METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

........3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5....2.... ..1.4 Greimas …………………………………………….......... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ....4.. 83 5..3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4. 5......1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5..................2 Identifikasi Masalah ………………………………………...5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ..6...6.1...5 Metodologi ………………………………………………… 5.1.2...2 Levi’Strauss ………………………………………… 4. 5...6..3 Tujuan Penelitian …………………………………………........ 5.......1...1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ....4 Landasan Teori …………………………………………… 5........ 5.......1.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah....4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5..2.....

Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. i . relevansi metode dan penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Selain itu.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. sastra dalam penelitian ilmiah. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. hakikat. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.

dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini.. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Agustus 2007 Penyusun ii . teori. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Dengan demikian.

cara. 2. Dalam pengertian yang lebih luas. 3. Metode. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. mengikuti.1 Pengertian. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. metode dianggap sebagai cara-cara. arah. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. sedangkan hodos berarti jalan. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 .BAB I PENDAHULUAN 1. strategi untuk memahami realitas. Teknik berasal dari kata teknikos. sesudah. atau seni menggunakan alat. Hakikat Metodologi. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Metodologi berasal dari methodos dan logos. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. metode. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. melalui. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. yang berarti alat.

dan (3) sadar teknis. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. 1. 2 . Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. (2) sadar teoritik. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. perumusan masalah. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. dan kerangka pemikiran penelitian. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul.

Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. Sebagai alat. misalnya. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. sampling. termasuk ilmu humaniora. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. mengadakan pengujian teori. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. induksi dan deduksi. dan akhirnya menarik kesimpulan. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. merumuskan hipotesis dan permasalahan. menganalisis data. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. deskripsi.Dengan prosedur kerja yang baik. sama dengan teori. membangun konsep dan model. komparasi. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Klasifikasi. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. 3 . baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. kuantitatif dan kualitatif. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. menyusun proposal. eksplanasi dan interpretasi. bukanlah karena perbedaan metode.

Berbeda dengan metode. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. dokumen. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. teknik bersifat paling kongkret. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. rekaman. angket. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. jelas berbeda. teknik berhubungan dengan data primer. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. Artinya. Metode deskripsi. dan sebagainya. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. melalui cara: 1. teknik kartu data. struktural. komparasi. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Metode sering disebutkan sebagai teknik. tetapi dasar dan cara pemahamannya. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Dengan demikian. kuesieoner. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. misalnya: wawancara. bahkan juga dengan teori. statistik. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Sebagai instrumen penelitian. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Sebagai alat.

memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. Jadi. Tetapi sebelumnya. 5 . Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. metode dapat menjadi teori. teori.Pada pembicaraan yang berbeda. struktur disebut sebagai metode. dan teknik. 2. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. metode. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. 3. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. metodologi.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. d. yaitu sintesis itu sendiri. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. 9 .menerus.

Jadi. 10 . Hubungannya dengan ilmu.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. atau pencarian kembali atas suatu objek. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Sebagai akibatnya. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. dan kecerdasan yang memadai. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. ilmu dapat hidup. kecermatan. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu.

Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. scientific objective.berkembang.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. 1985: 9-15). Oleh karena itu pula. sistematis. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. terutama yang berkaitan 11 . yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Kedua. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Pertama. Oleh karena itu. practicial objective. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. Dalam menghadapi masalah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial.

Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Urutan umum dari proses 12 . Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. teori-teori. nalar. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. yaitu penelitian sastra. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. dan sesuai dengan objeknya. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula.dengan pemanfaatan teori dan metode.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan.

Di samping itu. pengumpulan data. social. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. penelaahan informasi. dan penyajian kesimpulan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. fakta. Oleh karena itu. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . emosional. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. dan spiritual. analisis data. manusia mencari tahu dan mencari makna. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Di samping masalah yang dihadapi. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan.

penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. kemudian melakukan proses penemuan. dan menafsirkan apa yang diamati. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). melakukan kegiatan penemuan. otoritas. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. atau pendapat umum. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. penyelidikan. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. atau penelitian. 14 . intuasi. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. menggambarkan. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. atau memperkaya teori yang sudah ada. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru.

para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Dalam hal ini. Pertama. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Kedua. Oleh karena itu. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri.

pengajuan hipotesis. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 .berhubungan). serta membantu dalam menginterpretasi data. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. Teori dapat membantu merumuskan problem. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. penyusunan design. pengembangan instrumen. pengumpulan dan analisis data. Penelitian akan menghasilkan teori.

ilmiah. (6) mengolah data. menginterpretasi. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. 3. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. Dalam penelitian ilmiah. dituntut langkah-langkah berturut-turut. (5) mengumpulkan data. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). ilmu-ilmu humaniora. komunikasi. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. yaitu: 1. (4) merumuskan hipotesis. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. terorganisir. menganalisis. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. 2. (3) mengadakan studi pustaka. (3) menggunakan prinsip analisis. Dalam kerja penelitian. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. dan menyimpulkan. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. (7) menganalisis dan 17 . landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (2) bebas prasangka.

18 . (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya.menginterpretasi. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. (9) menarik kesimpulan. Demikian pula. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan.

realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. d. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. sistematis 2. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. menghasilkan pengetahuan yang: a.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. didukung data empiris 19 . analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.2.

Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. dan Muhadjir. (bandingkan Nazir. Berdasarkan desain metodologinya. 2004. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben.2. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. dan Whitney. Charters. 1885. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Ratna. yaitu : 1. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi.

membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. content analysis. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. 4. 3. Macam-macam 21 . 2. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). 5. 6. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. ethnography merupakan pendekatan penelitian. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel.

dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. 2. grafik. dan majalah. surat kabar. gambar. Sejalan dengan uraian di atas. Dalam ilmu sastra. lukisan. 2004: 47-49). Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . laporan. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. Dalam ilmu sosial. film. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Immanuel kant. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. biografi. yaitu sebagai studi kultural. fotografi. 22 . dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. buku teks. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. sesuai dengan hakikat objek. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. buku harian. 2.

tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. suatu set kondisi. Menurut Whitney (dalam Nazir. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. pandangan-pandangan. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. 5. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. suatu objek. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. penelitian bersifat alamiah. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. gambaran atau lukisan secara sistematis.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. 2. sikap-sikap. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.3. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Adakalanya peneliti 23 . 4.

Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. masalah yang dirumuskan harus patut. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. kriteria umum: 1. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Metode ini dinamakan juga studi status .mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 .

hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. kriteria khusus 1. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1.5. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. 3. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. B. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. sifat penelitian adalah ex post facto. variabel dilihat sebagaimana adanya. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.

baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. membuat tabulasi serta analisis (statistik). metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4.3. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data.

maupun masyarakat. 27 . Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Dalam studi komparatif ini. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. lembaga. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. subjek penelitian dapat saja individu. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. kelompok.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

29 . dan Teeuw. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Eliis. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. keberadaannya tidak merupakan keharusan.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Plark. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. ekonomi. dan keagamaan. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Menurutnya. Lotman. Eagelton. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Riffaterre.

Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Melalui sistem sastralah. secondary modelling system. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. 30 . Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. di antaranya dari sisi bahan. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. yaitu berupa bahasa. Sebagai satu sistem.

Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. yaitu pembacanya. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. 3. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. dari pembaca saja. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Dengan demikian. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Dengan demikian. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. kerja yang objektif. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Dalam hal ini. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya.

Namun. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. sejumlah peralatan diperlukan. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. 32 . di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Dalam hal ini.perspektif.

Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. pola. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. unsur dalam diri sendiri 2. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Bagi ilmuwan. 2004: 21). paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak.3. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. model. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Tanpa paradigma. sebagai berikut: 1.

Di satu pihak. Dalam penelitian sastra. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu.yang relatif sama. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. dan sebagainya. maka teori pun juga beraneka ragam. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Jadi. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. bahkan khayalan. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Contohnya. sebagai cara pandang. Selanjutnya. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. tersistem. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. imajinasi. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Di pihak lain. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. 34 .

metode. penelitian adalah penilaian. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. Pada gilirannya. teori. dan teknik. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. periode. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. keseluruhan proses penelitian. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. termasuk metode. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor epistemologis. Paradigma dengan demikian mendahului. mengkondisikan ilmuwan sastra. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. 35 . dalam ilmu humaniora. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. secara kualitatif. teknik dan proses selanjutnya. Keempat faktor tersebut adalah: 1. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. faktor aksiologis. khususnya sastra. faktor ontologis. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. faktor metodologis.

Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Puisi. novel. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. 36 . dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. dan berbagai paham yang lain.generasi. Perbedaannya. dan drama. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. kecuali referensi estetisnya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. puisi. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Dengan kalimat lain. aliran. Keseluruhan unsur. novel psikologis. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. psikologis. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. latar tempat dan waktu. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. drama bersajak. termasuk tokoh-tokoh. Novel sejarah. psikologis dan ilmu pengetahuan. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan.

4 Pendekatan Sastra 3. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. pendekatan berasal dari kata appropio.4. menganalisis. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. approach. yaitu metode dan teknik. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan.1. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. 2004: 5355). Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. 37 . Lebih lanjut. 3. dan menyajikan data. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek.

Artinya. seperti pendekatan sosiologi sastra. dasarnya. teori. dan tekniknya. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. metode. (3) pendekatan pragmatik.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. 3. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. mimetik. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. 38 . Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. kemudian diikuti dengan penentuan masalah.4. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. mitopoik. (2) pendekatan mimesis. pragmatik. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam hubungan inilah. Pada pendekatan mendahului teori dan metode.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori.dan sebagainya. pendekatan objektif. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. dan (4) pendekatan objektif. intrinsik dan ekstrinsik. ekspresif.

Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. persepsi. dan 39 . dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. nasionalisme. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan.2. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. feminisme. Secara metodis. pikiran-pikiran. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi.3. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. komunisme.4. (3) produk pandangan dunia pengarang. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. pikiran dan perasaan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. dan hasil-hasil karyanya. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. ucapan. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan.

perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. 1989:15). pengalaman hidup.2. pengalaman. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. pikiran. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. perasaan. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. bentuk-bentuk kemasyarakatan. persepsi. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. 40 . dan ideologi pengarang. Melalui pandangan ini. sesuai tujuan. (2) memetakan sejumlah pikiran. 1958:8). 3. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. dan sebagainya Luxemberg. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan.4.

atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Menurut Baxter. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Tiruan. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. tetapi penekanannya berbeda. menyiratkan sesuatu yang statis. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Secara terminologis. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis.Sehubungan dengan pendekatan mimesis.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. suatu produk akhir. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. suatu proses. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Menurutnya. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Segers (2000. suatu copy. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra.

(2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. Secara metodis. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis.. dsb. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. 42 . Melalui penjabaran di atas. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. sesuai tujuan. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. Oleh karena itu.

secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik.4.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. pembacalah yang menilai. Menurutnya. dan memahami karya sastra. (2) penerapan praktis estetika resepsi.3. Pembaca dalam 43 . Dalam uraiannya. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. menikmati. Menurutnya. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. menafsirkan. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis.2.

dan (7) sejarah umum. (3) nilai estetik. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (4) semangat zaman. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. (2) horison harapan. Dalam hal ini. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. (5) rangkaian sastra. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika.

Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Perihal semangat zaman. Teori menuntut 45 . rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Dengan kondisi tersebut.informasi.

Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. diidealkan. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Fungsi sosial sastra 46 . berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. satirik. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'.

dan literary strategies Implied reader merupakan model. pembaca. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. historis. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. dan interaksinya. Konsekuansinya. literary repertoire. Konsep dialektika respon estetik (Iser. 1987: 20 dan 54). Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. rol.

termasuk biografi. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. 48 . Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. sosiologis. Dengan demikian. 3. seperti aspekhistoris. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. dan totalitas. antarhubungan. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik.4. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. politis.2. Oleh karena itulah. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.

dan sarana cerita (pusat pengisahan. 49 . Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. gaya bahasa.). Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. dll. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Secara metodologis. alur. konflik. fakta cerita (tokoh.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. dan latar). analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Adapun terhadap prosa.

unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra.Pada analisis prosa. 50 . Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. Di dalam analisisnya.

Hawkes. dan Teeuw. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. dan Faruk: 1994: 17-18.BAB IV STRUKTURALISME 4. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. 1995: 4-12. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. mekanisme sendiri.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. Artinya. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Faruk. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. 1999: 1-9. melainkan kualitatif. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. 1978: 17-18. terlepas dari 51 . Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. 1984: 120139). melainkan rusak sama sekali. Selain itu. apabila suatu bagian dihilangkan. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya.

dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. mekanisme yang baru. motivator terjadinya gejala baru. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. mengembangkan. sesuatu yang utuh. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Artinya. Karena itu. Formalisme di Rusia. transformatif. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. antarhubungan merupakan energi. Aliran Kritik Baru di Amerika. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. sesuatu yang berstruktur. dan self-regulatif. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Sebagai kualitas totalitas. otonom. Dengan kata lain. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi.

tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. dan sebagainya. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. 53 . Di pihak lain. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Karya tidak dapat diisolasi. plot. Dengan kata lain. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian. seperti kejadian. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Sejalan dengan uraian di atas. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. misalnya. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. latar.sebagai sistem komunikasi. Analisis terhadap penokohan. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. suatu masyarakat.

secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. dan psikologi. 1985: 128-13. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan.4. Sebagai teori modern mengenai sastra. Metode yang digunakan metode formal. oposisi. puitika. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. dan sebagainya. Dengan jalan demikian. yaitu: 1. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. Meskipun demikian. asosiasi. sosiologi.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. reaksi terhadap studi biografis 2.

fakta semiotik. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. dan nilai-nilai. 55 .) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. 1985: 185-192. (2) sebagai metode. karya sastra adalah proses komunikasi.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. dan pembaca sebagai penerima. Muhadjir. terdiri atas tanda. struktur. Menurutnya. 2003: 88-96.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 2002: 304). dan (3) sebagai teori. Pradopo 2002: 46. 4. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. Oleh karena itulah. masyarakat yang menghasilkannya. melahirkan strukturalisme. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. dan Ratna.

rima atau persajakan. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. puisi. diksi atau pilihan kata. alur. dialog. peristiwa atau kejadian. Unsurunsur prosa. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. penokohan. ritme atau irama. dan enjambemen. di antaranya tema. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. stilistika. tujuan analisis di lain pihak. dan gaya bahasa. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. penokohan. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. sudut pandang. peristiwa. nada. Unsur-unsur puisi. alur. puisi. Artinya.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. Prosa. simbol. imajinasi. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. latar. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. misalnya mengarah pada tema. dan gaya bahasa. latar atau setting. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas.

Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. dan pendengar. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dalam hubungan ini. karya sastra. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. 57 . Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. yaitu pencerita.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. tidak semau-maunya. Jadi. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign).

antara penanda dan petanda. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. pengertian tanda ada dua prinsip. arti bahasa dalam 58 . Ada tiga jenis tanda yang pokok. Stout (dalam Makaryk. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. yaitu persamaan dan sebab akibat. dan simbol. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning).4. yang merupakan bentuk tanda. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Menurutnya. Dalam lapangan semiotik. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. latar belakang sejarah pertumbuhannya. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. aliran semiotik.4 Semiotik Secara padat Dolezel. yaitu ikon. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. 1993: 183-189). indeks. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat.

maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Berhubungan dengan hal ini. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Jadi. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. arti tambahan (konotasi). Dalam sistem semiotik. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. suasana. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. daya liris. perasaan. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Dalam kaya sastra.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). intensitas.

(2) semantik semiotik. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. dan (3) pragmatik semiotik. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Sejalan dengan paham triadik peircean. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. termasuk sastra. atau yang lain. Menurut pandangan intertektualitas. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. Dilihat dari segi cara kerjanya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. terdapat (1) sintaksis semiotika. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni.

1. simbol. 61 . tanda tampak sebagai nalar: proposisi. sinsigns. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. Menurut Aart van Zoet (Ratna. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. c. yaitu apa yang diacu: a. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. yang paling sering diulas adalah object. rheme. argument. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. Di antara representamen. c. object (designatum. dicent signs. object. b. representamen. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. denotatum. 2. tokens. legisigns. b. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. ikon. 2004: 102) di antara ikon. dan interpretant. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. interpretant. ground. b. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. referent). c. qualisigns. type. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas.

yaitu (a) pengarang (ekspresif). Karena itu. yang terpenting adalah ikon. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. Kellner dalam makaryk. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. dan Faruk. dan (d) objektif (otonom). (c) pembaca (pragmatik).5. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. Alasannya. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Sebagai strukturalisme. termasuk karya sastra. sebagai struktur. dan simbol. 62 . maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. 1993: 340-341. 4. (b) semestaan (mimetik). di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain.indeks. 1993: 95-99. Teks sastra kaya dengan ikon. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. di lain pihak.

Menurut Marxis. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. yaitu melakukan transformasi atas alam. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Oleh karena itu. Untuk melakukan transformasi atas alam. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. melainkan kelas sosial. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. Karena itu. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. 4. Karya-karya kultural yang besar.5. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 .

Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. dan sebagainya. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. kelompok etnis. Karena itu. Dalam pengertian strukturalisme genetik. ras. pendidikan. Karena itu. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. seperti kelompok profesi. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri.

melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Dengan demikian. Namun. Dalam pandangan strukturalisme genetik.5. bersifat mimetik. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Hanya beberapa di antaranya. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Greimas. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Todorov. seperti strukturalisme.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. 4.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. dan sebagainya. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis.

Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan.semantik pula. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . menurut strukturalisme genetik. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Struktur yang demikian. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain.

yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Menurut paham tersebut. yang juga berstruktur. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. 4. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 .5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Namun. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra.5. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra.

Narratio berarti cerita. atau sebaliknya. hikayat. sebagaimana hubungan antara subjek. demikian juga dengan wacana dan teks. seperti model sintaksis.6. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan.dialektik. predikat. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. dan objek penderita. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. logos berarti ilmu. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. perkataan. kisah. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. 4. Dengan demikian.6 Naratologi 4. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. bukan 72 . Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. subjek secara linguistik.

Pada pahan pascastruktural.person. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. analisis naratif merupakan bagian ideologi. Setiap orang. dan ekonomi. akrab dengan cerita Jaka Tarub. dan wacana. politik. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. diceritakan oleh narator. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. tetapi juga melalui kata-kata. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. melainkan melalui bahasa. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. restorasi. bukan pengarang. semboyan. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. misalnya. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. sastra. bukan pengarang. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Revolusi. dengan pertimbangan 73 .

dan teks. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. cerita sebagai tulang punggung karya. novel juga merupakan objek yang paling memadai. tokoh-tokoh. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. kebudayaan pun tidak ada. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. 74 . khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. tema. Di pihak lain. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Tanpa plot. paling luas. dan gaya bahasa. Dalam pembicaraan mengenai naratif. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. Dalam karya sastra. sudut pandang. Dilihat dari media yang tersedia. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Hampir keseluruhan genre sastra. baik sebagai penulis. pembaca. latar. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. Tanpa cerita. wacana. yaitu dunia fiksional. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks.

Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. dan suara). Para pelopornya. narration).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. biografi. modus. gongeng. fabula. catatan harian. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). text). puisi naratif. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). lelucon. Claude Bremond (struktur dan fungsi). Gerald 75 . durasi. mitos. cerpen. frequensi. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. story. Secara historis. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. dan sebagainya. Percy Lubbock (teknik naratif). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. Tzvetan Todorov (historie dan discours). interdisipliner. termasuk feminis dan psikoanalisis. Para pelopornya. Mieke Bal (fabula. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Wilayah tersebut selain menjangkau novel. epik. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). text. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. juga roman. 1993: 110. Henry James (tokoh dan cerita). Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. yaitu: 1. Forster (tokoh bundar dan datar). Shlomith Rimmon-Kenan (story.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif.

dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.2. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Seymoeur Chatman (struktur naratif). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Propp 76 .2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Roland Barthes (Kernels dan satellits).6. Artinya. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Jacques Derrida (dekonstruksi). Hayden White (wacana sejarah). yaitu Propp. Menurutnya. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. pastiche). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. unit terkecil yang membentuk tema. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. LeviStrauss. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya.Prince (struktur narratee). 4. Todorov. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Marry Louise Pratt (tindak kata).6. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Oleh karena itu. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958.

yaitu: (1) penjahat. perbuatan. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). (6) pahlawan. dan Todorov. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). (2) donor. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Menurutnya. 77 . motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. persona bertindak sebagai variabel. (4) putri dan ayahnya. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Dengan kalimat lain. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Di sini. (5) orang yang menyuruh. (3) penolong.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. yaitu: pelaku. Motif dibedakan menjadi tiga macam. dan (7) pahlawan palsu. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Bremond.

oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. dilakukan terhadap mitos Oedipus. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita.6. melalui struktural. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. misalnya. seperti laki-laki perempuan. mitos adalah naratif itu sendiri. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. khususnya konsep-konsep oposisi biner. Menurutnya. dan harus direkonstruksi melaluinya.2. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. dan incest. tabu. Dengan kalimat lain. Pendekatan antropologi sastra. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. baik secara bulat maupun fragmentasi. 78 .4. dan sebagainya. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. bumi langit. Di satu pihak. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot.

tokoh. dan sebaliknya. dan latar.2. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. sebagai hubungan makna dan perlambangan. berkaitan dengan makna dan lambang. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. yaitu (1) aspek sintaksis. yaitu: kehendak. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. secara berdampingan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . dan partisipasi. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. (2) aspek semantik. dan sebagainya. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. 4. dan (4) aspek verbal. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia.6. meneliti tema. Oleh karena itulah. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. gaya bahasa. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Menurutnya. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. komunikasi.

tetapi diperluas pada mitos. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. sastra sebagai proyeksi. Yang ada hanyalah subjek. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. sosiologi sastra. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. baik sebagai pengirim maupun penerima. Apel adalah sebagai objek. Mary sebagai penerima. Greimas (dalam Abdullah.6. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain.antarhubungan adalah kausalitas. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia).4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. studi biografi. yaitu dongeng. Tidak ada subjek di balik wacana. seperti: psikologi sastra. 4. kritik fenomenologis. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). yaitu tata bahasa naratif universal. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. 80 . Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. dll. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. 1999: 11-13.2. John dan Paul juga merupakan pengirim. acteurs merupakan kategori umum.

artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. dan penolong dengan penentang. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. dan struktur yang bersifat pemutusan. yaitu subjek dengan objek. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Cerita adalah bahan 81 . Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. struktur yang bersifat penyelenggaraan. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. pelaku. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. religi. tek. Actans merupakan struktur dalam. Oleh karena itu. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. dan ilmu sosial lainnya. Sebaliknya. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. dan plot. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas.

sebagai model pertama. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . 82 . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. seperti ringkasan cerita atau sinopsis.kasar. sebagai model kedua. perangkat peristiwa.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

dan (c) peletak dasar 86 . sistematis. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. (2) kemenduaan arti (ambiguity).dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Karenanya.1. 5. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan fungsional. untuk memisahkan kemenduaan. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat.

pikiran. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. 87 . Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. (3) masalah harus merupakan hal penting. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. serta dana. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. Ciri kedua yang menyangkut fisible. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. waktu. (4) masalah harus dapat duji. Menurut Nazir (1985: 134-135). (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian.

rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. Dengan demikian. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4.1. mengembangkan (develop atau extention). masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. hubungan antarunsur. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. dan totalitas di dalamnya. 88 .Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). topik penelitian atau judul penelitian. Berhubungan dengan penelitian sastra. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian.

Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. misalnya. Secara ideal.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. 5.1. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. berjumlah tertentu. lingkup masalah. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. 89 . tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Sebaiknya dalam tujuan penelitian. sistematis. 2001:2). maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal.

teori tidak harus dipahami secara kaku. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. baik sebagai teori maupun metode. antarhubungan. khususnya analisis fiksi. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur.Dengan demikian. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. sebagai akumulasi konsep. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Penerimaan yang dimaksud 90 . Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Dalam kerangka strukturalisme. dan totalitasnya. Teori adalah alat. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Dalam uraian landasan teori. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Dalam strukturalisme. diperlukan penerimaan positif. misalnya. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Sebagai suatu cara pemahaman. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian.

kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.1.. Sebaliknya. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. 5.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Atau dengan kalimat lain. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.mengarah kepada keteraturan. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi.

Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. demi pemahaman identitas data penelitian. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. pemilihan. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Sejalan dengan uraian di atas. Penentuan data berdasarkan perilaku. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. padu. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. ciri. Dengan kata lain. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. dsb. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. hubungan simetris 92 . maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. sistematik.(pendekatan) linguistik. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. (2) kategori harus lengkap. (3) kategori harus bebas dan terpisah. dan hubungan antarunsur. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data.

hubungan saling mempengaruhi. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. 3. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . 2. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Sejalan dengan uraian di atas. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. dan faktor kebetulan.

kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya.penelitiannya. pemilahan. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. dan pengolahan data secara sistematis. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . pemilahan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5.

idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. 5. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya.dan tujuan penelitian. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.

Idealnya. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra.

samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. ciri. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. dana yang tersedia. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. keinginan. Latar Belakang . Merujuk pada potensi teks tersebut. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. dsb. keberanian. referensi yang memadai.. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.. waktu pelaksanaan.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. pengembangan penelitian sejenis. kepahlawanan dan petualangan. .. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat..1.. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 .

2. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. berpikir logis. tampak 98 . tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Namun demikian. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4.

menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. latar) 3. 4. dan penelusuran tema dan amanat. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. 99 . mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. alur. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. keterjalinan antarunsur cerita. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. struktur cerita yang terbentuk. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah.

Berdasarkan upaya tersebut. misalnya 100 . 5. Cermati contoh berikut: 1. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. Dalam hal ini . Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya.

Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Struktur dinamik. antar hubungan. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. menempatkan teks secara otonom.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Penjabarannya menjadi. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). alur. Paham struktural objektif. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. 101 . Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Oleh karena itu.

dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. pemilihan data. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. padu. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. dan analisis data. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. identifikasi masalah. dan menyeluruh. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. pengolahan data. tempat. sosial). (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. dll. Dengan demikian.

Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya.tingkat kepekaan literer. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. 5.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. dan metode kajian. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural naratif d. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teori. kajian struktural genetik c. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). pada langkah penyusunan Landasan Teori. sistematis. dan metodologis. kajian struktural objektif b. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. dan fungsional. teoretis.

dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. Berdasarkan contoh di atas. identifikasi masalah. Uraian landasan teori tampak 104 . Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. seteliti. semendetail. kurang memadai. 2003:112). Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. dan tujuan penelitian tertentu.

metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. 5. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. Kelemahan lain. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.

sifat. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. keterjalinan unsur. fakta. 106 . sejumlah data. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. unsurunsur karya. mengklasifikasikan . Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. dan amanat dapat terungkap secara tepat. dan menginterpretasikan data (Winarno.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. 1980: 139).1. fenomena. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). Dengan demikian. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). Mengacu kepada definisi metode deskriptif. menganalisis. tema. menyusun. sifat.

Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. plot/alur. seteliti.b. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. penyusun UP tersebut cukup 107 . semendetail. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Dalam hal ini. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. b dan c. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. dan latar. dan (4) tema dan amanat. (2) struktur cerita. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel.

kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Misalnya saja. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Namun demikian. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Kekuarang yang dimaksud adalah: a.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. plot/alur. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .

atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. kesatupaduan) sebagai instrumen. suspense. Demikian pula pada pembicaraan latar. tempat. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. kepadatan. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . d. dan sosial? c.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. b. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. jumlah. Pada unsur-unsur cerita lainnya. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. seperti pengeplotan. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. surrise. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu.

Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Adapun dalam penentuan amanat. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji.

penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. Dengan demikian. ******* 111 . selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

Minneapolis: University of Minnesotta Press. 2001. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Jauss. Iser.” Makalah.H. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Irena R. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Chamamah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. M. New York: The Norton Library. ed. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Jan van. dkk. The Act of Reading. 1989. Norton & Company Inc. Imran T. Wlfgang. 1994.). Pengantar Ilmu Sastra. Hans Robert. Pengantar Sosiologi Sastra. (ed. Abrams. Jakarta: Gramedia. S. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . “Strukturalisme-Genetik.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.) 1993.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. 1983. 1999. Makaryk. W. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar.W.” Makalah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. 1987. Toward an Aesthetic of reseption. “Sastra Lisan. Luxemburg. 1999.

“Strukturalisme”. 1993. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Diterjemahkan oleh Okke K. Rene & Austin Warren. Teori Pengkajian Fiksi. 2002. ed. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. A. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Sastra dan Ilmu sastra.Bhd. “Pengantar Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002. Jakarta: Gramedia Wuradji. Morfologi Cerita Rakyat. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Diterjemahkan oleh Suminto A. Pradopo. Bandung: Eresco. 1984.S. Fatimah Djajasudarma. 1995. Rachmat Djoko. Kritik Sastra Indonesia Modern. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Jakarta: Djambatan. Teori Kesusastraan. Jakarta: Pustaka Jaya T. Metode. 1985. Yogyakarta: Gama Media Propp. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. 2001. 19. dkk.Muhadjir. Tata Sastra. Burhan. dan Teknik. Todorov. Metode Penelitian. Nyoman Kutha. Segers. Metode Penelitian Linguistik. ------------------------------.). 1985. Tzvetan. Selangor: Sain Baru Sdn. Sayuti. V. 2004. Makalah. 1999. Zaimar. Noeng. Metodologi penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Rien T.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1987. 2000. Penelitian Sastra: Teori. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Moh. Wellek.

114 .

115 .