SNI 7391:2008

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Standar Nasional Indonesia

Spesifikasi penerangan jalan di kawasan perkotaan

ICS 93.080.40

Badan Standardisasi Nasional

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

SNI 7391:2008

Daftar isi
Daftar isi ………………………………………………………………………………………….. Daftar tabel ……………………………………………………………………………………… Daftar gambar …………………………………………………………………………………... Prakata ………………………………………………………………………………………….. Pendahuluan ……………………………………………………………………………………. 1 2 3 4 Ruang lingkup ………..…………………………………………………………………….. Acuan normatif ………..…………………………………………………………………... Istilah dan definisi ……..………………………………………………………………….. Ketentuan - ketentuan ………………………………..…………………………………... 4.1 Fungsi penerangan jalan …...........................................................……………..... 4.2 Dasar perencanaan penerangan jalan …......................................……………..... 4.3 Jenis lampu penerangan jalan………………………………………….…………..... 4.4 Ketentuan pencahayaan dan penempatan ..................……………….……..…..... 4.4.1 Kualitas pencahayaan ………………………………………………………...... 4.4.1.1 Pencahayaan pada ruas jalan ………………………………………… 4.4.1.2 Pencahayaan pada tempat parkir …………………………………… 4.4.1.3 Pencahayaan pada rambu lalu lintas ………………………………… 4.4.1.4 Pencahayaan pada terowongan ……………………………………… 4.4.2 Rasio kemerataan pencahayaan …...................…………..……………………. 4.4.3 Pemilihan jenis dan kualitas lampu penerangan….....…………………………. 4.4.4 Penempatan lampu penerangan…………….....………………………………… 4.4.5 Penataan letak lampu penerangan jalan …............……….............................. 4.4.6 Penataan letak lampu pada perlintasan kereta api ....…….............................. 4.5.7 Penataan lampu penerangan terhadap tanaman jalan ................................... 4.5 Ketentuan khusus ............................……………………………………………....... 4.5.1 Tempat parkir ……………………………………………………………………...... 4.5.2 Pemasangan dengan tiang ........………………………………………………...... 4.6 Simbol perencanaan penerangan jalan ………………………………….…………. Lampiran A Tipikal lampu penerangan jalan berdasarkan pemilihan letak .…………… Lampiran B Contoh bentuk dan dimensi lampu penerangan ………………………….… Lampiran C Penempatan lampu penerangan jalan pada kondisi khusus ……………… Lampiran D Contoh penempatan lampu penerangan pada persimpangan …………… Lampiran E Pemasangan lampu penerangan terhadap gangguan daun ……………… Lampiran F Contoh konstruksi dan detail pondasi tiang.………………………………… Lampiran G Contoh konstruksi dan detail panel lampu…………………………………... Lampiran H Contoh konstruksi dan detail panel lampu …………………………………. Bibliografi ……………………………………………………………………………………….. i ii iii iv v 1 1 1 4 4 4 5 8 8 8 9 9 10 10 11 11 14 14 17 19 19 20 23 24 25 27 29 31 35 36 37 41

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

i

SNI 7391:2008

Daftar tabel
Tabel 1 Jenis lampu penerangan jalan secara umum menurut karakteristik dan penggunaannya ……………………………...……………………………………… Tabel 2 Kode indek perlindungan IP (Index of Protection) ……………………………….. Tabel 3 Kualitas pencahayaan………………………………………………………………. Tabel 4 Kuat pencahayaan pada daerah tempat parkir ………………………………….. Tabel 5 Batasan kuat pencahayaan untuk rambu lalu lintas ..…………………………… Tabel 6 Batasan kuat pencahayaan pada terowongan ..........................……….………. Tabel 7 Rasio kemerataan penerangan ............. ………………………………..………… Tabel 8 Sistem penempatan lampu penerangan jalan ……………………………………. Tabel 9 Jarak antara tiang lampu penerangan (e) berdasarkan tipikal distribusi dan klasifikasi lampu ……………............................................................….……….. Tabel 10 Penataan letak lampu penerangan jalan ................. ………………….…………. Tabel 11 Tinggi pemangkasan pohon terhadap sudut di bawah cahaya lampu ..……….. Tabel 12 Simbol-simbol dalam perencanaan penerangan jalan ……………………………

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

5 6 8 9 9 10 10 11 13 14 17 23

ii

SNI 7391:2008

Daftar gambar

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan”

Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Gambar 10 Gambar 11 Gambar 12 Gambar A.1 Gambar A.2 Gambar B.1 Gambar B.2 Gambar C.1 Gambar C.2 Gambar D.1 Gambar D.2 Gambar D.3 Gambar D.4 Gambar E.1 Gambar E.2 Gambar E 3 Gambar E 4 Gambar F.1 Gambar F.2 Gambar G.1 Gambar G.2 Gambar H 1 Gambar H 2 Gambar H 3

Penempatan lampu penerangan ……………………………………………… Area perlintasan jalan kereta api yang perlu penerangan .…………………. Pemasangan dengan 6 lampu ………………………….……………………... Pemasangan alternatif dengan 6 lampu ………………………………………. Pemasangan dengan 4 lampu ……………………………………….. ……….. Pemasangan alternatif dengan 4 lampu ……………….. ……………………. Pemasangan dengan 2 lampu …………………………………………………. Penempatan lampu penerangan terhadap tanaman jalan .…………………. Bentuk dan konstruksi lampu tanpa tiang ………………….…………………. Tipikal tiang lampu lengan tunggal ……………………………………….. …. Tipikal tiang lampu lengan ganda …………………………………………….. Tipikal lampu tegak tanpa lengan………………………………………………. Contoh rumah lampu merkuri …………. ……………………………….. …… Contoh rumah lampu sodium ...........................……………………………… Tipikal lampu penerangan pada jalan satu arah ……...…………………….. Tipikal lampu penerangan pada jalan dua arah ……………………………… Contoh tipikal dan dimensi tiang lampu lengan tunggal ...…………………… Contoh tipikal dan dimensi tiang lampu lengan ganda .................…...…… Bentuk / pola kuat pencahayaan ……………………………..………………. Lampu ditempatkan pada jalan membelok dengan radius > 305 m……..…. Lampu pada radius < 305 m di lengkung luar ………..………………………. Lampu pada radius < 305 m di lengkung dalam…..….………………………. Penataan lampu penerangan pada persimpangan sebidang ……………. Penataan lampu penerangan pada persimpangan tidak sebidang …..……. Penataan lampu pada simpang susun (semanggi) …………………………... Penempatan lampu pada terowongan ………………………………………… Tinggi pemasangan lampu terhadap gangguan daun .………………………. Jarak lampu dari dedaunan ………………………….….………………………. Contoh tipikal pondasi lampu penerangan standar ….………………………. Contoh tipikal pondasi lampu penerangan menara ..………………………. Contoh tipikal lampu penerangan jalan ……………………………….………. Contoh tipikal pondasi panel lampu penerangan jalan ………………………. Contoh tipikal panel lampu penerangan untuk ramp dan jembatan ………..

12 14 15 15 16 16 17 18 19 20 21 22 24 24 25 26 27 28 29 29 30 30 31 32 33 34 35 35 36 37 38 39 40

iii

anggota Gugus Kerja bidang Lingkungan dan Keselamatan Jalan. dan Panitia Teknik Bidang Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil. Standar ini termasuk untuk penerangan jalan persimpangan jalan layang. “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Departemen Pekerjaan Umum. Standar ini merupakan penyempurnaan dan pengembangan dari Spesifikasi Lampu Penerangan Jalan Kota No. Tata cara penulisan standar ini mengacu pada Pedoman Standar Nasional Nomor 08:2007 dan telah dibahas melalui rapat teknis dan rapat konsensus serta mendapat masukan dari Perguruan Tinggi. jembatan dan jalan di bawah tanah/terowongan. anggota Sub Panitia Teknik Bidang Prasarana Transportasi.SNI 7391:2008 Prakata Spesifikasi Penerangan Jalan di Kawasan Perkotaan ini merupakan Standar untuk merencanakan pemasangan dan penempatan/penataan lampu penerangan jalan di kawasan perkotaan. yang dipersiapkan oleh Subpanitia Teknik Bidang Prasarana Transportasi melalui Gugus Kerja bidang Lingkungan dan Keselamatan Jalan pada Panitia Teknis Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil. Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan. Standar ini diprakarsai oleh Direktorat Bina Teknik. Pemerintah Propinsi/Kota/Kabupaten. Instansi terkait. 12/S/BNKT/1991 yang disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Marga. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” iv . Departemen Pekerjaan Umum. Standar ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan jalan perkotaan. Asosiasi Profesi.

Spesifikasi Lampu Penerangan Jalan Perkotaan yang disusun sebelum tahun 2000. belum disesuaikan dengan Tata cara penulisan standar yang diterbitkan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) tahun 2000. “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. selain itu belum juga disesuaikan dengan standar dan pedoman terkini. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” v .SNI 7391:2008 Pendahuluan Spesifikasi Penerangan Jalan di Kawasan Perkotaan ini bertujuan untuk mendapatkan keseragaman dalam merencanakan penerangan jalan khususnya di kawasan perkotaan. dan kenyamanan bagi pengguna jalan. sehingga dihasilkan penerangan jalan yang dapat memberikan keselamatan. kelancaran. Spesifikasi penerangan jalan di kawasan perkotaan ini mengatur ketentuan-ketentuan penerangan jalan.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” .“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

2) Undang Undang RI Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. 4) Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Rekomendasi untuk pencahayaan kendaraan bermotor dan pejalan kaki. 2 Acuan normatif Spesifikasi penerangan jalan di kawasan perkotaan ini merujuk pada acuan sebagai berikut : 1) Undang Undang RI Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. dimensi. 5) SNI No. persimpangan sebidang maupun tidak sebidang. 04-6262-2000. 3) Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan. 7) AASHTO.1 jalan prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan. 38 Tahun 2004] 1 dari 41 . di bawah permukaan tanah dan/atau air. Spesifikasi yang dimaksud dalam standar ini meliputi fungsi.3 jalan kolektor jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang. kecepatan rata-rata tinggi.SNI 7391:2008 Spesifikasi Penerangan Jalan di Kawasan Perkotaan “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. An Informational Guide for Roadway Lighting. jembatan dan terowongan di kawasan perkotaan yang mempunyai klasifikasi fungsi jalan arteri. 38 Tahun 2004] 3. 1984. jalan lori dan jalan kabel. kecepatan rata-rata sedang. jenis. dan jumlah jalan masuk dibatasi.2 jalan arteri jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh. dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. penempatan/penataan penerangan jalan yang diperlukan. kolektor dan lokal. kecuali jalan kereta api. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 1 Ruang lingkup Standar ini memuat ketentuan . termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas yang berada pada permukaan tanah. 3 Istilah dan definisi Istilah dan definisi yang digunakan dalam standar ini adalah sebagai berikut : 3. Undang-Undang RI No. [Undang-Undang RI No.ketentuan untuk penerangan ruas jalan. Spesifikasi Trotoar. 38 Tahun 2004] 3. pemasangan. 03-2447-1991. [Undang-Undang RI No. 6) SNI No.

dimaksudkan untuk memisahkan arus lalu lintas yang berlawanan. elemen optik. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan.SNI 7391:2008 3. (b) suatu unit lengkap yang terdiri dari sumber cahaya. 38 Tahun 2004] 3. selain sepeda motor. terletak di sumbu/tengah jalan.10 median jalan bagian dari jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan dengan bentuk memanjang sejajar jalan. dengan atau tanpa marka jalan. serta kegiatan ekonomi. atau median datar (flush). Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 2 dari 41 . median yang diturunkan (depressed).5 jalur bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas. elemen elektrik dan struktur penopang serta pondasi tiang lampu. jalan layang.9 luminansi (L) pantulan cahaya lampu oleh permukaan jalan. 3. [Undang-Undang RI No. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. 38 Tahun 2004] 3. yang memiliki lebar cukup untuk satu kendaraan bermotor sedang berjalan. kecepatan rata-rata rendah. [Penjelasan Undang-Undang RI No.7 lajur bagian jalur yang memanjang. pelayanan sosial. jembatan dan jalan di bawah tanah. “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.4 jalan lokal jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat. 3.8 lampu penerangan jalan (a) bagian dari bangunan pelengkap jalan yang dapat diletakkan atau dipasang di kiri/kanan jalan dan atau di tengah (di bagian median jalan) yang digunakan untuk menerangi jalan maupun lingkungan di sekitar jalan yang diperlukan termasuk persimpangan jalan. 43 Tahun 1993 ] 3. [ PP RI No. median dapat berbentuk median yang ditinggikan (raised). 3.6 kawasan perkotaan kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. yang diukur dalam satuan candela per meter persegi (cd/m²).

3.19 rasio kemerataan (uniformity ratio) perbandingan harga antara dua kondisi dari suatu besaran kuat pencahayaan (iluminansi atau luminansi) pada suatu permukaan jalan.18 kuat pencahayaan (iluminansi.15 sistem penempatan menerus sistem penempatan lampu penerangan jalan yang menerus/kontinyu di sepanjang jalan dan atau jembatan. [Penjelasan Undang-Undang RI No.SNI 7391:2008 3.14 ruang pengawasan jalan (RUWASJA) ruang tertentu yang terletak di luar ruang milik jalan yang penggunaannya diawasi oleh penyelenggara jalan agar tidak mengganggu pandangan pengemudi. dalam satuan lux. 3. [Penjelasan Undang-Undang RI No.12 pandangan silhoute pandangan yang terjadi pada suatu kondisi dimana obyek yang gelap berada di latar belakang yang sangat terang (negative image).16 sistem penempatan parsial (setempat) sistem penempatan lampu penerangan jalan pada suatu daerah-daerah tertentu atau pada suatu panjang jarak tertentu sesuai dengan keperluannya. 3. 3.17 trotoar jalur lalu lintas untuk pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan sumbu jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan (untuk menjamin keselamatan pejalan kaki yang bersangkutan). 3. 38 Tahun 2004] 3. terganggunya fungsi jalan disebabkan oleh pemanfaatan ruang pengawasan jalan yang tidak sesuai peruntukannya. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 3 dari 41 . 3. 38 Tahun 2004] 3. “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.11 pandangan silau (glare) pandangan yang terjadi ketika suatu cahaya/sinar terang masuk di dalam area pandangan/ penglihatan pengendara yang dapat mengakibatkan ketidaknyamanan pandangan bahkan ketidakmampuan pandangan jika cahaya tersebut datang secara tiba-tiba. dan tidak mengganggu fungsi jalan. E) jumlah cahaya yang jatuh pada permukaan jalan.13 ruang milik jalan/right of way (RUMIJA/ROW) sejalur tanah tertentu di luar ruang manfaat jalan yang masih menjadi bagian dari ruang milik jalan yang dibatasi oleh batas ruang milik jalan yang dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan keluasaan keamanan penggunaan jalan antara lain untuk keperluan pelebaran ruang manfaat jalan pada masa yang akan datang. konstruksi bangunan jalan apabila ruang milik jalan tidak cukup luas.

e) Jalan-jalan dengan lebar median yang sempit. g) Tempat-tempat lain dimana lingkungan jalan banyak berinterferensi dengan jalannya. dll. b) Tipikal potongan melintang jalan. biaya operasi. seperti alinyemen horisontal. tempat parkir. 3) Meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. g) Rencana jangka panjang pengembangan jalan dan pengembangan daerah sekitarnya. interchange. agar perencanaan sistem lampu penerangan efektif dan ekonomis. baik kendaraan maupun lingkungan yang bersinggungan seperti pejalan kaki. dll. d) Tekstur perkerasan dan jenis perkerasan yang mempengaruhi pantulan cahaya lampu penerangan. c) Tempat yang luas seperti persimpangan. dll.SNI 7391:2008 4 Ketentuan . b) Tempat-tempat dimana kondisi lengkung horisontal (tikungan) tajam. 4) Mendukung keamanan lingkungan. f) Jembatan sempit/panjang. 5) Memberikan keindahan lingkungan jalan. pengayuh sepeda. dan lain-lain. 4. 2) Sebagai alat bantu navigasi pengguna jalan. data fotometrik lampu dan lokasi sumber listrik. c) Geometri jalan. alinyemen vertikal. e) Pemilihan jenis dan kualitas sumber cahaya/lampu.3 Jenis lampu penerangan jalan 1) Jenis lampu penerangan jalan ditinjau dari karakteristik dan penggunaannya secara umum dapat dilihat dalam Tabel 1. 4. f) Tingkat kebutuhan.ketentuan “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. biaya pemeliharaan. khususnya pada malam hari. jalan layang dan jalan bawah tanah (terowongan). terutama untuk pemasangan lampu di bagian median. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 4. 4 dari 41 .2 Dasar perencanaan penerangan jalan 1) Perencanaan penerangan jalan terkait dengan hal-hal berikut ini : a) Volume lalu-lintas.1 Fungsi penerangan jalan Penerangan jalan di kawasan perkotaan mempunyai fungsi antara lain : 1) Menghasilkan kekontrasan antara obyek dan permukaan jalan. 2) Beberapa tempat yang memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan penerangan jalan antara lain sebagai berikut : a) Lebar ruang milik jalan yang bervariasi dalam satu ruas jalan. situasi (lay-out) jalan dan persimpangan jalan. h) Data kecelakaan dan kerawanan di lokasi. d) Jalan-jalan berpohon.

Jenis lampu ini dianjurkan digunakan karena faktor efisiensinya yang sangat tinggi. terowongan. jenis lampu ini masih dapat digunakan secara terbatas. 180 Sangat buruk - - - - Lampu gas sodium tekanan tinggi (SON) 110 12.000 18 .000 150.40 Sedang - - 50 – 55 16. yang memiliki 2(dua) angka. umur sangat panjang. persimpangan. dan angka kedua menyatakan 5 dari 41 . 400 Buruk - - 2) Rumah lampu penerangan (lantern) dapat diklasifikasikan menurut tingkat perlindungan terhadap debu/benda dan air.000 90. Untuk jalan tol. kolektor. penyeberangan.200 8. persimpangan besar/luas dan interchange. 36 . lokal. efisiensi cukup tinggi tetapi berumur pendek. sehingga mudah pengontrolan cahayanya. tempat peristirahatan (rest area). 250. 250. jenis lampu ini masih dapat digunakan untuk hal-hal yang terbatas.20.000 125.000 10. umur panjang dan ukuran lampu kecil. angka pertama menyatakan indek perlindungan terhadap debu/benda. 700 Sedang - 100 .000 – 24. untuk jalan kolektor. ukuran lampu besar sehingga sulit untuk mengontrol cahayanya dan cahaya lampu sangat buruk karena warna kuning. Hal ini dapat diindikasikan dengan istilah IP (Index of Protection) atau indek perlindungan. arteri. umur cukup panjang. Lampu tabung fluorescent tekanan rendah Lampu gas merkuri tekanan tinggi (MBF/U) Lampu gas sodium bertekanan rendah (SOX) 60 – 70 8.SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. ukuran lampu kecil. efisiensi rendah. untuk jalan kolektor.000 – 10. lokal dan persimpangan. efisiensi tinggi. 400. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Tabel 1 Jenis lampu penerangan jalan secara umum menurut karakteristik dan penggunaannya Umur rencana rata-rata (jam) Jenis Lampu Efisiensi rata-rata (lumen/watt) Daya (watt) Pengaruh thd warna obyek - Keterangan untuk jalan kolektor dan lokal. efisiensi sangat tinggi.000 20. Jenis lampu ini sangat baik dan sangat dianjurkan untuk digunakan.

/Simbol Tingkat perlindungan (a) Tanpa perlindungan No. IP 25. IP 24. indek perlindungan (IP) yang sering dipakai untuk klasifikasi lampu penerangan adalah : IP 23. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” ANGKA PERTAMA (a) Perlindungan terhadap manusia/benda jika bersentuhan dengan komponen dalam rumah lampu (b) Perlindungan terhadap rumah lampu jika bersentuhan dengan benda No. -Perlindungan terhadap tetesan air : Tetesan air yang jatuh ke rumah lampu tidak menimbulkan efek bahaya ketika rumah lampu dimiringkan dengan membentuk sudut sampai 150 3 3 -Tahan hujan . IP 64. Ringkasan pengkodean IP mengikuti Tabel 2 (A Manual of Road Lighting in Developing Countries). IP 54. Tabel 2 Kode indek perlindungan IP (Index of Protection) ANGKA KEDUA (a) Perlindungan rumah lampu jika kontak atau bersentuhan dengan benda cair “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Semakin tinggi indek perlindungan (IP). tetapi tidak menimbulkan efek yang bahaya dan merusak. kawat atau sejenisnya yang tebalnya lebih dari 2. (b) Perlindungan terhadap masuknya benda padat. -Perlindungan pada air hujan dalam berbagai sudut s/d 600 . IP 55. berdiameter < 50 mm (a) Perlindungan terhadap sentuhan seukuran jari tangan. Sistem IP merupakan penggolongan yang lebih awal terhadap penggunaan peralatan yang tahan hujan dan sebagainya. semakin baik standar perlindungannya./Simbol Tingkat perlindungan 0 (b) Tanpa perlindungan (a) Perlindungan terhadap sentuhan yang tidak disengaja oleh bagian tubuh. 2 (b) Perlindungan terhadap masuknya benda. seperti tangan. yang berdiameter < 12 mm dan panjang < 80 mm. (a) Perlindungan tersentuh peralatan. IP 65. Pada umumnya.SNI 7391:2008 indek perlindungan terhadap air. 6 dari 41 . dan ditandai dengan lambang. 0 Tanpa perlindungan 1 1 Perlindungan terhadap tetesan air.5 mm (b) Perlindungan terhadap masuknya benda yang sangat kecil tapi padat 2 -Tahan tetesan Air . dan IP 66.

./Simbol Tingkat perlindungan 4 (b) Perlindungan terhadap masuknya benda asing (a) Perlindungan sempurna terhadap sentuhan. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” No.3 tetapi tebalnya lebih dari 1. Misalnya keran taman. -Tahan dan kedap air.SNI 7391:2008 Tabel 2 ANGKA PERTAMA (a) Perlindungan terhadap manusia/benda jika bersentuhan dengan komponen dalam rumah lampu (b) Perlindungan terhadap rumah lampu jika bersentuhan dengan benda No.Tingkat perlindungan dinyatakan dengan IP XX. 4 -Percikan air yang terkena dari arah manapun tidak akan menimbulkan efek bahaya 5 (b) Tahan debu: Perlindungan terhadap debu./Simbol Tingkat perlindungan (a) Seperti pada No. (a) Perlindungan sempurna terhadap sentuhan. tetapi debu masih dapat masuk walau tidak dalam jumlah banyak yang dapat mengganggu operasionalisasi.Perlindungan terhadap sentuhan atau tempat masuk air yang mana terlebih dahulu merubah X angka pertama atau kedua yanga ada pada tabel diatas.00 mm ( lanjutan ) ANGKA KEDUA (a) Perlindungan rumah lampu jika kontak atau bersentuhan dengan benda cair “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. -Air tidak mungkin masuk pada kondisi waktu dan tekanan yang tinggi/khusus. 5 -Tahan semburan air. 6 (b) Tahan debu:Perlindungan yang sempurna dan debu tidak dapat masuk ke rumah lampu 6 -Tahan derasan air. -Tahan terhadap semburan air yang keluar dari keran. -Tahan terhadap air deras misalnya gelombang air laut. -Air tidak mungkin masuk pada kondisi waktu dan tekanan yang tetap. 8 7 dari 41 . tetapi tanpa perlindungan spesifik terhadap tempat masuknya air atau cairan lainnya. Contohnya : IP 2X diartikan bahwa pagar memberi perlindungan terhadap sentuhan jari. -Tahan percikan air. -Tahan dan kedap air. 7 KETERANGAN : .

40 0.20 20 .40 0.40 0.0.Primer .40 0.40 VI 0.1.20 1.20 0.50 .0.14 .0. jalan bebas hambatan Jalan layang. terowongan Keterangan : g1 VD VI G TJ 4 20 2-5 2-5 0. karena dapat diukur langsung di permukaan jalan dengan menggunakan alat pengukur kuat cahaya.50 .20 15 . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Kuat pencahayaan (Iluminansi) Jenis/ klasifikasi jalan E ratarata (lux) 1-4 Kemerataan (Uniformity) g1 0.Primer .50 1.00 0.10 0.20 2.50 0.10 0.50 0.14 .40 0.20 1.Sekunder Jalan kolektor : .25 0.14 1.Sekunder Jalan arteri dengan akses kontrol.70 5-6 10 .50 0. Tabel 3 Kualitas pencahayaan normal Luminansi L rata-rata (cd/m2) Batasan silau “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.1 Pencahayaan pada ruas jalan Kualitas pencahayaan pada suatu jalan diukur berdasarkan metoda iluminansi atau luminansi.00 0.4.50 .50 0.4 Ketentuan pencahayaan dan penempatan 4.20 10 .40 0.10 0.0.00 1.0.70 5-6 5-6 10 .SNI 7391:2008 4.Primer .40 0.1 Kualitas pencahayaan 4.50 0.20 0. Meskipun demikian lebih mudah menggunakan metoda iluminansi.70 6 10 : : : : : E min/E maks L min/L maks L min/L rata-rata Silau (glare) Batas ambang kesilauan 8 dari 41 . Kualitas pencahayaan normal menurut jenis/klasifikasi fungsi jalan ditentukan seperti pada Tabel 3.50 4 4 20 20 3-7 3-7 0.10 Kemerataan (uniformity) VD 0.40 0. simpang susun.50 0.50 4-5 4-5 20 20 11 .70 0.50 G TJ (%) Trotoar Jalan lokal : .20 0.14 .4.20 11 .Sekunder Jalan arteri : .14 0.0.

1984).3 Pencahayaan pada rambu lalu-lintas Batasan kuat pencahayaan (iluminansi) dan luminansi pada rambu-rambu lalu-lintas yang dipasang berdekatan dengan lampu penerangan jalan atau papan reklame ditentukan pada Tabel 5 (AASHTO. yang bertujuan agar lebih menarik perhatian bagi pengguna jalan.48 48 . Tabel 4 Kuat pencahayaan pada daerah tempat parkir Kuat pencahayaan pada tempat parkir terbuka (lux) Tingkat kegiatan lingkungan di lokasi Rendah Sedang Tinggi Untuk tujuan Lalu-lintas kendaraan 5 11 22 Kuat pencahayaan pada tempat parkir tertutup (lux) Daerah Daerah tempat parkir dan pejalan kaki Kegiatan sedang/tinggi Siang hari 54 110 Malam hari 54 54 Keselamatan pejalan kaki 2 6 10 4.96 96 .4.1.1.4.SNI 7391:2008 4. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Kuat pencahayaan pada daerah tempat parkir ditentukan seperti pada Tabel 4.192 Daerah sekitar penempatan rambu Rendah Sedang Tinggi 9 dari 41 .2 Pencahayaan pada tempat parkir “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Tabel 5 Batasan kuat pencahayaan untuk rambu lalu-lintas Iluminansi (Lux) 108 – 216 216 – 432 432 – 864 Luminansi (cd/m2) 24 .

Adapun kriteria penerangan terowongan adalah seperti yang ditentukan pada Tabel 6. .4. Tabel 7 Rasio kemerataan pencahayaan Rasio maksimum 6:1 3:1 10 : 1 4:1 4:1 6:1 Lokasi penempatan Jalur lalu lintas : .Memberikan pantulan yang cukup dan warna yang kontras pada permukaan terowongan. 2) Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencahayaan terowongan : .2 Rasio kemerataan pencahayaan (uniformity ratio) Rasio maksimum antara kemerataan pencahayaan maksimum dan minimum menurut lokasi penempatan tertentu adalah seperti yang ditentukan pada Tabel 7.SNI 7391:2008 4.4 Pencahayaan pada terowongan 1) Kuat pencahayaan pada terowongan harus cukup dan memberi kenyamanan baik untuk penglihatan siang maupun malam hari.Memberikan adaptasi pencahayaan yang baik.4. Tabel 6 Jenis/klasifikasi Jalan Komersil Jalan arteri dengan kontrol/ jalan bebas hambatan Jalan arteri Jalan kolektor Jalan local Jalan kecil/lorong/gang 22 15 13 10 6 Menengah 15 13 10 6 4 Permukiman 11 11 6 4 4 Batasan kuat pencahayaan pada terowongan Daerah penempatan (Lux) “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. . . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 4.Memberikan pencahayaan yang jelas rambu-rambu lalu-lintas.1.di daerah komersil/pusat kota Jalur pejalan kaki : .di daerah permukiman .di daerah komersil/pusat kota Terowongan Tempat-tempat peristirahatan (rest area) 10 dari 41 .di daerah permukiman .Tingkat kesilauan seminimal mungkin.

4 Penempatan lampu penerangan 1) Penempatan lampu penerangan jalan harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan : a) Kemerataan pencahayaan yang sesuai dengan ketentuan Tabel 6 dan 7. 2) Umur rencana. dibanding pada bagian jalan yang lurus.Persimpangan.SNI 7391:2008 4. Tabel 8 Sistem penempatan lampu penerangan jalan Sistem penempatan lampu yang digunakan sistem menerus dan parsial.Terowongan 11 dari 41 . sistem menerus.4. ramp . “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. sistem menerus dan parsial. d) Arah dan petunjuk (guide) yang jelas bagi pengguna jalan dan pejalan kaki. sistem menerus dan parsial. 3) Kekontrasan permukaan jalan dan obyek. sehingga efek kesilauan dan ketidaknyamanan penglihatan dapat dikurangi.Jalan kolektor .Jembatan . c) Pencahayaan yang lebih tinggi di area tikungan atau persimpangan. simpang susun. sistem menerus. lampu penerangan jalan harus memberikan adaptasi yang baik bagi penglihatan pengendara.3 Pemilihan jenis dan kualitas lampu penerangan Pemilihan jenis dan kualitas lampu penerangan jalan didasarkan pada : 1) Nilai efisiensi (Tabel 1).Jalan arteri . 4.4. sistem menerus bergradasi pada ujung-ujung terowongan. 3) Pada sistem penempatan parsial. 2) Sistem penempatan lampu penerangan jalan yang disarankan seperti pada Tabel 8. b) Keselamatan dan keamanan bagi pengguna jalan. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Jenis jalan / jembatan .Jalan lokal .

lebar jalan dan tingkat kemerataan pencahayaan dari lampu yang akan digunakan. tinggi lampu. yaitu jenis lampu gas merkuri atau sodium bertekanan tinggi. sedangkan tipe B mempunyai sorotan cahaya lebih ringan/kecil. Dalam tabel tersebut dipisahkan antara dua tipe rumah lampu. 12 dari 41 . Jarak antar lampu penerangan secara umum dapat mengikuti batasan seperti pada Tabel 9 (A Manual of Road Lighting in Developing Countries). “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. tipe ini adalah jenis lampu gas sodium bertekanan rendah. termasuk median jika ada jarak interval antar tiang lampu proyeksi kerucut cahaya lampu jarak tiang lampu ke tepi kereb jarak dari tepi kereb ke titik penyinaran terjauh sudut inklinasi pencahayaan Gambar 1 Penempatan lampu penerangan 5) Batasan penempatan lampu penerangan jalan tergantung dari tipe lampu. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” I H2 E L S1 Keterangan : H L E S1 + S2 S1 S2 I = = = = = = = tinggi tiang lampu lebar badan jalan.SNI 7391:2008 4) Perencanaan dan penempatan lampu penerangan jalan dapat dilihat pada Gambar 1. Rumah lampu (lantern) tipe A mempunyai penyebaran sorotan cahaya/sinar lebih luas. terutama yang langsung ke jalan.

.0 LUX 100W SON 150W SON atau 250W MBF/U 100W SON 250W SON atau 400W MBF/U 250W SON atau 400W MBF/U 10 LUX 20 LUX 30 LUX 400W SON Keterangan : . Rumah lampu tipe B Jenis lampu 50W SON atau 80W MBF/U 70W SON atau 125WMBF/U 70W SON atau 125WMBF/U Tinggi lampu (m) 4 5 6 6 6 8 6 10 10 12 Lebar jalan ( m ) 4 31 33 48 34 48 5 30 32 47 33 47 6 29 32 46 32 45 48 28 36 7 28 31 44 31 42 47 26 35 8 26 30 43 30 40 45 23 55 33 39 9 29 41 28 38 43 53 32 38 10 28 39 26 36 41 50 30 37 11 27 37 24 34 39 47 28 36 Tingkat pencahayaan 3.Rumah lampu (lantern) tipe B mempunyai penyebaran sorotan cahaya lebih ringan/ kecil.Jarak antar tiang lampu dalam meter.0 LUX 20.5 LUX Tingkat pencahayaan “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.0 LUX 3.SNI 7391:2008 Tabel 9 Jarak antar tiang lampu penerangan (e) berdasarkan tipikal distribusi pencahayaan dan klasifikasi lampu 1. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 2.0 LUX 10.0 LUX 6. Rumah lampu tipe A Jenis lampu Tinggi lampu (m) 4 35W SOX 55W SOX 90W SOX 90W SOX 135W SOX 135W SOX 180W SOX 180W SOX 5 6 6 8 8 10 10 10 10 Lebar jalan ( m ) 4 32 35 42 42 60 36 46 5 32 35 40 40 60 35 45 6 32 35 38 38 58 35 45 25 37 7 35 36 36 55 33 44 24 36 8 35 33 33 52 31 43 23 35 22 9 34 31 32 50 30 41 22 33 21 10 32 30 30 48 29 40 21 32 20 11 29 28 46 28 39 20 31 20 30.5 LUX 6.Rumah lampu (lantern) tipe A mempunyai penyebaran sorotan cahaya/sinar lebih luas. terutama yang langsung ke jalan. 13 dari 41 . .

apabila kereta api pada perlintasan tersebut beroperasi pada malam hari. Di daerah-daerah atau kondisi dimana median sangat lebar (> 10 meter) atau pada jalan dimana jumlah lajur sangat banyak (> 4 lajur setiap arah) perlu dipertimbangkan dengan pemilihan penempatan lampu penerangan jalan kombinasi dari cara-cara tersebut di atas dan pada kondisi seperti ini. .katenasi (di bagian tengah jalan dg sistem digantung) .di bagian tengah / separator jalan.di kiri atau kanan jalan. . 2) Persyaratan kuat pencahayaan yang ditetapkan pada suatu area perlintasan KA seperti pada Gambar 2.kombinasi antara di kiri dan kanan berhadapan dengan di bagian tengah / median jalan. pemilihan penempatan lampu penerangan jalan direncanakan sendiri-sendiri untuk setiap arah lalu-lintas.di kiri dan kanan jalan berselang-seling.dapat dilakukan dengan menggunakan lampu menara dengan beberapa lampu.4. umumnya ditempatkan di pulau-pulau. diluar daerah persimpangan (dalam RUMIJA ataupun dalam RUWASJA) “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.di kiri dan kanan jalan berhadapan. > 30 m > 30 m Jarak tergantung pada jumlah KA yang melintas Gambar 2 Area perlintasan jalan kereta api yang perlu penerangan 14 dari 41 . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Jalan dua arah Persimpangan 4.SNI 7391:2008 4. .6 Penataan letak lampu pada perlintasan kereta api 1) Penataan lampu penerangan jalan pada perlintasan kereta api (KA). .5 Penataan letak lampu penerangan jalan Penataan/pengaturan letak lampu penerangan jalan diatur seperti pada Tabel 10 dan diilustrasikan pada Lampiran A. . . di median jalan. Tabel 10 Tempat Jalan satu arah Penataan letak lampu penerangan jalan Penataan / pengaturan letak .di bagian tengah / median jalan.4.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 1/3 D 1/3 D 1/3 D > 30 m D Gambar 3 Penataan dengan 6 lampu 4) Penataan alternatif dengan 6 lampu 9/17D 8/17D > 30 m D Gambar 4 Penataan alternatif dengan 6 lampu 15 dari 41 .SNI 7391:2008 3) Penataan dengan 6 lampu “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 5) Penataan dengan 4 lampu ½D ½D 1/4 D > 30 m D Gambar 5 Penataan dengan 4 lampu 6) Penataan alternatif dengan 4 lampu ½D > 30 m D Gambar 6 Penataan alternatif dengan 4 lampu 16 dari 41 .SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

26 D 80º Keterangan :H D H – 0.36 D 75º H – 0. sehingga perlu adanya pemangkasan pohon dengan batasan seperti pada Gambar 8 dan Tabel 11.17 D = tinggi tiang lampu (mounting height) dalam meter = jarak tiang lampu ke proyeksi jarak terendah tanaman dengan tanah 17 dari 41 . Tabel 11 Tinggi pemangkasan pohon terhadap sudut di bawah cahaya lampu Garis pemangkasan pada sudut α di bawah cahaya lampu Tinggi pemangkasan pohon (h) 70º H – 0.7 Penataan lampu penerangan terhadap tanaman jalan Dalam penempatan lampu penerangan jalan harus dipertimbangkan terhadap tanaman jalan akan ditanam maupun yang telah ada.SNI 7391:2008 7) Penataan dengan 2 lampu “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” D ½D Gambar 7 Penataan dengan 2 lampu 4.4.

SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Garis penerangan Pohon Lampu Jalan Garis penerangan H Garis pangkasan D h Gambar 8 Penempatan lampu penerangan terhadap tanaman jalan 18 dari 41 .

1 Pemasangan tanpa tiang Pemasangan rumah lampu tanpa tiang adalah lampu yang diletakkan pada dinding ataupun langit-langit suatu konstruksi.SNI 7391:2008 4.5 Pemasangan rumah lampu penerangan “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. seperti di bawah konstruksi jembatan. LAMPU 400 mm 785 mm 145 mm LAMPU 125 mm Gambar 9 Bentuk dan konstruksi lampu tanpa tiang 19 dari 41 . di bawah konstruksi jalan layang atau di dinding maupun langit-langit terowongan.5. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 4. dll.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.SNI 7391:2008 Pemasangan dengan tiang 1) Tiang lampu dengan lengan tunggal. Tiang lampu ini pada umumnya diletakkan pada sisi kiri atau kanan jalan. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” muka tanah muka tanah Tiang A Tiang B Gambar 10 Tipikal tiang lampu lengan tunggal 20 dari 41 . Tipikal bentuk dan struktur tiang lampu dengan lengan tunggal seperti diilustrasikan pada Gambar 10.

SNI 7391:2008 2) Tiang lampu dengan lengan ganda Tiang lampu ini khusus diletakkan di bagian tengah/median jalan. Tipikal bentuk dan struktur tiang lampu dengan lengan ganda seperti diilustrasikan pada Gambar 11. “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. dengan catatan jika kondisi jalan yang akan diterangi masih mampu dilayani oleh satu tiang. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” muka tanah muka tanah Tiang C Tiang D Gambar 11 Tipikal tiang lampu lengan ganda 21 dari 41 .

sehingga sistem penggantian/perbaikan lampu dilakukan di bawah dengan menurunkan dan menaikkan kembali lampu tersebut menggunakan suspension cable. tempat parkir. dll. Jenis tiang lampu ini sangat tinggi. yang pada umumnya ditempatkan di persimpangan-persimpangan jalan ataupun tempat-tempat yang luas seperti interchange. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” POLE HEAD FRAME TOP POLE D =280 mm LAMP BOX BALLAST HEAD FRAME A A LAMP RING POT A .A 30 000 mm CATCH SLEAVES SHEAVES SUSPENSION CABLE FLANGED SLIP FITTER RING GUIDE LATCHING HOOK FLOOD RING GUIDES FLOODLIGHT SUPPORT RING DETAIL BAGIAN ATAS POLE Gambar 12 Tipikal lampu tegak tanpa lengan 22 dari 41 . “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.SNI 7391:2008 3) Tiang lampu tegak tanpa lengan Tiang lampu ini terutama diperlukan untuk menopang lampu menara.

6 Simbol perencanaan penerangan jalan Simbol-simbol. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 2 Lampu lengan ganda 3 Lampu menara dengan 5 buah lampu 4 Lampu menara dengan 6 buah lampu 5 Lampu tanpa tiang (lampu di bawah jembatan/jalan layang/langit-langit terowongan) 6 EXISTING Lampu dimana yang satu merupakan lampu baru sedangkan yang lain merupakan lampu yang sudah ada/lama (existing) Lampu dimana pondasi tiangnya ditempatkan pada dinding penahan (retaining wall) atau bangunan pelengkap jalan lainnya Panel lampu R 7 8 23 dari 41 . istilah dan tanda yang digunakan untuk dalam perencanaan lampu penerangan jalan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 12. Tabel 12 No 1 Simbol-simbol dalam perencanaan penerangan jalan Simbol Keterangan Lampu lengan tunggal “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.SNI 7391:2008 4. gambar.

SNI 7391:2008 Lampiran A “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.2 Contoh rumah lampu sodium 24 dari 41 .1 Contoh rumah lampu merkuri Gambar A. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” (Informatif) Bentuk dan struktur rumah lampu penerangan jalan Gambar A.

1 Tipikal lampu penerangan pada jalan satu arah 25 dari 41 . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” DI KIRI / KANAN JALAN DI KIRI & KANAN BERSELANGSELING DI KIRI & KANAN BERHADAPAN DI BAGIAN TENGAH JALAN Gambar B.SNI 7391:2008 Lampiran B (Informatif) Tipikal lampu penerangan jalan berdasarkan pemilihan letak “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.2 Tipikal lampu penerangan pada jalan dua arah 26 dari 41 . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Keterangan : (a) : Di kiri/kanan jalan (b) : Di kiri & kanan berselang-seling (c) : Di kiri & kanan berhadapan (d) (e) (f) : Di tengah median jalan : Kombinasi : Katenasi Gambar B.

1 3.1 Contoh tipikal dan dimensi tiang lampu lengan tunggal 27 dari 41 .0 Alternatif II (m) 5.1 2. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 2800 2800 75 Ø d 65 Ø 80 Ø 100 Ø d H c 125 Ø b 150 Ø a c 100 Ø b 125 Ø a H muka tanah muka tanah Tiang A Tiang B Dimensi panjang tiang lampu Diameter Segmen Tiang A (mm) Tiang B I (m) 3.1 3.3 13.5 2.0 III (m) 5.1 3.3 11.1 2.5 3.0 a 150 125 b 125 100 c 100 80 d 75 65 H Total H = Tinggi tiang lampu Gambar C.5 2.SNI 7391:2008 Lampiran C (Informatif) Contoh bentuk dan dimensi lampu penerangan jalan “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.3 15.1 3.

5 2.0 Alternatif II (m) 5.SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.3 15.5 2.5 3.0 III (m) 5.5 Ø 2800 89 Ø 65 Ø 80 Ø d d 100 Ø c 100 Ø b 125 Ø a H H c 125 Ø b 150 Ø a muka tanah muka tanah Tiang C Tiang D Dimensi panjang tiang lampu Diameter Segmen Tiang C (mm) Tiang D 150 125 100 89 I (m) 3.1 3.1 2.0 a 125 b 100 c 80 d 65 H Total H = Tinggi tiang lampu Gambar C.1 3. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 2800 2800 60.2 Contoh tipikal dan dimensi tiang lampu lengan ganda 28 dari 41 .3 11.3 13.1 2.1 3.1 3.

7 0 5e 0 5e .2 Lampu ditempatkan pada jalan membelok dengan radius ≥ 305 m 29 dari 41 .SNI 7391:2008 Lampiran D (Informatif) Penempatan lampu penerangan jalan pada kondisi khusus 1) Pada tikungan/lengkung horisontal “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.7 0 5e 0 5e .7 0 5e .7 0 5e .7 0 5e .9 AA J R K= e 0 5e . Gambar D.9 e L MU AP 0 5e . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” G A R I S S IN G G U N G Keterangan : B E N T U K /P O L A KUAT PENERANGAN LA M PU Lampu yang diarahkan terhadap tempat yang didasarkan pada permukaan tegak lurus terhadap radius lengkungan Gambar D.7 0 5e 0 0e . e = jarak normal pada daerah lurus.7 . 2.7 . Jarak antar tiang pada tikungan diukur pada jarah lurus.7 0 5e .7 0 5e .7 Keterangan : 1.1 Bentuk/pola kuat pencahayaan 0 5e .7 0 5e .7 JLN AA .7 0 5e .7 0 0e .

3 Lampu pada radius < 305m di lengkung luar Gambar D.4 Lampu pada radius < 305 m di lengkung dalam 30 dari 41 .SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Gambar D.

1 Penataan lampu penerangan pada persimpangan sebidang 31 dari 41 . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” LAMPU LENGAN TUNGGAL LAMPU MENARA Gambar E.SNI 7391:2008 Lampiran E (Informatif) Contoh penataan lampu penerangan pada persimpangan “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.2 Penataan lampu penerangan pada persimpangan tidak sebidang 32 dari 41 . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” LAMPU DI BAWAH JEMBATAN/TEROWONGAN LAMPU LENGAN GANDA LAMPU LENGAN TUNGGAL LAMPU MENARA Gambar E.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” LAMPU DI BAWAH JEMBATAN LAMPU LENGAN GANDA LAMPU LENGAN TUNGGAL Gambar E.SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.3 Penataan lampu pada simpang susun (semanggi) 33 dari 41 .

4 Penempatan lampu pada terowongan 34 dari 41 7.SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.86 EXISTING BOX DETAIL B POTONGAN A-A Keterangan : Seluruh satuan ukuran dalam (m) Gambar E. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” 15.50 .

SNI 7391:2008 Lampiran F (Informatif) Pemasangan lampu penerangan terhadap gangguan daun “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Gambar F.1 Tinggi pemasangan lampu terhadap gangguan daun Gambar F.2 Jarak lampu dari dedaunan 35 dari 41 .

B Gambar G. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” tiang pondasi A dasar pelat baut angker permukaan tanah pelat dasar A pelat pengaku beton 100 kabel NYFGBY 400 600 100 PVC POTONGAN A .1 Contoh tipikal pondasi lampu penerangan standar 36 dari 41 .A tulangan tulangan beton elektroda ke bumi tulangan B B tulangan lantai kerja 200 200 Keterangan : seluruh satuan ukuran dalam (mm) POTONGAN B .SNI 7391:2008 Lampiran G (Informatif) Contoh konstruksi dan detail pondasi tiang “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 7391:2008 Keterangan : seluruh satuan ukuran dalam (mm) Contoh tipikal pondasi lampu penerangan menara Gambar G.2 37 dari 41 .

1 Contoh tipikal panel lampu penerangan jalan 38 dari 41 . Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Keterangan : seluruh satuan ukuran dalam (mm) Gambar H.SNI 7391:2008 Lampiran H (Informatif) Contoh konstruksi dan detail panel lampu “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Keterangan : seluruh satuan ukuran dalam (mm) Gambar H.2 Contoh tipikal pondasi panel lampu penerangan jalan 39 dari 41 .SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Keterangan : seluruh satuan ukuran dalam (mm) Gambar H.SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.3 Contoh tipikal panel lampu penerangan untuk ramp dan jembatan 40 dari 41 .

Pedoman Teknis No. AASHTO. PT. 41 dari 41 . Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan. Standar No. DFID and Transport Developments. AASHTO. PT. Tata Cara Perencanaan Geometrik Persimpangan Sebidang . 12/S/BNKT/1991. Manuals and Guidelines on Road Engineering Development . A Manual of Road Lighting in Developing Countries. Tahun 2001. Gambar Perencanaan Penerangan Jalan Umum.SNI 7391:2008 “Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Pt–02–2002–B. A Policy on Geometric Design of Highways and Streets. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” Bibliografi A Informational Guide for Roadway Lighling. Spesifikasi Lampu Penerangan Jalan Perkotaan. No.031/T/BM/1999 / SK.No. Transport Links. Gambar Perencanaan Jalan Umum. Direktorat Jenderal Bina Marga. Jasa Marga (Persero). Tahun 1984.76/KPTS/Db/1999.

Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” .“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional.

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” .

BSN Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt.or. Faks: 021. Senayan Jakarta 10270 Telp: 021.id . 3-4 Jl. Gatot Subroto. e-mail : bsn@bsn.“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional. Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan” BADAN STANDARDISASI NASIONAL .574 7043. Jend.5747045.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful