P. 1
metode_penelitian_sastra

metode_penelitian_sastra

|Views: 2,238|Likes:
Published by Ardian Firmandani

More info:

Published by: Ardian Firmandani on Nov 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik
  • 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian
  • 2.1 Penelitian dan Ilmu
  • 2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan
  • 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian
  • 2.4 Penggolongan Penelitian
  • 2.5 Metode Kualitatif
  • 2.6 Metode Deskriptif
  • 3.1 Sastra sebagai Sistem
  • 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian
  • 3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra
  • 3.4.1. Pengertian Pendekatan
  • 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif
  • 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik
  • 3.4.2.4 Pendekatan Objektif
  • 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan
  • 4.2 Teori Formalisme
  • 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik
  • 4.4 Semiotik
  • 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan
  • 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif
  • 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia
  • 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial
  • 4.5.5 Metode Dialektik
  • 4.6 Naratologi
  • 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya
  • 4.6.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya
  • 4.6.2.1 Vladimir Propp
  • 4.6.2.3 Tzvetan Todorov
  • 4.6.2.4 Greimas
  • 5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian
  • 5.1.1 Latar Belakang Masalah
  • 5.1.2 Identifikasi Masalah
  • 5.1.3 Tujuan Penelitian
  • 5.1.4 Landasan Teori
  • 5.1.5 Metodologi
  • 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian
  • 5.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis
  • 5.5 Kemampuan Menyajikan Metode
  • DAFTAR PUSTAKA

METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

...2....... 5.. 5.4 Greimas …………………………………………….............2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.1..2..........5 Metodologi ………………………………………………… 5..4..3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5......1.6....6.. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ...6... 5..1......2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.......4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4... 5....2 Identifikasi Masalah ………………………………………..5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ...3 Tujuan Penelitian …………………………………………... 83 5..........2.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ......1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.1.....1... .........4 Landasan Teori …………………………………………… 5......

Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. relevansi metode dan penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. sastra dalam penelitian ilmiah. i . hakikat. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Selain itu.

. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Dengan demikian. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. teori.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Agustus 2007 Penyusun ii . dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.

Hakikat Metodologi. 3. arah. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. 2. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju.BAB I PENDAHULUAN 1. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. atau seni menggunakan alat. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. melalui. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. metode. cara. yang berarti alat. yaitu filsafat ilmu mengenai metode.1 Pengertian. Dalam pengertian yang lebih luas. sedangkan hodos berarti jalan. Metodologi berasal dari methodos dan logos. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. strategi untuk memahami realitas. metode dianggap sebagai cara-cara. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Teknik berasal dari kata teknikos. sesudah. mengikuti. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. Metode.

munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. 1. (2) sadar teoritik. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 2 . artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. perumusan masalah. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. dan kerangka pemikiran penelitian. dan (3) sadar teknis.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan.

Dengan prosedur kerja yang baik. sampling. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. termasuk ilmu humaniora. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. deskripsi. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. Klasifikasi. kuantitatif dan kualitatif. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. sama dengan teori. 3 . membangun konsep dan model. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. dan akhirnya menarik kesimpulan. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. merumuskan hipotesis dan permasalahan. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. bukanlah karena perbedaan metode. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. komparasi. Sebagai alat. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. misalnya. menganalisis data. eksplanasi dan interpretasi. induksi dan deduksi. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. menyusun proposal. mengadakan pengujian teori.

meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. angket. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. teknik berhubungan dengan data primer. Sebagai instrumen penelitian. tetapi dasar dan cara pemahamannya. Dengan demikian. dokumen. jelas berbeda. Sebagai alat. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. struktural. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. komparasi. dan sebagainya. melalui cara: 1. Artinya. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret.Berbeda dengan metode. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. statistik. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Metode deskripsi. rekaman. teknik bersifat paling kongkret. bahkan juga dengan teori. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. teknik kartu data. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. teknik dapat dideteksi secara inderawi. misalnya: wawancara. kuesieoner.

sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 3. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. metode dapat menjadi teori. teori. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. struktur disebut sebagai metode. metode. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti.Pada pembicaraan yang berbeda. 5 . 2. dan teknik. Tetapi sebelumnya. Jadi. metodologi.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

d. 9 . Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus.menerus.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. yaitu sintesis itu sendiri.

Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. atau pencarian kembali atas suatu objek. dan kecerdasan yang memadai. Jadi. 10 . Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Sebagai akibatnya. ilmu dapat hidup.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Hubungannya dengan ilmu. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. kecermatan. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.

Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. scientific objective. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda.berkembang. Oleh karena itu pula. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Pertama. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Oleh karena itu. practicial objective. terutama yang berkaitan 11 . penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Kedua. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. sistematis. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Dalam menghadapi masalah. 1985: 9-15). upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus.

Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. teori-teori. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. dan sesuai dengan objeknya. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. yaitu penelitian sastra. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. nalar. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu.dengan pemanfaatan teori dan metode. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Urutan umum dari proses 12 .

Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. Di samping masalah yang dihadapi. fakta. analisis data. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. pengumpulan data. social. dan spiritual. dan penyajian kesimpulan. Oleh karena itu. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. penelaahan informasi. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. emosional. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Di samping itu. manusia mencari tahu dan mencari makna.

Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. 14 . kemudian melakukan proses penemuan. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). atau memperkaya teori yang sudah ada. atau penelitian. menggambarkan. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. melakukan kegiatan penemuan. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. penyelidikan. intuasi. atau pendapat umum. otoritas. dan menafsirkan apa yang diamati.

Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Oleh karena itu. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Kedua. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Dalam hal ini. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Pertama. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 .

pengembangan instrumen. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala.berhubungan).2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. Teori dapat membantu merumuskan problem. penyusunan design. Penelitian akan menghasilkan teori. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. pengajuan hipotesis. serta membantu dalam menginterpretasi data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengumpulan dan analisis data.

ilmu-ilmu humaniora. Dalam penelitian ilmiah. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. (3) menggunakan prinsip analisis. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. 2. (3) mengadakan studi pustaka. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas.ilmiah. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. (2) bebas prasangka. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. dan menyimpulkan. (4) merumuskan hipotesis. Dalam kerja penelitian. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (6) mengolah data. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. menganalisis. dituntut langkah-langkah berturut-turut. yaitu: 1. komunikasi. (7) menganalisis dan 17 . terorganisir. 3. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. menginterpretasi. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (5) mengumpulkan data. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan.

juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. 18 . Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. (9) menarik kesimpulan. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Demikian pula.menginterpretasi. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan.

2.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. menghasilkan pengetahuan yang: a. d. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. sistematis 2. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. didukung data empiris 19 . realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.

Berdasarkan desain metodologinya. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. dan Muhadjir. Charters. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. 1885.2. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . yaitu : 1. Ratna. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). 2. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. dan Whitney. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. 2004. (bandingkan Nazir. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1.

penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 3. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. content analysis. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. Macam-macam 21 . Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). 5. 2. 4. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. 6. ethnography merupakan pendekatan penelitian.

lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. 2004: 47-49). biografi. Dalam ilmu sosial. 2. film. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . yaitu sebagai studi kultural. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. gambar.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. grafik. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Immanuel kant. dan majalah. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. lukisan. buku teks. sesuai dengan hakikat objek. Dalam ilmu sastra. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. surat kabar. Sejalan dengan uraian di atas. laporan. 22 . fotografi. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. buku harian. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. 2.

Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. suatu objek. Menurut Whitney (dalam Nazir. 4. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. suatu set kondisi. 2. pandangan-pandangan.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Adakalanya peneliti 23 . sikap-sikap. penelitian bersifat alamiah. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka.3. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 5. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. gambaran atau lukisan secara sistematis. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta.

ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Metode ini dinamakan juga studi status . Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . kriteria umum: 1.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. masalah yang dirumuskan harus patut. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain.

Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. kriteria khusus 1. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.5. variabel dilihat sebagaimana adanya. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. sifat penelitian adalah ex post facto. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. B. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. 3.

melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan.3. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. membuat tabulasi serta analisis (statistik). dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir.

sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. subjek penelitian dapat saja individu. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. kelompok. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. maupun masyarakat. lembaga. Dalam studi komparatif ini. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. 27 .

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

29 . Eagelton. dan keagamaan. Menurutnya. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Eliis. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Plark. ekonomi. Lotman. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Riffaterre.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. dan Teeuw. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer.

Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. secondary modelling system. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). yaitu berupa bahasa.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Melalui sistem sastralah. di antaranya dari sisi bahan. 30 . sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Sebagai satu sistem. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum.

membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. 3. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. dari pembaca saja. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Dengan demikian. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. yaitu pembacanya. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Dalam hal ini. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Dengan demikian. kerja yang objektif. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri.

Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. 32 . Namun. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. sejumlah peralatan diperlukan. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Dalam hal ini.perspektif. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum.

dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. unsur dalam diri sendiri 2. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. sebagai berikut: 1. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. Tanpa paradigma. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. Bagi ilmuwan. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data.3. model.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. 2004: 21). Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . pola.

dan sebagainya. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu.yang relatif sama. bahkan khayalan. imajinasi. maka teori pun juga beraneka ragam. sebagai cara pandang. Contohnya. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. tersistem. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Di pihak lain. Jadi. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Selanjutnya. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Di satu pihak. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. 34 . pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Dalam penelitian sastra.

faktor epistemologis. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. dalam ilmu humaniora. penelitian adalah penilaian. faktor metodologis. 35 . faktor ontologis. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. mengkondisikan ilmuwan sastra. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. teknik dan proses selanjutnya. faktor aksiologis. keseluruhan proses penelitian. Pada gilirannya. teori. termasuk metode. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. periode. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. dan teknik. khususnya sastra. Paradigma dengan demikian mendahului. metode. Keempat faktor tersebut adalah: 1. secara kualitatif.

drama bersajak. psikologis. aliran. psikologis dan ilmu pengetahuan. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. puisi. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. Keseluruhan unsur. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. Dengan kalimat lain. Puisi.generasi. dan drama. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Perbedaannya. latar tempat dan waktu. Novel sejarah. 36 . dan berbagai paham yang lain. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. novel psikologis. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. termasuk tokoh-tokoh. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. kecuali referensi estetisnya. novel.

yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran.4 Pendekatan Sastra 3.1. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. 3. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. pendekatan berasal dari kata appropio. yaitu metode dan teknik. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. approach. Lebih lanjut. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. 2004: 5355).4. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. menganalisis. dan menyajikan data.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. 37 . Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna.

4. pendekatan objektif. teori. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. 3. pragmatik. metode. seperti pendekatan sosiologi sastra. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. Pada pendekatan mendahului teori dan metode.dan sebagainya. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. mimetik. ekspresif. dan (4) pendekatan objektif. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Artinya. dan tekniknya.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. dasarnya.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. intrinsik dan ekstrinsik. 38 . Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. (3) pendekatan pragmatik. (2) pendekatan mimesis. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Dalam hubungan inilah. mitopoik.

Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang.4. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. (3) produk pandangan dunia pengarang.3. pikiran dan perasaan.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. persepsi. pikiran-pikiran. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. ucapan. dan hasil-hasil karyanya. Secara metodis. nasionalisme. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. feminisme. komunisme. dan 39 . (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan.2. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia.

karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. persepsi. 3. (2) memetakan sejumlah pikiran. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba.2. pikiran. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. 1989:15). 1958:8). Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya.4. pengalaman. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. 40 . dan sebagainya Luxemberg. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. sesuai tujuan. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. dan ideologi pengarang. bentuk-bentuk kemasyarakatan. perasaan. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). Melalui pandangan ini. pengalaman hidup.

metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 .1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. tetapi penekanannya berbeda. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. menyiratkan sesuatu yang statis. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. suatu copy. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. suatu produk akhir. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Menurutnya. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Segers (2000. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Tiruan.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Menurut Baxter. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Secara terminologis. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. suatu proses.

Oleh karena itu. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. sesuai tujuan. 42 . Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. Melalui penjabaran di atas. Secara metodis. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal..tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. dsb. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis.

Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca.3. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. menafsirkan.4. Pembaca dalam 43 . menikmati. Menurutnya. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. (2) penerapan praktis estetika resepsi. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. pembacalah yang menilai. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.2. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Menurutnya. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Dalam uraiannya. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. dan memahami karya sastra.

kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. (5) rangkaian sastra. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Dalam hal ini. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. (2) horison harapan. (3) nilai estetik. (4) semangat zaman. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. dan (7) sejarah umum. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal.

Dengan kondisi tersebut.informasi. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Teori menuntut 45 . Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Perihal semangat zaman. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan.

Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Fungsi sosial sastra 46 . atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. diidealkan. satirik. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu.

dan literary strategies Implied reader merupakan model. pembaca. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Konsep dialektika respon estetik (Iser. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Konsekuansinya. rol. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. dan interaksinya. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. 1987: 20 dan 54). historis. literary repertoire. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial.

Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. 48 . Oleh karena itulah.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.2. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. politis. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. antarhubungan. seperti aspekhistoris. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. dan totalitas. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Dengan demikian. termasuk biografi. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. sosiologis.4. 3. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur.

Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema.). Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. konflik. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Adapun terhadap prosa. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. dan latar). Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. gaya bahasa. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. dll. alur. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Secara metodologis. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. 49 . Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. fakta cerita (tokoh.

Pada analisis prosa. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. Di dalam analisisnya. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. 50 . unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.

terlepas dari 51 . 1978: 17-18. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. dan Teeuw. Selain itu. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. dan Faruk: 1994: 17-18. 1995: 4-12. Hawkes. mekanisme sendiri. 1984: 120139). apabila suatu bagian dihilangkan. melainkan rusak sama sekali. Artinya. 1999: 1-9. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. Faruk. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. melainkan kualitatif. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget.BAB IV STRUKTURALISME 4.

Sebagai kualitas totalitas. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. otonom. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Dengan kata lain. sesuatu yang berstruktur. Karena itu. sesuatu yang utuh. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. mekanisme yang baru. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. antarhubungan merupakan energi. mengembangkan. Artinya. Formalisme di Rusia. motivator terjadinya gejala baru. dan self-regulatif. Aliran Kritik Baru di Amerika. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. transformatif. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya.

prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Sejalan dengan uraian di atas. seperti kejadian. Di pihak lain. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. latar. dan sebagainya. Karya tidak dapat diisolasi. plot. Dengan kata lain. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. misalnya. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Namun demikian. 53 . tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Analisis terhadap penokohan. suatu masyarakat. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula.sebagai sistem komunikasi.

Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. Dengan jalan demikian.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. oposisi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. dan psikologi. 1985: 128-13. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . puitika. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Metode yang digunakan metode formal. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas.4. dan sebagainya. asosiasi. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Meskipun demikian. yaitu: 1. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. reaksi terhadap studi biografis 2. sosiologi. Sebagai teori modern mengenai sastra.

dan Ratna. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. dan nilai-nilai. Muhadjir. struktur. Pradopo 2002: 46. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. dan (3) sebagai teori. masyarakat yang menghasilkannya. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. karya sastra adalah proses komunikasi. 55 . Oleh karena itulah.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. Menurutnya. dan pembaca sebagai penerima. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. 2003: 88-96. 4. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. (2) sebagai metode. 1985: 185-192. 2002: 304). fakta semiotik. terdiri atas tanda. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. melahirkan strukturalisme.

latar atau setting. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. imajinasi. dan gaya bahasa. Prosa. misalnya mengarah pada tema. di antaranya tema. penokohan. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. alur. dan gaya bahasa. Artinya. alur. puisi. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. rima atau persajakan. Unsurunsur prosa. diksi atau pilihan kata. latar. sudut pandang. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. peristiwa. ritme atau irama. dan enjambemen. simbol. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. dialog. tujuan analisis di lain pihak. stilistika. penokohan. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 .Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. peristiwa atau kejadian. nada. Unsur-unsur puisi. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. puisi. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak.

dan pendengar. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. karya sastra. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. yaitu pencerita.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Jadi. Dalam hubungan ini. 57 . dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. tidak semau-maunya. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks.

Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. 1993: 183-189). latar belakang sejarah pertumbuhannya. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. yaitu persamaan dan sebab akibat. arti bahasa dalam 58 .4. Ada tiga jenis tanda yang pokok. Dalam lapangan semiotik. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. Menurutnya. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. antara penanda dan petanda. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. yang merupakan bentuk tanda. Stout (dalam Makaryk. indeks. yaitu ikon. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. pengertian tanda ada dua prinsip. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. aliran semiotik. dan simbol. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa.

Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Jadi. perasaan. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Dalam kaya sastra. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. arti tambahan (konotasi). intensitas. Dalam sistem semiotik. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. suasana. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Berhubungan dengan hal ini. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. daya liris. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya.

Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. terdapat (1) sintaksis semiotika. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. (2) semantik semiotik. termasuk sastra. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Menurut pandangan intertektualitas. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. Dilihat dari segi cara kerjanya. dan (3) pragmatik semiotik. atau yang lain. Sejalan dengan paham triadik peircean. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan.

tanda tampak sebagai nalar: proposisi. b. simbol. sinsigns. yang paling sering diulas adalah object. object (designatum. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. tokens. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. rheme. interpretant. 2004: 102) di antara ikon. c. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. 2. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. object. representamen. referent). yaitu apa yang diacu: a. c. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. ikon. 61 . Di antara representamen.1. c. Menurut Aart van Zoet (Ratna. ground. qualisigns. argument. denotatum. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. type. b. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. b. dan interpretant. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. legisigns. dicent signs.

dan Faruk. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. 62 . Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. 4. sebagai struktur. yang terpenting adalah ikon. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. dan (d) objektif (otonom). dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). (b) semestaan (mimetik).indeks. 1993: 340-341. Alasannya. Sebagai strukturalisme. (c) pembaca (pragmatik). Kellner dalam makaryk. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. di lain pihak. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. dan simbol. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. 1993: 95-99. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Karena itu. yaitu (a) pengarang (ekspresif).5. Teks sastra kaya dengan ikon. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. termasuk karya sastra.

yaitu melakukan transformasi atas alam.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Menurut Marxis. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Untuk melakukan transformasi atas alam. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Oleh karena itu. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. melainkan kelas sosial. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Karena itu. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 .5. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Karya-karya kultural yang besar.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. 4. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas.

Karena itu. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Dalam pengertian strukturalisme genetik. seperti kelompok profesi. dan sebagainya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. Karena itu. kelompok etnis. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. pendidikan. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. ras. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain.

4. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural.5. Dalam pandangan strukturalisme genetik. Namun.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Hanya beberapa di antaranya. seperti strukturalisme. Greimas. Todorov. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Dengan demikian.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. bersifat mimetik. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. dan sebagainya.

Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Struktur yang demikian. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. menurut strukturalisme genetik. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan.semantik pula.

Menurut paham tersebut. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Namun. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal.5.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. 4. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 .5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. yang juga berstruktur.

Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. seperti model sintaksis. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. Dengan demikian. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. sebagaimana hubungan antara subjek. hikayat. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. dan objek penderita. Narratio berarti cerita. 4.6.dialektik. subjek secara linguistik. demikian juga dengan wacana dan teks. atau sebaliknya. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. bukan 72 . logos berarti ilmu.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman.6 Naratologi 4. kisah. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. perkataan. predikat. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.

Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). tetapi juga melalui kata-kata. politik. dan ekonomi. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. dan wacana. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. misalnya. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. akrab dengan cerita Jaka Tarub. bukan pengarang. sastra. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural.person. Pada pahan pascastruktural. Revolusi. bukan pengarang. semboyan. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. analisis naratif merupakan bagian ideologi. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. restorasi. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. dengan pertimbangan 73 . melainkan melalui bahasa. diceritakan oleh narator. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Setiap orang.

Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. 74 . suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. novel juga merupakan objek yang paling memadai. yaitu dunia fiksional. pembaca. Di pihak lain. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. Dilihat dari media yang tersedia. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. paling luas. Dalam pembicaraan mengenai naratif. Hampir keseluruhan genre sastra. kebudayaan pun tidak ada. Tanpa plot. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Dalam karya sastra. sudut pandang. dan teks. tokoh-tokoh. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. latar. Tanpa cerita. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. baik sebagai penulis. tema. dan gaya bahasa.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. wacana. cerita sebagai tulang punggung karya. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan.

modus. Tzvetan Todorov (historie dan discours). interdisipliner. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. gongeng. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). yaitu: 1. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Shlomith Rimmon-Kenan (story. durasi. story. epik. Forster (tokoh bundar dan datar). Gerald 75 . Secara historis. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. cerpen. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Henry James (tokoh dan cerita). biografi. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. juga roman. text). dan sebagainya. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). Para pelopornya. Para pelopornya. Percy Lubbock (teknik naratif). fabula. dan suara). catatan harian.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. lelucon. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. termasuk feminis dan psikoanalisis. mitos. frequensi. 1993: 110. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. puisi naratif. Claude Bremond (struktur dan fungsi). periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). narration). Mieke Bal (fabula. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. text.

Marry Louise Pratt (tindak kata). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet.6. Jacques Derrida (dekonstruksi). 4. yaitu Propp.2. Hayden White (wacana sejarah). tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Propp 76 . dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Artinya. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. pastiche). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.6. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. LeviStrauss. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. unit terkecil yang membentuk tema. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Oleh karena itu. Roland Barthes (Kernels dan satellits). Menurutnya. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Todorov.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4.Prince (struktur narratee). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Jonathan Culler (kompetensi sastra).

persona bertindak sebagai variabel. perbuatan. (6) pahlawan.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). yaitu: (1) penjahat. yaitu: pelaku. (4) putri dan ayahnya. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Di sini. dan Todorov. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Bremond. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Motif dibedakan menjadi tiga macam. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. 77 . Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. (5) orang yang menyuruh. dan (7) pahlawan palsu. (3) penolong. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Menurutnya. (2) donor. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Dengan kalimat lain. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian.

Di satu pihak.4. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. 78 . Pendekatan antropologi sastra. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain.2. Dengan kalimat lain. seperti laki-laki perempuan. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng.6. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Menurutnya. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. dilakukan terhadap mitos Oedipus. misalnya. mitos adalah naratif itu sendiri. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. tabu. bumi langit. melalui struktural. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. baik secara bulat maupun fragmentasi. dan incest. dan sebagainya. khususnya konsep-konsep oposisi biner. dan harus direkonstruksi melaluinya. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur.

meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. (2) aspek semantik. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Oleh karena itulah. meneliti tema. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. dan latar. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. dan sebaliknya. secara berdampingan. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. 4. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. dan sebagainya.2. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. yaitu: kehendak. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. sebagai hubungan makna dan perlambangan.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. yaitu (1) aspek sintaksis. komunikasi. dan (4) aspek verbal. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. berkaitan dengan makna dan lambang. Menurutnya. gaya bahasa. tokoh.6. dan partisipasi. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 .3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet.

Mary sebagai penerima. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Tidak ada subjek di balik wacana.2. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. Apel adalah sebagai objek. Yang ada hanyalah subjek. tetapi diperluas pada mitos. 4. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). sosiologi sastra. seperti: psikologi sastra.6. dll. studi biografi. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. John dan Paul juga merupakan pengirim. yaitu tata bahasa naratif universal. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. sastra sebagai proyeksi.antarhubungan adalah kausalitas. baik sebagai pengirim maupun penerima.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. acteurs merupakan kategori umum. Greimas (dalam Abdullah. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. 1999: 11-13. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. yaitu dongeng. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. 80 . kritik fenomenologis.

dan plot. pelaku. religi. dan penolong dengan penentang. yaitu subjek dengan objek. dan struktur yang bersifat pemutusan. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. dan ilmu sosial lainnya. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. tek. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Oleh karena itu. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Cerita adalah bahan 81 . Sebaliknya. Actans merupakan struktur dalam. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda.

82 . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya.kasar. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . sebagai model kedua. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. sebagai model pertama. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. perangkat peristiwa.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

(2) kemenduaan arti (ambiguity). Karenanya.1. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. 5. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. dan fungsional. untuk memisahkan kemenduaan.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. sistematis.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. dan (c) peletak dasar 86 . sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena.

dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. (3) masalah harus merupakan hal penting. 87 . Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. serta dana.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. Ciri kedua yang menyangkut fisible. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. waktu. pikiran. Menurut Nazir (1985: 134-135). Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (4) masalah harus dapat duji.

1. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. hubungan antarunsur. mengembangkan (develop atau extention).Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Berhubungan dengan penelitian sastra. dan totalitas di dalamnya. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). Dengan demikian. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. topik penelitian atau judul penelitian. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. 88 . maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah.

lingkup masalah. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. 2001:2). tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. 5. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). berjumlah tertentu. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. misalnya.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. sistematis. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. 89 . maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya.1. Secara ideal.

sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Penerimaan yang dimaksud 90 . teori tidak harus dipahami secara kaku. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. diperlukan penerimaan positif. misalnya. Teori adalah alat. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. dan totalitasnya. khususnya analisis fiksi.Dengan demikian. antarhubungan. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Sebagai suatu cara pemahaman. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Dalam uraian landasan teori. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. baik sebagai teori maupun metode. Dalam strukturalisme. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. Dalam kerangka strukturalisme. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. sebagai akumulasi konsep. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti.

Sebaliknya.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Atau dengan kalimat lain. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. 5.mengarah kepada keteraturan. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi.1. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu.

(2) kategori harus lengkap. dan hubungan antarunsur. pemilihan. (3) kategori harus bebas dan terpisah. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Sejalan dengan uraian di atas. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. demi pemahaman identitas data penelitian. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. Dengan kata lain. Penentuan data berdasarkan perilaku. padu. hubungan simetris 92 . ciri. sistematik. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1.(pendekatan) linguistik. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. dsb. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi.

tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. hubungan saling mempengaruhi. Sejalan dengan uraian di atas. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. 3. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. dan faktor kebetulan. 2. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian.

pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. pemilahan. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. pemilahan. dan pengolahan data secara sistematis. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti.penelitiannya. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian.

padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. 5. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya.dan tujuan penelitian. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.

peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Idealnya. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan.

dana yang tersedia.1. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. keberanian. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. kepahlawanan dan petualangan... melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi.. Merujuk pada potensi teks tersebut. keinginan.. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. referensi yang memadai. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal.. .masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. ciri. waktu pelaksanaan. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Latar Belakang . Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. pengembangan penelitian sejenis. dsb. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 .

Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. 2. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. berpikir logis. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. Namun demikian. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. tampak 98 . kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani.

Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. dan penelusuran tema dan amanat. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. alur. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. latar) 3. struktur cerita yang terbentuk. keterjalinan antarunsur cerita.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. 4. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. 99 . peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif.

Berdasarkan upaya tersebut. 5. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. misalnya 100 . mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Cermati contoh berikut: 1. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. Dalam hal ini . mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2.

101 . antar hubungan. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik).menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Paham struktural objektif. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Struktur dinamik. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). menempatkan teks secara otonom. Oleh karena itu. alur. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Penjabarannya menjadi. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula.

pengolahan data. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. dan menyeluruh. identifikasi masalah. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. pemilihan data. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. dll. padu. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. dan analisis data. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. sosial). dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . tempat.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. Dengan demikian.

sistematis. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. dan metodologis. dan metode kajian. kajian struktural naratif d. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. kajian struktural genetik c. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. pada langkah penyusunan Landasan Teori. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya.tingkat kepekaan literer. teoretis. kajian struktural objektif b. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. 5. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). dan fungsional. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . teori.

latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. seteliti. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Uraian landasan teori tampak 104 . dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. identifikasi masalah. kurang memadai. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. dan tujuan penelitian tertentu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. semendetail. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Berdasarkan contoh di atas. 2003:112).

Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Kelemahan lain. 5. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.

dan menginterpretasikan data (Winarno. Dengan demikian. sifat. dan amanat dapat terungkap secara tepat. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. mengklasifikasikan . fakta. sejumlah data. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. keterjalinan unsur. 1980: 139). fenomena. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel).1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.1. menyusun. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). unsurunsur karya. tema. sifat. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. 106 . menganalisis. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. Mengacu kepada definisi metode deskriptif.

(b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. penyusun UP tersebut cukup 107 . Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. (2) struktur cerita. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Dalam hal ini.b. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. seteliti. semendetail. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. dan (4) tema dan amanat. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. dan latar. plot/alur. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. b dan c. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.

penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. plot/alur. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. Misalnya saja. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Namun demikian. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan.

tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. dan sosial? c. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. b. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. suspense. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. seperti pengeplotan. d.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. Demikian pula pada pembicaraan latar. tempat. Pada unsur-unsur cerita lainnya. kepadatan. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. surrise. kesatupaduan) sebagai instrumen. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. jumlah. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a.

Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Adapun dalam penentuan amanat.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema.

selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. ******* 111 . Dengan demikian.

Pengantar Ilmu Sastra. Chamamah.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 2001.” Makalah.) 1993. 1989.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim.). “Strukturalisme-Genetik. dkk. 1987. Iser. Abrams. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Imran T. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. New York: The Norton Library. The Act of Reading. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.H. (ed. Jauss. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Wlfgang. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Hans Robert. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Norton & Company Inc. ed. 1983. W. Irena R. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Makaryk.” Makalah. S. M. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Toward an Aesthetic of reseption. Luxemburg. 1999. Jakarta: Gramedia. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. “Sastra Lisan. 1994.W. 1999. Jan van.

Jakarta: Pustaka Jaya T. 1993. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 1985. Segers. “Strukturalisme”. Diterjemahkan oleh Suminto A. Rene & Austin Warren. Zaimar. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Jakarta: Gramedia Wuradji. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ed. Selangor: Sain Baru Sdn. Metodologi penelitian Kualitatif. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Moh. Jakarta: Djambatan. Teori Kesusastraan. 2002. dkk. 1987. Sastra dan Ilmu sastra. Rachmat Djoko. 1995. 2001. Bandung: Eresco. Fatimah Djajasudarma. Evaluasi Teks Sastra. 2004. Makalah. 1999. “Pengantar Penelitian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. 19. Metode Penelitian Linguistik.Bhd. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Wellek. Noeng.). Metode. 1984. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. ------------------------------. Diterjemahkan oleh Okke K. dan Teknik. V. Nyoman Kutha. Metode Penelitian. Morfologi Cerita Rakyat. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. A. Penelitian Sastra: Teori. Yogyakarta: Gama Media Propp. Kritik Sastra Indonesia Modern.Muhadjir. 1985. Tata Sastra. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Pradopo. Tzvetan. Rien T.S. Sayuti. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 2002. Todorov. Burhan.

114 .

115 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->