P. 1
STUDI ARUS LEBIH GANGGUAN TANAH PADA JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER DI PT. PLN (Persero) WILAYAH PAPUA CABANG MERAUKE

STUDI ARUS LEBIH GANGGUAN TANAH PADA JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER DI PT. PLN (Persero) WILAYAH PAPUA CABANG MERAUKE

|Views: 1,078|Likes:
Published by Damis Hardiantono

More info:

Published by: Damis Hardiantono on Oct 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2013

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar BeIakang MasaIah
Sistem tenaga listrik dirancang dan dibangun secara cermat,
agar dapat beroperasi dengan baik. Tetapi dalam operasinya,
gangguan (fault dapat saja terjadi. Gangguan tersebut dapat berupa
hubung singkat maupun beban lebih yang dapat mengakibatkan
kerusakan isolasi sehingga kerja peralatan listrik dan terganggunya
stabilitas sistem Sedangkan fungsi sistem tenaga listrik itu sendiri
adalah membangkitkan daya listrik dan menyalurkannya ke
konsumen yang membutuhkan. Oleh karena itu, suatu sistem tenaga
listrik harus mampu beroperasi secara kontinyu seiring dengan
kebutuhan tenaga listrik konsumen.
Cara yang digunakan untuk mengurangi atau memperkecil
dampak dari gangguan tersebut yaitu dengan memasang suatu
sistem proteksi yang baik. Setiap sistem proteksi dituntut memiliki
keandalan yang tinggi, selektif, operasi yang cepat dan memiliki sifat
diskriminasi yang baik. Selain itu suatu sistem proteksi juga harus
memperhatikan faktor ekonomis, semakin mahal harga alat yang
dilindungi semakin mahal pula harga peralatan proteksi yang
terpasang. Peralatan-peralatan proteksi yang terpasang pada suatu
sistem tenaga listrik, terletak mulai dari unit-unit pembangkitan

saluran transmisi, jaringan distribusi primer, jaringan distribusi
skunder dan konsumen. Dimana peralatan-peralatan proteksi
tersebut bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing tergantung
besaran penggerak dari rele proteksi yang terpasang. Sebagai
contoh rele yang bekerja berdasarkan besaran penggerak berupa
tegangan yaitu: Rele tegangan lebih ( Overvoltage Relay , berupa
arus yaitu: Rele arus lebih ( Overvoltage Relay , berupa impedansi
( Impedance Relay dan sebagainya.
Salah satu bagian terpenting dari sistem tenaga listrik yang
perlu dilindungi yaitu: Jaringan distribusi karena bagian ini langsung
terhubung dengan konsumen dimana kotinyuitas penyaluran daya
listrik harus tetap terjaga. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka
penulis mengambil judul skripsi: "STUDÌ RELE ARUS LEBÌH
GANGGUAN TANAH PADA JARÌNGAN DÌSTRÌBUSÌ PRÌMER DÌ
PT. PLN(Persero WÌLAYAH PAPUA CABANG MERAUKE¨

1.2 Rumusan MasaIah
Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan pada latar belakang
di atas, maka rumusan masalah dalam skripsi ini meliputi :
1. Bagaimana mengetahui besarnya arus hubung singkat satu fasa
ke tanah pada jaringan distribusi primer di PT. PLN (Persero
Wilayah Papua Cabang Merauke?

. Bagaimana menentukan setelan arus dan waktu rele gangguan
tanah (ground fault relay / GFR pada jaringan distribusi primer di
PT. PLN (Persero Wilayah Papua Cabang Merauke?
1.3 Batasan MasaIah
Mengingat permasalahan dalam melihat kinerja dari rele arus
lebih gangguan tanah sangat luas maka pembahasan dalam studi
rele arus lebih gangguan tanah akan dibatasi pada persoalan setelan
rele arus lebih gangguan tanah.

1.4 Tujuan PeneIitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian yang akan dilakukan
adalah:
1. Mengetahui besarnya arus hubung singkat satu fasa ke tanah
pada jaringan distribusi primer di PT. PLN (Persero Wilayah
Papua Cabang Merauke?
. Menentukan setelan arus dan waktu rele gangguan tanah (ground
fault relay / GFR pada jaringan distribusi primer di PT. PLN
(Persero Wilayah Papua Cabang Merauke?




1.5 MetodoIogi PeneIitian
a. Metode PengumpuIan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam menunjang
pembahasan penulisan tugas ahir ini, maka penulis menggunakan
prosedur sebagai berikut :
1 Penelitian lapangan ( field research yaitu : penelitian yang
dilakukan secara lasung dalam kegiatan lingkungan kerja.
Dalam metode ini penulisan dengan dua cara yaitu:
a Observasi (observation yaitu pengamatan langsung
segala aktivitas yang berlangsung pada lokasi penelitian
b Wawancara (interview, yaitu dengan melakukan
wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang
terkait dengan permasalahan yang akan dibahas
Penelitian kepustakaan ( library research ) yaitu membaca
literatur diktat dan catatan yang berkaitan dengan penelitian
yang dilakukan
-. Metode AnaIisis
Metode analisis yang digunakan dalam pembahasan
tugas ahir ini yaitu dengan menggunakan analisis teoritis
berdasarkan acuan yang ditetapkan.
Adapun variabel- variabel yang akan dianalisis untuk
mengetahui layak tidaknya rele arus lebih gangguan tanah
yang telah terpasang adalah besarnya arus gangguan ke

tanah yang mengalir dan setelan rele arus lebih gangguan
tanah.

1.6 Sistematika PenuIisan
Sistematika penulisan ini dibuat dalam beberapa bab yaitu:

BAB I PENDAHULUAN
Dalam pendahuluan berisi tentang latar belakang,
perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian
dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN UMUM GANGGUAN ARUS LEBIH
GANGUAN TANAH PADA JARINGAN DISTRI BUSI
PRIMER
Berisi tentang gangguan pada jaringan distribusi primer,
sistem proteksi dan rumus-rumus penentuan setelan rele
arus lebih gangguan tanah.

BAB III SISTEM KESLISTRIKAN DAN SISTEM PROTEKSI
JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER PADA PT. PLN
(Persero) WILAYAH PAPUA CABANG MERAUKE
Berisi tentang gambaran umum sistem kelistrikan dan
peralatan proteksi yang terpasang pada jaringan
distribusi primer di PT. PLN (Persero Merauke.

BAB IV ANALISIS SETELAN RELE ARUS LEBIH
GANGGUAN TANAH PADA PT. PLN (Persero)
MERAUKE
Berisi tentang analisis setelan rele arus lebih gangguan
tanah pada jaringan distribusi primer.

BAB V PENUTUP
Berisi tentang simpulan dan saran-saran.




















BAB II
TINJAUAN UMUM GANGGUAN ARUS LEBIH GANGGUAN
TANAH PADA JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER


2.1 Gangguan - Gangguan pada Jaringan Distri-usi Primer
2.1.1 Penye-a- Gangguan
Gangguan atau kondisi abnormal biasanya diakibatkan oleh
kegagalan isolasi di antara penghantar fasa atau antara penghantar
fasa dan tanah, atau pada kabel tanah terjadi kebecoran disekitar
pelindungnya. Secara nyata kegagalan isolasi dapat menghasilkan
arus yang cukup besar, atau mengakibatkan adanya impedans
diantara konduktor fasa atau antara penghantar fasa dan tanah yang
nilainya di bawah dari impedans terendah beban normal pada
jaringan. Secara umum gangguan dibedakan pada dua kondisi
tegangan saat terjadinya gangguan, yaitu gangguan terjadi pada
tegangan normal dan gangguan terjadi pada tegangan lebih.

2.1.2 Gangguan yang Terjadi pada Tegangan NormaI
Gangguan pada kondisi tegangan normal terjadi dikarenakan
pemerosotan dari isolasi dan kejadian-kejadian tak terduga dari
benda asing. Pemerosotan isolasi dapat terjadi karena polusi dan
penuaan. Saat ini batas ketahanan isolasi tertinggi (high insulation
level sekitar 3 ÷ 5 kali nilai tegangan nominalnya. Tapi dengan
adanya pengotoran (pollution pada isolator yang biasanya

disebabkan oleh penumpukan jelaga (soot atau debu (dust pada
daerah industri dan penumpukan garam (salt) karena angin yang
mengandung uap garam menyebabkan kekuatan isolasi akan
menurun. Ìni menyebabkan penurunan resistans dari isolator dan
menyebabkan kebocoran arus. Kebocoran arus yang kecil ini
mempercepat kerusakan isolator. Selain itu pemuaian dan
penyusutan yang berulang-ulang dapat juga menyebabkan
kemerosotan resistans dari isolator.
Untuk instalasi yang dilindungi oleh sarung dan pelindung kabel
seperti saklar berperisai (metal-clad switchgear percepatan
kerusakan isolasi dikarenakan karena usia (ageing. Pada kabel
bawah tanah rongga-rongga pada campuran isolasi mengakibatkan
ketidaksamaan tekanan sehingga menimbulkan kenaikan temperatur
ini salah satu penyebab kegagalan isolasi.
Gangguan dapat juga diakibatkan kejadian-kejadian tak terduga
dari benda asing seperti burung, ular, bajing, pohon, layang-layang,
angin, gempa dan lain sebagainya. Burung-burung yang bertengger
dan membuang kotoran pada isolator atau membuat sarang dapat
menyebabkan gangguan. Tiupan angin yang cukup kuat
mengakibatkan penghantar-penghantar fasa berayun sehingga
menimbulkan busur api antara penghantar fasa atau antara
penghantar fasa dengan tiang atau penghantar pentanahan.

2.1.3 Gangguan yang Terjadi pada Tegangan Le-ih
Gangguan-gangguan yang terjadi pada tegangan lebih dapat
diakibatkan, oleh : beban lebih, petir, binatang atau pohon. Sehingga
dapat menyebabkan :
1. Hubung singkat 3 fasa; di mana fasa R , S dan T terhubung
singkat.
. Hubung singkat fasa; terjadi antara fasa R dan S, fasa T dan S
atau R dan T terhubung singkat.
3. Hubung singkat fasa ke tanah; terjadi antara fasa R dan S ke
tanah, fasa T dan S ke tanah atau fasa R dan T ke tanah.
4. Hubung singkat 1 fasa ke tanah; terjadi antara fasa R ke tanah,
fasa S ke tanah atau fasa T ke tanah.












Gam-ar 2.1 Skema penye-a- gangguan pada jaringan distri-usi
primer

Adapun pengaruh-pengaruh gangguan yang diakibatkan oleh
hubung singkat pada jaringan distribusi primer, antara lain :
1. Tegangan di bus kV turun.
. Pengaruh tegangan turun dirasakan oleh semua feeder yang
tersambungada bus bersama.
3. Berpengaruh pada trafo tenaga dan generator.
4. Saat PMT terbuka tegangan naik.
5. Hubung singkat satu fasa ke tanah dapat menaikan tegangan
pada fasa yang sehat atau tidak mengalami gangguan.

2.2 Sistem Proteksi
Peralatan proteksi sistem tenaga listrik dituntut memiliki empat
persyaratan dasar dalam menentukan kualitas suatu sistem proteksi
yang terpasang pada suatu sistem tenaga listrik, yaitu :
1. KeandaIan (reliability)
Merupakan probabilitas keberhasilan yang tinggi. Hal ini dapat
dihasilkan dari desain yang baik, perawatan yang teratur dan
kualitas operator yang memadai. Desain yang baik menyangkut hal
seperti :
a. Tekanan kontak yang tinggi
b. Rumah / penutup yang bebas debu
c. Sambungan-sambungan yang dipatri dengan sempurna
d. Koil yang diresapi penahan lembab

e. Pembuatan dan perakitan yang cermat.
f. Komponen-komponen yang dikembangkan untuk mencegah
kontaminasi.
2. SeIektivitas (8electivity)
Selektivitas adalah sifat proteksi yang hanya mengisolir bagian
yang mengalami gangguan saja, bagian lainnya yang sehat
dibiarkan beroperasi terus. Selektivitas dikatakan absolut jika
sistem proteksi tersebut hanya merespons gangguan pada
daerahnya sendiri (proteksi unit sistem. Selektivitas disebut
relatif apabila sistem proteksi tersebut dapat merespons
wilayah proteksinya sendiri dan juga wilayah proteksi di
dekatnya (sebagai back up.
3. Kecepatan Operasi
Rele proteksi dikehendaki memiliki kecepatan yang tinggi
karena :
a. Tidak boleh melebihi critical clearing time, agar sistem
tetap stabil
b. Agar peralatan tidak sampai rusak parah
c. Rendahnya tegangan tidak bertahan lama
Dalam hal ini rele juga tidak boleh terlalu cepat (kurang dari 1
milidetik, agar tidak merespon arus kerja dari pengaman surya.

4. Kepekaan (8en8itivity)
Yaitu kemampuan sistem proteksi gangguan yang sekecil
mungkin. Harga ini dapat dinyatakan dengan besarnya arus
dalam jaringan aktual (arus primer CT atau sebagai prosentase
dari arus sekunder CT.

2.2.1 Komponen Sistem Proteksi
Untuk melakukan proteksi pada peralatan atau instalasi tenaga
listrik agar berfungsi dengan baik maka dibutuhkan beberapa
perangkat utama yang mendukungnya, yaitu :
a. ReIe (relay)
Fungsi utama rele proteksi adalah memberikan perintah kepada
peralatan pemutus atau mengontrol kerja pemutus daya (circuit
breaker untuk mengisolasi daerah yang terganggu ketika terjadi
kondisi abnormal. Rele didisain untuk dapat mendeteksi dan
merasakan kondisi abnormal kemudian menutup kontak-kontak
rangkaian trip-nya. Apabila kontak-kontak rele menutup maka
rangkaian-rangkaian trip CB yang terkait mendapat energi dan
kontak-kontak CB membuka, mengisolir bagian yang terganggu
dari sistem keseluruhan.
-. Pemutus Tenaga (ircuit BreakerCB)
Adalah saklar yang dapat digunakan untuk menghubungkan atau
memutuskan arus atau daya listrik sesuai dengan batas
kemampuannya. Pada waktu pemutusan atau menghubungkan

arus atau daya listrik akan terjadi busur api. Pemadaman busur api
listrik pada waktu pemutusan dapat dilakukan oleh beberapa
macam bahan yaitu minyak, udara atau gas.
c. Batere
Merupakan suatu sumber atau menghasilkan energi listrik arus
searah (DC yang dapat digunakan untuk keperluan yang
bermacam-macam dan beraneka ragam. Di dalam Pusat-pusat
tenaga listrik dan di Gardu Ìnduk-gardu induk batere berfungsi
untuk keperluan pelayanan bantu (auxiliary service yang meliputi :
1. Kontrol, pengawasan (security, tanda-tanda, isyarat (signalling
and alarm system.
. Motor-motor untuk pemutus tenaga (circuit breaker, pemisah
(disconnecting switch dan pengubah tap trafo (tap chager.
d. Trafo-trafo Instrumen
Untuk pemasangan alat-alat ukur dan alat-alat proteksi pada
instalasi tegangan tinggi, menengah dan rendah diperlukan trafo-
trafo pengukuran. Trafo-trafo pengukuran tersebut adalah:
1. Trafo arus (current transformer
Berfungsi untuk menurunkan arus yang besar pada tegangan
tinggi atau menengah (arus primer menjadi arus yang kecil
pada tegangan rendah yang biasanya disebut arus sekunder.
Sisi primer trafo arus (CT dihubungkan seri dengan beban atau

saluran daya. Sekunder CT dihubungkan ke rangkaian
pengukur atau rele.
. Trafo tegangan (potential transformer
Berfungsi untuk menurunkan tegangan tinggi atau menengah
menjadi tegangan rendah yang digunakan sebagai besaran
ukur sesuai dengan alat-alat ukur atau alat-alat pengaman.
Trafo-trafo ini menyediakan suatu tegangan yang jauh lebih
rendah daripada tegangan sistem. Tegangan nominal sekunder
biasanya adalah 11 V.

2.2.2 PeraIatan Proteksi Arus Le-ih
1. u8e (sikring)
Pada dasarnya sikring berisi suatu unsur metal yang akan
meleleh jika arus yang melewatinya melebihi kemampuannya.
Besar arus pemutusannya akan berbanding terbalik dengan waktu.
Sikring biasanya bekerja untuk mengatasi gangguan permanen
dengan membuka atau memisahkan daerah atau peralatan yang
mengalami gangguan dari sistem. Sikring dirancang untuk melebur
(blow pada waktu tertentu sesuai dengan nilai arus gangguannya.
Pemilihan rating pemutusan dari sikring secara umum
pemilihan berdasarkan:
1. Tipe dari sistem, sistem saluran udara atau saluran bawah
tanah, sistem segitiga atau bintang dengan pentanahan.

. Tegangan dari sistem.
3. Arus gangguan maksimum yang mungkin terjadi pada titik
penempatan sikring.
4. Perbandingan X/R pada titik penempatan sikring.
5. dan faktor-faktor lainnya, seperti pertumbuhan beban atau
perubahan kebutuhan beban. Di dalam PUÌL, rating arus sikring
untuk pengamanan disyaratkan <5. Dengan alasan ini,
sikring hanya efektif untuk melindungi sistem terhadap arus
lebih akibat hubung simgkat.
2. ReIe Arus Le-ih
Sistem proteksi pada saluran udara tegangan tinggi
menggunakan rele arus lebih dan rele gangguan tanah sebagai
proteksi cadangan lokal (local back up protection. Rele arus lebih
atau OCR (Overcurrent Relay merupakan rele yang bekerja
ketika arusnya melebihi ambang-batas setelan yang telah
ditentukan sebelumnya. Rele arus lebih memiliki beberapa
karakteristik kerja yaitu :
, Rele sesaat (Instantaneous relay, rele yang bekerja secara
langsung atau tanpa waktu tunda berdasarkan perbedaan
tingkat arus gangguan pada lokasi yang berbeda.
- Rele arus lebih waktu pasti (definite independent time
Rele yang bekerja berdasarkan waktu tunda yang telah
ditentukan sebelumnya dan tidak tergantung pada
perbedaan besarnya arus.

c. Rele waktu terbalik (inverse time
Rele yang bekerja dengan waktu operasi berbanding terbalik
terhadap besarnya arus yang terukur oleh rele. Rele ini
mempunyai karakteristik kerja yang dipengaruhi baik oleh
waktu maupun arus.
d. Ìnverse Definite Time Relay
Rele ini mempunyai karakteristik kerja berdasarkan
kombinasi antara rele invers dan rele definite. Rele ini akan
bekerja secara definite bila arus gangguannya besar dan
bekerja secara inverse jika arus gangguannya kecil.
Berikut adalah gambaran kurva karakteristik rele arus lebih :











Gam-ar 2.2 Kurva karakteristik reIe arus Ie-ih

Pada umumnya ada dua setelan yang harus dilakukan
terhadap rele arus lebih. Pertama adalah menghitung
besarnya setelan arus dan yang ke dua adalah menghitung
setelan waktu pengali atau TMS (%ime Multiplier Setting.
TMS merupakan faktor pengali terhadap waktu kerja dasar
rele arus lebih.

2.3 SeteIan Pengaman untuk Sistem yang Ditanahkan
Gangguan satu fasa ke tanah sangat tergantung dari jenis
pentanahan dan sistemnya. Ganguan satu fasa umumnya bukan
merupakan hubung singkat secara metalik tetapi melelui tahanan
gangguan, sehingga arus gangguannya yang sudah dibatasi. Karena
itu rele gangguan antar fasa pada sistem yang tidak ditanahkan
dengan suatu tahanan tertentu tidak dapat mendeteksi arus
gangguan yang sudah dibatasi tersebut. Oleh karena itu perlu di
pasang rele gangguan tanah secara khusus dan disesuaikan dengan
sistem pentanahannya.
Misalnya ganguan satu fasa ke tanah karena pohon. Dalam hal
ini karena pohon memiliki tahanan gangguan cukup besar, maka
arus gangguannya kecil. Dengan demikian agar arus lebih ini dapat
dideteksi maka penyetelannya harus sekecil mungkin. Tetapi kita
ketahui bahwa pada saat terjadinya ganguan satu fasa ke tanah
maka penyulang yang tidak terganggu juga akan mengalir arus
kapasitansi ke tanah yang tergantung panjang serta jenis

jaringannya. Arus kapasitansi ini yang membatasi penyetelannya,
terutama pada pengaman yang hanya mengunakan arus lebih saja,
yaitu pada sistem yang menggunakan pentanahan rendah.
Pada sistem yang ditanahkan langsung arus ganguanya besar,
maka penyetelan rele gangguan tanah pada dasarnya sama denga
rele ntuk gangguan antar fasa, tetapi tahanan gangguan
diperhitungkan dengan demikian penyetelan arusnya harus kecil,
kecil dari arus bebannya tetapi tidak lebih kecil dari arus
ketidakseimbangan yang timbul pada keadaan normal.Tinjauan
setelan rele gangguan tanah terutama ditujukan pada sistem
distribusi tegangan menengah.

2.3.1 Sistem Pentanahan Langsung
Sistem yang ditanahkan langsung (Zn = sehingga arus
gangguan tergantung impedansi urutan positif, negatip dan nol,
sehingga arus gangguannya cukup besar. Karena arus gangguan
tanahnya besar maka pengaman gangguan tanah dapat seperti
untuk gangguan antar fasa yang menggunakan 3 buah rele. Tetapi
jika akan menghitungkan adanya tahanan gangguan yang mungkin
arus beban dapat digunakan sambungan atau setting rele sperti
pada sisitem yang ditanahkan dengan tahanan rendah.
Penyetelan untuk pengaman gangguan tanah pada sistem ini
sama dengan pada sistem pentanahan tahanan rendah, tetapi

sistem fasa tiga 4 kawat harus dipertimbangkan adanya arus
ketidakseimbangan :
I
sct
= K
s
I
3CE
.....................(.1
Dimana:
I
sct
= Penyetelan arus gangguan tanah.
I
3CE
= Arus kapasitif saluran yang terpanjang operasinya.
K
s
= Ìalah faktor keamanan diambil 1, ÷ 1,5
Pada jaringan ini karena arus gangguan cukup besar maka kriteria
penyetelanya sama dengan rele gangguan antar fasa, tetapi batas
minimum dapat lebih kecil dari arus beban nominal.

2.3.2 Sistem Pentanahan dengan Tahanan Rendah
Untuk SKTM dimana arus kapasitansinya cukup besar, maka
digunakan tahanan pentahanan 1 ohm atau arus resistifnya kira-
kira 1 A. Sedangkan untuk SKTM untuk sistem 6 kV ataupun
kV arus kapasitifnya sangat kecil sehingga pentanahannya
menggunakan 4 Ohm dan arus resistifnya 3 A.
a. Pengaman gangguan tanah pada SUTM
Arus gangguan tanah pada umumnya lebih kecil dari pada apa
yang dinyatakan di atas, hal ini karena gangguan tanah tidak metalik,
tetapi melalui tahanan gangguan. Untuk dapat menampung adanya
tahanan tanah maka penyetelan rele ini ialah:
I
sct
= 1 x Ì
fault 14-maks.
...................(.

dimana :
Ì
set
: setelan arus rele gangguan tanah (GFR
Ì
fault 14-maks.
: arus gangguan maskimum 1 fasa ke tanah
Penentuan 1 digunakan karena memperhitungkan adanya
impedansi gangguan yang menyebabkan hubung singkat 1 fasa ke
tanah.

Tabel .1 Besarnya arus untuk tiap perbandingan rasio CT


CT


/5

3/5

4/5

6/5


I
set
(A)







3


4


6


I
fmin
(A)




5


37,5


5


75

Batas arus maksimum hu-ung
singkat ke tanah untuk pentanahan
se-esar 40 Ohm (A)



46


3


31


154

Batas arus maksimum hu-ung
singkat ke tanah untuk pentanahan
se-esar 12 Ohm (A)



4


6


191


114



-. Pengaman gangguan tanah pada SKTM
Saat terjadi gangguan satu fasa ke tanah akan mengalir arus
kapasitif yang cukup besar, termasuk pada penyulang yang tidak
terganggu. Sehingga pada saat menentukan penyetelan sebagai
batasan penyetelan terendah ialah rele harus tidak bekerja pada
saluran yang tidak terganggu dengan demikian penyetelan relenya
ialah:
I
sct
= K
s
I
3CE
.....................(.3
Dimana:
I
sct
= Penyetelan arus gangguan tanah.
I
3CE
= Arus kapasitif saluran yang terpanjang operasinya.
K
s
= Faktor keamanan diambil 1, ÷ 1,5

Secara garis besar skema peletakan rele arus lebih yang terpasang
pada masing-masing fasa dan dilengkapi dengan rele gangguan
tanah dapat dilihat pada gambar berikut ini :








Gam-ar 2.3 Skema tiga -uah reIe arus Ie-ih dan satu reIe arus Ie-ih
gangguan tanah

2.4 Perhitungan Impedansi
2.4.1 Harga Dasar
Perhitungan harga dasar meliputi arus dasar dan impedansi
dasar yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Iuasai =
kVA
3mdasa¡
kV
LLdasa¡
x V3
..............(.4
ŵ
dan :
Zuasai =
(kV
LLdasa¡)
2
MVA
3mdasa¡

..............(.5
Ŷ

2.4.2 Impedansi Transformator
Ìmpedansi suatu transformator dapat ditinjau dari sisi
tegangan tinggi maupun dari sisi tegangan rendah. Apabila persen
atau per unit dari impedansi suatu trafo ditinjau dari sisi tegangan
rendah maka dasarnya juga dipilih pada sisi tegangan rendahnya
begitupun sebaliknya. Untuk perhitungan tersebut digunakan
persamaan :
X
tr (pu
= X
tr(

(kV
LLdasa¡
)
2
MVA
3¤dasa¡
............(.6
ŷ

dimana :
X
tr (pu
: reaktansi trafo per satuan (per unit
X
tr (
: reaktansi dalam persen


ŵ Ŷ ŷ : William Stevenson Anoliso Sistem Tenoqo

2.4.3 Impedansi eeder
Ìmpedansi feeder dihitung berdasarkan data impedansi
feeder yang diberikan dalam satuan Ohm/km. Perhitungan tersebut
dilakukan dengan mengasumsikan letak titik gangguan misalnya
terletak pada 5, 5, 75 dan 1 dari panjang feeder.
Selengkapnya dapat dilihat pada persamaan berikut :
Ìmpedansi Feeder = panjang feeder x Z
per km
.......(.7
4


2.5 Tinjauan Perhitungan Arus Gangguan
1. Gangguan tiga fasa :
Ì
f
=
V
In
Z
......................(.
5
Di mana :
Ì
f
= Arus gangguan (Ampere
V
fn
= Tegangan Fasa ÷ Netral (Volt
Z = Ìmpedansi ekivalen (Ohm






Ÿ : Ii Piibaui Kauaiisman bercurrent IeeJer Protection Balaman ŵŸ
Ź : PT Ialamas Beikatama KoorJinosi Rele Jon 6IR untuk IeeJer Balaman ź

2. Gangguan dua fasa :
Ì
f
=
V
II
Z
.......................(.9
6
Di mana :
Ì
f
= Arus gangguan (Ampere
V
ff
= Tegangan Fasa ÷ Fasa (Volt
Z = Ìmpedansi ekivalen ( z
1
+ z
2
(Ohm
3. Gangguan dua fasa ke tanah :
Ì
f
=
V
II
Z
.....................(.1
7
Di mana :
Ì
f
= Arus gangguan (Ampere
V
ff
= Tegangan Fasa ÷ Fasa (Volt
Z = Ìmpedansi ekivalen ( ˴
1
+
z
2 - Z
0
z
2 + Z
0
(Ohm
3. Gangguan satu fasa ke tanah :
Ì
f
=
V
In
Z
.......................(.11

Di mana :
Ì
f
= Arus gangguan (Ampere
V
fn
= 3 x Tegangan Fasa ÷ Netral (Volt
Z = Ìmpedansi ekivalen ( ˴
1
+ ˴
2
+ ˴
0
(Ohm

Ż 8 : PT Ialamas Beikatama KoorJinosi Rele Jon 6IR untuk IeeJer Balaman Ż

2.6 Tinjauan Penentuan SeteIan Waktu ReIe Arus Le-ih Gangguan
Tanah
Setelan waktu rele dengan karakteristik standart inverse dihitung
dengan menggunakan rumus kurva waktu dan arus. Rumus ini
bermacam-macam sesuai pabrik pembuatnya. Dalam hal ini diambil
rumus kurva waktu arus dari standar British, sebagai berikut :

....................(.1
9

................(.13
1

dimana :

t = Waktu trip (detik.
Tms = faktor perkalian waktu (%ime multiple setting.
Ì
fault
= Besarnya arus gangguan Hubung Singkat (Ampere
Faktor k tergantung pada kurva arus- waktu, sebagai berikut:
ÌEC standard Ìnverse k = ,
ÌEC very Ìnverse k = 1
ÌEC Extremely Ìnverse k =


9 ŵŴ : PT Ialamas Beikatama KoorJinosi Rele Jon 6IR untuk IeeJer Balaman 9

/09
1
l
l
Trs 0.11
l
|
sel
lau|l

¦
¦
'
+

'

-
=
0.11
1
l
l
x l
Trs
|
sel
lau|l
¦
¦
¦
¦

¦
¦
¦

=

ÌEEE standard Ìnverse k = .
ÌEEE Short Ìnverse k = .
ÌEEE Very Ìnverse k =
ÌEEE inverse k =
ÌEEE Extremely Ìnverse k =






Gam-ar 2.4 PeIetakan reIe arus Ie-ih gangguan tanah pada jaringan
distri-usi primer








BAB III
SISTEM KELISTRIKAN DAN SISTEM PROTEKSI JARINGAN
DISTRIBUSI PRIMER PADA PT. PLN (Persero) WILAYAH
PAPUA CABANG MERAUKE


3.1 Sistem KeIistrikan PT. PLN (Persero) WiIayah Papua Ca-ang
Merauke

3.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan
PLTD Merauke sudah ada sejak jaman belanda PLTD pertama
ini masih terletak didekat rumah sakit umum Merauke, tepatnya pada
jalan raya mandala Merauke dan pada tahun 1963 pengelolaan
PLTD dialihkan ke pemerintah kemudian mulai dioperasikan pada
tahun 1969. Pada pengoperasian pertama ini PLTD kelapa lima
mengoperasikan empat unit pembangkit dengan daya terpasang
masing-masing 5 kW.

Ta-eI 3.1 Riwayat penyediaan pem-angkit tenaga Iistrik pada PLTD
KeIapa Lima Merauke
Tahun No Merek Type No. seri
Daya
Terpasang
(KW
1969
1. Strok Diesel BR 15 BR 3456 5
. Strok Diesel BR 15 BR 34561 5
3. Strok Diesel BR 15 BR 3456 5
4. Strok Diesel BR 15 BR 34563 5
1977 5. SWD Drok 1 K 13 - 56
19
6. SWD DRO 16 144 - 1 336
7. SWD DRO 1 K 131 - 56
194 . Deutz MWM TDB 616V1 616.1.1479 5

195
9. Deutz BA 1M 16 W 6956 -
1. Deutz BA M 16 W 6953 -
1994
11. CAT 35 3753 5
1. CAT 341 1Z1661 364
1995
13. MAN 1 6L /3 H SB 6L - 159 1
14. MAN 6L /3 H SB 6L - 159 1
1997
15. Deutz BA 6M 164 77355 6
16. Deutz BA 6M 164 77355 6
17. Daihatsu 6L 6L 6Z. 373 15
3
1. Komatsu SAA 1 V 14 13 1 1
19. Komatsu SAA 1 V 14 13 19 1
6
. VOLVO TAD 14 GE 14533 5
1. VOLVO TAD 14 GE 14533 5

Lima tahun berjalan perusahaan swasta Wahana digantikan
dengan perusahaan Swasta lain yaitu PT.Sumber Daya Sewatama
dengan 4 unit pembangkit masing-masing berkapasitas 1 kW.
Ta-eI 3.2 PT. Sum-er Daya Sewatama yang menyewakan 4 unit
pem-angkit
No Merek Type No. Seri
Daya Terpasang
(KW)
1 CAT CATT. 35/6 - 1
CAT CATT. 35/7 - 1
3 CAT CATT. 35/ - 1
4 CAT CATT. 35/9 - 1

3.1.2 Distri-usi Tenaga Listrik pada PLTD KeIapa Lima Merauke
Tenaga listrik yang disediakan oleh PT. PLN (Persero Merauke
untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di kota Merauke, dilayani oleh
19 buah generator melalui 6 (enam penyulang (feeder yaitu : feeder Kota
ÌÌ, feeder Kota Ì, feeder Polder, feeder Muli, feeder Kompi dan feeder
Merkury. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar (3.1.
Selanjutnya beban-beban yang dilayani oleh masing-masing feeder
dapat dilihat pada lampiran 1.

Sumber . PT. PLN (Persero) Wilavah Papua Cab. Merauke

Gam-ar 3.1 SingIe Iine diagram PLTD KeIapa Lima Merauke

3.2 Sistem Proteksi PenyuIang pada PLTD KeIapa Lima Merauke
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, operrasi sistem tenaga
listrik tidak luput dari kondisi abnormal (gangguan. Oleh karena itu dalam
perencanaannya harus memperhitungkan pemasangan sistem proteksi
yang baik. Dalam sistem distribusi juga harus mempertimbangkan hal
tersebut, karena itu setiap penyulang (feeder yang terdapat dalam
jaringan distribusi dilengkapi dengan rele-rele proteksi yang berfungsi
melindungi penyulang tersebut dari setiap gangguan yang mungkin terjadi
sesuai dengan besaran penggerak dari rele peroteksi yang terpasang.
Pada pembahasan selanjutnya tinjauan rele akan dititikberatkan
pada perhitungan setelan rele arus lebih gangguan tanah (ground fault
relay yang terpasang pada tiap penyulang di PLTD Kelapa Lima
Merauke. Selengkapnya data-data rele arus lebih gangguan tanah
(ground fault relay dapat dilihat pada tabel (3.3. Perhitungan tersebut
membutuhkan data-data impedansi saluran dan reaktansi transformator
yang selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B dan Lampiran C.








Ta-eI 3.3 Data seteIan reIe arus Ie-ih gangguan tanah (round fault relay)












Sumber . PT. PLN (Persero) Wilavah Papua Cab. Merauke

Keterangan .
SIT . Standard Inverse Time (Karakteristik waktu kebalikan)
DT . Definit Time (Karakteristik waktu tunda)
Inst . Instantaneous Time (Karakteristik waktu sesaat)

BAB IV
ANALISIS SETELAN RELE ARUS LEBIH GANGGUAN
TANAH PADA PT. PLN (Persero) WILAYAH PAPUA
CABANG MERAUKE

4.1 Umum
Besarnya arus gangguan hubung singkat yang mungkin terjadi
di dalam suatu sistem kelistrikan perlu diketahui sebelum gangguan
yang sesungguhnya terjadi. Perhitungan dalam Tugas Akhir ini
dititikberatkan pada besar arus hubung singkat 1 fasa ke tanah,
karena gangguan ini menyebabkan arus gangguan ke tanah yang
cukup kecil, dimana arus gangguan tersebut dapat saja tidak
dideteksi oleh rele arus lebih (Overcurrent Relay. Oleh karena itu
peranan rele gangguan tanah (ground fault relay/GFR sangat
penting untuk segera mengisolir gangguan tersebut. Hasil
perhitungan tersebut akan digunakan untuk menghitung besarnya
setelan rele gangguan tanah (ground fault relay/GFR.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jaringan distribusi
pada PT. PLN (Persero Wilayah Papua Cabang Merauke memiliki 6
feeder yaitu : feeder kota ÌÌ, feeder Kota Ì, feeder Polder, feeder Muli,
feeder Kompi dan feeder Merkury. Ke enam feeder tersebut
terpasang masing-masing sebuah GFR seperti yang tertera pada
table (3.3.

4.2 PenyuIang (eeder) Kota I
Adapun data-data pada penyulang (feeder Kota Ì, yaitu :
1 Transformator tenaga 15 kVA 6,3 kV/ kV.
Ìmpedansi pentanahan trafo Z
n
= 4 Ohm
3 Ìmpedansi urutan positip, negatip dan nol trafo (Z
t (pu
= j ,46
pu
4 Ìmpedansi urutan positip dan negatip saluran (Z
1
= Z

= ,16 +
j ,335 Ohm/km.
5 Ìmpedansi urutan nol saluran (Z

= ,3631 + j 1,61 Ohm/km.
6 Panjang penyulang 11,35 km.
7 Penghantar AAAC 15 mm

.
Rasio CT pada penyulang Kota Ì /5 A.
9 kVA
34 dasar
= 15 kVA = 1,5 MVA (sesuai dengan daya trafo
yang digunakan
1 kV
LL dasar
= kV (sesuai dengan tegangan kerja

4.2.1 Perhitungan Arus Hu-ung Singkat Satu Fasa ke Tanah
Maksimum
Hubung singkat satu fasa ke tanah akan menghasilkan arus
gangguan yang maksimum apabila lokasi terjadinya gangguan
tersebut terletak dekat dari sumber atau gardu induk, dimana
impedansi gangguannya Z
f
= .
Menghitung arus dasar dan impedansi dasar :
Ì
dasar
=
kVA
3¤dasa¡
kV
LLdasa¡
x V3

=
1250
20 x V3

= 36,4 Ampere
Z
dasar
=
(kV
LLdasa¡)
2
MVA
3¤dasa¡


=
(20)
2
1,25

= 3 Ohm
Ìmpedansi pentanahan trafo dalam satuan per-unit (pu :
Z
n(pu
=
Z
sebena¡nya
Z
dasa¡

=
40
320

= ,15 pu
3 Z
n
= 3 x ,15 = ,375 pu
Jaringan urutan untuk hubung singkat 1 fasa ke tanah dengan
Ìmpedansi gangguan Z
f
= , dapat dilihat pada gambar (4.1.

Gambar 4.1 Jaringan urutan untuk gangguan hubung singkat satu fasa ke
tanah

Menghitung arus urutan maksimum :
Ì
a1
=
1
0,375 + j 0,0406 + j 0,0406 + j 0,0406

=
1
0,375 + j 0,1218

=
1
0,3943 <17,99
o

= ,536 < -17,99

pu
Arus gangguan maskimum yang mengalir pada fasa yang
terganggu :
Ì
a
= 3 Ì
a1
= 3 x ,536 = 7,6 pu
Dalam satuan ampere :
Ì
f14 maks.
= 7,6 x Ì
dasar

= 7,6 x 36,4
= 74,57 Ampere

4.2.2 Perhitungan Arus Hu-ung Singkat Satu Fasa ke Tanah
Minimum
Perhitungan arus hubung singkat satu fasa ke tanah
minimum dilakukan dengan menghitung arus hubung singkat 1 fasa
ke tanah pada titik-titik gangguan dengan asumsi titik gangguan
terjadi pada 5, 5, 75 dan 1 panjang saluran. Ìmpedansi
gangguan standar untuk perhitungan gangguan hubung singkat 1
fasa ke tanah adalah sebesar 35 Ohm (sesuai dengan SPLN 64 :
1985.
Titik gangguan 25% panjang saIuran :
Z
1
= Z

= ,5 x 11,35 x (,16 + j ,335
= ,6134 + j ,9377 Ohm
Z

= ,5 x 11,35 x (,3631 + j 1,61
= 1,3 + j 4,591
dalam pu :
Z
1
= Z

=
0,6134 + j 0,9377
320

= ,1916 + j ,93 pu
Z

=
1,0302 + j 4,5910
320

= ,319 + j ,1435 pu

Gambar 4. Jaringan urutan untuk gangguan hubung singkat satu fasa ke
tanah pada titik gangguan 5 panjang saluran

Maka arus hubung singkat 1 fasa ke tanah minimum :
Ì
a1
=
1
0,375 + 0,003219 + j 0,01435 + 3 x (0,001916 + j 0,04353)

=
1
0,3839 + j 0,14494

=
1
0,4201 < 20,18
o

= ,34 < -,1

pu
Dalam satuan ampere :
Ì
f14 min.
= ,34 x Ì
dasar

= ,34 x 36,4
= 5,943 Ampere

Titik gangguan 50% panjang saIuran :
Z
1
= Z

= ,5 x 11,35 x (,16 + j ,335
= 1,6 + j 1,754 Ohm
Z

= ,5 x 11,35 x (,3631 + j 1,61
= ,64 + j 9,1
dalam pu :
Z
1
= Z

=
1,2268 + j 1,8754
320

= ,334 + j ,561 pu
Z

=
2,0604 + j 9,1820
320

= ,6439 + j ,69 pu


Gambar 4.3 Jaringan urutan untuk gangguan hubung singkat satu fasa ke
tanah pada titik gangguan 5 panjang saluran

Maka arus hubung singkat 1 fasa ke tanah minimum :
Ì
a1
=
1
0,375 + 0,006439 + j 0,02869+ 3 x (0,003834 + j 0,04646)

=
1
0,3929 + j 0,16807

=
1
0,4273 < 23,16
o

= ,341 < -3,16

pu
Dalam satuan ampere :
Ì
f14 min.
= ,341 x Ì
dasar

= ,341 x 36,4
= 4,44 Ampere

Titik gangguan 75% panjang saIuran :
Z
1
= Z

= ,75 x 11,35 x (,16 + j ,335
= 1,44 + j ,134 Ohm
Z

= ,75 x 11,35 x (,3631 + j 1,61
= 3,99 + j 13,773
dalam pu :
Z
1
= Z

=
1,8404 + j 2,8134
320

= ,5751+ j ,79 pu
Z

=
3,0909 + j 13,7732
320

= ,9659 + j ,434 pu

Gambar 4.4 Jaringan urutan untuk gangguan hubung singkat satu fasa ke
tanah pada titik gangguan 75 panjang saluran

Maka arus hubung singkat 1 fasa ke tanah minimum :
Ì
a1
=
1
0,375 + 0,009659+ j 0,04304+ 3 x (0,005751 + j 0,04939)

=
1
0,4019+ j 0,1912

=
1
0,4451 < 25.44
o

= ,46 < -5,44

pu
Dalam satuan ampere :
Ì
f14 min.
= ,46 x Ì
dasar

= ,46 x 36,4
= 1,735 Ampere

Titik gangguan 100% panjang saIuran :
Z
1
= Z

= 1, x 11,35 x (,16 + j ,335
= ,457 + j 3,751 Ohm
Z

= 1, x 11,35 x (,3631 + j 1,61
= 4,11 + j 1,3643
dalam pu :
Z
1
= Z

=
2,4527 + j 3,7512
320

= ,7665+ j ,117 pu
Z

=
4,1212 + j 18,3643
320

= ,1 + j ,5739 pu


Gambar 4.5 Jaringan urutan untuk gangguan hubung singkat satu fasa ke
tanah pada titik gangguan 1 panjang saluran

Maka arus hubung singkat 1 fasa ke tanah minimum :
Ì
a1
=
1
0,375 + 0,01288 + j 0,05739 + 3 x (0,007665 + j 0,1578)

=
1
0,5268 + j 0,5308

=
1
0,7478 < 45,22
o

= 1,337 < -45,

pu
Dalam satuan ampere :
Ì
f14 min.
= 1,337 x Ì
dasar

= 1,337 x 36,4
= 4,515 Ampere
O SeteIan arus kerja reIe gangguan tanah pada penyuIang
Kota I :
Berdasarkan persamaan (. :
Ì
set GFR
= 1 x Ì
f14-maks.

= ,1 x 74,57
= 7,457 Ampere
O SeteIan faktor perkaIian waktu (time multiple 8ettin) reIe
gangguan tanah pada penyuIang Kota I :
tms =
t x ¦|
I
IauIt
I
5et
|
0,02
- 1¦
0,14

=
0,2x |Ӛ
8Ź,89Ÿŷ
2¨,4S2¨
ӛ
0,02
- 1|
0,14

= ,33

Selanjutnya untuk penyulang yang lain dapat dihitung dengan cara
yang sama seperti pada penyulang Kota Ì (selengkapnya dapat
dilihat pada Iampiran A. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada
tabel (4.1.

Tabel 4.1 Hasil perhitungan arus hubung singkat 1 fasa ke tanah dan
setelan arus dan waktu kerja rele gangguan tanah
pada setiap penyulang

F¢¢d¢r

Arus Hubung Singkat ŵ fasa k¢ tanab

S¢t¢lan R¢l¢ CFR

Minimum {A)

Maks.
{A)
Arus
{A)
Waktu
{ms)
tms
ŶŹ¾ ŹŴ¾ ŻŹ¾ ŵŴŴ¾

KUTA I

8Ź89Ÿŷ 8ŸŸŸŴŶ 8ŵŴŻŷŹ Ÿ8ŶŹŵŹ ŶŻŸŹŶŻ ŶŻŸŹŶŻ ŴŶ ŴŴŷŷ

PULDER

8ŹŷŴŶź 8ŶźŻŶŵ 8ŴŴŷŴŻ Ź8ŴźŶ8 ŶźŸŶŶŶ ŶźŸŶŶŶ ŴŶ ŴŴŷŸ

MULI

8ŵ9ŵŻ8 ŻźŶŸŵ9 źŷŵŹŻ8 Źź9ŸŸŶ ŶźŸŶŶŶ ŶźŸŶŶŶ ŴŶ ŴŴŷŷ

KUMPI C

8ŸŴŵŶź 8Ŵŵŷ89 ŻŴŶ88Ÿ źŹ8ŵŵŹ ŶźŸŶŶŶ ŶźŸŶŶŶ Ŵŷ ŴŴŷŷ

KUTA Ŷ

8Ÿ8ŶŻź 8ŵŻŴźŸ Ż8ŻŹ8ŵ ŻŹ9ŵ9ŵ ŶźŸŶŶŶ ŶźŸŶŶŶ ŴŶ ŴŴŷŸ

MERKURI

źŹŹŻŴŶ Ÿ9ŶŹŶŶ ŷ89ŸŻŸ ŷŶŴźŴź ŶŻŸŹŶŻ ŶŻŸŹŶŻ ŴŹ ŴŴŶŹ



4.3 Pem-ahasan HasiI perhitungan
Hasil perhitungan yang telah diperoleh pada pembahasan
sebelumnya memperlihatkan bahwa besarnya arus gangguan satu
fasa ke tanah maksimum untuk setiap feeder sangat tergantung
kepada besarnya kapasitas transformator dan reaktansi
transformator yang melayani setiap feeder sehingga arus hubung
singkat satu fasa ke tanah maksimum pada feeder KOTA Ì dan
MERKURÌ nilainya sama yaitu sebesar 74,57 Ampere. Begitupun
untuk feeder POLDER, MULÌ, KOMPÌ C dan KOTA ÌÌ, nilai arus
hubung singkat satu fasa ke tanah maksimum sebesar 64,
Ampere. Sementara itu perbedaan besar arus hubung singkat satu
fasa ke tanah minimum disebabkan karena tiap feeder memiliki
panjang yang berbeda-beda sehingga impedansi setiap titik
gangguan yang ditinjau juga berbeda.
Setelan rele gangguan tanah (ground fault relay yang
diperoleh dari hasil perhitungan dengan setelan rele gangguan tanah
(ground fault relay berdasarkan data yang diperoleh di PT. PLN
(Persero Wilayah Papua Cabang Meruke dapat dilihat pada tabel
(4.1.



Tabel 4.1 Perbandingan setelan rele gangguan tanah
Feeder

SeteIan ReIe

HasiI
Perhitungan
(Ampere)

Berdasarkan Data

SeteIan Terendah
(Ampere)
SeteIan Tertinggi
(Ampere)

KOTA Ì

7,457 7

POLDER

6,4 7

MULÌ

6,4 7

KOMPÌ C

6,4 15 5

KOTA ÌÌ

6,4 1 5

MERKURÌ

7,457 5 9

Perbandingan setelan rele yang terlihat pada tabel di atas
menunjukkan bahwa setelan yang diperoleh dari hasil perhitungan masih
dalam interval setelan terendah dan tertinggi dari GFR yang terpasang
saat ini. Sedangkan setelan rele yang terpasang pada saat ini masih
menggunakan setelan terendahnya.


BAB V
P E N U T U P

5.1 SimpuIan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan rele gangguan
tanah pada PT. PLN (Persero Wilayah Papua Cabang Merauke,
maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1 Besarnya arus hubung singkat satu fasa ke tanah maksimum
pada feeder KOTA Ì dan MERKURÌ yaitu masing-masing
sebesar 74,57 Ampere sedangkan feeder POLDER, MULÌ,
KOMPÌ C dan KOTA ÌÌ masing-masing sebesar 64,
Ampere.
Setelan rele gangguan tanah (ground fault relay/GFR pada
feeder KOTA Ì dan MERKURÌ yaitu masing-masing sebesar
7,457 Ampere sedangkan feeder POLDER, MULÌ, KOMPÌ C
dan KOTA ÌÌ masing-masing sebesar 6,4 Ampere. Setelan
faktor perkalian waktu (time multiple setting/tms untuk feeder
KOTA Ì, MULÌ dan KOMPÌ C masing-masing sebesar ,33.
Untuk feeder POLDER dan KOTA ÌÌ sebesar .34 dan untuk
feeder MERKURÌ sebesar ,5.





5.2 Saran - Saran
1 Hasil perhitungan ini sekiranya dapat menjadi dasar perhitungan
jika diperlukan pengembangan pada jaringan di setiap feeder
dan penambahan kapasitas pembangkit di PT. PLN (Persero
Wilayah Papua Cabang Merauke.
Untuk mempermudah perhitungan dan mengurangi tingkat
kesalahan setelan rele pada setiap feeder maka disarankan
menggunakan suatu aplikasi komputer (seperti program
MATLAB dan sebagainya.

















DAFTAR PUSTAKA


Anonimous, oordinasi Rele OC dan GFR Untuk Feeder di Pembangkit,
PT. Jalamas Berkatama, 3.

Hutauruk T.S., Pengetanahan Netral Sistem %enaga & Pengetanahan
Peralatan, Jakarta: Erlangga, 197.

Kadarisman, Pribadi, Over Current Feeder Protection, PT. PLN ( Persero
Udiklat Palembang.

Samaulah, Hazairin, Dasar-Dasar sistem Proteksi %enaga Listrik.
Universitas Negeri Sriwijaya, .

Stevenson, William, Analisa Sistem %enaga Listrik , Edisi ke-4, Erlangga,
Jakarta, 1997.


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->