P. 1
Ilmu Budaya Dasar

Ilmu Budaya Dasar

|Views: 3,545|Likes:
Published by Rismalil Ismi Afida
Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya dari pada masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya.
Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddayah yang merupakan bentuk jamak dari Buddhi ( budi atau akal ) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal.
Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya dari pada masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya.
Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddayah yang merupakan bentuk jamak dari Buddhi ( budi atau akal ) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal.

More info:

Published by: Rismalil Ismi Afida on Nov 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

ILMU BUDAYA DASAR

DOSEN PEMBIMBING Ni’matuz Zuhroh, M.Si

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2009
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

(HAKIKAT MANUSIA DAN KEBUDAYAAN) Oleh: M. Miftahul Huda ( 09650197 ) Y. Wardata Ardhy ( 09650210 ) Lutfi Husna Rahmawati ( 09650217 ) Febrilia Ayu Rosalina ( 09650222 )

ABSTRAK Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Budaya adalah hasil karya manusia yang selalu berkembang oleh karena itu dalam makalah ini dibahas pengertian, wujud, bentuk dan transformasi kebudayaan yang ada di Indonesia. Kata Kunci : Manusia, Kebudayaan, Transformasi.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, rahmat, hidayah serta inayahnya penulis dapat menyelesaikan Makalah ‖ Hakikat Manusia dan Kebudayaan‖. Sholawat serta semoga akan selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW, yang telah membawa kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang, dan yang kita nantikan syafa‘atnya di dunia dan akhirat. Penulis sadar bahwa dirinya hanyalah manusia biasanya yang pastinya mempunyai banyak kesalahan, tentunya dalam Makalah ini terdapat banyak kesalahan. Untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan pengembangan berikutnya. Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Teknik Informatika khususnya dan untuk mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Selesainya Makalah ini tentunya tidak terlepas dari berbagai pihak. Dalam lembar ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada : 1. Kedua orang tua penulis yang selalu mendukung penulis, yang selalu mendoakan penulis dan selalu mendukung baik moril maupun materi. 2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri Malang yang telah memberikan kesempatan penulis untuk mengembangkan bakat dan minatnya. 3. Ibu Ni‘matuz Zuhroh, M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. 4. Semua pihak yang telah berkenan memberikan dukungan dan semangat yang penulis tidak bisa sebutkan satu-persatu, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Malang, 10 September 2009

Penulis DAFTAR ISI COVER ............................................................... Error! Bookmark not defined. ABSTRAK .......................................................................................................... 2 KATA PENGANTAR ......................................................................................... 3 DAFTAR ISI ....................................................................................................... 4 BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 6 1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 6 1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 7 BAB II KONSEPSI TEORI ................................................................................. 8 2.1 Pengertian Kebudayaan .............................................................................. 8 2.2 Pengertian Manusia .................................................................................... 9 2.3 Wujud dan Bentuk Manusia dan Kebudayaa. ............................................ 12 2.3.1. Wujud ............................................................................................... 12 2.3.2. Komponen ........................................................................................ 13 2.4 Transformasi Kebudayaan ........................................................................ 14 2.4.1. Karakteristik Perubahan Sosial dan Budaya ...................................... 14 2.4.2. Faktor pendorong perubahan ............................................................. 16 2.4.3. Bentuk Perubahan Sosial Budaya ...................................................... 17
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

2.4.4. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya ............................................. 17 2.5 Hubungan manusia dan Kebudayaan ........................................................ 19 BAB III STUDY KASUS .................................................................................. 21 3.1. Sistem kepercayaan ................................................................................. 21 3.2. Pernikahan ............................................................................................... 21 3.3. Sistem ilmu dan pengetahuan................................................................... 22 3.4. Penetrasi kebudayaan............................................................................... 22 3.4.1. Penetrasi damai (penetration pasifique) ............................................. 22 3.4.2. Penetrasi kekerasan (penetration violante) ......................................... 23 3.5. Kebudayaan sebagai peradaban ............................................................... 23 3.6. Kebudayaan sebagai "sudut pandang umum" ........................................... 25 BAB V............................................................................................................... 26 PENUTUP ......................................................................................................... 26 5.1. Kesimpulan ............................................................................................. 26 5.2. Saran ....................................................................................................... 26 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 27

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu kami mengambil judul Hakikat Manusia dan Kebudayaan. Dengan tujuan untuk mengetahui hakikat sebenarnya apaitu manusia dan kebudayaan serta hubungan antara manusia dan kebudayaan.

1.2. Rumusan Masalah Dalam makalah ini kami mempunyai masalah : 1. apa pengertian hakikat manusia dan kebudayaan ? 2. apa wujud dan bentuk manusia dan kebudayaan ? 3. bagaimana proses perubahan kebudayaan ( transformasi ) di masyarakat.? 4. apa hakikat hubungan manusia dan kebudayaan ?

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB II KONSEPSI TEORI 2.1 Pengertian Kebudayaan Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya dari pada masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddayah yang merupakan bentuk jamak dari Buddhi ( budi atau akal ) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut Culture yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Dalam bahasa belanda, Cultuur berarti sama dengan Culture. Yang dapat diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang merumuskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, yang diperlukan manusia untuk menguasa alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk kepntingan masyarakat. Bertitik tilah dari sistem inilah maka kebudayaan paling sedikit memiliki 3 wujud antara lain : 1. wujud sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, norma, peraturan dan sejenisnya. Ini merupakan wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak 1, lokasinya aa dalam pikiran masyarakat dimana kebudayaan itu hidup
1

Sesuatu yang nyata dan dapat diraba panca indra Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

2. kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat 3. kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia

Perubahan kebudayaan pada dasarnya tidak lain dari para perubahan manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan itu. Perubahan itu terjadi karena manusia mengadakan hubungan dengan manusia lainnya, atau karena hubungan antara kelompok manusia dalam masyarakat. Tidak ada kebudayaan yanga statis2, setiap perubahan kebudayaan mempunyai dinamika, mengalami perubahan; perubahan itu akibat dari perubahan masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tersebut. 2.2 Pengertian Manusia Dipandang dari ilmu eksakta, manusia adalah kumpulan dari partikelpartikel atom yang membentuk jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia). Manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika). Manusia merupakan makhluk biologis yang tergolong dalam golongan makhluk mamalia ( ilmu biologi). Dalam ilmu-ilmu sosial, manusia merupakan makhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering di sebut homo economicus (ilmu ekonomi). Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi). Manusia merupakan makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik). Sedangkan jika dilihat dari unsur-unsurnya ada beberapa pembagian, yaitu : 1. Manusia memiliki empat unsur yang saling terkait, yaitu: a. Jasad; yaitu badan kasar manusia yang tampak pada luarnya, dapat di raba,
2

Diam, tidak mengalami perubahan Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

difoto, serta menempati ruang dan waktu b. Hayat; yaitu mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak c. Ruh, yaitu Pimpinan dan bimbingan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan. d. Nafs; dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri. 2. Manusia memiliki tiga unsur kepribadian, yaitu: a. Id. Yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitiv dan paling tidak tampak. Id merupakan libido murni atau energi psikis3 yang menunjukan ciri alami yang irrasional dan terkait masalah sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran. Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri, tetapi terikat dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator antara insting Id dengan dunia Luar. b. Ego. Merupakan bagian atau struktur bagian yang pertama kali di bedakan dari Id, sering kali di sebut sebagai kepribadian ‖eksekutif‖ karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain. c. Superego. Merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira2 pada usia lima tahun. Dibandingkan dengan Id dan Ego, yang berkembang secara internal dalam diri individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal. Jadi superego menunjukkan pola aturan yang dalam drajat tertentu menghasilkan control diri melalui sistem imbalan dan hukuman yang terinternalisasi.
3

Pemikiran yang bersifat alamiah Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Dari uraian di atas dapat dikaji aspek tidakan manusia dengan analisa hubungan antara tidakan dan unsur-unsur manusia. Seringkali misalnya orang senang terhadap penyimpangan nilai-nilai masyarakat dapat diidentifikasi bahwa orang tersebut lebih di kendalikan oleh Id dibandingkan superegonya. Atau sering kali ada kelainan yang terjadi pada manusia, misalnya orang yang berparas buruk dan bertubuh pendek berani tampil ke muka umum, dapat diterangkan dengan mengacu dengan unsur nafs (kesadaran diri) yang dimilikinya. Kesemuanya tersebut dapat digunakan sebagai alat analisa bagi tingkah laku manusia. Sedangkan manusia itu sendiri mempunyai Cipta, Rasa, Karsa.Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segi norma dan nilai masyarakat yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasarakatan alam arti luas., didalamnya

termasuk, agama, ideology, kebatinan, kenesenian dan semua unusr yang merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia. Yang hidup sebagai anggota masyarakat. Selanjtunya cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan piker dari orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Rasa dan cipta dinamakan kebudayaan rohaniah. Semua karya, rasa dan cipta dikuasai oleh karsa dari orang-orang yang menentukan kegunaannya, agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar, bahkan seluruh masyarakat. Dari pengetian tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu merupakan keseluruhan ari pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial, yang digunakan untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi, untuk memenuhi segala kebutuhannya serta mendorong terwujudnya kelakuan manusia itu sendiri.Atas dadar itulah para ahli mengemukakan adanya unsure kebudayaan yang umumnya diperinci menjadi 7 unsur yaitu : 1. unsur religi 2. sistem kemasyarakatan 3. sistem peralatan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

4. sistem mata pencaharian hidup 5. sistem bahasa 6. sistem pengetahuan 7. seni

2.3 Wujud dan Bentuk Manusia dan Kebudayaa. 2.3.1. Wujud Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.  Gagasan (Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.  Aktivitas (tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.  Artefak (karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa bendabenda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia. 2.3.2. Komponen Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:  Kebudayaan material Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.  Kebudayaan nonmaterial Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

2.4 Transformasi Kebudayaan Ada beberapa ahli yang berpendapat tentang transformasi atau perubahan budaya. 1. Max Weber berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsurunsur 4. 2. W. Kornblum berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan suatu budaya masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama 5.

2.4.1. Karakteristik Perubahan Sosial dan Budaya

Dengan memahami definisi perubahan sosial dan budaya di atas, maka suatu perubahan dikatakan sebagai perubahan sosial budaya apabila memiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti karena setiap masyarakat mengalami perubahan secara cepat ataupun lambat. 2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti perubahan pada lembaga sosial yang ada.

4

dalam buku Sociological Writings dalam buku Sociology in Changing World
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

5

3. Perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan kekacauan sementara karena orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. 4. Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja karena keduanya saling berkaitan. Suatu perilaku atau budaya yang sudah menjadi kebiasaan akan sulit untuk diubah. Masyarakat lebih menyukai kehidupan mereka berjalan seperti biasa dan berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang nyaman. Kondisi ini menjadi alasan bahwa adanya hal-hal baru pada awalnya cenderung ditolak. Sebagai contoh, orang tuamu mungkin menolak ketika kamu meminta sebuah handphone baru. Bagi mereka, kamu belum cukup dewasa untuk menggunakan alat komunikasi tersebut. Di sini kebanyakan orang lupa bahwa alat komunikasi seperti handphone dibutuhkan semata-mata sebagai alat penghubung antar manusia dalam berkomunikasi, dan tidak ada hubungan dengan kedewasaan seseorang. Tentu seorang anak balita tidak mungkin menggunakan handphone, karena belum mempu menguasai dan mengoperasikan alat tersebut.

Pada umumnya masyarakat sulit mengikuti perubahan yang akan merubah kebiasaan, lembaga sosial, kepercayaan dan kebiasaan. Namun ini tidak berarti bahwa semua perubahan selalu mendapat tantangan dari seluruh anggota masyarakat. Sikap masyarakat yang terbuka beraneka ragam kebudayaan, cenderung menghasilkan warga masyarakat yang lebih mudah untuk menerima kebudayaan asing atau baru. Sebaliknya, masyarakat yang tertutup lebih sulit membuka diri dan mengadakan perubahan. Terbuka dan tertutupnya sebuah masyarakat tidak

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

harus melalui kontak sosial secara langsung. Akses terhadap media komunikasi juga menjadi faktor penentu terbuka atau tertutupnya sebuah masyarakat. Terjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang mendorong sehingga mendukung perubahan, tetapi juga ada faktor penghambat sehingga perubahan tidak berjalan sesuai yang diharapkan. 2.4.2. Faktor pendorong perubahan Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Menurut Soerjono Soekanto ada tiga faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial, yaitu: 1. Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.

Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan bahkan hasil perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu akan memperkaya kebudayaan yang ada. 2. Sistem pendidikan formal yang maju.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuah masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah perubahan atau tidak. 3. Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju. Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya. Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

2.4.3. Bentuk Perubahan Sosial Budaya 1. Perubahan sebagai suatu kemajuan (progress) Perubahan sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang memberi dan membawa kemajuan pada masyarakat. Hal ini tentu sangat diharapkan karena kemajuan itu bisa memberikan keuntungan dan berbagai kemudahan pada manusia. Perubahan kondisi masyarakat tradisional, dengan kehidupan teknologi yang masih sederhana, menjadi masyarakat maju dengan berbagai kemajuan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan merupakan sebuah perkembangan dan pembangunan yang membawa kemajuan. Jadi, pembangunan dalam masyarakat merupakan bentuk perubahan ke arah kemajuan (progress). 2. Perubahan dalam arti progress misalnya listrik masuk desa, penemuan alat-alat transportasi, dan penemuan alat-alat komunikasi. Masuknya jaringan listrik membuat kebutuhan manusia akan penerangan terpenuhi; penggunaan alat-alat elektronik meringankan pekerjaan dan memudahkan manusia memperoleh hiburan dan informasi; penemuan alat-alat transportasi memudahkan dan mempercepat mobilitas manusia proses pengangkutan; dan penemuan alat-alat komunikasi modern seperti telepon dan internet, memperlancar komunikasi jarak jauh. 3. Perubahan sebagai suatu kemunduran (regress) Tidak semua perubahan yang tujuannya ke arah kemajuan selalu berjalan sesuai rencana. Terkadang dampak negatif yang tidak direncanakan pun muncul dan bisa menimbulkan masalah baru. Jika perubahan itu ternyata tidak menguntungkan bagi masyarakat, maka perubahan itu dianggap sebagai sebuah kemunduran. 2.4.4. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Sebuah perubahan bisa terjadi karena sebab dari dalam (intern) atau sebab dari luar (ekstern). Dalam sebuah masyarakat, perubahan sosial dan budaya bisa terjadi karena sebab dari masyarakat sendiri atau yang berasal dari luar masyarakat.

1. Sebab Intern Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain: a. Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk.Pertambahan penduduk akan menyebabkan perubahan pada tempat tinggal. Tempat tinggal yang semula terpusat pada lingkungan kerabat akan berubah atau terpancar karena faktor pekerjaan. Berkurangnya penduduk juga akan menyebabkan perubahan sosial budaya. Contoh perubahan penduduk adalah program transmigrasi dan urbanisasi. b. Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention). c. Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat. d. Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin6 Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.

6

Pemaksaan pemikiran atau idiologi Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

2. Sebab Ekstern Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain: a. Adanya pengaruh bencana alam. Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya. b. Adanya peperangan. Peristiwa peperangan, baik perang saudara maupun perang antar negara dapat menyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah. c. Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Jika suatu kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut. 2.5 Hubungan manusia dan Kebudayaan Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi manusia merupakan kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi.

Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu, sebagai: 1) penganut kebudayaan, 2) pembawa kebudayaan, 3) manipulator kebudayaan, 4) pencipta kebudayaan. Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada

persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara. Hal yang dilakukan oleh manusia inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB III STUDY KASUS 3.1. Sistem kepercayaan Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama7, adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. 3.2. Pernikahan Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan yang menikah; gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan di hadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan mereka. Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan
7

bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti "menambatkan" Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

gerejanya. Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah, dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara Agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian, namun memperbolehkannya. 3.3. Sistem ilmu dan pengetahuan Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaanpercobaan yang bersifat empiris (trial and error). Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:
  

pengetahuan tentang alam pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia

pengetahuan tentang ruang dan waktu

3.4. Penetrasi kebudayaan Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara: 3.4.1. Penetrasi damai (penetration pasifique) Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.

Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

3.4.2. Penetrasi kekerasan (penetration violante) Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat. 3.5. Kebudayaan sebagai peradaban Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan "budaya" yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang "budaya" ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap 'kebudayaan' sebagai "peradaban" sebagai lawan kata dari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya. Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitasaktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan". Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran "manusia alami" (human nature) Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional8 dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami" (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan. Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku.

8

yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalah sama - masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang. 3.6. Kebudayaan sebagai "sudut pandang umum" Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme - seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria - mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum". Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masingmasing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan "tidak berkebudayaan" atau kebudayaan "primitif." Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan. Pada tahun 50-an, subkebudayaan - kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya - mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa : Kebudayaan adalah hasil karya manusia yang berasal dari Cipta, Rasa, dan Karsa manusia itu sendiri. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddayah yang merupakan bentuk jamak dari Buddhi ( budi atau akal ) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal.Budaya adalah hasil dari Cipta, Rasa, Karsa manusia. Yang dimulai dari Karsa diteruskan dengan Rasa yang diwujudkan dengan Cipta. Wujud dari kebudayaan adalah :Gagasan (Wujud ideal), Aktivitas (tindakan) Artefak (karya) Transformasi (perubahan sosial budaya adalah r perubahan suatu budaya masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama dalam situasi tertentu dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsu Hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia merupakan kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil.

5.2. Saran Karena berharganya Budaya kita yang sangat beraneka ragam ini. Marilah kita jaga dengan sungguh-sungguh. Jangan biarkan kebudayaan yang kita miliki direbut oleh bangsa lain.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

DAFTAR PUSTAKA

Daldjoeni N, M. Suprihadi Sastrosupono. 1984. IlmuBbudaya Dasar. Bandung: Universitas Kristen Satya Wacana Herimanto dan Winarno. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara Koentjaraningrat, dkk. 2008. Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia Buku obor. Jakarta: Asosiasi Antropologi Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia Liliweri Alo. 2003. Makna Budaya dalamKkomunikasi antar Budaya. Jakarta: Pelangi Aksara MustopoM. Habib. 1983. Ilmu budaya dasar, manusia dan budaya: kumpulan essay. Malang: Usaha Nasional Rahardjo, M. Dawam. 2002. Islam dan transformasi budaya. Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa bekerjasama dengan the International Institute of Islamic Thought Indonesia (IIIT) dan Lembaga Studi Agama & Filsafat Widjaya A. W. 1986. Ilmu Sosial Dasar (pedoman pokok-pokok bahasan dan satuan acara perkuliahan mata kuliah dasar umum). Jakarta: Akademika Pressindo

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

KEBUDAYAAN MASYARAKAT JAWA Disusun oleh : Chakim Annubaha (09650193) Abdullah (09650195) Azizah Zahratul.F (09650201) Yoan Kharisma Bunga (09650224)

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapakan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami kelompok II dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ―BUDAYA MASYARAKAT JAWA‖. Dalam masa penyusunan makalah, kami kelompok II telah banyak mendapatkan bantuan, masukkan, doa, semangat dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, khususnya kepada Ibu Ni‘matuz Zuhroh selaku dosen dan pembimbing mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Akhirnya kami menyadarai bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah dan kemajuan kami dikemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami maupun pembaca.

Malang,11 September 2009

Penulis
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

DAFTAR ISI

Halaman Judul Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN

i ii iii

1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Rumusan Masalah BAB II KONSEPSI TEORI

1 1

2.1 Pengertian Kebudayaan 2.2 Wujud Kebudayaan 2.3 Unsur Kebudayaan 2.4 Komponen Kebudayaan BAB III STUDI KASUS

2 3 4 5

3.1 Bentuk – Bentuk Budaya Masyarakat Jawa 3.1.1 Budaya Adat Istiadat Jawa a. proses lamaran Jawa b. pernikahan adat Jawa c. kehamilan 3.1.2 Budaya Kepercayaan Jawa a. kepercayaan masyarakat Jawa terhadap gunung b. kepercayaan masyarakat Jawa terhadap roh halus 3.1.3 Budaya Politik Jawa BAB IV PENUTUP 4.1 Analisa

6 6 6 6 10

10 11

14
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

4.2

Kesimpulan

14

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kebudayaan adalah hasil dari 3 komponen manusia yaitu cipta, rasa dan karsa. Kebudayaan masyarakat Jawa sangat beragama dari mulai antara pernikahan, lamaran, dll. Begitu pula dengan kebudayaan masyarakat lainnya. Tetapi di sini kami kelompok II menyangkat judul ―Kebudyaan Masyarakat Jawa‖ yang bertujuan untuk menyangkat kebudayaan Jawa dan mengenalkan apa saja kebudayaan masyarakat Jawa tersebut. Dari contoh kebudayaan masyarakat Jawa tersebut kami akan menjelaskan masalah – masalah kebudayaan yang tidak hanya masalah – masalah kebudayaan masyarakatJawa tetapiini berlaku untk semua aspek kebudayaan yang ada baik local, nasional, maupun internasional. Masalah kebudayaan akibat dari proses pergaulan hidup manusia sebagai pemilik kebudayaan di sini kami akan mengeluarkan sebaik mungkin sehingga para pembaca bias memahami apa saja masalah – masalah kebudayaan tersebut.

1.2

Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang aan dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Apa saja bentuk – bentuk budaya masyarakat Jawa. 2. Apa saja masalah – masalah kebudayaan masyarakat.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB II KONSEPSI TEORI

2.1

PENGERTIAN Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal – hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai ―kultur‖ dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat yang telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Beberapa contoh sebagai berikut : a. Melville J. Herskovits dan Bronislaw mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. b. Andreas Eppink menyatakan bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosila, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistic yang menjadi cirri khas suatu masyarakat. c. Edward Burnet Taylor menyatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adapt istiadat, dan kemampuan – kemampuan lain yang di dapat seseorang sebagai anggota masyarakat. d. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. e. Koentjoroningrat berpendapat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta dari hasil budi pekertinya. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi system ide atau gagasan yang terdpat dalam pkiran menusia, sehingga dalam kehidupan sehari – hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda – benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda – benda yang bersifat nyata, misalnya pola – pola perilaku, bahsa, peralatan hidup, organisasi social, religi, seni, dan lain – lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.2

WUJUD KEBUDAYAAN Menurut J.J Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga : gagasan, aktivitas, dan artefak. ● Gagasan (Wujd ideal) Wujud ideal kebudayaan yang berbantuk kumpulan ide – ide, gagasan, nilai – nilai, norma – norma, peraturan dan sebagainya yang bersifat abstrak: tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala – kepala atau di alam
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku – buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. ● Aktivitas (tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan system social. Sistem social ini terdiri dari aktivitas – aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola – pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari – hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. ● Artefak Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda – bend atau hal – hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antar wujud kebudayaan yang satu tidak bias dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh : wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

2.3

UNSUR – UNSUR
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Ada bebrapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsure kebudayaan, antara lain sebagai berikut : 1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu : • • • • 2. alat – alat teknologi system ekonomi keluarga kekuasaan politik

Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi : • system norma social yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya • • organisasi ekonomi alat – alat dan lembaga – lembaga atau petugas – petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) • organisasi kekuatan (politik)

2.4

KOMPONEN Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama :
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Kebudayaan material Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan – temuan yang dihasilakan dari suatu penggalian arkeologi : mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang – barang seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

Kebudayaan nonmaterial Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan – ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya beru dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB III STUDI KASUS

3.1.4 Upacara Tradisi Budaya Adat Istiadat Jawa Upacara Tradisi ada beberapa rangkaian upacara yang harus dilakukan, yaitu :

d.

Proses Lamaran Jawa Pada acara ini, kedua keluarga jika belumsaling mengenal dapat lebih jauh mengenal satu sama lain, dan berbincang – bincang mengenai hal – hal yang ringan. Jika keduanya sudah merasa cocok, maka orangtua pengantin laki-laki mengirim utusan ke orangtua pengantin perempuan untuk melamar puteri mereka. Orangtua dari kedua pengantin telah menyetujui lamaran perkawinan. Biasanya orangtua perempuan yang akan mengurus dan mempersiapkan pesta perkawinan. Mereka yang memilih perangkat dan bentuk pernikahan. Setiap model pernikahan itu berbeda dandanan dan pakaian untuk pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Kedua mempelai harus mengikuti segala rencana dan susunan pesta pernikahan, seperti Peningsetan, Siraman, Midodareni, Panggih.

e. ●

Pernikahan Adat Jawa Persiapan Perkawinan Segala persiapan tentu harus dilakukan. Dalam pernikahan jawa yang paling dominan mengatur jalannya upacara pernikahan adalah
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Pemaes yaitu dukun pengantin wanita yang menjadi pemimpin dari acara pernikahan, Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. Karena upacara pernikahan adalah pertunjukan yang besar, maka selain Pemaes yang memimpin acara pernikahan, dibentuk pula Panitia kecil terdiri dari teman dekat, keluarga dari kedua mempelai. ● Pemasangan dekorasi Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan).Yang terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa dan daun beringin yang memiliki arti agar Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. Pasangan pengantin saling cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. Dekorasi yang lain yang disiapkan adalah kembang mayang, yaitu suatu karangan bunga yang terdiri dari sebatang pohon pisang dan daun pohon kelapa. ● Siraman Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari, sehari sebelum acara pernikahan. Siraman diadakan di rumah orangtua pengantin masingmasing. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Biasanya orang yang melakukan Siraman yaitu orangtua dan keluarga dekat atau orang yang dituakan. ● Upacara Midodareni Biasanya pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh keluarga atau kerabat dekat
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

perempuannya. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung, dan semuanya harus wanita. ● Srah Srahan Kedua keluarga menyetujui pernikahan. Mereka akan menjadi besan. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan sambil membawa hadiah. Dalam kesempatan ini, kedua keluarga beramah tamah. ● Upacara Ijab Kabul Orang Jawa biasanya bicara lahir, menikah dan meninggal adalah takdir Tuhan. Upacara Ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. Pada saat ijab orang tua pengantin perempuan menikahkan anaknya kepada pengantin pria. Dan pengantin pria menerima nikahnya pengantin wanita yang disertai dengan penyerahan mas kawin bagi pengantin wanita. Pada saat ijab ini akan disaksikan oleh Penghulu atau pejabat pemerintah yang akan mencatat pernikahan mereka. ● Upacara panggih Pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan tanaman Tarub. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarganya, tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. Pengantin wanita, di antar oleh dua wanita yang dituakan, berjalan keluar dari kamar pengantin. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Upacara balangan suruh Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. Mereka mendekati satu sama lain, jaraknya sekitar tiga meter. Mereka mulai melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian, semua orang tersenyum bahagia. Menurut kepercayaan kuno, daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk. Dengan melempar daun betel satu sama lain, itu akan mencoba bahwa mereka benar-benar orang yang sejati, bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan.

Upacara wiji dadi Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam-macam bunga. Itu mengartikan, bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah serta suami yang bertangung jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya.

Tukar cincin Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta.

Upacara dahar kembul Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain. Pertama, pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan tangan kanannya dan di berinya ke pengantin wanita. Setelah pengantin wanita memakannya, dia melakukan sama untuk suaminya. Setelah
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

mereka selesai, mereka minum teh manis. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain. ● Upacara sungkeman Kedua mempelai bersujut kepada kedua orangtua untuk mohon doa restu dari orangtua mereka masing-masing. Pertama ke orangtua pengantin wanita, kemudian ke orangtua pengantin laki-laki. Selama Sungkeman sedang berlangsung, Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. Setelah Sungkeman, pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya. ● Pesta pernikahan Setelah upacara pernikahan selesai, selanjutnya diakhiri dengan pesta pernikahan. Menerima ucapan selamat dari para tamu dan undangan. Mungkin ini bagian dari kebahagiaan ke dua mempelai dengan para tamu, keluarga serta para undangan. c. Masa Kehamilan Pada masa kehamilan ini pada umumnya di masyarakat hanya dilaksanakan upacara tradisi ngliman1 dan mitoni2. Sebetulnya ada tradisi yang lain, yaitu manusia ada tanda – tanda kehamilan dengan ciri – ciri sudah tidak menstruasi, suka makan yang asam – asam dan pedas, mentah – mentah, dan lain – lain. Harus minum jamu atau nyup – nyup cabe puyang, mandi keramas, potong kuku, sisig (menghitamkan gigi) yang memiliki maksud selalu dalam keadaan suci. Karena pemahaman masyarakat Jawa dalam kehamilan selalu menjaga janin di kandungnya maka selalu berbuat kebaikan, tidak boleh mengejek orang, lebih – lebih orang cacat, tidak boleh membunuh mahkluk hidup dan lain sebagainya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Agar bayi yang dikandung sehat jasmani dan rohani serta menjadi anak yang bermanfaat bagi orang tua, agama, dan masyarakat. 3.1.2 Budaya Kepercayaan Jawa a. Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Gunung Tulisan ilmiah dari Dylan Walsh berjudul ―Kepercayaan

Masyarakat Jawa terhadap Gunung‖tersebut mengungkap hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat disekitar gunung Merapi, Jawa Tengah dan gunung Tengger, Jawa Timur. Dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam meneropong budaya masyarakat Jawa terutama disekitar kedua gunung tersebut. Tentu saja ini adalah hasil teropongan dari seorang Dylan Walsh. Untuk lebih memperkaya wacana baik juga mencari referensi dari sumber yang lain. Atau kalau kita orang Jawa, minimal dapat memperoleh referensi dari pengalaman hidup.
1 2

hamil 5 bulan hamil 7 bulan

Salah satu tokoh yaitu Mbah Marijan dapat meramalkan secara tepat tentang aktivitas gunung Merapi. Penggambaran bahwa dia memiliki kemampuan untuk seolah-olah mengerti polah tingkah sang gunung sehingga mempunyai keyakinan yang mantab, adalah sisi lain dari seorang yang bernama Mbah Marijan. Mungkin masih banyak mbah Marijan mbah Marijan lain di masyarakat Jawa dalam memandang fenomena alam terutama berkaitan dengan realitas kondisi alam disekitarnya. Dan masih banyak kita temui ritual-ritual yang menggambarkan kepercayaan tersebut di masyarakat
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Jawa. Akankah kepercayaan yang masih berbau budaya Jawa lawas itu akan tergerus oleh arus modernisasi dan materialisme yang semakin melanda di bumi Jawa ? Sebuah pertanyaan yang mungkin tidak memerlukan jawaban ya atau tidak. b. Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Roh Halus Konsepsi dasar Jawa mengenai dunia gaib (dunia yang tak nampak), didasarkan pada gagasan bahwa semua perwujudan dalam kehidupan disebabkan oleh makhluk berfikir yang berkepribadian yang mempunyai kehendak sendiri. Gagasan animis ini dapat dirumuskan demikian: segala sesuatu dalam alam, di dunia hewan dan tumbuhan, apakah besar atau kecil, mempunyai nyawanya sendiri. Kepercayaan religius ini merupakan campuran khas penyembahan unsur-unsur alamiah secara animis juga agama Hinduisme yang semuanya telah ditambah dengan ajaran Islam. Di antaranya terdapat danyang desa (roh pelindung desa). Orang Jawa menganggap bahwa setiap desa mempunyai roh pelindung sendiri yang tinggal dalam sebatang pohon yang rindang. Upacara pokok dalam agama Jawa tradisional ialah slametan (selamatan, kenduri). Tujuan utama slametan ialah mencari keadaan slamet (selamat) dalam arti idak terganggu oleh kesulitan alamiah atau ganjalan gaib. Dalam slametan orang Jawa bukan minta kesenangan atau tambahan kekayaan, melainkan semata-mata agar jangan terjadi apa-apa yang dapat membingungkan atau menyedihkan dia, yang memiskinkan atau menjadikan dia sakit. Di samping slametan untuk kesempatan khusus, setiap tahun penduduk desa mengadakan kenduri bagi roh pelindung yang terkenal sebagai sedekah bumi. Ini dirayakan di luar rumah, di bawah pohon atau di sawah di bawah tarub (tenda).
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

untuk kenduri upacara ini seekor kerbau disembelih dan kepalanya, tulang, dan tubuhnya dipendam pada tempat itu juga. Yang sama pentingnya ialah penghormatan kepada kuburankuburan suci yang disebut keramat. Kata ini berasal dari kata bahasa Arab karamah yang berarti mulia. Banyak kuburan ‗orang suci‘ di Jawa yang dianggap keramat, seperti makam para wali untuk mendapat berkah. Satu benda lagi yang oleh orang abangan sangat dihormati ialah keris. Senjata tersebut menduduki tempat terkemuka di antara tanda-tanda kebesaran raja, maupun di antara pusaka yang turun-temurun. Meskipun keris semula termasuk perlengkapan seorang prajurit, namun sekarang hanya merupakan bagian upacara untuk pakaian kebesaran. Keris khusus dipakai oleh banyak pegawai keraton. f. Budaya Politik Jawa Sikap – sikap masyarakat awa terkait dengan pelaksanaan politik di Indonesia, antara lain : 1. Konsep “Halus” Masyarakat Jawa cenderung mudah tersinggung. Ciri-ciri ini berkaitan erat dengan konsep ―halus‖. Konsep ini telah ditanamkan secama intensif dalam masyarakat Jawa sejak masa kanak-kanak bertujuan membentuk pola ―tindak-tanduk yang wajar‖, yang perwujudannya berupa pengekangan emosi dan pembatasan antusiasme serta ambisi. Sebagai manifestasi tingkah laku yang halus, kita mengnal 2 konsep yang bertautan, yaitu ―malu‖ dan ―segan‖. Yang pertama berkonotasi dari perasaan discomfort sampai ke perasaan insulted atau rendah diri karena berbuat salah. Yang kedua mirip dengan yang
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

pertama tap tanpa perasaan bersalah. Ini merupakan perpaduan antara malu dan rasa hormat kepada ―atasan‖ atau pihak lain. Orang Jawa mempunyai kesultan untuk berlaku terus terang. Ini terjadi karena ia ingin selalu menyeimbangkan penampilan lahiria dengan suasana batiniahnya sedemikian rupa sehingga dianggap tidak kasar dan tidak menganggap keterbukaan sebagai suatyang terpuji kalau menyinggung pihak lain. 2. Menjunjung Tinggi Ketenangan Sikap Sikap ini merupakan refleksi tingkah laku yang sopan dan halus yang merupakan pencerminan kehalusan jiwa yang diwujudkan dengan pengendalian diri dan pengekangan diri. Kewibawaan ini bias tercapai dengan bersikap tenang di muka umum. Karena itu, ia akanselalu merasa perlu membuat jarak dengan oranglain. 3. Konsep Kebersamaan Dalam kebudayaan Jawa, kebersamaan in secara operasional tidak sekedar diaktualisasikan dalam aspek-aspek yang materialistis, tapi jugayang non-materialstis atau yang menyangkut dimensi moral. Implikasi dimensi yang sangat luas ini ialah kaburnya hak dan kewajiban serta tanggung jawab seseorang. Jika seseorang mempunyai hak atas sesuatu, maka dalam rangka ini, orang lain akan cenderung berusaha menikmati hak tersebut. Pihak yang secara intrinsik mempnyai hak juga cenderung membiarkan orang lain menikmatinya. Implikasi selanjutnya ialah adnya kecenderungan bahwa tatkala diperingatkan agar bertanggung jawab, ia cenderung mengabaikan peringatan tersebut sebab orang lain atau anggota masyarakat selain dia dirasakannya tidak dimintai pertanggungjawaban, padahal mereka telah ikut menikmati haknya tadi.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Dari kualitas cultural yang tergambar secara sungkat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya hubungan-hubungan social meruppakan basis dan sumber hubungan politik. Dalam hubungan social politik masyarakat Jawa bersifat sangat personal. Di samping itu, terdapat suatu kecenderunagn yang amat kuat bahwa dalam masyarakat terdapat watak ketergantungan yang kuat pada atasan serta ketaatan yang berlebihan pada kekuasaan, sebab status yang dipandang sebagai kewibawaan politik diunjung begitu tinggi.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB IV PENUTUP

4.1

ANALISA Dari pembahasan yang sudah dibahas sebelumnya, kita bisa mengetahui bahwa masyarakat Jawa memiliki berbagai macam masalahmasalah kebudayaan terutama mengenai tradisi-tradisinya,misalnya tentang upacara-upacara yang sering kali dilakukan ditiap-tiap acara yang pada intinya untuk memohon keselamatan, rejeki,dll kepada sang Maha Pencipta.

4.2

KESIMPULAN Kebudayaan mengalami dinamika seiring dengan dinamika pergaulan hidup manusia sebagai pemilik kebudayaan, inamika Kebudayaan berupa : 1. Pewarisan kebudayaan Proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan Pewarisan dapat melalui: enkulturasi (pembudayaan) : Proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan system norma. Sosialisasi (Proses pemasyarakatan)

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Individu menyesuaikan disri dengan individu lain dalam masyarakat. Masalah yang muncul : Sesuai/tidaknya budaya warisan dengan dinamika masyarakat saat sekarang. Penolakan generasi penerima terhadap warisan budaya Munculnya budaya baru yang tidak sesuai dengan budaya warisan. 2. Perubahan kebudayaan. Masalah : Perubahan bersifat regress Perubahan melalui revolusi

3. Penyebaran kebudayaan : Aspek atau unsure budaya selalu masuk tidak secara keseluruhan, melainkan individual. Ekuatan menembus suatu budaya berbanding terbalik dengan nlainya, makin tinggi aspek budaya, makin sulit duetrima. Jika satu unsure budaya masuk, maka akan menarik unsure budaya lain. Masyarakat Jawa mengalami berbagai masalah-masalah kebudayaan tetapi selayaknyalah bagi kita selaku masyarakat baik Jawa maupun luar Jawa melestarikan kebudayaan baik local, nasional,internasional dan pintar-pintar memilih mana kebudayaan yang sesuai dengan norma-norma yang beraku khususnya norma agama Islam.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

HAKIKAT MANUSIA DAN CINTA KASIH, KEINDAHAN, KEGELISAHAN SERTA PENDERITAAN Oleh: Ardhy Widhiantoro Nur Zaidah Rismalil Ismi Afida Misbahul Mustofin (09650194) (09650196) (09650200) (09650218)

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia–Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah mengenai Ilmu Budaya Dasar ini dengan lancar tanpa adanya hambatan yang berarti.Sehingga kelompok III dapat menyelesaikan makalah yang berjudul HAKIKAT MANUSIA DAN CINTA KASIH, KEINDAHAN, KEGELISAHAN SERTA PENDERITAAN dengan tepat waktu.

Makalah ilmu budaya dasar ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti kegiatan perkuliahan jurusan Teknik Informatika matakuliah Ilmu Budaya Dasar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Kami segenap anggota kelompok III mengakui dan menyadari bahwa makalah Ilmu Budaya Dasar ini masih jauh dari sempurna, hal ini disebabkan oleh terbatasnya waktu dan kemampuan, sehingga hasil yang bisa kami dapat pun sangat minim. Tanpa adanya bantuan, dorongan dari berbagai pihak, maka penyusunan makalah Ilmu Budaya Dasar ini akan membutuhkan waktu yang lama.

Malang, 11 September 2009

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Rumusan Masalah 3. Tujuan BAB II KONSEPSI TEORI 1. Manusia dan Cinta Kasih 2. Manusia dan Keindahan 3. Manusia dan Penderitaan 4. Manusia dan Kegelisahan BAB III STUDI KASUS DAN ANALISIS 1. Hakekat cinta 2. Hakekat keindahan 3. Hakekat Kegelisahan dan penderitaan BAB VI PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

ii iii 1 1 1 1 2 2 3 7 10 13 13 13 14 15 16

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Saat ini kita mengetahui bahwa Ilmu Budaya Dasar sangat penting untuk masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa ketika terjun di masyarakat agar tidak meninggalkan budayanya sendiri, sehingga kita wajib untuk mempelajarinya, hal ini tentunya menjadi suatu keuntungan tersendiri bagi mahasiswa, apalagi bagi mahasiswa yang sebelumnya memang belum begitu mengerti budayanya sendiri atau bahkan tidak mengenal sama sekali.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan manusia dan cinta kasih? 2. Apakah yang dimaksud dengan manusia dan keindahan? 3. Apakah yang dimaksud dengan manusia, penderitaan dan kegelisahan?

1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian dari manusia dan cinta kasih 2. Untuk mengetahui pengertian dari manusia dan keindahan 3. Untuk mengetahui pengertian dari manusia, penderitaan dan kegelisahan

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB II KONSEPSI TEORI

2.1. Manusia dan Cinta Kasih 2.1.1. Pengertian Cinta Kasih Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada). Ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. 9 Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai menaruh belas kasihan. Cinta memiliki 3 unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. 10 Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia. Keintiman yaitu adanya kebiasaankebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang. Kemesraan yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang. Didalam kitab suci Al Quran ditemui adanya fenomena cinta yang bersembunyi dalam jiwa manusia. Cinta memiliki 3 tingkatan yaitu tinggi,
9

kamus umum bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminta Dr. Sarlito.W.Sarwono Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

10

menengah dan rendah. Cinta tingkat tinggi adalah cinta kepada Allah, rasulullah dan berjihad dijalan Allah. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat. Cinta tingkat rendah adanya cinta yang lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal. 2.1.2. Kasih Sayang Kasih sayang adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayaing merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggungjawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unur tanggungjawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. 2.1.3. Kemesraan Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yang akrab baik antara pria dan wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga. Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam. 2.1.4. Pemujaan Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. 2.1.5. Belas Kasihan Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta. Cinta Agape ialah cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua) dan saudara. Dan ketiga cinta erros atau amor ini ialah cinta antara pria dan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

wanita. Beda antara cinta amor dan eros ini adalah citna eros cinta karena kodrati sebagi laki-lakai dan perempuan, sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau menikahi seorang pemuda yang kerdil. Cinta terhdap sesama merupakan perpaduan cinta agape dan cinta philia. Cinta sesame ini diberikan istilah belas kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria-wanita, cinta kepada Tuhan. Dalam cinta kepada sesama ini diberi istilah belas kasihan, karena cinta disini buka karena cakapnya, kayanya, cantiknya, melainkan karena penderitaannya.

2.2. Manusia dan Keindahan 2.2.1 Keindahan Kata keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Keidahan identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, kedaerahan, selera mode, kedaerahan atau lokal. 2.2.2.Apakah keindahan Itu ? Sebenarnya sulit bagi kita untuk menyatakan apakah keindahan itu. Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk. Dengan bentuk itu keindahan berkomunikasi. Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan sebagai suatu kualita abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Untuk pembedaan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

itu dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah ―beuty‖ (keindahan) dan ―the beautiful‖ (benda atau hal indah). Dalam pembatasan filsafat, kedua pengertian ini kadang-kadang dicampuradukkan saja. Disamping itu terdapat pula perbedaan menurut luasnya pengertian; yakni a. keindahan dalam arti luas b. keindahan dalam arti estetis murni c. keindahan dalam arti terbatas dalam pengertiannya dengan penglihatan Keindahan alam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah, sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang indah, kebajikan yang indah. Orang Yunani dulu berbicara juga tentang buah pikiran yang indah dan adapt kebiasaan yang indah. Tapi bangsa Yunani juga mengenal keindahan dalam arti estetis yang disebutnya ―symetria‖ untuk keindahan berdasarkan penglihatan dan harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran. Jadi pengertian keindahan seluas-luasnya meliputi : keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan

intelektual.Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya. Sedang keindahan dalam arti terbatas lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna. 2.2.3. Nilai Estetik Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang gie menjelaskan bahwa pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai sepertihalnya nilai moral, nilai ekonomik, nilai pendidikan dan sebagainya. Nilai yang berhubungan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dengan segaa sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik. Nilai adalah suatu realitas psikologis yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri. Nilai itu oleh orang dipercaya terdapa pada sesuatu benda sampai terbukti ketakbenarannya. Tentang nilai ada yang membedakan antara nilai subyektif dan nilai obyektif. Atau ada yang membedakan nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting adalah nilai instrinsik dan nilai ekstrinsik. Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (

instrumental/contributory) yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu. Nilai instrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai sesuatu tujuan, atau demi kepentingan benda itu sendiri. Sebagai contoh : Puisi. Bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik, sedangkan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda ) puisi itu disebut nilai instrinsik. Tarian damarwulan Minakjonggo merupakan nilai ekstrinsik, sedang pesan yang ingin disampaikan oleh tarian itu ialah kebaikan melawan kejahatan merupakan nilai instrinsik. 2.2.4.Apa sebab manusia menciptakan keindahan ? 1. Tata nilai yang telah usang 2. Kemerosotan zaman 3. Penderitaan Manusia 4. Keagungan Tuhan 2.2.5. Renungan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam.Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori antara lain : teori pengungkapan, teori metafisik dan teori psikologis. Teori Pengungkapan. Dalil teori ini ialah bahwa ―arts is an expresition of human feeling‖ 11. Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) Beliau antara lain menyatakan bahwa ―Seni adalah pengungkapan pesan-pesan) expression adalah sama dengan intuition, dan intuisi adalah pegnetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentagn hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). Dengan demikian pengungkapan itu berwujud pelbagai gambaran anganangan seperti misalnya images warna, garis dan kata. Bagi seseorang pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Pengalamam estetis seseorang tidak lain adalah ekspresi dalam gambaran anganangan. Seorang tokoh lainnya adalah Leo Tolstoi dia menegaskan bahwa kegiatan seni aalah memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yagn seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan berbagai gerak, garis, warna, suara dan bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang mengalami perasaan yang sama. Teori Metafisik

11

seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Teori seni yang bercotak metafisik merupakan salah satu contoh teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karyakaryanya untuk sebagian membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dari teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengungkapkan suatu teori peniruan (imitation teori). Ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalikan adanya dunia ide pada tarat yang tertinggi sebgai realita Ilahi. Paa taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi. Dan karyu seni yang dibuat manusia adalah merupakan mimemis (tiruan) dari ralita. duniawi Teori Psikologis Para ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seni itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang wujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Menurut Schiller, asal seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam diri seseorang.12 Seni merupakan semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan. Dalam teori penandaan (signification theory) memandang seni sebagai lambing atau tanda dari perasaan manusia. 2.3 Manusia dan Penderitaan 2.3.1 Pengertian Penderitaan

12

Teori Permainan, Fredrick Schiller (1757 -1805) dan Herbert Spencer ( 1820 – 1903 ) Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin. Penderitaan termasuk realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat, ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu pristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencpai kenikmatan dan kebahagiaan. Berbagai kasus penderitaan terdapat dalam kehidupan. Banyaknya macam kasus penderitaan sesuai dengan liku-liku kehidupan manusia. Bagaimana manusia menghadapi penderitaan dalam hidupnya ? penderitaan fisik yagn dialami manusia tentulah diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya, sedangkan penderitan psikis, penyembuhannya terletak paa kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soalsoal psikik yang dihadapinya. 2.3.2 Siksaan Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasman, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rokhani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan. Siksaan yagn sifatnya psikis bisa berupa : kebimbangan, kesepian, ketakutan. Ketakutan yang berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya disebut phobia.banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain : claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, keakitan, kegagalan. Para ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis yang dalam, yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang. Sebaliknya ahli-ahli yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu phobia adalah problemnya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah. 2.3.3 Kekalutan Mental Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar. Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah : 1. nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung 2. nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah : 1. gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita bais jasmana maupun rokhani 2. usaha mempertahankan diri dengan cara negative 3. Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalam gangguan Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental : 1. Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna 2. terjadinya konflik sosial budaya
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

3. cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan negative. Posotif trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik sebgai usaha agar tetap survey dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajut, ataupun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya. Negatif; trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami fustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk fustasi antara lain : 1. agresi berupa kamarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadi hypertensi atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya 2. regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitive atau kekanak-kanakan 3. fiksasi; adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama (tetap) misalnya dengan membisu 4. proyeksi; merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negatif kepada orang lain 5. Identifikasi; adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya 6. narsisme; adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari paa orang lain 7. autisme; ialah menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yang dapat menjurus ke sifat yang sinting.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Penderitaan kekalutan mental banyak terdapat dalam lingkungan seperti : 1. kota – kota besar 2. anak-anak muda usia 3. wanita 4. orang yang tidak beragama 5. orang yang terlalu mengejar materi Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut : 1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia 2. Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan/azab Tuhan Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, atau ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, mislanya anti kawain atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup, dan sebagainya. Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. SIkap positif biasanya kreatif, tidak mudah zenyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti. Misalnya sifat anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin paksa, dan lain-lain. 2.4 Manusia dan Kegelisahan 2.4.1 Pengertian Kegelisahan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa kwatir tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situai tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Karena itu dalam pengertian sehari-hari kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekhawatiran ataupun ketakutan. Masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisidapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena pa yang diinginkan tidak tercapai. Sigmund Freud ahli psikoanalisa berpendapat, bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia yaitu kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neorotik dan kecemasan moril yang kurang sehat. Sikap seperti itu sering membuat orang merasa kwatir, cemas, takut gelisah dan putus asa. Bila dikaji sebab-sebab orang gelisah adalah karena hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari dalam maupun dari luar. Mengatasi kegelisahan ini pertama-tama dimulai dari diri kita sendiri, yaitu kita harus bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, sehingga segala kesulitan dapat kita atasi. 2.4.2. Keterasingan Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal, sehingga kata terasing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi kata terasing berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pegaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain. Keterasingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar atau lama, orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain. Yang menyebabkan orang berada
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas. Ketidak pastian artinya keadaan yang pasti, tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, keadaan tanpa arah yang jelas, keadaan tanpa asal-usul yang jelas itu semua adalah akibat pikirannya tidak konsentrasi. Ketidak konsentrasian disebabkan oleh berbagai sebab, yang jelas pikirannya kacau. Beberapa sebab orang tak dapat berpikir dengan tidak pasti ialah : 1. obsesi 2. phobia 3. kompulasi 4. hysteria 5. delusi 6. halusinasi 7. keadaan emosi Untuk dapat menyembuhkan keadaan itu bergantung pada mental si penderita. Andaikata penyebabnya sudah diketahui, kemungkinan juga tidak dapat sembuh. Bila hal itu terjadi, maka jalan yang paling baik bagi penderita diajak pergi sendiri ke psikolog.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB III STUDI KASUS DAN ANALISIS

Hakekat cinta Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada). Ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai menaruh belas kasihan. cinta memiliki 3 unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia. Keintiman yaitu adanya kebiasaankebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang. Kemesraan yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang.

Hakekat keindahan Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk. Dengan bentuk itu keindahan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

berkomunikasi. Pengertian keindahan seluas-luasnya meliputi : keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual.Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya. Sedang keindahan dalam arti terbatas lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna.

Hakekat Kegelisahan dan penderitaan Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin. Penderitaan termasuk realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat, ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu pristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencpai kenikmatan dan kebahagiaan. Berbagai kasus penderitaan terdapat dalam kehidupan. Banyaknya macam kasus penderitaan sesuai dengan liku-liku kehidupan manusia. Bagaimana manusia menghadapi penderitaan dalam hidupnya ? penderitaan fisik yagn dialami manusia tentulah diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya, sedangkan penderitan psikis, penyembuhannya terletak paa kemampuan si penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikik yang dihadapinya. kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situai tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Karena itu dalam pengertian sehariCopyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

hari kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekhawatiran ataupun ketakutan. Masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisidapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena pa yang diinginkan tidak tercapai.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki cinta kasih, keindahan, penderitaan dan kegelisahan. Cinta kasih bisa berupa kasih sayang, kemesraan, pemujaan dan belas kasihan. Selain cinta kasih, manusia menciptakan keindahan. Penyebab menusia menciptakan keindahan adalah: 1. Tata nilai yang telah usang 2. Kemerosotan zaman 3. Penderitaan Manusia 4. Keagungan Tuhan Di lain sisi manusia juga memiliki penderitaan dan kegelisahan. Penderitaan bisa disebabkan oleh suatu siksaan dan kekalutan mental. Sedangkan kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Tiga macam kecemasan yang menimpa manusia yaitu kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neorotik dan kecemasan moril. Kegelisahan bisa disebabkan oleh keterasingan, kesepian dan ketidakpastian

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

DAFTAR PUSTAKA

http://massofa.wordpress.com http:// fadlillah.wordpress.com Soekanto, Soerjono. 2004. Sosiologi Suatu Pengantar. Cetakan ke-37. Jakarta Raja Grafindo Persada. Widahdho, Djoko, et.al. 1991. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. Sugiarno, Agustinus. 2007. Toward A Theology Of Beauty, Peziarahan Jiwa. Yogyakarta: Kanisius Media. Alfian, ed. 1985. Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan Kumpulan Karangan. Jakarta: Gramedia.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

MANUSIA DAN KEADILAN,MANUSIA AMANAH/TANGGUNG JAWAB MANUSIA PANDANGAN HIDUP DAN HARAPAN Kelompok IV Rizky Aulia 09650223 Aunul Mubarok 09650213 Ahmad Faizal Rahman 09650220 Hadi Santoso 09650208

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dua kekayaan manusia yang paling utama ialah ―Akal dan Budi‖ atau lazimnya disebut pikiran dan perasaan. Disatu sisi akal dan budi atau pikiran dan perasaan tersebut telah memungkinkan munculnya tuntutan-tuntutan hidup manusia yang lebih daripada tuntutan hidup makhluk lain. Disisi lain akal dan budi memungkinkan munculnya karya-karya manusia yang sampai kapanpun tidak pernah akan dapat dihasilkan oleh makhluk lain. Cipta, karsa, dan rasa pada manusia yakni sebagai buah akal budinya terus melaju tanpa hentinya berusaha menciptakan benda-benda baru untuk memenuhi kebutuhan / hajat hidupnya. Baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Dari proses ini maka lahirlah apa yang disebut kebudayaan dan pandangan terhadap hidup. Jadi pada hakikatnya, kebudayaan dan pandangan terhadap hidup ini tidak lain adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi manusia. Dalam pikiran dan perasaan manusia, ada beberapa faktor penting yang harus menjadikan manusia sebagai makhluk yang berakal, yakni : 1. Pandangan Hidup Pandangan Hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk

membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua perbuatan, tingkah laku dan aturan serta undang-undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan. Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup itu perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan. Setiap orang, baik dari tingkatan yang paling rendah sampai dengan tingkatan yang paling tinggi, mempunyai cita-cita hidup. Hanya kadar cita-citanya sajalah yang berbeda. Bagi orang yang kurang kuat imannya ataupun kurang luas wawasannya, apabila gagal mencapai cita-cita, tindakannya biasanya mengarah pada hal-hal yang bersifat negative. Disinilah peranan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang teguh merupakan pelindung seseorang. Dengan memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan, serta kesulitan yang dihadapinya. Biasanya orang akan selalu ingat, taat, kepada Sang Pencipta bila sedang dirudung kesusahan. Namun, bila manusia sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya dan berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain : 1. 2. 3. Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini. Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya. Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan

hidupnya. 4. Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup

yang ada dalam pandangan hidupnya. 5. Atau sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri. Pandangan hidup tidak sama dengan cita-cita. Sekalipun demikian, pandangan hiup erat sekali kaitannya dengan cita-cita. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, sebab kadang-kadang pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir didalam masyarakat. Manuel Kaisiepo (1982) dan Abdurrahman Wahid (1985) berpendapat bahwa pandangan hidup itu bersifat elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta tidak selamanya bersifat positif. Pandangan hidup yang sudah diterima oleh sekelompok orang biasanya digunakan sebagai pendukung suatu organisasi disebut ideology. Pandangan hidup dapat menjadi pegangan, bimbingan, tuntutan seseorang ataupun masyarakat dalam menempuh jalan hidupnya menuju tujuan akhir. 2. Cita-Cita Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup. Cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepas diri dari cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu. Orang tua selalu menimang-nimang anaknya sejak masih bayi agar menjadi dokter, insinyur, dan sebagainya. Ini berarti bahwa sejak anaknya lahir, bahkan sejak dalam kandungan, orang tua telah berangan-angan agar anaknya itu mempunyai jabatan atau profesi yang biasanya tak tercapai oleh orang tuanya. Selain dari itu, pada setiap kelahiran bayi, do‘a yang di ucapkan oleh family atau handai taulan biasanya berbunyi : ― Semoga kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan berbakti kepada orang tua. Karena itu wajarlah apabila cita-cita, kebajikan, dan pandangan hidup merupakan bagian hidup manusia. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup. Sudah tentu kadar atau tingkat cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup itu berbeda-beda bergantung kepada pendidikan, pergaulan, dan lingkungan masing-masing. Cita-cita itu perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang ada dalam hati. Cita-cita sering kali diartikan sebagai angan-angan, keinginan, kemauan, niat
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

atau harapan. Cita-cita itu penting bagi manusia, karena adanya cita-cita menandakan kedinamikan manusia. Ada tiga kategori keadaan hati seseorang yakni lunak, keras,dan lemah, seperti : - Orang yang berhati keras, biasanya tak berhenti berusaha sebelum cita-citanya tercapai. Ia tidak menghiraukan rintangan, tantangan, dan segala esulitan yang dihadapinya. Orang yang berhati keras biasanya juga mencapai hasil yang gemilang dan sukses hidupnya. - Orang berhati lunak biasanya dalam usaha mencapai cita-citanya menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Namun ia tetap berusaha mencapai cita-cita itu. Karena, biarpun lambat ia akan berhasil juga mencapai cita-citanya. - Orang yang berhati lemah biasanya mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Bila menghadapi kesulitan cepat-cepat ia berganti haluan dan berganti keinginan. 3. Kebajikan Kebajikan atau kebaikan pada hakikatnya adalah perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik dan makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik. Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu : 4. Manusia sebagai pribadi, Yang menentukan baik-buruknya adalah suara

hati. Suara hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi suara hati itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah memilih yang baik, namun manusia seringkali tidak mau mendengarkan. 8. Manusia sebagai anggota masyarakat, Yang menentukan baik-buruknya

adalah suara hati masyarakat. Suara hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap baik. Sebagai anggota masyarakat, manusia tidak dapat membebaskan diri dari kemasyarakatan.  Manusia sebagai makhluk tuhan, manusia pun harus mendengarkan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik dan buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau Kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan berbentuk Hukum Tuhan atau Hukum agama. Jadi, kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat, dan Hukum Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah-tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya. Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri. 4. Sikap Hidup Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap yang positif atau yang negatif. Apakah kita mempunyai sikap optimis atau pesimis? Atau apakah kita mempunyai sikap yang apatis?. Sikap itu ada didalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu.orang lain hanya baru tahu setelah kita bertindak. Sikap itu penting, setiap manusia mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat dibentuk sesuai kemauan yang membentuknya. Sikap dapat juga berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan. Dalam menghadapi kehidupan, manusia selalu menghadapi manusia lain atau menghadapi sekelompok manusia. Ada beberapa sikap etis dan non etis. Sikap etis disebut juga sikap positif, dan sikap non etis disebut juga sikap negatif. Ada tujuh sikap etis, yaitu : - sikap lincah - sikap arif - sikap rendah hati - sikap berani - sikap tenang - sikap halus - dan sikap bangga Sikap non etis atau sikap negatif, yaitu :
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

- sikap kaku - sikap takut - sikap gugup - sikap kasar - sikap angkuh - sikap dan sikap rendah diri Sikap-sikap ini harus dijauhkan dari diri pribadi-pribadi., karena sangat merugikan baik bagi pribadi masing-masing maupun bagi kemajuan bangsa. Dengan memiliki pandangan hidup (konsepsi tentang kehidupannya) maka manusia merasa mempunyai peta dan rencana untuk mengarahkan kehidupannya agar lebih berarti. Hal itu tergantung dari pandangan ekonomi yang dimilikinya apakah menganut Kapitalisme ataukah Sosialisme yang nantinya memunculkan juga manusia yang cenderung ingin mempunyai kekuasaan, bermasyarakat, berpengetahuan dan memiliki rasa berkesenian dan beragama. Pandangan hidup akan berhubungan dengan cita-cita seseorang dimana cita-cita harus diiringi juga dengan kualitas, kemampuan dan tinggi-rendahnya cita-cita dari manusia tersebut. Untuk menggapai cita-cita harus diiringi juga dengan kebajikan maupun etika dimana hal tersebut tergantung dari bentuk masyarakatnya, apakah tradisional (Gemeinschaft, dimana kebajikan dan etika berbentuk adat istiadat dan norma-norma) ataukah modern (Gesellschaft, kebajikan dan etika termasuk dalam kehidupan bersosial, jurnalistik dan politik). 1.2 RUMUSAN MASALAH

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB II KONSEP TEORI

2.1 MANUSIA DAN KEADILAN Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil. Keaadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati. Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntuk hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama. Berbagai Macam Keadilan 1. Keadilan legal atau keadilan moral Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal 2. Keadilan distributive Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally). 3. Keadilan komutatifKeadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat Kejujuran Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat. Kecurangan Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hari nuraninya atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha. Kecurangan menyebabkan orang menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Bermacam-macam sebab orang melakukan kecurangan. Ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya, ada 4 aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek peradaban dan aspek teknik. Apabila keempat asepk tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum. Akan tetapi, apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecurangan. Pemulihan nama baik Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menajaga dengan hati-hati agar namanya baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatn-perbuatan yang
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dihalalkan agama dan sebagainya. Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk memulihkan nama baik manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrin, takwa terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk. Pembalasan Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya pergaulan yagn penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah mahluk moral dan mahluk sosial. Dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban manusia. Oleh karena itu manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan. 2.2 MANUSIA DAN AMANAH/TANGGUNG JAWAB Tanggungjawb adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggungjawab adalah kewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawaban dan menanggung
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

akibatnya. Tanggungjawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggungjawab juga juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Seseorang mau bertanggungjawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggungjawab itu karena manusia itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Tanggungjawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggungjawab. Apabila ia tidak mau bertanggungjawab, maka akan ada pihal lain yang memaksa tanggungjawab itu. Dengan demikian tanggungjawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dari sisi pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik. Daari sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggungjawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara masyarakat. Apabila dikaji, tanggungjawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari pebuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri atau pihak lain dengan keseimbangan, keserasian keselarasan antara sesama manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu

dipelihara dengan baik. Tanggungjawab itu cirri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggungjawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaan

bertanggungjawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa terhadap Tuhan. Macam-macam Tanggungjawab :
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

4. Tanggungjawab terhadap diri sendiri 5. Tanggungjawab terhadap Keluarga 6. Tanggungjawab terhadap masyarakat 7. Tanggungjawab terhadap bangsa / negara 8. Tanggungjawab terhadap Tuhan

2.3 MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP DAN HARAPAN Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawaciri tersendiri akan diri manusia itu. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Satu diantar keunggulan manusia tersebut ialah pandangan hidup. Disatu pihak manusia menyadari bahwa dirinya lemah, dipihak lain menusia menyadari kehidupannya lebih kompleks. Kesadaran akan kelemahan dirinya memaksa manusia mencari kekuatan diluar dirinya. Dengan kekuatan ini manusia berharap dapat terlindung dari ancaman-ancaman yang selalu mengintai dirinya, baik yang fisik maupun non fisik. Seperti penyakit, bencana alam, kegelisahan, ketakutan, dan sebagainya. Selain itu manusia sadar pula bahwa kehidupannya itu lain bila dibandingkan dengan kehidupan makhluk lain. Sadar pula bahwa dibalik kehidupan ini ada kehidupan lain yang diyakini lebih abadi. Lebih yakin lagi bahwa kehidupan lain itu bahkan merupakan kehidupan yang sesungguhnya. Disana setiap manusia akan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan selama hidup didunia. Manusia tahu benar bahwa baik dan buruk itu akan memperoleh perhitungan, maka manusia akan selalu mencari sesuatu yang dapat menuntunnya kearah kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan. Akhirnya manusia menemukan apa yang disebut ― sesuatu dan kekuatan diluar dirinya “. Ternyata keduanya adalah ― Agama dan Tuhan ―. Dengan demikian bahwa pandangan hidup merupakan masalah yang asasi bagi manusia. Sayangnya tidak semua manusia yang memahaminya, sehingga banyak orang
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

yang memeluk suatu agama semata-mata atas dasar keturunan. Akibatnya banyak orang yang beragama hanya pada lahirnya saja dan tidak sampai batinnya. Atau yang sering dikenal dengan agama KTP. Padahal urusan agama adalah urusan akal, seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam satu hadistnya : Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak berakal.‖ Maksud Nabi Muhammad SAW tersebut ialah agar manusia dalam memilih suatu agama benar-benar berdasarkan pertimbangan akalnya, dan bukan semata-mata karena asas keturunan. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah SWT dalam surat AlBaqarah ayat-236 yang artinya : ― Tidak ada paksaan untuk memasuki sesuatu agama, sesungguhnya telah jelas antara jalan (agama) yang benar dan jalan (agama) yang salah.‖ Ternyata, pandangan hidup sangat penting. Baik untuk kehidupan sekarang maupun kehidupan di akhirat. Dan sudah sepantasnya setiap manusia memilikinya. Maka pilihan pandangan hidup harus betul-betul berdasarkan pilihan akal bukan sekedar ikut-ikutan saja. Perlu kita sadari bahwa baik Tuhan maupun agama bagi kita adalah suatu kebutuhan. Bukan kebutuhan sesaat seperti makan, minum, tidur, dan sebagainya. Melainkan kebutuhan yang terus menerus dan abadi. Sebab setiap saat kita memerlukan perlindungan Allah SWT dan petunjuk agama sampai diakhir nanti. Konsep keadilan versi said an-Nursi dan relevansinya dengan kehidupan modern Prolog Apabila kita merujuk pada perkembangan pertama dimana ide keadilan ini disajikan dia tas 'meja makan' kajian filsafat dan renungan akal, maka kita akan menemukan bahwa bingaki umum yang menyatukan beberapa aliran dan pendapat filosof Grik adalah banhwasanya keadilan itu menpunyai dua sisi yang saling terikat tidak bisa dipisahkan. Sisi pertama adalah sisi moral, sisi ini memandang bahwasanya keadilan merupakan salah satu perhiasan jiwa manusia. Sisi kedua adalah sisi hukum, sisi ini timbul dari adaya individu sebagai anggota dari sebuah
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

masyarakat yang setiap individunya terikat seoleh hubungan, pertalian dan pola interaksi yang bervariasi13. Jadi si damping sebagai salah satu keutamaan moral, keadilan juga merpaukan sebuah tuntutan hukum (perundang-undangan) yang harus dipenuhi oleh setiap masyarakat. Karena keadilan merupakan jaminan yang paling meyakinkan untuk kelangsungan hidup dalam sebuah masyarakat, yang mana di atas pondasi keadilan tersebut hubungan dan interaksi antar indivisu dan golongan itu dibangun.14 Di dalam agama Islam, keadilan merupakan intisari dan tujuan pokok dari syariah dan ia merupakan sebuah keharusan yang pasti, oleh karena itu, sifat adil dituntut adanya di dalam jiwa, keluarga, dan mayarakat, baik bersama kawan maupun lawan. Karena sifat adil tersebut merupakan pondasi dasar dari keadilan. 15 Jadi sifat adil itu merupakan salah satu nilai teladan dalam kehidupan dan ia

merupakan sebuah ketetapan yang dituntut akal dalam stiap perilaku, tindakan dan interaksi. Oleh karena itu agama menganjurkan untuk mengikutinya dan menganggapnya sebagai sebuah tujuan. 16 Tanpa keadilan masyarakat akan berubah menjadi hampa dan goyah serta dipenuhi penganiayaan dan penyimpangan. 17 Melihat urgensitas keadilan tersebut dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun Negara, maka di dalam makalah ini penulis ingin mencoba untuk mengkaji konsep keadilan dan penerapannya perspektif pemikir Islam Turkey, Said an-Nursî, kemudian mengkomparasikannya dengan pendapat para pilosof barat maupun Muslim dan mengujinya apakah konsep keadilan perspektif

13

Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar, Falsafat al-'Adâlah 'Inda al-Ighrîq Wa Atsaruha 'Inda Fuqahâ`i ar-Rûmân Wa Falâsifati al-Islâm, Maktabah al-Jalâ` al-Jadîdah, Manshoura, 1989, hal. 11.
14

Ibid., hal. 42.

15

Abdu as-Salâm at-Tuwayjî, Muassasat al-'Adâlah fi as-Syarî'ah al-Islâmiyyah, Kulliayat ad-Da'wah alIslâmiyyah, Tharablis, cet. I, 1993, hal. 25.
16

Ibid., hal. 21. Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar, op. cit., hal. 42.

17

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

beliau ini relevan bagi kehidupan di era modern ini. Makalah ini juga akan menganalilsa metodologi yang beliau terapkan dalam menafsirkan ayat-ayat tentang keadilan serta sedikit mengupas situasi social, politik dan ekonomi di era beliau yang melatar belakangi penafsiran beliau akan ayat-ayat tersebut. Latar belakang social politik ekonomi budaya yang mendasari penafsiran an-nursi Metode an-nursi dalam menafsirkan ayat-ayat keadilan Keadilan dalam konsep filosof barat dan perspektif an-Nursi Di dunia filsafat, di Eropa khususnya, Plato dianggap sebagai orang pertama yang mengkonsep tentang keadilan secara apik dan menyeluruh di dalam bukunya "Jumhuriyyah" dimana dia tidak hanya membicarakan masalah keadilan dari sisi moral (individu) saja akan tetapi ia telah melangkah pada pembahasan keadilan dalam lingkup yang lebih luas yaitu bernegara atau sebagaimana yang ia istilahkan dengan 'pandangan keadilan dengan huruf besar' 18. Walaupun sebelum Plato sudah banyak para filosof yang membahas tentang keadilan seperti Socrates, Phytagoras, Glokon, Olymarchus, akan tetapi pembahasan mereka tidak seapik yang disodorkan oleh Plato. Timbulnya teori keadilan versi Plato ini bertolak dari pandangannya terhadap kerusakan pemikiran, plolitik, moral dan sosial pada masa itu 19 dan juga bertolak dari pertanyaan sederhana yang terlontar dari Socrates tentang esensi keadilan. 20 Jadi filsafat keadilan Plato bukanlah filsafat teori dan ilusi belaka, akan tetapi filsafat tersebut lahir dari kerusakan dan kesewenamg-wenangan yang ia saksikan di dunia nyata. Di sana ada dua aliran politik yang selalu bersinggungan, yaitu ariktokrasi21 dan demokrasi yang kedua-duanya tidak ada yang ia percaya 22.
18

Jamâl al-Bannâ, Nazhariyyat al-'Adl fi al-Fikr al-Ûrubî wa al-Fikr al-Islâmî, Dâr al-Fikr al-Islâmî, Cairo, 1995, hal. 12.
19

Dr. Ridhâ Sa'âdah, al-Falsafah wa Musykilât al-Insân, Dâr al-Fikr al-Lubnânî, Beirut, cet. I, 1990,

hal. 102.
20

Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar, op. cit., hal. 64 dan Dr. Ridhâ Sa'âdah, op. cit., hal. 105.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Plato menolak untuk mengambil keadilan natural yang menunjukkan pada kecenderungan manusia kepada kekuatan (baca: potensi) dan keunggulan (prestsi), karena prestasi dan potensi tersebut akan dimenangkan oleh para penipu dan ahli makar, walaupun standartnya adalah kecerdasan, sebab kecerdasan itu hanya mendorong manusia untuk memimpin orang lain dan menjauhkannya. Begitu juga ia menolak sistem keadilan yang dibangun atas dasar kemaslahatan yang kuat dan menghalangi yang lemah untuk mendapatkan haknya
23

