Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 1

Peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009 tentang penyelenggaraan perparkiran dan retribusi parkir masih tidak berjalan secara efektif dan rancangan peraturan daerah kota surabaya tentang perubahan atas Peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009 tentang penyelenggaraan perparkiran dan restribusi parkir masih perlu adanya perbaikan. Dengan fakta-fakta yang ada, yaitu :
1. Meski sudah diberlakukan, Dinas Perhubungan (Dishub) masih

belum terbentuk piranti atas aturan-aturan yang dicantumkan dalam peraturan daerah surabaya nomor 1 tahun 2009. Piranti yang dimaksud adalah belum adanya kerja sama pemerintah kota surabaya dengan pihak asuransi.

2. Pasal 6 ayat 1 huruf (c) peraturan daerah kota surabaya nomor 1

tahun 2009 menyebutkan penyelenggara tempat parkir oleh orang atau badan wajib mengasuransikan terhadap kehilangan kendaraan. Dengan demikian setiap kendaraan berarti wajib diasuransikan, begitu juga pasal 6 ayat 3 peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009 yang menegaskan bahwa jika penyelenggara tempat parkir tidak mengasuransikan terhadap kehilangan kendaraan maka penyelenggara parkir bertanggung jawab penuh dan wajib mengganti kehilangan kendaraan yang dimaksud. Namun pasal ini tidak berjalan parkir efektif yang pada tidak kenyataannya karena banyak tempat

mengasuransikan terhadap kehilangan kendaraan bahkan juga tidak mengganti rugi pada kendaraan yang hilang, disebabkan adanya klausula baku yang diletakkan pada lahan parkirnya ini jelas melanggar pasal 18 undang-undang nomor 8 tahun 1999, biasanya berbunyi "segala bentuk risiko kehilangan/kerusakan bukan tanggung jawab kami" atau "segala kehilangan/kerusakan kendaraan tanggung jawab pemilik”.

Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2

3. Meskipun

telah

bahwa

penyelenggaraan

parkir

harus

mendapatkan izin sesuai pasal 4 ayat 1 perda kota surabaya nomor 1 tahun 2009, namun pada kenyataan masih banyak penyelenggaraan secara liar tanpa adanya izin terutama yang sering terjadi pada parkir di tepi jalan umum, oleh karena itu seharusnya Pemerintah Kota sudah memfasilitasi semua titik parkir tepi jalan umum yang ada di Surabaya dengan rambu khusus yang mudah dikenali dan dipasang di tempat yang mudah dilihat. Hal ini untuk membedakan mana tempat yang memang merupakan titik parkir tepi jalan umum, dan mana yang liar. Sehingga jika ada kendala atau permasalahan antara petugas parkir dan pemilik kendaraan, dasar hukum yang dipakai bisa jelas. Sebagai contoh disekeliling jalan siola.

4. Dengan adanya parkir berlangganan sebagimana yang diatur

dalam rancangan peraturan daerah kota surabaya tentang perubahan atas Peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009 tentang penyelenggaraan perparkiran dan restribusi parkir, untuk penerapan komisi petugas parkir berdasarkan pemasukan parkir (jumlah kendaraan yang parkir). Hal ini akan menjadi sulit ketika semua kendaraan yang parkir sudah mengikuti parkir berlangganan, maka karcis parkir tidak akan terpakai. Dan jika cara menghitung komisi dilihat dari karcis yang terpakai, tentu hal ini tidak akan cocok lagi untuk digunakan.

5. Pada peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009 bab

XIV diatur mengenai struktur dan besarnya tarif dikategorikan dalam tiga hal, yakni parkir di tepi jalan umum, parkir insidentil dan parkir zona, sebagaimana diatur pada pasal 30 sampai

Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 3

dengan 31 peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009. Di dalam pasal 30 peraturan daerah kota Surabaya nomor 1 tahun 2009 dijelaskan bahwa : “Struktur dan besarnya tarif parkir di tepi jalan umum ditetapkan sebagai berikut : a. Untuk satu kali parkir : yang sejenis, dikenakan retribusi sebesar Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah); 2. kendaraan truck, bus atau alat besar / berat yang sejenis, dikenakan retribusi sebesar Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah); 3. kendaraan truck mini atau kendaraan lain yang sejenis, dikenakan retribusi sebesar Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah) ; 4. kendaraan mobil sedan, pick up atau kendaraan lain yang sejenis, dikenakan retribusi sebesar Rp. 1.500,00 (seribu lima ratus rupiah); 5. kendaraan sepeda motor, dikenakan retribusi sebesar Rp. 500,00 (lima ratus rupiah); b. untuk satu kali parkir di tempat parkir insidentil : lain yang sejenis, dikenakan retribusi sebesar Rp. 6.000,00 (enam ribu rupiah) ; 2. kendaraan truck, bus atau alat besar / berat lain yang sejenis, dikenakan retribusi sebesar Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah); 3. kendaraan truck mini atau kendaraan lain yang sejenis, dikenakan retribusi sebesar Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah); 1. kendaraan truck dengan gandengan, trailer atau kendaraan

1. kendaraan truck dengan gandengannya, trailer atau kendaraan

00 (lima belas ribu rupiah) . kendaraan mobil sedan. untuk satu kali parkir di tempat parkir zona : kendaraan truck dengan gandengannya.00 (lima ribu rupiah) .00 (tujuh ribu lima ratus rupiah). kendaraan sepeda. dikenakan retribusi sebesar Rp. atau kendaraan lain yang sejenis.00 (dua ribu rupiah). Untuk satu kali parkir di Pelataran/lingkungan/gedung/taman : . dikenakan retribusi sebesar Rp. 1. kendaraan truck mini atau kendaraan lain yang sejenis. Dan di dalam pasal 31 peraturan daerah kota Surabaya nomor 1 tahun 2009 dijelaskan bahwa : “Struktur dan besarnya tarif retribusi parkir di Tempat Khusus Parkir ditetapkan sebagai berikut : a. 5. bus atau alat besar / berat lain yang sejenis.000. c. dikenakan retribusi sebesar Rp.000. kendaraan sepeda motor. 10. dikenakan retribusi sebesar Rp. 5. kendaraan sepeda motor.00 (seribu lima ratus rupiah) . dikenakan retribusi sebesar Rp.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 4 4. 2.500. atau kendaraan lain yang sejenis. 2. 5.000. dikenakan retribusi sebesar Rp. pick up.000. 4. 1.00 (dua ribu lima ratus rupiah) .000. kendaraan truck. 1. 7.500. 15. kendaraan mobil sedan. dikenakan retribusi sebesar Rp.00 (sepuluh ribu rupiah). 3. 2. trailer atau kendaraan lain yang sejenis. pick up.00 (seribu rupiah)”. dikenakan retribusi sebesar Rp. 6.500.

. dikenakan retribusi sebesar Rp.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 5 1.00 (lima ratus rupiah)”. dikenakan retribusi sebesar Rp. seperti : - Surabaya terjadi Di Taman Bungkul misalnya. kendaraan mobil sedan. dikenakan retribusi sebesar Rp. kendaraan sepeda.000. 500. pengedara harus membayar Rp 2.000.. kendaraan sepeda. 1. 4.000. mini bus atau kendaraan lain yang sejenis. pick up. 4. 4.00 (empat ribu rupiah). mini bus dan kendaraan lain yang sejenis.000.00 (seribu lima ratus rupiah). kendaraan mobil sedan. 200. pick up. 3.00 (sepuluh ribu rupiah). truck atau alat besar/berat lain yang sejenis. Yakni Rp 5. 10.untuk sekali parkir. b. kendaraan sepeda motor.untuk sekali parkir. untuk sepeda motor.00 (seribu rupiah). dikenakan retribusi sebesar Rp.500. 3. sebagai contoh ini fakta yang dapat dilihat bahwa di beberapa lokasi banyaknya pungutan juru parkir. Untuk satu kali parkir di tempat wisata: retribusi sebesar Rp.000. dikenakan retribusi sebesar Rp. kendaraan bus. dikenakan retribusi sebesar Rp. 1.. dikenakan retribusi sebesar Rp. 1. 3. 500.000.00 (dua ratus rupiah). 2. kendaraan sepeda motor. dikenakan Hal ini tidak berjalan secara efektif. - Di kebun Binatang untuk lokasi parkir insidentil ini bisa baik 10 kali lipat dari peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009.. atau kendaraan lain yang sejenis. kendaraan bus.00 (tiga ribu rupiah). 3. 2.000.00 (lima ratus rupiah).sampai dengan Rp.

Hal ini menyebabkan Polisi tidak berani menindak karena ada institusi yang melegalkan kendaraan parkir di area jalan urip sumoharjo. sebagai contoh PT. Namun pada kenyataannya hal ini tidak berjalan secara efektif. Karcis parkir yang diatur dalam pasal 12 peraturan daerah kota Surabaya nomor 1 tahun 2009 mengatur mengenai muatan data yang : - harus tercantum didalam karcis. Ketidak jelasan peraturan parkir semakin Nampak. yaitu : di jalan tersebut sudah terdapat rambu larangan parkir. apabila melihat pada jalan urip Sumoharjo. Hanya menggunakan potongan karton bernomor dan dilaminating 8. - batas-batas parkir/petak parkir yang telah ditetapkan menempatkan kendaraan yang dapat mengurangi atau merintangi kebebasan kendaraan-kendaraan yang akan keluar atau masuk tempat parkir dan/atau dapat menyebabkan terganggunya kelancaran lalu lintas . namun di pihak Dinas Perhubungan Kota Surabaya juga membuat marka berupa garis-garis parkir di pinggir jalan. POS di jalan Jemurandayani juga tidak menggunakan karcis parkir. Pelanggaran terhadap pasal 14 dan 15 peraturan daerah Surabaya nomor 1 tahun 2009 ini masih Nampak mengenai .Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 6 6. 7. dimana terdapat dua hal yamg menyebabkan ketidak efektifan yang saling tumpang tindih pada prakteknya.

yaitu : a. dimana sebuah lahan luas dipetak-petak sebagai lahan parkir. Sedangkan untuk parkir berlangganan. Penolakan pansus terhadap rancangan peraturan daerah atas perubahan peraturan daerah nomor 1 tahun 2009 itu tak terlepas dari beberapa hal. penerapan Peraturan daerah nomor 1 tahun 2009 di lapangan belum maksimal. Mereka melakukan hal ini untuk mengejar omset sebagaiman yag telah ditetapkan oleh penguasa parkir yang berada di area lahan parkir tersebut.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 7 - menyerahkan karcis parkir yang masih berlaku dan menerima pembayaran retribusi parkir atau sewa parkir sesuai dengan tarif parkir yang ditetapkan - pelayanan masuk dan keluarnya kendaraan di tempat parkir yang menjadi tanggung jawab petugas parkir. Di mana konsumen membayar jasa setelah menikmati layanan.  seperti praktik bertahun tahun terjadi di parkiran Jl Margoyoso samping Hotel Tunjungan. Terbukti masih bocornya penerimaan retribusi parkir sehingga Pendapatan Asli Daerah Surabaya juga tak maksimal. . menggunakan karcis dari buatannya sendiri yang di buat dari kertas yang 9. pengajuan Raperda Parkir Berlangganan tak sesuai dengan konsep retribusi parkir konvensional. jika dilihat dari hukum. b. sering menggunakan karcis yang telah daluwarsa atau bahkan ada juru parkir dilaminating. Sebagai contoh :  Di jalan Praban banyak parkir liar yang terjadi.

Terdapat Kejelasan.000.000. 85% diberikan ke Pemerintah kota Surabaya dan 15% ke propinsi. Berdasarkan perhitungan Dinas Hubungan Kota Surabaya. dibuktikan dengan adanya stiker.000. Pendapatan parkir tersebut. Adanya peningkatan pendapatan asli daerah. 10. pada warga yang melakukan perpanjanggan STNK di Samsat akan dikenai tarif parkir Rp54.000 per-tahun untuk sepeda motor. dengan adanya parkir berlangganan dapat memberikan pemasukan pendapatan asli daerah (PAD) yang sangat besar.000. Sebagai contoh : - Pendapatan yang diterima Pemkot Surabaya dari parkir hanya sekitar Rp. Ini jelas akan membuat pendapatan asli daerah Surabaya akan meningkat.. parkir berlangganan akan menyumbang Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp 120. 82.000 per-tahun. b. mereka diharuskan membayar dulu di depan. yaitu : a.setiap tahun.-.000. apabila dilakukan dalam satu bulan minimal parkir sebanyak sebanyak 12 kali.000. Dengan penerapan parkir berlangganan pendapatan yang diterima dari parkir bisa mencapai Rp. sedangkan untuk mobil Rp150. yaitu : . - Penerapan parkir berlangganan.000. Manfaat dari rancangan peraturan daerah kota surabaya tentang perubahan atas Peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009 tentang penyelenggaraan perparkiran dan restribusi parkir.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 8 sebelum konsumen menikmati jasa.000. Hal ini menyebabkan juru parkir tidak mungkin menagih kembali.000.

Dari fakta-fakta maupun penjelasan diatas menjelaskan Peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009 tentang penyelenggaraan perparkiran dan restribusi parkir masih tidak berjalan secara efektif dan rancangan peraturan daerah kota surabaya tentang perubahan atas Peraturan daerah kota surabaya nomor 1 tahun 2009 tentang penyelenggaraan perparkiran dan restribusi parkir masih perlu adanya perbaikan. kejelasan kupon mengenai dan kartu dokumen lain yang dipersamakan untuk pungutan retribusi. dapat terdapat karcis. Hal ini dilakukan dengan tujuan . Sebuah rancangan peraturan daerah harus mampu mengidentifikasi suatu permasalahan yang ada dari peraturan daerah yang ada sebelumnya. Jadi dapat disimpulkan dari fakta-fakta diatas : a. serta mampu menjawab semua kelemahan-kelemahan yang ada untuk mencegah terjadinya suatu pelanggaran ataupun kejahatan yang dimungkinkan akan timbul. Masih terlihat banyak petugas parkir yang tidak menggunakan karcis parkir yang masih berlaku maupun menggunakan lahan yang tidak sesuai bagi peruntukkannya. Untuk itulah perlu adanya rancangan peraturan daerah kota Surabaya yang dapat menyelesaikan atau mengatasi semua permasalahan yang dijelaskan dari fakta-fakta diatas. Dengan kata lain bahwa sebuah rancangan peraturan daerah harus dapat menjawab permasalahan yang ditimbul dari peraturan daerah sebelumnya.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 9 - Objek retribusi tempat khusus parkir yang ditujukan kepada pemerintah daerah - Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain dapat yang dipersamakan. berupa berupa langganan.

oleh karena itu banyak dana yang tersedot ke kantong penguasa parkir yang layaknya sebagai preman ini. Tindakan pengguna parkir ini juga dapat membuat rugi negara. malah menggunakan potongan karton bernomor dan berlaminating atau lainnya. Hal ini justru mempermudah tugas para petugas parkir untuk mengurangi hasil parkir kepada pemerintah kota. Sehingga jika ada kendala . Masih terlihat banyak area parkir yang dikuasai oleh penguasa parkir. Pengguna parkir tidak ikut berpartisipasi dalam perparkiran.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 10 supaya mendapat uang untuk disetorkan kepada penguasa parkir. d. dan mana yang liar. Dinas hubungan dan Satuan polisi pamong praja selaku pengatur jalannya perparkiran tidak mampu untuk mengusir para preman parkir yang ada. Hal ini untuk membedakan mana tempat yang memang merupakan titik parkir tepi jalan umum. banyak ditemukan juga yang sama sekali tidak menggunakan karcis parkir. bahkan juga mendirikan area parkir di daerah terlarang. Bahkan dinas hubungan dan satuan polisi pamong praja terkesan membiarkan para oknum parkir ini semakin merajalela. sebagai contoh meminta karcis parkir. Pemerintah Kota memfasilitasi semua titik parkir tepi jalan umum yang ada di Surabaya dengan rambu khusus yang mudah dikenali dan dipasang di tempat yang mudah dilihat. Solusi-solusi yang dapat dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan sebagaimana terdapat pada kesimpulan. Bahkan. Dimana hal ini menunjukkan penguasa parkir menguasai semua uang parker sebelum ke pemerintah kota. yaitu : 1. c. b.

Sehingga mereka pun bisa mengenakan tarif yang sesuai dengan perda (tercantum pada karcis parkir) pada pemilik kendaraan. Dengan cara ini. Petugas parkir mendapatkan bukti menerima tiket parkir dari Dinas Perhubungan. Biasanya hal ini seringkali dimanfaatkan oknum-oknum untuk mempersulitnya. petugas parkir wajib membayarkan sejumlah bonggol karcis yang digunakan pada loket Dispenda.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 11 atau permasalahan antara petugas parkir dan pemilik kendaraan. . 5. Dan petugas parkir yang sudah ada. 6. Optimalkan posko pengaduan masyarakat yang rencananya akan dibangun pada 5 tempat di Surabaya. seperti 300 rupiah untuk sepeda motor. Karena akan diundi secara berkala. Setelah selesai bertugas. Dengan cara ini. dasar hukum yang dipakai bisa jelas. petugas parkir baru dapat mengambil bonggol tiket karcis parkir baru. Pemerintah harus berusaha untuk mengurangi parkir-parkir liar juga harus tetap digalakkan. petugas parkir akan mendapatkan karcis parkir dengan nilai semestinya. maka pemilik kendaraan terpacu untuk meminta karcis parkir. Dan 60 ribu untuk setiap bonggol parkir mobil. 2. Manfaatkan program berhadiah yang diundi dari karcis retribusi parkir yang diterima dari petugas parkir. Dengan bukti pembayaran ini. langsung diterima sebagai petugas parkir resmi. 4. Harga 1 bonggol karcis (biasanya berisi 100 lembar) sudah ditentukan secara transparan. Meminta sejumlah uang agar petugas parkir yang sudah ada mendapatkan registrasi sebagai petugas parkir resmi. Misalnya 20 ribu untuk setiap bonggol parkir sepeda motor. Tarif yang sesuai supaya tidak menyulitkan. 3.

8. sebaiknya memanfaatkan jasa perbankan untuk pembayaran gaji dan komisi. yang dipasang pada tanda pengenal yang dilengkapi dengan foto. ini Para juru parkir akan menerima bayaran Rp1 juta per bulan. Data petugas parkir dikelola secara lengkap. Para Jukir juga harus selalu terdaftar secara komputerisasi sehingga sulit untuk melakukan pelanggaran karena identitas diketahui secara jelas. Hal berlangganan saja dapat mencapat 100 miliar lebih. pemerintah dapat mengatur gaji serta komisi yang akan diberikan. tetap diijinkan untuk memanfaatkannya tanpa ada paksaan. Agar tidak terjadi antrian pada saat penyerahan gaji. Dengan data ini. Walau masih terdapat kekurangan di sana sini. 10. Keuntungannya adalah mereka dapat parkir tanpa perlu membayar lagi. Tentunya pada titik-titik parkir tepi jalan yang dilengkapi dengan rambu khusus. Selain itu aturan bagi jukir ini juga dipertegas sanksinya. termasuk titik tempatnya bekerja serta data karcis parkir yang digunakan. Dengan . tentu dapat dibayar karena dari penggunaan parkir sedangkan di Surabaya saat ini ada sekitar 3. namun penggunaan komputerisasi terbukti cukup ampuh memberantas pungli-pungli yang tidak semestinya. Petugas parkir harus memiliki nomor registrasi.000 juru parkir. 9. Tanda pengenal ini wajib digunakan selama mereka bertugas.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 12 7. Khusus bagi pemilik kendaraan yang ingin menggunakan jasa parkir berlangganan. Para Jukir mendapat pendidikan dari Dishub baik itu yang ditunjuk langsung oleh dishub atau mengajukan permohonan izin serta bertanggung jawab pada dishub. Pemilik kendaraan berhak tidak memberikan uang jika petugas tidak mampu menunjukkan tanda pengenal dan karcis retribusi resmi sesuai dengan fungsinya.

Kalau di Malaysia. Dan yang lebih menarik lagi. yaitu ada denda atas denda yang terlambat dibayar. dan denda ini akan otomatis terakumulasi saat membayar pajak kendaraan bermotor mereka pada tahun depan. Memang pada tahap awal akan banyak sekali terjadi denda kepada masyarakat. tenaga informal tukang parkir. akan menjadi pelengkap penjualan tiket parkir ini pada saat mereka melihat adanya kendaraan yang akan parkir tetapi belum dilengkapi dengan tiket parkir ini.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 13 begitu maka penyelewengan uang retribusi parkir dapat dtekan semaksimal mungkin 11. GPS. petugas akan mengeluarkan kartu bukti pelanggaran yang langsung dicetak dari mobile printer berbasis thermal sekaligus mencantumkan pasal berapa yang dilanggar oleh pengguna kendaran serta besaran denda yang harus dibayar di tempat.update secara langsung sehingga pada saat mereka tidak mau membayar denda parkir. termasuk terintegrasinya sistem yang mereka miliki dengan ‘Samsat’. ada konsekuensi yang harus ditanggung. . dengan kemudahan teknologi informasi saat ini. Pada saat memberikan surat bukti pelanggaran. Apabila ada keluhan atas denda yang dibebankan petugas. kemudian di sisi lain. mereka semua tidak lagi bisa mengelak. mereka bisa melihat buktinya secara langsung. Tiket parkir ini dijual pada agen-agen yang telah direkrut sebagai mitra kerjasama. Apabila menemukan mobil atau kendaraan yang tidak memiliki tiket parkir. tetapi seiring dengan didapatkannya kepastian hukum yang sama oleh semua orang. mereka memiliki alat hand held terminal yang telah dilengkapi GPRS. maka secara perlahan sistem ini bisa diterima oleh masyarakat. 12. nomor polisi kendaraan tersebut akan ter. Dengan demikian. GSM dan kamera digital sehingga bukti pelanggaran yang dilakukan pemilik kendaraan bisa dengan mudah diambil foto-nya.

Baik itu manfaat ekonomi ataupun sosial. maka terdapat dana yang dapat digunakan untuk pembangunan daerah dari kota tersebut. Pendapatan dapat diterima di depan.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 14 mungkin karena jumlah tukang parkir tidak terlalu banyak maka agen tiket akan mendapatkan insentif sebesar 5 % dari harga tiket. manfaatnya harus lebih besar dari pada biaya. Manfaat secara sosial dari penerapan pemecahan masalah ini adalah : . 3. Pendapatan parkir tersebut.000 per-tahun untuk sepeda motor. biaya untuk melaksanakan rancangan peraturan daerah untuk merubah perda nomor 1 tahun 2009 ini. Oleh karena itu. Pendapatan dapat diprediksi secara tepat dan pasti. Dengan begitu. 4. 85% diberikan ke Pemkot Surabaya dan 15% ke propinsi. sementara di Indonesia mungkin bisa dilakukan metode yang sama tetapi dengan insentif yang bisa diatur mekanismenya dan dalam besaran insentif yang lebih tinggi – 1520 % dari harga tiket. sebagai contoh: Dengan penerapan parkir berlangganan. harus lebih kecil dari manfaatnya yang ditimbulkan.000 per-tahun. Warga yang melakukan perpanjanggan STNK di Samsat akan dikenai tarif parkir Rp54. Dapat meningkatkan pendapatan asli daerah. sedangkan untuk mobil Rp150. Kebocoran keuangan dapat ditekan seminimal mungkin. maka pendapatan ini akan diterima di . Suatu rancangan perundang-undangan yang baik. 2. Manfaat Ekonomi dari pemberlakuan rancangan peraturan daerah ini adalah : 1.

Pendidikan Juru parkir per tahunnya 500 ribu/orang. Maka dari itu akan menghabiskan biaya sebesar 3 miliar per bulannya. maka PAD yang besar ini dapat digunakan untuk membangun daerah Surabaya. Dengan begitu masyarakat pun juga akan menikmati PAD ini. Hal ini dikarenakan jumlahnya yang sangat besar.125.000. Dari pihak pemerintah kota. Para penguna parkir dapat merasa tenang untuk memarkirkan kendaraanya tanpa terganggu ulah para jukir yang menaikkan tarif seenaknya.000/ orang dimana jumlahnya 1/4 dari juru parkir yaitu 750 orang 1.000 juru parkir. Gaji 1 juta perorang dimana jumlah juru parkir di Surabaya adalah 3000 orang. Hal ini tentu dapat dibayar karena dari penggunaan parkir berlangganan saja dapat mencapat 100 miliar lebih. b.500. Jadi biayanya adalah 15 juta/ tahun Dengan begitu. Biaya dari penerapan pemecahan masalah ini. 2. 3. Para juru parkir akan menerima bayaran Rp2 juta per bulan. adalah: a. sehingga gaji para juru parkir mencapai Rp600 juta setiap bulannya. Dengan begitu maka penyelewengan uang retribusi parkir dapat dtekan semaksimal mungkin. sedangkan di Surabaya saat ini ada sekitar 3. Gaji koordinator juru parkir yaitu Rp 1.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 15 1. maka bila dibandingkan dengan pengguna parkir berlangganan yaitu : .000/ bulan c.

000. jadi 18.750.500. Jumlah motor sebanyak 3 juta x 54 ribu = 162 miliar/tahun.5 juta x 150 ribu = 225 miliar/ tahun.000 /bulan Bila dilihat dari keterangan diatas maka biaya yang dikeluarkan tiap bulannya lebih kecil daripada manfaat yang diperoleh dari pemecahan masalah ini. .000 / bulan b. jadi 13. Jumlah mobil sebanyak 1.000.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 16 a.

. telah diatur ketentuan mengenai . TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERPARKIRAN DAN RETRIBUSI PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA. keamanan dan kelancaran lalu lintas.... Menimbang : a.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 17 PEMERINTAH KOTA SURABAYA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR....TAHUN. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan masyarakat di bidang perparkiran serta untuk mewujudkan ketertiban.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389). Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Kota Besar Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Jawa Tengah/Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1965 (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 19 Tambahan Lembaran Negara Nomor 2730). c. 2. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. 3.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 18 Penyelenggaraan Perparkiran dan Retribusi Parkir berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2009. 4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125 Tambahan . b. Mengingat : 1. maka Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perparkiran dan Retribusi Parkir perlu ditinjau kembali. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480). perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perparkiran dan Retribusi Parkir.

8. 5. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 64 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3530). Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 132 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4444). Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 63 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3529). 6. .Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 19 Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah kedua kali dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844). 10. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 96 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5025). Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 130 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5049). 9. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 36 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258).

12. . Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 165 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4593). 16. 14. 18. 15. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. 66 Tahun 1993 tentang Fasilitas Parkir Untuk Umum. 13.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 20 11. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 119 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4139). 17. 4 Tahun 1994 tentang Tata Cara Parkir. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 2006 Nomor 86 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4655). Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah. 65 Tahun 1993 tentang Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perparkiran di Daerah. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 4 Tahun 2004 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2004 Nomor 2/E). Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 11 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2008 Nomor 11 Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 11). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2007 tentang Pengawasan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 3 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2007 Nomor 3). 26. 24.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 21 19. 21. 20. . 25. 22. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 245 Tahun 2004 tentang Pedoman Penetapan Tarif Retribusi Jasa Umum. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2008 Nomor 8 Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 8) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 12 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2009 Nomor 12 Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 12). 23. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 175 Tahun 1997 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Retribusi Daerah.

28. diubah sebagai berikut : 1. . yang dimaksud dengan : 1. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN PERPARKIRAN DAN RETRIBUSI PARKIR. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURABAYA dan WALIKOTA SURABAYA. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perparkiran dan Retribusi Parkir (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2009 Nomor 1 Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 1). Daerah adalah Kota Surabaya.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 22 27. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 7 Tahun 2009 tentang Bangunan (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2009 Nomor 7 Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 7). Ketentuan Pasal 1 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perparkiran dan Retribusi Parkir (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2009 Nomor 1 Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 1).

Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 23 2. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun. organisasi sosial politik. firma. 10. perseroan komanditer. yayasan. lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. yang berada pada permukaan tanah dan/atau air kecuali jalan kereta api. persekutuan. Dinas Perhubungan adalah Dinas Perhubungan Kota Surabaya. atau organisasi lainnya. dana pensiun. koperasi. Juru Parkir adalah orang yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya untuk mengelola tempat parkir di tepi jalan umum. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. organisasi massa. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. perseroan lainnya. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara. 9. Kepala Daerah adalah Walikota Surabaya. . 7. 4. 3. jalan lori dan jalan kabel. Jalan Umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Surabaya. 6. 5. perkumpulan. 8. Jalan adalah prasarana transportasi darat meliputi segala bagian jalan. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya. kongsi.

Tempat Parkir Wisata adalah tempat khusus parkir yang disediakan untuk melayani dan menunjang kegiatan wisata. taman parkir dan gedung parkir. Rambu Parkir adalah rambu untuk menyatakan sepanjang sisi jalan dimana rambu tersebut ditempatkan dapat digunakan untuk parkir kendaraan. gedung. Tempat Parkir di Tepi Jalan Umum adalah fasilitas parkir kendaraan di tepi jalan umum yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah. 14. Tempat Parkir adalah fasilitas parkir kendaraan yang disediakan. Tempat Khusus Parkir adalah tempat yang secara khusus disediakan. 17. serta bertanggung jawab atas hasil parkir yang akan disetorkan. baik yang berada di tepi jalan umum. Koordinator Juru Parkir adalah orang yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya yang bertugas mengkoordinir dan mengawasi satu dan/atau lebih juru parkir sesuai dengan wilayah kerja yang telah ditentukan. . 12. dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah yang meliputi pelataran/lingkungan parkir. Marka Parkir adalah garis-garis di tempat parkir yang menunjukkan cara parkir. 16. taman dan pelataran. Tempat Parkir Insidentil.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 24 11. 15. adalah tempat parkir di tepi jalan umum yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah secara tidak tetap atau tidak permanen karena adanya suatu kepentingan atau keramaian. 18. 13.

Kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor. Bangunan Umum adalah bangunan yang fungsinya untuk kepentingan umum. 26. baik berupa fungsi keagamaan. 21. maupun fungsi sosial dan budaya. Petak Parkir adalah bagian-bagian dari tempat parkir untuk memarkir kendaraan yang ditandai dengan marka parkir.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 25 19. Retribusi Parkir adalah pungutan yang dikenakan atas penyediaan jasa pelayanan parkir bagi kendaraan angkutan orang atau barang yang memanfaatkan parkir di tepi jalan umum atau tempat khusus parkir. Kendaraan Tidak Bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh tenaga manusia dan/atau hewan. 25. Kendaraan Bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang berjalan di atas rel. 22. 27. fungsi usaha. Sewa Parkir adalah pembayaran atas pemakaian tempat parkir yang diselenggarakan oleh orang atau badan. 23. Mesin Parkir adalah suatu alat yang dipasang atau dipergunakan untuk menghitung sewa atau retribusi parkir secara otomatis. 24. 20. . Karcis Parkir adalah tanda bukti parkir setiap pembayaran kendaraan atas yang pemakaian tempat parkir kepada dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah.

dengan tarif sewa parkir bertambah setiap 1 (satu) jam berikutnya. dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah. adalah pungutan sebagai pembayaran atas penyediaan pelayanan parkir di tepi jalan umum. . Parkir Zona adalah suatu bentuk pelayanan jasa parkir. 30. 32. dengan membayar atas pelayanan parkir kepada juru parkir setelah selesai parkir.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 26 28. dengan ditetapkan tarif parkir tersendiri untuk setiap zona atau kawasan tertentu. Retribusi Parkir Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum yang selanjutnya disebut retribusi. Parkir Pasca Bayar adalah suatu bentuk pelayanan jasa parkir. adalah pembayaran atas pelayanan tempat parkir yang khusus disediakan. 31. Retribusi Tempat Khusus Parkir yang selanjutnya disebut retribusi. 29. Badan Usaha Milik Negara. Parkir Progresif adalah suatu bentuk pelayanan jasa parkir. Retribusi Jasa Usaha adalah retribusi atas jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta. 34. Badan Usaha Milik Daerah dan Pihak Swasta. tidak termasuk tempat parkir yang disediakan. 33. dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah. Retribusi Jasa Umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

Parkir Khusus adalah suatu bentuk pelayanan jasa parkir dengan mengkhususkan petak parkir tertentu untuk kendaraan bernomor polisi tertentu.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 27 35. dengan pelaksanaan parkir dilakukan oleh petugas parkir. sehingga memberikan kemudahan bagi pengguna jasa parkir. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan melakukan perundang-undangan pembayaran retribusi. 2. adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB. adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi yang terutang. 38. 39. retribusi diwajibkan pemungut untuk atau termasuk pemotong retribusi tertentu. 40. Ketentuan Pasal 3 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : . 37. yang selanjutnya dapat disingkat SKRD. Surat Ketetapan Retribusi Daerah. 41. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD. 36. Parkir Berlangganan adalah suatu bentuk pelayanan jasa parkir yang mana pengguna jasa parkir membayar retribusi parkir setiap tahun. adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau seharusnya tidak terutang. Parkir Vallet atau parkir yang memberikan pelayanan yang sejenis adalah suatu bentuk pelayanan jasa parkir.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin penyelenggaraan tempat parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Penyelenggaraan Tempat parkir dapat dilakukan dengan cara : a. b. d. Parkir Pasca Bayar. diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. Ketentuan Pasal 4 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 4 (1) Penyelenggaraan tempat parkir hanya dapat dilakukan badan. setelah memperoleh izin dari Kepala Daerah. Parkir Berlangganan. c. (2) Untuk memperoleh dimaksud izin penyelenggaraan ayat (1) tempat parkir sebagaimana pada harus mengajukan tempat parkir oleh Pemerintah Daerah permohonan tertulis kepada Kepala Daerah melalui Kepala Dinas dengan melampirkan persyaratan yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. (3) Kepala Daerah dapat melimpahkan kewenangan pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kepala Dinas. Parkir Progresif. Parkir di Tepi Jalan Umum. 3. b. Parkir Zona. .Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 28 Pasal 3 (1) Penyelenggaraan meliputi : a. Tempat Khusus Parkir.

5. e. c. b. karcis parkir wajib memenuhi standar teknis . Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 6 (1) a.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 29 4. (2) Pencetakan pengamanan. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat dalam surat izin. Ketentuan Pasal 11 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 11 (1) Pengadaan Karcis Parkir pada tempat parkir yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah maupun oleh badan hanya dilaksanakan oleh Dinas Perhubungan dan wajib diporporasi. ketertiban dan kelancaran dalam kawasan lokasi parkir. mengasuransikan terhadap kehilangan kendaraan. maka penyelenggara parkir bertanggung jawab penuh dan wajib mengganti kehilangan kendaraan dimaksud. bertanggung jawab atas hasil parkir setiap harinya kepada koordinator pakir sesuai dengan jumlah karcis yang berkurang pada tiap lot d. melaporkan kepada pemberi izin apabila akan mengalihkan penyelenggaraan tempat parkir kepada pihak lain. membayar pajak parkir sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (3) Dalam hal penyelenggara tempat parkir tidak mengasuransikan terhadap kehilangan kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. Penyelenggara tempat parkir oleh orang atau badan wajib : menjaga keamanan.

keamanan dari pihak tertentu f. Ketentuan Pasal 18 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 18 Atas pelayanan parkir di tepi jalan umum yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. melaporkan kepada piha yang berwajib apabila ada gangguan . menyerahkan dan bertanggung jawab atas hasil parkir kepada koordinator parkir 7. Ketentuan Pasal 15 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 15 Petugas parkir berkewajiban untuk : a. menyerahkan karcis parkir yang masih berlaku dan menerima pembayaran retribusi parkir atau sewa parkir sesuai dengan tarif parkir yang ditetapkan. 8. dipungut retribusi dengan nama retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum. mematuhi batas-batas parkir/petak parkir yang telah ditetapkan. Ketentuan Pasal 20 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 20 e.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 30 (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar teknis pengamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). c. menjaga ketertiban dan keamanan terhadap kendaraan yang diparkir di tempat parkir yang menjadi tanggung jawabnya. d. memberikan pelayanan masuk dan keluarnya kendaraan di tempat parkir yang menjadi tanggung jawabnya. b. 6.

Badan Usaha Milik Daerah dan pihak swasta. dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah. Ketentuan Pasal 22 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 22 Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa parkir di tepi jalan umum. Ketentuan Pasal 24 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 24 . Ketentuan Pasal 21 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 21 (1) Objek retribusi tempat khusus parkir adalah pelayanan tempat khusus parkir yang disediakan. 10. (2) Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan tempat parkir yang disediakan. 12. Ketentuan Pasal 23 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 23 Subjek retribusi Tempat Khusus Parkir adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa parkir di tempat khusus parkir. dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 31 Objek retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum adalah penyediaan pelayanan parkir di Tepi Jalan Umum yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 9. 11. Badan Usaha Milik Negara.

000. 240.000. bus dan alat besar/berat lainnya.000.00 (sembilan puluh enam ribu rupiah) setiap tahun. untuk kendaraan truck mini atau kendaraan lain yang sejenis. 480. 48.000.00 (empat puluh delapan ribu rupiah) setiap tahun. dikenakan retribusi sebesar Rp. trailer atau kendaraan lain yang sejenis. dikenakan retribusi sebesar Rp. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 31A (1) Struktur dan besarnya tarif retribusi parkir berlangganan ditetapkan sebagai berikut: 1. untuk kendaraan sepeda motor.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 32 Retribusi Pelayanan Parkir di tepi jalan umum digolongkan sebagai Retribusi Jasa Umum. untuk kendaraan truck.00 (empat ratus delapan puluh ribu rupiah) setiap tahun.000.00 (dua ratus empat puluh ribu rupiah) setiap tahun. dikenakan retribusi sebesar Rp. dikenakan retribusi sebesar Rp. 96. 2. 4. untuk kendaraan mobil sedan.00 (tiga ratus delapan puluh empat ribu rupiah) setiap tahun. 3. 384. 13. . dikenakan retribusi sebesar Rp. Diantara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) Pasal yakni Pasal 31A. kendaraan truck dengan gandengannya. 5. pick up atau kendaraan lain yang sejenis.

Pasal 31 dan Pasal 31A sudah termasuk pembayaran premi asuransi kehilangan kendaraan .Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 33 (2) Tarif retribusi Parkir berlangganan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku untuk parkir di Tepi Jalan Umum dan di Tempat Khusus Parkir. Ketentuan Pasal 41 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : . Ketentuan Pasal 32 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 32 (1) Besarnya tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30. (4) Retribusi yang terutang dipungut di Wilayah Daerah. Pasal 31 dan Pasal 31A disetor ke Rekening Kas Umum Daerah. 15. Ketentuan Pasal 34 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 34 (1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. (2) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa karcis. 16. 14. kupon dan kartu langganan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembayaran premi asuransi dan tata cara penggantian kehilangan kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. (3) Hasil pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan pemungutan retribusi diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.

Pasal II Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.000. Pasal 11 ayat (3). Pasal 11 ayat (4). dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp. 000.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 34 Pasal 41 (1) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1). Pasal 13. Agar setiap orang mengetahuinya. (3) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah pelanggaran. Pasal 14 atau Pasal 15. Pasal 6 ayat (1). memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Surabaya. Ditetapkan di Surabaya pada tanggal WALIKOTA SURABAYA BAMBANG DWI HARTONO . Pasal 10 ayat (3).00 (lima puluh juta rupiah). (2) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan Daerah dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar. 50.

: Cukup jelas. maka Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perparkiran dan Retribusi Parkir perlu ditinjau kembali. .Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 35 PENJELASAN ATAS RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERPARKIRAN DAN RETRIBUSI PARKIR I. II. : Cukup jelas. : Cukup jelas. : Cukup jelas. : Cukup jelas. perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perparkiran dan Retribusi Parkir. UMUM Bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan perparkiran di kota Surabaya khususnya pelayanan parkir di tepi jalan umum dan pelayanan parkir di tempat khusus parkir serta dalam rangka penyesuaian substansi/materi sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. : Cukup jelas . Sehubungan dengan hal tersebut. : Cukup jelas. PASAL DEMI PASAL Pasal I : Angka 1 Angka 2 Angka 3 Angka 4 Angka 5 Angka 6 Angka 7 Angka 8 Angka 9 : Cukup jelas. : Cukup jelas.

Pasal II : Cukup jelas.Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 36 Angka 10 Angka 11 Angka 12 : Cukup jelas. . : Cukup jelas. : Cukup jelas.

Tugas PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 37 TUGAS PLKH Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Nama : Stefani Kaonang NRP : 2070813 Kelas : B Fakultas Hukum Universitas Surabaya 2010 .