P. 1
Tugas bahasa Indonesia

Tugas bahasa Indonesia

|Views: 1,215|Likes:
Published by Duadua Mata
agan2 ini w posting tugas bahasa indonesia untuk anak2 SK UNIVED Bengkulu...tarik aja gan gak pa2....
agan2 ini w posting tugas bahasa indonesia untuk anak2 SK UNIVED Bengkulu...tarik aja gan gak pa2....

More info:

Published by: Duadua Mata on Nov 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

TUGAS “BAHASA INDONESIA”

Disusun Oleh: Nama : Sovian Laruzandi NPM : 10020026 Jur : Sistem Komputer

Universitas Dehasen (UNIVED) Bengkulu
2010-2011

Materi Dari :

1. Ragam Bahasa 2. Ejaan 3. Pemakaian Huruf 4. Penulisan Kata 5. Bentuk dan Makna Kata 6. Kalimat 7. Alenia 8. Topik dan Tema 9. Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Ragam Bahasa
A. RAGAM BAHASA BERDASARKAN MEDIA/SARANA 1. Ragam bahasa Lisan Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide. 2. Ragam bahasa tulis Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide. Contoh : Ragam bahasa lisan Ragam bahasa tulis 1. Putri bilang kita harus pulang 1. Putri mengatakan bahwa kita harus pulang 2. Ayah lagi baca koran 2. Ayah sedang membaca koran 3. Saya tinggal di Bogor 3. Saya bertempat tinggal di Bogor B. RAGAM BAHASA BERDASARKAN PENUTUR 1. Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek). Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal diJakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak padapelafalan/b/pada posisiawal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll. 2. Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah,

komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai. Contoh : 1) Ira mau nulis surat  Ira mau menulis surat 2) Saya akan ceritakan tentang Kancil  Saya akan menceritakan tentang Kancil. 3. Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur. Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam situasi resmi/formal, baik lisan maupun tulisan. Bahasa baku dipakai dalam : a. pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran; b. pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat; c. komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang; d. wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi. Segi kebahasaan yang telah diupayakan pembakuannya meliputi a. tata bahasa yang mencakup bentuk dan susunan kata atau kalimat, pedomannya adalah buku Tata Bahasa BakuIndonesia; b. kosa kata berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI); c. istilah kata berpedoman pada Pedoman Pembentukan Istilah; d. ejaan berpedoman pada Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD); e. lafal baku kriterianya adalah tidak menampakan kedaerahan.

C. RAGAM BAHASA MENURUT POKOK PERSOALAN ATAU BIDANG PEMAKAIAN Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa. Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran; improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum; pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang. Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta 1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus jutarupiah).

EJAAN
Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa (kata, kalimat, dsb) dengan kaidah tulisan (huruf) yang distandardisasikan. Ejaan biasanya memiliki tiga aspek yaitu: 1. Aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad. 2. Aspek morfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis. 3. Aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca. Dasar yang paling baik dalam melambangkan bunyi-ujaran atau bahasa adalah satu bunyi-ujaran yang mempunyai fungsi untuk membedakan arti harus dilambangkan dengan satu lambang tertentu. Dengan demikian pelukisan atas bahasa lisan itu akan mendekati kesempurnaan, walaupun kesempurnaan yang dimaksud itu tentulah dalam batas-batas ukuran kemanusiaan, masih bersifat relatif. Walaupun begitu literasi (penulisan) bahasa itu belum memuaskan karena kesatuan intonasi yang bulat yang menghidupkan suatu arus-ujaran itu hingga kini belum dapat diatasi. Sudah diusahakan bermacam-macam tanda untuk tujuan itu tetapi belum juga memberi kepuasan. Segala macam tanda baca untuk menggambarkan perhentian antara, perhentian akhir, tekanan, tanda tanya, dan lain-lain adalah hasil dari usaha itu. Tetapi hasil usaha itu belum dapat menunjukkan dengan tegas bagaimana suatu ujaran harus diulang oleh yang membacanya. Segala macam tanda baca seperti yang disebut di atas disebut : tanda baca atau pungtuasi. Walaupun sistem ejaan sekarang didasarkan atas sistem fonemis, yaitu satu tanda untuk satu bunyi, namun masih terdapat kepincangan-kepincangan. Ada fonem yang masih dilambangkan dengan dua tanda (diagraf), misalnya ng, ny, kh, dan sy. Jika kita menghendaki kekonsekuenan terhadap prinsip yang dianut, maka diagraf-diagraf tersebut harus dirubah menjadi monograf (satu fonem satu tanda). Di samping itu masih terdapat kekurangan lain yang sangat mengganggu terutama dalam mengucapkan katakata yang bersangkutan, yaitu ada dua fonem yang dilambangkan dengan satu tanda saja yakni e (pepet) dan e (taling). Ini menimbulkan dualisme dalam pengucapan. Ejaan suatu bahasa tidak saja berkisar pada persoalan bagaimana melambangkan bunyibunyi ujaran serta bagaimana menempatkan tanda-tanda baca dan sebagainya, tetapi juga meliputi hal-hal seperti: bagaimana menggabungkan kata-kata, baik dengan imbuhan-imbuhan maupun antara kata dengan kata. Pemotongan itu berguna terutama bagaimana kita harus memisahkan huruf-huruf itu pada akhir suatu baris, bila baris itu tidak memungkinkan kita menulils seluruh kata di sana. Apakah kita harus memisahkan kata bunga menjadi bu – nga atau b – unga . Semuanya ini memerlukan suatu peraturan umum, agar jangan timbul kesewenangan. • Macam-Macam Ejaan

Perubahan yang paling penting dalam EYD adalah: Lama dj djalan Yang Disempurnakan j jalan

j nj sj* tj ch*

pajung njonja sjarat tjakap tarich

y ny sy c kh

payung nyonya syarat cakap tarikh

* Kedua gabungan huruf ini sebenarnya tidak terdapat dalam ejaan lama. Di samping itu diresmikan pula huruf-huruf berikut di dalam pemakaian: f maaf, fakir v valuta, universitas z zeni, lezat q, x huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai. Ejaan Baku Dan Ejaan Tidak Baku Dalam Bahasa Indonesia - Pengertian, Referensi Dan Contoh definisi atau pengertian ejaan baku dan ejaan tidak baku Ejaan baku adalah adalah ejaan yang benar, sedangkan ejaan tidak baku adalah ejaan yang tidak benar atau ejaan salah.Contoh ejaan baku dan ejaan tidak baku, di mana yang sebelah kiri adalah salah dan yang sebelah kanan adalah betul : - apotik : apotek - atlit : atlet - azas : asas - azasi : asasi - bis : bus - do'a : doa - duren : durian - gubug : gubuk - hadist : hadis - ijin : izin - imajinasi : imaginasi - insyaf : insaf - jaman : zaman Ekstra ilmu pengetahuan ejaan yang disempurnakan / eyd : - kreatifitas : kreativitas - kreativ : kreatif - aktifitas : aktivitas - aktiv : aktif - sportifitas : sportivitas - sportiv : sportif

PEMAKAIAN HURUF
A. Huruf Abjad Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf. Berikut dapat dilihat dalam tabel. Huruf A B C D E F G H I B. a b c d e f g h i Nama a be ce de e ef ge ha i Huruf J K L M N O P Q R j k l m n o p q r Nama je ka el em en o pe ki er Huruf S T U V W X Y Z s t u v w x y z Nama es te u ve we eks ye zet

Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas 5 huruf, yaitu: a, e, i, o, dan u. Huruf Vokal a e* i o u * Awal api enak emas itu oleh ulung Contoh Pemakaian dalam Kata Tengah Akhir padi tua gerak sore kena tipe simpan murni kota radio bumi ibu

Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan. Misalnya: Anak-anak bermain di teras (téras). Upacara itu dihadiri pejabat teras pemerintahan. Kami menonton film seri (séri). Pertandingan itu berakhir seri. C. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf, yaitu: b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z. Huruf Konsonan b c d f Contoh Pemakaian dalam Kata Awal Tengah Akhir badan sebut adab cantik kaca – dua adil abad fakir kafan maaf

g h j k l m n p q* r s t v w x* y z

ganti hari jalan kami – luka maka nama padi quran raih satu tali virus wanita xenon yakin zaitun

tiga dahi manjur paksa rakyat* alas kami anak apa furqan bara asli mata lava hawa – payung lazim

gudeg sudah mikraj politik bapak* kesal diam daun siap – putar malas rapat – – – – juz

* Huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah. ** Khusus untuk nama dan keperluan ilmu. D. au, oi. Huruf Diftong ai au oi E. Contoh Pemakaian dalam Kata Awal Tengah Akhir syaitan pandai saudara harimau boikot amboi Huruf Diftong Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai,

ain aula –

Gabungan–Huruf Konsonan

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan satu bunyi konsonan, yaitu: kh, ng, ny, sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan. Huruf Vokal kh ng ny sy F. 1. Awal khusus ngilu nyata syarat Contoh Pemakaian dalam Kata Tengah Akhir akhir tarikh bangun senang hanyut – isyarat –

Pemenggalan Kata Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut. a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya:

ma-in, sa-at, bu-ah Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu. Misalnya: au-la bukan a-u-la sau-dara bukan sa-u-da-ra am-boi bukan am-bo-i b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan–huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, maka pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan. Misalnya: ba-pak, ba-rang, to-koh, pe-rang, ji-ka, su-lit, la-wan, de-ngan, kenyang, mu-ta-khir c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, maka pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan–huruf konsonan tidak pernah diceraikan. Misalnya: man-di, som-bong, bah-wa, tan-da, in-dah, sur-ya, in-tan, jan-ji, bangsa, makh-luk d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, maka pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua. Misalnya: in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, sas-tra, ikh-las, anggrek 2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris. Misalnya: makan-an, me-rasa-kan, mem-bawa, pergi-lah Catatan: a. Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal. b. Akhiran –i tidak dipenggal. c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut, Misalnya: te-lun-juk, je-ma-ri, ge-ri-gi 3. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, maka pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah pemenggalan kata yang telah dijelaskan di atas. Misalnya: bio-grafi, bi-o-gra-fi intro-speksi, in-tro-spek-si kilo-gram, ki-lo-gram pasca-panen, pas-ca-pa-nen Keterangan Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.

PENULISAN KATA
A. Kata Dasar Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misalnya: Ibu peraya bahwa engkau tahu. Kantor pajak penuh sesak. Buku itu sangat tebal. Perempuan itu sangat cantik. B. Kata Turunan 1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya: bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan 2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.) Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebarluaskan 3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.) Misalnya: menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan, penghancur-leburan 4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, awahama, bikarbonat, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter, demoralisasi, dwiwarna, ekawarna, ekstrakurikuler, elektroteknik, infrastruktur, inkonvensional, introspeksi, kolonialisme, kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolaborasi, pancasila, panteisme, paripurna, poligami, pramuniaga, prasangka, purnawirawan, reinkarnasi, saptakrida, semiprofesional, subseksi, swadaya, telepon, transmigrasi, tritunggal, ultramodern Catatan: 1. Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-). Misalnya: non-Indonesia, pan-Afrikanisme 2. Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah. Misalnya: Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. C. Kata Ulang Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya:

anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biribiri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan dibesar-besarkan, menulis-nulis, terusmenerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra D. Gabungan Kata 1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya: duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat 2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubunguntuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan. Misalnya: alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda 3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Misalnya: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, darmawisata, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, saptamarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa yang kumiliki boleh kauambil. Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan. F. Kata Depan di, ke, dan dari Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kacuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya: Kain itu terletak di dalam lemari. Bermalam sajalah di sini. Di mana Siti sekarang? Mereka ada di rumah. Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan. Ke mana saja ia selama ini? Kita perlu berfikir sepuluh tahun ke depan. Mari kita berangkat ke pasar. Saya pergi ke sana-sini mencarinya. Ia datang dari Surabaya kemarin.

Catatan: Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai. Si Amin lebih tua daripada si Ahmad. Kami percaya sepenuhnya kepadanya. Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu. Ia masuk, lalu keluar lagi. Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966. Bawa kemari gambar itu. Kemarikan buku itu. Semua orang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu. G. Kata si dan sang Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya: Harimau itu marah sekali kepada sang kancil. Surat itu dikirimkan kembali kapada si pengirim. H. Partikel 1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Bacalah buku itu baik-baik. Apakah yang tersirat dalam surat itu? Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia. Siapakah gerangan dia? Apatah gunanya bersedih hati? 2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus. Handak pulang pun sudah tak ada kendaraan. Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku. Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi. Catatan: Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai. Misalnya: Adapun sebab-sebabnya belum diketahui. Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu. Baik para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi. Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan. Walaupun miskin, ia selalu gembira. 3. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya: Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April. Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.

Harga kain itu Rp2.000,00 per helai.

I. Singkatan dan Akronim 1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. a.Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya: A.S. Kramawijaya Muh. Yamin Suman Hs. Sukanto S.A. M.B.A. master of business administration M.Sc. master of science S.E. sarjana ekonomi S.Pd. sarjana pendidikan S.Sos. sarjana sosial b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misalnya: DPR Dewan Perwakilan Rakyat PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara c.Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya: dll. dan lain lain dsb. dan sebagainya dst. dan seterusnya Yth. (Sdr. Moh. Hasan) Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan) Tetapi: a.n. atas nama d.a. dengan alamat d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya: Cu kuprum TNT trinitrotoluen cm sentimeter kVA kilovolt-ampere l liter 2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya:

ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia LAN Lembaga Administrasi Indonesia PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Misalnya: Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu pemilihan umum radar radio detecting and ranging rapim rapat pimpinan Catatan: Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim. J. Angka dan Lambang Bilangan 1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi. Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1000), V (5.000), M (1.000.000) Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini. 2. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas. Misalnya: 0,5 sentimeter 1 jam 20 menit 5 kilogram pukul 15.00 4 meter persegi tahun 1928 10 liter 17 Agustus 1945 Rp5.000,00 50 dolar Amerika US$3.50* 10 paun Inggris * Tanda titik di sini merupakan tanda desimal. 3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Misalnya: Jalan Tanah Abang I No. 15 Hotel Indonesia, Kamar 169 4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya: Bab X, Pasal 5, halaman 252 Surah Yasin: 9

5. Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut: a. Bilangan utuh Misalnya: dua belas 12 b. Bilangan pecahan Misalnya: setengah 1/2 tiga perempat 3/4 6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut: Misalnya: Paku Buwono X; pada awal abad XX; pada awal abad ke-20 ini; lihat Bab II, Pasal 5; dalam bab ke-2 buku itu; di daerah tingkat II itu; di tingkat kedua gedung itu; di tingkat ke-2 itu; kantor di tingkat II itu. 7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.) Misalnya: tahun ’50-an atau tahun lima puluhan uang 5000-an atau uang lima ribuan 8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan. Misalnya: Amir menonton drama itu sampai tiga kali. Ayah memesan tiga ratus ekor ayam. Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko. Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo. 9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat. Misalnya: Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu. Pak Darmo mengundang 250 orang tamu. Bukan: 15 orang tewas dalam kecelakaan itu. Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo. 10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Misalnya: Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah. Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang. 11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misalnya: Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai. Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah. Bukan: Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.

Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah. 12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Misalnya: Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp55.500,00 (lima puluh lima ribu lima ratus rupiah). Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 55.500,00 (lima puluh lima ribu lima ratus) rupiah.

BENTUK DAN MAKNA KATA
1. FONEM Fonem adalah bunyi bahasa yang berbeda atau mirip kedengarannya. Ejaan merupakan lambang bunyi yang diklasifikasikan dalam konsonan, vokal, dan diftong Dalam ilmu bahasa fonem itu ditulis di antara dua garis miring: /..././p/ dan /b/ adalah dua fonem karena kedua bunyi itu membedakan arti. Contoh: pola — /pola/ : bola — /bola/ parang — /paraŋ/ : barang — /baraŋ/ peras — /pras/ : beras — /bras/ Fonem dalam bahasa dapat mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Fonem /p/ dalam bahasa Indonesia, misalnya, dapat mempunyai dua macam lafal. Bila berada pada awal suku kata, fonem itu dilafalkan secara lepas. Pada kata /pola/, misalnya, fonem /p/ itu diucapkan secara lepas untuk kemudian diikuti oleh fonem /o/. Bila berada pada akhir kata, fonem /p/ tidak diucapkan secara lepas; bibir kita masih tetap rapat tertutup waktu mengucapkan bunyi ini. Dengan demikian, fonem /p/ dalam bahasa Indonesia mempunyai dua variasi. Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakanal ofon. Alofon dituliskan di antara dua kurung siku [...]. Kalau [p] yang lepas kita tandai dengan [p] saja, sedangkan [p] yang tak lepas kita tandai dengan [p>], maka kita dapat berkata bahwa dalam bahasa Indonesia fonem /p/ mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p>]. Bunyi-bunyi yang dapat dikatakan mirip secara fonetis adalah sebagai berikut : a) bunyi-bunyi yng lafalnya mirip dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [p] dan [b]. b) bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berdekatan. Misalnya, bunyi [b] dan [d]. c) bunyi-bunyi yang lafalnya jauh berbeda dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [b] dan [m]. d) bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berjauhan. Misalnya, bunyi [m] dan [n] 2. MORFEM Kata dan Morfem adalah dua pengertian yang berbeda, perhatikan contoh berikut : 1.Rumah itu bermandikan cahaya (4 kata) 2.Rumah-itu-ber-mandi-kan-cahaya (6 morfem)

Jadi Kata merupakan unsur terkecil yang dapat berdiri sendiri dan berbentuk bebas, dan dapat terdiri dari 1, 2 atau lebih morfem Sedangkan Morfem adalah satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi. Pembagian Morfem • Berdasarkan posisi, yakni penempatannya terdiri atas a. Morfem prefiks (awalan) : di, ber-, me-, ke-, terb. Morfem infiks (sisipan) : -el, -er, -em c. Morfem Sufiks (Akhiran) : -kan, -an, -I d. Morfem gabungan : ber-an, di-kan, me-kan e. Morfem Konfiks : per-an, ke-an Berdasarkan distribusi, terdiri atas a. Morfem bebas : morfem yang terdiri dari kata yang bisa berdiri sendiri,dapat diucapkan tersendiri, dan dapat diletakkan dalam hubungan kalimat 1 suku kata : tak, jin, jam, bus 2 suku kata : kapal, buku, pensil, guru, teman 3 suku kata : kemeja, celana, jendela 4 suku kata : kendaraan, kelelawar, distribusi 5 suku kata : partispasi, imajinasi 6 suku kata : rekapitulas b. Morfem terikat : morfem yang tidak bisa berdiri sendiri, memerlukan ikatan dengan imbuhan dalam kata atau dalam kalimat. ikatan dengan imbuhan dalam kata atau dalam kalimat. A.Keterikatan dengan imbuhan bayang = berbayang = berbayangan B.Keterikatan dengan kata mete = jambu mete, sawit = kelapa sawit, gurau = senda gurau Berdasarkan pemakaiannya ; a.Morfem produktif (morfem terbuka) ; morfem tambahan yang pemakaiannya lebih luas dan bisa diberi imbuhan lagi. mis: me + ekor = mengekor me + tatap = menatap ter + dengar = terdengar mem + beri + kan = memberikan b.Morfem nonproduktif (morfem tertutup) ; morfem yang sangat terbatas pemakaiannya terhadap kata. misal : el + tapak = telapak em + tali = temali er + gigi = gerigi c.Morfem asing ; morfem dari bahasa asingyang dipakai dalam bahasa Indonesia karena kemampuan adaptasinya dalam perluasan pemakaiannya. Misal : Non : nonproduktif, nonteknis, nonformal Dwi : dwifungsi, dwiwarna Awalan a : Amoral Awalan re : reorganisasi Berdasarkan fonem yang membentuk a. Morfem segmental ; morfem yang terdiri atas fonem-fonem konsonan dan vokal atau diftong (ai,au, oi) b. Morfem suprasegmental, morfem yang terlukis dari lagu atau lafal yang membedakan arti kata

3. PEMBAGIAN KATA 1) Berdasarkan Bentuknya • Kata Dasar ; kata yang belum mendapatkan imbuhanb. • Kata Jadian ; kata yang sudah mendapatkan imbuhan. • Kata ulang ; kata dasar atau jadian yang mengalami perulan • Kata berklitika ; diawal atau diakhir kata • Kata majemuk ; gabungan dua kata atau lebih yang menyatakan makna khusus atau mempunyai arti baru 2) Berdasarkan Artinya Menurut Aristoteles : a. Kata benda (substantif) b. Kata kerja (verba) c. Kata sifat (Adjectiva) d. Kata keterangan (Adverbia) e. Kata ganti (pronomina) f. Kata bilangan (numeralia) g. Kata depan (preposisi) h. Kata sambung (konjungsi) i. Kata sandang (artikel) j. Kata Seru (interjeksi)  Pembagian menurut kebutuhan bahasa Indonesia a. Kata Benda -kongkret ; nama diri, nama jenis, nama zat, nama kumpulan -abstrak ; nama keadaan, nama pekerjaan, nama sifat, nama ukuran, nama pengertian. b. Kata Kerja Bentuknya : dasar, berimbuhan, ulang, majemuk; jalan, jalan-jalan, berjalan, mencampur aduk c. Kata Sifat Bentuknya : dasar,, ulang,terbentuk dari frasa, dari kata serapan; baik, baikbaik, baik hati, produktif d. Kata Keterangan ; menerangkan kata yang bukan kata benda Pemabagiannya kata keterangan : waktu, tempat, modalitas(cara), tekanan, sifat dan jumlah, dan bilangan. e. Kata Ganti ; kata yang menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan ; -Kata ganti orang Orang I tunggal : aku, hamba, saya Orang II jamak : kita, kami Orang II tunggal : engkau, kamu, saudara Orang II jamak: hadirin, kalian Orang III tunggal : ia, dia, beliau Orang III jamak : mereka, ia, sekalian -Kata ganti kepunyaan ; aku, ku, mu, nya -Kata ganti penunjuk, misal: buku ini, rumah itu -Kata ganti penghubung ; kata yang menghubungkan suatu kata benda dengan sifatnya atau dengan kata yang menerangkannya, mis : buku yang mahal barang yang banyak diperebutkan -Kata ganti penanya : menayakan benda atau sesuatu yang menerangkannya. : apa, mana, siapa, apabila, bagaimana, manakala, berapa

f. Kata Depan -Kata depan sejati (asli): di, ke, dari -Kata depan tak sejati (tak asli) : akan, demi, daripada, tentang dsb g. Kata Sambung atau kata penghubung : kata yang menghubungkan dua kata dalam kalimat atau kata yang menghubungkan dua kalimat menjadi satu kalimat yang utuh. h.Kata Sandang ; digunakan untuk menjadikan kata atau bagian kalimat bersifat kata benda serta memberi ketentuan kepada kepada kata benda, mis; si, sang, para, yang i. Kata Bilangan K.B. utama : 1,2,3… K.B. tingkat: kesatu, kedua, ketiga … K.B. tak tentu: semua, beberapa, setiap K.B. kumpulan: berdua, bertiga K.B. bilangan: sebilah pisau, seutas tali j.Kata Seru (interjeksi) Kata seru yang berdiri sendiri : wah!, astagfirullah! Kata seru yang kedudukannya terpisah : ah, hei Kata seru yang mengikuti atau menyelinap di antara kalimat : eh, bukan,ampuni kami, ya Tuhan…. Kata seru yang menyatakan luapan perasaan : aduh, sakit!, aduh, cantiknya 4. Frase Frase atau kelompok kata adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk kesatuan dan merupakan unsur-unsur pembentuk kalimat Frase terbagi atas Frase bertingkat (endosentrik) ; memilikipola inti, pola DM atau MD. Mis. Penuh wibawa M D (inti) Gembira Sekali D(inti) M Frase setara (eksesentrik) ; tidak memiliki inti frase,unsur-unsurnya merupakan kelompok kata yang setara Mis; tanya jawab Penggolongan frase berdasarkan Kelas kata; a.Frase Nominal ; distribusinya sama dengan kata benda ;rumah mewah b. Frase Verbal ; distribusinya sama dengan kata kerja ; belumpergi c.Frase Sifat; distribusinya sama dengan kata sifat;juju r sekali d. Frase bilangan ; distribusinya sama dengan kata bilangan ;tujuh helai e. Frase Depan ; frase yang diawali katadepan dan diikuti dengan kata benda,kerja, bilangan dan keterangan ;d ariterminal f.Frase keterangan ; distribusinya sama dengan kata keterangan ;minggu depan MENURUT POLANYA a. Frase berpola DM Misalnya : Mesin tangan D M b. Frase berpola MD Misalnya : Seluruh negeri M D c. Frase berpola MDM Misalnya : Keterangan Bapak Dokter

M 5. Perubahan Makna

D

M

 Meluas Makna sekarang lebih luas daripada makna dahulu, Misalnya: Dahulu : putera-puteri---- anak raja Sekarang : putera-puteri---- semua anak laki-laki danperempuan  Menyempit Makna dahulu lebih luas daripada makna sekarang, Misalnya: Dahulu : sarjana---- gelar kaum cendikiawan Sekarang : sarjana---- gelar universitas/perguruan tinggi  Amelioratif Makna sekarang nilainya dirasakan lebih tinggi daripada dahulu, Misalnya : istri lebih tinggi nilainya daripada bini.  Peyoratif Arti sekarang nilainya dirasakan lebih rendah daripada dahulu, Misalnya: dahulu kaki tangan = pembantu, arti sekarang anak buah.  Sinestesia Perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berlainan Misalnya : senyumnyahamba r (hambar digunakan sebagai indera pengecap)  Asosiasi Perubahan makna yang terjadi akibat persamaan sifat Misalnya:dia menerima amplop (menerima uang suap)

Kalimat
Kalimat adalah gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir. Kalimat dapat dibagi-bagi lagi berdasarkan jenis dan fungsinya yang akan dijelaskan pada bagian lain. Contohnya seperti kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap, kalimat pasif, kalimat perintah, kalimat majemuk, dan lain sebagainya.

• Unsur Kalimat
Kalimat adalah gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir. Kalimat dapat dibagi-bagi lagi berdasarkan jenis dan fungsinya yang akan dijelaskan pada bagian lain. Contohnya seperti kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap, kalimat pasif, kalimat perintah, kalimat majemuk, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah contoh kalimat secara umum : - Joy Tobing adalah pemenang lomba Indonesian Idol yang pertama. - Pergi! Setiap kalimat memiliki unsur penyusun kalimat. Gabungan dari unsurunsur kalimat akan membentuk kalimat yang mengandung arti. Unsur-unsur inti kalimat antara lain SPOK : - Subjek / Subyek (S) - Predikat (P) - Objek / Obyek (O) - Keterangan (K) Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lain. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!); dan di dalamnya dapat disertakan tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), pisah (-), dan spasi. Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru pada wujud tulisan sepadan dengan intonasi akhir pada wujud lisan sedangkan spasi yang mengikuti mereka melambangkan kesenyapan. Tanda baca lain sepadan dengan jeda.

Jenis-jenis Kalimat Kalimat adalah gabungan dari beberapa kata yang mengungkapkan suatu maksud. Secara lisan, kalimat diiringi dengan nada bicara, jeda dan intonasi. Secara tertulis, kalimat ditandai dengan huruf kapital dan tanda baca yang sesuai. JENIS-JENIS KALIMAT Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan Kalimat aktif Biasanya memiliki predikatnya berupa kata kerja suatu pekerjaan.Contoh : Nina menulis surat untuk nenek. berawalan me atau ber. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai Kalimat Pasif Biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan di-. pekerjaan.Contoh : Surat untuk nenek ditulis oleh Nina. Cara mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif : 1) Subjek pada kalimat aktif dijadikan objek pada kalimat pasif. 2) Awalan me- diganti dengan di-. 3) Tambahkan kata oleh di belakang predikat. Contoh : Bapak memancing ikan. (aktif) Ikan dipancing oleh bapak. (pasif)] 4) Jika subjek kalimat akrif berupa kata ganti maka awalan me- pada predikat dihapus, kemudian subjek dan predikat dirapatkan. Contoh : Aku harus memngerjakan PR.(aktif) PR harus kukerjakan. (pasif) Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat Kalimat Langsung Bagian kutipan dalam kalimat langsung dapat menirukan ucapan orang. Biasanya ditandai dengan berupa kalimat tanya atau kalimat perintah.Contoh : Ibu berkata, “Anis, jangan tanda petik ( “....” )bermain-main saja, kamu harus belajar !” Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang Kalimat Tidak Langsung Bagian kutipan pada kalimat menceritakan kembali ucapan orang lain. Contoh : Ibu berkata bahwa langsung berubah menjadi kalimat berita.aku harus rajin belajar. Kalimat berita adalah kalimat yang isinya Kalimat BeritaUmumnya mendorong orang untuk memberikan memberitahukan sesuatu.tanggapan. Macam-macam kalimat berita : 1. Kalimat berita kepastian Contoh : Nenek akan datang dari Bandung besok pagi. 2. Kalimat berita pengingkaran Contoh : Saya tidak akan datang pada acara ulang tahunmu. 3. Kalimat berita kesangsian Contoh : Bapak mungkin akan tiba besok pagi. 4. Kalmat berita bentuk lainnya Contoh : Kami tidak tahu mengapa dia datang terlambat. Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan Kalimat Perintah memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Dalam bentuk lisan, kalimat Biasanya diakhiri dengan tanda seru (!). perintah ditandai dengan intonasi tinggi. Macam-macam kalimat perintah :

1. Kalimat perintah biasa, ditandai dengan partikel lah. Contoh : Gantilah bajumu ! 2. Kalimat larangan, ditandai dengan penggunaan kata jangan. Contoh Jangan membuang sampah sembarangan ! 3. Kalimat ajakan, ditandai dengan kata mohon, tolong, silahkan. Contoh : Tolong temani nenekmu di rumah ! Kalimat tanya adalah kalimat yang isinya menanyakan Kalimat Tanyasesuatu atau seseorang sehingga diperoleh jawaban tentang suatu masalah.Secara lisan, kalimat Biasanya diakhiri dengan tanda tanya (?). Contoh : Apakah kamu tanya ditandai dengan intonasi yang rendah.sakit ? Siapa yang membeli buku ini ? Kalimat efektif memiliki syarat : 1. Secara tepat Kalimat Efektifmewakili gagasan penulis atau pembicaranya. 2. Menimbulkan gambaran yang sama antara penulis dengan pembaca atau pembicara dengan pendengar. Ciri-ciri : 1. Memiliki kesatuan gagasan atau ide pokok 2. menggunakan kata atau frase imbuhan yang memiliki kesamaan. 3. Tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu. 4. Memberikan penekanan pada bagian-bagian yang penting. Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari Inti kalimat dibentuk oleh subjek dan inti kalimat atau satu kalimat. Jenis-jenis kalimat tunggal predikat 1. Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda. Contoh :Saya siswa kelas VI. 2. Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja. Contoh : Adik bernyanyi. 2. Kalimat Tanya kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesuatu. Kalimat ini memiliki polaintonasi yang berbeda dari kalimat berita. Pola intonasi kalimat berita bertnada akhirturun, sedanhkan pola intinasi kalimat tanya bernada akhir naik. Di samping itu, nadasukuj aterakahir yang lebih tinggi sedikit dibandungkan dengan nada suku terakhirpola intonasi kalimat berita. a. Apa Kata tanya apa digunakan untuk menanyakan benda, tumbuhan, hewan dan identitas. Contoh : – Petani itu membawa apa? - Kamu membaca buku apa? b. SiapaKata tanya siapa digunakan untuk meenanyakan Tuhan, Malaikat dan manusia. Contoh: – Anda mencari siapa? - Ini sepeda siapa? c. Mengapa Kata tanya mengapa digunakan untuk menanyakan perbuatan dan sebab. Contoh: – Anak itu sedang mengapa? - Mengapa anak itu menangis? d. Kenapa kata tanya kenapa digunakan untuk menanyakan sebab. Contoh: Kenapa anak itu menangis?

e. Bagaimana Kata tanya bagaimana menanyakan keadaan dan cara. Contoh: – Bagaimana nasibnya sekarang? - Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi? f. Mana Kata tanya mana menanyakan tempat, sesuatu dari suatu kumpulan dan sesuatu yang dijanjikan sebelumnya. Contoh: – Kamu orang mana?

Alenia/Paragraf dan Kalimat Topik
paragraf adalah serangkaian kalimat yang terorganisir dan koheren, dan semuanya yang terkait dengan topik tunggal. Hampir setiap bagian tulisan yang Anda lakukan yang lebih lama dari beberapa kalimat harus diatur ke dalam paragraf. Hal ini karena ayat menunjukkan pembaca dimana subdivisi dari esai mulai dan akhir, dan dengan demikian membantu pembaca melihat organisasi esai dan pegang utamanya poin. Paragraf dapat berisi berbagai macam informasi. ayat A bisa berisi serangkaian contoh ilustrasi singkat atau panjang satu titik umum. Ini mungkin menggambarkan tempat, karakter, atau proses; menceritakan serangkaian peristiwa; membandingkan atau kontras dua atau lebih hal; mengklasifikasikan item ke dalam kategori, atau menggambarkan sebab dan akibat. Terlepas dari jenis informasi yang dikandungnya, semua paragraf memiliki karakteristik tertentu. Salah satu yang paling penting dari ini adalah sebuah kalimat topik. KALIMAT TOPIK ayat terorganisir dengan baik mendukung atau mengembangkan ide pengendalian tunggal, yang dinyatakan dalam kalimat yang disebut kalimat topik. Sebuah kalimat topik memiliki beberapa fungsi penting: ini substantiates atau mendukung tesis pernyataan esai, melainkan menyatukan isi paragraf dan mengarahkan urutan kalimat, dan menyarankan pembaca subyek yang akan dibahas dan bagaimana paragraf akan membicarakannya . Pembaca umumnya melihat ke beberapa kalimat pertama dalam paragraf untuk menentukan subjek dan perspektif paragraf. Itulah mengapa sering terbaik untuk menaruh kalimat topik pada awal paragraf. Dalam beberapa kasus, bagaimanapun, ini lebih efektif untuk menempatkan kalimat lain sebelum kalimat topikmisalnya, kalimat menghubungkan paragraf tersebut ke yang sebelumnya, atau satu memberikan informasi latar belakang. Meskipun kebanyakan paragraf harus memiliki kalimat topik, ada beberapa situasi ketika paragraf mungkin tidak membutuhkan kalimat topik. Misalnya, Anda mungkin dapat menghilangkan suatu kalimat topik dalam sebuah paragraf yang menceritakan serangkaian acara, jika paragraf terus mengembangkan sebuah ide yang Anda diperkenalkan (dengan kalimat topik) pada paragraf sebelumnya, atau jika semua kalimat dan rincian dalam ayat yang jelas lihat-mungkin secara tidak langsung-ke titik utama. Sebagian besar paragraf Anda, bagaimanapun, harus memiliki kalimat topik.

PARAGRAF STRUKTUR Kebanyakan paragraf dalam esai memiliki bagian struktur tiga-introduksi, tubuh, dan kesimpulan. Anda dapat melihat struktur ini di paragraf apakah mereka menceritakan, menggambarkan, membandingkan, kontras, atau menganalisis informasi. Setiap bagian dari ayat memainkan peranan penting dalam berkomunikasi berarti Anda untuk pembaca Anda. Pendahuluan: bagian pertama dari sebuah paragraf, harus mencakup kalimat topik dan kalimat-kalimat lain pada awal paragraf yang memberikan informasi latar belakang atau menyediakan transisi. Body: berikut pendahuluan; membahas ide pengendalian, menggunakan fakta, argumen, analisis, contoh, dan informasi lainnya. Kesimpulan: bagian akhir, meringkas hubungan antara informasi yang dibahas dalam tubuh paragraf dan yang mengendalikan gagasan paragraf

Tema, Topik, dan Judul
• • •

• •

Tema merupakan persoalan utama yang diungkapkan oleh pengarang dalam sesebuah karya kesusteraan seperti cerpen atau novel. Biasanya tema diolah berdasarkan sesuatu motif tertentu yang terdiri dari pada objek, peristiwa kejadian dan sebagainya. Ada pendapat lain yang mengatakan bahawa tema sebagai satu gagasan, fikiran atau persoalan utama yang mendasari sesebuah karya sastera dan terungkap secara langsung (eksplisit) atau tidak langsung (implisit). Tema dalam sesebuah cerita tidak dapat dilihat sepenuhnya sehingga cerita itu selesai dibaca. Selain itu, tema dapat dikesan melalui:

1. Perwatakan watak-watak dalam sesebuah cerita. 2. Peristiwa,kisah,suasana dan unsur lain seperti nilai-nilai kemanusian dan kemasyarakatan yang terdapat dalam cerita. 3. Persoalan-persoalan yang disungguhkan dan kemudian mendapatkan pokok persoalannya secara keseluruhan. 4. Plot cerita.

Dalam novel dan cerpen, tema dapat dilihat melalui persoalan-persoalan yang dikemukakan, cara-cara watak itu bertentangan antara satu sama lain, bagaimana cerita diselesaikan, semuanya menentukan rupa tema yang dikemukakan oleh pengarang.

Topik: Topik adalah berasal dari bahasa Yunani “topoi” yang berarti tempat, dalam tulis menulis bebarti pokok pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan suatu artikel. Tema: Tema berasal dari bahasa Yunani “thithenai”, berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Tema merupakan amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam karang mengarang, tema adalah pokok pikiran yang mendasari karangan yang akan disusun. Dalam tulis menulis, tema adalah pokok bahasan yang akan disusun menjadi tulisan. Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau tujuan dari penulisan artikel itu. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarmya yang akan ditulis atau diuraikan oleh penulis. Judul:

Definisi Judul

Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dan lain-lain; identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis, bersipat menjelaskan diri dan yang manarik perhatian dan adakalanya menentukan wilayah (lokasi). Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan Judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.

Syarat-syarat pembuatan judul :

1. Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut. 2. Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan keinginan tahu dari tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan. 3. Harus singkat, yaitu tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangklaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata.

Judul terbagi menjadi dua,yaitu :

1. Judul langsung : Judul yang erat kaitannya dengan bagian utama berita, sehingga hubugannya dengan bagian utama nampak jelas. 2. Judul tak langsung : Judul yang tidak langsung hubungannya dengan bagian utama berita tapi tetap menjiwai seluruh isi karangan atau berita.

Fungsi Judul

1. Merupakan identitas/cermin dari jiwa seluruh karya tulis 2. Temanya menjelaskan diri dan menarik sehingga mengundang orang untuk membacanya atau untuk mempelajari isinya. 3. Merupakan gambaran global tentang arah, maksud, tujuan, dan ruang lingkupnya. 4. Relevan dengan isi seluruh naskah, masalah maksud,dan tujunnya. Perbandingan antara Topik,Tema dan Judul : Topik, tema, dan judul pada dasarnya hampir sama maknanya, yaitu pokok pembicaraan dalam diskusi atau dialog, pokok pikiran suatu karangan, dan nama yang digunakan untuk makalah atau buku atau gubahan sajak. Untuk jelasnya, marilah kita kutip apa yang dikemukakan oleh Pusat Bahasa lewat Kamus Besar Bahasa Indonesia, sbb. Topik

1. 2. Tema

Pokok pembicaraan dalam diskusi, ceramah, karangan, dsb; bahan diskusi. Hal yang menarik perhatian umum waktu akhir-akhir ini; bahan pembicaraan.

Pokok pikiran, dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang, emnggubah sajak, dsb). Judul 1. Nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan secara pendek isi buku atau bab itu. 2. Kepala karangan (cerita, drama; tajuk). Berjudul berarti berkepala karangan; bertajuk Jelas terlihat bahwa apa yang dikemukakan Kamus Besar Bahasa Indonesia menyiratkan bahwa arti ketiga kata yang kita bicarakan ini sama adanya.Jika kita berdialog dengan seseorang, biasanya kita memperbincangkan satu masalah tertentu, umpamanya tentang banjir, tentang narkoba, tentang sepak bola, dsb. Kalau yang kita bicarakan hanya satu masalah saja, maka hal semacam itu topik tunggal.Akan tetapi, kadangkala kita mula-mula membicarakan satu masalah saja, kemudian berkembang kepada masalah lain, maka topiknya menjadi banyak. Topik semacam itu kita sebut multitopik atau topik ganda. Tidak saja topik yang dapat dipecahan menjadi subtopik, tema dapat pula menjadi subtema, judul menjadi subjudul.Dialog dengan subtopik seperti contoh tadi, merupakan komunikasi yang efektif. Hal semacam itu harus diahindari dengan empathy, yaitu merasakan apa yang dirasakan lawan bicara kita. Sebuah dialog bisa berhasil baik, jika keduanya berada dalam mood (suasana hati) yang sama. Judul dapat dikatakan sebagai jabaran topik atau tema. Karena itu judul harus mempu mencerminkan topik atau tema, tidk boleh menyimpang dari intinya. Itulah sebabnya memilih judul tidak selalu gampang.Dalam percakapan sehari-hari yang kurang penting, tidak biasa ditentukan topiknya. Namun,dalam pembicaraan atau dialog khusus bisa saja ditentukan topiknya supaya pihak-pihak bisa mempersiapkan diri.

Teknik Penulisan Karya Ilmiah
1) Pendahuluan Teknik penilisan karya ilmiah perlu mengikuti suatu aturan yang berlaku. Terdapat dua cara yang dapat di¬ikuti, yaitu model Turabian (1973) dan model American Psychological Association [APA] (1988). Model Turabian menggunakan catatan kaki (footnote) untuk menunjukkan referensi, dan menggunakan istilahistilah ibid, op cit, dan loc cit. Apabila pengetikan masih menggunakan mesin tulis, model Turabian lebih sulit dilaksanakan karena harus selalu menghitung jumlah baris dari bawah yang harus disediakan untuk menulis catatan kaki. Akan tetapi, pro-gram pengolah kata (word processor) tertentu, dapat membantu dan memudahkan tugas pengetikan. Cara yang lebih praktis, baik menggunakan mesin tulis biasa maupun pengolah kata, adalah model yang ditetapkan oleh APA. Model ini digunakan dalam penulisan artikel untuk jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh lembaga ini. Jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh The National Association of Social Work¬ers (NASW) seperti Social Work dan Social Work Research & Abstracts juga sudah menggunakan cara ini. Model APA tidak menggunakan catatan kaki seperti dalam model Tura¬bian, tetapi setiap referensi ditunjukkan oleh nama penulis dan tahun penerbit¬an. Jika kutipan merupakan kutipan langsung, artinya kata demi kata diambil dari sumbernya, ditunjukkan juga nomor halaman sumbernya. Jika nama penulis yang dikutip sudah termasuk dalam uraian, maka untuk menunjuk¬kan referensi cantumkan tahun penerbitan dalam tanda kurung langsung se¬telah nama penulis tersebut. Jika nama penulis tidak termasuk dalam uraian, maka referensi ditunjukkan oleh nama penulis dan tahun dalam tanda kurung yang dibatasi oleh koma. Pada akhir kutipan langsung, dicantumkan nomor halaman dalam tanda kurung. jika nama penulis tidak disebutkan dalam uraian, pada akhir kutipan langsung, referensinya ditunjukkan dengan me¬nyebut nama, tahun terbitan, dan nomor halaman yang semuanya di dalam tanda kurung. Dengan model APA ini, kunci referensinya adalah pada daftar pustaka. Oleh karena itu, penunjukan referensi dalam uraian dan daftar pustaka harus bersesuaian. Setiap nama yang merupakan referensi dalam uraian harus muncul pada daftar pustaka, kecuali referensi sebagai hasil komunikasi pribadi. Cara penulisan sumber referensi pada daftar pustaka membedakan sumber yang berbeda. Suatu bab dari buku yang diedit dicantumkan secara berbeda dari buku yang ditulis oleh seorang penulis. Demikian juga penulisan sumber suatu artikel dari suatu jurnal terlihat jelas berbeda dengan penulisan sumber yang lain. 2) Tata Tulis

Penulisan ilmiah di samping harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, juga harus dapat menggunakan bahasa itu sebagai sarana komunikasi ilmu. Penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar dalam tulis-menulis, harus pula ditunjang oleh penerapan peraturan ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia, yaitu Ejaan Yang Disempurnakan. Di samping penggunaan bahasa, penulis dituntut untuk memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang berhubungan dengan teknik penulisan ilmiah. Persyaratan itu menyangkut cara mengutip, cara membuat catatan kaki, cara menyingkat catatan kaki, dan cara menyusun sumber bacaan menjadi daftar bacaan. 2.1 Ejaan dan Tanda Baca Gagasan yang disampaikan secara lisan atau tatap muka lebih mudah atau lebih cepat dipahami daripada secara tertulis. Hal ini disebabkan, dalam baha¬sa lisan faktor gerak-gerik, mimik, intonasi, irama, jeda, serta unsur-unsur nonbahasa lainnya ikut memperlancar. Unsur-unsur nonbahasa tersebut tidak ter¬dapat di dalam bahasa tulis. Ketiadaan itu menyulitkan komunikasi dan mem¬berikan peluang untuk kesalahpahaman. Di sinilah ejaan dan pungtuasi (tanda¬tanda baca) berperan sampai batas-batas tertentu, menggantikan beberapa unsur nonbahasa yang diperlukan untuk memperjelas gagasan atau pesan. Perhatikanlah contoh berikut! Contoh ini tidak menggunakan tanda baca dan huruf kapital. kejahatan merupakan suatu peristiwa penyelewengan terhadap norma-norma atau perilaku teratur yang menyebabkan terganggunya ketertiban dan ketentraman kehidupan manusia perilaku yang dikualifikasikan sebagai kejahatan biasanya dilakukan oleh sebagian terbesar warga masyarakat atau penguasa yang menjadi wakil-wakil masyarakat seharusnya ada suatu keserasian pendapat antara kedua unsur tersebut walaupun tidak mustahil terjadi perbedaan tersebut mungkin timbul karena kedua unsur tadi tidak sepakat mengenai kepentingan-kepentingan pokok yang harus dilindungi. Dapatkah pembaca memahami tulisan di atas? Mungkin dapat, tetapi agak sulit. Cobalah baca kembali! Kejahatan merupakan suatu peristiwa penyelewengan terhadap norma atau perilaku teratur yang menyebabkan terganggunya ketertiban dan ketentraman kehidupan manusia. Perilaku yang dikualifikasikan sebagai kejahatan, biasanya dilakukan oleh sebagian besar warga masyarakat atau pe¬nguasa yang menjadi wakil-wakil masyarakat. Seharusnya ada suatu kese¬rasian pendapat antara kedua unsur tersebut, walaupun tidak mustahil ter¬jadi perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut mungkin timbul, karena ke¬dua unsur tadi tidak sepakat mengenai kepentingan-kepentingan pokok yang harus dilindungi. Kita dapat melihat, tulisan yang sudah diberi pungtuasi dan diperbaiki ejaannya, lebih mudah dan lebih cepat dipahami. Itulah sebabnya, kemam¬puan dalam menerapkan ejaan dan pungtuasi sangat dituntut dalam tulis¬ menulis. 3) Teknik Penulisan Ilmiah Teknik Penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yaitu gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah, serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari ilmu pengetahuan yang digunakan dalam penulisan. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang teknik notasi ilmiah. Di samping itu juga akan dijelaskan cara menyusun sumber pustaka de¬ngan mentabulasikan semua sumber bahan yang dibaca, baik yang sudah di¬publikasikan maupun yang belum dipublikasikan.

3.1 Kutipan dan Catatan Kaki 3.1.1 Kutipan Menyisipkan kutipan-kutipan dalam sebuah tulisan ilmiah bukanlah merupakan suatu keaiban. Tidak jarang pendapat, konsep, dan hasil pene-litian dikutip kembali untuk dibahas, ditelaah, dikritik, dipertentangkan, atau diperkuat. Dengan kutipan sebuah tulisan akan terkait dengan pene-muan-penemuan atau teoriteori yang telah ada. Namun demikian, kita hanya mengutip kalau memang perlu. Janganlah tulisan kita itu penuh dengan kutipan. Di samping itu kita harus bertanggung jawab penuh ter-hadap ketepatan dan ketelitian kutipan, terutama kutipan tidak langsung. Dalam uraian sebelumnya sudah dipelajari bagaimana mencatat bahan¬bahan dari buku dalam kartu informasi. Bahan-bahan tersebut mungkin dicantumkan dalam tulisan sebagai kutipan. Kutipan ini dapat berfungsi se-bagai: a. Landasan teori, b. Sebagai penjelasan, c. Penguat pendapat yang dikemukakan penulis. Kutipan terdiri atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Yang masing-masing dibagi lagi atas kutipan panjang dan kutipan pendek 1) Kutipan Langsung a) Kutipan Langsung Panjang Kutipan langsung yang lebih dari tiga baris ketikan disebut kutipan langsung panjang. Kutipan semacam ini tidak dijalin dalam teks, tetapi diberi tempat tersendiri. Kutipan langsung panjang diketik dengan jarak baris satu spasi tunggal pada garis tepi baru yang jaraknya empat ketukan huruf dari garis margin. Indensi dari kalimat pertama tujuh ketukan dari garis tepi (margin) atau tiga ketukan dari garis tepi yang baru. Ingat, kutipan langsung panjang tidak diapit dengan tanda kutip. Contoh: . . . Banyak batasan yang telah dikemukakan mengenai pengertian definisi. Keraf, misalnya mengemukakan: Definisi pada prinsipnya adalah suatu proses menempatkan suatu objek yang akan dibatasi ke dalam kelas yang dimasukinya (berarti klasifikasi lagi), dengan menyebutkan ciri-ciri yang membedakan objek tadi dari anggotaanggota kelas lainnya. b) Kutipan Langsung Pendek Kutipan langsung dapat digolongkan ke dalam kutipan langsung pendek kala,u tidak melebihi tiga baris ketikan. Kutipan ini cukup di¬jalin ke dalam teks dengan meletakkannya di antara dua tanda petik. Contoh: Mengenai kalimat efektif Anton M. Moeliono mengemukakan, "Kalimat yang efektif dapat dikenal karena ciri-cirinya yang ber¬ikut: keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan keringkasan." Mengutip Sanjak Untuk kutipan langsung pendek, baris-baris dari sanjak d,ijalin ke dalam teks dan diletakkan di antara dua tanda kutip. Apabila kutipan lebih dari dua baris, tiap-tiap baris dipisahkan dengan garis miring

Contoh: Putu Arya Tirtawirya dengan tanya yang sahaja menyiratkan juga sikap religius, menyerah kepada-Nya. "Apa yang kau cari hatiku, si anak penakut/Resah jemari menguak Kitab/yang memantulkan Spektra hati yang paling dalam/Memancar dari Dia yang paling Kudus." Kutipan langsung yang panjang untuk sanjak dengan sendirinya ti¬dak dapat dijalin ke dalam teks. Sanjak dikutip seperti bentuk aslinya dan diletakkan di tengah-tengah, tanpa tanda petik. 2) Kutipan Tidak Langsung Seorang ilmuwan dituntut untuk mampu menyatakan pendapat orang lain dalam bahasa ilmuwan itu sendiri yang mencerminkan ke¬pribadiannya. Kutipan tidak langsung merupakan pengungkapan kembali maksud penulis dengan kata-katanya sendiri. Jadi, yang dikutip hanyalah pokok-pokok pikiran, atau ringkasan dan kesimpulan dari se¬buah tulisan, kemudian dinyatakan dengan bahasa sendiri. Walaupun yang dikutip dari bahasa asing, tetapi tetap dinyatakan dengan bahasa Indonesia. a) Kutipan Tidak Langsung Panjang Kutipan tidak langsung (parafrase) sebaiknya dilakukan sependek mungkin, diperas sedemikian rupa sehingga tidak lebih dari satu pa¬ragraf. Namun, karena sesuatu hal kutipan tidak langsung dapat melebihi satu paragraf. Kutipan tidak langsung yang lebih dari satu paragraf inilah yang disebut kutipan tidak langsung yang panjang. Untuk parafrase yang lebih dari satu paragraf ini menimbulkan kesulitan bagaimana mengidentifikasi bahwa paragraf-paragraf itu me¬rupakan kutipan, karena gaya penulisannya sama dengan gaya.penulis. Untuk mengatasi kesulitan ini, yaitu dengan menyebutkan nama penu¬lis yang dikutip pada permulaan parafrase dan memberikan angka ca¬tatan kaki pada akhir kalimat parafrase. Contoh: Bagaimana ujud penalaran ilmiah itu di dalam pelaksanaannya? Berikut ini dikemukakan penjelasan Shurter dan Pierce. Penalaran induktif merupakan proses penalaran untuk menarik suatu prinsip/sikap yang berlaku umum atau suatu kesimpulan yang bersifat khusus berdasarkan atas fakta-fakta khusus. Penalaran induk tif mungkin merupakan generalisasi, analogi atau hubungan kausal. Ge¬neralisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejum¬lah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan menge¬nai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi, infe¬rensi tentang kebenaran suatu gejala khusus ditarik berdasarkan kebe¬naran gejala khusus yang bersamaan. Hubungan kausal adalah hubungan ketergantungan antara gejalagejala yang mengikuti pola sebab-akibat. Penalaran deduktif adalah penalaran untuk menarik kesimpulan yang bersifat individual/khusus dari suatu prinsip atau sikap yang ber¬laku umum. Penalaran itu mencakup bentuk silogisme, yaitu bentuk penalaran deduktif formal untuk menarik kesimpulan dari premis ma¬yor dan premis minor. Kesimpulan di dalam silogisme selalu harus le¬bih khusus dari premispremisnya. Bentuk penalaran deduktif lainnva ialah entimem, yaitu bentuk silogisme yang dihilangkan salah satu pre¬misnya. Di dalam kehidupan sehari-hari bentuk inilah vang lebih ba¬nyak dipergunakan.

b) Kutipan Tidak Langsung Pendek Parafrase yang terdiri dari satu paragraf disebut pendek. Sebaiknya parafrase pendek ini disediakan tempat tersendiri, tidak dibaur dengar teks. Akan lebih balk lagi parafrase itu diambil dari satu sumber. Akan tetapi jika ide, pendapat, atau kesimpulan yang dikutip itu berasal dari bermacam-macam sumber dan sangat mirip satu sama lain, lebih balk diparafrasekan dalam satu paragraf dengan menvebutkan semua sum¬bernya dalam satu paragraf. Contoh: Muass(1975) mengadakan penelitian untuk menjawab masalah apakah perkembangan pemikiran operasional formal tidak dapat dipercepat melalui pengajaran seperti yang mula-mula dikemukakan Piaget. Dari penelitiannya Ia menyimpulkan bahwa pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang terarah mempengaruhi struk¬tur pemikiran anak. Di Indonesia perielitian perkembangan kognitif dengan menggunakan perangkat tugas dari teori Piaget dan perangkat tugas dari Bruner, pernah dilakukan oleh tim penelitian dari Universitas Kris-ten Satya Wacana dengan menggunakan 144 orang sampel dari Sa-latiga. 3) Mengutip dari Kutipan Mengutip dari kutipan harus dihindari. Tetapi dalam keadaan ter¬paksa, misalnya sulitnva menemukan sumber aslinya, mengutip dari kutipan bukanlah merupakan suatu pelanggaran. Apabila seorang penulis terpaksa mengutip dari kutipan, Ia harus bertanggung jawab terhadap ketidaktepatan dan ketidaktelitian kutip¬an yang dikutip. Selain itu pengutip wajib mencantumkan dalam catatan kaki bahwa Ia mengutip sumber itu dari sumber lain. Kedua sumber itu dituliskan dalam catatan kaki dengan dibubuhi keterangan "dikutip dari". 3.1.2 Catatan Kaki Pernvataan ilmiah yang kita pergunakan dalam tulisan kita harus mencakup beberapa hal. Pertama kita harus dapat mengidentifikasikan orang yang membuat pernyataan tersebut. Kedua, kita harus pula da¬pat mengidentifikasikan media komunikasi ilmiah tempat pernyataan itu dimuat atau disampaikan, misalnya buku, makalah, seminar, lokakarya, majalah, dan sebagainya. Ketiga, harus pula dapat kita identifi¬kasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut serta tem¬pat dan itu tidak diterbitkan, tetapi disampaikan dalam bentuk maka¬lah dalam seminar atau loka karya, maka harus disebutkan tempat, waktu, dan lembaga yang melakukan kegiatan tersebut. Cara kita mencantumkan ketiga hal tersebut dalam tulisan ilmiah kita, disebut teknik notasi ilmiah. Sebetulnya terdapat bermacam-¬macam teknik notasi ilmiah yang pada dasarnya mencerminkan hakikat dan unsur yang sama, meskipun dinyatakan dalam format dan simbol yang berbeda. Seorang ilmuwan dapat memilih notasi ilmiah yang telah diakui, asalkan dipergunakan secara konsisten. Jangan men-campuradukkan beberapa teknik notasi ilmiah sekaligus, karena hal ini akan membingungkan pembaca. Demikian pula halnya dengan daf¬tar pustaka.

Di bawah ini dapat dipelajari teknik notasi ilmiah yang mempergunakan catatan kaki (footnote). Fungsi catatan kaki ini ialah menun¬jukkan sumber informasi bagi pernyataan ilmiah yang terdapat dalam tulisan kita. Fungsi lain dari catatan kaki ini sebagai tempat bagi catat¬an-catatan kecil yang kalau disatukan dengan uraian akan mengganggu kelancaran penulisan. Jadi, catatan kaki juga berfungsi untuk memberi keterangan tambahan. Tetapi kalau keterangan tambahan ini panjang sekali, sebaiknya dipindahkan ke belakang (lampiran). Seperti yang sudah dijelaskan dalam uraian sebelumnya, semua kutipan, langsung maupun tidak langsung, harus dijelaskan dari mana sumbernya. Untuk makalah biasanya langsung dicantumkan sumbernya di belakang kutipan dan dituliskan dalam tanda kurung, penga¬rang, tahun, halaman. Sumber yang lengkap tercantum dalam daftar pustaka. Contoh: ... Sahono Soebroto mengatakan bahwa tugas administrasi negara mencakup semua aspek kehidupan nasional bangsa. (Sahono Soebroto, 1982: 7). Untuk skripsi, disertasi, atau proyek paper dan buku, sumber di-nyatakan dalam bentuk catatan kaki (footnote). 1) Fungsi Catatan kaki dicantumkan sebagai pemenuhan kode etik yang berlaku, sebagai penghargaan terhadap karya orang lain. 2) Pemakaian Catatan kaki dipergunakan sebagai: a) pendukung keabsahan penemuan atau pernyataan penulis yang tercantum di dalam teks atau sebagai petunjuk sumber; b) tempat memperluas pembahasan yang diperlukan tetapi tidak relevan jika dimasukkan dalam teks, penjelasan ini dapat berupa kutipan pula. c) referensi silang, yaitru petunjuk yang menyatakan pada bagian mana/halaman berapa, hal yang sama dibahas dalam tulisan; d) tempat menyatakan penghargaan atas karya atau data yang diterima dari orang lain. 3) Penomoran Penomoran catatan kaki dilakukan dengan menggunakan ang-ka Arab (l, 2, dan seterusnya) di belakang bagian yang diberi ca-tatan kaki, agak ke atas sedikit tanpa memberikan tanda baca apapun. Nomor itu dapat berurut untuk setiap halaman, setiap bab, atau seluruh tulisan. Namun sebaiknya untuk lebih efektif berurut untuk seluruh tulisan. 4) Penempatan Catatan kaki dapat ditempatkan langsung di belakang bagian yang diberi keterangan (catatan kaki langsung) dan diteruskan de¬ngan teks, Contoh: Peranan dan tugas kaum pria berbeda dengan peranan tugas kaum wanita. Sehubungan dengan hal itu, Margaret Mead (1935) berdasarkan penelitiannya di beberapa masyarakat di Papua Nugini, menyatakan bahwa perbedaan itu tidak semata¬mata berdasarkan perbedaan jenis

kelamin saja, melainkan ber¬hubungan erat dengan kondisi sosial budaya lingkungannya. Antara catatan kaki dengan teks dipisahkan dengan garis se-panjang baris. Cara yang lebih banyak dilakukan ialah dengan meletakkannya pada bagian bawah (kaki) halaman atau pada akhir setiap bab.

5) Unsur-Unsur Catatan Kaki a) Untuk Buku (1) (2) (3) (4) Nama pengarang (editor, penerjemah), ditulis dalam urutan diikuti koma (,). Judul buku, ditulis dengan huruf kapital (kecuali katakata tugas) dan digarisbawahi. Nama atau nomor seri, kalau ada. Data publikasi:

(a) Jumlah jilid, kalau ada (b) Nomor cetakan, kalau ada (c) Kota penerbit, diikuti titik dua (:) (d) Nama penerbit, diikuti koma (,) (e) Tahun penerbitan c, d, e diletakkan diantara tanda ku¬rung ( ... ) (5) Nomor jilid kalau perlu (6) Nomor halaman, diikuti titik (.) b) Untuk Artikel dalam Majalah Berkala (1) Nama pengarang (2) Judul artikel, di antara tanda kutip(") (3) Nama majalah, digarisbawahi. (4) Nomor majalah jika ada. (5) Tanggal penerbitan. (6) Nomor halaman. 6) Catatan Kaki Singkat a) Ibid. (Singkatan dari Ibidum, artinya sama dengan di atas), untuk catatan kaki yang sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya. Ditulis dengan huruf besar, digarisba¬wahi, diikuti titik ( . ) dan koma ( , ) lalu nomor halaman. b) op. cit. (Singkatan dari opere citati, artinya dalam karya yang telah dikutip), dipergunakan untuk catatan kaki dari sumber yang pernah dikutip, tetapi telah disisipi catatan kaki lain dari sumber lain. Urutannya: nama pengarang, op. cit, nomor hala¬man. c) loc, cit. (Singkatan dari loco citati, artinya tempat yang telah dikutip), seperti di atas tetapi dari halaman yang sama: nama pengarang loc. cit. (tanpa nomor halaman). ,

7) Contoh-contoh a) Dari Buku 2John Dewey, How We Think (Chicago: Henry Regnery Com¬pany, 1974), p. 75. 3BP3K, Strategi Pengembangan Kekuatan Penalaran (Jakarta Departemen P dan K, 1979), p. 81-95. b) Dari Majalah 7Linus Simanjuntak, "Andaikan Kolam itu Bumi Kita", Suara Alam No. 9 (1980), pp. 17-18. c) Dari Surat Kabar 8Tajuk Rencana daiam Kompas (Jakarta), 7 Mei 1981. 9 Artikel dalam Sinar Harapan (Jakarta), 29 April 1981. d) Dari Ensiklopedia 10John E. Bardach, "Fish”, "Encyclopedia Americana (New York: Americana Corporation, 1973), 11, pp. 289-309. e) Dari Internet 11 Kompas Cyber Media.htm, Jum’at 11 Agustus 2000, 13:32 wib Tips Memilih Nama Domain] http://www.kompas.com/kcm/news/0008/11/0038.htm f) Dari Sumber Yang Belum Dipublikasikan Seperti Tesis, Skrip¬si, Disertasi. 3.2 Daftar Pustaka 3.2.1 Tujuan Daftar Pustaka Daftar pustaka bermaksud mentabulasi atau mendaftarlcan semua sumber bacaan baik yang sudah dipublikasikan seperti buku, majalah, surat kabar, maupun yang belum dipublikasikan seperti paper, skripsi, tesis, dan disertasi. Melalui daftar pustaka ini pembaca dapat mengetahui sumber-sumber apa saja yang dipergunakan dalam penulisan karya ilmiah itu tanpa membaca seluruh tulisan terlebih dahulu. Berdasarkan daftar pustaka itu pembaca yang berpengalaman akan dapat mengira mutu pembahasan tulisan tersebut, karena tujuan utama dari daftar pustaka adalah untuk mengidentifikasikan karya ilmiah itu sendiri. 3.2.2 Mengklasifikasi Daftar Pustaka Suatu karya ilmiah atau skripsi, atau tesis merupakan hasil karya yang mengarah pada satu bidang terteritu. Dengan demikian sumber bahan yang dipakai adalah yang ada hubungan dengan bidang yang dikupas. Sumber semacam ini disebut sumber primer. Dalam karya ilmiah yang menjurus pada satu bidang ini, hampir tidak ada sumber sekundernya. Jadi daftar pustaka secara keseluruhan merupakan sumber primer. Penggolong¬an terhadap daftar kepustakaan seperti ini disebut penggolongan berdasar¬kan bidang, yaitu bidang masalah yang ditelaah. Selain pembagian/klasifikasi berdasarkan bidang, daftar pustaka dapat diklasifikasikan menurut jenis sumber ini didasarkan pada kelompok: bu¬ku, majalah, surat kabar, jurnal, skripsi, tesis, disertasi. Tetapi pengelom pokan menurut jenis sumber ini akan diperlukan bila daftar pustaka me¬muat lebih dari dua puluh sumber referensi. Daftar pustaka yang kurang dari dua puluh sumber referensi termasuk daftar pustaka yang pendek. Untuk daftar pustaka yang pendek penggolongan sumber referensi menu¬rut jenisnya tidak diperlukan,

3.2.3 Penyeleksian Sumber Referensi Untuk mempersiapkan bahan dari satu topik tulisan ilmiah biasanya banyak sekali sumber bacaan yang kita baca, terutama yang berhubungan dengan masalah yang kita bahas. Dari semua buku yang kita baca tadi ti dak harus semuanya kita masukkan ke dalam daftar pustaka. Hal ini dise¬babkan karena: (1) Sumber-sumber bacaan ini belum tentu semuanya ter¬masuk sumber bacaan yang baik. Sumber bacaan yang kurang baik tidak akan membantu mutu tulisan ilmiah tadi. (2) Kadangkadang sumber ba¬caan mengemukakan pendapat atau ide serta kesimpulan yang sama. Dari beberapa sumber bacaan yang sama ini dipilih salah satu saja sebagai sum¬ber referensi dalam daftar pustaka. Yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka ialah bahwa semua referensi dari sumber bacaan yang telah dimuat ke dalam catatan kaki harus dimasukkan ke dalam daftar pustaka. Hal ini berarti bahwa da lam menyeleksi kutipan atau catatan kaki harusla.h yang betul-betul rele¬van dengan masala.h yang akan dibahas. Dengan demikian daftar pustaka yang disusun adala.h daftar pustaka pilihan karena kutipan atau catatan kakinya merupakan hasil pilihan juga. 3.2.4 Cara Menyusun Daftar Pustaka Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun pustaka: a. Daftar pustaka tidak diberi nomor urut. b. Nama penulis diurut menurut abjad. c. Gelar penulis tidak dicantumkan walaupun dalam buku yang dikutip penulis mencantumkan gelar. d. Daftar pustaka diletakkan pada bagian terakhir tulisan e. Masing-masing sumber bacaan diketik dengan jarak baris satu spasi. f. Jarak masing-masing sumber bacaan dua spasi. g. Baris pertama diketik dari garis tepi (margin) tanpa indensi dan untuk baris-baris berikutnya digunakan indensi empat ketukan. Di samping hal-hal tersebut perhatikan pula: 1) Nama Penulis Untuk penulis-penulis asing nama keluarga diletakkan paling depan. Hal ini menentukan urutan huruf dalam daftar pustaka. Untuk penulis Indonesia yang menentukan urutan alfabetisnya ialah huruf pertama nama sendiri. Jika penulis terdiri dari dua atau tiga orang, semua nama dican-tumkan. Jika penulis lebih dari tiga orang ditulis singkatan et. al. (dan kawankawan). Jika dalam sumber bacaan terdapat beberapa tulisan yang ditulis oleh penulis yang sama maka sumber bacaan itu disusun berurutan. Nama penulis hanya ditulis pada karya urutan pertama. Karya urutan kedua dan seterusnya tidak dituliskan nama, tetapi diganti dengan garis sepanjang tujuh ketukan. Nama penulis maupun garis, diakhiri dengan titik. Pada dasarnya cara menyingkat nama penulis pada daftar pustaka tidak berbeda dengan cara menyingkat pada catatan kaki. Akan tetapi bila penulisannya lebih dari satu orang, maka untuk penulis pertama cara menyingkatnya agak berbeda yaitu: nama keluarga ditulis terlebih dahulu

dengan lengkap, diberi tanda koma, kemudian nama sendiri di¬singkat atau tidak disingkat dan akhirnya (jika ada) disingkat. 2) Judul Tulisan/Artike Cara menuliskan judul tulisan pada catatan kaki sama dengan cara menuliskan pada daftar pustaka. Judul tulisan ketik dengan huruf ka¬pital untuk setiap awal kata kecuali kata tugas. Judul tulisan diletakkan di antara tanda kutip dan diakhiri dengan tanda koma. Judul tulisan diketik dengan jarak dua ketukan dari tanda titik di belakang nama penulis. 3) Nama Buku/Majalah Dalam daftar pustaka nama buku atau nama majalah diketik de¬ngan cara yang sama dengan judul tulisan yaitu dengan huruf kapital untuk setiap awal kata dan diberi garis bawah. Nama buku diakhiri dengan tanda titik, tetapi untuk nama majalah diakhiri dengan tanda koma. 4) Data Publikasi Data publikasi dimulai dengan tempat penerbitan dan diakhiri de¬ngan titik dua, kemudian dengan jarak satu sela ketukan dilanjutkan dengan nama badan penerbit, ditutup dengan koma, sela satu ketukan kemudian diikuti tahun penerbitan yang ditulis dengan angka Arab dan diakhiri dengan titik. Jarak data publikasi dengan judul dua sela ketukan. Agar lebih jelas marilah kita perhatikan penjelasan yang disertai contohcontoh berikut ini. a) Buku 1. Contoh penulis buku 1 orang: Robins, Adriane. 1980. The Writer's Practical Rhetoric. New York: John Wiley & Sons. 2. Contoh penulisan buku lebih dari 1 orang. Alexander, F., and RM. French. 1946. Psychoanalytic Therapy, New York: Ronald Press Co. 3. Contoh penulisan buku terdiri dari 3 orang. Charnes, A.W., W.W. Cooper, and A. Henderson. 1953. An Introduction to Linear Programming. New York: John Wiley & Sons, Inc. 4. Contoh penulis buku lebih dari 3 orang. Johnston, C.H., et al. 1914. The Modern High School. New York: Charles Scribner & Sons, 5. Contoh dua buku yang ditulis oleh seorang penulis. De Vito, A, Joseph, 1994. Human Communication, The Basic Course. New York: Harper Collin Cellege, Publisher. _______, 1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah Dasar, Edisi kelima, diterjemahkan oleh Maulana Agus. Jakarta: Profesional Book. b) Majalah, Buletin

Untuk artikel yang dimuat dalam majalah atau pun buletin cara menyusun daftar pustakanya seperti berikut: Untuk artikel yang dimuat dalam majalah atau pun buletin cara menyusun daftar pustakanya (1} nama penulis/pengarang (2) judul artikel di antara tanda kutip ("........ ") (3) nama majalah, digarisbawahi (4) nomor majalah jika ada (5) tanggal dan tahun penerbitan Contoh: Parera, J.D. "Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah Dilihat Dari Se¬gi Sosiopolitikolinguistik" Analisis Kebudayaan Depdikbud tahun IV-No. 3. 1983/1984. c) Surat Kabar Tulisan seperti editorial, pojok, dan berita, nomor halaman yang dicantumkan dalam catatan kaki tidak dicantumkan pada daftar pustaka. Contoh: Komputek, edisi 187, Minggu ke-III Oktober 2000: 05). Tema: “Kunci sukses berjualan di internet” d) Karya yang Tidak Diterbitkan Unsur-unsur pokok dari karya yang tidak diterbitkan untuk daftar pustaka ialah: (1) nama penulis (2) judul tulisan (3) untuk apa tulisan itu ditujukan (4) lembaga yang menerima tulisan (5) tahun diajukannya karya. Antara unsur pertama dan kedua diberi sela dua ketukan. Antara unsur kedua dan ketiga juga diberi jarak dua ketukan. Te¬tapi antara unsur-unsur selanjutnya hanya diberi jarak satu ketuk¬kan sela. Contoh: Sabarti Akhadiah, 1983. "Pengaruh Materi Pengajaran Bahasa Indonesia, Lokasi Sekolah, dan Jenis Kelamin terhadap Kemampuan Pe¬nalaran Ilmiah Siswa SMP." Disertasi, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jakarta. Sakura Hatamarrasjid, 1967. "Perbandingan Fonologi Bahasa Bangka de¬ngan Bahasa Indonesia." Tesis Sarjana, Fakultas Ilmu Pendi¬dikan, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bandung. 3.3 Format Penulisan 1) Kertas yang digunakan A4, berat 80 gram. 2) Ketikan Menggunakan mesin ketik huruf Times New Roman dengan ketikan spasi (rangkap). Batas pengetikan 4 cm dari pinggir kiri, 3 cm dari pinggir kanan, dan 3 cm dari atas dan bawah kertas. 3) Paragraf Paragraf dimulai pada ketukan kelima dari garis margin. 4) Karbon Kertas karbon harus hitam. 5) Nomor halaman

Nomor halaman diletakkan di sebelah kanan atas, kecuali nomor ha¬laman bagi bab baru, yang ditempatkan di tengah bawah. Nomor halaman dengan angka Arab dimulai dengan tubuh utama penulisan (Bab 1) sedangkan bagi hal-hal yang bersifat mengantar dipergunakan angka latin dari alfabet dengan huruf kecil (seperti i, iv, v, dan x) yang diletakkan di te¬ngah bagian bawah. 6) Margin Luas margin pada sebelah kiri dan atas 4 cm dan pada sebelah kanan dan bawah 2-3 cm. Margin sebelah kiri harus agak lebar karena karangan ilmiah ini harus dijilid. 7) Halaman Baru Halaman baru dipergunakan untuk kata pengantar, daftar isi, daftar pustaka, dan lamp iran-lampiran. Kepala bagian-bagian yang disebutkan tadi diketik seluruhnya dengan huruf besar tanpa titik penutup. 8) KutipanKutipan lebih dari empat baris diketik berspasi satu, letaknya empat ketukan dari garis margin. Tetapi pada umumnya baris pertama biasanya dimulai tujuh ketukan ketik atau lima ketukan ketik dari garis margin seperti memulai paragraf baru. Demikian juga dengan nomor catatan kaki di¬mulai pada jarak yang sama dari garis margin seperti memulai paragraf baru, yakni tujuh ketukan. 9) Catatan Kaki Mengetik catatan kaki harus pada halaman yang sama dengan kutipan-nya. Pengetikan catatan kaki harus dipisahkan dari teks oleh garis sepan¬jang 14 ketukan dari garis margin, dan berjarak dua spasi dari teks dan dari catatan kaki sendiri. Contoh Daftar Pustaka berdasarkan Abjad. Arnold, David. 1996. Pedoman Manajemen Merek (Judul asli: The Handbook of Brand Management). Alih bahasa Marina Katherin. Surabaya: Kentindo Soho. Baran, Stanly J., & Dennis K. Davis, 2000. Mass Communication Theory, Foundation, Ferment, and Future, (Second Edition) Canada: Wadsworth Cutlip, Scott & Allen H. Center, 1986. Effektive Public Relations, 6-th Edition. USA: Prentice Hall, Inc. De Vito, A, Joseph, 1994. Human Communication, The Basic Course. New York: Harper Collin Cellege, Publisher ___________, 1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah Dasar, Edisi kelima, diterjemahkan oleh Maulana Agus. Jakarta: Profesional Book. Khoe Yao Tung, 1996. Pemasaran dan Bisnis di Internet, Strategi Memenangkan Persaingan. Jakarta: Gramedia. Littlejohn, Stephen W., 1996. Theories of Human Communications, Fifth Edition. New York: Wordsworth Publishing Company. McQuail, Denis. 1994. Mass Communication Theory, An Intoduction. London: Sage Publications. Naisbitt, John, 1994. Megatrend 2000, Global Paradoks, Alih bahasa Budijanto. Jakarta: Binarupa Aksara. Pace, R. Wayne & Don F. Faules, 2000. Komunikasi Organisasi. (Editor: Deddy Mulyana). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rogers, M. Everret, Kincaid, Lawrence, D. 1980. Communication Networks Toward a New Paradigm For Research. New York: The Free Press A. Division of Macmillan Publishing. Straubhaar, Josheph & Robert LaRose, 2000. Media Now: Communications Media in the Information Age. (Edisi Kedua). USA: Wadsworth Soehartono, Irawan, 1998. Metode Penelitian Sosial. Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosda Karya. Wilcox, Denis L., et all. 1992. Public Relations : Strategies and Tactics. (Third Edition). New York: HarperCollins Publisher Inc. Majalah & Koran: Komputek, Edisi 171, Minggu ke-IV Juni 2000 (halaman 04), Tema: “Internet Gusur Media Cetak?” Komputek, Edisi 183, Minggu ke-III, September 2000, (halaman 05) Tema: “Masyarakat Mulai Update IT” Internet: Morris, Merrill & Christine Ogan. 1996, The Internet as Mass Medium. Journal of Communication 46 (1), Winter 0021-9916/96) Copyright 1996 Journal of Communication 46(1). [online] http://www.journalism.indiana.edu/memorris/index.html Samuel Ebersole, 1 September 2000. Uses and Gratifications of the Web among Students. Mass Communications and Center for New Media. University of Southern Colorado. JCMC 6 (1) September 2000 [online] http://www.ascusc.org/jcmc/vol6/issue1/, e-mail to ebersole@uscolo.edu

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->