Perkreditan

Oleh: Prof. DR. Hj. Sri Gambir Melati Hatta, SH. I. Pendahuluan Dalam dunia perbankan perkreditan merupakan salah satu tugas yang bank yang penting. Dapat dikatakan bahwa bank tanpa kredit ”sayur tanpa garam” atau ”hambuger tanpa daging” demikian Munir Fuadi menyebutnya[1]. Dengan tugas bank dalam memberikan dan menyalurkan kredit merupakan kegiatan penting bagi bank guna menunjang perkembangan ekonomi masyarakat. Perkreditan mempunyai arti penting dalam berbagai aspek pembangunan meliputi bidang produksi baik pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan ataupun produksi bidang industri, investasi, perdagangan, eksport import dan sebagainya. Dalam pembangunan sarana prasarana fisik dalam pembangunan seperti halnya gedung-gedung, jembatanjembatan, irigasi, perumahan dan sebagainya. Perkreditan mempunyai peranan penting bagi kegiatan bisnis dalam rangka pembangunan dan perkembangan ekonomi masa depan, merupakan salah satu sarana penumpukan modal bagi masyarakat untuk berusaha diberbagai sektor produksi. Dengan perkembangan dalam dunia perekonomian dan bisnis, perdagangan. Arti dan peranan perkreditan dalam menanggulangi masalah-masalahnya dewasa ini baik dalam hal hukum maupun penyelesaian masalah-masalah yang ditimbulkan adanya pemberian kredit pada sektor perbankan. Sesungguhnya makna dari kredit dapat disamakan dengan utang. Pada zaman dahulu mempunyai utang merupakan hal yang kurang pantas atau memalukan jika terlihat atau terdengar orang lain. Namun sekarang dunia telah berubah orang bangga mempunyai kredit yang sebenarnya artinya mempunyai utang. Bahwa dengan penyebutan kredit, menandakan dia dianggap orang atau pengusaha yang dipercaya oleh bank atau dekat dengan ”orang kuat” yang dapat memberikan katabelece, adakalanya penandatanganan kredit dibuat dihotel-hotel berbintang serta diekspose wartawan berbagai media masa[2]. Kata kredit yang berarti kepercayaan artinya adanya saling percaya antara kreditur selaku pemberi kredit dan debitur sebagai penerima kredit. Perjanjian kredit dalam perbankan dilandasi atau berlaku dengan dasar hukum baik undang-undang, peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perbankan, kebiasaan praktek dalam perbankan juga yurisprudensi. Pemberian kredit yang tertuang dalam suatu perjanjian tidak dapat dilepaskan dengan unsur atau prinsip kepercayaan, yang hal ini sering mengundang malapetaka bagi kreditur yaitu dengan munculnya kredit macet. Untuk itu diperlukan berbagai unsur seperti halnya safety, soundness, without substantial risk, juga dalam bidang perundangundangannya/peraturan perlu mendapatkan perhatian, karena dalam kenyataan perangkat hukumnya dianggap kurang memuaskan untuk menyelesaikan permasalahan kredit macet. Seperti pendapat Munir Fuady dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa : ”Upaya-upaya yang disediakan oleh sektor hukum dibidang kredit seringkali tidak memuskan, keluhan-keluhan sering terdengar dimana-mana”. Ironisnya banyak pihak yang kompoten yang terlibat dalam praktek seakan-akan tidak mau tahu tentang

rintangan dan hambatan yang dialami oleh pihak perbankan. Ilmu hukum perkreditan yang konpensional masih tidak bergerak jauh dari teori-teori lama yang kebanyakan sudah ”usang”[3]. Dalam hal ini saya sependapat dengan Munir Fuady yaitu bahwa pendapat megenai kedudukan debitur selalu dianggap sebagai pihak yang lemah, yang sesungguhnya pada perkembangan zaman sekarang pada beberapa dekade ini hal itu tidak demikian. Misalnya asumsi yuridis debitur adalah pihak yang lemah tetap dipegang teguh pendapat tersebut, sehingga banyak ketentuan perjanjian kredit untuk menjamin amannya pemberian atau pembayaran kembali suatu kredit seringkali dimentahkan atau dibatalkan oleh Pengadilan. Berdasar pengamatan saya banyak kasus-kasus kredit macet yang terjadi justru dari ”ulah debitur yang nakal”. Hal ini bagi kreditur merupakan ”monster” yang sangat menakutkan, demikian komentar Munir Fuady[4]. Perjanjian kredit adalah merupakan suatu bentuk kontraktual dalam penuangannya, dengan demikian berlakulah ketentuan-ketentuan hukum privat dalam hal ini tunduk pada ketentuan hukum perjanjian yang ada didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata BK III. Dengan demikian uang atau dana dari pihak bank selaku kreditur adalah asset perusahaan tersebut sebelum dikucurkan kepada debitur. Sesudah dilaksanakan perjanjian kredit dengan diberikannya uang kepada debitur maka pada saat itu hak milik langsung beralih kepada peminjam, sehingga peminjam sekarang menjadi pemilik atau owner. Hal ini dapat dilihat pada Pasal 1755 KUHPerdata[5]. Disinilah berakibat timbulnya posisi tidak aman bagi kreditur. Apabila debitur dikemudian hari tidak dapat melakukan kewajibannya untuk mengembalikan uang pinjaman sesuai dengan yang telah diperjanjikan, maka menimbulkan kredit macet, hal ini merupakan wanprestasi dari debitur. Karena posisi hukum peminjam sesudah dikucurkan kredit bukan lagi sebagai peminjam akan tetapi sudah menjadi pemilik (owner, eigenaar) Pada akhir-akhir ini masalah kredit macet sangat banyak, dari berbagai pengamatan berdasar kasus-kasus yang muncul terjadi adanya indikasi bahwa calon debitur yang sudah mempersiapkan ”jurus-jurus cerdik” untuk mematuhi segala aturan dan perintah calon kreditur sebelum kredit dikucurkan. Tetapi sesudah dikucurkan maka semua ketentuan-ketentuan sudah tidak diingat lagi termasuk tujuan dari kredit yang diambil tidak dipedulikan. Tidak jarang pihak Bank untuk menarik pembayaran kembali kreditnya harus mengemisngemis. Dalam kondisi seperti ini maka yang dirugikan dalam hal ini adalah pihak kreditur. Posisi kreditur dalam kondisi seperti ini lemah. A. Pengertain Kredit dan Elemen-elemennya Pengertian kredit yang sesungguhnya mempunyai dimensi yang beraneka ragam. Kata kredit berasal dari bahasa Yunani yang biasa disebut creditus yang merupakan past participle dari kata credere yang artinya adalah trust atau kepercayaan[6]. Percaya, kepercayaan atau to believe atau trust berlandaskan moral, itikad baik atau good faith, sedangkan pengertian kredit sebagaimana diatur didalam Undang-undang RI No. 10

Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang tercantum didalam BAB I ketentuan umum Pasal 1 point 11 : "Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”[7] Dari berbagai pendapat para pakar saya lebih condong pendapat pakar hukum Levy yang merumuskan arti hukum dari kredit : ”Menyerahkan secara sukarela sejumlah uang untuk dipergunakan secara bebas oleh penerima kredit. Penerima kredit berhak mempergunakan pinjaman itu untuk keuntungannyadengan kewajiban mengembalikan jumlah pinjaman itu dibelakang hari”[8]. Dari definisi tersebut memberi ciri atau tanda bahwa kredit merupakan pinjam meminjam artinya suatu perbuatan hukum yang tidak selesai pada saat itu. Dasar pemberian uang tersebut yang merupakan kredit adalah kepercayaan yaitu kreditur percaya untuk meminjamkan uangnya kepada debitur, bahwa debitur akan mengembalikan pinjaman sesuai kewajibannya berdasar itikad baik, moral dan kepercayaan. Disamping itu juga berdasar prinsip kehati-hatian. Oleh karena itu debiturpun sebagai pihak peminjam juga dituntutkan mempunyai dasar landasan yang sama pula dengan kreditur. Dengan apa yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kewajiban baik dari kreditur maupun dari debitur dilandasi kepercayaan dan kehati-hatian. Dari pengertian kredit tersebut dapat dilihat unsur-unsur bahwa kredit merupakan suatu perjanjian atau kesepakatan persetujuan antara pihak kreditur dengan debitur :
• • •

Dengan adanya kesepakatan para pihak maka timbullah suatu perbuatan hukum, perbuatan hukum menimbulkan hak dan kewajiban. Perjanjian kredit bank timbul dalam dunia bisnis khususnya bank. Perbuatan itu dilandasi oleh kepercayaan dan kehati-hatian. Adanya pembayaran sejumlah uang sebagai pinjaman dari kreditur dan dilain pihak debitur wajib membayar kembali uang-uang yang dipinjam dengan baik dan tanggung jawab sesuai dengan waktu yang disepakati.

Semua perbuatan hukum seperti perjanjian kredit yang tidak selesai pada saat itu juga maka disitulah timbul lembaga jaminan, artinya umumnya timbul dan muncul pula adanya jaminan yang diperlukan dalam perjanjian kredit tersebut baik jaminan kepercayaan maupun jaminan lain. B. Dasar Hukum Suatu Kredit Untuk jelasnya dalam mengetengahkan dasar hukum disini adalah ”dasar hukum suatu perjanjian kredit”. Di Indonesia perjanjian kredit digolongkan sebagai perjanjian tak bernama (in nominat)

karena perjanjian kredit tidak dicantumkan dan tidak diketemukan pengaturannya baik didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata maupun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Berdasarkan penelitian, saya berpendapat bahwa perjanjian kredit memang masuk dalam perjanjian tak bernama, mungkin saya berbeda dengan pakar hukum yang lain, tetapi inilah pendapat saya berdasarkan penelitian saya dalam disertai tahun 1997. Perjanjian kredit pengaturannya didalam Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang landasannya dari Undang-Undang No. 7 Tahun 1992. Ini merupakan lex specialis sedangkan lex generalisnya bertopang pada KUHPerdata BK III BAB XIII (pinjam meminjam) juga BAB I s/d IV mengenai ketentuan umum. Disamping itu juga Undang-Undang dan ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan perbankan antara lain Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor : 2/27/PBI/2000 tentang Bank Umum, Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/22/PBI/2004 tentang Bank Perkreditan Rakyat, Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, juga hukum kebiasaan sebagai dasar hukum perjanjian kredit dalam dunia perbankan, juga yurisprudensi. Menurut Ronny Sautma Hotma Bako dalam satu tulisannya menyatakan bahwa hubungan antara kreditur dan debitur adalah hubungan hukum dan kepercayaan[9]. Yang dimaksud kreditur disini adalah perbankan dan debitur adalah peminjam atau penerima kredit. C. Prinsip-prinsip Dasar Perkreditan 1. Prinsip yang menjadi acuan bagi perjanjian kredit yang pertama prinsip kepercayaan. Hal ini berlaku baik bagi kreditur ataupun debitur[10]. Bagi kreditur kepercayaan bahwa kredit yang kucurkan akan bermanfaat dalam usaha dan akan dipergunakan sesuai tujuannya oleh debitur sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Bagi debitur kepercayaan oleh kreditur bahwa debitur dapat membayar kembali kreditnya dengan tepat waktu dan lancar. 2. Prinsip kehati-hatian atau prudent Sesungguhnya semua pekerjaan termasuk perkreditan dituntutkan adanya kehatihatian dari masing-masing pihak. Dilihat dari sudut pemberi kredit yaitu pihak bank bahwa prinsip kehati-hatian perlu mendapat perhatian utama karena kondisi dan atmosfer masa kini berbeda, sehingga tingkat penghati-hatiannya bagi kreditur benar-benar ditingkatkan. Banyak didengar bahwa debitur masa kini, jaman sekarang jauh lebih ”cerdik” dan debitur tidak selamanya dalam posisi ”lemah”[11]. Mungkin secara yuridis, akan tetapi dalam realitanya justru bank dalam pihak yang lemah, prinsip kehati-hatian juga harus dibarengi dengan prinsip pengawasan dari kreditur, terutama pengawasan atasan diperlukan untuk meminimalisasi risiko yang timbul dari pemberian kredit, yaitu dengan selalu mengadakan pengawasan sejauh mana kredit-kredit tersebut dipergunakan sesuai atau tidak sesuai dengan tujuannya. Asas profesionalisme mendasari tugas-tugas kreditur.

Untuk diketahui bahwa bank adalah suatu badan usaha yang memang menghimpun dana dari masyarakat yang kemudian dipergunakan dan disalurkan kepada masyarakat kembali untuk memajukan ekonomi masyarakat guna perkembangan dan pembangunan ekonomi. kasus BNI Kebayoram Baru (2004) kasus Bank Mandiri (2005). Dari kasus tersebut salah satunya akan dianalisis yaitu kasus Golden Key Group (Edy Tanzil) – Bank Bapindo. Dengan perkataan lain penyimpanan uang atau dana termasuk negara setelah uang disimpan di Bank. pada produk-produk perbankan yang ada pada bank tersebut. Ini berarti dana yang disimpan merupakan kekayaan Bank atau Korporasi selama dalam penyimpanan. Dengan sendirinya apabila terjadi kemacetan dalam pembayaran kredit kembali adalah merupakan bentuk wanprestasi atau breach of contract atau ingkar janji atau tidak menepati janji. Tugas. sehingga yang melingkupi adalah Hukum Perdata. 2. Hak dan Kewajiban Baik Dalam Penyimpanan Dana Maupun Dalam Perjanjian Kredit 1. Disini bank sebagai penyedia dana bagi para debiturnya. Hubungan antara bank dan nasabah didasarkan 2 unsur yang saling terkait yaitu hukum dan kepercayaan. D. pakar hukum yang juga seorang ekonom yaitu tentang teori ”keadilan”nya yang mengetengahkan bahwa : . Suatu bank hanya bisa melakukan kegiatan dan melakukan kegiatan dan mengembangkan banknya. Selain hubungan hukum kontraktual hubungan antara kreditur dan debitur yaitu pemberi pinjaman dan penerima pinjaman juga ada hubungan yang dilandasi kepercayaan termasuk dalam hal ini adalah kehati-hatian dan pengawasan. hubungan hukum antara bank sebagai kreditur dan peminjam sebagai debitur adalah hubungan kontraktual dan hubungan kepercayaan. kewajiban tersebut apabila dilanggar mengakibatkan kerugian karena kelalaian ataupun kesalahan. Hubungan kontraktual tersebut terjadi apabila kreditur telah menjalin hubungan hukum dengan pihak debitur misalnya sepakat melakukan perjanjian kredit. maka uang tersebut adalah milik Bank atau Korporasi. Hubungan selanjutnya antara bank sebagai kreditur pemberi kredit dengan debitur sebagai peminjam atau penerima kredit. Oleh karena itu hubungan kontraktual ini melibatkan dasar hukum privat artinya hukum privat sebagai dasar hukum terjadinya perjanjian tersebut. apabila masyarakat ”percaya” untuk menempatkan uangnya. Apabila kita lihat pendapat dan teori yang dikemukakan oleh Adam Smith seorang filsuf.Kurangnya perhatian terhadap prinsip kehati-hatian dan pengawasan dari pihak perbankan akhir-akhir ini banyak terjadi kasus kredit macet yang spektakuler antara lain kasus : Edy Tanzil vs Bapindo (1994). Berdasarkan kepercayaan masyarakat tersebut. bank dapat memobilisir dana dari masyarakat untuk ditempatkan pada banknya dan bank akan memberikan jasa-jasanya[12]. Oleh karena itu apabila terjadi kredit macet yang menimbulkan kerugian diselesaikan lewat ketentuan-ketentuan hukum perdata karena yang melingkupi adalah hukum privat.

Siapa yang karena kelalaian atau karena kesalahannya harus bertanggung jawab secara hukum akibat adanya kerugian tersebut. Faktor kerugian tidak harus kerugian bagi negara saja akan tetapi kerugian yang timbul pada siapapun asal ada unsur kelalaian. Hal ini dapat dilihat dari case atau kasus. Selain itu juga Bank sebagai penerima dana dan debitur sebagai penyimpan dana. perundang-undangan perbankan sebagai ketentuan khusus atau peraturan-peraturan lex specialis maupun ketentuan-ketentuan lain yang terkait misalnya ketentuan pidana. akan muncul kekacauan dalam masyarakat[14]. Kalau tidak. yaitu sebagai peminjam dan yang meminjamkan. baik yang dilakukan oleh debitur atau mungkin oleh kreditur. maka dengan demikian Bank mempunyai hak yuridis terhadap uang yang disimpan. Dalam hal ini dapat diterapkan sanksi didasarkan pada pelanggaran ketentuan-ketentuan. Artinya menghargai hak-hak seseorang. Kurang hati-hati dan kelalaian serta kendornya atau kurangnya pengawasan. karena kekurang hati-hatian dan sebagainya. Di Amerika Serikat hubungan Bank dan nasabah di lihat sebagai suatu hubungan kontraktual antara debitur dan kreditur. Sesungguhnya kalau ditinjau dari dasar hukum lex specialisnya seperti halnya ketentuan perbankan dan sebagainya maka akan memungkinkan perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuan tersebut dapat menimbulkan tindak pidana ekonomi yang dapat diberi sanksi pidana. yang mengakibatkan timbulnya kerugian. Kasus Golden Key Group – Bapindo (1994) Dalam kasus yang sangat terkenal dalam bidang perbankan pada tahun 1990-an mencuat adanya kasus kredit macet dari Golden Key Group (Edy Tanzil) sebagai debitur yang mendapat kucuran kredit dari Bapindo yang akhirnya menimbulkan kerugian Negara . tidak merugikan orang lain atau melukai. Namun ada kalanya hal ini bisa mengarah pada tindak pidana ekonomi meskipun awalnya beranjak dari hukum perdata atau privat. Pertanggung jawaban tersebut baik secara hukum perdata ataupun pidana.Barangsiapa merugikan atau membuat seseorang rugi maka harus ditindak atau diberi sanksi sehingga terdapat keadilan[13]. kerugian yang timbul karena adanya kredit macet harus diberi sanksi untuk diberi keseimbangan agar tercipta keadilan. maka hal tersebut dapat mengarah ketindak pidana. Setiap orang akan memaksakan dirinya sendiri untuk mentaati aturan-aturan keadilan karena nilai-nilai yang dijamin oleh pelaksanaan keadilan. merupakan potensi-potensi yang akan bisa menimbulkan tindak pidana ekonomi. E. Demikian pula yang dilakukan oleh kreditur misalnya apabila dalam melaksanakan tugas pengawasan terlalu dalam mencampuri usaha dari debitur sehingga usaha atau produksinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu. Misalnya apabila debitur yang telah menerima kredit mempergunakan kreditnya tidak sesuai dengan apa yang telah ditunjuk atau diperjanjikan sehingga menimbulkan kerugian yang ditimbulkan karena kelalaian atau kekurang hati-hatian serta pengawasan yang kurang ataupun kesalahan debitur.

Perjanjian kredit meskipun ada konsensus atau kata sepakat disyaratkan pula secara khusus harus tertulis.3 triliun. Pasal 25 ayat (1) berhubungan dengan prinsip kehati-hatian juga Pasal 29 ayat (1. dalam hal ini misalnya mengenai batas maksimum pemberian kredit (BMPK) yaitu tagihan sebesar 1. ini merupakan pemberian kucuran kredit yang melampaui batas yang dianggap melanggar prinsipprinsip kehati-hatian dan pengawasan. Dalam kasus Golden Key Group ini saya berpendapat bahwa kasus tersebut dapat saya lihat dari dua sisi atau sudut pandang: 1. Sehingga dalam penyelesaiannya harus dilakukan dengan penarikan-penarikan kembali kreditkredit tersebut dengan batas waktu pengembalian. Berdasarkan ketentuan-ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dalam hal ini karena kredit tersebut adalah merupakan suatu perjanjian. 2 dan 3) yang menyangkut Ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) selain itu juga didalam Undang-Undang No. kalau terjadi kemacetan mestinya diselesaikan berdasarkan ketentuan-ketentuan Perdata dapat mengarah ke tindak pidana ekonomi yaitu berdasar ketentuan hukum Pidana.3 triliun. Dalam hal ini Golden Key Group memperoleh kredit tanpa melalui ketentuan perbankan yang berlaku[16].sebesar 1. Oleh karena itu penyelesaian hukumnya harus melalui dasar hukum yaitu KUHPerdata BAB XIII BK III tentang perjanjian. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dari Undang-Undang RI No. Oleh karena itu sesungguhnya masuk ruang lingkup hukum Perdata. Berdasarkan ketentuan-ketentuan perbankan itu sendiri yang mengacu pada Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Bank Central No. Kegagalan untuk mengembalikan kredit merupakan wanprestasi oleh debitur artinya bahwa debitur tidak melaksanakan kewajibannya sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Dalam Undang RI No. Akan tetapi karena banyak terkena oleh aturan-aturan perbankan antara lain dilanggarnya prinsip kehatihatian dan pengawasan yang akhirnya menimbulkan kerugian Negara dan telah diatur tersendiri berdasarkan ketentuan perbankan secara lex specialis maka yang tadinya berawal dari suatu perjanjian yang harusnya. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dapat dilihat didalam Pasal 24 yang intinya mengenai tugas dan pengawasan bank. 7 Tahun 1992 yang . Kasus ini terjadi karena adanya pengucuran kredit dari Bapindo kepada Edy Tanzil (Golden Key Group) yang pengucurannya didasarkan atas surat sakti/ “katabelece” dari petinggi pemerintahan waktu itu[15]. Kelemahan dari perjanjian tersebut bahwa ternyata dengan “katabelece” berarti prinsip kehati-hatian dan pengawasan telah diabaikan. sehingga apabila terjadi kegagalan yaitu tidak terlaksananya kewajiban-kewajiban oleh debitur dalam hal ini mengembalikan pembayaran kredit kembali kepada Bank selaku kreditur adalah merupakan wanprestasi dari debitur. 2. 13 Tahun 1968 yaitu adanya pengawasan oleh Bank Central dalam hal ini adalah Bank Indonesia dan juga oleh bank-bank yang ada dibawahnya. Dalam hal ini perjanjian kredit tersebut tidak tertulis sedangkan ketentuan perjanjian kredit harus tertulis. Dasar kesalahan yang kedua adalah pemberian kredit diberikan sebelum ada kredit tertulis. Hal ini berdasarkan ketentuan-ketentuan perbankan yang merupakan lex specialis.

Juga karena kurang kehati-hatian dan lalainya pengawasan yang merupakan tugas pihak Bank yang akhirnya timbul kerugian. Jika karena kebijakan yang diambil khususnya mengenai Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). sehingga menimbulkan kerugian dari menggoncangkan perekonomian masyarakat dan menuju kebangkrutan maka dapat diambil tindakan karena merugikan masyarakat sehingga dapat dikenakan sanksi pidana. Dalam kasus yang berhubungan BMPK pakar dan pengamat perbankan Projoto mengemukakan pendapatnya : Adanya pelonggaran (relaksasi) ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) sebagai suatu syarat untuk mendorong lembaga perbankan menyalurkan kredit adalah gagasan yang ”patut” direalisasikan. sehingga dapat berpengaruh terhadap kesehatan Bank. Berdasar ketentuan tersebut tindakan relaksasi pun masih belum mampu menggairahkan minat perbankan menyalurkan kredit secara optimal. maka pengelola dalam hal ini Bank wajib bertanggung jawab.tercantum didalam : Pasal 11 (menetapkan ketentuan mengenai Batas Maksimum Pemberian Kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. pemberian jaminan. penempatan investasi surat berharga atau hal lain yang serupa yang dapat dilakukan oleh bank kepada peminjam atau kelompok peminjam yang terkait termasuk kepada perusahaan-perusahaan dalam kelompok yang sama dalam bank yang sama dengan bank yang bersangkutan)[17]. Hal ini jika dihubungkan dengan penerapan klasifikasi aktiva produktif seperti diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI 7/2/2005). Kredit bersumber dari dana masyarakat. Dengan didasarkan pada aturan dan ketentuan-ketentuan perbankan itu sendiri yang juga mengatur mengenai sanksi pidana apabila peraturan tersebut dilanggar. Dalam ayat (2)nya BMPK tidak boleh melebihi 30% dari modal bank. Menanggapi tulisan dari pengamat perbankan tersebut diatas penulis menyetujui dan menggarisbawahi pendapat tersebut. juga ketentuan-ketentuan lain yang terkait misalnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). maka harus diberi sanksi Pidana sebagaimana ketentuan yang berlaku khususnya dalam ketentuan perbankan. Patut karena rigiditas regulasi tentang BMPK memang sering dianggap sebagai salah satu halangan bagi Bank untuk menyalurkan kredit korporasi maupu kredit ke sektor kegiatan infrastruktur[18]. Pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah oleh Bank mengandung risiko kegagalan atau kemacetan dalam pelunasannya. pihak Bank harus bertanggung jawab secara pidana karena ada unsur merugikan dana masyarakat. Selain yang telah dikemukakan diatas berdasar pengamatan saya pada akhir-akhir ini lembaga-lembaga perbankan memang sangat hatihati dalam menjalankan tugas kewenangannya dibidang pengucuran kredit karena . Dengan pelanggaran tersebut yang menimbulkan kerugian pada negara.

Dengan pemisahan aset tersebut mengakibatkan tidak ada kerugian negara sebagai unsur dalam perkara tindak pidana kosupsi. dapat diarahkan ke hukum Perdata atau Perseroan. Dari kejadian ini menunjukkan bahwa hal tersebut karena lemahnya perangkat perundangundangan perbankan itu sendiri. Jauh sebelum adanya Fatwa Mahkamah Agung timbul kasus Bank BNI – Kebayoran Baru (2004) kasus Bank Mandiri (2005) dengan putusan yang berbeda meskipun kasusnya hampir sama. Memang berdasar hukum secara formal. Oleh karena itu tunduk pada hukum atau prinsip hukum Perdata atau Perseroan. juga ketentuan penyimpanan dana mendapat bunga sebagai kontra prestasi dari penyimpanan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kasus yang muncul seperti halnya kasus Golden Key Group – Bapindo. Dalam tulisan tersebut mengetengahkan pemisahan aset negara dan aset perusahaan[19]. . Para Bankir berharap Presiden dalam Pidato kenegaraan pada rapat paripurna DPR 16 Agustus 2006 berkomitmen melindungi Bankir dari tuduhan korupsi bila terjadi kredit macet.”risikonya amat tinggi”. tidak dapat diartikan sebagai keuangan negara. seruan ini dilontarkan Menteri BUMN Sugiharto mendorong Bank Mandiri untuk menempuh jalur hukum untuk menghadapi para debitor yang kreditnya macet[21]. Di dalam Pasal 1765 KUHPerdata di sebutkan : ”Adalah diperbolehkan memperjanjikan bunga atas peminjaman uang atau lain barang yang menghabis karena pemakaian”[20]. Dimana muncul debitor-debitor yang sesungguhnya cukup mampu akan tetapi karena moral dan mental yang melandasinya kurang. Banyak yang berpendapat yang mengkhawatirkan bahwa dengan adanya Fatwa Mahkamah Agung tersebut dapat melemahkan atau mengendorkan penanganan perkara korupsi terutama korupsi yang terjadi di BUMN. Kondisi debitor-debitor ”nakal” terlihat didalam tulisan pada harian Kompas Rabu 5 Agustus 2006 yang berjudul Bankir Minta Dilindungi[22]. Karena modal penyertaan yang sudah masuk atau disimpan Bank adalah uang milik Bank dan merupakan kekayaan Bank selama dalam penyimpanan Bank. kasus Bank Mandiri. tunduk pada bidang hukum perdata. Kompas dalam tulisan yang dimuat 5 September 2006 ”Tempuhlah Jalur Hukum”. Pada akhir-akhir ini telah keluar Fatwa Mahkamah Agung yang berhubungan dengan aset perusahaan dan juga aset negara mengenai pemisahan aset tersebut yang ditulis dalam Kompas Senin 2 Oktober 2006 dan Kompas Rabu 4 Oktober 2006. uang yang diikut sertakan didalam perseroan dalam pengelolaannya adalah sepenuhnya tanggung jawab perseroan atau perusahaan/ korporasi. Kekhawatiran tersebut timbul dilontarkan oleh pakar hukum pidana yaitu Indrianto Seno Adji dan juga dari DPR Gayus Lumbuun dengan adanya fatwa dari Mahkamah Agung Agustus 2006 bahwa pemisahan kekayaan negara dalam APBN serta APBD kedalam BUMN sebagai penyertaan modal. Dengan demikian dikhawatirkan orang-orang yang melakukan korupsi akan terhindar karena adanya fatwa Mahkamah Agung tersebut. sehingga timbul kondisi yang parah dan terjadi penumpukan kredit macet karena ulah debitur ”nakal”. kasus Bank BNI dan sebagainya. Dilakukan karena penyelesaian kredit bermasalah di Bank Mandiri sudah berlarut-larut cukup lama.

yang buruk akibat kredit macet yang sebagian merupakan ”ulah nakal” para debitur. kehati-hatian. Karena dilanggarnya prinsip kepercayaan. Dengan demikian tercipta rasa keadilan agar tidak muncul kekacauan dalam masyarakat. Penutup Berdasarkan 2 fungsi utama Bank yaitu fungsi pengerahan dana dan penyaluran dana muncul dua (2) hubungan hukum antara Bank dan nasabah : 1. Disamping itu kredit macet tidak semua akibat tindakan kriminal yang merugikan negara. Sehingga kondisi perbankan merosot karena Bankir takut melaksanakan tugas pengucuran dana ke masyarakat yang dampaknya terhadap kinerja Bank. Oleh karena itu perbuatan yang merugikan tersebut agar adil harus ditindak dan diberi sanksi.Inti tulisan tersebut menandakan betapa kondisi Ekonomi. Dalam hubungan antara Bank dan nasabah penyimpan dana terdapat hubungan hukum kontraktual. Hal ini sesungguhnya harus difokuskan pada pihak debitur yang ”nakal” yang mengakibatkan kerugian baik bagi negara maupun masyarakat pada umumnya. Apabila hubungan kepercayaan dan prinsip kehati-hatian juga pengawasan dilanggar sehingga menimbulkan kerugian karena kelalaian atau kejahatan maka harus diberi sanksi. Adam Smith mengajarkan dalam teorinya tentang keadilan bahwa barang siapa merugikan orang lain atau menimbulkan kerugian harus diseimbangkan dengan adanya sanksi yang dikenakan bagi yang merugikan. oleh karena itu penyelesaiannya lewat aturanaturan hukum privat yaitu berdasar hukum perdata. Hubungan hukum antara Bank dan nasabah penyimpan dana. kehati-hatian apabila dilanggar menimbulkan kerugian jika tidak dikenakan sanksi terjadi suatu keadaan yang tidak adil. II. Ada kecenderungan kreditur (Bank) bersikap amat hati-hati karena maksud baik dalam melaksanakan tugas kewajiban yang mulia dalam pengucuran kredit untuk masyarakat dalam memajukan perkembangan ekonomi justru berujung pada kondisi yang sangat menyulitkan pihak Bank sebagai pemberi kredit yaitu adanya usaha-usaha pihak lain untuk mengalihkan penyelesaian kredit macet ke bidang pidana dengan ”paksa”. Kerugian tersebut tidak hanya karena kerugian negara saja akan tetapi juga karena kerugian kepada masyarakat umum. Hubungan hukum antara Bank dan peminjam dana. 2. Tindakan yang menimbulkan kerugian tersebut dapat dikenai sanksi berupa tindak pidana atau dikenai aturan-aturan hukum yang mengarah ke tindak pidana ekonomi. Sedangkan dalam hubungan antara Bank dan peminjam dana yaitu hubungan antara kreditur dan debitur didasarkan hubungan hukum baik kontraktual maupun hubungan kepercayaan dan kehati-hatian. Dilanggarnya perjanjian atau tidak dilaksanakannya kewajiban dalam perjanjian menimbulkan wanprestasi. Hubungan hukum ini tidak hanya merupakan hubungan hukum kontraktual saja akan tetapi juga merupakan hubungan berdasar prinsip dan asas kepercayaan. . pengawasan maka terjadi kelalaian atau kejahatan yang kemudian menimbulkan kerugian. sebetulnya juga akibat perekonomian yang buruk.

Bako. 1986. Fatwa Soal Aset Mengkhawatirkan. Tony Prasetiantono. Konsep. A. 2006. Mariam Darus Bahrul Zaman. 1873. . 1991. Kelompok Gramedia. Jakarta : Kanisius. Hubungan Bank dan Nasabah Terhadap Produk Tabungan dan Deposito. Kompas. Elex Media Komputindo. Tjitro Subidio. Subekti. Perjanjian Kredit Bank. 1995. Sonny. Teknik dan Kasus. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Moh. Tjoekam. Pasar Bebas Keadilan& Peran Pemerintah. H. Rekening Courant. Perkreditan Bisnis Inti Bank Komersial. Jakarta : PT. Telaah Atas Etika Ekonomi Adam Smith. J. 1996. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Bandung : Citra Aditya Bakti. Rony Sautma Hotma. R. A. DAFTAR PUSTAKA A.Masih lemahnya aturan dan ketentuan hukum dalam lingkup hukum perbankan. Suatu pelajaran yang sangat mahal bagi otoritas moneter dan perbankan. Jakarta : PT. sehingga dunia perbankan akan dapat membantu negara untuk membangun perekonomian Indonesia dimasa mendatang. Levy. Keraf. Kiranya pembenahan perangkat hukum perkreditan segera dilaksanakan dan menampung serta menganalisis kenyataan-kenyataan yang ada berdasar perkembangan jaman baik secara ekonomi maupun sosial yuridis dan hukum itu sendiri. Munir Fuady. 1999. 4 Oktober 2006. Kiranya dunia perbankan masa depan perlu menjawab tantangan yang ada dan akan ada dengan pembenahan peraturan perundang-undangan yang lebih aktual dalam menantang dan menyikapi perubahan jaman. karena masih memegang prinsip lama yang sudah tidak mengikuti perkembangan sosio yuridis dan perkembangan sosio ekonomis masa kini. Jakarta : Pradnya Paramita. Bandung : Citra Aditya Bakti. Marcello Teodore Cs. Fatwa Mahkamah Agung Bisa Hambar Pemberantasan Korupsi. Bandung : Citra Aditya Bakti. 1995 Kompas. Gramedia Pustaka Umum. Kompas. 16 Agustus 2006. Bankir Minta Dilindungi. Hukum Perkreditan Kontemporer. 2 Oktober 2006.

Dalam pembangunan sarana prasarana fisik dalam pembangunan seperti halnya gedung-gedung. Tjipto Adi Nugroho. investasi. 2006.Sentosa Sembiring. Jakarta : ISTN. Dengan perkembangan dalam dunia perekonomian dan bisnis. Pada zaman dahulu mempunyai utang merupakan hal yang kurang pantas atau memalukan jika terlihat atau terdengar orang lain. 2000 (Pidato Pengukuhan Guru Besar FHUI). Serta Implikasinya Terhadap Hukum dan Keadilan. perdagangan. Arti dan peranan perkreditan dalam menanggulangi masalah-masalahnya dewasa ini baik dalam hal hukum maupun penyelesaian masalah-masalah yang ditimbulkan adanya pemberian kredit pada sektor perbankan. Pendahuluan Dalam dunia perbankan perkreditan merupakan salah satu tugas yang bank yang penting. Perjanjian kredit dalam perbankan dilandasi atau berlaku dengan dasar hukum baik . Himpunan Lengkap Undang-Undang Tentang Perbankan. merupakan salah satu sarana penumpukan modal bagi masyarakat untuk berusaha diberbagai sektor produksi. perumahan dan sebagainya. Sri Gambir Melati Hatta. Webster New Universal Unabridged Dictionery. kehutanan ataupun produksi bidang industri. 1999. New York USA : Simon & Schuster. Perbankan Masalah Perkreditan. Peranan Itikad Baik Dalam Hukum Kontrak dan Perkembangannya. Namun sekarang dunia telah berubah orang bangga mempunyai kredit yang sebenarnya artinya mempunyai utang. Noah. perdagangan. Dengan tugas bank dalam memberikan dan menyalurkan kredit merupakan kegiatan penting bagi bank guna menunjang perkembangan ekonomi masyarakat. perikanan. Sri Gambir Melati Hatta. Bandung : Nuansa Aulia. eksport import dan sebagainya. Kata kredit yang berarti kepercayaan artinya adanya saling percaya antara kreditur selaku pemberi kredit dan debitur sebagai penerima kredit. adakalanya penandatanganan kredit dibuat dihotel-hotel berbintang serta diekspose wartawan berbagai media masa[2]. Jakarta : UI Press. Pelangi Hukum Bisnis. DR. menandakan dia dianggap orang atau pengusaha yang dipercaya oleh bank atau dekat dengan ”orang kuat” yang dapat memberikan katabelece. Oleh: Prof. I. Perkreditan mempunyai peranan penting bagi kegiatan bisnis dalam rangka pembangunan dan perkembangan ekonomi masa depan. Perkreditan mempunyai arti penting dalam berbagai aspek pembangunan meliputi bidang produksi baik pertanian. 1983. jembatanjembatan. Sesungguhnya makna dari kredit dapat disamakan dengan utang. Hj. SH. Dapat dikatakan bahwa bank tanpa kredit ”sayur tanpa garam” atau ”hambuger tanpa daging” demikian Munir Fuadi menyebutnya[1]. Bahwa dengan penyebutan kredit. irigasi. Sri Gambir Melati Hatta. Jakarta : Pradnya Paramita. perkebunan. Webster. 1972.

Hal ini dapat dilihat pada Pasal 1755 KUHPerdata[5]. yang sesungguhnya pada perkembangan zaman sekarang pada beberapa dekade ini hal itu tidak demikian. sehingga peminjam sekarang menjadi pemilik atau owner. Berdasar pengamatan saya banyak kasus-kasus kredit macet yang terjadi justru dari ”ulah debitur yang nakal”. Seperti pendapat Munir Fuady dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa : ”Upaya-upaya yang disediakan oleh sektor hukum dibidang kredit seringkali tidak memuskan. Hal ini bagi kreditur merupakan ”monster” yang sangat menakutkan. keluhan-keluhan sering terdengar dimana-mana”. without substantial risk. eigenaar) Pada akhir-akhir ini masalah kredit macet sangat banyak. Ironisnya banyak pihak yang kompoten yang terlibat dalam praktek seakan-akan tidak mau tahu tentang rintangan dan hambatan yang dialami oleh pihak perbankan. yang hal ini sering mengundang malapetaka bagi kreditur yaitu dengan munculnya kredit macet. maka menimbulkan kredit macet. sehingga banyak ketentuan perjanjian kredit untuk menjamin amannya pemberian atau pembayaran kembali suatu kredit seringkali dimentahkan atau dibatalkan oleh Pengadilan. Perjanjian kredit adalah merupakan suatu bentuk kontraktual dalam penuangannya. Dalam hal ini saya sependapat dengan Munir Fuady yaitu bahwa pendapat megenai kedudukan debitur selalu dianggap sebagai pihak yang lemah. Untuk itu diperlukan berbagai unsur seperti halnya safety. juga dalam bidang perundangundangannya/peraturan perlu mendapatkan perhatian. hal ini merupakan wanprestasi dari debitur. Apabila debitur dikemudian hari tidak dapat melakukan kewajibannya untuk mengembalikan uang pinjaman sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Ilmu hukum perkreditan yang konpensional masih tidak bergerak jauh dari teori-teori lama yang kebanyakan sudah ”usang”[3]. demikian komentar Munir Fuady[4]. kebiasaan praktek dalam perbankan juga yurisprudensi. soundness.undang-undang. dari berbagai pengamatan berdasar kasus-kasus yang muncul terjadi adanya indikasi bahwa calon debitur yang sudah mempersiapkan ”jurus-jurus cerdik” untuk mematuhi segala aturan dan perintah . Disinilah berakibat timbulnya posisi tidak aman bagi kreditur. peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perbankan. Misalnya asumsi yuridis debitur adalah pihak yang lemah tetap dipegang teguh pendapat tersebut. Pemberian kredit yang tertuang dalam suatu perjanjian tidak dapat dilepaskan dengan unsur atau prinsip kepercayaan. Sesudah dilaksanakan perjanjian kredit dengan diberikannya uang kepada debitur maka pada saat itu hak milik langsung beralih kepada peminjam. karena dalam kenyataan perangkat hukumnya dianggap kurang memuaskan untuk menyelesaikan permasalahan kredit macet. dengan demikian berlakulah ketentuan-ketentuan hukum privat dalam hal ini tunduk pada ketentuan hukum perjanjian yang ada didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata BK III. Karena posisi hukum peminjam sesudah dikucurkan kredit bukan lagi sebagai peminjam akan tetapi sudah menjadi pemilik (owner. Dengan demikian uang atau dana dari pihak bank selaku kreditur adalah asset perusahaan tersebut sebelum dikucurkan kepada debitur.

Tidak jarang pihak Bank untuk menarik pembayaran kembali kreditnya harus mengemisngemis. Percaya. moral dan kepercayaan. Kata kredit berasal dari bahasa Yunani yang biasa disebut creditus yang merupakan past participle dari kata credere yang artinya adalah trust atau kepercayaan[6]. Dasar pemberian uang tersebut yang merupakan kredit adalah kepercayaan yaitu kreditur percaya untuk meminjamkan uangnya kepada debitur. Posisi kreditur dalam kondisi seperti ini lemah. perbuatan hukum menimbulkan hak dan kewajiban. bahwa debitur akan mengembalikan pinjaman sesuai kewajibannya berdasar itikad baik. Pengertain Kredit dan Elemen-elemennya Pengertian kredit yang sesungguhnya mempunyai dimensi yang beraneka ragam. Tetapi sesudah dikucurkan maka semua ketentuan-ketentuan sudah tidak diingat lagi termasuk tujuan dari kredit yang diambil tidak dipedulikan. A. Perjanjian kredit bank timbul dalam dunia bisnis khususnya bank. . 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”[7] Dari berbagai pendapat para pakar saya lebih condong pendapat pakar hukum Levy yang merumuskan arti hukum dari kredit : ”Menyerahkan secara sukarela sejumlah uang untuk dipergunakan secara bebas oleh penerima kredit. Dari pengertian kredit tersebut dapat dilihat unsur-unsur bahwa kredit merupakan suatu perjanjian atau kesepakatan persetujuan antara pihak kreditur dengan debitur : • • Dengan adanya kesepakatan para pihak maka timbullah suatu perbuatan hukum. Perbuatan itu dilandasi oleh kepercayaan dan kehati-hatian.calon kreditur sebelum kredit dikucurkan. Dalam kondisi seperti ini maka yang dirugikan dalam hal ini adalah pihak kreditur. Penerima kredit berhak mempergunakan pinjaman itu untuk keuntungannyadengan kewajiban mengembalikan jumlah pinjaman itu dibelakang hari”[8]. kepercayaan atau to believe atau trust berlandaskan moral. Disamping itu juga berdasar prinsip kehati-hatian. Oleh karena itu debiturpun sebagai pihak peminjam juga dituntutkan mempunyai dasar landasan yang sama pula dengan kreditur. Dari definisi tersebut memberi ciri atau tanda bahwa kredit merupakan pinjam meminjam artinya suatu perbuatan hukum yang tidak selesai pada saat itu. itikad baik atau good faith. sedangkan pengertian kredit sebagaimana diatur didalam Undang-undang RI No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang No. yang tercantum didalam BAB I ketentuan umum Pasal 1 point 11 : "Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Dengan apa yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kewajiban baik dari kreditur maupun dari debitur dilandasi kepercayaan dan kehati-hatian.

. B. Hal ini berlaku baik bagi kreditur ataupun debitur[10]. Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Perjanjian kredit pengaturannya didalam Undang-Undang RI No.• Adanya pembayaran sejumlah uang sebagai pinjaman dari kreditur dan dilain pihak debitur wajib membayar kembali uang-uang yang dipinjam dengan baik dan tanggung jawab sesuai dengan waktu yang disepakati. Bagi kreditur kepercayaan bahwa kredit yang kucurkan akan bermanfaat dalam usaha dan akan dipergunakan sesuai tujuannya oleh debitur sesuai dengan yang telah diperjanjikan. saya berpendapat bahwa perjanjian kredit memang masuk dalam perjanjian tak bernama. Menurut Ronny Sautma Hotma Bako dalam satu tulisannya menyatakan bahwa hubungan antara kreditur dan debitur adalah hubungan hukum dan kepercayaan[9]. tetapi inilah pendapat saya berdasarkan penelitian saya dalam disertai tahun 1997. Prinsip-prinsip Dasar Perkreditan 1. Ini merupakan lex specialis sedangkan lex generalisnya bertopang pada KUHPerdata BK III BAB XIII (pinjam meminjam) juga BAB I s/d IV mengenai ketentuan umum. Prinsip yang menjadi acuan bagi perjanjian kredit yang pertama prinsip kepercayaan. Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/22/PBI/2004 tentang Bank Perkreditan Rakyat. juga hukum kebiasaan sebagai dasar hukum perjanjian kredit dalam dunia perbankan. juga yurisprudensi. Disamping itu juga Undang-Undang dan ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan perbankan antara lain Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Yang dimaksud kreditur disini adalah perbankan dan debitur adalah peminjam atau penerima kredit. Semua perbuatan hukum seperti perjanjian kredit yang tidak selesai pada saat itu juga maka disitulah timbul lembaga jaminan. Peraturan Bank Indonesia Nomor : 2/27/PBI/2000 tentang Bank Umum. Di Indonesia perjanjian kredit digolongkan sebagai perjanjian tak bernama (in nominat) karena perjanjian kredit tidak dicantumkan dan tidak diketemukan pengaturannya baik didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata maupun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. mungkin saya berbeda dengan pakar hukum yang lain. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang landasannya dari Undang-Undang No. 7 Tahun 1992. artinya umumnya timbul dan muncul pula adanya jaminan yang diperlukan dalam perjanjian kredit tersebut baik jaminan kepercayaan maupun jaminan lain. C. Berdasarkan penelitian. Bagi debitur kepercayaan oleh kreditur bahwa debitur dapat membayar kembali kreditnya dengan tepat waktu dan lancar. Dasar Hukum Suatu Kredit Untuk jelasnya dalam mengetengahkan dasar hukum disini adalah ”dasar hukum suatu perjanjian kredit”.

kasus BNI Kebayoram Baru (2004) kasus Bank Mandiri (2005). Dilihat dari sudut pemberi kredit yaitu pihak bank bahwa prinsip kehati-hatian perlu mendapat perhatian utama karena kondisi dan atmosfer masa kini berbeda. 2. Hak dan Kewajiban Baik Dalam Penyimpanan Dana Maupun Dalam Perjanjian Kredit 1. Hubungan kontraktual tersebut terjadi apabila . bank dapat memobilisir dana dari masyarakat untuk ditempatkan pada banknya dan bank akan memberikan jasa-jasanya[12]. Untuk diketahui bahwa bank adalah suatu badan usaha yang memang menghimpun dana dari masyarakat yang kemudian dipergunakan dan disalurkan kepada masyarakat kembali untuk memajukan ekonomi masyarakat guna perkembangan dan pembangunan ekonomi. Dengan perkataan lain penyimpanan uang atau dana termasuk negara setelah uang disimpan di Bank. Asas profesionalisme mendasari tugas-tugas kreditur. Kurangnya perhatian terhadap prinsip kehati-hatian dan pengawasan dari pihak perbankan akhir-akhir ini banyak terjadi kasus kredit macet yang spektakuler antara lain kasus : Edy Tanzil vs Bapindo (1994). akan tetapi dalam realitanya justru bank dalam pihak yang lemah. pada produk-produk perbankan yang ada pada bank tersebut. Banyak didengar bahwa debitur masa kini. apabila masyarakat ”percaya” untuk menempatkan uangnya. Oleh karena itu apabila terjadi kredit macet yang menimbulkan kerugian diselesaikan lewat ketentuan-ketentuan hukum perdata karena yang melingkupi adalah hukum privat. jaman sekarang jauh lebih ”cerdik” dan debitur tidak selamanya dalam posisi ”lemah”[11]. D. hubungan hukum antara bank sebagai kreditur dan peminjam sebagai debitur adalah hubungan kontraktual dan hubungan kepercayaan. Dari kasus tersebut salah satunya akan dianalisis yaitu kasus Golden Key Group (Edy Tanzil) – Bank Bapindo. Suatu bank hanya bisa melakukan kegiatan dan melakukan kegiatan dan mengembangkan banknya. Hubungan antara bank dan nasabah didasarkan 2 unsur yang saling terkait yaitu hukum dan kepercayaan. yaitu dengan selalu mengadakan pengawasan sejauh mana kredit-kredit tersebut dipergunakan sesuai atau tidak sesuai dengan tujuannya. sehingga tingkat penghati-hatiannya bagi kreditur benar-benar ditingkatkan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat tersebut. Prinsip kehati-hatian atau prudent Sesungguhnya semua pekerjaan termasuk perkreditan dituntutkan adanya kehatihatian dari masing-masing pihak. maka uang tersebut adalah milik Bank atau Korporasi. Mungkin secara yuridis. prinsip kehati-hatian juga harus dibarengi dengan prinsip pengawasan dari kreditur. Disini bank sebagai penyedia dana bagi para debiturnya. Ini berarti dana yang disimpan merupakan kekayaan Bank atau Korporasi selama dalam penyimpanan.2. Hubungan selanjutnya antara bank sebagai kreditur pemberi kredit dengan debitur sebagai peminjam atau penerima kredit. terutama pengawasan atasan diperlukan untuk meminimalisasi risiko yang timbul dari pemberian kredit.

Artinya menghargai hak-hak seseorang. Oleh karena itu hubungan kontraktual ini melibatkan dasar hukum privat artinya hukum privat sebagai dasar hukum terjadinya perjanjian tersebut. kerugian yang timbul karena adanya kredit macet harus diberi sanksi untuk diberi keseimbangan agar tercipta keadilan. Demikian pula yang dilakukan oleh kreditur misalnya apabila dalam melaksanakan tugas pengawasan terlalu dalam mencampuri usaha dari debitur sehingga usaha atau produksinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu juga Bank sebagai penerima dana dan debitur sebagai penyimpan dana. yaitu sebagai peminjam dan yang meminjamkan. Faktor kerugian tidak harus kerugian bagi negara saja akan tetapi kerugian yang timbul pada siapapun asal ada unsur kelalaian. Hal ini dapat dilihat dari case atau kasus. Apabila kita lihat pendapat dan teori yang dikemukakan oleh Adam Smith seorang filsuf. kewajiban tersebut apabila dilanggar mengakibatkan kerugian karena kelalaian ataupun kesalahan. akan muncul kekacauan dalam masyarakat[14].kreditur telah menjalin hubungan hukum dengan pihak debitur misalnya sepakat melakukan perjanjian kredit. yang mengakibatkan timbulnya kerugian. Di Amerika Serikat hubungan Bank dan nasabah di lihat sebagai suatu hubungan kontraktual antara debitur dan kreditur. tidak merugikan orang lain atau melukai. pakar hukum yang juga seorang ekonom yaitu tentang teori ”keadilan”nya yang mengetengahkan bahwa : Barangsiapa merugikan atau membuat seseorang rugi maka harus ditindak atau diberi sanksi sehingga terdapat keadilan[13]. Namun ada kalanya hal ini bisa mengarah pada tindak pidana ekonomi meskipun awalnya beranjak dari hukum perdata atau privat. Tugas. Kurang hati-hati dan kelalaian serta kendornya atau kurangnya pengawasan. Misalnya apabila debitur yang telah menerima kredit mempergunakan kreditnya tidak sesuai dengan apa yang telah ditunjuk atau diperjanjikan sehingga menimbulkan kerugian yang ditimbulkan karena kelalaian atau kekurang hati-hatian serta pengawasan yang kurang ataupun kesalahan debitur. Kalau tidak. maka dengan demikian Bank mempunyai hak yuridis terhadap uang yang disimpan. karena kekurang hati-hatian dan sebagainya. Pertanggung jawaban tersebut baik secara hukum perdata ataupun pidana. Oleh karena itu. baik yang dilakukan oleh debitur atau mungkin oleh kreditur. maka hal tersebut dapat mengarah ketindak pidana. sehingga yang melingkupi adalah Hukum Perdata. Siapa yang karena kelalaian atau karena kesalahannya harus bertanggung jawab secara hukum akibat adanya kerugian tersebut. Selain hubungan hukum kontraktual hubungan antara kreditur dan debitur yaitu pemberi pinjaman dan penerima pinjaman juga ada hubungan yang dilandasi kepercayaan termasuk dalam hal ini adalah kehati-hatian dan pengawasan. Dengan sendirinya apabila terjadi kemacetan dalam pembayaran kredit kembali adalah merupakan bentuk wanprestasi atau breach of contract atau ingkar janji atau tidak menepati janji. Setiap orang akan memaksakan dirinya sendiri untuk mentaati aturan-aturan keadilan karena nilai-nilai yang dijamin oleh pelaksanaan keadilan. .

Perjanjian kredit meskipun ada konsensus atau kata sepakat disyaratkan pula secara khusus harus tertulis. Oleh karena itu sesungguhnya masuk ruang lingkup hukum Perdata. Berdasarkan ketentuan-ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dalam hal ini karena kredit tersebut adalah merupakan suatu perjanjian.3 triliun. Akan tetapi karena banyak terkena oleh aturan-aturan perbankan antara lain dilanggarnya prinsip kehatihatian dan pengawasan yang akhirnya menimbulkan kerugian Negara dan telah diatur tersendiri berdasarkan ketentuan perbankan secara lex specialis maka yang tadinya berawal dari suatu perjanjian yang harusnya. sehingga apabila terjadi kegagalan yaitu tidak terlaksananya . Kegagalan untuk mengembalikan kredit merupakan wanprestasi oleh debitur artinya bahwa debitur tidak melaksanakan kewajibannya sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Sesungguhnya kalau ditinjau dari dasar hukum lex specialisnya seperti halnya ketentuan perbankan dan sebagainya maka akan memungkinkan perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuan tersebut dapat menimbulkan tindak pidana ekonomi yang dapat diberi sanksi pidana. Dalam hal ini perjanjian kredit tersebut tidak tertulis sedangkan ketentuan perjanjian kredit harus tertulis. Kasus Golden Key Group – Bapindo (1994) Dalam kasus yang sangat terkenal dalam bidang perbankan pada tahun 1990-an mencuat adanya kasus kredit macet dari Golden Key Group (Edy Tanzil) sebagai debitur yang mendapat kucuran kredit dari Bapindo yang akhirnya menimbulkan kerugian Negara sebesar 1. Dalam kasus Golden Key Group ini saya berpendapat bahwa kasus tersebut dapat saya lihat dari dua sisi atau sudut pandang: 1. Hal ini berdasarkan ketentuan-ketentuan perbankan yang merupakan lex specialis.merupakan potensi-potensi yang akan bisa menimbulkan tindak pidana ekonomi. Kasus ini terjadi karena adanya pengucuran kredit dari Bapindo kepada Edy Tanzil (Golden Key Group) yang pengucurannya didasarkan atas surat sakti/ “katabelece” dari petinggi pemerintahan waktu itu[15]. kalau terjadi kemacetan mestinya diselesaikan berdasarkan ketentuan-ketentuan Perdata dapat mengarah ke tindak pidana ekonomi yaitu berdasar ketentuan hukum Pidana. E. perundang-undangan perbankan sebagai ketentuan khusus atau peraturan-peraturan lex specialis maupun ketentuan-ketentuan lain yang terkait misalnya ketentuan pidana. dalam hal ini misalnya mengenai batas maksimum pemberian kredit (BMPK) yaitu tagihan sebesar 1. ini merupakan pemberian kucuran kredit yang melampaui batas yang dianggap melanggar prinsipprinsip kehati-hatian dan pengawasan. Kelemahan dari perjanjian tersebut bahwa ternyata dengan “katabelece” berarti prinsip kehati-hatian dan pengawasan telah diabaikan. Dalam hal ini dapat diterapkan sanksi didasarkan pada pelanggaran ketentuan-ketentuan.3 triliun. Dasar kesalahan yang kedua adalah pemberian kredit diberikan sebelum ada kredit tertulis. Dalam hal ini Golden Key Group memperoleh kredit tanpa melalui ketentuan perbankan yang berlaku[16].

7 Tahun 1992 yang tercantum didalam : Pasal 11 (menetapkan ketentuan mengenai Batas Maksimum Pemberian Kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. . pihak Bank harus bertanggung jawab secara pidana karena ada unsur merugikan dana masyarakat. Dengan pelanggaran tersebut yang menimbulkan kerugian pada negara. sehingga dapat berpengaruh terhadap kesehatan Bank. 2 dan 3) yang menyangkut Ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) selain itu juga didalam Undang-Undang No. Juga karena kurang kehati-hatian dan lalainya pengawasan yang merupakan tugas pihak Bank yang akhirnya timbul kerugian. maka pengelola dalam hal ini Bank wajib bertanggung jawab. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dari Undang-Undang RI No. juga ketentuan-ketentuan lain yang terkait misalnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam ayat (2)nya BMPK tidak boleh melebihi 30% dari modal bank. Kredit bersumber dari dana masyarakat. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dapat dilihat didalam Pasal 24 yang intinya mengenai tugas dan pengawasan bank. Sehingga dalam penyelesaiannya harus dilakukan dengan penarikan-penarikan kembali kreditkredit tersebut dengan batas waktu pengembalian. 2. sehingga menimbulkan kerugian dari menggoncangkan perekonomian masyarakat dan menuju kebangkrutan maka dapat diambil tindakan karena merugikan masyarakat sehingga dapat dikenakan sanksi pidana. penempatan investasi surat berharga atau hal lain yang serupa yang dapat dilakukan oleh bank kepada peminjam atau kelompok peminjam yang terkait termasuk kepada perusahaan-perusahaan dalam kelompok yang sama dalam bank yang sama dengan bank yang bersangkutan)[17]. Dengan didasarkan pada aturan dan ketentuan-ketentuan perbankan itu sendiri yang juga mengatur mengenai sanksi pidana apabila peraturan tersebut dilanggar. Oleh karena itu penyelesaian hukumnya harus melalui dasar hukum yaitu KUHPerdata BAB XIII BK III tentang perjanjian. 13 Tahun 1968 yaitu adanya pengawasan oleh Bank Central dalam hal ini adalah Bank Indonesia dan juga oleh bank-bank yang ada dibawahnya. Pasal 25 ayat (1) berhubungan dengan prinsip kehati-hatian juga Pasal 29 ayat (1.kewajiban-kewajiban oleh debitur dalam hal ini mengembalikan pembayaran kredit kembali kepada Bank selaku kreditur adalah merupakan wanprestasi dari debitur. Pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah oleh Bank mengandung risiko kegagalan atau kemacetan dalam pelunasannya. maka harus diberi sanksi Pidana sebagaimana ketentuan yang berlaku khususnya dalam ketentuan perbankan. Jika karena kebijakan yang diambil khususnya mengenai Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). pemberian jaminan. Dalam Undang RI No. Berdasarkan ketentuan-ketentuan perbankan itu sendiri yang mengacu pada Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Bank Central No.

kasus Bank BNI dan sebagainya. Menanggapi tulisan dari pengamat perbankan tersebut diatas penulis menyetujui dan menggarisbawahi pendapat tersebut. Patut karena rigiditas regulasi tentang BMPK memang sering dianggap sebagai salah satu halangan bagi Bank untuk menyalurkan kredit korporasi maupu kredit ke sektor kegiatan infrastruktur[18]. Dengan demikian dikhawatirkan orang-orang yang melakukan korupsi akan terhindar karena adanya fatwa Mahkamah Agung tersebut. Banyak yang berpendapat yang mengkhawatirkan bahwa dengan adanya Fatwa Mahkamah Agung tersebut dapat melemahkan atau mengendorkan penanganan perkara korupsi terutama korupsi yang terjadi di BUMN. Dengan pemisahan aset tersebut mengakibatkan tidak ada kerugian negara sebagai unsur dalam perkara tindak pidana kosupsi. Memang berdasar hukum secara formal. kasus Bank Mandiri. Dalam tulisan tersebut mengetengahkan pemisahan aset negara dan aset perusahaan[19]. Oleh karena itu tunduk pada hukum atau prinsip hukum Perdata atau Perseroan. Hal ini dapat dilihat dari kasus yang muncul seperti halnya kasus Golden Key Group – Bapindo. Selain yang telah dikemukakan diatas berdasar pengamatan saya pada akhir-akhir ini lembaga-lembaga perbankan memang sangat hatihati dalam menjalankan tugas kewenangannya dibidang pengucuran kredit karena ”risikonya amat tinggi”. uang yang diikut sertakan didalam perseroan dalam pengelolaannya adalah sepenuhnya tanggung jawab perseroan atau perusahaan/ korporasi.Dalam kasus yang berhubungan BMPK pakar dan pengamat perbankan Projoto mengemukakan pendapatnya : Adanya pelonggaran (relaksasi) ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) sebagai suatu syarat untuk mendorong lembaga perbankan menyalurkan kredit adalah gagasan yang ”patut” direalisasikan. tidak dapat diartikan sebagai keuangan negara. Di dalam Pasal 1765 KUHPerdata di sebutkan : ”Adalah diperbolehkan memperjanjikan bunga atas peminjaman uang atau lain barang yang menghabis karena pemakaian”[20]. Hal ini jika dihubungkan dengan penerapan klasifikasi aktiva produktif seperti diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI 7/2/2005). dapat diarahkan ke hukum Perdata atau Perseroan. Berdasar ketentuan tersebut tindakan relaksasi pun masih belum mampu menggairahkan minat perbankan menyalurkan kredit secara optimal. Kekhawatiran tersebut timbul dilontarkan oleh pakar hukum pidana yaitu Indrianto Seno Adji dan juga dari DPR Gayus Lumbuun dengan adanya fatwa dari Mahkamah Agung Agustus 2006 bahwa pemisahan kekayaan negara dalam APBN serta APBD kedalam BUMN sebagai penyertaan modal. Karena modal penyertaan yang sudah masuk atau disimpan Bank adalah uang milik Bank dan merupakan kekayaan Bank selama dalam penyimpanan Bank. juga ketentuan penyimpanan dana mendapat bunga sebagai kontra prestasi dari penyimpanan tersebut. tunduk pada bidang hukum perdata. Jauh sebelum adanya Fatwa Mahkamah Agung timbul kasus Bank BNI – Kebayoran Baru (2004) kasus Bank Mandiri (2005) dengan putusan yang berbeda meskipun . Pada akhir-akhir ini telah keluar Fatwa Mahkamah Agung yang berhubungan dengan aset perusahaan dan juga aset negara mengenai pemisahan aset tersebut yang ditulis dalam Kompas Senin 2 Oktober 2006 dan Kompas Rabu 4 Oktober 2006.

Sehingga kondisi perbankan merosot karena Bankir takut melaksanakan tugas pengucuran dana ke masyarakat yang dampaknya terhadap kinerja Bank. Dimana muncul debitor-debitor yang sesungguhnya cukup mampu akan tetapi karena moral dan mental yang melandasinya kurang. Oleh karena itu perbuatan yang merugikan tersebut agar adil harus ditindak dan diberi sanksi. Hal ini sesungguhnya harus difokuskan pada pihak debitur yang ”nakal” yang mengakibatkan kerugian baik bagi negara maupun masyarakat pada umumnya. yang buruk akibat kredit macet yang sebagian merupakan ”ulah nakal” para debitur. Dilanggarnya perjanjian atau tidak dilaksanakannya kewajiban dalam . Hubungan hukum antara Bank dan peminjam dana. Ada kecenderungan kreditur (Bank) bersikap amat hati-hati karena maksud baik dalam melaksanakan tugas kewajiban yang mulia dalam pengucuran kredit untuk masyarakat dalam memajukan perkembangan ekonomi justru berujung pada kondisi yang sangat menyulitkan pihak Bank sebagai pemberi kredit yaitu adanya usaha-usaha pihak lain untuk mengalihkan penyelesaian kredit macet ke bidang pidana dengan ”paksa”. kehati-hatian apabila dilanggar menimbulkan kerugian jika tidak dikenakan sanksi terjadi suatu keadaan yang tidak adil. Kompas dalam tulisan yang dimuat 5 September 2006 ”Tempuhlah Jalur Hukum”. Hubungan hukum antara Bank dan nasabah penyimpan dana. Disamping itu kredit macet tidak semua akibat tindakan kriminal yang merugikan negara. Penutup Berdasarkan 2 fungsi utama Bank yaitu fungsi pengerahan dana dan penyaluran dana muncul dua (2) hubungan hukum antara Bank dan nasabah : 1. seruan ini dilontarkan Menteri BUMN Sugiharto mendorong Bank Mandiri untuk menempuh jalur hukum untuk menghadapi para debitor yang kreditnya macet[21]. Inti tulisan tersebut menandakan betapa kondisi Ekonomi. Dari kejadian ini menunjukkan bahwa hal tersebut karena lemahnya perangkat perundangundangan perbankan itu sendiri. Adam Smith mengajarkan dalam teorinya tentang keadilan bahwa barang siapa merugikan orang lain atau menimbulkan kerugian harus diseimbangkan dengan adanya sanksi yang dikenakan bagi yang merugikan. Para Bankir berharap Presiden dalam Pidato kenegaraan pada rapat paripurna DPR 16 Agustus 2006 berkomitmen melindungi Bankir dari tuduhan korupsi bila terjadi kredit macet. sebetulnya juga akibat perekonomian yang buruk. Dalam hubungan antara Bank dan nasabah penyimpan dana terdapat hubungan hukum kontraktual. sehingga timbul kondisi yang parah dan terjadi penumpukan kredit macet karena ulah debitur ”nakal”. Dilakukan karena penyelesaian kredit bermasalah di Bank Mandiri sudah berlarut-larut cukup lama. Hubungan hukum ini tidak hanya merupakan hubungan hukum kontraktual saja akan tetapi juga merupakan hubungan berdasar prinsip dan asas kepercayaan. 2.kasusnya hampir sama. II. Kondisi debitor-debitor ”nakal” terlihat didalam tulisan pada harian Kompas Rabu 5 Agustus 2006 yang berjudul Bankir Minta Dilindungi[22].

Konsep.perjanjian menimbulkan wanprestasi. oleh karena itu penyelesaiannya lewat aturanaturan hukum privat yaitu berdasar hukum perdata. Jakarta : PT. Jakarta : PT. Kerugian tersebut tidak hanya karena kerugian negara saja akan tetapi juga karena kerugian kepada masyarakat umum. . Elex Media Komputindo. Sedangkan dalam hubungan antara Bank dan peminjam dana yaitu hubungan antara kreditur dan debitur didasarkan hubungan hukum baik kontraktual maupun hubungan kepercayaan dan kehati-hatian. Tjoekam. 1999. Jakarta : Kanisius. Kelompok Gramedia. Moh. Bako. Hubungan Bank dan Nasabah Terhadap Produk Tabungan dan Deposito. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Marcello Teodore Cs. sehingga dunia perbankan akan dapat membantu negara untuk membangun perekonomian Indonesia dimasa mendatang. Perkreditan Bisnis Inti Bank Komersial. 16 Agustus 2006. Pasar Bebas Keadilan& Peran Pemerintah. karena masih memegang prinsip lama yang sudah tidak mengikuti perkembangan sosio yuridis dan perkembangan sosio ekonomis masa kini. Kiranya pembenahan perangkat hukum perkreditan segera dilaksanakan dan menampung serta menganalisis kenyataan-kenyataan yang ada berdasar perkembangan jaman baik secara ekonomi maupun sosial yuridis dan hukum itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA A. H. kehati-hatian. pengawasan maka terjadi kelalaian atau kejahatan yang kemudian menimbulkan kerugian. 1995 Kompas. Masih lemahnya aturan dan ketentuan hukum dalam lingkup hukum perbankan. Teknik dan Kasus. Tindakan yang menimbulkan kerugian tersebut dapat dikenai sanksi berupa tindak pidana atau dikenai aturan-aturan hukum yang mengarah ke tindak pidana ekonomi. Dengan demikian tercipta rasa keadilan agar tidak muncul kekacauan dalam masyarakat. 2006. Bankir Minta Dilindungi. Sonny. Suatu pelajaran yang sangat mahal bagi otoritas moneter dan perbankan. A. Gramedia Pustaka Umum. Bandung : Citra Aditya Bakti. Rony Sautma Hotma. Kiranya dunia perbankan masa depan perlu menjawab tantangan yang ada dan akan ada dengan pembenahan peraturan perundang-undangan yang lebih aktual dalam menantang dan menyikapi perubahan jaman. Karena dilanggarnya prinsip kepercayaan. Keraf. 1995. Telaah Atas Etika Ekonomi Adam Smith. Apabila hubungan kepercayaan dan prinsip kehati-hatian juga pengawasan dilanggar sehingga menimbulkan kerugian karena kelalaian atau kejahatan maka harus diberi sanksi. Tony Prasetiantono.

1999. Jakarta : Pradnya Paramita. Bandung : Citra Aditya Bakti. J. M. Peranan Itikad Baik Dalam Hukum Kontrak dan Perkembangannya. 1991. Pengertian Manajemen Perkreditan Menurut H. 12) menerangkan bahwa defenisi manajemen perkreditan yaitu : Manajemen Perkreditan adalah suatu rangkaian kegiatan dan komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain secara sistematis dalam proses pengumpulan dan penyajian informasi perkreditan suatu bank Proses Manajemen Perkreditan Karena pemberian kredit kepada pihak ketiga sangat beresiko. 1972. Fatwa Mahkamah Agung Bisa Hambar Pemberantasan Korupsi. 4 Oktober 2006. Sentosa Sembiring. Jakarta : UI Press. 2006. Jakarta : ISTN. Himpunan Lengkap Undang-Undang Tentang Perbankan. 1983. Kompas. Webster New Universal Unabridged Dictionery. Tjipto Adi Nugroho. Bandung : Nuansa Aulia. Hukum Perkreditan Kontemporer.Kompas. Webster. Sri Gambir Melati Hatta. 2000 (Pidato Pengukuhan Guru Besar FHUI). Perbankan Masalah Perkreditan. New York USA : Simon & Schuster. persetujuan pemberian kredit. Munir Fuady. 1986. Mariam Darus Bahrul Zaman. A. Serta Implikasinya Terhadap Hukum dan Keadilan. 1996. Perjanjian Kredit Bank. Fatwa Soal Aset Mengkhawatirkan. 1873. Sri Gambir Melati Hatta. R. Tjitro Subidio. Rekening Courant. harus melalui tahapan-tahapan agar studi dan penelitian serta evaluasinya tajam demi menghasilkan suatu keputusan yang sekalligus dapat mengantisipasi resiko . Tjoekam. Jakarta : Pradnya Paramita. Bandung : Citra Aditya Bakti. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pelangi Hukum Bisnis. 2 Oktober 2006.SE (1999 . Noah. Levy. Subekti.

interview. maka untuk meningkatkan usahanya atau untuk meningkatkan daya guna suatu barang. sedangkan kemampuan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan terbatas. M. investigation dan data aspek-aspek yang dominant dengan bidang usaha applicant. tanpa keyakinan tersebut bank tidak akan meneruskan simpanan masyarakat yang diterimanya. Menurut UU NO 10 Th 1998 (1998 . c. biula perlu pada waktu keputusan akhir setelah dikomitekan oleh komite kredit. akurat. yang dimaksud dengan kredit adalah : “Penyediaan uang/tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. berdasarkan persetujuan/kesepakatan. hal ini menyebabkan manusia memerlukan bantuan untuk memenuhi hasrat dan cita-citanya. 15) tentang perbankan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur terdapat dalam kredit adalah : .(pelunasannya di waktu mendatang) dan kesanggupan membayar dari applicant. penjelasan secara tertulis harus dibuat. d. Rekomendasi persetujuan kredit yang diberikan oleh setiap pejabat yang terkait harus sesuai dengan analisis kredit yang lengkap. bantuan dalam bentuk tambahan modal ilmiah yang sering disebut kredit. Kebutuhan manusia yang beraneka ragam sesuai degan harkatnya selalu meningkat. Keputusan persetujuan pemberian kredit harus memperhatikan dengan analisis dan rekomendasi. Setiap tahap proses tersebut diatas harus dibuat dan dijelaskan secara tertulis. ia memerlukan bantuan dalam bentuk modal. Tjoekam. menurut H. Permohonan kredit harus secara tertulis dengan data lengkap. pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga“ Kredit yang diberikan sebuah bank berdasarkan atas kepercayaan sehingga dengan kredit merupakan pemberian kepercayaan ini berarti bahwa bank baru akan memberikan kredit kalau ia benar-benar yakin bahwa si penerima kredit akan mengembalikan pinjaman yang akan diterimanya sesuai dengan jangka waktu dengan surat yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu. dan relevan. b. 184) keputusan setuju memberikan kredit minimal harus berdasarkan : a. Persetujuannya harus berdasarkan analisis kredit yang tajam atas data yang disampaikan oleh applicant. SE (1999 . Pengertian Dan Unsur-Insur Kredit Mengapa seseorang membutuhkan kredit? manusia adalah nama ekonomik dan setiap manusia selalu berusaha untuk kememuhi kebutuhannya. dalam hal ini perusahaan.

Kepercayaan. yaitu suatu tingkat resiko yang akan di hadapi sebagai akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontraprestasi yang akan di terimanya dikemudian hari. Waktu. yaitu suatu masa yang akan mengesahkan antara pemberian prestasi yang akan di terimanya pada masa yang akan datang. 2. 3. semakin lama kredit yang akan di berikan semakin tinggi pula resikonya. Memperoleh laba akan kelangsungan hidup perusahaan terjamin dan dapat memperluas usahanya. Kepentingan pemerintah. maka masih terlalu terdapat unsur ketidaktentuan yang tidak dapat di perhitungkan. Dengan demikian maka tujuan kredit yang di berikan oleh suatu bank. 4. kita tidak dapat melepaskan. tetapi ada juga dapat bentuk barang atau jasa. barang atau jasa. 2. 2. khususnya Bank pemerintah yang mengembangakan tugas sebagai agen of development menurut Bambang Riyanto (1984 . sehingga bank harus melakukan usaha-usaha yang bisa mencegah terjadinya kerugian hal ini dapat di katakan bahwa : 1. atau objek kredit itu tidak saja di berikan dalam bentuk uang. kepentingan pemilik modal. 27) adalah untuk : 1. akan benar-benar di terimanya kembali dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang. inilah yang menyebabkan timbulnya unsur-unsur resiko. Diantara kredit-kredit yang sulit di tagih atau ditarik kembali sebagian besar kredit terkumpulkan tanpa kerugian atau kekurangan. karena sejauh kemampuan manusia untuk menerobos hari depan itu. diri dari falsafah yang di anut suatu negara. 3. Turut menyukseskan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan. Meningkatkan aktifitas perusahaan agar dapat mencalonkan fungsinya guna menjamin terpenuhnya kebutuhan masyarakat. namun karena kehidupan modern sekarang ini didasarkan kepada uang maka transaksi kredit yang menyangkut uanglah yang sering kita jumpai dalam praktek perkreditan.1. Dari tujuan tersebut tersimpul adanya kepentingan yang seimbang antara: 1. Tujuan Kredit Dalam membahas tujuan kredit. Sebagian kredit bank yang sudah beredar harus di kumpulkan kembali tanpa pengawasan ekstra. 2. Walaupun bank mengembang tugas-tugas sebagai Agent of develop bank tidak bisa menghindari terjadinya kerugian dalam memberikan kredit. yaitu keyakinan sipemberi kredit bahwa prestasi yang diberikannya dalam bentuk uang. Dengan adanya unsur resiko inilah maka timbulnya jaminan dalam bentuk pemberian uang. Pancasila adalah dasar dari falsafah negara kita maka tujuan kredit tidak semata–mata mencari keuntungan melainkan di sesuaikan dengan tujuan negara yaitu untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila. 3. Degree of risk. Prestasi. Kepentingan masyarakat. .

Kredit dapat pula meningkatkan daya guna peredaran barang.org/node/258 Perbankan Usaha perbankan dimulai dari zaman Babylonia. Fungsi kredit perbankan menurut Thomas Suyatno (1993 . Fungsi Kredit Dalam kehidupan perekonomian yang modern banyak memegang peranan yang sangat penting untuk karena itu organisasi-organisasi bank selalu di ikut sertakan dalam menentukan kebijakan di bidang moneter. De Algemenevolks Crediet Bank.3. dan De Escompto Bank NV. dan Eropa lainnya. Pada saat itu terdapat beberapa bank yang memegang peranan penting di Hindia Belanda antara lain: De Javasche NV. 5. 6. Apabila memang harus terjadi kerugian.com/index. Di samping itu. mengenai sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda. Uang yang disimpan oleh masyarakat. 7. Selanjutnya. maka bank harus memperkecil kerugian seminimal mungkin. 3. Bank-bank yang ada di zaman awal kemerdekaan. Nationale Handles Bank (NHB). Kredit dapat meningkatkan pemerataan pendapatan. Pada saat itu. Di zaman kemerdekaan perbankan di Indonesia bertambah maju dan berkembang lagi. Kredit sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi. oleh bank dipinjamkan kembali ke masyarakat yang membutuhkannya. Bank-Bank tersebut antara lain: Bank Nasional Indonesia. http://ilmumanajemen. Kredit dapat meningkatkan kegairahan berusaha. antara lain: . dan Batavia Bank. kegiatan bank berkembang menjadi tempat penitipan dan peminjaman uang. De Post Paar Bank. terdapat pula bank-bank milik pribumi. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalulintas uang. The Bank of China. The matsui Bank. Hal ini sebabkan oleh bank mempunyai pengaruh yang sangat luas dalam bidang kehidupan khususnya di bidang ekonomi. 25) dalam kehidupan perekonomian dan perdagangan antara lain sebagai berikut : 1. dilanjutkan ke zaman Yunani Kuno dan Romawi. Kredit pada hakekatnya dapat maningkatkan daya guna uang. NV Bank Boemi. Bank Abuah Saudagar.legalitas. Beberapa bank Belanda dinasionalisir oleh pemerintah Indonesia. Cina. Kredit sebagai alat meningkatkan hubungan internasional.php? option=com_content&view=article&id=52:pengertian-manajemenperkreditan&catid=55:mndit&Itemid=29 http://www. Jepang. kegiatan utama bank hanya sebagai tempat tukar menukar uang. 4. Nederland Handles Maatscappij (NHM). 2. Sementara itu.

a. Asas. Bank Surakarta MAI (Maskapai Adil Makmur) tahun 1945 di Solo. Berdasarkan pengertian di atas. Bank ini berasal dari DE ALGEMENE VOLKCREDIET bank atau Syomin Ginko. Bank Dagang Indonesia NV di Banjarmasin tahun 1949. c. perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. maka tujuan perbankan Indonesia adalah menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya. yang dimaksud dengan bank adalah “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. . Demokrasi ekonomi itu sendiri dilaksanakan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. d. g. Pengertian Bank Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan. Berdasarkan asas yang digunakan dalam perbankan. bank merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan. Bank Indonesia di Palembang tahun 1946. h. kemudian menjadi Bank Amerta. Indonesia Banking Corporation tahun 1946 di Yogyakarta. Bank Negara Indonesia yang didirikan tanggal 5 Juli 1946 kemudian menjadi BNI 1946. e. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946. dan Tujuan Perbankan Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. pertumbuhan ekonomi. Bank Rakyat Indonesia yang didirikan tanggal 22 Februari 1946. Fungsi. f. artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan. b.

transaksi derivatif dapat dijadikan sebagai salah satu model berinvestasi. Meninjau lebih dalam terhadap kegiatan usaha bank. Ali Afifuddin. Sebagai cara lindung nilai.[3]bank didirikan oleh Prof. Informasi harga. bunga dan hadiah sebagai rangsangan bagi masyarakat. fungsi bank di Indonesia adalah: a.[3] Kegiatan menghimpun dana. yang berarti.menyalurkan dana. dan deposito. tabungan. maka bank (perbankan) Indonesia dalam melakukan usahanya harus didasarkan atas asas demokrasi ekonomi . yang berarti.[3] Kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana merupaka kegiatan pokok bank sedangkan memberikan jasa bank lainnya hanya kegiatan pendukung[3]. 5. transaksi derivatif dapat berfungsi sebagai salah satu cara untuk menghilangkan risiko dengan jalan lindung nilai (hedging). SE Menurut saya. 10 Tahun 1998. yang berarti. dapat disimpulkan bahwa usaha perbankan meliputi tiga kegiatan. yaitu menghimpun dana. transaksi derivatif dapat memberikan kesempatan spekulasi (untung-untungan) terhadap perubahan nilai pasar dari transaksi derivatif itu sendiri. Hal ini sangat jelas tercermin dalam Pasal empat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang menjelaskan. b. Walaupun pada umumnya merupakan jenis investasi jangka pendek (yield enhancement). yang berarti. atau disebut juga sebagai risk management. maupun untuk investasi masa depan. transaksi derivatif dapat berfungsi sebagai sarana mencari atau memberikan informasi tentang harga barang komoditi tertentu dikemudian hari (price discovery). berupa mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan giro. 4. bank merupakan sarana yang memudahkan aktivitas masyarakat untuk menyimpan uang. dalam hal perniagaan. transaksi derivatif dapat memberikan gambaran kepada manajemen produksi sebuah produsen dalam menilai suatu permintaan dan kebutuhan pasar di masa mendatang. ialah tujuan secara filosofis dari eksistensi bank di Indonesia. 3. dan memberikan jasa bank lainnya. Dr. Inilah beberapa manfaat perbankan dalam kehidupan: 1. Sebagai penyalur dana atau pemberi kredit Bank memberikan kredit bagi masyarakat yang membutuhkan terutama untuk usaha-usaha produktif. pertumbuhan ekonomi. Sebagai model investasi. maka yang perlu diperhatikan untuk dunia perbankan. Terlepas dari funsi-fungsi perbankan (bank) yang utama atau turunannya.Berdasarkan UU No. dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak”. Sebagai tempat menghimpun dana dari masyarakat Bank bertugas mengamankan uang tabungan dan deposito berjangka serta simpanan dalam rekening koran atau giro. Fungsi spekulatif. Fungsi manajemen produksi berjalan dengan baik dan efisien. Menurut UU RI No 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan. 2. Kegiatan menghimpun dana. ”Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan.[3] Biasanya sambil diberikan balas jasa yang menarik seperti. yang berarti.[3] Sedangkan jasa-jasa perbankan lainnya diberikan untuk mendukung kelancaran kegiatan utama tersebut. berupa pemberian pinjaman kepada masyarakat. Fungsi tersebut merupakan fungsi utama bank. Dunia perbankan merupakan salah satu institusi yang sangat berperan dalam bidang perekonomian suatu negara (khususnya dibidang pembiayaan perekonomian).

[rujukan?] Sehingga dalam sejarah perbankan.[6] Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan tempo dulu di daratan Eropa. 5. sejarah dikenalnya perbankan dimulai dari jasa penukaran uang.[rujukan?] Kemudian dalam perkembangan selanjutnya. De Javasce NV.[rujukan?] Bila ditelusuri. arti bank dikenal sebagai meja tempat penukaran uang. 3. Afrika maupun benua Amerika. NV didirikan di Batavia pada tanggal 24 Januari 1828 kemudian menyusul Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij.[rujukan?] Berikutnya kegiatan perbankan bertambah dengan kegiatan peminjaman uang. [sunting] Sejarah Perbankan [sunting] Asal Mula Perbankan Bank pertama kali didirikan dalam bentuk seperti sebuah firma pada umumnya pada tahun 1690. Bank-bank yang ada itu antara lain[rujukan?]: 1.[rujukan?] Uang yang disimpan oleh masyarakat.[rujukan?] [sunting] Sejarah Perbankan di Indonesia Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda.[rujukan?] Jasa-jasa bank lainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.yang menggunakan prinsip kehati-hatian. Kemudian usaha perbankan ini berkembang ke Asia Barat oleh para pedagang. Nederland Handles Maatscappi (NHM). oleh perbankan dipinjamkan kembali kepada masyarakatyang membutuhkannya. De Post Poar Bank. karena secara filosofis bank memiliki fungsi makro dan mikro terhadap proses pembangunan bangsa. . kegiatan operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan. 2. Afrika dan Amerika]] dibawa oleh bangsa Eropa pada saat melakukan penjajahan ke negara jajahannya baik di Asia. De Algemenevolks Crediet Bank. pada saat kerajaan Inggris berkemauan merencanakan membangun kembali kekuatan armada lautnya untuk bersaing dengan kekuatan armada laut Perancis [5] akan tetapi pemerintahan Inggris saat itu tidak mempunyai kemampuan pendanaan kemudian berdasarkan gagasan William Paterson yang kemudian oleh Charles Montagu direalisasikan dengan membentuk sebuah lembaga intermediasi keuangan yang akhirnya dapat memenuhi dana pembiayaan tersebut hanya dalam waktu duabelas hari. 4. [rujukan?] Pada masa itu De javasche Bank.[rujukan?] Dalam perjalanan sejarah kerajaan di masa dahulu penukaran uangnya dilakukan antar kerajaan yang satu dnegan kerajaan yang lain.4 Hal ini. jelas tergambar. Hulp en Spaar Bank. NV pada tahun 1918 sebagai pemegang monopoli pembelian hasil bumi dalam negeri dan penjualan ke luar negeri[7] serta terdapat beberapa bank yang memegang peranan penting di Hindia Belanda.[rujukan?] Perkembangan perbankan di Asia.[rujukan?] Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money Changer).

[rujukan?] Masing-masing bentuk lembaga bank tersebut berbeda karakteristik dan fungsinya. Bank Indonesia di Palembang tahun 1946. Australia and China 6. The Yokohama Species Bank. Jepang. Bank Negara Indonesia. Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank (saat ini Bank OCBCNISP). Bank Perkreditan Rakyat (BPR).[rujukan?] Lembaga keuangan berbentuk bank di Indonesia berupa Bank Umum. 8. Hongkong & Shanghai Banking Corporation 7. Bank Abuan Saudagar. 7. The Bank of China. The Chartered Bank of India. Bank Timur NV di Semarang berganti nama menjadi Bank Gemari. dan juga BPR Syari'ah (BPRS). 6. Bank-bank yang ada di zaman awal kemerdekaan antara lain:[rujukan?] 1. Bank Nasional indonesia.6. didirikan 4 April 1941 dengan kantor pusat di Bandung 2. Bank ini berasal dari De Algemenevolks Crediet Bank atau Syomin Ginko. 4. Bank Surakarta Maskapai Adil Makmur (MAI) tahun 1945 di Solo. Di zaman kemerdekaan. 3. 10.[rujukan?] . Bank Dagang Indonesia NV di Samarinda tahun 1950 kemudian merger dengan Bank Pasifik. 9. 4. perbankan di Indonesia bertambah maju dan berkembang lagi. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan. The Matsui Bank. NV. praktek perbankan sudah tersebar sampai ke pelosok pedesaan. 10. 8. Batavia Bank. 3. NV Bank Boemi. 5. Bank-bank tersebut antara lain:[rujukan?] 1. dan Eropa. 5. Di Indonesia. Beberapa bank Belanda dinasionalisir oleh pemerintah Indonesia. De Escompto Bank NV. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946. 7. NV. Nationale Handles Bank (NHB). kemudian menjadi Bank Amerta. terdapat pula bank-bank milik orang Indonesia dan orang-orang asing seperti dari Tiongkok. Indonesian Banking Corporation tahun 1947 di Yogyakarta. Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank 2. Bank Umum Syari'ah. 8. Nederlansche Indische Handelsbank Di samping itu. yang didirikan tanggal 5 Juli 1946 yang sekarang dikenal dengan BNI '46. 9. Kemudian merger dengan Bank Central Asia (BCA) tahun 1949. Bank Rakyat Indonesia yang didirikan tanggal 22 Februari 1946.

maka antara tahun 1960-1965.[8][9] yang saat itu menjabat sebagai Menteri Bank Sentral/Gubernur Bank Indonesia .yang baru diangkat dari jabatan semula Presiden Direktur BNI . Bank Umum Negara menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV dan Bank Tabungan Negara menjadi Bank Negara Indonesia Unit V.D. pengaruh Bapindo cukup kuat untuk menghalangi terintegrasi ke dalam BNI. Bank Koperasi Tani dan Nelayan serta Bank Eksim Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. [10] Bank Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit I.dan disetujui oleh Presiden Soekarno.[rujukan?] Sementara.[rujukan?] Luputnya BDN dari proses pengintegrasian ini terutama karena Presiden Direktur BDN J.[14] [sunting] Bank Swasta Pada tahun 1965 pemerintah hendak mengabungkan seluruh bank swasta atau bank asing dalam Bank Pembangunan Swasta sebagai satu-satunya bank penghimpun dan penyalur dari semua dana-dana progresif di sektor swasta dan alat-alat yang dapat .[rujukan?] Akan tetapi tidak semua bank pemerintah berhasil diintegrasikan ke dalam Bank Berdjoang yakni Bank Dagang Negara (BDN) dan Bapindo.[sunting] Doktrin Bank Berjuang [sunting] Bank Pemerintah Melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 1/M/61 tanggal 6 Januari 1961 yang melarang pengumuman dan penerbitan angka-angka statistik moneter/perbankan.[rujukan?] Pada 5 Juli 1964. Bapindo tidak terintegrasi ke dalam Bank Berjuang karena bank ini dibawah Dewan Pembangunan yang diketuai Menteri Pertama Urusan Pembangunan dengan anggota-anggota Menteri Keuangan. termasuk data statistik mengenai kliring dan perhitungan sentral. prakarsa pengintegrasian bank pemerintah ini berasal dari ide Jusuf Muda Dalam. yang juga Ketua Dewan Pengawas Bapindo. Nama Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai bank tunggal. atas dasar pertimbangan politik untuk mempermudah komando di bidang perbankan untuk menunjang Pembangunan Semesta Berencana . melalui kedudukannya itu. Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit III. Ide dasarnya adalah menjadikan perbankan sebagai alat revolusi dengan motto Bank Berdjoang di bawah pimpinan Pemimpin Besar Revolusi.[13]Dengan demikian. Bank Indonesia tidak menerbitkan laporan tahunan.[9] Hasilnya adalah lahirnya struktur baru Bank Berdjoang ini menjadikan. selanjutnya pada tahun 1965 pemerintah menetapkan kebijakan untuk mengintegrasikan seluruh bank-bank pemerintah ke dalam satu bank dengan nama Bank Negara Indonesia. diusulkan oleh Jusuf Muda Dalam sendiri. Massie saat itu menjabat sebagai Menteri Penertiban Bank-bank Swasta Nasional yang tentu mempunyai cukup punya pengaruh untuk berkeberatan atas penyatuan BDN dengan bank-bank lainnya.[11][12] Massie beralasan bahwa kebijakan ini akan membingungkan koresponden bank di luar negeri untuk penyelesaian L/C ekspor maupun impor karena nama bank yang sama. dan Gubernur Bank Indonesia sebagai anggota.

pemerintah melakukan nasionalisasi bank milik Belanda mulai dengan Nationale Handelsbank (NHB) selanjutnya pada tahun 1959 yang diubah menjadi Bank Umum Negara (BUNEG kemudian menjadi Bank Bumi Daya) selanjutnya pada 1960 secara berturut-turut Escomptobank menjadi Bank Dagang Negara (BDN) dan Nederlandsche Handelsmaatschappij (NHM) menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) dan kemudian menjadi Bank Expor Impor Indonesia (BEII). Berikut ini akan dijelaskan secara singkat sejarah bank-bank milik pemerintah. • • • • Bank Negara Indonesia (BNI '46) Bank ini menjalani BNI Unit III dengan UU No 17 Tahun 1968 berubah menjadi Bank Negara Indonesia '46. yaitu Belanda.Bank ini sebelumnya berasal dari De Javasche Bank yang di nasionalkan di tahun 1951.[13]. kemudian menjadi Nationale Hendles Bank. sejarah perbankanpun tidak lepas dari pengaruh negara yang menjajahnya baik untuk bank pemerintah maupun bank swasta nasional. Yang membidangi Exim dengan UU No 22 Tahun 1968 menjadi Bank Expor Impor Indonesia. selanjutnya bank ini menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV dan berdasarkan UU No 19 Tahun 1968 menjadi Bank Bumi Daya. Bank Dagang Negara(BDN) BDN berasal dari Escompto Bank yang di nasionalisasikan dengan PP No 13 Tahun 1960. Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) . Kemudian ditegaskan lagi dnegan UU No 23 Tahun 1999. Bank Bumi Daya (BBD) BBD semula berasal dari Nederlandsch Indische Hendles Bank.dipergunakan Pembangunan Semesta Berencana ditentukan oleh Presiden Republik Indonesia. BDN merupakan satusatunya Bank Pemerintah yangberada diluar Bank Negara Indonesia Unit. [15] dan rencana-rencana lain yang [sunting] Sejarah Bank Pemerintah Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia mengenal dunia perbankan dari bekas penjajahnya. Yang membidangi rural menjadi Bank Rakyat Indonesia dengan UU No 21 Tahun 1968. yaitu: [rujukan?] • • Bank Sentral Bank Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) berdasarkan UU No 13 Tahun 1968. 2. Bank Rakyat Indonesia dan Bank Expor Impor Bank ini berasal dari De Algemene Volkscrediet Bank.[rujukan?] Oleh karena itu. namun PP (Peraturan Pemerintah) ini dicabut dengan diganti dengan UU No 18 Tahun 1968 menjadi Bank Dagang Negara. kemudian di lebur setelah menjadi bank tunggal dengan nama Bank Nasional Indonesia (BNI) Unit II yang bergerak di bidang rural dan expor impor (exim). dipisahkan lagi menjadi: 1.[rujukan?] Pada 1958.

ekonomi suatu negara akan menngkat. 5. [sunting] Perusahaan Pemegang Sepuluh Besar Bank Berdasarkan Keuntungan di Tahun 2003 (Dalam Dolar AS) 1. orang tidak dapat memperoleh pinjaman dan bisnis tidak dapat dibangun karena mereka tidak memiliki dana pinjaman. berarti bank meningkatkan arus dana untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih produktif. Tanpa adanya arus dana ini. Hasil merger keempat bank ini dilaksanakan pada tahun 1999. 2.[rujukan?] Jasa perbankan pada umumnya terbagi atas dua tujuan. Selanjutnya menjadi Bank Negara Indonesia Unit V dan terakhir menjadi Bank Tabungan Negara dengan UU No 20 Tahun 1968. Tujuan dan manfaatnya pun sangat baik bagi para nasabah. 4.[rujukan?] Jasa perbankan sebenarnya sangat banyak. maka barang hanya dapat diperdagangkan dengan cara barter yang memakan waktu. uang hanya berdiam di saku seseorang. 6. dan kartu kredit.[rujukan?] Tanpa adanya penyediaan alat pembayaran yang efesien ini. Dasar hukumnya adalah UU No 13 Tahun 1962. Bank Tabungan Negara (BTN) BTN berasal dari De Post Paar Bank yang kemudian menjadi Bank Tabungan Pos tahun 1950. seperti pembobolan ATM dan pemalsuan buku tabungan dan lain-lain.[rujukan?] Kedua. 3.[rujukan?] Pertama. Bank Mandiri Bank Mandiri merupakan hasil merger antara Bank Bumi Daya (BBD).[rujukan?]Bila peran ini berjalan dengan baik. tabungan. Bank Dagang Negara (BDN). bank menyediakan uang tunai.[rujukan?] Ini adalah peran bank yang paling penting dalam kehidupan ekonomi. sebagai penyedia mekanisme dan alat pembayaran yang efesien bagi nasabah.• • • Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bank ini didirikan di daerah-daerah tingkat I. Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dan Bank Expor Impor Indonesia (Bank Exim). dengan menerima tabungan dari nasabah dan meminjamkannya kepada pihak yang membutuhkan dana. [sunting] Tujuan jasa perbankan Jasa bank sangat penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Citigroup — 20 milyar Bank of America — 15 milyar HSBC — 10 milyar Royal Bank of Scotland — 8 milyar Wells Fargo — 7 milyar JPMorgan Chase — 7 milyar .[rujukan?] Untuk ini. hanya saja sedikit sekali masyarakat yang mengetahuinya. Akan tetapi banyak yang memanfaatkannya untuk tindakan kriminal.

[rujukan?] Mereka melakukan fungsi serupa dengan lembaga-lembaga tabungan dan credit unions.yaitu: Bank New York .[16] Sedangkan aset bank yang relatif lebih besar (dengan aset lebih dari $ 1 miliar). air. mereka berbeda dalam komposisi aktiva dan kewajiban.cenderung mengkhususkan diri pada ritel atau consumer banking. terdiri dari dua kelas adalah bank regional atau super regional.jasa perbankan Jasa – jasa ini diberikan untuk mendukung kelancaran menghimpun dan menyalurkan dana. atau hadiah Jasa pengiriman uang ( transfer ) Jasa penagihan ( inkaso ) Kliring Penjualan mata uang asing . bank bank besar memiliki akses untuk membeli dana (fund) . JP Morgan . Morgan Stanley — 5 milyar 10. atau uang kuliah Jasa pembayaran seperti pembayaran gaji.untuk membiayai pinjaman dan kegiatan investasi mereka. yang jauh lebih bervariasi). beberapa bank yang sangat besar memiliki sebutan yang berbeda. baik yang berhubungan langsung dengan kegiatan simpanan dan kredit maupun tidak langsung.[16]. aset atau pinjaman tidak selalu menjadi indikator suatu bank adalah bank sentral. dan credit unions . [16] Bank-bank komersial adalah kelompok terbesar lembaga penyimpanan bila diukur dengan besarnya aset.bank komersial. baik secara regional maupun nasional.yang juga disebut lembaga penyimpanan karena sebagian besar dananya berasal dari simpanan nasabah. lima organisasi perbankan membentuk kelompok Bank Sentral.[16] Namun.[16] Namun.7. gabungan dari lokasi dengan ketergantungan pada sumber nondeposit atau pinjaman dana. Penting untuk diperhatikan bahwa.[16] Perbandingan konsentrasi aset ukuran bank. jumlahnya telah menurun akibat megamergers. pensiun. Merrill Lynch — 4 milyar [sunting] Jenis-jenis bank dan fungsinya Tiga kelompok utama Institusi keuangan . yaitu Bank Sentral.dengan aset dibawah $ 1 milliar . Tapi. UBS AG — 6 milyar 8. Citigroup. menerima deposito (kewajiban) dan membuat pinjaman ( Namun. kredit konsumen dan deposito lokal.[16] Saat ini. telepon. lembaga tabungan.[16] Selain itu.[16] [sunting] Jasa . dan Bank HSBC di Amerika Serikat. Wachovia — 5 milyar 9. Deutsche Bank( melalui akuisisi bankir-bankir saling mempercayai). [rujukan?] Bank-bank ini .[3] Jasa perbankan lainnya antara lain sebagai berikut :[3] • • • • • • Jasa setoran seperti setoran listrik. meliputi kredit konsumen dan perumahan serta pinjaman komersial dan industri (D & I Lending).seperti dana antar bank atau dana pemerintah ( federal funds).[16] Mereka terlibat dalam grosir yang lebih kompleks tentang kegiatan komersialperbankan. seperti memberikan hipotek perumahan. yaitu. menunjukkan bahwa konsolidasi perbankan tampaknya telah mengurangi pangsa aset bank paling kecil ( aset di bawah $ 1 miliar).

tarik tunai kartu kredit dan beberapa pembayaran (contohnya tagihan utilitas). Agunan Pinjaman jangka panjang yang diperoleh pribadi untuk membeli rumah yang kepemilikannya diserahterimakan secara legal dari si pemberi pinjaman kepada peminjam setelah pinjaman dikembalikan. Biaya biaya tersebut bisa meliputi biaya jasa. Biaya Layanan Biaya bulanan yang ditagihkan oleh institusi keuangan untuk menangani suatu rekening. Biaya Keuangan Istilah ini meliputi biaya total kredit. termasuk bunga dan semua biaya lainnya yang ditentukan sebagai syarat kredit oleh institusi keuangan sebagai kreditor. tanah. milik pribadi ataupun perusahaan. Batas Kredit Batas Rupiah maksimum yang bisa ditagihkan kepada rekening kartu tertentu.• • • • • • • Penyimpanan dokumen Jasa cek wisata Kartu kredit Jasa – jasa yang ada di pasar modal seperti pinjaman emisi dan pedagang efek. kartu kredit atau kartu debit. Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Mesin yang memproses penarikan dan penyetoran dana dari dan ke rekening tabungan. Aset Barang yang mempunyai nilai tinggi (contohnya rumah. . mobil). Biro Kredit Suatu agen pelaporan kredit yang mengecek informasi kredit dan menyimpan berkas mengenai pemohon dan pengguna kredit. Jasa Letter of Credit ( L/C) Bank garansi dan referensi bank Jasa bank lainnya. Bebas Suatu cek dapat dianggap “bebas” ketika jumlahnya dipotong (dikurangkan) dari rekening pembayar dan dimasukkan (ditambahkan) ke rekening penerima. Buku Simpanan Suatu buku yang diberikan oleh institusi keuangan kepada penabung untuk mencatat setoran. penarikan dan bunga yang diperoleh dengan menabung. biaya keterlambatan. biaya transaksi dan biaya lainlainya. Rekening diakses dengan kartu ATM.

atau oleh institusi keuangan kepada pribadi atas simpanan uangnya dalam rekening tabungan. oleh pribadi kepada institusi keuangan untuk penggunaan kartu kredit. Cek Dokumen tertulis yang menginstruksikan suatu institusi keuangan yang mengeluarkan sejumlah uang dari rekening si penulis. suatu tagihan yang dipotong dari suatu rekening. Institusi keuangan dengan cabang-cabang situs memungkinkan pelanggan memeriksa saldo. NSF) adalah salah satu alasan cek dikembalikan Charge Card Kartu plastik dengan fasilitas kredit yang biasanya tidak terbatas. Bunga Perkenalan Beberapa kartu kredit menggunakan bunga perkenalan sebagai promosi penawaran istimewa.Bunga Majemuk Bunga yang dihitung terhadap simpanan pokok maupun bunga yang sudah bertambah. bisnis atau institusi. bahan bakar gratis. Cyberbanking Perbankan melalui layanan Internet. membayar tagihan. Bunga Biaya yang dikenakan atas penggunaan uang. Ini adalah bagian dari total biaya kredit. Kartu bayar/tagihan harus dibayar lunas pada setiap akhir siklus tagihan. Hadiah Beberapa kartu kredit menawarkan terbang gratis. dan mengajukan permohonan pinjaman pada Internet. Setelah beberapa waktu. Dana tidak mencukupi (non sufficient fund. Bunga bisa dibayarkan. membandingkan rencana tabungan. Hal ini bisa disebabkan karena rekening sudah ditutup atau saldo yang tersedia tidak mencukupi jumlah yang tertera pada cek. mentransfer dana. atau hadiah lainnya. Bunga Prosentase Tahunan (BPT) Tagihan bunga tahunan dapat diaplikasikan kepada saldo kartu kredit yang belum dibayarkan. Fasilitas Kredit Jumlah kredit yang diberikan kepada pribadi. Bunga dinyatakan dengan istilah Bunga Persentase Tahunan (BPT). Hadiah ini juga disebut sebagai program keanggotaan . Cek Melambung (cek yang dikembalikan) Cek yang “dilambungkan kembali” adalah cek yang ditolak penguangan atau pembayarannya oleh institusi keuangan. Debet Istilah pembukuan untuk sejumlah uang yang dipinjam oleh pribadi atau institusi. misalnya. tingkat bunga kembali ke tingkat standar.

Kartu debet bisa menggunakan tanda tangan atau memasukkan nomor PIN ke dalam suatu alat. pembayaran minimum akan menimbulkan saldo “berputar” atau menambah beban bunga. Jaminan biasanya berupa real estate (rumah) atau properti seperti mobil. diskon atau keuntungan nilai tambah kepada pengguna berdasarkan nilai rupiah tagihan pembelian dalam suatu kurun waktu tertentu Kartu Debet Kartu pembayaran maupun kartu yang dapat digunakan untuk pembelian barang dan jasa secara elektronik. Apabila orang yang berhutang gagal mengembalikan pinjamannya. Sebagai contoh. institusi keuangan berhak mengambil jaminan tersebut. Kartu Co-brand Kartu kredit yang terhubung dengan pihak ketiga misalnya peritel atau penerbangan. Kartu Chip/ Smart Card Kartu yang diterbitkan oleh institusi keuangan dengan sebuah chip elektronik tertanam di dalamnya yang bisa diisi dengan beragam program seperti fungsi kartu kredit atau kartu debet dan pembeli berulang atau program hadiah. Pengeluaran bisnis ditagihkan kepada kartu ini untuk memudahkan pembukuan dan persiapan pajak. suatu asosiasi alumni atau museum memperoleh bagian/prosentase dari seluruh transaksi yang ditagihkan kepada kartu kredit gabungan milik anggota-anggota organisasi tersebut. atau pembayaran penuh. Di sisi lain. Kartu Kredit Kartu plastik yang memberikan akses pada fasilitas kredit.Institusi Keuangan Suatu Perusahaan di mana Anda bisa menyetor. Jaminan Segala sesuatu yang diterima oleh institusi keuangan sebagai jaminan apabila orang yang berhutang tidak mengembalikan pinjamannya. Kartu Bisnis Kartu kredit untuk pemilik bisnis kecil. yang menawarkan potongan. Kartu ini menggantikan uang tunai atau cek. Kartu Bank Kartu kredit atau debit yang diterbitkan oleh sebuah institusi keuangan. meminjam atau menukarkan uang. Pengguna diberi batasan kredit. tetapi tidak diharuskan untuk melunasi sekaligus setiap bulannya. yaitu dengan pembayaran minimum setiap bulan. Jadwal Pembayaran Ada dua pilihan pembayaran kartu kredit. Transaksi langsung dipotong dari rekening tabungan atau rekening koran/cek pemegang kartu. Kartu Affinity Kartu kredit yang berafiliasi dengan pihak ketiga yang akan mendapat keuntungan nilai tambah dari setiap transaksi. .

Kewajiban Hutang Dalam istilah keuangan. pengambilalihan. Kartu ini bisa digunakan untuk pembelian atau penarikan uang tunai di ATM sesuai dengan nilai Rupiah yang ada di dalamnya sebelum kartu tersebut dibuang atau diisi kembali. bisnis atau institusi. Mata Uang Uang segala sesuatu yang digunakan sebagai media pertukaran umum. Pada setiap rencana kredit. Order dilakukan langsung dengan penyedia yang tergabung dan dibayar dengan kartu pembelian. Secara praktis. Kepailitan tidak bisa menghapus sejarah buruk rekening dan menjadi bagian dari Sejarah rekening itu selama bertahun-tahun. perusahaan tidak perlu mengeluarkan order pembelian. pajak dan kewajiban pinjaman pelajar. Kredit Dalam bisnis. terdapat kreditor (pribadi. Luran Tahunan Biaya yang ditagihkan setahun sekali atas kepemilikan kartu kredit. tunjangan istri.Kartu Pembelian Kartu kredit yang dipakai perusahaan-perusahaan untuk melakukan pembelian dengan nilai sedang atau kecil. Informasi untuk laporan diserahkan kepada agen pelaporan kredit (atau biro kredit) dari kreditor individual. Masa Tenggang Jangka waktu sebelum bunga ditambahkan ke dalam pembelian baru. pemotongan dan pembayaran hutang. toko atau perusahaan yang uangnya dipinjam). & Dengan kartu ini. denda. Keadaan ini pun biasanya tidak menghapus tunjangan anak. Dalam pembukuan. Agen akan mengumpulkan laporan dan menyerahkannya kepada pemberi pinjaman dan yang lainnya seizin konsumen. dengan bunga dan biaya lainnya adalah bagian dari total biaya kredit. Iuran tahunan. Pernyataan ini dapat mencegah penyitaan. . terdapat catatan sejumlah uang milik pribadi atau institusi. Laporan Kredit Suatu laporan mengenai tingkat hutang dan perilaku pembayaran tagihan konsumen. uang pinjaman yang harus dibayarkan kembali kepada individu. Beberapa penyedia kartu kredit menawarkan kartu kredit tanpa iuran tahunan. institusi keuangan. tergantung dari hukum kepailitan negara yang bersangkutan. kredit adalah pembelian atau peminjaman dengan janji pengembalian di kemudian hari. Kartu Prabayar Kartu yang menyimpan nilai Rupiah. Kepailitan Suatu pernyataan hukum mengenai keadaan pailit.

maka cek tidak akan dibebankan ke rekening pembayar. Pembiayaan kembali biasanya memberikan tingkat bunga lebih rendah dan jumlah pembayaran bulanan yang lebih kecil. biasanya 2 sampai 3 persen dari jumlah pinjaman. untuk layanan seperti ini dikenakan biaya. Apabila institusi keuangan menolak untuk menguangkan cek tersebut. maka cek tersebut dinyatakan “dilambungkan kembali” . dan bisnis lainnya dapat menggunakan sistem pembayaran otomatis di mana tagihan dibayar secara langsung dengan memotongt dana dari rekening bank. Pembiayaan Kembali Mengubah persetujuan pinjaman agar syarat pengembalian bias sesuai dengan pendapatan terkini si peminjam dan kemampuannya untuk mengembalikan. Modal Sejumlah kumpulan kekayaan yang bisa digunakan atau yang tersedia untuk menghasilkan kekayaan lebih banyak. berdasarkan saldo rata-rata harian. Metode Penghitungan Bunga Cara penghitungan bunga berdasarkan saldo kartu kredit. Bankir sering menggunakan pepatah uang logam dan mata uang yang merujuk pada sen dan rupiah. Pembayaran Minimum Jumlah minimum rupiah yang harus dibayar setiap bulan. terutama uang kertas. pembayaran pinjaman.mata uang bermakna tunai. telepon. Penarikan Cek Berlebihan Suatu cek dituliskan dengan jumlah uang yang melebihi jumlah dalam rekening. kartu baru menawarkan biaya yang lebih rendah. Pemindahan Saldo Anda dapat memindahkan saldo dari kartu kredit Anda ke kartu kredit baru. Apabila silakukan segera. Bisa ditagihkan per hari atau per bulan dan termasuk bunga dari saldo yang tidak dibayar. dll). Pembayaran Otomatis Perusahan utilitas (Perusahaan langganan masyarakat seperti Listrik. Idealnya. Nomor Pengenalan Pribadi (PIN) Suatu nomor istimewa yang diberikan oleh bank kepada pemegang kartu ATM atau kartu kredit yang diketikkan pada mesin ATM untuk menarik uang atau pada terminal perdagangan untuk pembelian barang. Menghentikan Pembayaran Permintaan kepada institusi keuangan untuk tidak membayar cek tertentu.

Penarikan Tunai Sejumlah uang yang ditarik dari rekening. Penerima Pribadi atau suatu perusahaan kepada siapa cek ditulis. Kadang-kadang terdapat biaya yang ditagihkan apabila persyaratan minimum tidak terpenuhi. atau menarik dana dari rekening tabungan atau rekening koran mereka. suami/istri. seseorang yang menerima uang sebagai pembayaran. Pembayar Pribadi atau suatu perusahaan yang menulis cek. Penabung biasanya diperbolehkan menabung atau menarik uang berkali-kali. dan untuk menuliskan sebuah cek. disetor. Penilaian Kredit Evaluasi suatu institusi keuangan mengenai apakah seseorang pantas menerima kredit. Penilaian kredit biasanya didasarkan pada karakter individual. seseorang yang memberi uang sebagai pembayaran. Penyetor Seseorang atau suatu perusahaan yang menyetor uang ke dalam suatu rekening. kemampuan membayar dan modal. Rekening Bersama Rekening tabungan atau rekening koran yang dibuat dengan lebih dari satu nama. atau diinvestasikan sebelum bunga ditambahkan. Pokok Jumlah awal uang yang dipinjam. Pencurian Identitas Bentuk penipuan di mana informasi finansial konsumen diperoleh secara ilegal untuk melakukan pembelian dan transaksi tidak sah dengan kartu kredit mereka. . Misalnya orang tua/anak. Rekening Tabungan Rekening yang mendapatkan bunga sebagai pengganti atas penggunaan uang yang disimpan. Rekening Uang yang disimpan di sebuah institusi keuangan untuk kepentingan investasi dan/atau penyimpanan yang aman. Rekening Giro Rekening yang digunakan oleh nasabah untuk menyimpan uang.

Dalam perbankan. tenaga maupun uang. Saldo Rata-rata Harian Institusi keuangan mengukur dan menghitung hutang rata-rata per hari dalam siklus tagihan Anda. seperti nama pemegang dan nomor rekening. per bulan atau per hari. . Slip Setoran Slip yang memberi keterangan mengenai jumlah uang kertas. Bunga Persentase Tahunan (BPT) biasanya merupakan tarif yang tetap. kartu debet atau kartu ATM. saldo merujuk pada jumlah hutang. Strip ini mengandung informasi dasar rekening dalam wujud kode komputer. Bunga kartu kredit bisa dihitung per tahun. Suku Bunga Prosentase. dari total jumlah pinjaman yang ditagihkan oleh bank atau institusi keuangan atas penggunaan uang mereka. Dalam kredit. per unit waktu. dan menggunakan jumlah rata-rata tersebut untuk menentukan jumlah bunga atas hutang Anda untuk bulan tersebut. Setiap institusi keuangan menggunakan cara yang berbeda dalam melakukan perhitungan ini. Setoran Langsung Pendapatan (atau pembayaran dari pemerintah) secara otomatis dan elektronik yang disetorkan ke dalam rekening sehingga menghemat waktu.Saldo Jumlah tagihan yang belum dibayar. Tingkat Bunga yang Berubah. Tingkat Bunga Periodik Suatu variabel tingkat bunga yang bisa naik atau turun setiap kuartal dan mempengaruhi baik tagihan-tagihan keuangan maupun batas minimum jatuh tempo pembayaran kartu kredit. saldo merujuk pada sejumlah uang pada suatu rekening. Syarat-syarat Suatu masa waktu dan tingkat bunga yang diatur antara pemberi pinjaman dan peminjam untuk mengembalikan pinjaman Tarif Tetap Suku bunga yang tidak berubah. Tingkat bunga yang dapat berubah secara berkala. uang logam dan cek yang akan disetorkan ke dalam suatu rekening tertentu Strip Magnet Strip hitam pada kartu kredit.

Tunai Uang dalam bentuk kertas dan koin. Uang Tunai Elektronik Sistem pembayaran elektronik sebagai replika/pengganti dari semua sistem pembayaran – tunai.Transaksi di tempat penjualan Diterimanya kartu ATM/debet atau kartu kredit di toko peritel dan rumah makan sebagai alat pembayaran barang atau jasa. kegiatan usaha. serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Dalam perbankan. kegiatan usaha. suatu kegiatan membayar cek “menguangkan cek” Uang Semua yang secara umum dikenal sebagai media pertukaran. kartu debet dan uang logam. cek. serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. . kartu kredit. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentukbentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran Bank Konvensional adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan berdasarkan jenisnya terdiri atas Bank Umum Konvensional dan Bank Perkreditan Rakyat. mencakup kelembagaan. Bank Umum Konvensional adalah Bank Konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank. mencakup kelembagaan.

cybermq.afand.com/2010/04/19/hukum-perbankan-seputar-pengertianperbankan/ . prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah).wordpress. antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).wikipedia. (UU Perbankan Syariah) Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha.com/post/detail/2357/sejarah-perbankan--pengertianasas-fungsi-dan-tujuan http://id. Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah).Bank Pembiayaan Rakyat Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah.com/2008/07/01/pengertian-kredit-a-zistilah-istilahperbankan/ http://kuliahade.org/wiki/Bank http://taghyr. atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah).wordpress. atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina) (UU Perbankan) http://www.