Critical Review: “GLOBALISASI DAN PEMBENTUKAN INSTITUSI INTERNASIONAL” (Cary Coglianese) Diajukan sebagai tugas kelompok mata kuliah

Global Governance Dosen: Sendy Kristiani, S. IP

Oleh: Kelompok 9: Denny L. Sihombing Resti Regina Septaris B. Perhusip Ice Nopianti Hilda Kurnia Fitri Fadel Fadillah Fitria Risdayanti Otniel Pati Roni S. Rani Kartika Mariana JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 170210070093 170210070074 170210070096 170210070109 170210070028 170210070114 170210070034 170210070083 170210070023

2009 BAB I REVIEW ARTIKEL GLOBALISASI DAN PEMBENTUKAN INSTITUSI INTERNASIONAL (Cary Coglianese)

Globalisasi saat ini membawa dunia kepada suatu bentuk yang dinamakan koordinasi internasional dan aksi kolektif. Perluasan pasar membawa interdependensi yang cukup dalam dan pertumbuhan permintaan dalam koordinasi dan pengaturan yang luas dalam berbagai bidang meliputi ketahanan pangan, keuangan, dan standar produk. Peningkatan kecepatan dan pengurangan biaya dalam komunikasi global tergantung pada bagian luas dari sebuah koordinasi aksi internasional dalam menjamin kesesuaian jaringan. Masalah lingkungan global seperti perubahan iklim menjadi prominen yang membutuhkan aksi kolektif dalam skala global. Sebagai sebuah keberuntungan dan takdir dari masyarakat dunia untuk lebih saling terhubung, keterlanjutan aksi internasional akan dibutuhkan untuk mengalamatkan sejumlah besar masalah global. Usaha untuk menanggulangi masalah global sering kali menjadi pusat dari kreasi berbagai macam bentuk dari institusi internasional. Dengan institusi, baik aturan internasional dan organisasi internasional. Organisasi internasional dapat berbentuk IGO atau NGO, dalam bahasan ini akan menekankan pada IGO. Dipahami sebagai aturan dan organisasi, institusi internasional menjadi subjek dari sebuah badan penelitian khusus dalam bidang hubungan internasional. Banyak peneliti institusionalist terfokus akan mengapa institusi internasional diciptakan dan mengapa mereka dapat mempengaruhi tingkah laku politik secara independen dalam sebuah dominasi dunia oleh negara bangsa yang di dalamnya terdapat kekuatan tidak berimbang, kepentingan yang divergen, dan politik domestik yang kompleks.

2

Dalam bahasan ini, akan dikemukakan, bagaimana pemilihan bentuk institusional mempengaruhi efektivitas sebuah institusi dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan globalisasi. Semua hal bersifat equal, negara-bangsa diharapkan memilih bentuk institusi yang menentukan paling tidak batasan dalam otoritas kedaulatan mereka. Globalisasi dan Masalah Global Peningkatan intensitas dan perluasan interaksi global membawa sebuah keberagaman dalam pergantian pemerintahan. Kita dapat membedakan tiga tipe dari masalah yang berkaitan dengan globalisasi dan desakan terhadap aksi internasional: masalah koordinasi; masalah umum/bersama; dan masalah dalam nilai-nilai dasar/utama, seperti Hak Asasi Manusia. Masalah koordinasi Tipe masalah pertama adalah koordinasi keterhubungan global, atau masalah pertukaran informasi, produk, jasa, dan uang antar batas negara. Ketika melampaui batas negara berarti menghadapi ketidaksesuaian syarat atau teknologi, hal ini akan menghalangi pertukaran transnasional yang ingin dilakukan oleh masyarakat. Beberapa masalah koordinasi sangat sesuai untuk menentukan sisi mana dalam sebuah jalan yang harus diadopsi ke dalam sebuah unit waktu bersama. Sebagai contoh, kemajuan teknologi yang membuat komunikasi global semakin lebih murah tergantung pada keter-operasian dari jasa jaringan dan telekomunikasi yang berbeda di berbagai belahan dunia. Contoh lain dalam hal ini adalah fokus akan tandatangan elektronik untuk transaksi internet. Tandatangan elektronik memungkinkan firma untuk membuktikan kebenaran dari identitas rekan kerja. Telah banyak otentifikasi yang ada, dan kemungkinan besar akan berkembang di masa yang akan datang. Jika berbagai negara menggunakan otentifikasi teknologi yang berbeda, perdagangan elektronik antar-negara akan semakin tidak jelas dan tidak praktis jika tidak menggunakan pendekatan yang umum.

3

prosedur pengujian yang digunakan dapat berbeda untuk menaikkan harga. Bahkan ketika standar produk yang ditetapkan sama. Masalah Bersama Tipe kedua dari masalah yang dihubungkan dengan globalisasi adalah sebuah masalah yang sudah familiar dalam menjaga sumber daya bersama dalam barang publik. yang akhirnya memperluas skala ekonomi. ada insentif yang kuat untuk “free-riding”. Pengaturan pemerintah nasional baik dalam bentuk dan penampilan dari sebuah produk yang dijual dalam sebuah negara (standar produk) sama seperti proses dimana produk dibuat (standar proses). Sebagai hasilnya. dan juga ketika diuji dengan menggunakan prosedur lain mendemonstrasikan bahwa produk tersebut memenuhi persyaratan substansial. Perbedaan standar produk antar negara kadang-kadang menimbulkan diskriminasi dan diferensiasi produk dalam pasar yang berbeda. akan dapat mengalokasi masalah penumpang gratis. perusahan mobil Eropa dan AS menetapkan harga yang berbeda yang berkaitan dengan insentif pegawai dan harga design yang berkisar 10%. seperti keamanan dan keunggulan. emisi gas rumah kaca meningkat seiring dengan peningkatan penggunaan minyak bumi. Standar produk dapat beranekaragam tergantung dalam bentuk yang ditampilkan. Barang publik atau sumberdaya bersama merupakan barang nonrivalry. Sebagai contoh. institusi internasional. Semua negara dapat menggunakan atmosfer si tempat dimana emisi dihasilkan. bukan hal yang tepat untuk menggunakan sistem pasar murni untuk mengalokasikan penggunaannya. pemanasan global mnjadi sebuah masalah bersama. dimana tidak mungkin untuk melarang seseorang utnuk menggunakannya. Sebagai contoh. Dalam beberapa kasus.Masalah koordinasi merupakan tinjauan sebagian dari perusahaan yang di dalamnya menetakan standar yang berbeda dalam pengaturan nasional. Konsekuensinya. jika cukup terbentuk. 4 . dan seluruh keuntungan dari reduksi gas rumah kaca memperhatikan bagaimana mereka berkontribusi terhadap reduksi.

Peningkatan pertukaran ide-ide mengenai nilai-nilai budaya dan politik dapat berkontribusi bagi perluasan penerimaan terhadap hak asasi manusia dan prinsip demokrasi. Rinsip-prinsip yang mengklaim hak dan perlakuan yang pantas dan penghormatan terhadap manusia dalam HAM. institusi internasional yang efektif dibutuhkan untuk membantu menjamin perlindungan yang minimal terhadap hak asasi manusia di seluruh bangsa. periode globalisasi dapat menciptakan sebuah kondisi dibawah nilai-nilai sosial yang diterima secara luas sekaligus dibawa oleh globalisasi ide dan informasi. harus ada insentif dalam invstasi untuk mengukur dan mencegah hal tersebut. Nilai-Nilai Dasar Tipe masalah global yang ketiga adalah perlindungan terhadap nilai-nilai dasar. sebagai contoh. dan demokrasi dapat dikategorikan sebagai nilai yang penting dalam praktek politik. walaupun terdapat hak-hak positif yang dilindungi oleh negara-negara tertentu. Industri dalam suatu wilayah. Dalam kasus ini. Atau pengaturan hukum terlalu lemah dalam sebuah negara akan memberikan eluang kepada pengedar obat-obatan terlarang dan teroris untuk melaksanakan operasinya di negara tersebut. Prinsip moral seperti persamaan. 5 . Lebih lanjut. atau yang sangat penting. Karena biaya yang dihasilkan tidak proporsional satu sama lain. Saat ini banyak orang-orang di dunia yang dapat mengakses gambar-gambar atau ide-ide dari luar negaranya dibandingkan sebelumnya. masalah HAM menjadi masalah global. bahkan dalam ranah sistem politik. Semenjak negara-bangsa tidak memiliki jaminan keadilan yang seragam dan perlindungan terhadap hak-hak rakyatnya. Konsekuensinya. bukan sebagai warganegara suatu negara. Dalam hal ini. dapat menimbulkan polusi udara secara umum yang dibawa oleh angin ke negara lain. aksi internal (inaksi) menghasilkan eksternalitas negatif yang akan menjatuhkan negara lain. kebebasan. tindakan internasional akan sangat dibutuhkan dalam batasan ini.Masalah yang berkaitan adalah efek transboundary yang dihasilkan oleh aktivitas domestik.

yaitu masalah-masalah koordinasi. negara-negara bangsa dapat mencoba untuk menunjuk masalah-masalah global melalui legislasi domestik. Selain itu. Negara-negara bangsa tetap bisa diharapkan untuk melindungi kedaulatan dan kepentingan-kepentingan mereka. kemudian diharapkan pula peningkatan tindakan internasional. banyak bangsa yang telah melihat bangkitnya perjuangan dari kepentingan-kepentingan kedaerahan dan desentralisasi. Pada tingkat tertentu. masalah-masalah umum/bersama. Di lain waktu. Negara-negara membutuhkan informasi terpercaya untuk memutuskan bahwa kerjasama akan melayani kepentingan-kepentingan mereka.Masalah-masalah Global dan Permintaan Terhadap Institusi-Institusi Internasional Terdapat tiga masalah utama yang membenarkan pembentukan institusiinstitusi internasional. Ini bukan berarti bahwa institusi-institusi internasional akan secara otomatis muncul kapan pun mereka dibutuhkan. suatu bangsa dapat bekerja secara langsung dengan bangsabangsa lainnya dalam mengembangkan strategi untuk mengenal norma-norma 6 . seperti dorongandorongan untuk “free riding”. Mereka bisa memilih untuk tidak mengambil tindakan penyelesaian dengan kemungkinan bahwa norma-norma dan mekanisme koordinasi lainnya akan berkembang melalui pasar atau melalui jaringan-jaringan dari organisasiorganisasi non-pemerintah. Hambatan lainnya terhadap kerjasama internasional. Tentu saja pada waktu yang sama dimana pertumbuhan dunia terus meningkat saling berhubungan pada skala global. dan perlindungan terhadap nilai-nilai utama. Sebagai tambahan. keberanian mereka dan biaya penyusutan dari negosiasi dengan bangsa-bangsa lain. Bentuk-Bentuk Institusi-Institusi Internasional Negara-negara bangsa memiliki pilihan dalam merespon masalah-masalah global. meskipun memaksakan standar domestik terhadap produk-produk yang memasuki perdagangan atau koordinasi regulasi domestik dengan standar negara-negara lainnya. Terdapat biaya-biaya transaksi untuk membentuk institusi-institusi internasional. masalah-masalah ini akan meningkat selama periode globalisasi.

menghasilkan rekomendasi-rekomendasi atau kebijakan-kebijakan. Dalam merespon masalah-masalah global. negara-ngara bangsa dapat memilih diantara enam pilihan utama atau bentuk-bentuk kelembagaan. dan delegasi. 7 .internal yang satu dan lainnya atau untuk menciptakan norma-norma internasional yang dapat diterima satu sama lain. khususnya mengenai pengakuan bersama. Contohnya. masalah-masalah global dapat ditangani dengan mekanisme pasar. maka perlu diperhatikan penggunaan dari pilihan tersebut. konsensus. meskipun tidak dibentuk oleh Negara. sebagai reaksi untuk menentang dipindahkannya ke negara-negara lain atau organisasi-organisasi internasional. sikap protes tenaga buruh Negara ketiga dapat membentuk norma untuk memperlakukan tenaga buruh bagi perusahaan-perusahaan multinasional. melainkan oleh public-publik domestik. Perusahaan akan cenderung mengikuti standar yang berbeda-beda tersebut apabila lebih murah daripada untuk memproduksi produk baru. Respon-respon tersebut berbeda sesuai dengan jumlah otoritas yang memberi kuasa terhadap suatu negara-bangsa. Tidak adanya intervensi Negara. bangsa-bangsa terkadang juga bisa menciptakan organisasi-organisasi internasional untuk memproses penyerahan kekuasaan dalam rangka mengkaji masalah-masalah global. Setiap Negara memiliki standarisasi yang berbeda untuk setiap produk. atau melaksanakan aturan-aturan dan menyelesaikan sengketasengketa. Non-state Action Negara bisa saja tidak mengupayakan apapun untuk memecahkan masalah global atau membiarkan aktor non-negara untuk mengatasinya. Jika globalisasi meningkatkan permintaan terhadap tindakan internasional. dan organisasi aturan standar privat (private standard-setting organizations). Dinamika pasar dapat mengatur tindakan-tindakan koordinasi dimana pasar dapat menetapkan standar industri de facto. menerapkan program-program. dan setiap negara secara individual dapat menggunakan pilihan-pilihan tersebut. norma social transnasional. Norma sosial dapat berfungsi sebagai regulator. Sebagai tambahan.

Negara dengan ekonomi lebih besar dan pemerintahan lebih efektif dapat menjadi pelopor regulasi yang diikuti oleh Negara lain sehingga dapat menghasilkan pertemuan regulasi tanpa koordinasi internasional yang formal. Norma-norma non-negara dapat berjalan dengan keterlibatan Negara dan mekanisme hukumnya. Walaupun begitu. Negara dapat mengkoordinasikan kebijakan internal dengan mengikuti kebijakan Negara lain. maka digunakanlah bentuk-bentuk korporasi 8 . Sebagai contoh. Mutual recognition Mutuan recognition mencakup prinsip-prinsip yang diterima dengan terkoordinasi oleh beberapa Negara. Melalui pembuatan traktat atau perjanjian internasional. Consensual Rules Consensual rules atau traktat adalah bentuk keempat dari institusi internasional. namun juga dengan membuat suatu undangundang bersama (transnational rules). Disaat perjanjian tidak didukung oleh suatu mekanisme penyelenggaraan formal. negara bangsa berkomitmen untuk tidak hanya mengetahui peraturan perundangundangan domestik negara lain. Internal Control Proses hukum internal yang diupayakan oleh Negara ini dibatasi oleh jangkauan yuridiksi sebuah Negara dan perbenturannya dengan hokum Negara lainnya. mutual recognition telah diterapkan Negara-negara di Uni Eropa. Pendekatan ini mencakup juga dasar dalam menentukan aturan-aturan yang seharusnya diterapkan dalam transaksi yang melibatkan perusahaan-perusahaan atau individu-individu dari Negara yang berbeda.Private Electrotechnical Standardization standard-setting Commission (ISO) dapat and organization the seperti International for binsis-bisnis International Organization mendorong koordinasi antara internasional dengan mengatur ruang lingkup produk lintas batas atau mulai dari perputaran film hingga sistem menejemen lingkungan.

yaitu delegasi. pemerintah nasional telah membentuk lebih dari 250 IGO. maka disaat ini pula mereka telah melakukan transfer otoritasnya kedalam suatu organisasi internasional untuk mengambil langkah-langkah spesifik tertentu. karena apa yang muncul sebagai peraturan-peraturan dalam suatu traktat tidak selalu merefleksikan prioritas utama suatu negara. Namun bagaimanapun. setiap kebijakan akan sedikit mendapat hambatan oleh bargaining position (kemampuan tawar-menawar suatu negara). oleh karena itu negara-negara tidak perlu untuk merundingkannya lagi secara holistik. Negara bangsa telah bergabung ke dalam organisasi-organisasi ini untuk mengambil setiap langkah yang dirasa perlu terkait 9 . dan lebih dari 500 diantaranya digunakan sebagai perjanjian multilateral. dan mungkin saja dapat menciptakan efek status qou di saat mendatang. Dalam hal ini. Pertengahan tahun 1990an. Uni Eropa.internasional secara berkala. serta beberapa organisasi yang kurang dikenal termasuk Codex Alimentarius Commission (yang mengangkat isu-isu standar kesehatan makanan) dan International Telecommunications Commission (yang mengatur standarstandar pelayanan jasa telekomunikasi. waktu yang habis saat pembuatan konsensus kebijakan adalah salah satunya. Pemeliharaan otoritas ini tentu saja membutuhkan pengorbanan. organisasi internasional dapat menediakan sebuah forum untuk kerjasama internasional yang sedang dibahas. dan WTO (World Trade Center). Negara-negara kuat juga akan selalu cenderung mendominasi negara-negara lemah. setiap negara masih memiliki kendali penuh untuk menyetujui ataupun menolak traktat. Delegation Format institusi kelima. Diantara organisasiorganisasi ini contoh yang terkenal adalah PBB. Walaupun negara bangsa harus menyetujui segala kebijakan yang terdapat didalam perjanjian ini. adalah bentuk khusus pembuatan keputusan konsensual. Hal ini pun menjadi sangat penting saat melakukan negosiasi dalam pembuatan traktat-traktat multilateral. Organisasi internasional dapat mengambil langkah-langkahnya sendiri. Lebih dari 34000 traktat terdaftar di PBB. Dalam prakteknya. otoritas kebijakan masih berada dalam jangkauan negara bangsa yang bersangkutan. Ketika negara berbicara tentang otoritas.

serta untuk memaksakan kebijakan-kebijakan dalam penyelesaian konflik antarnegara. Terutama jika promosi ‘pasar bebas’ kemudian menimbulkan permasalahan-permasalahan baru seperti permasalahan lingkungan dan budayabudaya masyarakat setempat. bahwa pemimpin nasional negara bersangkutan diharapkan dapat memastikan kepentingan-kepentingan nasional negaranya tidak diganggu oleh institusi internasional yang mereka buat. Sebagai tambahan. hal ini dapat menjadi ciri aspirasi pihak-pihak yang menyebutnya dengan world government sebagai pengganti sistem governance yang selama ini dijalankan oleh negara-negara. 10 . Di lain sisi. Melalui ini.isu-isu yang sedang berlangsung. negara menyalurkan klaim-klaimnya masing-masing terhadap otoritas kebijakan secara bersama-sama. delegasi yang tidak dapat dirubah ke institusi yang lain. Hal ini diperlukan terutama untuk melengkapi segala proses terdahulu yang telah dilakukan. negara akan melakukan delegasi dengan catatan. memiliki visi untuk menciptakan pasar-paras kompetitif yang dapat diterima negara anggotanya. Hal ini memang terlihat hanya dalam segi teoretikal ketimbang ptekteknya. serta dapat berfungsi sebagai dasar pembuatan dan pelaksanaan setiap kebijakan transnasional. bukan berarti bahwa negara secara penuh merasa tidak memiliki otoritas dalam setiap kebijakan organisasi internasional. Withdrawal Format terakhir dalam institusi adalah penarikan kesimpulan. Sebagai contoh adalah WTO. serta masyarakat internasonal secara keseluruhan. memberikan perhatian penuh terhadap tata cara berdelegasi yang dipraktekkan dalam struktur institusi yang dibuat. Hal umum yang sering terjadi adalah ketika suatu negara melebur mejadi satu kesatuan. pilihan ini berada di akhir berkebalikan dengan pilihan di mana kekuasaan menurut undangundang seharusnya ditempatkan di dalam suatu negara. Oleh karenanya. contoh nyata yang dapat kita lihat adalah pada saat reunifikasi Jerman. Melakukan delegasi.

dikodifikasi dalam suatu perjanjian. kesepakatan atas penggunaan peralatan-peralatan yang lebih spesifik terhadap kapal tanker tersebut dirasakan dapat lebih efektif jika dibandingkan dengan ketetapan lainnya. Bentuk – Masalah yang cocok (Form – Problem Fit) Pada bagian awal telah dibedakan antara masalah koordinasi. Berikut ini akan dipaparkan mengenai bagaimana bentuk-bentuk institusional itu berhubungan dengan berbagai masalah global yang kemudian akan berdampak pada keefektifan aturan dari institusi internasional tersebut. mereka perlu untuk memastikan bahwa suatu institusi benarbenar dapat menangani masalah yang memang perlu diselesaikan. Namun demikian. dan masalah core values yang muncul pada periode globalisasi. kemudian dianjurkan/diterapkan oleh IGO. kita juga harus menyadari bahwa di dalam setiap pilihan tentunya juga terdapat banyak sekali pilihan-pilihan terhadap aturan yang lebih spesifik. 11 . misalnya dari contoh tadi adalah antara pertimbangan mengenai ekologi dengan penampilan atau lain sebagainya tentunya juga akan berpengaruh terhadap pelaksanaan aturan-aturan internasional.Pilihan dan Dampak dari Bentuk Institusional Seperti yang telah dibahas dalam pembahasan sebelumnya. kemudian diakui dalam suatu kesepakatan. masalahmasalah umum. Pertimbangan terhadap standar penampilan atau terhadap teknologi itu kemudian dapat diterapkan atau diadopsi oleh badan pembuat undang-undang domestik. dalam hal pembentukan perjanjian mengenai pencegahan terhadap polusi yang disebabkan oleh kecelakaan kapal tanker di laut. maka para analis dan pembuat aturan kemudian dapat melindungi dalam memilih jenis institusi untuk digunakan dalam berbagai jenis persoalan yang ada. negara dapat memilih satu dari enam kategori bentuk institusional/kelembagaan yang ada. pilihan-pilihan tersebut. Dengan kata lain. Jika bentuk-bentuk institusi membuat suatu perbedaan mengenai bagaimana efektif suatu institusi internasional dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Misalnya. Lebih lanjut.

Akan tetapi. Namun hal ini mungkin dapat dipecahkan melalui mewakilkan penyelesaian masalah koordinasi tersebut kepada sekelompok ahli. Akan tetapi. 12 . suatu masalah benar-benar harus di analisis terlebih dahulu untuk menentukan jenis institusi/kelembagaan mana yang benar-benar dapat memberikan penyelesaian terhadap masalah tersebut. Seseorang yang tidak setuju dengan WTO akan melihat pasar sebagai legitimasi yang spesifik dalam kasus ini. Jadi. pencapaian yang lebih memungkinkan adalah melalui mutual recognition oleh negara-negara tepatnya melalui pembentukan perjanjian (treaty making). Form & Legitimacy Kepentingan negara bangsa dalam pembuatan dan implementasi institusi internasional membuat support dan legitimasi politik menjadi kunci keefektifan institusi. dan lain sebagainya. Sebuah legitimasi institusi atau public support bisa menjadi spesifik dan meluas. Protocol Kyoto. Disamping itu. yaitu melalui pembentukan perjanjian/rezim Montereal Protocol. Legitimasi yang spesifik mengarah pada penerimaan outcome yang disebabkan oleh institusi itu dalam hal-hal yang istimewa. orang yang sama akan melihat WTO dengan legitimasi yang luas jika dia mengakhiri prosedur itu dengan menggunakan bentuk yang adil dan beralasan. tidak akan mungkin dapat diselesaikan secara mudah oleh bentuk institusi pertama (non-state action dan internal control). namun juga dapat menyelesaikan masalah umum/bersama atau masalah core values. Dapat diambil contoh yaitu mengenai penanganan masalah lingkungan. Cara ini tidak hanya dapat menyelesaikan masalah koordinasi.Masalah koordinasi misalnya. institusi internasional tidak unik ketika datang pengambilan laporan politik. Satu faktor yang bisa mendukung institusi internasional adalah derajat kedaulatan institusi itu dipertahankan dan dilindungi untuk negara bangsa tersebut. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami seluruh determinan legitimasi yang meluas dari institusi internasional.

The Delegation Dilemma Otoritas delegasi kepada organisasi internasional terbagi menjadi dua batas kemampuan. Keseimbangan harus tercapai diantara pembuatan organisasi yang cukup mandiri untuk menjalankan dengan efektif dan menjaga dukungan negara bangsa yang dapat dimengerti dan waspada terhadap power yang dimiliki oleh organisasi baru. Apabila negara bangsa sedikit tidak memaksa. Yang pertama. ketegangan sering terjadi didalam IGO antara keefektifan kebijakan dan keefektifan politik. Dalam kata lain. organisasi internasional akan lebih baik bersikap tenang dalam merespon masalah perubahan. Selanjutnya nyaris menggambarkan sebuah otoritas organisasi. Batas kemampuan yang kedua bahwa mereka tidak akan dipaksa. Contohnya mungkin akan lebih sulit bagi organisasi untuk merespon masalah perubahan. organisasi akan dipaksa. 13 .

Ini merupakan salah satu tinjauan Neo-liberalisme yang berkembang di tahun 1970an yang spesifikasinya dalam bidang ekonomi. dan fokus terhadap perhatian kita akan peranan utama institusi dan organisasi dalam politik internasional. sebuah modus operandi yang baru: sebuah cara untuk mengontrol dunia yang tidak terlihat sebelumnya menjadi terlihat. Neo-liberalisme menurut pendekatan teoritis dalam hubungan internasional menggambarkan konsep dari rasionalitas dan keterikatan. Politik internasional telah terinstitusi. sebuah tahun dimana Margarate Thatcher. Lebih lanjut. Hal terpenting dari tesis ini adalah pernyataan bahwa negara-negara liberal/negara-negara demokratis tidak berperang satu sama lain. Varian Neo-Liberalisme Berikut ini adalah varian-varian dari Neo-liberalisme: Neo-liberal Internasionalism Salah satu gagasan besar dalam teori dan praktik hubungan internasional di tahun 90-an adalah democratic peace thesis. Neo-liberalisme merupakan pendekatan yang digunakan dalam mempelajari organisasi internasional dan pola kerjasama internasional secara umum. perdana mentri Inggris. dan organisasi internasional memainkan peranan yang penting dalam distribusi internasional akan kesejahteraan dan kekuatan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Marxist: "The workers have nothing to sell but their labour power" Neo-liberalist: "I offer courses on How to Sell Your Labour Power Like A Shark" NEO-LIBERALISME Tahun 1979 merupakan tahun dimana diciptakan sebuah tatanan dunia kontemporer. 14 . mengimplementasikan sebuah konstruk sosio-ekonomi yang menggabungkan ekonomi-sosial Darwinisme yang menggantikan teori klasik tentang ekonomi non-negara. Di tahun itu.

mengapa hubungan-hubungan di dalamnya bersifat damai. Kerja sama dalam lingkungan yang anarkis diperlihatkan oleh keberadaan rezim-rezim internasional. 15 . • Struktur: kaum liberal secara garis besar mengakui anarki internasional. Meskipun menekankan pentingnya aktoraktor non-negara. mengenai neo-liberal institusionalisme. Di era pasca-Perang Dingin. sejauh mana zona perdamaian liberal. Robert Keohane. Berikut merupakan prinsip utama dari neo-liberal institusionalisme: • Aktor: kaum liberal institusionalis menganggap negara adalah perwakilan masyarakat yang legitimate. mengakui bahwa aktor-aktor non-negara tersebut berada di bawah negara. Rezim dan institusi-institusi internasional dapat mengurangi keadaan yang anarkis. Neo-liberal institusionalism Merupakan liberalisme kontemporer yang paling konvensional. • Proses: integrasi pada level regional dan internasional meningkat. Neo-liberal institusionalis berbagi asumsi yang sama dengan kaum realis. Arah Uni Eropa di masa depan merupakan ujian yang penting bagi neo-liberal institusionalisme. yaitu negara merupakan aktor yang paling signifikan.Agenda penelitian Neo-liberal Internasionalisme didominasi oleh perdebatan mengenai negara-negara liberal. dan pola hubungan yang bagaimanakah yang dapat berlangsung di antara negara-negara liberal dan rezim yang otoriter. Akan tetapi. Tugas ini difasilitasi oleh pembentukan rezim-rezim. dan lingkungan internasional bersifat anarkis. bahkan dalam kondisi ini. Program penelitian pokok dari neo-liberal jenis ini adalah bagaimana cara untuk mengawali dan mempertahankan kerja sama dalam kondisi yang anarkis. kaum neo-liberal internasionalis mendukung upaya Barat untuk menggunakan kebijakan luar negeri dalam menekan negara-negara otoriter agar menjadi liberal. mereka berpendapat bahwa kerja sama dapat dilaksanakan.

Logika mendasar dari Neo-liberalisme dirangkum oleh Keohane tahun 1982. Jadi bentuk-bentuk perjanjian harus memiliki kekuatannya sendiri. meskipun individu mempelajari bagian ini secara umum. atau berdebat tentang peran organisasi internasional dalam ekonomi dunia. kebanyakan diantaranya terlihat dalam biaya transaksi.1 Kurangnya dasar teoritis berarti bahwa.• Motivasi: negara-negara akan memasuki hubungan kerja sama dengan negara lain. Organisasi internasional dapat menjalankan fungsi pengawasan. 110-111. International Relation Theories. 2006. Organisasi internasional menyediakan forum dimana negara dapat mengurangi masalah-masalah yang mengancam pola stabilisasi dari kerjasama dengan aksi kolektif. Sebelumnya. seperti persetujuan akan standar teknologi dan layanan kesehatan bersama. Mereka menciptakan struktur 1 Tim Dunne. negara-negara harus saling mengkoordinasikan aksi mereka. Tidak ada penggiatan eksternal yang muncul dalam sistem internasional. kurang melingkupi kerangka analisis. bahkan jika negara lain akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Perkembangan Teori Neo-Liberal Latar belakang Intelektual Akar dari Neo-liberalisme dapat dilihat di awal tahun 1980. Dengan kata lain. mereka harus menumbuhkan sebuah cakupan aksi kolektif dalam berbagai masalah. studi institusi internasional dan organisasi internasional lebih kepada orientasikebijakan dan deskriptif. mereka tidak mengumpulkan semuanya untuk membentuk sebuah gambar yang sesuai. keuntungan absolut lebih penting daripada keuntungan relatif. Disciplines and Diversity. Agar negara-negara dapat bekerjasama. Milza Kurki. Organisasi internasional merupakan forum untuk bernegosiasi dalam menyelesaikan masalah koordinasi. New York: Oxford University Press. menyediakan asuransi satu sama lain untuk menjaga komitmen diantara mereka. dan belajar bagaimana membuat pilihan dan batsan dalam pemerintahan mereka. Hal ini berarti negara harus menemukan cara untuk menghindari situasi mengarah ke penipuan. and Steve Smith. Hlm. 16 . Sebagai tambahan.

Sebagai contoh. tergantung kondisi mereka. dan menyadari bahwa pembayaran yang tinggi tergantung pada interaksi mereka dalam strategi berbagai negara.untuk menyelesaikan dan resolusi damai. Perspektif Neo-liberal terletak dalam asumsi rasionalitas. dan prosedur pembuatan keputusan. Hal tersebut juga sangat fleksibel dalam mengizinkan variasi substansial tentang kesadaran yang akan dibawa dalam kebijakan sebuah negara. didefinisikan sebagai sekumpulan prinsip norma. Asumsi dari rasionalitas adalah kekuatan. Hal ini juga memungkinkan aktor untuk meletakkan titik berat yang berbeda dalam pembayaran jangka menengah dan jangka panjang. Merupakan sebuah asumsi inti dari teori neo-liberal dimana negara mengkalkulasikan biaya dan keuntungan dari berbagai pilihan aksi dan memilih pilihan terbaik yang akan memberikan mereka keuntungan bersih yang lebih tinggi. sebagai aktor yang turut andil dalam aksi yang dilakukan untuk mengetahui reaksi dari orang lain. Kerja awal dalam penerapan Neo-liberal dan pandangan kontraktual dari institusi ini diterapkan dalam rezim internasional. teori pembuatan keputusan rasional dapat meliputi berbagai macam pilihan yang berbeda: beberapa negara meletakkan keuntungan ekonomi sebagai hal yang utama. Semua pola kerjasama ini akan lebih fleksibel dalam wajah sebuah kekuatan dan kepentingan dimana ia diletakkan. hlm. jika dibandingkan dengan fokus awal individu dalam organisasi internasional adalah ketentuan diizinkannya institusi informal menjadi badan formal. 111. Asumsi rasionalitas mengarahkan kita kepada suatu fokus dalam strategi. aturan. ketika negara lain dihadapkan kepada sebuah keputusan akan pentingnya keamanan. organisasi internasional menjadi sebuah fondasi yang bernilai untuk kerjasama internasional. Dalam fungsi ini. 17 .2 Salah satu keuntungan dalam mempelajari rezim. yang mengizinkan teori berkembang dalam model dan prediksi yang jelas tentang pola tingkah laku. meskipun kekuatan dalam menyelesaikan berbagai macam masalah terketak di tangan negara anggota. 2 Ibid.

alternatif model seperti hal yang dijelaskan dalam rasionalitas dapat menjadi superior. Rezim merupakan institusi sosial yang didasarkan atas aturan. Konten spesifik dari pilihan umumnya mengarah kepada sebuah model komplementer yang lebih spesifik (yang fokusnya terhadap keuntungan material atau biaya dan keuntungan sumber daya lainnya). bukan berarti strategi alami tidak menjadi karakteristik akurat dalam proses pembuatan keputusan. praktek-praktek informal yang diterima negara sebagai ikatan 2. 4. 18 . dan mereka mendorong pada saat ini multilateralisme dan kerjasama sebagai alat jaminan kepentingan nasional.Terdapat batasan yang jelas dalam kepercayaan akan rasionalitas sebagai asumsi utama. norma. Neo-liberal institusionalis melihat institusi sebagai mediator dan alat untuk menciptakan kerjasama dalam sistem internasional. asumsi rasionalitas tidak dapat dijadikan acuan. Neo-liberal melihat institusi dan rezim sebagai kekuatan yang signifikan dalam hubungan internasional karena dapat memfasilitasi kerjasama. treaty dan agreement. Rezim dan institusi membantu mengatur sebuah sistem internasional yang kompetitif dan anarki. batasan aktivitas. Institusi dapat berupa organisasi. dan bentuk ekspektasi dari aktor. Asumsi rasionalitas tidak menjelaskan kepada kita apa yang menjadi pilihan negara. Jika aksi tidak dimotori oleh kalkulasi biaya dan keuntungan tapi peran dan efektivitas. Hal ini memimpin interaksi dari berbagai negara dan aktor non-negara dalam area isu seperti lingkungan dan hak asasi manusia. 3. Di saat situasi menjadi sangat kompleks. dan batasan ini telah memberikan peningkatan dalam perspektif alternatif teoritis seperti konstruktivisme. Pandangan Neo-liberal terhadap Institusi dan Rezim 1. dan prosedur pembuatan keputusan. prinsip. agen birokrasi. Institusi dilihat sebagai sebuah lembaga yang tetap dan dihubungkan oleh sekumpulan aturan dan praktek yang mendeskripsikan peran.

Ia mendefinisikan multilateralisme secara sederhana sebagai kerjasama antara tiga atau lebih negara. “The Coorporation without Boundaries”. dan aktivitas dalam satu wilayah di dunia menimbulkan dampak signifikan terhadap individu maupun komunitas dalam wilayah yang jauh di seluruh dunia. Keohane (1990) membawa konsep multilateralisme kembali ke dalam studi institusi. dalam setiap lapangan dari eksistensi sosial dari ekonomi ke ekologi. seperti virus SARS. 3. politik. Sebagian hal ini merupakan respon terhadap beberapa kritik. Ray and A. Sebuah peregangan aktivitas sosial. teori Neo-liberal dalam institusi internasional menjadi lebih dalam dan kaya. Menjualnya di Jerman dengan iklan TV komersial buatan Inggris”3 Globalisasi sebagai sebuah proses dilihat dari karakteristik sebagai berikut: 1. 1993. 19 .D Hass.103. GLOBALISASI “Perusahaan kami membeli denim di North Carolina. menyeberangkannya ke Perancis dimana ia dijahit menjadi sebuah jeans. Sebuah pengertian dari isu ini kemudian menuntun kita kepada prediksi tentang bentuk dan fungsi organisasi dan efeknya dalam outcome politik. Konsep ini menyajikan perhatikan kembali terhadap variasi dari institusi. Dalam M. dan ekonomi melintasi batas politik. New York: Tarcher/Perigee. 2. The New Paradigm in Bussiness: Emerging Strategis for Leadership and Organizational Change. mencuci jeans ini di Belgia. dari aktivitas Microsoft ke penyebaran mikroba berbahaya. hlm. Secara keseluruhan perkembangan ini menghadapkan kita kepada satu pertanyaan yang harus dijawab ketika mempelajari sebuah organisasi secara partikuler dan bagaimana masalah tersebut dibentuk dan dialamatkan. Intensifikasi/ penggiatan atau pertumbuhan paling serius.Respon Neo-liberal terhadap Pembentukan Institusi Internasional Pada tahun 1990. Rinzler (Eds). Percepatan laju interaksi dan proses global sebagai evolusi dari sistem perluasan peningkatan transportasi dan komunikasi dunia 3 R.

hlm. 46. Jan Aart Scholte. Global Governance. 4. dan velositas dari interaksi global diasosiasikan dengan pendalaman jaringan dari lokal dan global dimana peristiwa lokal dapat menimbulkan konsekuensi global begitu pula sebaliknya. tentang hubungan internasional. Global Political Economy. Secara garis besar globalisasi diartikan sebagai: 1. Cambridge: Cambridge University Press. and Stanford. Rosenau dan Czempiel berhasil menarik perhatian para ilmuwan Internasional governance semakin sering muncul dalam berbagai publikasi. Governance Terminologi Governmnent8. hlm. baik dalam bentuk artikel jurnal maupun buku. dan pertukaran teknologi di seluruh dunia. 1990. Integrasi ekonomi dunia.5 3. Governance without Government: Order and Change in World Politics. 20 . Melalui http://www.com [24/02/09]. NJ: Princeton University Press. 2001.: Stanford University Press. informasi. Cambridge: Polity Press. 2000. 2001.6 GLOBAL GOVERNANCE Definisi Global Governance Konsep Internasional Hubungan global pada governance tahun terhadap berkembang dalam studi Hubungan without global awal 1990-an. Princeton. 4. De-teritorianisasi atau pertumbuhan hubungan suprateritorial antara masyarakat. Robert Gilpin. Intensifikasi dari hubungan lokasi-lokasi sosial yang menyeluruh letaknya jauh yang dan menghubungkan menciptakan sebuah jalan yang memungkinkan kejadian lokal dibentuk oleh peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya dan sebaliknya. Pertumbuhan ekstensitas. berita. modal. Globalisation: A Critical Introduction. Thomas G. Penekanan batas waktu.secara cepat dengan ide. hlm.4 2. 4 5 6 7 8 Anthony Giddens. Weiss. The Consequences of Modernity: Self and Society in the Late Modern Age. Rosenau & Ernst-Otto Czempiel.7 konsep Melalui tersebut. Basingstoke: Macmillan. 21. James N. 364. intensitas.highbeam. 1992. Cal. barang.

atau lebih khusus lagi. 365. What is Global governance?. Di sisi lain. Hlm. Hlm. 1995. diantaranya: 1. James Rosenau. Seperti ditulis oleh Finkelstein dalam bukunya yang berjudul What is Global Governance?9. dalam artian global governance mencakup ruang konseptual yang sangat luas. Global Governance. Finkelstein. Hlm. 1995. Cambridge: Cambridge University Press. menjadikan konsep tersebut sangat luas. Governance in the Twenty-First Century.”11 3. merupakan mekanisme atau sarana institusional bagi kerjasama berbagai aktor baik negara maupun bukan negara untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul sebagai konsekuensi dari globalisasi. “We say “governance” because we don’t really know what to call what is going on. 1995 “Global governance merupakan regulasi dari hubungan saling ketergantungan dalam ketiadaan lingkup otoritas politik. 10 Dirk Messner & Franz Nuscheler.”10 2. Global Governance. 2003 “Global governance merupakan tatanan politik yang berkembang sebagai respon terhadap globalisasi. Das Konzept Global Governance: Stand und Perspektiven. 17. 1996 “Global governance merupakan upaya kolektif untuk mengidentifikasi. 2003. Dalam upaya memahami dinamika global governance. Leon Gordenker dan Thomas G. Oleh karena itu. 11 James Rosenau. seperti di dalam system internasional. definisi mengenai konsep global governance masih sangat diperdebatkan. Di satu sisi. konsep ini dipahami dengan cara yang berbeda oleh orang yang berbeda. terminologi governance seringkali dilihat secara sinis sebagai sebuah bentuk kegagalan ilmuwan politik internasional untuk memberi label pada dinamika tersebut. 21 . Messner. memahami atau menunjukkan masalah-masalah di seluruh dunia (sosial 9 Lawrence S.Global governance bukanlah sebuah konsep yang jelas.” Terdapat beberapa pendapat para ahli mengenai definisi global governance. 3. Duisburg: INEF Report der Universität Duisburg-Essen. New York: California University Press. upaya untuk merumuskan konsep governance dengan mendefinisikannya secara komprehensif. Weiss.

ataupun politik) yang melebihi kapasitas negara untuk menyelesaikan/ memecahkannya. Pilar-Pilar Global Governance Global governance meliputi aktivitas-aktivitas diseluruh tingkat interaksi manusia yang memiliki reaksi-reaksi internasional. Ini menyiratkan ujian dari berbagai aktivitas kepemerintahan. 17. untuk mengelola urusan bersama mereka… governance telah dilihat sebagai hubungan antar pemerintah. 1995 “…. 2. 13 Commission on Global Governance. koalisi-koalisi trans-pemerintah 12 Leon Gordenker & Thomas G.keseluruhan upaya individu-individu dan institusi-institusi. Oxfod: Oxford University Press. dari hukum ke aturanaturan untuk memahami berbagai tempat. masyarakat dan perorangan. 1995. London: Lynne Rienner. Hlm.”13 Berdasarkan definisi-definisi diatas. perusahaan-perusahaan multinasional. The Commission on Global Governance. dari formal ke informal. pergerakan masyarakat. Format ini termasuk organisasiorganisasi non-pemerintah (NGOs). the UN. global governance jelas diasumsikan akan mengambil alih peran regulasi yang tidak lagi bisa dimainkan oleh negara/pemerintah mengingat konsep global governance yang telah dipahami sebagai respons terhadap masalah-masalah global yang lebih luas. Hlm. 22 . and Global Governance. Our Global Neighbourhood. NGOs. Ini bukanlah pendekatan hirarki darin pemerintah dunia. dan pasar modal dunia…ini merupakan proses berkelanjutan dimana konflik atau kepentingan yang beragam dapat terakomodasikan dan dimungkinkan untuk melakukan kerjasama. tetapi pada saat ini harus dipahami juga sebagai hubungan yang mengikutsertakan organisasi-organisasi non-pemerintah. Weiss. Format baru dari global governance adalah muncul sebagai bagian yang terkemuka dalam hubungan internasional.”12 4.

Disamping itu. 23 .secara meyakinkan telah berhasil menunjukkan peran dan sumbangan aktor-aktor non-negara bagi perkembangan global governance sejak tahun 1850. dan yang secara keseluruhan kemudian dikenal dengan global governance. daripada kesepakatan tidak langsung melalui menteri14 Craig Murphy. kerjasama internasional tidak lagi sematamata ditentukan oleh kepentingan masing-masing negara yang terlibat di dalamnya. Oxford University Press. seperti menteri transportasi. New York. Kedua. asumsi utama yang mendasari konsep global governance adalah asumsi yang juga ditampilkan dalam konsep complex interdependence yang dikembangkan oleh Keohane dan Nye melalui Power and Interdependence. ditemukan dalam kasus-kasus dimana mereka memerlukan persetujuan atau kesepakatan satu sama lain secara langsung. Keohane & Joseph S. Boston: Little Brown. 1994. International Organization and Industrial Change: Global governance since 1850. World Politics in Transition. Power and Interdependence. Nye. • Nongovernmental Organizations (NGOs) Peningkatan peran dan kuantitas NGOs menggambarkan bahwa politik internasional bukan semata-mata atau terutama sebagai hubungan antar pemerintah negara-negara yang berdaulat. Craig Murphy14. negara bukan lagi sebagai aktor eksklusif dalam politik internasional melainkan hanya bagian dari jaringan interaksi bersama-sama dengan aktor-aktor lainnya. 15 Robert O. anggota-anggota dari berbagai komunitas para ahli. • Transgovernmental Coalitions Ketika agenda-agenda politik meluas ke dalam isu-isu yang berbeda dan negara tidak memiliki tindakan sebagai aktor unitary.15 Pertama. perdaganagan. Europe and the International Order. melainkan juga oleh institusi internasional.(Transgovernmental Coalitions). 1977. atau pertanian. Perkembangan tersebut merubah kondisi-kondisi bagi penerapan kontrol politik di berbagai tingkat yang berbeda. kemudian koalisi-koalisi trans-pemerintah dapat memainkan peran-peran khusus dalam mengatur aktor sub-negara dalam aktivitas kepemerintahan global. dan partisipan-partisipan dalam rezim internasional. Birokrasi dalam negara yang berbeda.

New York: Oxford University Press. Kelemahan utama teori rezim adalah kecenderungan untuk menempatkan regulasi internasional dalam kerangka negara (state-centric). The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations. kelompok perbatasan dari elit berhubungan dengan kepemerintahan global. hlm. 2008. Komunitas-komunitas ini membagi keahlian sama baiknya dengan serangkaian kepercayaan. • International Regimes dapat mempengaruhi kebiasaan negara dan sekretariat Menurut Stephen Krasner. 24 . dan negara. peraturan. Dengan asumsi state-centric ini teori rezim masih sangat bernuansa realist dan menjadi kurang relevan dalam studi hubungan internasional kontemporer. dan prosedur pembuatan keputusan disekitar aktor dimana pemusatan harapan bertemu disuatu kawasan hubungan internasional. khususnya ketika tidak ada kebijakan sentral atau dimana kepentingan-kepentingan berbeda yang menarik menjadi taruhan. • Transnational Communities of Experts Dalam beberapa area isu. masyarakat sipil dan pelaku ekonomi. 16 John Baylis dan Steve Smith. seperti spesialis teknikal dari IGOs. NGOs. Mereka ikut andil dalam menyelesaikan masalah khusus. terutama setelah berkembangnya pemikiran tentang power and interdependence. Anggota dari komunitas internasional. 4th ed. Teori rezim mendapat banyak kritik sejak kemunculannya. Global govenance merupakan konsep yang dianggap mampu mengatasi kelemahankelemahan teori rezim tersebut tidak hanya melibatkan interaksi aktor negara melainkan juga aktor non-negara. norma-norma.menteri luar negeri. Rezim internasional dipahami sebagai bentuk-bentuk institusionalisasi perilaku yang didasarkan pada norma ataupun aturan untuk mengelola konflik dan masalah-masalah berbagai bidang dalam hubungan internasional. 300. Komunitas para ahli terbentuk hanya sebagai fungsionalis peramal.16 rezim internasional merupakan serangkaian prinsip-prinsip impisit atau eksplisit.

Karena konsep global governance bukan hanya melibatkan rezim-rezim internasional tetapi juga prinsip-prinsip yang konstitutif. Pola perilaku inilah yang merupakan Global governance. jaringan-jaringan internasional dan transnasional serta organisasi-organisasi internasional. 25 .Interaksi dari keempat pilar diatas mendorong terbentuknya pola perilaku.

dan atau komponen lain ke dalam lingkungan. (3) mutual recognition. puluhan dari ribuan spesies tumbuhan dan binatang berkemungkinan punah tiap tahunnya. Untuk mempermudah pemahaman tentang masalah global dan bentuk institusi yang relevan untuk mengatasi masalah tersebut. Sejak akhir tahun 1960-an. kesadaran akan resiko dan implikasi dari masalah lingkungan internasional terus meningkat. dan tanah. dan masalah mengenai nilai-nilai dasar dan utama. (6) withdrawal. dan proses tersebut terus berlanjut. Isu-isu lingkungan muncul pada akhir abad ke-20 menjadi fokus utama dalam perhatian dan aktivitas internasional. Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup.BAB III PEMBAHASAN Mengingat masalah yang ditimbulkan oleh globalisasi terdiri dari masalah koordinasi. zat energi. isu lingkungan internasional memberikan tantangan berarti dalam teori Hubungan Internasional. yang menjadi alternatif pilihan penyelesaian. atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. udara. (4) consensual rules. maka sebuah pilihan yang bijak untuk kita menentukan sebuah akar masalah dan mengalamatkan dengan pilihan institusi yang tepat. Dan hasilnya. Sebagian besar lautan dunia dan samudera mengalami over-fished. (5) delegation. Habitat alami seperti daerah hutan hujan tropis berkurang lebih dari 50% sejak tahun 1950. Serta merujuk pada beberapa bentuk institusi internasional: (1) non-state action. Masalah lingkungan dapat kita kategorikan menjadi masalah bersama. Pada waktu yang sama. salah satu isu paling krusial yang diangkat dalam bahasan ini adalah isu lingkungan. 26 . Timbunan sampah pabrik menyebabkan polusi di laut. masalah-masalah bersama. (2) internal control. Tanah mengalami degradasi dan pengikisan dalam skala besar.

Keempat. Privatization oleh pemerintah: agar sumber daya yang ada dapat dikontrol dan dimanfatkan oleh pemerintah untuk kemakmuran masyarakatnya sehingga tidak ada over exploit yang dilakukan masyarakat untuk kepentingan dirinya mereka sendiri 3. seperti samudera. Adanya tragedy of commons ini secara drastis telah meningkatkan kerusakan lingkungan yang berdampak buruk bagi kehidupan manusia.Terdapat beberapa anggapan mengapa lingkungan dapat menjadi isu global. Yang terakhir. Ketiga. beberapa proses over-exploitation atau degradasi lingkungan relatif berada dalam skala lokal atau nasional dan berdampak di berbagai tempat di seluruh dunia sehingga masalah ini dapat berdampak global. Menurut Hardin halhal yang dapat mencegah terjadinya tragedy of the commons adalah sebagai berikut: 1. laut dalam. karena mereka merupakan bagian dari ekonomi politik global. proses-proses tersebut mengarah pada over-exploitation dan degradasi lingkungan yang berhubungan dengan proses politik dan sosialekonomi secara lebih luas. Exploit and move on: memperbarui/ mengganti kembali sumber daya yang sudah di ekspolitasi dengan begitu dapat memelihara keseimbangan lingkungan 2. atmosfir. Salah satu konsep yang kita kenal yang berkaitan dengan masalah lingkungan adalah tragedy of common yang dikemukan oleh Garet Hardin. System of governance: dengan mengawasi dan membuat peraturan penggunaan/ eksploitasi sumber daya yang dilakukan oleh masyarakat sehingga mencegah kerusakan lingkungan atas ekploitasi yang telah dilakukan 27 . Kedua. dan luar angkasa. sekalipun tidak seluruhnya global. beberapa masalah lingkungan bersifat global. beberapa masalah lingkungan pada hakekatnya bersifat transnasional. Pertama. bahwa alam mereka melewati batasan negara. beberapa masalah berhubungan dengan eksploitasi global : sumber daya alam yang diambil oleh seluruh komunitas internasional.

biaya yang dipikul masyarakat yang bersangkutan secara keseluruhan akan lebih besar daripada yang dipikul oleh produsennya. Karena asap ini berbahaya bagi kesehatan. pabrik-pabrik akan menimbulkan polusi. Ketika negara berbicara tentang otoritas. menebang pohon dari paru-paru dunia untuk sumber daya produksi. negosiasi dan pembuatan keputusan. mutual recognition. maka alternatif institusional yang tepat adalah delegasi. Biaya sosial (social cost) ini akan menimbulkan kerugian yang besar bagi masyarakat. dan pembangunan lebih lanjut. Organisasi internasional dapat mengambil langkah-langkahnya sendiri. maka asap merupakan eksternalitas negatif. sejumlah asap kotor juga akan muncul dari tanur-tanur pabrik tersebut. International environmental regime: dengan begitu setiap negara didunia akan selalu memperhatikan setiap permasalahan lingkungan yang muncul. dan consensual rules. yaitu formasi agenda. untuk sejumlah produk yang mereka produksi. Hal ini menjadi sangat penting ketika melakukan negosiasi dalam pembuatan traktat-traktat multilateral. dan menghasilkan emisi CO2 dari distribusi barang yang akan dikonsumsi. Selain itu.4. No-world government skeptis atas kerjasama lingkungan (collective governance): sehingga setiap negara dapat secara bersamasama mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi di negaranya secara efektif dan tepat 5. Untuk mengatasi isu tersebut. oleh 28 . maka disaat ini pula mereka telah melakukan transfer otoritasnya kedalam suatu organisasi internasional untuk mengambil langkah-langkah spesifik tertentu. dalam masalah lingkungan hal yang perlu kita sadari adalah adanya eksternalitas negatif dalam proses produksi. Selama terjadi revolusi industri dan penggiatan ekonomi sektor industri di era globalisasi. Akibat dari adanya eksternalitas ini. Mengapa hal ini dipilih? Kita tahu bahwa delegasi adalah bentuk khusus pembuatan keputusan konsensual. implementasi. Terbagi dalam empat fase.

Melalui pembuatan traktat atau perjanjian internasional. Aksi kolektif tersebut dapat diejawantahkan dalam rezim internasional yang mencakup pandangan kontraktual dalam institusi. maka digunakanlah bentuk-bentuk korporasi dalam internasional secara berkala. negaranegara dapat bekerjasama dengan menumbuhkan sebuah cakupan aksi kolektif terhadap berbagai masalah global. mencakup prinsip-prinsip yang diterima dengan terkoordinasi oleh beberapa Negara. UN Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro. Rezim internasional yang menangani masalah lingkungan ini berkembang dari tahun 1992 hingga 2007. Demi membatasi perubahan iklim. Konvensi Perubahan Iklim (The United Nations Frame Work Convention on Climate Change/the UNFCCC) yang diselenggarakan di Bali tahun 2007. tindakan yang perlu dilakukan adalah “consensual rules”/ traktat. atau lebih khusus lagi. dengan pendekatan neo-liberalisme. dan melawan desertifikasi. Tahun 1997 11 Desember. Pendekatan ini mencakup juga dasar dalam menentukan aturan-aturan yang seharusnya diterapkan dalam transaksi yang melibatkan perusahaan-perusahaan atau individu-individu dari negara yang berbeda. pemeliharaan biodiversity. namun juga dengan membuat suatu undang-undang bersama (transnational rules). Dan langkah paling komprehensif menyelesaikan masalah ini kemudian melalui “mutual recognition”. Di tahun 1992. Disaat perjanjian tidak didukung oleh suatu mekanisme penyelenggaraan formal. Jika merujuk pada definisi global governance menurut Messner (2003) “Global governance merupakan tatanan politik yang berkembang sebagai respon terhadap globalisasi. Dalam hal ini. Keohane.karena itu negara-negara tidak perlu untuk merundingkannya lagi secara holistik. disetujuinya Potokol Kyoto. bertujuan untuk memajukan dan mengembangkann ‘sustainable development’. Setelah itu. merupakan mekanisme atau sarana institusional bagi kerjasama berbagai aktor baik negara maupun bukan negara 29 . negara bangsa berkomitmen untuk tidak hanya mengetahui peraturan perundang-undangan domestik negara lain. berpendapat bahwa politik internasional itu telah terinstitusi dan organisasi internasional memainkan peranan yang penting dalam distribusi kekuatan internasional.

untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul sebagai konsekuensi dari globalisasi. organisasi internasional telah ditempatkan dalam alat yang dibutuhkan oleh rezim internasional sebagai penyokong dalam global governance. Dalam hal ini. Pertama. dan prosedur pembuatan keputusan menunjukkan internasional. Oran Young. mereka dapat dijadikan sbagai instrument dari formasi rezim yang member tenaga dalam proses penawaran institusi yang melahirkan kontrak konstitusi dalam menumbuhkan rezim. telah mendefinisikan peran organisasi internasional dalam rezim internasional telah menjadi dua kali lipat. maka rezim internasional merupakan alat untuk aktivitas ini. Duncan Snidal. Lalu. bahwa aktivitas internasional terkait dengan organisasi 30 .” Jika global governance merupakan penjumlahan cara dimana individu dan institusi mengelola masalah bersama dalam ranah global. mereka dapat mengimplementasikan dan mengatur pembagian dari sistem kepemerintah yang mereka ciptakan. aturan. Seorang pemikir berkebangsaan Amerika. sejumlah aturan yang didalamnya terdapat norma. menitikberatkan peran penting organisasi internasional dalam sebagian area isu. Sebagai contoh-masalah lingkungan-yang merupakan sebuah hal yang sangat baik disajikan oleh organisasi internasional dan global governance.

yaitu masalah koordinasi. Di satu sisi. serta fokus terhadap peranan utama institusi dan organisasi dalam politik internasional. Peningkatan intensitas dan perluasan interaksi global membawa sebuah keberagaman dalam pergantian pemerintahan. Di sisi lain. concensual rules. Neo-liberalisme sebagai sebuah pendekatan teoritis dalam hubungan internasional yang menggambarkan konsep dari rasionalitas dan keterikatan. Setiap negara secara individual dapat menggunakan pilihan-pilihan tersebut sesuai dengan masalah yang dihadapi. dalam merespon masalahmasalah global. Perluasan pasar membawa interdependensi yang cukup dalam dan pertumbuhan permintaan dalam koordinasi dan pengaturan yang luas dalam berbagai bidang.yaitu: non-state action. Politik internasional telah terinstitusi. dan masalah dalam nilai-nilai dasar/utama. Dengan kata lain. Kita dapat membedakan tiga tipe dari masalah yang berkaitan dengan globalisasi dan desakan terhadap aksi internasional.BAB IV KESIMPULAN Globalisasi saat ini membawa dunia kepada suatu bentuk yang dinamakan koordinasi internasional dan aksi kolektif. mereka perlu untuk memastikan bahwa suatu institusi benar-benar dapat menangani masalah yang memang perlu diselesaikan. seperti Hak Asasi Manusia. masalah umum/bersama. mereka bisa memilih untuk tidak mengambil tindakan penyelesaian dengan kemungkinan bahwa norma-norma dan mekanisme koordinasi lainnya akan berkembang melalui pasar atau melalui jaringan-jaringan dari organisasi-organisasi non-pemerintah. Melalui organisasi internasional negara-negara dapat bekerjasama 31 . mutual recognition. negara-negara bangsa dapat memilih diantara enam pilihan utama atau bentuk-bentuk kelembagaan. dan withdrawal. dan organisasi internasional memainkan peranan yang penting dalam distribusi internasional akan kesejahteraan dan kekuatan. internal control. delegation. Negara-negara bangsa memiliki pilihan dalam merespon masalah-masalah global.

dalam menumbuhkan sebuah cakupan aksi kolektif terhadap berbagai masalah. Rezim internasional itu sebdiri merupakan salah satu pilar dari global governance. aturan. Jadi dapat disimpulkan bahwa global governance merupakan penjumlahan cara dimana individu dan institusi mengelola masalah bersama dalam ranah global. sejumlah aturan yang didalamnya terdapat norma. maka rezim internasional merupakan alat untuk aktivitas ini. bahwa aktivitas internasional terkait dengan organisasi 32 . dan prosedur pembuatan keputusan menunjukkan internasional. Kerjasama tersebut diterapkan dalam suatu rezim internasional.

2006. London: Lynne Rienner. Cambridge: Polity Press. Lawrence S. 2003.: Stanford University Press. and Global Governance. Baylis. Hass. Robert. Anthony. Messner. New York: Oxford University Press. The New Paradigm in Bussiness: Emerging Strategis for Leadership and Organizational Change. Gordenker. 2001. The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations. Finkelstein. 1995. 4th ed. Power and Interdependence. NGOs. the UN. International Relation Theories. Global Political Economy. New York: Tarcher/Perigee. New York: California University Press. Weiss. Dunne. 3rd edition.D. Dirk & Franz Nuscheler. Duisburg: INEF Report der Universität Duisburg-Essen. International Relations. Boston: Little Brown. Ray and A. Robert O. The United State: Lehigh Press Inc. The Consequences of Modernity: Self and Society in the Late Modern Age. & Joseph S. World Politics in Transition. 1995. What is Global governance?. Oxfod: Oxford University Press. New York: Oxford University Press. Golstein. and Stanford. Brief Second edition. 1977. Rinzler (Eds). Cal. Milza Kurki. John & Steve Smith.DAFTAR PUSTAKA Archer. Our Global Neighbourhood. Giddens. Joshua S. International Organizations. New York: Routledge. NJ: Princeton University Press. Nye. 1990. Gilpin. Princeton. Disciplines and Diversity. “The Coorporation without Boundaries”. 2004. Commission on Global Governance. 2008. Clive. Tim. Dalam M. Das Konzept Global Governance: Stand und Perspektiven. and Steve Smith. 33 . R. Leon & Thomas G. 2001. 1993. Global Governance. Keohane.

1992.com [24/04/09]. Jan Aart. Melalui http://www.Murphy. Scholte. Governance without Government: Order and Change in World Politics. New York. Basingstoke: Macmillan. Global 34 . 1994. International Organization and Industrial Change: Global governance since 1850. Oxford University Press. Governance. Cambridge: Cambridge University Press. Governance in the Twenty-First Century. 1995. Global Governance. James N. Europe and the International Order. Rosenau.highbeam. & Ernst-Otto Czempiel. Globalisation: A Critical Introduction. 2000. 2001. Rosenau. Craig. Weiss. Thomas G. James. Cambridge: Cambridge University Press.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful