang yang mengetahuinya selain guru pembimbing).

95.

Selama proses konseling, guru pembimbing tertib.

tidak

96.

Guru pembimbing menjelaskan kepada saya, bahwa walaupun ia siap membantu memecahkan masalah saya, ia juga memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu.

No. 97.

Pernyataan Guru pembimbing sangat yakin terhadap keberhasilan alternatif bagi pemecahan masalah saya.

SS

S

TS

STS

98.

Guru pembimbing menawarkan bantuan dari guru pembimbing yang lainnya, jika seandainya nanti ia tidak dapat membantu masalah saya.

99.

Dalam membantu memecahkan masalah saya, guru pembimbing menampakkan adanya sikap memaksakan diri dengan segala daya upaya sekalipun sudah tidak mampu lagi.

cliii

100.

Guru pembimbing juga menawarkan bantuan kepada ahli yang lainnya, jika seandainya ia tidak dapat membantu masalah saya.

101.

Menurut saya guru pembimbing sangat menaruh perhatian pada permasalahan yang sedang saya alami.

102.

Dalam membantu pemecahan masalah saya, guru pembimbing terlihat sangat terpaksa.

103.

Saya merasa nyaman ketika mengikuti konseling karena guru pembimbing sangat ramah.

104.

Menurut saya konselor tidak bersungguh-sungguh dalam membantu pemecahan masalah saya.

105.

Menurut saya guru pembimbing tulus memberikan konseling kepada saya.

106.

Selama proses konseling, rasa ingin tahu guru pembimbing terhadap permasalahan saya sangat kecil.

No. 107.

Pernyataan Guru pembimbing sangat ulet ketika membantu pemecahan bagi masalah saya.

SS

S

TS

STS

108.

Saya merasakan kalau guru pembimbing kurang berminat membantu pemecahan masalah saya.

109.

Guru pembimbing juga sangat teliti dalam membantu pemecahan saya.

110.

Selama mengikuti konseling saya merasa nyaman karena guru pembimbing kalem dan tenang.

111.

Ketika proses konseling, guru pembimbing sering marah-marah.

112.

Selama

proses

konseling,

guru

pembimbing

menunjukkan sikapnya yang rendah hati. 113. Saya merasa jemu konselor tidak bisa membuat proses konseling lebih kreatif/tidak monoton. 114. Guru pembimbing sangat sabar selama membantu saya menyelesaikan masalah. 115. Penampilan guru pembimbing yang kurang rapi dan bersih membuat saya merasa tidak nyaman ketika mengikuti konseling.

116.

Saya sangat senang mengikuti konseling karena guru pembimbing humoris sehingga suasananya tidak

cliv

menegangkan.

117.

Guru

pembimbing

tidak

nyambung

dengan

permasalahan yang saya ceritakan.

No. 118.

Pernyataan Dalam membantu pemecahan masalah saya, guru pembimbing mempunyai kecerdasan yang baik,

SS

S

TS

STS

sehingga proses konseling berjalan dengan lancar. 119. Selama proses konseling, guru pembimbing mudah terbawa/tenggelam dengan perasaan dan masalah saya. 120. Selama proses konseling, guru pembimbing memegang kuat etika/norma yang ada. 121. Menurut pandangan saya, guru pembimbing tidak memiliki wawasan yang cukup luas ketika memberikan konseling kepada saya, sehingga konseling berjalan tidak lancar. 122. Selama proses konseling, guru pembimbing

menunjukkan sikap yang sederhana. 123. Selama proses konseling, hubungan saya dengan guru pembimbing terjalin sangat dingin dan kaku. 124. Selama proses konseling, guru pembimbing adalah figur ibu yang baik bagi saya. 125. Menurut saya, guru pembimbing turut merasakan (empati) permasalahan yang sedang saya alami. 126. Guru pembimbing cuek dengan permasalahan yang sedang alami. 127. Guru pembimbing sangat peduli dengan permasalahan yang sedang alami. 128. Saya merasa guru pembimbing tidak bisa menghargai dan mengerti saya.

No. 129.

Pernyataan Selama proses konseling, guru pembimbing sangat peka (sensitif) dengan perilaku dan keinginan saya.

SS

S

TS

STS

130. 131.

Guru pembimbing tidak menghormati saya. Guru pembimbing memberikan tanggapan yang positif terhadap apa yang saya kemukakan.

clv

132.

Tanggapan guru pembimbing terhadap masalah saya, selalu menyalahkan saya.

133.

Guru

pembimbing

juga

memberikan

tanggapan-

tanggapan yang sesuai dengan masalah/ungkapan yang saya sampaikan 134. Tanggapan guru pembimbing terhadap masalah saya, selalu menyudutkan saya. 135. Selama proses konseling, pertanyaan guru pembimbing sangat relevan/sesuai dengan permasalahan saya. 136. Tanggapan guru pembimbing terhadap masalah saya selalu mengadili saya. 137. Selama proses konseling guru pembimbing sangat menguatamakan kepentingan saya 138. Selama proses konseling, guru pembimbing tidak toleransi terhadap pilihan saya pada alternatif

pemecahan masalah saya. 139. Selama proses konseling perilaku guru pembimbing sangat kaku/tidak luwes.

clvi

Variabel

Tabel Kisi-Kisi Instrumen Keefektifan Konselor Dalam Melaksanakan Konseling Individual Sub Variabel Indikator No. Item + −

Jumlah
+ − Total

Keefektifan Konselor dalam melaksanakan Konseling Individual

A. Keterampila a. Paham sifat-sifat klien n Konselor
b. Menilai situasi c. Rapport d. Proses konseling a. Profesional b. Siap fisik dan psikis konselor c. Tempat/ lingkungan d. Paham waktu e. Paham tujuan f. Pendekatan masalah g. Pengungkapan masalah h. Diagnosa i. Prognosa j. Treatment k. Evaluasi dan tindak lanjut e. Attending f. Mengundang pembicaraan terbuka Indikator

1,3

2

2

1

3

4 5 7,9,11,13,15,17,19,

6 8,10,12,14,16,18, 20,21,22

1 1 7

1 9

1 2 16

23,25 27

24,26 28

2 1

2 1

4 2

Variabel

Sub Variabel

No. Item + −

Jumlah
+ − Total

ii

g. Paraprase h. Identifikasi perasaan i. j. Refleksi perasaan Konfrontasi

29 30 31 32 33 34 35 -

36 37

1 1 1 1 1 1 1 -

1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1

k. Meringkaskan l. Menafsirkan

m. Penerimaan n. Memberi ketenangan o. Memimpin secara umum p. Mendengarkan q. Mengarahkan r. Memberi informasi

38 40 41 42,44,46,47

39 43,45

1 1 1 4

1 2

2 1 1 6

s. Menghayati pikiran, perasaan dan citacita klien t. Menyimpulkan

48

-

1

-

1

Variabel

Sub Variabel

Indikator

No. Item

Jumlah

iii

+ u. Memberi dorongan v. menggunakan alat/ teknik pengumpulan data w. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan x. Menggunakan teknik pengubahan tingkah laku y. Menggunakan berbagai pendekatan konseling 49 50 -

+ 1 1

− -

Total 1 1

51

52

1

1

2

53,55

54,56

2

2

4

57,59

58,60

2

2

4

B. Kepribadian 1. Kepribadian matang dan penyesuaian diri Konselor
a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Mawas diri Self control Optimis Tanggung jawab Jujur Apa adanya Menyenangkan Pengaruh positif Terbuka Fleksibel/ menyesuaikan

61,63,65,67,69,71,73

62,64,66,68,70, 72,74,75

7

8

15

iv

Variabel

Sub Variabel

Indikator + 2. Pemahaman terhadap orang lain 3. Mengadakan hub. dan kerjasama 4. Batas kemampuan 5. Perhatian dan minat pada masalah klien 6. Kedewsaan pribadi, mental, sosial, dan fisik a. Kalem/tenang b. Rendah hati c. Sabar d. Humoris e. Cerdas f. Kuat etika g. Wawasan luas h. Sederhana i. Hangat j. Figur ibu 7. Peka terhadap berbagai sikap dan reaksi 8. Respek terhadap orang lain 9. Kemampuan komunikasi 10. Tidak mementingkan diri sendiri 76 78,80,82 84,86 88,90,92,94,96

No. Item − 77 79,81,83 85,87 89,91,93,95 98,100,102,104, 106,108 + 1 3 2 5 8

Jumlah − 1 3 2 4 6 Total 2 6 4 9 14

97,99,101,103,105, 107,109,110

111

112

1

1

2

113,115 117,119,121 123

114,116 118,120,122 124,125

2 4 1

2 2 2

4 6 3

v

J

u

m

l

a

h

74

51

125

Tabel Identitas Klien Yang Dibimbing
No. Nama Klien Jenis Kelamin: L/P Kelas: I/II/III (IPA, IPS, BAHASA) Jumlah pertemuan dalam penanganan masalah untuk setiap klien: 2 kali/3 kali/4 kali Jenis masalah yang dikonsultasikan: Pribadi/Sosial,/ Belajar/karier Prosedur konsultasi: Datang sendiri,/ Dipanggil Guru BK/ Disuruh guru mata pelajaran dan wali kelas 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

vi

Variabel

Tabel Kisi-Kisi Instrumen Keefektifan Konselor Dalam Melaksanakan Konseling Individual Sub Variabel Indikator No. Item + −

Jumlah
+ − Total

vii

Keefektifan Konselor dalam melaksanakan Konseling Individual

A. Keterampila 1. Paham sifat-sifat klien n Konselor
2. Menilai situasi 3. Rapport 4. Proses konseling a. Profesional b. Siap fisik dan psikis konselor c. Tempat/ lingkungan d. Paham waktu e. Paham tujuan f. Pendekatan masalah g. Pengungkapan masalah h. Diagnosa i. Prognosa j. Treatment k. Evaluasi dan tindak lanjut 5. Attending 6. Mengundang pembicaraan terbuka Indikator

1,3

2,4

2

2

4

5 6 8,10,12,14,16,18, 20,22,24,26,28, 30,32,

7 9,11,13,15,17,19, 21 23,25,27,29,31

1 1 13

1 12

1 2 25

33,35,37 38

34,36 39 No. Item + −

3 1

2 1

5 2

Variabel

Sub Variabel

Jumlah
+ − Total

viii

7. Paraprase 8. Identifikasi perasaan 9. Refleksi perasaan 10. Konfrontasi 11. Meringkaskan 12. Menafsirkan 13. Penerimaan 14. Memberi ketenangan 15. Memimpin secara umum 16. Mendengarkan 17. Mengarahkan 18. Memberi informasi 19. Menghayati pikiran, perasaan dan citacita klien 20. Menyimpulkan

40 41 42 43 44 45 46 -

47 48

1 1 1 1 1 1 1 -

1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1

49 51 52 53,55,57,59

50 54,56,58

1 1 1 4

1 3

2 1 1 7

60

-

1

-

1

Variabel

Sub Variabel

Indikator

No. Item

Jumlah

ix

+ 21. Memberi dorongan 22. menggunakan alat/ teknik pengumpulan data 23. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan 24. Menggunakan teknik pengubahan tingkah laku 25. Menggunakan berbagai pendekatan konseling 61 62 -

+ 1 1

− -

Total 1 1

63

64

1

1

2

65,67

66,68

2

2

4

69,71

70,72

2

2

4

B. Kepribadian 1. Kepribadian matang dan penyesuaian diri Konselor
a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Mawas diri Self control Optimis Tanggung jawab Jujur Apa adanya Menyenangkan Pengaruh positif Terbuka Fleksibel/ menyesuaikan

73,75,77,79,81,83,85

74,76,78,80,82, 84,86,87

7

8

15

x

Variabel

Sub Variabel

Indikator + 2. Pemahaman terhadap orang lain 3. Mengadakan hub. dan kerjasama 4. Batas kemampuan 5. Perhatian dan minat pada masalah klien 6. Kedewsaan pribadi, mental, sosial, dan fisik a. Kalem/tenang b. Rendah hati c. Sabar d. Humoris e. Cerdas f. Kuat etika g. Wawasan luas h. Sederhana i. Hangat j. Figur ibu 7. Peka terhadap berbagai sikap dan reaksi 8. Respek terhadap orang lain 9. Kemampuan komunikasi 10. Tidak mementingkan diri sendiri 88 90,92,94

No. Item − 89 91,93,95 97,99 102,104,106,108 111,113,115,117, 119,121,123 + 1 3 3 5 8

Jumlah − 1 3 2 4 7 Total 2 6 5 9 15

96,98,100 101,103,105,107,109 110,112,114,116,118, 120,122,124

125

126

1

1

2

127,129 131,133,135 137

128,130 132,134,136 138,139

2 3 1

2 3 2

4 6 3

xi

J

u

m

l

a

h

77

62

139

xii

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->