P. 1
Se Amandemen Cuti Besar Nomor 87... Tgl 09 Juni 2010

Se Amandemen Cuti Besar Nomor 87... Tgl 09 Juni 2010

|Views: 3,079|Likes:
Published by veryosa

More info:

Published by: veryosa on Nov 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

Kepada: 1. Kepala SPI 2. Pemimpin Wilayah Utama/Madya/Muda 3. Jeneral Manajer/Setingkat 4.

Pemimpin Cabang Perum Pegadaian di SELURUH INDONESIA

SURAT EDARAN
Nomor : 87 /SDM.300323/2010 TENTANG AMANDEMEN/ PERUBAHAN TERHADAP PERATURAN CUTI PEGAWAI NOMOR: 3871/SDM.300322/2010 TANGGAL 09 JUNI 2010

Memperhatikan ketentuan Pasal 53 dan Pasal 54 Peraturan Direksi Nomor: 3871/SDM.300323/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai (selanjutnya disebut Peraturan Cuti), bersama ini disampaikan Amandemen/Perubahan sebagai berikut: 1. Mengubah Pasal 1 angka 11 sampai dengan angka 15, dan menyisipkan 2 (dua) angka diantara angka 13 dan angka 14 yang dijadikan angka 13a dan 13b, menjadi sebagai berikut:
11. Penghasilan adalah meliputi Upah Pokok ditambah Tunjangan Tetap ditambah Tunjangan Tidak Tetap, dan ditambah Pendapatan Non Upah (PNU), yang sebelum diberlakukannya sistem remunerasi yang baru, dalam peraturan ini ditetapkan sebagai berikut: a. Upah Pokok adalah Gaji Pokok, Tunjangan Isteri/Suami, Tunjangan Anak, dan Tunjangan Beras; b. Tunjangan Tetap adalah Tunjangan Jabatan/Fungsional Keahlian, dan Tunjangan Perusahaan yang telah dikalikan indeks merit dan indeks zona tanpa pengurangan potongan absen; c. Tunjangan Tidak Tetap adalah Tunjangan Transport; d. Pendapatan Non Upah (PNU) adalah Bantuan Telepon, Air dan Listrik (TAL), Tunjangan Sewa Rumah Jabatan, dan Lumpsun BBM. Tunjangan Cuti adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada Pegawai yang mengajukan dan/atau melaksanakan cuti, khusus untuk Cuti Tahunan dan Cuti Besar. Masa Kerja adalah jangka waktu bekerja aktif di Perusahaan secara terus-menerus atau tidak terputus untuk dijadikan dasar perhitungan timbulnya hak cuti, terhitung sejak adanya hubungan kerja, yaitu sejak diangkat sebagai Pegawai atau sejak diangkat sebagai Calon Pegawai (jika Pegawai yang bersangkutan dalam proses penerimaannya di Perusahaan terlebih dahulu melalui masa calon pegawai), termasuk jangka waktu bekerja diperbantukan atau dipekerjakan di anak perusahaan atau badan hukum terafiliasi (pengertian anak perusahaan dan badan hukum terafiliasi menyesuaikan dengan yang diatur dalam Peraturan Direksi tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja yang berlaku). Tahun Takwim adalah perhitungan 1 (satu) tahun yang dimulai dari tanggal 01 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Peraturan Lama adalah Keputusan Direksi Nomor: 4189/SDM.200322/2005 tanggal 20 Desember 2005 tentang Peraturan Cuti Pegawai beserta dengan seluruh perubahan dan pengaturan teknisnya. Unit Kerja adalah tempat dimana Pegawai melaksanakan tugas sesuai dengan Peraturan Direksi tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja yang berlaku. Pimpinan Unit Kerja adalah pejabat yang memimpin suatu unit kerja.

12. 13.

13a. 13b.

14.

15.

Perum Pegadaian – Kantor Pusat Jl. Kramat Raya 162, Jakarta -10430, Kotak Pos 1090, Jakarta 10010 Tel. (021) 315-5550 (hunting) Fax. (021)324-967, 391-4221

2.

Mengubah Pasal 4 menjadi sebagai berikut:
Pasal 4 Jenis Cuti Jenis Cuti bagi Pegawai terdiri atas: a. Cuti Tahunan, yaitu sebagaimana yang diatur dalam Pasal 79 ayat (2) huruf c UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; b. Cuti Besar, yaitu Istirahat Panjang sebagaimana yang diatur dalam Pasal 79 ayat (2) huruf d UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Kep.Men.Nakertrans.RI. Nomor:Kep51/IV/ 2004 tanggal 8 April 2004 tentang Istirahat Panjang Pada Perusahaan Tertentu; c. Cuti Sakit, yaitu tidak menjalankan pekerjaan, dengan tetap dibayarkan upah, karena sakit berdasarkan keterangan dokter, sebagaimana diatur dalam Pasal 93 ayat (2) huruf a dan ayat (3) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; d. Cuti Bersalin, yaitu istirahat sebelum saat dan setelah melahirkan anak, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 82 ayat (1) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; e. Cuti Gugur Kandungan, yaitu istirahat bagi pegawai perempuan yang mengalami keguguran kandungan, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 82 ayat (2) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; f. Cuti Haid, yaitu tidak wajib bekerja, dengan tetap dibayarkan upah bagi pegawai perempuan karena merasakan sakit di hari pertama dan kedua pada waktu haid, sebagaimana diatur dalam Pasal 81 dan Pasal 93 ayat (2) huruf b UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; g. Cuti Karena Alasan Penting, yaitu tidak menjalankan pekerjaan dengan tetap dibayarkan upah, karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (4) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; h. Cuti Menjalankan Ibadah, yaitu tidak menjalankan pekerjaan dengan tetap dibayarkan upah, karena pegawai menjalankan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya, sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (4) PP No.8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah dan Pasal 93 ayat (2) huruf e UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; i. Cuti Bersama, yaitu pelaksanaan cuti secara bersamaan pada waktu menjelang/setelah Hari Libur Nasional, sebagaimana diatur oleh Keputusan Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara; j. Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan, yaitu tidak melaksanakan pekerjaan tanpa mendapatkan penghasilan dan fasilitas lainnya dari Perusahaan serta tidak diperhitungkan sebagai masa kerja; k. Cuti Masa Persiapan Pensiun, yaitu tidak melaksanakan pekerjaan, yang diberikan kepada Pegawai yang akan memasuki masa pensiun paling lama 2 (dua) tahun sebelum efektif berakhir hubungan kerja karena memasuki usia pensiun, dengan tetap mendapatkan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. l. Cuti Karena Pindah, yaitu tidak melaksanakan pekerjaaan karena melakukan perjalanan pindah berdasarkan perintah Perusahaan, dengan tetap memperoleh penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku.

3.

Mengubah Pasal 6 angka 5 dan angka 6 menjadi sebagai berikut:
5. 6. Manajer SDM di Kantor Wilayah untuk Cuti Sakit yang tidak lebih dari 3 (tiga) hari kerja dan Cuti Tahunan bagi Pegawai di Kantor Wilayah. Pemimpin Cabang untuk Cuti Sakit yang tidak lebih dari 3 (tiga) hari kerja dan Cuti Tahunan bagi Pegawai di Kantor Cabang.

2

4. Mengubah Pasal 7 menjadi sebagai berikut: Pasal 7 Persyaratan Umum dan Tunjangan Cuti Tahunan Pegawai yang telah memiliki masa kerja 12 (dua belas) bulan. maka kelebihan pembayaran atas Tunjangan Cuti Tahunan tersebut diperhitungkan dari Uang Pesangon. dengan dasar perhitungan pada posisi tanggal Pegawai tersebut mengajukan Cuti Tahunan. Jika Pegawai telah terlanjur mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan secara penuh. sebesar 1 (satu) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap). Pelaksanaan Cuti Tahunan disela oleh Pejabat yang berwenang. dengan jumlah maksimum 6 (enam) hari kerja. Bagi Pegawai yang dalam tahun berjalan putus hubungan kerjanya dengan perusahaan. sedangkan Tunjangan Cuti Tahunan-nya dibayarkan secara proporsional. kecuali untuk pengajuan dan pengambilan sisa Cuti Tahunan yang kurang dari 3 (tiga) hari. untuk setiap pengajuan dan pengambilannya. Uang Pisah. kemudian pelaksanaan Cuti Tahunan-nya ditangguhkan/ditunda oleh Pejabat yang berwenang. sedangkan Tunjangan Cuti Tahunan-nya diberikan secara proporsional. sehingga mengakibatkan sisa Cuti Tahunan-nya melebihi 6 (enam) hari kerja. padahal seharusnya Pegawai tersebut hanya berhak mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan secara proporsional sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan/atau uang kompensasi PHK lainnya. Sisa Cuti Tahunan secara otomatis beralih ke tahun takwim berikutnya. maka hak Cuti Tahunan-nya timbul sejak hari ke-1 (satu) setelah terlewatinya masa kerja 12 (dua belas) bulan. dihitung dan dimulai per awal tahun takwim. jika terdapat Pegawai yang mengajukan dan menjalankan Cuti Tahunan melebihi sisa hak Cuti Tahunan-nya. berdasarkan hal sebagaimana dimaksud pada ayat (13) huruf a 3 . dengan rumus: (1) (2) (3) (4) ά x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap) 12 ά= (5) (6) Jumlah masa kerja dalam bulan dari sejak timbulnya hak Cuti Tahunan sampai dengan 1 (satu) hari sebelum tanggal 01 Januari tahun berikutnya (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Hak cuti tahunan untuk yang selanjutnya. Uang Penghargaan Masa Kerja. bagi Pegawai yang telah melewati masa sebagaimana dimaksud pada ayat (4). maka kelebihan hari Cuti Tahunan tersebut dianggap sebagai hari dimana Pegawai tidak masuk bekerja secara tidak sah dan diberlakukan pengurangan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. maka Tunjangan Cuti Tahunan-nya harus tetap dibayarkan. Pegawai mengikuti Diklat yang tidak memungkinkan baginya untuk menjalankan Cuti Tahunan. Jika Pegawai yang mengajukan Cuti Tahunan. Uang Penggantian Hak. maka hak Cuti Tahunan-nya tetap diberikan selama 12 (dua belas) hari kerja. Ketentuan ayat (12) dikecualikan jika sisa Cuti Tahunan melebihi 6 (enam) hari kerja yang disebabkan oleh: a. dan/atau d. Pegawai tidak dapat menjalankan Cuti Tahunan karena diperintahkan secara tertulis oleh Pejabat yang berwenang. dan sampai melewati tahun takwim berikutnya. dengan memperhatikan ketentuan mengenai Uang Penggantian Hak atas Cuti Tahunan. Pegawai menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing yang melewati tahun takwim berikutnya. dan kemudian ternyata dalam tahun berjalan Pegawai tersebut putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan (bukan karena meninggal dunia). sehingga mengakibatkan sisa Cuti Tahunan-nya melebihi 6 (enam) hari kerja. Hak Cuti Tahunan untuk yang pertama kali bagi Pegawai yang baru terikat hubungan kerja dengan Perusahaan (baru diangkat). Batas maksimum Cuti Tahunan di tahun berjalan setelah diakumulasikan dengan sisa Cuti Tahunan tahun sebelumnya. berhak memperoleh Cuti Tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja setiap tahunnya. Cuti Tahunan harus diajukan dan dijalankan sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari kerja. Pegawai yang bersangkutan tidak dapat menjalankan Cuti Tahunan. c. Pegawai yang sedang menjalankan cuti yang lainnya tidak dapat mengajukan Cuti Tahunan. Dalam 1 (satu) bulan hanya diperkenankan mengajukan dan menjalankan 1 (satu) kali Cuti Tahunan. Sisa Cuti Tahunan tidak diperkenankan bersaldo minus. yang dibayarkan 1 (satu) kali dalam setahun. b. Pegawai yang mengajukan Cuti Tahunan mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan. dengan jumlah hak Cuti Tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja.

maka hak Cuti Tahunan berserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya di tahun yang bersangkutan menjadi gugur. Pasal 13 Uang Penggantian Hak Atas Cuti Tahunan Beserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya Jika dalam tahun berjalan Pegawai putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan. maka Tunjangan Cuti Tahunan-nya diberikan secara proporsional dengan rumusan sebagai berikut: (1) (2) (1) (2) (1) (2) ά 12 x Tunjangan Cuti Tahunan ά = Jumlah masa kerja dalam bulan dari sejak tanggal 01 Januari tahun yang bersangkutan sampai dengan 1 (satu) hari sebelum tanggal efektif putus hubungan kerja dengan perusahaan. Pegawai yang menjalankan Cuti Sakit sampai dengan melewati tahun takwim. Pelanggaran atas ketentuan ayat (15) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. Mengubah ayat (2) dan menambahkan 2 (dua) ayat pada Pasal 9 yang dijadikan ayat (4) dan ayat (5) sebagai berikut: (2) Penangguhan dan/atau penyelaan Cuti Tahunan dapat dilakukan oleh Pejabat yang berwenang paling banyak 2 (dua) kali untuk waktu masing-masing paling lama 1 (satu) bulan tanpa dapat diperpanjang. Jika Pegawai menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing sampai dengan melewati tahun takwim. Sisa Cuti Tahunan beralih secara otomatis ke tahun berikutnya. jika Pegawai yang dalam tahun berjalan putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan. Tunjangan Cuti Tahunan dinyatakan gugur. Dalam 1 (satu) tahun takwim seorang Pegawai harus dapat melaksanakan Cuti Tahunan paling sedikit 3 (tiga) hari kerja. maka hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan-nya menjadi gugur.(15) (16) sampai dengan huruf d adalah sebanyak 24 (dua puluh empat) hari kerja. dan pada waktu sebelum di-non aktfikan dan/atau diskorsing Pegawai tersebut belum mengajukan Cuti Tahunan beserta dengan Tunjangan Cuti Tahunan-nya. Pegawai tersebut belum mengajukan Cuti Tahunan beserta dengan Tunjangan Cuti Tahunan-nya. meskipun terdapat Cuti Bersama yang mengurangi Cuti Tahunan di tahun tersebut. Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 7 ayat (6). dan pada waktu sebelum menjalankan Cuti Sakit. dengan dinyatakan secara tertulis. padahal terdapat kesempatan baginya. maka berlaku ketentuan: a. (4) (5) 6. maka sisa Cuti Tahunan tersebut diganti dengan uang dengan rumusan sebagai berikut: Upah Pokok + Tunjangan Tetap x β 25 β = Jumlah hari sisa Cuti Tahunan yang belum dijalankan. b. dengan memperhatikan ketentuan Pasal 7 ayat (14). Penangguhan dan/atau penyelaan Cuti Tahunan tidak diperkenankan jika mengakibatkan dalam 1 (satu) tahun takwim seorang Pegawai tidak pernah melaksanakan Cuti Tahunan sama sekali. maka hal tersebut harus dituangkan secara tertulis. dan terdapat sisa Cuti Tahunan yang belum dijalankan. 4 . Pasal 12 Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan Untuk Pegawai Yang Di-Non Aktikan dan Yang Diskorsing Pegawai yang menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing tidak dapat mengajukan Cuti Tahunan. Dalam hal Pejabat yang berwenang memberikan ijin Cuti Tahunan bermaksud memerintahkan penundaan pelaksanaan Cuti Tahunan atau menyela Cuti Tahunan Pegawai. dan berlaku hak Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan di tahun berikutnya. 5. dengan pembulatan ke atas. dan dilarang menyampaikannya secara lisan atau menggunakan media lain selain dokumen tercetak. dan berlaku hak Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan di tahun berikutnya. Mengubah Pasal 11 sampai dengan Pasal 13 menjadi sebagai berikut : Pasal 11 Gugurnya Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan Pegawai yang sampai melewati tahun takwim tidak mengajukan Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya.

Mengubah Pasal 14 sampai dengan Pasal 18 menjadi sebagai berikut : Pasal 14 Persyaratan Umum dan Tunjangan Cuti Besar (1) (2) Cuti Besar diberikan kepada Pegawai dengan maksud memberikan kesempatan beristirahat untuk kesegaran jasmani dan rohani atau untuk keperluan lain. Pengertian form pengajuan Cuti Besar sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan dalam ketentuan-ketentuan yang selanjutnya. sedangkan untuk Cuti Besar di tahun ke-8. atau huruf c. Pilihan pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib dicantumkan secara tegas dalam form pengajuan Cuti Besar. Hak Cuti Besar diberikan selama 2 (dua) bulan untuk setiap Periode dengan pilihan pelaksanaan: a. terhadap pilihan sebagaimana tersebut angka 1 dan angka 2 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apa pun. terhadap pilihan sebagaimana tersebut angka 1 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apa pun. dengan ketentuan: a. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. Dilaksanakan 2 (dua) bulan sekaligus di tahun ke-8 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-8. maka perhitungan jumlah hari Cuti Besar di dalamnya sudah termasuk Cuti Bersama. 2. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (4) huruf c: 1. Dalam setiap Periode. adalah: a. bulan. Dilaksanakan 2 (dua) bulan sekaligus di tahun ke-7 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar. berhak atas Tunjangan Cuti Besar sebesar: 0. atau b. dan berlaku untuk setiap kelipatan 6 (enam) tahun dari sejak timbulnya hak Cuti Besar yang pertama kali. atau c. Bagi Pegawai yang melaksanakan Cuti Besar. b. jika Pegawai mengajukan dan melaksanakan Cuti Besar selama 2 (dua) bulan sesuai ketentuan ayat (4) huruf a. kemudian 1 (satu) minggu masuk kerja dan seterusnya). kepada Pegawai dibayarkan Penghasilan penuh kecuali Tunjangan Tidak Tetap. tanggal. Dilaksanakan 1 (satu) bulan di tahun ke-7. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. Hak Cuti Besar timbul jika pegawai telah mencapai Masa Kerja selama 6 (enam) tahun. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (4) huruf a dan huruf b: 1. yang dalam setiap Periode diberikan hak Cuti Besar selama 2 (dua) bulan dengan waktu pelaksanaan pada bulan ke-1 atau paling lambat bulan ke-12 di tahun ke-7 dan/atau di tahun ke-8. maka dalam pelaksanaannya tidak dapat dicicil (misalnya: 1 (satu) minggu menjalankan cuti besar. dan tahun-nya ditentukan ketika mengajukan form pengajuan Cuti Besar di tahun ke-8. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-7. 2. dan 1 (satu) bulan di tahun ke-8 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu masing-masing pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 dan di tahun ke-8 tersebut. Pelaksanaan Cuti Besar yang sekaligus 2 (dua) bulan di tahun ke-7 atau di tahun ke-8. Form pengajuan untuk melepaskan hak Cuti Besar secara keseluruhan dalam suatu Periode. Form pengajuan untuk melaksanakan sebagian dan melepaskan sebagian hak Cuti Besar dalam suatu Periode. Selama melaksanakan Cuti Besar. wajib dilaksanakan secara bersambung dan tidak boleh terputus. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 5 . Form pengajuan untuk melaksanakan hak Cuti Besar secara keseluruhan dalam suatu Periode. bulan.25 x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap). b. Setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disebut Periode.7. dengan komponen perhitungan di posisi bulan pada saat pengajuan Cuti Besar yang pertama kali di Periode tersebut. huruf b. atau c. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar. bulan. 3. Apabila selama menjalankan Cuti Besar terdapat hari Cuti Bersama.

pelaksanaan Cuti Besar wajib berselang 1 (satu) bulan atau lebih dari pelaksanaan Cuti Tahunan. Pegawai yang berakhir hubungan kerja-nya dengan Perusahaan tetapi masih mempunyai hak Cuti Besar beserta tunjangan-nya yang belum gugur. bulan. Melaksanakan seluruh hak Cuti Besar selama 2 (dua) bulan dengan pilihan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) huruf a sampai dengan huruf c. maka di dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan secara tegas mengenai hak Cuti Besar di tahun ke berapa yang akan dilepaskan. maka hak Cuti Besar beserta tunjangannya tersebut diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak dengan rumusan sebagaimana tersebut pada ayat (12) huruf c angka 2 dan angka 3. untuk Uang Penggantian Hak atas hari Cuti Besar.125 x Tunjangan Cuti Besar. Melaksanakan hak Cuti Besar selama 1 (satu) bulan. Uang Penggantian Hak sebagaimana dimaksud pada huruf b berupa penggantian hari cuti yang tidak dapat dijalankan ditambah dengan tunjangan cuti yang seharusnya diterima. maka akan diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak. dengan dasar perhitungan di posisi bulan terakhir sebelum putus hubungan kerja. 6 . 2 (dua) bulan Penghasilan atas pekerjaan yang dilakukan sebagaimana biasa pada bulan yang bersangkutan. dengan mendapatkan: 1. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan secara tegas mengenai pelepasan hak Cuti Besar secara keluruhan dalam suatu Periode. x β Jumlah hari Cuti Besar yang belum dijalankan. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf b: 1. (13) (14) untuk Uang Penggantian Hak atas tunjangan Cuti Besar. jika hak Cuti Besar yang akan dilepaskan berada di tahun ke-8. dengan ketentuan: 1. sebesar 2 (dua) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL). Pegawai yang sedang menjalankan cuti yang lain tidak dapat mengajukan Cuti Besar. 2. di tahun ke-7 atau di tahun ke-8. sesuai ketentuan Pasal 13. dengan dasar perhitungan di posisi bulan pertama hak Cuti Besar di tahun ke-7. dengan mendapatkan: 1. 1. 2. jika setelah berselang 1 (satu) bulan Pegawai berakhir hubungan kerjanya sehingga mengakibatkan hak Cuti Besar atau hak Cuti Tahunan menjadi tidak dapat dilaksanakan. Kompensasi penggantian hak 1 (satu) bulan Cuti Besar yang tidak dijalankan. b. c. c. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-7 yang akan dilaksanakan. b. dan 3. Melepaskan seluruh hak Cuti Besar yang selama 2 (dua) bulan tersebut. 1. Pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dicantumkan secara tegas dalam form pengajuan Cuti Besar. dengan dasar perhitungan di posisi bulan pertama hak Cuti Besar di tahun ke-7 atau di tahun ke-8 (tergantung hak Cuti Besar di tahun keberapa yang dilepaskan). Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf c: 1. dan melepaskan hak Cuti Besar yang 1 (satu) bulan. Pasal 15 Melaksanakan Dan/Atau Melepaskan Hak Cuti Besar (1) (2) Pegawai yang memiliki hak Cuti Besar pada suatu Periode dapat memilih untuk: a. 2. dengan rumus: Upah Pokok + Tunjangan Tetap 25 β= 3. sebesar 1 (satu) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL). 2. dan melakukan pekerjaan sebagaimana biasa. untuk Uang Penggantian Hak atas hari dan tunjangan Cuti Tahunan. pilihan sebagaimana dimaksud pada angka 1 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apapun. diberikan Tunjangan Cuti Besar yang seharusnya diterima.25 x Tunjangan Cuti Besar. 2. c. Kompensasi penggantian hak 2 (dua) bulan Cuti Besar yang tidak dijalankan. dengan mendapatkan 1 x Tunjangan Cuti Besar. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf a berlaku ketentuan Pasal 14 ayat (5). 1 (satu) bulan Penghasilan atas pekerjaan yang dilakukan sebagaimana biasa pada bulan yang bersangkutan. dengan ketentuan: a. dengan ketentuan: a. dan 3.(12) Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan masih tetap ada pada suatu tahun yang di dalamnya terdapat hak Cuti Besar. sehingga tidak berhak atas Tunjangan Cuti Besar. dan berlaku sebaliknya b.

Kompensasi penggantian hak Cuti Besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak sama dengan Uang Penggantian Hak dalam hal kompensasi PHK. Ketentuan ayat (1) sampai dengan ayat (3) berlaku pula untuk Cuti Besar yang tidak dilaksanakan karena ditangguhkan atau disela oleh Pejabat yang berwenang. pelaksanaannya dilakukan pada kesempatan lain tanpa harus memperbarui permohonan Cuti Besar. maka hal tersebut harus dituangkan dalam perintah tertulis melalui dokumen tercetak. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai untuk menangguhkan pelaksanaan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak berlaku.(3) (4) (5) (6) jika hak Cuti Besar yang akan dilepaskan berada di tahun ke-7. Pasal 16 Rentang Waktu Mengajukan Hak Cuti Besar 3. Jika Pejabat yang berwenang memberikan izin Cuti Besar bermaksud untuk memerintahkan Pegawai agar melepaskan hak Cuti Besar-nya. dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat ditangguhkan. Jika Cuti Besar yang ditangguhkan adalah hak pada tahun ke-8. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai untuk melepaskan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak berlaku. maka hak Cuti Besar pada Periode tersebut gugur (hangus) dan kehilangan hak atas Tunjangan Cuti Besar dan/atau hal sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 ayat (1) huruf b. Pasal 17 Penangguhan Cuti Besar (1) (2) (3) (4) (5) (6) Cuti Besar dapat ditangguhkan pelaksanaannya oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis melalui dokumen tercetak berdasarkan alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). Paling lambat 12 (dua belas) bulan dari sejak hari pertama timbulnya hak Cuti Besar pada tahun ke-8. 7 . terhadap pilihan yang sudah diajukan sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampai dengan angka 3. di kemudian hari tidak dapat diubah dengan alasan apapun. dan tahun dimulainya pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-8 dicantumkan ketika pengajuan Cuti Besar di tahun ke-8. maka hak Cuti Besar pada tahun ke-7 secara otomatis beralih ke tahun ke-8. Penangguhan Cuti Besar hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis. dengan tidak menunda pembayaran Tunjangan Cuti Besar. (1) (2) (3) (4) Jika setelah melewati 12 (dua belas) bulan dari sejak hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 Pegawai tidak mengajukan Cuti Besar. Pasal 18 Penyelaan Cuti Besar (1) (2) (3) Pegawai yang sedang melaksanakan Cuti Besar dapat dipanggil secara tertulis untuk bekerja kembali oleh Pejabat yang berwenang berdasarkan alasan-alasan sebagaimana dimaksud pada Pasal 9 ayat (1). tanpa menghilangkan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) atau hak yang timbul sehubungan ketentuan mengenai kompensasi sebagai akibat rentang waktu pelaksanaan Cuti Besar yang terlewati karena penangguhan atau penyelaan Cuti Besar. 4. Cuti Besar dapat disela jika Pegawai telah melaksanakan Cuti Besar sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari. Pegawai harus sudah melaksanakan/melepaskan Cuti Besar. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (4) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. termasuk hak Cuti Besar tahun ke-7 yang ditangguhkan sebagaimana tersebut pada ayat (2). dengan ketentuan tidak melewati waktu 6 (enam) bulan sejak berakhirnya bulan ke-12 di tahun ke-8. maka penentuan tanggal. maka hak Cuti Besar tersebut harus sudah dapat dilaksanakan sebelum 6 (enam) bulan terlewatinya bulan ke-12 di tahun ke-8. Jika setelah melewati rentang waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pegawai masih belum melaksanakan/melepaskan Cuti Besar. dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat dilepaskan. untuk waktu paling lama 6 (enam) bulan dan tidak dapat diperpanjang. bulan. Sisa Cuti Besar yang disela. Jika Cuti Besar yang ditangguhkan adalah hak pada tahun ke-7. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (1) dan/atau ayat (4) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. maka hak Cuti Besar tersebut baru dapat dilaksanakan 6 (bulan) sejak ditangguhkan dengan memperhatikan rentang waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2).

belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. maka terhadap 2 (dua) Periode yang tidak dilaksanakan dinyatakan gugur. sudah berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 24 (dua puluh empat) tahun berdasarkan Peraturan Lama. sehingga untuk setiap 1 (satu) bulan Cuti Besar yang disela berhak mendapatkan: a. d. maka Pegawai dianggap telah diperintahkan untuk melepaskan hak sisa Cuti Besar yang disela. (6) kekurangan Tunjangan Cuti Besar sebesar: 0. dengan mendapatkan kompensasi sebesar 0.5 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. sesuai yang tercantum dalam Surat Izin Cuti Besar Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL diposisi bulan pada saat seharusnya dilaksanakan Cuti Besar. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai yang berisi penyelaan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dinyatakan tidak berlaku. 8 (1) (2) (3) (1) . Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (7) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. Untuk 1 (satu) Periode yang terakhir dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1) dengan mengingat ketentuan Pasal 16. belum pernah melaksanakan Cuti Besar. Jumlah hari dalam bulan yang bersangkutan pada saat seharusnya dilaksanakan Cuti Besar. b. c. maka sisa Cuti Besar tersebut diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak. maka hal tersebut harus dituangkan dalam perintah tertulis melalui dokumen tercetak. Jika Pejabat yang berwenang memberikan izin Cuti Besar bermaksud untuk menyela pelaksanaan hak Cuti Besar Pegawai. maka kepadanya diberikan biaya perjalanan dinas yang diperhitungkan dari alamat tersebut. Jika setelah terlewatinya waktu 6 (enam) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pegawai masih belum mendapatkan ijin untuk melanjutkan pelaksanaan Cuti Besar. sudah berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun berdasarkan Peraturan Lama. Hak Cuti Besar selanjutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. Apabila dapat dibuktikan bahwa ketika dipanggil pegawai sedang menjalankan Cuti Besar di luar kota dimana ia bekerja sebagaimana tercantum dalam surat permohonan Cuti Besar. maka terhadap 3 (tiga) Periode yang tidak dilaksanakan dinyatakan gugur. sesuai yang tercantum dalam Surat Izin Cuti Besar b.75 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. belum mengambil kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama c. b. Pasal 18B Aturan ke-2 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. dengan mendapatkan kompensasi sebesar 0. sampai dengan Pasal 18I sebagai berikut: Pasal 18A Aturan ke-1 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. Menambahkan 9 (sembilan) ketentuan baru diantara Pasal 18 dan Pasal 19. penggantian hak sisa Cuti Besar yang tidak dijalankan dengan rumus: ά β ά= β= γ= x γ Jumlah hari Cuti Besar yang disela. (7) (8) (9) 8.(4) (5) Jika Pegawai tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan sisa Cuti Besar yang disela karena disebabkan berakhirnya hubungan kerja dengan Perusahaan. dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat disela. dan d. belum berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 24 (dua puluh empat) tahun berdasarkan Peraturan Lama. belum mengambil kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. dengan dasar perhitungan berupa komponen Tunjangan Cuti Besar yang sudah dibayarkan sebelumnya. dan e. yang dijadikan Pasal 18A. belum pernah melaksanakan Cuti Besar.125 x Tunjangan Cuti Besar.

(1) (2) (3) (1) (2) (3) (4) (5) 9 .25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Peraturan ini diberlakukan. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku jika dihitung hak Cuti Besar berikutnya berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun Pegawai berada pada posisi sudah pensiun atau dalam posisi berhak Cuti Masa Persiapan Pensiun. 0. dengan mendapatkan: a. untuk kompensasi masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau 24 (dua puluh empat) tahun. dan b. pernah mengambil kompensasi Hak Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diganti dengan: a. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diberikan: a.(2) (3) Untuk 1 (satu) Periode yang terakhir dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1) dengan mengingat ketentuan Pasal 16. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. jarak waktu antara hari terakhir pelaksanaan Cuti Besar yang terakhir dengan hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 tidak kurang dari 36 (tiga puluh enam) bulan. 0. untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau 24 (dua puluh empat) tahun. Hak Cuti Besar selanjutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan pada bulan saat Peraturan ini diberlakukan. Pasal 18D Aturan Ke-4 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. 0. dan kepada Pegawai tersebut sejak diberlakukannya Amandemen Peraturan ini diberikan kesempatan untuk mengajukan Cuti Besar sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1). Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun terdapat Periode yang gugur karena mengingat ketentuan rentang waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. Pasal 18C Aturan ke-3 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. 0. dan b. dari sejak tanggal mengambil kompensasi tersebut sampai dengan diberlakukannya Amandemen Peraturan ini belum pernah melaksanakan Cuti Besar. maka hak Cuti Besar berikutnya tersebut dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1). 0. Kompensasi sebesar: 2 x (Upah Pokok + Tunj.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. dari sejak tanggal mengambil kompensasi tersebut sampai dengan diberlakukannya Amandemen Peraturan ini pernah melaksanakan Cuti Besar. Ketentuan ayat (3) dan ayat (4) tidak berlaku jika ketika dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. maka hak Cuti Besar berikutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. pernah mengambil Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama.Tetap + TAL). jarak waktu antara hari terakhir pelaksanaan Cuti Besar yang terakhir dengan hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 kurang dari 36 (tiga puluh enam) bulan.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. sehingga kepada Pegawai tersebut sejak diberlakukannya Amandemen Peraturan ini diperbolehkan untuk mengajukan Cuti Besar sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1). ditambah dengan b. hak Cuti Besar yang berikutnya bagi Pegawai berada pada posisi sudah pensiun atau dalam posisi berhak Cuti Masa Persiapan Pensiun.5 x Tunjangan Cuti Besar. ditambah dengan b. maka hak Cuti Besar berikutnya tersebut harus dilepaskan. dan dihitung dari sejak tanggal mengambil Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama terdapat Periode yang gugur karena mengingat ketentuan Pasal 16. dan b. maka hak Cuti Besar-nya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16.

maka hak Cuti Besar berikutnya dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. maka hak Cuti Besar yang belum dijalankan tersebut dinyatakan gugur. Pasal 18F Aturan Ke-6 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. 0. (1) (2) (3) (1) (2) (3) 10 . b. dan b. 0. 0. tidak termasuk ke dalam kategori yang berhak atas Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. Jika Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melaksanakan Cuti Besar-nya bukan karena diperintahkan/ditangguhkan oleh Pejabat yang berwenang berdasarkan perintah tertulis.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. Jika berdasarkan keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat Periode yang gugur. dan untuk setiap 1 (satu) bulan Cuti Besar yang tidak dilaksanakan tersebut diganti dengan: 1 x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL) pada posisi bulan dimana Pegawai yang bersangkutan mengambil Tunjangan Cuti Besar. pernah melaksanakan Cuti Besar termasuk mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan 6 (enam) tahun masa kerja. b. maka hak Cuti Besar berikutnya bagi Pegawai tersebut dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. maka hak Cuti Besar berikutnya bagi Pegawai tersebut dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan memperhatikan ketentuan Pasal 16 Sisa hak Cuti Besar yang belum dilaksanakan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) wajib dilepaskan. belum pernah melaksanakan Cuti Besar. terdapat Periode yang gugur karena ketentuan Pasal 16. belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar. karena diperintahkan/ditangguhkan oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis. ditambah dengan b. untuk masa kerja 18 tahun atau 24 tahun. pernah mengajukan Cuti Besar dan telah mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya. tidak termasuk ke dalam kategori yang berhak atas Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diganti dengan: a. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diberikan kompensasi berupa: a. dan c. 0. tidak melaksanakan Cuti Besar-nya tersebut sama sekali. Pasal 18G Aturan Ke-7 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. ditambah dengan b. Terhadap Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku ketentuan Pasal 18D ayat (3) dan ayat (4).(1) (2) Pasal 18E Aturan Ke-5 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a.

dan untuk Cuti Sakit kurang dari 3 (tiga) hari diberikan atas dasar pemberitahuan dari Pegawai yang bersangkutan. pernah mengajukan Cuti Besar dan telah mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya. yang perawatannya tidak menjalani rawat inap. Ketentuan mengenai Cuti Besar selanjutnya mengacu kepada Pasal 14 sampai dengan Pasal 18. dan b. dan/atau d. maka dilakukan pengurangan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. c. b. tidak berlaku lagi ketentuan kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun dan 24 (dua puluh empat) tahun. Jika Pegawai tidak dapat membuktikan keabsahan surat keterangan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b. Dalam 1 (satu) tahun takwim. 11 . maka sisa Cuti Besar yang belum dijalankan tersebut dinyatakan gugur. Mencabut ketentuan Pasal 22 mengenai Cuti Sakit Rawat Jalan Tingkat Lanjutan. termasuk rawat jalan tingkat lanjutan pasca rawat inap. serta salinan resep obat yang bersangkutan. dan/atau berdasarkan hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c dan/atau huruf d. dengan dasar perhitungan posisi bulan dimana Pegawai yang bersangkutan mengambil Tunjangan Cuti Besar Jika Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melaksanakan sebagian Cuti Besarnya bukan karena disela Pejabat yang berwenang berdasarkan perintah tertulis. Perusahaan dapat melakukan penelitian dan penelusuran mengenai keabsaham surat keterangan dokter yang ditunjukan oleh Pegawai. hanya diberikan toleransi untuk diberikan Cuti Sakit Keterangan Dokter secara akumulatif selama 24 (dua puluh empat) hari kerja. (1) (2) (3) (4) (5) (6) 10. guna penyembuhan secara komprehensif agar tidak selalu mengalami sakit di kemudian hari. Perusahaan dapat memerintahkan agar kepada Pegawai melakukan pemeriksaan dan pengobatan kesehatan ke rumah sakit atau dokter yang ditunjuk oleh Perusahaan. Pegawai harus dapat membuktikan keabsahan surat keterangan dokter yang ditunjukkan. Mengubah Pasal 20 menjadi sebagai berikut: Pasal 20 Cuti Sakit Keterangan Dokter Yang dimaksud dengan Cuti Sakit Keterangan Dokter adalah tidak dapat melakukan pekerjaan karena sakit. diketahui bahwa surat keterangan dokter yang ditunjukan Pegawai diragukan keabsahannya. Dokter yang memeriksa dan melakukan perawatan harus dokter yang ditunjuk oleh Perusahaan. serta diproses sesuai Peraturan Disiplin Pegawai. tidak melaksanakan sebagian Cuti Besar-nya karena disela Pejabat yang berwenang dengan terdapat bukti tertulisnya. Pasal 18I Ketentuan Cuti Besar Pasca Peralihan Setelah pasca peralihan Cuti Besar sebagaimana diatur dalam Pasal 18A sampai dengan Pasal 18H. Jika setelah mencapai waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pegawai masih memerlukan Cuti Sakit Keterangan Dokter. Permohonan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Pimpinan Unit Kerja dengan melampirkan asli surat keterangan dokter. (1) (2) 9. maka hak Cuti Besar berikutnya dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan memperhatikan ketentuan Pasal 16 Sisa Cuti Besar yang belum dilaksanakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilepaskan dengan memperoleh hak sebagaimana ketentuan Pasal 18 ayat (5) huruf a. secara berselang maupun berturut-turut. dengan diantaranya memperlihatkan salinan medical record dan/atau resume diagnosa dokter. Cuti Sakit selama 3 (tiga) hari atau lebih diberikan atas dasar permohonan tertulis. berdasarkan surat keterangan dokter. maka: a.(1) (2) (3) Pasal 18H Aturan Ke-8 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a.

Pegawai harus sudah masuk kerja. Cuti Bersalin tidak membatasi jumlah kelahiran anak. (1) (2) 14. 4 (empat) bulan kedua Tunjangan Tetap-nya dibayar 75% (tujuh puluh lima perseratus). kecuali Tunjangan Tidak Tetap. yang dijadikan ayat (4) sebagai berikut: (4) Pegawai wajib melaksanakan Cuti Bersama yang berkaitan dengan Hari Raya Keagamaan yang utama sesuai dengan keyakinan yang dianutnya. (1) (2) 12 .11. Selama menjalankan Cuti Bersalin Penghasilan dibayarkan penuh. d. dan b. 4 (empat) bulan selanjutnya Tunjangan Tetap-nya dibayar 25% (dua puluh lima perseratus). Mengubah ketentuan Pasal 24 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Pegawai yang menjalani Cuti Sakit Rawat Inap penghasilannya diatur sebagai berikut: a. Setelah selesai menjalankan Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan. Cuti Bersalin dilaksanakan 30 (tiga puluh) hari sebelum melahirkan dan 60 (enam puluh) hari setelah melahirkan. 16. (1) (2) (3) (4) (5) 13. b. Mengubah ketentuan Pasal 29 menjadi sebagai berikut: Pasal 29 Cuti Gugur Kandungan Pegawai yang mengalami gugur kandungan berhak istirahat tidak masuk kerja selama 1 (satu) bulan dan 15 (lima belas) hari atau sesuai surat keterangan dokter kandungan/bidan. Mengubah ketentuan Pasal 33 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Lamanya waktu tidak bekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sesuai dengan waktu pelaksanaan ibadah yang secara resmi ditetapkan oleh Departemen Agama RI. Pegawai yang menjalankan Cuti Bersalin wajib melaporkan tanggal kelahiran anak kepada pimpinan unit kerja. ditambah dengan: a. Mengubah ketentuan Pasal 31 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Cuti Haid diberikan selama 2 (dua) hari kerja. dengan tetap berhak atas Cuti Tahunan. Selama menjalankan Cuti Bersalin Penghasilan dibayarkan penuh. kecuali Tunjangan Tidak Tetap. c. dan jika tidak masuk kerja maka berlaku ketentuan mengenai mangkir. dengan ketentuan jumlah keseluruhannya tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. tetapi dapat membatasi pemberian bantuan persalinan (jika ada). 7 (tujuh) hari sebelum pemberangkatan dari tempat kediaman. 7 (tujuh) hari setelah pendaratan tiba di tanah air. Mengubah ketentuan Pasal 28 menjadi sebagai beriktu: Pasal 28 Cuti Bersalin Cuti Bersalin diberikan kepada Pegawai yang melahirkan selama 90 (sembilan puluh) hari. dengan tetap berhak atas Cuti Tahunan. 12. Pegawai harus melapor kepada Pejabat yang berwenang. Mengubah ketentuan Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) menjadi sebagai berikut: Pasal 37 Berakhirnya Masa Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan. 4 (empat) bulan ketiga Tunjangan Tetap-nya dibayar 50% (lima puluh perseratus). 4 (empat) bulan pertama Tunjangan Tetap-nya dibayar 100% (seratus perseratus). 15. 17. Menambahkan 1 (satu) ketentuan baru setelah Pasal 34 ayat (3).

300323/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai. Tembusan: 1. Mengubah ketentuan Pasal 41 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Pegawai Tidak Tetap berhak atas seluruh hak cuti sebagaimana yang diatur dalam Peraturan ini.18. (1) (2) 19. DPP dan DPD Serikat Pekerja Pegadaian. 13 . Penghasilan dibayarkan penuh (kecuali Tunjangan Tidak Tetap) termasuk Jasa Produksi. 22. 21. Mencabut ketentuan Pasal 47 mengenai Penggantian Hak Cuti Dengan Uang. Mengubah ketentuan Pasal 39 menjadi sebagai berikut: Pasal 39 Penghasilan Selama Cuti Masa Persiapan Pensiun Selama menjalankan Cuti Masa Persiapan Pensiun. dan Biaya Pembelian Pakaian Kerja. 2.Anggota Direksi Perum Pegadaian. disesuaikan dengan ketentuan mengenai pemegang kendaraan dinas. THR. sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direksi Nomor: 3871/SDM. kecuali Cuti Besar dan Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan.. Khusus untuk PNU yang berupa Lumpsum BBM. 20. Penjelasan atas Amandemen Peraturan Cuti Pegawai ini sebagaimana terlampir sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini. Amandemen/Perubahan Peraturan Cuti Pegawai ini berlaku sejak tanggal 01 Oktober 2010. Demikian disampaikan untuk diketahui dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Yth.

. Dengan Pilihan : 2 (dua) Bulan dilaksanakan/dijalankan a. Yth. . .. . II.. .. .. . . ... ..... .. . . . s. . . . . ... .. . . . . .. .. . . . . . . . .. . . . . . . .. .... . . .. ... . . .. 4) di ………………. ... . . . . . . .. . . Jabatan : .. .. . .. .. . .. .. .. .300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 ……………….. .. . .. . . . . .... . . . . . . . (. .... . . . .... . . b.. .. .. . .d . . . . .. . . 9). . .. . . . . . 10) (.. . . ... . .8) .. . .. .. . . . . . selama 2 (dua) bulan. . .. Demikian permohonan cuti ini saya buat untuk dapat dipertimbangkan sebagaimana mestinya. . . .. . .. . . . ... ... .. . . . . . . . . . .. . . . .... ... . . ... . . ........ . ... .. . .. . . . .. Selama : . .. .. . . .. . . . . . . .. . . . . . .. .. Nik : . ... .. . .. . .. . .. .. .. .. .. . . . . . .. . . . . . Catatan : Di isi ketika mengajukan form pengajuan cuti besar di tahun ke-8 (di isi kemudian pada saat akan melaksanakan cuti besar ditahun ke-8) 2. . . ... . . .. . . .. .. . . . . .. . 5) Dengan ini mengajukan permohonan : 6} I. . . ... . .……………1) Perihal : Permohonan cuti . . . . Dengan Pilihan : 2 (dua) Bulan dilepaskan/tidak dijalankan 3. ..... . . . .. sbb : 1. . .. .. .... .. . . ..... . .. . .. (. . . . . . . .. . . . . . . ... . . . . . . .. . . . .. .. .. . . Cuti .. ... ... . .. ..... . . .. . . . . s.. .. . . . . . . .. . .. .. . . . . . . . . . Dilaksanakan/dijalankan pada tahun ke-7 terhitung Mulai tanggal . . ... . .. . . .. . . . .. . ... 3) Melalui Yth... . . . . . .. . .. . . . Terhitung mulai tanggal . ... . 7).…………….. .. . . . .. . Telepon . . . Hormat Saya Catatan: mohon untuk dibayarkan biaya cuti tahunan/cuti besar saya……11) Catatan Pejabat Atasan Dari Atasan Langsung . s. .Lampiran II Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM... . . .. .. .. .. . . . . . . . . . . . . .. . .. . .. .d .. . . . . Catatan Pertimbangan Atasan Langsung ... Dengan Pilihan : 1 (satu) Bulan dilaksanakan dan 1 (satu) Bulan di lepaskan a.. . .. . . . . 1 (satu) bulan dilepaskan/tdk dijalankan Karena ... . . ... . . . . .. .... Yang bertandatangan dibawah ini : Nama : . b. . . . .. . ... . . ... . . . . . . . . . .. .s.. .. .. . Dilaksanakan/dijalankan pada tahun ke-8 terhitung Mulai tanggal . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . ... . . 2) Kepada.. . . ... .) Nik. b.………………………. ... . .. ... .. . . . . .. . . . .. . .d . ... . .. . . .. . . . . . . . ... .. .. . .... .) Nik. .... .. .. . 1 (satu) bulan dilaksanakan/dijalankan terhitung Mulai tanggal . . . . . . .. . . . . . .d . .. . . . .) Nik. .. . . . ... . ... . Unit Kerja : . . . . . . . . .. .. . . . . . . .. .. . . . . ... .. . Cuti Besar.. . . .. . .. ... a. .……………. . ..... . . . . . . . . . .. . .. . 14 . . . . . . . . .... . . . .. .. . . . . . . ... . .. .. . . . . .. . . . . . . . . .. Selama menjalankan cuti alamat saya di .....

. .... .. Selesai menjalankan cuti wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya. ... . . ... ... .. . .. .. ..... 3) Selama ……… (…………….………………………. Hak-hak pegawai selama menjalankan cuti diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. : . . . .. . . ... . .. . :. .. ... Diberikan ijin cuti ………………………………………. .... .. .sampai dengan tanggal ……………….. .. .. .. . .. :.. .. .. . .... ... .. . …... ...……………) ………………………………../………/20….. Demikian surat ijin cuti besar ini diberikan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya... . .... ... 3....... . 7) c.. . ... . ..... ... . dengan ketentuan sebagai berikut : 1.... …………………………………. . .. .. . . . …………….. .………………………………. . . .…….... . .Lampiran III Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. . ... . .. ..... kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :. . Tembusan : a...2)..... 4) ……………………………………………..) .... . . . .…………………….. .. . . ... Pertinggal 15 ... ..…...... Sebelum menjalankan cuti wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk. . .. . . .. .... ..... . . ..... .. .. .. . 2. . . . ... 5) (. 1) NOMOR : /SDM.. . .. . . . . . . . . .... .... ... ..300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI ………………….. terhitung mulai tanggal …. ...... 6) b...

.. . ..... Selama menjalankan cuti besar berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.. 5. . . .. . . ...………... . . . .... . ..... .... dengan ketentuan sebagai berikut : 1. . . . . .. . kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :. .. ... ... .. ... 3) s.. 6) b.) Bulan.. Diberikan cuti besar.. .. . .... . . ..... . Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya..……… ………………. (…………... . ... . . .... ... . . .... .. . :. ... 2. Selama menjalankan cuti besar berhak menerima gaji/penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku... .. . 4.……………………... ........... . 3.300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar seluruhnya dilaksanakan) NOMOR : /SDM. ……. . ...... ..... . . . .. . .. . . .... . . . .. . Pertinggal 16 . ..... .d Selama …….. ./………/20…. periode ………….. .. ... . : ... .. 4) ……………………………………………... . . Sebelum menjalankan cuti besar wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk... . ………………………………….. Selesai menjalankan cuti besar wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya... . .…. . . :.. 5) (. .. . 7) c.. . . . .... .. . ..…………...Lampiran IV . .. .. Tembusan : a.. ....) . . .. ...... . .. . …………….. . ... .. . . ... .. ... . .A Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. .. ....

. . . ....……… dengan ketentuan sebagai berikut : 1.. ... Pertinggal 17 .. ..) ..... . ... . ... ... . . 3.. 6) b. . . 2... .. .....….. . . Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Dengan dilepasnya hak cuti besar tersebut maka wajib melaksanakan pekerjaannya sebagaimana mestinya. . .B Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. . . . ..... .. Diberikan Pelepasan/menjual Hak cuti besar. kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :. .... .. ..... .. .………... .... . . ... .. ... . ... .. . .. ... . .. . .. ... ......... 4) ……………………………………………..... .. Berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.. .. . .. . . ... . . . . ... . ... .. . . .. .Lampiran IV ...300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar Tidak dilaksanakan/di lepas) NOMOR : /SDM. ... .. . .. .. . .. . . …………/………/20…. ... . :.. .. ... ... ... . .. ………………………………….. .. .. ... ... .. .. . ……………. : . . . . 7) c. Tembusan : a.. . :.. 3) besar yaitu tanggal Terhitung mulai tanggal pelepasan/menjual hak cuti ……………... . . ... ... .... 5) (.. .. .... . ... .... .. .... .. .. .

. .………… ……………….. ... .. .…/20…... 7) c.. . Selama menjalankan cuti besar berhak menerima gaji/penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.. . . . . kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :. . .. 6) b.. 3... .. .... . . Diberikan cuti besar... . ..... .. 2. . . . . . ... ... .. .. 3) Selama 1 (satu) bulan periode : …………………………………………….300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar Sebagian dilaksanakan) NOMOR : /SDM... Selama menjalankan cuti besar wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk. 4.... . ……….……. ..... .. . . . ... . . . .. ...... . . . . Selesai menjalankan cuti besar wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya.... Tembusan : a.. . ... .. . . .. . . . ... . .... Pertinggal 18 ..... . ... ...... ... .. ... ... . . . .... :. . .. 5. ... : . . ./……. ……………. dengan ketentuan sebagai berikut : 1... . Selama menjalankan cuti besar berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.... . dan untuk 1 (satu) bulan sisa hak cuti tidak dilaksanakan (melaksanakan tugas seperti biasanya)... ....... . 4) ……………………………………………. . . .. ... ...) .. . . ...... . . :. ... . . . . . .. . .... .... . 5) (.. ... .... . .....… s. .. .... . . .C Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM.. Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.. ..Lampiran IV .. ...d …….. .. …………………………………. .. .

untuk cuti tahunan ditambah hak “cuti tahun ……. PETUNJUK PENGISIAN SURAT IJIN CUTI 1) Diisi jenis cuti yang diberikan izin.Lampiran V Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. Diisi Unit Kerja pegawai yang mengajukan cuti (Cabang/Bagian/setingkat dan Kanwil/ Divisi/setingkat) 6) Diisi jenis cuti yang diajukan. Diisi jenis cuti yang diajukan Diisi jabatan Pejabat yang memberikan/menandatangani izin cuti yang diajukan Diisi jabatan Atasan Langsung pegawai yang mengajukan cuti. Cuti di luar tanggungan perusahaan diisi : disamping alasan diambilnya cuti.300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 PETUNJUK PENGISIAN FORM PERMOHONAN CUTI 1) 2) 3) 4) 5) Diisi tempat dan tanggal permohonan cuti dibuat. 2) Diisi jenis cuti yang diberikan izin. untuk cuti bersalin ditambah informasi untuk persalinan anak keberapa. 19 . Cuti sakit dan cuti karena alasan penting diisi : alasan diambilnya cuti. 6) Diisi jabatan atasan langsung dari Pegawai yang diberikan izin cuti. Untuk cuti tahunan ditambah informasi untuk tahun berapa cuti diajukan. Cuti besar diisi :’karena saya telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus menerus” b. 3) Diisi Unit Kerja pegawai yang diberikan izin cuti (Cabang/Bagian/setingkat dan Kanwil/ Divisi/setingkat).” (tahun berjalan). c. ditangguhkan atau tidak disetujuinya cuti yang diajukan. 11) Diisi apabila biaya cuti belum diambil/dibayarkan dan dikehendaki untuk dibayarkan. 7) Diisi Manajer Keuangan/JM Tresuri (untuk cuti yang sudah dibayar biaya cutinya atau tidak ada biaya cutinya tidak perlu dibuat tembusannya). 5) Diisi jabatan Pejabat yang memberikan atau menandatangani surat izin cuti. 7) Hanya Untuk : a. 4) Diisi tempat dan tanggal surat izin cuti dibuat. ditambah dengan pernyataan :’dan saya bersedia menerima segala akibat yang timbul mengenai hak-hak dan status kepegawaian saya selama dan setelah diambilnya cuti di luar tanggungan perusahaan” 8) Dan 9) Diisi alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi selama menjalankan cuti. 10) Diisi disetujui..

.. Kotak Pos 1090... . Masa kerja gol......... .. e. .... Tgl.. sampai dengan tanggal ………………… 20….... Jakarta -10430. 20…….....) tahun ……..... .. (……….. . Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Perum Pegadaian Nomor 3905/SDM... Bahwa cuti yang diajukan adalah hak dan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Peraturan cuti Pegawai dan oleh karena itu dapat diberikan 1. ..…………………….400324/2009 dengan Serikat Pekerja Pegadaian Nomor : 014/DPPSP/IV/2009 tanggal 1 April 2009....20…..…. .. . …….... Gaji Pokok : Rp .. 391-4221 20 .. tanggal ………………………………. Untuk kenaikan Gaji berkala berikutnya : ……… (…….... ....300322/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai.. Peraturan Direksi Perum Pegadaian Nomor : 3871/SDM.. NIK : ………………...... . f..... ............ N a m a :. 2... (021) 315-5550 (hunting) Fax. (………... .. .. TENTANG IZIN CUTI DI LUAR TANGGUNGAN PERUSAHAAN DIREKSI PERUM PEGADAIAN Membaca : Surat permohonan Saudara ………….......... ... Kramat Raya 162.. Jakarta 10010 Tel.. ) bulan Selama ….... Pangkat / gol :. .. b. Unit Kerja :.......... tahun . c. Jabatan :. 3. .. . bulan g... Perum Pegadaian – Kantor Pusat Jl. Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor. 5... 4. Tentang…… Menimbang : Mengingat : MEMUTUSKAN Menetapkan PERTAMA : : Memberikan izin Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan kepada : a..... .... : ………………. NIK :... Masa kerja gol.... terhitung mulai tanggal ………. .. d. h.Lampiran VI Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM....Kep-74/MBU/2008 tanggal 28 April 2008 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Direksi Perum Pegadaian.. Pd... ...... ) tahun....... Tanggal….. Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000 tentang Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian. . ... .. . perihal permohonan cuti di luar tanggungan Perusahaan...300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 KEPUTUSAN DIREKSI PERUM PEGADAIAN Nomor : /SDM…………/20…. (021)324-967. ... Surat Edaran No……..

KEDUA KETIGA KEEMPAT : Selama menjalankan Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan yang bersangkutan tidak berhak menerima penghasilan dan fasilitas lainnya dari perusahaan. 4. KELIMA KEENAM SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada : 1. 2.……… di ……………… PETIKAN Keputusan ini diberikan kepada yang bersangkutan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di : JAKARTA Pada Tanggal : ______________________________ Direksi. SUMANTO HADI Direktur Umum dan SDM 21 . di ……………… Manajer Keuangan Perum Pegadaian Kanwil ……. : Apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. yang bersangkutan dapat diberhentikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kepala SPI Perum Pegadaian di Jakarta Jeneral Manajer Setingkat di kantor Pusat PERUM Pegadaian Pemimpin Wilayah Perum Pegadaian Kanwil ……………. : Apabila tidak melaporkan diri secara lisan dan secara tertulis tepat pada waktunya tanpa alasan yang syah/dapat dipertanggungjawabkan. 3. : Jangka waktu Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan tidak diperhitungkan sebagai masa kerja di Perusahaan : Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya cuti diluar tanggungan perusahaan yang bersangkutan diwajibkan melaporkan diri dan melapor secara tertulis kepada kepala unit kerjanya melalui atasan langsungnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->