P. 1
Menelusuri Bisnis Tionghoa

Menelusuri Bisnis Tionghoa

|Views: 205|Likes:
Published by Peter Kasenda
Bisnis adalah suatu usaha rasional untuk mengejar keuntungan , dengan keberanian menghadang resiko kerugian . Kiat berbisnis memang terletak pada keberanian kemampuan seseorang untuk memikul calculated risk dari usahanya , dan hal itu sangat bersifat individual . Individu yang mempunyai keberanian dan kemampuan tersebut terdapat pada berbagai etnik . Keberanian dan kemampuan itu sendiri sampai pada taraf tertentu dapat diajarkan dan dilatihkan kepada mereka yang benar-benar berminat untuk itu . Salah satu program untuk itu adalah Achieving Society Training (AMT ) . David McCelland pernah menulis tentang nAch virus dalam bukunya yang terkenal , The Achieving Society . Dengan kata lain , pada dasarnya kemampuan berbisnis dapat diajarkan kepada etnik mana pun juga , khususnya pada golongan-golongan yang telah mempunyai kesedian mental untuk “bertualangan “ mengejar kepentingan sendiri , dalam suasana yang sangat kompetetif , dengan pilihan untung atau rugi , menang atau kalah . Dalam segi tuntutan afektivitas dalam berusaha , memang terdapat kesejajaran asntara kiat bisnis dan perang .Mereka yang ingin bergerak dalam kedua bidang ini harus mengenai sasarannya dengan jelas , mengenai mana kawan dan lawan . Bukankah suatu hal yang kebetulan bahwa dalam buku Seni Perang karya Sun Tzu memperoleh perhatian para ahli manajemen bisnis . Seperti halnya seni berperang dapat dipelajari , seni berbisnis juga dapat dipelajari . Tidak ada yang rahasia mengenai kedua hal itu .


Tingkah laku kewiraswastaan

Para ahli perkembangan ekonomi mengakui akan pentingnya peranan tingkah laku kewiraswastaan dalam melajukan perkembangan ekonomi suatu bangsa . Untuk berlangsungnya tahap take –off dari teori perkembangan ekonominya , Walter W Rostow mensyaratkan adanya keberhasilan kegiatan beberapa kelompok masyarakat yang disebutnya kewiraswastaan Joseph A Schumpeter berpendapat bahwa wiraswasta adalah kelompok yang menggerakan perekonomian masyarakat untuk maju ke depan . David C McCelland yang menganalisa perkembangan ekonomi dan motivasi psikologis antar bangsa menyimpulkan bahwa perkembangan ekonomi menghendaki adanya tingkahlaku kewiraswastaan di kalangan bangsa itu . Menurut McCelland ramuan essensial untuk terbentuknya tingkahlaku kewiraswastaan adalah motivasi berprestasi atau motivasi pencapaian . Everett Hagen yang menganalisa perkembangan ekonomi dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia , menitikberatkan pada tumbuhnya kepribadian kewiraswastaan ( terutama sekali innovational personality ) untuk melajukan perkembangan bangsa-bangsa yang telah lebih daulu maju menunjukan bahwa semakin maju menunjukkan bahwa semakin maju perekonomian sesuatu bangsa , semakin banyak modal yang dimanfaatkan untuk menemukan teknik-teknik perbaikan cara berproduksi , untuk menemukan bentuk-bentuk barang baru , untuk mencari dan membuka pasaran dan daerah pasar baru , untuk menemukan sumber-sumber baru dari faktor produksi , dan untuk menemukan cara-cara yang lebih efisisen dalam berorganisasi dan menata-laksana
Usaha-usaha tersebut mengharuskan tidak saja terdapatnya “orang-orang baru “ , tetapi juga harus adanya “tingkah laku baru “ dari manusia yang ada yang mampu menciptakan ikhtiar-ikhtiar di atas itu . Perekonomian sesuatu masyarakat dapat menjadi mandeg , bukan karena tidak terdapat atau langkahnya modal atau kesempatan-kesempatan yang menguntungkan tetapi justru karena tidak terdapat atau langkahnya tingkahlaku kewiraswastaan yang dapat menjadi tenaga penggerak esensial untuk mewujudkan keuntungan-keuntungan yang tadinya tidak kentara . Wiraswasta , karenanya , adalah penggerak utama daripada ivestasi-investasi baru . Jika tingkah laku kewiraswastaan tersebar agak merata dalam sesuatu masyarakat , pemimpin-pemimpin masyarakat dalam banyak bidang kehidupan akan bertumbuh subur , dan sistem masyarakat tersebut akan berkembang dengan baik dan sinambung .
Bisnis adalah suatu usaha rasional untuk mengejar keuntungan , dengan keberanian menghadang resiko kerugian . Kiat berbisnis memang terletak pada keberanian kemampuan seseorang untuk memikul calculated risk dari usahanya , dan hal itu sangat bersifat individual . Individu yang mempunyai keberanian dan kemampuan tersebut terdapat pada berbagai etnik . Keberanian dan kemampuan itu sendiri sampai pada taraf tertentu dapat diajarkan dan dilatihkan kepada mereka yang benar-benar berminat untuk itu . Salah satu program untuk itu adalah Achieving Society Training (AMT ) . David McCelland pernah menulis tentang nAch virus dalam bukunya yang terkenal , The Achieving Society . Dengan kata lain , pada dasarnya kemampuan berbisnis dapat diajarkan kepada etnik mana pun juga , khususnya pada golongan-golongan yang telah mempunyai kesedian mental untuk “bertualangan “ mengejar kepentingan sendiri , dalam suasana yang sangat kompetetif , dengan pilihan untung atau rugi , menang atau kalah . Dalam segi tuntutan afektivitas dalam berusaha , memang terdapat kesejajaran asntara kiat bisnis dan perang .Mereka yang ingin bergerak dalam kedua bidang ini harus mengenai sasarannya dengan jelas , mengenai mana kawan dan lawan . Bukankah suatu hal yang kebetulan bahwa dalam buku Seni Perang karya Sun Tzu memperoleh perhatian para ahli manajemen bisnis . Seperti halnya seni berperang dapat dipelajari , seni berbisnis juga dapat dipelajari . Tidak ada yang rahasia mengenai kedua hal itu .


Tingkah laku kewiraswastaan

Para ahli perkembangan ekonomi mengakui akan pentingnya peranan tingkah laku kewiraswastaan dalam melajukan perkembangan ekonomi suatu bangsa . Untuk berlangsungnya tahap take –off dari teori perkembangan ekonominya , Walter W Rostow mensyaratkan adanya keberhasilan kegiatan beberapa kelompok masyarakat yang disebutnya kewiraswastaan Joseph A Schumpeter berpendapat bahwa wiraswasta adalah kelompok yang menggerakan perekonomian masyarakat untuk maju ke depan . David C McCelland yang menganalisa perkembangan ekonomi dan motivasi psikologis antar bangsa menyimpulkan bahwa perkembangan ekonomi menghendaki adanya tingkahlaku kewiraswastaan di kalangan bangsa itu . Menurut McCelland ramuan essensial untuk terbentuknya tingkahlaku kewiraswastaan adalah motivasi berprestasi atau motivasi pencapaian . Everett Hagen yang menganalisa perkembangan ekonomi dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia , menitikberatkan pada tumbuhnya kepribadian kewiraswastaan ( terutama sekali innovational personality ) untuk melajukan perkembangan bangsa-bangsa yang telah lebih daulu maju menunjukan bahwa semakin maju menunjukkan bahwa semakin maju perekonomian sesuatu bangsa , semakin banyak modal yang dimanfaatkan untuk menemukan teknik-teknik perbaikan cara berproduksi , untuk menemukan bentuk-bentuk barang baru , untuk mencari dan membuka pasaran dan daerah pasar baru , untuk menemukan sumber-sumber baru dari faktor produksi , dan untuk menemukan cara-cara yang lebih efisisen dalam berorganisasi dan menata-laksana
Usaha-usaha tersebut mengharuskan tidak saja terdapatnya “orang-orang baru “ , tetapi juga harus adanya “tingkah laku baru “ dari manusia yang ada yang mampu menciptakan ikhtiar-ikhtiar di atas itu . Perekonomian sesuatu masyarakat dapat menjadi mandeg , bukan karena tidak terdapat atau langkahnya modal atau kesempatan-kesempatan yang menguntungkan tetapi justru karena tidak terdapat atau langkahnya tingkahlaku kewiraswastaan yang dapat menjadi tenaga penggerak esensial untuk mewujudkan keuntungan-keuntungan yang tadinya tidak kentara . Wiraswasta , karenanya , adalah penggerak utama daripada ivestasi-investasi baru . Jika tingkah laku kewiraswastaan tersebar agak merata dalam sesuatu masyarakat , pemimpin-pemimpin masyarakat dalam banyak bidang kehidupan akan bertumbuh subur , dan sistem masyarakat tersebut akan berkembang dengan baik dan sinambung .

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Menelusuri Bisnis Tionghoa
Ada krisis, ada kesempatan (Pepatah Tionghoa)

Bisnis adalah suatu usaha rasional untuk mengejar keuntungan , dengan keberanian menghadang resiko kerugian . Kiat berbisnis memang terletak pada keberanian kemampuan seseorang untuk memikul calculated risk dari usahanya , dan hal itu sangat bersifat individual . Individu yang mempunyai keberanian dan kemampuan tersebut terdapat pada berbagai etnik . Keberanian dan kemampuan itu sendiri sampai pada taraf tertentu dapat diajarkan dan dilatihkan kepada mereka yang benar-benar berminat untuk itu . Salah satu program untuk itu adalah Achieving Society Training (AMT ) . David McCelland pernah menulis tentang nAch virus dalam bukunya yang terkenal , The Achieving Society . Dengan kata lain , pada dasarnya kemampuan berbisnis dapat diajarkan kepada etnik mana pun juga , khususnya pada golongan-golongan yang telah mempunyai kesedian mental untuk “bertualangan “ mengejar kepentingan sendiri , dalam suasana yang sangat kompetetif , dengan pilihan untung atau rugi , menang atau kalah . Dalam segi tuntutan afektivitas dalam berusaha , memang terdapat kesejajaran asntara kiat bisnis dan perang .Mereka yang ingin bergerak dalam kedua bidang ini harus mengenai sasarannya dengan jelas , mengenai mana kawan dan lawan . Bukankah suatu hal yang kebetulan bahwa dalam buku Seni Perang karya Sun Tzu memperoleh perhatian para ahli manajemen bisnis . Seperti halnya seni berperang dapat dipelajari , seni berbisnis juga dapat dipelajari . Tidak ada yang rahasia mengenai kedua hal itu . Tingkah laku kewiraswastaan Para ahli perkembangan ekonomi mengakui akan pentingnya peranan tingkah laku kewiraswastaan dalam melajukan perkembangan ekonomi suatu bangsa . Untuk berlangsungnya tahap take –off dari teori perkembangan ekonominya , Walter W Rostow mensyaratkan adanya keberhasilan kegiatan beberapa kelompok masyarakat yang disebutnya kewiraswastaan Joseph A Schumpeter berpendapat bahwa wiraswasta adalah kelompok yang menggerakan perekonomian masyarakat untuk maju ke depan . David C McCelland yang menganalisa perkembangan ekonomi dan motivasi psikologis antar bangsa menyimpulkan bahwa perkembangan ekonomi menghendaki adanya tingkahlaku kewiraswastaan di kalangan bangsa itu . Menurut McCelland ramuan essensial untuk terbentuknya tingkahlaku kewiraswastaan adalah motivasi berprestasi atau motivasi pencapaian . Everett Hagen yang menganalisa perkembangan ekonomi dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia , menitikberatkan pada tumbuhnya kepribadian kewiraswastaan ( terutama sekali innovational personality ) untuk melajukan perkembangan bangsa-bangsa yang telah lebih daulu maju menunjukan bahwa semakin maju menunjukkan bahwa semakin maju perekonomian sesuatu bangsa , semakin banyak 1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda modal yang dimanfaatkan untuk menemukan teknik-teknik perbaikan cara berproduksi , untuk menemukan bentuk-bentuk barang baru , untuk mencari dan membuka pasaran dan daerah pasar baru , untuk menemukan sumber-sumber baru dari faktor produksi , dan untuk menemukan cara-cara yang lebih efisisen dalam berorganisasi dan menata-laksana Usaha-usaha tersebut mengharuskan tidak saja terdapatnya “orang-orang baru “ , tetapi juga harus adanya “tingkah laku baru “ dari manusia yang ada yang mampu menciptakan ikhtiar-ikhtiar di atas itu . Perekonomian sesuatu masyarakat dapat menjadi mandeg , bukan karena tidak terdapat atau langkahnya modal atau kesempatan-kesempatan yang menguntungkan tetapi justru karena tidak terdapat atau langkahnya tingkahlaku kewiraswastaan yang dapat menjadi tenaga penggerak esensial untuk mewujudkan keuntungan-keuntungan yang tadinya tidak kentara . Wiraswasta , karenanya , adalah penggerak utama daripada ivestasi-investasi baru . Jika tingkah laku kewiraswastaan tersebar agak merata dalam sesuatu masyarakat , pemimpin-pemimpin masyarakat dalam banyak bidang kehidupan akan bertumbuh subur , dan sistem masyarakat tersebut akan berkembang dengan baik dan sinambung . Menurut Schumpeter , fungsi wiraswasta ( entrepreneur ) adalah melakukan tugas gabungan dari tugas-tugas memperkenalkan barang atau hasil produksi baru, memperkenalkan suatu cara berproduksi yang lebih maju , membuka pasaran atau daerah pasar baru , merebut sumber-sumber bahan mentah atau bahan setengah jadi yang baru dari perusahaan dan industri . Fritz Redlich melihat fungsi kewiraswastaan atas tiga tumpuan yaitu pemodal , penatalaksanaan , dan wiraswataan . Pemodal adalah yang melepaskan modal uang dan modal non-manusiawi lainnya untuk perusahaan , penatalaksana adalah pengkoordinir dan pengawas kegiatan-kegiatan produksi , dan wiraswasta adalah perencana , penemu ide baru , dan pengambil keputusan akhir dari usaha produksi . McCelland memberikan konsep tingkahlaku kewiraswastaan sebagai pengambil resiko yang moderat , pengetahuan terhadap hasil dari keputusan-keputusan yang diambil , mengetahui terlebih dahulu terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi , penuh semangat dan memiliki ketrampilan berorganisasi . Perbedaan antara wiraswasta ( entrepreneur ) dengan tingkahlaku kewiraswastaan ( entrepreneurial behavior ) perlu dipertegas .Wiraswastaa adalah manusia yang melakukan semua atau beberapa fungsi kewiraswastaan . Tingkahlaku kewuraswastaan adalah kegiatan-kegiatan sosial yang polanya dicirikan oleh unsur-unsur kewiraswataan . Misalnya, jika kita terima kriteria penuh semangat yang diberikan oleh McCelland sebagai suatu ciri kewiraswastaan , tak dapat dibantah bahwa seorang wiraswasta tertetu dapat tidak memiliki ciri penuh semangat yang sekaligus berarti tidak memiliki salah satu cirri tingkahlaku kewiraswastaan . Sebaliknya , seorang tukang buang sampah, penyapu jalan , seorang professor , ataupun seorang petugas partai politik dapat memiliki ciri penuh semangat dalam tatakerjanya sehari-hari , berarti tukang buang sampah dan semuanya itu dapat memiliki ciri tingkahlaku kewiraswastaan . Demikian pula dengan petani dan pemegang profesi yang lain . Dan begitu pula untuk ciri-ciri yang lain dari tingkahlaku kewiraswataan . Dalam hal ini ciri-ciri apa sajakah yang membentuk tingkahlaku kewiraswastaan itu ? Dengan bahasan-bahasan terhadap pemikiran-pemikiran terdahulu , saya mengkonsepkan 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda bahwa tingkahlaku kewiraswastaan dibina oleh lima ciri utama yaitu menerima atau menemukan ide-ide (innovational ), pembinaan modal ( capital accumulation ), kepemimpinan ( leadership behavior ), keinginan mengambil resiko ( risk-taking behavior ) , dan menata-laksana ( managerial behavior ) . Innovational adalah tingkahlaku menemukan dan menerima ide-ide baru dalam cara-cara berproduksi dan melembagakan tatakerja . Pembinaan modal adalah ciri menginginkan pemupukan modal yang dimanfaatkan untuk kelangsungan dan pengembangan proses produksi selanjutnya . Kepemimpinan menunjukan ciri merangsang , melaksanakan , dan mengarahkan kepada tujuan-tujuan proses produksi . Keinginan mengambil resiko dicirikan oleh usaha untuk mempertimbangkan dan menerima resiko yang layak dalam menghadapi ketidakpastian pengambilan keputusan . Menatalaksana adalah cara merencanakan , mengkoordinir , melaknsakan , mengawasi dan mengevaluasi kegiatankegiatan produksi . Tingkahlaku kewiraswastaan dapat diamati pada dua tingkat yaitu pada tingkat pemikiran, tingkahlaku kewiraswastaan merupakan pemikiran dan keinginan untuk bertingkah-laku sebagai wiraswasta . Dapat digambarkan bahwa seorang petani dapat memiliki pemikiran dan keinginan yang tinggi dalam menemukan dan menerima ide-ide baru , pembinaan modal, kepemimpinan , pengambil resiko , dan menata-laksana . Tetapi, pada tingkat senyatanya, yaitu dalam kenyataan sehari-hari pelaksanaan usaha taninya , petani yang sama mungkin menunjukkan tingkat kewiraswastaan yang rendah , dikarenakan batas-batasan tertentu . Yang menarik untuk dipersoalkan adalah mengapa petani yang memiliki tingkahlaku kewiraswastaan rendah pada tingkat senyatanya . Atau sebaliknya , mengapa petani yang memiliki tingkahlaku kewiraswataan rendah pada tingkat pemikiran tapi menunjukkan tingkahlaku kewiraswastaan tinggi pada senyatanya . Dengan kata lain, perubah-perubah apa yang menentukan tinggi rendahnya tingkahlaku kewiraswastaan itu . ( Azis, 1978 : 58 – 61 ) Wiraswasta Tionghoa di Asia Tenggara Orang Tionghoa di Asia Tenggara adalah minoritas yang kukuh dan berperan sebagai kaum kapitalis dalam negeri . Karena itu , kapitalisme Asia Tenggara tidak terpengaruh oleh suku bangsa kelas pengusahanya . Watak internasional dari penyebaran orang Tionghoa perantauan jelas memberi keleluasaan kepada bentuk badan usaha dan penempatan modal orang Tionghoa di Asia Tenggara , tetapi hal ini bukanlah perbedaan yang mendasar dan dalam kebangkitan kapitalisme Asia akhir-akhir ini jelas sangat menguntungkan perekonomian Asia Tenggara . Masalah-masalah yang dirasakan terkait dengan dominasi kegiatan usaha oleh orang Tionghoa , sebagian bersumber pada kecemasan akan kemungkinan munculnya reaksi politik golongan pribumi , dan sebagian lagi implikasi , yang telah disinggung sebelumnya , dominasi itu bahwa itu berarti penduduk asli Asia Tenggara tidak mampu bersaing dalam dunia kapitalis . Argumen-argumen yang menjelaskan peranan penting orang Tionghoa yang terus berlanjut dalam perekonomian kawasan ini , merski memang ada menyinggung faktor3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda faktor sejarah dan ekonomi , cenderung menonjolkan faktor kebudayaan sebagai penjelasan utama secara singkat , bahwa orang Tionghoa Asia Tenggara mempunyai sustu sistem nilai yang menghargai sukses dalam dunia usaha dan memupuk perilaku suka berusaha , sementara penduduk pribumi tidak memiliki sistem nilai semacam itu . Kewirausahaan orang Tionghoa perantauan tampak jelas sekali , dan demikian pula tiadanya peran serta orang pribumi dalam dunia usaha . Karena watak bangsa sesuatu yang kita pandang boleh dikatakan tidak berubah-ubah , argumen dari segi kebudayaan itu tampak sangat kuat . Tetapi, meski argumen ini ada benarnya , kita cenderung lupa bahwa bahwa peran ekonomi orang Tionghoa perantauan ini masih baru dan ditentukan oleh faktor-faktor sejarah-politik yang tidak ada hubungnya dengan kebudayaan Tionghoa . Tidak ada batu-batu kewiraswataan sama sekali di negeri Tiongkok tempat asal imigran ke Asia Tenggara itu . Seperti kita ketahui , para imigran Tionghoa meninggalkan suatu masyarakat yang tidak mampu mengadakan pembaruan dan ini menurut para pengamat asing karena pengaruh mematikan “ tata nilai Konfusius “ . Namun ini tidak berarti kita tidak perlu lagi memperhitungkan ciri-ciri budaya dengan sungguh-sungguh tata nilai itu penting memang , tetapi tata nilai harus dilihat dalam kerangka latar belakang sosial dan sejarah . . Bukan hanya bahwa pengamat dari luar terlalu tergesa-gesa menggunakan perbedaan budaya untuk menjelaskan fenomena yang ternyata tidak demikian , tetapi juga bahwa anggota masyarakat yang bersangkutan mungkin saja dengan berjalannya waktu mempunyai penafsiran yang sangat berbeda mengenai cara hidup mereka. Dengan kata lain , manusia berubah . Tradisi budaya manapun mempunyai banyak untaian makna , yang mungkin diutamakan , dilupakan , dan ditafsirkan kembali untuk dasar bagi perilaku yang sangat berbeda . Dalam tradisi Melayu hingga sekarang , falsafah mencari rejeki menunjukkan suatu kesedian tertentu untuk mengambil resiko dan agak menyimpang dari garis nilai budaya itu, tetapi jika peran serta orang Melayu dalam dunia usaha terus makin dalam , mungkin sekali kita akan menyaksikan falsafah mencari rezeki itu dianggap ( oleh orang Melayu dan orang luar ) sebagai akar kewiraswataan pribumi . Di masa lampau , penguasa Bali memberikan peran saudagar kepada rakyat mereka yang beragama Islam karena berdagang dianggap kepandaian khusus orang Islam ,. dan jelas himpunan-himpunan dagang dan berwatak kota orang Islam akan lebih sering disebut-sebut bila kapitalisme mekar di negara-negara yang berpenduduk orang Islam . Pengamatan-pengamatan baru mengenai peran sejarah rajaraja Siam sebagai “ saudagar besar “ jelas , secara sadar atau tidak , dipengaruhi oleh sikap baru bahwa tata nilai Thailand tidak bertentangan dengan kemampuan berwiraswasta . Meskipun kaum imigran Tionghoa telah lama memainkan peran penting dalam perekonomian dan masyarakat Asia Tenggara . kehadiran mereka secara besar-besaran baru mulai pada abad kesembilan belas , pada waktu kawasan itu , khususnya dibawah pimpinan Eropa, dimasukkan ke dalam sistem kapitalis dunia yang sedang berkembang pesat . Daripada mengerahkan penduduk petani setempat dan menjauhkan mereka dari tanah mereka, para penguasa berpikir akan lebih mudah , dan tidak akan terlalu mengusik hierarki lokal yang dianggap amat penting untuk menjaga ketertiban , untuk memasukkan 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda orang luar untuk bekerja sebagai kuli dan menempati lapisan-lapisan bawah dunia industri dan perdagangan . Orang Tionghoa mudah diperoleh , karena ada kekacauan di negeri mereka . Pada akhirnya , di berbagai kawasan Asia Tenggara berkembang sistem tiga lapis, lapis atas dunia usaha ditempati orang Eropa , lapis tengah oleh Tionghoa , sedangkan penduduk pribumi dibatasi pada perdagangan kecil-kecilan . Orang pribumi adalah petani atau pejabat ( kalau keturunan priyayi ) , dan setiap kecenderungan yang mereka kembangkan untuk kemajuan yang bersifat usaha dipatahkan , kalau bukan disengaja , oleh mekanisme sistem itu . Dengan beradaptasi pada lingkungan barunya , kaum imigran Tionghoa berakulturasi dengan gaya hidup kelompok berkuasa , sebagian besar orang Barat , dan ini mengakibatkan jarak imigran Tionghoa dengan elite pribumi makin renggang . Hanya di dua negeri saja hal ini tidak terjadi “ di Siam dan Filipina . Dalam hal Siam , karena elite pribumi tetap memegang kekuasaan politik ( kalau bukan ekonomi ) , sedangkan dalam hal Filipina , karena di bawah kekuasaan Spanyol , telah muncul , secara berangsur-angsur , suatu elite pribumi pemilik tanah yang kuat dan dari segi budaya menganut gaya hidup Spanyol ( Hispanicised ) ; golongan elite ini , terutama karena terlibat dalam perkebunan tebu pada abad kesembilan belas , darti segi ekonomi terlibat dalam , berhutang kepada , dan akhirnya kawin campur dengan pemilik pabrik dan saudagar Tionghoa yang sukses . Tidak menherankan jika di kedua negeri Asia Tenggara ini , Filipina dan Thailand : “ masalah Tionghoa “ tidak terlalu mengganggu pada masa akhir-akhir ini . Hubungan antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat pribumi di Malaysia dan Indonesia jauh lebih banyak diwarnai persoalan . Hal; ini sering dianggap mencerminkan kurangnya keserasian antara budaya Tionghoa dan Budaya Islam , tetapi ini barangkali satu lagi contoh bagi kebiasaan mengatakan sesuatu budaya kaku dan tidak berubah , padahal tidaklah demikian halnya . Perbedaan budaya , sebenarnya berperan memperjelas dan melebih-lebihkan perbedaan-perbedaan besar yang timbul karena alasan kepentingan Apa yang kita lihat di Malaysia dan Indonesia sejak berakhirnya zaman kolonialisme adalah penyesuaian diri yang lambat dan sering sulit yang harus dilakukan orang Tionghoa lokal , karena sekarang mereka harus mencari perlindungan dari orang pribumi dan tidak lagi dari orang Eropa , dan yang harus dilakukan oleh golongan elite berkuasa yang baru , karena mereka harus menciptakan suatu hubungan yang dapat berjalan lancar antara kekuatan politik dan kekuatan ekonomi . Bahkan , pada masyarakat Filipina dan Thailand yang relatif terintegrasi , ada masanya para pemimpin politik menganggap keuntungan yang dapat diperoleh bila kepentingan usaha Tionghoa dalam negeri diserang , dan – mengingat bergunanya kambing dan tekanan dari penduduk pribumi pemberi suara dalam pemilihan umum – tidak ada alasan untuk menganggap kampanye –kampanye anti-Tionghoa hal yang tidak akan terjadi lagi . Pada waktu yang sama kita perlu ingat selalu bahwa di semua negara , kecuali di Malaysia ( dan tentu saja di Singapura , dengan penduduk terbesar orang Tionghoa ) , “ masalah Tionghoa “ semakin lemahnya perannya sebagai faktor yang nyata , pertama karena pembatasan imigrasi yang telah lama berlaku , dan kedua karena perekonomian sudah meluas sehingga tidak mungkin suatu golongan minoritas mengisi lapisan-lapisan menengah dunia usaha yang terbuka . Tekanan langsung akulturasi pada acuan yang ditetapkan oleh elite berkuasa , dan kebutuhan dunia usaha akan hubungan yang erat 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dengan negara , semuanya menyebabkan berkurangnya unsur Tionghoa ditonjolkan , dan batas antara apa yang Tionghoa dan apa yang pribumi menjadi semakin kabur . Seperti terjadi pada masa lalu di Filipina dan Thailand , kampanye anti-Tionghoa pada masa mendatang boleh jadi akan menyaksikan bahwa suatu bagian terpenting dari kelompok yang mengaku keturunan Tionghoa berada di sisi orang “pribumi “ , dan ciri-ciri khas cara berusaha orang Tionghoa yang “ tak dapat diterima “ selama ini mungkin akan makin tampak sebagai ciri-ciri sebuah elite kapitalis yang umum . Kalau peran ekonomi orang Tionghoa di Asia Tenggara berkembang subur pada masa hadirnya penjajah , peran itu lebih-lebih lagi berkembang sebagai akibat dari mundurnya kolonialisme . Rezim-rezim nasionalis boleh mencerca kedudukan ekonomi orang Tionghoa , tetapi biasanya rezim-rezim itu terlalu lemah sehingga tidak dapat benar-benar mempengaruhi kegiatan usaha orang Tionghoa . Tekanan-tekanan dari pemerintah terimbangi oleh banyaknya peluang usaha yang terbuka sesudah mundurnya orang Eropa Setelah Perang Dunia II . Karena itu , meski orang Tionghoa menderita akibat langkahlangkah ekonomi dan politik untuk membendung mereka pada awal masa Demokrasi Terpimpin di Indonesia , peranan mereka di bidang ekonomi bertambah besar , karena , atau sebagaian kontraktor atau agen untuk perusahaan-perusahaan yang dijalankan negara, orang Tionghoa bergerak masuk ke posisi-posisi yang sebelumnya dikuasai oeleh kepentingan perusahaan Belanda dan Inggris ,dan menduduki posisi yang tinggi dalam perekonomian . Di Thailand , hapusnya kehadiran kapitalis Barat selama Perang Dunia II justru memberikan peluang besar bagi orang Thai dalam dunia perbankan yang didominasi oleh orang Tionghoa . Dua ciri warisan dari masa kolonial ikut memperkuat kedudukan orang Tionghoa di kemudan hari . Pertama , meskipun peran pengusaha Tionghoa biasanya berkembang karena dorongan dari para penguasa , mereka adalah “paria “ dalam arti bergantung dari segi politik dan tidak banyak dapat mengandalkan negara untuk melindungi kepentingan mereka. Akibatnya , jaringan keuangan dan hubungan usaha yang mereka kembangkan tidak banyak tergantung pada negara untuk menegakkannya . Dan mereka memang mencoba sejauh mungkin jangan sampai jatuh ke dalam kendali negara . Ini akan memudahkan mereka menghindarkan diri dari pungutan-pungutan pemerintah , dan juga membantu mengubah sektor-sektor perekonomian yang didominasi orang Tionghoa menjadi sektor –sektor tertutup yang tidak dapat ditembus oleh pengusaha pribumi ( dan juga oleh orang Tionghoa anggota kelompok dialek berbeda ) – bukan hanya karena orang dalam menginginkan mereka tetap di luar , tetapi juga karena jaringan-jaringan ini bertumpu pada hubungan kepercayaan dan keutuhannya yang bergantung pada identitas kelompok . Kedua, kegiatan usaha orang Tionghoa mendunia , dalam dua cara . Dari kedudukan yang diberikan kepada mereka sebagai perantara antara perisahan besar Barat dan perekonomian lokal , para pengusaha besar Tionghoa Asia Tenggara memperoleh pengetahuan mengenai perdagangan modern dan teknik-teknik industri pengelolahan serta ( yang jarang dilakukan perusahaan-perusahaan Barat ) mengenai pasar lokal . Inilah faktor utama yang menyebabkan perusahan Jepang mencari orang Tionghoa perantauan sebagai mitra dialog ketika membangun kembali kehadiran mereka di Asia 6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Tenggara setelah Perang Dunia II , dan sudah tentu pilihan sangat penting bagi kelanjutan dominasi usaha Tionghoa di kawasan ini . Pengusaha Tionghoa Asia Tenggara juga menfaatkan mata rantai hubungan dan kepercayaan yang diciptakan oleh orang Tionghoa yang tinggal di perantauan guna mendirikan jaringan perdagangan dan keuangan yang mencakup Asia Tenggara , Taiwan , Hongkong dan akhirnya daerah seputar Pasifik pada umumnya . Ini menjadi sumber daya yang kuat untuk proteksi dan mengerahkan modal . Rezim-rezim yang mempertimbangkan untuk mengurangi kedudukan Tionghoa lokal harus memperhitungkan mudahnya modal Tionghoa angkat kaki, dan akibat-akibatnya yang melumpuhkan . Selain itu , kapitalisme Taiwan dan Hongkong yang sedang mekar menawarkan lahan baru untuk menanamkan modal yang menjadi lebih penting dalam beberapa sektor dibandingkan dengan Jepang . Bukan kecerdikan kewiraswastaan yang istimewa , melainkan keadaan inilah yang menentukan peranan amat penting untuk dimainkan orang Tionghoa Asia Tenggara dalam pembangunan ekonomi Asia Tenggara dewasa ini . Tentu saja, sebuah kelompok penduduk yang diserahi peran berusaha dalam masyarakat akan juga menekankan nilainilai usaha , kelompok ini juga cenderung mengumpulkan dan meneruskan kekayaan serta koneksinya kepada generasi penggantinya . Tetapi ini tidak berarti generasi ketiga dan keempat akan memperlihatkan motivasi kewiraswastaan yang sama seperti generasi pertama . Selain itu , ciri-ciri yang dibutuhkan agar bisa berhasil baik dalam dunia usaha pada zaman sekarang bertentangan dengan nilai-nilai dan praktek-praktek kewiraswastaan Tionghoa yang lama , dan mereka yang masih berpegang erat pada caracara itu makin tersisih . Dewasa ini , kebutuhan akan modal , koneksi politik , dan operasi internasional yang luas mendorong terbuka lebarnya dunia keuangan , dunia usaha , dan gaya pergaulan . Perusahaan keluarga berkembang menjadi perusahan besar yang dikuasai keluarga dan perusahaan-perusahaan besar keluarga pada gilirannya makin banyak menyerap orang luar ke dalam dewan direksi dan main bergerak menuju perusahan yang menjual saham pada masyarakat .( McVey , 1998 : 22 – 29 ) Jaringan Bisnis Tionghoa Kalau nasionalisme ekonomi mengakibatkan merosotnya modal asing dari kebangkitan modal dalam negeri , dengan sendirinya timbul pertanyaan mengapa modal pribumi , unsur modal dalam negeri yang lebih didukung , tidak sesukses modal Tionghoa ? Tetapi, tidak hanya dalam kapitalisme ; tetapi juga dalam perekonomian pasar modal Tionghoa berjalan lebih baik , sehingga pertanyaan ini dapat dinyatakan dengan cara lain : mengapa modal Tionghoa lebih berhasil dalam kompetisi ekonomi dengan pribamu ? Satu jawabannya adalah modal Tionghoa telah lama mempunyai jaringan bisnis yang ekstensif, yang baik strukturnya . Sebagai contoh , Perdana Menteri Malaysia terdahulu , Mahathir Mohamad , menghubungkan tidak adanya bumiputera dalam bisnis sebelum New Economic Policy ( Kebijaksanaan Ekonomi Baru ) dengan tidak adanya jaringan mereka . Dan Lance Castles, dalam mengkaji pengambilalihan industri rokok kretek , di Kudus Jawa Tengah , yang pernah menjadi bidang yang dikuasai oleh pribumi , menyebutkan adanya jaringan bisnis yang lebih baik sebagai satu alasan pokoknya. 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Tidak adanya jaringan bisnis , sampai tahun-tahun terakhir ini , merupakan rintangan utama bahkan bagi pribumi yang memiliki sifat-sifat pribadi yang dibutuhkan untuk berhasil di dalam bisnis . Dalam memulai bisnis misalnya , tak ada orang yang dapat membantunya memperoleh pelatihan , karena ayah dan sanak saudaranya mungkin petani. Kalau ia mendekati sebuah organisasi bisnis yang mapan dan sungguh-sungguh memperoleh sebuah pekerjaan , maka pekerjaan itu adalah pekerjaan rendahan , yang pengalamannya hampir tidak memadai untuk memulai sendiri bisnis yang berarti . Modal juga merupakan masalah lain bagi orang pribumi , tidak seperti bagi orang Tionghoa , yang mempunyai jaringan melalui mana ia akan mendapatkan orang yang bersedia membantunya memulai bisnis . Di Malaysia dan Indonesia sebelum perang , misalnya , tak ada bank yang dapat didatangi pribumi untuk memperoleh bantuan . Ia tak dapat mendatangi sebuah bank Tionghoa , karena bank Tionghoa hanya melakukan bisnis di kalangan mereka sendiri . Kalaupun ia berhasil mendapatkan seseorang yang bersedia meminjamkan uang , ia harus membayar suku bunga yang lebih tinggi . Pula, sulit bagi orang pribumi untuk memperoleh suplai dengan kredit , karena orang Tionghoalah yang memonopoli jaringan distribusi dan mereka tidak mempercayai pedagang pribumi . Di beberapa bidang di mana orang Tionghoa tidak masuk , baik karena pilihannya (terutama berlaku di Filipina di mana orang Tionghoa harus memusatkan diri pada bidang-bidang yang menguntungkan sebab kecilnya jumlah mereka sebagai akibat pembatasan imigrasi ) atau karena dikesampingkan oleh pemerintah kolonial , maka para pedagang pribumi muncul dan mengembangkan jaringan mereka sendiri , tetapi jaringan mereka lemah dibandingkan dengan jaringan Tionghoa . Alasannya , pertama , jaringan pribumi cenderung terikat pada lokasi tertentu , karena ia tidak dapat melampui suatu kelompok etnis dengan mudah . Sebaliknya , sebuah jaringan Tionghoa dapat dengan jauh lebih mudah dihubungkan dengan suatu jaringan nasional atau bahkan dengan suatu jaringan internasional . Sebuah jaringan Hokkian di sebuah kota di Jawa Timur , misalnya, dapat dihubungkan dengan suatu jaringan Hokkian di suatu kota di Sumatra , dan kalau perlu dengan jaringan di Singapura atau di tempat lainnya di mana terdapat orang Hokkian . Dalam memahami jaringan-jaringan orang Tionghoa , penting untuk diingat bahwa dalam masa sebelum-perang , hal-hal itu tidak hanya menyisihkan pribumi tetap juga banyak orang Tionghoa yang lain . Kelompok terbesar adalah kelompok bahasa ( Hokkian , Teociu , dan lain-lain ) . Di samping itu , ada kelompok-kelompok yang lebih sempit yang berdasarkan pada ikatan-ikatan yang lain , seperti kampung halaman . Pada masa sesudah- perang , ikatan-ikatan ini melonggar dan ikatan baru dibentuk di tempat pemukiman yang baru , yang menghasilkan jaringan-jaringan yang mempunyai basis yang lebih luas dari kelompok bahasa , meskipun biasanya tidak cukup luas untuk mencakup orang bukan –Tionghoa Pada masa sebelum perang , tidak setiap orang yang berbahasa , misalnya, Hokkian , dapat masuk ke dalam jaringan Hokkian . Sudah tentu , kemampuan berbahasa Hokkian dan pemilikan “kepribadian Hokkian “ merupakan kondisi-kondisi yang perlu untuk masuk ke dalam jaringan ini, tetapi sejumlah kondisi yang lain juga harus dipenuhi . 8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Yang paling menentukan di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh orang Tionghoa shinyung ( layak dipercaya ) Hal ini penting karena bisnis seringkali dilakukan dengan suatu janji verbal dan karena sekalipun ada surat kontrak , penyelenggarannya tidak efisisen dan mahal bila dilanggar ( paling tidak , inilah persepsi orang Tionghoa terhadap keadilan administratif di negara-negara mereka bermukim ) . Seorang Tionghoa yang memiliki shinyung tidak akan melanggar suatu janji atau kontrak, sehingga hanya orang semacam inilah yang dipertahankan dalam jaringan itu . Tak ada yang memiliki shinyung sedari awal . Mereka yang ingin memasuki bisnis harus melalui suatu masa pelatihan , dan hanya mereka yang berhasil menyelesaikan dengan baik dapat memasuki suatu jaringan atas persetujuan guru-guru mereka . Kemudian , dalam perjalanan karirnya , mereka dapat kehilangan shinyung itu dan keluar dari bisnis , atau memenangkan shinyung yang lebih besar dan memantapkan diri mereka sebagai saudagar . Selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang memiliki sejumlah shinyung dapat membohongi jaringan itu atau melalikannya secara tidak sengaja , tetap hal ini diminimalkan oleh fakta bahwa orang Tionghoa merupakan sebuah kelompok minoritas yang tertutup . Sebagai minoritas , kehidupan bisnis dan sosial sangat terjalin sehingga sanksi –sanksi sosial yang keras dikenakan kepada mereka yang tidak jujur dalam bisnis. Tetapi bersamaan dengan itu , gossip diedarkan dalam pertemuan –pertemuan sosial serta pertemuan-peretemuan dagang dan perhimpunan bisnis yang lain , dan setiap informasi yang berharga (seringkali negatif ) diumpan balik kepada jaringan sehingga ia dapat menyesuaikan penilaian mengenai shinyung para anggotanya . Seperti dikemuakan di atas , basis organisasi dari jaringan berubah seiring dengan waktu , dan apa yang benar pada masa sebelum perang tidak lagi berlaku . Tetapi jaringan bisnis Tionghoa masih ada , dan mereka masih beroperasi berdasarkan shinyung . Pribumi , yang tak pernah diberikan kesempatan untuk membuktikan diri mereka, dikesampingkan dari jaringan-jaringan ini dan tidak dapat bersaing dengan orang Tionghoa di atas basis yang sama . Dalam masa sesudah perang , sebagian pemerintah Asia Tenggara mendirikan bank , perusahan dagang , dan lembaga-lembaga lain untuk mematahkan monopoli Tionghoa terhadap jaringan, tetapi usaha-usaha ini tidak cukup untuk mengimbangi kelemahan pribumi dalam persaingan dengan orang Tionghoa . Orang mungkin berpendapat bahwa kalau pribumi dilarang memasuki jaringan-jaringan Tionghoa , mereka dapat memakai jaringan asing . Tetapi umumnya , hal ini sulit sebelum pemerintah mengambil langkah-langkah untuk mempromosikan kewiraswastaan pribumi , namun di Filipina , hal ini mungkin , sekalipun pada masa sebelum perang . Situasi Filipina adalah unik dalam beberapa hal . Pertama , jumlah penduduk Tionghoa kecil , karena Pemerintahan Amerika membatasi imigrasi orang Tionghoa guna mencegah penggunaan Filipina sebagai pintu gerbang ke Amerika Serikat . Akibatnya orang Tionghoa tidak dapat menembus semua sektor perekoniomian . Kedua , Amerika Serikat , yang memiliki sedikit pengalaman dalam penjajahan , agak naïf dan juga idealis, sehingga sebagai penjajah , ia banyak membantu orang-orang Filipino untuk menjadi bangsa yang merdeka . Satu haslinya adalah sejumlah orang Filipina berpendidikan universitas bekerja pada perusahaan-perusahan Amertika dan kemudian memulai bisnis mereka sendiri .. Ketiga , kelompok pribumi meliputi orang-orang mestizo , yang lebih 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda siap menfaatkan peluang-peluang baru ( termasuk peluang komersial ) dibandingkan kelompok pribumi bukan mestizo . Sebagian dari orang-orang ini bergaul dengan kalangan bisnis asing dan mendapat bantuan dari kontak-kontak asing itu .( Kunio , 1990 :76 – 80 ) Bisnis Keluarga Keluarga memberikan penyekat bagi bisnis Tionghoa . Keluarga Tionghoa bersifat patrilineal ( berdasarkan garis keturunan ayah ) , patrilokal ( kediaman pasangan menikah bersama atau berdekatan dengan keluarga pihak pengantin laki-laki ) ,dan patriakal ( dengan ayah sebagai kepala keluarga ) yang mendua . Hubungan dilakukan berdasarkan norma-norma kekerabatan terutama dengan anak-anak tetapi istri juga menjadi subyek kewenangan patriakal dari ayah dan , lebih lanjut , berdasarkan garis keturunan secara kesuluruhan . Kewenangan ini memiliki pewarisan ekonomi yang amat serius . Kepala keluarga dapat mengklaim hak atas tenaga kerja dan upah dari anak-anaknya yang diperkerjakan . Logika ideal yang mendasari ketentuan ini adalah bahwa anak-anak membayar kembali utang kepada orangtuanya untuk pengasuhan yang mereka terima . Dalam kasus anak-anak perempuan yang sudah menikah mengikuti suaminya , dari perspektif kepala keluarga menekan “keluar “ dari garis keturunan ayah , dan akan menerima sejumlah pembayaran upah kerja sampai mereka menikah . Sungguh berbeda dengan rekan-rekan Tionghoanya , pemuda Melayu dan Jawa enggan tunduk kepada otoritas patriakal , sekurang-kurangnya jika berkenan dengan persoalan ekonomi . Bekerja di masa remaja tidak cukup menghimpun pendapatan mereka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau menyumbang tenaga tanpa upah di perusahan keluarga . Bagi mereka , dan lagi-lagi berbeda dengan Tionghoa, perusahan keluarga bukan sebuah kegiatan usaha dengan tanggung jawab penuh orang tua . Jarang sekali ada pemikiran tentang suatu “harta warisan “ keluarga atau keluarga besar . Dalam sejumlah kasus , seperti yang terjadi di kalangan para pedagang Jawa , bahkan para suami dan istri memandang perusahan milik pasangannya sebagai perusahan yang tidak ada hubungannya dengan mereka . Akibatnya adalah bahwa orang Melayu , Jawa , dan banyak penduduk pribumi Asia Tenggara lainnya, tergantung pada keluarga dekat sebagai sumber daya usaha . Dengan kata lain , dan sungguh berbeda dengan stereotip tertentu keluarga Melayu dan Asia Tenggara lainnya , keluarga-keluarga Melayu dan banyak keluarga Asia Tenggara lainnya tampak lebih individualistis daripada rekan-rekan Tionghoa-nya . Seperti dapat kita lihat masalah ini bersifat kritis untuk memahami perbedan-perbedaan kunci antara bisnis orang Tionghoa dan pribumi Asia Tenggara . Jika keluarga adalah sumber kekuatan bisnis Tionghoa , hal itu juga sekaligus suatu kelemahan . Mengingat kepala keluarga yang lebih tua dapat tergantung pada tenaga kerja bawahanya yang setia dan gratis , wewenang patriakal tergantung pada seorang ayah yang dengan tidak tercegah bertambah tua dan mati . Setelah membangun perusahannya dengan mengandalkan tenaga kerja keluarga dan pinjaman modal dari dari keluarga dan teman-teman , seorang pemilik berhasil melakukan kontrol ketat terhadap semua keputusan penting . Namun secara bertahap ia membawa anak laki-lakinya 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda ( bukan anak –anak perempuan ) ke bidang bisnis dan mempersiapkan mereka untuk masa pensiun dan kematiannya yang bakal datang . Di sini logika aneh sistem keturunan Tionghoa menggunakan pengaruhnya yang paling menentukan . Berdasarkan konvensi , anak-anak laki-laki diharapkan mendapat saham yang sama di perusahan ayahnya . Meraih kesetaraan itu melalui pembagian bisnis yang ada ke dalam saham-saham yang sama adalah satu pilihan . Beberapa keluarga melakukan hal ini , tetapi masalah koordinasi muncul karena tidak seorang saudara laki-laki pun dapat mengklaim wewenang yang pernah dinikmati ayah mereka . Hubungan di antara para saudara lakilaki tidak secara bersama menanggung sifat tugas yang tidak mementingkan diri sendiri dan hierarki yang disepakati bersama mengenai hubungan ayah dan anak-anaknya sendiri. Saudara-saudara laki-laki dalam bisnis yang sama cenderung iri dan tidak bersepakat yang membuat hubungan mereka rapuh . Di permukaan ketegangan-ketegangan ini strategi yang disukai di kalangan para pemilik bisnis yang sukses adalah menugaskan setiap anak laki-lakinya pada bidang bisnis yang berbeda pengaruh , lebih baik lagi ( jika luar biasa sukses ) , atau pada bisnis yang sepenuhnya terpisah . Konsekuensi-konsekuensi dari strategi pewarisan ini bagi siklus pertumbuhan bisnis Tionghoa banyak sekali .Sukses tidak ditandai oleh penciptaan suatu perusahan yang amat besar dan terpadu secara vertikal , seperti di Korea Selatan dan Jepang ,tetapi dengan pendirian sebuah perusahan induk untuk perusahan-perusahan bebas yang terikat longgar dalam sebuah kelompok bisnis multiusaha . Meraka dapat berspesialisasi di bidang pembuatan sebuah produk yang berhubungan dengan atau bahkan sama dengan produk-produk perusahaan induk, atau mereka dapat menangani sepenuhnya berbagai jenis produk bisnis . Kadang-kadang yang dihasilkan adalah campuran dari dua pilihan ini : sejumlah penting perusahan yang mengkhususkan diri dalam suatu jenis produk dan dicirikan oleh suatu ukuran integrasi vertikal dan , bersamaan dengan itu , sejumlah perusahaan lain dalam jaringan bisnis yang berkaitan dengan jenis produk perusahaan induk . Dalam kata-kata Hamilton , “diversifikasi opportunis :, bukan integrasi vertikal , adalah aturan mainnya yang ditentukan oleh logika pewarisan menurut garis keturunan ayah . Walaupun pemilik dan mitra-mitra usahanya di lingkungan bisnis melakukan kontrol akhir terhadap aneka perusahaan berbentuk sebuah kelompok bisnis , manajemen seharihari perusahan itu tetap terpisah , dan ini lagi-lagi berbeda dengan pola integrasi vertikal perusahan-perusahan Jepang dan Korea Selatan . Hanya belakangan ini kepala keluarga sejumlah kelompok bisnis besar mengambil langkah-langkah pengkoordinasian manajemen perusahan-perusahan dalam kelompok bisnisnya . Meskipun terdapat suatu hierarki manajemen yang terpisah , para pejabat penting perusahan dapat memegang berbagai kedudukan di berbagai perusahan . Praktik ini jarang terlihat di Jepang dan Korea Selatan , di mana personalia kunci hanya memegang satu posisi di satu perusahan dalam sebuah kelompok bisnis . Di sini kembali , bahkan di tengah sebagian besar perusahan modern , kita menyaksikan pengaruh prototipe tradisional yang masih bertahan , yang diproyeksikan ke dalam tugas-tugas ekonomi yang tidak tradisional . Dalam tahap ini , pemisahan urusan kontrol dana manajemen dalam perusahan-perusahan keluarga pararel dengan kontrol dan 11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda manajemen rumah tangga dan asset warisan . Kelompok bisnis keluarga merupakan pola--pola organisasi yang sama yang dihubungkan dengan praktik-praktik dalam keluarga Tionghoa tradisional . Perluasan struktur tradisional ini ke dalam tugas-tugas sosial baru bukan karena komitmen orang Tionghoa yang tidak rasional kepada beberapa “tradisi “ mistik yang kuat tetapi disebabkan oleh prototipe organisasional cukup cakap mengambil tugas-tugas sosial baru . Tradisi telah berubah bahkan , ketika pada dasarnya telah dihasilkan ulang . Bagi para pakar Barat yang terlatih dalam sosiologi Weberian atau teori manajemen konvensional , semua ini akan tampak seperti melakukan bisnis tradisional dan :terprarasionalisasi “, ditakdirkan memberi jalan sepanjang waktu kepada sistem manajemen yang lebih rasional dan birokratis . Harus diakui , sejumlah perusahaan Tionghoa mulai menguji coba teknik-teknik manajemen Barat . Namun pada umumnya , harapan ini didasarkan pada pikiran dangkal mengenai berbagai variasi budaya yang sesuai dengan kapitalisme modern . ( Hefner , 2000 : 19 – 23 ) Ekspliotasi dan Persaingan Ekonomi Migrasi yang mendorong adanya pemukiman orang Tionghoa di Indonesia dimulai sejak adanya perdagangan oleh pedagang-pedagang Tionghoa yang menggunakan perahuperahu jungnya dari bagian tenggara daratan Tiongkok , sedangkan pertumbuhan penduduk Tionghoa di Indonesia selanjutnya sangat erat hubungannya dengan peranannya dalam bidang ekonomi . Bebas dari akibat –akibat birokrasi kerajaan Tiongkok yang membuat mereka terkekang , orang Tionghoa perantauan itu membuktikan bahwa mereka paling cicok untuk perkembangan ekonomi . Mereka menekan sistem nilai yang mementingkan kerajinan , kehematan , pengandalan pada diri sendiri , semangat berusaha dan ketrampilan , ditambah pula prinsip-prinsip organisasi sosial yang mudah sekali disesuaikan dan digunakan . Hal tersebut menyebabkan mereka berhasil dalam bidang ekonomi di suatu negara yang kaya alamnya , dan yang penduduk aslinya sama sekali berlainan orientasinya . Dari abad ke 17 sampai abad ke -20 , yaitu pada waktu orang-orang Belanda maju pesat dengan eksploitasi ekonomi Hindia Belanda yang makin sistimatis itu, orang-orang Tionghoa makin banyak memperoleh peranan yang orang Belanda sendiri tidak mampu melaksanakan . Mereka diperkenankan untuk mengikuti selera mereka terhadap pekerjaan sebagai usahawan dan membina jaringan perdagangan dan finansial yang menyeluruh , yang membentang dari pelabuhan-pelabuhan besar sampai ke pasar-pasar desa . Orang Belanda menguasai bidang perkapalan dan usaha ekspor-impor yang menghidupi dan dihidupi oleh jaringan ini , dan memungut pajak dan bea pada beberapa tempat di dalam sistem tersebut . Kecuali mendapat dorongan untuk menduduki posisi-posisi perdagangan di antara kaum penjajah Belanda dan pendudk asli , orang Tionghoa juga diperkerjakan sejak tahun 1860-an sampai 1930-an , sebagai buruh di perkebunan dan pertambangan yang menghasilkan komoditi di pasaran Eropa . Pada tahap-tahap mutakhir perkembangan kolonial ini , orang Tionghoa perantauan makin banyak diperkerjakan sebagai mandor atau pegawai kantor di dalam perusahan12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda perusahan orang Eropa itu . Inilah sebab ,mengapa pengunduran diri orang-orang Belanda dari bisnis pada tahun 1950-an , menempatkan orang-orang Tionghoa pada posisi untuk menguasai atau mengawasi bagian besar ekonomi yang bukan perhatian di seluruh Indonesia : suatu posisi yang dibenarkan oleh sejarah yang panjang dan berbau kolonialisme , dikekalkan oleh perbedaan budaya yang mendalam dan yang terbuka untuk serangan nasionalisme . ( Skinner , 1981 : 1 – 3 ) Orang Tionghoa di Asia Tenggara telah dicap oleh WF Wertheim sebagai minoritas dagang . Penulis-penulis lainnya memandang sebagai “ minoritas golongan tengah “ atau“ borjuasi dagang “ . Seperti ditunjukkan sendiri oleh Wertheim , ada bagian-bagian wilayah di mana orang Tionghoa itu melakukan pekerjaan yang lebih luas lapangannya daripada sekedar berdagang . Di Indonesia , pembedaan harus dilakukan antara kawasankawasan seperti di Jawa , di mana mereka menetap di antara penduduk yang relatif padat sehingga pada umumnya mereka itu tidak sanggup melibatkan diri dalam pekerjaan di bidang pertanian yang paling menonjol itu daripada mereka yang menetap di Pantai Timur Sumatra, Bangka dan Kalimantan Barat yang penduduknya masih jarang ketika mereka itu datang . Hendaklah dicatat bahwa kecenderungan yang lebih besar dari orang Tionghoa yang terlibat dalam perdagangan dan industri tidaklah berarti bahwa sebagian terbesar dari mereka yang bekerja di bidang ini adalah orang Tionghoa . . Dalam pengertian mutlak , orang Indonesia di bidang pekerjaan tersebut jumlahnya jauh melebih orang Tionghoa . Data stastistik tahun 1930 telah ikut mendukung stereotip orang Tionghoa itu sebagai minoritas pedagang yang kaya . Sebuah citra serumpun bahwa orang Tionghoa itu mendominasi atau mengusai ekonomi Indonesia adalah lebih sulit , kalau tidak mungkin untuk mendokumentasinya . Pijakan yang awal dan kukuh yang dicapai oleh Tiongghoa itu di bidang perdagangan perantara dan peminjaman uang merupakan akibat langsung dari kebijakan Belanda mengenai penyerahan sebagian dari bermacam-macam monopoli kepada orang Tionghoa perorangan . Dalam sejumlah kasus , keuntungan besar telah diraih oleh orang Tionghoa yang menjalankan monopoli perahu tambang , pemotongan hewan , candu dan tempat-tempat perjudian berdasarkan linsensi yang dikeluarkan oleh pemerintah dan menambah kegiatan ini yang sangat menguntungkan dengan menjalankan perdagangan eceran dan peminjaman uang . Pada akhir abad le-19 , berkembanglah semacam keprihatinan yang lebih besar di kalangan Belanda yang menyaksikan kesejahteraan hidup orang Jawa iu merosot terus . Inilah yang kemudian mendorong diterimanya Politik Etis . Keprihatinan terhadap orang Jawa seringkali digabungkan dengan perasaan benci terhadap orang Tionghoa , yang “ pengaruh jahat mereka “ dipersalahkan karena telah memerosotkan kesejahteraan penduduk pribumi . Oleh karena itu , penguasa kolonial mulai membongkar sistem monopoli penyerahan pajak , mengurangi peranan lintah darat Tionghoa dengan mengadakan berlakunya penyedian kredit oleh pemerintah dan memaksakan berlakunya sistem surat jalan dan sistim pemukiman khusus bagi orang Tionghoa yang mendatangkan kesulitan besar bagi mereka.

13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Tindakan pemerintah kolonial terhadap mereka itu ternyata telah memainkan peranan penting dalam dalam pengembangan kesadaran nasional di kalangan orang Tionghoa . Satu lambang dan sarana kesadaran nasional yang sedang tumbuh ini adalah didirikannya Kamar Dagang Tionghoa ( Sianghwee ) yang dapat berperan sebagai perwakilan kepentingan dagang orang Tionghoa . Mungkin benar bahwa Sianghwee ini menjadi contoh bagi kalangan Islam yang merasa disaingi ketika mereka itu kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam pada tahun 1911 . Tentu saja banyak sekali dorongan awal bagi terbentuknya SDI itu datang dari keinginan pengusaha Islam untuk menandingi kekuatan komersial orang Tionghoa . Sekalipun Sianghwee dan Sarekat Dagang Islam ( yang kemudian menjadi Sarekat Islam ) mempunyai arti politik yang lebih besar ketimbang ekonomi , pembentukannya melambangkan munculnya persaingan di pasaran berdasarkan kelompok antara orang Tionghoa dan orang Indonesia sebagaimana halnya dengan baru lahirnya nasionalisme dari kedua kelompok itu yang ditentukan oleh ukur rasial . Wertheim menekankan persaingan ekonomi ini sebagai keradaan yang menjadi akar ketegangan antara orang Tionghoa dan Indonesia . Ia pun menjelaskan bahwa konflik terjadi ketika pedagang santri Islam mulai bercita-cita untuk berperan dalam perdagangan yang semula dipandang rendah . Tetapi, mungkin juga bahwa asal-usul konflik itu terletak pada semakin meluasnya perusahan Tionghoa yang memasuki apa yang sampai sekarang diusahakan oleh pedagang Jawa dan Arab yang ekspansinya dibiayai oleh modal yang tidak terpakai akibat dihapuskannya monoppoli candu dan rumah gadai . Ketika agitasi politik orang Tionghoa itu mengakibatkan penghapusan sistem surat jalan dan pemukiman khusus, pedagang Tionghoa dapat memasuki daerah pedesaan dengan lebih leluasa lagi . Hilangnya monopoli penarikan pajak tidak menghancurkan posisi perdagangan orang Tionghoa , yang mungkin secara tidak langsung menyebabkan meluasnya perdagangan mereka . Bersamaan dengan itu , persaingan ekonomi yang bersifat rasial telah dipertajam dan kecenderungan mengkambinghitamkan orang Tionghoa karena adanya kemiskinan , atau tidak adanya kelas wiraswasta pribumi yang mulai berkembang . Namun begitu , tidaklah jelas apakah saham orang Tiuonghoa di dalam pasar itu bertambah besar atau berkurang dalam dasawarsa terakhir kekuasaan kolonial . Di lain pihak , kita tahu ada orang-orang seperti Cator yang menyatakan bahwa ada : suatu kemerosotan yang tidak dapat disangkal dari saham perdagangan orang Tionghoa : karena disaingi oleh orang Indonesia dan orang Jepang .Di lain pihak , kita mempunyai bukti yang diajukan oleh Sommers mengenai jumlah orang dari ketiga golongan penduduk yang membayar pajak atas pendapatan yang melebihi 1.000 guklden per tahun selama kurun waktu tahun 1922 - 1939 . Hal ini memperkuat pendapat bahwa golongan Timur Asing ( termasuk orang Tionghoa ) tidak begitu berat terkena pengaruh depresi ketimbang golongan Indonesia . Indiskasi lain memperlihatkan bahwa persaingan , apakah itu dari orang Indonesia atau orang Jepang , adalah sedikit sekali , jika ada , pengaruhnya atas orang Tionghoa yang menguasai perdagangan . Hal ini mungkin terdapat dalam jumlah-jumlah dari mereka yang memiliki pendapatan yang tidak berasal dari upah/gaji dan melebihi 900 gulden per tahun . 14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Walaupun bukti dari periode kolonial mengenai kedudukan ekonomis penduduk Tionghoa di Hindia Be;landa hanya sedikit , namun ternyata masih lebih banyak ketimbang yang tersedia pada periode setelah Indonesia merdeka . Bukti-bukti tidak langsung mengenai pembagian pekerjaan dan perkiraan pajak pendapatan berdasarkan kelompok atau golongan ras tidak tersedia , dan apa yang menyusul kebanyakan bersifat kesan . Dengan hanya menentukan sampai di mana pembatasan itu telah dikenakan oleh pemerintah terhadap kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang-asing ( dan juga oleh warga negara Indonesia non pribumi ) , orang mungkin mendapatkan dari situ kenyataan bahwa perusahan negara dan pengusaha pribumi Indonesia yang disukai telah banyak sekali mempengaruhi kedudukan ekonomi orang Tionghoa . Namun dalam praktek tidaklah demikian . Selain kebijakan Indonesianisasi pemerintah , baik kalangan asing maupun warga negara Indonesia keturunan Tionghoa meneruskan peranan mereka yang besar di dalam ekonomi Indonesia . Ada berbagai jalan yang terbuka bagi orang Tionghoa untuk menghindari pembatasan-pembatasan itu . Jika kebijakan diskriminasi itu hanya ditujukan terhadap orang asing , maka orang Tionghoa warga negara asing dapat mengalihkan usaha mereka kepada pengusaha atau sanak saudara mereka yang menjadi warga negara Indonesia . Dalam beberapa hal, di mana kegiatan bisnis itu hanya terbatas untuk pengusaha “nasional “ ( misalnya dalam bidang impor ) , maka pengimpor itu adalah sekedar bagian muka dari apa yang sebenarnya masih merupakan pokok dari bisnis impor yang dilakukan orang Tionghoa . Dalam hal-hal lain , pembatasan tersebut dapat dielakkan secara sah dengan jalan memasuki ikatan pemitraan yang bonafide dengan pengusaha Indonesia . Jika diperlukan , sering terbuka kemungkinan bagi seseorang pengusaha Tionghoa untuk melanjutkan keberhasilannya dengan jalan mengalihkan modalnya ke sektor ekonomi lain yang tidak terkena pembatasan . ( Coppel , 1994 : 45 – 52 ) Program Benteng dan Ali Baba Program Benteng itu sendiri untuk pertama kalinya diumumkan pada bulan April 1950 , empat bulan setelah Negeri Belanda mengakui Kemerdekaan Indonesia, oleh Ir Djuanda, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia Serikat . Gagasan utama Program Benteng itu adalah untuk mendorong para importer nasional agar mampu bersang dengan perusahaanperusahaan impor asing . Selain membatasi impor barang-barang tertentu dan pemberian lisensi impor hanya kepada para importir Indonesia , program itu juga memberi bantuan dana bentuk kredit keuangan kepada para importir Indonesia , yang sebagian besar tidak memiliki modal yang memadai untuk memulai impor dan tidak dapat memperoleh kredit dari sumber-sumber keuangan swasta . Untuk melaksanakan kebijaksanaan proteksinya , satu di antara beberapa keputusan yang pertama-tama diambil oleh pemerintah Indonesia adalah menentukan dan memilih importir –importir yang layak diberi bantuan pemerintah , yakni yang harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu sebelum dapat dipertimbangkan untuk memperoleh bantuan pemerintah . Kementerian Perdagangan dan Perisndustrian – yang kemudian bernama Kementerian Perekonomian – akan menentukan prasyaratan-prasyaratan itu . Para pengusaha yang dapat melalui penyaringan itu dan berhak atas bantuan pemerintah, 15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda biasanya dinamakan importir-importir Benteng . Untuk kepentingan tersebut Pemerintah membuat satu daftar khusus mengenai barang-barang yang hanya boleh diimpor oleh para importir itu , yang biasanya dinamakan barang-barang Benteng . Satu ketentuan lain dari Program Benteng yang diumumkan pada tahun 1950 menyangkut pemilikan yang berkaitan dengan soal etnis . Ditetapkan bahwa untuk bisa diakui sebagai perusahaan Benteng , sebuah perusahaan impor harus memiliki modal sekurangkurangnya 70 % yang berasal dari bangsa Indonesia asli , yang untuk selanjutnya akan disebut asli . Istilah “asli “ secara khusus digunakan untuk menunjuk warganegara pribumi . Asli mengacu kepada warga negara Indonesia keturunan Melayu-Polinesia dan juga kepada mereka yang hidup di Malaysia , bagian-bagian Muangthai dan Filipina . Orang-orang asli digolongkan sebagai inlanders oleh Belanda , yang menggunakan istilah-istilah untuk menunjuk “orang-orang yang dianggap rendah “. Istilah lain untuk asli , yang juga lazim digunakan pada tahun 1950-an adalah bumi putera . Di kemudian hari , di masa Orde Baru , istilah asli untuk kata asli adalah pribumi .Orang-orang nonasli atau non-pribumi adalah orang-orang di kalangan penduduk Indonesia yang merupakan keturunan Belanda, Tionghoa atau Arab . Akan tetapi dalam kenyataannya , di seluruh Indonesia sesudah proklamasi kemerdekaan , kata non-asli , atau non-pribumi m secara luas digunakan oleh orang-orang Indonesia , hampir secara khusus untuk menunjuk orang-orang Tionghoa saja , tak perduli apakah mereka itu Tionghoa totok atau singkek ( orang Tionghoa yang lahir di luar negeri ) , atau Tinghoa peranakan ( orang Tionghoa yang lahir di Indonesia ) ,( Muhaimin , 1991 : 28 – 33 ) Golongan minoritas Tionghoa bersikap kritis terhadap praktek itu . . Para warga negara Indonesia keturunan Tionghoa mengajukan protes menentang peraturan yang diskriminatif. Menanggapi keluhan orang Tionghoa itu. Djuanda membela program itu dengan menunjuk sebuah ayat dalam Persetujuan tentang Ekonomi dan Keuangan dalam Konperensi Medja Bundar yang memberikan hak kepada pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan peraturan yang melindungi kepentingan nasional dan “ golongangolongan lemah “. Ia membantah bahwa pemerintah melakukan diskrimanasi rasial . Sebenarnya Program ( Sistem ) Benteng tidak betul-betul bertujuan “ kerja sama yang sehat antara sesama warga negara “ , sebagaimana yang dikemukakan . Dalam sejarah Indonesia , Sistem Benteng dikenal sebagai suatu strategi yang digunakan untuk merebut kembali daerah yang hilang karena diduduki musuh yang kuat . Menurut strtaegi itu , benteng dirikan secara melingkar di sekitar wilayah yang dikuasai musuh . Makin lama lingkaran akan menjadi makin kecil dan akhirnya pasukan yang ada dalam benteng itu akan membasmi musuh . Pemilihan istilah benteng bukan hal yang kebetulan . Orang Indonesia asli ingin memperoleh kembali kendali perekonomian Indonesia yang pada umumnya berada di tangan orang asing , dengan jalan membuat peraturan di bidang impor , dan sedikit demi sedikit meluas ke bidang perekonomian lainnnya sampai akhirnya irang pribumi dapat memegang kendali perekonomian Indonesia . Program Benteng masih tetap dilanjutkan waktu Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dari Partai Nasional Indonesia . Ia juga menyetujui program itu untuk menciptakan “ pengusaha kelas menengah yang harmonis .” Tetapi protes –protes yang dilancarkan 16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda terus-menerus oleh kaum minoritas Tionghoa , serta karena kegagalan program itu sendiri, pemerintah Indonesia kemudian menghentikannya secara resmi pada tahun 1954 . Program Benteng tidak mencapai tujuannya untuk menciptakan kelas wiraswasta pribumi yang tangguh . Faktor yang mengakibatkan kegagalan tersebut terletak pada kekurangan pengalaman orang pribumi Indonesia , kuatnya oposisi dari orang Tionghoa dan berlangsungnya inflasi terus-menerus yang memaksa pemerintah mengadakan penilaian kembali atas program tersebut . Program itu telah mengakibatkan timbulnya “ importirimportir aktentas “ yang adalah orang Indonesia asli yang tidak punya harta benda lain kecuali aksensitasnya sebagai kantor . Satu-satunya tujuan para importir itu adalah untuk mendapatkan izin memiliki alat pembayaran luar negeri ( foreign exchange ) sedang mitra Tionghoa mereka ( mitra diam ) lah yang menyelenggarakan perusahaan . Kerja sama antara pemegang izin yang pribumi dan Tionghoa Indonesia yang terkenal dengan sistem Ali Baba , dan hal itu oleh banyak orang pribumi Indonesia dianggap sebagai hal yang tidak adil dan merugikan karena orang Tionghoa menerima bagian terbesar dari labanya sedangkan orang Indonesia asli yang dikapai sebagai “maju ke depan “ tidak mendapatkan apa-apa dalam hal pengalaman berusaha . ( Suryadinata , 1984 : 135 – 137 ) Pada umumnya , program Benteng telah menguntungkan para elit politik –birokrasi dan memberikan kepada klien-klien mereka suatu kedudukan yang strategis dalam perokonomian , namun kebanyakan gagal untuk melahirkan golongan pengusaha asli dengan kekuatan yang riil berlandaskan pemilikan modal dan pengawasan atas perusahan-perusahaan industri berukuran besar atau jaringan-jaringan kredit dan distribusi , Program itu jelas telah menghasilkan satu golongan pengusaha klien yang tidak mandiri , rapuh , dan makin hanya bisa bertahan untuk sementara saja tetapi kemajuan itu tidak cukup untuk memungkinkan para saudagar , pedagang dan produsen komoditi tradisional untuk berkembang melalui tingkat perdagangan dan produksi komoditi kecil-kecilan . Pada periode “Benteng “ ini pencarian terhadap golongan menengah asli dipusatkan pada golongan yang disebut belakangan yang diharapkan bisa tumbuh dari pengusaha-pengusaha klasik , menurut teori Schumpeter , menjadi sektor perusahan modern yang berukuran besar dan berbentuk badan melalui pembentukan modal dan inovasi teknologis . Perkembangan seperti itu tidak terjadi , sebagian besar disebabkan oleh hambatan sosiokultural politik . Disamping itu juga ada dimensi struktural , yaitu ketika para pengusaha dan perusahaan-perusahaan asing dan Tionghoa menyisihkan pengusaha-pengusajha asli terutama dalam industri-industri kretek , tekstil dan batik . Dalam periode terakhir dari sistem parlementer telah dilakukan berbagai upaya untuk memanfaatkan modal dan teknologi asing serta keahlian usaha Tionghoa . ( Muhamin , 1991 : 169 ) Peraturan Presiden 10 / 1959 Pada masa Demokrasi Terpimpin , keinginan “ pempribumian “ dalam bidang ekonomi tumbuh lagi . Menteri Perdagangan Rachmat Mulyomiseono pada bulan Mei 1959 mengeluarkan peraturan yang melarang perdagangan eceran di daerah pedesaan dan 17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mewajibkan orang asing untuk mengalihkan usaha mereka kepada warga negara Indonesia selambat-lambatnya pada tanggal 30 September 1956 . Kabinet Soekarno yang baru terbentuk itu kemudian mengumumkan bahwa larangan berdagang oleh orang asing di daerah pedesaan akan diberlakukan . Ternyata di luar Jawa beberapa panglima daerah militer telah mengundangkan bahwa daerah pedesaan tertutup bagi orang asing ( baca “ Tionghoa asing ) sebelum batas waktu September tersebut Panglima Daerah Militer Jawa Barat juga mengeluarkan larangan yang sama . Pada tanggal 10 November 1959 kabinet Indonesia mengundangkan persaturan yang terkenal dengan nama Peraturan Presiden No. 10 , yang menegaskan kembali larangan yang berlaku pada kabinet sebelumnya . Peraturan tersebut memberikan batas tentang perdagangan eceran sebagai perusahaan yang mencari keuntungan dari pembelian dan penjualan tanpa mengadakan perubahan teknis pada barang itu …( perusahan yang ) melakukan penyeberan yaitu menjadi penghubung terakhir untuk menyampaikan barangbarang langsung kepada konsumen …(dan melakukan perdagangan pengumpulan , yaitu membeli barang-barang dari produsen-produsen kecil untuk diteruskan kepada alat-alat perantara selanjutnya . Orang asing tidak diperkenankan berusaha di bidang perdagangan eceran dan oleh hukum diwajibkan untuk mengalihkan perusahan mereka kepada warga negara Indonesia sebelum 1 Januari 1960 . Peraturan tersebut mengatakan bahwa orang asing itu masih diperkenankan tinggal di daerah tersebut , kecuali jika komandan militer setempat menetapkan lain dengan alasan keamaman . Penting dicatat pula bahwa ada ketentuan yang mewajibkan orang Indonesia untuk membentuk koperasi pedesaan untuk menampung para pengusaha Tionghoa tersebut . Mereka yang terkena peraturan tersebut dapat bekerja untuk koperasi itu sebagai pegawai , kalau mereka mau . Juga diperintahkan agar pengalihan dilakukan dengan pertimbangan kemanusian yang sebaik mungkin untuk menghindarkan terciptanya suasana “keruh “ . Peraturan Presiden No 10 menandai suatu penyimpangan dari stategi Indonesia sebelumnya dalam usaha mengurangi kekuatan ekonomi Tionghoa dalam arti bahwa larangan tersebut hanya berlaku terbatas pada pedagang Tionghoa asing . Ini mungkin didasarkan pada pertimbangan bahwa tujuan yang diinginkan mungkin akan tercapai bila dikenakan pada semua orang Tionghoa . Tidak ada angka yang dapat diperoleh berkenaan dengan jumlah yang tepat dari orang Tionghoa asing yang terkena larangan tersebut Menteri Distribusi Leimena memperkirakan ada 25.000 warung /toko berada dalam kategori “ perdagangan eceran “. Beberapa penganut memperkirakjan bahwa kra-kira 400.000 sampai 500,000 orang terkena peraturan tersebut . Banyak orang Tionghoa setempat yang tidak mau menutup usaha mereka karena sedikit saja orang Indonesia yang mempunyai modal yang cukup untuk mengambil alih usaha mereka . Keenggan mereka itu boleh jadi juga didorong oleh harapan bahwa pemerintah Indonesia miungkin tidak akan memaksa berlakunya undang-undang tersebut . Juga ada kemungkinan bahwa para pejabat kedutaan RRC menyuruh orang Tionghoa itu melanjutkan saja perusahan mereka seperti biasa . Meskipun demikian banyak juga warga 18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda negara Indonesia keturunan Tionghoa , khususnya kaum peranakan yang mendukung yang berlakunya PP-10 karena mereka tidak akan terkena oleh peraturan tersebut . Di samping itu mungkin pula mereka didorong oleh prasangka terhadap kaum totok serta melihat bahwa itu merupakan suatu sarana untuk menunjukan kesetian mereka kepada bangsa Indonesia dan untuk menyelamatkan diri sendiri . Untuk memaksakan berlakunya peraturan itu , pemerintah Indonesia ,khususnya penguasa militer setempat , menggunakan jalan kekerasan . Situasi sangat gawat terlihat di Jawa Barat karena panglima militer setempat mengeluarkan peraturan bahwa orang asing tidak boleh tinggal di daerah pedesaan . Hal itu mengakibatkan adanya serangkaian peristiwa yang menyebabkan beberapa Tionghoa lokal meninggal. Hubungan antarsuku antara orang Indonesia asli dan Tionghoa khususnya orang Tionghoa asing menjadi tegang . Hubungan antar golongan Tionghoa dan bangsa Indonesia makin memburuk dengan cepat sebagai akibat berlakunya PP-10 . RRC menuduh pemerintah Indonesia melanggar perjanjian tentang kewarganegaraan rangkap yang menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia akan melindungi kepentingan warga negara Tionghoa . Sebagai jawabannya , pemerintah Indonesia melalui Subandrio menuduh bahwa para pedagang Tionghoa “ bersalah karena melakukan tindakan kapitalistis dan monopolistis , dibarengi dengan berbagai macam manipulasi dan spekulasi .” Selain itu Indonesia juga menuduh RRC mencampuri urusan dalam negeri Indonesia . RRC melakukan tekanan menentang pemerintah Indonesia dengan memulangkan orang Tionghoa lokal ke RRC . Catratan Direktorat Jendral Imigrasi , Departemen Kehakiman , memperkirakan bahwa dalam tahiun 1960 sejumlah 102.196 Tionghoa ( sebagian besar totok ) meninggalkan Indonesia dan yang terbesar menuju ke RRC . Akan tetapi pemulangan itu kemudian dihentikan oleh RRC atas alasan ekonomi maupun politis . RRC tidak dapat menyerap membanjirnya Tionghoa yang pulang dari perantauan itu ke dalam perekonomian negaranya . Di samping itu RRC menyadari bahwa kepergian begitu banyak Tionghoa secara tiba-tiba akan mengakibatkan memburuknya perekonomian . Selanjutnya hal itu akan berakibat melemahnya kekuasaan Soekarno dan kuatnya kedudukan militer yang sebagian besar anti-RRC .Dengan maksud memperbaiki kerja sama anti imperaialisme di Asia , RRC menerima tindakan diskriminatif Indonesia dengan cara mengurangi gencarnya kampanye melawan Indonesia . Soekarno yang menyadari bahayanya melanjutkan kampanye anti-Tionghoa , baik bagi perekonomian negara maupun bagi tegaknya kekuasaannya ,berhasil meredakan tindakan anti-Tionghoa . Namun , PP-10 tidak dicabut , hanya implementasi selanjutnya ditangguhkan untuk sementara . Peking yang sadar akan pekanya kedudukan Tionghoa asing di Indonesia , dan kesuliran mereka menyesuaikan diri di daratan RRC , lalu mendorong orang Tionghoa untuk mengambil kewarganegaraan lokal ( Indonesia ) . Di tahun-tahun berikutnya , untuk menanggapi kebijaksanaan ekonomi Soekarno yang “ sosialistis “ , Peking mengimbau orang Tionghoa asing untuk meninggalkan sektor perdagangan dan memasuki sektor indisutri guna membantu pembangunan perekonomian nasional Indonesia . ( Suryadinata , 1984 : 140 – 143 ) Modal Asing Domestik 19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Di bidang ekonomi pemerintah Orba memiliki keinginan untuk memobilisasi dan menfaatkan modal etnis Tionghoa WNA dengan memasukkannya dalam kegiatan “ modal asing dalam negeri “ dan menyatakannya sebagai kekayaan nasional . Seperti apa yang termaktub di dalam instruksi Soeharto : Berbeda dari modal asing yang mencantum di dalam Undang-Undang No. 1/1967 , modal asing domestik – modal yang diperoleh dan dikembangkan di dalam wilayah Indonesia – adalah kekayaan negara yang berada di tangan orang asing ; oleh karenanya harus dimobilisasi , dipelihara , dan dipergunakan untuk rehabilitasi dan pembangunan , dan dilarang untuk dipindahkan ke luar negeri . Instruksi ini kemudian diklarifikasikan di dalam Undang-Undang Penanaman Modal Negeri ( UU PMDN ) tahun 1968 yang menyatakan bahwa bahwa : modal asing dalam negeri : memiliki status yang sama dengan modal nasional ( milik WNI ) dan modal negara , dan disebut “ modal dalam negeri “ Oleh karena itu , etnis Tionghoa WNA dapat menanamkan modalnya dan mendapat perlakuan yang sama dengan modal WNI dan negara . Modal itu akan diberi keringanan dan pembebasan dari pajak . Dan yang sangat penting adalah modal inventasi milik Tionghoa WNA akan diberikan legilasi apabila diinvestasikan di sektor produksi di luar sektor perdagangan . Seperti apa yang dicantumkan dalam pasal 9 UU PMDN yang menyatakan bahwa , modal investasi yang dipergunakan untuk rehabilitasi , investasi , ekspansi dan investasi baru di bidang pertanian , perkebunan , kehutanan , perikanan, perternakan , pertambangan , industri , transportasi , perumahan umum , turisme , infrastuktur , dan sektor produktif lainnya sejalan dengan program pemerintah tidak akan dipertanyakan asal usulnya oleh instansi pajak dan tidak dikenal pajak selama dua tahun . Pemerintah juga menganjurkan Tionghoa WNA untuk melakukan kerja sama usaha dengan perusahan swasta nasional ataupun pemerintah . Hal ini diklarifikasikan dalam pasal 3 UU PMDN yang berisi penjelasan perbedaan antara “perusahan nasional “ dan “ perusahan asing .” Dalam pasal 3 , dikatakan bahwa “ perusahaan domestik nasional “ adalah perusahan yang paling sedikit 51 % dari modal domestiknya dimiliki negara dan /atau swasta nasional , dan presentase kepemilikan modal itu harus ditingkatkan menjadi 75 % pada bulan Januari 1974 . Semua perusahan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut dikategorikan sebagai perusahan asing domestik . Untuk jenis perusahaan “asing domestik :” ini , memberikan batasan waktu beroperasi . Perusahan yang bergerak di sektor perdagangan diberi waktu sampai tahun 1977 , di sektor industri dibatasi sampai tahun 1997 dan untuk sektor lain dibatasi antara sepuluh sampai tigapuluh tahun . Sementara itu , bagi etnis Tionghoa WNA yang melakukan joint-venture dengan pengusaha swasta nasional atau pemerintah , perusahannya dikategorikan sebagai “perusahan nasional “ dan tidak akan dikenai ketentuan pembatasan waktu usaha . Di sisi lain , apabila mereka memilih untuk tidak joint-venture , maka perusahan mereka dikategorikan sebagai “perusahan asing “ dan dikenai batasan waktu usaha . Akan tetapi , pembatasan waktu usaha bisa diatasi apabila pengusaha etnis Tionghoa WNA mengajukan proses naturalisasi . 20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Melalui UU PMDN ini , pengusaha etnis Tionghoa ( baik WNA maupun WNI ) diberikan intensif oleh pemerintah . Adanya UU PMDN itu , pemerintah Orba memang memberikan kesempatan dan memiliki harapan atas partisipasi etnis Tionghoa dalam menunjang program pembangunan ekonomi . Bagi etnis Tionghoa sendiri , intensif dalam UU PMDN itu memberikan landasan bagi kegiatan mereka di sektor usaha . Walaupun dalam prakteknya , mereka harus berhadapan dengan birokrasi dan masalah bagaimana mereka mengamankan usaha mereka . Akibatnya , untuk menghindari kesulitan birokrasi dan untuk pengamanan , banyak pengusaha etnis Tionghoa berkolaborasi dengan elit Indonesia , terutama dengan pihak militer . Kolaborasi tidak resmi yang sangat umum pada waktu itu adalah pengusaha etnis Tionghoa memberikan dukungan modal dan mengelola usaha , sedangkan , elite Indonesia memberikan lisensi atau konsensi monopoli . Keduanya sangat diuntungkan oleh “kerja sama “ semacam ini, yang dikenal waktu itu sebagai “cukongisme “. Salah satu contohnya adalah didirkannya “ Indonesia Busniness Center (IBC ) dan “ National Development Coprporation “ ( NDO pada tahun 1968 . Pendirian kedua insitusi ini disponsori oleh Opsus dan PT Berdikari sebagai bagian dari usaha mencari dana (fund-raising ) . Anggota dari organisasi ini antara lain Aspri Soeharto , Sudjono Humardani , dan jendral Suhardiman , pemimpin PT Berdikari , sebuah perusahan yang kepemilikannya di dominasi militer . Sementara itu untuk etnis Tionghoanya kelihatan , Be Sulindro ( Ma Shih-Ling ) dan Suwandi Hamid ( Ong Ah Lok ) , keduanya pengusaha yang dekat dengan Koumintang ( Taiwan ) , Sudono Salim ( Liem Soei Liong ) , pengusaha yang dekat dengan Soeharto dan Jusuf Wanandi ( Liem Bian Kie ) yang waktu itu adalah sekretaris Ali Murtopo . Tugas utama dari IBC adalah menggalang kerja sama antara publik dan sektor swasta , sedangkan tugas NDC adalah memobilisasi dan utilisasi “modal domestik Tionghoa “ untuk mendukung pembangunan ekonomi . Pada waktu itu IBC dan NDC berhasil menggalang dana tersembunyi (hidden fund ) – modal yang sering dipakai untuk spekulasi – sebesar Rp 15 milyar yang dapat dipergunakan untuk “menunjang “ pembangunan . Akan tetapi , IBC dan NDC tidak pernah menjadi besar dan bahkan keberadannya memang sangat singkat , hanya sampai akhir tahun 1968 , sehingga mengundang suatu pertanyaan apakah dana tersebut benar-benar dipergunakan untuk menunjang pembangunan ekonomi . Tidak tertutup kemungkinan didirikannya kedua insitusi ini adalah bagian dari kegiatan “fund raising “ militer . Ini mengingat , bahwa pada saat itu Soeharto masih dalam tahap konsolidasi kekuasannya dengan cara membiarkan perwiraperwira militer untuk terlibat dalam bisnis guna mendapatkan janinan dukungan dan loyalitas . Akibatnya , keinginan pengusaha etnis Tionghoa dalam mencari jalan guna mengamankan bisnis dan mempermudah utusan dengan birokrasi , sejalan dengan kebutuhan Soeharto untuk mendanai militer . Dan , karena mendapatkan jaminan keamanan pengusaha etnis Tionghoa tidak ragu untuk menginvestasi dananya . Memang 21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda akhirnya , hubungan antara pengusaha etnis Tionghoa dan pihak militer itu menguntungkan kedua belah pihak . Efektivitas intensif pemerintah dalam UU PMDN , koneksi dan alinasi-alinasi ekonomis dapat terlihat dari jumlah penanaman modal dalam negeri antara tahun 1968 – 1973 dan keterkaitan pengusaha etnis Tionghoa dengan investasi asing , terutama Jepang di awal tahun 1970-an . Sepanjang tahun 1968 – 1973 , pemerintah menyetujui investasi domestik sejumlah Rp 1,25 triliun . Porsi terbesar investasi domestik itu ada di industri menufaktur sebesar Rp 755 miliar , sisanya , sektor kehutanan ( Rp 139,4 miliar ) , sektor perhotelan dan real estat ( Rp 148,7 miliar ), sektor pertanian ( Rp 61,7 miliar ), sektor konstruksi (Rp 14,2 miliar ), sektor pertambangan (Rp 47,6 miliar ) dan sektor-sektor lain ( Rp 89,0 milliar ). Dalam kaitannya dengan investasi asing , khususnya Jepang dan di sektor manufaktur , dalam satu tahun saja (1975 – 1974 ) terdapat peningkatan subtansial . Dari 26 proyek dengan nilai 108, juta dollar menjadi 47 proyek senilai 250 juta dollar . Dan salah satu karakteristik dari investasi Jepang di Indonesia adalah adanya aliansi ekonomi antara investror Jepang , pejabat tinggi militer dan pengusaha etnis Tionghoa . Akan tetapi keberadaan , aliansi ekonomi antara pengusaha etnis Tionghoa , pejabat dan investor Jepang itu mengundang kecaman dari pengusaha pribumi dan pihak-pihak yang mulai mengambil posisi oposisi terhadap kebijakan ekonomi Orba . Kritik dan kecaman terhadap praktek pengusaha etnis Tionghoa sebenarnya sudah dimulai tahun 1970 . Berbagai media masa memberitakan tentang Cukong dan praktek bisnisnya di mana para Cukong dikritik karena mereka banyak mendapatkan kontrak-kontrak dan lisensi bisnis dan kemudahan kredit sebagai imbalan atas dukungan dana atau pembagian keuntungan kepada para pejabat . Misalnya , harian Nusantara , dalam salah satu artikelnya mengungkapkan bahwa antara tahun 1868 – 1970 dua puluh Cukong karena relasinya dengan pejabat Orba dengan mudah mendapatkan kredit sebesar 200 miliar rupiah . Kritik terhadap praktek bisnis para Cukong itu kemudian berkembang ke dalam perdebatan menyangkut kebijakan ekonimi Orba . Para pengeritik Orba menentang pembukaan kesempatan yang diberikan kepada “investasi domestik asing “. Sementara itu , pemerintah mempertahankan kebijakan itu karena menganggap pendayagunaan “investasi domestik asing “ itu sangat menguntungkan di mencegah pelarian modal dan penggunaan dana untuk hal-hal yang subversif . Di samping itu , kebijakan pemerintah juga dikecam kalangan pengusaha pribumi yang menyatakan bahwa pemerintah tidak melihat konsekuensi pemberian intensif pada “investasi domestik asing “ yaitu dominasi mereka di sektor ekonomi . Salah satu suaranya diwakili oleh mantan perindustrian Orla Rahmat Mulyomiseno , yang berpandangan bahwa keinginan kuat untuk mengatasi kekurangan pengetahuan ,keahlian , pengalaman bisnis serta permodalan , hanya mendorong pemerintah untuk mengikuti pola tertentu tanpa memperhatikan hasilnya di masa depan yaitu dominasi etnis Tionghoa di sektor ekonomi . Memasuki pertengahan tahun 1973 , kritik atas praktek bisnis dan perdebatan atas kebijakan ekonomi itu berkembang menjadi protes terbuka oleh kaum intelektual dan mahasiswa . Protes ini terbuka secara lugas mengecam praktek alinasi etnis Tionghoa22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda militer-investor Jepang yang merupakan sumber korupsi . Ini diikuti dengan demontrasi mahasiswa menentang Aspri (Asisten Pribadi Soeharto ) yang dituduh mengambil keuntungan dari hubungan mereka dengan para Cukong dan juga investor Jepang . Rangkaian demontrasi ini akhirnya meledak dalam peristiwa kerusuhan Malari pada 15 Januari 1974 . Dalam peristiwa ini , proses anti Aspri , anti Tionghoa dan anti Jepang nerubah menjadi pengerusakan dan penghancuran took-toko etnis Tionghoa dan produkproduk Jepang . ( Nuranto, 1999 : 55 – 65 ) Alasan kerja sama antara Tionghoa dan pemegang kekuasaan yang pribumi itu amat kompleks . Lingkungan usaha di Indonesia ditambah dengan undang-undang dan praktek-praktek yang diskriminatif terhadap Tionghoa , mengakibatkan orang Tionghoa memandang kerja sama dengan orang pribumi yang berkuasa merupakan cara terbaik untuk mendapatkan perusahanan yang bisa memperoleh keuntungan . Sebaliknya , para pejabat Indonesia yang meiliki fasilitas , dan sering juga , tidak mempunyai pengalaman berusaha , bersedia menggunakan Tionghoa untuk menjalan perusahannya untuk mereka. Mereka tidak suka memakai pengusaha pribumi yang dengan status pribuminya mempunyai posisi tawar ( bargain posisition ) yang kuat, lagi pula mereka juga sering mempunyai hubungan dengan golongan politik , sehingga mereka dapat merupakan ancaman bagi peberapa pejabat tertentu .Sebaliknya , kaum minoritas Tionghoa memiliki landasan politis yang lemah dan posisinya rawan . Orang Indonesia yang duduk dalam kekuasaan merasa lebih aman menggunakan orang Tionghoa daripada pengusaha pribumi. Mitra Tionghoa mereka mendapatkan perlindungan ekonomis melalui kerja sama itu , walaupun itu tidak berlaku bagi masyarakat pengusaha Tionghoa pada umumnya . Kendatipun demikian ,, cukong-cukong itupun masih mengalami tekanan sosial , dan politis yang sama dengan Tionghoa Indonesia yang lain . Pemerintah Soeharto peka terhadap ketidaksenangan para pengusaha pribumi itu . Pada beberapa kesempatan Presiden Soeharto sendiri mendesak pengusaha Tionghoa untuk mencari mitra orang Indonesia asli sehingga dengan demikian kedudukan dari yang tersebut terakhior itu menjadi lebih baik . Ia mengatakan bahwa semua perusahan Tionghoa diwajibkan menjual 50 % sahamnya kepada pemerintah yang kemudian akan menjualnnya kepada para pengusaha pribumi . Tetapi rupanya ini tidak dilaksanakan . Setelah kunjungan Tanaka, pemisahan antara pribumi dan Tionghoa kembali mendapat penekanan karena pemerintah mencoba menolak orang Tionghoa untuk memperoleh pembiayaan jangka menengah dari bank-bank negara . Tanggal 22 Januari 1974 Presiden Soeharto mengeluarkan pernyataan tentang kebijaksanaan pengarahan bagi penanaman modal swasta . Presden menegaskan bahwa semua penanaman modal asing ( kecuali di bidang pertambangan , perbankan dan asuransi ) hendaknya berbentuk patungan . Tidak dikemukakan rencana waktu untuk melaksanakan “pempribumian : perusahan yang disebut di muka . Orang dapat curiga bahwa pernyataan itu lebih bersifat retorik daripada suatu kebijaksanaan yang penting isisnya . Walaupun begitu , kalau pada akhirnya hal tersebut akan menjadi undang-undang , pelaksanaannya , akan menjadi sulit karena dua hal : Pertama : pemerintah membutuhkan dana yang besar jumlahnya , dan kedua , hal itu akan memberikan kesan bahwa pemerintah yang sekarang merlakukan 23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda “diskriminasi rasial : terhadap warga negara keturunan Tionghoa .Mengingat situasi perekonomian sangat bergantung pada bantuan luar negeri dan penamaman modal asing , menyisihkan orang Tionghoa akan berarti bahaya bagi kemampuan perekonomian Indonesia. Kalaupun tindakan penyisihan hanya dikenakan pada orang Tionghoa , masih juga akan timbul ketidakmantapan karena orang Tionghoa memainkan peranan kunci dalam perusahaan Barat dan Jepang . Selain itu, tindakan tersebut mungkin akan mendatangkan rasa takut kepada penanaman modal asing . Lagi pula para elite yang berkuasa, yang mendapatkan keuntungan dari peraturan yang sekarang , akan menentang tindakan dratis yang akan membahayakan kedudukannya . ( Suryadinata , 1982 : 148 – 150 ) Untuk mengurangi ketegangan semacam itu dan dengan bekal pendanaan dan penerimaan minyak pemerintah Orba mengeluarkan kebijakan baru yang pada dasarnya untuk memberdayakan pengusaha pribumi . Kebijakan itu antara lain , misalnya , di dalam Repelita II dicantumkan bahwa kredit investasi dari bank negara , seperti Kredit Investasi Kecil (KIK) ,Kredit Modal Kerja Permanen ( KMKP ) , Kredit Usaha Kecil (KUK) hanya akan diberikan kepada pengusaha pribumi . Pada tahun 1976 juga dikeluarkan Daftar Sekala Prioritas (DIP) dengan tujuan di samping untuk menyalurkan investasi dan domestic di luar areal perkotaan , tepai juga untuk melindungi usaha-usaha pribumi . . Begitu juga keluarnya peraturan No. 36 Tahun 1976 menyangkut pelaksanaan batas waktu investasi “asing” diu sektor perdagangan dan pengalihan saham milik “asing “ ke tangan pribumi atau WNI . Peraturan ini juga sekaligus menutup sektor perdagangan bagi kalangan “asing “ sehingga secara tak langsung memaksa mereka mengalihkan usahanya ke sektor industri Dua tahun kemudian , lewat Keprres No 14 tahun 1979 yang kemudian disempurnakan oleh Keprres No 14 A/1980 , pemerintah Orba menyatakan bahwa seluruh departemen dan instansi pemerintah harus memberikan kontrak proyek senilai sampai dengan Rp 100 juta kepada “usaha golongan ekonomi lemah ’ Sementara usaha golongan ekonomi lemah ini didefinisikan sebagai sebuah perusahaan yang 50 % kepemilikannnya berada di tangan pribumi dan sebagian kepemimpinannya juga berada di tangan pribumi .( Nuranto ,1999 : 65 – 66 ) Kepres 14 dan Kepres 14 A merupakan langkah paling langsung yang diambil oleh pemerintah Soeharto ke arah Indonesianisasi dan yang paling diskriminatif terhadap golongan Tionghoa . Akan tetapi frustasi yang dialami golongan pribumi dalam kaiatannya dengan pelaksanaan Keppres 14 dan Keprres 14 A itu jelas jauh berkurang dibandingkan dengan keadaan sebelumnya . Hal ini disebabkan karena mereka telah dapat “ menyesuaikan diri : dengan korupsi birokrasi dan birokratisme ( red tape ) , satu keadaan yang tidak begitu sehat . KIK-KMKP-KCK, Kepres 14 dan 14 A pun telah menambahkan satu lapisan baru dalam sistem birokrasi .Tidak adanya koordinasi dan kerjasama di kalangan badan-badan-badan pemerintah tidak hanya menambah kebingunan di lapangan bisnis, tetapi juga telah menimbulkan lebih banyak korupsi , yang memadai dan tidak teraturnya tindakan-tindakan birokrasi , tidak adanya suatu lapisan pengusaha pribumi , menimbulkan kesulitan-kesulitan yang sukar diatasi dalam upaya mendorong perkembangan pengusaha pribumi .( Muhaimin , 1991 : 212 )

24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Kendati ada aturan seperti Kepres 14 , secara keseluruhan , pengusaha etnis Tionghoa ternyata lebih banyak yang tumbuh dan menjadi besar . Salah sastu penyebabnya . adalah, aturan itu hanya membantu sebagian pengusaha pribumi , terutama mereka yang memiliki hubungan dengan kekuasaan atau memang sudah memiliki aliansi dengan pengusaha etnis Tionghoa . Alhasil , porsi kepemilikan di sektor swasta memang masih di tangan pengusaha etnis Tionghoa . Di samping itu , perlindungan pemerintah setelah tahun 1974 terhadap “ infant industry “ ternyata juga membantu pengusaha etnis Tionghoa , karena mereka juga mulai berpindah dari perdagangan ke industri , terutama manufaktir . seperti makanan dan minuman, tekstil , kimia, produk-produk metal atau produk-produk konsumsi pengganti barang impor yang menyarap banyak tenaga kerja. Ingga dapatlah dikatakan , bahwa di awal tahun 1970-an mereka melalui aliansi dengan modal asing , terutama dengan produsen barang yang telah lama mereka distribusikan , memang telah meletakkan dasar-dasar usaha di bidang manufaktur yang kemudian tumbuh dan berkembang besar di awal 1980an . Potensi mereka untuk menanamkan modal lewat investasi dan penyedian lapangan kerja memang diakui oleh pemerintah Orba . Sehingga tidaklah mengherankan apabila di awal tahun 1980-an , ketika penerimaan dan minyak mengalami penurunan , pemerintah Orba berpaling ke pada sektor swasta , yang umumnya di dominasi etnik Tionghoa, untuk investasi dan menyediakan lapangan kerja . Ini tercermin dalam pidato Soeharto ketika menyampaikan program Repelita IV ( 1984 – 1989 ) yang menyatakan bahwa pemerintahn hanya dapat menyediakan 54.1 % dari keseluruhan biaya yang dibutuhkan bagi pembangunan tahap IV . Sementara sisanya 45.9 % diharapkan datang dari sektor swasta , terutama untuk menunjang pengadaan lapangan kerja dan memperoleh dana bagi program pembangunan dari penerimaan ekspor non-migas . ( Nuranto , 1999 : 67 – 68 ) Deregulasi di bidang finansial yang muncul di tahun 1988 semakin membuka kesempatan untuk memperkokoh usaha yang dimiliki etnis Tionghoa . Melalui deregulasi ini, sebagian besar pengusaha Tionghoa dapat mengkonsentrasikan kekuatan finasialnya. Misalnya, pendirian beberapa insitusi finasial dan kerja sama yang mereka jalin dengan insitusi dana yang esensial bagi perkembangan usaha etnis Tionghoa . Insitusi finansial tersebut berfungsi sebagai paying bagi insitusia finansial yang mereka memiliki , beberapa pengusaha besar secara tak langsung dapat memberikan suntikan dana ataupun memberikan kredit bagi pengusaha etnis Tionghoa lainnya, terutama bagi mereka yang baru menekuni duinia usaha . Di samping itu , mereka juga semakin mudah mendapat pinjaman dari luar negeri . Memasuki dekade 1990-an , kesempatan untuk membesarkan usaha juga terbuka dengan aktifnya bursa saham . Mulai saat itu satu persatu perusahan besar besar milik pengusaha etnik Tionghoa didaftarkan dan diperjualbelikan sahamnya di bursa saham . Ini juga mengakibatkan mereka mengbah struktur perusahan , dari perusahaan keluarga ke perusahaan-perusahan yang sebagai dimiliki oleh publik . Sampai pertengahan 1993 , misalnya , dari 162 perusahan yang terdaftar di bursa saham Jakarta , 80 % di antaranya adalah milik pengusaha etnis Tionghoa . ( Nuranto, 1999 68 – 69 )

25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Kekuatan Politik Bisnis Tionghoa Fakta bahwa etnis Tionghoa di Indonesia ( baik warga Indonesia , kebanyakan peranakan, maupun warga negara asing , hampir semuanya adalah totok ) mengendalikan Kekayaan dan kekuatan ekonomi di Indonesia pada periode 1970 – 1980 , namun pada saat yang sama hampir sepenuhnya terkucil dari kesempatan untuk mengembangkan pengaruh politik , telah menciptakan masalah analistis bagi para ilmuwan sosial yang berusaha menafsirkan posisi mereka dalam masyarakat Indonesia . Tak ada keraguan bahwa kebanyakan dari mereka , baik yang kurang mampu maupun yang kaya raya , telah secara umum mengalami peningkatan dalam skala sosial sepanjang tiga puluh tahun terakhir . Banyak dari mereka yang kini menempati posisi kunci atau berada di dekat puncak piramida sosial yang sampai tahun 1950-an dikuasai sepenuhnya oleh orangorang Belanda . Adslah mudah , dengan demikian , untuk tiba pada kesimpulan bahwa kaum “Tionghoa “ atau kalangan paling kaya dari mereka pada dasarnya telah menggantikan kaum Belanda sebagai kaum “borjuasi “ Indonesia ( atau komponen pengakumulasian modal di dalamnya ) bersama-sama dengan sejumlah “ kapitalis birokratik “ dan perusahan-perusahan asing besar , yang mengendalikan puncak komando ekonomi . Namun demikian, kesimpulan itu sangat-sangat menyesatkan , dalam dua hal . Pertama . perusahan-perusahan bisnis Tionghoa belum mampu mendominasi semua puncak komando ekonomi Indonesia sampai derajat seperti yang dijalankan Belanda dulu ( kendatipun mereka memang mengontrol banyak dari bukit dan lerengnya yang tinggi ) ; mengingat nereka masih dikucilkan dari banyak sektor kunci yang berada di bawah kendali negara , seperti minyak, mineral , perkebunan ( hampir sepenuhnya ), sebagian besar dari wilayah bank deposit dan bagian cukup besar dari industri kaya . Kedua, mereka memiliki hanya sedikit pengaruh atau kekuatan politik , sementara perusahaanperusahaan perkebunan dan perdagangan Belanda memiliki peran politik yang luar biasa,. Baik di Den Haag , di Batavia ataupun di berbagai kantor kabupaten . Kaum Tionghoa berada di posisi rentan secara politik dan sosial yang sangat membatasi peluang mereka untuk mengembangkan pengaruh politik di luar yang sepenuhnya berbasis personal . Kendatipun begitu banyak kita mendengar cerita sejak awal Orde Baru mengenai hubungan erat antara cukong-cukong Tionghoa Kaya , dan para jendral Indonesia yang berkuasa, hanya terdapat sedikit bukti bahwa ada dari mereka yang mampu menanamkan pengaruh cukup besar dalam proses pengambilan keputusan umum yang menentukan garis-garis besar formulasi kebijakan sosial dan ekonomi nasional ( misalnya kebijakan nilai tukar , alokasi anggaran , prioritas industri dan sebagainya ). Paling jauh mereka dapat menerapkan sejumlah pengaruh terhadap keputusan-keputusan tertentu mengenai pengalokasian kontrak, lisensi , kredit , dan semacamnya , Tak ada Tionghoa di Indonesia yang dapat berharap untuk memainkan peran politik secara berjarak yang dapat dibandingkan dengan yang dimainkan semasa tahun 1970-an di Muangthai oleh Bonchu Rajanasathein , pimpinan Tionghoa-Thai dari Partai Aksi Sosial dari seorang tokoh terkemuka di Bank Bangkok . Kelas bisnis Tionghoa-Thai dapat dikategorikan sebagai “borjuasi “ di era 1980-an dengan kepercayaan yang sangat jauh lebih besar dari rekan sejawatnya di Indonesia , baik karena pengaruh politik mereka yang jauh lebih luas 26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda ataupun karena kekuatan ekonomi mereka yang secara relatif jauh lebih ekstensif di dalam sektor ekonomi komersial . Kecenderungan para ilmuwan sosial terdahulu dalam memperlakukan kaum Tionghoa “ terutama sebagai sebuah minoritas rasial ketimbang sebuah borjuasi komersial “ telah dikritik oleh Ben Anderson dalam karyanya yang banyak dikutip orang . Tidak di manapun , menurutnya , mereka yang diperlakukan seperti Barington Moore memperlakukan borjuasi komersial Tionghoa, Jepang dan India ,” sebagai kelas-kelas, yang konflik-konflik dan aliansi-aliansinya dengan kelas-kelas lain menentukan nasib peradaban .” Itu memang merupakan gugatan yang menantang namun . sebagaimana diargumentasikan orang Coppel secara meyakinkan , gagasan tersebut tak cukup kokok ketika dikaji jauh lebih dalam . Tentu saja tak semua orang Tionghoa adalah kaya ; ada banyak Tionghoa miskin sebagaimana juga Indonesia miskin . Namun mereka tetap merupakan sebuah minoritas etnik yang cukup kohesif , yang berlaku sampai sekarang baik karena kerentanan sosial mereka dan buah dari asoisasi komunitas dan jaringan kekerabatan mereka ( yang masih tetap penting , meskipun sudah kurang krusial dibandingkan lima puluh tahun yang lalu ) ; namun juga sebagian karena mereka telah didorong ke dalam wilayah komresial dan industrial akibat keterkucilan mereka secara hampir sempurna dari pertanian , dan pegawai negeri , dan dari beragam pekerjan lainnya Saya siap mengakui bahwa kaum lebih kaya di antara mereka dapat dipandang sebagai sesuatu seperti borjuasi , walau yang secara politik tidak memiliki daya penekan . Kecuali kualifikasi yang dibutuhkan ditambahkan , adalah menyesatkan untuk menyematkan label kasar pada mereka . Ungkapan buruh namun memperjelas yang diberikan Fred Riggs pada kaum Muangthai duapuluh tahun yang lalu .”wiraswasta paria “ ( penamaan yang tak lagi sangat memadai bagi pengusaha Tionghoa-Thai ) adalah tetap pantas diterapkan bagi pengusaha Tionghoa di Indonesia . Dan perbedaan antara Tionghoa Indonesia dan Tionghoa Muangthai tidaklah dapat diturunkan pada faktor-faktor “struktural” atau ekonomi , namun secara mendasar berkaitan dengan faktor-faktor sosio-kultural yang telah menentukan proses asimilasi yang jauh lebih pesat di Muangthai daripada di Indonesia . Pengusaha Tionghoa seperti Liem Sioe Lioing , William Suryajaya, dan Bob Hasan plus lusian lainnya dari jenis yang sama tanpa diragukan telah merupakan aktor-aktor penting Pada panggung ekonomi sejak tahun 1960-an , dalam persekongkolan dengan para “politico-birokrat :, namun pengaruh politik mereka tidak tampak meluas melampui persyaran-persyaratan kepentingan bisnis personal mereka . Mereka tidak bertindak mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah atas nama komunitas Tionghoa sebagai keseluruhan , atau atas nama sebuah “kelas “ pengusaha kaya yang dapat dikategorikan sebagai “borjuasi “. . Tidak pula para pembuat kebijakan yang berpengaruh dalam menentukan strategi ekonomi keseluruhan pada umumnya atau kebijakan industrial pada khususnya ( wilayah yang paling memikat perhatian para pengusaha Tionghoa terkemuka tersebut ) membentuk kebijakan-kebijakan pemerintah dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan mereka secara khusus . Pada akhirnya , tiga butir lain penting diperhatikan mengenai Tionghoa sebagai “borjuasi “ potensial di Indonesia , dalam perbandingan dengan rekan-rekan sejawat Tionghoa27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Thai mereka. Pertama , investasi mereka dalam cakrawala waktu hampir semua bersifat jangka-pendek . Tujuan mereka hampir senantiasa adalah untuk memperoleh kembalian modal tinggi secepat mungkin , mengingat mereka terlalu sadar pada tiap tahap bahwa sebuah ayunan dalam pendulum politik dapat berdampak kehancuran bagi mereka ( itu tak ;lagi berlaku di Muangthai , kendatipun dulu mungkin juga terjadi sekitar tahun 1950an ) Kedua, dalam ratusan kota yang tersebar di seluruh Indonesia , baik kota-kota kecamatan atau kabupaten , di mana Tionghoa adalah lebih terkemuka sebagai “ kelas bisnis “ daripada di Jakarta , Medan atau Surabaya , mereka cenderung terkemuka dalam dua corak aktivitas : pengembangan property dan bentuk-bentuk yang lebih mensyaratkan keahlian dari industri kecil dan perdagangan ; di mana keunggulan mereka terhadap pesaing pribumi dalam kemampuan organisasional , pelayanan purna jual dan keterandalan , memberikan mereka daya saing yang sangat mendasar . Namun terdapat derajat tinggi turnover di kalangan mereka dan heteroginitas yang sangat lebar dari yang sangat kaya sampai pedagang kecil yang bergulat mati-matian , sepeerti yang juga kita dapat amati dalam kelas komersial di negara-negara lain . Adalah sulit untuk menenukan di mana kita dapat menarik garis antara “borjuasi “ dan yang lainnya di kalangan Tionghoa Indonesia di tahap ini . Ketiga, perfeseran umum ke atas dalam pola-pola pekerjaan mereka sejak 1930-an membutuhkan pengamatan lebih dalam ketimbang selama ini dilakukan , karena sementara kaum Tionghoa telah berhasil meninggalkan pekerjaan –pekerjaan dan bisnisbisnis berstatus-rendah yang harus mereka terima di masa-msa penjajahan , perubahan peran-peran ekonomi mereka belum lagi membawa serta perubahan serupa dalam status sosial mereka di Indonesia sebagaimana di Muangthai , atau bahkan di Malaysia . Kita belum lagi menyaksikan perkembangan semacam “alinasi antara pedagang Tionghoa dengan kelas penguasa : yang digambarkan oleh Skinner di Muangthai di akhir tahun 1950-an , yang dikokohkan oleh derajat tinggi pernikahan antar kedua kelompok dan pola-pola kompleks pemilikan bersama dengan kelompok-kelompok perusahaan . Jauh lebih rendahnya derajat asimilasi yang dicapai kaum Tionghoa di Indonesia dibandingkan di Muangthai telah merupakan faktor krusial dalam perbedaan ini , dengan alasan-alasan yang terlalu kompleks untuk dibahas di sini . Namun hanya terdapat sedikit keraguan bahwa sampai garis-garis pemisahan etnik di Indonesia menjadi jauh lebih kabur , sebagaimana yang telah terjadi di Muangthai dewasa ini , pembelahan etnik akan tetap menjadi penghambatan utama terhadap setiap bentuk solidaritas kelas , baik di kalangan kelas menengah maupun “borjuis “ di Indonesia . ( Mackie , 1993 : 90 – 95 ) Kisah Tiga Pengusaha Tionghoa NV Kian Gwan didirikan di kota Semarang pada 1 Maret 1863 oleh ayah Oei Tiong Ham yang berma Oei Tjie Sioen , seorang pendatang dari porpinsi Fukien di Tiongkok Selatan. Waktu mendarat di Indonesia pada tahun 1858 , ia baru berumur 23 tahun , sehingga ketika mendirikan perusahannya berumur 28 tahun . Pada sat itu keadaan ekonomi Hindia Belanda berada dalam keadaan tidak menentu karena masih dipengaruhi oleh akibat28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda akibat Perang Diponogoro dan dihentikannya sistem Tanam Paksa ( Cultuur Stelsel ) , sedangkan bagi penduduk Tionghoa berlaku pembatasan bergerak dan bermukim . Dalam keadaan tidak menentu Oei Tjie Sien memperlihatkan keunggulannya sebagai wirausaha dengan keberaniannya menganbil tindakan-tindakan yang inovatif yang bertentangan dengan tradisi orang-orang Tionghoa . Misalnya, ia memasukkan seorang luar , bukan anggota keluarga, dalam manajemen usahanya . Keterbukaan ini merupakan ciri khas dan unsur keberhasilan dari Kian Gwan selama ia beroperasi di Indonesia . Untuk memperkecil resiko, sejak semula diusahakan diverifikasi dengan memperdagangkan barang-barang dari Tiongkok dan mengekspor gula dan tembakau serta menyan dan gambir . Suatu keuntungan besar bagia Kian Gwan adalah terpeliharnya kontinuitas perusahan tersebut dengan adanya seorang putra bernama Oei Tiong Ham yang ternyata mempunyai sifat-sifat kewiraswastaan yang mungkin lebih unggul dari ayahnya . Dalam tangan generasi kedua keluarga Oei ini , masa jaya Kian Gwan yang berlangsung dari kira-kira tahun 1990-1930 terbentuk . NV Kian Gwan menjadi suatu perusahan besar, yang mempunyai sifat-sifat suatu Multi-Nasional Corporation masa kini, yang bergerak dalam bidang produksi , distribusi , impor dan ekspor , perbankan ,, perkapalann , veem dan asuransi dan memperkerjakan ribuan orang .Cabang-cabang didirikan di Jakarta dan Surabaya dan juga di luar negeri di Calcuta , Bombay , Karachi , Jongkong dan Shanghai .Kebijaksanaan personalia yang dimulai dari ayahnya diteruskan dengan mengirim anak-anak Tinghoa yang mempunyai potensi baik , ke luar negeri untuk memperoleh pengetahuan universitas-universitas di sana . Kontinuitas pemilikan dan pimpinan juga direncanakannya dengan seksama : karena istrinya tidak melahirkan anak laki-laki , ia menikah lagi dan akhirnya mempunyai 8 istri dan 26 anak . Dengan bantuan horoskop ia menentukan siapa dari putra-putranya akan menjadi pewarisnya yang kemudian didirikannya untuk memimpin suatu perusahan besar dan diajarkannya pentingnya bekerja keras . Menjelang Perang Dunia II , putranya yang bernama Oei Tjong Hauw menjadi pemimpin utama yang berhasil mempertahankan perusahannya melewati liku-liku ketidakpastian malaise dan permulaan Perang dalam dekade 30-an . Namun zaman pendudukan Jepang dan gejolak revolusi Kemerdekan merupakan tantangan yang berat bagi kelangsungan hidup perusahaan yang pada tahun 1850-an , mendekati umur satu abad . Peraturan-peraturan pemerintah menjurus ke partisipasi yang lebih wajar dalam ekonomi dari golongan etnis Indonesia serta soal kewarganegaraan beberapa anggota keluarga Oei yang pada dasarnya tetap merupakan pemilik dan pemimpin utama dari perusahaan Kian Gwan , mengakibatkan terjadinya perselisihan-perselishan dengan pemerintah yang berakhir dengan penyitaan seluruh perusahan tersebut pada tahun 1961 . Perusahan ini kemudian direorganisir menjadi milik pemerintah dengan nama PT Radjawali Indonesia . Kecuali seseorang , semua direkturnya adalah orang-orang bekas Kian Gwan . Jelaslah bahwa kisah Kian Gwan yang selama hampir 100 tahun merupakan perusahan etnis Tionghoa yang terbesar di Indonesia , yang pimpinannya bertahan selama tiga generasi dalam satu keluarga , merupakan kisah pribadi-pribadi dengan sifat-sifat 29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kewiraswastaan yang amat meyakinkan . ( Panglaykim , 1981 : 74 – 93 )Oei Tiong Ham Concern adalah perusahan konglomerat Asia pertama yang memakai tenaga professional dari berbagai bangsa, yaitu : Indonesia – Tionghoa , Belanda, Inggris dan lain-lain . Akhirnya , lebih banyak tenaga professional yang memimpin perusahan keluarga ini.. Namun demikian tetap ada canmpur tangan keluarga-pemilik dan sebagai pimpinan tertinggi adalah anggota keluarga ( anak Oei Tiong Ham ) sampai tahun 1950-an . Mungkin untuk dapat mengikuti “business-hunch “, keputusan untuk memakai kesempatan perlu adanya pemilik dengan naluri dagang . Oleh sebab itu , mungkin Kian Gwan jadi usaha dagang Concern ini dipimpin oleh orang dengan “naluri judi “ yang mengerti dan dapat menempatkan rasionalitas pada tempatnya .( Onghokham , 1996 :51 ) Kisah Oei Tiong Ham adalah suatu perkecualian yang luar biasa dalam sejarah kewiraswastaan Indonesia . Karier bisnisnya secara relative lepas dari perlindungan pemerintah . Ia tidak banyak terlibat dalam kontrak pemerintah atau milkiter seperti pedagang kaya lain pada masanya . Berlainan dengan pengusaha sezamannya di Asia Tenggara . Oei Tiong Ham adalah inovatif dalam mencari kesempatan baru untuk menanam modal dan merasionalisasi organisasi bisnisnya . Akan tetapi berkenan dengan itu perlu dijelaskan , bahwa tahun 1910-an , ketika bisnisnya berkembang dengan cepat , adalah suatu dasawarsa , ketika bisnisnya berkembang bergerak yang tidak terbatas kepada orang Tionghoa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Indonesia . Dengan tidak memerlukan perlindungan pemerintah dan birokrasi yang secara relatif bebas korupsi , Oei Tiong Ham dapat memusatkan semua energinya pada perluasan dan rasionalisasi bisnisnya .( Onghoham , 1991 : 111 ) Keluarga William Soeryadjaja selama ini dikenal sebagai salah satu keluarga pengusaha didikan Barat dan sudah lama mengenal dan menerapkan manajemen bisnis professional. Memang , kalau mau diklasifikasikan , keluarga konglomerat ini ini masuk klasifikasi keluarga konglomerat Tionghoa peranakan . Yakni , keluarga keturunan Tionghoa yang tidak lahir di Tiongkok , dan sudah tak lagi menggunakan bahasa leluhurnya . Pernah mengecap pendidikan di Negeri Belanda . William terbukti memang lebih mahor bahasa Belanda ketimbang bahasa Tionghoa . Ia relatif moden dan mestinya akan lebih rasional . lugas dan konservatif dalam berbisnis . Setidaknya dibandingkan dengan kolomerat keturunan Tionghoa lain yang masuk klasifikasi Tionghoa totok – lahir di Tiongkok dan merantau ke Indonesia – seperti Liem Sioe Liong . William Soerjadjaja ( Tjia Kian Liong ) lahir tahun 1923 di Jawa Barat sebagai seorang Peranaklan . Ia menjadi yatim pada usia muda . Ia memulai karier bisnisnya mulai tahun 1940-an dengan usaha perdagangan kulit yang tampaknya tidak begirtu sukses Aktivitas bisnisnya di tahun 1950-an juga gagal antara lain karena program Benteng . PT Astra Internasional , yang dikenal sebagai kerajaan bisnis William didirikan pada tahun 1957 . Keberhasilan Astra mulai tampak ketika berhasil mendapat kontrak dari pmerintah untuk pengadaan aspal dan material yang dipergunakan untuk membangun Bendungan Jatiluhur . 30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Mulai tahun 1965 , rupanya kontak dengan pemerintah mrenjadi semakion intensif . Ini memberikan landasan untuk memperbesar lahan bisnisnya . Sejak tahun 1970 , Asatra miulai berkonsentrasi . Sejak tahun 1970, Astra mulai berkonsentrasi pada peralatan berat dan kendaran bermotor , suatu bidang usaha yang sebetulnya enggan dimasuki oleh para pengusaha Tionghoa lainnya . Sektor industri otomotif telah lama dikuasai oleh para pengusaha birokrat yang sebagian besar diantaranya adalah orang-orang pribumi . Sistem penjatahan impor kendaraan dikontrol dengan ketat oleh para pejabat dan diberikan hanya kepada orang-orang yang dekat dengan mereka . Akan tetapi , tahun 1970 ,PT Astra Internasional mendapatkan kontrak yang sangat besar , yaitu penngadaan kendaraan untuk kepentingan Pemilihan Umum . Inilah yang merupakan sukses pertama dari kiprah Astra di industri otomotif . Sejak saat itu pula kepercayaan modal asing untuk bermitra dengan PTAstra Internasional menjadi besar . Ia menjadi agen tunggal dari beberapa merk terklenal , seperti Toyota , Fuji Xerox , Westinghouse , Kodak, dan Allis Chalmers . Bisnis Astra kemudian meambah ke mana-mana , tetapi tetap dengan basis bisnisnya yang utama adalah di sektor otomotif . Keberhasilan bisnis ini juga ditopang oleh hubungan baik antara Astra dengan “patron “ politiknya , yaitu Ibnu Sutowo yang saat itu menjadi Dirut Pertamina . Tahun berikutnya juga merupakan tahun yang tidak mengenakkan bagi Astra . Saat itu Pertamina , mitra bisnis dan “patron “ PT Astra Internasional mengalami kejatuhan akibat salah urus “ Pertamina jatiuh akibat “ kesalahan investasi “ . Kebangkrutan Pertamina bahkan juga hampir membangkrutkan negara . Bangkrutnya Pertamina membawa akibat terhadap Astra . Proyek real estate Kuningan , yang merupakan kerjasama Astra dengan Pertamina, ikut terkena dampaknya . Astra harus menanggung kerugian senilai US $ 30 juta . Dua kejadian ini memberikan pelajaran kepada PT Astra Internasional . Sejak saat itu , PT Astra Internasional mulai menjalankan kebijaksanaan perusahaan yang memberikan dasar-dasar bagi sebuah korporasi modern . Restrukturisasi itu dijalankan dengan integrasi vertikal , profesionalisasi , depolitisasi , dan pembentukan citra dihadapan publik . Yang terpenting adalah depolitisasi . Astra mulai mempertimbangkan kembali hubungan dengan para pejabat sipil maupun militer . Depolitisasi bukan berarti memutuskan hubungan sama sekali dengan negara . Yang dipertimbangkan kembali adalah patronase kepada pejabat-pejabat tertentu sebagai perorangan . Hubungan ini lebih diarahkan kepada negara sebagai insitusi . Depolitisasi juga membawa dampak yang penting , yaitu memberikan dasar-dasar manajemen modern kepada perusahaan . Ini sekaligus berarti bahwa perusahan ditatat dengan dasar merit system , yang menggantikan sistem keluarga sebelumnya . Dibuat pemisahan yang tegas antara kekayaan keluarga William Soerjadjaja dengan kekayaan perusahaan . Hasilnya , adalah , PT Astra Internasioinal tampak lebih “nasionalis “ dalam arti jumlah staf yang pribumi semakin besar . Penerapan manajemen modern juga meletakkan dasar yang kokoh bagi Astra sebagai korporasi . Astra juga tampil dengan 31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda image yang lebih baik di hadapan publik dengan yayasan karitatif yang dibentuk oleh perusahaan ini, Yayasan Astra Dharma Bakti ( Supriatna , 1993 : 83 – 87 ) William pada kurun itu adalah sosok yang dikenal sebagai wiraswasta sukses . Astra Group berkmbang pesat dan banyak orang percaya ia pengusaha terkaya kedua di Indonesia setelah Liem Sioe Liong , William Soeryadjaja juga dipandang sukses membina para perajin dan pengusaha kecil . Selain itu , ia memberikan peluang cukup besar bagi para manajer pribumi untuk berkembang di lingkungan PT Astra Internasional – suatu yang masih langka ketika itu . Sosok William nyaris tanpa cecat . Anak sulungnya Edward Soeryadjaja yang belajar bisnis di Manila membantu bisnis sang ayah . Seperti ayahnya ,Edward juga merangkul banyak manajer pribumi dalam kelompok bisnis Summa Group . Bahkan ia melakukan terobosan kerja samanya dengan Nahdahtul Ulama , untuk mendirikan bank-bank perkreditan rakyat Ambisi membesarkan Summa Group , yang sebagian besar sahamnya dimiliki keluarga William Soeryadjaja , kalau bisa menyamai atau lebih besar dari Astra Group ternyata kandas karena kelemahan manajemen dan situasi ekonomi yang memburuk . Edward Soerjadjaya yang menggerakan bisnisnya secara ekspansif , ternyata tidak didukung personalia dan manajemen yang tangguh . Ia salah hitung dan sialnya tak seprang pun dengan cepat menahan dan mengoreksi kesalahan itu . Edward yang dalam banyak hal sebenarnya memiliki semangat dagangh dan entrepreneurship yang sama dengan ayahnya memang bergerak tanpa kontrol . Bahkan dari sang sang selaku presiden komisaris di induk usaha kelompok Summa . Ia baru berhenti atau diberhentikan ayahnya tatkala Group Summa sudah membuat utang besar kurang lebih Rp 800 miliar pada pertengan tahun 1990 . Klimaks tragedi bisnis ini terjadi 13 Desember 1992 . Yakni tatkala pemerintah melikuidasi Bank Summa , lembaga keuangan milik keluarga William Soeryadjaja . Ini keputusan penting dan bersejarah . Sebab inilah pertama kali dalam sejarah , pemerintah membredeil sebuah bak umum swasta . Keputusan ini dinilai amat mengejutkan dunia perbankan dan masyarakat dunia usaha , terutama para konglomerat pemilik bank . Jampir pasti tak satu pun di antara mereka menduga sebelumnya bahwa pemerintah akan bertindak sedratis itu pada bak yang memiliki total asset sekitar Rp 1,3 triliun . Kejatuhannya menyiratkan banyak penafsiran . Ada yang menyatakan bahwa manajemen dan struktur perdomadalan lkmglomerat Indonesia sesungguhnya memang kropos Tetapi ada pula yang menyatakan bahwa faktor-faktor nonbisnis yang ikut mendorongnya jatuh lebih lagi keras . Kalangan penmerintah tentu saja menyangkal tuduhan ikut mempercepat kerutuhan sanga taopan Kebangkutan Bank Summa yang berkaitan demikian eratnya dengan Summa Group sebagai konglomerat , bukanlah kenangkurata yang luar biasa , yang disebabkan oleh faktor-faktor diluar kendalinya . ( Daulay , 1993 : 13 – 38 ). .

32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Liem Sioe Liong adalah seorang Tionghoa totok . Ia lahir di Fukien tahun 1916 . Usia 22 tahun ia berimigrasi ke Jawa dan mula-mula bekerja di tokok milik pamannnya di Kudus, Jawa Tengah . Sejak awal, boleh dikatakan bahwa bisnis Liem sangat terkait erat dengan tentara . Konon, ia menjadi supplier makanan , obat-obatan , dan (diduga ) juga senjata dalam perang revolusi . Tentu saja , hubungan mereka lebih pada hubungan dagang ketimbang hubungan yang dilandasi patriotisme revolusioner . Oleh karena itu , ia mendapat konsesi dagang yang tak terbatas dan semacam “lisensi penyelundupan “ dari orang-orang militer . Hubungan Liem dengan tentara terus berlanjut jauh setelah perang revolusi usai .Sejak tahun 1950-an , ia sangat dekat dengan perwira-perwira Divisi Diponogoro yang saat itu dikomandani oleh Kolonel Soeharto ( kemudian menjadi Presiden RO ) Secara khusus ia berhubungan dengan Soedjono Hoermardani , Asisten Keuangan Divisi Diponogoro . Ia menjadi pensuplai utama kebutuhan tentara sehingga ia berhasil tidak saja sekadar berdagang , tetapi juga mulai membuat beberapa pabrik seperti tekstil , sabun, paku, dan suku cadang sepeda . Tahun 1954 ia mendirikan Bank Windu Kencana . Tujuh Tahun kemudian , ia mendirikan Bank Central Asia (BCA) yang saat Orde Baru merupakan bank swasta terbesar di Indonesia . Tampakanya Liem tidak begitu terkena pengaruh kebijaksaan Benteng karena bisnisnya berada di bawah proteksi yang amat kuat . Selain itu. Liem Sioe Liong masih teramat kecil dan sedikit sekali berhubungan dengan luar negeri , kecuali “barter “ beberapa kebutuhan pokok . Kajayaan bisnis Liem baru muncul setelah kekuasaan pemerintah Orde Baru . Ini adalah akibat dari hubungan patronase yang kuat dari pemerintah , yang sebagian besar dikuasai oleh militer , dengan siapa Liem sebelumnya telah menjalin hubungan baik . Hubungan ini tetap terbiasa sampai saat ini . Awalnya , Liem juga membantu Angkatan Darat , khususnya di mana Kolonel Soeharto menjadi komandan , dalam hal mengorganisasikan yayasan-yayasan kesejahteraan prajurit yang dikelola oleh organisasi tentara . Setelah Orde Baru berkuasa, Liem dengan segera mendapat monopoli untuk komoditi perang , yaitu terigu ( PT Bogasari ) dan cengkeh (PT Mega ) . Bisnis Liem melibatkan jaringan yang luas . Seperti dikatakan oleh Richard Robinson bahwa kelompok Liem bisa mengambil keuntungan dari kebijaksanaan protektif yang sebenarnya dirancang untuk menumbuhkan kapitalis pribumi , khususnya dalam subsitusi impor, karena ia memiliki kapasitas untuk menjaga monopoli dan akses terhadap lembaga keuangan internasional . Seperti halnya William , Liem pun memiliki patron-patron di kalangan pemerintahan . Sebagian dari mereka adalah pejabat-pejabat militer . dengan siapa ia telah berhubungan sebelumnya . Para pejabat ini memiliki akses untuk mengendalikan lembaga-lembaga pemerintahan seperti Bulog dan Perttamina .

33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Satu keuntungan dari Liem adalah bahwa ia tidak pernah mengalami “ kecemburuan massa-rakyat :, seperti yang dialami William tahun 1974 . Publikasi tentang Liem sangat sedikit sebelum tahun 1980-an . Baru setelah sebuah majalah luar negeri ( Insight ) mengungkapkan kekayaannya dan hubungan bisnisnya , orang menjadi tahu betapa besarnya kekayaan dan betapa luasnya bisnisnya jaringan kekuasaan yang dimiliki oleh Liem . Akan tetapi , ini agak terlambat Liem sudah terlanjur sangat besar . Kekayaan pribadinya ditaksir bernilai US $ 3 milliar . Saat akhir Orde Baru adalah taipan terkaya di Asia tenggara . Jaringan usahanya sangat luas di dalam maupun di luar negeri .( Supriatna , 1996 : 83 – 87 ) Menyadari bahwa usaha yng dirintisnya sudah menjadi gurita raksasa , sehingga memerlukan organisasi dan manajemen professional yang sesuai dengan tuntutan zaman. Liem Sieo Liong terutama dibantu oleh putra ketiga , Anthony Salim memperoleh pengetahuan bisnis di London . Dengan begitu , Anthony punya bekal untuk memadukan gaya manajemen Tionghoa dari sang ayah dengan praktek bisnis modern yang diadaptasi dari Barat . Di samping itu , hari-hari Anthony juga diisi sang ayah dengan pengalaman – pengalaman bisnis yang praktis .. Di PT Salim Economic Development Corporation – semacam holding yang didirikan pada 1973 untuk membawahkan seluruh kepentingan bisnis keluarga Liem – Anthony bertindak sebagai direktur pelaksana . Tim eksekutif yang mengelola holding itu umumnya dijumput dari kalangan Tionghoa yang tak bisa berbahasa Tionghoa . Mereka oleh Liem dianggap lebih bisa dipercaya dan kurang menentang atasnya ketimbang para totok yang segenerasi dengan Liem . Para pembantu muda inilah yang umumnya bekerja di bawah pengawasan Anthony . Sedangkan mereka yang tua dan lancar berbahasa Tionghoa ada di bawah kendali Liem Sioe Liong langsung . Selain itu , berbeda dengan kedua kakaknya – Albert Salim , yang memegang PT Central Sole Agency , perusahan yang mengageni mobol Volvo dan Andree Salim , yang banyak memusatkan perhatiannya di kelompok BCA – Anthony lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan bisnis sang ayah . ( Soetriyono, 1989 : 114 – 116 ) Manajemen Dagang Tionghoa Para pengusaha besar macam Liem Sioe Liong dan Eka Tjipta Wijaya, misalnya , tidak memiliki pengetahuan akdemis apa pun ditinjau dari segi manajemen ilmiah . Akan tetapi, toh kenyataannya merekalah yang meraja dalam dunia bisnis Indonesia . Pertanyaan yang muncul , apakah sesungguhnya mengelola bisnis dengan manajer ilmiah modern memiliki perbedaan mendasar dengan mengelola bisnis lewat pengaman semata ? Kesenjangan yang ada penting dan “mengganggu “ untuk beberapa alasan . Pertama , ini menimbulkan berbagai pertanyaan serius tentang sistem-sistem manajemen strategik , perencanan formal , dan berbagai perangkat manajerial canggih lainnya , yang mulai biasa digunakan . Kedua kesenjangan tersebut “menggugat “ pendidikan manajemen yang biasanya sarat dengan teori, dan memproduksi semakin banyak manajer bergelar 34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Magister Manajemen sekarang ini. Lebih lanjut lagi , kesenjangan ini mengakibatkan peningkatan efektifitas manajer muda menjadi sulit . Akan tetapi, bagaimanapun , menjadi keyakinan yang semakin besar bahwa dalam dunia bisnis modern dituntut adanya manajemen yang professional . Definisi manajemen professional ini menekankan bahwa para manajer akan semakin memerlukan konsep dan perangkat manajerial sebagai pedoman praktek mereka dalam dekade mendatang . Akan tetapi, sekalipun kalangan kalangan bisnis atau manajer belajar dan melaksanakan praktek manajemen secara ilmiah , sesungguhnya mereka tidak lepas dari hal-hal yang menyangkut nilai , kepercayaan dan keyakinan yang mereka anut . Ini terjadi karena dunia bisnis adalah dunia yang sarat dengan dinamika . Dunia bisnis gampang sekali berubah dan tidak mudah memperkirakan apa yang bakal terjadi dan bagaimana cara mengendalikannya . Para manajer sering tidak berfungsi dalam lingkungan yang welldefined , tidak bisa mengelola langsung berbagai aspirasi mereka melalui saluran-saluran organisasional yang diatur secara formal , serta tidak bisa menetapkan dan mengikuti rencana-rencana formal . Mereka sering tidak fit dengan stereotype manajer yang sering digambarkan . Dengan kata lain , betapa rasionalnya dunia bisnis , unsur-unsur yang bersifat spekulatif bisa sangat mewarnai pelaksanaannya di lapangan . Paling tidak ada tiga nilai yang sering disebut sebagai penentu perilaku bisnis golongan Tionghoa : yaitu hopeng, hiong sui , dan hoki . Ketiganya merupakan nilai, keperccayaan, dan (mungkin ) yang juga mitos dipakai untuk menjalankan bisnis . Ketiga nilai inilah yang biasanya mewarnai keberanian berspekulasi dalam menjalan bisnis . Hopeng adalah cara untuk menjaga hubungan baik dengan relasi bisnis . Bagi orang Tionghoa, bisnis tidaklah hal yang seluruhnya rasional sehingga hubungan dengan relasi sangat penting . Sebagian besar dari perusahan keluarga atau teman-teman dekat . . Karena itu bisa dimaklumi mengapa bisnis orang Tionghoa selalu berputar sekitar keluarga , clan atau etnik Tionghoa sendiri . Bentuk-bentuk perkongsian ( hui ) tumbuh subur di kalangan Tionghoa karena dianggap sebagai bentuk yang paling tepat untuk mewadahi kepentingan ekonomi keluarga , clan , atau bahkan bangsa .Tujuan seorang Tionghoa dalam mengepalai suatu kongsi atau persereon adalah untuk menggalang kerja sama dengan sesame anggota keluarga , kawan dekat mereka . Hopeng dalam hal ini berkisar seputar relasi keluarga , suku dan bangsa . Berbeda dengan pola bisnis orang Eropa Barat , yang bertujuan memperkaya diri pribadi , orang Tionghoa lebih mengutamakan kaum kerabat ketimbang diri sendiri . Dengan demikian , urusan perkongsian (hui) bukan semata-mata urusan pribadi menjadi tulang punggung ekonomi, melainkan juga urusan emosional yang seringkali bahkan agak berbau chauvinistis . Dalam hal ini , perkongsian juga menyangkut mertabat dan kejayaan clan atau keluarga . Seorang kepala keluarga ( biasanya kakek atau tsu-kung ) , yang memiliki pengaruh besar , pada umumnya sangat dihormati oleh seluruh keluarganya Akan tetapi , dalam bisnis di kalangan Tionghoa modern . , khususnya yang bisa dilihat di Indonesia , istilah hopeng tidak hanya menyangkut kalangan keluarga , clan atau bangsa . Banyak bukti yang bisa dilihat bahwa hopeng juga memasukkan kalangan “ 35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kenalan “ yang memudahkan urusan bisnis . Teman main, khususnya yang memiliki pengaruh kekuasan politik, juga termasuk dalam lingkaran hopeng . Sebagai contoh adalah kisah sukses seorang pengusaha Tionghoa , Mohammad “ Bob” Hasan ( The Kian Seng ) , yang berhasil merajai pasaran kayu lapis dunia . Kepercyaan terhadap hong sui adalah kepercayaan pada faktor-faktor alamiah yang menunjang nasib baik dan nasib buruk manusia . Hong sui menunjukkan bidang-bidang atau wilayah yang sesuai dengan keberuntungan baik dalam hidup sehari-hari maupun dalam peruntungan perdagangan . Seperti, misalnya , peruntungan sebuah rumah memerlukan perhitungan rumit dari para ahli hong sui tersebut membawa rejeki bagi yang memakainya . Dengan teori geomancy yang rumit , keberhasilan sebuah tempat bisa disesuaikan dengan waktu dan suasana . Hal-hal seperti ini sangat berpengaruh pada praktek dagang orang Tionghoa , juga di Indonesia . Contoh yang paling jelas adalah adanya anggapan beberapa pengusaha Tionghoa bahwa belahan Jakarta sebelah barat dianggap membawa keberuntungan dalam bidang real estate . Praktek-praktek hung sui seperti ini sesungguhnya dalam sistem kultural mampu membuat perhitungan yang sangat hari-hati dalam dagang . Setiap ramalan, yang tentu saja boleh dianggap tidak rasional , sesungguhnya tidak pernah berakibat apa-apa terhadap dagang . Hanya saja, ramalam itu penting untuk menambah kewaspadaan dalam menjalankan dagang . Nilai yang satu ini memiliki kaitan dengan unsur sebelumnya (hong sui )) . Hokie merupakan peruntungan dan nasib baik . Para pengusaha keturunan Tionghoa memegang suatu konsep pengelolahan nasib atau takdir ( managing destiny ) melalui hing sui , sehingga terlibat bahwa hokie ini tidak terpaku pada nasib agar (selalu ) mendapat nasib baik . Mengenai hal ini, bos Sinar Mas Group , Eka Tjipota Wijaya ( Oei Ek Tjong ) bagaimana ia jatuh bangun dalam dunia dagang . Berbagai macam usaha teklah ia geluti sebelum menjadi besar . Sekalipun ia berusaha sangat keras , ia percaya bahwa jika bukan karena hokie maka usahanya tidak akan banyak berhasil . Ketahanan nilai yang dipraktekkan para pengusaha Tionghoa dalam menghadapi berbagai perubahan lingkungan bisnis di Indonesia dan Asia Tenggara . Sepertinya nilai jaringan (hopeng ) telah terbukti berabad-abad cukup ampuh dalam menunjang sukses bisnis orang keturunan Tiongghoa , dan bahkan diramalkan oleh John Naisbitt akan menjadi kekuatan yang semakin besar .( Handoko, 1996: 51 – 62 ) Penutup Keberhasilan orang Tionghoa di Asia Tenggara seringkali dihubungkan dengan citra perusahan yang legendaris , kerja keras , hemat , solidaritas , keluarga dan pendidikan , dan kebaikan-kebaikan neo-Konfusisius dan kewirausahaan lainnya . Raffles mencatat kualitas itu di kalangan penambang Cina di Pulau Bangka pada 1915 , dan belakangan ada yang menggambarkan mereka tidak hanya tekun dan hemat tetapi juga tahan menderita , percaya akan kemampuan diri dan berani mengambil resiko , kualifikasi yang 36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda seluruhnya baik untuk menjadi pengusaha modern dari masyarakat kecil yang sedang berkembang dengan pasar yang tidak sempurna dan biaya transaksi yang tinggi Ada sedikit keraguan Bahwa sebagian besar orang Tionghoa perantauan .sangat dikaruniai dengan kualitas kondusif ini dan lainnya bagi keberhasilan kewirausahaan di dunia moden daripada kelompok-kelompok etnis lainnya di Asia Tenggara . Tetapi mengapa demikian halnya ? Adakah kualitas-kualitas ini berasal dari adapatasi mereka terhadap pengalaman sulit sebagai minoritas dagang yang marginal di negeri-negeri tujuan emigrasinya , dipaksa oleh tidak adanya peluang untuk bersandar bagi setiap usaha jualbeli barang ? Atau apakah kualitas-kualitas itu bersumber dari dalam masyarakat Tionghoa sendiri ? Atau akhirnya , semua hal itu telah tertanam berurat berakar oleh banyaknya generasi yang bertarung menyelamatkan diri dari kemiskinan , bencana alam, dan eksistensi penuh resiko dan marginal di Tiongkok yang penuh-sesak ? . Sebenarnya keberhasilan bisnis di kalangan orang Tionghoa Asia Tenggara bisa dikaitkan dengan faktor-faktor budaya dan kelembagaan yang relevan . Marilah kita mulai dengan kenyataan bahwa nilai-nilai dan praktik-praktik bisnis yang dibawa kaum imigran Tionghoa ke Asia Tenggara lebih dari seabad yang lalu memberi mereka suatu segi kompetitif terhadap pesaing pesaingnya ( termasuk orang Barat , dalam banyak keadaan ) dan memungkinkan mereka bergerak maju ke berbagai tahap dalam kondisi sosi-ekonomi yang ditemui di sana . Dengan start awal yang menguntungkan berarti komunitas,komunitas , perusahaan-perusahan keluarga , dan lembaga-lembaga perdagangan lainnya yang mereka dirikan terus berkembang maju melebihi bisnis orang pribumi , kecuali pada tahun-tahun kacau 1830-1969-an . Mereka berada di tempat yang bagus untuk memgambil keuntungan baik dengan penarikan LSE era kolonial Eropa dan Amerika maupun masuknya peruisahan-perusahan mutinasional bartu yang mencari mitra patungan yang mampu segera setelah itu . Terutama sekali , pertumbuhan cepat yang dialami seluruh wilayah tersebut sejak 1960-an menciptakan peluang-peluang yang tidak terduga sehingga mereka lebih mampu meraihnya yang lain-lain . Kita tidak perlu berandai—andai bahwa semua orang Tionghoa mempunyai bakat kewirausahaan yang istimewa , meskipun biasanya sejumlah besar kalangan mereka memilikinya . Tetapi bakat-bakat mereka didorong oleh kondisi-kondisi yang mendukung yang berasal dari perkumpulan-perkumpulan Tionghoa dan lembaga-lembaga dagangnya Pendirian perkumpulan satu dalek bahasa dan jaringan-jaringan keluarga-nya, Siang hwee ( kamar dagang ) , dan kegiatan komunitas lain untuk saling bantu berlangsung untuk keuntungan mereka, menciptakan jalur-jalur kelembagaan yang memiliki daya tahan sehingga kaum kapitalis lokal tidak mampu menandinginya . Apalagi, hampir semua pengusaha Tionghoa memiliki motivasi yang kuat untuk mencetak keberhasilan sejak tahun-tahun awal . ketika kemiskinan adalah pendorong , sampai saat-saat terakhir ini, ketika ketidakamanan dan diskriminasi menambah deretan kesulitan . Sikap hemat mereka disertai tingkat penabungan yang tinggi serta putaran (omzet ) yang tinggi , kegiatan-kegiatan bisnis dengan keuntungan yang tipis menjadikan mereka pesaing berat. Pengetahuan mereka bahwa ketrampilan bisnis perlu ditingkatkan mengingat asal-usul mereka yang papa untuk terjun ke dunia usaha besar dan rumit juga merupakan sebuah asset yang luar biasa. 37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Karakeristik istimewa perusahan keluarga Tionghioa juga merupakan kepentingan sentral dalam seluruh hal ini . Kita terdorong kembali ke belakang ke pertanyaan-pertanyaan tentang sifat dasar keluarga , hubungan kekeluargaan , dan sosialisasi di Tiongkok maupun di seluruh Asia Tenggara . Proses sosialisasii itu bertanggung jawab menanamkan kebiasaan tekun , pantang mundur , dan determinasi dalam meningkatkan karakteristik warusan keluarga pihak ayah dari begitu banyak perilaku kewirausahaan orang Tionghoa . Keluarga-lkeluarga Tionghoa sangat patrieneal , yang berakar pada prinsip belas kasih pada anak laki-laki , penghormatan nenek moyang , dan pemeliharaan garis keturunan keluarga , dan dalam semua hal ini penghargaan yang mereka miliki merupakan keunggulan besar atas ( sebagian besar ) para pesaing pribumi mereka dengan struktur sosial yang lebih longgar dan sistem keturunan keluarga kognatis ( bilateral ) . Dalam merintis fase-fase pembangunan Asia Tenggara , perusahan-perusahan keluarga Tionghoa juga diuntungkan oleh kontrol ketat sang ayah terhadap pekerja dari anggota keluarga dan terhadap kekayaan yang teridiri dari warisan keluarga keturunan ayah , suatu disiplin yang dikukuhkan oleh otoritas ekonomi sang ayah . Mengingat pertimbangan-pertimbangan ini, maka barangkali tidak mengejutkan jika begitu banyak pedagang Tionghoa berprestasi baik di Asia Tenggara dalam masa-masa sebelum dan sesudah Perang Dunia II , dan bebarapa di antara mereka menjadi kaya raya dalam periode-periode ledakan ekonomi . ( Mackie , 2000 : 198 – 200 ) Dalam dasawarsa-dasarwaesa belakangan koneksi-koneksi politik memainkan peranan yang begitu besar di dalam keberhasilan para cukong yang paling kata di Asia Tenggara sehingga sejumlah perhatian khusus diberikan kepada mereka . Beberapa individu sangat mengandalkan kontak-kontak politik untuk kepentingan dagang , dengan Liem Sioe Liong dari Indonesia menjadi kasus yang terkenal ; sedang yang lain-lain lebih kurang memanfaatkan ( misalny William Soeryadjaja dan Tan Kah Hee ) .Namun di luar Singapura , Orang Tionghoa yang paling kaya di Asia Tenggara pun jarang terkenal dalam kehidupan politik wilayah itu, apalagi ini “ borjuasi “ penting di dalam paham Marxis konvensional karena margenilitas politik dan kerawanan sosial orang Tionghoa . Kemampuan mereka memanipulasikan koneski-kpneksi politik dalam berbagai keadaan tergantung lebih pada keadaan ekonomi dan sosial daripada berdasarkan watak politik navitis mana pun . Sebaliknya , adalah perlu untuk mempertanyakan argumen yang diberikan oleh Yoshihara bahwa kaum kapitalis Asia Tenggara , baik Tionghoa maupun pribumi , tidak lebih dari kapitalis semu ( ersatz ) , atau pencari keuntungan ( rent seeker ) , sangat tergantung pada koneksi-koneksi politik , privilese khusus , dan langkanya lesensi maupun teknologi yang diimpor sehingga mereka sama sekali bukan kapitalis sejati . ( Kunio , 1990 ) Meskipun terdapat bukti untuk mendukung generasi seperti itu terhadap sejumlah kapitalis Tionghoa , barangkali bahkan banyak , Yoshihara telah memperlemah kasusnya dengan membesar-besarkannya . Jika wilayah tersebut benar-benar langkah kapitalis sejati 1960-an , adalah sukar untuk menjelaskan bagaimana wilayah itu mempertahnkan tingkat pertumbuhannya yang begitu tinggi . Kaum kapitalis dan politisi seluruh dunia menggaet kesempatan mencari keuntungan ketika dimungkinkan bagi mereka memperolehnya koneksi-koneksi politik . Gambaran khusus tentang Assia 38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Tenggara bukan kelemahan kapitalisme semu , tetapi posisi unik orang Tionghoa yang secara ekonomi kuat dan sangat dibutuhkan , tetapi secara politik lemah dan rawan , suatu situasi dengan akar-akar politik dan sejarah yang rumit . Sebenarnya secara obyektif Yohishara Kunio tidak bisa menolak fakta bahwa Indonesia mempunyai kapitalis sejati ( genuine capitalist ) , yang bisa kerja keras dan besar . bukan karena tuyul lisensi maupun agen MNC . Bahkan mereka ini mampu menyaingi dan menggusur MNC dalam medan persaingan pasaran bebas . Rokok Gudang Garam , Teh Sosro dan Batere ABC adalah sebuah keajaiban ekonomi . Satu-satunya produk nasional yang mampu mengalahkan multinasional di tiga sektor itu di seluruh dunia . Jepang dan Korea Selatan membendung MNC rokok kretek dengan susah payah melalui monopoli BUMN dan proteksi tariff tinggi . Di Indonesia , Coca Cola masuk , tetapi toh bisa dibendung oleh Teh Botol dan Aqua . Batere ABC adalah merk yang bisa memojokan baik Eveready (AS) maupun National Jepang dalam perang bater di Indonesia . Ini berarti dalam tiga jenis produk ini Indonesia malahan lebih unggul dari Korea Selatan maupun Jepang sendiri ditinjau dari kemampuan produk lokal mengalahkan produk MNC .. ( Wibisono , 1990 : 14 ) Ada segelintir mereka yang memperoleh “sukses “ ekonomi berkat hubungan baik dengan penguasa . Akan tetapi , sekalgi lagi , kemudian ini pun sangat tergantung kepada siapa yang berkuasa . Memberikan konsensi dan monopoli ekonomi tertentu ( tentu saja lewat kekuasaan membuat peraturan ) sering kali juga disertai keharusan untuk membagi hasil usaha ekonomi tersebut kepada yang berkuasa. Paling tidak , kita bisa melihat dua model yang melandasi hubungan antara ekonomi minoritas Tionghoa dengan penguasa politik . Model pertama adalah suatu usaha yang paling tidak berusaha untuk menerapkan suatu prinsip usaha yang rasional . Adapun model kedua adalah suatu usaha untuk menfaatkan hubungan patronase dengan elite-elite Yang berkuasa . Akan tetapi , tidak berarti model pertama tidak memakai jalur-jalur kekuasaan . Mereka tetap memakai kekuasaan sebagai pelindung bisnis , tetapi berusaha untuk tidak terikat dalam bentuk ikatan-ikatan personal . Perkembangan kapitalisme mutakhir mengindikasikan bahwa kapitalisme cenderung untuk lepas dari pemilikan pribadi . Lembaga-lembaga keungan memegang peranan dalam membuat perusahan menjadi milik publik . Suatu korporasi tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki modal , tetapi siapa yang mengelola modal . Dalam hal ini , peranan sebuah kelas, yakni kelas manajerial yang mengelola sebuah korporasi menjadi sangat penting . Kapitalisme pasca –industrial membuat pemisahan antara para pemilik modal dan pengelola modal . Dalam perkembangan kapitalisme Indonesia , kecenderungan perkembangan yang menerapkan suatu prinsip usaha yang rasional dan tidak menggantungkan pada iklim politik mendekati perkembangan kapitalisme pasca-indistrial . Kelas manajer selama beberapa tahun terakhir ini semakin berperan walaupun belum berhasil menggeser sepenuhnya pemilik modal . Ini mengisyaratkan bahwa kemahiran bisnis yang berasal dari proses belajar semakin gari semakin dipentingkan . Kelas manajerial , yang 39
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dihasilkan lewat berbagai lembaga pendidikan , memang sedang tumbuh dan merupakan golongan yang paling diuntungkan dalam pertumbuhan dan merupakan golongan yang paling diuntungkan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia . Hanya saja, sebagian besar kelas manajerial ini kembali didominasi oleh etnik Tionghoa . Kelompok perusahan seperti Astra Internasional , yang secara formal sudah menjadi milik publik , memang sangat didominasi oleh kelas manajerial . Akan tetapi , model ini pun cenderung terlalu menyederhanakan fenomena bisnis dan politik yang sesudangguhnya sangat rumit . Seringkali yang terjadi adalah tumpang tindih antara relasi pribadi dengan tumbuhnya bisnis sebagai langkah-langkah yang rasional . Begitu banyak pola bisnis yang terjalin dengan kepentingan politis yang masih bertahan . Jika kita mau membandingkan agaknya sejarah terus berulang , seperti misalnya , adakah perbedaan antara bisnis dan politik candu dari abad ke-19 dengan bisnis dan politik cengkeh pada tahun 1990-an ? Yang patut diperhatikan di sini adalah , apakah bisnis ini dimungkinkan berkat gabungan kemahiran kewiraswastaan , hidup hemat , kerja keras dan professional sebagaimana yang disering disebut dalam etos Kapiotalisme ? Sangat sulit untuk menjawabnya . Menurut Onghokham , kisah klasik tentang migrant miskin, yang dengan membanting tulang dan mengetatkan ikat pinggang berhasil menjadi jutawan tujuh turunan “ hanyalah mitos yang diperalat oleh golongan usahawan untuk membujuk orang lain bekerja keras dan hidup hemat . Kalau hidup hemat dan kerja keras menimbulkan kapitalisme , mengapa kalangan petani sering kali harus hidup sangat keras dan sangat hemat tidak muncul sebagai jutawan ? Yang jelas adalah bisnis yang dikembangkan oleh para ussahawan keturunan Tionghoa ini lebih menampilkan kepandaian strategi bisnis . Daya bertahan mereka untuk tetap hidup sebagai manusia dan komunitas memaksa mereka untuk mencari jalur-jalur - yang paling sempit sekalipun - yang bisa dipakai untuk mempertahankan hidup . Ekonomi adalah lahan yang direkayasa oleh para penguasa untuk golongan Tionghoa dan ini dimanfatkan secara maksimal . Tidak terlalu mengherankan ini yang membuat kecenderungan untuk mempertahankan terus-menerus “supremasi ekonomi “ dengan membuatnya berputar hanya di sekitar lingkaran etnik Tinghoa saja . Generasi-generasi berikutnya pun turut dalam dinamika sama . Anak-anak muda keturunan Tionghoa , khususnya yang berasal dari kota-kota besar , berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan di luar negeri . Sesudah selesai , mereka kembali untuk mengembangkan bisnis keluarga atau menciptakan bisnis baru . Akan tetapi , fenomena ini juga berjalan berdampingan dengan banyaknya “ kapitalis muda pribumi “ yang sebagian besar adalah anak-anak pejabat . Patner bisnis anak-anak muda pribumi ini pun dengan perlindungan dan meniru usaha orangtua mereka ,aadalah pegusaha-pengusaha golongan Tionghoa . Akankah sejarah yang terus menerus berulang ini bisa diputus ? ( Suprianta , 1996 : 88 – 91 ) Dekade 1990-an menyaksikan munculnya generasi muda etnis Tionghoa, khususnya kelas menengah ke atas , yang hampir seluruhnya berpendidikan barat dan cenderung 40
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda berorientasi karier . Mereka tidak lagi bisa melihat diri mereka sebagai pedagang atau pemilik took seperti generasi pendahulu mereka – kebanyakan berasalan gengsi karena pendidikan mereka yang tinggi . Mereka cenderung melihat diri mereka sebagai orang yang mengutamakan profesionalisme . Ada sebagian generasi kedua atau ketiga dari perusahan-perusahan keluarga yang mengambil alih manajemen perusahan , namun mereka pun cenderung menerapkan manajemen yang mereka pelajari di luar negeri . Mereka juga melihat diri mereka sebagai seorang professional daripada pemilik perusahan keluarga , terutama apabila perusahan mereka telah sedemikian majunya dan / atau go public . Ini dikarenakan mereka telah menyadari bahwa kemajuan perusahan adalah hasil kerja teamwork daripada sekdar keputusan mereka sendirisebagai pemilik perusahan .(Lan , 2000 : 182 ) Proses pengambilan keputusan ekonomi di sebagian besar negara kapitalis , umumnya melibatkan interaksi dalam sejumlah bentuk atau corak tertentu antara para pemilik atau pengendali pemilikan dan sumber-sumber daya produktif di satu pihak dan pemegang kekuasaan politik di lain pihak . Ciri menganggumkan dari situasi Indonesia adalah bahwa dewasa ini , sesudah dua puluh tahun perkembangan pesat kearah masyarakat yang sepenuhnya kapitalis, terkomersialisasi dan beroirentasi –pasar , kekuasaan negara adalah sangat kuat vis a vis pemilik dan pengendali pemilikan atau apakah yang terakhir ini masih tetap terlalu lemah ? Atau keduanya ? Bank-bank dan perusahan-perisahan besar swasta memiliki daya dorong politik sangat lemah di sini, dibandingkan dengan rekan-rekan sejawat mereka di negara-negara lain. Kelompok-kelompok kepentingan ekonomi tak terstuktur secara memadai dan hampir-hampir tak memiliki pengaruh politik sama sekali . Hal itu disebabkan karena karakter rezim yang secara esensial patrimonialis, sebuah corak di dalam mana baik kekuasaan maupun dalam akses terhadap banyak sumber financial dan ekonomi mendasar terkonsentrasi di puncak piramida sosail--politik .( Mackie , 1993 : 95 – 96 ) Dalam memilih harus menanggung berbagai resiko , kaum totok membawa sifat-sifat baik yang diperlukan , karena mereka pada umumnya tidak memiliki ketrampilan dan pendidikan yang diperlukan untuk menginginkan pekerjaan-perkerjaan yang bergaji atau berkarier di ddalam jabatan-jabatan professional . Namun terdapat banyak bukti bahwa sebagian besar mereka memilih karier bisnis karena nilai-nilai dan sejumlah pengalaman menggiring mereka ke sana – dan karena imbalannya lebih besar . Bahkan dewasa ini , hampir seluruh pengusaha terkemuka di Indonesia berasal dari keluarga totok amat sedikit kaum peranakan mencapai puncak 20 atau bahkan 2000 kelaurga terkaya . Adalah orang Tionghoa totok yang dikatakan suka bekerja keras , paling berani mengambil resiko dan berhasil .

41
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Bibliografi Azis , M Amin .” Tingkahlaku Kewiraswasyaan di Kalangan etani Aceh ,” Prisma . No.3 Tahun VII , Oktober 1978, hlm. 39 – 45 . Bloomfield , Frena .1986. Dibalik Sukses Bisnis Orang-Orang Cina . Jakarta : Sang Saka Gotra . Coppel , Charles A . 1994 . Tionghoa Indonesia Dalam Krisis . Jakarta : Sinar Harapan . Cushman , Jennifer & Wang Gungwu .1991 ., Perubahan Identitas Orang Cina di Asia Tenggara . Jakarta : Pustaka Utama Grafiti . Daulay , Amir Hussein et al . 1993 . William Soeryadjaya . Kejayaan dan Kejatuhannya . Studi Kasus Eksistensi Konglomerasi Bisnis di Indonesia . Jakarta : Bina Rena Pariwara . Hefner Robert W (ed) 2000 Budaya Pasar Masyarakat dan Moralitas dalam Kapitalisme Asia Baru . Jakarta : LP3ES . Handoko , T Hani ..” Tradisi ( Manajemen ) Dagang ala Tionghoa ,” dalam Lembaga Studi Realino . 1996 . Penguasa Ekonomi dan Siasat Pengusaha Tionghoa . Yogya karta : Kanisus , hlm. 51 – 62. Kunio , Yoshihara . 1990 . Kapitalisme Semua Asia Tenggara . Jakarta : LP3ES . Lan , Thung Ju , “ Susahnya Jadi Orang Cina : Ke-Cina-an sebagai Kontruksi Sosial ,” Dalam I Wibow (ed) (2000) Harga Yang Harus Dibayar . Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia .Jakarta : Gramedia Pustaka Utama , hlm. 169 – 190 . Mackie , JAC ,” Pemilikan dan Kekuasaan di Indonesia ,” dalam Richard Tanter dan Kenneth Young (ed) . 1993 Politik Kelas Menengah Indonesia . Jakarta : LP3ES . Mackie , Jamie .” Keberhasilan Bisnis di Kalangan Orang Cina Asia Tenggara .” dalam Robert W Hefner (ed) 2000. Budaya Pasar , Masyarakat dan Moralitas dalam Kapitalisme Asia Baru . Jakarta : LP3ES . McVey , Ruth ,” Wujud Wirausaha Asia Tenggara ,” dalam Ruth McVey(ed) . 1998 . Kaum Kapitalis Asia Tenggara . Jakarta : Yayasan Obor Indonesia , hlm. 1 – 52 . Muhaimin, Yahya A .1991 . Bisnis dan Politik . Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950 - 1980 . Jakarta : LP3ES .

42
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Nuranto,N. ” Kebijakan terhadap Bisnis Etnis Cina di Masa Orde Baru .”dalam I Wibowo (ed) Retrospeksi dan Rekontekstualisasi Masalah Cina . Jakarta :PT Gramedia , hlm. 50 – 74 . Onghokham ,” Kapitalisme Cina di Hindia – Belanda . “ dalam Yoshihara Kunio.(ed) 1991 Konglomerat Oei Tiong Ham .Kerajaan Bisnis Pertama di Asia Tenggara Hlm. 80 - - 116 . Onghoham , “ Pengaruh Sistem Budaya terhadap Bisnis Cina ,” dalam Wastu Pragantha Zong . 1996 .Etika Bisnis Cina . Suatu Kajian Terhadap Perekonomian Indonesia Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Panglaykim, J dan I Palmer ,” Studi mengenai Kewiraswataan di Negara-negara Sedang Berkembang : Kisah Sebuah Perusahan Tionghoa di Indonesia ,” dalam Mely G Tan (ed).1981Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia . Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa , Jakarta : PT Gramedia . hlm. 74 – 93 Panglaykim , J. 1984 .Bisnis Keluarga . Perkembangan dan Dampaknya .Yogyakarta “ Andi Offset . Ropke , Jochen . 1988 . Kebebasan Yang Terhambat . Perkambangan Ekonomi dan Peri laku Kegiatan Usaha di Indonesia . Jakarta : PT Gramedia. Skinner , G. William .” Golongan Miroritas Tionghoa ,”dalam Mely G Tan (ed) 1981 Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia . Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa . Jakarta : PT Gramedia . Soetrisyono , Eddy .1989 Kisah Sukses Liem Sieo Liong .. Jakarta : Indomedia . Suryadinata , Leo .1982 . Dilemma Minoritas Tionghoa . Jakarta : Grafitipers. Supriatna , A Made Tony ,” Bisnis dan Politik : Kapitalisme dan Golongan Tionghoa Indonesia di Indonesia, dalam Lembaga Studi Realino . 1996. Penguasa Ekonomi dan Siasat Pengusaha Tionghoa . Yogyakarta : Lembaga Studi Realino . Vleming Jr , JL. 1988 . Kongsi dan Spekulasi . Jaringan Kerja Bisnis Cina . Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti Wibisono, Christianto ,” Anatomi Konglomerat Indonesia ,” dalam Kwik Kian Gie dan BN Marbun (ed) .1990 . Konglomerat Indonesia . Permasalhan dan Sepak Terjangnya . Jakarta : Sinar Harapan , hlm. 11 – 30 .

43
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->