BAB I PENDAHULUAN

Anemia berarti kekurangan sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel darah merah. Pada anemia berat, viskositas darah dapat turun hingga 1,5 kali air, normalnya sekitar tiga kali air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi sel darah merah mempengaruhi viskositas darah. Hal ini mengurangi tahanan terhadap aliran darah dalam pembuluh perifer, sehingga jumlah darah yang mengalir melalui jaringan dan kemudian kembali lagi menuju ke jantung menjadi jauh lebih normal. Bila penderita anemia mulai berkuat, jantung tidak mampu memompa jumlah darah lebih banyak daripada jumlah yang dipompa sebelumnya. Akibatnya selama keadaan anemia ini berkuat, dimana terjadi peningkatan kebutuhan jaringan akan oksigen, dapat timbul hipoksia jaringan yang serius dan sering terjadi gagal jantung yang akut. Seseorang dikatakan anemia jika hematokritnya (persen eritrosit dalam darah) kurang dari 40. Adapun hematokrit normal adalah sekitar 40-60. Penderita anemia berat bisa tanpa gejala, tetapi penderita anemia ringan bisa sangat lemah. Hal ini dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu cepat timbulnya anemia, derajat anemia, umur penderita dan kurva disosiasi oksigen hemoglobin. Gejalanya antara lain sesak napas, lemah, mengantuk, palpitasi dan sakit kepala. Pada orang tua dapat ditemukan gejala penyakit jantung dan kebingungan. Melihat seriusnya akibat yang ditimbulkan oleh anemia, maka perlu diketahui berbagai hal tentang anemia. Salah satunya adalah klasifikasi anemia. Anemia dapat dibedakan berdasarkan morfologi dan sebab atau etiologinya. Klasifikasi morfologi berdasarkan bentuk dari eritrosit yang mengalami kelainan, sedangkan berdasarkan etiologi ditinjau penyebab terjadinya anemia, seperti

1

pematagan abnormal dan destruksi atau kehilangan secara berlebihan pada eritrosit. 2 .

Bila jumlah oksigen yang dipasok berkurang maka kinerja organ yang bersangkutan akan menurun. Memang keadaan anoksida (ketiadaan oksigen) yang berlangsung beberapa menit saja akan mengakibatkan kerusakan menetap yang tidak dapat diperbaiki lagi pada jaringan dan sel-sel otak. sehingga tidak dapat memenuhi keperluan jaringan. jaringan otak mutlak memerlukan oksigen supaya tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Otak adalah jaringan yang memerlukan energi dalam jumlah besar setiap saat. berbagai organ tubuh menyesuaikan diri dengan menyesuaikan fungsi dengan keadaan yang tidak optimum tersebut. dengan bentuk terberat koma (kehilangan kesadaran) yang menetap. anemia bisa menghambat pertumbuhan fisik dan mentalnya. Keperluan akan energi dalam jumlah yang besar ini hanya dapat dipenuhi oleh metabolisme yang berlangsung dalam keadaan aerob. kinerja otak akan berkurang dengan jumlah oksigen yang diperolehnya. Pada masa remaja atau dewasa. Salah satu yang ditakuti dari peredaran darah besar yang terjadi dalam waktu singkat dan tidak segera diatasi dengan homeostasis (pengentian pendarahan) dan transfuse ialah kerusakan fungsi susunan saraf pusat.BAB II PEMBAHASAN Anemia menyebabkan jumlah oksigen yang diikat dan dibawa hemoglobin berkurang. termasuk otak. Beberapa organ dan proses memerlukan oksigen dalam jumlah besar. yang biasanya terjadi dan berkembang dalam jangka waktu yang panjang. Dalam keadaan anemia. Akibat anemia bisa berbeda-beda pada setiap tahap kehidupan. anemia bisa menurunkan kemampuan dan konsentrasi serta gairah 3 . Akibatnya. Ini berarti. Pada anak. sedangkan kelancaran proses tertentu akan terganggu.

Ketika anak perempuan 4 . tidak berbahaya atau berbahaya menyangkut kehidupan. Anemia yang terjadi pada anak-anak dapat menggangu proses tumbuh kembangnya. Anak perempuan lebih tinggi risikonya karena mengalami menstruasi. Jika terkena anemia defisiensi gizi saat bayi. kapasitas pemecahan masalah rendah. vitamin B12. Anemia dapat menyebabkan pertumbuhan tinggi dan berat badan dibawah normal. Bila ini terjadi. dan lainnya. Bahkan perkembangan berpikir juga bisa terganggu dan mudah terserang penyakit. Anemia sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. dan cadangan zat besi bayi yang rendah. maka risiko infeksi pun akan meningkat. akibat kekurangan asam lambung. aktivitas fisik dan daya tahan tubuh. dan berat atau ganas. daya ingat rendah. bisa terjadi gangguan konsentrasi. perilaku. daya ingat rendah. anemia menyebabkan risiko pendarahan sebelum atau saat melahirkan. Anemia yang terjadi pada seseorang bisa muncul karena bawaan (kongenital). Anemia bisa berakibat pada gangguan tumbuh kembang. risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau prematur. Anemia bisa terjadi saat masih bayi. maka ketika memasuki prasekolah dan usia sekolah akan terganggu konsentrasi. cacat bawaan. akut atau kronik. tingkat kecerdasan lebih rendah dan gangguan perilaku. serta konsentrasi terganggu. misalnya. Akibatnya. metabolisme lemak mielin yang mempercepat hantar impuls saraf. gangguan kognitif (belajar) serta penurunan fungsi otot. Hal ini terjadi. kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan atau memproduksi selsel darah merah seperti asam folat. serta gangguan perilaku. penyakit pada sumsum tulang.untuk beraktivitas. dan gangguan pada system saraf serta otak. penurunan tingkat kecerdasan. Anemia membuat transfer oksigen yang memperlancar metabolisme sel-sel otak terhambat. kapasitas pemecahan masalah dan kecerdasan intelektual (IQ) yang rendah. Jika daya tahan tubuh menurun. tentunya bisa berdampak pada prestasi mereka saat usia prasekolah dan sekolah. Sementara pada wanita hamil. Menurunnya jumlah sel darah merah dalam tubuh juga bisa terjadi karena zat gizi besi digunakan untuk kepentingan lain (di luar untuk pembuatan sel darah merah).

Anemia jenis ini tidak dapat diobati. 3. Anemia karena kelainan dalam sel darah merah disebabkan oleh faktor konstitutif yang menyusun sel tersebut. sehingga sel ini tidak berfungsi sebagai mana mestinya dan dengan cepat mengalami penuaan dan segera dihancurkan. Keadaan ini biasanya terjadi karena kecelakaan dan bahaya yang 5 . Ada beberapa penyebab timbulnya anemia. Karena kekurangan zat gizi Anemia jenis ini merupakan salah satu anemia yang disebabkan oleh faktor luar tubuh. Oleh karena kelainan ini menyangkut protein. Tiap-tiap komponen ini bila mengalami cacat atau kelainan. Pada umumnya cacat yang dialami sel darah merah menyangkut senyawa-senyawa protein yang menyusunnya. yaitu kekurangan salah satu zat gizi. Karena perdarahan Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan kurangnya jumlah sel darah merah dalam darah. Karena cacat sel darah merah Sel darah merah mempunyai komponen penyusun yang banyak sekali. yaitu: 1. Anemia karena perdarahan besar dan dalam waktu singkat ini secara nisbi jarang terjadi. 2. sehingga terjadi anemia. sedangkan sintesis protein dikendalikan oleh gen di DNA. mengurangi beratnya gejala atau bahkan hanya mengurangi penyulit yang terjadi.duduk di bangku SMA. yang dapat dilakukan adalah hanya memperpanjang usia sel darah merah sehingga mendekati umur yang seharusnya. mereka masih terancam anemia karena pada usia itu mulai sadar penampilan sehingga mulai menjalankan diet ketat. akan menimbulkan masalah bagi sel darah merah sendiri.

mikro dan makro menunjukkan ukuran pada sel darah merah sedangkan kromik menunjukkan warnanya. umur sel darah merah akan memendek karena dengan cepat dihancurkan oleh sistem imun. sindrom mielodisplasia. ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal tetapi individu menderita anemia. pengklasifikasian anemia terdiri atas: a. Terdapat beragam jenis pengklasifikasian anemia. Anemia ini dapat terjadi karena hemolitik. b. Pada kelas ini. Anemia normositik normokrom Patofisiologi anemia ini terjadi karena pengeluaran darah atau destruksi darah yang berlebih sehingga menyebabkan Sumsum tulang harus bekerja lebih keras lagi dalam eritropoiesis. Sehingga banyak eritrosit muda (retikulosit) yang terlihat pada gambaran darah tepi. Anemia makrositik normokrom 6 . sistem imun tubuh dapat mengenali dan menghancurkan bagian-bagian tubuh yang biasanya tidak dihancurkan. dan anemia pada penyakit hati kronik.diakibatkannya langsung disadari. misalnya dengan tranfusi. anemia aplastik. Keadaan ini sebanarnya tidak seharusnya terjadi dalam jumlah besar. Secara morfologi. Karena otoimun Dalam keadaan tertentu. alkoholism. pasca pendarahan akut. segala usaha akan dilakukan untuk mencegah perdarahan dan kalau mungkin mengembalikan jumlah darah ke keadaan semula. Akibatnya. 4. pada klasifikasi anemia menurut morfologi. Bila hal tersebut terjadi terhadap sel darah merah.

7 . Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak.Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom karena konsentrasi hemoglobinnya normal. atau gangguan sintesis globin. Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi). hemoriod atau menstruasi. seperti pada talasemia (penyakit hemoglobin abnormal kongenital). Anemia mikrositik hipokrom Mikrositik berarti kecil. Keadaan dimana sel darah merah itu sendiri terganggu atau macam gangguan herediter adalah: • Hemoglobinopati. penyakitpenyakit keganasan. seperti pada anemia defisiensi besi. Gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter. yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan. atau akibat pardarahan kronik karena polip pada kolon. sebab terjadi gangguan pada metabolisme sel c. hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal. • • Gangguan sintetis globin misalnya talasemia. Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau oleh penghancuran sel. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker. Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan atau asam folat. terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi. dikenal dengan nama hemolisis. misal nya anemia sel sabit.

• Defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase). L-dopa atau pada penyakit-penyakit seperti limfoma. Penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dan hati. Anemia hemolitik otoimun selanjutnya diklasifikasikan menurut suhu dimana antibodi bereaksi dengan sel-sel darah merah –antibodi tipe panas atau antibodi tipe dingin. hemolisis dapat juga disebabkan oleh gangguan lingkungan sel darah merah yang seringkali memerlukan respon imun. kinin. Keganasan yang tersebar seperti kanker payudara. leukimia dan multipel mieloma. Hipersplenisme (pembesaran limpa. pansitopenia. lupus eritematosus. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah: a. Respon isoimun mengenai berbagai individu dalam spesies yang sama dan diakibatkan oleh tranfusi darah yang tidak cocok. sulfonamida. obat dan zat kimia toksik. vitamin C dan besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif 8 . artritis reumatorid dan infeksi virus. Setiap keadaan yang mempengaruhi fungsi sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini. Luka bakar yang berat khususnya jika kapiler pecah dapat juga mengakibatkan hemolisis. Respon otoimun terdiri dari pembentukan antibodi terhadap selsel darah merah itu sendiri. Keadaan yang di namakan anemia hemolitik otoimun dapat timbul tanpa sebab yang diketahui setelah pemberian suatu obat tertentu seperti alfa-metildopa. Namun. penyakit-penyakit infeksi dan defiensi endokrin. dan sumsum tulang hiperselular atau normal) dapat juga menyebabkan hemolisis akibat penjeratan dan penghancuran sel darah merah. Klasifikasi etiologi utama yang kedua adalah pembentukan sel darah merah yang berkurang atau terganggu (diseritropoiesis). Kekurangan vitamin penting seperti vitamin B12. dan penyinaran dengan radiasi b. leukemia limfositik kronik. asam folat.

sehingga menimbulkan anemia. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan pertimbangan morfologis dan etiologi. Secara morfologis sel-sel darah merah terlihat normositik dan normokrom. hitung retikulosit rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang menunjukkan suatu keadaan yang disebut “pungsi kering” dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi pergantian dengan jaringan lemak. sel darah putih dan trombosit. Berikut adalah pengklasifikasian anemia menurut etiologinya: 1. Gejala-gejala lain yang berkaitan dengan anemia adalah defisiensi trombosit dan sel darah putih. Anemia aplastik Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di sumsum tulang yang dapat menimbulkan kematian. Penderita mengalami pansitopenia yaitu kekurangan sel darah merah. Gejala-gejala anemia aplastik Kompleks gejala anemia aplastik berkaitan dengan pansitopenia. Beberapa keadaan seperti ini diduga merupakan keadaan imunologis. Defisiensi trombosit dapat mengakibatkan: • ekimosis dan ptekie (perdarahan dalam kulit) • epistaksis (perdarahan hidung) 9 . Namun pada beberapa keadaan tidak dapat ditemukan agen penyebabnya dan keadaan ini disebut idiopatik. pada keadaan ini jumlah sel-sel darah yang dihasilkan tidak memadai. Langkah-langkah pengobatan terdiri dari mengidentifikasi dan menghilangkan agen penyebab.

• perdarahan saluran cerna • perdarahan saluran kemih • perdarahan susunan saraf pusat. Aplasia berat disertai pengurangan atau tidak adanya retikulosit jumlah granulosit yang kurang dari 500/mm3 dan jumlah trombosit yang kurang dari 20. Karena infeksi dan perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi sel lain merupakan penyebab utama kematian maka penting untuk mencegah perdarahan dan infeksi. Penderita anemia aplastik berusia muda yang terjadi secara sekunder akibat kerusakan sel induk memberi respon yang baik terhadap tranplantasi sumsum tulang dari donor yang cocok (saudara kandung dengan antigen leukosit manusia [HLA] yang cocok). Pada 10 . tetapi efisiensinya tidak menentu. Pencegahan anemia aplastik dan terapi yang di lakukan Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi (ruangan dengan aliran udara yang mendatar atau tempat yang nyaman) dan higiene yang baik. Namun penderita yang lebih ringan dapat hidup bertahuntahun. Agen-agen perangsang sumsum tulang seperti androgen diduga menimbulkan eritropoiesis. Pada pendarahan dan/atau infeksi perlu dilakukan terapi komponen darah yang bijaksana. yaitu sel darah merah.000 dapat mengakibatkan kematian dan infeksi dan/atau perdarahan dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. granulosit dan trombosit dan antibiotik. Pengobatan terutama dipusatkan pada perawatan suportif sampai terjadi penyembuhan sumsum tulang. Penderita anemia aplastik kronik dipertahankan pada hemoglobin (Hb) antara 8 dan 9 g dengan tranfusi darah yang periodik. Defisiensi sel darah putih mengakibatkan lebih mudahnya terkena infeksi.

sekunder karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia. 11 .sayuran saja. • • Gangguan absorpsi seperti setelah gastrektomi dan Kehilangan darah yang menetap seperti pada perdarahan saluran cerna yang lambat karena polip. neoplasma. Hampir dua pertiga besi terdapat dalam hemoglobin yang dilepas pada proses penuaan serta kematian sel dan diangkut melalui transferin plasma ke sumsum tulang untuk eritropoiesis. bergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya.kasus-kasus yang dianggap terjadi reaksi imunologis maka digunakan globulin antitimosit (ATG) yang mengandung antibodi untuk melawan sel T manusia untuk mendapatkan remisi sebagian. Khususnya terjadi pada wanita usia subur. Anemia defisiensi besi Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintetis hemoglobin. gastritis varises esophagus. Terapi semacam ini dianjurkan untuk penderita yang agak tua atau untuk penderita yang tidak mempunyai saudara kandung yang cocok. makan aspirin dan hemoroid. Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata mengandung 3 sampai 5 g besi. 2. Penyebab lain defisiensi besi adalah: • Asupan besi yang tidak cukup misalnya pada bayi yang diberi makan susu belaka sampai usia antara 12-24 bulan dan pada individu tertentu yang hanya memakan sayur.

2 mg) yang sebenarnya sampai diabsorpsi. Kemudian besi diangkut oleh transferin plasma ke sumsum tulang untuk sintesis hemoglobin atau ke tempat penyimpanan di jaringan.20 mg besi. penderita defisiensi besi yang berat (besi plasma lebih kecil dari 40 mg/ 100 ml. kebutuhan besi harian tetap meningkat. dari 0. hal ini terjadi oleh karena volume darah ibu selama hamil meningkat. serta mengimbangi darah yang hilang pada waktu melahirkan. tali pusat dan fetus. Kehilangan besi umumnya sedikit sekali.Hb 6 sampai 7g/100ml) mempunyai rambut yang rapuh dan halus serta kuku tipis. sepertiga sisanya disimpan dalam hati.5 mg besi. Besi yang dimakan diubah menjadi besi fero dalam lambung dan duodenum. rata. hanya sampai 5% . Selain tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh anemia.Dengan kekecualian dalam jumlah yang kecil dalam mioglobin (otot) dan dalam enzim-enzim hem. Tanda dan gejala anemia pada penderita defisiensi besi Setiap milliliter darah mengandung 0.5 sampai 1 mg/hari. Walaupun kehilangan darah karena menstruasi berhenti selama hamil.10% (1 . mudah patah dan sebenarnya 12 . penyerapan besi terjadi pada duodenum dan jejunum proksimal. Pada persediaan besi berkurang maka besi dari diet tersebut diserap lebih banyak. Patofisiologi anemia defisiensi besi Walaupun dalam diet rata-rata terdapat 10 . Namun wanita yang mengalami menstruasi kehilangan tambahan 15 sampai 28 mg/bulan. limpa dan dalam sumsum tulang sebagai feritin dan sebagai hemosiderin untuk kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut. pembentukan plasenta.

Walaupun modifikasi diet dapat menambah besi yang tersedia (misalnya hati. eritrosit mikrositik dan hipokrom disertain poikilositosis dan aniositosis. Pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif yang diakibatkan oleh polip. tukak. licin. sebab harganya mahal dan mempunyai insidens besar terjadi reaksi yang merugikan. pecah-pecah dengan kemerahan dan rasa sakit di sudut-sudut mulut. Kadar besi berkurang walaupun kapasitas meningkat besi serum meningkat. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral. Dapat juga timbul stomatitis angularis. perubahan diet mungkin diperlukan untuk bayi yang hanya diberi makan susu atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar.berbentuk seperti sendok (koilonikia). masih dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan hemoglobin dan mengembalikan persediaan besi. merah daging. Jumlah retikulosit mungkin normal atau berkurang. Pada sediaan hapus darah perifer. Sebagian penderita memberi respon yang baik terhadap senyawa-senyawa oral seperti ferosulfat. dan meradang dan sakit. Pengobatan anemia pada penderita defisiensi besi Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan penyebab dasar anemia. Anemia megaloblastik 13 . Selain itu atropi papilla lidah mengakibatkan lidah tampak pucat. 3. keganasan dan hemoroid. mengkilat. Preparat besi parenteral digunakan secara sangat selektif. Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah merah normal atau hampir normal dan kadar hemoglobin berkurang.

Sumber yang paling melimpah adalah daging merah (misalnya hati dan ginjal) dan sayuran berdaun hijau yang segar. pecandu alkoholatau pada remaja dan pada kehamilan dimana terjadi peningkatan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fetus dan laktasi. Kebutuhan ini juga meningkat pada anemia hemolitik. penyakit usus dan keganasan. malabsorpsi. Defisiensi ini mungkin sekunder karena malnutrisi. keganasan dan hipertiroidisme. Walaupun anemia pernisiosa merupakan prototip dari anemia megaloblastik defisiensi folat lebih sering ditemukan dalam praktek klinik. Individu dengan infeksi cacing pita (dengan Diphyllobothrium latum) akibat makan ikan segar yang terinfeksi. Anemia megaloblastik sering kali terlihat pada orang tua dengan malnutrisi. yang mengakibatkan anemia megaloblastik (Beck. kekurangan faktor intrinsik (seperti terlihat pada anemia pernisiosa dan postgastrekomi) infestasi parasit. serta agen kemoterapeutik. Pencegahan anemia pada penderita anemia megaloblastik Kebutuhan minimal folat setiap hari kira-kira 50 mg mudah diperoleh dari diet rata-rata. 14 . 1983). Sebab-sebab atau gejala anemia megaloblastik Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat yang mengakibatkan sintesis DNA terganggu. cacing pita berkompetisi dengan hospes dalam mendapatkan vitamin B12 dari makanan.Anemia megaloblastik diklasifikasikan menurut morfologinya sebagai anemia makrositik normokrom. Penyakit celiac dan sariawan tropik juga menyebabkan malabsorpsi dan penggunaan obatobat yang bekerja sebagai antagonis asam folat juga mempengaruhi.

Kadar folat serum juga menurun (<4 mg/ml). Tindakan ini adalah memperbaiki defisiensi diet dan terapi pengganti dengan asam folat atau dengan vitamin B12. diare dan kehilangan nafsu makan. Misalnya 50% sampai 90% folat dapat hilang pada cara memasak yang memakai banyak air. 15 . Selain gejala-gejala anemia yang sudah dijelaskan penderita anemia megaloblastik sekunder karena defisiensi folat dapat tampak seperti malnutrisi dan mengalami glositis berat (radang lidah disertai rasa sakit). Tanpa adanya asupan folat persediaan folat biasanya akan habis kira-kira dalam waktu 4 bulan. terikat pada protein plasma secara lemah dan disimpan dalam hati. Pengobatan anemia pada penderita anemia megaloblastik. Folat diabsorpsi dari duodenum dan jejunum bagian atas.Tetapi cara menyiapkan makanan yang benar juga diperlukan untuk menjamin jumlah gizi yang adekuat. penderita kecanduan alkohol yang dirawat di rumah sakit sering memberi respon “spontan” bila di berikan diet seimbang. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya pengobatan bergantung pada identifikasi dan menghilangkan penyebab dasarnya.

Sehingga klasifikasi anemia perlu dipahami dengan jelas agar tidak terjadi kesalahan pemberian pengobatan pada penderita agar tidak terjadi komplikasi penyakit pada tubuh penderita. Apakah dikarenakan pendarahan dalam tubuh yang tidak dapat berhenti. anemia makrositik normokrom. 16 . diuraikan bahwa anemia terdiri atas beberapa kelas dengan masing-masing tanda dan gejala. atau karena suplai zat gizi yang kurang bagi tubuh. anemia defisiensi besi yang dapat juga diklasifikasikan ke dalam kelas anemia mikrositik hipokrom. Perbedaan kelas dalam anemia. atau karena masalah sistem autoimun dalam tubuh. penyebab serta pengobatannya.BAB III PENUTUP Dari uraian mengenai pengklasifikasian anemia di atas. yang paling awal kita perlu ketahui tentang anemia adalah sebab-sebab mengapa anemia dapat timbul dalam tubuh seseorang. dan anemia mikrositik hipokrom kemudian pengklasifikasian anemia menurut etiologinya terdapat anemia aplastik yang dapat diklasifikasikan ke dalam kelas anemia normositik normokrom. Dijelaskan pula mengenai akibat serta penyebab timbulnya penyakit anemia. Anemia tidak semata-mata suatu gangguan fungsi tubuh akibat kurangnya jumlah sel darah merah. Untuk itu. ataukah karena terdapat kecacatan bentuk pada sel darah merah yang dapat membuat sel darah merah tidak dapat berfungsi sebagaimana seharusnya berfungsi pada tubuh seseorang. Diuraikan pengklasifikasian anemia menurut morfologinya terdapat anemia normositik normokrom. dan anemia megaloblastik yang dapat diklasifikasikan juga ke dalam kelas anemia makrositik normokrom. membedakan pula dalam cara penanganannya. tetapi pengertian anemia dapat dijelaskan menurut masing-masing jenisnya yang beragam.

com Http://www.F. dkk. Biokimia Darah. 1997.com Lisyani. 17 .dkk. Sadikin. Semarang: Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Undip. Jakarta: EGC.majalah-farmacia. Fisiologi Kedokteran. Http://www. J. 1996. Mohamad. 2009. Jakarta: Wikia Medika. Jakarta: EGC. Patologi Klinik II. Fisika Kedokteran. Hall. 2002.DAFTAR PUSTAKA Gabriel.pediatrik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful