P. 1
Masa Depan Ideologi

Masa Depan Ideologi

|Views: 637|Likes:
Published by Peter Kasenda
Kutipan diatas berasal dari sebuah artikel dalam jurnal The National Interest yang berjudul “ The End of History “ yang terbit pada musim panas tahun 1989 . Artikel yang ditulis seorang pejabat Departemen Luas Negeri AS ini dipandang sensasional dan mengundang banyak perdebatan dari dunia intelektual . Artikelnya itu kemudian diperluas menjadi sebuah buku yang menguraikan ide-idenya secara lebih rinci ; buku itu berjudul The End of History and Last Man ( 1992 ) , di mana kesimpulannya sedikit lebih bersifat sementara , sekalipun tesis kandungannya pada dasarnya tetap sama .

Dalam artikel itu Francis Fukuyama berpendapat bahwa sebuah konsensus luar biasa berkenan dengan legitimasi demokrasi liberal sebagai suatu sistem pemerintahan telah muncul di seluruh dunia selama beberapa tahun terakhir , setelah ia menaklukan ideologi-ideologi pesaingannya seperti monraki turun-temurun , fasisme dan baru-baru ini komunisme . Lebih dari itu , Fukuyama berpendapat bahwa demokrasi liberal mungkin merupakan “titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia “, dan “ bentuk final pemerintahan manusia .” sehingga ia bisa disebut sebagai “akhir sejarah “ . Sementara bentuk-bentuk pemerintahan yang paling awal pada umumnya ditandai dengan pelbagai kerusakan parah dan irasionalitas-irasionalitas yang menyebabkan runtuhnya jenis-jenis pemerintahan itu sekarang ,sebaliknya demokrasi liberal dianggap bebas dari pelbagai kontradisi internal yang fundamental seperti ini . Ini tidak berarti bahwa sekarang demokrasi tidak berubah , seperti Amerika Serikat, Perancis, atau Swiis , bukan tanpa masalah ketidakadilan atau permasalahan-permasalahan sosial yang serius . Namun , permasalahn-permasalahan itu merupakan implementasi yang tidak lengkap dari kebebasan dan persamaan di mana demokrasi dibangun , bukan karena kekurangan-kekurangan dalam prinsip-prinsip itu sendiri . Sementara beberapa negara masa kini kemungkinan gagal untuk mencapai demokrasi liberal yang stabil , dan yang lainnya mungkin menyimpang pada bentuk yang yang lain , bentuk-bentuk kekuasaan yang lebih primitif seperti teokrasi atau ketidaktaktoran militer , di mana cita-cita demokrasi liberal tidak bisa berkembang di dalamnya ( Fukuyama , 2001 : 2 – 3 ) .

Kutipan diatas berasal dari sebuah artikel dalam jurnal The National Interest yang berjudul “ The End of History “ yang terbit pada musim panas tahun 1989 . Artikel yang ditulis seorang pejabat Departemen Luas Negeri AS ini dipandang sensasional dan mengundang banyak perdebatan dari dunia intelektual . Artikelnya itu kemudian diperluas menjadi sebuah buku yang menguraikan ide-idenya secara lebih rinci ; buku itu berjudul The End of History and Last Man ( 1992 ) , di mana kesimpulannya sedikit lebih bersifat sementara , sekalipun tesis kandungannya pada dasarnya tetap sama .

Dalam artikel itu Francis Fukuyama berpendapat bahwa sebuah konsensus luar biasa berkenan dengan legitimasi demokrasi liberal sebagai suatu sistem pemerintahan telah muncul di seluruh dunia selama beberapa tahun terakhir , setelah ia menaklukan ideologi-ideologi pesaingannya seperti monraki turun-temurun , fasisme dan baru-baru ini komunisme . Lebih dari itu , Fukuyama berpendapat bahwa demokrasi liberal mungkin merupakan “titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia “, dan “ bentuk final pemerintahan manusia .” sehingga ia bisa disebut sebagai “akhir sejarah “ . Sementara bentuk-bentuk pemerintahan yang paling awal pada umumnya ditandai dengan pelbagai kerusakan parah dan irasionalitas-irasionalitas yang menyebabkan runtuhnya jenis-jenis pemerintahan itu sekarang ,sebaliknya demokrasi liberal dianggap bebas dari pelbagai kontradisi internal yang fundamental seperti ini . Ini tidak berarti bahwa sekarang demokrasi tidak berubah , seperti Amerika Serikat, Perancis, atau Swiis , bukan tanpa masalah ketidakadilan atau permasalahan-permasalahan sosial yang serius . Namun , permasalahn-permasalahan itu merupakan implementasi yang tidak lengkap dari kebebasan dan persamaan di mana demokrasi dibangun , bukan karena kekurangan-kekurangan dalam prinsip-prinsip itu sendiri . Sementara beberapa negara masa kini kemungkinan gagal untuk mencapai demokrasi liberal yang stabil , dan yang lainnya mungkin menyimpang pada bentuk yang yang lain , bentuk-bentuk kekuasaan yang lebih primitif seperti teokrasi atau ketidaktaktoran militer , di mana cita-cita demokrasi liberal tidak bisa berkembang di dalamnya ( Fukuyama , 2001 : 2 – 3 ) .

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Masa Depan Ideologi
Apa yang sedang kita saksikan bukanlah akhir Perang Dingin, atau periode sejarah pasca perang, Tetapi akhir dari sejarah; : yakni titik akhir dari Evolusi ideologi umat manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk final pemerintahan umat manusia . (Francis Fukuyama)

Kutipan diatas berasal dari sebuah artikel dalam jurnal The National Interest yang berjudul “ The End of History “ yang terbit pada musim panas tahun 1989 . Artikel yang ditulis seorang pejabat Departemen Luas Negeri AS ini dipandang sensasional dan mengundang banyak perdebatan dari dunia intelektual . Artikelnya itu kemudian diperluas menjadi sebuah buku yang menguraikan ide-idenya secara lebih rinci ; buku itu berjudul The End of History and Last Man ( 1992 ) , di mana kesimpulannya sedikit lebih bersifat sementara , sekalipun tesis kandungannya pada dasarnya tetap sama . Dalam artikel itu Francis Fukuyama berpendapat bahwa sebuah konsensus luar biasa berkenan dengan legitimasi demokrasi liberal sebagai suatu sistem pemerintahan telah muncul di seluruh dunia selama beberapa tahun terakhir , setelah ia menaklukan ideologi-ideologi pesaingannya seperti monraki turun-temurun , fasisme dan baru-baru ini komunisme . Lebih dari itu , Fukuyama berpendapat bahwa demokrasi liberal mungkin merupakan “titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia “, dan “ bentuk final pemerintahan manusia .” sehingga ia bisa disebut sebagai “akhir sejarah “ . Sementara bentuk-bentuk pemerintahan yang paling awal pada umumnya ditandai dengan pelbagai kerusakan parah dan irasionalitas-irasionalitas yang menyebabkan runtuhnya jenis-jenis pemerintahan itu sekarang ,sebaliknya demokrasi liberal dianggap bebas dari pelbagai kontradisi internal yang fundamental seperti ini . Ini tidak berarti bahwa sekarang demokrasi tidak berubah , seperti Amerika Serikat, Perancis, atau Swiis , bukan tanpa masalah ketidakadilan atau permasalahan-permasalahan sosial yang serius . Namun , permasalahn-permasalahan itu merupakan implementasi yang tidak lengkap dari kebebasan dan persamaan di mana demokrasi dibangun , bukan karena kekurangankekurangan dalam prinsip-prinsip itu sendiri . Sementara beberapa negara masa kini kemungkinan gagal untuk mencapai demokrasi liberal yang stabil , dan yang lainnya mungkin menyimpang pada bentuk yang yang lain , bentuk-bentuk kekuasaan yang lebih primitif seperti teokrasi atau ketidaktaktoran militer , di mana cita-cita demokrasi liberal tidak bisa berkembang di dalamnya ( Fukuyama , 2001 : 2 – 3 ) . Semua ide tentang akhir sejarah berasal dari Hegel . GWF Hegel percaya bahwa sejarah manusia berjalan melalui serangkaian tahap atau peradaban yang pasti , di mana masing1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda masing tahap/peradaban mengembangkan konflik internalnya atau “ kontradiksi”nya tersendiri . Kontradiksi ini hanya dapat diselesaikan dengan beralih pada sebuah peradaban yang baru dan lebih maju , yang akhirnya akan mengalami konflik pula dan seterusnya . Sejarah “berakhir “ ketika telah tercapai sebentuk masyarakat di mana semua konflik berhasil dipecahkan . Saat itulah umat manusia menemukan bentuk masyarakat yang sesuai dengan sifat dasarnya . Hegel percaya bahwa sejarah mencapai puncaknya dalam sebuah momen yang absolut – sebuah momen yang memenangkan bentuk final masyarakat dan negara yang rasional . Ketika hal ini terjadi , sejarah memang tidak akan berakhir . Artinya , masih akan munculnya peristiwa dan prestasi ( atau kejahatan ) besar yang pantas dicatat . Apa yang berakhir /berhenti adalah proses evolusi sosial dan politik serta konflik ide yang digerakkan oleh proses ini . Fukuyama mengklaim bahwa Hegel mengakui ( sebenarnya tidak ) demokrasi liberal sebagai bentik masyarakat terakhir setelah Revolusi Perancis .Dibutuhkan waktu dua ratus tahun untuk diakuinya pandangan Hegel ini secara universal . Demokrasi liberal harus menghadapi serangkaian saingan . Dengan memenangkan Perang Dunia Kedua . demokrasi liberal berhasil mengalahkan tantangan Fasisme , sementara berakhirnya Perang Dingin menanandai kekalahan komunisme . Dengan keadaan ini , tidak ada lagi tantangan serius pada demokrasi liberal kapitalis modern . Ada fundamentalisme agama dan nasionalisme , tetapi Fukuyama menegaskan bahwa kedua hal ini bukan merupakan alternatif yang mencukupi.( Ian Adans , 2004 : 462 – 464 ) Negara Kuat ( Kanan ) dan Krisis Legitimasi Krisis otoritarianisme saat ini ini tidak dimulai dengan prestorikanya Gorbachev atau runtuhnya Tembok Berlin . Namun , ia terjadi karena jatuhnya serangkaian pemerintahan otoritarianisme sayap –Kanan di Eropa Selatan dalam jangka waktu setengah sampai satu dasawarsa terakhir . Pada tahun 1974 , rezim Caetano di Portugal diusir dalam suatu kudeta militer . Setelah satu periode ketidastabilan yang mengarah pada perang sipil , seorang sosialis Mario Soares terpilih menjadi perdana menteri pada bulan April 1976 , dan negara itu bisa menyaksikan kekuasaan demokratis yang damai sejak saat itu . Para kolonel yang telah menguasai Yunani sejak 1967 juga diusir pada tahun 1974 , sambil memberi jalan bagi rezim Karamalis yang terpilih secara popular . Dan padsa tahun 1975. Jendral Francisco Franco meninggal di Spanyol , yang telah membuka jalan menuju masa transisisi damai kearah demokrasi dua tahun kemudian . Selain itu , militer Turki mengambi-lalih kekuasaan negara pada bulan September 1980 sebagai akibat dari terorisme yang menyengsarakan masyarakatnya , tetapi mengembalikan negeri itu kembali pada kekuasaan sipil pada tahun 1983 . Sejak saat itu , seluruh negara melaksanakan pemulihan-pemulihan berkala , bebas dan multipartai . Transformasi yang terjadi di Eropa Selatan dalam waktu kurang dari satu dasawarsa sungguh luar biasa . Negara-negara ini yang pada awalnya dilihatnya sebagai kambing hitam Eropa dikutuk oleh pelbagai tradisi religius dan tradisi otoriteranisme mereka 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mendorongnya untuk keluar dari arus utama perkembangan demokrasi di Eropa Barat . Namun , pada tahun 1980-an setiap negara telah mengalami transisi yang berhasil menuju demokrasi yang berfungsi dan stabil , demikian stabilnya dalam kenyataan sehingga (kecuali Turki ) masyarakat yang hidup didalamnya hampir tidak dapat membayangkan situasi yang terjadi sebaliknya . Serangkaian transisi menuju demokrasi yang mirip terjadi di Amerika Latin pada tahun 1980-an . Transisi ini dimulai pada tahun 1980-an dengan restorasi pemerintahan yang terpilih secara demokratis di Peru setelah dua belas tahun kekuasaan militer . Perang Malvinas pada tahun 1982 mempercepat runtuhnya junta militer di Argentina , dan munculnya pemerintahan Alfonsin yang terpilih secara demokratis . Transisi di Argentina secara cepat diikuti oleh seluruh negara-negara Amerika Latin yang lain , ditandai dengan mundurnya rezim militer di Uruguay dan Barzil pada tahun 1983 dan 1984 secara berturut-turut . Hingga akhir dasawarsa pemerintah diktaktor Stroessner di Paraguay dan Pinochet di Chili telah memberi jalan bagi pemerintahan-pemerintahan yang terpilih secara popular , dan pada awal 1990, pemerintahan Sandinista Nikaragua terlibat dalam sebuah koalisi yang dipimpin Violetta Chamorro dalam sebuah pemilihan umum yang bebas . Banyak peneliti yang merasa kurang percaya terhadap permanensi negara-negara demokrasi yang baru di Amerika Latin dibandingkan dengan negara-negara demokrasi yang ada di Eropa Selatan . Demokrasi datang dan pergi di kawasan ini , dan pada akhirnya seluruh negara demokrasi baru ini merupakan negara-negara yang mengalami krisis ekonomi yang parah , di mana salah satu manifestasinya yang paling jelas adalah krisis utang . Negara-negara seperti Peru dan Kolumbia , menghadapi tantangan yang hebat dari dalam , beberapa pemberontakan dan obat bius . Namun demikian , negaranegara demokrasi baru ini terbukti sangat ulet , seolah-olah pengalaman awal mereka berkenan dengan otoritarianisme telah mendorong mereka untuk tidak begitu mudah menyerah pada kekuasaan militer . Kenyataan itu menunjukkan , bahwa dari titik nadir demokrasi pada awal tahun 1970-an ketika hanya sedikit negara di Amerika Latin yang demokratis , mulai awal 1990-an , Kuba dan Guyana merupakan satu-satunya negara di kawasan Barat yang tidak mengizinkan pemilu secara bebas dan layak . Ada banyak perkembangan yang dapat dibandingkan dengan perkembangan di Asia Timur . Pada tahun 1986 , pemerintah diktaktor Marcos digulingkan di Filipina , dan digantikan oleh Presiden Corazon Aquino yang menduduki jabatan itu dengan massa yang kuat . Pada tahun berikutnya , Jendral Chun meletakkan jabatan di Korea Selatan dan mengizinkan terpilihnya Roh Tae Woo sebagai presiden . Ketika sistim politik Taiwan belum direformasi dengan cara yang demikian dramatis , ada banyak endapan demokratis yang muncul ke permukaan setelah kematian Chian Ching-Kuo pada Januari 1988 . Dengan melewati banyak hambatan lama di Partai Guomindang yang berkuasa , banyak memunculkan partisipasi dalam sektor-sektor lain di kalangan masyarakat Taiwan dalam Parlemen Nasionalis , termasuk di beberapa orang Taiwan Asli . Dan akhirnya , pemerintahan otoritarian Burma telah terpukul oleh gerakan prodemokrasi . Pada bulan Februari 1990 , pemerintah minorotas kulit putih F.W. De Klerk di Afrika Selatan mengumumkan pembebasan Nelson Mandela dan pembubaran Kongres National 3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Afrika dan Partai Komunis Afrika Selatan . Dengan demikian , De Klerk telah membuka suatu periode yang memisahkan orang kulit hitam dan kulit putih , yang pada akhirnya menjadi hukum mayoritas . Dalam melakukan peninjauan kembali , diketemukan kesulitan untuk memahami kedalaman krisis di mana pemerintahan diktaktor menemukan diri mereka telah menyerahkan kepercayaan yang salah kepada kemampuan sistem-sistem otoritarian untuk melanggengkan diri mereka , atau lebih luas, dalam kelangsungan hidup negaranegara kuat . Negara dalam demokrasi liberal adalah dalam perdefinsi : perlindungan terhadap wilayah-wilayah hak-hak individual berarti delimitasi yang tajam dari kekuasaannya . Rezim otoritarian Kanan dan Kiri sebaliknya berusaha menggunakan kekuasaan negara untuk melanggar batas wilayah pribadi dan mengontrolnya demi pelbagai macam tujuan – baik untuk membangun kekuataan militer , mempromosikan tatanan sosial yang egaliter , atau mempercepat pertumbuhan ekonomi Apa yang telah hilang dalam wilayah kebebasan individual harus didapatkan kembali pada tingkat tujuan nasional . Kelemahan kritis yang akhirnya mengguncangkan negara-negara ini terletak dalam analisis terakhir mengenai kegagalan legitimasi – yaitu , krisis pada tingkat ide. Legitimasi bukanlah keadilan atau hak dalam arti yang mutlak ; ia merupakan konsep relatif yang eksis dalam berbagai persepsi subyektif masyarakat . Semua rezim yang mampu melakukan tindakan efektif harus didasarkan pada beberapa prinsip legitimasi . Tidak ada hal semacam seorang diktaktor yang sepenuhnya mengatur “dengan kekuatan” seperti yang umum dikatakan , misalnya , mengenai Hitler . Seorang tiran dapat mengatur anak-anaknya , orangtua, atau mungkin istrinya dengan kekuatan , jika dia secara fisik lebih kuat dari mereka , tetapi dia tidak mungkin mampu mengatur lebih dari dua atau tiga orang yang memiliki kebiasaan berbeda dan tentunya tidak dalam mengatur suatu negara dengan berjuta-juta kebiasaan . Ketika dikatakan bahwa seorang diktaktor seperti Hitler mengatur “dengan kekuatan “ yang dimaksudkan adalah bahwa para pendukung Hitler , termasuk Partai Nazi , Gestaopo , dan Wehrmacht , secara fisik mampu mengintimidasi lebih banyak penduduk . Tetapi apakah yang membuat para pendukungnya tetap setia pada Hitler ? Tentunya bukan kemampuannya untuk mengintimidasi mereka secara fisik : pada akhirnya pada akhirnya , hal itu bergantung pada kepercayaan mereka pada otoritasnya yang legitimate . Aparat kemamanan sendiri dapat dikontrol dengan intimidasi , tetapi dalam beberapa hal dalam sistem itu, sang diktaktor harus memiliki bawahan setia yang percaya pada otoritasnya yang legitimate . Legitimasi merupakan hal yang sangat krusial bahkan bagi pemerintahan diktaktor yang paling tidak adil dan kejam sekalipun . Jelaslah bahwa bukan ksusus itu yang dibutuhkan sebuah rezim untuk menegakkan otoritasnya yang legitimate bagi sebagian besar populasinya agar dapat tetap survive . Ada sejumlah contoh kontemporer mengenai pemerintahan diktaktor minoritas yang secara aktif sangat dibenci oleh sebagian besar rakyatnya , tetapi berhasil mempertahankan kekuasaan selama beberapa dasawarasa . Contohnya adalah rezim yang didominasi-Alawi di Syria , atau faksa Baats-nya Saddam Hussein di Iraq. Ia sudah begitu jelas sehingga tidak perlu dikatakan lagi bahwa berbagai macam pemerintahan 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda junta militer dan oligarki Amerika Latin telah berkuasa sekalipun tidak memiliki dukungan yang luas . Kurangnya legitimasi di antara penduduk sebagai suatu keseluruhan tidak akan memunculkan krisis legitimasi bagi rezim itu kecuali ia mulai mempengaruhi kelompok elite yang terikat dengan rezim itu sendiri , dan terutama sekali mereka yang memegang monopoli kekuasan koersif , seperti partai yang berkuasa , angkatan bersenjata , dan polisi . Ketika kita berbicara mengenai krisis legitimasi dalam sistem otoritarianian , maka, kita berbicara mengenai krisis legitimasi di kalangan elite yang kohesinya memerupakan hal yang esensial bagi rezim itu untuk bertindak secara efekltif Legitimasi diktaktor dapat muncul dari sumber –sumber yang beragam ; dari kesetian personal demi kepentingan tentara yang manja , sampai ideologi yang jelas yang menjustifikasi haknya untuk berkuasa ( Fukuyama , 2001 : 39 – 44 ) Negara Kuat ( Kiri ) dan Krisis Legitimasi Totalitarianisme adalah suatu konsep yang berkembang di Barat setelah Perang Dunia II untuk menggambarkan Uni Soviet dan Nazi Jerman yang merupakan tirani-tirani dengan karakter yang sangat berbeda dari otoritaranisme –otoritarianisme tradisional abad ke-19 Hitler dan Stalin mendefinisikan kembali makna negara kuat dengan keberanian agendaagenda sosial dan politik mereka . Depotisme-depotisme tradisional seperti Franco di Spanyol atau berbagai macam bentuk kediktaktoran di Amerika Latin tidak pernah berusaha menghancurkan “ masyarakat sipil “ – yaitu . wilayah masyarakat dari kepentingan-kepentingan pribadi – tetapi hanya berusaha mengontrolnya Partai Franco”s Falangist atau gerakan Peronis di Argentina gagal mengembangkan ideologi-ideologi yang sistimatis dan hanya berusaha setengah-hati untuk mengubah nilai-nilai dan sikapsikap yang sudah populer . Sebaliknya , negara totalitarian didasarkan pada suatu ideologi eksplisit yang memberikan suatu pandangan komprehensif tentang kehidupan manusia Totalitarianisme berusaha menghancurkan masyarakat sipil secara keseluruhan , dalam pencariannya terhadap kontrol “ total” atas kehidupan para warga negaranya . Dari peristiwa kaum Bolshevik yang meraih kekuasaan pada tahun 1917 , negara Soviet secara sistematis menyerang semua sumber-sumber otoritas yang potensial untuk bersaing dalam masyarakat Rusia, termasuk partai-partai politisi , pers, serikat-serikat dagang , perusahaan-perusahaan pribadi , dan Gereja . Sementara insitusi-insitusi yang masih ada akhir tahun 1980-an menerima bebas berat atas nama mereka, yang semuanya merupakan bayang-bayang masa lalu , yang sepenuhnya diorganisasi dan dikontrol oleh rezim tersebut . Yang masih tersisa adalah sebuah masyarakat yang anggota-anggotanya direduksi menjadi “atom-atom “ , yang tidak berhubungan dengan “insitusi-insitusi perantara “ yang merupakan kependekan dari pemerintah yang sangat berkuasa . Negara totalitarian berharap untuk menciptakan manusia Soviet sendiri dengan mengubah semua struktur kehidupan dan nilai-nilainya melalui kontrol pada pers , pendidikan dan propaganda . Hal ini berkembang hubungan-hubungan manusia yang paling personal dan paling intim , bahkan dalam hubungan keluarga . Pemuda Pavel Morozov , yang mengadukan orangtuanya pada polisi Stalin , selama beberapa tahun 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dijadikan sebagai model anak Soviet , selama beberapa tahun dijadikan model anak Soviet oleh rezim tersebut .Dalam kata-kata Mikhail Heller. “ Hubungan-hubungan manusia yang menciptakan fabrik masyarakat – keluarga, agama, kenangan historis , dan bahasa – menjadi tujuan-tujuan , setelah masyarakat diatomisasi secara sistimatis dan metodologis , dan hubungan-hubungan individu yang dekat digantikan dengan hubungan lain yang dipilih dan disetujui oleh negara .” Ada suatu kepercayaan bahwa negara totalitarian tidak hanya bisa mengabaikan dirinya sendiri secara tak terbatas , ia juga dapat membuat replika di seluruh dunia seperti sebuah virus . Ketika komunis diekspor ke Jerman Timur , Kuba, Vietnam, atau Ethiopia , ia dilengkapi dengan sebuah partai terkemuka kementerian yang terpusat , dan aparat kepolisian serta ideologi untuk mengatur seluruh aspek . Insitusi-insitusi itu tampaknya sangat efektif , tanpa memperdulikan tradisi-tardisi nasional atau kultural yang dipertanyakan di negara-negara tersebut . Banyak orang yang percaya bahwa kemajuan totalitarianisme Soviet niscaya ditopang oleh tradisi-tradisi otoratitarianisme Soviet oleh tradisi-tradisi otoritarian orang-orang Rusia sebelum Bolshevisme . Suatu pandangan Eropa yang populer di kalangan orang Rusia pada abad ke-19 diilustrasikan oleh pelancong Perancis , Custine , yang memberi karakter pada mereka sebagai suatu ras “ yang terpecah menjadi budak , (yang ) hanya… menerima teror dan ambisi secara serius .” Kepercayaan Barat pada stabilitas komunisme Soviet berdasarkan suatu kepercayaan , sadar atau tidak , bahwa orang-orang Rusia tidak tertarik pada , atau sudah siap untuk menerima demokrasi . Setelah semuanya terjadi , hukum Soviet tidak dibebankan pada orang-orang Rusia dengan suatu kekuatan eksternal pada tahun 1917 , sebagaimana peristiwa di Eropa Barat setelah Perang Dunia II dan yang telah berlangsung selama enam atau tujuh dasawarsa setelah Revolusi Bolsevik adalah bencana kelaparan , pergolakan dan invasi . Hal inilah yang mendorong sistem itu menginginkan suatu tingkat legitimasi tertentu di antara perluasan populasi , dan tentunya dalam hukum-hukum yang terbatas , refleksi yang dimiliki masyarakat secara alami otoritarisnisme . Sejak awal tahun 1980-an , perubahan yang terjadi dalam dunia komunis berlangsung begitu cepat dan berkelanjutan sehingga pada saat itu kita cenderung menerima perubahan begitu saja , dan melupakan besarnya peristiwa yang telah terjadi . Oleh karenanya , akan berguna , bila kita meringkaskan tonggak-tonggak sejarah dari periode ini .(1) Pada musim semi tahun 1989 , Beijing untuk sementara diambil alih oleh puliuhan ribu mahasiswa yang menuntut pemberantasan korupsi dan menuntut dilaksanakannya demokrasi di Cina . Mereka akhirnya dibantai dengan kejam oleh tentara Cina pada bulan Juni , tetapi tidak(mundur ) sebelum mereka mampu seorang public menanyakan legitimasi Partai Komunis Cina ; (2) Pada bulan Febnriari 1989 , Tentara Merah menarik diri dari Afganistan . Ini hanya yang pertama dari seraingkaian penarikan diri ; (3) Pada bulan April 1989 , suatu persetujuan meja bundar menghasilkan sebuah kesepakatan mengenai pembagian kekuasaan antara Partai Buruh Polandia dan solidaritas serikat kerja . Sebagai hasil dari pemilihan-pemilihan itu – pemerintahan Solidaritas memegang tampuk kekuasaan pada bulan Juli ‘ (4) Pada bulan Juli dan Agustus 1989 , puluhan dan kemudian ratusan ribu masyarakat Jerman Timur mulai 6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda melarikan diri munju Jerman Barat , yang menyebabkan krisis yang secara cepat mengarah pada runtuhnya Tembok Berlin dan runtuhnya negara Jerman Timur ; (5) Keruntuhan Jerman Timur kemudian memicu kejatuhan pemerintahan komunis di Cekoslavia , Bulgaria , dan Rumania . Hingga awal 1991 , semua bekas negara komunis di Eropa Timur , termasuk Alabania, dan sebagian besar Republik Yugoslavia, telah menyelenggarakan pemilu yang benar-benar bebas dan multipartai. Kaum komunis pada akhirnya keluar dari sistem kuasa kecuali di Rumania, Bulgaria, Serbia , dan Albania , sementara di Bulgaria , pemerintahan Komunis yang terpilih serta merta dipaksa untuk turun . Basis politik untuk Pakta Warsawa telah hilang , dan pasukan-pasukan perang Soviet mulai ditarik mundur dari Eropa Timur ; (6) Pada bulan Januari 1990-an , Pasal Enam dan Konsitusi Soviet , yang menjamin partai Komunis sebagai “ peran utama “ sudah dicabut . (7) Segera setelah penghapusan Pasal Enam itu , sejumlah partai politik nonkomunis didirikan di Soviet , dan memegang kekuasaan di sejumlah Republik Soviet . Yang paling mencolok adalah pemilihan Boris Yeltsin sebagai presiden Republik Rusia pada musim semi 1990, yang dengan banyak pendukungnya di dalam Parlemen Rusia akhirnya meninggalkan Partai Komunis dan (8) Parlemen-parlemen yang dipilih secara bebas di setiap republic konsituen, termasuk Rusia dan Ukrania , mendekralasikan “kedaulatan “ mereka pada tahun 1990 . Parlemen-parlemen di negara-negara Baltik bahkan telah jauh melampui ini dengan mendeklarasikan kemerdekaan mereka secara penuh dari Uni Soviet pada bulan Maret 1990. Hal ini tidak mengarah pada kekerasaan secara langsung , karena banyak pihak yang sudah mengantisipasi , tetapi pada sebuah perjuangan kekuasaan di Rusia mengenai perlu atau tidaknya mempertahankan Persatuan lama. Seorang peneliti yang bijak mengenai pelbagai affair komunis yang kembali pada tahun 1980 akan berkata bahwa tidak satu pun dari peristiwa-peristiwa itu yang mirip atau mungkin terjadi dasawarsa mendatang . Penilaian ini agaknya didasarkan pada pandangan bahwa salah satu dari perkembangan-perkembangan di atas akan meruntuhkan elemen kunci dari kekuasaan totalitarian komunis, dengan demikian , ia memberi pukulan yang mematikan terhadap sistem itu sebagai satu keseluruhan . Dan memang pada akhirnya perlindungan itu datang ketika USSR lama pecah dengan sendirinya dan partai komunis dibubarkan di Rusia mengikuti kegagalan kudeta bulan Agustus 1991 . Bagaimana , kemudian , harapan-harapan awal itu kemudian diingkari , dan bagaimana memperhitungkan kelemahan yang luar biasa dari negara kuat ini , memberi penjelasan kita sejak munculnya prestorika ? Kelemahan paling mendasari yang gravitas sebenarnya luput dari perhatian para peneliti Barat adalah ekonomi . Adalah jauh lebih sulit untuk menoleransi kegagalan ekonomi dalam sistem Soviet karena rezim itu sendiri secara eksplisit telah mendasarkan klaimkalimnya atas legitimasi berdasarkan kemampuannya untuk memberikan standard kehidupan material yang tinggi kepada masyarakatnya . Siapa pun orang yang tinggal di hotel Soviet , berbelanja di pasar swalayan Soviaet , atau bepergian di daerah-daerah pinggiran Soviet di mana seseorang dapat menemukan kemiskinan yang paling papa , seharusnya menyadari bahwa di sana ada berbagai persoalan ekonomi Soviet yang serius yang seluruhnya tidak tergambarkan dalam statistik resmi . Kelemahan besar dari ekonomi Soviet telah diakui untuk beberapa saat , dan ada sebuah persenjataan lengkap 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dari reformasi tradisional yang sudah lama diupayakan untuk membendung keruntuhan itu . Kemudian untuk memahami kelemahan Soviet secara benar , problem-problem ekonomi harus diletakkkan dalam konteks krisis yang lebih luas , yaitu krisis legitimasi sebagai sebuah sistem secara keseluruhan . Kegagalan ekonomi hanya satu dari berbagai peristiwa kegagalan dalam sistem Soviet yang memiliki efek penolakan terhadap bencana dari sistem kepercayaan dan mengekspos kelemahan sistem itu secara mendasar Kegagalan yang lebih fundamental dari tatalitarianisme adalah untuk mengontrol pikiran. Warga negara Soviet , sebagaimana akhirnya memiliki semua hal selama menguasai suatu kemampuan berpikir bagi diri mereka sendiri . Walaupun beberapa di antara mereka memahami tahun-tahun propaganda pemerintah bahwa pemerintah telah membohongi mereka . Orang-orang tetap marah besar atas penderitaan pribadi yang mereka pikul di bawah Stalisnisme. Mereka mengetahui bahwa korban-korban telah disiksa dengan tidak adil, dan bahwa rezim Soviet tidak pernah bertanggung jawab sendiri untuk kejahatan-kejahatan yang menghebohkan itu . Orang-orang sangat percaya bahwa suatu bentuk sistem kelas baru dari partai para pejabat yang korup dan memiliki hak-hak istimewa sebagai seorang di bawah rezim lama yang munafik . Tatalitarisme juga telah gagal di RRC dan negara-negara Eropa Timur , kontrol pemerintah pusat yang ketat dan peristiwa ekonomi Cina pada puncak periode “Stalinis “ RRC tidak pernah seketat di Uni Soviet , dengan kemungkinan seperempat dari ekonomi tidak pernah termasuk bidang perenccanaan nasional.. Ketika Deng Xioping memimpin negara m departemen kurs ekonomi direformasi pada tahun 1978 , beberapa orang Cina masih memiliki sebuah ingatan yang jelas tentang wiraswasta dan pasar-pasar tahun 1950, sehingga hal itu mungkin tidak mengejutkan bahwa mereka mampu mengambil keuntungan dari liberalisasi ekonomi dalam dasawarsa tersebut . Sementara melanjutkan doa sebagai “pemanis bibir “ pada Mao dan Marxisme-Lenisme , Deng secara efektif membangun perumahan pribadi dalam negara dan mebuka negara itu untuk ekonomi kapitalis global. Pada awalnya, pembentukan kembali konsolidasi ekonomi dan pengakuan secara cepat oleh pemimpin komunis dari kegagalan perencanaan pusat orangorang sosialis . Selambat-lambatnya pada musim pasana 1989 , ketika mulai krisis pengungsi di Jerman Timur , beberapa orang Barat berspekulasi bahwa sosialisme yang telah mengakar di Jerman Timur dan bagian-bagian lain di Eropa Timur , di mana insitusi-insitusi Soviet telajh dipaksa oleh para penduduk dengan setengah hati , muncul lebih cepat daripada yang telah dikerjakan oleh negara selain Soviet dan Cina . Ini mungkin tidak akan mengejutkan bahwa masyarakat sipil sedang dihancurkan dalam suatu cara yang dimulai dengan kekurangan , tergantung pada spesifikasi negara itu dalam masalah di Polandia misalnya ,pertanian secara kolektif tidak seperti di negara tetangganya Ukrania dan Belarusia , dan gereja kiri kurang lebih independent . Dalam hal hal lain , pemikiran penduduk Soviet yang telah mempertahankan nilai-nilai komunis , memaksa untuk leyani nasionalisme lokal dengan memelihara ingatan yang hidup dari masyarakat komunis dan mengizinkan penciptaan regenarasi setelah pergolakan pada akhir tahun 8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda 1989 . Salah satu indikasi orang Soviet , mereka tidak akan menghalangi untuk menjaga sekutu lokal di Eropa Timur , hanyalah hasil dari demoralisasi secara total para aparat komunis di sana , dan kenyataan bahwa seseorang secara keras berada dalam penjagaan lama menuju ke kiri dalam pertahanan diri . Komunisme, yang satu kali telah melukiskan dirinya sendiri sebagai suatu bentuk peradaban yang lebih tinggi dan lebih maju daripada demokrasi liberal . selanjutnya akan dijadikan aosiasi dengan suatu tingkat yang tinggi dari keterbelakangan ini. Sementara kekuatan dunia komunis tetap , ini telah berhenti pada suatu gambaran mengenai ide-ide yang dinamis dan menarik . Hal itu sekarang memanggil orang-orang komunis sendiri untuk menemukan diri mereka berjuang melanjutkan aksi-aksi bawah tanah untuk melestarikan sesuatu dari posisi awal dan kekuatan mereka . Orang-orang komunis sekarang menemukan diri mereka sendiri dalam posisi bertahan dalam suatu masyarakat lama dan reaksioner yang tidak menimbulkan iri yang memiliki waktu ;lama sejak kematiannya , seperti manarki yang diatur untuk hidup pada abad XX . Ancaman secara ideologi suatu saat terhadap sikap mereka dalam demokrasi liberal sudah berakhir , dan dengan penarikan tentara merah dari Eropa Timur, ancaman militer akan berlalu . Sementara ide-ide yang demokratis telah merusak legitumasi rezim-rezim komunis di seluruh dunia , demokrasi itu sendiri memiliki kesulitan yang hebat dalam membangun dirinya sendiri . Protes para mahasiswa di Cina dihancurkan oleh partai atau tentara , dan beberapa dari reformasi ekonomi yang lebih awal oleh Deng adalah pencabutan setelah peristiwa itu . Masa depan demokrasi jauh dari sumber dalam ke-15 Republik Soviet , BNulgaria dan Rumania telah melihat kelanjutan kesalahan secara politik sejak mula hukum-hukum komunis mereka berlaku . Yugoslavia memiliki pengalaman perang saudara dan perpecahan . Hanya Hongaria, Cekoslavia , dan Polandia serta bekas Jerman Timur yang kelihatannya seimbang untuk membuat suatu transisi menuju demokrasi yang stabil dan ekonomi pasar pada dasarwarsa mendatang , melalui peristiwa dalam kasus ekonomi yang sedang mereka hadapi yaitu memberi lebih besar lagi harapan daripada sebelumnya . ( Fukuyama, 2001 : 55 – 74 ) Asal Mula Perang Dingin Pengorbanan manusia dan materi yang besar ini membawa nerapa kamajuan bagi revolusioner Soviet dan kepentingan nasional setelah perang dunia kedua . Tentara Merah adalah penentu pembebasan sejumlah negara dari pendudukan fasis tahun 1945-1946 , terutama di Eropa Timur . Setelah perang , pemerintah sosialis dibentuk dengan bantuan Soviet di Polandia , Hongaria, Bulgaria ,CekoSlowakia , Rumania , Albania dan sektor Jerman ( Timur ) yang diduduki Soviet . Gerakan-gerakan komunis lainnya dengan bantuan Soviet yang lebih sedikit membentuk rezim sosialis di Yugoslavia dan Cina . Dalam waktu 3 tahun setelah perang berakhir Uni Soviet telah berubah dari isolasi , dalam suatu dunia kekuatan kapitalis , menjadi mitra dan pemimpin dalam suatu blok komunis yang meliputi setengah penduduk dunia . Dengan demikian dalam jangka panjang fanatisme antikomunis dari kaum fasis menimbulkan dampak sebaliknya . 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Seperti tahun 1917 , kekuatan-kekuatan kapitalis Barat tidak membuang waktu untuk mengembangkan suatu propaganda ofensif melawan kemajuan-kemajuan sosialis Terbentuknya pemerintah komunis di Eropa Timur dinyatakan sebagai imperialisme Soviet , sementara penyempurnaan bentuk-bentuk kapitalis di negara-negara Eropa Barat, sudah tentu , dilukiskan sebagai kehendak rakyat . Kaum imperialis menuntut dikembalikannya kaum pemilik modal dan tuan-tuan tanah pada posisi “selayaknya “ di negara Eropa Timur , bahkan termasuk Jerman Timur . Nampaknya Uni Soviet diharapkan menciptakan kembali kondisi-kondisi yang persis sama yang telah mengakibatkan dua perang dunia dan kemudian menunggu dengan tenang untuk menunggu invasi berikutnya . Namun yang terjadi adalah sebaliknya , Uni Soviet justru melibatkan dirinya dalam pembentukan suatu tata baru di Eropa Timur , bekerja sama dengan sekutu-sekutu barunya . Rakyat dunia komunis tidak terpengaruh oleh propaganda Barat , meskipun pemerintah Barat berhasil memperkuat persepsi antikomunis yang salah pada rakyat mereka sendiri dalam beberapa kasus . Tahun 1960, sistem aliansi imperialis baru berupa Pakta Pertahan Atlantik Utara (NATO ) dikembalikan untuk melawan Uni Soviet dan sekuru-sekutunya . Lebih dari 50 basis militer yang mengancam dibangun oleh Amerika mengitari perbatasan Soviet , didukung oleh kepemimpinan Amerika dalam pengembangan senjata-senjata atom . Pengepungan kapitalis tersebut memaksa negara-negara sosialis untuk menggunakan sejumlah besar usaha untuk produkstif mereka memupuk kemampuan pertahanan giuna mencegah petualangan-petualangan imperialis . Adalah ironis bahwa kaum imperialis berusaha meyakinkan banyak orang bahwa Uni Soviet mempunyai rencana agresif , sementara kenyataanya Amerika menempatkan basis-basis mereka jauh dari wilayahnya di perbatasan daratan Soviet dan bukan sebaliknya . Leonid Brehnev , sekretaris jendral Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet , mengajukan protes pada tanggal 30 Maret 1971. Di negara-negara berkembang , yang masih dikuasainya , kaum imperialis meningkatkan eksploitasi mereka atas bangsa-bangsa dan sumber daya Afrika –Asia dan Amerika Latin. Negara-negara yang semakin miskin ini , dalam kebanyakan kasus , secara teknis memeng merdeka , tetapi mereka tetap di bawah kontrol neoimpreialisme melalui pemerintah boneka reaksioner , intrevensi militer , dan manipulasi pasar internasional Di negara-negara kapitalistik , lapisan-lapisan yang diistimewakan dari kelas buruh diberi bagian kecil dalam kekayaan yang diperas dari Dunia Ketioga sebagai imbalan dukungan mereka atas sistem imperial . Pendapat Soviet mengatakan negara-negara kapitalis itu agresif oleh negara-negara revolusioner defensive . Gerakan revolusioner itu kuat , tetapi kemenangan akhirnya tertunda oleh kekuasaan besar imperialis . Uni Soviet bersedia memilukl beban mempertahankan kemajuanpkemajuan yang telah dicapai melawan reaksi imperialis dengan memberi bantuan ekstensif untuk memajukan gerakan-gerakan gerakan-gerakan anti-imperialis baru di mana pun mereka berkembang . Dengan demikian sistem dunia terdiri atas sebuah blok imperialis dipimpin oleh Amerika Serikat , suatu blok sosialis dipimpin oleh USSR , dan negara-negara Dunia Ketiga dalam berbagai tingkatan 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda perkembangan sosialisme tetapi dalam banyak kasus masih didominasi oleh kaum imperialis .( Jones , 1992 : 18 – 20 ) Penyelesaian tahun 1945 yang mengakhiri kekerasan Perang Dunia Kedua , dalam waktu yang sama menciptakan basis Perang Dingin , Amerika Serikat dan Uni Soviet bercerai sebagai sekutu dalam perjuangan melawan fasisme dan mulai terlibat dalam kompetisi yang berkepanjangan memperebutkan pengaruh politik ata Eropa , Asia , dan dunia . Ada beberapa perdebatan penting di antara orang-orang Amerika terdidik mengenai asal muasal Perang Dingin, dan hal tersebut sangat mempengaruhi pemahaman atas berbagai masalah lainnya .Tingkah laku luar negeri Soviet oleh Amerika Serikat selalu dikaitkan dengan aktivitas subversive Comintern yang bisa mengancam –negara-negara ddemokratis , pakta non-agresi Hitler-Stalin , dan seranghan brutal atas Finlandia yang lemah . Meskipun begitu , persekutuan yang pernah tumbuh semasa perang membuahkan suatu kehangatan di antara kedua bangsa . Mekar rasa hormat Amerika bagi kegigihan perjuangan Rusia melawan fasisme . Bebarapa pejabat Amerika merencanakan suatu era kerja sama yang baru antara dua masyarakat yang berbeda tetapi bersahabat setelah perang , termasuk kerja sama dalam menjamin keamanan kolektif melalui Derwan Keamanan PBB . Peluang lain untuk memperoleh hubungan dengan Uni Soviet tidak diolah secara tiuntas oleh Washington sebelum perang berakhir , dan hanya seikit rencana realistis dan sistimatis yang dibuat untuk merekayasa diunia pascaperang , selain pemebentukan PBB . Namun di Moskow beberapa keputusan terencana dan ekstensif berkenan dengan kebijakan dan tiundakan-tindakan setelah perang telah disusun .Per bedaan inilah yang kemudian membuat rancangan Soviet sangat mengejutkan Amerika . Beberapa diskusi gabungan mengenai liberalisasi pasca perang berlangsung di konperensi-koperensi Teheran , Yalta , dan Postdam . Tiga kekuatan Besar – Amerika Serikat , Uni Soviet , dan Inggris – menyetujui beberapa hal esensial . Mesin perang , Nazi harus dibinasakan dari arah timur oleh tentara-tentara Soviet bersama dengan pasukan Amerika serta Inggris yang bergerak dari barat . Untuk sementara waktu , setiap kekuatan Sekutu bertanggung jawab membentuk pemerintahan sipil di wilayah-wilayah yang dibebaskannya , dengan menunda penentuan nasib sendiri dan pemilihan umum yang bebas. Sangat mudah untuk dimengerti bila Soviet tidak dapat diharapkan akan membiarkan lahir kembalinya potensi persekutuan musuh di sepanjang perbatasannya dan bahwa pemerintahan-pemerintahan Eropa Timur yang baru harus memperhitungkan prinsip ini dalam urusan luar negeri mereka . Disepakati pula bahwa negara-negara Eropa Barat , termasuk Perancis dan Italia , tidak akan berada di bawah pengaruh Soviet tetapi kebutuhan keamanan Soviet memerlukan pengaruh yang besar terhadap Polandia dan Ceko Slowakia . Jerman , masalah yang paling serius , akan dibagi ke dalam empat zone – di bawah pengawasan Amerika,Soviet, Inggris, dan Perancis – dilucuti persenjataannya , dan kemudian disatukan kembali 11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda setelah proses perdamaian dan rekontrukasi politiknya rampung . Kesepakatan lainnya diharapkan pada Korea , Jepang , dan negara-negara lain serta pada PBB. Namun , ada beberapa hal penting yang luput dari kesepakatan-kesepakatan ini , dan secara definitif gagal diintimidasi oleh Barat . Yakni bahwa Soviet akan menempatkan secara permanen tentara Merah di dan untuk mengawasi negara-negara Eropa Timur , sehingga menciptakan rangkaian negara satelit dengan pemerintah –pemerintahan boneka Amerika sangat tersinggung atas penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh Soviet yang sebenarnya dalam menciptakan koloni-koloninya tersebut . Contohnya di Polandia, Soviet mengejutkan masyarakat dunia atas pengerahan pasukannya untuk membasmi pejuang-pejuang antifasis yang nonkomunis dan, setelah mereka dibasmi , menempatkan suatu pemerintahan komunis yang langsung berkiblat ke Moskow . Di Ceko Slowakia , koalisi demokratis partai-partai kiri komunis dan non-komunis dihancurkan oleh kudeta komunis atas perintah Moskow . Di Jerman , zona pendudukan Soviet dijadikan negara boneka permanen , dan tujuan reunifikasi yang disetujiui semula menjadi sirna . Gagasan pemilihan umum dilupakan . Yang lebih menggemparkan adalah apa yang dianggap sebagai usaha Uni Soviet meluaskan . Tirai Besi ini dan menarik wilayah –wilayah tambahan di bawah pengawasan komunis . Aktivitas-aktivitas subversi digalakan di Perancis dan Italia ; tuntutan-tuntutan dipaksakan pada Iran ; Viet Minh ( Partai Komunis Indocina ) yang dikuasai oleh komunis bergerak melawan kekuasaan Perancis di Indochina ; ancamanancaman diarahkan ke Turki ; dan suatu gerakan pemberontakan muncul dfi Malaya . Di Cina , komunis membuka kembali perjuangan mereka melawan pemerintahan Koumintang ( nasionalis ) . Di seluruh dunia. Partai-partai yang memberontak membuat kekacauan dan revolusi atas nama komunisme Banyak kalangan di Barat menyimpulkan bahwa Soviet tidak hanya mencari keamanan di perbatasannya , tetapi juga melancarkan ekspansi ke mana-mana , dan kalau mungkin menguasai dunia . Para pembangkang itu sendiri bahwa tidak setiap peristiwa revolusioner berkaitan dengan komando persengkokolan yang berpusat di Moskow . ( Jones , 1992 : 66 – 69 ) Perang Dunia II juga memicu proses dekolonisasi yang mengubah peta politik dunia secara mendasar , Kolonialisme Barat , puluhan negara baru muncul , yang kemudian dikenal dengan negara-negara Dunia Ketiga . Masing-masing berbeda dalam ukuran jumlah penduduk , sumber daya alam , tingkat kemajuan , peradaban , kebudayaan,pendidikan , agama/kepercayaan , penghalaman , dan kemampuan diplomasi Munculnya Dunia Ketiga ini membuka dimensi baru bagi konflik Timur-Barat . Masingmasing adikuasa berlomba menanam pengaruh di negara-negara baru merdeka ini , dan dengan demikian melibatkan beberapa di antara mereka ke dalam Perang Dingin .. Tetapi sebagian besar dari negara-negara baru merdeka ini bergabung dalam gerakan Nonblok yang dmulai pada tahun 1961 . Gerakan ini selain berjuang untuk penghapusan total dari sisa-sisa kolonialisme dan imperialisme , juga bertujuan meredakan ketegangan 12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda konflik . Timur – Barat guna mengindarkan pecahnya perang nuklir yang berarti akhir peradaban manusia di bumi . Kemanan dunia dalam era Perang Dingin “dijam,in “ oleh dua realita : (1) Tidak adanya kekuatan ketiga di luar dua kekuatan adikuasa , yang mampu mrengembangkan ambisisnya sendiri . Siatu sistem internasional yang hanya terdiri dari dua kekuatan yang relative seimbang , menjamin stabilitas . (2) Eskalai perlombaaan senajata anatara kedua adikuasa khususnya senjata nuklir strategis , justru semakin memperkecil kemungkinan salah satu di antaranya mencetuskan perang . Kesimpulan yang dapat ditarik ialah , bahwa faktor “ keseimbangan kekuatan “ ( balance of power ) antara Amerika Serikat dengan Uni DSoviet , yang dasarnya terpelihara selama era Perang Dingin , telah berfungsi sebagai “penjamin “ keamanan intyernasional Politik Strategi Keamanan Uni Soviet dan Amerika Serikat Sepanjang sejarah , kekaisaran Rusia dan kemudian Uni Soviet , selalu menoleh ke Barat, ke Eropa dan Amerika Serikat , baik sebagai sumber kemajuan maupun sebagai sumber ancaman utama. Setelah Perang Dunia II , kembali Eropa Barat dan Amerika Serikat merupakan sasaran polstrakam Uni Soviet . Tetapi terlebih dauhulu seluruh wilayah Eropa Timur harus dimasukkan di bawah pengaruh mutlaknya . Bagian-bagian dari wilayah Rusia yang terlepas setelah Perang Dunia I , seperti negara-negara Baltik dan bagian timur dari Polandia , harus kembali ke dalam tubuh Uni Soviet , sedangkan negara-negara Eropa Timur lainnya harus di jamin tetap berada dalam wilayah pengaruhnya Doktrin Brezhnev “menguci “ nergara-negara itu di balik tirai besai . Dengan kekuatan dan kekuasaan yang terkonsolidasikan itu , Uni Soviet melancarkan polstrakamnya dengan sasaran –sasaran sebagai berikut : (1) Memelihara stabilitas di benua Eropa atas dasar status quo perbatasan-perbatasan sesuai Perang Dunia II ; (2) Menggoyahkan komitmen rakyat dan pemerintah negara-negara Barat kepada pertahan militer ; (3) Melemahkan ikatan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu utamanya ; (4) Memperoleh akses ke teknologi dan produk Barat untuk mengurangi kelemahan teknologi dan ekonominya sendiri . Sarana dan cara pencapaian sasaran-sasaran ini adalah (a) superioritas militer , (b) pengendalian persenjataan , (c) détente , (d) status-quo perbatasan , dan (e) hubungan ekonomi yang digambarkan sebagai kepentingan Barat . Selama hampir dua dasawrasa pertama setelah Perang Dunia II, Uni Soviet memusatkan usahanya pada pengembangan polstrakamnya di Barat . Sementara di Timur ( Asia Pasifik ) pada permulaannya terbatas pada dukungan terhadap RRC., serta mendekati India dan Indonesia . Baru setelah pecahnya persekutuan Uni Soviet – RRC , keterlibatan Amerika Serikat yang semakin dalam di Asia Tenggara yang merupakan peningkatan kehadiran militernya , dengan adanya Armada ke-7 dan pasukannya di Korea Selatan dan Jepang , Uni Soviet mengembangkan pula polstrakamnya di Timur ( Asia dan Pasifik ) . Munculnya Jepang sebagai kekuatan ekonomi yang sangat besar dengan kemampuan militernya , yang secara potensial dapat meningkat sangat besar , memperkuat persepsi 13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Uni Soviet tentang meningkatnya ancaman dari Timur . Bersamaan dengan itu wilayah Uni Soviet di Asia dan Timur Jauh meningkat pula artinya bagio sumber energi dan bahan mentah lainnya . Polstrakamnya di Asia dan Pasifik diarahkan untuk : (1) Mengembangkan Siberia , termasuk pembangunan jalan kereta api kedua dari Ural ke Pasifik ; (2) Meningkatkan kehadiran milioternya di Asia-Pasifik dibarengi dengan peningkatan diplomasi untuk mengucilkan RRC ; (3) Mengintimidasi Jepang ; (4) Membantu semua negara dan kekuatan yang menentang pemerintah-pemerintah yang dibantu oleh Amerika . Pengembangan kekuatan militernya dimulai di sepanjang perbatasannya dengan RRC pada permulaan dasawarsa 1960. Fase berikutnya ialah peningkatan armadanya di Samudera Pasifik , terutama sekali sejak pertengahan dasawrasa 1970-an , tidak saja dalam jumlah tetapi juga dalam kualitas . Fase terakhir, yaitu pada permulaan dasawarsa 1980-an ialah pengelaran peluru kendali jarak sedang , SS-20 , bersamaan dengan penempatan pesawat tempur dan bomber yang paling mutakhir . Détente pertama dimanfaatkan untuk membangun dan memodernisasi kekuatan militer secara besarbesaran , meliputi kekuatan dan kemampuan nuklir di daarat (antarbenua/ICBM, antara lain SS-X-24,SS-X-25 ), di atas dan di bawah laut ( misil penjelajah dari laut /SLCM, misil dari bawah laut /SSLN , antara lain Delta IV, Typhoon ) dan di uadara ( persawat pemombom Backfire dengan SS-15 , pesawat Blackjack ), serta modernisasi kekuatan internasional . Pembangunan militer besar-besaran ini meningkatkan kemampuan operasional Angatan Perang Uni Soviet , sehingga memperoleh jangkauan global . Uni Soviet memiliki kemampuan angkatan udara stategis , fasilitas pangkalan di Vietnam , dan akses ke beberapa pangkalan di negara-negara berkembang lainnya , seperti di Syria, Lubya , Ethopia, dan Kuba . Uni Soviet juga telah membangun kapal-kapal perang induk nuklir dan meningkatkan bantuan militer ke banyak negara Dunia Ketiga . Polstrakam Armada diatahkan untuk melindungi dan mencapai dua kepentingan dasar, yaitu (1) Perdamaian , kebebasan , danm kesejahteraan dunia ,dan (2) orde internasional yang menjamin terlaksananya hak penentuan nasib sendiri , hak-hak asasi manusia , demokrasi dan pertumbuhan ekonomi . Dalam mengamankan dan mencapai kepentingan nasional itu , dua prinsip dipegang teguh . Pertama , sejauh mungkin ditempuh jalan damai , lelaui dialog dan diplomasi . Kedua , keamanan nasional mutlak harus terjamin . Lawan yang dihadapi (Uni Soviet) adalah negara adidaya militer dengan sistem nilai yang bertolak belakang dari nilai-nilai budaya Barat . Oleh sebab itu prinsip damai melalui kekuatan militer yang mampu melindungi dan mempertahankan keamaman nasional Amerika Serikat dan keamanan :dunia bebas “ pada umumnya . Kemampuan global militer Uni Soviet itu dipandang sebagai ancaman utama terhadap keamanan nasional dan keamanan “dunia bebas “ . Oleh karena itu prioritas tertinggi kepada program “mempersenjatai kembali Amerika “ (Rearm America ) , di samping memperkokoh sistem persekutuan militer yang melingkari seluruh dunia yang sudah ada . 14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Sebelum kekuatan militer Amerika pulih sepenuhnya dan kerawanan-kerawanan sistem pertahanan nuklir ( windows of vulnerability ) maupun pertahanan konvensionalnya dapat dihilangkan , Reagan tidak bersedia melakukan pertemuan puncak dengan Uni Soviet . Ia berkeyakinan , bahwa adalah berbahaya melakukan perundingan dengan Uni Soviet dari posisi militer yang lemah . Beberapa di antara sembilan sasaran strategi militer Amerika yang ;langsung terhadap Uni Soviet , ialah (1) menghentikan perluasan pengaruh dan kehadiran militer Uni Soviet di seluruh dunia ; dan memaksanya membayar mahal setiap usahanya membantu atau melakukan subversi , terorisme, atau penggunaan kekuatan lainnya ; (2) mengurangi pengaruh dan keunggulan militer Uni Soviet dan para sekutunya dengan meningkatkan kemampuan militer sendiri dan para sekutu , dan mencegah jatuhnya teknologi canggih ketangannya , dan (3) mengusahakan persetujuan-persetujuan pengurangan senjata yang seimbang dan dapat diverifikasi untuk memelihara keseimbangan militer yang stabil dan mantap serta kemampuan tangkal yang efektif . Enam sasaran lainnya bertujuan membantu tercapainya sasaran-sasaran itu . Strategi dasar keamanan ialah penangkalan , yang dilakukan secara kenyal (flexible respone ) . Strategi ini memberi ruang gerak yang jauh lebih luas ketimbang strategi sebelumnya , yaitu retaliasi massif selama dasawrasa 1950 yang sepenuhnya bertumpu kepada supremasi nuklir yang dimilikinya waktu itu . Dengan strategi penangkal demikian, Amerika dan sekutu-sekutunya bisa menyesuaikan penggunaan kekuataan dengan tingkat dan bentuk ancaman yang dohadapi atau diperkirakan , mulai dari ancaman tingkat rendah sampai ke ancaman nuklir strategis . Strategi penangkal ini harus mampu menghadapi dan memenangkan perang di dua front atau lebih sekaligus . Untuk itu kekuatan militer harus memiliki tiga kemampuan yaitu (1) melakukan pertahanan dengan efektif ; (2) meningkatkan intensitas perang (eskalasi ), dan (3) melakukan retalisasi menentukan . Sukses strategi ini ditentukan oleh dua syarat pokok , yaitu (a) penempatan kekuatan jauh di luar wilayah sendiri, terutama di dalam atau di sekitar Eropa Barat , Asia Timur , dan Asia Baratdaya ; (b) kemampuan memperkuat / membantu kekuatan depan ini secepat mungkin dari wilayah sendiri, Faktor yang krusial dalam hal ini ialah daya angkut strategis udara dan laut , sistem pangkalan depan logistik , dan hak-hak melintasi wilayah udara negara-negara yang dilalui, serta fasilitas melabuh untuk kapal-kapal . Selain dari itu perlu dikembangkan sistem persekutuan militer , sistem pemberian bantuan keamanan bagi negara-negara sahabat , dan teknologi militer yang unggul ( Habib , 1990 : 77 – 84 ) . Kemenangan demokrasi liberal Menurut Fukuyama , dalam komunisme Kiri maupun otoritarian Kanan telah terjadi sebuah kebangkrutan ide-ide serius yang mampu menopang kelangsungan hidup kohesi politis internal dari pemerintah-pemerintah yang kuat , baik yang didasarkan pada partaipartai “monolitik :, junta-junta militer , atau kediktaktoran personal . Ketidakhadiran otoritas yang legitimate memiliki arrti bahwa ketika suatu pemerintahan otoritarian bertemu dengan kegagalan dalam beberapa wilayah kebijakan , tidak ada prinsip yang lebih tinggi yang dapat diserykan rezim itu . Beberapa di anataranya telah 15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda membandingkan legitimasi dengan sejenis cash reverse . Seluruh pemerintahan baik yang demokratis maupun otoritarian , telah mengalami pasang surutnya masing-masing , tetapi hanya pemerintah-pemerintah yang legitimate yang memiliki cadangan untuk tetap bertahan di saat-saat krisis . Kelemahan negara-negara otoritarian Kanan terletak pada kegagalan mereka untuk mengontrol masyarakat sipil . Setelah memperoleh kekuasaan dengan mandate tertentu untuk memulihkan tatanan atau memaksakan “disiplin ekonomi “ , banyak yang menyebabkan mereka sendiri tidak lebih sukses dari para pendahulu demokratis mereka dalam merangsang pertumbuhan ekonomi yang bermanfaat atau menciptakan tatanan sosial tertentu . Dan mereka yang berhasil terangkat karena perbuatan mereka sendiri . Bagi masyarakat yang berada di atas, di mana mereka mulai meningkatkan kehidupan mereka setelah mereka memperoleh pendidikan yang lebih baik , lebih makmur dan menjadi kelas memengah . Sebagai kenangan terhadap keadaan darurat tertentu yang telah membenarkan penggulingan pemerintah yang kuat , masyarakat-masyarakat itu menjadi kurang siap untuk menoleransi kekuasaan militer . Pemerintahan-pemerintahan totalitarian Kiri berusaha menghindari masalah-masalah ini dengan mensubordinasikan seluruh masyarakat sipil di bawah control mereka m termasuk apakah para warga negara mereka diperbolehkan untuk berpikir . Namun, sistem seperti ini dalam bentuknya yang murni hanya dapat dipelihara melalui terror yang mengancam para penguasa yang memiliki sistem itu sendiri . Sekali saja terror itu berhenti , maka sebuah proses deregenerasi panjang akan terjadi di dalamnya , selama negara kehilangan kontrol terhadap aspek-aspek kunci dalam masyarakat sipil . Yang paling penting adalah hilangnya kontrol atas sistem kepercayaan . Danm sejak formula sosialis untuk pertumbuhan ekonomi sudah tidak efektif lagi , negara tidak dapat mencegah warga negaranya untuk mengambil catatan-catatan mengenai fakta ini dan menarik kesimpulankesimpulan mereka sendiri Ketika umat .manusia mendekati akhir millennium ini, krisis kembar dari otoritarianisme dan rencana sentral sosialis hanya menyisahkan satu pesaing yang dalam lingkaran itu dikenal sebagai ideologi vadilitas yang universal secara potensial : demokrasi liberal, doktrin kebebasan individu dan kedaulatan masyarakat . Dua ratus tahun setelah pertama kali mereka menghidupkan revolusi Amerika dan Perancis , prinsip-prinsip kebebasan dan persamaan yang sudah terbukti tidak hanya bertahan lama , tetapi juga memiliki potensi untuk bangkit kembali . Liberalisme dan demokrasi meskipun berkaitan erat , sebenarnya merupakan konsepkonsep yang terpisah . Liberalisme politik dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu aturan hukum yang mengakui hak-hak tertentu individu atau kebebasan dari kontrol pemerintah . Sementara mungkin ada berbagai macam definisi yang.luas mengenai hakhak fundamental . Ia dimaksudkan sebagai hak-hak sipil ( pembebasan dari control negara terhadap warga negara dan hak miliknya ) , hak-hak beragama ( pembebasan pengawasan ekspresi tentang opini –opini keagamaan dan praktik-praktik peribadatan ) dan apa yang dia sebut dengan hak-hak politik ( pembebasan dari pengawasan dalam persoalan-persoalan yang tidak memiliki pengaruh merusak kesejahteraan seluruh 16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda komunitas tetapi hanya melakukan kontrol seperlunya ) , termasuk hak fundamental mengenai kebebasan pers . Demokrasi , di sisi lain , adalah hak yang diyakini secara universal oleh semua warga negara untuk melakukan pembagian kuasa politik , yaitu hak dari seluruh warga negara memberikan suara dan berpartisipasi dalam politik . Hak untuk berpartisipasi dalam kekuasaan politik dapat dianggap sebagai liberal yang lain – sebenarnya , sesuatu yang paling penting – dan karena alasan inilah liberalisme secara historis sangat terkait dengan demokrasi Sementara liberalisme dan demokrasi biasanya berjalan bersama, keduanya dapat dipisahkan dalam teori . Adalah mungkin bagi sebuah negara untuk menjadi liberal tanpa secara partikular menjadi demokratis , seperti Inggris pada abad ke-18 . Sebuah daftar hak-hak yang sangat luas , termasuk hak suara , sepenuhnya dilindungi demi kepentingan sempit elite , tetapi disangkal bagi lain . Mungkin juga bagi sebuah negara menjadi demokratis tanpa menjadi liberal , yaitu, tanpa melindungi hak-hak invidu dan minoritas . Contoh yang baik dari negara ini adalah Republik Islam Iran kotemporer , yang menyelenggarakan pemilihan-pemilihan yang regular yang benar-benar fair menurut standard Dunia Ketiga , dengan membuat negara itu lebih demokratis ketimbang ketika berada dalam masa Syah Iran , bagaimanapun , bukanlah negara liberal ; tidak ada jaminan terhadap kebebasan berbicara . pertemuan , dan di atas semuanya , kebebasan beragama . Dalam manifetasi ekonominya , liberalisme adalah pengakuan terhadap hak-hak untuk melakukan aktivitas ekonomi bebas dan pertukaran ekonomi berdasarkan kepemilikan pribadi dan pasar . Sejak istilah “kapitaliisme” memperoleh berbagai konotasi yang sangat pejorative selama bertahun-tahun , baru-baru ini sudah menjadi kebiasan untuk berbicara mengenai “ekonomi pasar bebas “ , keduanya merupakan istilah-istilah alternative bagi liberalisme ekonomi . Adalah jelas bahwa ada banyak interprestasi yang mungkin mengenai definisi yang agak luas dari libaralisme ekonomi , yang membetang dari Amerika Serikat pada masa Ronald Reagan dan Inggris pada masa Margaret Thatcher hinga negara-negara demokrasi sosial di Skandinavia dan rezim-rezim yang relative statis India dan Meksiko . Seluruh negara kapitalis kontemporer memiliki berbagai sektor publik yang luas, sementara kebanyakan negara-negara sosialis mengizinkan tingkat aktivitas ekonomi pribadi tertentu . . Sudah lama terjadi kontroversi meengenai persoalan di mana sektor publik menjadi cukup besar untuk mendiskulifikasi sebuah negara sebagai liberal. Alih-alih berusaha menetapakan presentase yang tepat , mungkin lebih berguna untuk melihat sikap apakah yang pada prinsipnya diambil negara terhadap legitimasi dari kepemilikan dan perusahaan swasta . Mereka yang melindungi hak-hak ekonomi semacam ini akan kita anggap liberal, mereka yang ditentang atau mendasarkan diri mereka pada prinsip-prinsip lain ( seperti “ keadilan ekonomi “ ) tidak akan melakukan kualifikasi . Kristis otoritarian sekarang ini tidak mesti mengarah pada permunculan rezim-rezim demokratis liberal, juga tidak semua negara demokrasi baru yang telah muncul akan aman . Negara-Negara demokrasi Eropa Timur menghadapi berbagai transformasi yang 17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda merengut perekonomian mereka , sementara negara-negara demokrasi baru di Amerika Latin dipincangkan oleh warisan yang sangat buruk dari salah urus perekonomian pemerintahan sebelumnya . Banyak negara yang berkembang cepat di Asia Timur , sementara secara ekonomi , tidak menerima tantangan liberalisasi politik . Revolusi liberal menyisahkan wilayah-wilayah tertentu seperti Timur Tengah yang secara relative tak tersentuh . Adalah sangat mungkin untuk membayangkan negara-negara seperti Peru atau Filipina jatuh lagi ke dalam bentuk diktaktor di bawah beratnya persoalan-persoalan menghancurkan yang mereka hadapi . Namun , fakta bahwa akan selalu ada kemunduran-kemunduran dan kekecewaan dalam proses demokrasi , atau bahwa tidak setiap ekonomi pasar akan berhasil dengan baik, tidak seharusnya mengalihkan kita dari pola lebih besar yang sedang muncul dalam sejarah dunia . Jumlah pilihan jelas yang dihadapi negara-negara itu dalam menentukan bagaimana mereka akan mengorganisir diri mereka sendiri secara politik dan ekonomi telah lama berkurang sepanjang waktu . Mengenai tipe-tipe rezim yang berbeda yang telah muncul dalam bagian sejarah manusia ., dari pemerintahan-pemerintahan monarki dan aristokrasi , negara-negara teokrasi religius , hingga pemerintahan diktaktor fasis dan komunis abad ini , satu-satunya bentuk pemerintahan yang tetap mampu bertahan utuh hingga akhir abad ke-20 adalah demokrasi liberal . Apa yang muncul sebagai pemenang , dengan kata lain bukanlah prakttik yang sangat liberal , sebagai gagasan liberal . Yaitu harus dikatakan , untuk sebagian besar dunia , menurut Fukuyama bahwa kini tidak ada ideologi dengan pretense-pretense terhadap terhadap universalitas yang ada dalam posisi menantang demokrasi liberal dan tidak ada prinsip legitimasi universal selain dari kedaulatan rakyat . Monarkisme dalam berbagai bentuknya sebagian besar telah berhasilkan digulingkan pada permulaan abad ini . Fasisme dan komunisme , yang merupakan pesaing itama demokrasi liberal hingga kini, telah mendeskreditkan diri mereka sendiri . Bila Uni Soviet ( atau negara-negara penggantinya ) gagal untuk berdemokrasi , bila Peru atau Filipina terjatuh kembali dalam bentuk otoritarianisme , maka demokrasi tampaknya akan lebih berhasil bagi seorang colonel atau birokrat yang mengklaim hak-hak untuk berbicara atas nama masyarakat Rusia , Peru , atau Filipina sendiri . Bahkan orang-orang non-demokrasi sekalipun harus berbicara dengan bahasa demokrasi dengan maksud untuk menjustifikasi penyimpangan mereka dari standard universal yang tunggal .