Bukan mengenai masalah ini, tapi merupakan perintah Allah Ta’ala untuk menjelaskan kepada manusia bahwa apa

yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu benar yaitu yang disebutkan di dalam kitab – kitab-Nya yang agung yakni Taurat dan lainnya, dan bahwa Allah Ta’ala itu Maha Benar dalam ucapan-Nya terhadap para hamba-Nya di dalam kitab-Nya yang agung, al Qur’an. Tetapi ayat ini bukan dalil yang menunjukkan sunnahnya mengucapkan, “ShadaqallaH” setelah selesai membaca al Qur’an atau membaca beberapa ayatnya atau membaca salah satu suratnya, karena hal ini tidak pernah ditetapkan dan tidak pernah dikenal dari Nabi ShallallHu ‘alaiHi wa sallam dan tidak pula dari para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum. Ketika Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu membaca awal Surat An-Nisa di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga sampai pada ayat, “Artinya : Maka bagaimanakah (halnya orang – orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap – tiap umat dan Kami mendatangkan kamu” (Hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu” [An Nisaa’ : 41] Beliau berkata pada Ibnu Mas’ud, “cukup”, Ibnu Mas’ud menceritakan, “Lalu aku menoleh kepada beliau, ternyata matanya meneteskan air mata” [Hadits Riwayat AlBukhari no. 5050)] Maksudnya, bahwa beliau menangis saat disebutkannya kedudukan yang agung itu pada hari Kiamat kelak, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tadi. “Artinya : Maka bagaimanakah (halnya orang – orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap – tiap umat dan Kami mendatangkan kamu” (Hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu” [An Nisaa’ : 41] Yaitu terhadap umat beliau. Dan sejauh yang kami ketahui, tidak ada seorang ahlul ilmi pun yang menukil dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu bahwa ia mengucapkan “shadaqallahul azhim” ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “cukup”. Maksudnya, bahwa, mengakhiri bacaan Al-Qur’an dengan ucapan “shadaqallahu azhim” tidak ada asalnya dalam syari’at yang suci. Tapi jika seorang melakukannya sekali-kali karena kebutuhan, maka tidak apa-apa. [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz (7/329-331]

kemudian menganggapnya baik. Aisyah berkata kepada Masyruq. Kemudian tidak hanya itu saja. maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah menghianati risalah. betapa besar rahmat Allah kepada kita. Allah berfirman.” (QS An Nahl : 64). Keduanya adalah sebagai rujukan setiap perselisihan yang ada di tengahtengah kaum muslimin. “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya. Sungguh. tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah. betapa besar rahmat Allah kepada kita. . mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. dengan diutusnya Rasulullah. dan mereka menerima dengan sepenuhnya.Ucapan “Shodaqollahul Adhim” Quran Bidah 10. kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan. dan telah Kucukupkan kepadamu ni ´matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). dan telah Kucukupkan kepadamu ni´matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3).355 views Ditulis oleh Agam Rosyidi dalam 9 June 2007 · 127 Komentar Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. maka sungguh ia telah berdusta !” (HR. melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. maka sungguh ia telah berdusta !” (HR. Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. . Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. “Aku telah mendengar Malik berkata. Bukhori&Muslim). Telah dipahami bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia. dengan diutusnya Rasulullah.” (QS An Nisa : 65). “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya. Kaum muslimin. “…Pada hari ini telah Kusempurnakan unutukmu agamamu…” (QS Al Maidah : 3).” …Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. Allah telah menyempurnakan agama ini. “Barang siapa yang membuat bid´ah (perkara baru dalam Islam). Aisyah berkata kepada Masyruq. Sungguh. Allah berfirman. “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini. tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. “Maka demi Rabmu. Bukhori&Muslim). karena Allah telah berfirman. Allah telah berfirman. Berkata Ibnu Majisyun.

4474 dari hadits Raafi´ bin Al Ma´la r. perhatikanlah dalil-dalil berikut ini. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no.a. Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah-nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Tak ketinggalan pula para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. 4. pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. “cukup”. “Ikutilah. sampai saat Jibril menemuinya -Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan. “Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru. dari hadits Abdullah bin Mas´ud berkata. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca. bahwa Nabi bersabda. “Berkata Nabi kepadaku. tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh rasulullah. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “sodaqollahul adzim”. Dari anak kecil sampai orang tua . 3.” (QS An Nisa : 41) beliau berkata. 799 dari hadits Anas bin Malik r. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ? Kaum muslimin. “menyebutku ?” Nabi menjawab. apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab. “ya”.” Ucapan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin.sahabat Ibnu Mas´ud telah berkata. apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). “Nabi berkata kepada Ubay. dan jangan kalian membuat perkara baru !”.” Aku berkata. mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid´ah. Ubay berkata . “Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan. “ya”.a. 2. 1. “Wahai Rasulullah. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. “Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al . Seperti perkataan Iman Syafi´i. dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. 800. 4582 dan shahih Muslim no. “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (“Orangorang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1).bertadarus Al Quran bersamanya”. “Bacakanlah padaku. 6 dan Muslim no. maka Ubay pun menangis”.” Sahabat Ibnu Mas´ud dalam hadits ini tidak menyatakan “sodaqollahul adzim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Banyak ide atau atau anggapan-anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata. Dalam shahih Bukhori no. . Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti). Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas´ud “cukup”.

Sedangkan yang dilakukan kebanyakan orang. aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”. “Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun” . “tabaarokalladzii biyadihil mulk” (“Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan…”) (QS Al Mulk : 1). jangan ditambah atau . Banyak yang tidak tau dalil2nya. sudah mengarah kepada kewajiban.Quran sebelum aku pergi ke masjid ?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid. 7. “Alhamdulillah. Dan hanya asal mengiyakan kata ustad atau kyai mereka tanapa tau dalil-dalilnya. tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa Nabi mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca ayat AlQur´an. Tapi kalau setiap kali hendak sholat selalu joget dulu. Allah berfirman. “Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya -yang membacanya/ mengahafalnyahingga ia akan diampuni. Dari ketujuh dalil yang telah kami sampaikan diatas. tapi kalau setiap selesai membaca Al-Qur’an melakukannya. beliau bersabda. tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu´man berkata. 4952 dan Muslim no. namun menganggapnya suatu sunnah ataupun suatu kewajiban yang harus dilakukan setelah membaca Al-Qur’an sama sekali tidak berdasar. Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran…. tidak ada yang melarang dan sholatnya sah.S Az Zumar :39). Sebenarnya jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid´ah (perkara yang baru) yang tidak pernah ada dan di dahului oleh genersi pertama. Satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “sodaqollahul adzim” setelah qiroatul Quran adalah bid´ah. 6.” 5. Ucapan Shodaqollahul adzim adalah baik. maka akan sangat banyak dan panjang. Andaikata sebelum kita sholat joget dulu. ia (surat yang agung itu) adalah As Sab´ul Matsaani dan Al Quranul Adzim yang telah diberikan kepadaku. Dalam Shahih Bukhori no. Analoginya seperti ini. Kita boleh saja mengucapkannya. beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat”.”(Q. namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. “Aku tidak mengetahui/hafal “qaaf wal qur´aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah. Jika kita sesekali mengucapkannya tidaklah mengapa. 494 dari hadits Baro´ bin ‘Ajib berkata. Kita beribadah karena ada perintah. patut dipertanyakan. kenapa? Bisa jadi dia telah menganggap joget tersebut suatu sunnah apalagi suatu kewajiban. dan penjelasan perintah tersebut sudah terdapat lengkap di Al-Quran dan hadis. ini yang harus dipertanyakan. lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata.

. Wal ilmu indallah. Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan As-Sunnah dan Istiqomah diatasnya.dikurang-kurangi sedikitpun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful