P. 1
Manual Strangulation

Manual Strangulation

|Views: 375|Likes:
Published by dr. M.F. Romdhoni

More info:

Published by: dr. M.F. Romdhoni on Nov 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/26/2011

pdf

text

original

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK MANUAL STRANGULATION

Pembimbing : AKBP Dr. Hery Wijatmoko. Sp.F, DMF

Disusun oleh : Imelda Kusumaningrum Garley Rizal Wira W. M. Fadhol Romdhoni Erdy Kuswandana Hanna Cakrawati 080300 080300 08030032 080300 080300

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG RS BHAYANGKARA PORONG 2010

KATA PENGANTAR Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan bagi kami strangulation”. khususnya bagi rekan-rekan Dokter Muda dan bagi seluruh kalangan medis serta masyarakat pada umumnya. Hery Wijatmoko. Tugas referat ini masih belum sempurna dan banyak kekurangannya. Oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. untuk menyelesaikan referat dengan judul “manual Hormat Kami. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerjasama banyak pihak. .F. Oleh karena itu pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada AKBP dr. untuk lebih sempurnanya referat ini. yang tak lepas dari kemampuan kami sebagai manusia biasa. semoga referat ini bias bermanfaat dan menambah pengetahuan kami tentang “manual strangulation”. Sp. Akhirnya. DMF selaku pembimbing makalah kami di bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan juga semua pihak yang turut membantu kelancaran pembuatan referat ini.

Indikator ini akan dipakai untuk dasar kerja sebuah slat banal yang mampu mendeteksi perubahan yang hanya objektif dan akurat setelah kematian terjadi. Untuk itu akan telah dilakukan suatu penelitian dasar untuk mendapat suatu indikator bebas. Dalam kasus tertentu. saat kematian seseorang belum dapat ditunjukan secara tepat karena tanda . Untuk itu dokter sedapat mungkin membantu menentukan beberapa hal seperti saat kematian dan penyebab kematian tersebut. jam dan seterusnya. sebelumnya makanan maupun penyebab kematian itu sendiri. Manifestasinya akan dapat dilihat setelah beberapa menit. Dari kepustakaan yang ada.tanda dan gejala setelah kematian sangat bervariasi. keadaan lingkungan mayat. Proses kimiawi akibat terhentinya suplai zat asam / oksigen mengakibatkan jaringan otak yang sangat sensitif terhadap kekurangan zat asam itu . Hal ini karena tanda atau gejala yang ditunjukan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya. umur. Dalam era ini dibutuhkan penentuan saat kematian secara tepat.1 Latar Belakang Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang melalui pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. penyakit sebelumnya.BAB I PENDAHULUAN I. kondisi fisik pasien. salah satu kewajiban dokter adalah membantu penyidik menegakan keadilan. Perubahan itu akan terjadi dari mulai terhentinya suplai oksigen. Otak sebagai organ yang relatif terlindung maksimal dengan batok kepala diperkirakan mengalami proses kimiawi yang relatif cepat dan tidak dipengaruhi lingkungan.

akan lebih cepat mengalami disintegrasi kimiawi. khususnya asfiksia mekanik mempunyai arti penting terutama dikaitkan dengan proses penyidikan. Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai dalam kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Seorang dokter sebagaimana pasal 179 KUHAP wajib memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan di bidang keahliannya demi keadilan. Untuk itu. Asfiksia adalah kumpulan dari pelbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal. Asfiksia merupakan penyebab kematian terbanyak yang ditemukan dalam kasus kedokteran forensik. seorang penyidik berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Dalam penyidikan untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban yang diduga karena peristiwa tindak pidana. yang diamati melalui perubahan konduktivitas listrik yang terjadi. . sudah selayaknya seorang dokter perlu mengetahui dengan seksama perihal ilmu forensik. Gangguan ini akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang yang disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida. Keadaan ini jika terus dibiarkan dapat menyebabkan terjadinya kematian. salah satunya asfiksia. Gangguan tersebut dapat disebabkan karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi. Asfiksia yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan disebut asfiksia mekanik. Mengetahui gambaran asfiksia. khususnya pada postmortem serta keadaan apa saja yang dapat menyebabkan asfiksia.

Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah. I.Dalam referat ini akan dibahas mengenai salah satu jenis dari asfiksia mekanik yaitu pencekikan (manual strangulation). Kasus asfiksia yang umum dijumpai salah satunya adalah pencekikan. Hal ini menyebabkan hipoksia atau anoksia otak sekunder menyebabkan perubahan atau terhentinya aliran darah dari dan ke otak. Pencekikan menyebabkan penekanan dan penutupan pembuluh darah dan jalan napas oleh karena tekanan eksternal (luar) pada leher. Sebagai bahan pembelajaran dokter muda dalam mengetahui macam – macam jejas akibat manual strangulation 2.2 Tujuan Penulisan 1. Sebagai bahan pembelajaran dokter muda dalam rangka membuat visum untuk kasus manual stranguation . kehilangan kesadaran dapat terjadi dalam 10-15 detik. Dengan hambatan komplit pada arteri karotis. Umumnya urutan ke-3 sesudah kecelakaan lalu – lintas dan trauma mekanik. Korban kematian akibat asfiksia termasuk yang sering diperiksa oleh dokter.

Akibatnya sering menimbulkan kebingungan untuk membedakan dengan status anoksia lainnya.1 Asfiksia Asfiksia berasal dari bahasaYunani. Jadi secara harfiah. 2. II. Stagnan hipoksia II. yaitu terdiri dari “a” yang berarti “tidak”. Walaupun ciri atau mekanisme yang terjadi pada masing-masing kelompok akan menghasilkan akibat yang sama bagi tubuh.1. 3. Kelompok tersebut adalah: 1.1 Terminologi .2 Definisi Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O2) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru dengan karbon dioksida dalam darah kapiler paru-paru. asfiksia diartikan sebagai “tidak ada nadi” atau “tidak berdenyut”. dan “sphinx” yang artinya “nadi”. Hipoksik hipoksia Dalam keadaan ini oksigen gagal masuk dalam sirkulasi darah. Anemic hipoksia Yang tersedia tidak mampu membawa oksien yang cukup untuk metabolism dalam jaringan. hipoksia ternyata merupakan gabungan dari empat kelompok. Dalam kenyataan sehari-hari. Pengertian ini sering salah dalam penggunaannya.1.BAB II PEMBAHASAN II. Kekurangan oksigen disebut hipoksia dan kelebihan karbon dioksida disebut hiperkapnia. dimana masing-masing kelompok tersebut memang mempunyai ciri tersendiri.

c. Histotoksik hipoksia ekstraselular Enzim pernapasan jaringan (cytochrom oxydase) mengalami keracunan.Misal : pada keracunan eter dan chloroform. antara lain : a. II. Histotoksik hipoksia periselular Oksigen tidak dapat masuk kedalam sel oleh karena terjadi penurunan permeabilitas membrane sel. Misal : pada uremia dan keracunan gas CO2.3 Angka Kejadian Korban kematian akibat asfiksia termasuk yang sering diperiksa oleh dokter.Suatu keadaan yang menggambarkan terjadinya suatu kegagalan dalam sirkulasi. Misal: pada keracunan sianida dan CO. Umumnya urutan ke-3 sesudah kecelakaan lalu . . dibagi dalam 4 kelompok. b. Metabolik histotoksik hipoksia Hasil akhir dari pernapasan selular (end product) tidak dapat dieliminasi sehinga metabolism berikutnya tidak dapat berlangsung karena gangguan metabolism sel memakai oksigan.lintas dan trauma mekanik. Histotoksik hipoksia Keadaan yang menggambarkan oksigen yang terdapat di dalam darah.1. Substrate histotoksik hipoksia Bahan makanan (substrat) untuk metabolism yang efisien tidak cukup tersedia. oleh karena hal tertentu tidak dapat digunakan oleh jaringan. 4. Misal : Hipoglikemia d.

barbiturat. emboli lemak. (drowning) • Asfiksia traumatik/Crush asphyxia (external pressure on the chest) • Inhalasi gas lemas (inhalation of suffocation gasses) . Keracunan c. Penyakit sumbatan saluran napas (Misal laringitis difteri) b. Asma bronkhiale c.1. Sebab wajar: Penyebab alamiah a. b. Bahan/zat yang menimbulkan depresi pusat pernapasan (Misal narkotika. Trauma mengakibatkan emboli udara vena. Reaksi anafilatik d.) d. Sebab tidak wajar: a.4 Etiologi Penyebab asfiksia terbagi 2 yaitu. penyebab asfiksia wajar dan tidak wajar 1. Trauma mekanik : udara dipaksa dengan kekerasan terhambat masuk ke jalan napas • Strangulasi :  Gantung (hanging)  Pencekikan (manual strangulation)  Jeratan (strangulation by ligature) • Sufokasi (suffocation) : • Pembekapan (smothering) • Penyumpalan/Kesedak (Choking & gagging) • Tenggelam.II. Pneumotoraks e. Tumor laring 2.

yaitu : . Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh) Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah dengan mempertinggi outputnya. 2. Penutupan mulut dan hidung ( pembekapan ) b. sehingga pada organ tubuh yang lain yakni jantung. Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel . akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. pencekikan dan korpus alienum dalam saluran nafas atau pada tenggelam karena cairan menghalangi udara masuk ke paru . tidak tergantung pada tipe dari asfiksia.sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan O2.bagian otak tertentu membutuhkan lebih banyak O2. ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan O2 langsung atau primer tidak jelas. penjeratan.6 Stadium Asfiksia Ada 4 stadium gejala / tanda dari asfiksia. Di sini sel .1. Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan. Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan (traumatic asphyxia ) d. paru . misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan. hati.paru.5 Patofisiologi Dari pandangan patologi. Obstruksi jalan nafas seperti pada mati gantung. dengan demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen.paru c. Keadaan ini didapati pada : a. Bagian .II. Karena oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung dengan cepat.sel serebrum. Sel . serebelum dan ganglia basalis.sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial. II.1. kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam dua golongan yaitu: 1. Primer ( akibat langsung dari asfiksia ) Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh.

4.kasus asfiksia akan mamberikan gambaran: 1.1. Dapat ditemukan sianosis pada bibir. 3. Pembendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan merupakan tanda klasik pada kematian akibat asfiksia. dan tekanan darah turun. dan sukar. berat. Kematiaan biasanya disebabkan kegagalan kerja jantung yang disebabkan oleh tekanan . 2. ujung . Tingginya kadar karbon dioksida akan merangsang medulla oblongata sehingga terjadi perubahan pada pernapasan. Fase dispnu / sianosis Fase dispnu / sianosis asfiksia berlangsung kira-kira 4 menit. nadi dan tekanan darah. tergantung dari tingkat penghalangan oksigen. Awalnya berupa kejang klonik lalu kejang tonik kemudian opistotonik. Denyut jantung beberapa saat masih ada lalu napas terhenti kemudian mati. Fase konvulsi Fase konvulsi asfiksia terjadi kira-kira 2 menit. Pernapasan terlihat cepat. Pemeriksaan luar a. Fase ini terjadi akibat rendahnya kadar oksigen dan tingginya kadar karbon dioksida.7 Pemeriksaan Otopsi Masa dari saat asfiksia sampai timbul kematian sangat bervariasi. Kesadaran mulai hilang. maka secara menyeluruh untuk semua kasus akan ditemukan tanda-tanda umum yang hampir sama.tanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap. Fase ini dapat kita amati berupa adanya depresi pusat pernapasan (napas lemah). Pemeriksaan jenazah ( autopsi ) pada kasus . kesadaran menurun sampai hilang dan relaksasi spingter. pupil dilatasi. II. Karena asfiksia merupakan mekanisme kematian.5 menit. Fase apnu Fase apnu asfiksia berlangsung kira-kira 1 menit. bila tidak 100% maka waktu kematian akan lebih lama dan tanda . Tekanan darah terukur meningkat. denyut jantung lambat.ujung jari dan kuku.1. Fase akhir / terminal / final Fase akhir asfiksia ditandai oleh adanya paralisis pusat pernapasan lengkap. Umumnya berkisar antara 4 . Nadi teraba cepat.

mendadak pada leher. Tingginya fibrinolisin ini sangat berhubungan dengan cepatnya proses kematian. c. Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus. Pembendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran sempit akan menimbulkan busa yang kadang . Warna lebam mayat ( livor mortis ) merah . venula dan kapiler. Tanda petekie dan hemoragis dan tanda lain terkadamg tidak diketemukan pada kematian asfiksia karena proses sirkulasi yang sangat cepat sehingga tidak memberi waktu yang cukup terjadinya tahapan asfiksia pada umumnya. dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah d. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer. karena fibrinolisin darah yang meningkat paska kematian. epikardium pada belakang jantung daerah aurikuloventrikular. 2. Distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin dalam darah. Busa halus di dalam saluran pernafasan c. b.kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler. subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah pars diafragmatika dan fissura interlobaris. Gambaran perbendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi dan palpebra yang terjadi pada fase 2. akibat tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah meningkat terutama dalam vena. Pemeriksaan dalam a. b. mukosa epiglottis dan daerah subglotis . sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir. kulit kepala sebelah dalam terutama daerah otot temporal. berwarna lebih gelap. d. Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas pernafasan pada fase 1 yang disertai sekresi selaput lendir saluran nafas bagian atas.kebiruan gelap akan terbentuk lebih cepat. Mekanisme yang terjadi mirip dengan sinkop sinus yaitu misalnya mengenakan pakaian dengan kerah yang ketat yang dapat menyebabkan bradikardia dan hilangnya kesadaran. Selain itu hipoksia dapat merusak endotel kapiler sehingga dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan timbul bintik bintik perdarahan yang dinamakan sebagai tardeou’s spot.

Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban. Kelainan .1 Definisi Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah. yaitu: 1.1 Contoh manual strangulation dengan menggunakan 1 tangan dan pelaku berada dari arah depan korban 2. Pencekikan dapat dilakukan dengan 3 cara. Gambar. . 3.e. Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban.kelainan yang berhubungan dengan kekerasan. perdarahan faring terutama bagian belakang rawan krikoid ( pleksus vena submukosa dengan dinding tipis ) II.2 Manual Strangulation II. Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.2. Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia f. seperti fraktur laring langsung atau tidak langsung.

Vagal reflex II.3 Cara Kematian pada Pencekikan Ada 2 cara kematian pada kasus pencekikan. yaitu: 1. Asfiksia 2.2 Etiologi Kematian pada Pencekikan Ada 3 penyebab kematian pada pencekikan.4 Gambaran Postmortem Pencekikan 1.3 Salah satu situasi dimana bisa saja terjadi kecelakaan strangulasi II. Pemeriksaan Luar: .2. biasanya mati karena vagal reflex. Gambar. Pembunuhan (hampir selalu).2.2. Iskemia 3. 2. yaitu: 1. Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini disebut mugging II.2 Contoh cara manual strangulation dengan menggunakan lengan. Kecelakaan.Gambar.

Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar otopsi yang dapat kita temukan antara lain adanya sianotik. Tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari. Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark. atau kongesti daerah kepala. Lebam mayat akan terlihat gelap. petekie. Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku juga tak luput dari perhatian kita. Tanda kekerasan pada leher. leher atau otak. yaitu luka lecet berbentuk semilunar/bulan sabit.Yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan luar kasus pencekikan. Tanda asfiksia. Perhatikan pula tangan yang digunakan pelaku. b. 4 Terdapat luka bekas kuku atau ujung-ujung jari pada leher korban . yaitu bekas kuku dan bantalan jari. antara lain: a. Gambar. Terkadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku. apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri (left handed).

Tanda kekerasan pada tempat lain. 2. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Perdarahan atau resapan darah dapat kita cari pada otot. • Fraktur.5 Terdapat gambaran bekas jari-jari tangan pada leher korban c. hidung. Pemeriksaan Dalam: Hal yang penting pada pemeriksaan dalam bagian leher kasus pencekikan. dan lain-lain. Tanda kekerasan pada tempat lain dapat kita temukan di bibir. dan trakea. kelenjar tiroid. kelenjar ludah. lidah. Fraktur lain pada kartilago tiroidea. yaitu: • Perdarahan atau resapan darah.Gambar. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan perlawanan. dan mukosa & submukosa pharing atau laring. • • Memar atau robekan membran hipotiroidea. Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid. . kartilago krikoidea.

Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban. Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban. Pencekikan dapat dilakukan dengan 3 cara.2 Etiologi Kematian pada Pencekikan Ada 3 penyebab kematian pada pencekikan. yaitu: • • • Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban. yaitu : • • • Asfiksia Iskemia Vagal reflex III.1 Pencekikan (Manual Strangulasi) Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah. yaitu . Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini disebut mugging. III.Gambar.3 Cara Kematian pada Pencekikan Ada 2 cara kematian pada kasus pencekikan. 6 Gambaran pemeriksaan dalam pada leher korban manual strangulation BAB III KESIMPULAN III.

atau kongesti daerah kepala. . Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark. • Tanda kekerasan pada leher. lidah. Perhatikan pula tangan yang digunakan pelaku. Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar otopsi yang dapat kita temukan antara lain adanya sianotik. Terkadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku. • Tanda kekerasan pada tempat lain. Pemeriksaan Luar: Yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan luar kasus pencekikan. biasanya mati karena vagal reflex. yaitu bekas kuku dan bantalan jari. yaitu luka lecet berbentuk semilunar/bulan sabit. Kecelakaan.• • Pembunuhan (hampir selalu). leher atau otak. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan perlawanan.4 Gambaran Postmortem Pencekikan 1. apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri (left handed). Lebam mayat akan terlihat gelap. Tanda kekerasan pada tempat lain dapat kita temukan di bibir. hidung. dan lain-lain. 2. antara lain : • Tanda asfiksia. petekie. yaitu : • Perdarahan atau resapan darah. Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku juga tak luput dari perhatian kita. Pemeriksaan Dalam Hal yang penting pada pemeriksaan dalam bagian leher kasus pencekikan. III. Tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari.

• • Memar atau robekan membran hipotiroidea. kelenjar tiroid.Perdarahan atau resapan darah dapat kita cari pada otot. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Fraktur lain pada kartilago tiroidea. dan mukosa & submukosa pharing atau laring. • Fraktur. kartilago krikoidea. Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid. dan trakea. . kelenjar ludah.

. Makasar.com Muhammad al-Fatih. 2007.Google.com Kathryn Laughon. Diakses dari http://www.klinikindonesia. Diakses dari http://www.com Leonardo.edu Arnold Edwar. Charlottesville. The Pathology Of Trauma.Daftar Pustaka • • • • • • Rizsa. Model of Physiology of Manual Strangulation. Diakses dari http:// www. klc6e@virginia. Diakses dari Blog pada http://www.blogspot. Diakses dari Blog: http://www. Asfiksia.WordPress. 2007.com . British Library Cataloguing.. Diakses dari http:// www. Chapter XVI. 2008.pewartakabarindonesia..klinikindonesia. 2007. Pencekikan (Manual Strangulasi). 1993.com/ Muhammad al-Fatih... Asfiksia Forensik. USA. Asfiksia. Kendari. 2007.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->