( Fukuyama,2001 ; 79 -89 ) Gelombang Demokratisasi Sebuah gelombang demokratisasi adalah sekelompok transisi dari rezim-rezim nondemokratis ke rezim-rezim demokratis , yang terjadi di dalam kurun waktu tertentu dan jumlahnya secara signikifan lebih banyak daripada transisi menuju arah sebaliknya Sebuah gelombang biasanya juga mencakup liberalisasi atau demokratisasi sebagian pada sistem-sistem politik yang tidak sepenuhnya menjadi demokratis Menurut Samuel Huntington ada tiga gelombang demokratisasi telah terpilih di masa modern . Masingmasing gelombang itu telah mempengaruhi sejumlah kecil negeri , dan selama masingmasing gelombang ini beberapa transisi rezim terjadi kea rah yang tidak demokratis . Di samping itu , tidak semua transisi kearah demokrasi berlangsung selama terjadinya 18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda gelombang-gelombang demokratis . Sejarah bukanlah sesuatu yang terartur dan perubahan-perubahan politik tidak dapat dipilah-pilah agar tepat masuk dalam kotak sejarah yang rapi . Sejarah juga tidak bergerak ke satu arah . Masing-masing dari kedua gelombang yang pertama diikuti oleh sebuah gelombang baik di mana sebagian negeri yang sebelumnya telah beralih ke sistem demokratis berbalik kembali ke sistem nondemokratis . Menspesifikasikan secara ketat kapan sebuah transisi rezim terjadi sering kali merupakan upaya yang subjektif. Adalahnya juga subjektif bila berupaya untuk menspesifikasi secara tepat waktu terjadinya gelombang demokratisasi dan gelombang baliknya. Namun , sering kali ada juga faedahnya untuk bersikap subjektif . Gelombang pertama berakar pada Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika . Namun , kemunculan lembaga-lembaga demokrasi nasional yang sesungguhnya merupakan fenomena abad ke-19 . Dalam abad itu , lembaga-lembaga demokrasi di sejumlah besar negari berkembang secara berangsur-angsur sehingga sulit serta subjektif untuk menyebut waktu tertentu di mana setelah titik waktu itu sistem politiknya dapat dianggap demokratis. Dapat dikatakan bahwa Amertika Serikat sudah memulai gelombang demokratisasi pertama sekitar 1828 dengan diselenggarakan pemilihan presiden yang menyertakan pemilih secara signifikan . Dalam dasawrasa-dasawrasa berikutnya negerinegeri lain lambat laun memperluas hak memberikan suara , mengurangi jumlah pemberian suara ganda , memperkenalkan sistem pemberian suara secara rahasia, dan menetapkan tanggung jawab perdana menteri dan kepada parlemen .Pada awal tahun 1930-an sesudah gelombang pertama berakhir , Spanyol dan Chile memasuki barisan kelompok negeri demokrasi . Secara keseluruhan , dalam masa seratus tahun , lebih dari 30 negeri sudah mengadakan sedikit-sedikitnya lembaga demokrasi tingkat nasional yang minimal . Perkembangan politik yang dominan dalam dasawarsa 1920 dan 1930 adalah pergeseran menjauhi demokrasi dan gerakan kembali ke bentuk tradisional pemerintahan otoriter atau diperkenalkannya bentuk-bentuk baru totaliteraisme yang berlandaskan pada massa, yang lebih brutal dan luas . Arus balik umumnya terjadi di negeri-negeri yang sudah berbentuk demokrasi pada masa menjelang Perang Dunia I atau sesudahnya , di mana bukan hanya demokrasinya yang baru tetapi dalam banyak kasus , juga negerinya . Hanya satu dari kedua belas negeri yang telah memperkenalkan lembaga demokrasi sebelum tahun 1910 mengalami arus balik setelah 1920, yakni Yunani . Hanya empat dari ketujuh belas negeri yang telah mengadakan lembaga-lembaga demokrasi antara tahun 1910 dan 1931 mempertahankan lembaga-lembaga ini sepanjang dasawrasa 1920 dan 1930 . Gelombang balik pertama berawal pada tahun 1932 dengan ditandai mars di Roma dan dicampakannya demokrasi Italia yang rapuh dan agak korup secara mudah oleh Mussolini . Perubahan-perubahan rezim ini mencerminkan bangkitnya ideologi-ideologi komunis, fasis dan militeristis . Di Perancis , Inggris, dan negeri-negeri lain di mana lembaga-lembaga demokrasi tetap hidup , gerakan-gerakan antidemokrasi memperoleh kekuatannya dari alienasi di tahun 1920-an dan depresi pada tahun 1930-an . Perang yang bertujuan untuk menyematkan demokrasi di dunia sebaliknya telah membangkitkan gerakan-gerakan ekstrem kanan maupun kiri yang menghancurkannya. 19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Sebuah gelombang demokratisasi yang pendek mulai muncul pada masa Perang Dunia II. Pendudukan sekutu mendorong lahirnya lembaga-lembaga demokrasi di Jertman Barat, Italia , Austria , Jepang , dan Korea , sementara tekanan Soviet mematikan demokrasi yang baru lahir di Cekoslavia dan Hongaria . Sementara itu, masa awal berakhirnya kekuasan kolonial Barat menghasilkan sejumlah negeri baru . Di banyak negeri ini tidak ada upaya nyata untuk mengadakan lembaga demokrasi . Di beberapa negeri itu demokrasi masih lemah : di Pakistan , misalnya , lembaga-lembaga demokrasi tidak pernah benar-benar berpengaruh dan pada tahun 1858 secara resmi dihapius. Malaysia merdeka pada tahun 1957 dan mempertahankan pemerintah :kuasi-demokrasi “ kecuali selama masa pemerintahan darurat yang pendek pada tahun 1969-1971 . Indonesia memiliki bentuk demokrasi parlementer yang kacau dari tahun 1950 sampai 1957 . Di sebagian kecil negeri baru – India , Srilangka, Filip[ina , Israel – lembaga demokrasi bertahan selama sekitar satu dasawarsa , dan pada tahun 1960-an Nigeria , negara terbesar di Afrika , memulai kehidupannya sebagai sebuah negeri-demokratis . Menjelang awal dasawrasa 1960 gelombang kedua demokrasi telah kehabisan tenaga . Menjelang akhir dasawarsa 1950 perkembangan politik dan transisi rezim mengambil bentuk yang sangat otoriter . Perubahan paling dramatis terjadi di Amerika Latin . Pergeseran kea rah otoritarianisme dimulai di Peu pada tahun 1962 ketika pihak militer campur tangan untuk mengubah hasil sebuah pemilihan umum . Di Asia , pihak militer di Pakistan telah memaksakan suatu sistem berdasarkan hukum darurat perang pada tahun 1958 . Dalam tahun 1957 Soekarno menggantikan demokrasi parlementer dengan demokrasi terpimpin di Indonesia , dan pada tahun 1965 tentara Indonesia mengakhiri demokrasi terpimpin dan mengambil alih kekuasaan negara . Pada tahun 1952 Presiden Ferdinand Marcos melembagakan sebuah rezim hukum darurat perang di Filipina , dan pada tahun 1975 Indira Gandhi menghentikan praktek-praktek demokrasi dan menyatakan dmimulainya pemerintahan daurat di India.Di kawasan Laut Tengah , demokrasi Yunani dan Turki tenggelam dihadapan sebuah kudeta militer pada tahun 1965 dan 1960 serta 1971 . Ayunan menjauhi demokrasi di seluruh dunia dalam dasawarsa 1960 dan awal dasawrasa 1970 mengesankan .Menurut sebuah perhitungan , pada tahun 1962 tiga belas pemerintah di dunia merupakan hasil kudeta , pada tahun 1975 , tiga puluh delapan pemerintah . Transisi rezim ini tidak hanya menstimulasi teori otoritarioanisme birokratis untuk menjelaskan perubahan-perubahan di Amerika Latin , tetapi juga menimbulkan rasa pesimis yang jauh lebih luas tentang apakah demokrasi dapat diterapkan di negeri-negeri berkmebang , dan turut memperbesar keprihatinan tentang kemampuan demokrasi untuk tetap hidup dan berfungsi di negeri-negeri maju di amana demokrasi telah ada untuk waktu yang lama . Namun, dialektika sejarah kembali menjungkirbalikan teori-teori ilmu sosial . Dalam masa 15 tahun setelah berakhirnya pemerintah diktaktor Portugal pada tahun 1974 , pada sekitar 30 negeri di Eropa, Asia dan Amerika Latin rezim-rezim demokratis menggantikan rezim-rezim otoriter . Di negeri-ngerei lain . berlangsung liberalisasi yang cukup berarti dalam rezim otoriter . Di negeri-negeri yang lain lagi gerakan-gerakan yang mendorong pertumbuhan demokrasi memperoleh kekuatan dan legitimasi . Gerakan 20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda menuju demokrasi , meskipun jelas ada penolakan dan kemunduran , seperti di Cina pada tahun 1989 , tampak mulai menyerupai sebuah gelombang pasang global yang hampir tidak tertahankan yang terus bergerak dari satu kemenangan ke kemenangan berikutnya . Gelombang pasang demokrasi ini untuk pertama kalinya menampakkan dirinya di Eropa Selatan . Tiga bulan setelah kudeta di Portugal , rezim militer yang telah memerintah Yunani sejak tahun 1967 tumbang dan sebuah pemerintah sipil di bawah pimpinan Constantine Karamanlis mengambil alih kekuasaan . Pada November 1974 , orang-orang Yunani memberikan suara mayoritas yang menentukan kepada Karamanlis , dan partainya dalam sebuah pemilihan yang berlangsung seru , dan pada bulan berikutnya mayoritas besar dari mereka mereka memberikan suara untuk tidak memulihkan kembali monarki . Pada akhir dasawrasa 1970 gelombang demokrasi bergerak menuju Amerika Latin . Pada tahun 1977 pemimpin militer di Ekudaor mengumumkan keinginan mereka untuk mengundurkan diri dari dunia politik ; sebuah undang-undang dasar baru dirancang pada tahun 1978, dan pemilihan pada tahun 1979 menghasilkan sebuah pemerintahan sipil . Gerakan kearah demokrasi juga terlihat di Asia . Pada bagian pertama tahun 1977 , Indias , negeri demokrasi terpenting didunia ketiga , yang selama satu setengah tahun berada di bawah pemerintah darurat , kembali ke jalan demokrasi . Pada akhir dasawasa 1980 , gelombang demokratisasi menelan dunia komunis.Pada tahun 1988 Hongaria memulai transisi menuju sistem multipartai . Pada tahun 1989 pemilihan Kongres Nasional di Uni Soviet menyebabkan kekalahan beberapa pemimpin senior partai komunis dan munculnya sebuah parlemen nasional yang semakin berani mengemukakan pendapat . Pada awal tahun 1990, sistem multipartai berkembang di republic-repiblik Baaltik dan Partai Komunis Uni Soviet meninggalkan perannya sebagai pembimbing . Pada tahun 1989 , Partai Solidaritas di Polandia memenangkan pemilihan parlemen nasional dan lahirlah sebuah pemerintah nonkomunis . Pada tahun 1990 Lech Walesa , pemimpin Slodaritas , terpilih menjadi prsiden dan menggantikan Jendral Wokciech Jaruzelski yang komunis itu . Dalam bulan-bulan terakhir tahun 1989 , resimrezim komunis di Jerman Timur , Cekoslavia dan Rumania tumbang , dan pemilihan umum yang kompetitif di negeri-negeri ini diselenggarakan pada tahun 1990 . Di Bulgaria rezim komunis juga mulai mengadakan liberalisasi , dan di Mongolia muncul gerakan-gerakan rakyat pro-demokrasi . Pada tahun 1990, pemilihan umum ternyata cukup adil berlangsung di negeri-negeri ini . Secara keseuluruhan, gerakan menuju demokrasi merupakan gerakan yang bersifat global. Dalam waktu 15 tahun gelombang demokratisasi bergerak melintasi Eropa Selatan, melanda Amerika Latin , terus menuju Asia , dan menghancurkan sebagian besar rezim diktaktor di blok Soviet . Di lihat dari satu sisi , gelombang-gelombang demokratisasi itu dan gelombang-gelombang baliknya mengesankan suatu pola “ dua langkah maju , satu langkah mundur .” Sampai saat ini masing-masing gelombang balik telah menghapus sebagian transisi menuju demokrasi yang terjadi pada gelombang demokratisasi sebelumnya .Akan tetapi , statistik demokratisasi dalam negara modern 1922 – 1990 , mengesankan suatu prognosis yang kurang optimis bagi demokrasi . Bentuk dan ukuran negeri bermacam-macam , dan dalam beberapa dasawarsa pasca 21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Perang Dunia II, jumlha negeri yang merdeka telah bertambah dua kali lipat . Namun , proposisi negeri-negeri demokratis di dunia menunjukkan keteraturan yang cukup tinggi . Samuel Huntington menyadari bahwa gelombang ketiga mungkin akan diikuti oleh kemunculan kembali otoritarianisme secara tiba-tiba dan kuat sehingga membentuk gelombang balik ketiga . Namun , hal itu tidak akan memustahilkan berkembangnya gelombang demokratisasi keempat pada suatu ketika di abad ke-21 . Dari catatan masa lalu dapat disimpulkan bahwa dua faktor utama yang akan mempengaruhi stabilitas demokrasi dan perluasan demokrasi di masa depan adalah perkembangan ekonomi dan kepemimpinan politik . utama yang akan mempengaruhi stabilitas demokrasi dan perluasan demokrasi di masa depan adalah perkembangan ekonomi dan kepemimpinan politik .perkembangan ekonomi memungkinkan terciptanya demokrasi ; kepemimpinan politik mewujudkannya . Untuk mewujudkan demokrasi , elite politik di masa depan minimal harus percaya bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan dengan kejelekan minimal bagi masyarakat mereka dan diri mereka . Mereka juga harus memiliki keterampilan untuk mewujudkan transisi menuju demokrasi dengan menghadapi kelompok radikal dan kelompok konservatif yang pasti akan tetap ada dan akan terus mencoba mengikis upaya-upaya mereka . Demokrasi menyebar di dunia sejauh para penguasa du dunia ini dan di masing-masing negeri menginginkan hal itu terjadi . Selama satu setengah abad pengamatan Tocqueville mengenai munculnya demokrasi modern di Amerika, gelombang demokratisasi silih berganti melanda pantai kedaktaktoran . Disangga oleh pasang naik kemajuan ekonomi , masing-masing gelombang bergera maju dan mundur lebih sedikit daripada gelombang sebelumnya . Dengan metafora yang lain, dapat dikatakan bahwa roda sejarah tidak bergerak maju mengikuti pola garis lurus , tetapi, apabila didorong oleh para pemimpin yang berketetapan hati dan terampil , roda sejarah pasti bergerak maju ( Huntington , 1995 : 12 – 28 dan 404 – 406 ) Menelusri Ideologi Besar. Inggrislah yang memulai timbulnya liberalisme dan revolusi industri yang diakibatkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi , hubungan-hubungan ekonomi, hubunganhubungan sosial dan kesadaran serta cara hidup . . Keempat faktor ini berhubungan dengan alam pikiran yang melandasi keseluruhan Zaman Pencerahan ( Aufklarung ) yang intinya ialah bahwa manusia itu memberikan suatu penghargaan dan kepercayaan yang besar pada rasio . Rasio dianggap sebagai suatu kekuatan yang memerangi segala sesuatu di dunia ini . Manusia bisa berbuat banyak berdasarkan rasio yang dimiliki itu . Zaman yang dihadapi oleh masyarakat pada abad ke-18 adalah zaman yang benar-benar membuka pintu baru yang memungkinkan manusia bisa memperoleh pintu baru yang memungkinkan manusia bisa memperoleh kehidupan yang samasekali baru itu . Arti baru di sini bukan hanya dalam bidang-bidang ekonomi dan politik tetapi juga di dalam pemikiran , dan seluruh sistem-sistem yang ada di dalam kehidupan abad ke-19 dan selanjutnya . Di sinilah kita mulai bicara mengenai liberalisme. Revolusi industri yang dimulai di Inggris dan berkembang di Eropa , mendorong orientasi baru yang disebut liberalisme. Dan liberalisme ini akan membawa salah satu sistem yaitu 22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kapitalisme . Apa yang dimaksudkan dengan liberalisme ? Yang dimaksudkan dengan liberalisme adalah suatu orientasi baru yang melihat manusia sebagai makhluk bebas . Kebabasan manusia merupakan suatu milik yang sangat tinggi . Tetapi nanti akan kita lihat bahwa liberalisme mempunyai suatu pandangan yang lebih tua . Telah kita lihat bahwa gejala-gejala industri membawa akibat timbulnya liberalisme . Tetapi di samping itu juga sebetulnya liberalisme memuat pandangan-pandangan yang merupakan unsur-unsur esensial , yaitu rasionalisme, materialisme , dan empirisme . Rasionalisme abad ke-17 dipelopori oleh Descartes yang menekankan peranan rasio . Rasionalisme memperoleh landasannya pada zaman sebelumnya , yaitu masa Renaisance, yang menam;pilkan peranan manusia . Pada dasarnya Renaosance ini adalah suatu orientasi humanistis , yang menampilkan manusia sebagai pribadi . Manusia adalah sentrum di dalam seluruh pola pemikiran Renaisance . Pandangan ini mula-mula timbul di dalam kalangan sastrawan dan seniman , tapi lalu berkembang di dalam bidang-bidang lain termasuk di dalam bidang filsafat . Rasio inilah yang dianggap sebagai kemampuan manusia yang bisa memberikan jalan dan pedoman baru di dalam hidup . Rasionalisme mendorong dua arah perkembangan ilmu pengetahuan yang rasionalistis yang menuju kepada subyektivisme dan idealisme di satu pihak dan empirisme di pihak lain . Empirisme yang terjadi dalam abad k eke-18 itu , seperti Newton dan lain-lainnya mempunyai kaitan dengan rasionalisme dari Descartes . Jadi liberalisme itu timbul karena ada ada orientasi rasionalisme , yaitu memberikan kepercayaan kepada rasio manusia dan rasio dianggapnya sebagai suatu sarana atau suatu senjata untuk bisa mencapai kemajuan Di samping itu , materialisme ternyata juga merupakan suatu unsur yang mendorong berkembangnya liberalisme . Di dalam abad ke-18 juga sudah ada materailisme , baik di Jerman maupun di Perancis , seperti Lematre , Holfga, Prier , yang merupakan tokohtokoh yang mendorong berkembangnya materialisme. Materialisme ini adalah suatu orientasi pandangan yang melihat materi sebagai sumber utama . Sebetulnya materialisme ini mempunyai segi-segi positif , yaitu mendorong orang untuk berorientasi kepada meteri yang pada abad pertengahan sangat dikesampingkan , karena orietasinya memang sangat religius . Materialisme mendorong suatu pengharagaan yang besar kep[ada yang empiris , dan memberikan perhatian kepada ilmu yang diarahkan kepada materi . Jadi rasionalisme , materialisme , dan juga empirisme merupakan unsur-unsur penting dalam liberalisme . Empirisme ini terutama berkembang di Inggris . Ini terlihat jelas sekali pada tokoh-tokoh yang bertumpu pada yang empiris seperti John Locke , Hume , dan lain-lain . Meraka adalah tokoh-tokoh yang yang memang bergerak dalam bidang empirisme dengan menekankan pengalaman . Pengalaman di sini yaitu apa yang ditangkap oleh kemampuan-kemampuan manusia . Dan kemampuan-kemampuan manusia ini terutama terutama kemampuan indera . Oleh karena itu empiriusme sangat menghargai penghalaman-pengalaman yang bertumpu pada idera yang ditangkap melalui indera dan diolah selanjutnya dengan rasio . Inilah sebetulnya dasar-dasar pemikiran dari liberalisme Sebenarnya masih ada satu unsur yang tak terpisahkan dari ketiga unsur ini, yaitu individualisme . 23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Jadi ada empat hal : rasionalisme, materialisme , empirisme dan indvidualisme yang mendorong terjadinya liberalisme . Yang disebut terakhir ini sudah kelihatan pada zaman Renaisance , karena Renaisance adalah humanisme, tetapi humanisme individualistis Apa yang dimaksudkan dengan individualisme di saini ialah orientasi pandangan yang melihat manusia sebagai pribadi yang utuh dan lengkap . Memang dia mempunyai potenasi dan tinggal mengembangkan saja , tapi dia sendiri dalam dirinya telah utuh . Di samping itu , individualisme melihat manusia itu lepas daripada yang lain . Dia berusaha untuk berjuang dan bekerja untuk dirinya sendiri . Maka akan terjadi konflik antara kepentingan manusia . Hobbes mengatakan bahwa manusia perlu diatur . Lalu pengaturannya bagaimana ? Mengaturnya dengan membuat persetujuan dalam masyarakat , sehingga terjadilah satu tertib hukum . Kelihatan di sini bahwa individulisme sebetulnya mengakui kehidupan masyarakat , tetapi adanya orang lain itu dianggapnya sebagai suatu kenyataan de facto , kenyataan bahwa saya hidup dengan manusia lain . Jadi mau tak mau saya harus hidup bersama dia . Supaya hidup saya itu bisa terjamin agar diri saya tidak terganggu harus diadakan suatu pesetujuan sehingga kehidupan masyarakat bisa diatur . Ini berarti juga mengatur negara . Di dalam liberalisme , atau di dalam konteks empat unsur tadi, kebebasan merupakan suatu nilai yang sangat tinggi . Oleh karena itulah maka di dalam sistem liberalisme , kehidupan demokrasi merupakan suatu unsur yang sangat fundamental . Bahkan saya melihat , demokrasi yang bersambung dalam abad ke-20 ini sumbernya adalah demokrasi model akhir abad ke- 18 dan permulaan abad ke-19 , yaitu demokrasi yang berorientasi pada individualisme yaitu bahwa masing-masing mempunyai hak untuk hidup , lalu mengadakan sarana untuk mempertahankan hidupnya ini . Di sini kelihatan bahwa demokrasi itu menampilkan model manusia yang baru yaitu bahwa manusia adalah sederajat dengan yang lain . Manusia itu adalah seperti juga dalam revolusi Perancis : bebas, sama , dan bersaudara . Dengan demikian timbullah orientasi dan tujuan politik baru : negara yang ideal adalah negara demokrasi . Kedaulatan ada di tangan rakyat . Ini suatu pandangan baru. Kalau kita melihat sistem sebelumnya , kebanyakan adalah sistem monarkhi , di mana raja mempunyai kekuasaan . Dalam membicarakan dari mana kekuasaan raja , ada pendapat yang menyatakan bahwa kekuasaan datang dari rakyat , ada pula yang menganggap kekuasaan itu dari raja itu sendiri , dan ada yang melihat kekuasan itu datang dari Tuhan . Yang jelas ialah bahwa di dalam sistem pemikiran sebelumnya tidak ditampilkan dengan tegas bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan . Dalam abad-abad inilah timbul suatu orientasi baru yaitu demokrasi . Di dalam demokrasi itu tadi dikatakan bahwa rakyat itu memegang kedaulatan . Di sini kebebasan itu menguasai nilai yang tinggi . Prinsip kebebasan tersebut juga dikembangkan dalam bidang ekonomi . Liberalisme sebagai suatu konteks politik mempunyai penjabaran di dalam kehidupan ekonomi . Penjabaran dalam ekonomi adalah kapitalisme. Dalam indvidualisme manusia berhak untuk berusaha . Kalau berhak untuk berusaha , terserah krepada mereka untuk mengadakan usahanya . Dalam kehidupan ekonomi , jelas bahwa modal itu merupakan unsur yang pokok dalam kehidupan ekonomi . Kebebasan berusaha dengan modal ini mendorong pengusaha-pengusaha untuk mengembangkan keuntungan . Itu adalah 24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda prinsip di dalam kehidupan ekonomi yaitu mengatur kebutuhan-kebutuhan manusia , sehingga usahanya bisa mendapat keuntungan . suai dengan prinsip hukum di dalam dunia perdagangan , sistem kapitalisme berusaha mencari keuntungan , modal , dan satu hal , yang nanti banyak disoroti oleh Marx, hak milik . Kalau orang itu bebas, maka dia mempunyai kebebasan dan berhak untuk memiliki sesuatu . Dengan demikian , unsur-unsur pokok dalam kapitalisme adalah persaingan modal, kemudian hak milik , dan mencari untung . Ini semua berarti bahwa kehidupan ekonomi akan dikuasai oleh persaingan yang hebat . Kehidupan ekonomi tergantung dari kebebasan masing-masing indvidu . Itulah sistem liberalisme yang berkembang di dalam abad ke-18 . Banyak yang mengatakan bahwa sosialisme Marx ini adalah kritik terhadap kapitalisme aba ke-19 . Memang kalau kita melihat pada kenyataan , hal ini benar . Tapi ini tidak berarti bahwa kritik itu hanya menunjukkan kelemahan –kelemahan sistem kapitalisme. Marx dengan mengadakan kritik terhadap sistem kapitalisme juga menyatakan pandangan-pandangan dia sendiri , pandangan pribadi yang terjalin di dalam kritik itu . Ia juga menolak idealisme , karena menganggap idealisme adalah suatu pemikiran yang lepas dari kenyataan , dan dia juga mau mengungkapkan pemikiran sendiri –pemikiran itu dengan menganalisa kenyataan . Dalam kritiknya terhadap kapitalisme , Marx mengatakan bahwa menurut analisa dia , kapitalisme itu mempunyai bentuk sedemikian rupa karena pertama-tama ditentukan oleh unsur hak milik pribadi . Bahkan Marx mengatakan bahwa sistem kapitalisme berdasarkan hak milik pribadi inilah yang menjadi sebab penderitaan masyarakat . Karena sistem hak milik pribadi inilah maka masyarakat itu terbagi menjadi dua, yaitu mereka yang mempunyai hak milik pribadi , atau kalau saya lanjutkan : mereka yang mempunyai hak milik pribadi berarti mempunyai modal, mempunyai alat produksi . Mereka inilah yang nantinya lebih kecil daripada kepala keluarga . Kalau mereka harus hidup bersaingan maka kaum kapitalis akan memilih wanita . Wanita pun harus bersaing dengan anak , sebab di situ belum ada peraturan dalam usia berapa tahun orang itu dapat bekerja . Anak dianggap tidak mempunyai tanggung jawab , kecuali untuk hidup sendiri . Anak akan memperoleh upah lebih rendah lagi . Bisa terjadi bahwa seorang laki-laki harus bekerja lima belas jam sehari . Tenaga kerja wanita dan anak tidak dibatasi oleh apapun , semuanya tergantung dari ketentuan pengusaha-pengusaha atau kapitalis-kapitalis . Dengan adanya pemanfaatan teknologi , maka pada abad ke-19 terjadilah pengangguran secara besar-besaran . Orang menganggur tidak dapat gaji , tetapi harus makan setiap hari, dan keluarganya tidak dapat digaji , tetapi harus makan setiap hari , dan keluarganya harus makan setiap hari pula. Ini berarti simpanannya akan hilang , karena dipakai dan miliknya akan digadaikan semua. Dengan terjadinya pengangguran , terjadi pula kemelaratan . Kalau kemelaratan terjadi timbullah kehidupan yang merana sekali di dalam masyarakat . Ini dikonstantir oleh Marx mengenai abad ke-19 . Kenyataan lagi menurut Marx ialah bahwa kalau ada due kelas, maka dua kelas ini bukan dua kelas yang hidup sendiri , tetapi selalu berhubungan karena kelas kapitalis akan mempergunakan kelas buruh , dan kelas buruh akan menjual tenaganya kepada kelas 25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kapitalis , jadi ada hubungan dialektika antara kedua kelas. Hubungan dialektik ini adalah hubungan penindasan . Penindasan rakyat ini menurut analisa Marx menciptakan pertetangan antara kelas kapitalis dan kelas buruh yang makin lama makin meruncing . Pertentangan yang meruncing ini tidak mungkin berlangsung seterusnya, pada suatu ketika akan timbul suatu ledakan yaitu revolusi . Karena kelas proletar itu yang tidak mempunyai apa-apa , mereka akan bergabung dan bersatu sehingga merupakan suatu kekuatan . Oleh karena itu Marx dalam Manifesto Komunis mengatakan : “ “ Kaum proletar bersatulah !” Sebab inilah satu-satunya kekuatan dari kaum proletar adalah persatuan dan solidaritas . Ini kita lihat di Polandia itu bisa bertentangan dengan pemerintah , yang dianggap sebagai pemerintah sosialis . Dalam perttentangan itu masing-masing akan menyusun kekuatannya sendiri, juga kelas kapitalis . Dia akan berusaha untuk mempertahankan diri dan untuk melangsungkan dirinya . Lalu terjadilah proses akumlasi dan konsentrasi . Akumulasi berarti mengumpulkan modal . Dengan akumulasi modal ini kekuatan pengusaha –pengusaha disatukan . Hal ini kita kita sekarang di sini . kalau pengusaha itu merasa tidak kuat , dia akan cari teman untuk bekerjasama . Company itu bukan hanya dalam negeri tetapi juga dengan luar negeri , joint venture . Apa yang dulu merupakan usaha-usaha pribadi dikumpulkan menjadi satu perusahaan besar NV-NV besar , naamloos ; jadi bukanlah kepunyaan satu orang tapi milik kelompok . Dengan demikian , maka terjadilah suatu pemusatan kekuasaan antara kapitalis dan proletar , tapi pemusatan kekuasaan itu tidak bisa mempertahankan diri masing-masing . Ketegangan akan meledak sehingga suatu ketika akan timbul revolusi . Inilah analisa Marx terhadap situasi di dalam abad ke-19 , Marx mengatakan di dalam menganalisa ini, bahwa masyarakat itu mempunyai struktur-struktur atas dan struktur bawah ; suprastruktur dan infrastuktur . Apa hubungan antara struktur atas dan struktur bawah ? Struktur atas adalah pencerminan dari struktur bawah , atau suprastruktur adalah manifestasi dari infrastuktur . Kalau infrastuktur itu berubah secara mendasar, maka berubahlah suprastukturnya, tetapi kalau suprastuktur itu diubah, tidak berarti infrastukturnya berubah . Apalagi kalau mengubahnya itu adalah hanya tambal- sulam saja. Di dalam struktur ini ada empat faktor yang masing-masing bertumpu pada yang lain . Kalau kita melihat faktor yang paling bawah yaitu infra struktur adalah alat produksi . Seluruh kehidupan manusia dan masyarakat ditentukan oleh alat produksi . Kalau masyarakat itu memakai alat produksi yang sangat primitif ini. Kalau ada orang yang mengumpulkan alat produksi , ada orang yang tidak mempunyai alat produksi , timbullah kelas-kelas dalam masyarakat . Alat produksi menentukan hubungan manusia atau hubungan produksi , dan ini menentukan kehidupan masyarakat . Dua unsur alat produksi dan hubungan produksi ini infrastruktural sifatnya . Inilah yang menentukan sistem hukum dan sistem politik tidak lain hanyalah pencermian dari infrastuktur ini . Jadi kehidupan politik itu apa ? Kehidupan politik tidak lain hanyalah suatu manifestasi dari keadaan , bahkan dia mengatakan bahwa kehidupan politik tidak lain menunjukan suatu kekuatan kelas tertentu, misalnya orang yang mempunyai alat produksi dan menentukan hubungan produksi ini , dia akan berusaha secara yuridis untuk melestarikan kekuasaannya itu 26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda secara yuridis juga . Oleh karena itu dia berusaha membuat undang-undang yang menjamin kedudukan ini . Menurut analisa Marx , ada kaitan antara alat-alat produksi , hubungan sosial , dan hubungan kekuasaan atau politik . Dan manifestasinya yang keempat setelah bentuk-bentuik kesadaran yang tidak lain adalah pencerminan dari infrastuktur ini . Menurut Marx , ideologi adalah pencerminan dari kelas –kelas masyarakat . Inilah urutan faktor-faktor yang kelihatan di dalam masyarakat menurut analisa Marx . Maka kalau kita mau mengubah masyarakat , ubahlah infrastrukturnya, sehingga relasi-relasi dan ideologi berubah . Dari keempat unsur ini yang paling revolusioner adalah alat produksi . Sedangkan unsurunusr lainnya itu konservatif sifatnya . Maksud dari revolusioner adalah orang itu mudah untuk mengubah alat , jadi misalnya dulu pakai lampu minyak sekarang pakai listrik Apalagi kalau memakai alat-alat yang serba otomatis itu lebih mudah . Oleh karena itu arti revolusioner , yaitu mudah untuk berubah , tapi kalau kita bicara mengenai hubungan atau bukti lain-lainnya , ini sulit . Misalnya kalau kita punya pembantu rumah tangga , kita suruh dia mengganti anglo dengan kompor gas , mudah dilakukan karena menyangkut alat . Tetapi kalau di Indonesia ini majikannya menyuruh pembantunya makan bersama , ini sulit dilakukan karena ini menyangkut hubungan . Hal ini disebut konservatif . Demikian juga hubungan antara majikan dengan buruh juga sulit . Bangunan bawah revolusioner tapi atasnya konservatif . Kalau begitu ada kontradiksi , kontradiksi antara yang konservatif dengan yang revolusioner dengan yang revolusioner .Bagaimana ini bisa terjadi ? Harus dipaksa , dan ini revolusi .Bagaimana mengubah masyarakat yaitu dengan jalan revolusi . Untuk mengubah struktur sosial yang kapitalis , satu-satunya jalan adalah revolusi . Marx mengatakan revolusi itu terjadi pada waktunya , kalau suasana sudah matang Kelihatan sekali pandangan Marx melawan individualisme . Hak milik pribadi dianggapnya sebagai penyakit dari kemelaratan , pemerasaan , dan lain-lainnya . Oleh karena itu hak milik harus dihapus , menjadi hak milik kolektif , Individualisme diganti sosialisme , sebab manusia bukan individu , tapi manusia adalah sekumpulan relasi . Prinsip dari sosialisme yang pertama ialah merombak masyarakat ini . Kalau berhasil merombak struktur masyarakat dengan revolusi , kaum kapitalis akan hilang dan kaum proletar akan menang . Kaum proletar yang akan menjalankan pemerintahan di mana hak milik pribadi dihapus , diganti dengan hak milik kolektif . Dengan demikian sosialisme Marx ini menekankan kerjasama, solidaritas dan kolektivisme . Kalau kita lihat di dunia ini ada dua ideologi yang besar . Masing-masing di dalam abad ke-20 mengadakan perubahan dalam dirinya mengadakan revisi , pembaruan , dan lainlainnya , tetapi dasarnya tetap sama. Dari sosialisme , akan timbul bermacam-macam cabang . Demikian juga dengan liberalisme. Tetapi kedua akar besar ini akan tetap kelihatan . ( Poespowardojo , 1986 : 24 – 32 ) Sebenarnya Marxisme pecah dalam tiga cabang yang kemudian berkembang nyaris tanpa interaksi dan masing-masing menemukan nasibnya sendiri-sendiri . Yang pertama , 27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dapat dibandingkan dengan pukulan gendering dashyat , adalah Komunisme . Tanpa ragu-ragu Vladimir Ilyic Lenin memakai Marxisme untuk menggembleng ideologi perjuangan , dan kekuasan partai komunis . Marxisme –Lenisisme , yang menjadi dasar legitimatif sistem kekuasaan diktaktorial paling dashyat , kejam , dan totaliter yang pernah ada dalam sejarah umat manusia . Keruntuhan mendadak sistem kekuasaan komunis itu – hampir tanpa – jejak antara 1989 dan 1991 termasuk salah satu lejutan terbesar dalam sejarah manusia juga . Cabang kedua adalah sosialisme demokratis sebagaimana dirintis oleh Eduard Bernstein . Penolakan terhadap komunisme Lenin menempatkan sosialisme demokratis itu dengan tegas dalam kamp mereka yang berkeyakinan demokratis . Sosialisme demokratis , di samping liberalisme dan conservative moderat , menjadi pendukung paling yakni demokrasi dan hak-hak asasi manusia . Sosialisme demokratis memperjuangkan pembentukan negara sosial yang khas bagi kebanyakan negara di Eropa . Meskipun untuk sementara masih mempertahankan retorika Marxis , sosialisme demokratis secara substansial sudah meninggalkan sosialisme Marx sejak tahun 1920-an abad ke -20 Antara tahun 1950-an dan 1970-an mereka semua juga secara formal memutuskan hubungan dengan teori-teori Marx . Tunas ketiga adalah Neomarxisme dan Kiri Baru yang mencapai puncaknya , antara tahun 1965 dan 1975 di universitas-universitas di Eropa . Marxisme itu tidak pernah berhasil ke luar dari lingkungan akademik , dan meskipun secara politis cukup berpengaruh , pada hakikatnya , merupakan gejala cultural . Karena lemahnya basus sosial dalam masyarakat , gerakan itu tidak dapat bertahan lama . Sebagian besar dari mereka kemudian kembali ke sistem ; sebagian kecil menga,mbil jalan terorisme yang pada hakikatnya kemudian dihancurkan pada akhir tahun 1970-an dan permulaan tahun 1980-an , sedangkan sebagioan cukup besar masuk ke dalam suatu gerakan yang berhasil mengangkat suatu isu yang sangat nyata , yang sekarang merupakan unsure tetap dalam spektrum politik banyak masyarakat Barat , yaitu gerakan lingkungan hidup . ( Suseno, 1999 : 254 – 255 ) Ideologi besar dipertanyakan Dalam buku yang banyak dibahas , The End of Ideology ( 1960 ) , Daniel Bell menyatakan kemenangan pragmatisme liberal secara sosial .Di sana ia mengeritik ideologi dengan menyatakan bahwa orang bisa saja melihat isi dari gagasan sebuah ideologi . tetapi perlu juga melihat apa fungsi dari gagasan-gagasan itu . Kemudian , jika ideologi menyembunyikan kepentingan suatu kelompok , maka dapat dikatakan bahwa kebenaran sesungguhnya adalah kebenaran kelas. Sehingga sesungguhnya tidak ada filsafat yang obyektif , sebab yang ada adalah filsafat borjuis atau filsafat populer. Pembedaan semacam ini menyulitkan kedudukan ilmu yang seharusnya memiliki otonomi keilmuan , suatu syarat supaya ilmu tetap obyektif . Kedua , tentang korespondensi antara ide dengan dari mana ide itu berasal . Ketiga . definisi kelas. Bagi Martx , kunci pembagian masyarakat berada pada distribusi kepemilikan . Sekarang dalam dunia politis-teknologis , kepemilikan telah kehilangan kekuatannya sebagai 28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kekuatan yang menentukan . Dalam masyarakat modern, kemenangan teknis lebih penting dan lebih mempunyai peluang untuk mendapat kedudukan . Dalam perkembangan selanjutnya, kata Daniel Bell , penjelasan dari sejauh mana ide-ide mempengaruhi perubahan sosial menjadi bagian dari sosiologi pengetahuan . Dalam penggunaan yang lebih populer , ideologi bersangkutan dengan suatu pandangan dunia atau sistem kepercyaaan dari sekelompok masyarakat yang secara moral dianggap benar Dalam kerangka berpikir semacam inilah liberalisme atau fasisme dianggap sebagai ideologi . Konsepsi particular ideologi dapat diterangkan sebagai berikut : seseorang yang meyakini nilai-nilai tertentu pasti memiliki kepentingan di baliknya . Ada bias berupakan kepentingan ekonomi , politik , atau kepentingan lain . Konsepsi ideologi total adalah suatu sistem komprehensif atas realitas , sebuah perangkat kepercayaan , bertujuan untuk merubah keseluruhan pandangan hidup . Ideologi dalam pengertian ini dapat disamakan dengan agama sekuler . Apa yang menjadi kecenderungannya untuk diikuti . Bagi ideologi kebenaran muncul dalam tindakan . Hal yang paling penting dari fungsi ideologi adalah mengisi emosi , demikian juga agama . Jika agama mewujudkan dunia ideal lewat lembar-lembar firman, kidung , pengorbanan diri , maka ideologi menyatukan energi-energi itu dan menyalurkannya dalam politik . .Menurut Bell, agama lebih efektif melakukan hal tersebut. Ini berkaitan dengan masalah kematian manusia : bagi agama kematian bukan akhir dari perjalanan jiwa manusia . Suatu gerakan sosial dapat mempengaruhi orang ketika ia melakukan tiga hal : menyederhanakan ide-ide , mengklaim kebenaran , dan dengan menggabungkan keduanya membutuhkan satu komitmen untuk dipraktekan . Ideologi-ideologi abad ke-19 telah kehabisan nafas serta tidak lagi mampu membangkitkan kesetian dan kegairahan dalam kalangan intelgensia.. Ini dibarengi dengan tumbuhnya para intelektual baru yang kritis , yang,mengambil posisi berseberangan . Ideologi-ideologi semacam itu sekarang telah selesai . Bell menunjukkan sejumlah kelemahan dari teori yang mencoba menjelaskan masyarakat Amerika yang terus-menerus berubah . Baginya , karena dunia intelektual meragukan kebenaran-kebenaran asumis yang diajukan oleh ideologi , maka diskursus tentang ideologi kini sudah berakhir . Hal ini berarti matinya ideologi . Terlebih bahwa kecenderungan akan perubahan yang cepat dan berdampak luas telah menyulirkan ideologi dalam menghikuti irama perubahan itu ,( Nuswantoro , 2001: 133 – 139 ) Menurut Sidney Hook bahwa berakhirnya ideologi dimakudkan bahwa dalam dunia modern ini, dengan adanya cara pendekatan ilmiah yang realistik dalam menanggapi grejala-gejala sosial, tidak mungkin lagi menerima suatu teori kemasyarakatan yang sistimatis guna menjelaskan kejadian-kejadian besar perkembangan sejarah bangsabangsa . Dengan kata lain , dalam pemikirannya berarti ia menolak konsepsi menyeluruh tentang kemasyarakatan yang dapat menjelaskan semua kejadian-kejadian .

29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Jadi pendekatan penyelesaian secara menyeluruh , yakni usaha untuk menjelaskan segala sesuatu menurut ideologi kapitalisme ,sosialisme maupun komunisme serta segala macam bentuk totalitariansme , tidak dapat dilakukan . Pada kenyataannya , ketika The End of Ideology terbit banyak pemikir yang mengecam pemikirannya; bahwa tidak mungkin ideologi berakhir , karena faktanya masih banyak orang yang percaya terhadap suatu ideologi . Sebenarnya Bell lewat gagasannya itu diasumsikan telah menyatakan berakhirnya semua ideologi sosial dan berkahirnya semua cita-cita sosial dan bahwa dengan demikian dia menentang perubahan-perubahan sosial . Para pengeritik Bell itu telah memberi pengertian yang sederhana kepada ideologi , yakni semacam idealisme sosial . Tentunya pengertian yang demikian ini berlainan dengan yang dimaksud sebagai kepercayaaan pada penyelesaian menyeluruh , sebagaimana juga halnya dengan versi ideologi yang (mulanya ) dibela oleh golongan Marxis , yakni bahwa ideologi adalah sama dengan kesadaran yang salah . ( Bacthiar , 1976 : 55 – 56 ) Daniel Bell dan Seymour Martin Lispet menurut Renhard Bendix bermaksud untuk menyatakan tentang “ menurunnya peranan gagasan-gagasan politik di negari-negeri Barat , “ atau “ berakhirnya “ ideologi di Barat “ tapi terdapat juga kemungkinan “naiknya peranan ideologi di Asia dan Afrtika “. Tanda-tanda merosotnya pengaruh ideologi itu ditandai oleh gejala-gejala seperti tumbuhnya totalitarisme di satu pihak yang justru malah mengurangi kontroversi pendapat di kalangan yang anti-totalitartisme ; tumbuhnya negara kesejahteraan yang melembagakan pendapat-pendapat yang pro keadilan dan persamaan juga perbedaan ideologi itu menjadi berkurang dengan diterimanya konsensus tentang “masyarakat majemuk “ yang mengatasi konflik itu dengan jalan mendesentralisasikan kekuasaan secara cukup menyebar sehingga kemerdekaan pribadi memperoleh ruang hidup yang cukup luas . Gejala itu menandai berkurangnya pertentangan ideologi di satu bidang . Ini sebenarnya berarti beralihnya pertentangan ideologi. Di satu bidang bisa berkurang , tapi di lain bidang bisa meningkat Hal ini berlaku dalam konteks negara-negara Barat sekalipun . Dengan perkataan lain , menurut kseimpulan Bendix , gejala ideologi itu sebenarnya berada dalam dimensi histories dan dimensi sktruktural .. Setelah Bell berbicara mengenai The End of Ideology atau Watkins berbicara mengenai The Decline of Ideology , timbul pertanyaan , apakah perannan dan pengaruh ideologi itu dewasa ini telah atau mulai berakhir ? Aiken hanya menyebut abad ke-19 sebagai abad ideologi , dan kemudian Morton White menyatakan abad ke-20 sebagai Abad Analisa atau Abad Ilmu Pengetahuan dan Teknologi , tentu tidak berarti bahwa pengaruh ideologi atau pendekatan –pendekatan ideologis telah lenyap , sebagaimana juga tidak berarti bahwa semenjak zaman modern , pengaruh agama telah sirna . Sungguhpun demikian , gejala merosotnya pengaruh ideologi pada abad di mana kita hidup sekarang ini memang terasa . Dan gejala ini merupakan perhatian karena perubahan ini mempunyai pengaruh , baik dalam cara kita memecahkannya . ( Rahardjo, 1986 :39 - 40 ) Ideologi : Sebuah Pengertian 30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Ideologi secara konsep sering dipahami secara berbeda-beda , baik dalam pengertian orang awam maupun dalam pemakaian di dunia keilmuan . but sebagai jalan kebenaran yang menyerupai firman , dengan begitu perlu dituruti . Di lain pihak ideologi dianggap sebagai gambaran palsu tentang dunia . Ia bisa juga menjadi guiding principle suatu masyarakat atau bangsa dan mengantarkannya kepada satu tatanan yang obsesif , misalnya , kesetaraaan manusia atau keadilan dan kemakmuran . Ideologi juga diberi makna sebagai perangkat keyakinan ketika suatu bangsa mempercayai peran yang harus dimainkannya dalam berelasi dengan bangsa lain yang memiliki karakter berbeda dengannya , baik berupa relasi simetris maupun keyakinan superioritas suatu bangsa terhadap yang lain . Istilah ideologi dimasukkan ke dalam khazanah bahasa ilmu-ilmu sosial oleh SLC Destuut de Tracy (1754 – 1836 ) , seorang politisi dan filosof . Baginya “ideologi adalah ilmu tentang idea-idea . Pada bagian pertama abad ke-19 di Jerman para pembela , gagasan-gagasan progresif ( seperti hak asasi manusia atau negara konsitusional) disebut “ideologi “ . Pengertian yang paling umum dan paling dangkal yang terutama biasa dalam kalangan ilmuwan sosial adalah “ideologi “ sebagai istilah bagi segala macam sistem nilai , moralitas, interprestasi duinia , pokoknya terhadap apa yang berupa “ nilai” dan berlawanan dengan “pengamatan “ tanpa nada peyoratif , jadi netral . Berbicara ideologi , ada dua pertanyaan yang harus diajukan . Pertama, apakah ideologi mempunyai arti positif atau negatif ? Ideologi dalam arti negatif , sering dikaitkan dengan arti sebagai konsep kritis yang terbentuk kesadaran palsu atau kebutuhan untuk melakukan penipuan . Dalam arti negatif ideologi dimaksud sebagai suatu upaya bagaimana memutarbalikan pemahaman orang tentang realitas sosial . Dalam arti positif ideologi dimaknai sebagai suatu ekspresi dari sudut pandang suatu kelas . Kedua , Apakah ideologi mempunyai sifat yang benar-benar subjektif dan memiliki watak psikologis , atau sebaliknya , seluruhnya tergantung pada faktor-faktor obyektif ? Jika subyektif , ideologi dipahami sebagai bentuk perubahan bentuk kesadaran , yang entah bagaimana tidak dapat mengerti realitas sebenarnya . Jika obyektif , ideologi muncul sebagai penipuan yang disebabkan oleh realitas itu sendiri ; bukan subyek yang memutarbalikkan realita , akan tetapi realita itu sendiri yang menipu subyek . Selagi pandangan subyektif menekankan peranan individu , golongan , dan partai dalam produksi ideologi , maka pandangan obyektif menganggap ideologi sebagai pengisian struktur dasar masyarakat ( Nuswantoro , 2001 : 49 – 50 ) . Ada tiga macam ideologi . Ideologi dalam arti penuh sebagaimana Marxisme-Lenisme . Marxisme-Leninisme adalah sebuah teori (1) tentang hakekat realitas seluruhnya ( sebutan teori metafisika berisi materialisme dialektika dan ateisme ) ; (2) tentang makna sejarah ( bahwa sejarah menuju masyarakat tanpa kelas ); (3) yang memuat norma-norma ketat tentang bagaimana masyarakat harus ditata ( secara sosialis , tanpa hak milik pribadi, seluruh kehidupan masyarakat ditetapkan langsung oleh negara , jadi totaliter ) , bahkan tentang bagaimana individu harus hidup ( tentang gaya kreasinya , tentang karya seni yang boleh dan yang tidak boleh , tentang bentuk pendidikan , tentang tidak diperbolehkannya pelajaran agama, tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh 31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dibacadlsb ), (4) yang pada hakekatnya melegitimasikan monopoli kekuasaan sekelompok orang ( Partai Komunis ) di atas masyarakat , Teori seperti Marxisme-Lenisme merupakan ideologi dalam arti sepenuh-penuhnya Yaitu ajaran atau pandangan dunia atau filsafat sejarah yang menentukan tujuan-tujuan dan norma-norma politik, sosial, yang diklaiim sebagai kebenaran yang tidak boleh dipersoalkan lagi melainkan yang sudah jadi dan harus dituruti . Ideologi dalam arti sepenuhnya juga disebut disebut ideologi tertutup, karena isinya tidak boleh dipertanyakan lagi , kebenarannya tidak boleh diragukan . Isinya dogmatis dan apriori dalam arti bahwa ideologi itu tidak dapat dimodifikasi berdasarkan pengalaman . Ideologi total itu tertutup juga dalam arti bahwa ia mengklaim status moral yang murlak , dengan hak untuk menuntut ketaatan mutlak , dalam arti bahwa ideologi itu tidak boleh dipersoalkan berdasarkan nilai-nilai atas prinsip-prinsip moral lain . Di tingkat masingmasing orang hal itu berarti bahwa ideologi tidak mengizinkan individu mengambil jarak terhadapnya berdasarkan suara hati. Oleh karena itu ideologi tidak mungkin toleran terhadap pandangan dunia atau nilai-nilai lain (oleh karena itu, makin ketat sebuah ideologi , makin dia akan menentang agama , karena agama mempunyai acuan lain daripada ideologi itu ) . Adalah ciri khas ideologi tertutup bahwa klaimnya tidak hanya memuat nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar saja , melainkan bersifat kongkret operasional : artinya , ideologi tidak mengakui hak masing-masing orang untuk mempertimbangkan sendiri, berdasarkan suara hatinya , bagaimana sebuah prinsip harus ditetapkan dalam situasi kongkret . Ideologi tertutup menuntut ketaatan tanpa reserve . Marxisme, fasisme, beberapa bentuk sosialisme , ideologi keamanan nasional ala Amerika Latin juga termasuk ideologi tertutup – meskipun memiliki perbedaanperbedaan formal yang cukup mendalam . Kita dapat mengklaim bahwa ideologi tertutup bersifat dogmatis, eksklusif , intoleren dan totaliter , serta dapat dipergunakan untuk melegitimasikan kekuasaan sebuah elit ideologis . Di samping itu ada ideologi terbuka . Ia terbuka karena hanya mengenai orientasi dasar , sedangkan penerjemahannya ke dalam tujuan-tujuan dan norma-norma politik-sosial selalu dapat dipertanyakan dan disesuaikan dengan prinsip-prinsip moral dan cita-cita masyarakat lainnya . Cita-cita itu bersifat luwes . Operasionalisasinya ( realisasinya dalam praktek kehidupan masyarakat ) tidak dapat ditentukan secara apriori , melainkan masing-masing harus disepakati secara demokratis . Ideologi terbuka itu bersifat inklusif , tidak totaliter dan tidak dapat dipakai untuk melegitimasikan kekuasaan sekelompok orang . Dalam ideologi terbuka itu termasuk macam cita-cita yang membela hak-hak asasi manusia , keadilan dan demokrasi , begitu pula sebuah bangsa untuk menentukan dirinya sendiri . Semua ideologi memiliki ciri-ciri bersama . Mereka merupakan cita-cita dan nilai-nilai yang secara eksplisit dan verbal dirumuskan , dipercayai atau diperjuangkan . Secara historis ideologi-ideologi eksplisit itu baru muncul bersamaan dengan zaman modern 32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda yang ditandai oleh rasionalisme dan sekularasi ( Rupa-rupanya selama masyarakat memahami kehidupannya seluruhnya melalui kacamata agama, belum ada ruang di mana ideologi-ideologi dapat muncul ) . Akan tetapi di zaman tradisional pun masyarakat memiliki keyakinan-keyakinan tentang hakekat realitas serta bagaimana manusia harus hidup di dalamnya . Meskipun keyakinan-keyakinan itu sering harus implisit saja, tidak dirumuskan dan tidak diajarkan , namun keyakinan-keyakinan itu meresapi seluruh gaya hidup , merasa, berfikir , bahkan beragama masyarakat ( dan dapat digali melalui analisa sastra , tulisan religius dll masyarakat itu ) , Cita-cita dan keyakinan-keyakinan tidak eksplisit itu sering ada segi ideologisnya, karena mendukung tatanan sosial yang ada , jadi memberikan legitimasi kepada kekuasaan sebuah kelas atau lapisan sosial atas kelas-kelas sosial lain Begitu misalnya pandangan Jawa tentang mikrokosmos dan makrokosmos memuat juga paham tentang raja sebagai sumber keselarasan dan kesejahteraan masyarakat dan dengan demikian melegitimasikan sistem kekuasaan monarki absolut . Oleh karena ketakinankeyakinan dan nilai-nilai dasar itu melegitimasikan sebuah struktur non-demokratis tertentu , mereka juga disebut ideologi implisit .( Suseno, 1992 : 232 – 236 ) . Kapitalisme versus Sosialisme : Model Pembangunan Barangkali di sini perlu dibedakan antara “model” yang ditarik atau diabstrasikan dari kenyataan-kenyataan atau atau fakta yang dijumpai dalam perkembangan masyarakat atau proses pembangunan , dengan “model “ yang ditarik dari teori-teori pembangunan . Dalam kepustakaan ilmu-ilmu sosial ( di bidang ekonomi , politik , atau sosiaologi ) kita sering menjumpai istilah “ model Yugoslavia “, “model Korea “,” Model Cina “ . atau “model Tanzania :. Di sini satuan model itu adalah negara atau seluruh masyarakat . Tapi kerap kali juga , model itu menunjuk pada bidang-bidang tertentu saja , misalnya “model koperasi di Taiwan “, ,” model perusahaan di Tugoslavia “ atau “ model pembangunan pertanian di Cina “ . Dalam pengerrtian ini dimaksud dengan model adalah model yang diabstraksikan dari pengalaman pembangunan di suatu negara tertentu dan atau di bidang tertentu . Selanjutnya kita bisa berbicara secara lebih detail lagi tentang apa yang dimaskusdkan dengan “ model pembangunan “ . Kita umpamanya , bisa membicarakan “tingkat-tingkat “ dari model itu . Pada tingkat pertama bisa disebut suatu model pada tingkat ideologi , umpamanya saja model pembangunan kapitalis, sossialis . fasis ( kapitalisme negara ). Sosialisme demokratis . Di sini pun dapat disebut “model-model baru “ yang diusulkan atau sedang dicoba untuk dilaksanakan , umpamamnya , model sosilisme religius . sosialisme Burma, sosialmse humanisme , sosialisme Islam , atau Budha dan sebagainya . Dalam model ini, seolah-olah model itu identik dengan suatu ideology . Sebenarnya yang dimaksud dengan model di sini , adalah suatu pola atau bentuk pelaksanaan ideology tertentu . Dalam kenyataannya model pada tingkat ideologi itu, walaupun sama namanya tapi berbeda-beda di berbagai negara . Lagi pula suatu negara tertentu bisa menamakan model yang ditempuhnya dengan suatu ideology seperti misalnya “liberal kapitalis “ tapi dari luar orang bisa menilainya sebagai umpamanya “neo--fasis .” 33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Pada tingkat selanjutnya terdapat model pada tingkat teori ekonomi dalam pengertian ekonomi politik . Bjorn Hettene menyebut beberapa varian model pembangunan Barat yang berasal dari tradisi intelektual dan kultural yang sama , yaitu model liberal ( misalnya menurut ajaran Milton Friedman ), model Kapitalis Negara , model Soviet , dan model Keynesianisme . Di samping itu kita bisa pula melihat model pada tingkat teori ekonomi pembangunan yang lebih spesifik , seperti misalnya model WW Rostow atau Levis . Model seperti ini tergantung dari penilaian seseorang apakah seseorang tertentu itu memiliki teori yang cukup komprehensif yang memenuhi syarat-syarat suatu kontruksi model . Bagi John Galtung , ideologi liberalisme dan marxisme merupakan “ dua cara untuk menjadi Barat “. Seharusnya perbedaannya karena menurut John Galtung kedua ideologi itu dilahirkan dan dikembangkan di tempat yang sama, tempat yang sama serta keduanya merefleksikan suatu kultur yang didominasi oleh sistem kapitalisme . Asumsi pengembangan missi ( suatu gagasan bahwa Barat akan menyelamatkan dunia ). Gagasan bahwa alam adalah obyek (yang harus dikuasai dan dieksploitasi ) dan juga gagasan tentang masyarakat yang dikuasai oleh suatu hukum , kesemuanya menurut Hettne merupakan prasangka yang dimiliki oleh kedua ideologi itu . Pemikir-pemikir lain seperti Rajni Kothari , Yohiskazu Sakamoto , atau Richard Falks , nampaknya juga cenderung untuk melihat dan mengakui terdapatnnya persamaan dasar antara ideologi kapitalisme dan sosialisme atau antara liberalisme dan marxisme. Ini nampakanya memang aneh . Timbulnya ideologi sosialisme atau marxisme adalah justru sebagai reaksi dan untuk menentang teori dan sistem ekonomi kapital-liberal.. Namun setelah negara sosialis yang pertama berdiri di Rusia ( Uni Soviet ) , ternyata model pembangunan yang ditempuh di situ memiliki persamaan dasar dengan model kapitalis ., yaitu mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi , dengan cara akumulasi capital besarbesaran guna melaksanakan proses industrialisasi . Eksploirasi yang berlaku di negaranegara kapitalis terjadi pula di Uni Soviet terhadap kaum tani . Perbedaannya hanyalah bahwa di negara kapitalis akumulasi kapital dilakukan oleh perusahaan-pertusahaan swasta , sedangkan di Uni Soviet peranan ini itu dilakukan oleh negara . Oleh sebab itu maka model yang berlaku di Uni Soviet sering juga disebut sebagai state capiliasm untuk menunjukkan adanya persamaan dengan private capitalism capitalism yang berlaku di Amerika Serikat . Apabil;a yang memimpin dan menguasai kapitalisme swasta di Amerika adalah tehno-structure “ ( seperti yang diistilahkan oleh Galbraith ), maka yang merupakan elit dalam kapitalisme negara di Uni Soviet adalah penguasa teknokrasi. Dengan mengobservasi berbagai pengertian dan penggunaan istilah dan konsep pada berbagai tingkatan tersebut diatas , maka nampaklah kaitan antara model-model pembangunan dengan asumis-asumsi ideologis . Ini nampak terutama pada model-model yang ditarik dari teori-teori . Sungguhpun demokian , dari model-mdel yang ditarik dari kenyataan yang dapat dilihat dengan penelitian atau pengatamatan empiris-positif , maka nampak pula betapa model-model itu telah membuyarkan bangunan-bangunan ideologi , sebagaimana nampak dalam mejelitnya model RRC sebagai suatu model yang unik dan 34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda sebaliknya tedensi di antara berbagai sarjana untuk menyamakan atau mengelompokan model Uni Soviet dengan model pembangunan Barat umumnya . . Gejala pencarian ideologi itu nampak baik pada sisi liberal-kapitalis maupun sosialismarxis . Timbulnya basic need strategy yang mengakui faktor-faktor struktural dalam perkembangan ekonomi dan yang berorientasi pada golongan bawah umpamanuya, justru Tumbuh dari tradisi liberal , walaupun gagasan itu muncul dengan motivasi untuk menghindari dan mencegah timbulnya revolusi sosial di negara-negara miskin . Dalam kubu Marxis juga timbul gejala pencairan . Dalam kalangan Marxis modern umpamanya, sudah mulai ada perbedaan – sebagian mengakui sebagian menolak pembagian itu – antara Marxis “ortodoks “ ( pengajur teori dependency seperti Colin Leys dan H. Bernstein dimasukkan dalam golongan ini ) dan “ Marxis-revisionis “ ( Paul Baran , Andre Gunder Frank , dan I Wallerstein ). Aspek yang menarik dari golongan NeoMarxis itu adalah bahwa mereka menyatakan diri tidak dogmatis, melainkan “terbuka “ dalam melihat teori Marxisme sebagai pendekatan ilmiah . Berdasarkan dan mengamati gagasan-gagasan pokok dari Marxisme , mereka ini kemudian mencoba terjun ke dunia empiris dan sebagaimana ekonom-positif lainnya ( mereka memang menganggap bahwa Marxisme adalah suatu ilmu pengetahuan positif ), mereka berargumentasi dengan berdasarkan fakta . Sesuai dengan paham historis-materialisme , kaum Neo-Marxis ini selalu berbicara berdasarkan apa yang selalu mereka sebut sebagai historical evidence . Karena itu mereka bisa menghasilkan analisa-analisa yang berbeda dari kaum Marxis yang dogmatis-doktriner , sehingga umpamanya buku-buku Samir Amin yang Marxis itu dilarang untuk dibaca di Uni Soviet sendiri . Rupanya perkembangan ilmu pengetahuan yang positif atau empiris tidak sepenuhnya bisa melenyapkan atau menetralisasikan pertentangan yang sifat dan polanya ideologis , sekalipun telah terjadi pencairan doktrin-doktrin dan mitos-mitos dalam ideologi . Pencairan ini mungkin hanya mengubah saja peta ideologi tapi tetap saja melangsungkan pendekatan ideologi , walaupun perdebatan itu sekarang tidak lagi senjata-senjata berdasarkan adu argumentasi dan logika , melainkan telah didukung pula dengan penelitian ilmiah . Dalam perdebatan intu , masing-masing memamakai paradigma ( kaca mata ) yang berbeda dank arena itu, sukar sekali untuk bertemu sekalipun berdasarkan fakta yang sama . ( Rahardjo, 1986 : 47 – 55 ) Buku Piramida Kurban Manusia ( 1982 ) yang ditulis Peter L Berger sangat mengesankan .Di sana ia menyebut bahwa bukunya membahas dua topik yang seluruhnya saling menjalin . Topik pertama menyoroti pembangunan di dunia ketiga , sedangkan topik kedua membicarakan etika politik dalam perubahan sosial . Apa yang memikat dalam dua topic yang dikatakan oleh sang pengarang adalah , bahwa keduanya dijalin dengan bertitik tolak pada kritik terhadap dua ideologi pembangunan yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran dan pola pembangunan di dunia ketiga dewasa ini , yakni Kapitalisme dan Sosialisme. Kritik itu mengungkapkan bahwa dalam kedua ideologi acapkali mengandung keyakinankeyakinan buta dan janji-janji masa depan yang samar-samar . Bagi kedua penganutnya berakibat cenderung menjadi fanatik dan berusaha memberikan pembenaran-pembenaran 35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda terhadap penderitaan manusia yang ada sekarang – dengan kepercayaan-kepecrcayaan asbtrak mereka serta membuat orang-orang itu tak mampu melihat kemungkinankemungkinan lain dalam realitas sosial yang dihadapi . Berger menyebut keyakinankeyakinan buta dan janji-janji palsu itu sebagai mitos-mitos , dan ia berpendapat bahwa mitos-mitos itu harus dibongkar kepalsuannya lewat pendekatan demitologisasi serta berusaha mencari pendekatan pragmatis yang disertai oleh kepekaan moral atau etis terhadap biaya-biaya manusiawi oleh pembangunan Kritik itu mengungkapkan bahwa baik kapitalisme ( Brazil ) maupun sosialisme ( Cina )sebagai suatu model harus ditolak . Kedua model pembangunan tersebut membebankan biaya-biaya manusiawi ( human cost ) yang terlalu mahal , dan ini dari sudut moral tidak bisa diterima . Pada kenyataannya kedua model itu mengorbankan paling tidak satu generasi demi tercapainya tujuan-tujuan dari masing-masing modelnya . Dan ini kelihatannya dimungkinkan karena mitos-mitios yang menyelubungi kedua model pembangunan tersebut . Eksprimen kapitalisme di Brazil menyebabkan jutaan manusia tewas mengalami kelaparan , sedangkan percobaan sosialisme di Cina menimbulkan jutaan manusia mati akibat terror .Yang pertama memitoskan pertumbuhan , dengan menyetujui kelaparan saat ini demi kemakmuran di hari esok , sementara itu , yang disebut belakangan , memitoskan revolusi dengan mentolerir tirani dan terror saat ini demi terciptanya suatu tatanan yang manusiawi di masa depan . Dan sebagai alternative dan solusinya , setelah melakukan demitologisasi terhadap kedua ide tersebut ( kapitalisme dan sosialisme ) , maka Berger menawarkan pendekatan-pendekatan yang lebih terbuka dan tidak dogmatis sebagai obat mujarab 9 Berger , 1982 : 216 – 217 ) . Tetapi dalam bukunya Revolusi Kapitalis yang ditulis 12 tahun kemudian . Peter L Berger berubah pikiran . Perubahan ini sebagian besar disebabkan perubahan dan perkembangan yang terjadi di dunia , dan ini pada gilirannya merubah juga pandanganpandanganya , walaupun ia tetap pada kriteria moralitas yang dimiliki dulu . Dalam kaitannya dengan model kapitalisme dan sosialisme , maka lewat buku yang ditulis itu ia menyatakan dirinya untuk berpihak pada kapitalisme. Buku yang yang terdahulu didasarkan daerah penelitian di Amerika Latin dan sedikit wilayah Afrika dan Cina . Tetapi buku berikutnya ia mulai menjadikan wilayah Asia Timur sebagai obyek penelitiannya .Rupanya Berger kagum melihat keberhasilan negara-negara di Asia Timur .Mereka tidak hanya sukses dalam mendorong pertumbuhan ekonomi , tetapi juga berhasil dalam mendistribusikan kekayaan dan pendapatan yang merata terhadap masyarakatnya Lebih jauh laghi, menurut Berger . success stories negara-negara kapitalis Asia Timur ini dan seluruh pelajarannya yang bisa kita dapat harus dihadapkan dengan refleksi atay renungan kita yang memiliki keperdulian dengan masalah-masalah kemiskinan di dunia . Terlihat jelas, sebagaimana dalam karya sebelumnya , Berger selalu mengartikan pembangunan dalam kerangka “perhitungan penderitaaan “ ( calculus of pain ) dan “perhitungan makna “ ( calculus of meaning ) Melalui Revolusi Kapitalis , Berger mencoba membangun teori kapitalisme .yang didasarkan pada beberapa argumen sebagai berikut ; (1) jauh dari sifatnya yang konservatif , kapitalisme justru secara radikal telah berubah struktur materi , sosial politik 36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dan budaya dari masyarakat yang disentuhnya . Atas dasar itu, kebutuhannya menjadi mutlak untuk mengetahui dampak dari kapitalisme terhadap masyarakat . (2) kapitalisme hadir dan beroperasi dalam konteks dan matriks tersebut menjadi perlu jika ingin mengerti kapitalisme . Penelitiannya antara lain meliputi masalah kapitalisme dengan kehidupan materialistis , kelas, demokrasi , otonomi individu , legitimasi dan pembangunan . (3) dengan merujuk pada kenyataan –kenyataan empiris di dunia ketiga saat ini , maka pemahaman mengenai kapitalisme tidak mencukupi jika hanya memperhatikan gejala-gejalanya di negara-negara Barat saja . Alasannya , sederhana saja, kapitalisme beroperasi di berbagai kawasan di dunia . Artinya , lebih jauh , studi mengenai kapitalisme secra niscaya harus mengamati juga gejalanya di dunia ketiga, dan secara khusus di dunia negara-negara kapitalis Asia Timur ( Empat Naga Asia ) . (4) Kapitalisme dari sudut tertentu merupakan salah satu versi dari modernitas . Jika memang demikian , maka pengamatan dari studi ini juga melihat bagaimana modernisasi terjadi di dalam tiga tabung uji yakni , negara kapitalis industri di Barat , kapitalisme industri di Asia Timur , sosialisme industri ditambah beberapa negara dunia ketiga lainnya . Beranjak dari semua ini , Berger mencoba menawarkan berbagai hipotesa atau proposisi berdasarkan berbagai argumentasi yang disertai oleh data-data empiris . Mengingat argumentsi-argumentasi yang menjelaskan modernisasi dan teori kapitalisme bersifat hipotesis , maka semua itu dapat dibantah dan bahkan digugurkan . (Berger , 1990 : 305 -322 ) . Nasionalisme meruntuh Raksasa Komunisme Disintegrasi Uni Republik-Republik Soviet Sosialis yang terjadi pada 31 Desember 1991, merupakan klimaks dari perjalanan sejarah bangsa Uni Soviet yang dibentuk oleh Vladimir Ilych Lenin pada 30 Desember 1922 . Disintegrasi Uni Soviet ini merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat dihindarkan karena banyaknya warisan persoalan lama lalu sejak era Lenin , Stalin , Khruschev dan Brezhnev . Dimensi persoalan itu cukup kompleks menyangkut aspek ideologi , politik , ekonomi , sosial, budaya dan keamanan . Salah satu persoalan itu adalah faktor etnonasionalisme , yaitu nasionalisme yang berdasar pada etnik atau bangsa dan republik-republik atau negara-negara bagian , selain Rusia dalam konfigurasi Uni Soviet dan etnis non-Rusia dalam Republik Federasi Soviet Sosialis Rusia . Munculnya semangat etnonasionalisme yang diterjemahkan dalam tuntutan penentuan nasib sendiri (self determination ) dan pemisahan diri dari Uni Soviet dan separatis di beberapa negara bagian adalah salah satu fenomena yang muncul ke permukaan sebelum disintegrasi Uni Soviet . Sebagai sebuah negara yang terdiri dari banyak bangsa dengan latar belakang sejarah dan budaya . Uni Soviet tidak akan lepas dari potensi instabilitas yang di bawah oleh perbedaan-perbedaan itu . meskipun perbedan latar belakang itu di satu sisi menjadi faktor yang memperkaya khazanah budaya, namun di sisi lain ia akan tetap hadir sebagai potensi konflik yang laten jika tidak dikelola secara benar . Pengelolaan itu bersifat sistemik yang menyangkut semua aspek kehidupan . Dalam kasus Uni Soviet , keberadaan ideologi komunisme dengan perangkat-perangkatnya telah berhadapan 37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dengan kenyataan-kenyataan perbedaan akar budaya bangsa di negara-negara bagian Uni Soviet. Untuk menjaga stabilitas etnonasional itu dikeluarkan kebijakan etnonasional dari para pemimpin Soviet sejak Lenin . Lenin termasuk pemimpin Soviet yang pragmatis menghadapi isu etnonasionalisme . Baginya etnonasionalisme akan lepas dari sikap permusuhan melalui fusi dan pendekatan atau pengerucutan . Fusi etnonasional adalah tujuan jangka panjang sosialisme, ketika perjuangan kelas selesai maka konflik etnis akan hilang . Lenin berpandangan bahwa konflik etnik adalah bagian dari perjuangan kelas . Ia juga pada awalnya memberi angin bagi hak menentukan nasib sendiri setiap etnonasional itu, tetapi kemudian Lenin mengoreksinya dengan mengatakan bahwa kepentingan sosialisme lebih penting tinimbang penetuan nasib sendiri . Stalin adalah pemimpin Soviet yang bertangan besi menghadapi aspirasi etnonasionalisme . Selain berhasil menganeksasi empat republik baru . Stalin juga mendesportasi lebih dari enam etnonasionalisme minoritas karena dianggap berkhianat pada negara dan melakukan tindakan criminal kolektif . Kedendaman atas kebijakan Stalin muncul era berikutnya mulai dari Khruschev hingga Gorbachev . Bedanya di zaman Kruschev , Brezhnev , Adropov dan Chernenko , mereka mempunyai sensitivitas atas signifikannya faktor etnonasionalisme . Sedangkan Gorbachev adalah produk sistem Soviet yang lahir setelah Revolusi .dan tidak pernah mengalami interkasi dengan faktor etnonasinalisme. Sikap menganggap remeh Gorbachev terhadap faktor etnonasionalisme menjadi buah sejarah yang tidak pernah diduganya . Dalam nafas perang dingin , berbagai kendala ekonomi dan politik menghadang Uni Soviet terutama pada era Brezhnev . Dapat dikatakan periode akhir Brezhnev adalah periode yang diwaranai stagnasi ekonomi dan politik . Stagnasi di bidang politik terutama hadir karena merosotnya kualitas kepemimpinan Uni Soviet setelah kematian Brezhnev , Andropov dan Chernenko , penerus Brezhnev yang menjabat Sekretaris Pertama Komite Sentral PKUS , memerintahkan tidak lama karena keduanya terbunuh . Kemudian Chernenko telah menaikkan Gorbachev ke puncak karirnya sebagai Sekretaris Jendral PKUS pada 11 Maret 1985 . Sejak menjabat posisi ini Gorbachev menyatakan programnya yaitu reformasi ekonomi dan politik yang dikenal dengan glasnost dan prestorika . Secara sederhana dua kata itu diterjemahkan menjadi keterbukaan dan restrukturisasi . Keterbukaan utamanya di bidang politik , dan restrukturisasi di bidang ekonomi . Dua kata ini dalam waktu singkat menjadi konsumsi publik internasional dan membawa reputasi Gorbachev di tingkat internasional semakin tinggi . Selain glasnost dan prestorika , terdapat pula kebijakan mengenai demokrasi politik dan pemikiran baru terhadap kebijakan luar negeri . Harapan terhadap reformasi itu makin membesar seiring dampak yang relatif tampak secara cepat . Seiring dengan reformasi itu , Uni Soviet menghadapi resistensi dari negara-negara bagiannya yang menuntut kemerdekaan . Munculnya etnonasionalisme di Uni Soviet bukanlah hal yang baru . Melemahnya pusat memberi peluang pada 15 republik bagian Uni Soviet dan kelompok etnik atau bangsa lainnya untuk menuntut hak merdeka dari 38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Uni Soviet . Tidak dapat dipungkiri terjadinya revolusi di Eropa Timur pada tahun 1989 ikut mempengaruhi kebangkitan nasionalisme di Uni Soviet . Sebelum bulan Maret 1990 telah ada lima republik yang menyatakan kedaulatan dan kemerdekannya yaitu : Azerbaidjan , Estonia, Latvia, Lithuania dan Georgia . Bulan Juni 1990 , bahkan Parlemen Rusia di bawah Presiden Boris Yeltsin memproklamasikan Republik Federasi Rusia sebagai negara berdaulat . Proklamasi Rusia ini adalah suatu kejutan dan sukar dibayangkan – sebuah negara yang luasnya seperti Uni Soviet , setengah jumlah pendudukannya menguasai Uni Soviet , dan di Moskow , Rusia , terletak ibukota Uni Soviet – seketika menyatakan berpisah dari Uni Sovuet dan berdiri otonom . Sebelum berkahirnya musim panas tahun 1990 , hampir semua negara bagian menyatakan kemerdekaannya ./ Bahkan banyak pemerintah lokal dan republic 15 negara bagian itu telah menyetujui hukum privatisasi yang lebih liberal ketimbang yang berlaku secara nasional ( Uni Soviet ) . Lebih jauh sejak ini terjadi kerengganangan hubungan antara Moskow dan beberapa republik berkaitan dengan klaim perusahaan-perusahaan negara . Tidak adanya jaminan ekonomi dan politik di Rusia telah menghasilkan suatu upaya coup d”etat oleh kawan-kawan dekat Gorbachev sendiri pada 19-20 Agustus 1991 . Konspirasi yang dipimpin Wakil Presiden Genady Yannayev ini merupakan aksi kalangan konservatif yang anti reformasi . Kudeta ini berhasil digagalkan oleh Presiden Boris Yeltsin dengan keterlibatan massa yang luas . Akibat usaha kdeta itu, posisi Gorbachev semakin marjinal dari panggung politik Uni Soviet , sebaliknya arus mendukung Boris Yeltsin semakin besar . Yeltsin memerintahkan penahanan mereka yang terlibat usaha kudeta , dan pada 24 Agustus 1991, ia menyatakan larangan bagi semua aktivitas Partai Komunis di Rusia , membubarkan dinas rahasia KGB , memerintahkan pemebentukan tentara territorial Rusia , mengambil alih asset-aset Partai dan menunda penerbitan media massa baik cetak maupun elektronik . Sebagai konsekuensi kondisi PKUS dalam tahap ini , maka Gorbachev dipaksa mundur . Pada bulan Desember 1991 , Presiden Rusia Boris Yeltsin , Presiden Ukrania dan Presiden Byelorusia menandatngani sebuah pakta yang secara resmi membubarkan Uni Soviet dan menyatakan berdirinya Persemakmuran Negara-Negara Merdeka ( PNM ) atau Commonwealth of Indepenedence States ( CIS ) yang diikuti oleh seluruh bekas republik Uni Soviet kecuali tiga republik Baltik ( Latvia, Estonia dan Lithuania ) dan Georgia . Peristiwa diisntegrasi Uni Soviet menjadi tonggak runtuhnya ideologi komunisme. Proses kearah disintegrasi ini jelas melibatkan banyak faktor yang beragam . Faktor etnonasionalisme merupakan faktor yang tidak diperhitungkan oleh Gorbachev di masa awal reformasinya . Faktor ini semakin mencuat ke permukaan seiring dengan gelombang kebebasan dan melemahnya kontrol pusat yang selama rezim komunis selalu sentralistik . Reformasi Gorbachev pada beberapa sisi gagal menjawab situasi dan kondisi saat itu , menjadi picu bangkitnya gerakan etnonasionalis , gerkan separatis untuk memisahkan diri dari Uni Soviet dan mendirikan negara berdaulat yang bebas dari subordinasi Moskow . ( Zon , 2002 : 1 – 13 ) 39
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Optimisme Liberal berhadapan dengan Nasionalisme Ketika Tembok Berlin runtuh pada 1989 , bayangan indah sempat memukau imajinasi orang Amerika . Liberalisme telah mengalahkan dua lawan ideologisnya pada abad ke20, komunisme dan fasis , dan tidak ada lagi lawan baru . Imperium dan kediktaktoran telah tumbang . Demokrarisasi marak di negara-negara yang dulu otoriter di Amertika Latin , Eropa bagian selatan , dan Eropa Timur , bahkan kini mulai merambah Asia Timur, bahkan kini mulai merambah Asia Timur . Praktis semua negara menerapkan perekonomian pasar . Keterkaitan perekonomian global semakin kuat . Media massa dan budaya pop liberal asal Amerika sudah menjalar ke seluruh dunia . Kemenangan liberalisme ini , begitu dikatakan , bakal mengatar dunia ke gerbang “ akhir sejarah “ . Percaya bahwa semua yang baik terjadi serentak , para komentator liberal bersikukuh bahwa perang sudah mulai usang , sedikitnya di antara negara-negara yang sedang dalam proses liberalisasi , proses yang sedang menjadi kecenderungan global . Satu buku ilmiah yang terbit pada 1990 menyimpulkan bahwa nasionalisme , yang biasa diartikan sebagai doktrin bahwa setiap kelompok budaya seharusnya punya negara sendiri , mulai cepat cepat dibuang ke tong sampaj sejarah , karena negara seperti itu sudah tidak sanggup lagi menghadapi dunia yang semakin saling tergantung , semakin global . Sisa-sisa penghalang di jalan liberalisme yang berjaya itu akan dapat disingkirkan dengan bantuan seperangkat lembaga-lembaga internasional yang bersemangat – pasukan PBB untuk menjaga perdamaian , para ahli IMF untuk menggiring berbagai negara masuk lingkaran liberal dan melaksanakan kebijakan fiscal yang hati-hati . Sejalan dengan wawasan ini , Presiden Clinton menjelaskan bahwa meningkatkan demokratisasi seyogyanya dijadikan semboyan politik luar negeri Amerika Serikat - karena sesama negara demokrasi tidak pernah saling memerangi , mereka berdagang bebas satu sama lain , dan menghormati hak-hak asasi manusia warganegara masing-masing . Wawasan ini cepat pudar . Perang mewabah sejak runtuhnya Tembok Berlin . Rangkaian perang itu juga bukan perang kecil yang cuma meletus di pinggiran tatatan internasional: Perang Teluk pada 1991 menyebabkan pasokan minyak dunia terancam ; Juni 1991 tentara Yugoslavia memerangi seperatis Slovenia kurang daripada seratus mil jauhnya dari Wina , dan pasukan udara NATO terus memborbardir seluruh Serbia selama konflik Kosovo pada 1999 . Bukannya dicerca retorika nasionalisme malah menjadi mode Seperempat dari seluruh suara dalam pemilihan umum demokrasi Rusia yang baru tumbuh pada 1993 memilih partai yang dipimpin oleh Vladimir Zhiriovsky , seorang nasionalisme ekstrem . Dalam perang saudara yang pecah mulai dari Somalia sampai Bosnia , angkatan bersenjata yang dikirim oleh golongan liberal internasional diganggu, diserang , dan disandera oleh kelompok bersenjata setempat . Pembantaian SARA yang brelangsung pada 1994 telah menyebabkan setengah juta orang lebih mati di Rwanda , setelah anggota pasukan perdamaian Belgia terbunuh pada hari pertama kampanye pembantaian terhadap suku minoritas Tutsi .

40
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Akibatnya , kearifan konvensional segera jungkir-balik . The Atlantic Monthly mengganti julukan dunia pasca- komunis dengan “ anarki yang melanda “ dan ilmuwan politik terkemuka Samuel Huntington , mencanangkan bahwa hari depan umat manusia terancam oleh “ benturan peradaban “ . Dalam pandangan pakar seperti itu , konflik budaya , entah menurut garis patahan peradaban seluruhnya atau Cuma menurut garis perbedaan kelompok-kelompok SARA yang hidup bersama di wilayah tertentu , akan menjadi jurang pemisah dalam hubungan internasional pada masa mendatang . Media massa dan para pemimpin politik umumnya mengaitkan perkembangan yang suram ini dengan “ kebencian lama “ di antara budaya yang bermusuhan , yang selama berabad-abad seperti api dalam sekam , dan yang menyala segera setelah tutup tungku Perang Dingin tersingkir . Penjelasan ini terdengar gampang , cocok dengan perasaan , dan tiap hari diperkuat dengan pembenaran yang disodrkan oleh para kagal SARA . Bagi politisi Barat yang disodorkan mencari-dalih murahan agar tidak terlibat banyak dalam rangkaian konflik yang tak pantas , dongeng kebencian lama itu juga punya kelebihan karena memberi kesan bahwa pertikaian SARA mustahil diatasi . Bahkan mereka masih terus bercita-cita menyebarkan demokrasi liberal ke pelosok-pelosok dunia yang terpencil menganggap prasangka SARA yang kuno itu sebagai musuh bersama liberalisme . Dalam pidato pengankatannya pada 1993 , Presiden Clinton mengeaskan bahwa “ satu generasi yang dibesarkan di bawah baying-bayang Perang Dingin memikul tanggung jawab baru di suatu dunia yang dihangati oleh sinar matahari kebebasan namun tetap terancam oleh kebencian lama .” Untunglah, pandangan tersebut di atas sebagian besar keliru . Kebanyakan pertikaian yang melanda dunia sekarang ini bukanlah akibat kebencian budaya masa silam . Beberapa kelompok saling memerangi baru-baru ini tidak pernah bertikai dengan kekerasan senjata sebelumnya . Orang-orang Serbia dan Kroasia , misalnya , baru pada abad ke-2- terlibat dalam peperangan , itu pun sebagaian besar karena Nazi mendirikan rezim boneka yang militeristik di Zagreb . Ada kalanya konflik sesekali meletus di antara berbagai kelompok SARA diselengi jeda panjang berupa hubungan yang hangat di antara mereka ., jadi perbedaan budaya tidak cukup menjadi alasan buat timbulnya pertarungan yang sekarang . Hanya sedikit sarjana yang serius yang menghubungkan sentimen dan konflik SARA dengan kebencian budaya lama . Celakanya , pandanga liberal tersebut mengandung ironi yang mendalam: kecenderungan yang menurut kaum liberal telah menimbulkan akhir sejarah ; dalam banyak hal juga telah mengobarkan sentimen SARA . Berakhirnya imperium Soviet yang otoriter telah memacu para calon pemimpin kelompok SARA untuk mendirikan negara sendiri, yang penentuan batas-batas kedaulatan dan wilayahnya sering menyebabkan pertikaian . Pemilihan umum acapkali mempertajam perbedaan-perbedaan SARA ini . Di berbagai negara itu , yang baru menikmati demokrasi , para demagog mengeksploitasii kebebasan pers yang makin meningkat untuk menunggangi untuk menunggangi wacana umum demi tujuan-tujuan anti-kebebasan .

41
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Derita akibat penyusunan menuju perekonomian pasar dan saling ketergantungan internasional memberikan peluang kepada para politisi nasionalis untuk mengumbar janji proteksi di dalam negara yang kuat , atau membagi-bagikan kue ekonomi yang sudah makin susut kepada kelompok-kelompok SARA . Sementara itu, globalisasi media dan budaya sering memuakan bagi mereka yang gagal menikmati kemakmuran di dunia yang mengalami pembaratan . Lagipula , sebagaimana diutarakan oleh beberapa kritisi , alihalih mencegah , organisasi-organisasi internasional terkadang malah meningkatkan konflik dengan strategi perdamaian mereka yang cemplang dan falsafah reformasi ekonomi mereka yang sok ketat . Walaupun mengejutkan bagi kaum liberal yang optimis , perkembangan dasawrasa 1990an tersebut sesungguhnya menunjukkan pola lama dalam sejarah nasionalisme. Nasionalisme sama-sekali bukanlah langkah mundur yang usang , melainkan sebagian besarnya merupakan reaksi terhadap perubahan sosial zaman modern . Perubahan tersebut terjadi di Eropa Barat antara Revolusi Perancis dan Perang Dunia II , masa yang ditandai dengan munculnya nasionalisme modern dan perang rakyat . Selama masa itu , demokratisasi , pembangunan ekonomi , dan revolusi teknologi komunikasi telah menyulut nasionalisme , yang acapkali muncul dalam bentuk yang militan . Negaranegara yang terseret oleh perubahan sosial ke dalam transisi demokrasi lebih besar kemungkinannya terlibat di dalam perang , juga memulainya dibandingkan dengan negara-negara yang rezimnya tidak berubah . Berakhirnya Perang Dingin telah meningkatkan kehadiran nasionalisme dengan memberi kebebasan bagi transisi yang berbahaya menuju masyarakat demokratis dan berpasar besar di negara-negara bekasKomunis . Walaupun demokratisasi memperbesar resiko terlibat perang bagi suatu negara , namun kenyataan sejarah menunjukkan , tiga dari empat negara yang sedang dalam proses demokratisasi berhasil mengghindari perang satu dasawarsa setelah demokratisasi . Lagipula , sekali demokrasi liberal berurat-berakar , maka tak ada negara negara demokratis yang saling memerangi . Di negara –negara semacam itu, di mana transisi menuju demokrasi berhasil selama dasawrasa 1990-an , hak-hak kelompok SARA minoritas cenderung membaik , dan konflik SARA jarang terjadi . Yang terjadi sekarang ini adalah sebuah paradoks . Di satu pihak , berhasilnya revolusi demokratis liberal global pada akhirnya bisa memperteguh perdamaian dalam politik internasional . Di pihak lain , transisi menuju demokrasi menciptakan kondisi yang subur bagi konflik nasionalis, khususnya SARA, yang tidak hanya memperbesar biaya transisi , tetapi mungkin juga mengembalikan peran –serta politik masyarakat ke jalan antidemokrasi yang berkepanjangan . Jadi , proses demokraatisasi bisa menjadi salah satu musuh terbesar bagi dirinya sendiri , dan harapan akan perdamaian yang terkandung di dalamnya dipersuram oleh bahaya peperangan ( Snyder,2002 :5 – 10 ) Ideologi dan Genocide Ada petunjuk yang menyatakan ada kaitan erat antara ideologi dengan genocide yang didefinisikan sebagai kejahatan atau konspirasi untuk memusnahkan sekelompok atas dasar perbedaan identitas etnis , kebangsaan , ras , atau agama . Helen Fein menunjukkan 42
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda bahwa genocide sebenarnya telah terjadi sejak lama . Pada abad ke-15 terjadi pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh angkatan perang Atilla yang terkenal dengan julukan Sang Penakluk dari Asia . Pada abad ke-13 , pasukan Mongol Jenghis Khan melakukan pembataian besar-besaran terhadap orang Timur Tengah . Hingga abad ke-20 ini pun , sebuah zaman yang katanya modern , pembunuhan missal demi kejayaan kerajaan , atas nama kehormatan negara , atau kemurnian ras masih .menjadi bagian dari kebijakan beberapa pemimpin negara guna mencapai tujuan-tujuan politik domestik dan luar negerinya . Pada Perang Perang Dunia I ( 1914 – 1918 ) , pemerintah Kekaisaran Utsmani mendeportasi dua per tiga warga ( lebih dari hampir 1 juta hingga 1,8 juta ) Armenia di Anatolia Timur ( Turki – Asia sekarang ) . Kebijakan deportasi ini diikuti oleh tindakan pembantaian dan pemerkosaan yang menyebabkan kelaparan dan dehidrasi . Peristiwa ini mendapat kecaman dari Parlemen Eropa dan oleh lebih dari sepuluh negara – termasuk Vatikan – sebagai tindakan genocide , walaupun pada kenyataannya pemerintah Turki sangat enggan mengakuinya . Selama Perang Dunia II , kembali terjadi kejahatan kemanusian holocaust yang dilakukan oleh tentara Nazi terhadap etnis Yahudi . Genocide yang dikomando oleh Hitler ini adalah yang paling sistematis dan paling biadab yang pernah terjadi di muka bumi dibandingkan yang dilakukan oleh imperium Utsmani . Malapetaka kemanusian ini memakan korban tidak kurang dari 5 – 6 juta Yahudi , sekitar 500,000 orang Roma , dan jutaan manusia lain yang tidak diperbolehkan hidup di wilayah Jerman . Dalam kalkulasi yang lebih rinci , genocide ala Hitler setaip setiap memakan korban dua dari tiga Yahudi Jerman dan Eropa , setiap sembilan dari sepuluh orang Roma Jerman , setengah tawanan perang Soviet , dan 10 – 29 persen lainnya yang berada di Eropa Timur . Selain pemerintah Nazi Hitler , pemerintah Kroasia bekas Yiugoslavia juga pernah melakukan genocide selama Perang Dunia II yang mmembatasi sedikitnya 200.000 – 340,000 warga Serbia . Sejak akhir Perang Dunia II , sedikitnya terdapat 16 rezim penguasa yang melakukan genocide di negara-negara Afrika , Amerika , Asia dan Eropa . Selama tahun 1975 – 1979 di Kamboja , Komunis Khemer Merah membunuh tidak kurang dari 1,7 juta rakyat Kamboja . Indonesia pun pernah mengalami . Indonesia adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang pernah melakukan genocide terhadap penduduk Timor Timur atas nama integrasi ke dalam NKRI . Padahal yang dilakukan Soeharto saat itu tiada lain kecuali invasi terhadap rakyat Timor Lorosae , bekas koloni Portugis yang terletak di bagian tenggara kepulauan Indonesia yang kini telah memerdekakan diri dari NKRI .Upaya Indonesia untuk menundukkan dan mengintegrasikan wilayah tersebut , telah menelan korban 200.000 orang - lebih dari satu per tiga penduduk asli Timor Timur . Kasus lain , selama perang sipil di Guatemala dari 1960-1996 , diperkirakan 200,000 orang telah terbunuh atau menghilang oleh pemerintah militer Guatemala dari 1960 – 1996 , diperkirakan 200,000 orang telah terbunuh atau menghilang oleh pemerintah Guatemala sayap-kanan . Dalam kasus ini, pemerintah militer secara spesifik menjadikan orangorang asli Maya sebagai target pembunuhannya . Ketika pada tahun 1981 – 1983 dilakukan klarifikasi tentang jumlah korban , para jendral yang terlibat dalam kebiadaban 43
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda ini mengatakan hanya 85.000 penduduk asli Maya pedesaan yang terbunuh . Tahun 1994 di Rwanda , seluruh negara di pusat timur Afrika , antara 500.000 – 1 juta penduduk yang sebagian besarnya kelompok etnis Tutsi , telah dibunuh pascakudeta kelompok ekstremis kelompok etnis Hutu . Sejak 1991 ribuan orang , terutama Muslim Bosnia menjadi korban genocide dalam peperangan yang terjadi antaranegara di bekas Yugoslavia . ( Adams, 2004 : xv – xvii ) . Penutup Filsuf Perancis , Antoine Destutt de Tracy (1754 – 1836 ) , menciptakan istilah Ideologie Pada 1796 . De Tracy adalah bangsawan yang bersimpati pada Revolusi Perancis 1789 , namun dipenjara selama pemerintahan Teror kelompok Jacobin . Setelah bebas , ia mengalihkan perhatian pada apa yang mengakibatkan tindakan barbar tersebut , dan bagimana sikap tak toleran yang brutal bisa muncul atas nama kemajuan dan rakyat . Secara lebih umum , ia mengajukan pertanyaan tentang bagaimana nilai zaman dan masyarakat dapat demikian berbeda –beda . De Tracy adalah pengikut rasional gerakan abad ke-18 yang dikenal sebagai Pencerahan– yang kritis terhadap otoritas tradisional dan mistifikasi ajaran agama – namun juga amat prihatin pada penyimpangan . Pencerahan yang dilakukan oleh Robespierre dan anggota kelompok lainnya . De Tracy memandang ideologi sebagai ilmu tentang pikiran manusia yang mampu menunjukkan arah yang benar menuju masa depan . Seperti anggotaanggota lain dalam Institut Nasional yang menggantikan akademi-akademi kerajaan setelah revolusi , de Tracy percaya bahwa tugasnya , tidak sekedar memberikan penjelasan . Dengan jalan Pencerahan yang sejati , ia ingin meneruskan :kemajuan : dengan memperbaiki manusia – untuk menunjukkan ide-ide mana yang salah , dan mengembangkan sistem pendidikan sekuler yang bisa menghasilkan manusia yang lebih baik . Pengaaitan ideologi dengan ilmu dan kajian yang obyektif ternyata tidak bertahan lama . Istilah ideologi segera menjadi istilah negatif yang mengacu pada obyek , bukan pada bentuk kajian dan sering dibedakan dengan pendekatan ilmiah . Tokoh pertama yang menggunakan istilah ini dengan sisi negative adalah Napoleon Bonaparte ( 1869 – 1821 ), Napoleon pada awalnya bersimpati dengan karya de Tracy sebab sangat tertarik dengan kekuatan-kekuatan ide dan simbol untuk membentuk manusia , dan memperkuat dukungan bagi rezimnya yang tidak memiliki legitimasi tradisional . Namun setelah menjadi kaisar , ia mengolok-olok Pencerahan dan kelompok de Tracy sebagai ideologue yang dipengaruhi oleh keinginan untuk mencari dukungan dari kelompok-kelompok tradisional , terutama gereja Katolik . . Sejak itun, Napoleon mulai menjadi kritikus yang mempertautkan “ideologi “ dengan karakter seperti keinginan a priori untuk mengubah cara lama dan memperbaiki kehidupan masyarakat , dan atau mendukung kepercayaan yang cocok dengan kepentingan mereka yang memiliki keinginan itu ( Etwell, 2004 : 5 – 6)

44
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Sebenarnya tidak ada satu pun definisi ideologi yang dianggap baku . Tidak seorang pun bisa memberikan satu definisi ideologi secara memadai . Membatasi pengertian ideologi dengan satu definisi yang tegas dan berlaku umum tidak dapat dilakukan tanpa mereduksi makna ideologi secara menyeluruh . Pengertian ideologi yang beragam dari berbagai kajian tidak dapat disingkat dalam satu definisi saja . Ada berbagai sudut pandang yang digunakan berbagai pemikir untuk memahami ideologi . Hasilnya pun beragam. Tiap-tiap pemikir mengemukakan definisinya masing-masing . Untuk memahami masing-masing pengertian kita perlu mengetahui asumsi dasar dan kerangka teoritis yang digunakan oleh setiap tokoh dari Aristotekles, Plato , Francis Bacon sampai Michel Foucault, JeanFrancois-Lyotard dan Pirre Bourdieu . Jika kita menanyakan apa itu ideologi , maka banyak orang akan memberikan jawaban yang merujuk pada pengertian ideologi sebagai “isme” atau aliran politik, seperti sosialisme , komunisme , liberalisme dan konservatisme . Dalam konteks kelompok atau masyarakat ideologi seringkali digunakan sebagai dasar bagi usaha pembebasan manusia. Dalam hal ini , ideologi memiliki pengerrtian sebagai sekumpulan gagasan yang menjadi panduan bagi sekelompok manusia dalam bertingkah laku mencapau tujuan tertentu . Dengan cara menurunkan gagasan-gagasan dalam ideologi menjadi sejumlah kerangka aksi dan aturan –aturan tindakan , sekelompok manusia bertindak membebaskan diri dari sesuatu yang dipersepsi sebagai kekangan atau penindasam . Ideologi memberi arah bagi gerakan pembebasan . Ideologi menjadi keyakinan bagi kelompok itu Dalam makna ideology sebagai acuan manusia, terjadi pula pertarungan antar ideologi . Pertarungan antar kelas merupakan pertarungan contoh pertarungan antar ideologi . Begitu pula pertarungan antar partai politik serta pertarungan duna negara seperti yang pernah terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet , Di sisi lain ada juga kelompok manusia yang memandang pembebasan manusia sebagai upaya pembebasan dari ideologi . Di sini ideology dipandang sebagai sesuatu yang bernilai negative . Karl Marx yang menilai ideologi dipahami sebagai kesadaran palsu yang memutarbalikkan realitas . Ideologi membutakan manusia dari kenyataan yang sesungguhnya . ( Takwin , 2003 : 6 – 7 ) Tesis akhir ideologi Daniel Bell menyatakan runtuhnya ideologi-ideologi radikal , terutama fasisme dan komunisme , sambil merayakan kemenangan pragmatisme liberal secara sosial . Para pengeritiknya menyatakan penganut pandangan “akhir ideologi “ benar-benar merupakan juru bicara propaganda Amerika yang memakai metodetologi ilmu sosial dan filsafat yang obyektif unntuk melegitimasi sistem kepercyaan dan politik mereka sendiri . Kritiukus lain menyatakan bahwa walaupun sistem kepercayaan seperti liberalisme dan marxisme memiliki muatan beragam , sistem itu memeliki bentuk yang lebih sama. Keduanya adalah pewaris Pencerahan yang membayangkan perkembangan sejarah tertentu yang dengan pelbagai cara melibatkan rasionalitas universal . Bahaya terakhir dalam tesis akhir ideologi pada penghujung 1960-an berasal dari kenyataan dunia politik itu sendiri . Setelah dua dasawarsa terbitnya The End od Ideology , dunia komunis tetap berjaya ; Amerika Serikat mundur dengan memalukan dari Vietnam Selatan pada 1975 setelah kekalahan dalam perang melawan pemberontak Komunis Vietnam Utara . Di Dunia Ketiga pada umumnya terdapat sejumlah tanda tumbuhnya radikalisme dan sentimen 45
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda anti-Barat naiknya rezim fundamentalisme Islam di Iran pada 1979 merupakan bukti terkuat dari pola ini . Bola kristal Daniel Bell dan pendukung “akhir ideologi “ tampak menyesuaikan diri dengan perkembangan di Barat . Tahun 1960-an membuktikan bangkitnya ketidakpuasan , khususnya dari kelompok-kelompok mahasiswa dari kulit hitam di Amerika . Era ini menyaksikan bangkitnya Kiri Baru yang memiliki pengikut utama di kalangan akademisi , dan Kanan Baru yang mempunyai efek kebijakan yang mendalam terhadap pemerintah . Perkembangan yang beragam itu rupanya ingin membuktikan tesis “akhir ideologi “ sebagai sampah intelektual . Di abad ke-20 kita menyaksikan dunia yang terpuruk dalam kekerasan ideologis . Awalnya liberalisme berhadapan dengan sisa-sisa absolutisme , kemudian Bolshevisme dan fasisme , dan akhirnya dengan Marxisme yang diperbaruhi dan mengancam menimbulkan peristiwa paling desktruktif berupa perang nuklir . Namun , abad yang dimulai dengan dengan penuh percaya diri berupa kemenangan demokrasi liberal Barat sepertinya justru kembali pada keadaan awalnya , yaiyu kememangan liberalisme ekonomi dan politik . Itulah dunia baru yang diyakini oleh Francis Fukuyama dalam tulisannya yang menggemparkan . Seperti perdebatan “akhir ideologi “ sebelumnya , terdapat unsur paham keunggulan Barat , namun juga ada ada persoalan metodelogis . Fukuyama menegaskan ( mengikuti Hegel dan Marx ) bahwa ada pola dasar dalam evolusi sejarah , bahwa ada keadaan akhir di mana masyarakat menyesuaikan dengan pola dasar kecenderungan manusia yang mencari pengakuan dan kebebasan yang hanya diketemukan dalam masyarakat kapitalisdemokratis-liberal . Watak manusia merupakan salah satu dari tiga kunci yang dilihat Fukuyama sebagai sejarah yang menentukan dan mengantarkan pada kemenangan demokrasi liberal . Tiga faktor tersebut adalah perjungan untuk meraih apa yang disebut pengakuan , logika penguasan atas alam dengan ilmu pengetahuan , dan tidak adanya kontradiksi dalam demokrasi liberal . Amat bermanfaat untuk mengupas yang disebut pertama karena mencerminkan aspek idealis dari analisanya . Ia melihat sebagai penyangkalan terhadap pandangan Marxis – bahwa basis menetukan suprastuktur . Ia menerima gagasan yang yang dapat ditelusuri kembali kepada Seymour Martin Lipset pada 1950-an bahwa pembangunan ekonomi membantu mewujudkan dan mempertahankan demokrasi , namun ia melihat bahwa kemenangan liberalisme berkaiatan dengan ideologi , bukan ekonomi ( Eatweel , 2004 :383 – 386 ). Fukuyama tampak percaya bahwa dunia terus-menerus akan menjadi seperti Amerika , karena semua orang menginginkan kemakmuran dan kebebasan seperti di Amerika Namun dapat dinyatakan bahwa jika orang menginginkan kemakmuran , model yang lebih baik dapat ditemukan di Asia . Jepang adalah superpower ekonomi terbesar dan para tetanggnya di Asia Tenggara telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang paling spektakuler pada tahun –tahun terakhir . Keberhasilan ekonomi yang besar dari negara-negara seperti Korea Selatan , Singapura , Taiwan, dan Hongkong , bukanlah hasil dari demokrasi liberal. Tetapi kombinasi pasar 46
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda bebas dan berbagai tingkat kekuasaan yang otoritarian . ( Lee Kuan Yu , pemimpin Singapura yang berpendidikan Inggris , menyatakan bahwa demokrasi akan merintangi keberhasilan ekonomi di negaranya . Sementara itu , pertumbuhan eekonomi Korea Selatan tampak kiurang spektakuler sejak negara ini mulai bergerak kearah demokrasi tahun 1986 ) Kita juga melihat bahwa Cina sedang mengusahakan model ototarian ini alih-alih model demokrasi liberal . Ada anggapan bahwa salah satu segi keberhasilan ekonomi Asia adalah karena tidak adanya individualisme Barat . Orang bekerja demi kelompok , bukan demi diri-sendiri . Ikatan keluarga dan komunitas jauh lebih kuat . Hal ini terjadi di Jepang , di mana loyalitas kelompok yang kuat telah mengikat pekerja pada perusahaan mereka. Meskipun Jepang secara konsitusionall merupakan negara demokrasi liberal ( yang dipaksakan padanya setelah tahun 1945 ) - sebuah partai tunggal yang dominan telah membawa keberhasilan ekponomi yang luar biasa – dan untuk mencapai ini , Jepang tidak membutuhkan perubahan pemerintahan yang periodil . Lebih lanjut , ekonomi Jepang adalah contoh ekonomi yang dibimbing oleh negara , bukan pasar bebas sebagaimana dalam pikiran Barat . Nilai-nilai komunitas dan loyalitas yang begitu kuat di Asia tidak terjadi di AS . Dalam kelemahan ini , orang-orang Amerika menemukan . dekadensinya , kebusukan moral , kejahatan , obat-obatan terlarang , dan persoalan lain . Keberhasilan ekonomi Timur dan mundurnya ekonomi Barat , dapat meyakinkan orang-orang Asia bahwa demokrasi liberal meniri model Barat , (dengan sikap memperturutkan diri sendiri dan kurangnya disiplin ) , adalah sebuah ideal yang bermasalah . Penolakan terhadap masyarakat Barat yang dekaden yang merupakan satu faktor besar terjadinya gelombang kebangkitan Islam, misalnya , menganggap musik , pakaian dan sikap Barat sebagai hal-hal yang merusak akhlak generasi muda Muslim . Mungkin Islam tidak akan bisa menaklukan dunia , namun ada sekitar satu milyard Muslim ( 20 persen dari penduduk dunia ) yang mungkin menolak Barat dan menemukan alternatif bagi diri sendiri . Ada pula persoalan yang terkait dengan kekosongan spiritual dalam masyarakat Barat yang konsumtif , sebuah persoalan yang juga disinggung oleh Fukuyama . Ia berkata bahwa, persoalan mengisi kekosongan ini sepenuhnya merupakan masalah pribadi ,. Tetapi pernyataan ini hampir sama sekali tidak menjawab persoalan . Orang membutuhkan tujuan bersama, sesuatu yang lebih besar dan tujuan pribadi . Ideologiideologi baru mungkin akan muncul untuk memenuhi kebutuhan itu . Ini mungkin pula berarti munculnya fundamentalisme agama, dan tentu hidupnya kembali ideologi lama atau munculnya ideologi baru . Masyarakat kapitalis memiliki persoalan-persoalan besar yang belum menunjukkan tanda-tanda menghilang , bahkan bertambah buruk . Pasar bebas tentu akan kembali memberi kita pertumbuhan ekonomi pada masa depan , tetapi juga kemerosotan ekonomi yang besar . Kapitalisme pasar besar memiliki sifat yang ganas , sebagaimana terhadi pada abad ke-19 di bawah slogan laisse-faire . Kegagalan pasar bebas telah mendorong 47
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda perkembangan kolektivisme , dan orang Barat harus kembali mengalami akibat dari kegagalan itu. Jika kapitalisme goyah , akan muncul tuntutan pikiran yang baru , dan ideide baru tentu akan lahir . Fukuyama tidak memperhitungkan kreativitas masa depan . Bahkan , dalam peristiwa dunia yang hampir mustahil berubah dalam waktu lama, kita melihat munculnya ide-ide baru dalam waktu yang sangat dekat . Semua jenis perubahaan akan terjadi . Ide tentang akhir dari sejarah mengandung gagasan ideal yang statis . Di dalam ide ini, kapitalisme tidak mungkin bisa menjadi landasannya, karena kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang paling dinamis , paling terbuka terhadap perubahan dan paling efektif mengubah masyarakat . Kapitalisme digerakan oleh perubahan dan akhirnya ia menggerakan perubahan , bahkan dengan langkah yang semakin cepat dan membingungkan . Siapa yang dapat mengatakan titik paling akhir perubahan ekonomi dan sosial jika selalu muncul titik akhir , dan tak seorang pun dapat berkata bahwa perubahan semacam itu tidak akan memberi dampak pada ideologi . Akhirnya , kita mungkin bisa mengatakan sesuatu tentang seluruh usaha Fukuyama .Tesis akhir sejarah jelas merupakan teori gerak maju . . Teori-teori semacam itu sangat ketinggalan zaman . Jika kita melihat pertumpahan darah yang mengerikan selama Perang Dunia I , mimpi buruk Nazi Jerman , dan kemungkinan Perang Dingin , yang semua ini mengarah pada pada pembinaan umat manusia , maka tesis akhir sejarah mungkin tidak mengejutkan . Di sisi lain , ada alsan intelektual yang meragukan teori sejarah semacam itu yang dikesampingkan oleh Fukuyama . Ide tentang progress terkait dengan nilai . Jika kita melakukan gerak maju , ini berarti kita sedang bergerak kearah hal-hal yang kita anggap baik yang akan melepaskan kita dari hal-hal yang kita anggap buruk. Tetapi tentu , orang memiliki nilai yang berbeda-beda Sebagaimana telah kita lihat , ada orang yang menganggap ideal Fukuyama tentang Amerika sebagai ideal yang hanya memperturutkan diri sendiri , penuh dekadensi dan immoralitas . Yang lain melihat Amerika sebagai simbol berakhirnya nilai-nilai beradab , kubangan budaya massa yang berangka paling rendah . Yang lain lagi menyatakan, Amerika adalah kubu kapitalisme yang merupakan perintang besar kemajuan umat manusia . Memang , beberapa orang percaya bahwa sejarah adalah kebalikan dari gerak maju . Lebih lanjut , orang selalu menafsirkan dunia menurut ide-idenya sendiri . Kaum fundamentalis Kristen , melihat peritiwa-peristiwa muthakir sebagai bukti jelas kebenaran ramalan Bibel tentang akan berakhirnya dunia . Seorang yang percaya bahwa di dalam jiwa manusia ada “harapan kematian “, maka orang itu akan menemukan banyak bukti dari kepercayaan ini dalam berita sehari-hari . Pembacaan selektif terhadap sejarah dan peristiwa muthahir akan memberi bukti tentang sejumlah teori yang tak terbtas yang sebaliknya . Semua bergantung pada keyakinan dan kepercayaan orang . Meskipun kita percaya , seperti Fukuyama, bahwa segalanya secara umum akan menjadi lebih baik , tidak ada lasan untuk menudga , sebagaimana dilakukan oleh Fukuyama , bahwa segala sesuatunya pasti akan lebih baik bahwa ada suatu mekanisme yang akan 48
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda menjamin dalam jangka panjang akan terciptanya dunia yang paling mungkin untuk ditinggali orang . Kita mungkin terus memperbaiki sains dan teknologi kita, tetapi iti tidak berarti bahwa masyarakat dan perilaku sosial juga akan mengalami perbaikan, atau bahwa kita akan menggunakan penemuan kita sebaik mungkin . Memang ada beberapa orang yang menyatakan bahwa sains tidaklah maju . . Thomas Kuhn yang memperlajari sejarah ilmiah , menyatakan bahwa setiap teori ilmiah besar bukanlah perbaikan atas teori-teori sebelumnya , melainkan sekedar sudut pandang yang berbeda . Akhirnya kepercayaan kita pada gerak maju ilmiah adalah sebuah ilusi . Aklhir-akhir ini muncul sebuah teori modern yang berpengaruh , yang dikenal sebagai postmodernisme . Teori ini mengklaim bahwa ada berbagai sudut pandang dunia yang berbeda , historis , ilmiah , religius , dan praktis , yang masing-masing memiliki kebenarannya sendiri , dan kita betul-betul tidak memiliki alat penilai untuk menentukan mana yang benar-dan mana yang salah . Jika aliran posmodernis benar , maka teori-teori besar sejarah dari Kuhn tidak akan memiliki arti , apalagi teori Fukuyama . Yang lebih penting , aliran postmodernis mempersoalkan apa yang mereka sebut “ proyek modernis :. Adalah kepercayaan bahwa akal manusia dapat menguasai realitas dan dengan pengetahuan itu, dapat menciptakan dunia yang lebih rasional . Semua kebenaran adalah relatif , dan ini tidak hanya berlaku bagi periode sejarah dan kultur orang yang berbeda , tetapi juga berlaku bagi berbagai teori , agama, pandangan , gaya, bahkan ideologi-ideologi yang berbeda .( Adams, 2004 : 465 – 471 ) Berbeda dengan Francis Fukuyama , dalam bahasan Anthony Giddens tentang sosialisme ( kiri) dan kapitalisme ( kanan ) tidak sepenuhnya mencerminkan adanya antagonisme tajam . Giddens dapat memahami keprihatinan kaum kiri mengenai masalah ketidaksamaan , dan pentingnya peran negara untuk mengatasi masalah ini . Tetapi Giddens tidak percaya bahwa perubahan kearah masyarakat yang lebih adil dapat dicapai dengan meninggalkan peran negara . Dia menunjukkan bukti empiris yang jelas dalam gagalnya rezim komunis di Uni Soviet , Eropa Timur , bahkan juga RRC . Sosialisme di Eropa Barat dalam wujud demokrasi sosial sama saja . . Kendati demikian . Giddens tidak sepenuhnya dapat memeluk paham kapitalisme yang menjelma dalam neoliberalisme . Ia memperlihatkan antipatinya terhadap masa pemerintahan Margaret Thatcher ( 1979 – 1990 ) yang menurut pendapatnya menyengsarakan mayoritas rakyat kecil . Namun Giddens melihat dinamisme yang tersimpan dalam kapitalisme itu . Di situ manusia didorong untuk kompetitif , untuk efisien , dan untuk tidak bermalas-malasan . Bagi Giddens Kiri dan Kanan secara sendirri-sendiri tidak mungkin menyelesaikan persoalan dunia saat ini . Masing–masing – dalam bentuknya yang ekstrem – terlalu optimis dalam melihat persoalan sosial karena keduanya masih berakar dalam proyek Pencerahan . Padahal dunia pada tahap radicalized modernity tidak demikian halnya Maka tawaran Jalan Ketiga tidak boleh ditafsirkan sebagai sekedar pilihan antara sosialisme atau kapitalisme , antara negara dan pasar . Jalan Ketiga yang ditawarkan oleh 49
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Giddens memang jalan untuk keluar dari pembelahan kiri dan kanan yang naïf , tetapi lebih dari itu , suatu jalan untuk meredakan ketegangan antara high consequence risk dan ontological security .( Giddens , 2000 : 1 – 30 ) Jika kita memiliki konsep yang netral ( yang mencakup semua jenis kepercyaan politik tentang bagaimana bentuk masyarakat yang harus kita tempati dan bagaimana mencapai masyarakat ini ) maka, kita memiliki alasan untuk menduga bahwa akhir ideologi sama sekali tidak mungkin . Semua jenis kepercayaan politik tidak akan pernah mencukupi sebagai kontruksi intelektual . Apapun konflik dan bahaya yang ditimbulkannya , kita tampaknya membutuhkan jenis kepercayaan ini . Semua jenis kepercayaan merupakan aspirasi kita untuk memecahkan masalah umat manusia dan menjalankan kehidupan yang lebih baik . Semua jenis kepercayaan membantu memenuhi kebutuhan ( yang dirasakan secara luas ) akan kepercyaan pada sesuatu yang lebih besar daripada kita , menawarkan nilai-nilai bersama yang dibutuhkan setiap komunitas Dengan demikian , semua jenis kepercayaan membantu kita menentukan identitas dan tempat kita di dunia . Mungkin secara perlahan-lahan , sebuah ideologi akan menang , atau setidak-tidaknya menang untuk jangka waktu lama, meskipun keadaannya tidak mesti demikian . Jika sebuah ideologi akhirnya menang , ia mungkin merupakan ideologi yang paling memuaskan bagi kebanyakan orang . Tetapi kemungkinan untuk mencapai hal ini membutuhkan jalan yang sangat panjang . Untuk sementara waktu , kita masih akan berada dalam dunia konflik ideologi , di mana pelbagai kepercayaan masih akan bertarung untuk mendapat pengikut . Dengan kata lain , kita masih hidup dalam zaman Revolusi Perancis .

50
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Bibliografi Adams, Ian . 2004 . Ideologi Politik Mutakhir . Konsep, Ragam , Kritik , dan Masa Depannya. Yogyakarta : Qalam . Althusser . Louis . Tentang Ideologi . Marxisme Strukturalis , Psikoanalisis , Cultural Studies .Yogyakarta : Jalasutra . Bachtiar , Harsja W . 1976 . Percakapan dengan Sidney Hook . Jakarta :Penerbit Djam batan . Bartley , Robert et.al.1994 . Demokrasi & Kapitalisme . Perspektif Asia dan Amerika . Jakarta : CIDES. Berger, Peter L . 1982 . Piramida Kurban Manusia . Etika Politik dan Perubahan Sosial . Jakarta : LP3ES . 1990 . Revolusi Kapitalis . Jakarta : LP3ES . Budiardjo, Miriam (ed) . 1984 . Simposium Kapitalisme, Sosialisme , Demokrasi . Jakar ta . PT Gramedia . Cahyono , Cheppy Hari .1986 . Ideologi Politik . Yogyakarta : PT Hanindita . Dahrendorf , Ralf .1992 Refleksi Atas Revolusi di Eropa .Jakarta :PT Gramedia Pustaka Utama . Eatwell , Roger dan Anthony Wright .2004 . Ideologi Politik Kontemporer . Yogyakarta Jendela . Fukuyama, Francis . 2001 . Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal .Yogya karta : Qalam . Giddens , Anthony .2000. The Third Way . Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama . Habib, A Hasnan . “ Makna Perkembangan di Uni Soviet dan Eropa Timur bagi Hubung an Internasional ,” dalam Dwi Susanto dan Zainuddin Djafar (ed) . 1990 .Perubahan Politik di Negara-negara Eropah . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama . Huntington, Samuel P . 1997 . Gelombang Demokratisasi Ketiga . Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti . Jones, Walter S . 1992. Logika Hubungan Internasional . Persepsi Nasional . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama . Keraf , Sony . 1987 . Pragmatisme . Menurut William James . Togyakarta : Kanisius . 51
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Kleden , Paskal. 2005 . Menuju Tengah Baru . Labour Party Inggris dan SOD Jerman di Bawah Tekanan Neoliberalisme . Yogyakarta Pustaka Pelajar . Lesmana , Tjipta . 1992 . Runtuhnya Kekuasaan Komunis .Jakarta.Erwin – Rika Press. Nuswantoro.2001 .Daniel Bell . Matinya Ideologi . Magelang : Indonesiatera . Purcell , Hugh . Fasisme . Yogyakarta : Insist Press . Rahardjo, M Dawam . 1987 . Kapitalisme . Dulu dan Sekarang . Jakarta : LP3ES . Sastrapratedja. M et.al. 1986 . Menguak Mitos-Mitos Pembangunan . Telaah Etis dan Kritis , Jakarta : Gramedia . Snyder, Jack . 2003 . Dari Pemungutan Suara Ke Pertumpahan Darah . Demokratisasi dan Konflik Nasionalis .Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia . Sudarmanto, JB. 1987 . Agama dan Ideologi . Yogyakarta : Kanisius . Sukarna . 1981 . Ideologi . Suatu Studi Ilmu Politik . Bandung : Alumni . Suseno , Franz Magnis . 1992 . Filsafat sebagai Ilmu Kritis Yogyakarta : Kanisius . Suseno, Franz Magnis . 1999 . Karl Marx . Dari SosialismeUtopis ke Perselisihan Revisi sionisme . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama . Takwin , Bagus . 2003 . Akar-akar Ideologi . Yogyakarta : Jalasutra. Tudor , Henry . 1984 . Mitos dan Ideologi Politik . Konsep-konsep Kunci . Jakarta. PT Sangkala Pulsar . Zon, Fadli .2002 . Gerakan Etnonasionalis . Bubarnya Imperium Uni Soviet .Jakarta : Sinar Harapan .

52
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->