P. 1
Peran Tentara Dan Konsolidasi Demokrasi

Peran Tentara Dan Konsolidasi Demokrasi

|Views: 707|Likes:
Published by Peter Kasenda
Penyataan Ketua Mao , menjelaskan bagaimana seharusnya posisi militer dalam struktur pemerintahan negara . Seperti dinegara-negara lain yang menjunjung tinggi supremasi sipil , posisi militer diletakkan dibawah komando-komando pemerintah sipil . Fungsi militer tidak lebih dari sekedar penjaga keamanan dan pertahanan negara .( Editorial Diponogoro 74, 2004 )

Namun kebanyakan negara-negara dunia ketiga , militer justru muncul kedalam pemerintah pretorian tipe penguasa . Dalam terminologi politik yang yang digunakan oleh Eric Nordlinger , tipe penguasa membuat militer berkuasa penuh dan mendominasi pemerintahan .Mereka melakukan perubahan mendasar kebijakan serta distribusi kekuasaan yang berbeda dengan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah sipil; Dengan kata lain , terjadi supremasi militer atas sipil dalam pemerintahan .

Mengenai keterlibatan militer dalam politik , Harlod Crouch menjelaskan ada faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya . Faktor-fakltor internal adalah nilai-nilai dan sikap para perwira militer yang mempengaruhi orientasi mereka terhadap politik serta kepentingan material dari para pejabat militer . Faktor-faktor eksternal adalah kondisi-kondisi sosio-ekonomis , situasi-situasi politik dan faktor-faktor internasional .( Singh , 1996 : 7 – 13 )

Nilai-nilai dan orientasi militer sebagian adalah hasil dari sejarah pengalaman yang dmiliki para anggota militer . Tradisi dan seperangkat nilai dibentuk dari sejarah kelahiran militer tersebut , yang didalamnya para perwira militer pendahulu dan penerusnya cenderung untuk mematuhi dan melestarikannya . Untuk memperoleh keabsahannya di masyarakat , nilai-nilai dan orientasi militer ini juga dipublikasikan kepada masyarakat luas , melalui media massa. Kepentingan-kepentingan material militer adalah Pertama , militer dalam memperjuangkan kepentingan kelompok dan organisasi , hak untuk memperoleh fasilitas-fasilitas militer maupun untuk memberikan gaji yang layak kepada anggotanya . Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi , maka ada kecenderungan militer yang lebih besar untuk melakukan intervensi dalam politik: Kedua , korps militer adalah representasi kelas menengah perkotaan dan apabila kebutuhan-kebutuhan kelas menengah gagal dipenuhi, maka kelompok perwira militer diduga akan melakukan tekanan-tekanan atau menjatuhkan pemerintah ; Ketiga ; para pemimpin puncak militer dengan menempatkan mereka didalam kontrol jaringan patronase-pemerintah .

Dari kondisi sosial-ekonomi , pada umumnya fenomena campur tangan militer dalam politik tidak terjadi di negara-negara yang secara politik , ekonomi , dan sosial telah maju dibandingkan di beberapa negara berkembang . Di negara-negara yang telah maju , militer berada di bawah supremasi sipil . Sistem politik yang telah mapan , pendapatan perkapita yang cukup tinggi, ditambah dengan kesadaran politik dan hukum rakyat yang sangat tinggi telah mengurangi kemungkinan terjadinya invensi militer .

Dari segi kondisi politik, ketidakmampuan otoritas sipil untuk memerintah secara efektif menjadi faktor penting penyebab efektif menjadi militer terjun ke politik . Bahwa perwira-perwira militer yang berorientasi dan berambisi dalam politik akan melakukan intervensi jika otoritas sipil gagal menjaga stabilitas politik dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang memuaskan kegagalan ini akan mengurangi keabsahannuya dan melakukan intervensinya .
Penyataan Ketua Mao , menjelaskan bagaimana seharusnya posisi militer dalam struktur pemerintahan negara . Seperti dinegara-negara lain yang menjunjung tinggi supremasi sipil , posisi militer diletakkan dibawah komando-komando pemerintah sipil . Fungsi militer tidak lebih dari sekedar penjaga keamanan dan pertahanan negara .( Editorial Diponogoro 74, 2004 )

Namun kebanyakan negara-negara dunia ketiga , militer justru muncul kedalam pemerintah pretorian tipe penguasa . Dalam terminologi politik yang yang digunakan oleh Eric Nordlinger , tipe penguasa membuat militer berkuasa penuh dan mendominasi pemerintahan .Mereka melakukan perubahan mendasar kebijakan serta distribusi kekuasaan yang berbeda dengan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah sipil; Dengan kata lain , terjadi supremasi militer atas sipil dalam pemerintahan .

Mengenai keterlibatan militer dalam politik , Harlod Crouch menjelaskan ada faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya . Faktor-fakltor internal adalah nilai-nilai dan sikap para perwira militer yang mempengaruhi orientasi mereka terhadap politik serta kepentingan material dari para pejabat militer . Faktor-faktor eksternal adalah kondisi-kondisi sosio-ekonomis , situasi-situasi politik dan faktor-faktor internasional .( Singh , 1996 : 7 – 13 )

Nilai-nilai dan orientasi militer sebagian adalah hasil dari sejarah pengalaman yang dmiliki para anggota militer . Tradisi dan seperangkat nilai dibentuk dari sejarah kelahiran militer tersebut , yang didalamnya para perwira militer pendahulu dan penerusnya cenderung untuk mematuhi dan melestarikannya . Untuk memperoleh keabsahannya di masyarakat , nilai-nilai dan orientasi militer ini juga dipublikasikan kepada masyarakat luas , melalui media massa. Kepentingan-kepentingan material militer adalah Pertama , militer dalam memperjuangkan kepentingan kelompok dan organisasi , hak untuk memperoleh fasilitas-fasilitas militer maupun untuk memberikan gaji yang layak kepada anggotanya . Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi , maka ada kecenderungan militer yang lebih besar untuk melakukan intervensi dalam politik: Kedua , korps militer adalah representasi kelas menengah perkotaan dan apabila kebutuhan-kebutuhan kelas menengah gagal dipenuhi, maka kelompok perwira militer diduga akan melakukan tekanan-tekanan atau menjatuhkan pemerintah ; Ketiga ; para pemimpin puncak militer dengan menempatkan mereka didalam kontrol jaringan patronase-pemerintah .

Dari kondisi sosial-ekonomi , pada umumnya fenomena campur tangan militer dalam politik tidak terjadi di negara-negara yang secara politik , ekonomi , dan sosial telah maju dibandingkan di beberapa negara berkembang . Di negara-negara yang telah maju , militer berada di bawah supremasi sipil . Sistem politik yang telah mapan , pendapatan perkapita yang cukup tinggi, ditambah dengan kesadaran politik dan hukum rakyat yang sangat tinggi telah mengurangi kemungkinan terjadinya invensi militer .

Dari segi kondisi politik, ketidakmampuan otoritas sipil untuk memerintah secara efektif menjadi faktor penting penyebab efektif menjadi militer terjun ke politik . Bahwa perwira-perwira militer yang berorientasi dan berambisi dalam politik akan melakukan intervensi jika otoritas sipil gagal menjaga stabilitas politik dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang memuaskan kegagalan ini akan mengurangi keabsahannuya dan melakukan intervensinya .

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

1

Peter Kasenda

Peran Tentara dan Konsolidasi Demokrasi

Prinsip kita adalah bahwa partailah yang harus memerintah senapan,dan senapan tidak akan pernah boleh me merintah partai Mao Tse-Tung

Penyataan Ketua Mao , menjelaskan bagaimana seharusnya posisi militer dalam struktur pemerintahan negara . Seperti dinegara-negara lain yang menjunjung tinggi supremasi sipil , posisi militer diletakkan dibawah komando-komando pemerintah sipil . Fungsi militer tidak lebih dari sekedar penjaga keamanan dan pertahanan negara .( Editorial Diponogoro 74, 2004 ) Namun kebanyakan negara-negara dunia ketiga , militer justru muncul kedalam pemerintah pretorian tipe penguasa . Dalam terminologi politik yang yang digunakan oleh Eric Nordlinger , tipe penguasa membuat militer berkuasa penuh dan mendominasi pemerintahan 1.Mereka melakukan perubahan mendasar kebijakan serta distribusi kekuasaan yang berbeda dengan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah sipil; Dengan kata lain , terjadi supremasi militer atas sipil dalam pemerintahan . Mengenai keterlibatan militer dalam politik , Harlod Crouch menjelaskan ada faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya . Faktor-fakltor internal adalah nilai-nilai dan sikap para perwira militer yang mempengaruhi orientasi mereka terhadap politik serta kepentingan material dari para pejabat militer . Faktor-faktor eksternal adalah
1

Ada tiga jenis Pretorian . Pertama , Pretorian moderators memiliki hak veto sejumlah keputusan pemerintah ; Kedua , Pretorian guardian mengambil-alih kekuasaan pemerintah , namun semata-mata untuk mengatasi sesuatu krisis dan karenanya hanya untuk selama suatu jangka waktu tertentu dan Ketiga, Pretorian rulers yang memegang kekuasaan yang luar biasa didalam negaranya . :Lihat Eric Nordlinger,. Militer dan Politik . Jakarta : Rineka Cipta , hlm. 33 – 45 .

2 kondisi-kondisi sosio-ekonomis , situasi-situasi politik dan faktor-faktor internasional . ( Singh , 1996 : 7 – 13 ) Nilai-nilai dan orientasi militer sebagian adalah hasil dari sejarah pengalaman yang dmiliki para anggota militer . Tradisi dan seperangkat nilai dibentuk dari sejarah kelahiran militer tersebut , yang didalamnya para perwira militer pendahulu dan penerusnya cenderung untuk mematuhi dan melestarikannya . Untuk memperoleh keabsahannya di masyarakat , nilai-nilai dan orientasi militer ini juga dipublikasikan kepada masyarakat luas , melalui media massa. Kepentingan-kepentingan material militer adalah Pertama , militer dalam memperjuangkan kepentingan kelompok dan organisasi , hak untuk memperoleh fasilitas-fasilitas militer maupun untuk memberikan gaji yang layak kepada anggotanya . Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi , maka ada kecenderungan militer yang lebih besar untuk melakukan intervensi dalam politik: Kedua , korps militer adalah representasi kelas menengah perkotaan dan apabila kebutuhan-kebutuhan kelas menengah gagal dipenuhi, maka kelompok perwira militer diduga akan melakukan tekanan-tekanan atau menjatuhkan pemerintah ; Ketiga ; para pemimpin puncak militer dengan menempatkan mereka didalam kontrol jaringan patronase-pemerintah . Dari kondisi sosial-ekonomi , pada umumnya fenomena campur tangan militer dalam politik tidak terjadi di negara-negara yang secara politik , ekonomi , dan sosial telah maju dibandingkan di beberapa negara berkembang . Di negara-negara yang telah maju , militer berada di bawah supremasi sipil . Sistem politik yang telah mapan , pendapatan perkapita yang cukup tinggi, ditambah dengan kesadaran politik dan hukum rakyat yang sangat tinggi telah mengurangi kemungkinan terjadinya invensi militer . Dari segi kondisi politik, ketidakmampuan otoritas sipil untuk memerintah secara efektif menjadi faktor penting penyebab efektif menjadi militer terjun ke politik . Bahwa perwira-perwira militer yang berorientasi dan berambisi dalam politik akan melakukan intervensi jika otoritas sipil gagal menjaga stabilitas politik dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang memuaskan kegagalan ini akan mengurangi keabsahannuya dan melakukan intervensinya . Dari segi faktor internasional , keterlibatan militer dalam politik terkait dengan masalah adanya intervensi asing dan integrasi ekonomi negara berkembang dengan ekonomi internasional . Pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat tanpa bisa dibarengi pendapatan yang merata, bisa meningkatkan kemarahan massa terhadap dominasi ekonomi asing , dan akhirnya kemarahan terhadap pemerintah sipil yang memilih kebijakan ekonomi tersebut . Keadaan demikian dapat mendorong militer untuk melakukan intervensi . Harlod Crouch membagi empat kategori besar pengaruhi militer di negara-negara Asia Tenggara . Pertama, Indonesia dan Birma , di mana para perwira militer jelas dominan, Kedua , Thailand dan Filipina , di mana militer merupakan kekuasaan politik utama, tetapi mengontrol pemerintah secara tidak langsung . Di negara-negara ini , meskipun peran sipil tidak mempunyai pilihan kecuali menanggapi kepentingan piohak militer .

3 Di Indonesia , struktur sosial yang menfasilitasi kemampuan rezim militer yang stabil memberi peluang bagi munculnya ikatan-ikatan bisnis yang terbuka antara pegawai pemerintah dan pengusaha perorangan . Ketiadaan kelas pengusaha perorangan . Ketiadaan kelas pengusaha yang kuat dan mandiri serta kelas memengah perkotaan yang terdidik dengan kepentingan pada administrasi yang tidak berpihak, struktur sosial ini sedikit memberikan kontrol pada kekuasaan militer yang mendominasi birokrasi . Para perwira militer dan birokrat , setidaknya bebas menentukan peraturannya sendiri dengan pengusaha Cina dan investor asing . Sistem yang berlaku di Indonesia , kalau boleh menggunakan terminologi Richard Robinson disebut Kapitalisme birokrat . Kapitalisme jenis ini tidak menghasilkan borjuis pribumi yang mandiri , tetapi hanya merupakan sasaran untuk menopang negara birokrat militer dan memberi pemegang kekuasaan negara itu patronase untuk mereka sendiri , keluarga mereka, faksi-faksi politik , sumber mereka memperoleh kekuasaan . Konflik antar jendral tidak mengenai pribadi-pribadi dan kebijakan-kebijakan , melainkan lebih merupakan pertarungan untuk mengontrol apanage mewah seperti Pertamina, Bulog , Perhutani serta departemen-departemen pemerintah yang strtaegis seperti departemen perdagangan , dinas bea dan cukai , serta Badan Koordinasi Penanaman Modal . Dominasi militer bukan saja karena tidak adanya kelas sosial yang mandiri , tetapi juga merupakan akibat dari kegagalan eksprimen demokrasi liberal . Ada beberapa negara dunia ketiga berusaha menegakkan sistem demokrasi yang didasarkan pada modal yang ditinggalkan oleh kekuasaan kolonial , tetapi dengan sejumlah alasan , biasanya militer berpartisipasi di dalamnya . Terciptanya stabilitas politik sering dikaitkan dengan keterlibatan militer dalam politik . Karena para perwira acapkali ditempatkan dengan politisi sipil yang korup . Beberapa orang percaya latihan profesional memberikan para perwira etos yang berbeda dengan para politisi sipil . Pengabdiannya terhadap kepentingan nasional menjadikan para perwira relatif kebal dari korupsi , sementara mereka tidak memiliki cukup waktu untuk berkoalisi , berbeda dengan politisi sipil yang lebih mementingkan diri sendiri serta kompromis pada hal-hal yang tidak prinsipil . Para perwira militer secara tipikal tidak tertarik pada perpecahan ideologi politik , perhatian utamanya adalah memperoleh apa yang mereka kerjakan . Dalam kenyataannya , pada sejumlah negara di mana militer tidak dominan , stabilitas politik tetap bisa diciptakan kemajuan ekonomi yang dicapai oleh beberapa negara Asia sesungguhnya tidak semata-mata karena keterlibatan militer tetapi karena perekonomiannya yang terbuka dan berkaitan erat dengan perekonomian dunia . ( Irwanto , 1999 : 51 – 54 ) Samuel Huntington menganalisa bahwa intervensi militer dalam politik adalah selalu menyalahi kode etik keprofesionalnya , bahkan dikatakan sebagai tanda pembusukan politik , sedangkan peran dan misi militer di luar professinya dikatakan sebagai

4 penurunan profesionalisme , padahal profesionalisme militer adalah faktor utama yang menjauhkan militer dari campur tangan politik . Menurutnya , profesionalisme memiliki tiga dimensi ; Pertama , keahlian . Seseorang bisa dianggap memiliki keahlian bilamana memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang tertentu . Dimensi ini menunjuk pada tanggung jawab sosial seorang professional . Dalam konteks ini profesionalisme militer berarti melindungi negara dan masyarakat . Ketiga , korporasi . Dimensi ini menunjuk kepada kesadaran dan kelompok , atau lembaga khusus dan terhormat yang mempunyai kompetensi professional berdasarkan standard formal yang ditetapkan . Mengutip pendapat Samuel Huntington , semakin tinggi keahlian seseorang tentara,, semakin tinggi pada tingkat profesionalismenya , dan dengan demikian semakin lecil keterlibatan mereka dalam politik . Perwira-perwira militer yang professional selalu siap dalam melaksanakan kebijakan politik yang diputuskan oleh pemerintahan sipil yang memiliki legitimasi politik . Namun , profesionalisme militer seringkali terganggu karena adanya politisasi kekuatan politik yang melembaga dengan kuat , sehingga menimbulkan instabilitas dan kekacauan politik. Apa yang dikatakan Huntington mendapat kritikan dari Alfred Stephan . Ia mencatat , profesionalisme baru militer memiliki dua tugas yaitu penjaga keamanan nasional dan pembangunan nasional . Oleh sebab itu militer harus peduli dengan masalah-masalah politik dibandingkan hanya memusatkan perhatian pada ancamnan dari luar Profesionalisme baru tidak dapat mengundurkan diri .dari perluasan fungsi mereka kebidang politik . Namun demikian , kecenderungan eskpansi militer ke dalam kehidupan politik sangat dipengaruhi oleh sistem politik itu sendiri . Semakin lemah legitimasi pemerintah sipil , semakin besar kecenderungan militer dalam mengontrol pembangunan nasional suatu negara . Begitu juga semakin kuat. Fragmentasi dalam pemerintahan sipil, maka semakin besar peluang militer untuk melakukan intervensinya . ( Haramain , 2002 : 52 – 64 ) Fenomena penarik diri militer dari politik , menurut Ulf Sundhaussen , dapat dipahami dengan memeriksa alasan-alasan dan prasyarat-prasyarat terjadinya pengunduran diri . Ia menyatakan bahwa rangkaian dasar dari penarikan diri yang pertama berasal dari luar militer . Pertama, kaum civilion counter – elites akan berkembang dan akan melawan militer dalam posisi kepemimpinannya . Munculnya kaum elit semacam itu bisa merupakan akibat perkembangan ekonomi dan politik yang berhasil karena kepemimpinan militer , yang memberikan kelas menengah dan organisasi tenaga kerja , yang pada waktunya menuntut pembagian kekuasaan . Sebagai kemungkinan lain , kelompok-kelompok oposisi yang kritis akan terbentuk guna memprotes kegagalan rezim itu akan melaksanakan kebijakan tertentu dan menuntut agar militer kembali ke barak mereka . Alasan kedua bersifat eksogen baik bagi maupun bagi negara . Disini rezim –rezim militer akan jatuh akibat perang atau intervensi dari luar . Rezim-rezim militer yang tidak

5 terpuji seperti Idi Amin dan Bokassa ditumbangkan oleh kekuatan-kekuataan dari luar . Juga , penarikan dukungan oleh sekutu-sekutunya tradisional dimana rezim militer tergabung untuk kelangsungan hidupnya , mungkin akan mengakhiri eksistensi rezimrezim semacam itu , sebagaimana terjadi ketika Amerika Serikat menghendaki bantuannya ke Nikaragua . Alasan ketiga berasal dari militer sendiri dan terkait langsung dengan sikap para pejabat baik untuk terus berkuasa atau menjadi warga sipil , Pertama , para pemimpin militer mungkin percaya bahwa supremasi sipil atas militer adalah hal yang wajar dan karena itu mereka bisa memutuskan untuk kembali ke barak . Kedua , kalau keterlibatan militer dalam politik mempertinggi perbedaan politik dan ideologi di antara para anggota akan bersenjata dan mengancam persatuan maupun kemampuannya untuk bertindak sebagai kekuatan tempur, militer akan menyadari bahwa dirinya tidak akan mampu suatu negara dan akan mengembalikan kekuasaan kepada orang-orang sipil . Sementara itu, sejumlah prasyarat juga akan menentukan apakah militer siap untuk mengakhiri keterlibatannya dalam politik . Pertama, perlunya konsensus nasional , pertama dan terutama , pihak militer sebagai suatu kelompok harus setuju untuk kembali ke barak-barak . Jika tidak , sebuah faksi bisa merebut kekuasaan dari kepemimpinan militer yang sungguh-sungguh bermaksud kembali ke barak . Kedua , militer hanya akan meninggalkan politik jika tindakan itu dapat menyelamatkan berbagai kepentingannya . Melalui kekebalan terhadap tuntutan dan penindasan , kepentingan-kepentingan korps militer ditinjau kembali dari sudut alokasi anggaran , misalnya harus tidak terancam . Ketiga , harus ada partai terorganisasi yang mampu menjalankan suatu pemerintahan yang stabil dan siap menyelamatkan kepentingan militer ( Singh,1996 : 17 – 21 ) Studi tentang pengunduran diri militer dari politik bermunculan sekitar pertengahan dekade 1980-an . Talukker Maniruzaman melakukan srudi empiris tentang perubahan kepemimpinan politik dari tangan militer ketangan sipil alias kembalinya militer ke barak di negara dunia ketiga sejak tahun 1946 hingga 1984 berdasarkan penelitian yang mendalam dari tujuh puluh satu negara . tentara yang tidak profesional justru mempertahankan supremasi militer dalam menjalankan roda pemerintahan . Irak, Suriah dan Benin di mana tentara yang tidak professional memegang tampuk kekuasaan hingga buku Militer Kembali Ke Barak disusun pada tahun 1984 , militer di negara-negara tersebut pernah kembali ke barak .tetapi tidak betah berlama-lama . Perebutan kekuasaan adalah sebab yang menjadi alasan tentara-tentara yang tidak professional tersebut . Tidak adanya ideologi dan ketaatan ideologi yang mempersatukan kekuasaan militer semakin mempertdalam tumbuh subur dan sipa melakukan kudeta satu sama lain . Jika ada satu faksi yang melakukan intervensi itu untuk kepentingannya di kemudian hari . Lingkaran kedua yang terus berkait . Tidak ada cara yang manjur untuk memutuskan lingkaran tersebut bahkan oleh perwira yang sadar akan akibatnya . Beberapa faksi militer yang berhasil melakukan kudeta dinegara-negara tersebut, ada yang kemudian memutuskan kembali kebarak . Kemunduran secara mendadak itu bukan karena ingin memperbesar kekuatan sipil tetapi

6 hanya taktik untuk menutup ruang bagi faksi lain didalam tubuh angkatan bersenjata untuk membalas walau tidak menjamin . Meskipun dinyatakan secara resmi bahwa militer sudah kembali ke barak , oleh suatu faksi yang berhasil melakukan kudeta , faksi lain akan mencari jalan lain untuk melakukan kudeta dan mempertahankan hasilnya . Angkatan bersenjata di Turki , Pakistan , Brazil dan Peru adalah kategori tentara professional . Tetapi dalam kenyataannya sepanjang tahun 1946 – 1984 , militer professional pun banyak melakukan intervensi . Argentina lima kali, Barzil lima kali , Pakistan tiga kali , Peru tiga kali dan Turki tiga kali . Setiap kali selesai melakukan intervensi karena friksi ditingkat komando , keterlibatan tentara professional Pertamatama tergantiung dari pandangan panglima atau pemimpin militer yang berkuasa terhadap politisi dan politik . Kedua , ditentukan oleh kepentingan yang mereka mainkan . Mempertahakan militer tetap tinggal di barak adalah usaha yang lebih sulit ketimbang mengembalikan mereka ke barak . Hal itu terutama terkait dengan besar atau kecilnya kontrol masyarakat sipil terhadap preman berseragam tersebut . Semakin besar kekuasaan sipil adalah kunci mengembalikan militer ke barak dalam jangka waktu panjang . Dalam arti kongkrit , kekuasaan sipil juga harus diimbangi dengan munculnya pemimpinpemimpin yang berkualitas . Kepandaian dan kepemimpinan politisi-politisi sipil juga berpengaruh besar dalam dalam menyadarkan rakyat untuk menentang militer . Dari kasus Venezuela dan Kolombia seorang pemimpin sipil yang mampi menggiring militernya kembali ke barak disebabkan, Pertama ia memiliki ketrampilan mengggalang opini-opini publik untuk menentang rezim militer . Kedua , pemimpin sipil harus mencapai konsensus minimum untuk membagi kekuasaan di antara mereka sendiri dan memiliki garis besar rencana kebijakan sosial ekonomi yang akan dikerjakan dalam rezim sipil dan Ketiga . ia harus punya pengalaman dan ketrampilan politik baik dalam menjatuhkan rezim maupun menegakkan supermasi sipil . Proses demiliterisasi juga tergantung dari tingkat pemahaman dan kesadaran politik perlu masyarakat sipil . Sistem politik yang adil dan demokratis adalah alat yang manjur untuk mengontrol senjata . Kita juga harus melihat formasi kelas-kelas yang menyusun demokrasi sebuah masyarakat . Ada tidaknya , seberapa kuat atau seberapa lemah kelas yang ada akan menentukan arah pembangunan sebuah demokrasi . Differensiasi kelas yang tidak lengkap dan tidak adanya kelas ekonomi yang kuat , namun secara politik kuat akan membawa kearah ketidakstabilan , akibatnya manifestasinya yang terpenting adalah banyaknya jumlah kudeta militer di negara dunia ketiga . Stuktur sosial yang terpecahpecah adalah dasar bagi lembaga-lembaga tertentu dalam negara untuk melakukan manuver sendiri dan akhirnya mendominasi masyarakat tersebut . Secara implisit , pendapat itu melihat dibutuhkannya perubahan radikal untuk membangun struktur sosial yang dapat menghindari kudeta dan intervensi yang besar dari militer . Dari titik tersebut , Talukder Maniruzzaman bertolak untuk menganalisis seberapa besarkah revolusi sosial yang dimaksudkan tersebut menghasilkan kekuatan bagi sipil untuk menundukkan militer . Sebuah penundukkan ditandai dengan terbangunnya kelas sosial hegemoni ditengah masyarakat . Revolusi sosial yang coba

7 dirangkum tidak sebatas revolusi sosial dari kelas proletariat tetapi juga mencakup kelas borjuis . Implikasi teoritisnya bahwa revolusi sosial adalah pergantian satu kelas sosial adalah pergantian satu kelas sosial oleh kelas sosial lainnya sebagai kelompok penguasa atas seluruh masyarakat . Terlepas , kelas sosial mana yang melakukan sebuah revolusi , minimal ada dua hal yang membuat sebuah revolusi sosial dapat dikatakan berhasil dan mampu membuat militer kembali ke barak . Pertama adalah kemampuannya untuk menghancurkan struktur sosial dan rezim yang baru . Banyak di negara-negara dunia ketiga , revolusi sosial yang coba untuk dilakukan tidak berhasil menempuh hal yang kedua . Hubungan sipil-militer selalu berbicara tentang pembagian peran antara sipil dan militer dalam penyelenggaraan negara . Lebih luas hubungan sipil-militer adalah hubungan antara militer dan masyarakat , yang didalamnya berbicara tentang peranan militer di hadapan masyarakat . Secara konvensional militer mengemban tugas negara mengelola sarana kekerasaan untuk menciptakan law and order , keamanan dan ketertiban , serta memberikan perlindungan pada warga negara . Elemen-elemen sipil ( yang terdiri dari birokrasi sipil , partai politik , dan sektor bisnis ) mempunyai tugas mengelola proses politik dan kebijakan , mengelola barang-barang publik , serta memberikan layanan publik , untuk mencapai kesejahteraan masyarakat . Masalahnya hubungan sipil-militer di suatu negara selalu mengalami pasang surut , adakalanya sehat dan adakanya menegangkan , bahkan buruk sekali . Hubungan ini berlangsung terus-menerus tanpa henti dari masa ke masa . Oleh karena itu , hubungan sipil militer menjadi permsalahan yang abadi , baik di negara maju maupun di negara berkembang . Para analisis politik yang sedang mengakaji hubungan sipil-militer sering tidak mencapai kata sepakat mengenai kriteria apa yang harus digunakan untuk menandai apakah hubungan itu baik atau buruk . Di negara maju demokratis , hubungan sipil-militer biasanya dikatakan baik apabila ditandai militer berada dalam bidang profesinya yang yang ketat dan dilaksanakan buruk apabila militer berada di luar bidangnya . Gerakan reformasi sebagai peran menanta kembali kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang mengacu kepada nilai-nilai Demokratis dan Hak-hak azasi manusia telah menghadapkan Tentara nasional Indonesia pada berbagai tantangan . Diantaranya , penataan kembali peran TNI dalam konteks hubungan sipil- militer yang demokratis dan syarat dasar bagi bangsa ini untuk mampu melewati tradisi menuju demokrasi , tidak bisa tidak , sangat tergantung pada keberhasilan bangsa ini untuk melakukan penataan kembali hubungan sipil-militer di Indonesia yang selama Orde Baru berjalan sangat timpang . Sebenarnya format relasi sipil-militer di Indonesia sangat ditentukan oleh doktrin yang diyakini oleh kalangan militer . David Jenkins menyatakan bahwa tiga dekade pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945 , doktrin militer di Indonesia melewati lima periode yang berbeda .( Irwanto 1999 : 46 – 50 ) Pada periode pertama ( 1945 – 1949 ) ,

