PENGARUH SERAT SERABUT KELAPA SEBAGAI BAHAN TAMBAH DENGAN FILLER SERBUK BENTONIT PADA HRS-BASE DAN

HRS-WC
JF. Soandrijanie Linggo Program Studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl. Babarsari 44 Yogyakarta Email : soandrijanie@mail.uajy.ac.id P. Eliza Purnamasari Program Studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta Email : eliza@mail.uajy.ac.id

ABSTRAKSI
Penelitian ini bermaksud memanfaatkan serat serabut kelapa dan filler serbuk bentonit untuk memberikan variasi additive dan filler dalam campuran perkerasan lentur. Penelitian sebelumnya yang menggunakan filler serbuk bentonit pada HRS-Base menunjukkan hasil yang baik pada kadar aspal tinggi, sedangkan penggunaan serat serabut kelapa dapat meningkatkan kualitas perkerasan Hot Rolled Asphalt (HRA). Berdasarkan data tersebut dilakukan penelitian dengan mengaplikasikan kedua bahan tersebut untuk mengetahui pengaruhnya terhadap HRS-Base dan HRS-WC. Penelitian ini dilakukan dengan membuat benda uji menggunakan perbandingan berat 3% additive serat serabut kelapa dan variasi filler serbuk bentonit dengan abu batu 4:0, 3:1, 2:2, 1:3, dan 0:4. Kadar aspal untuk masing-masing variasi 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, dan 10%. Selain itu juga sebagai pembanding dibuat HRS-Base dan HRS-WC tanpa menggunakan additive dan filler serbuk bentonit. Masing-masing variasi dibuat duplo, sehingga jumlah seluruh benda uji 144 buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan serat serabut kelapa sebagai bahan tambah dan filler serbuk bentonit pada HRS-Base hanya memenuhi syarat pada variasi 1 (bentonit:abu batu=4:0) dan variasi 4 (1:3) dengan kadar aspal 9%, serta variasi 3 dengan kadar aspal 9% dan 10%. Pada HRS-WC tidak ada yang memenuhi syarat, sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan pada HRSWC. Kata kunci : HRS-Base, HRS-WC, karakteristik Marshall, additive, filler.

ABSTRACT
This research means exploits coconut fiber and filler bentonite powder to give various additive and filler in diffract concreting mixture. Research before all using filler bentonite powder at HRS-BASE shows good result at high asphalt rate, while usage of coconut fiber can increase concreting quality Hot Rolled Asphalt ( HRA). Based on the data is by research with the application of both the material to know the influence to HRS-BASE and HRS-WC. This research show the influence of coconut fiber and bentonite to Marshall HRS-Base and HRS-WC characteristic value of specimen with 3% coconut fiber. Variation of bentonit and

236

Volume 7 No. 3, Juni 2007 : 236 – 252

(2005). HRS-WC.1. 3:1. abu batu kapur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa banyak penggunaan batu bentonit dan penambahan serabut kelapa akan mempengaruhi karakteristik campuran HRSBase dan HRS-WC. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.2 Aspal Menurut Sukirman. dan aspal dengan IP 60 atau 80 yang dicampur dalam keadaan panas dengan tebal padat antara 2. HRS-WC does not recommended. Lataston terdiri dari dua macam campuran yaitu lataston lapis fondasi (HRS-Base) dan lataston permukaan (HRS-WC) dengan ukuran maksimum agregat msing-masing campuran adalah 19 mm. atau bahan non plastis lainnya yang lolos ayakan No. 1:3. semen Portland. Filler atau material pengisi yang sering digunakan adalah abu batu. All the specimen compare with HRS-Base and HRS-WC without additive and bentonite. (2003) aspal yang digunakan sebagai material perkerasan jalan berfungsi sebagai: Pengaruh Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah dengan Filler Serbuk Bentonit Pada HRS-Base Dan HRS-WC (JF.. fill. HRS-Base mempunyai proporsi fraksi agregat kasar lebih besar daripada HRS-WC seperti pada tabel 1. Lataston juga disebut HRS (Hot Rolled Sheet) yang terdiri dari dua tipe yaitu HRS tipe A (Wearing Course) dan HRS tipe B ( Base course ). Penelitian ini hanya dibatasi pada perkerasan lentur jenis lataston tipe A (WC/Wearing Course) dan tipe B (Base Course) yang menggunakan aspal keras pen 60/70 . S. di desa Tanjung Harjo. Dengan menggunakan serbuk batu bentonit sebagai filler diharapkan dapat memperkaya variasi filler yang dapat digunakan. P. Marshall characteristic. Manfaat Penelitian ini adalah diharapkan dapat merekomendasikan penggunaan serbuk batu bentonit dan serat serabut kelapa dalam meningkatkan mutu perkerasan lentur jalan raya.stone ash are 4:0. 2. PENDAHULUAN Lataston merupakan lapisan permukaan yang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang. The result of this research show that the fullfill of term requirement result only in HRS-WC on variation 1 (bentonit : stone ash = 4 : 0) and variation 4 (bentonite : stone ash = 1 : 3) with asphalt content 9%. and 10%. Dari penelitian yang pernah dilakukan penggunaan filler batu bentonit membutuhkan kadar aspal yang cukup tinggi dan serat serabut kelapa dapat meningkatkan nilai karakteristik marshall pada campuran HRA. Kecamatan Nanggulan. kapur padam. 7%. and also variation 3 (bentonit : stone ash = 2 : 2) with asphalt content 9% and 10%. 8%.. Lataston Bina Marga. Yogyakarta. 200 sama atau lebih besar dari 75% berat filler abu batu. Keywords: HRS-Base. 1. 2:2. Soandrijanie Linggo. Asphalt content of each variation are 5%. dan bahan tambah serat serabut kelapa.filler serbuk bentonit.5 – 3 cm. mineral pengisi ( filler ). 6%. 2. additive. banyak terdapat batu bentonit. kabupaten Kulon Progo. 0:4. Eliza Purnamasari) 237 .

3.4. kemampuan untuk menyerap air. Sukirman. (Sukirman. S.0 18 68 800 3 250 75 2 BC 1. 2. Agregat Agregat didefinisikan secara umum sebagai formasi kulit bumi yang keras dan padat. agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan jalan.7 75 3. ASTM (1974) mendefinisikan agregat sebagai suatu bahan yang terdiri dari mineral padat. meningkatkan kerapatan dan stabilitas dari massa tersebut. S. asalkan bagian yang lolos saringan No. (2003).7 75 3..0 6.0 6. S. dan daya pelekatan dengan aspal. 238 Volume 7 No. 200 sama atau lebih banyak dari 75 % terhadap beratnya. Filler atau bahan pengisi ini akan mengisi rongga di antara partikel agregat kasar dalam rangka mengurangi besarnya rongga. Bahan Pengisi (Filler) Menurut DPU (1983). tekstur permukaan. yaitu 90-95% agregat berdasarkan persentase berat. filler adalah sekumpulan mineral agregat yang umumnya lolos saringan No. Sifat agregat yang menentukan kualitasnya sebagai material perkerasan jalan adalah gradasi. Juni 2007 : 236 – 252 Lataston WC Max Min Max Min Min Min Min Min Min 1. semen Portland. abu terbang. 3.0 17 68 800 3 250 75 2 . atau 75-85% agregat berdasarkan persentase volume.1. 1992) Sukirman. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dangan material lain. Bahan pengikat. Bahan pengisi. Sifat-Sifat Campuran Lataston Sifat – sifat campuran Penyerapan Aspal (%) Jumlah tumbukan per bidang Rongga dalam campuran (VITM) (%) Rongga dalam agregat (VMA) (%) Rongga terisi aspal (VFWA) (%) Stabilitas Marshall (%) Pelelehan (mm) Marshall Quotient (kg/mm) Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah perendaman selama 24 jam. Tabel 1. abu tanur semen atau atau material non plastis lainnya.. bentuk butir. filler dapat menggunakan debu batu kapur. kebersihan. 60o C Rongga dalam campuran (%) pada kepadatan membal (refusal) 2. berat jenis.. memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan agregat dan antara sesama aspal. kekerasan dan ketahanan agregat. (2003). berupa masa berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen. porositas. 200. 2. mengisi rongga antar butir agregat dan pori-pori yang ada di dalam butir agregat itu sendiri.

dalam Here. Jadi jumlah keseluruhan benda uji yang diperlukan sebanyak 144 buah. Scornov. 3. P. bagian debu harus dipisahkan terlebih dahulu dari seratnya. Sebagai bahan tambah pada campuran Hot Rolled Sheet (HRS)-Wearing Course. Publikasi mengenai pemanfaatan serat serabut kelapa sangat jarang dikarenakan serat serabut kelapa memiliki kerugian sebagaimana serat tumbuhan lainnnya dan peka terhadap kelembaban.(3:1). METODOLOGI PENELITIAN Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu : 1.. serabut kelapa terdiri dari dua bagian yaitu sel-sel serat dan sel-sel non serat atau debu yang lazim disebut Pith.tekmira. sehingga akan didapatkan Marshall properties yang terdiri dari : stabilitas.(1:3).3% dengan 5 variasi filler serbuk bentonit:abu batu {(4:0). Serat serabut kelapa Hannant. Serat serabut kelapa sangat tahan lama di bawah kondisi cuaca normal. Soandrijanie Linggo.2.(2:2).Hasil pemeriksaan tersebut disajikan dalam tabel 2.(0:4)}. density dan Marshall Quotient. Pengaruh Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah dengan Filler Serbuk Bentonit Pada HRS-Base Dan HRS-WC (JF.1. pemeriksaan bahan ikat aspal. flow/kekentalan plastis.esdm. 4. 1 variasi penambahan serabut kelapa 0. 2. Bentonit Bateman (1950) dalam Triwibowo. serta 6 variasi kadar aspal untuk keadaan normal(tanpa additive dan serbuk bentonit). Void Filled With Asphalt (VFWA). dan hasil pengujian dengan metoda Marshall untuk HRS-B dan HRS-WC.5. Hasil Penelitian Hasil penelitian terdiri dari hasil pemeriksaan agregat. 3 dan 4 di bawah ini. Bambang (1992) mendefinisikan bentonit adalah salah satu jenis lempung yang sebagian besar terdiri dari mineral monmorilonit dan sebagian kecil mineral beideit serta beberapa mineral yang berupa feldspar. Digunakan pengujian Marshall terhadap benda uji yang telah dibuat. kuarsa. (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara dalam www. Void In The Mix (VITM). 2.go.hal ini berlaku untuk HRS-Base maupun HRS-WC. yang kemudian hasil yang didapat bisa dianalisis lebih lanjut agar diperoleh kesimpulan dan saran. Tiap benda uji dibuat duplo dengan : 6 variasi persentase aspal. (2004). Eliza Purnamasari) 239 .id).6. dan mineral bijih. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.

Juni 2007 : 236 – 252 .240 4.Tabel 2.441 1.1 mm °C °C % berat % berat Cm % semula gr/cc Satuan % % % % % Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi 100 92.629 829.040.575 4.323 1.507 1.415 4.030 4.945 1.112.780 3.918 818.960 3.103.880 4.330 4.025 Tabel 3.366.5 1.255.5 325 0.455 4.422 1. 5 dtk) Titik lembek (ring & ball) Titik nyala (alev.514 716.98 4.604 4.574 1.129.26 3.030 3.182.780 4.440 4.078 4.650 737.415 999.980 4.100 variasi 2 649. open cup) Kehilangan berat (163°C. Hasil Pengujian Agregat Kasar Pemeriksaan Agregat Kasar Abrasi Kelekatan agregat terhadap aspal Angularitas (< 10 cm) Angularitas (≥ 10 cm) Partikel pipih & lonjong Agregat Halus Angularitas (< 10 cm) Angularitas (≥ 10 cm) Aspal Penetrasi (25°C.25 3.280 5.625 891.151 45 40 68.071.390 1.785 1.450 variasi 4 721.209 838.035 1.115 982.164.128 4.650 4. 5 jam) Kelarutan (CCl4 atau CS2) Daktilitas (25°C.80 3.018 5. 2005 Syarat *) Maks 40 Min 95 95/90 80/75 Maks 10 Min 45 Min 40 60-79 45-58 Min 200 Maks 0.067.987 997.4 Min 99 Min 100 Min 75 Min 1 Hasil 39.545 1.151 852.022 1.276.570 4.780 4.225 4.42 48.42 3.017.671 635.596 1. 5 cm/menit) Penetrasi setelah kehilangan berat Berat jenis (25°C) *) Bina Marga.118.212.036 1.950 variasi 3 622.420 4.38 98 95 80 5.550 4.615 variasi 5 667.147 1. 3.496 845.870 4. Hasil Pengujian Marshall Test HRS-Base Karateristik (satuan) Syarat Kadar Aspal 5 6 HRS-Base Normal Variasi serat sabut kelapa dan bentonit : abu batu variasi 1 801.162.311 950.798 1.975 723.400 4.000.908 3.840 4.889 1.025 853.19 Stabilitas (kg) >800 kg 7 8 9 10 5 6 Flow (mm) > 3 mm 7 8 9 10 240 Volume 7 No.204 3.245 4.475 4.

418 13.681 251.464 353.178 4.743 279.109 2.500 201.800 2.418 71.991 220.265 2.117 2. Soandrijanie Linggo.871 60.381 7.419 243.998 1.786 10.681 4.867 1.557 195.145 2.137 52.127 224.887 5.056 228.040 35.244 2.041 82.040 191.118 2.908 53.913 160.576 69.307 16.899 2.Tabel 3.181 8.916 226.485 83.900 11.703 92.206 169.544 197.130 2.217 60.487 226.159 45.824 131.980 15.191 1.159 251.131 75.061 2.222 146.991 177.951 4.235 237.072 229.284 224.133 36.202 2.118 2.284 39.883 5.134 218.607 17.067 2.963 9.751 46.926 52.103 2.786 59.920 6.393 2.662 5.685 161.847 213.094 2.104 78.298 15.618 284.256 variasi 5 2.759 VITM (%) 3-6 7 8 9 10 5 6 VFWA (%) > 68 7 8 9 10 5 6 QM (Kg/mm) > 250 7 8 9 10 Pengaruh Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah dengan Filler Serbuk Bentonit Pada HRS-Base Dan HRS-WC (JF.426 6.240 2. (lanjutan) Karateristik (satuan) Syarat Kadar Aspal 5 6 HRSBase Normal Variasi serat sabut kelapa dan bentonit : abu batu variasi 1 2.899 54.521 15.974 38.247 17.444 54.979 Density (kg/cc) - 7 8 9 10 5 6 2.418 59.242 variasi 4 2.086 72.727 201.191 2.044 36.068 2.979 48.812 8.112 64.273 variasi 2 2.993 12.144 2.766 14.273 17.183 2.460 93.671 253.248 variasi 3 2.281 61.547 45.244 2.580 37.253 2.719 79.041 166.152 2.524 11.186 2.982 50.895 310.568 215.463 3.255 10.208 1.188 2.711 9.149 13.518 248.356 258. P.306 84.526 4.282 44.485 15. Eliza Purnamasari) 241 .323 262.798 77.194 165.551 87.076 315.009 9.150 2.975 1.249 17.120 12.

971 197.235 25.37 3.18 5.976 28.511 226.090 42.144 821.168 188.083 29.433 24.47 5.128 20.230 5.468 50.922 variasi 2 520.158 584.823 853.242 287.888 592. 3. Hasil Pengujian Marshall Test HRS-WC Karateristik (satuan) Syarat Kadar Aspal 5 6 7 8 9 10 5 6 7 8 9 10 5 6 7 8 9 10 5 6 7 8 9 10 5 6 7 8 9 10 5 6 7 8 9 10 HRS-WC Normal Variasi serat sabut kelapa dan bentonit : abu batu variasi 1 351.275 22.071 20.308 2.193 16.443 754.089 17.177 26.89 17.163 4.25 3.58 17.942 30.236 812.529 31.376 variasi 4 532.04 4.076 508.28 5.921 variasi 5 515.56 17.744 50.271 54.237 19.012 14.414 18.313 2.444 161.255 19.063 770.974 19.018 479.633 796.07 3.02 3.240 3.531 20.571 815.468 114.340 28.261 5.974 18.923 21.894 QM (Kg/mm) > 250 242 Volume 7 No.200 25.51 2.688 17.085 4.836 875.110 42.249 4.651 99.286 20.68 4.210 18.958 888.264 2.525 3.625 28.037 27.066 15.670 142.054 23.7 4.971 4.997 25.747 18.665 15.329 643.926 18.24 3.371 163.637 4.223 16.496 33.858 127.544 155.337 126.151 126.924 19.358 647. Juni 2007 : 236 – 252 .15 4.507 18.07 3.947 131.146 311.997 52.843 560.355 132.174 941.390 29.388 145.87 4.095 81.812 18.885 21.878 21.366 128.045 215.868 252.103 115.551 46.280 886.370 756.824 29.570 101.376 19.210 68.307 2.998 266.453 100.083 5.604 18.463 17.93 5.020 76.68 4.943 67.930 970.166 19.228 39.275 4.523 23.503 3.20 4.43 4.10 5.114 27.10 5.309 14.648 19.18 4.135 31.950 38.985 5.819 167.809 658.514 801.704 113.970 169.367 819.680 288.016 582.294 128.135 19.095 27.016 56.300 82.434 46.40 4.281 16.02 6.522 19.53 3.376 17.772 642.139 14.898 18.726 19.661 200.142 31.560 18.18 4.297 20.221 39.165 51.145 116.332 55.341 VFWA (%) > 68 43.74 18.551 550.052 Stabilitas (kg) >800 kg Flow (mm) > 3 mm Density (kg/cc) - 20.536 822.04 5.176 521.921 19.676 27.120 81.870 253.10 3.950 47.631 219.028 VITM (%) 3-6 20.499 596.956 155.285 2.728 17.15 16.860 5.872 24.390 3.812 variasi 3 520.103 31.Tabel 4.840 824.596 56.913 798.409 135.

dengan atau tanpa filler serbuk bentonit cenderung meningkat seiring meningkatnya kadar aspal dalam campuran. variasi 5 pada kadar aspal 8%-10%.4.8%-10%. diperlihatkan pada gambar 1. Hal ini menunjukkan bahwa filler serbuk bentonit mampu menyerap aspal dengan baik yang berakibat viskositas campuran meningkat sehingga flownya turun. Nilai stabilitas yang memenuhi syarat variasi 1.2. Variasi 1 (filler bentonit 100 %) pada kadar aspal 5%-8% stabilitasnya lebih tinggi dari yang lain. Grafik Stabilitas HRS. Soandrijanie Linggo. variasi 2. Semua nilai flow pada campuran HRS-Base ini memenuhi syarat. diperlihatkan pada gambar 2. variasi 3 pada kadar aspal 6%.Base Umumnya nilai flow meningkat seiring bertambahnya kadar aspal dalam campura. kecuali pada variasi 1. 1400 1300 Stabilitas (Kg) 1200 1100 1000 900 800 700 600 5 6 7 8 9 10 Kadar Aspal (%) variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) variasi 3 (2:2) HRS-Base Normal Gambar 1. Eliza Purnamasari) 243 . Pengaruh penambahan serat serabut kelapa dan penggunaan filler serbuk bentonit terhadap nilai Marshall HRS-Base Nilai stabilitas campuran HRS-Base baik yang normal maupun yang berserabut kelapa. PEMBAHASAN 4.4. Ini menunjukkan sampai pada kadar aspal 9% filler serbuk bentonit maupun serat serabut kelapa sudah tidak mampu menyerap kelebihan aspal untuk mempertahankan stabilitas. P. Pengaruh Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah dengan Filler Serbuk Bentonit Pada HRS-Base Dan HRS-WC (JF.2.1. namun pada kadar aspal 9% lebih rendah dari variasi 4.dan HRS-normal pada kadar aspal 6%-10%.

2. 3.5 3. Grafik Density HRS-Base 244 Volume 7 No. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak kadar aspal dalam campuran dapat menghalangi filler abu batu dalam mengisi rongga-rongga antar agregat sehingga density semakin turun.5 FLOW (mm) 5.0 5.00 1.0 4.10 2.35 2.05 2.5 4.30 2.25 DENSITY (mm) 2. Grafik Flow HRS-Base Semakin meningkatnya penggunaan kadar aspal dalam campuran. kecuali pada HRS-Base normal. nilai density cenderung meningkat. Juni 2007 : 236 – 252 .95 5 6 7 8 Kadar Aspal (%) variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) 9 10 variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) variasi 3 (2:2) HRS-Base Normal Gambar 3.6.0 3. diperlihatkan pada gambar 3. Nilai density yang paling besar terdapat pada variasi 2.20 2.0 5 6 7 8 9 10 Kadar Aspal (%) variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) variasi 3 (2:2) HRS-Base Normal Gambar 2.15 2.

sehingga nilai VITM pada campuran dengan serat serabut kelapa dengan atau tanpa filler serbuk bentonit cenderung turun drastis seiring meningkatnya kadar aspal dalam campuran. akibat kadar aspal yang berlebihan.00 5 variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) VITM (%) 6 7 variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) 8 9 10 Kadar Aspal (%) variasi 3 (2:2) HRS-Base Normal Gambar 4. terus meningkat seiring bartambahnya kadar aspal dalam campuran.00 0. Nilai VFWA yang memenuhi syarat hanya di variasi 1. diperlihatkan pada gambar 4. Grafik VITM HRS-Base Karena gradasi agregat pada HRS-Base lebih besar dari HRS-WC.00 4.5 pada kadar aspal 9% dan 10%.00 10. 20. Sebaliknya pada campuran HRS-Base normal nilai VITMnya selain jauh melebihi syarat. Nampak bahwa filler abu bata tidak mampu lagi mengisi rongga-rongga yang ada.00 16. Soandrijanie Linggo.00 14. Pada kadar aspal lebih besar dari 6%. Eliza Purnamasari) 245 .4 pada kadar aspal 8% 10% dan variasi 3. diperlihatkan pada gambar 5. Sebaliknya pada HRS-Base normal peningkatannya tidak begitu besar karena abu batu dapat bercampur aspal dengan baik yang menyebabkan viscositasnya meningkat. maka peningkatan kadar aspal dalam campuran menyebabkan rongga-rongga pada campuran semakain banyak terisi aspal. Pengaruh Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah dengan Filler Serbuk Bentonit Pada HRS-Base Dan HRS-WC (JF. dan variasi 5 dengan kadar aspal 10%. variasi 4 dengan kadar aspal 9%. P.00 12.00 8.00 6. campuran berserat serabut kelapa dengan atau tanpa filler serbuk bentonit nilai VFWAnya jauh lebih besar dari campuran HRS-normal. Hal ini menunjukkan bahwa pada HRS-Base serat serabut kelapa maupun filler serbuk bentonit tidak dapat menghalangi aspal dalam mengisi ronggarongga yang ada.00 18.2. variasi 2 dengan kadar aspal 8% dan 9%.Serat serabut kelapa dan filler bentonit mampu bekerja dengan baik dalam mengisi rongga-rongga pada campuran HRS-Base meskipun kadar aspal terus meningkat. Nilai VITM yang memenuhi syarat ada pada variasi 1 dan 3 dengan kadar aspal 9% dan 10%.00 2.

Nilai QM yang memenuhi syarat HRS-Base normal pada kadar aspal 6%. variasi 1 pada kadar aspal 8% dan 9%. Grafik QM HRS-Base 246 Volume 7 No. Juni 2007 : 236 – 252 . Hal ini menunjukkan campuran ini memiliki tingkat fleksibilitas tinggi dan akann mengalami deformasi yang cukup besar pada waktu menerima beban. dan variasi 4 pada kadar aspal 9% 400. variasi 3 pada kadar aspal 9% dan 10%. 3.00 30.00 250. diperlihatkan pada gambar 6.100.00 QM (Kg/mm) 300.00 200.00 40.00 90. Grafik VFWA HRS-Base Nilai QM cenderung meningkat seiring meningkatnya kadar aspal dalam campuran.00 VFWA (%) 80. 8%-10%.00 5 6 7 8 9 10 Kadar Aspal (%) variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) variasi 3 (2:2) HRS-Base Normal zz Gambar 6. variasi 2 pada kadar aspal 8%.00 350. namun hasilnya masih jauh di bawah normal.00 100.00 5 variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) 6 7 variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) 8 9 variasi 3 (2:2) HRS-Base Normal 10 Kadar Aspal (%) Gambar 5.00 150.00 70.00 50.00 60.

sehingga nilai flow cenderung turun. sedangkan campuran yang menggunakann filler serbuk bentonit nilai stabilitas cenderung meningkat. Eliza Purnamasari) 247 .2. P. semakin banyak kadar aspal dalam campuran nilai stabilitasnya semakin kecil. diperlihatkan pada gambar 8. diperlihatkan pada gambar 7.4.4 pada 8% dan 9%. Nilai tabilitas meningkat paling banyak pada penggunaan filler serbut bentonit 100%. nilai flownya paling rendah dibanding campuran yang menggunakan filler serbuk bentonit. Hal ini diakibatkan karena serbuk bentonit mampu menyerap aspal dengan baik. Pada campuran HRS-WC normal. Nilai stabilitas yang memenuhi syarat HRS-WC normal pada kadar aspal 5%-9%.2. Nilai flow HRS-WC pada penelitian ini semua memenuhi syarat. Pengaruh penambahan serat serabut kelapa dan penggunaan filler serbuk bentonit terhadap nilai Marshall HRS-WC Pada campuran HRS-WC normal. variasi 3. variasi 1 pada kadar aspal 9%. Namun pada penggunaan filler serbuk bentonit 100% menyebabkan tingkat penyerapan serbuk bentonit semakin tinggi. dan variasi 5 pada kadar aspal 7%. nilai flownya cenderung naik seiring bertambahnya kadar aspal. variasi 2 pada 6% dan 8%. Pengaruh Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah dengan Filler Serbuk Bentonit Pada HRS-Base Dan HRS-WC (JF. Hal ini menunjukkan bahwa nilai fleksibilitas meningkat. Soandrijanie Linggo. Grafik Stabilitas HRS-WC Umumnya campuran baik yang menggunakan filler serbuk bentonit atau tidak. 1000 900 Stabilitas (Kg) 800 700 600 500 400 300 5 6 7 8 9 10 Kadar Aspal (%) variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) variasi 3 (2:2) HRS-WC Normal Gambar 7.

densitynya semakin meningkat seiring bertambahnya kadar aspal dalam campuran. 3. Grafik Density HRS-WC 248 Volume 7 No.60 5 6 7 8 9 10 Kadar Aspal (%) variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) variasi 3 (2:2) HRS-WC normall Gambar 9. pada kadar aspal yang tinggi nilai density cenderung turun. Hal ini menunjukkan filler serbuk bentonit dan serat serabut kelapa dapat bekerja sama dengan baik dalam mengisi rongga-rongga antar agregat.80 1.20 2. 2.0 3. diperlihatkan pada gambar 9. Namun pada HRS-WC normal meskipun nilainya jauh lebih besar dari yang lain. Grafik Flow HRS-WC Campuran dengan serat serabut kelapa.5 3.00 1.5 4.5 5.6.0 FLOW (mm) 5.40 DENSITY (mm) 2. baik yang menggunakan filler serbuk bentonit maupun abu batu.0 5 6 variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) 7 variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) 8 9 variasi 3 (2:2) HRS-WC Normal 10 Kadar Aspal (%) Gambar 8. Juni 2007 : 236 – 252 .5 6.0 4. karena kadar aspal yang tinggi menghalangi abu batu dalam mengisi rongga antar agregat.

P. karena serat serabut kelapa dan filler serbuk bentonit menghalangi laju aspal dalam mengisi rongga yang ada. semakin meningkat kadar aspal dalam campuran nilai VITM cenderung turun jauh lebih banyak dari pada VITM pada HRS-WC normal. 35.00 30.00 VITM (%) 25. Namun pada campuran dengan serat serabut kelapa dengan atau tanpa filler serbuk bentonit masih jauh di bawah syarat yang ditentukan.00 10. Eliza Purnamasari) 249 . Namun demikian nilainya masih terlalu besar karena serat serabut kelapa dan filler serbuk bentonit menyebabkan viscositas aspal meningkat.00 0.Campuran dengan serat serabut kelapa baik dengan atau tanpa filler serbuk bentonit. sehingga menghambat proses pengisian rongga dalam campuran. Hal ini diakibatkan filler serbuk bentonit dan serat serabut kelapa mampu mengisi rongga-rongga antar agregat dengan baik. diperlihatkan pada gambar 10.00 5.00 5 variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) 6 7 variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) 8 9 variasi 3 (2:2) HRS-WC Normal 10 Kadar Aspal (%) Gambar 10. Soandrijanie Linggo. Nilai VFWA yang memenuhi syarat ada pada campuran HRS-WC normal dengtan kadar aspal 6%-10%. Grafik VITM HRS-WC Seiring dengan bertambahnya kadar aspal dalam campuran.00 20. Pengaruh Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah dengan Filler Serbuk Bentonit Pada HRS-Base Dan HRS-WC (JF. Nilai VITM yang memenuhi syarat hanya pada HRS-WC normal. diperlihatkan pada gambar 11.00 15. nilai VFWA cenderung meningkat.

Grafik VFWA HRS-WC Nilai QM pada campuran serat serabut kelapa dengan atau tanpa filler serbuk bentonit meski cenderung meningkat. Grafik QM HRS-WC 250 Volume 7 No.90. karena penambahan kadar aspal menyebabkan kekakuan perkerasan turun.00 20. tapi tidak ada yang memenuhi syarat.00 150.00 80.00 50.00 50.00 40.00 QM (Kg/mm) 250.00 60. Pada HRS-WC normal nilai QM cenderung turun.00 5 6 7 variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) VFWA (%) 8 9 variasi 3 (2:2) HRS-WC Normal 10 Kadar Aspal (%) variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) Gambar 11. 350. Hal ini disebabkan nilai stabilitasnya jauh dibawah syarat yang ditentukan.00 100.00 30. Juni 2007 : 236 – 252 .00 5 6 7 8 9 10 Kadar Aspal (%) variasi 1 (4:0) variasi 4 (1:3) variasi 2 (3:1) variasi 5 (0:4) variasi 3 (2:2) HRS-WC Normal Gambar 12.00 10. diperlihatkan pada gambar 12.00 70. namun demikian masih memenuhi syarat kecuali pada kadar aspal 10%.00 200. 3.00 300.

USA. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Soandrijanie Linggo. Manual Series No. 2005. JTS. atau dengan menggunakan serat serabut kelapa yang direkatkan dengan lateks. 6 edition. Anonim. UAJY. dengan memberikan variasi pada persentase kadar serabut kelapa. 5. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga. P.H. Eliza Purnamasari) 251 . Yogyakarta. Tesis S2.3% pada variasi 1 (100% filler serbuk bentonit) dan variasi 4 (25% filler serbuk bentonit) dengan kadar aspal 9%. 1993. Mix Design Methods For Asphalt Concrete And Other Hot Mix Types. Asphalt Institute. UAJY. P. Kesimpulan Filler serbuk bentonit yang bersifat menyerap aspal menyebabkannya hanya dapat bekerja dengan baik pada campuran dengan gradasi kasar dan kadar aspal yang tinggi.M. Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (Laston). Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (Laston) SKBI – 2. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga.go. Noto. Kentucky. 1983.1.esdm.2. Ni Made. 2004. Saran Dari hasil penelitian yang telah dilakukan disarankan : 1. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Petunjuk Pelaksanaan Lapis Tipis Aspal Beton (Flexible) (Lataston) No. diakses tanggal 15 April 2007. Jakarta. 1987. Asril. Jakarta. Penggunaan Serbuk Batu Bentonit Sebagai Filler Untuk Campuran Beton Aspal Terhadap Karateristik Hot Rolled Sheet-Base (HRS-Base). 2 (MS-2). Pengaruh Penggunaan Serat Sabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah Pada Campuran SMA (Split Mastic Asphalt). Pengaruh Penggunaan Sabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah pada Campuran Hot Rolled Aspalt (HRA). Pengaruh Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah dengan Filler Serbuk Bentonit Pada HRS-Base Dan HRS-WC (JF. 2005. Tugas Akhir S1. Scornov. Pada HRS-WC tidak ada yang memenuhi syarat.id.. UAJY. 2006. Bahan Galian Industri Bentonit. maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan terlebih dahulu meninjau sifat kimiawinya. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. TGA. Mengingat dalam penelitian ini mengabaikan sifat kiawi dari serat serabut kelapa dan serbuk bentonit. Yogyakarta. UGM.4.26. MSST. 1998. 12/PT/B/1983. S. serta variasi 3 (50% filler serbuk bentonit) dengan kadar aspal 9% dan 10%. http://www. FT. Riyanto. Pengaruh Penggunaan Serat Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah pada Campuran SMA (Split Mastic Asphalt) 0/11. 1992. Informasi Mineral dan Batubara. 2004. 2. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga. Royan.. Mere. Yogyakarta.5. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa filler serbuk bentonit dapat digunakan pada campuran HRS-Base dengan additive serat serabut kelapa 0. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara.tekmira. Dwi Agus Putri. Anonim.. Jakarta. Penelitian sejenis dapat dilakukan untuk perkerasan lentur dengan persentase gradasi kasar tinggi. sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan pada HRSWC. Tugas Akhir S1.

UPN. UGM. B.Sukirman. S. Fakultas Teknik Geologi. Geologi dan Studi Bentonit daerah Tanjunggunung Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo DIY. 252 Volume 7 No. Sukirman. S. Bandung. Juni 2007 : 236 – 252 . Triwibowo. Bahan dan Struktur Jalan Raya. S. 3. .. Beton Aspal Campuran Panas. Perkerasan Lentur Jalan Raya... Jakarta Totomihardjo. 1992.. 2003. dkk. 1994. Nova. Granit.. Yogyakarta. 1992.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful