P. 1
Sejarah, Pemberontakan Dan Komunisme

Sejarah, Pemberontakan Dan Komunisme

|Views: 570|Likes:
Published by Peter Kasenda
Pertengahan tahun 2001, ribuan orang menghadang iring-iringan yang hendak menguburkan kembali tulang-belulang sanak keluarga korban 1965 yang dibunuh dan dikuburkan secara massal di Wonosobo pada 1968. Penolakan warga Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah karena daerah itu pernah menjadi basis PKI. Warga desa trauma dan kuatir acara penguburan kembali itu akan membangkitkan kembali PKI di daerahnya.

Pembunuhan kaum komunis dan yang dianggap komunis karena dijustifikasi sebagai pelaku pembunuhan atas enam jenderal dan satu perwira menegah Angkatan Darat yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Pembunuhan tersebut banyak menyebabkan orang bungkam, tetapi pembunuhan yang terjadi pada tanggal 1 Oktober dikutuk keras. Semua peristiwa di tahun 1965 dilimpahkan semua kesalahannya kepada kaum komunis. Pengadilan sama sekali tidak memutuskan. Hanya keputusan politik MPRS yang ada. Tertuang dalam TAP MPRS/XXVI/1966: PKI dilarang, diharamkan membaca dan menyebarkan marxisme-leninisme.

Keputusan politik MPRS mengalahkan prinsip hukum. Di mana-mana orang dijebloskan dalam penjara tanpa melalui proses pengadilan. Apa mereka sekadar simpatisan atau benar-benar anggota Partai Komunis Indonesia. Terjadi pengucilan hingga ke keluarga, pengekangan terhadap kebebasan anak cucunya. Hak pendapatnya terampas. Ada ketidakadilan karena hukum tak pernah dihormati.

Mereka mendapat stigma tidak manusiawi. Kaum komunis tersebut sebagai ateis, pemberontak, makar dan seterusnya. Orang menganggap benar belaka. Soalnya ada sejarah yang dibuat penguasa Orde Baru yang membentuk kebenaran tunggal. Hasilnya, orang tidak lagi berbicara kekejaman dari epilog peristiwa Gerakan 30 September, pembunuhan atas ratusan ribu manusia Indonesia. Orang hanya berbicara pembunuhan enam jenderal di Jakarta dan PKI, dianggap benar sebagai pelakunya.

Dunia akademis boleh jadi tidak mudah untuk dijangkau oleh hegemoni pengetahuan yang dipaksakan oleh penguasa. Biasanya para ilmuawan bersifat kritis dan selalu menuntut segala macam pertanggung-jawaban akademis dan tampil dengan segala jenis gugatan mereka. Kalau demikian penguasa mungkin di kalangan masyarakat ramai. Tetapi masalahnya, masyarakat adalah wilayah terjadinya segala macam pembenturan nilai dan pengetahuan. Perlawanan selalu terjadi dalam menghadapi segala macam corak hegemoni.

Setelah Soeharto “lengser keprabon” terjadi berbagai gugatan pun dilancarakan atas keabsahan rekonstruksi peristiwa G 30 S dan berdirinya Orde Baru. Gugatan ini bertambah hebat setelah beberapa tokoh yang dianggap dan terbukti terlibat dalam peristiwa yang tragis itu dibebaskan dan dipenjara. Mereka pun mendapat pendengar yang sangat ingin mendapatkan kesaksian mereka. Setelah sekian lama mendapatkan kesaksian yang bersumber dari ‘pihak yang menang’. Masyarakat juga ingin mendengar kesaksian dari mereka yang telah dikalahkan, keinginan ini bertambah kuat karena ‘yang menang itu’ kini pun telah kehilangan segala hal yang pernah membanggakan. Kini orang bisa membandingkan. Ada banyak intrepretasi dan versi. Kaum komunis tidak lagi satu-satunya layak tertuduh meski memiliki kesalahan.
Pertengahan tahun 2001, ribuan orang menghadang iring-iringan yang hendak menguburkan kembali tulang-belulang sanak keluarga korban 1965 yang dibunuh dan dikuburkan secara massal di Wonosobo pada 1968. Penolakan warga Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah karena daerah itu pernah menjadi basis PKI. Warga desa trauma dan kuatir acara penguburan kembali itu akan membangkitkan kembali PKI di daerahnya.

Pembunuhan kaum komunis dan yang dianggap komunis karena dijustifikasi sebagai pelaku pembunuhan atas enam jenderal dan satu perwira menegah Angkatan Darat yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Pembunuhan tersebut banyak menyebabkan orang bungkam, tetapi pembunuhan yang terjadi pada tanggal 1 Oktober dikutuk keras. Semua peristiwa di tahun 1965 dilimpahkan semua kesalahannya kepada kaum komunis. Pengadilan sama sekali tidak memutuskan. Hanya keputusan politik MPRS yang ada. Tertuang dalam TAP MPRS/XXVI/1966: PKI dilarang, diharamkan membaca dan menyebarkan marxisme-leninisme.

Keputusan politik MPRS mengalahkan prinsip hukum. Di mana-mana orang dijebloskan dalam penjara tanpa melalui proses pengadilan. Apa mereka sekadar simpatisan atau benar-benar anggota Partai Komunis Indonesia. Terjadi pengucilan hingga ke keluarga, pengekangan terhadap kebebasan anak cucunya. Hak pendapatnya terampas. Ada ketidakadilan karena hukum tak pernah dihormati.

Mereka mendapat stigma tidak manusiawi. Kaum komunis tersebut sebagai ateis, pemberontak, makar dan seterusnya. Orang menganggap benar belaka. Soalnya ada sejarah yang dibuat penguasa Orde Baru yang membentuk kebenaran tunggal. Hasilnya, orang tidak lagi berbicara kekejaman dari epilog peristiwa Gerakan 30 September, pembunuhan atas ratusan ribu manusia Indonesia. Orang hanya berbicara pembunuhan enam jenderal di Jakarta dan PKI, dianggap benar sebagai pelakunya.

Dunia akademis boleh jadi tidak mudah untuk dijangkau oleh hegemoni pengetahuan yang dipaksakan oleh penguasa. Biasanya para ilmuawan bersifat kritis dan selalu menuntut segala macam pertanggung-jawaban akademis dan tampil dengan segala jenis gugatan mereka. Kalau demikian penguasa mungkin di kalangan masyarakat ramai. Tetapi masalahnya, masyarakat adalah wilayah terjadinya segala macam pembenturan nilai dan pengetahuan. Perlawanan selalu terjadi dalam menghadapi segala macam corak hegemoni.

Setelah Soeharto “lengser keprabon” terjadi berbagai gugatan pun dilancarakan atas keabsahan rekonstruksi peristiwa G 30 S dan berdirinya Orde Baru. Gugatan ini bertambah hebat setelah beberapa tokoh yang dianggap dan terbukti terlibat dalam peristiwa yang tragis itu dibebaskan dan dipenjara. Mereka pun mendapat pendengar yang sangat ingin mendapatkan kesaksian mereka. Setelah sekian lama mendapatkan kesaksian yang bersumber dari ‘pihak yang menang’. Masyarakat juga ingin mendengar kesaksian dari mereka yang telah dikalahkan, keinginan ini bertambah kuat karena ‘yang menang itu’ kini pun telah kehilangan segala hal yang pernah membanggakan. Kini orang bisa membandingkan. Ada banyak intrepretasi dan versi. Kaum komunis tidak lagi satu-satunya layak tertuduh meski memiliki kesalahan.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Sejarah, Pemberontakan dan Komunisme

Dalam sebuah masyarakat sejati tidak boleh ada yang kaya maupun miskin. Orang yang berhasil memperoleh terlalu banyak hanya akan menyebabkan orang lain kekurangan.

Francois ± Noel Baheruf

Pertengahan tahun 2001, ribuan orang menghadang iring-iringan yang hendak menguburkan kembali tulang-belulang sanak keluarga korban 1965 yang dibunuh dan dikuburkan secara massal di Wonosobo pada 1968. Penolakan warga Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah karena daerah itu pernah menjadi basis PKI. Warga desa trauma dan kuatir acara penguburan kembali itu akan membangkitkan kembali PKI di daerahnya.1

Pembunuhan kaum komunis dan yang dianggap komunis karena dijustifikasi sebagai pelaku pembunuhan atas enam jenderal dan satu perwira menegah Angkatan Darat yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Pembunuhan tersebut banyak menyebabkan orang bungkam, tetapi pembunuhan yang terjadi pada tanggal 1 Oktober dikutuk keras. Semua peristiwa di tahun 1965 dilimpahkan semua kesalahannya kepada kaum komunis. Pengadilan sama sekali tidak memutuskan. Hanya keputusan politik MPRS yang ada. Tertuang dalam TAP MPRS/XXVI/1966: PKI dilarang, diharamkan membaca dan menyebarkan marxisme-leninisme.
Keputusan politik MPRS mengalahkan prinsip hukum. Di mana-mana orang dijebloskan dalam penjara tanpa melalui proses pengadilan. Apa mereka sekadar simpatisan atau benar-benar anggota Partai Komunis Indonesia. Terjadi pengucilan hingga ke keluarga, pengekangan terhadap kebebasan anak cucunya. Hak pendapatnya terampas. Ada ketidakadilan karena hukum tak pernah dihormati.

Mereka mendapat stigma tidak manusiawi. Kaum komunis tersebut sebagai ateis, pemberontak, makar dan seterusnya. Orang menganggap benar belaka. Soalnya ada sejarah yang dibuat penguasa Orde Baru yang membentuk kebenaran tunggal. Hasilnya, orang tidak lagi berbicara kekejaman dari epilog peristiwa Gerakan 30 September, pembunuhan atas ratusan ribu manusia Indonesia. Orang hanya berbicara pembunuhan enam jenderal di Jakarta dan PKI, dianggap benar sebagai pelakunya.2
1 2

³Merekam Sisi Hitam Sebuah Bangsa´, Kompas, 1 Agustus 2003. Nur Kholik Ridwan. ³Tragedi 65; Generasi Baru dan Rekonsiliasi´, Kompas, 30 September 2003.

1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Dunia akademis boleh jadi tidak mudah untuk dijangkau oleh hegemoni pengetahuan yang dipaksakan oleh penguasa. Biasanya para ilmuawan bersifat kritis dan selalu menuntut segala macam pertanggungjawaban akademis dan tampil dengan segala jenis gugatan mereka. Kalau demikian penguasa mungkin di kalangan masyarakat ramai. Tetapi masalahnya, masyarakat adalah wilayah terjadinya segala macam pembenturan nilai dan pengetahuan. Perlawanan selalu terjadi dalam menghadapi segala macam corak hegemoni.

Setelah Soeharto ³lengser keprabon´ terjadi berbagai gugatan pun dilancarakan atas keabsahan rekonstruksi peristiwa G 30 S dan berdirinya Orde Baru. Gugatan ini bertambah hebat setelah beberapa tokoh yang dianggap dan terbukti terlibat dalam peristiwa yang tragis itu dibebaskan dan dipenjara. Mereka pun mendapat pendengar yang sangat ingin mendapatkan kesaksian mereka. Setelah sekian lama mendapatkan kesaksian yang bersumber dari µpihak yang menang¶. Masyarakat juga ingin mendengar kesaksian dari mereka yang telah dikalahkan, keinginan ini bertambah kuat karena µyang menang itu¶ kini pun telah kehilangan segala hal yang pernah membanggakan. Kini orang bisa membandingkan. Ada banyak intrepretasi dan versi. Kaum komunis tidak lagi satu-satunya layak tertuduh meski memiliki kesalahan.3

Sejarah resmi menyatakan bahwa dalam perjalanan bangsa Indonesia, kaum komunis telah melakukan tiga kali perbuatan makar.4 Karena itu kaum komunis memperoleh stigma sebagai pemberontakan yang layak memperoleh peran dalam pentas politik tanpa berusaha menjelaskan akar-akar masalah dan konteksnya. Dalam rangka itu agaknya berguna mengajukan pertanyaan: Apa benar mereka yang memberontak? Kalau benar, mengapa mereka memberontak? Dengan cara ini kita memperoleh manfaat untuk kini dan mendatang.

Masuknya Komunisme
Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, H.M. Dekker, bersama dengan Brandsteder mendirikan Indisctie Sociaal Demokratisctie Vereniging pada bulan Mei 1914. Dalam tahun 1915, ISDV menyelenggarakan kongresnya yang pertama. Pada waktu itu jelas tampak dua aliran revolusioner, pertama di bawah pimpinan Sneevlit, dan yang kedua adalah aliran revolusioner di bawah Schoutman. Schoutman berpendapat bahwa sosialisme belum tiba saatnya disebarkan di kalangan perkumpulanperkumpulan di Indonesia. Kalau disebarkan sekarang, malah akan menimbulkan pemberontakan, karena mereka belum masak. Saat sekarang sosialisme hanya boleh disebarkan ke tengah-tengah study club saja. Sneevliit menentang pendapat ini. Ia bertanya kepada Semaon di dalam kongres, orang Indonesia satusatunya yang ikut menjawab bahwa orang Indonesia sudah sadar karena mereka membayar pajak. Mereka
Taufik Abdullah. ³Perbedaan Sejarah dan Tragedi 1965´, Sejarah, No. 4, 2000. Sekretariat Negara RI. Gerakan 30 September 1965, Pemberontakan Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya. Jakarta: Sekneg RI, 1995.
4 3

2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda selalu bertanya, untuk apa membayar pajak dan pertanyaan sosialisme ke tengah-tengah orang Indonesia. Dan jika Indonesia sudah berontak, itu tandanya ³kami sudah marah´. Sidang kongres gempar karenanya. Sebagian anggota kongres anggota-anggota Belanda tidak menyokong Sneevlit. Mereka keluar satu per satu.5 Kendati ISDV makin banyak anggotanya dan makin radikal marxismenya, tetapi kurang mampu menarik orang Indonesia, sehingga hanya memperoleh sedikit dukungan massa. Pemimpin Eropa itu menyadari bahwa tanpa dukungan semacam itu, keberhasilan suatu revolusi yang bertujuan memperoleh kemeredekaan politik. Dukungan semacam itu perlu didapat untuk memperolah bantuan Indonesia bagi dasar ajaran marxisme yang revolusioner Pimpinan Eropa membuat hubungan dengan para pemimpin Indonesia yang cenderung sosialistis dari Sarekat Islam, tergabung dalam ISDV, dan dengan penuh semangat menarik anggota ISDV.

Berkat hubungan itu, Sneevlit dan Baars berhasil dengan leluasa berbicara dalam forum Kongres SI, bahkan mendapat kesempatan untuk menyajikan prasaran sidang-sidangnya tentang soal-soal perburuhan dan pemerintahan. Kontaknya yang erat dengan ketua SI Semarang, Semaoen, memberikan kesempatan baginya untuk berceramah dalam kursus-kursus kader, sehingga ISDV akhirnya banyak memperoleh pengikut di dalam SI yang menciptakan keanggotaan ganda. Banyak anggota menyelundup ke dalam tubuh SI merangkap menjadi anggota ISDV bahkan orang-orang seperti Semaoen, Darsono, Alimin Prawirodirdjo dan Tan Malaka adalah sekaligus tokoh dan pemimpin kedua organisasi yang sebenarnya berlainan pahamnya itu.6

Perembesan ke dalam cabang-cabang Sarekat Islam dengan maksud memperoleh dukungan dari massa Indonesia. Peraturan pemerintah yang memaksa Sarekat Islam secara organisasi terpecah belah, sehingga keadaan-keadaan itu memungkinkan pembebasan tersebut. Karena tekanan yang makin berat dari makin banyaknya cabang SI yang makin berorientasi marxis dan karena tidak mempunyai sarana yang efektif untuk mendisiplinkan semua unsur yang berbeda-beda itu maka pimpinan pusat SI lambat laun terpaksa mengkompromikan ajaran-ajaran Modernisme Islam yang semula jadi pedomannya, dangan tujuan marxisme yang revolusioner. Pengaruh tekanan itu dapat di lihat sejak bulan Oktober 1917, dengan program yang digariskan oleh kongres nasional SI yang kedua. Bertolak belakang dari tuntutan semula yakni pemerintah sendiri, program ini bertujuan untuk merdeka, dan ini menunjukkan bahwa jika usahausaha tanpa kekerasan untuk mencapai tujuan ini tidak membawa hasil, mungkin perlu dipakai pendekatan lain.

Sneevlit ditahan oleh pemerintah Hindia Belanda dan dipaksa meninggalkan Indonesia pada bulan Desember 1918, tetapi ini tidak mengurangi infiltrasi anggota-anggota ISDV berkebangsaan di Indonesia ke dalam kedudukan-kedudukan kepemimpinan di cabang-cabang menguasai Sarekat Islam setempat. Di samping kekuatan unsur-unsur tersebut meningkat, mereka mampu menguasai kongres keempat Sarekat Islam yang berlangsung pada tahun 1914, pada waktu itu seluruh anggota SI sudah mencapai hampir dua
5 6

Soe Hok Gie. Di Bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999, hlm. 73²74. M. Dawam Rahardjo. ³Islam Mendayung di Antara Dua Karang: Sosialisasi dan Kapitalisme´, Prisma, No. Ekstra, 1984.

3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda setengah juta. Menuruti penolakan pimpinan pusat SI pada kongres itu untuk menerima usul-usul ekstrim golongan Semaoen, bersama pimpinan-pimpinan lain ISDV, Semaoen berusaha memasukkan organisasinya ke dalam Partai Komunis di Hindia Belanda atau umum dikenal sebagai PKI. Dalam partai baru yang dibentuk di kantor Sarekat Islam Semarang pada tanggal 23 Mei 1920, Semaoen terpilih sebagai ketua, Darsono sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekretaris, dan H.M. Dekker sebagai bendahara.7

Ada keinginan untuk menyebarkan ide-ide sosial-demokrat ke lingkungn kaum pergerakan rakyat. Tetapi penyebaran ide-ide sosial-demokrat dan praktek politik mereka kemudian dikenal sebagai sosialismerevolusioner, tetap terbatas dan tidak menimbulkan dampak yang luas. Ada dua hal yang kelihatannya menjadi sebab keterbatasan dan kegagalan. Pertama, meskipun Sneevliet maupun Baars siap untuk mengadopsi hal-hal yang berlangsung dan berlaku dalam dunia pergerakan, namun mereka tidak dapat sepenuhnya diterima. Dunia pergerakan adalah dunia para ksatria, yaitu intelegensia berlatar belakang Jawa. Kedua, adanya kesulitan untuk mengekspresikan dan menyampaikan ide-ide sosialismerevolusioner serta menjelaskan atau memberikan argumen keyakinannya paham sosialis kepada kaum pergerakan rakyat. Padahal, kemampuan itu sangat penting. Tidak ada keterbatasan seperti itu pada Semaoen. Meskipun begitu, ada satu hal yang sempat menahannya untuk sepenuhnya diterima ke dalam dunia pergerakan. Latar belakang sosial yang berbeda dengan kebanyakan kaum pergerakan, dia bukan keturunan priyayi maupun orang yang berada.8

Partai baru tersebut mengembangkan hubungan akrab dengan komintern, dan bergabung dengan organisasi itu pada akhir tahun 1920. Sneevlit yang sudah mengangkat dirinya sendiri menjadi wakil Indonesia pada kongres kedua komintern (1920), kemudian membentuk hubungan dengan Partai Komuis Indonesia lewat Shanghai, dan pada tahun 1921, Dharsono mewakili Indonesia pada kongres komintern yang ketiga di Moskow. Tan Malaka salah satu pemimpin utama partai itu mewakili Indonesia pada kongres keempat pada tahun berikutnya, dan memainkan peranan aktif dalam membuat kerangka kebijakan komintern. Pada bulan Agustus 1923, Semaoen ditawan dan dipaksa memilih meninggalkan negeri itu atau dipenjarakan di Toor, dan menjelang akhir tahun, semua pemimpin Belanda yang ada di partai itu juga dipaksa untuk pergi. Menurut Semaoen, justru karena sudah ada kecurangan terhadap orang Belanda bahkan terhadap mereka yang menunjukkan sikap menentang kolonialisme, maka perginya para pemimpin Belanda dari partai itu meningkatkan gengsi partai itu di mata khalayak ramai.

Dengan maksud agar berhasil menguasai cabang-cabang Sarekat Islam, pada kongresnya yang dilaksanakan pada tanggal 25 Desember 1921 di Semarang, golongan komunis yang telah merembet

7

George Mc Turnan Kahin. Nasionalisme dan revolusi di Indonesia. Jakarta-Solo: UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan, 1995, hlm. 92²95.
8

Soewarsono. Berbareng Bergerak; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen. Yogyakarta: LKIS, 2000, hlm. 122²123.

4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda masuk ke dalam banyak cabang itu, memutuskan mendirikan suatu Markas Sarekat Islam Merah untuk bersaing dengan pemimpin pusat yang lama di bawah Tjokroaminoto.

Perebutan kekuasaan dan terus makin berpengaruhnya dalam cabang-cabang Sarekat Islam setempat, membuat para pemimpinnya berusaha memperluas disiplin partai ke dalam semua cabang organisasi tersebut pada bulan Februari 1923. Sebagai pembalasan pada kongresnya yang diadakan pada bulan Maret, golongan komunis memutuskan untuk membantu seksi-seksi Sarekat Islam Merah di tempat yang ada suatu cabang Sarekat Islam, dan berusaha menarik anggota-anggota cabang tersebut. Unit-unit yang kini dikuasai komunis ini sekarang berganti nama Sarekat Islam dan diakui sebagai dasar Partai Komunis dalam masyarakat.

Kongres kelima komintern (1924) menekankan bahwa prioritas utama tujuan partai-partai Komunis adalah menguasai pergerakan persatuan dagang karena komintern berpendapat bahwa tanpa itu revolusi tidak berhasil. Di samping kenyataan bahwa pada rapat PKI yang sebelumnya, kaum tani sudah diakui sebagai dasar massa yang sangat diperlukan, maka pada rapat bulan Desember 1924, Alirachman (sekretaris PKI) mengajukan suatu resolusi yang menginginkan agar Sarekat Rakyat dibubarkan dan diganti dengan pesatuan-persatuan dagang sebagai dasar massa PKI. Ia mendebat bahwa Sarekat Islam terdiri dari begitu banyak nasionalis borjuis yang tidak dapat diikutsertakan pada saat-saat terjadinya tindakan kekerasan. Pendapat Alirachman ini diserang keras dan akhirnya tercapailah suatu penyelesaian yang bersifat kompromi. Pembubaran Sarekat Rakyat pada prinsipnya dapat diterima, tetapi proses pembubarannya itu harus dilaksanakan tahap demi tahap agar tidak memeperlemah PKI. Sambil melepas Sarekat Rakyat, komunis memusatkan kekuatannya pada pergerakan persatuan dagang. Di samping itu, disetujui bahwa kader-kader PKI harus disiplin dan mutunya ditingkatkan sehingga mampu mengadakan aksi revousioner secara efektif. Akhirnya, program yang digariskan menuntut pembentukan suatu Republik Soviet Indonesia.9

Pemberontakan 1926/1927
Selama tahun 1925, unsur-unsur yang lebih mengekstrim dalam Partai Komunis berada di bawah pengawasan Dahlan dan Soeskra, dua pemimpin yang menolak untuk patuh kepada kepemimpinan yang tetap. Mereka terus menghasut dicetuskannya revolusi dan memakai metode-metode teoritis dengan maksud menguasai partai tersebut. Dalam usaha-usahanya, mereka didukung oleh dua pemimpin penting yang sudah berpengalaman, Alimin dan Musso. Kelompok ini berhasil menguasai suatu rapat Komisi Pelaksana Partai tersebut dan para pemimpin persatuan-persatuan dagang rokok di bawah pengawasan komunis, yang diselenggarakan di Candi Prambanan dan pertengahan bulan Oktober 1925. Sebagai hasilnya, revolusi ditetapkan akan diadakan segera. Suatu pemogokan umum selanjutnya akan dikembangkan ke arah suatu revolusi yang bertujuan menggulingkan kekuasaan Belanda dan
9

George Mc Turnan Kahin, Op. Cit., hlm. 96²100.

5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda menggantikannya dengan pemerintahan Partai Komunis. Agar revolusi tersebut berhasil, di rasa perlu untuk memperoleh bantuan Moskow, dan dari para pemimpin komunis Indonesia, termasuk yang terpaksa tinggal di luar negeri.

Aktivis-aktivis komunis dalam selama periode intern itu ternyata tidak berkembang seperti yang direncanakan. Mungkin sebagai suatu reaksi tehadap begitu meningkatnya jumlah pemogokan kecil dan meningkatnya kekerasan bersenjata kecil-kecilan, dan mungkin juga karena sudah mengetahui rencana jangka panjang komunis, atau keduanya, maka pada tanggal 28 November 1925, pemerintah mencabut hak mengadakan pertemuan hampir di seluruh Indonesia untuk Partai Komunis Indonesia, Sarekat Rakyat, dan kebanyakan organisasi buruh yang berada di bawah pengawasan komunisme.

Seperti diharapkan, tidak diragukan lagi bahwa tindakan ini berhasil membangun kontak yang efektif antar kaum komunis dan persatuan-persatuan buruh. Akibatnya, urutan strategis pemogokan tidak berjalan sesuai dengan yang sudah dijadwalkan komunisme di Prambanan. Pemogokan besar-besaran oleh buruh perusahaan-perusahaan baja dan pelabuhan di Surabaya baru pecah pada pertengahan bulan Desember 1925, yaitu enam bulan sesudah jadwal yang direncanakan Pemerintah yang merasa terpukul hebat oleh desakan ini, menahan hampir semua pemimpin buruh yang terlibat, di samping tiga dari siapa pemimpin tertinggi di Indonesia, yaitu Darsono, Alirachman dan Mandjoha.
Partai Komunis makin lama makin terpaksa bekerja di bawah tanah sementara kehilangan pemimpinpemimpinnya yang paling hebat. Kegiatan-kegiatannya makin lama makin kurang terkoordinasi dengan para pemimpin ekstrimis yang sudah menguasai Konferensi Prambanan berhasil mempertahankan pengaruh mereka dalam banyak wilayah di Jawa. Selama sepuluh bulan pertama tahun 1926, makin banyak lagi pemimpin komunis yang ditahan. Kontak antara organisasi makin lama makin kacau dan ini terbukti oleh pecahnya tindakan kekerasan secara sporadis dan tidak terkoordinasi di tempat-tempat yang sanagat terpisah di seluruh Jawa.

Cepatnya perpecahan organisasi partai komunis itu dibarengi oleh cepat hilangnya kontak dengan kaum tani yang dahulu mendukung, walau banyak dari mereka tersingkir oleh kebijakan-kebijakan yang dimuat kalangan pemimpin komunis di Indonesia. Komunisme menunda tanggal revolusi sehingga baru pecah malam tanggal 12 November 1926. kericuhan yang kemudian muncul dalam partai itu ditunjukan oleh kenyataan bahwa meskipun menurut rencana, revolusi itu akan dicetuskan pertama kalinya di Padang, ternyata pecah untuk petama kalinya di Batavia, dan pemberontakan di daerah Padang baru muncul dua bulan penuh kemudian dan setelah huru-hara di Jawa benar-benar di padamkan.10

10

Ibid, Hlm. 103²108.

6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Jalannya pemberontakan di Batavia dapat digambarkan sebagai berikut. Pada tanggal 12 November 1912 larut malam, 200 pemberontak bergerak ke Kampung Karet ke Weltervieden. Di jembatan mereka menyerang pos polisi Bumiputera. Satu agen polisi dibunuh, yang satu lagi berhasil lari. Tidak lama kemudian 16 dari pemberontak yang diduga terlibat pembunuhan tersebut telah ditangkap.

Dalam waktu yang hampir sama, tujuh orang bersenjata tajam mengancam kepala kampung Mangga Dua. Di sekitar Harmoni, 15 bumiputera ditangkap, menyusul 12 di tanah Abang. Tengah malam seorang agen polisi dilukai di Gang Scott, tetapi seorang berhasil disabet pedang luka parah. Jadi di seluruh Kewedanaan Batavia berhasil ditangkap sekitar 300 pemberontak sampai pada 13 November siang hari. Pada malam 14 November tinggal satu persitiwa, yaitu kebakaran di daerah Beos (Vioslannd). Di Kewedanaan Meester Cornelis (Jati Negara), dikabarkan adanya tujuh orang bersenjata di Pulo Gadung, serombongan kecil bersenjata mencoba masuk kediaman asisten residen, sedang rombongan bersenjata lain menakut-nakuti seorang tuan tanah di Kampung Melayu karena tidak mau bergabung.

Di Tanggerang dan Cengkareng pemberontakan berhasil menyerang tangsi polisi lapangan. Agen dan matu polisi yang berjumlah lima orang dipaksa lari, sedang tangsi dirusak. Pemerintah juga menyiksa seorang opas, seorang bumiputera, dan seorang Cina.

Di Priangan Tengah, buruh kereta api berhasil memutus lalu lintas, kabel telepon dan telegraf, serta membunuh dua orang polisi. Jembatan Garut-Bandung misalnya, berhasil dirubuhkan. Selainnya hanya pembakaran rumah, kebanyakan kosong, seperti terjadi di Cimahi dan Batu Jajar.

Di Priangan Barat, seperti di Gandasuli, misalnya, terjadi hanya pemutusan kabel dan telegraf.

Di Priangan Timur, sekitar seratus pemberontak melakukan pengrusakan rumah pejabat, termasuk rumah asisten residen, pemutusan kabel telepon, dan melukai beberapa pegawai rendahan di Tasikmalaya. Jumlah orang yang memberontak semakin naik di daerah Surakarta, khususnya di Boyolali, tetapi menurun terus di Banyumas, Pekalongan, Kedu dan Kediri.11

Di Sumatera Barat, terutama di Silungkang, pemberontakan lebih merata, kendati sama saja intensitasnya. Di daerah ini PKI sempat membentuk organisasi khusus untuk perlawanan, dikenal sebagai Sarekat Djin. Pada 1 dan 2 Januari, rakyat dalam berbagai satuan bersenjata bergerak menuju Sawahlunto hendak menguasai kota dan membunuh pejabat pemerintah kebanyakan dari mereka datang dari daerah Solok

11

Parakitri T. Simbolon. Menjadi Indonesia. Jakarta: Kompas, 1995, hlm. 616²617.

7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda (Tarung-tarung dan Pianggul) dan berkumpul di Silungkung. Ternyata, sebelum tiba di Sawahlunto banyak dari kelompok bersenjata itu berhasil ditangkap atau dipaksa lari.

Yang menarik dalam melakukan persiapan untuk memberontak. Disebarkan kabar bahwa Sampono Kayo, saudagar kaya pemilik rumah besar bertingkat di Silungkang akan mengadakan kenduri besar. Tetapi ternyata tempat tersebut digunakan untuk memperoleh informasi dan instruksi tentang rencana operasi pemberontakan. Apabila Sawahlunto dapat direbut, diharapkan daerah-daerah yang ada Sarekat Rakyat menyusul. 12

Pada tanggal 12 November Pasar Labuan (Banten) terlihat ramai. Orang-orang tumpah ruah karena saat itu barang-barang dagangan sangat melimpah. Dilaporkan penjualan garam dan kain putih meningkat beberapa hari terakhir dan dilaporkan juga banyak orang di daerah itu yang berpuasa. Malam itu, ratusan massa petani yang dipimpin oleh Kiai Mukri dan Kiai Ilyas, berkumpul di Desa Bama. Persenjataan yang telah terkumpul berbulan-bulan langsung dibagikan untuk menggempur Labuan. Pertemuan tersebut diakhiri dengan µsembahyang perang¶ sebelum mereka bergerak menuju Labuan.

Penyerbuan kota itu dilancarkan pada lewat tengah malam oleh ratusan orang bersenjata dengan sasaran pertama, kediaman asisten wedana. Akibat serangan itu, Mas Wariadi Koesoema dan keluarganya berhasil ditawan oleh para pemberontak. Seorang polisi pengawalnya berhasil terbunuh dan lainnya terluka parah dalam insiden tersebut. Kemudian masa terpecah menjadi dua kelompok. Pertama, mengawasi pemindahan Maswiriadi Koesoemah ke Caringain sementara yang lain mencari di jalan-jalan Labuan yang bertugas masih di sana.

Pada malam yang sama di Menes, sebuah insiden berdarah meminta korban labih banyak lagi. Target utama para pemberontakan adalah Widana Raden Partadinigrat, Benyamin (Pengawas kereta Api), dan polisi. Penyerangan kediaman wedana dimulai pada jam suatu malam dengan mengerahkan sekitar 400 orang. Dalam penyerangan itu wedana dan seorang politi pengawalnya berhasil menembak beberapa orang pemberontak sebelum akhirnya tewas terbunuh. Sementara itu, sekelompok lainnya telah meringkus Benyamin (orang Belanda satu-satunya yang tinggal di kota itu). Dua orang polisi juga tewas pada malam itu. Di desa Cening, seorang polisi terbunuh dan asisten wedana mengalami luka parah akibat tertembak. Selain itu rumah pensiunan Patih juga tidak luput dari sasarn para pemberontak.
Adalah jelas, di samping para ulama, jawara pun memainkan peran penting dalam pemberontakan itu. Apa yang patut diperhatikan adalah PKI mampu merekrut golongan ini ke dalam organisasinya, kenyataan yang sulit dicari padanannya. Mereka dikenal sangat individualis dan dapat dikatakan jauh dari
12

A. Muluk Nasution. Pemberontakan rakyat Silukang Sumatra Barat 1926-1927. Jakarta: Mutiara, 1981, hlm. 97²99.

8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mungkin untuk terlibat pergerakan sosial politik. Inilah yang terjadi di Banten.yang memiliki tradisi lama perbanditan dan kekisruhan yang terjadi akibat ulah jawara, namun hal ini tidaklah serta merta dijadikan alasan mengapa mereka ikut serta dalam pemberontakan. Dan pada peristiwa 1926, mayoritas massa yang terlibat adalah petani biasa. Mereka yang datang ke Banten setelah peristiwa tersebut tercengang, karena di seluruh desa di wilayah Menes dan Labuan telah ditinggalkan para penduduknya, yang semuanya berprofesi sebagai petani.

Target paling utama di pemberontakan 1926 adalah para priyayi. Namun di lain pihak, para polisi terpaksa menjadi korban. Terhadap pegawai sipil, mereka ternyata lebih selektif dalam memilih korbankorbannya. Wedana Menes, Raden Partadinata, yang bukan orang Banten asli dan sering melakukan kekerasan, akhirnya tewas di tangan para pemberontak. Nasib serupa pasti juga dialami oleh Asisten Wedana Menes, jika tidak sempat diselamatkan. Kantor-kantor arsip dan rumah-rumah para pegawai pemerintah juga tidak luput dari aksi penyerangan.

Nyaris tidak adanya penyerangan terhadap orang-orang Cina yang dikenal memonopoli sejumlah besar perdagangan lokal, khususnya di daerah perkebunan kelapa Labuan, menunjukkan bahwa dalam Peristiwa 1926 adalah steril dari konflik kelas yang biasanya menjadi tema penting terjadinya pemberontakan. Malahan menurut laporan, banyak para pemberontak adalah petani kaya dan peagang. Status mereka itu tidak menjadi halangan untuk ikut serta dalam aksi dan bahkan menganggap diri mereka tiada beda dengan para revolusioner lainnya.

Gerakan tersebut hampir dikatakan seluruhnya terdiri dari petani biasa yang tidak mengetahui rencanarencana awal yang digariskan para tokoh PKI. Lebih-lebih pemimpin mereka, para ulama, kurang memiliki jangkauan pemikiran tentang apa yang akan dilakukan setelah aksi pemberontakan usai. Meeka lazimnya hanya menunggu instruksi dari pimpinan revolusioner yang ada di Batavia. Selain itu, para pemberontak miskin strategi dalam mempertahankan posisi mereka, sehingga dalam bentrokan dipastikan tidak dapat mengelak dari kekalahan. Keadaan ini diperparah dengan keyakinan akan kekebalan dan ketidak-terkalahkan dalam jihad melawan kafir Belanda, serta meliputi semangat bahwa mereka adalah bagian dari satu aksi pemberontakan nasional terhadap pemerintah kolonial.13

Peristiwa yang mengiring PKI pada pemberontakan yang gagal ini adalah penting untuk dikaji kerena peristiwa ini berasal dari skisma yang memecah belah gerakan komunisme di Indonesia sejak dahulu. Yang terpenting dari cerita ini sebagaimana dikisahkan oleh dua orang juru bicara mereka. Tan Malaka menentang Keputusan Prambanan seperti sebelumnya ia juga menentang keputusan partai untuk melepaskan Sarekat Rakyat. Karena ia gagal menyampaikan pendapatnya ini beberapa bulan sebelum revolusi meletus, ia pernah menyebarkan beberapa dokumen di Indonesia yang isinya adalah alasanMichael C. Wiliams. Arit dan Bulan Sabit; Pemberontakan Komunis 1926 Banten. Yogyakarta Syarikat Indonesia, 2003, hlm. 90²111.
13

9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda alasan penentangannya tersebut. Upaya-upaya Tan Malaka melarang para pemimpin PKI setempat untuk mendukung pemberontakan tampaknya sedikit membuahkan hasil; alasan-alasannya secara umum dianggap sebagai faktor penentu yang membuat banyak tokoh PKI di awal 1926 mengagalkan rencana pemberontakan tersebut.

Maka tatkala usaha kudeta tersebut berakhir dengan bencana. Alimin, Musso dan pemimpin lainnya yang memaksa lahirnya Keputusan Prambanan berusaha untuk menjalankan rencana tersebut meski ditentang oleh Tan Malaka serta melepar kesalahan gagalnya pemberontakan itu kepada Tan Malaka. Namun fitnah ini hanya berhasil beberapa saat saja sampai akhirnya keluar versi komintern tentang sebab-sebab kegagalan tersebut.

Ada ketidakpuasan yang meluas di kalangan petani yang membuat Tan Malaka harus mempertimbangkan partai atas langkah yang meluas di kalangan petani yang membuat Tan Malaka harus memperingatkan partai atas langkah drastis yang diambil seperti pemberontakan. Alasan yang dipakai oleh Tan Malaka, seperti tercantum dalam ³Massa Actie´, sebuah pamflet yang dicetak pada pertengahan 1926 adalah bahwa pemimpin partai tidak lagi menerima dukungan massa untuk menjalankan sebuah pemberontakan besar dan hanya akan mendatangkan chaos. Ia menunjukkan bahwa Moskow tidak mungkin akan memberikan bantuan untuk sesuatu yang kecil kemungkinan akan berhasil. Ia juga mempertanyakan kekuasaan latihan marxis bagi anggota PKI yang akan menduduki kursi pimpinan dalam setiap upaya pemberontakan.

Sebelum itu, ketika dukungan massa PKI semakin kuat, Tan Malaka berpandangan lebih optimis atas peluang partai untuk berhasil dalam pemberontakan tersebut. Ia juga memberikan perhatian besar untuk mengkonsolidasikan dukungannya, akan tetapi, ketika keputusan Prambanan disampaikan kepadanya, Tan Malaka merasa bahwa PKI telah kehilangan kesempatan untuk berhasil.

Dalam laporan Semaoen untuk kongres komintern keenam, ia mengklaim bahwa sebagian kegagalan pemberontakan tahun 1926 itu disebabkan oleh sifat elite partai; ia juga menyatakan bahwa PKI pada saat itu hanya memiliki 9.000 anggota yang terdaftar bila dibandingkan dengan 100.000 atau lebih anggota SI. Penjelasan tentang besarnya partai bertentangan dengan omong kosong pemimpin PKI sebelumnya tentang kekuasaan mereka dan barangkali merupakan usaha Semaoen untuk menata kembali sejarah dan kekeliruan-kekeliruan PKI agar selaras dengan pola baru komintern.

Kaum tani dan buruh Indonesia seperti apakah yang mengibarkan bendera PKI dan berusaha merebut kekuasaan pada bencana pembrontakan 1926 itu? Sejumlah 13.000 orang Indonesia ditangkap sesuah pemberontakan dari jumlah ini, 4.500 dipenjara dan lebih dari 1.000 orang di bawa kepengasingan yang konsentrasikan di Boven Digul, Papua. Meskipun oang-orang yang diasingkan oleh pemerintah diberi 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda label ³komunis´, jelas bahwa kejahatan dan motivasi mereka adalah pemberontakan nasional, bukan revolusi komunis.14

Pendirian kamp pengasingan massal diputuskan pada sebuah pertemuan tuan dewan Hindia Belanda yang diadakan 18 November 1926, kurang dari seminggu pemberontakan komunis yang berawal di Jawa Barat malam tanggal 12 November. Pertanyaan yang diajukan Gubernur Jenderal de Graef pada pertemuan itu adalah: bilakah sejumlah tindakan harus diambil untuk memerangi meningkatnya gerakan komunis yang berlangsung seminggu terakhir dan untuk mencegah di masa mendatang sebisa mungkin. Jika ya, tindakan-tindakan seperti apa?

Ia mengatakan telah memutuskan sebelum mengundang pertemuan itu bahwa tak bisa ditawar lagi untuk menemmpatkan para pemimpin komunis yang berbahaya di tahanan secepat mungkin demi keamanan publik, dan telah menginstruksikan jaksa umum pada 17 November untuk memerintahkan para kepala administrasi wilayah di Jawa dan Sumatera untuk melaksanakan keputusan itu. Dalam pandangannya, bagaimanapun penahanan hanya memberikan tindakan sementara, karena setelah usai penyelidikan, sebagian besar dari mereka yang harus dibebaskan karena tiadanya bukti legal untuk mendukung pengenaan hukuman, dan selanjutnya lagi hanya ada satu cara untuk mencegah hal itu terjadi dengan mengirimkan atau mengasingkan para pemimpin utama komunis dalam jumlah besar ke tempat yang sama sejauh mungkin.

Dewan mendukung usulan de Giaeff dan memutuskan bahwa pengasinagan harus dimulai pada mereka yang ditangkap di Jawa Barat dan pengasingan bagi mereka yang ditahan di berbagai tempat bakal mengikuti secepatnya setelah kantor jaksa umum, menerima informasi yang diperlukan bagi tindakan tersebut. Diputuskan pula bahwa prosedur dan formulasi yang harus dipenuhi bagi pengasingan direvisi dan disederhanakan untuk memberlakukannya. Alasan-alasan yang diberikan dalam rancangan keputusan pengasingan harus jelas dan dibatasi pada delapan poin, intinya bahwa orang yang bakal diasingkan adalah anggota PKI, partai yang mengikuti Internasional ketiga, dan bermaksud menggulingkan dan membentuk pemerintahan baru; bahwa PKI membentuk organisasi-organisasi ilegal; bertujuan merekrut elemen-elemen buruh melakukan tindakan kriminal melawan milik dan kehidupan para pejabat dan melawan keselamatan masyarakat.

Tanggal 24 November, daftar pertanyaan yang diajukan dalam introgasi terhadap mereka yang akan diasingkan dikirimkan kepada para kepala pemerintah regional. Di seluruh Hindia Belanda, semua orang yang bakal diasigkan diintrogasi dengan pertanyaan-pertanyaan sama, nama, umur, tempat lahir, tempat tinggal, posisi karir, apakah mengetahui tujuan utama PKI adalah menumbangkan pemerintah; bahwa PKI membentuk organisasi-organisasi ilegal ini adalah merekrut unsur kriminal untuk mengerjakan tindakan
14

Jeanne S. Mintz, Muhammad, Marx, Marhaen; Akan Sosialisme Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, hlm. 39²44.

11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kriminal; apakah mereka anggota PKI dan/atau salah satu organisasi ilegal di bawahnya; dan apakah mereka turut serta dalam tindakan yang mengancam ketenangan dan tatanan.

Pertanyaan-pertanyaan ini disusun berdasarkan teori yang diajukan kepala polisi rahasia A.E. Van Der Lely tentang pemberontakan komunis. Dalam laporan pendahauluan yang diajukan pada Jaksa Agung ia berargumentasi bahwa di balik apa yang tampaknya sebagai usaha perlawanan yang terorganisir dan sporadis terhadap rezim yang ada terhadap sebuah gagasan dasar, sperti diformulasikan dalam karya Tan Malaka, Naar de Republieke Indonesia (Menuju Republik Indonesia), bahwa membimbing para pemimpin komunis dan memberikan aspirasi bagi tindakan-tindakan mereka. Oleh karena itu dianjurkan penerapan kekuasaan luar biasa yang besar-besaran terhadap para pengikut, inti, dan pimpinan utama yang bekerja di belakang layar, untuk mencegah terulangnya pemberontakan yang baru saja terjadi. Dalam kesempatan lain,ia menegaskan bahwa pengasingan berskala besar ini bakal kehilangan efektivitasnya, jika kelompok pemimpin baru bisa tampil di muka tanpa dihalangi. Menjadi tiga pemerintah dan polisi untuk jangka waktu tertentu menguburkan arti dan pengaruh yang mengancam dari kaum propaganda baru dan memilih saat yang tepat untuk menetralisir mereka dengan cara yang sama seperti para pendahulunya. Tergantung pada interpretasi para pemimpin komunis atau propagandis yang bisa diasingkan sekarang. 15

Peristiwa Madiun 1948
Pemerintah jajahan memilih untuk tidak melarang PKI sebagai organisasi yang mengancam keamanan dan ketertiban. Hukuman yang dianggap lebih sesuai adalah menangkap para pemimpinnya dan membuang mereka tanpa proses pengadilan ke suatu daerah khusus, terpencil dan berbahaya, yaitu Boven Digul.

Konon inilah kamp konsentrasi pertama lahir di dunia. Di kamp ini tidak ada penyiksaan fisik, tetapi keadaan Digoel benar-benar terisolasi, belantara rawa penuh nyamuk malaria dan berada di sekitar 450 Km ke hulu sungai yan penuh buaya adalah siksaan tersendiri. Dengan daerah hunian yang tak layak dihuni ini, rasa sepi yang mencekam dan rindu kampung halaman yang kuat, maka ada di antara para tahanan itu yang kemudian menjadi gila, mati, mencoba melarikan diri namun kemudian lenyap tak tahu rimbanya, atau tunduk dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah. Kendati demikian, ada yang tetap teguh terus mencoba menyusun perlawanan.

Jika golongan yang pertama itu cukup di Tanah Merah, maka untuk mereka yang tetap µbengal¶ ini, pemerintah membuatkan kamp yang lebih ganas lagi di kawasan itu, Tanah Tinggi.
15

Takshi Shiraishi, Hantoe Digoel; Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial. Yogyakarta: LKIS, 2001, hlm. 3²

6.

12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Dengan ditumpasnya usaha pemberontakan ini di tahun 1926/1927, PKI terpaksa bergerak di bawah tanah. Banyak pemimpinnya lari keluar negeri seperti Musso, Alimin, Semaoen di Rusia, serta berusaha mengorganisir partau dari laut; sementara itu yang ditangkap, mengorganisir gerakan di bawah tanah atau bergerak dan aktif dengan anggota partai atau organisasi massa.
Di dalam negeri gerakan di bawah tanah masih hidup. Dalam pada itu mereka sempat juga mengeluarkan µprogram 18 pasal dalam tahun 1932¶. Tuntutan dari program itu, sangat mengutamakan kebebasan untuk berorganisasi, yang tentu akan berkembang jika Indonesia bebas dari penjaahan. Juga direncanakan upah buruh dan perbaikan-perbaikan kehidupan petani.

Dari luar negeri usaha mengorganisir kembali PKI berjalan terus. Pada bulan April 1935, Musso kembali, dan di Surabaya ia membentuk PKI di bawah tanah (ilegal PKI). Di samping itu Tan Malaka juga mengorganisir gerakan di bawah tanah. Tetapi karena gerakannya sangat terbatas sebagi akibat dari kewaspadaan PID dan pemerintah Kolonial Belanda, maka sangat terbataslah pengaruhnya dalam masyarakat. Apa lagi kalau dilihat adanya perbedaan pendapat antara Musso dan Tan Malaka.

Gerakan-gerakan pada masa kekuasaan Jepang masih diteruskan. Orang-orang penting PKI ilegal melibatkan diri dalam gerakan bawah tanah, yang paling besar dan terorganisir baik di bawah pimpinan Amir Syarifuddin, kendati para pimpinan organisasi ini kebanyakan diambil dari jajaran µPKI Ilegal¶, tetapi para anggota di tingkat bawah di sebagian besar cabang gerakan ini bisa jadi bukan orang-orang komunis. Walaupun cukup baik organisasinya, namun Jepang dapat juga mengetahui gerakan mereka sehingga Amir Syarifuddin dan para pemimpin lainnya ditangkap pada tahun 1943 dan akibatnya banyak menyingkir kembali ke luar negeri. 16 Tetapi yang sulit dibayangkan adalah Jepang menunjuk Wikana, seorang anggota PKI ilegal menjadi direktur Asrama Indonesia (sekolah paling penting yang didirikan Jepang untuk para tokoh politik Indonesia) tanpa menyadari afiliasinya dengan komintern.17

Pada tanggal 21 Oktober 1945, Partai Komunis Indonesia muncul kembali di bawah pimpinan Mr. Mohammad Jusuf. Jusuf tidak memiliki hubungan dengan bawah-tanah PKI yang sebenarnya dan juga tidak dengan PKI yang sebelumnya mencetuskan pemberontakan pada tahun 1926-1927. Sebelum bulan Mei 1945 kelanjutan dan wibawa partai itu sangat kecil perkembangannya, dan keadaan ini baru berubah setelah pemimpin komunis zaman dulu, Sardjono, kembali dari Australia dan mengantikan Jusuf sebagai ketua. Pada tanggal 12 Agustus 1946, Alimin kembali ke Indonesia setelah 20 tahun bermukim di luar ngeri. Meskipun Sardjono yang tetap menjadi ketua itu memimpin dengan baik dan meningkatkan partai

16

Arbi Sanit, Badai Revolusi; Sketsa Kekuatan Politik PKI di Jawa tengah dan Jawa Timur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, 52²54. 17 Jeanne S. Mintz, Ibid, hlm. 52²54.

13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda itu, baru pada tahun 1948, PKI dapat mengejar apa yang sudah di sampai oleh PNI, Masyumi atau Partai Sosialis Indonesia.

Penting dicatat bahwa sejumlah besar pengikut Stalin di Indonesia, termasuk beberapa yang penting, tidak masuk PKI. Sebaliknya mereka memasuki satu atau yang lain dari ketiga partai besar marxis non-komunis, yaitu Partai Sosialis, Partai Buruh dan Partindo. Mungkin juga, jumlah anggota PKI ilegal yang semula diorganisir oleh Musso pada tahun 1935 dan kemudian menjadi salah satu gerakan bawah tanah anti-Jepang yang utama, yang ikut kelompok ini sama banyaknya dengan yang masuk PKI-nya Jusuf. Mungkin juga mereka semula ragu-ragu masuk organisasi Jusuf karena rendahnya tingkat kepemimpinan Jusuf, atau pun karena organsisasi ini jelas keluar dari jalur Moskow. Ada juga alasan-alasan yang dapat dipercaya, bahwa sementara orang menghindari PKI setelah Sardjono dan Alimin merebut kepemipinannya, karena mereka punya pandangan kedua pemimpin tersebut. Mungkin juga, karakter PKI semula menyebabkan beberapa pemimpin komunis Indonesia yang pulang ke Indonesia dari negeri Belanda pada akhir 1945 dan permulaan tahun 1946, merasa bahwa mereka akan punya prospek politik yang lebih baik jika mereka punya hubungan dengan partai sosialis yang jauh lebih kuat.
Orang-orang Komunis yang masuk Partai Sosialis, Partai Buruh dan Pesindo, pada akhirnya menguasai organisasi-organisasi tersebut dan berusaha menarik ketiganya untuk bergabung dengan PKI. Ini menyebabkan sementara orang menarik kesimpulan bahwa memang ada rencana jangka panjang orangorang komunis untuk merembes ke dalam dan merebut kekuasaan ke dalam ketiga partai tersebut dengan maksud memasukan ke dalam tujuan-tujuan kaum pengikut Stalin. Meskipun sudah terjadi, belum ada bukti yang menyakinkan untuk menuduh hal ini sebagai rencana jangka panjang mereka.18

Dalam pada itu, orang-orang komunis Indonesia di Belanda dan di manapun selain di Indonesia, sudah mengikuti langkah-langkah Partai Komunis Nederland (CPN), yaitu mencela revolusi sebuah µbom waktu Jepang¶ yang menyebut Soekarno-Hatta sebagai kolaborasi fasis. Didorong oleh sikap semacam ini, pemerintah Belanda mengirim sejumlah tokoh PKI kembali ke Indonesia dengan harapan besar bahwa begitu mereka sampai di sana, orang-orang itu akan mewakili kepentingan Belanda. Akan tetapi, dalam waktu yang teramat singkat, orang-orang komunis yang kembali itu berhasil mendapatkan wilayah serta pegnaruh revolusi dan berbalik mendukung Republik. Dari sini, kekacauan mulai hilang, garis partai menjadi lurus dan kedua kelompok orang komunis lama, baik yang di luar maupun yang masih di dalam negeri tidak lagi menampakkan keraguan tentang penggunaan kembali strategi masa perang front persatuan yang kali ini demi kepentingan kemerdekaan.

Kekaburan politik yang diciptakan oleh kebijakan front persatuan memungkinkan orang-orang komunis dan kelompok komunis meraih posisi kekuasaan yang tinggi dalam pemerintah Republik bahkan sampai pada posisi Perdana Menteri yang dipegang oleh Amir Syarifuddin. Ini juga memungkinkan partisipasi
18

George Mc Turnan, Ibid, hlm. 199²202.

14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mereka dalam sebuah koalisi sayap kiri yang terdiri dari orang-orang sosialis, orang-orang Stalin dan orang-orang komunis nasional. Koalisi ini disebut sayap kiri dan secara perlahan berkembang menjadi sebuah front yang baru.

Akan tetapi, keputusan komunis untuk menentang pemerintah revolusioner Indonesia baru kelar pada bulan Februari 1948. Sejak Partai Sosialis pecah, kubu sosialis Sjahrir membentuk Partai Sosialis Indonesia (PSI) sedangkan kelompok Syarifuddin mempelopori transformasi sayap kiri di bawah kepemimpinan Syarifuddin I, dan ketika manuver parlementer FDR untuk bergabung sengan kabinet baru Hatta ditolak mentah-mentah. FDR memanfaatkan perjanjian Renville sebagai sebuah alasan yang tepat untuk menentang administrasi baru Hatta.19

Perjanjian Renville merupakan hasil dari perundingan resmi yang dibuka di atas kapal angkut pasukan Renville pada 7 November 1947. Belanda berusaha agar garis µVan Mook¶ diakui oleh RI sedangkan Indonesia meminta agar tentara Belanda ditarik ke kedudukan semual sebelum Belanda menyerbu. Masalah lain yang menjadi pertikaian adalah persoalan pembentukan RIS di kemudian hari. Dalam ide Belanda, RI adalah satu negara bagian yang sederajat dengan negara bagian yang lain (negara Sumatera Timur, NIT, Negara Pasundan dan lain-lain), padahal dalam persetujuan linggar Jati dinyatakan bahwa RI dan Belanda bersama-sama membentuk RIS.

Belanda dalam perundingan-perundingan tadi menyatakan secara halus bahwa jika perundingan ini gagal maka konsekuensinya adalah perang lagi. Dan jika RI menolak usul Belanda maka Amerika Serikat tidak akan membantu RI, sehingga RI sendirian. Di bawah tekanan yang berat dan dengan janji akan adaya Pemilihan Umum yang bebas (seperti dalam persetujuan-persetujuan sebelumnya)²from the bullet to the balott²akhirnya Amir Sjahrifuddin menyerah. Tanggal 17 Januari 1948 persetujuan ditandatangani oleh Amir Sjahrifuddin (RI) dan Raden Abdulkadir Widjojo Atmodjo (wakil Belanda). Amir hanya melihat bahwa persetujuan Renville akan dilaksanakan karena adanya wakil-wakil KTN sebagai wakil PBB. Ia percaya beberapa bulan bahkan dalam beberapa minggu penyelesaian akan tercapai. Kepercayaan Amir ini dibayar mahal sekali oleh sayap kiri.

Setelah persetujuan ditandatangani, Dr. Giaham (wakil Amerika Serikat) yang merupakan harapan dan jaminan. Amir bahwa Amerika Seikat di belakang persetujuan Rencana Renville ditarik kembali ke negerinya²secara moral AS seolah-olah tidak setuju dengan garis Dr. Giaham. Apa yang dialami Sjahrir juga dialami oleh Amir. Yaitu ditikam dari belakang oleh rekan-rekannya sendiri.

19

Jeanne S. Mintz, Ibid, hlm. 122²123.

15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pada waktu Amir Sjahrifuddin ada di Jakarta (16 Januari 1948), Masyumi menarik diri dari kabinet. Tindakan ini kemudian diikuti oleh PNI, sehingga Amir kehilangan dukungan utama. Tanggal 23 Januari 1948 Amir meletakan jabatan berakhirlah pemerintahan sayap kiri di Indonesia yang berlangsung dari 14 November 1945²23 Januari 1948. Politik diplomasi dan harapan-harapan atas analisis perkembangan dunia yang ditetapkan dalam politik Sjahrir, Amir telah berakhir dengan kekacauan.20

Program reorganisasi militer oleh pemerintahan Hatta yang diumumkan sesaat setelah persetujuan Renville²telah mempertinggi tingkat konflik kekuasaan dan ideologi yang telah berlangsung di dalam tubuh Angkatan Bersenjata Republik permulaan revolusi. Oposisi terhadap program reformasi tersebut terutama berasal dari kesatuan-kesatuan di Surakarta dan Kediri, yang merasa tidak puas karena adanya sekelompok perwira staf umum yang memiliki keistimewaan sosial tertentu yang sebagian besar berasal dari beberapa kota kota kosmopolitan di Indonesia dan dipenuhi perwira berlatar belakang pendidikan militer Belanda yang telah menempati posisi mereka di jajaran staf umum dan dipandang telah mengurangi kekuasaan Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang terlihat enggan menjalankan kebijakan yang telah mereka dan Menteri Pertahanan Hatta gariskan.
Program baru tersebut memang terkesan lebih mengedepankan kepentingan para perwira bekas KNIL, yang berkeinginan untuk meningkatkan kualitas dan efesiensi operasional kesatuan-kesatuan di lapangan, yang sejalan dengan keinginan pemerintah untuk mengurangi beban berat ekonomi dan keuangan atas ketentaran di masa perang dan untuk mengeliminasi bagian-bagian dalam Angkatan Bersenjata yang dicurigai secara aktual atau potensial berada di bawah pengaruh kekuatan oposisi, Partai Sosialis (Amir Sjahrifuddin).

Aliansi taktis ini mungkin tidak akan mampu bertahan tanpa didukung oleh kehadiran sejumlah pasukan Siliwangi yang berhijrah ke Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pelaksanaan persetujuan Renville. Kabinet Hatta dan para pembantu militernya di Kementerian Pertahanan telah memberi status elite pada Pasukan Siliwangi ini, dan penempatannya di sekitar ibu kota dan beberapa tempat lain yang sensitif secara politik di daerah Republik, telah membawa mantan komandan pasukan mobil di bawah Sudirman, yang dengan demikian telah mengurangi dominasi perwira Jawa dan jajaran komando tertinggi yang telah berlangsung sejak hari-hari pertama revolusi.

Kesatuan-kesatuan di Surakarta dan Kediri saja tersingkirkan dari piramida kekuasaan dan akselerasi kenaikan pangkat yang lebih tinggi pada pusat komando, namun bahkan mereka juga tidak sepenuhnya merasa aman kedudukannya di wilayah mereka sendiri, ketika pasukan Siliwangi telah disertai pelaksanaan tugas-tuigas kebijakan umum dalam wilayah Republik. Terlebih lagi, pasukan-pasukan regional Jawa ini merasa kuatir dengan arah ideologi yang dibawakan oleh kabinet dan para pendukung militernya terhadap Angkatan Bersenjata. Kesatuan-kesatuan lokal tersebut senantiasa menekankan sifat
Soe Hok Gie. Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan; Kisah Pemberontakan Madiun September 1948. Yogyakarta: Bentang Budaya, 1997, hlm. 124²126.
20

16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda populis tentara revolusi, suatu tentara yang terikat erat dengan masyarakat pedesaan atau kota kecil di pedalaman Jawa, dan mengandalkan kekuatan semangat perjuangan dan dukungan masyarakat untuk memperjuangkan kemerdekaan penuh dari kolonialisme barat. Penolakan terhadap langkah-langkah reformasi pemerintah di bidang kemiliteran, yang paling kuat diperlihatkan di Kabupaten Surakarta telah menggeser Mayor Jenderal Sutarto, satu-satunya pemimpin militer di daerah tersebut yangmemiliki prestise untuk memimpin kesatuan Divisi Siliwangi dan pasukan yang sebelumnya berada di bawah kepemimpinannya telah digabungkan dalam reformasi brigade-brigade bebas yang berada di bawah kendali langsung pemimpin tinggi tentara di Yogyakarta.

Reaksi total atas langkah-langkah yang ditempuh segera terlihat. Pada tanggal 20 Mei 1948 digelar suatu pertunjukan militer besar-besaran di Solo oleh sejumlah batalyon bersenjata berat dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan tentara Laut Republik Indonesia (TLRI). Terungkapkan juga terhadap kelangsungan kepemimpinan Sutarto atas Divisi Senopati, dan demonstrasi diakhiri dengan tuntutan agar pemerintah membatalkan pelaksanaan reorganisasi karena bukan hanya tidak relevan waktunya pada saat negara sedang menghadapi tekanan permasalahan dari dalam dan luar negeri, namun juga karena mengancam keberhasilan gerakan kemerdekaan, yang jika sungguh-sunuh diberlakukan akan merusak sifat dan demokrasi Angkatan Bersenjata di wilayah Solo.21 Tidak bisa dipungkiri bahwa sikap Senopati dan kesatuan-kesatuan non-reguler dalam menentang pembaruan pasca-perundingan Renville diperkeras dengan kehadiran kelompok oposisi utama. Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang memiliki kantor pusat di Solo. Sejak penghujung Februari 1948 tampaknya telah terjalin kesepakatan diam-diam yang berhasil dicapai antara Senopati (yang memiliki otonom yang tinggi) yang curiga bahwa pembaharuan dalam tubuh militer akan meningkatkan kekuatan Kementrian Pertahanan secara telah dan mungkin akan menghancurkan peluang bahwa Republik akan memperoleh kemenangan secara militer atas Belanda, dengan FDR yang mencari modal politik melalui ketidakpuasan yang disebebkan oleh kebijakan kabinet, dalam rangka kembali ke kursi kekuasaan. Ada kaitan pertemanan yang akrab antara para pemimpin Senopati dan beberapa tokoh FDR, dan dukungan atas oposisi secara politis oleh divisi tersebut diperhitungkan dengan benar-benar, tidak perlu diragukan bahwa dalam permasalahan penting seperi reformasi militer, sikap yang ditempuh Senopati akan memerlukan dukungan dari sekutu sipilnya.

Bagaimanpun Senopati telah berhasil menjalankan status sejak tahun 1946 yang sebagian besar merupakan buah dari segala usaha dan penentangannya terhadap kemauan kabinet yang didominasi oleh Partai Sosialis, dan dalam tahun 1948 dalam mempertahankan otonominya tidak begitu ditentukan oleh ada atau tdaknya dukungan dari FDR. Para pemimpin Senopati dan laskar-laskar, sebagian karena pendidikan dan latar belakang sosial mereka yang rendah dan juga karena adanya persaingan sejarah dan budaya antara Yogyakarta dan Solo, tidak pernah memandang diri mereka atau sesungguhnya tidak pernah dapat diterima sebagai bagian yang sah secara utuh dari konstalasi militer pada tingkat nasional, dan karenanya dapat menempatkan diri mereka pada posisi berhadap hadapan secara radikal dan permanen terhadap pemerintah di Yogyakarta berikut segala urusan politiknya.
David Charles Anderson. Peristiwa madiun 1948; Kudeta atau Konflik Internal Tentara?. Jakarta: Media Pressindo, 2000, hlm. 23²41.
21

17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Tidaklah mengejutkan apabila para pemimpin militer di Surakarta memilih untuk mengabaikan rencana asli pembaruan yang diajukan Nasution, pada awal Juni 1948 mengelompokan diri mereka ke dalam sebuah formasi baru yang disebut ³Perhimpunan Pertemuran panembahan Senopati´ di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Sutarto, secara substansial, µpembatuan¶ ini jauh dari perubahan yang dibayangkan Yogyakarta: jumlah pasukan, posisi kepemimpinan dan distribusi persenjataan di antara kesatuan-kesatuan PPS adalah sama dengan pada saat mereka masih bersama Senopati. TLRI, Pesindo, dan pasukan laskar tidak dihapus, tetapi dibentuk dalam kesatuan terpisah dalam PPS.

Dalam waktu singkat pasukan Siliwangi menjadi sasaran ketidak-senangan Kresidenan Surakarta, sejak mereka ditempatkan di daerah yang harus menanggung pengungsi perang dari Semarang dan Jawa Timur secara mendadak, dan ini masih harus ditimbulkan oleh blokade ekonomi Belanda. Beban yang harus ditanggung oleh Senopati adalah kehadiran Siliwangi dalam jumlah besar diakui sendiri secara langsung oleh kesatuan-kesatuan Senopati yang bertempat tinggal dan memiliki sanak saudara di daerah yang paling berpengaruh (akibat kehadiran pasukan Jawa Barat). Terlebih lagi, terdapat pertentangan yang jelas secara etnititas dan kultural untuk pasukan lokal yang terdiri dari orang Jawa dan pasukan Siliwangi yang kebanyakan terdiri orang Sunda dan ditambah dengan orang-orang dari luar Jawa.

Ketegangan hubungan antara kesatuan-kesatuan dari Surakarta dan kesatuan-kesatuan Siliwangi hampir meledak menjadi suatu pertikaian terbuka ketika pada tanggal 2 juli 1948 Panglima PPS Sutarto ditembak ditempatnya sendiri di Solo dan sesaat kemudian meninggal. Adalah wajar apabila kemudian para pengikutnya curiga pembunuhan tersebut merupakan bagian dan paket strategi pemerintah untuk memaksa Senopati menerima rencanan reorganisasi militer. Dugaan ini menjadi semakin kuat dengan dikeluarkan penyataan keras pada hari itu juga oleh komandan militer kota Solo, Mayor Ahmadi, yang menyatakan bahwa kesabaran pemeritah terhadap sikap keras kepala para penentang reorganisasi telah habis dan tindakan setimpal akan dilakukan terhadap pasukan-pasukan yang tetap mengabaikan pembaruan yang telah diumumkan sejak Mei.

Pada 7 september, terjadi penculikan misterius di dalam kota yang menimpa hampir seluruh perwira dan beberapa prajurit Brigade TLRI yang dipimpin oleh Kolonel Yadau, dan hal serupa yang menimpa empat perwira staf dari kesatuan marinir lain yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Suyoto. Dari bukti-bukti yang ada, tampaknya mengarah pada keterlibatan pasukan-pasukan dari Jawa Barat dalam peristiwa tersebut. Letnan Kolonel Suharman dari TNI dan Masyarakat ditunjuk memimpin penyelidikan, akan tetapi baru saja akan memulai perjalanannya, ia juga tidak terlihat lagi. Pada hari berikutnya (10 September) giliran mantan komandan kota Solo, Letnan Kolonel Sumarto, juga diculik dan dibawa ke asrama tentara Srambatan di mana para tawanan lainnya juga ditahan.

18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pimpinan Senopati menjadi sangat marah dan menuntut Batalyon Rukman dari Brigade ke-2 Siliwangi (yang menempati asrama Srambatan) mengembalikan para perwira paling lambat pada 13 September, dan akan memperkuat ultimatum terebut dikirim pasukan di bawah pimpinan Mayor Slamet Riyadi ke daerah Srambatan. Beberapa jam sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir, Mayor Sutarno dan Brigader Marinir Yadau, yang dikirim untuk memperoleh jawaban dari pihak Siliwangi, ditembak begitu saja ketika dia memasuki kawasan Srambatan. Tiba-tiba Senopati bersama-sama dengan pasukan dari Brigade Suyoto menyerang markas pasukan dari Jawa Barat tersebut, meskipun serangan tersebut tidak memperoleh hasil apapun karena ternyata pasukan Siliwangi yang bertahan terbukti lebih unggul. Ketika malam tiba, kedua pihak sepakat mengindahkan seruan Sudirman untuk melakukan gencatan senjat. Dalam siaran radio yang diudarakan pada tanggal 16 September, Sudirman menekankan bahwa Angkatan Bersenjata sebagai alat kekuasaan Negara meiliki tugas untuk menjaga keutuhan Republik dari serangan dalam maupun luar negeri. Ia mengingatkan bahwa para pemimpin negara dan pemimpin tentara telah berada dalam prsetujuan atas langkah-langkah yang akan diambil guna menjamin keamanan umum di wilayah Surakarta dan tidak akan ragu-ragu menerapkannya di daerah Republik lainnya bila memang situasi menuntut demikian.

Dilema yang dihadapi ooleh pemimpin tentang atas kekacauan di Solo itu hanya melibatkan masalah internal militer semata, namun juga berkaitan dengan isu-isu politik dan isu-isu strategis yang lebih luas. Pada suatu sisi terlihat jelas kemungkinan bahwa FDR-PKI akan mampu menciptakan suasana tentang di Solo dan bahkan mungkin akan bertindak sendiri untuk mengupayakan pembebasan pasa sandera politik dan para perwira PPS yang bersimpati padanya. Cukup masuk akal bahwa ketegangan sosial yang sebelumnya telah mencuat di permukaan dalam aksi pemogokkan buruh pabrik tekstil dan perkebunan di Delangu dapat saja merembet ke dunia kemiliteran dan berubah menjadi perang saudara.22

Berbagai usaha FDR untuk memperoleh kursi dalam kabinet ternyata tidak berhasil, dan pemerintah mengancam untuk secara teratur berangsur-angsur menghapus kekuatan FDR, yang akan menjadikannya bulan-bulan suatu tentara revolusioner yang bersikap bermusuhan terhadanya. Amir dan rekan-rekannya telah mengakui kesalahan kebijakan moderat mereka di masa lampau. Bahwa revolusi µborjuis¶ pun sekarang dikecam oleh Rusia, merupakan kekecewaan yang pahit sebab Amerika telah gagal memaksa Belanda agar mematuhi syarat-syaratnya. Musso tiba (11 Agustus 1948) seakan-akan dari awang-awang, tidak tercemar oleh kebijakan-kebijakan masa lampau yang salah, dan membawa suatau cetak baru yang meyakinkan tentang suatu jalan yang baru dan pasti menuju kemenangan.

Dua minggu setelah Musso tiba di Yogyakarta, PKI memerima kepemimpinan Musso dan kebijakannya yang disebut Jalan Baru. Harus ada hanya satu partai saja dari golongan pekerja, yang memegang peranan pemimpin dalam satu front nasional yang pada gilirannya harus menguasai pemerintah. Walaupun revolusi masih pada tahap nasional, kepemimpinan tidak dapat dipercayakan kepada µborjuis nasional¶, yang mudah dibujuk oleh rayuan imperealis. Dalam soal-soal dalam negeri, Jalan Baru tidak merubah
22

Ibid, hlm. 23²41.

19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda melainkan memperkuat dengan bahasa yang eksplisit dan agresif kecenderungan yang ada dalam kebijakan FDR. Kapitalisme harus tetap ada di Indonesia, di bawah pengawasan negara, guna memajukan perkembangan ekonomi yang diperlukan bagi revolusi sosialis di kemudian hari. Namun hak istimewa feodal dan asing atas tanah-tanah harus dihapus, dan tanah petani kaya disita. Dalam kebijakan luar negeri, Musso mendesak adanya pengandalan lebih kuat kepada Uni Soviet, yang kekuasaannya di Indonesia telah sangat diremehkan oleh kaum marxis Indonesia di masa lampau. Optimisme Musso tetang dukungan dari Rusia, digabung dengan apa yang kelihatan sebagai kegagalan Amerika untuk memenuhi janji yang diberikan sebelumnya, merupakan salah satu faktor mengapa kaum marxis menerima Jalan Baru itu.

Semua pidato Musso memberi implikasi bahwa pemimpin borjuis revolusi tidak dapat ditolerir dan hanya untuk sementara waktu. Amir Syahrifuddin telah melakukan kesalahan besar dengan menyerahkan kemudi pemerintahan tanpa pejuangan, dan kaum komunis sekarang merebut kembali kepemimpinan itu dengan cara apa pun.
Nada yang yakin dan agresif itu sekurang-kurangnya telah mempersiapkan kaum komunis secara psikologis terhadap suatu usaha menumbangkan pemerintah. Para pemimpin baru PKI juga akan bersikap sangat bodoh kalau mereka tidak mempersiapkan diri dari suatu konfrontasi bersenjata, sedangkan posisi Moskow, langkah-langkah rasionalisasi militer, dan polarisasi pandangan-pandangan politik dengan pasti menuju ke sana. Berbagai strategi pemberontakan FDR/PKI diterbitkan oleh musuh-musuhnya. Salah satu di antaranya, yang dikatakan dan disusun sejak awal bulan Juli 1948 tetapi jatuh ke tangan pemerintah setelah pemberontakan. Strategi darurat ini bagi µpemberontakan atau pemerintahan terpisah¶ katanya dipusatkan pada pengungsian pasukan-pasukan FDR dari µgaris depan¶ Belanda, konsentrasi kekuasaan di Kresidenan Madiun yang terletak sentral dan stimuli berbagai kegiatan untuk mengalihkan perhatian. Hampir dapat dipastikan bahwa memang ada rencana semacam itu, sekurang-kurangnya setelah kedatangan Musso, namun perlu suatu sikap skeptis di dalam menangkap suatu teks yang katanya begitu mudah meletakan segala kesulitan Republik pada kaki PKI yang membuat rencana-rencana jahat.

Semua indikasi menujukan bahwa rencana apapun yang dipersiapkan PKI adalah bagi jangka waktu yang lebih lama, pada salah satu awal 1949. Pada waktu itu, mungkin asumsinya adalah bahwa pemimpin borjuis telah disingkirkaan oleh pihak Belanda dalam suatu aksi militer kedua, sehingga tinggal PKI yang harus menyaingi tentara atau meresapnya selama perjuangan gerilya yang terakhir. Kelihatannya sangat tipis kemungkinannya bahwa pemimpin FDR/PKI yang berpengalaman itu akan berupaya langsung menantang Soekarno sebagai lambang pemersatu Republik, kecuali kalau ia telah dideskreditkan oleh suatu aksi Belanda, tetapi Musso sendiri merupakan titik lemah di dalam pelaksanaan suatu strategi komunis yang realistits, sebab ia kurang peka terhadap kekhususan situasi Indonesia.23

23

Anthony J.S. Reid. Revolusi Nasional Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan, 1996, hlm. 235²242.

20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Sementara itu di Madiun sendiri Pesindo secara aktif mendukung aksi pemogokan yang dilakukan oleh serikat-serikat buruh yang telah berlangsung sejak 10 September sebagai protes atas perlakuan kasar yang dilakukan terhadap para pegawai sipil dan buruh kereta api oleh Batlyon Mobil CPM yang dipimpin Warsito. Namun dengan terjadinya perkembangan baru sejak 16 September yang membuat para pemimpin laskar di Madiun meragukan strategi depensif mereka sebelumnya akan cukup mampu digunakan untuk mengatasi perkembangan situasi. Pada hari itu, Hatta kembali menyatakan keputusan pemerintahannya untuk menggunakan tangan besi bila memang diperlukan untuk memelihara keamanan di dalam negeri.

Terdengar kabar bahwa Siliwangi dan Barisan Banteng telah berhasil memukul mundur Senopati di Solo pada 17 September dan kini tengah mempersiapkan serangannya ke Benteng Pesindo di Madiun untuk melengkapi kemenangan mereka. Dalam situasi seperti ini, para pemimpin laskar dihadapkan pada hanya dua pilihan tindakan yang paling mungkin. Mereka bisa memutuskan untuk berdiam diri dan membiarkan pasukan-pasukan propemerintah menghancurkan organisasi militer mereka di Madiun dan di tempat lain dengan dalih bahwa telah dinyatakan sebagai ancaman terhadap keamanan dalam negeri, atau mereka juga bisa memutuskan untuk mengambil alih pemerintahan Republik di wilayah Keresidenan Madiun²di mana orang-orang FDR menguasai banyak hal di kota²dan percaya bahwa langkah dramatis yang menentukan kelangsungan mereka ini akan pasukan-pasukan itulah yang kemudian dipandang sebagai tindakan yang paling sesuai dengan dalam keadaan seperti itu. Keputusan yang demikian menetukan ini terkesan diambil perencanan dan persiapan yang matang, hanya sebuah improvan yang tergesa-gesa, dan ini dibuat dari sebuah posisi kelemahan oleh Pesindo dan para kader FDR di Madiun dan bukan para pemimpin oposisi nasional yang pada saat itu sedang berkampanye keliling Jawa.24

Pagi sekali pada tanggal 18 September Pesindo mengambil alih instalasi-instalasi vital di Madiun atau instruksi pemimpin nasionalnya, Sumarsono. Bersama dengan Brigade 29 TNI (sebelumnya Biro Perjuangan yang pro-FDR, mereka menangkap dan membunuh perwira-perwira terkemuka yang propemerintah di Madiun, termasuk hapir seluruh staf dari apa yang direncanakan akan menjadi Divisi Jawa Timur dalam TNI hasil rasionalisasi. Pada jam 10 pagi Radio Madiun mengumumkan dibentukanya suatu pemerintah Front Nasional bagi keresidenan Madiun, dikepalai oleh Sumarsono sebagai gubernur militer. µPemberotakan¶ masih pada tingkat kup daerah, walaupun Sumarsono rupanya telah memberikannya implikasi nasional dengan mendesak melalui radio agar contoh revolusionernya diikuti di seluruh Indonesia.

Musso, Amir Syarifuddin dan Setiadjit telah meningalkan Madiun pada tanggal 9 September dalam rangka tur mereka ke pusat-pusat Republik di Jawa untuk berpidato. Dalam suatu pidato yang bernada keras di depan suatu rapat raksasa di Madiun, Musso telah menegur kaum komunis karena membiarkan revolusi jatuh ke tangan kaum borjuis, dan menuntut agar µunsur-unsur yang menetang haluan revolusi harus diberishkan¶. Namun para pemimpin itu tidak dapat menduga terjadinya perkembangan militer yang
24

David Charles Anderson, Ibid, hlm. 60²62.

21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda begitu cepat di Surakarta. Pada tanggal 18 September mereka tiba Purwadadi dalam rangka turnya, tidak dapat disangsikan bahwa semuanya terkejut, dan semuanya kuatir kecuali mungkin Musso, mendengar aksi Sumarsono.

Bagaimanapun juga pemerintahlah yang bertindak terlebih dahulu untuk menggambarkan kup tersebut sebagai suatu pemebrontakan terhadap kepemimpinan nasional. Pagi-pagi pada tanggal 19 September pemimpin-pemimpin PKI di Yogyakarta ditangkap, kebanyakan dari mereka, malah termasuk anggota Sarekat Umum Tan Liang Djie, tidak tahu menahu tentang kejadian-kejadian di Madiun pada malam yang sama Soekarno menyatakan perang kepada PKI dalam salah satu pidatonya yang paling pedas. Seraya mengutip dari apa yang dikatakan merupakan petunjuk FDR dari bulan Februari 1948, ia menyatakan bahwa kekacauan di Surakarta dan kup di Madiun kedua-duanya merupakan bagian suatu rencana jahat PKI untuk menggantikan Republik dengan suatu pemerintahan Soviet di bawah Musso.

Kalau Soekarno berharap untuk menyudutkan Musso dengan pidatoya, maka ia berhasil dengan gemilang. Hanya sejam setelah Soekarno selesai bicara, Musso menjawab melalui Radio Madiun, dengan suatu pidato yang telah dilukiskan sebagai contoh µpsikologi politik terburuk yang dikenal dalam sejarah Indonesia¶.
Pidato Musso melenyapkan kesempatan bagi suatu kompromi, dan kaum komunis siap-siap bagi perang saudara. Pada tanggal 20 September mereka mengeluarkan program revolusioner mereka, yang merencanakan perombakan dan penggantian birokrasi sama sekali, dipersenjatainya pekerja-pekerja dan petani-petani, mengambil alihan bank-bank dan pabrik-pabrik, dan pembagian-pembagian tanah kepada penggarap-penggarap. Kekuatan-kekuatan progresif di seluruh Jawa dan Sumatera diimbau ikut serta melawan pemerintah Soekarno-Hatta. Namun pada kenyataannya polarisasi politik yang sedang berlangsung di jantung wilayah Republik di Jawa tidak ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa di tempat lain.

Jumlah pasukan yang bergabung mendukung telah diperkirakan antara sepuluh sampai dua puluh ribu orang, walaupun 35.000 orang akhrinya ditangkap oleh pemerintah. Pasukan yang secara efektif dimobilisasi oleh Yogyakarta juga kecil jumlahnya. Sebagian besar kesatuan-kesatuan Republik tidak memiliki transpor, mempunyai kemampuan ofensif yang minimal dalam suatu perang sudara.

Pada kenyataannya pasukan pemberontak meningalkan Madiun tanpa mengadakan perlawanan pada tanggal 30 September, setelah gagal menghentikan gerak maju pasukan Siliwangi di Ngerong dan Magetan. Mula-mula mereka bergerak di daerah pegunungan di sebelah Selatan Madiun dalam upaya mencari basis gerilya yang aman. Di situ Musso meninggalkan pasukan utama, mungkin setelah suatu perselisihan. Ia dibunuh dalam suatu peristiwa pada tanggal 31 Oktober. Pasukan utama yang berjumlah kira-kira 2.000 orang dipimpin Amir Syahrifuddin juga dikejar-kejar dari berbagai penjuru oleh pasukan 22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Siliwangi, dan mulai bergerak di arah utara melintasi Gunung Lawu. Mungkin mereka berharap dapat mencapai daerah pendudukan Belanda yang relatif aman. Pada akhir bulan November pemimpinpemimpin tertinggi ditangkap dekat garis Renville di daerah Purwodadi. Pada tanggal 20 Desember mereka langsung ditembak.25

Peristiwa G 30 S
Setelah pemerintah RI mengakui kembali eksistensi PKI, berarti partai tersebut mempunyai kesempatan untuk melakukan kembali aktivitasnya secara legal. Sikap pemerintah itu memberikan dampak yang luas terhadap tokoh-tokoh PKI. Mereka yang menghilang sejak Peristiwa Madiun 1948, mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Pada bulan September 1949, Alimin Prawirodirjo yang dihormati sebagai the great old man gerakan komunis di Indonesia muncul di Yogyakarta. Kemunculan aktivis 1920-an itu sungguh di luar dugaan, karena itu menjadi berita yang mengejutkan. Hal ini disebabkan bahwa di masa itu kabar yang tersiar menyebutkan Alimin telah tewas selama aksi di Madiun. Dengan kemunculan Alimin menunjukkan bahwa sikap pemerintah untuk tidak melarang PKI, mendapat respon positif dari mereka.

Persoalan pertama yang dihadapi PKI adalah hancurnya struktur partai akibat Peristiwa Madiun. Aktivis banyak yang terbunuh, serta tidak sedikit yang masih mendekam di penjara konsekuensi lainnya yakni citra buruk yang diderita partai. Itulah kenyataan objektif yang ditemuai Alimin. Begitu partai di bawah kendalinya, maka sebagai langkah awal ia menghimpun kembali kekuatan komunis yang tercerai-berai. Tampaknya partai secara organisasi mulai bergerak dengan ditandai tersiarnya susunan sekretariat Central Comitee (CO) meskipun untuk sementara. Susunan sekretariat yang disiarkan pada tanggal 10 Juli 1950 itu terdiri Sudisman (mantan sekjen Pesindo), Djaetun (mantan Digulis), dan Ngadiman.

Di dalam tubuh partai, Alimin mulai melakukan upaya-upaya konkret guna menghapus citra buruk partai. Demi mengembalikan kekuatan partai, ia menerapkan kebijakan yan lebih ketat dalam arti berhitung secara kualitas. Ia cenderung membangun kembali partai sebagai partai kecil, tetapi sangat selektif dan mempunyai posisi yang kuat dengan dukungan kader yang cakap. Alimin menghendaki sebagai partai kader. Tetapi Alimin menerapkan taktik infiltrasi yang cukup jitu. Ia memerintahkan kepada para kader partai untuk memasuki organisasi kepemudaan, buruh, petani dan lain-lain. Di dalam membangun partai timbul perbedaan visi. Ini malah menimbulkan friksi internal yang semakin menguat, bahkan dengan mencuatnya polarisasi dua kekuatan, yakni faksi µgolongan tua¶ yang dipimpin Alimin berhadapan dengan faksi µgolongan muda¶ yang dipimpin Aidit.

25

Anthony J.S., Ibid, hlm. 243²249.

23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Golongan tua tampaknya menghendaki strategi rasional²revolusioner untuk membangkitkan dan mengerakan partai. Sedangkan golongan muda lebih kentara semangat emosional²revolusioner dalam mengendalikan dan menjalankan garis politik partai. Bila ditelusuri ke belakang, perbedaan itu memang sangat kontras, akibat pengalaman masing-masing. Golongan tua dimatangkan oleh kondisi kolonisasi Belanda. Mereka mengalami berbagai penderitaan pahit, seperti mendekam di penjara atau dibuang ke daerah terpencil atau terasing di dalam masyarakatnya. Sedangkan golongan muda terobsesi masa pendudukan Jepang dan dipengaruhi oleh romantika revolusi 1945.

Frikasi kedua golongan itu pada akhirnya menjelma menjadi rebutan pengaruh. Bisa dibayangkan bila masing-masing golongan mengincar posisi yang kuat dalam elite partai. Keputusan-keputusan politik golongan tua dirasakan sangat lamban mengantisipasi berbagai persoalan. Taktiknya pun dianggap oleh golongan muda sudah tidak lagi efektif karena bisa mengakibatkan PKI tidak popular di masyarakat.

Kritik golongan muda tidak bisa dibendung lagi. Dalam pucuk pimpinan pun golongan tua mulai tersingkir. Pada tanggal 7 Januari 1951, tejadi suksesi kepemimpinan dalam partai. Aidit mengambil alih posisi Alimin, guru politiknya sendiri. Dalam susunan politbiro tampak dominasi golongan muda seperti Aidit, Lukman, Sudisman, sedangkan golongan tua terwakili Alimin.

Tampilnya kepemimpinan golongan muda terutama sosok Aidit telah memberikan catatan-catatan tersendiri. Mereka mengembangkan corak yang khas bagi partai. Kedua tokoh yang mudanya yang aktif dalam revolusi Agustus 1945, pada gilirannya mengarahkan PKI menjalin hubungan dengan pelakupelaku yang telah melakukan Proklamasi. Dengan begitu, PKI diproyeksikan sebagai wadah guna melahirkan kembali semangat pemuda yang pernah diperlihatkan pada pertengahan 1945.

Aidit pun menyadari bahwa kelompok yang bersikap µkekanan-kananan¶ dan µkekiri-kiran¶. Golongan pertama berfikir empirik, yakni menghendaki PKI menjadi partai terbuka, termasuk penggalangan berbagai kekuatan masssa. Namun cara berfikir ini, kelemahannya adalah partai tidak akan bisa mengontrol anggotanya, sehingga loyalitas anggota sukar dipertanggungjawabkan. Sementara golongan kedua berfikir dogmatis. Mereka menginginkan PKI tetap memegang teguh garis politiknya keras. Ini mengandalkan kader-kader yang tangguh dan teruji, kendati secara kuantitas tidak terlampau banyak. Tetapi ditakutkan, PKI malah terjebak menjadi partai yang terasing dan tidak populer di mata masyarakat.

Menyadari kondisi objektif demikian, lantas Aidit menetapkan haluan yang boleh dikatakan sebagai ³garis tengah´. Ia mengarahkan partai agar menjadi besar dan mendapat simpati di kalangan masyarakat luas, tetapi sekaligus membangun struktur partai dengan kuat agar posisi partai tidak mudah goyah, 24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda konkretnya dilakukan penggalangan berbagai kekuasaan massa, dengan tanpa terhenti menciptakan kader-kader militan. Aidit sadar bahwa kekuasaan partai begitu kecil sebagai akibat Peristiwa Madiun 1948.26

Pada bulan Agustus 1951, menjelang tahun Proklamasi, tetap tujuh bulan setelah terbentukanya pemimpin baru, Perdana Menteri Sukiman (Masyumi), yang pernah menjadi menteri dalam negeri pada zaman peristiwa Madiun melancarkan penangkapan-penangkapan massal terhadap kaum komunis, anggota-anggota serkat buruh, peranakan Cina dan lain-lain. Tindakan-tindakan intimidasi tersebut antara lain ditunjukan untuk mempermudah diterimanya Undang-undang perburuhan yang sangat kontroversial. Aidit terhindar dari penangkapan dan melewati beberapa minggu di bawah tanah Jakarta. Tetapi banyak kader di seluruh negeri yang baru saja ditunjuk, ditawan berbulan-bulan tanpa pengadilan suatu konfrensi partai bisa berlangsung pada bulan Januari 1952 tetapi banyak kader yang seharusnya ikut serta dalam konferensi ini masih meringkuk dalam tawanan. µRazia Agustus¶ itu di satu pihak, untuk sementara telah menambah berbagai kesulitan di dalam partai. Kesulitan itu tidak saja karena organisasinya yang masih sangat lemah, tapi lebih penting lagi adalah dari segi penentuan garisnya, taktik dan strategi, dengan memberikan kembali alasan-alasan kepada mereka yang masih berpendapat bahwa PKI seharusnya tetap berada di bawah tanah dan berjuang dengan menitik beratkan kepada aksi-aksi bersenjata. Tetapi di pihak lain, peristiwa Agustus 1951 itu juga telah berakhir menimbulkan atau menyebabkan makin besar pertentangan di antara kalangan yang berkuasa. Hubungan antara PNI dengan Masyumi, dua partai pokok di dalam pemerintahan sejak bulan Januari 1948, menjadi rusak.

Seiring dengan itu, tampaknya rusak juga hubungan antara Soekarno dan Hatta. Akibatnya, suatu operasi yang semula bertujuan mematahkan PKI, bahkan jika mungkin mendatangkan pelarangannya, malahan sebaliknya telah memberikan peluang bagi PKI guna ikut serta dalam percaturan politik dengan menyokong PNI dan menetang Masyumi yang dianggap sebagai kubu kaum reaksi pro-Amerika Serikat. Karena itu, garis Aidit untuk masuk secara kritis ke dalam percaturan itu, telah kembali memperoleh daya kekuasaan.27

PKI meluas pengaruhnya ke wilayah pedesaan Jawa Tengah dan Jawa Timur, identitas kelas dan kemilitan-potensialnya benar-benar tenggelam. Banyak petani miskin yang bergabung dengan PKI berjanji akan membela kepentingan mereka, tetapi banyak petani yang bergabung dengan alasan-alasan lain. Tim-tim PKI memperbaiki jembatan-jembatan, sekolah-sekolah, rumah-rumah, bendunganbendungan, WC dan kamar mandi umum, saluran-saluran, dan jalan-jalan; mereka memberantas hama dan mengadakan kursus-kursus pemberantasan buta huruf, mengorganisasi kelompok-kelompok olahraga, musik dan musik desa, serta memberikan bantuan kepada anggota pada saat-saat sulit. Sebagai suatu organisasi masyarakat, PKI mengungguli organisasi lainnya, dan karena partai itu tampak tidak menganut kekerasan dan lunak, dan para penduduk pedesaan berduyun-duyun menjadi anggotanya. Di desa-desa
26 27

Subchan Sd. Langkah Merah; Gerakan PKI 1950²1955. Yogyakarta: Bentang Budaya, 1996, hlm. 24²31. Jacques Leclenc. Aidit dan Partai pada tahun 1950. Prisma, No. 7, 1982, hlm. 61²79.

25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda partai ini sering kali dipimpin oleh guru-guru, kepala desa, para petani menengah dan kaya, dan beberapa tuan tanah, yang membawa bersama-sama mereka komunitas atau kelompok pengikut untuk masuk ke dalam organisasi ini. Komunitas-komunitas tersebut hampir seluruhnya muslim nominal (abangan).

Dengan perkembangan seperti itu, maka PKI memerpoleh basis massa yang memungkinkan partai ini untuk menekan kekuatan-kekuatan politik lainnya dan dalam waktu singkat membuat penampilan yang mengesankan dalam Pemilihan Umum. Akan tetapi tidaklah mungkin bahwa kesemuanya itu dapat benarbenar menjadi suatu dasar bagi suatu revolusi komunis. Kepemimpinan Aidit harus mengadakan kursuskursus umum pemberantaasan buta huruf dan kursus-kursus penidikan dasar sebelum partai ini dapat mengungkapkan gagasan-gagasan marxis-leninis kepada sebagian besar pengikutnya yang dengan cepat bertambah banyak itu. Strategi untuk mencari jalan melalui parlemen secara damai dalam rangka mencapai kekuasaan dengan cara membangun keanggotaan massa yang sangat besar sekarang in begitu berhasil, sehingga akan sulit bagi PKI untuk memikirkan jalan yang lain. 28

Hasil-hasil yang dicapai PKI dalam Pemilihan Umum tahun 1955 maupun Pemilihan Umum daerah tahun 1957 diterima sebagai bukti bahwa garis politiknya tepat. Dalam suatu pidato yang dilakukan pada tahun 1957 untuk memperingati ulang tahun ke-40 Revolusi Soviet, Aidit mengulangi lagi bahwa PKI harus belajar dari semua partai sekawan dan harus mempelajari pengalaman Partai Komunis Uni Soviet dan Partai Komunis Cina yang telah merebut kekuasaan pakai kekuatan bersenjata dan juga pengalaman Partai Komunis Prancis serta Partai Komunis Italia yang menggunakan jalan-jalan damai dan parlementer untuk maju. Pembelaan dewan perwakilan, pembelaan demokrasi parlementer pada waktu itu menjadi penting bagi PKI, tidak hanya karena pengaruh garis baru yang berkembang di Soviet dan Kruschef dan yang diterima oleh banyak partai-partai di dunia, teapi terutama karena situasi dalam negeri di Indonesia.29

Ktika Presiden memproklamasikan konsep demokrasi terpimpin, PKI adalah salah satu unsur terkuat yang mendukung konsep tersebut karena PKI belum cukup untuk menentang presiden, akan tetapi para peimpin partai dan musuh-musuh mereka menyadari fakta bahwa dengan seluruh cabang-cabangnya PKI mengontrol dukungan massa yang terbesar dan terorganisir rapi di tanah air. Akibatnya adalah bahwa PKI sudah menjadi semacam pesaing bagi presiden untuk mengambil alih dan menguasai arah demokrasi dan militan untuk mendukung program-program presiden.
Presidenlah yang dengan gigih berkampanye untuk memasukkan PKI kedalam kabinet pascaPemilu dan selalu menegaskan bahwa ia tidak akan menunggangi µkuda berkaki tiga¶, yaitu sebuah pemerintahan yang hanya mewakili tiga dari empat pemenang utama Pemilu, yaitu PNI, Masyumi dan NU. Presiden selalu saja membela PKI setiap kali PKI mendapat serangan. Oleh karena itu, larangan-larangan
28 29

M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Gajah Mada University Press, 1991, hlm. 374²375. Jacques Leclenc, Loc. Cit.

26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Angkatan Bersenjata terhadap aktivis-aktivis PKI atau kelompok-kelompk front mereka salalu diimbangi dengan tuduhan komunis²phobia dari presiden.

Dalam usaha untuk mempertahankan langkah dalam kerangka kerja yang sulit dan rumit yang dibuat oleh Presiden, PKI telah menyadari kekurangan mereka dalam hal kekuatan militer. Gagalnya dalam upaya untuk meningkatkan pengaruh melalui dukungan militer. PKI kemudian mencurahkan perhatian untuk membangun dukungan dari petani. Sejak tahun 1959, PKI bersemangat sekali berkampanye reformasi tanah, menyerang µkondisi petani yang mengenaskan¶ dan praktek-praktek µfeodal¶ yang masih berlangsung di desa-desa. Pada bulan Oktober 1959, wakil-wakil BTI dalam parlemen agar para buruh tani melalui µperjuangan yang tak kenal lelah¶ organisasi ini, para buruh tani di beberapa daerah berhasil mendapatkan 70-80 persen hasil panen. Pada bulan berikutnya, parlemen mengesahkan sebuah rancangan Undang-undang yang mengatur pembagian hasil panen sebesar 50-50 persen, sedangkan biaya produksi yang meliputi bibit dan pupuk ditangung oleh pemilik tanah.

PKI juga mengalami beebrapa persoalan internal dan kesulitan-kesulitan yang diperparah oleh perselisihan di dalam blok komunis. PKI pada waktu itu menghadapi masalah yang lazim bagi sebuah partai komunis yang mengidentifikasi dirinya dengan slogan-slogan nasionalis rezim yang sedang berkuasa. Besarnya anggota PKI, baik di dalam tubuh partai maupun di dalam sejumlah cabangnya, diperoleh melalui kombinasi antara janji-janji, serangan-serangan yang menuduh partai lain sebagai penyebab korupsi dan bencana yang menimpa negeri ini sejak kemerdekaan, serta sokongan penuh oleh slogan-slogan nasionalisme radikal yang dipopulerkan oleh presiden.

Dengan program yang direncanakan untuk menarik dukungan massa ini, PKI tidak sekadar berdiri tapi juga berkembang dengan pesat. Namun, seperti halnya para politisi lain, bagi orang-orang komunis juga tiba masa pembalasan. Suatu janji-janji mereka harus dipenuhi. Pada saat itulah, PKI akan menghadapi ketidakpuasan dan keresahan di tengah-tengah para pendukungannya.

Ada bukti-bukti kuat bahwa selama beberapa tahun, terdapat pertikaian di kalangan elite partai. Usahausaha ketua Aidit untuk mengontrol semangat revolusioner sayap kiri partai yang dipimpin oleh Lukman dan Sudisman pada tahun 1961 tampaknya berhasil. Namun ketika perpecahan antara Moskow dan Peking bertambah besar, Aidit mulai mencemaskan perlunya mempertahankan kesatuan di dalam tubuh partai. Mendesaknya keinginan untuk mengembalikan keutuhan partai di dalam negeri dalam beberapa tahun ini tercermin dalam usaha-usaha para pemimpin PKI untuk menyembuhkan putusnya hubungan antara Moskow dan Peking. Usaha-usaha ini tercermin dalam seruan-seruan untuk bersatu dalam gerakangerakan komunis Indonesia yang dibuat oleh Aidit, Nyoto dan kawan-kawan sefaksi lainnya. Pada saat yang sama, untuk menjawab tekanan yang dilakukan oleh sayap kiri partai, Aidit meningkatkan kampanye publiknya terhadap Angkatan Bersenjata terutama pembatasan-pembatasan yang dipaksakan Angkatan Bersenjata atas aktivitas organisasi-oeganisasi front PKI. 27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Namun betapa besarnya tekanan yang didesakan oleh sayap kiri partai, Aidit yang faksinya masih dominan, jelas-jelas tidak beminat meninggalkan strateginya untuk mengumpulkan kekuatan dengan cara damai. Dengan demikian, untuk mendapatkan pandangan yang lengkap mengenai posisi relatif PKI dalam demokrasi terpimpin, mau tidak mau kita harus melihat pula istana dan Presiden Soekarno.

Hubungan Presiden dengan PKI adalah salah satu yang paling rumit dan ruwet dari segala macam manuver politik. Dari kutipan-kutipan tulisan Soekarno dan pidato-pidatonya, terbukti bahwa kekuatan dan latar belakang intelektual Soekarno lebih banyak dibentuk oeh berbagai sumber sosialis dan menunjukkan minatnya yang besar terhadap pemikiran-pemikiran yang berbau marxisme-leninisme. Akan tetapi, juga ada bukti dari perilaku politiknya selama beberapa tahun bahwa komitmen terbesar Presiden adalah pandangan-pandangan nasionalisnya.

Ini barangkali bisa menjelaskan mengapa meskipun terjadi Insiden Madiun, presiden tampaknya mengganggap bahwa bersama dengan orang-orang komunis dan orang Indonesia lainnya, nasionalisme harus didahulukan, dan bahwa ideologi apapun yang mengganti cita-cita nasionalis harus diabaikan. Atau mungkin juga, Soekarno tidak pernah menganggap PKI tidak memiliki peluang yang lebih besar daripada kelompok-kelompok politik lainya untuk mendapatkan kedudukan yang bisa menentang wibawa presiden. Apapun alasannya, ketika PKI mulai menabuh genderang perang untuk merebut kekuasaan, Soekarno memilih untuk tidak melawan kekuatan komunis tersebut.30

Kalau Partai Komunis Indonesia mau sampai berkuasa, jelas ini akan meminta kemampuannya untuk mengatasi sejumlah besar rintangan, PKI masih terlalu lemah di luar Jawa. Nampaknya juga belum memiliki pijakan kuat di dalam Angkatan Bersenjata. Sedangkan kebanyakan dari mereka juga mempunyai kedudukan, kekuasaan dan hak-hak istimewa, baik militer maupun sipil, secara pribadi menganggap PKI sebagai ancaman penting bagi diri mereka. Satu pola umum percakapan dengan para petinggi pemerintah, ialah semakin terbuka kekuatan dan muncul keterus-terangan semakin jelas mengungkapkan sikap antikomunis. Sifat-sifat yang sama mengenai kejujuran, kegigihan, semangat dan kelekatannya kepada rakyat yang telah menyebabkan PKI dikagumi tetapi sekaligus dicemburi, ternyata ditakuti oleh banyak kalangan yang memiliki hak-hak istimewa.

Sesungguhnya ada suatu sifat khas tersendiri mengenai partai itu, yang tidak dapat dihalangi semboyansemboyan persatuan Nasakom yang sering diucapkan. Pada pemimpinnya, pusat dan daerah, pada umumnya orang-orang yang datang dari lapisan sosial yang rendah dibandingkan dibandingkan dengan para pemimpin kelompok politik lainnya yang kesetiaan mereka kepada organisasinya telah mengerem kecenderungan menjadi bagan dari µkelas baru¶ yaitu dunia sosial budaya elite politisi.
30

Jeanne S. Mintz, Op. Cit., hlm. 283²291.

28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Memang inilah yang mejadi kekuasaan komunis dalam jangka panjang, akan tetapi dalam situasi dekat ini justru inilah yang memperkuat kecurigaan kelompok-kelompok lain terhadap mereka dan menjadikannya sukar untuk infiltrasi partai-partai lain. Ketakutan orang terhadap mereka itu barangkali semakin menjadi besar karena kaum yang memiliki hak-hak istmewa itu telah bertambah takut lagi kepada massa, misalnya sebagai akibat kesaksiannya terhadap bagaimana rumah-rumah terbakar gara-gara kerusuhan anti-Cina atau anti-Inggris. Dan tidak ada petunjuk bahwa ketakutan itu membawa mereka pada sikap µjika kamu tidak dapat megalahkannya maka ikutlah mereka¶.

Karena alasan-alasan ini semua, maka setelah Presiden Soekarno tidak ada, kemungkinan PKI akan mengalami masa yang sukar, tentara akan muncul sebagai kekuatan politik yang dominan dan memperlakukan PKI sebagai musuh. Akan tetapi, jikalau kecenderungan ke kiri sekarang ini berlarut terus, bila terjadi peristiwa yang berlainan, dalam kata-kata Aidit: ³Bilamana dengan kita berhasil menyelesaikan tahap pertema revolusi kita dapat menmpuh jalan musyawarah dengan unsur-unsur progresif lainnya di dalam masyarakat kita dan tanpa suatu perjuangan bersenjata, maka akan membawa negara kita menuju revolusi sosialis. Pengaruh yang menghukum (dari tahap revolusi ini) akan mempertahankan semacam tekanan revolusioner terhadap kaum kapitalis nasional Indonesia. Tidak ada perjuangan bersenjata kecuali apabila terjadi intervensi bersenjata dari luar yang mewakili kepentingankepentingan kapitalis dan bilamana kita merampungkan dengan sukses revolusi nasional demokrasi kita sekarang ini, maka peluang bagi suatu intervensi kekuatan asing terhadap dalam negeri Indonesia menjadi sedikit sekali.31

Politik Demorasi Terpimpin masih terus bergeser ke arah nasionalisme kiri yang lebih radikal. Soekarno masih tetap tak tersaingi dalam kedudukanya di puncak struktur kekuasaan, sementara Angkatan Darat mendapatkan dirinya makin terkepung oleh Partai Komunis yang lebih galak. Dalam waktu yang bersamaan, pengaruh terus menerus meluas. Orang-orang komunis belum memiliki kedudukan yang penting dalam kabinet, tetapi mungkin pula, dalam keadaan di mana bidang ekonomi sedang mengalami perkembangan menuju bencana, PKI tidak lagi begitu bernafsu untuk ikut memikul tanggung jawab atas kebijaksanaan pemerintah. Hanya saja PKI makin sering memprakarsai kebijakan, dan dalam banyak hal, Soekarno yang tampaknya sedang kehabisan gagasan pada akhirnya tak dapat berbuat lain kecuali hanya menyetujui kebijaksanaan yang diprakarsai PKI itu. Jelas berlebih-lebihan untuk mengatakan bahwa orang komunis menguasai presiden, tetapi mereka memuji-mujinya, menyenangkan hatinya, dan dengancara itu mereka mempengaruhinya.

Pada umumnya PKI mendapatkan perhatian presiden. Daya tariknya bagi massa tak disangsikan lagi terus bertambah sementara situasi ekonomi menjadi semakin buruk. Partai itu bebas untuk berbicara dengan terus terang dan untuk beragitasi tanpa merasa takut terhadap tentara. Tetapi, partai itu juga menjadi

31

Herbert Feith. Soekarno ± Militer Dalam Demokrasi Terpimpin. Jakarta: Sinar Harapan, 1995, hlm. 148²150.

29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda militan. Anggota-anggota kader yang maih muda menghendaki tindakan. Petugas-petugas BTI mendesak agar diambil tindakan untuk dilaksanakan undang-undang Land Reform yang telah disetuji dalam 1960 dan telah ditentang oleh pemilik tanah dan pejabat-pejabat. Timbul keresahan dalam partai, yang ditimbulkan oleh kaum doktriner marxis yang mempertanyakan kebijakan Aidit mengenai kerja sama dengan borjuis nasional yang mengancam apa yang mereka anggap sebagai suatu perkembangan ke arah ³pemborjuisan´ dalam puncak pimpinan PKI. Dengan demikian pada awal 1964 PKI tampaknya sudah siap untuk suatu upaya yang lebih radikal dan lebih tegas guna ³melancarkan ofensif revolusioner´ termasuk pembantaian lawan-lawannya, sipil maupun militer, dan untuk mendorong kebijaksanaan dan politik Indonesia lebih ke kiri lagi.32

Sepanjang tahun 1965 situasi politik terpolarisasi lebih daripada sebelumnya karena Presiden Soekarno terang-terangan telah menyatakan berpihak pada PKI melawan pemimpin Angkatan Darat, sementara aksi-aksi PKI berangsur-angsur makin ditunjukan kepada Angkatan Darat sendiri, dan bukan hanya sekutu-sekutu Angkatan Darat. Walaupun pemimpin angkatan ini tetap yakin bahwa kekuatan militer yang besar pada mereka dapat menjamin PKI tidak akan bertindak leluasa, namun mereka mulai²khususnya sejak Mei 1965²mempertimbangankan langkahlangkah yang lebih giat yang akan dilakukan untuk melindungi kedudukan mereka. Ketika pengaruh PKI semakin besar di bawah µselimut¶ yang disediakan presiden, para pemimpin Angkatan Darat berpendapat bahwa mereka terpaksa menilai kembali hubungan mereka dengan presiden. Bila Angkatan Darat tidak bertindak terhadap presiden dan ia tetap memberikan dorongan kepada PKI, bagi beberapa perwira ini berarti bahwa kemajuan PKI akan terus berlangsung tanpa batas. Jadi, kalangan Angkatan Darat sependapat bahwa mereka harus berbuat sesuatu, sekalipun itu berarti perpecahan terbuka dengan Soekarno. Sungguhpun PKI mengalami kemajuan-kemajuan besar bahkan luar biasa sejak tahun 1963, khususnya dalam mempengaruhi perumusan-perumusan ideologi Soekarno, kedudukan partai ini masih jauh dari aman. Iklim ideologis di mana percaturan ini berlangsung mengalami banyak perubahan karena Soekarno mengambil sikap dan kebijakan sejalan dengan yang disuarakan PKI. Persamaan pandangan antara presiden dan partai ini menyebabkan anti-komunisme di dalam negeri tampak sebagai suatu sikap yang tidak setia. Namun demikian kemajuan PKI masih terbatas. Terlepas dari kampanye Nasakomisasi di segala bidang, PKI tidak mempunyai dukungan yang dapat diandalkan di kalangan birokrasi pemerintah dan karena Angkatan Darat kompak melawan partai ini, kekuatannya hanyalah massa dapat disuruh berdemokrasi tetapi bukan melakukan perlawanan bersenjata. Karena sangat tergantung pada kemauan baik presiden, PKI harus berlomba dengan waktu.
Selagi Soekarno masih hidup, PKI berniat menanam pengaruh Angkatan Darat di dalam birokrasi pemerintahan. Jika partai mempunyai kekuatan di dalam kabinet dan mendapatkan bagian dari kedudukan-kedudukan penting dalam pemerintahan daerah, PKI dapat berharap akan mendapatkan pengesahan dan kekuasaan untuk memaksa Angkatan Darat menerimanya sebagai rekan setara di masa
32

Ulf Sundhaussen. Politik Militer Indonesia 1945²1967; Menuju Dwi Fungsi ABRI. Jakarta: LP3ES, 1986, hlm. 314²319.

30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda depan. Akan tetapi, sampai bulan September 1965 tujuan tersebut masih jauh dari jangkauan dan lebih sulit lagi, tindakan-tindakan PKI yang ofensif sejak tahun 1963 telah menjadikan lawan-lawannya waspada, tidak hanya di kalangan Angkatan Darat tetapi juga NU dan PNI, khususnya di daerah pedesaan.

Di tengah berlangsungnya antara Presiden dan pemimpin Angkatan Darat ke-5 (yang dipersenjatai) dan kehidupan ekonomi sedang menuju kehancuran, sementara tampak membesarkannya kemungkinan terjadi dua kekuatan. Dalam situasi ini, pagi hari tanggal 4 Agustus Soekarno muntah dan pingsan sewaktu menerima delegasi yang diumumkan bahwa presiden mulai menerima delegasi yang dipimpin Brigadir Jenderal Djuhartono dari sekretariat bersama Golongan Karya (Sekber-Golkar). Tidak lama kemudian diumumkan bahwa presiden µmulai memusatkan perhatian pada pidato 17 Agustus¶ dan karena itu menghentikan kegiatan-kegiatan lainnya. Walupun Soekarno sukup cepat membaik sehingga dapat menyampaikan pidato pada peringatan hari kemerdekaan 13 hari kemudian, peristiwa jatuh pingsannya itu menyadarkan perang bahwa ia tidaklah abadi.

Bulan-bulan berikutnya suasana politik menjadi sangat tegang. Di tengah-tengah ketidakpastian mengenai kesehatan presiden dan berbagai desas-desus tentang kudeta, Angkatan Bersenjata menyiapkan perayaan Hari Angkatan Bersenjata secara besar-besaran pada tanggal 5 Oktober untuk menandingi perayaan ulang tahun PKI yang dirayakan secara luar biasa pada bulan Mei sebelumnya. Ketika 20.000 anggota dipusatkan di Jakarta terasa bahwa µsesuatu akan terjadi¶. Menurut seorang ahli politik Amerika yang berada di Jakarta ketika itu, ³Wawancara yang saya catat dan pengalaman secara umum pada tanggal 1 Oktober bahwa tidak seorang pun merasa terkejut atas kejadian yang disingkapkan kepada umum di pagi hari itu.´33

Selesai siaran warta berita radio jam tujuh pagi tanggal 1 Oktober 1965, dibacakan sebuah pengumuman khusus yang menyatakan bahwa terjadi suatu gerakan militer dalam tubuh Angkatan Darat dibantu oleh satuan-satuan dari unsur Angkatan Bersenjata lainnya. Disebut bahwa µGerakan 30 September µ yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, komandan Batalyon Tjakrabirawa yang mengawal istana telah menawan anggota Dewan Jenderal yang dikatakan disponsori CIA, yang semenjak sakitnya presiden pada awal Agustus telah menunjukkan kegiatan yang luar biasa. Pernyataan tersebut mengemukakan bahwa Dewan Jenderal telah membawa pasukan-pasukan dari Jawa Barat, Tengah dan Timur ke Jakarta untuk melakukan kudeta sekitar 5 Oktober, Hari Angkatan Bersenjata. Para Jenderal dituduh gila kekuasaan, mengabaikan kesejahteraan paskan mereka, hidup dalam kemewahan di atas penderitaan rakyatnya, merendahkan wanita dan menghambur-hamburkan uang negara. Gerakan 30 September mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kudeta seperti itu. Jadi gerakan ini adalah suatu gerakan yang murni dan intern Angkatan Darat yang ditujukan untuk melawan Dewan Jenderal. Presiden Soekarno ada dalam keadaan selamat di bawah perlindungan Gerakan 30 September dan akan dibentuk suatu Dewan Revolusi yang akan melaksankan kebijakan-kebijakan Presiden Soekarno.
33

Harlod Crouch. Militer dan Politik Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan, 1986, hlm. 98²101.

31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Pengumuman itu diikuti penyiaran dekret pada jam 11 pagi yang menyatakan bahwa seluruh kekuasaan dalam wilyah Republik Indonesia telah dialihkan kepada suatu Dewan Revolusi yang akan memegang pemerintahan sampai Pemilihan Umum dapat diselenggarakan. Sementara itu kabinet dinyatakan berada dalam keadaan demisioner, yang berarti bahwa para menteri hanya diperkenankan melakukan kegiatankegiatan rutin. Jam dua siang, keputusan dari gerakan itu disiarkan. Yang pertama berisi pengumuman nama-nama 45 orang Anggota Pusat Dewan Revolusi. Presidium terdiri dari Untung sebagai ketua, dengan Supardjo, Heru Atmodjo, Sunardi dan Anwas sebagai wakil-wakil ketua. Di antara para anggota dewan itu terdapat 22 perwira tinggi Angkatan Bersenjata. Dua dari tiga wakil perdana menteri (Subandrio dan Leimena, tatapi Chaerul Saleh tidak masuk), juga partai-partai besar terwakili, di antaranya tiga dari PKI. Nama yang paling mencolok kerana tidak termasuk daftar itu adalah nama Presiden Soekarno. Keputusan kedua yang diumumkan adalah bahwa semua pangkat kemiliteran di atas Letnan Kolonel dihapus dan para perwira serta sipil yang melibatkan diri ke dalam gerakan tersebut akan dipromosikan.

Sore harinya disiarkan melaui radio perintah harian Panglima Angkatan Udara, Omar Dhani. Dalam perintah tersebut I menunjuk pada Gerakan 30 September yang telah ³melindungi dan menjaga revolusi serta Pemimpin Besar dari subversi CIA denganjalan melakukan µsuatu pembersihan di kalangan angkatan Darat¶´. Ia menyatakan bahwa Angkatan Udara telah dan selalu mendukung seluruh gerakan yang progresif revolusioner.

Akhirnya, sekitar jam 9, Mayor Jenderal Soeharto, Komandan Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) menyampaikan pidato singkat di radio dan mengatakan bahwa suatu gerakan kontrarevolusioner telah menahan enam jenderal termasuk panglima Angkatan Darat, Letnan jendeal A. Yani. Ia menguraikan pembentukan Dewan Revolusi sebagai suatu kudeta melawan Presiden Soekarno dan mengumumkan bahwa ia telah mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat, dan telah dicapai pengertian bersama antara Angkatan Darat dan Kepolisian untuk menghancurkan Gerakan 30 September. Dinyatakan bahwa sekarang situasi telah berhasil kita kuasai, baik di pusat maupun di daerah-derah, dan bahwa Angkatan Darat bersatu.

Ke enam Jenderal yang disebut Soeharto telah diambil dari rumah mereka masing oleh sekelompok kecil tentara melalui penyergapan di pagi buta. Mereka adalah Letnan Jenderal A. Yani (Menteri Panglima Angkatan Darat), Mayor Jenderal Suprapto (Deputi Kedua), Mayor Jenderal Haryono MT (Asisten I), Brigader Jenderal D.I. Pandjaitan (Asisten IV), dan Brigadir Jenderal Sutojo Siswomihardjo (Oditur Jenderal Angkatan Darat). Tentara yang melakukan penyergapan itu mengatakan kepada para Jenderal bahwa mereka dipanggil menghadap ke Istana Presiden. Hampir semua Jenderal itu menyangkal kebenarannya, tetapi masing-masing diringkus dan diseret keluar ke truk atau jip yang telah menunggu. Dalam proses tersebut, tiga orang (A. Yani, Haryono dan Pandjaitan) terbunuh, baik oleh peluru atau banyonet, sedang yang lainnya dibawa hidup-hidup. Rumah Jenderal Naution juga disergap, tetapi dia 32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda berhasil meloloskan diri melalui tembok rumah kediamannya dan masuk ke pekarangan Duta Besar Irak yang tinggal bersebelahan. Dalam penyergapan di sini, anak perempuan Nasution berusia lima tahun luka parah mereka juga mengkap salah seorang ajudan Nasution, Letnan Satu Piere Tandean, yang tinggal di rumah Nasution, dan membawanya, bukan Nasution. Ke enam Jenderal dan Letnan itu dibawa ke suatu daerah yang disebut dengan Lubang Buaya di wilayah dekat Pangkalan Udara Halim di pinggiran Jakarta. Di situ, yang masih hidup di bunuh dan semuanya dijebloskan ke dalam sebuah sumur yang tidak digunakan lagi. Sementara itu dua batalyon masing-masing berkekuatan 1000 orang telah ditempatkan di Lapangan Merdeka. Mereka adalah para anggota dari batalyon 545 Jawa Tengah dan Batalyon 530 Jawa Timur. Kehadiran mereka di Jakarta adalah untuk mengikuti perayaan Hari Angkatan Bersenjata tanggal 5 Oktober, tetapi para komandan mereka telah sepakat mendukung Gerakan 30 September. Dengan menempatkan diri di lapangan Merdeka, mereka berada dalam posisi siap menguasai Istana Presiden di sebelah selatan. Dari Markas Besar Kostrad, lapangan itu dapat terlihat dari timur.

Markas pertama Gerakan 30 September dalam Gedung Aerial Survey (Pengawasan Udara) pangkalan Halim, kemudian dalam rumah seorang perwira menegah Angkatan Udara. Di tempat lain sekitar pangkalan itu bermukim Aidit. Sesaat setelah jam 9 pagi, Presiden Soekarno (yang tidak mengetahui apa yang terjadi) ti ba dipangkalan dan disambut oleh Pangima Angkatan Udara Omar Dhani yang juga menginap di situ. Soekarno sepanjang siang berada di sna, di rumah seorang perwira tinggi Angkatan Udara.

Perlawanan terhadap Gerakan 30 September dipusatkan di Markas Besar Kostrad di mana Soeharto adalah panglimanya. Pada siang itu ia berhasil membujuk satu dari batalyon-batalyon yang ada di lapangan. Mereka untuk bergabung dengannya, tetapi yang lainnya menuju ke Halim. Sore harinya Soeharto menyampaikan ultimatum ke Halim yang mengakibatkan pangkalan yang pada pagi hari berikutnya dapat dikuasai oleh Soeharto.34

Alasan yang sebenarnnya bagi Gerakan 30 September itu sesungguhnya cukup jelas, dan terkandung di dalam pernyataan Untung. Terlepas dari satu kalimat pada akhir pengumumannya yang pertama melalui radio, kalimat yang mengacu kepada para jenderal yang menelantarkan nasib prajurit, serta kepada gaya hidup mereka yang mewah dan berfoya-foya, Untung dengan jelas mengatakan bahwa gerakannya bertindak terhadap alasan mereka karena alasan-alasan politik dalam negeri. Dikatakannya, bahwa perwira-perwira yang ditangkap itu telah membentuk sebuah Dewan Jenderal yang bertujuan mengulingkan Soekarno dan pemerintahaanya dengan bantuan CIA, dan mereka ditangkap untuk menyelamatkan presiden dan Revolusi Indonesia.

Tetapi, apakah memang ada Dewan Jenderal? dan jika ada, apa tujuannya, dan siapakah yang telah menyampaikan informasi itu kepada perwira-perwira di sekitar Untung dan dengan demikian menghasut
34

Ibid, hlm. 108²111.

33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mereka untuk menangkapi, dan kemudian membunuh orang-orang yang dituduh menjadi anggota dewan itu?

Cerita tentang Dewan Jenderal yang merencanakan untuk menggulingkan pemerintahan telah diinjeksikan ke dalam pasar kabar angin di Jakarta sekitar bulan Maret dan April 1965. Cerita itu memang bisa diterima di tengah-tengah sedang meningkatnya ketegangan di dalam rangka µofensif revolusioner¶ yang sedang dilancarkan PKI, adanya ancaman dari golongan Islam untuk melancarkan jihad terhadap komunis, dan tuduhan serta institusi terselimut dari pihak istana, seperti upaya Subandrio untuk menghubung-hubungkan BPS dan Partai Murba dengan CIA. Pertanyaan tetang siapa yang sebenarnya telah mengarang cerita itu agak sulit untuk dijawab.

Dalam pembelaannya yang terakhir di hadapan sebuah pangadilan militer, Nyono, tokoh PKI yang memimpin pemuda-pemuda komunis dilatih di Pangkalan Udara Halim, mengatakan pada tanggal 19 Februari 1966 bahwa keyakinannya sendiri mengenai adanya Dewan Jenderal itu didasarkan atas informasi yang diperoleh dari BPI, organisasi intel yang dipimpin Subandrio, dari sumber-sumber intel Angkatan Darat, dan pihak Kejaksaan. Juga Aidit dikabarkan telah menerima informasinya terutama dari Brigadir Jenderal Polisi Soetanto, kepala Staf BPI. Sementara Subandrio, di dalam sidang pengadilan yang memeriksanya menerangkan bahwa dalam bulan Mei BPI telah menerima informasi mengenai Dewan Jeneral itu dari anggota PKI dan CGMI. Mengingat cara beroperasinya kabar angin itu, maka yang tampaknya merupakan suatu proses saling mempengaruhi dengan bahan informasi itu memang masuk akal dan bukan sesuatu yang tidak konsisten. Yang bisa dikatakan dengan pasti adalah bahwa Soekarno, Subandrio, dan PKI telah mengangkat suatu desas-desus yang boleh dikatakan samar-samar ke tingkat suatu persoalan yang dibicarakan secara umum.

Dalam situasi yang semacam ini, Subandrio pada tanggal 26 Mei memperlihatkan sebuah dokumen kepada Soekarno yang kemudian dikenal sebagai µSurat Gilchrust¶. Dokumen itu, sebuah konsep telegram yang diketik dari Duta Besar Inggris dan Dubes Amerika Serikat, dan bahwa ³kawan-kawan kita dari tentara setempat´ juga terlibat di dalamnya. Konsep itu diketik di atas kertas yang biasa digunakan kedutaan Besar Inggris dan tertanggal 24 Mei 1965.

Kemudian Soekarno memanggil semua panglima angkatan ke istana. Pertemuan itu dihadir oleh Ahmad Yani, Panglima Angkatan Laut Martadinata, Kepala Kepolisian Sutjipto, dan Sri Muljono yang mewakili Omar Dhani yang pada saat itu sedang berada di Cina, dan Subandrio. Soekarno bertanya kepada Yani apakah ada di antara para pembantunya yang mempunyai kontak dengan Kedutaan Besar Inggris dan Amerika Serikat. Yani kabarnya telah menjawab bahwa Sukendero dan Parman memang sedang mengumpulkan informasi dari kedutaan-kedutaan itu, dan Haryono, terus menerus mengadakan kontak dengan perusahaan minyak asing. Ditanya mengenai ada tidaknya µDewan Revolusi¶ Yani mengatakan bahwa memang ada sebuah badan yang sering diberi nama itu akan tetapi namanya yang sebenarnya 34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda adalah Dewan Jabatan dan Pangkatan Perwira Tertinggi (Wanjabati) dan bahwa fungsinya semata-mata untuk bermusyawarah mengenai kenaikan pangkat, dan penugasan para jenderal dan kolonel penuh.

Kemudian Subandrio dengan segera memberi laporan kepada PKI mengenai pertemuan di istana itu, dan pada hari itu juga mengatakan di hadapan anggota-anggota PKI bahwa presdien sekarang sudah mempunyai bahan bukti tentang adanya suatu ³gerakan kontra revolusioner´. Soekarno telah mengambil langkah lebih jauh dalam menafsirkan Surat Gilchrist ini. Kepada suatu rapat para panglima tentara tanggal 28 Mei bahwa sudah memiliki bukti-bukti yang menyatakan bahwa Nekolim merencanakan untuk membunuh dia, Subandrio dan Yani. Apabila rencana itu gagal, mereka akan menyerang Indonesia, dengan bantuan µkaki tangan mereka setempat¶. Peryataan-pernyataan Soekarno dan Subandrio telah jadi bisa menghilangkan setiap keragu-raguan yang mungkin masih terdapat pada orang-orang komunis mengenai kemungkinan akan dilancarkannya kudeta dengan Dewan Jenderal. Dengan demikian maka yang akan memperingati publik²dan Untung²tentang adanya suatu Dewan Jenderal dan Rencanarencana untuk melancarkan kudeta, adalah PKI yang bekerja sama dengan Subandrio dan BPI, dan Presiden.

Dalam 1966/1967 Brigjen Sukendro menerangkan kepada siapa saja yang mau mendengarkannya bahwa memang benar ada suatu Dewan Jenderal, yang terdiri dari ke enam Jenderal yang dibunuh dan dia sendiri, tetapi tidak mengikutsertakan Nasution. Ia sendiri dapat lolos dari aksi Gerakan 30 September itu hanya karena dia kebetulan sedang berada di Cina pada tanggal 1 Oktober. Menurut Sukendro, Dewan Jenderal bersidang untuk mengevaluasi perkembangan politik tetapi tidak pernah membicarakan rencana kudeta terhadap Soekarno. Sukendro dalam 1967 pernah ditahan untuk beberapa lama, kabarnya untuk menegahnya µdesas-desus¶ tetang adanya suatu Dewan Jenderal.

Mengingat tidak ada bahan-bahan bukti tentang adanya suatu kudeta dari pihak Dewan Jenderal seperti yang dikatakan Soekarno, Subandrio, dan Aidit, dalam pertayaan-pertanyaan mereka di muka umum maka masuk akan kiranya untuk mengandalkan bahwa Untung dan pembantu-pembantunya telah diberi lebih banyak bukti, dan telah dihasut sebelum mereka melancarkan gerakan mereka yang luar biasa dan sangat berbahaya itu. Tuduhan Angkatan Darat bahwa PKI sebagai biang keladi yang menghasut kudeta Untung mengandung kelemahan. Penangkapan dan pembunuhan terhadap para Jenderal itu merupakan suatu tindakan yang memang mungkin dilaksanakan dan bisa saja direncanakan atau disetujui pimpinan PKI, operasi tindak lanjutnya tak menunjukkan adanya pengarahan dari orang-orang politik yang sudah berpengalaman seperti Aidit, penculikan para Jenderal seharusnya disusul oleh tindakan politik yang cepat yang harus memperoleh persetujuan²jika bukan partisipasi aktif dari presiden. Akan tetapi, selain dekret mengenai pembentukan Dewan Revolusi, tidak ada tindakan politik yang demikian itu. Selain itu, membuat pengumuman yang menyatakan bahwa seluruh wewenang berada di tangan Dewan Revolusi dengan mengesampingkan Soekarno merupakan suatu kesalahan yang sangat besar yang kiranya mungkin, tak mungkin direncanakan atau disetujui Aidit. Bahwa PKI bagaimanapun sangat terlibat dalam petualangan Untung itu tak dapat disangsikan lagi, namun tak mungkin ia telah memainkan peran yang 35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dominan di dalam komplotan tersebut, dan kita harus menarik kesimpulan bahwa perwira-perwira di sekitar Untung jauh lebih mandiri terhadap orang-orang komunis yang ikut berkomplot.35

Penyelesaian akibat-akibat seluruhnya dari percobaan kudeta itu berlangsung berbulan-bulan, penentangan terbuka dari Soeharto terhadap Soekarno menandakan suatu pergeseran yang kritis dalam keseimbangan politik Indonesia. Hancurnya sistem demokrasi terpimpin telah dapat dibayangkan pada tanggal 1 Oktober 1965 ketika Soeharto yang didukung oleh para jenderal senior yang lain tidak sejalan dengan pandangan-pandangan presiden, tetapi baru pada minggu-mingu berikutnya dalam bulan itu imbangan kekuasaan yang lama tak tertolong lagi, sehingga terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap para pendukung komunisme. Lenyapnya PKI, salah satu kekuatan politik yang efektif dalam tiga bulan terkahir tahun 1965, mengabitkan tinggal hanyalah Soekarno dan kepemimpinan Angkatan Darat sebagai dua pusat kekuatan yang saling bersaing.

Tidak jelas apakah para pemimpin Angkatan Darat memang bermaksud pembunuhan-pembunuhan sesudah kudeta itu harus sampai pada tingkat yang begitu ganas seperti yang dialami di daerah Jawa Timur, Bali dan Aceh, namun tidak dapat diragukan bahwa mereka mengeksploitasi kesempatan yang tersedia oleh percobaan kudeta itu untuk melenyapkan kepemimpinan PKI. Di daerah pedesan di Jawa dan di tempat-tempat lain, para perwira Angkatan Angkatan Darat bekerja sam dengan anggota organisasi sipil non-komunis dalam pembunuhan ratusan aktivis PKI, sehingga partai tersebut kehilangan dukungan dasarnya yaitu massa yang terorganisir. PKI yang diorganisasikan lebih untuk beragitasi daripada berperang, sama sekali tidak berada dalam posisi untuk membela diri terhadap serangan yang didukung oleh Angkatan Darat. Para pemimpinnya bersikap ragu-ragu untuk mendorong mengadakan perlawanan, sedangkan kawan-kawan mereka dalam Angkatan Bersenjata terlau kecil untuk mampu memberikan perlindungan. Sementara Presiden Soekarno di Jakarta berkali-kali agar menyerukan pembunuhan massal di Jawa itu tidak dapat dilanjutkan, pendukung-pendukung terdekatnya di dalam Angkatan Bersenjata dan partai-partai politik tinggal diam.36

Penutup
Pemberontakan 1926/1927 sebenarnya lebih merupakan suatu tindakan putus asa daripada suatu percobanan yang dapat dianggap untuk merebut kekuasaan: ³Kami menganggap adalah lebih baik berjuang daripada mati tanpa bejuang,´ demikian dikatakan oleh salah seoarang pemimpin PKI kemudian kepada komunis Internasional. Pemberontakan itu dengan mudah ditumpas oleh pemerintah, oleh karena organisasi komunis pada waktu itu sudah begitu dilemahkan oleh tindakan polisi dan tekanan-tekanan anarkis sehingga pemberontakan itu terkoordinasi dan hanya lokal sifatnya. Namun demikian, ia
35 36

Ulf Sundhaussen, Op. Cit., hlm. 349²358. Harlord Crouch, Op. Cit., hlm. 151²152.

36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda merupakan bukti betapa meluas dan mendalamnya rasa tidak puas orang Indonesia. Akan tetapi, pemerintah tidak menanggapi peringatan itu dengan perubahan. Malahan, sebagai pencerminan dari suasana reaksioner waktu itu, dilakukannya penindasan secara besar-besaran. PKI hancur dalam proses tersebut; sebuah kamp konsentrasi diadakan di sebuah daerah terpencil di Irian barat, Boven Digul, dan banyak kaum pemberontakan dan kader-kader komunis pemberontak dan kader-kader komunis mengakhiri hidup mereka di sana.37

Pemberontakan-pemberontakan yang gagal tersebut telah menimbulkan sejumlah akibat bagi gerakan nasional. Pertama, kelihatan bahwa pemberontakan dengan kekerasan semacam itu ada gunanya, karena dengan mudah dapat ditekan oleh kekuatan Belanda yang lebih unggul. Kedua, menyingkirkan kaum komunis dari arena politik sampai berakhirnya masa penjajahan Belanda. Ketiga, kaum nasionalis menjadi sadar akan kelemahan-kelemahan organisatoris tidak hanya dari PKI, tetapi juga dari semua organisasi nasionalis dan juga akan perluanya menciptakan suatu organisasi yang rapi dan berdisiplin. Dan yang terakhir, dan yang paling penting, dengan disingkirkan PKI timbul suatu kekorsaongan dalam gerakan nasionalis; gerakan ini memerlukan pengarahan dan pimpinan baik dari sisa-sisa organisasi yang ada maupun dari pembentukan partai-partai yang baru.38

Tetapi peristiwa ini menjadi titik tolak yang paling penting dalam riwayat hidup Soekarno. Merosotnya Sarekat Islam dan ditumpasnya PKI oleh Belanda, telah meratakan jalan bagi suatu gerakaan tipe baru yang didasarkan pada suatu bentuk nasionalisme yang telah padat, dalam pengertian bahwa gerakan nasionalisme itu menyampingkan masalah-masalah sosial dan memusatkan seluruh upaya dan gerakannya pada tujuan tunggal: kemerdekaan nasional.39

Peristiwa Madiun yang terjadi pada tanggal 18 September 1948, paling tepat bila dipahami sebagai suatu krisis internal politik militer, dan suatu kegagalan upaya kaum kiri dalam menguasai jalannya revolusi di Indonesia secara keseluruhan, sesuatu yang sering kali digambarkan dari sudut pandang nasional dan internasional. Pertikaian antara kesatuan-kesatuan yang terdiri dari orang-orang Jawa di daerah pedalaman, yang menuntut tetap dipertahankannya ketentaraan rakyat yang populis, dan komando yang tertinggi, yang senantiasa berusaha menempatkan kesatuan-kesatuan yang ada di lapangan di bawah kontrol pusat secara lebih efektif, adalah permasalahan-permasalahan utama yang terjadi di masa revolusi, yang terjadi sebelum meletusnya peristiwa Madiun kemudian berlanjut pada masa-masa setelah pengakuan kedaulatan.

37

Ruth Mc Vey. ³Permulaan Komunisme di Indonesia´, dalam Colid Wilid dan Peter Carey Cedl. Gelora Revolusi. Sebuah Antologi Sejarah. Jakarta: BBC Seksi Indonesia dan Gramedia, 1986, hlm. 25²31. 38 John Ingelson. Jalan ke Pengasingan; Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927²1934. Jakarta: LP3ES, 1983, hlm. 31 39 John D. Legge. Soekarno Sebuah Biografi Politik. Jakarta: LP3ES, 1985, hlm. 105²106.

37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Sementara itu partai-partai politik, apakah itu beraliran kiri maupun kanan, tetap saja menempati posisi pinggiran dalam percaturan ini, kadang-kadang mereka membentuk aliansi taktis dengan kelompok-kelompok militer, baik pada tingkat nasional maupun tingkat regional, namun tidak pernah benar-benar berada pada posisi yang menentukan aturan main dalam petikaian intramiliter.40
Tetapi peristiwa Madiun itu telah melenyapkan PKI untuk sementara. Fakta bahwa partai ini sedemikian cepat dapat disapu bersih disebabkan sebagian besar kemamuan Soekarno menempatkan dirinya sebagai simbol Persatuan Republik; semuanya adalah satu gambaran lagi tentang kesanggupannya untuk bangkit melawan pemberontakan itu. Tetapi kemelut ini juga mempunyai arti lain bagi dirinya. Pertama, Soekarno tetap menganggap PKI sebagai unsur asli dari revolusi Indonesia dan kutukannya atas pemberontakan itu adalah kutukan terhadap penyimpangan PKI dari jalan yang benar, seperti juga pada tahun 1926 ia mengutuk kaum marxis yang mengkhianati kepentingan persatuan bangsa sebagai µracun masyarakat¶; kedua, ialah telah belajar²atau mengira telah belajar²bahwa kepemimpinannya sudah cukup untuk memungkinkan ia mengedalikan unsur-unsur penting yang membahayakan negara. Pada tahun-tahun kemudian, kepercayaan Soekarno bahwa ia dapat mengatasi setiap tantangan telah membawanya dekat dengan PKI yang sudah diregenerasi dan menuntutnya kembali ke pinggir kekuasaan dengan keyakinan apabila mereka kembali mengancam persatuan nasioanal Indonesia, ia dapat menghantarkannya dengan hanya satu kali perintah.41

Peristiwa G 30 S telah menyebabkan para pemimpin Angkatan Darat mendorong terjadinya pembunuhan massal terhadap para pendukung PKI dan melenyapkan PKI sebagai suatu kekuatan politik. Para pemimpin Angkatan Darat memandang operasi terhadap PKI sebagai suatu taktik untuk mencapai tujuan strategis. Lagi pula perwira lapangan di Jawa terutama datang dari kalangan priyayi, yang cenderung memandang aktivitas PKI memobilisasi kelas-kelas yang lebih rendah sebagai sikap µyang tidak menJawa¶ serta merupakan ancaman terhadap hirarki yang sudah ada yang menempatkan mereka di atas, dekat ke puncak.

Ketika pembunuhan-pembunuhan tetap berjalan, Presiden Soekarno di Jakarta berbicara menentang kejadian-kejadian yamg merupakan µepilog¶ dari Gerakan 30 September 1965. Epilog ini telah mengganggu sukmaku, telah membuatku sedih, membuatku khawatir. Dengan terus terang aku meratap kepada Allah Robbi, bagaimana semua ini dapat terjadi? Alam kesempatan lain, Soekarno berkata, ³Kalau kita melanjutkan keadaan seperti ini, saudara-saudara kita akan masuk ke dalam neraka, benarbenar kita akan masuk.´

Walapun tak perlu diragukan bahwa Soekarno benar-benar ngeri melihat bayangan bangsa yang bersatu diremukkan olah pemandangan di mana orang Indonesia membunuh secara kejam orang-orang Indonesia
40 41

David Charles Anderson, Op. Cit, hlm. 127²128. Jhon D. Legge, Op. Cit, hlm. 267²269.

38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda lainnya, namun ia sadar sepenuhnya akan implikasi politik dari semangat anti PKI itu. Nasakom mempunyai arti yang lebih daripada konsep nasional dengan mengakui peranan integral dari PKI, ini merupakan syarat utama dari sistem politik yang menjadi dasar pemerintahan Soekarno. Dengan bergerak melenyapkan PKI sebagai suatu kekuatan politik, Angkatan Darat juga menumbangkan sistem yang memberikan kekuasaan kepada sistem yang memberikan kekuatan kepada Soekarno. Tanpa adanya PKI untuk mengimbangi kekuasaan Angkatan Darat, maka peran Presiden Soekarno sendiri akan menjadi terbatas.42

Massa demonstran menuntut Presiden Soekarno agar PKI yang dianggap sebagai dalang dari Peristiwa G 30 S dibubarkan. Tetapi dalam pertemuannya dengan delegasi KAMI di Istana Bogor pada tanggal 15 Januari 1966, Soekarno tidak memperdulikan tuntutan mahasiswa untuk melarang PKI.43 Suatu keputusan yang berada di luar prkiraan Soekarno, yang tetap berpendirian PKI sebagai bagian integral dari gagasan Nasakom. Disingkirkan aliran komunis merupakan bukti yang paling meyakinkan bahwa Nasakom tak berjalan dan tidak dapat dilaksanakan.
Ketika MPRS bersidang pada tanggal 20 Juni, sidang memutuskan untuk meningkatkan Surat Perintah 11 Maret menjadi ketetapan MPRS, yang tidak dapat dicabut kembali oleh Presiden Soekarno dan berlaku sampai terbentuknya Majelis yang baru melalui Pemilu. Sidang juga menyetujui pembubaran PKI, melarang marxisme ³dalam segala bentuk dan manifestasinya´, dan membentuk sebuah panitia untuk meninjau kembali ajaran Soekarno. 44 Kendati demikan, dalam pidato 19 Agustus 1966, Presiden Soekarno berpendapat bahwa ³Nasakom atau NASASOS atau Nasa apapun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia.45

Mengenai peristiwa G 30 S, dalam keterangan tertulis (yang dikenal sebagai pelengkap pidato Nawaksara) pada tanggal 19 Januari 1967, sebagai jawaban atas nota pimpinan MPRS, Soekarno menyatakan bahwa:
1. G 30 S adalah satu µcomplete over rompeling¶ bagi dirinya. 2. Dalam Pidato 17 Agustus 1966, Presiden Soekarno telah mengutuk Gestok. 3. Kata Gestok digunakan oleh Soekarno karena pembunuhan kepada jenderal-jenderal dan ajudan dan pengawal terjadi pada 1 Oktober pagi-pagi sekali. 4. Peristiwa G 30 S itu ditimbulkan oleh pertemuannya tiga sebab yaitu kebelinger pemimpin PKI, kelihaian subversi dan adanya oknum-oknum yang tidak benar.46

Harlod Crouch, Op. Cit., hlm. 169²174. John Maxwell. Soe Hok Gie; Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2001, hlm. 177. 44 Ulf Sundhaussen, Op. Cit, hlm 415. 45 Roso Daras. PidatoTterakhir Bung Karno; Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Jakarta: Grasindo, 2001. 46 Suwanto Mulyosudarmo. Peralihan Kekuasaan; Kajian Teoritis dan Yuridis terhadap Pidato Nawaksara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997, hlm. 127²128.
43

42

39
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Bersamaan dengan itu muncul aksi-aksi yang menuntut agar Soekarno ditangkap dan diadili di hadapan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) karena telah mendalangi Gestapu. Selain itu brisan anggota parlemen yang mengikat diri dengan Orde Baru menyatakan keresahan mengenai peran Soekarno dalam peristiwa 30 September. Mereka menuntut agar Soekarno dipecat dari jabatannya dan dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku. Tetapi tuntutan mengadili Soekanro, seandainya para penyelidik militer berhasil mengumpulkan bahan bukti yang cukup menunjukkan keterlibatan Soekarno dalam kudeta Untung, Presiden Soekarno, atas pertimbangan-pertimbangan politik dan pertimbangan negara tidak dapat diadili; penangkapan atas diri Soekarno tidak saja menyebabkan para pendukunganya bersatu untuk membelanya, tetapi tidakan itu juga akan menimbulkan kesan, benar atau salah, bahwa Orde Baru itu tidak sah, tidak layak, dan merupakan perbuatan sewenang-wenang dari golongan militer, suatu resiko politik yang Soeharto tidak berani memikulnya.
Laporan Soeharto di hadapan sidang MPRS mengenai keterlibatan Soekrno dalam kudeta Untung, mencerminkan dengan jelas keinginan agar Presiden Soekarno diadili. Soeharto menyimpulkan bahwa Presiden Soekarno ³tidak tahu dengan pasti´ kapan untung akan melancarkan aksinya dan bagaima bentuk aksi tersebut. Oleh sebab itu Soekarno tidak boleh dianggap sebagai organisatoris, dalang atau malahan partisipan dari Gerakan 30 September, sebagaimana diisyaratkan oleh Memorandum Parlemen tanggal 9 Februari, dan terhadapnya tidak dapat dikenakan hukuman. Pada tanggal 12 Maret 1967, MPRS mencabut kembali mandatnya sebagai Presiden RI dan melarangnya melakukan kegiatan politik sampai dilangsungkannya Pemilu.47

47

Ulf Sundhaussen, Op. Cit, hlm. 426²439.

40
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->