8 tidak dihasilkan doktrin yang diterima secara luas di kalangan militer . Pengalaman para elit militer selama periode formatif ini melahirkan etos yang kuat , sebagaimana argumentasi yang menyatakan peran militer dalam masyarakat . Persepsi terpenting yang diterima adalah bahwa TNI dibentuk oleh masyarakat Indonesia, bukan oleh pemimpin-pemimpin politik sipil . Persepsi bahwa tentara lahir dari masyarakat , yang berjuang mempertahankan kemerdekaan dan partisipasinya yang mendalam terhadap persoalan-persoalan sipil pada masa revolusi fisik ini , melahirkan pemikiran yang membenarkan peran yang meluas dari angkatan bersenjata pada persoalan non-militer . Pada periode kedua (1949 – 1957 ) , isyarat-isyarat dan ambisi ini, terutama terhambat ketika para pemimpin didikan Belanda berusaha merasionalisasi dan memodernisasasi sejumlah besar tentara sisa-sisa revolusi yang tidak terpakai dan tidak terintegrasi secara sempurna . Bagaimanapun , ketidakpuasan militer tampak jelas dalam Peristiwa 17 Oktober 1952 yang banyak melibatkan perwira didikan Belanda , yang disebut dengan “ setengah kudeta “. Periode Demokrasi Parlementer tampak sangat berbeda dengan periode sebelumnya . Dalam periode ini terjadi pergolakan daerah , merosotnya pamor Demokrtasi Parlementer , dan diberlakukannya keadaan darurat perang sebagai akibat makin memburuknya hubungan Jakarta dengan daerah-daerah luar Jawa yang pada akhirnya meledak dalam pembentukan dan pemberontakan PRRI/Permesta . Kemenangan atas pemberontakan , melemahnya pamor Demokrasi Parlementer , dan berlakunya keadaan darurat , secara bersamaan memberi banyak kekuasaan serta kesempatan keterlibatan politik yang intensif kepada TNI . Perubahan dramatis inilah yang melatarbelakangi diucapkannya pidato Jalan Tengah Nasution yang kemudian dipandang sebagai titik awal lahirnya doktrin Dwi Fungsi . Tiga tahun setelah AH Nasution ditunjuk sebagai KSAD kembali pada tanggal 11 November 1958 , ia memberikan pidato yang amat penting tentang peran militer di dalam masyarakat . Dalam pidato tanpa teks di Akademi Militer Nasional Magelang , AH Nasution mengatakan militer di Indonesia tidak seperti dinegara-negara Barat yang semata-mata menjadi “ alat dari pemerintah “. Tetapi, tidak pula seperti militer di negaranegara Amerika Latin yang memonopoli kekuasaan TNI adalah kekuataan perjuangan rakyat yang berangkulan dengan kekuatan lain , seperti partai-partai politik . Militer sendiri tidaklah aktif secara politik, meskipun ia tidak sekdar sebagai penonton . Para perwira secara individual harus diberi kesempatan terlibat dalam pemerintahan , dan mengembangkan kemampuan non-militernya untuk ikut membangun bangsa . Bahkan jika ini tidak terjadi , Nasution mengingatkan militer mungkin melawan diskriminasi atas perwira-perwiranya . Dalam periode keempat ( 1959-1965 ) , pimpinan militer memperluas dan mempertahankan posisinya dalam wilayah non-militer , doktrin yang digunakan untuk

9 melegitimasi apa yang kemudian dikenal dengan “ Jalan tengah Tentara “ dan jaminan bagi kelangsungan peran militer dalam masyarakat . Upaya ini sebagian merupakan bentuk perlawanan terhadap PKI , yang pada tahun 1962-1965 , merupakan salah satu dari tiga kekuataan besar Soekarno- Angkatan Darat – PKI . Pada periode kelima (Orde Baru ) , doktrin-doktrin keterlibatan TNI diperkokoh dan diperluas . Dwi Fungsi ABRI Orde Soeharto dirumuskan di Seskoad dalam seminar Angkatan darat di Bandung itu dirumuskan bahwa ABRI harus menjadi kekuatan diominan dan menentukan dalam seluruh percaturan politik nasional Indonesia pasca Soekarno . Sejumlah doktrin yang membenarkan dan mengatur peran politik tentara , semuanya diciptakan setelah secara realitas militer sudah mendapat kesempatan untuk terlibat dalam aturan-aturan legal bagi peran politik tentara ini tampaknya harus dimengerti dalam hubungannya dengan watak Nasution yang legalistik . Sejarah pun mencatat bahwa tingkah laku politik Panglima Besar Sudirman dan gaya kepemimpinannya , semasa hidup Jendral itu , tidak pernah dikaitkan dengan peran politik mereka . Di kemudian hari , ketika tentara makin terlibat dalam politik kepada tingkah laku politik Panglima Besar Sudirman tersebut , menyebutkan sebagai peletak dasar peran politik tentara , menjadikannya model dan sekaligus salah satu alasan pembenaran Dwifungsi . Demikian juga dengan keputusan tentara melakukan perang gerilya dan pengalaman yang diperoleh dalam perang itu , semuanya mendapatkan tafsiran politik dikemudian hari , yakni ketika diperlukan untuk mendukung keterlibatan politik tentara yang sudah sulit dihindarkan . Konsep Jalan Tengah Nasution yang demikian konsep tersebut dicetuskan ketika dalam kenyataan tentara sudah menerabas ke wilayah politik Nasuition untuk duduk di Dewan Nasional waktu itu – bahkan pemerintah . Seminar Angkatan Bersenjata ke I ( 1965 ) , memutuskan bahwa militer Indonesia adalah “ kekuatan sosial dan kekuataan militer “ , setelah secara nyata TNI telah merupakan suatu dari tiga kekuatan politik formal reaim Demokrasi Terpimpin , di samping PKI dan Soekarno . Seminar Angkatan Darat ke II ( 1966) , ketika dalam realitasnya Jendral Soeharto waktu itu sudah menduduki kursi Ketua Presidium Ampera . ( Said, 2003 : 2003 – 2004 ) . Dominasi sesungguhnya dari militer dalam politik Indonesioa diperkukuh sejak Soeharto mengambil alih kekuasaann pada tahun 1966 , dan menjadi presiden pada tahun 1968 selama awal periode awal Orde Baru , Soeharto banyak menyebabkan perwira-perwira militer di dalam kabinetnya , juga dalam insitusi politik serta ekonomi yang strategis. Intervensi TNI/ABRI Penetapan tentang lapangan pekerjaan untuk personel ABRI bertahan sebagai issu yang menjadi pusat perhatian setelah militer mengambil alih kekuasaan . Tahun-tahun awal Orde Baru memperlihatkan suatu peningkatan yang luar biasa dalam hal diperbantukan personil militer pada posisi –posisi sipil . Pada tahun 1977 , satu dekade setelah mapannya Orde Baru , terdapat lebih dari 21.000 personil militer yang diperbantukan

10 pada birokrasi negara , industri milik negara , dan posisi-posisi dicabang-cabang legislatif dan eksekutif . Pada 1980 jumlah personil ABRI yang ditugaskan untuk tugas kekaryaan turun sampai 16.800 , suatu tingkat yang mungkin bertahan hingga satu setengah dekade setelah itu . Dari wakltu ke waktu fungsi ganda ABRI dan praktek semakin terbelah dalam kubukubu, baik dalam hukum dan praktek . Selama Orde Baru jumlah kursi di DPR menyediakan peningkatan bagi militer dari 12 % pada 1967 menjadi 20 % pada 1985 kuota yang sama yaitu 20 % disediakan untuk DRPD I dan DRPD II . Pada tahun 1995 , dengan gerakan yang mengejutkan , Presiden Soeharto mengurangi jumlah jatah kursi legislatif di DPR dari 100 ( 20 % ) menjadi 75 orang ( 15 % ) . Akan tetapi hal ini tidak diikuti dengan diskusi serius apapun tentang kelanjutan dari pengurangan ini ke tingkat DPRD I dan DPRD II . Alasannya , cukup sederhana , yaitu apakah pemotongan junmlah keberadaan legislatif dari ABRI pada tingkatan ini akan berarti hilangnya 2800 kursi yang diperuntukkan bagi personil militer secara nasional keseluruhan . Ancaman kehilangan yang besar itu secara tidak meragukan lagi telah memicu protes keras yang serius dari kestuan-kesatuan perwira . Terbentuknya kubu-kubu dalam kekayaan terbukti sama dengan yang ada pada eksekutifekskutif regional . Selama Orde Baru , posisi dari kepala adminsitratif distrik secara cepat dilabeli sebagai “ militer “ atau “sipil “ . Sekali jabatan walikota diberikan kepada perwira militer , maka posisi itu dianggap sebagai jatah militer , dan sangat besar diharapkan agar tahun berikutnya pejabat terpilih juga dari militer . Pada tahun 1969 , 147 dari 271 ( 54 % ) walikota dan bupati adalah orang-orang militer . Dalam tahun 1996 . Terbentuknya kubu-kubu dalam kekayaan terbukti sama dengan yang ada pada eksekutifEkskutif regional . Selama Orde Baru , posisi dari kepala adminsitratif distrik secara cepat dilabeli sebagai “ militer “ atau “sipil “ . Sekali jabatan walikota diberikan kepada perwira militer , maka posisi itu dianggap sebagai jatah militer , dan sangat besar diharapkan agar tahun berikutnya pejabat terpilih juga dari militer . Pada tahun 1969 , 147 dari 271 ( 54 % ) walikota dan bupati adalah orang-orang militer . Dalam tahun 1996 .presentase itu telah yatiu menjadi 44 % walaupun jumlah absolut dari posisi-posisi telah hanya berkurang menjadi 132 dari 300 . Kompetisi antara birokrasi militer dan sipil umumnya menjadi intensif ketika menyangkut posisi yang secara eufimis , dikenal sebagai daera “basah “ , yaitu daerah dengan sumber-sumber daya alam yang penting atau di daerah dimana terdapat tingkat pertumbuhan yang tinggi dan berkonsekuensi tersedianya kesempatan untuk melakukan perilaku pemburu rente , walaupun distribusi berdasar perkoncoan itu bersifat tidak resmi dan diketahui secara umum . ( Kammen , 2004 : 14 – 20 ) . Richard Robinson menyebut Indonesia sebagai negara birokratik militer . Dalam negara ini perangkat negara telah didominasi oleh pejabat-pejabat militer dan birokrasi pun membengkak : fungsi partai-partai politik , ormas dan lembaga-lembaga politik lainnya juga sudah dirombak . Jika dulu lembaga-lembaga politik tersebut jalur rakyat yang beraspirasi dan berpartisipasi dalam politik , masa sekarang sebaliknya lembaga-lembaga

11 itu sudah menjadi alat kontrol korporatis negara atas rakyat : kehidupan rakyat sudah di politisasi . Sesungguhnya keterlibatan militer dalam dunia politik merupakan ciri khas negaranegara dunia ketiga atau baru mereka , yang merupakan potret “hitam-putih “ dibandingkan dengan peranan militer di negara-negara maju . Yang belakangan ini sangat jelas yakni adanya supremasi sipil atau militer tempatnya di barak . Ia merupakan alat sipil atau peranannya hanya sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan . Keterlibatan atau tidaknya militer dalam politik di Indonesia , sebagaimana yang terjadi di negara-negara dunia ketiga , sangat berkaitan dengan krisis sosial politik dan ekonomi yang terjadi krisis ini bisa mengambil berbagai bentuk seperti lemahnya , legitimasi pemerintahan sipil , sukarnya di capai konsensus di kalangan elit , pemberontakan atau bahkan gerakan separatis seperti DI/TII , kemacetan sistem parlementer . Sementara itu , negara pun juga bangkrut yang ditujukan dengan defisit anggaran negara , utang yang menumpuk , investasi yang rendah bahkan nol, dan seterusnya . Berbagai krisis yang melanda Indonesia yang pada gilirannya mengundang keterlibatan militer dalam dunia politik . Ada dua perbedaan yang secara sederhana bisa diungkapkan seperti ini , Pertama, krisis yang berkepanjangan tersebut memperlihatkan bahwa kalangan sipil , dan khususnya pemerintahan sipil memang tidak mampu mengelola negeri ini . Singkat kata , krisis tersebut akibat kegagalan elit sipil dalam memelihara kesatuan bangsa , stabilitas politik , dan pembangunan ekonomi. Dengan demikian , keterlibatan militer dalam politik hanya sebagai konsekuensi logis saja dari kegagalan tersebut . Militer masuk dalam dunia politik sebagai reaksi semata terhadap krisis sosial-politik dan ekonomi yang terjadi . Sementara itu , penjelasan kedua berkaitan dengan ambisi militer sudah sejak awalnya . Artinya dalam diri militer sendiri , baik individu , kelompok maupun kelembagaan , dorongan untuk terlibat dalam politik memang sudah kuat . Ada rasa ketidakpercayaan dan bahkan sinisme pada politisi sipil atas kiprah dan kapasitas mereka dalam mengelola negeri ini . Sebaliknya golongan militer itu sendiri memainkan peran yang aktif dalam kegagalan bahklan keambrukan sistem politik yang kemudian digantikan . TNI sebagai Tentara Politik Sebagai tentara politik , TNI memiliki karakter inti yang dipopulerkan oleh Finer dan Janowitz, yaitu militer secara sistematis mengembangkan keterkaitan yang erat dengan sejarah perkembangan bangsa serta arah evolusi negara . Hal ini dilakukan dengan mengkombinasikan brightright principle dan competence principle . Birthright principle di dasarkan suatu interprestasi sejarah bahwa militer berperan besar dalam sejarah pembentukan bangsa dan telah melakukan pengorbanan tidak terhingga untuk membentuk dan mempertahankan negara . Inteprestasi sejarah ini pada bersumber dari empat situasi histories . Pertama, , tentara yang berperan besar dalam pembentukan

