P. 1
alpukat

alpukat

|Views: 1,381|Likes:
Published by li_rain

More info:

Published by: li_rain on Nov 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Tujuan Penelitian
  • 1.3 Manfaat Penelitian
  • 2.1 Alpukat
  • 2.2 Hewan Percobaan
  • 2.3 Ginjal
  • 2.4 Batu ginjal
  • Tabel 1 Komposisi batu ginjal
  • 2.5 Etilen glikol
  • 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
  • 3.2 Alat dan Bahan
  • 3.3 Determinasi dan Pengumpulan Daun Alpukat
  • 3.4 Pembuatan Serbuk / Simplisia Daun Alpukat
  • 3.5 Pembuatan ekstrak etanol Daun Alpukat
  • 3.5 Pengujian aktivitas penghambatan batu ginjal
  • 3.6 Analisis sampel
  • 3.6.1 Preparasi sampel
  • 3.6.2 Analisis Kalsium
  • 3.6.3 Analisis Fosfor
  • 3.7 Teknik analisis data
  • 4.1 Bobot Badan, Bobot Ginjal dan Rasio
  • Tabel 2 Rataan Bobot badan, Bobot ginjal dan Rasio
  • 4.2 Kadar Kalsium dan Fosfor
  • Tabel 3 Rataan Kadar Kalsium dan Fosfor
  • 5.1 Kesimpulan
  • 5.2 Saran
  • DAFTAR PUSTAKA

UJI AKTIVITAS ANTI LITHIASIS EKSTRAK ETANOL DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill) PADA TIKUS PUTIH JANTAN

ANGGARA ALDOBRATA HERNAS SAPUTRA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi dengan judul “Uji Aktivitas Anti Lithiasis Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) Pada Tikus Putih Jantan” adalah karya sendiri di bawah pengarahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi.

Bogor, September 2009

Anggara Aldobrata Hernas Saputra NRP B04051929

ABSTRACT

ANGGARA ALDOBRATA HERNAS SAPUTRA. The Anti Lithiasis Activity of Avocado Leaf Ethanol Extract (Persea americana Mill) on White Male Rats. Under direction of IETJE WIENTARSIH and RINI MADYASTUTI This study aims was to determine the anti lithiasis activity of avocado leaf ethanol extracts (Persea americana Mill) on white male rats nefrolithiasis model induced by ethylene glycol. Avocado leaves as a traditional medicine was believed has the potential to cure urolithiasis. The inhibitory effect of the avocado leaf ethanol extract was examined on the formation of calcium oxalate crystals. At the end of experiment the kidneys of all treated rats were removed and laboratory analyzed for calcium and phosphorus level. The parameters include kidney weight and its ratio to the body weight. The results showed that the amount of calcium in the kidney treated groups were significantly reduced compared with the control group of rats without treatment (p < 0,05). The result is ethanol extract of avocado leaves could be use as an alternative medicine for urolithiasis. Key word : Persea americana Mill; anti lithiasis; kidney stone; ethylene glycol.

ABSTRAK

ANGGARA ALDOBRATA HERNAS SAPUTRA. Uji Aktivitas Anti Lithiasis Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) Pada Tikus Putih Jantan. Dibimbing oleh IETJE WIENTARSIH dan RINI MADYASTUTI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti lithiasis dari ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) pada tikus putih jantan model nefrolithiasis dengan induksi etilen glikol. Daun alpukat dipercaya masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi batu ginjal. Aktivitas anti lithiasis yang terdapat pada ekstrak etanol daun alpukat diperiksa dengan melihat daya hambatnya terhadap pembentukan kristal kalsium oksalat. Pada akhir perlakuan ginjal tikus diambil dan dianalisis kadar kalsium dan fosfornya. Parameter ginjal meliputi bobot ginjal dan rasio terhadap bobot badan tikus. Hasilnya menunjukan kadar kalsium pada kelompok tikus perlakuan secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok tikus kontrol tanpa perlakuan (p < 0,05). Ini membuktikan ekstrak etanol daun alpukat dapat menjadi alternatif pengobatan batu ginjal. Kata kunci : Persea americana Mill; anti lithiasis; batu ginjal; etilen glikol.

penulisan karya ilmiah. penelitian. dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB . penulisan kritik. atau tujuan suatu masalah. tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang – Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.© Hak Cipta milik IPB. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan. penyusunan laporan.

UJI AKTIVITAS ANTI LITHIASIS EKSTRAK ETANOL DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill) PADA TIKUS PUTIH JANTAN ANGGARA ALDOBRATA HERNAS SAPUTRA Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 .

Apt NIP. 19621205 198703 2 001 Tanggal lulus : . 19530211 198503 2 002 Rini Madyastuti P. Ietje Wientarsih. Apt NIP.Si. M.Si NIP. Sc. Nastiti Kusumorini M. 19780608 200604 2 001 Diketahui Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Dr.Judul : Uji Aktivitas Anti Lithiasis Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) Pada Tikus Putih Jantan. Nama NRP : Anggara Aldobrata Hernas Saputra : B04051929 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Dr. S. Hj.

Drh. bantuan. Dra. spiritual maupun materi dari pihak-pihak dibalik kehidupan dan pembentukan jati diri sang penulis. 8. Segenap staf dan keluarga besar IPB pada umumnya dan FKH pada khususnya.Sc. 2. M. Afu dan Mencit. Izul. teman-teman satu kontrakan yang telah berjuang bersama-sama dalam menyelesaikan pendidikan di IPB dan melewati suka duka dalam mengarungi bahtera kehidupan.PRAKATA Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul ”Uji Aktivitas Anti Lithiasis Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) pada Tikus Putih Jantan” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. dan dukungan baik moral. Bimbel dan Guru Ngaji yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat tanpa tanda jasa. Oleh karena itu. tidak lupa teman-teman terdekat di luar kampus.Si. Sri Murtini. 6. SMP. SD. 5. teman satu penelitian dan teman-teman FKH 42 “ GOBLET” yang telah bersama-sama berjuang dalam menempuh studi di FKH IPB. Papah.Si sebagai pembimbing akademik yang telah membantu penulis selama menjalankan masa studi di FKH IPB. ITP 42 sebagai tujuan hidup yang selalu memberikan inspirasi dan kebahagiaan kepada penulis. Hj. S. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan. 3. pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang begitu dalam kepada: 1. Amir. SMU. 7. Mamah dan Mbak Ratna yang tiada hentinya memberikan doa dan dukungan seumur hidup kepada penulis. Keluargaku tersayang. M. serta Mas Wawan foto copy yang selalu setia menemani. Karo. Guru TK. Venty Oktovani S. Dr. Ietje Wientarsih. 4. Apt sebagai pembimbing skripsi yang dengan sabar memberikan bimbingannya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Dr. Apt dan Rini Madyastuti Purnomo. .

untuk itu saran dan kritik tetap penulis harapkan untuk menjadikan tulisan ini lebih baik. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun sebagai tambahan informasi untuk memperkaya ilmu di kemudian hari. Bogor. September 2009 Penulis .Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna.

penulis aktif dalam organisasi internal kampus menjabat sebagai ketua divisi internal Himpunan Minat Profesi (HIMPRO) Satwa Liar FKH IPB.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Wonogiri pada tanggal 30 September 1987 sebagai anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Heru Anto. Pada tahun 2009 Penulis lolos seleksi Program Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni (DPKHA) IPB. Penulis juga pernah aktif di Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) Keluarga Mahasiswa Banten (KMB). SH. penulis telah menyelesaikan pendidikan di SMU Negeri I Serang dan diterima menjadi mahasiswa pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) IPB. Selain itu penulis juga aktif pada berbagai kegiatan dan kepanitiaan yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi di IPB. kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Cilegon dan lulus pada tahun 2002. BA. Pada tahun 2005. Penulis menyelesaikan Taman Kanak-kanak di TK YPWKS III Cilegon pada tahun 1993 dan Sekolah Dasar di SD YPWKS IV Cilegon pada tahun 1999. dan Ibu Kusdiyatni. . Selama menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

................... 3 1........................................................................................................... 14 3....................... 16 3.................................. 3 TINJAUAN PUSTAKA 2..................4 Pembuatan Serbuk / Simplisia Daun Alpukat .............................................5 Pengujian aktivitas penghambatan batu ginjal ......................................... x DAFTAR GAMBAR .......................................................................1 Bobot Badan..................................................1 Alpukat ....2 Hewan Percobaan ..............3 Determinasi dan Pengumpulan Daun Alpukat ........................................... 19 4.......................................................7 Teknik analisis data ...............................3 Ginjal .....................................................6......................................................................... 12 METODE PENELITIAN 3........... 14 3......2 Kadar Kalsium dan Fosfor .............................................................. 14 3........................................................................................................................... xiii PENDAHULUAN 1.....................................................................................................................................2 Tujuan Penelitian ........................................ 27 x ................3 Manfaat Penelitian ......2 Saran .....................................................................2 Alat dan Bahan .................................................................................. 14 3................................. xii DAFTAR LAMPIRAN ..................5 Etilen glikol ...... 8 2.......6......................5 Pembuatan ekstrak etanol Daun Alpukat .............................. 6 2............ 16 3................. 17 3............................................................3 Analisis Fosfor .......................... 26 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 9 2..................................................... 18 HASIL DAN PEMBAHASAN 4............................................................1 Latar Belakang ...1 Preparasi sampel................................................... xi DAFTAR TABEL .....................................................................................................1 Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................... 15 3..................... 15 3....................................................................................................6..................................................6 Analisis sampel ............................... 21 KESIMPULAN DAN SARAN 5............................... 1 1.......... 16 3........................... Bobot Ginjal dan Rasio ................................1 Kesimpulan ..........4 Batu ginjal ............2 Analisis Kalsium .......................................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ......... 4 2.................................................... 26 5............................................

............................................................................................ Bobot Badan Harian ................ 24 xi ............................................................................... 21 7.................................... 4 2...... Kadar Kalsium ...................... ............ Persea americana Mill........................................................................................................................... 19 5..... 12 4... Rattus sp................. Bobot Ginjal dan Rasio ................................. Metabolisme Etilen Glikol ......................................................................................... Kadar Fosfor.....DAFTAR GAMBAR Halaman 1................. 20 6.................................................... 7 3......................................................

............. 20 3................................................................................. 11 2.....DAFTAR TABEL Halaman 1................................ Bobot ginjal dan Rasio.............................. Rataan Kadar Kalsium dan Fosfor ............................... Rataan Bobot badan.. 22 xii ....... Komposisi batu ginjal ...........

...... 30 2....... Uji Statistik One Way ANOVA .....DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1........................... Uji lanjut Duncan (p < 0............................................................................ 31 xiii ..........................05) ......

Faktor lain adalah bila zat inhibitor (zat pencegah terjadinya kristal) kadarnya berkurang. Ukuran dan bentuk batu bermacam-macam. Secara tradisional dan sudah umum digunakan adalah dengan menggunakan tanaman obat. Tetapi batu yang kecil sekalipun dapat menimbulkan rasa sakit yang hebat ketika berjalan keluar dari ginjal. Akibat terburuk dari adanya batu ginjal adalah kerusakan ginjal secara permanen dan berdampak pada uremia (Wijaya dan Darsono 2005). zat-zat lain adalah kalsium oksalat dan strufit. Proses pembentukan batu terjadi di dalam ginjal di bagian muara dari saluran kecil yaitu di bagian yang disebut piramid. adanya batu tidak diketahui. namun penggunaan obat tradisional masih banyak digemari oleh masyarakat (Back to nature). Contoh tanaman yang digunakan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit ini adalah Kumis Kucing. Pecut Kuda. Ketimun dan Pare. Hal tersebut disebabkan obat tradisional mempunyai banyak keuntungan. Terbentuknya batu dipengaruhi oleh berbagai hal fisika dan kimia antara lain mula-mula kadar suatu zat. Perdarahan ringan dapat terlihat akibat luka pada dinding saluran kemih. misalnya asam urat berlebihan dalam urin disebut supersaturasi sehingga mengendap menjadi kristal.1 Latar Belakang Dewasa ini kemajuan ilmu pengetahuan di bidang pengobatan maju pesat seiring dengan kemajuan teknologi. antara lain: harga yang relatif murah sehingga dapat dijangkau masyarakat luas. Meniran. Terbentuk akibat kelebihan garam di dalam aliran darah yang kemudian mengkristal di ginjal. Sambiloto. Salah satu penyakit yang banyak diobati dengan tanaman secara empiris adalah batu ginjal.1 BAB I PENDAHULUAN 1. Batu ginjal merupakan salah satu masalah kesehatan yang menempati urutan ketiga setelah infeksi saluran kemih dan kelainan prostat pada sekian banyak penyakit saluran kemih. . Selama tidak bergerak. Batu ginjal adalah partikel padat seperti kerikil yang terdapat diberbagai bagian dari saluran urin. berkisar dari partikel sangat kecil yang dapat lewat tanpa diketahui sampai batu yang berukuran sekitar 5 cm. praktis dalam pemakaian. bahan baku yang mudah diperoleh dan disamping itu efek samping penggunaan obat tradisional yang sejauh ini dianggap lebih kecil daripada efek samping obat sintetik.

CT-scans. hipertensi. kalium sitrat dan operasi. yaitu kalsium oksalat (70-75 %). diare. Pengangkatan batu ginjal dengan cara operasi memiliki resiko yang cukup tinggi selain mengeluarkan biaya yang mahal. sedangkan batu strufit sering terjadi karena ada infeksi di ginjal. sakit tenggorokan dan perdarahan (Brai et al. masyarakat enggan untuk melakukan operasi karena takut akan trauma pasca operasi yang berkepanjangan. Ternyata daun alpukat merupakan salah satu bahan alami yang bisa digunakan sebagai obat tradisional. Daun ini secara empiris telah digunakan sebagai diuretik. . Obat-obatan yang digunakan hanya akan mencegah agar batu tersebut tidak bertambah besar dan membantu pengeluaran batu ginjal secara spontan. Untuk itu dapat dipilih obatobatan yang dapat menurunkan kadar kalsium dalam urin dan meningkatkan frekuensi buang air kecil (diuresis). Biasanya batu kalsium oksalat dan asam urat akan terbentuk karena makanan dan minuman yang banyak mengandung kalsium oksalat dan purin. Batu sistin akan terjadi bila ada gangguan metabolisme (Coe 2003). Jenis batu yang sering terdapat dalam ginjal ada empat. penggunaan obat-obatan seperti diuretik. Diuretik umumnya digunakan pada pengobatan hipertensi dan gangguan lain yang berhubungan dengan pengeluaran cairan dan natrium dari tubuh.2 misalnya sitrat. Pemeriksaan batu ginjal dapat dilakukan melalui beberapa cara. Terapi batu ginjal dapat dilakukan dengan mengubah pola makan. 2007). asam urat (5 %) dan sistin (1 %). Pohon alpukat selama ini dikenal hanya buahnya saja yang biasa dikonsumsi masyarakat. Batu ginjal tidak dapat larut hanya dengan mengatur asupan makanan dan minuman obat tertentu. analgesik. faktor keasaman urin (pH) serta infeksi. Salah satu obat yang sering digunakan dalam pengobatan batu ginjal adalah preparat diuretikum. Penelitian ini difokuskan pada aktivitas anti lithiasis dari tanaman tersebut untuk melihat sejauh mana daya hambat ekstrak etanol daun alpukat terhadap pembentukan batu ginjal. antara lain ultrasound. hipoglikemia. X-ray dan urin tampung 24 jam untuk memastikan jenis batu penyebab dan bagaimana strategi terapinya (Stockham dan Scott 2008). Namun penelitian tentang daun alpukat sendiri masih jarang dilakukan. strufit (20 %). anti radang.

pengobatan tidak lagi mahal dan dapat mengurangi resiko toksik dari bahan-bahan kimia tersebut sehingga dapat meningkatkan kesehatan masyarkat. .2 Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti lithiasis ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) dalam mengurangi dan menghambat pembentukan batu ginjal dengan melihat kadar kalsium dan fosfor dalam ginjal. Selain itu. 1. Dengan penggunaan obat herbal ini.3 1. obat batu ginjal yang banyak digunakan umumnya berasal dari bahan-bahan kimia yang memiliki efek samping yang cukup serius dan berbahaya. Pengobatan batu ginjal yang paling utama dilakukan dengan cara mekanik atau operasi dan membutuhkan biaya mahal. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat akan khasiat dari daun alpukat serta nilai tambah bagi pohon alpukat secara ekonomis.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat di bidang kedokteran khususnya kedokteran hewan sebagai landasan untuk menjadi alternatif pengobatan.

tetapi daging buah yang praktis tidak berserat dan berwarna hijau dapat menghasilkan bubur (Moes) (Heyne K 1987).4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. saat ini dapat ditemukan di semua negara beriklim panas. Buah yang berwarna hijau pada umumnya berat rata-rata tidak lebih dari 200 gram. . Buah yang sudah matang kalau digerakan terdengar suara biji. kemudian buah dibiarkan beberapa hari agar menjadi lunak. Buah ini hampir tidak berasa karena hampir tidak memiliki kandungan gula.1 Alpukat Taksonomi alpukat menurut Prihatman (2000): Kingdom Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Ranales : Lauraceae : Persea : Persea americana Mill Gambar 1 Persea americana Mill (Prihatman 2000) Tanaman ini merupakan pohon buah kecil yang telah banyak dikenal. Tanaman ini dibudidayakan dari biji di daerah pegunungan rendah. berasal dari Amerika Tengah.

Buah alpukat yang masak daging buahnya lunak. pada daerah tropik dan subtropik yang banyak curah hujannya (Prihatman 2000). daun tua warnanya hijau dan gundul (Prihatman 2000). daging buah jika sudah masak lunak.5-5 cm. lebar 3-10 cm. tepi rata kadang-kadang agak menggulung ke atas. Buahnya buah buni. jamboo pokat (Batak). banyak bercabang. Pohon buah dari Amerika Tengah. biasanya dimakan sebagai es campur atau dibuat jus (Prihatman 2000). ranting berambut halus. ujung dan pangkal runcing. tersusun dalam malai yang keluar dekat ujung ranting. quersetin dan gula alkohol persit. Walau dapat berbuah di dataran rendah. pookat (Lampung) dan lain-lain. Pohon kecil. tebal seperti kulit. bulat. banyak juga ditanam di kebun dan di pekarangan yang lapisan tanahnya gembur dan subur serta tidak tergenang air. letaknya berdesakan di ujung ranting. sakit kepala. berlemak. daun muda warnanya kemerahan dan berambut rapat. berbintik-bintik ungu atau ungu sama sekali. boah pokat. tumbuh liar di hutan-hutan. panjang 10-20 cm. tinggi 3-10 m. warnanya hijau. alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah). berkelamin dua. Biji bulat seperti bola. selain itu juga buah mengandung tanin dan daunnya mengandung polifenol. diameter 2. warnanya coklat kotor. advokat. nyeri lambung. Bunganya majemuk. Daun tunggal. Bagian yang dapat dipakai dari pohon alpukat antara lain daging buah untuk konsumsi. kekuningan.000 m di atas permukaan laut (dpl). nyeri syaraf. jamboo mentega. melembabkan kulit kering. panjang 5-20 cm. jamboo pooan. daun alpukat dapat digunakan untuk mengatasi kencing batu dan darah tinggi. bentuk bola atau bulat telur. berbiji satu. batang berkayu. bentuknya jorong sampai bundar telur memanjang. daun dan biji mempunyai efek pengobatan. Kegunaan dari masing-masing bagian yaitu daging buah dapat digunakan untuk sariawan. Sifat kimiawi dari masing-masing bagian untuk buah dan daun mengandung saponin alkaloida dan flavanoid. bertangkai yang panjangnya 1. bertulang menyirip.5-5 cm. warnanya hijau atau hijau kekuningan. saluran napas membengkak (bronchial . warnanya kuning kehijauan. berakar tunggang. tapi hasil akan memuaskan bila ditanam pada ketinggian 200-1. keping biji putih kemerahan.5 Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon dengan nama alpuket (Jawa Barat).

enterosis. flu. penyakit kulit. hewan percobaan harus . Untuk digunakan dalam penelitian. Aktivitasnya antara lain sebagai anti penuaan. kuda. rubefasiensia. anemia. Indikasinya untuk alopesia. kalkuli. infeksi. diabetes. anti bakteri. Dua jenis getah yang berasal dari kulit buah. kembung. Pseudomonas sp. 1989). asam urat. kelinci dan kambing. burung kenari mati setelah memakan buah yang matang. perdarahan. Alzheimer disease. hematonik. sakit gigi. demam. diare. neuralgi. Penggunaan biasanya pada buah alpukat untuk dikonsumsi sedangkan daun dan biji alpukat dirasa kurang aman karena mengandung toksik. anti parasit. Dikatakan buah alpukat mentah itu beracun. Proteus sp. hipertensi. laksatif. skabies. ranting atau keduanya menyebabkan mastitis pada sapi. diuretik. hepatoproteksi. disentri. hematom. ekspektoran. memiliki sifat racun bagi marmut melalui suntikan secara subkutan dan peritonial. astringensia. hipokolesterolemia. Escherichea coli dan Bacillus subtilis (Prihatman 2000). malaria. 2002). rematik. emolien. Daun mempunyai aktivitas antibakteri dan menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus strain A dan B. LD50 ekstrak daun alpukat lebih besar dari 8828 mg/kg secara intraperitonial dan lebih besar dari 12500 mg/kg secara oral pada tikus percobaan sedangkan LD50 ekstrak buah lebih besar dari 12500 mg/kg secara oral (Duke et al. arthrosis. Daun alpukat yang terendam di kolam dapat membunuh ikan di dalamnya. anti radang. ketombe.6 swellings). frigid. Kontraindikasi. COX-2 Inhibitor. 2. hingga memperlancar menstruasi.2 Hewan Percobaan Hewan percobaan adalah hewan yang sengaja dipelihara dan diternakan untuk dipakai sebagai hewan model guna mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorik (Malole et al. menstruasi tidak teratur dan biji dapat digunakan untuk sakit gigi dan kencing manis. sakit kepala. Ingesti dari daun. impoten. interaksi dan efek sampingnya belum ditemukan. kanker. deobstruksi usus. Daun alpukat mengandung dopamin dan minyaknya mengandung methyl chavicol. rodentisida. Staphylococcus albus. antiseptik. batuk. gigitan ular. sakit tenggorokan. nyeri sendi. Di samping itu dosis tinggi sangat fatal pada kambing. pulmonosis. hepatosis. atherosclerosis.

mudah dipelihara. Tikus putih telah digunakan secara luas untuk tujuan penelitian. Mencit dan tikus putih memiliki banyak data toksikologi. mudah didapat dan mudah ditangani. Hewan ini dipilih karena murah. karena hewan ini telah diketahui sifat-sifatnya dengan sempurna. merupakan hewan yang relatif sehat dan cocok untuk berbagai macam penelitian (Lu 1995). . (data pribadi) Hewan percobaan yang umum digunakan dalam penelitian farmakologi dan toksikologi adalah mencit dan tikus putih. sehingga mempermudah pembandingan toksisitas zat-zat kimia. antara lain kemiripan fungsi fisiologis dengan manusia. perkembangbiakan cepat. 1997). memiliki galur genetis murni serta murah secara ekonomis (Subahagio et al. cenderung mudah didapat dan dipelihara. Gambar 2 Rattus sp. Taksonomi tikus putih dalam Robinson (1979) : Kingdom Kelas Ordo Subordo Famili Subfamili Genus Spesies : Animalia : Mammalia : Rodentia : Myomorpha : Muridae : Murinae : Rattus : Rattus sp.7 memenuhi kriteria tertentu.

yang terdiri dari glomerolus. Penggunaan berbagai tingkat dosis obat terhadap hewan percobaan dilakukan untuk mendapatkan dosis terbesar yang tidak menimbulkan efek merugikan atau dosis yang sangat besar yang dapat menimbulkan kelainan jaringan atau efek toksik yang jelas. Daerah perifer yang beraspek gelap disebut korteks (cortex) dan selebihnya yang agak cerah disebut medula (medulla). berkepala kecil dan ekornya lebih panjang dari badannya (Malole et al.8 Tikus putih mempunyai 3 galur yang umum dikenal yaitu. Galur Sprague-Dawley yang umum digunakan untuk penelitian. Penelitian dalam bidang toksikologi dan farmakologi memerlukan serangkaian percobaan terhadap hewan percobaan untuk mengetahui tingkat toksisitas dan keamanan obat untuk manusia. Salah satu organ yang sering menderita karena adanya zat-zat yang bersifat toksik adalah ginjal. berbentuk piramid terbalik (Hartono 1992). Waktu observasi akan jauh lebih pendek bila kita menggunakan dosis yang lebih besar. Selain itu ginjal berfungsi memetakan toksikan pada filtrat. menyebabkan ginjal sebagai organ sasaran utama dari efek toksik (Lu 1995). Peran utama ginjal adalah ekskresi sebagian besar hasil akhir metabolisme tubuh melalui urin dan mengatur konsentrasi unsur-unsur yang terdapat dalam cairan tubuh (Guyton 1994). galur Winstar dan galur Long-Evans. Nefron memiliki fungsi dasar membersihkan atau menjernihkan plasma darah dari substansi yang tidak . mempunyai ciri berwarna putih albino. Sebuah ginjal dengan potongan melintang memberi gambaran dua daerah yang cukup jelas. kapsula Bowman dan tubulus renalis. Unit terkecil dari ginjal adalah nefron. Hal ini berkaitan dengan fungsi ginjal yang tercermin pada sistem pembuluh darah kompleks. 2.3 Ginjal Ginjal adalah organ tubuh yang berperan utama dalam memelihara keseimbangan cairan serta elektrolit dan mengatur tekanan darah (Hartono 1992). 1989). galur SpragueDawley. Pemeriksaan kimia darah. Pada waktu tertentu sebagian hewan percobaan perlu dibunuh untuk mengetahui pengaruh obat terhadap organ. membawa toksikan melalui sel tubulus dan mengaktifkan senyawa racun tertentu. sehingga akan mengurangi biaya pemeriksaan. urin dan tinja dilakukan untuk mengetahui kelainan yang timbul (Darmansjah 1995).

Kalkuli biasa ditemukan di kantung kemih. Pada betina sangat jarang karena bentuk uretra yang lebih pendek dan lebar. menghasilkan rasa sakit yang bukan main dikenal dengan kolik ureter. Dari pelvis renalis. kalium. termasuk fleksura sigmoidea pada ruminan. kalium. Substansi darah yang dapat terfiltrasi antara lain natrium. Urolith yang berada di ureter. Cairan yang menyerupai plasma difiltrasi melalui dinding kapiler glomerolus ke tubulus renalis di ginjal.9 diinginkan oleh tubuh. Kalkuli di kantung kemih dikeluarkan bersama urin biasanya tersangkut di uretra pada hewan jantan. urin dialirkan ke dalam kandung kemih untuk kemudian dikeluarkan melalui proses berkemih (Ganong 1995). pelvis renalis. Proses filtrasi terjadi di glomerulus dan substansi dengan ukuran kecil sampai sedang dapat melewati dinding kapilernya. klorida serta ionion hidrogen dalam jumlah yang berlebihan (Guyton 1994). kreatinin dan asam urat (Strukie 1976). asam urat dan ion-ion natrium. Namun sebagian lagi mungkin tertinggal dan mengendap menjadi batu ginjal. glukosa. Biasanya substansi tersebut berasal dari hasil metabolisme seperti urea. Fungsi ini bertujuan agar bahan-bahan kimia yang terkandung dalam darah atau cairan tubuh lainnya tidak terbawa kembali oleh darah dan beredar ke seluruh tubuh. Sebagian kotoran hasil penyaringan ini akan dikeluarkan melalui ginjal bersama urin. Air serta elektrolit dan metabolit penting lainnya akan diserap kembali. atau bahkan ditemukan di tubulus renalis. klorida. kreatinin. Substansi yang besar seperti protein plasma tidak dapat melewati dinding kapiler sehingga tidak terfiltrasi. Apabila endapan ini tidak dikeluarkan. 2. Dalam perjalanannya sepanjang tubulus ginjal. Urolith berukuran dari yang kecil seperti partikel pasir sampai yang berukuran . maka akan menetap di ginjal atau berpindah ke kantung kemih. Ginjal dalam tubuh berfungsi sebagai filter untuk membersihkan darah atau cairan lainnya. Kalkuli yang ditemukan di dalam ginjal dinamakan nefrolith. fosfor anorganik. isi cairan filtrat akan berkurang dan susunannya berubah akibat proses reabsorbsi tubulus dan proses sekresi tubulus untuk membentuk urin yang akan disalurkan ke dalam pelvis renalis.4 Batu ginjal Pembentukan batu hasil sedimentasi di saluran kemih disebut dengan urolithiasis atau kalkuli. hasilnya obstruksi yang fatal jika tidak diobati.

bentuknya lebih bervariasi dan tidak umum. Kalkuli fosfat seperti kalkuli pada herbivora. Kalkuli yang ditemukan mirip dengan yang ada pada manusia. Batuan sistin lebih kecil. Inti batuan bisa berupa leukosit yang mati. Pemeriksaan ini tidak menunjukan data kuantitas. batuan asam urat dan sistin. Batu tersebut bisa padat. kalsium oksalat. Hewan herbivora sering ditemukan batu yang didominasi bentukan silikat dan sangat sedikit ditemukan bentukan fosfat. berwarna putih kekuningan dan berduri. berwarna putih. Copenhagen ditemukan kalkuli 0. Pada karnivora dan omnivora urolith yang ditemukan pun berbeda. Biasa ditemukan satuan di kantung kemih dan ukuran diameternya mencapai beberapa sentimeter. beberapa komponen sering menunjukan positif palsu . Sebagian besar berupa magnesium-amonium fosfat. kasar. Bentukan batu ginjal sangat dipengaruhi makanan yang dikonsumsi. jarang ditemukan (Smith dan Jones 1962). Kalkuli asam urat sebagian besar terdiri atas amonium (dari dekomposisi urea) dan sodium urat. halus. berwarna putih dan lebih rapuh seperti kapur. Batuan kalsium oksalat sangat keras.6 % dari keseluruhan penyakit anjing. tidak menyediakan jumlah relatif antar unsur pembentuk batuan. lunak. Biasa ditemukan pada anjing ras dalmatian yang mengekskresikan banyak asam urat pada urinnya. tidak bisa mendeteksi silika dan sistin. yang menyebabkan kalkuli karena infeksi saluran kemih dan kekurangan vitamin A. kalsium oksalat. Banyak pendapat. kehilangan beberapa jumlah ion secara signifikan. Pemeriksaan urolith secara reaksi kimia untuk mendeteksi adanya kation dan anion memiliki kelemahan sehingga tidak dipakai.10 besar seperti batu yang mengisi pelvis ginjal dan kantung kemih. Beberapa kasus menyebutkan pembentukan kalkuli karena kristalisasi dari suatu partikel yang akan menjadi inti dari batuan. Tanaman yang tumbuh di daerah gersang banyak ditemukan unsur silika. amonium dan magnesium. bulat atau persegi (Smith dan Jones 1962). karbonat. dikarenakan karakteristik urin yang asam kontras dengan karakteristik urin pada herbivora yang lebih alkalis. sel epitel yang runtuh. kekuningan. Pada daerah lain ditemukan derivat xanthine dilaporkan sebagai penyebab kalkuli pada domba. Kejadian urolithiasis selama 15 tahun di Royal Veterinary College. atau gumpalan fibrin (Smith dan Jones 1962).

scanning electron microscopy (SEM) dan mikroskop inframerah (Stockham dan Scott 2008). Faktor seperti pH. yaitu dengan kristalografi optikal.2H2O C5H4N4O3NH4 C5H3N4O3Na. Tahap-tahap pembentukan kalkuli diantaranya kation dan anion dari urolith terbentuk dari konsentrasi urin yang sudah jenuh. melibatkan banyak faktor yang meningkatkan pembentukan batuan dan yang menghambat. Kristal tersebut dapat terlihat di sedimen urin dan tidak akan berkembang menjadi batuan yang besar apabila dapat dikeluarkan bersama urin terlebih dahulu.2H2O Ca3(PO4)2 CaH(PO4)3.2. X-ray dan yang jarang dilakukan seperti microprobe electron.5H2O MgNH4PO4.CO3OH)6(OH)2 CaHPO4. Tabel 1 Komposisi batu ginjal Kelompok Karbonat Sistin Oksalat Nama Senyawa Rumus Kimia CaCO3 S CH2 CH(NH2)COOH CaC2O4.H2O Kalsium karbonat Sistin Kalsium oksalat monohidrat Kalsium oksalat dihidrat Fosfat Kalsium fosfat Hidroksiapatit Karbonit-apatit Kalsium hidrogen fosfat dihidrat Trikalsium fosfat Oktakalsium fosfat Magnesium amonium fosfat heksahidrat Magnesium hidrogen fosfat trihidrat Silika Silikon dioksida Asam urat Asam urat Asam urat dihidrat Urat Amonium asam urat Sodium asam urat monohidrat (Stockham dan Scott 2008) Patogenesa dari pembentukan batu ginjal merupakan proses yang kompleks.H2O CaC2O4. Pembentukan kristal dihambat oleh beberapa zat seperti sitrat . Antara kristal-kristal kecil yang terbentuk dapat bersatu menjadi agregat dan berkembang menjadi batuan yang besar relatif cepat.3H2O SiO2 C5H4N4O3 C5H4N4O3. Kation dan anion bersatu membentuk kristal yang unik.2H2O Ca5(PO4)3(OH) Ca10(PO4)6(OH)2 Ca10(PO4. Batu ginjal jenis dan komposisinya bermacam-macam seperti yang terlihat pada Tabel 1.6H20 MgHPO4.11 dan batu ginjal campuran tidak bisa diklasifikasikan. suhu dan flow rate juga mempengaruhi pembentukan kristal. Pemeriksaan tersebut telah digantikan dengan pemeriksaan secara fisik.

Keracunan akut pada manusia dan hewan pelihara banyak terjadi secara tidak sengaja mengkonsumsi cairan tersebut karena rasanya yang manis. Tahap pertama etilen glikol . 2004). 2004) Metabolisme dari etilen glikol terdiri dari empat tahap. termasuk polietilen tereftalat (PET) resin. Gambar 3 Metabolisme Etilen Glikol (Cox et al. pemindah panas. serat poliester dan poliester lapis. Khalayak umum atau konsumen sering terpapar etilen glikol dari penggunaannya sebagai anti pembekuan dibidang otomotif. Etilen glikol digunakan sebagai cairan anti pembekuan. poliester resin tak jenuh. penghilang es.5 Etilen glikol Etilen glikol adalah senyawa kimia turunan yang dibuat dari sekian banyak produk kimia komersial. berawal dari perombakan senyawa tersebut di hati (Gambar 3). Protein Tamm-Horsfall merupakan penghambat alami yang dihasilkan tubulus renalis (Stockham dan Scott 2008). pelapis permukaan. surfaktan dan pengemulsi. 2. Ginjal merupakan organ yang paling peka terhadap etilen glikol dan merupakan target organ primer.12 yang dapat mengikat kalsium. Tata cara pengobatan keracunan etilen glikol akut diatur untuk mencegah metabolit asam yang sangat toksik masuk. pendingin industri. mengatasi asidosis dan mencegah kerusakan ginjal permanen (Cruzan et al. hidrolik.

Lebih jauh lagi glikolat diubah menjadi glioksilat yang hasil metabolisme selanjutnya adalah oksalat. 2004). Etilen glikol juga merusak mukosa saluran cerna menghasilkan lesio hemoragi. . Kerusakan ginjal tersebut diakibatkan oleh pembentukan kristal kalsium oksalat pada tubulus ginjal (Cruzan et al. Depresi otot jantung mungkin terjadi akibat deposisi kalsium oksalat di otot tersebut tetapi hal ini terjadi lebih karena metabolisme yang kacau dari tubuh yang keracunan etilen glikol (Cox et al. 2004). Keracunan etilen glikol memperlihatkan perbedaan kepekaan antar spesies dan jenis kelamin setelah pemberian jangka panjang. 2004). Etilen glikol menginduksi nefrotoksik pada tikus yang kemungkinan berpengaruh terhadap resiko kesehatan manusia. dimana tikus lebih peka daripada mencit dan jenis kelamin jantan lebih peka daripada jenis kelamin betina. Senyawa tersebut mengendap bersama kalsium dalam tubuh membentuk kristal kalsium oksalat (Cox et al. Hipokalsemia dapat terjadi karena kalsium membentuk batuan sehingga tidak dapat direabsorpsi kembali oleh ginjal. Glikol aldehid selanjutnya diubah menjadi glikolat oleh aldehid dehidrogenase pada tahap kedua.13 dimetabolisme menjadi glikol aldehid oleh alkohol dehidrogenase. Etilen glikol merupakan depresan bagi sistem susunan syaraf pusat dan dapat menimbulkan edema otak.

Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Tahap persiapan meliputi pembuatan simplisia. maserator. pakan dan hewan percobaan sedangkan tahap pelaksanaan meliputi perlakuan.2 Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sonde lambung. etanol 70 %. tikus putih jantan galur Sprague Dawley.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nutrisi. eter. Bagian yang digunakan adalah daun yaitu daun yang sudah tua dan terletak di tengah ranting. Reproduksi dan Patologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). pembuatan ekstrak etanol daun alpukat. instrumen AAS. ayakan nomor 20. amonium klorida 2 %. Departemen Klinik. . Setelah bersih dari kotoran.3 Determinasi dan Pengumpulan Daun Alpukat Daun alpukat diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITRO) dan dilakukan determinasi daun alpukat di Pusat Penelitian Biologi. seperangkat alat bedah tikus dan tabung mikro (Eppendorf®). kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan atau dijemur di bawah sinar matahari dengan ditutup plastik hitam. 3. etilen glikol 0. yaitu tahap persiapan dan pelaksanaan. Institut Pertanian Bogor mulai bulan Juni sampai Agustus 2008. kemudian dicuci dengan air mengalir sampai bersih dan ditiriskan. pengamatan dan analisis data. Setelah kering kemudian dibersihkan kembali dari kotoran yang mungkin tertinggal saat pencucian. Fakultas Kedokteran Hewan. asam nitrat 0. gelas ukur. Fakultas Peternakan dan Laboratorium Farmasi. Cibinong untuk memastikan bahwa bahan coba benar-benar jenis Persea americana Mill. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap. Bahan yang digunakan adalah daun alpukat.4 Pembuatan Serbuk / Simplisia Daun Alpukat Daun alpukat kemudian dibersihkan dari kotoran yang menempel. batang pengaduk. rotary evaporator. timbangan digital. spektrofotometer. gelas piala 100 ml.4 N dan akuades. cawan penguap. 3.75 %. persiapan kandang.14 BAB III METODE PENELITIAN 3. 3. oven.

Kelompok kontrol negatif (K): tikus diberi inducer 3. disimpan dalam wadah bersih dan tertutup rapat (Ditjen POM 2000). 3. yaitu: 1. Tikus dimatikan dengan menggunakan eter. Dosis cekok ekstrak daun alpukat adalah 3 ml/200gr BB dicekok dengan menggunakan sonde lambung. Kelompok perlakuan 2 (P2) : tikus diberi inducer dan dicekok ekstrak etanol daun alpukat dosis 300 mg/kg Inducer mengandung etilen glikol 0. Pengamatan bobot badan juga dilakukan dan perhitungan rasio terhadap bobot ginjal. Bagian abdomen dibuka kemudian diambil ginjalnya untuk dianalisis kadar kalsium dan fosfor. 3. Kelompok kontrol normal (N): tikus diberi air minum normal ad libitum 2. Perbandingan jumlah pelarut dengan serbuk adalah 1 : 10. . Untuk uji aktivitas ekstrak etanol daun alpukat pada percobaan ini digunakan 20 tikus sehat dengan berat badan sekitar 200 gr – 300 gr yang terbagi dalam 4 kelompok dan masing-masing kelompok 5 tikus.5 Pembuatan ekstrak etanol Daun Alpukat Pembuatan ekstrak etanol daun alpukat dilakukan dengan menambahkan etanol 70 % ke dalam serbuk daun alpukat.75 % dan amonium klorida 2 % untuk menginduksi batu ginjal dan mempercepat proses pembentukan. direndam selama 2 x 24 jam dan sesekali diaduk kemudian ditampung dalam suatu wadah dengan selalu mengganti pelarut tiap hari.5 Pengujian aktivitas penghambatan batu ginjal Penelitian mengenai aktivitas penghambatan batu ginjal oleh ekstrak etanol daun alpukat ini dilakukan dengan menggunakan tikus putih jantan galur Sprague dawley. Hasil dari maserasi berupa ekstrak etanol daun alpukat yang kemudian dilakukan evaporasi dengan alat rotary evaporator (40o C dan 50 rpm) untuk menguapkan pelarutnya sehingga didapat ekstrak kental dari daun alpukat (Ditjen POM 2000).15 maka simplisia kering diserbukan dan diayak dengan ayakan nomor 20 sehingga didapat serbuk daun alpukat. Perlakuan selama 10 hari dan pada hari ke-11 dilakukan nefroktomi. Kelompok perlakuan 1 (P1) : tikus diberi inducer dan dicekok ekstrak etanol daun alpukat dosis 100 mg/kg 4.

1 Preparasi sampel Ginjal tikus ditaruh ke dalam cawan penguap dan dimasukan ke dalam oven 100o C selama 24 jam.16 3. dirumuskan dalam persamaan Boltzmann. 1960). 3.4 N untuk melarutkan kalsium. Terdapat dua langkah. Banyaknya atom yang mengalami transisi elektronik bergantung pada temperatur.6 Analisis sampel 3.6.7H2O (Lanthanum trichloride heptahydrate) (Reitz et al. yaitu atomisasi sampel dan absorpsi radiasi dari sumber sinar oleh atom bebas. Cairan tersebut dimasukan ke dalam mikrotub untuk selanjutnya dianalisis menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) atau spektrofotometer. . Sampel berupa hasil ekstraksi ginjal kering diubah menjadi atom oleh perangkat atomisasi (berupa nyala atau tungku grafit). atom bebas akan mengalami transisi elektronik dari ground stated ke exited stated. Setelah itu ginjal kering dicincang kemudian dimasukan ke dalam gelas piala 100 ml berisi 7 ml asam nitrat 0. Reaksi yang terjadi sebagai berikut: Ca(s) + 2HNO3(aq) → Ca(NO3)2(aq) + H2(g).05 ml reagen dalam akuades 5ml kemudian divorteks baru bisa dilanjutkan dengan prosedur AAS sedangkan untuk analisis fosfor dengan memipet 0. Selama proses absorpsi sinar UV-Vis. Dilakukan pemanasan sampai cairan berubah menjadi kekuningan.5 ml cairan sampel ditambah 0.5 ml cairan sampel ditambah akuades sampai 3 ml dan 2 ml larutan C (molibdovanadat) kemudian dikocok baru bisa dilanjutkan dengan pengukuran menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 660 nm (Suzanne 1998).6.2 Analisis Kalsium Untuk menganalisis material biologi seperti kalsium digunakan instrumen AAS adalah suatu teknik analisis untuk menetapkan konsentrasi suatu unsur (logam) dalam suatu sampel. 𝑁𝑞 𝑁𝑇 𝑔𝑞 𝑒 −(𝐸 𝑞 /𝑘𝑇 ) (𝑔 𝑖 𝑒 −(𝐸 𝑖 /𝑘𝑇 ) ) = (Suzanne 1998). Sebelumnya dilakukan kalibrasi terlebih dahulu dengan faktor pengenceran yang dibutuhkan dan penambahan bahan kimia untuk menghilangkan ion-ion pengganggu dengan reagen Cl3La. Untuk analisis kalsium preparasi AAS dengan memipet 0.

sangat mungkin ditentukan konsentrasi dari substansi yang bereaksi. Panjang gelombang yang dipantulkan adalah warna yang kita lihat. beberapa panjang gelombang diserap dan sebagian dipantulkan.24). Pada metode kolorimetri. Intensitas warna dari fosfomolibdovanadat bisa diukur secara kuantitatif menggunakan prinsip spektrofotometri. Prosedur tersebut menghasilkan stabilitas warna yang lebih baik sehingga umum digunakan. Selama intensitas warna meningkat. Daerah cahaya tampak dalam spektrum elektromagnetik. Transmittance (T) dari suatu larutan adalah perbandingan P dengan Po ditunjukan persamaan sebagai berikut.17 3.3 Analisis Fosfor Determinasi fosfor digunakan prosedur kolorimetri (AOAC Method 986. cahaya yang dapat menembus suatu larutan sangat sedikit. reaksi kimia harus menghasilkan warna yang stabil yang dikembangkan dengan cepat dan hanya terbentuk satu jenis warna. Begitu pula saat cahaya menembus jalur yang panjang dalam larutan. 𝑇 = 𝑃 𝑃𝑜 Transmittance juga dinyatakan dalam persen ditunjukan persamaan sebagai berikut. sedikit cahaya yang dapat diteruskan. % 𝑇 = 𝑃 𝑃𝑜 × 100 T = Transmittance Po = kekuatan sinar yang dipancarkan masuk melewati absorption cell P = kekuatan sinar yang dipancarkan keluar dari absorption cell Untuk menghitung nilai Absorbance (A) dari nilai T maka hubungan persamaan sebagai berikut. cahaya yang diserap oleh suatu larutan. Kemampuan menghitung cahaya yang dapat diteruskan melewati suatu larutan atau sebaliknya.6. 𝐴 = log 𝑃𝑜 𝑃 = − log 𝑇 = 2 − log % 𝑇 A = Absorbance . Reaksi pembentukan warna tersebut dipilih berdasarkan jenis mineral yang akan dianalisis.

05 . 3. 𝐴 = 𝑎𝑏𝑐 a = absorbtivity (konstanta) b = jarak yang ditempuh melewati suatu larutan (cm) c = konsentrasi zat terlarut (mg/ml. %) (Suzanne 1998). .05 diterima sebagai hal yang berbeda nyata. sedangkan apabila (p) > 0.05 maka diterima sebagai hal yang tidak berbeda nyata (Mattjik dan Sumertajaya 2000). H0: X1 = X2 (tidak berbeda nyata) H1: X1 ≠ X2 (berbeda nyata) Nilai probabilitas (p) < 0. Perangkat lunak komputer digunakan untuk perhitungan statistik.18 Hubungan antara nilai Absorbance suatu larutan dengan konsentrasi terlarut dinyatakan dengan hukum Beer.7 Teknik analisis data Hasil disajikan sebagai Rataan + standard deviation (St Dev) dan ANOVA satu arah digunakan untuk menentukan perbedaan yang nyata atau tidak diantara kelompok perlakuan. Dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) α : 0.

Semua kelompok tikus yang diberi inducer baik kelompok kontrol negatif (K). P1 dan P2 lebih tidak stabil dan cenderung naik pada hari ke-8 sedangkan K terus menurun secara konsisten. Dalam hal ini jika dibandingkan dengan penurunan BB yang diakibatkan kelompok perlakuan yang diberi etilen glikol saja Brai et al. K: Kontrol negatif. (2007) menyatakan bahwa ekstrak etanol daun alpukat meningkatkan katabolisme lemak dalam .05). Walaupun kelompok K. N: Normal. Ekstrak etanol dari daun alpukat (Persea americana Mill) sedikit banyak berpengaruh pada tingkat kecuraman grafik dari penurunan bobot badan dibandingkan dengan kelompok kontrol normal yang tidak diberi perlakuan (p < 0. P1: Perlakuan 1 dosis 100 mg/kg. kelompok perlakuan 1 (P1) maupun kelompok perlakuan 2 (P2) mengalami penurunan BB. Terlihat pada Gambar 4 bobot badan (BB) tikus mengalami peningkatan pada kelompok kontrol normal (N) atau kelompok tikus tanpa perlakuan. P2: Perlakuan 2 dosis 300 mg/kg Berdasarkan hasil percobaan didapatkan data rataan bobot badan tikus perhari. P1 dan P2 mengalami penurunan terlihat perbedaan yang cukup bermakna diantara ketiganya.1 Bobot Badan. Secara statistik nilai rataan bobot badan P1 dan P2 berbeda nyata dengan K (Tabel 2).19 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Bobot Ginjal dan Rasio 350 325 300 275 250 225 200 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 N K P1 P2 Bobot badan (gram) Waktu (hari) Gambar 4 Bobot Badan Harian.

97 1.71 0.76 Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukan hal yang berbeda nyata (p < 0.00 0.26 0. K: Kontrol negatif.86 1.80 + 23.05) tetapi P1 cenderung menunjukan penurunan BG mencapai 19 % dibandingkan K yang lebih tinggi jumlahnya (Gambar 5) mengingat besarnya ginjal tikus yang menderita nefrotoksik tidak akan melebihi 2 kalinya besar ginjal normal. Bobot ginjal dan Rasio Parameter N BB (gr) BG (gr) Rasio 314. N: Normal.45 + 18.64a 0.07 + 0.70 0.12 1.20 1. P1: Perlakuan 1 dosis 100 mg/kg.60 0.20 jaringan adiposa menyebabkan penurunan bobot badan tetapi tidak menurunkan lemak dalam hati pada tingkatan tikus percobaan sehingga terdapat perbedaan tingkat kecuraman yang ditunjukan pada Gambar 4. Rataan BB tikus semua kelompok menurun pada hari terakhir percobaan karena tikus dipuasakan.63 1.72 + 17. Sekilas terlihat BG kelompok normal (N) lebih tinggi dari kelompok induksi (K) tetapi dengan perhitungan rasio BG/200 gram BB menunjukan N .12 + 0.77 0. P2: Perlakuan 2 dosis 300 mg/kg Tabel 2 Rataan Bobot badan.71 c K 278.97 + 0.07 Bobot (gram) 0.40 N K P1 P2 0.47 0.26 0.76 Bobot Ginjal Rasio / 200 gr BB Kelompok Gambar 5 Bobot Ginjal dan Rasio.08 0.77 b P1 238.72 a P2 253.05) Walaupun rataan bobot ginjal (BG) dan ratio bobot ginjal per 200 gram bobot badan tikus menunjukan hal yang tidak berbeda nyata antar kelompok (p > 0.98 + 7.80 0.24 0.10 1.50 0.97 0.86 + 0.72 0. 1.90 0.

P1: Perlakuan 1 dosis 100 mg/kg.040 0.067 Kalsium 0. Aktivitas anti radang dari ekstrak etanol daun alpukat menurunkan bobot ginjal relatif mendekati normal sebesar 0. Cruzan et al.080 0.77. N: Normal.21 lebih rendah dari K. Menurut Baker et al.120 0. Bobot badan rata-rata 314. K: Kontrol negatif. Rasio digunakan untuk menyetarakan atau mengkoreksi faktor bobot badan yang lebih besar akan memiliki bobot ginjal yang besar pula begitu juga sebaliknya. P2: Perlakuan 2 dosis 300 mg/kg .2 Kadar Kalsium dan Fosfor 0. Dosis ekstrak etanol daun alpukat lebih tinggi (300 mg/kg) yang digunakan pada P2 justru tidak menurunkan bobot ginjal seperti P1 (100 mg/kg).71 sedangkan apabila ada kelainan di ginjal berupa peradangan dan deposit mineral akan menaikan bobot ginjal 1.000 N K P1 P2 0.100 0.8 gram sebesar 0. Nefrotoksik secara otomatis meningkatkan bobot ginjal karena kebengkakan akibat reaksi radang selain kadar mineral yang tinggi dalam ginjal.060 0.72 seperti yang terlihat pada Tabel 2.140 0. (1979) besarnya ukuran relatif dan ketebalan daerah di ginjal dipengaruhi oleh perbandingan bobot ginjal dan bobot badan tikus dan akan membentuk grafik garis horizontal berapapun umur tikus pada keadaan normal.07 gram relatif terhadap bobot badan 278.020 0.139 Gambar 6 Kadar Kalsium.075 0. (2004) menyatakan tikus putih mengalami penurunan bobot badan akibat keracunan etilen glikol dosis tinggi dan menaikan bobot ginjal serta rasio bobot ginjal relatif terhadap bobot badan.98 gram memiliki bobot ginjal 1.12 gram pada kelompok normal memiliki rasio 0.160 0. 4.060 0.

22 Etilen glikol (EG) dimetabolisme dalam hati menghasilkan senyawa metabolit oksalat sehingga menyebabkan hiperoksaluria yang dapat berikatan dengan kalsium dalam darah membentuk kristal kalsium oksalat (CaOx) dan terdepo di ginjal (nefrolithiasis) (Green et al.060 mg) dan P2 (0.139 + 0. Kadar kalsium yang diukur pada kelompok normal (N) sebesar 0.872 + 0. merupakan protein fagolisosom yang dapat memfagosit kristal-kristal batuan dan menghancurkannya dengan enzim-enzim lisosom yang terkandung di dalam protein tersebut (Grover et al.143 Keterangan : Superskrip menunjukan hal yang berbeda nyata (p < 0.095a 0.075 + 0.067 + 0.060 + 0.139 mg (p < 0. 2005).540 + 0.009 0.568 + 0. 2007). Perlekatannya sangat cepat dan bergantung pada konsentrasi jumlah kristal. 2007).067 mg).023 K P1 P2 0. Walaupun demikian kelompok perlakuan yang diberi ekstrak etanol daun alpukat mampu mengurangi kadar kalsium dalam pembentukan batuan di ginjal (nefrolithiasis). Ini sangat berbeda dengan pembentukan kristal batuan lainnya. Perlekatan kristal CaOx dengan sel-sel di tubulus dipertimbangkan sebagai faktor potensial dalam pembentukan kalkuli (Touhami et al. Hal tersebut menunjukkan mengapa jenis batuan yang paling sering ditemukan pada kejadian batu ginjal adalah kalsium oksalat.013 0. Tetapi sangat signifikan secara statistik berbeda dibandingkan dengan kadar kalsium kelompok kontrol negatif (K) sebesar 0. Pertahanan sel pertama melawan kalkulogenesis adalah dengan membentuk protein penghambat kristal (Protein Tamm-Horsfall). P1 lebih baik dalam mencegah pembentukan CaOx dibandingkan dengan P2.012 0.05) (Tabel 3). Kristal CaOx menempel pada reseptor anion dari permukaan membran sel.05) Tikus yang terinduksi nefrolithiasis menunjukan deposit kristal kalsium oksalat di dalam tubulus ginjal. Tabel 3 Rataan Kadar Kalsium dan Fosfor Parameter Kadar Ca Kadar P N 0.137 0.075 mg tidak berbeda nyata dengan kelompok perlakuan P1 (0.512 + 0. Kelompok perlakuan P1 menurunkan grafik dengan tingkat kecuraman yang tinggi dari K (Gambar 6). Kristal CaOx dapat melisiskan membran epitel sel menggunakan protease yang ditemukan dalam urin. Faktor . Hiperoksaluria kalsium dialami kelompok K yang diinduksi EG.079a 0.

polifenol. alkaloida. mampu mencegah peroksidasi lemak (Sampson et al. B. quersetin. 2004). Khasiat antioksidan yang dimiliki ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) mampu mencegah perlekatan kristal CaOx dan rangkaian proses selanjutnya dalam pembentukan batu ginjal. anti trombus dan vasodilatasi. anti mutagenik. Potensi aktivitas antioksidan dari flavonoid adalah kemampuannya dalam mengumpulkan radikal bebas seperti hidroksil. Selain memiliki kandungan flavonoid yang tinggi. Flavonoid merupakan unsur mikro yang terkandung dalam hampir semua varietas tanaman. vitamin A. 2002). pengusir serangga dan molekul pemberi isyarat.23 penghambat batu ginjal lainnya adalah asam sitrat yang dapat memecah kristal dengan mengikat kalsium. Kalsium yang terdepo di ginjal dalam bentuk CaOx menyebabkan hipokalsemia karena kalsium tersebut tidak dapat direabsorpsi kembali melalui . C dan E (Prihatman 2000). Polifenol dan quersetin termasuk ke dalamnya. Fungsi dalam tubuh dari flavonoid menunjukan adanya aktivitas anti bakteri. flavonoid. anti alergi. anti neoplasma. 2004). 2007). Komposisi kimia daun alpukat mengandung saponin. ekstrak etanol daun alpukat memiliki kandungan vitamin E yang juga merupakan antioksidan yang kuat dan bisa mencegah perlekatan CaOx pada membran sel epitel tubulus di ginjal dengan menghambat kerusakan sel akibat hiperoksaluria peroksidatif pada permukaan membran tubulus renalis (peroksidasi lemak) (Touhami et al. gula alkohol persit. Oksalat dapat mencegah proliferasi sel epitel tubulus renalis melalui peningkatan reaksi oksidatif sel yang memproduksi radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel tersebut (Han et al. Pada tanaman tersebut flavonoid berfungsi sebagai pigmen warna buah atau daun. anti viral. Dengan perhitungan sungguh-sungguh yang mempertimbangkan kecepatan pertumbuhan kristal dan kecepatan arus cairan di tubulus memberi kesan bahwa satu kristal menjadi tidak cukup besar untuk menahan atau mengobstruksi lumen tubulus. Lebih jauh lagi ini membuktikan bahwa kristal CaOx dapat dicegah perlekatannya dengan permukaan dari sel epitel di ginjal (Atmani et al. anti peradangan. Quersetin merupakan antioksidan yang kuat. anion superoksida dan radikal peroksidasi lemak yang mungkin merupakan fungsi terpenting dari flavonoid (Painter 2000).

500 0.540 0.512 0.05 (Tabel 3). 1.540 mg. Menurut Last (2007) jumlah perbandingan normal kadar kalsium dan kadar fosfor dalam darah adalah 10 : 4.872 mg. P2: Perlakuan 2 dosis 300 mg/kg Rataan kadar fosfor N sebesar 0. P1: Perlakuan 1 dosis 100 mg/kg.400 0. Hal ini menunjukan efek dari ekstrak etanol daun alpukat berpengaruh nyata pada dosis 100 mg/kg (P1) dibandingkan . Pada kelompok perlakuan P1 kadar fosfor menurun hingga dibawah normal mencapai 0.000 0.800 0. PTH mengembalikan plasma kalsium normal dengan cara meningkatkan reabsorpsi kalsium di ginjal.24 tubulus renalis.200 0. Efek lain dari PTH adalah menurunkan plasma fosfor dengan cara menurunkan reabsorpsi fosfor di ginjal dan meningkatkan ekskresi fosfor dalam urin untuk menjaga rasio plasma Ca : P selalu seimbang.568 Fosfor 0. (1990) menyebutkan bahwa secara normal penurunan plasma kalsium dalam darah menginduksi kelenjar paratiroid untuk mensekresikan paratiroid hormon (PTH).300 0.512 mg.700 0. Tren grafik rataan kadar fosfor yang ditunjukan sama dengan tren grafik pada rataan kadar kalsium (Gambar 7).900 0.600 0. Homeostasis tubuh meregulasi agar kadar mineral dalam tubuh jumlahnya selalu normal dan seimbang. Peningkatan yang signifikan ditunjukan pada kelompok P2 yang diinduksi etilen glikol mencapai 0.872 Gambar 7 Kadar Fosfor. Hal tersebut cukup bermakna secara statistik dengan p < 0. meningkatkan absorpsi kalsium di usus dan demineralisasi kalsium dari tulang. N: Normal.100 0.000 N K P1 P2 0. Vander et al. K: Kontrol negatif.

028 di atas kontrol normal (N). Pencegahan nefrotoksik oleh ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill) mengembalikan fungsi ginjal dalam mengatur homeostasis mineral dalam tubuh. Efek dari pemberian EG adalah menurunkan kadar kalsium dan fosfor tulang.+ H+ → H2PO4-). 2004) terlihat pada kelompok tikus yang diinduksi etilen glikol (K). . ekskresi fosfor dan asam sitrat serta meningkatkan plasma fosfor dan ekskresi kalsium. Metabolik asidosis pada umumnya menginduksi hiperfosfaturia (Vander et al.25 dengan dosis 300 mg/kg (P2) yang hanya menurunkan kadar fosfor dengan selisih 0. Dalam darah fosfor dikenal dengan fosfat (H2PO4.dan HPO42-). Peningkatan kadar fosfor disebabkan karena gangguan fungsi ginjal akibat nefrotoksik yang tidak mampu mengekskresikan fosfor sehingga terjadi peningkatan kadar fosfor dalam darah (Rajagopal et al. plasma kalsium. Hiperfosfatemia menyebabkan gejala metabolik asidosis oleh karena ion H+ meningkat bersamaan dengan peningkatan fosfat (HPO42. 1990).

1 Kesimpulan Data hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol Persea americana Mill pada tikus percobaan dengan etilen glikol yang menginduksi nefrolithiasis. 5.26 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. aktivitas antioksidan dan menurunkan konsentrasi faktor pembentuk kalkuli dalam saluran kemih. . Mekanisme dibalik efek yang ditunjukan berkaitan dengan efek diuresis yang ditingkatkan. mengurangi dan mencegah perkembangan dari pembentukan batuan di ginjal. mendukung pengobatan herbal yang ada di masyarakat berkenaan dengan aktivitas anti lithiasis tanaman tersebut.2 Saran Diperlukan penelitian lebih lanjut dan studi klinik untuk menjelaskan teori dari unsur-unsur kimia pokok yang terkandung di dalam ekstrak dan mekanismenya terhadap aktivitas farmakologi dalam upaya pengembangan obat herbal menjadi obat herbal terstandar hingga mencapai taraf fitofarmaka.

Military Medicine. Ditjen POM. Brai BIC. 2004. Ethylene glycol toxicity. http://www. 2007. Hatch M. Guyton AG. Duke PK. 169(8):660-663. 16th Ed. Jakarta : Penerbit buku kedokteran. Phillips WJ.htm [3 Juni 2009] Cox RD. EGJ. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. Subchronic toxicity of ethylene glycol in wistar and F-344 rats related to metabolism and clearance of metabolites. 1995. MD. Vol 1. Mertens JJWM. 2000. 289(3):536-543. duCellier J. Gaithersburg. New York : Academic Press Inc. Extract from herniaria hirsuta coats calcium oxalate monohydrate crystals and blocks their adhesion to renal epithelial cells. Ethylene glycol induces hyperoxaluria without metabolic acidosis in rats. Green ML. 2005. AOAC International. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Toxicological Sciences. Snellings WM. Cruzan G. 294:355-361.niddk. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 14. 2nd Ed. Wang T. Darmansjah I. . Odetola AA. 1979.nih. Thurgood LA. 2007. Weisbroth SH. 81(2):502-511. 2004. 2002. Gerald F.gov/ Kudisease/pus/kidneyfaillure/index. The Journal of Urology. Ryall RL. The Laboratory rat: Biology and Disease. Intracrystalline urinary proteins faacilitate degradation and dissolution of calcium oxalate crystals in cultured renal cells. Grover PK.kidney. Duke JA. Corley RA. 2004. Baker HJ. Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 6(8):1007-1011. Bogenschutz-Godwin MJB. Kidney stone in Adults. Florida : CRC Press LLC. Jakarta : Bagian Farmakologis. Official Methods of Analysis. Hard GC. Toksikologi Dasar dalam Farmakologi dan Terapi. Agomo PU. Edisi 7. Gingell R. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Lindsey JR. Handbook of Medicinal Herbs. 172(4 Pt 1):1510-4. 2003. 1994. 1995. Bronswijk W. AJP-Renal Physiology. Fleming DE. Freel RW. Atmani F. Deyo JA. John L. Effects of persea americana leaf extracts on body weight and liver lipid in rats fed hyperlipidaemic diet. African Journal of Biotechnology.27 DAFTAR PUSTAKA AOAC International. AJP-Renal Physiology. Coe FL. McMartin KE. 1995. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.

287:1058-1066. Vol. Perencanaan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. Jakarta: Universitas Indonesia. Last W. Venkatesan K. Terjemahan Kosasih Padmawinata. Analytical chemistry. West Lafayette. Edisi keenam. 1977. Alternative Medicine Review.health-sciencespirit. 2000. Jakarta : Yayasan Sarana Wana Jaya. 1997. Pramono CSU. Lee YJ. Ramakrishnan S. Journal of The American Dietetic Association. 32: 1728. Hollman PC. Heyne K. Subahagio. Toksikologi Dasar. Badan Pengembangan Kesehatan. Texas: Lea & Febiger.com/calcium. Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan. 2nd Ed. 2000. Ibnusahni. 2000. Robinson T. Lim MJ. Smith HA. Stockham SL. 2nd Ed. Calcium and phosphorus metabolism in ethylene glycol toxicity in rats. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Rajagopal G. Scott MA. Oxalate inhibits renal proximal tubule cell proliferation via oxidative stress. Sutarjo. 1962. Jakarta : BAPPENAS. 2nd Ed. Hlm 392-444. Ranganathan P. 1987. Food Analysis. Indian : Purdue University. Sulaksono ME. 2002. Pengantar Hewan-Hewan Percobaan di Laboratorium. 1(2):103-111. VII No. Rahman I. Tumbuhan Berguna Indonesia. FM. Smith WH. Mattjik A. Hartono R. function and clinical usage. 1995. Histologi Veteriner. Plumlee MP. Sumetajaya M. Veterinary Pathology. Bandung : Penerbit ITB.1. Malole MBM. 2004. The calcium-phosphorus ratio. Suzanne N. Iowa : Blackwell Publishing. AJP-Renal Physiology. 39(3): 543-547 Reitz LL. http://www. Katan MB. A simple wet oxidation procedure for biological materials. 1998. Sampson L. 2007. Vol. Prihatman K. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. and cPLA2 signaling pathways. Edisi 3. Jakarta : UI Press. 1992. 1989. Fundamental of Veterinary Clinical Pathology. Terjemahan Edi Nugroho. Jilid II. Pengaruh faktor keturunan dan lingkungan terhadap sifat-sifat biologis terlihat pada hewan percobaan. Bogor : IPB Press. Jones T C. Painter. Flavonol and flavone intakes in US health professionals. 1960. de Vries JHM. Rimm E. . Vol. p38 MAPK/JNK. 1995. Antioxidant flavonoids: structure.html [4 September 2009] Lu FC. 102(10):1414-1420. Bogor : Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB. 2008. Toxicology and Applied Pharmacology.28 Han HJ.

. Zrara I. 7:18. 1976. Exterenal Salt Exretion and Urine. Chait A. 3rd Ed. Kidney. New York: Heidebeg. 1990. Darsono FL.29 Strukie PDB. Pubmed Central. Grases F. Sherman JH. In: Avian Physiology. Touhami M. Eljahiri Y. Luciano DS. Springer-Verlag. 16 (3): 173-176. Elhabazi K. Human Physiology: The Mechanisms of Body Function. Loubna F. Lemon juice has protective activity in a rat urolithiasis model. New York : McGraw-Hill Inc. Laroubi A. 5th Ed. Uji daya anti kalkuli perasan buah ketimun (Cucumis sativus) terhadap tikus putih jantan dengan metode kalkuli. Vander AJ. Oussama A. Wijaya S. 2007. 2005. Majalah Farmasi Indonesia.

30 Lampiran 1. 2 4156. 0.00176 0.046195 df 3 15 18 3 15 18 Mean Square F Sig.012949 Ca 0.019792 0.30792 0.026403 0.137976 10. Uji Statistik One Way ANOVA ANOVA Sum of Squares P Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total Sum of Squares 8313.65508 0.608168 0.86 19201.2541 29 .748003 0.425 10887.006597 3.713 10.000526 0.000472 27 403.413928 0.19424 0.29 0.034324 Bobot Badan Between Groups Within Groups Total df Mean Square F Sig.

Ca perlakuan N 3 4 1 2 Sig.06028 5 0.627920849 2 0.05 1 5 0.13912 1 . Subset for alpha = .05) Duncan P perlakuan N 3 1 4 2 Sig.87 0. Bobot Badan perlakuan N 3 4 2 1 Sig.06674 4 0.512 4 0.7203 10 278.485588731 2 0.074575 5 0.064025 1 1 Subset for alpha = .568 5 0. Uji lanjut Duncan (p < 0.31 Lampiran 2.44 10 253.05 1 5 0.872 1 Subset for alpha = .82 10 313.05 1 2 3 10 238.54 5 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->