P. 1
Sex, Kuasa Dan Kapitalisme

Sex, Kuasa Dan Kapitalisme

|Views: 1,971|Likes:
Published by Peter Kasenda
Kita mungkin masih ingat kata-kata Camilie Paglia dan Luce Irigaray - dua feminis kontroversial – bahwa tubuh yang didalamnya bersarang sexualitas harus dipahami sebagai medan perang , bukan organ yang selamanya harmonis , Jika kemudian banyak perempuan yang bermain-main dengan tubuhnya dan menfaatkan tubuhnya untuk menyiasati modernitas . Seperti tampak dalam fenomena majalah Popular , Cosmopolitan yang melihat tubuh wanita dari tinjauan sexualitas bukan hanya rumit , dan jika tidak dilihat melalui kacamata yang jernih , bukan tidak mungkin akan kontra produktif . Atau perempuan seni tradisi yang melikuk-liuk tubuh di atas panggung satu hari penuh demi imbalan , sementara ia sadar bahwa profesinya sangat rawan gempuran pencitraan. Lalu,
apakah ini sesuatu yang terlarang ?

Dengan kata lain , perempuan seni bisa saja menggunakan tubuhnya agar mnjadi primadona , atau sebaliknya . Simak saja tayangan di beberapa televisi swasta medio Desember 2003 , Inul Daratista penyanyi yang terkenal dengan goyangan ngebornya yang sempat membuat panas beberapa seman senior , melainkan mengenai kandungannya yang mengalami keguguran . Inul sempat stress, dengan sedikit mengeluh ia berucap “ yah , bagaimana tidak stress saya kan sudah tujuh tahun menikah , tetapi sampai saat ini belum dikarunia anak . . Akhirnya , berbagai asumi bermunculan . Ada yang mengatakan bahwa Inul terlalu lelah karena harus ngebor siang dan malam . Tetapi ada yang berpendapat bahwa organ reproduksi Inul mengalami persoalan akibat dari aksi goyangnya yang terlalu berlebihan .

Analisis terus bermunculan tetapi Inul tidak ambil pusing dengan semua itu. Ia tidak perduli apakah musibah yang menimpanya sebagai kutukan karena dicemooh terlalu tampil erotis atau bukan . Yang ia tahu dan ia rasakan adalah kegundahan bahwa keguguran berarti penundaan terhadap sebuah keinginan untuk mendapatkan momongan yang selama ini diidam-idamkan . Persoalan goyangan adalah persoalan lain . Sebagai publik figure yang tiap kali berpapasan dengan khalayak ramai, mungkin Inul sudah cukup memahami profesinya yang menuntut kesadaran , bahwa tubuh merupakan milik semua orang dan bia dinikmati oleh siapa pun . Apa yang menarik dari perempuan Inul adalah, jika sewaktu-waktu ke-ada-an seorang buah hati mempengaruhi order manggung, ia siap menerimanya bahkan siap meninggalkan profesi sebagai penyanyi .

Lain halnya dengan Anisa Bahar , artis dangdut yang terkenal dengan goyang patah-patahnya juga sempat memunculkan kontroversi . Ia dituding munafik karena tidak mengakui dirinya yang sudah berstatus sebagai ibu . Tudingan ini mengarah pada satu titik simpul , bahwa status ibu mungkin berpengaruh bagi order manggungnya .Tentunya, persoalan yang menggelayut Inul dan Anisa Bahar bukan uatu keanehan . Sama tidak anehnya dengan fenomena yang terjadi pada Titi Dongkrak , siden dan penari asal Kerawang , Jawa Barat . Selain sebagai penari, Titin juga berstatus ibu dari dua orang anak yang sudah cukup berumur . Hanya saja , sampai saat ini Titin masih terus eksis di atas panggung jaipongan meskipun perjalanan usia terus merambai kehidupannya Sebuah status sebagai ibu bukan momok yang mengalami pikirannya . Ia masih bisa manggung , panjeran masih kerap ia terima , dan masyarakat masih menikmati tariannya
Kita mungkin masih ingat kata-kata Camilie Paglia dan Luce Irigaray - dua feminis kontroversial – bahwa tubuh yang didalamnya bersarang sexualitas harus dipahami sebagai medan perang , bukan organ yang selamanya harmonis , Jika kemudian banyak perempuan yang bermain-main dengan tubuhnya dan menfaatkan tubuhnya untuk menyiasati modernitas . Seperti tampak dalam fenomena majalah Popular , Cosmopolitan yang melihat tubuh wanita dari tinjauan sexualitas bukan hanya rumit , dan jika tidak dilihat melalui kacamata yang jernih , bukan tidak mungkin akan kontra produktif . Atau perempuan seni tradisi yang melikuk-liuk tubuh di atas panggung satu hari penuh demi imbalan , sementara ia sadar bahwa profesinya sangat rawan gempuran pencitraan. Lalu,
apakah ini sesuatu yang terlarang ?

Dengan kata lain , perempuan seni bisa saja menggunakan tubuhnya agar mnjadi primadona , atau sebaliknya . Simak saja tayangan di beberapa televisi swasta medio Desember 2003 , Inul Daratista penyanyi yang terkenal dengan goyangan ngebornya yang sempat membuat panas beberapa seman senior , melainkan mengenai kandungannya yang mengalami keguguran . Inul sempat stress, dengan sedikit mengeluh ia berucap “ yah , bagaimana tidak stress saya kan sudah tujuh tahun menikah , tetapi sampai saat ini belum dikarunia anak . . Akhirnya , berbagai asumi bermunculan . Ada yang mengatakan bahwa Inul terlalu lelah karena harus ngebor siang dan malam . Tetapi ada yang berpendapat bahwa organ reproduksi Inul mengalami persoalan akibat dari aksi goyangnya yang terlalu berlebihan .

Analisis terus bermunculan tetapi Inul tidak ambil pusing dengan semua itu. Ia tidak perduli apakah musibah yang menimpanya sebagai kutukan karena dicemooh terlalu tampil erotis atau bukan . Yang ia tahu dan ia rasakan adalah kegundahan bahwa keguguran berarti penundaan terhadap sebuah keinginan untuk mendapatkan momongan yang selama ini diidam-idamkan . Persoalan goyangan adalah persoalan lain . Sebagai publik figure yang tiap kali berpapasan dengan khalayak ramai, mungkin Inul sudah cukup memahami profesinya yang menuntut kesadaran , bahwa tubuh merupakan milik semua orang dan bia dinikmati oleh siapa pun . Apa yang menarik dari perempuan Inul adalah, jika sewaktu-waktu ke-ada-an seorang buah hati mempengaruhi order manggung, ia siap menerimanya bahkan siap meninggalkan profesi sebagai penyanyi .

Lain halnya dengan Anisa Bahar , artis dangdut yang terkenal dengan goyang patah-patahnya juga sempat memunculkan kontroversi . Ia dituding munafik karena tidak mengakui dirinya yang sudah berstatus sebagai ibu . Tudingan ini mengarah pada satu titik simpul , bahwa status ibu mungkin berpengaruh bagi order manggungnya .Tentunya, persoalan yang menggelayut Inul dan Anisa Bahar bukan uatu keanehan . Sama tidak anehnya dengan fenomena yang terjadi pada Titi Dongkrak , siden dan penari asal Kerawang , Jawa Barat . Selain sebagai penari, Titin juga berstatus ibu dari dua orang anak yang sudah cukup berumur . Hanya saja , sampai saat ini Titin masih terus eksis di atas panggung jaipongan meskipun perjalanan usia terus merambai kehidupannya Sebuah status sebagai ibu bukan momok yang mengalami pikirannya . Ia masih bisa manggung , panjeran masih kerap ia terima , dan masyarakat masih menikmati tariannya

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Sex , Kuasa dan Kapitalisme

Kuasa memproduksi Pengetahuan Michael Foucaoult

Kita mungkin masih ingat kata-kata Camilie Paglia dan Luce Irigaray - dua feminis kontroversial – bahwa tubuh yang didalamnya bersarang sexualitas harus dipahami sebagai medan perang , bukan organ yang selamanya harmonis , Jika kemudian banyak perempuan yang bermain-main dengan tubuhnya dan menfaatkan tubuhnya untuk menyiasati modernitas . Seperti tampak dalam fenomena majalah Popular , Cosmopolitan yang melihat tubuh wanita dari tinjauan sexualitas bukan hanya rumit , dan jika tidak dilihat melalui kacamata yang jernih , bukan tidak mungkin akan kontra produktif . Atau perempuan seni tradisi yang melikuk-liuk tubuh di atas panggung satu hari penuh demi imbalan , sementara ia sadar bahwa profesinya sangat rawan gempuran pencitraan. Lalu, apakah ini sesuatu yang terlarang ? Dengan kata lain , perempuan seni bisa saja menggunakan tubuhnya agar mnjadi primadona , atau sebaliknya . Simak saja tayangan di beberapa televisi swasta medio Desember 2003 , Inul Daratista penyanyi yang terkenal dengan goyangan ngebornya yang sempat membuat panas beberapa seman senior , melainkan mengenai kandungannya yang mengalami keguguran . Inul sempat stress, dengan sedikit mengeluh ia berucap “ yah , bagaimana tidak stress saya kan sudah tujuh tahun menikah , tetapi sampai saat ini belum dikarunia anak . . Akhirnya , berbagai asumi bermunculan . Ada yang mengatakan bahwa Inul terlalu lelah karena harus ngebor siang dan malam . Tetapi ada yang berpendapat bahwa organ reproduksi Inul mengalami persoalan akibat dari aksi goyangnya yang terlalu berlebihan . Analisis terus bermunculan tetapi Inul tidak ambil pusing dengan semua itu. Ia tidak perduli apakah musibah yang menimpanya sebagai kutukan karena dicemooh terlalu tampil erotis atau bukan . Yang ia tahu dan ia rasakan adalah kegundahan bahwa keguguran berarti penundaan terhadap sebuah keinginan untuk mendapatkan momongan

175

yang selama ini diidam-idamkan . Persoalan goyangan adalah persoalan lain . Sebagai publik figure yang tiap kali berpapasan dengan khalayak ramai, mungkin Inul sudah cukup memahami profesinya yang menuntut kesadaran , bahwa tubuh merupakan milik semua orang dan bia dinikmati oleh siapa pun . Apa yang menarik dari perempuan Inul adalah, jika sewaktu-waktu ke-ada-an seorang buah hati mempengaruhi order manggung, ia siap menerimanya bahkan siap meninggalkan profesi sebagai penyanyi . Lain halnya dengan Anisa Bahar , artis dangdut yang terkenal dengan goyang patahpatahnya juga sempat memunculkan kontroversi . Ia dituding munafik karena tidak mengakui dirinya yang sudah berstatus sebagai ibu . Tudingan ini mengarah pada satu titik simpul , bahwa status ibu mungkin berpengaruh bagi order manggungnya .Tentunya, persoalan yang menggelayut Inul dan Anisa Bahar bukan uatu keanehan . Sama tidak anehnya dengan fenomena yang terjadi pada Titi Dongkrak , siden dan penari asal Kerawang , Jawa Barat . Selain sebagai penari, Titin juga berstatus ibu dari dua orang anak yang sudah cukup berumur . Hanya saja , sampai saat ini Titin masih terus eksis di atas panggung jaipongan meskipun perjalanan usia terus merambai kehidupannya Sebuah status sebagai ibu bukan momok yang mengalami pikirannya . Ia masih bisa manggung , panjeran masih kerap ia terima , dan masyarakat masih menikmati tariannya Mungkin kontruksi yang terbangun memang berbeda . Di daerah urban seperti Jakarta status dianggap sangat penting karena turut mempengaruhi aktivitas yang lain . Dunia entertaintemnt yang lebih modern menunut kemandirian , profesionalitas , dan selalu fokus terhadap profesi . Sehingga bersuami dan memiliki anak disinyalir akan mempengaruhi profesionalitas seniman . Tuntutan untuk disiplin berujung pada tumbuh dan ketatnya sebuah kontrol yang kuat . Sementara di Kerawang , Subang , Tuban, Pati , dan Banyuwangi , atau wilayah lain yang masih kerap menyuguhkan tontonan jaipongan , tayuban , dan gandrung . Kontruksi semacam itu bukan berarti keterpisahan . Penari , tarian , pesan, dan makna , yang ada di balik seni itu sendiri merupakan bagian dari kehidupan masyarakat , sehingga status bukan satu-satunya ukuran bagi seorang perempuan seni tradisi untuk pentas atau tidak . Mungkin , kontrol yang ada bukan terletak pada ketetapan status , melainkan pada tuntutan – mekipun tidak tercatat secara baku – terkait dengan lentur tubuh dan langgam suara . Tentunya baik Inul Anisa Bahar , Titin Dongkrak , Indra , Undur-undur , Temu , dan perempuan seni yang lain memiliki persoalan beragam mengenai tubuhnya . Representasi di atas panggung atau di depan kamera audio visual sama-sama berbalut dengan permainan kuasa yang saling tari menarik , tetapi tetap bermuara pada satu hal ; yaitu tubuh perempuan . Kuasa ini sangat memahami betapa tubuh perempuan bisa dijadikan obyek beroperasinya sekumpulan sistem ekonomi yang menjanjikan sekaligus tempat bersarangnya kontrol kehidupan . Lihat saja, di mana-mana setiap mau bisa menyaksikan beridirnya salon-salon kecantikan , pusat-pusat kebugaran , fitnes , dan propaganda diet melalui buku dan majalah - bukan hanya membuat perempuan atau terutama tubuh menjadi lebih melainkan juga agar lebih mudah dikontrol menurut keperluan modal dan kekuasaan .

176

Nah, kontrol simbolis kekuasaan yang pada awal mulanya beroperasi pada wilayah mikro ini ( tubuh individual ) kemudian bergeser kepada wilayah bio-politik dari tubuh Pergeseran ini berkaitan dengan kebijaksanaan negara di dalam mengendalikan tingkah laku tubuh dalam rangka menunjang stabilitas nasional . Sarana kontrol kependudukan yang paling efektif dan selama ini terus dikumandangkan adalah melalui kontrol alat-alat reproduksi . Paradoks memang , karena tujuannya bukan membuat tubuh menjadi lebih sehat . Melainkan agar kekuasaan yang berkepentingan , mampu membatasi pembiakan jumlah manusia yang bisa merebut kepentingan ekonomi politik dan menepis dampak lain yang lebih negatif , yaitu suatu perang besar akibat konflik yang tidak bisa diredam Mungkin , dalam benak penguasa sudah terpatri sebuah angan-angan lainnya bahwa semakin sedikit jumlah penduduk , maka semakin mudah pula pengaturannya . ( Srinthil , 2004 : 16 – 19 ) Sexualitas dan Kontruksi Sosial Sex adalah keadaan anatomis dan biologis , yaitu jenis kelamin jantan atau betina Seorang dilahirkan dengan jenis kelamin tertentu , seperti ia dilahirkan dengan bentuk mata atau jenis rambut tertentu . Sedangkan sexualitas mencakup seluruh kompleksitas emosi , perasaan , kepribadian , dan sikap atau watak sosial , berkaitan dengan perilaku dan orientai sexual .Ada pula konsep maskulin ( kelaki-lakian ) dan feminin ( kewanitaan atau keperempuan ) yang lebih bersifat abstrak dan menunjuk pada sifat-sifat yang dimiliki semua manusia , apakah itu manusia berkelamin jantan atau betina . Ada asumsi bahwa sifat tertentu diasosiasikan dengan feminitas , dan yang lain dengan maskulinitas . Yang digolongkan “feminin “ misalnya kepekaan perasaan , kesabaran,kelembutan , irrasionalitas , kesetian , sifat mengalah dan lemah , sedang yang maskulin keberanian , agresivitas , sifat dominan , rasionalitas , ketidaksetiaan , dan kekuatan Semua sifat itu bisa terdapat pada semua manusia . Lagipula , yang dianggap maskulin dalam satu budaya , sampai batas tertentu bisa dianggap feminin dalam budaya lain , dan sebaliknya . Ciri maskulin atau feminin itu relatif . Namun ada kecenderungan mengasosiasikan sifat feminin kepada wanita , dan sifat maskulin kepada laki-l;aki Asosiasi ini sangat membatasi perilaku dan perkembangan si individu , bahkan mampu memenjarakannya dalam suatu peran sosial yang ditentukan dari luar . Misalnya , sosialisasi anak perempuan dan laki-laki dibedakan dan diarahkan pada model-model yang dianggap sesuai dengan norma kepantasan “kewanitaan” dan “kelaki-lakian “ Padahal keutuhan dan harmoni kepribadian seorang merupakan perimbangan sifat maskulin dan feminin . Seorang laki-laki bisa mengeskpresikan keberanian , bahkan agresivitas , juga dalam bidang sexual. Manusia yang utuh inilah yang disebut “ androgin ( androgyne ) “ yaitu konsep Dua dalam Satu : andro ( maskulin ) dan gyne ( feminine ) . Gender dan sexualitas mempunyai persamaan : keduanya mempunyai basis biologis pada sex , dan keduanya merupakan kontruksi sosial, bersifat politis , yaitu pengorganisasian ke dalam sistem kekuasaan , yang mendukung dan menghargai individu dan kegiatan tertentu , sambil menekan dan menghukum yang lainnya . Antara sexualitas dan gender jelas berhubungan. Bahkan perkembangan sistem sexual mengambil tempat dalam

177

konteks hubungan gender . Tapi keduanya bukan hal yang sama karena terbentuk dari basis sosial yang berbeda . Pembedaan antara gender dan sexualitas ini melawan arus pemikiran kontemporer feminis yang menganggap sexualitas sebagai turunan gender . Kebanyakan ideologi feminis-lesbian menganalisa penindasan lesbian sebagai sebagai bagian dari diskriminasi terhadap perempuan pada umumnya Padahal lesbian mengalami penindasan juga sebagai manusia homosexual; dan abnormal; berdasarkan operasional stratifikasi sexual , bukan gender , sama seperti homosex pria, sadomasochist , banci dan pelacur . Konsep gender , yang sudah populer di Indonesia , merupakan ekspresi psikologis dan kultural dari sex yang sifatnya biologis , menjadi peran dan perilaku sosial tertentu : perempuan di sektor domestik dan pria di sektor publik . Misalkan , kelaziman perempuan memakai gaun , pria memakai pantalon , perempuan bekerja di dapur , lakilaki di kantor, lelaki membawa parang, perempuan membawa bakul .laki-laki boleh keluar malam , wanita tidak , dan seterusnya . Pemahaman sexualitas dikaitkan dengan kegiatan yang menyangkut gentila dan organ sex sekunder lainnya . Dalam arti sempit , kegiatan sexual menyangkut atau mengarah pada persetubuhan dan reproduksi .Dalam masyarakat kita, hubungan sexual sering diasosiasikan dengan kesenangan , rasa nikmat ( dan kadang pula rasa sakit ). Dan pemuasan dorongan biologis . Karena kemampuannya menghasilkan kehidupan melalui prokreasi , sexualitas juga sering dihubungkan dengan suatu daya hidup , suatu energi yang dapat ditransformasikan secara langsung dalam kegiatan sexual-genital , kegiatan yang tidak langsung berorientasi kepada kegiatan sexual , tapi juga disublimasikan dalam kegiatan kreatif seperti intelektual , artistik , sosial atau spiritual . Sexualitas dapat diekspresikan melalui kontak fisik langsung , tetapi bisa juga secara sugestif atau stimulatif . Mialnya, sexualitas yang terpancar dalam tarian jaipongan , pertunjukan Madonna, berbagai bentuk seni rupa , film atau sekedar cara bergerak seseorang . Kadang suatu perilaku bisa begitu sugestifnya, sehingga ada yang menganggapnya “ pornografis “. Tetapi yang dianggap porno oleh seseorang , bisa dianggap erotis atau sensual oleh orang lain . Contoh bagaimana norma mengenai sexualitas mempengaruhi perilaku : perempuan harus perawan , laki-laki dianjurkan untuk mencari pengalaman ; laki-laki dianggap lebih dominan dorongan sexualnya , wanita lebih pasif dan reseptif . Karenanya , dalam perkawinanpun , kelazimannya laki-laki yang meminang , bukan perempuan . Laki-laki dianggap poligami , jadi lumrah kalau menyeleweng , perempuan dianggap monogam , jadi kalau ia menyeleweng dianggap aib karena ia berusaha meniru kecenderungan poligamis laki-laki , dan kemudian dipandang terlalu mengancam . Kegiatan sexual yang tidak dalam kerangka sosial yang lazim akan diancam rasa bersalah bagi pelakunya , maka oleh agama dikecam sebagai dosa. Heterosex dikecam jika melakukan hubungan sex di luar perkawinan dan aktivitas sexual yang menyimpang Sementara homosex seolah-olah tidak mempiunyai hak sexual bagi mereka ada di luar perkawinan , dan pasti menyimpang . Diskriminasi dan rasa bersalah yang ditanamkan

178

pada diri kaum homosexual mengakibatkan mereka menutupi orioentasi sexualnya , dengan akibat lanjut penekanan jiwa yang sering parah . Yang ekstrim bisa melarikan diri ke narkotika , alkohol , atau bunuh diri . Banyak kaum homosexual akhirnya memilih hidup dalam kebohongan , kadang sampai menikah dan beranak-pinak , tetapi terpaksa menjalani kehidupan ganda , secara terang sebagai heterosexual , secara gelap sebagai homosexual . Homosexual terdapat dalam begitu banyak masyarakat di dunia . Meskipun demikian , ia masih dianggap aib dan mengancam , walaupun ia tidak merugikan orang lain . Dalam kasus seperti ini , homophobia ( ketakutan kepada homosexualitas ) identik dengan rasisme. Homosexualitas , seperti halnya orientasi sexual yang lain yang dianggap menyimpang , memang diberi tafsiran sosial sebagai abnormal dan immoral , sehingga homosexual menarik dipelajari karena represi terhadapnya bisa memberikan indikasi mengenai nilai dan sikap suatu masyarakat terhadap sexualitas pada umumnya . Langkah pertama untuk mempelajari sexualitas yakni dengan membedakan orientasinya dari gender dan melihat bagaimana artikulasi antara keduanya . Sampai di mana gender dan sexualitas bisa dilihat sebagai variabel independen ? Ada anggapan bahwa harus ada kecocokan antara sex , gender dan orientasi sexual . Sebenarnya sex , gender dan sexualitas masing-masing adalah suatu continum ( kelanjutan ) , tetapi demi keperluan analisa, semua unsur ini akan dijabarkan dalam kategori terpisah . Dalam kategori kelamin (sex) terdapat tiga kategori umum : jantan , betina dan hermaphrodite . Dalam kategori gender ada maskulin , feminin dan androgin . Dalam kategori sexualitas bisa terdapat berbagai orientasi : heterosexual , homosexual , bisexual , serta selibat , adalah empat kategori pokok . Kombinasi yang dianggap lazim dan normal ialah seorang dengan jenis kelamin ( sex biologis ) betina, gender feminin , sexualitas hetero , atau seorang dengan kelamin jantan , gender maskulin dan sexualitas heterosexual . Tetapi seseorang bisa saja terdiri dari permutasi yang berbeda . Seorang bisa mempunyai sex biologis jantan , gender maskulin , sexualitas homosexualitas . Seorang waria mempunyai sex jantan atau hermaphrodite , bergender feminin ( karena berdandan dan berperilaku seperti perempuan ) , dan berorientasi honmosexual Seorang pastor berkelamin jantan , bergender maskulin dan berorientasi selibat . Bisa juga seseorang mempunyai sex hermaphrodite , bergender androgin , dan bersexualitas bisexual . Ini semua sekedar contoh dari berbagai artikulasi antara sex-biologis , gender dan sexualitas yang dalam kenyataannya dalam masyarakat dikombinasi dengan unsur kelas,. ras, profesi , dan lainlain . Seorang bisa mengeskpresikan orientasi sexualnya melalui gendernya . seperti seorang wanita yang berdandan seronok , atau laki-laki yang berlagak sangat macho . Sebaliknya , seorang bisa kehilangan orientasi sexual tanpa kehilangan gendernya , seperti misalnya biarawan atau biarawati . Sex juga dapat dipakai untuk mempertahankan suatu “ status gender “ seperti dalam kasus seorang wanita yang memberi pelayanan sexual pada suaminya agar dapat mempertahankan eksistensi gendernya sebagai istri , ibu rumah tangga dan ibu anak-anaknya .

179

Bila sexualitas menjadi pusat perhatian kaum feminis karena sexualitas sering melihat kaitannya dengan gender ( laki-laki dan perempuan ) , sebenarnya studi sexualitas bukan monopoli feminis . Pemikiran feminis menganalisa pengorganisasian penindasan gender atau bagaimana perbedaan status antara laki-laki dan perempuan terjadi dalam bidang sosial, politik dan ekonomi . Sexualitas mendapat perhatian dari kalangan yang lebih luas, mulai dari kedokteran, psikologi , filosofi, sejarah , dan spiritualitas. Meskipun feminis sangat berminat pada issue sexualitas , terdapat dua aliran yang berlawanan mengenai sexualitas . Aliran yang satu mengeritik pembatasan sexualitas wanita dan berjuang untuk suatu pembebasan sexual. Aliran yang kedua beranggapan bahwa kebebasan sexual sekedar perpanjangan hak istimewa laki-laki . Tradisi feminis ini ada gaungnya dalam pemikiran anti –sexual yang konservatif . Dengan adanya gerakan antipornografi besar-besaran , analisa feminis yang kedualah yang lebih mendapat angin . Kecenderungan umum ilmu ialah membuat kategori , dikotomi dan hirarki , dengan pendekatan yang linier dan analistis . Demikian pula dengan studi mengenai sexualitas Bila berhadapan dengan hal-hal yang bertentangan , ada kecenderungan untuk melihatnya sebagai tidak bisa dipertemukan , atau setidaknya , problematis . Cara berpikir inilah yang diambil alih dalam ilmu pengetahuan di Indonesia dan mungkin negeri-negeri “ non-barat “ lainnya . Sepertinya sulit untuk menerima pemikiran yang holistis di mana kekuatan yang berlawanan itu bisa jadi merupakan aspek dari yang sama atau suatu keberlanjutan . Sexualitas merupakan suatu keberlanjutan , antara jantan-betina , feminin-maskulin heterosexualitas-homosexualitas. Secara biologis dan psikologis terdapat lebih banyak persamaan antara laki-laki dan perempuan daripada perbedaannya , dan setiap individu berdiri pada satu titik pada keberlanjutan tersebut . Sosialisasi memegang peran yang sangat menentukan , sehingga bukan hanya perilaku , tetapi pikiran dan peran pun dipengaruhinya . Serxualitas hampir selalu dikonsepsikan sebagai dikotomi biner yang berlawanan : jantan-betina , maskulin-feminin , heterosexual-homosexual , perkawinan – ekstra-marital . Dalam setiap kasus , salah satu dari pasangan ini dianggap sebagai kategori dari sub-kategori di mana yang pertama dianggap lebih unggul dan normal – dengan kata lain menjadi norma . Hirarki ideologi sexualitas – dari psikiatri, agama, adat, negara atau kepercayaan populer – berfungsi dengan cara yang sama seperti halnya sistem rasisme, etnosentrisme, dan chauvinisme agamis. Ada norma-norma baku untuk sexualitas yang diberi cap normal dan berdiri ditingkat hirarki yang paling tinggi Pandangan bahwa ada satu jenis sexualitas yang ideal menandai semua sistem pemikiran mengenai sex . Untuk agama , yang menjadi ideal adalah sex untuk prokreasi ; dalam ilmu kejiwaan , adalah heterosexualitas yang dewasa . Pada puncak hirarki sexualitas adalah heterosexual dalam perkawinan monogami dengan tujuan prokreasi keturunan dan menyebarkan nilai-nilai dominan dalam masyarakat . Dalam jaman yang mengagungkan pluralitas , salah satu ide- yang paling bertahan mengenai sex , bahwa ada satu cara terbaik melakukannya dan bahwa semua orang harus melakukannuya . Tradisi berpikir di kalangan akademis ini, di dunia modern dilanjutkan ke kalangan awam dan menjadi dasar dan pembentukan ideologi sexual . Bila kita memahami ideologi sebagai seperangkat gagasan yang menjadi senjata untuk kepentingan sosial , maka

180

ideologi mengenai sexualitas amat besar pengaruhnya dalam kehidupan individu maupun masyarakat . Selanjutnya ideologi sexual ini mampu mengkontrol bukan hanya perilaku individu dan masyarakat ; tetapi juga cara berpikir , penghayatan dan bahkan kenikmatan . Di luar kesadaran kita, ideologi sexual lebih merasuk dan mendominasi daripada ideologi totaliter manapun Segala sesuatu dalam hidup ada artinya karena kita memberikan suatu nilai kepadanya Perangkat nilai menentukan apa yang menjadi realitas bagi kita . Realitas akhirnya adalah suatu kontruksi sosial berdasarkan kesepakatan nilai yang diberikan masyarakat kepada berbagai hal . Sexualitas adalah studi kasus yang menarik untuk memahami proses kontruksi sosial ini, karena mempertemukan banyak aspek kehidupan manusia . Secara psikologis , sex mempengaruhi kejiwaan manusia ; secara sosial sex merupakan cermin dari tata pergaulan manusia yang diatur oleh pranata masyarakat ; secara ekonomis sex mempunyai implikasi mulai dari perkawinan sampai pelacuran , dalam era kapitalisme , sex menjadi komoditi yang sangat menunjang , melalui film , televisi dan periklanan Secara politis , artikulasi antara gender dan sexualitas menambah dimensi untuk memahami hubungan kekuasaan antara pria dan wanita . Secara ideologis , moralitas yang menyangkut sex bukan hanya mempunyai implikasi kontrol, tapi merupakan cermin pergeseran nilai-nilai masyarakat karena seperti kita semua tahu , moralitas , apakah menyangkut sex atau yang lainnya , selalu berubah dari jaman ke jaman . ( Suryakusuma, 1991 : 4 – 9 ) Sex , Seni dan Wacana Publik Sex bagi banyak orang masih merupakan wilayah yang penuh misteri . Dalam sejarah kehidupan , ada kegamangan tertentu yang dihadapi manusia tatkala berhadapan dengan sex . Ada rasa tertarik yang luar biasa , tetapi sekaligus juga ketakutan yang luar biasa terhadap sex .Padahal, bukankah kegiatan sex sebagaimana makan dan minum , tidur dan bekerja , olahraga dan doa tampaknya merupakan bagian wajar dari kehidupan manusia ? Dan sebagai bagian dari kehidupan yang wajar , apakah kegiatan sex perlu ditakuti ? Apakah tidak seharusnya manusia menghadapi sex dengan kewajaran yang biasa seperti ketika menghadapi kegiatan biologis . Sekali lagi, sex menyembunyikan sesuatu misteri, yang menyebabkan orang takut padanya . Ada berbagai sikap dan upaya manusia dalam menghadapi problematika sex. Menurut Michel Foucault , sex merupakan bagian dari ciri manusia sebagai makhluk yang berhasrat . Pada zaman Yunani Kuno , orang-orang mengolah hasrat sex menjadi bagian dari kegiatan yang sejajar dengan filsafat , ekonomi , dan pengelolalan kesehatan Tampaknya Foucault mau memperlihatkan , bahwa kegiatan sex pun mempunyai prestise yang tinggi . Dan seperti halnya kegiatan-kegiatan yang lain , kegiatan sex pun memerlukan pengelolaan yang tidak sederhana , strategi dan perencanaan , pertimbangan dan keputusan yang tepat . Akan tetapi dalam Abab Pertengahan atau era Kristen di Eropa , kegiatan sex menjadi sesuatu yang dianggap berbahaya dan ditakuti . Agama Kristen menjadikan sex sebagai sosok yang perlu diwaspadai karena menimbulkan hasrat kuat yang disebut nafsu , dan diberi label khusus sebagai “daging “ . Dalam rangkaian “

181

Sejarah Seksualitas : yang ditulisnya , Foucault sedianya bermaksud menulis satu jidlid lagi menyangkut kehidupan di era ini berjudul “ Les Aveux de la Chair “ ( Peringatan Dagung ) , di samping “ L’Usage des Plaisirs “ (Pemanfatan Kenikmatan) dan “ Le Souci de Soi “ ( Kepedulian pada Diri ) yang sudah terbit . Akan tetapi sampai sat meninggalnya . jilid tersebut tak jadi ditulis , entah karena apa . Di India dan Cina , kegiatan sex menjadi lahan pembelajaran yang menarik Sangat terkenal misalnya Kamasutra karangan Vatsyayana , yang ditulis pada abad kelima Masehi . Dan jangan lupa , di Jawa pun banyak suluk di masa lalu yang berbicara mengenai seksualitas bahkan dalam kaitan dengan mistik keagamaan . Simbol lingga dan yoni , dua kelamin laki-laki dan perempuan terlibat dalam beberapa candi di pulau Jawa Dengan bahasa simbolis , orang Jawa menggunakan kata jangkrik jlitheng untuk menyebut alat kelamin pria , dalam telaah mengenai pengelolaan keperkasaan , yang banyak dinasehatkan orang tua kepada orang-orang muda . Di Barat , khususnya di Amerika di tahun tujuh puluhan , berkembang pula pengetahuan mengenai sex yang dirintis oleh William Howell Masters , seorang ginekolog and Virginia Eshelman Johnson , seorang psikiatris . Mereka mendirikan lembaga Masters and Johnson Institute di tahun 1978 , yang mengalami sukses besar dalam mempromosikan kehidupan sexual yang sehat , mengatasi retriksi-retriksi agama yang kadang irasional dan tidak memecahkan persoalan . Pada abad sembilan belas, banyak pelukis Eropa mengambil perempuan sebagai obyeknya . Akan tetapi perkembangan ini dirintis oleh sekularisasi seni lukis yang berlangsung sejak abad keenam belas, ketika bangsawan-bangsawan kaya mulai mengambil alih komisi-komisi untuk membiayai para pelukis dan seniman lain , yang semula merupakan komisi gerejani . Tentu saja dengan proses pengambilalihan ini , bergeser pula tema-tema lukisan . Semula tema-tema religius merupakan obyek seni yang dimonopoli oleh agama dan hanya dipasang di gereja-gereja . Sejak zaman modern , tema-tema religius mulai menghiasai rumah-rumah tinggal para bangsawan dan orang kaya , tentu saja dengan gaya yang agak lain : kemudian potret keluarga dan topik-topik profan menyangkut kehidupan sehari-hari . Dalam perkembangan ini , tidak berarti nuansa religius hilang dari ungkapan seni . Hanya saja kini ungkapan ini mengambil wujud dan bentuk yang manusiawi yang lebih luas , tidak terikat pada mitologi atau topil-topik kitab suci . Dalam kerangka perkembangan ini pula perhatian para pelukis pada tubuh perempuan harus ditempatkan . Sudah cukup lama sex , dan dengan itu juga gambar perempuan , selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang berlawanan agama . Pada abad tujuh belas, moral Eropa masih dikuasai oleh Kristianisme yang berkisar sekitar “ tujuh dosa berat “ , di mana kecabulan merupakan salah satunya .Seperti diutarakan di depan , dosa kecabulan adalah dosa kedagingan berkaitan dengan nafsu manusia . Dalam kerangka ini , segala tindakan sexual , kecuali persetubuhan antara suami istri – ini pun dengan cara tertentu saja – tidak bisa dibenarkan .Foucault mencatat , bahwa saat itulah muncul daftar istilah untuk berbagai macam tindakan sexual yang dianggap menyimpang . Sejak abad sembilan , pertentangan kelas antara sex dan agama , sedikit banyak mulai diperdamaikan oleh para seniman , sebagaimana diutarakan di atas . Selain itu , studi tentang seni juga mulai

182

mendapat perhatian dari para teolog yang memperhatikan ungkapan-ungkapan religius manusia . Hal ini mempengaruhi juga sikap mereka terhadap sex .Sex bisa dibicarakan tidak hanya dalam kerangka moral dan agama, melainkan dalam berbagai dimensi kehidupan . Pada akhir bulan April 2006 , dalam sebuah pameran yang dilangsungkan di “ Sudirman Place “ tampil Tiara Lestari dengan koleksi foto dirinya . Pameran yang diberi judul “ From Sensual to Elegance “. Orang boleh menilai setelah melihatnya , tetapi yang jelas pameran itu merupakan ekspresi diri Tiara yang melakukan perjalanan apresiatif , kalau boleh dikatakan demikian , terhadap penguasaan tubuh perempuan , suatu topik yang sangat signifikan dalam perjuangan feminis yang ingin membebaskan diri dari dominasi kultur patriaki . Jikalau perempuan merasa iri hari terhadap penis laki-laki ( phallus eny ), menurut Freud , apakah tidak tidak sebaliknya dikatakan bahwa laki-laki merasa iri hati terhadap keindahan tubuh perempuan ? Pornografi banyak kali diartikan sebagai penampilan tubuh perempuan yang telanjang , untuk dikomersialkan . Dan laki-laki merasa ambigu menghadapinya . Laki-laki “ babi “ mengagumi dan ingin menikmatinya dan dari saku mereka dapat dikeruk uang , sedangkan laki-laki “ papi “ menilainya cabul dan berpretensi mau menyelamatkannya . Mengapa penilaian tidak diserahkan saja kepada kaum perempuan sendiri , itulah soalnya . Dan Tiara dengan pameran fotonya telah membuka wacana , untuk memperlihatkan di satu pihak puncak-puncak ekspresi dari keindahan tubuh perempuan dan dari lain pihak batas-batas toleransi yang bisa diterima . Dengan cara yang berbeda tetapi tujuan yang sama . Merlyn Supjan, putri waria Indonesia 2006, menuliskan pengalaman dan pendakuannya sebagai perempuan tak bervagina dalam bukunya Perempuan tanpa V . Dia berkepentingan membela kaumnya , yang selama ini senantiasa dinilai negatif oleh masyarakat dan didiskriminasi dari pergaulan sosial yang dianggap normal . Dalam masyarakat terbuka, wacana sangat penting dan inisiatif untuk membongkar persepsi yang menghakimi secara keliru kadang membutuhkan keberanian . Berkat keberanian para inisiatris untuk memulai wacana seperti inilah persepsi-persepsi itu bisa dipromosikan . Masyarakat plural juga semakin belajar untuk bisa menerima persepsi-persepsi yang berbeda , menyangkut opsi-opsi kultural dari berbagai pihak , tanpa menghakiminya . Salah satu persoalan yang muncul dalam masyarakat terbuka adalah berkembangnya media massa, yang berperan menyebarluaskan isu-isu khas , lokal, yang kadang bersifat pribadi , menjadi isu global yang bisa diketahui oleh banyak orang . Salah satu fenomena yang baru-baru ini muncul sebagai polemik adalah “ infotainment “ dalam televisi , yang bermaksud menyiarkan berita (info) , tetapi ternyata memasuki wilayah pribadi orang yang diberitakan . Akan tetapi tidak hanya itu . Pertemuan kedelapan dari World Assembly of Religion for Peace , tanggal 29 Agustus 2006 yang lalu di Kyoto yang mengangkat isu agama yang sering dibajak oleh kelompok ekstrem untuk melakukan kekerasan, dalam deklarasinya juga memperingatkan agar media massa lebih cermat dan berhati-hati dalam menjaga ketentraman Penggunaan media massa merupakan perubahan revolusioner dalam cara berkomunikasi dan menuntut pula akurasi penanganan yang tinggi . Ibarat peluru kendali dalam perang modern , kesalahan kecil dalam sudut

183

peluncuran bisa berakibat salah sasaran yang menghancurkan rakyat sipil yang tidak bersalah , demikian pun isu-isu yang disiarkan oleh media massa.. Akan tetapi dari lain pihak , keterbukaan mamang merupakan resiko juga dari kemajuan alat-alat komunikasi modern yang disebut media massa ini . Diterapkan dalam kegiatan sex, menurut McLuhan , mass media menghancurkan tembok-tembok rumah pelacuran dan menampilkan tontonan apa adanya Dan kemajuan teknologi sering lebih cepat dari kesiapan hati manusia untuk menerimanya . ( Sudiardja, 2006 : 4 – 9 ) Sex dan Masyarakat Terbuka Gejala apakah sebenarnya yang mendasari kecenderungan masyarakat untuk membuka sex ini atau untuk bersikap terbuka terhadap persoalan sex ? Di Eropa keterbukaan terhadap sex diawali dengan apa yang disebut sebagai revolusi sex pada akhir Perang Dunia II. Peristiwa itu disusul kemudian dengan cara hidup a la hippies Amerika yang menentang peperangan – khususnya sehubungan dengan perang Vietnam – dan mempromosikan free sex . Sangat menarik bahwa promosi free sex bersamaan dengan protes anti perang . Tetapi ini dapat dipahami . Bukankah sex adalah lambang kehidupan, cinta dan perdamaian , sedangkan peperangan adalah lambang dari kebencian dan kematian ? Perang merupakan gejala yang nampak dari kebutuihan komunikasi ; adanya tembok-tembok pemisah yang tidak memungkinkan perundingan . Perang merupakan dampak dari ketertutupan hati. Sex sebaliknya merupakan daya tarik untuk saling memikat , saling mendekati dan saling menyatu . Tujuan sex pada akhirnya adalah untuk membuka, tidak hanya raga, tetapi juga jiwa kepada yang lain . Van Perusen dalam Strategi Kebudayaan membedakan dengan jelas tingkah laku sex di Eropa pada zaman Victorian yang legendaris itu dengan zaman modern . Dengan sebuah gambar ditunjukkan bagaimana sex pada zaman Victorian itu mau disembunyikan Segala yang berbau sex atau ciri-ciri kelamin harus ditutupi , maka wanita-wanita yang mau mandi di pantai pun dipotret dengan pakaian lengkap . Zaman sekarang sebaliknya, buku-buku penerangan mengenai sex pun bisa diperoleh di tempat loak , kadang dengan ilustrasi yang tidak tanggung-tanggung . Memang benar , barangkali penyimpangan sez zaman sekarang tidak bisa dilebih-lebihkan dengan cara membandingkan dengan zaman dulu , karena zaman sez tertutup itu kita tidak mendapatkan data yang cukup . Akan tetapi dengan demikian sekrang tak dapat ditolak , bahwa beredarnya banyak buku tentang sez dari yang paling ilmiah hingga yang paling kotor , memberikan data yang jelas tidak mengenai pola tingkah laku sex pada zaman ini , tetapi mengenai ciri keterbukaan dan keterusterangan dari sex itu sendiri . Dengan demikian sudah tidak relevan lagi untuk membandingkan zaman ini dengan zaman Victorian . Keterbukaan sex itu sendiri sudah cukup membuat shock ! Data lain tidak perlu . Memang zaman dahulu pun sex sudah terbuka . Jauh sebelum ratu Victoria naik tahta , Eropa tentunya pernah mengalami pula zaman primitif . Sekarang pun banyak orang di Afrika atau Irian masih memakai koteka dan membiarkan bagian tubuhnya yang lain terbuka . Sebelum perang kemerdekaan para putri Bali masih membuka dadanya .Tetapi keterbukaan macam itu bukanlah yang dimaksud di sini. Keterbukaan sez jaman ini

184

adalah keterbukaan yang sudah reflektif , bukan keterbukaan alamiah lagi . Keterbukaan refleksi adalah keterbukaan yang disadari . Ada maksud untuk merangang dan dirangsang di situ . Keterbukaan sez zaman ini adalah keterbukaan blouse dengan belahan dada yang dalam atau gaun panjang hingga mata kaki dengan belahan samping atau depan hingga bagian paha. Itulah keterbukaan untuk disentuh , menurut isitilah Mc Luhan dalam Understanding Media , bukan keterbukaan untuk dilihat . Menurut Mc Luhan , promosi keterbukaan ini seluruhnya berhutang kepadsa media massa Media massa –lah yang membuka segala ketersembunyian abad-abad lalu . Media massa telah berkembang sejak saat Gutenberg menggunakan perkakas cetak hingga sekarang , ketika alat-alat elektronik sudah mampu mengantarkan berita-berita dengan amat cepat . Dan dengan itu media massa telah menggeser peran mata dengan peran syaraf . Daya visual yang sudah terbiasa menangkap tulisan mampu menangkap kodekode elektronik , rangsangan mata digeser oleh rangsangan syaraf yang langsung , sehingga keinginan untuk melihat ditingkatkan menjadi keinginan untuk bertindak . Peranan media massa amat besar dalam mempromosikan keterbukaan . Demikian juga menyangkut keterbukaan di bidang sex. Karena sex dipromosikan dalam media komunikasi , maka sex menjadi barang komoditi yang umum . Kemajuan alat-alat optik misalnya , kata Mc Luhan , telah membuat manusia menjadi barang tontotan yang bisa dibesar-besar-kecilkan . Fotografi memperbanyak gambar manusia untuk dijadikan barang dagangan yang laris . Para bintang film dan artis yang cantik-cantik menjadi impian yang dapat dibeli dengan uang . Mereka dapat dibeli , digantungkan didinding kamar , dicium atau diremas jauh lebih mudah daripada pelacur . Dan inilah kekhasan pelacuran modern : yakni bahwa diperluas bedanya . Pelacuran sudah dimulai dalam gradasi yang amat tipis, kalau boleh dikatakan demikian , dalam reklame gadis-gadis cantik dengan pakaian minim atau ddalam foto-foto bintang film yang dapat kita dinikmati dengan uang . Fotografi menurut Mc Luhan membuat bordil-bordil kehilangan dindingnya , sehingga hilanglah privacy dalam hubungan sex. Tentu saja dalam hal ini perilaku sex lantas nampak abstrak . Akan tetapi abstraksi bukanlah justru merupakan petunjuk tentang sikap manusia yang ingin menguasai dan menangkap apa yang diabstraksikannya itu secara menyeluruh ? Tak ada kekuatan manusia yang jauh lebih melumatkan daripada kemampuannya untuk mengabstraksikan obyeknya . Dengan itulah berkembang angka . . Angka merupakan abstraksi yang paling lumat dari suatu struktur suatu obyek . Strategi perang , rencana pembangunan gedung yang megah , perkembangan ekonomi , semua ini dikendalikan oleh statistik angka-angka Tidak mengherankan bahwa manusia suka mengotak-katik angka untuk mengetahui peruntungannya . Angka memberikan kekuasaan yang sungguh misterius . Demikian juga menyangkut sexualitas manusia . Dalam kontak jodoh , di koran atau majalah , orang menyanjikan data mengenai dirinya dengan angka-angka : janda , 30 tahun . 159 cm/45 kg . Dan orang modern dengan gesit menangkap profil itu dengan abstraksinya . Semakin ia berminat , semakin hidup abstrakasi itu dalam benaknya . Dan bagaimana mengenai profil itu ratu kecantikan dengan ukuran 36 – 24 – 36 ?

185

Mercedes , seoreang keturunan kulit hitam , mengalami kesulitan dalam perkawinannya Suaminya , seorang kulit putih yang mempunyai kedudukan , merasa tidak puas dengannya , karena itu ia ingin menceraikannya . Perkawinan mereka sudah berlangsung delapan tahun . Usia Mercedes . 32 tahun . Dari luar ia nampak sebagai wanita yang manis dan masih muda . Tetapi gairah sex , ia sudah tak punya . Ia menderita apa yang kita kenal sebagai frigiditas . Berkali-kali ia menyatakan persetujuannnya dengan suaminya untuk mrmpunyai anak , tetapi setiap kali mengandung ia mengalami keguguran atau harus melakukan aborsi , entah apapun alasannya . Demikianlah salah satu kasus yang ditangani oleh Dr Rollo May , seorang psikoterapis dari New York . Dalam bukunya Power and Innoncence , Dr May menunjukkan bahwa di Amerika Serikat terjadi krisis kepercayaan diri . Banyak orang merasa bahwa dirinya tidak berdaya berhadapan dengan gejolak kehidupan masyarakat yang melandanya Ketidakberdayaan ini diartikannya sebagai ketidakmungkinannya untuk mempengaruhi orang lain , untuk berbicara secara jujur dan untuk menyatakan identitas dirinya Sebaliknya , yang terjadi malahan , ia ditelan oleh kehidupan masyarakatnya , ia digiring dan dipengaruhi oleh bermacam-macam kekuatan dari luar dirinya . Ia tidak mampu menolak pengaruh-pengaruh itu . Ia menjadi impotent dan hidupnya serta didiktekan dari luar . Itulah keadaan Mercedes , seperti diduga oleh Dr May . Tetapi keadaan ini dapat dilacak oleh pengalaman hidup Mercedes sendiri . Ternyata ketika masih kecil, Mercedes dieksploitisir oleh ayah tirinya . Semenjak usia sebelas tahun ia dijadikan pelacur. Kadang-kadang ayah tirinya mengundang laki-laki ke rumahnya dan Mercedes harus melayaninya, ketika ia baru saja pulang dari sekolah . Mercedes tidak tahu apa arti semuanya itu . Ia dibiasakan dengan petuah , harus membalas kebaikan ayah tirinya dan ia “tidak berdaya “ untuk memberontak dari keadaan itu . Dan semenjak itu, sex tidak mempunyai arti baginya . Ketidakberdayaan manusia zaman sekarang yang dilukiskan oleh Dr May dengan amat mengesankan itu rupanya bersesuaian dengan gambaran Marshall Mc Luhan dalam bukunya The Gutenberg Galaxy , mengenai profil utama manusia yang seragam . Selalu dengan mengembalikan permasalahan pada pengaruh media massa yang begitu besar . Mc Luhan berpendapat bahwa kebudayaan tipografi ( alat cetak ) telah mendidik masyarakat menjadi bermental seragam dan membentuk profil yang monoton seperti halnya huruf-huruf yang berderet rapi dalam suatu buku cetakan . Manusia yang satu menjadi duplikat dari manusia lainnya . Pemikiran modern adalah “pemikiran yang membujur “ ,lurus, pasti . logis dan rasional . Inilah pola pemikiran mekanistis , yang bergerak “ajeg” dan menghasilkan barang yang selalu yang sama. Media massa elektronika semakin mempercepat proses monoton ini . Karena media massa berfungsi membuka setiap ketersembunyian dan mempromosikannya di hadapan masyarakat umum, maka manusia semakin kehilangan ciri-ciri pribadinya yang khas . Media massa membuat manusia saling mempengaruhi dan dipengaruhi secara massal Keunikan pribadi dirampas sedikit demi sedikit .sehingga akhirnya dia menjadi telanjang sama sekali .

186

Pengaruh kebudayaan yang demikian itu terasa pula dalam kehidupan sex . Bukankah sex merupakan ciri kepribadian yang paling khas ? Masalah seksual adalah masalah yang amat pribadi . Bukankah dahulu sex disembunyikan rapat-rapat sehingga praktis menjadi sautu rahasia yang tak terjamah ? Dan orang yang masih memiliki rahasia pribadi nampaknya adalah orang yang masih merasa “kaya “ , mempunyai “harga diri “ . Kita tahu betapa malunya yang terbongkar “ rahasia pribadi “ –nya . Ia kehilangan “ harga diri“ –nya . Demikianlah profil manusia dalam masyarakat yang terbuka . Karena unsurunsur kerahasiaan sudah berkurang atau tidak ada sama sekali , maka hubungan sex pun tidak lagi menjadi hubungan pribadi yang khas. Sementara itu mentalitas mesin membuat kehidupan sex menjadi monoton juga . Setiap tindakan sex seolah selalu sama dan menjemukan ,” seperti yang ditulis dalam buku-buku , “ seperti yang dialami oleh orangorang lain “, “ seperti yang dilihat dalam film “ dan sebagainya . Kegiatan sex tidak ekspresif lagi . Tentu saja hal ini membuat orang frustasi juga di bidang sex . Apalagi kalau bukan “ impotentia “ yang dihasilkan ? Dr May mencatat bahwa manusia mau mengatasi krisis dan “impotentia “ itu dengan lari kepada teknik . Mereka berharap teknik dapat menolong . Maka dibukalah klinik-klinik sex a la “ Masters and Johnson “ yang memberikan nasehat bagaimana caranya berhubungan sex . Obat-obat kuat pun mulai diprodusir secara besar-besaran yang menjanjikan daya tahan yang lama dan gairah muda kembali . Konsultasi sex dan senam sex dipromosikan . Tetapi apakah ini semua memecahkan masalah ? Dalam bukunya yang lain . Love and Will, Dr May melihat dasar yang lebih mendalam dari semua krisis “kehendak “ . Orang-orang dalam masyarakat terbuka ini menyukai cinta dan sex , tetapi tanpa disertai kehendak . Melihat uraian di atas nampaknya benar pendapat kelompok indiferen yang menyatakan bahwa kalau sex dibuka dengan gamblang dan disodorkan begitu saja , maka kita menjadi tahu bahwa tidak ada apa-apanya di dalam sex itu . Pernyataan itu benar , dalam arti bahwa orang menjadi kecewa dan frustasi setelah melihat dan mengalami sendiri sex yang terbuka . Sex yang terbuka itu ternyata memang monoton dan menjemukan . Dan dalam arti inilah sex ini nampaknya tidak ada apa-apanya . Manusia dalam masyarakat yang membela sex terbuka merasa kehilangan sesuatu yang berharga . Kini mereka terlanjur membuka sex dan tidak tahu lagi makna yang lebih jauh dari yang ditampilkan itu . Dalam buku-buku mengenai sex yang terbit belakangan , pengarang-pengarang modern mengintrodusir semboyan yang baru : “ sex as enjoyment “ di samping nilai-nilai lainnya . Tetapi dalam praktek , sex yang terbuka tidak lebih dari hanya “enjoyment “. Angkatan inilah yang oleh Rollo May disebut sebagai “ Puritanisme Baru “ ( The New Puritanisme ) . Seperti halnya “ Puritanisme Lama “ mengutuk setiap keterusterangan dalam hal sex , maka “ Puritanisme Baru “ pun mengutuk setiap ketersembunyian dalam hal sex . Slogan mereka menyeruhkan bahwa orang harus mempunyai pengalaman dan pengetahuan sebanyak-banyak mengenai sex . Akan tetapi jika keterbukaan semacam ini justru mengakibatkan frustasi , lantas mau apa dengan sex yang terbuka ? Pertanyaan ini sungguh sulit untuk dijawab . Para pembela keterusterangan di dalam sex mungkin akan membela diri lewat argumen biologi seperti dipaparkan oleh Desmon Morris . Dalam penyajian yang populer , buku Morris , The Naked Ape. , tentulah

187

merupakan bacaan yang menarik . Menurut Morris , manuisa dari sudut biologi , adalah makhluk sexual . Keistimewaan tubuh manusia itu terletak pada sexnya . Morris bahkan terang-terangan mengatakan bahwa manusia bangga karena mempunyai rongga otak yang paling besar dari antara primat-primat yang lain , tetapi lupa bahwa dia juga mempunyai penis yang paling besar dari antara primat-primat itu . Dengan pernyataan itu Morris nampaknya mau mengikuti langkah-langkah Freud lewat jalan biologi . Pembicaraannya mengenai sex manusia sungguh-sungguh provokatif Dikatakannya bahwa berbeda dari primat-primat yang lain , jenis manusia ini tidak mempunyai bulu-bulu yang cukup lebat kecuali pada bagian-bagian kecil dari tubuhnya Hal ini membuat tubuh manusia nampak mulus dan sexi , apalagi postur tubuhnya yang tegak lurus itu membuat bagian-bagian tubuhnya yang merangsang terbuka lebar bila saling berhadapan satu sama lain . Semua fungsi sexual manusia terletak di depan , baik dari wajah , dada maupun genitalnya . Segala lipatan daging pada wajah manusia menurut Morris menjadi lambang genitalia dan oleh karena itu mempunyai fungsi sexual . Akan tetapi lain dari primat-primat lainnya , jenis manusia terdidik dalam ikatan kekeluargaan . Maka untuk menjamin ikatan , manusia menciptakan restriki-retriksi di bidang sex istri-istri mereka tidak menyeleweng atau diganggu selagi mereka ditinggal berburu , suatu hal yang yang akan menggoyahkan ikatan keluarga . Apa yang kita terima dewasa ini adalah sisa-sisa dari restrik itu . Mereka membuat pakaian penutup tubuh , membuat sopan-santun untuk meminta maaf apabila terjadi persentuhan tubuh tanpa disengaja ; para wanita membiasakan diri menutup mulutnya apabila tertawa dan berusaha selalu duduk dengan kaki terkatup ; para pria membiasakan diri mencukur dan mengatur kumis dan jenggot agar fungsi sexualnya dikurangi ; mereka juga menggunakan wangi-wangian untuk mengetahui bau badannya yang merangsang sex Akhirnya mereka juga menyusun hukum-hukum dan larangan-larangan moral menyangkut sexualitas . Akan tetapi menurut Morris , restriksi-restriksi ternyata tidak mengurangi dorongan sex melainkan hanya menekan atau menyembunyikannya . Sebab di luar kesadarannya, manusia justru lebih menunjukkan dorongannya yang azasi itu dengan menonjolkan segisegi sexualitasnya . BH , misalnya , menurut Morris , kecuali untuk menutup juga memanipulasi bentuk buah dada wanita sehingga nampak lebih menonjol . Hak sepatu yang tinggi dimaksudkan untuk memperbesar efek goyang pinggul . Korset memanipulasi bentuk pinggang sehingga nampak lebih ramping . Lipstick dan gincu memulas bibir dan pipi untuk memperoleh warna yang merangsang dan sebagainya . Dalam itu semua, manusia seolah bertarung antara mempertahankan ikatan kekeluargaan dengan menahan diri di bidang sex dan menurut kecondongan sexualnya . Begitu banyaknya retriks dalam bidang sexualitas di satu pihak dan penonjolan sexualitas di lain pihak telah mengakibatkan suatu suasana kontradiksi yang menggelihkan . Tetapi menurut Morris , kontradiksi ini dapat berjalan karena dengan mode pakaian , alat-alat kosmetika dan sarana-sarana untuk mempercantik diri yang lainnya itu , manusia hanya mau menyatakan bahwa dirinya makhluk sexi, dan tidak berani melangkah lebih jauh dari itu . ( Sudiardja, 1983 : 444 – 448 )

188

Dominasi laki-laki melalui wacana Sungguh menyakitkan bahwa dalam upaya menggambarkan kebahagian dirinya, perempuan harus menoleh kepada laki-laki untuk bisa menemukan kata yang tepat dan disetujui . Hampir semua iklan produk kecantikan , pakaian , perlengkapan perempuan, selalu diukur keberhasilannya dari kemampuan pemakainya memikat laki-laki . Untuk menyebut bagian-bagian dari tubuhnya , bahkan yang paling intim , perempuan memakai kata-kata yang dipilih oleh laki-laki . Penguasaan atas wacana menjadikan dominasi lakilaki seakan-akan sebagai sesuatu yang alamiah dan bisa diterima . Bahkan situasi paling menyiksa dan tak bisa ditoleransi pun bisa tampak wajar . Seorang perempuan rela menanggung malu dan tidak mau mengungkapkan nama kekasih yang menghamilinya , supaya nama baik dan karier laki-laki itu tak ternodai . Dominasi laki-laki semacam ini, sebetulnya merupakan kekerasaan . Oleh Pierre Bordieu kekerasan ini disebut “ kekerasan simbolis “ atau kekerasan yang tak kasat mata Kekerasan semacam ini oleh korbannya ( kaum perempuan ) bahkan tidak dilihat atau tidak dirasakan sebagai kekerasan , tetapi sebagai sesuatu yang alamiah dan wajar Bahwa perempuan tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga diterima sebagai sesuatu yang sudah semestinya ; representasi Tuhan yang mengacu pada jenis kelamin laki-laki tidak perlu dipertanyakan lagi . Kisah tentang perempuan yang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki dalam Kitab Kejadian harus diterima sebagai Wahyu , dan sebagainya . Konsepsi antropologis , sosiologis, dan teologis tentang hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak menguntungkan perempuan ini tentu saja mempunyai implikasi yang dalam , yaitu kekerasan, maka perlu dibongkar . Di balik konsepsi tersebut , tersembunyi anggapan seolah-olah perubahan dari sejarah tersebut merupakan proses yang alamiah ; peristiwa seolah-olah sesuatu yang sudah semestinya . Anggapan tentang yang alamiah , yang sudah semestinya itu menjadi mitos yang didukung oleh wacana yang dikuasai laki-laki diterima dan didukung oleh struktur sosio—budaya dan pengorganisasian masyarakat . Mitos pembagian kerja dalam bentuk tugas rumah tangga bagi perempuan dan aktivitas publik untuk laki-laki mulai terbongkar Pembagian semacam itu ternyata merupakan fakta sejarah yang bisa diubah , bukan tatanan alamiah . Maka ,membongkar ketidakadilan gender merupakan tindakan yang bisa ditafsirkan sebagai pemberontakan terhadap tatanan yang ada . Ciri-ciri yang membedakan laki-laki dari perempuan sering dirumuskan secara positif dalam organisasi masyarakat . Bentuk tubuh laki-laki menemukan aturan main dalam kebanyakan cabang olahraga ; siklus hidup laki-laki menentukan dalam mendefinisikan syarat-syarat keberhasilan professional ; kehadirannya menentukan utuh-tidaknya keberadaan suatu keluarga ; agresivitas dan dominasinya mendefinsikan apa yang disebut sejarah . Memang , semua ciri ini tidak tertutup bagi perempuan , artinya perempuan juga bisa melakukan dan mencapai keberhasilan yang sama, tetapi tujuan-tujuannya dalam kenyataan ,didasarkan pada kepentingan dan nilai-nilia laki-laki . Justru ketidakadilannya

189

terletak pada kesan seakan-akan memberi kesempatan yang sama kepada perempuan berada dalam posisi yang tidak diuntungkan karena seluruh masyarakat secara sistematis lebih memberi peluang kepada laki-laki dengan definisinya tentang moral, kerja , karier , kepantasan dan jasa. Dominasi melalui wacana menentukan dalam pendefinisian pengorganisasian masyarakat dan pembagian kerja . Sering kita mendengar seorang istri mengatakan suaminya setuju bahwa dia meneruskan kariernya , seakan-akan bagi perempuan , menekuni profesinya itu menjadi mungkin karena belas kasih sang suami . Mengapa justru tidak mengadaikan yang sebaliknya bahwa melalui profesinya itu perempuan mencapai pemenuhan diri Laki-laki itu bisa menjadi suaminya justru karena menerimanya secara utuh termasuk profesi itu . Dari pembalikan wacana seperti itu tampak bahwa perjuangan untuk kesetaraan perempuan tidak bisa hanya berhenti pada pemenuhan hak-hak perempuan , tetapi harus sampai pada pembongkaran sistem penindasan itu sendiri yaitu dominasi wacana oleh laki-laki , yang merupakan kekerasan simbolis . Pada dasarnya kekerasan simbolis berlangsung karena ketidaktahuan dan pengakuan dari yang ditindas . Jadi , sebetulnya logika dominasi ini bisa berjalan karena prinsip simbolis yang diketahui dan diterima baik oleh yang menguasai maupun yang dikuasai . Prinsip simbolis itu berupa bahasa, gaya hidup , cara berpikir , cara bertindak , dan kepemilikan yang khas pada kelompok tertentu atas dasar ciri ketubuhan . Wacana laki-laki mendikte cara berpikir , cara bertindak bahkan bahasa perempuan Suatu ketidakpuasan atau protes harus dijelaskan dengan argumen yang melandaskan pada logika yang dibangun oleh laki-laki .Sebuah tangisan tidak cukup bisa melukiskan kepedihan yang dalam ; kekeluan lidah karena penderitaan tidak dianggap cukup menggerakkan empati ; menolak melayani suami tidak mampu membuat laki-laki merasa bersalah . Laki-laki menuntut alasan dan penjelasan . Dengan debat dan adu argumen, itulah cara laki-laki memenangkan nilai-nilainya . Maka , benar saran Annie Leclerc ketika mengatakan ,” Jangan berperang melawan laki-laki . Hal itu justru merupakan cara dia untuk menegaskan diri . Membunuh untuk hidup . Cukup kita kurangi isi nilainilainya dengan menertawakannya .” Nasehat itu mau mencegah perempuan agar tidak terjebak ke dalam perangkap wacana laki-laki yang punya pretensi netral . Padahal wacana tidak bebas nilai , selalu membawa kepentingan . Ketika perempuan masuk dalam dinamika wacana laki-laki , dia tunduk dalam kategorikategori yang telah ditetapkannya . Bila perempuan menetapkan skema pemikiran yang merupakan hasil dominasi , dia sudah kalah sebelum melawan laki-laki . Ketika pemikiran dan persepsi perempuan terstruktur sesuai dengan struktur hubungan dominasi, upaya untuk mengetahui berarti sama saja dengan sebuah pengakuan dan ketertundukan, karena perempuan harus menggunakan kosa kata dan kategori yang dibangun oleh lakilaki . Kesetaraan gender yang diartikan sebagai tuntutan akan pemenuhan hak-hak yang sama justru akan menjebak perempuan dalam logika wacana laki-laki . Terjebak karena perbendaharan kata dan kategori yang dipakai merupakan bagian dari dunia laki-laki Hak bukan merupakan anugerah , tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan . Perjuangan

190

mengandalkan agresivitas , suatu bentuk superioritas fisik .Asumsi ini justru memberikan pembenaran kepada laki-laki untuk menentukan hukum dan memberlakukannya . Kesadaran akan hak-hak yang disetarakan dengan laki-laki bisa menjebak perempuan pada pengakuan atas standar yang ditentukan oleh laki-laki. Maka ungkapan-ungkapan seperti siapakah yang harus maju berperang kalau negara ini diserang ? Siapa bertanggung jawab bila keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhannya ? Siapakah yang wajib melakukan ronda malam ? Ungkapan-ungkapan tersebut mau memberi legitimasi atas previlese yang diterima laki-laki . Jadi kalau perempuan menginginkannya , ia lebih dulu harus memenuhi syarat-syarat seperti yang dilakukan laki-laki . Syarat-syarat itu sebetulnya dibuat sesuai dengan fisiologi dan kepentingan laki-laki , kemudian dilembagakan dalam insitusi-insitusi sosial sehingga diterima oleh masyarakat . Kalau perempuan menuntut kesetaraan gender , mereka harus mulai dengan membangun wacana baru yang mampu membongkar insitusi-insitusi sosial yang dibangun oleh lakilaki . Pembongkaran itu perlu karena ketika mendefinsikan peran-peran dalam insitusiinsitusi sosial itu kriteria yang dipakai disesuaikan dengan nilai-nilai dan kepentingankepentingan laki-laki . Suatu universitas akan berpikir dua kali sebelum menyekolahkan seorang dosen perempuan yang masih lajang , karena jangan-jangan setelah disekolahkan dan kemudian menikah , dia akan mengikuti suaminya yang tinggal di kota lain . Hampir dalam semua agama, peran utama ada di tangan laki-laki apa pun landasan teologisnya . Meskipun perspektif teologis memberi peran khas dan terhormat kepada perempuan , yang jelas bukan peran pengambil keputusan . Insitusi sosial, insitusi agama , dan profesi, mempunyai sejarah . Sejarah disusun menurut kepentingan yang kuat . Bila sejak awal insitusi-insitusi sosial dan profesi didefinisikan atas dasar kepentingan dan nilai-nilai laki-laki , maka dalam perkembangannya yang terjadi lebih suatu proses diskualifikasi perempuan. Situasi biologis , psikologis , dan kompetensi dari perempuan dianggap tidak kondusif atau tidak sesuai dengan tuntutan dan kualifikasi yang diisyaratkan . Kalau sejak awal perempuan ikut menemukan dan mendefinisikannya, cuti hamil atau cuti memelihara anak kecil tidak akan menjadi uatu kelemahan yang menyebabkan seorang manajer HRD akan lebih suka memilih calon karyawan laki-laki daripada perempuan . Wacana bisa menjadi sumber kekerasan simbolis . Orang tidak menyadari , karena dominasi wacana oleh laki-laki, perempuan tersingkir melalui proses yang legitim . Seakan-akan karena kelemahan dan kesalahan perempuan marginalisasi itu terjadi . Proses manipulatifnya terletak pada tradisi dan kebiasaan yang melegitimasi lakilaki untuk mendefinisikan peran , kerja , jasa , dan norma. Wacana membangun struktur kehidupan yang mengkondisikan dan bisa menghalangi perjuangan kaum perempuan . Temporalitas menjadi ciri sebuah wacana karena wacana selalu dinyatakan dalam waktu tertentu dan mempunyai kesejarahnya . Penindasan melalui wacana itu tampak jelas dari pengalaman lingkup publik bahwa subyek pembicara didominasi oleh laki-laki . Kalau laki-laki mendominasi wacana, maka acuan pada dunia yang ingin digambarkan atau direpresentasikan tentu sesuai dengan keinginan, kepentingan , dan nilai-nilai laki-laki .

191

Apa yang terjadi kalau laki-laki mendominasi model pemahaman akan keyakinankeyakinan moral dan kognitif tentang manusia, masyarakat dan dunia serta hubungan antara ketiga hal itu ? Ideologisasi merupakan proses yang melekat pada semua bentuk pemikirtan yang melibatkan diri si pembicara untuk memihak . Maka kecenderungan phal locentrisme seperti halnya ideologi lainnya yaitu tidak transparan sehingga menyebabkan kelambanan . Maksudnya sesuatu yang baru tidak bisa diterima atau diintegrasikan oleh ideologi bila tidak sesuai dengan tipe-tipe yang sudah ditentukan olehnya , yang diyakini sebagai endapan pengalaman sosial . Tuntutan kesetaraan gender akan dianggap sebagai penyimpangan karena tidak sesuai dengan peran perempuan seperti sudah digariskan adat , kebiasaan , tradisi , atau agama. Dalam konteks itu, phal locentrisme memiliki ciri yang sama dengan ideologi yang disimulasi ::menyembunyikan kenyataan-kenyataan yang benar-benar dihayati oleh kelompok perempuan , yaitu ketidakadilan dan aspirasi akan kesetaraan gender . Aspirasi dan kenyatan baru itu tidak bisa diintegrasikan oleh skema penuntun ideologi laki-laki . Jawaban dari mereka yang tidak setuju terhadap tuntutan penahbisan pastor perempuan merupakan contoh menarik dan fungsi disimulasi ideologi ; tuntutan itu hanya akan membawa perpecahan di dalam Gereja Katolik; umat belum siap menerima perubahan seperti itu ; harus dibedakan antara wacana pada tataran sosiologis dan tataran teologis ; tuntutan itu menyimpang dari tradisi yang sudah berabad-abad . Setiap kelompok memiliki ciri-ciri ortodoksi dan tidak toleran bila tersingkir . Tuntutan kesetaraan gender dari perempuan mengancam peran dan dominasi laki-laki dengan segala nikmat sosialnya Bukan hanya itu , kebaruan bisa dianggap sebagai ancaman karena bisa mengakibatkan laki-laki tidak bisa mengenal dirinya kembali , yang sebelumnya dianggap ciri khas. Ciri disimulasi phal locentrisme itu lebih terasa dalam hubungannya dengan peran dominasi yang terkait dengan hirarki suatu organisasi sosial . Biasanya apa yang ditafsirkan dan mendapat pembenaran diri ideologi adalah hubungan kekuasaan . Untuk keluar dari penindasan dan ketidakadilan yang diakibatkan oleh wacana laki-laki , cara yang mungkin ialah melakukan penafsiran kembali wacana tersebut . Ini berarti menafsir ulang pemikiran-pemikiran filsafat , teologi , produk-produk hukum , normanorma , moral dan agama . Penafsiran itu pertama-tama harus memperhitungkan unsur kesejarahan dan pemahaman ; kedua melakukan kritik ideologi ; ketiga mengadakan dekontruksi atau pembongkaran wacana laki-laki .( Haryatmoko , 2003 : 17 – 20 ) Sex dan Binatangisme Apa yang terjadi di kehidupan saat ini, terutama di kota-kota besar , memperlihatkan betapa sex menjadi gelombang besar yang melanda kehidupan setiap manusia . Kita tibatiba saja telah tenggelam di dalamnya , persis seperti kita tenggelam dalam gelombang konsumerisme dan hedonisme yang dihantamkan badai kapitalisme ke segenap penjuru dunia . Sex juga telah menjadi lautan semacam konsumerisme dan hedonisme . Ada pusaran-pusaran yang bisa menarik da menenggelamkan siapa pun yang masuk ke dalamnya . Tidak ada batas yang jelas antara hedonisme , lautan konsumerisme, dan

192

lautan sex . Ketiganya adalah lautan tanpa batas . Muaranya mungkin adalah keserahkaan dalam jiwa setiap manusia . Namun, berbeda dengan hedonisme dan konsumerisme yang materialistik , sex mau tak mau melibatkan kompleksitas perasaan manusia .Sek bahkan mengaduk-aduk emosiemosi terdalam yang mungkin tak tersentuh oleh hedonisme dan konumerisme yang materialistik . Sex, karenanya , lebih mudah membuat seseorang lupa daratan . ada tahap ini , berbagai tragedi dalam hidup manusia menjadi ranjau-ranjau yang siap meledak dan menghancurkan siapa pun pun yang menginjaknya . Manusia menjadi sangat rapuh Hubungan antar manusia juga rapuih . Perceraian mengancam setiap perkawinan dari waktu ke waktu . Cinta menjadi ilusi yang digerogoti sex karena cinta juga adalah bagian dari emosi-emosi terdalam dalam diri setiap manusia di mana sexz mengaduk-aduknya dengan sistem yang tak terbaca . Mungkin, pada dasarnya manusia memang mahluk yang rapuh . Perang antara pikiran dan perasaan adalah perang yang tak pernah usai . Kemenangan pikiran kebanyakan hanya kemenangan-kememangan kecil yang sesaat . Lalu perasaan kembali memegang kendali . Lalu sex kembali mengaduk-aduknya dengan sistem yang tak terbaca oleh pikiran . Kerap , keserakahan ikut mengacaukan dan memperparah keadaan . Lalu seorang lelaki kembali merasa jatuh cinta ketika seorang perempuan menghampirinya Lalu seorang perempuan merasa tergoda ketika seorang lelaki muncul menyeruak dari rutinitas kehidupannya yang membosakan . Perang antara pikiran dan perasaan kembali berkecamuk bagai lidah api yang menjilat tubuh Sinta dalam Sinta Obong . Sex menjadi tema besar dalam drama kehidupan manusia saat ini. Pikiran-pikiran manusia piun belakangan menjadi lebih sexual saking besarnya tema sex mendominasi kehidupan . Dalam situasi ini, kekuasaan pun menjadi lebur dalam tema besar tersebut . Pemikiran sexual sebagai strategi kuasa untuk mengatur dan mengkontrol hidup manusia mulai terbentur oleh perkembangan realitas yang terjadi saat ini . Nilai-nilai moral , nilainilai agama yang mencoba mengatur kehidupan sex manusia , juga semakin terbentur oleh kenyataan yang sama sekali berbeda .Tatanan kehidupan jelas sekali semakin bergeser dan berubah . Mungkin , inilah aatnya manusia membuat sebuah tatanan kehidupan baru . Sebuah tatanan baru yang mengakomodasi dan memberikan porsi lebih besar pada kodrat manusia sebagai mahluk sexual . Pendewaan pada pengubaran nafsu secara naïf merupakan pembiaran pada naluri kebintangan manusia .. Dalam perilaku sex , naluri kebinatangan manusia berperan cukup besar sehingga menungkinkan perilaku sexual yang brutal sekalipun . Pemerikosaan terhadap anak balita yang makin kerap terjadi dewasa ini , kasus-kasus inscet , pemerkosaan missal seperti yang terjadi peristiwa 13 Mei 1998 , kasus-kasus domestic violence , adalah perilaku sexual yang didorong oleh naluri kebinatangan yang salah Salah, karena , hanya manusia yang melakukan perilaku-perilaku brutal semacam itu . Binatang tidak melakukannya . Pola perilaku sex binatang sangat jelas batasanbatasannya dan sangat ditentukan oleh musim atau periode . Manusia tidak . Modalitas ekspresi , sexualnya sangat tidak terpola . Sangat fleksibel dan luas . Manusia tidak mengenal musim kawin. Manusia bisa kawin kapan pun .

193

Istilah naluri kebinatangan yang mengacu pada sexualitas manusia menjadi tidak tepat dan harus didenisikan dengan jelas . Sebagai mahluk sexual , manusia adalah spexies binatang tersendiri yang bisa menjadi lebih brutal dari binatang paling buas sekalipun . Dan karen sex menurut Foucault adalh sebentuk permaian kekuasaan ., maka dalam wacana politik sebagai panggung kekuasaan kita juga bisa melihat kebinatangan manusia dengan jelas . Politik kemudian kerap menjadikan manusia sangat kejam . Kualitas kekejaman ini juga muncul dalam perilaku sexual tertentu yang kerap menjadi headline di koran-koran kuning, seperti Pos Kota , Lampu Merah , dan lain-lain . Sebagai binatang sex, eksistensi manusia campur aduk dengan eksistensi manusia sebagai mahluk paling luhur di muka bumi . Percampuran ini seperti mencampur minyak dan air Tidak nyambung . Minyak tetap minyak dan air tetap air Kedua unsur itu tak mungkin bersenyawa sebagaimana konsep keluhuran dan kebnatangan dalam pengertian umum . Pemisahan konsep keluhuran dan kebinatangan adalah sesuatu yang baku dalam masyarakat kita . Keluhuran berarti enyahnya kebinatangan dan kebinatangan beratu hengkangnya keluhuran . Tetapi kebinatangan tak benar-benar enyah dari dalam manusia, juga keluhuran . Kebinatangan hanya bisa diingkari secara temporer dan periodic . Pada sebagaian manusia , kebiantangan mungkin bisa dijinakan secara nyaris permanent . Pada sebagian manusia lain, kebinatangan mungkin malah kerap mengenyahkan . Perilaku sex manusia berada dalam ketegangan tarik-menarik antara kebinatangan dan keluhuran tersebut . Dan ini berlaku pada semua manusia tanpa memandang pangkat ,derajat darah, tingkat pendidikan , jenis kelamin , agama, suku , ras , ataupun faktorfaktor pembeda lainnya .Ketegangan tarik-menarik inilah yang memungkinkan eksplorasi dalam perilaku sexual manusia berkembang dalam berbagai bentuk , variasi , dengan pengaryh faktor-faktor di luar sexualitas itu sendiri . Bila unsure pengaruhnya bersumber dari kekerasan maka terjadilah sexual abuse, saomasochisme , atau anger rape Bila yang mempengaruhi misalnya rasa sakit terhadap lawan jenis , bisa jadi yang muncul adalah hubungan sex sejenis atau homosexual , atau bisa juga perilaku play boy atay petualangan sex . Ini tergantung pada konteks tarik-menarik antara kebinatangan dan keluhuran yang tengah berkecamuk dalam diri manusia yang bersangkutan . ( Gunawan, 2003 : 34 – 37 ) Teknologi Kekuasaan dan Naluri Sex Melalui teknologi , kekuasaan membujuk , merayu , dan meyakinkan . Kekuasaan dapat diidentikan melalui teknik yang dipakai untuk mencapai tujuannya , yang adalah kepatuhan . Dalam bio-politik , obyek dan sasaran kekuasaan adalah tubuh manusia , lebih-lebih hasrat-hastratnya . Hasrat yang paling dominan mengarahkan manusia adalah hasrat sex . Pernyataan ini oleh Schopenhauer dirumuskan secara lebih mengelitik, ketika orang bertanya , di mana letak pengetahuan yang paling intim tentang hakekat dunia ini ? ( Pengetahuan yang pada dirinya merupakan kehendak untuk hidup ) . Jawabnya ialah

194

kehendak dalam berhubungan badan . Itulah hakekat dan inti sesungguhnya segala hal atau tujuan hidup Dalam sex terdapat inti atau konsentrasi yang riil , yang justru harus diperangi dan dileyapkan karena dianggap menyeret ke kejahatan atau dosa . Tubuh harus ditaklukkan dan dibuat patuh . Naluri sex harus dicegah agar tidak lagi mendominasi . Dengan cara inilah manusia menjadi lebih berguna . Dalam upaya merepresi , menyalurkan dan memerangi naluri sex inilah teknologi kekuasaan berkembang . Ketrampilan-ketrampilan untuk menundukkan tubuh dari kecenderungan naluri sex semakin canggih . Dari antisipasi , represi sampai dengan tindakan aksetis dan penyangkalan diri dalam bentuk kastrasi ( pengebirian ) pada tradisi tertentu dianjurkan bahkan ada yang melakukan untuk mencegah pelampiasan naluri sexual , seperti yang dilakukan para eumuque . Memberi konsesi kepada kecenderungan materi dianggap kesalahan besar . Materi harus dibuat tunduk terhadap jiwa agar tidak jatuh ke dalam sexualita belaka . Maka menunda belajar kenikmatan sexual berarti menjaga tubuh agar tetap dalam kondisi berkembang secara sehat . Semakin orang muda memperlambat menikmati kesenangan badani semakin mampu mencapai kematangan hidup Sensualitas menjadi musuh paling berbahaya bagi pertumbuhan orang muda. Maka perspektif Manikean cenderung memakai logika pengebirian , yaitu menghubungkan kenikmatan fisik dengan derai tawa iblis. Kenikmatan harus disikapi dengan menumbuhkan ingatan dan gagasan yang menjijikan Untuk menghindari jatuh dalam pelukan sensualitas perlu mengendalikan juga naluri lain yang sangat erat terkait dengan hastrat sex , yaitu nafsu makan . Nafsu sex dan nafsu makan pada dasarnya berasal dari naluri yang sama, yaitu keinginan untuk menyentuh dan merasakan Maka kemampuan menahan diri berhadapan dengan makanan merupakan latihan yang baik untuk bisa menguasai diri terhadap nafsu sexual . Nafsu sex dan nafsu makan sering mudah mendorong orang melakukan kejahatan yang sama keduanya mecari kenikmatan kulit dan sensasi sentuhan , yang pada gilirannya akan mengasingkan pikiran . Kewaspadaan terhadapan makanan adalah antiipasi untuk menghadapi naluri sex Tindakan-tindakan antiipasi diperlukan agar tidak tergoda mengikuti kecenderungan naluri sex menghindari kesempatan yang menggoda yang datang dari bacaan , gambar , foto pornografi atau eotis ; mengalihkan perhatian dan adegan, representasi , atau pembicaraan yang akan menyebabkan rangsangan sexual ; dan menghindari perjumpaan dengan lawan jenis di tempat yang lepas dari pandangan publik . Logika pengeibirian dan antiipasi itu sudah tidak diperlukan lagi pengawasan dari luar . Orang udah menginternalisasikannya menjadi motivasi sendiri , selain karena pendidikan , juga karena diyakinkan bahwa semua itu untuk kepentingan dan kebaikannya dirinya sendiri . Bila antisipasi tidak berhasil , maka tidak bisa tidak represi harus dilakukan , yaitu menanamkan dalam hati aturan yang keras terhadap naluri ; menumbuhkan rasa muak dan jijik terhadap kecenderungan naluri sex ; menghadirkan dalam bayangan gagasangagasan yang menyiksa seperti rasa malu , dan akibat-akibat yang akan menyengsarakan; meyakinkan diri bahwa hidup menjadi lebih menyiksa , hilang kebanggaan diri bila

195

menuruti naluri tersebut . Lebih baik lagi bila tidak menurut sama sekali hasrta sex selama mungkin sampai tubuh lupa pada dirinya , lalu membiarkannya layu . Represi sering membutuhkan kehendak yang kuat dan mudah mengakibatkan kekecewaan yang dalam , bahkan bisa menimbulkan penyimpangan . Maka tersedia teknik lain yang oleh disiplin psikologi disebut sublimasi . Sadar bahwa tidak mungkin melenyapkan sama sekali harat sexual , filsuf seperti Rosseau menganjurkan lebih baik menyalurkan ke hal positif , mengalihkan ke kegiatan yang lebih bermanfaat . Rosseau memberi fokus pada pengolahan perasaan terhadap orang lain sebagai obyek utama untuk mengalihkan hasrat sexual . Perasaan itu perlu diarahkan agar tumbuh persahabatan , rasa belah kasih , dan belarasa . Keprihatinan dan rasa tanggung jawab terhadap tugas-tugas , penderitaan dan nasib orang lain merupakan bentuk penyaluran naluri sex yang dianggap positif dan produktif . Selain itu, menghidupkan imajinasi secara positif akan mampu pula mengalihkan dorongan sexual . Ajaklah orang muda untuk menghadirkan dalam pikirannya saudara atau temannya yang cacat . Mereka ini meskipun cacat juga memiliki naluri sex yang sama . Maka upaya mengontrol diri untuk tidak menuruti naluri sexnya merupakan ungkapan solidaritas dan bela rasa terhadap saudaranya atau temannya yang cacat itu , yang karena hambatan fisiknya tidak mampu menikmati nalurinya . Dengan demikian , kemampuan mengekang naluri sexual tidak hanya demi kepentingan diri , namun merupakan bentuk altruisme. Kalau di dalam imajinasi positif masih dibutuhkan jeda karena butuh waktu untuk peralihan dari hasrat ke bela rasa , bentuk pengalihan naluri sex yang bisa langsung dirasakan hasilnya adalah kerja fisik atau olahraga . Yang mau diarah adalah membuat tubuh kelelahan . Dengan bekerja keras , fisik terkuras , lalu imajinasi pun bisa istirahat.Bila tubuh lemah karena kelelahan , naluri tidak akan mudah terbakar sehingga rangsangan tubuh tidak lagi dirasakan . Dan tubuh akan diubah menjadi daging tanpa nafsu . Demi asas manfaat sosial tubuh ini , kegiatan-kegiatan positif lain harus selalu mengisi kesibukan orang muda agar naluri sex bisa dialihkan ke hal yang akan lebih berdaya guna Degan demikian , bekerja merupakan cara untuk mengalihkan energi , agar perhatian lebih pada tujuan-tujuan yang bisa berguna atau setidaknya, lebih bisa diterima masyarakat karena secara budaya lebih bisa ditoleransi .Kemampuan menyalurkan energi naluri sexual ini sering digunakan sebagai kriteria kedewasaan seseorang sehingga setiap orang akan berupaya dengan sukarela melakukannya , bahkan bangga karena dianggap mencapai kematangan atau kedewasaan . Sekali lagi sistem panotik berjalan . 1
1

Sistim panotik ini diperkenalkan oleh Michel Foucault . Istilah ini diambil-=alih dari sistem penjara yang dikembangkan oleh Jeremy Bentham untuk menghemat sistem pengawasan dengan merancang aristektur penjara yang khas. Panotik berasal dari bahasa Yunani , yaitu pan yang artinya semua dan opyikan yang berarti melihat .. Arsitektur penjara itu bentuknya melingkar . Di tengahnya terdapat menara pengawas . Dari menara itulah dapat dipantau dengan jelas semua gerakan narapidana yang ada di masing-masing sel . Pemantauan menyeluruh ini dumungkinkan berkat dua jendela , yang satu mengarah ke menara dan yang lain terarah ke luar sehingga cahaya dari luar dapat masuk menerangi sel . Dengan desain ini, bukan hanya

196

Dalam disiplin psikologi juga dikenal istilah catharsis sebagai salah satu bentuk pengalihan dorongan sexual dngan cara mengangkatnya ke permukaan melalui pembicaraan atau konsultasi hal-hal yang menyesakkan . Foucault menyebut pengakuan dosa adalah bagian dari hubungan kekuasaan yang tidak lagi dalam bentuk represi Pengakuan dosa menunjukkan bahwa kekuasaan itu produktif karena memberi kelegaan, menghasilkan berbagai bentuk wacana dan tulisan . Sebetulnya dengan mengungkapkan hasrat-hasrat yang dianggap negatif terjadi proses catharsis . Melalui pengakuan dosa terjadi pembebasan dari rasa bersalah yang selama ini ditekan atau disimpan . Di luar pengakuan dosa , proses catharsis juga bisa berlangsung dalam bentuk lain, yaitu bimbingan rohani dengan pemuka agama , konsultasi dengan psikolog , psikiater , atau curhat dengan sahabat dekat , orang tua , orang yang dipercaya Tentu saja dalam catharsis itu proses internalisasi juga berlangsung . Sistem panoptik berjalan . Orang diyakinkan bahwa dengan mengungkapkan apa yang menekan dalam hati , orang diajak merumukan masalah yang dihidupinya . Mampu merumuskan masalah berarti langkah penting kearah penyelesaian masalah . Para konselor sering mengatakan bahwa dengan mampu merumuskan masalah lima puluh persen masalah sudah diselesaikan . Semua teknik pengalihan dorongan naluri sex itu entah dengan represi , sublimasi , catharsis , imajinasi positif , membayangkan akibat-akibat yang menyengsarakan ( malu, hilangnya kebanggaan ) , puasa dan sebagainya , bisa semakin efektif karena berlangsung dalam kerangka sistem panoptik.. Unsur panoptik yang paling menentukan ialah proses internalisasi pengawasan . Melalui proses semacam inilah pengawasan tidak memerlukan lagi kehadiran fisik karena telah diubah menjadi motivasi yang berasal dari dalam dirinya . Memang akan lebih efektif lagi bila ada struktur-struktur yang mengondisikan ( ritme hidup, organisasi, aturan , hierarkisasi keanggotaan , sanksi sosial ) . Pembatinan pengawasan menjadi motivasi tindakan ini memungkinkan untuk mendapatkan kepatuhan tubuh sebab apabila mangkir atau melanggar akan tumbuh rasa bersalah , kecewa atau bentuk kekacauan bantin lainnya . Dari mana datangnya dorongan untuk membatinkan / menginternalisasi pengawasan ini ? ( Haryatmoko , 2006 : 31 – 32 ) Tubuh Indah dan Kapitalisme Sistim kapitalisme ikut berpengaruh besar pada pembentukan body image . Kapitalisme menentukan standar tubuh ideal masa kini bagi perempuan agar mereka terus-menerus
iluet narapidana yang kelihatan , tapi seluruh gerak-gerik dan wajahnya . Sebaliknya , narapidana tidak bisa melihat siapa, atau berapa orang yang mengawasinya . Sehingga , dalam diri narapidana tertanam kesadaran bahwa selalu ada yang mengawasi . Akibatnya , narapidana selalu merasa diawasi meskipun mungkin tidak ada pengawas. Jadi kehebatan prinip panotik terletak pada pengawasan yang bisa discontinue , namun sefek kesadaran diawasinya kontinu. Model pengawasan semacam ini bisa berjalan efektif karena mendorong orang yang diawasi untuk menginternalisasi atau membantinkan pengawasan . Dengan demikian semakin efektif suatu kekuasaan atau pengawasan , kehadiran fisiok semakin kurang dibutuhkan .

197

memperbaiki penampilannya demi mencapai ukuran yang diidealkan . Para perempuan di masyarakat kita salig bersaing untuk menjajarkan diri mereka dengan tuntutan masyarakat patriakis yang menggemari perempuan dengan tubuh ideal di mata laki-laki dengan ukuran-ukuran yang diinginkan laki-laki . Semakin tinggi keinginan perempuan untuk mengejar ukuran tubuah ideal semakin terbuka kesempatan bagi pemilik modal unuk mengembangkan produk kecantikan dan jasa memperbaiki penampilan . Trend bentuk tubuh perempuan yang digemari oleh mayoritas laki-laki saat ini dan yang banyak ditampilkan oleh media massa adalah yang langsing namun proporsional , sehingga membuka peluang untuk membentuk cara pandang perempuan terhadap bentuk tubuh yang ideal . Hal ini menumbuhkan pikiran pada perempuan bahwa tubuh ideal adalah yang langsing , sekaligus menumbuhkan kecemasan akan kegemukan . Kapitalisme berperan besar meyakinkan para perempuan bahwa tubuh ideal masa kini lebih disukai dan dapat dicapai .Di dalam masyarakat kapitalis , akan sangat mengutungkan untuk menciptakan permasalahan dan kemudian menawarkan produk yang dapat memecahkan masalah tersebut . Jika selulit dianggap disukai , atau setidaknya dianggap bukan masalah , maka tidak akan ada kebutuhan untuk pergi ke gym demi menghilangkan lemak tubuh atau membeli makanan-makanan diet untuk mengurangi lemak tubuh . Dan jika payudara tidak kencang atau bentuk tubuh tidak ideal adalah masalah, seseorang hanya perlu membeli produk atau jasa pelayanan , dan masalahnya akan terpecahkan . Industri-industri tersebut berkembang pesat dalam menumbuhkan keraguan pribadi perempuan . Untuk meraih sukses , industri-industri yang bergerak di bidang kecantikan tidak hanya haris memotivasi keinginan terhadap produknya , tetapi juga harus meyakinkan perempuan bahwa tanpa produk tersebut , ia tidak akan diinginkan . Dalam proses penerimaan diri . perempuan menjadi sasaran para pengusaha dan pembuat iklan yang lihai , di mana pesan iklan mereka sangat jelas tersampaikan kepada kaum perempuan . Pembudayaan mitos kecantikan yang disebarkan melalui iklan dapat mempengaruhi citra diri konsumennya . Pengaruhnya adalah bahwa banyak perempuan yang menjadi rentan terhadap bentuk tubuhnya sendiri dan mulai memandang bentuk tubuhnya sebagai “ gemuk “ , sehingga mereka menjadi terobsesi untuk melakukan kontrol terhadap bentuk tubuhnya . Mitos kecantikan akan lebih merugikan bagi perempuan , karena menyebabkan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri , dan sebaliknya akan mengutungkan perusahaan . Tidak peduli seberapa keras perempuan mencoba meraih penerimaan , ia tetap merasa kurang sempurna. .Tak peduli seberapa baik penampilan atau harum tubuhnya , ia selalu merasa ada yang kurang atau tidak lengkap . Jika penilaian yang berlebihan terhadap tubuh perempuan terus berlanjut , cara untuk mencapai bentuk tubuh perempuan terus berlanjut , cara untuk mencapai bentuk tubuh yang mendekati “ ideal” biasanya akan dicari melalui diet atau berolahraga , yang belum tentu berhasil memenuhi hasrat perempuan akan tubuh yang langsing . Dan pada akhirnya ia menjadi terperangkap dalam lingkaran obsesi diri yang berlebihan serta penolakan diri . Dinamika ini merupakan bukti

198

ganguan semacam anoreksia dan bulimia, obsesi pada berat tubuh dan diet , serta latihan kebugaran yang berlebihan . Gangguan-gangguan tersebut tidak dapat dianalisis secara terpisah dan budaya yang saat ini sedang berlalu . Budaya yang kerap disebarkan lewat majalah ataupun iklan dalam dunia kecantikan bagi munculnya gangguan makan dan sebagainya . Sebagian perempuan menghasbiskan uang yang tidak sedikit demi memperbaiki penampilan fisik di klinik perawatan wajah dan tubuh . Fenomena ini berkaitan dengan kontruksi sosial tentang kecantikan dan kelangsingan yang berkembang saat ini . Cantik merupakan kontruksi budaya industri yang tak lepas dari kepentingan industri untuk menyalurkan produk mereka, di mana produk seperti itu baru bisa dipasarkan jika ada permintaan . Maka permintaan itu harus diciptakan , salah satunya melalui iklan dan nyatanya masyarakat menerima kontruksi ini . Ambillah contoh sebuah iklan perusahaan pembentukan tubuh papan atas berbunyi “ Program pelangsingan baru yang menakjubkan , yang telah membantu para perempuan mendapatkan tubuh yang sensasional .” Kiranya tidaklah cukup tubuh udeal saja , tetapi tubuh dimaknai sebagai suatu instrument yang dapat memberikan sensasi , entah apa pun wujudnya . Tubuh langsing tak berlemak, perut datar , payudara kencang , pinggang berlekuk-liku, pantat sintal , bisa disebut sebagai contoh penanda cantik dalam kontruksi sosial semacam ini . Kemudian kebutuhan melangsingkan tubuh , mengencangkan payudara , dan sebagainya itu dikemas dalam stu paket perawatan tubuh di klinik-klinik tersebut . Fenomena ini muncul karena industri kecantikan mengontruksikan citra ideal sebagai upaya memasarkan produknya . Ironisnya , majalah maupun iklan dalam dunia kecantikan menjadikan perempuan sebagai target atau sasaran utama pemasaran produknya . Misalnya adalah pesatnya industri produk diet dan semacamnya yang bertujuan melangsingkan dan membentuk tubuh perempuan , tetapi pada kenyataannya nyaris tidak menghasilkan tubuh yang lebih langsing . Bagaimanapun, industri-industri tersebut tetap saja dapat menarik para perempuan dengan penekanan pada pencitraan fitur ideal perempuan di mata masyarakat, bahwa perempuan itu seharusnya indah dipandang . Nilai-nilai yang terkandung di dalam strategi kapitalisme menyosialisasikan pada kaum perempuan agar memperlakukan tubuhnya lebih sebagai obyek untuk diamati . Oleh karena itu , diharapkan perempuan menampilkan kecantikan fisik di mata masyarakat . Hal ini kemudian mengarahkan perempuan menjadi semakin konsumtif karena tuntutan keburuhan akan penampilan agar menarik , cantik , dan modis dengan beragam mode pakaian dan komestik yang ditawarkan . Mode pakaian pun dibuat untuk menampilkan keindahan tubuh perempuan , sehingga jika perempuan ingin tampil modis dan sensual dalam busana tertentu , ia harus berusaha memperbaiki bentuk tubuhnya terlebih dahulu , baru kemudian ia dapat mengenakan pakaian idamannya . Mode pakaian yang variatif dan modis memang kebanyakan diperuntukan bagi perempuan bertubuh ideal , jadi jika tubuhnya tidak demikian , ia dianggap kurang pantas tampil modis dan menarik , bahkan bisa jadi malah mengundang cibiran dari orang lain yang melihat cara berbusananya . Masyarakat kita memersepsi kalau perempuan bertubuh ideal , model pakaian apa saja

199

akan terlihat bagus jika dikenakannya . Sedangkan kalau bertubuh gemuk , selain varian model pakaian semakin terbatas , juga tidak bisa menarik jika dikenakan . Sungguh menarik sekaligus menyedihkan melihat bagaimana perempuan teleh diperbudak oleh standar masyarakat mengenai penampilan lahiriah yang ideal .Seringkali perempuan menjadi musuh terbesar bagi dirinya sendiri sehubungan dengan penampilan . Ia merasa tidak berarti karena berat badan dan penampilannya . Ia terkurung dalam perasaannya sendiri , diperkuat mitos kecantikan yang tumbuh di masyarakat , dan malah memicu lahirnya kepercayaan baru bahwa tanpa tubuh langsing dan wajah cantik , tak ada bagian dari hidup ini yang dapat dinikmati . Akibatnya bukan seft-esteem yang didapat, tetapi perang terbesar perempuan terhadap tubuhnya sendiri pun dimulai . Begitu banyak perempuan kehilangan rasa kepemilikan terhadap tubuh mereka sendiri sehingga merasa tidak nyaman dengan tubuh mereka . Itu semakin memisahkan tubuh perempuan dari totalitas kediriannya sebagai seorang individu yang utuh , lebih dari sekadar aspekaspek fisik saja . Hal ini tidak mengherankan di mana perempuan di masyarakat memang lebih dilihat dan dinilai dari penampilan fisiknya . Efek berlanjut dari peampilan perempuan sebagai komoditas ini adalah perempuan secara tidak sadar dikondisikan untuk merasa terasing dari tubuhnya . Pengasingan pikiran dengan tubuh dipacu oleh sejumlah aspek pengalaman perempuan Pengasingan tersebut dapat diidentifikasi sebagai fenomena pikologis yang terjalin melalui sejarah pribadi dan distorsi imajinasi , sebagai fenomena budaya yang mengabadikan mitos bahwa perempuan harus berpenampilan dengan suatu cara tertentu ; sebagai fenomena politik yang menindas perempuan dalam suatu perjuangan melawan tubuh mereka sendiri ; dan sebagai fenomen filosofis-spiritual yang merancang pikiran melawan tubuh sebagai musuh . Kontruksi sosial yang ada dalam masyarakat telah menyebabkan perempuan mudah merasa teralinasi dari tubuh mereka sendiri . Tubuh seolah menjadi ajang perebutan kekuasaan ekonomi politik pada masyarakat industrial .Payudara, pantat , mata , dan lainnya dianggap potensial dipasarkan Sementara tubuh bagian dalam menjadi sasaran potensi pasar bagi obat-obatan , tubuh bagian luar menjadi sasaran potensi pasar bagi industri yang semakin mengukuhkan mitos kecantikan Identitas diri perempuan berada dalam kontruksi sosial yang diciptakan oleh kaum kapitalis Usaha-usaha untuk mendefinsikan ulang arti kecantikan dan untuk mengembalikan kepemilikan tubuh perempuan kepada perempuan perlu digalakkan dari tahap perkembangan perempuan sendiri . Jika tidak, ditengah-tengah trend pasar bebas dunia, posisi tubuh perempuan akan semakin ditentukan oleh pasar , bukan oleh perempuan sendiri . Kini semua tergantung pada perempuan sendiri . Selalu terbuka pilihan untuk meneguhkan identitas dan konsep diri . ( Melliana S , 2006 : 73 – 80 ) Penutup Seperti yang dilaporkan oleh Jakarta Undercover , Sex n” the city , pemuasaan hasrat sex itu berupa-rupa variasinya . Variasi sex yang aneh-aneh dan menyeweng dari kebisaan umum tersebut kiranya bisa menjadi contoh , yang membenarkan konsep Herbert Marcuse , bahwa pada kodratnya sexualitas itu adalah polymorphous preserve ,

200

penyimpangan yang beranekaragam . Konsep Marcuse tentang sexualitas sebagai seiring dengan analisis serta refleksinya tentang revolusi sex yang meletus di zaman modern ini . Di Abad Pertengahan , sex dipandang sebagai sesuatu yang suci . Maklum , pada waktu itu dunia serta segala isinya dipandang sebagai suatu kosmos , yang utuh , menyeluruh dan suci . Seperti kosmos itu utuh dan suci , demikian pula bagian-bagiannya juga tak terpisahkan satu dari lainnya., menyatu dalam kesuciannya . Unsur-unsur dalam kesatuan ini tak boleh bertentangan satu dengan lainnya : semuanya harus berada dalam dan menjaga keharmonisan . Karenanya , agama tak bisa dipisahkan dari politik . Agama ikut menentukan politik , dan politik dengan sendirinya juga suci seperti agama. Sex adalah bagian dari satu kosmos yang utuh dan suci ini . Maka , bukan individu melainkan kosmos itulah yang mengkontrol kehidupan dan aktivitas sexual . Sex pun ditentukan oleh kekuatan atau kekuasaan dari luar individu , biasanya adalah agama dan kekuasaan politik sendiri . Sangat sempitlah pandangan tentang aktivitas sex pada waktu itu , yakni untuk sekedar reproduksi saja . Di abad modern , situasi berubah dengan dratis . Sexualitas manusia bangkit untuk membebaskan diri dan represinya , dan kemudian dengan terang-terangan menyatakan dirinya . Dua tokoh pemikir patut disebut di sini pihak ia khawatir akan kedashyatan dorongan naluri sexual . Seperti pemikir atau moralis borjuis lain, Freud tetap yakin , bahwa peradaban masyarakat industri bisa dilestarikan , bila masyarakat mengkontrol dorongan nalurinya , sesuai dengan tuntutan rasional . Betapa pun liberal pandangan Freud , ia tetap pada pola lama , bahwa realitas dan rasio harus menundukkan spontanitas naluri manusia, artinya Logos harus tetap mengatasi Eros . Bedanya , ia berpendapat , bahwa naluri sexual itu tidak perlu ditekan , tapi diarahkan dan disublimasikan . Bukan represi terhadap libido , sanpai manajemen libido , itulah rumus yang diusulkan Freud . Seperti Freud, Herbert Marcuse , pemikir kritis dari Sekolah Frankurt , juga yakin bahwa peradaban modern ini bisa dibangun karena represi rasio terhadap spontanitas naluri manusia . Namun lebih dari Freud , Marcuse berpendapat, demi pertumbuhan ekonomi , represi itu dijalankan dengan berlebih-lebihan . Maklum , masyarakat industri mnaju telah menggantikan prinsip-prinsip realitas dengan prinsip hasil dan keuntungan . Spontanitas manusia ditindas, agar masyarakat menghasilkan lebih dan lebih . Akibatnya, manusia modern memiliki lebih daripada yang dibutuhkan oleh realitasnya . Namun bersamaan dengan itu , spontanitas naluri manusia pun ditindas lebih dari proposi penindasan yang diperlukan untuk mempertahankan peradaban dan terpenuhinya kebutuhan . Marcuse mengatakan , penindasan yang berlebihan itu tidak lagi rasional tapi rasional . Inilah situasi yang nanti menyebabkan meletusnya revolusi sexual di awal tahun enam puluhan . Dalam revolusi itu terjadilah pemberontakan Eros terhadap Logos secara terang-terangan . Pemikir maupun aktivis revolusi sex tahun enam puluhan yakin , bahwa represi terhadap naluri sexual manusia adalah penyebab bagi terjadinya agresi dalam masyarakat dan perkosaan terhadap yang lemah . Represi itu pula yang melahirkan fasisme dan perang ,

201

dua hal yang sangat dibenci oleh generasi enam puluhan yang mulai muak terhadap affluent society . Maka , lebih-lebih para aktivisnya berpendapat , bahwa praktik sex bebas di antara manuia akan membebaskan masyarakat dari kejahatan-kejahatan penindasannya . Maka masyarakat Barat pun mengimpikan dan mempraktikan sex sebebas-bebasnya , seperti dinyanyikan Frank Zappa, rocker tahun enam puluhan. Kumpulan orang-orang bebas itu melakukan oral sex , tanpa berpikir di mana mereka berada di belakang panggung , di dalam selubung mantel , di jalanan , di mana pun , selalu dan kapan saja . Dalam konteks revolusi sex di atas kiranya menjadi lebih jelas apa yang dimaksud oleh Marcuse dengan sex sebagai polymorphous perverse . Pertama-tama , aneka ragam praktek sexual ini disebut menyimpang, karena berlawan dengan praktik sex yang wajar , karenanya juga bertentangan dengan norma-norma moral sexual yang mapan . Namun , di liain pihak , prektek sex yang tak kenal batas itu sesungguhnya adalah kodrat dan hakikat sexualitas manuia sendiri . Menuruti kodrat itu, manusia tidak hanya akan menjadi jujur tapi juga otonom , dan terbebas dari segala penindasan terhadap nalurinya Tidak ada yang lebih benar di antara keduanya . Yang benar bahwa keduanuya adalah reqalitas yang sama-sama ada dalam hidup manusia . Kedua realitas itu akan selalu berada dalam ketegangan dialektis menuju kepada kesempurnaannya Polymorphous perverse berkenaan dengan praktik sex yang dituturkan dalam “ Jakarta Undercover “ kiranya bisa kita lihat dari kacamata di atas . Jelas, di satu pihak , praktik sex gila-gilaan itu adalah menyimpang menurut norma yang berlaku , bahkan mungkin terkutuk manurut norma tradisional yang ada dalam masyarakat kita. Namun , di lain pihak , praktik ini justru dapat dilihat sebagai petunjuk , bahwa diam-diam sebagian masyarakat kita telah hidup menurut kebebasan yang dijanjikan oleh masyarakat industri lewat revolusi sexualnya . Pada yang terakhir ini kita boleh segera menambahkan pelbagai data kebebasan sex yang sekarang sedang melanda masyarakat kita , misalnya lewat internet , pornografi , dan VCD . Sementara sudah bukan rahasia lagi , bahwa di antara anak-anak muda , sex telah menjadi demikian bebas dan terbuka . Beragam praktik sex itu kiranya tidak bisa dihakimi hanya sebagai “ menyimpang “ . Semuanya itu justru harus bisa diterima sebagai fakta , bahwa masyarakat kita sedang menuju kepada masyarakat yang sedang terbuka , apa pun resikonya . . Dengan menjadi terbuka sex tidak lagi bersifat privat tapi publik . Buku “ Jakarta Undercover dengan jelas melaporkan hal tersebut . Di sana aktivitas sex tidak dilakukan dalam keintiman privat , tapi dalam perayaan , pesta dan kebersamaan publik . Untuk melengkapi data tersebut , kita bisa mencermati berita media massa yang menguas kehidupan pribadi para selebriti , lebih-lebih para artis. Secara langsung atau tidak , aroma sexualitas terasa di sana . Apalagi jika berita atau kisah itu ditayangkan di televisi , imajinasi permisa menjadi lebih terbuka dan liar , karena langsung menyaksikan si artis yang dengan segala gerak-geriknya begitu terbuka berbicara mengenai keintiminannya . Semuanya itu kiranya bisa juga ditangkap sebagai tanda-tanda , bahwa sexualitas dan ideide revolusi sexual yang dibawa oleh kemajuan masyarakat industri sudah dengan agresif menyusupi masyakat kita . Sex bukan lagi realitas privat tapi publik . Sex bukan lagi

202

sinomim bagi intimitas di antara dua manusia . Intip mengintip intimitas sexual seseorang seorang tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran hak asasi . Lagipula untuk apa mengintip mereka yang dulu bermain dengan menutup pintu , sekarang malah membuka pintunya lebar-lebar , mengundang orang ikut dalam perbuatan intimnya . Itulah terror dari intimitas di zaman modern ini . Sementara dalam masyakat pun tiada lagi ketakutan , bahwa sex akan menjadi tak terkendali dan menyimpang . Seperti terjadi di negeri Barat , di sini pun , sex bukan lagi barang tabu . Orang mulai berani bicara terang-terangan . Media pun melaporkan pelbagai aktivitas dan masalah sexual tanpa banyak hambatan . Pelbagai tontotan pun memanggungkan sexualitas dengan berani dan vulgar . Buku “ Jakarta Undercover “ malah melaporkan aktivitas sexualitas sebagai pesta , di mana orang tidak hanya menonton, tetapi ikut aktif ambil bagian dalam kenikmatannya ( Sindhunata , 2003 : 11 – 18 ). Tubuh senantiasa kehausan, yang selalu anggup meminum dan mencerna segala pengalaman yang memaskuinya . Tubuh itu mempunyai kapasitas yang luarbiasa untuk dirangsang , Stimulus apapun ia terima dan ia respons . Ia tak pernah jenuh dan berhenti menanggapi rasangan itu . Kapasitas inilah yang terutama memungkinkan tubuh menjalankan fungsi sebagai instrumen kenikmatan , sebagai wadah pengalaman sensual dan sexual . Kini tubuh lebih mementingkan kebugaran daripada kesehatan . Karena itulah tubuh dipahami sebagai bejana yang harus menampung segala macam pengalaman sensual , kesehatan saja tidak mencukupi . Yang dibutuhkan adalah kondisi tubuh yang bugar , Sebagai sekadar catatan samping adalah menarik untuk mencermati bahwa begitu banyak praktikpraktik sex yang terjadi di lingkungan pusat-pusat kebugaran . Kalau toh tubuh tidak bisa bugar secara alami , kebugaran ini seringkali diusahakan dengan caracara yang koersif , misalnya dengan mengkonsumsi narkoba , atau zat-zat lain yang dipercaya sanggup menaikkan kondisi bugar itu . Budaya postmodern tidak lagi mementingkan perfoma tubuh . Yang lebih dipentingkan bukanlah performa, melainkan sensasi-sensai yang diterima tubuh itu sendiri . Sex bukanlah sebuah performa tubuh yang mesti dipertanggungjawabkan . Orang-orang postmodern memahami sex terutama sebagai pengalaman yang sensual , suatu pengalaman yang netral sehingga tak perlu dipertanggungjawabkan . Namun , tubuh postmodern ternyata juga mengajukan kriterium dasar untuk menyaring pengalamanpengalaman itu . Kriterium ini menuntut agar sensasi-sensasi itu betul-betul memuaskan Untuk bisa menghasilkan kepuasaan maksimal , pengalaman atau sensasi-sensasi itu mesti bersifat menghebohkan , mengejutkan , mempersona , dan estates . Dari kisah-kisah Jakarta Undercover itu kita tahu bahwa sexualitas terutama dipahami sebagai pengalaman . Sebagai pengalaman ia diburu , dicari –cari dengan penuh minat Pemburunya adalah manusia-manusia yang menghayati kultur urban postmodern .Mereka hendak menampung pengalaman itu ke dalam wadah tubuhnya . Tubuh postmeodern adalah bagaikan spons yang bisa menyerap berapa pun cairan yang ia terima , lantaran spons yang bisa menyerap berapa pun cairan yang ia terima , lantaran spons itu cepat mongering sehingga terus-,menerus sanggup menyerap cairan itu . Tubuh adalah bagai spons yang tak pernah basah . Dengan demikian pengalaman sexualitas yang bagaikan

203

cairan itu akan diserap sebanyak-banyaknya . Hampir tak ada batas yang bisa menghentikannya . ( Laksana, 2003 : 59 – 60 ) Sebenarnya sudah lama kita hidup dalam hawa pengap sexual , yang diantarkan oleh bisnis dan entertainment modern . Kita seakan berada dalam suasana sexual yang menyesakkan . Kelep harus dibuka , agar hawa sexual itu keluar , dan kesesakan sexual itu menemukan saluran pelampiasannya . Dengan demikian juga terror intimidasi sex yang kita derita bisa lampiaskan , , dan menjadi publik . Untuk itu kita harus menunggu lama, Inul dengan bokongnya yang ngebor datang dan menjadsi ikon yang pas bagi ituasi sexual kita yang tersembunyi . Maka kelep terbuka, dan meldak pula segala kepengapan dan kesexualan kita . Ledakan itu tidak hanya terjadi dalam panggung, ketika kita berjoget bersama Inul Daratista yang bokongnya negbor . Ledakan itu juga meletus dalam pelbagai wacana , yang meributkan Inul Daratista dari segi politik , sosial, seni sampai agama. Rasanya “ Ikon Bokong Inul : itu menyimpang pelbagai ketertindasan dan problematika sexual kita . Ikon itu juga menunjukkan , bahwa sexual dengan segala masalahnya juga sudah mulai menimpa kita Tak mungkin segala masalah dan tantangan sex itu bisa kita hadapi dengan kemunafikan .

204

Bibliografi Caturwati , Endang, “ Bahasa Tubuh Jaipongan : Seksualitas di Atas Panggung , “ Srinthil, 6 , Juli 2004 , Hlm. 37 – 51 . Dam Truong, Thanh .1992 Seks, Uang dan Kekuasaan . Parawisata dan Pelacuran di Asia Tenggara. Jakarta : LP3ES . Dhakidae , Daniel, “ Industri Sex : Sebuah Tinjauan Sosiao-Ekonomis,” Prisma, No. 5 . Tahun V , Juni 1976 , Hlm. 25 – 39 Foucault , Michel .1997 Seks & Kekuasaan . Sejarah Seksualitas . Jakarta : Gramedia . Giddens, Anthony .2004 . Transformation of intimacy . Jakarta : Fresh Book . Gunawan, FX Rudy ,” Seks Alasan dan Motif ,” Basis, No. 03 – 04 , Tahun Ke-52 , Maret - April 2003 , Hlm. 32 – 37 . Haryatmoko,” Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa,” Basis, No. 11 – 12 , Tahun Ke 52 , November – Desember 2003 , Hlm. 4 – 22 . Haryatmoko, “ Politik Melirik Agama Karena Seks : Panopotisme , Kekuasaan dan Erotisme,: Basis , No 09 – 10 , September – Oktober 2006 .Hl,. 26 – 36 . Kebung , Konard , “ Kembalinya Moral Melalui Seks,”: Basis , No. 01-02 , Tahun Ke51 . Januari – Februari 2002 , Hlm. 32 – 41 . Kieser , Bernhard ,” Revolusi Seks . Seks Membuat Revolusi ,” Basis , No 09 – 10, Tahun ke -55 , September- Oktober 2006, Hlm. 12 – 17 . Laksana, Bagus, “ Tubuh Postmodern Bejana Sensual ,” Basis , No. 03-04 , Tahun Ke-52 Maret – April 2003 , Hlm. 58 – 62 . Marcuse, Herbert . 2003 . Cinta dan Peradaban . Yogyakarta : Pustaka Pelajar . Melliana S , Annastasia. 2006 .Menjelajahi Tubuh . Perempuan dan Mitios Kecantikan . Yogyakarta : LKIS . Oetomo, Dede,” Homoseksualitas di Indonesia ,” Prisma, No. 7 , Tahun XX , Juli 1991, Hlm. 84 – 96 Prasetia, Heru.” Dari Buku ke Buku .Narasi Seks di Lembar-lembar Buku,” Desantra Edisi 08 , Tahun III , 2003 , Hlm. 58 – 64 .

205

Sindhunanta ,” Seks Undercover : Ikon Bokong Inul, “ Basis, No 03 – 04 . Tahun 52 , Maret – April 2003 , Hlm. 6 – 33 . Spillane, James J, “ Seks Sebagai Komoditas : Persoalan Pelacuran dan Perdagangan ini,: Basis , No. 09 – 10 , Tahun Ke – 44 , September – Oktober 20096 , Hlm. 56 – 61 . Sudiardja, Anton. “ Seks dan Masyarakat Terbuka, “: Basis , No. 12, Tahun XXXII , Desember 1983 , Hlm. 442 – 454 . Sudiardja, A .” Pan Seksualisme : Antara Kewajaran dan Kepanikan .” Basis, No 09 – 10, Tahun Ke-55 , September – Oktober 2006 , Hlm. 4 – 11 . Suryakusuma, Yulia ,” Konstruksi Sosial Seksualitas : Seluruh Pengantar Teoritik ,” Prisma, Np. 7, Tahun XX , Juli 1991 . Hlm. 3 – 14 . Surus , Miftahus dan Novi Anoegrahekti, “ Liputan Utama : Politik Tubuh : Seksualitas Perempuan Seni, “ Srinthil , 6 ,Juni 2004 , Hlm. 5 – 27 .

206

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->