12 negara baru dari suatu negara yang telah runtuh . Tentara Turki masa Kemal Ataturk ( 1917 – 1938 ) dan Tentara Kuomintang Cina-Taiwan (1949) merupakan contoh dari situasi sejarah ini. Kedua, tentara yang dibentuk oleh suatu pemerintahan setelah insitusi nasional dan ideologi negara berhasil dirumuskan . Tentara-tentara yang masuk dalam kategori Janowitz”s post-liberalition armies adalah Tentara Korea Selatan , dan tentara tentara bekas negara kolonial Inggris dan Perancis di Afrika . Ketiga , tentara yang terbentuk dalam proses perlawanan misili rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan melawan negara kolonial . Tentara-tentara Aljazair , Burma, dan Indonesia dapat dimasukkan dalam kategori ini . Terakhir, tentara yang berperan besar dalam aksi revolusi dalam negara , baik yang berhasil mempertahankan rezim pemerintahan lama, maupun yang berhasil menghancurkan rezim lama serta membentuk rezim baru . Tentara Pembebasan Rakyat Cina , Tentara Kuba masa Castro , Sandinista Nicaragua . Tentara Ethopia masa Mengistu, Tentara Burma masa Ne Win , dan ABRI masa Soeharto (1965 ) terbentuk sebagai tentara politik karena adanya situasi revolusi ini . Competence principle didasarkan pada ide bahwa militer merupakan insitusi terbaik yang dimiliki negara untuk mempertahankan dan mencapai kepentingan nasional bangsa . Penilaian militer sebagai insitusi terbaik ini didasarkan pada beberapa faktor seperti : struktur komando yang padu , efisisnesi kerja , dan kendali yang efektif pada penggunaan instrumen kekerasaan . Satu faktor lagi yang yang mendasari penilaian ini adalah ketidakmampuan insitusi sipil untuk mengelola negara ditandai dengan merebaknya berbagai krisis nasional seperti runtuhnya legitimasi pemerintah , ketidakmampuan pemerintah unmtuk memerintah , munculnya masalah sosial-ekonomi akut , serta munculnya empat tipe konflik-konflik internal ( kerusuhan sosial , konflik komunal , separatisme , dan teroriome domestic ) . Untuk Indonesia , TNI menjelma menjadi tentara politik dengan mengkombinasikan birthright principle dan competence principle . Perpaduan antara kedua prinsip tersebut dilakukan dalam tiga tahap : Militer Indonesia berkosentrasi untuk mengendepankan bright principle terutama dengan (a) mengindentifikasi diri sebagai aktor yang berperan penting sebagai aktor yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan ; dan (b) mendukung penuh kebijakan nasionalistik pemerintah untuk meredam gerakan-gerakan separatis serta upaya untuk mewujudkan kedaulatan territorial Indonesia . Di tahap pertama ini , perjuangan merebut kemerdekaan serta integrasi nasional merupakan dua kontruksi wacana yang dipergunaklan untuk memperkuat birthright principle . Wacana ini berusaha untuk membentuk pemahaman bahwa ABRI merupakan suatu entitas yang lahir dengan sendirinya (self-creating entity ) dan memiliki kemanunggalan dengan rakyat . Militer Indonesia menjelma menjadi penjaga sekaligus penyelemat bangsa ( the guardian and the savior of the nation ) . Hal ini dilakukan dengan menempatkan militer Indonesia sebagai pelindung Pancasila . Penempatan ini mulai dirintis oleh Nasution melalui perumusan doktrin dwifungsi di tahun 1960-an dan mendapat kulminasinya dalam penumpasan PKI tahun 1965 .

13 Brightright principle dipadukan dengan comptence principle dengan menempatkan militer Indonesia sebagai satu-satunya aktor yang mampu menegakkan integritas bangsa sekaligus sebagai motor pembangunan nasional . Perpaduan ini dilakukan dengan memperkenalkan strategi pembangunan politik-ekonomi yang menggabungkan tahapan pertumbuhan lima tahunan yang diperkenalkan oleh Rostow dengan strategi stabilisasi politik –keamanan yang diungkapkan oleh Huntington . Kombinasi model RostowHuntington ini menghasilkan strategi pembangunan terencana jangka panjang yang menempatkan stabilitas politik keamanan sebagai prasyarat utama pembangunan ekonomi . Strategi ini menempatkan ABRI di titik sentral pembangunan nasional . ( Alaxandra , 2004 : 115 – 117 ) Hak Istimewa Militer Dalam Kamus Bahasa Inggris Oxford mendefinisikan hak istimewa sebagai “ hak yang utama , eksklusif , atau khusus , “ dan sebagai “ suatu kemampuan atau hak milik yang secara khusus dan menguntungkan membedakan seseorang lebih tinggi dari yang lain .”. Untuk tujuan kita , dimensi hak istimewa kelembagaan militer menunjuk pada wilayah yang militernya sebagai lembaga , apakah ditentang atau tidak , menganggap bahwa mereka memiliki hak atau hak istimewa , formal atau tidak informal . untuk mrnjalankan kontrol yang efektif atas pemerintahan internalnya , untuk memainkan peranan dalam wilayah-wilayah ekstramiliter dalam aparat negara , atau bahkan untuk menyusun hubungan antara negara dan masyarakat politik serta masyarakat sipil . Ada beberapa hak istimewa militer potensial yang terpenting , dan menunjukkan apa yang dapat menghasilkan hak istimewa tingkat “rendah “,”moderat” , dan “ tinggi” Perhatikan bahwa ketika militer diklasifikasikan sebagai hak istimewa tingkat “rendah “ , ini disebabkan karena kontrol efektif de jure dan de facto atas hak istimewa ini dijalankan oleh para pejabat , prosedur-prosedur , dan lembaga-lembaga yang didukung oleh rezim demokratis. Dalam kasus militer de jure tidak memiliki hak istimewa , akan tetapi pemerintahan dempokratis baru , karena penolakan aktif atau pasif militer, tidak mampu melaksanakan hak istimewa ini secara efektif , maka hak istimewa militer tida bisa diklasifikasikan sebagai “rendah “ melakikan “moderat “. Secara empiris , setiap hak istimewa dapat dipertentangkan . Jika militer sangat menentang setiap upaya pemerintahan demokratis baru untuk mengurangi hak istimewa militer , maka penentangan militer seperti ini akan tercermin dalam dimensi konflik . Secara analistis , hal ini berguna untuk untuk membedakan antara dimensi konflik dan dimensi hak istimewa , karena sejumlah hubungan yang sangat berbeda antara kedua dimensi terbut merupakan hal yang mungkin dalam sebuah demokrasi . Dalam suatu model kontrol sipil atas militer tanpa adanya kontestati , baik hak istimewa militer maupun konflik terbuka berada pada tingkat yang rendah . Bisa dibayangkan bahwa militer dapat bergerak dari satu posisi dengan hak istimewa yang tinggi ke posisi dengan hak istimewa yang tinggi ke posisi dengan hak istimewa yang relatif rendah tanpa kontestasi . Secara empiris , tiadanya kontestasi militer seperti

14 itu kemungkinan besar akan terjadi dalam konteks keseluruhan dari sutuasi sosiopolitik yang mendekati apa yang disebut sebagai proses restorasi jalan redemokratisasi . Dalam proses seperti ini , militer mungkin dapat menerima pengurangan hak istimewa mereka tanpa kontestasi , jika pola istimewa tingkat rendah ini dilihat , baik oleh pemimpin militer maupun pemimpin sipil , sebagai bagian integral dari keseluruhan model pemerintahan dan hubungan sipil-militer yang akan direstorasi . Namun demikian , mungkin juga timbul sebuah situasi di mana terdapat tingkat konflik yang rendah sedangkan tingkat hak istimewa militer tinggi . Tingkat hak istimewa militer yang tinggi dapat dipertahankan jika tidak ditentang oleh para pemimpin politik rezim demokratis . Tidak berimbangnya kekuasaan antara militer dan rezim yang baru bisa sedemikian rupa sehingga di sana tidak pernah ada kontestasi terbuka terhadap alternative kebijakan yang jelas ; berbagai isu potensial menjadi “nonisu”, dan politikus demokratis yang baru dapat “ mengakomodasi “ diri mereka terhadap realitas ini karena berbagai alasan . Dimensi konflik terbuka mengandung sejenis kontestasi terbuka yang menyatu dengan konseptualisasi Robert Dahl tentang kekuasaan ( yang tersingkap melalui kontestasi terbuka ) , serta merupakan sebuah dimensi yang sangat penting dalam hubungan sipilmiliter . Namun , karena kekuasaan militer dapat berasal dari serangkaian hak istimewa yang diperolehnya secara ideologis ataupun politis , kita harus mengakui hak istimewa ini sebagai satu bentuk kekuasaan struktural indenpeden yang laten di dalam masyarakar bernegara bahkan juga dalam kasus di mana hampir yidak ada konflik terbuka . Terjadinya kontestasi militer rendah dan hak istimewa militer rendah bersama-sama dapat disebut sebagai “kontrol sipil “ Tetapi ini tidaklah berarti bahwa tidak mungkin ada perkembangan yang pada akhirnya dapat mengguncangkan kontrol sipil dan mengancam demokrasi . Hubungan-hubungan yang terjadi tidaklah mungkin statis , tetapi tergantung pada permainan kekuatan-kekuatan yang konstan , dan oleh karenanya secara inheren dinamis . Tidak ada satu pun negara demokrasi di dunia ini yang secara teoritis maupun empiris dapat dianggap kembal terhadap krisis yang pada akhirnya mungkin menumbangkan model kontrol sipil yang telah konsolidasikan . Akan tetapi , untuk mengatakan bahwa kontrol sipil itu ada . bukanlah berarti suatu pernyataan yang sepele . Artinya model yang ada itu sendiri – sebagaimana diakui baik oleh pemimpin militer maupun pemimpin sipil – tidak memberikan sumber-sumber ketidakstabilan bagi berfungsinya demokrasi . Kontestasi militer rendah dan hak istimewa militer tinggi , dapat disebut sebagai “ akomodasi sipil yang tak seimbang “. Dari perspektif teori demokrati , sebuah masyarakat bernegara dalam posisi seperti ini memiliki kerentanan –kerentanan yang penting karena kekuataan struktural militer laten merasa sah dalam penmguasaan mereka atas hak istimewa yang sangat banyak . Salah satu kerentanan yang serius ialah bahwa proses kebijakan mungkin menjadi sangat konfliktual , dan militer, yang didukung oleh sekutusekutu yang kuat dalam masyarakat sipil dan masyarakat politik , dapat menggunakan seluruh hak istimewanya untuk memaksakan serangkaian hasil kebijakan yang terpaksa

15 diterima oleh para pemimpin rezim demokrtatis guna menghindari munculnya kudeta . Hasil “ kudeta putih “ ini akan membentuk sistem nondemokratis . Kerentanan lainnya dari posisi “akomodasi sipil yang tak seimbang “ ialah negara bahwa suatu masyarakat bernegara dapat ditransfomrasikan ke dalam sebuah negara garnisum di bawah pemimpin sipil nondemokratis sebagai akibat dari eksploitasi yang dilakukan oleh pihak ekskutif atas hak istimewa militer yang tetap tertanam dalam sistem . Kelemahan dapat tambahan posisi ini ialah rendahnya tingkat otonomi rezim daripada militer , yang terimplikasikan dalam tingkat hak istimewa militer yang tinggi, dapat mengurangi legitimasi demokrasi baru di mata masyarakat sipil dan bahkan masyarakat politik . Yang tak terpisahkan dalam pola “alomodasi sipil yang tak seimbang “ ini ialah bahwa di masa depan proses pemilihan umum dapat menghasilkan seorang pemimpin eksekutif dan suatu badan pembuat undang-undang yang diberi mandat untuk melakukan berbagai pembaruan yang mampu menentang hak istimewa militer . Pihak sipil mungkin menang, dalam kasus di mana hubungan sipil-militer tidak lagi diketegorikan sebagai “ akomodasi sipil tak seimbang :”. Namun demikian , usaha-usaha pemerintah untuk melakukan upaya demokratis guna mengurangi hak istimewa militer dapat menghasilkan perlawanan yang keras dari militer , dan militer berhasil menang dalam krisis tersebut . Ini bebarti bahwa hubungan sipil-militer akan bergerak ke situasi dengan konflik tinggi – hak istimewa tinggi . Bagaimana sistem politik sampai pada posisi konflik tinggi – hak istimewa tinggi ini tidaklah menjadi persoalan , yang jelas posisi ini penuh dengan bahaya bagi konsolidasi yang demokratis . Karena tergantung pada perimbangan kekuataan , posisi ini dapat menuju kehancuran demokrasi, atau , setelah usaha mempertahankan diri , kearah pemerintahan demokratis dengan hasil aliansi sipil-militer yang akan mengurangi hak istimewa dan mengurangi konflik . Ada hak istimewa sedangkan konflik tinggi . Dalam pengertian paling murni, posisi ini secara analistis mungkin , namun secara empiris tidak mungkin , khsusunya bila kita ingat bahwa “rendahnya “ hak istimewa militer mengandung arti adanya kontrol sipil de facto dan de jure . Jika posisi hak istimewa rendah – konflik tinggi seperti itu tercapai , posisi tersebut barangkali akan terjadi dalam waktu yang relatif singkat , dan pemerintahan sipil akan berada dalam posisi dengan kekuatan yang cukup untuk merintangi berkembangnya konflik dengan penggantian para pemimpin militer .( Stepan , 1996 : 127 – 136 ) Reformasi Militer Secara empirik militerisasi dan kebangkitan otoritariansme di belahan dunua ternyata diikuti dengan kemajuan proyek modernisasi ekonomi dan politik , sehingga muncul ortodoksi bahwa otoriatarianisme adalah pilar yang kokoh bagi stabilitas politik , integrasi nasional dan pembangunan ekonomi yang bercorak kapitalistik . Sejarah juga mencatat prestasi modernisasi di Amerika Latin dan beberapa negara di Asia seperti

16 Korea Selatan , Taiwan , Singapura dan sebagainya . Bahkan model pembangunan ekonomi kaputalistik yang ditopang oleh pemerintahan militer tersebut dijadikan model pembangunan dibanyak negara seperti Argentina , Brazil , Mexico , Thailand , Indonesia dan lain-lain . Akan tetapi memasuki dekade 1970-an dan tahun-tahun berikutnya ortodoksi pada pemerintahan militer di atas mulai kehilangan pengaruh . Beberapa penelitian empirik memperlihatkan bahwa keunggulan pemerintahan otoritarian dibawah komando militer merupakan mitos menyesatkan . Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada korelasi anatara pemerintahan otoritarian dengan stabilitas politik , integrasi nasional dan pembangunan ekonomi . Kinerdja pemerintahan militer di banyak negara makin mengalami delegitimasi setelah bangkit semangat zaman baru demokratisasi . Mulai tahun 1970-an , dunia menyatakan perang terhadap otoritarianme dan pemerintah militer . Masyarakat internasional menyaksikan betapa dashyatnya angin perubahan yang meruntuhkan rezim otoriatarianisme di belahan dunia , dari Eropa Timur , sampai pada beberapa negara di Asia dan Afrika . Samuel Huntington merekam peristiwa ini dengan menyebutkan sebagai gelombang demokratisasi ketiga , yang menyebabkan demokrasi menjadi alternatif yang mungkin dan absah atas berbagai bentuk otoritarianisme . Gelombang demokratisasi ternyata juga di ikuti dengan demiliterisasi di berbagai negara . Samuel Huntington mencatat bahwa salah satu problem serius yang dihadapi oleh negaranegara demokrasi baru adalah membatasi kekuasaan politik pihak militer , membuat militer tunduk pada pemerintahan sipil demokratis dan menjadikan angkatan bersenjata suatu badan professional yang mempunyai komitmen untuk melindungi keamanan negeri . Penarikan militer dari politik ( demiliterisasi ) dan penegakan pemerintahan sipil menandai proses demokratisasi di sejumlah dengan demokrasi baru . Dunia internasional bisa melihat prestasi demiliterisasi di Portugal , Spanyol, Yunani , Turki, Arnetina , Peru , Chile , Korea Selatan , dan sebagainya . Ketika negara-negara demokrasi baru bangkit selama dua dekade terakhir , kecuali Nigeria dan Sudan , tidak ada pemerintahan demokratis yang digulingkan melalui kudeta militer . Percobaan kudeta militer sering terjadi tetapi selalu gagal karena cara-cara seperti itu tidak lagi legitimat di dalam masyarakat baru yang demokratis . ( Eko, 2002 : 1 – 8 ) Selama 32 tahun rezim Soeharto telah memberi ruang yang tidak terbatas pada tentara , menyediakan alasan sejarah yang sngat sosial bagi peran politik tentara . Perluasan yang bersifat total ke lahan sosial, ekonomi dan politik yang dilakukan oleh tentara selama periode ini lewat aneka konsep dan doktrin yang dikembangkan , menyisahkan banyak persoalan , mulai dari pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius yang menyeret kemanusian ke perusahaan , perdebatan hingga pada isu-isu semisal akuntabilitas , transparasi , partisipasi , dan masih banyak lainnya yang merupakan wilayajh-wilayah klasik dalam wacana perdebatan ilmu politik .

17 Setelah Soeharto lengser ke prabon , hadir sebagai fakta sejarah baru yang membudayakan argumen romantisme sejarah yang dirumuskan sendiri oleh tentara bagi dirinya tentang kepahlawanan tentang rakyat yang memberikan legitimasi moral dan sosial bagi militer Indonesia untuk hadir sebagai fakta baru yang menghapus hampir semua argumentasi sejarah manis tentang peran TNI selama pertiode formatif bangsa dan negara Indonesia didendangkan lewat lagu Kopral Djono , Pilih Menantu dan Letnan Hadi . Kisah pertempuran heroik telah semakin menipis dalam ingatan kolektif bangsa dan gambaran romantik militer telah kehilangan otensitasnya . Image militer yang tampil hanyalah salinan dari pengalaman langsung yang dirasakan atau berita disampaikan . Berbargai tragedi berdarah – pembersihan anasir 30 September 1965 , Talangsari Lampung , Tanjung Priok , DOM di Aceh , Trisakti , Semanggi I dan II dan sekian banyak lagi – seakan-akan telah menjadi realitas kekinian saja , bukan pengawalan yang telah terlewati . Jika disalin dalam proses penciptaan citra maka kesemuanya terwujud dalam kata-kata sederhana tetapi menyakitkan hati “ pelanggaran hak asasi manusia “ , ABRI juga dipersalahkan dengan terjadiunya dan sukarnya di atasi kerusuhan di Ambon , Maluku Utara , Kalimantan Barat dan Tengah , Poso dan lainnya . Keterlibatan militer dalam bisnis mendapat kecaman , yang di ikuti dengan tuduhan adanya KKN lewat jalur -jalur kekuasaan yang dipunyai sampai dengan usaha pungutan liar , yang merugikan masyarakat , dan pemberian backing kepada usaha yang kelabu dan bahkan hitam . Dan seterusnya dan sebagainya , daftar panjang bisa juga dibuat . Reformasi politik yang dijalankan setelah kejatuhan Presiden Soeharto hanya memperkuat kedudukan realitas yang dialami dan yang diketahui sebagai pasangan kesan subyektif dalam proses pembentukan image . Serangan realitas obyektif yang frontal dan terus-menerus telah semakin menyudurkan apa pun tanggapan subyektif yang positif terhadap militer . Mengapa sedemikian terbalik terjadinya proses pembentukan image dalam kesadaran masyarakat tentang tentara kita ? Jika dulu image tentara terbentuk dari pilihan pada aspek-aspek yang positif , kini image terbentuk oleh tanggapan-tanggapann yang negatif . Barangkali kesemuanya berpangkal bukan saja dari keterlepasan militer dari apa yang secara keren disebut sebagai civilian supremacy tetapi juga dominasi politik dipunyainya dan hegemoni wacana yang dipaksakannya . ( Abdullah , 2003 ; 235 – 250 ) Di bawah tekanan-tekanan berat dalam dan luar negeri serta penghujatan berkelanjutan dari publik , ABRI mulai sadar bahwa mereka harus meninjau kembali Dwifungsi , baik substansi bentuk maupun implementasinya . Dalam semangat baru demikian itulah ABRI mencoba menemukan cara-cara menyesuaikan Dwifungsi dengan kondisi bangsa yang berubah . Reformasi internal itu dirumuskan atas 12 langkah yaitu (1) sikap dan pandangan politik tentang paradigma baru ABRI di abad 21 ; (2) Sikap dan pandangan politik tebntang peran Sospol Pusat dan Tingkat (I ) ; (3) Pemisahan Polri dari tubuh ABRI ; (4) Penghapusan Dewan Sospol Pusat dan Tingkat I ; (5) Perubahan Staf Sospol menjadi Staf

18 Territorial ; (6) Kedudukan Staf Karyawan ABRI, Kamtibmas dan Badan Pembinaan Kekaryaan ABRI ; (7) Penghapusan Sospol dan Babinkodam , Sospolrem dan Sospoldim ; (8 ) Penghapusan kekaryaan ABRI melalui pensiunan atau alih status ; (9) pengurangan jumlah fraksi ABRI di DPR , DPRD I dan II ; (10) ABRI tidak akan pernah lagi terlibat dalam politik praktis ; (11 ) Pemutusan hubungan organisatoris dengan Golkar dan mengambil jarak yang sama dengan semua partai politik yang ada ; (12) Komitmen dan konsekuensi netralitas ABRI dalam Pemilu . Apabila langkah-langklah tersebut , di atas merupakan perubahan-perubahan nyata dan telah mulai di lakasanakan , beberapa langkah perubahan lainnya lebih bersifat kosmestik dan simbolik . Perubahan yang dirasa cukup mencolok , dan disosialisasikan secara cukup intensif , ialah dihapusnya istilah Dwifungsi dan diganti dengan istilah peran . Pertimbangan utamanya dikatakan ialah untuk menghilangkan kesalahan pengertian istilah Dwifungsi itu diartikan sebagai kekaryaan , dan untuk mencegah dipertentangkan fungsi satu dan fungsi kedua . Istilah baru peran itu dianggap lebih tepat mencerminkan konsep peran dan tanggung jawab TNI secara holistik dan utuh , yang dipandang memang mencakup hankam dan sospol . Dijelaskan , bahwa kedua fungsi dari Dwifungsi itu dalam realita sesungguhnya satu fungsi saja . Dalam fungsi yang satu itu hankam , khususnya keamanan internal dan peran sospol menjadi satu (fusi ) dan tidak dapat dipisahkan . Dengan demikian , dalam kenyataannya tak ada yang berubah , hanya istilah peran menggantikan istilah Dwifungsi . Sebagai pedoman dalam melaksanakan peran sosplonya , ABRI telah merumuskan apa yang mereka namakan Paradigma Baru , yang berisi empat pedoman : (1) Tak perlu harus selalu memimpin dari depan , dari belakang juga dapat ; (2) Tak perlu harus menduduki posisi-posisi kritikal , tetapi juga dapat hanya dengan mempengaruhi ; (3) Tak usah selalu mempengaruhi langsung , tetapi juga dapat secara tidak langsung ; (4) Bersedia berbagai kekuasaan dan atau peran mitra-mitra sospol lainnya ( Habib , 2004 : 14 – 33 ) Pada penjelasan Markas Besar ABRI mengemukakan enam kondisi faktual yang menyebabkan peran ABRI yang tidak lagi secara teknis dan operasional pantas dinyatakan sebagai peran sosial-politik ABRI tetapi lebih tepat sebagai peran dan dhrma bakti dalam kehidupan bangsa . Keenam kondisi faktual itu adalah (1) Kondisi dan persepsi keadaan darurat telah kita lalui , (2) Kecenderungan perkembangan lingkungan strategis adalah demiliterisasi dan penghargaan terhadap hak asasi manusia ‘ (3) Tingkat pendidikan masyarakat membuat mereka sadar akan hak partisipasinya dalam politik ; (4) Era globalisasi yang menuntut keunggulan manajemen nasional ; (5) Sebagai akibat dari penciptaan modernisasi masyarakat Indonesia , dan (6) Penduduk Indonesia semakin dibentukoleh generasi yang tidak mengalami dan tidak memahami berbagai peristiwa sejarah yang menopang legitimasi sejarah Dwifungsi ABRI . Kendati demikian , dengan segala perubahan serta segala kecaman dan kritik , TNI masih merasa mungkin , berharap mendapatkan peran politik dalam masyarakat Indonesia . Ada kecemasan militer terhadap masyarakat Indonesia yang mereka lihat sebagai berpotensi melemahkan wawasan nusantara, dan karena itu mengancam persatuan bangsa.

19 Maka jika kita mencari hal yang paling konsisten dalam pemikiran TNI , yang paling mudah diketemukan alah kebencian kepada liberalisme danm sikap tidak percaya militer kepada sipil . Kebanyakan generasi pendahulu dan generasi penerus pada dasarnya mempunyai kesimpulan yang sama , melihat sipil sebagi masih kurang memiliki disiplin serta masih mengandung potensi yang dapat mengancam persatuan . Kendati kepercyaaan tentara kepada sipil yang akhirnya yang mendorong TNI membuat putusan yang paradoksal di awal masa Orde Baru . Di satu pihak mereka terdesak menghapus Dwifungsi , tapi di pihak lain mereka tidak percaya kekuatan sipil , dank arena itu mereka terpaksa mempertahankan peran politik tentara (Said, 2003 : 171 – 175 ) Meskipun terdapat tuntutan publik agar militer tidak lagi berpolitik , namun masih ada saja golongan yang berpendapat lain . Golkar , pemenang terbesar menuju nomor dua diantara 48 partai peserta pemilu , menjelang pemilihan presiden secara resmi mengumumkan keputusannya untuk menominasikan Wiranto , Menhankam / Pangab , sebagai Wapres bagi calon Presiden Habibie . Jendral Wiranto mula-mula bimbang , tetapi kemudian menolak pencalonan itu setelah fraksi ABRI di DPR dan MPR , menyampaikan pendapat mereka kepada Jendral tersebut bahwa mereka tidak mungkin memenangkan . Kebijaksaaan Presiden Habibibie dalam menata peran militer pasca – Orde Baru lebih banyak diserahkan langsung kepada Panglima ASBRI Jendral Wiranto . Tidak seperti pada masa Presiden Soeharto , segala perubahan yang menyangkut manajemen internal militer , dipercayakan kembali kepada militer sebagai organisasi yang memang professional dalam bidangnya untuk melakukan perubahan baik dalam dataran doktrin , maupun implemntasi di lapangan . Oleh karena itu pada masa pemerintahan Habibie peluang yang relatif terbuka untuk menjadikan intervensi militer menjadi professional tanpa adanya kontrol sipil subyektif , namun lebih cenderung mengacu pada kontrol sipil obyektif . ( Yulianto , 2002 : 346 – 348 ) Ada dua perubahan signifikan dalam militer yang dilakukan oleh Presiden Abdurrachman Wahid dalam bulan Okrtober tanpa sedikitpun menimbulkan masalah , yang menimbulkan optimis umum bahwa TNI ternyata bersedia apa yang dirasakan terbaik bagi negara dan rakyat . Perubahan-perubahan itu ialah (1) Pengangkatan seorang perwira tinggi TNI AL, Laksamana Widodo AS , sebagai Panglima TNI . Panglima TNI pertamma bukan dari Angkatan Darat sejak jabatan itu diadakan pada tahun 1969, dan (2) Pengangkatan seorang sipil sebagai Menteri Pertahanan , pertama kali terjadi di dalam 40 Tahun . Kedua langkah itu seharusnya tidak pernah terpikirkan akan bisa terjadi . Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrachman Wahid , kebijakan yang telah diusulkan dan dilaksanakan dari kalangan militer itu sendiri justru mendapat undangan dari pemerintah sipil untuk kembali berkiprah di jabatan sipil . Meskipun jabatan Menteri Pertahanan yang sejak pemerintahan Orde Baru selalu dipegang oleh militer sudah diserahkan kepada sipil , namun kebijakan Abdurrahman Wahid yang menaarik militer

20 untuk duduk dijabatan sipil merupakan langkah mundur . Susilo Bambang Yudhoyono , Agum Gumelar , Fredy Numberi , Wiranto dan Luhur Binsar Panjaitan yang merupakan perwira tinggi menempati jabatan sipil di Kabinet Persatuan Nasional . Dengan dilantiknya para jendral menjadi menteri dalam kabinet , maka surat pengajuan pensiun bagi para jendral tersebut diajukan ke presiden untuk ditandatangani , mengingat peraturan tidak memperbolehkan jendral aktif duduk dalam kabinet . . Sehingga mau tidak mau harus dipensiunkan dini dan dinas aktif dan menjadi warga sipil . Dengan demikian habis sudah karir mereka dalam bidang militer , padahal calon kuat untuk nenempati (menduduki ) KSAD, bahkan kemungkinan besar sampai ke jenjang Panglima TNI . ( Yulianto, 2002 : 441 – 446 ) Panglima TNI, Laksamana Widodo AS , bersama ketiga para Kepala Staf Anfkatan , melaporkan kepada Presiden Abdurrachman Wahid tujuh keputusan hasil rapim TNI 2000, keputusan terpenting yang hampir tidak pernah dibayangkan , sebelumnya akan terjadi ialah keputusan yang menghaous Dwifungsi, suatu doktrin yang praktis menjadi ideologi , yang telah memungkinkan TNI, khususnya TNI-AD berkuasa selama lebih dari 30 tahun . Untuk selanjutnya akan menfokuskan diri kepada fiungsi utamanya , yaitu pertahanan terhadap ancaman-ancaman dari luar . Keamanan internal akan merupakan tanggung jawab Polri , dengan TNI selalu sedia membantu , khususnya dalam mengatasi terorisme dan pemberontakan bersenjata , jika diperlukan dan sesuai dengan perundangundangan . utusan lainnya juga yang sangat penting ialah , bahwa TNI menyatakan komitmennya untuk untuk melanjutkan reformasi intern dan berusaha memperoleh kembali kepercayaan rakyat yang praktis telah hilang sejak jatuhnya Soeharto . Keputusan-keputusan itu adalah penting sangat fiundamental , dan merupakan puncak dari perubahan-perubahan cukup berarti yang telah terjadi dalam tubuh ABRI selama dua-tiga tahun terakhir yang berimplikasi luas mengenai peran dan fungsi militer . Ia menjanjikan suatu hubungan sipil-militer yang sama sekali berbeda dari sebelumnya . sewaktu militer sangat terlibat dalam politik dengan segala ekses dan akibat yang tidak dikehendaki . Jika keputusan-keputusan itu dilaksanakan , dan jika dosa-dosa masa silam juga dikoreksi , hal itu juga akan melicinkan proses demokratisasi serta pembangunan suatu pemerintahan sipil yang memiliki wewenang penuh terhadap militer . Danm akhirnya ,. Hal ini juga akan mengakhiri suatu hubungan sipil-militer yang selama lebih dari empat dasawarsa ditentukan oleh Dwifungsi . ( Habib , 2002 : 14 – 33 ) Untuk meneguhkan secara legalitas formal peran TNI sebagai alat pertahanan , maka pada tanggal 19 Agustus 2000 melalui TAP MPR Nomor VII/MPR/2000 ditetapkan bahwa di samping perannya sebagai alat negara dalam pertahanan , TNI juga ikut serta dalam penyelenggaraan negara . Ketetapan MPR yang sama ternyata telah menimbulkan kontroversi berkaitan dengan keikutsertaan TNI dalam MPR paling lama sampai tahun 2009 . Keputusan mempertahankan lebih lama peran politik tentara ketika militer sendiri sudah meninggalkan Dwifungsi beberapa bulan sebelumnya , mendapat sambutan yang keras dari pada aktivitas mahasiswa , tokoh-tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat , pakar

21 politik , bahkan Menteri Pertahanan Yuwono Sudarsono . Mereka menunjukkan keputuisan MPR tersebut sebagai bukti betapa politisasi sipil menderita inferiority complex terhadap tentara . Mereka juga menuduh MPR menghianati cita-cita dan gerakan reformasi yang salah satu tuntutannya adalah depolitisasi militer . ( Said , 2003 : 208 ) Namun demikian , masih ada rasa keengganan di antara para petinggi militer untuk mengakui pola hubungan sipil-militer yang cenderung kearah supremasi sipil yang telah dijalankan . Di antara mereka memilih berpendapat netral yang tidak menimbulkan dikhotomi sipil – militer . Supremasi sipil itu bukan berarti sipil mengontrol militer , atau militer mengontrol sipil , namun supremasi sipil adalah supremasi hukum . Militer hanya tunduk dan patuh kepada hukum yang berlaku yang dibuat oleh pemerintah sipil . Jadi tidak ada istilah siapa yang dominan atau siapa yang menguasai . ( Yulianto : 2002 : 377 – 380 ) Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri yang menggantikan Abdurrachman Wahid kemudian terlibat berusaha menimba pelajaran dari cara kurang hati-hati pendahulunya mengurus tentara . begitu berhati-hatinya Megawati Soekarnoputri sehingga bukan saja nyaris tak berbuat dalam mengelola tentara , ia bahkan memberi kesan bingung dalam menghadapi urusan pergantian pimpinan mereka . Akibatnya , perwira yang sudah harus diganti , tidak kunjung pensiun , dan yang harus mendapat promosi . Dari pengalaman Presiden Abdurrachman Wahid yang kehilangan dukungan militer hingga Presiden Megawati yang gamang menghadapi tentara , nampaknya hanya satu kesimpulan yang harus dipetik : TNI ternyata masih suatu kekuatan politik yang kuat dan karena itu tetap diperhitungkan untuk mengerti peran politik militer tersebut , marilah kita tempatkan pengalaman para politisi itu dengan tentara dalam perspektif sejarah politik TNI . Pengalaman Abdurrachman Wahid yang tersandung dalam urusan Agus Wirahadikusumah , bukanlah suatu hal yang baru . Di pertengahan tahun lima puluhan , Menteri Pertahanan yang sipil Iwa Kusumasumantri mencoba memaksa TNI AD Kolonel Bambang Utoyo sebagai KSAD . Keputusan yang melanggar persyaratan senioritas , ditolak Angkatan Darat . Insiden penolakan berakhir fatal bagi pemerintah. Pada sidang MPRS 1967 . fraksi ABRI menarik dukungan dari Presiden Soekarno . Akibatnya Indonesia terjadi pergantian kepala negara untuk pertama kalinya sejak merdeka . Dilihat dari perspektif ini maka penolakan TNI AD kepada keinginan Abdurrachman Wahid menjadikan Wirahadikusuma, mirip denmgan penolakan Bambang Utoyo . Sebelumnya dan dukungan fraksi ABRI kepada Memorandum DPRGR pada tahun 1967 , yang menjadi titik tolak jatuhnya Presiden Soekarno . Tidak sulit untuk dimengerti kalau Megawati Soekarnoputri berusaha keras menghindari nasib buruk Presiden Soekarno serta pengalaman tragis Presiden Abdurrachman Wahid . Pengalaman Iwa Kusumasumatri , Soekarno dan Abdurrachman Wahid , semua menunjukkan adanya garis merah kekuatan politik tentara yang kini masih belum terputus-putus . Dan sikap gamang Presiden Megawati Soekarnoputri dalam urusan tentara sudah seharusnya tidak ditafsirkan kecuali sebagai pembuktian bahwa Presiden Megawati Soekarnoputri sangat sadar dan peka , terhadap kekuatan politik TNI , suatu

22 hal yang juga terlihat jelas dalam susunan kabinetnya . Kabinet Megawati Soekarnoputri , Abdurrachman Wahid maupun Habibie . Sebelumnya , jabatan-jabatan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan , semua diberikan kepada pihak militer . ( Said, 2003 : 213 – 215 ) Pada masa ketiga pemerintahan sipil baru , terdapat beberapa kebijakan –kebijakan yang mampu mengurangi hak-hak istimewa militer . Keberhasilan mengurangi hak-hak istimewa kelembagaan militer ini pada (1) Militer secara de jure tidak lagi mempunyai hak istimewa dalam berpolitik ; (2) Menteri Pertahanan telah diisi oleh kalangan sipil ; (3) Tidak adanya partisipasi militer dinas aktif dalam kabinet : (4) Duduknya sejumlah orang sipil di tingkat eselon 1 Departemen Pertahan dan juga duduknya pejabat sipil menjadi orang nomor satu Lemhanas; (5 ) Pisahnya militer secara organisatoris dengan polisi yang berarti peran militer terbtas hanya pada bidang pertahanan , sedangkan peran polisi hanya dalam bidang keamanan dan keterlibatan masyarakat . Dengan demikian , dapat dikatakan bahwa pemerintah sipil pasca Orde Baru meskipun dalam hal beberapa kebijakan mampu mengurangi hak-hak istimewa kelembagaan militer, namun pengurangan tersebut relatif tidak berpengaruh siginikan terhadap penurunan kekuatan politik militer . Singkat kata , kebijakan pemerintahan sipil baru dalam rangka penegakan supremasi sipil relatif kurang berhasil . Kebijakan-kebijakan pemerintahan sipil baru yang menimbulkan kontestasi militer relatif tinggi dan militer mampu mempertahankan hak-hak istimewa berkisar pada (1) Sejumlah anggota militer masih berada di MPR sampai 2009 ; (2) Keberadaan anggota militer dalam posisi-posisi penting dalam struktur organisasi Departemen Pertahananan, karena pihak sipil relatif belum mampu menjalankan secara efektif hak istimewanya dalam bidang ini ; (3) Dominasi lembaga inteljen militer dalam tugas bantuan terhadap polisi yang bertugas dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat ;(4) peran lembaga sipil inteljen negara yang relative belum mampu menjadi intelgence community yang mempunyai wewenang rantai komando atas bandan-badan intelejen lainnya (5) Terdapat sejumlah perwira tinggi , yang diduga terlibat dalam pelanggaran HAM , masih relatif sulit untuk disentuh hukum , karena sistem pengadilan militer mencakup masalah yang sangat luas dari masyarakat sipil sehingga tindak pelanggaran pidana criminal murnipun yang seharusnya diadili di pengadilan umum dapat diadili di pengadilan militer dan (6) Peran militer dalam bisnis, dimana militer masih tetap menjalankan misi ini dengan alsan untuk keperluan biaya tuhas operasional dan pemeliharaan alutsista dari terbatasnya anggaran belanja militer yang diberikan negara ( Yulianto 2002 : 611 – 613 ) Issu yang telah lama mewarnai perdebatan publik dalam mewujudkan profesionalisme TNI dalam demokrasi selama ini adalah fenomena kemandirian finansial militer . Mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengemukakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) selama ini hanya mampu menyediakan alokasi anggoran sebesar 30 % untuk membiayai seluruh kegiatan operasional TNI sedangkan selebihnya , yaitu 70 persen untuk membiayai operasional TNI itu dibiayai di luar APBN . Publik selama ini tidak dapat memperoleh informasi yang lengkap mengenai sumber-sumber

23 pendanaan untuk menuntup kegiatan operasional itu . Fenomena itu membawa implikasi yang luas , terutama dalam melembagakan fungsi pertahanan kepada publik . Demokrasi mengisyaratkan pentingnya aspek transparansi dan akuntabilitas pada setiap aspek penyelenggaraan kekuasaan negara kepada publik . Isu tentang pembiayaan finansial bagi pertahanan dan keamanan itu semakin menjadi pembicaraan publik seiring dengan pemberitaan media massa bahwa PT Freepot Indonesia telah menyalurkan dana sebesar $ 5,.6 juta ( sekitar Rp. 50 milyard ) dalam membantu TNI menjalankan tugasnya dipropinsi yang tengah bergejolak . Substansi persoalan adalah berapa pun jumlah serta dari mana pun sumber –sumber pendanaan pembiayaan pelaksanaan fungsi pertahanan itu selalu menuntut adanya mekanisme pertanggung jawaban kepada publik . Kemandirian finansial militer dalam membiayai kegiataan operasional itu saja melemahkan pelembagaan akuntanbilitas penyelenggaraan fungsi pertahanan kepada publik tetapi upaya peningkatan profesionalisme militer sendiri . Suatu yang orinis pula , jika tuntutan profesionalisme militer itu tidak didukung oleh anggaran yang memadai . ( Ismanto , 2003 : 3 – 15 ) Kendati militer tidak berpolitik praktis, tetapi ada fenomena anggota militer menyalurkan aspirasi politiknya lewat partai politik . Namun adanya kekhawatiran dari berbagai kalangan , baik dari akademisi maupun pengamat yang menganggap masuknya pensiunan militer sebagai upaya untuk mengontrol kehidupan politik sipil . Itu setidaknya tergambar dari ungkapan para pengamat politik dalam menyikapi masuknya para jendral purnawirawan tersebut ke dalam partai politik . Kustanto Anggoro mencatat beberapa ekses negatif bergabungnya pensiunan militer ke partai politik (1) Dengan masuknya pensiunan militer , setidaknya penyelesaian masalah intern partai akan menggunakan gaya militer yang mendasarkan pengambilan keputusan secara hirarki ; (2) Adanya pandangan politik yang menunjukkan kecenderungan bahwa militer lebih mampu menjalankan roda perpolitikan bangsa dibandingkan sipil ; (3) Dalam menyelesaikan konflik-konflik lokal , kebijakan yang diambil akan cenderung menggunakan pendekatan militer . Beberapa hal yang penting yang perlu dicermati mengapa pensiunan militer bermotivasi untuk bergabung dengan partai politik : (1) Kepentingan individu , yakni ambisi-ambisi pribadi militer untuk merebut posisi penting dalam sebuah jaringan kekuasaan politik ; (2) Kepentingan kelompok , yaitu keinginan untuk mendominasi kelompok lain melalui kekuasaan yang diperoleh ; dan (3) Kepentingan nasional , yakni mempertahankan dan membangun keamanan negara dan masyarakat . dengan harapan mereka tetapi di catat sebagai satu-satunya kelompok yang mampu menjaga persatuan bangsa dari ancaman disintegrasi . Terlepas dari sisi baiknya dan ekses negatif pensiunan militer tetap berkiprah dalam kehidupan politik . Ada keraguan akan kemampuan pimpinan-pimpinan sipil dalam melakukan kontrol dan menerapkan prinsip supremasi sipil atas militer . Padahal perkembangan hubungan sipil-militer menurut Huntington , sangat bergantung pada tindakan kepemimpinan sipil dalam sebuah negara demokrasi baru . Yang terjadi justrui

24 ketergantungan sipil terhadap militer semakin besar . Setidak-tidaknya terlihat pada besarnya pengaruh militer dalam merumuskan kebijakan nasional . ( Ramdhany , 2003 : 44 – 51 ) Penutup Sejak berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 , Indonesia di hadapkan pada serangkaian perubahan politik mendasar dalam membangun sendi-sendi kehidupan politik yang demokratis . Salah satu aspek dari serangkaian perubahan politik itu adalah upaya untuk mendefinisikan kembali peran politik militer dalam konstelasi politik yang telah berubah itu . Redefinisi itu pada hakekatnya dimaksudkan untuk membangun profesionalisme dalam menjalankan fungsi utamanya , yaitu mempertahankan eksistensi negara dalam menghadapai ancaman eksternal . Pengetahuan profesionalisme militer merupakan aspek penting dalam mendukung transisi demokrasi . Profesionalisme militer tidak saja akan memperkuat insitusi militer sebagai alat negara , tetapi juga menghindarkan militer dari arena tarik-menarik kepentingan politik yang pada gilirannya justru hanya menempatkan militer sebagai alat kekuasaan militer berlaku . Konsep supremasi sipil atas militer telah diterima secara luas sebagai acuan dalam membangun sipil-militer bagi penegakkan demokrasi . Suatu masyarakat yang demokratis hanya mungkin dapat dipertahankan bila setiap komponen bangsa , termasuk militer yang memiliki kewenangan formal dalam menggunakan kekuataan fisik, tunduk pada insitusi kenegaraan yang dihasilkan secara demokratis serta kebijakan-kebijakan negara yang dihasilkannya . Hubungan sipil-militer yang mengacu pada konsep supremasi sipil atas militer yang dikenal dengan kontrol sipil objektif ( objective civilian control ) itu membawa beberapa konsekwensi : (1) Subordinasi militer kepada pimpinan politik yang dipilih secara demokratis oleh rakyat ; (2) Pengakuan otonomi bagi militer serta profesionalisme militer dan (3) menimbulkan intervensi militer dalam politik . Makin menurunnya peran politik militer sejak jatuhnya Soeharto 21 Mei 1998 , bisa ditafsirkan sebagai akibat menguatnya secara relatif peran politik sipil dan tekanan internasional atas tentara . Penting untuk dicermati kenyataan bahwa bahkan sebelum MPR dan DPR memutuskan sesuatu mengenai peran dan fungsi tentara pada pertengahan Agustus 2000. Rapim Mabes TNI itu sendirilah yang menghapus peran politik mereka dan memutuskan tenaga hanya pada pertengahan negara . Sebaliknya jangan dilupakan , bahwa kemenangan sipil atas militer di era pasca Orde Baru ini sebenarnya juga tidak terutama disebabkan oleh bertambahnya sumber daya politik sipil , melainkan sebaliknya yang terjadi , yakni terus merosotnya secara drasis sumber daya politik militer dari berbagai hujatan serta tekanan internasional atas kesalahan-kesalahan masa lalu mereka yang dianggap penyelenggaran HAM. ( Said, 2003 : 205 – 207 ) Pemerintahan sipil baru dalam pengelolan konflik yang terjadi akibat penerapan kebijakan-kebijakan barunya , relatif lebih bersikap akomodatif dan kompromistis .

25 Kebijakan-kebijakan pemerintah sipil baru yang berusaha mengontrol militer dilakukan secara bertahap mengingat kekuataan dan pengaruh militer masih dalam peta perpolitikan di Indonesia . Sikap akomodatif dan kompromis pemerintahan sipil juga diimbangi sikap yang yang sama dipihak militer . Sikap ini dilakukan oleh kedua belah pihak yang membawa dampak pada instabilitas sosial , politik dan ekonomi dan keamanan . Dengan demikian , penyelesaian konflik dengan model akomodatif dan kompromi di kedua belah pihak itu menunjukkan bahwa pemerintah sipil baru relatif masih memberikan kesempatan atau peluang bagi militer untuk berkiprah dalam dunia politik meskipun peraturan menyebutkan dalam batasan relatif peran tersebut dijalankan . Penyelesaian model ini memang pada satu pihak meniadakan konflik yang berkepanjangan namun di pihak lain tidak menuntaskan konflik yang berlangsung . Dalam konteks inilah kekompleksan masalah-masalah di era transisi menuju konsolidasi demokrasi terjadi . Pihak militer yang sebelumnya mempunyai hak-hak istimewanya yang tertinggi dengan posisi yang mapan dan nyaman yang kemudian di ungkit-ungkit kembali bahkan diturunkan dari posisi yang tinggi ketingklat yang lebih rendah , secara sosiologis jelas akan melakukan berbagai bentuk perlawanan dan tantangan dalam rangka mempertahankan kemampannya. Oleh karena itu, tidak semudah untuk mengubah waktu tradisi dan budaya kemampanan militer yang sudah mengakar ini waktu yang singkat dan frontal . Penyelesaian konflik dalam rangka penyelesaian kebijakan-kebijakan pemerintahan sipil baru dengan jalan kompromi dan akomodatif relatif lebih aman mengingat pihak pemerintahan sipil baru , begitu juga pejabat-pejabat politik sipil sipil masih belum tumbuh rasa percaya diri untuk mampu mengontrol militer . Militer relatif masih mempunyai kekuatan politik yang signifikan yang diperebutkan oleh pejabat-pejabat politik sipil untuk mencari dukungan bagi kepentingan politik dan kekuasaan . Dengan demikian , insitusi militer yang mempunyai struktur organisasi yang kuat dengan disiplin , hirarki , dan semangat esprit de corps tinggi merupakan kekuatan laten yang relatif dianggap pihak pemerintah sipil baru merupakan ancaman bagi proses demokratisasi yang sedang berlangsung jika mereka gagal dalam mengawal transisi demokrasi ini . Ketakutan atau semacam inferior complex dari pejabat-pejabat politik sipil inmilah yang membuatnya lebih memilih jalan kompromi dan akomodasi dalam upaya kebijakan-kebijakannya , khususnya kebijakan pemerintah sipil baru yang melakukan pengurangan hak-hak istimewa militer . ( Yulianto, 2002 : 614 – 615 ) Alfred Stepan ada 11 ( sebelas ) hak-hak istimewa militer dalam sebuah rezim-rezim demokratis baru ( masa transisi ) : Pada masa pasca Orde Baru telah terjadi perubahan luar biasa terhadap hak-hak istimewa militer yang sangat dratis jika dibandingkan dengan masa Orde Baru . (1) Peranan Indenpeden Militer dalam Sistem Politik dijamin oleh konsitusi .

26 Dalam negara demokratis militer tidak mempunyai peranan independen dalam sistem politik . Militer dalam menjalankan perannya menjain keamanan dalam negeri dan tertib hukum hanya atas perintah pejabat ekskutif atau berdasarkan undang-undangan . Militer Indonesia secara de jure dikatakan hanya sebagai pelaksana dari kebijakan politik . Negara seperti yang tercantum dalam ketetapan MPR RI Nomor VII /MPR/ 2000 /pasal 5 , ayat 1. dengan demikian militer hanya akan menjalankan peran menjamin keamaman negara jika diperintahkan oleh pejabat eksekutif berdasarkan undang-undang kebijakan politik negara berada di tangga pemerintahan sipil yang dipilih secara sah dan demokratis. Ataupun kebijakan politik yang dikeluarkan pemerintah dalam rangka menjamin stabilitas keamanan negara , menjadi tanggung jawab militer sebagai aparat keamanan untuk melaksanakannya . Keterlibatan militer Indonesia dalam masalah keamanan dalam negeri dan tertib hukum juga di atur dalam bentuk peraturan hukum . Dalam TAP MPR Nomor VII/MPR/2000 pasal 4 ayat 1 menegaskan bahwa TNI mempunyai peran ganda , disamping peran eksistensial di bidang pertahanan juga berarti peran internal dalam hal keamanan dalam negeri . Adanya peraturan ini membuka peluang kembali militer melakukan intervensi dalam politik . Semakin jauh militer meninggalkan peran ekstrenalnya dan semakin banyak ikut mencampuri urusan internal yang menjadi tanggung jawab kepolisian , di samping dapat menurunkan profesionalismenya, juga semakin terbuka lebar kesempatan ikut campur tangan dalam bidang politik , bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya banyak pelanggaran tindak kekerasaan maupun pelanggaran HAM. Ada hal lain yang menunjukkan bahwa militer masih mempunyai peran dalam sistem politik , yaitu keberadaan anggota militer di DPR dan MPR . Dengan masih adanya jatah kursi untuk anggota TNI dan Polri di DPR sampai tahun 2004 dan di MPR sampai dengan tahun 2009 , hal ini menunjukkan bahwa hak-hak istimewa militer relatif tinggi , meskipun dalam Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/ 2000 mengatakan bahwa militer tidak akan melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis . Namun demikian dalam ketetapan tersebut juga mengatur bahwa keterlibatan militer dalam menentukan arah kebijaksanaan nasional disalurkan melalui MPR paling lama sampai dengan tahun 2009 , dari sini terjadi ambivalensi mengenai keikutsertaan TNI dalam penyelenggaraan negara , di satu pihak TNI sebagai pelaksana kebijakan politik negara , namun di sisi lain TNI masih ikut terlihat di MPR sampai 2009 . (2) Hubungan Militer dengan Kepala Eksekutif Dalam rezim negara demokratis , hak-hak istiomewa lembaga militer dikatakan rendah jika Kepala Eksekutif de jure dan de facto merupakan Panglima Tertinggi , sedangkan jika de facto , kontrol angkatan besernjata ada di tangan Panglima Angkatan Bersenjata aktif maka hak-hak istimewa militer tinggi . Dalam kasus Indonesia , secara de jure Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat , Angkatan Laut , dan Angkatan Udara ( Pasal 10 UUD 1945 ) . . Secara de jure presiden juga mempunyai wewenang untuk memberhentikan dan mengangkat

27 Kepala Staf Angkatan , namun demikian hal itu juga harus berdasar atas usulan dari Panglima TNI melalui prosedur Wanjakti . Bahkan , Presiden juga menetapkan kenaikan pangkat menjadi Kolonel dan yang lebih tinggi , namun demikian hal ini juga harus berdasarkan usulan dari Wanjakti masing-masing angkatan . Pasal 11 UUD 1945 disebutkan pula bahwa persiden menyatakan perang dan membuat perdamaian atas persertujuan DPR , begitu juga pasal 12 UUD 1945 menyatakan bahwa presiden menyatakan keadaan bahaya yang syarat dan akibatnya di atur oleh undang-undang . ( 3 ) Koordinasi Sektor Pertahanan Dalam rezim demokratis , hak-hak istimewa militer rendah jika de jure dan de facto koordinasi pertahanan dilakukan oleh pejabat tingkat kabinet biasanya orang sipil yang ditunjuk oleh pejabat eksekutif yang mengontrol staf yang melibatkan banyak pegawai negeri professional atau pemimpin politik sipil , sedangkan hak-hak istimewa militer di klasifikasikan tinggi jika de jure dan de facto koordinasi pertahanan dilakukan oleh Kepala-kepala Staf Angkatan secara terpisah dengan pengawasan yang lemah dari pihak Markas Besar gabungan dan perencanaan yang lemah dari Kepala Eksekutif . Dalam kasus Indonesia pada masa pasca Orde Baru , koordinasi sektoir pertahanan mulai Dilakukan oleh sesorang menteri pertahanan dari sipil yang dibantu oleh beberapa stafnya yang berasal dari militer dan juga pegawai negeri sipil yang dibantu oleh beberapa stafnya yang berasal dari militer dan juga pegawai negeri sipil professional . Kedudukan menteri pertahanan seperti juga menteri lainnya kepada di bawah presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden . Namun demikian , Menteri Pertahanan tidak mempunyai fiungsi komando atas militer melainkan melaksanakan fungsi umum pemerintahan dengan cakupan tugas pembinaan kemampuan pertahanan dan upaya pendayagunaan sumber daya nasional yang tersedia untuk kepentingan pertahanan . Wewenang komando dalam penyelenggaraan pertahanan dipegang oleh Presiden dibantu Panglima TNI . (4) Partisipasi Militer Dinas Aktif Dalam Kabinet Dalam rezim demokratis de jure dan de facto partisipasi militer kabinet cenderung tidak ada , kalaupun ada partisipasi militer dalam kabinet hanya mewakili atau sebagai menteri angkatannya sendiri-sendiri , jika di perlukan . Dalam kasus Indonesia pada masa pasca Orde Baru , partisipasi militer dinas aktif dalam kabinet tidak ada . Kalau pun ada , pejabat militer yang menduduki jabatan menteri sudah alih status atau pensiun dini . Terlepas dari adanya pro dan kontra masalah partisipasi kalangan militer dalam kabinet , yang jelas perangkat hukum telah mengatur bahwa persiden mempunyai hak prerogatif untuk mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri dalam kabinet , tanpa harus mendapat persetujuan dari DPR , baik itu dari kalangan militer atau sipil . Namun demikian , ada peraturan juga yang mengatur bahwa jika militer duduk di luar struktur porganisasi militer , kecuali lembaga DPR/MPR , maka militer harus pensiun dan alih status selama prosedur-prosedur hukum tersebut tidak menyalahi agenda demokrasi yang salah satunya adalah penegakkan supremasi hukum itu sendiri.

28 ( 5 ) Peran Badan Pembuat Undang-Undang dalam Bidangh Pertahanan Dalam negara demokratis sebagian besar isu-isu kebijakan penting yang mempengaruhi anggaran belanja militer , struktur militer , serta prakarsa persenjataan baru militer dipantau oleh badan pembuat undang-undang Pejabat tingkat kabinet dan para pembantu pimpinan secara rutin hadir di dalam komisi legislative untuk mempertahankan menjelaskan prakarsa kebijakan dan mempresentasikan undang-undang . Pada pasca Orde Baru , hak-hak istimewa militer relatif berada pada tingkat rendah , karena fungsi DPR dalam membuat UU , khususnya bidang pertahanan , dilaksanakan secara serius dengan mempertahankan aspirasi dan suara dari berbagai kalangan sipil maupun militer . Hal ini mencerminkan bahwa kecenderungan pola hubungan sipilmiliter pada saat ini relatif menuju kearah kontrol sipil . Di masa Orde Baru , militer lebih dominan dalam penentuan masalah pembuatan produk hukum di bidang pertahanan keamanan . Sekarang militer cenderung mulai mengakui dan memberikan kesempatan kepada kalangan sipil untuk ikut serta terlibat dalam masalahj-masalah pertahanan , karena masalah-masalah pertahanan bukan mitlak milik militer , namun juga semua warga negara . (6) Peranan Pegawai Negeri Sipil atau Pejabat Politik Sipil Senior dalam Permususan Ke bijakan memainkan peranan penting dalam membantu badan eksekutif dalam meran cang dan menerapkan kebijakan pertahanan nasional . Dalam negara demokratis yang menganut paham, supremasi sipil , kader professional dari pegawai negeri sipil yang berpendidikan atau pejabat politik sipil yang membuat kebijakan memainkan peranan penting dalam membantu badan eksekutif dalam merancang dan menerapkan kebijakaan pertahanan nasional . Pada masa Orde Baru struktur organisasi di sektor pertahanan relatif hampir semua diisi oleh pejabat militer dinas aktif . Sekarang pejabat sipil yang mulai banyak dalam jajaran Departemen Pertahanan turut aktif berperan dalam membantu merumuskan kebijakankebijakan pemerintah . Begitu juga dalam tubuh ketiga angkatan , pegawai negeri sipil mulai diberikan kesempatan untuk menduduki jabatan struktural bagi mereka yang sudah mencapai golongan III keatas . Pejabat-pejabat politik sipil juga turut aktif membantu pemerintahan dalam merancang kebijakan-kebijakan pertahanan . (7 ) Peran Militer dalam Dunia Inteljen Negara Dalam negara demokratis , peran dinas iunteljen secara de jure dan de facto dikendalikan oleh rantai komando sipil . Pada masa Orde Baru . peran dinas intejen puncak berada ditangan-tangan para pejabat militer aktif . Ada Bakin , BAIS ( BIA ), Kopkamtip dan Opsus . Tindakan aparat inteljen pada masa Orde Baru sungguh relatif sangat kejam , sehingga benar-benar ditakuti oleh masyarakat . Sekarang , secara de jure , peran dinas inteljen . Negara berpusat pada masa rantai komando sipil yakni Badan Koordinasi Inteljen Negara ( Bakin ) yang saat ini berganti

29 nama dengan Badan Inteljen Nasional ( BIN ) secara de jure adalah lembaga sipil yang dipimpin oleh pejabat sipil pula yang bertugas mengkoordinasikan seluruh lembaga inteljen yang ada di Indonesia , seperti BIA , badan inteljen yang ada di kejaksaaan agung , kepolisian negara RI , Imigrasi Bea Cukai , Dirjen Khusus Departemen Dalam Negeri dan Dirjen Khusus Departemen Luar Negeri . Hak-hak istimewa dalam peran dinas inteljen relatif tinggi . Peran BIN belum mampu menjadi loordinator dari semua badan inteljen yang ada di Indonesia , meskipun secara stuktural BIN sudah di isi oleh beberapa pejabat sipil . Peran dinas inteljen saat ini masih didominasi oleh inteljen militer . (8) Tugas Bantuan Militer dalam Kepolisian Dalam negara demokratis , kepolisian kedudukan berada di tangan kementerian nonmiliter atau pejabat lokal/daerah . Di Indonesia pada masa Orde Baru , kepolisian merupakan bagian dari ABRI sesuai dengan UU No. 20 /1982 , bergabungnya polisi dalam ABRI ternyata membawa dampak negatif. Banyak terjadi pelanggaran – pelanggaran kekerasaan yang dilakukan oleh aparat kepolisian terutama dalam persoalan penanggulangan huru-hara . Tindakan kekerasaan ini diakibatkan oleh pengaruh doktrin militer selama menjalankan menjalankan pendidikan AKABRI . Doktrtin polisi sebagai pengayom , pelindung serta pelayan masyarakat terkontaminasi dengan doktrin militer yang memang bercirikan kekerasaan dan penghancuran musuh . Oleh karena itu berdasarkan pertimbangan profesionalisme dan untuk memberikan otonomi yang lebih luas bagi Polri maka pada tanggal 1 April 1999 , Polri secara organisasi terpisah kembali dari ABRI , yang berganti nama menjadi TNI . Jadi kedudukan Panglima TNI dan Kalpolri uni adalah sejajar . ( 9 ) Peran Militer dalam Promosi Dalam negara yang demokratis , badan pembuat undang-undang membahas dan menyetujui undang-undang tentang promosi . Dewan promosi militer yang profesional membuat rekomendasi kepada menteri dan selanjutnya menteri merekomendasikan kepada Kepala Eksekutif pihak eksekutif tidak terhalang dalam penemuan kebijakan penting . Dimana Orde Baru , masalah promosi militer pada tingkat tertinggi sangat tergantung dari presiden , meskipun de jure dalam UU No 2 / 1982 pasal 23 sudah mengatur kewenangan presiden terbatas dalam promosi pengangkatan Panglima TNI , para Kepala Staf Angkatan dan juga Kapolri . Pengangkatan diluar jabatan tersebut di atur lebih lanjut oleh Panglima TNI . Namun demikian , de facto menunjukkan bahwa Presiden Soeharto menjadi satu-satunya penentu dalam karir jabatan seseorang perwira tinggi militer . Kontrol presiden kepada militer begitu kuat sehingga militer tidak lagi menjadi alat negara namun lebih cenderung menjadi alat kekuasaan . Pada masa pasca Orde Baru , pola promosi tidak lagi bertumpu kepeda presiden namun lebih mengandalkan pada sistem dan prosedur profesionalisme yang berlaku dalam

30 lingkungan TNI , yaitu melalui Wanjakti . Kedudukan Panglima RNI menjadi sangat penting dalam proses mutasi maupun promosi kenaikan pangkat terutama untuk perwira tinggi dibawah kepada Kepala Staf Angkatan . Hanya Presiden Abdurrachman Wahid yang turut campur tangan dalam urusan tersebut . Promosi Letjen Agus Wirahadikusumah menjadi Pangkostrad tidak terlepas dari intervensi Presiden Abdurrachman Wahid . ( 10 ) Keterlibatan Militer dalam Perusahaan Negara/Swasta ( Bisnis Militer ) Hak-hak militer dikatakan rendah jika dalam suatu negara tidak diketemukan perwira dinas aktif mempimpin sebuah perusahaan negara atau swasta (berbisnis ) . Sedangkan hak-hak istimewa militer tinggi jika dalam negara tersebut , karena hukum dan juga tradisi , perwira dinas aktif justru mempimpin perusahaan negara atau swasta . Realitas bahwa militer sampai saat ini masih melakukan bisnis yang dimulai sejak Orde Lama , sebenarnya secara logika masih dapat diterima karena memang alokasi anggaran belanja militer dari pemerintah tidak mampu mendukung biaya pemeliharaan alat alutsista , apalagi jika dilihat dari tingkat kesejahteraan prajuritnya yang masih jauh dari standard hidup sederhana . Secara de jure mengatur bahwa militer aktif tidak boleh melakukan kegiatan bisnis , namun de facto sampai masa Orde Baru militer Indonesia masih melakukan kegiatankegiatan bisnis . Namun demikian bisnis militer ini memang ditanggapi oleh pemerintah sipil secara akomodatif , karena pemerintah sipil menyadari ketidakmampuannya mendukung sepenuhnya alokasi anggaran belanja militer . Disamping itu , jika persoalannya seberapa jauh tingkat keterlibatan militer aktif dalam perusahaan , maka pada masa Orde Baru , tidak ada perwira militer aktif menduduki jabatan dalam struktur kepengurusan negara , karena de jure melarang hal ini . Keterlibatan militer aktif sejauh ini hanya pada tingkat urusan internal militer, baik yang menyangkut yayasan militer dan koperasi . ( 11 ) Peran Militer dalam Struktur Hukum Dalam negara demokratis hak-hak istimewa dapat dikatakan rendah jika militer tidak mempunyai yuridiksi , legal diluar wilayah yang terbatas mengenai pelanggaran internal atas disiplin militer . Di luar wilayah ini sipil maupun militer harus tunduk pada hukum sipil dan pengadilan sipil .Sedangkan hak-hak istimewa militer dikatakan tinggi jika undang-undang keamanan nasional dan sistem pengadilan militer mencakup bidang yang khas dari masyarakat politik dan masyarakat sipil . Kemungkinan bahwa militer dapat diadili di pengadilan sipil angat kecil Dalam kasus militer di Indonesia , bahwa kemungkinan militer di adili di pengadilan sipil adalah sangat kecil . Pelanggaran-pelanggaran anggota militer di luar wilayah internal militer ( disiplin militer , seperti pelanggaran HAM dan pelanggaran kriminal ) , sulit untuk diadili melalui pengadilan sipil . Kasus-kasus semacam itu hingga saat ini lebih banyak ditangani melalui pengadilan militer militer dan atau pengadilan koneksitas daripada di pengadilan sipil . Sehingga hukum yang dijatuhkan dari pengadilan-

31 pengadilan tersebut atas tindak pelanggaran anggota militer relative tidak mencerminkan keadilan dan bertentangan dengan filosofi dari sistem hukum militer . Hal ini berarti sistem hukum peradilan militer mencakup aspek yang sangat luas di luar masalah internal pelanggaran disiplin militer . ( Yulianto , 2003 : 509 – 596 ) Beberapa tantangan terhadap reformasi internal dan menuju tentara professional . Beberapa tantangan terhampar yang harus ditempuh dalam melakukan reformasi dan mencapai tentara yang lebih professional dalam suatu negara demokratis . ( 1) Terjadi salah tafsir di kalangan internal militer tentang susunan negara ; (2) Kurang jelasnya persoalan antara bidang pertahanan dan keamaman ; ( 3) Keterbatasan anggaran TNI ; ( 4) Keterlibatan militer dalam bisnis ; (5) Belum adanya platform yang jelas dan tegas Dari kekuatan sipil untuk bersama-sama membatasi ruang gerak militer dari politik ; (6) TNI belum mempunyai suatu konsep yang disepakati bersama menganai reformasi (internal ) ; (7) Belum ada kesepakatan mengenai reformasi pengertian hubungan sipilmiliter , khususnya apa yang disebut dengan supremasi sipil ; (8) Tantangan budaya dan penyesuaian mental ; (9) Doktrin-doktrin perlu di tinjau dan di ubah ; ( 10 ) Sistem komando teritorial ini harus disesuaikan dengan fungsi utama TNI; (11) Belum adanya kesepakatan mengenai pengertian hubungan sipil-militer , khususnya apa yang di sebut dengan supermasi sipil dan (12) Adanya sikap saling hrmat – menghormati dan saling percaya antara pihak militer dan sipil . Dengan jatuhnya Orde Baru membawa perubahan Indonesia ke alam demokrasi . Dalam alam demokrasi terjadi banyak perubahan . Di antaranya digugatnya peran militer dan tidak boleh lagi terlibat dalam politik . Peran militer adalah sebagai alat pertahanan . Profesionalisme militer sesungguhnya tergantung pada membangun visi dan keamanan politik semua kekuatan sipil untuk membangun profesionalisme militer yang sungguhsungguh mengakui supremasi sipil .

32

Bibliografi
Abdullah , Taufik ,” Purnakata II,: dalam Salim Said . Tumbuh dan Tumbangnya Dwi fungsi . Jakarta . Aksara Karunia , 2003 . hlm, 235 – 250 . Alexandra , Lina A dan ASndi Widjayanto .” Militer dan Pemilu 2004 “ Analisis CSIS , VO. 33 , No. 1 , Maret 2004 . hlm. 106 – 204 Azca , M Najib . 1998 . Hegemoni Tentara . Yogyakarta : LKIS “ Editorial “ Diponogoro 74 , No. 7 /Tahun III/April 2004 . Eko, Sutoro 2002 Demiliterisasi , Demokratisasi dan Desentralisasi.Yogyakarta Institute For Reseach and Empowerement ( IRE ) , hlm. 1 – 8 . Habib, A Hasnan ,” Hubungan Sipil-Militer Pasca Orde Baru dan [rospektifnya di Masa Depan .” Progresif ,Vol I No 1 , Oktober 2002 , hlm. 14 – 33 . Haramain , A Malik ,” Sejumlah Agenda Reposisi Militer ,”Progresif , Vol 1 No. 1 ,Okto ber 2002, hlm. 52 – 64 . Irwanto , Budi .1999 Film, Ideologi dan Militer . Hegemoni Militer dalam Sinema Indo nesia . Yogyakarta : Media Pressindo . Ismanto, Ignasius .” Tinjauan Perkembangan Politik : Dinamika Politik Memasuki Tahap Persiapan Pemilu ,” Analisis CSIS , Tahun XXXII/2—3/ No.1 ,hlm. 3 – 15 . Kammen , Douglas A .” Politik ABRI dan Kekaryaan .” Diponogoro 74,No.7 /Tahun III/ April 2004 . Maniruzzaman , Takulder . 1998 . Militer Kembali Ke Barak . Sebuah Studi Komparatif . Yogyakarta ; Tiara Wacana . Nordlinger , Eric A . 1990 . Militer dalam Politik . Jakarta : Rineka Cipta. Ramdhany , Romy ,” Militer Indonesia Di Era Transisi Politik, “ Progresif , Vol I No. 1 , Oktober 2002, hlm. 44 – 51 . Said, Salim . 2003 . Tumbuh dan Tumbangnya Dwifungsi . Jakarta : Aksara Karunia . Singh, Bilveer . 1996 . Dwifungsi ABRI , Asal-Usul , Aktuaklisasi dan Implikasinya bagi Stabilitas dan Pembangunan . Jakarta : Gramedia . Stepan, Alefred . 1996 . Militer dan Demokratisasi . Pengalaman Brazil dan Beberapa Negara Lain . Jakarta : Pustakla Utama Grafiti .

33

Supriyanto ,, Hendri . 1994 . Nasution , Dwifungsi ABRI dan Kontribusi Ke Arah Reformasi Politik . Surakarta : Sebelas Maret University Press . Yulianto, Arief .2002. Hubungan Sipil-Militer di Indonesia Pasca Orde Baru . Di Tengah Pusaran Demokrasi . Jakarta : Raja Grafiondo Persada , hlm. 346 – 348 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->