P. 1
Bab v - The Probing Interview

Bab v - The Probing Interview

|Views: 1,698|Likes:
Published by jhembray

More info:

Published by: jhembray on Nov 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

BAB V

WAWANCARA PROBING (wawancara eksploratif)
Wawancara probing adalah jenis wawancara yang paling umum karena kita semua pernah melakukan atau mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. Jurnaslis, rekruter, petugas polisi, pengawas, murid, dan mereka yang bergantung pada wawancara untuk mendapatkan dan mengutarakan informasi. Wawancara probing bisa saja berjalan sederhana seperti seorang murid yang mengutarakan beberapa pertanyaan mengenai tugas pada akhir pelajaran, atau bisa panjang dan bersifat resmi seperti satu jam wawancara antara konsultan politik dan kliennya. Terlepas dari panjang waktu, formalitas dan tempatnya, tujuan dari wawancara probing adalah untuk mendapatkan informasi yang baru dan relevan seakurat dan selengkap mungkin dalam waktu yang sesingkat mungkin. Pengumpulan informasi ini membutuhkan proses bertanya yang hati-hati, mendengar dengan penuh pemahaman, analisa, dan penjelajahan yang terampil menuju suatu jawaban, untuk menggali fakta, contoh, penjelasan, sikap, dan reaksi dari informasi yang masih terlalu umum. MENYIAPKAN WAWANCARA Wawancara probing yang berhasil adalah wawancara yang direncanakan, sesekali dilatih terlebih dahulu, dan dilakukan dengan terampil. Tidak ada model tipikal dalam wawancara probing yang bisa diikuti, karena seperti dituliskan Eric Nalder, kepala reportase investigatif untuk Seattle Times yang memenangkan Pulitzer, model tersebut sangat bervariasi tergantung pada topik perbincangan dan orang yang kita wawancara. Tahap persiapan terdiri dari menetapkan tujuan, meriset topik, dan membuat struktur wawancara. Menetapkan Tujuan Dimulai dengan menjawab pertanyaan mengapa anda melakukan wawancara ini. Apa hasil akhirnya? Jenis informasi apa yang anda inginkan: fakta, pendapat, pengakuan pakar, keterangan saksi mata? Tujuan yang jelas ini penting untuk menentukan panjang waktu dan jumlah wawancara, pemilihan narasumber, menentukan kapan dan di mana wawancara bisa dilakukan.

1

Situasi yang terjadi bisa mengerucutkan tujuannya. Contohnya, bila tempatnya adalah sebuah konferensi pers atau briefing, mereka yang diwawancara bisa mengatur jumlah dan jenis pertanyaan yang bisa anda ajukan, anda akan diatu tentang adanya topik yang tidak boleh dipublikasi, kutipan mana yang bisa disertakan keterangan orang yang mengucapkan, dan kapan anda boleh beberapa fakta dan opini tertentu. Faktor situasional seperti tingkat keseriusan permasalahan, ketersediaan sumber, dan kejadian yang baru terjadi bisa menentukan tingkat desakan untuk wawancara tersebut, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan wawancara tersebut, dan apa yang bisa anda tanya secara sah dan etis. Meriset Topik Pastikan bahwa anda sudah mendapat wawasan umum mengenai topik wawancara sehingga anda bisa menentukan informasi tambahan dan keterangan yang tidak mengulangi informasi/keterangan yang sudah bisa didapatkan di silabus pelajaran, bukku, artikel jurnal, internet, perpustakaan, laporan tahunan, dan dokumen sidang. Riset memungkinkan anda untuk mengajukan pertanyaan yang cerdas dan mendalam, menghindari asumsi yang salah mengenai sebab dan akibat, mempengaruhi keinginan sumber untuk membeberkan informasi yang penting, serta mempengaruhi kemampuan sumber untuk memberikan informasi yang akurat. Beberapa jurnalis merekomendasikan bahwa rentang waktu riset harus 10 kali lebih panjang daripada rentang waktu wawancara itu sendiri. Telusuri catatan pribadi dan organisasi, arsip, dan kliping. Bertukar pikiran dengan kolega yang pernah mempelajari topik atau masalah tersebut. Telusuri perusahaan, gereja, sekolah, catatan pengadilan, publikasi, dan dokumen. Kunjungi perpustakaan lokal untuk referensi, peta, almanak, direktori organisasi dan kota, dokumen pemerintah, buku, ensiklopedia, jurnal profesional, koran, publikasi periodik, dan catatan biografi. Jelajahi internet. Beberapa topik akan mengarahkan anda pada perpustakaan spesifik atau data komputer tentang masalah hukum, pengobatan, mantan presiden, sejarah, atau teknologi. Selagi meriset, perhatikan hal-hal yang tidak tersedia seperti; penjelasan, intepretasi data, berbagai perspektif masalah, sikap, dan perasaan. Kapan informasi tersebut tercatat? Apa yang terjadi dalam rentang waktu tertentu sehingga merubah sikap, data sementara, atau dogma yang dogma yang berkembang? Anekdot dan kutipan apa yang bisa jadi penting untuk pelaporan suatu kisah? 2

Ketidakpedulian dan kegagalan dalam melakukan riset yang memadai mungkin membuat narasumber kesal, menghancurkan kredibilitas anda, mempermalukan anda dan organisasi anda. Tidak ada jalan yang lebih cepat untuk kehilangan perhatian dari narasumber daripada pertanyaan dan reaksi yang tidak diinformasikan. Jangan coba untuk membuat orang lain terkesan dengan penguasaan topik anda, tapi siaplah selalu untuk menjaga kredibilitas dan menunjukkan bahwa anda mengerti topik tersebut. Susun pertanyaan pembuka sedemikian rupa sehingga mengindikasikan keakraban anda dengan area tertentu, seperti sains, pengbatan, teknologi atau sejarah. Riset pendahluan yang terbukti akan mengesankan narasumber, menunjukkan bahwa anda tidak akan dengan mudah dibodohi, serta memotivasi mereka untuk memberikan respon yang lebih siap dan mendalam. Kita merasa tersanjung bila orang lain mempelajari tentang kita, minat, bidang, prestasi dan pendapat kita, karena kita bangga pada siapa kita dan apa yang kita lakukan. Ketahui jargon dan istilah teknis yang sesuai, serta lafalkan dengan tepat. Ketahui nama narasumber (lafalkan dengan tepat), jabatan dan organisasinya. Anda harus tahu orang yang anda wawancari adalah seorang profesor atau instruktur, editor atau reporter, pilot atau navigator, doktor dengan gelar PhD, MD, DVM, DO, atau EdD. Menyusun Struktur Wawancara Panduan Wawancara Ketika anda meriset suatu topik, catat dengan cepat area dan sub-area yang bisa berkembang menjadi panduan wawancara. Panduan tersebut bisa berupa outline terinci, aspek utama dari topik, kata-kata kunci pada sebuah catatan, atau panduan wawancara jurnasiltik tradisional. • • • • • • Siapa yang terlibat? Apa yang terjadi? Kapan itu terjadi? Di mana itu terjadi? Bagaimana kejadiannya? Mengapa itu terjadi?

3

Panjang, tingkat kerumitan, dan kepentingan sebuah wawancara mempengaruhi bentuk panduan. Merujuklah pada tahapan struktural yang didiskusikan pada bab 4. Susunan kronologis akan efektif untuk menelusuri suatu kisah atau kejadian karena terjadi pada suatu rentang waktu. Susunan berdasarkan logika seperti sebab-akibat atau masalah-solusi, baik untuk digunakan pada pembahasan permasalahan dan krisis. Susunan spasial akan membantu ketika suatu wawancara mencakup beberapa tempat. Tetaplah fleksibel, karena hanya sejumlah kecil wawancara probing yang berjalan sesuai rencana. Pembukaan Rencanakan suatu pembukaan yang bisa membentuk atmosfir saling percaya, saling menghargai, dan membangun hubungan positif antara pewawancara dan yang diwawancarai. Jangan terlalu akrab dengan yang diwawancarai. Apakah anda berada pada kedekatan yang cukup untuk memanggil dengan nama kecil atau julukan? Bila anda seorang asing, perkenalkan nama anda, jabatan, dan organisasi yang anda wakilkan. Walau anda sangat terkenal, jelaskan apa yang ingin anda bahas dan mengapa, terangkan bagaimana informasi akan digunakan, dan berapa lama wawancara akan berlangsung. Jangan langsung mengeluarkan catatan atau langsung merekam, karena ini akan membuat yang diwaancarai merasa terancam. Pertimbangkan sebuah pertanyaan ice-breaker mengenai sesuatu yang anda ketahui terjadi di kantor narasumber, atau tentang hobi dan minat mereka. Berikan selamat atas prestasi yang baru saja dicapai narasumber. Sisipkan sesuatu yang lucu yang anda temukan pada saat riset atau pada saat merencanakan wawancara tersebut. Arahkan dengan taktis mengenai posisi narasumber pada masalah tersebut. Pertanyaan dan komentar ice-breaker akan membangun ketertarikan pada wawancara dan membuat seseorang bicara serta siap membahas pertanyaan dan isu yang substantif. Jangan mulai dengan pertanyaan yang sulit atau berpotensi mempermalukan. Baca kembali teknik pembukaan pada bab 4 dan pilih salah satu kombinasi yang paling cocok untuk wawancara ini. Jangan sampai jatuh pada kebiasaan menggunakan pembukaan yang sama berulang-ulang. Rancang pembukaan supaya cocok untuk setiap momen dan setiap narasumber. Pujian biasa, komentar bersahabat mengenai sebuah topik atau sahabat 4

yang juga dikenal, atau sedikit perbincangan kecil membangun atmosfir yang bersahabat dan tenang bagi seseorang, serta akan memberikan hasil berlawanan bagi seseorang yang sibuk, tergesa-gesa dan tidak suka atau tidak mempunyai waktu untuk perbincangan kecil. Seperti yang sudah kita bahas pada bab 1, menciptakan hubungan positif antara narasumber dengan yang mewawancara adalah sangat penting bagi kesuksesan setiap wawancara. Hincari tampilan yang menyiratkan kepalsuan pada pembukaan. Yakinkan bahwa kedua belah pihak punya kesamaan persepsi mengenai etika dasar dalam interaksi tersebut, sebelum melanjutkan ke tahap setelah pembukaan. Hal ini sangat penting bagi wawancara investigatif yang dilakukan oleh polisi, jurnalis, dan supervisor. Kalau semua hal yang penting off the record, mengapa harus mengadakan interview? Jelaskan bahwa tidak boleh ada permintaan off the record yang spontan. Pastikan bahwa kedua pihak mengerti arti off the record. Off the record bisa berarti tidak menyebut narasumber atau hanya menggunakannya sebagai latar belakang. Bila seseorang tidak bersedia bila perkataannya dikutip, coba buat perjanjian bahwa narasumber tidak akan disebutkan atau dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi laporan tanpa menyebut narasumber. Tubuh Bila wawancara akan berjalan pendek, atau anda sangat terampil dalam wawancara probing dan merumus pertanyaan, anda boleh hanya menyiapkan panduan dan menggelar wawancara yang tidak dijadwalkan sebelumnya. Bila tidak, buat jadwal terencana yang merubah topik dan sub-topik menjadi pertanyaan-pertanyaan utama, serta siapkan pertanyaan-pertanyaan cadangan untuk masing-masingnya. Penjadwalan terencana biasa menghapus kemungkinan anda membuat pertanyaan secara spontan dan membuat anda mampu melafalkan pertanyaan dengan baik. Penjadwalan terencana juga memberikan fleksibilitas untuk menghapus pertanyaan sekaligus membuat pertanyaan baru ketika muncul peluang dan keperluan. Misalnya, anda tidak sengaja menemukan sebuah masalah atau topik yang tidak anda temukan pada saat riset dan persiapan yang memungkinkan penjelajahan lebih dalam, walau sedikit bergeser dari topik. Pewawancara seringkali takut kalau mereka menyimpang dari jadwal dan panduan, akan membuat mereka kehilangan pola dan kendali wawancara. Resiko ini layak diambil, dan adanya jadwal terencana akan meminimalisir kemungkinan ini. 5

Anda bisa kembali pada jadwal dan panduan, serta melanjutkan dari poin yang anda tinggalkan. Thomas Berner merekomendasikan bahwa bila suatu pertanyaan lahir dari jawaban atas pertanyaan lain, catatlah pertanyaan itu pada margin lembar panduan dan kembalilah ke pertanyaan itu ketika waktuya tepat. Keleluasaan untuk beradaptasi dan berimprovisasi pada setiap narasumber, situasi, dan respon, membuat jadwal terencana ideal untuk wawancara probing. Penutupan Akhiri wawancara ketika informasi yang diinginkan sudah didapat atau waktu sudah habis. Bila suatu wawancara hanya terbatas, misalnya selama 15 menit, selesaikan wawancara dalam waktu ini atau bersiaplah utnuk menutup. Jangan mengabaikan batas waktu atau membiarkan seseorang untuk meneruskan. Narasumber bisa saja bersedia untuk meluangkan waktu tambahan bila anda menandakan bahwa waktu telah habis walau anda hanya butuh beberapa menit lagi. Bila tidak, tutup saja wawancara dengan baik dan atur jadwal wawancara di kesempatan lain. Menghargai waktu pihak lain akan memperkuat hubungan dengan narasumber. Baca ulang panduan dan teknik penutupan, terutama clearinghouse probes. Yakinkan bahwa anda paham semua informasi yang diberikan, bisa menuliskan atau melaporkan nama, posisi/jabatan, kutipan, dan statistik dengan akurat. Ketahui bagaimana menghubungi narasumber bila diperlukan. Dan buat penutupan dengan menyertakan narasumber, tidak dengan monolog. Narasumber harus menjadi pihak yang aktif mulai dari pembukaan sampai penutupan. Selalu tunjukkan penghargaan terhadap bantuan dan kesediaan narasumber. Dan ingat bahwa wawancara belum berakhir sampai kedua pihak tidak saling terlihat atau terdengar. Cari dan dengar informasi penting atau lebih dalam pada saat penutupan, ketika kewaspadaan narasumber menurun. Pat Stith, seorang jurnalis, menulis bahwa beberapa “barang” penting yang bisa anda dapatkan justru akan muncul disaat-saat terakhir, ketika anda menutup wawancara, ketika anda mengemas peralatan anda, bersiap untuk pergi. MEMILIH NARASUMBER DAN PEWAWANCARA Ketika anda sudah menetapkan tujuan, melakukan riset, dan menyusun struktur wawancara, pilihlah narasumber dan pewawancara.

6

Memilih Narasumber Tujuan dan situasi mungkin menentukan pihak-pihak mana saja yang harus anda wawancara; seorang marinir yang terluka, saksi mata sebuah badai tornado, ketua senat siswa/mahasiswa, ahli bedah yang mengembangkan prosedur baru dengan teknologi laser. Anda bebas untuk memilih dari pelajar, politisi, saksi mata, atau anggota senat siswa/mahasiswa. Wawncara bisa membutuhkan ahli atau hanya seseorang yang mempunyai perspektif berbeda. Gunakan empat kriteria berikut untuk menentukan narasumber: level informasi, ketersediaan waktu, kebersediaan, dan kemampuan. Level Informasi Kriteria yang paling penting adalah apakah seorang narasumber mempunyai informasi yang dibutuhkan. Kalau begitu, bagaimana level keahlian seseorang, dinilai dari pengalaman, pendidikan, pelatihan, dan jabatannya? Contohnya, narasumber utama adalah orang yang terlibat langsung dengan informasi yang anda inginkan, narasumber pendukung adalah mereka yang mempunyai hubungan penting dengan dengan narasumber utama, dan narasumber ahli adalah mereka yang memiliki pengetahuan dalam dan keterampilan yang berhubungan dengan informasi yang anda butuhkan. Sesekali sebagian dari tujuan anda adalah menganalisa level keahlian seseorang. Sebagai seorang sejarahwan, anda mungkin ingin mewawancarai seseorang yang terlibat aktif dalam pengembangan pesawat ulang-alik, bukan hanya seorang pakar pesawat ulang-alik. Sebagai seorang jurnalis, anda mungkin ingin mewawancarai seorang detektif yang bertanggung jawab atas penyidikan suatu pembunuhan daripada hanya seorang saksi mata. Raymond Gorden menulis tentang informan kunci yang bisa menyediakan informasi tentang situasi lokal, membantu dalam memilih dan mengkontak sumber yang cukup mengerti untuk diwawancara, serta menjamin kesediaan sumber tersebut untuk wawancara. Temukan orang-orang ini dan bagaimana mereka bisa membantu dalam pemilihan responden. Seorang informan kunci bisa saja anggota keluarga, teman, rekan dalam organisasi siswa, penyewa tenaga, atau seseorang yang diwawancara. Ketersediaan

7

Suatu sumber mungkin saja berada jauh dari anda, hanya bisa memberikan beberapa menit padahal anda butuh suatu wawancara mendalam, atau tidak bisa tersedia hingga lewat batas waktu yang telah ditentukan. Pertimbangkan penggunaan telepon atau japri sebelum melepaskan narasumber tertentu. Jangan pernah mengasumsi seseorang tidak punya ketersediaan. Banyak kisah yang beredar di antara para jurnalis dan periset, tentang wawancara yang terkenal, bahwa wawancara mungkin terjadi hanya karena pewawancara meminta waktu untuk wawancara, atau karena gigih dalam memintanya. Anda mungkin gagal membuat janji wawancara karena merasa yakin sumber tersebut tidak mau diwawancara – self-fulfilling prophecy (ramalan perwujudan diri): “kau tidak punya waktu untuk berbincangbincang kan?” Perhitungkan kemungkinan menggunakan perantara, informan kunci yang disebut oleh Gorden sebelumnya, seperti teman yang sama-sama dikenal, rekan, asisten, atau divisi hubungan masyarakat. Anda bisa pergi ke tempat di mana sumber tersebut pergi, bekerja, tinggal, atau bersosialisasi daripada menunggu orang tersebut datang pada anda. Sesekali, beberapa narasumber akan meminta untuk melihat sebagian atau semua pertanyaan sebelum melakukan wawancara. Hati-hati tehadap permintaan berlebihan atas suatu topik, pertanyaan, subjek yang tidak terjangkau, dan komentar-komentar off the record, yang mungkin merusak efektivitas narasumber tersebut. Mengabulkan permintaaan-permintaan tersebut akan menghilangkan spontanitas dalam wawancara probing. Kebersediaan Responden potensial mungkin saja tidak bersedia bertemu anda dengan berbagai alasan. Mereka mungkin saja tidak percaya pada anda, organisasi, profesi atau jabatan anda. Mereka mungkin takut kalau informasi yang mereka berikan akan membahayakan mereka, organisasi mereka, atau orang yang penting bagi mereka, terutama karena laporan yang tidak akurat, agenda tersembunyi, atau sensasi yang seringkali diciptakan media pemberitaan. Mereka pikir informasi yang anda butuhkan adalah bukan urusan orang lain atau tidak penting dan hanya buang-buang waktu. Dengan kata lain, responden mungkin berpikir bahwa tidak ada aspek dari wawancara tersebut yang membuat mereka mengakomodasi waktu dan resiko yang ada. Banyak tuntutan pengadilan, atas sesuatu yang mungkin seseorang ucapkan atau tidak, terjadi sekarang, dan beberapa kebanyakan perusahaan takut untuk dituntut ganti rugi yang 8

sangat besar. Mereka mencoba untuk mengendalikan orang yang bicara atas nama mereka. Mereka yang terlibat dengan wartawan dan penyidik bisa menceritakan bagaimana sesekali mereka dikutip dengan salah, terbawa keluar konteks, mendapati bahwa informasi dilaporkan dengan salah, atau berakhir jadi pusat perhatian tentang suatu laporan yang sebenarnya melibatkan banyak orang. Anda mungkin harus meyakinkan narasumber bahwa anda adalah orang yang bisa dipercaya dalam hal kerahasiaan, akurasi, kecermatan, dan laporan yang laporan yang netral. Orang-orang cenderung mau bekerjasama bila mereka tertarik pada anda, topiknya, atau hasil akhir dari wawancara tersebut. Tunjukkan bagaimana minat mereka akan terlayani bila informasi dan sikap dibeberkan. Kadang-kadang anda harus melakukan sedikit “ancaman halus” seperti, “Bila anda tidak bicara pada kami, terpaksa kami harus mengandalkan informasi dari sumber lain” atau “Pihak lainnya yang terlibat sudah bercerita dari perspektif mereka tentang insiden itu. Apakah anda yakin tidak mau kami mendengar yang dari perspektif anda?” Hati-hati terhadap ancaman. Ancaman bisa merusak rencana wawancara, merusak hubungan dengan narasumber, dan menghilangkan kemungkinan berhubungan di masa depan. Beberapa dari kita menganggap ancaman adalah hal kecil. Waspada terhadap orng-orang yang terlalu ingin diwawancara. Pertimbangkan motivasi dan reputasi mereka. Kemampuan Apakah narasumber potensial mampu untuk memberikan informasi dengan bebas dan akurat? Beberapa masalah mungkin membuat seseorang tidak memenuhi syarat: daya ingat yang rendah, kesehatan yang buruk, dalam kondisi shock, bias-bias dan prasangka, biasa berbohong, kecenderungan untuk melebih-lebihkan dan meremehkan, terhadang sejenis trauma. Saksi mata yang merupakan seorang tua, mungkin punya ingatan yang berbeda dengan yang sebenarnya, tentang suatu kejadian. Sorrang ayah atau ibu yang sedang berduka karena kehilangan seorang anak (dan dihadapkan pada alat perekam, pewawancara, lampu, dan kamera) mungkin tidak bisa fokus terhadap hal-hal detil. Pewawancara seringkali mengharapkan seseorang menceritakan detil menit ke menit dan waktu tepat, tentang suatu kejadian yang terjadi beberapa bulan atau tahun sebelumnya, padahal sebagian besar dari kita tidak bisa mengingat apa yang kita lakukan kemarin. Bila memungkinkan, sediakan waktu untuk sebelumnya mengenal narasumber. Pelajari pencapaian, kepribadian, reputasi, bias-bias, minat, dan 9

kebiasaan mereka dalam wawancara. Seterampil apa mereka dalam merespon (menghindar) pertanyaan? Beberapa orang mungkin diwawancara setiap hari, dan sebagian besar pernah mengambil kursus intensif di mana mereka belajar untuk berhadapan dengan berbagai tipe pewawancara. Eugene Webb dan Jerry Salancik menulis bahwa pewawancara harus mengenal narasumber dengan baik pada saat itu juga, hingga mampu mengetahui ketika distorsi sedang terjadi dari ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan jawaban tertentu. Memilih Pewawancara Eric Nalder mengklaim bahwa sifat utama dari seorang jurnalis atau pewawancara eksploratif yang ideal, adalah ingin tahu tentang seseorang dan segalanya.Kita akan menambahkan itu dengan beberapa sifat lain seperti bersahabat, sopan, teratur, perhatian, sabar, gigih, dan terampil. Beberapa situasi menuntut pewawancara dengan kriteria umur, jenis kelamin ras, etnis, agama, partai politik (atau independen), dan tingkat pendidikan tertentu. Seorang pewawancara berumur 60 tahun mungkin sulit untuk berkomunikasi dengan remaja masa kini, begitu pula sebaiknya. Narasumber wanita mungkin lebih bisa terbuka terhadap pewawancara wanita daripada pria. Pewawancara berdarah arabic mungkin lebih bisa berinteraksi dengan imigran dari irak, karena kesamaan kultur, tradisi, dan budaya komunikasinya. Perbedaan status atau kesamaan antara pewawancara dan narasumer mungkin memberikan keuntungan yang unik bagi pewawancara. Bila pewawancara adalah bawahan narasumber (mahasiswa dan profesor, pekerja jam-jaman dengan manajer, wakil presiden dan presiden), pewawancaranya tidak harus ahli, dan narasumber cenderung tidak merasa terancam, bebas bicara, termotivasi untuk menolong pewawancara. David Brinkley, koresponden, presenter berita, dan presenter terkenal dari NBC, dalam wawancara di PBS menyatakan bahwa dia bersedia untuk bertemu siswa jurnalistik dan reporter muda di kantornya, menemani mereka berkeliling studio, dan berdiskusi mengenai latar belakang pendidikan yang penting untuk menjadi reporter yang efektif. Ketika seorang pewawancara lebih superior dari daripada narasumber (kapten dan sersan, direktur dan kepala divisi, dokter dan suster), pewawancara bisa mengontrol wawancara dan menghadiahkan sesuatu pada narasumber, memungkinkan narasumber merasa bahwa wawancara ini adalah suatu kehormatan, dan termotivasi 10

untuk menyenangkan pewawancara. Beberapa organisasi memberikan jabatan yang terdengar berstatus tinggi untuk meyakinkan aura superior: kepala koresponden daripada koresponden, wakil presiden daripada direktur penjualan, editor daripada reporter, executive daripada supervisor. Ketika kedudukan keduanya seimbang (siswa ke siswa, rekanan ke rekanan, peneliti ke peneliti), kedekatan dan kepercayaan bisa dengan mudah didapatkan, lebih sedikit batasan dan tekanan komunikasi, dan rasa empati yang tinggi mungkin tercipta. Dalam banyak situasi, kita lebih suka diwawancara dengan orang yang serupa dengan kita dari berbagai hal, temasuk jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan bidang profesi. Beberapa narasumber tidak akan mengabulkan permintaan wawancara dari orang yang dianggap dari organisasi atau orang yang statusnya lebih rendah. Bila mereka adalah senator senior AS, mereka akan mengharapkan seorang koresponden senior dari media tersebut. Hubungan Antara Pewawancara dan Narasumber Setelah anda meriset dan memilih narasumber serta pewawancara, anda harus punya gambaran akurat mengenai hubungan yang akan terjadi pada wawancara nanti. Robert Ogles dan profesor jurnalistik lainnya mencatat bahwa, wawancara jurnalistik bergantung pada “hubungan sekunder” yang tidak intim dan terbatas pada satu atau sebagian kecil dimensi hubungan. Dimensi-dimensi ini cenderung lebih fungsional daripada emosional, dan bergantung pada penanda-penanda yang tampak seperti kemiripan yang jelas terlihat, penampilan, dan perilaku non-verbal. Banyak wawancara, termasuk beberapa wawancara jurnalistik, melibatkan semua dimensi hubungan yang sudah dibahas pada bab 1. Waspada terhadap kemiripan dan perbedaan yang terasa dari kedua pihak. • • • • Sampai sejauh apa keduanya ingin terlibat dalam wawancara ini? Seberapa besar kesukaan dan penghormatan yang saling diberikan oleh kedua pihak? Seberapa besar kontrol dan dominasi yang saling dikerahkan atau coba dikerahkan oleh kedua pihak? Bagaimana tingkat kepercayaan antara kedua belah pihak?

11

Sebuah hubungan positif sangat penting untuk kesuksesan untuk wawancara probing, bahkan yang sesederhana apapun, karena hal itu cenderung mengakar menjadi kepercayaan, sikap, nilai, perasaan, dan rahasia. MELAKUKAN WAWANCARA Tujuan dari wawancara probing adalah mendapatkan informasi yang mendalam dan luas, yang hanya bisa ditawarkan narasumber. Karena itu sangat penting sekali untuk menembus interaksi level 1 yang sifatnya permukaan dan aman, ke titik yang lebih beresiko seperti interaksi level 2 dan 3. Anda harus memotivasi seorang narasumber untuk mengungkap kepercayaan, sikap, dan perasaan, serta faktafakta yang belum diketahui. Memotivasi Narasumber Narasumber cenderung berkomunikasi pada level yang lebih dalam dari level 1 jika anda menjaga diri tetap pada panduan dan mengikuti aturan emas: lakukan pada orang lain apa yang anda harapkan mereka lakukan pada anda. Pihak manapun akan cenderung berkomunikasi dengan bebas dan akurat bila mereka percaya anda akan memberikan reaksi yang penuh pengertian dan hati-hati, menjaga kepercayaan, menggunakan informasi dengan baik, dan melaporkan apa yang sudah mereka ucapkan dengan akurat dan lengkap. Kepercayaan dimulai dengan pembukaan. Datangi tempat wawancara dengan berpakaian selayaknya situasi saat itu, untuk menunjukkan rasa hormat terhadap narasumber. Perkenalkan diri anda, organisasi anda, dan topik wawancara. Jujur saja tentang dalam menjelaskan tujuan anda, konsep wawancara, dan bagaimana anda menggunakan informasi yang diterima. Dari awal hingga akhir wawancara, tunjukkan ketertarikan yang tulus terhadap narasumber, topik, dan jawaban-jawabannya. Jangan menyatakan atau menyiratkan bagaimana perasaan anda terhadap jawaban atau topik masalahnya. Ajukan pertanyaan, jangan pernyataan. Hindari trik, tipuan atu muslihat. Mengajukan Pertanyaan Pertanyaan bukan hanya perangkat pertukaran, tapi juga penting untuk memotivasi narasumber untuk memberikan informasi yang penjelasan yang dibutuhkan. Sayangnya, pewawancara cenderung menanyakan terlalu banyak

12

pertanyaan, dan hal ini membatasi kesempatan narasumber untuk mendengar, menganalisa dan berpikir. Ajukan Pertanyaan Terbuka Pertanyaan terbuka memotivasi dan merangsang narasumber untuk berkomunikasi, terutama pada awal-awal pembukaan wawancara probing. Jawaban yang memaparkan dari sebuah pertanyaan terbuka memungkinkan anda untuk mendengar dengan sebagaimana mestinya (untuk pemahaman, empati, evaluasi, dan resolusi) dan memperhatikan kejanggalan, penampilan, dan komunikasi non-verbal. Mendengar dan menganalisa membantu kita menilai akurasi dan relevansi jawaban, serta melihat bagaimana perasaan narasumber mengenai situasi wawancara tersebut dan topiknya. Alis yang menaik atau sedikit keraguan dari responden, misalnya orang yang berbeda budaya, menandakan bahwa anda telah menggunakan istilah slang, bahasa sehari-hari, atau kalimat yang membingungkan, yang tidak dikenal atau terdengar aneh oleh narasumber. Pertanyaan tertutup menyebabkan pewawancara lebih banyak bicara daripada mendengarkan dan menganalisa. Bila anda menemukan diri anda mengajukan pertanyaan demi pertanyaan dan lebih aktif dalam wawancara, berarti anda menanyakan terlalu banyak pertanyaan tertutup dan lebih banyak mencoba menebak informasi daripada menanyakannya. Sabar dan tetap gigih. Jangan memotong responden kecuali ia benar-benar lari dari target, menghindari pertanyaan tertentu, atau berjanji untuk menjawab hingga selama-lamanya pada kesempatan lain. Karakter yang fleksibel dari wawancara probing membutuhkan pertanyaan sekunder dalam jumlah besar dan bervariasi jangkauannya. Gunakan teknik diam (silent probe) dan dorongan (nudging probe) untuk menstimulasi narasumber agar melanjutkan. Banyak responden menyatakan apa yang pertama kali mereka pikirkan lalu berhenti. Kesunyian atau suatu dorongan yang sederhana seperti “Uh-huh” akan merangsang mereka untuk melanjutkan. Gunakan teknik informational probe ketika anda mendeteksi penanda tertentu pada jawaban atau membutuhkan informasi tambahan atau penjelasan. Teknik ini akan menangkal jawaban formalitas dan jawaban yang melahirkan pertanyaan juga. Gunakan restatement probe jika narasumber tidak menjawab pertanyaan yang anda ajukan. Gunakan pertanyaan reflektif dan cermin (mirror questions) untuk verifikasi danmemperjelas jawaban, serta untuk memeriksa akurasi dan pengertian. Gunakan clearinghouse probe sebelum 13

maju ke topik baru atau menutup wawancara agar anda yakin bahwa anda sudah mendapatkan semua yang penting untuk laporan atau tulisan anda. Anda tidak bisa merencanakan setiap potong informasi dan penjelasan mungkin dimiliki narasumber. Beberapa jurnalis mengklaim bahwa walau anda pergi wawancara dengan bersenjatakan daftar pertanyaan, mungkin pertanyaan yang paling penting adalah yang anda ajukan sebagai respon dari suatu jawaban. Ketika mengajukan pertanyaan dan menjelajah jawaban, bersikaplah sopan, bersahabat, penuh pertimbangan, dan jangan argumentatif. Jangan mendebat responden. Bersikaplah penuh pengertian ketika menggali ke area yang sensitif atau personal. Bersiap untuk mundur ketika narasumber berubah menjadi emosional atau kesal, bahkan marah. Adakalanya anda perlu masuk ke area yang memalukan seperti penyakit tertentu, persoalaan dalam pernikahan, kondisi keuangan organisasi, atau peristiwa penangkapan. Eric Nalder mengklaim bahwa tidak ada pertanyaan yang memalukan, hanya ada jawaban yang memalukan. Penjelajahan yang gigih sangat penting dalam wawancara probing, tapi anda juga harus tahu kapan harus berhenti. Seorang narasumber mungkin menjadi kesal, bingung, atau diam, bila anda menjelajah terlalu jauh. Perbincangan berikut terjadi antara seorang pengacara dan seorang dokter. Pengacara : Dokter, sebelum anda melakukan otopsi, apakah anda memeriksa detak nadinya? Dokter Dokter Dokter : Tidak : Tidak : Tidak memulai otopsi? Dokter Dokter Dokter : Tidak : Karena otaknya ada dalam toples yang tergeletak di atas meja saya : Mungkin saja dia masih hidup dan melakukan praktik hukum di suatu tempat entah dimana. 14 Pengacara : Bagaimana anda bisa yakin dok? Pengacara : Walau begitu, bukankan tetap mungkin bahwa pasien itu masih hidup? Pengacara : Apakah anda memeriksa tekanan darahnya? Pengacara : Apakah anda memeriksa nafasnya? Pengacara : Jadi, mungkin saja bahwa pasien tersebut masih hidup ketika anda

Sabar dan gigihlah, tapi ketahuilah kapan harus berhenti. Dengar, analisa dan pikirkan. Karena wawancara probing butuh perumusan pertanyaan di tempat, anda mungkin jatuh ke dalam perangkap pertanyaan umum seperti yang sudah dibahas dalam bab 3. Pelajari ulang perangkap-perangkap ini dengan hati-hati: bipolar trap, the open-to-closed switch, the double barreled inquisition, the leading push, the yes/no response, the guessing games, the curious probe, the quiz show, dan the don’t ask, don’t tell. Ingat aturan: pikir dahulu sebelum mengajukan pertanyaan, berhenti ketika sudah mengajukan pertanyaan yang baik, dan gunakan pertanyaan bipolar serta pertanyaan mengarah, hanya bila dibutuhkan untuk tujuan tertentu. Ketahui perangkap-perangkap tersebut sehingga anda bisa mencegah sebelum jatuh ke dalamnya. Contoh baik-buruk berikut akan menajamkan keterampilan bertanya anda. • Perangkap biopolar Buruk : Apakah menurut anda harga bahan bakar akan terus naik sepanjang musim panas nanti? Baik • : Apa yang menurut anda akan terjadi pada harga bahan bakar pada musim panas nanti? The open-to-closed switch Buruk : Bagaimana menurut anda ekonomi akan mempengaruhi harga? Akankah akan menyebabkan peningkatan yang berarti? Baik • : Bagaimana menurut anda keadaan ekonomi ini akan mempengaruhi harga? The double barreled inquisition Buruk : Kursus apa yang akan anda ambil pada musim gugur dan semi berikutnya? Baik • : Kursus apa yang akan anda ambil pada musim gugur berikutnya? The leading push Buruk : Anda akan pergi ke festival karir bukan? Baik • : Apa yang rencananya akan anda lakukan pada festival karir? The yes/no response Buruk : Apakah anda ingin dipecat? 15

Baik •

: Seberapa pedulikah anda tentang dipecat?

The guessing games Buruk : Apakah anda mengubah jurusan karena persyaratan matematika? Baik : Kenapa anda mengganti jurusan?

The curious probe Buruk : (Dalam wawancara kerja) Musik jenis apa yang anda suka? Baik : Apa yang anda lakukan untuk relaksasi setelah hari yang berat di kantor?

The quiz show Buruk : (Dalam inteview magang) Texas A&M adalah institusi perizinan tanah. Presiden mana yang menandatangani peraturan perizinan tanah? Baik : Apa yang anda ketahui tentang sejarah Texas A&M?

The don’t ask, don’t tell Buruk : Mencontek dengan menggunakan perangkat elektronik menjadi masalah dalam kampus. Apakah anda pernah menggunakan perangkat elektronik dengan maksud untuk mencontek dalam ujian? Baik : Pengalaman apa yang pernah anda miliki dalam hal mencontek di kelas anda? Buat pertanyaan anda singkat, relevan, dan terucap jelas, serta kemudian

berikan perhatian penuh pada responden anda. Jurnalis Melvin Mencher menulis bahwa inti dari bertanya adalah untuk mengundang subjek untuk bicara. Pertanyaan yang kompleks menyulitkan narasumber. Kita bisa melihat hal ini setiap kali kita memperhatikan konferensi pers yang ditelevisikan, atau pengumuman kongres. Sesekali anda perlu melanggar aturan untuk bisa mendapatkan informasi yang anda inginkan. Mungkin perlu untuk menanyakan pertanyaan yang sudah anda tahu jawabannya, seperti “Saya lihat anda suka mendaki gunung.” Ketika hal tersebut tertulis dalam formulir lamaran. Sepertinya pertanyaan yang retoris bisa menenangkan responden dengan membuat mereka bicara tentang hal yang dikenal dan mudah untuk dibicarakan, lalu dengan menunjukkan ketertarikan pada topik yang menarik bagi narasumber. Sebuah leading push seperti “Ayolah, masa anda percaya itu?” mungkin memancing responden pada sebuah perbincangan yang menyenangkan dan terbuka. 16

Anda mungkin bisa mengajukan pertanyaan double barreled dalam konferensi pers untuk mendapatkan dua atau tiga jawaban, karena itu mungkin satu-satunya kesempatan anda bertanya. Anda juga bisa menggunakan pertanyaan bipolar atau yes/no, karena anda hanaya perlu jawaban iya atau tidak untuk direkam, sebuah kebutuhan umum dalam wawancara medis. Ucapkan pertanyaan dengan hati-hati untuk menghindarkan kebingungan. Contoh interaksi antara dokter dan pasien berikut ini menggambarkan bahaya penggunaan istilah dan kata-kata yang terdengar mirip. Dokter Pasien : Have you ever had a history of cardiac arrest in your family? : We never had no trouble with the police. Beberapa narasumber akan menjawab tentang hal yang tidak mereka ketahui, lebih menyamarkannya daripada mengakui ketidaktahuan. Lainnya lagi adalah ahli dalam hal everything dan nothing. Dengarkan program call-in di radio untuk mendengar orang-orang yang mengklaim, tuduhan, dan analisa, tanpa pengetahuan atau salah pengertian terhadap apa yang dibahas. Sesekali narasumber akan memainkan permainan yang lucu seperti contoh perbincangan di New Hampsire, saat pemilu akan berlangsung. Reporter : How are you going to vote on tuesday? (dalam konteks penggunaan bahasa inggris, how disini juga dapat diartikan siapa yang akan dipilih) Penduduk : How am I going to vote? Oh, the usual way. I’m going to take the form they hand me and put x’s in the appropriate boxes (sambil tertawa) Reporter : (Sunyi sesaat) Who are you going to vote for on tuesday?

Pikirkan pertanyaan dengan hati-hati sebelum diutarakan untuk menghindari insiden memalikan seperti contoh dialog antara pengacara dan saksi mata berikut. Pengacara : Nyonya Johnson, karena apa pernikahan pertama anda berakhir? Pasien Dokter : Kematian : Dan kematian siapa yang menyebabkan pernikahan itu berakhir?

17

Membuat Catatan dan Merekam Beberapa pakar menentang pencatatan yang terlalu sedikit dan pilih-pilih, sementara yang lain mengatakan bahwa sebaiknya anda tidak usah mencatat. Beberapa merekomendasikan bahwa kaset adalah jalan terbaik dalam merekam informasi, sementara yang lainnya mengatakan bahwa kaset tidak bisa diandalkan dan mengganggu. Saran terbaik adalah memilih yang paling cocok untuk tujuan tertentu, situasi, narasumber, dan jadwal bertanya. Jangan pakai keduanya jika itu mencegah responden menjawab dengan jujur dan lengkap. Catatan panjang dan rekaman bisa digunakan untuk wawancara terencana yang panjang untuk mengulang tampilan, nama, dan pernyataan dengan tepat, serta bagaimana jawaban tersebut diberikan. Mencatat Mencatat mempunyai tiga keuntungan. Pertama, mencatat meningkatkan perhatian pada apa yang sedang dikatakan dan bagaimana. Perhatian lebih ini menunjukkan pada narasumber bahwa anda tertarik pada apa yang diucapkan dan perduli akan akurasi. William Zissner menulis bahwa keterlibatan langsung ini mengizinkan narasumber untuk melihat anda yang bekerja. Kedua, ketika mencatat, anda tidak perlu khawatir tentang mesin yan rusak, kehabisan pita kaset, atau baterai habis pada saat momen penting. Ketiga, mendengarkan kaset untuk mengambil potongan informasi, sangat menguras waktu, bahkan pembuatan transkrip menguras biaya dan waktu. Mencatat juga mempunyai kerugian. Anda jarang sekali bisa menulis dengan cepat untuk bisa merekam apa yang diucapkan dengan tepat, terutama ketika responden berbicara sangat cepat. Sangat sulit untuk konsentrasi pada pertanyaan dan jawaban ketika mencatat, sehingga mungkin anda gagal untuk mendengar atau menjelajah jawaban, karena anda lebih sibuk mencatat daripada mendengar. Mencatat juga menghambat airan wawancara karena responden bisa saja takut atau ingin tahu apa yang anda tulis. Terkadang orang-orang enggan untuk berbicara atau merasalakn putusnya hubungan komunikasi ketika anda terfokus pada catatan daripada mereka. Dalam sebuah wawancara mendalam dengan seorang penerbit surat kabar, salah satu murid kami menemukan bahwa narasumber berhenti berbicara setiap kali murid kami itu mencatat, sepertinya penerbit surat kabar tersebut sengaja memberi kesempatan agar pewawancara bisa mengikutinya. Tak lama, penerbit itu menggeser bangkunya 18

agar bisa melihat apa yang dicatat murid kami tersebut. Ikuti panduan ini ketika mencatat pada wawancara. • • • • Jaga hubungan komunikasi dengan mencatat dengan sebisa mungkin tidak disadari narasumber, dan pertahankan kontak mata dengannya Gunakan singkatan atau teknik mencatat singkat profesional lainnya sehingga tidak harus mencatat semua kata-kata dan kalimat Hanya catat informasi yang penting, mungkin kata kunci, untuk mengurangi banyaknya catatan Jangan gelisah atau memberi tanda pada narasumber, mengenai jawaban atau kutipan yang anda anggap penting di tengah interaksi berlangsung. Tunggu sampai narasumber selesai dan lancarkan pertanyaan alihan ketika anda mencatat apa yang anda anggap penting tersebut. • Bila narasumber berbicara terlalu cepat, minta dengan sopan agar dia melambatkan atau mengulang apa yang dikatakan, atau berikan pertanyaan yang mengulur waktu (stalling question) seperti “ceritakan tentang...” untuk mengejar apa yang tertinggal • Kurangi keingintahuan atau perhatian narasumber terhadap catatan anda dengan meminta izin untuk mencatat, menjelaskan kenapa catatan itu penting untuk kedua pihak, dan menunjukkan catatan anda sesekali untuk memeriksa akurasi. Eric Nalder mengatakan bahwa taktik ini memungkinkan narasumber untuk mengisi apa saja yang tertinggal dan memberi informasi dengan sukarela • Jamin akurasi catatan anda dengan membacanya ulang secepatnnya setelah wawancaara untuk mengisi kekosongan, melengkapi penyingkatan, dan menerjemahkan catatan singkat anda. Merekam Merekam juga punya keunggulan. Pertama, merekam pada kaset memungkinkan anda untuk rileks dan berkonsentrasi pada apa yang sedang diucapkan atau tersirat. Anda kemudian bisa menciptakan pertanyaan eksploratif yang efektif. Kedua, anda bisa mendengar atau melihat apa yang diucapkan dan bagaimana itu diucapkan, berjam-jam kemudian atau pada hari berikutnya, daripada bergantung pada daya ingat anda. Contohnya, para penulis merekam wawancara murid dalam 19

kelas karena mereka sering menemukan bahwa murid-murid tersebut sering kelewatan pertanyaan penting ketika mereka mencatat.dan mengisi formulir kritik. Ketiga, alat perekam bisa saja menangkap jawaban yang tidak terdengar saat wawancara. Merekam punya beberapa kerugian. Pertama, alat perekam bisa tidak bekerja atau sulit digunakan. Baterai bisa habis di saat yang salah, dan pita kaset bisa rusak atau kusut. Banyak dari murid kami yang menggunakan rekaman kaset pada wawancara panjang untuk proyek kelas, menemukan bahwa kaset mereka kosong ketika mereka memutarnya kembali. Kedua, beberapa orang menganggap bahwa perekam adalah pengganggu dalam sebuah situasi wawancara yang akrab. Ketiga, kaset menyediakan rekaman yang permanen, tidak tersangkal, yang mungkin mengancam seseorang dengan konsekuensi yang tidak disangka di masa depan. Beberapa pewawancara seperti polisi atau penyidik asuransi diwajibkan untuk merekam wawancara mereka. Keempat, butuh waktu yang sangat lama untuk mendengar ulang rekaman yang panjang, demi mendapatkan letak fakta, reaksi, dan kutipan ideal pada kaset tersebut, yang mana hanya butuh beberapa detik untuk menemukan materi yang sama pada sebuah catatan. Ikuti panduan ini ketika merekam wawancara. • Kurangi ketakutan dan keberatan narasumber dengan meminta izin, menjelaskan mengapa rekaman ini penting baginya, mengatakan mengapa anda butuh merekam dan bagaimana rekaman akan digunakan, serta menyatakan bersedia untuk mematikan perekam setiap kali diminta. • • • Kurangi kesulitan mekanis dengan menguji perekam sebelum wawancara dan menyiapkan kaset serta baterai cadangan Kenali alat perekam dengan baik Pertimbangkan konsekuensi buruk pada komunikasi dan konsekuensi hukum bila menggunakan perekam tersembunyi. Hukum biasanya mengizinkan seseorang untuk merekam dengan perekam tersembunyi, namun 11 negara bagian di AS melarang perekaman tanpa izin narasumber: California, Florida, Georgia, Illinois, Maryland, Montana, New Hampsire, Oregon, Pennsylvania, dan Washington.

20

Menangani Situasi Sulit Anda akan berjumpa banyak kesulitan dan situasi wawncara yang tidak terduga, tapi anda akan bisa mengatasi situasi ini bila merencanakannya sebelumnya. Berikut adalah tiga saran untuk mengatasi tiga situasi. Tempat Kejadian Yang Terkondisi vs Tempat Kejadian Yang Nyata Lebih mudah untuk mewawancara seseorang pada tempat yang nyaman seperti ruang kantor pribadi, rumah, taman, dan restoran daripada tempat di mana aksi terjadi. Tetapi, wawancara lapangan seringkali penting untuk memahami suatu kejadian, permasalahan, atau seseorang. Kebanyakan dari wawancara yang dapat diingat, adalah yang diambil pada tempat kejadian angin ribut, pemboman teroris, kebakaran, kecelakaan pembangkit listrik, gedung, upacara penobatan, dan demonstrasi buruh. Pewawancara mengunjungi penjara, rumah sakit, rumah bersalin, pabrik, perumahan, atau ikut berkeliling dengan petugas polisi, supir taksi, EMT, dan penjual produk untuk mencari pengalaman sekaligus mewawancara. Eric Nalder menyatakan bahwa penting bagi wawancara untuk berada pada tempat di mana mereka melakukan hal yang sedang anda tulis. Penting untuk tidak hanya mendengar, tetapi melihat dan merasakannya. Ketika Eric Nalder sedang menulis buku tentang tanker minyak, seorang awak kapal mengatakan bahwa ia tidak akan mengerti para awak dan tanker minyak, kecuali ia berada di atas kapal di teluk alaska saat amukan laut yang “memuntahkan jeroan anda” di bulan januari terjadi. Dia kemudian melakukan ini dan mendapatkan wawancara dan perasaan yang paling luas dan mendalam untuk bukunya, karena pengalaman dan hubungannya dengan para awak. Dalam tempat wawancara yang tidak terkondisi, bersiap untuk penderitaan manusia, penghancuran, tempat menjijikkan yang mengancam kesehatan dan keamanan. Jadilah fleksibel dalam struktur dan pertanyaan. Jadilah sensitif dalam pertanyaan dan tindakan. Terlalu sering wartawan, penyidik asuransi, dan perwakilan pemerintah mencampuri keadaan darurat medis, bencana, dan hidup seseorang. Ketahui dimana batasan narasumber akan hak privasi dan harga diri. Wawancara Kelompok atau Konferensi Pers Konferensi pers atau wawancara kelompok mengurangi kendali pewawancara dengan drastis. Narasumber atau stafnya akan mengumumkan kapan dan di mana 21

wawancara akan dilakukan, serta menetapkan aturan-aturan seperti panjang wawancara dan topik yang diperbolehkan. Protokol memungkinkan narasumber atau stafnya untuk menyudahi wawancara tanpa peringatan, mungkin saja untuk menghindari atau lari dari pertanyaan sulit. Anda mungkin saja atau bahkan tidak mungkin untuk menanyakan pertanyaan yang disiapkan, atau punya kesempatan untuk menjelajah jawaban. Dengar dengan cermat setiap jawaban dari pertanyaan pewawancara lain karena mungkin memberikan informasi yang berharga atau mereferensikan sebuah pertanyaan lain untuk diajukan. Hubungan anda dengan narasumber pada konferensi pers adalah penting. Bila narasumber menyukai, menghormati, mempercayai anda, maka anda mungkin akan terpilih jadi salah satu yang mengajukan pertanyaan. Bila hubungannya negatif, narasumber mungkin menolak untuk menjawab, atau memberikan jawaban yang samar, umum, dan tidak bersahabat, lalu kemudian melaju ke pertanyaan pewawancara yang lain untuk menghindari pertanyaan tambahan. Mungkin penting untuk menanyakan pertanyaan double-barreled karena bisa saja itu satu-stunya kesempatan untuk bertanya. Wawancara Siaran Wawancara televisi dan radio memberikan masalah yang unik. Berada pada panggung nyata atau buatan bisa membuat kedua pihak gugup, atau untuk berinteraksi dengan penonton, kamera, dan mikrofon. Biasakan diri dengan fisik panggung, termasuk bangku yang akan digunakan pewawncara atau narasumber, peralatan audio dan video, teknisi, format program dan tujuan. Perhatikan briefing terkait batas waktu, penanda awal dan akhir, dan penggunaan mikrofon, level, dan lokasi.Persiapan yang cukup mengurangi kegugupan dan meningkatkan efisiensi serta penampilan. Dalam kebanyakan wawancara siaran, anda butuh mendapatkan jawaban, pernyataan, atau gambar yang bisa diputar. Batas waktu dan keterbatasan waktu yang ekstrim membutuhkan pertanyaan yang sidatnya langsung pada inti, dan cenderung terbuka. Umumnya anda mempunyai waktu beberapa menit atau jam, bahkan lebih, untuk mendiskusikan suatu masalah dengan narasumber, pelanggan, atau pegawai, tapi wawancara siaran hanya bisa berlangsung selama beberapa detik atau menit. Fred Feddler mengingatkan bahwa wawancara siaran biasanya hanya berlangsung beberapa menit dan sulit untuk mengajukan pertanyaan yagn menantang. Pelajari pertanyaan dengan baik untuk bisa 22

menanyakannya kembali dari ingatan atau kartu panduan kecil, karena daftar pertanyaan akan membuat suara, atau tampilan yang janggal, amatir, serta tidak siap. Bila anda ingin wawancara berlangsung spontan, jangan berikan pertanyaan anda pada narasumber sebelum wawancara. Beberapa ungkapan dan aksi tidak bisa disiarkan atau bahkan mungkin memalukan, seperti kenajisan, gesture janggal, struktur bahasa yang buruk, terlalu banyak “uhs”, “anda tahu”, dan penggunaan “darah dan tusukan”yang berlebihan. Pemrotes menuliskan kenajisan pada dahi mereka ketika merka tidak ingin tertangkap televisi. Beberapa wartawan surat kabar, ketika tersisih kamera dan mikrofon, meneriakkan kata kotor untuk mematikan peralatan elektronik, dan mendekat ke pada aksi. Seorang legislator mengatakan pada salah satu penulis bahwa ia bisa dengan sengaja menyisipkan kenajisan dalam jawabannya, untuk mencegah reporter menyiarkannya. Menangani Narasumber Yang Sulit Wawancara probing menggali ke perasaan, sikap, dan alasan akan suatu tidakan, jadi mungkin menyentuh syaraf kasar dan menghasilkkan reaksi yang bervariasi, dari air mata dan permusuhan hingga narasumber yang menghentikan wawancara. Tempat kejadian bencana, kejahatan, kekalahan dalam pemilu, upacara peringatan, kematian, dan skandal adalah menegangkan, emosional, serta memalukan. Besiaplah untuk menghadapi narasumber dan situasi yang sulit. Narasumber Yang Emosional Responden mungkin menangis ketika wawancara. Masalah tidak terpecahkan ketika teman, rekan, atau keluarga berkomentar “Oh,Tuhan” atau “Hentikan ini sekarang!”, atau ketika pewawancara dengan spontan bereaksi “Aku tahu apa yang kau rasakan”. Beberapa reaksi dibawah ini mungkin beguna bila dipakai dengan hatihati dan tulus. “Tidak apa-apa kalau anda ingin menangis” “Silahkan gunakan waktu yang anda butuh” “Apakah anda butuh waktu” Tetaplah diam sampai seseorang meraih ketenangannya kembali dan siap untuk melanjutkan. Bila anda punya kedekatan dengan narasumber, anda bisa

23

memegang tangannya atau menyilangkan lengan dibahunya untuk membuatnya nyaman. Jadilah sensitif pada mereka yang pernah mengalami tragedi dan jangan langgar batas privasi mereka hanya demi gambar atau komentar sedih untuk berita siaran, data, atau rasa ingin tahu. Repoter mempunyai catatan buruk dalam menanyakan orang tua yang baru saja kehilangan anaknya dengan pertanyaan “Bagaimana perasaan anda tentang kematian anak anda?” atau “Apakah keluarga terkejut dengan tragedi ini?”. Joh dan Denise Bittner mengusulkan bahwa anda sebaiknya menanyakan pertanyaan yandg langsung dan penting dalam momen seperti itu. Ingat bahwa orang yang dalam situasi krisis ada dalam tekanan berat. Wawancara yang berkepanjangan tidak akan memberikan informasi tambahan dan hanay membuat kesal. Narasumber Yang Bersikap Bermusuhan Bila anda mendeteksi sikap bermusuhan, coba pastikan itu nyata atau hanya asumsi. Bila nyata, cari kenapa. Seseorang bisa merasa marah, tertekan, tidak berdaya atau takut karena kondisi yang di luar kendalinya, dan dan anda adalah sasaran yang tepat untuk melepaskan perasaan mereka. Sikap bermusuhan mungkin diarahkan pada anda, organisasi anda, posisi atau jabatan anda, atau bagaimana informasi mungkin digunakan. Pengalaman buruk dari seoran pewawancara yang berasal dari organisasi yang sama dengan anda memungkinkan mereka untuk menganggap hala yang sama akan datang dari anda. Orang tersebut bisa saja hanya mengalami hari yang buruk karena hal kecil –lalu lintas, sakit kepala, kerusakan komputer, janji yang terlambat dipenuhi. Sebuah pendekatan waancara yang tidak langsung seperti berikutini mungkin mengungkap sumber sikap bermusuhan tersebut dan membantu menghilangkannya. “Anda terlihat sangat geram hari ini.” “Anda terlihat sangat kesal; apakah anda ingin membicarakannya?” “Apaka saya merasakan sikap bermusuhan dalam proses ini?” Seringkali anda bisa menghindari sikap bermusuhan dengan tidak membuat permintaan yang tidak diizinkan, masuk dengan paksa ke wilayah seseorang atau ruang privatnya, atau menyiratkan ancaman lewat kehadiran dan perilaku anda. Anda bisa mengurangi sikap bermusuhan atau menghindari kehadirannya saat wawancara dengan beberapa cara. 24

• • • •

Ganti kara kata yang bekesan negatif dengan kata-kata yang lebih baik Gunakan pertanyaan yang netral dan terbuka daripada yang menjurus Tetap diam untuk membiarkan anrasumber menjelaskan secara mendalam dan meredam amarah Lanjutkan ke topik baru Phillip Ault dan Edwin Emery menawarkan aturan sederhana; “peerlakukan

orang pada umumnya dengan rasa hormat, dan mereka akan melakukan yang sama.” Narasumber Yang Pendiam Bila seseorang tidak bersedia atau tidak bisa bicara, temukan kenapa. Orang tersebut mungkin terhambat oleh anda, posisi anda, situasi, topik, lingkungan sekitar, atau orang lain yang berada dekat dengannya. Kekurangan privasi menghambat komunikasi. Pikirkan ketika anda pergi menemui seorang profesor atau superisor dengan membawa persoalan pribadi, dan tempatnya adalah sebuah ruang kotak kecil atau area terbuka di mana orang lain bisa dengan mudah mendengarkan. Banyak orang yang pendiam di sekitar figur berwenang, supervisor, penyidik, dan jurnalis. Sifat pendiam bisa jadi sifat keluarga, atau karakter personal yang tidak ada hubungannya dengan wawancara, dan tidak bisa diubah ketika interview. Beberapa orang tidak suka terlalu banyak bicara. Coba taktik ini ketika berkomunikasi dengan orang yang pendiam. Gunakan pembukaan perbincangan dengan menanyakan foto, penghargaan, atau pengaturan perabot di ruang tersebut, dan mulai bertanya pertanyaan mudah tentang topik yang tidak mengancam. Ubah gaya anda dari formal menjadi informal, atau profesional menjadi rekan dekat. Bila pertanyan terbuka tidak menghasilkan jawaban yang mendalam, ganti dengan pertanyaan tertutup hingga orang tersebut lebih siap untuk berbicara. Gunakan teknih diam dan nudging untuk menjaga narasumber tetap berbicara. Tidak ada taktik yang bisa membuat beberapa orang pendiam untuk bicara terbuka dan bebas. Mereka bisa menunggu lebih lama atau diam lebih lama daripada pewawancara. Narasumber Yang Senang Berbicara 25

Narasumber ini mempunyai kecenderungan yang terbalik dengan yang pendiam. Beberapa orang senang berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Mereka memberikan jawaban panjang untuk pertanyaan yang tertutup. Merespon membuat mereka merasa penting, dan mereka bisa menjadi terlalu menolong. Mungkin sulit untuk membuat mereka diam atau kembali ke jalur. Gunakan pertanyaan tertutup, dengan target tinggi, dan terarah, yang bisa membatasi manuver verbal narasumber seperti ini. Cari bukaan yagn natural dan perhentian singkat untuk menyisipkan pertanyaan, atau mengarahkan wawancara seperti: “Berbicara tentang goerge, apakaha kau....” “Saya lega mengetahui itu, sekarang....” “Itu sangat menarik; sekarang kita coba lebih fokus....” Hindari interupsi yang vulgar. Sejumlah aksi non verbal mungkin menandakan bahwa anda perlu bergerak maju: melihat catatan anda, merunduk ke depan, menganggukkan kepala anda seolah mengatakan “Itu cukup,” berhenti mencatat, atau melihat jam anda. Wawancara telepon mempunyai beberapa masalah karena anda tidak bisa menyampaikan isyarat non verbal untuk menghentikan jawaban, jadi narasumber cenderung memberikan jawaban yang panjang dan bertele-tele ketika merespon lewat telepon. Narasumber Yang Menghindar Narasumber mungkin menghindari pertanyaan yang memaksa mereka untuk mengungkap perasaan atau prasangka, membuat mereka berdiri atau memberi informasi spesifik, atau membuat mereka terposisi sebagai yang bersalah dengan berbagai cara. Strategi menghindar bisa berbentuk humor, sikap bermusuhan yang palsu, pertanyaan balik, bahasa ambigu, atau jawaban yang bertele-tele dan tidak ada intinya. Bebrapa narasumber akan membahas pengutaraan kata-kata atau definisi dari kata-kata kunci. Taknik yang umum adalah membalikkan pertanyaan kepada pewawancara. “Ya, bagaimana anda bisa menjawab itu?” “Apa yang menurut anda harus kita lakukan?” “Ceritakan pada saya kehidupan pribadi anda”

26

Beberapa narasumber hanya akan menjawab pertanyaan yang tidak kita tanya namun ingin mereka jawab. Anda bisa mengatasi narasumber yang menghindar dengan bersiap dan gigih dalam bertanya. Contohnya: • • • • Ulang atau dengan perlahan lafalkan pertanyaan Tertawa dan melanjutkan pertanyaan anda Maju ke pertanyaan berikutnya dan kembali lagi nanti Berlindung pada pertanyaan yang menjurus dan bermuatan untuk memancing respon yang berarti Seorang narasumber yang menghindar mungkin saja tidak jujur. Dengar dengan cermat jawaban mereka untuk menyinambungkannya dengan fakta yang anda ketahui dari riset atau wawancara sebelumnya. Perhatikan petunjuk non verbal untuk mendeteksi ketidakjujuran namun hati-hati bahwa responden yang cerdik tahu bagaimana untuk terlihat jujur, termasuk kontak mata yang baik. Pat Stith menulis bahwa ketika responden mengatakan “sejujurnya” atau “terus terang”, anda harus waspada. Hampir selalu kata-kata ini diikuti dengan dusta. Percayalah, tapi waspadalah. Narasumber yang Bingung Responden bisa saja bingung karena suatu topik, pertanyaan, Responden bisa saja bingung karena suatu topik, pertanyaan, keadaan fisik atau mental, atau situasi. Bersiap untuk mengatasi responden yang bingung tanpa membuat mereka malu atau menciptakan permusuhan. Utarakan kembali pertanyaan dengan sopan. Kembali ke pertanyaan tersebut nanti. Perhatikan jargon dan kata-kata yang berbunyi mirip. Perbincanganini terjadi antara pengacara dan saksi mata. Pengacara : Is your appearence here this morning pursuant to the deposition notice which I sent to your attorney? Saksi Mata: No, this is how I dress when I go to work Hati-hati terhadap reaksi non verbal. Jurnalis siaran yang mendapat reaksi aneh jarang sekali menampakkan senyum atau keterkejutan ketika itu terjadi. Mereka 27

melanjutkan ke topik atau pertanyaan berikutnya seolah tidak ada hal memalukan yang terjadi. Narasumber Yang Berbeda Beradaptasi dengan hati-hati dengan narasumber yang berbeda dengan anda. Bab-bab sebelumnya sudah mengidentifikasi karakter komunikasi yang penting bagi pria dan wanita, serta budaya yang berbeda. Perbedaan jenis kelamin penting bagi wawancara probing. Dontohnya, lelaki cenderung lebih banyak bicara, memonopoli pembicaraan, membuat lebih banyak pernyataan langsung, menjwab dengan deklarasi, menuju inti lebih cepat dalam jawaban, dan merespon pertanyaan dengan respon minial. Kebanyakan responden tua cenderung kurang bisa mempercayai karena pengalaman dan ketidakamanan. Tetapi mereka seringkali kekurangan komunikasi, sehingga cenderung sangat banyak bicara dalam wawancara. Pewawancara seringkali menganggap sama sejumlah kelompok etnis, seperti iris-americans, asian-americans, african-americans, mexican-americans, dan mengharapkan mereka bertindak sedemikan rupa dalam wawancara. Mereka dalam rentang waktu tertentu mungkin sudah mengembangkan solidaritas lewat kode, simbol, ekspektasi, dan musuh in-group, yang tidak bisa dimengerti orang luar. Riset mengindikasikan bahwa african-americans lebih suka pertanyaan yang tidak langsung, menganggap penjelajahan lebih lanjut sebagai gangguan, dan lebih suka perubahan giliran yang lebih intens dan seimbang. Respnden mexican-americans lebih bergantung pada emosi, intuisi, dan perasaan daripada mereka yang dari tengahbarat European-Americans. Mereka yang berlatar berlakang pedesaan lebih menghargai pengetahuan pribadi, keterampilan, kepraktisan, kesederhanaan, dan keterpenuhan kebutuhan diri daripada mereka yang latar belakang perkotaaan. Adaptasikan pertanyaan terhadap narasumber yang berbeda, serta perhatikan perbedaaan jenis kelamin dan latar budaya untuk memotivasi narasumber dan memahami jawaban mereka. MENYIAPKAN LAPORAN ATAU SEBUAH TULISAN BERITA Tahap akhir dari wawancara probing adalah menyiapkan laporan atau tulisan berita. Telusuri ulang informasi dan analisa yang sudah didapat dari satu atau lebih wawancara untuk melihat apakah anda sudah memiliki informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan anda. Ini berarti mengingat kembali perbincangan, membaca 28

catatan, mendengar atau melihat rekaman. Anda mungkin akan menelusur ratusan bahkan ribuan kata, pernyataan, fakta, opini, dan impresi untuk menemuka lokasi dari apa yang paling penting untuk diikutsertakan dalam laporan anda. Penting untuk memeriksa jawaban-jawaban dari beberapa sumber, terutama bila ada kecurigaan bahwa seorang narasumber memberikan informasi yang tidak akurat. Setelah anda tahu apa yang sudah anda dapat dari tahap wawancara, penyuntingan dimulai. Bila laporannya adalah transkrip wawancara, cari kesalahan aturan bahasa, kata yang salah lafal, kata seru, slang, dan perhentian mana saja, seperti “uh”,”and uh”, dan “anda tahu”, yang harus tetap hadir. Bagaimana dengan pernyataan berulang, penjelasan yang panjang dan bertele-tele, dan kesalahan sederhana yang tidak diniatkan? Pembaca dan pendengar menikmati ketika mereka menemukan kesalah kecil, namun kedua pihak wawancara mungkin malu dan kehilangan kredibilitas.Sebuah hubungan mungkin saja rusak dan tidak dapat diperbaiki, serta menukar wawancara di masa depan dengan kekacauan. Mungkin penting untuk membuat pengantar jawaban dan pertanyaan sehingga pembaca atau pendengar akan mendapat kejelasan. Sunting pertanyaan sehingga jawaban lebih menjrus dan berarti. Ketika mengutip dari ingatan atau catatan, usahakan seakurat mungkin. Jangan menambahkan kata-kata pada mulut narasumber. Jangan melebihkan dan mengurangi opini, sikap, niat, atau komitmen narasumber. Yakinkan bahwa pertanyaan dan jawaban dilaporkan pada konteks yang sesuai. Langkah-langkah untuk menyiapkan cerita atau laporan berada di luar konteks buu ini, tapi ini beberapa peringatan dasar. • • • • • • • Ingat perjanjian sebelumnya mengenai informasi apa yang off the record Hati-hati terhadap asumsi Usahakan akurasi dan kesempurnaan dalam setiap fakta dan interpretasi Cek dengan seksama semua sumber dan laporan Atur informasi berdasarkan tingkat kepentingannya Gunakan kutipan untuk menghidupkan dan mendukung tulisan atau laporan Ikut sertakan beberapa perspektif untuk mencapai keseimbangan Beberapa tahun lalu, Ted Mann, mantan jurnalis olahraga untuk Duke University, membaca koran pagi yang menemukan bahwa ia dikabarkan meninggal 29

dunia. Itu semua dimulai dari keterangan seorang teman reporter yang bekerja di tim penyelamat, bahwa Mann sudah meninggal. Reporter tersebut menelepon ke rumah Mann untuk mengklarifikasi, dan wanita yang menjawab mengatakan “Tuan Mann tidak ada di sini. Ia sudah pergi”, Reporter tersebut mengasumsi bahwa kata “pergi” di sini adalah penghalusan dari meninggal, dan wanita tersebut sudah memverifikasinya. Dia pun menulis sebuah pengumuman kematian berdasarkan asumsi yang salah ini. NARASUMBER DALAM SEBUAH WAWANCARA PROBING Penekanan pada buku-buku tentang wawancara kebanyakan tertuju pada pewawancara karena kebanyakan pembaca dan siswa ingin belajar bagaiman melakukan waancara dengan efektif. Tapi kita semua menjadi narasumber sma banyaknya dengn menjadi pewawancara. Mari geser perhatian kita untuk menjadi responden yang efektif untuk wawancara. Mengerjakan Pekerjaan Rumah Sebelum terlibat dalam wawancara probing, dapatkan pemahaman atas topik yang mungkin muncul, termasuk kejadian terkini, kecelakaan, kontroversi, inovasi, keputusan, dan hukum. Apakah anda pernah berperan dalamsalah satunya? Periksa perusahaan untuk memastikan anda paham akan kebijakan, posisi, dan keterlibatan, dan otoritas apa yang anda punya untuk berbicara atas nama perusahaan, atau subunit dari perusahaan tersebut. Adakah orang yang lebih tahu atau lebih berotoritas untuk menjadi narasumber? Pelajari apa saja yang berguna tentang pewawancara, termasuk jenis kelamin, umur, etnis, pendidikan dan pelatihan, minat khusus, dan pengalaman. Bagaimana sikap pewawancara terhadap anda, organisasi, profesi anda dan topiknya? Apakah mereka bersahabat atau bermusuhan, terpercaya atau mencurigakan, tertarik atau tidak. Jangan menganggap bahwa pewawancara mempunyai sedikit keahlian dalam suatu bidang. Beberapa reporter bisa saja sarjana di bidang teknik, manajemen, ekonomi, atau sains, atau sudah mengembangkan keahlian tingkat tinggi dalam topik tertentu seperti energi, riset genetis, atau kebijakan luar negeri. Seorang ibu dari anak yang hiperaktif bisa jadi ahli dalam hiperaktivitas. Seorang pelayan religius bisa saja manta pilot angkatan udara sebelum memasuki sekolah teologi. Bagaiman reputasi

30

pewawancara dalam hal keseimbangan dan kejujuran? Teknik bertanya apa yang biasa ia gunakan? Wawancara seringkali terjadi tanpa peringatan. Seseorang mungkin menelepon, singgah di kantor anda, muncul di depan pintu rumah anda, atau mendekati anda di jalan. Ketika ini terjadi, pastikan bahwa pembukaannya akan menerangkan identitas pewawancara, organisasinya, lama waaancara, informasi yang diinginkan, bagaimana informasi tersebut akan digunakan. Sebuah perbincangan pembuka, termasuk percakapan ringan, orientasi topik, tujuan, dan hubungan, serta memberikan anda waktu untuk berpikir dan menyiapkan jawaban strategis. Memahami Hubungan Hubungan antara pewawancara dan narasumber adalah hal besar dalam wawancara probing, karena kedua pihak sangat mungkin untuk menjadi superior dari yang lain: seorang akuntan muda mewawancara seorang Direktur, atau presiden sudatu universitas dengan seorang asisten profesor. Komunikasi yang naik atau turun seperti ini mungkin membawa satu pihak untuk menenggelamkan yang lainnya. Perasaan bawahan, kewajiban, atau sanjungan mungkin membawa anda menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan, terutama ketika kamera, mikrofon, teknisi, atau penonton hadir di situ. Bila ada pilihan, tentukan apakah anda ingin berbicara dengan orang tertentu atau pada waktu tertentu. Sadari bahwa penolakan terhadap wawancara akan menimbulkan laporan yng memojokkan seperti “Margaret Adams tidak bisa dihubungi utuk dimintai keterangan” atau “menolak untuk bicara pada kami”. Pernyataan tersebut menyiratkan kesalahan, tapi mungkin lebih baik daripada komentar bodoh yang menjadi headline. Pelajari hubungan antarpihak sebelum wawancara, untuk memberi petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi pada wawancara tersebut. • • • • • Apa hubungan sejarahnya? Bgaimana kemiripan pihak-pihak yang hadir? Seberapa ingin kedua pihak untuk ambil bagian? Seberapa besar kendali yang anda akan miliki? Apakah pihak yang telibat memandang stu sama lain sebagai terpercaya, dapat diandalkan, dan aman? 31

Kewaspadaan Terhadap Situasi Pertimbangkan variabel situasi yang cenderung mempengaruhi wawancara. Kapan wawancara akan dilakukan? Bagaimana suatu kejadian akan mempengaruhi wawancara? Haruskah anda menunda wawancara sampai anda dikabarkan dengan lebih jauh dan lebih siap untuk pertanyaan yang sulit? Di mana wawancara akan digelar? Bagaimana kondisi fisik tempatnya? Apakah akan ada penonton langsung? Bila akan disiarkan, pelajari ulang bahasan pada bab sebelumnya. Apa faktor luar lainnya yang harus anda perhitungkan? Pertimbangkan untuk menetapkan aturan dasar seperti waktu, tempat, panjangnya wawancara, topik mana yang bisa dan tidak bisa dibahas, dan identitas pewawancara. Buat permintaan yang realistik. Bila anda meminta agar semua topik penting sebagai yang tidak boleh dibahas, tidak akan ada wawancara. Sesekali anda bisa meminta pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan agar bisa memberikan jawaban yang akurat dan memberi data yang berarti. Bila Peter Jennings dari ABC ingin mewawancara anda, anda akan sangat bodoh untuk meminta pewawancara lain. Seberapa besar kontrol yang anda punya tergantung pada tingkat kepentingan anda sebagai sumber, hubungan anda dengan pewawancara, situasi, dan seberapa besar anda ingin terlibat sebagai narasumber. Mengantisipasi Pertanyaan Antisipasi pertanyaan dan pikirkan kemungkinan respon. Misalnya, informasi terpenting apa yang mungkin dilepaskan? Bagaimana seharusnya anda menyusun jawaban? Bukti apa yang bsia anda berikan untuk pernyataan? Bagaimana anda menjawab pertanyaan yang tidak bisa anda jawab karena kurang informasi, kebutuhan utuk kerahasiaan, perlindungan sumber, konsekuensi hukum, dan kebijakan organisasi serta batasannya? Pada era hukum dan keterlibatan media dalam berbagai isu, sejumlah besar narasumber mengikuti pelatihan tentang bagaimana menghadapi pertanyaan. Misalnya, jaksa penuntu, pengacara, saksi pendukung atau ahli, dan klien untuk menjawab pretanyaan di persidangan, pengumuman kongres, pertemuan dewan, konferensi pers. Cari bantuan bila anda akan berhadapan dengan pewawancara yang terlatih dan berpengalaman.

32

Mendengar Pertanyaan Ketika mendengar dengan cermat setiap pertanyaan, ikuti beberapa panduan berikut untuk merespon dengan efektif. Dengar dan Pikir Sebelum Menjawab Pada tempat kecelakaan, kejahatan, atau kontroversi, seseorang akan membuat pernyataan yang nantinya akan mereka sesali. African-Americans dan HispanicAmericans seringkali dituduhkan kejahatan yang tidak mereka lakukan karena narasumber melihat seorang pria hitam atau hispanik di area tempat kejahatan terjadi. Pernyataan dan laporan yang salah bisa berujung pada tuntutan hukum, teguran, rasa malu. Dengan dengan cermat apa yang ditanyakan.Dengar pertanyaan yang anda tidak tahu atau mungkin salah tangkap. Perhatikan petunjuk-petunjuk verbal atau non verbal yang mengungkap perasaan dan bahkan fakta. Sabar Jangan mengasumsi bahwa anda tahu pertanyaannya sebelum pertanyaan selesai diucapkan. Berikan reaksi setelah mendengar utuh dan mengerti setiap pertanyaan. Jangan potong pewawancara karena apa yang akan diuapkannya mungkin membantu anda untuk mengerti dan menentukan jawaban. Fokuskan Perhatian Pada Satu Pertanyaan Setiap Waktunya Jangan terus menerus mengulang jawaban yang sudah dipaparkan atau mengantisipasi pertanyaan berikutnya, karena anda tidak akan bisa mendengar pertanyaan yang sedang dipapar sekarang. Konsentrasi Terhadap Pewawancara dan Pertanyaannya Perhatikan tanda non verbal yang menyertai ucapan pewawancara, dan ungkap perasaan, sikap, dan kepercayaannya. Fokuskan mata dan telinga pada pewawancara. Ini penting terutama pada wawancara siaran yang melibatkan beberapa orang, studio, camera, monitor, dan mikrofon, seta bidang wawancara yang melibatkan penonton, suara, lalu-lintas atau objek yang mengganggu. Jangan Menganulir Sebuah Pertanyaan Terlalu Cepat Sebagai Tidak Relevan Atau Bodoh 33

Pewawancara mungkinmempunyai alasan bagus untuk menanyakan sebuah pertanyaan, dan mungkin saja pertanyaan tersebut adalah pemanasan untuk pertanyaan lain yang lebih penting. Misalnya sebuah pertanyaan ice-breaker, pertanyaan ini tidak akan menambah bobot wawancara namun punya peran penting pada interaksi dalam wawanara tersebut. Seorang pewawawncara mungkin saja mengajukan pertanyaan rangkai corong terbalik (inverted funnel sequence), dan membebaskan anda untuk merespon panjang lebar pada akhirnya. Menjawab Dengan Strategi Rencanakan jawaban dengan cermat. Sebuah jawaban yang baik aadalah yang ringkas, tepat, diatur dengan teliti, diucapkan dengan jelas, logis, mempunyai dasar, dan langsung menuju intinya. Ada banyak strategi untuk merespon pertanyaan. Pelajari bagaimana menggunakan meereka dengan efektif seperti strategi bertanya pada bab 3 dan 4.  Hindari sikap bertahan dan bermusuhan ♦ Berikan jawaban bukan ceramah ♦ Berikan dasar dan penjelasan daripada alasan ♦ Sopan dan hati-hati dalam berkata-kata dan berperilaku ♦ Gunakan humor yang berselera dan layak ♦ Jangan Merespon dengan baik pertanyaan yang menyiratkan permusuhan dan interupsi  Bagi-bagi kontrol dari wawancara ♦ Minta waktu yang memadai untuk menjawab ♦ Jangan izinkan pewawancara “meletakkan kata-kata pada mulut anda” ♦ Tantang pertanyaan yang mengandung pernyataan yang tidak terdukung dan data atau kutipan yang yang tidak akurat ♦ Bila pertanyaan adalah pilihan, pastikan pilhannya adil dan mengikutsertakan semua pilihan yang mungkin ♦ Minta pewawancara untuk mengulang pertanyaan yang panjang, kompleks, atau tidak jelas ♦ Jawab pertanyaan dengan pertanyaan

34

♦ Cari pertanyaan reflektif (reflective question) dan cermin (mirror question) untuk akurasi dan kelengkapan  Jelaskan apa yang anda lakukan dan kenapa ♦ Buka jawaban yang panjang dengan menjelaskan kenapa harus panjang ♦ Buka jawaban dengan menjelaskan kenapa pertanyaan sulit dan mungkin berbahaya ♦ Sediakan penjelasan substansial tentang mengapa anda menolak menjawab, atau hanya ucapkan “no comment” ♦ Ucap ulang pertanyaan: “bila yang anda tanyakan adalah....” Anda sepertinya menyiratkan bahwa....”  Ambik keuntungan dari jebakan pertanyaan ♦ Jawab bagian pertanyaan double barreled yang paling bisa anda jelaskan dengan efektif ♦ Jawab pertanyaan bipolar hanya dengan iya atau tidak ♦ Bila suatu pertanyaan mengarahkan pada satu jawaban, jangan terpojok pada jawaban yang tidak anda setujui ♦ Jawab salah satu bagian dari pertanyaan open-to-closed, entah yang terbuka atau tertutup, yang mana paling menguntungkan anda  Dukung jawaban anda ♦ Gunakan cerita dan contoh untuk menggambarkan inti ♦ Gunakan analogi dan metafora untuk menjelaskan hal yang tidak diketahui atau rumit, prosedur, dan konsep ♦ Atur jawaban panjang seperti pidato mini dengan pendahuluan, tubuh, dan kesimpulan

35

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->