P. 1
Pancasila Dan Tantangan

Pancasila Dan Tantangan

|Views: 921|Likes:
Published by Peter Kasenda
Saudara-saudara, dalam hubungan ini buat kesekian kalinya saya katakan, bahwa saya bukanlah Pencipta Pancasila, saya bukanlah pembuat Pancasila. Apa yang yang saya kerjakan tempo hari ialah sekedar menformulir perasaan-perasaan yang ada di dalam kalangan rakyat dengan beberapa kata-kata yang saya namakan “ Pancasila “. Saya merasa tidak membuat Pancasila. Dan salah jika ada orang yang mengatakan bahwa Pancasila itu buatan Soekarno …. Saya sekadar menggali di dalam bumi Indonesia dan mendapatkan lima berlian dan lima berlian inilah saya anggap dapat meinghiasi tanah air kita ini dengan cara yang seindah-indahnya ….Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan aku melihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu hidup lima perasaan. Lima perasaan itu dapat dipakai sebagai mempersatukan bangsa Indonesia yang 80 juta ini. (Subagya, 1959: 2)


Dari kutipan ini terlihat bahwa Soekarno menempatkan dirinya sebagai orang yang menggali nilai dan norma yang hidup sebagai suatu tradisi di masyarakat bangsa Indonesia sejak bangsa kita belum menerima pengaruh dari bangsa-bangsa lain.

Dalam proses penggalian ini, Soekarno selain membekali diri dengan pengetahuan yang diperolehnya dari literatur yang ada dan pengalamannya selama pergerakan kebangsaan juga melakukan perenungan-perenungan yang mendalam tentang semua segi kehidupan masyarakat bangsa Indonesia. Hasil dari proses perenungan ini terlihat bahwa manusia dalam memandang alam semesta, merenungi asal dan tujuan manusia, dan dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup selalu menunjukkan sikap sebagai manusia religius, kekeluargaan yang dan bangga akan tanah air tempat, menicintai dan bangga akan tanah air tempat lahirnya, lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan masalah yang dihadapi baik secara perseorangan maupun bersama-sama, dan selalu berihktiar untuk hidup lebih baik sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiannya. Semua itu terlihat sebagai gagasan yang dominan dalam hidup bermasyarakat di dalam bangsa kita. Dari semua itu terwujud dalam sikap dan perilaku hidup sebagai satu keutuhan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. (Babari, 1985, 733 -734)


Lahirnya Pancasila

Pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni1945,dihadapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah bertentangan dengan latar belakang kebangkitan ini dan perasan anti-Jepang makin ditunjukkan secara terang-terangan. Dalam pidatonya, Soekarno menggariskan lima dasar, Pancasila yang dirasanya akan membimbing dan memenuhi syarat sebagai dasar filsafat suatu Indonesia yang merdeka. Pidato ini jelas mendekati revolusi dan meskipun membangkitkan amarah para perwira angkatan darat Jepang, mereka merasa tidak bijaksana untuk mengambil tindakan terhadapnya. Gagasan-gagsan yang diutarakan Soekarno dalam pidato ini penting karena menyanjikan filsafat sosial yang matang dan dari para pemimpin nasionalis Indonesia yang paling berpengaruh dan dari seseorang yang kemudian menjadi seorang pemimpin politik Republik Indonesia yang paling penting. Gagasan-gagasan itu juga sangat berarti dalam mempengaruhi jalan pemikiran sosial orang Indonesia selama perjuangan revolusioner yang segera mulai, suatu pengaruh yang sampai sekarang masih puinya makna yang sangat penting Banyak dari pengaruh ini dikarenakan Soekarno dengan jelas mengungkapkan ide-ide dominan, namun belum lengkap, yang ada dalam pikiran banyak orang Idnonesia terpelajar, dan karena dia mengutarakannya dalam suatu bahasa dan dengan suatu simbolisme yang kebanyakan bermakna dan tetap penuh arti bagi rakyat jelata yang tidak berpendidikan.
Saudara-saudara, dalam hubungan ini buat kesekian kalinya saya katakan, bahwa saya bukanlah Pencipta Pancasila, saya bukanlah pembuat Pancasila. Apa yang yang saya kerjakan tempo hari ialah sekedar menformulir perasaan-perasaan yang ada di dalam kalangan rakyat dengan beberapa kata-kata yang saya namakan “ Pancasila “. Saya merasa tidak membuat Pancasila. Dan salah jika ada orang yang mengatakan bahwa Pancasila itu buatan Soekarno …. Saya sekadar menggali di dalam bumi Indonesia dan mendapatkan lima berlian dan lima berlian inilah saya anggap dapat meinghiasi tanah air kita ini dengan cara yang seindah-indahnya ….Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan aku melihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu hidup lima perasaan. Lima perasaan itu dapat dipakai sebagai mempersatukan bangsa Indonesia yang 80 juta ini. (Subagya, 1959: 2)


Dari kutipan ini terlihat bahwa Soekarno menempatkan dirinya sebagai orang yang menggali nilai dan norma yang hidup sebagai suatu tradisi di masyarakat bangsa Indonesia sejak bangsa kita belum menerima pengaruh dari bangsa-bangsa lain.

Dalam proses penggalian ini, Soekarno selain membekali diri dengan pengetahuan yang diperolehnya dari literatur yang ada dan pengalamannya selama pergerakan kebangsaan juga melakukan perenungan-perenungan yang mendalam tentang semua segi kehidupan masyarakat bangsa Indonesia. Hasil dari proses perenungan ini terlihat bahwa manusia dalam memandang alam semesta, merenungi asal dan tujuan manusia, dan dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup selalu menunjukkan sikap sebagai manusia religius, kekeluargaan yang dan bangga akan tanah air tempat, menicintai dan bangga akan tanah air tempat lahirnya, lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan masalah yang dihadapi baik secara perseorangan maupun bersama-sama, dan selalu berihktiar untuk hidup lebih baik sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiannya. Semua itu terlihat sebagai gagasan yang dominan dalam hidup bermasyarakat di dalam bangsa kita. Dari semua itu terwujud dalam sikap dan perilaku hidup sebagai satu keutuhan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. (Babari, 1985, 733 -734)


Lahirnya Pancasila

Pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni1945,dihadapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah bertentangan dengan latar belakang kebangkitan ini dan perasan anti-Jepang makin ditunjukkan secara terang-terangan. Dalam pidatonya, Soekarno menggariskan lima dasar, Pancasila yang dirasanya akan membimbing dan memenuhi syarat sebagai dasar filsafat suatu Indonesia yang merdeka. Pidato ini jelas mendekati revolusi dan meskipun membangkitkan amarah para perwira angkatan darat Jepang, mereka merasa tidak bijaksana untuk mengambil tindakan terhadapnya. Gagasan-gagsan yang diutarakan Soekarno dalam pidato ini penting karena menyanjikan filsafat sosial yang matang dan dari para pemimpin nasionalis Indonesia yang paling berpengaruh dan dari seseorang yang kemudian menjadi seorang pemimpin politik Republik Indonesia yang paling penting. Gagasan-gagasan itu juga sangat berarti dalam mempengaruhi jalan pemikiran sosial orang Indonesia selama perjuangan revolusioner yang segera mulai, suatu pengaruh yang sampai sekarang masih puinya makna yang sangat penting Banyak dari pengaruh ini dikarenakan Soekarno dengan jelas mengungkapkan ide-ide dominan, namun belum lengkap, yang ada dalam pikiran banyak orang Idnonesia terpelajar, dan karena dia mengutarakannya dalam suatu bahasa dan dengan suatu simbolisme yang kebanyakan bermakna dan tetap penuh arti bagi rakyat jelata yang tidak berpendidikan.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Pancasila dan Tantangan

Saudara-saudara, dalam hubungan ini buat kesekian kalinya saya katakan, bahwa saya bukanlah Pencipta Pancasila, saya bukanlah pembuat Pancasila. Apa yang yang saya kerjakan tempo hari ialah sekedar menformulir perasaan-perasaan yang ada di dalam kalangan rakyat dengan beberapa kata-kata yang saya namakan “ Pancasila “. Saya merasa tidak membuat Pancasila. Dan salah jika ada orang yang mengatakan bahwa Pancasila itu buatan Soekarno …. Saya sekadar menggali di dalam bumi Indonesia dan mendapatkan lima berlian dan lima berlian inilah saya anggap dapat meinghiasi tanah air kita ini dengan cara yang seindah-indahnya ….Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan aku melihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu hidup lima perasaan. Lima perasaan itu dapat dipakai sebagai mempersatukan bangsa Indonesia yang 80 juta ini. (Subagya, 1959: 2)

Dari kutipan ini terlihat bahwa Soekarno menempatkan dirinya sebagai orang yang menggali nilai dan norma yang hidup sebagai suatu tradisi di masyarakat bangsa Indonesia sejak bangsa kita belum menerima pengaruh dari bangsa-bangsa lain. Dalam proses penggalian ini, Soekarno selain membekali diri dengan pengetahuan yang diperolehnya dari literatur yang ada dan pengalamannya selama pergerakan kebangsaan juga melakukan perenungan-perenungan yang mendalam tentang semua segi kehidupan masyarakat bangsa Indonesia. Hasil dari proses perenungan ini terlihat bahwa manusia dalam memandang alam semesta, merenungi asal dan tujuan manusia, dan dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup selalu menunjukkan sikap sebagai manusia religius, kekeluargaan yang dan bangga akan tanah air tempat, menicintai dan bangga akan tanah air tempat lahirnya, lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan masalah yang dihadapi baik secara perseorangan maupun bersama-sama, dan selalu berihktiar untuk hidup lebih baik sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiannya. Semua itu terlihat sebagai gagasan yang dominan dalam hidup bermasyarakat di dalam bangsa kita. Dari semua itu terwujud dalam sikap dan perilaku hidup sebagai satu keutuhan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. (Babari, 1985, 733 -734) Lahirnya Pancasila Pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni1945,dihadapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah bertentangan dengan latar belakang kebangkitan ini dan perasan antiJepang makin ditunjukkan secara terang-terangan. Dalam pidatonya, Soekarno menggariskan lima dasar, Pancasila yang dirasanya akan membimbing dan memenuhi syarat sebagai dasar filsafat suatu Indonesia yang merdeka. Pidato ini jelas mendekati revolusi dan meskipun membangkitkan amarah para perwira angkatan darat Jepang, mereka merasa tidak bijaksana untuk mengambil tindakan terhadapnya. Gagasan-gagsan yang diutarakan Soekarno dalam pidato ini penting karena menyanjikan filsafat sosial yang matang dan dari para pemimpin nasionalis Indonesia yang paling berpengaruh dan 1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dari seseorang yang kemudian menjadi seorang pemimpin politik Republik Indonesia yang paling penting. Gagasan-gagasan itu juga sangat berarti dalam mempengaruhi jalan pemikiran sosial orang Indonesia selama perjuangan revolusioner yang segera mulai, suatu pengaruh yang sampai sekarang masih puinya makna yang sangat penting Banyak dari pengaruh ini dikarenakan Soekarno dengan jelas mengungkapkan ide-ide dominan, namun belum lengkap, yang ada dalam pikiran banyak orang Idnonesia terpelajar, dan karena dia mengutarakannya dalam suatu bahasa dan dengan suatu simbolisme yang kebanyakan bermakna dan tetap penuh arti bagi rakyat jelata yang tidak berpendidikan. Menurut Soekarno, prinsip pertama yang harus menggarisbawahi dasar filsafat suatu Indonesia merdeka adalah nasionalisme. Ia menekankan bahwa yang dimaksudkannya bukanlah suatu nasionalisme dalam arti sempit. Katanya, syarat bangsa menurut Ernst Renan yaitu: “ le desir d’etre ensemble “, dan menurut Otto Bauer yaitu “ eine aus Schicksalgemenischaft Erwachsene Charaktergemeinscjhaft “ tidak memadai, karena keduanya tidak mempertimbangkan syarat lain, yaitu “ persatuan antara manusia dan tanah “. Menurut geopolitik,” lanjutnya,” Indonesia adalah negeri kita, Indonesia yang bulat.” Dengan semangat ia mengatakan:
Pendek kata, bangsa Indonesia, Natie Indonesia, bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan “ le desir d”etre ensemble “ di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia yang menurut geopolitik telah ditentukan oleh Allah SWT tinggal di kesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai ke Irian! ….Kita hanya dua kali mengalami nationale staat, yaitu di zaman Sriwijaya dan di zaman Majapahit.

Namun demikian, Soekarno menegaskan.” prinsip kebangsaan ini memang ada bahayanya. Bahayanya ialah mungkin orang-orang meruncingkan nasionalisme menjadi Chauvinisme …Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.”. Dengan pendapat ini, dia terus mengutarakan prinsipnya yang kedua, yaitu internasionalisme atau perikemanusian.
Kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa ….Inilah filosofisch principe nomor dua yang saya usulkan kepada tuan-tuan, yang boleh saya namakan internasionalisme. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme bukanlah saya bermaksud kosmospolistanisme, yang tidak menginginkan adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika dan lain-lainnya. Internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berakar dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, saudara-saudara, prinsip satu dan prinsip dua, yang saya usulkan kepada tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain.

Akan halnya prinsip ketiga, Soekarno berdalih tentang dasar perwakilan atau permusyawaratan. “ Saya yakin “, katanya, “ bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya Negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.” Menjawab argumentasi dari mereka yang menginginkan suatu negara Indonesia diatur sebagai suatu negara Islam, ia menjelaskan: 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda
Untuk pihak Islam. inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama….Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal; kepentingan agama akan kita tingkatkan….Badan Perwakilan inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam ….Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar kursi-kursi Badan Perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam … Kita berkaya, 90 persen dari kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah suatu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam, setujuilah prinsip nomor tiga ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan,,Di dalam perwakilan rakyat, saudara-saudara Islam dan saudara –saudara Kristen bekerjalah sehebathebatnya. Kalau misalnya orang Kristen menginginkan bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturanperaturan Negara Indonesia harus menunrut injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar utusan yang masuk Badan Perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil –fair play? Tidak ada suatu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya.

Soekarno menyatakan bahwa prinsipnya yang keempat, adalah prinsip keadilan sosial dan kesejahteraan. Dikatakannya:
Apakah kita mau Indonesia Merdeka yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya? Jangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat di negara-negara Eropa ada badan-badan perwakilan, ada parlementaire democratie. Tapi tidaklah di Eropa, justru kaum kapitalis merajalela ? Di Amerika ada suatu badan Perwakilan Rakyat, dan tidaklah di seluruh benua Eropa Barat kaum kapitalis merajalela? Tak lain tak bukan sebabnya ialah karena badan-badan perwakilan rakyat yang diadakan di sana itu sekedar menurut resepnya Revolusi Perancis. Apa yang dinamakan demokrasi di sana, hanyalah demokrasi politik saja tidak ada keadilan sosial dan demokrasi ekonomi sama sekali.

Untuk menjelaskan bahwa demokrasi politik tidak menjamin demokrasi ekonomi, Soekarno dengan menyolok menyitir pendapat seorang Sosialis Revisionis, Jean Jaures dan bukan dari seorang Marxis ortodoks. Lalu ia melanjutkan:
Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi …. Demokrasi ekonomi politik yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan” Ratu Adil “? Ini adalah keadilan sosial. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan, kurang pakaian, ingin menciptakan suatu dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu Adil. Oleh karena itu, jikalau kita memang benar-benar mengerti, mengingat, mencipta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip keadilan sosial ini yang bukan hanya persamaan politik, saudara-saudara. Juga dalam bidang ekonomi, kita harus mengadakan persamaan, dan kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya. Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan demokrasi politik saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: keadilan politik dan keadilan sosial.

Prinsip Soekarno yang kelima adalah bahwa organisasi Indonesia Merdeka harusnya diterangi oleh suatu kepercayaan kepada Tuhan. Dalam uraiannya, ia menyatakan: 3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Bukan saja bangsa Indonesia berTuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya berTuhan. Tuhanya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Almasih, yang Muslim menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadahnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semua berTuhan. Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyebah Tuhannya dengan cara yang leluasa …tiada “egoisme agama “. Dan hendaknya Negara Indonesia satu dengan negara yang BerTuhan. Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen, dengan cara-cara yang berkeadaban …hormat menghormati satu sama lain.

Dalam kesesimpulan Soekarno terus menekankan saling kecocokan antara kelima prinsip ini, dan kesamaan kepenuhannya dengan semangat masyarakat Indonesia asli. Dua prinsip yang pertama, nasionalisme dan internasionalisme atau perikemanusian, menurut Soekarno, dapat diperas menjadi satu prinsip tunggal- yaitu sosio-nasionalisme, Demikian juga, lanjutnya, dua prinsip berikutnya, demokrasi (atau permusyawaratan) dan keadilan sosial, dapat diperas menjadi satu prinsip, yaitu prinsip sosio-demokrasi. Jadi, tiga prinsip yang tinggal adalah: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan kepercayaan kepada Tuhan. Namun demikian, katanya, ketiga prinsip tersebut masih dapat lagi diperas menjadi satu prinsip, suatu prinsip yang dapat diungkapkan dalam satu istilah Indonesia asli atau “ gotong royong “. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong. Alangkah benar-hebatnya “ Negara Gotong Royong “! Untuk menjelaskan istilah ini, Soekarno melanjutkan:
“Gotong royong “ adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari “ kekeluargaan “, saudarasaudara. Kekeluargaan adalah suatu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan suatu usaha, suatu amal, satu pekerjaan,…Gotong royong adalah membanting tulang bersama, memeras keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama? Inilah gotong royong!” “Prinsip gotong royong di antara yang kaya dan yang miskin, antara Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, saudara-saudara, yang saya usulkan kepada saudara-saudra.”

Demikianlah rumusan yang semula dari Pancasila, kelima sokoguru negara yang hendak dibangun. Ia merupakan satu upaya untuk memberikan kepada aliran politik yang heterogen di Indonesia suatu landasan bersama di dalam negara baru itu, seperti halnya upaya yang telah dilakukan oleh Soekarno, ketika untuk pertama kalinya terjun kedalam pergerakan Indonesia hampir dua dasawrasa sebelumnya, untuk meletakkan suatu landasan bersama bagi semua pergerakan politik dalam perjuangan mereka untuk kemerdekaan. Seperti yang dikatakan pada awal pidato-pidatonya, soalnya adalah untuk menemukan suatu pandangan dunia bagi Indonesia yang dapat disetujui oleh semua golongan penduduk – dan dalam hal ini tampaknya ia berhasil dengan konsep Pancasilanya, sebagaimana terbukti dari tepuk tangan yang riuh rendah dan hadirin ketika ia mengakhir pidatonya. 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Setiap upaya untuk memandang Pancasila terlepas dari tujuan yang dimaksudkan itu – umpamanya, untuk mengeritiknya atas dasar tradisi-tradisi kebudayaan tertentu di pulaupulau – akan meleset. Bagi negara yang sedang dalam proses pembentukan,Pancasila lebih merupakan suatu program daripada filsafat, program bagi suatu pergerakan yang tugas pertamanya adalah membentuk suatu “Indonesia “ dari kepulauan Nusantara dan hal ini telah diabaikan dalam satu-satunya tinjauan terinci mengenai Pancasila yang telah dilakukan hingga kini (Kahin, 1995:154 – 160). Piagam Jakarta 22 Juni 1945 Setelah masa sidang pertama itu, apa yang dinamakan Panitia Kecil dari Panitia 62 melanjutkan tugasnya di Jakarta. Soekarno, Moh Hatta, Achmad Subardjo, Wahid Hasjim, Ki Bagus Hadikusumo, Otto Iskandardinata, Muh Yamin dan Maramis adalah anggota-anggota Panitia Kecil ini. Mereka ini membahas 32 buah usul yang diajukan oleh 40 orang anggota yang telah disampaikan secara tertulis antara tanggal 1 dan 20 Juni 1945. Kira-kira 20 anggota mendesak agar Indonesia merdeka diproklamasikan secepat mungkin. Namun, yang lebih penting adalah adanya perdebatan yang berlanjut dan semakin menghangat antara kaum nasionalis sekuler dan nasionalis Islam, yang dalam sumbersumber Indonesia sekarang ini selalu ditunjuk sebagai golongan kebangsaan dan golongan Islam. Kebetulan Dewan Panasehat Pusat Pusat (Cuo Sangi-In) berapat di Jakarta tangga; 18 Juni 1945. Sejumlah orang Indonesia yang menjadi anggota Panitia 62 juga menjadi anggota Dewan ini. Lagipula, sebagian anggota Panitia 62 berdiam di Jakarta. Oleh karena itu, Soekarno, ketua Panitia Kecil ini, mengundang semua anggota Panitia 62 yang dapat dihubungi, yang berjumlah 38 orang. Dari mereka inilah tampil kelompok 9 anggota yang akan mencari pemecahan terhadap ketegangan yang semakin meningkat antara kaum nasionalis “:sekuler “ dan nasionalis Islam. Dalam sebuah rapat tanggal 22 Juni 1945, yang pasti merupakan rapat yang sangat sulit., akhirnya sembilan pemimpin ini dapat mencapai suatu jalan tengah. Mereka dapat merumuskan suatu gentlement agreement “ kesepakatan kehormatan “ yang dimaksudkan sebagai Pembukaan Undang-Undang Dasar, atau setidak-tidaknya sebagai suatu makalah kerja untuk pembahasan masalah tersebut. Beberapa minggu kemudian Muh Yamin menamakan dokumen politik ini Piagam Jakarta. Di luar Indonesia kelihatannya kecil saja perhatian terhadap dokumen ini. Namun, jika kita meninjau ke belakang dapat disimpulkan bahwa pembahasan lebih lanjut mengenai hubungan Negara dan Islam di Indonesia sebagian besar akan ditentukan oleh beberapa perkataan yang tercantum dalam Piagam Jakarta itu. Teks Piagam Jakarta ini mencakup kata-kata penuntup rancangan Kemerdekaan (yang akhirnya tidak pernah dipergunakan itu) yang digabungkan dengan kalimat penutup Pembukaan pada rancangan Undang-Undang Dasar Muh Yamin. Dari pernyataan Moh Hatta yang disampaikan kemudian dapat disimpulkan adanya urutan peristiwa yang berlangsung terbalik, yaitu setelah Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, yang 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dimaksudkan sebagai Rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar, lalu disusun pernyataan kemerdekaan. Bagaimanapun keadaan yang sesungguhnya penting untuk memberikan perhatian kita pada isi Piagam Jakarta itu.
Bahwa susungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusian dan peri keadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai (lah) kepada saat yang berbahagia dengan selamat-sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat Rahmat Allah Yang Mahakuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya, menurut dasar kemanusian yang adil dan beradab, persatuan Indonesia,dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Sembilan orang tokoh yang menandatangani Piagam Jakarta adalah sebagai berikut ini. Pertama –tama di antara mereka ini terdapat Soekarno, Moh Hatta, Maramis dan Muh Yamin, yang termasuk dalam apa yang disebut sebagai kaum nasionalis “sekuler “. Di samping itu ada Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakkir, Agus Salim, Achmad Subardjo dan Wahid Hasyim merupakan kaum nasionali Islam Indonesia yang paling terkemuka dalam bagian akhir zaman Jepang. Pada semua perdebatan dalam zaman ini (dapat disimpukan bahwa) dokumen ini dipandang sebagai suatu jalan tengah antara “kelompok nasionalis sekuler “ dan “ kelompok nasionalis Islam “. Hanya dalam tahun-tahun belakangan ini dikatakan bahwa golongan Kristen telah diwakili oleh Maramis, dan karena itu dianggap sebagai kelompok perserta ketiga. Tetapi menurut keterangan lisan, hal ini tampaknya tidak benar. Maramis mewakili kaum nasionalisme “sekuler “, dan dikatakan orang bahwa sebagai orang bukan – Muslim ia juga berkeberatan terhadap terhadap jalan tengah ini, tetapi ia tidak ingin membahayakan proklamasi kemerdekaan. Namun, Latuharhary yang kemudian dipandang sebagai wakil orang-orang Kristen. Dan kelihatannya Latuharhary menjauhkan dirinya dari upaya mencari jalan tengah tersebut,. Kalimat yang paling penting dalam Piagam Jakarta, sudah tentu, adalah ketentuan bahwa negara didasarkan kepada ketuhanan “ dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya “. Di Indonesia masa kini kalimat ini disebut sebagai “tujuh kata “. Apakah rumusan itu kurang lebih berarti suatu negara Islam? Apakah kalimat itu mempunyai akibat hukum, sehingga pemerintah harus bekerja untuk mengawasi 6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pelaksanaan hukum Islam? Haruskah pemerintah mengundangkan hukum yang terpisah untuk kaum Muslimin (misalmya yang berhubungan dengan perkawinan), atau bahkan harus mengawasi terlaksananya ibadat keagamaan dalam artinya yang sempit? Ataukah rumusan itu hanya mempunyi arti sebagai suatu dorongan kesalehan bagi kaum Muslimin? Tetapi jika demikian, mengapa kalimat itu muncul dalam rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945? Atau dengan perkataan lain, apakah hubungannya dengan negara? Ataukah kalimat itu hanyalah merupakan kerangka kosong sebagai hiburan bagi kaum ortodoks tradisional? Ringkasnya, apakah rumusan itu suatu titik tolak menuju kearah suatu Negara Islam, ataukah ia merupakan sisa-sisa terakhir dari perjuangan suatu Negara Islam yang telah gagal? Inilah berberapa di antara persoalan yang muncul kemudian, dan menjadi penting dalam perdebatan tentang kedudukan Islam dalam Indonesia baru itu. Dari tanggal 10 Juli sampai 16 Juli 1945. Panitia 62 (yang ditambah dengan 4 anggota baru) mengadakan rapat kembali. dan terbagi dalam tiga subpanitia. Panitia Undangundang Dasar berapat pada tanggal 11 Juli di bawah pimpinan Soekarno untuk mengadakan pembahasan pendahuluan tentang persoalan–persoalan pokok yang berkenan dengan undang-undang dasar, seperti bentuk negara (kesatuan atau federal?), sifat undang-undang dasar (sederhana atau sementara?) dan rancangan Pembukaan yang telah ada di hadapan mereka dalam bentuk Piagam Jakarta tanggal 22 Juni1945. Dari kalangan Protestan, Latuharhary menyatakan keberatan terhadap perkataan “ dengan kewajiban menjalankan syari”at Islam bagi pemeluknya:. Karena hal ini dapat menimbulkan akibat-akibat besar yang berkenaan dengan agama-agama lain, serta dapat menimbulkan kesukaran sehubungan denga adat-istiadat. Agus Salim menjawab bahwa persoalan hukum adat dan hukum Islam sudah merupakan masalah lama, dan pada umumnya tidak dapat diselesaikan. Para penganut agama lainnya tidak usah merasa khawatir karena “ Ketentraman mereka tidaklah bergantung pada kekuasaan negara, tetapi dari adat (dalam hal ini toleransi tradisional?) dan umat Islam, yang merupakan 90 % dari penduduk. Sebagai ketua, Soekarno mengingatkan mereka bahwa Pembukaan tersebut telah disusun dengan susah payah dan merupakan hasil kesepakatan antara apa yang dinamakan kelompok Islam dan kelompok nasionalis. Hilangnya kalimat yang satu ini tidak akan dapat diterima oleh kaum Muslimin Wongsonegoro dan Hoesein Djajadiningrat (orang Indonesia pertama yang menjadi kepala Kantor Urusan Agama) juga berkeberatan dengan kata-kata tersebut dan mengatakan, “Kalimat itu mungkin sekali menimbulkan fanatisme, karena kehilahatannya kaum Muslimin akan dipaksa mematuhi syari”at “. Wahid Hasyim membantah kemungkinan adanya paksaan ini dengan menunjuk kepada adanya asas permusyawaratan, sambil menambahkan bahwa menurut pendapat sebagian besar orang kalimat itu mungkin telah menjangkau terlalu jauh, tetapi menurut pendapat sebagiannya lagi, justru kurang jauh cakupannya. Soekarno mengulangi bahwa kalimat ini adalah suatu jalan tengah yang dicapai dengan susah payah dan setelah melihat bahwa tidak ada lahi keberatan yang diajukan, ia menyimpulkan bahwa Pembukaan ini dipandang sudah diterima sidang. 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Setelah itu Soekarno membentuk sebuah kelompok kerja yang akan berapat pada tanggal 12 Juli untuk menyiapkan rancangan undang-undang dasar. Sampai di mana Soekarno melibatkan dirinya dalam penyusunan rancangan undang-undang dasar ini tidak jelas. Ketua kelompok kerja ini adalah Supomo anggota-anggota lainnya adalah Wongsonegoro. Subardjo, Maramis, Singgih, Agus Salim, dan Sukiman. Baik Wahid Hasyim, yang dapat dipandang sebagai orang Islam yang paling radikal, mapun Latuharhary yang bisa dianggap sebagai mewakili orang-orang Kristen tidak diikutkan dalam kelompok kerja ini Rancangan yang diajukan kelompok kerja ini pada tanggal 13 Juli 1945, setelah adanya usul Pembukaan tersebut (yaitu Piagam Jakarta), kelihatannya dipandang telah mencukupi untuk mencatumkan.” Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk menganut agamanya dan beribadat sesuai dengan agamanya itu.” Dalam rapat-rapat Panitia Undang-Undang Dasar ini telah jelas terlihat adanya suatu ancaman krisis. Ternyata bahwa Wahid Hasjim memang memanfaatkan rancangan Pembukaan yang diusulkan tersebut sebagai suatu titik tolak untuk pengaturan lebih lanjut menuju suatu negara Islam. Ia menyarankan agar diadakan ketentuan bahwa hanya orang Islam yang boleh dipilih sebagai presiden dan wakil presiden Repiblik, dan bahwa pasal mengenai agama harus berbunyi sebagai berikut: Agama negara adalah Islam, dengan jaminan kemerdekaan bagi penganut agama lainnya untuk menganut agama mereka …” dan seterusnya. Ia memberikan alasan sebagai berikut: Kalau presiden adalah seorang Muslim, maka peraturan-peraturan akan mempunyai ciri Islam dan hal itu akan besar pengaruhnya:. Tentang Islam sebagai agama negara, hal ini akan penting artinya bagi pertahanan negara: “ Umumnya pertahanan yang didasarkan kepada keyakinan agama akan sangat kuat, karena menurut ajaran Islam orang hanya boleh mengorbankan jiwanya untuk idelogi agama.:” Agus Salim menentang usul-usul dari saudaranya seagama itu, karena hal tersebut akan merusakkan jalan tengah yang telah tercapai antara kelompok nasionalissekuler dan kelompok nasionalis Islam., dan “ jika presiden harus seorang Islam, lalu bagaimana dengan wakil persiden, para duta, dan sebagainya, dan lalu bagaimana duduknya janji kita untuk melindungi agama-agama lain?”. Namun, Sukiman (Masyumi) mendukung usul-usul Wahid Hasjim dengan mengatakan bahwa “ hal itu akan menyenangkan rakyat dan nyatanya tidak akan ada akibatnya lebih lanjut ” Djajadiningrat dan Wongsonegoro sekali lagi menyatakan keberatan terhadap usul-usul ini, seperti yang telah disampaikan mereka sebelumnya berkenan dengan “ tujuh kata “. Wongsonegoro sekali lagi menyatakan keberatan terhadap usul-usul ini, seperti yang telah disampaikan mereka sebelumnya berkenan dengan “ tujuh kata.” Wongsonegoro sekali lagi menyatakan kekhwatirannya terhadap tafsiran yang memungkinkan negara memaksa orang-orang Islam melaksanakan hukum Islam. Otto Iskandardinata memberikan suatu usul penengah yaitu bahwa di satu pihak tidak ada pengaturan mengenai presiden, tetapi di pihak lain agar diulangi “tujuh kata “ dari pembukaan di dalam pasal undang-undang dasarnya sendiri tentang hal agama Sebagai ketua kelompok kerja, Supomo menyatakan bahwa panitia akan menerima saran ini, dan akan mengubah rancangannya untuk menampung 8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda hal tersebut. Kelihatannya Latuharhary merasa tidak lagi perlu atau tidak tepat saatnya untuk mengulangi keberatannya. Dalam sidang pleno tanggal 14 Juli 1945 itu, Soekarno segera berbicara sebagai ketua Panitia Undang-Undang Dasar. Setelah menyampaikan laporannya bahwa sudah selesai disusun suatu rancangan untuk pernyataan kemerdekaan, sebiuah pembukaan dan sebuah undang-undang dasar, maka perdebatan segera dibuka untuk membahas pembukaan (yaitu Piagam Jakarta). Pemimpin Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo ingin meniadakan kata-kata “ bagi pemeluk-pemeluk Islam “ dalam “ tujuh kata “ dalam Pembukaan, sehingga rumusan tersebut akan berbunyi: “ Negara didasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalankan hukum Islam “. Semula beliau hanya mengemukakan pertimbangan-pertimbangan gaya bahasa, tapi kemudian beliau menyebutkan alasan lainnya, yaitu bahwa tidak dapat diterima adanya suatu perundang-undangan ganda, yaitu satu untuk kaum Muslimin dan satu lagi untuk umat lainnya. Soekarno menjawab bahwa dihilangkannya kata-kata ini dapat menimbulkan kesan “ bahwa tidak ada masalah umat Islam, dan karena itu tidak ada kewahiban untuk melaksanakan hukum Islam.” Pada saat itu Hadikusumo menjawab bahwa kalimat seperti yang tertera dalam Pembukaan (yaitu “tujuh kata “) tidak dapat ditegakkan karena pemerintah tidak dapat melaksanakan hukum Islam, “ pemerintah tidak dapat campur tangan dalam cara penduduk mengamalkan agamanya.” Dari catatan notulen tidak begitu jelas apa niat Hadikusumo yang sesungguhnya, dan sampai berapa jauh peranan salah paham dalam hal ini. Apakah para perancang Piagam Jakarta hanya berniat menekankan bahwa kaum Muslimin sendiri mempunyai suatu kewajiban agama dan kewajiban moral untuk melaksanakan hukum Islam, ataukah pemerintah harus ikut campur? Apakah Hadikusumo memperoleh kesan membaca katakata tersebut bahwa pemerintah harus menegakkan hukum Islam bagi kaum Muslimin? Apakah rumusan tersebut dapat mempunyai berbagai macam arti, khususnya kata kerja yang amat besar itu yaitu kata “ menjalankan “, yang dapat berarti memelihara, mengurus, melaksanakan, menyelenggareakan, menerapkan, atau mewujudkan? Ataukah memang secara sengaja dirumuskan agar mempunyai banyak tafsiran, sebagai suatu jalan tengah yang akan memungkinkan berbagai pihak dan berbagai pribadi mempunyai tafsiran sendiri? Pada rapat tanggal 15 Juli1945, Supomo menjelaskan sekali lagi tafsirannya tentang “tujuh kata “ yang dipermasalahkan itu. Kata-kata tersebut tidak berarti bahwa negara Indonesia akan didirikan hanya suatu golongan saja ( yaitu kaum Muslimin), tetapi hanya berarti bahwa negara akan memperhatikan kepribadian khusus dari bagian terbesar penduduk. Beliau mengulang bahwa “ tujuh kata “. Pembukaan dan pasal Undangundang Dasar mengenai agama merupakan suatu jalan tengah, dan beliau memberi kesan bahwa Panitia Undang-Undang Dasar (Panitia 19) telah menerima jalan tengah ini secara aklamasi. Dalam hubungan ini di satu pihak ia menyebut nama-nama Wahid Hasyim dan Agus Salim, di pihak lain nama-nama Latuharhary dan Maramis yang bukan Muslim itu, sehingga secara sadar ataupun tidak sadar mengalihkan pertentangan itu dari golongan 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda nasionalis Islam dan nasionalis sekuler menjadi pertentangan antara golongan Islam dan Kristen. Setelah berbagai pidato dari perdebatan mengenai persoalan-persoalan lain, perdebatan mengenai agama berkobar sekali lagi da;lam rapat malam hari tanggal 15 Juli. Hal ini terjadi karena Hadikusumo mengulangi pertanyaannya yang agak merupakan tekatekinya itu mengenai “tujuh kata “ yang mengelitik tersebut. KH Masjkur memperburuk masalahnya, dengan mengatakan hukum Islam, dalam kenyataan hal itu hanya akan dapat dilaksanakan jika presiden adalah seorang Muslim dan Islam diakui sebagai agama resmi dari negara Republik Indonesia. Soekarno berusaha menenangkan keadaan dengan mengatakan bahwa nyatanya nanti hal itu akan selesai sendiri, presiden pasti seseorang yang beragama Islam. Tetapi Masjkur terus menghendaki kelejasan, bukan hanya untuk diri ia sendiri, tetapi untuk seluruh rakyat, katanya. Akhirnya perasaan, menjadi demikian tegang sehingga Kahar Muzakkir, sambil menghantam meja dengan tinjunya, mengusulkan suatu jalan tengah baru, seperti yang disebutnya sendiri. Berbicara atas nama golongan Islam, ia menuntut agar seluruhnya itu dicoret tanpa repot-repot lagi, mulai dari kata-kata pertama dari Pernyataan Kemerdekan sampai kepada dan termasuk pasal Undang-Undang Dasar yang dipersoalkan itu, yang mencantumkan kata Tuhan atau Islam, sehingga tidak satu pun tertinggal. Saran ketua agar Pembukaan yang diusulkan itu diputuskan melalui pemungutan dijawab dengan tajam. “ Tidak mungkin, hal itu tidak dapat diselesaikan dengan pemungutan suara. Tuan tidak dapat melakukan pungutan suara mengenai agama!” Kahar Muzakkir bahkan lebih terang-terangan mengulang usulnya agar segala hal yang berhubungan dengan nama Tuhan dan dengan agama dihilangkan. Ketegangan menjadi semakin terasa bahkan juga terasa sewaktu kita membaca notulen rapat tersebut – sewaktu Hadikusumo memperoleh kesempatan berbicara dan memulai pidatonya dengan rumusan doa yang terkenal itu. A’u dzubillahi minas syaitonir rajim. “ Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang membawa kerusakan.” Beliau melanjutkannya sebagai berikut: “ Lebih dari sekali telah dijelaskan bahwa Islam juga mencakup suatu ideologi negara. Karena itu, negara tidak dapat dipisahkan dari Islam ….Sekiranya usul (Islam) ini ditolak ….maka saya setuju dengan usul Abdul Kahar Muzakkir. Jika ideologi Islam ditolak, baiklah! Karena itu jelas bahwa negara ini tidak didasarkan kepada Islam dan karena itu ia harus netral. Setidak-tidaknya hal itu jelas. Janganlah kita menerima jalan tengah, seperti disebutkan Tuan Soekarno. Sepanjang mengenai keadilan dan ibadat, tidak ada jalan tengah, tidak ada hal itu. Marilah kita berterus terang mengenai hal ini – jika ada keberatan terhadap ideologi Islam, maka artinya adalah begini: mereka yang setuju dengan dasar Islam menghendaki suatu negara Islam; tetapi kalau hal itu tidak diterima, maka harus ada kenetralan sepanjang mengenai masalah agama itu.” Pada hari berikutnya, tanggal 16 Juli 1945, segera setelah pembukaan rapat, Soekarno mendapat kesempatan berbicara. Ia berkata bahwa ia yakin, banyak di antara hadirin, seperti ia juga sendiri, tidak dapat tidur pada malam harinya itu. Tetapi barang siapa yang sungguh-sungguh meminta petunjuk kepada Tuhan akan memperolehnya. Dan malam 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda tadi petunjuk-petunjuk tersebut telah mulai diturunkan Tuhan. Setelah rapat tersebut beberapa orang pemimpin dari kedua golongan – yang dinamakan golongan nasionalis dan yang disebut golongan Islam – bertemu untuk mencari suatu penyelesaian Sebagai hasil pembahasan ini Soekarno ingin menghimbau setiap anggota, khususnya yang disebut golongan nasionalis, untuk berkorban, sambil mengingatkan dalam bahasa Belanda bahwa “ kebenaran itu terletak dalam pengorbanan.” Pengorbanan ini akan berbentuk tercantumnya dalam undang-undang dasar pasal-pasal mengenai “ Presiden Republik Indonesia haruslah seorang Indonesia asli dan beragam Islam ‘, dan bahwa “ Negara berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari”at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Soekarno berkata, ia menyadari bahwa meminta pengorbanan yang sangat besar dan para patriot seperti Latuharhary dan Maramis yang bukan Muslim itu. Tetapi seakan-akan berurai air mata – sekali lagi seakan-akan berurai mata – beliau memohon mereka untuk memberikan pengorbanan untuk negara dan bangsa. Setelah Supomo mengajukan sejumlah usul mengenai perubahan redaksi kecil-kecilan dalam rancangan undang-undang dasar, rapat ini berakhir dengan suasana antiklimaks. Barangkali tidak seorang pun yang merasa puas, tetapi setia orang terdiam. Atas permintaan ketua, setiap anggota berdiri untuk menunjukkan bahwa mereka menerima rancangan undang-undang dasar tersebut. Hanya Muh. Yamin yang kelihatan memerlukan dorongan khusus untuk ikut berdiri.(Boland,1985: 26 – 36) Pancasila sebagai Dasar Negara Tanggal 14 Agustus 1945 bom atom jatuh di Nagasaki dan Hiroshima. Tanggal 17 Agustus 1945, jam 04.WIB, yakni sehari setelah Jepang menyerah kepada Kekuatan Sekutu, naskah baru Pernyataan Kemerdekaan dirumuskan dalam satu pertemuan yang berlangsung di rumah Laksamana Maeda, perwira Angkatan Laut Jepang, Jalan Imam Bonjol No. 2 Jakarta. Pada pukul 10.00 WIB pada hari yang sama, di jalan Pegangsaan Timur 56 (tempat kediaman Soekarno ketika itu), Proklamasi ini, ditanda-tangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, dengan resmi dibacakan oleh Soekarno.
Proklamasi Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indoneisa. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Keesokan harinya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibentuk, dipimpin oleh Soekarno sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Pertemuan pertama Panitia Persiapan ini direncanakan dalam agenda pada pukul 09.30 WIB, akan tetapi ternyata belum juga dimulai sampai pukul 11.30 WIB Apa yang terjadi dalam dua jam tersebut itu ternyata suatu-yang teramat penting bagi sejarah Indonesia umumnya, dan bagi sejarah konsitusi Indonesia khususnya.Semula, Panitia Persiapan ini beranggotakan duapuluhsatu orang, termasuk Ketua dan Wakil 11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Ketua. Atas saran Soekarno enam orang anggota ditambahkan. Dalam pidato pembukaannya Soekarno menekankan arti historik saat ini, dan mendesak agar Panitia Persiapan bertindak “ dengan kecepatan kilat “, dan mengingatkan para anggota agar tidak bertele-tele dalam masalah detail, tetapi memusatkan perhatian mereka hanya pada garis-besar saja … Agenda pagi itu terbatas hanya untuk membicarakan beberapa perubahan penting dalam Pembukaan dan batang tubuh Undang-Undang Dasar, M. Hatta dipersilahkan untuk menyampaikan empat usul perubahan.
1 2 3 4 Kata “ Mukadimmah “ diganti dengan kata “ Pembukaan “ Dalam preambule (Piagam Jakarta), anak kalimat “ Berdasarkan kepada Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya “diubah menjadi “ berdasar atas Ke-Tuhanan Yang Maha Esa. “ Pasal 6 ayat 1. “ Presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam,” kata-kata “ dan beragama Islam: dicoret. Sejalan dengan perubahan yang kedua di atas, maka Pasal 29 ayat menjadi “ Negara berdasarkan atas Ke-Tuhanan, dengan kemwajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Setelah membacakan perubahan-perubahan tersebut, Muh. Hatta menyatakan keyakinannya “ Inilah perubahan yang maha penting menyatuhkan segala bangsa.” Setelah mengambil alih pimpinan, Soekarno menambahkan bahwa Undang-Undang Dasar yang dibuat ini Undang-Undang Dasar Sementara, Undang-Undang Dasar Kilat, Revolutiegronwet.
Nanti kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang lebih tentram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Perwakilan Rakyat yang dapat membuat Undang-undang yang lebih lengkap dan sempurna.

Hanya beberapa jam kemudian, yakni pukul 13.45, Panitia Persiapan menerima dengan bulat teks perubahan Preambule dan batang-tubuh Undang-Undang Dasar ini. Preambule dan batang tubuh Undang-Undang Dasar dengan beberapa perubahan ini dikenal luas sebagai “ Undang-Undang Dasar 1945.” Persetujuan yang terburu-buru mengenai beberapa perubahan yang amat penting dan – sebagaimana kita ketahui bahwa kejadian itu sangat kontroversial dan sunguh-sungguh menimbulkan, menurut istilah Prawoto Mangunsasmito, satu “ historische vraag,” atau “ pertanyaan sejarah.” Tetapi Moh. Hatta mempunyai jawaban atas terjadinya perubahan tersebut. Menurut Moh. Hatta, bahwa pada petang hari 17 Agustus 1945 itu, seortang opsir Kaigun (Angkatan Laut Jepang) datang ke Moh Hatta, dan mengatakan bahwa wakil-wakil Protestan dan Katolik dalam kawasan Kaigun berkeberatan sangat atas anak kalimat dalam Pembukaan UUD yang berbunyi: “ Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari”at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Walaupun mereka mengakui, bahwa anak-kalimat tersebut tidak mengikat mereka, dan hanya mengingkat rakyat yang beragam Islam, namun mereka memandangnya sebagai diskriminasi terhadap mereka golongan minoritas.Moh Hatta menjawab kepada opsir itu (yang namanya tidak diingatnya), bahwa hal tersebut bukanlah diskriminasi, karena penetapan tersebuh hanya mengikat rakyat yang beragama Islam. Ketika Pembukaan UUD tersebut dirumuskan 12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Maramis – seorang Kristen – yang menjadi salah seorang anggota Panitia Sembilan, tidak berkeberatan apa-apa dan pada tanggal 22 Juni 1945 turut membubuhkan tandatangannya. Opsir tersebut menjawab, bahwa pada waktu itu mungkin Maramis tidak merasakan bahwa penetapan tersebut suatu diskriminasi. Kalau Pembukaan diteruskan juga apa adanya, maka golongan Protestan dan Katolik lebih suka berdiri di luar Republik. Opsir tersebut, yang sungguh-sungguh menyukai Indonesia Merdeka, mengingatkan Moh. Hatta pada semboyan yang selama itu didengang-dengungkan “ bersatu kita teguh dan berpecah kita jatuh:. Moh. Hatta mengakui bahwa kata-kata Opsir tersebut mempengaruhi pendiriannya. Setelah terdiam sejenak, Moh Hatta menjanjikan pada Opsir itu, bahwa esok harinya dia akan menyampaikan masalah yang sangat penting itu dalam sidang panitia Perseiapan Kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya Moh Hatta melaporkan.
Karena begitu seruis rupanya, esok paginya tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan bermula, saya ajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasjim, Kasman Singodimedjo dan Teuku Hassan dari Sumatra mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu. Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Krsiten itu dan menggantinya dengan “ Ketuhanan Yang Maha Esa /”

Moh. Hatta menerangkan bahwa pertemuan tersebut berlangsung kurang dari 15 menit, dan nampak jelas bahwa itu berlangsung antara 09.30 dan 11.30 tanggal 18 Agustus 1945, momentum yang amat menentukan itu seperti di singgung diatas. Beberapa hal pokok dalam keterangan Moh. Hatta ini layak mendapat perhatian dan pembahasan. konsensus nasional yang salah dicapai dengan susah –payah dalam Badan Penyelidik melalui diskusi dalam perdebatan sengit itu, dicairkan oleh usul orang asing, seorang opsir Kaigun Jepang (yang namanya tidak lagi diingat oleh Moh Hatta), dan kedua, dari keterangan Moh. Hatta dengan jelas dapat mengetahui. bahwa keberatan opsir Kaigun Jepang yang datang mengatas namakan orang-orang Katolik dan Protestan di Indonesia bagian Timur itu ialah terhadap “klausula Islami “ dalam Pembukaan, dan sama sekali tidak menyinggung batang-tubuh Undang-undang Dasar. Namun kenyataannya, yang telah dicoret oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia itu, bukan hanya “ anak-kalimat Islami “ yang terdapat dalam Pembukaan saja, melainkan juga seluruh “ kalimat –kalimat Islami “ yang tercantum dalam batang-tubuh Undangundang Dasar, supaya tidak “menusuk hati kaum Kristen “ dan untuk menjaga supaya “ jangan pecah sebagai bangsa “, menarik sekali kata-kata Parwoto Mangunsasmito bahwa“ perpecahan yang dikwatirkan akan timbul, jika rancangan tidak diubah, dianggap dapat dihindarkan dengan mengorbankan modus (vivendi) atau gentlement”s agreement antara tidak antara pihak Islam dan pihak kebangsaan. Bahaya pertama dianggap lebih berat dari pada dikecewakannya golongan Islam.” Mengenai tidak adanya kesinambungan antara tindakan kesembilan orang penandatangan Preambule “yang asli “, yakni Piagam Jakarta, dan putusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, sangat penting untuk di catat di sini, bahwa hanya empat orang panda-tangan Piagam Jakarta yang ditunjuk atau dipilih sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yaitu Soekarno, Moh Hatta, Achmad Subardjo dan A Wahid Hasjim. Ini berati bahwa Muhammad Yamin, AA Maramis, Haji Agus 13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Salim, Abikoesno Tjokrosoejoso dan A Kahar Mauzakkir semuanya tidak diundang mengikuti persidangan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Jadi dari kesembilan orang penandatangan Piagam Jakarta itu, hanya tiga orang saja – yakni Soekarno, Hatta dan Soebardjo yang terlibat dalam proses pengubahan Pembukaan dan batang-tubuh Undang-undang Dasar pada tanggal 18 Agustius 1945, sedangkan enam orang selebihnya tidak. Sementara hasil pertemuan yang menentukan pada 18 Agustus 1945 itu diterima dengan sepenuh hati oleh para nasionalis “sekuler “ sebagai “ gentlemen”s agrement’ yang kedua, namun dalam waktu yang tang sama para nasionalis Islami merasa telah dikhianati. Segera setelah para nasionalis Islam mengetahui bahwa Indonesia Merdeka, yang turut mereka perjuangan dengan sepenuh pengorbanan itu, bahkan beradasarkan Piagam Jakarta pun tidak, maka mayoritas kaum Muslimin merasa kecewa.(Anshari, 1981: 41 – 52) Perubahan di atas dipandang oleh sebagian orang sebagai kekalahan politik wakil-wakil umat Islam. Tetapi pada tahun 1978, Alamsjah Ratu Prawiranegara (Menteri Agama waktu itu) menafsirkan peristiwa tanggal 18 Agustus itu sebagai hadiah umat Islam kepada bangsa dan kemerdekaan Indonesia, demi menjaga persatuan. Pernyataan Alamsjah tersebut bila dibaca dalam konteks politik kontemporer Indonesia barangkali dapat diartikan sebagai usaha untuk meyakinkan pihak-pihak tertentu. bahwa loyalitas umat Islam kepada Pancasila tidak perlu dipertanyakan lagi. Dengan demikian tuduhan-tuduhan yang biasa dialamatkan kepada umat Islam sebagai anti Pancasila adalah lagu usang yang tidak perlu diputar lagi. Bukankah Sila Ketuhanan Yang Maha Esa diilhami sepenuhnya oleh tauhid, urat tunggang iman dalam sistem kepercayaan Islam? Dengan demikian setiap usaha dari manapun, yang memisahkan Pancasila dari intervensi wahyu adalah ahistoris, sebab Pancasila yang dirumuskan pada tanggal 18 Agustus 1945 itu tidak sama dengan formula Pancasila yang disampaikan pada tanggal 1 Juni 1945. Artibut “ Yang Maha Esa “ sesudah “ Ketuhanan “ dalam sila pertama jelas sekali menunjukkan konsep Ketuhanan dalam Pancasila bukanlah fenomena sosiologis, melainkan refleksi dari ajaran tauhid. Hal ini dapat diperkuat lagi misalnya dengan suatu pengandaian, yaitu: sekiranya mayoritas rakyat Indonesia bukan pengandaian, yaitu: sekiranya mayoritas rakyat Indonesia bukan pengandaian, yaitu: sekiranya mayoritas rakyat Indonesia bukan pemeluk Islam, maka dapatlah dipastikan bahwa Pancasila tidak akan mengenal sila Ketuhanan, apalagi sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Pokok soal utama lainnya yang menjadi bahan bahasan dalam Panitia Persiapan ialah mengenai pembentukan Departemen Agama. Ketika pembentukan satu departemen tersendiri yang mengurus soal-asoal agama diajukan dalam sidang Panitia Persiapan pada tanggal 19 Agustus 1945, Latuharhary menolaknya dan didukung oleh umumnya para Nasionalis Sekuler ‘. Karena hanya didukung oleh enam suara, usul tersebut ditolak. Sebaliknya, usul Abdul Abbas agar “ urusan-urusan agama merupakan bagian daripada Depertemen Pendidikan “ telah diterima.

14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Kemudian Komite Nasional Indonesia Pusat mengadakan sidang pada 25, 26, dan 27 November 1945. Di sana antara lain membahas usul agar dalam Indonesia Merdeka ini soal-soal keagamaan digarap oleh satu kementerian atau departemen tersendiri, dan tidak lagi diperlakukan sebagai bagian tanggungjawab Kementerian Pendidikan. Usul ini didukung oleh beberapa anggota KNIP, seperti Mohammad Natsir, Muwardi Mahdi, M. Kartosudarmo dan lain-lain, dan diterima setelah Wakil Presiden Moh. Hatta, setelah mendapat persetujuan Presiden Soekarno, berkata: “ Pemerintah menaruh perhatian penuh tentang persoalan ini. “ Pada tanggal 3 Januari 1946, Kementerian Agama dibentuk dan HM Rasjidi mendapat kepercayaan sebagai orang pertama memegang jabatan menteri baru ini. Bahkan putusan (mendirikan Kementerian Agama tersendiri) in pun sedikit banyak terbukti sebagai “ a consesssion to the Muslims.”, yang bersifat kompromi. Sekretaris Jendral Kementerian Agama, RM Kafrawi. berpendapat bahwa Kementerian Agama itu timbul dari formula Indonesia asli yang mengandung kompromi antara dua konsep yang berhadapan muka sistem Islami dan sistem sekuler.Menteri Agama HM Rasjidi mencoba menjelaskan sebab-sebab dan kepentingan Pemerintah Republik mendirikan Kementerian Agama.”
Ialah untuk memenuhi kewajiban Pemerintah terhadap UUD Bab IX pasal 29,yang menerangkan bahwa “ Negara berdasar atas Ke-Tuhanan Yang Maha Esa “ dan “ Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu “(ayat 1dan 2) Jadi lapangan pekerjaan Kementerian Agama ialah mengurus segala hal yang ber sangkut –paut dengan agama dalam arti seluas-luasnya.

Dari sudut pandangan para nasionalis sekuler pembentukan Kemnterian Agama itu sebagai konsesi mereka kepada orang-orang Islam, sedang para nasionalis Islam itu sendiri tberpandangan, bahwa itu merupakan hasil yang ingin dicapai oleh umat Islam Indonesia dalam perjuangan kemerdekan bangsanya. Jadi negara Indonesia baru ini lahir bukan sebagai Negara Islam menurut konsepsi Islam yang ortodoks, juga bukan sebagai negara sekular yang memandang agama semata-mata masalah pribadi. Oleh karena itu, pembentukan dan eksistensi Kementerian Agama itu tidak dapat dipisahkan dari jiwa dan semangat Piagam Jakarta khususnya, dan dari perjuangan konsitusional para Nasionalis Islami dalam bidang konsitusi dan pemerintahan umumnya. (Anshary, 1981: 53 – 56) Pancasila diperbatkan lagi Perkataan majemuk Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti lima prinsip moral. Dalam sejarah Indonesia kuno, perkataan Pancasila terdapat dalam buku Negarakertagama, suatu catatan sejarah tentang kerajaan Hindu Majapahit (1296 – 1478), yang ditulis oleh Empu Prapanca, pujangga istana. Soekarno memgambil alih terma ini, tetapi memberinya isi dan makna baru. Soekarno telah mengatakan bahwa ia telah menggalinya dari masa jauh sebelum Islam. Menurut jalan pikirannya, Pancasila adalah refleksi kontemplatif dari warisan sosiohistoris Indonesia yang kemudian 15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Soekarno merumuskannya dalam lima prinsip. Juga menurut jalan pikiran ini, prinsip Ketuhanan, misalnya, tidak mempunyai kaitan organic dengan doktrin sentral agama yang mana pun. Dengan ungkapan lain, Tuhan dalam konsep Soekarno bersifat sosiologis, sehingga konsep Ketuhanan Soekarno sepenuhnya bersifat relatif; ia dapat diperas menjadi konsep gotong royong sebagaimana telah dikemukakan. Tetapi kemudian atas usul dari wakil-wakil Islam dalam BPUPKI, sila Ketuhanan berubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, dan ditempatkan sebagai sila pertama. Dalam Jelis Konsituante, Pancasila yang sudah mengalami modifikasi ini dipertanyakan kembali oleh wakil-wakil Islam karena mereka belum merasa puas dengan perumusan itu. Kali Pancasila oleh seorang pembicara dikategorikan sebagai konsep murni, netral dan sekuler. “ Pancasila ingin terus netral tanpa warna.” Natsir menegaskan dalam pidatonya. Karena itu penafsiran seseorang terhadap Pancasila bisa bermacam-macam, tergantung pada pandangan filosofis seorang itu. Jadi masih belum jelas, sila yang mana yang menjadi sumber sila yang lain.” Atau “ kata Natsir,” apakah sila-sila yang lima itu mempunyai lima sumber pula? “ Dalam menolak Pancasila dan mempertahankan Islam sebagai dasar negara, parttai-partai Islam bersatu. Dalam pada itu, di pihak pembela Pancasila tampaknya juga tidak mampu meyakinkan kelompok pendukung dasar Islam bahwa Pancasila bukan sekuler, suatu atribut yang sangat ditentang oleh kelompok Islam. Pada umumnya, argumen yang biasa diajukan ialah bahwa Pancasila merupakan “ suatu perjanjian moral yang luhur: antara kaum nasionalis sekuler dan kelompok Islam. Pendapat yang paling banyak dikutip tentang Pancasila oleh pendukungnya ialah gurubesar hukum Notonagoro dari Universitas Gadjah Mada. Sebagai seorang muslim bukan santri, Notonagoro tampaknya tidak tertartik pada issu tentang sumber Pancasila, apakah itu sosiologi, sekuler atau yang lain. Baginya, yang terpenting adalah bahwa kelahiran Pancasila dan perkembangannya pada periode awal tidak dapat dipisahkan dari proses kelahiran Indonesia sebagai sebuah negara baru. Secara implisit ini berarti bahwa kelahiran Indonesia merdeka adalah identik dengan kelahiran Pancasila. Argumen inilah yang ditentang oleh wakil-wakil Islam sebagai sesautu yang tidak punya dasar kuat. Dan bila mau diturutkan dengan juga jalan pikiran ini, maka pada waktu proklamasi kemerdekaan, UUD kita adalah UUD yang dirumuskan pada 22 Huni 1945 yang dikenal dengan nama Pigam Jakarta. Bahwa Pancasila adalah hasil kompromi, tidak seorang pun yang dapat memungkirinya. Kenyataan inilah yang mendorong Professor Soeripto, seorang pembela Pancasila, mengunci pidatonya dengan seruan: “ Oleh karena itu tepatilah terus perjanjian moral yang sangat luhur, “ Pancasila.” Dengan pernyataan ini Soeripto ingin mengingatkan majelis akan kenyataan bahwa kelompok Islam telah memungkiri perjanjian moral ini. Sebaliknya kelompok Islam menuduh golongan nasionalis sebagai yang merusak perjanjian luhur itu, yaitu dengan mencoret anak kalimat tentang “ kewajiban menjalankan syari”at Islam bagi pemeluk-pemeluknya “ dari Pembukaan UUD 1945 dan dari batang tubuhnya. Mengenai apakah Pancasila suatu falsafah negara atau hanya suatu persetujuan politik, para pendukungnya berbeda pendapat. Sutan Takdir Alisjabana (PSI) menyatakan bahwa 16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda adalah berlebih-lebihan untuk menganggap Pancasila sebagai suatu falsafah negara karena bukan saja sila-silanya bersifat heterogen, tetapi juga Pancasila itu sendiri tidak bebas dalam kontradiksi dirinya sendiri. Semua prinsip-prinsip bukan merupakan suatu kebulatan dan kesatuan yang logis,” tetapi tinggal terletak berderai-derai.” Sebelum Pemilihan 1955, Takdir bahkan mengatakan “ …bahwa Pancasila hanyalah kumpulan paham-paham yang berbeda-beda untuk menentramkan semua golongan pada rapat – rapat.” Tetapi pembicara ini memilih Pancasila sebagai dasar negara adalah karena ia merupakan suatu kompromi politik yang telah menolong bangsa Indonesia dalam menghadapi saat krisis dan menetukan jalannya sejarahnya, Pernyataan Takdir yang agak negatif tentang Pancasila itu mendapat sambutan hangat dari wakil-wakil Islam. Hamka (Masyumi) misalnya, mengomentari bahwa Takdir tokh mengakui paradoksnya Pancasila, tetapi partainya (Partai Sosialis) menerimanya sebagai dasar negara adalah menurut tafsirannya sendiri, dan tidak keberatan bila sila-silanya ditambah. Dengan demikian, menurut Hamka, penerimaan Takdir akan Pancasila sebenarnya merupakan beban yang dipikulkan partai atas pundaknya sekalipun hal itu berlawanan dengan hasil renungan bebasnya. Sejalan dengan penilaian Hamka, Saifuddin Zuhri (NU) mengatakan bahwa pidato Takdir di atas tidak perlu dikomentari, karena telah cukup jelas (bahwa) Pancasila masih banyak kekurangan-kekurangan serta di dalamnya mengandung pertentangan-pertentangan disebabkan tiadanya kebulatan pikiran. Karena itu dapat dpahami bilamana di antara pembicara penting, seperti Natsir, menyayangkan penerimaan Takdir pada Pancasila sebagai dasar negara, padahal silasilanya masih bederai-derai. Sikap semacam ini menurut Natsir seharusnya tidak diambil oleh seorang pemikir terkenal seperti Takdir karena masalah dasar negara adalah masalah yang sangat serius. Bagi Natsir Pancasila bersifat sekuler karena sumber sila-silanya bukan wahyu Allah. Tetapi bila dipikirkan kembali, orang mungkin akan mengajukan pertanyaan: Apakah tidak mungkin untuk mengislamkan Pancasila, yaitu dengan memberikan kepadanya nilai-nilai transdental tertentu sebagaimana yang diajarkan al-Qur”an “ Analogi untuk kerja semacam ini barangkali dapat dimbilkan dari sejarah permulaan Islam, sekalipun tidak sepenuhnya persis. Untuk itu ada baiknya diberi contoh di bawah ini. Sebagaimana diketahui bahwa konsep syura bukanlah ciptaan Islam buat pertama kali; ia telah ada di Arabia sebelum Islam. Kemudian baru al-Qur’an mengambilnya dan mengislamkannya. Karena itu, dalam kasus Pancasila, konversi semacam ini bukanlah sesuatu yang mustahil, karena sila-silanya dapat juga dijumpai dalam ajaran Islam. Bila sila Ketuhanan Yang Maha Esa dipercayai sebagai sumber sila-sila yang lain, kemudian barangkali masalahnya mendekati penyelesaian. Tetapi usaha kearah itu, dalam majelis tidak dilakukan secara serius oleh golongan mana pun.Di mata al-Qur’an, hubungan antara kepercayaan kepada Allah dengan prinsip keadilan sosio-ekonomi adalah ibarat hubungan antara dua sisi mata uang yang sama. Jika jalan analisa dapat diterima, maka kemudian persoalannya adalah apakah Pancasila bersedia atau tidak menaikkan dirinya dengan mengambil nilai-nilai moral fundamental seperti diajarkan oleh agama-agama wahyu, khususnya Islam. 17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Seterusnya, bila Pancasila tetap seperti apa adanya dengan sila-silanya yang berderaiderai, maka barangkali akan sulitlah baginya untuk mengklaim sebagai dasar falsafah negara. Posisinya paling –paling hanyalah sebagai sebuah persetujuan politik bagi aliranaliran ideologi yang bermacam-macam sebagaimana didalilkan oleh beberapa nanggota Majelis Konsituante. Pembela Pancasila yang lain dalam majelis ialah Roeslan Abdulgani (PNI). Berbeda dengan Takdir yang berpendapat bahwa masalah dasar negara adalah suatu metafor, Roeslan Abdulgani memandang bahwa dasar negara adalah suatu prinsip dasar (principalia). Ia merupakan jiwa dari seluruh ayat dalam konsitusi dan perundangperundangan serta peraturan-peraturan lainnya. Ia menolak pendapat yang mengatakan bahwa Pancasila tidak mempunyai suatu kesatuan logika. Dalam menguatkan posisi argumennya, Abdulgani mengutip pendapat Kahin yang mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah sintesa dari gagasan-gagasan demokrasi asli seperti yang dijumpai di desadesa dan dalam komunialisme penduduk asli. Lagi, bersandar pada pendapat Kahin, Abdulgani mengatakan: “ …Pancasila adalah suatu filsafat sosial yang sudah dewasa, yang sangat besar pengaruhnya atas jalannya revolusi.” Singkatnya, bagi Roeslan Abdulgani, sumber Pancasila adalah Islam, demokrasi liberat Barat, Marxisme dan demokrasi asli yang kurang berkembang yang terdapat di desa-desa Indonesia. Dengan menyebutkan Islam sebagai sumber pertama Pancasila Roeslan Abndulgani menyangkal pendapat Natsir yang menyatakan bahwa “ Pancasila adalah suatu “abstraksi “ atau suatu pure-concept belaka, sekuler dalam arti tanpa agama (la-diniyah) dan netral Dalam hubungan ini adanya Departemen Agama pada seluruh kabinet Indonesia menurut Abdulgani, membuktikan bahwa Pancasila bukanlah sekuler. Mengenai issu sekuleraisme sebagai dibawakan Natsir dan lain-lainnya dalam kaitannya dengan Islam, Abdulgani mengutip pendapat penulis Pakisatan, Kemal A Faruk. Menurut Faruki, perkataan sekuler punya duia makna yang berlainan: (1) menjadi sekuler artinya punya perhatian terhadap problema-problema duniawi. Dalam pengertian ini, Islam adalah sebuah agama sekuler; (2) Dalam pengertian politik sebagaimana berkembang di Barat, sekuler bermakna memisahkan masalah-masalah spiritual dengan yang temporal, di mana yang terakhir ini dipandang lebih superior. Pengertian pertama dapat diterima Islam, sementara yang kedua ditolaknya. Dengan alasan ini, sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila tidak dapat disamakan dengan konsep sekuleraisme. Sekulerisme, kata Abdulgani, adalah terma yang berkaitan dengan teori pemerintahan yang berhadapan dengan teori pemerintahan teokratis. Itulah sebabnya, menurut Abdulgani bahwa Natsir dan ZA Ahmad, yang menyokong pendapat Natsir, terjebak dalam kekacauan semantik. “ Dan sulit sekali,” lanjut Abdulgani,” untuk tanpa alasan begitu saja dimasukkan ke dalam bidang filsafat, seperti materialisme atau ateisme. Dalam hal ini Abdulgani tampaknya gagal melihat bahwa materialisme dan ateisme hanyalah manifestasi belaka dari pandangan sekuler dalam bentuknya yang ekstrem. Seterusnya, untuk mempertahankan pandangan yang mengatakan bahwa Islam adalah salah satu sumber Pancasila masih merupakan sesuatu yang harus dikaji dengan jujur dan obyektif. Bagi Abdulgani sendiri, hal ini mungkin benar karena ia dibesarkan dalam 18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda lingkungan santri di Surabaya. Karena itu bilamana konsepnya tentang Tuhan dibentuk oleh Islam, cukup logis. Tetapi bagi kebanyakan pembela Pancasila yang lain, prinsip percaya kepada Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan agama wahyui manapun. Soedjatmoko (sosialis) dalam pidatonya mengamati bahwa dalam Majelis Konstuante, mereka yang percaya kepada Tuhan menjadi dua kelompok. (1) kelompok yang percaya kepada Tuhan tetapi tanpa wahyu. (2) kelompok yang percaya kepada semua agama wahyu. Pembicara mengatakan bahwa perbedaan pendapat tentang issu ini tidak dapat diperdebatkan lagi. Sebagaimana telah disebutkan dimuka, bagi Soekarno sebagai penggali Pancasila, konsep tentang Tuhan lebih bercorak sosiologis. Bila analisa kita hubungkan dengan ini,maka teori Kahin yang diambil oleh Abdulgani – bahwa Islam adalah salah satu sumber Pancasila - hanyalah dapat diterima oleh sebagian anggota majelis, sekalipun menurut sensus sebagian besar anggotanya adalah muslim. Tetapi bagi mereka, agama belum tentu mempunyai kaitan dengan nilai-nilai praktis dalam kehidupan mereka. Inilah yang dimaksud Natsir dengan sekularaisme, karena teori sekuler tentang pemerintahan hanyalah konsekuensi logis belaka dari suatu pandangan dunia sekuler. Menurut pandangan Natsir, sekularisme sebagai filsafat hidup adalah ibarat pohon, maka materialisme historis, ateisme dan komunisme adalah cabang-cabang nya. Inilah jawaban yang diberikannya terhadap Abdulgani yang telah menuduhnya sebagai terjebak dalam kekacauan semantik. Sekarang ikuti pula penjelasan tentang Pancasila dari Arnold Mononutu (PNI) Berlainan secara mendasar dari apa yang diberikan oleh Takdir Alisjabana dan Roeslan Abdulgani, Mononutu menganggap bahwa Pancasila sebagai pancaran nilai-nilai agama Kristen. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa baginya merupakan tiang utama dari sumber sila-sila yang lain dalam penglihatan Bibel. Dalam usahanya untuk mewarnai Pancasila dengan jaran Kristen, Mononutu berkata: “ …oleh sebab itu Pancasila, bukan suatu perumusan belaka, bukan suatu konmpilasi beberapa prisipila suatu pandangan hidup, akan tetapi Pancasila adalah suatu bentuk filsafat yang logis, bersifat religius-monistis, yang dapat kami terima sebagai orang Krsiten untuk dijadikan Dasar Negara Republik Indonesia. “ Dikatakan seterusnya: “… yang paling penting ialah, bahwa Pancasila adalah titik pertemuan dari segala golongan yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, apa pun juga Nabi golongan ini masing-masing. “ Mononutu tegas-tegas mengatakan bahwa dalam konsitusi Indonesia tidak ada tempat sama sekali bagi pasal-pasal yang bersifat sekuleristis Sebagai seorang Kristen, Mononutu menentang dengan keras dasar Islam bagi negara Indonesia. Menurut pendapatnya, ini akan mengakibatkan terjadinya penjajahan spiritual bagi kelompok minoritas. Memang dapat dipahami, sebagai seorang Kristen, Mononutu mempunyai hak untuk menolak Islam sebagai dasar negara. Tetapi tafsirannya tentang Pancasila dari sudut pandang Kristen teklah semakin mengundang kecurigaan dari wakilwakil Islam. Di mata wakil-wakil Islam, ini berarti bahwa Pancasila terbuka bagi berbagai penafsiran. Dengan kata lain, warna Pancasila sepenuhnya bersifat relatif, tergantung pada filsafat hidup seseorang. Bila memang ini kasusnya, Natsir akan mengatakan.” Inilah satu tragik yang dihadapi oleh Pancasila yang sekuler (la-diniyah) dan netral. Sebelumnya Ntasir mengatakan: “ Kalau ia memilih salah satu warna, salah 19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda satu ideologi ia akan bercorak m ia tak akan netral lagi, rasion d’etre-nya sebagai gemeene deler sebagai hidupnya tak ada lagi, ia bukan Pancasila lagi. Perdebatan tentang dasar ideologi negara dalam Majelis Konsituante berlangsung sampai rapatnya yang terakhir pada tanggal 2 Juni 1959, tanpa suatu keputusan. Dengan demikian pembuatan suatu Undang-Undang Dasar Permanen menjadi terbengkalai. Pihak pemerintah membaca situasi ini sebagai suatu kemacetan konsitusional yang serius, maka pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno dengan sokongan penuh dari pihak militer mengeluarkan dekrit untuk kembali kepada UUD 1945 dan sekaligus membubarkan Majelis Konsituante yang dipilih rakyat itu. Situasi yang tidak seronok ini telah mengguncangkan umat Islam, baik secara politik maupun secara psikologis. Di bawah payung UUD 1945, Soekarno telah kembali menggegam kendali pimpinan politik nasional dengan kekuasaan yang hampir –hampir tak terbatas. Di dalam konsideran Dekrit 5 Juli 1959 disebutkan.” …bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian-kesatuan dengan konsitusi tersebnut.” Tercantumnya kondiderasi sangat penting ini jelas merupakan suatu kompromi politik lagi antara pendukung dasar Pancasila dan pendukung dasar Islam. Menurut pertimbangan kita, bilamana konsideransi itu mempunyai makna secara konsitusional, dan memang seharusnya demikian, maka, sekalipun hanya secara implisit, namun gagasan untuk melaksanakan syari”ah bagi pemeluk agama Islam tidaklah dimatikan. Inilah barangkali tafsiran yang akurat dan adil terhadap kaitan Dekrit 5 Juli dengan Piagam Jakarta. Penafsiran yang lain dari ini, di samping tidak punya makna, juga bersifat ahistoris.(Maarif, 1985: 144– 161) Menurut Yamin, yang secara politis ikut terlibat pada masa itu, dokumen ini merupakan “ bahan berharga dan bersejarah “ walaupun “ tidak menjadi bagian intisari yang mutlak essentieel daripada konsitusi.(Simandjuntak,1994: 250) Pancasila dan Dunia Baru “Berbicara di hadapan Anda semua, saya bergetar.” ujar Presiden Soekarno dari podium Sidang Umum PBB tanggal 30 September 1960 di markas besar New York. Kalimat itu diucap kan Presiden Soekarno di luar teks pidatonya yang monumental, To Build the Wolrd A New (Membangun Dunia Baru), yang relevansinya terasa sampai sekarang Jauh sebelum kearifan konvensional Tata Ekonomi Internasional Baru dirumuskan pada tahun 1974 oleh Majelis Umum PBB, dia telah mempersoalkan struktur sistem internasional.Tanpa secara terbuka melanggar prinsip nonblok, Presiden Soekarno berusaha mengalihkan kesimbangan perhatian umum dan ancaman terhadap perdamaian dunia yang ditimbulkan dari ancaman terhadap perdamaian dunia yang ditimbulkan oleh antagonisme yang berakar di antara negara-negara besar kearah dugaan sumber ketegangan internasional yang lebih mengakar –mendalam. Presiden Soekarno berpendapat:
Imperieliasme dan kolonialisme dan berlanjutnya kekuatan yang memecah bangsabangsa – Saya tekankan kata-kata itu – adalah. akar hampir semua kejahatan inter nasional dan ancaman kita ini Selama kejahatan-kejahatan yang dibenci pada masa

20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda
lalu itu belum berakhir, tak akan ada ketenangan dan perdamaian di seluruh dunia.

Dalam pidato ini, Soekarno mengeaskan bahwa toleransi Indonesia atas Irian Barat hampir habis batasnya dan bahwa kegagalan PBB dilukiskan sebagai produk sistem Barat, yang telah melahirkan imperialisme. Untuk menyembuhkan, dia menganjurkan pencatuman Pancasila dalam Piagam PBB dan bahwa markas besar PBB hendaknya dipindahkan dari New York ke suatu tempat di Asia atau Afrika atau di Genewa. Pidato ini menandai suatu tawaran untuk memimpin apa yang disebutnya “ bangsabangsa yang baru bangkit “ yang dia lukiskan sebagai melepaskan diri dari masa lalu dan Membangun Dunia Baru yang merupakan judul pidatonya. Uraian yang lebih terinci mengenai wawasan internasional Soekarno disampaikan pada konperensi pertama negara-negara nonblok yang diselenggarakan di Beograd, Yugoslavia, pada bulan September 1961. Di sana Soekarno menguraikan kritik yang tajam terhadap struktur sistem internasional. Di samping itu, dia malah menantang doktrin ortodoks gerakan nonblok itu sendiri, yang memandang nonblok sebagai jawaban yang tepat terhadap persaingan perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. saingan ini dipandang sebagai ancaman utama terhadap perdamaian dunia, mengingat akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perlombaan nuklir. Soekarno menempatkan dirinya bertentangan dengan penafsiran patologi sistemm internasional. Dia menjelaskan.
Pendapat dunia yang ada dewasa ini membuat kita percaya bahwa sumber ketegang an dan perselisihan internasional yang sesungguhnya ialah konflik ideologi antara negara-negara adikuasa.Saya kira hal itu tidak benar. Ada konflik yang menembus lebih dalam raga manusia yaitu konflik antara kekuatan yang baru bangkit bagi ke merdekaan dan keadilan dan kekuatan dominan yang lama, yang satu mendorong kan kepalanya tanpa belas kasihan melalui lapisan bumi yang telah memberikannya darah kehidupan, sedangkan yang lain berjuang tanpa lelah untuk mempertahankan semua yang ia dapat coba untuk menahan jalannya sejarah.

Pandangan konvensional nonblok selama ini mendasarkan diri pada asumsi bahwa negara-negara pascakolonial, yang bertindak sebagai kekuatan ketiga, tak hanya akan menghindari lilitan gurita perang dingin tetapi juga berperan sebagai sarana bagi konsoliasi dan mediasi yang mampu meredakan ketegangan internasional. Dalam pikiran Soekarno, tak tersedia ruang bagi kekuatan ketiga seperti itu karena sistim internasional dalam penafsirannya merupakan struktur dua pihak yang menggambarkan suatu konflik endemic antara keadilan dan ketidakadilan tanpa adanya kemungkinan untuk hidup berdampingan. Pandangan Soekarno menjadi lebih jelas dalam pidato tahunannya memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1963. Soekarno menggambarkan dunia itu sebagai terbagi antara kekeutan-kekuatan baru yang sedang bangkit (New Emerging Forces) dan kekuatan-kekuatan lama yang telah mapan (Old Established Forces). Yang pertama dilukiskan sebagai terdiri atas “ bangsa –bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin, negara-negara sosialis, dan kelompok-kelompok progresif di negara-negara kapitalis.

21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Dalam mengedepankan suatu pandangan revisionis mengenai masyarakat internasional Soekarno melukiskan Indonesia sebagai anggota kelompok kekuatan progresif dinamis yang militant yang ditugasi oleh sejarah untuk melawan dan mengacaukan kekuatan penindasan dan eksploitasi yang reaksioner. Penyelenggaraan Games of New Emerging Forces (CANEFO) sebagai bukti keinginan mewujudkan impiannya.(Leifer, 1989: 84 – 86) Mengenai Pidato Membangun Dunia Baru, sejarah versi Orde Baru menjelaskan bahwa kesempatan itu digunakan Indonesia seakan-akan “menjual” konsepsinya sebagai solusi berbagai persoalan internasional dewasa itu. Posisi kepeloporan Indonesia seharusnya ditingkatkan, terutama di bidang ekonomi. Lagi pula, Indonesia masih harus mengatasi Persoalan-persoalan yang timbul. Mampu atau tidaknya mengatasi kesulitan-kesulitan dalam negeri inilah yang menentukan apakah suara Indonesia didengar atau tidak oleh dunia internasional. (Notosusanto, 1984: 144) Pancasila dan Manipol Dalam pidato Penemuan Kembali Revolusi Kita pada peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1959, Presiden Soekarno menguraikan ideology demokrasi terpimpin, yang beberapa bulan kemudian dinamakan Manifesto Politik Repiblik Indonesia. Bersamaan dengan itu Soekarno mengesahkan sistimatikanya yang disusun oleh Dewan Pertimbangan Agung. Maka lahirnya semacam katekiasasi mengenai dasar, tujuan dan kewajiban revolusi Indonesia, kekuatan-kekuatan sosial revolusi Indonesia, watak, massa depan dan musuh-musuhnya, serta program umumnya yang meliputi bidang politik, ekonomi, sosial, mental budaya dan keamanan. Dalam pidatopidatonya di awal tahun 1960, Soekarno selalu mengungkapkan bahwa revolusi Indonesia mengandung lima gagasan penting. (1) Undang-undang Dasar 1945; (2) Sosialisme ala Indonesia; (3) Demokrasi Terpimpin; (4) Ekonomi Terpimpin dan (5) Kepribadian Indonesia. Dengan mengambil huruf pertama masing-masing gagasan itu, maka muncullah singkatan USDEK USDEK. “ Manifesto Politik Republik Indonesia “ diangkat “ Manipol “, dan ajaran baru itu dikenal dengan nama “ Manipol USDEK, yang kemudian dinyatakan sebagai pelaksaan Pancasila. Manipol USDEK benar-benar memiliki daya pikat bagi banyak kalangan masyarakat politik. Masyarakat politik, yang terutama didominasi oleh pegawai negeri, sudah lama mendukung apa yang selalu ditekankan persiden mengenai kegotongrongan, menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan dan kemungkinan mencapai mufakat melalui musyawarah yang dilakukan dengan penuh kesabaran. Ada dua sebab mengenai hal ini. Pertama, keselarasan dan ketiakawanan merupakan nilainilai yang dijunjung tinggi oleh kebanyakan masyarakat-masyarakat Indonesia. Dan kedua, bangsa Indonesia benar-benar menyadari betapa akibat keterpecahbelahan mereka dalam tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, bnanyak yang tertarik kepada gagasan bahwa apa yang diperlukan Indonesia dewasa itu adalah orang-orang yang berpikir benar., berjiwa patriot sejati. “ Kembali kepada kepribadian nasional kita sendiri “ menarik banyak orang yang ingin melepaskan diri dari tantangan dunia modern. Selain juga bagi 22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mereka yang ingin memberikan kepercayaannya pada kepemimpinan politik saat itu tetapi menyadari modernisasi masyarakat ketimbang India dan Malayisa. Bagi anggota beberapa komunitas Indonesia, terutama bagi orang-orang Jawa, mereka menemukan makna yang sesungguhnya dalam pelbagai skema rumit yang disampaikan Presiden Soekarno itu ketika mengupas panjang lebar Manipol-USDEK, yang menjelaskan arti dan tugas-tugas khusus tahap sejarah sekarang ini. Barangkali daya tarik terpenting Manipol-USDEK justru terletak pada kenyataa bahwa ia menjanjikan pegangan. Yang pokok ialah bahwa presiden menawarkan pengertian tentang apa yang hendak dituju. Nilai-nilai dan pola-pola kognitif berubah terus dan saling berbenturan sehingga timbul keinginan yang kuat untuk mencari perumusan, sehingga timbul keinginan yang kuat untuk mencari perumusan dogmatis dan skematis mengenai apa yang baik dalam politik. Satu tanggapan umum terhadap Manipol-USDEK ialah bahwa “ ia boleh jadi bukan ideologi yang sangat baik atau lengkap, tetapi yang pasti kita membutuhkan sebuah ideologi.” Sebenarnya hanya di sebagian masyarakat politik saja Manipol-USDEK diterima sepenuh hati, sedangkan sebagian lain menaruh curiga. Manipol –USDEK itu sendiri tidaklah begitu jelas. Selain itu, bukan pula suatu upaya mensitesakan semua pola penting dari orientasi politik yang ada di Indonesia. Dapat dipastikan, Manipol USDEK belum mampu mengatasi besar besar orientasi politik kutub aristokrasi Jawa dan kutub kewiraswastaan Islam. Bagi kalangan kewiraswataan Islam yang terutama berada dli luar Jawa, rumusan baru itu terasa asing. Manipol USDEK merupakan pembenaran utama dalam upaya pengendalian pikiran. Oleh karena ittu, ia diperkenalkan di segala tingkat pendidikan dan pemerintahan dan pers diharuskan mendukungnya. Beberapa redaktur yang pro PSI dan Masyumi menolak berbuat begitu, dan surat kabar mereka dilarang terbit. Dalam lingkungan universitas, Manipol –USDEK, disambut dengan sikap permusuhan, sinisme, dan acuh tak acuh. Ideologi itu menarik bagi sebagian mahasiswa yang idealis, karena memberi dorongan baru bagi keterlibatan universitas dalam masalah-masalah masyakarat. Selain itu, karena mengutamakan masa pendidikan yang lebih pendek dan berorientasi kepada praktik dan memungkinkan para mahasiswa menghentikan kuliahnya sementara waktu guna menjalankan tugas pemerintah di daerah yang terpencil. Pada umumnya banyak warga universitas, baik dosen maupun mahasiswa, menyetujui nilai-nilai yang diungkapkan dalam Manipol –USDEK. Namun, banyak pula lainnya merasa diasingkan oleh nilai-nilai itu. Kecaman Presiden Soekarno terhadap “intelektualisme “ Hollands denken dan textbook thingking itu dianggapnya sebagai serangan kepada kebebasan akademis. Lagi pula kebanyakan warga masyarakat akademis menilai ideologi itu sebagai sistim intelektual, dan sebagian besar mereka melihatnya dengan sebelah mata. Program indoktrinasi yang yang dimantapkan oleh Presiden Soekarno ditandingi oleh program yang serupa yang diusahakan oleh Angkatan Darat. Para pemimpin militer secara konsisten mendukung kata-kata Manipol USDEK dan banyak dari gagasannya. Sebagian dari gagasan ini, terutama konsep pegangan nasional telah dipegang teguh olah baik atasan maupun bawahannya. (Ideologi Manipol-USDEK sering kali membantu 23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mereka untuk membenarkan kekuasaannya yang baru atau hak-hak istimewanya, baik di kalangan sendiri maupun di kalangan lain, tetapi hal itu tidak berarti mereka itu munafik). Akan tetapi, apabila berbicara di depan anggota sendiri, para pemimpin Angkatan Darat biasanya memberikan penafsirannya sendiri terhadap Manipol-USDEK sebagai ideologi yang selain antilibaral juga antikomunis. Sejak tahun 1961, Angkatan Darat menyelenggarakan program indoktrinasinya sendiri dan bagian dari skema latihan kemiliteran. Dengan demikian, maka banyak mahasiswa, sarjana, dan pegawai negeri telah menerima ideologi negara dalam versi pimpinan Angkatan Darat, pluralisme telah merangkak dalam usahanya menanamkan sebuah doktrin tunggal. (Feith, 1995: 79 – 86) Jiwa Pancasila adalah jiwa Nasakom, demikian kata Soekarno. Oleh karena itu setiap Pancasilais haruslah menjadi seorang Nasakomis. Itu berarti, bahwa Naskom tidak. Itu berarti, bahwa Nasakom tidaklah sekedar kerjasama antara tiga kekuatan yang terpisah, tetapi merupakan sintese dari tiga ideologi menjadi satu jiwa, jiwa Nasakom. (Darmaputera, 1987: 113) Makna Nasakom yang sesungguhnya tidak pernah dijelaskan secara terang. Pernah PKI menganggap bahwa Nasakom juga berarti penciptaaan keseimbangan antara nasionalisme, agama dan komunisme pada semua tingkat ekskutif pemerintahan dan dewan perwakilan, sehingga juga pimpinan komandan tertinggi militer ketiga unsur ini juga diwakili. Dalam pengertian ini PKI menuntut penasokoman Angkatan Darat. Angkatan Darat menolak dengan alasan bahwa istilah itu hanya berarti kerja sama dengan semangatnya yang umum, yang memberitahukan jalannya urusan negara. (Legge, 1985: 400- 401) Lagi pula di mata TNI-AD, PKI sebagai natural enemynya m bukan saja karena PKI adalah tidak beragama, dan dibawah pengaruh Komintern, tetapi juga karena PKI satu-satunya partai terkuat yang mengancam kepentingan politik TNI-AD.(Muhaimin, 1982: 166 – 182) Dengan menampilkan gagasan Nasakom, tujuan Soekarno adalah untuk mengontrol kekuatan-kekuatan yang saling bersaing). Tidak saja untuk mempersatuakan lewat dirinya.” Saya Nasakom itu.” Jawabnya, demikian pernah terbentuk berita ketika ia menolak tuntutan PKI untuk disertakan dalam Kabinet pada tahun 1963 (Legge, 1985: 400 – 401) . Pancasila dan Orde Barui Pada tanggal 16 Agustus 1967, di depan sidang DPR-GR, Jendral Soeharto sebagai Pejabat Presiden memberikan penegasan pokok tentang Orde Baru Orde Baru tidak lain adalan tatanan seluruh peri kehidupan rakyat, bangsa dan negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan kemurnian Pancasila dan UUD 1945.Mempertahankan, memurnikan wujud dan memurnikan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945, itulah fungsi dan tujuan Orde Barui. Pada kesempatan itu Jendral Soeharto mengemukakan pula pemikirannya bahwa Pancasila, yang merupakan keluhuran pandangan hidup bangsa itu, mencerminkan nilainmilai pokok pandangan hidup seluruh bangsa Indonesia, dan merupakan kepribadian Indonesia. Pancasila ini selanjutkan di jabarkan dalam Undang-Undang Dasar negara, UUD 1945 merupakan pencerminan Pancasila sebagai dasar negara. Pokok –pokok 24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pikiran tentang negara dan sistim pemerintahan jelas langsung bersumber dan merupakan pelaksanaan Pancasila. Pancasila dan UUD 1945 karena itu merupakan satu rangkaian. Beberapa peristiwa yang telah terjadi dilihat oleh Pejabat Presiden itu sebagai penyelewengan dari Pancasila. (1) Pancasila telah diselewengkan, dan kehilangan kemurniannya dengan dilahirkannya konsepsi nasakom, yang mengikutkan dan memasukkan komunisme ke dalam pelaksaaan Pancasila. Komunisme, yang didasarkan pada dialeketika –materialisme, jelas anti Tuhan, sedangkan Pancasila berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Agama diselewengkan untuk kepentingan politik.: (2) Sila Perikemanusian yang adil dan beradab ditinggalkan, hak-hak asasi manusia hampirjampir lenyap, sebab semuanya ditentukan oleh kemauan penguasa; (3) Sila Persatuan Indonesia dalam prakteknya luntur, karena ada aliran-aliran yang menudukkan diri kepada kepentingan dan ideologi lain; (4) Sila Kedaulatan Rakyat menjadi kabur, yang ada adalah kedaulatan pemimpin.dan (5). Sila Keadilan semakin kabur, sebab ada kekayaan dipakai untuk kepentingan pribadi dipakai untuk proyek-proyek mercu-suar yang merusak ekonomi rakyat dannegara. Sistim eekonomi terpimpin dalam praktek menjadi sistim lisensi yang hanya menguntungkan segelintir orang yang dekat dengan penguasa.Oleh karena itu, Jendral Soeharto menganggap mengenai perlunya Panca Tertib, yang meiputi tertib politik, pembinaan tertib ekonomi, pembinaan tertib sosial, tertib hukum dan tertib Hankam. Suasana umum tetap diwarnai dengan pikiran-pikiran dasar Orde Baru, yaitu Pelaksanaan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. Pemikiran itu mengalami perkembangan tahap demi tahap, dalam mana status Pancasila di bidang hukum, kenegaraan dan ideologi secara terus-menerus dipertegas. Tap XX/MPRS/1966 mempertegas status Pancasila sebagai sumber hukum negara Republik Indonesia. Tap IV /PMR.1973 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara menjelaskan hubungan antara Pancasila dan Pembangunan Nasional. Tap II /MPR /1978 mengajarkan bahwa Pancasila sebagai nilai kebudayaan bangsa dihayati oleh seluruh warga negara Republik Indonesia dengan ini status Pancasila sebagau ideologi nasional menjadi jelas.Tahun 1978 melalui Tap II.MPR /1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (Eka Prasetia Pancakarsa). MPR menegaskan bahwa Pancasila sebagai nilai kebvudayaan bangsa harus dihayati oleh semua warga negara Indonesia. Dengan cara Pancasila sebagai ideologi kebangsaan dijabartkan melalaui penataran-penataran dan Pendidikan Moral Pancasila di sekolah-sekolah. Selanjutnya pada tahun 1983 melalui Tap II /MPR/1983 tentang GBHN ditegaskan dua hal utama, yaitu: (1) Partai Politik dan Golongan Karya harus benar-benar mernjadi kekuatan sosial-politik yang hanya bersaskan Pancasila sebagai satu-satunya asas; dan (2) pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. Perintah GBHN ini telah terwujud di dalam dua buah undang-undang, yaitu UU No 3 Tahun 1985 tentang Partai Polityik dan Golongan Karya, dan UU No 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Di dalam kedua UU itu terdapat ketentuan mengenai asas yang menetapkan bahwa semua organisasi kekuatan sosial politik (PPP. Golkar dan PDI) hanya memakai Pancasila sebagai satiu-satunya asas dan semua asas sebagai ciriciri golongan yang dipakai sebelumnya tidak dibenarkan untuk dipergunakan lagi. Ketentuan tentang kedudukan UUD 1045 tidak boleh diganggu gugat lagi, meskipun pasal 37 UUD 1945 membenarkan untuk melakukan perubahan UUD 1845 telah 25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda ditetapkan UU No 5 Tahun 1985 tentang Referendum. Di dalam UU ini dikatakan bahwa apabila ada keinginan dari anggota golongan masyarakat bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan terhadap UUD 1945, maka pendapat rakyat harus dipertanyakan terlebih dahulu. Semua ini menunjukkan kemauan dan tekad yang sungguh dari pemerintah untuk memenatapkan Pancasila dan UUD 1945. (Kasenda, 2005: 64) Di masa rezim Orde Baru, Pancasila telah dijadikan ideologi atas kekuasaannya. Hal ini berhubungan dengan janji Orde Baru untuk mengoreksi kesalahan-kesalahn ideologis,politik dan ekonomi Orde Lama. Pancasila telah digunakan sebagai wahana untuk membatasi perilaku politik tertentu yang dinilai bertentangan dengannya.Selama pemerintahan Soeharto, Pancasila telah seringkali dipakai sebagai alat untuk menarik garis batas yang diizinkan dalam wacana dan tingkah laku politik masyarakat. Tetapi, Pancasila juga pada dasarnya mewakili cita-cita yang luhur untuk membanmgun bangsa: toleransi, penghargaaan terhadap perbedaan, keadilan sosial dan ekonomi, serta sistem politik yang demokratis sesuai dengan kultur politik asli Indonesia(Ramage, 1994: 123). Sumber Pancasila Perjalanan Orde Baru bukanlah suatu perjalanan sejarah yang tanpa permasalahan. Dalam konteks pemikiran pembaruan mendasar dan menyeluruh mengenai pelaksaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.Tema persoalan pertama adalah berkenan dengan Pancasila itu sendiri. Pada tahap awalnya, pengertian mengenai pelaksaaan Pancsaila secara murni dan konsekuen terbatas kepada pernolakan terhadap ajaran Marxisme-Leninisme dan Naskom. Permasalahan sudah timbul ketika sampai kepada penentuan apakah seluruh isi dari Manipol _USDEK itu harus ditolak. Persaoalan ini merupakan bagian dari persoalan politik yang dikemukakan terutama oleh kalangan yang mempertahankan kedudukan Presiden Soekarno. Persoalan iitu berkembang menjadi kritis, karena akhirnya haruslah ditentukan batasan mengenai apakah arti Pancasila murni. Dengan perkataan lain di sini mulai timbul masalah sumber. Persoalan mengenai sumber ini menjadi penting di dalam perkembangan pemikran tentang Pancasila disebabkan karena dari sumber itulah dapat ditentukan “eksistensi “esensi “ maupun “ operasionalisasi “ dari Pancasila. Ada dua pendapat sekurang-kurangnya yang timbul. Pendapat pertama mengemukakan bahwa sumber Pancasila secara murni dan konsekuen tidak dapat dipisahkan dari diri Presiden Soekarno sebagai penggali tersebut. Dalam rangka ini dikemukakan pula bahwa tanggal 1 Juni 1945 telah menjadi tanggal hari lahirnya Pancasila. Pandangan kedua, membantah pandangan ini dengan mengemukakan bahwa Presiden Soekarno bukanlah penggali Pancasila, sebab pemikiran mengenai Pancasila itu telah dikemuakan oleh Muh. Yamin (29 Mei 1945) dan Supomo (30 Mei 1945). Dalam pidato tanggal 1 Juni 1945 Presiden Soekarno sendiri mengatakan bahwa Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia, maka dari itu sumber Pancasila tidak terletak pada diri Presiden Soekarno melainkan di dalam kepribadian dan kebudayaan Indonesia. Berkaitan dengan pandangan kedua ini ada pula dikemukakan pendapat bahwa Presiden Soekarno sendiri tidak memiliki konsistensi pemikiran mengenai Pancasila sebab Presiden Soekarno dengan mudah sekali 26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mengembangkan kompromi-kompromi, seteri yang terungkap dari Piagam Jakarta, dan di dalam Nasakom. Tema rebvolusi serta dengan pemikiran-pemikiran di dalam Manipol– USDEK serta Nasakom mengaburkan status Pancasila. Bahkan sejak awalnya Presiden Soekarno sendiri berbicara mengenai pemerasan Pancasila ke dalam Trisila ataupun Ekasila, di mana tidak ada lagi ada Pancasila itu. Pemikiran mengenai Marhaenisme yang juga mempunyai kaitan dengan Presiden Soekarno menunjukkan adanya pengaruh konsep Mrxis. Dalam rangka itu maka terdapat pemikiran untuk mengadakan peninjauan terhadap ajaran-ajaran Presiden Sorekarno. Masalah sumber menjadi lebih majemuk lagi karena sementara orang juga mulai mempertanyakan kedudukan Piagam Jakarta sebagai sumber. Hal ini dihubungkan dengan pendapat yang menekankan urgensi agama di dalam pembangunan Orde Baru sebagai landasan perlawanan terhadap Marxisme-Leninisme. Reaksi terhadap PKI yang dipandang sebagai penganut atheisme, mengakibatkan timbulnya usaha menekankan peranan agama. Menurut anggapan ini, kesalahan komunisme teritama adalah karena ideologi ini bersifat atheistic. Oleh sebab itu sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah amat penting menghadapi PKI dan Komunisme. Di samping itu sila ini adalah sila yang menentukan sila-sila lainnya. Adapun menurut pandangan tersebut pelaksanaan sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu tidak dapat lain kecuali di dalam agama. Atas dasar itulah maka dikemukakan agar pelaksanaan Pancasila secara murni dan konsekuen itu didasarkan dan diketemukan oleh agama. Oleh karena itu maka kata-kata “ dengan kewajiban menjalankan syari”at Islam bahi pemeluk-pemeluknya: diminta untuk diberlakukan. Pandangan ini mengatakan bahwa Pancasila dan UUD 1945 tidak dapat dipisahkan dari Piagam Jakarta. Piagam Jakarta adalah sumber Pancasila. Pemikiran ini diperkuat lagi oleh kenyataan bahwa Dekrit 5 Juli 1959 menyebutkan kedudukan Piagam Jakarta tersebut dan dekrit itu merupakan landasan berlakunya UUD 1945 itu sendiri. Terhadap pandangan ini sebaliknya ada diajukan pendapat-pendapat lain. Ada yang mengatakan bahwa di dalam dekrit iitu yang penting adalah diktumnya dan bukan konsiderannya. Pendapat lain lagi mengatakan bahwa pada waktu Piagam Jakarta dirumuskan, negara Indonesia belum ada, oleh karena itu Piagam Jakarta merupakan dokumen histories semata-mata dan bukan dokumen hukum. Di samping itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa negara tidak dapat mewajibkan pelaksanaan syari”at agama apa pun, sebab fungsinya berbeda-beda. NKRI adalah insitusi kebangsaan dan bangsa Indonesia terdiri dari warga negara yang mengikuti bermacam-macam agama. Agama merupakan masalah pribadi yang asasi. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak identik dengan agama. Ada pendapat lain vahwa keinginan memberi kedudukan hukum kepada Piagam Jakarta itu berarti mengubah UUD dan mengubah dasar negara, terutama karena akan mengubvah Pembukaan UUD 1945, padahal Pembukaan itu tidak dapat diubah oleh siapa pun secara hukum. Berubahnya Pembukaan berarti hilangnya negara Proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam pada itu, oleh karena berlakuknya UUD 1945 itu masih didasarkan atas Dekrit 5 Juli 1959, yang ternyata masih menjadi sumber pertikaian ideologis, ada dikemuakakan pendapat agar MPR mengatakan sendiri berlakunya UUD 1945 itu sehingga tidak lagi terkait dengan Dekrit Presiden Soekarnmo terbut.

27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Dengan latar belakang perdebatan mengenai sumber Pancasila ini, dikeluarkan Instruksi Presiden No. 12 Tahun 1968, mengenai tata urutan perumusan Pancasila.Disebutkan bahwa sumber Pancasila yang mempunyai kekuatan hukum adalah Pembukaan UUD 1945, dan bukan pidato Muh, Yamin, Supomo, Soekarno ataupun di dalam Paigam Jakarta. Ditegaskan pula bahwa Pancasila yang berkekuatan hukum juga tidak terdapat di dalam Preambule Konsitusi RI atau Mukadimah UUDS 1950. Penjelasan ini penting artinya karena nama Pancasila sendiri memang tidak terdapat di dalam UUD 1945. Derngan demikian dibakukannya: sumber Pancasila, rumus Pancasila dan nama Pancasila yang mempunyai kekuatan hukum (Pranarka, 1985: 220 – 223). Lahirnya Pancasila dalam perdebatan Masyarakat Indonesia pernah dibikin heboh oleh artikel yang berjudul “ Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara “ di Sinar Harapan, 3 Agustus 1981. Artikel ini ditulis Nugroho Notosusanto yang ketika itu sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI. Dalam artikelnya, Nugroho Notosusanto, menyatakan Soekarno bukan orang pertama yang merumuskan lima prinsip Pancasila. Menurut Nugroho Notosusanto, perumus utama Pancasila adalah Muhammad Yamin, Supomo, baru kemudian Soekarno. Peran Soekarno, hanyalah dalam hal memunculkan istilah Pancasila. Bertolak dari premis ini, Nugroho Notosusanto, juga menggugat keabsahan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Menariknya untuk dicatat, premis yang merupakan reevaluasi terhadap sejarah Pancasila ini pararel dengan perubahan kebijakan rezim Orde Baru. Soeharto kemudian menghapus peringatan hari lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945, dan melarang semua bentuk peringatan pada tanggal itu. Meskipun menimbulkan keberatan dari berbagai pihak, rezim Orde Baru secara terang-terangan justru mengabsahkan premis Nugroho Notosusanto. Tahun 1982, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan artikel Nugroho Notosusanto itu menjadi booklet 69 halaman yang dijadikan bacaan wajib bagi para guru pengajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Ada hal yang kurang relevan dalam tulisan Nugroho Notosusanto. Permusan Pancasila adalah proses sejarah yang terjadi tahun 1945, namun Nugroho Notosusanto menghubung-hubungankannya dengan apa yang terjadi pada decade 1960-an Nugroho Notosusanto menegaskan, generasi muda perlu diberi tahu pengalaman sejarah Orde Lama di mana ideologi Marxisme –Leninisme berkembang, agar mereka tiodak mengulangi salah langkah pada masa itu, semata-mata hanya karena tidak tahu. Nugroho Notosusanto juga melihat pencabutan kekuasaan pemerintahan dari Soekarno oleh MPRS tahun 1967 adalah “ faktor yang menjulang tinggi “ di dalam persoalan pengamanan Pancasila dari ancaman ideologi Marxisme-Lenisnisme sebagaimana yang dimaksud oleh Ketetapan MPRS No XXV/MPRS/1966. Selanjutnya, menurut Nugroho Notosusanto, penghormatan terhadap jasa-jasa Soekarno seharusnya tidak membutakan mata masyarakat terhadap “ kenyataan bahwa selama zaman Orde Lama itu, Bung Karno memberikan keleluasaan bergerak kepada PKI dan 28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda bahkan mendukung partai itu dengan menyikirkan kekuatan-kekuatan Pancasila yang dapat mengimbangi kaum komunis …” Perlu dipertanyakan apa relevansi ditampilkannya “tafsir “ sejarah itu. Sebab Nugroho Notosusanto tidak sedang berbicara tentang ancaman komunisme terjhadap Pancasila, atau “ kesaktian “ Pancasila dalam menghadapi berbagai rongrongan. Proses perumusan Pancasila notabene berhenti pada 18 Agustus 1945 kektika PPKI mengesahkan UUD 1945, dan tentu saja berbeda drengan “proses perjalanan Pancasila sebagai dasar negara”. Nugroho Notosusanto terlalu jauh masuk dalam pembahasan sejarah tentang sepak terjang politik Soekarno sehingga sedikit keluar dari konteks bahasan lahirnnya Pancasila. Di sisi lain, Nugroho Notosusanto juga menegaskan rumusan Pancasila 1 Juni 1945 rentan terhadap ancaman komunisme. Nugroho Notosusanto menunjukkan bagaimana tokoh PKI seperti DN Aidit dan Nyoto pernah menggunakan sila internasionalisme,salah satu sila dalam Pancasila rumusan 1 Juni, untuk mendukung ide-ide komunismenya. Sebuah kesimpulan yang simplistik. Legitimasi atas rumusan Pancasila 1 Juni datang dari berbagai pihak, dengan latar belakang dan alasan yang berbeda dengan yang diutarakan oleh tokoh PKI tadi. Dua minggu setelah artikel Nugroho Notosusanto itu dimuat, Lembaga Soekarno-Hatta mengumumkan “ Deklarasi Pancasila “ yang berisi penegasan bahwa tanggal 1 Juni 1945 merupakan hari lahirnya Pancasila. Deklarasi ini ditandatangani 17 tokoh masyarakat yang sebagian mempunyai latar belakang anti-komunis. Mereka di antaranya adalah Jusuf Hasyim (politisi terkemuka PPP), Usep Ranuwihardja (politisi senior PDI Letnan Jendral Purnawirawan HR Dharsono (mantan Sekretaris Jenderal ASEAN) dan Jerndral Purnawirawan Polisi Hoegeng Iman Slamet Santoso. Deklarasi ini ini dibacxakan di Monumen Soekarno – Hatta, Jalan Proklamasi Jakarta pada pukul 00,00,17 Agustus 1981. Sebuah pemandangan yang menarik. Sejumlah tohok dengan otoritas politik yang tinggi melakukan perlawanan simbolis terhadap seorang ahli sejarah yang baru saja menggugat sebuah versi sejarah. Kompetensi akademis di lawan secara politis. Dalam kacamata Karen Brooks, tindakan Nugroho Notosusanto di atas mendapat restu pemerintah, sebagai bagian dari usaha untuk menciptakan “keseimbangan “ perspektif tentang Soekarno. Peningkatan idealisasi terhadap Soekarno di kalangan loyalis Soekarno dan generasi muda, diimbangi dengan usaha-usaha untuk menegaskan makna penting Soekarno dalam konteks sejarah. Kebangkitan kekuatan-kekuatan nostaligia terhadap Soekarno dan semakin kuatnya mitos-mitos tentang Soekarno sekitar tahun 1978 cukup mengkwatirkan Orde Baru, sehingga Nugroho Notosusanto diinstruksikan untuk melakukan counter dengan menciptakan gambaran-gambaran yang negativf tentang Soekarno. Meskipun premis-premisnya sempat memicu kontroversi, Nugroho Notosusanto dipromosikan pemerintah menjadi Rektor UI tahun 1982. Setahun kemudian, Nugrtoho Notosusanto diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam jabatan yang terakhir ini, Nugroho Notosusanto pernah diinstruksikan Soeharto untuk merevisi 29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pelajaran sekolah dengan menekankan instabilitas politik di era kepemimpinan Soekarno tahun 1960-an. Berawal dari sinilah kemudian bermunculan kontruksi-kontruksi unfavourable tentang Soekarno dalam buku teks sejarah. Satu fakta yang sangat menarik diketemukan Barbara Leigh dalam soal-soal ujian untuk materi sejarah tingkat sekolah dasar. Dalam sosal-soal pilihan berganda itu, Soekarno ternyata banyak ditempatkan pada pilihan jawaban yang salah untuk pertanyaanpertanyaan seputar Pancasila, perjuangan melawan penjajah, dan penumpasan pemberontakan pasca-kemerdekaan. Sebaliknya.Barbara Leiigh tidak menemukan satu pun soal ujian yang menempatkan nama Soeharto dalam pilihan jawaban yang salah. Fakta ini menurut Barbara Leigh dapat berdampak buruk terhadap persepsi siswa terhadap peranan Soekarno maupun Soeharto dalam sejarah (Subdiyo, 2001 393 – 397) Penutup Secara faktual Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945, pidato mana diucapkan untuk memenuhi permintaan Ketua PPKI, Radjiman Wediodiningrat, membenatngkan pendapat tentang “ filosofische gronslag: dari Indonesia Merdeka. “ pandangan, fisalafat, pikiran juga sedalam-dalamnya, jiwa rakyat yang sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Begitulah maka menurut sifatnya pidato ini adalah suatu falsafah. Akan tetapi secara tematis, sebagai suatu falsafah, Pancasila selanjutnya menjadi pengertian yang kabur. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab penggali dan permus Pancasila itu sendiri memang tidak memberikan uraiian yang jelas mengenai isi tematis Pancasila sebagai satu falsafah. Pernah dikatakan bahwa sebelumnmya Pancasila sebagai isi jiwa bangsa Indonesia, tetapi pernah juga dikatakan bahwa Pancasila adalah “ hoogere optrekking Dari Manifesto Komunis dan Declaration of Independence. Sementara orang berkata bahwa Pancasila sebagai marxisme yang diterapkan di Indonesia. Ada kemudian yang menyebutkan Pancasila sebagai alat pemersatu belaka, sebagai ideologi, sebagai kumpulan dari lima sila-sila melulu. Sementara menegaskan bahwa Pancasila adalah ciptaan dan ajaran Soekarno, tetapi Soekarno sendiri berkata, bahwa Pancasila bukanlah pancaran isi jiwa bangsa Indonesia. Hal ini menyebabkan bahwa Pancasila menjadi multi tafsir, menumbuhkan interpretasi-intrepretasi yang quasi atau psudo –logis. Tentu saja didalam situasi demikian ini akhirnya harus ada tedensi mengarah pada landasan kriteriologi yang merupakan pedoman normatik, untuk menyelami dan merumuskan isi tematis Pancasila sebagai falsafah, yang tidak terjerumus lagi kedalam tafsir pseudo –logis ataupun quasi-logis. Dengan diterimanya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, sebagai sesuatu yang terpancar daripada Weltanschauung bangsa Indonesia, maka hal yang harus dibuktikan ialah: Apakah Pancasila benar-benar bisa disamakan dengan falsafah bangsa Indonesia, dari alam pikiran Indonesia. Dengan perkataan lain ini berarti bahwa: Alam Pikiran 30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Indonesia, Weltanschung Indonesia atau geistlichen hintergrund bangsa Indonesia merupakan pedoman normatif, atau landasan kriteriologi yang dikemuakan diatas. Memang sesungguhnya Soekarno sendiri mengatakan bahwa apa yang dirumuskannya didalam Pancasila itu adalah apa yang merupakan isi-jiwa bangsa Indonesia. Akan tetapi selanjutnya tidaklah dibutikan bahwa Pancasila adalah isi-jiwa bangsa Indonesia, cirak karakternya bangsa Indonesia, Apakah corak karakter bangsa Indonesia tadi, secara sistematis dan dengan argumentasi yang mestinya ada. Sehubungan dengan ini Drijarkara berbicara mengenai perlunya kita meneliti sejarah, masyarakat, watak dan jiwa manusia Indonesia. Jika kesemuanya telah diselidiki untuk menjawab pertanyaan: Bagaimanakah dasar yang sebaik-baiknya bagi negara kita, maka jawaban dapat dirumuskan dalam lima sila itu. Drijarkara yakin benar bahwa visi dari Presiden Soekarno adalah tepat sekali. Dan karena uraian-uraian, yang ditunjukkan Presiden Soekarno pernah ditulis panjang – lebar, maka disarankan pada para sarjana dalam lapangan yang bersangkutan untuk menegakkan pendapat tersebut dengan bukti-bukti, yang berdasarkan penyelidikan ilmiah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perumusan Pancasila dengan kelima intinya itu, bila diselami, sesunghuhnya membawa pola-pola alam pikiran Indonesia sebagaimana dikemukakan diatas itu. Didalam Pancasila itu kita melihat hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan sesamanya dan juga manusia dengan dunianya Di dalam rumusaan-rumusan Pancasila itu kita dapat menemukan aspek kekeluargaan, “ kesatuan dalam perbedaan, perbedaan dalam kesatuan, sintesa, harmoni, keseimbangan, kongkrit, realisme, sakral dan religius. Begitulah Pancasila bisa dilihat sebagai rumusan alam pikiran Indonesia yang percaya akan Tuhan yang menciptakan alam semesta, yang juga menciptakan manusia. Manusia diciptakan sebagai suatu kesatuan kemanusian, tetapi juga di dalam perbedan bangsabangsa. Manusia-manusia yang diciptakan Sang Pencipta di dunia ini dimaksudkan untuk mencapai kebahagian semua bersama-sama, hal mana harus juga dilaksanakan sedemikian sehingga memungkinkan manusia bersama-sama dapat mencapai kebahagian itu. Apa yang dirumuskan ini adalah rumusan didalam bentuk ikatan tematis dari sila-sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Peri Kemanusian, Persatuan Indonesia, Musyawarah /Mufakat dan Keadilan Sosial. (Pranarka, 1969: 69 -70) Apa pun mungkin kelemahannya dari sudut sistem filsafat (sebagaimana pernha dituduhkan) dan betapapun mungkin bisa tergelincirnya ideologi ini ke dalam proses vulgarisasi dan nilai ideal (seperti yang pernah disinyalir). Pancasila ternyata telah mampu memperlihatkan kemampuan integratif yang luar biasa. Bukan saja Pancasila memancarkan integrasi kebangsaan dan lapisan-lapisan sosial, tetapi juga ikatan integratif kesejarahan antara lampau, kini dan akan datang dan sesama umat manusia serta makhluk dengan Al-Khalik. Berhadapan dengan ideologi yang bersifat integratif, ideologi lain, apa pun juga sumber dan corak strtaeginya, telah dijadikan sebagai faktor disintegratif. Dalam logika situasi yang telah dibentuk, yaitu “ Indonesia sebagai negara 31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda berkembang:, maka unsur disintegratif menjadi suatu anathema yang tak bisa dibiarkan. Dan, pemegang “kendali “ ideologi yang integratif ini adalah pemerintah(Abdullah,1987: 40) Tetapi Pancasila adalah sebuah ideologi modern. Hal itu tidak karena ia diwujudkan dalam zaman modern, tetapi juga lebih-lebih lagi karena ia ditampilkan oleh seorang founding father dengan wawasan modern, dan dimaksudkan untuk memberi landasan filosofis bersama sebuah masyarakat plural yang modern, yaitu Masyarakat Indonesia. Sebagai produk pikiran modern. Pancasila adalah sebuah ideologi yang dinamis, tidak statis, dan memang harus dipandang demikian. Watak dinamis Pancasila itu membuatnya sebagai ideologi terbuka. Dalam hal perumusan formalnya, Pancasila tidak perlu lagi dipersoalkan. Demikian pula kedudukan konsitusionalnya sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara dan bermasyarakat dalam pluralitas Indonesia, juga merupakan final. Namun dari segi pengembangan prinsip-prinsipnya sehingga menjadi situasi aktual dan relevan bagi masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Pancasila tidak bisa lain kecuali mesti dipahami dan dipandang sebagai ideologi terbuka yang dinamis. Oleh karena itu tidak mungkin ia ia dibiarkan mendapat tafsiran sekali untuk selamalamanya. Pancasila juga tidak mengizinkan adanya badan tunggal yang memonopoli hak untuk menafsirkannya. (Madjid) Sebenarnya Indonesia adalah sebuah negara yang terlalu banyak meributkan masalah ideologi dibandingkan negara-negara lain. Para elite sangat memikirkan masalah ideologi sehingga mereka seringkali terbenam dalam polemik yang tak berkesudahan Hingga kni, sebagian elite politik masih cemas dengan munculnya kembali ideologi-ideologi “swasta “ yang (dianggap) berbahaya. Setelah dihancurkan komunisme, elite politik memandang ancaman yang paling berbahaya terhadap proses depolitisasi berasal dari para aktivis yang menghendaki hubungan resmi antara Islam dan negara. Beberapa tahun belakangan terlihat kembali adanya pertentangan-pertentangan ideologi, terutama pertikaian antara Islamisme dan nasionalisme. Kalangan nasionalis sekuler yang menganggap Pancasila sebagai dasar negara yang sudah final, cemas tatkala masalah-masalah dasar negara diungkit-ungkit kembali seperti upaya penerapan kembali Piagam Jakarta yang diusung sebagai komoditi oleh sejumlah kelompok Islam. Sebagian yang lain juga cemas melihat bangkitnya kembali primordialisme Islam. Sementara bagi kaum nasionalisme Islam politik. Sementara bagi sebagian kaum Islam Pncasila dianggap tdaik mampu mewadahi seluruh perjuangan dan menjadi spirit dalam kehidupan berbangsa dan mengklaim Islam sebagai ideologi universal yang melampui Pancasila. Konflik laten sungguh disayangkan jika sampai sekarang masih terjadi salah mengerti antara Islam sebagai agama dan Pancasila sebagai ideologi. Jika ditelisik, letak kesalahpahaman itu sejatunya lebih didominasi kepentingan politik ketimbang substansi Secara substansif, mestinya tidak perlu terjadi kesalahpahaman. Substansi keduanya jelas berbeda, Islam adalah agama dan paham kebangsaan adalah ideologi. Agama dapat menjadi ideologi, sementara ideologi tidak bisa berperan sebagai agama. Permainan politiklah yang mengeksploitasi perbedaan itu pun meruncing. Usaha-usaha untuk menduduk perkaranya secara jernih banyak dilakukan oleh, tapi semuanya tenggelam dari hiruk pikuk politik. Kubu nasionalis sekuler dan nasionalis Islam kerapkali mengambil posisi berseberangan. Bagi sebagian kaum nasionalis Islam, issu penerapan 32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Piagam Jakarta merupakan komoditas politik yang layah dijual dalam pemilu,minimal meraih simpati massa. Issu ini dikemas sedemikian rupa sehingga banyak masyarakat yang tertarik. Antunsiasme ini didukung dengan situasi krisis yang berkepanjangan, masyarakat hehilangan pegangan dan dan butuh jawaban kepastian. Dalam konteks ini, agama Islam yang dapat memberi jawaban. Di sisi lain, kondisi politik umat Islam sepanjang sejarah yang seringkali dipinggirkan oleh penguasa membuat mereka tidak mau lagi ditindas, ingin merebut kekuasaan dan masuk dalam struktur negara. Sementara bagi kaum nasionalis sekuler, kelompok nasionalis Islam merupakan saingan berat yang memiliki affiliasi primordial yang cukup kuat. Mereka menganggap Islamisme bertentangan dengan semangat kebangsaan, memandang memperjuangkan Islame sebagai sekretarian dan primordial anti kebangsaan. Isu ini terus bergulir hingga sekarang ini. Wahasil kedua kubu berlarur-larut dalam perseteruan yang tak berkesudahan. (Chayono) Apakah ideologi semacam Pancasila masih revelavan dalam masa globalisasi dan demokratisasi, yang nyaris tanpa batasdewasa ini. Pertanyaan seperti ini sering dikemukakan dalam berbagai diskusi dan seminar tentang poisisi dan relevansi Pancasila dalam Indonesia yang lebih demokratis. Pertanyaan tentang relevansi ideologi umumnya dalam dunia yang berubah cepat sebenartnya tidak terlalu baru. Sejak akhir tahun -1960, mulai muncul kalangan yang mempertanyakan relevansi ideologi baik dalam konteks negara-bangsa tertentu maupun dalam tataran internasional Daniel Bell pada tahun 1960 telah berbicara tentang end of ideology. Tetapi perang dingin yang terus meningkat antara Blok Barat dengan ideology kapitalisme dan Blok Timur dengan ideologi komunisme menunjukkan bahwa ideologi tetap relevan dalam kancah politik, ekonomi, dan lain-lain. Gelombang demokratisasi sejak akhir 1980-an, yang mengakibatkan runtuhnya rezimrezim komunis di Uni Soviet dan Eropa Timur, kembali membuat ideologi seolah-olah tidak relevan. Bahkan Francis Fukuyama memandang perkembangan seperti ini sebagai the end of history, di mana ideologi yang relevan adalah demokrasi Barat. Gelombang demokratisasi yang terjadi berbarengan dengan meningkatkannya globalisasi seakan-akan membuat ideologi semakin tidak relevan dalam dunia yang kian tanpa batas Tetapi, seperti sudah banyak diketahui, globalisasi mengakibatkan kebangkrutan banyak ideologi – baik yang universal maupun lokal - tetapi pada pihak lain, nasionalisme lokal bahkan dalam bentuknya yang paling kasar, semacam ethno-nasionalism dan bahkan tribalism justru menunjukkan gejala peningkatan. Gejala terakhir ini sering disebut sebagai penyebab “ Balkanisasi “ yang terus mengancam integrasi negara-bangsa yang majemuk dari sudut etnik sosio-kultural, dan agama seperti Indonesia. Gelombang demokratisasi yang melanda Indonesia berikut dengan krisis moneter, ekonomi dan politik sejak akhir 1997, juga membuat Pancasila sebagai basis ideologis, common platform dan identitas nasional bagi negara –bangsa Indonesia yang plural seolah semakin kehilangan relevansinya. Tetapi setidaknya tiga faktor yang membuat Pancasila semakin sulit dan marjinal dalam semua perkembangan yang terjadi. 33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Pertama, Pancasila terlanjur tercermar karena kebijakan rezim Soeharto yang menjadikan Pancasila sebagai alat politik untuk mempertahankan status quo kekuasaannya. Rezim Soeharto juga mendominasi pemaknaan Pancasila yang selanjutnya diindoktrinasikan secara paksa melalui Penataran P 4. Kedua, liberalisasi politik dengan penghapusan ketentuan oleh Presiden B.J. Habibie tentang Pancasila sebagai satu-satunya asas setiap organisasi. Penghapusan ini memberikan peluang bagi adopsi asas-asas ideologi lain, khususnya yang berbasiskan agama (religious –base ideology), Pancasila jadinya cenderung tidak lagi menjadi common platform dalam kehidupan politik.Ketiga, desentralisasi dan otonomi daerah yang sedikit banyak mendorong penguatan sentimen kedaerahan, yang jika tidak diantisipasi bukan tidak bisa menumbuhkan sentimen localnationalism yang dapat tumpang-tindih dengan ethno-nasionalism. Dalam proses ini Pancasila baik sengaja maupun by-implication kian kehilangan posisi sentralnya. Kecenderungan bahwa posisi Pancasila semakin sulit, dan menjadi lampu kuning bagi masa depan Indonesia yang tetap terintegrasi. Kendati Pancasila menghadapi ketiga masalah tadi – ia tetap merupakan kekuatan pemersatu yang relatif utuh sebagai common platform bagi bangsa-bangsa Indonesia. Kekuatan-kekuatan pemersatu lainnya, utamanya birokrasi kepemerintahan birokrasi, telah mengalami kemerosotan signifikan. Liberalisasi politik yang menghasilkan fragmentasi elite politik, menghalangi kemunculan kepemimpinan nasional pemersatu, corak kepemimpinan solidarity maker yang dapat mencegah diintegrasi tetap belum tampail. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Pancasila an sich. Yang keliru adalah membuat pemaknaan tunggal atas Pancasila yang kemudian dipaksakan sebagai alat politik untuk mempertahankan status quo kekuasaan. Karena itu tidak ada masalah dengan Pancasila itu sendiri, dan sebab itu, tidak pada tempatnya mengesampingkan Pancasila atas dasar perlakuan pemerintah Orde Baru. Lebih lanjut, Pancasila terbukti sebagai common platform ideologis negara-bangsa Indonesia yang paling feasible dan sebab itu lebih viable bagi kehidupan bangsa hari ini dan di masa datang. Sampai saat ini – dan juga di masa depan – belum bisa melihat alternatif common-platform ideologis lain, yang tidak hanya aksetatabel bagi bangsa, tetapi juga viable dalam perjalanan negara-bangsa Indonesia di masa-masa sebelumnya, tetapi juga viable dalam perjalanan negara-bangsa Indonesia di masa-masa selanjutnya. Karena posisi Pancasila yang krusial seperti ini, saya melihat urgensi mendesak bagi rehabilitasi dan rejuvenasi Pancasila khususnya dalam proses memilih kepemimpinan nasional. Jika tidak, ada kemungkinan bangkitnya ideologi-ideologi lain, termasuk yang berbasiskan keagamaan. Gejala meningkatnya pencarian dan upaya –upaya penerimaan religious based-religious ini merupakan salah satu tedensi terlihat jelas di Indonesia pada masa pasca- Soeharto. Rejuvensi Pancasila dapat dimulai dengan menjadikan Pancasila kembali sebagai public discourse. Dengan menjadi wacana publik, sekalgus dapat dilakukan reassessment 34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda (p[enilaian kembali) atas pemaknaan Pancasila selama ini, untuk kemudian menghasilkan pemikiran dan pemaknaan baru. Dengan demikian, menjadikan Pancasila sebagai wacana publik merupakan tahap awal krusial untuk membangun kembali Pancasila sebagai ideologi terbuka, yang dapat dimaknai secara terus-menerus, sehingga tetap relevan dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Rehabilitasi dan rejuvenasi Pancasila memerlukan keberanian moral kepemimpinan nasional. Tiga kepemimpinan nasional pasca-Soeharto, sejak dari Presiden Habibie, Abdurrachman Wahid sampai Megawati Soekarnoputri, gagal membawa Pancasila ke dalam wacana dan kesadaran politik. Ada kesan traumatik untuk kembali membicarakan Pancasila. Sudah waktunya kepemimpinan nasional sekarang ini memberikan perhatian khusus kepada ideology pemersatu itu, jika mereka betul-betul peduli pada identitas nasional dan integrasi negara-bangsa Indonesia. (Arza, 47 – 50) Pendekatan yang melulu teortitis terhadap Pancasila cenderung menjerumuskan kita pada problematika teortitis pula, tanpa menyentuh problematika nyata yang mendesak yang terjadi ditengah masyarakat yang sedang membangun. Pendekatan teoritis terhadap Pancasila mengandung bahaya akan melibatkan kita ke dalam suatu usaha yang melelahkan dan sia-sia, karena menghadapi keruwetan teoritis yang tak pernah mampu kita uraikan. Masalah yang nyata malah menjadi terlantar. Pancasila bisa membeku dan buntu dalam bentuk formal sehingga tidak lagi mampu memberikan ilham serta daya dorong untuk bertindak. Tentu saja pendekatan teoritis adalah perlu, bahkan tak terelakan. Pada dasarnya Pancasila sendiri adalah sebuah rumusan yang teoritis dan abstrak dari suatu warisan budaya. Namun demikian, teori yang kita butuhkan adalah teori yang secara langsung bersangkut-paut dengan masalah-masalah kongkret serta mendesak. Ditinjau secara teoritis, Pancasila adalah wajar bila dianggap sebagai sesuau yang umum, terlalu luas dan terlalu kabur.Namun yang ingin saya katakan, bahwa perhatian kita tertuju pada Pancasila sebagai instrumen untuk menghadapi persoalanpersoalan yang kongkret, bukan sebagai konsep teoritis. Dengan demikian pertanyaannya, apakah Pancasila efektif menjawab tantangan-tantangan yang ada, bukan apakah Pancasila sebagai konsep yang koheren.(Darmaputera, 1987: 129) Pancasila sebagai ideologi mengandung tiga unsur pokok yang saling berkaitan, yaitu nilai-nilai (ketuhanan, kemanusian, persatuan, kedaulatan rakyat, keadilan), kepentingan (partai, golongan, bangsa), pilihan-pilihan (perwakilan, pimpinan, kebijakan). Perbedaan dalam tataran nilai akan menimbulkan konflik. Sedangkan pertikaian dalam tataran kepentingan akan memunculkan kompetisi, dan perbedaan dalam tataran pilihan akan memunculkan kooperasi, tawar menawar lewat partai, dan organisasi sosial. Perumusannya memang sudah final, gagasan-gagasanya demikian juga, tetapi Pancasila masih dalam perkembangan. Pancasila masih berada dalam proses menghadapi perkembangan-perkembangan baru yang merupakan tantangan baru. Namun, masyarakat demokratis menempatkan nilai yang tinggi pada pilihan-pilihan masyarakat. Masyarakat yang lewat perjalanan sejarah sejarahnya meyakini bahwa kelima sila menjadi postulat keutuhan bangsa. Akibatnya, nilai dan pilihan menjadi satu.Negoisasi dan tawarmenawar pilihan dan penyesuaian kepentingan menjadi komitmen. 35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pancasila sebagai élan vital harus kita simak kembali untuk mencecapi “bara api “nya yang menggerakkan seluruh bangsa Indonesia untuk bertindak, beraksi sekaligus berrefleksi terhadap kenyataan dan tantangan-tantangan yang dihadapi. Jadi dari ideologi ke aksi, dari aksi ke refleksi, dan refleksi ke aksi, dari aksi ke refeleksi, terus menerus sehingga tercapai idam-idaman para founding father ini “…Gemah ripah loh djinawi tata titi tentrem kerta rahardja

.

36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Bibliografi Abdulgani, Roeslan.1965. Sosialisme Indonesia. Jakarta: Yayasan Parpanca. ….., 1988. Pancasila Perjalanan Sebuah Ideologi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Anshari, Endang Saifuddin. 1981. Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Dan Sejarah Konsensus Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler tentang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 – 1959. Bandung: Pustaka. Azra, Asyumardi ”Pancasila dan Identitas Nasional Indonesia Perpektif Multikulturalis me dan Pendidikan Multikultural Analisis CSIS, Vol. 34, No. 1, Maret 2005,hlm 47 – 59. Boland, BJ. 1985. Pergumulan Islam di Indonesia 1945 – 1972. Jakarta: Grafitipers. Cahyono, Imam.: Mengakhiri Pertikaian Ideologi “. (Internet) Budiman, Arief. 1989. Sistem Perekonomian Pancasila san Ideologi Ilmu Sosial di Indonesia. Jakarta.; PT Gramedia. Darmaputera, Eka.1987 Pancasila:Identitas dan Modernitas.Tinjauan Etis dan Budaya Jakarta: BPK Gunung Mulia. Feith, Herbert. 1995. Soekarno – Militer dan Demokrasi Terpimpin. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Gunarto,” Menuju Negara Bebas Ideologi “ (Internet) Hatta, Muhammad. 1982. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Jakarta: Tintamas. Husodo, Siswono Yudo, “ Pancasila dan Keberlanjutan NKRI.” (Internet) Idayu, Yayasan (ed).1982. Moral Ekonomi Pancasila. Jakarta: Yayasan Idayu. Kasenda, Peter. 2005. Pancasila. Jakarta: Diktat Kuliah FISIP Universitas 17 Agustus 1945) Krissantono. 1979. Pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila. Jakarta: CSIS. Legge, John D. 1985. Sukarno Sebuah Biografi Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Leifer, Michael.1989. Politik Luar Negeri Indonesia. Jakarta: PT Gramedia. 37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Maarif, Ahmad Syafii. 1985. Studi tentang Percaturan dalam Konsituante. Islam dan Masalah Kenegaraan.Jakarta: LP3ES. Madjid, Nurcholis. “Islam di Indonesia dan Potensinya sebagai Sumber Substansi Ideolo gi dan Etos Nasional” (Internet ) Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto 1990. Sejarah Nasional Indo nesia VI. Jakarta: Balai Pustaka. Mubyarto. 1980. Ilmu Ekonomi, Ilmu Sosial dan Keadilan. Analisa Trans-Disiplin Da lam Rangka Mendalami Sistem Ekonomi Pancasila. Yogyakarta: Yayasan Argo Ekonomika. Muhamin, A Yahya 1982 Perkembangan Militer Dalam Politik di Indonesia 1945 – 1966 Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Noer, Deliar 1983.Islam, Pancasila dan Azas Tunggal. Jakarta: Yayasan Perkhidmatan. Notosusanto, Nugroho. 1981. Proses Permusan Pancasila Dasar Negara. Jakarta; PN Balai Pustaka. Pranarka, A.M.W. 1969, Pancasila Diantara Ajaran-Ajaran Negara Modern. Bandung: Skripsi Sarjana Faklultas Hukum Universitas Parahiyangan. 1985. Sejarah Pemikiran tentang Pancasila. Jakarta: CSIS. Ramage, Doulgas E.” Pemahaman Abdurrachman Wahid tentang Pnacasila dan Penerap annya. Dalam Era Paska Azas Tunggal.”dalam Ellyasa KH Dharwis (ed) Gus Dur dan Masyarakat Sipil. Yogyakarta: LKIS, 1994. hlm. 101 – 124. Sitompul, Einar Martahan.1989. NU dan Pancasila. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Simandjuntak, Marsilam. 1994.Pandangan Negara Integralistik. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti. Sudibyo, Agus. “ DeSokeranoisasi: Delegitimasi yang Tak Tuntas:, dalam St Sularto . (ed) Dialog dengan Sejarah. Jakarta:Kompas, 2001., hlm.388 – 401. Subagya, Rachmat. 1959. Pancasila Dasar Negara Indonesia. Yogyakarta: Basis

38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->