Kepada: 1. Kepala SPI 2. Pemimpin Wilayah Utama/Madya/Muda 3. Jeneral Manajer/Setingkat 4.

Pemimpin Cabang Perum Pegadaian di SELURUH INDONESIA

SURAT EDARAN
Nomor : 87 /SDM.300323/2010 TENTANG AMANDEMEN/ PERUBAHAN TERHADAP PERATURAN CUTI PEGAWAI NOMOR: 3871/SDM.300322/2010 TANGGAL 09 JUNI 2010

Memperhatikan ketentuan Pasal 53 dan Pasal 54 Peraturan Direksi Nomor: 3871/SDM.300323/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai (selanjutnya disebut Peraturan Cuti), bersama ini disampaikan Amandemen/Perubahan sebagai berikut: 1. Mengubah Pasal 1 angka 11 sampai dengan angka 15, dan menyisipkan 2 (dua) angka diantara angka 13 dan angka 14 yang dijadikan angka 13a dan 13b, menjadi sebagai berikut:
11. Penghasilan adalah meliputi Upah Pokok ditambah Tunjangan Tetap ditambah Tunjangan Tidak Tetap, dan ditambah Pendapatan Non Upah (PNU), yang sebelum diberlakukannya sistem remunerasi yang baru, dalam peraturan ini ditetapkan sebagai berikut: a. Upah Pokok adalah Gaji Pokok, Tunjangan Isteri/Suami, Tunjangan Anak, dan Tunjangan Beras; b. Tunjangan Tetap adalah Tunjangan Jabatan/Fungsional Keahlian, dan Tunjangan Perusahaan yang telah dikalikan indeks merit dan indeks zona tanpa pengurangan potongan absen; c. Tunjangan Tidak Tetap adalah Tunjangan Transport; d. Pendapatan Non Upah (PNU) adalah Bantuan Telepon, Air dan Listrik (TAL), Tunjangan Sewa Rumah Jabatan, dan Lumpsun BBM. Tunjangan Cuti adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada Pegawai yang mengajukan dan/atau melaksanakan cuti, khusus untuk Cuti Tahunan dan Cuti Besar. Masa Kerja adalah jangka waktu bekerja aktif di Perusahaan secara terus-menerus atau tidak terputus untuk dijadikan dasar perhitungan timbulnya hak cuti, terhitung sejak adanya hubungan kerja, yaitu sejak diangkat sebagai Pegawai atau sejak diangkat sebagai Calon Pegawai (jika Pegawai yang bersangkutan dalam proses penerimaannya di Perusahaan terlebih dahulu melalui masa calon pegawai), termasuk jangka waktu bekerja diperbantukan atau dipekerjakan di anak perusahaan atau badan hukum terafiliasi (pengertian anak perusahaan dan badan hukum terafiliasi menyesuaikan dengan yang diatur dalam Peraturan Direksi tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja yang berlaku). Tahun Takwim adalah perhitungan 1 (satu) tahun yang dimulai dari tanggal 01 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Peraturan Lama adalah Keputusan Direksi Nomor: 4189/SDM.200322/2005 tanggal 20 Desember 2005 tentang Peraturan Cuti Pegawai beserta dengan seluruh perubahan dan pengaturan teknisnya. Unit Kerja adalah tempat dimana Pegawai melaksanakan tugas sesuai dengan Peraturan Direksi tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja yang berlaku. Pimpinan Unit Kerja adalah pejabat yang memimpin suatu unit kerja.

12. 13.

13a. 13b.

14.

15.

Perum Pegadaian – Kantor Pusat Jl. Kramat Raya 162, Jakarta -10430, Kotak Pos 1090, Jakarta 10010 Tel. (021) 315-5550 (hunting) Fax. (021)324-967, 391-4221

2.

Mengubah Pasal 4 menjadi sebagai berikut:
Pasal 4 Jenis Cuti Jenis Cuti bagi Pegawai terdiri atas: a. Cuti Tahunan, yaitu sebagaimana yang diatur dalam Pasal 79 ayat (2) huruf c UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; b. Cuti Besar, yaitu Istirahat Panjang sebagaimana yang diatur dalam Pasal 79 ayat (2) huruf d UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Kep.Men.Nakertrans.RI. Nomor:Kep51/IV/ 2004 tanggal 8 April 2004 tentang Istirahat Panjang Pada Perusahaan Tertentu; c. Cuti Sakit, yaitu tidak menjalankan pekerjaan, dengan tetap dibayarkan upah, karena sakit berdasarkan keterangan dokter, sebagaimana diatur dalam Pasal 93 ayat (2) huruf a dan ayat (3) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; d. Cuti Bersalin, yaitu istirahat sebelum saat dan setelah melahirkan anak, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 82 ayat (1) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; e. Cuti Gugur Kandungan, yaitu istirahat bagi pegawai perempuan yang mengalami keguguran kandungan, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 82 ayat (2) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; f. Cuti Haid, yaitu tidak wajib bekerja, dengan tetap dibayarkan upah bagi pegawai perempuan karena merasakan sakit di hari pertama dan kedua pada waktu haid, sebagaimana diatur dalam Pasal 81 dan Pasal 93 ayat (2) huruf b UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; g. Cuti Karena Alasan Penting, yaitu tidak menjalankan pekerjaan dengan tetap dibayarkan upah, karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (4) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; h. Cuti Menjalankan Ibadah, yaitu tidak menjalankan pekerjaan dengan tetap dibayarkan upah, karena pegawai menjalankan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya, sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (4) PP No.8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah dan Pasal 93 ayat (2) huruf e UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; i. Cuti Bersama, yaitu pelaksanaan cuti secara bersamaan pada waktu menjelang/setelah Hari Libur Nasional, sebagaimana diatur oleh Keputusan Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara; j. Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan, yaitu tidak melaksanakan pekerjaan tanpa mendapatkan penghasilan dan fasilitas lainnya dari Perusahaan serta tidak diperhitungkan sebagai masa kerja; k. Cuti Masa Persiapan Pensiun, yaitu tidak melaksanakan pekerjaan, yang diberikan kepada Pegawai yang akan memasuki masa pensiun paling lama 2 (dua) tahun sebelum efektif berakhir hubungan kerja karena memasuki usia pensiun, dengan tetap mendapatkan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. l. Cuti Karena Pindah, yaitu tidak melaksanakan pekerjaaan karena melakukan perjalanan pindah berdasarkan perintah Perusahaan, dengan tetap memperoleh penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku.

3.

Mengubah Pasal 6 angka 5 dan angka 6 menjadi sebagai berikut:
5. 6. Manajer SDM di Kantor Wilayah untuk Cuti Sakit yang tidak lebih dari 3 (tiga) hari kerja dan Cuti Tahunan bagi Pegawai di Kantor Wilayah. Pemimpin Cabang untuk Cuti Sakit yang tidak lebih dari 3 (tiga) hari kerja dan Cuti Tahunan bagi Pegawai di Kantor Cabang.

2

bagi Pegawai yang telah melewati masa sebagaimana dimaksud pada ayat (4). sebesar 1 (satu) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap). sehingga mengakibatkan sisa Cuti Tahunan-nya melebihi 6 (enam) hari kerja. Pelaksanaan Cuti Tahunan disela oleh Pejabat yang berwenang. dengan dasar perhitungan pada posisi tanggal Pegawai tersebut mengajukan Cuti Tahunan. maka Tunjangan Cuti Tahunan-nya harus tetap dibayarkan. Pegawai tidak dapat menjalankan Cuti Tahunan karena diperintahkan secara tertulis oleh Pejabat yang berwenang. dan/atau uang kompensasi PHK lainnya. dengan memperhatikan ketentuan mengenai Uang Penggantian Hak atas Cuti Tahunan. b. Sisa Cuti Tahunan tidak diperkenankan bersaldo minus. maka hak Cuti Tahunan-nya timbul sejak hari ke-1 (satu) setelah terlewatinya masa kerja 12 (dua belas) bulan. berhak memperoleh Cuti Tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja setiap tahunnya. untuk setiap pengajuan dan pengambilannya. sedangkan Tunjangan Cuti Tahunan-nya dibayarkan secara proporsional. dan/atau d. kemudian pelaksanaan Cuti Tahunan-nya ditangguhkan/ditunda oleh Pejabat yang berwenang. dan sampai melewati tahun takwim berikutnya. Uang Penghargaan Masa Kerja. Jika Pegawai telah terlanjur mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan secara penuh. Pegawai mengikuti Diklat yang tidak memungkinkan baginya untuk menjalankan Cuti Tahunan. maka hak Cuti Tahunan-nya tetap diberikan selama 12 (dua belas) hari kerja. sehingga mengakibatkan sisa Cuti Tahunan-nya melebihi 6 (enam) hari kerja. padahal seharusnya Pegawai tersebut hanya berhak mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan secara proporsional sebagaimana dimaksud pada ayat (4). sedangkan Tunjangan Cuti Tahunan-nya diberikan secara proporsional. Ketentuan ayat (12) dikecualikan jika sisa Cuti Tahunan melebihi 6 (enam) hari kerja yang disebabkan oleh: a. Sisa Cuti Tahunan secara otomatis beralih ke tahun takwim berikutnya. Bagi Pegawai yang dalam tahun berjalan putus hubungan kerjanya dengan perusahaan. dan kemudian ternyata dalam tahun berjalan Pegawai tersebut putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan (bukan karena meninggal dunia). Pegawai yang sedang menjalankan cuti yang lainnya tidak dapat mengajukan Cuti Tahunan. maka kelebihan hari Cuti Tahunan tersebut dianggap sebagai hari dimana Pegawai tidak masuk bekerja secara tidak sah dan diberlakukan pengurangan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. Uang Pisah. dengan jumlah hak Cuti Tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja. dengan jumlah maksimum 6 (enam) hari kerja. Mengubah Pasal 7 menjadi sebagai berikut: Pasal 7 Persyaratan Umum dan Tunjangan Cuti Tahunan Pegawai yang telah memiliki masa kerja 12 (dua belas) bulan. kecuali untuk pengajuan dan pengambilan sisa Cuti Tahunan yang kurang dari 3 (tiga) hari. Jika Pegawai yang mengajukan Cuti Tahunan. dihitung dan dimulai per awal tahun takwim.4. Cuti Tahunan harus diajukan dan dijalankan sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari kerja. jika terdapat Pegawai yang mengajukan dan menjalankan Cuti Tahunan melebihi sisa hak Cuti Tahunan-nya. Dalam 1 (satu) bulan hanya diperkenankan mengajukan dan menjalankan 1 (satu) kali Cuti Tahunan. Uang Penggantian Hak. yang dibayarkan 1 (satu) kali dalam setahun. Batas maksimum Cuti Tahunan di tahun berjalan setelah diakumulasikan dengan sisa Cuti Tahunan tahun sebelumnya. maka kelebihan pembayaran atas Tunjangan Cuti Tahunan tersebut diperhitungkan dari Uang Pesangon. Pegawai yang bersangkutan tidak dapat menjalankan Cuti Tahunan. dengan rumus: (1) (2) (3) (4) ά x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap) 12 ά= (5) (6) Jumlah masa kerja dalam bulan dari sejak timbulnya hak Cuti Tahunan sampai dengan 1 (satu) hari sebelum tanggal 01 Januari tahun berikutnya (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Hak cuti tahunan untuk yang selanjutnya. berdasarkan hal sebagaimana dimaksud pada ayat (13) huruf a 3 . Hak Cuti Tahunan untuk yang pertama kali bagi Pegawai yang baru terikat hubungan kerja dengan Perusahaan (baru diangkat). c. Pegawai yang mengajukan Cuti Tahunan mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan. Pegawai menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing yang melewati tahun takwim berikutnya.

Pegawai yang menjalankan Cuti Sakit sampai dengan melewati tahun takwim. padahal terdapat kesempatan baginya. maka berlaku ketentuan: a. meskipun terdapat Cuti Bersama yang mengurangi Cuti Tahunan di tahun tersebut. Sisa Cuti Tahunan beralih secara otomatis ke tahun berikutnya. Mengubah Pasal 11 sampai dengan Pasal 13 menjadi sebagai berikut : Pasal 11 Gugurnya Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan Pegawai yang sampai melewati tahun takwim tidak mengajukan Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya. b. dan dilarang menyampaikannya secara lisan atau menggunakan media lain selain dokumen tercetak. maka hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan-nya menjadi gugur. Jika Pegawai menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing sampai dengan melewati tahun takwim. Tunjangan Cuti Tahunan dinyatakan gugur. Penangguhan dan/atau penyelaan Cuti Tahunan tidak diperkenankan jika mengakibatkan dalam 1 (satu) tahun takwim seorang Pegawai tidak pernah melaksanakan Cuti Tahunan sama sekali. 5.(15) (16) sampai dengan huruf d adalah sebanyak 24 (dua puluh empat) hari kerja. Pelanggaran atas ketentuan ayat (15) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. jika Pegawai yang dalam tahun berjalan putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan. dan terdapat sisa Cuti Tahunan yang belum dijalankan. Pasal 13 Uang Penggantian Hak Atas Cuti Tahunan Beserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya Jika dalam tahun berjalan Pegawai putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan. maka sisa Cuti Tahunan tersebut diganti dengan uang dengan rumusan sebagai berikut: Upah Pokok + Tunjangan Tetap x β 25 β = Jumlah hari sisa Cuti Tahunan yang belum dijalankan. Dalam 1 (satu) tahun takwim seorang Pegawai harus dapat melaksanakan Cuti Tahunan paling sedikit 3 (tiga) hari kerja. 4 . dan pada waktu sebelum menjalankan Cuti Sakit. dan berlaku hak Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan di tahun berikutnya. Pasal 12 Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan Untuk Pegawai Yang Di-Non Aktikan dan Yang Diskorsing Pegawai yang menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing tidak dapat mengajukan Cuti Tahunan. Pegawai tersebut belum mengajukan Cuti Tahunan beserta dengan Tunjangan Cuti Tahunan-nya. dan pada waktu sebelum di-non aktfikan dan/atau diskorsing Pegawai tersebut belum mengajukan Cuti Tahunan beserta dengan Tunjangan Cuti Tahunan-nya. Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 7 ayat (6). maka hal tersebut harus dituangkan secara tertulis. dengan memperhatikan ketentuan Pasal 7 ayat (14). maka Tunjangan Cuti Tahunan-nya diberikan secara proporsional dengan rumusan sebagai berikut: (1) (2) (1) (2) (1) (2) ά 12 x Tunjangan Cuti Tahunan ά = Jumlah masa kerja dalam bulan dari sejak tanggal 01 Januari tahun yang bersangkutan sampai dengan 1 (satu) hari sebelum tanggal efektif putus hubungan kerja dengan perusahaan. dengan dinyatakan secara tertulis. Mengubah ayat (2) dan menambahkan 2 (dua) ayat pada Pasal 9 yang dijadikan ayat (4) dan ayat (5) sebagai berikut: (2) Penangguhan dan/atau penyelaan Cuti Tahunan dapat dilakukan oleh Pejabat yang berwenang paling banyak 2 (dua) kali untuk waktu masing-masing paling lama 1 (satu) bulan tanpa dapat diperpanjang. Dalam hal Pejabat yang berwenang memberikan ijin Cuti Tahunan bermaksud memerintahkan penundaan pelaksanaan Cuti Tahunan atau menyela Cuti Tahunan Pegawai. maka hak Cuti Tahunan berserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya di tahun yang bersangkutan menjadi gugur. dan berlaku hak Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan di tahun berikutnya. (4) (5) 6. dengan pembulatan ke atas.

berhak atas Tunjangan Cuti Besar sebesar: 0. Dalam setiap Periode. dan tahun-nya ditentukan ketika mengajukan form pengajuan Cuti Besar di tahun ke-8. jika Pegawai mengajukan dan melaksanakan Cuti Besar selama 2 (dua) bulan sesuai ketentuan ayat (4) huruf a. Form pengajuan untuk melaksanakan sebagian dan melepaskan sebagian hak Cuti Besar dalam suatu Periode. Bagi Pegawai yang melaksanakan Cuti Besar. maka dalam pelaksanaannya tidak dapat dicicil (misalnya: 1 (satu) minggu menjalankan cuti besar. 3.25 x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap). terhadap pilihan sebagaimana tersebut angka 1 dan angka 2 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apa pun. b. bulan. Hak Cuti Besar diberikan selama 2 (dua) bulan untuk setiap Periode dengan pilihan pelaksanaan: a. adalah: a. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (4) huruf a dan huruf b: 1. Apabila selama menjalankan Cuti Besar terdapat hari Cuti Bersama. Form pengajuan untuk melepaskan hak Cuti Besar secara keseluruhan dalam suatu Periode. atau huruf c. tanggal. Selama melaksanakan Cuti Besar. Mengubah Pasal 14 sampai dengan Pasal 18 menjadi sebagai berikut : Pasal 14 Persyaratan Umum dan Tunjangan Cuti Besar (1) (2) Cuti Besar diberikan kepada Pegawai dengan maksud memberikan kesempatan beristirahat untuk kesegaran jasmani dan rohani atau untuk keperluan lain. kemudian 1 (satu) minggu masuk kerja dan seterusnya). maka perhitungan jumlah hari Cuti Besar di dalamnya sudah termasuk Cuti Bersama. dengan komponen perhitungan di posisi bulan pada saat pengajuan Cuti Besar yang pertama kali di Periode tersebut. Hak Cuti Besar timbul jika pegawai telah mencapai Masa Kerja selama 6 (enam) tahun. 2. terhadap pilihan sebagaimana tersebut angka 1 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apa pun. bulan. dan berlaku untuk setiap kelipatan 6 (enam) tahun dari sejak timbulnya hak Cuti Besar yang pertama kali. Dilaksanakan 2 (dua) bulan sekaligus di tahun ke-7 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar. dan 1 (satu) bulan di tahun ke-8 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu masing-masing pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 dan di tahun ke-8 tersebut. b. yang dalam setiap Periode diberikan hak Cuti Besar selama 2 (dua) bulan dengan waktu pelaksanaan pada bulan ke-1 atau paling lambat bulan ke-12 di tahun ke-7 dan/atau di tahun ke-8. atau b. Pilihan pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib dicantumkan secara tegas dalam form pengajuan Cuti Besar. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. Pengertian form pengajuan Cuti Besar sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan dalam ketentuan-ketentuan yang selanjutnya. wajib dilaksanakan secara bersambung dan tidak boleh terputus. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 5 . kepada Pegawai dibayarkan Penghasilan penuh kecuali Tunjangan Tidak Tetap. Dilaksanakan 1 (satu) bulan di tahun ke-7. Dilaksanakan 2 (dua) bulan sekaligus di tahun ke-8 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-8. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (4) huruf c: 1. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar.7. huruf b. Form pengajuan untuk melaksanakan hak Cuti Besar secara keseluruhan dalam suatu Periode. dengan ketentuan: a. Setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disebut Periode. bulan. atau c. atau c. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. Pelaksanaan Cuti Besar yang sekaligus 2 (dua) bulan di tahun ke-7 atau di tahun ke-8. 2. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-7. sedangkan untuk Cuti Besar di tahun ke-8.

pilihan sebagaimana dimaksud pada angka 1 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apapun.(12) Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan masih tetap ada pada suatu tahun yang di dalamnya terdapat hak Cuti Besar. x β Jumlah hari Cuti Besar yang belum dijalankan. maka di dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. untuk Uang Penggantian Hak atas hari Cuti Besar. sebesar 1 (satu) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL). dengan mendapatkan 1 x Tunjangan Cuti Besar. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf a berlaku ketentuan Pasal 14 ayat (5). sebesar 2 (dua) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL). (13) (14) untuk Uang Penggantian Hak atas tunjangan Cuti Besar. c. dengan mendapatkan: 1. jika setelah berselang 1 (satu) bulan Pegawai berakhir hubungan kerjanya sehingga mengakibatkan hak Cuti Besar atau hak Cuti Tahunan menjadi tidak dapat dilaksanakan. c. Kompensasi penggantian hak 2 (dua) bulan Cuti Besar yang tidak dijalankan. 1. 6 . dan melakukan pekerjaan sebagaimana biasa. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-7 yang akan dilaksanakan. di tahun ke-7 atau di tahun ke-8. untuk Uang Penggantian Hak atas hari dan tunjangan Cuti Tahunan. Pegawai yang sedang menjalankan cuti yang lain tidak dapat mengajukan Cuti Besar. dan 3. Melaksanakan seluruh hak Cuti Besar selama 2 (dua) bulan dengan pilihan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) huruf a sampai dengan huruf c. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan secara tegas mengenai hak Cuti Besar di tahun ke berapa yang akan dilepaskan. pelaksanaan Cuti Besar wajib berselang 1 (satu) bulan atau lebih dari pelaksanaan Cuti Tahunan. 2 (dua) bulan Penghasilan atas pekerjaan yang dilakukan sebagaimana biasa pada bulan yang bersangkutan.25 x Tunjangan Cuti Besar. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf b: 1. dengan mendapatkan: 1. jika hak Cuti Besar yang akan dilepaskan berada di tahun ke-8. Uang Penggantian Hak sebagaimana dimaksud pada huruf b berupa penggantian hari cuti yang tidak dapat dijalankan ditambah dengan tunjangan cuti yang seharusnya diterima. dengan ketentuan: a. 2. 2. b. dengan dasar perhitungan di posisi bulan pertama hak Cuti Besar di tahun ke-7 atau di tahun ke-8 (tergantung hak Cuti Besar di tahun keberapa yang dilepaskan). b. Pegawai yang berakhir hubungan kerja-nya dengan Perusahaan tetapi masih mempunyai hak Cuti Besar beserta tunjangan-nya yang belum gugur. 1. dan berlaku sebaliknya b. maka hak Cuti Besar beserta tunjangannya tersebut diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak dengan rumusan sebagaimana tersebut pada ayat (12) huruf c angka 2 dan angka 3. Melepaskan seluruh hak Cuti Besar yang selama 2 (dua) bulan tersebut. 1 (satu) bulan Penghasilan atas pekerjaan yang dilakukan sebagaimana biasa pada bulan yang bersangkutan. dan melepaskan hak Cuti Besar yang 1 (satu) bulan. sehingga tidak berhak atas Tunjangan Cuti Besar. Melaksanakan hak Cuti Besar selama 1 (satu) bulan. 2. 2. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan secara tegas mengenai pelepasan hak Cuti Besar secara keluruhan dalam suatu Periode.125 x Tunjangan Cuti Besar. bulan. dan 3. c. sesuai ketentuan Pasal 13. dengan dasar perhitungan di posisi bulan terakhir sebelum putus hubungan kerja. dengan ketentuan: a. maka akan diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak. diberikan Tunjangan Cuti Besar yang seharusnya diterima. Kompensasi penggantian hak 1 (satu) bulan Cuti Besar yang tidak dijalankan. Pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dicantumkan secara tegas dalam form pengajuan Cuti Besar. dengan ketentuan: 1. 2. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf c: 1. Pasal 15 Melaksanakan Dan/Atau Melepaskan Hak Cuti Besar (1) (2) Pegawai yang memiliki hak Cuti Besar pada suatu Periode dapat memilih untuk: a. dengan dasar perhitungan di posisi bulan pertama hak Cuti Besar di tahun ke-7. dengan rumus: Upah Pokok + Tunjangan Tetap 25 β= 3.

dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat ditangguhkan. tanpa menghilangkan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) atau hak yang timbul sehubungan ketentuan mengenai kompensasi sebagai akibat rentang waktu pelaksanaan Cuti Besar yang terlewati karena penangguhan atau penyelaan Cuti Besar. 7 . terhadap pilihan yang sudah diajukan sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampai dengan angka 3. pelaksanaannya dilakukan pada kesempatan lain tanpa harus memperbarui permohonan Cuti Besar. Penangguhan Cuti Besar hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis. maka hak Cuti Besar tersebut baru dapat dilaksanakan 6 (bulan) sejak ditangguhkan dengan memperhatikan rentang waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2). maka hak Cuti Besar pada Periode tersebut gugur (hangus) dan kehilangan hak atas Tunjangan Cuti Besar dan/atau hal sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 ayat (1) huruf b. maka penentuan tanggal. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (4) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat dilepaskan. Kompensasi penggantian hak Cuti Besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak sama dengan Uang Penggantian Hak dalam hal kompensasi PHK. Jika Pejabat yang berwenang memberikan izin Cuti Besar bermaksud untuk memerintahkan Pegawai agar melepaskan hak Cuti Besar-nya. di kemudian hari tidak dapat diubah dengan alasan apapun. bulan. untuk waktu paling lama 6 (enam) bulan dan tidak dapat diperpanjang. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (1) dan/atau ayat (4) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai.(3) (4) (5) (6) jika hak Cuti Besar yang akan dilepaskan berada di tahun ke-7. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai untuk menangguhkan pelaksanaan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak berlaku. maka hal tersebut harus dituangkan dalam perintah tertulis melalui dokumen tercetak. Jika setelah melewati rentang waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pegawai masih belum melaksanakan/melepaskan Cuti Besar. Jika Cuti Besar yang ditangguhkan adalah hak pada tahun ke-8. Paling lambat 12 (dua belas) bulan dari sejak hari pertama timbulnya hak Cuti Besar pada tahun ke-8. Sisa Cuti Besar yang disela. Pasal 16 Rentang Waktu Mengajukan Hak Cuti Besar 3. dengan tidak menunda pembayaran Tunjangan Cuti Besar. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai untuk melepaskan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak berlaku. termasuk hak Cuti Besar tahun ke-7 yang ditangguhkan sebagaimana tersebut pada ayat (2). maka hak Cuti Besar tersebut harus sudah dapat dilaksanakan sebelum 6 (enam) bulan terlewatinya bulan ke-12 di tahun ke-8. maka hak Cuti Besar pada tahun ke-7 secara otomatis beralih ke tahun ke-8. Cuti Besar dapat disela jika Pegawai telah melaksanakan Cuti Besar sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari. Ketentuan ayat (1) sampai dengan ayat (3) berlaku pula untuk Cuti Besar yang tidak dilaksanakan karena ditangguhkan atau disela oleh Pejabat yang berwenang. Pegawai harus sudah melaksanakan/melepaskan Cuti Besar. Pasal 17 Penangguhan Cuti Besar (1) (2) (3) (4) (5) (6) Cuti Besar dapat ditangguhkan pelaksanaannya oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis melalui dokumen tercetak berdasarkan alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). dan tahun dimulainya pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-8 dicantumkan ketika pengajuan Cuti Besar di tahun ke-8. (1) (2) (3) (4) Jika setelah melewati 12 (dua belas) bulan dari sejak hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 Pegawai tidak mengajukan Cuti Besar. Pasal 18 Penyelaan Cuti Besar (1) (2) (3) Pegawai yang sedang melaksanakan Cuti Besar dapat dipanggil secara tertulis untuk bekerja kembali oleh Pejabat yang berwenang berdasarkan alasan-alasan sebagaimana dimaksud pada Pasal 9 ayat (1). 4. Jika Cuti Besar yang ditangguhkan adalah hak pada tahun ke-7. dengan ketentuan tidak melewati waktu 6 (enam) bulan sejak berakhirnya bulan ke-12 di tahun ke-8.

belum pernah melaksanakan Cuti Besar. b. Menambahkan 9 (sembilan) ketentuan baru diantara Pasal 18 dan Pasal 19. sudah berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 24 (dua puluh empat) tahun berdasarkan Peraturan Lama. yang dijadikan Pasal 18A. belum berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 24 (dua puluh empat) tahun berdasarkan Peraturan Lama. belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. maka terhadap 2 (dua) Periode yang tidak dilaksanakan dinyatakan gugur. sesuai yang tercantum dalam Surat Izin Cuti Besar Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL diposisi bulan pada saat seharusnya dilaksanakan Cuti Besar. dengan mendapatkan kompensasi sebesar 0. maka kepadanya diberikan biaya perjalanan dinas yang diperhitungkan dari alamat tersebut. Jumlah hari dalam bulan yang bersangkutan pada saat seharusnya dilaksanakan Cuti Besar. belum pernah melaksanakan Cuti Besar. (6) kekurangan Tunjangan Cuti Besar sebesar: 0. dan e. Untuk 1 (satu) Periode yang terakhir dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1) dengan mengingat ketentuan Pasal 16. Apabila dapat dibuktikan bahwa ketika dipanggil pegawai sedang menjalankan Cuti Besar di luar kota dimana ia bekerja sebagaimana tercantum dalam surat permohonan Cuti Besar. maka Pegawai dianggap telah diperintahkan untuk melepaskan hak sisa Cuti Besar yang disela. sudah berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun berdasarkan Peraturan Lama. dengan dasar perhitungan berupa komponen Tunjangan Cuti Besar yang sudah dibayarkan sebelumnya.(4) (5) Jika Pegawai tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan sisa Cuti Besar yang disela karena disebabkan berakhirnya hubungan kerja dengan Perusahaan. Jika Pejabat yang berwenang memberikan izin Cuti Besar bermaksud untuk menyela pelaksanaan hak Cuti Besar Pegawai. penggantian hak sisa Cuti Besar yang tidak dijalankan dengan rumus: ά β ά= β= γ= x γ Jumlah hari Cuti Besar yang disela. Hak Cuti Besar selanjutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. dengan mendapatkan kompensasi sebesar 0. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (7) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. b. Pasal 18B Aturan ke-2 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai yang berisi penyelaan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dinyatakan tidak berlaku. dan d. maka sisa Cuti Besar tersebut diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak.125 x Tunjangan Cuti Besar. Jika setelah terlewatinya waktu 6 (enam) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pegawai masih belum mendapatkan ijin untuk melanjutkan pelaksanaan Cuti Besar. belum mengambil kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. (7) (8) (9) 8. maka terhadap 3 (tiga) Periode yang tidak dilaksanakan dinyatakan gugur. belum mengambil kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama c. sesuai yang tercantum dalam Surat Izin Cuti Besar b. dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat disela. 8 (1) (2) (3) (1) .5 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. maka hal tersebut harus dituangkan dalam perintah tertulis melalui dokumen tercetak. sehingga untuk setiap 1 (satu) bulan Cuti Besar yang disela berhak mendapatkan: a.75 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. c. sampai dengan Pasal 18I sebagai berikut: Pasal 18A Aturan ke-1 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. d.

maka hak Cuti Besar-nya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan pada bulan saat Peraturan ini diberlakukan.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. dengan mendapatkan: a. maka hak Cuti Besar berikutnya tersebut dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1). Ketentuan ayat (3) dan ayat (4) tidak berlaku jika ketika dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. untuk kompensasi masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau 24 (dua puluh empat) tahun. hak Cuti Besar yang berikutnya bagi Pegawai berada pada posisi sudah pensiun atau dalam posisi berhak Cuti Masa Persiapan Pensiun.5 x Tunjangan Cuti Besar. 0. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun terdapat Periode yang gugur karena mengingat ketentuan rentang waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. Hak Cuti Besar selanjutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. sehingga kepada Pegawai tersebut sejak diberlakukannya Amandemen Peraturan ini diperbolehkan untuk mengajukan Cuti Besar sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1). Pasal 18C Aturan ke-3 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. maka hak Cuti Besar berikutnya tersebut harus dilepaskan. Kompensasi sebesar: 2 x (Upah Pokok + Tunj. dari sejak tanggal mengambil kompensasi tersebut sampai dengan diberlakukannya Amandemen Peraturan ini belum pernah melaksanakan Cuti Besar. dan dihitung dari sejak tanggal mengambil Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama terdapat Periode yang gugur karena mengingat ketentuan Pasal 16. dan b. untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau 24 (dua puluh empat) tahun. pernah mengambil Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diberikan: a.Tetap + TAL). maka hak Cuti Besar berikutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. jarak waktu antara hari terakhir pelaksanaan Cuti Besar yang terakhir dengan hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 kurang dari 36 (tiga puluh enam) bulan. 0.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Peraturan ini diberlakukan. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. ditambah dengan b. 0. Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku jika dihitung hak Cuti Besar berikutnya berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun Pegawai berada pada posisi sudah pensiun atau dalam posisi berhak Cuti Masa Persiapan Pensiun. ditambah dengan b. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diganti dengan: a. dan b. Pasal 18D Aturan Ke-4 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. 0.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. dari sejak tanggal mengambil kompensasi tersebut sampai dengan diberlakukannya Amandemen Peraturan ini pernah melaksanakan Cuti Besar. 0. dan kepada Pegawai tersebut sejak diberlakukannya Amandemen Peraturan ini diberikan kesempatan untuk mengajukan Cuti Besar sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1). jarak waktu antara hari terakhir pelaksanaan Cuti Besar yang terakhir dengan hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 tidak kurang dari 36 (tiga puluh enam) bulan.(2) (3) Untuk 1 (satu) Periode yang terakhir dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1) dengan mengingat ketentuan Pasal 16. (1) (2) (3) (1) (2) (3) (4) (5) 9 . Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. dan b. pernah mengambil kompensasi Hak Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama.

karena diperintahkan/ditangguhkan oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. 0. b. maka hak Cuti Besar berikutnya bagi Pegawai tersebut dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan memperhatikan ketentuan Pasal 16 Sisa hak Cuti Besar yang belum dilaksanakan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) wajib dilepaskan. tidak termasuk ke dalam kategori yang berhak atas Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. maka hak Cuti Besar yang belum dijalankan tersebut dinyatakan gugur. Pasal 18F Aturan Ke-6 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. ditambah dengan b.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. ditambah dengan b. 0. Terhadap Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku ketentuan Pasal 18D ayat (3) dan ayat (4). b. belum pernah melaksanakan Cuti Besar. dan b. pernah mengajukan Cuti Besar dan telah mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya. 0. 0. belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar. Pasal 18G Aturan Ke-7 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. maka hak Cuti Besar berikutnya dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. untuk masa kerja 18 tahun atau 24 tahun. tidak termasuk ke dalam kategori yang berhak atas Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan 6 (enam) tahun masa kerja. dan c. Jika berdasarkan keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat Periode yang gugur. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diganti dengan: a. dan untuk setiap 1 (satu) bulan Cuti Besar yang tidak dilaksanakan tersebut diganti dengan: 1 x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL) pada posisi bulan dimana Pegawai yang bersangkutan mengambil Tunjangan Cuti Besar. terdapat Periode yang gugur karena ketentuan Pasal 16. tidak melaksanakan Cuti Besar-nya tersebut sama sekali. Jika Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melaksanakan Cuti Besar-nya bukan karena diperintahkan/ditangguhkan oleh Pejabat yang berwenang berdasarkan perintah tertulis. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diberikan kompensasi berupa: a. maka hak Cuti Besar berikutnya bagi Pegawai tersebut dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. pernah melaksanakan Cuti Besar termasuk mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya. (1) (2) (3) (1) (2) (3) 10 .5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan.(1) (2) Pasal 18E Aturan Ke-5 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a.

Dalam 1 (satu) tahun takwim. (1) (2) (3) (4) (5) (6) 10. diketahui bahwa surat keterangan dokter yang ditunjukan Pegawai diragukan keabsahannya. tidak melaksanakan sebagian Cuti Besar-nya karena disela Pejabat yang berwenang dengan terdapat bukti tertulisnya. Pegawai harus dapat membuktikan keabsahan surat keterangan dokter yang ditunjukkan. Mencabut ketentuan Pasal 22 mengenai Cuti Sakit Rawat Jalan Tingkat Lanjutan. Jika Pegawai tidak dapat membuktikan keabsahan surat keterangan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b. b. guna penyembuhan secara komprehensif agar tidak selalu mengalami sakit di kemudian hari. dengan dasar perhitungan posisi bulan dimana Pegawai yang bersangkutan mengambil Tunjangan Cuti Besar Jika Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melaksanakan sebagian Cuti Besarnya bukan karena disela Pejabat yang berwenang berdasarkan perintah tertulis. dan/atau d. Mengubah Pasal 20 menjadi sebagai berikut: Pasal 20 Cuti Sakit Keterangan Dokter Yang dimaksud dengan Cuti Sakit Keterangan Dokter adalah tidak dapat melakukan pekerjaan karena sakit. 11 . (1) (2) 9. maka sisa Cuti Besar yang belum dijalankan tersebut dinyatakan gugur. Dokter yang memeriksa dan melakukan perawatan harus dokter yang ditunjuk oleh Perusahaan. Cuti Sakit selama 3 (tiga) hari atau lebih diberikan atas dasar permohonan tertulis. serta salinan resep obat yang bersangkutan. tidak berlaku lagi ketentuan kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun dan 24 (dua puluh empat) tahun. Permohonan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Pimpinan Unit Kerja dengan melampirkan asli surat keterangan dokter. berdasarkan surat keterangan dokter. dengan diantaranya memperlihatkan salinan medical record dan/atau resume diagnosa dokter. hanya diberikan toleransi untuk diberikan Cuti Sakit Keterangan Dokter secara akumulatif selama 24 (dua puluh empat) hari kerja. Pasal 18I Ketentuan Cuti Besar Pasca Peralihan Setelah pasca peralihan Cuti Besar sebagaimana diatur dalam Pasal 18A sampai dengan Pasal 18H. Perusahaan dapat memerintahkan agar kepada Pegawai melakukan pemeriksaan dan pengobatan kesehatan ke rumah sakit atau dokter yang ditunjuk oleh Perusahaan. dan/atau berdasarkan hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c dan/atau huruf d. maka dilakukan pengurangan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. termasuk rawat jalan tingkat lanjutan pasca rawat inap.(1) (2) (3) Pasal 18H Aturan Ke-8 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. Ketentuan mengenai Cuti Besar selanjutnya mengacu kepada Pasal 14 sampai dengan Pasal 18. Jika setelah mencapai waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pegawai masih memerlukan Cuti Sakit Keterangan Dokter. pernah mengajukan Cuti Besar dan telah mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya. Perusahaan dapat melakukan penelitian dan penelusuran mengenai keabsaham surat keterangan dokter yang ditunjukan oleh Pegawai. c. maka hak Cuti Besar berikutnya dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan memperhatikan ketentuan Pasal 16 Sisa Cuti Besar yang belum dilaksanakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilepaskan dengan memperoleh hak sebagaimana ketentuan Pasal 18 ayat (5) huruf a. secara berselang maupun berturut-turut. dan b. maka: a. serta diproses sesuai Peraturan Disiplin Pegawai. dan untuk Cuti Sakit kurang dari 3 (tiga) hari diberikan atas dasar pemberitahuan dari Pegawai yang bersangkutan. yang perawatannya tidak menjalani rawat inap.

dengan tetap berhak atas Cuti Tahunan. 4 (empat) bulan kedua Tunjangan Tetap-nya dibayar 75% (tujuh puluh lima perseratus). Selama menjalankan Cuti Bersalin Penghasilan dibayarkan penuh. Mengubah ketentuan Pasal 24 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Pegawai yang menjalani Cuti Sakit Rawat Inap penghasilannya diatur sebagai berikut: a. (1) (2) (3) (4) (5) 13. kecuali Tunjangan Tidak Tetap. yang dijadikan ayat (4) sebagai berikut: (4) Pegawai wajib melaksanakan Cuti Bersama yang berkaitan dengan Hari Raya Keagamaan yang utama sesuai dengan keyakinan yang dianutnya. Mengubah ketentuan Pasal 28 menjadi sebagai beriktu: Pasal 28 Cuti Bersalin Cuti Bersalin diberikan kepada Pegawai yang melahirkan selama 90 (sembilan puluh) hari. tetapi dapat membatasi pemberian bantuan persalinan (jika ada). Selama menjalankan Cuti Bersalin Penghasilan dibayarkan penuh. dengan tetap berhak atas Cuti Tahunan. 4 (empat) bulan ketiga Tunjangan Tetap-nya dibayar 50% (lima puluh perseratus). c. dan b. 16. dengan ketentuan jumlah keseluruhannya tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. Cuti Bersalin dilaksanakan 30 (tiga puluh) hari sebelum melahirkan dan 60 (enam puluh) hari setelah melahirkan. 4 (empat) bulan pertama Tunjangan Tetap-nya dibayar 100% (seratus perseratus). 4 (empat) bulan selanjutnya Tunjangan Tetap-nya dibayar 25% (dua puluh lima perseratus). 7 (tujuh) hari sebelum pemberangkatan dari tempat kediaman. dan jika tidak masuk kerja maka berlaku ketentuan mengenai mangkir. d. (1) (2) 12 . (1) (2) 14. Pegawai harus melapor kepada Pejabat yang berwenang. 17. Mengubah ketentuan Pasal 33 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Lamanya waktu tidak bekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sesuai dengan waktu pelaksanaan ibadah yang secara resmi ditetapkan oleh Departemen Agama RI.11. 12. Mengubah ketentuan Pasal 29 menjadi sebagai berikut: Pasal 29 Cuti Gugur Kandungan Pegawai yang mengalami gugur kandungan berhak istirahat tidak masuk kerja selama 1 (satu) bulan dan 15 (lima belas) hari atau sesuai surat keterangan dokter kandungan/bidan. Pegawai yang menjalankan Cuti Bersalin wajib melaporkan tanggal kelahiran anak kepada pimpinan unit kerja. Setelah selesai menjalankan Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan. Mengubah ketentuan Pasal 31 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Cuti Haid diberikan selama 2 (dua) hari kerja. ditambah dengan: a. kecuali Tunjangan Tidak Tetap. Menambahkan 1 (satu) ketentuan baru setelah Pasal 34 ayat (3). Pegawai harus sudah masuk kerja. Mengubah ketentuan Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) menjadi sebagai berikut: Pasal 37 Berakhirnya Masa Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan. 7 (tujuh) hari setelah pendaratan tiba di tanah air. Cuti Bersalin tidak membatasi jumlah kelahiran anak. b. 15.

DPP dan DPD Serikat Pekerja Pegadaian. dan Biaya Pembelian Pakaian Kerja. Mengubah ketentuan Pasal 39 menjadi sebagai berikut: Pasal 39 Penghasilan Selama Cuti Masa Persiapan Pensiun Selama menjalankan Cuti Masa Persiapan Pensiun. THR.. disesuaikan dengan ketentuan mengenai pemegang kendaraan dinas. Tembusan: 1. Penjelasan atas Amandemen Peraturan Cuti Pegawai ini sebagaimana terlampir sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.300323/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai. (1) (2) 19. Mengubah ketentuan Pasal 41 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Pegawai Tidak Tetap berhak atas seluruh hak cuti sebagaimana yang diatur dalam Peraturan ini. sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direksi Nomor: 3871/SDM. 2. Amandemen/Perubahan Peraturan Cuti Pegawai ini berlaku sejak tanggal 01 Oktober 2010. 22. Demikian disampaikan untuk diketahui dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Mencabut ketentuan Pasal 47 mengenai Penggantian Hak Cuti Dengan Uang.18. 20. 13 . Yth. kecuali Cuti Besar dan Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan. Khusus untuk PNU yang berupa Lumpsum BBM. 21.Anggota Direksi Perum Pegadaian. Penghasilan dibayarkan penuh (kecuali Tunjangan Tidak Tetap) termasuk Jasa Produksi.

. . . . . . . . . .. . . ... .. . .. . .. . . . Terhitung mulai tanggal . . . . . .. . . . . ... ... ... .. . . . . . . . . . . . . ... .. . .. . . . . . . .. . Dengan Pilihan : 1 (satu) Bulan dilaksanakan dan 1 (satu) Bulan di lepaskan a. . .. .. .. . . .. . ... .. ..300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 ………………. ... .. . . .……………1) Perihal : Permohonan cuti .. . . . .……………. . . . . . Hormat Saya Catatan: mohon untuk dibayarkan biaya cuti tahunan/cuti besar saya……11) Catatan Pejabat Atasan Dari Atasan Langsung ... . .. . . . ... . .. . . .. . .. .d ... .. .. . ... . . Dengan Pilihan : 2 (dua) Bulan dilepaskan/tidak dijalankan 3. . ... . . ... ... . . . b.. ... . . . . . ... . .. . . . .) Nik. .. . . . . . ... .... . .. Cuti . . Catatan : Di isi ketika mengajukan form pengajuan cuti besar di tahun ke-8 (di isi kemudian pada saat akan melaksanakan cuti besar ditahun ke-8) 2.. . . . . . .. . b. ..... 14 .. .. . .. .. .. .. . .. . .……………………….. . . .. . . . .. .. . . . . . Unit Kerja : . . .. . . .. ... . . . . . .. . . . ... ... . . . . . . . . . ... . .. . . .. . . . . . . .. .. b. . . .. . . . . . . . . . . ..... . Nik : . . . .. 1 (satu) bulan dilaksanakan/dijalankan terhitung Mulai tanggal . . . ..... . . .. 4) di ………………. . .. . .. . . . .. .) Nik. .. . . . .. . . s. Cuti Besar. . . . ... . . ... . .. . .. . . .. . . Jabatan : ....... .d .. .. ... .. . . . . .. . . .. . Dilaksanakan/dijalankan pada tahun ke-8 terhitung Mulai tanggal . . . Dilaksanakan/dijalankan pada tahun ke-7 terhitung Mulai tanggal . . . . . .. . . . .. ...... . . . .. . .. . 1 (satu) bulan dilepaskan/tdk dijalankan Karena .. . . ... .. ... . . .. ... ... . Dengan Pilihan : 2 (dua) Bulan dilaksanakan/dijalankan a. . ..d . . II. . . . . . .. . . . . ... . . . . Yang bertandatangan dibawah ini : Nama : .. .. . .. ... . . . . . . . . .) Nik. . . . . . .. . . . . . . . selama 2 (dua) bulan. .. (. . .. . (. . .. . . . . . .... ..s. . .. Catatan Pertimbangan Atasan Langsung . Demikian permohonan cuti ini saya buat untuk dapat dipertimbangkan sebagaimana mestinya. . Telepon ..……………. 2) Kepada. . .. . Yth.. .. . . . . . . . 3) Melalui Yth... .... . . 7)... . .. . .. . . . sbb : 1. . . . . . . . . . .. . .. . . . .. . . s. . .. Selama menjalankan cuti alamat saya di .. . . .... . . .. . .. .. . . . . a. . . . . .. .. . 9). ... .d . . .... ... . . . . 10) (.. . . . . . . . .. . ... . ... . . . Selama : . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . .. . . ... .. .. . .. . . . .. . . . . . . .. . . ... . . ... . . . .. . . . . . . .. . . .. . . . . . . . . . . . ... .... . . .. .. . . . s. ...8) .. .. . . . . . . . . .. . . . . .. . . .Lampiran II Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. . . . . .. .. ..... ... ... ..... ... . . . . .. ... .. . 5) Dengan ini mengajukan permohonan : 6} I.. . . . ... .. . .. . .. .. ... . . .

. …………….. .. . ......... .. . 3) Selama ……… (……………... Selesai menjalankan cuti wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya.. . 2. 1) NOMOR : /SDM...... .. . Pertinggal 15 .. .... . . . . .………………………………... . ... ....... 7) c. .. . Hak-hak pegawai selama menjalankan cuti diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.. . 3.... .. . 5) (.... . . .. ... . . . ... . 6) b. Tembusan : a. ... : .... . ... . .. .... .. . .. .. .. . .. . . .. ..... …………………………………. . Demikian surat ijin cuti besar ini diberikan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. .. .. .. kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :.……………) ……………………………….. . .. . Sebelum menjalankan cuti wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk../………/20…..... .) . terhitung mulai tanggal …... ... :. .. 4) …………………………………………….. ....... . . .... . ... . Diberikan ijin cuti ………………………………………. . . . .2).. .. ..………………………. . .. ... . . ... ..... ..300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI …………………. . .......Lampiran III Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM.. . ..……..…. . . . ...... . ..sampai dengan tanggal ……………….. . …. . .. ... . . . . dengan ketentuan sebagai berikut : 1... . ... . . . .. .... . .. . .... . .... :.……………………..

. ... ...... . .. . . . .. . 3) s.. …………………………………. 4....…………. . 2.. 3. .. Diberikan cuti besar... . . 5. ..... .Lampiran IV .. . .... ... . . . .. ... . ... . .. . . …………….... .. . ..... . .. .. ... :...... .A Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM... 5) (. . Selesai menjalankan cuti besar wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya.. : .. .. . Selama menjalankan cuti besar berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku. . . ... ....…. . . . . . . . .. .. Sebelum menjalankan cuti besar wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk. . Tembusan : a.. . ..... . .. kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :...………. . . 4) …………………………………………….. ... . ......…………………….. . . Selama menjalankan cuti besar berhak menerima gaji/penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku... .... . . .. . . . .300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar seluruhnya dilaksanakan) NOMOR : /SDM. ./………/20….. .) Bulan.. .. ..... .. .. .. .. periode …………...) ... .. . . 7) c.... . ... 6) b. . (………….... .. . . . . .. .. . Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. . …….. ..d Selama …….... . dengan ketentuan sebagai berikut : 1. :..... Pertinggal 16 .... . .. . . ....... . .... ...……… ………………... . . ..... .

. .300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar Tidak dilaksanakan/di lepas) NOMOR : /SDM.... . ... ...……….... .. ... .. .. 3. . . ... . .. . ...... .B Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM... . .. .. .. . . Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya... .. .... .. . 4) ……………………………………………. .. Diberikan Pelepasan/menjual Hak cuti besar. . . ...... ..... ... .. . . ... . .. :. 7) c.. .. Pertinggal 17 . . . .…... .. .. .. .. .. ... . :..……… dengan ketentuan sebagai berikut : 1... . ... .. . . . . .. Berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.. . : . . .....Lampiran IV ... . . Tembusan : a. .. . ... . . .. .. . ... .) . ... ... ..... .. .... …………/………/20….... …………………………………..... . . .. .. . . . .... . . . 6) b. 5) (. kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :...... . 3) besar yaitu tanggal Terhitung mulai tanggal pelepasan/menjual hak cuti …………….. .... ... . ……………... .. .. .. 2. .. . .... ... .. ... .. Dengan dilepasnya hak cuti besar tersebut maka wajib melaksanakan pekerjaannya sebagaimana mestinya. .. . .. ... ..... . .

.. :... ... . .. kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :. . . . . ... .. . . Selama menjalankan cuti besar berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku. .……. . . ..... . ..... . . ……………. . .... . .... 6) b..../……... ... . .......C Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. .d …….. . . .. 4... ... 2. . Tembusan : a. ... . Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya... . .. .. Pertinggal 18 .. .) . . . …………………………………. .......... .. ... . . 3) Selama 1 (satu) bulan periode : …………………………………………….. ...... . ... .... ..... .. 4) ……………………………………………... .... . ..300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar Sebagian dilaksanakan) NOMOR : /SDM. : . .. . . .Lampiran IV . . .. . .. . . ..… s. .. . . . . . . ... ... Selesai menjalankan cuti besar wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya..... ………... . . :. . 5) (.. ... ... Selama menjalankan cuti besar wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk. ... .. .. . . .. Diberikan cuti besar... . . . 5.. . .. 7) c. ... .. . dengan ketentuan sebagai berikut : 1.... . . ....... .. .. . dan untuk 1 (satu) bulan sisa hak cuti tidak dilaksanakan (melaksanakan tugas seperti biasanya).... . Selama menjalankan cuti besar berhak menerima gaji/penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. . . . .. .………… ………………. ...…/20…. .. . 3.... ... ...

11) Diisi apabila biaya cuti belum diambil/dibayarkan dan dikehendaki untuk dibayarkan. Diisi Unit Kerja pegawai yang mengajukan cuti (Cabang/Bagian/setingkat dan Kanwil/ Divisi/setingkat) 6) Diisi jenis cuti yang diajukan. 10) Diisi disetujui..Lampiran V Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. ditangguhkan atau tidak disetujuinya cuti yang diajukan. 19 .” (tahun berjalan).300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 PETUNJUK PENGISIAN FORM PERMOHONAN CUTI 1) 2) 3) 4) 5) Diisi tempat dan tanggal permohonan cuti dibuat. 5) Diisi jabatan Pejabat yang memberikan atau menandatangani surat izin cuti. 2) Diisi jenis cuti yang diberikan izin. 7) Diisi Manajer Keuangan/JM Tresuri (untuk cuti yang sudah dibayar biaya cutinya atau tidak ada biaya cutinya tidak perlu dibuat tembusannya). ditambah dengan pernyataan :’dan saya bersedia menerima segala akibat yang timbul mengenai hak-hak dan status kepegawaian saya selama dan setelah diambilnya cuti di luar tanggungan perusahaan” 8) Dan 9) Diisi alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi selama menjalankan cuti. Untuk cuti tahunan ditambah informasi untuk tahun berapa cuti diajukan. Cuti sakit dan cuti karena alasan penting diisi : alasan diambilnya cuti. 7) Hanya Untuk : a. Cuti di luar tanggungan perusahaan diisi : disamping alasan diambilnya cuti. 4) Diisi tempat dan tanggal surat izin cuti dibuat. 3) Diisi Unit Kerja pegawai yang diberikan izin cuti (Cabang/Bagian/setingkat dan Kanwil/ Divisi/setingkat). untuk cuti bersalin ditambah informasi untuk persalinan anak keberapa. Diisi jenis cuti yang diajukan Diisi jabatan Pejabat yang memberikan/menandatangani izin cuti yang diajukan Diisi jabatan Atasan Langsung pegawai yang mengajukan cuti. 6) Diisi jabatan atasan langsung dari Pegawai yang diberikan izin cuti. untuk cuti tahunan ditambah hak “cuti tahun ……. c. Cuti besar diisi :’karena saya telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus menerus” b. PETUNJUK PENGISIAN SURAT IJIN CUTI 1) Diisi jenis cuti yang diberikan izin.

Masa kerja gol.400324/2009 dengan Serikat Pekerja Pegadaian Nomor : 014/DPPSP/IV/2009 tanggal 1 April 2009...... . Jakarta -10430.. .. ... . Jabatan :.. ) bulan Selama …... ... Jakarta 10010 Tel. (021) 315-5550 (hunting) Fax.. Masa kerja gol... NIK :.Kep-74/MBU/2008 tanggal 28 April 2008 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Direksi Perum Pegadaian.. .... 3. 2... Untuk kenaikan Gaji berkala berikutnya : ……… (……..... ........ Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000 tentang Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian.300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 KEPUTUSAN DIREKSI PERUM PEGADAIAN Nomor : /SDM…………/20…. Kramat Raya 162.. : ……………….. Peraturan Direksi Perum Pegadaian Nomor : 3871/SDM.... Tgl... .. ……. ..... 5...... bulan g... sampai dengan tanggal ………………… 20….. perihal permohonan cuti di luar tanggungan Perusahaan... h.. ...... (021)324-967. N a m a :. tanggal ……………………………….....….. . ) tahun..300322/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai.. Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Perum Pegadaian Nomor 3905/SDM. ..) tahun ……. Unit Kerja :....... terhitung mulai tanggal ………. ..Lampiran VI Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM.. Kotak Pos 1090... Surat Edaran No……... .... (……….. d...... Pd..20….. Perum Pegadaian – Kantor Pusat Jl...... Pangkat / gol :. . .... NIK : ……………….... f. Gaji Pokok : Rp ... e. c.. b... . ...... ...... 4..... . . Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor. Tentang…… Menimbang : Mengingat : MEMUTUSKAN Menetapkan PERTAMA : : Memberikan izin Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan kepada : a... Tanggal….. (……….. . tahun ..... TENTANG IZIN CUTI DI LUAR TANGGUNGAN PERUSAHAAN DIREKSI PERUM PEGADAIAN Membaca : Surat permohonan Saudara …………. . Bahwa cuti yang diajukan adalah hak dan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Peraturan cuti Pegawai dan oleh karena itu dapat diberikan 1.....…………………….. . ........ 20…….... 391-4221 20 ..

: Jangka waktu Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan tidak diperhitungkan sebagai masa kerja di Perusahaan : Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya cuti diluar tanggungan perusahaan yang bersangkutan diwajibkan melaporkan diri dan melapor secara tertulis kepada kepala unit kerjanya melalui atasan langsungnya.……… di ……………… PETIKAN Keputusan ini diberikan kepada yang bersangkutan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. KELIMA KEENAM SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada : 1. 3. di ……………… Manajer Keuangan Perum Pegadaian Kanwil ……. 2. Kepala SPI Perum Pegadaian di Jakarta Jeneral Manajer Setingkat di kantor Pusat PERUM Pegadaian Pemimpin Wilayah Perum Pegadaian Kanwil ……………. : Apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di : JAKARTA Pada Tanggal : ______________________________ Direksi. 4. SUMANTO HADI Direktur Umum dan SDM 21 . yang bersangkutan dapat diberhentikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.KEDUA KETIGA KEEMPAT : Selama menjalankan Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan yang bersangkutan tidak berhak menerima penghasilan dan fasilitas lainnya dari perusahaan. : Apabila tidak melaporkan diri secara lisan dan secara tertulis tepat pada waktunya tanpa alasan yang syah/dapat dipertanggungjawabkan.