METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

...6.....3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.6.2 Identifikasi Masalah ………………………………………..........5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v .............1.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.1........3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4... 5....... .............1.....3 Tujuan Penelitian ………………………………………….1.... 83 5....4 Greimas …………………………………………….2....1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .......4.... 5..2.4 Landasan Teori …………………………………………… 5.2.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah........... 5..... 5..4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.1..5 Metodologi ………………………………………………… 5. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .....6...2 Levi’Strauss ………………………………………… 4...

sastra dalam penelitian ilmiah.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. i . relevansi metode dan penelitian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. hakikat. Selain itu. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal.

penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Agustus 2007 Penyusun ii . Dengan demikian. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. teori. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra.

Teknik berasal dari kata teknikos. metode. mengikuti. Metode. metode dianggap sebagai cara-cara. sedangkan hodos berarti jalan. 2. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. arah. Dalam pengertian yang lebih luas. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. atau seni menggunakan alat. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 .1 Pengertian. sesudah.BAB I PENDAHULUAN 1. 3. cara. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Metodologi berasal dari methodos dan logos. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. yang berarti alat. Hakikat Metodologi. melalui. strategi untuk memahami realitas. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya.

Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. dan (3) sadar teknis. 2 . artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. (2) sadar teoritik. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. dan kerangka pemikiran penelitian. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. perumusan masalah. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. 1. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat.

Dengan prosedur kerja yang baik. komparasi. induksi dan deduksi. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. misalnya. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. 3 . membangun konsep dan model. Klasifikasi. termasuk ilmu humaniora. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. menganalisis data. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. kuantitatif dan kualitatif. sampling. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. eksplanasi dan interpretasi. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. menyusun proposal. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. sama dengan teori. mengadakan pengujian teori. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. Sebagai alat. merumuskan hipotesis dan permasalahan. dan akhirnya menarik kesimpulan. bukanlah karena perbedaan metode. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. deskripsi.

Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. statistik. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Dengan demikian. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Artinya.Berbeda dengan metode. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. angket. teknik dapat dideteksi secara inderawi. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. dokumen. tetapi dasar dan cara pemahamannya. misalnya: wawancara. teknik bersifat paling kongkret. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. melalui cara: 1. Metode deskripsi. komparasi. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. Sebagai alat. rekaman. teknik kartu data. bahkan juga dengan teori. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. struktural. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Sebagai instrumen penelitian. kuesieoner. teknik berhubungan dengan data primer. jelas berbeda. dan sebagainya.

memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik.Pada pembicaraan yang berbeda. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Jadi. teori. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. 2. 3. metode. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. dan teknik. metodologi. struktur disebut sebagai metode. Tetapi sebelumnya. 5 . metode dapat menjadi teori. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

yaitu sintesis itu sendiri. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. 9 . metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. d. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus.menerus. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif.

dan kecerdasan yang memadai. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Jadi. Sebagai akibatnya. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. 10 . ilmu dapat hidup. atau pencarian kembali atas suatu objek. kecermatan. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Hubungannya dengan ilmu.

scientific objective. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. 1985: 9-15). Dalam menghadapi masalah. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Kedua. sistematis. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. practicial objective. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. terutama yang berkaitan 11 . Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Pertama. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Oleh karena itu. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam.berkembang. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Oleh karena itu pula.

Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. dan sesuai dengan objeknya. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. nalar. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. teori-teori.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Urutan umum dari proses 12 . Kaitannya dengan kehidupan ilmu. yaitu penelitian sastra. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan.dengan pemanfaatan teori dan metode.

Di samping itu. Oleh karena itu. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. penelaahan informasi. fakta. dan spiritual. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. analisis data. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. manusia mencari tahu dan mencari makna. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. dan penyajian kesimpulan. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. social. Di samping masalah yang dihadapi. pengumpulan data. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. emosional. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual.

Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. atau pendapat umum. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. atau memperkaya teori yang sudah ada. intuasi.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. 14 . menggambarkan. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). melakukan kegiatan penemuan. dan menafsirkan apa yang diamati. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. penyelidikan. otoritas. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. kemudian melakukan proses penemuan. atau penelitian. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali.

Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Kedua. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Pertama. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Oleh karena itu. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Dalam hal ini. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi.

yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengajuan hipotesis. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . serta membantu dalam menginterpretasi data.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. penyusunan design.berhubungan). sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. pengembangan instrumen. pengumpulan dan analisis data. Teori dapat membantu merumuskan problem. Penelitian akan menghasilkan teori.

ilmiah. terorganisir. Dalam kerja penelitian. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. ilmu-ilmu humaniora. (3) menggunakan prinsip analisis. (2) bebas prasangka. dituntut langkah-langkah berturut-turut. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. menginterpretasi. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (7) menganalisis dan 17 . komunikasi. (4) merumuskan hipotesis. yaitu: 1. (3) mengadakan studi pustaka. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (6) mengolah data. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (5) mengumpulkan data. Dalam penelitian ilmiah. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. 3. menganalisis. 2. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. dan menyimpulkan. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada.

dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Demikian pula. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna.menginterpretasi. 18 . (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. (9) menarik kesimpulan. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya.

didukung data empiris 19 . menghasilkan pengetahuan yang: a. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data.2. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. sistematis 2. d.

Ratna. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. yaitu : 1. Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal.2. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. dan Whitney.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. 2004. 2. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Charters. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. (bandingkan Nazir. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). dan Muhadjir. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. 1885. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis.

Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. content analysis. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. 6. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 2. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). 4. 5. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 3. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Macam-macam 21 . ethnography merupakan pendekatan penelitian. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut.

2004: 47-49). Immanuel kant. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. Dalam ilmu sosial. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. buku harian. surat kabar. lukisan. fotografi. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Dalam ilmu sastra. 2. dan majalah. gambar. 2. Sejalan dengan uraian di atas. biografi. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. grafik. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. laporan. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. buku teks. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. 22 . sesuai dengan hakikat objek. yaitu sebagai studi kultural.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. film.

serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. 5. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. pandangan-pandangan. sikap-sikap. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. gambaran atau lukisan secara sistematis. Menurut Whitney (dalam Nazir.3. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. suatu objek.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. suatu set kondisi. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. Adakalanya peneliti 23 . 4. penelitian bersifat alamiah. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. 2. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.

standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Metode ini dinamakan juga studi status . Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. masalah yang dirumuskan harus patut. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. kriteria umum: 1.

Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. sifat penelitian adalah ex post facto.5. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. B. variabel dilihat sebagaimana adanya. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . kriteria khusus 1. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. 3. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan.

dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. membuat tabulasi serta analisis (statistik). 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8.3. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 .

metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. kelompok. 27 . lembaga. subjek penelitian dapat saja individu. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. maupun masyarakat. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. Dalam studi komparatif ini. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Eagelton. dan Teeuw. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Eliis. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Menurutnya.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. dan keagamaan. ekonomi. Lotman.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Plark. 29 . Riffaterre.

Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. yaitu berupa bahasa. secondary modelling system. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Sebagai satu sistem.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Melalui sistem sastralah. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. 30 . Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. di antaranya dari sisi bahan.

Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. kerja yang objektif.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Dengan demikian. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Dalam hal ini. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . dari pembaca saja. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Dengan demikian. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. 3. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. yaitu pembacanya.

keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. 32 . bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Dalam hal ini.perspektif. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. sejumlah peralatan diperlukan. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Namun. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah.

pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. 2004: 21). Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. model. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. pola. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah.3. Bagi ilmuwan. Tanpa paradigma. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. sebagai berikut: 1.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. unsur dalam diri sendiri 2.

tersistem. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Dalam penelitian sastra. bahkan khayalan. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Jadi. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. 34 . Di satu pihak. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. dan sebagainya. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. maka teori pun juga beraneka ragam. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu.yang relatif sama. Di pihak lain. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai cara pandang. Selanjutnya. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Contohnya. imajinasi.

bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. mengkondisikan ilmuwan sastra. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. dan teknik. khususnya sastra. faktor ontologis. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. 35 . jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. teori. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. faktor metodologis. Paradigma dengan demikian mendahului. faktor epistemologis. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. penelitian adalah penilaian. metode. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. keseluruhan proses penelitian. teknik dan proses selanjutnya. termasuk metode. periode.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. secara kualitatif. Pada gilirannya. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. faktor aksiologis. dalam ilmu humaniora. Keempat faktor tersebut adalah: 1.

bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. Keseluruhan unsur. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. dan drama. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. drama bersajak. 36 . Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. psikologis dan ilmu pengetahuan. Perbedaannya.generasi. dan berbagai paham yang lain. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. puisi. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. novel psikologis. kecuali referensi estetisnya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. latar tempat dan waktu. Novel sejarah. Puisi. Dengan kalimat lain. aliran. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. psikologis. termasuk tokoh-tokoh. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. novel. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma.

Ratna menguraikan bahwa secara etimologis.4. 3. pendekatan berasal dari kata appropio. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. dan menyajikan data. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran.4 Pendekatan Sastra 3. Lebih lanjut. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. yaitu metode dan teknik. approach. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. 37 .1. 2004: 5355). Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. menganalisis.

pendekatan objektif. metode. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. teori. mimetik.dan sebagainya. 38 .Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. (3) pendekatan pragmatik. dan tekniknya. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. 3.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. mitopoik. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. dasarnya. seperti pendekatan sosiologi sastra. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. intrinsik dan ekstrinsik. ekspresif. (2) pendekatan mimesis. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. Artinya. dan (4) pendekatan objektif. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.4. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Dalam hubungan inilah. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. pragmatik.

persepsi. nasionalisme. pikiran dan perasaan.3. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. pikiran-pikiran. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. ucapan. Secara metodis. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. feminisme.2. komunisme. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran.4. dan 39 . dan hasil-hasil karyanya. (3) produk pandangan dunia pengarang. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan.

40 . pengalaman. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak.4. dan sebagainya Luxemberg. (2) memetakan sejumlah pikiran. dan ideologi pengarang. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. 1958:8). dan (4) membicarakan secara menyeluruh. perasaan. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. persepsi. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. 1989:15).perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. Melalui pandangan ini. bentuk-bentuk kemasyarakatan. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). sesuai tujuan. pikiran. pengalaman hidup.2. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. 3. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya.

Menurut Baxter. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Menurutnya. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Secara terminologis. suatu produk akhir. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. suatu proses. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Tiruan. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. suatu copy. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Segers (2000. tetapi penekanannya berbeda. menyiratkan sesuatu yang statis.Sehubungan dengan pendekatan mimesis.

dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. sesuai tujuan. 42 . Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. dsb. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. Oleh karena itu.. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. Melalui penjabaran di atas. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. Secara metodis.

menafsirkan. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Pembaca dalam 43 . Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Menurutnya. dan memahami karya sastra. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. menikmati.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Menurutnya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Dalam uraiannya. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik.2. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra.4. pembacalah yang menilai. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.3.

Dalam hal ini. (5) rangkaian sastra.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. dan (7) sejarah umum. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . (3) nilai estetik. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. (4) semangat zaman. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. (2) horison harapan. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal.

Perihal semangat zaman. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.informasi. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Teori menuntut 45 . Dengan kondisi tersebut. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya.

Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. satirik. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Fungsi sosial sastra 46 . diidealkan. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'.

Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Konsekuansinya. 1987: 20 dan 54). Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. literary repertoire. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. pembaca.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. rol. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. dan interaksinya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. historis.

Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. termasuk biografi. dan totalitas. Oleh karena itulah. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya.4. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. politis. 48 . antarhubungan. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.2. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. sosiologis. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Dengan demikian. 3. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. seperti aspekhistoris.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya.

Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. gaya bahasa. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. konflik.). Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. dan latar). analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. 49 . alur. Adapun terhadap prosa. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. fakta cerita (tokoh. dll. Secara metodologis.

Pada analisis prosa. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50 .

1999: 1-9. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. terlepas dari 51 . strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Hawkes. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. 1995: 4-12.BAB IV STRUKTURALISME 4. 1978: 17-18.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. apabila suatu bagian dihilangkan. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Selain itu. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. melainkan rusak sama sekali. melainkan kualitatif. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. mekanisme sendiri. 1984: 120139). bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Artinya. dan Teeuw. dan Faruk: 1994: 17-18. Faruk.

strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. sesuatu yang utuh. mengembangkan. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. otonom. Sebagai kualitas totalitas. antarhubungan merupakan energi. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Aliran Kritik Baru di Amerika. sesuatu yang berstruktur. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. mekanisme yang baru. Dengan kata lain.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Karena itu. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Formalisme di Rusia. dan self-regulatif. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Artinya. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. motivator terjadinya gejala baru. transformatif. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun.

dan sebagainya. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. 53 . Karya tidak dapat diisolasi. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Namun demikian. seperti kejadian. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Analisis terhadap penokohan. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra.sebagai sistem komunikasi. misalnya. plot. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. latar. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Sejalan dengan uraian di atas. Di pihak lain. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. Dengan kata lain. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. suatu masyarakat.

puitika. 1985: 128-13. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. Metode yang digunakan metode formal. oposisi. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. sosiologi. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor.4. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . dan sebagainya. Dengan jalan demikian. reaksi terhadap studi biografis 2. Meskipun demikian.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. asosiasi. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. yaitu: 1. dan psikologi. Sebagai teori modern mengenai sastra. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah.

melahirkan strukturalisme. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. dan (3) sebagai teori. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. 2002: 304).3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. (2) sebagai metode. karya sastra adalah proses komunikasi. dan nilai-nilai. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. 4. Muhadjir. masyarakat yang menghasilkannya. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. Menurutnya. terdiri atas tanda. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. dan Ratna. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. dan pembaca sebagai penerima. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. Pradopo 2002: 46. 2003: 88-96. Oleh karena itulah. struktur. 55 . 1985: 185-192.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. fakta semiotik.

dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. latar. puisi. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. latar atau setting. tujuan analisis di lain pihak. Unsurunsur prosa. imajinasi. peristiwa. peristiwa atau kejadian. dan gaya bahasa. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. ritme atau irama. sudut pandang. dan gaya bahasa. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. rima atau persajakan. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . simbol. di antaranya tema. Prosa. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dialog. stilistika. diksi atau pilihan kata. dan enjambemen. alur. misalnya mengarah pada tema. penokohan. Artinya. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. alur. nada. puisi. penokohan. Unsur-unsur puisi.

Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. yaitu pencerita. 57 . Dalam hubungan ini. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. dan pendengar. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. tidak semau-maunya. karya sastra. Jadi.

Stout (dalam Makaryk. yang merupakan bentuk tanda. indeks. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. arti bahasa dalam 58 .4. Menurutnya. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning).4 Semiotik Secara padat Dolezel. Ada tiga jenis tanda yang pokok. Dalam lapangan semiotik. yaitu ikon. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. dan simbol. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. pengertian tanda ada dua prinsip. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. antara penanda dan petanda. yaitu persamaan dan sebab akibat. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. 1993: 183-189). aliran semiotik. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa.

arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. perasaan. Jadi. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. intensitas.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Berhubungan dengan hal ini. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. arti tambahan (konotasi). Dalam kaya sastra. suasana. Dalam sistem semiotik. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. daya liris.

sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. terdapat (1) sintaksis semiotika. dan (3) pragmatik semiotik. Menurut pandangan intertektualitas. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Dilihat dari segi cara kerjanya. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. (2) semantik semiotik. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Sejalan dengan paham triadik peircean. termasuk sastra. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. atau yang lain.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima.

tokens. qualisigns. yang paling sering diulas adalah object. 61 . c. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. object (designatum. b. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. interpretant. 2004: 102) di antara ikon. ground. 2. b. Di antara representamen. Menurut Aart van Zoet (Ratna. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. b. terbentuk oleh kualitas: warna hijau.1. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. representamen. c. c. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. dicent signs. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. dan interpretant. ikon. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. type. sinsigns. denotatum. yaitu apa yang diacu: a. object. argument. rheme. simbol. referent). legisigns.

dan simbol. yang terpenting adalah ikon. (c) pembaca (pragmatik). termasuk karya sastra.indeks. di lain pihak. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. 1993: 340-341. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Teks sastra kaya dengan ikon. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Karena itu. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Sebagai strukturalisme. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). 1993: 95-99. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan.5. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Alasannya. sebagai struktur. Kellner dalam makaryk. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. dan (d) objektif (otonom). dan Faruk. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. 62 . Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. 4. (b) semestaan (mimetik).

manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Menurut Marxis. Untuk melakukan transformasi atas alam. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Oleh karena itu. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. yaitu melakukan transformasi atas alam. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. Karena itu. melainkan kelas sosial. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya.pengertian marxis yang sudah dikemukakan.5. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. 4. Karya-karya kultural yang besar. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 .

Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. kelompok etnis. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. dan sebagainya. pendidikan. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Karena itu. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Karena itu. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . seperti kelompok profesi. Dalam pengertian strukturalisme genetik. ras.

ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Namun. bersifat mimetik. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Hanya beberapa di antaranya. seperti strukturalisme. dan sebagainya. Dengan demikian. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Greimas.5. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. 4. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Dalam pandangan strukturalisme genetik. Todorov.

Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. menurut strukturalisme genetik. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian.semantik pula. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Struktur yang demikian. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya.

Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. yang juga berstruktur. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . 4. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar.5. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Menurut paham tersebut. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. Namun. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian.

kisah. predikat. demikian juga dengan wacana dan teks.6 Naratologi 4. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. hikayat. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. dan objek penderita. perkataan. subjek secara linguistik.dialektik. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik.6. sebagaimana hubungan antara subjek. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. 4. seperti model sintaksis. logos berarti ilmu. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Dengan demikian. bukan 72 . atau sebaliknya. Narratio berarti cerita. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif.

diceritakan oleh narator. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. bukan pengarang. misalnya. analisis naratif merupakan bagian ideologi. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. politik. melainkan melalui bahasa. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Revolusi. Pada pahan pascastruktural. dan wacana. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. semboyan. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. sastra. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. restorasi. dengan pertimbangan 73 . bukan pengarang. dan ekonomi.person. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. tetapi juga melalui kata-kata. Setiap orang. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik.

kebudayaan pun tidak ada. wacana. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. Hampir keseluruhan genre sastra. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. baik sebagai penulis. cerita sebagai tulang punggung karya. pembaca. latar. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. tema. dan teks. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. sudut pandang. tokoh-tokoh. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Tanpa plot. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. yaitu dunia fiksional. Dalam karya sastra. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. 74 . Tanpa cerita. paling luas. Dilihat dari media yang tersedia. Dalam pembicaraan mengenai naratif. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. novel juga merupakan objek yang paling memadai. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Di pihak lain. dan gaya bahasa. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. catatan harian. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). puisi naratif. biografi. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. mitos. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). narration). Secara historis. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. dan suara). Gerald 75 . dan sebagainya. termasuk feminis dan psikoanalisis.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. text. Mieke Bal (fabula. Percy Lubbock (teknik naratif). cerpen. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. 1993: 110. Para pelopornya. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). durasi. modus. text). yaitu: 1. Para pelopornya. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Claude Bremond (struktur dan fungsi). Forster (tokoh bundar dan datar). Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Henry James (tokoh dan cerita). gongeng. juga roman. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). story. epik. lelucon.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. fabula. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). interdisipliner. Tzvetan Todorov (historie dan discours). frequensi. Shlomith Rimmon-Kenan (story.

Marry Louise Pratt (tindak kata). yaitu Propp. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Artinya.2. Roland Barthes (Kernels dan satellits).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. unit terkecil yang membentuk tema. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Menurutnya. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Jonathan Culler (kompetensi sastra).Prince (struktur narratee). Oleh karena itu. Seymoeur Chatman (struktur naratif). dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Jacques Derrida (dekonstruksi). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Propp 76 . dan Jean Baudrillad (hiperealitas.6.6. Todorov. 4. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Hayden White (wacana sejarah). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. pastiche). LeviStrauss. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.

Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. (5) orang yang menyuruh. (4) putri dan ayahnya. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. perbuatan. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. 77 . yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). yaitu: (1) penjahat. Menurutnya. (6) pahlawan. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Dengan kalimat lain. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. yaitu: pelaku. dan (7) pahlawan palsu. persona bertindak sebagai variabel. Bremond. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. dan Todorov. Motif dibedakan menjadi tiga macam.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. (3) penolong. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Di sini. (2) donor.

Menurutnya. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. mitos adalah naratif itu sendiri. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. 78 . misalnya. dan incest. melalui struktural. seperti laki-laki perempuan.4.2. dilakukan terhadap mitos Oedipus. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Dengan kalimat lain. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. tabu. dan sebagainya. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita.6. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. bumi langit. baik secara bulat maupun fragmentasi. Pendekatan antropologi sastra. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. khususnya konsep-konsep oposisi biner. dan harus direkonstruksi melaluinya. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Di satu pihak.

komunikasi.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. berkaitan dengan makna dan lambang. Oleh karena itulah. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. (2) aspek semantik. dan sebagainya. yaitu (1) aspek sintaksis.6.2. sebagai hubungan makna dan perlambangan. yaitu: kehendak. 4. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. tokoh. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Menurutnya. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. secara berdampingan. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. dan latar. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. dan partisipasi. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. dan sebaliknya. gaya bahasa. dan (4) aspek verbal. meneliti tema.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir.

manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Mary sebagai penerima. Apel adalah sebagai objek. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain.6.antarhubungan adalah kausalitas. sosiologi sastra.2. acteurs merupakan kategori umum.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Yang ada hanyalah subjek. yaitu dongeng. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. baik sebagai pengirim maupun penerima. 4. tetapi diperluas pada mitos. studi biografi. Tidak ada subjek di balik wacana. sastra sebagai proyeksi. yaitu tata bahasa naratif universal. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. John dan Paul juga merupakan pengirim. Greimas (dalam Abdullah. kritik fenomenologis. dll. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). 1999: 11-13. 80 . Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. seperti: psikologi sastra. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans.

sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Sebaliknya. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Cerita adalah bahan 81 . yaitu struktur berdasarkan perjanjian. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Oleh karena itu. tek. dan plot. dan struktur yang bersifat pemutusan. struktur yang bersifat penyelenggaraan. pelaku. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. religi. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Actans merupakan struktur dalam. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. dan ilmu sosial lainnya. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. yaitu subjek dengan objek. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. dan penolong dengan penentang. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks.

seperti ringkasan cerita atau sinopsis. sebagai model kedua. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa .kasar. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. sebagai model pertama. perangkat peristiwa. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. 82 .

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Karenanya. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. dan fungsional. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. 5.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. (2) kemenduaan arti (ambiguity).1. sistematis. untuk memisahkan kemenduaan. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. dan (c) peletak dasar 86 .

(4) masalah harus dapat duji. waktu. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. 87 . Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. serta dana. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. (3) masalah harus merupakan hal penting. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Menurut Nazir (1985: 134-135). Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. Ciri kedua yang menyangkut fisible. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. pikiran. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga.

masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2.1. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). hubungan antarunsur.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. Berhubungan dengan penelitian sastra. 88 . rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. topik penelitian atau judul penelitian. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. dan totalitas di dalamnya. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. mengembangkan (develop atau extention). masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Dengan demikian. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra.

dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. misalnya. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. Secara ideal. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo.1.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). 5. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. berjumlah tertentu. lingkup masalah. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. 89 . 2001:2). tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. sistematis.

konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. baik sebagai teori maupun metode. Dalam strukturalisme. antarhubungan. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. misalnya. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Penerimaan yang dimaksud 90 . diperlukan penerimaan positif. Teori adalah alat. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. sebagai akumulasi konsep. khususnya analisis fiksi. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Dalam kerangka strukturalisme. teori tidak harus dipahami secara kaku. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. dan totalitasnya. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah.Dengan demikian. Sebagai suatu cara pemahaman. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam uraian landasan teori. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting.

1. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Atau dengan kalimat lain.mengarah kepada keteraturan. 5. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data.. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Sebaliknya.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.

dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. ciri. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. padu. pemilihan. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Penentuan data berdasarkan perilaku. sistematik. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut.(pendekatan) linguistik. (3) kategori harus bebas dan terpisah. dan hubungan antarunsur. dsb. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Sejalan dengan uraian di atas. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Dengan kata lain. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. hubungan simetris 92 . Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. (2) kategori harus lengkap. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. demi pemahaman identitas data penelitian.

Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. 2. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. hubungan saling mempengaruhi. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. 3. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. Sejalan dengan uraian di atas. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. dan faktor kebetulan. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 .Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain.

kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. pemilahan. pemilahan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan pengolahan data secara sistematis. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan.penelitiannya. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3.

peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. 5. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian.dan tujuan penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.

(3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Idealnya.

. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. pengembangan penelitian sejenis. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. waktu pelaksanaan.. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. keberanian. referensi yang memadai. dana yang tersedia. Latar Belakang . kepahlawanan dan petualangan. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. dsb.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya.1. Merujuk pada potensi teks tersebut. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. . keinginan. ciri....

tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. 2. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. berpikir logis. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Namun demikian.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tampak 98 .

Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. 4. alur. 99 . membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. keterjalinan antarunsur cerita. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. struktur cerita yang terbentuk.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. dan penelusuran tema dan amanat. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. latar) 3.

3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. 5. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Dalam hal ini . Cermati contoh berikut: 1. misalnya 100 .Berdasarkan upaya tersebut.

Penjabarannya menjadi. Struktur dinamik. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. alur. 101 . menempatkan teks secara otonom. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Oleh karena itu. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. antar hubungan. Paham struktural objektif. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula.

identifikasi masalah. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. padu. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. dan analisis data. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. pengolahan data.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. pemilihan data. Dengan demikian. dan menyeluruh. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. sosial). tempat. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. dll.

kajian struktural naratif d. dan fungsional. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural genetik c. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. dan metode kajian. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. sistematis. kajian struktural objektif b.tingkat kepekaan literer. teoretis. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. 5. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. teori. dan metodologis.

Berdasarkan contoh di atas. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. seteliti. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. kurang memadai. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. identifikasi masalah.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Uraian landasan teori tampak 104 . Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. semendetail. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. dan tujuan penelitian tertentu. 2003:112). dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional.

penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. 5. Kelemahan lain. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.

1. Mengacu kepada definisi metode deskriptif.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. keterjalinan unsur. dan menginterpretasikan data (Winarno. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. Dengan demikian. fakta. 1980: 139). menganalisis. sifat. tema. sejumlah data. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. 106 . Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). sifat. unsurunsur karya. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. menyusun. dan amanat dapat terungkap secara tepat. fenomena. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). mengklasifikasikan . yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel.

(2) struktur cerita.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. semendetail. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. dan (4) tema dan amanat. b dan c. dan latar. seteliti.b. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. plot/alur. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. Dalam hal ini. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. penyusun UP tersebut cukup 107 . (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan.

? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Namun demikian. plot/alur. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. Misalnya saja.

penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. jumlah. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. kepadatan. d. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. surrise. dan sosial? c. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. Pada unsur-unsur cerita lainnya. Demikian pula pada pembicaraan latar. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. b. seperti pengeplotan. tempat. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. suspense. kesatupaduan) sebagai instrumen.

seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Adapun dalam penentuan amanat. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema.

******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. Dengan demikian. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

Minneapolis: University of Minnesotta Press. Makaryk. dkk. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Irena R. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Luxemburg. 2001. S. Jan van. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. 1999. M.). New York: The Norton Library. 1983. Jakarta: Gramedia. Hans Robert.” Makalah. 1999. Toward an Aesthetic of reseption. Jauss. W. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Chamamah. Pengantar Sosiologi Sastra. “Sastra Lisan. Norton & Company Inc.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim.H. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada.W. Abrams. “Strukturalisme-Genetik. Imran T. 1987. ed. Wlfgang. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 1994. Iser.) 1993. The Act of Reading. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 .” Makalah. Pengantar Ilmu Sastra. 1989. (ed.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.

Jakarta: Pustaka Jaya T.Muhadjir. Zaimar. 1999. Noeng. Sayuti. Tata Sastra.Bhd. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1985. 19. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. 1995. Diterjemahkan oleh Okke K. Nyoman Kutha. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Pradopo.). Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Makalah. V. Todorov. Metode. Rene & Austin Warren. Fatimah Djajasudarma. Wellek. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Sastra dan Ilmu sastra. A. Morfologi Cerita Rakyat. “Pengantar Penelitian.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Segers.S. Metode Penelitian. Teori Pengkajian Fiksi. “Strukturalisme”. Burhan. 1993. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . ed. 2002. Yogyakarta: Gama Media Propp. 1987. 2002. Jakarta: Gramedia Wuradji. Moh. 2000. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Penelitian Sastra: Teori. Rien T. Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung: Eresco. Selangor: Sain Baru Sdn. 2001. Metode Penelitian Linguistik. 1984. Jakarta: Djambatan. dan Teknik. 2004. Rachmat Djoko. Tzvetan. ------------------------------. 1985. Teori Kesusastraan. Evaluasi Teks Sastra. Diterjemahkan oleh Suminto A. Kritik Sastra Indonesia Modern. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. dkk.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful