P. 1
Bab II Solusi Persamaan Non Linear

Bab II Solusi Persamaan Non Linear

|Views: 751|Likes:
Published by embuho

More info:

Published by: embuho on Oct 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

2

SOLUSI PERSAMAAN NON LINEAR

Pada bab ini dibahas solusi dari persamaan non linear yang banyak dijumpai dalam formulasi kasus -kasus fisika , yaitu pencarian akar persamaan (finding roots). Disajikan beberapa metode yang biasa digunakan, dan inti pembahasan terletak pada implementasi 3 (tiga) metode komputasi numerik, yaitu metode Bisection, metode Newton Raphson dan metode Secant, didalam menangani berbagai kasus yang disertakan.

A. SASARAN UMUM Sasaran umum dari perkuliahan ini adalah memberikan pe mahaman kepada mahasiswa mengenai proses penyelesaian kasus fisika dalam formulasi persamaan non linear secara komputasi numerik, dan memberikan keleluasaan wawasan tentang beberapa metode dari sekian banyak metode yang bisa diimplementasikan.

B. SASARAN KHUSUS Setelah perkuliahan selesai dilaksanakan, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Memformulasikan fenomena fisis dalam bentuk persamaan non linear ke dalam formula iteratif komputasi numerik. 2. Menyebutkan beberapa metode komputasi numerik dalam kasus finding roots 3. Menjelaskan proses iterasi dari bracketing methods dan open methods. 4. Menjelaskan perilaku metode Bisection, Newton Raphson dan Secant sesuai dengan karakter persamaan non linear yang ditangani. 5. Mengembangkan pemahaman dengan menggunakan karakteristik metode-metode komputasi numerik yang lain. 6. Meng-implementasikan metode komputasi numerik untuk persamaan non linear dalam program komputer.

C. URAIAN MATERI Äfisika-komputasi ⊇

30

Solusi Kecepatan parasut yang diturunkan dari Hukum Newton II (diberikan oleh persamaan 1. Dalam hal ini satusatunya alternatif adalah menggunakan solusi pendekatan (approximate solution) Salah satu metode untuk menentukan solusi pendekatan adalah menggambar fungsi dan menentukan nilai x dimana f(x)=0 . 2 = − b ± b 2 − 4 ac 2a (2.1. Untuk kasus non-aljabar ada persamaan transendental– didalamnya mengandung bentuk-bentuk trigonometri.Telah dikenal beberapa metode nonkomputer di dalam menyelesaikan akarakar secara aljabar dan non-aljabar. Persamaan kuadrat ax2 + bx + c=0 dalam keadaan tertentu bisa diselesaikan dengan formula kuadratik: x1 .7 pada Bab 1) adalah: v(t ) = gm c (1 − e −( c / m)t ) Dapat kita lihat bahwa tidak seperti kecepatan parasut secara eksplisit dapat diisolasi pada satu sisi dan sebagai fungsi waktu. eksponensial.8 m/dtk. seperti terlihat pada contoh 2. Dalam beberapa kasus. Contoh 2.1) Rumus-rumus yang memberikan nilai eksak dari penyelesaian secara eksplisit hanya ada untuk kasus-kasus yang sangat sederhana. xo=–b/a. Fungsi yang cukup sederhana seperti f(x) = e-x – x sudah tidak bisa diselesaikan secara analitik . akar-akar bisa ditentukan dengan metode langsung. Catatan: percepatan gravitasi 9. Contoh yang paling sederhana seperti pada persamaan linear ax + b=0 (dimana a dan b adalah konstanta dan a 0). dalam kasus ini koefisien drag adalah Äfisika-komputasi ⊇ 31 . maka akar tunggal dari persamaan.1 kg sehingga kecepatannya 40 m/dtk setelah terjun bebas selama t=10 detik.1 Gunakan pendekatan grafik untuk menentukan koefisien tarik (drag coeffisient) c yang diperlukan sebuah parasut bermassa m=68. logaritma. dan persamaan campuran yang mengandung polinom dan transendental .

115 17.75 / 68 .1 f (c ) = f (c ) = 9 .1 ) 14 . sehingga: f (c ) = gm c (1 − e−( c / m )t dengan cara )− v (2. Pendekatan grafik untuk menentukan akar-akar persamaan Dengan subtitusi 14.75 / 68 . validitas estimasi grafik bisa diuji: f (14 . g=9.1 ) 10 ) − 40 atau (2.75 ) = v= 667 .1 )10 ) − 40 = 0 .implisit.1) c 667 .401 f(x) 40 20 Akar 0 –10 4 8 12 20 c Gambar 2.dt 4 8 12 16 20 f(c) 34. dan dari kelengkungan grafik memberikan estimasi akar 14. 38 14 .8.75 (1 − e−(14 .1 ) 10 ) = 40 .269 –8. Kurva melintasi sumbu c antara 12 dan 16. v=40 dan m=68. 059 m / dtk Äfisika-komputasi ⊇ 32 .8 (68 .75 pada persamaan (2.8 (68 . yang juga representasi dari koefisien drag sebagai solusi dari kasus. 38 c (1 − e−( c / 68 .653 6. Kasus ini bisa diselesaikan dengan metode numerik mengurangi variabel takbebas v pada kedua sisi persamaan. Dengan memasukkan parameter t=10.3) (1 − e −( c / 68 .067 –2.1 )10 ) − 40 Variasi nilai c yang disubtitusi pada persamaan memberikan hasil f(c) pada tabel sebelah kiri. 3). 059 dan 9 .2) Nilai c yang membuat f(c)=0 .1. selanjutnya disebut akar persamaan.75.75 (1 − e−(14 . t.

Teknik ini terdiri dari sebuah nilai coba x dan dievaluasi apakah f(x)=0 .E–06 x=1: FOld=Fnf(x): dx=. x2=g(x1). Metode iterasi sangat penting untuk beragam masalah dalam analisa numerik.Metode grafik ini tidak cukup teliti ( precision). x3 =g(2)….x1.4) dengan g didefinisikan dalam selang yang memuat x dan rentang g terletak dalam 0 selang tersebut.x2 .…) (2.… secara rekursif dari relasi berbentuk xn +1 = g( xn ) (n=0. Jadi secara beruntun dihit ung x1=g(x0). tidak efisien dan tidak memadai untuk aktivitas saintis.x. Nilai sebenarnya √5 =2. jika tidak. Metode pendekatan yang paling tepat adalah metode -metode iterasi numerik. Cara yang lain adalah melakukan trial and error. lebar langkah 0.236068 Solusi Program BASIC 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 Def Fnf(x)=x*x–5 Tolx=1. Metode seperti itu jelas tidak sistematis. Proses akan berulang sampai sebuah nilai coba memberikan hasil f(x)=0 . dimasukkan nilai coba yang lain dan f(x) dievaluasi kembali untuk menentukan apakah nilai yang baru memberikan estimasi akar yang lebih baik. dengan nilai tebakan awal x=1.5 Iter%=0 ‘ While Abs(dx)>Tolx Iter%=Iter%+1 x=x+dx Print Iter%.1. dengan kelebihan umumnya tidak sangat terpengaruh oleh merambatnya kesalahan pembulatan.2 Buatlah program sederhana menggunakan BASIC u ntuk mencari akar positif dari fungsi f(x) = x2 – 5.5 dan toleransi 10–6. Contoh 2. Metode iterasi numerik adalah metode yang memberikan pilihan suatu x0 sebagai tebakan awal dan secara beruntun menghitung barisan x0.Sqr(5)–x If FungsiOld*Fnf(x)>0 Then Goto 60 x=x–dx: dx=dx/2 Wend ‘ Äfisika-komputasi ⊇ 33 .2.

39320225002103E–002 . Berikut ini adalah metode -metode yang populer digunakan untuk menyelesaikan masalah finding roots terutama pada kasus persamaan non linear f(x)=0 secara komputasi numerik: a.5 0.23828125 –2.25 –1. Breadth of Application:Real Roots. . Requires evaluation of f’(x)) Modifikasi Newton Raphson ÄTali Busur (Secant) (initial Guesses:2. h.119522500210304E–003 2. .236068725585938 –7. g. 2. Programming Effort:Easy. .Convergence Rate:Fast. Programming Effort:Easy.480861478035856E–007 Nilai x Pada iterasi ke-33 proses komputasi berhenti. karena telah memenuhi toleransi kesalahan 10–6 dengan presisi jawaban yang bagus. Initial guesses do not have to bracket the root Modifikasi Talibusur (Secant Modified) Müller Bairstow Äfisika-komputasi ⊇ b.Convergence Rate:Slow.7360679774997897 2 0. Accuracy:Good.70 Stop Running program memberikan hasil sebagai berikut: Iterasi ke-n 1 2 3 4 . e. Stability:Always. . Accuracy:Good. 34 . Breadth of Application:General. 13 14 . Stability:Possibly Divergent.236066818237305 1. c. . 2. Ä Bagidua (Bisection) (initial Guesses:2. f. Accuracy:Good. Breadth of Application:General. i. . 32 33 Kesalahan (Error) 1.2421875 –6.5 –0. d. Programming Effort:Easy) Posisi Palsu (False Position) Titik Tetap ( Fixed Point Iteration) Ä NewtonRaphson (initial Guesses:1.Convergence Rate:Medium to Fast.2132725002103036E–003 .2360679774997897 2.2639320225002103 2. .159262485008914E–006 2. . Stability:Possibly Divergent.

Proses diulangi dengan membagi sub-interval tersebut dan memeriksa separo sub-interval mana yang Äfisika-komputasi ⊇ 35 . sehingga fungsi berubah tanda melalui interval. dan metode h dan i untuk akar-akar polinomial).xr). kemudian set xl=xr dan kembali lakukan langkah 2 (c) Jika f ( x l )f ( x r ) = 0 akarnya adalah xr. Estimasikan akar xr. 2. dan f(x l ) dan f(x u) berlawanan tanda. perhitungan dihentikan. sedangkan metode Newton Raphson dan metode Secant termasuk metode terbuka (open methods). memiliki karakteristik terapan (metode a dan b untuk akar-akar real. Secara umum.5) dan sekurang-kurangnya ada satu akar pada interval itu. yang salah satunya pasti mengandung akar. dan interval akan dibagi menjadi dua sub-interval. metode b sampai g untuk general aplikasi.1 dan metode Bagidua adalah termasuk metode ‘mengurung’ (bracketing methods). kemudian set xu =x r dan kembali lakukan langkah 2 (b) Jika f ( x l )f ( x r ) > 0 berarti akar pada sub-interval atas(xu .Metode analisa numerik diatas.1. Ini bisa dicek dengan menghitung f ( x l )f ( x u ) < 0 . maka f ( x l )f ( x u ) < 0 (2.1 Metode Bagidua (Bisection) Nilai f(x) akan berubah tanda . Metode Grafik –dengan contoh 2. Dengan metode ini ditentukan titik tengah interval.xr). jika f(x) real dan kontinu pada interval antara x l sampai xu . yang ditentukan oleh: xr = xl + xu 2 Langk ah 2: Langkah 3: Lakukan evaluasi berikut untuk menentukan interval akar: (a) Jika f ( x l )f ( x r ) < 0 berarti akar pada sub-interval bawah(xl. Di sini hanya akan diimplementasikan satu atau beberapa metode yang dipilih. dengan pertimbangan yang disertakan pada item metode. Berikutnya yang ditinjau adalah sub-interval yang mengandung akar. Berikut langkah-langkah komputasi aktual dengan metode bagidua: Langkah 1: Tentukan nilai awal xl yang lebih rendah dan xu yang lebih tinggi. sebagai dasar untuk menangani kasus-kasus fisika pada bab-bab selanjutnya. berbeda pada kedua sisi akar. seperti yang ditunjukkan pada contoh 2.

Jadi akar berada diantara 14 dan 15.1. adalah bijaksana untuk selalu disertakan didalam setiap kasus pencarian akar.konsekuensinya akar berada pada interval 14 dan 16. Proses berulang untuk mendapatkan estimasi: f (14 ) f (15 ) = 6. 666 < 0 .067 (1. Kesalahan relatif e r cukup representatif untuk kasus dimana nilai akar sebenarnya telah diketahui. Sehingga. Solusi [a] Langkah pertama dalam metode bagidua. dari gambar 2.7802). 067 (−0 . era . sehingga diperlukan kesalahan relatif pendekatan.3% (catatan bahwa nilai akar sebenarnya 14.9%. Iterasi ketiga : xr = 14 + 15 2 = 14 .5%. sehingga f(c) memberikan tanda yang berbeda. Äfisika-komputasi ⊇ 36 . 5 dengan kesalahan relatif er=1. Pembagiduaan sub-sub interval ini dilanjutkan sampai lebar interval yang ditinjau cukup kecil.1 dapat dilihat bahwa fungsi berubah tanda antara nilai 12 dan 16. Kriteria penghentian komputasi dan kesalahan estimasi pendekatan.mengandung akar. Pada situasi aktual biasanya nilai akar sebenarnya tidak diketahui.517 > 0 . iterasi pertama: xr = 12 + 16 2 estimasi awal akar x r yang merupakan titik tengah interval: = 14 .5%. 425 ) = −0 . [b] Tentukan akarnya sampai kesalahan pendekatan dibawah 0. yaitu: e ra = xr baru − x lama r x baru r 100 % Contoh 2. selanjutnya iterasi kedua: titik tengah dari sub-interval antara 14 dan 16: xr = 14 + 16 2 = 15 dengan kesalahan relatif : er =1. kesalahan relatif er =5. f (12 ) f (14 ) = 6 . memberi dua nilai awal dari nilai yang tidak diketahui yaitu koefisien drag (c).3 Dengan menggunakan metode bisection (Bagidua) : [a] Selesaikan problem pada contoh 2.569 ) = 9. Metode ini bisa terus berulang sampai hasilnya cukup akurat.

tetapi tidak sulit bagi yang sudah mengenal bahasa pemrograman.iter.641 0. Äfisika-komputasi ⊇ 37 .875 14.204 0.es. Algoritma Bisection Untuk mengimplementasi kasus mencari akar persamaan dengan menggunakan metode bisection ke dalam pemrograman komputer.667 % iterasi selengkapnya adalah sebagai berikut: iterasi 1 2 3 4 5 6 xl 12 14 14 14.448 1.75 14. Hasil untuk iterasi pertama kedua adalah 14 dan 15. FUNCTION Bisect(xl.5 14.xr.667 3.896 0.5% dan komputasi dihentikan.[b] kriteria penghentian es adalah 0.imax.422 ex(%) 5.840 0.219 dari 6 iterasi akhirnya era<es=0.875 xr 14 15 14.era) iter=0 DO xrlama=xr xr=(xl+xu)/2 iter=iter+1 IF xr 0 THEN era=ABS((xr–xrlama)/xr)*100 END IF test=f(xl)*f(xr) IF test<0 THEN xu=xr ELSE IF test>0 THEN xl=xr ELSE era=0 END IF IF era<es OR iter END DO Bisect=xr END Bisect imax EXIT Algoritma in i tidak user friendly .5 14.695 0.5%. dapat digunakan algoritma dalam format pseudocode dibawah.8125 era(%) 6.487 1. Fungsi pada algoritma ini didefinisikan sendiri oleh user untuk membuat lokasi akar dan evaluasi fungsi telah dirancang lebih efisien.279 1.xu.75 xu 16 16 15 15 15 14. maka e ra = 15 − 14 14 100 % = 6 .75 14.

2 Metode Newton Raphson Metode Newton Raphson adalah metode iterasi lain untuk memecahkan persamaan f(x)=0.236068.2.2.4 Carilah akar positif dari fungsi f(x) = x2 – 5 pada contoh soal 2. Nilai sebenarnya √5 =2. Metode Newton Raphson kemiringan=f’(x o) f(x i) ini bisa diturunkan dari interpretasi geometri (alternatif lain didasarkan Dari pertama ekivalen f ( xi ) − 0 x i − x i +1 pada gambar deret 2.2.f(xi). Prosedur yang sama diulang.7) Contoh 2. dengan nilai tebakan awal x=1. Gagasan dasarnya adalah grafik f dihampiri dengan garis-garis singgung yang sesuai. Secara geometri metode ini menggunakan garis singgung sebagai hampiran fungsi pada suatu selang.6) ulang xi+1 xi –x i+1 xi x Dan bisa dituliskan menjadi: Gambar 2. f(x i) –0 f(x i+1) 0 turunan adalah terhadap dengan kemiringan: xi+3 xi+2 f ' ( x) = (2. menggunakan nilai terbaru sebagai nilai coba untuk iterasi seterusnya. dengan f diasumsikan mempunyai turunan kontinu f’. Dengan menggunakan suatu nilai xi sebagai tebakan awal yang diperoleh dengan melokalisasi akar-akar dari f(x) terlebih dahulu. Gunakan metode Newton Raphson ! Solusi : Äfisika-komputasi ⊇ 38 . x Taylor). kemudian dite ntukan x sebagai titik potong antara sumbu x dan garis singgung pada kurva f i+1 di titik (xi .2 Skema metode Newton Raphson x i +1 = x i − f ( xi ) f ' ( xi ) (2.

2.7) menjadi: x i +1 = x i − e− xi − x − e− x − 1 i Dimulai dari nilai tebakan awal x=0. dibanding dengan pencarian akar pada contoh soal 2. iterasi persamaan memberikan hasil: Äfisika-komputasi ⊇ 39 . Gambar 2. sehingga persamaan (2.3 Pencarian akar dengan Newton Raphson Terlihat metode Newton Raphson hanya memerlukan 6 iterasi untuk mendapatkan nilai pendekatan numerik yang tepat dengan nilai sebenarnya pada ketelitian 10–6. subtitusikan pada persamaan (2.3. dengan nilai tebakan awal x=0 Solusi : Turunan pertama didapatkan: f’(x) = –e–x – 1. hitungan iteras i menggunakan Microsoft Excel memberikan data seperti pada gambar 2. Contoh 2.Turunan pertama dari fungsi f(x) = x2 – 5 adalah f’(x)=2x.7) menjadi: x i +1 = x i − x i2 − 5 2xi Dimulai dari nilai tebakan awal x=1.5 Gunakan metode Newton Raphson untuk mencari estimasi akar dari fungsi transendental f(x) = e –x – x.

lebih lambat konvergensinya dibanding dengan metode Newton Raphson.567143290 era(%) 100 11.5671433 dalam 7 angka desimal.147 0. dengan tole ransi kesalahan sampai 10–8.566311003 0.567143165 0. Tidak dijelaskan metode yang dipakai tetapi berdasarkan jumlah input parameter nilai coba (low guess & high guess) adalah karakteristik metode talibusur (Secant) yang akan dijelaskan berikutnya . yang dicapai dengan jumlah iterasi yang cukup besar yaitu 35. Gambar 2.4) memberikan hasil yaitu 0.8 0. Äfisika-komputasi ⊇ 40 .4 Pencarian akar transendental dengan Numerical Methods Toolkit.500000000 0.i 0 1 2 3 4 xi 0 0.0000220 < 10–8 Pengecekan hasil menggunakan software Numerical Methods Electronic Toolkit (terlihat pada gambar 2.

iter.5. imax. Äfisika-komputasi ⊇ 41 . 46. dapat mengacu pada algoritma pseudocode dibawah. misalnya menentukan akar positif dari fungsi f(x)=x10–1.485. FUNCTION NewtonR( x0.65.3 Metode Talibusur (Secant) Masalah potensial dalam implementasi metode Newton Raphson adalah evaluasi pada turunan. … dan seterusnya dengan nilai yang simultan turun dengan lambat. Hal ini menjadi lebih sederhana dengan menyisipkan fungsi turunan yang didefinisikan oleh user sendiri. es. Algoritma Newton Raphson Pencaria n akar persamaan dengan metode Newton Raphson dengan pemrograman komputer. seperti kasus khusus – akar-akar ganda– dialamati lebih lambat. Tetapi ada pada situasi tertentu. 2. Metode Secant diperoleh dari metode Newton dengan cara menggantikan turunan f’(x) dengan beda hingga terbagi.Metode Newton Raphson secara umum direkomendasikan karena kesederhanaannya. konvergensi sampai nilai sebenarnya 1. konvergensinya yang sangat cepat dan efisien dibanding metode lainnya. era) xr=x0 iter=0 DO xrlama=xr xr=xr–f(xr)/f’(xr) iter=iter+1 IF xr 0 THEN era=ABS((xr–xrlama)/xr)*100 END IF IF era<es OR iter imax EXIT END DO NewtonR =xr END NewtonR Bagaimanapun program harus dimodifikasi untuk menghitung turunan pertama dari fungsi. Pada iterasi awal memberikan hasil yang cukup jauh 51. dengan nilai tebakan awal x=0.

dalam metode Newton xi+1 merupakan perpotongan sumbu x dengan f(x i) garis singgung di xi . tetapi menjadi pilihan bilamana kerja penghitungan suatu nilai f’(x) lebih lama daripada ½ kali kerja penghitungan nilai f(x). 5 Skema metode Secant Dapat diperlihatkan metode Secant lebih lambat dibandingkan metode Newton Raphson. Algoritmanya serupa dengan metode Newton.10) atau bisa dituliskan dalam bentuk x i = x i −1 − f ( x i −1 )(x i −1 − x i −2 ) f ( x i −1 ) − f ( x i −2 ) .8) untuk disubtitusikan pada persamaaan (2.8) (backward) (2. Tidak dianjurkan menuliskan skema iterasi pada (2.10) dalam bentuk x i +1 = x i −1 f ( x i ) − x i f ( x i −1 ) f ( x i ) − f ( x i −1 ) Äfisika-komputasi ⊇ 42 . sedangkan dalam metode Secant x adalah i+1 perpotongan sumbu x dengan talibusur kurva f(x) yang f(x i –1) 0 berpadanan terhadap xn+1 dan xn.9) Jika diambil persamaan (2.7) persamaan iteratifnya menjadi: xi + 1 = x i − f ( x i )(x i − x i −1 ) f ( x i ) − f ( x i −1 ) (2. Gambar 2. i=2. tetapi tanpa perhitungan turunan. Metode Secant memerlukan dua xi – 1 xi x tebakan awal.3… (2.f ' ( x) = f ' ( x) = f (x i ) − f ( x i −1 ) x i − x i −1 f (x i −1 ) − f (x i ) x i −1 − x i (forward) atau (2. xi–1 dan xi .11) Secara geometri.

81 ) 1000 = 1.73358 37. Suku pertama pada ruas kanan menyatakan gesekan tarik (friction drag). 5 + 1.8626451E–09 Jadi batas kecepatannya adalah v=37.00000 30.15 x10 −5 v 2 (2.1 didasarkan pada nilai coba awal.15411 38. 5 + 1.7 m/det ::: Studi Kasus Fisika ::: Hukum Gas Ideal dalam Termodinamika Hukum gas ideal diberikan oleh PV=nRT Äfisika-komputasi ⊇ 43 .9657493E–04 9.12) diset vo=30 dan v1=30.6 Sebuah peluru bermassa 2 gram ditembakkan vertikal ke udara dan bergerak turun setelah mencapai batas kecepatan. Contoh 2.8452079E–03 –8.73458 yn 1.9465251E–07 –1.10000 30. 4 x10 −5 v1 . Persamaan lengkap adalah sebagai berikut: (2 )(9 .15 x10 −5 v 2 dimana v adalah kecepatan batas. dan suku kedua menyatakan tekanan tarik ( ressure p drag).9620001E–02 6.karena bisa jadi menimbulkan kesulitan ketika xn dan xn-1 bernilai hampir sama. 11) sebagai berikut: i 0 1 2 3 4 5 6 vi 30. 4 x10 −5 v1 . Nilai coba awal v ≅ 30 m/det Solusi: Kasus ini didefinisikan sebagai pencarian akar dari y = f (v) = (2 )(9 . dimana y0 dan y1 dihitung dengan persamaan (2. dimana m=massa dan g =percepatan gravitas i.12). m/det.0962276E–05 9. Batas kecepatan ditentukan oleh mg=Ftarik.62414 37.64323 37.8889391E–03 6. Iterasi penyelesaian dengan persamaan (2. Tentukan batas kecepatan dengan metode secant. 81 ) 1000 = 1.

Turunan f(v) terhadap v dituliskan Äfisika-komputasi ⊇ 44 . Komputasi molal volume dari persamaan van der Waals bisa di selesaikan dengan baik menggunakan metode numerik untuk mencari akar-akar persamaan. V adalah volume. Berikut adalah data -data yang diperlukan: R= 0.dimana P adalah tekanan mutlak.82054 L atm/(mol K) a= 3. Diperlukan keakuratan di dalam memberikan estimasi terhadap molal volume (v) dari karbon dan oksigen untuk sejumlah kombinasi temperatur dan tekanan yang berbeda yaitu tekanan pada 1. dengan n=1. 500 dan 700 K.6162 L / mol dan perhitungan diulang untuk seluruh kombinasi temperatur dan tekanan. dengan f (v ) =  P +   a  ( v − b ) − RT v2  turunan dari f(v) mudah didapatkan dan implementasi metode Newton Raphson dalam kasus ini sangat tepat dan efisien. R adalah konstanta gas universal dan T adalah temperatur mutlak. Persamaan keadaan alternatif untuk gas dinyatakan dalam persamaan (P + a v2 )(v − b) = RT (2. 082054 L .04267 a= 1. 10 dan 100 atm untuk kombinasi temperatur pada 300. atm 300 K mol. dimana v=V/n adalah molal volume. Sebagai contoh jika P=1 atm dan T=300 K. K 1 atm = 24 .592 b=0.13) yang dikenal sebagai persamaan van der Waals. sehingga cocok dalam pemilihan bejana atau tempatnya. a dan b adalah konstanta empiris yang tergantung pada sifat gas. n adalah jumlah mol.360 b=0. v= V n = RT P = 0 . Persamaan ini amat luas penggunaannya dalam aktivitas enginer dan saintis.03183 oksigen karbon dioksida Molal volume dari kedua gas dihitung menggunakan hukum gas ideal.

0270 40.001 Dengan menggunakan iterasi.5126 2.2) Carilah akar positiv dari x2–0.5 dengan xo=5 Buatlah program untuk menentukan akar dari soal (2.4460 5.0001 %.2] menggunakan metode Bisection dengan toleransi 0.2264 41.0259 4. metode Newton Raphson sangat handal dalam hal kecepatan konvergensinya. L/mol Van der Waals Hk. dan pada esensinya basisnya kontinu dari proses manufaktur sampai final produk. K 300 Tekanan.4384 0.2462 0.5928 2. pilihan metode menjadi faktor penentu. v i +1 = v i − f (v i ) f '( v i ) ketika menggunakan nilai coba 24. Berikut adalah hasil komputasi selengkapnya Temperatur.0705 41.9821 4.4179 5.3) (2. Dalam evaluasi jutaan akar.3663 57.6162 24.7242 0.4378 57. atm 1 10 100 1 10 100 1 10 100 Molal Volume. Gas Ideal Karbon dioksida 24.4116 57.1027 4.4) Gunakan metode Newton Raphson untuk menentukan akar 0.49 (2. Hasil ini didapat hanya dengan dua iterasi saja dan memiliki kesalahan kurang dari 0.9x–1.7438 5.4616 2. perlihatkan bahwa akar positif yang terkecil dari persamaan x=tan x secara hampiran adalah 4.1016 0. nilai komputasi molal volume dari karbon dioksida pada 300 K dan 1 atm sebesar 24. SOAL-SOAL (2.3545 0.0578 0.1) Äfisika-komputasi ⊇ dari f(x)= – 45 .14) metode Newton Raphson untuk menentukan estimasi akar adalah dengan formula iteratif.5575 Van der Waals Oksigen 24.7x+2.1) (2.5126 L/mol.f ' (v ) = P − a v2 + 2 ab v3 (2.5744 0.4103 0.7521 0.52 pada interval [1.5842 500 700 Dalam sistem kontrol proses produksi yang berkaitan dengan komputasi terhadap kombinasi temperatur dan tekanan dengan persamaan sistem yang bisa diturunkan.9x2+1. D.6162.

. G. 1998 James. 3rd ed..M. Numerical Methods for Engineers.P. Computational Physics.. Macmillan.L. K. R. Numerical Methods for Mathematics. M.6 menggunakan metode bisection dengan toleransi 0. 1983 Nakamura. Prentice -Hall Inc. 1986 Mathews.5) Tentukan kecepatan batas pada contoh 2. S. Harper & Row. McGraw-Hill. Prentice-Hall Inc.C. S. Applied Numerical Methods for Digital Computations. Computational Methods in Elementary Numerical Analysis. 1986 Äfisika-komputasi ⊇ 46 . J. and J. Addison-Wesley Inc. Computing for Engineers and Scientists with Fortran 77.E.. Wolford. 1998 Yakowitz.L. Smith. DAFTAR PUSTAKA Chapra.. 1984 Morris. and Canale. 1985 Koonin. S. Thermodynamics.J.. Jr. Science and Engineering .C. 1993 Wark.01 D.. D. Applied Numerical Methods in C . and F. D. S. 1992 McCracken. Wiley. Wiley. McGraw-Hill...H.. Szidarovszky.(2.. An Introduction to Numerical Computations.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->