METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

. . 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ..6....2. 5.1............3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5............2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.2 Levi’Strauss ………………………………………… 4..........1....2...........4 Landasan Teori …………………………………………… 5.....1........4..2..5 Metodologi ………………………………………………… 5....1...... 5......6...... 5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4... 5...5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ..3 Tujuan Penelitian ………………………………………….. 83 5.......6......1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.4 Greimas ……………………………………………...2 Identifikasi Masalah ………………………………………...1..4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.

sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. sastra dalam penelitian ilmiah. relevansi metode dan penelitian. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. i . Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. hakikat. Selain itu. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian.

Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. teori. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung..Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Dengan demikian. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Agustus 2007 Penyusun ii .

arah. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. Teknik berasal dari kata teknikos. yang berarti alat.BAB I PENDAHULUAN 1. cara.1 Pengertian. metode. 2. mengikuti. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Dalam pengertian yang lebih luas. sedangkan hodos berarti jalan. melalui. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Hakikat Metodologi. strategi untuk memahami realitas. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. 3. sesudah. atau seni menggunakan alat. Metodologi berasal dari methodos dan logos. Metode. metode dianggap sebagai cara-cara.

Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 1. dan kerangka pemikiran penelitian. perumusan masalah. 2 . artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. dan (3) sadar teknis. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. (2) sadar teoritik. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya.

termasuk ilmu humaniora. menganalisis data. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. merumuskan hipotesis dan permasalahan. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. membangun konsep dan model. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus.Dengan prosedur kerja yang baik. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. dan akhirnya menarik kesimpulan. misalnya. sampling. komparasi. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. eksplanasi dan interpretasi. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. Sebagai alat. mengadakan pengujian teori. kuantitatif dan kualitatif. menyusun proposal. bukanlah karena perbedaan metode. induksi dan deduksi. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. Klasifikasi. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. 3 . sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. deskripsi. sama dengan teori.

komparasi. struktural. statistik. angket. rekaman. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. teknik kartu data. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Sebagai alat. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. Sebagai instrumen penelitian. tetapi dasar dan cara pemahamannya. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. jelas berbeda. melalui cara: 1. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Metode deskripsi. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. misalnya: wawancara. dokumen. teknik bersifat paling kongkret.Berbeda dengan metode. kuesieoner. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Dengan demikian. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Artinya. teknik dapat dideteksi secara inderawi. dan sebagainya. teknik berhubungan dengan data primer. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. bahkan juga dengan teori.

memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. Tetapi sebelumnya. metodologi. 2. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. teori. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. dan teknik.Pada pembicaraan yang berbeda. metode. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. struktur disebut sebagai metode. 3. 5 . metode dapat menjadi teori. Jadi. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. 9 .menerus.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. yaitu sintesis itu sendiri. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. d. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.

yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. kecermatan. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. dan kecerdasan yang memadai. Jadi. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Hubungannya dengan ilmu. atau pencarian kembali atas suatu objek. 10 . Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Sebagai akibatnya. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. ilmu dapat hidup. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.

sistematis. 1985: 9-15). penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Pertama. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. practicial objective. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. scientific objective. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. terutama yang berkaitan 11 . Oleh karena itu.berkembang. Oleh karena itu pula. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Kedua. Dalam menghadapi masalah. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata.

dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. nalar. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem.dengan pemanfaatan teori dan metode. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. teori-teori. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. yaitu penelitian sastra. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Urutan umum dari proses 12 . kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. dan sesuai dengan objeknya. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Kaitannya dengan kehidupan ilmu.

Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Di samping masalah yang dihadapi. pengumpulan data. fakta. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . manusia mencari tahu dan mencari makna. dan spiritual. social. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Oleh karena itu. Di samping itu. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. analisis data. penelaahan informasi. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. emosional. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. dan penyajian kesimpulan. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain.

Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. otoritas. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. melakukan kegiatan penemuan. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. kemudian melakukan proses penemuan. penyelidikan. 14 . atau penelitian. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). atau pendapat umum. dan menafsirkan apa yang diamati. intuasi.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. atau memperkaya teori yang sudah ada. menggambarkan.

Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Dalam hal ini. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Pertama. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Oleh karena itu.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Kedua. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri.

rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala.berhubungan). sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Penelitian akan menghasilkan teori.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengembangan instrumen. pengumpulan dan analisis data. penyusunan design. pengajuan hipotesis. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . serta membantu dalam menginterpretasi data. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Teori dapat membantu merumuskan problem.

(4) menggunakan hipoteisis apabila ada. (2) bebas prasangka. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula.ilmiah. (4) merumuskan hipotesis. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (5) mengumpulkan data. Dalam penelitian ilmiah. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. terorganisir. komunikasi. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (3) menggunakan prinsip analisis. menginterpretasi. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. dan menyimpulkan. (7) menganalisis dan 17 . 3. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. menganalisis. (3) mengadakan studi pustaka. 2. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. dituntut langkah-langkah berturut-turut. ilmu-ilmu humaniora. Dalam kerja penelitian. (6) mengolah data. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. yaitu: 1.

Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. 18 . dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. (9) menarik kesimpulan. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.menginterpretasi. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. Demikian pula.

analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.2. sistematis 2. d. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. menghasilkan pengetahuan yang: a. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. didukung data empiris 19 . validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji.

penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research).4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. 2. yaitu : 1. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis.2. Ratna. 2004. 1885. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. dan Whitney. (bandingkan Nazir. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. Charters. dan Muhadjir.

Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. 6. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. ethnography merupakan pendekatan penelitian. 4. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. 5. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 3. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. content analysis. 2. Macam-macam 21 .

Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. film.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. laporan. yaitu sebagai studi kultural. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Sejalan dengan uraian di atas. 22 . biografi. 2. fotografi. buku teks. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. 2.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. buku harian. surat kabar. sesuai dengan hakikat objek. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. grafik. 2004: 47-49). gambar. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Dalam ilmu sosial. dan majalah. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Immanuel kant. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. Dalam ilmu sastra. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. lukisan.

2. 4. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya.3. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. 5. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. suatu objek.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Adakalanya peneliti 23 . Menurut Whitney (dalam Nazir. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. suatu set kondisi. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. gambaran atau lukisan secara sistematis. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. sikap-sikap. penelitian bersifat alamiah. pandangan-pandangan.

Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . masalah yang dirumuskan harus patut. kriteria umum: 1. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode ini dinamakan juga studi status .mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey).

memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. 3. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan.5. variabel dilihat sebagaimana adanya. B. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. sifat penelitian adalah ex post facto. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. kriteria khusus 1. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan.

membuat tabulasi serta analisis (statistik). merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8.3. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data.

27 . metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. subjek penelitian dapat saja individu. kelompok. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. Dalam studi komparatif ini. maupun masyarakat.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. lembaga. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

Eagelton. dan keagamaan. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Lotman. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. ekonomi. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Plark. 29 . Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Sastra mengandung sifat umum dan khusus.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Menurutnya. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. dan Teeuw. Eliis.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Riffaterre. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain.

Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. yaitu berupa bahasa. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Sebagai satu sistem. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. di antaranya dari sisi bahan. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). secondary modelling system. 30 . Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Melalui sistem sastralah.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya.

disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. 3. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. dari pembaca saja. Dengan demikian. Dengan demikian. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 .Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Dalam hal ini. yaitu pembacanya. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. kerja yang objektif. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi.

generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Dalam hal ini. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. 32 . Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus.perspektif. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. sejumlah peralatan diperlukan. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Namun. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada.

paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah.3. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. 2004: 21). jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . unsur luar berupa lingkungan fisik 3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. sebagai berikut: 1. Tanpa paradigma. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. pola. unsur dalam diri sendiri 2. model. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. Bagi ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak.

Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Di satu pihak. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Contohnya. maka teori pun juga beraneka ragam. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. dan sebagainya. tersistem. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Di pihak lain.yang relatif sama. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. bahkan khayalan. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Selanjutnya. Dalam penelitian sastra. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. 34 . Jadi. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. imajinasi. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. sebagai cara pandang.

berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. faktor aksiologis. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. termasuk metode. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. faktor epistemologis. secara kualitatif. periode. 35 . dalam ilmu humaniora. penelitian adalah penilaian. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. keseluruhan proses penelitian. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. faktor metodologis. Pada gilirannya. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. metode. faktor ontologis. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. Paradigma dengan demikian mendahului. teori. Keempat faktor tersebut adalah: 1. dan teknik. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. mengkondisikan ilmuwan sastra. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. teknik dan proses selanjutnya. khususnya sastra.

drama bersajak. kecuali referensi estetisnya. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. dan drama. Puisi. Dengan kalimat lain. latar tempat dan waktu. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Perbedaannya. Novel sejarah. Keseluruhan unsur. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. termasuk tokoh-tokoh. dan berbagai paham yang lain. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. novel. 36 . puisi. novel psikologis. aliran. psikologis dan ilmu pengetahuan. psikologis. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah.generasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah.

Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. menganalisis. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. 2004: 5355). Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. pendekatan berasal dari kata appropio. 3. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. dan menyajikan data. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.1. approach. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. Lebih lanjut. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. 37 .4.4 Pendekatan Sastra 3. yaitu metode dan teknik.

dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Artinya. dasarnya.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. seperti pendekatan sosiologi sastra. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. mitopoik. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. metode. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. dan (4) pendekatan objektif. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. 3. 38 . Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu.4. ekspresif. (3) pendekatan pragmatik.dan sebagainya. mimetik. teori. (2) pendekatan mimesis. pendekatan objektif. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. dan tekniknya. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. intrinsik dan ekstrinsik. Dalam hubungan inilah. pragmatik.

Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. ucapan. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. dan hasil-hasil karyanya. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. komunisme.4.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. nasionalisme. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. (3) produk pandangan dunia pengarang. dan 39 .2. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme.3. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. persepsi. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. pikiran dan perasaan. feminisme. Secara metodis. pikiran-pikiran.

secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. 1958:8). yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. perasaan. persepsi.4. 40 . pengalaman. dan sebagainya Luxemberg. 3.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. bentuk-bentuk kemasyarakatan. Melalui pandangan ini. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. pengalaman hidup. (2) memetakan sejumlah pikiran. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. dan ideologi pengarang. sesuai tujuan. pikiran.2. 1989:15).

menyiratkan sesuatu yang statis. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Segers (2000. Secara terminologis. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. tetapi penekanannya berbeda. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. suatu produk akhir. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. Menurut Baxter. suatu copy. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Tiruan. suatu proses.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Menurutnya.

Oleh karena itu. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. sesuai tujuan.. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. Secara metodis.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Melalui penjabaran di atas. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. 42 . (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. dsb. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita.

Pembaca dalam 43 . dan memahami karya sastra. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. menafsirkan. menikmati.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Dalam uraiannya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Menurutnya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra.2. pembacalah yang menilai. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.3. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Menurutnya.4. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.

(4) semangat zaman. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. (2) horison harapan. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. yaitu: (1) pengalaman pembaca. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. dan (7) sejarah umum. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (3) nilai estetik. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Dalam hal ini. (5) rangkaian sastra.

Teori menuntut 45 . teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Perihal semangat zaman. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Dengan kondisi tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya.informasi.

Fungsi sosial sastra 46 . diidealkan. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. satirik. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu.

literary repertoire. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Konsep dialektika respon estetik (Iser. pembaca. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. dan literary strategies Implied reader merupakan model. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. rol. 1987: 20 dan 54). Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Konsekuansinya. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. historis.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. dan interaksinya. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya.

Oleh karena itulah. dan totalitas. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. politis. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. antarhubungan. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. seperti aspekhistoris. 48 . termasuk biografi. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. Dengan demikian. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik.2.4. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. sosiologis. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. 3.

Secara metodologis. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. dan sarana cerita (pusat pengisahan. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. konflik. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. dll. Adapun terhadap prosa. dan latar). alur. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. gaya bahasa. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. fakta cerita (tokoh. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo.). Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. 49 . Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra.

Pada analisis prosa. 50 . Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya.

BAB IV STRUKTURALISME 4. dan Faruk: 1994: 17-18. 1978: 17-18.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. 1995: 4-12. Selain itu. Hawkes. 1984: 120139). Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Faruk. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Artinya. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. 1999: 1-9. melainkan kualitatif. melainkan rusak sama sekali. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. apabila suatu bagian dihilangkan. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. terlepas dari 51 . dan Teeuw. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. mekanisme sendiri.

Karena itu. Formalisme di Rusia. sesuatu yang utuh. otonom. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. Dengan kata lain. dan self-regulatif. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. sesuatu yang berstruktur. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. motivator terjadinya gejala baru. mengembangkan. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. mekanisme yang baru. Sebagai kualitas totalitas. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. antarhubungan merupakan energi. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Artinya. Aliran Kritik Baru di Amerika. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. transformatif.

Dengan kata lain. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. 53 . latar. Analisis terhadap penokohan. Sejalan dengan uraian di atas. Karya tidak dapat diisolasi. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Di pihak lain. plot. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. seperti kejadian. misalnya. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. dan sebagainya. suatu masyarakat. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Namun demikian.sebagai sistem komunikasi. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain.

oposisi. Metode yang digunakan metode formal. 1985: 128-13. puitika. dan sebagainya. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. reaksi terhadap studi biografis 2. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw.4. yaitu: 1. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. asosiasi. Meskipun demikian. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. dan psikologi. Sebagai teori modern mengenai sastra. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . sosiologi. Dengan jalan demikian.

karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. terdiri atas tanda. dan Ratna. fakta semiotik. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. 2003: 88-96. dan nilai-nilai.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. struktur. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. karya sastra adalah proses komunikasi. 2002: 304). 55 . melahirkan strukturalisme. dan (3) sebagai teori. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. Menurutnya. 4. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. dan pembaca sebagai penerima. masyarakat yang menghasilkannya.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Muhadjir. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. (2) sebagai metode. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. Oleh karena itulah.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. Pradopo 2002: 46. 1985: 185-192. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme.

yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. peristiwa. penokohan. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. alur. nada.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Unsur-unsur puisi. diksi atau pilihan kata. puisi. peristiwa atau kejadian. dan gaya bahasa. dialog. sudut pandang. latar. Artinya. latar atau setting. penokohan. rima atau persajakan. tujuan analisis di lain pihak. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . dan enjambemen. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. stilistika. dan gaya bahasa. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. alur. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. imajinasi. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. puisi. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. di antaranya tema. misalnya mengarah pada tema. Prosa. Unsurunsur prosa. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. ritme atau irama. simbol.

Jadi. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. karya sastra. dan pendengar. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. yaitu pencerita. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. tidak semau-maunya. 57 . Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Dalam hubungan ini. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca.

Ada tiga jenis tanda yang pokok. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. dan simbol. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). yaitu persamaan dan sebab akibat. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya.4. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Stout (dalam Makaryk. 1993: 183-189). hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Menurutnya. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. antara penanda dan petanda. indeks. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. pengertian tanda ada dua prinsip.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Dalam lapangan semiotik. yaitu ikon. aliran semiotik. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. yang merupakan bentuk tanda. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. arti bahasa dalam 58 .

perasaan. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Berhubungan dengan hal ini. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Dalam sistem semiotik. suasana. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Jadi. intensitas.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . arti tambahan (konotasi). Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Dalam kaya sastra. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. daya liris. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa.

Sejalan dengan paham triadik peircean. Menurut pandangan intertektualitas. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. (2) semantik semiotik. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. dan (3) pragmatik semiotik. terdapat (1) sintaksis semiotika. Dilihat dari segi cara kerjanya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. termasuk sastra. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. atau yang lain. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya.

sinsigns. type. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. yang paling sering diulas adalah object. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. denotatum. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. 2004: 102) di antara ikon. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. dicent signs. b. c. 61 . terbentuk oleh kualitas: warna hijau. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. b.1. Menurut Aart van Zoet (Ratna. object (designatum. ground. qualisigns. representamen. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. referent). c. yaitu apa yang diacu: a. tokens. ikon. object. rheme. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. 2. dan interpretant. interpretant. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. legisigns. b. argument. c. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. simbol. Di antara representamen.

1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. Alasannya. dan simbol. dan Faruk. 4. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk.indeks.5. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). (b) semestaan (mimetik). yang terpenting adalah ikon. Kellner dalam makaryk. yaitu (a) pengarang (ekspresif). 1993: 95-99. Sebagai strukturalisme. dan (d) objektif (otonom). usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. 1993: 340-341. 62 . strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. termasuk karya sastra. Teks sastra kaya dengan ikon. (c) pembaca (pragmatik). maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. sebagai struktur. Karena itu. di lain pihak. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain.

Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Menurut Marxis. Oleh karena itu. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Untuk melakukan transformasi atas alam. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. yaitu melakukan transformasi atas alam.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas.5. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. melainkan kelas sosial. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. 4. Karya-karya kultural yang besar. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Karena itu. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.

pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Karena itu. Dalam pengertian strukturalisme genetik. pendidikan. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. seperti kelompok profesi. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Karena itu. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. kelompok etnis. dan sebagainya. ras. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar.

Todorov. Hanya beberapa di antaranya.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. bersifat mimetik. Namun. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme.5. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Dengan demikian. Greimas. seperti strukturalisme. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. 4. Dalam pandangan strukturalisme genetik. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . dan sebagainya. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa.

Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya.semantik pula. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Struktur yang demikian. menurut strukturalisme genetik. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia.

Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial.5. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. yang juga berstruktur. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Menurut paham tersebut. Namun.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. 4.

perkataan. kisah. predikat. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman.6. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. Narratio berarti cerita. hikayat. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. dan objek penderita. bukan 72 . Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. sebagaimana hubungan antara subjek. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. seperti model sintaksis.6 Naratologi 4.dialektik. logos berarti ilmu. 4. demikian juga dengan wacana dan teks. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. atau sebaliknya. Dengan demikian.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). subjek secara linguistik. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan.

Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. misalnya. dan wacana. bukan pengarang. sastra. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. bukan pengarang. dan ekonomi. analisis naratif merupakan bagian ideologi. Setiap orang. Revolusi. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. politik. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. Pada pahan pascastruktural. melainkan melalui bahasa. dengan pertimbangan 73 . semboyan. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. tetapi juga melalui kata-kata. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama.person. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. restorasi. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. diceritakan oleh narator. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. akrab dengan cerita Jaka Tarub.

Tanpa cerita. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. pembaca. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. tema. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. sudut pandang.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. 74 . dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. cerita sebagai tulang punggung karya. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. paling luas. kebudayaan pun tidak ada. dan gaya bahasa. Tanpa plot. Dalam karya sastra. Dilihat dari media yang tersedia. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. baik sebagai penulis. yaitu dunia fiksional. wacana. tokoh-tokoh. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Hampir keseluruhan genre sastra. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. dan teks. Dalam pembicaraan mengenai naratif. novel juga merupakan objek yang paling memadai. Di pihak lain. latar. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia.

Forster (tokoh bundar dan datar). puisi naratif. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. fabula. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. frequensi. interdisipliner. durasi. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. lelucon. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Gerald 75 . Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Secara historis. Para pelopornya. termasuk feminis dan psikoanalisis. narration). Para pelopornya. catatan harian. story. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. mitos. gongeng. Mieke Bal (fabula. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. juga roman. 1993: 110. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). cerpen. dan suara). modus. biografi. Henry James (tokoh dan cerita). Shlomith Rimmon-Kenan (story. text. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). epik. Percy Lubbock (teknik naratif). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Claude Bremond (struktur dan fungsi). yaitu: 1.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. text).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. dan sebagainya.

Propp 76 . pastiche). Oleh karena itu. Roland Barthes (Kernels dan satellits).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. yaitu Propp. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. LeviStrauss. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. 4.6. Jacques Derrida (dekonstruksi). unit terkecil yang membentuk tema. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Marry Louise Pratt (tindak kata). tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Todorov. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Artinya. Menurutnya.2. Hayden White (wacana sejarah). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya.6. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Jonathan Culler (kompetensi sastra). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.Prince (struktur narratee).

Bremond. yaitu: pelaku. yaitu: (1) penjahat. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Di sini. (2) donor. (4) putri dan ayahnya. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. perbuatan. Menurutnya. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. (5) orang yang menyuruh. (3) penolong. dan Todorov. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). (6) pahlawan. Motif dibedakan menjadi tiga macam. dan (7) pahlawan palsu. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). Dengan kalimat lain. persona bertindak sebagai variabel.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. 77 .

khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. mitos adalah naratif itu sendiri. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. khususnya konsep-konsep oposisi biner. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis.2.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp.4. seperti laki-laki perempuan. dan incest. misalnya. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. tabu. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. dilakukan terhadap mitos Oedipus. Dengan kalimat lain. bumi langit. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. Menurutnya. dan harus direkonstruksi melaluinya. dan sebagainya. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. baik secara bulat maupun fragmentasi. Di satu pihak. melalui struktural. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. 78 . Pendekatan antropologi sastra.6. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya.

yaitu: kehendak. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. 4. meneliti tema. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. (2) aspek semantik. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. secara berdampingan. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. dan sebagainya. sebagai hubungan makna dan perlambangan. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. berkaitan dengan makna dan lambang. Oleh karena itulah. dan (4) aspek verbal. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. tokoh. dan latar. komunikasi. dan partisipasi. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. yaitu (1) aspek sintaksis. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . gaya bahasa. Menurutnya. dan sebaliknya. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi.6. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi.2.

antarhubungan adalah kausalitas. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. dll. kritik fenomenologis. sosiologi sastra. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Greimas (dalam Abdullah. Tidak ada subjek di balik wacana. Yang ada hanyalah subjek. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia).4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. seperti: psikologi sastra. studi biografi. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. yaitu dongeng. yaitu tata bahasa naratif universal.6.2. 80 . baik sebagai pengirim maupun penerima. sastra sebagai proyeksi. tetapi diperluas pada mitos. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Mary sebagai penerima. 4. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. 1999: 11-13. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Apel adalah sebagai objek. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. acteurs merupakan kategori umum. John dan Paul juga merupakan pengirim.

maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. dan plot. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Oleh karena itu. religi. dan struktur yang bersifat pemutusan. pelaku. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Actans merupakan struktur dalam. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. yaitu subjek dengan objek. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. dan penolong dengan penentang. Sebaliknya. Cerita adalah bahan 81 . Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. tek.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. dan ilmu sosial lainnya.

sebagai model pertama. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. sebagai model kedua. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. perangkat peristiwa. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . 82 .kasar.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat.1. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan fungsional. untuk memisahkan kemenduaan. Karenanya. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. dan (c) peletak dasar 86 . 5. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. (2) kemenduaan arti (ambiguity). dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. sistematis.

Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. (3) masalah harus merupakan hal penting. serta dana. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. waktu. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. (4) masalah harus dapat duji. Menurut Nazir (1985: 134-135). hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. pikiran.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. 87 . (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. Ciri kedua yang menyangkut fisible.

mengembangkan (develop atau extention). topik penelitian atau judul penelitian. dan totalitas di dalamnya. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. hubungan antarunsur. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5.1. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. Dengan demikian. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. rumusan hendaklah jelas dan padat 3.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). Berhubungan dengan penelitian sastra. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. 88 . maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah.

Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. 89 .Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. 2001:2). lingkup masalah. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan.1. Secara ideal. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. berjumlah tertentu. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. sistematis. misalnya. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Sebaiknya dalam tujuan penelitian.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. 5. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya.

Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Sebagai suatu cara pemahaman. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. teori tidak harus dipahami secara kaku. Dalam uraian landasan teori. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. antarhubungan. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Penerimaan yang dimaksud 90 . Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. dan totalitasnya. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Teori adalah alat. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Dalam strukturalisme. sebagai akumulasi konsep. misalnya. khususnya analisis fiksi. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. diperlukan penerimaan positif. baik sebagai teori maupun metode. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Dalam kerangka strukturalisme. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian.Dengan demikian. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting.

1. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. Sebaliknya.mengarah kepada keteraturan. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Atau dengan kalimat lain. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.. 5. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 .

dsb. Sejalan dengan uraian di atas. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. demi pemahaman identitas data penelitian.(pendekatan) linguistik. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. sistematik. ciri. dan hubungan antarunsur. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. pemilihan. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. (2) kategori harus lengkap. (3) kategori harus bebas dan terpisah. padu. Dengan kata lain. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Penentuan data berdasarkan perilaku. hubungan simetris 92 .

tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . 3. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan saling mempengaruhi. 2. dan faktor kebetulan. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Sejalan dengan uraian di atas.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep.

dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. pemilahan.penelitiannya. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . dan pengolahan data secara sistematis. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. pemilahan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4.

serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 .2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya.dan tujuan penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. 5. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra).

Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Idealnya.

masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya... Merujuk pada potensi teks tersebut. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. dsb. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. waktu pelaksanaan. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.1. Latar Belakang . apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. referensi yang memadai.. ciri.. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat.. . samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. dana yang tersedia. kepahlawanan dan petualangan. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . keinginan. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. pengembangan penelitian sejenis. keberanian.

jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. 2. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. berpikir logis. tampak 98 . Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Namun demikian. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna.

menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. 99 . alur. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. keterjalinan antarunsur cerita. 4. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. latar) 3. dan penelusuran tema dan amanat. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. struktur cerita yang terbentuk.

penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. Cermati contoh berikut: 1. Dalam hal ini . mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.Berdasarkan upaya tersebut. 5. misalnya 100 . mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3.

Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. Penjabarannya menjadi. menempatkan teks secara otonom. alur. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. 101 . Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Oleh karena itu. Struktur dinamik.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. Paham struktural objektif. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). antar hubungan. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis.

dll. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. sosial). pemilihan data. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. dan menyeluruh. Dengan demikian. identifikasi masalah. padu. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . tempat. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. pengolahan data. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. dan analisis data. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama.

dan fungsional. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . kajian struktural naratif d. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. dan metode kajian. teori. pada langkah penyusunan Landasan Teori.tingkat kepekaan literer. dan metodologis. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. kajian struktural objektif b. teoretis. sistematis. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). kajian struktural genetik c. 5. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya.

semendetail. Berdasarkan contoh di atas. Uraian landasan teori tampak 104 . Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. kurang memadai. seteliti.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. identifikasi masalah. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. dan tujuan penelitian tertentu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. 2003:112). dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat.

Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Kelemahan lain. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. 5.

menyusun. dan menginterpretasikan data (Winarno. Dengan demikian. 1980: 139). dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. fenomena. sejumlah data. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). dan amanat dapat terungkap secara tepat. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. 106 . menganalisis. tema. sifat. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. unsurunsur karya.1. mengklasifikasikan .1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. sifat. fakta. keterjalinan unsur. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural).

(c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. plot/alur. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. dan (4) tema dan amanat. semendetail. dan latar. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. penyusun UP tersebut cukup 107 . dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita.b. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. (2) struktur cerita. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. b dan c. seteliti. Dalam hal ini.

penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Misalnya saja. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. plot/alur. Namun demikian. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.

atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. tempat. kesatupaduan) sebagai instrumen. Demikian pula pada pembicaraan latar. jumlah. d. Pada unsur-unsur cerita lainnya. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. seperti pengeplotan. suspense.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. b. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. dan sosial? c. surrise. kepadatan.

hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Adapun dalam penentuan amanat. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian.

penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. Dengan demikian. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111 .

Jauss.H. Iser. Imran T.” Makalah.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Luxemburg. (ed. Toward an Aesthetic of reseption.) 1993. Wlfgang. Jakarta: Gramedia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. ed. 1999. Abrams. 1987. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. W. 1983. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko.” Makalah. Irena R. Makaryk. S.W. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . 1989. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Pengantar Ilmu Sastra. 1994. “Sastra Lisan.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. The Act of Reading. Norton & Company Inc. New York: The Norton Library. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. “Strukturalisme-Genetik.). 2001. M. Hans Robert. Chamamah. 1999. Minneapolis: University of Minnesotta Press. dkk. Jan van. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Pengantar Sosiologi Sastra.

Evaluasi Teks Sastra. Pradopo. Metode Penelitian. Jakarta: Gramedia Wuradji. 1985. Diterjemahkan oleh Suminto A. Jakarta: Djambatan. Rien T.Muhadjir. 1985. Morfologi Cerita Rakyat. “Pengantar Penelitian. Metode. 1999.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. dan Teknik.). Fatimah Djajasudarma. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Moh. Sastra dan Ilmu sastra. Metode Penelitian Linguistik.Bhd. ed. 2002. 1995. 2004. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung: Eresco. Sayuti. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Rachmat Djoko.S. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. “Strukturalisme”. Penelitian Sastra: Teori. dkk. Teori Kesusastraan. 1984. ------------------------------. Tzvetan. Zaimar. Kritik Sastra Indonesia Modern. Tata Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Wellek. 1987. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Rene & Austin Warren. 2000. Diterjemahkan oleh Okke K. V. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. 2001. A. Selangor: Sain Baru Sdn. Makalah. Yogyakarta: Gama Media Propp. Noeng. Nyoman Kutha. Segers. 2002. Todorov. 19. 1993. Burhan. Jakarta: Pustaka Jaya T.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful