BAB I PENDAHULUAN

Anemia berarti kekurangan sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel darah merah. Pada anemia berat, viskositas darah dapat turun hingga 1,5 kali air, normalnya sekitar tiga kali air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi sel darah merah mempengaruhi viskositas darah. Hal ini mengurangi tahanan terhadap aliran darah dalam pembuluh perifer, sehingga jumlah darah yang mengalir melalui jaringan dan kemudian kembali lagi menuju ke jantung menjadi jauh lebih normal. Bila penderita anemia mulai berkuat, jantung tidak mampu memompa jumlah darah lebih banyak daripada jumlah yang dipompa sebelumnya. Akibatnya selama keadaan anemia ini berkuat, dimana terjadi peningkatan kebutuhan jaringan akan oksigen, dapat timbul hipoksia jaringan yang serius dan sering terjadi gagal jantung yang akut. Seseorang dikatakan anemia jika hematokritnya (persen eritrosit dalam darah) kurang dari 40. Adapun hematokrit normal adalah sekitar 40-60. Penderita anemia berat bisa tanpa gejala, tetapi penderita anemia ringan bisa sangat lemah. Hal ini dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu cepat timbulnya anemia, derajat anemia, umur penderita dan kurva disosiasi oksigen hemoglobin. Gejalanya antara lain sesak napas, lemah, mengantuk, palpitasi dan sakit kepala. Pada orang tua dapat ditemukan gejala penyakit jantung dan kebingungan. Melihat seriusnya akibat yang ditimbulkan oleh anemia, maka perlu diketahui berbagai hal tentang anemia. Salah satunya adalah klasifikasi anemia. Anemia dapat dibedakan berdasarkan morfologi dan sebab atau etiologinya. Klasifikasi morfologi berdasarkan bentuk dari eritrosit yang mengalami kelainan, sedangkan berdasarkan etiologi ditinjau penyebab terjadinya anemia, seperti

1

pematagan abnormal dan destruksi atau kehilangan secara berlebihan pada eritrosit. 2 .

kinerja otak akan berkurang dengan jumlah oksigen yang diperolehnya. Beberapa organ dan proses memerlukan oksigen dalam jumlah besar. berbagai organ tubuh menyesuaikan diri dengan menyesuaikan fungsi dengan keadaan yang tidak optimum tersebut. Otak adalah jaringan yang memerlukan energi dalam jumlah besar setiap saat. termasuk otak. jaringan otak mutlak memerlukan oksigen supaya tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya. anemia bisa menurunkan kemampuan dan konsentrasi serta gairah 3 . anemia bisa menghambat pertumbuhan fisik dan mentalnya. Ini berarti. Dalam keadaan anemia. dengan bentuk terberat koma (kehilangan kesadaran) yang menetap. sehingga tidak dapat memenuhi keperluan jaringan. Salah satu yang ditakuti dari peredaran darah besar yang terjadi dalam waktu singkat dan tidak segera diatasi dengan homeostasis (pengentian pendarahan) dan transfuse ialah kerusakan fungsi susunan saraf pusat. Bila jumlah oksigen yang dipasok berkurang maka kinerja organ yang bersangkutan akan menurun.BAB II PEMBAHASAN Anemia menyebabkan jumlah oksigen yang diikat dan dibawa hemoglobin berkurang. Memang keadaan anoksida (ketiadaan oksigen) yang berlangsung beberapa menit saja akan mengakibatkan kerusakan menetap yang tidak dapat diperbaiki lagi pada jaringan dan sel-sel otak. Akibat anemia bisa berbeda-beda pada setiap tahap kehidupan. Keperluan akan energi dalam jumlah yang besar ini hanya dapat dipenuhi oleh metabolisme yang berlangsung dalam keadaan aerob. sedangkan kelancaran proses tertentu akan terganggu. yang biasanya terjadi dan berkembang dalam jangka waktu yang panjang. Pada masa remaja atau dewasa. Akibatnya. Pada anak.

aktivitas fisik dan daya tahan tubuh. maka risiko infeksi pun akan meningkat. Akibatnya. Ketika anak perempuan 4 . Anemia sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. bisa terjadi gangguan konsentrasi. dan cadangan zat besi bayi yang rendah. kapasitas pemecahan masalah rendah. Anemia bisa terjadi saat masih bayi. misalnya. gangguan kognitif (belajar) serta penurunan fungsi otot.untuk beraktivitas. anemia menyebabkan risiko pendarahan sebelum atau saat melahirkan. Anemia dapat menyebabkan pertumbuhan tinggi dan berat badan dibawah normal. akut atau kronik. Sementara pada wanita hamil. serta konsentrasi terganggu. dan lainnya. vitamin B12. penurunan tingkat kecerdasan. Jika daya tahan tubuh menurun. Anak perempuan lebih tinggi risikonya karena mengalami menstruasi. daya ingat rendah. Anemia yang terjadi pada anak-anak dapat menggangu proses tumbuh kembangnya. Hal ini terjadi. Anemia bisa berakibat pada gangguan tumbuh kembang. kapasitas pemecahan masalah dan kecerdasan intelektual (IQ) yang rendah. Jika terkena anemia defisiensi gizi saat bayi. metabolisme lemak mielin yang mempercepat hantar impuls saraf. Anemia membuat transfer oksigen yang memperlancar metabolisme sel-sel otak terhambat. tingkat kecerdasan lebih rendah dan gangguan perilaku. serta gangguan perilaku. dan berat atau ganas. Menurunnya jumlah sel darah merah dalam tubuh juga bisa terjadi karena zat gizi besi digunakan untuk kepentingan lain (di luar untuk pembuatan sel darah merah). tentunya bisa berdampak pada prestasi mereka saat usia prasekolah dan sekolah. tidak berbahaya atau berbahaya menyangkut kehidupan. penyakit pada sumsum tulang. maka ketika memasuki prasekolah dan usia sekolah akan terganggu konsentrasi. Bahkan perkembangan berpikir juga bisa terganggu dan mudah terserang penyakit. akibat kekurangan asam lambung. kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan atau memproduksi selsel darah merah seperti asam folat. daya ingat rendah. dan gangguan pada system saraf serta otak. cacat bawaan. Bila ini terjadi. Anemia yang terjadi pada seseorang bisa muncul karena bawaan (kongenital). risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau prematur. perilaku.

3. Anemia karena kelainan dalam sel darah merah disebabkan oleh faktor konstitutif yang menyusun sel tersebut. Karena kekurangan zat gizi Anemia jenis ini merupakan salah satu anemia yang disebabkan oleh faktor luar tubuh. Anemia karena perdarahan besar dan dalam waktu singkat ini secara nisbi jarang terjadi. Karena perdarahan Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan kurangnya jumlah sel darah merah dalam darah. akan menimbulkan masalah bagi sel darah merah sendiri. mengurangi beratnya gejala atau bahkan hanya mengurangi penyulit yang terjadi. Ada beberapa penyebab timbulnya anemia. yang dapat dilakukan adalah hanya memperpanjang usia sel darah merah sehingga mendekati umur yang seharusnya. Anemia jenis ini tidak dapat diobati. Keadaan ini biasanya terjadi karena kecelakaan dan bahaya yang 5 . Karena cacat sel darah merah Sel darah merah mempunyai komponen penyusun yang banyak sekali. Tiap-tiap komponen ini bila mengalami cacat atau kelainan. sedangkan sintesis protein dikendalikan oleh gen di DNA. yaitu: 1. sehingga terjadi anemia. sehingga sel ini tidak berfungsi sebagai mana mestinya dan dengan cepat mengalami penuaan dan segera dihancurkan.duduk di bangku SMA. yaitu kekurangan salah satu zat gizi. 2. Pada umumnya cacat yang dialami sel darah merah menyangkut senyawa-senyawa protein yang menyusunnya. Oleh karena kelainan ini menyangkut protein. mereka masih terancam anemia karena pada usia itu mulai sadar penampilan sehingga mulai menjalankan diet ketat.

umur sel darah merah akan memendek karena dengan cepat dihancurkan oleh sistem imun. 4. anemia aplastik. Pada kelas ini. Anemia normositik normokrom Patofisiologi anemia ini terjadi karena pengeluaran darah atau destruksi darah yang berlebih sehingga menyebabkan Sumsum tulang harus bekerja lebih keras lagi dalam eritropoiesis. alkoholism. mikro dan makro menunjukkan ukuran pada sel darah merah sedangkan kromik menunjukkan warnanya. Terdapat beragam jenis pengklasifikasian anemia. misalnya dengan tranfusi. Akibatnya. Anemia ini dapat terjadi karena hemolitik. segala usaha akan dilakukan untuk mencegah perdarahan dan kalau mungkin mengembalikan jumlah darah ke keadaan semula. b. Anemia makrositik normokrom 6 . pasca pendarahan akut. ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal tetapi individu menderita anemia. pada klasifikasi anemia menurut morfologi. Bila hal tersebut terjadi terhadap sel darah merah.diakibatkannya langsung disadari. sistem imun tubuh dapat mengenali dan menghancurkan bagian-bagian tubuh yang biasanya tidak dihancurkan. dan anemia pada penyakit hati kronik. Keadaan ini sebanarnya tidak seharusnya terjadi dalam jumlah besar. sindrom mielodisplasia. Secara morfologi. Karena otoimun Dalam keadaan tertentu. Sehingga banyak eritrosit muda (retikulosit) yang terlihat pada gambaran darah tepi. pengklasifikasian anemia terdiri atas: a.

Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom karena konsentrasi hemoglobinnya normal. yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan. Keadaan dimana sel darah merah itu sendiri terganggu atau macam gangguan herediter adalah: • Hemoglobinopati. penyakitpenyakit keganasan. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak. atau gangguan sintesis globin. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker. seperti pada talasemia (penyakit hemoglobin abnormal kongenital). Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau oleh penghancuran sel. • • Gangguan sintetis globin misalnya talasemia. terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. dikenal dengan nama hemolisis. hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi. Gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter. Anemia mikrositik hipokrom Mikrositik berarti kecil. Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi). sebab terjadi gangguan pada metabolisme sel c. keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik. misal nya anemia sel sabit. atau akibat pardarahan kronik karena polip pada kolon. seperti pada anemia defisiensi besi. Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan atau asam folat. 7 . hemoriod atau menstruasi.

• Defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase). sulfonamida. Luka bakar yang berat khususnya jika kapiler pecah dapat juga mengakibatkan hemolisis. lupus eritematosus. Kekurangan vitamin penting seperti vitamin B12. artritis reumatorid dan infeksi virus. hemolisis dapat juga disebabkan oleh gangguan lingkungan sel darah merah yang seringkali memerlukan respon imun. vitamin C dan besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif 8 . Keadaan yang di namakan anemia hemolitik otoimun dapat timbul tanpa sebab yang diketahui setelah pemberian suatu obat tertentu seperti alfa-metildopa. Respon otoimun terdiri dari pembentukan antibodi terhadap selsel darah merah itu sendiri. Anemia hemolitik otoimun selanjutnya diklasifikasikan menurut suhu dimana antibodi bereaksi dengan sel-sel darah merah –antibodi tipe panas atau antibodi tipe dingin. leukemia limfositik kronik. Keganasan yang tersebar seperti kanker payudara. dan sumsum tulang hiperselular atau normal) dapat juga menyebabkan hemolisis akibat penjeratan dan penghancuran sel darah merah. L-dopa atau pada penyakit-penyakit seperti limfoma. pansitopenia. Klasifikasi etiologi utama yang kedua adalah pembentukan sel darah merah yang berkurang atau terganggu (diseritropoiesis). kinin. Setiap keadaan yang mempengaruhi fungsi sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini. leukimia dan multipel mieloma. obat dan zat kimia toksik. Namun. penyakit-penyakit infeksi dan defiensi endokrin. asam folat. Respon isoimun mengenai berbagai individu dalam spesies yang sama dan diakibatkan oleh tranfusi darah yang tidak cocok. Penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dan hati. Hipersplenisme (pembesaran limpa. dan penyinaran dengan radiasi b. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah: a.

Beberapa keadaan seperti ini diduga merupakan keadaan imunologis. Langkah-langkah pengobatan terdiri dari mengidentifikasi dan menghilangkan agen penyebab. pada keadaan ini jumlah sel-sel darah yang dihasilkan tidak memadai. Gejala-gejala anemia aplastik Kompleks gejala anemia aplastik berkaitan dengan pansitopenia. hitung retikulosit rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang menunjukkan suatu keadaan yang disebut “pungsi kering” dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi pergantian dengan jaringan lemak. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan pertimbangan morfologis dan etiologi. sel darah putih dan trombosit. Berikut adalah pengklasifikasian anemia menurut etiologinya: 1. Anemia aplastik Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di sumsum tulang yang dapat menimbulkan kematian. Namun pada beberapa keadaan tidak dapat ditemukan agen penyebabnya dan keadaan ini disebut idiopatik.sehingga menimbulkan anemia. Secara morfologis sel-sel darah merah terlihat normositik dan normokrom. Penderita mengalami pansitopenia yaitu kekurangan sel darah merah. Gejala-gejala lain yang berkaitan dengan anemia adalah defisiensi trombosit dan sel darah putih. Defisiensi trombosit dapat mengakibatkan: • ekimosis dan ptekie (perdarahan dalam kulit) • epistaksis (perdarahan hidung) 9 .

Pencegahan anemia aplastik dan terapi yang di lakukan Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi (ruangan dengan aliran udara yang mendatar atau tempat yang nyaman) dan higiene yang baik.000 dapat mengakibatkan kematian dan infeksi dan/atau perdarahan dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. yaitu sel darah merah. Pada 10 . Penderita anemia aplastik berusia muda yang terjadi secara sekunder akibat kerusakan sel induk memberi respon yang baik terhadap tranplantasi sumsum tulang dari donor yang cocok (saudara kandung dengan antigen leukosit manusia [HLA] yang cocok). Pengobatan terutama dipusatkan pada perawatan suportif sampai terjadi penyembuhan sumsum tulang. Agen-agen perangsang sumsum tulang seperti androgen diduga menimbulkan eritropoiesis. Karena infeksi dan perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi sel lain merupakan penyebab utama kematian maka penting untuk mencegah perdarahan dan infeksi. tetapi efisiensinya tidak menentu. Pada pendarahan dan/atau infeksi perlu dilakukan terapi komponen darah yang bijaksana. Namun penderita yang lebih ringan dapat hidup bertahuntahun. granulosit dan trombosit dan antibiotik. Penderita anemia aplastik kronik dipertahankan pada hemoglobin (Hb) antara 8 dan 9 g dengan tranfusi darah yang periodik. Defisiensi sel darah putih mengakibatkan lebih mudahnya terkena infeksi. Aplasia berat disertai pengurangan atau tidak adanya retikulosit jumlah granulosit yang kurang dari 500/mm3 dan jumlah trombosit yang kurang dari 20.• perdarahan saluran cerna • perdarahan saluran kemih • perdarahan susunan saraf pusat.

Anemia defisiensi besi Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintetis hemoglobin. makan aspirin dan hemoroid. 11 . bergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya. Hampir dua pertiga besi terdapat dalam hemoglobin yang dilepas pada proses penuaan serta kematian sel dan diangkut melalui transferin plasma ke sumsum tulang untuk eritropoiesis. sekunder karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil. gastritis varises esophagus. Terapi semacam ini dianjurkan untuk penderita yang agak tua atau untuk penderita yang tidak mempunyai saudara kandung yang cocok. 2. Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata mengandung 3 sampai 5 g besi.sayuran saja. • • Gangguan absorpsi seperti setelah gastrektomi dan Kehilangan darah yang menetap seperti pada perdarahan saluran cerna yang lambat karena polip. Khususnya terjadi pada wanita usia subur. Penyebab lain defisiensi besi adalah: • Asupan besi yang tidak cukup misalnya pada bayi yang diberi makan susu belaka sampai usia antara 12-24 bulan dan pada individu tertentu yang hanya memakan sayur. neoplasma.kasus-kasus yang dianggap terjadi reaksi imunologis maka digunakan globulin antitimosit (ATG) yang mengandung antibodi untuk melawan sel T manusia untuk mendapatkan remisi sebagian. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia.

Hb 6 sampai 7g/100ml) mempunyai rambut yang rapuh dan halus serta kuku tipis.Dengan kekecualian dalam jumlah yang kecil dalam mioglobin (otot) dan dalam enzim-enzim hem. Tanda dan gejala anemia pada penderita defisiensi besi Setiap milliliter darah mengandung 0. dari 0. Kemudian besi diangkut oleh transferin plasma ke sumsum tulang untuk sintesis hemoglobin atau ke tempat penyimpanan di jaringan.10% (1 . penyerapan besi terjadi pada duodenum dan jejunum proksimal. rata. penderita defisiensi besi yang berat (besi plasma lebih kecil dari 40 mg/ 100 ml. serta mengimbangi darah yang hilang pada waktu melahirkan. Besi yang dimakan diubah menjadi besi fero dalam lambung dan duodenum.20 mg besi. Walaupun kehilangan darah karena menstruasi berhenti selama hamil. kebutuhan besi harian tetap meningkat. Namun wanita yang mengalami menstruasi kehilangan tambahan 15 sampai 28 mg/bulan. Patofisiologi anemia defisiensi besi Walaupun dalam diet rata-rata terdapat 10 .5 mg besi. tali pusat dan fetus.5 sampai 1 mg/hari. Kehilangan besi umumnya sedikit sekali. limpa dan dalam sumsum tulang sebagai feritin dan sebagai hemosiderin untuk kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut. Pada persediaan besi berkurang maka besi dari diet tersebut diserap lebih banyak. hanya sampai 5% . sepertiga sisanya disimpan dalam hati. Selain tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh anemia. pembentukan plasenta. mudah patah dan sebenarnya 12 . hal ini terjadi oleh karena volume darah ibu selama hamil meningkat.2 mg) yang sebenarnya sampai diabsorpsi.

pecah-pecah dengan kemerahan dan rasa sakit di sudut-sudut mulut. licin. Dapat juga timbul stomatitis angularis. keganasan dan hemoroid. sebab harganya mahal dan mempunyai insidens besar terjadi reaksi yang merugikan. Jumlah retikulosit mungkin normal atau berkurang. Pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif yang diakibatkan oleh polip. masih dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan hemoglobin dan mengembalikan persediaan besi. tukak.berbentuk seperti sendok (koilonikia). Preparat besi parenteral digunakan secara sangat selektif. 3. perubahan diet mungkin diperlukan untuk bayi yang hanya diberi makan susu atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar. Pengobatan anemia pada penderita defisiensi besi Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan penyebab dasar anemia. dan meradang dan sakit. mengkilat. Kadar besi berkurang walaupun kapasitas meningkat besi serum meningkat. Sebagian penderita memberi respon yang baik terhadap senyawa-senyawa oral seperti ferosulfat. Walaupun modifikasi diet dapat menambah besi yang tersedia (misalnya hati. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral. eritrosit mikrositik dan hipokrom disertain poikilositosis dan aniositosis. Pada sediaan hapus darah perifer. Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah merah normal atau hampir normal dan kadar hemoglobin berkurang. Anemia megaloblastik 13 . Selain itu atropi papilla lidah mengakibatkan lidah tampak pucat. merah daging.

serta agen kemoterapeutik. Walaupun anemia pernisiosa merupakan prototip dari anemia megaloblastik defisiensi folat lebih sering ditemukan dalam praktek klinik. Sebab-sebab atau gejala anemia megaloblastik Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat yang mengakibatkan sintesis DNA terganggu. kekurangan faktor intrinsik (seperti terlihat pada anemia pernisiosa dan postgastrekomi) infestasi parasit.Anemia megaloblastik diklasifikasikan menurut morfologinya sebagai anemia makrositik normokrom. pecandu alkoholatau pada remaja dan pada kehamilan dimana terjadi peningkatan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fetus dan laktasi. Sumber yang paling melimpah adalah daging merah (misalnya hati dan ginjal) dan sayuran berdaun hijau yang segar. penyakit usus dan keganasan. Anemia megaloblastik sering kali terlihat pada orang tua dengan malnutrisi. Kebutuhan ini juga meningkat pada anemia hemolitik. Penyakit celiac dan sariawan tropik juga menyebabkan malabsorpsi dan penggunaan obatobat yang bekerja sebagai antagonis asam folat juga mempengaruhi. 1983). 14 . Defisiensi ini mungkin sekunder karena malnutrisi. keganasan dan hipertiroidisme. Pencegahan anemia pada penderita anemia megaloblastik Kebutuhan minimal folat setiap hari kira-kira 50 mg mudah diperoleh dari diet rata-rata. malabsorpsi. cacing pita berkompetisi dengan hospes dalam mendapatkan vitamin B12 dari makanan. Individu dengan infeksi cacing pita (dengan Diphyllobothrium latum) akibat makan ikan segar yang terinfeksi. yang mengakibatkan anemia megaloblastik (Beck.

Selain gejala-gejala anemia yang sudah dijelaskan penderita anemia megaloblastik sekunder karena defisiensi folat dapat tampak seperti malnutrisi dan mengalami glositis berat (radang lidah disertai rasa sakit). Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya pengobatan bergantung pada identifikasi dan menghilangkan penyebab dasarnya. Tindakan ini adalah memperbaiki defisiensi diet dan terapi pengganti dengan asam folat atau dengan vitamin B12. Misalnya 50% sampai 90% folat dapat hilang pada cara memasak yang memakai banyak air.Tetapi cara menyiapkan makanan yang benar juga diperlukan untuk menjamin jumlah gizi yang adekuat. Tanpa adanya asupan folat persediaan folat biasanya akan habis kira-kira dalam waktu 4 bulan. penderita kecanduan alkohol yang dirawat di rumah sakit sering memberi respon “spontan” bila di berikan diet seimbang. diare dan kehilangan nafsu makan. Pengobatan anemia pada penderita anemia megaloblastik. 15 . terikat pada protein plasma secara lemah dan disimpan dalam hati. Folat diabsorpsi dari duodenum dan jejunum bagian atas. Kadar folat serum juga menurun (<4 mg/ml).

penyebab serta pengobatannya. Apakah dikarenakan pendarahan dalam tubuh yang tidak dapat berhenti. diuraikan bahwa anemia terdiri atas beberapa kelas dengan masing-masing tanda dan gejala. Sehingga klasifikasi anemia perlu dipahami dengan jelas agar tidak terjadi kesalahan pemberian pengobatan pada penderita agar tidak terjadi komplikasi penyakit pada tubuh penderita. yang paling awal kita perlu ketahui tentang anemia adalah sebab-sebab mengapa anemia dapat timbul dalam tubuh seseorang. 16 .BAB III PENUTUP Dari uraian mengenai pengklasifikasian anemia di atas. Perbedaan kelas dalam anemia. atau karena masalah sistem autoimun dalam tubuh. Dijelaskan pula mengenai akibat serta penyebab timbulnya penyakit anemia. Anemia tidak semata-mata suatu gangguan fungsi tubuh akibat kurangnya jumlah sel darah merah. dan anemia megaloblastik yang dapat diklasifikasikan juga ke dalam kelas anemia makrositik normokrom. Untuk itu. anemia defisiensi besi yang dapat juga diklasifikasikan ke dalam kelas anemia mikrositik hipokrom. tetapi pengertian anemia dapat dijelaskan menurut masing-masing jenisnya yang beragam. anemia makrositik normokrom. Diuraikan pengklasifikasian anemia menurut morfologinya terdapat anemia normositik normokrom. ataukah karena terdapat kecacatan bentuk pada sel darah merah yang dapat membuat sel darah merah tidak dapat berfungsi sebagaimana seharusnya berfungsi pada tubuh seseorang. membedakan pula dalam cara penanganannya. atau karena suplai zat gizi yang kurang bagi tubuh. dan anemia mikrositik hipokrom kemudian pengklasifikasian anemia menurut etiologinya terdapat anemia aplastik yang dapat diklasifikasikan ke dalam kelas anemia normositik normokrom.

1997. Fisiologi Kedokteran. Http://www. Semarang: Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Undip. 1996. dkk. Jakarta: Wikia Medika.majalah-farmacia. Fisika Kedokteran.com Lisyani. 2009. Sadikin. Mohamad.F.DAFTAR PUSTAKA Gabriel.com Http://www. Jakarta: EGC. Hall. J.pediatrik. Patologi Klinik II.dkk. Jakarta: EGC. 17 . 2002. Biokimia Darah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful