P. 1
Pengaruh Saluran Distribusi Terhadap Volume Penjualan Pocari Sweat Pada UD Borobudur Jombang

Pengaruh Saluran Distribusi Terhadap Volume Penjualan Pocari Sweat Pada UD Borobudur Jombang

|Views: 19,460|Likes:
Published by amir arif
IRKHAM
IRKHAM

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: amir arif on Oct 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2014

Bentuk saluran distribusi merupakan jalur yang dilalui oleh

perpindahan hak milik atas barang yang dipasarkan untuk sampai ke

tangan konsumen dengan melalui beberapa perantara. Beberapa produsen

melakukan penyaluran sendiri secara langsung kepada pemakai akhir,

tetapi dengan cara tersebut tingkat efisien akan relatif lebih kecil

dibandingkan dengan menggunakan perantara. Penggunaan atau

pemanfaatan penyalur atau perantara untuk suatu perusahaan harus dapat

ditentukan dengan tepat, karena penyalur yang sesuai untuk suatu

perusahaan akan membawa suatu dampak yang sangat besar bagi

perusahaan itu sendiri. Demikian pula apabila perantara atau penyalur

yang dipergunakan tidak sesuai dengan perusahaan yang ada akan

membawa dampak yang buruk bagi perusahaaan itu sendiri baik secara

langsung.

Dengan menggunakan perantara, Perusahaan dapat mengurangi

biaya pemasaran dan dana tersebut dapat dipergunakan dalam memasarkan

hasil produksinya. Beberapa ahli mengemukaan teori pada dasarnya

mempunyai prinsip yang sama, seperti halnya teori yang dikemukakan

oleh Basu swastha Dh.

a. Bentuk saluran distribusi barang konsumsi menurut Basu swastha Dh

(1999:90-93), yaitu :

1) Produsen → Konsumen

Ini merupakan saluran distribusi yang paling pendek dan paling

sederhana untuk barang-barang konsumsi. Sering juga disebut

saluran langsung karena tidak melibatkan pedagang besar.

2) Produsen → Pengecer → Konsumen

Dalam saluran ini, beberapa pengecer besar membeli secara

langsung dari produsen. Ada juga beberapa produsen yang

mendirikan toko pengecer untuk melayani penjualan langsung

pada konsumennya, tetapi kondisi saluran semacam ini tidak

umum di pakai.

3) Produsen → Pedagang besar → Pengecer → Konsumen

Saluaran ini di sebut juga saluran tradisional, dan banyak

digunakan oleh produsen. Di sini, produsen hanya melayani

penjualan dalam jumlah besar.

4) Produsen → Agen → Pengecer → Konsumen

Selain menggunakan pedagang besar, produsen dapat pula

menggunakan agen pabrik,makelar, atau perantara agen lainnya

untuk mencapai pengecer, terutama pengecer besar.

5) Produsen → Agen → Pedagang besar → Pengecer → Konsumen

Saluran distribusi ini, produsen sering menggunakan agen sebagai

perantara untuk menyalurkan barangnya kepada pedagang besar,

yang kemudian menjualnya kepada toko-toko kecil. Agen yang

terlibat dalam saluran distribusi ini terutama agen penjualan.

Bagan 1

Sumber : Basu Swastha, Saluran Pemasaran, 1999,90

Produsen

Produsen

Produsen

Produsen

Produsen

Agen

Agen

Perdagang
Besar

Perdagang
Besar

Pengecer

Pengecer

Pengecer

Pengecer

Konsumen Konsumen

Konsumen

Konsumen

Konsumen

b. Bentuk saluran distribusi barang industri menurut Basu swastha Dh

(1999:91-93), yaitu :

1. Produsen → Pemakai industri

Saluran distribusi dari produksi ke pamakai industri ini merupakan

saluran yang paling pendek dan disebut sebagai saluran distribusi

langsung. Biasanya saluran distribusi langsung ini dipakai oleh

produsen bilamana transaksi penjualan kepada pemakai industri

relatif cukup besar.

2. Produsen → Distributor → Pemakai industri

Produsen barang-barng jenis perlengkapan operasi dana dan

accesory equipment kecil dapat menggunakan distribusi industri

untuk mencapai pasarannya. Produsen lain yang dapat

menggunakan distributor industri sebagai penyalurnya antara lain

produsen bahan bangunan, produsen alat-alat pembagunan dan

sebagainya

3. Produsen → Agen → Pemakai industri

Biasanya saluran distribusi semacam ini dipakai oleh produsen

yang tidak memiliki departemen pemasaran. Juga perusahaan yang

ingin memperkenlkan barang baru atau ingin memasuki daerah

pemasaran baru, lebih suka menggunakan agen.

4. Produsen → Agen → Distributor industri → Pemakai industri

Saluran distribusi semacam ini dapat dipakai oleh perusahaan

dengan pertimbangan antara lain bahwa unit penjualannya terlalu

kecil untuk di jual secara langsung, atau mungkin memerlukan

penyimpanan pada penyalur.

Bagan 2

Sumber : Basu Swastha, Saluran Pemasaran, 1999,92

Berdasarkan jumlah tingkat intermediari dapat dibedakan beberapa

jenis saluran distribusi, seperti yang dikemukan oleh Gito sudarmo indriyo

(2000:254-255) sebagai berikut :

a. Ditribusi Intensif.

Dutribusi intensif merupakan cara distribuisi di mana barang yang

dipasarkan itu di usahakan agar dapat menyebar seluas mngkin

sehingga dapat secara intensif menjangkau semua lokasi di mana calon

konsumen berada, dalam hal barang konsumsi maka lokasi konsumen

Produsen

Produsen

Produsen

Produsen

Agen

Agen

Perdagang
Besar (Distributor
Industri)

Pemakai
Industri

Pemakai
Industri

Pemakai
Industri

Pemakai
Industri

Perdagang
Besar (Distributor
Industri)

tentu saja menyebar di segenap penjuru, baik di desa di kota di gunung

di pantai dan di mana saja akan ada calon pembelinya.

b. Distribusi Selektif.

Distribusi selektif merupakan cara distribusi di mana barang-barang

hanya disalurkan oleh beberapa penyalur saja yang terpilih atau

selektif. Jadi dalam hal ini jumlah penyalur sangat terbatas, untuk

membatasi jumlah penyalur tersebut biasanya di adakan seleksi oleh

perusahaan yang memasarkan barang itu.

c. Distribusi eksklusif.

Distribusi Eksklusif merupakan bentuk penyaluran yang hanya

menggunakan penyalur yang sangat terbatas jumlahnya, bahkan pada

umumnya hanya ada satu penyalur tunggal untuk satu daerah tertentu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->