KEPERAWATAN GERONTIK

GANGGUAN PSIKOSOSIAL PADA LANSIA

OLEH: NOFIAN ARFIAN DINATA NPM: 07.01.0693

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM 2010

Kami menyadari betul bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itulah kami mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya. Kami berharap semoga makalah yang kami buat ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan penulis.KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan hidayahnyalah kami dapat menyelesaiakan makalah ini tentang GANGGUAN PSIKOSOSIAL PADA LANSIA sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik. .

Aspek Psikososial A. Permasalahan Umum 2. Rentang Respon 7. Konsep Dasar 1. Kesimpulan B.DAFTAR PUSTAKA KATA PENGANTAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN A. Karakteristik Prilaku B. Pengkajian B. Permasalahan 1. Saran Daftar Pustaka . Intervensi C. Penyebab 3. Evaluasi BAB III PENUTUP A. Faktor Prespitasi 5. Pengertian 2. Tanda dan Gejala 6. Faktor Predisposisi 4. Asuhan Keperawatan A. Diagnosa D. Permasalahan Khusus II. Latar Belakang BAB II PEMBAHASAN I.

Lansia merupakan salah satu fase kehidupan yang dialami oleh individu yang berumur panjang. Oleh karma itu lansia adalah kelompok dengan resiko tinggi terhadap problema fisik dan mental. spiritual dan sosial. tetapi juga psikologis dan sosial. tapi juga permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Perubahan `senesens’ adalah perubahan-perubahan normal dan fisiologik akibat usia lanjut. yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia. Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis. psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lansia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif. psikologis. timbulnya perhatian pada orang-orang usia lanjut dikarenakan adanya sifat-sifat atau faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kehidupan pada usia lanjut. ekonomi dan lain-lain. sosial. Sementara itu. perubahan yang terjadi pada lansia dapat disebut sebagai perubahan `senesens` dan perubahan ’senilitas’. Seinakin baik pelayanan kesehatan sebuah bangsa makin tinggi pula harapan hidup masyarakatnya dan padan gilirannya makin tinggi pula jumlah penduduknya yang berusia lanjut. Demikian pula di Indonesia. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lansia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik. perubahan yang dihadapi lansia pada amumnya adalah pada bidang klinik. kesehatan jiwa dan problema bidang sosio ekonomi. Perubalian ’senilitas’ adalah perubahan¬-perubahan patologik permanent dan disertai dengan makin memburuknya kondisi badan pada usia lanjut. Menurut Laksamana (1983:77). Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi. Usia lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja. psikologis. Latar Belakang Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik. Lansia sebagai tahap akhir . meliputi aspek fisiologis.BAB I PENDAHULUAN A. Menurut Setiawan (1973). Proses menua pada manusia merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan. kultural.

Banyak faktor yang menyebabkan seorang mengalami gangguan mental seperti menarik diri.dari siklus kehidupan manusia. Faktorfaktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia. sering diwarnai dengan kondisi hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut: o Penurunan kondisi fisik o Penurunan fungsi dan potensi seksual o Perubahan aspek psikososial o Perubahan yang berkaitan dengan pekcrjaan o Perubahan dalam peran sosial di masyarakat .

dihormati oleh orang lain. Konsep Dasar 1. pikiran dan prestasi atau kegagalan. hilang kepercayaan diri. Penyebab Penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri. Pengertian Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga . yang ditandai dengan adanya . tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes. sebagai dampak adanya kerusakan interaksi sosial : menarik diri akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomen kehidupan.serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat. Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito.dicintai.Aspek psikososial pada lanjut usia A.Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain.BAB II PEMBAHASAN I.1998) Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima. Dari segi kehidupan sosial cultural. yaitu terganggunya komunikasi yang merupakan suatu elemen penting dalam mengadakan hubungan dengan orang lain atau lingkungan disekitarnya. 1998). Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain.2006). merasa gagal mencapai keinginan. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan. 2. interaksi sosial adalah merupakan hal yang utama dalam kehidupan bermasyarakat. yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri. 1998 ) Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam(Towsend.

dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan efektif melalui riwayat keluarga atau keturunan. 1995). dan masa depan seseorang. merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang. 2.perasaan malu terhadap diri sendiri. 4. merujuk kepada perpisahan traumatik individu dengan benda atau yang sangat berarti. dan juga dapat mencederai diri (Carpenito. rasa bersalah terhadap diri sendiri. Teori agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri. tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa tertekan. o Menghindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dari . putus asa terhadap hubungan dengan orang lain. 5. tidak percaya orang lain. Faktor Presifitasi Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung. Tanda dan Gejala o Apatis. menghindar dari orang lain.1998:352) 3. Teori organisasi kepribadian. merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and sundeen. afek tumpul. 4. Faktor genetik. percaya diri kurang. Teori ini menunjukkan rentang faktor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi.J. Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. 3. Model kognitif menyatakan bahwa defresi. merendahkan martabat. Teori kehilangan objek. 1. ragu takut salah. gangguan hubungan sosial. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri. dunia seseorang. ekspresi. menguraikan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap sesuatu 5.L.

orang lain. o Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. o Komunikasi kurang atau tidak ada. 6. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam. artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan. Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. klien lebih sering menunduk. Rentang Respon 1. o Berdiam diri di kamar/tempat berpisah – klien kurang mobilitasnya. o Tidak ada kontak mata. 5. Tergantung (dependen) terjadi bila seseorang gagal mengambangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses. Saling tergantung (interdependen) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal. 7. 8. 6. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseoramg menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain. 4. Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. Curiga terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang lain. 3. Perasaan . perasaan dalam hubungan sosial. Bekerjasama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima. Kecurigaan dan ketidakpercayaan diperlihatkan dengan tanda-tanda cembru. 2. iri hati. o Menolak hubungan dengan orang lain – klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. dan berhati-hati.

B. o Kurang bergairah. . Belum membudaya dam melembaganya kegiatan pembinaan kesejateraan lanjut usia.induvidu ditandai dengan humor yang kurang. dan individu merasa bangga dengan sikapnya yang dingin dan tanpa emosi. o Kemunduran secara fisik. Permasalahan Umum a. b. o Immobilisasai. Karakteristik Perilaku o Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan. c. Lahirnya kelompok masyarakat industri. Masih besarnya jumlah Lajut Usia yang berada dibawah garis kemiskinan. berhubung terjadi perkembangan pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk kelurga kecil. o Berat badan menurun atau meningkat secara drastis. 7. d. yang memiliki ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi. o Keinginan seksual menurun. antara lain sebagai berikut: 1. dihargai dan dan dihormati. o Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia dan masih terbatasnnya sarana pelayanan dan fasilitas khusus bagi lanjut usia dengan berbagai bidang pelayanan pembinaan kesejahteraan lanjut usia. e. Permasalahan Berbagai permasalahan sosial yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan Lanjut Usia. o Tidak memperdulikan lingkungan. o Mondar-mandir (sikap mematung. melakukan gerakan berulang). sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan. yang secara tidak langsung merugikan kesejahteraan lanjut usia. o Banyak tidur siang. o Kegiatan menurun. lugas dan efisien. o Tidur berlebihan. Makin melemahnya nilai kekerabatan.

sulit untuk mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa ini secara terus-menerus dari generasi ke generasi selanjutnya.2. Hal ini akan memperburuk integrasi sosial para lanjut usia dengan masyrakatlingkungannya. sehingga dapat terjadi kesenjangan antara-generasi tua dan muda. Hal ini berpengaruh negatif pada kondisi sosial psikologis mereka yang merasa sudah tidak diperlukan lagi oleh masyarakat lingkungan sekitarnya. Dengan demikian. Rendahnya produktivitas kerja lanjut usia dibandingkan dengan tenaga kerja muda dan tingkat pendidikan serta ketrampilan yang rendah. akibat produktivitas dan kegiatan Lanjut Usia menurun. dan terpaksa menganggur. mental maupun sosial. sehingga diperlukan bantuan dari berbagai pihak agar mereka tetap mandiri serta mempunyai penghasilan cukup. b. Mundurnya keadaan fisik yang menyebabkan penuaan peran sosialnya dan dapat menjadikan mereka lebih tergantung kepada pihak lain. berbagai permasalahan khusus yang berkaitan dengan kesejahteraan lanjut usia adalah sebagai berikut: a. Di pihak lain. Banyaknya lanjut usia yang miskin. f. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah kepada tatanan masyarakat individualistik. c. dimana norma yang dianut bahwa orang tua merupakan bagian dari kehidupan keluarga yang tidak dapat dipisahkan dan didasarkan kepada suatu ikatan kekerabatan yang kuat. yang berakibat timbulnya masalah baik fisik. polusi dan urbanisasiyang dapat mengganggu kesehatan fisik lanjut usia. Berlangsungnya proses menjadi tua. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan seperti dampak lingkungan. d. f. dapat terjadi sebagian generasi muda beranggapan bahwa para lanjut usia tidak perlu lagi aktif dalam urusan hidup sehari-hari. Permasalahan Khusus Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1998). Di samping itu terjadi pergeseran nilai budaya tradisional. dimana orang tua dihormati serta dihargai. . e. menyebabkan mereka tidak dapat mengisi lowongan kerja yang ada. sehingga seseorang anak mempunyai kewajiban untuk mengurus orang tuanya. sehingga Lanjut Usia kurang dihargai dan dihormati serta mereka tersisih dari kehidupan masyarakat dan bisa menjadi terlantar. terlantar dan cacat. Berkurangnya integrasi sosial Lanjut Usia. Terkosentrasinya dan penyebaran pembangunan yang belum merata menimbulkan ketimpangan antara penduduk lanjut usia di kota dan di desa.

umur . suhu. TB. perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan . o Orang-orang terdekat Status perkawinan. o Aspek fisik / biologis Hasil pengukuran tada vital (TD.putus sekolah . o Keluhan Utama Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada . tangggal MRS .PHK. ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL:MENARIK DIRI A. perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi . Pengkajian o Identitas Klien Meliputi nama klien . kebiasaan pasien di dalam tugas-tugas keluarga dan fungsi-fungsinya.dituduh KKN. nilai-nilai yang berhubungan dengan kesehatan dan keperawatan. BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien.harapan orang tua yang tidak realistis . dependen. agama. No Rumah klien dan alamat klien. proses interaksi dalam keluarga. dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama. . berdiam diri dikamar . tangggal pengkajian. o Faktor predisposisi Kehilangan. o Kultural Latar belakang etnis. tidak melakukan kegiatan sehari – hari . perpisahan . Nadi.kegagalan /frustasi berulang. tekanan dari kelompok sebaya. informan. tingkah laku mengusahakan kesehatan (sistem rujukan penyakit).II. status perkawinan. Pernapasan . jenis kelamin . kepercayaan mengenai perawatan dan pengobatan.menolak interaksi dengan orang lain. kecelakaan dicerai suami . faktor-faktor kultural yang dihubungkan dengan penyakit secara umum dan respons terhadap rasa sakit. pengaruh orang terdekat.

mengungkapkan ketakutan. Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. putus sekolah. 4. kelempok yang diikuti dalam masyarakat. mengungkapkan keputus asaan. membersikan dan merapikan pakaian. gangguan hubungan sosial .a) Aspek Psikososial 1. Menolak penjelasan perubahan tubuh . Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan 2. persepsi negatip tentang tubuh. . Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga sosialdengan orang lain terdekat dalam kehidupan. 3. Konsep diri Citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. dan kurang percaya diri. d) Ideal diri Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. mencederai diri. kenyakinan klien terhadap tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual) o Status Mental Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata . klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan denga orang lain . proses menua . Genogram yang menggambarkan tiga generasi 2. b) Identitas diri Ketidakpastian memandang diri . merendahkan martabat . Klien mampu BAB dan BAK. Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang . rasa bersalah terhadap diri sendiri . o Kebutuhan persiapan pulang. menggunakan dan membersihkan WC. PHK. sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan c) Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit . e) Harga diri Perasaan malu terhadap diri sendiri . kurang dapat memulai pembicaraan . 1.

dan rehabilitas. TAK . Klien dapat melakukan istirahat dan tidur . ii. dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah 5. B.Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT.therapy okopasional.3. • Intoleransi aktifitas. o Mekanisme Koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain ( lebih sering menggunakan koping menarik diri) o Aspek Medik i. kurang komunikasi verbal. • Kekerasan resiko tinggi. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi 4. Diagnosa Keperawatan . Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar. Psikomotor. 1995) Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut : • Isolasi sosial : menarik diri • Gangguan konsep diri: harga diri rendah • Resiko perubahan sensori persepsi • Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain • Gangguan komunikasi verbal.Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen.

kehilangan memori. Rasionalnya: membantu pasien/orang terdekat untuk memulai menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai perubahan fungsi/gaya hidup. 2. pengaruh kultural. Intervensi Diagnosa 1: a. Harga diri rendah berhubungan dengan merasakan/mengantisipasi kegagalan pada peristiwa-peristiwa kehidupan. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan sistem saraf. Intervensi Diagnosa 2: a.nilai spiritual. Rasionalnya: memberi kesempatan untuk mengidentifikasi kesalahan konsep dan mulai melihat pilihan-pilihan. Ketidakpatuhan berhubungan dengan sistem penghargaan pasien. Rasionalnya: memungkinkan pasien untuk berhubungan dengan grup yang diminati dengan cara yang membantu dan perlengkapan pendukung. b. pelayanan dan konseling. 2. meningkatkan orientasi realita. misalnya penggunaan teknik relaksasi keinginan untuk mengekspresikan perasaan. Dorong pengungkapan perasaan. C. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional/maturasional. Intervensi keperawatan 1. . mungkin dapat digunakan sekarang untuk mengatasi tegangan dan memelihara rasa kontrol individu. 4. ketidakseimbangan tingkah laku adaptif dan kemampuan memecahkan masalah. Rasionalnya: jika individu memiliki kemampuan koping yang berhasil dilakukan dimasa lampau. Berikan informasi dan penyerahan ke sumber-sumber komunitas. menerima apa yang dikatakannya. Kaji munculnya kemampuan koping positif. 3. keyakinan kesehatan. Bantu pasien dengan menjelaskan hal-hal yang diharapkan dan hal-hal tersebut mungkin di perlukan untuk dilepaskan atau dirubah.1. c.

Kaji tingkat realita bahaya bagi pasien dan tingkat ansietas. Rasionalnya: respon individu dapat bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari. Evaluasi 1. Persepsi yang menyimpang dari situasi mungkin dapat memperbesar perasaan. b. Pasien dapat menunjukkan pengetahuan yang akurat akan penyakit dan pemahaman regimen pengobatan. a. Kepercayaan akan meningkatkan persepsi pasien tentang situasi dan partisipasi dalam regimen keperawatan. Intervensi diagnosa 4: Tentukan kepercayaan kultural. .b. Pasien mampu mengidentifikasi adanya kekuatan dan pandangan diri sebagai orang yang mampu mengatasi masalahnya. b. Pasien mampu menunjukkan kewaspadaan dari koping pribadi/kemampuan memecahkan maslah. Kaji sistem pendukung yang tersedia bagi pasien. Pahami rasa takut/ansietas Rasionalnya: perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk terbuka sehingga dapat mendiskusikan dan menghadapinya. Perbaiki kesalahan konsep yang mungkin dimiliki pasien Rasionalnya: membantu mengidentifikasi dan membenarkan persepsi realita dan memungkinkan dimulainya usaha pemecahan masalah. 4. 2. Rasionalnya: adanya keluarga/orang terdekat yang memperhatikan/peduli dapat membantu pasien dalam proses penyembuhan. Rasionalnya: menyediakan petunjuk untuk membantu pasien dalam mengembangkan kemampuan koping dan memperbaiki ekuilibrium. 3. Intervensi diagnosa 3: a. Dorong pasien untuk berbicara mengenai apa yang terjadi saat ini dan apa yang telah terjadi untuk mengantisipasi perasaan tidak tertolong dan ansietas. Rasionalnya: memberikan wawasan mengenai pemikiran/faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu. 3. c. spiritual dan kesehatan. Pasien mampu melakukan relaksasi dan melaporkan berkurangnya ansietas ke tingkat yang dapat diatasi. D.

transportasi. 2. dan perumahan serta memberikan gizi yang baik dan obat-obatan untuk mencegah terjadinya penyakit yang bisa mempercepat proses penuaa. B. Dapat dibentuk wadah tempat lansia bersosialisasi bersama peer groupnya. masyarakat maupun pemerintah. Kesimpulan Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga .serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam . Saran 1.Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun hidupnya.dihormati oleh orang lain. Mengingat kondisi psikososial lansia yang tidak berbeda di antara lokasi pemukiman.BAB III PENUTUP A. hendaknya difasilitasi dengan memberi kesejahteraan berupa dukungan moril dan sprituil kepada kelompok lansia berupa perbaikan ekonomi.dicintai. kesehatan.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima. maka lansia dapat tinggal di mana saja asalkan tetap mendapatkan perhatian atau dukungan. dari orang lain. Untuk meningkatkan aktifitas fisik dan perilaku kesehatan. baik dari keluarga.

Mengembangkan hubungan yang bermakna. 6. 1919. Marilyon. . 5. Mengembangkan perspektif yang lebih jelas mengenai hidup lansia. Menghindari sikap menarik diri sebagai lansia. DAFTAR PUSTAKA Setiabudhi. Tony dan Hardywinoto. Jakarta: EGC. Doenges. 4. 2005. Panduan Gerontologi: Tinjauan dari Berbagai Aspek. Menggantikan kepuasan-kepuasan yang hilang. Rencana Asuhan Keperawatan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. E. dkk.3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful