METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

. .6...... 83 5....1.......4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.. 5.........2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.2.3 Tujuan Penelitian …………………………………………..6. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS . 5...5 Metodologi ………………………………………………… 5.....2 Identifikasi Masalah ……………………………………….............2 Levi’Strauss ………………………………………… 4................1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ........4......4 Landasan Teori …………………………………………… 5... 5........ 5..4 Greimas ……………………………………………........2.1.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ...1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.......1.1..1....6..2...3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.

Selain itu.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. sastra dalam penelitian ilmiah. i . menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. hakikat. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. relevansi metode dan penelitian. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra.. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. teori. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Dengan demikian. Agustus 2007 Penyusun ii . penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai.

Dalam pengertian yang lebih luas. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. Metode. metode. Metodologi berasal dari methodos dan logos. cara. sesudah. Teknik berasal dari kata teknikos. atau seni menggunakan alat. 3. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . yang berarti alat. metode dianggap sebagai cara-cara.BAB I PENDAHULUAN 1. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. strategi untuk memahami realitas. Hakikat Metodologi.1 Pengertian. 2. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. mengikuti. sedangkan hodos berarti jalan. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. melalui. arah.

artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. 2 . Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. 1. (2) sadar teoritik. perumusan masalah. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. dan kerangka pemikiran penelitian. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. dan (3) sadar teknis. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul.

dan akhirnya menarik kesimpulan. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya.Dengan prosedur kerja yang baik. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. membangun konsep dan model. eksplanasi dan interpretasi. Klasifikasi. bukanlah karena perbedaan metode. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. Sebagai alat. mengadakan pengujian teori. deskripsi. merumuskan hipotesis dan permasalahan. menyusun proposal. menganalisis data. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. kuantitatif dan kualitatif. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. termasuk ilmu humaniora. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. misalnya. sampling. komparasi. 3 . baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. induksi dan deduksi. sama dengan teori.

jelas berbeda. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. angket. teknik dapat dideteksi secara inderawi. statistik. bahkan juga dengan teori. komparasi. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. struktural. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. rekaman. dan sebagainya. dokumen. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. Dengan demikian. Artinya. teknik berhubungan dengan data primer. teknik kartu data. tetapi dasar dan cara pemahamannya. melalui cara: 1. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Sebagai instrumen penelitian. teknik bersifat paling kongkret. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan.Berbeda dengan metode. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . misalnya: wawancara. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. kuesieoner. Sebagai alat. Metode deskripsi. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik.

3. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. teori. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti.Pada pembicaraan yang berbeda. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Jadi. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. 2. metodologi. metode. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. 5 . struktur disebut sebagai metode. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. dan teknik. metode dapat menjadi teori. Tetapi sebelumnya.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

menerus. 9 . Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. d. yaitu sintesis itu sendiri. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi.

ilmu dapat hidup. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. kecermatan.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Sebagai akibatnya. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Hubungannya dengan ilmu. 10 . atau pencarian kembali atas suatu objek. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Jadi. dan kecerdasan yang memadai.

yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. sistematis. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Oleh karena itu. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. Oleh karena itu pula. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Kedua.berkembang. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. terutama yang berkaitan 11 . dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Pertama. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. scientific objective. Dalam menghadapi masalah. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. 1985: 9-15). practicial objective. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi.

Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. dan sesuai dengan objeknya. nalar. teori-teori. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem.dengan pemanfaatan teori dan metode. yaitu penelitian sastra. Urutan umum dari proses 12 . di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis.

dan penyajian kesimpulan. Oleh karena itu. emosional. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. dan spiritual. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. fakta. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. social. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Di samping itu. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Di samping masalah yang dihadapi. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. pengumpulan data. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. penelaahan informasi. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. manusia mencari tahu dan mencari makna. analisis data.

kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. kemudian melakukan proses penemuan. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. atau penelitian. melakukan kegiatan penemuan. menggambarkan. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. otoritas. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. dan menafsirkan apa yang diamati. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. atau memperkaya teori yang sudah ada. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. 14 . intuasi.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. atau pendapat umum. penyelidikan.

mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Oleh karena itu. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Pertama.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Dalam hal ini. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Kedua. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore).

2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. pengumpulan dan analisis data. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Teori dapat membantu merumuskan problem.berhubungan). penyusunan design. Penelitian akan menghasilkan teori. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . serta membantu dalam menginterpretasi data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengembangan instrumen. pengajuan hipotesis.

(7) menganalisis dan 17 . Dalam kerja penelitian. ilmu-ilmu humaniora. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. dituntut langkah-langkah berturut-turut. komunikasi. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. Dalam penelitian ilmiah. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. 3. (2) bebas prasangka. menganalisis. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (4) merumuskan hipotesis. (6) mengolah data. terorganisir. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. (5) mengumpulkan data. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. 2. dan menyimpulkan. yaitu: 1. (3) mengadakan studi pustaka. menginterpretasi. (3) menggunakan prinsip analisis.ilmiah. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas.

juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. 18 . Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. (9) menarik kesimpulan. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Demikian pula. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna.menginterpretasi.

realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. sistematis 2.2. menghasilkan pengetahuan yang: a. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. didukung data empiris 19 . d. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c.

(bandingkan Nazir. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. Ratna.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. 1885. dan Whitney. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar.2. dan Muhadjir. 2004. 2. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. yaitu : 1. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Charters.

Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. Macam-macam 21 . content analysis. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). ethnography merupakan pendekatan penelitian. 4. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. 5. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. 3. 6. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 2. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi.

buku teks. fotografi. Dalam ilmu sastra. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. 22 . buku harian. laporan. 2004: 47-49).5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. biografi. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. surat kabar. yaitu sebagai studi kultural. lukisan. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. sesuai dengan hakikat objek. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Dalam ilmu sosial. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. 2. film. dan majalah. 2. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. gambar. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. Sejalan dengan uraian di atas. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Immanuel kant. grafik.

1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. 5. penelitian bersifat alamiah. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. gambaran atau lukisan secara sistematis. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. pandangan-pandangan. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. suatu objek. sikap-sikap. Menurut Whitney (dalam Nazir. suatu set kondisi. 4. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. Adakalanya peneliti 23 . termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. 2. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi.3.

tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). masalah yang dirumuskan harus patut. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Metode ini dinamakan juga studi status . Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. kriteria umum: 1. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 .

karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6.5. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. sifat penelitian adalah ex post facto. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. kriteria khusus 1. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. B. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . 3. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. variabel dilihat sebagaimana adanya.

dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. membuat tabulasi serta analisis (statistik). dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10.3. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7.

maupun masyarakat. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. kelompok. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini. 27 . yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. subjek penelitian dapat saja individu. lembaga. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

29 . Lotman. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. keberadaannya tidak merupakan keharusan. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Eliis. ekonomi. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Riffaterre. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Eagelton. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Plark. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. dan Teeuw. dan keagamaan. Menurutnya.

secondary modelling system. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Sebagai satu sistem. Melalui sistem sastralah. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. 30 . Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. di antaranya dari sisi bahan. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. yaitu berupa bahasa. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks.

disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Dalam hal ini. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. dari pembaca saja. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Dengan demikian.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Dengan demikian. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. kerja yang objektif. yaitu pembacanya. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. 3.

Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Dalam hal ini. Namun. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. 32 .perspektif. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. sejumlah peralatan diperlukan. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur.

Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . sebagai berikut: 1. Tanpa paradigma. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. Bagi ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan.3. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. 2004: 21).3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. model. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. unsur dalam diri sendiri 2. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. pola.

Di satu pihak. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. sebagai cara pandang. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. bahkan khayalan. Dalam penelitian sastra. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural.yang relatif sama. tersistem. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. imajinasi. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. maka teori pun juga beraneka ragam. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Di pihak lain. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. 34 . Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. dan sebagainya. Jadi. Selanjutnya. Contohnya.

termasuk metode. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. faktor ontologis. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. periode. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. khususnya sastra. keseluruhan proses penelitian. dan teknik. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. dalam ilmu humaniora. Paradigma dengan demikian mendahului. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. teknik dan proses selanjutnya. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. faktor epistemologis. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. penelitian adalah penilaian. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. metode. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. faktor aksiologis. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. Pada gilirannya. Keempat faktor tersebut adalah: 1. teori. faktor metodologis. secara kualitatif. mengkondisikan ilmuwan sastra. 35 .

psikologis. Dengan kalimat lain. kecuali referensi estetisnya. Puisi. psikologis dan ilmu pengetahuan. dan berbagai paham yang lain. novel psikologis. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. aliran. puisi. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. Keseluruhan unsur. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma.generasi. 36 . Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. latar tempat dan waktu. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Perbedaannya. dan drama. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. novel. termasuk tokoh-tokoh. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. drama bersajak. Novel sejarah.

Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek.1. yaitu metode dan teknik. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian.4 Pendekatan Sastra 3. Lebih lanjut. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu.4. menganalisis.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. approach. dan menyajikan data. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. 2004: 5355). maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. 3. pendekatan berasal dari kata appropio. 37 . Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna.

dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Artinya. pragmatik. Dalam hubungan inilah. teori. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. intrinsik dan ekstrinsik.dan sebagainya. ekspresif. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. mitopoik. dan tekniknya. dan (4) pendekatan objektif. metode. pendekatan objektif. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. (2) pendekatan mimesis. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. dasarnya. (3) pendekatan pragmatik. 38 . Pada pendekatan mendahului teori dan metode. mimetik. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. seperti pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.4. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. 3.

nasionalisme. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang.3. komunisme. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. feminisme. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan.2. persepsi. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. dan 39 . dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. ucapan. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Secara metodis. pikiran dan perasaan.4. (3) produk pandangan dunia pengarang. dan hasil-hasil karyanya.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. pikiran-pikiran.

dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). (2) memetakan sejumlah pikiran.2. pikiran. Melalui pandangan ini. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. persepsi. 40 . yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. perasaan. pengalaman hidup. dan sebagainya Luxemberg.4. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. sesuai tujuan. pengalaman. 1958:8). 3. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. 1989:15). bentuk-bentuk kemasyarakatan. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. dan ideologi pengarang.

Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . suatu copy. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Menurut Baxter. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. suatu produk akhir. Secara terminologis. Segers (2000. tetapi penekanannya berbeda. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. suatu proses. Menurutnya.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Tiruan. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. menyiratkan sesuatu yang statis. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita.

42 . Oleh karena itu. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama.. Secara metodis. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. dsb. Melalui penjabaran di atas. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. sesuai tujuan. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok.

(2) penerapan praktis estetika resepsi. Dalam uraiannya. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. dan memahami karya sastra.3.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Menurutnya. Pembaca dalam 43 . Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya.2. menikmati. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca.4. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. pembacalah yang menilai. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Menurutnya. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. menafsirkan.

Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (5) rangkaian sastra. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. dan (7) sejarah umum. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. (4) semangat zaman. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (2) horison harapan. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. yaitu: (1) pengalaman pembaca. (3) nilai estetik. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Dalam hal ini.

teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Perihal semangat zaman. Teori menuntut 45 . Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Dengan kondisi tersebut.informasi.

Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. satirik. Fungsi sosial sastra 46 .bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. diidealkan. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial.

Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. dan interaksinya. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. literary repertoire. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Konsep dialektika respon estetik (Iser. Konsekuansinya. dan literary strategies Implied reader merupakan model. rol. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. 1987: 20 dan 54). Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. pembaca. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. historis. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya.

Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. 3.2.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.4. politis. 48 . termasuk biografi. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Dengan demikian. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Oleh karena itulah. sosiologis. antarhubungan. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. dan totalitas. seperti aspekhistoris. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.

Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dll. gaya bahasa. Secara metodologis. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. 49 . konflik. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. dan latar). Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. fakta cerita (tokoh. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. dan sarana cerita (pusat pengisahan. alur. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa.).Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. Adapun terhadap prosa.

tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50 . unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.Pada analisis prosa. Di dalam analisisnya.

apabila suatu bagian dihilangkan. mekanisme sendiri. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. dan Teeuw. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget.BAB IV STRUKTURALISME 4. 1999: 1-9. 1978: 17-18. dan Faruk: 1994: 17-18. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. 1984: 120139). untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. 1995: 4-12. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Selain itu. Artinya. Hawkes. melainkan rusak sama sekali. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. melainkan kualitatif. Faruk. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. terlepas dari 51 .

Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Aliran Kritik Baru di Amerika. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Sebagai kualitas totalitas. Artinya. Dengan kata lain. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. antarhubungan merupakan energi. Formalisme di Rusia. sesuatu yang berstruktur. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. mengembangkan. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. otonom. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. transformatif. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. mekanisme yang baru. dan self-regulatif. Karena itu. sesuatu yang utuh. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. motivator terjadinya gejala baru. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya.

Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. latar. Sejalan dengan uraian di atas. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Di pihak lain. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Dengan kata lain. Karya tidak dapat diisolasi. misalnya.sebagai sistem komunikasi. suatu masyarakat. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Namun demikian. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. 53 . plot. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. dan sebagainya. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Analisis terhadap penokohan. seperti kejadian.

Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. 1985: 128-13. reaksi terhadap studi biografis 2. Dengan jalan demikian. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. dan psikologi. Sebagai teori modern mengenai sastra. dan sebagainya. Meskipun demikian. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. puitika. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 .4. asosiasi. oposisi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. Metode yang digunakan metode formal. yaitu: 1. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. sosiologi.

dan (3) sebagai teori.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. struktur. 1985: 185-192. Menurutnya. dan nilai-nilai. (2) sebagai metode. 2003: 88-96. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. Muhadjir. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. melahirkan strukturalisme. 4. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. terdiri atas tanda. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. dan Ratna. Oleh karena itulah. 55 . Pradopo 2002: 46. fakta semiotik. 2002: 304). dan pembaca sebagai penerima. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. karya sastra adalah proses komunikasi.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. masyarakat yang menghasilkannya.

Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. penokohan. peristiwa. misalnya mengarah pada tema. ritme atau irama. Artinya. puisi. stilistika. simbol. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. dan gaya bahasa. latar. diksi atau pilihan kata. Prosa. alur. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. peristiwa atau kejadian. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. dan enjambemen. Unsurunsur prosa. penokohan. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. nada.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. latar atau setting. puisi. sudut pandang. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. dan gaya bahasa. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. imajinasi. rima atau persajakan. tujuan analisis di lain pihak. alur. Unsur-unsur puisi. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. di antaranya tema. dialog.

Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. dan pendengar. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. tidak semau-maunya. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. yaitu pencerita. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Dalam hubungan ini. karya sastra. 57 . Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Jadi. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama.

pengertian tanda ada dua prinsip. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. aliran semiotik. antara penanda dan petanda. Menurutnya. dan simbol. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. indeks. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning).4. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. arti bahasa dalam 58 . Dalam lapangan semiotik. yang merupakan bentuk tanda. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. 1993: 183-189). latar belakang sejarah pertumbuhannya. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Ada tiga jenis tanda yang pokok. Stout (dalam Makaryk. yaitu persamaan dan sebab akibat. yaitu ikon. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua.

intensitas. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. perasaan. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Dalam sistem semiotik. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Berhubungan dengan hal ini. Dalam kaya sastra. suasana.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. arti tambahan (konotasi). Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Jadi. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. daya liris. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 .

karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. atau yang lain. termasuk sastra. Sejalan dengan paham triadik peircean. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Menurut pandangan intertektualitas. terdapat (1) sintaksis semiotika. (2) semantik semiotik. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Dilihat dari segi cara kerjanya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. dan (3) pragmatik semiotik. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya.

c. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. ground. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. legisigns. object (designatum. rheme. b. denotatum. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. interpretant. b. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. simbol. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. ikon. dan interpretant. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. yang paling sering diulas adalah object. 2. dicent signs. qualisigns. representamen. argument. referent). Menurut Aart van Zoet (Ratna. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. type. object.1. yaitu apa yang diacu: a. c. 2004: 102) di antara ikon. c. b. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. sinsigns. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. tokens. Di antara representamen. 61 .

Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. yang terpenting adalah ikon. Alasannya. termasuk karya sastra. yaitu (a) pengarang (ekspresif). dan simbol. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. 62 . Karena itu. sebagai struktur. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. dan (d) objektif (otonom). 4. Teks sastra kaya dengan ikon. dan Faruk. 1993: 95-99. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur.indeks. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Sebagai strukturalisme. (b) semestaan (mimetik). Kellner dalam makaryk. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif.5. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). (c) pembaca (pragmatik). di lain pihak. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. 1993: 340-341.

marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Menurut Marxis. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Untuk melakukan transformasi atas alam. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Oleh karena itu. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. yaitu melakukan transformasi atas alam. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

Karena itu. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. melainkan kelas sosial. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu.5. 4. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Karya-karya kultural yang besar. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.

Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Dalam pengertian strukturalisme genetik. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. pendidikan. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. dan sebagainya.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Karena itu. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. kelompok etnis. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. seperti kelompok profesi. Karena itu. ras. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya.

melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. dan sebagainya. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Namun. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Todorov. 4. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas.5. seperti strukturalisme. Hanya beberapa di antaranya.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Dalam pandangan strukturalisme genetik. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Dengan demikian. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Greimas. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. bersifat mimetik.

Struktur yang demikian. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. menurut strukturalisme genetik. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan.semantik pula. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 .

Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian.5. 4.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Namun. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Menurut paham tersebut. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. yang juga berstruktur.

sebagaimana hubungan antara subjek. hikayat. Dengan demikian. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. seperti model sintaksis. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. subjek secara linguistik.6 Naratologi 4. bukan 72 . 4. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. dan objek penderita. Narratio berarti cerita. logos berarti ilmu. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. atau sebaliknya. predikat. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. kisah.6. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu.dialektik.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. perkataan. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. demikian juga dengan wacana dan teks. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik.

melainkan melalui bahasa. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Setiap orang. Pada pahan pascastruktural. dan wacana. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. restorasi. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. semboyan. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. analisis naratif merupakan bagian ideologi. sastra. bukan pengarang. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. politik. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural.person. diceritakan oleh narator. bukan pengarang. dan ekonomi. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. tetapi juga melalui kata-kata. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. misalnya. Revolusi. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. dengan pertimbangan 73 .

bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Dilihat dari media yang tersedia. Hampir keseluruhan genre sastra. tokoh-tokoh. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. tema. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. kebudayaan pun tidak ada. novel juga merupakan objek yang paling memadai. baik sebagai penulis. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Tanpa cerita. wacana. pembaca. dan gaya bahasa. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. cerita sebagai tulang punggung karya. paling luas. sudut pandang. latar. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. 74 . cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Di pihak lain. Dalam pembicaraan mengenai naratif. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. yaitu dunia fiksional. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. Tanpa plot. Dalam karya sastra. dan teks.

dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Shlomith Rimmon-Kenan (story. 1993: 110.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. biografi. Gerald 75 . interdisipliner. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. Henry James (tokoh dan cerita). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). catatan harian. dan suara). dan sebagainya. puisi naratif. modus. Para pelopornya. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. story. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. fabula. Claude Bremond (struktur dan fungsi). text). Wilayah tersebut selain menjangkau novel. lelucon. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. cerpen. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. durasi. text. yaitu: 1. juga roman. mitos. Para pelopornya. Mieke Bal (fabula.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Secara historis. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). frequensi. narration). Forster (tokoh bundar dan datar). Tzvetan Todorov (historie dan discours). Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). epik. Percy Lubbock (teknik naratif). Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). termasuk feminis dan psikoanalisis. gongeng.

Jonathan Culler (kompetensi sastra). Roland Barthes (Kernels dan satellits). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Menurutnya. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik).Prince (struktur narratee). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.6. Artinya. Oleh karena itu. yaitu Propp. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. LeviStrauss. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. pastiche). Todorov. Seymoeur Chatman (struktur naratif). unit terkecil yang membentuk tema.6. 4. Hayden White (wacana sejarah). Propp 76 .2. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Marry Louise Pratt (tindak kata).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Jacques Derrida (dekonstruksi). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.

perbuatan. dan (7) pahlawan palsu. Menurutnya. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. (6) pahlawan. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. dan Todorov. Di sini. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. yaitu: (1) penjahat. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). (5) orang yang menyuruh. (2) donor. 77 . Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Bremond. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. yaitu: pelaku. Motif dibedakan menjadi tiga macam. persona bertindak sebagai variabel.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). (4) putri dan ayahnya. (3) penolong. Dengan kalimat lain.

mitos adalah naratif itu sendiri.2. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru.6.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. dan harus direkonstruksi melaluinya. misalnya. Menurutnya. bumi langit. melalui struktural. Dengan kalimat lain. Pendekatan antropologi sastra. dilakukan terhadap mitos Oedipus. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. dan incest. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Di satu pihak. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. 78 . Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. tabu.4. seperti laki-laki perempuan. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. khususnya konsep-konsep oposisi biner. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. baik secara bulat maupun fragmentasi. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. dan sebagainya.

yaitu: kehendak. dan sebaliknya. Menurutnya. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. gaya bahasa. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. 4. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. dan partisipasi.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. Oleh karena itulah. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. yaitu (1) aspek sintaksis. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. dan latar.2. berkaitan dengan makna dan lambang.6. (2) aspek semantik. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. secara berdampingan. meneliti tema. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. dan sebagainya. dan (4) aspek verbal. tokoh. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . sebagai hubungan makna dan perlambangan.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. komunikasi.

Apel adalah sebagai objek. Greimas (dalam Abdullah. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. seperti: psikologi sastra. tetapi diperluas pada mitos.6. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju.antarhubungan adalah kausalitas. acteurs merupakan kategori umum. baik sebagai pengirim maupun penerima. 4.2. sosiologi sastra. Mary sebagai penerima. 1999: 11-13. dll. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. yaitu tata bahasa naratif universal. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. studi biografi. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. kritik fenomenologis. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Tidak ada subjek di balik wacana. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Yang ada hanyalah subjek. 80 .4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. sastra sebagai proyeksi. yaitu dongeng. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. John dan Paul juga merupakan pengirim.

dan penolong dengan penentang. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. pelaku. dan ilmu sosial lainnya. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Sebaliknya. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. tek. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Cerita adalah bahan 81 . Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. dan plot. religi. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. dan struktur yang bersifat pemutusan. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. yaitu subjek dengan objek. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Actans merupakan struktur dalam. Oleh karena itu.

Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. perangkat peristiwa. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. 82 . Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. sebagai model kedua. sebagai model pertama.kasar.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. untuk memisahkan kemenduaan. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. 5.1. dan fungsional. dan (c) peletak dasar 86 . Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Karenanya. sistematis. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. (2) kemenduaan arti (ambiguity). (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya.

Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. serta dana. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. pikiran. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. (3) masalah harus merupakan hal penting. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). 87 . maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. (4) masalah harus dapat duji. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Menurut Nazir (1985: 134-135). (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. waktu.

rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra.1. Dengan demikian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. hubungan antarunsur. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. dan totalitas di dalamnya. topik penelitian atau judul penelitian.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. 88 .3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). mengembangkan (develop atau extention). dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Berhubungan dengan penelitian sastra. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5.

lingkup masalah.1. misalnya. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. 89 . rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). 2001:2). Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Secara ideal. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. berjumlah tertentu. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. sistematis. 5. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis.

circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. dan totalitasnya. Dalam kerangka strukturalisme. sebagai akumulasi konsep. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. baik sebagai teori maupun metode. Dalam uraian landasan teori. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. teori tidak harus dipahami secara kaku. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. misalnya. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Penerimaan yang dimaksud 90 . konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Sebagai suatu cara pemahaman. antarhubungan. khususnya analisis fiksi. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya.Dengan demikian. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Dalam strukturalisme. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. diperlukan penerimaan positif. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Teori adalah alat.

. 5. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Atau dengan kalimat lain.mengarah kepada keteraturan. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu.1. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Sebaliknya. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.

maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. dsb. demi pemahaman identitas data penelitian. dan hubungan antarunsur. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. sistematik. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. padu. Penentuan data berdasarkan perilaku. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Sejalan dengan uraian di atas.(pendekatan) linguistik. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. (2) kategori harus lengkap. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. pemilihan. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. hubungan simetris 92 . (3) kategori harus bebas dan terpisah. Dengan kata lain. ciri. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis.

Sejalan dengan uraian di atas. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. 3. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. hubungan saling mempengaruhi. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. dan faktor kebetulan. 2.

pemilahan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4.penelitiannya. pemilahan. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. dan pengolahan data secara sistematis. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian.

dan tujuan penelitian. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. 5. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian.

(3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Idealnya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh.

kepahlawanan dan petualangan.. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. waktu pelaksanaan. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat.. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. pengembangan penelitian sejenis.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.1. referensi yang memadai. dsb. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Merujuk pada potensi teks tersebut.. dana yang tersedia. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. Latar Belakang .. keinginan. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. ciri. . keberanian..

berpikir logis. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Namun demikian. 2. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tampak 98 . tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1.

membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. 4. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. keterjalinan antarunsur cerita. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. struktur cerita yang terbentuk. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. alur. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. dan penelusuran tema dan amanat. latar) 3. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. 99 .

mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. misalnya 100 . seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. 5. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. Cermati contoh berikut: 1. Dalam hal ini . Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya.Berdasarkan upaya tersebut.

menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. alur. Paham struktural objektif. Struktur dinamik. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. 101 . Penjabarannya menjadi. Oleh karena itu. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. menempatkan teks secara otonom. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. antar hubungan. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik.

(3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. tempat. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . identifikasi masalah. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. dan analisis data. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. pengolahan data. padu. pemilihan data. sosial). dan menyeluruh. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. Dengan demikian. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. dll. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor.

Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . dan fungsional. dan metode kajian.tingkat kepekaan literer. dan metodologis. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. teoretis. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural naratif d.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. 5. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. kajian struktural genetik c. sistematis. kajian struktural objektif b. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teori.

Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. identifikasi masalah. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. seteliti.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. kurang memadai.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. 2003:112). semendetail. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Berdasarkan contoh di atas. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. dan tujuan penelitian tertentu. Uraian landasan teori tampak 104 .

5. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Kelemahan lain.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.

1980: 139). dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). dan menginterpretasikan data (Winarno. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. tema.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dengan demikian. fakta. menganalisis. sifat. sifat. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. 106 .1. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. sejumlah data. fenomena. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). mengklasifikasikan . dan amanat dapat terungkap secara tepat. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. keterjalinan unsur. unsurunsur karya. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. menyusun. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel.

dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.b. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. seteliti. plot/alur. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. b dan c. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Dalam hal ini. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. (2) struktur cerita. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. dan (4) tema dan amanat. semendetail. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. dan latar. penyusun UP tersebut cukup 107 . Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita.

plot/alur. Kekuarang yang dimaksud adalah: a.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. Namun demikian. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Misalnya saja. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .

b. seperti pengeplotan.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. dan sosial? c. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. tempat. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. kesatupaduan) sebagai instrumen. suspense. surrise. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. Demikian pula pada pembicaraan latar. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. Pada unsur-unsur cerita lainnya. kepadatan. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. jumlah. d.

Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 .penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Adapun dalam penentuan amanat. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian.

selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. Dengan demikian. ******* 111 .

Iser. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 1987. Pengantar Sosiologi Sastra. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. 1999. dkk. Chamamah.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Jan van. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. 1983. Jauss. ed. Irena R. 1989.” Makalah. Imran T. (ed. “Sastra Lisan. M. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 .W.” Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Jakarta: Gramedia.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.). S. 1994. Makaryk. Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Abrams. Luxemburg.H. Norton & Company Inc. Minneapolis: University of Minnesotta Press. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. “Strukturalisme-Genetik. New York: The Norton Library.) 1993. Toward an Aesthetic of reseption. W. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Wlfgang. 2001. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Hans Robert. 1999. The Act of Reading.

1987. dan Teknik. Rachmat Djoko.Bhd. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Rene & Austin Warren. Jakarta: Pustaka Jaya T. Bandung: Eresco. 1985. Metode.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Makalah. Segers. Diterjemahkan oleh Okke K. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. 1995. Jakarta: Djambatan. 1999. 1984. Jakarta: Gramedia Wuradji. 19.S. Metode Penelitian Linguistik. 1993. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. 2002. Todorov. Noeng. Metode Penelitian. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. V. Morfologi Cerita Rakyat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Burhan. Sastra dan Ilmu sastra. Pradopo. Rien T. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Yogyakarta: AdiCita Teeuw.). Evaluasi Teks Sastra. Nyoman Kutha. Tata Sastra. Wellek. Sayuti. Zaimar. 2004. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Yogyakarta: Gama Media Propp. 2001. 2000. Fatimah Djajasudarma.Muhadjir. Penelitian Sastra: Teori. Diterjemahkan oleh Suminto A. Metodologi penelitian Kualitatif. Selangor: Sain Baru Sdn. Moh. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. ------------------------------. 2002. “Pengantar Penelitian. ed. “Strukturalisme”. Tzvetan. dkk. 1985. A. Teori Kesusastraan.

114 .

115 .