METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

6.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah..3 Tujuan Penelitian …………………………………………... .1..........1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.....3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.....6..........2 Levi’Strauss ………………………………………… 4..........4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.....1..1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ........ 83 5.. 5.2....2...4 Landasan Teori …………………………………………… 5.4 Greimas …………………………………………….......1.4..1.................. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS . 5.........2 Identifikasi Masalah ……………………………………….2.. 5...6.3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.1.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ...... 5....5 Metodologi ………………………………………………… 5....

menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. sastra dalam penelitian ilmiah.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. relevansi metode dan penelitian. i . Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. Selain itu. hakikat. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian.

. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Dengan demikian.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Agustus 2007 Penyusun ii . Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. teori. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra.

Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. metode dianggap sebagai cara-cara. arah. melalui. Metode. atau seni menggunakan alat.1 Pengertian. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. cara. mengikuti. yang berarti alat. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Metodologi berasal dari methodos dan logos. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . metode. strategi untuk memahami realitas. sedangkan hodos berarti jalan. sesudah. Hakikat Metodologi. 3. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Teknik berasal dari kata teknikos. Dalam pengertian yang lebih luas. 2.BAB I PENDAHULUAN 1.

Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. dan (3) sadar teknis. 2 . artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. perumusan masalah. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. 1. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. dan kerangka pemikiran penelitian. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. (2) sadar teoritik.

3 . Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. menyusun proposal.Dengan prosedur kerja yang baik. sama dengan teori. misalnya. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. termasuk ilmu humaniora. bukanlah karena perbedaan metode. menganalisis data. kuantitatif dan kualitatif. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. Sebagai alat. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. membangun konsep dan model. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. merumuskan hipotesis dan permasalahan. Klasifikasi. sampling. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. mengadakan pengujian teori. induksi dan deduksi. eksplanasi dan interpretasi. komparasi. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. dan akhirnya menarik kesimpulan. deskripsi.

teknik kartu data. misalnya: wawancara. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. rekaman. teknik bersifat paling kongkret. teknik berhubungan dengan data primer. Sebagai alat. bahkan juga dengan teori. dokumen. dan sebagainya. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. melalui cara: 1. jelas berbeda. Artinya. tetapi dasar dan cara pemahamannya. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. struktural. Sebagai instrumen penelitian. Metode deskripsi. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. komparasi. statistik.Berbeda dengan metode. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Metode sering disebutkan sebagai teknik. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. angket. Dengan demikian. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. kuesieoner.

Pada pembicaraan yang berbeda. metode. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Tetapi sebelumnya. metode dapat menjadi teori. 5 . memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 3. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. dan teknik. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi. teori. 2. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. struktur disebut sebagai metode. metodologi. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

menerus. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. d. yaitu sintesis itu sendiri. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. 9 . Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan.

BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. ilmu dapat hidup. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. dan kecerdasan yang memadai. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. atau pencarian kembali atas suatu objek. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. kecermatan. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. 10 . penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. Sebagai akibatnya. Hubungannya dengan ilmu. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Jadi.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti.

sistematis. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. scientific objective. Oleh karena itu pula. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Oleh karena itu. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Pertama. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula.berkembang. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Dalam menghadapi masalah. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. Kedua. 1985: 9-15). yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. practicial objective. terutama yang berkaitan 11 .

Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). dan sesuai dengan objeknya. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. nalar. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra.dengan pemanfaatan teori dan metode. yaitu penelitian sastra. teori-teori. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Urutan umum dari proses 12 . Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra.

Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. fakta. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. penelaahan informasi. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. dan penyajian kesimpulan. emosional. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. social. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Di samping masalah yang dihadapi. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. pengumpulan data. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. manusia mencari tahu dan mencari makna. dan spiritual. Di samping itu. Oleh karena itu. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. analisis data. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya.

penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. kemudian melakukan proses penemuan. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. dan menafsirkan apa yang diamati.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). atau pendapat umum. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. atau penelitian. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. 14 . intuasi. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. melakukan kegiatan penemuan. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. menggambarkan. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. otoritas. atau memperkaya teori yang sudah ada. penyelidikan.

Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Dalam hal ini. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Pertama. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Kedua. Oleh karena itu. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara.

Teori dapat membantu merumuskan problem. pengembangan instrumen. pengumpulan dan analisis data. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . pengajuan hipotesis.berhubungan).2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. serta membantu dalam menginterpretasi data. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. penyusunan design. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. Penelitian akan menghasilkan teori.

bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. Dalam kerja penelitian. menginterpretasi. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. ilmu-ilmu humaniora. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. komunikasi. dituntut langkah-langkah berturut-turut. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. (2) bebas prasangka. (3) mengadakan studi pustaka. (6) mengolah data. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. (5) mengumpulkan data. 3. (4) merumuskan hipotesis. 2. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (7) menganalisis dan 17 . dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). Dalam penelitian ilmiah. (3) menggunakan prinsip analisis. terorganisir. yaitu: 1. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. menganalisis. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis.ilmiah. dan menyimpulkan. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas.

Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Demikian pula. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. 18 . (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. (9) menarik kesimpulan. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian.menginterpretasi.

menghasilkan pengetahuan yang: a. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. didukung data empiris 19 .2. sistematis 2. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. d.

4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. (bandingkan Nazir.2. dan Muhadjir. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Berdasarkan desain metodologinya. dan Whitney. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. 1885. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. yaitu : 1. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. 2. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. 2004. Ratna. Charters. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research).

3. content analysis. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). 6. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. 5. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. 4.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. 2. Macam-macam 21 . ethnography merupakan pendekatan penelitian. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif.

fotografi. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. 22 . Dalam ilmu sastra. biografi. buku harian. lukisan. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. sesuai dengan hakikat objek.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. surat kabar. grafik. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. gambar. 2004: 47-49). lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. buku teks. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. yaitu sebagai studi kultural. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . film. Dalam ilmu sosial.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. dan majalah. laporan. 2. 2. Immanuel kant. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. Sejalan dengan uraian di atas.

Adakalanya peneliti 23 . Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. pandangan-pandangan. suatu objek. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. 5. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Menurut Whitney (dalam Nazir. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian.3. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. sikap-sikap. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. 2. 4. suatu set kondisi.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. penelitian bersifat alamiah. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. gambaran atau lukisan secara sistematis. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang.

tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . masalah yang dirumuskan harus patut.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. kriteria umum: 1. Metode ini dinamakan juga studi status . Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar.

fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. variabel dilihat sebagaimana adanya. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. B.5. kriteria khusus 1. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. sifat penelitian adalah ex post facto. 3. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2.

gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1.3. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. membuat tabulasi serta analisis (statistik).

metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. lembaga. Dalam studi komparatif ini. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. subjek penelitian dapat saja individu. kelompok. maupun masyarakat. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. 27 .

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. 29 . Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Eliis. Eagelton. Menurutnya. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. ekonomi. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. dan Teeuw. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Plark. dan keagamaan.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Lotman. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Riffaterre.

Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Sebagai satu sistem. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. yaitu berupa bahasa. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. di antaranya dari sisi bahan. secondary modelling system. Melalui sistem sastralah.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). 30 .

2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. dari pembaca saja.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. yaitu pembacanya. kerja yang objektif. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. 3. Dengan demikian. Dalam hal ini. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Dengan demikian. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan.

Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Namun. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Dalam hal ini. sejumlah peralatan diperlukan. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. 32 . Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus.perspektif.

sebagai berikut: 1. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. 2004: 21). Tanpa paradigma. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. Bagi ilmuwan. model.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek.3. pola. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. unsur dalam diri sendiri 2.

sebagai cara pandang. Di satu pihak. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. 34 . penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Jadi. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. imajinasi. bahkan khayalan. tersistem. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. Contohnya.yang relatif sama. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Selanjutnya. maka teori pun juga beraneka ragam. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Dalam penelitian sastra. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Di pihak lain. dan sebagainya. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural.

Keempat faktor tersebut adalah: 1. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. dan teknik. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. faktor epistemologis. penelitian adalah penilaian. 35 . keseluruhan proses penelitian. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. teori. periode. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. termasuk metode. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. metode. secara kualitatif. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. khususnya sastra.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. mengkondisikan ilmuwan sastra. dalam ilmu humaniora. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. faktor aksiologis. faktor ontologis. Paradigma dengan demikian mendahului. faktor metodologis. teknik dan proses selanjutnya. Pada gilirannya. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2.

Perbedaannya. dan drama. Dengan kalimat lain. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. latar tempat dan waktu. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. termasuk tokoh-tokoh. Puisi. novel. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Keseluruhan unsur. drama bersajak. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. psikologis. 36 . bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. dan berbagai paham yang lain. kecuali referensi estetisnya. Novel sejarah.generasi. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. puisi. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. psikologis dan ilmu pengetahuan. novel psikologis. aliran.

3. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. menganalisis.4 Pendekatan Sastra 3. approach. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. Lebih lanjut. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan.4. 37 .1.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. pendekatan berasal dari kata appropio. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. 2004: 5355). dan menyajikan data. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. yaitu metode dan teknik. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.

3. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. dan tekniknya. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. mitopoik. teori. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. Dalam hubungan inilah. metode. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. 38 . Artinya.dan sebagainya. ekspresif.4. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. dan (4) pendekatan objektif. (2) pendekatan mimesis. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. seperti pendekatan sosiologi sastra. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. intrinsik dan ekstrinsik. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. dasarnya. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. (3) pendekatan pragmatik. pragmatik. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. pendekatan objektif. mimetik.

langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. feminisme. dan 39 . pikiran-pikiran. nasionalisme. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. (3) produk pandangan dunia pengarang. persepsi. pikiran dan perasaan. Secara metodis. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. ucapan. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. dan hasil-hasil karyanya.2. komunisme. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang.4.3. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya.

yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. (2) memetakan sejumlah pikiran. bentuk-bentuk kemasyarakatan. 1989:15). 40 . pengalaman. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. perasaan.2. 1958:8). dan sebagainya Luxemberg.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. pikiran.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman.4. persepsi. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. pengalaman hidup. sesuai tujuan. Melalui pandangan ini. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. 3. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). dan ideologi pengarang. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya.

mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Secara terminologis. tetapi penekanannya berbeda.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. suatu proses. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. Menurut Baxter. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Menurutnya. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. suatu produk akhir. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. suatu copy. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Tiruan. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Segers (2000. menyiratkan sesuatu yang statis.

(2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional.. sesuai tujuan. Secara metodis. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. Melalui penjabaran di atas. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. dsb. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. Oleh karena itu. 42 . kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh.

Menurutnya. menikmati.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Pembaca dalam 43 . Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. dan memahami karya sastra. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. menafsirkan.3. Menurutnya. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. pembacalah yang menilai. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik.4.2. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Dalam uraiannya. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. (2) penerapan praktis estetika resepsi. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis.

Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. (5) rangkaian sastra.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. dan (7) sejarah umum. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. (3) nilai estetik. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Dalam hal ini. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. (4) semangat zaman. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (2) horison harapan. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre.

Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Perihal semangat zaman. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.informasi. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Dengan kondisi tersebut. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Teori menuntut 45 .

Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. satirik. Fungsi sosial sastra 46 . yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. diidealkan. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya.

dan interaksinya. historis. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Konsekuansinya. literary repertoire. pembaca. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. dan literary strategies Implied reader merupakan model. 1987: 20 dan 54). Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. rol. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks.

seperti aspekhistoris. 3. dan totalitas. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Oleh karena itulah. sosiologis.4. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. antarhubungan. Dengan demikian. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. termasuk biografi. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. politis. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. 48 . pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi.2. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik.

dan latar). Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Adapun terhadap prosa. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. alur. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dll. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. gaya bahasa. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. dan sarana cerita (pusat pengisahan.). 49 . konflik. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. Secara metodologis. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. fakta cerita (tokoh. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita.

50 .Pada analisis prosa. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. Di dalam analisisnya. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.

Selain itu. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. melainkan kualitatif. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. 1995: 4-12. melainkan rusak sama sekali. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan.BAB IV STRUKTURALISME 4. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. terlepas dari 51 . fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. Faruk. Hawkes. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. mekanisme sendiri. 1999: 1-9.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. apabila suatu bagian dihilangkan. 1984: 120139). dan Faruk: 1994: 17-18. Artinya. dan Teeuw. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. 1978: 17-18.

Dengan kata lain. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Aliran Kritik Baru di Amerika. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. motivator terjadinya gejala baru. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. otonom. sesuatu yang berstruktur. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. mengembangkan. Karena itu. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Formalisme di Rusia. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. antarhubungan merupakan energi. transformatif. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. mekanisme yang baru. sesuatu yang utuh. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. dan self-regulatif. Artinya. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Sebagai kualitas totalitas.

Dengan kata lain. misalnya. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. 53 .sebagai sistem komunikasi. Namun demikian. Karya tidak dapat diisolasi. dan sebagainya. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Sejalan dengan uraian di atas. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Analisis terhadap penokohan. seperti kejadian. Di pihak lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. suatu masyarakat. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. latar. plot.

4. asosiasi. yaitu: 1. sosiologi. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. oposisi. puitika. Dengan jalan demikian. 1985: 128-13. dan sebagainya. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. dan psikologi. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Sebagai teori modern mengenai sastra. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. reaksi terhadap studi biografis 2. Metode yang digunakan metode formal. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Meskipun demikian.

yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. dan (3) sebagai teori. struktur. 2002: 304). 1985: 185-192. 2003: 88-96.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Pradopo 2002: 46. dan nilai-nilai. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. terdiri atas tanda. 55 . masyarakat yang menghasilkannya. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. fakta semiotik.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. dan pembaca sebagai penerima. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. (2) sebagai metode. karya sastra adalah proses komunikasi. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. melahirkan strukturalisme. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. 4. Menurutnya. Muhadjir. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Oleh karena itulah. dan Ratna.

Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. stilistika. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. puisi. penokohan. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. nada. imajinasi. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dialog. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. ritme atau irama. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . latar. alur. dan gaya bahasa. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. peristiwa atau kejadian. Prosa. alur. sudut pandang. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. latar atau setting. tujuan analisis di lain pihak. peristiwa. rima atau persajakan. misalnya mengarah pada tema. dan enjambemen. Unsurunsur prosa. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. simbol. Artinya. puisi. Unsur-unsur puisi. dan gaya bahasa. di antaranya tema. diksi atau pilihan kata. penokohan.

analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. karya sastra. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. 57 .sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. yaitu pencerita. tidak semau-maunya. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. dan pendengar. Dalam hubungan ini. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Jadi.

Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Dalam lapangan semiotik. aliran semiotik. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. yaitu ikon. yaitu persamaan dan sebab akibat. Stout (dalam Makaryk. dan simbol. indeks. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. arti bahasa dalam 58 . pengertian tanda ada dua prinsip. Menurutnya. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra.4 Semiotik Secara padat Dolezel. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya.4. Ada tiga jenis tanda yang pokok. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). 1993: 183-189). hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. yang merupakan bentuk tanda. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. antara penanda dan petanda.

sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Jadi. suasana. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Berhubungan dengan hal ini. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. arti tambahan (konotasi). yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. intensitas. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. perasaan. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . daya liris. Dalam sistem semiotik. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Dalam kaya sastra. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna.

karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. termasuk sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Sejalan dengan paham triadik peircean. terdapat (1) sintaksis semiotika. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Menurut pandangan intertektualitas. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . dan (3) pragmatik semiotik. Dilihat dari segi cara kerjanya. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. atau yang lain. (2) semantik semiotik. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya.

2. sinsigns. 2004: 102) di antara ikon. b. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. interpretant. type. tokens. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. b. c. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. argument. ground. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. simbol.1. object (designatum. 61 . ikon. denotatum. object. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. legisigns. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. rheme. Menurut Aart van Zoet (Ratna. yaitu apa yang diacu: a. c. Di antara representamen. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. dicent signs. qualisigns. referent). dan interpretant. representamen. b. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. yang paling sering diulas adalah object. c.

strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. termasuk karya sastra. 1993: 340-341. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. (c) pembaca (pragmatik). dan (d) objektif (otonom). sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). 4. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. 1993: 95-99. 62 .indeks. Sebagai strukturalisme. sebagai struktur. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. di lain pihak. dan simbol. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. Alasannya. dan Faruk. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. Kellner dalam makaryk. Karena itu. yang terpenting adalah ikon. (b) semestaan (mimetik).5. Teks sastra kaya dengan ikon.

Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. yaitu melakukan transformasi atas alam. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Oleh karena itu. Menurut Marxis. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Untuk melakukan transformasi atas alam. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

pengertian marxis yang sudah dikemukakan.5. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Karena itu. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. melainkan kelas sosial. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. 4. Karya-karya kultural yang besar. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor.

karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Karena itu. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. seperti kelompok profesi. kelompok etnis. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Dalam pengertian strukturalisme genetik. dan sebagainya. ras. pendidikan. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Karena itu.

melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Dengan demikian. seperti strukturalisme. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Todorov. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . dan sebagainya. Hanya beberapa di antaranya. Namun. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. 4.5. Dalam pandangan strukturalisme genetik.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. bersifat mimetik. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Greimas.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti.

Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . menurut strukturalisme genetik. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Struktur yang demikian.semantik pula. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya.

pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. 4.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Menurut paham tersebut. Namun. yang juga berstruktur. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian.5.

6 Naratologi 4. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. bukan 72 .dialektik. 4. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. logos berarti ilmu. demikian juga dengan wacana dan teks. subjek secara linguistik. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. Narratio berarti cerita. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. sebagaimana hubungan antara subjek. seperti model sintaksis. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. dan objek penderita. hikayat. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. kisah. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. predikat. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas.6. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. atau sebaliknya. perkataan. Dengan demikian.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik.

bukan pengarang. dengan pertimbangan 73 . dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Setiap orang. restorasi. analisis naratif merupakan bagian ideologi. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. tetapi juga melalui kata-kata. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Revolusi. sastra. Pada pahan pascastruktural. akrab dengan cerita Jaka Tarub. politik. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. diceritakan oleh narator. semboyan. melainkan melalui bahasa. bukan pengarang.person. dan wacana. dan ekonomi. misalnya.

novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. latar. Dalam karya sastra. sudut pandang. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. yaitu dunia fiksional. wacana. Di pihak lain. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. tokoh-tokoh. kebudayaan pun tidak ada. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. tema. cerita sebagai tulang punggung karya. pembaca. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. Tanpa plot. 74 . novel juga merupakan objek yang paling memadai. Dilihat dari media yang tersedia. dan teks. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. baik sebagai penulis. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Hampir keseluruhan genre sastra. Tanpa cerita. Dalam pembicaraan mengenai naratif. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. dan gaya bahasa. paling luas. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber.

Henry James (tokoh dan cerita). Wilayah tersebut selain menjangkau novel. 1993: 110. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. Shlomith Rimmon-Kenan (story. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). di antaranya: Gerard Gennet (urutan. lelucon. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Forster (tokoh bundar dan datar). narration). Mieke Bal (fabula. story. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). termasuk feminis dan psikoanalisis. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. Claude Bremond (struktur dan fungsi). puisi naratif. interdisipliner.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Secara historis. durasi. Para pelopornya. text. fabula. epik. catatan harian. mitos. dan sebagainya. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. frequensi. text). gongeng. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. yaitu: 1. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Gerald 75 . juga roman. dan suara). cerpen. biografi. Percy Lubbock (teknik naratif). modus. Para pelopornya. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa.

tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. yaitu Propp. Roland Barthes (Kernels dan satellits).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Todorov. Propp 76 . Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. 4. Jacques Derrida (dekonstruksi). Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Marry Louise Pratt (tindak kata). dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958.2. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Oleh karena itu. LeviStrauss.Prince (struktur narratee). unit terkecil yang membentuk tema. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. pastiche). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Menurutnya. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Artinya.6. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Hayden White (wacana sejarah).6. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen).

Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). Motif dibedakan menjadi tiga macam. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Dengan kalimat lain. (3) penolong. yaitu: (1) penjahat. perbuatan. (5) orang yang menyuruh. dan (7) pahlawan palsu. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). tidak tergantung dari siapa yang melakukan. 77 . Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah).memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. (4) putri dan ayahnya. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. Menurutnya. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. Bremond. (2) donor. persona bertindak sebagai variabel. yaitu: pelaku. (6) pahlawan. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Di sini. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. dan Todorov.

baik secara bulat maupun fragmentasi. dan incest. Di satu pihak. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. 78 . tabu. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. dan harus direkonstruksi melaluinya. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Pendekatan antropologi sastra. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. misalnya. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. Menurutnya. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. seperti laki-laki perempuan. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. dan sebagainya. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. melalui struktural. mitos adalah naratif itu sendiri. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. dilakukan terhadap mitos Oedipus. bumi langit.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp.6. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. khususnya konsep-konsep oposisi biner. Dengan kalimat lain. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis.4.2.

3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. sebagai hubungan makna dan perlambangan. yaitu: kehendak. gaya bahasa. dan sebaliknya. (2) aspek semantik. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Oleh karena itulah. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. dan latar. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. tokoh. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir.6. berkaitan dengan makna dan lambang. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. meneliti tema. yaitu (1) aspek sintaksis. dan sebagainya. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. dan partisipasi. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek.2. secara berdampingan. 4. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. komunikasi. dan (4) aspek verbal. Menurutnya. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi.

2. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. sastra sebagai proyeksi. yaitu tata bahasa naratif universal. 1999: 11-13. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. dll. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. sosiologi sastra.antarhubungan adalah kausalitas. 4. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Tidak ada subjek di balik wacana.6. Greimas (dalam Abdullah. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. yaitu dongeng. acteurs merupakan kategori umum. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Yang ada hanyalah subjek. John dan Paul juga merupakan pengirim. 80 . Mary sebagai penerima. kritik fenomenologis. baik sebagai pengirim maupun penerima. Apel adalah sebagai objek. tetapi diperluas pada mitos. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. seperti: psikologi sastra. studi biografi. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia).

dan plot. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Sebaliknya. Oleh karena itu. dan struktur yang bersifat pemutusan. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. dan ilmu sosial lainnya. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. dan penolong dengan penentang. religi. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. yaitu subjek dengan objek. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Cerita adalah bahan 81 . Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. pelaku. tek. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Actans merupakan struktur dalam. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner.

Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. sebagai model pertama. sebagai model kedua.kasar. perangkat peristiwa. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. 82 . susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

(2) kemenduaan arti (ambiguity). Karenanya.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. untuk memisahkan kemenduaan. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. dan fungsional.1. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. dan (c) peletak dasar 86 . (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. sistematis. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. 5.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan.

Ciri kedua yang menyangkut fisible. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. Menurut Nazir (1985: 134-135). (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). (4) masalah harus dapat duji. waktu. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (3) masalah harus merupakan hal penting.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. 87 . (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. pikiran. serta dana. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti.

masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. dan totalitas di dalamnya. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. topik penelitian atau judul penelitian.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). mengembangkan (develop atau extention). misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Berhubungan dengan penelitian sastra. Dengan demikian. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. hubungan antarunsur. 88 .Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih.1. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis.

Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. berjumlah tertentu. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Sebaiknya dalam tujuan penelitian. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo.1. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. Secara ideal. 89 . sistematis. 5. misalnya.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. 2001:2).4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). lingkup masalah. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian.

misalnya. antarhubungan. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Dalam kerangka strukturalisme. teori tidak harus dipahami secara kaku. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. dan totalitasnya. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. sebagai akumulasi konsep. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. Dalam strukturalisme. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Teori adalah alat. khususnya analisis fiksi. diperlukan penerimaan positif. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. baik sebagai teori maupun metode. Dalam uraian landasan teori. Sebagai suatu cara pemahaman.Dengan demikian. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Penerimaan yang dimaksud 90 . sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain.

Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 .mengarah kepada keteraturan.1.. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Atau dengan kalimat lain. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. 5. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Sebaliknya.

hubungan simetris 92 . sistematik. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Penentuan data berdasarkan perilaku. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Sejalan dengan uraian di atas. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. pemilihan. ciri. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi.(pendekatan) linguistik. dsb. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Dengan kata lain. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. dan hubungan antarunsur. (2) kategori harus lengkap. padu. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. demi pemahaman identitas data penelitian.

tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. 3. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. hubungan saling mempengaruhi. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Sejalan dengan uraian di atas. dan faktor kebetulan.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. 2.

pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. pemilahan. dan pengolahan data secara sistematis. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2.penelitiannya. pemilahan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4.

dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. 5. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.dan tujuan penelitian. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya.

Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Idealnya. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan.

fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP.. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. waktu pelaksanaan. kepahlawanan dan petualangan. Merujuk pada potensi teks tersebut. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 .masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. dana yang tersedia. keberanian.. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. . samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian.. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Latar Belakang . Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. referensi yang memadai. keinginan.. pengembangan penelitian sejenis. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. dsb.1.. ciri. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.

tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Namun demikian.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. 2. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. tampak 98 . tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. berpikir logis.

99 . Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. latar) 3. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. 4. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. dan penelusuran tema dan amanat. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. alur.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. keterjalinan antarunsur cerita. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. struktur cerita yang terbentuk.

misalnya 100 . Dalam hal ini . seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian.Berdasarkan upaya tersebut. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. 5. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. Cermati contoh berikut: 1. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2.

Paham struktural objektif. menempatkan teks secara otonom. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. alur. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Struktur dinamik. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. antar hubungan.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. 101 . Penjabarannya menjadi. Oleh karena itu. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme.

identifikasi masalah.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. sosial). dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . dan menyeluruh. tempat. dll. dan analisis data. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. padu. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. Dengan demikian. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. pengolahan data. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. pemilihan data.

Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. kajian struktural naratif d. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 .tingkat kepekaan literer.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. dan metodologis. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. kajian struktural genetik c. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. 5. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. kajian struktural objektif b. dan fungsional. teoretis. sistematis. teori. dan metode kajian. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. pada langkah penyusunan Landasan Teori.

seteliti. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Uraian landasan teori tampak 104 . 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu.identifikasi masalah dan tujuan penelitian.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. semendetail. Berdasarkan contoh di atas. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. kurang memadai. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. 2003:112). penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. identifikasi masalah. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. dan tujuan penelitian tertentu.

metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. Kelemahan lain. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. 5. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .

tema. dan amanat dapat terungkap secara tepat. dan menginterpretasikan data (Winarno. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. sifat. 106 . contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. Dengan demikian. keterjalinan unsur. unsurunsur karya. menganalisis. sejumlah data. menyusun. sifat.1. 1980: 139). mengklasifikasikan . Mengacu kepada definisi metode deskriptif. fenomena. fakta. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena.

Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. (2) struktur cerita. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. plot/alur. dan latar.b. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. penyusun UP tersebut cukup 107 . (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. b dan c. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. semendetail. Dalam hal ini. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. dan (4) tema dan amanat. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. seteliti.

plot/alur.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Namun demikian. Misalnya saja. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . Kekuarang yang dimaksud adalah: a. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur.

kepadatan. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. tempat.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. kesatupaduan) sebagai instrumen. Pada unsur-unsur cerita lainnya. jumlah. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . suspense. surrise. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. dan sosial? c. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. d. b. Demikian pula pada pembicaraan latar. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. seperti pengeplotan.

Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Adapun dalam penentuan amanat.

selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. ******* 111 . Dengan demikian.

Imran T. M. 1999. 1989. dkk. Chamamah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. 1983.).H. S. “Sastra Lisan. “Strukturalisme-Genetik. Wlfgang. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition.” Makalah. Irena R. Norton & Company Inc. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. 1999. The Act of Reading.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. ed.) 1993. W. 2001. Iser. Makaryk. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Minneapolis: University of Minnesotta Press.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Pengantar Ilmu Sastra. Toward an Aesthetic of reseption.W. 1987. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.” Makalah. Luxemburg. Jakarta: Gramedia. (ed. Abrams. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Jauss. Hans Robert. New York: The Norton Library. Jan van. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 .

Bhd. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. 2002. Yogyakarta: Gama Media Propp. Jakarta: Pustaka Jaya T. Nyoman Kutha. Metodologi penelitian Kualitatif. Jakarta: Gramedia Wuradji.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Noeng. 1985. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Sayuti.). Tata Sastra. 2004. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Segers. “Strukturalisme”. Burhan. Fatimah Djajasudarma. Todorov. V. Teori Pengkajian Fiksi. Teori Kesusastraan. Rachmat Djoko. Metode Penelitian Linguistik. 19. Sastra dan Ilmu sastra. 2001. 1987. 2000. Rien T. dan Teknik. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. 1995. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Diterjemahkan oleh Okke K. Makalah. Metode. 2002. Pradopo. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Bandung: Eresco. 1985. Tzvetan. Jakarta: Djambatan. dkk. Kritik Sastra Indonesia Modern. Diterjemahkan oleh Melani Budianta.Muhadjir.S. Rene & Austin Warren. Zaimar. Metode Penelitian. ed. A. Wellek. Penelitian Sastra: Teori. ------------------------------. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Moh. 1984. 1999. Evaluasi Teks Sastra. Morfologi Cerita Rakyat. “Pengantar Penelitian. Selangor: Sain Baru Sdn. Diterjemahkan oleh Suminto A. 1993.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful