P. 1
ASKEP ISK

ASKEP ISK

|Views: 8,907|Likes:
Published by Ayu Melin

More info:

Published by: Ayu Melin on Nov 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2015

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK

)
A. Konsep Dasar Penyakit

1. Definisi/ Pengertian Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius, dengan atau tanpa disertai gejala. (Smeltzer & Bare, 2002, 1428) Tempat yang paling sering mengalami infeksi biasanya adalah kandung kemih (sistitis), uretra (uretritis), prostat (prostatitis) dan ginjal (pielonefritis). Normalnya traktus urinarius diatas uretra adalah steril.

2. Epidemiologi/ Insiden kasus Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak-anak remaja, dewasa maupun pada umur lanjut. Akan tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umur, kurang lebih 5 – 15 %. Anak wanita dan wanita dewasa mempunyai insiden infeksi saluran kemih yang lebih tinggi dibandingkan pria. halTingkat infeksi untuk wanita dikalangan usia sekolah kira-kira 1% dan 4% pada usia masa subur. ISK lebih sering terjadi pada wanita, salah satu penyebabnya karena kedekatan jarak anus dengan meatus uretra dan uretra wanita lebih pendek sehingga bakteri kontaminan lebih mudah masuk ke kandung kemih. (Potter & Perry, 2005,1687) Faktor lain adalah kecenderungan wanita menahan miksi, serta iritasi kulit lubang uretra pada waktu berhubungan kelamin. Uterus pada wanita juga dapat menghambat aliran urine pada keadaan tertentu.

David S Howes, MD (University of Chicago, 2005) memperkirakan sekitar 20% wanita mengalami masalah saluran kemih selama hidupnya.

3. Penyebab ISK

Organisme penyebab ISK yang paling sering ditemukan adalah : a. Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple) (ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing baik anatomik maupun fungsional normal. ISK sederhana ini terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superfisial kandung kemih) b. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella: penyebab ISK complicated. (ISK yang sering menimbulkan masalah karena kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakteriemia, sepsis dan shock.) c. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, d. Virus dan jamur Organisme tersebut dapat mencapai kandung kemih melalui uretra dan dapat pula merambat keatas melalui ureter sampai keginjal.

4. Factor predisposisi dalam perkembangan ISK: a. Obstruksi saluran kemih : Batu saluran kemih, hipertrofi prostat, tumor. b. Refluks vesikoureter

: congenital, disfungsi neuropathy, striktur, tuberculosis saluran kemih.

Distensi kandung kemih mengurangi aliran darah ke lapisan mukosa dan submukosa sehingga jaringan menjadi lebih rentan terhadap bakteri. nefrostomi. Bila jaringan yang mengalami inflamasi dialiri urine maka akan menimbulkan nyeri dan ras terbakar selama berkemih.demam. kateterisasi. muntah serta kelemahan terjadi ketika infeksi memburuk. 5. melekat pada mukosa dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan kandung kemih. Penyakit kronis d. : keteterisasi. Kolonisasi organisme tersebut mengiritasi dan menimbulkan peradangan pada mukosa yang selanjutnya menyebar ke sistem urinarius. Urine yang tersisa didalam kandung kemih menjadi lebih basa sehingga kandung kemih merupakan tempat yang yang ideal untuk pertumbuhan organisme. Pada normalanya kandung kemih mampu membersihkan dirinya dari sejumlah besar bakteri dalam 2 hari sejak masuknya bakteri kedalam kandung kemih. Kandung kemih yang teriritasi menyebabkan timbulnya sensasi ingin berkemih yang mendesak dan . Patofisiologi terjadinya ISK secara umum : Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. penyakit ginjal. menggigil.c. Akan tetapi infeksi dapat terjadi karena bakteri mencapai kandung kemih. Kehamilan f. mual. Iatrogenic : Diabetes Melitus. Mikroorganisme ini masuk melalui meatus uretra bisa karena terkontaminasi dengan feses. PH urine yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman. sistokopi e. sistoskopi maupun berasal dari infeksi darah dan limfe yang terinfeksi mikroorganisme). Gout.

Pada wanita menginfeksi uretra distal veriko urinaria dinamakan Sistitis sedangkan pada pria menginfeksi bagian prostat dan vesika urinaria yang disebut Prostatitis. (Smeltzer & Bare.sering. uretritis dan prostatitis) 1. 2002. Infeksi saluran kemih bawah ( sistitis. Klasifikasi ISK ISK secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu : a. Adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. (Smeltzer & Bare. batu. Ketika infeksi tidak teratasi dan menetap akan menyebar ke traktus urinarius bagian atas (ginjal) yang mengiritasi jaringan-jaringan ginjal yang terjadi secara berulang yang kemudian akan menimbulkan jaringan parut pada ginjal. Sistitis dan Prostatitis Merupakan peradangan pada Vesika urinaria. dan hipertrofi prostate. kuman penyebab tersering adalah kuman gonorrhoe atau kuman lain yang biasanya terjadi karena infeksi asending. Uretritis Merupakan suatu inflamasi pada uretra. Penyebab umum obstruksi adalah jaringan parut ginjal. Iritasi pada kandung kemih dan uretra yang sering menyebabkan darah bercampur dalam urine. 2002. 6. neoplasma. 1432) . 1436) 2.

. Terjadinya urine statis karena pengosongan yang tidak sempurna dari kandung kemih. obstruksi akan memberi kesempatan yang besar bagi bakteri untuk tumbuh dan dengan media yang lebih alkalis akan menyuburkan pertumbuhan dan multiplikasi.  nokturia. Sistitis kronis dapat terjadi karena pengobatan sistitis akut yang tidak sempurna maupun infeksi berulang yang menetap. Sistitis dapat dibagi menjadi dua yaitu sistitis akut dan kronis. Pecahnya integritas jaringan akibat erosi oleh ujung kateter / oleh pinggir batu memungkinkan bakteri masuk menyerang jaringan dan menyebabkan infeksi.  urgency.  pada pemeriksaan urine ditemukan adanya eritrosit. batu ginjal. aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih (refluk uretrovesikal). leukosit. Gejala Klinis:  Dysuria (panas dan nyeri pada saat berkemih). kontaminasi fekal.Patofisiologi : Sistitis dapat disebabkan infeksi asending dari uretra.  polakisuria. Bagian distal uretra dikolonisasi oleh bakteri yang dapat masuk ke mukosa uretra akan menyebabkan organisme melekat dan berkolonisasi di periuretral kemudian masuk ke dalam kandung kemih. dan bakteri dalam urine.  urine keruh.  nyeri /spasme pada area kandung kemih dan supra pubis.

Penyakit kronis : DM. Penyakit ginjal Patofisiologi: . dan mengganggu peristaltik ureter. Gout. Gangguan inervasi kandung kemih e. Kuman Escericia Coli ( bakteri yang paling sering) b. Pyelonefritis Inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang disebabkan karena adanya infeksi oleh bakteri. Infeksi ini dapat mengenai parenkim maupun renal pelvis (pyelum=piala ginjal) dan bakteri menyebar melalui limfatik. Abnormalitas struktur ( striktur. selanjutnya ginjal menjadi rusak. Penyebab: a. Infeksi saluran kemih atas ( Ureteritis. Pyelonefritis) 1. anomalia ketidaksempurnaan hubungan ureterovesikalis) d. Ureteritis Suatu peradangan pada ureter. Infeksi bakteri pada jaringan ginjal yang dimulai dari saluran kemih bagian bawah terus naik ke ginjal. Obstruksi ureter yang mengakibatkan hidronefrosis c. Penyebab Adanya infeksi pada ginjal maupun kandung kemih. Aliran urine dari ginjal ke buli-buli dapat terganggu karena timbulnya fibrosis pada dinding ureter menyebabkan striktura dan hydronephrosis. 2.b.

. Gejala klinis: Pielonefritis akut :  Demam dan menggigil.Pyelonefritis dapat timbul dalam bentuk akut maupun kronis. leukosit. Pielonefritis kronik dapat merusak jaringan ginjal untuk selamanya akibat inflamasi yang berulangkali dan timbulnya jaringan parut.  Sakit kepala.  Adanya keletihan. bakteri. dan eritrosit dalam urine.  Nyeri pinggang. Pyelonefritis kronis dapat terjadi dari infeksi bakteri dan juga factor lain seperti refluks urine dan obstruksi saluran kemih.  Nyeri tekan pada sudut kostovertebral (CVA). nafsu makan rendah dan BB menurun. Hal ini dapat mempengaruhi fungsi ginjal walaupun jarang menyebabkan kegagalan ginjal.  Pembengkakan ginjal atau pelebaran penampang ginjal Pielonefritis kronis :  Adanya serangan pielonefritis akut yang berulang-ulang biasanya tidak mempunyai gejala yang spesifik. Pielonefritis akut disebabkan oleh infeksi bakteri yang menjalar dari saluran kemih bagian bawah keatas ginjal.  Gejala ISK bawah seperti dysuria dan sering berkemih umumnya terjadi kadang disertai dengan mual dan muntah akibat reflek reno intestinal.  Leukositosis.

 Ketidaknormalan kalik dan adanya luka pada daerah korteks. azotemia. proteinuria. 7. Leukosuria positif (+) bila terdapat > 5 leukosit/lpb (lapang pandang besar) sedimen air kemih Hematuria positif (+) bila terdapat 5-10 eritrosit/lpb sediment air kemih. Perkusi daerah costovertebralis untuk mengkaji nyeri tekan panggul 8.  Ginjal mengecil dan kemampuan nefron menurun dikarenakan luka pada jaringan. haus yang berlebihan. warna. anemia. bau dan kejernihan urine) b. Dimana Leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. . Adanya poliuria. sel darah putih (leukosit). Palpasi kandung Kemih (V U) c.  Kesehatan pasien semakin menurun. Inspeksi daerah meatus (Pengkajian sekret. pada akhirnya pasien mengalami gagal ginjal. dan endapan sel darah merah (eritrosit). Pemeriksaan Fisik a. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang a. pyuria dan kepekatan urin menurun. jumlah. Urinalisis Memperlihatkan adanya bakteriuria. asidosis.

Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. c. sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. hodronerosis atau hiperplasie prostate. 4) Urogram IV atau evaluasi ultrasonic. Pielografi (IVP). Bakteriologis 1) Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik (102 – 103 organisme koliform/mL urin (+) piuria) 2) Hitung koloni bila terdapat sekitar 100. Metode Tes 1) Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat).000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. . b. adanya batu. Tes Griess positif : terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. 3) Urogram intravena (IVU). massa renal atau abses. dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius.Hematuria bias disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. neisseria gonorrhoeae. 2) Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): untuk mengetahui apakah terdapat organisme menular secara seksual misalnya pada Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (Klamidia trakomatis. msistografi. herpes simplek).

tempat terjadinya infeksi dan jenis mikroorganisme yang menginfeksi. Diagnosis / Kreteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya jumlah bakteri yang bermakna dalam urin yang seharusnya steril dengan atau tanpa disertai piuria.Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu . 10. Terapi tanpa obat pada ISK : Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas microorganisme yang mungkin naik ke uretra. Therapy Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina.Terapi dosis− rendah untuk supresi . Terapi antibiotik idealnya harus dapat ditoleransi dengan baik. mencapai konsentrasi tinggi dalam urin dan mempunyai spektrum aktivitas terhadap mikroorganisme penyebab infeksi.Terapi antibiotika dosis tunggal .Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari . Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) dapat dibedakan atas: . Pemilihan antibiotik untuk pengobatan didasarkan pada tingkat keparahan. a. untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri feces b.9.

harus segera ditangani. kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan. abses). bactrim. Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. terapi preventif dosis rendah. tetapi E. septra). Pengkajian ( Assesment ) Dalam melakukan pengkajian pada klien ISK menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. jika muncul salah satu. factor kausatif (mis: batu. Pyridium. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. d. Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin).c. suatu analgesic urinarius juga dapat digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi. trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ. Setelah penanganan dan sterilisasi urin. Pemakaian obat yang berkelanjutan perlu dipikirkan kemungkinan adanya:  Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan  Interansi obat  Efek samping obat  Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal seperti efek nefrotosik obat dan Efek toksisitas obat B. meliputi : Identitas klien . Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi.

jantung. Riwayat psikososial: 1) Usia. dan jumlah) b. Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah f. Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas. Bagaimana haluaran volume orine. Pengkajian fisik : 1) Palpasi kandung kemih 2) Inspeksi daerah meatus Diantaranya: a. warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine? e. pendidikan 2) Persepsi terhadap kondisi penyakit . Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas g.Riwayat kesehatan : 1) Riwayat infeksi saluran kemih 2) Riwayat pernah menderita batu ginjal 3) Riwayat penyakit DM. Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan. Adakah bau urine yang menyengat? d. Adakah disuria? c. frekuensi. pekerjaan. jenis kelamin.

Suhu aksila : 370 C 2. Adanya eritrosit. perawatan dan terapi medis Misalkan dari hasil pengkajian diatas data pasien yang didapat yaitu a. dan bakteri dalam urine.3) Mekanisme koping dan system pendukung 4) Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga a. Kencing mengeden Mengompol b. Diagnosa Keperawatan ( Nursing Diagnosis) Pohon masalah . Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit b. Data objektif Wajah pasien tampak meringis Pasien berkemih kurang dari normal (< 1 – 2 L/hari) warna (keabu-abuan). Pemahaman tentang pencegahan. mual dan muntah Pasien merasa tidak puas saat berkemih seperti belum keluar semua. Data Subjektif Pasien mengeluh nyeri saat berkemih Pasien mengeluh sakit pinggang Pasien mengaku tidak ada nafsu makan. dengan bau menyengat. leukosit.

Uretra Penimbunan cairan & kuman Infeksi (Ginjal) Aliran Balik Obstruksi Perkembangan kuman ↑ Jaringa parut ISK Distensi.U. kateterisasi Kurang Pengetahuan ↓ fungsi kutub uretrovesikuler Kelainan anatomi Reflek pengaliran tidak lancar ISK bawah kurang personal hygine Peny kronis DM. Nyeri pinggang Respon peradangan Reflek renointestin Nyeri Akut Rasa sakit dan panas pd simpisis.Kelainan Kongenital Obstruksi & gangguan Neurogenik Mikroorganisme . Dysuria Terjadi peradangan pd mukosa Mual Muntah Anoreksia Nyeri Akut Kandung kemih tidak kuat menampung urine Perubahan Nutrisi kurang dr kebutuhan Polakisuria urgency Kerusakan eleminasi urin . peny ginjal Ureter sempit Urine Statis di V.

.

Diagnosa keperawatan yang muncul berdasarkan prioritas a) Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot polos skunder terhadap infeksi ditandai dengan:  mengeluh nyeri/sakit pada pigngang. wajah tampak meringis. Ditandai dengan:  Urine warna (keabu-abuan).  Ada tendernes pada daerah costovertebra.  Disuria  Wajah tampak meringis  Suhu aksila 370C b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan:  Mual (+).  Pasien berkemih kurang dari normal (< 1 – 2 L/hari) d) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi Ditandai dengan: Tidak mampu menyebutkan dan menjelaskan penyebab ISK serta cara pencegahannya .  Adanya eritrosit. leukosit. dan bakteri dalam urine.  Tidak ada nafsu makan.  Muntah (+). makan 3 X ½ porsi per hari c) Kerusakan eliminasi urin berhubungan dengan infeksi traktus urinaria. dengan bau menyengat.

Diagnosa keperawatan Rencana tujuan Rencana tindakan Rasional .3. Rencana tindakan Rencana tindakan keperawatan tanggal:…………….

inflamasi selama …X…. nadi menigngkat Kolaborasi indikasi Kolaborasi antiperetik berikan Untuk menurunkan atau mengontrol rasa nyeri obat analgetik sesuai berikan Karena dapat mengubah / menurunkan dan intervensi. wajah tampak meringis.. meningkatkan otot. Nyeri berhubungan dengan dan polos terhadap mengeluh spasme akut Setelah tindakan otot diharapkan infeksi kriteria melaporkan diberikan Kaji tingkat nyeri Penting untuk menentukan lokasi intervensi yang cocok dan dan mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan menghilangkan dan relaksasi perawatan perhatikan rasa penyebaran tidak nyeri. pemasukan memerlukan 2 Perubahan kurang nutrisi Setelah dari tindakan diberikan perawatan Kaji adanya mual dan muntah Untuk rangsangan mengurangi pada pusat . ketegangan perubahan posisi ditandai dengan: nyeri/sakit pada pigngang. Pantau tanda vital Karena pada respon nyeri otonomi yaitu akut tekanan darah meningkat. Berikan yang nyeri kompres Akan meningkatkan hangat pada daerah sirkulasi pada otot dan mengurangi ketegangan costovertebra. jam intensitas skunder nyeri hilang dengan Dorong penggunaan Untuk teknik relaksasi.1. Ada pada Disuria Wajah meringis tampak tendernes daerah tidak meringis.

normal.dan 3 jam. Kerusakan eliminasi Setelah urin urinaria. Adanya bau kreteria hasil: -Urine dianjurkan sering 2 untuk Untuk ini mengosongkan secara signifikan eritrosit. makan 3 X ½ porsi per hari Berikan ketidaknyamanan meningkatkan pemasukan. muntah dengan (+).Urine warna (keabu. kandung kemih. karena hal . tidak ada nafsu mual/muntah makan berat badan (-). Catat pemasukan diet stabil nafsu makan baik. (naik). dengan diberikan Pasien minum bebas Dengan minum cairan (air) mendukung aliran darah renal dan untuk membilas bakteri urinarius. mual (+). Jaga oral hygiene perawatan lakukan Untuk penurunan mengawasi BB dan nafsu makan sedikit dan sering mulut setelah muntah Timbang BB setelah 2 hari keefektifan program diet. menyengat. makan Agar mulut bersih dan meningkatkan rasa serta membantu yang baik. 3. berwarna tidak berkemih setiap keabu. x … jam diharapkan nutrisi terpenuhi kriteria dengan tubuh anoreksia kebutuhan Hindarkan muntah pasien Untuk kebutuhan Membantu distensi mencegah gaster dan serta mengidentifikasi nutrisi/ dari bau yang tidak kekurangan menyenangkan.kebutuhan berhubungan dengan ditandai selama …. dari traktus berhubungan asuhan keperawatan sejumlah cairan (air) Ditandai diharapkan dapat pasien berkemih dengan Pasien dengan infeksi traktus selama …X… jam . dengan abuan).

leukosit. Kerusakan eliminasi urin berhubungan dengan infeksi traktus urinaria.. Evaluasi Evaluasi tindakan keperawatan tanggal:……………. 1. 2 L/hari) urine. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot polos skunder terhadap infeksi S: Px melaporkan nyeri atau sakit pada pinggang berkurang dan sewaktu kencing tidak sakit O: wajah tidak meringis. Pasien dan bakteri abuan. dan bakteri dalam . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia S: Px melaporkan nafsu makan meningkat. muntah 1x O: Berat badan stabil . mual (+). dan bakteri dalam urine A: Tujuan tercapai . kurang dari normal (<1– eritrosit. tidak Ada eritrosit. mengurangi statis urine dan mencegah kekambuhan infeksi. dengan bau khas berkemih Tidak terdapat leukosit. menurunkan jumlah bakteri dalam urine. tidak Ada tendernes pada daerah costovertebra A: Tujuan tercapai P: Pertahankan kondisi 2. S: Px melaporkan berkemih kurang lebih 1-2 L/hari O: Urine warna normal dengan bau khas. makan 3X ½ porsi per hari. A: Tujuan tercapai sebagian P: lanjutkan intervensi 3.Pasien berkemih normal (< 1 – 2 L/hari) 4. dalam urine. leukosit.

Vol 2. 3. Proses & Praktik”. Linda Jual.P: pertahankan kondisi Daftar Pustaka : 1. 2001. 2006. 2. Price. Edisi 4. “ Fundamental Keperawatan Konsep. Sylvia. . 2005. 4. Vol 2. Jakarta : EGC. Jakarta. “Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah Brunner & Potter & Perry. Edisi 8. 2001. Wilson. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Suddarth”. Carpenito. 5. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Situs Internet. EGC Penyakit. Jakarta : EGC. Smeltzer & Bare. Jakarta : EGC.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->