P. 1
Efusi Pleura

Efusi Pleura

|Views: 1,146|Likes:
Published by yestiy

More info:

Published by: yestiy on Nov 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2014

pdf

text

original

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam rongga

pleura, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura. Dalam keadaan normal, jumlah cairan dalam rongga pleura sekitar 10-200 ml. Cairan pleura komposisinya sama dengan cairan plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah yaitu < 1,5 gr/dl. Etiologi terjadinya efusi pleura bermacam-macam, yaitu: tuberkulosis paru (merupakan penyebab yang palng sering di Indonesia), penyakit primer pada pleura, penyakit penyakit sistemik dan keganasan baik pada pleura maupun diluar pleura.

ANATOMI PLEURA Pleura adalah membra tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura visceralis dan parietalis. Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesothelial, jaringaan ikat, dan dalam keadaan normal, berisikan lapisan cairan yang sangat tipis. Membran serosa yang membungkus parekim paru disebut pleura viseralis, sedangkan membran serosa yang melapisi dinding thorak, diafragma, dan mediastinum disebut pleura parietalis. Rongga pleura terletak antara paru dan dinding thoraks. Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas antara kedua pleura. Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus paru. Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis, diantaranya : · Pleura visceralis : Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis < 30mm. Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit Di bawah sel-sel mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit Di bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastik

- Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari a. Pulmonalis dan a. Brakhialis serta pembuluh limfe · Menempel kuat pada jaringan paru Fungsinya. untuk mengabsorbsi cairan. pleura Pleura parietalis Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastis)

- Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a. Intercostalis dan a. Mamaria interna, pembuluh limfe, dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur. Keseluruhan berasal n. Intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada Mudah menempel dan lepas dari dinding dada di atasnya Fungsinya untuk memproduksi cairan pleura

PATOFISIOLOGI Dalam keadaan normal, selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran limfe, sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi, tiap harinya diproduksi cairan kira-kira 16,8 ml (pada orang dengan berat badan 70 kg). Kemampuan untuk reabsorpsinya dapat meningkat sampai 20 kali. Apabila antara produk dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura. Diketahui bahwa cairan masuk kedalam rongga melalui pleura parietal dan selanjutnya keluar lagi dalam jumlah yang sama melalui membran pleura parietal melalui sistem limfatik dan vaskular. Pergerakan cairan dari pleura parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. Cairan kebanyakan diabsorpsi oleh sistem limfatik dan hanya sebagian kecil yang diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal. Hal yang memudahkan penyerapan cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya banyak mikrovili di sekitar sel-sel mesothelial. Akumulasi cairan pleura dapat terjadi bila: 1. Meningkatnya tekanan intravaskuler dari pleura meningkatkan pembentukan cairan pleura melalui pengaruh terhadap hukum Starling.Keadaan ni dapat terjadi pada gagal jantung kanan, gagal jantung kiri dan sindroma vena kava superior. 2. Tekanan intra pleura yang sangat rendah seperti terdapat pada atelektasis, baik karena obstruksi bronkus atau penebalan pleura visceralis 3. Meningkatnya kadar protein dalam cairan pleura dapat menarik lebih banyak cairan masuk ke dalam rongga pleura 4. Hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal bisa menyebabkan transudasi cairan dari kapiler pleura ke arah rongga pleura 5. Obstruksi dari saluran limfe pada pleum parietalis. Saluran limfe bermuara pada vena untuk sistemik. Peningkatan dari tekanan vena sistemik akan menghambat pengosongan cairan limfe. ETIOLOGI A. Berdasarkan Jenis Cairan Kalau seorang pasien ditemukan menderita efusi pleura, kita harus berupaya untuk menemukan penyebabnya. Ada banyak macam penyebab terjadinya pengumpulan cairan pleura. Tahap yang pertama adalah menentukan apakah pasien menderita efusi pleura jenis transudat atau eksudat. Efusi pleura transudatif terjadi kalau faktor sistemik yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan. Efusi pleura eksudatif terjadi jika faktor lokal yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan. Efusi pleura tipe transudatif dibedakan dengan eksudatif melalui pengukuran kadar Laktat Dehidrogenase (LDH) dan protein di dalam cairan, pleura. Efusi pleura eksudatif memenuhi paling tidak salah satu dari tiga kriteria berikut ini, sementara efusi pleura transudatif tidak memenuhi satu pun dari tiga kriteria ini : 1. Protein cairan pleura / protein serum > 0,5 2. LDH cairan pleura / cairan serum > 0,6

Efusi timbul karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi. Eksudat. Rickettsia.5 < 200 IU/dl < 0.016 < 1. disebabkan oleh : 1. Pseudomonas. menimbukan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. sehingga tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga pleura. Bakteri penyebab dapat merupakan bakteri aerob maupun anaerob (Streptococcus paeumonie. Aspergillus. Gejala penyakit dapat dengan keluhan sakit kepala. dan lain-lain). Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100-6000/cc. Bakteriodes. Coli. Pleuritis tuberkulosa merupakan komplikasi yang paling banyak terjadi melalui focus subpleural yang robek atau melalui aliran getah bening. gejala perikarditis.3. Kriptococcus.5 < 200 IU/dl < 0. Hemophillus.5 g/dl Rasio protein TE/plasma LDH Rasio LDH TE/plasma < 0. Penatalaksanaan dilakukan dengan pemberian antibotika ampicillin dan metronidazol serta mengalirkan cairan infus yang terinfeksi keluar dari rongga pleura. dapat juga secara hemaogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. Fusobakterium. Diagnosa dapat dilakukan dengan cara mendeteksi antibodi terhadap virus dalam cairan efusi. dll. malaise. Chlamydia. 4. keruh. sakit perut. 3. Pseudomonas. Staphylococcus aureus.016 Sedikit PMN < 50% Negatif 60 mg/dl (= GD plasma) Banyak (> 500 sel/mm2) PMN < 50% Negatif 60 mg/dl (bervariasi) < 2. Pleuritis karena virus dan mikoplasma : virus coxsackie. Pleuritis karena bakteri piogenik: permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen. E. PARAMETER Warna BJ Jumlah set Jenis set Rivalta Glukosa Protein < 2. Pleuritis karena fungi penyebabnya: Aktinomikosis. berdarah Efusi pleura berupa: a.5 g/dl < 0. LDH cairan pleura melebihi dua per tiga dari batas atas nilai LDH yang normal di dalam serum.6 TRANSUDAT Jernih < 1. Timbulnya cairan efusi disebabkan oleh rupturnya focus subpleural dari jaringan nekrosis perkijuan. sakit dada. mialgia. Efusi yang disebabkan . 2.6 EKSUDAT Jernih. demam.

Sedangkan penyebab lainnya adalah perikarditis konstriktiva. Penyakit AIDS. Pada pasien pleuritis tuberculosis ditemukan gejala febris. . sehingga menyebabkan transudasi. Cairan pleura yang ditemukan berupa eksudat dan kadar glukosa dalam cairan pleura tersebut mungkin menurun jika beban tumor dalam cairan pleura cukup tinggi. Khas dari penyakit ini adalah dijumpai predominan sel-sel PMN dan pada beberapa penderita cairannya berwarna purulen (empiema). Efusi parapneumoni adalah efusi pleura yang menyertai pneumonia bakteri. Menurut Light. Meskipun pada beberapa kasus efusi parapneumonik ini dapat diresorpsis oleh antibiotik. dan nyeri dada pleuritik. namun drainage kadang diperlukan pada empiema dan efusi pleura yang terlokalisir. menyebabkan gangguan aliran balik sirkulasi. 7. kelenjar linife. Patogenesisnya adalah akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler dinding dada sehingga terjadi peningkatan filtrasi pada pleura parietalis. 5. mammae. Diagnosis dibuat melalui pemeriksaan sitologik cairan pleura dan tindakan blopsi pleura yang menggunakan jarum (needle biopsy).00 dan 0. hillus atau mediastinum. Pleuritis Rheumatoid.15 unit lebih rendah daripada nilai pH bakteri Penanganan keadaan ini tidak boleh terlambat karena efusi parapneumonik yang mengalir bebas dapat berkumpul hanya dalam waktu beberapa jam saja. yang merangsang reaksi inflamasi dan terjadi kebocoran kapiler.oleh TBC biasanya unilateral pada hemithoraks kiri dan jarang yang masif. Di samping itu peningkatan tekanan kapiler pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorpsi pembuluh darah subpleura dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan ke rongg pleura dan paru-paru meningkat. Efusi pleura karena neoplasma misalnya pada tumor primer pada paru-paru. penurunan berat badan. Gangguan kardiovaskular Penyebab terbanyak adalah decompensatio cordis. Ø Invasi tumor ke kelenjar limfe paru-paru dan jaringan limfe pleura. Skleroderma 8. Efusi pleura karena penyakit kolagen: SLE. terdapat 4 indikasi untuk dilakukannya tube thoracostomy pada pasien dengan efusi parapneumonik: Ø Adanya pus yang terlihat secara makroskopik di dalam kavum pleura Ø Mikroorganisme terlihat dengan pewarnaan gram pada cairan pleura Ø Kadar glukosa cairan pleura kurang dari 50 mg/dl Ø Nilai pH cairan pleura dibawah 7. ovarium. pada sarkoma kapoksi yang diikuti oleh efusi parapneumonik. dan sindroma vena kava superior. abses paru atau bronkiektasis. menyebabkan peningkatan tekanan-tekanan negatif intra pleural. Transudat. disebabkan oleh : 1. Ø Obstruksi bronkus. dyspneu. gaster. Efusi pleura terjadi bilateral dengan ukuran jantung yang tidak membesar. Patofisiologi terjadinya efusi ini diduga karena : Ø Infasi tumor ke pleura. 6. bronkhopulmonary. b.

digitalis. Bila darah aspirasi segera membeku. Kadang-kadang torakosentesis diperlukan juga bila penderita amat sesak. Terapi ditujukan pada payah jantungnya. c. fibromyomatoma dari uterus. Perpindahan cairan dialisat dari rongga peritoneal ke rongga pleura terjadi melalui celah diafragma. torakotomi) dengan perbaikan terhadap kebocoran melalui bedah. Pertimbangan tindakan yang dapat dilakukan adalah pemasangan pintas peritoneum-venosa (peritoneal venous shunt. Hidrothoraks hepatik Mekanisme yang utama adalah gerakan langsung cairan pleura melalui lubang kecil yang ada pada diafragma ke dalam rongga pleura. Efusi biasanya di sisi kanan dan biasanya cukup besar untuk menimbulkan dyspneu berat. 2. 3. Dialisis Peritoneal Efusi dapat terjadi selama dan sesudah dialisis peritoneal. Tapi pengobatan yang terbaik adalah dengan memberikan infus albumin. Efusi terjadi unilateral ataupun bilateral. Meig¶s Syndrom Sindrom ini ditandai oleh ascites dan efusi pleura pada penderita-penderita dengan tumor ovarium jinak dan solid. Hal ini terbukti dengan samanya komposisi antara cairan pleura dengan cairan dialisat. Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah terpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. Pengobatan adalah dengan memberikan diuretik dan restriksi pemberian garam. atau torakotomi pipa dengan suntikan agen yang menyebakan skelorasis. diuretik dll. Efusi yang terjadi kebanyakan bilateral dan cairan bersifat transudat. tumor ovarium ganas yang berderajat rendah tanpa adanya metastasis. Darah hemothorak yang baru diaspirasi tidak membeku beberapa menit. Bila kelainan jantungnya teratasi dengan istirahat. maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada. Tapi yang agak sulit menerangkan adalah kenapa efusi pleuranya lebih sering terjadi pada sisi kanan. Tumor lain yang dapat menimbulkan sindrom serupa : tumor ovarium kistik. 4. Klinisnya merupakan penyakit kronis. Kadar Hb pada hemothoraks selalu lebih besar 25% kadar Hb dalam darah. Asites timbul karena sekresi cairan yang banyak oleh tumornya dimana efusi pleuranya terjadi karena cairan asites yang masuk ke pleura melalui porus di diafragma. tidak ada alternatif yang baik. .Tekanan hidrostatik yang meningkat pada seluruh rongga dada dapat juga menyebabkan efusi pleura yang bilateral. Darah Adanya darah dalam cairan rongga pleura disebut hemothoraks. 5. Apabila penatalaksanaan medis tidak dapat mengontrol asites dan efusi. efusi pleura juga segera menghilang. Hipoalbuminemia Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotik protein cairan pleura dibandingkan dengan tekanan osmotik darah.

Di sini ia dapat terbawa ke organ tubuh lain. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi : 1) Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat 2) Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas. kalsifikasi di hillus atau kompleks (sarang) Ghon 3) Berkomplikasi dan menyebar secara: Per kontinuitatum. yakni menyebar ke sekitarnya . Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju illus (limfangitis lokal). ia tumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Hal ini karena kuman berada dalam sifat dormant yang suatu saat kuman dapat bangkit kembali dan aktif kembali. Berdasarkan Kuman Penyebab 1. ke organ tubuh lainnya . Bakteriologi Penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Kuman yang bersarang tadi akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. Kuman yang menetap di jaringan paru. Dapat juga kuman tertelan bersama tertelan besama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus Secara limfogen. Sarang primer + limfangitis lokal + limfadenitis regional = kompleks primer. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid. Sifat ini menunjukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. sehingga bagian apikal ini merupakan predileksi penyakit tuberkulosis. tergantung dari ada tidaknya sinar ultraviolet.Secara bronkogen pada paru ysng bersangkutan maupun paru yang di sebelahnya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain. kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Kuman dapat masuk lewat luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini sangat jarang terjadi. ke organ tubuh lainnya Secara hematogen. Kuman ini tahan terhadap asam dikarenakan kandungan asam lemak (lipid) di dindingnya.6 mm. dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hillus (limfadenitis regional). Mycobacterium Tuberculosis a. berupa garis-garis fibrotik. b.B. Bila partikel infeksi terhisap oleh oang sehat. ventilasi yang baik dan kelembaban. Kuman ini dapat hidup pada udara kering maupun dingin. Bakteri ini adalah sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 mm dan tebal 03-0. Patogenesis · Tuberkulosis Primer Penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersihkan keluar menjadi droplet nudei dalam udara bebas selama 1-2 jam. Dalam suasana lembab dan gelap. Kuman ini hidup sebagai parasit intraseluter didalam sitoplasma makrofag. ia akan menempel pada jalan napas atau paru-paru.

Memadat dan membungkus diri sehingga menjadi tuberkuloma. Kadang-kadang berakhir sebagai kavitas yang terbungkus. jumlah kuman. dan menjadi lembek membentuk jaringan keju. Hal ini didukung dengan ditemukannya limfossit T. Kavitas dapat : . . · Tuberkulosis Post-Primer Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (Post-Primer). menimbulkan reaksi hipersensitif tipe lambat. rnediastinal. menciut dan berbentuk seperti bintang disebut stellate shaped. efusi pleura diduga disebabkan oleh rupturnya fokus subpleural dari jarngan nerotik perkijuan sehingga tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga pleura. Pada penvakit TBC paru. Tuberkulosis Post-Primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru-paru (bagian apikal posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiller paru.Melus kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru. tapi segera menyembuh dan menimbulkan jaringan fibrosis. menimbulkan perkapuran dan akan sembuh delam bentuk perkapuran. yaitu buila terjadi infeksi sekunder karena adanya fitula bronchopulmonal. virulensi. disebut open heated cavity. lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar.Semua kejadian diatas tergolong ke dalam perjalanan tuberklosis primer. Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel DatiaLanghans (sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan bermacammacam jaringan ikat. Kavitas ini mula-mula berdinding tipis. Bergantung dari imunitas penderita. Efusi pleura yang disebabkan oleh TBC dapat juga berupa empyema.Bersih dan menyembuh. Dapat juga menyembuh dengan membungkus diri dan menjadi kecil. Bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadilah kavitas. Ada yang membungkus diri menjadi lebih keras. Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Cara penyebaran lainnya diduga secara hematogen dan secara perkontinuitatum dari kelenjarkelenjar getah bening servikal. Pada thoraxosentesis ditemukan . Tuberkuloma ini dapat mengapur dan menyembuh atau dapat aktif kembali menjadi cair dan jadi kavitas lagi. atau berupa chylothoraxs yaitu bila terdapat penekanan kelenjar atau tarikan fibrin pada duktus thoracicus. Interleukin-2 dan Interleukin reseptor pada cairan pleura. . sehingga menjadi kavitas sklerotik. dan dari abses di vertebrae. 3) Sarang dini yang meluas dimana granuloma berkembang menghancurkan jaringan sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis. Efusi yang disebabkan oleh TBC biasanya unilateral pada hemithoraxs kiri. sarang dapat menjadi : 1) Diresorpsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut 2) Sarang yang mula-mula meluas. jarang yang masif. Sarang ini selanjutnya mengikuti perjalanan seperti yang disebutkan terdahulu.

bronkial Dahak di saluran napas : ronki basah. diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya Kontrimoksazol atau Amoksisillin) selama 1-2 minggu. sesak nafas. e. · · Gejala-gejala Tuberculosis Batuk berdahak 3 minggu atau lebih Sering disertai darah. meningitis. demam hilang timbul tidak terlalu tinggi. lakukan pemeriksaan foto rontgen dada. bila cairan berupa darah. berat badan turun. penarikan. penderita tersebut bukan TBC. · Kalau hasil rontgen tidak mendukung TBC. serosanguineous atau merah muda diagnosis TBC harus diragukan. Diagnosis Tuberculosis pada orang dewasa Dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis.cairan berwarna kuning jernih. namun gejala klinis tetap mencurigakan TBC. · Gejala umum: badan lemah. maka penderita didiagnosa sebagai penderita TBC BTA positif. osteomielitis. didiagnosis sebagai penderita TBC BTA negatif. didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif. Bila tidak ada perubahan. · Bila hasil rontgen tidak mendukung TBC. malaise. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BTA hasilnya positif. d. Rontgen positif. maka pemeriksaan dahak SPS diulangi. ulangi pemeriksaan dahak SPS. · Kalau hasil SPS positif. Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif. · · · Pemeriksaan Fisik Tanda-tanda infiltrat : redup. berkeringat malam. mengandung > 3 gr protein/ 100 ml. nafsu makan turun. nyeri dada. gibus. · Bisa muncul gejala TBC ekstra paru: pembesaran kelenjar. pendorongan. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. untuk mendukung diagnosis TBC. · Kalau hasil rontgen mendukung TBC. · Kalau hasil SPS tetap negatif. c. · Bila hasil rontgen mendukung TBC. kaviitas. atelektase . ronki kering Penyempitan : wheezing.

Apablia panduan obat ayang digunakan tidak adekuat (jenis. gibus. supaya semua kuman dapat dibunuh. Komplikasi TBC · Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat menglakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. Efusi pleura g. sebaiknya pada saat perut kosong. persendian. pnemotoraks dan schwarte · Tanda-tanda kelainan ekstra paru seperti scrofuloderma.· Efusi. · · · Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak. Insufislensi Kardiopulmoner (Cardiopulmonary Insuficiency). f. tulang. · Dosis tahap intensif dan tahap lanjutan ditelan sebagau dosis tunggal. meningitis dan lain-lain. · · · · Tujuan Pengobatan Menyembuhkan penderita Mencegah kematian Mencegah kekambuhan Menurunkan tingkat penularan h. (DOTS = Directly Observed Treatment Short Course) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). dan ginjal. osteomiditis. dosis dan jangka waktu pengobatan). · Pneumothorax (adanya udara didalam ronaga pleura) spontan kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. . kuman akan berkembang menjadi resisten. Prinsip Pengobatan · Kombinasi beberapa jenis dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan. · Pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat. · Kolaps dini lobus akibat retraksi broakial · Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reahtif) pada paru.

Penderita berumur > 60 tahun dosisnya 0. Sebagian penderita dengan BTA (+) menjadi (-) pada akhir pengobatan tahap intensif · Lanjutan Jenis obat lebih sedikit namun dalam jangka waktu lebih lama. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kgBB Dosis intermiten 3 kali seminggu = 30 mg/kgBB · Streptomisin (S) Bakterisida. yaitu : · Intensif Obat yang diberikan setiap hari. Dosis harian maupun dosis intermitten 3 kali seminggu = 10 mg/kgBB · Pirazinamid (Z) Bakterisida. membunuh kuman di dalam sel dengan suasana asam. dosisnya 0. membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh Isoniazid. Dosis harian = 5 mg/kgBB Dosis intermitten 3 kali seminggu 10 mg/kgBB · Rimfampisin (R) Bakterisida. Cara Pengobatan TBC Pengobatan diberikai dalam 2 tahap. Dosis harian ataupun dosis intermitten 3 kali seminggu = 15 mg/kgBB. Efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif. Dosis harian = 25 mg/kgBB.75 mg/kgBB.5 mg/kgBB. Penderita berumur sampai 60 tahun.i. j. · Jenis dan Dosis OAT Isoniazid/INH (H) Bakterisid. Bila diberikan secara tepat biasanya penderita yang menular menjadi tidak menular dalam jangka waktu 2 minggu. k. Panduan OAT di Indonesia . dosis intermitten 3 kali seminngu 35 mg/kgBB · Etambutol (E) Bakteriostatik.

3 x seminggu Penderita TBC paru BTA (-) Rontgen (+) yang sakit berat Penderita TBC ekstra paru berat Kategori II : 2R7117E7Z7S7/IR7H7E7Z7/5R3H3E3 Tahap intensif : 2 bulan: Isoniazid Rifampisin Pirazinamid Ethambutol Streptomisin Inj.Kategori I : 2R7H7E7Z7/4H3R3 Tahap Intensif : 2 bulan: Isomazid Rifampsin 1 x 300 mg setiap hari 1 x 450 mg setiap hari 3 x 500 mg setiap hari 3 x 250 mg setiap hari 2 x 300 mg 3 x seminggu Pirazinamid Ethambutol Tahap lanjutan : 4 bulan: Isoniazid Rifampisin Diberikan untuk : · · · Penderita baru TBC paru BTA (+) 1 x 450 mg.75 gr setiap hari 1 x 300 mg setiap hari 1 x 450 mg setiap hari Pirazinamid Ethambutol Tahap lanjutan: 5 bulan: Isoniazid Rifampisin Ethambutol Diberikan untuk : · Penderita kambuh 3 x 500 mg setiap hari 3 x 250 mg setiap hari 2 x 300 mg 3 x seminggu 1 x 300 mg setiap hari 1 x 450 mg 3 x seminggu 3 x 250 mg 3 x seminggu . 1 bulan Isonlazid Rifampisin 1 x 450 mg setiap hari 3 x 500 mg setiap hari 3 x 250 mg setiap hari 0.

Aspergillus d. Virus dan Mycoplasma pneumoni e. Staphylococcus aureus. pleuritis exudativa unilateral. Parasit. berikan obat sisipan (RHEX) setiap hari selama 1 bulan. Bacteroides fragilis c. Non Myobacterium Tubercualaosis Bisa dikarenakan : a. g. Haemophilus influenza b. Penyakit rheumatoid . f. Jamur : Histoplasma siscovidiodomycosis. yaitu TBC kelenjar limfe. Obat Sisipan (HRZE) Bila pada akhirnya tahap intensif pengobatan penderita baru BTA dengan kategori I atau BTA pengobatan ulang dengan kategori II. sendi dan kelenjar adrenal. Clostridium perringens.· · Penderita gagal Penderita dengan pengobatan setelah lalai Kategori III: 2R7H7Z7/4R3H3 Tahap intensif: 2 bulan: Isoniazid Rifampisin Pirazinamid 1 x 300 mg setiap hari 1 x 450 mg setiap hari 3 x 500 mg setiap hari 2 x 300 mg 3 x seminggu Tahap lanjutan: 4 bulan: Isoniazid Rifampisin Diberikan untuk : · BTA (-) dan Rontgen (+) sakit ringan 1 x 450 mg 3 x seminggu · Penderita TBC ekstra ringan. hasil dahak masih BTA (+). Amoeba Hydatul disease SLE h. 2. TBC tulang (kecuali tulang belakang). TBC kulit.

efusi pleura idiopatik ini kebanyakan dianggap sebagai pleuritis tuberkulosa. dernarn menggigil pada empilema 6. Demam subfebris pada TBC. Dekompensasi jantung m.i. j. Ascites pada sirosis hepatis Dari pemeriksaan fisik didapatkan (pada sisi yang sakit) 1. Keadaan ini dapat digolongkan dalam efusi pleura idiopatik. sedangkan pada negara-negara yang maju sering dianggap sebagai pleuritis karena penyakit kolagen atau neoplasma. analisis cairan. Neoplasma l. Berat badan menurun pada neoplasma 4. Dinding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal 2. kontaminasi dengan asbestos. Asbestosis Obat-obatan: Bromocriptine. Penyebab efusi pleura ini banyak yang beluam jelas. tapi diperkirakan karena adanya infeksi. Batuk berdarah pada karsinoma bronchus atau metastasis 5. Cairan pleuranya kebanyakan bersifat eksudatif dan berisi beberapa jenis sel. dll. Perkusi dull sampal flat . walaupun telah dilakukan prosedur diagnostik secara berulang-ulang (pemeriksaan radiologis. reaksi hipersensitivitas. dan trolene sodium. nitrofuratoin k. Hasil pemeriksaan dengan operasi pun kadang-kadang hanya menunjukkan pleura yang menebal karena pleuritis yang non spesifik. GEJALA EFUSI PLEURA Dan anamnesa didapatkan : 1. Vokal fremitus menurun 3. Trauma n. Rasa berat pada dada 3. Pada daerah-daerah dengan prevalensi tuberkulosis yang tinggi (negara-negara yang sedang barkembang). methysergide. Sesak nafas 2. dll). kadang-kadang masih belum bisa didapatkan diagnosis yang pasti. biopsi pleura. Idiopatik Pada beberapa efusi pleura.

ampisilin 4 x 1 gram dan metronidazol 3 x 500 mg. PENGOBATAN EFUSI PLEURA 1. Dengan pengobatan ini cairan efusi dapat diserap kembali untuk menghilangkan dengan cepat dilakukan thoraxosentesis. Bunyi pernafasan menruun sampai menghilang 5. Iritasi dari diafragma pleura posterior dan perifer yang dipersarafi oleh G. nyeri dihasilkan dari pleura parietalis yang inflamasi dan mendapat persarafan dari nervus intercostal. Pendorongan mediastinum ke sisi yang sehat dapat dilihat atau diraba pada treakhea Nyeri dada pada pleuritis : Simptom yang dominan adalah sakit yang tiba-tiba seperti ditikam dan diperberat oleh bernafas dalam atau batuk. pneumothoraxs. Nyeri biasanya dirasakan pada tempat-tempat terjadinya pleuritis. · Pleuritis karena bakteri piogenik diberi kemoterapi sebelum kultur dan sensitivitas bakteri didapat. Iritasi bagian central diafragma pleura yang dipersarafi nervus phrenicus menyebabkan nyeri menjalar ke daerah leher dan bahu.4. Thoraxosentesis. indikasinya : · · · · Menghilangkan sesak yang ditimbulkan cairan Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal Bila terjadi reakumulasi cairan Kerugiannya: hilangnya protein. Pengobatan Kausal · Pleuritis TB diberi pengobatan anti TB. infeksi. 2. Nervuis intercostal terbawah bisa menyebabkan nyeri pada dada dan abdomen. Terapi lain yang lebih penting adalah mengeluarkan cairan efusi yang terinfeksi keluar dari rongga pleura dengan efektif. Pleurodesis . tapi bisa menjalar ke daerah lain : 1. Water Sealed Drainage Penatalaksanaan dengan menggunakan WSD sering pada empyema dan efusi maligna. Pleura visceralis tidak sensitif. 3. Indikasi WSD pada empyema : · · · Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi Nanah terus terbentuk setelah 2 minggu Terjadinva piopneumothoraxs 4. 2.

2.Tindakan melengketkan pleura visceralis dengan pleura parietalis dengan menggunakan zat kimia (tetrasiklin. karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. corynebacterium. yang mungkin merupakan transudat. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura. talk) atau tindakan pembedahan. bleomisin. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. Pembentukan cairan yang berlebihan. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik. virus). PENCEGAHAN Lakukan pengobatan yang adekuat pada penyakit-penyakit dasarnya yang dapat menimbulkan efusi pleura. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura. Etiologi 1. sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. tumor mediatinum. karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis. proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. 2002). kardiovaskuler. pneumonia. eksudat. Merujuk penderita ke rumah sakit yang lebih lengkap bila diagnosa kausal belum dapat ditegakkan A. parfum. 1995) B. tromboembolik. (Price C Sylvia. Tindakan dilakukan bila cairan amat banyak dan selalu terakumulasi kembali. Efusi dapat berupa cairan jernih. bronkiektasis. thiotepa. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar :    Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural . 2000) Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. karena radang (tuberculosis. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. Secara normal. penyakit ginjal. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. dan infeksi.

subfebril (tuberkulosisi). Segitiga Grocco-Rochfusz.  Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. karena cairan akan berpindah tempat. yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain. pada perkusi didapati daerah pekak. Bila cairan banyak. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). Tanda dan Gejala  Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia). pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki. sebagian kecil lainnya (1020%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura C. peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura. banyak riak. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang.  Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. fremitus melemah (raba dan vocal). yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. tekanan koloid dan daya tarik elastis. panas tinggi (kokus). Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.  Didapati segitiga Garland. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. banyak keringat. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. menggigil. D.  Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam. dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. penderita akan sesak napas. Patofisiologi Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi. . dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu). batuk. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan.  Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

amylase. efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu. torasentesis berulang mengakibatkan nyeri. untuk mencegah penumpukan kembali cairan. Bila cairan lebih 300ml. Bila penyebab dasar malignansi.E. Pemeriksaan Diagnostik  Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada). biakan tampilan. Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada. pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks).   Ultrasonografi Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan. sirosis). Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak). pewarnaan gram. dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. hitung sel darah merah dan putih. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru. akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Penatalaksanaan medis Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar. penipisan protein dan elektrolit. dan pH. dan terapi diuretic. Water Seal Drainase (WSD) 1. protein). basil tahan asam (untuk TBC). Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. bedah plerektomi. seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut. pada sela iga ke-8. Pengertian . Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior. pneumonia. berdarah (hemotoraks). pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). Agen yang secara kimiawi mengiritasi. analisis sitologi untuk sel-sel malignan. laktat dehidrogenase (LDH).  Biopsi pleura mungkin juga dilakukan F.  Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri. sitologi. pemeriksaan kimiawi (glukosa. warna. dan kadang pneumothoraks. G. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co. untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu. berat jenis. gagal jantung kongestif. Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan.

4. . Indikasi a. Torakotomi d. Basal  Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller  Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura 5. Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi 3. Tempat pemasangan a. 2. botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal. cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada. Apikal  Letak selang pada interkosta III mid klavikula  Dimasukkan secara antero lateral  Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura b.WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. Efusi pleura e. y System tiga botol Sistem tiga botol. pasca bedah toraks c. kelebihan anti koagulan. Tujuan Pemasangan     Untuk mengeluarkan udara. Jenis WSD y Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks y Sistem dua botol Pada system ini. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. Pneumothoraks karena rupture bleb. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. luka tusuk tembus b. Hemothoraks karena robekan pleura.

penggunaan otot aksesori. penurunan pengembangan (area sakit). Pernapasan Gejala : Kesulitan bernapas. GDA taknormal. kaji fremitus. retraksi interkostal. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu. Makanan / cairan Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus 5. Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat). disritmia. Pengkajian 1. irama jantung gallop. abdomen Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit. . penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada. Aktifitas/istirahat Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat 2. Tanda : Takipnea. bahu. DVJ 3. proses inflamasi. riwayat bedah dada/trauma. perubahan tanda vital) Auskultasi bunyi napas Catat pengembangan dada dan posisi trakea. Diagnosa Keperawatan 1.H. perubahan kedalaman pernapasan. sianosis. Kulit : pucat. nyeri/ansietas. Pola napas tidak efektif b. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia Intervensi :     Identifikasi etiologi atau factor pencetus Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat. sianosis. gangguan musculoskeletal.berkeringat. krepitasi subkutan I.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan). perilaku distraksi 6. kemungkinan menyebar ke leher. Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps. Integritas ego Tanda : ketakutan. Sirkulasi Tanda : Takikardi. hipertensi/hipotensi. nyeri/kenyamanan Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam. gelisah 4. gangguan pengembangan dada. Batuk. sianosis. takipneu.

Berikan oksigen melalui kanul/masker Nyeri dada b. Awasi pasang surutnya air penampung e. kurang pendidikan keamanan/pencegahan Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas Kriteria hasil : Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik Intervensi :    Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase. ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan   Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut. Catat karakter/jumlah drainase selang dada.  Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur Bila selang dada dipasang : a. skala dan intensitas nyeri Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri Berikan analgetik sesuai indikasi Resiko tinggi trauma/henti napas b. periksa pengontrol penghisap. catat kondisi kulit.d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol Pasien tampak tenang Intervensi :      3. Observasi gelembung udara botol penampung c. system drainase dada.d proses cidera.  2. catat gambaran keamanan Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah Awasi sisi lubang pemasangan selang. Kaji terhadap adanya nyeri. . batas cairan b. Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran d.

Ed8. DAFTAR PUSTAKA 1. Price. Pengertian Effusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura (Price & Wilson 2005). 6. Jakarta. Media Aesculapius. EGC.1982. 8. Hudak. 2000.4. Jakrta.EGC. 1999 3. 5. Vol. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. EGC. Jakarta. Jakarta. EFUSI PLEURA A. Syamsuhidayat. nutrisi. 1998. Vol. istirahat. Susan Martin Tucker. 7.Pleura merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura visceralis). 1995. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. 1997 4. Wim de Jong. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. Jakarta. Brunner and Suddarth¶s. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang masalahnya Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah Intervensi :      Kaji pemahaman klien tentang masalahnya Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang Kaji ulang praktik kesehatan yang baik. Edisi Revisi. EGC. Ed3. 2. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfer. 1997. . Ed5. Buku Ajar Ilmu Bedah. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. FKUI. Baughman C Diane. diagnosis. Diantara pleura parietalis dan pleura visceralis terdapat suatu rongga yang berisi cairan pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan bergerak selama pernafasan. Keperawatan medical bedah. latihan Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien . dan evaluasi.1. Sylvia A. EGC. Ed4. Doenges E Mailyn. Purnawan J. dkk. Kapita Selekta Kedokteran.1. EGC.Carolyn M. Jakarta EGC. Smeltzer c Suzanne. Ed2. 2002. Jakarta.

Cairan dalam keadaan normal dalam rongga pleura bergerak dari kapiler didalam pleura parietalis ke ruang pleura dan kemudian diserap kembali melalui pleura visceralis. .sehingga mencegah kolaps paru. pleura mungkin mengalami peradangan atau udara atau cairan dapat masuk ke dalam rongga pleura menyebabkan paru tertekan atau kolaps. Selisih perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura visceralis lebih besar daripada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan permukaan pleura visceralis lebih besar daripada pleura parietalis sehingga pada ruang pleura dalam keadaan normal hanya terdapat beberapa mililiter cairan. Bila terserang penyakit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->