P. 1
Kelas Menengah Sebuah Persoalan

Kelas Menengah Sebuah Persoalan

|Views: 454|Likes:
Published by Peter Kasenda
Mundurnya Chalavit diawali dengan bangkitnya para pengusaha, karyawan, dan kelompok kelas menengah Thailand untuk menuntut disahkannya konsitusi baru antikorupsi. Mereka nenuntut PM Chavalit mundur, karena telah melakukan pembelian suara dalam pemilu November 1997 dan melakukan korupsi dan melakukan korupsi serta membiarkan sistim ekonomi yang buruk. Pihak oposisi menuntut pertanggungjawaban terhadap praktik suap tender proyek-proyek pemerintah yang nilainya milyaran bath dan berbagai skandal bank komersial yang memberi kontribusi terhadap jatuhnya perekonomian Thailand Gejolak yang sama yang muncul di Korea Selatan sewaktu pemerintah memutuskan secara sepihak UU perburuhan Para professional bergabung bersama dengan para buruh dan mahasiswa mendemontrasi kebijakan pemerintah itu.

Kejadian yang serupa terjadi di Indonesia. pada tahun berikutnya. Soeharto dipaksa mundur dari jabatannya sebagai presiden. Sebagaimana kita ketahui, sejak awal tahun 1998 terjadi gelombang aksi besar-besaran dengan tema yang kemudian dengan cepat menguasai diskursus publik. Gerakan reformasi yang gegap gempita itu merupakan awal dari sebuah peristiwa politik yang bersejarah, bukan hanya karena gelombang aksi itu berhasil menurunkan Soeharto, tetapi sekaligus menjadi momentum dari apa yang bisa disebut sebagai “aliansi kelas menengah“—sebuah koalisi antarkelompok sosial terpelajar yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan bisa bersatu melawan kekuasaan rezim Orde Baru yang sebelumnya demikian kokoh. (Muhammad, 2001: 41)

Sejarah Perkembangan di Barat

Latar belakang sejarah timbulnya kelas menengah di Barat. Selama berabad-abad kaum feodal dengan raja, pangeran, dan sebagainya, menguasai tanah-tanah luas. Dan kekayaan serta kekuasaan mereka bertumpu pada penguasaan tanah-tanah luas ini. Di abad pertengahan mulai timbul pergeseran dalam penguasan ekonomi sumber-sumber hidup rakyat Hal ini erat sangkutannya dengan berkembangnya kota-kota, dan tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi di dalam kota-kota, dalam bentuk berbagai kegiatan ekonomi di dalam kota-kota, dalam bentuk berbagai kegiatan perdagangan, pembuatan barang-barang (manufacturing industry) dalam skala kecil saja pada permulaannya. Kegiatan-kegiatan niaga, keuangan dan industri baru ini menimbulkan kelompok sosial dan fungsional kelas menengah yang kohesif pada permulaannya Kelompok ini juga mengembangkan semangat mempertahankan kepentingan umum, dan membawa mereka pada kesadaran diri sebagai warga masyarakat. Dan kesadaran ini juga mendorong mereka untuk meneguhkan hak-hak khusus hukum dan hak-hak umum mereka yang lain. Kesadaran ini juga mendorong mereka untuk sedia, jika diperlukan dengan memakai kekerasan, untuk mengakhiri perbatasan-perbatasan terhadap berbagai hak penduduk yang selama ini dipaksakan kepada rakyat oleh tuan-tuan feodal penguasa tanah-tanah.

Mundurnya Chalavit diawali dengan bangkitnya para pengusaha, karyawan, dan kelompok kelas menengah Thailand untuk menuntut disahkannya konsitusi baru antikorupsi. Mereka nenuntut PM Chavalit mundur, karena telah melakukan pembelian suara dalam pemilu November 1997 dan melakukan korupsi dan melakukan korupsi serta membiarkan sistim ekonomi yang buruk. Pihak oposisi menuntut pertanggungjawaban terhadap praktik suap tender proyek-proyek pemerintah yang nilainya milyaran bath dan berbagai skandal bank komersial yang memberi kontribusi terhadap jatuhnya perekonomian Thailand Gejolak yang sama yang muncul di Korea Selatan sewaktu pemerintah memutuskan secara sepihak UU perburuhan Para professional bergabung bersama dengan para buruh dan mahasiswa mendemontrasi kebijakan pemerintah itu.

Kejadian yang serupa terjadi di Indonesia. pada tahun berikutnya. Soeharto dipaksa mundur dari jabatannya sebagai presiden. Sebagaimana kita ketahui, sejak awal tahun 1998 terjadi gelombang aksi besar-besaran dengan tema yang kemudian dengan cepat menguasai diskursus publik. Gerakan reformasi yang gegap gempita itu merupakan awal dari sebuah peristiwa politik yang bersejarah, bukan hanya karena gelombang aksi itu berhasil menurunkan Soeharto, tetapi sekaligus menjadi momentum dari apa yang bisa disebut sebagai “aliansi kelas menengah“—sebuah koalisi antarkelompok sosial terpelajar yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan bisa bersatu melawan kekuasaan rezim Orde Baru yang sebelumnya demikian kokoh. (Muhammad, 2001: 41)

Sejarah Perkembangan di Barat

Latar belakang sejarah timbulnya kelas menengah di Barat. Selama berabad-abad kaum feodal dengan raja, pangeran, dan sebagainya, menguasai tanah-tanah luas. Dan kekayaan serta kekuasaan mereka bertumpu pada penguasaan tanah-tanah luas ini. Di abad pertengahan mulai timbul pergeseran dalam penguasan ekonomi sumber-sumber hidup rakyat Hal ini erat sangkutannya dengan berkembangnya kota-kota, dan tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi di dalam kota-kota, dalam bentuk berbagai kegiatan ekonomi di dalam kota-kota, dalam bentuk berbagai kegiatan perdagangan, pembuatan barang-barang (manufacturing industry) dalam skala kecil saja pada permulaannya. Kegiatan-kegiatan niaga, keuangan dan industri baru ini menimbulkan kelompok sosial dan fungsional kelas menengah yang kohesif pada permulaannya Kelompok ini juga mengembangkan semangat mempertahankan kepentingan umum, dan membawa mereka pada kesadaran diri sebagai warga masyarakat. Dan kesadaran ini juga mendorong mereka untuk meneguhkan hak-hak khusus hukum dan hak-hak umum mereka yang lain. Kesadaran ini juga mendorong mereka untuk sedia, jika diperlukan dengan memakai kekerasan, untuk mengakhiri perbatasan-perbatasan terhadap berbagai hak penduduk yang selama ini dipaksakan kepada rakyat oleh tuan-tuan feodal penguasa tanah-tanah.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Kelas Menengah: Sebuah Persoalan

Sejarah masyarakat hingga kini adalah sejarah pertentangan kelas (Karl Marx)

Mundurnya Chalavit diawali dengan bangkitnya para pengusaha, karyawan, dan kelompok kelas menengah Thailand untuk menuntut disahkannya konsitusi baru antikorupsi. Mereka nenuntut PM Chavalit mundur, karena telah melakukan pembelian suara dalam pemilu November 1997 dan melakukan korupsi dan melakukan korupsi serta membiarkan sistim ekonomi yang buruk. Pihak oposisi menuntut pertanggungjawaban terhadap praktik suap tender proyek-proyek pemerintah yang nilainya milyaran bath dan berbagai skandal bank komersial yang memberi kontribusi terhadap jatuhnya perekonomian Thailand Gejolak yang sama yang muncul di Korea Selatan sewaktu pemerintah memutuskan secara sepihak UU perburuhan Para professional bergabung bersama dengan para buruh dan mahasiswa mendemontrasi kebijakan pemerintah itu. Kejadian yang serupa terjadi di Indonesia. pada tahun berikutnya. Soeharto dipaksa mundur dari jabatannya sebagai presiden. Sebagaimana kita ketahui, sejak awal tahun 1998 terjadi gelombang aksi besar-besaran dengan tema yang kemudian dengan cepat menguasai diskursus publik. Gerakan reformasi yang gegap gempita itu merupakan awal dari sebuah peristiwa politik yang bersejarah, bukan hanya karena gelombang aksi itu berhasil menurunkan Soeharto, tetapi sekaligus menjadi momentum dari apa yang bisa disebut sebagai “aliansi kelas menengah“—sebuah koalisi antarkelompok sosial terpelajar yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan bisa bersatu melawan kekuasaan rezim Orde Baru yang sebelumnya demikian kokoh. (Muhammad, 2001: 41) Sejarah Perkembangan di Barat Latar belakang sejarah timbulnya kelas menengah di Barat. Selama berabad-abad kaum feodal dengan raja, pangeran, dan sebagainya, menguasai tanah-tanah luas. Dan kekayaan serta kekuasaan mereka bertumpu pada penguasaan tanah-tanah luas ini. Di abad pertengahan mulai timbul pergeseran dalam penguasan ekonomi sumber-sumber hidup rakyat Hal ini erat sangkutannya dengan berkembangnya kota-kota, dan tumbuhnya berbagai kegiatan ekonomi di dalam kota-kota, dalam bentuk berbagai kegiatan ekonomi di dalam kota-kota, dalam bentuk berbagai kegiatan perdagangan, pembuatan barangbarang (manufacturing industry) dalam skala kecil saja pada permulaannya. Kegiatankegiatan niaga, keuangan dan industri baru ini menimbulkan kelompok sosial dan 1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda fungsional kelas menengah yang kohesif pada permulaannya Kelompok ini juga mengembangkan semangat mempertahankan kepentingan umum, dan membawa mereka pada kesadaran diri sebagai warga masyarakat. Dan kesadaran ini juga mendorong mereka untuk meneguhkan hak-hak khusus hukum dan hak-hak umum mereka yang lain. Kesadaran ini juga mendorong mereka untuk sedia, jika diperlukan dengan memakai kekerasan, untuk mengakhiri perbatasan-perbatasan terhadap berbagai hak penduduk yang selama ini dipaksakan kepada rakyat oleh tuan-tuan feodal penguasa tanah-tanah. Peralihan dari perekonomian abad pertengahan ke ekonomi modern mula-mula terjadi di Italia, dan disusul di seluruh Eropa, dan adalah untuk sebagian besar upaya kaum borjuis komersial dan industri yang hidup dan bekerja di kota-kota ini. Selama masa pertumbuhan kapitalisme mereka tetap menduduki tempat yang dinamakan “status menengah“ ini di antara keluarga-keluarga berhak istimewa yang lama (kaum bangsawan, pemilik tanah) dan lapisan masyarakat yang disebut “serft “ (pekerja-pekerja pertanian yang dikuasai oleh pemilik-pemilik tanah) dan rakyat petani yang terpaku pada tanah mereka. Transformasi dari kedudukan di tengah ini perlahan-lahan terjadi sehingga kelompok ini menjadi “kelas menengah“. Kelas menengah yang timbul terdiri dari campuran unsur-unsur ekonomi dan kemasyarakatan yang heterogenous sifatnya, dan sering saling bertentangan. Keadaan ini merupakan refleksi tidak saja dari kemuduran pemilik tanah-tanah yang luas berhak istimewa selama ini, tetapi juga merupakan kecenderungan struktur sosial yang tumbuh jadi bertambah kompleks yang menjelma di tingkat-tingkat perkembangan kapitalisme kemudian.Setiap langkah transisi dan merkantilisme ke liberalisme industrial ke neo-merkantilisme yang monopolistik disertai persekutuan-persekutuan baru dan ketegangan baru di dalam “kelompok-kelompok ekonomi menengah“ ini. Kaum borjuis modern, meskipun berasal dari warga kota di abad pertengahan, dan merupakan kelas menengah selama masa perantara adalah kelas menengah dalam arti harfiah katanya itu. Hanya oleh teori sosial Marxis diartikan sebagai minoritas di atas memegang hak-hak istimewa, dan menikmati nilai-nilai (surplus value) dan perlakuan istimewa dari negara, dan secara yang tidak ditahan mendorong korban-korbannya ke dalam barisan proletar. Satu pandangan lain mengatakan bahwa ke dalam kelas menengah harus pula dimasukkan pengusaha-pengusaha menengah di dalam industri dan perdagangan penghasil barang-barang, seperti pengrajin dan petani, pemilik warung dan toko pedagang kecil, pegawai negeri, dan pekerja-pekerja yang mendapat gaji, pengacara berpraktek bebas, dokter dan kaum profesional lainnya.Sulit rasanya untuk membedakan antara pengusaha kelas kakap dan kelas sedang. Keduanya harus dimasukkan ke dalam kelas menengah. Dalam proses mencapai usaha “laissez faire“ yang dilahirkan oleh Revolusi Perancis dan Amerika, pengusaha-pengusaha kecil memegang peran yang menentukan. Suksesnya revolusi-revolusi di akhir abad ke 18 dan di pertengahan abad ke 19 tidak saja berarti kehancuran kekuasaan-kekuasaan feodalnya, kekuasaan gereja dari raja, tetapi juga dibarengi oleh reorientasi kedudukan kelas menengah itu sendiri. 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Mereka mau hak kebebasan berdagang dan menantang diteruskannya kedudukankedudukan kuat “guilds“ (serikat kemahiran kerja) yang seakan memonopoli produksi berbagai barang, dan susah sekali dimasuki orang luar. Mereka juga menentang hak-hak istimewa kelompok-kelompok tertentu, memonopoli, subsidi, pengaturan harga dan pembatasan-pembatasan lain terhadap perusahan dan pengusaha, yang diwariskan oleh rezim otokratik di masa lampau. Konsep perdagangan bebas juga menuntut dihapuskannya konvesi feodal mengenai pemilikan tanah, karena secara tak wajar membatasi kapasitas konsumsi kelompok rakyat terbanyak, dan akibatnya menghambat berkembangnya pasar bagi hasil industri Terikatnya rakyat petani ke tanah juga mengurangi jumlah pekerja untuk sektor industri dan menghambat pula perkembangan industri itu sendiri. Pengelolaan keuangan para pengusaha juga mengharuskan adanya perundangan-undangan dan administrasi yang sehat secara ekonomi dan komersial, dan terutama pula harus ditiadakan penyalahgunaan keuangan negara. Janganlah negara menghambat pemupukan modal dengan mengenakan pajak-pajak yang berat, harus dihalangi ekonomi pinjaman tanpa batas, pemborosan penghasilan negara, dan jangan sampai memboroskan keuangan negara untuk kemewahan istana-istana dan bantuan-bantuan keuangan dan sebagainya pada kaum bangsawan yang sudah bangkrut. Para pemilik pabrik, pedagang dan anggota kelas menengah yang lain punya sifat individualistik dan anti-keotoriteran penguasa Sikap kelas menengah yang antikeotorieran ini juga terdapat di Inggris di pertengahan abad ke-19. Mereka berpegang teguh pada prinsip-prinsip mengejar keuntungan dan persaingan bebas. Jelaslah bahwa pengaruh kelas menengah yang berperan di bidang ekonomi dan keuangan begini besar, tidak terbatas di dalam lingkungan kehidupan ekonomi saja.Dengan bertambah besarnya pengaruh kelas menengah ini, maja seluruh kehidupan sosial, intelektual, budaya juga tersedot ke dalam sistem harga kapitalis mereka; ilmu pengetahuan, teklnologi, seni, pendidikan, politik, budaya ke dalam kerangka nilai-nilai dan prinsip ekonomi yang berlaku. (Lubis, 1993: 108—111) Ada beberapa hal penting mengenai esensi peran kelas menengah menurut sejarah timbul di Barat. Pertama, kelas menengah merupakan kekuatan dalam masyarakat (negara) yang diperlukan untuk mengontrol dan mengimbangi kekuasaan penguasa (raja dan kelas ningrat tuan tanah) yang feodalistis. Dengan kekuatan ekonominya, kelompok menengah ini berusaha mengendalikan kesewenang-wenangan kelas atas terhadap golongan bawah; berusaha mengubah kebiasaan dan norma-norma yang terlalu menguntungkan kelompok ningrat dan tuan tanah, menjadi norma yang lebih adil, manusiawi dan rasional; serta berusaha agar peraturan-peraturan yang dibuat untuk anggota masyarakat mencerminkan partisipasi masyarakat seluas mungkin. Dengan kata lain, tatanan sosial masyarakat feodal (Stande) yang didasarkan atas pemilikan tanah melalui kelas menengah itu diubah menjadi tatanan yang “demokratis“.

3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Kedua, kelas menengah timbul di Barat berkaitan erat dengan Reformasi dan Revolusi Industri, yaitu berkaitan erat dengan nilai-nilai kewiraswastaan (entrepreneurship) yang ada pada kelompok-kelompok agama tertentu. Kelompok ini merupakan basis kekuatan timbulnya kelas menengah dan mesin pendorong utama bagi proses modernisasi di Barat Ketiga, dan ini berkaitan langsung dengan yang kedua, bahwa inti dari kelas menengah adalah kelompok pedagang dan pengusaha, yaitu mereka yang memiliki faktor-faktor produksi, atau yang memproduksi barang-barang Kaum pedagang ini—paling tidak untuk kepentingan analisis bisa – ditempatkan dalam satu kelompok dan “dilawankan“ dengan kaum buruh, kaum tuan tanah serta aristokrat. Dalam sejarah perkembangannya di Barat kelas menengah ini juga mencakup kelompok petani, pegawai yang menerima gaji dari pemerintah atau lembaga swasta tertentu, dan golongan professional seperti dokter, pengacara, artis filem dan lain-lain Namun unsur esensial dalam kelas menengah ini, di samping mereka mempunyai penghasilan yang relatif besar, mereka juga merupakan orang-orang yang terdidik, dinamis dan partisipasinya dalam masyarakat disadari sebagai sesuatu yang amat penting. Stereotipe pemikiran mengenai kelas menengah adalah bahwa golongan ini diperlukan dalam masyarakat sebagai moderating factor dan guna ”menjembatani“ antara kelas atas dengan kelas bawah. Dengan demikian, maka suatu tindakan yang radikal dan ekstrim dapat dihindarkan dalam proses perubahan masyarakat. Namun apa yang terjadi di berbagai negara berkembang menunjukan, bahwa kelas menengah merupakan golongan yang paling radikal dan revolusioner, terutama di beberapa negara Amerika Latin.Di situ golongan “kelas menengah“ terutama terdiri dari kaum cendikiawan, perwira-perwira militer dan kaum professional. Namun sifat revolusioner mereka akan semakin berubah setara dengan semakin bertambah besarnya jumlah mereka dalam masyarakat sehingga akhirnya menjadi golongan konservatif, yang menikmati fasilitas-fasilitas dari lembagalembaga birokrasi dan bisnis. Karena itu kelas menengah (di Amerika Latin dan beberapa negara Asia) naik ke panggung politik bukan lewat kegiatannya sebagai entrepreuner namun melalui perlindungan kelompok militer. Dari sini dapat disimpulkan bahwa posisi dan peranan kelas menengah amat berbeda bila kita membandingkannya dengan masyarakat Barat dan Amerika Latin.(Muhaimin, 1984: 63—64) Kelas Menengah dalam Weberian dan Marxis Dalam tradisi Weberian, kelas didefinisikan dalam bentuk posisi pasar yang berkaitan dengan hak pemilikan, kesejahteraan dan “kesempatan-kesempatan hidup“ daripada sebagai bentuk hubungan terhadap alat-alat produksi Karenanya, kesejahteraan, pendapatan dan status menjadi faktor-faktor yang penting di dalam struktur kelas Namun demikian, analisis Weber tentang masyarakat tidak terlalu memperhatikan masalah konflik kelas, meskipun ia mengakui arti pentingnya, tetapi lebih tentang transformasi masyarakat dan ororitas politik dari sistem yang tradisional, patrimonial dan sewenangwenang ke sistem yang modern, rasional dan teratur secara legal. Dalam masyarakat yang baru ini hubungan-hubungan personal, politik dan ekonomi digantikan dengan hubungan berdasarkan kontrak, aturan dan hukum. Ini adalah bagian dari fungsi gerakan jangka 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda panjang kearah rasionalitas dalam organisasi sosial; bergerak kearah maksimalisasi efiensi, produktivitas dan keuntungan dalam lingkungan ekonomi dan politik kearah, tujuan-tujuannya yang tertinggi dan abstrak dalam keterbatasan sumber-sumber yang tersedia, daripada mempertahankan dalam keterbatasan sumber-sumber yang tersedia, daripada mempertahankan pola-pola pra-modern di mana tindakan sosial ditentukan oleh pencarian kearah tujuan-tujuan yang spesifik dan yang secara tradisional telah ditentukan. Bagi Weber, perjuangan antara tradisi dengan rasionalitas secara umum merupakan suatu perjuangan antara kelas-kelas sosial yang kepentingan tetapnya ada di dunia tradisional dengan mereka yang kepentingannya tertanam dalam dunia kapitalis yang sedang tumbuh Di satu sisi, sementara aristokrasi feodal dan birokrat patrimonial berjuang untuk mempertahankan batasan-batasan privilese, kekuasaan yang sewenang-wenang dan peraturan personal, kekuatan-kekuatan baru sebagai pemenang dari rasionalisasi kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Weber adalah orang pertama yang mengklaim bahwa meluasnya kapitalisme, dan munculnya kapitalisme industrial secara khusus, membutuhkan suatu sistem politik dan otoritas birokratik yang rasional dalam rangka untuk memungkinkan terjadinya akumulasi kapital. Akumulasi kapital digerakkan oleh penggunaan otoritas birokratik rasional baik melalui perubahan hambatan-hambatan feodal maupun melalui pembangunan infrastuktur yang diperlukan seperti transpotasi, komunikasi, pendidikan dan pelayanan administratif. Namun demikian, proses ini berkaitan erat dengan revolusi nilai-nilai dan budaya. Dengan demikian bagi Weber, munculnya kelompok-kelompok sosial sebagai pembawa budaya sekular, dan rasional sangatlah penting. Pengadopsian pemikiran Weber oleh para kaum liberal-pluralis Amerika Utara dan lebih terutama oleh para struktural-fungsionalis telah menimbulkan beberapa perbedaan yang penting dari tesis orsinal Weber. Pertama, penekanan yang berlebihan terhadap keunggulkan budaya sebagai agen perubahan dan pengabaian fakltor-faktor material sebagai kekuatan penggerak. Sejumlah tesis telah ditulis mengenai pentingnya kelas wiraswasta dan tentara, khususnya sebagai pembawa nasionalisme baru dan budaya sekuler yang mendorong sistem politik dan ekonomi yang baru. Kedua, sementara Weber melihat rasionalisasi wewenang dan ekonomi mendorong kepada ramalan mengenai korporasi dunia dan birokrasi serta persaingan individu, maka kaum liberal-pluralis Amerika Utara memandang kekuatan-kekuatan ini sebagai membebaskan individu dan memperkuat demokrasi. Ada dua persoalan utama dalam pandangan kelas menengah ini. Pertama, sementara kelas menengah dilihat sebagai himpunan identitas yang koheren menurut status sosialnya, posisi materialnya dan peranannya sebagai kelompok rasionalis, maka terdapat keraguan yang serius akan peran mereka sebagai pembawa nilai-nilai individual, kemerdekaan dan demikorasi. Memang benar bahwa perlawanan terhadap rezim otoritarian. Penguasa-penguasa militer dan negara satu partai sering datang dari kaum intelektual liberal. Ini merupakan kasus Indonesia. Namun juga tidak salah bahwa rezim otoritarian sayap kanan memasukkan suatu proposisi dukungan yang sangat penting bagi kelas menengah; kapitalis kecil, tuan tanah menengah, para manajer dan birokrat Rezim juga memiliki “think-tank“, surat kabar, universitas dan sekolah-sekolah yang seluruh 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pegawainya adalah kelas menengah. Hal ini bukan hanya merupakan kasus Nazi-Jerman, Chile, Argentina, El Salvador dan Brazil, tetapi juga merupakan kasus Indonesia Dengan demikian kelas menengah dapat dilihat sebagai apparatus rezim-rezim dan korporasikorporasi sebagai sumber perlawanan terhadap kekuasaan mereka. Dan ini banyak diakui oleh teoritisi liberal seperti Emerson dan Liddle. Persoalannya adalah bagaimana menjelaskan elemen-elemen mana dari kelas menengah yang bergerak kearah mana dalam situasi apa. Apakah ada beberapa pembagian segmen yang fundamental dalam kelas menengah atau adakah beberapa lingkungan tertentu yang bisa melahirkan orangorang seperti Poujardist atau Blackshirt atau Che Guevera, Washington dan Lenin? Kedua, jika istilah “menengah” dan “kelas“ adalah untuk mengartikan suatu yang lain, maka penguasa politik negara dan pemegang kekuasaan eskonomi dalam beberpa hal harus dibedakan dari kelas menengah bahkan jika mereka mungkin dilihat sebagai pembawa nilai-nilai budaya rasional dan sekuler yang sama sebagai pembawa nilai-nilai budaya rasional dan sekuler yang sama sebagaimana kaum professional bergaji menengah dan kelompok-kelompok wiraswasta Harus ada pembagian yang memisahkan kelas menengah dari kelas yang berkuasa atau kelas yang memerintah yang didasarkan pada kekuasaan ekonomi dan politik. Seseorang dapat selalu mengatakan mengenai kaum elite tetapi ini akan menimbulkan problem real dalam penggunaan istilah kelas. Tradisi Marxis pada dasarnya berurusan dengan proses-proses produksi yang, bagi mereka, diartikan sebagai hakikat dari mereka, diartikan sebagai hakikat dari hubungan sosial dan politik. Karenanya, unit dasar dari analisis sosial, kelas diterjemahkan dalam arti suatu hubungan produkstif. Ditulis pada abad ke-19, Marx menaruh perhatian kepada hancurnya feodalisme dan munculnya kelas kapitalis yang baru. Ia tidak pernah secara sistematis menggunakan istilah “kelas menengah“ dan kelihatannya ini seringkali menunjuk pada borjuis kecil, yang merupakan satu elemen kelas kapitalis yang menurutnya, secara inheren bersifat reaksioner. Ketika masyarakat kapitalis menjadi lebih kompleks, kelas penguasa (kelas kapitalis) terbukti secara langsung semakin tidak mampu menjalankan kekuasaan politiknya atau mengelola usaha-usaha dan aktivitas-aktivitas ekonomi mereka, atau untuk mengatur apparatus ideologi masyarakat. Hari demi hari pengelolahan sistem politik, ekonomi dan supra struktur: ideologi, semakin diambil alih oleh munculnya kelas para ahli yang bergaji. Dengan berkembangnya, kelas bergaji, manager, pejabat, teknisi dan professional, maka muncullah persoalan teoritis bagi kalangan Marxis. Dalam analisis dua kelas yang ketat yang membagi kelas atas dasar hubungannya dengan alat-alat produksi, maka “kelas menengah“ jatuh dalam posisi proletariat dan oposan terhadap mereka yang pendapatan dan kekuasannya berasal dari pemilikan modal dan alat-alat produksi. Namun dalam analisis politik sehari-hari kategorisasi ini tidaklah berlalu berguna. Kelas menengah tidak hanya berfungsi sebagai manajer dari masyarakat kapitalis tetapi juga terbukti merupakan kekuatan politik konservatif. Dalam sejumlah kasus di mana terjadi pertentangan fundamental antara kekuatan-kekuatan politik kapitalis dengan kekuatan-kekuatan revolusioner, kelas menengah mendukung yang terdahulu, dan bahkan sampai tingkat tertentu, khususnya di Amerika Latin, mendukung 6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda rezim otoritarian yang didominasi militer untuk menghadapi kekuatan revolusioner rakyat. Fenomena ini telah dijelaskan oleh beberapa teoritisi Marxis, terutama Marcuse, sebagai hasil dari inkorporasi “kelas menengah“, sehingga bahkan kelas pekerja juga dimasukkan dalam ideologi kelas penguasa, ideologi penguasa. (Robinson, 1993:142—146) Perdagangan Zaman Feodal Pada abad ke-14—17, kepulauan Indonesia berstruktur secara politis dan ekonomi di sekitar kerajaan agraris (Jawa Tengah) seperti Pajang dan Mataram, dan kerajaan maritim seperti Malaka, Aceh, Makasar, Tidore, Banten, Demak, Tuban, Surabaya dan pesisir utara lainnya Ada anggapan pada masa itu bahwa perdagangan merupakan monopoli raja. Jadi rajalah yang beruntung dari penjualan padi ke negara-negara maritim seperti Malaka, Banten, Aceh dan lain-lain yakni negara yang tidak menghasilkan beras dan amat tergantung pada impor beras dari Mataram atau Ayuthia di Muangthai kini. Minopoli ini melahirkan persaingan dagang dan kekuasaan yang hebat antara pesisir utara dan Mataram, khususnya daerah pesisir yang juga menghabiskan beras seperti Gresik dan Surabaya. Mungkin persaingan akan memonopoli perdagangan beras ini yang menyebabkan konflik hebat antara pedalaman dan pesisir. Kalau negara agraria memonopoli perdagangan beras, maka negara-negara maritim seperti Aceh, Malaka, Banten, dan lain-lain bertujuan menopoli perdagangan rempahrempah.Aceh misalnya memiliki kebun-kebun lada dan lain-lain di Sumatra Utara dan di Semenanjung Malaya perkebunan-perkebunan ini akan dimusnahkan daripada hasil produksi rempah-rempah itu jatuh ke tangan orang lain seperti terlihat dari langkah yang diambil Iskandar Muda dari Aceh (1607—1636). Iskandar memusnakan daerah rempahrempah di Semenanjung Malaya ketika ia rupanya tidak dapat menguasai lagi. lalu menawan penduduk daerah tersebut untuk dibawa ke Aceh Banten menguasai produksi rempah-rempah di Sumatra Selatan (Lampung). Selama hal itu berlangsung, maka Banten tidak menghasilkan padi baru. Kelas ketika monopoli rempah-rempah guncang karena muncul kekuasaan VOC, maka Baten memproduksi padi. Golongan pedagang Indonesia pada zaman itu adalah para priyayi, para raja pedagang di pesisir utara Jawa yang oleh seorang sejarawan Belanda, Schrieke, disebut havenvorsten, raja pedagang psisir. Menurut penilaian Schrieke para pedagang pesisir ini bukan merupakan suatu kelas pedagang yang mementingkan investasi modal. Penguasa pesisir adalah kelas “feodal“ yang memakai keuntungan perdagangan bagi kekuasaan politik,misalnya mencapai monopoli, dan untuk memperkuat kedudukan politis mereka. Selain itu kelas raja pesisir sangat konsumtif dengan penghamburan uang untuk pestapesta,pembangunan kehidupan kraton yang mewah, berburu seperti agama dan seterusnya. 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Menurut Schrieke para raja pedagang dan golongan orang kaya terlalu banyak mengeluarkan uang untuk berfoya-foya, konsumtif demi status sosialnya, untuk perang dan politik Kedudukan pedagang semacam ini tidak cocok dengan jiwa kalvinis yang katanya memiliki nilai-nilai untuk memajukan kapitalisme, karena kesederhaan dan penekanan agar tidak ada pemborosan. Kalau kita melihat keadaan kota-kota pelabuhan pada zaman itu, sangat menarik. Bedanya dengan daerah agraris pedesaan sebenarnya tidak besar. Pohon-pohon kelapa serta pohon lain;lain memenuhi perkarangan luas di sekitar perkampungan yang dengan sebagian besar rumahnya mungkin sendiri dari bilik atau kayu. Kota cukup luas, namun perbedaan antara kota dan daerah “agraris“ atau hutan tidak besar, dan lambat laun daerah kota berubah menjadi rural. Mungkin hanya keraton yang dibuat dari batu atau ada dinding yang mengelilinginya. Kota-kota pelabuhan Indonesia pada zaman itu, sering tidak dikelilingi dinding bagi pertahanan atau saluran air seperti di Eropa. Surabaya, Tuban dan mungkin ada lagi yang lain dikelilingi dinding dan air seperti di Eropa, Cina dan India. Namun ini pengecualian. Pertahanan kota yang utama adalah tentara berkuda dan gajah, serta penduduk, baik yang tinggal di kota maupun di desa di sekeliling kota seperti dikatakan oleh Iskandar Muda, Sultan Aceh (1607—1636). Tentara bukan tentara sewaan seperti di Eropa pada zaman tersebut akan tetapi berdasarkan wajib militer umum yang berarti semua laki-laki pada umur tertentu harus masuk tentara. Perbedaan antara kota maritim Indonesia dan Barat sehingga menyebabkan kekurangan jiwa kapitalisme di Indonesia dibandingkan dengan Barat bukan dari bentuk, tetapi struktur sosialnya. Jumlah penduduk kota-kota Inbdonesia pada abad ke-14—17 sangat besar. yakni antara 30 sampai lebih dari 100 ribu seperti Malaka. Pada zaman yang sama kota-kota di Eropa umumnya berjumlah sekitar 10 ribu jiwa. Hanya beberapa kota Eropa yang melebihi 50 ribu penduduk dan hanya sekitar satu dua seperti Paris dan Napoli yang berjumlah 100 ribu. Dilihat dari jumlah penduduk kota-kota maritim Indonesia cukup besar dibandingkan dengan Eropa biarpun pada zaman itu sudah ada Edo (Tokyo) dan Beijing yang berjumlah satu juta penduduk. Banyaknya penduduk kota maritim Indonesia sebagian besar karena masing-masing bangsawan (orang kaya) memiliki pengikut, kekayaan serta kekuasaan sering dihitung menurut jumlah pengikut, bukan modal uang. Pengikut harus dibiayai, konsumtif, tapi belum tentu produktif, sebab kebanyakan pengikut merupakan pengawal atau tentara pribadi para orang kaya. Kecuali raja, maka orang-orang kaya ini merupakan kekuatan politik yang tangguh dengan ratusan sampai ribuan pengikut, dinding dan gerbang di sekitar kediaman yang diperlengkapi meriam. Jelas pengeluaran para raja pedagang dan bangsawan pedagang ini mengeluarkan banyak uang untuk mempertahankan status politik mereka ditambah dengan pengeluaran untuk status sosial, yakni konsumsi yang besar. Schrieke dan sejarawan lain mungkin agak terlalu negatif dalam memberikan ciri raja pedagang atau bangsawan pedagang Indonesia, serta terlalu berlebihan menekankan akan sikap aristokratis atau kebangsawan mereka, WF Wertheim antara lain menunjukkan bahwa para kapitalis pertama pada abad-abad yang sama, baik di Indonesia maupun di Barat berasal dari kelas yang sama, yakni para bangsawan yang berdagang atau berusaha. Sebab, kelas inilah memiliki modal dan kedudukan untuk bergerak dalam bidang ekonomi yang merupakan bagian yang demikian penting bagi kehidupan baik status 8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda politik dan lain-lain.Wertheim mengatakan bahwa kelas pengusaha kelas kalvinis dengan pandangan agama mereka yang demikian sempit, yang bersikap demikian intoleren terhadap yang bukan beragama, kalvinis, kikir, sederhana dan seterusnya baru kemudian berperan sebagai kapitalis kalau memerlukan investasi. Baru pada saat itu nilai-nilai kalvinis atau puritan diperlukan. Namun pada saat permulaan, yakni abad ke-14—17 dalam zaman awal kapitalisme dan munculnya modal pedagang justru diperlukan semacam priyayi pedagang, Ndoro Bakulan, kata orang Jawa. Raja pedagang ini sifatnya luwes, dapat berhubungan dengan semua dan tidak memandang bulu, dan dapat bertindak dengan prinsip “bisnis adalah bisnis“ tanpa menghiraukan dengan siapa dia berhubungan. “Pedagang yang berlayar ke mereka pun kalau dia bisa dapat keuntungan satu sen,“ seperti dikatakan mengenai pedagang VOC . Sikap demikian bukanlah dari para kalvinis dengan pronsip-prinsipnya yang ketat, kata Wertheim, tapi sikap para bangsawan pedagang yang luwes atau memakai segala macam kesempatan. Wertheim menunjukkan bahwa sikap dan ciri hidup para patrician, orang kaya, atau aristokrat pedagang Belanda pada abad ke-17 adalah sama seperti di Belgia, Perancis dan lain-lain pada permulaan abad ke-17 dipimpin juga oleh bangsawan pengusaha. Meraka adalah semacam pengusaha birokrat, seperti juga kebanyakan PN (Perusahaan Negara) kita kini dipimpin oleh mereka. Kami akan kembali pada teori di atas ini kalau kita akan menguji sejarah VOC. (Onghokham, 1983: 7—9) Keruntuhan Industrialisasi Pribumi Orang Kebanyakan di Indonesia mengalami dampak kehadiran VOC secara tidak langsung, yaitu melalui penguasa setempat, dan melalui para tengkulak dan pedagang Cina. Ini karena tonggak kedua dari kapitalisme feodal adalah berupa pembangunan jaringan dagang yang menyalurkan barang-barang impor dari VOC kepada penduduk pribumi, dan sebaliknya menyalurkan hasil bumi penduduk kepada VOC. Dengan segera VOC menyadari bahwa mereka takkan mungkin menyaingi orang Cina dalam perdagangan Belanda, para pedagang dan produsen Cina sudah melakukan kegiatan yang berhasil di berbagai daerah di Indonesia. VOC memanfaatkan pengetahuan para pedagang Cina yang memiliki jaringan ekonomi di semua desa di Indonesia, atau bersedia untuk membantu pembentukannya. Jadi pengusaha pribumi dengan segera sudah harus menghadapi saingan-saingan yang cekatan, dan yang di samping itu mapan dalam siatu sistem kewenangan bertindak yang kelihatannya memberi peluang yang jauh lebih baik untuk menerapkan kombinasikombinasi baru. Tingkat kesulitan yang dihadapi para pengusaha pribumi oleh VOC, yang pertama adalah bahwa impor barang-barang jadi dari Eropa mematikan awal usaha manufaktur kaum pribumi sampai kira-kira tahun 1740. Usaha-usaha pertukangan dan manufaktir terutama memproduksi barang-barang untuk kebutuhan dari desa-desa di sekitarnya dan untuk kalangan bangsawan dan priyayi. Produsen pribumi Indonesia mengkhususkan diri membuat tenunan katun kasar, sedang kain yang lebih halus tenunannya didatangkan dari 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda India. Sampai abad ke-18 tenunan hasil buatan mereka juga dikirimkan ke Eropa, terutama ke Amsterdam. Teknik pembuatan tekstil Indonesia bahkan tersebar ke Eropa. Voigt memberitakan bahwa metode produksi Indonesia “berpengaruh sebagai pendorong perkembangan industri-industri Eropa; teknik cetak katun Indonesia, dengan melalui Belanda, telah merangsang timbulnya industri-industri baru di Elberfeld, Galarus, dan Appenzel.” Dengan meluasnya wilayah pengaruh VOC dengan segera industrialisasi di Indonesia yang berada pada tahap awal perkembangan, terhenti lagi. Bangsa Belanda tentu saja tidak hanya berminat membawa hasil bumi dari Indonesia (rempah-rempah, gula kopi) ke Eropa melainkan juga ingin memasarkan barang-barang produksi mereka sendiri di Indonesia. Sampai pertengahan abad ke-19, transaksi ini berlangsung dengan corak merkantilisme. Tidak berbeda dengan negara-negara penjajah yang lain. Belanda juga memandang wilayah pengaruhnya sebagai pasar yang terlindung bagi hasil perindustriannya yang baru mulai tumbuh. Walaupun Belanda berusaha menjauhkan saingan-saingan Eropa lainnya dari daerah jajahannya, tetapi pengaruh terhadap para produsen Indonesia yang ditimbulkan oleh barang impor jadi yang dibuat dengan mesin, dapat dipandang sebagai pengaruh dari perdagangan internasional yang bebas antara negara-negara yang berbeda kesanggupan. Keruntuhan awal industrialisasi pribumi disebabkan oleh faktor-fakltor yang dapat digolongkan sebagai “tingkat kesulitan yang terlalu tinggi“ atau tuntutan yang terlalu berat. Para produsen pribumi tidak mampu menyaingi produk Eropa yang dibuat dengan mesin, dan nampaknya juga tidak sanggup meniru metode produksi Eropa yang modern. Bagi satu-satunya golongan masyarakat pribumi yang memiliki sumber daya kebendaan untuk memperoleh informasi tentang perkembangan teknologi di Eropa menjelang Revolusi Perancis (dengan mengadakan perlawatan, memperkerjakan tenaga ahli dari Eropa, mencari ilmu seperti dilakukan bangsa Jepang 150 tahun kemudian), yaitu golongan bangsawan, kegiatan-kegiatan serupa itu sama sekali berada di luar jangkauan pengalaman. Mereka itu malahan mempercepat keruntuhan industri dalam negeri dengan perbuatan yang mencoba meniru pola kebutuhan dan selera kaum penjajah, hal mana menyebabkan permintaan akan barang-barang impor dari Eropa menjadi semakin meningkat. Hambatan terlalu tinggi kedua bagi para pengusaha pribumi yang diciptakan oleh VOC adalah dibangunnya atau dikokohkannya sistem distribusi nonpribumi yang dikelola oleh orang-orang yang memiliki kesanggupan wirausaha dan yang taraf kebebasan berusahanya jauh lebih tinggi daripada pengusaha pribumi yang potensial. Meskipun VOC hampir dua ratus tahun lamnya berkecimpung dalam dunia usaha di Indonesia, terutama di sektor produk pertanian tetapi rangsangan yang ditimbulkan terhadap perkembangan tetap kecil. VOC senantiasa berusaha menghalangi kedatangan para pemukum dan pengusaha kebun berkulit putih, sehingga sejumlah kecil usaha pertanian swasta yang berada di tangan orang Eropa tidak berhasil memperoleh makna ekonomis. Meskipun pembatasanpembatasan terhadap para pengusaha perkebunan berbangsa Eropa lambat laun 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda diperlonggar sejak pemerintah Belanda mengambil alih harta milik VOC pada tahun 1798, tetapi sampai lewat pertengahan abad ke-19 politik resmi pemerintahan kolonial nmasih tetap sedapat mungkin menghindarkan masuknya badan-badan usaha swasta secara bebas, dan diterapkannya hubungan perjanjian dengan ciri-ciri ekonomi perdagangan; tetap mempertahankan atau mengatur ulang struktur sosial penduduk pribumi sehingga modal perdagangan monopoli yang mempunyai pertalian erat dengan negara dan dapat mengeksploitasikan tenaga kerja petani dan hasil bumi. (Ropke, 1988: 163—167) Kaum Santri dalam Konteks Sosial Pada awal abad XX kita menyaksikan suatu perkembangan penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Indonesia, ketika daerah perkotaan menggeser peranan komunitas pedesaan sebagai tempat berlangsungnya perubahan. Jika tuntutan akan akan lahan dan tenaga kerja dari kaum penjajah telah mengubah tatanan masyarakat di abad XIX, maka pertumbuhan usaha perdagangan di abad XX telah merangsang pembangunan di bidang kehidupan sosial di pusat-pusat kegiatan tersebut Penduduk kota di Jawa, terutama di kota-kota dengan penduduk di atas 100.000, bertambah dengan pesat. Di kota-kota ini, terjadi kebangkitan golongan borjuis pribumi. Kelas baru ini terdiri atas kaum pengusaha dan cendikiawan yang menguasai cakrawala kehidupan kota. Kaum bangsawan dan pangreh praja yang disebut sebagai golongan priyayi, tersisih Hanya di kota-kota yang kuat sifat kejawennya—seperti di Surakarta dan Yogyakarta—kaum bangsawan tua masih menikmati kedudukan tinggi dalam pandangan masyarakat Tapi hanya mereka yang siap memainkan peranan baru yang didiktekan oleh kelas menengah baru, bertahan dalam kedudukan itu, selebihnya yang tak siap, kehilangan pamor dan hilang dari peredaran. Walhasil, banyak ningrat yang bergabung dengan golongan menengah memprakarsai dan ikut berkecimpung dalam banyak usaha bersama yang tumbuh selama dasawarsa pertama dan kedua abad XX. Peranan perdagangan dan industri dalam menggerakkan mobilitas sosial, terutama sangat menonjol di sektor pertekstilan dan batik di beberapa kota di Jawa, juga industri rokok di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun kegiatan usaha golongan menengah pribumi ini selalu terancam oleh barang impor dan persaingan dari modal Cina, sebegitu jauh mereka mampu menghadapi tantangan tersebut. Pabrik-pabrik tekstil pribumi terletak di kapubaten Bandung, di kota-kota sepanjang pantai utara Jawa Tengah antara Tegal dan Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan di daerah Kediri serta Tulungagung Industri tekstil di Jawa pada dasarnya masih bersifat industri rumah tangga dengan sistem mbakul, sedangkan sistem manufaktur dan pabrik kebanyakan adalah milik modal asing. Industri rokok pribumi berpusat di Kudus yang mendapat saingan keras dari pengusaha Cina, baik di kota itu sendiri maupun dari daerah Kediri, Jawa Timur. Dalam suatu kerangka yang disebut ekonomi dualistik kegiatan perdagangan dan industri pribumi itu timbul terhadap modal asing raksasa.

11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Di samping perdagangan dan industri, peranan pendidikan dalam mobilitas sosial juga tak dapat dikesempingkan. Sartono Kartodirdjo mengemukakan bahwa kebijaksanaan pengangkatan pegawai negeri didasarkan pada pendidikan, dan pendidikan ala Barat lebih didahulukan. Meskipun untuk jabatan-jabatan tinggi dalam pemerintahan dituntut adanya “trah“ bangsawan, namun pendidikan umum telah menghasilkan mobilitas vertikal dari banyak orang tanpa memandang asal-usul ketururunan. Lulusan sekolah menduduki jabatan kerani di badan-badan pemerintahan, perusahan swasta, dan selebihnya berwiraswasta. Sementara itu, pelayanan pendidikan untuk kaum pribumi makin luas, demikian juga usaha penerbitan dan media massa di kalangan penduduk asli. Kepada para pedagang, cendikiawan dan pegawai pemerintah yang merupakan golongan menengah kota dapat kita tambahkan pemilik tanah di daerah pedalaman yang merupakan golongan menengah pedesaan. Kedua jenis golongan menengah ini berbeda satu dengan lainnya karena yang satu sangat dipengaruhi pemikiran Barat tentang masyarakat bebas, sedangkan golongan kedua hidup dalam masyarakat yang relatif tertutup Tetapi kendati kekuatan produktif kolonial telah menembus daerah pedalaman dan menjadikannya bagian dari perekonomian dunia, banyak dari sifat asli kaum petani masih tetap utuh selama bagian pertama abad XX. Dengan latar belakang sosial ekonomi ini, kita alihkan perhatian kepada pembahasan tentang golongan menengah Muslim.Terlebih dahulu perlu kita bedakan antara golongan Muslim berorientasi kebudayaan Islam yang disebut kaum santri dengan golongan Muslim tradisi, dan dari golongan Muslim yang berorientasi pemikiran sekular Barat.Golongan menengah santri memiliki sejarah yang panjang. Orang percaya bahwa pengajur dan penyebar Islam pertama adalah kaum pedagang di kota-kota sepnjang pantai. Walhasil, pusat pusat kaum santri di bagian-bagian kota yang disebut kauman di kota kota di Jawa, juga merupakan pusat perdagangan dan industri. Pusat pusat kaum santri ini memperoleh pujian dalam dokumen tahun 1909 karena memiliki semangat dagang bangsa pertengahan atau kelas menengah yang menggeluti bidang perniagaan Tempat-tempat tersebut adalah Kotagede di Yogyakarta, Laweyan di Surakarta, dan Kauman di Kudus. Kasus banyaknya kaum Kauman menarik perhatian dan pantas dicatat. Kauman adalah suatu pemukiman yang ditunjuk bagi para pejabat keagamaan dalam pemerintahan pribumi. Penduduknya adalah para abdi dalem santri yang mengabdikan diri dalam pemerintahan, dan karenanya termasuk golongan priyayi. Dari segi status sosialnya mereka termasuk golongan priyayi tetapi dari kelas sosial mereka termasuk kelas menengah. Abdi dalem santri berbeda dengan santrti lainnya, oleh karena mereka lebih memiliki etika santri ketimbang etika priyayi, sehingga mereka tak canggung berkecimpung dalam kegiatan komersial dan perdagangan seperti golongan priyayi lainnya. Kisah tentang kampung kauman di Yogyakarta, merupakan salah satu contoh Laki-lakinya bekerja sebagai pemetahan (petugas keagamaan), namun mereka, bersama dengan istri-istri mereka, biasa melakukan kegiatan dagang. Ahmad Dahlan, pendiri gerakan Muhammadiyah adalah contoh terkemuka dari seorang santri merangkap pedagang dari Kauman. Ia adalah seorang khatib di Mesjid Agung keraton Yogyakarta, namun ia juga terkenal sebagai pedagang batik yang berhasil yang memiliki jaringan 12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dagang di banyak kota. Di antara abdi dalem santri, hanya mereka yang dianugerahi jabatan sebagai penghulu yang menganut etika priyayi. Para santri mungkin merupakan kelompok yang paling dinamis dalam sejarah Indonesia Di abad XIX, kebangkitan agama dalam bentuk pembenahan lembaga pendidikan pesantren dan gerakan tarekat Isalam, dipimpin oleh para pemuka agama di pedesaan dan gerakan rakyat, yakni para kiai. Pemerintah kolonial selalu mencurigai kaum santri, sampai-sampai melakukan beberapa usaha dan tindakan untuk membatasi pengaruh kebangkitan agama tersebut. Kebangkitan agama sebagai gerakan juga telah mendorong gerakan menentang kekuasaan kolonial, bersamaan dengan berbagai gerakan protes di daerah pedesaan Jawa. Berlainan dengan kebangkitan di abad XIX ini yang bersifat kekotaan, reformis dan dinamis. Harry J Benda menyatakan bahwa kebangkitan kaum santri kota berjuang melawan empat seteru: formalisme kolot, kebudayaan adapt dan priyayi, sikap kebarat-baratan, dan status quo penjajahan. Di awal abad XX, di tengah-tengah kemerosotan tingkat kesejahteraan penduduk pribumi, kaum santri berhasil menghimpun kembali kekuatan dalam masyarakat untuk melancarkan gerakan baru. Kelahiran Sarekat Islam (SI) merupakan peristiwa yang luar biasa dan tidak ada duanya, ia mendahului reformasi keagamaan. Tetapi Benda juga menulis bahwa SI menyajikan perubahan yang hanya bersifat kuantitatif, bukan perubahan kualitatif terhadap desa-desa di Jawa, dalam arti bahwa paham radikalisme di bidang pertanian ala SI bukanlah hal baru. Bagaimanapun juga bagi rakyat desa dan kota, Sarekat Islam merupakan gerakan yang sudah lama ditunggu-tunggu bagi suatu perubahan. Bersama-sama dengan gerakan santri lainnya, SI menanggapi perubahan yang disebabkan prorses penguiangan, pemiskinan dan integrasi masyarakat pribumi ke dalam perekonomian dunia. Perubahan ini telah mengubah sifat tatanan ekonomi, hubungan sosial, kehidupan agama, dan politik. (Kuntowijoyo, 1991: 78—82) Lahirnya Kelompok Menengah Pribumi Di bawah pimpinan kaum intelektual, pemimpin agama dan pedagang, organisasi nasionalis pertama yang didasarkan pada dukungan massa adalah Sarekat Islam, yang dibentuk pada tahun 1912. Organisasi ini berakar dari masyarakat dagang pribumi, Sarekat Dagang Islam, yang dibentuk pada tahun 1908 oleh Raden Mas Tirto Adisoerjo, seorang aristokrat dan pedagang Jawa, juga manajer suatu usaha dagang yang berada dalam proses likuisdasi. Lahirnya Sarekat Islam menggambarkan beberapa elemen penting dalam proses politisasi dari kaum pribumi dan munculnya kelompok kecil dari golongan menengah pribumi. Pertama, Sarekat Islam adalah gerakan politik dari kelompok atas golongan pribumi yang merupakan campuran dari kaum bangsawan, intelektual pendidikan Barat, pemimpin-pemimpin agama dan anggota dari kelompok pedagang dan komersial. Kelompok ini mewakili embrio borjuis pribumi, pemimpin sosial dan politik dan juga metode baru dalam mengorganisasikan pengetahuan dan pemikiran dalam hubungannya dengan dunia modern. Mereka mulai mampu menangkap arti—dalam perspektif yang lebih luas—dari praktek-praktek diskiriminasi dan eksploitasii dalam pendidikan, kesempatan ekonomi, profesi, administrasi hukum dan 13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda perundang-undangan. Ini juga berarti bahwa bisa mulai melihat kemungkinankemungkinan tindakan di luar orde kolonial, terutama wilayah legitimasi yang sempirr dan ekonomi kolonial. Karena tidak puas, terjepit dan frustasi akibat terbatasnya kesempatan bagi mobilitas ke atas mereka, dan pada saat yang sama dipaksa untuk menambah kekuatan politik mereka sebagai syarat pergerakan politik, maka kelompok ini menyusun bermacam-macam organisasi dengan hubungan-hubungan ke daerah urban dan rural. Mereka mulai meninmbang spektrum yang luas dari ideologi politik, taktik dan metode perjuangan politik, serta prospek dari kemerdekaan politik dan ekonomi. Inilah pada umum dari tumbuhnya bermacam-macam organisasi sosial dan politik dalam dasawarsa kedua dan ketiga abad ke-20. Proses ini juga dibarengi dengan proses ideologisasi dan pemikiran Islam modern, demokrasi liberal, sosialisme dan juga Marxisme-Leninisme, dan yang yang lebih penting lagi, nasionalisme. Fakta bahwa Sarekat Dagang Islam (SDI), suatu asosiasi koperasi dari pedagang-pedagang batik Jawa, dibentuk dalam usaha untuk menghadapi persaingan dengan golongan Cina dan kemudian muncul kembali organisasi politik berdasarkan massa, maka Sareklat Islam (SI), yang juga didukung oleh banyak tokoh-tokoh dagang lahir dan menunjukkan borjuis pribumi, walaupun amat kecil. Posisi monopolistis dari korporasi-korporasi Eropa dan kedudukan perantara yang startegis dari golongan Cina dalam bisnis, telah membuka politik sebagai satu-satunya jalan bagi kaum borjuis pribumi untuk mempertahankan posisinya dan juga dalam mengejar kepentingankepentingan komersial mereka. Pesatnya kemajuan Sarekat Islam dan dukungan luas yang diperolehnya pada tingkat tertentu merupakan hasil dari pelaksanaan politik etis yang memajukan pendidikan Barat bagi elite pribumi, dan ketidakmampuan birokrasi negara dan perusahan swasta untuk menampung mereka yang terdidik yang cocok dengan latihan dan pendidikan mereka. Karena merasa inferior dan tidak memiliki pekerjaan, tetapi pada waktu yang sama tercerabut akar-akarnya dari kehidupan tradisional, dengan sendirinya mereka membentuk kelompok marginal (terbuang) yang selalu gelisah, yang terpaksa mencari pekerjaan bebas seperti saudagar, pedagang, wartawan dan jenis-jenis profesi lain Inilah pula sebabnya, dengan masuknya pedagang-pedagang Cina ke dalam satu industri batikbenteng kaum saudagar—bangsawan Solo—mengundang reaksi cepat dalam bentuk organisasi pelindung, Sarikat Dagang Islam. Kelompok ini merupakan produk nyata dan proses yang cepat, di mana golongan bangsawan, kaum elite pendidikan Barat, pedagang, kaum profesional dan pemimpinpemimpin agama mentransformasikan diri mereka menjadi pemimpin-pemimpin politik dan ideologi. Mereka menandai lahirnya golongan menengah seperti yang didefinsikan tulisan ini Kelahiran mereka yang menampilkan diri dalam berbagai gerakan politik kaum pribumi bersama dengan perubahan yang terjadi pada kekuasaan kolonial, telah membentuk politik Hindia Belanda sampai datangnya pasukan politik Hindia Belanda sampai datangnya pasukan Jepang. 14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Ketidakseimbangan dan distorsi dalam struktur sosial serta ketegangan antara streatastrata sosial sebagai akibat dari majunya kapitalisme pinggiran—yang telah membangun kesadaran politik dan ideologi golongan menengah yang kecil itu—pada saatnya juga telah mempolitikkan (politicalized) negara kolonial. Pemerintah kolonial kini semakin mendasarkan diri pada mesin-mesin politik sepereti P.I.D (Politieke Indlichtingen Diesnt), sensor koran, pelarangan pada organisasi dan pertemuan yang bersifat politik, kooptasi (merangkul menjadi anggota), penangkapan dan pembuangan politik untuk mempertahankan eksistensinya.(Bulkin, 1984: 15—16) Program Benteng Pada masa-masa pertama sesudah kedaulatan Indonesia diakui oleh dunia internasional dan Belanda, pemerintah Indonesia menyadari, bahwa struktur perekonomiannya tidak menguntungkan bagi pembangunan nasional. Artinya bahwa kelas menengah yang ada merupakan warisan dari zaman kolonial yang sepenuhnya dikuasai oleh para penguasa dan pedagang Belanda, serta beberapa bangsa Eropa lainnya di tingkat atas dan golongan Cina di tingkat bawah. Struktur perekonomian itu oleh pemerintah Indonesia dengan penuh ambisi dan antusias ingin diubah guna menumbuhkan kelas menengah dari golongan asli. Usaha tersebut terutama jelas sekali terlihat sewaktu pemerintah melancarkan kebijaksanaan ekonomi yang terkenal dengan sebutan “Program Benteng” sebagai bagian terpenting dari “Rencana Urgensi Perkonomian“ pemerintah yang secara resmi dilaksanakan sejak Maret 1981. Dalam kerangka Program Benteng, pemerintah Indonesia mengharapkan tumbuh dan berkembangnya kelas menengah dari golongan penduduk asli yang harus menguasai cabang-cabang industri berat, dan modal asing diberi kesempatan “membantu“ kegiatan golongan asli pada sektor industri yang tidak “tidak penting“, Namun sampai pertengahan kedua tahun 1950-an, ternyata yang tumbuh dan berkembang bukanlah kelas pengusaha asli yang kuat sebagaimana dikonsepsikan oleh Program Benteng, dan akhirnya rencana pemerinmtah tersebut gagal total. Pertama, karena faktor party politics dan sifat patrimonilaisme masyarakat, sehingga pemerintah tidak selektif dalam memberikan kredit dan hak-hak istimewa kepada golongan asli. Hampir seluruh “pengusaha“ yang mendapatkan kredit dan keistimewaan usaha perdagangan bukanlah yang memiliki keahlian berwiraswasta serta mempunyai jiwa entrepreneurship, tetapi hanya yang dekat atau mempunyai hubungan tertentu dengan penguasa. Ini berarti bahwa “Penguasa Benteng“ itu sebenarnya tidak mempergunakan kredit dari pemerintah sebagai modal pokoknya namun akses ke kekuasaan merupakan modalnya. Akibatnya para pengusaha dan pedagang dalam arti kata sebenarnya terpental dan tidak mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah, hanya karena tidak mempunyai hubungan atau akses kepada kekuasaan politik, baik mungkin lewat partai politik, aparat birokrasi, maupun hubungan famili. Kedua, kegagalan pemerintah diperhebat dengan tumbuhnya pengusaha dan perusahaan yang disebut “Ali-Baba”. Dalam jaringan kegiatan ekonomi seperti ini, “pengusaha“ asli 15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda yang telah mendapatkan hak dan kredit dari pemerintah berusaha menjualnya kepada golongan Cina. Di sini, orang asli yang dikonsepsikan oleh Program Benteng akan tumbuh menjadi kelas menengah yang kuat, ternyata hanya menjadikan dirinya sebagai “tameng“ belaka, sedangkan yang menjalankan kegiatan usaha ekonominya adalah usaha orang Cina tersebut; orang Indonesia asli tersebut berperan hanya sebagai strawman atau front-man. Dari sinilah timbul istilah buruk dalam dunia bisnis di Indonesia yang disebut dengan Dummy Industries atau Dummy Company pada pengusaha asli. Kemudian pada masa Orde Baru, Dummy Company itu digunakan bukan hanya pada perusahan yang di permukaannya atas nama orang Indonesia asli dan di belakangnya orang Cina, tetapi juga yang di belakangnya adalah kekuatan modal asing oleh kelompok multinasional (MNC). Dari pembicaraan di atas, kita bisa mengetahui bahwa sejak masa sesudah kemerdekaan, pemerintah telah gagal membina, apalagi mengembangkan kelas pengusaha yang kuat, dinamis, dan otonom dalam bidang politik. Yang terjadi hanyalah terbentuknya suatu kelas yang merupakan aliansi dari pemegang kekuasaan politik atas kalangan birokrat dengan “pengusaha swasta“. Kelas ini timbul dan berkembang berkat proses penyalagunaan kekuasaan politik atau komersialisasi jabatan politik dan birokrasi yang kemudian tumbuh di Indonesia dengan sebutan kelas menengah, yang pada awal-awal pertumbuhannya terdiri dari orang-orang kaya baru. Istilah “orang kaya baru“ itu identik dengan istilah neuer Mittestland (kelas menengah baru) di Jerman yang terdiri dari para pejabat birokrat dan pegawai –pegawai pada perusahaan swasta yang kaya. Kelompok neur Mittelstand di Jerman pada hakekatnya bukannya kelas menengah, tetapi “proletariat“, dan kedudukan sosialnya bergantung pada kemampuannya “menjual“ tenaga-tenaga serta kekuasaan birokratisnya. Namun sebenarnya mereka merupakan golongan professional, dan dalam kerangka konsep Marxis kegiatan mereka dalam birokrasi tidak menghasilkan surplus value (nilai lebih) – satu elemen “pemerasan“ yang selalu dilakukan oleh “kaum borjuis“ terhadap “kaum proletar“ Karena itu kelompok di Jerman tersebut berbeda prinsip dengan kelas “orang kaya baru“ di Indonesia, sebab kelas menengah baru di Indonesia terlibat dalam kegiatan penyalahgunaan wewenang politik – satu hal yang amat diametral dengan pertumbuhan masyarakat dalam bidang sosial, ekonomi, politik yang sehat. Di sini, dalam konteks sistem patrimonial, masing-masing mendapatkan keuntungan secara tidak wajar, tidak rasional serta tidak legal. Akibat, partai-partai politik atau kekuatan politik serta aparat birokrasi di Indonesia sama sekali tidak bisa melakukan fungsi sebagai penyalur kepentingan umum serta alat yang melayani urusan serta kepenmtingan secara lancar. Pemimpin dan penguasa partai serta pejabat birokrasi di sini bertindak sebagai patron yang secara otomotis diterima oleh anggota masyarakat sebagai pihak “atasan“ yang merasa mempunyai hak untuk membagi-bagikan rezim-politik dan ekonomi kepada client atau bawahannya. Birokrasi dan Pengusaha

16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pada sistem Demokrasi Terpimpin, kekuasaan atas jabatan birokrasi dan konsesi-konsesi yang mendekat padanya, tidak seluruhnya beralih dari tangan sipil ke militer. Beberapa tokoh yang mempunyai ikatan dengan partai-partai yang tetap dekat dengan Presiden Soekarno dan dengan Istana Presiden, mempunyai otoritas untuk menentukan distribusi lisensi, kredit dan pengaruh, melalui kekuasaan mereka atas masuk Presiden /PM Soekarno sendiri dan tokoh-tokoh seperti wakil PM Bidang Luar Negeri Hubungan Ekonomi Luar Negeri dan Perdagangan Luar Negeri, Dr Soebandrio, Wakil PM Kordinator Kompartemen Pembangunan, Menteri Perminyakan dan Gas Alam, Chaerul Saleh, dan Menteri /Gubernur Bank Indonesia Teuku Jusuf Muda Dalam. Kekuasaan para pejabat birokrasi untuk membagi-bagikan konsesi, dimanifestasikan melalui beberapa cara. Satu di antaranya adalah seringnya para pengusaha swasta memerlukan “surat istimewa“, yang secara populer dikenal sebagai “kattabeletje“, yang mereka peroleh atau beli dari orang-orang yang berpengaruh besar, agar bisa mendapat suplai bahan baku dari perusahan seperti yang dilukiskan Panglaykim. Cara lain adalah sistem Baba-Ali, di mana pengusaha Cina (Baba) bekerja dengan modal yang ditanam oleh elit-elit asli (Ali). Situasi ini merupakan kebalikannya dari hubungan Ali Baba yang selalu cenderung, pada waktu yang lalu, mendominasi program Benteng Walaupun demikian, pembagian konsesi kepada para pengusaha “calo” asli dengan pemberian imbalan berupa “sumbangan-sumbangan“ tetap merupakan untuk konyak utama antara aparat birokrasi dengan para pengusaha mereka.Apa yang dinamakan “sumbangan“ itu diberikan oleh para pengusaha sebagai “dana revolusi“ sebagai imbalan atas pemberian kedudukan monopoli disektor impor. Namun fenomena ini sebetulnya muncul sebagai kebangkitan kembali tradisi Jawa. Sektor impor tetap merupakan sektor bisnis yang paling menguntungkan. Ini disebabkan oleh semakin meningkatnya inflasi dan kurs Rupiah terhadap mata tuang asing yang tinggi yang ditetapkan secara artifisial, melonjaknya harga-harga, adanya kemacetankemacetan pengangkutan-pengangkutan fluktuasi musiman dan buruknya pelayanan informasi, yang diperparah lagi oleh perubahan-perubahan besar dari waktu ke waktu yang diadakan di bidang pengawasan harga dan pemberian subsidi, Semua itu berarti keberhasilan bagi orang-orang yang punya koneksi. Karena mereka bisa memperoleh kredit, lisensi dan devisa untuk mendapatkan keuntungan yang besar, sementara bagi mereka yang tidak punyai koneksi, sukar untuk bisa bertahan. Banyak di antara importir yang berhasil pada periode Benteng (yakni mereka yang telah menggunakan lisensi untuk dapat mendirikan perusahaan) juga dapat bertahan dan hidup makmur pada periode Demokrasi terpimpin, Mereka telah mampu bertahan karena membina hubungan patron-klien dengan penguasa-penguasa baru dan terus memelihara koneksi dengan mereka: itulah terjadi terutama dalam kasus pengusaha-pengusaha seperti Muhammad Hasjim Ning dan Agus Muchsin Dassad serta Radem Kusmuljono Hasyim Ning telah mengalihkan dukungan dari PSI kepada PNI dan membina hubungan yang erat dengan para elite birokrasi (yang militer). Dassad memlihara hubungan-hubungan eratnya dengan Presiden Soekarno melalui kawan-kawan usahanya yang bersama-sama dengan dia, sudah sejak lama diasosiasikan dan mempunyai koneksi dengan tokoh-tokoh PNI. Seperti Ning, ia pun berhasil memelihara saluran untuk memperoleh lisensi. 17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Satu kekecualian adalah Soedarpo yang mempunyai hubungan dekat dengan tokoh-tokoh berpengaruh dengan PSI. Akan tetapi sebelum PSI kehilangan pengaruhnya ia sudah mulai mengurangi ketergantungannya kepada konsesi dan lisensi. Seperti beberapa pengusaha lainnya, ia mengatakan bahwa kemampuan untuk bertahan terus dalam periode Demokrasi Terpimpin adalah berkat tindakannya untuk menyimpan asset (kekayaan perusahan) dalam bentuk komoditi, terutama suku cadang, karena mereka yang assetnya berbentuk uang tunai, menderita kerugian besar. Beberapa pengusaha seperti Pardede dan Aminuddin menjadi terkemuka dalam periode Demokrasi Terpimpin. Mereka hampir sepenuhnya menggantungkan diri kepada saluran untuk memperoleh lisensi impor, karena bagian terbesar impor harus secara resmi disalurkan melalui pelbagai perusahaan dagang negara. Sesorang pengusaha yang boleh dikatakan luar biasa adalah A Rachman Tamin yang sudah sejak awal 1940-an berkecimpung dalam dunia bisnis dan dengan cepat menjadi pengusaha terkenal pada tingkat nasional pada periode Demokrasi Terpimpin.Ia dianggap mempunyai hubungan yang sangat besar dengan Presiden Soekarno melalui istri Presiden, Ny Fatmawati, yang berasal dari kota yang sama. Namun kebanyakan pengusaha klien yang menjadi makmur pada Demokrasi Terpimpin jatuh lagi dengan berakhirnya sistem itu. Hal itu sebagaian disebabkan oleh kekosongan modal tetapi sebagian besar mereka gagal karena tidak dapat menjalin hubungan baik dengan elite politik yang memegang kekuasaan pada masa Orde Baru. Dan itu disebabkan karena ketergantungan mereka selama itu kepada patronpatron individual dalam birokrasi yang tentu sangat rawan oleh setiap perubahan politik. Hal ini jelas kelihatan pada kasus pengusaha seperti Aslam Markam yang kemudian hari dipenjarakan karena terbukti melakukan korupsi. Dan juga Mardanus (seorang purnawirawan perwira ALRI) yang mengalami nasib yang sama. Dari uraian diatas kita tahu bahwa satu faktor yang sifatnya menentukan muncul, kemampuan bertahan dan kemunduran seorang pengusaha asli adalah kemampuan untuk memperoleh konsesi yang lokasinya dikontrol oleh pejabat. Yang memperoleh keuntungan dari keadaan itu adalah kelompok politik yang berhasil menguasai jabatan dalam birokrasi. Dan juga para pengusaha asli yang mampu menfaatkan hubungan baik dengan birokrasi. Namun demikian, ada juga golongan-golongan pengusaha Cina yang merupakan mitra (patner) utama elite birokrasi dan makelar –makelar di bidang impor – seperti halnya dengan “pengusaha aktentas“ sewaktu periode Benteng. Sebagian besar dari pembentukan modal yang dapat dihimpun oleh negara melalui perusahaan-perusahan negara tidak dapat diinvestasikan karena lebih banyak digunakan untuk tujuan-tujuan politik, kepentingan pribadi dan kelompok-kelompok politik tertentu. (Muhaimin, 1990: 176 – 180) Orde Baru dan Pengusaha Klien Sudah jelas bahwa setelah berakhirnya Demokrasi Terpimpin, sebagai akibat gagalnya kudeta pada bulan Oktober 1965, ekonomi Indonesia harus memikul beban inflasi yang mencapai 20–30 % per bulan, kelumpuhan infrastuktur yang mengakibatkan kemacetan 18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dan kekacauan dalam bidang komunikasi dan distribusi, kapasitas produksi yang sangat merosot pada sektor-sektor indisutri dan ekspor, lumpuhnya aparat pengumpul pajak dan pengawasan, anggaran dan hutang luar negeri sebesar $ 2.400 juta. Perusahaanperusahaan negara juga gagal mendorong tumbuhnya kekuatan ekonomi golongan asli yang cukup besar untuk bersaing dengan perusahan perusahan asing dan Cina di bidang investasi dan produksi besar.Akan tetapi pengusaha-pengusaha klien terus berkembang, disertai terus mundurnya pedagang-pedagang dan produsen –produsen asli. Periode setelah tahun 1966 ditandai oleh suatu perubahan besar dalam stuktur kekuasaan politik sementara pihak militer dengan cepat tampil ke depan untuk menguasai situasi, kekuasaan Presiden Soekarno dan PNI yang mempunyai banyak sekali klien, merosot dengan cepat. Efek yang segera timbul dari perubahan ini bagi golongan pengusaha asli tampak jelas dengan jatuhnya pengusaha-pengusaha klien seperti Aslam, Markam atau Panggabean dan cepat munculnya pengusaha-pengusaha yang diasosiakan dengan elite Orde Baru. Seperti pada perode-periode sebelumnya, kali inipun kegiatan-kegiatan pengusaha klien Orde Baru tergantung kepada kekuatan politik golongan asli dan wewenang birokrasi untuk mengontrol lokasi monopoli, kredit negara, kontrak dari pemerintah dan konsesikonsesi lainnya. Ini pada dasarnya, merupakan suatu kontrol politik atas akses menuju pasar, suatu bentuk kekuasaan ekonomi yang khas merkantilis. Akan tetapi mereka juga didukung oleh modal dan jaringan dagang Cina dan oleh suatu persekutuan dengan modal asing yang sering mengambil bentuk usaha patungan. Sebagai imbalan saham pperusahan, mitra (patner) asli memberikan konsesi dan lisensi, artinya akses menuju pasar. Berdasarkan ketentuan-ketentuan UU PMA dan PMDN kerjasama dengan modal asing dalam bentuk usaha patungan diberi dorongan oleh pemerintah sebagai upaya untuk memudahkan alih teknologi. Pengusaha di masa Orde Baru yang berbagai operasi dan kegiatannya tergantung pada patronase politik dan birokrasi, lebih hanya ragamnya. Berbeda dengan pemerintah di zxaman Benteng, pemerintah Orde Baru mengundang sampai tingkat tertentu berusaha keras untuk melindungi kepentingan dan perusahan asing. Pemerintah juga tidak secara formal melakukan diskriminasi terhadap golongan Cina perantauan. Berbeda pula dengan pada zaman Demokrasi Terpimpin, pemerintahan Orde Baru – walaupun bertujuan hendak menciptakan “masyarakat Indonesia yang adil dan makmur“ – bertekad untuk mendorong dan memajukan sektor-sektor swasta. Dengan demikian seperti misalnya perusahan-perusahan negara yang sebagian berada di bawah pengawasan militer. Sejumlah pengusaha klien yang terkemuka, yang telah muncul pada periode Benteng dan dapat bertahan pada perode-periode berikutnya, terus bertahan di bawah pemerintahan Soeharto. Akan tetapi kemampuan mereka untuk terus beroperasi, hampir seluruh nya berkat keberhasilan,mereka membina hubungan dengan elit-elit Orde Baru atau karena mereka masuki bidang usaha patungan dengan modal asing. Demikian pula halnya dengan klien-klien yang telah muncul sebagai pengusaha terkemuka pada tingkat nasional dalam periode Demokrasi Terpimpin. Perkembangan itu tidak mencerminkan suatu keberhasilan untuk membentuk modal pada perkembangan sebelumnya, tidak pula 19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda menimbulkan suatu tantangan bagi kekuasaan birokrasi yang patrimonial atau bagi modal asing. Sebagian klien-klien itu mengawali usaha sebagai pejabat yang menfaatkan kekuasaan politik mereka untuk mendirikan perusahan, seperti yang telah dilakukan oleh RM Koesmoeljono; sebagian lagi adalah klien golongan-golongan politik atau orangorang yang berpengaruh, seperti Soedarpo atau Hasyim Ning dan ada pula di antara mereka yang mengawali usahanya sebagai pedagang asli yang independent, yang menggunakan kemahiran mereka sebagai pengusaha untuk menghimpun dan menanamkan modal serta kecerdikan politik mereka untuk mengadakan persekutuan dengan patron birokrasi, seperti yang telah dilakukan oleh Dassad. Pengusaha-pengusaha klien yang muncul pada periode Orde Baru pada umumnya berasal dari kalangan yang mempunyai hubungan dekat dengan jendral-jendral militer, karena yang paling menentukan bagi keberhasilan dalam dunia bisnis masih tetap patronase politik. Di pihak lain, karena pengusaha harus mampu beroperasi di pasar bebas sebagaimana yang dimaksudkan oleh UU mengenai PMA dan PMDN, maka pada tingkat terakhir faktor yang menentukan apakah seorang akan dapat menanamkan modal dan mengorganisasikan produksi dengan bijaksana. Faktor yang paling menentukan dalam hal ini adalah faktor klasik: kurangnya modal. Sementara keuangan semakin dikuasai oleh militer, pengusaha beranggapan bahwa sumber itu harus ditimba oleh golongan asli dan bukan oleh orang-orang Cina. Oleh sebab itu, maka setiap pengusaha yang memerlukan sumber keuangan harus berurusan dengan orang-orang itu atau dengan golongan mereka dalam birokrasi. Di gelanggang inilah berlangsung suatu pertarungan tersembunyi yang besar antara kelompok-kelompok klien asli tertentu dengan para pengusaha Cina peranakan yang mendasarkan strategi mereka pada pandangan bahwa keberhasilan setiap kegiatan bisnis tergantung pada kemampuan untuk memperoleh konsesi, kredit dan lisensi Di sini, pembinaan hubungan pribadi dengan para pejabat sangat menentukan.Dalam pandangan banyak pengusaha asli, keberhasilan sebagian besar pengusaha-pengusaha (klien) Cina yang terkemuka adalah berkat kemahiran mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan para pejabat dan golongan asli harus mengeluarkan lebih banyak dan menyediakan lebih banyak waktu untuk mencari patron. Sikap kebanyakan pengusaha yang bisa bertahan terus sebagai klien dari periode Benteng maupun Demokrasi Terpimpin adalah bahwa perekonomian Indonesia didominasi oleh modal Cina dan asing yang pada umumnya, merugikan golongan pengusaha asli dan kepentingan nasional Indonesia. Oleh sebab itu mereka berpendapat bahwa modal itu harus dikontrol dan pengusaha-pengusaha asli harus dilindungi dampaknya. Sementara pengusaha-pengusaha HIPMI juga menganut pandangan ini, menarik untuk dicatat bahwa mereka tidak menekankan perlunya diadakan perubahan-perubahan yang fundamental dalam strategi ekonomi – seperti yang telah disarankan oleh kebanyakan pengusaha pada zaman Demokrasi Terpimpin yang masih bisa bertahan – melainkan memusatkan kegiatan mereka pada upaya untuk membina suatu pesekutuan antara pejabat-pejabat (militer) dan pengusaha asli. Barangkali yang bisa dijadikan contoh dari pandangan ini adalah modal jaringan yang canggih yang telah terjalin antara Abdul Latif dan Siswono Judo Husodo dengan Ibnu Sutowo dari Pertamina. 20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Jenis klien lainnya berasal dari birokrasi. Pada periode tahun 1958-1965, orang-orang militer giat dalam berbagai perusahan negara dan sejak tahun 1967 mereka memasuki sektor usaha swasta melalui penguasaan mereka atas pusat kekuasaan politik-birokrasi, yang sebagian besar terdiri dari komando-komando militer Secara resmi, tujuannya adalah untuk mengumpukan dana bagi “kesejahteran militer“, dan meliputi antara lain perusahan-perusahan (yang resminya) swasta, seperti Tri Usaha Bakti (TUB), PT Garuda Mataram, dan banyak perusahan lainnya. Akan tetapi jabatan birokrasi itu sifatnya hanya untuk sementara, atau lebih jelas lagi, tidak bersifat turun menurun. Oleh sebab itu, kecuali jika seorang anggota elite birokrasi dapat mempertahankan wibawanya atau mempunyai sumber-sumber kekuasaan ekonomi sebagai milik pribadi yang bisa dihimpun selama ia memegang jabatan, maka begitu ia kehilangan jabatannya ia pun akan kehilangan kekuasaan dan wibawanya untuk menggerakkan dukungan politik dan dana-dana melalui distribusi patronase dan konsesi. Dan pada periode Orde Baru terdapat banyak juga orang yang berhasil mengumpulkan kekayaan pribadi. Ini tampak jelas sekali dalam gaya hidup para elite. Akan tetapi aspek dari fenomen ini yang paling penting di sini adalah kenyataan bahwa banyak pejabat yang dapat bertindak secara bergiliran sebagai patron bagi pengusaha pribumi dan kelompok-kelompok perusahannya Yang sangat penting adalah apakah mereka dalam birokrasi dan dengan demikian meletakkan suatu landasan kekuatan sosial ekonomi yang stabil bagi pembangunan. Di pihak lain agak sulit untuk membedakan antara perusahan-perusahan bisnis yang dikelola oleh perorangan-perorangan atas nama suatu pusat kekuasaan,seperti Kostrad dan perusahan-perusahan yang dijalankan oleh perorangan-perorangan atas nama keluarga. Pada tahun 1964, Kostrad membentuk sebuah yayasan, yakni Yayasan Dharnma Putra, untuk mengumpulkan dana bagi kesejahteraan para perwira dan personil Kostrad. Ketika Soeharto menjabat Panglima Kostrad maka di anatara tokoh-tokoh terkemuka Dharma Putra terdapat perwira AD seperti Jendral Soedjono Humardani, Jendral Ali Moertopo, Jendral Ibnu Sutowo, Jendral Sofjar, dan perwira-perwira lainnya dari Dibvisi Diponogoro, Jawa Tengah. Setelah 1967 yayasan itu dengan cepat mendirikan berbagai perusahan, dan yang terpenting di antaranya adalah ban Windhu Kentjana (bersama – sama dengan seorang pengusaha-pengusaha Cina) dan Mandala Airlines. Yang penting dalam perkembangan pengusaha klien itu – tak peduli apakah mereka mulai menonjol sejak periode Benteng dan periode Demokrasi Terpimpin atau baru muncul dalam periode sekarang – adalah kenyataan bahwa para pengusaha dan para pejabat militer telah aktif dalam perusahan real estate, perhotelan, pusat-pusat perbelanjaan, gedung-gedung perkantoran, dan bahwa perternakan (ranch) serta sawah di pedesaan. Pertama-tama, milik tak bergerak itu merupakan bentuk investasi yang lebih tahan lama bagi para pejabat dan klien-klien mereka, karena tidak tergantung kepada hubungan dengan kekuasaan birokrasi. Dan, kedua, perkembangan pengusaha klien penting bagi landasan bisnis yang lebih stabil. Di pihak lain, pemilikan semacam itu tampaknya telah cenderung membawa mereka kepada gaya hidup yang rupanya dianggap berlebihan dan pola konsumsi yang mungkin dapat menjurus pada timbulnya keresahan sosial dalam masyarakat seperti Indonesia 21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Yang lebih penting ialah apa yang dikemukakan di atas menunjukkan masih diperlukannya waktu untuk eksistensinya suatu kelas menengah asli yang modern, rasional dan mandiri. Hanya apabila para pengusaha klien itu mampu melakukan usahausaha patungan dengan perusahan-perusahan asing dengan tujuan ahli teknologi manajemen dan keahlian, mereka dapat memulai pembangunan dengan bai. (Muhaimin, 1990: 187 – 194) Oligarki Bisnis dan Politik Selama kekuasaan otoriter Soeharto, kekuasaan negara secara perlahan berkembang menjadi instrumen dari suatu kekuasan oligarki kapitalis baru. Oligarki ini menggabungkan serangkaian bisnis, kepentingan-kepentingan politik dan birokratik, dan berpusat pada jabatan presiden itu sendiri. Ia tergambarkan dengan sangat baik oleh munculnya keluarga-keluarga kapiatlis-birokratis utama termasuk keluarga Soeharto -serta suatu borjuasi klien yang terutama terdiri dari konglomerat-konglomerat besar milik warga Cina, dan juga sejumlah korporasi pribumi yang pengaruh dan kekuasannya terkait erat dengan penggunaan kekuasaan negara. Saat oligarki ini terkonsilidasikan di dipertengahan dan akhir tahun 1980-an – dengan dasar patronase negara dan akses ke sumber daya negara – ia dengan perlahan merampas kekuasaan negara itu sendiri dan mengubah aparatur negara menjadi suatu “komite” yang mengelola perlindungan terhadap berbagai kepentingannya. Berbeda dari negera-negara di negeri-negeri industri maju sekarang ini, kecenderungan di Indonesia dewasa ini telah menggemakan kembali rumusan Marx dan Engles yang terkenal tentang “eksekutif negara modern“ yang bertindak sebagai suatu “komite yang mengelola urusan bersama “kaum borjuis” dengan menfaatkan kekuasaan dan lembaga-lembaga negara untuk tujuan-tujuan mereka sendiri, keluarga-keluarga birokratis dan korporatis yang memiliki posisi kuat mampu mengendalikan kebijakan ekonomi, bahkan saat Indonesia secara internasional dipuji karena suatu reorientasi kearah serangkaian kebijakan yang propasar. Dominasi oligarki ini bersamaan munculnya dengan tekanan yang semakin kuat terhadap deregulasi ekonomi yang disebabkan jatuhnya harga minyak di pasar internasional di tahun 1980-an – yang akibatnya justru tidak memunculkan suatu bentuk negara yang lebih liberal dan transparan sebagaimana yang mungkin dibayangkan oleh oragnisasiorganisasi pembangunan ekonomi seperti Bank Dunia,. Lembaga-lembaga seperti parlemen, partai negara (Golkar), militer, dan birokrasi sipil secara instrumental dimanfaatkan untuk melindungi dan memantapkan kekuasan oligarkis. Dengan demikian, mereka yang telah menikmati hak-hak istimewa perlindungan negara selama periode “boom minyak” yang terjadi sebelumnya di tahun 1970-an, sekali lagi, menjadi para ahli waris utama dari suatu proses privatisasi selektif yang memindahkan monopoli-monopoli negara ke tangan-tangan swasta besar serta menyediakan lahan yang subur bagi perluasan kekuasaan korporasi. Mulai dari paruh kedua 1980-an, “deregulasi“ dan “debirokratisasi“ hampir merupakan mantra dalam setiap diskusi tentang masa depan ekonomi Indonesia. Memang, khayalan neoliberal tentang sebuah Indonesia yang secara rekonomi terregulasi dan digerakkan 22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda oleh pasar tampak didukung oleh langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah seperti menurunkan berbagai hambatan nontarif, menyediakan berbagai rangsangan bagi ekspor, mempermudah prosedur-prosedur penanaman modal, serta meliberalkan berbagai atiuran tentang pendirian bank dan pengawasan modal. Ironisnya, liberalisasi besar-besaran atas sekadar perbankan memiliki andil yang sangat besar bagi kebangkrutan ekonomi Indonesia sekitar satu dekade kemudian. Liberalisasi ini telah memungkinkan sejumlah konglomerat bisnis untuk membangun bank-bank yang hanya bertugas menyediakan kredit untuk membiayai ekspansi bisnis mereka sendiri. Deregulasi ekonomi juga membuka berbagai kesempatan baru untuk menggalang dana bagi ekspansi perusahan secara internasional, yang mengakibatkan munculnya keprihatinan menyangkut larinya modal ke luar negeri (capital flight). Konglomerat terbesar, Salim Group yang dimiliki Liem Sioe Liong yang juga mitra bisnis lama Soeharto, misalnya, telah membangun kepentingan-kepentingan bisnis yang sangat besar dalam bidang properti, manufaktur, dan keuangan mulai dari Cina hingga Amerika Serikat sejak tahun 1970-an dan 1980-an.Pemain utama yang lain, Eka Tjipta Widjaja, konglomerat pemilik Sinar Mas Groip, telah membangun kepentingan-kepentingan bisnis di Cina, sebagaimana keluarga Ryadi, konglomerat pemilik Lippo. Para hartawan ini terlibat dalam semua hal, mulai dari perbankan, kawasan industri hingga pabrik bubur kayu dan kertas. terdapat berbagai laporan yang tersebar di sana-sini tentang berbagai kepentingan di luar negeri dari beragam konglomerat bisnis utama sebelum krisis Sangat mungkin bahwa konglomerat-konglomerat yang terinternasionalisasi itu selamat dari krisis Asia baru-baru ini, meski mereka mengalami pukulan di Indonesia (kelompok Salim, misalnya, dipaksa untuk melepaskan Bank Central Asia-nya yang begitu bernilai), sebagian besar karena kemampuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk menyalurkan asset-asset mereka dan memperluas kepentingan-kepentingan mereka ke luar negeri. Munculnya keprihatinan publik yang begitu nyata menyangkut pengaruh yang semakin kuat dari konglomerat-konglomerat itu sebagian sangat berkaitan dengan kenyataan bahwa kebanyakan mereka yang paling kuat tersebut dimiliki oleh warga Cina Dengan demikian menjadi penting bahwa sentimen rasial anti-Cina seringkali diperkuat oleh keprihatinan populis akan distribusi kekayan nasional yang lebih adil;, yang berasal dari sebagian intelektual Muslim negeri ini pengusaha-pengusaha yang lebih kecil, serta darei para pengeritik Orde Baru yang lebih radikal, khususnya gerakan mahasiswa dan ornop Apa yang menarik, bagaimanapun juga. Bambang Triatmodjo pernah mengungkapkan gagasan bahwa privatisasi perusahan-perusahan milik negara hendaknya dilakukan demi kepentingan pengusaha pribumi, untuk mengurangi jurang pemisah kekayaan antara pengusaha pribumi dan pengusaha Cina. Tentu saja, dia dan anggota-anggota lain keluarga Soeharto merupkan ahli waris utama dari privatisasi dalam beragam industri, dan dengan demikian, perlu menemukan cara untuk melegitimasi keberhasilan mereka yang begitu cepat. Dalam kenyatannya, para kapitalis utama pribumi juga jelas-jelas muncul. Selain keluarga Soeharto, kaum borjuis pribumi mencakup mereka yang telah dimatangkan di bawah perlindungan Sekretariat Negara, pusat administratif Orde Baru, melalui kontrolnya atas pemberian proyek-proyek pemerintahan di tahun 1980-an. Namun 23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kelompok lain telah muncul lebih awal dengan cara bertindak sebagai sebagai kontraktor bagi Pertamina, perusahan minyak raksasa milik negara. Di kemudian hari, sebagian dari kaum borjuis pribumi ini mendukung sebuah organisasi yang disebut ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), yang didirikan untuk menyokong kedudukan Soeharto bersamaan dengan munculnya kelas menengah Muslim. Berulangkali ditunjukkan bahwa kepentingan-kepentingan oligarkis dapat secara instrumental memanfaatkan kekuasaan negara untuk melindungi diri mereka sendiri Fakta semacam ini terjadi bahkan di puncak krisis ekonomi, saat kepentingan – kepentingan ini oleh organisasi-organisasi pembangunan internasional dianggap sebagai rintangan utama reformasi ekonomi. Sebagai contoh, saat enambelas bank – yang beberapa diantaranya dimiliki oleh famili dan kroni Soeharto – dinyatakan pailit di bulan November 1997, sebuah bank milik Bambang Triatmodjo diiznkan untuk muncul kembali dengan bermetamorfosis menjadi bank dengan nama bank lain. (Hadiz, 2005:169 – 189) Kebebasan dan Kesanggupan Berusaha Secara negatif, kebebasan berarti tak adanya paksaan. Secara positif. kebebasan ekonomi berarti suatu keadaan di mana seseorang boleh mempergunakan kemampuannya (pengetahuan, pengalaman, kreativitas dan sebagainya) bagi tujuan-tujuannya sendiri, jika (dan ini penting sekali) dengan memakai kebebasannya ia tidak memperkosa kebebasan ekonomi para individu lain. Kebebasan, dalam permusan filsuf Jerman, Wilhelm von Humbold, adalah “kemungkinan bagi varian kegiatan yang terbatas”. Norma-norma pemerintah dan norma-norma sosial-budaya dapat membatasi terbukanya kemungkinan-kemungkinan ini bagi seorang individu. Semakin terbatas kemungkinan – kemungkinan ini, semakin kecil kesempatan yang dapat digunakan oleh seorang individu untuk memakai pengetahuan dan kemampuannya bagi kegiatan-kegiatan wiraswasta.Jika seseorang dipaksa untuk harus melakukan ini dan itu, maka dengan itu hilanglah pola kebebasannya dan – inilah argumen teori perkembangan bagi kemerdekaan ekonomi – kemudian lenyaplah kemungkinan bagi individu ini untuk memakai pengetahuan, pengalaman, kreativitas dan motivasi-motivasinya untuk tindakan-tindakan, yang oleh individu ini dianggap memberi hanjaran dan hasil menurut pengetahuan dan pengalaman yang hanya dipunyai olehnya. Karena itu, mengekang kebebasan ekonomi niscaya mengakibatkan menurunnya penggunaan pengetahuan, serta pengalaman dalam masyarakat, membekukan kreativitas dan terhalangnya seorang individu atau kelompoknya untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan situasi seperti kurang efisiennya total produksi, terhamburnya sumber-sumber, matinya inovasi dan melambatnya perkembangan ekonomi. Adapun argumen kebebasan individual ini tak boleh disamakan dengan egoisme dan semangat ingat diri. Seorang altruis pun harus mempunyai kebebasan untuk mengejar tujuan-tujuannya, jika dalam tindakannya dia harus menyerah kepada kehendak seorang 24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda lain, yang berarti jika kebebasannya dibatasi. Karena itu tak harus terdapat hubungan yang niscaya antara egoisme dan tindakan atau kebebasan perseorangan. Argumen ini kadangkala dilupakan jikalau di Indonesia ada sementara orang yang menyamakan “liberalisme“ dengan “kanibalisme ekonomi“ atau dengan kapitalisme “pertarungan bebas“. Bahkan masyarakat yang paling altruistis pun di mana setiap orang sedia berichtiar untuk membantu atau melayani sesamanya, tidak akan ada tanpa suatu tingkat kebebasan yang cukup tinggi bagi para individunya, karena kebebasan perorangan atau rule of law haruslah menjaga agar jangan sampai ada seseorang yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain, maka suatu “rule of law“ haruslah melindungi yang melemah, dan harus tidak memungkinkan “kanibalisme ekonomi“. Manajer dari sebuah koperasi memerlukan kebebasan untuk mencapai tujuan-tujuannya dan tujuan anggota-anggota koperasi sama halnya seperti petani yang memperkenalkan bibit baru dan pupuk atau wiraswasta “kapitalis“ yang nampaknya hanya tertarik kepada peningkatan keuntungan-keuntungannya atas cara yang amat egoistis. Jika suatu wewenang, pemerintah atau swasta (misalnya perusahan yang berkekuatan pasar yang mendesak wiraswasta yang lebih kecil membatasi atau menekan kemerdekaan ekonomi, maka hal ini hanya berarti bahwa para individu itu – apa pun tujuan mereka – tidak dapat memakai pengetahuan, pengalaman, dan kekuatan-kekuatan kreatif dan daya motivasi mereka dalam memecahkan masalah-masalah atas cara yang masuk akal dan membawa kepuasan bagi mereka. Itu sebabnya, daerah yang memungkinkan inovasi-inovasi ini, menjadi terbatas, dan hal ini mengakibatkan semakin lambatnya laju perkembangan ekonomi. Kemerdekaan ekonomi tidak saja ditekankan oleh kaum liberal liberal kalsik, tetapi juga oleh para ekonom nasionalis dan kaum merkantilis sebagai suatu kondisi yang tak terelakkan bagi perkembangan ekonomi. Beberapa nasionalis yang amat keras seperti para pelopor reformasi Meiji di Jepang, telah menjalankan salah satu revolusi yang paling radikal dan revolusi borjuis yang paling meluas dalam sejarah umat manusia (yaitu apa yang dikenal sebagai “restorasi Meiji“ dan dengan cara ini menciptakan kondisi bagi lahirnya salah satu prestasi ekonomi yang paling menyolok. Dipandang dari segi kebebasan individual pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, telah menyebabkan dua akibat mendasar yang amat merugikan.Indonesia belum pulih juga sampai saat ini. Pertama, orang Belanda telah memperkuat orde tradisional yang feodal atau membekukan struktur sosial yang bersifat hirarkis dan otoriter, khususnya dengan cara mengontrol orang Indonesia secara tidak langsung melalui kaum ningrat mereka sendiri (pemerintah tak langsung). Kedua, sebagian besar dari kegiatan inovatif,khususnya dari para wiraswasta pribumi, dianggap tidak syah oleh orang Belanda. Baru pada dasawarsa –dasawarsa terakhir pemerintahan kolonialnya, pemerintah Belanda mulai meringankan banyak pembatasan, akan tetapi pada tahap ini keadaan telah rusak.Tradisi kewiraswastaan Indonesia sudah mati terbunuh. modal asing mengontrol perdagangan dalam negeri di Indonesia dan industri tingkat menengah Dalam kondisi 25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda seperti itu maka bahkan dengan menghapuskan semua pembatasan terhadap, atau dengan memulihkan kemerdekaan ekonomi bagi para wiraswasta pribumi yang potensial, tak akan tercipta lagi kondisi yang yang elok bagi lahirnya kembali suatu kelas wiraswasta yang didorong kearah yang pengambil-keputusan yang inovatif sifatnya. Semenjak kemerdekaan, tentu saja banyak yang telah berubah, juga dalam pengaturan kegiatan bisnis. Akan tetapi, warisan kolonial dalam pemikiran ekonomis dan struktur kolonial dari ekonomi Indonesia nampaknya masih dominan. Tiga puluh tahun merdeka ternyata tidak cukup untuk membentuk suatu kelas wiraswasta pribumi yang penuh kepercayaan kepada diri sendiri; atas berbagai cara, kebijaksaan pemerintah baik dalam pemerintahan Soekarno, maupun dalam masa orde baru, bertanggung jawab bagi situasi ini. Kita pun melihat bahwa politik ekonomi orde baru dan dengan berbagai cara lebih tertarik kepasda terciptanya suatu lingkungan ekonomi dan lingkungan politik yang “sehat“ untuk menarik modal asing, daripada merangsang prakarsa-prakarsa ekonomis dari kalangan pribumi. Semua kegiatan ekonomi di Indonesia diatur dengan cara yang terperinci dan amat birokratis Pembatasan-pembatasan terhadap kegiatan kewiraswastaan amat banyaknya. Banyak serikat dagang Indonesia bekerja dengan melanggar “hukum“, menjalankan bisnis, merusak undang-undang dengan berbagai cara Semuanya di lakukan semata-mata dapat membayar hutang dan dengan demikian – justru dengan bisnis yang “illegal“. Berbagai pembatasan terhadap kemerdekaan ekonomi tentu saja tidak menambah kesempatan para wiraswasta pribumi untuk mengadakan akumulasi modal atau memperbesar usaha mereka dengan ide-ide yang cemerlang dan kerja keras. Akan tetapi sukses bisnis mereka lebih banyak akibat kemampuan mengambil keuntungan dari koneksi sosial atau relasi sosial, yang menghasilkan apa yang oleh Dr Suparman Sumahamidjaya dinamakan: “ jutawan pungli.” (Roepke, 1978: 68—70) Kiranya tidak sukar menyebutkan serentetan nama penulis dan ahli-ahli,baik orang Indonesia maupun bukan, yang semuanya memberikan penilaian bahwa “orang Indonesia“ rata-rata kurang memiliki kesanggupan wirausaha. Dengan merangkumkan berbagai argumen itu diperoleh gambaran tentang pengusaha “orang Indonesia“ sebagai berikut: motivasinya untuk berprestasi lemah; cenderung menghindari kerja keras; laba, dan sering juga kredit yang diperoleh, cenderung dipakai untuk membiayai gaya hidup mewah; perspektif waktunya tidak diarahkan pada masa depan; tidak punya kepercayaan terhadap diri sendiri; berperasaan rendah diri; lingkungan dipandangnya sebagai sesuatu yang takkan bisa dikendalikan oleh tindakannya, cenderung bersikap fatalistis (mentalitas “tidak ada“). Tentu saja penguraian tabiat yang menggeneralisasikan seperti ini mengandung berbagai kekurangan. Untuk memperoleh suatu gambaran yang lebih terinci, kita coba saja memilah-milah wujud pengusaha “Indonesia“ sebagai berikut: (1) Pedagang beragama Islam yang tergolong lapisan menengah dalam masyarakat tradisional dan merupakan kelompok pengusaha ekonomi lemah; (2) Kelompok yang mewakili state-capitalism legal; (3) Golongan kapitalis birokrasi, termasuk pula di sini mereka dari kalangan militer yang terutama mengadakan persekutuan dengan pengusaha 26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda luar negeri dan pengusaha Cina; (4) Pengusaha pribumi bukan Islam di luar aparat birokrasi tetapi sangat tergantung daripadanya dan (5) Pengusaha Cina. Dugaan bahwa taraf kesanggupan wirausaha di Indonesia masih rendah memang masuk akal. Selama masa penjajahan, terutama di Jawa terdapat kondisi lingkungan yang sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan atau pertumbuhan suatu sistem kepribadian wirausaha. Seperti diketahui, berbagai penulis seperti misalnya Geertz bahkan sampai beranggapan bahwa mentalitas yang bersifat menolak kemajuan dan merupakan hasil negatif dari tekanan dan penindasan oleh kekuasaan kolonial. Kiranya tidak dapat disangkal, bahwa kekuasaan kolonial kecuali telah mengokohkan kebudayaan priyayi dengan pola pikiran mereka yang mementingkan kedudukan dan martabat, lebih menginginkan jabatan yang aman dalam tata birokrasi dan cenderung menganut pola konsumsi mewah, di lain pihak juga sedikit sekali memberikan peluang bagi penyimpangan dari etos kebersamaan masyarakat desa yang kehidupan ekonominya tidak mengenal kemajuan. Nilai-nilai kehidupan yang berkaitan erat dengan kebudayan priyayi dipelihara terus dan ditampilkan secara menyolok, sementara bagi masyarakat luas daerah pedesaan dan di kota-kota, keadaan penghidupan masih tetap tidak memungkinkan berkembangnya prakarsa wirausaha, karena itu akan merupakan perilaku yang tidak fungsional. Memang masuk akal bahwa kristalisasi atau pengambilan peran wiraswasta di Indonesia sangat dipersulit oleh adanya fakta bahwa tokoh-tokoh pimpinan dalam bidang politik, pemerintahan, dan militer memanfaatkan kedudukan dan jabatan mereka untuk menimbun kekayaan, yang selanjutnya ditonjol-tonjolkan sedemikian rupa sehingga sehingga di kalangan masyarakat timbul kesan bahwa jalan yang paling mudah dan dapat diandalkan untuk memperoleh pengaruh, martabat dan kekayaan bukanlah dengan usaha sendiri, kerja keras, melalui kegiatan wirausaha, melainkan dengan memasuki kehidupan politik atau sistem birokrasi dan mengembangkan karir di situ. Di Indonesia pun, peran wirausaha merupakan hasil dari suatu proses perkembangan sejarah. Tetapi berhubung berabad-abad lamanya politik perekonomian di Indonesia bersifat menghambat atau melesukan semangat wirausaha, dan saat ini pun masih belum berubah keadaannya, maka kecilnya kegiatan inovatif golongan pribumi tidak hanya merupakan akibat kurangnya kesanggupan, melainkan juga oleh kurang adanya peluang (kebebasan), ditambah dengan struktur lingkungan yang bersifat menghambat inovasi Karena itu suatu kebijaksanaan yang bertujuan membina perkembangan pengusaha, atau kebijaksanaan pembaruan harus mengarahkan sasarannya pada kenyataan ini. (Ropke,1988: 286 – 303) Hilangnya Kelas Menengah Mengapa kelas menengah atau Independent burgoise itu tidak muncul? Harlod Crouch mengemukakan empat pendekatan teoritis untuk menjawab pertanyaan itu. Pertama, pendekatan psikologi – kultural dalam tradisi paradigma modernisasi yang melihat bahwa transformasi kultural diperlukan untuk menciptakan kualitas psikologis dan motivasional 27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda yang dibutuhkan bagi proses modernisasi. Budaya tradisional dianggap menjadi penghambat pembangunan ekonomi modern, karena dalam masyarakat tardisional orang bersifat pasif, ”nrimo”, tanpa ambisi, dan cenderung percaya pada kekuatan supranatural. Pada pihak lain modernisasi menuntut orang mempunyai sifat dinamis, percaya diri, dan inovatif yang siap untuk mengambil resiko atas cara-cara hidup baru. Secara khusus pembangunan ekonomi memerlukan munculnya kelas entrepreneur baru yang memiliki “the spirit of Protestan Ethic “. Hagen Hagen and McCelland mengemukakan teori tentang perubahan kultural dan psikologi yang diperlukan untuk mengubah pedagang menjadi entrepreuner pribumi. Boeke menyatakan bahwa mentalitas masyaralat pribumi tidak reponsif terhadap rangsangan ekonomi yang mendorong pembangunan ekonomi. Geertz menyebutkan bahwa pedagang Muslim di Jawa Timur dan entrepreuner aristokrat di Bali mempunyai potensi menjadi “kelas menengah“, akan tetapi “kolektivisme majemuk“ pada masyarakat Bali dan kelemahan organisasi pedagang Muslim itu kemungkinan menjadi penghambat. Sedangkan Sievers melihat bahwa mistik yang irrasional menjadi penghalang besar bagi pembangunan. Kedua, pendekatan struktural-domestik. Dalam pandangan ini peran dominan dari birokrasi di banyak masyarakat Dunia Ketiga menjadi hambatan mendasar yang harus diatasi. Pandangan ini berakar pada cara bagaimana masyarakat diorganisasikan Konsep “patrimonialism“ Weber kembali dihidupkan untuk menggambarkan negara Dunia Ketiga modern dimana penguasa melestarikan kekuasaannya melalui satu kombinasi dari distribusi patronase dalam elite dan represi oposisi yang berada di luarnya. Dalam negara patrimonial pemerintah memperoleh dukungan dari elite aristokrasi dan birokrasi dengan mengalokasikan peluang untuk memperoleh kekayaan di antara berbagai klik merasa memperoleh ganjaran dan oleh sebab itu tetap mendukung rezim. Situasi seperti itu sangat tidak favorable bagi munculnya kegiatan ekonomi swasta karena penguasa sendiri atau pejabat-pejabatnya memonopoli berbagai peluang seraya menghalangi pembentukan modal ekonomi swasta. Konsep Riggs tentang bureaucratic polity juga digunakan, di mana birokrat memerintah di atas satui sistem yang banyak mempunyai ciri patrimonial, tanpa diimbangi oleh kekuatan sosial-politik yang lain. Di dalam sistem politik semacam ini peluang dan keuntungan ekonomi didistribusikan di dalam jarinan “patron client“ yang berada dalam birokrasi yang berkuasa. Peluang-peluang ekonomi dimonopoli oleh elite birokrasi politik sehingga kelompok entrepreneur –bebas tidak dapat tumbuh. Muhaminin dalam membahas “Bisnis dan Politik“ mencoba mempergunakan konsep birokrai patrimonial, yang bukan mendorong tumbuhnya kelas menengah bebas akan tetapi justru melahirkan pengusaha klien, yang menggantungkan pada fasilitas yang diberikan oleh “patron politik” (pada masa demokrasi parlementer), atau oleh “patron birokrat dan militer“ pada masa-masa sesudahnya, sehingga muncul istilah sindiran “pengusaha aksentas“ dan “perusahan Ali Baba“. Ketiga, pendekatan dependensi yang dipopulerkan dan dikembangkan oleh Baran dan Frank pada akhir tahun 1960-an, yang melihat struktur ketergantungan Dunia Ketiga, Birokrat yang korup mampu bertahan memerintah oleh karena memperoleh dukungan internasional dan berperan sebagai agen dari modal internasional yang melanjutkan eksplotasi dunia “neo-kolonial“ dituduh sebagai penyebab utama dari keterbelakangan dan yang dominasi perekonomian tergantung hanya sedikit menyisahkan menyisahkan 28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda ruang bagi entrepreneur lokal. Singkatnya keterbelakangan adalah hasil dari impreialisme Barat. Elite Dunia Ketiga yang memperoleh keuntungan dan kekayaan selama masa penjajahan tetap memelihara kaitan dengan bekas negara penjajahan tetap memelihara kaitan dengan bekas negara penjajahnya dan modal asing sebagai “komprador“ karena tidak mau kehilangan keuntungan yang sudah diperolehnya. Selain elite Dunia Ketiga, perusahan multinasional Dunia Pertama juga memperoleh keuntungan dari hubungan semacam itu, sehingga juga mempunyai kepentingan untuk mempertahankan corak hubungan itu. Dalam perspektif radikal, bukanlah bukanlah hanya kualitas patrimonial saja yang menghalangi pertumbuhan entrepreneur domestik akan tetapi persekutuan elite neo-patrimonial dengan perusahan asing yang mendominasi lewat sumber daya modal dan teknologi tinggi yang mereka kuasai. Robinson dan Muhaimin secara terpisah kurang lebih mempunyai pendapat yang sama,.demikian juga Mortimer dan Mackie, bahwa kaum birokrat kapitalis yang mendominasi kehidupan politik dan ekonomi di Indonesia tidak bersifat mandiri dan oleh karena itu tidak bisa diharapkan menjadi penggerak perubahan sosial, karena mereka lebih suka menanamkan modalnya ke dalam “real estate“ demi jaminan sosial setelah pensiun, bukannya dalam perdagangan dan industri yang berisfat jangka panjang. Keempat, adalah pendekatan pembangunan –tergantung yang menyatakan bahwa pada kenyataannya kapitalisme internasional membawa efek pada “pembangunan“ di Dunia Ketiga dan pada munculnya pengusaha yang secara nisbi bersifat bebas. Di Indonesia terjadi perubahan sebagai akibat adanya penanaman modal asing, bantuan luar negeri, dan “boom minyak bumi“ pada dasawarsa 1970-an, yang berakibat makin kuatnya posisi kelas kapitalis negara dan kelas kapitalis domestik. Konglomerat besar yang lahir pada tahun 1970-an tetap memperoleh keuntungan dari patronase, tetapi mereka kemudian berkembang karena menanamkan modalnya di bidang perdagangan dan industri sehingga semkain mendekati satu titik dimana mereka dapat bertahan hidup dan tetap makmur tanpa tergantung lagi pada sang patron dan tanpa sepenuhnya mengandalkan diri pada jaringan dan persekutuan dengan kapitalis birokrat dan militer Tujuan utama dari ”borjuis pribumi“ saat ini telah terjadi peningkatan internasionalisasi modal, menurut Robinson, bukan lagi ingin mendominasi kepemilikan modal dan keputusan investasi melainkan mendapatkan kedudukan yang terjamin di dalam dunia kapitalis di Indonesia. Tiga pendekatan pertama telah kita bahas di atas mengenai perkembangan borjuis Indonesia di antara kelas pedagang pribumi, namun tak satu pun yang dapat dikategorikan sebagai kelas menengah. Eksponen penjelasan kultural menemukan bahwa sejumlah kecil pedagang pribumi, tidak seperti pengusaha Cina, agak sulit berubah menjadi pengusaha besar, dan apa sebabnya, mungkin gejala kultural dapat menjawabnya. Pendukung pendekatan struktural domestik menyimpulkan bahwa pengusaha pribumi mengalami kegagalan disebabkan karena mereka tidak mampu bersaing dengan pengusaha Cina, yang mempunyai hubungan khusus dengan birokrat pribumi yang menyediakan bagi mereka segala keuntungan serta fasilitas, sedangkan pengikut mazhab ketergantungan berpendapat bahwa pengusaha lokal tidak dapat bersaing dengan modal kuat, teknologi dan sumber sumber lain yang dimiliki pengusaha asing. 29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Dalam konteks ini, Robinson menganggap bahwa para pendahulunya telah melihat dengan cara yang salah. Para birokrat dianggap kekurangan budaya kewiraswastaan, merasa puas dengan perolehan yang tidak sah dari kepolitikan birokratik, hadiah yang berlimpah yang mereka terima karena peranan mereka sebagai komprador dan oleh karena itu tidak merasa tertarik untuk menjadi kelas kapitalis, sementara itu pengusaha Cina selalu dianggap sebagai minoritas dar luar, tetapi secara politik terlampau lemah untuk berdiri secara mandiri. Robinson menyimpulkan bahwa hal ini berasal dari jenjang politiko-birokrat, sedangkan orang Cina hanya menjadi borjuis ekonomi di Indonesia. Ia memandang bahwa gerakan dari arah ini telah mulai, tapi nampaknya gerakannya lambat sedangkan tujuan akhir belum jelas. (Crouch, 1993: 80 – 102) Kelas Menengah atau Borjuasi? Definisi-definisi adalah penting untuk beberapa maksud dalam menjawab pertanyaan ini, tetapi definisi dapat pula menjadi exercise yang terlalu njelimet jika kita terlampau kaku bertahan pada satu rumusan. Untuk tujuan-tujuan kita di sini, cukuplah kita mengikuti terminologi yang dipergunakan Crouch dalam studi perbandingannya atas lima negeri ASEAN, ketika merujuk “kelas menengah makmur“ perkotaan, yang pada dasarnya didefinisikan dengan referensi pada pekerjaan dan gaya hidup (pemilikan mobil, sepeda motor, televisi, dan lain-lain). “Borjuasi“ merupakan konsep yang cukup terbatas, mengacu hanya kepada kelas kapitalis, kelas pemilik kekayaan yang agaknya merupakan sub-kelompok dari kelas menengah sampai seseorang mempunyai keinginan mendefinisikannya sebagai bagian dari “kelas penguasa“ yang memang terpisah di atas kelas menengah, yang bagi saya merupakan prosedur sangat meragukan untuk kasus Indonesia. Dengan jelas Indonesia mulai menyaksikan bangkitnya suatu kelas menengah, sekalipun belumlah begitu kuat. Tetapi, apakah pertumbuhan yang sedang berkembang ini benarbenar berciri “borjuis“ yaitu kelas pemilik pribadi kapitalis dengan kekuatan ekonomi dan/atau politik yang signifikan? Jawaban kita sebagian besar tergantung pada cara kita mendefinisikannya, tentu saja dan lagi-lagi apakah kita memilih memakainya begitu saja secara ketat atau longgar. Jika kita mengikuti diskurus konvensional Eropa, berlandaskan pemakaian orsinal oleh kaum Marxis pada istilah ini, kita boleh berharap untuk menemukan bahwa “borjuasi“ memiliki karakteristik-karakteristik tertentu yang sudah diakui secara umum dan dirumuskan dengan baik. Ia adalah kelas yang dalam terminologi Marxis, mengandung definsi yang tepat sebagai sekelompok kohesif orang yang diikat secara bersama oleh hubungan yang sama dan distingtif dengan alat-alat produksi (dalam hal borjuasi, sebagai pemilik modal), atau setidak-tidaknya memasukkan beberapa ikatan bersama kesadaran dan solidaritas kelas, belum memiliki ciri yang sangat menyolok dari kelas menengah maupun kelas pemilik di Indonesia. Keberadaan sejumlah kelas pemilik modal dalam masyarakat kiranya bukanlah alasan yang memadai untuk menunjuk mereka sebagai ”borjuasi“ sampai 30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mereka dihadapkan juga dengan kriteria lain untuk mengkategorikan mereka sebagai sebuah kelas. Ia adalah kelompok yang memiliki atau mengontrol cadangan modal atau pemilikan lain yang besar (tetapi bukan tanah desa), atau kelas yang menjalankan kekuasaan kontrol terhadap modal tersebut dalam sektor ekonomi modern:kapitalis (komersial maupun keuangan perbankan, seperti pula modal industri) melalui kombinasi kepemilikan dan pengelolaan. Ia adalah kelompok yang berpengaruh secara politik dalam banyak hal, mampu melakukan daya ungkit yang efektif terhadap kebijaksanan-kebijaksanaan pemerintah yang relevan dengan kepentingan investasi mereka. Definisi seperti ini akan sulit menolak penjelasan bahwa Indonesia telah menumbuhkan “borjuasi“ yang signifikan, bagi sekelompok kexil kaum kapitalis yang kaya, terutama Cina, yang muncul sejak tahun 1960-an yang hampir tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah “kelas” dalam pengertian yang ketat manapun; mereka tidak melakukan kepemilikan atau kontrol terhadap lebih dari bagian kecil cadangan modal dasar bangsa, dan mereka tidak mempunyai banyak pengaruh politik sebagai sebuah kelas, atau bahkan, saya akan membantah, dalam kapasitas individual mereka, sekalipun Liem Sioe Liong mempiunyai hubungan rapat dengan Presiden Soeharto Mereka semua lebih mendekati pengumpul rente (rent-taker) ketimbang pencipta kemakmuran (wealth-creators) dalam bentuk kapitalis model lama. Penguasaan pemilikan kekayaan di Indonesia pada kenyataannya secara luas biasa menyebar, khususnya kepemilikan atas tanah, yang tetap merupakan bentuk pokok pemilikan, di mana pemilikan-pemilikan tanah yang luas tetap sangat jarang. Kontrol monopoli (atau, lebih sering, kekuasaan oligopolistik) terhadap arus barang dan keuangan tentunya merupakan persoalan lain dan bisa saja dijelaskan bahwa inilah yang merupakan basis pokok kekuasaan kaum kapitalis kaya yang telah muncul di Indonesia. Tetapi, apakah dengan sendirinya mencukupi pembenaran kegunaan istilah “borjuis“ untuk mengkategorikan orang-orang itu? Hanya, menurut pandangan saya,jika kita menggunakan istilah dalam pengertian yang lebih longgar maka setidaknya ia mengandung persamaan dengan konsep asli seperti yang dipikirkan oleh Marx. Bahkan di Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapira, seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengidentifikasikan masyarakat ini telah memulai lebih awal dalam menempuh jalan kapitalis ketimbang Indonesia. Tentu saja, kelompok-kelompok bisnis pribumi di sana tidak menggunakan semacam pengaruh terhadap kebijaksanaan pemeriontah (atau “negara“ ) sebagaimana yang dilakukan rekanan mereka di Barat pada tahap-tahap awal perkembangan kapitalisme. Jadi, saya pikir kita harus mengakui bahwa proses-proses pertumbuhan ekonomi, industrialisasi tahap awal, perkembangan kapitalisme atau apapun yang mau kita sebut modernisasi dapat berlangsung tanpa dirintis oleh borjuasi. Pemerintahan yang kuat, didukung oleh Angkatan Darat yang peka dan birokrasi yang efisien dapat memulai proses pertumbuhan, khususnya bila ia mempunyai akses pada bantuan luar negeri dan penanaman modal asing atau minoritas penting pedagang non-pribumi (yaitu Cina). Hal ini sudah dapat dilakukan jauh sebelum munculnya kelas “kapitalis“ pedagang, walaupun mungkin hal tersebut tidak dilakukan secara efisisen dan cukup berhati-hati, dan kemungkinan dengan banyak sekali korupsi 31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda serta pembuatan kebijakan ekonomi yang “irasional“. Demikianlah, kata kuncinya adalah bahwa “borjuasi“ tidak esensial, bukan merupakan syarat yang diperlukan. Karena jalan perkembangan sebagian besar negeri-negeri Asia Timur (dan beberapa negeri lainnya) yang pertumbuhannya pesat pada dasarnya adalah kapitalis, orang yang berada di Barat cenderung berpikir tentang kapitalisme dari sudut pandang bahwa kelas menengah atau borjuasi yang mendominasi kehidupan sosial ekonomi, dan mengubah masyarakat menuruit bayangan mereka, dan membangun semacam keharusan ataupun kondisi yang mencukupi bagi pembangunan ekonomi. Secara umum diasumsikan bahwa borjuasi adalah kelas pemupuk dan penanaman modal. Tentu saja asmusi ini bisa dipertahankan secara etnosentris – berlandaskan pada khayalan bahwa setiap bangsa harus mengikuti jalan pertumbuhan seperti di Barat – sehingga itu banyak dari kita mencoba mengelak dari setiap penghubungan yang jelas dengan doktrin yang meragukan seperti itu, lebih daripada untuk mencari model –model pembangunan yang lain. Tidak ada yang kurang dari model-model pembangunan sosial ekonomi yang dipromosinegara di Asia dan Afrika sejak perang dunia kedua, di mana peran pembangkit modal tradisional borjuasi dan bahkan fungsi-fungsi kewirausahawannya telah diambil alih oleh pemerintah. Kendati demikian, tidak banyak hal-hal ini yang secara khusuk berhasil, terutama dalam aspek-aspek kewirausahawan mereka. Upaya-upaya yang dibuat di Indonesia selama zaman Soekarno untuk membangkitkan perkembangan ekonomi pertama-tama melalui dominasi sektor publik atas perekonomian membuktikan kegagalan yang tak alang kepalang. Di pihak lain, menjadi jelas dari kasus Taiwan dan Korea Selatan bahwa kecocokan tipe-tipe strategi pertumbuhan yang diarahkan oleh pemerintah dapat merangsang tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tanpa banyak dibantu oleh kehadiran kelas-kelas pedagang yang ada, dan dalam prosesnya secara besar menyumbang pada penciptaan kelas seperti itu. Mungkin dapat diperdebatkan bahwa sesuatu yang agak mirip juga berlangsung dalam perjalanan industrialisasi Jerman, walaupun borjuasi komersial yang lemah telah tersedia di sana. Namun dengan jelas panah-panah adalah akibat dalam persamaan ini harus mengggambarkan interkasi antara kelas menengah dan kapitalisme, ketimbang perkembangan determinan yang satu arah Pertumbuhan dapat menyumbang kan terciptanya borjuasi dan kelas menengah secara besar-besaran, begitu pula sebaliknya, Di banyak negara Asia Tenggara dan Asia Timur, setidaknya pada tahap-tahap awal, peran pemerintah merupakan elemen kausal yang menentuiklan di samping pertumbuhan yang sedang berkembang. Dalam kasus Indonesia percepatan pertumbuhan yang berlangsung pesat sejak tahun 1965 secara jelas bukan dibawa oleh kelas menengah dan borjuasi yang ada, apakah pribumi atau Cina, melainkan oleh kombinasi keterlibatan Negara dalam ekonomi, investasii yang besar pada sektor publik dalam rangka mencipratkan pendapatan-pendapatan yang dipeoleh dari minyak, sebagaimana pula pada penanaman modal asing dan bantuan luar negeri Pertumbuhan ekonomilah yang memberi peningkatan bagi pertumbuhan kelas menengah, bukan sebaliknya. yang menentuikan di samping pertumbuhan yang sedang berkembang. Dalam kasus Indonesia percepatan pertumbuhan yang berlangsung pesat sejak tahun1965 secara jelas bukan dibawa oleh kelas menengah dan borjuasi yang ada, apakah pribumi atau Cina, melainkan oleh kombinasi keterlibatan Negara dalam ekonomi, investasii yang besar pada sektor publik dalam ranghka mencipratkan pendapatan-pendapatan yang 32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda diperoleh dari minyak, sebagaimana pula pada penanaman modal asing dan bantuan luar negeri Pertumbuhan ekonomilah yang memberi peningkatan bagi pertumbuhan kelas menengah, bukan sebaliknya.Peran pemerintah jauh lebih penting.(Mackie, 1993: 109 – 151) Penutup Bagi sebagian besar kelompok perusahan besar dalam negeri pada masa Orde Baru, batu loncatan untuk mencapai sukses dalam dunia usaha adalah monopoli yang dibagikan negara, yang membuka peluang bagi kelompok perusahan besar untuk masuk ke dalam sektor-sektor kegiatan ekonomi yang sangat penting. Negara memberikan konsesi hutan,lisensi impor, hak distribusi barang kebutuhan pokok, dan kontrak untuk membangun dan memasok, dan kelompok kapitalis yang paling sukses adalah kelompok yang mampu mendapat peluang untuk memasuki bidang-bidang ini. Kelompokkelompok besar dalam negeri warisan dari zaman pemerintahan Soekarno juga muncul atas dasar monopoli, dengan mengandalkan koneksi mereka dengan istana presiden.Kini banyak di antara kelompok-kelompok perusahan besar ini – termasuk Aslam, Suwarma, Markam, Dassad dan Panggabean – yang disita atau lenyap karena kehilangan hak istimwa yang menjadi urat nadi mereka. Segelintir dari mereka berhasil bertahan dalam pergolakan ini, karena berhasil dengan kelihaian politik yang besar, memelihara koneksi dengan pelindung politiknya, atau karena memiliki mitra dalam negeri dan luar negeri yang luas yang mendukung mereka di kala perlu, atau karena mempunyai kegiatan usaha yang luas dan bermacam ragam. Di antara mereka ini termasuk Hasyim Ning, Sudarpo, dan Sultan Hamengku Buwono IX. Para kapitalis swasta yang muncul dan tumbuh dalam zaman pemerintahan Soeharto sebagian besar adalah pengusaha yang tidak pernah menonjol sebelumnuya, tetapi mereka telah memiliki hubungan usaha yang telah berlangsung lama dengan para perwira militer, atau, mereka muncul langsung dari jajaran birokrasi. Yang paling terkemuka di antara mereka yang memiliki koneksi militer adalah Liem Sioe Liong. Ia berhasil memperoleh monopoli cengkeh yang sangat menguntungkan, lisensi pabrik tepung terbesar, dan kemudahan sangat besar untuk memperoleh devisa negara. Yap Swie Kie berhasil karena konsensi hutan yang luas yang diperolehnya, sementara perusahan Go Swie Kie dibangun di atas lisensi dari Bulog untuk mengimpor dan menyalurkan barangbarang kebutuhan pokok. William Soerjadjaja mengadakan usaha patungan dengan perakit mobil negara Gaya Motors dan dengan Ibnu Sutowo, direktur Pertamina, dan menjadi agen tunggal untuk mengimpor dan merakit mobil Toyota dan Daihatsu yang sangat mengurungkan. Bob Hasan memperoleh konsesi hutan dan bantuan negara untuk mendirikan perusahan pelayaran. Di samping itu, banyak di antara para pemegang kekuasan birokrasi-politik baru dan keluarga mereka terjun langsung ke dunia usaha. Menjelang tahun 1975 Ibnu Sutowo seorang jendral yang pengangkatannya sebagai direktur utama perusahaan minyak negara membuatnya sangat berpengaruh dalam perekonomian Indonesia – membangun kelompok pengusaha pribumi terbesar di Indonesia. Perusahan ini aktif dalam impor dan 33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda perakitan mobil, perdagangan, serta pembangunan dan reparasi kapal.Kelurga Soeharto juga memasuki dunia usaha, melalui pemilikan saham, pabrik terigu, perbankan, mobil, perdagangan, eksportir minyak, industri olahan, pertanian, dan tanah dan bangunan. Pejabat-pejabat lain yang menjadi terkemuka dalam dunia usaha antara lain Jendral Baramuli, Jendral Soemitro, dan Jendral Ali Sadikin. Di sekitar taipan-taipan birokrasi ini terdapat sekelompok pengusaha yang kurang menonjol yang menikmati kontrak dan konsesi pada tingkat yang lebih rendah. Dalam periode ini, usaha patungan amat penting bagi pembentukan kelompok perusahaan. Di bidang tekstil, eletronika, pabrik kaca, farmasi dan keuangan. modal dalam negeri berkembang pesat hingga memperoleh kemudahan bukan hanya untuk mendapat dana tetapi juga teknologi, jaringan perusahaan, dan ketrampilan mengelola perusahan yang dibutuhklan untuk kegiatan industri modern. Hubungan antara modal dan pusat kekuasaan birokratik-politik juga dilembagakan, dalam bentuk perusahan patungan. Karena itu, hampir semua saham milik keluarga Soeharto adalah saham minoritas dalam kelompok-kelompok perusahaan besar yang pada dasarnya milik orang Cina, khususnya kelompok Liem Sioe Liong, dan juga milik kapitalis-kapitalis terkemuka Cina lainnya termasuk William Soerjawidjaja, Agus Nursalim dan Mukmin Ali. (Robinson, 1998: 111 -114) Tidak diragukan lagi, peritiwa-peristiwa yang menyertai krisis 1997 secara telak telah merusak oligarki bisnis-politik. Tidak lagi mampu untuk berlindung kepada negara otoritarian yang sangat sentralistik untuk mendukung kepentingan-kepentingannya, mereka mendapati bahwa lebih sukar untuk beroperasi di dalam arena pemilihan umum, partai-partai politik dan parlemen yang tidak dapat diprediksi dengan mudah.Bersamaan dengan itu pula, perimbangan kekuatan segera berayun secara signifikan kepada kekuatan-kekuatan yang tidak sekadar bermaksud menreformasi lembaga-lembaga politik dan ekonomi, melainkan juga menyerukan untuk menuntut pertanggungjawaban keluarga-keluarga bisnis –politik dan para konglomerat lama. Dengan pengaruh yang begitu besar, IMF kini secara efektif menjadi bagian dari perubahan politik di Indonesia Sejumlah pengeritik yang berani terhadap rezim dan terhadap para konglomerat, menduduki posisi-posisi kementerian strategis dan dengan antusias mendorong berbagai reformasi pasar dan kelembagaan yang disusun bersama IMF. Badan-badan audit negara direvalitasi dan diberi otoritas baru untuk memeriksa perusahan-perusahaan, bank-bank, dan kementerian-kementerian negara. Badan-badan swasta yang didirikan untuk mengawasi aktivis politik dan bisnis juga didirikan, sementara itu media massa yang vokal aktivitas tokoh-tokoh politik dan kesepakatan-kesepakatan bisnis. Namun aliansi-aliansi reformis periode pasca-Soeharto secara politik terbukti tidak kokoh dan secara ideologis tidak koheren. Tersebar di anrara sederet partai-partai politik, mereka digerakkan oleh campuran agenda populis, nasionalis, dan bahkan sosial demokrat dan makin terbelah oleh ambisi-ambisi politik yang bersaing dari para pemimpin yang berbeda. Tidak ada komitmen yang mendasar kepada agenda liberal. Sementara otoritas pemerintahan terhadap aparat negara terbukti goyah,.posisi parlemen sendiri lebih tidak jelas lagi, apakah akan berperan untuk mengeliminasi rezim lama atau untuk memanfaatkannya. 34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Oligarki-oligarki politik dan bisnis yang dulu dominan dipaksa untuk beroperasi dalam suatu arena di mana tarik menarik politik dimediasi melalui partai-partai dan parlemen, di mana saluran kekuasaannya adalah para pialang dan Bandar politik, bukannya para jednral dan appratchik negara.Kelangsungan hidup mereka pun kini tergantung kepada pembentukan aliansi-aliansi politik baru yang lebih luas. Namun demikian, posisi mereka tidak terlalu buruk. Sistem hubungan predatoris antara para pejabat, kalangan bisnis, dan pialang politik masih terus mewarnai perpolitikan Indonesia, mulai dari Jakarta hingga ke daerah-daerah dan kota-kota lokal. Dengan demikian, meruntuhkan struktur kekuasaan lama jelas merupakan seluruh upaya yang sulit. Dalam bidang ekonomi, konglomeratkonglomerat lama telah menjadi satu-satunya pemain di kota Tidak ada aliran investasi asing yang masuk menggantikan konglomerat –konglomerat lama. Tidak ada ada borjuis domestik yang muncul untuk mendorong suatu revolusi neoliberal atau untuk merangkul sistem pasar yang ditata atas dasar transportasi dan akuntabilitas publik melalui berbagai peraturan. (Hadiz, 2005: 147 – 148) Orang tak perlu menjadi seorang Marxis untuk menerima proposisi umum bahwa secara keseluruhan uang membeli kekuasaan, sementara di Indonesia kita lebih sering dijumpai sejak tahun 1945 bahwa kekuasaan yang membeli kekayaan, sementara kekayaan jarang sekali menandakan kekuasaan atau pengaruh politik – atau, untuk membalikan proposisi tersebut, bahwa seseorang kemungkinan besar tak akan bisa mengeruk kekayaan luas secara idenpenden tanpa berbagai “koneksi“ erat dengan mereka yang memegang kekuasaan kekuasaan politik. Perusahan-perusahan besar swasta memiliki daya dorong politik yang sangat lenah di sini, dibandingkan dengan rekan-rekan sejawat mereka di negara-negara lain. Kelompok-kelompok kepentingan ekonomi tak terstuktur secara memadai dan hampir-hampir tak memiliki pengaruh politik sama sekali. Kita tak dapat membandingkan KADIN, sebagai organisasi lobbying dan kelompok kepentingan dengan badan-badan kepentingan bertaraf lebih rendah seperti aosiasi pengusaha tekstil atau asosiasi penggilingan remah karet memiliki kekuatan yang jauh lebih tidak segnifikan. Penyebab-penyebab dari kelembekan dari kelompok-kelomppok kepentingan tersebut harus dilacak dalam domain politik dan ideologi –kultural, ketimbang pada sisi ekonomi atau struktural.Para pengelolah karet, penghasil gula, produsen tekstil memang memainkan peran ekonomi penting dalam ekonomi nasional secara keseluruhan, sehingga kita mungkin menduga bahwa mereka dapat mengorganisir untuk bertindak secara politis sebagai kelompok-kelompok lobbyis; namun nyatanya mereka telah menjalankan hanya untuk derajat yang kecil. Penjelasan terhadap anomali ini dapat diketemukan, dalam dua pertimbangan. Pertama dalah karakter rezim yang secara esensial patrimonialis Yang lain berkaitan dengan fakta bahwa banyak dari ajaran principal ideologi kapitalis tetap belum diterima secara luas sebagai absah atau memadai bagi masyarakat Indonesia; baik keserakan maupun kepentingan-pribadi dipandang secara luas sebagai kualitas-kualitas yang patut dicela dalam nilai-nilai tradisional Indonesia dan belum lagi terlebur ke dalam ideologi nasional sebagai hal yang dibutuhkan untuk mencapai pembangunan.

35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Tidak adanya borjuasi (menurut definisi yang sudah baku dan beku) yang cukup kokoh di Indonesia sering dijadikan dasar kesimpulan tidak adanya kelas menengah. Atau dikatakan tidak ada kelas menengah yang “sejati “, seperti halnya kapitalisme Indonesia dianggap kurang “sejati “. Kalaupun borjuasi sebagai kelas menengah itu dianggap ada, banyak pengamat akan kerepotan mencari kelas atasnya karena mereka mengabaikan kemajemukan rara-produksi.Mereka mungkin juga mengabaikan sejarah sosial Indonesia mutakhir di tengah gelombang sistem dunia yang telah mengubah kedudukan dan wajah kelas kaum borjuis maupun pranata kapitalisme secara keseluruhan.

36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Bibliografi Atmosudirdjo, Prajudi.1962 Sejarah Ekonomi Indonesia. Dari Segi Sosiologi Sampai Akhir Abad XIX.Jakarta: PT Pradnya Paramata. Billah, MM. “Perspektif Kelas Menengah di Indonesia,” dalam Happy Bone Zulkarnain et al. 1993.Kelas Menengah Digugat?. Jakarta. PT Fikahati Aneska. Hlm. 27 – 52. Bulkin, Farchan.” Kapitalisme, Golongan Menengah dan Negara: Sebuah Catatan Penelitian,” Prisma, No. 2, Tahun XIII, Februari 1984. Hlm. 3 – 22. Castles. Lance. 1982. Tingkah Laku Agama, Politik dan Ekonomi di Jawa. Industri Rokok Kudus. Jakarta: Sinar Harapan. Crouch, Harlod. “Hilangnya Kelas Menengah di Masa Orde Baru,” dalam Happy Bone Zulkarnain et. al. Kelas Menengah Digugat?. Jakarta: PT Fikahati Aneska,Hlm. 75 - 104 Evers. Hans –Dieter dan Tilman Schiel.1990 . Kelompok-Kelompok Strategis. Studi Perbandingan tentang Negara, Birokrasi dan Pembentukan Kelas di Dunia Ketiga. Jakarta: Yayan Obor Indonesia. Hadisumarto, Djunaedi.”Menelusuri Pembinaan dan Pengembangan Wiraswasta Nasional”, Prisma, No. 9, Tahun VII, Oktober 1978, Hlm. 66 – 82. Hadiz, Vedi R. 2005.Dinamika Kekuasaan. Ekonomi Politik Indonesia Pasca –Soeharto Jakarta: LP3ES. Hefner, Robert W.2000. Budaya Pasar. Masyarakat dan Moralitas dalam Kapitalisme Asia Baru. Jakarta: LP3ES. Higgins, Benyamin.”Prakarta“, dalam Clifford Geertz.1983.Involui Pertanian.Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.Hlm. xi – xx. Iswandi. 1998.Bisnis Militer Orde Baru. Keterlibatan ABRI Dalam Bidang Ekonomi dan Pengaruhnya Terhadap Pembentukan Rezim Otoriter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Kunio, Yoshihara. Kapitalisme Semua Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES. 1990. Kuntowijoyo.1991. Paradigma Islam. Interprestasi Untuk Aksi.Bandung: Mizan. Lubis, Mochtar.“Kesemuan Kelas Menengah Indonesia”, dalam Happy Bone Zulkarnain et al. Kelas Menengah Digugat?, Jakarta: PT Fikahati Aneska. Hlm. 105 - 126 37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Muhaimin, Yahya A.”Politik, Pengusaha Nasional dan Kelas Menengah Indonesia”, Prisma, No. 3. Tahun XIII, Maret 1984, Hlm. 63 – 72. Muhaimin,Yahya A.1990.Bisnis dan Politik.Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950 - 1980. Jakarta: LP3ES. Mackie, JAC. ”Uang dan Kelas Menengah”, dalam Richard Tanter dan Kenneth Young. 1885. Politik Kelas Menengah Indonesia. Jakarta: LP3ES, Hlm. 105 – 135/ Onghokham.” Merosotnya Peranan Pribumi dalam Perdagangan Komoditi”. Prisma, No 8, Tahun XII, Agustus 1983, Hlm. 3 – 19. Robinson, Richard “Pengembangan Industri dan Ekonomi Politik Pengembangan Modal Indonesia”, dalam Ruth McVey (ed).1998 Kaum Kapitalis Asia Tenggara.Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, Hlm. 102 – 145. Robinson, Richard. Buku Hitam Rezim Soeharto (Satu analisis kelas tentang Negara Birokrasi Militer di Indonesia.). Tangerang; Totalitas. Roepke, Jochen, ”Kewiraswasraan dan Perkembangan Ekonomi Indonesia”, Prisma, Tahun VII, Oktober 1978,Hlm. 66 – 82. Roepke,Jochen.1988 Kebebasan Yang Terhambat Perkembangan Ekonomi dan Perilaku Kegiatan Utama di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia. Soetrisno, Loekman, ”Pergeseran dalam Golongan Menengah di Indonesia”, Prisma, No. 2, Tahun XIII, Februari 1984, Hlm. 23 – 29. Wertheim, WF.1999 Masyarakat Indonesia Dalam Transisi. Studi Perubahan Sosial. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. Wibisono, Christianto. ”Anatomi Konglomerat Indonesia”, dalam Kwik Kian Gie dan BN Marbun (ed).1990 Konglomerat Indonesia. Permasalahan dan Sepak Terjang nya Jakarta: Sinar Harapan.Hlm. 11 – 30

38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->