P. 1
Mencari Model Pembangunan

Mencari Model Pembangunan

|Views: 870|Likes:
Published by Peter Kasenda
Mengapa kita mengacaukan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi? Tentu saja orang akan sukar mengatakan bahwa situasi yang dilukiskan oleh seperangkat proyeksi-proyeksi itu lebih disukai daripada yang diperlihatkan oleh seperangkat lainnya, hanya karena yang pertama mencakup pendapatan per kapita yang lebih tinggi. Bagaimanapun, dalam pengertian apa Afrika Selatan lebih maju daripada Ghana, atau Kuwait daripada Republik Emirat Arab, atau Amerika Serikat daripada Swedia?

Salah satu penjelasan adalah pendapat nasional adalah suatu indikator yang paling mudah dan enak dipergunakan. Para politisi menemukan sebuah ukuran komprehensif itu berguna, khususnya yang paling sedikit satu tahun terlambat. Para ekonom dilengkapi dengan sebuah variabel yang dapat dikuantifikasi dan gerakan-gerakan di dalamnya dapat dianalisis menjadi perubahan-perubahan dalam output sektoral, besarnya faktor atau kategori-kategori pengeluaran, membuat konstruksi model menjadi mungkin.

Kita dapat, tentunya, kembali pada dalam dugaan dalam peningkatan pendapatan nasional, bila cukup cepat, cepat atau lambat mengarah pada pemecahan masalah-masalah sosial dan politik. Tetapi pengalaman pada dekade terakhir ini membuat kepercayaan ini tampak agak naïf. Krisis sosial dan pergolakan-pergolakan politik muncul di negara-negara dalam setiap tahapan pembangunan. Lebih daripada itu, kita dapat melihat bahwa hal ini menimpa negara-negara yang memiliki peningkatan pendapatan per kapita yang cepat, juga negara-negara dengan ekonomi yang mandek. Pada kenyatannya, terlihat seakan-akan pertumbuhan ekonomi tidak hanya bisa gagal memecahkan kesulitan-kesulitan sosial dan politik; tipe-tipe tertentu pertumbuhan dapat menyebabkan kesulitan-kesulitan itu terjadi.
Mengapa kita mengacaukan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi? Tentu saja orang akan sukar mengatakan bahwa situasi yang dilukiskan oleh seperangkat proyeksi-proyeksi itu lebih disukai daripada yang diperlihatkan oleh seperangkat lainnya, hanya karena yang pertama mencakup pendapatan per kapita yang lebih tinggi. Bagaimanapun, dalam pengertian apa Afrika Selatan lebih maju daripada Ghana, atau Kuwait daripada Republik Emirat Arab, atau Amerika Serikat daripada Swedia?

Salah satu penjelasan adalah pendapat nasional adalah suatu indikator yang paling mudah dan enak dipergunakan. Para politisi menemukan sebuah ukuran komprehensif itu berguna, khususnya yang paling sedikit satu tahun terlambat. Para ekonom dilengkapi dengan sebuah variabel yang dapat dikuantifikasi dan gerakan-gerakan di dalamnya dapat dianalisis menjadi perubahan-perubahan dalam output sektoral, besarnya faktor atau kategori-kategori pengeluaran, membuat konstruksi model menjadi mungkin.

Kita dapat, tentunya, kembali pada dalam dugaan dalam peningkatan pendapatan nasional, bila cukup cepat, cepat atau lambat mengarah pada pemecahan masalah-masalah sosial dan politik. Tetapi pengalaman pada dekade terakhir ini membuat kepercayaan ini tampak agak naïf. Krisis sosial dan pergolakan-pergolakan politik muncul di negara-negara dalam setiap tahapan pembangunan. Lebih daripada itu, kita dapat melihat bahwa hal ini menimpa negara-negara yang memiliki peningkatan pendapatan per kapita yang cepat, juga negara-negara dengan ekonomi yang mandek. Pada kenyatannya, terlihat seakan-akan pertumbuhan ekonomi tidak hanya bisa gagal memecahkan kesulitan-kesulitan sosial dan politik; tipe-tipe tertentu pertumbuhan dapat menyebabkan kesulitan-kesulitan itu terjadi.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Mencari Model Pembangunan

Bagi mereka yang kebebasan merupakan cita cita yang masih samar-samar dan bagi mereka yang cukup beruntung memilikinya,perubahan besar ini menghadirkan masalah baru dan juga peluang baru serta harapan baru (Soedjatmoko)

Mengapa kita mengacaukan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi? Tentu saja orang akan sukar mengatakan bahwa situasi yang dilukiskan oleh seperangkat proyeksiproyeksi itu lebih disukai daripada yang diperlihatkan oleh seperangkat lainnya, hanya karena yang pertama mencakup pendapatan per kapita yang lebih tinggi. Bagaimanapun, dalam pengertian apa Afrika Selatan lebih maju daripada Ghana, atau Kuwait daripada Republik Emirat Arab, atau Amerika Serikat daripada Swedia? Salah satu penjelasan adalah pendapat nasional adalah suatu indikator yang paling mudah dan enak dipergunakan. Para politisi menemukan sebuah ukuran komprehensif itu berguna, khususnya yang paling sedikit satu tahun terlambat. Para ekonom dilengkapi dengan sebuah variabel yang dapat dikuantifikasi dan gerakan-gerakan di dalamnya dapat dianalisis menjadi perubahan-perubahan dalam output sektoral, besarnya faktor atau kategori-kategori pengeluaran, membuat konstruksi model menjadi mungkin. Kita dapat, tentunya, kembali pada dalam dugaan dalam peningkatan pendapatan nasional, bila cukup cepat, cepat atau lambat mengarah pada pemecahan masalahmasalah sosial dan politik. Tetapi pengalaman pada dekade terakhir ini membuat kepercayaan ini tampak agak naïf. Krisis sosial dan pergolakan-pergolakan politik muncul di negara-negara dalam setiap tahapan pembangunan. Lebih daripada itu, kita dapat melihat bahwa hal ini menimpa negara-negara yang memiliki peningkatan pendapatan per kapita yang cepat, juga negara-negara dengan ekonomi yang mandek. Pada kenyatannya, terlihat seakan-akan pertumbuhan ekonomi tidak hanya bisa gagal memecahkan kesulitan-kesulitan sosial dan politik; tipe-tipe tertentu pertumbuhan dapat menyebabkan kesulitan-kesulitan itu terjadi. Sekarang ketika kompleksitas masalah-masalah pembangunan menjadi semakin jelas, terus berkeras hanya menggunakan sebuah indikator agregatif saja, walaupun bukti menunjukkan lain, menunjukkan adanya kekeliruan. Yaitu tampak sebagai sikap yang lebih suka menghindari masalah-masalah riil dalam pembangunan.

1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Definisi Pembangunan Dalam mendiskusikan tantangan yang kita hadapi sekarang, kita harus melenyapkan kabut yang mengelilingi kata “pembangunan” dan menentukan secara lebih tepat, apa yang kita maksud dengan pembangunan tersebut. Hanya dengan demikian kita dapat menemukan target-target atau indikator-indikator yang berarti, sehingga memperbaiki kebijaksanaan nasional dan internasional. Titik nilainya adalah bahwa kita tidak dapat menghindari apa yang diremehkan para positivis sebutan pertimbangan nilai. Pembangunan pasti merupakan suatu konsep normatif, hampir merupakan suatu sinonim dengan peningkatan. Pandangan sebaliknya justru menyembunyikan suatu pertimbangan nilai seseorang. Tetapi dari mana pertimbangan-pertimbangan ini diambil? Jawaban konvensional, yang oleh Tingerben diterima untuk sistem perencanan ekonominya adalah dengan memakai nilai-nilai yang dipakai oleh pemerintah. Pemerintah sudah semestinya mempunyai suatu pandangan yang agak berjangka pendek, dalam beberapa hal yang sangat sering sekali tidak memperhitungkan masa depan. Lebih serius lagi, beberapa pemerintah itu sendiri adalah hambatan utama bagi pembangunan, menurut berbagai definisi yang masuk akal, dan bila hal ini diakui, di mana seseorang memperoleh tolok ukur yang dengannya sasaran dan tujuan pemerintah dinilai? Meskipun misalnya pemerintahan tersebut mewakili secara memadai. Dalam beberapa segi, sikap-sikap kerakyatan, pemerintah ini endogen (berada di dalam) bagi proses pembangunan dan karena itu dapat memberikan sebuah alat untuk menilai pembangunan tersebut. Suatu pendekatan lain adalah meniru langkah-langkah pembangunan negara-negara lain, yang secara implisit berarti menetapkan kondisi-kondisi negara-negara tersebut dewasa ini sebagai tujuan. Inilah yang sedang dilakukan para pembangunan model ketika mengambil koefisien–koefisien dari sebuah analisis silang internasional, atau dari fungsifungsi yang cocok dengan pengalaman sebuah negara industri. Namun hanya sedikit, bila memang ada, negara–negara kaya yang nampak pada dunia luar sebagai model-model yang diinginkan. Beberapa aspek seperti tingkat konsumsi mereka, tampaknya membuat iri, tetapi hal ini berhubungan, mungkin tidak dapat dipisahkan, dengan keburukankeburukan seperti permukiman kumuh di kota-kota, tekanan perikanan, pencemaran dan ketegangan kronik. Di samping itu, sama sekali tidak jelas atau bahkan tidak mungkin bagian sisa dunia lainnnya dapat mengikuti jalan sejarah negara-negara industri, meskipun mereka menginginkannya. Bila nilai-nilai tidak dapat ditemukan dalam politik dan sejarah, apakah ini berarti bahwa masing-masing kita dibiarkan untuk mengadopsi seperangkat nilai kita sendiri? Untung cara demikian tidak perlu. Tentu saja nilai-nilai yang kita butuhkan terbentang di depan kita, segera setelah kita bertanya pada diri kita, syarat-syarat apa yang diperlukan bagi suatu tujuan yang bisa diterima secara universal, yaitu realisasi potensi kepribadian manusia. Bila kita bertanya apa kebutuhan yang absolut untuk ini, satu jawaban yang jelas adalah cukupnya makanan. Di bawah tingkat tertentu nutrisi (gizi), seorang manusia kekurangan 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda tidak hanya energi yang diperlukan badan dan kesehatan yang baik, tetapi juga minimal pada hal-hal lainnya di samping makanan. Dia tidak dapat meningkatkan eksistensinya secara berarti di atas eksistensi seekor binatang. Bila seseorang mempunyai keraguan pada keutamaan makanan, mereka sebaiknya bercermin pada implikasi-implikasi penelitian baru-baru ini, yang memperlihatkan bahwa bila anak-anak tidak memperoleh gizi yang cukup, akibatnya yang menyebabkan kerusakan permanen tidak hanya pada tubuh, tetapi juga pada otak. Sejak bahan-bahan makanan mempunyai harga, di negara mana pun, kriteria itu dapat dinyatakan dalam bentuk tingkat-tingkat pendapatan. Hal ini memungkinkan negara itu juga memperhitungkan beberapa persyaratan minimum lainnya. Masyarakat tidak pernah mengeluarkan seluruh uangnya (atau energinya) untuk makanan, bagaimanapun miskinnya mereka Untuk mencukupi makanan seseorang, pendapatannya harus juga melebihi kebutuhan dasar pakaian, sepatu, dan perumahan. Tetapi saya tidak berbicara tentang kebutuhan konsumsi dalam arti umum; saya berbicara tentang kemampuan untuk membeli kebutuhan fisik. Ada yang mendukung suatu konsep kemiskinan relatif, yang menyatakan bahwa pada masyarakat mana pun, orang dikatakan miskin bila mereka tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan terbiasa dalam masyarakat tersebut. Kegiatan-kegiatan dan kebiasaan-kebisaan itu harus diuraikan secara empiris. Selain makanan dan kebiasaan pakaian, kondisi itu termasuk, misalnya di Inggris, seperti pesta ulang tahun untuk anakanak, liburan musim semi, jalan-jalan di senja hari. Konsep kemiskinan sebagai keterampasan sosial ini mengandung arti bahwa standar kemiskinan akan meningkat dengan kesamaan dengan membaiknya kondisi kehidupan, dan bahwa tentu saja kemiskinan tidak akan pernah lenyap, kecuali barangkali melalui distribusi pendapatan secara sangat merata. Tetapi memiliki seseorang anak yang kekurangan gizi yang ditakdirkan untuk menderita secara fisik dan mental selama hidupnya atau tidak mampu membiayai tranfusi darah untuk menyelamatkan kehidupan seorang istri adalah tentu saja sebuah kemiskinan yang berbeda dengan ketidakmampuan untuk membelikan kue-kue untuk sebuah pesta anak-anak atau membawa istri menonton film. Apa yang saya tegaskan bahwa di bawah tingkatan yang seseorang manusia dalam arti tertentu mampu menyediakan cukup makanan untuk keluarganya, batas kemanfataan pendapat adalah jauh lebih besar daripada batas kemanfaatan pendapatan yang berada di atas tingkat tersebut. Tentu saja hal ini merupakan bentuk pandangan kuno dan hal ini memunculkan beberapa masalah konsep serta ukuran yang akan saya bahas lagi nanti. Tetapi di mana saja terdapat kemiskinan serius, suatu pendekatan yang normatif terhadap pembangunan, yang telah saya tekankan sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari, mengisyaratkan adanya fungsi kemanfaatan bentuk umum ini. Suatu kebutuhan dasar lain, dalam pengertian sesuatu yang tanpa itu kepribadian tidak dapat berkembang adalah pekerjaan. Ini tidak harus berarti suatu pekerjaan yang memperoleh bayaran bisa termasuk belajar, bekerja pada masa tanah pertanian keluarga, atau merawat rumah. Tetapi tidak melakukan satupun dari peranan yang diterima ini, 3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda sebagai misal, tergantung secara kronis pada kemampuan produksi orang lain, bahkan untuk makanan, adalah tidak cocok dengan harga diri seseorang dewasa yang tidak pikun, terutama seseorang yang lebih menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah, mungkin juga di universitas, mempersiapkan diri untuk hidup aktif secara ekonomis. Adalah benar bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah berhubungan dalam berbagai hal dengan pendapatan. Tetapi bahkan suatu peningkatan cepat dalam pendapatan per kapita saja jauh dari cukup sebagai terlihat dalam pengalaman berbagai perekonomian, guna mengurangi kemiskinan atau pengangguran. Dalam kenyataannya, beberapa proses tertentu pertumbuhan dapat secara mudah diikuti oleh, dalam arti tertentu malahan menyebabkan, bertambahnya pengangguran. Hubungan langsung antara pendapatan per kapita dan jumlah orang yang berada dalam kemiskinan adalah distribusi pendapatan. Suatu kebenaran yang tidak dapat dibantah bahwa kemiskinan akan lenyap jauh lebih cepat bila setiap tingkat pertumbuhan ekonomi diikuti dengan usaha penurunan konsentrasi pendapatan. Pemerataan harus, bagaimanapun, menurut hemat saya, dianggap sebagai suatu tujuan itu sendiri, yaitu unsur ketiga dalam pembangunan. Ketimpangan yang ada sekarang, terutama di Dunia Ketiga dengan kemiskinan rakyatnya, bertentangan dengan standar etis dan religi apa pun. Hambatan-hambatan dan halangan-halangan sosial dalam masyarakat yang timpang merusak kepribadian mereka yang berpendapatan tinggi, seperti juga pada mereka yang miskin. Perbedaan-perbedaan sepele dalam aksen, bahasa, pakaian, kebiasaan, dan lainnya. Memperoleh suatu arti penting yang tidak masuk akal dan penghinaan ditimpakan pada mereka yang kurang memiliki santun sosial, terutama penduduk pedesaan. Karena ras bisanya berkorelasi sangat tinggi dengan pendapatan, ketimpangan ekonomi merupakan sebab utama ketegangan-ketegangan rasial. Lebih serius lagi, ketimpangan pendapatan berhubungan dengan ketimpangan lain, terutama di bidang pendidikan dan kekuasaan politik yang memperkuat ketimpangan itu. Pertanyaan yang layak dilakukan tentang pembangunan suatu negara dengan demikian adalah apa yang terjadi pada kemiskinan? Apa yang terjadi pada pengangguran? Apa yang terjadi pada ketimpangan? Bila ketiganya ini telah menjadi berkurang sekali, maka tidak dapat dibantah bahwa negara tersebut telah mengalami periode pembangunan. Bila satu atau dua dari masalah utama ini menjadi lebih buruk, adalah aneh jika disebut sebagai hasil pembangunan, meskipun pendapatan per kapita telah membumbung tinggi. Hal ini, tentu saja berlaku juga bagi masa depan. Suatu rencana yang tidak mencakup target untuk mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sangat sulit untuk dianggap sebagai suatu perencanaan pembangunan. Tentu saja, pemenuhan potensi manusia yang sebenarnya menuntut banyak hal yang tidak dapat dirinci dalam kerangka-kerangka ini. Saya tidak dapat menjelaskan semua pertanyaan lainnya, tetapi uraian ini akan sangat tidak seimbang bila saya sama sekali tidak menyebut semua hal itu. Hal-hal ini termasuk tingkat-tingkat pendidikan yang cukup (terutama tingkat melek huruf), partisipasi dalam pemerintahan menjadi warga suatu bangsa yang betul-betul merdeka, baik secara ekonomi maupun dalam arti bahwa 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pandangan-padangan dari pemerintahan lainnya tidak banyak menentukan keputusankeputusan pemerintahan sendiri. Selagi kekurangan makanan, pengangguran, dan ketimpangan berkurang, maka tujuantujuan pendidikan dan politik menjadi sasaran–sasaran yang makin penting dari pembangunan. Akhirnya, bahkan kebebasan dari undang-undang seksual yang represif, dari kebisingan dan polusi, menjadi tujuan-tujuan utama. Tetapi ini tidak mengesampingkan prioritas-prioritas dasar ekonomi, paling sedikit buat negara-negara yang benar-benar miskin, dengan jumlah besar anak-anak yang kekurangan makanan. Suatu pemerintahan sangat sukar untuk mengklaim bahwa negara sedang membangun hanya karena sistem pendidikannya sedang diperluas atau tatanan politiknya sedang dibangun, atau batasan ditetapkan untuk kebisingan mesin, bila kelaparan, pengangguran dan ketimpangan masih cukup besar dan bertambah, atau meskipun masalah-masalah itu tidak berkurang. Bahkan orang akan menyangsikan kelayakan tatanan politik dalam keadaan ini, bila kita tidak menganggap pernyataan bahwa yang utama (prima facie) mendahulukan masalah-masalah pendidikan, politik, dan polusi sebagai jawaban yang agak mencurigakan, sebaliknya pola-pola politik tertentu mungkin tidak cocok dengan pembangunan. Sebelum meninggalkan isu ini, saya harus menegaskan bahwa pendapatan nasional bukannya sama sekali kurang berarti, hanya karena ia mempunyai suatu indikator yang tidak cocok bagi pembangunan. Ia mempunyai beberapa arti penting sebagai suatu ukuran potensi pembangunan. Katakanlah dua buah negara memulai suatu dasawarsa dengan pendapatan per kapita sama, dan yang satu berkembang lebih cepat dari yang lain setelah sepuluh tahun, tetapi peningkatan pendapatan bagi yang tersebut pertama semuanya lari kepada yang kaya dan karena pertumbuhan terjadi melalui teknik-teknik yang sangat padat modal, maka tingkat pengangguran tetap tidak berubah. Sementara itu, pertumbuhan negara yang satunya lagi berjalan lambat, tetapi telah menghasilkan pengangguran yang lebih rendah dan dengan demikian menguntungkan kelas yang termiskin. Dengan demikian, meskipun negara dengan pertumbuhan yang lebih cepat, menurut kriteria saya, membangun lebih sedikit, dalam kenyataannya tidak berkembang sama sekali–ia telah mencapai potensi yang lebih besar untuk pembangunan nantinya—. Pertama-tama, sistem fiskal dapat mendorong pembangunan lebih cepat bila semakin besar pendapatan yang tersedia untuk diteruskan kepada yang miskin. Lebih dari itu, suatu pertumbuhan cepat mengandung suatu kemampuan menambung yang lebih besar, yang dengan mudah dapat berarti pembangunan sesungguhnya di masa datang. Bahkan negara yang berkembang cepat mungkin sudah mempunyai tingkat investasi per kapita yang lebih tinggi, bila investasi ini diperuntukan proyek-proyek pertanian yang akan meningkatkan produksi pangan dan menyediakan lebih banyak kesempatan kerja untuk pekerja pedesaan, atau diperuntukkan sekolah-sekolah pedesaan, maka pembangunan sejati telah terbayang untuk masa depan. Dalam titik pandangan jangka panjang, pertumbuhan ekonomi bagi sebuah sebuah negara miskin merupakan suatu syarat yang penting untuk mengurangi kemiskinan. Tetapi syarat ini saja belum cukup. Melancarkan potensi pembangunan agar dapat mencapai tingkat 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pertumbuhan ekonomi yang tinggi tergantung pada kebijaksanaan. Sebuah negara yang pertumbuhan ekonominya lambat atau kecil mungkin sedang sibuk dengan pembentukan kembali lembaga-lembaga politik sehingga, ketika pertumbuhan datang, ini akan berarti pembangunan, negara seperti itu dapat berkembang lebih cepat dalam jangka panjang daripada negara yang sekarang menikmati pertumbuhan cepat, tetapi dengan kekuasaan politik yang sepenuhnya tetap berada pada tangan-tangan minoritas orang kaya. Adalah sangat menarik, membandingkan sebagai contoh, apa yang terjadi di Kuba dengan Brazil dalam bagian akhir abad ini. (Seers, 1999: 108–113) Manusia dalam Pembangunan Perkembangan selalu terkait pada dan berhubungan dengan manusia. Peningkatan kemakmuran dapat diartikan sebagai tersedianya perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, adanya mesin-mesin pabrik, serta sarana komunikasi yang membuat hidup mereka lebih produktif dan baik. Namun dalam konteks keseluruhan, itu semua bersifat intermedier, artinya hanya bernilai sepanjang merupakan fungsi bagi manusia. Pembangunan selalu menunjukan pada manusia; ia adalah subjek pembangunan. Hal itu berarti bahwa di satu pihak manusia adalah pelaksana, di lain pihak ia adalah tujuan pembangunan. Suatu pembangunan akhirnya tidak akan berhasil kalau tidak memperhatikan para manusia pelakunya. Sebab pada merekalah pembangunan benar-benar mempunyai akar yang kuat. Produksi hanya dapat dihasilkan dan dapat diberikan secara kontinu, sepanjang manusia sanggup melaksanakannya. Sebab itu, pembangunan secara struktural melaksanakannya. Pembangunan secara struktural berarti membangun manusia pembangunan. Sebagai pelaksana, manusia harus disesuaikan dengan perencanaan pembangunan. Ini berarti, harus ada sinkronisasi dalam penyediaan tenaga kerja dan tenaga ahli berdasarkan perhitungan kedudukan; diadakan penyesuaian pendidikan kejuruan serta lokasinya secara efisien dan optimal. Dengan demikian, terlihatlah serta diletakkan dalam peta pembangunan. Di sinilah terlihat aspek determinasi yang mau tak mau harus diterima sebagai komitmen. Namun suatu keterkaitan yang tidak beku. Manusia bukanlah mesin yang berjalan secara mekanistis, melainkan pribadi yang bekerja berdasar orientasi dan motivasi. Orinetasi memberikan pengertian global tentang masalah yang sedang dihadapi. Dengan orientasi, orang dapat membedakan yang mana alat, sarana, dan tujuan pembangunan, selanjutnya membuat perencanaan pembangunan serta melaksanakannya. Sebab itu, untuk keperluan-keperluan tersebut, harus diusahakan agar para pelaksana benar-benar mempunyai kemampuan ilmiah untuk menjalan tugas mereka dengan baik dan tepat. Sebab mereka bukanlah sekedar manusia-manusia consumers, tetapi terutama produsen yang harus memberikan pemikiran-pemikiran ilmiah serta konsep-konsep pembaharuan mereka untuk kepentingan pembangunan. Membentuk dan mendidik pelaksana-pelaksana menjadi manusia pembangunan yang cakap adalah suatu modal besar, human investment yang dapat menjamin kesinambungan pembangunan untuk masa depan. Kecuali itu, dalam pembangunan, orang harus realistis untuk menyusun suatu perencanaan, dan untuk itu orang harus realistis pula melihat dalam problematika yang ada. Adalah syarat mutlak bagi masyarakat yang ingin membangun untuk berani melihat 6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dan menerima kenyataan seperti apa adanya, biar pahit sekali pun. Menutupi atau menyangkal kenyataan sebagai masalah berarti menghambat proses pembangunan itu sendiri. Demikian pula, pelaksana hanya akan melaksanakan pembangunan, apabila ia melihat nilai-nilai yang dijadikan motif perbuatannya. Sebab motivasilah yang dapat memberikan semangat dan arti pada suatu perbuatan. Oleh karena itulah, perlulah diteliti manakah nilai-nilai yang harus dihidupkan serta digalakkan dalam masyarakat untuk dijadikan motivasi pembangunan. Kalau alat hanya menjadi sarana, modal asing tidak lain hanya pelengkap, manakah nilai-nilai pembangunan yang dituju serta dilengkapi itu? Kekurangan partisipasi dalam lapisan masyarakat tidak hanya disebabkan karena tidak adanya orientasi, tetapi terutama karena mereka merasa tidak didorong untuk diajak membangun. Sikap masa bodoh terhadap pembangiunan bisa timbul dalam masyarakat, karena mereka justru melihat motivasi-motivasi yang menyimpang dalam inti pembangunan. Hal ini bisa terjadi karena motivasi individual tidak diintegrasikan dalam sistem kemasyarakatan yang ada. Jadi, supaya pembangunan dapat berhasil, harus diberikan perhatian khusus pada pelaksana-pelaksananya sebagai human investement. Memperhatikan pelaksanapelaksana pembangunan berarti memberikan orientasi dan menghidupkan motivasi yang tepat dan benar untuk pembangunan. Orientasi dan motivasi menjamin berlangsungnya pembangunan. Walaupun pelaksanannya meliputi beberapa generasi alih berganti, namun motivasi tetap memberikan semangat, dorongan, serta daya pembaruannya. Ketekunan untuk membangun hanya dimiliki apabila pelaksanannya benar-benar sadar akan arti serta manfaat pembangunan, dan berdasarkan kesadaran itu menentukan sikap yang positif terhadapnya. Jadi, pembangunan secara langsung berarti juga memumpuk dan membina mentalitas dan sikap bangsa ke arah pembangunan. Manusia bukan hanya pelaksana, melainkan terutama tujuan pembangunan. Justru di sinilah letak perbedaan orientasi kita dengan pandangan komunis yang totaliter. Manusia bukan sekedar sejumlah relasi sosial, dan karena itu tidak dapat dinilai semata-mata sebagai faktor dalam masyarakat. Manusia hidup dalam historitas, namun itu tidak berarti bahwa eksistensinya ditentukan dan tergantung sama sekali pada sejarah. Manusia adalah pribadi. Oleh karena itu, ia merupakan panggilan, Aufgabe, yang harus membangun untuk menentukan sejarah. Oleh karena itu, pembangunan sebagai usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat harus membuka jalan bagi masing-masing warganya dan membantunya untuk dapat berkembang sebagai manusia sesuai dengan bakat yang dimiliki dan berdasarkan keputusan yang diambilnya secara bebas. Manusia tidak hanya harus berkembang menjadi seorang yang trampil, menjadi seorang dokter, ekonom dan usahawan, melainkan menjadi seseorang, yaitu manusia yang dewasa. Setiap profesi tidak lain adalah bentuk realisasi kemanusian dan oleh karena itu tidak boleh dilepaskan dari kemanusian sebagai dasarnya. Manusia disebut juga sebagai zoon politicon, ia adalah homo economicus, dan sering disebut juga sebagai homo faber, namun itu semuanya adalah perwujudan manusia sebagai manusia. Kewajiban dalam rangka kemanusian, yaitu menjadi seorang pribadi yang paripurna, disebut kewajiban etis. Nilai etis menunjukkan martabat manusia qua talis. Sebab itu, nilai etis atau moral tidak boleh dipersempit dalam seks, yaitu dalam lingkungan night club atau dunia perfilman saja, tetapi mencakup semua dan setiap perbuatan manusia, baik secara 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda individual maupun sosial pada umumnya. Etika bukanlah etiket, karena tidak sekadar merupakan tata karma yang menyangkut perbuatan-perbuatan lahiriah semata, melainkan menurut keselarasan antara perbuatan lahiriah dengan hidup batinnya. Etika menunjukkan nilai-nilai kemanusian itu sendiri. Sebab itu, jelaslah bahwa dengan demikian suara hati, conscience, sebagai aplikasi norma-norma etis dan ungkapan kepribadian seseorang dalam kehidupan sehari-hari, mempunyai arti yang penting dan harus dikembangkan baik dalam kehidupan pribadi-individual maupun dalam kehidupan masyarakat melalui pendidikan yang sehat. Maka, dilihat dari segi etis dan prinsip kemanusian perlu diperhatikan dan dihidupkan kesadaran akan keadilan sosial, tanggung jawab, dan kebebasan. Keadilan sosial tidak hanya diartikan sebagai pengakuan hak asasi dari masing-masing warga negara untuk berkembang dan menggunakan sarana-sarana yang diperlukan, tetapi harus juga efektif, yaitu diberinya kesempatan riil untuk membangun dan ikut menikmati hasil pembangunan itu. Ini berarti bahwa kesempatan kerja bagi para warga masyarakat sendiri dan pemerataan pendapatan adalah tujuan utama dan fundamental dalam pembangunan. Sebab, itu adalah melawan keadilan sosial, apabila pengaturan dan pelaksanaan penanaman modal asing yang, pada hakikatnya, merupakan sarana pelengkap, menimbulkan akibat yang sedemikian rupa, sehingga akhirnya merusak dan bahkan mematikan usaha dalam negeri, yang dapat menimbulkan bencana besar dalam masyarakat. Maka, wajar bahwa dalam hal ini pemerintah turun tangan untuk memberikan perlindungan bagi yang lemah. Persaingan dapat merupakan cara yang sehat sepanjang diterapkan bagi mereka yang mampu bersaing, tetapi melawan keadilan apabila dikenakan pada mereka yang lemah. Ini perlu diperhatikan baik di bidang ekonomi maupun di bidang pendidikan. Harus ada perlindungan yang efisien bagi modal dalam negeri terhadap modal asing, perlindungan bagi golongan lemah terhadap golongan kaya. Demikian pula dalam pendidikan sebagai lembaga untuk membentuk pelaksana-pelaksana pembangunan dan calon pemimpin bangsa harus ada penyaluran yang adil. Adalah hak setiap warga untuk mengenyam pendidikan, dan prinsip ini secara kongkret harus berarti perlindungan pula bagi mereka yang lemah tetapi punya bakat yang cukup, agar secara riil mendapat kesempatan untuk menerima pendidikan. Kesadaran akan tanggung jawab adalah nilai yang fundamental dalam pembangunan, tetapi kini menunjukan gejala-gejala kemerosotan. Adalah tragis mendengar ucapan bahwa pegawai negeri bukan lagi merupakan public servant. Kurang dedikasi dalam tugas yang dibebankan, dan bahkan tidak ada rasa terlibat di dalamnya. Keengganan untuk memikul sendiri tanggung jawab tercermin dalam sikap dan kebiasaan untuk melemparkan tanggung jawab itu kepada orang atau golongan lain. Demikian pula di kalangan masyarakat, sering terjadi perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak didasari oleh motivasi yang masuk akal. Perusakan tanaman atau gedung umum adalah salah satu contoh dari berbagai kejadian. Rasa memiliki belum dihayati secara merata. Adanya krisis tanggung jawab ini kiranya tidak hanya disebabkan karena adanya motivasi pribadi yang menyimpang dari tujuan pembangunan, tetapi juga berakar pada sistem sosial kultural itu sendiri. Bahkan dapat 8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda terjadi, tindakan tak bertanggung jawab itu diakibatkan oleh sistem yang ada. Dengan kata lain, harus ada integrasi motivasi pribadi dan sistem yang ada. Kebebasan adalah ciri khas manusia dan sekaligus menjadi tujuannya. Sebab itu, harus juga diintegrasikan dalam pembangunan. Artinya pembangunan harus diarahkan sedemikian rupa, sehingga merupakan pembebasan bagi seluruh masyarakat dari macammacam kesulitan. Segala perbuatan manusia harus dilaksanakan untuk memperoleh identitasnya sendiri, menjadi Selbst, yang mandiri dan bebas. Namun, seperti yang diuraikan di atas, sikap yang mendasari perbuatan itu bukanlah Weltvermeinung, melainkan justru mengolah dunia dan menguasainya dengan memberikan nilai manusiawi. Manusia adalah zu sein, yaitu terarah pada dunia untuk mentransformasikannya melalui kerja menjadi manusiawi. Sebab itu, kebebasan tidak hanya diartikan sebagai bebas dari ini atau itu, tetapi adalah bebas untuk mengambil suatu prakarsa. Jadi, kebebasan menunjukkan suatu komitmen yang sadar terhadap dunia sekitarnya (ekologi); bukan untuk tenggelam di dalamnya (Materialisme Praktis), melainkan untuk mengatasi dan menfaatkannya. Jadi, kebebasan harus juga diartikan sebagai kesanggupan riil manusia untuk mengadakan transendensi terhadap dunia alamnya dengan menentukan keputusan dan sikapnya sesuai dengan pilihannya. Kesanggupan ini merupakan perkayaan, bukan hanya secara materiel melainkan secara intelektual dan mental. Dengan demikian, ini berarti bukan hanya bahwa manusia mempunyai alat sebagai hasil ciptaan untuk membuat dirinya lebih efisisen, tetapi juga bahwa dengan kesanggupannya itu manusia tidak dicengkram dan diombang-ambingkan oleh dunia luarnya, tetapi melalui dunia objeknya ia dapat menemukan dan menjadi dirinya sendiri. Dalam rangka inilah, setiap pembangunan pada umumnya harus diartikan sebagai usaha untuk melenyapkan setiap bentuk alienasi sebagai pencerminan disintegrasi serta disfungsionalisasi antara dunia yang diciptakan manusia melalui kerjanya dan manusia penciptanya. (Poespowardojo, 1993: 54-59) Pembangunan sebagai Pertumbuhan Tatkala Perang Dunia II berakhir, terdapat suatu konsensus yang mantap sekali di kalangan pejabat dan pendapat umum yang beredar di negeri-negeri Barat tentang perlunya untuk melakukan sesuatu mengenai permasalahan mendesak pembangunan ekonomi negeri-negeri terbelakang. Sebagian bahkan bersedia memaklumkan bahwa pembangunan di negeri-negeri kurang maju mungkin dapat dipandang sebagai kebutuhan utama pada dasawarsa-dasawarsa sesudah perang. Para ahli ekonomi mempertajam dan mempersempit penafsiran mengenai makna dan tujuan pembangunan ekonomi. Dari sebuah pernyataan bahwa tujuan akhir pembangunan ekonomi adalah meningkatkan kesejahteraan nasional keseluruhan penduduk dan penjelasan bahwa pada hakekatnya masalah pembangunan ekonomi adalah masalah meningkatkan taraf pendapat nasional meningkatkan output per kapita, sehingga setiap individu akan mampu untuk mengonsumsikan lebih banyak. Ini hanyalah satu atau dua langkah lagi untuk mengatakan bahwa definisi pembangunan ekonomi sebagai kenaikan taraf hidup orang kebanyakan atau untuk secara, lebih tepat, bahwa pembangunan 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda ekonomi mungkin dapat didefinisikan sebagai suatu perbaikan sekuler yang berkelanjutan dalam kesejahteraan materiel yang tercermin dalam arus barang-barang dan jasa-jasa yang meningkat atau lebih teknis lagi, untuk mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai proses dengan mana suatu ekonomi ditransformasikan dari perekonomian yang tingkat pertumbuhan per kapitanya kecil atau negatif menjadi perekonomian yang peningkatan pendapatan per kapita yang berkelanjutan merupakan sifatnya yang permanen jangka panjang. Dan sekitar tahun 1950 sampai bagian terbesar dan dasawarsa berikutnya, penafsiran ini mendominasi literatur, sehingga pembangunan ekonomi boleh dikatakan sering disamakan dengan pertumbuhan ekonomi. Walaupun demikian, istilah pembangunan ekonomi cenderung digunakan bagi negara-negara yang miskin, sedangkan istilah pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara kaya. Di negeri-negeri Barat, kecenderungan pemikiran mengenai pembangunan ekonomi terutama sebagai pertumbuhan ekonomi, tak pelak lagi diperkuat oleh fakta bahwa dalam dasawarsa pasca perang pertumbuhan ekonomi menjadi sasaran utama kebijaksanaan ekonomi. Oleh karena itu, ada kecenderungan untuk mendekati kajian permasalahan pembangunan ekonomi dengan kotak perkakas yang dirancang oleh para ahli ekonomi guna menganalisis pertumbuhan ekonomi di negeri-negeri maju. Kenyataan bahwa para ahli ekonomi mempunyai suatu teori atau teori-teori tentang pertumbuhan ekonomi tampaknya memberi mereka keunggulan atas para ahli ilmu sosial lainnya sebagai pakarpakar pembangunan ekonomi. Bahkan dengan sedemikian banyak banyak alasan untuk berpikir mengenai pembangunan ekonomi sebagai terutama masalah pertumbuhan ekonomi, tidak ada seorang ahli ekonomi menulis mengenai pembangunan ekonomi. Mereka tidak menyempatkan diri memperingatkan para pembacanya bahwa pembangunan ekonomi berarti lebih daripada pertumbuhan dalam produk nasional. Sebagian menekankan perubahan dalam struktur ekonomi, khususnya penyusutan relatif dari sektor pertanian, atau perubahan dalam struktur sosial sebagai bahan-bahan esensial dari proses pembanguinan ekonomi. Sebagian lagi menekankan bahwa pertumbuhan, jika dikaitkan dengan meningkatnya ketimpangan dalam distribusi pendapatan adalah konsisten dengan peningkatan baik dalam jumlah absolut maupun dalam persentase lokal penduduk yang hidup dalam kemiskinan yang jorok dan penyakitan. Meningkatkan pendapatan per kapita yang lebih tinggi itu berarti suatu taraf kehidupan yang lebih tinggi bagi mayoritas rakyat, hasilnya hanyalah akan memperlebar kesenjangan antara minoritas kaya yang bertumbuh makin kaya dari mayoritas miskin. Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa pada sidangnya yang pertama menyatakan, perlunya program pembangunan jangka panjang yang berimbang, yang harus menyertakan bukan hanya aspek-aspek ekonomi, tetapi juga aspek-aspek sosial, ilmu pengetahuan, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan dari kehidupan masyarakat Banyak yang menegaskan bahwa sebagai ahli-ahli ekonomi mereka memusatkan perhatian hanya pada satu aspek dari suatu proses yang kompleks yang dengan nama modernisasi, mencakup perubahan yang mendalam dalam sikap-sikap sosial di antara kondisi-kondisi dan sasaran-sasaran yang diperlukannya. Menurut Arthur Lewis, kemajuan terjadi hanya bila rakyat percaya bahwa manusia dapat, dengan segenap upaya, 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda menguasai alam. Bahkan bila rakyat tahu bahwa suatu kelimpahan barang-barang dan jasa-jasa yang lebih besar adalah mungkin, mereka tidak memandang perlu untuk mengusahakannya. Kurangnya minat pada hal-hal material mungkin sebagai akibat dari berkuasanya filsafat dunia lain yang mencela keinginan-keinginan material. Sasarannya, kata Gunnar Mydral, adalah jauh lebih daripada taraf kehidupan material yang lebih tinggi; sasarannya adalah manusia baru alias manusia modern. Meskipun demikian, hingga seklitar tahun 1960, hal tersebut cenderung untuk menjadi syarat dari tema sentral dalam literatur pembangunan ekonomi. Yang dianggap sebagai batu ujian, kalau tidak dapat dikatakan esensinya, dari pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan output dan pendapatan per kepala di dalam negeri-negeri kurang maju. Terdapat, bahkan di kalangan para ahli ekonomi Barat, mereka yang sejak dari awalnya sangat skeptis mengenai keseluruhan pendekatan ini terhadap pembangunan ekonomi. Bagian terbesar lileratur, tentu saja, adalah mengenai cara, bukannya mengenai tujuan, mengenai ekonomi pembangunan dan itu bukan yang saya bahas di sini. Tetapi pemisahaan antara cara dan tujuan tidaklah pernah jelas. Tujuan menentukan cara dan cara-cara mewarnai tujuan tidaklah pernah jelas. Corak utama dalam pemikiran mengenai ekonomi pembangunan karena itu mempunyai relevansi. Disini selebihnya, saya akan menggambarkan tiga corak utama yang dapat dikenali selama periode ketika pembangunan ekonom terutama sekali disamakan dengan pertumbuhan ekonomi. Yang pertama menekankan pembentukan modal sebagai faktor paling penting, yang kedua berusaha mengoreksi penekanan ini dengan menekankan pentingnya modal manusia, yang ketiga menghidupkan lagi minat perdagangan sebagai mesin pendorong pertumbuhan. Batu sendi pembangunan ekonomi modern dalam fasenya yang pertama adalah pembentukan modal. Nurkse mengungkapkan suatu pandangan yang diterima secara sangat umum ketika dia mengatakan dalam tahun 1952 bahwa masalah ini terletak di jantung permasalahan pembangunan di negeri-negeri yang terbelakang secara ekonomi. Dia, seperti yang lainnya, hati-hati untuk menambahkan bahwa pembentukan modal bukan keseluruhan cerita Pembangunan ekonomi banyak berhubungan dengan usahausaha manusia, sikap-sikap sosial, kondisi politik–dan peristiwa-peristiwa sejarah—. Modal sendiri tidaklah cukup. Tetapi ia adalah prasyarat yang diperlukan untuk kemajuan. Arthur Lewis, dalam sebuah kalimatnya yang terkenal, mengatakan mengenai tingkat bunga sebagai perbedaan kunci antara negara-negara maju dan sedang berkembang. Tidak ada yang mengejutkan mengenai perihal ini. Jika pembangunan ekonomi terutama adalah menyangkut masalah pertumbuhan ekonomi, jelas ia memerlukan diversi atas sebagian sumber daya masyarakat yang ada sekarang ke arah tujuan untuk meningkatkan stok modal sebegitu rupa untuk memungkinkan ekspansi output yang bisa dikonsumsi di masa depan. Inilah yang menjadi pusat perhatian ilmu ekonomi klasik. Dari The Wealth of Nation sampai das Kapital, dan hal itu pula yang kini kembali menjadi pusat perhatian teori pertumbuhan ekonomi, yang telah dipikirkan Harrod dan Domar, seperti Keynes, semula tertarik pada problem mengenai pegawai tetap dan baru kemudian melampui 11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Keynes ketika meluaskan analisisnya mengenai pengembangan ekonomi. Tetapi karikatur mereka mengenai perekonomian yang dinamis di mana tingkat pembentukan modal merupakan satu-satunya determinan pertumbuhan ekonomi, menjadi sangat berpengaruh dalam ilmu ekonomi pembangunan pascaperang. Dari perspektif ini, fakta paling elementer mengenai negara-negara terbelakang adalah bahwa mereka itu lepas modal. Ketiadaan modal, per definsi, hampir merupakan karakteristik negara-negara terbelakang. Tahun 1959, edisi pertama dari salah satu buku teks yang amat terkenal tentang ilmu ekonomi pembangunan, tetap menekankan bahwa akumulasi modal adalah inti dari pembangunan ekonomi. Dua tahun kemudian, HW Singer dalam suatu konferensi pers di Addis Ababa mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran dalam keseluruhan pemikiran kita mengenai masalah pertumbuhan dan pembangunan–dari modal fisik ke modal manusia. Masalah mendasarnya bukan lagi penciptaan kesejahteraan, melainkan kapasitas untuk menciptakan kesejahteraan, dan kapasitas ini terletak pada rakyat suatu negeri. Yaitu kekuatan otak. Pergeseran pemikiran kepada modal manusia yang terjadi dalam dua atau tiga tahun sekitar tahun 1960, berasal dari yang waktu itu merupakan kesibukan menelaah pertumbuhan ekonomi dan penyebabnya di negara-negara maju. Tetapi ia segera diambil alih oleh mereka yang menulis mengenai pembangunan ekonomi. Salah satu akibatnya adalah dihidupkannya lagi minat terhadap bantuan teknis, bukannya bantuan modal bagi negeri-negeri berkembang, yang lain adalah memperkenalkan tema-tema baru–investasi dalam pendidikan, perencanaan ketenagakerjaan, ”brain drain” (larinya tenaga-tenaga ahli ke luar negeri)—ke dalam literatur pembangunan. Munculnya selama tahun 1950-an gagasan bahwa perdagangan internasional bisa memainkan peranan yang lebih positif dalam pembangunan ekonomi daripada yang semula diasumsikan oleh generasi pertama para ahli ekonomi pembangunan pasca perang. Bukan sebagai akibat munculnya pendukung-pendukung kebijaksaaankebijaksanaan perdagangan liberal Barat tersebut. Gagasan berasal dari tiga pengaruh lain. Keprihatinan pada kesenjangan devisa negeri-negeri berkembang, tumbuhnya kekecewaan pada strategi subsitusi impor di Amerika Latin dan kawasan lainnya, dan upaya-upaya Soviet untuk mentralisasi peranan GATT, yang diperkuat oleh kemunculan kekuatan politik dunia ketiga. Sebagian karena tiga pengaruh yang berbarengan ini yang menyebabkan keluarnya resolusi Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1961 dan memacu diadakannya Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD I) tahun 1964. Ini sebuah peristiwa yang tidak banyak orang dapat meramalkan sepuluh tahun sebelumnya dan tetap mengejutkan bila ditinjau kembali. Bagaimana setelah satu dasawarsa lebih ketika pembentukan modal, baik fisik maupun manusia menduduki posisi itu. (Arndt, 1992: 56-91) Paradigma Modernisasi dan Teori Pembangunan

12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Sekalipun teori pembangunan menjadi semakin rumit ketika teori ini berkembang menjadi lebih interdisipliner, adalah mungkin untuk membedakan dalam pendekatanpendekatan baru kerangka dasar evolusioner sebagaimana ciri khas kosmologi Barat. Sebagian besar sumbangan–baik ekonomi, politik, sosial, atau psikologi—berakar pada paradigma dasar, yang sekarang paling biasa dikenal sebagai paradigma modernisasi. Pembangunan dipandang sebagai suatu perspektif evolusioner, dan keadaan keterbelakangan didefinisikan sebagai perbedaan-perbedaan antara negara kaya dan miskin yang dapat diamati. Pembangunan secara tersirat berarti menjembatai jurangjurang perbedaan itu dengan cara proses peniruan, di mana negara-negara kurang berkembang lambat laun memiliki sifat-sifat negara industri. Tugas menganalisis sifat yang akan ditiru dibagi bersama antara ahli-ahli ekonomi, sosial dan politik, sehingga beberapa ilmuwan mengkhususkan diri pada struktur ekonomi, yang lain dalam tingkah laku manusia, lembaga-lembaga masyarakat dan pembangunan politik. Modernisasi berarti hal-hal yang berbeda bagi orang-orang yang berbeda-beda, pada kesempatan yang berlainan pula. Oleh karena itu, pandangan besar ini dihantui oleh suatu kekacauan tertentu. Konsepsi ini telah digunakan dalam sekurang-kurangnya tiga makna: sebagai suatu kelengkapan sejarah, sebagai proses peralihan bersejarah yang khusus, dan sebagai suatu kebijaksanaan pembangunan tertentu di negara-negara Dunia Ketiga. Arti ketigalah yang paling relevan dalam konteks teori pembangunan, tetapi masalahnya ialah (dan hal itu barangkali yang bertanggung jawab atas daya tarik perspektif modernisasi) bahwa ketiga arti itu kabur. Kebijaksanaan-kebijaksanaan modernisasi (yang berarti rasionalisasi dan pendayagunaan struktur-struktur ekonomi dan sosial) tidak hanya dipandang sebagai unsur-unsur yang strategi pembangunan (yang mungkin berhasil atau gagal), tetapi sebagai bekerjanya kekuatan-kekuatan bersejarah yang universal (arti pertama) yang sangat mirip dengan peralihan dari feodalisme ke kapitalisme di dalam sejarah ekonomi Barat (arti kedua). Jadi, di kalangan penganut modernisasi terdapat kaum fundamentalis yang percaya bahwa pembangunan pada dasarnya merupakan proses pengulangan, dan para pendukung yang tidak terlalu kaku memandang modernisasi sebagai satu aspek dari perubahan sosial. Adanya pendekatan terdahulu, di mana pembangunan merupakan proses dari dalam, yang menyadari potensi yang tumbuh dari dalam setiap, masyarakat kurang lebih dalam bentuk embrio, tergantung pada tingkat perkembangan masyarakat, memungkinkan pendekatan itu berbicara mengenai paradigma. Kita akan mendiskusikan beberapa teori terkenal dari berbagai ilmu-ilmu sosial di dalam rangka paradigma modernisasi. Teori-teori itu dipilih untuk menyoroti baik inti pusat maupun garis pembatas dari paradigma itu. Karena sumbangan-sumbangan pokok kepada teori modernisasi berasal dari sosiologi, maka layaklah untuk mulai dengan disiplin ilmu ini. Ada banyak ahli teori besar dalam tradisi ini, tetapi tokoh pusatnya adalah Emile Durkheim yang melihat bahwa pembagian kerja dan dalil diferensiasi struktural adalah kekuataan penggerak dan masyarakatmasyarakat modern. Namun demikian, harus dicatat bahwa para ahli teori klasik terutama berkepentingan dengan peralihan dari tradisi ke modernitas di Eropa Barat, sekalipun relevansi umum dari rancangan ini kadang-kadang dikemukakan secara tersirat. Adalah juga penting bahwa pandangan-pandangan klasik biasanya agak bersikap ambivalen 13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda terhadap proses modernisasi, sebagaimana diperlihatkan oleh konsepsi Durkheim mengenai anomie dan keasyikan Karl Marx dengan alienasi. Pengamatan ketiga yang relevan adalah bahwa teori modernisasi sebagai bagian dari tradisi evolusioner yang lebih besar, dari mana teori itu membentuk tradisi yang paling baru, memahami perubahan sosial sebagai suatu proses yang pada dasarnya berasal dari dalam. Kami menekankan kata pada dasarnya karena variabel luar sering kali digunakan untuk menerangkan bagaimana proses modernisasi itu dicetuskan, seperti dalam pernyataan-pernyataan Marx dan Engels yang terkenal mengenai fungsi kolonialisme untuk menyeret masyarakatmasyarakat yang macet ke dalam sejarah. Namun dengan demikian, potensi untuk modernisasi terletak diam di dalam masyarakat yang bersangkutan. Bagi mereka yang paling setia kepada paradigma itu, modernisasi adalah suatu proses sejarah kongkret yang berlangsung dalam masyarakat tertentu selama jangka waktu tertentu. Kerangka klasik itu muncul dalam bentuk modern dalam variabel pola Talcott Parson, paham kekhususan—paham universalis, asal mula pencapaian, dan penyebaran— pengkhususan. Untuk melengkapi rantai pengaruh ini, Bert Hoselitz lah yang pertamatama menerapkan variabel-variabel pola Parson terhadap masalah pembangunan dan keterbelakangan. Masyarakat bergerak melalui pembangunan atau modernisasi sebagai paham kekhususan, asal mula dan penyebaran, dan diganti oleh paham universalis, pencapaian dan pengkhususan. Dalam kenyataan modernisasi sangat mirip dengan pengbaratan, yaitu bahwa negara belum berkembang harus memicu lembaga-lembaga yang menjadi ciri negara-negara kaya di Barat. Dengan demikian maka ramalan Marx bahwa negara kurang berkembang melihat cermin masa depannya pada negara-negara maju, menjadi kenyataan. Untuk memberikan contoh yang menyimpang dari sosiologi, kita dapat menilik sejenak pada karya Barington Moore, The Social Orogin of Democracy and Dictatorship (1966), di mana bagian unilinier yang begitu khas dari paradigma modernisasi sama sekali ditinggalkan, dan sebaliknya tiga jalur yang relevan menurut sejarah ke arah modernisasi diidentifikasi sebagai revolusi borjuis klasik (Inggris), revolusi dari atas (Jerman), dan dari revolusi bawah (Rusia). Di sini kita tidak menjumpai determinisme dalam analisis peralihan serta tidak ada praanggapan mengenai pemusatan setelah peralihan, tetapi menurut paradigma modernisasi, teori Moore tentang perkembangan hanya mempertimbangkan faktor-faktor dari dalam saja. Hal ini tentu saja lebih realistis bagi negara-negara besar, seperti India dan Cina, daripada bagi negara-negara kecil, seperti Tanzania dan Jamaica (yang tidak masuk pertimbangan), tetapi dalam kasus-kasus yang dipilih oleh Moore itu sekalipun, sistem internasional seharusnya diberi peran yang lebih penting di dalam analisis. Mungkin yang yang paling terkenal dari sumbangan ekonomi di dalam tradisi teori modernisasi adalah sumbangan yang diberikan oleh Walt Rostow, yang memahami pembangunan sebagai sejumlah tahap yang menghubungkan keadaan tradisional dengan apa yang disebut Rostow ”kematangan”. Perkembangan ini dianalisis terutama sebagai suatu proses dari dalam. Doktrin Walt Rostow yang memainkan peranan penting selama akhir tahun 1950-an dan 1960-an merupakan ungkapan khas dari paradigma perkembangan Barat. Ada lima tahap yang harus dilalui oleh semua masyarakat, yaitu (1) masyarakat tradisional; (2) tahap 14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pratinggal landas; (3) lepas landas; (4) jalan ke arah kematangan; dan (5) masyarakat konsumsi massal. Persyaratan ekonomi untuk tinggal landas diciptakan selama tahap kedua, dan banyak ciri-ciri masyarakat tradisional kemudian dihapuskan. Produktivitas pertanian meningkat dengan cepat dan prasarana yang lebih berdaya-guna dibangun. Masyarakat juga mengembangkan suatu mentalitas baru, dan juga suatu kelas baru –kaum usahawan—. Tahap ketiga, tahap tinggal landas, adalah paling penting bagi perkembangan selanjutnya. Dalam jangka waktu inilah, yang meliputi beberapa dasawarsa, hambatanhambatan terakhir pada pembangunan ekonomi dihapuskan. Pertanda yang paling khas dari tahap tinggal landas ialah bahwa sumbangan investasi dan simpanan netto pada pendapatan nasional naik dari lima persen menjadi sepuluh persen atau lebih, yang membawa akibat pada proses industrialisasi, di mana sektor-sektor tertentu yang mengambil peran pemimpin. Teknologi modern disebarluaskan dari sektor–sektor yang memimpin, dalam pada itu perekonomian bergerak ke arah tahap-tahap kematangan dan konsumsi misal. Menurut Rostow, hubungan-hubungan internasional dalam kenyataannya memang mempercepat proses perkembangan, tetapi mempunyai pengaruh sedikit saja dengan keterbelakangan Rostow berbeda dengan para ahli teori pembangunan terdahulu karena pendekatannya yang jauh lebih luas (ia memandang teorinya sebagai suatu alternatif bagi teori Marxis), namun unsur kunci dalam pemikirannya bagaimanapun juga adalah proyek pembentukan modal. Adalah menarik untuk membandingkan analisis ini dengan analisis Alaxander Gerschenkron, yang berbeda dengan analisis Rostow dalam tiga hal. Menurut pandangan kami, perbedaan-perbedaan ini mendemonstrasikan sampai tingkatan mana seseorang dapat beranjak dari pemikiran-pemikiran pokok suatu paradigma tanpa merusaknya. Pertama-tama analisis Gerschenkron (mengenai proses industrialisasi berbagai negara di Eropa) berkenan dengan suatu proses sejarah khusus, sedangkan tahap-tahap yang dikemukakan Rostow dianggap berlaku secara universal. Kedua, apa yang tampak sebagai prasyarat dalam analisis Rostow di sini timbul sebagai hasil dari proses perkembangan. Proses ini dapat mulai sekalipun kekurangan prasyarat lewat apa yang disebut oleh Gerschenkron sebagai ”proses subsitusi“. Faktor paling penting adalah negara yang kegiatan-kegiatannya dapat menambal pengusahaan, pasaran modal, dan sebagainya. Ketiga, konteks internasional memasuki analisis Gerschenkron sebagai suatu faktor penyebab yang penting, yang lewat kemungkinan subsitusi, memungkinkan bagi suatu negara untuk mengambil manfaat dari terknologi negara-negara lain dan dengan demikian melompati tahapan-tahapan. Sekalipun ada perbedaan-perbedaan ini, yang dengan jelas menunjuk pada kelemahan paradigma modernisasi, kita mungkin dapat menganggap sumbangan Gerschhenkron sebagai ”ilmu pengetahuan biasa” (menunjukkan penyimpangan-penyimpangan berbahaya) di dalam rangka paradigma modernisasi. Masalah keterbelakangan, sebagaimana kita mengenalnya dewasa ini, tidak mendapat tempat dalam paradigma ini. Hanya ada satu tahap keterbelakangan yang murni, yang di atasnya harus mengikuti suatu proses yang membebaskan kekuatan-kekuatan modernisasi. Kekuatan-kekuatan ini dilihat sebagai tumbuh dari dalam di semua 15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda masyarakat dan sejauh ada kebutuhan akan satu teori mengenai keterbelakangan, fungsinya adalah untuk menganalisis ”hambatan-hambatan ke arah modernisasi”dan”perlawanan terhadap perubahan”. Gerschenkron secara realistis menunjukkan aspek multinier dan proses ini tetapi bahkan di dalam analisisnya pun orang mempunyai pandangan normatif di negara-negara itu, setelah mencapai tahap tinggal landasnya (yang oleh Gerschenron disebutkan sebagai ”Semprotan Besar”), harus kembali ke jalur pembangunan yang biasa. Tahap-tahap Rostow pada dasarnya berasal dari pembedaan antara ”tradisi” dan ”modernitas” yang sudah dikenal baik dari sosiologi klasik dan analisis Weber mengenai model-model ideel. Maine melukiskan peralihan di antara kedua keadaan itu dengan istilah status lawan kontrak. Durkheim berbicara mengenai solidaritas mekanis lawan solidaritas organis. Tonnies berbicara mengenai Gemeinschaft lawan Gesselschaft. Tak dapat diingkari bahwa ada versi-versi paradigma ini yang lebih atau kurang njlimet, tetapi dalam bentuknya yang lebih bersahaja paradigma modernisasi berlaku sebagai suatu ideologi pembangunan yang secara sederhana merasionalkan kolonialisme kultural. Mengenai hal ini tidak ada yang lebih jelas lagi daripada di bidang ilmu pengetahuan politik, di mana tradisi untuk mengkaji perubahan adalah jauh lebih lama daripada di dalam sosiologi. Modernisasi politik, yang harus dicapai oleh ”pembangunan politik” tersusun sesuai dengan model demokrasi parlementer dari Inggris atau (bilamana ahli teori Amerika Utara terlihat di dalamnya) suatu demokrasi presidental dari tipe Amerika Serikat. Dalam kenyataannya aliran ini dikuasai oleh para ilmuwan Amerika Utara. Kerangka gagasan mereka untuk sebagian berasal dari variabel-variabel pola tersebut di atas. Gabriel A. Almond adalah pemimpin intelektual gerakan baru itu dan karya utama yang menunjukkan jalannya adalah The Politics of the Developing Areas (1961) yang disunting oleh Almond dan James S Coleman. Sebagaimana ditunjukkan oleh Huntington, karya ini lebih banyak membicarakan perbandingan politik daripada pembangunan politik. ”Pendekatan pembangunan” menyusul enam tahun kemudian dalam suatu karya yang ditulis oleh Almond bersama-sama dengan CB Powell (Comparative Politics: a development Approach). Di sini, pembangunan politik dipandang sebagai satu aspek dari modernisasi yang lebih luas, yang mempunyai tiga kriteria: diferensiasi struktural, otonomi subsistem, dan sekulerisasi kebudayaan. Penulispenulis lainnya menekankan kriteria yang berbeda tetapi kebanyakan dari mereka memandang pembangunan politik sebagai suatu konsepsi yang rumit (yaitu konsepsi yang mencakup beberapa dimensi) dan sebagai satu unsur modernisasi. Oleh karena itu, mereka terjebak dalam ilusi teknologi yang sama seperti halnya teori modernisasi sosiologi. Kadar pembangunan politik atau modernisasi politik secara tersirat diidentifikasikan dengan perbedaan-perbedaan kelembagaan antara sistem demokrasi Barat dan berbagai sistem politik tradisional. Para ilmuwan politik yang pergi luar negeri untuk mempelajari ”wilayah-wilayah yang sedang berkembang” pada tahun 1960-an dengan demikian meminjam dengan bebas dari sanaknya yang lebih berpengalaman; ilmu ekonomi (pembangunan politik) dan sosiologi (modernisasi politik). Tentu saja, pengalaman-pengalaman lapangan ini mempunyai pengaruh yang sewajarnya atas teori. 16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Suatu studi yang dapat dikatakan termasuk dalam paradigma modernisasi, sedangkan dalam hal itu untuk sebagian menentangnya, adalah karya David Apter, The Politics of Modernization (1965). Di sini diadakan pembedaan antara suatu sistem perujukan kembali” dan suatu ”sistem mobilisasi”. Yang tersebut terdahulu berkaitan dengan suatu sistem politik yang modern, pluralistik, sedang yang belakangan merupakan tahap peralihan antara tradisional dan modern. Setelah bekerja di Afrika, Apter menyadari bahwa peralihan ini mengandung makna ketegangan-ketegangan sosial yang besar. Oleh karena itu, diperlukan suatu organisasi politik yang kurang lebih bersifat diktaktor. Ini dapat diperbandingkan dengan proses subsitusi dari Gerschenkron selama ”Semprotan Besar“. Sistem mobilisasi dan ”Semprotan Besar” dengan demikian harus dipandang sebagai penyimpangan sementara dari jalur normal yang bersifat evolusioner, dan gagasan mengenai ”kembali ke dalam normal”tersirat dalam kedua teori. Gagasan ini mengungkapkan, dampak paradigma modernisasi tetapi dalam pada itu pengakuan mengenai ketidaknormalan menunjukkan penyimpangan dari paradigma tersebut. Dari optimisme liberal yang tersirat dalam pendekatan modernisasi politik, tidak banyak yang tertinggal dewasa ini. Almond sendiri menujuk kepada ”Semangat Pengabar Injil dan Korps Perdamaian” yang meliputi tahun-tahun 1950-an dan 1960-an. Dalam suatu kritik menyeluruh Donald Cruise O. Brien menunjukkan bahwa suatu situasi internasional dan dalam negeri yang semakin lama semakin tegang telah menimbulkan perhatian akademis akan tertib politik dan bukan perubahan politik. Kadang-kadang konsepsi abstrak mengenai ”ketertiban” itu digantikan untuk suatu bahasa yang lebih kasar namun lebih tepat. Tetapi ini jatuh di luar kepentingan kita sekarang namun lebih tepat. Tetapi ini jatuh di luar kepentingan kita sekarang dengan teori modernisasi, sekalipun hal itu memberi contoh betapa perhatian akademis yang berubah mencerminkan zamannya. (Hettne, 1985: 37-43) Modernisasi, Westernisasi, dan Ketergantungan Modernisasi merupakan satu di antara konsep-konsep yang paling kabur definisinya di dalam kepustakaan ilmu sosial. Fenomena itu tidak diperinci bagaimana mestinya dan mengandung banyak hal yang tidak jelas apa yang dimaksudkan. Di dalam definisidefinisi yang ada tentang modernisasi, orang dengan mudah dapat melihat lima hal yang menyolok yang tidak jelas pengertiannya, yakni: (1) Modernisasi disinonimkan dengan perubahan sosial padahal dalam keadaan yang sebenarnya sebagian dari perubahan-perubahan itu merupakan kondisi, atau konsekuensi dari proses modernisasi itu sendiri; (2) Ia juga digunakan sebagai sinonim dari westernisasi, indikator-indikatornya mencakup pula unsur-unsur dari kehidupan Barat kontemporer; (3) Ia diasosiasikan dengan sistem pemerintahan yang dijunjung tinggi di Barat (yakni demokrasi); (4) Ia sangat diidentifikasikan dengan kaptalisme dan industrialisme, kedua hal itu dianggap baik sekali bagi masyarakat –masyarakat yang sedang membangun; dan (5) Ia dikacaukan dengan modernitas. 17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Kecenderungan untuk menyatukan pelbagi fenomena di bawah satu nama telah mengakibatkan kita tidak dapat mengandakan pembedaan konsepsional yang tegas-tegas antara proses modernisasi yang universal dan umum dan salah satu variannya dalam bentuknya yang kita lihat di dalam peradaban Barat. Dengan demikian, maka modernisasi disinonimkan dengan westernisasi. Orang lalu lupa bahwa sejak abad ke-18, kita telah menyaksikan bentuk-bentuk modernisasi yang berbeda di Eropa, Amerika, Jepang, dan Cina, belum lagi negeri-negeri lainnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan pelbagai pengalaman mereka yang berbeda-beda dalam proses situ. Seorang cendikiawan Jepang telah mengadakan pembedaan sebagai berikut: Westernisasi berarti menggantikan satu unsur kebudayaan asli dengan unsur dari Barat, termasuk unsur kebudayaan asli dengan unsur dari Barat, termasuk peranan fungsionalnya. Salah satu contoh adalah digantikannya bahasa Jepang dengan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi dalam kalangan-kalangan tertentu. Modernisasi berarti memberi bentuk baru kepada suatu sistem kebudayaan tanpa harus menggantikannya dengan kebudayaan Barat. Ciri-ciri modernisasi menurut Kishimoto adalah pemberian tekanan yang kuat kepada rasionalitas, penggunaan tenaga mekanis secara melimpah, urbanisasi yang semakin meningkat dari kehidupan sosial, dan penghargaan yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai manusiawi yang mendorong semangat demokrasi. Pemberian ini adalah vital bagi masyarakat-masyarakat bukan-Barat yang ingin melaksanakan modernisasi sambil tetapi mempertahankan identitas kebudayaan individual mereka. Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan dan kekaburan di dalam pengunaan istilah modernisasi seperti yang disebut di atas itu, maka Hussain Alatas memberi definisi modernisasi adalah proses di mana pengetahuan ilmiah modern yang meliputi segala aspek kehidupan manusia dimasukkan, dalam kadar yang berbeda-beda, mula-mula ke dalam peradaban Barat, dan kemudian disebarkan ke dunia bukan-Barat, dengan pelbagai cara dan oleh pelbagai kelompok, dengan tujuan terakhir mencapai taraf hidup yang lebih memuaskan dalam arti yang seluas-luasnya menurut mayoritas yang bersangkutan. Di dalam dua penerbitan yang terdahulu, Alatas telah membahas secara panjang lebar perbedaan konsepsial antara proses modernisasi dan proses westernisasi. Kita harus membedakan, di satu pihak, antara modernisasi dan westernisasi, dan di lain pihak, antara modernisasi dan non-modernisasi. Tidak semua hal di dalam kehidupan kita ini dapat dimodernisasikan. Dapatkah kita umpamanya, memodernisasikan serdawa? Memang benar kita dapat menyiarkan serdawa melalui televisi dan radio, akan tetapi dalam hal itu yang dimodernisasikan hanyalah cara penyampainnya dan bukan perbuatan berserdawa itu sendiri. Begitu pula, kita tidak dapat berbicara tentang suatu senyuman yang modern. Senyuman seorang perempuan Romawi yang cantik berabad-abad sebelum Kristus adalah sama jenisnya dengan senyuman seorang jelita zaman sekarang. Bagaimanapun, Anda tidak dapat membubuhkan kata sifat seperti ”tradisional” dan ”modern” kepada kelakuan seperti serdawa dan tersenyum. Juga di bidang etika terdapat nilai-nilai yang tidak dapat diberi arti tradisional atau modern. Konsep kejujuran menyertai kita sepanjang sejarah dan ia berfungsi di bidang di mana perubahan tidak diinginkan oleh karena kita tidak menghargai kebalikan dari konsep itu. 18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Dalam kaitannya dengan masalah inilah ingin saya ajukan pedoman-pedoman tertentu bagi pemikiran mengenai modernisasi masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang. Terlebih dahulu perkenankan saya menunjukkan validitas konsep modernisasi yang pada hakikatnya merupakan pendahuluan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Sekarang ini, modernisasi telah diasosiasikan dengan sejumlah ciri dari masyarakatmasyarakat yang sudah maju, seperti sekularisasi, industrialisasi, komersialisasi, mobilitas sosial yang meningkat, taraf hidup, material yang meningkat, taraf pendidikan, dan melek huruf yang meningkat. Daftar ciri-ciri itu dapat ditambah sehingga mencakup hal-hal seperti konsumsi yang tinggi dari energi yang tak bernyawa, populasi pertanian yang lebih kecil bila dibandingkan dengan populasi industri, dan jaringan jaminanjaminan sosial yang meluas. Ciri-ciri dari satu masyarakat maju yang modern seperti yang disebutkan di atas itu harus dilihat sebagai hasil-hasil yang dicapai oleh modernisasi. Proses modernisasi itu sendiri harus disolasi dari hasil-hasilnya. Bentuk masyarakat yang sekarang, yang secara struktural berbeda dari bentuk masyarakat di zaman lampau (katakanlah, satu abad yang lalu), merupakan hasil dari transformasi yang berlangsung di bawah pengaruh proses modernisasi. Akan tetapi, bukanlah maksud saya untuk memberi sugesti bahwa efek-efek yang dihasilkan oleh modernisasi itu tidak penting atau tidak perlu terlalu diperhatikan. Yang ingin saya sarankan adalah agar kita membedakan proses modernisasi dari efek-efek yang dihasilkannya. Yang absah secara secara universal hendaknya diisolasi dari hal-hal kultural yang bersifat relatif. Satu masalah yang analog telah dirasakan oleh Mao Ze Dong dalam hubungannya dengan marxisme dan modernisasi Cina. Di tahun 1949, ia berkata, untuk membina kebudayaannya sendiri, Cina harus mengasimilasikan banyak hal dari kebudayaan asing yang progresif, dan dalam hal ini kita cukup berusaha di masa lalu. Kita harus mengasimilasikan apa saja yang berguna bagi kita sekarang, tidak hanya dari kebudayaan-kebudayaan sosialis dan demokrasi-baru zaman kini, melainkan juga dari kebudayaan-kebudayaan yang terdahulu dari bangsa-bangsa lain. Begitu pula, dalam menerapkan marxisme di Cina. Kebenaran marxisme yang universal harus dikombinasikan dengan ciri-ciri nasional yang khas dan diberi bentuk nasional yang jelas agar dapat berguna, dalam keadaan yang bagaimanapun ia tidak dapat diterapkan secara subyektif sebagai satu rumus semata-mata. Orang-orang Marxis yang memperlakukan rumus-rumus sebagai azimat sesungguhnya hanya mempermainkan marxisme dan revolusi Cina. Kebudayaan Cina harus memiliki bentuknya sendiri. Kita harus menganggap penting pembedaan ini dan alasannya adalah posisi historis kita sendiri di atas jalan pembangunan. Pada saat ini kita sedang terus-menerus dibombardir dengan berita-berita tentang hasil-hasil yang dicapai oleh masyarakat-masyarakat yang sudah maju, sedangkan yang tidak kurang relevannya bagi kita adalah proses awal untuk mencapai hasil-hasil itu. Proses awal dari prestasi itu di Dunia Barat, Uni Soviet, dan Jepang di sekitar pergantian abad yang lalu, adalah diperkenalkannya ilmu pengetahuan dan teknologi modern dalam sektor produksi dan sektor-sektor penting lainnya dari 19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kehidupan sosial. Apabila ada sesuatu yang dipengaruhi oleh pemikiran ilmiah modern, yang diarahkan kepada tujuan meningkatkan pemahaman tentang kehidupan dan alam semesta, menghapuskan rasa sakit dan penderitaan, memajukan keadilan dan kesejahteraan pribadi, dan merencanakan masa depan ke arah itu, maka dapatlah kita katakan bahwa telah terjadi modernisasi. Akan tetapi, masalahnya adalah tetap mengenai macam masyarakat yang kita angan-angankan. Dari segi historis, tidak ada satu jenis tunggal masyarakat modern. Hal itu berarti bahwa meskipun terdapat banyak ciri yang sama pada masyarakat-masyarakat modern, tidak harus dengan sendirinya masyarakatmasyarakat itu termasuk dalam jenis yang sama. Bagi masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang di Asia adalah perlu untuk memikirkan kembali tujuan-tujuan dan makna, apabila negeri-negeri yang bersangkutan ingin tetap mempertahankan identitas kebudayaan dan religio-filosofis mereka. Pada hakekatnya, apa yang kita perlukan di Asia adalah satu pandangan yang mendasar tentang modernisasi dan cara-caranya. Pandangan ini harus didasarkan atas ilmu pengetahuan dan pengetahuan yang rasional dan harus mudah dikombinasikan dengan tradisi-tradisi keagamaan dan kebudayaan yang sudah ada di Asia, seperti Hinduisme, Kristen, dan Islam. Di Barat pun pernah terdapat pandangan yang mendasar yang serupa, yang mengkombinasikan agama Kristen dengan humanisme yang tidak bersifat keagamaan. Masalah pertama yang harus kita garap adalah apakah apa yang diperlihatkan oleh negeri-negeri yang industrinya lebih maju kepada negeri-negeri yang industrinya lebih maju itu memang gambaran masa depan dari yang disebut belakangan ini. Akan tetapi, ini baru merupakan sebagian kebenaran, sejauh gambaran itu mengekspresikan ciri-ciri yang umum dan universal dari industrialisasi. Uni Soviet, umpamanya, tidak mencontoh Amerika Serikat, padahal Karl Marx yang telah berkata, ”Negeri yang lebih maju industrinya hanya menunjukkan, kepada negeri-negeri yang kurang berkembang, gambaran dari masa depan mereka sendiri”. Uni Soviet malah tidak melalui tahap-tahap historis yang sama dalam perkembangannya. Mengingat apa yang disebut di atas itu, maka sekarang timbul masalah tentang bagaimana membayangkan jalan yang menuju pembangunan dan modernisasi yang berlainan itu. Hal ini, saya ulangi, merupakan masalah falsafati yang telah menuju pembangunan dan modernisasi yang berlainan itu. Hal ini, saya ulangi, merupakan masalah falsafi yang telah di singgung di muka. Yang saya maksudkan bukan kebutuhan– kebutuhan manusia yang sudah jelas seperti pangan dan air yang cukup, obat-obatan, tempat tinggal dan pakaian. Dalam hubungan ini, tak perlu kita menekankan soal filsafat. Akan tetapi mengenai soal-soal seperti pengertian tentang hak milik, tentang laba, tentang kehidupan yang baik, filsafat harus diikutsertakan. Apakah perlu bagi masyarakat-masyarakat Asia untuk menghapuskan hak milik pribadi yang melampui kebutuhan individual, untuk menghapuskan kapitalisme liberal? Apabila itu perlu. apakah alternatifnya harus komunisme? Apakah mungkin dan perlu untuk berusaha mencapai suatu tata sosial yang berlainan dari kedua-keduanya? Sayangnya, pada saat ini tidak ada sedikit pun pemikiran yang mendalam ke arah itu. Satu masalah yang lebih nampak adalah usaha untuk menciptakan satu semangat ilmiah. Di bagian terbesar negeri-negeri Asia kentara sekali tidak adanya kegiatan ilmiah. Dalam 20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda jangka panjang modernisasi, suatu negeri tak akan berhasil apabila semangat ilmiahnya lemah atau tidak ada sama sekali. Ini merupakan satu contoh dari suatu masalah yang vital bagi modernisasi Asia dan yang yang harus diperhatikan oleh cendikiawancendikiwan Asia sendiri, oleh karena cendikiawan-cendikiawan Barat pada umumnya mempunyai perangkat hirarki yang berlainan dalam menyusun masalah-masalah yang berkaitan dengan studi mengenai Asia dan bagian-bagian lainnya dari Dunia Ketiga. Selama masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang tergantung kepada masyarakatmasyarakat yang sudah maju dalam hal ilmu pengetahuan dan tehnologi mereka, maka selama itu pula kepentingan-kepentingan masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang akan tergantung kepada kepentingan-kepentingan masyarakat yang sudah maju. Ada dua macam ketergantungan, yaitu ketergantungan sementara dan ketergantungan yang terus–menerus. Umpamanya, suatu negeri mungkin pada permulaannya harus mengimpor pupuk. Dalam jangka panjang, mungkin lebih baik bagi negeri itu untuk membuat pupuk sendiri. Hal ini tergantung kepada soal penting-tidaknya produksi pupuk bagi perekonomian negeri itu untuk membuat pupuk sendiri. Hal ini tergantung kepada sioal penting-tidaknya produksi pupuk bagi perekonomian negeri itu. Meskipun benar bahwa negara yang manapun hendaknya jangan berusaha untuk menghasilkan sendiri segala-sesuatu yang diperlukannya, namun ketergantungan kepada negara-negara lain dalam hal barang-barang yang esensial haruslah diatur agar tidak membahayakan kehidupan ekonomi negara yang bersangkutan. Suatu ketergantungan yang terus-menerus kepada negeri-negeri yang sudah maju mengenai sejumlah besar barang produksi dan komoditi-komoditi esensil lainnya akan menghambat modernisasi negeri-negeri yang sedang berkembang. Usaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan tehnologi di negeri-negeri yang sedang berkembang harus ditopang dengan pertumbuhan semangat ilmiah. Sejumlah pemikir dari abad 19 telah menyadari masalah ini. Herzen, umpamanya, telah mengeluh tentang dilettantisme dalam ilmu pengetahuan di Uni Soviet di zamanya. Penggemarpenggemar bukan ahli itu hanya mencintai buah ilmu pengetahuan tapi tidak berminat untuk memahaminya. Sikap rakyat Rusia ketika itu yang digambarkan oleh Herzen juga tercermin dalam situasi di masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang dewasa ini. Sebenarnya sudah sejak lama sejumlah pemikir dan penulis Asia menyadari nilai dari sikap keilmuan. Sudah sejak tahun 1882, seorang tokoh revoluioner dan pembaruan Muslim, Syed Jamaluddin Afghani dari Kalkuta menandaskan perlunya kita menciptakan semangat ilmiah dan ia menekankan peranan pandangan dasar yang rasional dan ilmiah secara menyeluruh dalam mendorong pertumbuhan dan pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan. Pernyataan Afghani itu sangat penting artinya dan sangat relevan bagi masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang dewasa ini. Ia mengatakan bahwa pengajaran sejumlah ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah tidak akan melahirkan suatu semangat ilmiah kolektif terkecuali jika dikaitkan dengan pandangan dasar yang rasional dan ilmiah secara menyeluruh yang adalah semangat ”filsafat”. Oleh karena modernisasi pada dasarnya adalah mengintroduksi ilmu pengetahuan dan teknologi modern, maka cara pendekatan yang rasional. Nilai-nilai perikemanusian, dan 21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda lahirnya suatu pandangan ilmiah yang menyeluruh merupakan satu sasaran utama. Modernisasi bukan sekedar penggunaan ilmu terapan secara sepotong-sepotong dan sanasini. Cara ini saja tidak akan memungkinkan golongan masyarakat yang berkuasa untuk melihat seluruh permasalahan dengan kedalaman penganamatan yang merupakan permasalahan dengan kedalaman pengamatan yang merupakan ciri dari akal-budi yang sudah diresapi energi ilmiah. Apabila mereka sudah dapat berpikir secara ilmiah, maka golongan yang berkuasa di Dunia Ketiga tentu akan memberikan prioritas utama kepada usaha-usaha untuk membangun sektor-sektor yang paling diperlukan. Yang merupakan ciri-ciri semangat ilmiah adalah (a) harta untuk mengetahui jaringan penyebab yang mencakup satu persoalan, (b) menghargai metoda-metoda ilmiah, (c) menggunakan intelgensia seluas mungkin, (d) menyadari saling-ketergantungan antara peristiwa, usaha, dan masalah-masalah komunitas atau alam semesta, (e) memiliki keyakinan yang jelas dan progresif, (f) memiliki kemampuan untuk berfikir atas dasar jangka pendek maupun jangka panjang, (g) memiliki kemampuan untuk meninjau suatu persoalan dari seluruh perspektifnya, (f) memiliki kemampuan untuk terus berusaha dengan gigih apabila menghadapi suatu masalah. Merencanakan atas dasar prioritasprioritas yang keliru, mengabaikan berbagai kondisi yang perlu untuk kemajuan, didominasi oleh pemikiran yang keliru dari luar negeri, itu semua menunjukkan ketiadaan semangat tersebut di atas. Di Asia, unsur-unsur yang esensial dalam pengalaman Barat mengenai modernisasi dan yang paling relevan bagi kondisi-kondisi masa kini kita telah diabaikan. Satu peristiwa yang tiada taranya dalam sejarah, yang telah terjadi di Barat selama kirakira dua ratus tahun terakhir adalah peningkatan kuantitatif yang hebat dalam produksi barang dan jasa. Ada sejumlah sebab dan peningkatan ini. Di antara sebab-sebab yang utama adalah mekanisme industri, eksplotasi besar-besaran sumber-sumber mineral, dan metoda-metoda pengangkutan yang sudah sangat diperbaiki. Prestasi itu telah diperkuat lagi oleh kemajuan fenomenal yang serupa dalam bidang pertanian. Peristiwa yang paling berarti dalam sejarah modernisasi Barat adalah revolusi pertanian. Revolusi inilah yang telah memungkinkan berhasilnya revolusi industri hingga melampui suatu sektor yang terbatas. Saya akan menggunakan hal ini sebagai ilustrasi mengenai kekacauan di Dunia Ketiga tentang konsepsi modernisasi, ketiadaan kemandirian berfikir, gangguan dari luar terhadap cara berfikir kita, dan tentang kenyataan bahwa hal-hal tersebut merupakan akibat dari ketiadaan semangat yang rasional ilmiah dan falsafati dari jenis yang seharusnya merupakan pandangan dasar kita mengenai modernisasi Pengetahuan baru tentang cara menanam tanaman baru dan berternak telah mengakibatkan terjadinya peningkatan yang fenomenal dari hasil pertanian di atas tanah yang telah digarap selama berabad-abad. Konsekuensi dari revolusi pertanian adalah luar biasa besarnya. Dalam tempo satu generasi saja, berjuta-juta buruh tani telah digeser ke pekerjaan-pekerjaan lain. Kondisi-kondisi di Eropa dalam abad ke-18 sebelum terjadinya revolusi pertanian dalam banyak hal menyerupai kondisi-kondisi dalam masyarakatmasyarakat yang sedang berkembang, khususnya dalam hal ketiadaan kepastian mengenai persediaan pangan. 22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Dengan demikian jelas bahwa keberhasilan dalam menanggulangi masalah panganlah yang telah memungkinkan Barat untuk meneruskan usaha-usahanya untuk mencapai kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang lainnya. Andaikata Barat tidak mencurahkan perhatian yang begitu besar kepada masalah pengadaan pangannya, maka masyarakatnya tidak akan berhasil dalam usaha-usaha lainnya di bidang modernisasi dan industrialisasi. Persyaratan pertama untuk dapat hidup dengan nyaman adalah makan yang cukup. Pelajaran yang penting ini terlupakan oleh bagian terbesar masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang zaman sekarang. Banyak di antara mereka tergantung kepada pihak lain dalam hal pangan. Mereka lebih suka membeli pangan daripada menghasilkannya sendiri secukupnya. Negara-negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, dan banyak negara Arab dan Afrika belum dapat memecahkan masalah pangan mereka. Pertumbuhan pendudiuk merupakan dalih favorit untuk menjelaskan apa sebabnya mereka belum dapat berswasembada dalam hal pangan. Kehampaan argumen sedemikian akan terlihat apabila diingat bahwa masalah-masalah yang sama juga telah dialami oleh Kanada dan Amerika Serikat pada waktu mereka sedang melaksanakan industrialisasi mereka. Oleh karena pangan merupakan masalah vital dan paling mendesak di masyarakat–masyarakat yang sedang berkembang, maka diperkirakan bahwa prioritas utama akan diberikan kepada usaha-usaha untuk meningkatkan modernisasi dan untuk meningkatkan partisipasi industri dalam sektor pangan. Anggaran belanja yang disediakan oleh suatu pemerintah untuk perencanaan produksi pangan, serta besarnya perhatian yang diberikan kepada masalah ini dalam perencanaan penggunaan tenaga kerja, merupakan petunjuk tentang tingginya prioritas yang diberikan kepada soal ini. Diabaikannya industri pangan juga merupakan cara berpikir tentang pembangunan yang lebih mengutamakan indutsrialisasi daripada produksi pangan. Prioritas yang tidak memadai yang diberikan kepada produksi pangan hanya merupakan satu dari sekian banyak contoh tentang adanya kekurangan di dalam pandangan dasar mengenai modernisasi. Ini merupakan satu contoh tentang apa yang saya ingin namakan modernisasi yang sesat. Masalah-masalah yang dihadapi dalam usaha modernisasi masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang adalah banyak dan rumit. Yang sifatnya paling berkembang adalah sifat elit yang berkuasa. Ada sejumlah faktor yang paling menentukan bagi modernisasi dan pembangunan masyarakat. Yang sudah jelas adalah: (1) sifat elit yang berkuasa, (2) tingkat pendidikan rakyat, (3) taraf hidup mereka, (4) keadaan administrasinya, (5) sumber-sumber kekayaan negeri, (6) tradisi kebudayaan dan keagamaan, dan (7) corak dan tingkat dominasi ekonomi dan politik dari luar. Sifat elit-elit yang berkuasa adalah yang paling menentukan oleh karena hal itu dapat menentukan pemecahan semua masalah-masalah lainnya. Satu studi mengenai modernisasi yang dipusatkan kepada semua masalah yang beranekaragam kecuali kepada masalah elit-elit yang berkuasa tidak akan mengenai sasarannya. Pada saat kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai apa sebabnya suatu masyarakat tetap terbelakang dan bagaimana caranya ia dapat dimodernisasi dan dibangun, kita harus mencurahkan sebagian besar dari perhatian kita kepada elite-elite 23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda yang berkuasa. Tidak cukup apabila kita hanya elite-elite yang berkuasa. Tidak cukup apabila kita hanya menyinggungnya sambil lalu. Elite yang berkuasa dari jenis manakah yang kita perlukan? Apakah mereka sudah berada di tengah-tengah kita? Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan pokok yang harus dijawab apabila kita ingin memahami modernisasi masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang. Menyebutkan satupersatu masalah-masalah yang ada, menganalisa masalah-masalah itu seolah-olah yang satu disebabkan oleh yang lainnya tanpa menghubungkannya dengan elite yang berkuasa, adalah ibarat meneliti respons-respons manusia tanpa menghubungkannya dengan otak. Perubahan sosial yang paling menentukan adalah perubahan jenis elite yang berkuasa. Apabila elite-elite yang berkuasa bersikap negatif, apabila mereka korup, dekaden, bersikap masa bodoh, dan tidak efisisen. Bagaimana caranya agar kita dapat mengganti mereka dengan elite yang punya sifat-sifat positif? Ini merupakan masalah yang paling menantang dan paling penting dalam modernisasi masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang. Modernisasi yang sesat yang terjadi karena dominasi elite yang berkuasa, yang kualitas-kualitas moral dan intelektualnya tidak memenuhi syarat. Pemberian tekanan pada kaum elite yang berkuasa dimaksudkan untuk memperluas pemahaman kita Dalam proses untuk memahami kompleksitas yang lebih besar dari modernisasi, jalurjalur riset baru harus dibuka. Konsep-konsep dan metoda-metoda baru harus dirancang berdasarkan kondisi-kondisi empiris di masyarakat-masyarakat sedang berkembang. Kita harus menghindari apa yang oleh Mao Ze Dong dilukiskan ssebagai kerja keras secara dangkal, mengumpulkan fakta-fakta tanpa teori. Kita harus mengembangkan segala kondisi yang diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam, satu tujuan yang didambakan di mana-mana meskipun ada perbedaan-perbedaan dalam sistem filsafatnya. Pemikiran kembali mengenai modernisasi harus mempertimbangkan semua pengetahuan yang relevan baik dari negeri-negeri Barat maupun dari negeri-negeri komunis. Ada sumbangan-sumbangan tertentu yang lebih relevan dari Barat dan sumbangan-sumbangan tertentu yang lebih penting dari negeri-negeri komunis. Seperti dikemukakan di atas, seleksinya harus dilakukan secara konstruktif dan kritis. Kita terlebih dahulu harus mengubah sikap kita. Satu sikap yang umum dari ilmuwan-ilmuwan sosial, fisika, dan alam kita adalah bahwa mereka hanya menaruh perhatian terhadap pengetahuan yang berasal dari Barat. Mengingat latar belakang insitusional mereka, hal itu untuk sebagian padat dipahami. Akan tetapi orang tidak dapat membebaskan diri dari orang yang mengondisikannya di masa lampau dapat menjadi seorang pemikir yang mandiri. Ia tidak akan dapat menyumbangkan secara efektif, melainkan hanya sebagai pengecer dari pengetahuan yang diimpor. Dalam sejarah belum pernah ada modernisasi yang berhasil yang dicapai oleh suatu pimpinan intelektual, yang fungsinya hanya sekedar menjula ideide yang diimpor tanpa mempertimbangan kodratnya dan perlu–tidaknya bagi umum. (Alatas, 1980: 27-79) Kritik terhadap Teori Pertumbuhan dan Modernisasi

24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Selain keberhasilan menaikkan pertumbuhan GNP, semua strategi pembangunan ekonomi setelah Perang Dunia II selalu dikritik karena ternyata semua pendekatan pembangunan dalam kenyatannya telah gagal memenuhi janji mereka menyejahterahkan rakyat di Dunia Ketiga. Yang terjadi sebaliknya, pembangunan telah membawa dampak negatif, diantaranya: pembangunan telah melanggengkan pengangguran, menumbuhkan ketidakmerataan dan menaikkan kemiskinan absolut, dan lain sebagainya. Satu tema dari kritik ini, manfaat dari pembangunan setelah perang tidak mampu menjangkau orang miskin di dunia, dan hal itu dianggap tidak adil karena orang miskin yang menghadapi masalah hidup-mati itu justru tak terjangkau. Sebagai respon, telah muncul strategi alternatif dalam mencapai pembangunan ekonomi di Dunia Ketiga, yang dinamakan ”pertumbuhan dan pemerataan”. Seluruh pendekatan”pertumbuhan dan pemerataan ”mempunyai aspek umum, yakni semuanya berkembang dari kepercayaan bahwa model pembangunan tradisional yang mempercayakan pada pertumbuhan GNP tidak akan memberi keuntungan kepada kaum miskin di negara berkembang dan juga tidak memberi keuntungan negara kepada mereka. Mereka sependapat bahwa dalam waktu dekat revolusi sosial tidak terjadi di sebagian negara miskin, tetapi mereka mencari cara untuk mencapai tingkat keadilan seperti revolusi sosial. Taiwan, Korea, Hongkong, Israel, Jepang, Singapura dan Srilangka disebutkan sebagai nergara-negara yang berhasil. Pendekatan tersebut juga memiliki kesamaan asumsi bahwa petani di negara kurang berkembang adalah reponsif terhadap kesempatan ekonomi. Dengan demikian, masalah di negara miskin bukanlah terletak pada petani tetapi justru terletak pada elit yang berkuasa di ibu kota. Akhirnya, semuanya memberi tekanan pada dimensi sosial dan politik terhadap pertumbuhan dan pemerataan. Mereka berpendapat bahwa salah satu hambatan pendekatan yang telah lewat adalah terlalu sempit fokus mereka pada faktor ekonomi sederhana–tanah, buruh, dan modal–dan mengabaikan faktor politik, sosial, dan budaya. Sekarang kita tinjau masing-masing pendekatan pertumbuhan dan pemerataan mendapat pelbagai kritik, baik dari yang mempertahankan pendekatan model tradisional, maupun dari penganut pendekatan revolusioner. Kritik-kritik tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, kritik dari dalam atau kritik tradisional. Ada tiga komponen utama yang mempertahankan pendekatan tradisional. Pertama mereka yang menentang karena menganggap data yang menyerang model tradisional kurang valid. Datanya tidak memadai dan karenanya kesimpulan tidak bisa dicapai. Tidak ada satu data-data pun yang dapat dipercaya yang menunjukkan secara absolut semakin memburuknya kehidupan orang miskin. Demikian halnya data pengangguran di dunia ketiga tidak bermakna karena banyak yang mempunyai pekerjaan tetapi tidak bisa dikategorikan menganggur menurut ukuran umum, tetapi toh bisa hidup. Akhirnya, observasi terhadap negara yang relatif tidak adil seperti Brazil, juga tidaklah jelas. Komponen kedua adalah penganut pendekatan tradisional yang berpendapat bahwa membangun pedesaan dan menahan agar orang desa tetap hidup di desa adalah suatu tindakan reaksioner. Sejarah membuktikan kepada kita bahwa sumber dinamika dan 25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda harapan bagi orang miskin untuk meningkatkan taraf hidup mereka adalah urbanisasi dan industrialisasi. Juga terbukti bahwa petani dengan lahan sempit tidak cukup efisien untuk meningkatkan hasil pertanian. Mungkin petani yang lebih yang lebih efisisen adalah mereka yang yang memiliki tanah yang lebih dari satu hektar, apalagi kita memperhitungkan biaya sosial pada waktu penyediaan input dan distribusi fasilitas pada mereka. Jelas lebih mahal untuk pendistribusian pupuk kepada 100 petani kecil daripada satu petani besar. Dan juga dari pandangan perkotaan, studi migrasi perkotaan menunjukkan bahwa mereka merasa mendapat kesejahteraan tinggal di kota daripada tinggal di desa. Di kota, mereka mendapat akses pelayanan kesehatan dan pendidikan. Masyarakat tidak akan tinggal di desa, kecuali dipaksa dan selalu melihat kekuasaan. Ketiga dari yang terpenting adalah bahwa pendekatan pembangunan tradisional toh jalan, tetapi hanya karena terlalu cepat diadili. Masalah pembangunan di Eropa Barat dulu identik dengan masalah yang dihadapi Brazil yang dikritik saat ini–tingginya pengangguran–karena memang tidak banyak orang yang terserap akibat mekanisasi dan memburuknya distribusi pendapatan yang bersifat sementara. Akan tetapi, dalam jangka panjang, industrialisasi akan membawa keuntungan bagi seluruh rakyat melalui kerja dan naiknya penghasilan. Brazil adalah negara yang paling banyak dikutip sebagai contoh keberhasilan bagi pendekatan tradisional. Selama tujuh tahun, dari 1868 sampai 1974, tingkat pertumbuhan Brazil mencapai 10 persen per tahun sehingga GNP-nya lipat dua. Naiknya angka ini disebabkan oleh perluasan industrialisasi, dan dibarengi dengan program promosi ekspor secara aktif. Perubahan ini selain memberi manfaat bagi pemilik modal, mereka yang mempunyai keahlian dan mungkin pihak militer, orang miskin pun juga mendapatkan manfaat karena tersedianya pekerjaan. Sesungguhnya upah buruh tak pernah naik, bahkan mengalami penurunan pada saat tahun ”keajaiban” ini, tetapi penyerapan tenaga kerja sangat memadai. Impact manfaat itu juga terhadap keluarga orang yang menjual tenaga kerja mereka. Keberhasilan penganut paham pembangunan model pertumbuhan terjadi di banyak negara Dunia Ketiga secara lebih umum, dan tidak hanya di Brazil, di mana pertumbuhan telah membawa manfaat dan dampak karena adanya ”penetesan ke bawah” terjadi di mana-mana. Misalnya, keuntungan bagi layanan kesehatan. Program pencegahan malaria dan cacar menjadi efektif di pedesaan di banyak negara berkembang. Menurutnya angka kematian bayi di negara-negara berkembang juga dianggap sebagai sesuatu yang membuktikan bahwa peogram kesehatan mencapai sasarannya. Misalnya, di Amerika Latin angka kematian bayi turun dari 120 per seribu menjadi 60 per seribu selama 30 tahun. Hal ini adalah bukti bahwa sesungguhnya proses pembangunan berhasil. Bahkan, argumen tambahan juga dilakukan untuk menunjukkan bahwa model pembangunan berhasil, dengan membandingkan antara Costa Rica yang menempuh jalan pembangunan dan Kuba yang menempuh jalan pemerataan. Antara tahun 1960-1974, Costa Rica mampu menurunkan angka kematian bayi secara dratis, lebih rendah daripada Kuba. Demikian pula dalam bidang pendidikan ada kenaikan murid yang masuk sekolah di tingkat sekolah dasar, juga terjadi kenaikan di tingkat menengah bahkan lipat dua di tingkat menengah atas. Selain itu, GNP perkapita di Kuba, hampir konstan dari waktu ke 26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda waktu, dan Costa Rica dulunya GNPnya 150% di bawah Kuba tahun 1960, namun pada tahun 1974, 110% di atas Kuba. Apakah jawaban masalah kemiskinan dan pengguran bagi kaum tradisionalis ini? Jawabannya adalah percepat lagi pertumbuhan GNP, datangkan multinasional dan agribisnis, perbanyak promosi ekspor, dan yang penting dapatkan harga yang tepat. Termasuk di dalamnya adalah tekan upah buruh, naikkan biaya modal, serahkan nilai tukar kepada pasar, naikkan harga pertanian. Golongan tradisional mengutip Taiwan dan Korea sebagai contoh negara yang mengadopsi kebijakan campuran dan mendapatkan pertumbuhan yang adil dengan penggunaan teknologi tepat menyerahkan pada pasar (Fakih, 2003: 70-74). Teori Strukturalis Model pembangunan strukturalis muncul sebagai tantangan terhadap ekonomi neo-klasik, karena jelas model konservatif yang mengemuka ini tidak menjelaskan ketidakmampuan negara-negara Amerika Latin berkembang sendiri. Walaupun Economic Commission of Latin Amerika bersifat regional dan menganjurkan integrasi ekonomi Amerika Latin dan pembentukan pasar bersama di Amerika Latin, model pembagunan strukturalis mengambil negara-bangsa sebagai unit analisis utama. Raul Presbisch dan kaum strukturalis lainnya memusatkan perhatian pada berbagai ragam hambatan structural yang menghambat pertumbuhan negara negara-negara Amerika Latin Berbeda dengan neo-klasik yang mengecilkan dampak negatif faktor-faktor eksternal dan menekan segi positif dari perdagangan internasionalis. Strukturalis telah sejak awal lebih pesismis menanggapi keuntungan yang mengalir dari perdagangan bebas seperti dinyatakan oleh neo-klasik. Pada kenyataannya, salah satu prinsip pokok pandangan strukturalis mengenai pembangunan adalah bahwa di Amerika Latin dan di negara-negara Dunia Ketiga lainnya, hubungan ekonomi dan politik menjadi hambatan besar bagi pembangunan industri lokal. Sebagai misal, strukturalis menganggap industri yang berorientasi ekspor sebagai halangan besar terhadap pembangunan nasional, karena kebijaksanaan tersebut menumbuhkan kantong-kantong asing dengan kepentingankepentingan yang tidak sejalan dengan kepentingan-kepentingan penduduk asli. Keprihatinan ini timbul dari akibat kepentingan global kolonialisme di negara-negara Amerika Latin tertentu. Walaupun menyatakan bahwa beberapa halangan pembangunan yang menentukan terdapat pada sistem ekonomi dan politik internasional, teoritisi strukturalis menekankan pemecahan masalah pada tingkat lokal masing-masing negara. Ini menjadi suatu sikap yang dengan jelas membedakan model strukturalis dari pandangan marxis dan neo-marxis mengenai pembangunan yang tergantung, karena teori-teori marxis menyatakan bahwa pembangunan nasional menjadi sulit terlaksana selama ekonomi dunia tidak berubah, karena sistem perekonomian dunia yang ada sekarang ini membiarkan negara-negara belum maju didikte oleh negara-negara industri maju. 27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Bagi sebagian besar teoritisi strukturalis, ketergantungan pada negara luar merupakan hambatan-hambatan yang, sampai pada tingkat tertentu, bisa diatasi dengan usaha masing-masing negara melalui penerapan teknologi modern. Dalam analisa semacam ini, teori strukturalis memiliki ciri-ciri khusus. Strukturalis cenderung menggunakan pandangan tentang pembangunan yang stagnasionis untuk menjelaskan keprihatinan mereka mengindentifikasi hambatan-hambatan struktural yang menghambat faktor-faktor dinamis atau kekuatan-kekuatan yang mampu mentransformasikan negara-negara tertentu. Seperti teori pembangunan neo-klasik, teori strukturalis mengakui pentingnya akumulasi modal atau pertumbuhan yang cepat sebagai motor pembangunan. Sebagai konsekuensi perhatian besar terhadap hambatan eksternal, teori struktural sangat menyoroti keterbatasan neraca pembayaran dan akibat negatif dari nilai tukar perdagangan yang merugikan. Seperti telah disebutkan di atas, kekuatan teknologi dianggap sebagai faktor pendorong yang utama dari setiap pertumbuhan pesat yang terjadi di negara berkembang. Seperti ditunjukkan oleh Prebisch, teknologi memiliki kualitas dinamis yang mendorong maju elemen-elemen lain yang kurang dinamis. Sebagai akibatnya teoritisi strukturalis memperhatikan keseimbangan pertumbuhan sektor pedesaan dan perkotaan, pola-pola pemanfaatan tenaga kerja yang seimbang, dan identifikasi semua jenis faktor internal dan eksternal yang menghambat teknologi berperan sebagai agen yang progresif. Salah satu hambatan besar terhadap pembangunan, menurut teori strukturalis, adalah ketimpangan distribusi pendapatan dan kekayaan. Oleh karena itu, teori strukturalis mengetengahkan pengaruh positif redistribusi pendapatan terhadap pembangunan. Strukturalis melihat redistribusi pendapatan sebagai cara untuk memberantas terpusatnya kekayaan yang bersifat oligarkis dan sikap reaksioner kelompok-kelompok yang diuntungkan baik di daerah pedesaan maupun urban. Sebagai akibat logis, teori strukturalis yakin bahwa restribusi pendapatan akan membebaskan elemen-elemen sosial dinamis dengan cara merombak beberapa basis keuangan dan sikap-sikap frustasi dan masa bodoh perorangan. Sejalan dengan itu, teori strukturalis beranggapan bahwa restribusi pendapatan melalui penyediaan fasilitas-fasilitas kolektif seperti pendidikan, akan menjamin bahwa sejumlah besar penduduk akan mampu menguasai ketrampilan teknik, administrasi dan usaha sehingga alih teknologi ekonomi secara keseluruhan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Walaupun strukturalis memperdebatkan apakah pertumbuhan akan berlangsung tanpa terlebih dahulu melaksanakan restribusi pendapatan, para teoritisi strukturalis sepakat bahwa pertumbuhan atau distribusi pendapatan tidak akan berhasil tanpa kemauan politik untuk mentransformasikan struktur sosial tradisional. Transformasi ini akan menyingkirkan hambatan-hambatan struktural yang merintangi inovasi teknologi dan industrialisasi. Di pihak lain, teortisi strukturalis beranggapan bahwa perubahan, baik sektor pedesaan maupun urban, dapat dipacu dengan penerapan teknologi modern, 28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda sehingga teknologi menjadi faktor utama. Namun, teknologi hanya akan membawa pertumbuhan jika dimanfaatkan seproduktif dan seefisien mungkin. Dalam hal ini, negara memiliki peranan yang sangat menentukan, lebih-lebih bila perubahan terjadi pada bidang-bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan bila pola pemanfaaatan tenaga kerja berubah menuju arah yang progresif. Dibandingkan dengan teori neo-klasik, teori strukturalis lebih konsisten pada ekonomi politik tradisional. Selain menuntut redistribusi pendapatan, dan berharap bahwa strategi ini akan mengurangi ketidakpuasan dan menyalurkan energi ke usaha-usaha yang lebih produktif, teori strukturalis masih melihat perubahan dan pembangunan yang terjadi dalam kerangka konseptual kapitalisme yang longgar. Oleh karena itu, teori strukturalis melihat struktur sosial yang menghambat pembangunan sebagai konsekuensi cara kerja sistem ekonomi yang cacat dan bukan merupakan penyimpangan instrinsik dari sistem itu sendiri. Teori strukturalis dan teori neo-klasik sama-sama meyakini prinsip-prinsip usaha bebas dan persaingan bebas. Perbedaan menyolok dari keduanya adalah bahwa teori strukturalis memiliki pengertian yang lebih rinci dan secara empiris lebih mendasar mengenai, mengapa suatu pembangunan berhasil atau gagal. Teori strukturalis juga meyakini bahwa menjalankan perubahan pasar secara mendasar bisa dilaksanakan dan memang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mendasar seperti redistribusi pendapatan dan untuk mempertahankan perekonomian yang padat karya. Dalam keadaan yang sama, jika memungkinkan, teori neo-klasik juga menyarankan intrvensi semacam itu. Seperti telah disebutkan dalam pertaliannya dengan nilai tukar perdagangan, dibandingkan dengan teori strukturalis, teori neo-klasik jauh lebih optimis melihat keuntungan bersama yang didapat dari perdagangan internasional. Sebaliknya, teoritisi strukturalis mendapat sifat yang sangat asimetris pada perdagangan antara negara-negara pusat dengan negara-negara pinggiran. Teori strukturalis menjelaskan ketidakmampuan negara bangsa mengembangkan industri yang mandiri dalam konteks cara kerja sistem intrenasional dan nasional yang cacat. Cacat semacam ini harus diatasi dengan tindakan yang tegas pada tingkat nasional. Tindakan tegas pada tingkat nasional lebih banyak tergantung pada faktor-faktor seperti pertumbuhan penduduk, peningkatan tabungan nasional, penerapan teknologi yang tepat, pengurangan kantong-kantong modal asing yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional tanpa menghentikan modal asing yang dinamis. (Clements, 1997: 37-48) Teori Ketergantungan Studi hambatan-hambatan internal terhadap pembangunan dengan pengabaianya yang paradoks terhadap imperialisme, semakin diserang oleh teoritisi aliran ketergantungan. Para ahli makin terpaksa mengakui bahwa teori-teori yang memandang proses perubahan sosial di masyarakat Dunia Ketiga berasal dari dalam, sepenuhnya bersifat ahistoris. 29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Justru sebaliknya yang dianggap benar; perubahan sosial di masyarakat Dunia Ketiga pada pokoknya adalah konsekuensi eksternalisasi kapitalisme Eropa Barat lewat pembentukan pasar dunia dan lewat pelbagai bentuk imperialisme dan kapitalisme. Salah satu usaha menangani masalah ini terdapat dalam pelbagai teori ketergantungan, yang sebagian dalam kaitan dengan gagalnya program Industrialisasi. Subsitusi Impor untuk memecahkan persoalan keterbelakangan. Munculnya teori-teori ini merupakan gejala yang relatif baru pada tahun 1969, dimana setelah itu, berkembangnya karya yang mempelajari persoalan ketergantungan atau melakukan analisa dalam kerangka kerja ”teori ketergantungan” begitu impresif. Pokok pandangan teoritisi ketergantungan adalah bahwa sedikit gunanya mempelajari masyarakat Dunia Ketiga terpisah dari perkembangan masyarakat maju. Dari titik pandangan teori-teori ketergantungan ini, adalah perlu memandang dunia sebagai sistem tunggal. Dengan bertitik tolak dari pandangan ini, teori ini berusaha mengungkapkan bagaimana negara-negara terbelakang ditempatkan ke dalam sistem dunia, dan bagaimana hal ini membedakan pola-pola perkembangan negara-negara terbelakang dengan pola perkembangan historis negara-negara maju. Pandangan ini tentu tidak sepenuhnya orsinil. Marx misalnya, menekankan pentingnya perkembangan sistem ekonomi kapitalis dunia sebagai suatu kekuatan yang menghubungkan masyarakat maju dengan masyarakat terbelakang. Marx percaya, meluasnya kapitalis di dunia ini akan menciptakan suatu kondisi yang akan mengakibatkan proses akumulasi modal dan pertumbuhan di Dunia Ketiga yang pada pokoknya sama dengan yang terjadi di Barat. Negara yang secara industrial maju hanyalah memperlihatkan kepada negara yang kurang maju, gambaran masa depannya. Sebagaima kita kenal, Marx salah dalam hal ini. Dinamika ekspansi imperialisme pada bagian terakhir abad XIX tidak menghasilkan perkembangan ekonomi di negara-negara koloni. Ketergantungan didefinisikan sebagai sisi lain dari teori imperialisme. Bila suatu analisa tentang hubungan masyarakat yang maju dengan masyarakat yang terbelakang menekankan pada proses yang terjadi di masyarakat maju maka akan menghasilkan teori imperialisme. Dan bila perhatian secara sistematis dipusatkan pada masyarakat terbelakang, maka akan menghasilkan teori ketergantungan. Dalam artian ini, teori ketergantungan berusaha menjelaskan proses-proses sosial ekonomi yang terjadi di negara-negara yang tergantung pada negara lain atau diimperialikan. Tersirat dalam rumusan ketergantungan sebagai sisi lain dari imperialisme. Ini suatu kesimpulan bahwa karena ada beberapa teori tentang imperialisme yang satu sama lain tidak selaras, demikian juga terdapat berbagai teori ketergantungan. Implikasi dari kenyataan itu nampaknya hanya diraba-raba selama bertahun-tahun, hingga mungkin saja kita sekarang menemukan tulisan-tulisan yang ”mengacu pada teori ketergantungan” seolah-olah hanya ada satu teori ketergantungan. Tetapi seperti yang telah di bahas di atas, pengertian ketergantungan lebih mengacu pada paradigma daripada suatu teori yang khas. Kegagalan untuk mencatat bahwa terminologi ketergantungan digunakan dengan berbagai cara telah mengakibatkan kekacauan yang besar pada saat para ahli ”menolak” 30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda atau ”menerima” penggunaan perspektif ketergantungan. Di dalam paradigma ketergantungan ini, ada sejumlah teori atau penjelasan yang saling bersaing untuk memahami hakikat ketergantungan. Bermacam-macam penggunaan terminologi ”ketergantungan” ini dapat dikelompokkan ke dalam pendekatan pokok. Pertama, suatu pendekatan yang berusaha mengonseptualisasikan ketergantungan sebagai bentuk saling ketergantungan antarsistem. Ini mungkin dapat disebut sebagai ketergantungan ”eksternal” atau ”ketergantungan sebagai suatu hubungan”. Di pihak lain, terdapat kelompok yang memandang ketergantungan sebagai faktor yang mengondisikan, yang mengubah fungsi internal dan hubungan antarelemen dalam formasi sosial yang tergantung. Perbedaan penting antar kedua pendekatan tersebut adalah bahwa dalam pendekatan kedua, dinamika internal formasi sosial yang bergantung secara mendasar berbeda dengan dinamika internal formasi sosial kapitalisme maju. Dalam rumusan awal para ahli ekonomi Economic Commission fot Latin America, ketergantungan dipandang sebagai hubungan yang sepenuhnya murni antara dua ekonomi nasional (atau antara dua kelompok sosial dalam ekonomi nasional), di mana perkembangan ekonomi negara-negara yang tergantung (terbelakang) dikondisikan oleh perkembangan ekonomi negara-negara metropolitan. Ketergantungan di sini berarti ”kurang adanya otonomi”. Pelbagai mekanisme yang memungkinkan hubunganhubungan ketergantungan ini diketengahkan. Salah salah mekanisme yang menonjol adalah kecenderungan jangka panjang terhadap dasar tukar perdagangan yang menguntungkan negara industri. Tetapi dengan memandang gejala ketergantungan sebagai hubungan antar ekonomi, istilah ketergantungan memang hanya berarti sebagai tidak adanya otonomi. Sebagaimana Donald Cruise O. Brien kemukakan, ketergantungan semacam ini memiliki kecenderungan untuk sampai pada argumen melingkar; negara-negara bergantung adalah negara-negara yang tidak memiliki kapasitas tumbuh secara otonomi dan ini disebabkan karena strukturnya bergantung terhadap struktur-struktur negara maju–tetap tak terpecahkan–. Selanjutnya apa yang dikerjakan oleh para ahli ekonomi ECLA adalah melompat tingkat yang mengantarai struktur sosial. Mereka mengabaikan kepentingan kelas yang khusus dan hubungan antarkelas yang mendorong kesinambungan reproduksi struktur-struktur ketergantungan. Satu usaha awal dan berpengaruh dalam mempelajari masalah ini dilakukan oleh Andre Gunder Frank. Ia menggunakan kiasan tentang rantai hubungan yang bersifat eksploitatif; perampasan dan pemindahan surplus lewat rentetan hubungan metropolis–satelit. Sementara dalam skala global, kita dapat menggambarkan hubungan antar-negara industri Barat dengan Dunia Ketiga non-industri sebagai hubungan antara metropolis dan satelitnya, ikatan metropolitan dan satelit juga mencirikan hubungan di dalam negara terbelakang antara ibu kota yang relatif maju dengan pedalaman yang tertindas dan terbelakang. Tidak pula rantai ini terbatas hanya pada hubungan antar wilayah. Salah satu dan ciri-ciri penting teori sosial yang dirumuskan oleh Frank adalah pencampuran antara kesatuan-kesatuan wilayah dan kelas-kelas sosial, sehingga hubungan antara tuan tanah dan petani juga dicirikan sebagai bentuk hubungan metropolis-satelit yang jelas dapat dibandingkan dengan hubungan antar wilayah. 31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Pemisahan ini dan penggunan konsep surplus yang mengganti konsep Marxis mengenai nilai lebih, memungkinkan Frank mencakup dua gejala yang nampaknya berbeda (hubungan eksploitasi antara kelas-kelas sosial dan hubungan pemindahan nilai antara wilayah-wilayah ekonomi) dengan kiasan serangkaian hubungan metropolis-satelit, yang terentang dari kaum tani Bolivia dalam suatu rangkaian yang tak terputus-putus sampai ke kaum kapitalis kaya di New York. (Roxbourgh, 1986: 46-49) Kalau Prebisch terutama bicara tentang aspek ekonomi dari persoalan metropolis dan satelit, yakni ketimpangan nilai tukar, Frank lebih bicara tentang aspek politik dari hubungan ini, yakni hubungan politis (dan ekonomi) antara modal asing dengan kelaskelas yang berkuasa di negara-negara satelit. Dalam rangka mencari keuntungan yang sebesar-besarnnya kaum borjuasi di negaranegara metropolis bekerjasama dengan pejabat pemerintah di negara-negara satelit dan kaum borjuasi yang dominan di sana. Sebagai akibat kerjasama antara modal asing dan pemerintah setempat ini, munculah kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengutungkan modal asing dan borjuasi lokal. Dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak negara tersebut, kegiatan ekonomi praktis merupakan kegiatan ekonomi modal asing yang berlokasi di negara satelit. Fungsi kaum borjuasi lokal adalah sebagai mitra junior yang dipakai sebagai payung politik, serta pemberi kemudahan bagi beroperasinya kepentingan modal asing tersebut, melalui kebijakan pemerintah yang dikeluarkan. Kebijakan pemerintah yang didukung oleh borjuasi lokal ini adalah kebijakan yang menghasilkan keterbelakangan, karena kemakmuran bagi rakyat jelata dinomor-duakan. Pada teori Frank jelas ada tiga komponen utama, yaitu: (1) modal asing, (2) pemerintah lokal di negara-negara satelit, dan (3) kaum borjuasinya. Pembangunan hanya terjadi di kalangan mereka. Sedangkan rakyat banyak, yang menjadi tenaga upahan, dirugikan. Maka, ciri-ciri dari perkembangan kapitalisme satelit adalah: (1) kehidupan ekonomi yang tergantung, (2) terjadinya kerjasama antara modal asing dengan kelas-kelas yang berkuasa di negara-negara satelit, yakni para penjabat pemeririntah, kelas tuan tanah dan kelas pedagang, dan (3) terjadinya ketimpangan antara yang kaya (kelas yang dominan yang melakukan eksploitasi) dan yang miskin (rakyat jelata yang dieksploitisir) di negara-negara satelit. Dalam keadaan seperti ini, menggalakkan pembangunan dengan memperkuat borjuasi di negara-negara satelit merupakan usaha yang sia-sia, karena borjuasi tersebut merupakan borjuasi yang tergantung pada modal asing. Akumulasi modal yang terjadi akan diserap oleh kekuaan asing keluar, tidak dikonsumsikan atau diinvestasikan di dalam negeri itu sendiri. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang terjadi di negara-negara satelit hanya akan mengutungkan kepentingan modal asing dan kepentingan pribadi dari kaum borjuasi lokal. Keuntungan ini tidak akan menetes ke bawah, seperti yang diperkirakan oleh teori trickle down effect, atau teori penetesan ke bawah. (Budiman, 1996: 66-67)

32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Kritik terhadap Teori-teori Ketergantungan Kendati kesuksesan yang populer dari generasi teori keterbelakangan ini (atau mungkin karenanya), suatu kritik dengan bidang yang luas muncul pada pertengahan tahun 1970an. Lingkupnya terbatas pada empat pokok yang saling berhubungan yang muncul dari kepustakaan yang berorientasi Marxis. Titik awal kritik ini memusatkan pada asalusulnya. Meskipun secara tepat dilihat sebagai bagian dari tradisi panjang kajian Marxis mengenai imperialisme, teori ketergantungan –paling tidak sebagaimana diutarakan oleh Frank– pertama-tama dan terutama disajikan sebagai kritik terhadap dualisme dan pemisahan suatu yang ”modern” dari ”yang tradisional”, kapitalis dari yang non-kapitalis. Di satu pihak, hal ini menjadi kontribusi Frank yang terpenting dan permanent kepada studi keterbelakangan. Di pihak lain, para kritikus mengakui nilai kritiknya terhadap teori pembangunan ekonomi yang difusionis konvensional, meskipun pada umumnya mereka berpendapat bahwa karyanya gagal melebihi karya asal-usul ini dan berakhir dalam ikatan batasan bayangan dari problematika difusionis. Sebagai akibatnya, banyak asumi pokok teori ketergantungan dan teori difusionis bergerak dalam daerah yang sama meskipun dalam bentuk bayangan yang berlawanan. Jadi, misalkan yang satu membahas penyebaran kamajuan, yang lain membicarakan penyebaranan keterbelakangan; yang satu satu mengenai kebutuhan akan saling ketergantungan dunia yang lebih besar, yang lain tentang kebutuhan bagi pembangunan mandiri yang lebih besar. Bentuk ini telah diberi tanda sebagai suatu bentuk strukturalisme radikal yang lebih cocok bagi sebagai ideologi ketimbang suatu metode analisa. Kelemahan yang paling serius adalah bahwa teori ketergantungan mengadaikan bekerjanya kekuatan-kekuatan yang sama, yang berasal dari pasar, yang merupakan inti konsepsi dari Adam Smith mengenai pembangunan kapitalis. Apabila Smith melihat kekuatan-kekuatan pasar meningkatkan spesialisasi dan dengan demikian, perkembangan ekonomi kapitalis, para teoritisi ketergantungan berpendapat bahwa spesialisasi melalui pembagian kerja internasional yang meningkat hanya membawa kamajuan di pusat, dan keterbelakangan berada di pinggiran. Kritik terhadap teori difusionis ditujukan kepada usaha usaha untuk menjelaskan kesatuan kamajuan dan keterbelakangan dalam suatu sistem dunia kapitalis. Teori ini gagal karena tidak menangani isu-isu ini berupa pentingnya kekuatan-kekuatan pasar. Dengan menerima pernyataan Smith, maka perkembangannya sesudah itu terletak sebagian besar dalam problematika yang sama seperti pendahulunya. Akibatnya, dan pokok kedua yang akan disoroti, adalah bahwa teori-teori ketergantungan tidak mampu menjelaskan secara memadai penyebab keterbelakangan. Ensensi penjelasan mereka adalah bahwa integrasi sistem dunia menimbulkan pengalihan surplus ekonomi dari daerah koloni dan kemudian dari kawasan–kawasan terbelakang kepada penjajah atau kawasan-kawasan pusat dari negara-negara kebangsaan. Tambahan pula, dinyatakan bahwa pengalihan surplus ini merupakan bagian yang dibutuhkan oleh pembangunan ekonomi kapitalis di pusat. Dengan demikian, ketika proses itu– kemajuan dan keterbelakangan–merupakan dua sisi yang bulat dari satu mata uang. Dengan kata lain, teori ini mengandung juga suatu proses ”zero-zum” yang membentuk kemajuankemajuan satu bangsa dan hanya dapat terjadi atas pengorbanan yang lain. Hubungan33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda hubungan pertukaran yang menghubungkan negara-negara –dianalisa baik dalam pengertian ”akumulasi primitif” maupun ”pertukaran yang timpang“–dalam analisa Frank, mendominasi hubungan-hubungan produksi. Bagian argumen ini diserang dari beberapa arah. Misalnya, adalah implisit dalam pengertian ini bahwa formasi-formasi sosial yang bergantung, sampai tingkat tertentu, merupakan ”korban-korban yang pasti” dari kedudukan mereka dalam perekonomian kapitalis dunia yang merupakan satusatunya determinan dari struktur ekonomi dan kelas internal mereka. Kegagalan untuk mengakui pentingnya proses pembentukan kelas, atau menonjolkan perlawanan terhadap kolonialisme, merupakan suatu penjelajahan ke dalam Eurosentrisme yang gagal sama sekali memahami sifat dua arah hubungan di antara formasi-formasi sosial. Lagipula, keterbelakangan mekanis bangsa-bangsa sebagai akibat kedudukan mereka dalam sistem dunia, dapat menjelaskan secara memuaskan mengapa kolonialisme, dan penciptaan perekonomian yang bergantung yang didasarkan pada ekspor produk primer, mengakibatkan keterbelakangan sebagian negara (Indonesia), tetapi memajukan negara lain (Australia). Garis kritik yang lain telah dikembangkan oleh Brenner yang berpendapat bahwa perkembangan ekonomi kapitalis tidak begitu timbul sebagai akibat akumulasi surplus ekonomi yang dialihkan ke tempat lain. Asal mula kapitalisme tidak dapat diasumsikan mengikuti spesialisasi dan perdagangan, dan juga kemajuan serta keterbelakangan tidak begitu saja timbul dari perluasan sistem itu. Pokok persoalannya ialah bahwa perkembangan ekonomi kapitalistis merupakan sebuah proses kualitatif dan bukan suatu proses kuantitatif yang kasar. Bagi Brenner, esensi kualitatif kapitalisme adalah ekspansi surplus tenaga kerja yang relatif. Hal ini, demikian ditekankan oleh Brenner, sudah tentu merupakan suatu masalah kelas, baik dalam pengertian pencitaan borjuasi dan proletariat, maupun dalam pengertian struktur kekuatan ekonomi dan nonekonomi yang menentukan hubungan-hubungan di antara kelas-kelas. Dengan demikian, ia memperlihatkan pentingnya, misalnya inovasi, dalam negara-negara kapitalis inti yang telah memungkinkan kelas kapitalis untuk secara sistematis memperbesar surplusnya melalui peningkatan produktivitas buruh (jadi tingkat eksploitasi yang lebih tinggi), yang mengakibatkan barang-barang lebih murah dan lebih banyak. Tidak seperti para teoritisi ketergantungan, Brenner menempatkan asal-mula perkembangan kapitalis dalam pasang–surutnya konflik-konflik kelas yang bersejarah, yaitu, pembebasan kaum tani, pemilikan tanah oleh kaum tuan tanah, dan kekuatankekuatan ekonomi–khususnya, syarat-syarat penyedotan surplus yang sedang mengalami perubahan dan perkembangan tenaga produksi. Sama halnya, dalam zaman modern, proses kemajuan atau keterbelakangan ekonomi tidak semata-mata ditentukan oleh permintaan perekonomian dunia, tetapi pada akhirnya pada produktivitas tenaga kerja yang pada gilirannya merupakan hasil struktur kelas dan konflik serta sarana-sarana untuk mengeduk surplus itu. Kekuatan-kekuatan inilah, menurut Brenner, yang menentukan kecilnya investasi di wilayah asal, dan apa yang akan dipusatkan di metropolis dan dicurahkan terutama untuk produksi barang mewah. Jadi, perkembangan keterbelakangan berakar dalam perjuangan kelas untuk produksi yang didasarkan pada perluasan surplus tenaga kerja yang absolut, yang menentukan perkembangan kekuatankekuatan produksi (produktivitas tenaga kerja) dan struktur tingkat keuntungan perekonomian sebagai suatu keseluruhan. 34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Hal ini membawa saya kepada kritik ketiga yang merupakan akibat wajar dari yang di atas. Kegagalan teori-teori ketergantungan untuk mempertimbangkan secara tepat formasi kelas lebih daripada sekedar suatu kelalaian. Hal ini merupakan akibat ketidakmampuan mereka untuk menjelaskan secara memadai tingkat-tingkat perkembangan dan keterbelakangan yang berbeda–atau lebih tepatnya, tingkat-tingkat eksploitasi–di antara bangsa-bangsa, yang menurut Leys, adalah pencerminan sifat ekonomis dan mekanistis yang berlebihan dari teori-teori ketergantungan. Dikatakan bersifat ekonomistis karena ciri sosio-ekonomi yang utama dari formasi-formasi sosial di Dunia Ketiga–kelas-kelas sosial negara, politik, ideologi, dan reproduksi sosial– diperlakukan secara dangkal, kalau pun dipertimbangkan, dan diandaikan sebagai produk dari proses ekonomi yang sempit, khususnya pengaruh pasar dunia terhadap penciptaan surplus dan perkembangan produksi. Selanjutnya, proses-proses yang dibahas oleh teoriteori ketergantungan bersifat mekanistis karena secara tidak terelakkan mereka menghasilkan keterbelakangan dan tidak menawarkan jalan keluarnya. Leys menamakannya sebagai sebuah sistem yang terdiri dari lingkaran-lingkaran setan yang saling memperkuat satu sama lain. Akibatnya adalah bahwa negara-negara itu dianggap terkunci di dalam sistem dunia, dan setiap penyesuaian struktural (misalnya, industrialisasi) pasti gagal. Sekali ada keengganan untuk menghargai kekuatan gerakangerakan sosial, terutama perjuangan kelas, untuk mengubah jalannya perkembangan sosio-ekonomi. Akhirnya, sejumlah penulis telah menunju kepada keterbelakangan teori ketergantungan sebagai sebuah pedoman aksi. Alasan pokok adalah bahwa keterbelakangan merupakan suatu produk dari hilangnya surplus ekonomi sebagai akibat hubungan pertukaran. Hal ini menjurus kepada kesimpulan bahwa pemutusan hubungan antara kawasan-kawasan geografi ini – penutupan kawasan tertentu, atau secara rasional, kebijaksanaan pembangunan sendiri – dapat diharapkan menimbulkan akumulasi dan perkembangan di dalam negeri. Dalam bentuk ini, dengan cepat ia diterima oleh para cendikiawan maupun perencana yang pada pokoknya tetap berpegang teguh pada reformisme. Bekas Presiden Bank Dunia bahkan telah mengizinkan banyak di antara ide-ide utama teori ketergantungan menyampaikan gagasannya ”meskipun biasanya dalam versi yang keradikalannya dihilangkan secara jitu. Teori-teori ketergantungan dapat diterima dengan alasan yang tepat yaitu bahwa mereka memberikan suatu kerangka teoritis yang dangkal tentang peralihan menuju sosialisme yang begitu lantang dinyatakan oleh Frank. Dengan meletakkan argumen dalam hubungan pertukaran dan bukan dalam formasi kelas dan perjuangan kelas, teori ketergantungan di satu pihak membuat dirinya sendiri matang untuk diterima oleh kaum reformis, yang seyogyanya akan menolak keras suatu teori dalam mana konflik kelas dan eksplotasi merupakan hal sentral, dan di pihak lain memberikan sedikit atau tidak sama sekali pedoman bagi mereka yang ingin memahami potensinya bagi perjuangan kelas. Hal ini barangkali paling menjelaskan mengapa implikasi praktis teori-teori ketergantungan secara relatif diabaikan. Satu hasil logis dari jenis pemikiran seperti ini adalah visi mengenai pembangunan sosialis yang mandiri. Pandangan sempit ini dikritik dengan keras. Bagaimana masa depan jangka panjang dunia jika bergerak ke dalam suatu 35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda masa pembangunan sosialis yang semi autarki?”Pada tingkat yang lebih praktis kita dapat mempertanyakan secara serius kelangsungan hidup setiap usaha untuk menyembunyikan batas-batas nasional dalam usaha menanamkan usaha mandiri, terutama dalam suatu kepulauan yang sangat luas seperti Indonesia, dimana rintangan –rintangan fisik yang bersifat isolasionis tak dapat diatasi. Singkatnya, adalah keliru untuk menerima bahwa kritik yang memuncak yang diungkapkan di atas menyatakan berakhirnya kontribusi teori-teori ketergantungan terhadap teori keterbelakangan. Gelobang kritik dewasa ini tidak seharusnya juga dibiarkan menyembunyikan kontribusi yang nyata dan penting yang diberikan dan yang masih terus diberikan oleh masalah-masalah ini bagi perkembangan teori keterbelakangan. Yang terpenting dalam hal ini adalah kritik terhadap modernisasi dan dualisme, dan populeritas luar biasa yang diperoleh mazhab-mazhab ini, yang dalam gilirannya telah merangsang perkembangan lebih lanjut dalam teori keterbelakangan. Apakah pertumbuhan yang cepat dari bahan-bahan mengenai imperialisme dan keterbelakangan selama tahun 1960-an dan 1970-an merupakan produk perdebatan yang hidup yang ditimbulkan oleh teori-teori ketergantungan ataukah tidak, atau apakah merupakan hasil perubahan sosial yang mendasar yang berkaitan dengan perubahan dalam perkonomian dunia, tidak mudah dijawab. Namun tidak diragukan bahwa dampak mereka pada teori-teori keterbelakangan adalah mendalam. Pada umumnya kritik-kritik itu mencerminkan ketidakpuasan pada dua tingkat yang berbeda. Banyak yang menaruh perhatian pada masalah skala, dengan mengemukakan bahwa penjelasan yang hanya digambarkan pafda tingkat makro terlalu menyederhanakan masalah keterbelakangan. Khususnya, pemakaian istilah yang tidak seksama yang ditimbulkannya, teorisasi yang terlalu abstrak yang didorongnya, dan kesan dasar yang diberikan bahwa kapitalisme menuliskan polanya pada suatu tabula rasa Hingga tingkat tertentu kritik-kritik ini telah ditanggapi oleh kepustakaan yang sedang tumbuh di sekitar konsep artikulasi cara-cara produksi. Ada juga kritik bahwa teori-teori ketergantungan tidak sepenuhnya menjelaskan keterbelakangan, demikian juga mereka tidak mengambil suatu pendirian teoritis dan praktis yang konsisten. Alasannya adalah bahwa mereka tidak berhasil mecurahkan cukup usaha pada sejarah dan dinamika formasi kelas, pada berbagai bentuk pengambilan surplus dalam formasi-formasi sosial pinggiran, dan pada perjuangan kelas yang telah dan terus menjadi ciri tempat-tempat ini. Tanpa sengaja menyimpang ke dalam determinisme ekonomi, penjelasan mereka mekanistis dan nilai praktis teori-teori itu terbatas. Argumen seperti itu mungkin terbukti terlalu kasar. Dilihat sebagai suatu usaha kontemporer untuk mentransformasikan konsep-konsep imperialism ke dalam suatu teori keterbelakangan, jelaslah bahwa masalah kunci mazhab-mazhab ketergantungan adalah bahwa mereka hanyalah sebagian penjelasan dari perubahan sosio-ekonomis di dalam formasi-formasi sosial kapitalis pinggiran (Forbes, 1986: 83 – 92). Teori Sistem Ekonomi Kapitalis Dunia

36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Lahirnya teori sistem ekonomi kapitalis dunia di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1970-an, merupakan lanjutan dari perdebatan antara penganut teori modernisasi dan pembangunan pertumbuhan yang mendapat kritik dari teori ketergantungan Amerika Latin. Meskipun teori modernisasi mendapat kritik luar biasa dari ilmu sosial di tempat kelahirannya di Amerika Serikat, bahkan dikatakan sebagai teori yang gagal, teori modernisasi justru mendapat tempat yang istimewa pada masyarakat di Dunia Ketiga m khususnya kalangan birokrat atau aparat pembangunan dan akademisi. Sementara itu, di Amerika sendiri, selain teori ketergantungan, juga lahir teori yang disebut sebagai teori alternatif antara keduanya, yakni fokus analisisnya tertuju pada tata ekonomi kapitalis dunia. Alasan yang kuat untuk memunculkan teori ini adalah bahwa fenomena tata ekonomi kapitalis dunia tidak dapat dijelaskan, baik oleh teori modernisasi maupun teori ketergantungan secara memuaskan. Misalnya saja, fenomena pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea Selatan dan Singapura, membuat penganut itu berpikir bahwa persoalannya sulit dijelskan melalui kacamata ketergantungan karena negara Asia Timur tersebut, terutama Jepang mulai memberikan perlawanan ekonomi kepada centre. Fenomena lain adalah, di satu pihak, terjadinya krisis di negara-negara sosialis, perpecahan USSR dan Cina, dan semakin terbukanya negara-negara sosial terhadap ekonomi pasar dan ivenstasi kapitalis dunia sehingga melahirkan sistem ekonomi campuran yang tidak murni mengatur paham marxis revolusioner. Di lain pihak,, krisis juga terjadi di Amerika Serikat, seperti krisis Perang Vietnam dan sejumlah krisis ekonomi yang kesemuanya menunjukkan runtuhnya hegemoni politik dan ekonomi Amerika Serikat. Berkenan dengan fenomena tersebut, Immanuel Wallerstain dan pengikutnya merasa perlu merumuskan teori dan perspektif alternatif perubahan sosial yang disebut sebagai sistem ekonomi kapitalis dunia. Kalau ditelaah secara seksama, sesungguhnya apa yang dikembangkan oleh Immanuel Wallerstain merupakan lanjutan dari teori kritik terhadap kapitalisme. Bahkan, pada awalnya teori sistem ekonomi kapitalis dunia ini banyak meminjam analisa teori ketergantungan, misalnya, dalam studinya mengenai ketimpangan nilai tukar eksplotasi negara pinggiran oleh negara pusat. Bahkan, mereka mengembangkan apa yang tidak dibahas oleh teori ketergantungan dengan memperkenalkan sistem dunia yang mensejarah, yakni sistem dengan segala isisnya lahir, berkembang, dan mati, serta timbul kembali sebagai akibat dari proses pembagian kerja yang terus-menerus dan canggih. Uraian Wallerstain tentang sistem ekonomi-kapitalis dunia melatarbelakangi pikirannya tentang teori perubahan sosial. Ia mulai membahas teorinya dengan mengajukan kritik terhadap model dua kutub center-periphery yang umumnya dianut oleh teori ketergantungan. Sistem ekonomi dunia sangat rumit dan terlalu sederhana jika hanya dijelaskan dengan model tersebut. Oleh karena itu, ia mengajukan tiga kutub model negara pusat, semi pinggiran dan pinggiran. Kategori semi pinggiran diajukan mengingat diperlukannya model tengah bagi negara-negara pinggiran untuk menghindari krisis. Selain itu, negara semi pinggiran juga diperlukan untuk memungkinkan reinvestasi ataupun realokasi modal bagi pemilik modal dan negara center untuk akumulasi lebih lanjut. Tempat baru untuk incestasi inilah oleh Wallerstain sebagai negara semipinggiran. Negara-negara semi pinggiran ini menjadi pengamat krisis bagi negara center. 37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Mereka memiliki posisi tawar perdagangan yang berbeda dibandingkan negara pinggiran, baik dalam bidang upah buruh, keuntungan, maupun perdagangan. Negara semipinggiran juga memiliki kepentingan langsung untuk mengatur pertumbuhan mereka sendiri. Bagi Wallerstain perubahan sosial pada dasarnya terletak pada bagaimana perjuangan antara negara pinggiran dan semi pinggiran di masa datang. Oleh karena itu persoalannya terletak pada bagaimana negara pinggiran melaksanakan strategi permbangunan alternatif yang memenangkan dan memanfaatkan kesempatan, strategi mengundang investasi data ataupun strategi berdikari. Perjuangan dan negara pinggiran menjadi negara semi pinggiran bagi Wallerstain adalah hakikat dari perubahan sosial. Negara pinggiran yang menghendaki perubahan ini dapat menggunakan berbagai strategi, seperti melakukan substitusi impor yakni usaha menangkap kesempatan. Startegi lainnya adalah mengundang modal asing dengan menyediakan segala bentuk kemudahan dan daya tarik yang yang mengundang minat perusahaan multi nasional untuk melakukan investasi di negaranya. Straregi ini memerlukan hubungan yang baik dengan multi nasional termasuk upah tenaga kerja yang murah. Strategi terakhir adalah strategi berdikari berdiri di atas kaki sendiri. Namun hanya sedikit negara yang mampu melaksanakan strategi ini. Perubahan juga terjadi dari semi pinggiran ke negeri sentral. Strategi ini dilaksanakan dengan menggunakan kesempatan pasar dan memperluas jaringan pasar. Usaha ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari aneksasi wilayah lain, menaikkan harga impor,dengan menaikkan kuota dan tarif pada barang impor ataupun dengan melakukan subsidi, menekan upah buruh, menaikkan daya beli masyarakat, serta memanipulasi selera konsumen dengan promosi dan bahkan ideologi . Melalui pembahasan tata ekonomi kapitalis dunia ini, Wallerstain dan pengikutnya pada dasarnya mencita-citakan suatu tata ekonomi dunia yang berkeadilan ekonomi dan politik, atau dunia yang demokratis dan egaliter. Untuk mencapai hal itu ke sana. Wallerstain berharap pada tumbuhnya gerakan sosial atau gerakan populis dari yang berskala nasional menuju gerakan populis berskala global. Asumsi ini berangkat dari analisisnya bahwa tidak mungkin untuk mengembangkan suatu dunia yang adil dan demokratis jika stratergi yang ditempuh oleh masing-masing negara adalah dengan melakukan pembangunan dan pertumbuhan nasional yang dilakukan oleh masing-masing negara. Selain tidak sehat dan merusak, model pembangunan nasional juga mustahil, melahirkan tata ekonomi dunia yang adil. Pada dasarnya maju dan berhasilnya pembangunan dan pertumbuhan suatu negara selalu dibayar dengan keringat, penderitaan, negara lain, dan bahkan tersingkirnya negara lain. Sehingga model kompetisi pembangunan dan pertumbuhan ini cepat atau lambat akan membawa konflik secara global. Untuk itu, gerakan sosial maupun perjuangan kelas yang ada umumnya bertujuan melakukan demokratisasi dan keadilan ekonomi berskala nasional dalam dalam jangka waktu panjang tanpa memecahkan masalah ketimpangan dunia. Apalagi jika perjuangan kelasnya berskala lebih kecil, seperti pada tingkat pabrik dan kota industri. Gerakan sosial ataupun perjuangan kelas yang bertujuan untuk merebut suatu negara, jika berhasil, 38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda lambar-laun harus berjuang demu mengejar ketinggalan ekonomi, lambat-laun akan mengorbankan tujuan perjuangan kelas semula, dan bahkan akan menjadi semakin represif. Oleh karena itu baginya, perjuangan kelas skala nasional harus ditinggalkan dan menggalang gerakan anti sistem dengan perjuangan kelas berskala global. Salah satu yang diajukan adalah strategi untuk mengarahkan energi gerakan pada sumber surplus ekonomi, penyedotan surplus ekonomi global dengan jalan mengurangi laba, dan secara global memperhatikan persoalan pemerataan.(Fakih, 2003: 138-142) Kritik terhadap Teori Sistem Dunia Sejak pertengahan tahun 1970-an, para pemberi kritik telah menuduh bahwa perspektif sistem dunia telah menyajikan gemerlapnya konsep sistem dunia, seakan-akan merupakan sesuatu yang sangat riil dan meteril; sementara di sisi lain perspektif ini telah hampir secara sempurna meninggalkan spesifikasi sejarah perkembangan pada tingkat nasional. Di samping itu para pemberi kritik ini juga menuduh bahwa perspektif sistem dunia terlalu condong untuk mengunggulkan analis stratifikasi, sementara di sisi lain perspektif ini telah meninggalkan analisa kelas. Zeitlin menunjukkan bahwa Wallerstein telah memberi wujud (reifikasi) apa yang disebut sistem kapitalis dunia dan telah membalik proses sejarah yang riil, yang di dalam kandungannya hubungan global ini sesungguhnya tercipta. Sistem ekonomi dunia sepertinya telah membebani tugas ekonomi tertentu pada dirinya sendiri dan pada bagianbagian wilayahnya, dan kemudian bagian wilayah-wilayah itu terlihat memiliki mode produksi yang berbeda satu sama lain, dan demikian seterusnya. Apa yang sesungguhnya terjadi di sini,justru, teori yang seakan-akan bebas ruang dan waktu ini telah diberi satu wujud dan wajah kehidupan atas dirinya sendiri, dan kemudian mampu memaksa agar segala realitas sosial dapat dipahami oleh bangun teorinya. Jika demikian halnya, maka kini kategori teroritis yang telah disusun dan dimiliki akan sselalu memaksa realitas sosial untuk selalu sesuai atau tunduk dengan tesis yang sebelumnya telah dibangun. Lebih dari itu, Zeitlin telah menuduh Wallerstein, yang seakan-akan tanpa sepengtahuannya, telah menyiapkan perangkap penjelasan sejarah yang teleologis. Dalam hal ini peristiwa sejarah sepertinya digunakan untuk menjelaskan asal-usul sistem ekonomi dunia, tetapi di sisi lain, seluruh peristiwa sejarah yang digunakan untuk penjelasan ini nampak seperti dipaksakan untuk harus terjadi dan mengada karena sistem ekonomi dunia memerlukan keberadaannnya. Sebagai contoh, Zeitlin, mengutip Wallerstain ketika mengatakan bahwa ada tiga wilayah yang senyatanya memiliki mode produksi yang berbeda. Jika misalnya ini tidak ada, maka tidak akan mungkin untuk memberikan jaminan akan adanya aliran surplus yang akan membuat sistem kapitalis mewujud. Bagi Zeitlin, formulasi yang seperti ini merupakan penjelasan teleologis, karena lahirnya sistem ekonomi dunia disebabkan oleh akibat yang ditimbulkannya karena maksud yang sesungguhnya hanya terealisir dengan lahirnya kapitalisme. Karena dua hal ini, reifikasi dan teleologi, teori sistem dunia kemudian juga dikritik telah melupakan spesifikasi sejarah perkembangan yang dipunyai oleh masing-masing negara. 39
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Menurut Zeitlin, pokok perhatian Wallerstain yang selalui dicurahkan pada ”totalitas” telah menghalanginya untuk terlihat dalam ”analisa sejarah yang kongkrit dan spesifik dari suatu masyarakat tertentu”. Dengan selalu menegaskan bahwa hanya sistem dunia sendiri yang riil, teori sistem dunia telah mengaburkan, bukan memperjelas, hubungan sosial yang kongkrit, yang mendasari apa yang disebut sistem dunia ekonomi kapitalis dan menggerakkan dan menumbuhkan pemahaman perkembangan sejarah yang sebaliknya. Didalam besaran teori sistem dunia, Zeitlin berpendapat bahwa para peneliti yang mengikuti perspektif sistem dunia tidak akan mampu menjawab pertanyaan kritis tertentu. Mereka akan gagal, misalnya, memberikan jawaban yang memuaskan tentang bagaimana satu konfigurasi sejarah tertentu atau hubungan kelas sosial dari satu formasi sosial tertentu berpengaruh terhadap perkembangan internal masyarakat tersebut. Demikian pula terhadap perkembanghan internal masyarakat tersebut. Demikian pula mereka akan tidak mampu memberikan penjelasan tentang asal usul lahirnya konfigurasi kelas sosial, bentuk gerakan yang dipilih oleh kelas sosial, dan apa akibat lanjutnya. Pertanyaan tentang apa dinamika akumulasi modal yang khas dari satu modal kelas osisal tertentu? Bagaimana pengaruh dinamika pasar dunia terhadap perkembangan dan pembangunan masyarakat tertentu akan tak memperoleh penjelasan yang berarti bagi peneliti yang menggunakan pendekatan sistem dunia. Pertanyaan yang juga akan mereka tinggalkan misalnya tentang apa dan bagaimana akibat relatif pembangunan yang timbul dari interaksi yang spesifik dari pasar dunia dengan jenis penetrasi dan ekspansi yang dikembangkan oleh berbagai macam pemilik modal? Bagi para pengeritik, teori sistem dianggap lebih memperhatikan hubungan pertukaran dan distribusi barang di pasar ketimbang analisa kelas dan konflik kelas di arena produksi Oleh karena itu, Wallerstain sering dijuluki sebagai ”sirkulasionis”. Menurut Zeitlin, ketika Wallerstain berbicara tentang ”kelas”, sesungguhnya apa yang ia maksud adalah stratifikasi, yang ukurannya ditentukan oleh tempat berdasarkan urutan perjenjangan pekerjaan di dalam tatanan kapitalis dunia. Perjenjangan ini akan menerima penghargaan yang berbeda berdasarkan tingkat produktivitasnya, tingkat pengetahuan yang diperlukan, dan sumbangannya terhadap utuh dan terjaganya sistem ekonomi dunia Dengan kata lain perbedaan posisi dalam tatanan pembagian kerja internasional berpengaruh tergadap pola stratifikasi dan bangun politik masyarakat. Namun demikian, Zeitlin, model stratifikasi yang demikian bukan tanpa masalah.Zeitlin menunjuk dengan jelas bahwa model mengaburkan asal usul sejarah pembentukannya, dan jika demikian bahlnya, ini hanya akan merubah keterkaitan riil antara pembagian kerja dengan hubungan kelas menjadi kacau balau (terjungkil balik). Dalam model abstrak ini tidak akan dijumpai adanya hubungan yang saling mengikat dari berbagai macam strata yang terlihat. Pada bangunan model ini juga tidak akan diketemukan makna riil dari adanya elemen keterkaitan antara produser dan pengambil nilai lebih, penindas dan tertindas, serta eksistensi kelas yang tertindas.Budak, gundik, petani-penyewa, 40
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pegawai-pegawau rendah, pengrajin dan buruh barubah arti hanya sekedar menjadi ”kategori pekerjaan.” Tidak hanya itu, Zeitlin juga mencatat bahwa dalam model abstrak dan tidak menyejarah ini.”pasar kapitalis dunia (pembagian kerja internasionl) menampakkan muka palsunya”. Pasar dunia lebih terlihat sebagai penyebab timbulnya hubungan kelas dari satu masyarakat tertentu, daripada sebagai, yang senyatanya, produk akhir sejarah dari proses pembiasan hubungan kelas. Dengan kata lain, pasar dunia dilihatnya sebagai penyebab lainnya struktur kelas, bukan sebagai akibat dan adanya hubungan kelas. Oleh karena itu, Zeitlin menuduh teori sistem dunia tidak pernah menguji secara historis dan spesifik hubungan kelas dalam berbagai negara yang mungkin memiliki pengaruh terhadap hubungan global di antara mereka, dan menentukan bagimana hubungan global di antara mereka, dan menentukan bagaimana hubungan global ini berpengaruh balik terhadap pembangunan internal negara-negara tersebut. (Suwarsono, 1991: 233 – 226) Usaha Mencari Teori Pembangunan Pribumi Adalah jelas bahwa ilmu sosial gaya Barat pada umumnya dan teori pembangunan Eropa-sentris khususnya, sudah dan masih merupakan tantangan bagi banyak pusat-pusat akademi di Dunia Ketiga. Persoalannya jelas didiskusikan paling intensif pada bagian pertama tahun 1970-an. Karena alasan-alasan yang wajar, diskusinya kebetulan terjadi bersamaan dengan perubahan tentang kemandirian, karena apa yang disebut usaha mempribumisasikan pemikiran pembangunan merupakan bagian persoalan umum perkembangan kemandirian, sebagai komponen intelektual dari proses ini. Kini perdebatan ini mungkin kelihatan agak usang, tetapi persoalannya sama sekali tidak hilang. Pendekatan radikal terhadap persoalan ini adalah membuang konsepsi-konsepsi Barat sama sekali dan mendirikan ”ajaran nasional”. Hal ini oleh banyak ahli dipahami sebagai suatu ancaman kepada ilmu pengetahuan sosial secara langsung, karena akibatnya adalah suatu keadaan yang terpecah-belah, tidak hanya di antara disiplin-disiplin ilmu sosial yang merupakan suatu persoalan tersendiri, tetapi juga antara tradisi-tradisi nasional yang bersifat khusus dan yang bersifat gerejani. Tetapi dalam suatu perspektif yang lebih panjang, usaha-usaha mempribumikan pemikiran-pemikiran pembangunan bisa dilihat, dan ini merupakan pandangan yang disajikan di sini sebagai suatu tahap yang diperlukan dalam suatu konsepsi pembangunan yang lebih menyeluruh dan relevan, yang tidak harus menghilangkan konsepsi-konsepsi Barat, tetapi yang mengisyaratkan suatu pandangan yang lebih realistis terhadap ilmu sosial Barat sebagai berlaku dalam suatu konteks geografi dan historis yang khusus. Yang menyusul kemudian adalah suatu diskusi pendahuluan mengenai berbagai usaha untuk merumuskan pendekatanpendekatan yang pebih pribumi pada persoalan-persoalan di Amerika Latin, Asia dan Afrika. Di Amerika Latin ada suatu persamaan budaya yang kuat dengan Barat dari suatu tingkat pelembagaan akademis yang tinggi, sekurang-kurangnya di negara-negara seperti 41
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Meksiko, Argentina, Brasilia dan Chili. Nilai-nilai Barat dengan demikian tidak dipertanyakan dalam taraf yang sama seperti halnya di Asia dan Afrika. Apa yang dipertanyakan adalah kemampuan ilmu sosial mutakhir untuk melukiskan dengan benar realitas sosial dan untuk menggerakkan strategi –strategi yang layak, bagi perubahan. Sikap kritis ini sangat mirip dengan sikap yang diambil oleh negara-negara kuat yang sedang muncul pada abad ke-19 yaitu Jerman dan Amerika Serikat Satu kasus seperti yang dimaksud adalah tradisi ketergantungan yang sampai tingkat tertentu berfungsi sebagai suatu ideologi nasional. Namun demikian, yang sangat besar arrtinya adalah analisis mengenai kondisi-kondisi subnasional yang lebih khusus, tetapi sedikit sekali karya yang dilakukan menurut garisgaris ini. Sampai setingkat mana usaha-usaha demikian memerlukan konsepsi-konsepsi dan perspektif-perspektif Amerika Latin. Kenyataan bahwa pemikiran pembangunan Barat sebagai suatu keseluruhan kelihatan terintegrasi dengan gagasan Amerika Latin tidaklah berarti bahwa usaha-usaha untuk mencari suatu identitas historis yang khas Amerika Latin, pada taraf yang lebih bersifat filsafat, sama sekali tidak ada. Marxisme di Amerika Latin jelas merupakan suatu kasus pencangkokan intelektual dengan sedikit hasil bumi, sampai kepada terbentuknya perspektif ketergantungan pada tahun 1960-an. Karena diskusi mengenai ketergantungan di Amerika Latin bisa dipandang sebagai contoh besar dari empansipasi intelektual, maka satu titik tolak yang relevan ialah untuk mencari apakah ada suatu perdebatan yang serupa di Asia. Di bagian-bagian Dunia Ketiga di mana teori ketergantungan telah berakar penafsiran kembali yang sedang berkembang. Tetapi di India, di mana Marxisme dari jenis yang agak ortodoks berakar kuat, orang cenderung mengira bahwa kritik Marxis itu secara keseluruhan telah mempunyai dasar sendiri. Hal itu banyak diungkapkan dalam perdebatan penuh semangat tentang perkembangan kapitalisme dalam pertanian di India, yang dimuat dalam Economic and Political Weekly (Bombay) dan Social Scientist (Trivandrum). Satu titik referensi yang jelas kepribumian ilmu sosial India adalah Gandhi. Hal itu diakui secara luas di antara para ilmuwan India Dalam banyak hal Gandhi tampak modern secara menyolok. Pendekatannya bisa digambarkan sebagai berorientasikan tindakan (lingkungan tertekan merupakan laboratoriumnya) normatif (titik pandangannya adalah yang termiskin dari yang miskin) dan global (sasaran akhirnya adalah suatu tata dunia tanpa kekerasaan). Prinsip-prinsip semacam itu bisa diketemukan dalam penelitian ilmu sosial yang berorientasikan persoalan masa kini. Kalau Gandhi setidak-setidaknya sudah merupakan suatu lambang pempribumian ilmuilmu sosial di India. Mao Ze Dong memainkan suatu peranan yang lebih langsung di Cina. Di negara yang tersebut belakang itu motivasi dalam proses intelektual itu adalah kontradiksi antara ilmiahisme universalis (dikaitkan dengan Marxism Soviet) dan aktivisme kongkret (duhubungkan dengan filsafat Maois). Sebagai bagian dari tujuan 42
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Mao untuk menghapus ”tiga perbedaan besar”, salah satu diantaranya mengenai kerja keras lawan kerja intelektual, watak akademis ilmu-ilmu sosial tidak memberi penekanan pada suatu soal sampai ke tingkat meniadakannya sama sekali. Namun demikian, Mao senantiasa menganggap studi-studi sosial sehingga teramat penting bagi pekerjaan politik. Afrika, seperti negara-negara bekas jajahan lainnya, merupakan suatu contoh penetrasi intelektual akhir-akhir ini, dengan suatu prasarana akademis yang dalam perbandingan lemah, dan sesuai dengan hal tersebut, tak ada pemikiran pribumi yang dapat dilihat sebagai suatu jawaban langsung terhadap penetrasi intelektual. Proses-proses penetrasi intelektual dan emansipasi intelektual telah berlangsung sekaligus, sekalipun dalam konteks sosial yang berbeda-beda. Dari sudut pandangan pribumian, zaman keemasan ilmu sosial di Afrika ialah selama perjuangan kemerdekaan dan dalam masa segera sesudah penjajahan berakhir. Selama periode ini, telah muncul sejumlah gagasan sosial dan politik yang orsinal, yang kebanyakan memiliki suatu kadar ilmu sosial yang kuat. Apa yang mereka hasilkan adalah ilmu sosial di luar kelembagaan, yang bisa disejajarkan dengan pensadores Amerika Latin dan sosiologis Marxis. Pada tahun 1970-an kecenderungan–kecenderungan ke arah emansipasi intelektual tidak hanya dalam arti kebudayaan yang luas tetapi juga di dalam ilmu-ilmu sosial telah menjadi nyata. Hal ini mungkin ini dapat dilihat sebagai diilhami oleh pendekatan mengenai ketergantungan yang meliputi seluruh dunia. Kritik mengenai status quo, bagaimanapun secara khas telah mengambil bentuk Afrikanisasi, tetapi lebih menurut arti personalia daripada dalam konsep-konsep dan teori-teori. Hal ini bisa ditunjukkan oleh perkembangan-perkembangan dalam Institute of Development Studies yang pada mulanya didirikan sebagai suatu lembaga ”neocolonial”, tetapi kemudian berangsurangsur diafrikanisasikan. Proses ini pertama-tama tidak menyangkut kritik terhadap aliran-aliran dan tradisi-tradisi penelitian yang lazim. Adapun mengenai proses Afrikanisasi yang berkenaan dengan isi penelitian, perubahan-perubahan terbatas pada suatu penekanan yang kuat tentang sasaran-sasaran penelitian pragmatis yang merupakan bantuan dari sudut pandangan pemerintahan, daripada merupakan perspektif alternatif. Ketidakpuasaan terhadap prasangka Barat dalam pelajaran-pelajaran dan programprogram penelitian di universitas tersebar luas, tetapi pada umumnya para pengajar menganggap sangat sukar untuk menemukan pengganti-pengganti yang baik yang lebih relevan dalam konteks Afrika. Tahap pembribumian akhir-akhir ini mengambil sebagai titik tolaknya krisis pembangunan di Afrika dan sutu kritik terhadap paradigma pembangunan konvensional. Benarlah bahwa radikalisme yang kritis sekarang ini lebih bergerak ke arah semacam Marxisme daripada membangkitkan pola-pola pemikiran pribumi yang murni, tetapi hal itu tidak utuh mengandung arti ketidakserasian antara Marxisme dan pendekatanpendekatan yang sedikit banyak bersifat pribumi Unsur-unsur kepribumian dalam sosialisme Afrika dan konsepsi-konsepsi pembangunan lainnya, seluruhnya merupakan bangunan-bangunan intelektual yang diciptakan oleh golongan elite modern supaya misi modernisasi mereka dapat dimengerti dan diterima oleh rakyat pedesaan. Kepentingan dalam pempribumian pada umumnya lebih besar di 43
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Amerika Latin dan Asia, tetapi perdebatan itu telah mengungkapkan persoalan – persoalan mendalam yang terlibat. Kalau pempribumian berkaitan dengan proses di mana gagasan-gagasan dan lembagalembaga yang dicangkokkan sedikit-banyak telah dimasukkan secara radikal oleh para penerimanya agar sesuai dengan situasi khus mereka sendiri, tidaklah selalu jelas sejauh mana hal ini mensyaratkan emansipasi intelektual atau bentuk-bentuk dominasi baru. Kami telah menunjukkan kepada kenyataan bahwa beberapa badan pemberi dana memang benar-benar mendorong emansipasi intelektual. Tetapi sering kali pihak penerima bantuan tidak mewakili suatu budaya homogen yang bisa dipakai sebagai dasar guna menegakkan asas pribumian. Di India, misalnya, modernisasi menurut garis-garis Barat akan dapat digantikan dengan sanskritisasi, yang menurut kelompok-kelompok non –Brahma adalah bentuk intern dari penetrasi intelektual. Di Afrika, di mana negaranegara kebangsaan di banyak negara belum akan menjadi suatu kenyataan sosial dan di mana rakyat memihak kepada komunitas-komunitas subnasional, tidaklah begitu jelas macam apa jalan pembangunan nasional pribumi ini nantinya. Di lain pihak, dalam banyak negara Amerika Latin, proses integrasi nasional telah berjalan lebih jauh. Karena itu fungsi nasionalistis dari perspektif ketergantungan dan strategi kemandirian misalnya, adalah lebih jelas. Di Meksiko, di bawah Presiden Luis Echeverrria, perspektif ketergantungan bahkan dimasukkan ke dalam buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah. Tetapi, di Amerika Latin pun proses pempribumian menjadi ruwet dengan adanya suatu perpecahan Latin-Indian. Kebudayaan India pribumi (indegenismo) telah memberi ilham kepada penulis-penulis dan seniman-seniman, tetapi sejauh ini hal tersebut tidak mempunyai dampak terhadap ilmu-ilmu sosial. Sebagai kesimpulan, kita harus mengakui bahwa perdebatan mengenai pempribumian pada tahun 1970-an adalah sautu permulaan yang mengandung harapan, tetapi sebelum tinggal landas perdebatan itu entah bagaimana telah terhenti pada permulaannya.(Hettne, 1985: 148 – 168) Demokrasi dan Pembangunan Runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989 mengungkapkan kegagalan total komunisme sebagai teladan pembangunan berkelanjutan, namun ini tidak memberikan bukti yang tidak dapat dibantah dari pernyataan yang populer pada masa itu bahwa pembangunan tidak mungkin tanpa demokrasi. Dokumen kebijakan A World of difference menggariskan perbedaan dalam hal ini antara apa yang secara moral diminanti dan apa yang sebenarnya dapat diamati. Walaupun ada dasar yang kuat bagi asumsi bahwa pembangunan berkelanjutan hanya mungkin dalam konteks tatanan politik berdasarkan kebebasan perorangan, tidak dapat dipungkiri bahwa tahap pertama proses industrialisasi dan pemupukan modal tentunya dapat berhasil dengan rezim otorioter atau bahkan totaliter. Namun demikian, ini sama sekali bukan hukum alam: banyak rezim deposit yang telah gagal dalam proses lepas landas industri. Dan ada pula beberapa contoh pembangunan yang berhasil di bawah kondisi pemerintahan yang demokratis. Dalam hal rezim non-demokratis, stagnasi atau bahkan kemerosotan seringkali terjadi setelah tahap pertama ini karena tatanan politik yang demikian menjadi hambatan bagi 44
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pembangunan selanjutnya. A world of difference mencatat bahwa hal ini kini telah terjadi di sebagian besar negara komunis, karena mereka ingin menguasai seluru proses pengambilan keputusan ekonomi dari pusat. Namun stagnasi ini dapat juga diperkirakan terjadi cepat atau lambat di negara-negara dengan rezim otoriter sayap kanan, di mana himbauan akan hak asasi manusia dan demokratisasi akan menjadi semakin nyaring. Sementara pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat disangkal tidak dipusatkan di bawah rezim macan ini (meskipun dapat terjadi karena penunjuk dari atas), kurangnya kebebasan politik pasti akan membuktikan semakin banyak kekurangnya dalam proses pembangunan yang semakin rumit dan memerlukan otonomi tersendiri yang lebih besar. Cepat atau lambat kebebasan politik menjadi prasyarat bagi pembangunan ekonomi; tidak cukup dalam pembangunan ekonomi itu sendiri tetapi merupakan unsur penting. Terlepas dari itu, nilai kebebasan politik itu sendiri bukan yang terpenting dalam konteks pembangunan manusia Bagaimana dengan demokratisasi di seluruh dunia? Pertama-tama perlu dicatat bahwa gelombang demokratisasi yang dimulai pada tahun 1980-an masih berlangsung. Akibatnya setidak-tidaknya di Tumur Tengah dan dunia Arab atau Islam pada umumnya. Namun bahkan di sini terasa adanya pergerakan. Misalnya terjadi liberalisasi politik yang berhati-hati di Yaman (sejak persatuan kembali) dan Kuwait (sejak Perang Teluk). Yordania sebagai negara demokrasi Arab yang paling maju berhak disebut dalam hal ini. Di tempat lain legitimasi sejumlah rezim sekuler Arab-sosialis jelas telah melemah. Faktor-faktor yang turut menyebabkan melemahnya legitimasi tersebut bukan saja pembangunan ekonomi yang lamban dan tidak seimbang melainkan juga kejadiankejadian di Eropa Timur. Di beberapa tempat, gerakan-gerakan fundamentalis telah berhasil menarik dukungan rakyat. Namun demikian, dengan pengecualian Iran dan Sudan, tidak ada negara di kawasan itu yang didasarkan pada prinsip Islam secara eksklusif. Proses demokratisasi yang dimulai di Aljazair terhenti ketika tampak bahwa kaum fundamentalis berhasil dalam mengambil-alih kekuasaan melalui pemilihan. Di Amerika Tengah dan Amerika Selatan sejumlah diktaktor dan rezim militer telah menurun dratis dan jumlah fungsi demokrasi telah meningkat secara proporsional. Namun demikian, terlalu jauh untuk menggambarkannya sebagai bentuk pemerintahan yang stabil. Baik sistem maupun transisi kekuasaan, sungguh-sungguh terlalu dini untuk membenarkan hal ini. Begitu pula belum ada pemerintahan yang hebat dan efektif di mana-mana dan masih banyak kekeliruan dalam partisipasi politiuk dari kelompok besar rakyat miskin dan tersisih. Namun demikian, keseluruhan gambaran demokrasi di benua ini telah membaik walaupun masih ada pelanggaran hak asasi manusia di sejumlah negara. Masih pula terlalu dini berbicara mengenai demokrasi yang stabil di Eriopa Timur. Transisi dari rezim totaliter ke demokrasi belum cukup terlembaga, dan keseluruhan transformasi dari satu sistem ke sistem lain masih pada taraf dini. Namun demikian, kenyataan bahwa demokrasi belum dideskreditkan merupakan tanda penuh harapan walaupun banyak masalah yang telah menyertai transformasi ini. Kebebasan politik baru dipergunakan dengan menyenangkan dan hasil pemilu tinggi – tenrtu saja pada mulanya. Lagi pula perubahan pemerintahan setelah pemilu telah dilakukan secara damai di 45
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda sebagian besar negara Eropa Tengah. Walaupun ada tanda-tanda apati politik yang meingkat, belum ada alternatif demokrasi yang muncul. Bekas partai-partai komunis telah menyesuaikan diri pada situasi baru tersebut dan bahkan telah mendapatkan suara pada pemilihan umum di beberapa tempat dengan kemampuan menampilkan diri sebagai peserta yang dapat dipercaya dalam proses demokrasi ini. Bahkan di Rusia, negara yang sistem politik lamanya telah dibuang namun penggantinya masih merupakan persoalan perjuangan kekuasaan yang sengit, sebagian besar penduduknya telah menyatakan diri setuju dengan pembaruan demokrasi lebih lanjut dan juga, mungkin bahkan lebih baik lagi, yakni meneruskan reformasi ekonomi.Walaupun tidak adanya perbaikan dalam situasi ekonomi dalam jangka panjang dapat,membuat rakyat negara-negara Eropa Timur lebih rentan terhadap bentuk pemerintahan non-demokratis, otoriter, hal ini sekarang kurang begitu mengancam terjhadap demokrasi Eropa Timur yang baru dibandingkan dengan konflik yang diakibatkan oleh nasionalisme dan etnosentrisme yang membinasakan. Dengan pengecualian Eropa Timur, tidak ada bagian dunia ini yang telah begitu terpengaruh oleh revolusi demokrasi tahun 1989, seperti halnya Afrika. Akhir konflik Timur-Barat mengangkat baisis dukungan internasional bagi rezim otoriter di negara-negara berkembang. Dari sana Afrika sampai kemudian mendapat banyak contoh. Pemerintah Afrika tiba-tiba dihadapkan para permintaan dan keinginan yang menekan secara politis dari rakyatnya sendiri. Penurunan ekonomi yang dimulai pada awal tahun 1980-an serta pengaruh sosial dari program penyesesuaian struktural telah menyebabkan ketidakpuasan yang menyebar di banyak negara Afrika. Mereka menjadi semakin sulit untuk menyembunyikan korupsi dan manajemen buruk, yang merupakan ciri pemerintahan begitu banyak pemimpin Afrika. Sekitar tahun 1990 angin perubahan politik, liberalisasi politik dan bahkan demokratisasi mulai berhembus di seluruh benua itu. Tidak banyak negara yang dibiarkan tidak terpengaruh dan bahkan rezim apartheid di Afrika Selatan terperangkap dalam suasana perubanan umum tersebut. Di banyak negara, penguasa otokratik menjadi sasaran protes rakyat. Di beberapa negara Frankofon protes ini mengambil bentuk khas Afrika terdiri atas konferensi nasional dengan para wakil ”masyarakat sipil”, biasanya diketuai oleh seorang pemimpin gereja, menerima keluhan dan memberikan usulan bagi perubahan politik. Walaupun serangan-serangan terhadap kedudukan pemimpin nasional itu ada kalanya ditaklukkan dengan kekerasaan, kenyataan bahwa protes diperbolehkan sejak semula menandakan kebebasan yang meningkat di negara-negara Afrika. Hal ini juga tercermin dalam peretumbuhan baik kebebasan berhimpun maupun kebebasan pers di benua ini. Selain itu semakin banyak negara Afrika yang telah mengalami demokratisasi. Dengan kata lain, kini telah diperbolehkan adanya lebih dari satu partai politik dan telah dilaksanakan pemilihan anggota parlemen dan atau presiden yang mengikutsertakan lebih dari satu partai atau calon indepeden. Dalam tiga tahun terakhir ini pemilihan presiden semacam itu telah diselenggarakan di 22 negara Afrika semuanya di daerah Sub-Sahara. Jumlah ini juga mencakup pemilihan anggota parlemen di Kerajaan Lesotho. Sekitar 16 di antaranya dinyatakan ”bebas” dan ”adil”, walaupun hal ini tidak berarti bahwa pemilihan atau pun proses pemilihan tersebut secara keseluruhan bebas dari ketidakberesan. 46
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Kriteria demokrasi penting lainnya, yakni transisi kekuasaan yang damai setelah seseorang prseiden sedang menjabat dikalahkan, telah dipenuhi dalam sepuluh pemilihan itu. Hasil pemilihan menyebabkan masalah politik di dua negara – Angola dan Nigeria. Di kedua negara ini proses pemilihan umum belum memberikan penyelesaian yang memuaskan. Pada hakikatnya, setidak-tidaknya 13 negara Sub-Sahara baru-baru ini telah membuat kemajuan pesat terhadap demokrasi parlementer atau presidensial. Negara-negara tersebut adalah Benin, Burundi, Tanjung Verde, Kongo, Sao Tome dan Principe, Seychelles dan Zambia. Ditambah dengan keenam negara demokrasi yang sudah ada, Botswana, Gambia, Mauritius, Nambia, Senegal dan Zimbahwe, semuanya menjadi 19 negara demokrasi. Dengan keseluruhan negara Sub-Sahara yang berjumlah 48, tentunya demokrasi masih merupakan minoritas di belahan dunia ini. Memang dalam hal andil penduduk angka ini tidak lebih dari 20%. Mayoritas pemimpin Afrika, termasuk dari negara yang terbesar dan terbanyak jumlah penduduknya, masih belum menyelenggarakan pemilihan umum yang bebas. Ada yang menyelenggarakan pemilu dan kemudian memanipulasinya untuk mempertahankan kedudukannya. Hal ini terjadi di Kamerun dan Kenya. Di negara-negara lain seperti Togo dan Zaire, demokratisasi tertutup sama sekali. Dalam konteks Afrika Utara yang khas dengan perebutan antara modernisasi sekuler dan fundamentalisme agama, Aljazair memberikan contoh mengenai demokrasi yang tertunda. Akhirnya, ada kasus seperti Angola di mana demokratisasi telah dihabisi oleh kembalinya perselisihan dalam negeri. Bahkan di negara-negara tempat demokrasi telah dapat memantapkan diri, demokrasi Afrika yang masih muda ini mungkin dapat berguling dalam menghadapi situasi ekonomi yang sulit di bagian benua (hal ini digambarkan dengan baik oleh kejadian di Zambia). Mereka cenderung lemah secara insitusi, baik ekskutif maupun legislatif sering kurang memiliki otoritas yang efektif, dan masih kurang pengalaman dalam memajukan partisipasi politik penduduk dalam proses pembangunan. Kompilasi lainnya adalah kesadaran etnis, yang muncul di berbagai bidang dan mungkin menghasilkan upaya melepaskan diri dari keadaan sekarang. Perubahan ke sistem multi-partai kemungkinan besar menggelincirkan proses demokratisasi di Afrika dibandingkan di kawasan lain, jika saja sistem multi-partai didasarkan pada perbedaan etnis daripada mempertandingkan program politik. Namun, suatu faktor penting adalah kesadaran yang meningkat mengenai demokrasi di di negara-negara yang belum demokratis. Meningkatnya urbanisasi yang meningkat di Afrika telah menaikkan kesadaran politik rakyat, kemudian memperkuat ”basis” sosial bagi demokratisasi. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa seluruh benua dan liberalisasi politik yang juga muncul di negara-negara yang belum demokratis. Meningkatnya urbanisasi yang meningkat di Afrika telah menaikkan kesadaran politik rakyat, kemudian memperkuat basis sosial bagi demokratisasi. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa proses demokratisasi di Afrika tidak akan terhenti. Apa yang terjadi di 47
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda negara-negara yang begitu genting seperti Nigeria dan terutama Afrika Selatan, ternyata sangat penting bagi pembangunan demokrasi Afrika secara keseluruhan dan tentunya Afrika Sub-Sahara. Bagian dunia yang masih tidak terkena secara relatif oleh semangat tahun 1989 pembebasan adalah Asia. Hal ini benar paling tidak dalam dua hal. Pertama, Asia mengbanggakan rezim komunis terakhir masih berjaya (selain Kuba), yakni Cina, Laos, Korea Utara dan Vietnam. Namun, sebenarnya perlu dicatat bahwa komunisme ini sangat khusus, terutama di Cina, yakni Lenin tanpa Marx. Dengan kata lain, komunisme dengan ekonomi berorientasi pasar yang semakin besar di negara berpartai tunggal ini berdasarkan prinsip-prinsip Lenin. Tentu saja, karena itulah sulit untuk membandingkan Cina dengan rezim otoriter non-komunisme di wilayah ini. Namun demikian tampaknya ada kesejajaran. Perkembangan lainnya yang tampak cukup khas bagi Asia Timur dan Asia Tenggara (dengan pengecualian Jepang, Filipina dan akhir-akhir ini juga Korea Selatan), adalah baris paksa di bawah pengarahan otoriter menuju modernisasi ekonomi. Model ini tidak saja terbukti cukup berhasil (walaupun model ini tidak akan terjadi tanpa kekurangan sosial dan ekologinya), namun telah pula didukung oleh kesadaran diri yang meningkat. Hal ini antara lain didasarkan pada apa yang disebut hubungan khusus yang ditentukan secara budaya antara perorangan dan masyarakat, antara warga dan negara. Unsur kolektif mendapat mendapat tempat penting dalam model ini daripada seperti yang terdapat dalam konsep Barat mengenai demokrasi dan hak asasi manusia. Asianisme, sebagaimana yang disebut oleh beberapa media, belum mengarah misalnya pada pengingkaran sifat universal dari hak asasi manusia. Namun, dinyatakan bahwa hak –hak tersebut bagaimanapun harus ditentukan dalam konteks nasional. Karena itu, pembangunan ekonomi mendapat prioritas di atas demokratisasi dan ”dunia luar” tidak berhak mengatakan pendapatnya mengenai bagaimana negara-negara tersebut menghormati hak asasi manusia. Walaupun dituliskan dalam istilah yang agak berbeda, Asianisme ini merupakan pemegang standar gerakan yang jauh lebih tua, yang sebelumnya merangkul negara-negara komunis dan banyak negara berkembang lainnya, namun tampaknya gerakan tersebut banyak mengalami kegagalan setelah tahun 1989. Oleh karena itu, Asianisme akan mendapatkan kekuatannya kembali tergantung dari keadaan sekitarnya. Asianisme adalah gerakan pemerintah yang menganggap bahwa ”pangan” harus didahulukan dari “kebebasan” dan yang juga percaya bahwa dalam hal ini mereka bebas untuk bertindak sesukanya. Keberhasilan model pembangunan Asia Timur dapat memberikan selubung bagi segala macam bentuk negara lain yang kurang berhasil dari segi ekonomi tetapi tidak begitu memperhatikan hak asasi manusia dan tidak menyukai adanya campur tangan dari luar. Ini merupakan tantangan, dan tanggapan masyarakat internasional terhadap masalah ini harus berprinsip dan hati-hati. Ini memang terjadi pada Koferensi Hak Asasi Manusia Dunia yang belum lama ini diselenggarakan di Wina. Ini adalah masalah prinsip mengenai sifat universal hak-hak asasi manusia dan batas yang seharusnya dikenakan pada kedaulatan nasional. Dan penerimaannya haruslah hati-hati agar tidak membuangnya secara gegabah. Sistem demokratis tidak dapat dipaksakan dari luar. Perbedaan budaya tentunya memainkan peranan dalam membentuk demokrasi walaupun 48
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda daslam Shintoisme, Buddhisme, Konfusionisme, dan Islam Asia Timur memperlihatkan gambaran budaya yang begitu beragam sehingga bukanlah hal yang sederhana mencari sari doktrin konsitusional yang seragam dari semuanya itu. Hal ini mengesampingkan fakta bahwa di bagian lain Asia, masyarakat multi-budaya besar seperti India, telah bertahun-tahun menjalankan demokrasi dengan cukup baik. Hal berikutnya bahwa prioritas yang seharusnya, menurut Asianisme, diberikan kepada kolektivitas daripada perorangan sama sekali tidak mengesampingkan kemungkinan keputusan mengenai ini diambil oleh mayoritas, dan dengan menghormati hak politik perorangan. Sebaliknya, banyak budaya, tidak hanya di Barat namun juga di Afrika dan Asia telah lama memiliki jalan untuk mamaduhkan keinginan pribadi dan kepentingan masyarakat dengan cara yang menguntungkan, tidak saja pandangan dari mereka yang memerintah, tetapi juga keinginan dari yang diperintahnya. Selanjutnya, karena ekonomi pasar dan ekonomi konsumen yang diperkenalkan dengan cara otoriter di kawasan ini mempunyai daya tarik terutama sekali bagi keinginan dan pilihan individual, khususnya, dan mendorong keputusan individual hasrat akan kebebasan dihembuskan secara tidak langsung. Oleh karena itu, perlu menunggu dan melihat apakah Asianisme terbukti; lebih dari sekedar ideologi pemerintah otokratis dan apakah, misalnya Asianisme ini mendapat dukungan penduduk Asia Timur sebagai suatu kesatuan dengan menjadi sadar secara politis. Untuk menaikkan peluang akan kebebasan berpendapat, masyarakat internasional harus terus menentang cara-cara penindasan seperti pembunuhan dan penyiksaan dan menjamin agar kemajuan ekonomi tidak merupakan bagian dari kerja paksa, sebagaimana yang masih tampak di Cina. Hubungan antara demokrasi dan pembangunan merupakan topik yang sedang banyak mendapat perhatian dalam kebijakan-kebijakan negara-negara dan organisasi yang memberikan bantuan. Biasanya mereka menerapkan kriteria pemerintahan yang baik: cara bagaimana negara menggunakan wewenang politiknya dan kekuasaaan administratifnya untuk menyalurkan pembangunan sosial dan mengarahkan pengunaan berbagai sumber daya yang sangat penting bagi proses keberhasilan proses pembangunan Sampai taraf tertentu ini adalah masalah administratif dan merupakan perluasan dari manajemen sektor publik, misalnya, sebagai bagian yang diperlukan bagi program penyesuaian struktural untuk mendukung ekonomi pasar di negara-negara berkembang. Namun pada taraf yang lebih luas. hal ini secara politis merupakan masalah yang jauh lebih sensitif, karena melibatkan manajemen yang baik dalam arti memerintah dengan cara yang bertanggung jawab dan jelas. Dengan meningkatnya perhatian pada pembangunan manusia, pada nilai yang penting sekali dari individual dalam proses pembangunan berkelanjutan, ada peningkatan realisasi kebutuhan akan gaya pemerintah yang tidak menjangkau rakyat tetapi yang memenuhi kebutuhan mereka,dapat diperoleh dan dapat diramalkan bagi mereka. dan yang dapat mereka pengaruhi. Pada umumnya pemerintahan semacam ini didukung oleh sistem politik berdasarkan pemisahan kekuasaan dan transisi kekuasan demokratis, dengan jaminan pengadilan independen dan norma hukum, dan dengan penghormatan pada hak-hak sipil atau kebebasan. Selain itu, pemerintahan yang baik berarti tidak adanya koruipsi dan pengeluaran militer yang berlebihan, yang merugikan proses pembangunan. 49
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Walaupun realisasi dari nilai pemerintahan yang baik bukan merupakan yang baru, hal ini sudah lama tumbuh menjadi kepentingan politik, terutama sejak akhir Perang Dingin. Keengganan yang sebelumnya ada untuk memulai pembicaraan mengenai masalah ini karena alasan politik, kini sudah hilang. Masalah-masalah demikian juga perlu dikemukakan jika dukungan masyarakat umum untuk upaya bantuan hendak dipertahankan. Namun demikian, minat yang tiba-tiba pada pemerintahan yang baik dipandang dengan kecurigaan oleh banyak negara berkembang Ini bukan saja karena mereka khawatir akan adanya pembebasan gelombang baru persyaratan untuk mendapat bantuan, dalam hal ini persyaratan politik, sesudah mengikuti jumlah persyaratan yang semakin banyak mengenai kebijakan ekonomi mereka. Ini juga karena pemberi bantuan yang sama sampai belum lama ini siap memanfaatkan pemerintahan yang buruk atau bahkan mendukungnya dengan alasan kepentingan politik internasional. Dan kecurigaan telah meningkat dengan cara para pemberi bantuan bilateral dan multilateral dalam menangani bantuan itu yang ada kalanya tidak dipikirkan terlebih dahulu. Salah satu contoh adalah kecepatan yang diharapkan dari pemerintah negara-negara berkembang untuk memasukkan pembaruan. Contoh lain adalah kecenderungan para donator untuk mensyaratkan supa model pemerintahan Barat diterapkan tanpa perubahan di belahan dunia lainnya. Dan apabila keinginan yang beralasan dari negara-negara berkembang untuk mendapat akses pada ekonomi internasional dipertimbangkan, para donator kerap meredupkan pendapat mereka dengan pandangannya atas kebijakan dalam negeri negara-negara tersebut, selalu dianggapnya bahwa mereka tidak hanya mengabaikan keinginan-keinginan itu. Dan negara donator tersebut juga bersedia menggunakan tidak adanya pemerintahan yang baik sebagai alibi untuk mengurangi upaya bantuannya, misalnya, apabila motivasi sebenarnya adalah uang. Namun demikian, perubahan politik di banyak negara berkembang, misalnya di Afrika, telah menjadikan mereka lebih terbuka pada gagasan-gagasan tentang pentingnya pemerintahan yang baik. Konsultasi internasional telah dibentuk baik di antara para donatur dan antara mereka maupun negara-negara berkembang, misalnya, dalam Global Coalition for Africa (Koalisi Dunia bagi Afrika), dengan maksud untuk meningkatkan kepaduan kebijakan di kedua pihak. Terdapat konsensus yang semakin besar bahwa langkah –langkah positif (bantuan untuk meningkatkan pemerintahan yang baik) hendaknya menjadi peraturan, sedangkan langkah-langkah negatif (dengan syarat) menjadi pengecualian. Contoh-contoh dari yang pertama adalah bantuan untuk membantu mendirikan pemerintahan dan lembaga-lembaga peradilan yang efisisen, untuk membentuk budaya demokratis baik dari bawah (partisipasi) dan dari atas (pemerintah yang bertanggung jawab), untuk mengawasi proses pemilihan umum, untuk melawan korupsi dan untuk mendemobilisasi masyarakat yang bersenjata. Dengan banyaknya negara berkembang yang kurang berpengalaman dalam manajemen sektor publik yang modern, maka untuk mencapai pemerintahan yang baik sebagian besar merupakan masalah ketekunan dan keinginan untuk belajar dari kesalahan yang biasanya selalu banyak. Namun demikian, para donatur hendaknya tidak mempunyai gagasan yang berlebihan mengenai apa yang mungkin dilakukan dalam jangka pendek, selalu ada alasan untuk mendukung jasa pemerintah dan lembaga-lembaga swasta di negara-negara berkembang berusaha keras mencapai peningkatan abadi dalam administrasi peradilan 50
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dan dalam kebebasan sipil dan politik. Selain itu, para donatur dibenarkan karena alasan kebijakan pembangunan dalam mengurangi atau bahkan menghentikan cadangan bantuan apabila terdapat pelanggaran hak asasi manusia secara nyata maupun sistematis, demokrasi yang gawat serta pengeluaran militer yang berlarut-larut dan berlebihan dari negara penerima bantuan. (Pronk, 1994: 26 – 39) Penutup Lebih dari empat dekade, bidang studi pembangunan telah didominasi oleh tiga aliran pemikiran, yakni modernisasi, teori ketergantungan, dan teori sistem dunia. Tiga aliran pemikiran ini lahir dan tumbuh dalam konteks sejarah yang berbeda. Ketiga persepektif ini dipengaruhi oleh tradisi teori yang berbeda, karya kajiannya dilandasi oleh asumsi yang berbeda. dan oleh karena itu implikasi kebijaksanaan pembangunan yang ditawarkannya pun berbeda. Setelah mendapat kritik, masing-masing teori ini melakukan modifikasi terhadap asumsi dan penjelasan pokoknya, dan kemudian melakukan seperangkat penelitian baru untuk menjawab kritik yang telah diterima. Teori modernisasi muncul di tahun 1950-an, ketika Amerika Serikat menjadi negara adikuasa dunia. Ilmuwan sosial Amerika Serikat kemudian mendapat tugas baru untuk merumuskan program diperlukan untuk melakukan modernisasi negara Dunia Ketiga yang baru merdeka. Dengan hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh teori evolusi, ilmuwan sosial ini merumuskan modernisasi sebagai satu proses yang bertahap, tidak berbalik, maju dan berjangka panjang menuju ke arah seperti yang telah dicapai oleh Amerika Serikat. Dengan dipengaruhi oleh teori fungsionalisme, ilmuwan sosial ini melihat modernisasi sebagai hal yang berlawanan dengan tradisi. Oleh karena itu, mereka mengajukan gagasan agar negara Dunia Ketoiga melakukan transformasi nilai-nilai tradisioonalnya, mengikuti dan meniru nilai-nilai budaya Amerika serta menggantungkan bantuan dan hutang dari Amerika. Namun demikian ketika teori modernisasi berada dalam serangan kritik di akhir tahun 1960-an. para pemerhatinya mulai merubah beberapa asumsi dasarnya. Tema terakhir yang muncul kepermukaan dari teori ini terlihat misalnya pada pengakuan peran nilai tradisional terhadap pembangunan. Perubahan yang cukup mendasar ini telah mengakibatkan terbukanya jendela baru masalah-masalah penelitian yang kemudian nampaknya telah dilakukan oleh pemerhati teori modernisasi dengan cukup baik. Jika teori modernisasi lebih merupakan produk Amertika Serikat, maka akar teori ketergantungan tertanan di negara Dunia Ketiga. Tepatnya, teori ketergantungan lahir sebagai tanggapan atas gagalnya program KEPBBAL dan merupakan kritik terhadap Marxisme ortodoks di negara-negara Amerika Latin pada awal tahun 1960-an. Dengan hampir sepenuhnya mendasarkan diri pada rumusan radikal KEPPBAL dan teori neoMarxist, teori ketergantungan merumuskan hubungan antara negara Barat dengan negara Dunia Ketiga sebagai hubungan yang dipaksakan, eksploitatif, ketergantungan. Hubungan ekonomi yang terjadi bukan merupakan jenis keterkaitan yang menyebabkan 51
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda terjadinya pembangunan negara Dunia Ketiga. Oleh karena itu, teori ketergantungan mengajukan sarannya kepada negara Dunia Ketiga untuk melepaskan hubungan dan keterkaitannya dengan negara Barat, jika negara Dunia Ketiga hendak mencapai pembangunan yang independen dan otonom. Namun demikian ketika teori ketergantungan mendapat serangan kritik pada awal tahun 1970-an, para pemerhatinya negara melakukan modifikasi asumsi dan penjelasan teoritis pokoknya. Perubahan yang terakhir yang terjadi terlihat pada pernyataannya bahwa situasi ketergantungan bukan hanya merupakan ketergantungan ekonomis, tetapi juga merupakan ketergantungan sosial politik. Ketergantungan bukan hanya merupakan persoalan eksternal tetapi juga sekaligus terkait dengan struktur sosial internal. Lebih dari itu, teori ketergantungan kini tidak dapat lagi melihat bahwa ketergantungan dan pembangunan merupakan dua hal yang selalu dan harus bertolak belakang. Baginya, ketergantungan dan pembangunan dapat dengan damai hidup berdampingan satu sama lain. Perkembangan baru ini telah menjelaskan munculnya serangkaian karya penelitian baru Teori lainnya adalah teori sistem dunia. Teori ini merupakan aliran pemikiran yang paling belakang studi pembangunan. Teori ini menawarkan orientasi panafsiran baru terhadap berbagai peristiwa penting di tahun 1970-an, seperti misalnya industrialisasi Asia Timur. krisis negara sosialis dan hadirnya gelombang bariu kolonialisme. Dipengaruhi oleh teori ketergantungan dan ajaran Annales Perancis, teori sistem dunia ini menekankan akan pentingnya analisas totalitas dan berjangka panjang. Oleh karena itu unit analisa yang tepat, menurut perspektif ini, adalah keseluruhan dunia, yang merupakan salah satu sistem yang menyejarah yang terdiri dari tiga strata, yaitu sentral, semi-pingggiran dan pinggiran. Teori sistem dunia ini menyatakan bahwa pada akhir abad ke-20 tata ekonomi kapitalis dunia ini akan mencapai satu tahap transisi yang daripadanya satu pilihan sejarah harus dilakukan untuk merubah keseluruhan proses dan arah sejarah umat manusia. Seperti pada kedua teori pembangunan yang lain, ketika teori sistem dunia ini dengan gencar mendapat kritik, pemerhatinya tidak segan-segan untuk melakukan modifikasi terhadap asumsi dan penjelasan teoritis pokoknya. Pada versi yang telah diperbarui ini, konsep sistem dunia tidak dilihat sebagai satu kekuatan yang materiil, tetapi lebih sebagai alat analisa penelitian. Hasil kajiannya tidak lagi sepenuhnya berorientasi pada skala dunia, tetapi juga telah memperhatikan skala nasional. Lebih dari itu, analisa kelas juga telah dipraktekkan untuk membantu analisa stratifikasi yang sejak awal memang telah diperhatikan. Modifikasi ini telah menghasilkan satu rangkaian hasil karya penelitian. (Suwarsono, 1991: 257 – 259) Dewasa itu kita menyaksikan suatu peristiwa krisis pembangunan. Kapitalism di Asia Timur yang selama ini dijadikan teladan keberhasilan pembangunan dan keberhasilann kapiatlisme Dunia Ketiga tengah mengalami kebangkrutan. Banyak orang orang mulai meramalkan bahwa era saat ini sebagai dari era pembangunaisme, suatu proses perubahan sosial pasca Perang Dunia II yang dibangun di atas landasan paham modernisasi menuju babak-babak akhir. Namun, di negara-negara pusat kapitalisme, muncul jawaban untuk mempercepat laju kapitalisme, bahkan jawaban itu telah lama disiapkan bahwa sejak krisis kapitalisme memasuki tahun 1930-an. Jawaban itu adalah globalisasi kapitalisme.

52
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Krisis terhadap pembangunan yang terjadi saat ini pada dasarnya merupakan bagian dari krisis sejarah dominasi dan eksploitasi manusia atas manusia yang lain, yang diperkirakan telah berusia lebih lima ratus tahun. Proses sejarah dominasi itu pada dasarnya melalui tiga periode formasi sosial. Diawali dengan periode kolonialisme yakni fase perkembangan kapitalisme di Eropa yang mengharuskan ekspansi secara fisik untuk memastikan perolehan bahan baku mentah. Melalui fase inilah proses dominasi dengan segenap teori perubahan sosial yang mendukungnya telah terjadi dalam bentuk penjajahan secara langsung selama ratusan tahun. Meskipun banyak negara Afrika baru merdeka tahun 1970-an, yang secara resmi umumnya dianggap zaman berakhirnya kolonialisme adalah pada saat terjadinya revolusi banyak negara jajahan segera setelah terjadinya revolusi banyak negara segera setelah beakhirnya Perang Dunia II. Kemudian memasuki periode neo kolonialisme dengan modus yang berbeda. Ia melalui penjajahan teori dan ideologi. Periode yang sering disebut era developomentalisme ini didominasi negara-negara bekas penjajah terhadap bekas koloni mereka tetap dipertahankan melalui kontrol terhadap teori dan perubahan sosial mereka. Dalam kaitan itulah sesungguhnya teori pembangunan menjadi bagian dari media diominasi karena teori tersebut direkayasa untuk menjadi paradigma dominan untuk perubahan sosial Dunia Ketiga oleh negara Utara. Dengan kata lain, pada fase jedua ini kolonisasi tidak terjadi secara fisik, melainkan melalui hegemoni yakni dominasi cara pandang dan ideologi serta diskursus yang dominan melalui produksi pengetahuan. Pembangunan memainkan peranan penting dalam fase kedua ini, yang akhirnya juga mengalami krisis. Krisis terhadap pembangunan belum berakhir, tetapi suatu mode of domination telah disiapkan, dunia memasuki era baru yakni era globalisasi. Periode yang terjadi menjelang abad duapuluh satu, ditandai dengan liberalisasi di segala bidang yang dilakukan melalui structural adjustment program oleh lembaga finasialglobal, danm disepakati oleh rezim GATT dan WTO. Sejak itu era neo kolonialisme telah tergantikan oleh periode globalisasi.Proses globalisasi ditandai dengan pesatnya perkembangan paham kapitalisme. yakni kian terbuka dan mengglobal peran pasar, investasi dan proses produksi dari perusahaan-perusahaan tranasional, yang kemudian dikuatkan oleh ideologi dan tata dunia perdagangan baru di bawah suatu aturan yang ditetapkan oleh organisasi perdagangan besar secara global. Namun, globalisasi muncul bersamaan dan menjadi bagian dari fenmomena runtiuhnya pembangunan di Asia Timur. Era baru yang dikenal dengan globalisasi tersebut mencoba meyakinkan rakyat miskin di Dunia Ketiga seolaholah merupakan arah baru yang menjanjikan harapan kebaikan bagi umat manusia dan menjadi keharusan sejarah manusia di masa depan. Namun globalisasi juga melahirkan kecemasan bagi mereka yang memikirkan permasalahan sekitar pemiskinan rakyat dan marjinalisasi rakyat, serta persoalan keadilan. Secara teoritis sebenarnya tidak ada perubahan ideologi dari ketiga periode zaman tersebut, bahkan semakin bertumbuh canggih pendekatan, mekanisme dan sistem yang secara ekonomis berwatak eksploitatif, secara politik berwatak represif, dan secara budaya berwatak hegemonik dan diskursif, dan sebagaian kecil elit masyarakat yang dominan terhadap rakyat kecil.(Fakih, 2003: 200 – 211) 53
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Akhir-akhir ini, diakui secara luas bahwa ketimpangan internasional telah memburuk selama 30 tahun terakhir. Kenyataan ni sebagian besar dapat dikaitkan dengan sifat ekonomi dunia kapitalis yang eksploitatif. Wajah dunia kita hari ini, bukan semakin damai dan adil, ia malah terus dijejali bertumpuk problem sosial-ekonomi-politik yang semakin pelik. Hans Kung melukiskan nestapa ini secara cukup dramatis.
Situasi dunia semakin suram. Manusia tak henti-hentinya didera pelbagai krisis fundamental dan mondial; krisis ekonomi dan ekologi global akibat paralisis kepemimpinan politik yang miskin visi besar. Ratusan juta manusia menderita kemiskinan, pengangguran dan kelaparan. Planet bumi terancam kepunahan ekosistem. Ketegangan antarnegara, antargenerasi, dan bahkan antar jenis kelamin semakin memanas Anak-anak bergelimpangan, terbunuh atau terpaksa membunuh. Pemerintah di banyak negara semakin bobrok akibat menjamurnya birokrasi dan pebisnis semakin yang korup. Konflik sosial, rasial dan etnik semakin menjadi-jadi. Penyalahgunaan obat, kejahatan semakin menjadi-jadi. Pengunaan obat, kejahatan semakin terorganisir dan anarkis. Perdamaian tidak kunjung tiba akibat tingkah-pola para penguasa politik dan agama yang m akin suka saling menghasut, membenci, xenophobia dan sikap dengan menggunakan standard ganda. Perilaku semakin menjijikan, cabul, dan memuakan. Sempurnalah, kebejatan zaman. Seolah-olah, apa yang masih tersisa di banyak batok kepala manusia modern hanyalah utopis gelap dengan kerisauan akan nasib masa depan yang semakin menakutkan dan benar-benar menyeramkan.(Hans Kung, 1999: xxxi – xxxxii)

54
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Bibliografi Alatas, Syed Hussein.”Modernisasi yang sesat: Dilemma Masyarakat sedang berkem bang,”dalam Atai dan Pieris. 1980. Kritik Asia terhadap Pembangunan. Jakarta: Yayasan Ilmu –ilmu Sosial. Arndt, HW.1992. Pembangunan Ekonomi. Studi tentang Sejarah Pemikiran Jakarta: LP3ES. Budiman, Arief. 1996. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta Gramedia Pustaka Utama. Clements, Kevin P. 1997. Teori Pembangunan. Dari Kiri Ke Kanan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dopler, Kurt. 1985 Ilmu Ekonomi Masa Depan. Menuju Paradigma Baru. Jakarta: LP3ES. Drucker, Peter F.”Ekonomi Dunia yang Telah Berubah.”Analisa CSIS, Tahun XVI, No. 3, Maret 1987, hlm. 253 – 276. Evers,Hans Dieter (ed) 1988.Teori Masyarakat; Proses Peradaban Dalam Sistem Dunia Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Fakih, Mansour.2001. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Insist Press dan Pustaka Pelajar. Forbes, Dean K.1986 Geografi Keterbelakangan. Sebuah Studi Kritis Jakarta: LP3ES. Goldthorpe, JE. 1992. Sosiologi Dunia Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Hette, Bjorn. 1985. Ironi Permbangunan di Negara Berkembang. Jakarta: Sinar Hara pan. Kung, Hans dan Karl-Josef Kuschel.1999 Etika Global. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Moeljarto.1995 Politik Pembangunan. Sebuah Analisis Konsep, Arah dan Strategi. Yogyakarta: Tiara Wacana. Poespowardojo, Soerjanto 1993. Strategi Kebudayaan. Suatu Pendekatan Fisolofis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

55
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pronk, Jan P.1994 Pertikaian Merebak Dunia. Survei tentang Batas-Batas Kerja Sama Pembangunan Survei tentang Batas-batas Kerja Same Pembangunan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Roxborough, Ian. 1986. Teori-Teori Keterbelakangan. Jakarta: LLP3ES. Seers, Dudley.”Arti Pembangunan.”dalam Amir Effendi Siregar. 1999. Arus Pemikir an Ekonomi Politik.Esai-Esai Terpilih. Yogyakarta: Tiara Wacana.hlm. 107 – 130 Setiawan, Bonnie. 1999. Peralihan Ke Kapitalisme Di Dunia Ketiga. Teori-Teori Radi dal Dari Klassik sampai Kontemporer. Yogyakarta: Insist Pres dan Pustaka Pelajar Simandjuntak, Djisman S,”Model-Model Pembangunan dan Kenyataan Kebijakan Eono mi”Analisa CSIS, Tahun XIV, NO. 12, Desember 1985.Hlm. 1025 – 1040. Soedjatmoko. 1984 Pembangunan dan Kebebasan. Jakarta: LP3ES. Stiglitz, Joseph E. 2005. Dekade Keserakahan. Era”90-an dan awal mula petaka Eko nomi Dunia. Tangerang. Marjin Kiri. Suseno, Frans Magnis.”Perspektif Etis Pembangunan,”dalam M Sastrapratedja et al. Menguak Mitos-Mitos Pembangunan. Telaah Etis dan Kritis. Jakarta: LP3ES. Hlm. 352 – 369. Suwarsono dan Alvin Y So. 1991. Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: LP3ES. Yayasan SPES. 1992. Pembangunan Berkelanjutan, Mencari Format Politik. Jakarta: LP3ES .

56
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->