P. 1
Bse Sejarah XI-Bhs

Bse Sejarah XI-Bhs

|Views: 20,760|Likes:
Published by hernijuwita

More info:

Published by: hernijuwita on Oct 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2013

pdf

text

original

Nilai-Nilai peninggalan Hindu–Buddha dan Islam yang tampak dalam

kehidupan masyarakat, antara lain sebagai berikut.

1.Stuktur Sosial

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh agama

dan kebudayaan Hindu–Buddha dari India. Budaya Hindu, India mengenal

sistem kasta dalam struktur sosialnya. Hal ini berpengaruh juga terhadap struktur

sosial masyarakat Indonesia. Pada masa perkembangan kebudayaan Hindu-

Buddha, masyarakat Indonesia juga terbagi dalam beberapa kasta berdasarkan

status sosial mereka. Raja dan bangsawan menduduki status sosial tinggi, juga

kaum pendeta. Pedagang, petani menduduki tingkat status sosial rendah. Kalau

di Indonesia sistem kastanya berdasarkan status sosial, di Indiea sistem kastanya

didasarkan atas keturunan.

Setelah masuknya agama dan kebudayaan Islam, lambat laun sistem kasta

mulai hilang. Hal ini disebabkan dalam ajaran Islam semua manusia memiliki

kedudukan yang sama di hadapan Tuhannya. Meskipun dalam struktur

pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam masih terdapat sistem penggolongan

status, antara lain golongan raja dan bangsawan, golongan elit, dan golongan

nonelit, serta golongan budak.

2.Pengetahuan Sistem Arah Angin

Sejak abad ke-7 agama dan kebudayaan Islam masuk di wilayah Indonesia.

Agama Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan yang dilakukan

oleh pedagang dari Gujarat (India). Pelayaran pada saat itu sangat dipengaruhi

oleh arah angin. Mereka telah memanfaatkan angin muson barat untuk berlayar

ke wilayah timur dan memanfaatkan angin muson timur untuk berlayar ke arah

barat. Angin muson tersebut berganti arah setiap setengah tahun sekali. Oleh

Sejarah SMA/MA Kelas XI Program Bahasa

94

karena itu, sambil menunggu arah angin yang tepat dan sesuai dengan tujuan,

mereka tinggal beberapa saat di suatu wilayah di Nusantara. Ramainya

perdagangan di wilayah Nusantara menjadikan kota-kota pelabuhan berkembang

di sepanjang pantai sebagai jalur perdagangan di Indonesia.

3.Perdagangan dan Pelayaran

Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan yang jumlahnya sangat

banyak. Antara pulau satu dan lainnya dipisahkan oleh laut dan selat yang pada

umumnya tidak begitu dalam. Bangsa Indonesia sejak dahulu terkenal sebagai

pelaut ulung. Pelayaran bangsa Indonesia telah dibuktikan sejak zaman Prasejarah,

yaitu sejak terjadi perpindahan penduduk dari daerah Yunan atau daerah sekitar

Teluk Tonkin menyebar ke daerah pulau-pulau di sebelah selatan daratan Asia

sekitar tahun 2000–300 SM. Dengan menggunakan perahu bercadik, mereka

mampu mengarungi perairan laut yang sangat luas hingga sampai ke wilayah

Indonesia. Mereka itulah yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia. Bahkan,

mereka juga berlayar sampai ke Pulau Madagaskar, sebelah timur Afrika.

Di wilayah Nusantara yang sangat luas terdapat perbedaan iklim. Wilayah

Indonesia bagian barat lebih banyak turun hujan, sedangkan di bagian timur

agak kering. Perbedaan iklim di berbagai wilayah tersebut mengakibatkan

perbedaan hasil kekayaan alam. Karena perbedaan itu, sejak dahulu di wilayah

Indonesia telah berkembang pelayaran dan perdagangan antarpulau dan

antardaerah. Perdagangan dan pelayaran antarpulau dan antardaerah makin

berkembang setelah di Indonesia berdiri kerajaan kuno sekitar abad ke-5, lebih-

lebih pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7.

Pada saat para pedagang Islam singgah di kota-kota pelabuhan, terjadi

interaksi dengan penduduk setempat. Pedagang Islam tersebut, selain berdagang

juga menyiarkan agama Islam. Hal itu menyebabkan penduduk setempat

terpengaruh oleh ajaran dan kebudayaan Islam. Dari daerah sekitar pelabuhan

perdagangan, agama Islam menyebar ke daerah pedalaman. Masuk dan

berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia berpengaruh besar

terhadap kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Indonesia.

Ajaran Islam menganjurkan setiap muslim untuk tolong-menolong, hormat-

menghormati, tidak saling menyakiti, dan tidak saling menyerang. Islam

menjunjung tinggi semangat persatuan dan persaudaraan. Melalui ajaran Islam

tertanam perasaan senasib dan sepenanggungan, setanah air, sebangsa, dan

seagama. Islam juga tidak mengenal diskriminasi dalam segala bentuk sehingga

memungkinkan terjadinya integrasi masyarakat Indonesia. Di samping itu, Islam

juga membenci adanya praktik imperialisme dan kolonialisme. Semangat

persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam menjadi modal dasar dalam

proses integrasi masyarakat Indonesia pada masa selanjutnya.

Pada masa perkembangan Islam di Indonesia abad ke-15 dan ke-16, para

pedagang Islam mempunyai peranan yang besar dalam kegiatan perdagangan

dan pelayaran antarpulau di wilayah Indonesia. Para pedagang Islam telah

Perkembangan Kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam di Nusantara

95

melakukan hubungan perdagangan dan pelayaran di sepanjang jalur

perdagangan dan pelayaran dari Selat Malaka sampai ke Maluku. Selain

berdagang, mereka juga aktif menyebarkan agama Islam di daerah-daerah

pelabuhan yang disinggahi sehingga Islam segera menyebar ke seluruh wilayah

Indonesia. Ramainya perdagangan dan pelayaran antarpulau di wilayah

Indonesia yang banyak dilakukan oleh pedagang Islam mendorong tumbuhnya

kota-kota pelabuhan di sepanjang jalur pelayaran dari Selat Malaka sampai

Maluku. Pelabuhan tersebut, antara lain Pasai, Pedir, Malaka, Jambi, Palembang,

Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya,

Banjarmasin, Gowa (Makassar), Ternate, dan Tidore.

4.Bahasa

Bahasa yang digunakan di Nusantara pada masa sebelum dan sesudah

kedatangan penyebaran Islam bermacam-macam. Di Pulau Jawa bahasa yang

digunakan adalah bahasa Jawa Kuno dan Sunda Kuno. Di daerah Sumatra dan

Semenanjung Melayu digunakan bahasa Melayu. Di samping itu, masih banyak

bahasa daerah lain yang digunakan, misalnya bahasa Batak, Nias, Kubu, Padang,

dan Minangkabau. Di Kalimantan terdapat bahasa Banjar, Melayu, dan Dayak.

Di Sulawesi terdapat bahasa Bugis dan Makassar. Di Kepulauan Maluku juga

terdapat banyak sekali bahasa daerah. Banyaknya bahasa daerah sering

menimbulkan kesulitan dalam menjalin komunikasi. Antonio Galvao yang

menjadi Gubernur Portugis di Maluku pada pertengahan abad ke-16

menceritakan bahwa di daerah Maluku masyarakat yang bertetangga jarang sekali

berkomunikasi. Hal itu disebabkan di antara mereka berbeda bahasa. Di samping

itu, raja-raja, para bangsawan, dan kerabat keraton mempunyai gaya bicara

yang tidak dimengerti oleh orang lain.

Sebelum kedatangan Islam, bahasa Sanskerta yang berasal dari India juga

digunakan oleh golongan kecil kaum Brahmana dan raja-raja dalam menulis

prasasti. Namun, sejak kedatangan Islam bahasa Sanskerta sudah tidak digunakan

lagi.

Penggunaan bahasa Melayu telah diketahui sejak zaman Sriwijaya dalam

prasastinya. Bahasa Melayu makin lama makin berkembang dan tersebar ke

beberapa daerah pesisir Kepulauan Indonesia. Penyebaran bahasa Melayu

disebabkan hubungan lalu lintas perdagangan dan pelayaran yang ramai pada

saat itu. Sebelum itu mereka menggunakan bahasa daerah yang mereka miliki.

Bahasa Melayu banyak digunakan oleh para pedagang dari berbagai daerah

sehingga mempermudah komunikasi antarsesama pedagang dari berbagai

daerah.

Ramainya perdagangan di sekitar Selat Malaka yang merupakan pusat

kebudayaan dan bahasa Melayu mempercepat proses penyebaran bahasa Melayu

ke berbagai penjuru Tanah Air. Pusat perdagangan yang terletak di daerah

pesisir mulai mengenal bahasa Melayu, bahkan makin meluas ke daerah

pedalaman. Akibatnya, bahasa Melayu menjadi alat komunikasi antarsuku

Sejarah SMA/MA Kelas XI Program Bahasa

96

Proaktif

Kecakapan Sosial

bangsa. Bahasa Melayu makin meluas penggunaannya sebagai alat komunikasi

antarkerajaan di Indonesia. Melalui perdagangan itulah, bahasa Melayu yang

sekarang kita kenal sebagai bahasa Indonesia meluas menjadi bahasa umum

yang dipakai sebagai bahasa pergaulan (lingua franca).

Bangsa Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa

pergaulan mulai menyadari bahwa mereka dahulu berasal dari satu nenek

moyang. Nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa Austronesia.

Kebudayaan yang dibawa bangsa Austronesia ke Indonesia dinamakan

kebudayaan Indonesia yang menjadi dasar perkembangan kebudayaan

selanjutnya sampai dewasa ini.

Buatlah kelompok belajar yang terdiri dari 4 orang (usahakan berlainan

jenis kelamin dan berlainan agama). Kemudian simaklah bersama-sama

informasi di bawah ini!

Ibadah puasa

Ibadah puasa adalah ibadah yang wajib dilaksanakan bagi setiap

muslim. Ibadah puasa dilaksanakan selama satu bulan dalam bulan

Ramadhan. Hal-hal yang membatalkan ibadah puasa diantaranya :

a.Makan dan minum dengan sengaja sejak terbit fajar sampai terbenam

matahari.

b.Haid dan nifas bagi wanita.

c.Hubungan suami istri.

Untuk menghormati pemeluk agama Islam yang melaksanakan ibadah

puasa, pemerintah daerah menutup tempat-tempat maksiat (PSK).

Dari informasi diatas, diskusikan dengan teman sekelompok Anda dan

hasilnya dikumpulkan kepada Bapak /ibu guru Anda!

Bagaimana pendapat Anda tentang kebijakan pemerintah tersebut!

Diskusikan dengan teman Anda yang berbeda jenis kelamin dan berbeda

agama!

Indonesia mengakui secara sah agama Islam, Kristen Protestan, Kristen

Katolik, Hindu dan Buddha.

Bagaimana upaya Anda untuk menghormati teman Anda/tetangga

Anda yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan?

Perkembangan Kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam di Nusantara

97

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->