Tugas Individu

PROPOSAL PENELITIAN
“KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA SMU YANG
AKAN MENGHADAPI UJIAN”
Mata Kuliah : Penyusunan Skala Psikologi
Dosen Pengampu : Amri Hana M, S.Psi
M. Ikbal, M.Psi
Oleh :
Wenty Anggraini
1550406010
PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2008
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dari waktu ke waktu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
makin pesat. Arus globalisasi semakin hebat. Akibat dari fenomena ini antara
lain munculnya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya
bidang pendidikan. Untuk menghadapi tantangan berat ini dibutuhkan sumber
daya manisia yang berkualitas, salah satu cara yang ditempuh adalah melalui
peningkatan mutu pendidikan.
Kalau seseorang ingin meraih sukses, ada satu hal yang tidak boleh
dilupakan yaitu kedisiplinan. Sebenarnya apa arti dari sebuah kedisiplinan
sehingga memberikan dampak yang begitu besar? Dikatakan bahwa
kedisiplinan adalah sikap mental untuk melakukan hal-hal yang seharusnya
pada saat yang tepat dan benar-benar menghargai waktu. Meskipun pengertian
disiplin sangat sederhana, tetapi agak sulit untuk menerapkan konsep-konsep
kedisiplinan tadi hingga membudaya ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam dunia pendidikan, disadari bahwa sekolah-sekolah masih perlu
meningkatkan kedisiplinannya. Masih banyak ditemukan sekolah-sekolah
yang belum berada pada tingkat disiplin yang baik, sehingga hal tersebut akan
mempengaruhi hasil belajar atau prestasi siswa yang kurang baik. Disiplin
menjadi sarana pendidikan, karena dalam mendidik disiplin berperan
mempengaruhi, mendorong, mengendalikan, mengubah, membina dan
membentuk perilaku-perilaku tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang
ditanamkan, diajarkan dan diteladankan. Oleh karena itu, sekolah perlu
menempatkan disiplin ke dalam prioritas program pendidikan. Dengan
demikian, para siswa akan terbawa arus disiplin sekolah yang baik yang akan
melahirkan siswa-siswa yang berprestasi.
Tidak ada hal yang lebih penting dalam manajemen diri dibandingkan
dengan kedisiplinan. Selain pentingnya menemukan arah dan tujuan hidup
yang jelas, kedisiplinan merupakan syarat mutlak untuk mencapai impian atau
melaksanakan misi hidup seseorang. Seseorang harus disiplin dalam
mengembangkan diri (lifetime improvements) di segala aspek, harus disiplin
dalam mengelola waktu dan uang, serta harus disiplin dalam melatih
keterampilan dalam setiap bidang yang dipilih oleh seseorang.
Disiplin, kreatif dan memiliki etos kerja yang tinggi menurut Indaryani
dan Milwardani (dalam Nadjamudin, 1998) adalah indikator sumber daya
manusia yang berkualitas dan fondasi yang amat menentukan. Seseorang
dikatakan mempunyai kualitas sumber daya manusia yang tinggi jika dia dapat
menunjukkan perilaku yang mencerminkan adanya kedisiplinan, kreativitas
maupun etos kerja yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Sikap
disiplin merupakan sikap yang harus ditingkatkan, karena memberi manfaat
dan sumbangan yang besar, apalagi pada negara yang masih berkembang
seperti negara Indonesia.
Berhubungan dengan manusia yang berkualitas, dalam khasanah ilmiah
psikologi terdapat istilah prokrastinasi yang menunjukkan suatu perilaku yang
tidak disiplin dalam penggunanaan waktu. Prokrastinasi adalah suatu
kecenderungan untuk menunda dalam memulai maupun menyelesaikan
kinerja secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas lain yang tidak berguna,
sehingga kinerja menjadi terhambat, tidak pernah menyelesaikan tugas tepat
waktu, serta sering terlambat dalam menghadiri pertemuan-pertemuan
(Solomon & Rothblum, 1984; Tuckman, dalam http://all.successcenter-
ohiostate. edu/references/procrastinator_APA_paper.htm).
Pembangunan Indonesia dewasa ini menuntut adanya inovasi dan
produktivitas, istilah prokrastinasi akan menjadi istilah yang berkonotasi
negatif, yang menurut Ferrari, dkk.,(dalam Rizvi, 1998) bahwa pada negara
dengan teknologi sudah digunakan, ketepatan waktu menjadi hal yang sangat
penting, sehingga prokrastinasi dapat dianggap sebagai suatu masalah.
Menurut Ferrari (dalam Rizvi,1998) bahwa prokrastinasi akademik
banyak berakibat negatif, dengan melakukan penundaan, banyak waktu yang
terbuang dengan sia-sia. Tugas-tugas menjadi terbengkalai, bahkan bila
diselesaikan hasilnya menjadi tidak maksimal. Penundaan juga bisa
mengakibatkan seseorang kehilangan kesempatan dan peluang yang datang.
Hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa prokrastinasi
merupakan salah satu masalah yang menimpa sebagian besar anggota
masyarakat secara luas, dan pelajar pada lingkungan yang lebih kecil, seperti
sebagian pelajar di sana. Sekitar 25% sampai dengan 75% dari pelajar
melaporkan bahwa prokrastinasi merupakan salah satu masalah dalam lingkup
akademis mereka(Ellis dan Knaus; Solomon dan Rothblum; dalam Ferrari,
dkk, 1995). Pada hasil survey majalah New Statement 26 Februari 1999 juga
memperlihatkan bahwa kurang lebih 20% sampai dengan 70% pelajar
melakukan prokrastinasi.
Menurut Zakarilya (2002) anak-anak usia sekolah, dari Sekolah Dasar
(SD) hingga Sekolah Menengah Umum (SMU), cenderung lebih banyak
mengisi waktunya dengan bermain dan menonton televisi dari pada belajar.
Semangat belajar mereka semakin lama semakin menipis, dan kalah dengan
keinginan untuk bermain. Apalagi saat ini dengan banyak saluran televisi yang
bisa dipilih, membuat anak terpaku di depan pesawat televisi. Masih untung
jika permainan yang dilakukan bersifat positif. Pada kenyataannya, anak-anak
usia sekolah terutama anak-anak SMU justru terjerumus pada kegiatan-
kegiatan yang bersifat negatif seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang,
merokok, minum minuman keras dan sebagainya. Jika sudah terjerumus
dalam kegiatan-kegiatan negatif seperti itu, jangankan menjaga semangat
belajar, berangkat ke sekolah saja mungkin menjadi sebuah beban yang berat.
Ditegaskan kembali oleh Tedjasaputra (2001) dibandingkan tugas
sekolah, seperti pekerjaan rumah (PR) dan buku-buku sekolah, televisi
memiliki daya tarik yang lebih besar bagi anak. Perhatian anak akan lebih
terpusat pada menyaksikan acara di televisi dari pada belajar, sehingga tugas
sekolah menjadi tertunda bahkan menjadi terbengkalai dan anak merasa bosan
untuk belajar. Komputer dan video game adalah pesona yang begitu besar
selain televisi, bagi anak yang mempengaruhi jadwal kehidupan anak sehari-
hari. Bisaanya anak menjadi malas belajar, sulit makan dan tidur tidak pada
waktunya.
Moonks, dkk. (1992) berpendapat bahwa pada remaja terjadi krisis yang
nampak paling jelas pada penggunaan waktu luang yang sering disebut
sebagai waktu pribadi orang (remaja) itu sendiri. Hal yang dapat dicatat adalah
bahwa para remaja mengalami lebih banyak kesukaran dalam memanfaatkan
waktu luangnya.
Sebagai tunas harapan bangsa, remaja diharapkan dapat
mempertahankan eksistensi bangsa di era yang akan datang. Remaja sudah
seharusnya menjadi fokus utama guna mewujudkan sumber daya manusia
yang berkualitas agar mereka dapat bersaing dalam era sekarang ini dan
mandatang. Remaja yang saat ini sedang menempuh bangku sekolah
merupakan calon kompetitor yang akan menghadapi tingkat persaingan yang
tinggi, namun bilamana perilaku prokrastinasi akademik sering dilakukan,
akan dapat menjadi masalah tersendiri bagi mereka, sehingga dapat pula
dikatakan bahwa tingkat kedisplinan mereka rendah, dan juga dapat dianggap
sebagai salah satu indikator bahwa remaja masih belum bisa diharapkan
menjadi sumber daya manusia seperti yang diharapkan. Demikian itu,
prokrastinasi akademik pada mereka dapat dikatakan sebagai suatu masalah.
Dikatakan juga bahwa tingkat prokrastinasi akademik seseorang akan
semakin meningkat seiring dengan makin lamanya studi seseorang (Solomon
dan Rothblum, 1984). Jika masa remaja seseorang sudah melakukan
prokrastinasi akademik, diasumsikan pada mahasiswa tingkat prokrastinasi
akademiknya semakin meningkat. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa
prokrastinasi akademik pada remaja merupakan salah satu masalah yang perlu
mendapat perhatian.
Bagaimana guru-guru memahami kedisiplinan dan bentuk-bentuk
manajemen perilaku lain tergantung pada bagaimana mereka melihat
pekerjaan mereka sebagai seorang guru dan sejauh mana mereka meyakini
bahwa semua anak dapat belajar. Perilaku di kelas dan hasil belajar banyak
dipengaruhi oleh kualitas pengajaran. Guru menguasai banyak faktor yang
mempengaruhi motivasi, prestasi dan perilaku siswa mereka. Lingkungan fisik
di kelas, level kenyamanan emosi yang dialami siswa dan kualitas komunikasi
antar guru dan siswa merupakan faktor penting yang bisa memampukan atau
menghambat pembelajaran yang optimal.
Guru bertanggung jawab untuk berbagai siswa, termasuk mereka dari
keluarga yang tidak mampu atau kurang beruntung, siswa yang mungkin harus
bekerja setelah sekolah, atau mereka yang berasal dari kelompok minoritas
etnis, agama atau bahasa atau mereka dengan berbagai kesulitan atau
kecacatan belajar. Tak satupun dari situasi atau faktor ini harus menyebabkan
masalah pendidikan, namun anak-anak ini mungkin beresiko mendapatkan
pengalaman sekolah yang negatif dan tak bermakna jika guru tidak responsif
terhadap kebutuhan dan kemampuan mereka atau mampu menggunakan
pengajaran dan strategi kelas yang efektif dan disesuaikan menurut individu.
Suatu bentuk perilaku kedisiplinan dapat tercermin dari patuhnya
seseorang terhadap aturan-aturan yang berlaku bagi dirinya sendiri. Datangnya
aturan tersebut bisa dari dirinya sendiri maupun dari lingkungan sosialnya.
Sukses atau tidaknya individu menerapkan aturan yang menjadi prioritasnya
itu, semuanya tergantung pada niat dan kemampuan menegakkan aturan –
aturannya itu sendiri.
Kedisiplinan seseorang dalam belajar, dapat diasumsikan sebagai
ketaatan seseorang untuk melakukan suatu proses belajar, dengan tanpa
tergoda oleh halangan – halangan atau sesuatu yang nantinya dapat menjadi
penghambat berlangsungnya proses belajar itu tadi. Jadi perlu adanya rasa
disiplin yang cukup kuat untuk dapat mencapai suatu proses belajar yang baik.
Setiap siswa, pada akhirnya akan tetap bertemu dengan yang namanya
Ujian Akhir Nasional. Yaitu ujian yang diperuntukkan kepada siswa yang
sudah menapaki akhir dari masa dia di sekolah tempat dia belajar. Banyak
siswa yang berlomba – lomba untuk mendapatkan nilai yang baik dan
memuaskan, agar nantinya dapat mendaftarkan diri ke jenjang yang legih
tinggi dengan nilai yang baik sehingga akan dapat diterima oleh sekolahan itu
dengan mudah. Seperti contohnya, ada anak yang rela mengorbankan waktu
bermainnya hanya demi mengikuti les – les yang nantinya diharapkan akan
memberi dampak dan manfaat yang cukup banyak, bagi si anak tersebut.
Tetapi tidak sedikit pula siswa yang merasa sebuah moment Ujian Akhir
Nasional sebagai waktu yang biasa saja, sehingga mereka akan tetap merasa
santai dan menikmati waktu yang berlalu dengan sekedar pergi bersama teman
– teman, ataupun merasa tidak perlu belajar lagi. Atau ada pula yang berdalih
bahwa belum saatnya memikirkan Ujian Akhir Nasional dengan terburu –
terburu sebagai senjata mereka untuk menghindari belajar. Bahwasanya
belajarnya akan lebih mudah untuk mengingatnya jika waktu belajarnya mepet
dengan waktu akan ujian berlangsung.
B. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari
penelitian ini adalah bagaimana tingkat kedisiplinan siswa SMU dalam yang
akan menghadapi ujian?
C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kedisiplinan
siswa SMU dalam yang akan menghadapi ujian
D. Manfaat
Manfaat dari penelitin ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini secara teoritis dapat memberikan sumbangan bagi
perkembangan ilmu Psikologi, khususnya Psikologi yang terkait dengan
perilaku disiplin.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna
bagi orang tua dan guru-guru dalam kaitannya dengan bagaimana kesiapan
dan persiapan anak terhadap ujian yang tidak lama lagi akan segera
dilaksanakan serta bagaimana kedisiplinan anak dalam belajar agar
nantinya mencapai hasil yang maksimal.
BAB II
LANDASAN TEORI
1. Pengertian Kedisiplinan
Disiplin merupakan aspek yang sangat penting, karena bukan hanya
diperlukan dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang karir,
jabatan, pendidikan, organisasi, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin
merupakan modal bagi individu agar dalam setiap karirnya lebih baik dari
sebelumnya sehingga tujuan dapat tercapai dengan mudah, dalam arti disiplin
akan membawa individu kea rah kesuksesan dan kemajuan.
Hurlock (2002: 82) berpendapat bahwa, kedisiplinan adalah mentaati
terhadap peraturan yang berlaku serta menyesuaikan dengan harapan social
yang tercakup dalam peraturan-peraturan yang diperlihatkan melalui
pemberian hadiah atau pujian dan pengakuan social. Menurut Hurlock (2002:
83) ada beberapa macam kedisiplinan, yang meliputi disiplin otoriter, disiplin
permissive, dan disiplin demokratis.
Soegeng Prijodarminto (1994: 23) menyatakan bahwa kedisiplinan
adalah kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku
yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan
ketertiban terhadap aturan yang diberlakukan. Karena sudah menyatu dengan
dirinya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan sama sekali tidak dirasakan
sebagai beban, melainkan perilaku atau perbuatan yang ia lakukan benar-benar
kesadaran di dalam dirinya.nilai-nilai kepatuhan, kepekaan, dan kepedulian
telah menjadi bagian dari perlakuan kehidupan. Sebelum orang menyatakan
“aneh” kalau dia berbuat menyimpang, dirinya terlebih dahulu sudah merasa
“aneh”, risih, atau merasa malu dan berdosa kalau berbuat menyimpang.
Kedisiplinan berguna untuk mengarahkan siswa agar dapat berperilaku
sesuai dengan aturan yang berlaku. Menurut Sobur (1985, h.64), kedisiplinan
adalah suatu proses dari latihan atau belajar yang bersangkut paut dengan
pertumbuhan dan perkembangan. Selanjutnya, menurut Hurlock (1991, h.82),
disiplin berasal dari kata “disciple” yang berarti bahwa seseorang belajar
secara sukarela mengikuti seorang pemimpin dan anak merupakan murid yang
belajar dari mereka cara hidup menuju ke hidup yang berguna dan bahagia.
Setiap anak perlu memiliki kedisiplinan bila ia ingin bahagia dan
menjaadi pribadi yang baik penyesuaiannya. Melalui disiplin seseorang dapat
belajar berperilaku dengan cara – cara yang berlaku di masyarakat sehingga ia
dapat diterima oleh anggota kelompok sosialnya. Kedisiplinan pertama kali
didapatkan seorang anak dari keluarganya, dan kemudian anak akan belajar
tentang kedisiplinan ketika ia mulai masuk sekolah.
Menurut Abu (1989, h.30), kedisiplinan sisiwa di sekolah adalah
kepatuhan siswa terhadap peraturan – peraturan yang telah ditetapkan oleh
sekolah. Pendapat lain juga dikemukakan oleh Soekanto (1996, h. 80) yang
menyebutkan bahwa kedisiplinan merupakan suatu keadaan dimana perilaku
berkembang dalam diri seseorang yang menyesuaikan diri dengan tertib pada
keputusan, peraturan, dan nilai dari suatu pekerjaan.
Sobur (1995, h. 64) berpendapat bahwa seseorang dapat dikatakan
disiplin bila ia sudah berhasil dan bisa mengikuti dengan sendirnya tokoh –
tokoh yang telah menetapkan aturan tersebut. Tokoh – tokoh itu antara lain
adalah orang tua dan guru yang mengarahkan agar kehidupan menjadi lebih
bermanfaat begi diri sendiri dan menimbulkan perasaan bahagia. Lebih lanjut
Sobur juga mengatakan bahwa tujuan dair disiplin itu sendiri adalah membuat
seseorang terlatih dan terkontrol dengan mengajarkan kepada mereka bentuk –
bentuk tingkah laku yang pan tas dan yang tidak pantas atau yang masih asing
bagi mereka. selain itu disiplin juga sebagai pengarahan diri sendiri tanpa
pengaruh atau pengendalian diri dari luar.
Sekolah yang baik mutunya akan menciptakan suasana pengajaran dan
suasana kelas yang menyejukkan, yang akan menimbulkan motivasi belajar,
penuh perhatian dan rasa aman, berlaku adil dan adanya keteraturan yang
dapat memelihara kedisiplinan yang cukup tinggi, akan sangat berpengaruh
terhadap pembentukan sikap dan perilaku kehidupan pendidikan anak dan
pola pikirnya dalam memandang masa depannya kelak nanti. Namun, usaha
untuk menciptakan disiplin pada siswa – siswa tentunya membutuhkan waktu
yang lama dan harus ditetapkan secara bijaksana serta berlaku pada semua
orang yang berada di lingkungan sekolah mulai dari kepala sekolah, guru –
guru, dan para siswa dengan sanksi – sanksi yang diberikan secara bijaksana.
(1989, h.30).
Peraturan – peraturan yang dibuat harus jelas dan dapat dimengerti,
sehingga secara logis seseorang dapat mengikutinya bukan hanya dalam artian
mematuhi otoritas, melainkan juga mengerti bahwa pelanggaran peraturan
dapat merugikan kepentingan bersama dan diri sendiri. (Dreikurs dan Cassel,
1986, h.87). Dengan disiplin, siswa akan memiliki kecakapan mengenai cara
belajar yang baik dan disiplin juga merupakan suatu proses pembentukan
watak yang baik. Dengan adanya peraturan yang ditetapkan, maka siswa akan
mengarahkan diri sehingga menghasilkan suatu kedisiplinan. (Gie, 1988,
h.59).
Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bahwa
kedisiplinan adalah seseorang yang dengan sukarela berperilaku mengikuti,
menyesuaikan diri dengan tertib pada peraturan – peraturan yang berlaku
untuk mencapai kehidupan yang lebih berguna dan bahagia. Dan kedisiplinan
belajar adalah suatu keadaan yang tercipta dan terbentuk melalui proses
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan,
kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban terhadap aturan yang lingkungan
ciptakan demi tercapainya suatu kegiatan belajar. Karena sudah menyatu
dengan dirinya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi
dirasakan sebagai beban, tapi justru akan membebani dirinya bila nantinya dia
tidak berbuat sebagaimana lazimnya.
2. Aspek – aspek Kedisiplinan
Soegeng Prijodarminto mengemukakan bahwa kedisiplinan itu memiliki
3 aspek, yaitu:
1) Sikap mental, yaitu merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil
pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran, dan pengendalian
waktu.
2) Pemahaman, yaitu mengenai system aturan perilaku, norma, criteria, dan
standar tadi merupakan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan
(sukses).
3) Sikap ketaatan, yaitu secara wajar menunjukkan kesungguhan hati untuk
mentaati segala hal secara cermat dan tertib.
Menurut Durkheim (1990, h.93) ada dua aspek dari disiplin, yaitu:
a. Keinginan akan adanya keteraturan.
Keseluruhan tatanan moral bertopang pada keteraturan ini.
b. Penguasaan diri
Seseorang yang disiplin akan memahami bahwa tidak semua
keinginanya dapat terpenuhi karena ia harus menyesuaikan diri dengan
realitas.
Sedangkan menurut Sobur (1985, h.64) dalam kedisiplinan mengandung
aspek kontrol diri, yaitu menguasai tingkah laku sendiri tanpa adanya
pengaruh dari luar sehingga siswa tidak mudah terpengaruh terhadap perilaku
yang tidak atau kurang baik.
Menurut Abu (1989, h.37), kedisiplinan memiliki aspek, yaitu:
a. Ketertiban terhadap peraturan.
Adanya ketaatan atau kepatuhan terhadap peraturan – peraturan secara
tertulis maupun tidak tertulis.
b. Tanggung jawab
Tanggung jawab memunculkan disiplin yang berkaitan dengan bersikap
jujur dan penuh rasa tanggung jawab atas semua perbuatan dan berani
menanggung resikonya.
Pendapat dari tiga orang tokoh di atas, yaitu Durkheim, Abu, dan Sobur
tentang aspek dari kedisiplinan memiliki kesamaan, yaitu aspek ketertiban
terhadap peraturan, aspek tanggung jawab, dan aspek kontrol diri.
Hurlock (2002: 84) menyatakan bahwa disiplin bila dilatih mampu
membentuk perilaku dan sikap individu sesuai dengan standar yang ditetapkan
oleh kelompok. Terdapat empat unsure pokok cara mendisiplinkan, yaitu (1)
Peraturan sebagai pedoman perilaku, (2) Konsisten dalam peraturan tersebut
dan dalam cara yang digunakan untuk mengajarkan dan melaksanakan, (3)
Hukuman pelanggaran peraturan, (4) Penghargaan untuk perilaku yang baik,
yang sejalan dengan peraturan yang berlaku.
a. Peraturan
Peraturan merupakan pola yang ditetapkan untuk mengatur tingkah
laku. Tujuannya adalah untuk membekali individu dengan pedoman
perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. Menurut Hurlock (2002: 85)
ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam peraturan, yaitu:
1) Fungsi peraturan
Peraturan mempunyai dua fungsi yang sangat penting dalam
membantu individu untuk membentuk makhluk yang bermoral.
Pertama, peraturan mempunyai fungsi pendidikan, sebab peraturan
memperkenalkan pada individu perilaku yang disetujui anggota
kelompok yang tersebut. Kedua, peraturan membentu mengekang
perilaku yang tidak diinginkan.
Agar peraturan dapat memenuhi kedua fungsi tersebut, peraturan
itu harus dimengerti, diingat, dan diterima oleh seseorang. Peraturan
diberikan dalam kata-kata yang tidak dimengerti atau hanya sebagian
dimengerti, peraturan itu tidak berharga sebagai pedoman perilaku dan
gagal mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
2) Jumlah peraturan
Banyaknya peraturan yang ada sebagai pedoman perilaku
bervariasi menurut situasi, usia, sikap orang yang mendisiplinkan, cara
menanamkan disiplin, dan banyak faktor yang lain.
b. Hukuman
Hukuman (punishment) berasal dari kata Latin, punier yang berarti
menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan,
perlawanan, atau ganjaran sebgai balasan. walaupun tidak dikatakan secara
jelas bahwa kesalahan perlawanan atau pelanggaran ini disengaja, dalam
artian bahwa orang itu mengatahui bahwa peraturan itu salah tetapi tetap
saja melakukannya.
c. Penghargaan
Unsur ketiga dari disiplin adalah penghargaan. Penghargaan menunjuk
pada tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan
tidak perlu berupa materi, tetapi bisa juga berupa kata-kata pujian,
senyuman, atau tepukan di pundak.
1) Fungsi Penghargaan
Penghargaan mempunyai tiga peranan penting agar individu
berperilaku sesuai dengan cara yang direstui oleh masyarakat.
Pertama, penghargaan mempunyai nilai mendidik yaitu bila suatu
tindakan disetujui, individu merasa hal itu baik. sepertihalnya
hukuman, penghargaan juga merupakan usaha individu untuk
berperilaku menurut standar yang disetujui secara social nilai edukatif
pendidikan itu meningkat.
Kedua, penghargaan sebagai fungsi motivasi, yaitu untuk
mengulangi perilaku yang disetujui yang dinyatakan dengan
penghargaan di masa mendatang mereka berusaha untuk memberikan
penghargaan. Ketiga, Penghargaan berfungsi untuk memperkuat
perilaku yang disetujui secara, dan diadakannya penghargaan
melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku ini.
2) Jenis Penghargaan
Penghargaan yang tepat harus disesuaikan dengan perkembangan
individu, bila tidak akan kehilangan efektifitasnya. Beberapa Jenis
penghargaan, yaitu: (a) Penerimaan social, yaitu komentar seperti
“kamu membersihkan kamarmu dengan baik, saya tidak bisa
melakukan sepertimu”, selalu dihubungkan dengan tindakan tersebut.
Bila pujian diharapkan nilai edukatif, ia harus merefleksikan tingkat
persetujuan social atas tindakan daripada suasana hatiorang yang
memberikan pujian. (b) Hadiah; hadiah kadang-kadang diberikan
sebagai penghargaan untuk perilaku yang baik. suatu hadiah dapat
merupakan sebagai tanda kasih sayang, penghargaan atas suatu
kemampuan atau prestasi seseorang, bentuk dorongan atau
kepercayaan. Adapun situasinnya, hadiah menambah rasa harga diri
seseorang individu. (c) Perlakuan Istimewa, misal menonton TV
walaupun jam tidur sudah larut atau pergi nonton film terutama beguna
sebagai penghargaan bagi seseorang individu yang lebih besar.
3) Konsistensi
Konsistensi berarti tingkat keseragaman atas stabilitas. Ia tidak
sama dengan ketepatan, yang artinya tidak ada perubahan. sebaliknya
artinya adalah suatu kecenderungan menuju kesamaan. bila disiplin itu
konstan, tidak ad perubahan untuk menghadapi perubahan kebutuhan
perkembangan yang berubah. Konsistensi harus menjadi semua aspek
disiplin. harus ada konsistensi dalam setiap peraturan yang dijadikan
sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam sistem peraturan ini
dijalankan dan dipaksakan, dalam artan hukuman yang diberikan pada
mereka yang tidak menyesuaikan standar, dan dalam penghargaan
pada mereka yang menyesuaikan.
Konsistensi dalam disiplin mempunyai tiga peranan pernting.
Pertama, konsisten mempunyai nilai mendidik yang besar. Bila
peraturannta konsisten ia memacu proses belajar. Kedua, kensisten
memiliki nilai moetivasi yang kuat. seorang individu yang mneyadari
bahwa pengahrgaan selalu menyertai perilkau yang disetujui atau
hukuman yang dilarang. Ketiga, konsistensi mempertinggi
penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa.
3. Terbentuknya Disiplin
Soegeng Prijodarminto (1987: 26) menyatakan bahwa terbentuknya
disiplin melalui serangkaian perilaku yang menunjukkan ketaatan, kepatuhan
terhadap peraturan yang berlaku, kesadaran dalam melaksanakan peraturan,
dan kesetiaan anggota kepada pimpinan.
a. Ketaatan dan Kepatuhan
Ketaatan dan kepatuhan terhadap ketentuan, aturan-aturan atau
kelaziman-kelaziman yang berlku sangat penting adanya. Fungsi dari
kepatuhan dan ketaatan adalah untuk mencapai ketertiban dan
kenyamanan dalam proses belajar.
Kepatuhan berasal dari kata ”patuh” yang berarti suka menurut,
berdisiplin. Sedangkan kepatuhan berarti sifat patuh, ketaatan
(Depdikbud, 1996: 40).
Oleh karena itu masalah kepatuhan dalam mentaati peraturan-peraturan
belajar masih bersifat abstrak sekali, maka perlu diidentifikasi terlebih
bahulu indikator-indikator yang meliputi:
1) Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkenaan
dengan hal (mata pelajaran), (Depdikbud, 1996: 995). Jadi
pengetahuan yang dimaksud adalah kedisiplinan belajar siswa SMA
dalam menghadapi ujian adalah segala sesuatu yang diketahui oleh
siswa berkenaan dengan hal-hal apa saja yang harus dilaksanakan
ataupun yang harus dihindari demi tercapainya suatu hasil yang
maksimal dalam hasil belajarnya sebagai siswa kelas 3 SMA yang
akan menghadapi ujian.
2) Perilaku
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap
rangsangan atau lingkungan (Depdikbud, 1996: 775). Perilaku dalam
kedisiplinan belajar siswa SMA menjelang ujian adalah tanggapan atau
reaksi berupa tindakan nyata untuk disiplin, untuk mendisiplinkan
proses belajar agar tindak mendapat banyak gangguan yang berasal
dari dalam diri siswa itu sendiri, maupun dari sosial lingkungannya.
Jika dikembalikan pada permasalahan semula, maka dengan
pengetahuan, sikap dan perilaku yang dimiliki oleh siswa dalam
melaksanakan kewajibannya sebagai seorang siswa akan dapat terwujud
dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal.
b. Kesadaran
Kesadaran berasal dari kata sadar yang mendapat imbuhan awalan ke
dan akhiran an. Sadar diartikan sebagai tahu, sedangkan imbuhan ke dan
an menunjukkan pada keadaan. Dengan demikian, kesadaran dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1) Keadaan tahu, mengerti atau merasa.
2) Keinsyafan.
Dari batasan-batasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan kesadaran di sini adalah keadaan tahu, mengerti atau
merasa atau sesuatu yang dirasakan tahu atau yang dialami seseorang.
Setiap anggota organisasi harus menyadari bahwa aturan-aturan atau
ketentuan-ketentuan ataupun kelaziman-kelaziman yang berlaku, yang
harus dipatuhi adalah berguna untuk tercapainya tujuan, yang dalam hal
ini adalah justru untuk kebaikan atau untuk kepentingan manusia itu
sendiri, untuk keselamatan atau untuk keberhasilannya dalam usaha
dengan memuaskan. Kesadaran tersebut akan menjadi pendorong dalam
diri setiap anggota untuk bertingkah laku, untuk berbuat sesuai aturan,
ketentuan-ketentuan atau kelaziman yang berlaku. Dengan kesadaran akan
timbul atau tumbuh apa yang kita dengan disiplin yang hidup sebagai
lawan dari disiplin yang mati. Kesadaran akan menjadi dasar yang kuat
bagi pengendalian diri.
Pengendalian diri merupakan usaha,baik bagi mental, psikologis,
maupun fisik yang berisi kemampuan untuk menjamin agar tingkah laku
atau perbuatan seorang anak sesuai dengan syarat yang selayaknya atau
dapat mencapai suatu tujuan. Dalam hal ini termasuk kemampuan untuk
menjamin agar seseorang berbuat, bertingkah laku sesuai dengan aturan
atau ketentuan yang berlaku. Karena itu, kesadaran yang dimaksud
hendaklah mengambil tempat dalam setiap hati nurani setiap anggota.
c. Kesetiaan
Kesetiaan merupakan keteguhan hati atau ketaatan setiap siswa kepada
peraturan baik yang dia buat sendiri maupun yang dibuat oleh sosial
lingkungannya. Kesetiaan merupakan hal yang sangat penting sekali demi
terwujudnya ketertiban dan kenyamanan belajar siswa itu sendiri. Untuk
mengetahui kesetiaan seseorang dapat dilihat dari indikator-indikator
berikut:
1) Konsisten adalah keseimbangan antara tindakan yang dilaksanakan
dengan ucapan. Konsisten dalam hal ini adalah tindakan-tindakan
siswa dalam proses belajarnya harus sesuai dengan apa yang menjadi
tujuannya belajar dan mendapat hasil yang maksimal.
2) Tanggung jawab adalah sikap yang berani menerima resiko atau
konsekuesi dari apa yang telah dilakukannya. Jadi seorang siswa harus
berani menanggung segala resiko atau konsekuesi dari apa yang
dilakukan atau diperbuatnya. Tanggung jawab disini dapat dilihat dari
menejemen waktu yang digunakan siswa untuk beristirahat di sela-sela
belajarnya, atau yang lainnya.
BAB III
PENGEMBANGAN SKALA PSIKOLOGI
a. Definisi Operasional
Kedisiplinan adalah perilaku siswa yang dengan sukarela mengikuti,
menyesuaikan dengan tertib pada aturan–aturan yang berlaku untuk mencapai
apa yang menjadi tujuan siswa dengan lebih mudah dan hasilnya maksimal.
Tinggi rendahnya kedisiplinan siswa dapat diukur dengan skala kedisiplinan
yang disusun berdasarkan tiga aspek kedisiplinan, yaitu: ketertiban terhadap
aturan, tanggung jawab, dan kontrol diri. Semakin tinggi skor yang diperoleh
dari skala menunjukkan semakin tinggi kedisiplinan siswa, sebaliknya
semakin rendah skor yang diperoleh menunjukkan semakin rendah
kedisiplinan siswa.
Aspek-aspek dalam skala kedisiplinan ini meliputi:
1. Ketaatan dan Kepatuhan
a) Pengetahuan
Menunjukkan pengetahuan siswa dalam melihat arti dari sebuah
kedisiplinan belajar.
b) Perilaku
Menunjukkan tanggapan atau reaksi berupa tindakan nyata untuk
disiplin waktu proses belajar sedang atau akan berlangsung.
2. Kesadaran
a) Keadaan tahu, mengerti, dan merasa.
Menunjukkan keadaan tahu, mengerti, dan merasa tentang makna dan
tujuan disiplin dalam belajar.
b) Kesadaran pribadi
Menunjukkan kesadaran pribadi siswa mengenai pentingnya disiplin
dalam belajar.
3. Kesetiaan
a) Konsisten
Menunjukkan adanya keseimbangan antara tindakan yang
dilaksanakan dengan ucapan.
b) Tanggung jawab
Menunjukkan sikap berani menanggung semua resiko atau
konsekuensi dari apa yang telah dilakukannya.
b. Blue Print
Tabel
BLUE PRINT SKALA KEDISIPLINAN
No. Variabel Sub
Variabel
Indikator No. Aitem Keterangan
1. Kedisi
plinan
Belaja
r
Ketaatan
dan
kepatuhan
- Pengetahu
an
- Perilaku
1, 7, 13, 19, 25
2, 8, 14, 20, 26
UF, F, UF, F, UF
F, UF, F, UF, F
2. Kesadaran - Keadaan
tahu,
mengerti,
dan
merasa
- Kesadaran
pribadi
3, 9, 15, 21, 27
4, 10, 16, 22, 28
F, UF, F, UF, F
UF, F, UF, F, UF
3. Kesetiaan - Konsisten
- Tanggung
jawab
5, 11, 17, 23, 29
6, 12, 18, 24, 30
F, UF, F, UF, F
F, UF, F, UF, F
JUMLAH 30 30
1. KETAATAN DAN KEPATUHAN
ψ Pengetahuan
- Favourable
1. Dalam proses belajar, perlu adanya sebuah kedisiplinan demi
tercapainya hasil yang maksimal
2. Sebagai seorang murid, disipin dalam belajar menjadi sesuatu yang
sangat penting
- Unfavourable
1. Tanpa kedisiplinan dalam belajarpun, saya bisa dapat hasil yang
maksimal
2. Saya merasa akan tetap bisa berprestasi, walaupun saya tidak bisa
disiplin dalam belajar
3. Kesuksesan tetap bisa saya raih, walaupun dalam belajar saya
seenaknya sendiri
ψ Perilaku
- Favourable
1. Begitu waktu belajar saya tiba, saya akan langsung melakukan
kegiatan belajar
2. Ketika waktu belajar tiba, hal-hal yang mengganggu proses belajar
akan saya acuhkan
3. Ketika saya sedang belajar, saya akan menolak ajakan teman untuk
pergi nonton di bioskop walaupun film itu kesukaan saya
- Unfavourable
1. Saya akan menemui teman saya yang datang berkunjung,
walaupun pada saat saya sedang belajar
2. Saya akan langsung berangkat nonton konser grup band favorit
saya walaupun besok akan ujian
2. KESADARAN
ψ Keadaan tahu, mengerti, dan merasa
- Favourable
1. Saya mengerti jika kedisiplinan dalam belajar sangatlah penting
2. Jika saya menerapkan kedisiplinan dalam proses belajar saya, saya
yakin hasil yang akan saya peroleh akan maksimal
3. Disiplin dalam belajar, adalah salah satu faktor kesuksesan
- Unfavourable
1. Saya akan lebih memilih pergi jalan-jalan dengan teman, daripada
belajar dalam persiapan Ujian
2. Walaupun saya tahu jika belajar dalam rangka persiapan ujian
penting, saya akan tetap merasa santai
ψ Kesadaran Pribadi
- Favourable
1. Saat waktu belajar tiba, saya akan langsung menghentikan segala
aktivitas saya yang tidak ada sangkut pautnya dengan belajar
2. Saya akan lebih memilih untuk membaca materi ujian, daripada
pergi jalan-jalan dengan teman-teman
- Unfavourable
1. Ketika ada tontonan di televisi yang menarik, saya akan
menghentikan belajar saya dan langsung melihat televisi itu
2. Sebelum ujian dilaksanakan saya bebas melakukan semua hal
untuk refreshing, karena pada saat ujian saya harus fokus ke
pelajaran
3. Saya belajar ketika sudah diperintahkan oleh kedua orang tua saya
3. KESETIAAN
ψ Konsisten
- Favourable
1. Saya mempunyai jadwal belajar yang sudah saya tepati
2. Waktu belajar yang sudah saya tetapkan, akan saya patuhi
3. Ketika jadwal waktu belajar tiba, saya akan langsung belajar
- Unfavourable
1. Saya tidak mempunyai jadwal belajar saya yang pasti
2. Setiap harinya saya belum pasti mengulang materi yang
diterangkan oleh pengajar
ψ Tanggung jawab
- Favourable
1. Karena sebentar lagi saya akan mengikuti Ujian, maka saya harus
lebih giat belajar
2. Walaupun sedang ada kesibukan, saya tetap menyisihkan waktu
setiap harinya untuk membaca buku pelajaran
3. Karena saya seorang pelajar, saya mempunyai tanggung jawab
untuk selalu belajar di sela-sela aktivitas saya sehari-hari
- Unfavourable
1. Jika di rumah, saya hanya akan belajar ketika disuruh oleh orang
tua
2. Hasil belajar saya nantinya, adalah merupakan tanggung jawab
pengajar saya
BAB IV
HASIL SKALA PSIKOLOGI
a. Skala Psikologi
Dalam penelitian ini digunakan Skala Kedisiplinan Belajar untuk
mengukur seberapa besar tingkat kedisiplinan belajar siswa sebelum ujian
nasional dilaksanakan. Namun dalam pelaksanaan try out skala pada
penelitian ini digunakan Skala Kedisiplinan belajar yang dibuat secara umum.
Tidak langsung dikerucutkan pada persiapan siswa SMA sebelum menghadapi
ujian Nasional. Karena subyek yang peneliti pilih adalah mahasiswi UNNES
yang akan menghadapi ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Peneliti
meilih untuk memakai subjek tesebut dikarenakan antara subjek yang
sebenarnya dan yang di try outkan memiliki beberapa karakteristik yang sama.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode skala psikologi sebagai alat ukur. Dalam kegiatan penelitian ini yang
digunakan adalah berupa skala Kedisiplinan Belajar yang berisi sejumlah
pernyataan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden
dalam arti laporan mengenai diri pribadinya untuk dapat mengukur tingkat
kedisiplinan belajar siswa sebelum menghadapi ujian nasional. Melalui
penggunaan skala psikologi dalam pengumpulan data pada penelitian, maka
diharapkan data yang diperoleh dapat diinterpretasikan dengan lebih objektif
melalui pengukuran disamping valid dan reliabel. Pengumpulan data melalui
skala psikologi dalam penelitian diharapkan dapat mengukur seberapa besar
kedisiplinan belajar yang dimiliki subjek dalam penelitian secara objektif.
Skala ini terdiri dari dua kelompok yaitu item yang berbentuk positif atau
mendukung (favorable) dan item yang berbentuk negatif atau tidak
mendukung (unfavorabel).
Pernyataan dalam aitem favorabel mempunyai skor sebagai berikut ini:
Sangat sesuai (SS ) : 4
Sesuai (S) : 3
Tidak sesuai (TS) : 2
Sangat tidak sesuai (STS) : 1
Sementara itu, pernyataan dalam aitem unfavorabel mempunyai skor
sebagai berikut:
Sangat sesuai (SS) : 1
Sesuai (S) : 2
Tidak sesuai (TS) : 3
Sangat tidak sesuai (STS) : 4
1. Petunjuk pengisian skala Kedisiplinan Belajar
Beri tanda V (cek) pada kolom pilihan yang dianggap sesuai dengan
keadaan,ide dan pendapat Anda. Adapun makna dari setiap jawaban
adalah sebagai berikut :
SS : Jika pernyataan sangat sesuai dengan apa yang saudara rasakan.
S : Jika pernyataan sesuai dengan apa yang saudara rasakan.
TS : Jika penyataan tidak sesuai dengan apa yang saudara rasakan.
STS :Jika pernyataan sangat tidak sesuai dengan apa yang saudara
rasakan.
2. Skala kedisiplinan belajar
No.
Aitem SS S TS ST
S
1. Tanpa kedisiplinan dalam belajarpun, saya bisa
dapat hasil yang maksimal
2. Begitu waktu belajar saya tiba, saya akan
langsung melakukan kegiatan belajar
3. Saya mengerti jika kedisiplinan dalam belajar
sangatlah penting
4. Ketika ada tontonan di televisi yang menarik,
saya akan menghentikan belajar saya dan
langsung melihat televisi itu
5. Saya mempunyai jadwal belajar yang sudah saya
tepati
6. Karena sebentar lagi saya akan mengikuti Ujian,
maka saya harus lebih giat belajar
7. Dalam proses belajar, perlu adanya sebuah
kedisiplinan demi tercapainya hasil yang
maksimal
8. Saya akan menemui teman saya yang datang
berkunjung, walaupun pada saat saya sedang
belajar
9. Saya akan lebih memilih pergi jalan-jalan dengan
teman, daripada belajar dalam persiapan Ujian
10. Saat waktu belajar tiba, saya akan langsung
menghentikan segala aktivitas saya yang tidak ada
sangkut pautnya dengan belajar
11. Saya tidak mempunyai jadwal belajar saya yang
pasti
12. Jika di rumah, saya hanya akan belajar ketika
disuruh oleh orang tua
13. Saya merasa akan tetap bisa berprestasi di
sekolah, walaupun saya tidak bisa disiplin dalam
belajar
14. Ketika waktu belajar tiba, hal-hal yang
mengganggu proses belajar akan saya acuhkan
15. Jika saya menerapkan kedisiplinan dalam proses
belajar saya, saya yakin hasil yang akan saya
peroleh akan maksimal
16. Sebelum ujian dilaksanakan saya bebas
melakukan semua hal untuk refreshing, karena
pada saat ujian saya harus fokus ke pelajaran
17. Waktu belajar yang sudah saya tetapkan, akan
saya patuhi
18. Walaupun sedang ada kesibukan, saya tetap
menyisihkan waktu setiap harinya untuk
membaca buku pelajaran
19. Sebagai seorang siswa, disipin dalam belajar
menjadi sesuatu yang sangat penting
20. Saya akan langsung berangkat nonton konser grup
band favorit saya walaupun besok akan ujian
21. Walaupun saya tahu jika belajar dalam rangka
persiapan ujian penting, saya akan tetap merasa
santai
22. Saya akan lebih memilih untuk membaca materi
ujian, daripada pergi jalan-jalan dengan teman-
teman
23. Setiap harinya saya belum pasti mengulang materi
yang diterangkan oleh pengajar
24. Hasil belajar saya nantinya, adalah merupakan
tanggung jawab pengajar saya
25. Kesuksesan tetap bisa saya raih, walaupun dalam
belajar saya seenaknya sendiri
26. Ketika saya sedang belajar, saya akan menolak
ajakan teman untuk pergi nonton di bioskop
walaupun film itu kesukaan saya
27. Disiplin dalam belajar, adalah salah satu faktor
kesuksesan
b. Hasil Uji Coba (Try Out)
Pada penelitian ini dilaksanakan uji coba Skala Kediplinan Belajar
terhadap subjek uji coba penelitian. Adapun subjek dalam uji coba skala ini
dilaksanakan pada mahasiswi Universitas Negeri Semarang. Subjek dalam uji
coba skala ini berjumlah 50 orang.
Dalam uji coba skala self-disclosure digunakan 30 aitem yang mengacu
pada aspek-aspek yang membentuk kedisiplinan dalam belajar. Uji coba skala
ini dilakukan untuk mengetahui aitem-aitem mana saja yang memiliki
validitas dan reliabilitas tinggi. Dari uji coba skala yang dilakukan terhadap
subjek uji coba, maka diperoleh hasil dimana terdapat 28 aitem valid dan 2
aitem tidak valid dari 30 aitem. Adapun aitem yang tidak valid tersebut adalah
sebagai berikut ini:
1. Saya akan menemui teman saya yang datang berkunjung, walaupun pada
saat saya sedang belajar
2. Setiap harinya saya belum pasti mengulang materi yang diterangkan oleh
pengajar
Terdapatnya 2 aitem yang tidak valid tersebut di atas maka diputuskan
untuk tidak dipergunakan dalam penelitian. Hal ini dikarenakan pada aitem
tersebut telah terwakili oleh aitem-aitem lain yang mengacu pada aspek
kedisiplinan belajar. Dengan digugurkannya atau tidak digunakannya aitem-
aitem yang tidak valid tersebut di dalam penelitian, maka diharapkan skala
kedisiplinan belajar ini masih dapat digunakan sebagai alat ukur untuk
memperoleh data dalam penelitian secara objektif terhadap subjek.
Hasil perhitungan reliabilitas terhadap skala kediplinan belajar siswa
yang akan menempuh ujian, maka diperoleh reliabilitas sebesar 0,909
terhadap 30 aitem skala. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa skala
28. Saya belajar ketika sudah diperintahkan oleh
kedua orang tua saya
29. Ketika jadwal waktu belajar tiba, saya akan
langsung belajar
30. Karena saya seorang pelajar, saya mempunyai
tanggung jawab untuk selalu belajar di sela-sela
aktivitas saya sehari-hari
kediplinan belajar dapat dipercaya sebagai alat ukur untuk pengambilan data
dalam penelitian.
c. Validitas dan Reliabilitas Skala Psikologi
Dari pelaksanaan uji coba terhadap Skala Kedisiplinan Belajar yang
dilakukan terhadap subjek uji coba, maka diperoleh hasil berupa data yang
menunjukan validitas dan reliabilitas skala.
1. Validitas
Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu
skala benar – benar dapat mengukur apa yang perlu diukur (Ancok,
1985, h.13). Skala yang tidak valid adalah skala yang hanya mampu
mengungkap sebagian dari atribut yang seharusnya atau justru
mengukur atribut lain (Azwar,2000,h. 7). Validitas berasal dari kata
validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecemasan
suatu instrumen pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya
(Azwar, 2003 : 173).
Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat
kevalidan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila
mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Suharsimi Arikunto,
2002:144).
Dalam penelitian ini untuk menguji kevalidan instrumen
dilakukan dengan validitas internal instrumen yang dicapai apabila
terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen
secara keseluruhan, (Suharsimi Arikunto, 2002 : 148).
Suatu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui validitas
suatu alat ukur adalah dengan mengkoreksikan antara skor yang
diperoleh tiap – tiap aitem dengan skor total. Korelasi antara skor item
dengan skor total haruslah signifikan karena dengan begitu suatu alat
ukur baru dapat dikatakan mempunyai validitas (Ancok, 1985, h. 13).
Tinggi rendahnya validitas ditunjukkan dengan suatu koefisien
validitas.
Item yang digunakan dalam penelitian ini dihitung dengan
menggunakan korelasi antara skor item dan skor total item. Korelasi
ini menggunakan rumus Product Moment dari Pearson dengan rumus
sebagai berikut:
( )( )
( ) ( )
¹
¹
¹
'
¹
¹
¹
¹
'
¹

,
`

.
|

,
`

.
|


·





∑ ∑
N
Y
Y
N
X
X
N
Y X
XY
r
xy
2
2
2
2
Keterangan :
xy
r
: Koefisien korelasi Product Moment

XY
: Jumlah perkalian skor item dengan skor total

X
: Jumlah skor tiap-tiap item

Y
: Jumlah skor total item
N : Jumlah subjek
Hasil perhitungan uji validitas alat ukur pada variabel
Kedisiplian Belajar pada siswa menjelang ujian nasional dilakukan
dengan analisis per indikator dengan menggunakan rumus korelasi
product moment.
Penghitungan uji validitas dilakukan dengan membandingkan
nilai r hitung dengan r tabel (r product moment) untuk N = 50 (subjek
uji coba) dan taraf signifikansi 5% diperoleh r tabel 0,279. Oleh karena
itu, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 aitem atau pernyataan
yang tidak valid. Hal ini dapat berarti bahwa terdapat 28 aitem dari 30
item dinyatakan valid. Keadaan hasil ini dikarenakan r hitung > r tabel.
Pada penghitungan uji validitas tersebut ditemukannya r hitung
terendah 0,178 dan tertinggi 0,699.
Terdapatnya 2 aitem yang tidak valid tersebut di atas maka
diputuskan untuk tidak dipergunakan dalam penelitian. Hal ini
dikarenakan pada aitem tersebut telah terwakili oleh aitem-aitem lain
yang mengacu pada aspek kedisiplinan belajar. Dengan digugurkannya
atau tidak digunakannya aitem-aitem yang tidak valid tersebut di
dalam penelitian, maka diharapkan skala kedisiplinan belajar ini masih
dapat digunakan sebagai alat ukur untuk memperoleh data dalam
penelitian secara objektif terhadap subjek. Berikut ini adalah tabel
hasil perhitungan uji validitas variabel kedisiplinan belajar.
Tabel Hasil Uji Validitas Kediplinan Belajar
Aitem Soal
r Hitung r Tabel Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
0,437
0,475
0,671
0,570
0,506
0,468
0,640
0,187
0,699
0,537
0,540
0,561
0,649
0,325
0,504
0,414
0,584
0,497
0,682
0,689
0,416
0,650
0,248
0,474
0,670
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Valid
Valid

,
`

.
|
+
− ·
2
2
2
2
1
1 2
x
S
S S
α
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
0,402
0,622
0,607
0,487
0,532
0,279
0,279
0,279
0,279
0,279
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
2. Reliabilitas
Reliabilitas adalah taraf sejauh mana test tersebut sama dengan
test itu sendiri (Suryabrata, 1984, h. 29). Sedangkan menurut Ancok
(1987, h. 19) reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana
alat ukur tersebut dipercaya atau dapat diandalkan.
Reliabilitas diterjemahkan dari kata reliability. Pengukuran yang
memilki reliabilitas tinggi adlah pengukuran yang dapat menghasilkan
sata yang reliabel (Azwar, 2003 : 180).
Reliabilitas instrumen merupakan ukuran yang menunjukkan
tingkat kepercayaan instrumen dalam mengungkap data, artinya
istrumen tidak bersifat tendensius, mengarahkan responden untuk
memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang dapat dipercaya
reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya pula (Suharsimi
Arikunto, 2002 : 154).
Untuk keperluan penelitian peneliti menggunakan jenis
reliabilitas internal yaitu menganalisis data dari satu kali hasil
pengetesan terhadap kelompok responden (Suharsimi Arikunto, 2002 :
156).
Reliabilitas memiliki nama lain seperti kepercayaan dan
keajegan. Pengujian terhadap reliabilitas dengan mengunakan formula
koefisien alpha yang dikemukan oleh Cronbach. Adapun rumus
tersebut adalah sebagai berikut :
Keterangan :
α
: Koefisien reliabilitas Alpha
2
1
S
: Varians skor belahan 1
2
2
S
: Varians skor belahan 2
2
x
S
: Varians skor total
Hasil perhitungan reliabilitas terhadap skala kedisiplinan belajar
pada siswa yang akan menempuh ujian nasional, maka diperoleh
reliabilitas sebesar 0,909 terhadap 30 aitem skala. Oleh karena itu,
maka dapat disimpulkan bahwa skala kedisiplinan belajar yang dibuat
tersebut dapat dipercaya sebagai alat untuk pengambilan data secara
objektif di dalam penelitian untuk mengetahui seberapa besar
kedisiplinan belajar pada subjek penelitian.
Berikut ini merupakan table hasil perhitungan uji reliabilitas
variabel kedisiplinan belajar.
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 50 100,0
Exclud
ed(a)
0 ,0
Total 50 100,0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of
Items
,909 30
BAB V
REFLEKSI; KESAN-PESAN PENYUSUNAN SKALA
PSIKOLOGI
Dalam penyusunan skala psikologi yang membahas tentang kedisiplinan
belajar siswa menjelang pelaksaaan ujian nasional ini ditemukan berbagai
hambatan. Diantaranya adalah karakteristik subjek penelitian yang diinginkan
oleh peneliti adalah siswa SMA yang tergolong lemah dalam hal disiplin
belajar. Tetapi pada kenyataannya peneliti memilih subjek mahasiswi UNNES
secara acak. Alasan mengapa peneliti memilih subjek penelitian mahasiswi
UNNES adalah adanya karakteristik yang sama yaitu mahasiswi yang dalam
persiapan menjelang ujian akhir semester. Tapi skala ini dapat dikatakan
sudah dapat digunakan pada penelitian oleh peneliti pada subjek yang
sebenarnya
Terdapatnya 30 aitem di dalam skala kedisiplinan belajar yang
digunakan dalam uji coba skala ini dirasakan sangat minim sekali dan terbatas
sekali dalam proses pengukuran validitas dan reliabilitas skala psikologi
sebagai alat ukur dalam penelitian yang dilakuakan terdapap subjek penelitian.
Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan aitem-aitem yang gugur akibat tidak
valid dalam pengukuran tingkat validitas skala. Dengan terdapatnya skala
dengan jumlah aitem yang besar, maka diharapkan dapat menjadi pilihan
dalam palaksanaan pada subjek yang sebenarnya.
BAB VI
PENUTUP
a. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data seperti yang terurai di atas, maka peneliti dapat
menyimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Dari hasil perhitungan terhadap hasil try out pada skala kedisiplinan
belajar, maka diperoleh r
hitung
1 dengan taraf signifikansi 5% untuk
N=50. Oleh karena itu maka diperoleh r
tabel
0,279. Dari hasil
perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa r
hitung
1 > r
tabel
0,279.
2. Dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel (r product
moment) untuk N = 50 (subjek uji coba) dan taraf signifikansi 5%
diperoleh r tabel 0,279 , maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 2
aitem atau pernyataan yang tidak valid.
3. Terdapat 28 aitem dari 30 item dinyatakan valid, karena r hitung > r
tabel.
4. Ditemukannya r hitung terendah terendah 0,178 dan tertinggi 0,699.
5. Terdapatnya 2 aitem yang tidak valid tersebut maka diputuskan untuk
tidak dipergunakan atau digugurkan dalam penelitian. Hal ini
dikarenakan pada aitem tersebut telah terwakili oleh aitem-aitem lain
yang mengacu pada aspek kedisiplinan belajar.
6. Hasil perhitungan reliabilitas terhadap skala kedisiplinan belajar siswa
menjelang ujian akhir nasional, maka diperoleh reliabilitas sebesar
0,909 terhadap 30 aitem skala. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan
bahwa skala kediplinan belajar yang dibuat tersebut dapat dipercaya
sebagai alat untuk pengambilan data secara objektif di dalam penelitian
untuk mengetahui seberapa besar kedisiplinan belajar pada subjek
penelitian.
b. Saran
Adapun beberapa saran yang dapat digunakan untuk kepentingan
penelitian yang akan datang adalah dimana penelitian berikutnya hendaknya
dapat:
1. Menggunakan sampel dalam jumlah besar agar hasil penelitian dapat
representatif.
2. Sebelum skala psikologi disebarkan terhadap sempel dalam penelitian,
sebaiknya dilakukan uji coba skala terlebih dahulu agar dapat diketahui
validitas dan reliabilitas dari skala psikologi tersebut. Dengan hal ini
maka diharapkan peneliti dapat mengetahui aitem-aitem mana saja yang
valid dan tidak valid untuk dapat digunakan dalam penelitian.
3. Melakukan try out terhadap skala psikologi dengan jumlah subjek yang
besar. Hal ini dimana jumlah subjek dalam try out lebih besar dari
subjek sampel dalam penelitian yang sebenarnya. Hal ini dilakukan
sebagai antisipasi ketika beberapa aitem yang dibuat dalam skala
ternyata menunjukan hasil tidak valid dan reliable sebagai alat ukur.
Dengan dilakukannya try out terhadap subjek dengan jumlah besar
maka dapat diambil langkah untuk menghilangkan sejumlah hasil try
out yang menunjukan hasil tidak valid yang dimungkinkan dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Dengan hal ini diharapkan penelitian dapat terus
berjalan dengan subjek-subjek lain yang menunjukan hasil skala
psikologi valid.
4. Membuat dan menggunakan aiten-aitem dalam jumlah besar pada skala
psikologi yang akan digunakan dalam penelitian. Hasil pengukuran
terhadap aitem-aitem yang dilakukan pada try out skala psikologi dapat
memungkinkan diperolehnya hasil dimana terdapat aitem-aitem yang
tidak valid dan reliable sebagai alat ukur. Pada keadaan tersebut dengan
jumlah aitem yang besar pada skala, maka dapat memungkinkan untuk
menggugurkan atau tidak menggunakan aitem-aitem yang tidak valid
tersebut untuk kemudian menggunakan aitem-aitem yang valid untuk
dapat dipergunakan pada penelitian terhadap sempel penelitian yang
sebenarnya.
5. Dalam mengumpulkan data hasil penelitian sebaiknya digunakan
metode pelengkap disamping metode utama. Metode pelengkap dalam
pengumpulan data tersebut dapat berupa metode wawancara dan
observasi. Dengan hal tersebut diharapkan dapat diperoleh hasil data
yang lebih banyak. Selain itu, dengan metode tambahan ini maka juga
dapat digunakan sebagai alat untuk mengkroscek data yang telah
didapat dengan menggunakan metode utama sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Yogyakarta : Rineka Cipta
Atkinson, R.L, dkk. 1993. Pengantar Psikologi: Jilid I. Alih Bahasa: Widjaja
Kusuma. Batam Center: Interaksara.
Azwar, Syaifuddin. 2003. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Azwar, Syaifuddin. 2007. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakrta: Pustaka
Pelajar Offset.
Chaplin, J.P. 2001. Kamus Lengkap Psikologi. Penerjemah: Kartono, K. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
LAMPIRAN
1. Correlations
TOTAL
Aitem 01 Pearson Correlation 0,437**
Sig. (2-tailed) 0,001
N 50
Aitem 02 Pearson Correlation 0,475**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 03 Pearson Correlation 0,671**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 04 Pearson Correlation 0,570**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 05 Pearson Correlation 0,506**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 06 Pearson Correlation 0,468**
Sig. (2-tailed) 0,001
N 50
Aitem 07 Pearson Correlation 0,640**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 08 Pearson Correlation 0,187
Sig. (2-tailed) 0,195
N 50
Aitem 09 Pearson Correlation 0,699**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 10 Pearson Correlation 0,537**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 11 Pearson Correlation 0,540**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 12 Pearson Correlation 0,561**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 13 Pearson Correlation 0,649**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 14 Pearson Correlation 0,325*
Sig. (2-tailed) 0,021
N 50
Aitem 15 Pearson Correlation 0,504**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 16 Pearson Correlation 0,414**
Sig. (2-tailed) 0,003
N 50
Aitem 17 Pearson Correlation 0,584**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 18 Pearson Correlation 0,497**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 19 Pearson Correlation 0,682**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 20 Pearson Correlation 0,689**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 21 Pearson Correlation 0,416**
Sig. (2-tailed) 0,003
N 50
Aitem 22 Pearson Correlation 0,650**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 23 Pearson Correlation 0,248
Sig. (2-tailed) 0,083
N 50
Aitem 24 Pearson Correlation 0,474**
Sig. (2-tailed) 0,001
N 50
Aitem 25 Pearson Correlation 0,670**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 26 Pearson Correlation 0,402**
Sig. (2-tailed) 0,004
N 50
Aitem 27 Pearson Correlation 0,622**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 28 Pearson Correlation 0,607**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 29 Pearson Correlation 0,487**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
Aitem 30 Pearson Correlation 0,532**
Sig. (2-tailed) 0,000
N 50
TOTAL Pearson Correlation 1
Sig. (2-tailed)
N 50
* Correlation is
significant at the 0.01
level (2-tailed). ificant at the 0,01 level (2-tailed).
** Correlation is significant at the 0,05 level (2-tailed).
2. Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of
Items
,909 30
A Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Nama:
Petunjuk pengisian
Bacalah setiap pernyataan dengan seksama kemudian berikan
jawaban saudara pada kolom bagi setiap pernyataan tersebut dengan
cara member tanda centang (Ö) sesuai dengan keadaan diri saudara.
Adapun pilihan jawaban tersebut adalah:
SS = Sangat Sesuai
S = Sesuai
TS = Tidak Sesuai
STS = Sangat Tidak Sesuai
Setiap orang dapat memberikan jawaban yang berbeda, karena
itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri saudara, karena di
sini tidak ada jawaban yang dianggap salah.
No.
Aitem SS S TS STS
1. Tanpa kedisiplinan dalam belajarpun,
saya bisa dapat hasil yang maksimal
2. Begitu waktu belajar saya tiba, saya akan
langsung melakukan kegiatan belajar
3. Saya mengerti jika kedisiplinan dalam
belajar sangatlah penting
4. Ketika ada tontonan di televisi yang
menarik, saya akan menghentikan belajar
saya dan langsung melihat televisi itu
5. Saya mempunyai jadwal belajar yang
sudah saya tepati
6. Karena sebentar lagi saya akan mengikuti
Ujian, maka saya harus lebih giat belajar
7. Dalam proses belajar, perlu adanya
sebuah kedisiplinan demi tercapainya
hasil yang maksimal
8. Saya akan menemui teman saya yang
datang berkunjung, walaupun pada saat
saya sedang belajar
9. Saya akan lebih memilih pergi jalan-jalan
dengan teman, daripada belajar dalam
persiapan Ujian
10. Saat waktu belajar tiba, saya akan
langsung menghentikan segala aktivitas
saya yang tidak ada sangkut pautnya
dengan belajar
11. Saya tidak mempunyai jadwal belajar
saya yang pasti
12. Jika di rumah, saya hanya akan belajar
ketika disuruh oleh orang tua
13. Saya merasa akan tetap bisa berprestasi
di sekolah, walaupun saya tidak bisa
disiplin dalam belajar
14. Ketika waktu belajar tiba, hal-hal yang
mengganggu proses belajar akan saya
acuhkan
15. Jika saya menerapkan kedisiplinan dalam
proses belajar saya, saya yakin hasil yang
akan saya peroleh akan maksimal
16. Sebelum ujian dilaksanakan saya bebas
melakukan semua hal untuk refreshing,
karena pada saat ujian saya harus fokus
ke pelajaran
17. Waktu belajar yang sudah saya tetapkan,
akan saya patuhi
18. Walaupun sedang ada kesibukan, saya
tetap menyisihkan waktu setiap harinya
untuk membaca buku pelajaran
19. Sebagai seorang siswa, disipin dalam
belajar menjadi sesuatu yang sangat
penting
20. Saya akan langsung berangkat nonton
konser grup band favorit saya walaupun
besok akan ujian
21. Walaupun saya tahu jika belajar dalam
rangka persiapan ujian penting, saya akan
tetap merasa santai
22. Saya akan lebih memilih untuk membaca
materi ujian, daripada pergi jalan-jalan
dengan teman-teman
23. Setiap harinya saya belum pasti
mengulang materi yang diterangkan oleh
pengajar
24. Hasil belajar saya nantinya, adalah
merupakan tanggung jawab pengajar saya
25. Kesuksesan tetap bisa saya raih,
walaupun dalam belajar saya seenaknya
sendiri
26. Ketika sedang belajar, saya akan menolak
ajakan teman untuk pergi nonton di
bioskop walaupun film itu kesukaan saya
27. Disiplin dalam belajar, adalah salah satu
faktor kesuksesan
28. Saya belajar ketika sudah diperintahkan
oleh kedua orang tua saya
29. Ketika jadwal waktu belajar tiba, saya
akan langsung belajar
30. Karena saya seorang pelajar, saya
mempunyai tanggung jawab untuk selalu
belajar di sela-sela aktivitas saya sehari-
hari

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2008

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Dari waktu ke waktu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi makin pesat. Arus globalisasi semakin hebat. Akibat dari fenomena ini antara lain munculnya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya bidang pendidikan. Untuk menghadapi tantangan berat ini dibutuhkan sumber daya manisia yang berkualitas, salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu pendidikan. Kalau seseorang ingin meraih sukses, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu kedisiplinan. Sebenarnya apa arti dari sebuah kedisiplinan sehingga memberikan dampak yang begitu besar? Dikatakan bahwa kedisiplinan adalah sikap mental untuk melakukan hal-hal yang seharusnya pada saat yang tepat dan benar-benar menghargai waktu. Meskipun pengertian disiplin sangat sederhana, tetapi agak sulit untuk menerapkan konsep-konsep kedisiplinan tadi hingga membudaya ke dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam dunia pendidikan, disadari bahwa sekolah-sekolah masih perlu meningkatkan kedisiplinannya. Masih banyak ditemukan sekolah-sekolah yang belum berada pada tingkat disiplin yang baik, sehingga hal tersebut akan mempengaruhi hasil belajar atau prestasi siswa yang kurang baik. Disiplin menjadi sarana pendidikan, karena dalam mendidik disiplin berperan mempengaruhi, mendorong, mengendalikan, mengubah, membina dan membentuk perilaku-perilaku tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan, diajarkan dan diteladankan. Oleh karena itu, sekolah perlu menempatkan disiplin ke dalam prioritas program pendidikan. Dengan demikian, para siswa akan terbawa arus disiplin sekolah yang baik yang akan melahirkan siswa-siswa yang berprestasi. Tidak ada hal yang lebih penting dalam manajemen diri dibandingkan dengan kedisiplinan. Selain pentingnya menemukan arah dan tujuan hidup yang jelas, kedisiplinan merupakan syarat mutlak untuk mencapai impian atau melaksanakan misi hidup seseorang. Seseorang harus disiplin dalam

mengembangkan diri (lifetime improvements) di segala aspek, harus disiplin dalam mengelola waktu dan uang, serta harus disiplin dalam melatih keterampilan dalam setiap bidang yang dipilih oleh seseorang. Disiplin, kreatif dan memiliki etos kerja yang tinggi menurut Indaryani dan Milwardani (dalam Nadjamudin, 1998) adalah indikator sumber daya manusia yang berkualitas dan fondasi yang amat menentukan. Seseorang dikatakan mempunyai kualitas sumber daya manusia yang tinggi jika dia dapat menunjukkan perilaku yang mencerminkan adanya kedisiplinan, kreativitas maupun etos kerja yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Sikap disiplin merupakan sikap yang harus ditingkatkan, karena memberi manfaat dan sumbangan yang besar, apalagi pada negara yang masih berkembang seperti negara Indonesia. Berhubungan dengan manusia yang berkualitas, dalam khasanah ilmiah psikologi terdapat istilah prokrastinasi yang menunjukkan suatu perilaku yang tidak disiplin dalam penggunanaan waktu. Prokrastinasi adalah suatu kecenderungan untuk menunda dalam memulai maupun menyelesaikan kinerja secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas lain yang tidak berguna, sehingga kinerja menjadi terhambat, tidak pernah menyelesaikan tugas tepat waktu, serta sering terlambat dalam menghadiri pertemuan-pertemuan (Solomon & Rothblum, 1984; Tuckman, dalam http://all.successcenterohiostate. edu/references/procrastinator_APA_paper.htm). Pembangunan Indonesia dewasa ini menuntut adanya inovasi dan produktivitas, istilah prokrastinasi akan menjadi istilah yang berkonotasi negatif, yang menurut Ferrari, dkk.,(dalam Rizvi, 1998) bahwa pada negara dengan teknologi sudah digunakan, ketepatan waktu menjadi hal yang sangat penting, sehingga prokrastinasi dapat dianggap sebagai suatu masalah. Menurut Ferrari (dalam Rizvi,1998) bahwa prokrastinasi akademik banyak berakibat negatif, dengan melakukan penundaan, banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia. Tugas-tugas menjadi terbengkalai, bahkan bila diselesaikan hasilnya menjadi tidak maksimal. Penundaan juga bisa mengakibatkan seseorang kehilangan kesempatan dan peluang yang datang. Hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa prokrastinasi

bagi anak yang mempengaruhi jadwal kehidupan anak seharihari. Jika sudah terjerumus dalam kegiatan-kegiatan negatif seperti itu. dkk. anak-anak usia sekolah terutama anak-anak SMU justru terjerumus pada kegiatankegiatan yang bersifat negatif seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang. dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Umum (SMU). dkk. membuat anak terpaku di depan pesawat televisi. (1992) berpendapat bahwa pada remaja terjadi krisis yang nampak paling jelas pada penggunaan waktu luang yang sering disebut sebagai waktu pribadi orang (remaja) itu sendiri. Semangat belajar mereka semakin lama semakin menipis. dalam Ferrari. seperti pekerjaan rumah (PR) dan buku-buku sekolah. Pada kenyataannya. Pada hasil survey majalah New Statement 26 Februari 1999 juga memperlihatkan bahwa kurang lebih 20% sampai dengan 70% pelajar melakukan prokrastinasi. Moonks. televisi memiliki daya tarik yang lebih besar bagi anak. Apalagi saat ini dengan banyak saluran televisi yang bisa dipilih. sulit makan dan tidur tidak pada waktunya. 1995). seperti sebagian pelajar di sana. Solomon dan Rothblum. Masih untung jika permainan yang dilakukan bersifat positif. dan kalah dengan keinginan untuk bermain. Komputer dan video game adalah pesona yang begitu besar selain televisi. sehingga tugas sekolah menjadi tertunda bahkan menjadi terbengkalai dan anak merasa bosan untuk belajar. berangkat ke sekolah saja mungkin menjadi sebuah beban yang berat. dan pelajar pada lingkungan yang lebih kecil. cenderung lebih banyak mengisi waktunya dengan bermain dan menonton televisi dari pada belajar. Ditegaskan kembali oleh Tedjasaputra (2001) dibandingkan tugas sekolah. jangankan menjaga semangat belajar. minum minuman keras dan sebagainya. merokok. Perhatian anak akan lebih terpusat pada menyaksikan acara di televisi dari pada belajar. Bisaanya anak menjadi malas belajar. Sekitar 25% sampai dengan 75% dari pelajar melaporkan bahwa prokrastinasi merupakan salah satu masalah dalam lingkup akademis mereka(Ellis dan Knaus. Hal yang dapat dicatat adalah . Menurut Zakarilya (2002) anak-anak usia sekolah.merupakan salah satu masalah yang menimpa sebagian besar anggota masyarakat secara luas.

Remaja yang saat ini sedang menempuh bangku sekolah merupakan calon kompetitor yang akan menghadapi tingkat persaingan yang tinggi. Remaja sudah seharusnya menjadi fokus utama guna mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas agar mereka dapat bersaing dalam era sekarang ini dan mandatang. termasuk mereka dari keluarga yang tidak mampu atau kurang beruntung. diasumsikan pada mahasiswa tingkat prokrastinasi akademiknya semakin meningkat. prokrastinasi akademik pada mereka dapat dikatakan sebagai suatu masalah. Sebagai tunas harapan bangsa. sehingga dapat pula dikatakan bahwa tingkat kedisplinan mereka rendah. Perilaku di kelas dan hasil belajar banyak dipengaruhi oleh kualitas pengajaran. prestasi dan perilaku siswa mereka. level kenyamanan emosi yang dialami siswa dan kualitas komunikasi antar guru dan siswa merupakan faktor penting yang bisa memampukan atau menghambat pembelajaran yang optimal. Guru bertanggung jawab untuk berbagai siswa. Guru menguasai banyak faktor yang mempengaruhi motivasi. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik pada remaja merupakan salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian. Bagaimana guru-guru memahami kedisiplinan dan bentuk-bentuk manajemen perilaku lain tergantung pada bagaimana mereka melihat pekerjaan mereka sebagai seorang guru dan sejauh mana mereka meyakini bahwa semua anak dapat belajar. remaja diharapkan dapat mempertahankan eksistensi bangsa di era yang akan datang. Dikatakan juga bahwa tingkat prokrastinasi akademik seseorang akan semakin meningkat seiring dengan makin lamanya studi seseorang (Solomon dan Rothblum. dan juga dapat dianggap sebagai salah satu indikator bahwa remaja masih belum bisa diharapkan menjadi sumber daya manusia seperti yang diharapkan.bahwa para remaja mengalami lebih banyak kesukaran dalam memanfaatkan waktu luangnya. akan dapat menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Lingkungan fisik di kelas. Demikian itu. siswa yang mungkin harus . namun bilamana perilaku prokrastinasi akademik sering dilakukan. 1984). Jika masa remaja seseorang sudah melakukan prokrastinasi akademik.

semuanya tergantung pada niat dan kemampuan menegakkan aturan – aturannya itu sendiri.bekerja setelah sekolah. Tetapi tidak sedikit pula siswa yang merasa sebuah moment Ujian Akhir Nasional sebagai waktu yang biasa saja. Setiap siswa. Suatu bentuk perilaku kedisiplinan dapat tercermin dari patuhnya seseorang terhadap aturan-aturan yang berlaku bagi dirinya sendiri. dapat diasumsikan sebagai ketaatan seseorang untuk melakukan suatu proses belajar. ada anak yang rela mengorbankan waktu bermainnya hanya demi mengikuti les – les yang nantinya diharapkan akan memberi dampak dan manfaat yang cukup banyak. ataupun merasa tidak perlu belajar lagi. bagi si anak tersebut. sehingga mereka akan tetap merasa santai dan menikmati waktu yang berlalu dengan sekedar pergi bersama teman – teman. Sukses atau tidaknya individu menerapkan aturan yang menjadi prioritasnya itu. Atau ada pula yang berdalih bahwa belum saatnya memikirkan Ujian Akhir Nasional dengan terburu – . agama atau bahasa atau mereka dengan berbagai kesulitan atau kecacatan belajar. namun anak-anak ini mungkin beresiko mendapatkan pengalaman sekolah yang negatif dan tak bermakna jika guru tidak responsif terhadap kebutuhan dan kemampuan mereka atau mampu menggunakan pengajaran dan strategi kelas yang efektif dan disesuaikan menurut individu. Banyak siswa yang berlomba – lomba untuk mendapatkan nilai yang baik dan memuaskan. Tak satupun dari situasi atau faktor ini harus menyebabkan masalah pendidikan. pada akhirnya akan tetap bertemu dengan yang namanya Ujian Akhir Nasional. Jadi perlu adanya rasa disiplin yang cukup kuat untuk dapat mencapai suatu proses belajar yang baik. agar nantinya dapat mendaftarkan diri ke jenjang yang legih tinggi dengan nilai yang baik sehingga akan dapat diterima oleh sekolahan itu dengan mudah. Kedisiplinan seseorang dalam belajar. atau mereka yang berasal dari kelompok minoritas etnis. dengan tanpa tergoda oleh halangan – halangan atau sesuatu yang nantinya dapat menjadi penghambat berlangsungnya proses belajar itu tadi. Datangnya aturan tersebut bisa dari dirinya sendiri maupun dari lingkungan sosialnya. Seperti contohnya. Yaitu ujian yang diperuntukkan kepada siswa yang sudah menapaki akhir dari masa dia di sekolah tempat dia belajar.

khususnya Psikologi yang terkait dengan perilaku disiplin. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi orang tua dan guru-guru dalam kaitannya dengan bagaimana kesiapan dan persiapan anak terhadap ujian yang tidak lama lagi akan segera dilaksanakan serta bagaimana kedisiplinan anak dalam belajar agar nantinya mencapai hasil yang maksimal. B. Bahwasanya belajarnya akan lebih mudah untuk mengingatnya jika waktu belajarnya mepet dengan waktu akan ujian berlangsung. Manfaat Teoritis Penelitian ini secara teoritis dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu Psikologi. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kedisiplinan siswa SMU dalam yang akan menghadapi ujian D. 2.terburu sebagai senjata mereka untuk menghindari belajar. maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana tingkat kedisiplinan siswa SMU dalam yang akan menghadapi ujian? C. . Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang di atas. Manfaat Manfaat dari penelitin ini adalah sebagai berikut : 1.

dan ketertiban terhadap aturan yang diberlakukan. kedisiplinan adalah mentaati terhadap peraturan yang berlaku serta menyesuaikan dengan harapan social yang tercakup dalam peraturan-peraturan yang diperlihatkan melalui pemberian hadiah atau pujian dan pengakuan social. Hurlock (2002: 82) berpendapat bahwa. pendidikan.nilai-nilai kepatuhan. kesetiaan. disiplin permissive. maupun dalam kehidupan sehari-hari. melainkan perilaku atau perbuatan yang ia lakukan benar-benar kesadaran di dalam dirinya. disiplin berasal dari kata “disciple” yang berarti bahwa seseorang belajar secara sukarela mengikuti seorang pemimpin dan anak merupakan murid yang . maka sikap atau perbuatan yang dilakukan sama sekali tidak dirasakan sebagai beban. yang meliputi disiplin otoriter. dan kepedulian telah menjadi bagian dari perlakuan kehidupan. atau merasa malu dan berdosa kalau berbuat menyimpang. Kedisiplinan berguna untuk mengarahkan siswa agar dapat berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku. Sebelum orang menyatakan “aneh” kalau dia berbuat menyimpang. h.64). tetapi juga dalam bidang karir. jabatan. Soegeng Prijodarminto (1994: 23) menyatakan bahwa kedisiplinan adalah kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan. dalam arti disiplin akan membawa individu kea rah kesuksesan dan kemajuan.BAB II LANDASAN TEORI 1. organisasi. kepekaan. dan disiplin demokratis. karena bukan hanya diperlukan dalam bidang ekonomi saja. Disiplin merupakan modal bagi individu agar dalam setiap karirnya lebih baik dari sebelumnya sehingga tujuan dapat tercapai dengan mudah. dirinya terlebih dahulu sudah merasa “aneh”. kedisiplinan adalah suatu proses dari latihan atau belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan. kepatuhan. menurut Hurlock (1991. risih. Menurut Sobur (1985. Selanjutnya. keteraturan. Karena sudah menyatu dengan dirinya.82). Menurut Hurlock (2002: 83) ada beberapa macam kedisiplinan. Pengertian Kedisiplinan Disiplin merupakan aspek yang sangat penting. h.

akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan perilaku kehidupan pendidikan anak dan pola pikirnya dalam memandang masa depannya kelak nanti. 64) berpendapat bahwa seseorang dapat dikatakan disiplin bila ia sudah berhasil dan bisa mengikuti dengan sendirnya tokoh – tokoh yang telah menetapkan aturan tersebut. peraturan. usaha untuk menciptakan disiplin pada siswa – siswa tentunya membutuhkan waktu yang lama dan harus ditetapkan secara bijaksana serta berlaku pada semua orang yang berada di lingkungan sekolah mulai dari kepala sekolah. Pendapat lain juga dikemukakan oleh Soekanto (1996. guru – . Kedisiplinan pertama kali didapatkan seorang anak dari keluarganya.30). h. Namun. kedisiplinan sisiwa di sekolah adalah kepatuhan siswa terhadap peraturan – peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah. 80) yang menyebutkan bahwa kedisiplinan merupakan suatu keadaan dimana perilaku berkembang dalam diri seseorang yang menyesuaikan diri dengan tertib pada keputusan. Sobur (1995. selain itu disiplin juga sebagai pengarahan diri sendiri tanpa pengaruh atau pengendalian diri dari luar. berlaku adil dan adanya keteraturan yang dapat memelihara kedisiplinan yang cukup tinggi. dan nilai dari suatu pekerjaan. Sekolah yang baik mutunya akan menciptakan suasana pengajaran dan suasana kelas yang menyejukkan. Melalui disiplin seseorang dapat belajar berperilaku dengan cara – cara yang berlaku di masyarakat sehingga ia dapat diterima oleh anggota kelompok sosialnya. Lebih lanjut Sobur juga mengatakan bahwa tujuan dair disiplin itu sendiri adalah membuat seseorang terlatih dan terkontrol dengan mengajarkan kepada mereka bentuk – bentuk tingkah laku yang pan tas dan yang tidak pantas atau yang masih asing bagi mereka. h.belajar dari mereka cara hidup menuju ke hidup yang berguna dan bahagia. Tokoh – tokoh itu antara lain adalah orang tua dan guru yang mengarahkan agar kehidupan menjadi lebih bermanfaat begi diri sendiri dan menimbulkan perasaan bahagia. Setiap anak perlu memiliki kedisiplinan bila ia ingin bahagia dan menjaadi pribadi yang baik penyesuaiannya. dan kemudian anak akan belajar tentang kedisiplinan ketika ia mulai masuk sekolah. Menurut Abu (1989. yang akan menimbulkan motivasi belajar. h. penuh perhatian dan rasa aman.

Dari pengertian-pengertian di atas. (1989.59). sehingga secara logis seseorang dapat mengikutinya bukan hanya dalam artian mematuhi otoritas. (Gie. yaitu merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil pengembangan dari latihan. Dan kedisiplinan belajar adalah suatu keadaan yang tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan. melainkan juga mengerti bahwa pelanggaran peraturan dapat merugikan kepentingan bersama dan diri sendiri. dan para siswa dengan sanksi – sanksi yang diberikan secara bijaksana. Peraturan – peraturan yang dibuat harus jelas dan dapat dimengerti. dan ketertiban terhadap aturan yang lingkungan ciptakan demi tercapainya suatu kegiatan belajar. (Dreikurs dan Cassel. criteria. tapi justru akan membebani dirinya bila nantinya dia tidak berbuat sebagaimana lazimnya. 3) Sikap ketaatan. Dengan disiplin. keteraturan. 2) Pemahaman. h. 1988. kepatuhan.87). pengendalian pikiran. norma. maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi dirasakan sebagai beban. dan pengendalian waktu. 1986.30). menyesuaikan diri dengan tertib pada peraturan – peraturan yang berlaku untuk mencapai kehidupan yang lebih berguna dan bahagia. dan standar tadi merupakan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan (sukses). maka siswa akan mengarahkan diri sehingga menghasilkan suatu kedisiplinan. Aspek – aspek Kedisiplinan Soegeng Prijodarminto mengemukakan bahwa kedisiplinan itu memiliki 3 aspek. Karena sudah menyatu dengan dirinya. h. Dengan adanya peraturan yang ditetapkan. kesetiaan. siswa akan memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik dan disiplin juga merupakan suatu proses pembentukan watak yang baik. h. 2. yaitu mengenai system aturan perilaku. dapat disimpulkan bahwa bahwa kedisiplinan adalah seseorang yang dengan sukarela berperilaku mengikuti. yaitu: 1) Sikap mental. yaitu secara wajar menunjukkan kesungguhan hati untuk .guru.

yaitu: a. (2) Konsisten dalam peraturan tersebut dan dalam cara yang digunakan untuk mengajarkan dan melaksanakan.37). yaitu aspek ketertiban terhadap peraturan. yaitu: a. (4) Penghargaan untuk perilaku yang baik. yaitu menguasai tingkah laku sendiri tanpa adanya pengaruh dari luar sehingga siswa tidak mudah terpengaruh terhadap perilaku yang tidak atau kurang baik.93) ada dua aspek dari disiplin. Adanya ketaatan atau kepatuhan terhadap peraturan – peraturan secara tertulis maupun tidak tertulis. Ketertiban terhadap peraturan. yang sejalan dengan peraturan yang berlaku. h. Sedangkan menurut Sobur (1985. dan aspek kontrol diri. Pendapat dari tiga orang tokoh di atas. Hurlock (2002: 84) menyatakan bahwa disiplin bila dilatih mampu membentuk perilaku dan sikap individu sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh kelompok.64) dalam kedisiplinan mengandung aspek kontrol diri. h. yaitu Durkheim.mentaati segala hal secara cermat dan tertib. b. Terdapat empat unsure pokok cara mendisiplinkan. yaitu (1) Peraturan sebagai pedoman perilaku. Keinginan akan adanya keteraturan. Abu. kedisiplinan memiliki aspek. (3) Hukuman pelanggaran peraturan. Keseluruhan tatanan moral bertopang pada keteraturan ini. dan Sobur tentang aspek dari kedisiplinan memiliki kesamaan. Penguasaan diri Seseorang yang disiplin akan memahami bahwa tidak semua keinginanya dapat terpenuhi karena ia harus menyesuaikan diri dengan realitas. b. Tanggung jawab Tanggung jawab memunculkan disiplin yang berkaitan dengan bersikap jujur dan penuh rasa tanggung jawab atas semua perbuatan dan berani menanggung resikonya. aspek tanggung jawab. h. Menurut Durkheim (1990. Menurut Abu (1989. .

c. dalam artian bahwa orang itu mengatahui bahwa peraturan itu salah tetapi tetap saja melakukannya. sebab peraturan memperkenalkan pada individu perilaku yang disetujui anggota kelompok yang tersebut. dan diterima oleh seseorang. atau ganjaran sebgai balasan. walaupun tidak dikatakan secara jelas bahwa kesalahan perlawanan atau pelanggaran ini disengaja. sikap orang yang mendisiplinkan. peraturan membentu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. tetapi bisa juga berupa kata-kata pujian. Penghargaan tidak perlu berupa materi. Menurut Hurlock (2002: 85) ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam peraturan. peraturan mempunyai fungsi pendidikan. usia. Pertama. punier yang berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan.a. Agar peraturan dapat memenuhi kedua fungsi tersebut. cara menanamkan disiplin. diingat. yaitu: 1) Fungsi peraturan Peraturan mempunyai dua fungsi yang sangat penting dalam membantu individu untuk membentuk makhluk yang bermoral. b. dan banyak faktor yang lain. Kedua. Peraturan Peraturan merupakan pola yang ditetapkan untuk mengatur tingkah laku. Peraturan diberikan dalam kata-kata yang tidak dimengerti atau hanya sebagian dimengerti. Penghargaan menunjuk pada tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan Unsur ketiga dari disiplin adalah penghargaan. peraturan itu harus dimengerti. 2) Jumlah peraturan Banyaknya peraturan yang ada sebagai pedoman perilaku bervariasi menurut situasi. perlawanan. Hukuman Hukuman (punishment) berasal dari kata Latin. Tujuannya adalah untuk membekali individu dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. . peraturan itu tidak berharga sebagai pedoman perilaku dan gagal mengekang perilaku yang tidak diinginkan.

ia harus merefleksikan tingkat persetujuan social atas tindakan daripada suasana hatiorang yang memberikan pujian. 2) Jenis Penghargaan Penghargaan yang tepat harus disesuaikan dengan perkembangan individu. yaitu untuk mengulangi perilaku yang disetujui yang dinyatakan dengan penghargaan di masa mendatang mereka berusaha untuk memberikan penghargaan. yaitu komentar seperti “kamu membersihkan kamarmu dengan baik. penghargaan juga merupakan usaha individu untuk berperilaku menurut standar yang disetujui secara social nilai edukatif pendidikan itu meningkat. penghargaan sebagai fungsi motivasi. saya tidak bisa melakukan sepertimu”. dan diadakannya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku ini. 3) Konsistensi . Bila pujian diharapkan nilai edukatif. (c) Perlakuan Istimewa. selalu dihubungkan dengan tindakan tersebut. Adapun situasinnya. bentuk dorongan atau kepercayaan. 1) Fungsi Penghargaan Penghargaan mempunyai tiga peranan penting agar individu berperilaku sesuai dengan cara yang direstui oleh masyarakat. Ketiga. penghargaan atas suatu kemampuan atau prestasi seseorang. hadiah menambah rasa harga diri seseorang individu. sepertihalnya hukuman. individu merasa hal itu baik. Beberapa Jenis penghargaan. bila tidak akan kehilangan efektifitasnya. atau tepukan di pundak. (b) Hadiah. Penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara. misal menonton TV walaupun jam tidur sudah larut atau pergi nonton film terutama beguna sebagai penghargaan bagi seseorang individu yang lebih besar. suatu hadiah dapat merupakan sebagai tanda kasih sayang.senyuman. yaitu: (a) Penerimaan social. penghargaan mempunyai nilai mendidik yaitu bila suatu tindakan disetujui. Kedua. Pertama. hadiah kadang-kadang diberikan sebagai penghargaan untuk perilaku yang baik.

tidak ad perubahan untuk menghadapi perubahan kebutuhan perkembangan yang berubah. berdisiplin. Fungsi dari kepatuhan dan ketaatan adalah untuk mencapai ketertiban dan kenyamanan dalam proses belajar. yang artinya tidak ada perubahan. 1996: 40). Ketiga. dan dalam penghargaan pada mereka yang menyesuaikan. Oleh karena itu masalah kepatuhan dalam mentaati peraturan-peraturan belajar masih bersifat abstrak sekali.Konsistensi berarti tingkat keseragaman atas stabilitas. maka perlu diidentifikasi terlebih . Sedangkan kepatuhan berarti sifat patuh. harus ada konsistensi dalam setiap peraturan yang dijadikan sebagai pedoman perilaku. Terbentuknya Disiplin Soegeng Prijodarminto (1987: 26) menyatakan bahwa terbentuknya disiplin melalui serangkaian perilaku yang menunjukkan ketaatan. Ia tidak sama dengan ketepatan. Ketaatan dan Kepatuhan Ketaatan dan kepatuhan terhadap ketentuan. Pertama. kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Kepatuhan berasal dari kata ”patuh” yang berarti suka menurut. bila disiplin itu konstan. dan kesetiaan anggota kepada pimpinan. kesadaran dalam melaksanakan peraturan. kensisten memiliki nilai moetivasi yang kuat. 3. aturan-aturan atau kelaziman-kelaziman yang berlku sangat penting adanya. Bila peraturannta konsisten ia memacu proses belajar. seorang individu yang mneyadari bahwa pengahrgaan selalu menyertai perilkau yang disetujui atau hukuman yang dilarang. dalam artan hukuman yang diberikan pada mereka yang tidak menyesuaikan standar. ketaatan (Depdikbud. Konsistensi dalam disiplin mempunyai tiga peranan pernting. konsistensi dalam sistem peraturan ini dijalankan dan dipaksakan. Kedua. Konsistensi harus menjadi semua aspek disiplin. a. konsistensi mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa. sebaliknya artinya adalah suatu kecenderungan menuju kesamaan. konsisten mempunyai nilai mendidik yang besar.

kesadaran dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) Keadaan tahu. Sadar diartikan sebagai tahu. mengerti atau merasa. sikap dan perilaku yang dimiliki oleh siswa dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang siswa akan dapat terwujud dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal. Kesadaran Kesadaran berasal dari kata sadar yang mendapat imbuhan awalan ke dan akhiran an. 1996: 775). Dengan demikian. 2) Perilaku Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Depdikbud. Setiap anggota organisasi harus menyadari bahwa aturan-aturan atau . 1996: 995). b.bahulu indikator-indikator yang meliputi: 1) Pengetahuan Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). (Depdikbud. maka dengan pengetahuan. Dari batasan-batasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kesadaran di sini adalah keadaan tahu. 2) Keinsyafan. maupun dari sosial lingkungannya. sedangkan imbuhan ke dan an menunjukkan pada keadaan. untuk mendisiplinkan proses belajar agar tindak mendapat banyak gangguan yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Jadi pengetahuan yang dimaksud adalah kedisiplinan belajar siswa SMA dalam menghadapi ujian adalah segala sesuatu yang diketahui oleh siswa berkenaan dengan hal-hal apa saja yang harus dilaksanakan ataupun yang harus dihindari demi tercapainya suatu hasil yang maksimal dalam hasil belajarnya sebagai siswa kelas 3 SMA yang akan menghadapi ujian. mengerti atau merasa atau sesuatu yang dirasakan tahu atau yang dialami seseorang. Perilaku dalam kedisiplinan belajar siswa SMA menjelang ujian adalah tanggapan atau reaksi berupa tindakan nyata untuk disiplin. Jika dikembalikan pada permasalahan semula.

psikologis. untuk keselamatan atau untuk keberhasilannya dalam usaha dengan memuaskan. Kesetiaan Kesetiaan merupakan keteguhan hati atau ketaatan setiap siswa kepada peraturan baik yang dia buat sendiri maupun yang dibuat oleh sosial lingkungannya. 2) Tanggung jawab adalah sikap yang berani menerima resiko atau konsekuesi dari apa yang telah dilakukannya. Tanggung jawab disini dapat dilihat dari . Dalam hal ini termasuk kemampuan untuk menjamin agar seseorang berbuat. kesadaran yang dimaksud hendaklah mengambil tempat dalam setiap hati nurani setiap anggota. Jadi seorang siswa harus berani menanggung segala resiko atau konsekuesi dari apa yang dilakukan atau diperbuatnya. maupun fisik yang berisi kemampuan untuk menjamin agar tingkah laku atau perbuatan seorang anak sesuai dengan syarat yang selayaknya atau dapat mencapai suatu tujuan. yang harus dipatuhi adalah berguna untuk tercapainya tujuan. ketentuan-ketentuan atau kelaziman yang berlaku. untuk berbuat sesuai aturan. Dengan kesadaran akan timbul atau tumbuh apa yang kita dengan disiplin yang hidup sebagai lawan dari disiplin yang mati.baik bagi mental. Konsisten dalam hal ini adalah tindakan-tindakan siswa dalam proses belajarnya harus sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya belajar dan mendapat hasil yang maksimal. Untuk mengetahui kesetiaan seseorang dapat dilihat dari indikator-indikator berikut: 1) Konsisten adalah keseimbangan antara tindakan yang dilaksanakan dengan ucapan. Kesadaran tersebut akan menjadi pendorong dalam diri setiap anggota untuk bertingkah laku. Pengendalian diri merupakan usaha. c. Kesadaran akan menjadi dasar yang kuat bagi pengendalian diri. bertingkah laku sesuai dengan aturan atau ketentuan yang berlaku.ketentuan-ketentuan ataupun kelaziman-kelaziman yang berlaku. Kesetiaan merupakan hal yang sangat penting sekali demi terwujudnya ketertiban dan kenyamanan belajar siswa itu sendiri. yang dalam hal ini adalah justru untuk kebaikan atau untuk kepentingan manusia itu sendiri. Karena itu.

atau yang lainnya.menejemen waktu yang digunakan siswa untuk beristirahat di sela-sela belajarnya. .

Tinggi rendahnya kedisiplinan siswa dapat diukur dengan skala kedisiplinan yang disusun berdasarkan tiga aspek kedisiplinan. tanggung jawab. mengerti. Ketaatan dan Kepatuhan a) Pengetahuan Menunjukkan pengetahuan siswa dalam melihat arti dari sebuah kedisiplinan belajar. Kesadaran a) Keadaan tahu. . 2. dan kontrol diri. Aspek-aspek dalam skala kedisiplinan ini meliputi: 1. sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh menunjukkan semakin rendah kedisiplinan siswa. dan merasa tentang makna dan tujuan disiplin dalam belajar. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala menunjukkan semakin tinggi kedisiplinan siswa. Definisi Operasional Kedisiplinan adalah perilaku siswa yang dengan sukarela mengikuti. Menunjukkan keadaan tahu. dan merasa. yaitu: ketertiban terhadap aturan. mengerti. b) Perilaku Menunjukkan tanggapan atau reaksi berupa tindakan nyata untuk disiplin waktu proses belajar sedang atau akan berlangsung.BAB III PENGEMBANGAN SKALA PSIKOLOGI a. menyesuaikan dengan tertib pada aturan–aturan yang berlaku untuk mencapai apa yang menjadi tujuan siswa dengan lebih mudah dan hasilnya maksimal.

16. 29 6. F. 23. 20. UF. UF. Kesadaran Keadaan tahu. 7. 26 Keterangan UF. 11. 9. UF. Kesetiaan a) Konsisten Menunjukkan adanya keseimbangan antara tindakan yang dilaksanakan dengan ucapan. UF. UF 3. mengerti. F. F. 17. dan merasa 3. 27 F. 30 F. UF. 10. 15. 24. UF. UF. 21. Blue Print Tabel BLUE PRINT SKALA KEDISIPLINAN No. Kesetiaan Kesadaran pribadi Konsisten Tanggung jawab 5. F Sub Variabel Ketaatan dan kepatuhan Indikator Pengetahu an Perilaku No. 25 2. 14. UF F. b. 28 UF. F F. 8. F. Variabel 1. F. 18. 3. 13. 12. F 4. UF. F. F. F . 19. Aitem 1.b) Kesadaran pribadi Menunjukkan kesadaran pribadi siswa mengenai pentingnya disiplin dalam belajar. F. Kedisi plinan Belaja r 2. UF. UF. 22. b) Tanggung jawab Menunjukkan sikap berani menanggung semua resiko atau konsekuensi dari apa yang telah dilakukannya.

JUMLAH 30 30 .

saya akan langsung melakukan kegiatan belajar 2. walaupun saya tidak bisa disiplin dalam belajar 3. perlu adanya sebuah kedisiplinan demi tercapainya hasil yang maksimal 2. Kesuksesan tetap bisa saya raih. Tanpa kedisiplinan dalam belajarpun. walaupun dalam belajar saya seenaknya sendiri ψ Perilaku Favourable 1. Sebagai seorang murid. hal-hal yang mengganggu proses belajar akan saya acuhkan .1. Dalam proses belajar. disipin dalam belajar menjadi sesuatu yang sangat penting Unfavourable 1. Ketika waktu belajar tiba. Begitu waktu belajar saya tiba. Saya merasa akan tetap bisa berprestasi. KETAATAN DAN KEPATUHAN ψ Pengetahuan Favourable 1. saya bisa dapat hasil yang maksimal 2.

Jika saya menerapkan kedisiplinan dalam proses belajar saya.3. KESADARAN ψ Keadaan tahu. saya akan menolak ajakan teman untuk pergi nonton di bioskop walaupun film itu kesukaan saya Unfavourable 1. mengerti. Walaupun saya tahu jika belajar dalam rangka persiapan ujian penting. Saya akan lebih memilih pergi jalan-jalan dengan teman. Saya akan langsung berangkat nonton konser grup band favorit saya walaupun besok akan ujian 2. Saya akan menemui teman saya yang datang berkunjung. Disiplin dalam belajar. Saya mengerti jika kedisiplinan dalam belajar sangatlah penting 2. walaupun pada saat saya sedang belajar 2. Ketika saya sedang belajar. saya akan tetap merasa santai . daripada belajar dalam persiapan Ujian 2. saya yakin hasil yang akan saya peroleh akan maksimal 3. adalah salah satu faktor kesuksesan Unfavourable 1. dan merasa Favourable 1.

Ketika jadwal waktu belajar tiba. Ketika ada tontonan di televisi yang menarik. Saya akan lebih memilih untuk membaca materi ujian. akan saya patuhi 3. saya akan menghentikan belajar saya dan langsung melihat televisi itu 2. Sebelum ujian dilaksanakan saya bebas melakukan semua hal untuk refreshing. daripada pergi jalan-jalan dengan teman-teman Unfavourable 1. Saat waktu belajar tiba.ψ Kesadaran Pribadi Favourable 1. KESETIAAN ψ Konsisten Favourable 1. Waktu belajar yang sudah saya tetapkan. karena pada saat ujian saya harus fokus ke pelajaran 3. saya akan langsung menghentikan segala aktivitas saya yang tidak ada sangkut pautnya dengan belajar 2. Saya belajar ketika sudah diperintahkan oleh kedua orang tua saya 3. saya akan langsung belajar . Saya mempunyai jadwal belajar yang sudah saya tepati 2.

Karena sebentar lagi saya akan mengikuti Ujian. Saya tidak mempunyai jadwal belajar saya yang pasti 2. saya tetap menyisihkan waktu setiap harinya untuk membaca buku pelajaran 3. Hasil belajar saya nantinya. saya hanya akan belajar ketika disuruh oleh orang tua 2. saya mempunyai tanggung jawab untuk selalu belajar di sela-sela aktivitas saya sehari-hari - Unfavourable 1. Setiap harinya saya belum pasti mengulang materi yang diterangkan oleh pengajar ψ Tanggung jawab - Favourable 1. Karena saya seorang pelajar. adalah merupakan tanggung jawab pengajar saya . Jika di rumah. Walaupun sedang ada kesibukan.- Unfavourable 1. maka saya harus lebih giat belajar 2.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala psikologi sebagai alat ukur. Tidak langsung dikerucutkan pada persiapan siswa SMA sebelum menghadapi ujian Nasional. Peneliti meilih untuk memakai subjek tesebut dikarenakan antara subjek yang sebenarnya dan yang di try outkan memiliki beberapa karakteristik yang sama. Pengumpulan data melalui skala psikologi dalam penelitian diharapkan dapat mengukur seberapa besar kedisiplinan belajar yang dimiliki subjek dalam penelitian secara objektif. Dalam kegiatan penelitian ini yang digunakan adalah berupa skala Kedisiplinan Belajar yang berisi sejumlah pernyataan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan mengenai diri pribadinya untuk dapat mengukur tingkat kedisiplinan belajar siswa sebelum menghadapi ujian nasional. Melalui penggunaan skala psikologi dalam pengumpulan data pada penelitian. Namun dalam pelaksanaan try out skala pada penelitian ini digunakan Skala Kedisiplinan belajar yang dibuat secara umum. Skala ini terdiri dari dua kelompok yaitu item yang berbentuk positif atau mendukung (favorable) dan item yang berbentuk negatif atau tidak mendukung (unfavorabel). maka diharapkan data yang diperoleh dapat diinterpretasikan dengan lebih objektif melalui pengukuran disamping valid dan reliabel. Skala Psikologi Dalam penelitian ini digunakan Skala Kedisiplinan Belajar untuk mengukur seberapa besar tingkat kedisiplinan belajar siswa sebelum ujian nasional dilaksanakan. Pernyataan dalam aitem favorabel mempunyai skor sebagai berikut ini: Sangat sesuai (SS ) Sesuai (S) Tidak sesuai (TS) Sangat tidak sesuai (STS) :4 :3 :2 :1 . Karena subyek yang peneliti pilih adalah mahasiswi UNNES yang akan menghadapi ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan.BAB IV HASIL SKALA PSIKOLOGI a.

saya akan menghentikan belajar saya dan 5. saya bisa dapat hasil yang maksimal Begitu waktu belajar saya tiba.Sementara itu. Adapun makna dari setiap jawaban adalah sebagai berikut : SS S TS STS : Jika pernyataan sangat sesuai dengan apa yang saudara rasakan. 2. 1. langsung melihat televisi itu Saya mempunyai jadwal belajar yang sudah saya . Skala kedisiplinan belajar No. : Jika penyataan tidak sesuai dengan apa yang saudara rasakan. 4. Petunjuk pengisian skala Kedisiplinan Belajar Beri tanda V (cek) pada kolom pilihan yang dianggap sesuai dengan keadaan. : Jika pernyataan sesuai dengan apa yang saudara rasakan. pernyataan dalam aitem unfavorabel mempunyai skor sebagai berikut: Sangat sesuai (SS) Sesuai (S) Tidak sesuai (TS) Sangat tidak sesuai (STS) :1 :2 :3 :4 1.ide dan pendapat Anda. Aitem SS S TS ST S Tanpa kedisiplinan dalam belajarpun. :Jika pernyataan sangat tidak sesuai dengan apa yang saudara rasakan. saya akan langsung melakukan kegiatan belajar Saya mengerti jika kedisiplinan dalam belajar sangatlah penting Ketika ada tontonan di televisi yang menarik. 3. 2.

maksimal Saya akan menemui teman saya yang datang berkunjung. hal-hal yang mengganggu proses belajar akan saya acuhkan Jika saya menerapkan kedisiplinan dalam proses belajar saya. belajar Saya akan lebih memilih pergi jalan-jalan dengan teman. walaupun pada saat saya sedang 9. pada saat ujian saya harus fokus ke pelajaran Waktu belajar yang sudah saya tetapkan. peroleh akan maksimal Sebelum ujian dilaksanakan saya bebas melakukan semua hal untuk refreshing. akan . sangkut pautnya dengan belajar Saya tidak mempunyai jadwal belajar saya yang pasti Jika di rumah. 7. saya akan langsung menghentikan segala aktivitas saya yang tidak ada 11. saya yakin hasil yang akan saya 16. karena 17. tepati Karena sebentar lagi saya akan mengikuti Ujian. saya hanya akan belajar ketika disuruh oleh orang tua Saya merasa akan tetap bisa berprestasi di sekolah. 13. maka saya harus lebih giat belajar Dalam proses belajar. daripada belajar dalam persiapan Ujian Saat waktu belajar tiba. belajar Ketika waktu belajar tiba. walaupun saya tidak bisa disiplin dalam 14. perlu adanya sebuah kedisiplinan demi tercapainya hasil yang 8. 15. 10.6. 12.

20. santai Saya akan lebih memilih untuk membaca materi ujian. disipin dalam belajar menjadi sesuatu yang sangat penting Saya akan langsung berangkat nonton konser grup band favorit saya walaupun besok akan ujian Walaupun saya tahu jika belajar dalam rangka persiapan ujian penting. adalah salah satu faktor kesuksesan . saya akan tetap merasa 22. 21. 25. membaca buku pelajaran Sebagai seorang siswa. walaupun dalam belajar saya seenaknya sendiri Ketika saya sedang belajar. 24.18. teman Setiap harinya saya belum pasti mengulang materi yang diterangkan oleh pengajar Hasil belajar saya nantinya. saya akan menolak ajakan teman untuk pergi nonton di bioskop 27. saya tetap menyisihkan waktu setiap harinya untuk 19. 26. adalah merupakan tanggung jawab pengajar saya Kesuksesan tetap bisa saya raih. daripada pergi jalan-jalan dengan teman- 23. saya patuhi Walaupun sedang ada kesibukan. walaupun film itu kesukaan saya Disiplin dalam belajar.

Dengan digugurkannya atau tidak digunakannya aitemaitem yang tidak valid tersebut di dalam penelitian.28. maka diharapkan skala kedisiplinan belajar ini masih dapat digunakan sebagai alat ukur untuk memperoleh data dalam penelitian secara objektif terhadap subjek. maka diperoleh reliabilitas sebesar 0. Oleh karena itu. maka dapat disimpulkan bahwa skala .909 terhadap 30 aitem skala. walaupun pada saat saya sedang belajar 2. Adapun subjek dalam uji coba skala ini dilaksanakan pada mahasiswi Universitas Negeri Semarang. Subjek dalam uji coba skala ini berjumlah 50 orang. saya akan langsung belajar Karena saya seorang pelajar. Hal ini dikarenakan pada aitem tersebut telah terwakili oleh aitem-aitem lain yang mengacu pada aspek kedisiplinan belajar. 30. Setiap harinya saya belum pasti mengulang materi yang diterangkan oleh pengajar Terdapatnya 2 aitem yang tidak valid tersebut di atas maka diputuskan untuk tidak dipergunakan dalam penelitian. saya mempunyai tanggung jawab untuk selalu belajar di sela-sela aktivitas saya sehari-hari b. Dalam uji coba skala self-disclosure digunakan 30 aitem yang mengacu pada aspek-aspek yang membentuk kedisiplinan dalam belajar. Uji coba skala ini dilakukan untuk mengetahui aitem-aitem mana saja yang memiliki validitas dan reliabilitas tinggi. Saya akan menemui teman saya yang datang berkunjung. Hasil perhitungan reliabilitas terhadap skala kediplinan belajar siswa yang akan menempuh ujian. 29. Saya belajar ketika sudah diperintahkan oleh kedua orang tua saya Ketika jadwal waktu belajar tiba. Adapun aitem yang tidak valid tersebut adalah sebagai berikut ini: 1. maka diperoleh hasil dimana terdapat 28 aitem valid dan 2 aitem tidak valid dari 30 aitem. Hasil Uji Coba (Try Out) Pada penelitian ini dilaksanakan uji coba Skala Kediplinan Belajar terhadap subjek uji coba penelitian. Dari uji coba skala yang dilakukan terhadap subjek uji coba.

Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen. Tinggi rendahnya validitas ditunjukkan dengan suatu koefisien validitas. Item yang digunakan dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan korelasi antara skor item dan skor total item. Validitas Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu skala benar – benar dapat mengukur apa yang perlu diukur (Ancok.13). 2002:144). Suatu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui validitas suatu alat ukur adalah dengan mengkoreksikan antara skor yang diperoleh tiap – tiap aitem dengan skor total. Korelasi antara skor item dengan skor total haruslah signifikan karena dengan begitu suatu alat ukur baru dapat dikatakan mempunyai validitas (Ancok. 2002 : 148). Korelasi . Validitas dan Reliabilitas Skala Psikologi Dari pelaksanaan uji coba terhadap Skala Kedisiplinan Belajar yang dilakukan terhadap subjek uji coba. Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecemasan suatu instrumen pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar. c. 1. (Suharsimi Arikunto. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Suharsimi Arikunto. Dalam penelitian ini untuk menguji kevalidan instrumen dilakukan dengan validitas internal instrumen yang dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan.kediplinan belajar dapat dipercaya sebagai alat ukur untuk pengambilan data dalam penelitian. maka diperoleh hasil berupa data yang menunjukan validitas dan reliabilitas skala. 2003 : 173). 13). h. h. 1985.h. 1985. 7).2000. Skala yang tidak valid adalah skala yang hanya mampu mengungkap sebagian dari atribut yang seharusnya atau justru mengukur atribut lain (Azwar.

maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 aitem atau pernyataan yang tidak valid. Pada penghitungan uji validitas tersebut ditemukannya r hitung terendah 0. Oleh karena itu. Hal ini dapat berarti bahwa terdapat 28 aitem dari 30 item dinyatakan valid.699. Keadaan hasil ini dikarenakan r hitung > r tabel. Hal ini dikarenakan pada aitem tersebut telah terwakili oleh aitem-aitem lain .ini menggunakan rumus Product Moment dari Pearson dengan rumus sebagai berikut: rxy = ∑XY − (∑X )(∑Y ) 2   Y 2 − ( ∑Y )  ∑ N   (∑X ) 2  2  ∑X − N   N      Keterangan : rxy : Koefisien korelasi Product Moment ∑ XY : Jumlah perkalian skor item dengan skor total ∑X ∑Y N : Jumlah skor tiap-tiap item : Jumlah skor total item : Jumlah subjek Hasil perhitungan uji validitas alat ukur pada variabel Kedisiplian Belajar pada siswa menjelang ujian nasional dilakukan dengan analisis per indikator dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Terdapatnya 2 aitem yang tidak valid tersebut di atas maka diputuskan untuk tidak dipergunakan dalam penelitian. Penghitungan uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel (r product moment) untuk N = 50 (subjek uji coba) dan taraf signifikansi 5% diperoleh r tabel 0.178 dan tertinggi 0.279.

570 0. 19.279 0. Berikut ini adalah tabel hasil perhitungan uji validitas variabel kedisiplinan belajar. 9.187 0.689 0. Dengan digugurkannya atau tidak digunakannya aitem-aitem yang tidak valid tersebut di dalam penelitian.279 0.650 0. 10.279 0.649 0. 14.468 0. 6.279 0.279 0. 17.279 0. 20. 7.561 0.640 0. 18.504 0.416 0. 5.699 0.279 0. r Hitung 0. 2.279 0.475 0. Tabel Hasil Uji Validitas Kediplinan Belajar Aitem Soal 1. maka diharapkan skala kedisiplinan belajar ini masih dapat digunakan sebagai alat ukur untuk memperoleh data dalam penelitian secara objektif terhadap subjek.682 0.279 0.474 0. 4.414 0.506 0. 21.584 0.yang mengacu pada aspek kedisiplinan belajar.437 0. 16.279 0. 11.248 0. 23.279 0. 8.279 0.279 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid .671 0.279 0.279 0.279 0.279 0. 13.540 0. 12. 22.279 0.537 0.325 0.497 0.279 0. 3.279 0. 15.279 0.670 r Tabel 0.279 0.279 0.279 0.279 0.

622 0. 26.279 0.279 0. 28.279 0. Reliabilitas instrumen merupakan ukuran yang menunjukkan tingkat kepercayaan instrumen dalam mengungkap data. Adapun rumus tersebut adalah sebagai berikut : 0.279 Valid Valid Valid Valid Valid Keterangan : . 25. 19) reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat ukur tersebut dipercaya atau dapat diandalkan. h. Instrumen yang dapat dipercaya reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya pula (Suharsimi Arikunto.402 0. artinya istrumen tidak bersifat tendensius. Untuk keperluan penelitian peneliti menggunakan jenis reliabilitas internal yaitu menganalisis data dari satu kali hasil pengetesan terhadap kelompok responden (Suharsimi Arikunto. 30. 2002 : 154). Sedangkan menurut Ancok (1987. 2.487 0. Reliabilitas memiliki nama lain seperti kepercayaan dan keajegan. 1984. Reliabilitas diterjemahkan dari kata reliability.532 0. 27. h. 29.607 0.279 0. S12 + S 2 2   α = 21 − 2   Sx   24. Reliabilitas Reliabilitas adalah taraf sejauh mana test tersebut sama dengan test itu sendiri (Suryabrata. Pengujian terhadap reliabilitas dengan mengunakan formula koefisien alpha yang dikemukan oleh Cronbach. Pengukuran yang memilki reliabilitas tinggi adlah pengukuran yang dapat menghasilkan sata yang reliabel (Azwar. 2002 : 156). 29). mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. 2003 : 180).

Oleh karena itu. maka diperoleh reliabilitas sebesar 0.909 terhadap 30 aitem skala. maka dapat disimpulkan bahwa skala kedisiplinan belajar yang dibuat tersebut dapat dipercaya sebagai alat untuk pengambilan data secara objektif di dalam penelitian untuk mengetahui seberapa besar kedisiplinan belajar pada subjek penelitian.α S1 2 2 2 : Koefisien reliabilitas Alpha : Varians skor belahan 1 : Varians skor belahan 2 : Varians skor total Hasil perhitungan reliabilitas terhadap skala kedisiplinan belajar S2 Sx pada siswa yang akan menempuh ujian nasional. .

0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.Berikut ini merupakan table hasil perhitungan uji reliabilitas variabel kedisiplinan belajar.909 N of Items 30 . Reliability Statistics Cronbach's Alpha . Case Processing Summary N Cases Valid Exclud ed(a) Total 50 0 50 % 100.0 100.0 .

Alasan mengapa peneliti memilih subjek penelitian mahasiswi UNNES adalah adanya karakteristik yang sama yaitu mahasiswi yang dalam persiapan menjelang ujian akhir semester. KESAN-PESAN PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGI Dalam penyusunan skala psikologi yang membahas tentang kedisiplinan belajar siswa menjelang pelaksaaan ujian nasional ini ditemukan berbagai hambatan. Tapi skala ini dapat dikatakan sudah dapat digunakan pada penelitian oleh peneliti pada subjek yang sebenarnya Terdapatnya 30 aitem di dalam skala kedisiplinan belajar yang digunakan dalam uji coba skala ini dirasakan sangat minim sekali dan terbatas sekali dalam proses pengukuran validitas dan reliabilitas skala psikologi sebagai alat ukur dalam penelitian yang dilakuakan terdapap subjek penelitian. Dengan terdapatnya skala dengan jumlah aitem yang besar. maka diharapkan dapat menjadi pilihan dalam palaksanaan pada subjek yang sebenarnya.BAB V REFLEKSI. Tetapi pada kenyataannya peneliti memilih subjek mahasiswi UNNES secara acak. . Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan aitem-aitem yang gugur akibat tidak valid dalam pengukuran tingkat validitas skala. Diantaranya adalah karakteristik subjek penelitian yang diinginkan oleh peneliti adalah siswa SMA yang tergolong lemah dalam hal disiplin belajar.

178 dan tertinggi 0. Oleh karena itu maka diperoleh r 0.279. Ditemukannya r hitung terendah terendah 0.279 . maka diperoleh r hitung 1 dengan taraf signifikansi 5% untuk tabel N=50.279.699. Kesimpulan Berdasarkan analisis data seperti yang terurai di atas. Dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel (r product moment) untuk N = 50 (subjek uji coba) dan taraf signifikansi 5% diperoleh r tabel 0. karena r hitung > r tabel. Terdapat 28 aitem dari 30 item dinyatakan valid. Dari hasil perhitungan terhadap hasil try out pada skala kedisiplinan belajar. 3. Dari hasil hitung perhitungan tersebut. maka peneliti dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. maka dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 aitem atau pernyataan yang tidak valid. 4. maka diperoleh reliabilitas sebesar 0. 1 > r tabel 2.909 terhadap 30 aitem skala. 5. Hasil perhitungan reliabilitas terhadap skala kedisiplinan belajar siswa menjelang ujian akhir nasional. Hal ini dikarenakan pada aitem tersebut telah terwakili oleh aitem-aitem lain yang mengacu pada aspek kedisiplinan belajar.BAB VI PENUTUP a. Oleh karena itu. maka dapat disimpulkan bahwa skala kediplinan belajar yang dibuat tersebut dapat dipercaya sebagai alat untuk pengambilan data secara objektif di dalam penelitian untuk mengetahui seberapa besar kedisiplinan belajar pada subjek penelitian. Terdapatnya 2 aitem yang tidak valid tersebut maka diputuskan untuk tidak dipergunakan atau digugurkan dalam penelitian. . 6. maka dapat disimpulkan bahwa r 0.

b. Menggunakan sampel dalam jumlah besar agar hasil penelitian dapat representatif. sebaiknya dilakukan uji coba skala terlebih dahulu agar dapat diketahui validitas dan reliabilitas dari skala psikologi tersebut. Hasil pengukuran terhadap aitem-aitem yang dilakukan pada try out skala psikologi dapat memungkinkan diperolehnya hasil dimana terdapat aitem-aitem yang tidak valid dan reliable sebagai alat ukur. Membuat dan menggunakan aiten-aitem dalam jumlah besar pada skala psikologi yang akan digunakan dalam penelitian. Pada keadaan tersebut dengan jumlah aitem yang besar pada skala. Dengan hal ini diharapkan penelitian dapat terus berjalan dengan subjek-subjek lain yang menunjukan hasil skala psikologi valid. Dengan hal ini maka diharapkan peneliti dapat mengetahui aitem-aitem mana saja yang valid dan tidak valid untuk dapat digunakan dalam penelitian. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi ketika beberapa aitem yang dibuat dalam skala ternyata menunjukan hasil tidak valid dan reliable sebagai alat ukur. maka dapat memungkinkan untuk menggugurkan atau tidak menggunakan aitem-aitem yang tidak valid tersebut untuk kemudian menggunakan aitem-aitem yang valid untuk dapat dipergunakan pada penelitian terhadap sempel penelitian yang sebenarnya. Saran Adapun beberapa saran yang dapat digunakan untuk kepentingan penelitian yang akan datang adalah dimana penelitian berikutnya hendaknya dapat: 1. Dengan dilakukannya try out terhadap subjek dengan jumlah besar maka dapat diambil langkah untuk menghilangkan sejumlah hasil try out yang menunjukan hasil tidak valid yang dimungkinkan dipengaruhi oleh berbagai faktor. . 3. Sebelum skala psikologi disebarkan terhadap sempel dalam penelitian. Melakukan try out terhadap skala psikologi dengan jumlah subjek yang besar. 4. 2. Hal ini dimana jumlah subjek dalam try out lebih besar dari subjek sampel dalam penelitian yang sebenarnya.

Dalam mengumpulkan data hasil penelitian sebaiknya digunakan metode pelengkap disamping metode utama. Metode pelengkap dalam pengumpulan data tersebut dapat berupa metode wawancara dan observasi.5. Dengan hal tersebut diharapkan dapat diperoleh hasil data yang lebih banyak. dengan metode tambahan ini maka juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengkroscek data yang telah didapat dengan menggunakan metode utama sebelumnya. Selain itu. .

Syaifuddin. Suharsimi. Azwar. J. 2007. Prosedur Penelitian. Penerjemah: Kartono. Azwar. Syaifuddin. dkk. 2002.P. Chaplin. Batam Center: Interaksara. Alih Bahasa: Widjaja Kusuma. Yogyakrta: Pustaka Pelajar Offset. Penyusunan Skala Psikologi. Kamus Lengkap Psikologi. Yogyakarta : Rineka Cipta Atkinson.L. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. R. Metode Penelitian. 2003. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. K. Pengantar Psikologi: Jilid I. . 1993. 2001.

537** 0.000 50 0.000 50 0.561** 0.001 50 0. (2-tailed) . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 50 0.437** 0.671** 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.570** 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.540** 0.506** 0.000 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.699** 0. Correlations TOTAL 0.468** 0.195 50 0.187 0.000 50 0.000 Aitem 01 Aitem 02 Aitem 03 Aitem 04 Aitem 05 Aitem 06 Aitem 07 Aitem 08 Aitem 09 Aitem 10 Aitem 11 Aitem 12 Aitem 13 Pearson Correlation Sig.000 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.475** 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.LAMPIRAN 1.000 50 0.649** 0.640** 0.001 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 50 0.

(2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.416** 0.504** 0.689** 0.670** 0.000 50 0.248 0.584** 0.325* 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.004 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.003 50 0.000 50 0.083 50 0.003 50 0.414** 0.000 50 0.622** 0.001 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.607** .000 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 50 0.000 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.474** 0.Aitem 14 Aitem 15 Aitem 16 Aitem 17 Aitem 18 Aitem 19 Aitem 20 Aitem 21 Aitem 22 Aitem 23 Aitem 24 Aitem 25 Aitem 26 Aitem 27 Aitem 28 N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.021 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation 50 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.402** 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 50 0.497** 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.682** 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.650** 0.

(2-tailed) N Aitem 30 Pearson Correlation Sig.Sig. (2-tailed) N TOTAL Pearson Correlation Sig.909 N of Items 30 A Listwise deletion based on all variables in the procedure.01 level (2-tailed). (2-tailed) N Aitem 29 Pearson Correlation Sig. 2. ificant at the 0.01 0.532** 0. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .487** 0.000 50 0. . ** Correlation is significant at the 0. (2-tailed) N * Correlation is significant at the 0.000 50 1 50 level (2-tailed).05 level (2-tailed).000 50 0.

2.Nama: Petunjuk pengisian Bacalah setiap pernyataan dengan seksama kemudian berikan jawaban saudara pada kolom bagi setiap pernyataan tersebut dengan cara member tanda centang (Ö) sesuai dengan keadaan diri saudara. karena di sini tidak ada jawaban yang dianggap salah. Tanpa Aitem SS S TS STS kedisiplinan dalam belajarpun. karena itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan diri saudara. 4. Adapun pilihan jawaban tersebut adalah: SS = Sangat Sesuai S = Sesuai TS = Tidak Sesuai STS = Sangat Tidak Sesuai Setiap orang dapat memberikan jawaban yang berbeda. 5. saya bisa dapat hasil yang maksimal Begitu waktu belajar saya tiba. . saya akan menghentikan belajar saya dan langsung melihat televisi itu Saya mempunyai jadwal belajar yang sudah saya tepati Karena sebentar lagi saya akan mengikuti 3. 1. saya akan langsung melakukan kegiatan belajar Saya mengerti jika kedisiplinan dalam belajar sangatlah penting Ketika ada tontonan di televisi yang menarik. 6. No.

. maka saya harus lebih giat belajar Dalam proses belajar. 10. daripada belajar dalam persiapan Ujian Saat waktu belajar tiba. saya akan langsung menghentikan segala aktivitas saya yang tidak ada sangkut pautnya dengan belajar Saya tidak mempunyai jadwal belajar saya yang pasti Jika di rumah. walaupun pada saat saya sedang belajar Saya akan lebih memilih pergi jalan-jalan dengan teman.7. 15. saya hanya akan belajar ketika disuruh oleh orang tua Saya merasa akan tetap bisa berprestasi di sekolah. hal-hal yang mengganggu proses belajar akan saya acuhkan Jika saya menerapkan kedisiplinan dalam 8. 13. Ujian. walaupun saya tidak bisa disiplin dalam belajar Ketika waktu belajar tiba. 9. 11. 12. 14. perlu adanya sebuah kedisiplinan demi tercapainya hasil yang maksimal Saya akan menemui teman saya yang datang berkunjung.

23. 17. 19.proses belajar saya. daripada pergi jalan-jalan dengan teman-teman Setiap harinya saya 16. saya yakin hasil yang akan saya peroleh akan maksimal Sebelum ujian dilaksanakan saya bebas melakukan semua hal untuk refreshing. 22. karena pada saat ujian saya harus fokus ke pelajaran Waktu belajar yang sudah saya tetapkan. akan saya patuhi Walaupun sedang ada kesibukan. 21. belum pasti . disipin dalam belajar menjadi sesuatu yang sangat penting Saya akan langsung berangkat nonton konser grup band favorit saya walaupun besok akan ujian Walaupun saya tahu jika belajar dalam rangka persiapan ujian penting. 18. 20. saya akan tetap merasa santai Saya akan lebih memilih untuk membaca materi ujian. saya tetap menyisihkan waktu setiap harinya untuk membaca buku pelajaran Sebagai seorang siswa.

saya akan menolak ajakan teman untuk pergi nonton di bioskop walaupun film itu kesukaan saya Disiplin dalam belajar. 30. adalah salah satu faktor kesuksesan Saya belajar ketika sudah diperintahkan oleh kedua orang tua saya Ketika jadwal waktu belajar tiba. 29. saya nantinya. adalah 25. pelajar. walaupun dalam belajar saya seenaknya sendiri Ketika sedang belajar. merupakan tanggung jawab pengajar saya Kesuksesan tetap bisa saya raih. saya mempunyai tanggung jawab untuk selalu belajar di sela-sela aktivitas saya seharihari . 27. 28.mengulang materi yang diterangkan oleh pengajar Hasil belajar 24. saya akan langsung belajar Karena saya seorang 26.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful