Kepada: 1. Kepala SPI 2. Pemimpin Wilayah Utama/Madya/Muda 3. Jeneral Manajer/Setingkat 4.

Pemimpin Cabang Perum Pegadaian di SELURUH INDONESIA

SURAT EDARAN
Nomor : 87 /SDM.300323/2010 TENTANG AMANDEMEN/ PERUBAHAN TERHADAP PERATURAN CUTI PEGAWAI NOMOR: 3871/SDM.300322/2010 TANGGAL 09 JUNI 2010

Memperhatikan ketentuan Pasal 53 dan Pasal 54 Peraturan Direksi Nomor: 3871/SDM.300323/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai (selanjutnya disebut Peraturan Cuti), bersama ini disampaikan Amandemen/Perubahan sebagai berikut: 1. Mengubah Pasal 1 angka 11 sampai dengan angka 15, dan menyisipkan 2 (dua) angka diantara angka 13 dan angka 14 yang dijadikan angka 13a dan 13b, menjadi sebagai berikut:
11. Penghasilan adalah meliputi Upah Pokok ditambah Tunjangan Tetap ditambah Tunjangan Tidak Tetap, dan ditambah Pendapatan Non Upah (PNU), yang sebelum diberlakukannya sistem remunerasi yang baru, dalam peraturan ini ditetapkan sebagai berikut: a. Upah Pokok adalah Gaji Pokok, Tunjangan Isteri/Suami, Tunjangan Anak, dan Tunjangan Beras; b. Tunjangan Tetap adalah Tunjangan Jabatan/Fungsional Keahlian, dan Tunjangan Perusahaan yang telah dikalikan indeks merit dan indeks zona tanpa pengurangan potongan absen; c. Tunjangan Tidak Tetap adalah Tunjangan Transport; d. Pendapatan Non Upah (PNU) adalah Bantuan Telepon, Air dan Listrik (TAL), Tunjangan Sewa Rumah Jabatan, dan Lumpsun BBM. Tunjangan Cuti adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada Pegawai yang mengajukan dan/atau melaksanakan cuti, khusus untuk Cuti Tahunan dan Cuti Besar. Masa Kerja adalah jangka waktu bekerja aktif di Perusahaan secara terus-menerus atau tidak terputus untuk dijadikan dasar perhitungan timbulnya hak cuti, terhitung sejak adanya hubungan kerja, yaitu sejak diangkat sebagai Pegawai atau sejak diangkat sebagai Calon Pegawai (jika Pegawai yang bersangkutan dalam proses penerimaannya di Perusahaan terlebih dahulu melalui masa calon pegawai), termasuk jangka waktu bekerja diperbantukan atau dipekerjakan di anak perusahaan atau badan hukum terafiliasi (pengertian anak perusahaan dan badan hukum terafiliasi menyesuaikan dengan yang diatur dalam Peraturan Direksi tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja yang berlaku). Tahun Takwim adalah perhitungan 1 (satu) tahun yang dimulai dari tanggal 01 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Peraturan Lama adalah Keputusan Direksi Nomor: 4189/SDM.200322/2005 tanggal 20 Desember 2005 tentang Peraturan Cuti Pegawai beserta dengan seluruh perubahan dan pengaturan teknisnya. Unit Kerja adalah tempat dimana Pegawai melaksanakan tugas sesuai dengan Peraturan Direksi tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja yang berlaku. Pimpinan Unit Kerja adalah pejabat yang memimpin suatu unit kerja.

12. 13.

13a. 13b.

14.

15.

Perum Pegadaian – Kantor Pusat Jl. Kramat Raya 162, Jakarta -10430, Kotak Pos 1090, Jakarta 10010 Tel. (021) 315-5550 (hunting) Fax. (021)324-967, 391-4221

2.

Mengubah Pasal 4 menjadi sebagai berikut:
Pasal 4 Jenis Cuti Jenis Cuti bagi Pegawai terdiri atas: a. Cuti Tahunan, yaitu sebagaimana yang diatur dalam Pasal 79 ayat (2) huruf c UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; b. Cuti Besar, yaitu Istirahat Panjang sebagaimana yang diatur dalam Pasal 79 ayat (2) huruf d UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Kep.Men.Nakertrans.RI. Nomor:Kep51/IV/ 2004 tanggal 8 April 2004 tentang Istirahat Panjang Pada Perusahaan Tertentu; c. Cuti Sakit, yaitu tidak menjalankan pekerjaan, dengan tetap dibayarkan upah, karena sakit berdasarkan keterangan dokter, sebagaimana diatur dalam Pasal 93 ayat (2) huruf a dan ayat (3) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; d. Cuti Bersalin, yaitu istirahat sebelum saat dan setelah melahirkan anak, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 82 ayat (1) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; e. Cuti Gugur Kandungan, yaitu istirahat bagi pegawai perempuan yang mengalami keguguran kandungan, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 82 ayat (2) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; f. Cuti Haid, yaitu tidak wajib bekerja, dengan tetap dibayarkan upah bagi pegawai perempuan karena merasakan sakit di hari pertama dan kedua pada waktu haid, sebagaimana diatur dalam Pasal 81 dan Pasal 93 ayat (2) huruf b UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; g. Cuti Karena Alasan Penting, yaitu tidak menjalankan pekerjaan dengan tetap dibayarkan upah, karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (4) UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; h. Cuti Menjalankan Ibadah, yaitu tidak menjalankan pekerjaan dengan tetap dibayarkan upah, karena pegawai menjalankan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya, sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (4) PP No.8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah dan Pasal 93 ayat (2) huruf e UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; i. Cuti Bersama, yaitu pelaksanaan cuti secara bersamaan pada waktu menjelang/setelah Hari Libur Nasional, sebagaimana diatur oleh Keputusan Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara; j. Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan, yaitu tidak melaksanakan pekerjaan tanpa mendapatkan penghasilan dan fasilitas lainnya dari Perusahaan serta tidak diperhitungkan sebagai masa kerja; k. Cuti Masa Persiapan Pensiun, yaitu tidak melaksanakan pekerjaan, yang diberikan kepada Pegawai yang akan memasuki masa pensiun paling lama 2 (dua) tahun sebelum efektif berakhir hubungan kerja karena memasuki usia pensiun, dengan tetap mendapatkan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. l. Cuti Karena Pindah, yaitu tidak melaksanakan pekerjaaan karena melakukan perjalanan pindah berdasarkan perintah Perusahaan, dengan tetap memperoleh penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku.

3.

Mengubah Pasal 6 angka 5 dan angka 6 menjadi sebagai berikut:
5. 6. Manajer SDM di Kantor Wilayah untuk Cuti Sakit yang tidak lebih dari 3 (tiga) hari kerja dan Cuti Tahunan bagi Pegawai di Kantor Wilayah. Pemimpin Cabang untuk Cuti Sakit yang tidak lebih dari 3 (tiga) hari kerja dan Cuti Tahunan bagi Pegawai di Kantor Cabang.

2

jika terdapat Pegawai yang mengajukan dan menjalankan Cuti Tahunan melebihi sisa hak Cuti Tahunan-nya. dihitung dan dimulai per awal tahun takwim. sehingga mengakibatkan sisa Cuti Tahunan-nya melebihi 6 (enam) hari kerja. Bagi Pegawai yang dalam tahun berjalan putus hubungan kerjanya dengan perusahaan. maka hak Cuti Tahunan-nya tetap diberikan selama 12 (dua belas) hari kerja. yang dibayarkan 1 (satu) kali dalam setahun. maka kelebihan hari Cuti Tahunan tersebut dianggap sebagai hari dimana Pegawai tidak masuk bekerja secara tidak sah dan diberlakukan pengurangan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. Mengubah Pasal 7 menjadi sebagai berikut: Pasal 7 Persyaratan Umum dan Tunjangan Cuti Tahunan Pegawai yang telah memiliki masa kerja 12 (dua belas) bulan. sedangkan Tunjangan Cuti Tahunan-nya dibayarkan secara proporsional. Batas maksimum Cuti Tahunan di tahun berjalan setelah diakumulasikan dengan sisa Cuti Tahunan tahun sebelumnya. Hak Cuti Tahunan untuk yang pertama kali bagi Pegawai yang baru terikat hubungan kerja dengan Perusahaan (baru diangkat). dengan jumlah maksimum 6 (enam) hari kerja. sedangkan Tunjangan Cuti Tahunan-nya diberikan secara proporsional. maka hak Cuti Tahunan-nya timbul sejak hari ke-1 (satu) setelah terlewatinya masa kerja 12 (dua belas) bulan. dan/atau uang kompensasi PHK lainnya. Pegawai yang sedang menjalankan cuti yang lainnya tidak dapat mengajukan Cuti Tahunan. Pelaksanaan Cuti Tahunan disela oleh Pejabat yang berwenang. untuk setiap pengajuan dan pengambilannya. sebesar 1 (satu) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap). dengan rumus: (1) (2) (3) (4) ά x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap) 12 ά= (5) (6) Jumlah masa kerja dalam bulan dari sejak timbulnya hak Cuti Tahunan sampai dengan 1 (satu) hari sebelum tanggal 01 Januari tahun berikutnya (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Hak cuti tahunan untuk yang selanjutnya. Pegawai yang bersangkutan tidak dapat menjalankan Cuti Tahunan.4. Ketentuan ayat (12) dikecualikan jika sisa Cuti Tahunan melebihi 6 (enam) hari kerja yang disebabkan oleh: a. b. Pegawai tidak dapat menjalankan Cuti Tahunan karena diperintahkan secara tertulis oleh Pejabat yang berwenang. kecuali untuk pengajuan dan pengambilan sisa Cuti Tahunan yang kurang dari 3 (tiga) hari. dengan memperhatikan ketentuan mengenai Uang Penggantian Hak atas Cuti Tahunan. Sisa Cuti Tahunan secara otomatis beralih ke tahun takwim berikutnya. dengan dasar perhitungan pada posisi tanggal Pegawai tersebut mengajukan Cuti Tahunan. Uang Pisah. dan/atau d. Uang Penggantian Hak. Cuti Tahunan harus diajukan dan dijalankan sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari kerja. Jika Pegawai telah terlanjur mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan secara penuh. kemudian pelaksanaan Cuti Tahunan-nya ditangguhkan/ditunda oleh Pejabat yang berwenang. Sisa Cuti Tahunan tidak diperkenankan bersaldo minus. sehingga mengakibatkan sisa Cuti Tahunan-nya melebihi 6 (enam) hari kerja. dengan jumlah hak Cuti Tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja. Pegawai menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing yang melewati tahun takwim berikutnya. padahal seharusnya Pegawai tersebut hanya berhak mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan secara proporsional sebagaimana dimaksud pada ayat (4). bagi Pegawai yang telah melewati masa sebagaimana dimaksud pada ayat (4). berdasarkan hal sebagaimana dimaksud pada ayat (13) huruf a 3 . dan sampai melewati tahun takwim berikutnya. dan kemudian ternyata dalam tahun berjalan Pegawai tersebut putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan (bukan karena meninggal dunia). Uang Penghargaan Masa Kerja. maka Tunjangan Cuti Tahunan-nya harus tetap dibayarkan. Dalam 1 (satu) bulan hanya diperkenankan mengajukan dan menjalankan 1 (satu) kali Cuti Tahunan. berhak memperoleh Cuti Tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja setiap tahunnya. Pegawai mengikuti Diklat yang tidak memungkinkan baginya untuk menjalankan Cuti Tahunan. maka kelebihan pembayaran atas Tunjangan Cuti Tahunan tersebut diperhitungkan dari Uang Pesangon. Pegawai yang mengajukan Cuti Tahunan mendapatkan Tunjangan Cuti Tahunan. Jika Pegawai yang mengajukan Cuti Tahunan. c.

maka berlaku ketentuan: a. Pasal 13 Uang Penggantian Hak Atas Cuti Tahunan Beserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya Jika dalam tahun berjalan Pegawai putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan. dan pada waktu sebelum di-non aktfikan dan/atau diskorsing Pegawai tersebut belum mengajukan Cuti Tahunan beserta dengan Tunjangan Cuti Tahunan-nya. maka hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan-nya menjadi gugur. Mengubah ayat (2) dan menambahkan 2 (dua) ayat pada Pasal 9 yang dijadikan ayat (4) dan ayat (5) sebagai berikut: (2) Penangguhan dan/atau penyelaan Cuti Tahunan dapat dilakukan oleh Pejabat yang berwenang paling banyak 2 (dua) kali untuk waktu masing-masing paling lama 1 (satu) bulan tanpa dapat diperpanjang. dan dilarang menyampaikannya secara lisan atau menggunakan media lain selain dokumen tercetak. (4) (5) 6. meskipun terdapat Cuti Bersama yang mengurangi Cuti Tahunan di tahun tersebut. maka Tunjangan Cuti Tahunan-nya diberikan secara proporsional dengan rumusan sebagai berikut: (1) (2) (1) (2) (1) (2) ά 12 x Tunjangan Cuti Tahunan ά = Jumlah masa kerja dalam bulan dari sejak tanggal 01 Januari tahun yang bersangkutan sampai dengan 1 (satu) hari sebelum tanggal efektif putus hubungan kerja dengan perusahaan. Penangguhan dan/atau penyelaan Cuti Tahunan tidak diperkenankan jika mengakibatkan dalam 1 (satu) tahun takwim seorang Pegawai tidak pernah melaksanakan Cuti Tahunan sama sekali. Pelanggaran atas ketentuan ayat (15) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. dengan dinyatakan secara tertulis. Tunjangan Cuti Tahunan dinyatakan gugur. Dalam 1 (satu) tahun takwim seorang Pegawai harus dapat melaksanakan Cuti Tahunan paling sedikit 3 (tiga) hari kerja.(15) (16) sampai dengan huruf d adalah sebanyak 24 (dua puluh empat) hari kerja. jika Pegawai yang dalam tahun berjalan putus hubungan kerjanya dengan Perusahaan. Jika Pegawai menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing sampai dengan melewati tahun takwim. dan berlaku hak Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan di tahun berikutnya. Pasal 12 Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan Untuk Pegawai Yang Di-Non Aktikan dan Yang Diskorsing Pegawai yang menjalani pe-non aktifan dan/atau skorsing tidak dapat mengajukan Cuti Tahunan. padahal terdapat kesempatan baginya. Dalam hal Pejabat yang berwenang memberikan ijin Cuti Tahunan bermaksud memerintahkan penundaan pelaksanaan Cuti Tahunan atau menyela Cuti Tahunan Pegawai. b. dan berlaku hak Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan di tahun berikutnya. Sisa Cuti Tahunan beralih secara otomatis ke tahun berikutnya. maka hak Cuti Tahunan berserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya di tahun yang bersangkutan menjadi gugur. dan terdapat sisa Cuti Tahunan yang belum dijalankan. dengan memperhatikan ketentuan Pasal 7 ayat (14). dengan pembulatan ke atas. 4 . maka sisa Cuti Tahunan tersebut diganti dengan uang dengan rumusan sebagai berikut: Upah Pokok + Tunjangan Tetap x β 25 β = Jumlah hari sisa Cuti Tahunan yang belum dijalankan. 5. maka hal tersebut harus dituangkan secara tertulis. Pegawai yang menjalankan Cuti Sakit sampai dengan melewati tahun takwim. Mengubah Pasal 11 sampai dengan Pasal 13 menjadi sebagai berikut : Pasal 11 Gugurnya Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan Pegawai yang sampai melewati tahun takwim tidak mengajukan Cuti Tahunan beserta Tunjangan Cuti Tahunan-nya. Pegawai tersebut belum mengajukan Cuti Tahunan beserta dengan Tunjangan Cuti Tahunan-nya. Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 7 ayat (6). dan pada waktu sebelum menjalankan Cuti Sakit.

sedangkan untuk Cuti Besar di tahun ke-8. b. kepada Pegawai dibayarkan Penghasilan penuh kecuali Tunjangan Tidak Tetap. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. atau huruf c. dan berlaku untuk setiap kelipatan 6 (enam) tahun dari sejak timbulnya hak Cuti Besar yang pertama kali. dengan ketentuan: a. atau b. atau c. 3.25 x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap). maka dalam pelaksanaannya tidak dapat dicicil (misalnya: 1 (satu) minggu menjalankan cuti besar. kemudian 1 (satu) minggu masuk kerja dan seterusnya). Selama melaksanakan Cuti Besar. terhadap pilihan sebagaimana tersebut angka 1 dan angka 2 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apa pun. adalah: a. b. dan tahun-nya ditentukan ketika mengajukan form pengajuan Cuti Besar di tahun ke-8. huruf b. Form pengajuan untuk melaksanakan sebagian dan melepaskan sebagian hak Cuti Besar dalam suatu Periode. Dalam setiap Periode. dengan komponen perhitungan di posisi bulan pada saat pengajuan Cuti Besar yang pertama kali di Periode tersebut. Hak Cuti Besar timbul jika pegawai telah mencapai Masa Kerja selama 6 (enam) tahun. Pilihan pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib dicantumkan secara tegas dalam form pengajuan Cuti Besar. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-7. tanggal. Dilaksanakan 2 (dua) bulan sekaligus di tahun ke-7 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar. wajib dilaksanakan secara bersambung dan tidak boleh terputus. jika Pegawai mengajukan dan melaksanakan Cuti Besar selama 2 (dua) bulan sesuai ketentuan ayat (4) huruf a. 2. bulan. Setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disebut Periode. 2. Pengertian form pengajuan Cuti Besar sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan dalam ketentuan-ketentuan yang selanjutnya. Pelaksanaan Cuti Besar yang sekaligus 2 (dua) bulan di tahun ke-7 atau di tahun ke-8. Form pengajuan untuk melaksanakan hak Cuti Besar secara keseluruhan dalam suatu Periode. Dilaksanakan 1 (satu) bulan di tahun ke-7. Dilaksanakan 2 (dua) bulan sekaligus di tahun ke-8 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-8. atau c. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar. maka perhitungan jumlah hari Cuti Besar di dalamnya sudah termasuk Cuti Bersama. bulan. Apabila selama menjalankan Cuti Besar terdapat hari Cuti Bersama. Bagi Pegawai yang melaksanakan Cuti Besar.7. yang dalam setiap Periode diberikan hak Cuti Besar selama 2 (dua) bulan dengan waktu pelaksanaan pada bulan ke-1 atau paling lambat bulan ke-12 di tahun ke-7 dan/atau di tahun ke-8. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (4) huruf c: 1. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (4) huruf a dan huruf b: 1. bulan. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 5 . Hak Cuti Besar diberikan selama 2 (dua) bulan untuk setiap Periode dengan pilihan pelaksanaan: a. terhadap pilihan sebagaimana tersebut angka 1 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apa pun. Form pengajuan untuk melepaskan hak Cuti Besar secara keseluruhan dalam suatu Periode. berhak atas Tunjangan Cuti Besar sebesar: 0. dan 1 (satu) bulan di tahun ke-8 dengan rentang waktu dimulainya pelaksanaan yaitu masing-masing pada bulan ke-1 sampai dengan paling lambat pada bulan ke-12 sejak timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 dan di tahun ke-8 tersebut. Mengubah Pasal 14 sampai dengan Pasal 18 menjadi sebagai berikut : Pasal 14 Persyaratan Umum dan Tunjangan Cuti Besar (1) (2) Cuti Besar diberikan kepada Pegawai dengan maksud memberikan kesempatan beristirahat untuk kesegaran jasmani dan rohani atau untuk keperluan lain.

2 (dua) bulan Penghasilan atas pekerjaan yang dilakukan sebagaimana biasa pada bulan yang bersangkutan. 2. sebesar 2 (dua) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL). Pasal 15 Melaksanakan Dan/Atau Melepaskan Hak Cuti Besar (1) (2) Pegawai yang memiliki hak Cuti Besar pada suatu Periode dapat memilih untuk: a. dengan ketentuan: a. Melepaskan seluruh hak Cuti Besar yang selama 2 (dua) bulan tersebut. 2. dengan dasar perhitungan di posisi bulan terakhir sebelum putus hubungan kerja. 6 . Kompensasi penggantian hak 1 (satu) bulan Cuti Besar yang tidak dijalankan. bulan. 2. maka akan diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak. sebesar 1 (satu) x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL). dan 3. dan melepaskan hak Cuti Besar yang 1 (satu) bulan. dan berlaku sebaliknya b. sehingga tidak berhak atas Tunjangan Cuti Besar. dan melakukan pekerjaan sebagaimana biasa. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf b: 1.25 x Tunjangan Cuti Besar. dengan mendapatkan: 1. (13) (14) untuk Uang Penggantian Hak atas tunjangan Cuti Besar. c. Melaksanakan hak Cuti Besar selama 1 (satu) bulan. dengan mendapatkan 1 x Tunjangan Cuti Besar. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan secara tegas mengenai pelepasan hak Cuti Besar secara keluruhan dalam suatu Periode. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf a berlaku ketentuan Pasal 14 ayat (5). diberikan Tunjangan Cuti Besar yang seharusnya diterima. dengan dasar perhitungan di posisi bulan pertama hak Cuti Besar di tahun ke-7 atau di tahun ke-8 (tergantung hak Cuti Besar di tahun keberapa yang dilepaskan). dengan ketentuan: 1. Pegawai yang berakhir hubungan kerja-nya dengan Perusahaan tetapi masih mempunyai hak Cuti Besar beserta tunjangan-nya yang belum gugur. 2. dan 3. untuk Uang Penggantian Hak atas hari dan tunjangan Cuti Tahunan. jika setelah berselang 1 (satu) bulan Pegawai berakhir hubungan kerjanya sehingga mengakibatkan hak Cuti Besar atau hak Cuti Tahunan menjadi tidak dapat dilaksanakan. dengan dasar perhitungan di posisi bulan pertama hak Cuti Besar di tahun ke-7. dengan rumus: Upah Pokok + Tunjangan Tetap 25 β= 3. 1. c. Pegawai yang sedang menjalankan cuti yang lain tidak dapat mengajukan Cuti Besar. c. dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan secara tegas mengenai hak Cuti Besar di tahun ke berapa yang akan dilepaskan. b. dengan ketentuan: a. untuk Uang Penggantian Hak atas hari Cuti Besar. Untuk pilihan pelaksanaan sebagai dimaksud pada ayat (1) huruf c: 1. sesuai ketentuan Pasal 13. pilihan sebagaimana dimaksud pada angka 1 tidak dapat diubah di kemudian hari dengan alasan apapun. 2. jika hak Cuti Besar yang akan dilepaskan berada di tahun ke-8. di tahun ke-7 atau di tahun ke-8.125 x Tunjangan Cuti Besar. dengan mendapatkan: 1. Kompensasi penggantian hak 2 (dua) bulan Cuti Besar yang tidak dijalankan. pelaksanaan Cuti Besar wajib berselang 1 (satu) bulan atau lebih dari pelaksanaan Cuti Tahunan. maka di dalam form pengajuan Cuti Besar wajib dicantumkan tanggal. maka hak Cuti Besar beserta tunjangannya tersebut diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak dengan rumusan sebagaimana tersebut pada ayat (12) huruf c angka 2 dan angka 3. x β Jumlah hari Cuti Besar yang belum dijalankan. Pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dicantumkan secara tegas dalam form pengajuan Cuti Besar. Melaksanakan seluruh hak Cuti Besar selama 2 (dua) bulan dengan pilihan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) huruf a sampai dengan huruf c. b. dan tahun mulai pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-7 yang akan dilaksanakan. Uang Penggantian Hak sebagaimana dimaksud pada huruf b berupa penggantian hari cuti yang tidak dapat dijalankan ditambah dengan tunjangan cuti yang seharusnya diterima.(12) Hak Cuti Tahunan dan Tunjangan Cuti Tahunan masih tetap ada pada suatu tahun yang di dalamnya terdapat hak Cuti Besar. 1 (satu) bulan Penghasilan atas pekerjaan yang dilakukan sebagaimana biasa pada bulan yang bersangkutan. 1.

dengan tidak menunda pembayaran Tunjangan Cuti Besar.(3) (4) (5) (6) jika hak Cuti Besar yang akan dilepaskan berada di tahun ke-7. di kemudian hari tidak dapat diubah dengan alasan apapun. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (1) dan/atau ayat (4) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. Cuti Besar dapat disela jika Pegawai telah melaksanakan Cuti Besar sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari. maka hak Cuti Besar pada tahun ke-7 secara otomatis beralih ke tahun ke-8. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai untuk menangguhkan pelaksanaan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak berlaku. Jika setelah melewati rentang waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pegawai masih belum melaksanakan/melepaskan Cuti Besar. 4. pelaksanaannya dilakukan pada kesempatan lain tanpa harus memperbarui permohonan Cuti Besar. Pasal 17 Penangguhan Cuti Besar (1) (2) (3) (4) (5) (6) Cuti Besar dapat ditangguhkan pelaksanaannya oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis melalui dokumen tercetak berdasarkan alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). maka hak Cuti Besar tersebut harus sudah dapat dilaksanakan sebelum 6 (enam) bulan terlewatinya bulan ke-12 di tahun ke-8. 7 . Penangguhan Cuti Besar hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis. dan tahun dimulainya pelaksanaan dan berakhirnya Cuti Besar di tahun ke-8 dicantumkan ketika pengajuan Cuti Besar di tahun ke-8. Paling lambat 12 (dua belas) bulan dari sejak hari pertama timbulnya hak Cuti Besar pada tahun ke-8. tanpa menghilangkan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) atau hak yang timbul sehubungan ketentuan mengenai kompensasi sebagai akibat rentang waktu pelaksanaan Cuti Besar yang terlewati karena penangguhan atau penyelaan Cuti Besar. terhadap pilihan yang sudah diajukan sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampai dengan angka 3. maka hak Cuti Besar pada Periode tersebut gugur (hangus) dan kehilangan hak atas Tunjangan Cuti Besar dan/atau hal sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 ayat (1) huruf b. Jika Cuti Besar yang ditangguhkan adalah hak pada tahun ke-7. Jika Cuti Besar yang ditangguhkan adalah hak pada tahun ke-8. bulan. dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat ditangguhkan. Sisa Cuti Besar yang disela. Pasal 18 Penyelaan Cuti Besar (1) (2) (3) Pegawai yang sedang melaksanakan Cuti Besar dapat dipanggil secara tertulis untuk bekerja kembali oleh Pejabat yang berwenang berdasarkan alasan-alasan sebagaimana dimaksud pada Pasal 9 ayat (1). maka hak Cuti Besar tersebut baru dapat dilaksanakan 6 (bulan) sejak ditangguhkan dengan memperhatikan rentang waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2). untuk waktu paling lama 6 (enam) bulan dan tidak dapat diperpanjang. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai untuk melepaskan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak berlaku. Jika Pejabat yang berwenang memberikan izin Cuti Besar bermaksud untuk memerintahkan Pegawai agar melepaskan hak Cuti Besar-nya. maka penentuan tanggal. dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat dilepaskan. maka hal tersebut harus dituangkan dalam perintah tertulis melalui dokumen tercetak. Pasal 16 Rentang Waktu Mengajukan Hak Cuti Besar 3. Ketentuan ayat (1) sampai dengan ayat (3) berlaku pula untuk Cuti Besar yang tidak dilaksanakan karena ditangguhkan atau disela oleh Pejabat yang berwenang. (1) (2) (3) (4) Jika setelah melewati 12 (dua belas) bulan dari sejak hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 Pegawai tidak mengajukan Cuti Besar. termasuk hak Cuti Besar tahun ke-7 yang ditangguhkan sebagaimana tersebut pada ayat (2). dengan ketentuan tidak melewati waktu 6 (enam) bulan sejak berakhirnya bulan ke-12 di tahun ke-8. Pegawai harus sudah melaksanakan/melepaskan Cuti Besar. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (4) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. Kompensasi penggantian hak Cuti Besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak sama dengan Uang Penggantian Hak dalam hal kompensasi PHK.

d. (7) (8) (9) 8. dan e. Untuk 1 (satu) Periode yang terakhir dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1) dengan mengingat ketentuan Pasal 16. Pasal 18B Aturan ke-2 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (7) merupakan pelanggaran terhadap Pasal 77 Peraturan Disiplin Pegawai. belum pernah melaksanakan Cuti Besar. belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. belum berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 24 (dua puluh empat) tahun berdasarkan Peraturan Lama. dengan dasar perhitungan berupa komponen Tunjangan Cuti Besar yang sudah dibayarkan sebelumnya. penggantian hak sisa Cuti Besar yang tidak dijalankan dengan rumus: ά β ά= β= γ= x γ Jumlah hari Cuti Besar yang disela. belum mengambil kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama c. maka Pegawai dianggap telah diperintahkan untuk melepaskan hak sisa Cuti Besar yang disela. c. sudah berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 24 (dua puluh empat) tahun berdasarkan Peraturan Lama. Jumlah hari dalam bulan yang bersangkutan pada saat seharusnya dilaksanakan Cuti Besar. Apabila dapat dibuktikan bahwa ketika dipanggil pegawai sedang menjalankan Cuti Besar di luar kota dimana ia bekerja sebagaimana tercantum dalam surat permohonan Cuti Besar. maka hal tersebut harus dituangkan dalam perintah tertulis melalui dokumen tercetak. Jika setelah terlewatinya waktu 6 (enam) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pegawai masih belum mendapatkan ijin untuk melanjutkan pelaksanaan Cuti Besar. Segala bentuk Surat Pernyataan dari Pegawai yang berisi penyelaan hak Cuti Besar-nya tanpa didukung perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dinyatakan tidak berlaku. Jika Pejabat yang berwenang memberikan izin Cuti Besar bermaksud untuk menyela pelaksanaan hak Cuti Besar Pegawai. sudah berhak atas kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun berdasarkan Peraturan Lama.5 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. sesuai yang tercantum dalam Surat Izin Cuti Besar Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL diposisi bulan pada saat seharusnya dilaksanakan Cuti Besar. maka terhadap 3 (tiga) Periode yang tidak dilaksanakan dinyatakan gugur. dan Pegawai harus melaksanakan hak Cuti Besar-nya tanpa dapat disela. sesuai yang tercantum dalam Surat Izin Cuti Besar b. belum pernah melaksanakan Cuti Besar. (6) kekurangan Tunjangan Cuti Besar sebesar: 0. sampai dengan Pasal 18I sebagai berikut: Pasal 18A Aturan ke-1 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. 8 (1) (2) (3) (1) . sehingga untuk setiap 1 (satu) bulan Cuti Besar yang disela berhak mendapatkan: a. maka sisa Cuti Besar tersebut diperhitungkan sebagai Uang Penggantian Hak. b.125 x Tunjangan Cuti Besar. dan d. yang dijadikan Pasal 18A. dengan mendapatkan kompensasi sebesar 0. Hak Cuti Besar selanjutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. belum mengambil kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama.(4) (5) Jika Pegawai tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan sisa Cuti Besar yang disela karena disebabkan berakhirnya hubungan kerja dengan Perusahaan.75 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. maka terhadap 2 (dua) Periode yang tidak dilaksanakan dinyatakan gugur. dengan mendapatkan kompensasi sebesar 0. Menambahkan 9 (sembilan) ketentuan baru diantara Pasal 18 dan Pasal 19. maka kepadanya diberikan biaya perjalanan dinas yang diperhitungkan dari alamat tersebut. b.

25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. 0. maka hak Cuti Besar-nya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. jarak waktu antara hari terakhir pelaksanaan Cuti Besar yang terakhir dengan hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 tidak kurang dari 36 (tiga puluh enam) bulan. Hak Cuti Besar selanjutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. 0. sehingga kepada Pegawai tersebut sejak diberlakukannya Amandemen Peraturan ini diperbolehkan untuk mengajukan Cuti Besar sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1). 0. 0. Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku jika dihitung hak Cuti Besar berikutnya berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun Pegawai berada pada posisi sudah pensiun atau dalam posisi berhak Cuti Masa Persiapan Pensiun. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diberikan: a. dan b. ditambah dengan b. untuk kompensasi masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau 24 (dua puluh empat) tahun. dari sejak tanggal mengambil kompensasi tersebut sampai dengan diberlakukannya Amandemen Peraturan ini pernah melaksanakan Cuti Besar. maka hak Cuti Besar berikutnya timbul berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. dan b. Ketentuan ayat (3) dan ayat (4) tidak berlaku jika ketika dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun.5 x Tunjangan Cuti Besar. maka hak Cuti Besar berikutnya tersebut dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1).5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. dan kepada Pegawai tersebut sejak diberlakukannya Amandemen Peraturan ini diberikan kesempatan untuk mengajukan Cuti Besar sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1). untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau 24 (dua puluh empat) tahun. (1) (2) (3) (1) (2) (3) (4) (5) 9 . Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. pernah mengambil kompensasi Hak Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama.Tetap + TAL). maka hak Cuti Besar berikutnya tersebut harus dilepaskan. dari sejak tanggal mengambil kompensasi tersebut sampai dengan diberlakukannya Amandemen Peraturan ini belum pernah melaksanakan Cuti Besar. dengan mendapatkan: a. Pasal 18C Aturan ke-3 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. ditambah dengan b.(2) (3) Untuk 1 (satu) Periode yang terakhir dapat diajukan sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1) dengan mengingat ketentuan Pasal 16. jarak waktu antara hari terakhir pelaksanaan Cuti Besar yang terakhir dengan hari pertama timbulnya hak Cuti Besar di tahun ke-7 kurang dari 36 (tiga puluh enam) bulan. pernah mengambil Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. Kompensasi sebesar: 2 x (Upah Pokok + Tunj.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Peraturan ini diberlakukan. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun terdapat Periode yang gugur karena mengingat ketentuan rentang waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. dan b. 0. Pasal 18D Aturan Ke-4 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan pada bulan saat Peraturan ini diberlakukan. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diganti dengan: a. hak Cuti Besar yang berikutnya bagi Pegawai berada pada posisi sudah pensiun atau dalam posisi berhak Cuti Masa Persiapan Pensiun. dan dihitung dari sejak tanggal mengambil Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama terdapat Periode yang gugur karena mengingat ketentuan Pasal 16.

Terhadap Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku ketentuan Pasal 18D ayat (3) dan ayat (4). maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diberikan kompensasi berupa: a. ditambah dengan b. maka hak Cuti Besar yang belum dijalankan tersebut dinyatakan gugur. pernah mengajukan Cuti Besar dan telah mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya. b. untuk masa kerja 18 tahun atau 24 tahun. dan c. belum pernah mengambil Tunjangan Cuti Besar. maka hak Cuti Besar berikutnya dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. maka hak Cuti Besar berikutnya bagi Pegawai tersebut dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan mengingat ketentuan Pasal 16. (1) (2) (3) (1) (2) (3) 10 .25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. maka untuk setiap Periode yang gugur tersebut diganti dengan: a. b. Jika berdasarkan keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat Periode yang gugur. Pasal 18G Aturan Ke-7 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. 0. terdapat Periode yang gugur karena ketentuan Pasal 16.5 x Tunjangan Cuti Besar dengan dasar perhitungan posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. 0.(1) (2) Pasal 18E Aturan Ke-5 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. dan b. belum pernah melaksanakan Cuti Besar. 0. tidak termasuk ke dalam kategori yang berhak atas Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. Jika Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melaksanakan Cuti Besar-nya bukan karena diperintahkan/ditangguhkan oleh Pejabat yang berwenang berdasarkan perintah tertulis. tidak melaksanakan Cuti Besar-nya tersebut sama sekali. maka hak Cuti Besar berikutnya bagi Pegawai tersebut dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan memperhatikan ketentuan Pasal 16 Sisa hak Cuti Besar yang belum dilaksanakan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) wajib dilepaskan. pernah melaksanakan Cuti Besar termasuk mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya.25 x Upah Pokok di posisi bulan pada saat Amandemen Peraturan ini diberlakukan. Pasal 18F Aturan Ke-6 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. tidak termasuk ke dalam kategori yang berhak atas Kompensasi Cuti Besar berdasarkan Peraturan Lama. karena diperintahkan/ditangguhkan oleh Pejabat yang berwenang secara tertulis. dan untuk setiap 1 (satu) bulan Cuti Besar yang tidak dilaksanakan tersebut diganti dengan: 1 x (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + TAL) pada posisi bulan dimana Pegawai yang bersangkutan mengambil Tunjangan Cuti Besar. Jika berdasarkan perhitungan kelipatan 6 (enam) tahun masa kerja. ditambah dengan b. 0.

dengan dasar perhitungan posisi bulan dimana Pegawai yang bersangkutan mengambil Tunjangan Cuti Besar Jika Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melaksanakan sebagian Cuti Besarnya bukan karena disela Pejabat yang berwenang berdasarkan perintah tertulis. Jika Pegawai tidak dapat membuktikan keabsahan surat keterangan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b. c. (1) (2) 9. yang perawatannya tidak menjalani rawat inap. maka hak Cuti Besar berikutnya dihitung berdasarkan kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun dengan memperhatikan ketentuan Pasal 16 Sisa Cuti Besar yang belum dilaksanakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilepaskan dengan memperoleh hak sebagaimana ketentuan Pasal 18 ayat (5) huruf a. hanya diberikan toleransi untuk diberikan Cuti Sakit Keterangan Dokter secara akumulatif selama 24 (dua puluh empat) hari kerja. dan/atau berdasarkan hasil sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c dan/atau huruf d. pernah mengajukan Cuti Besar dan telah mengambil Tunjangan Cuti Besar-nya. Pasal 18I Ketentuan Cuti Besar Pasca Peralihan Setelah pasca peralihan Cuti Besar sebagaimana diatur dalam Pasal 18A sampai dengan Pasal 18H. dan b. Mengubah Pasal 20 menjadi sebagai berikut: Pasal 20 Cuti Sakit Keterangan Dokter Yang dimaksud dengan Cuti Sakit Keterangan Dokter adalah tidak dapat melakukan pekerjaan karena sakit. Mencabut ketentuan Pasal 22 mengenai Cuti Sakit Rawat Jalan Tingkat Lanjutan. serta diproses sesuai Peraturan Disiplin Pegawai. Dalam 1 (satu) tahun takwim. Ketentuan mengenai Cuti Besar selanjutnya mengacu kepada Pasal 14 sampai dengan Pasal 18. Jika setelah mencapai waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pegawai masih memerlukan Cuti Sakit Keterangan Dokter. tidak melaksanakan sebagian Cuti Besar-nya karena disela Pejabat yang berwenang dengan terdapat bukti tertulisnya. serta salinan resep obat yang bersangkutan. Cuti Sakit selama 3 (tiga) hari atau lebih diberikan atas dasar permohonan tertulis. Dokter yang memeriksa dan melakukan perawatan harus dokter yang ditunjuk oleh Perusahaan. dan untuk Cuti Sakit kurang dari 3 (tiga) hari diberikan atas dasar pemberitahuan dari Pegawai yang bersangkutan. maka dilakukan pengurangan penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku. b. berdasarkan surat keterangan dokter. guna penyembuhan secara komprehensif agar tidak selalu mengalami sakit di kemudian hari. dengan diantaranya memperlihatkan salinan medical record dan/atau resume diagnosa dokter. Perusahaan dapat memerintahkan agar kepada Pegawai melakukan pemeriksaan dan pengobatan kesehatan ke rumah sakit atau dokter yang ditunjuk oleh Perusahaan. Perusahaan dapat melakukan penelitian dan penelusuran mengenai keabsaham surat keterangan dokter yang ditunjukan oleh Pegawai. termasuk rawat jalan tingkat lanjutan pasca rawat inap. dan/atau d. maka: a.(1) (2) (3) Pasal 18H Aturan Ke-8 Peralihan Cuti Besar Pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut secara kumulatif: a. Permohonan atau pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Pimpinan Unit Kerja dengan melampirkan asli surat keterangan dokter. secara berselang maupun berturut-turut. 11 . maka sisa Cuti Besar yang belum dijalankan tersebut dinyatakan gugur. Pegawai harus dapat membuktikan keabsahan surat keterangan dokter yang ditunjukkan. tidak berlaku lagi ketentuan kompensasi Cuti Besar untuk masa kerja 18 (delapan belas) tahun dan 24 (dua puluh empat) tahun. (1) (2) (3) (4) (5) (6) 10. diketahui bahwa surat keterangan dokter yang ditunjukan Pegawai diragukan keabsahannya.

Pegawai harus sudah masuk kerja. kecuali Tunjangan Tidak Tetap. 4 (empat) bulan selanjutnya Tunjangan Tetap-nya dibayar 25% (dua puluh lima perseratus). Mengubah ketentuan Pasal 31 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Cuti Haid diberikan selama 2 (dua) hari kerja. Menambahkan 1 (satu) ketentuan baru setelah Pasal 34 ayat (3). dengan ketentuan jumlah keseluruhannya tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. Cuti Bersalin tidak membatasi jumlah kelahiran anak. 16. c. Mengubah ketentuan Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) menjadi sebagai berikut: Pasal 37 Berakhirnya Masa Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan. Mengubah ketentuan Pasal 29 menjadi sebagai berikut: Pasal 29 Cuti Gugur Kandungan Pegawai yang mengalami gugur kandungan berhak istirahat tidak masuk kerja selama 1 (satu) bulan dan 15 (lima belas) hari atau sesuai surat keterangan dokter kandungan/bidan. Mengubah ketentuan Pasal 33 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Lamanya waktu tidak bekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sesuai dengan waktu pelaksanaan ibadah yang secara resmi ditetapkan oleh Departemen Agama RI. 7 (tujuh) hari sebelum pemberangkatan dari tempat kediaman. tetapi dapat membatasi pemberian bantuan persalinan (jika ada). (1) (2) 12 . 4 (empat) bulan pertama Tunjangan Tetap-nya dibayar 100% (seratus perseratus). Mengubah ketentuan Pasal 24 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Pegawai yang menjalani Cuti Sakit Rawat Inap penghasilannya diatur sebagai berikut: a. dengan tetap berhak atas Cuti Tahunan. dengan tetap berhak atas Cuti Tahunan. ditambah dengan: a. Setelah selesai menjalankan Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan. d. (1) (2) 14. dan b. 7 (tujuh) hari setelah pendaratan tiba di tanah air. Mengubah ketentuan Pasal 28 menjadi sebagai beriktu: Pasal 28 Cuti Bersalin Cuti Bersalin diberikan kepada Pegawai yang melahirkan selama 90 (sembilan puluh) hari. Selama menjalankan Cuti Bersalin Penghasilan dibayarkan penuh. Pegawai yang menjalankan Cuti Bersalin wajib melaporkan tanggal kelahiran anak kepada pimpinan unit kerja. dan jika tidak masuk kerja maka berlaku ketentuan mengenai mangkir. Pegawai harus melapor kepada Pejabat yang berwenang. Cuti Bersalin dilaksanakan 30 (tiga puluh) hari sebelum melahirkan dan 60 (enam puluh) hari setelah melahirkan. Selama menjalankan Cuti Bersalin Penghasilan dibayarkan penuh. 4 (empat) bulan kedua Tunjangan Tetap-nya dibayar 75% (tujuh puluh lima perseratus). 4 (empat) bulan ketiga Tunjangan Tetap-nya dibayar 50% (lima puluh perseratus). 15.11. 12. 17. (1) (2) (3) (4) (5) 13. b. kecuali Tunjangan Tidak Tetap. yang dijadikan ayat (4) sebagai berikut: (4) Pegawai wajib melaksanakan Cuti Bersama yang berkaitan dengan Hari Raya Keagamaan yang utama sesuai dengan keyakinan yang dianutnya.

Yth. 22. Amandemen/Perubahan Peraturan Cuti Pegawai ini berlaku sejak tanggal 01 Oktober 2010. THR. Penjelasan atas Amandemen Peraturan Cuti Pegawai ini sebagaimana terlampir sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.18. dan Biaya Pembelian Pakaian Kerja. kecuali Cuti Besar dan Cuti Di Luar Tanggungan Perusahaan. 2. Mengubah ketentuan Pasal 41 ayat (2) menjadi sebagai berikut: (2) Pegawai Tidak Tetap berhak atas seluruh hak cuti sebagaimana yang diatur dalam Peraturan ini.300323/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai.. Penghasilan dibayarkan penuh (kecuali Tunjangan Tidak Tetap) termasuk Jasa Produksi. DPP dan DPD Serikat Pekerja Pegadaian. 13 . Khusus untuk PNU yang berupa Lumpsum BBM. sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direksi Nomor: 3871/SDM. Demikian disampaikan untuk diketahui dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. (1) (2) 19. Mengubah ketentuan Pasal 39 menjadi sebagai berikut: Pasal 39 Penghasilan Selama Cuti Masa Persiapan Pensiun Selama menjalankan Cuti Masa Persiapan Pensiun.Anggota Direksi Perum Pegadaian. disesuaikan dengan ketentuan mengenai pemegang kendaraan dinas. Mencabut ketentuan Pasal 47 mengenai Penggantian Hak Cuti Dengan Uang. 21. Tembusan: 1. 20.

. . . . . . . Unit Kerja : . . . Selama menjalankan cuti alamat saya di . ... 1 (satu) bulan dilepaskan/tdk dijalankan Karena . . . . . ... .. . . .. .. ... Catatan Pertimbangan Atasan Langsung . Yang bertandatangan dibawah ini : Nama : .. ... . .. . .. 5) Dengan ini mengajukan permohonan : 6} I. . . .. . . . .………………………. . .. . Cuti Besar.) Nik. . .. . ... . . . . . . . . .d .. . . .. . . . ... Dilaksanakan/dijalankan pada tahun ke-7 terhitung Mulai tanggal .. .. .. . . . . . . .. . . ..……………. .. . . . . . . . . . . . .... . . ... . b. 1 (satu) bulan dilaksanakan/dijalankan terhitung Mulai tanggal .. .... . . . . .. . . . . . .... . . . . . .. Dilaksanakan/dijalankan pada tahun ke-8 terhitung Mulai tanggal . ... . . . . ... 9).. . . . . . . .. .. .... . . . . . . .. .. . . . .. . . .. . ......300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 ……………….. . .. . . . . .. . . . . . . . . .. . . .. . . .. 7).. . ... .Lampiran II Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM... 2) Kepada. . .. . . . ... . .. . .. .. . . . . . . . . . .d . ... . . . . .. Catatan : Di isi ketika mengajukan form pengajuan cuti besar di tahun ke-8 (di isi kemudian pada saat akan melaksanakan cuti besar ditahun ke-8) 2. . ..... .. . . . ... . . . .. . .. . . .. . . . . . .. . . .) Nik.. . .... . . . . . . . . . . .d . . . . . ... . . .) Nik.. . . . . . . . . . . . . .. .. . . .. Nik : . . ... . ..... . ... .. . a. . . . .. . . .. . . . . .... . . .. .... ... . ... . . . .s. . .. . .... ... ... .. Dengan Pilihan : 1 (satu) Bulan dilaksanakan dan 1 (satu) Bulan di lepaskan a. ... . . . . . Telepon . . . . .. . . . .. . . Jabatan : . . . .. . . 10) (.. .. .. . ... 4) di ………………... . . .... .. . .... . . . .. . .... .. . . .. . . . . . . . . . . ...d .. . . . . . . . . . . . . . . . Hormat Saya Catatan: mohon untuk dibayarkan biaya cuti tahunan/cuti besar saya……11) Catatan Pejabat Atasan Dari Atasan Langsung . . . . s. .. ..... . . . .... . . . . .. . .. . . . . . .. . . .. . 3) Melalui Yth.. . . . .. . . Yth. . . .. . . . . . .. .. .. . Cuti . (. selama 2 (dua) bulan. . . . . .. . . ... . ..……………1) Perihal : Permohonan cuti . . .. . . . Selama : . .. Terhitung mulai tanggal . . . s.. .. .. . . . . .... .. . . . . . . ... ... ... . .. .. .. Demikian permohonan cuti ini saya buat untuk dapat dipertimbangkan sebagaimana mestinya. . . . . . ... . . .. .. . . . . .. . Dengan Pilihan : 2 (dua) Bulan dilepaskan/tidak dijalankan 3. . .. (... .. ... .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . sbb : 1. ... . . .. .. . . . .. . .. ... .. . . . . . s. . .. . . . . . . . . ... ... . . . . . . . . .. 14 .……………. .. . . . . ..... .. .. . . . .... . . ... . .. . . . . . . .. . .. . .. b. . . . ... .. . .. . II...8) . ... ...... . Dengan Pilihan : 2 (dua) Bulan dilaksanakan/dijalankan a. . .. . . . . . . .. . . ... . .. .. ... . .. . . . b. . . . . .. .

.…………………….. . .. .. dengan ketentuan sebagai berikut : 1. .. ... .. . .. Hak-hak pegawai selama menjalankan cuti diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku... . ……………. .. .... Sebelum menjalankan cuti wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk. . ..... : . .. . 6) b. . Tembusan : a. .. . . . :.. . ..Lampiran III Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. . .. .. .... .. kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :. . ........ .. 3. ... . .... . ...... 1) NOMOR : /SDM. . ..... . . . .. . . ..300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI ………………….. . .... ..... . ... . .. .... ...... ... . . .. Diberikan ijin cuti ……………………………………….. .. . . 4) …………………………………………….. . . . ..………………………. ..…….. terhitung mulai tanggal …. .. Demikian surat ijin cuti besar ini diberikan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.. ... Pertinggal 15 . ../………/20…. ... . 7) c. 2. . . .... 5) (.. 3) Selama ……… (…………….. .... . . . .. ... . .2).....……………) ……………………………….. .. . . :... Selesai menjalankan cuti wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya... . . .. .. .. . .. . .….. . . .……………………………….. …. ........ .....sampai dengan tanggal ………………. . ....) .. ... . ..... . …………………………………. . ..... . ... ... ..

. . . ... .. .. . Selama menjalankan cuti besar berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.. Tembusan : a. .. kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :... ... ... .... . .. . 5) (...... .………. 3. 2.. ..... . ...... . . . . . . . .Lampiran IV .. ....) Bulan. . : .... . . . .. .. ... . :... .. .. .. .. :.. .. . Sebelum menjalankan cuti besar wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk. ...... Diberikan cuti besar.A Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. .. (…………... . . ../………/20…. . Selama menjalankan cuti besar berhak menerima gaji/penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.…. ………………………………….……………………. . .. . .. Pertinggal 16 ... …………….. .. .d Selama …….... . ..) . . . . .. ......……… ………………. ... ... . . .. ... .. . ..300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar seluruhnya dilaksanakan) NOMOR : /SDM..... .. . .... .. . . .. .. .. . periode …………. .. Selesai menjalankan cuti besar wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya.. . . .... 4...…………. . . .. . .. ... Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya..... . ... . ... ..... . 3) s.. . . ...... .. dengan ketentuan sebagai berikut : 1... ..... 4) ……………………………………………. .. . …….... .. 5. . .. . 6) b. .. ... . . 7) c. ..

.. . . ... .. .……… dengan ketentuan sebagai berikut : 1.. .) .. Tembusan : a..….. . . . . . . . ... . .. . .. .... .... ... .... . . …………/………/20….. Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya... . . .. .. .... . .. :.. ... .. . .. . .. .. .... Pertinggal 17 .. .. . .. ... kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :. ... 7) c... 2. . .300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar Tidak dilaksanakan/di lepas) NOMOR : /SDM.. .. . .. ..... .B Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM.. …………………………………. . ... .. 4) ……………………………………………. …………….………...... . . . ... 5) (. .... . . .... .. . ... :..... Dengan dilepasnya hak cuti besar tersebut maka wajib melaksanakan pekerjaannya sebagaimana mestinya. . . 3) besar yaitu tanggal Terhitung mulai tanggal pelepasan/menjual hak cuti ……………. .. . ..... .Lampiran IV . ... .. ... . ... 6) b.. .. .. ... .. . . : .. ..... . ... . . ... ...... ... 3.. .. . . .. .. .... ....... . . . .. .... ... .. Diberikan Pelepasan/menjual Hak cuti besar.. .. . . .. . Berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ..

... .. ... ... 6) b. . ... Selesai menjalankan cuti besar wajib melaporkan diri kepada atasan langsung dan bekerja kembali sebagaimana mestinya. . . . . . 4.. .. .. .... . .. ...………… ………………. . . ..... ....... .… s... .. . Hak cuti besar berikutnya akan timbul pada tanggal …………… Demikian surat ijin cuti besar ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya... ... . 4) ……………………………………………. .... . . . . . ...d ……... Diberikan cuti besar... . .. . Selama menjalankan cuti besar wajib menyerahkan pekerjaannya kepada atasan langsungnya atau pejabat lain yang ditunjuk.... . . .... .. . ... 5) (.... 3... . dengan ketentuan sebagai berikut : 1..... .... ... .... . : .... . . .. . .. . . .C Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM.... ..300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 SURAT IZIN CUTI BESAR (Hak cuti besar Sebagian dilaksanakan) NOMOR : /SDM...... .... . .... ... .. . . .. ... .. :. . dan untuk 1 (satu) bulan sisa hak cuti tidak dilaksanakan (melaksanakan tugas seperti biasanya).Lampiran IV .. . . . . . . ... . ... 5.) . …………….. …………………………………. ... .. . Selama menjalankan cuti besar berhak atas biaya cuti besar yaitu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.... . . .. 3) Selama 1 (satu) bulan periode : …………………………………………….……..…/20…. . kepada pegawai Perum Pegadaian : Nama Nik Jabatan Unit Kerja :.. . .. . . Selama menjalankan cuti besar berhak menerima gaji/penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ../……. ..... Tembusan : a. ... .. . .. ... . . :. ... Pertinggal 18 .. ... . 2... . .. .... . .. . .... . ………. . . .. 7) c.

5) Diisi jabatan Pejabat yang memberikan atau menandatangani surat izin cuti. ditangguhkan atau tidak disetujuinya cuti yang diajukan. 7) Diisi Manajer Keuangan/JM Tresuri (untuk cuti yang sudah dibayar biaya cutinya atau tidak ada biaya cutinya tidak perlu dibuat tembusannya). 11) Diisi apabila biaya cuti belum diambil/dibayarkan dan dikehendaki untuk dibayarkan. 7) Hanya Untuk : a. c..Lampiran V Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. ditambah dengan pernyataan :’dan saya bersedia menerima segala akibat yang timbul mengenai hak-hak dan status kepegawaian saya selama dan setelah diambilnya cuti di luar tanggungan perusahaan” 8) Dan 9) Diisi alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi selama menjalankan cuti. PETUNJUK PENGISIAN SURAT IJIN CUTI 1) Diisi jenis cuti yang diberikan izin. 3) Diisi Unit Kerja pegawai yang diberikan izin cuti (Cabang/Bagian/setingkat dan Kanwil/ Divisi/setingkat). 4) Diisi tempat dan tanggal surat izin cuti dibuat. Untuk cuti tahunan ditambah informasi untuk tahun berapa cuti diajukan. Cuti besar diisi :’karena saya telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus menerus” b. Diisi Unit Kerja pegawai yang mengajukan cuti (Cabang/Bagian/setingkat dan Kanwil/ Divisi/setingkat) 6) Diisi jenis cuti yang diajukan. Cuti di luar tanggungan perusahaan diisi : disamping alasan diambilnya cuti. Diisi jenis cuti yang diajukan Diisi jabatan Pejabat yang memberikan/menandatangani izin cuti yang diajukan Diisi jabatan Atasan Langsung pegawai yang mengajukan cuti. Cuti sakit dan cuti karena alasan penting diisi : alasan diambilnya cuti. 2) Diisi jenis cuti yang diberikan izin. 19 .300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 PETUNJUK PENGISIAN FORM PERMOHONAN CUTI 1) 2) 3) 4) 5) Diisi tempat dan tanggal permohonan cuti dibuat. 6) Diisi jabatan atasan langsung dari Pegawai yang diberikan izin cuti. untuk cuti bersalin ditambah informasi untuk persalinan anak keberapa. untuk cuti tahunan ditambah hak “cuti tahun …….” (tahun berjalan). 10) Diisi disetujui.

Peraturan Direksi Perum Pegadaian Nomor : 3871/SDM...... ....300322/2010 tanggal 09 Juni 2010 tentang Cuti Pegawai. 2... ... bulan g........ sampai dengan tanggal ………………… 20…....20…. .…………………….. 5....... Perum Pegadaian – Kantor Pusat Jl. . Masa kerja gol.. Kramat Raya 162.. ... . ) tahun.. d. h.... terhitung mulai tanggal ……….... Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor.. . ... .. .. .. TENTANG IZIN CUTI DI LUAR TANGGUNGAN PERUSAHAAN DIREKSI PERUM PEGADAIAN Membaca : Surat permohonan Saudara …………......) tahun …….... b. f. Jakarta 10010 Tel. Kotak Pos 1090.. NIK :..... (………...... N a m a :.. ..... .. ....... (021)324-967. perihal permohonan cuti di luar tanggungan Perusahaan. e. ... Tentang…… Menimbang : Mengingat : MEMUTUSKAN Menetapkan PERTAMA : : Memberikan izin Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan kepada : a.... : ……………….. 391-4221 20 ... Unit Kerja :. . 20……........ .. (………. Masa kerja gol..300323/2010 Tanggal : 25 Oktober 2010 KEPUTUSAN DIREKSI PERUM PEGADAIAN Nomor : /SDM…………/20….…. Untuk kenaikan Gaji berkala berikutnya : ……… (……. Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000 tentang Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian. Gaji Pokok : Rp ... ... tahun ... …….. Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Perum Pegadaian Nomor 3905/SDM... Jabatan :.. Pd.... Bahwa cuti yang diajukan adalah hak dan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Peraturan cuti Pegawai dan oleh karena itu dapat diberikan 1. ...... Tanggal…..... ... ... NIK : ………………..... ) bulan Selama ….. Pangkat / gol :..400324/2009 dengan Serikat Pekerja Pegadaian Nomor : 014/DPPSP/IV/2009 tanggal 1 April 2009.. Tgl.... .. tanggal ………………………………. c. 4... (021) 315-5550 (hunting) Fax.Lampiran VI Surat Edaran Direksi Perum Pegadaian Nomor : 87/S DM. Jakarta -10430....... 3... .. Surat Edaran No……...... .Kep-74/MBU/2008 tanggal 28 April 2008 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Direksi Perum Pegadaian. ..

yang bersangkutan dapat diberhentikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ditetapkan di : JAKARTA Pada Tanggal : ______________________________ Direksi. : Apabila tidak melaporkan diri secara lisan dan secara tertulis tepat pada waktunya tanpa alasan yang syah/dapat dipertanggungjawabkan. : Jangka waktu Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan tidak diperhitungkan sebagai masa kerja di Perusahaan : Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya cuti diluar tanggungan perusahaan yang bersangkutan diwajibkan melaporkan diri dan melapor secara tertulis kepada kepala unit kerjanya melalui atasan langsungnya.……… di ……………… PETIKAN Keputusan ini diberikan kepada yang bersangkutan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Kepala SPI Perum Pegadaian di Jakarta Jeneral Manajer Setingkat di kantor Pusat PERUM Pegadaian Pemimpin Wilayah Perum Pegadaian Kanwil ……………. KELIMA KEENAM SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada : 1.KEDUA KETIGA KEEMPAT : Selama menjalankan Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan yang bersangkutan tidak berhak menerima penghasilan dan fasilitas lainnya dari perusahaan. 3. di ……………… Manajer Keuangan Perum Pegadaian Kanwil ……. 2. : Apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. 4. SUMANTO HADI Direktur Umum dan SDM 21 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful