P. 1
Apa itu Kebudayaan Nasional Indonesia

Apa itu Kebudayaan Nasional Indonesia

|Views: 676|Likes:
Published by ryano tagung
menghadapi progresif budaya asing maka sebaga anak bangs penjelajah jagat raya yang kaya akan buday maka kita harus sadar bahwa kebudayaan nasional merupakan harta yang berharga yang patutu dihargai dan junjung itnggi. mencinati budaya nasional Indonesia tanpa bersikap regresif dan menerima budaya asing tanpa mendiskreditkan budaya nasional Inodnesia
menghadapi progresif budaya asing maka sebaga anak bangs penjelajah jagat raya yang kaya akan buday maka kita harus sadar bahwa kebudayaan nasional merupakan harta yang berharga yang patutu dihargai dan junjung itnggi. mencinati budaya nasional Indonesia tanpa bersikap regresif dan menerima budaya asing tanpa mendiskreditkan budaya nasional Inodnesia

More info:

Published by: ryano tagung on Oct 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2012

pdf

text

original

1.

Pendahuluan Berbicara mengenai kebudayaan nasional Indonesia pada masa kini dan meletakkannya pada ranah diskusi bukanlah sesuatu yang baru sama sakali. Pembicaraan ini telah menjadi sebuah diskusi yang hangat, panjang dan tak kunjung henti bahkan tak pernah habis karena kebudayaan itu bersifat dinamis. Dinamisitasnya terletak bahwa kebudayaan itu selalu berkembang dan menuntut setiap orang yang bergelut di dalamnya untuk semakin berpikir dan bertindak kritis terhadap aneka perkembangan yang terjadi. Maka, tak mengherankan jika konsep mengenai kebudayaan nasional Indonesia telah menjadi polemik yang selalu didiskusikan dan dibicarakan oleh para budayawan atau siapa saja yang berkecimpung dan memiliki keprihatian terhadap kebudayaan Indonesia sejak lama. Akan tetapi, de facto, konsep mengenai kebudayaan nasional Indonesia perlahan-lahan tergerus dan tersingkir dari pusat pembicaraan dan perhatian kita sebagai bangsa Indonesia, kita telah ³kehilangan´ makna dan arti dari kebudayaan nasional Indonesia itu sendiri. 1 Sehingga, ketika ada beberapa unsur kebudayaan kita yang diklaim oleh negara lain sebagai miliknya barulah mata kita terbuka dan menyadari ada unsur kebudayaan kita yang hilang. Misalnya ³Reog Ponorogo´ yang berasal dari Jawa Timur oleh Malaysia, lagu ³rasa sayang-sayange´ dari Maluku oleh pemerintah Malaysia, dan lain sebagainya.2 Di samping itu, kebudayaan nasional Indonesia yang pada intinya merupakan hasil kreasi anak bangsa seolah-olah telah berubah rupa menjadi kebudayaan barat. Di mana orientasi kita sebagai bangsa Indonesia telah beralih pada hal-hal materialistik, intelektualistik dan individualistik. Kita melupakan akar kebudayaan kita yang lebih mementingkan kerohanian, perasaan dan gotong royong. Hal ini tidak berarti bahwa kita membentengi diri untuk tidak menerima kebudayaan barat tetapi sejauh mana keterbukaan kita terhadap kebudayaan barat tidak menggerus nilai dan makna kebudayaan nasional Indonesia bahkan lebih ekstrimnya jika kebudayaan nasional Indonesia menjadi kebudayaan yang kebarat-baratan (indo). Unsur-unsur

Mengenai hal ini dapat dilihat lebih jauh pada http://pusakacita.wordpress.com/2008/02/19/kebudayaan-kitasemakin-tergusur/ yang diakses pada tanggal 21 Oktober 2010. Artikel yang sejajar dengan pandangan ini dapat dilihat pada http://celebrity.okezone.com/read/2010/08/30/33/368011/yovie-prihatin-dengan-kondisi-budayanasional yang memuat tanggapan seorang artis mengenai keprihatinan terhadap kebudayaan nasional; http://rimanews.com/node/3031 yang memuat mengenai Quo Vadis Kebudayaan Indonesia? oleh Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. 2 Data selengkapanya dapat dilihat pada http://budaya-indonesia.org/iaci/Data_Klaim_Negara_Lain_Atas_Budaya_Indonesia yang diakses pada tanggal 21 Oktober 2010.

1

1

esensial sebagai pembentuk kebudayaan nasional Indonesia mulai didominasi oleh unsur-unsur asing yang secara perlahan masuk dan diadopsi yang berakibat pada universalisasi unsur-unsur budaya bangsa Indonesia dan direduksinya makna budaya sebagai identitas nasional. 3 Bertitik tolak dari diskusi dan berbagai problem yang tak kunjung habisnya, penulis merasa terpanggil untuk melihat kembali serta mempertanyakan arti dan makna kebudayaan nasional Indonesia. Penulis meyakini bahwa absurditas pemahaman akan kebudayaan Nasional Indonesialah yang mengakibatkan kita membiarkan negara lain mencuri kekayaan kebudayaan kita. Kita dibutakan oleh gemerlapnya panorama budaya asing sehingga kita tak segan-segan mendekonstruksi kebudayaan kita. Kita mengalami amnesia budaya di mana kita lupa bahwa kebudayaan adalah kekuatan yang menyatukan seluruh bangsa dengan mempertahankan eksistensinya terhadap ancaman baik dari dalam maupun dari luar.4 Lalu, kita dapat bertanya apa sesungguhnya kebudayaan nasional Indonesia itu? Sejauh mana kebudayaan nasional berbicara kepada kita sebagai bangsa Indonesia5 dalam mencintai dan melestarikan kebudayan nasional Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan coba penulis jawab dalam paper ini di bawah tema ³Apa Itu Kebudayaan Nasional Indonesia? (Sebuah Pertanyaan Reflektif-Filosofis Dalam Usaha Merekonstruksi Pemahaman Mengenai Kebudayaan Nasional Indonesia)´.

2. Kebudayaan Nasional Indonesia 2.1. Term ³Kebudayaan´ Setelah kita melihat beberapa problem klasik yang telah dipaparkan di atas, maka sebelum kita bertolak lebih dalam, guna merekonstruksi pemahaman mengenai kebudayaan nasional Indonesia kita terlebih dahulu harus bertitik tolak dari pengertian kebudayaan itu sendiri. Akan tetapi, perlu disadari bahwa konsep mengenai apa itu kebudayaan telah begitu banyak didikonsepkan oleh para pemerhati budaya. 6 Oleh karena itu, term kebudayaan ini akan diletakkan dan dianalisis dengan menggunakan model gunung es atau diistilahkan dengan

3

Bdk. Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Jakarta: LP3S, 1987, hlm. 163; Soerjanto Poespowardojo, Strategi Kebudayaan²Suatu Pendekatan Filosofis, Gramedia: Jakarta, 1989, hlm. 244. 4 Soerjanto Poespowardojo, Strategi Kebudayaan²Suatu Pendekatan Filosofis, Gramedia: Jakarta, 1989, hlm. 236. 5 Penulis memberi tekanan pada bangsa Indonesia dalam pembahasan ini karena penulis mau membawa pembahasan ini pada konteks kebudayaan nasional Indonesia sebagai sebuah identitas bangsa dan bukan pada suatu identitas politik (negara Indonesia). 6 Bdk. Koentjaraningrat, Persepsi Tentang Kebudayaan Nasional dalam Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan, Gramedia: Jakarta, 1985, hlm. 99.

2

iceberg model of culture

7

karena sesuai dengan konteks pembahasan paper ini yakni

merekonstruksi pemahaman mengenai kebudayaan nasional Indonesia. Dalam iceberg model of culture, sangat jelas digambarkan bahwa apa yang tampak sebagai kebudayaan sesungguhnya adalah sebuah penampakkan dari apa yang tidak tampak. Maksudnya, apa yang muncul ke permukaan dan menjadi puncak dari kebudayaan yakni way of life (jalan hidup), laws and customs (hukum dan adat istiadat), institutions (intitusi-institusi), rituals (ritual) dan language (bahasa) merupakan hasil dari interaksi unsur-unsur lain dari kebudayaan yang berada jauh di bawah dasar. Apa yang tampak ini diistilahkan dengan doing. Doing inilah yang menampakkan dua unsur lain dari model ini yakni thinking yang mencakup norms (normanorma), roles (peran-peran yang dimiliki), time orientation (kesadaran akan waktu), beliefs (kepercayaan) dan philosophies (filsafat) dan feeling yang mencakup values (nilai-nilai), expectations (harapan-harapan), assumptions (asumsi-asumsi) dan attitudes (sikap, pendirian).8 Setiap unsur ini bukanlah sesuatu yang statis tetapi dinamis di mana adanya interaksi dari setiap unsur yang memiliki kesatuan dan integritas. Berikut ini kutipan yang menjelaskan interaksi tersebut: ³When we interact with someone from another culture, we only hear their words and see their behavior. It is like seeing only the tip of the iceberg. There is much more below the surface that we may not even be aware of. A person's cultural values and attitudes affect what he/she says and what does. Those values and attitudes are affected by things like the history, religion and geography of his/her culture and country. If you want to communicate more effectively with people from other cultures, you need to look below the surface at the base of the iceberg.9 Dari iceberg model of culture ini, cakrawala berpikir kita tentang kebudayaan semakin diperluas bahwa kebudayaan itu pertama-tama bukanlah sekadar obyek yang dapat dilihat seperti ³ala-alat´ yang diciptakan manusia untuk mencapai tujuan yang dikehendaki yang bersifat kumulatif melainkan segala komponen yang merupakan ³sebuah cetusan dari akal budi
Model ini menjadi salah satu bahan dalam kuliah mimbar Filsafat Kebudayaan oleh Rm. Robertus Wijanarko, CM semester 5 tahun 2010. Bdk. http://interlink.mines.edu/LESSONS/TEACHERS/CURRICUL/LYNN/IB4.HTM?CMSPAGE=Outreach/interlink/L ESSONS/TEACHERS/CURRICUL/LYNN/IB4.HTM yang juga membahas mengenai budaya dengan menggunakan metode gunung es kendati ada perbedaan dalam istilah tetapi pada dasaranya model ini mau menjelaskan mengenai apa yang tampak sebagai kebudayaan merupakan wujud dari apa yang tidak tampak yang menjadi dasar atau fundamen sehingga terjadi interaksi tiap lapisan budaya tersebut. 8 Bdk. M. Sastrapratedjo,S.J., ³Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa´, Jurnal filsafat, Fakultas Filsafat Ilmu Universitas Gadjah Mada, 26 Desember, 1996, hlm. 24. 9 http://interlink.mines.edu/LESSONS/TEACHERS/CURRICUL/LYNN/IB4.HTM?CMSPAGE=Outreach/interlink/ LESSONS/TEACHERS/CURRICUL/LYNN/IB4.HTM diakses pada tanggal 25 Oktober 2010.
7

3

masyarakat´. 10 Bahkan lebih dari itu, unsur kebudayaan yang sulit ditembusi (dalam zona thinking dan feeling) merupakan unsur pembentuk kebudayaan dan menjadi dasar dan inti dari kebudayaan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah hasil interaksi dari feeling, thinking dan doing yang menghasilkan bentuk-bentuk budaya yang dapat dilihat, dipandang dan dinikmati serta bernilai dan bermakna sehingga menjadi sesuatu yang patut dibanggakan dan dijadikan identitas suatu bangsa tertentu. 2.2 Merekonstruksi Konsep Kebudayaan Nasional Indonesia11 Di atas telah dikatakan bahwa kebudayaan adalah hasil interaksi antara feeling, thinking dan doing. Maka, dalam merekonstruksi kebudayaan nasional Indonesia kita perlu membedakan pemahaman antara kebudayaan di Indonesia dengan kebudayaan nasional Indonesia.12 Kita juga harus menyadari bahwa kebudayaan sebagai suatu hasil interaksi nilai-nilai vital dan bermutu yang menghantar kebudayaan nasional Indonesia untuk tidak dipahami sebagai sesuatu yang turun begitu saja dari langit yang langsung mengambil nama kebudayaan nasional Indonesia melainkan sebagai hasil kreasi anak bangsa yang bertumbuh dan berkembang dengan berpijak pada identitas bangsa Indonesia yang mendasari, mendukung dan mengisi masyarakat dengan nilai-nilai hidup untuk dapat bertahan dan membuat kehidupan seluruhnya menjadi lebih baik, lebih manusiawi dan berperikemanusiaan.13 Akan tetapi, kebudayaan nasional Indonesia yang merupakan cetusan yang bernilai dan bermakna dari kebudayaan daerah yang menguatkan dan menyatukan bangsa Indonesia semakin jauh dari nilai dan cita-cita bangsa Indonesia. Di berbagai kalangan, unsur-unsur dan nilai-nilai budaya bangsa kita bukan hanya terancam melainkan telah dipengaruhi oleh pengembangan unsur asing. Peresapan dan pengapdosian ini secara perlahan tapi pasti menghancurkan makna kebudayaan nasional Indonesia, gambaran dan makna akan kebudayaan nasional Indonesia

10

Prof. Dr. Armada Riyanto, CM, Relativisme, Pluralisme dan Pergulatan Budaya, dalam Rafael Isharianto (penyunting), Pergumulan Iman Kristiani di Tengah Pasar Budaya, Malang: Pusat Publikasi Filsafat Teologi Widya Sasana, 2010, hlm.37. 11 Merekonstruksi berarti menyusun kembali setiap kepingan dari makna kebudayan nasional Indonesia yang telah mengalami kehancuran akibat unsur-unsur asing yang diterima dan diadopsi begitu saja tanpa adanya filtrasi. 12 Kebudayaan di Indonesia berarti kebudayaan yang ada di Indonesia yang terdiri dari kebudayaan asli dan kebudayan asing; sedangkan kebudayaan nasional Indonesia adalah kebudayaan yang lahir dan berasal dari masyarakat Indonesia itu sendiri tanpa ada campur tangan dari pihak luar/unsur asing manapun. 13 Soerjanto Poespowardojo, Op. cit., hlm 235.

4

semakin tidak jelas sehingga berkembangnya dualisme kepribadian nasional Indonesia²pribadi nasional Indonesia yang asli, yang menjunjung tinggi kebudayaan nasional Indonesia sembari membuka diri terhadap budaya asing tanpa harus terbawa arus, dan pribadi indo nasional Indonesia di mana kita menerima budaya asing dan meleburkannya dengan kebudayaan kita. Menrekonstruksi. Demikianlah kata kerja yang digandeng dengan frase kebudayaan nasional Indonesia. Penggandengan ini mau mengindikasikan bahwa pernah atau pada saat ini konsep pemahaman kita mengenai kebudayaan nasional Indonesia mengalami dekonstruksi besarbesaran di mana keterbukaan kita terhadap unsur-unsur asing malah semakin mengaburkan pemahaman kita mengenai kebudayaan nasional Indonesia. Perekonstruksian terhadap pemahaman kebudayaan nasional Indonesia ini, bukanlah untuk memperpanjang polemik yang telah terjadi tetapi lebih dari itu sebagai bangsa Indonesia, kita harus mempunyai patokan yang menjadi tolok ukur dalam mencintai dan melestarikan kebudayaan nasional Indonesia. Sebab apa yang kita cintai dan lestarikan menjadi sebuah kekosongan belaka ketika kita tidak mengerti apa yang sesungguhnya yang kita cintai itu dan apa yang harus kita lestarikan. Atau sebaliknya, kita mengetahui dan menyadari apa yang kita cintai dan ingin kita lestarikan tetapi karena keterbukaan yang begitu besar terhadap kebudayaan asing sehingga menyebabkan adanya ketergantungan yang luar biasa pada dunia luar, sehingga terjadinya wajah indo dalam budaya kita. Ke-indo-an dalam wajah budaya Indonesia inilah yang secara perlahan mendekonstruksi makna dan nilai kebudayaan nasional Indonesia. Inilah realitas kita sekarang. Realitas terkikisnya/ penghancuran makna dan nilai kebudayaan nasional Indonesia. Realitas krisis yang terbesar dalam tubuh Indonesia. Realitas disidentifikasi arti dan makna kebudayaan nasional Indonesia sebagai proses dan hasil cipta anak bangsa dalam membentuk diri dan menafsirkan identitas diri yang berinteraksi dengan lingkungan budaya sehingga setiap orang memolakan seluruh aspek dalam dirinya berdasarkan nilai yang dihayati dari kebudayaan. Realitas pendekonstruksian inilah yang harus kita sadari sejak dini bahwa Indonesia dengan segala kekayaan kebudayaan yang dimiliki sebagai cetusan dari kekayaan budaya daerah itulah yang harus dilestarikan dan diangkat bukan sebaliknya kita mengangkat dan menjunjung tinggi unsur-unsur budaya asing. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa kebudayaan nasional Indonesia adalah ³puncak-puncak dari kebudayaan daerah.´ 14 Puncak-puncak inilah yang harus
14

Koentjaraningrat , Op. cit., hlm. 109.

5

dibina dan dipupuk sebagai sesuatu yang dihayati di dalam masyarakat agar mampu memberikan benih serta unsur-unsur dalam kebudayaan nasional. 15 Unsur-unsur tersebut merupakan ³yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengindentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga.´
16

Karena apa yang khas dan bermutu inilah yang oleh

Koentjaraningrat dinamakan kebudayaan nasional. Dari sini kita dapat mengatakan bahwa kebudayaan Nasional Indonesia yang ada kini, yang kita bangga-banggakan pada dasarnya lahir dan berakar dari kebudayaan daerah. Oleh karena itu, sejajar dengan pendapat Sanusi Pane kita harus sadar bahwa sebagai manusia Indonesia kita tidak boleh melupakan sejarah dan tidak terjebak di dalam provinsialistis yang mengutamakan atau mengagung-agungkan sifat kedaerahan yang berlebihan.17 Pengrekonstruksian ini secara tak langsung mau menghantar kita pada akar, dasar dari kebudayaan nasional. Bahwa kebudayaan nasional kita yang harus kita junjung tinggi yang selama ini kita abaikan adalah puncak-puncak dari kebudayaan daerah yang asli tanpa pengaruh dari unsur luar manapun yang menjadi suatu sistem gagasan dan pralambang yang memberi identitas kepada warga negara Indonesia, yang dapat dipakai oleh semua bangsa Indonesia untuk saling berkomunikasi dan memperkuat solidaritas. Oleh karena itu, di dalam dirinya kebudayaan nasional Indonesia merupakan hasil karya bangsa Indonesia, yang mengandung ciri-ciri khas Indonesia dan di atas semuanya itu bernilai dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.18 Jadi, merekonstruksi kebudayaan nasional Indonesia bukan berarti kita mengonsepkan suatu arti yang baru mengenai kebudayaan nasional Indonesia, bukan juga kita bersikap atau menjadi regresif. Tetapi sebaliknya, menjadi progresif, bahwa saatnya telah datang, kebudayaan nasional Indonesia dalam mencapai tujuan modernisasi di segala bidang kehidupan, sikap dan politik, tetap mencerminkan kepercayaan pada diri sendiri, sadar akan kekuatan diri sendiri, kekuatan yang juga dihasilkan oleh nilai-nilai tradisional yang baik, sehingga kita berani berhadapan dengan pengaruh-pengaruh kebudayaan dari dunia luar dan tidak bergantung dan mengadopsi begitu saja pengaruh dari dunia luar.19 Di sinilah tampak dengan jelas interaksi yang harmonis antara feeling, thinking dan doing di mana kita tidak hanya berada dan berputar pada zona doing
15

Soerjanto Poespowardojo, Op.cit, hlm. 309. Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/BudayaIndonesia yang diakses pada tanggal 08 Oktober 2010. 17 Koetjaraningrat, Op.cit. 18 Ir. M. Munandar Soelaeman Ms, Ilmu Budaya Dasar (suatu Pengantar), Bandung: Eresco, 1991, hlm. 43. Bdk. Koentjaraningrat, Persepsi tentang kebudayaan Nasional dalam Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan, Gramedia: Jakarta, 1985, hlm. 111. 19 Bdk. J. W. M. Bakker, SJ, Op. cit., hlm. 132-133.
16

6

tetapi kita berani masuk, kembali ke akar kebudayaan kita, dengan menyadari akan pengaruh yang diberikan oleh dua unsur kebudayaan yang tak tampak itu dalam mengembangkan dan member makna kepada kebudayaan nasional Indonesia. Oleh karena itu, kebudayaan nasional Indonesia itu tidak hanya berhenti pada apa yang tampak (bahasa daerah, tarian daerah, kesenian daerah, lukisan, ukiran atau pahatan dan lain sebagainya) tetapi lebih dari itu kebudayaan nasional Indonesia merupakan ³kesatuan budaya yang tumbuh dari dalam´, 20 yang sebagian besar unsurnya tidak bisa dilihat, jauh lebih kaya, yang merupakan sebuah cetusan dari akal budi masyarakat, inti hati dari pemahaman diri masyarakat, cara bagaimana masyarakat menafsirkan dirinya, sejarah dan tujuan-tujuannya sehingga adanya integritas dan kesatuan dalam kebudayaan nasional Indonesia.21 Kekayaan dan unsur yang tak dapat dilihat inilah yang kerap membuat kita lupa akan identitas kita sebagai bangsa Indonesia sehingga kita tersandung dan terjebak pada kedangkalan dalam memahami kebudayaan nasional Indonesia.

3. Penutup Seiring perjalanan waktu, kebudayaan nasional Indonesia telah (bahkan sedang) merealisasikan dirinya dengan menunjukkan sikap yang terbuka yang selalu aktif²membuka diri bagi kebudayaan lain²dan positif²menghargai kebudayaan asing sebagai sarana dalam menemukan nilai yang lebih tinggi dan luhur sehingga kebudayaan kita semakin diperkaya. Akan tetapi perlu disadari bahwa, kebudayaan nasional mencapai puncak dan semakin bermakna ketika kebudayaan nasional Indonesia mampu mempertahankan bukan hanya eksistensinya melainkan esensinya yang dapat memberi kehidupan dan kekuatan sehingga kebudayaan nasional Indonesia tetap berada pada posisi yang dapat memberikan makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Di samping itu, apa itu kebudayaan nasional Indonesia akan tetap menjadi sebuah pertanyaan reflektif bagi kita yang menamakan diri bangsa Indonesia sehingga kita sadar akan identitas kita sebagai bangsa Indonesia sehingga pada akhirnya kita dapat bertanggung jawab dengan menggandengi identitas kita sebagai bangsa Indonesia yang berbudaya ke tingkat internasional.

20 21

Soerjanto Poespowardojo, Op.cit, hlm. 236. M. Sastrapratedjo,S.J., Op.cit., hlm. 24.

7

DAFTAR PUSTAKA
BUKU DAN ARTIKEL Alfian (ed.). Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan, Gramedia: Jakarta, 1985. Bakker, J.W.M., Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Kanisius, 1984. Isharianto, Rafael (penyunting), Pergumulan Iman Kristiani di Tengah Pasar Budaya, Malang: Pusat Publikasi Filsafat Teologi Widya Sasana, 2010. Kleden,Ignas. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3S, 1987. Kusumohamidjojo, Budiono Filsafat Kebudayaan Proses Realisasi Manusia, Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra-2009 Lubis, Mochtar, Budaya, Masyarakat dan Mansuia Indonesia, Himpunan ³catatan Kebudayaan´ Mochtar Lubis di Majalah Horizon. Jakarta: Obor, 1993. Mashad, S., Abdul Kanim . Sang Pujangg. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2006. Poespowardojo, Soerjanto. Strategi Kebudayaan²Suatu Pendekatan Filosofis. Gramedia: Jakarta, 1989. Sastrapratedjo, M., S.J. ³Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa´. Dalam Jurnal Filsafat, Fakultas Filsafat Ilmu Universitas Gadjah Mada, 26 Desember, 1996. Soelaeman, Ir., M., Munandar, Ms. Ilmu Budaya Dasar (suatu Pengantar). Bandung: Eresco, 1991. INTERNET http://interlink.mines.edu/LESSONS/TEACHERS/CURRICUL/LYNN/IB4.HTM?CMSPAGE= Outreach/interlink/LESSONS/TEACHERS/CURRICUL/LYNN/IB4.HTM diakses pada tanggal 25 Oktober 2010. http://pusakacita.wordpress.com/2008/02/19/kebudayaan-kita-semakin-tergusur/ yang diakses pada tanggal 21 Oktober 2010. http://celebrity.okezone.com/read/2010/08/30/33/368011/yovie-prihatin-dengan-kondisi-budayanasional yang diakses pada tanggal 21 Oktober 2010. http://rimanews.com/node/3031 yang diakses pada tanggal 21 Oktober 2010. http://budaya-indonesia.org/iaci/Data_Klaim_Negara_Lain_Atas_Budaya_Indonesia diakses pada tanggal 21 Oktober 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/BudayaIndonesia yang diakses pada tanggal 08 Oktober 2010.
8

yang

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->