P. 1
Revitalisasi Lembaga Pengawas Internal Pemerintah

Revitalisasi Lembaga Pengawas Internal Pemerintah

|Views: 419|Likes:
Published by bobysurya

More info:

Categories:Types, Research
Published by: bobysurya on Nov 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2012

pdf

text

original

Revitalisasi Lembaga Pengawas Internal Pemerintah (Peran dan Kedudukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dalam Sistem

Pengawasan Keuangan Negara)

Oleh: Arifuddin Hamid

A. Reformasi Birokrasi: Sebuah Pengantar Bicara masalah reformasi birokrasi di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh praktek birokrasi semasa Orde Baru. Saat itu birokrasi menjadi mesin politik, alat untuk mempertahankan kekuasaan. Pejabat politik yang mengisi birokrasi pemerintah sangat dominan. Kewenangan yang terlalu besar itu hanya menonjolkan peran birokrasi sebagai pembuat kebjakan dibanding pelaksana kebijakan, lebih menguasai daripada melayani masyarakat, sehingga birokrasi lebih dianggap sebagai sumber masalah dan tak mampu memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tahun 1998 yang dianggap sebagai pintu gerbang reformasi, dimaknai sebagai usaha perubahan yang menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan bernegara, seperti politik, hukum, ekonomi, sosial dan budaya. Reformasi juga sering diartikan sebagai suatu usaha perubahan pokok dalam suatu sistem, yang bertujuan mengubah struktur, tingkah laku, keberadaan atau kebiasaan yang telah lama, atau sebagai suatu proses perubahan organisasi untuk mencapai efektivitas dan tujuan organisasi. Inti tujuan gerakan reformasi adalah memperbaiki kerusakan-kerusakan yang sudah diwariskan, atau merombak segala tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya yang pernah ada. Selain itu, reformasi juga merupakan titik awal keinginan adanya “perubahan” terhadap tata kehidupan secara keseluruhan, termasuk juga keinginan perubahan hubungan antar tata hukum, organisasi publik dan birokrasi pemerintahan1. Selanjutnya, reformasi juga bertujuan terciptanya pelayanan publik yang responsif, tidak memihak dan
1

Andhika Danesjvara, Beberapa Masalah dalam Reformasi Birokrasi dan Kelembagaan di Indonesia, makalah disampaikan dalam seminar “Reformasi Birokrasi Indonesia”, diselenggarakan oleh DPRM UI, Balai sidang UI-Depok,16 september 2009.

1

professional, yang bertujuan mengurangi rendahnya kepercayaan (trust deficit) terhadap peran pemerintah dalam memenuhi dan melayani kepentingan masyarakat2. Jatuhnya Orde Baru yang dipicu oleh krisis ekonomi telah menimbulkan semangat reformasi di kalangan masyarakat dan para penyelenggara negara yang menginginkan adanya demokrasi, otonomi dan kebebasan dari kekuasaan eksekutif yang sangat kuat tanpa adanya check and balance. Segala sesuatu yang berbau Orde Baru harus dihilangkan dan diganti oleh sesuatu yang baru tanpa mempertimbangkan bahwa ada tatanan ataupun sistem yang sudah baik sebelumnya. Penguatan kekuasaan ekstern yang diharapkan dapat

menyeimbangkan fungsi check and balance tersebut tidak terwujud karena cenderung kebablasan. Yang timbul adalah ketidakseimbangan baru dimana kekuasaan legislatif dan pengawasan eksternal menjadi sangat kuat dan eksekutif menjadi bulan-bulanan. Berbagai komisi-komisi pembantu negara (state auxiliary agencies) dibentuk satu persatu yang jumlahnya sudah sedemikan banyak. Hal ini tentu menyiratkan adanya kelemahan atau ketidakefektifan dalam kelembagaan pemerintah, yang jika tidak diperbaiki, akan berdampak pada terjadinya delegitimizaton of the state yang berisiko ke arah failed state. Kondisi failed state dimaksud terjadi ketika suatu negara telah gagal menjalankan salah satu fungsi fundamentalnya secara politis yaitu menjaga kestabilan sekaligus menjalankan fungsi pengawasan pada setiap teritori wilayahnya sebagai wujud tegaknya kedaulatan modern nation state3 Mengacu fakta demikian, adanya tata kelola pemerintahan yang berjalan sesuai dengan agenda reformasi adalah sebuah keharusan. Pemerintah sebagai suatu organisasi, mempunyai peranan yang begitu penting untuk mempertahankan stabilitas dalam kompleksitas masyarakat pada setiap perubahan institusional, sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peranan tersebut dilakukan melalui alat/perangkat perlengkapan negara atau institusi-institusi lain yang dapat
2

3

Prijono Tjiptoherijanto, Globalization and Governance: Prescription or poison?, makalah disampaikan dalam seminar “Reformasi Birokrasi dan Kepegawaian”, Balai sidang UIDepok,16 september 2009. Anthony Giddens, The Nation-State and It’s Violence, 1985,

2

menunjang penyelenggaraan peran negara. Organisasi yang sudah atau pernah didirikan, akan dianggap kurang mampu berfungsi efektif jika tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang ada. Seandainya institusi politik, hukum maupun sosial yang diciptakan negara, tidak mampu menangani dan mengurangi masalah/tekanan yang mungkin muncul dalam perubahan, maka pemerintah dapat meningkatkan atau memperluas campur tangannya secara langsung dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Ini berarti, revitalisasi peran dan fungsi lembaga negara yang bersangkutan harus menjadi sebuah kebijakan transformatif guna mengembalikan efektivitas dan ketajaman tupoksi-nya. Dalam perspektif akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, penguatan sistem presidensial dilakukan melalui peningkatan efektivitas sistem pengendalian intern yang meliputi efektivitas business process, risk management dan internal audit. Persis dalam kondisi seperti inilah, badan pengawasan keuangan dan pembangunan (BPKP) sesungguhnya mempunyai peran sentral dalam melakukan pengawasan internal pemerintahan.

B. BPKP sebagai Lembaga Pengawas Internal Pemerintah Pengawasan dalam menajemen hakikatnya diarahkan untuk menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai organisasi. Dalam kaitannya dengan keuangan negara, pengawasan ditujukan untuk menghindari terjadinya korupsi, penyelewengan, dan pemborosan anggaran negara yang tertuju pada aparatur atau pegawai negeri, atau lembaga negara/lembaga pemerintahan yang mengelola anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Dengan dijalankannya pengawasan tersebut, diharapkan mekanisme anggaran negara dapat berjalan sebagaimana dikehendaki semula sesuai dengan rencananya, serta benar-benar menjamin penggunaan APBN untuk tujuan bernegara. Hak ini sejalan dengan konsep manajemen, dimana pengawasan merupakan usaha untuk menjaga agar suatu pekerjaan dapat memperkecil timbulnya hambatan-hambatan, yang jika telah terjadi dapat segera diketahui dan dilakukan tindakan-tindakan perbaikannya.

3

Dalam perspektif umum, pengawasan membantu melaksanakan kebijakan atau program yang telah ditetapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Bahkan, pengawasan menciptakan suatu sistem penentuan atau evaluasi mengenai sejauhmana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana. Selain itu, pengawasan dapat mendeteksi sejauhmana penyimpangan kebijakan atau program yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut, sehingga tidak menggangu rencana. Melalui pengawasan diupayakan suatu penataan struktur yang meletakkan dasar-dasar kerja yang sesungguhnya. Pengawasan yang perlu dilakukan adalah yang seimbang antara pegangan pada rule of law dan orientasi pencapaian tujuan (mission driven), menegakkan kebenaran formal dan kebenaran materil, dan mencakup pengawasan preventif dan kuratif, serta berdasarkan keseimbangan asas praduga tidak bersalah (presumption of innocent) dan asas pembuktian terbalik (presumption of guilt). Melihat kondisi birokrasi dan pemerintahan, Azhar kasim menyatakan bahwa telah telah terjadi tiga permasalahan laten yang menyebabkan buruknya kualitas sistem manajemen kepemerintahan, yakni pengawasan yang masih difokuskan pada proses penyelenggaraan kegiatan birokrasi pemerintah dan penekanan masih pada ketaatan terhadap juklak dan juknis (rule driven) daripada pencapaian tujuan (tupoksi) yang berorientasi pada mission driven, kapabilitas administrasi negara masih rendah dan fungsi pengawasan belum terintegrasi dengan baik ke dalam siklus administrasi negara, paradigma pengawasan yang lebih menekankan pada upaya menegakkan kebenaran formal, yaitu kesesuaian dokumen dan laporan keuangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kurang menekankan pada upaya mencari kebenaran materiil (kenyataan sebenarnya), serta praktek pengawasan yang lebih menekankan pada upaya kuratif daripada preventif4.

4

Azhar Kasim, Sistem Pengawasan Internal dalam Administrasi Negara Indonesia, makalah disampaikan dalam seminar nasional “Pengawasan Nasional dalam Sistem Pemerintahan Presidensial: memperkuat Fungsi Lembaga Pengawasan Internal Pemerintah dalam Era Pemerintahan Baru”, FHUI,21 Juli 2009.

4

Untuk mengatasi krisis kepercayaan terhadap pemerintah, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mengembangkan kelembagaan dan alat perlengkapan negara lainnya dalam sistem pembangunan nasional. Optimalisasi kelembagaan dalam pelaksanaan pembangunan, diharapkan menjamin ditegakkannya

kemandirian dan independensi lembaga. Caranya dapat dilakukan dengan membangun sistem yang mendorong, memperkuat, dan melestarikan kemampuan untuk membangun atas prakarsa, daya dan kemampuan sendiri, serta memperkukuh pendayagunaan potensi independensi, yang merupakan wahana bagi masyarakat, pemerintah dan badan internasional dalam mengembangkan wawasan untuk pembangunan nasional5. Pengawasan yang dilakukan lembaga pengawasan internal pemerintah merupakan bagian dari fungsi manajemen pemerintahan. Pasal 4 ayat (1) UUD 1945 menyatakan, “Presiden memegang kekuasaan pemerintahan berdasarkan undang-undang dasar”. Sebagai bagian dari proses manajemen pemerintahan negara, presiden tidak dapat sendiri melaksanakan urusan penyelengaraan pemerintahan umum, sehingga dalam pengawasan diperlukan lembaga yang bertanggung jawab kepada presiden untuk menjamin semua proses manajemen penyelenggaraan pemerintahan negara, yang kemudian dibentuk badan

pengawasan keuangan dan pembangunan (BPKP). Keberadaan BPKP sebagai lembaga internal pemerintah hakikatnya ditujukan pada tugasnya untuk mengendalikan dan mengawasi jalannya manajemen pemerintahan negara secara umum. Hal ini tentu berkaitan dengan kekuasaan presiden sebagaimana diatur dalam pasal 4 ayat (1) UUD 1945, sehingga menjadi kewenangan presiden untuk membentuk unit organisasi pemerintah di bawah presiden yang memiliki tugas dan fungsi mengendalikan manajemen pemerintahan negara dan mengawasi pengelolaan APBN yang diserahkan kepada menteri/pimpinan lembaga. Peraturan pemerintah yang merupakan operasionalisasi dari pasal 58 (1) undang-undang No.1/2004 tentang perbendaharaan negara adalah jawaban terhadap tidak adanya instrumen control presiden terhadap akuntabilitas
5

Andhika Danesjvara, hal.2, op cit.

5

pengelolaan keuangan negara termasuk revitalisasi peran BPKP. Upaya untuk menerbitkan peraturan pemerintah tersebut membutuhkan waktu yang sangat penjang selama bertahun-tahun karena banyaknya resistansi terhadap eksistensi BPKP dan kepentingan untuk membubarkan BPKP. Diterbitkannya peraturan pemerintah No.60/2008 tentang sistem pengendalian intern pemerintah

merupakan suatu terobosan (creative destruction) untuk menguatkan kembali peran pengawasan intern sebagai pilar akuntabilitas keuangan negara yang menjadi mandat presiden yang pada gilirannya akan memperkuat sistem presidensial. Mengingat ruang lingkup pengawasan akuntabilitas keuangan negara sangat luas dan memiliki kompleksitas yang tinggi, serta mengingat kewenangan pengelolaan keuangan negara baik financial maupun non financial sudah terfragmentasi, penguatan institusi BPKP sangat dibutuhkan demi mendukung terselenggaranya kegiatan pemerintahan yang efisien dan efektif, serta mengeliminasi praktik-praktik KKN. Terlebih lagi BPKP, dalam PP No.60/2008, diberikan kewajiban untuk melakukan pembinaan sistem pengendalian intern di seluruh instansi pemerintah baik di pusat maupun daerah. Internal audit dan sistem pengendalian inten pemerintah adalah pilar bagi terselenaggaranya akuntabilitas pemerintah dalam membangun good governance and clean government. Penguatan institusi BPKP sebagai perangkat pengendalian (control) yang bertindak sebagai “tangan kanan” serta “mata dan telinga” presiden akan memberikan nilai tambah dan berguna bagi efektivitas penyelenggaraan manajemen pemerintahan melalui pemberian rekomendasi dini dan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh manajemen pemerintahan dalam pengelolaan keuangan negara yang sarat dengan diskresi kebijakan guna kepentingan umum, masyarakat, bangsa dan negara dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6

C. Langkah Strategis ke Depan Dalam rangka mewujudkan kapabilitas birokrasi pemerintahan, terdapat langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan mencakup; pertama, kemampuan formulasi dan implementasi kebijakan publik yang lebih kompherensif. Kedua, kemampuan legal drafting serta pembentukan cleaing house bagi proses pembentukan peraturan perundang-undangan. Ketiga, kemampuan pelaksanaan hukum (law enforcement). Keempat, kemampuan penyelenggaraan pelayanan publik secara efisien. Kelima, kemampuan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme dalam birokrasi pemerintah. Dan keenam, kemampuan menjaga agar level transparansi dan akuntabilitas selalu tinggi. Dalam melakukan pengawasan akuntabilitas keuangan negara, harus jelas “siapa” melakukan apa dan bertanggung jawab pada siapa”. Dengan adanya berbagai bentuk, tugas dan fungsi lembaga pengawasan, perlu adanya pemahaman tentang tugas dan fungsi lembaga-lembaga pengawasan tersebut. Sekadar perbandingan, Badan Pemeriksa Keuangan sesuai undang-undang tentang BPK, nomenclature, dan kedudukannya adalah lembaga pemeriksa ekstern dengan tugas utamanya melakukan pemeriksaan keuangan (finansial and compliance audit) atas laporan keuangan pemerintah (pusat/daerah) dan lembaga negara lainnya dalam rangka pemberian opini untuk kepentingan

publik/masyarakat termasuk DPR. Pemeriksaan keuangan yang dilakukan BPK selayaknya post audit karena dilakukan setelah berakhirnya kegiatan

pemerintahan dalam satu tahun anggaran tertentu dan setelah disusunnya laporan keuangan kementerian/lembaga (after the fact). Sebagai lembaga pengawasan internal pemerintah, BPKP sudah semestinya ada dan berwenang (memiliki hak) melakukan pengendalian atau pengawasan terhadap pengelolaan APBN (mikro teknis) terhadap seluruh lembaga negara dan lembaga pemerintah yang seluruh anggarannya dikelola dengan mekanisme APBN. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), sesuai dengan nomenclatur dan tugasnya, adalah instansi pemerintah yang melakukan pengawasan intern di bidang keuangan dan kegiatan pembangunan. Pengelolaan

7

uang sebagai instrumen pembangunan perlu diawasi dan diyakinkan bahwa telah digunakan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan bangsa dan negara. Pengawasan oleh BPKP fokusnya adalah pada pencegahan (preventif) melalui audit, evaluasi dan review atas pengelolaan keuangan negara dan pembinaan sistem pengendalian intern dalam rangka mendukung peningkatan kinerja pemerintah secara berkesinambungan dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Dengan adanya PP No.60/2008 tentang sistem pengendalian intern pemerintah, tugas BPKP lebih dipertajam dengan fokus pada akuntabilitas keuangan negara melalui kegiatan pengawasan lintas sektoral, penugasan menteri keuangan sebagai bendahara umum negara (BUN), dan penugasan dari presiden. Analisa kasus korupsi mengungkapkan bahwa korpsi merupakan akibat dari lemahnya suatu sistem manajemen pengelolaan keuangan negara suatu instansi pemerintah. Ke depan, BPKP sebagai auditor presiden akan mengarahkan rekomendasinya kepada perbaikan sistem manajemen melalui capacity building dan capacity development. Dilandasi prinsip good governance yaitu transparan, akuntabel dan partisipatoris, untuk mewujudkan managerial accountability kepada presiden, maka dua hal yang sangat penting adalah: 1. Fraud prevention melalui berbagai upaya antara lain penguatan internal control system (PP No.60/2008 tentang SPIP), pelaksanaan audit operasional kepada semua penerima anggaran baik internal maupun eksternal, penerapan Fraud Control Plan maupun pelaksanaan reformasi birokrasi yang menjunjung tinggi etika birokrasi. 2. Law Enforcement melalui peningkatan efektivitas aparat penegak hukum, penindakan tindak pidana korupsi, pengamatan asset (eksekusi), dan berbagai audit investigatif dan keterangan ahli. Dalam perjalanan operasional, diantara kedua hal tersebut, potensi timbulnya berbagai dispute selalu ada. Sebagai contoh adalah diskresi kebijakan manajemen yang dilakukan oleh pimpinan. BPKP akan melakukan justifikasi terhadap diskresi kebijakan menajemen tersebut untuk memberikan jalan keluar

8

dari

kegamangan

dan

keraguan

para

pimpinan

instansi

maupun

gubernur/bupati/walikota melalui clearing house. Pengawasan internal pemerintah yang dilakukan BPKP hakikatnya merupakan pengawasan yang dilakukan oleh badan yang ada di dalam lingkungan unit organisasi pemerintah dalam rangka mengendalikan urusan pemerintahan negara secara umum. Pengawasan dalam bentuk ini dapat juga berbentuk pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat (built in control) atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh inspektorat jenderal pada setiap departemen dan inspektorat setiap provinsi, kabupaten dan kota. Adanya BPKP sebagai bagian dari alat manajemen pemerintahan, hakikatnya merupakan bagian dari tugas presiden sebagai kepala pemerintahan yang bertanggung jawab secara tunggal atas pemerintahan negara dan

pengelolaan keuangan negara, berarti pemerintah berhak memperoleh laporan pertanggung jawaban pengelolaan keuangan negara dan keuangan daerah dari semua unit pemerintahan. Upaya yang kemudian dilakukan adalah berusaha menguasai dan mengendalikan proses yang terjadi dalam masyarakat, dinamika serta gejolak yang timbul dalam setiap proses perubahan. Perubahan bisa berjalan cepat atau lambat, fluktuatif atau stabil, arahnya menuju modernisasi atau konservatif. Tetapi, hal yang mungkin lebih penting dalam perubahan (pembangunan) adalah tanggung jawab bersama antar individu, masyarakat dan pemerintah sebagai pengemban amanat rakyat, untuk mengelola dan menyelaraskan perubahan atau pembangunan itu. Penyesuaian dan penyelarasan akan dibutuhkan karena situasi perubahan serta perkembangan kehidupan masyarakat (modern) yang bersifat sangat kompleks6. Dalam konteks manajemen birokrasi (pemerintahan), Max Weber menyatakan bahwa sistem birokrasi terdapat pada masyarakat modern yang rasional, dimana dituntut pekerjaan dapat dilakukan secara efisien, transparan, terkontrol dan dapat dipertanggung jawabkan. Ciri birokrasi weberian adalah kekuasaan ada pada setiap hirarki jabatan. Semakin tinggi hirarki jabatan
6

Guy Benveniste,Bureaucracy, San Fransisco, Boyd&Fraser Publishing Company,1997,hal.151.

9

seseorang, semakin tinggi kekuasaanya. Semakin rendah hirarki jabatan seseorang, semakin tidak berdaya dia (powerless) 7. Dalam upaya menempatkan BPKP sebagai bagian dari manajemen pemerintahan negara, menjadi tepat jika arsitektur pengawasan terkelola sebagai berikut; BPKP direstorasi kedudukannya menjadi kementerian negara yang mampu menerjemahkan manajemen rencana dan pelaksanaan yang ditetapkan presiden sebagai kepala penyelenggaraan pemerintahan secara umum dan menerapkan suatu sistem pengendalian internal pemerintah secara terkoordinasi. Inspektorat jenderal departemen, inspektorat kementerian, inspektorat lembaga negara/pemerintah melakukan pemeriksaan secara kompherensif atas pelaksanaan kinerja dan pengelolaan APBN yang disampakan pula kepada presiden melalui menteri negara pengawasan/kepala BPKP. Aparat pegawas daerah melakukan pemeriksaan secara horizontal kepada pemerintah dan legislatif daerah, dan secara vertikal melaporkan hasilnya dan memberikan informasi temuannya kepada kementerian negara pengawasan/BPKP. Dengan demikian, dikembangkan mekanisme check and recheck, sehingga dapat dihindari atau dikurangi penyelewengan di tingkat sektoral pemerintahan pusat dan daerah, tanpa pelu BPKP terjun langsung dan mencampuri urusan sektoral dan daerah, kecuali dari hasil pemeriksaan laporan telah terjadi mis-information yang mempunyai indikasi penyimpangan atas penggunaan keuangan daerah. Walau bagaimanapun, guna perwujudan dari peran dan fungsi BPKP sebagai lembaga pengawas internal pemerintah, perlu adanya dukungan penuh dari beragam fungsi pemerintahan. Kepemimpinan yang kuat dan visioner sebagai pengelola perubahan sistem birokrasi pemerintahan, termasuk sistem yang lebih kompherensif menjadi sebuah keniscayaan. Selanjutnya, dukungan politik yang kuat terhadap upaya reformasi pemerintahan termasuk pembangunan sistem hukum yang menerapkan secara berimbang asas praduga tidak bersalah dan asas pembuktian terbalik, serta menghilangkan tumpang tindih peraturan perundangundangan mutlak menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

7

Miftah Thoha, Birokrasi Pemerintah Indonesia, 2003, hal.7.

10

Daftar Bacaan

Benveniste, Guy. Bureaucracy. San Fransisco: Boyd&Fraser Publishing Company. 1997. Danesjvara, Andhika. Beberapa Masalah dalam Reformasi Birokrasi dan Kelembagaan di Indonesia, makalah disampaikan dalam seminar “Reformasi Birokrasi Indonesia”, diselenggarakan oleh DPRM UI, Balai sidang UIDepok, 16 september 2009. Giddens, Anthony. The Nation-State and It’s Violence. University of California Press. 1985. Kasim, Azhar. Sistem Pengawasan Internal dalam Administrasi Negara Indonesia, makalah disampaikan dalam seminar nasional “Pengawasan Nasional dalam Sistem Pemerintahan Presidensial: Memperkuat Fungsi Lembaga Pengawasan Internal Pemerintah dalam Era Pemerintahan Baru”, FHUI,21 Juli 2009. Thoha, Miftah. Birokrasi Pemerintah Indonesia. Jakarta: Kencana. 2003. Tjiptoherijanto, Prijono. Globalization and Governance: Prescription or poison?, makalah disampaikan dalam seminar “Reformasi Birokrasi dan Kepegawaian”, Balai sidang UI-Depok, 16 september 2009.

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->