Tentang Surat An Nur Ayat 2 dan 3

Senin, 18/10/2010 16:46 WIB | email | print | share Assalamu'alaikum Ustadz.. Saya ingin mengetahui mengenai Surat An Nur ayat 2 dan 3.Mohon penjelasannya. Sebelumnya Saya ucapkan terima kasih. Wassalamu'alaikum Bondan

Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb Saudara Bondan yang dimuliakan Allah swt Firman Allah swt :

َ َ ٍ ‫ّ ِ َ ُ َ ّ ِ َ ِْ ُ ُ ّ َ ِ ٍ ّ ْ ُ َ ِ َ َ َ ْد‬ ‫الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مئة جل َة ول‬ ِ ّ ِ َ ُِ ْ ُ ْ ُ ُ ِ ّ ِ ِ ِ ٌ َ َْ َ ِ ِ ُ ْ ُ ْ َ ‫تأخذكم بهما رأفة في دين ال إن كنتم تؤمنون بال‬ ِ ﴾٢﴿ ‫واليوم الخر وليشهد عذابهما طائفة من المؤمنين‬ َ ِِ ْ ُ ْ َ ّ ٌ َ ِ َ َ ُ َ َ َ ْ َ ْ ََْ ِ ِ ْ ِ ْ َْ َ ‫الزاني ل ينكح إل زانية أو مشركة والزانية ل ينكحها‬ َ ُ ِ َ َ ُ َِ ّ َ ً َ ِ ْ ُ ْ َ ً َِ َ ّ ُ ِ َ َ ِ ّ ﴾٣﴿ ‫إل زان أو مشرك وحرم ذلك على المؤمنين‬ َ ِ ِ ْ ُ ْ ََ َ َِ َ ّ ُ َ ٌ ِ ْ ُ ْ َ ٍ َ ّ ِ
Artinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An Nuur : 2 – 3)

Tentang firman-Nya yang artinya : "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera" dijelaskan Ibnu Katsir bahwa didalam

aku bersumpah atas nama Allah kepadamu. demikianlah menurut jumhur ulama. Kemudian aku tebus anakku dengan seratus ekor kambing dan seorang budak wanita kemudian aku bertanya kepada ahli ilmu lalu mereka memberitahu aku bahwa atas anakku cukup dicambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun sedangkan untuk istri orang ini dirajam". Sesungguhnya seorang pezina bisa jadi ia seorang lajang yang belum menikah atau telah menikah dengan pernikahan yan benar (menurut syariat) serta ia adalah seorang yang baligh dan berakal. Adapun kamu. sesungguhnya orang-orang mengatakan apakah ada hukum rajam? Padahal di dalam kitabullah hanya ada hukum dera. Lalu lawan yang tutur katanya lebih baik dari padanya berkata: "Dia benar. Maka Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam besabda: "Katakan". Jika dia berkehendak maka dia bisa mengasingkannya dan jika tidak berkehedak maka tidak diasingkan. bahwa engkau tidak memutuskan perkara diantara kami melainkan dengan Kitab Allah. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. besok pagi datangilah istri orang ini. "Ketahuilah. diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Husyaim dari Az Zuhri dari 'Ubaidillah Bin 'Utbah Bin Mas'ud telah mengabarkan kepadaku Abdullah Bin Abbas telah menceritakan kepadaku Abdurrahman Bin 'Auf bahwa Umar Bin Al Khaththab berkhutbah di hadapan orang-orang dan dia (Abdurrahman) mendengarnya berkata. Dalil jumhur dalam hal ini adalah apa yang terdapat didalam “ash Shahihain” dari riwayat Zuhriy dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al Juhaniy radliallahu 'anhuma bahwa keduanya berkata. Kemudian Unais mendatangi wanita itu dan dia mengakuinya. Seorang warga Arab berkata: "Sesunguhnya anakku adalah buruh yang bekerja pada orang ini lalu dia berzina dengan istrinya maka aku diberitahu bahwa anakku harus dirajam. putuskan perkara diantara kami dengan Kitab Allah dan perkenankanlah untukku". sungguh aku akan putuskan buat kalian berdua dengan menggunakan Kitab Allah. Adapun jika dia seorang yang telah menikah maka dirajam. Jika dia mengaku maka rajamlah".. Didalam hadits ini terdapat dalil tentang pengasingan seorang pezina disertai cambukan 100 kali jika dia seorang yang belum menikah. Ibnu Katsir menyebutkan beberapa hadits Rasulullah saw. Adapun seorang yang belum pernah menikah (lajang) maka hukuman baginya adalah 100 kali cambukan sebagaimana disebutkan didalam ayat ditambah dengan diasingkan dari negerinya selama setahun. Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melakukan hukum rajam dan kami pun melakukan . Para ulama kemudian menjelaskan tentang permasalahan ini dengan rinci serta didalamnya terjadi berbagai perbedaan pendapat. Adapun seorang budak dan kambing seharusnya dikembalikan dan untuk anakmu dikenakan hukum cambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama setahun. Tentang rajam ini. Ada seorang warga Arab datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah.ayat ini terdapat hukum terhadap seorang pezina. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar wanita itu dirajam. wahai Unais. Berbeda dengan Abu Hanifah yang berpendapat bahwa pengasingan ini dikembalikan kepada pendapat imam (penguasa).

hukum rajam setelah beliau. Firman-Nya yang artinya : “Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”) maknanya adalah terdapat pelajaran bagi kedua orang pezina itu jika dicambuk dihadapan orang banyak. saya hendak menyembelih kambing namun saya sangat menyayanginya. Sesungguhnya ini merupakan bentuk pencegahan yang paling tepat karena didalamnya terdapat kecaman. Janganlah kalian merajam mereka berdua sementara kalian berbelas kasihan didalam syariat Allah dan tidak dilarang dalam hal ini ada tabiat belas kasihan akan tetapi janganlah hal itu menjadikan anda meninggalkan dari manjatuhkan hukuman terhadap mereka berdua. niscaya aku akan menetapkannya sebagaimana diturunkannya. Didalam musnad disebutkan bahwa sebagian sahabat bertanya." Sedangkan makna firman-Nya yang artinya : “dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah”) adalah didalam hukum Allah. Mujahid mengatakan tentang (. seandainya orang-orang tidak akan mengatakan atau berbicara. ."… Sedangkan firman-Nya yang artinya : “Jika kamu beriman kepada Allah. Didalam hadits disebutkan "Hendaklah kalian saling memaafkan dalam masalah hukuman had yang terjadi di antara kalian. cercaaan dan celaan jika dihadiri oleh banyak orang.” Adalah berita dari Allah swt bahwa seorang lelaki pezina tidak boleh menggauli (menikah) kecuali dengan perempuan pezina atau wanita musyrik.. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. dan hari akhirat”) maknanya : lakukanlah perintah itu : tegakkanlah had (hukuman) terhadap orang yang berzina dan keraslah didalam memukul akan tetapi jangan menyakitkan sekali…. Al Hasan al bashri mengatakan. maka ini tidak dibolehkan. Atha bin Abi Rabah. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” Wahai Rasulullah. sebab jika had telah sampai kepadaku maka wajib untuk dilaksanakan. demikianlah riwayat dari Said bin Jubair." Didalam hadits lain disebutkan "Satu had (hukuman) yang ditegakkan di bumi lebih baik bagi manusia dari pada mereka diguyur hujan empat puluh hari.dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah) bahwa penegakan hukuman apabila sudah diangkat ke penguasa maka haruslah dilaksanakan dan jangan dihentikan. Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Bagimu didalam (penyembelihan itu) pahala".”Maknanya adalah (disaksikan) secara terang-terangan.” Kemudian tentang firman Allah di ayat ketiganya “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. atau perempuan yang musyrik. yaitu tidaklah seorang yang menyetujui keinginan lelaki itu berzina kecuali seorang perempuan pezina maksiat juga atau seorang wanita musyrik yang tidak melihat bahwa hal itu diharamkan. bahwa Umar menambah sesuatu dalam kitabullah yang bukan darinya..

Jika wanita itu bertaubat maka sah akad atasnya dan jika tidak maka tidak sah. berdasarkan firman Allah swt :(Tafsit al Qur’an al Azhim juz VI hal 5 – 10) (baca : QS.. Demikian pula tidaklah sah menikahkan seorang perempuan merdeka dan bersih (dari zina) dengan lelaki pezina hingga lelaki itu bertaubat dengan taubat yang sebenarnya.Demikian pula yang artinya : “dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik”) yaitu lelaki pelaku maksiat dengan berzina atau lelaki musyrik yang meyakini bahwa zina tidaklah diharamkan… Dan firman Allah swt yang artinya : “dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukminin”) yaitu menikahkan seorang yang bersih dari zina dengan seorang pelaku zina dari kalangan laki-laki… Ibnu Katsir juga menyebutkan pendapat Imam Ahmad yang mengatakan bahwa tidak sah akad seorang lelaki yang bersih (dari zina) dengan seorang perempuan pezina hingga wanita itu bertaubat.An Nuur 3) Wallahu A’lam .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful