METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

.........1......2 Identifikasi Masalah ……………………………………….....1.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ........1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.... .. 5........ 5..3 Tujuan Penelitian …………………………………………......2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.1.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5. 5.. 83 5. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .6..3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4....2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.........1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ........4. 5...........5 Metodologi ………………………………………………… 5..6.6...1.2..............2..4 Landasan Teori …………………………………………… 5...3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5...1....4 Greimas ……………………………………………....2....

sastra dalam penelitian ilmiah. hakikat.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. relevansi metode dan penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. Selain itu. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. i .

Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Agustus 2007 Penyusun ii . penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. teori. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Dengan demikian.

Metode. melalui. metode. sesudah. Teknik berasal dari kata teknikos. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. cara. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. 2. atau seni menggunakan alat.1 Pengertian. yang berarti alat. strategi untuk memahami realitas. Metodologi berasal dari methodos dan logos. mengikuti. arah. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. 3. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Hakikat Metodologi. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi.BAB I PENDAHULUAN 1. Dalam pengertian yang lebih luas. metode dianggap sebagai cara-cara. sedangkan hodos berarti jalan.

Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. 1. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. dan (3) sadar teknis.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. perumusan masalah. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. (2) sadar teoritik. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. dan kerangka pemikiran penelitian. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. 2 . Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu.

sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. komparasi. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. induksi dan deduksi. Sebagai alat. mengadakan pengujian teori.Dengan prosedur kerja yang baik. menyusun proposal. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. merumuskan hipotesis dan permasalahan. sama dengan teori. misalnya. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. Klasifikasi. deskripsi. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. bukanlah karena perbedaan metode. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. dan akhirnya menarik kesimpulan. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. membangun konsep dan model. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. sampling. termasuk ilmu humaniora. kuantitatif dan kualitatif. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. eksplanasi dan interpretasi. menganalisis data. 3 . Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu.

Berbeda dengan metode. teknik berhubungan dengan data primer. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. teknik dapat dideteksi secara inderawi. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. struktural. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. dokumen. angket. kuesieoner. Sebagai alat. Metode deskripsi. teknik bersifat paling kongkret. dan sebagainya. statistik. Artinya. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Sebagai instrumen penelitian. Metode sering disebutkan sebagai teknik. bahkan juga dengan teori. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. tetapi dasar dan cara pemahamannya. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. misalnya: wawancara. jelas berbeda. teknik kartu data. komparasi. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. rekaman. melalui cara: 1. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. Dengan demikian.

Tetapi sebelumnya. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik.Pada pembicaraan yang berbeda. metode dapat menjadi teori. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. struktur disebut sebagai metode. teori. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. 5 . metodologi. metode. Jadi. 3. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. 2. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. dan teknik. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. yaitu sintesis itu sendiri. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. d. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.menerus.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. 9 .

Jadi. Sebagai akibatnya. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. Hubungannya dengan ilmu. 10 . kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. kecermatan. dan kecerdasan yang memadai. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. atau pencarian kembali atas suatu objek. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. ilmu dapat hidup.

yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Dalam menghadapi masalah. Kedua. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Oleh karena itu pula. sistematis. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula.berkembang. Pertama. scientific objective. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. Oleh karena itu. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. 1985: 9-15). Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. practicial objective. terutama yang berkaitan 11 .

yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. dan sesuai dengan objeknya. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. teori-teori. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. nalar. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem.dengan pemanfaatan teori dan metode. Kaitannya dengan kehidupan ilmu.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Urutan umum dari proses 12 . yaitu penelitian sastra. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan.

baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . dan spiritual. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. emosional. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. manusia mencari tahu dan mencari makna. pengumpulan data. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Di samping itu. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Oleh karena itu. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. Di samping masalah yang dihadapi. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. analisis data. fakta. social. penelaahan informasi. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. dan penyajian kesimpulan. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran.

penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. atau pendapat umum. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. dan menafsirkan apa yang diamati. kemudian melakukan proses penemuan. penyelidikan. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. menggambarkan. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. atau memperkaya teori yang sudah ada. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). otoritas. 14 . atau penelitian. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. melakukan kegiatan penemuan. intuasi. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru.

Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Dalam hal ini.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Oleh karena itu. Kedua. Pertama. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas.

Teori dapat membantu merumuskan problem. serta membantu dalam menginterpretasi data. pengembangan instrumen. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta.berhubungan). pengajuan hipotesis. penyusunan design. Penelitian akan menghasilkan teori. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengumpulan dan analisis data.

Penelitian ilmiah ketanpapamrihan.ilmiah. (3) mengadakan studi pustaka. yaitu: 1. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. dituntut langkah-langkah berturut-turut. 3. 2. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (6) mengolah data. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. (5) mengumpulkan data. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. Dalam penelitian ilmiah. ilmu-ilmu humaniora. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. menginterpretasi. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Dalam kerja penelitian. (4) merumuskan hipotesis. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (2) bebas prasangka. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. menganalisis. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. komunikasi. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. terorganisir. (3) menggunakan prinsip analisis. dan menyimpulkan. (7) menganalisis dan 17 .

18 . Demikian pula. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya.menginterpretasi. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (9) menarik kesimpulan. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.

didukung data empiris 19 . analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.2.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. sistematis 2. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. d. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. menghasilkan pengetahuan yang: a. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b.

Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar.2. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research).4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Charters. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Ratna. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. dan Whitney. Berdasarkan desain metodologinya. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. (bandingkan Nazir. 2. dan Muhadjir. yaitu : 1. 2004. 1885. Penelitian ini bertujuan untuk 20 .

content analysis. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. 3. 4. 2. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Macam-macam 21 . 6. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. 5. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. ethnography merupakan pendekatan penelitian.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi.

dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. surat kabar. 22 . Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. buku harian. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . 2. gambar. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. fotografi. Sejalan dengan uraian di atas. 2. dan majalah. buku teks. grafik. Dalam ilmu sastra. dan Wilhlem Dilthey (Ratna.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. yaitu sebagai studi kultural. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. laporan. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. biografi. sesuai dengan hakikat objek. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. film. 2004: 47-49). lukisan. Immanuel kant. Dalam ilmu sosial. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah.

penelitian bersifat alamiah. sikap-sikap. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. gambaran atau lukisan secara sistematis. Adakalanya peneliti 23 . suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. 5. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. pandangan-pandangan. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. 2. 4. suatu objek. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.3. Menurut Whitney (dalam Nazir. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. suatu set kondisi.

Metode ini dinamakan juga studi status . masalah yang dirumuskan harus patut. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. kriteria umum: 1. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2.

kriteria khusus 1. variabel dilihat sebagaimana adanya. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. B. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. sifat penelitian adalah ex post facto. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. 3. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.5.

metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 .3. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7.

metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Dalam studi komparatif ini. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. subjek penelitian dapat saja individu. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. 27 . kelompok.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. maupun masyarakat. lembaga. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

29 . Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Plark. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. ekonomi. Riffaterre. Menurutnya. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Eagelton. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. dan keagamaan. keberadaannya tidak merupakan keharusan. dan Teeuw. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Lotman.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Eliis.

30 . Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Sebagai satu sistem. Melalui sistem sastralah. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. secondary modelling system. yaitu berupa bahasa. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. di antaranya dari sisi bahan. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks.

tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Dengan demikian. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. yaitu pembacanya. Dalam hal ini. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Dengan demikian. 3.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. dari pembaca saja. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. kerja yang objektif. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra.

sejumlah peralatan diperlukan. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas.perspektif. Dalam hal ini. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Namun. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. 32 . Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus.

pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. pola. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. Tanpa paradigma. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian.3. sebagai berikut: 1. model. 2004: 21). Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Bagi ilmuwan. unsur dalam diri sendiri 2.

penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Contohnya. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif.yang relatif sama. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Dalam penelitian sastra. tersistem. maka teori pun juga beraneka ragam. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Jadi. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. sebagai cara pandang. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Di pihak lain. bahkan khayalan. Selanjutnya. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Di satu pihak. imajinasi. dan sebagainya. 34 .

Paradigma dengan demikian mendahului. mengkondisikan ilmuwan sastra. 35 . baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. metode. keseluruhan proses penelitian. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. periode. termasuk metode. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. penelitian adalah penilaian. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. faktor aksiologis. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor metodologis. secara kualitatif. dalam ilmu humaniora. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. dan teknik. khususnya sastra. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. Keempat faktor tersebut adalah: 1. teori. faktor epistemologis. Pada gilirannya. faktor ontologis. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. teknik dan proses selanjutnya.

demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. dan drama. puisi. novel. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Keseluruhan unsur.generasi. 36 . dan berbagai paham yang lain. Dengan kalimat lain. termasuk tokoh-tokoh. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. aliran. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. novel psikologis. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Novel sejarah. psikologis dan ilmu pengetahuan. Puisi. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. kecuali referensi estetisnya. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. Perbedaannya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. psikologis. latar tempat dan waktu. drama bersajak. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan.

maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. approach. pendekatan berasal dari kata appropio. yaitu metode dan teknik. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. 37 . menganalisis.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori.4 Pendekatan Sastra 3. 2004: 5355).4. dan menyajikan data. 3. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Lebih lanjut. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan.1.

Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. 3. teori.4. pragmatik. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. Artinya. dan tekniknya. intrinsik dan ekstrinsik. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. ekspresif.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. dan (4) pendekatan objektif. metode. 38 . (3) pendekatan pragmatik. seperti pendekatan sosiologi sastra. pendekatan objektif. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. mitopoik. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. (2) pendekatan mimesis. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. dasarnya. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode.dan sebagainya. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam hubungan inilah. mimetik. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.

langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. nasionalisme. dan hasil-hasil karyanya. pikiran dan perasaan.4.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.2. Secara metodis. persepsi. komunisme. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. ucapan. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. pikiran-pikiran. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. dan 39 . (3) produk pandangan dunia pengarang. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. feminisme.3.

sesuai tujuan. Melalui pandangan ini. pengalaman. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba.4.2. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis).2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. dan ideologi pengarang. (2) memetakan sejumlah pikiran. perasaan. 1989:15). yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. 40 . persepsi. dan sebagainya Luxemberg. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. 3. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. 1958:8). pengalaman hidup. pikiran. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. bentuk-bentuk kemasyarakatan.

Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Menurutnya. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. suatu produk akhir. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Segers (2000. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Menurut Baxter. suatu copy. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Secara terminologis. suatu proses. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist.Sehubungan dengan pendekatan mimesis.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. menyiratkan sesuatu yang statis. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. tetapi penekanannya berbeda. Tiruan. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra.

(2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. Melalui penjabaran di atas. dsb. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. sesuai tujuan.. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. 42 . Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. Secara metodis. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. Oleh karena itu.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra.

Dalam uraiannya.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. menikmati. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. pembacalah yang menilai. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Pembaca dalam 43 . dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra.2. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Menurutnya. menafsirkan. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra.3. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya.4. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. (2) penerapan praktis estetika resepsi. dan memahami karya sastra. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Menurutnya. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi.

Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. (5) rangkaian sastra. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. (2) horison harapan. (3) nilai estetik. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. (4) semangat zaman. dan (7) sejarah umum. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Dalam hal ini.

teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Teori menuntut 45 . Dengan kondisi tersebut. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Perihal semangat zaman.informasi. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.

Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Fungsi sosial sastra 46 . Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. diidealkan. satirik. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya.

Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. pembaca. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . historis. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. dan literary strategies Implied reader merupakan model. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. rol. 1987: 20 dan 54). Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Konsekuansinya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. dan interaksinya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. literary repertoire. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca.

Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. politis. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. seperti aspekhistoris. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur.2. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. dan totalitas. antarhubungan. Oleh karena itulah. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Dengan demikian. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. termasuk biografi. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi.4. sosiologis. 3. 48 . Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya.

2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. konflik. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Secara metodologis. dan latar). Adapun terhadap prosa.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi).). dll. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. alur. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. gaya bahasa. 49 . Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. fakta cerita (tokoh.

Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.Pada analisis prosa. Di dalam analisisnya. 50 . unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra.

1999: 1-9. dan Teeuw. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. 1995: 4-12. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Artinya.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. dan Faruk: 1994: 17-18. terlepas dari 51 . Selain itu. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Faruk. 1978: 17-18. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. apabila suatu bagian dihilangkan. melainkan kualitatif. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. mekanisme sendiri.BAB IV STRUKTURALISME 4. melainkan rusak sama sekali. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. 1984: 120139). Hawkes. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri.

Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Aliran Kritik Baru di Amerika. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Formalisme di Rusia. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. mengembangkan. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. mekanisme yang baru. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Sebagai kualitas totalitas. sesuatu yang berstruktur. dan self-regulatif. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. otonom. Karena itu. motivator terjadinya gejala baru. sesuatu yang utuh.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Dengan kata lain. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Artinya. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. transformatif. antarhubungan merupakan energi. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi.

Di pihak lain. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Karya tidak dapat diisolasi. Dengan kata lain. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Sejalan dengan uraian di atas. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. misalnya. latar.sebagai sistem komunikasi. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. dan sebagainya. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Namun demikian. Analisis terhadap penokohan. suatu masyarakat. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. plot. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. seperti kejadian. 53 .

formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. yaitu: 1. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan.4. oposisi. reaksi terhadap studi biografis 2. puitika. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Sebagai teori modern mengenai sastra. dan psikologi. Meskipun demikian. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. asosiasi.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. 1985: 128-13. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. dan sebagainya. Metode yang digunakan metode formal. Dengan jalan demikian. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. sosiologi.

dan pembaca sebagai penerima. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. masyarakat yang menghasilkannya. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. melahirkan strukturalisme. Menurutnya. 4. Muhadjir. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. (2) sebagai metode. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. Oleh karena itulah. dan (3) sebagai teori. fakta semiotik. 2002: 304). 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. dan Ratna. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 1985: 185-192. struktur. Pradopo 2002: 46. terdiri atas tanda.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. dan nilai-nilai. 55 . Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. 2003: 88-96. karya sastra adalah proses komunikasi. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas.

alur. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . Artinya. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. Unsur-unsur puisi. Unsurunsur prosa. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. penokohan. alur. imajinasi. dialog. tujuan analisis di lain pihak. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. nada. peristiwa atau kejadian. diksi atau pilihan kata. simbol. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. dan enjambemen. sudut pandang. di antaranya tema. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. puisi. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. puisi. Prosa. penokohan. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. ritme atau irama. latar. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. rima atau persajakan. stilistika. latar atau setting. dan gaya bahasa. misalnya mengarah pada tema. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. peristiwa. dan gaya bahasa.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa.

Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). 57 .sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. yaitu pencerita. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. tidak semau-maunya. dan pendengar. karya sastra. Jadi. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Dalam hubungan ini.

Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. indeks.4. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Stout (dalam Makaryk. Ada tiga jenis tanda yang pokok. latar belakang sejarah pertumbuhannya. yang merupakan bentuk tanda. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. antara penanda dan petanda. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. yaitu ikon. arti bahasa dalam 58 . 1993: 183-189). Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. yaitu persamaan dan sebab akibat.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. pengertian tanda ada dua prinsip. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Dalam lapangan semiotik. aliran semiotik. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. Menurutnya. dan simbol.

perasaan. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Dalam sistem semiotik. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Jadi. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. daya liris. intensitas. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. arti tambahan (konotasi). yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. suasana. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Berhubungan dengan hal ini. Dalam kaya sastra.

studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. termasuk sastra. Sejalan dengan paham triadik peircean. (2) semantik semiotik. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Dilihat dari segi cara kerjanya. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. terdapat (1) sintaksis semiotika.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. dan (3) pragmatik semiotik. Menurut pandangan intertektualitas. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. atau yang lain. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya.

object. Menurut Aart van Zoet (Ratna. 61 . 2004: 102) di antara ikon. argument. c. yaitu apa yang diacu: a. rheme. dan interpretant. c. type. legisigns. denotatum. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. qualisigns. b. referent). tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. object (designatum. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. ground. c. representamen. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. 2. yang paling sering diulas adalah object. tokens. b. simbol.1. ikon. sinsigns. Di antara representamen. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. interpretant. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. dicent signs. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. b. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. tanda tampak sebagai nalar: proposisi.

5. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. 1993: 340-341. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Kellner dalam makaryk. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. dan Faruk. (b) semestaan (mimetik). 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. 4. (c) pembaca (pragmatik). dan (d) objektif (otonom). maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Alasannya. termasuk karya sastra. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. sebagai struktur. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. yang terpenting adalah ikon. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). dan simbol. Karena itu. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Sebagai strukturalisme. Teks sastra kaya dengan ikon. yaitu (a) pengarang (ekspresif).indeks. 1993: 95-99. di lain pihak. 62 .

marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Oleh karena itu. Menurut Marxis. yaitu melakukan transformasi atas alam. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Untuk melakukan transformasi atas alam. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. Karya-karya kultural yang besar.5. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Karena itu. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. melainkan kelas sosial. 4. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor.

Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Karena itu. kelompok etnis. seperti kelompok profesi. ras. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. pendidikan. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Karena itu. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. dan sebagainya. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri.

4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Todorov. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. bersifat mimetik. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. 4. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Dalam pandangan strukturalisme genetik. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 .5. dan sebagainya. Namun. seperti strukturalisme. Greimas. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Hanya beberapa di antaranya. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Dengan demikian. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa.

Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain.semantik pula. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Struktur yang demikian. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. menurut strukturalisme genetik. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan.

yang juga berstruktur. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. Menurut paham tersebut. 4. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik.5.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Namun. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra.

2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. 4. sebagaimana hubungan antara subjek. logos berarti ilmu. predikat. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. dan objek penderita. Narratio berarti cerita. kisah. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. perkataan. Dengan demikian. seperti model sintaksis. subjek secara linguistik.dialektik. demikian juga dengan wacana dan teks. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik.6 Naratologi 4.6. bukan 72 . hikayat.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. atau sebaliknya.

dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Revolusi. sastra.person. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. tetapi juga melalui kata-kata. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Pada pahan pascastruktural. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. semboyan. politik. dengan pertimbangan 73 . penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. dan ekonomi. analisis naratif merupakan bagian ideologi. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. restorasi. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. akrab dengan cerita Jaka Tarub. diceritakan oleh narator. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. dan wacana. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. melainkan melalui bahasa. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. misalnya. Setiap orang. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. bukan pengarang. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. bukan pengarang. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural.

Tanpa plot. Dalam pembicaraan mengenai naratif. kebudayaan pun tidak ada. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. Dilihat dari media yang tersedia. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. Tanpa cerita. sudut pandang. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. novel juga merupakan objek yang paling memadai. tema. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. dan teks. Di pihak lain. yaitu dunia fiksional. 74 . karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Dalam karya sastra. baik sebagai penulis. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. pembaca. paling luas. dan gaya bahasa. tokoh-tokoh. cerita sebagai tulang punggung karya. wacana. latar. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Hampir keseluruhan genre sastra. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks.

yaitu: 1. frequensi. biografi. durasi. epik. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Shlomith Rimmon-Kenan (story. puisi naratif. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. narration). lelucon. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Para pelopornya. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. fabula. interdisipliner. story. Henry James (tokoh dan cerita). di antaranya: Gerard Gennet (urutan. Forster (tokoh bundar dan datar). 1993: 110. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. dan suara). gongeng. Mieke Bal (fabula. dan sebagainya. modus. cerpen. catatan harian. mitos. text. Tzvetan Todorov (historie dan discours). text). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. juga roman. Gerald 75 . termasuk feminis dan psikoanalisis. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. Para pelopornya. Percy Lubbock (teknik naratif). Claude Bremond (struktur dan fungsi). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. Secara historis. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot).

4. Artinya.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. pastiche). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Menurutnya. Marry Louise Pratt (tindak kata). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Oleh karena itu. unit terkecil yang membentuk tema. Jean-Francois Lyotard (metanarasi).Prince (struktur narratee). Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.6.2. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Roland Barthes (Kernels dan satellits). dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. yaitu Propp. Seymoeur Chatman (struktur naratif). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Hayden White (wacana sejarah).6. LeviStrauss. Todorov. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Jacques Derrida (dekonstruksi). Jonathan Culler (kompetensi sastra). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Propp 76 .

(2) donor. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. (6) pahlawan. persona bertindak sebagai variabel. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. (4) putri dan ayahnya.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). 77 . Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. dan (7) pahlawan palsu. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). (3) penolong. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). (5) orang yang menyuruh. Motif dibedakan menjadi tiga macam. dan Todorov. Di sini. yaitu: (1) penjahat. Menurutnya. perbuatan. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Dengan kalimat lain. yaitu: pelaku. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Bremond.

Di satu pihak. misalnya. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru.2. khususnya konsep-konsep oposisi biner. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. dan incest. mitos adalah naratif itu sendiri.4. baik secara bulat maupun fragmentasi. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. dan harus direkonstruksi melaluinya. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. melalui struktural. Menurutnya. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. dilakukan terhadap mitos Oedipus. seperti laki-laki perempuan. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. bumi langit. Pendekatan antropologi sastra. dan sebagainya. 78 .6. Dengan kalimat lain. tabu.

Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. gaya bahasa. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet.6. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. (2) aspek semantik. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. Oleh karena itulah. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. dan latar. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. meneliti tema. yaitu: kehendak. yaitu (1) aspek sintaksis. tokoh. berkaitan dengan makna dan lambang. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. dan sebagainya. secara berdampingan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . dan sebaliknya. sebagai hubungan makna dan perlambangan. dan (4) aspek verbal. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. 4. Menurutnya.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Dalam menganalisis tokoh-tokoh.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme.2. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. komunikasi. dan partisipasi.

Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. 1999: 11-13. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain.antarhubungan adalah kausalitas. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. kritik fenomenologis. Apel adalah sebagai objek. tetapi diperluas pada mitos. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. John dan Paul juga merupakan pengirim.6. dll. acteurs merupakan kategori umum. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Mary sebagai penerima.2. Yang ada hanyalah subjek. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. studi biografi. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). yaitu tata bahasa naratif universal. Greimas (dalam Abdullah. Tidak ada subjek di balik wacana. sosiologi sastra. baik sebagai pengirim maupun penerima. yaitu dongeng. sastra sebagai proyeksi. 80 .4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. 4. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. seperti: psikologi sastra.

Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. tek. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. yaitu subjek dengan objek. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Oleh karena itu. struktur yang bersifat penyelenggaraan. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. pelaku. Actans merupakan struktur dalam. dan ilmu sosial lainnya. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Sebaliknya. dan struktur yang bersifat pemutusan. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Cerita adalah bahan 81 . maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. religi. dan plot. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. dan penolong dengan penentang.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat.

susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . 82 . sebagai model pertama. sebagai model kedua. perangkat peristiwa. seperti ringkasan cerita atau sinopsis.kasar.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. sistematis. 5. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut.1. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. (2) kemenduaan arti (ambiguity). Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. untuk memisahkan kemenduaan.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. dan (c) peletak dasar 86 . dan fungsional. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Karenanya. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis.

Ciri kedua yang menyangkut fisible. serta dana. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. 87 . Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. waktu. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. (3) masalah harus merupakan hal penting. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. pikiran. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. Menurut Nazir (1985: 134-135). hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. (4) masalah harus dapat duji.

Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. topik penelitian atau judul penelitian. hubungan antarunsur. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. 88 . rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. dan totalitas di dalamnya. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. Dengan demikian.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah.1. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. mengembangkan (develop atau extention). tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. Berhubungan dengan penelitian sastra.

Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. 2001:2). dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan).1. berjumlah tertentu. lingkup masalah. 5. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Secara ideal. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. misalnya. sistematis. 89 .

Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. dan totalitasnya. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Teori adalah alat. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. baik sebagai teori maupun metode. misalnya. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. khususnya analisis fiksi.Dengan demikian. Sebagai suatu cara pemahaman. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. teori tidak harus dipahami secara kaku. Dalam strukturalisme. Dalam kerangka strukturalisme. antarhubungan. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. sebagai akumulasi konsep. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. diperlukan penerimaan positif. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. Dalam uraian landasan teori. Penerimaan yang dimaksud 90 .

teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Sebaliknya. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.1. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.mengarah kepada keteraturan. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 .. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. 5. Atau dengan kalimat lain. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.

yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. dsb. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. sistematik. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. demi pemahaman identitas data penelitian. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. dan hubungan antarunsur. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. hubungan simetris 92 .(pendekatan) linguistik. padu. Dengan kata lain. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. ciri. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Penentuan data berdasarkan perilaku. (2) kategori harus lengkap. Sejalan dengan uraian di atas. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. pemilihan.

(2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. 2. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. Sejalan dengan uraian di atas. hubungan saling mempengaruhi. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. dan faktor kebetulan. 3. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.

Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. dan pengolahan data secara sistematis. pemilahan. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 .penelitiannya. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. pemilahan.

5. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra).dan tujuan penelitian. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.

dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Idealnya. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra.

keberanian. Latar Belakang .masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. . Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik.. Merujuk pada potensi teks tersebut.. dana yang tersedia.1. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . dsb. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. waktu pelaksanaan.. keinginan. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. kepahlawanan dan petualangan. referensi yang memadai. ciri. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. pengembangan penelitian sejenis.

fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. berpikir logis. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. 2. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tampak 98 . jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Namun demikian.

99 . membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. alur. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. keterjalinan antarunsur cerita. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. dan penelusuran tema dan amanat. 4. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. latar) 3. struktur cerita yang terbentuk.

Dalam hal ini . Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. misalnya 100 .3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4.Berdasarkan upaya tersebut. 5.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Cermati contoh berikut: 1. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.

antar hubungan. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Penjabarannya menjadi. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Paham struktural objektif. menempatkan teks secara otonom. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. alur. Struktur dinamik. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). 101 . Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Oleh karena itu.

(c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. dll. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. sosial). Dengan demikian. padu. dan menyeluruh. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. pengolahan data. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. dan analisis data. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. pemilihan data. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. tempat. identifikasi masalah.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 .

dan fungsional. kajian struktural objektif b.tingkat kepekaan literer. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. sistematis. pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. dan metodologis. kajian struktural naratif d.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. dan metode kajian. teoretis. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . teori. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. kajian struktural genetik c. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. 5.

Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Berdasarkan contoh di atas. dan tujuan penelitian tertentu. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. seteliti. identifikasi masalah. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. 2003:112). kurang memadai. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. semendetail.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Uraian landasan teori tampak 104 . dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat.

terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Kelemahan lain. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. 5. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.

fakta. mengklasifikasikan . contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel).1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. menyusun. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. Dengan demikian. fenomena. tema. unsurunsur karya. 106 . dan menginterpretasikan data (Winarno. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. sejumlah data. sifat. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. menganalisis. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural).1. sifat. keterjalinan unsur. 1980: 139). dan amanat dapat terungkap secara tepat.

b. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. seteliti. dan latar. dan (4) tema dan amanat. Dalam hal ini. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. b dan c.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. (2) struktur cerita. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. penyusun UP tersebut cukup 107 . plot/alur. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. semendetail. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a.

Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Namun demikian. Misalnya saja. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . plot/alur.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur.

tempat. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . seperti pengeplotan. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. suspense. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. kepadatan. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. Pada unsur-unsur cerita lainnya. d. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. Demikian pula pada pembicaraan latar. b. surrise. jumlah.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. dan sosial? c. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. kesatupaduan) sebagai instrumen.

seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Adapun dalam penentuan amanat. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji.

Dengan demikian.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111 .

Chamamah. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory.H. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. “Sastra Lisan. 1989. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . dkk. Iser. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. ed. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. New York: The Norton Library. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. W. The Act of Reading. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Hans Robert. Makaryk. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Luxemburg. 1987.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1999. “Strukturalisme-Genetik. (ed. M. Irena R. 1983. 2001.) 1993.).DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Imran T. Pengantar Ilmu Sastra.” Makalah. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Jakarta: Gramedia. Wlfgang. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Jan van. Abrams. Jauss.W. S. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Toward an Aesthetic of reseption. 1994. Norton & Company Inc.” Makalah.

Makalah. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Morfologi Cerita Rakyat. Pradopo. Zaimar. Sayuti. Yogyakarta: Gama Media Propp. Rien T. 1995. Fatimah Djajasudarma. Tata Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004. A. ed. 2002. 1985. Jakarta: Gramedia Wuradji. Sastra dan Ilmu sastra. Wellek. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. ------------------------------. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Burhan. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Teori Kesusastraan. dkk. Diterjemahkan oleh Suminto A. Metodologi penelitian Kualitatif. Metode Penelitian. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. dan Teknik. Kritik Sastra Indonesia Modern. Selangor: Sain Baru Sdn. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Teori Pengkajian Fiksi. 19.Muhadjir. Evaluasi Teks Sastra. “Strukturalisme”. “Pengantar Penelitian. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . V. Nyoman Kutha.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Todorov.). Rachmat Djoko. Metode.S. Moh. Tzvetan. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Penelitian Sastra: Teori. Metode Penelitian Linguistik. Bandung: Eresco. 1999. Segers. Rene & Austin Warren. Jakarta: Djambatan. Diterjemahkan oleh Okke K. 2001.Bhd. Jakarta: Pustaka Jaya T. 1993. 1987. 2002. 2000. 1984. 1985. Noeng.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful