BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Otonomi daerah merupakan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sebagai respon atas tuntutan reformasi pemerintah dengan cukup cepat telah mela-kukan pembahan yang cukup mendasar atas berbagai UU dalam bidang politik dari yang berwatak sentralistisotoritarian ke otonomi-demokratis. Setelah berhasil menyusun tiga UU bidang politik yang menjadi landasan pelaksanaan pemilu tahun 1999 pemerintah segera menyusulinya dengan UU baru dalam bidang politik khusus mengenai hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah yakni UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No 25 Tahun 1999 tentang Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Perubahan hukum tentang hubungan antara Pusat dan Daerah ini menyangkut masalah yang sangat mendasar dalam hubungan kekuasaan (gezagverhouding) yang selama era Orde Baru sangat timpang karena hampir seluruh kekuasaan bertumpu di tangan pemerintah Pusat tepatnya di tangan Presiden. Pembaharuan hukum tentang otonomi daerah ini menjadi kehamsan paling tidak dua alasan. Pertama, demokratisasi yang salah satu implementasinya adalah perluasan otonomi daerah menjadi tuntutan era global karena demokratisasi menjadi salah satu dari lima hati nurani global (global conciousnes) Kedua, pengalaman Indonesia dengan sistem otoriter yang mengabaikan otonomi daerah terbukti telah menyimpan api yang kemudian menyulut lahimya kritis politik, bahkan yang terjadi belakangan ini krisis politik telah. memancing fenomena disintegrasi. Demokrasi dan Otonomi Ketika para pendiri negara Republik Indonesia bersepakat untuk mendirikan sebuah negara berdasar prinsip demokrasi maka dengan sendirinya prinsip otonomi daerah juga menyertainya. Hal ini menjadi niscaya karena salah satu tuntutan penting bagi sebuah sistem demokrasi adalah adanya pemencaran kekuasaan baik secara horizontal (ke samping) tinggi negara yang sejajar seperti DPR, Presiden, BPK, MA, dan DPA, sedangkan pemencaran hodsontal ditandai oleh adanya desentralisasi dan otonomi daerah. Bahwa adanya desentralisasi dan otonomi daerah diyakini oleh Bapak-bapak pendiri negara Republik Indonesia sebagai bagian dari pelaksanaan demokrasi dapat dipahami dari pemyataan Hatta bahwa: “Menurut dasar kedaulatan rakyat itu, hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya ada pada pucuk pemerintahan negeri, melainkan juga pada tiap tempat, di kota, di desa, dan di daerah...Dengan keadaan yang demikian, maka tiap-tiap bagian atau golongan rakyat mendapat autonomi (membuat dan menjalankan
Makalah Tentang Otonomi Daerah | 1

peraturan-peraturan sendiri) dan Zelfgbestuur (menjalankan peraturan peraturan yang dibuat oleh Dewan yang lebih tinggi) ... Keadaan yang seperti itu penting sekali, karena keperluan tiap-tiap tempat dalam satu negeri tidak sama, melainkan berlain-lain”. (Hatta, 1976 : 103). Dari apa yang dikemukakan Hatta menjadi jelas bahwa prinsip otonomi harus menjadi salah satu salah satu sendi susunan pemerintahan yang demokratis agar ada jaminan kebebasan bagi warganya untuk menyalurkan aspirasi politik. Ini sejalan dengan apa yang dikutip Robert Rienow (1966 : 573) dari Tocqueville yang mengatakan juga bahwa suatu negara merdeka yang tidak membangun institusi pemerintahan di tingkat daerah adalah pemerintahan yang tidak membangun semangat kedaulatan rakyat sebab didalamnya tidak ada kebebasan. Salah satu karakter menonjol dari demokrasi, kata Toqcueville, adalah adanya kebebasan sehingga alasan pokok dibangunnya pemerintahan di tingkat daerah minimal ada dua macam : pertama, membiasakan rakyat untuk merumuskan sendiri persoalanpersoalan di daerahnya sekaligus mencari pemecahannya; kedua, memberi kesempatan kepada masing-masing komunitas yang mempunyai tuntutan beragam untuk membuat aturan dan programnya sendiri. Bagir Manan (1994) dalam konteks ini mengatakan bahwa ada tiga faktor yang menunjukkan kaitan erat antara demokrasi dan otonomi daerah : pertama, untuk mewujudkan prinsip kebebasan {liberty)\ kedua, untuk membiasakan rakyat berupaya untuk mampu memutuskan sendiri berbagai kepentingan yang berkaitan langsung dengan dirinya; ke-tiga, untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat yang mempunyai tuntutan dan kebutuhan beragam. Meskipun begitu memang tidak dapat dipungkiri begitu saja kenyataan bahwa di negara yang menganut sistem sentralisasi pun mungkin dapat tumbuh demokrasi, namun adanya otonomi daerah dan desentralisasi akan jauh lebih menjamin tumbuhnya demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahannya. (Kelsen, 1973 : 312). Atas dasar pemikiran yang demikianlah dapat dipahami bahwa undang-undang yang pertama kali lahir di negara Republik Indonesia adalah UU tentang otonomi daerah yakni UU No. 1 Tahun 1945.

1.2 Tujuan Umum Tujuan umum dari makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui dan memperluas pengetahuan, bahwa Otonomi Daerah merupakan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundangundangan.

1.3 Tujuan Khusus
Makalah Tentang Otonomi Daerah | 2

diantaranya: - Mengetahui masalah-masalah yang menjadi kewenangan atau acuan program suatu daerah dalam meningkatkan produktivitas dalam bidang tertentu. Mengetahui tingkat keberhasilan dalam pencapaian program/bidang tertentu sehingga suatu daerah bisa menjadi daerah otonom. - BAB II Makalah Tentang Otonomi Daerah | 3 .Dapat kami paparkan tujuan-tujuan khusus Otonomi Daerah. Mengetahui sejauh mana arah dan sasaran suatu daerah dalam pencapaian menuju sutu daerah yang otonom.

" Pengertian yang lebih luas lagi adalah wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri mulai dari ekonomi. Otonomi daerah tidak mencakup bidang-bidang tertentu. Tahun 1998. penulis ingin memberikan catatan bahwa pelaksanaan otonomi daerah pada faktanya telah menimbulkan empat problem. politik. dan kemampuan dalam berorganisasi. fiskal. Dalam paparan singkat ini. Makalah Tentang Otonomi Daerah | 4 . dan agama. keadilan. Sedangkan "daerah" adalah suatu "wilayah" atau "lingkungan pemerintah". dan pengaturan perimbangan keuangan termasuk pengaturan sosial. Bidangbidang tersebut tetap menjadi urusan pemerintah pusat. moneter. Lantas apakah berarti otonomi daerah justru berkorelasi negatif terhadap kesejahteraan? Sebelum kita meneliti semua itu. masyarakat Indonesia merasakan kemuakan atas pemerintahan yang sangat sentralistis dan ingin menuju pola masyarakat yang lebih menjanjikan kebebasan.Landasan Teori 1. dan ideologi yang sesuai dengan tradisi adat istiadat daerah lingkungannya. seperti politik luar negeri. pemerataan. Apa hubungan antara otonomi daerah dan kesejahteraan? Mengapa dalam era otonomi daerah sekarang justru kemiskinan sangat merajalela? Sebagaimana dinyatakan Bank Dunia.1 Pengertian Otonomi Daerah Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan demikian pengertian secara istilah "otonomi daerah" adalah "wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri. dan keanekaragaman. pertahanan keamanan. budaya. ketersediaan alat dan bahan. Pengertian "otonom" secara bahasa adalah "berdiri sendiri" atau "dengan pemerintahan sendiri". berbagai problem bermunculan dan implemenasi atas konsep otonomi itu memunculkan banyak konflik baik vertikal maupun horizontal. Realitasnya. peradilan. setelah masyarakat Indonesia berada dalam era otonomi daerah. angka kemiskinan di Indonesia mencakup lebih dari 70 juta jiwa. kemampuan dalam keuangan. Pelaksanaan otonomi daerah berdasar pada prinsip demokrasi. setidaknya bisa kita temukan fakta bahwa lahirnya otonomi daerah di Indonesia lebih karena perubahan kondisi politik daripada alasan paradikmatik-empirik. Pelaksanaan otonomi daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang meliputi kemampuan si pelaksana.

maka kebijakan otonomi daerah ini dinilai mutlak harus diterapkan dalam waktu yang secepat-cepatnya sesuai dengan tingkat kesiapan daerah sendiri. Dekonsentrasi Kekuasaan dan Demokratisasi Makalah Tentang Otonomi Daerah | 5 .1. tetapi pada pokoknya juga perlu diwujudkan atas dasar keprakarsaan dari bawah untuk mendorong tumbuhnya kemandirian pemerintahan daerah sendiri sebagai faktor yang menentukan keberhasilan kebijakan otonomi daerah itu. pemerintahan daerah dapat menentukan sendiri pengaturan mengenai soal-soal yang bersangkutan melalui penetapan Peraturan Daerah. yaitu dari pusat ke daerah. Bahkan. sangat dirasakan oleh daerah-daerah besarnya jurang ketidakadilan struktural yang tercipta dalam hubungan antara pusat dan daerah-daerah. arus dinamika kekuasaan akan bergerak sebaliknya. kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi kewenangan tidak hanya menyangkut pengalihan kewenangan dari atas ke bawah. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah itu tidak akan berhasil apabila tidak dibarengi dengan upaya sadar untuk membangun keprakarsaan dan kemandirian daerah sendiri. sekedar untuk itu memang perlu diadakan penyesuaian. TAP MPR tentang Rekomendasi Kebijakan dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah No. Untuk menjamin agar perasaan diperlakukan tidak adil yang muncul di berbagai daerah seluruh Indonesia tidak makin meluas dan terus meningkat yang pada gilirannya akan sangat membahayakan integrasi nasional. Dengan demikian. Setelah peraturan pusat yang dimaksud ditetapkan. 1. Karena dalam sistem yang berlaku sebelumnya.3 Otonomi. maka diidealkan bahwa sejak diterapkannya kebijakan otonomi daerah itu.barulah peraturan daerah tersebut disesuaikan sebagaimana mestinya. kebijakan otonomi daerah dilakukan dengan mendesentralisasikan kewenangan-kewenangan yang selama ini tersentralisasi di tangan pemerintah pusat.IV/MPR/2000 menegaskan bahwa daerah-daerah tidak perlu menunggu petunjuk dan aturan-aturan dari pusat untuk menyelenggarakan otonomi daerah itu sebagaimana mestinya. Dalam proses desentralisasi itu. Desentralisasi Kewenangan dan Integrasi Nasional Pada prinsipnya.kekuasaan pemerintah pusat dialihkan dari tingkat pusat ke pemerintahan daerah sebagaimana mestinya.2 Otonomi. Dalam kultur masyarakat kita yang paternalistik. Sebelum dikeluarkannya peraturan yang diperlukan dari pusat. Jika dalam kondisi semula arus kekuasaan pemerintahan bergerak dari daerah ke tingkat pusat. Kebijakan otonomi dan desentralisasi kewenangan ini dinilai sangat penting terutama untuk menjamin agar proses integrasi nasional dapat dipelihara dengan sebaik-baiknya. sehingga terwujud pergeseran kekuasaan dari pusat ke daerah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu.Dalam keadaan demikian. kebijakan otonomi daerah itu dikembangkan seiring dengan agenda dekonsentrasi kewenangan. Kedua-duanya bersifat membatasi kekuasaan dan berperan sangat penting dalam rangka menciptakan iklim kekuasaan yang makin demokratis dan berdasar atas hukum. yang menjadi perhatian hanyalah soal pengalihan kewenangan pemerintahan dari tingkat pusat ke tingkat daerah.Otonomi daerah kadang-kadang hanya dipahami sebagai kebijakan yang bersifat institutional belaka yang hanya dikaitkan dengan fungsi-fungsi kekuasaan organ pemerintahan. Para pejabat daerah yang sebelumnya tidak memiliki banyak kewenangan dalam waktu singkat tiba-tiba mendapatkan kekuasaan dan kesempatan yang sangat besar yang dalam waktu singkat belum tentu dapat dikendalikan sebagaimana mestinya. Bahkan kehawatiran bahwa sistem otonomi pemerintahan daerah itu justru dapat menimbulkan otoritarianisme pemerintahan lokal di seluruh Indonesia. timbul kehawatiran bahwa iklim penindasan dan praktek-praktek kezaliman yang anti demokrasi serta praktek-praktek pelanggaran hukum dan penyalahgunaan wewenang yang pernah terjadi di tingkat pusat justru ikut beralih ke dalam praktek pemerintahan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Pada tingkat suprastruktur kenegaraan maupun dalam rangka restrukturisasi manajemen pemerintahan. kebijakan otonomi daerah itu tidak hanya perlu dilihat kaitannya dengan agenda pengalihan kewenangan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah.4 Otonomi dan ‘Federal Arrangement’ Makalah Tentang Otonomi Daerah | 6 .Jika kebijakan otonomi daerah tidak dibarengi dengan peningkatan kemandirian dan keprakarsaan masyarakat di daerah-daerah sesuai tuntutan alam demokrasi. maka sesuai dengan dalil Lord Acton bahwa ‘power tendsto corrupt and absolute power corrupts absolutely’. maka praktek-praktek kekuasaan yang menindas seperti yang dialami dalam sistem lama yang tersentralisasi. Otonomi daerah berarti otonomi masyarakat di daerah-daerah yang diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang keprakarsaan dan kemandiriannya dalam iklim demokrasi dewasa ini. Justru inilah yang harus dilihat sebagai esensi pokok dari kebijakan otonomi daerah itu dalam arti yang sesungguhnya. maka kebijakan dekonsentrasi pada pokoknya merupakan kebijakan pembagian kewenangan birokrasi pemerintahan secara horizontal. Namun. otonomi daerah haruslah dipahami esensinya juga mencakup pengertian otonomi masyarakat di daerah-daerah dalam berhadapan dengan pemerintahan di daerah. tetapi juga menyangkut pengalihan kewenangan dari pemerintahan ke masyarakat. 1. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Jika kebijakan desentralisasi merupakan konsep pembagian kewenangan secara vertikal. esensi kebijakan otonomi daerah itu sebenarnya berkaitan pula dengan gelombang demokratisasi yang berkembang luas dalam kehidupan nasional bangsa kita dewasa ini. akan tetap muncul dalam hubungan antara pemerintahan di daerah dengan masyarakatnya.

kekuasaan asli atau kekuasaan sisa itu berada di pusat. para penyelenggara negara. Elemen hubungan kekuasaan yang bersifat horizontal ini dan ditetapkannya prinsip kekuasaan asli atau sisa yang berada di daerah kabupaten/kota merupakan ciri-ciri penting sistem federal. Dalam Pasal 4 ayat (2) dinyatakan bahwa hubungan antara pusat dan daerah tidak lagi bersifat hirarkis.peradilan. pertahanan keamanan. yaitu antara peran tentara dan kepolisian[8]. moneter dan fiskal. atau memang hal itu dirumuskan dengan kesengajaan bahwa pada hakikatnya kewenangan daerah dalam rangka kebijakan otonomi daerah itu adalah pemberian pemerintah pusat kepada daerah[7]. dalam naskah Perubahan Kedua UUD 1945. Meskipun ditegaskan bahwa organisasi pemerintahan Republik Indonesia berbentuk Negara Kesatuan(unitary). Hanya saja perlu dicatat pertama bahwa dalam naskah PerubahanUUD ini digunakan perkataan “‘memberikan’ otonomi yang luas kepada daerahdaerah”. melalinkan hanya koordinatif. yaitu “pertahanan. dapat dikatakan bahwa meskipun struktur organisasi pemerintahan Republik Indonesia berbentuk Negara Kesatuan. Pada umumnya dipahami bahwa dalam sistem federal. kita juga mengadopsi pengaturan-pengaturan yang dikenal sebagai ‘federal arrangement’. Bupati bukan lagi bawahan Gubernur.yaitu Pasal 18 ayat (8) dinyatakan: “Pemerintah pusat memberikan otonomi yang luas kepada daerahdaerah untuk melaksanakan pemerintahan masing-masing. dan bahwa pengertian pertahanan dan keamanan yang berdasarkan Pasal 2 Ketetapan MPR tentang Pemisahan TNI dan POLRI No. konsep kekuasaan asli atau kekuasaan sisa (residual power) berada di daerah atau bagian. keamanan”. Karena itu. merupakan urusan-urusan yang berbeda. moneter dan fiskal. Masih harus diteliti sejauhmana kedua hal ini dapat dinilai mencerminkan kekurangcermatan para anggota Badan Pekerja MPR dalam perumusan redaksi. maka dalam Pasal 18 ayat (8) UUD 1945 digunakan koma.kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. jika dalam Pasal 7 UU No. Kedua. yang ditentukan hanyalah kewenangan pusat yang mencakup urusan hubungan luar negeri. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.22 Tahun 1999 tertulis‘Pertahanan Keamanan’ tanpa koma. VI/MPR/2000 memang telah dipisahkan secara tegas. Bahkan. baik di pusat maupun di daerahdaerah sudah seharusnya menyadari hal ini. tetapi konsep dasar sistem pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah diatur menurut prinsip-prinsip federalisme. dan hubungan antara daerah propinsi dan daerah kabupaten serta kota tidak lagi bersifat subordinatif. sedangkan kewenangan berkenaan dengan urusan sisanya (lainnya)justru ditentukan berada di kabupaten/kota. terkandung semangat perubahan yang sangat mendasar berkenaan dengan konsep pemerintahan Republik Indonesia yang bersifat federalistis. agama. sedangkan dalam sistem negara kesatuan (unitary). peradilan. Dalam ketentuan Pasal 7UU tersebut. keamanan.Dalam UU No. Pihak-pihak yang bersikap skeptis ataupun yang masih berusaha mencari formula lain sehubungan dengan Makalah Tentang Otonomi Daerah | 7 . pertahanan. Oleh karena itu. dan urusan agama. sehingga pelaksanaan otonomi daerah perlu segera diwujudkan tanpa keraguan. serta kewenangan di bidang lain yang diatur dengan undangundang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman yang dimiliki daerah”.

Sudah tentu pelepasan urusan tersebut menjadi urusan masyarakat perlu dilakukan dengan cermat dan hati-hati. susunan organisasi desa dapat diatur sendiri berdasarkan norma-norma hukum adat yang hidup dan berkembang dalam kesadaran hukum dan kesadaran politik masyarakat desa itu sendiri. pada pokoknya.22 Tahun 1999 tersebut.Tidak perlu diadakan penyeragaman pengaturan untuk seluruh wilayah nusantara seperti yang dipraktekkan selama ini. kita akan dapat berkonsentrasi penuh menyukseskan agenda otonomi daerah yang luas ini. Dalam pengembangan masyarakat madani.bukan dimaksudkan untuk melepas beban dan tanggungjawab pemerintah Karena Makalah Tentang Otonomi Daerah | 8 .sehingga dapat terhindar dari malapetaka yang jauh lebih buruk berupa disintegrasi kehidupan kita sebagai satu bangsa yang bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. tetapi keterlibatan fungsifungsi organisasi pemerintahan secara umum dalam dinamika kegiatan masyarakat pada umumnya juga perlu dikurangi secara bertahap. seyogyanya juga menyadari adanya pengaturan-pengaturan yang bersifat federalistis tersebut.5 Otonomi dan Daya Jangkau Kekuasaan Dalam kebijakan otonomi daerah itu tercakup pula konsepsi pembatasan terhadap pengertian kita tentang ‘negara’ yang secara tradisional dianggap berwenang untuk mengatur kepentingan-kepentingan umum.Biarkanlah masyarakat desa mengatur sendiri tata pemerintahan desa mereka serta mengatur perikehidupan bersama mereka di desa sesuai dengan kebutuhan setempat. 1. yang dapat dianggap sebagai wilayah dayaj angkau kekuasaan negara (state) hanya sampai di tingkat kecamatan. Hanya fungsifungsi yang sudah seharusnya ditangani oleh pemerintah sajalah yang tetap harus dipertahankan wilayah yang berada dalam daya jangkau kekuasaan negara. tidak saja masyarakat desa dikembangkan sebagai ‘self governing communities’. Dan hanya dengan konsentrasi penuh itu pulalah kita akan dapat menyukseskan agenda otonomi daerah ini. Oleh karena itu. organ yang berada di bawah struktur organisasi kecamatan dapat dianggap sebagai organ masyarakat. Secara ideal. Prinsip ‘self governing community’ ini sejalan pula dengan perkembangan pemikiran modern dalam hubungan antara ‘stateand civil society’ yang telah kita kembangkan dalam gagasan masyarakat madani. wilayah kekuasaan pemerintahan negara tidak dapat menjangkau atau turut campur dalam urusan pemerintahan desa. dan masyarakat desa dapat disebut sebagai‘self governing communities’ yang otonom sifatnya. Sedangkan hal-hal yang memang dapat dilepaskan dan dapat tumbuh berkembang sendiri dalam dinamika masyarakat.gelombang separatisme di berbagai daerah. Hanya dengan keyakinan kolektif bangsa kita mengenai besarnya skala perubahan struktural yang dimungkinkan dalam berbagai instrumen peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan. cukup diarahkan untuk menjadi bagian dari urusan bebas masyarakat sendiri. Secara akademis.Dalam UU No. Pelepasan urusan dimaksudkan untuk mendorong kemandirian dan keprakarsaan masyarakat sendiri.

yakni : 1. Pelepasan urusan juga tidak boleh dilakukan tiba-tiba tanpa perencanaan yang cermat dan persiapan sosial yang memadai yang pada gilirannya justru dapat menyebabkan kegagalan total dalam agenda penguatan sector masyarakat secara keseluruhan.22/1999 adalah mendorong untuk pemberdayaan masyarakat. Dasar Hukum Otonomi Daerah berpijak pada dasar Perundang-undangan yang kuat. Hal-hal yang mendasar dalam UU No. Dari ketiga dasar perundang-undangan tersebut di atas tidak diragukan lagi bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah memiliki dasar hukum yang kuat. meningkatkan peran masyarakat. 2. serta perimbangan kekuangan Pusat dan Daerah dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas Desentralisasi. Pasal 18 UUD menyebutkan adanya pembagian pengelolaan pemerintahan pusat dan daerah. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Ketetapan MPR-RI Tap MPR-RI No. Undang-undang Dasar Sebagaimana telah disebut di atas Undang-undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. XV/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Otonomi Daerah : Pengaturan. 3.didasarkan atas sikap yang tidak bertanggungjawab ataupun karena disebabkan ketidakmampuan pemerintah menjalankan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang berkeadilan. Undang-Undang Undang-undang N0. BAB III MATERI Makalah Tentang Otonomi Daerah | 9 . mengembangkan peran dan fungsi DPRD. Tinggal permasalahannya adalah bagaimana dengan dasar hukum yang kuat tersebut pelaksanaan Otonomi Daerah bisa dijalankan secara optimal.

Dalam paparan singkat ini. Dasar Hukum Otonomi Daerah berpijak pada dasar Perundang-undangan yang kuat. setelah masyarakat Indonesia berada dalam era otonomi daerah. dan agama. dan kemampuan dalam berorganisasi. Sedangkan "daerah" adalah suatu "wilayah" atau "lingkungan pemerintah". Bidang-bidang tersebut tetap menjadi urusan pemerintah pusat. keadilan. masyarakat Indonesia merasakan kemuakan atas pemerintahan yang sangat sentralistis dan ingin menuju pola masyarakat yang lebih menjanjikan kebebasan. Dengan demikian pengertian secara istilah "otonomi daerah" adalah "wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri. dan keanekaragaman. Realitasnya. yakni : Makalah Tentang Otonomi Daerah | 10 . pemerataan. dan ideologi yang sesuai dengan tradisi adat istiadat daerah lingkungannya. Pelaksanaan otonomi daerah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang meliputi kemampuan si pelaksana.OTONOMI DAERAH Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. moneter. Tahun 1998. penulis ingin memberikan catatan bahwa pelaksanaan otonomi daerah pada faktanya telah menimbulkan empat problem. Pengertian "otonom" secara bahasa adalah "berdiri sendiri" atau "dengan pemerintahan sendiri". Otonomi daerah tidak mencakup bidang-bidang tertentu. kemampuan dalam keuangan. setidaknya bisa kita temukan fakta bahwa lahirnya otonomi daerah di Indonesia lebih karena perubahan kondisi politik daripada alasan paradikmatik-empirik. Apa hubungan antara otonomi daerah dan kesejahteraan? Mengapa dalam era otonomi daerah sekarang justru kemiskinan sangat merajalela? Sebagaimana dinyatakan Bank Dunia." Pengertian yang lebih luas lagi adalah wewenang/kekuasaan pada suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah masyarakat itu sendiri mulai dari ekonomi. Pelaksanaan otonomi daerah berdasar pada prinsip demokrasi. fiskal. peradilan. berbagai problem bermunculan dan implemenasi atas konsep otonomi itu memunculkan banyak konflik baik vertikal maupun horizontal. angka kemiskinan di Indonesia mencakup lebih dari 70 juta jiwa. seperti politik luar negeri. budaya. pertahanan keamanan. politik. Lantas apakah berarti otonomi daerah justru berkorelasi negatif terhadap kesejahteraan? Sebelum kita meneliti semua itu. ketersediaan alat dan bahan. dan pengaturan perimbangan keuangan termasuk pengaturan sosial.

3. Makalah Tentang Otonomi Daerah | 11 . Dengan demikian. 2. Pasal 18 UUD menyebutkan adanya pembagian pengelolaan pemerintahan pusat dan daerah. meningkatkan peran masyarakat. Hal-hal yang mendasar dalam UU No. Ketetapan MPR-RI Tap MPR-RI No. Dari ketiga dasar perundang-undangan tersebut di atas tidak diragukan lagi bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah memiliki dasar hukum yang kuat. Undang-Undang Undang-undang N0. Sistim ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip-prinsip pembagian kewenangan berdasarkan asas konsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. wilayah administrasi yang berada dalam daerah Kabupaten dan daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus.22/1999 adalah mendorong untuk pemberdayaan masyarakat. Pokok-Pokok Pikiran Otonomi Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam pasal 18 UUD 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan UU No. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang berkeadilan. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah daerah propinsi. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Pembagian daerah diluar propinsi dibagi habis ke dalam daerah otonom. sedangkan daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah daerah Kabupaten dan daerah Kota. mengembangkan peran dan fungsi DPRD. Undang-undang Dasar Sebagaimana telah disebut di atas Undang-undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. 2. XV/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Otonomi Daerah : Pengaturan. Tinggal permasalahannya adalah bagaimana dengan dasar hukum yang kuat tersebut pelaksanaan Otonomi Daerah bisa dijalankan secara optimal. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas Desentralisasi. serta perimbangan kekuangan Pusat dan Daerah dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3.1. 22/1999 dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : 1.

7. keadilan. Makalah Tentang Otonomi Daerah | 12 . 5. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah Propinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk memelaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. serta potensi dan keanekaragaman daerah. 2. Kawasan Pertambangan. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. Kawasan Kehutanan. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 th 1974 sebagai wilayah administrasi dalam rangka dekonsentrasi. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. sarana dan prasarana. 8. pemerataan.22/1999 prinsip-prinsip pelaksanaan Otonomi Daerah adalah sebagai berikut : 1. 4. Kawasan Perkotaan Baru. baik sebagai fungsi legislasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah. 9. nyata dan bertanggung jawab 3. Kawasan Wisata dan semacamnya berlaku ketentuan peraturan Daerah Otonom. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan Konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah. dan karenanya dalam daerah Kabupaten dan daerah Kota tidak ada lagi wilayah administrasi. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan Otonomi Terbatas.4. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek-aspek demokrasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah Kabupaten dan daerah Kota. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Otonomi Daerah Berdasar pada UU No. menurut UU No 22/99 kedudukanya diubah menjadi perangkat daerah Kabupaten atau daerah Kota. 6. Kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain seperti Badan Otorita. tidak hanya dari Pemerintah Daerah kepada Desa yang disertai dengan pembiayaan. Kawasan Pelabuhan.

Partai dan perusahaan lebih terasa sebagai suatu “pihak”. Realitas ini membuat mereka lebih taat pada pimpinan partai yang mendukung mereka. Ini membuat partai dan perusahaan di Indonesia jauh lebih solid daripada pemerintah. Walaupun para pimpinan partai tidak memerintah. Ini mengakibatkan program-program pemerintah pusat tidak berjalan. Dalam konsep otonomi daerah. Dan pimpinan tingkat provinsi adalah atasan pimpinan tingkat daerah. Partai dan perusahaan umumnya bersifat sentralistis. Namun di Indonesia. Undangan pertemuan pemerintah di atasnya sering diabaikan. Pimpinan pusat bagaimanapun juga adalah atasan pimpinan di tingkat provinsi. Yang ada hanyalah persekutuan ratusan kabupaten dan kota di Indonesia. Realitasnya NKRI sekarang telah tiada. kiranya cukup relevan sebagai contoh. Putusnya jalur komando dalam pemerintahan di Indonesia terasa sangat ironis jika melihat kekuatan komando di partai dan perusahaan. bahkan cepat-cepat berangkat dengan memakai uang negara. Kiranya. Alasan Menkes Siti Fadilah Supari terkait kegagalam penanganan flu burung. Sementara pemerintah pusat membawahi daerah yang jumlahnya lebih dari empat ratus buah. Ini berarti yang berkuasa di Indonesia adalah para konglomerat. tapi mereka mengendalikan para gubernur dan kepala daerah yang didukung partai mereka. maka bisa disimpulkan bahwa konglomerat merupakan subjek atas partai dan partai merupakan subjek atas pemerintah. Ini membuat Indonesia seperti mempunyai banyak presiden. para gubernur bukan atasan bupati/walikota. dari 100 pemegang kekayaan terbesar di dunia sekarang 49-nya adalah negara.Empat Problem Otonomi Daerah Pertama. apakah faktanya memang demikian? Kenyataannya sangat jauh dari itu. kekayaan Warren Makalah Tentang Otonomi Daerah | 13 . semakin kuatnya konglomeratokrasi. pemimpin pemerintahan butuh dukungan partai. sementara undangan pimpinan partai ditanggapi segera. adalah wajar kalau dengan semua itu jalur komando dari pusat ke daerah menjadi terputus. padahal banyak program yang sangat penting demi keselamatan rakyat. Kedua. lemahnya jalur komando. itupun dalam tingkat koordinasi yang sangat lemah. dimana instruksi dan dana dari departemen kesehatan tidak mengalir ke sasaran karena para kepala daerah tidak mempedulikan (sehingga banyak korban berjatuhan). dan partai butuh dana yang umumnya mengandalkan dukungan para konglomerat. dan bupati/walikota berasal dari partai yang berbeda. Bagaimanapun para gubernur. Ketiga. Seringkali yang terjadi presiden. Dengan melihat bahwa pemerintahan di Indonesia terpecah-pecah. Dalam negara kesatuan. dan walikota untuk terpilih butuh dukungan partai-partai. bupati. gubernur juga merupakan jabatan politis yang untuk meraihnya membutuhkan dukungan politik partai. Ini lain dengan pemerintah yang lebih terasa sebagai “kumpulan” atau bahkan sekedar “tempat persaingan”. pemimpin negara adalah atasan para pemimpin di bawahnya. pudarnya negara kesatuan. gubernur. Kemampuan pusat hanyalah mengkoordinasikan seluruh pemerintahan di bawahnya. sementara 51-nya perusahaan. Realitas ini semakin terasa parahnya jika mengingat bahwa Indonesia sangat tergantung modal asing dan bahwa kekuatan korporasi di dunia saat ini di atas negara (sebagaimana dinyatakan Prof. Di sisi lain. Hertz.

6 juta / keluarga). UU No. Pelaksanaan asumsi ini adalah bahwa para gubernur. di atas APBN Indonesia). Dengan ukuran pendapatan per kapita (angka yang dibutuhkan korporasi). bukan ukuran kesejahteraan rakyat. akan terlihat bahwa perubahan-perubahan konsepsi otonomi banyak ditentukan oleh para elit politik yang berkuasa pada saat it.5 juta/bulan atau Rp. Asumsi yang diberlakukan dalam konsep otonomi daerah adalah rakyat bisa mengurus dirinya sendiri. dan walikota. bupati. Realitas ini bisa dilihat dari fakta bahwa berbagai parameter keberhasilan adalah ukuran korporasi. empat problem di atas sudah bisa menggambarkan bagaimana hubungan antara otonomi daerah dengan munculnya berbagai problem di Indonesia. Hal itu terlihat jelas dalam aturan-aturan mengenai pemerintahan daerah sebagaimana yang terdapat dalam UU berikut ini : 1.Buffet. Bisa dibayangkan jika di jaman dulu puluhan kerajaan dengan kondisi politiknya yang “mungkin terpecah” bisa dikuasai oleh VOC (sebuah perusahaan dunia). Indonesia memang negeri yang sangat aneh. yaitu kekuasaan korporasi/konglomerasi internasional. bagaimana sekarang ratusan daerah yang umumnya secara politis “sudah terpecah” menghadapi puluhan VOC baru yang kekuatannya di atas negara? Dari fakta ini saja sangat bisa dipahami mengapa Indonesia berada dalam cengkeraman korporatokrasi/konglomeratokrasi. 1. banyak kabupaten di Indonesia mempunyai pendapatan per kapita di atas Rp.18 juta per tahun (Rp. Kiranya. terabaikannya urusan rakyat. lebih 70 juta lebih rakyat miskin (angka kemiskinan merupakan hitungan kesejahteraan). harapannya adalah suasana yang lebih bebas dan desentrlistis. Apabila perkembangan otonomi daerah dianalisis sejak tahun 1945. Dengan otonomi. Itu berarti banyak keluarga di Indonesia yang mempunyai penghasilan di atas keluarga doktor. sentralisasi lama dipreteli kekuasaannya untuk masuk sentralisasi baru. Kenyataannya. Kenyataannya. Berbagai bentuk iklan semakin megah dan meriah. seringkali hitungan korporasi tidak sesuai dengan hitungan kesejahteraan. 1 tahun 1945 Makalah Tentang Otonomi Daerah | 14 . Padahal. walaupun tidak dalam komando pemerintah pusat. tetapi dalam kontrol DPRD setempat. Sayangnya. tetapi dalam perkembangan sejarahnya ide otonomi daerah itu mengalami berbagai perubahan bentuk kebijakan yang disebabkan oleh kuatnya tarik-menarik kalangan elit politik pada masanya. Keempat. orang terkaya di dunia. Ini berarti kekuasaan korporasi justru semakin mengakar. bagaimanapun juga DPRD mempunyai realitas yang sama dengan para pimpinan pemerintahan dalam hubungannya dengan partai dan korporasi/konglomerat. Tapi jalan-jalan semakin berlubang. Perkembangan Otonomi Daerah di Indonesia Meskipun UUD 1945 yang menjadi acuan konstitusi telah menetapkan konsep dasar tentang kebijakan otonomi kepada daerah-daerah.

terasa seolah-olah telah terjadi proses depolitisasi peran pemerintah daerah dan menggantikannya dengan peran pembangunan yang menjadi isu nasional. 1 tahun 1957 Kebijakan otonomi daerah pada masa ini masih bersifat dualisme. 5 tahun 1974 pembangunan menjadi isu sentral dibanding dengan politik. 2. di mana kepala daerah bertanggung jawab penuh pada DPRD. sedangkan dekonsentrasi diterapkan hanya sebagai pelengkap saja 6. di satu sisi ia punya peran besar untuk daerah. 5 tahun 1974 Setelah terjadinya G. 3. tapi juga masih menjadi alat pemerintah pusat.Kebijakan Otonomi daerah pada masa ini lebih menitikberatkan pada dekonsentrasi. 22 tahun 1948 Mulai tahun ini Kebijakan otonomi daerah lebih menitikberatkan pada desentralisasi. 5 tahun 1974 yaitu desentralisasi. nyata dan bertanggung jawab. UU No. Pada penerapanya. UU No. 5. UU No. Tetapi masih ada dualisme peran di kepala daerah. dekonsentrasi dan tugas perbantuan.30. tetapi juga masih alat pemerintah pusat. 22 tahun 1999 Pada masa ini terjadi lagi perubahan yang menjadikan pemerintah daerah sebagai titik sentral dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dengan mengedapankan otonomi luas. Melalui penpres ini kepala daerah diangkat oleh pemerintah pusat terutama dari kalangan pamong praja.S PKI pada dasarnya telah terjadi kevakuman dalam pengaturan penyelenggaraan pemerintahan di daerah sampai dengan dikeluarkanya UU NO. Kepala daerah hanyalah kepanjangan tangan pemerintahan pusat. UU No. 7. 4. UU No. Sejalan dengan kebijakan ekonomi pada awal Ode Baru. Pembagian Kewenangan Pusat dan Daerah Makalah Tentang Otonomi Daerah | 15 . Penetapan Presiden No.6 tahun 1959 Pada masa ini kebijakan otonomi daerah lebih menekankan dekonsentrasi. maka pada masa berlakunya UU No. 18 tahun 1965 Pada masa ini kebijakan otonomi daerah menitikberatkan pada desentralisasi dengan memberikan otonomi yang seluas-luasnya bagi daerah.

4. Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah. konservasi. Kewenangan bidang lain tersebut meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. Pengaturan tata ruang. serta kewenangan bidang lain. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. Pengaturan kepentingan administratif. Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. dana perimbangan keuangan. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota. peradilan. 5. eksploitasi.1. 7. Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 8. dan Makalah Tentang Otonomi Daerah | 16 . agama. konservasi. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. moneter dan fiskal. pertahanan keamanan. Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah. 3. 2. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. Kewenangan Pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. dan standardisasi nasional. sarana dan prasarana. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. 6. Kewenangan Daerah di wilayah laut meliputi: o o o o Eksplorasi. Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan.

sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. Setiap penugasan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Sumber-sumber meliputi: Penerimaan Daerah dalam pelaksanaan desentralisasi 1. dan standarisasi nasional. Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. pertanian. pendidikan dan kebudayaan.antara lain hasil penjualan asset daerah dan jasa giro 2. pertanahan. 10.o Bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. konservasi. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. dana perimbangan keuangan. kesehatan. perhubungan. sarana dan prasarana. 11. 12. peradilan. agama. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum.Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan seperti kewenangan dalam bidang politik luar negeri. penanaman modal. DANA PERIMBANGAN Makalah Tentang Otonomi Daerah | 17 . pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. lingkungan hidup. industri dan perdagangan. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi. pertahanan keamanan. PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) o o o • Hasil pajak daerah Hasil restribusi daerah Hasil perusahaan milik daerah. moneter dan fiskal. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mencakup kewenangan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah Propinsi. koperasi. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. dan tenaga kerja. serta kewenangan bidang lain yang mencakup kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. Pengaturan lebih lanjut mengenai batas laut diatur dengan Peraturan Pemerintah. 9.

Lembaga keuangan bukan bank 4. Pemerintah pusat 2.o o o Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Khusus 3. Pinjaman multilateral 4. Lembaga keuangan bank 3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah. o o hibah atau penerimaan Kabupaten/Kota lainnya. Masyarakat (penerbitan obligasi daerah) o Pinjaman Luar Negeri 1. dari daerah propinsi atau daerah penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan BAB IV Makalah Tentang Otonomi Daerah | 18 . Pinjaman bilateral 2. PINJAMAN DAERAH o Pinjaman Dalam Negeri 1.

Setiap kewenangan yang diserahkan ke daerah harus mampu menciptakan kesejahteraan dan demokrasi 3. Filosofi Otonomi Daerah dijabarkan sebagai berikut (Suwandi.PEMBAHASAN Proses Otonomi Daerah di Indonesia Otonomi Daerah di Indonesia dimulai dengan bergulirnya Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 2005 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang secara praktis efektif dilaksanakan sejak 1 Januari 2001. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan amandemen UU Otonomi Daerah. Makalah Tentang Otonomi Daerah | 19 . Otonomi Daerah menurut UU ini adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundangundangan. wewenang. Otonomi Daerah menurut UU ini adalah hak. Desentralisasi ekonomi mencakup aktivitas dan tanggung jawab ekonomi yang diimplementasikan pada level daerah. namun juga menyangkut paradigma ekonomi yang disebut desentralisasi ekonomi. Upaya desentralisasi ekonomi antara lain liberalisasi. 2005): 1. Fase kedua Otonomi Daerah ditandai dengan adanya reformasi dalam kebijakan keuangan negara melalui penetapan tiga peraturan di bidang keuangan negara. Eksistensi Pemerintah Daerah adalah untuk menciptakan kesejahteraan secara demokratis 2. Pelayanan publik ada yang bersifat pelayanan dasar (basic services) dan ada yang bersifat pengembangan sektor unggulan (core competence) 5. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kesejahteraan dicapai melalui pelayanan publik 4. Ketiga peraturan tersebut adalah UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. privatisasi. Core competence merupakan sintesis dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. tenaga kerja dan pemanfaatan lahan Konsep Kebijakan Fiskal Daerah Desentralisasi tidak hanya terkait dengan model pemerintahan. Tahap ini merupakan fase pertama dari pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia. UU Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999 masingmasing digantikan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Telah lebih dari lima tahun reformasi sistem pemerintahan tersebut berjalan dengan berbagai kendala yang mengiringinya serta pro dan kontra. Berbagai usaha pun dilakukan untuk memperbaiki dan menyempurnakan sistem tersebut. Proses ini merupakan awal dari fase ketiga dalam proses Otonomi Daerah di Indonesia. dan deregulasi. dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

kebijakan fiskal daerah juga harus mempertimbangkan prinsip-prinsip penganggaran. daerah terlebih dahulu mengidentifikasi pendapatan (revenues) baru kemudian menentukan pengeluaran. Sebaliknya. penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). yaitu hard budget constraint dan soft budget constraint. Berdasarkan pendekatan hard budget constraint. pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan daya saing daerah. Partisipasi bermaksud untuk menjamin agar setiap kebijakan yang diambil mencerminkan aspirasi masyarakat. keuangan daerah. temu wicara. dan pengawasan. Pembiayaan mandiri (self financing) dan cost recovery dalam bidang pelayanan publik b. Bentuk lain untuk merangsang keterlibatan masyarakat adalah melalui perencanaan partisipatif untuk menyiapkan agenda Makalah Tentang Otonomi Daerah | 20 . Jalur komunikasi ini meliputi pertemuan umum. Bagi hasil pajak dan bukan pajak secara lebih tepat d. Kewenangan daerah untuk melakukan pinjaman berdasarkan kebutuhan daerah Sebagai bagian yang terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan dengan kebijakan fiskal nasional. 2005). desentralisasi fiskal meliputi: a. Untuk menciptakan kesinambungan fiskal daerah. Menurut Pakpahan (2006). Peningkatan PAD c. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan dalam penyiapan anggaran. Pemerintah Daerah menyediakan saluran komunikasi agar masyarakat dapat mengutarakan pendapatnya. baik secara langsung maupun tidak langsung. Transfer dana ke daerah. Otonomi Daerah memiliki tujuh elemen dasar (Suwandi. kelembagaan. perwakilan. potensi merupakan pertimbangan utama. Adapun prinsipprinsip good governance adalah:1 1. Sarana untuk mewujudkan otonomi daerah adalah melalui good governance. Proses ini membutuhkan penerapan prinsip-prinsip good governance yang menyeluruh dan terpadu. konsultasi dan penyampaian pendapat secara tertulis. yang menyangkut kepentingan masyarakat.Berkaitan dengan hal tersebut. berdasarkan soft budget constraint. Otonomi Daerah dan Good Governance Ketiga fase yang dijelaskan tersebut di atas bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan. Dalam pendekatan yang pertama. pengeluaran diestimasi lebih dahulu kemudian daerah mengusahakan pendapatan untuk mendanai pengeluaran tersebut. reformasi sistem pengelolaan keuangan daerah dan penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM). sementara pada pendekatan kedua. Partisipasi. Pada dasarnya. desentralisasi fiskal menjadi komponen utama proses desentralisasi di Indonesia. mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan. utamanya melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan lebih adil e. Elemen tersebut adalah kewenangan. pelayanan publik. maka Kadjatmiko (2006) berpendapat bahwa pendekatan hard budget constraint lebih tepat untuk digunakan. kebutuhanlah yang menjadi faktor dominan (Kadjatmiko. personel. Dalam rangka mengantisipasi berbagai isu yang ada. 2006).

Pemerintah Daerah perlu mendayagunakan berbagai jalur komunikasi seperti melalui brosur. 5. Informasi adalah suatu kebutuhan penting masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan daerah. Perhatian khusus perlu diberikan kepada kaum minoritas agar mereka tidak tersingkir. Tujuan penyusunan visi dan strategi adalah untuk memberikan arah pembangunan secara umun sehingga dapat membantu Makalah Tentang Otonomi Daerah | 21 . pengumuman melalui koran. Ini dapat berupa forum masyarakat. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) maupun masyarakat perlu menghilangkan kebiasaan yang dapat menimbulkan Korupsi. pemantauan. menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. talk show. Di samping itu Pemerintah Daerah perlu mengupayakan adanya peraturan daerah yang bijaksana dan efektif. prosedur komplain. Pemerintah Daerah perlu membangun jalur komunikasi untuk menampung aspirasi masyarakat dalam hal penyusunan kebijakan. Daya tanggap. Kesetaraan. evaluasi dan pengawasan secara partisipatif dan mekanisme konsultasi untuk menyelesaikan isu sektoral. Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah harus mendukung tegaknya supremasi hukum dengan melakukan berbagai penyuluhan peraturan perundangundangan dan menghidupkan kembali nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Berdasarkan kewenangannya. lama waktu mendapatkan informasi serta prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada masyarakat. tanpa kecuali. Sebagai fungsi pelayan masyarakat. leaflet. seperti mereka yang miskin dan lemah. 6. Wawasan ke depan.2. serta didukung penegakan hukum yang adil dan tepat. pembangunan. 3. radio serta televisi lokal. Kolusi dan Nepotisme (KKN). Tujuan dari prinsip ini adalah untuk menjamin agar kepentingan pihak-pihak yang kurang beruntung. Pemerintah Daerah perlu menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi. meningkatkan kepekaan para penyelenggara pemerintahan terhadap aspirasi masyarakat. Pemerintah Daerah akan mengoptimalkan pendekatan kemasyarakatan dan secara periodik mengumpulkan pendapat masyarakat. Penegakan hukum. layanan hotline. memberi peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. sehingga warga merasa memiliki dan ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan daerahnya. tetap terakomodasi dalam proses pengambilan keputusan. 4. bagaimana cara mendapatkan informasi. membangun daerah berdasarkan visi dan strategi yang jelas dan mengikutsertakan warga dalam seluruh proses pembangunan. Berkaitan dengan hal tersebut. menjunjung tinggi HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. mewujudkan adanya penegakan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa pengecualian. Transparansi. Selanjutnya kebijakan khusus akan disusun untuk menjamin adanya kesetaraan terhadap wanita dan kaum minoritas baik dalam lembaga eksekutif dan legislatif. Pemerintah Daerah perlu proaktif memberikan informasi lengkap tentang kebijakan dan layanan yang disediakannya kepada masyarakat. Kebijakan ini akan memperjelas bentuk informasi yang dapat diakses masyarakat ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia.

visi tersebut perlu disusun secara terbuka dan transparan. Untuk menjadi visi yang dapat diterima secara luas. meningkatkan upaya pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dengan mengusahakan keterlibatan swasta dan masyarakat luas. tepat dengan biaya yang terjangkau. meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang yang menyangkut kepentingan masyarakat luas. 10. meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan agar mampu memberi pelayanan yang mudah. Pendapatan Asli Daerah (PAD). Lembagalembaga yang bergerak di bidang jasa pelayanan umum harus menginformasikan tentang biaya dan jenis pelayananya. Makalah Tentang Otonomi Daerah | 22 . Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil (DBH) pajak dan sumber daya alam 2. 7. penilaian. serta kalangan dunia usaha. evaluasi. Profesionalisme. Ini perlu didukung dengan mekanisme penerimaan staf yang efektif.dalam penggunaan sumberdaya secara lebih efektif. dan penggajian staf yang wajar. sumber pendapatan daerah terutama berasal dari: 1. cepat. dan pengawasan kerja. 8. serta membuat berbagai produk yang dapat digunakan oleh masyarakat. Efisiensi dan efektifitas. menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat dengan mengunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggungjawab. Pengawasan. sesuai bidangnya. Walaupun demikian tetap diperlukan adanya auditor independen dari luar dan hasil audit perlu dipublikasikan kepada masyarakat. Seluruh pembuat kebijakan pada semua tingkatan harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada masyarakat. Dana perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Umum. promosi. Secara umum. dengan didukung dengan partisipasi masyarakat. Penerapan Otonomi Daerah dengan mengacu pada prinsip-prinsip good governance tersebut difasilitasi oleh Pemerintah Pusat dengan meningkatkan alokasi Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) yang disalurkan ke daerah. dan didukung mekanisme penganggaran serta pengawasan yang rasional dan transparan. Akuntabilitas. Pelayanan masyarakat harus mengutamakan kepuasan masyarakat. Untuk mengukur kinerja mereka secara obyektif perlu adanya indikator yang jelas. terutama yang berasal dari pajak dan retribusi daerah. kelompokkelompok masyarakat yang peduli. dan apabila terdapat kesalahan harus diberi sanksi. Tujuannya adalah menciptakan birokrasi profesional yang dapat efektif memenuhi kebutuhan masyarakat. sistem pengembangan karir dan pengembangan staf yang efektif. Pemerintah Daerah perlu proaktif mempromosikan pembentukan forum konsultasi masyarakat. Untuk menciptakan efisiensi harus digunakanteknik manajemen modern untuk administrasi kecamatan dan perlu ada desentralisasi kewenangan layanan masyarakat sampai tingkat keluruhan/desa. Pengawasan yang dilakukan oleh lembaga berwenang perlu memberi peluang bagi masyarakat dan organisasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pemantauan. 9. Sistem pengawasan perlu diperkuat dan hasil audit harus dipublikasikan.

DAU dihitung berdasarkan formula kesenjangan fiskal (selisih antara kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal daerah). Secara rata-rata. formula DAU telah mengalami beberapa kali perubahan.Dari kedua sumber pendapatan daerah tersebut masih didominasi oleh Dana Perimbangan. DAU adalah komponen Dana Perimbangan yang paling besar. Kebutuhan khusus (UU No. Kegiatan khusus (UU No. Hal-hal yang termasuk kebutuhan khusus yaitu: 1. Formula DAU untuk tahun 2006 disusun berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004. 55 Tahun 2005. dan Nota Keuangan dan RAPBN 2006) DAK berbentuk specific grant. Dana Perimbangan tersebut jumlahnya cenderung selalu meningkat sejak digulirkan pada tahun 2001 baik dilihat dari nilai nominal maupun dari persentasenya terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan pendapatan domestik neto (PDN). Tabel 1 menunjukkan pekembangan Dana Perimbangan tahun 20032006. persentase DAU terhadap APBD berkisar antara 70-80 persen. Sejak tahun 2001. kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan menggunakan formula alokasi umum dan/atau kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional 2. 33/2004 ditunjukkan oleh Gambar 1. DAU merupakan transfer dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah yang berbentuk block grant. Dana Perimbangan lainnya adalah Dana Alokasi Khusus (DAK). kebutuhan untuk membiayai kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil. DAU masih menjadi sumber utama pembiayaan belanja daerah. 25 Tahun 2000 dan PP No. Kebutuhan dan kegiatan khusus yang dapat dibiayai dari dana tersebut adalah segala urusan daerah yang sesuai dengan prioritas nasional. DAK merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu daerah dalam membiayai: 1. 104 Tahun 2000) 2. PP No. Makalah Tentang Otonomi Daerah | 23 .

4. Tersedianya sumber daya manusia(SDM) yang berkualitas dan sumber daya alam(SDA) yang memadai guna lancarnya otonomi tersebut. Makalah Tentang Otonomi Daerah | 24 . 3. Adanya dasar hukum yang menjadi landasan dalam mewujudkan suatu program otonomi daerah. 2. peternakan. baik itu dari sektor industri.BAB V KESIMPULAN Seiring dengan kemajuan dalam berbagai bidang/sektor yang sudah menjamur diwilayah khususnya Indonesia. Hak dan kewajiban wewenang dan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia. perikanan. Kehidupan berpolitik. Harus memperhatikan arah/sasaran dan tujuan yang akan dicapai. maka persaingan pun akan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh sebuah wilayah untuk mewujudkan suatu daerah yang otonom. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya-upaya yang akan menjadi sasaran atau pedoman dalam peningkatan mutu dan sekaligus dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu daerah yang otonom. diantaranya yaitu: • • Demokrasi pancasila dan Partisipasi masyarakat Kehidupan konstitusional Baik : • • • • • Demokrasi Hukum Kepemimpinan nasional Fungsi lembaga tinggi negara Dan lembaga-lembaga tinggi negara 5. pertanian. perkebunan dan sebagainya. Beberapa hal tersebut diantaranya yaitu: 1.

2007. “Preface”. Bundesministerium für wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung. Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD. “Local Fiscal Policy”. Hellman. Benu. Yogyakarta. Departemen Keuangan RI. East Asia Decentralized. 2005. InWEnt. 2006. InWEnt. Departemen Keuangan RI.C. “Capacity Building to Support Decentralization in Indonesia”. Campos. dan PPE-FE-UGM.. “Strengthening Core Local Government Competencies”. dan PPE-FEUGM. Makalah Tentang Otonomi Daerah | 25 . dipresentasikan dalam Financial Management Training in Indonesia. GTZ. 2005. InWEnt. 8-11 Mei 2006. Arlen T. dan PPE-FEUGM. World Bank Institute. Pertanggungjawaban. Disampaikan dalam Sosialisasi Standar Biaya Tahun 2007 kepada Unit Eselon I Kementerian/Lembaga.B. 2005. Kadjatmiko. Bundesministerium für wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung. 2006. Technical Assistance Performance Evaluation Report. GTZ. InWEnt. J. Bundesministerium für wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung. Fredrik. Departemen Keuangan RI. “Governance Gone Local: Does Decentalization Improve Accountability?”. Modul Pelatihan. “Anggaran Berbasis Kinerja”. Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (PPE-FEUGM). 2006. 26-27 Januari. Pakpahan. “Indikator Kinerja dengan Model Matriks Kinerja”. Kristiadi. GTZ. Budget Performance: Capacity Building for Effective Public Finance. dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan APBD. Balikpapan. Bundesministerium für wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung. dan PPE-FE-UGM. dan Politik Lokal dan Otonomi Daerah (PLOD). Rusdi. Yogyakarta. Budget Accountability. Reporting. and Auditing. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan. Asian Development Bank. “Local Financial and Business Climate”. Budget Performance: Capacity Building for Effective Public Finance. GTZ. Jakarta. Departemen Keuangan RI. dipresentasikan dalam Pelatihan Pengelolaan Keuangan Daerah. 2 November.. Washington D. 2006. Jose Edgardo dan Joel S. Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Universitas Gadjah Mada. 2006. Bank Dunia. Departemen Keuangan RI. Penjelasan Umum tentang Standar Biaya Tahun 2007.DAFTAR PUSTAKA Akbar.

Modul Pelatihan. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal Makalah Tentang Otonomi Daerah | 26 . 02/2006 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2007 Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 2006.Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK. “District and Provincial Economic Development Training”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful