Cara Memahami Islam

Dr. Ali Syareati
Sebelum mulai membicarakan topik di atas, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan sebagai pengantar atau catatan. Mungkin tidak langsung berhubungan dengan pokok pembicaraan kita, namun saya anggap penting sekali menyinggungnya di sini karena kaitannya yang erat dengan permasalahan fundamental dan vital. Dalam tahun-tahun belakangan ini, kebanyakan intelektual kita berpendapat bahwa kita tidak perlu lagi berbicara, dan bahwa percuma saja kita membicarakan penderitaan kita. Sampai sekarang, selalu saja kita berbicara dan membicarakan penderitaan kita tanpa berbuat atau bertindak. Karena itu kita harus berhenti berbicara, dan setiap orang harus mulai bertindak memperbaiki keluarga dan negerinya. Menurut hemat saya pendapat itu keliru. Karena sebenarnya sampai sekarang ini kita belum pernah berbicara, belum pernah kita membicarakan penderitaan kita, belum pernah kita menganalisa penderitaan kita secara seksama dan ilmiah. Apa yang telah kita kerjakan hanya mengeluh, dan keluh ksah jelas tidak ada gunanya. Selama ini kita belum pernah sama sekali membicarakan permasalahan psikologis kita. Memang ada kalanya kita merasa seolah-olah telah mendiagnosa serba penyakit kita sehingga rasanya sekarang kita harus mulai dengan usaha penyembuhannya. Tetapi, sayang sekali, sebenarnya kita belum pernah membuat diagnosa atas penyakit kita. Mereka yang telah turun ke lapangan dan karena itu telah menglami serba kesukaan, hambatan dan kegagalan dalam usahanya, tahu dan meresakan betul bahwa selama ini sebenarnya kita terlalu sedkit membicarkan penderitaan-penderitaan kita, dan bahwa kita belum cukup sadar akan penderitaan kita, kerusakan kita, penyelewengan kita! Selama ini bukan saja kita kurang membicarakan pandangan kepercayaan, keagamaan dan ideologis kita. Kita bahkan sama sekali belum pernah membicarakannya. Bagaimana mungkin kita lalu berkata bahwa kit telah membuat diagnosa penyakit kita dan telah cukup banyak membahasnya, dan bahwa sekarang sudah tiba waktunya untuk bertindak? Masyarakat kita adalah masyarakat religius; dasar kerja kita haruslah religius; namun masih juga kita belum paham apa sebenarnya agama kita. Profesi sya adalah seorang guru, dan ketika mahasiswa-mawasiswa saya menanyakan buku-buku mengenai masalah tertentu, saya tidak dapat menjawab mereka. karena tidak ada buku-buku mengenai masalah-masalah itu dalam bahasa Persia. Ini sungguh sangat memalukan. Bangsa kita selalu bangga karena sudah berabad-abad kita menjadi penganut Ja’far dan Ali. Sejak abad pertama Islam, ketika Persia menggabung dalam dunia Islam dan melepaskan agama nenek-moyangnya demi Islam, Persia telah menjadi penganut Ali, baik secara resmi

bagian pertama khusus untuk berbicara dan bagian kedua khusus untuk bertindak. atau tentang para pengikut pertama Ali yang telah meletakkan dasar-dasar sejarah Syi’ah sejak abad pertama Islam demi kesetiaan mereka kepada Ali maka saya tidak bisa memberikan jawaban kepadanya. Sayang sekali. ajaran Islam. Satu-satunya buku mengenai orang ini –yang ditinjau dari segi nasional. bahwa tidak ada satu buku pun. sesuai dengan rasa dan keyakinan kita. dan bahwa sekarang kita harus mulai bergerak! Bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa sekarang ini bukan waktunya untuk bertindak dan bekerja. yang cukup pantas untuk dibaca. menganalisa dan mengamalkan harus selalu erat bergandengan. mengenai tokoh-tokoh suci ini yang dari sudut pandangan manusiawi. . tetapi juga secara “ilmiah”. Keenam buku yang beredar baru-baru ini tentang ini kesemuanya adalah terjemahan. Ali dan Abu Dzarr harus dianggap sebagai fadhil. dan bahwa Abu Dzarr harus diperkenalkan kepada kita oleh Jaudat as-Sahhar. meski hanya sekedar empat halaman. memang patut dihargai. seorang saudara kita dari golongan Sunnah. Tetapi hari ini. barulah kita mengetahui Ali dari seorang Kristen. bahwa “kita teah cukup banyak berbicara dan bahwa sekarang adalah waktunya untuk bertindak”. dan saya sependapat kalau kita harus membahas penderitaan kita. Seorang fadhil menafsirkan dan menerangkan al-Quran. Salman Farisi adalah seorang Persia pertama yang memeluk Islam. ilmiah. bila seorang mahasiswa bertanya kepada saya tentang Ali. Ajaran yang kita yakini haruslah menjadi landasan kerja. Geoge Jordaj. ataupun dalam kenyataan praktis. Salman maupun para penerus Rasul dan Ali. Saya tidak tahu bagaimana kita sampai bisa mengatakan bahwa tahap analisa dan diskusi sudah berakhir. sebab berbicara dan bertindak. bukan alim. maka bahkan Rasul. kegiatan dan pemikiran kita. Di negara ini orang yang paham al-Quran disebut fadhil (yang utama). bukan alim. Kita harus tahu siapa Ali. Beliau tidak pernah memisahkan kehidupan menjadi dua bagian. yang pantas. keagamaan maupun Syi’ah adalah merupakan sumber kebanggaan Iran. Inilah praktek Rasul saw. Seorang alim dianggap lebih tinggi derajatnya dari pada seorang fadhil yang banyak tahu dan ahli tentang alQuran. demi kesadaran kita akan penderitaaan itu. Namun dia tergolong ulama Islam kelas dua! Andaikata penggolongan demikian bisa dibenarkan. lalu menjadi seorang yang sangat dekat dengan beliau hingga bahkan dianggap sebagai anggota keluarga beliau.ditulis oleh seorang Prancis. yang pernah kita tulis tentang Ali serta para sahabatnya. Maka sungguh naif mereka yang menyatakan. kita sendiri belum pernah menulis. sungguhlah sangat memalukan. [2] sedang yang dalam bahasa Persia. tidak ada buku dalam bahasa Persia. Yangsaya ketahui mengenai tokoh-tokoh itu hanyalah nama mereka. Dia adalah seorang besar dan seorang genius yang mengikuti Rasul sejak permulaan rasalah beliau.sebagaimana halnya sekarang ini. sirah (riwayat hidup) Rasul serta para sahabat beliau. ternyata tidak ada. dia adalah sumber kebanggaan ras Aria dan semua orang Iran. Yang kita lakukan selama ini hanya mengeluh dan meratap. Sungguh sangat memalukan bahwa sesudah empat belas abad. dan kita pun harus mengenal Abu Dzarr. terlepas dari pandangan religius. Bagi suatu bangsa yang agamanya ialah agama Ali.

al-Quran. ialah dengan mempelajari tokoh-tokoh terkemuka dan membandingkan mereka dengan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain. Saya menemukan dalam al-Quran serangkaian knsep serta tema baru mengenai sejarah. misalnya. ialah dengan mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkan beliau dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah. membicarakan penderitaan kita. Ini berbeda dengan kalau kita mangambil al-Quran. Karena bidang studi dan penelitian saya ialah sosiologi agama. Ya. dengan harapan untuk mencapai sesuatu. dan bahwa sebagai intelektual dia memikul amanah demi masa depan umat manusia yang lebih baik. Tetapi ada lagi cara lain. Tetapi bukan itu yang saya maksudkan. sayang sekali. atau Islam sendiri. selama usaha serta penelitian itu sadarlah saya bahwa banyak topik yang selama ini belum pernah kita perhatikan sama sekali sehingga bahkan kita tidak mengira adal topik demikian. Demiian pula sosiologi dapat memperjelas pemahaman kita mengenai ayat-ayat al-Quran yang historis dan sosiologis. Ilmu fisika. jika kita tidak tahu apa yang kita kehendaki. bisa membantu kita untuk memahami ayat-ayat kauniyyah dalam al-Quran. dan membandingkanNya dengan sesembahan agama-agama lain. Karena mereka yang telah mencoba berbuat di negeri kita ini. Karena Islam mempunyai berbagai dimensi dari aspek maka setiap orang bis menemukan sudut pandang yang paling tepat sesuai dengan bidangnya. Tugas intelektual hari ini ialah mempelajari dan memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehiduan manusia. Cara lainnya ialah dengan mempelajari kitab kita. Sebabnya ialah bahwa ketika mereka turun ke lapangan. Salah satu cara ialah dengan mengenal Allah. Akhirnya ada satu cara lagi. ternyata krang atau sama sekali tidak berhasil. Dia harus menyadari tugas ini sebagai tugas pribadi dan apapun bidang studinya dia harus senantiasa menumbuhkan pemahaman yang segar tentang Islam dan tentang tokoh-tokoh besarnya. ataupun sistem kehidupan politik. Dalam studi saya tentang Islam dan al-Quran antara lain saya menemukan bahwa dalam sunnah (kebiasaan dan metode kerja) Rasul ternyata terkandung teori-teori sejarah dan sosiologi khusus. sesuai dengan bidang masing-masing. psikologi dan etis Rasul lalu menganalisanya dengan kacamata ilmu sekarang. Sebagaimana saya sampaikan pada pertemuan yang lalu. Al-Quran sendiri. Suatu teori dan kerangka sosiologi serta sejarah yang filosofis terbuka . Maka tugas pertama kita ialah memahami agama serta aliran pemikiran kita. adalah sumber serba ide. tetapi sekaligus juga secara tepat dan ilmiahm serta menganalisa apa yang kita alami. perseorangan maupun masyarakat. filsafat dan metode tertentu yang dipergunakan Rasul. sosiologi dan humaniora. maka kita pun tidak tahu apa yang akan kita lakukan. beberapa ayat al-Quran. dan membandingkannya dengan kitab-kitab samawi (atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya. kita masih harus memulai usaha memahami agama kita. berabad-abad setelah kita secara historis menganut agama besar ini. ada berbagai cara memahami Islam. Sudah barang tentu. maupun di bagian-bagian dunia Islam lain. mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan.Karena itulah saya yakin bahwa tugas kita terbesar dan terpenitng dewasa ini ialah berbicara – berbicara yang benar. maka saya telah mencoba menyusun semacam sosiologi agama berdasarkan Islam dengan menggunakan terminologi yang berasal dari al-Quran dan kepustakaan Islam. sosial.

saya berkesimpulan. Dengan bantuan al-Quran saya temukan beberapa konsep yang termasuk dalam ilmu-ilmu manusiawi. Sadarlah sya. Biasanya kaum Muslimin berpendapat. walaupun selama ini hijrah merupakan faktor utama kebangkitan peradaban sepanjang zaman. bahwa hijrah ialah perpindahan sejumlah sahabat dari Makkah ke Abbisinia maupun ke Madinah atas perintah Rasul. yaitu humaniora. Islam dan al-Quran. Di antaranya adalah konsep hijrah. bahwa hijrah bukanlah sekadar suatu peristiwa sejarah. Sedangkan hijrah yangpernah dihayati umat Islam semurut mereka hanyalah yang dilakukan kaum Muslimin dan Rasul di masa awal sejarah Islam tersebut. kembali kepada sejarah. Lalu. secara lebih segar dan lebih tepat. saya kira hijrah adalah suatu prinsip yang sangat luhur dan merupakan konsep yang sama sekali baru. begitupun dari kehidupan Rasul serta dari konsep hijrah yang berlangsung pada awal sejarah Islam. Konsep ini. Suatu masyarakat primitif akan tetap primitif selama mereka tidak mau meningglakan negerinya sendiri. Semua peradaban di dunia ini –dari yang terbaru.ternyata tumbuh dari hijrah. .terbentang di hadapan saya. Sebaliknya. tetapi belum pernah dibahas oleh ilmu-ilmu ini. Nabi Penutup. hingga yang paling tua sepanjang pengetahuan kita. Dari nada pembahasan al-Quran mengenai hijrah dan muhajirin. terlepas dari pendapat kaum Muslimin umumnya. Demikianlah. ialah peradaban Amerika. telah menolong saya untuk memahami masalah-masalah sejarah. saya menangkap bahwa konsep itu mengandung suatu pinsip filsafat dan sosial yang mendalam. Dan ketika kemudian saya cek dengan sejarah dan sosiologi. yakni perpindahan rakyat dari satu tempat ke tempat lain. sebanding dengan kadar pengetahuan saya tentang keduanya. ternyata semuanya benar. saya hanya membicarakan dimensi historis konsep itu. Dalam sejarah kita mengenal dua puluh tujuh peradaban. Bahkan para filosof sejarah belum memberi perhatian sewajarnya atas masalah hijrah ini. Semuanya. tidak pernah dicatat dalam sejarah ada suatu suku primitf yang berkembang menjadi masyarakat yang beradab dab berbudaya tanpa terlebih dahulu harus meninggalkan tanah asalnya dan berhijrah. bahwa dengan mempergunakan istilahistilah khas dari al-Quran kita bisa menemukan berbagai konsep mengenai ilmu yang paling modern. Tetap dari nada pembahasan tentang al-Quran tentang hijrah. jadi bukan hanya sekedar suatu peristiwa sejarah sederhana. diterbitkan oleh Husainiyah-e Irsyad. saya menemukan berbagai prinsip. Mereka baru akan mencapai peradaban setelah melakukan hijrah dan menetap di suatu negeri baru. yakni peradaban Sumeria. saya simpulkan dari studi saya tentang Islam dan dari nada al-Quran membahas dan memerintahkan hijrah yang terusmenerus dan umum. Jadi semua peradaban adalah hasil dari hijrah masyarakat-masyarakat primitf. sebagai faktor geografis dan politis. Dalam buku Muhammad. tanpa kecuali lahir dari peristiwa hijrah. yang sangat relevan dengan ilmu sejarah dan sosiologi. Merekamengiranya sama saja dengan perpindahan sekelompok masyarakat primitf atau berperadaban rendah dari suatu tempat ke tempat lain.

lalu bertunas. Masuklah orangorang Mongol ke Persia. beranting. yang mengubah sama sekali pola hubungan perseorangan dan sosialnya? Selama berabad-abad orang telah berusaha terus-menerus mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini. dalam kurun waktu satu atau dua abad. kemerosotan dan revolusi yang dialami sesuatu bangsa adalah akibat dari kebetulan. sejak awal mulanya sampai sekarang adalah bagaikan sebatang pohon. kebetulan Persia kalah dan orang-orang Persia lalu masuk Islam. saya hendak membahas dilema terbesar sosiologi maupun sejarah. semangatnya. perang-perang Dunia Pertama dan Kedua pecah karena kebetulan. mungkin saja itu tidak sampai terjadi. masing-maisng menumpukan perhatiannya pada suatu faktor tertentu. berubah. tiba-tiba Arab menyerang Persia. atau tiba-tiba rusak dan merosot? Faktor yangkadangkala menyebabkan seuatu masyarakat berhasil melakukan suatu lompatan positif ke depan. Mereka juga menolak pendapat bahwa sosiologi harus memiliki hukum-hukum. yang secara totol mengubah wataknya. Faktor-faktor dan hukum-hukum itu mempunyai peranan yang sama seperti lainnya hukum-hukum mengenai alam semesta. Kelompok ini percaya bahwa terdapat faktor-faktor serta hukum-hukum yang menentukan kehidupan masyarakat manusia sepanjang sejarah. Termasuk golongan ini ialah para penganut Fasisme dan Nazi. Semua aliran sosiologi dan sejarah yang beraneka ragam telah sama mencurahkan perhatian mencari jawabannya. Kelompok ketiga terdiri atas mereka yang memuja para pahlawan serta orang-orang besar. sejarah dan masyarakat. sehingga Persia kalah.Sekarang. Begitu pula Emerson [4] dan lain sebagainya. Akibatnya kebudayaan serta cara hidup Mongol bercampuraduk dengan cara hidup Persia Islam. Demikian pula. Ada beberapa aliran yang sama sekali tidak percaya akan sejarah yang menurut mereka yang tidak lebih dari koleksi kisah kuno yang tidak berharga. Menurut mereka. mengenai sosiologi Islam. terutama sejak 110 tahun terakhir. Selalu saja pertanyaannya ialah: apakah yang merupakan motor sejarah. tidak mempunyai kemauan sendiri. Faktor dasar apakah yang menyebabkan suatu masyarakat tiba-tiba berubah dan berkembang. Asalnya ialah sebutir benih. tujuannya dan bentuknya. aliran ini menganggap setiap hal sebagai akibat kebetulan belaka. Menurut . Manusia perseorangan tidak dapat mempengaruhi masyarakatnya. Semua perubahan. ilmuwan seperti Carlyle [3] yang pernah menulis biografi Rasul kita. yang merupakan faktor dasar dalam perkembangan dan perubahan masyarakat manusia? Berbagai aliran sosiologi berbeda pendapat mengenai ini. Karena masyarakat adalah gejala alam yang berkembang sesuai dengan faktorfaktor dan hukum-hukum alam. kebetulan ketika itu pemerintahan Persia sedang dalam keadaan lemah. bercabang dan berdaun. dan berpendapat bahwa yang menjadi faktor dasar tersebut adalah serba kebetulan. tumbuh menjadi sebatang pohon besar. kemajuan. Kebetulan Jengis Khan menyerang Persia. prinsip-prinsip atau kriteria yang pasti. berakar. muncul pada permukaan tanah. dan terjadilah perubahan. layu di musim dingin. mencapai puncak pertumbuhannyadan akhirnya ambruk. apakah sebebarnya yang merupakan faktor dasar dalam perubahan dan perkembangan masyarakat. Umpamanya. yang bersikap pesimistis terhadap filsafat sosiologi serta humaniora. Timbullah semacam anarkisme ilmiah. Ringkasnya. Kelompok lainnya adalah golongan meterialis dan mereka yang menganut paham determinisme sejarah. mekar kembali di musim semi.

ternyata tidak menganggap rakyat sebagai faktor dasar perubahan dan perkembangan sosial. Kecuali Ali. tidak satupun dari ajaran ini yang menegaskan bahwa massa rakyat menjadi faktor penentu dalam perubahan dan perkembangan sosial. Semuanya sematamata bergantung pada orang-orang besarnya. mereka pun merupakan alat belaka bagi orang-orang lain. bukanlah akibat hukum lingkungan dan masyarakat yang dinasti. golongan elite.kelompok ini hukum hanyalah alat mereka yang berkuasa. Tetapi sejak zaman demokrasi Athena hingga dewasa ini. tidak pernah turut serta dalam perubahan masyarakat. Golongan yang pertama berpendapat bahwa yang mengubah masyarakat manusia ialah tokoh-tokoh besar seperti Budha. Carlyle menulis sebagai berikut: Ketika Nabi Islam itu pertama-tama menyampaikan risalahnya kepada kaum kerabatnya. mempunyai peranan dalam menentukan nasib mereka. Musa atau . Malah sebaliknya. maka akan kuceritakan kepadamu seluruh sejarah umat manusia. karena itu tidak ada pengaruhnya terhadap masyarakat. maka semuanya menolaknya. bentuk pemerintahan terbaik ialah di mana rakyat turut berpertisipasi di dalamnya. Satu-satunya faktor fundamental untuk mengubah atau memajukan masyarakat. Ceritakan kepadaku tentang Napoleon. hanyalah pribadi besar. Bahkan para sosiolog yang paling demokratispun. Kata Emerson: Sebutkan kepadaku nama sepuluh orang besar. Dalam biografinya tentang Muhammad. ataupun yang mengakibatkan kemerosotannya. ialah masyarakat umumnya. Ada pula pendapat bahwa rakya. Orang awam. Seterusnya Carlyle menyimpulkan: Tangan yang kecil itu bergabung dengan tangan yang besar. bukan pula akibat kebetulan. waktu itu masih berusia sepuluh tahun. apalagi dari kalangan rendah. tanpa terlebih dahulu mempelajarinya. yang bangkit memenuhi dakwah Nabi dan berikrar setia kepadanya. yang mereka andalkan sebagai faktor penentu ialah determinisme. yang sesekali muncul dalam masyarakat untuk merubah nasib masyarakat mereka dan adakalanya bahkan nasib umat manusia. pemimpin-pemimpin besar. Para pemuja orang besar dapat dibagi atas dua golongan. maka akan kusampaikan kepadamu seluruh sejarah Islam. akan kuterangkan kepadamu seluruh sejarah Eropa. namun tidak ada suatu ajaran. peristiwa kebetulan atau kehendak Tuhan. dan mengubah jalan sejarah. Menurut pandangan kelompok ini. Ceritakan kepadaku tentang Nabi Islam. yang menegaskan bahwa massa rakyat merupakan faktor fundamental dalam perkembangan dan perubahan sosial. nasib masyarakat dan umat menusia tergenggam dalam tangan orang-orang besar. yang bertindak sebagai pemimpin masyarakat. Karena itu kebahagiaan maupun kebinasaan suatu masyarakat tidaklah tergantung pada massa rakyatnya. Menurut berbagai ajaran demokrasi. meskipun engakui bahwa bentuk pemerintahan serta organisasi administratif dan sosial trbaik ialah di mana rakyat turut berpartisipasi dengan memberikan suara dan memilih pemerintahan mereka. bahkan juga tidak dalam paham demokrasi dalam bentuknya yang kuno ataupun yang modern.

Tim inilah yang memimpin masyarakat menurut jalan dan kepada tujuan yang mereka pilih. beliau adalah seorang yang memperingatkan dan yang menyampaikan berita gembira. sebagai faktor fundamental. ataupun hukum-hukum yang berlaku umum dan abadi. menunjukkan jalan bagi mereka. Tetapi beliau dilukiskan sebagai pembawa risalah yang bertugas menunjukkan ajaran dan jalan kebenaran kepada manusia. memperingatkan manusia dan membawa kabar gembira. dan terserah kepada manusia apakah akan memilih kebenaran atau mengingkarinya. ialah kata massa. ringkasnya an-naslah yang memikul seluruh tanggungjawab terhadap masyarakat dan sejarah. Terbentuklah suatu tim. beliau berbicara kepada an-nas. Rasul diutus kepada an-nas. khususnya Nabi Muhammad.Yesus. Bila di dalam al-Quran diceritakan tentang tokoh-tokoh besar. setiap nabi. setiap agama. bahwa menurut Islam faktor fundamental dalam perubahan dan perkembangan sosial bukanlah pribadi-pribadi sang pemimpin. maka seringkali itu dihubungkan dengan kutukan atau cercaan atas mereka. Rasul bukanlah penyebab aktif perubahan dan perkembangan fundamental dalam sejarah manusia. setiap ajaran. Pada umumnya. baik dalam alam maupun dalam masyarakat manusia. Rasul merupakan pribadi terbesar. Demikianlah al-Quran dialamatkan kepada an-nas. kalaupun mereka disebut karena ketakwaan dan kesalehan mereka. Dengan berbuat demikian sempurnalah tugas beliau. bukan pula kebetulan. an-naslah yang menjadi faktor dasar kemerosotan. Dalam sosiologi. baik secara struktural maupun fonetik. yang mula-mula muncul ialah seorang pemimpin. dan jika Islam mengandalkan peranan Rasul sebagai faktor fundamental dalam perubahan dan perkembangan sosial. dialamatkan kepada mereka yang sekaligus juga merupakan faktor perubahan sosial yang fundamental dan efektif di dalam ajaran itu. Ada beberapa persamaan dan sinonimnya. ternyata tidak demikian. Beliau bertanggung jawab untuk menyampaikan risalah. Islam tidak mengenal kebetulan. berarti Islam mengakui pula semua nabi. karena yang bertanggungjawab adalah rakyat sendiri. massa terdiri atas segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan . yang merupakan para genius terkemuka dalam masyarakatnya. Namun. Dalam pandangan Islam. sama sekali beliau tidak bertanggungjawab atas keruntuhan ataupun kejayaan mereka. Sedangkan menurut golongan lainnya. Tugas dan karekteristik Rasul jelas sekali tertera dalam al-Quran. Tetapi satu-satunya yang mirip dengan kata itu. namun al-Quran tidak pernah menganggap mereka sebagai faktor aktif dalam masyarakat mereka. Islam menolak adanya sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Golongan ini mungkin tepat disebut pemuja elite. Kata an-nas ini penting sekali. tanpa sebab atau tujuan. an-naslah yang bertanggungjawab atas perbuatan mereka sendiri. maka berkali-kali al-Quran menyatakan kepada beliau bahwa tugas beliau hanyalah menyampaikan risalah. yakni rakyat. apakah akan menerima petunjuk atau memilih kesesatan. Maka kesimpulan yang dapat ditarik dari ajaran al-Quran ialah. lalu diikuti sekelompok elite. Golongan ini adalah pemuja pahlawan murni. ialah menyampaikan risalah. Dan ketika Rasul bersedih hati karena umat tidak menyambut risalah beliau sehingga beliau tidak berhasil memimpin mereka sebagaimana yang diharapkan beliau. Dalam Islam dan al-Quran tidak ditemukan satupun dari teori-teori di atas. karena semua berada di tangan Allah. Menurut al-Quran. selain para nabi.

melainkan massa. seperti kelas proletar atau kelas borjuis. mengandung makna bahwa setiap masyarakat memiliki suatu basis tetap. ilah massa rakyat. Masyarakat adalah bagaikan makhluk hidup. “Untuk mereka apa yang mereka usahakan. di samping masyarakat manusia (an-nas) yang bertanggung jawab atas nasibnya. Pengertian an-nas tepat sama dengan itu. Islam adalah ajaran sosial pertama yang mengandalkan massa sebagai faktor dasar yang sadar –yang menentukan sejarahdan masyarakat bukan mereka yang trpilih sebagaimana pendapat Nietzsche. kebetulan dan tradisi juga bisa mempengaruhi nasib masyarakat. Hak-hak istimewa dan penghormatan khusus sebagaiaman yang dikemukakan oleh ajaran-ajaran di atas tidak terdapat dalam Islam.perbedaan kelas ataupun sifat yang trdapat dalam kalangan mereka. yang lain dialamatkan kepada suatu kelompok pilihan tertentu dalam masyarakat. AlQuran juga menyebut manusia dengan kata-kata insan dan basyar. “rakyat”. ada empat faktor fundamental perkembangan dan perubahan sosial: pribadi besar. Jadi. semua perkembangan dan perubahan daam masyarakat terjadi di atas dasar tradisi serta hukum-hukum pasti yang merupakan pondasi kehidupan sosial. menurut Islam. ada yang memusatkan perhatiannya pada suatu kelas tertentu dalam masyarakat. Satu-satunya faktor fundamental dalam perubahan dan perkembangan sosial ialah rakyat. maka seperti halnya semua organisasi ia mempunyai hukum-hukum yang dapat dibuktikan secara ilmiah dan tetap. Ada yang dialamatkan kepada suatu ra unggul. karena itu “massa” berarti rakyat sendiri. (QS. Dari sini dapat kita tarik kesimpulan berikut. dan untuk kalian apa yang kalian perbuat”. bukan para aristokrat dan ningrat sebagaimana yang dikemukakan Plato. tanpa arti tambahan apa-apa. Tradisi. lepas dari bentuk rasial. sepanjang ajaran Islam dan al-Quran. dan “Sungguh Allah tidak akan merubah keadaan . Ayat-ayat al-Quran. Kepada siapakah ajaran-ajaran lain itu dialamatkan? Di antaranya ada yang dialamatkan kepada kelas terpelajar dan intelektual. Merekalah yang bertanggungjawab di hadapan Allah. tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu. setiap masyarakat mempunyai jalan serta watak tertentu. bukan pula para pendeta atau intelektual. 2: 134). atau dengan kata-kata al-Quran. bukan tokoh-tokoh besarnya Carlyle dan Emerson. maka masyarakat pun terdiri atas para perseorangan yang bertanggungjawab atas keadaan masing-masing. Karena itulah Islam tampak dekat dengan teori determinisme sejarah dan masyarakat. tetapi dengan pemahaman yang lebih luas dan dengan modifikasi terhadap hukum determinisme itu. Maka dipandang dari segi tertentu. tradisi. Keluhuran agama Islam ini akan benar-benar kita sadari bila kita membandingkannya dengan ajaran-ajaran lain. hak istimewa kelas atau karakteristik tertentu. Dalam semua masyarakat terkandung hukum-hukum yang pasti dan abadi. tetapi kedua kata itu masingmasing menunjuk kepada nilai-nilai etis dan hewani yang terkandung dalam diri manusia. ada yang dialamatkan kepada manusia-manusia super. kebetulan dan an-nas. Kita pun dapat menyimpulkan dari al-Quran. Al-Quran dialamatkan kepada rakyat dan rakyatlah yang menjadi poros serta faktor fundamental dalam perkembangan dan perubahan sosial. Tetapi bersamaan dengan itu pribadipribadi besar. Menurut Islam.

Bersamaan dengan itu manusia memikul tanggungjawab. kedua prinsip ini tampaknya saling bertentangan. Karena itu baik masyarakat maupun perseorangan sama harus mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan mereka di hadapan al-Khaliq. jelas mengandung makna pertanggungjawaban sosial. Sebagai akibatnya. Kenapa seorang insinyur pertanian lebih bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan hasil sebidang kebun. malahan bahkan saling melengkapi. Maka sesuai dengan tingkat pengetahuan dan informasinya. (QS. sedang di pihak lain. Atas dasar bentuknya yang baru. yang bebas dari campur tangan manusia dari merupakan basis tetap untuk perubahan masyarakat. maka buah yang tadinya bermutu rendah atau sedang saja oleh para insinyur dapat ditingkatkan menjadi bernilai. Al-Quran menyatakan. Namun dengan intervensi ilmiahnya dia bisa melakukan manipulasi terhadap praktek-praktek serta hukum botani yang tetap itu. pasti serta tetap dalam masyarakat. ataupun menghapus yang sudah ada. 13: 11). dia bertanggungjawab memangkas dan mengairinya. 74: 38). Dia tidak dapat mengelakkan pertanggungjawabannya dengan manganut fatalisme Khayyami atau deerminisme sejarah.suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (QS. dan masing-masing membangun nasibnya dengan tangannya sendiri. Seorang insinyur pertanian bertanggungjawab atas pertumbuhan pepohonan dan tanaman di suatu kebun. memiliki norma dan pola yang ditetapkan Allah. Dia bertanggungjawab bahwa kebun itu akan menghasilkan buah-buahan terbaik. Atas dasar itulah berlangsung perkembangan dan evolusi masyarakat. hukum yang pasa dirinya sendiri tidak pernah berubah. manusia bertanggungjawab untuk mengetahui secara tepat norma-norma masyarakat dan memperbaikinya demi kemajuan masyarakatnya. Tanggungjawab manusia dalam masyarakat persis seperti itu. Masyarakat. ayat “Setiap orang bertanggungjawab atas usahanya”. Menurut ajaran al-Quran. manusia dapat memanfaatkan hukum yang inheren dalam tanaman itu. Dalam sosiologi. ada hukum-hukum tertentu yang berlaku dalam dunia botani. Meskipun dia tidak berarti mampu mengubahnya. Hukum-hukum itu. sehingga dia beroleh manfaat dari hukum yang tidak dapat diubahnya itu. bahwa terdapat hukum yang pasti yang mendasari masyarakat. menjelaskan tanggungjawab perseorangan. dia lebih bebas mengubah keadaan pepohonan dan . Sebaliknya. Seorang insinyur pertanian tidak akan pernah dapat menetapkan hukum botani yang baik. Dia harus bertanggungjawab atas nasib masyarakatnya. berhadapan dengan tanggungjawab manusia secara kolektif maupun perseorangan untuk perubahan dan perkembangan sosialnya sedemikian rupa sehingga keduanya tidak lagi saling bertentangan. Tetapi sementara itu. Tetapi al-Quran menempatkan kedua kutub ini yakni adanya hukum yang menentukan. adanya hukum ilmiah yang pasti lagi menentukan. dan berdasarkan hukum-hukum yang menentukan serta pasti ini terjadilah perubahan dan perkembangan pada tetanaman dan pepohonan itu. Di satu pihak tanggungjawab dan kebebasan manusia untuk mengubah dan memperkembangkan masyarakatnya. Bagaimanakah caranya? Ialah dengan pengetahuannya sendiri. bakaikan kebun. yang sepenuhnya berada dalam ruang lingkup hukum yang ada. namun al-Quran pun tidak menyangkal tanggungjawab manusia. Begitu pulalah halnya dengan alam. diibandingkan dengan orang-orang lain? Karena dia lebih mengetahui norma-norma kebun itu. yang terkandung dalam alam menuntut perhatian sang insinyur.

mengajukan bahwa perubahan dan perkembangan sosial tidak dapat didasarkan atas kebetulan. dalam istilah al-Quran. Itulah sebabnya mereka lebih mampu mempergunakan kebebasannya sebagai manusia untuk bergerak maju mencapai cita-citanya dalam masyarakat. maka dia bisa melakukan intervensi dalamoperasi norma-norma itu. Dari sudut pandang sosiologi. Bahkan para nabi bukan merupakan orang-orang yang menciptakan norma-norma baru dalam masyarakat. ialah sesuatu yang tidak berubah. . namun mereka tidak pernah mampu mengubah masyarakat atau menciptakan suatu peradaban. sebagaimana suatu organisme hidup. bperadaban dan sejarah baru. semakin luas pengetahuan seseorang tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.tetapi denga daya kenabian dan bakat istimewa. Dengan menyelaraskan kehendak mereka dengan norma-norma ini. mereka telah menemukan norma-norma Ilahi dalam masyarakat maupun alam. manusia memiliki kemerdekan dan kehendak bebas. Kombinasui keduanya ialah “posisi tengah”. kelebihan para dibandingkan dengan guru-guru serta tokoh-tokoh pembaruan biasa lainnya terlepas dari derajat kenabian sendiri ialah bahwa mereka memiliki pengetahuan yang lebih tentang norma-norma Ilahi yang terdapat dalam alam dan dunia. Begitu pula. dan dengan memanipulasinya dia bia merencanakan dan meletakkan dasar untuk masa depan yang lebih baikbagi perseorangan maupun masyarkat. Tetapi untuk dapat merealisasikan kebebasannya dia harus memperhatikan hukum-hukum alam yang ada. Demikianlah di satu pihak terdapat pertanggungjawaban manusia. Manusia berhadapan dengan yang bertanggungjawab langsung demi kehidupan perseorangan maupun masyarakatnya. sedang di pihak lain ialah kepercayaan bahwa masyarkat. Bukan karena mereka telah meyusun norma baru yang bertentangan dengan kehendak Ilahi –sebagaimana mungkin dinyatakan oelh para penganut fasis serta pemuja pahlawan. Norma (sunnah). [5] Maka di satu pihak terdapat manusia. sehingga sekali mengetahui norma-norma masyarakat. Selanjutnya. Sejarah telah membuktikan sepenuhnya kebenaran bahwa para nabi selalu lebih berhasil daripada tokoh-tokoh pembaruan yang bukan nabi. sebagai suatu ajaran sosiologi ilmiah. kiranya ini bisa turut menjelaskan maksud suatu ungkapan terkenal “Bukan determenisme dan bukan kehendak bebas mutlak. Pribadi besar. dan semakin besar pulalah kebebasannya utnuk berbuat itu. tidak dengan sendirinya menjadi faktor kreatif. Tokoh-tokoh pemabaruan adakalanya berhasil mengemukakan tesa-tesa dari prinsip-prinsip yang indah dalam tulisan-tulisan mereka. ekivalen dari kehendak –sedang di pihak lain ialah masyarakat. didasarkan atas hukum tetap yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Dari sudut andang sosiologi. Karena masyarakat merupakan suatu organisme hidup. mereka berhasil melaksanakan tugas dan mencapai tujuan mereka. Manusia bebas berbuat dan bertindak. ekivalen dari norma. semakin besar pula tanggungjawabnya untuk mengubah serta mengembangkan masyarakat. Sebaliknya para nabi talah berhasil mambangun masyarakat. Islam. melainkan tengah-tengahnya”. menurut ajaran Islam.tanaman di dalamnya. memiliki norma-norma yang tetap dan dapat dibuktikan secara ilmiah.

begitu pula peradaban-peradaban sekitarnya tidak sampai membekas di jazirah itu. Namun karena lokasi geografisnya yang khusus maka sebagaimana halnya mega yang menguap dari lautan sekelilingnya tidak sampai menurunkan hujan atas negeri tiu. maupun dengan keseluruhan peradaban Aria dan Semit. Namun. Isa dan Zarathustra. Tetapi dalam masyarakat yang belum sampai taraf peradaban demikian. peradaban Persia. dalam pengertian khusus. yang dari sudut pandangan peradaban keadaannya sama dengan letak geografisnya. sumber hikmah dan hidayah). Dalam masyarakat di mana an-nas. Lagi pula. Ia bertetangga dengan peradaban-peradaban besar dalam sejarah: di utara. Pengaruh umum keempat faktor ini dalam suatu masyarakat tertentu secara proporsional bergantung pada keadaan masyarakat tersebut. menurut kacamata sosiolog. peranan seorang tokoh atau pemimpin mungkin sangat besar. dalam nasib manusia terdapat suatu bentuk kebetulan tertentu. yang telah menemukan norma-norma ini dari Kitab Suci (khususnya Kitab Suci Islam. sedangkan norma adalah hukum-hukum yang hidup dalam masyarakat dan daoat dibuktikan secara ilmiah. ada empat faktor yang memperngaruhi nasib masyarakat: pribadi besar. di timur. karena tidak mengandung sebab yang logis atau tujuan akhir. peradaban Iram Ibrani.Kebetulan dalam artian filosofis. sesuai dengan kemajuan atau keterbelakangannya. maka tidak mungkin adal kebetulan dalam masyarakat. Dalam ajaran Islam. dan berhasil menghimpun kekuatan yang besar. bangkit menjadi faktor terbesar dalam perubahan serta perkembangan masyarakat dan sejarah. Ia pun bertetangga dengan agama-agama Musa. Sebabnya ialah karena beliau tampil di suatu lokasi khusus. Misalnya. semenanjung Arabia. memegang tampuk kekuasaan sesuai dengan norma-norma sosial. perkembangan dan kemajuan. tetapi ia senantiasa haus dan gersang. salah satu dari keempat faktor tersebut akan lebih berpengaruh daripada ketiga lainnya. Pada waktu tampilnya Rasul Islam. semua peradaban yang ada mengumpul sekeliling jazirah Arabia. Di antara dua yang terpenting ialah an-nas dan norma. Chengis Khan muncul di Mongolia. pribadi Rasul mempunyai peranan dasar dan konstruktif dalam membawa perubahan. Demikian pula halnya. massa rakyat. dalam membangun peradaban yang akan datang serta dalam mengubah sejarah. alam ataupun kehidupan. peranan orangorang besar menjadi berkurang. telah mencapai kemajuan serta taraf pendidikan dan kebudayaan yang tinggi. Sehingga pribadinya. di barat laut. Tetapi kekalahan Persia di tangan Chengis Khan adalah suatu kebetulan. Jazirah itu dikitari ketiga sisinya oleh lautan. misalnya pada suatu kabilah yang masih terbelakang. Pada setiap tahap masyarakat. karena an-nas merupakan kehendak massa masyarakat. Karena intervensi Allah senantiasa berlangsung dalam setiap hal. seorang sejarawan yang mempelajari kejadian besar di jazirah Arabia pada abad ketujuh (Miladiah) itu akan melihat bahwa peristiwa itu telah menyerap semua yang berada sekelilingnya dan telah meletakkan dasar . itu mungkin saja tidak sampai terjadi. peradaban Yunani dan Bizantium. dan mempergunakan Kitab itu sebagai kunci keberhasilan mereka. pribadi-pribadi besar ialah mereka uyang memahami norma-norma Ilahi. Dalam ajaran Islam. Kebetulankebetulan semacam ini bisa sangat mempengaruhi nasib masyarakat-masyarakat tertentu. peradaban India. kebetulan. Dalam keadaan demikianlah hadir Rasul Islam. Ringkasnya. di tenggara. juga tidak terdapat dalam ajaran Islam. norma dan rakyat (an-nas).

tetapi hanya menurut model Yunani. Demikianlah pribadi Rasul mendapat status khusus dan sungguh istimewa. Faktor edukatif kelima yang membentuk kepribadian ialah kebudayaan umum masyarakat ataupun kebudayaan umum dunia secara keseluruhan. Andaikata beliau sempat tumbuh dalam salah satu acuan demikian. yang sesudah sang ibu memberikan dimensi lain pada si ruhani anak. Faktor ketiga yang membentuk dimensi seseorang yang lebih lahiriah ialah sekolahnya. Sebab pribadi besar itu justru hadir untuk menghancurkan segala acuan. Penih kasih dan lembut sambil membelai dan menyusuinya sang ibu memelihara ruhani serta menanamkan pendidikan awal pada anaknya. tentulah beliau tidak akan pernah berhasil melaksanakan tugas beliau. maka ke mana pun dia pergi akan tetap menjadi seorang Jesuit hingga akhir hayatnya”. Allah sengaja menghendaki bahwa ruhani beliau bebas dari acuan atau bentuk. kepada pribadi Muhammad bin Abdullah. mungkin beliau menjadi seorang filosof besar. Dalam acuan itulah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan keinginan kita dan tuntutan zaman. Seseorang yang hidup di desa. Pada umumnya ada lima faktor yang membangun pribadi seseorang. ibunya yang memberikan kepadanya struktur dan dimensi ruhaniahnya. Karena itulah kita mempersiapkan acuan-acuan tertentu untuk manusia. revolusi yang paling mendasar dan paling besar dalam sejarah ini. “Serahkanlah anakmu kepadaku hingga dia berumur tujuh tahun. yang kepribadian beliau harus dianggap sebagai faktor terbesar dalam perubahan sejarah. agar ruhani beliau tidak sampai tersentuh oleh bentuk buatan ataupun yang ditanamkan menurut selera zaman dan lingkungan. Pertama. Faktor keempat ialah masyarakat dan lingkungan. beliau menjadi seorang dokter besar. Kata orang-orang Jesuit. Fakor kedua yang membentuk kepribadian seseorang ialah ayahnya. misalnya akan menerima pengaruh formatif yang lebih sedikit dari lingkungannya ketimbang orang yang hidup di kota besar. Sebab jika orang dibiarkan berbuat semaunya. Semakin kuat lingkungannya maka semakin besarlah pengaruh edukatifnya atas seeorang. Sebaliknya. Ke dalam acuan itulah ruhani seseorang dituangkan dan dari acuan itu pula ia menerima bentuknya. Pendidikan terdiri atas bentuk khusus yang secara sengaja diberikan kepada ruhani manusia demi untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. tetapi hanya model yang diperkenankan . Mungkin. dengan taraf hidup rakyatnya yang sangat rendah. maka dia akan sangat cenderung mengaitkan tanda-tanda perubahan dan perkembangan ini.bagi suatu peradaban besar dan masyarakat baru yang luhur. ternyata tidak satu pun faktor dari faktor-faktor tersebut yang telah mempengaruhi ruhani beliau. Tetapi dalam kehidupan Rasul Islam. Bila sang sejarawan lalu mempelajari keadaan jazirah itu dan mengetahui betapa kosongnya budaya serta peradabannya. tetapi hanya menurut model Persia. misalnya. Jadi ada lima dimensi yang secara bersama menjadi acuan kepribadian seseorang. maka pertumbuhannya tidak akan sesuai dengan tujuan-tujuan kehidupan sosial. mungkin beliau menjadi seorang matematikus atau penyair besar.

Zarathustra. Kemudian kembali tangan Allah dan nasib mengarahkannya dari kota ke gurun.dan untuk membentuk suatu acuan baru. Jelaslah bahwa keistimewaan serta kelebihan terbesar seorang yang harus melaksanakan tugas semacam itu adalah justru bahwa dia dibebaskan dari segala macam bentuk dan acuan yang telah diterima zamannya. Karena orang yang ditakdirkan untuk membinasakan segala berhala. orang yang ditakdirkan untuk menghancurkan semua bentuk dan acuan rasial. terbesar. padahal ibunda beliau masih hidup. Nasrani. Lalu ibunda beliau dijauhkan daripada beliau agar supaya kelembutan kasih mesra keibuannya jangan sampai meninabobokkan jiwa yang harus tegas dan perkasa. dengan dalih menjadi gembala. Tambahan lagi. sampai mereka berumur dua tahun. beliau adalah buta huruf –tidak bisa membaca dan menulisagar acuan sekolah pun tidak sampai membekas pada beliau.zaman. sekali-kali tidak boleh sampai menerima pengaruh sesuatu untuk demikian. Sejak awal kanak-kanaknya beliau telah dihijrahkan ke gurun pasir. agar supaya jiwa beliau jangan sampai tersentuh pengaruh edukatif sesuatu kebudayaan. menutup semua akademi dan menggantikannya dengan masjid. Tambahan pula. Timur Barat. nasional maupun regional.am suatu lingkungan yang kosong dari kebudayaan dan peradaban agar terhindar dari sentuhan pengaruh kelima faktor tersebut di atas. agar lingkungan kota jangan sampai mengesankan bentuk kodian pada jiwa yang harus berkembang bebas. peradaban atau agama. Yahudi. Bertentangan dengan kebiasaan ini. Mula-mula ayahanda beliau diambil agar dimensi-dimensi sang ayah jangan sampai membekas pada jiwa Rasul. Menjadi kebiasaan orang Arab ketika itu untuk mengirimkan bayi mereka ke desa-desa di gurun pasir. Sesudah itu barulah mereka kembali ke kota untuk diasuh dan dibesarkan oleh ibu mereka sendiri. Itulah sebabnya Rasul dilahirkan dalam keadaan yatim. Bagaimanapun juga beliau diutus untuk tumbuh dan berkembang dal. namun beliau terpelihara dari segala bentuk dan acuan. agar supaya jangan sampai ada pengaruh masyarakat dan zaman atas Rasul. Langkah-langkah Ilahi yang penuh hikmah dan gaib telah memelihara. yang membentuk manusia menurut suatu stereotip. Meskipun mempunyai ibu. beliau dilahirkan di suatu jazirah gersang. dan tinggal di sana hingga beliau berusia lima tahun. Karena jiwa yang ditakdirkan untuk memikul dan melaksanakan tugas luar biasa tidak bisa dibentuk menurut bentuk biasa. maka beliau telah dilahirkan dalam suatu masyarakat yang tidak mengenal kebudayaan umum. sehingga masa kanak-kanak mereka lewatkan di gurun. (Dari buku “Paradigma Kaum Tertindas: Sebuah Kajian Sosiologi Islam”) . dari pengaruh semua bentuk dan acuan. Ibunda beliau wafat tidak lama kemudian. Muhammad Rasulullah begitu pulang ke Makkah kembali lagi ke gurun. Lagi pula. seorang anak yang telah ditakdirkan utnuk menghancurkan semua acuan yang ada –acuan-acuan Yunani. jauh dari kebudayaan universal. Apa yang tampak sebagai kekurangan ini justru sebenarnya merupakan keuntungan dan keistimewaan untuk dia yang diberi amanah dengan peranan terbesar dalam peristiwa sejarah.