MEWUJUDKAN KESADARAN BERKONSTITUSI WARGA NEGARA MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Oleh: Yusnawan Lubis1 ABSTRACT In this paper, the

author argues that it is important to implementation the constitutional awwarness education by means of civic education. The goal of this program is to be good and smart citizen which are a constitutional awwarnes on themselves. A constitutional awwarness education should facilitate a learning process that takes students away from anomous to autonomous. In Indonesia, generally, the Indonesian people have the low in constitutional awwarness, so implementation of constitutional awwarness education is very urgent. Keywords: Konstitusi, Kesadaran Berkonstitusi, dan, Pendidikan Kewarganegaraan. Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran di sekolah memiliki visi mewujudkan suatu mata pelajaran yang berfungsi sebagai sarana pembinaan watak bangsa (nation and character building) dan pemberdayaan warga negara. Adapun misi mata pelajaran ini adalah membentuk warga negara yang baik, yakni warga negara yang sanggup melaksanakan hak dan kewajibannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Adapun tujuan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006 pada semua jenjang persekolahan adalah mengembangkan kompetensi: 1) Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan; 2) berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi; 3) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama
1 Penulis adalah guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di salah satu SMK di kota Tasikmalaya. Kandidat Magister Pendidikan pada Sekolah Pascasajana UPI Program studi Pendidikan Kewarganegaraan.

1

dengan bangsa-bangsa lainnya; 4) berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Berkaitan dengan hal di atas, dapat dikatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan wahana paling strategis untuk menumbuhkan kesadaran berkonstitusi siswa sebagai warga negara. Artinya melalui program Pendidikan Kewarganegaraan, siswa memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku yang berlandaskan kepada nilai, norma dan moral yang tercermin dalam konstitusi negara. Oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut diperlukan model Pendidikan mempunyai Kewarganegaraan hak dan kewajiban yang efektif, yaitu yang model harus pembelajaran bahwa ia

pembelajaran yang mampu menumbuhkan kesadaran dalam diri setiap siswa konstitusional diimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Konstitusi dan Kesadaran Berkonstitusi Setiap negara merdeka mempunyai konstitusi sebagai operasionalisasi ideologi negaranya. Secara etimologi , istilah konstitusi sangat beragam dalam setiap kosakata bahasa setiap negara. Istilah konstitusi dalam bahasa Inggris adalah constitution dan constituer dalam bahasa Perancis. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa Latin yaitu constitutio yang berarti dasar susunan badan. Dalam bahasa Belanda istilah konstitusi disebut dengan grondwet yang terdiri atas kata grond berarti dasar dan kata wet berarti undang-undang. Dengan demikian istilah konstitusi sama dengan undang-undang dasar. Kemudian, dalam bahasa Jerman istilah konstitusi disebut verfassung (Riyanto, 2000:17-19). Dalam praktek ketatanegaraan pengertian konstitusi pada umumnya memiliki dua arti. Pertama, konstitusi mempunyai arti yang lebih luas daripada undang-undang dasar. Konstitusi meliputi undang-undang dasar (konstitusi tertulis) dan konvensi (konstitusi tidak tertulis). Dengan demikian dapat dikatakan undang-undang dasar termasuk ke dalam bagian konstitusi. Kedua, konstitusi memiliki arti yang sama dengan undang-undang dasar (KC. Where dalam Riyanto, 2000:49-51). Pengertian yang kedua ini pernah diberlakukan dalam

2

Konstitusi sebagai hukum dasar yang utama dan merupakan hasil representatif kehendak seluruh rakyat. Agar tiap-tiap tujuan nasional dapat tercapai. Berkaitan dengan hal itu. haruslah dilaksanakan dengan sungguhsungguh di setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. dan/atau aturan dari semua otoritas yang diberi delegasi oleh konstitusi.praktek ketatanegaraan Republik Indonesia dengan disebutnya Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat Tahun 1945 dengan istilah Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949. perbuatan. Oleh karena itu. pelaksanaan aturan-aturan dasar konstitusi dalam praktik kehidupan 3 . Undang-Undang Dasar mengatur bentuk dan susunan negara. Hal itu sekaligus membawa konsekuensi bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan aturan tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang mengatur bagaimana kedaulatan rakyat akan dilaksanakan. prinsip yang timbul adalah setiap tindakan. alat-alat perlengkapannya di pusat dan daerah. mengatur tugas-tugas alat-alat perlengkapan itu serta hubungan satu sama lain. Solly Lubis (1978:48-49) mengemukakan bahwa Undang-Undang Dasar adalah sumber utama dari norma-norma hukum tata negara. tidak boleh bertentangan dengan basic rights dan konstitusi itu sendiri. Oleh karena itu. Inilah yang secara teoretis disebut dengan supremasi konstitusi sebagai salah satu prinsip utama tegaknya negara hukum yang demokratis. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dipandang sebagai bentuk kesepakatan bersama (general agreement) ”seluruh rakyat Indonesia” yang memiliki kedaulatan. Dengan demikian.harus diingat bahwa selain aturan-aturan dasar.Antara merupakan satu kesatuan jalan dan tujuan. Di sisi lain. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan konstitusi bangsa dan negara Indonesia adalah aturan hukum tertinggi yang keberadaannya dilandasi legitimasi kedaulatan rakyat dan negara hukum. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juga memuat tujuan nasional sebagai cita-cita tujuan kemerdekaan nasional dengan sebagaimana aturan-aturan tertuang dasar dalam tersebut Pembukaan.

Kesadaran berkonstitusi merupakan salah satu bentuk keinsyafan warga negara akan pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai konstitusi. tidak saja untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang telah dibuat berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Apabila setiap pejabat dan aparat penyelenggara negara telah memahami Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta melaksanakan wewenangnya berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. setiap produk hukum.berbangsa dan bernegara menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. 2007). kebijakan. di mana setiap tindakan penyelenggara negara serta warga negara harus dilakukan berdasarkan dan di dalam koridor hukum. dan perilaku yang bermuatan cita-cita dan komitmen luhur kebangsaan dan kebernegaraan Indonesia (Winataputra. dalam sebuah kontitusi juga terkandung hak dan kewajiban dari setiap warga negara. konstitusi harus dikawal dengan pengertian agar selalu benar-benar dilaksanakan. maka yang harus mengawal konstitusi adalah segenap penyelenggara dan seluruh warga negara dengan cara menjalankan wewenang. Hal itu harus diimbangi dengan pelaksanaan oleh seluruh warga negara.kebijakan. sikap.undangan. Apa sebenarnya kesadaran berkonstitusi itu? Kesadaran berkonstitusi secara konseptual diartikan sebagai kualitas pribadi seseorang yang memancarkan wawasan. Oleh karena itu.dan tindakan yang dihasilkan adalah bentuk pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hak. Selain itu. Untuk itu dibutuhkan adanya kesadaran berkonstitusi warga negara. tetapi juga untuk dapat melakukan kontrol pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 baik dalam bentuk peraturan perundang. Kesadaran berkonstitusi merupakan salah bagian dari kesadaran moral. dan kewajiban konstitusionalnya. 2007). Sesuai dengan salah satu pengertian negara hukum. Sebagai bagian dari kesadaran moral. maupun tindakan penyelenggara negara (Gaffar. kesadaran konstitusi mempunyai tiga unsur pokok yaitu: 1) Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan 4 .

yaitu kesadaran atau kepatuhan terhadap ketentuan konstitusi negara yang tidak jelas dasar dan alasannya atau orientasinya. berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap warga negara. Kesadaran berkonstitusi warga negara memiliki beberapa tingkatan yang menunjukkan derajat setiap warga negara dalam melaksanakan ketentuan konstitusi negara. Tingkatan-tingkatan tersebut jika dikaitkan dengan tingkatan kesadaran menurut N. yaitu kesadaran atau kepatuhan ketentuan konstitusi negara yang didasari oleh konsep kesadaran yang ada dalam diri seorang warga negara. kesadaran moral dapat dikatakan rasional karena berlaku umum. dan 3)Kebebasan.1996:637) menyatakan bahwa kemelekkan terhadap konstitusi akan mengarahkan warga negara untuk berpartisipasi melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara. 1985:24). artinya dapat disetujui. Ini pun kurang mantap sebab mudah berubah oleh keadaan dan situasi.Y Bull (Djahiri. Toni Massaro (dalam Brook Thomas. terdiri dari: 1) Kesadaran yang bersifat anomous. Winataputra (2007) mengidentifikasi beberapa bentuk kesadaran 5 . 2) Kesadaran yang bersifat heteronomous.bermoral yang sesuai dengan konstitusi negara itu ada dan terjadi di dalam setiap sanubari warga negara. Ini merupakan tingkatan kesadaran yang paling tinggi Warga negara yang memiliki kesadaran berkonstitusi merupakan warga negara yang memiliki kemelekkan terhadap konstitusi (constitutional literacy). yaitu kesadaran atau kepatuhan ketentuan konstitusi negara yang berlandaskan dasar/orientasi motivasi yang beraneka ragam atau berganti-ganti. atas kesadaran moralnya. lagi pula terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Dengan demikian kesadaran berkonstitusi merupakan hal yang bersifat rasional dan dapat dinyatakan pula sebagai hal objektif yang dapat diuniversalkan. 3) Kesadaran yang bersifat sosionomous. 2) Rasional. dan 4) Kesadaran yang bersifat autonomous. warga negara bebas untuk mentaati berbagai peraturan perundangundangan yang berlaku di negaranya termasuk ketentuan konstitusi negara (Magnis-Suseno. Oleh karena itu. di manapun dan kapanpun. Berkaitan dengan hal tersebut. yaitu kesadaran atau kepatuhan terhdap ketentuan konstitusi negara yang berorientasikan pada kiprah umum atau khalayak ramai. 1975:25). siapapun.

Kemauan untuk bersama-sama membangun persatuan dan kesatuan bangsa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap tidak primordialistik. 2. siap membela negara sesuai kapasitas dan kualitas pribadi masing-masing. Kesediaan untuk mewujudkan komitmen terhadap keadilan dan kesejahteraan dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: tidak bersikap mau menang sendiri. 3. tidak arogan. dan selalu berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa.berkonstitusi bagi warga negara Indonesia yang meliputi: 1. dan rela berkorban untuk Indonesia. berjiwa kemitraan pluralistik. Kesadaran dan pengakuan bahwa kemerdekaan Indonesia sebagai bangsa sebagai rahmat Allah Yang Maha Kuasa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: selalu bersyukur. 4. Kesadaran dan kesediaan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia sebagai hak azasi bangsa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: belajar/bekerja keras untuk menjadi manusia Indonesia yang berkualitas. Kepekaan dan ketanggapan terhadap kewajiban Pemerintah Negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap kritis. 5. dan adaptif terhadap kebijakan publik perlindungan negara. dan adaptif terhadap kebijakan publik hubungan luar negeri Indonesia. dan biasa 6 . Kemauan untuk bersama-sama membangun jiwa kemanusiaan yang adil dan beradab dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menghormati orang lain seperti menghormati diri sendiri. dan adaptif terhadap kebijakan publik pencerdasan kehidupan bangsa 6. 7. Kepekaan dan ketanggapan terhadap kewajiban Pemerintah Negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap kritis. 9. dan bersikap empatik pada orang lain 10. Kemauan untuk selalu memperkuat keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menjalankan ibadah ritual dan ibadah sosial menurut keyakinan agamanya masing-masing dalam konteks toleransi antar umat beragama. memperlakukan orang lain secara proporsional. skeptis. Kepekaan dan ketanggapan terhadap kewajiban Pemerintah Negara yang melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. tidak bersikap rakus dan korup. dan bekerja sama secara profesional. dan adaptif terhadap kebijakan publik perlindungan negara. dan keadilan sosial dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap kritis. 8. skeptis. skeptis. perdamaian abadi. Kepekaan dan ketanggapan terhadap kewajiban Pemerintah Negara untuk memajukan kesejahteraan umum dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap kritis. skeptis.

skeptis. dan berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan daerah. Kesediaan untuk mewujudkan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersifat final dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: tidak bersikap kesukuan. bebas. sosial. Kepekaan dan ketanggapan terhadap akuntabilitas publik keuangan negara dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap kritis. ekonomi. 13. cerdas dalam bersikap terhadap DPR/DPRD dan Pemerintah/Pemerintah Daerah. 17. skeptis. 18. dan agama) dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara 7 . Kesadaran untuk menempatkan Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan Negara dalam kerangka kabinet presidensil dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menghormati orang yang memegang jabatan Presiden dan Wakil Presiden. 14.kontrol dan saling imbang (check and balance). dan adaptif terhadap kebijakan publik pengelolaan keuangan negara. memelihara lingkungan alam dengan baik. 15. jujur. Kesadaran dan kemauan untuk menjaga wilayah negara dengan konsep wawasan nusantara dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: memahami dengan baik konsep wawasan nusantara. Kepekaan dan ketanggapan terhadap kedudukan kehakiman yang merdeka dalam menegakkan hukum dan keadilan dengan perwujudan perilaku sehari-hariantara lain: bersikap kritis. Kepekaan dan ketanggapan terhadap pembentukan Kementerian yang diatur undang-undang dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: bersikap kritis. 16. 11.berderma. dan adaptif terhadap kebijakan Presiden dalam penyusunan Kabinet. dan mengelola kekayaan alam sesuai peraturan perundang-undangan. Kesadaran untuk mendukung pelaksanakan otonomi daerah pada tingkat kabupaten/kota dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menghormati Pemerintah Daerah. 12. Kesadaran dan kemauan untuk turut serta melakukan perlindungan dan pemajuan hak azasi manusia (politik. 20. Kesadaran dan kemampuan untuk melaksanakan Pemilu yang langsung. pendidikan. dan kritis terhadap DPR/DPRD dan Pemerintah/Pemerintah Daerah. dan menghormati mantan Presiden/Wakil Presiden secara proporsional dan elegan. menjadi konstituen Calon/pasangan calon/ Partai Politik yang cerdas dan menjadi pelaksana Pemilu yang profesional. rahasia. menjalankan Peraturan Daerah yang relevan. tidak bersikap kedaerahan. 19. dan adil dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menjadi pemilih resmi yang cerdas. skeptis. budaya. dan adaptif terhadap kebijakan publik dalam bidang peradilan. Kesadaran akan kesejajaran Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah dengan perwujudan perilaku sehari. menghormati simbol-simbol kepresidenan. dan tidak berjiwa federalistik.

skeptis. Misalnya. Misalnya. dan adaptif terhadap kebijakan publik yang terkait langsung/tak langsung dengan berbagai dimensi hak azasi manusia. salah satunya adalah dengan pendidikan berkonstitusi melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Kita juga dapat menemukan beberapa aturan yang sama sekali tidak berhubungan dengan cara-cara pemerintahan dijalankan. Selain itu. dan berpartisipasi dalam memperkaya dan mengembangkan Bahasa Indonesia. Kesadaran akan makna dan kemampuan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan dengan perwujudan perilaku seharihari antara lain: mampu menyanyikan Lagu Indonesia Raya dengan benar dan baik. 23. Rasionalisasi Implementasi Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Dalam hidup bernegara. dan tidak memplesetkan kata-kata/nada dari Lagu Indonesia Raya untuk tujuan apapun. Pendidikan berkonstitusi merupakan hal terpenting yang harus dioptimalkan untuk menciptakan warga negara yang memiliki kesadaran berkonstitusi. 24. siapa yang menjalankan kekuasaan pemerintahan dan bagaimana kekuasaan tersebut diperoleh.lain: memahami hak dan kewajiban warga negara dan hak azasi manusia secara utuh. bagaimana aturan mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya dan bagaimana cara mencari 8 . Kesediaan untuk menghormati Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Lambang Negara dengan perwujudan perilaku sehari-hari. Berbagai bentuk kesadaran berkonstitusi warga negara sebagaimana diuraikan di atas dapat dapat terwujud jika didukung oleh berbagai faktor yang mendorong terciptanya warga negara yang sadar berkonstitusi. 21. 22. menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kesadaran akan peran dan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara secara baik dan benar dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. bersikap kritis. dan tidak merusak Sang Merah Putih dengan alasan apapun. kita dapat menemukan beberapa aturan yang mengatur bagaimana pemerintahan dijalankan. Kesadaran dan kesediaan untuk menghormati Sang Merah Putih sebagai Bendera Negara dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: menyimpan Sang Merah Putih pada tempat yang tepat dan baik. memberi hormat pada saat Sang Merah Putih sedang dinaikkan/diturunkan.

Hal tersebut menyebabkan paradigma pemikiran yang terkandung dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945 juga benar-benar berbeda dari paradigma yang terkandung dalam naskah asli. konstitusi dikatakan pula sebagai hukum dasar yang dijadikan pegangan dalam penyelenggaraan suatu negara. Hal tersebut pada hakekatnya sudah digariskan dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Konstitusi adalah seperangkat aturan atau hukum yang berisi ketentuan tentang bagaimana pemerintah diatur dan dijalankan.keadilan jika hak dilanggar orang lain. Misalnya. Pada saat kita menemukan aturan atau hukum yang berisi ketentuan yang mengatur bagaimana pemerintah dijalankan. sedangkan selebihnya sebanyak 174 butir ketentuan (88%) merupakan materi baru. Sekaitan dengan hal di atas. sedangkan 174 butir ketentuan (88%) masih banyak belum dimengerti. dalam usulan BP KNIP tanggal 29 Desember 1945 9 . Sebelum perubahan. UUD 1945 berisi 199 butir ketentuan atau bertambah sekitar 141%. Setelah perubahan. Dari 199 butir ketentuan tersebut. konstitusi harus dipahami seluruh warga negara. pendidikan kesadaran berkonstitusi merupakan hal terpenting yang harus dioptimalkan untuk menciptakan warga negara yang memiliki kesadaran berkonstitusi. Itulah sebabnya perlu upaya sungguh-sungguh untuk melakukan pendidikan kesadaran berkonstitusi (Budimansyah dan Suryadi). Seandainya semua warga negara Indonesia sudah mengetahui seluruh isi UUD 1945 sebelum perubahan. Persoalan yang terjadi di Indonesia saat ini yang ada kaitannya dengan pemahaman warga negara terhadap konstitusi adalah semakin meluasnya materi muatan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sebagai dampak dari dilakukannya perubahan konstitusi sebanyak empat kali. sebenarnya pada saat sekarang ini hanya mengetahui 25 butir ketentuan (12%) dari UUD 1945. naskah UUD 1945 yang masih asli tidak mengalami perubahan hanya sebanyak 25 butir ketentuan (12%). Karena kedudukannya yang amat penting itu. artinya kita telah menemukan bagian dari konstitusi. Oleh karena aturan atau hukum yang terdapat dalam konstitusi itu mengatur hal-hal yang amat mendasar dari suatu negara. UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan. ketika UUD 1945 pertama kali disahkan 18 Agustus 1945.

kreatif.…”. berakhlak mulia. dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. kepribadian yang mantap dan mandiri. Kemudian dalam UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas.dikemukakan bahwa “Pendidikan dan pengajaran harus membimbing muridmurid menjadi warganegara yang mempunyai rasa tanggung jawab”. dan dalam UU Nomor 12 Tahun 1954 yang dilengkapi dengan Keputusan Presiden RI Nomor 145 Tahun 1965 dan rumusannya diubah menjadi : “…melahirkan warganegara sosialis. adil dan makmur baik spirituil maupun materiil dan jang berjiwa Pancasila”.1996:76) dirumuskan secara lebih eksplisit menjadi : “…membentuk manusia susila yang cakap dan warganegara yang demokratis. mandiri. kesehatan jasmani dan rohani. berilmu. memiliki pengetahuan dan keterampilan. Selanjutnya dalam UU Nomor 4 Tahun 1950. Dalam tatanan instrumentasi kurikuler.. serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. yakni mata pelajaran Civics (Kurikulum 1957/1962). Dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 3 digariskan dengan tegas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk ”. cakap. serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”. yang ciri-cirinya dirinci menjadi “…beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur.) yang kemudian oleh Kementrian PPK dirumuskan dalam tujuan pendidikan: ”…untuk mendidik warganegara yang sejati yang bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara dan masyarakat”. Ilmu Bumi.berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.” (Pasal 4 UU No. yang bertanggung jawab atas terselenggaranya Masyarakat Sosialis Indonesia. sehat. dirumuskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah: “…mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. dan 10 . Pendidikan Kemasyarakatan yang merupakan Integrasi Sejarah. Dengan kata lain sejak tahun 1945 sampai sekarang instrumen perundangan sudah menempatkan pendidikan kesadaran berkonstitusi sebagai bagian integral dari pendidikan nasional. dalam Bab II Pasal 3 (Djojonegoro. 2/1989).. secara historis dalam kurikulum sekolah terdapat mata pelajaran yang secara khusus mengemban misi pendidikan berkonstitusi..

yang juga mengandung tujuan dan materi pendidikan berkonstitusi. dalam Pasal 37 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Berkaitan dengan hal di atas. yakni membina siswa untuk memahami hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan warga negara. Sedangkan di perguruan tinggi pernah ada mata kuliah Manipol dan USDEK. kemudian Filsafat Pancasila (1970-1980-an. untuk mengoptimalkan peran Pendidikan Kewarganegaraan tersebut. Dalam mata pelajaran/mata kuliah tersebut baik secara tersurat maupun tersirat terdapat materi tentang pendidikan berkonstitusi. Winaputra (2007) mengemukakan beberapa asumsi mengenai perlunya penguatan konsep mengenai kedudukan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai media pendidikan berkonstitusi. dan asas-asas ideologi negara amat relevan untuk memperkaya materi Pendidikan Kewarganegaraan. hak-hak asasi manusia. Oleh karena itu. Berdasarkan kenyataan tersebut. termasuk di dalamnya memahami konstitusi (melek konstitusi). Sementara itu dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai paket Penataran P-4 (sejak 1970-an s/d 1990-an). Sejarah Indonesia. (1960-an). diperlukan upaya untuk memperkuat konsep Pendidikan Kewarganegaraan sebagai media pendidikan kesadaran berkonstitusi. Pancasila dan UUD 1945. dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKn (Kurikulum 1994). Hal ini dikarenakan salah satu misi Pendidikan Kewarganegaraan adalah sebagai pendidikan politik. cita-cita rakyat. dan Pendidikan Pancasila (1980-1990-an). dan Civics (Kurikulum 1968/1969). yang merupakan perpaduan Ilmu Bumi. diantaranya: 11 .Kewarganegaraan (Kurikulum 1964). Pendidikan Moral Pancasila atau PMP (Kurikulum 1975 dan 1984). Kini. Pendidikan Kewargaan Negara. Selain itu. Pendidikan Kewargaan Negara dan Civics & Hukum (1973). yang merupakan wahana pokok pendidikan kesadaran berkonstitusi. dinyatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan. merupakan salah satu muatan wajib kurikulum pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan tinggi. materi muatan konstitusi seperti organisasi negara. Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai peranan yang strategis dalam mengimplementasikan pendidikan kesadaran berkonstitusi.

berwatak. 4.Transformasi demokrasi dalam kehidupan berkonstitusi Indonesia memerlukan konsepsi yang diyakini benar dan bermakna yang didukung dengan sarana pendidikan yang tepat sasaran. dan untuk membangun demokrasi konstitusional (education about. yang di dalamnya mewadahi pendidikan tentang. nonformal. 12 . dan secara kontekstual handal dan akseptabel untuk kehidupan demokrasi di Indonesia. cerdas.Komitmen nasional untuk memfungsikan pendidikan sebagai wahana untuk ”mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” (Pasal 3 UU RI 20 tahun 2003) memerlukan wahana psiko-pedagogis (pengembangan potensi peserta didik di sekolah) dan sosio-andragogis (fasilitasi pemberdayaan pemuda dan orang dewasa dalam masyarakat) yang memungkinkan terjadinya proses belajar berdemokrasi sepanjang hayat dalam konteks kehidupan berkonstitusi. 3. dan berkeadaban.Untuk mendapatkan model pendidikan berkonstitusi dalam rangka pendidikan kewarganegaraan yang secara psiko-pedagogis dan secara sosio-andragogis akseptabel dan handal. tepat strategi.Secara psiko-pedagogis dan sosio-andragogis. through. berwatak. dan informal selama ini belum mencapai sasaran optimal dalam mengembangkan masyarakat yang cerdas. demokratis. diperlukan upaya untuk mengkaji kekuatan konteks. Untuk itu diperlukan upaya sistematis dan sistemik untuk mengembangkan model pendidikan berkonstitusi yang secara teoritis dan empiris valid.1. 2. 5. pendidikan berkonstitusi yang dianggap paling tepat adalah pendidikan untuk mengembangkan kewarganegaraan yang demokratis (education for democratic citizenship). melalui. kehandalan masukan. dan tepat konteks agar setiap individu warganegara mampu memerankan dirinya sebagai warganegara yang sadar konstitusi. dan proses guna menghasilkan perilaku warganegara Indonesia yang sadar dan hidup berkonstitusi menurut UUD 1945. and for democracy). baik.Pendidikan berkonstitusi yang dilakukan melalui pendidikan kewarganegaraan dalam konteks pendidikan formal. dan berkeadaban.

yang notabene adalah warga negara muda calon pemimpin bangsa dan negara di masa depan. mengerti dan menyadari betul bahwa dalam suatu negara demokratis penegakan hukum bukanlah semata-mata untuk tegaknya hukum secara formal dalam proses peradilan. 2. kemiskinan. Berkaitan dengan hal tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik. 2007) untuk memfasilitasi proses internalisasi konsep. Model Law-Related Education atau Pendidikan Terkait Hukum (PTH). Model ini diangkat oleh Newman (Winataputra. implementasi pendidikan kesadaran berkonstitusi melalui Pendidikan Kewarganegaraan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alternatif model pembelajaran. nilai. diantaranya adalah: 1. pemerataan. Model Jurisprudential Inquiry Model ini diangkat oleh Joyce dan Weil.Model-Model Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang Relevan untuk Mengimplementasikan Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi Pendidikan Kewarganegaraan merupakan program pendidikan yang dapat dioperasionalisasikan dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran. Model ini bertujuan untuk memfasilitasi peserta didik dalam belajar civic/citizenship education guna menginternalisasi hakekat dan proses penetapan kebijakan publik melalui proses proyek belajar pemecahan masalah. tetapi juga untuk terpenuhinya rasa keadilan secara materiil dalam kenyataan hidup masyarakat negara. dan norma yang terkandung dalam konstitusi dan sejenisnya. dan penyalahgunaan kekuasaan. Isu kebijakan publik yang paling cocok dibelajarkan dengan model ini antara lain mencakup keadilan. 13 . Hal ini dikarenakan Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai banyak sekali alternatif metode pembelajaran yang senantiasa mampu menyesuaikan diri dan berkembang sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran. Strategi pembelajaran yang disarankan untuk digunakan dalam model ini antara lain adalah Socratic dialogue yang ditandai dengan tanya jawab dialektis.

Strategi pembelajaran yang utama dalam model ini adalah pemecahan masalah sosial terkait kebijakan publik secara kelompok dan simulasi dengar pendapat (simulated public hearing) sebagai wahana psiko-pedagogis untuk melatih keterampilan argumentasi secara terbuka. Dengan cara itu peserta didik akan semakin peka. dan konstruktif melalui cara bedah kasus yang secara umum dikenal dengan show-case (Bennet. Tujuan dari model ini adalah berkembangnya kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi masalah. 4.. Probinglifting digunakan untuk menantang proses berpikir dari tahap sederhana ke tahap yang semakin kompleks. 2007) memiliki 14 . tanggap. dan kontributif terhadap proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik di lingkungannya. kritis. Model yang dikembangkan oleh Potter (dalam Winataputra. mengidentifikasi dan memilih pemecahan masalah. memilih masalah untuk dipecahkan secara kelompok.penggunaan analogi. dan probing-extending digunakan untuk menantang proses berpikir dari hal yang sempit ke hal yang semakin meluas. merumuskan usulan kebijakan.Project Citizen Model ini dikembangkan dan didiseminasikan oleh Center for Civic Education melalui jaringan CIVITAS International. 3. 2005). Model ini pada dasarnya bertolak dari pendekatan Project John Dewey yang direkonstruksi sebagai social inquiry project dan group investigation yang terfokus pada kajian dan partisipasi warga negara dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik. dan menyosialisasikan usulan kebijakan agar mendapat dukungan luas. dan refleksi mendalam dengan peranan guru sebagai penguji posisi pandangan peserta didik melalui rangkaian pertanyaan probing baik yang berbentuk probing-lifting maupun probing-extending. Model We the People. Kunci dari model ini adalah proses kajian konstitusionalitas dari proses pembuatan dan penerapan kebijakan publik itu.. Model Teaching with Primary Source Documents atau dapat juga disebut Model Belajar Berbantuan Arsip Negara.

Model-model di atas dapat membantu guru untuk menghindari indoktrinasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. (2) menentukan kaitan isi dokumen dengan kompetensi dalam kurikulum. duties. seperti Kebangkitan Nasional 1908. and responsibilities and able to act upon these when confronted with real issues. yaitu: (1) menentukan bagian dari dokumen yang masih bisa digunakan. Surat Perintah 11 Maret 1966. Strategi pembelajaran yang digunakan mengikuti langkah-langkah Proyek-Belajar. (6) memanfaatkan dokumen yang relevan sebagai sumber belajar. dan memiliki empati terhadap peristiwa sejarah politik Indonesia. adakalanya jika tidak menggunakan metode yang tepat guru akan terjebak pada proses pembelajaran yang indoktrinatif. guru dapat terhindar dari hal tersebut. (3) memetakan kaitan isi dokumen dengan isu atau konsep yang menjadi fokus pembelajaran.makna yang sangat besar dalam pengembangan kesadaran kebernegaraan dalam hal memfasilitasi peserta didik untuk menjadi . Dalam konteks Indonesia model ini dapat digunakan untuk memfasilitasi peserta didik memahami secara mendalam. Desain Model Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Upaya 15 . dengan menggunakan model-model pembelajaran yang demokratis seperti yang diuraikan diatas. Dekrit Presiden 5 Juli 1959. (4) menentukan manfaat personal apa bagi peserta didik dari dokumen tersebut. aware of their rights. (5) membangun konteks pembelajaran terkait dokumen.. Peristiwa G30S/PKI 1965.. Hal ini dikarenakan dalam membelajarkan materi yang berhubungan dengan konstitusi negara. (7) memanfaatkan dokumen terpilih untuk memunculkan berbagai pertanyaan kritis. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. menangkap makna. dan Peristiwa Malari 1974. Oleh karena itu. Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945. sehingga pendidikan kesadaran berkonstitusi melalui Pendidikan Kewarganegaraan dapat dioperasionalisasikan secara efektif.engaged citizens. dan (8) memerankan peserta didik untuk menjadi sejarahwan-politik-kecil dalam mengkaji dokumen dengan menggunakan metode sejarah.

Penghormatan. dan perlindungan hak azasi manusia (politik. skeptis. 3. penghormatan. situs dan sumber belajar. bersikap kritis. Alokasi Waktu : 8 x 45 menit (4 kali pertemuan) 1. Kompetensi Kewarganegaraan Kesadaran dan kemauan untuk turut serta melakukan uoaya pemajuan. dan adaptif terhadap kebijakan publik yang terkait langsung/tak langsung dengan berbagai dimensi hak azasi manusia. Penghormatan. penilaian. kompetensi kewarganegaraan. sosial. dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. strategi belajar. dan agama) dengan perwujudan perilaku sehari-hari antara lain: memahami hak dan kewajiban warga negara dan hak azasi manusia secara utuh. Desain Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaan untuk Meningkatkan Kesadaran Berkonstitusi Warga negara Jenjang Pendidikan : Sekolah Menengah Atas Kelas/Semeter :I/1 Materi Pokok : Upaya Pemajuan. indikator hasil belajar. budaya. dan refleksi. Materi Pokok Upaya Pemajuan. Berikut ini desain model pembelajaran tersebut. ekonomi. pendidikan. Model pembelajaran memiliki elemenelemen: materi pokok. dan Perlindungan Hak Asasi Manusia.Meningkatkan Kesadaran Berkonstitusi Warga Negara Bertolak dari berbagai konsep yang digali dari kerangka teori Pendidikan Kewarganegaraan dan beberapa model pembelajaran yang selama ini berkembang dalam instrumentasi dan praksis pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Penghormatan. Indikator Hasil Belajar 16 . berikut ini dikembangkan paradigma generik pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk meningkatkan kesadaran berkonstitusi warga negara dengan mengambil contoh materi pokok: Upaya Pemajuan. dan Perlindungan Hak Asasi Manusia 2.

Dalam model ini ditetapkan langkah-langkah: a. Model ini menerapkan secara adaptif prinsipprinsip yang digali dari model Project Citizen. g. Jurisprudential Inquiry dan Group Investigation. c. penghormatan dan penegakkan Hak Asasi Manusia baik yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia maupun pengadilan HAM internasional. h. pemghormatan dan perlindungan hak asasi manusia baik di Indonesia ataupun negara lainnya. Law-Related Education. d. menganalisis upaya pemajuan.. Aku Warganegara Indonesia”. 5. melakukan refleksi/evaluasi atas proses pemajuan.mengidentifikasi masalah-masalah yang tercatat muncul dalam upaya pemajuan. melakukan simulasi persidangan atas perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia. menjelaskan pengertian Hak Asasi Manusia. mengidentifikasi berbagai instrumen Hak Asasi Manusia di Indonesia dan di tingkat internasional. penghormatan dan penegakkan Hak Asasi Manusia.. i. penghormatan dan perlindungan Hak Asasi Manusia baik di Indonesia maupun di tingkatan internasional. b. mengidentifikasi berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia dan negara lain. antara lain dapat: a. mengindentifikasi macam-macam Hak asasi Manusia. f. 17 . menampilkan peran serta dalam upaya pemajuan.Perilaku peserta didik yang diharapkan dapat dikembangkan melalui dan menjadi indikator keberhasilan proses pembelajaran. memerankan tokoh-tokoh pembela hak asasi manusia di Indonesia. e. Strategi Pembelajaran Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan Model Praktik-Belajar: ”.

memilih pimpinan. mencatat. pemghormatan dan perlindungan hak asasi manusia baik di Indonesia ataupun negara lainnya untuk dikaji oleh kelas. bahan tersiar. Dalam setiap langkah siswa difasilitasi untuk belajar secara mandiri dalam kelompok kecil dengan menggunakan aneka ragam sumber belajar di sekolah dan di luar sekolah (manusia. dan lian-lain. Dalam model ini berbagai keterampilan dikembangkan. yang secara utuh melukiskan integrated learning experiences atau pengalaman belajar yang terpadu yang dialami oleh siswa dalam kelas sebagai suatu kesatuan.b. alam sekitar. menarik perhatian.mengumpulkan informasi yang terkait pada masalah itu melalui studi kepustakaan. mendengar pendapat orang lain. dokumentasi. c. dan bermain peran. dan lain-lain).memilih suatu masalah yang paling pelik dalam upaya pemajuan. bahan tertulis. menyepakati. seperti: membaca. d. berargumentasi. mengkaji. membagi tugas. merumuskan. artifak. Portofolio merupakan tampilan visual dan audio yang disusun secara sistematis yang melukiskan proses berfikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan. memerankan tokoh tertentu.menyajikan portofolio kelas dalam suatu simulasi dengar pendapat (simulated public hearing). e. yakni “portofolio tampilan” dan “portofolio dokumentasi”. menimbang. f. bertanya. situs sejarah. Portofolio tampilan berbentuk papan empat muka berlipat yang secara berurutan menyajikan: 18 . mendramatisasikan peristiwa. Portofolio terbagi dalam dua bagian. merancang perwajahan. dan komunikasi dengan nara sumber.mengembangkan portofolio kelas melalui diskusi. simulasi. menjelaskan. bahan terrekam. melakukan refleksi pengalaman belajar dalam suatu pertemuan klasikal yang dipimpin oleh guru. memilih.

1) rangkuman permasalahan yang dikaji. mengidentifikasi berbagai instrumen Hak Asasi Manusia di Indonesia dan di tingkat internasional (tes tertulis). 6. 2) berbagai alternatif pemecahan masalah. 19 . 4) pengembangan rencana kerja/tindakan. c. Dalam model ini yang menjadi situs belajar adalah iklim kelas dan iklim sekolah yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Situs dan Sumber Belajar Situs belajar (site of citizenship) adalah tatanan fisik dan sosial-kultural dalam pengertian statis dan dinamis yang dikelola demikian rupa sehingga memberikan suasana psiko-pedagogis yang optimal bagi berkembangnya kesadaran hidup berkonstitusi. dan catatan anekdotal (anecdotal note) dilakukan dengan cara mengkaji keterampilan indikator perilaku yang mencerminkan kemampuan-kemampuan sebagai berikut: a. daftar cek (check list). serta lingkungan di luar sekolah yang mencerminkan kehidupan yang diwarnai oleh penghargaan yang tinggi terhadap hak asasi manusia. 3) usulan kebijakan untuk memecahkan masalah. b. penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia. 7. Sedangkan portofolio dokumentasi dikemas dalam Map Ordner atau sejenisnya yang disusun secara sistematis mengikuti urutan portofolio tampilan. khususnya dalam kaitannya dengan substansi upaya pemajuan. mengindentifikasi macam-macam Hak asasi Manusia (tes tertulis). Penilaian Penilaian terhadap perilaku peserta didik yang dikembangkan dengan menggunakan tes tertulis. Portofolio tampilan dan dokumentasi selanjutnya disajikan dalam suatu simulasi public hearing atau dengar pendapat yang menghadirkan pejabat setempat yang terkait dengan masalah portofolio tersebut. menjelaskan pengertian Hak Asasi Manusia (tes tertulis).

h.d. penghormatan dan penegakkan Hak Asasi Manusia baik yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia maupun pengadilan HAM internasional (tes tertulis). g. e. melakukan simulasi persidangan atas perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia (daftar cek). 8. Refleksi Refleksi adalah proses pengungkapan pengalaman reflektif/evaluatif mengenai keseluruhan permasalahan dalam proses pemajuan. Kunci keberhasilannya terletak pada kemauan dan ketertarikan seluruh stakeholders Pendidikan Kewarganegaraan terutama guru untuk mengoperasionalisasikan berbagai model pembelajaran yang mendukung pada penguatan peran dan kedudukan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai wahana untuk meningkatkan kesadaran berkonstitusi siswa yang notabene merupakan warga negara muda (young citizen). mengidentifikasi berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia dan negara lain (tes tertulis). Desain model pembelajaran di atas merupakan salah satu dari sekian banyak model pembelajaran dalam Pendidikan Kewarganegaraan. Penutup peran serta dalam upaya pemajuan. sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kesadaran berkonstitusi siswa selaku warga negara. f. penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia. menampilkan cek). Dengan melakukan refleksi guru memberikan penguatan klasikal dan individual berkaitan dengan keseluruhan proses pembelajaran dan ketertampilan kompetensi yang menjadi tumpuan dan muara dari keseluruhan proses pembelajaran. penghormatan dan penegakkan Hak Asasi Manusia (daftar 20 . menganalisis upaya pemajuan. memerankan tokoh-tokoh pembela hak asasi manusia di Indonesia (daftar cek).

html [4 Desember 2007] Budimansyah. Jakarta: Balai Pustaka Faiz. Djoyonegoro. termasuk di dalamnya memahami konstitusi (melek konstitusi).org . Djahiri. Daftar Pustaka Bennett. (2008). Lima Puluh Tahun Pendidikan Indonesia. Selain itu. (1996). Model-model tersebut membantu guru untuk menghindari indoktrinasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai peranan yang strategis dalam mengimplementasikan pendidikan kesadaran berkonstitusi.K..civiced. materi muatan konstitusi seperti organisasi negara. We the People: The Citizen and the Constitution 2005 National Finalists’ Knowledge of and Support for American Democratic Institution and Processes. Model We the People. Menabur Benih Constitutional Complain. P. Bandung: Program Studi PKn SPs UPI.Pendidikan kesadaran berkonstitusi merupakan hal terpenting yang harus dioptimalkan untuk menciptakan warga negara yang memiliki kesadaran berkonstitusi. A. Hal ini dikarenakan salah satu misi Pendidikan Kewarganegaraan adalah sebagai pendidikan politik. dan asas-asas ideologi negara amat relevan untuk memperkaya materi Pendidikan Kewarganegaraan.. (2007). Tersedia: 21 .Project Citizen. K. yakni membina siswa untuk memahami hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat dan warga negara. [Online]. Implementasi pendidikan kesadaran berkonstitusi melalui Pendidikan Kewarganegaraan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alternatif model pembelajaran. M. PKn dan Masyarakat Multikultural. (2005). Bandung: Jurusan PMPKN IKIP Bandung. diantaranya adalah model Law-Related Education atau Pendidikan Terkait Hukum (PTH). (1985).F. D dan Suryadi. Model Teaching with Primary Source Documents atau Model Belajar Berbantuan Arsip Negara. Jurisprudential Inquiry. Tersedia: http://www. cita-cita rakyat. Strategi Pengajaran Afektif-Nilai-Moral VCT dan Games dalam VCT. S. [Online]. W. hak-hak asasi manusia.

html [20 November 2007) Winataputra. Tersedia: http://www.go.go. [Online]. Bandung: Yapemdo Lubis. [Online].M. html [4 Desember 2007] Winataputra. Civic Education: Konteks. T.M. [Online]. Html [20 Oktober 2007] Gaffar.http://www. Asas-asas Hukum Tata Negara.id . A. Bahan Ajar dan Kultur Kelas.yahoo. html [4 Desember 2007] ________.id . (1978).koransindo. B. U. Constitutional Literacy. Bandung: Alumni Thomas. [Online]. 22 . http://www. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. html [4 Desember 2007] Riyanto. M.com/pqdweb.S.com Html [25 Oktober 2007] Tersedia: Magnis-Suseno. Etika Umum. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan SPs UPI . Tersedia: http://www. A Core Curriculum for a Multicultural Nation.S. J. Massaro.dpr.S. Landasan.id .proquest/pqdweb. London: Duke University Press Republik Indonesia. (2007). U. (1985). (2007). Constitutional Literacy: Plessy and Brown in The Writing Class. (2007). Tersedia: http://www. [Online]. (2002). F. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tersedia: http://www.(2000).. (2002).depdiknas. dan Dasim Budimansyah.dpr.com. (1993).V. Yogyakarta: Kanisius. Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi: Alternatif Model Pembelajaran Kreatif-Demokratis untuk Pendidikan Kewarganegaraan. Teori Konstitusi.go. (1996). Mengawal Konstitusi.