. Akan

tetapi keadilan hakiki menurutnya adalah fenomena kemanusiaan yang alami yang muncul dari lubuk esensitas manusia tersebut sebagai media urgen untuk merealisasikan esensitas manusia baik secara individu maupun social 24. Plato membatasi perkembangan keadilan itu berdasarkan perkembangan masyarakat. Di zaman Purba (kuno) ketaka jumlah manusia masih sedikit dan kehidupannya masih sangat sederhana, mereka hidup secara berkelompok karena setiap individu tidak akan mampu untuk memenuhi segala kebutuhannya, oelh karena itu mereka bekerja sama hidup secara gotong royong dalam keadaan tenang dan tenteram tanpa ada persengketaan. Akan tetapi seiring pesatnya petumbuhan jumlah masyarakat, muncullah tuntutan-tuntutan baru dan ketika pendapatan suatu masyarakat tidak mampu memenuhi tuntutan hidupnya, mereka mulai berani untuk menindas masyarakat lain. lalu masyarakat yang teraniaya merasa butuh untuk membela dirinya dan meraka menunjuk beberapa anggotanya untuk melindunginya, dari situ timbullah dua tingkatan (strata) sosial dalam mayarakat tersebut; strata pengrajin/produsen, petani dan nelayan dan strata pelindung (tentara). Ketika kepentingan dua strata ini berbenturan, maka secara pasti mereka butuh orang yang mampu menyelesaikan persengketaan mereka dan mampu menyatukan visi, dari sinilah timbul strata masyarakat ketiga yaitu hakim

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

(para filosof).25 Oleh karena itu, meurut Plato perlu adanya pembagian bidang kerja untuk memenuhi segala kebutuhan primer masyarakat tersebut 26. Keadilan social perspektif Plato ialah spesialisasi bidang kerja setiap individu sesuai dengan keahliannya yang alami27. Yakni setiap kelompok masyarakat harus menunaikan tugasnya sesuai dengan spesialisasinya, dia hanya berhak untuk melakukan satu jenis pekerjaan saja, ia tidak boleh melakukan intervensi terhadap keahlian strata yang lain 28. Jadi, Keadilan ini terpusat pada tiga asas; persamaan, perserikatan (isytirâkî/ sosiali-komun) dan kelayakan, tiga asas ini tidak dapat dipisah satu sama lainnya. Persamaan, pesamaan menurut Plato bentuknya seperti bentuk persamaan pada masyarakat demokrasi modern. Persamaan ini mengabaikan perbedaan strata, jenis, keturunan dan memberikan setiap penduduk kecakapan untuk mengembangkan skill dan profesionalitas mereka serta memberikan hak untuk bisa mencapai status social, budaya dan politk yang mereka pantas

mendapatkannya. Jadi, fungsi dari pembagian masyarakat pada tiga kelompok tersebut hanyalah untuk membedakan keahlian mereka. Perserikatan, perseriaktan merupakan syarat yang paling urgen untuk merealisasikan keadilan dan persamaan. Perserrikatan ini tidak mutlak akan tetapi bersifat relative sesuai dengan tingkatan- tingkatan tadi. Plato tidak mengharuskan pada para pengrajin (produsen, petani) untuk melakukan perserikatan secara penuh, karena kepemilikan mereka tidak membuat perbedaan yang terlalu mencolok dalam hal kekayaan. Sedangkan para tentara dan hakim itu diharuskan untuk melakukan perrserikatan secara penuh29. Adapun cara untuk mencapai

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

perserikatan ini yaitu dengan pembagian tanah, pembebasan hutang dan menciptakan persamaan.30 Kelayakan, selayaknya yang dicalonkan untuk menjadi hakim ialah orang yang pantas (Capable) untuk itu. Yang layak untuk jabatan itu —menurut

Plato— hanyalah para filosof, karena pada diri mereka terdapat dua potensi: potensi filsafat dan politik31. Komentar, jika kita perhatikan konsep keadilan perspektif Plato ini, maka kita akan mendapati bahwa keonsep ini tidak menyentuh esensi keadilan secara umum sebagaimana yang difahami oleh masyarakat, konsep ini tidak mencakup problem perbenturan antar keinginan dan juga tidak meletakkan benag pemisah atau standar jelas yang bisa dijadxikan pegangan untuk menetapkan hak dan kewajiban secara hokum dan melindungi setipa hak dan kewajiban tersebut dalam naungan hokum. Dengan tidak adanya ide ini, maka kita bisa mengatakan bahwa keadilan yang dibicarakan oleh Plato ini secara hakikatnya adalah sebuah ungkapan tentang keutamaan social (fadhîlah ijtimâiyyah). Juga definisi keadilan Vesi Plato ini bertentangan dengan mayoritas definisi keadilan di era klasik maupun modern. Karena definisi keadilan itu sangat berhubungan erat dengan persamaan, sedangkan Keadilan Plato ini mengacu pada ketidaksamaan denggan memunculkan perbedaan strata social sesuai dengan keahlian masing-masing. Sebagaimana pembagian tingkatan masyarakat menjadi tiga kelompok dan masing-kelompok tidak boleh melampaui keahliannya itu patut kita ragukan sebab pembagian ini sangatlah rancu. Sebab unsur syahwat, marah dan rasio itu sudah menjadi firah setiap manusia dan sangatlah tidak mungkin untuk membatasi manusia yang terdiri dari tiga unsure tersebut untuk hanya memanfaatkan satu unsure saja32. Juga konsep perserikatan yang menurut plato bisa diraih dengan

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

pembagian tanah, pembebasan hutang dan penyamaan kekayaan itu bisa dipastikan gagal jika si pemilik harta dan hutang tersebut menolak untuk menyerahkan hartanya dan menolak untuk membebaskan hutang, apakh plato akan melegalkan pengambilan harta secara paksa denga cara revolusi? 33 Keadilan menurut an-Nursi merupakan salah satu dari empat tujuan diturunkannya al-Quran selain tauhid, kenabian dan hasyr (hari kebangkitan) 34. An-Nursi mendefinisikan keadilan sebagai bentuk penampakan dari nama agung Allah , beliau berkata: ―keadilan umum yang berlaku di semesta yang bersumber dari penampakan (tajallî) dari nama Allah al-„Adl adalah mengatur stabilitas setiap benda secara umum dan menyuruh manusian untuk menegakkan keadilan‖ 35. Jadi menurut beliau keadilan merupakan aturan (system tatanan, nizhâm) alam semesta36. Dan oleh karena hakikat islam —mengatur selurh tabiat manusia hingga hari kiamat dan merupakan reflektivitas dari kemanusiaan yang agung— adalah penjelmaan dari keadilan azali di dunia ini 37, maka ia juga merupakan asas kemajuan hakiki dan keadilan sejati.38 Dan fungsi dari Rasâil an-Nûr adalah mengupas tuntas hakikat keadilan ini39. Jika demikian halnya, maka keadilan itu merupakan harga mati (standart absolut), tidak akan berubah mengikuti perubahan waktu dan tempat, dan tidak terpolusi oleh watak, kemaslatan dan kepentingan, keadilan itu merupakan puncak dari tujuan syariat dan al-quran, dari sini keadilan itu langgeng selanggeng al-quran. Dalam pandangan Islam keadilan itu muncul

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dari kebenaran, dan salah satu bentuk kebenaran itu adalah keadilan dan keseimbangan, dari sini tercipta kedamaian dan terbebas dari kesengsaraan. 40 Dan bentuk keadilan yang paling nyata —menurut an-Nursî— adalah persamaan, sebab keadilan yang tidak mengandung persamaan secara hakikatnya bukanlah keadilan41. Inti dari keadilan persepektif an-Nursi adalah mengikuti petunjuk dan aturan al-Quran. An-Nursi memabgi keadilan menjadi dua bagian; keadilan ‗positif‘ dan ‗negatif‘. Keadilan ppositif adalah memberikan hak kepada yang yang berhak, bagian ini meliputi mncakup setiap sesuatu di dunia ini secara pasti. Keadilan jenis kedua, negative, adalah mendidik orang yang tidak benar dengan cara memberikan pahala dan siksaan-hukuman42. An-Nursi juga menjadikan keadilan menjadi dua jenis; keadilan pokok (primer) dan keadilan relative (sekunder). Keadilan primer adalah peraturan agung yang memandang individu, kelompok, person dan jenis sekaligus. Mereka sama dalam pandangan keadilan tuhan sebagaimana mereka sama dalam pandangan kekuasaan tuhan dan inilah sunnah (aturan) yang kekal. Hanya saja seseorang —dengan keinginannya— itu berhak untuk mengorbankan dirinya, namun ia tidak boleh dipaksa untuk dikorbankan walaupun itu untuk seluruh manusia, karena menghabisi nyawanya dan merusak ishmah-nya serta menumpahkan darahnya sama saja dengan merusak ishmah dan menumpahkan darah mereka semua43. Dan an-Nursi menjelaskan bahwa keadilan primer ini menuntut pemeliharaan hak seluruh rakyat 44. Adapun keadilan sekunder itu adalah bagian masyarakat dikorbankan untuk keselamatan seluruh masyarakat, keadilan

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

ini tidak lah merampas hak indiviu untuk sebuah kelompok, akan tetapi ini hanyalah sebuah usaha untuk melaksanakn keadilan sekunder dari sisi bahya yang lebih ringan. Akan tetapi selama keadilan primer itu masih relevan untuk dilaksanakan maka tidak boleh lari pada keadilan sekunder, sebab ini merupakan sebuah kezhaliman45. Karena didalamnya terdapat ketidaksamaan antara hak individu dangan hak kelompok sedangkan kedua-duanya masih bisa direalisasikan bersama-sama46. Beliau menolak system kemasyarakatan modern (modern civility-almadaniyyah al-haditsah) yang menurut beliau menyesatkan makna keadilan untuk meloloskan kezindikan dan atheisme 47, yang mana keadilan menurut mereka (para pakar sipil modern) terbatas pada ‗menyampaikan hak kepada orangyang berhak sesuai dengan isi undang-undang yang hanya berpatok pada tanda-tanda lahiriyah belaka, dan undang-undang ini merupakan hokum positif yang dihasilkan dari akal fikiran manusia yang terbatas48 yang oleh an-Nursi diistilahkan dengan ‗kesewenang-wenangan kekafiran yang serampangan‘ 49. Beliau berkata: ―Republik —yang menjadi salah satu bentuk Negara— adalah interpretasi keadilan, musyawarah dan pembatasan kekuatan pada undang-undang, bukankah sebuah bentuk pidana terhadap islam jika kita menguimpor hokum dari Eropa sedangkan kita memiliki Syariat suci yang sudah tertata rapi sejak tiga belas abad yang lalu, pengimporan hokum ini sama saja degan salat menghadap pada selain Kiblat50.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Beliau menolak dengan keras sendi-sendi sekulerisme dalam politik republic, karena sekuerisme itu memisahkan agama dari Negara, beliau berkata: ―Kita tahu bahwa negara republic sekuler itu adalah memisahkan agama dari kehidupan

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB III STUDI KASUS DAN ANALISA

Pengabdian dan Pengorbanan Wujud tanggungjawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pegorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri. Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih sayang, norma, atau satu ikatan dari semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggungjaab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencapai kebutuhan, hal itu berarti mengabdi keapada keluarga. Manusia tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada uhan, dan merupakan perwujudan tanggungjawab kepad Tuhan. Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarati pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu

mengandung keikhalasan yangtidak menganadung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata. Perbedaan antara pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesame kawan sulit dikatakan pengabdian karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya, tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepaa sesame teman.. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran dan perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan sja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk pada perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk pada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian. Apabila kita berbicara tentang relevansi sebuah konsep, maka kita harus menguji konsep tersebut, apakah ia mampu memberikan solusi jitu terhadap sebuah problem atau tidak? Jika konsep tersebut mampu memberikan solusi jitu, maka ia layak disebut relevan, begitu juga sebaliknya. Marilah kita bersama-sama menguji teori keadilan an-Nursi yang meniuikberatkan pada formalisasi syariat,

Warisan Salah satu hokum islam yang sering mendapat kritikan pedas dari kalangan sekularis adalah hukuman pembagian harta pusaka (warisan). Mereka menkritik Islam yang memberikan hak laki-laki dua kali lipat hak perempuan. Sesungguhnya laki-laki tidak selalu mendapatkan lebih banyak dari perempuan, di dlaam beberapa kasus pembagian harta warisan kadangkala apa yang didapatkan laki-laki sama dengan yang didapatkan perempuan, bahkan kadang juga perempuan mendapatkan lebih banyak dari laki-laki. Untuk lebih jelasnya akan kami berikan beberapa contoh yang menunjukkan hal ini. Contoh kasus dimana bagian perempuan sama dengan bagian laki-laki adalah bagian saudara seibu, dalam bagian saudara seibu tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan, hasil warisan yang mereka dapatkan dibagi rata sesuai banyaknya saudara seibu. Contoh kasus dimana perempuan mendapatkan lebih banyak dari laki-laki adalah ketika sang mayat meninggalakan ahli waris seorang isteri, seorang anak perempuan dan seorang paman. Dalam kasus ini sang isteri
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

mendapatkan 1/8 dari harta warisan, sang anak perempuan mendapatkan ½ (4/8) dari harta dan paman mendapatkan sisa (3/8), di sini jelas bahwa bagian anak perempuan lebih banyak daripada paman. Jadi tidak mutlak bahwa laki-laki harus mendapatkan lebih banyak dari perempuan51. Tapi mengapa jika sang mayat meninggalkan anak laki-laki dan perempuan atau meninggalkan saudara (kandung atau seayah) laki-laki dan perempuan bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan? Ini bukan berarti islam berlaku zhalim dan tidak adil serta mengintimidasi satu jenis dari jenis yang lain. Akan tetapi itu merupakan kestabilan dan keseimbangan antara tanggungan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga dan social. Islam menggugurkan banyak beban materi dan kewajiban social dari perempuan, di waktu laki-laki harus menanggung beban dan kewajian ini. Laki-laki dituntut untuk membayar mahar, menyediakan kebutuhan rumah tangga dan memberikan nafkah kepada isteri, anak dan keluarga. Ketika islam membuat aturan ini, sesungguhnya islam memperhatikan status (zhurûf) laki-laki dan menjaga hak perempuan atas dasar keadilan, kejujuran dan keseimbangan. Islam memandang hak perempuan dan kewajiban laki-laki lalu mengkomparasikan antara keduanya, kemudian memberikan bagian-bagian untuk keduanya sesuai dengan hasil komparasi tadi. Jadi, sangatlah adil jika laki-laki mendapatkan dua kali lipat perempuan agar dia mampu melaksanakan beban hidupnya dan keluarganya 52. Jika kita lihat perempuan di Barat, sering muwarrits (orang yang meninggal)-nya itu mewasiatkan seluruh hartanya untuk seekor anjing kesayangan sedang sang perempuan yang ditinggalkan itu tidak mendapatkan apa-apa, lebih beruntung mana antara dua wanita tersebut (wanita islam dengan barat) dan mana yang lebih merasa terhormat 53. Said an-nursi berkata: ― madaniyah (sipil) yang tidak

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

berlandaskan pada logika akal, mereka menkritik ayat allah, ‗dan bagi laki-laki dua kali lipat bagian perempuan‘ (an-Nisâ`, 11) yang memberikan perempuan sepertiga dari harta warisan, yakni separuh dari jatah laki-laki54, sesungguhnya hokum al-quran ini adalah bentuk keadilan yang sebenarnya yang sekaligus bentuk kasih saying, karena laki-laki ynag menikahi perempuan harus menanggung nafkahnya sebagaimana dalam kehidupan mayoritas mutlak, sedangkan perempuan jika ia menikah, ia ikut sang suami dan nafkahnya ditanggung, maka itu bisa menutupi bagiannya yang kurang dalam hal warisan55. Sanksi dan hukuman Yang juga sering mendapatkan kritikan tajam terhadap formalisasi syariat islam adalah tentang „iqâb (hukuman) dalam islam, para pejuang ‗kemerdekaan dan keadilan‘ selalu mendengung-dengungkan bahwa hukuman di dalam islam terlalu sadis dan tidak berperikemanusiaan. Islam dianggap sebaga agama kekerasan yang selalu menyelesaikan masalah dengan pedang atau darah. Di dalam menetapkan sanksi atau hukuman, islam selalu bertolak dari segi bahayanya jarîmah (dosa/criminal) tersebut. Apabila dampak dan bahayanya semakin parah, maka semakin keraslah hukumannya 56. Kemudian perlu diketahui bahwa hukuman di dalam Islam terbagi menjadi dua; hukuman yang sudah ditetapkan oleh teks al-Kitab atau as-Sunnah tidak boleh dirubah walaupun zaman sudah maju dan tempatnya berbeda dan hukuman yang Allah serahkan penetapannya kepada pada pandangan Hakim (pemerintah) muslim selama tidak melampaui batas-batas tertentu. Adapun jenis yang pertama itu berhubungan dengan criminal-kriminal pokok yang dalam realitanya merupkan induk dari segala criminal dan penyimpangan yang tersebar di masyarakat, criminal tersebut merupakan

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

pelanggaran terhadap hak-hak Allah yang kullî (umum), atau hak manusia yang kullî atau pelangaran terhadap sendi-sendi moral yang berbahaya terhadap social dan mempunyai dampak yang besar atau dengan kata lain criminal yang dianggap secara langsung melanggar terhadap hal-hal dharûrât (primer) yang berhubungan dengan mashâlih al-Khams (lima macam mashlahat yang urgen) yang oleh Islam selalu dijaga dan direlisasikan. Oleh karena jenis criminal ini sangat berbahaya, maka syâri‟ (Allah atau Rasul) menetapkan sanksi terrtentu dengan teks yang jelas dan tidak menyerahkan sanksi kepada ijtihad ulama‘ untuk menghidari kesalahan ijtihad dan menutup jalan untuk meremehkan urusan ini. Hukuman-hukuman ini adalah membunh orang murtad untuk melindungi agama, qishâs untuk melindungi kehidupan, hadd as-Syârib (sanksi minum minuman keras) untuk melindungi akal, sanksi zina dan menuduh zina untuk melindungi keturunan danharga diri, sanksi pencurian dan menyamun untuk melindungi harta . ini semua di dalam islam disebut Hudûd. Sedangkan jenis kedua, itu berhubungan dengan pelanggaran parsial yang dampaknya tidak separah jenis pertama. Jika pelangaran jenis pertama merupakan pelanggaran terhadap hal-hal yang primer, maka pelanggaran jenis kedua ini tidak lain adalah pelanggaran terhadap hal-hal hajî (sekunder) atau tahsînî (pelengkap). Oleh karena itu Allah menyerah kan hal ini kepada pemerintah untuk memberikan sanksi yang sesuai dengan tingkat pelangarannya. Inilah yang disebut dengan ta‟zîr57. Yang sering mendapatkan kritikan oleh para penentang hokum Islam adalah hudûd, mereka melihat bahwa memotong tangan pencuri atau merajam pezina itu sangatlah sadis dan tidak cocok lagi denggan abad modern ini. Memang sungguh lebih baik jika di dalam sebuah masyarakat tidaka ada sama sekalai apa yang disebut dengan sanksi maupun hukuman dan manusia bebas melakuakn apa saja yang mereka mau, akan tetapi sebuat system kehidupan

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

social menuntuk adanya sebuah disiplin dan tanggung jawab. Oleh karena bentuk penghormatan menusia terhadap tanggung jawab ini berbeda-beda maka disini perlu adanya pengawasan dan adanya pendukung berupa balasan (jazâ) yang membuat mereka jera dan tidak mau melakukannya lagi, dan panstinya tidak ada suatu balasan yang membuat jera tanpa kekerasan dan kecaman. disini kita akan mengambil contoh sanksi pencurian. Beliau berkata: ―Pencuri di lingkungan kita —uamat muslim— ketika ia menjulurkan tangannya untuk mengambil barang orang lain, ia akan langsung ingat kepada pada pelaksanaan had (sanksi hokum) syar‘I yang akan dikenakan kepadanya dan di hatinya terbetik bahwasanya hokum tersebut adalah undang-undang tuhan yang turun dari ‗Arsy (kayangan) yang agung. Dia seakan-akan mendengar dengan panca indera keimanan dari lubuk hatinya dan ia betul-betul merasakan kalam Allah yang berbunyi, ―Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan mereka‖ (al-Mâidah:38), maka tergeraklah di dalam dirinya Iman dan aqidah yang ia bawa dan berkobarlah naluri kebaikanya. Lalu di dalam dirinya terjadi sebuah keadaan spiritual menyerupai sesuatu yang mengarahkan serangan dari segala penjuru naluri kepada kecondongan mencuri, kemudian kecondongan yang timbul dari nafsu dan hawa tersebut tercerak berai, mundur dan kalah. Begitu juga, dengan selalu mengingat akan sanksi hokum dari tuhan ini hilanglah kecenderungan mencuri tersebut, sebab yang menyerang kecenderugan tersebut bukanlah angan-angan dan fikiran saja akan tetapi potensi (kekuatan) spiritual akal, hati dan naluri, semuanya secara serempak meluluh lantakkan keinginan tersebut. Jadi dengan mengingat sanksi tuhan keingingan mencuri tersebut berhadapan dengan rintangan langit dan halanngan naluri‖58. Lebih lanjut beliau berargumen: ―Sanksi atau hukuman ketika dilaksanakan sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah tuhan dan keadilannya, maka ruh, akal, naluri dan seluruh aura positif yang terkandunga dalam diri manusia menjadi terpengaruh dan terikat

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dengannya. Oleh karena itu, pelaksanaan pelaksaan had satu kali selama lima puluh tahun itu lebih bermanfaat dari pada penjara kalian setiap hari, karena sanksi hokum yang kalian dengung-dengungkan atas nama keadilan tersebut pengaruhnya tidak tercapai kecuali di dalah angan-angan kalian. Sebab ketika seseorang hendak mencuri terbetiklah di hayalannya akan hukuman yang dibuat hanya untuk kemaslahtan umat dan Negara saja dan ia akan berkata, ‗seandainya orang-orang tahu bahwa saya pencuri, mereka akan memandangku dengan pandangan kebencian dan cemoohan, jika halnya demikian maka pastinya pihak yang berwenang aka menjebloskanku kedalam penjara‘. Ketika orang yang akan mencuri tersebut menghayalkan demikian, maka di sana tidak ada efek kecuali pengaruh parsial dari daya hayalnya saja, padahal keinginan mencurinya sudah sangat kuat —apalagi ketika ia sangat membuthkan—, jika halnya demikian maka sanksi yang kalian buat tidak mampu untuk menyelamatkan orang tersebut dari perbuatan jahat. Kemudian mengingat hokum kalian tersebut bukan merupakan pelaksanaan terhadap perintah tuhan mka itu tidak dapat disebut keadilan, bahkan hokum tersebut batal dan tidak berguna sebagaimana batalnya shalat tanpa wudhu` dan tanpa menghadap Qiblat. Yakni keadilan hakiki dan sanksi yang bermanfaat hanyalah jika dilaksanakan sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah tuhan, jika tidak, maka efek dari sanksi tersebut sangatlah sedikit.

BAB IV PENUTUP KESIMPULAN Manusia dan keadilan adalah suatu prilaku atau perbuatan yang dilakukan mnusia untuk kepentingan diri sendiri karena faktor-faktor tertentu.Keadiln sejati sangat jarang sekali kita dapatkan ,bahkan seorang hakim yang berperan sebagai penegak hukum dan sebagai pengadil masih bisa berbuat kecurangan atau tidak adil
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

terhadap suatu perkara.Hakim juga bisa meihak salah satu terdakwa karena alasan pribadi hanya ada satu keadilan yang sejati yang tidak mungkin memutuskan perkara dengan merugikan orang lain yaitu:keadilan ALLAH –lah yang tak mungkin diragukan lagi kebenaranya. Harapan adalah keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan manusia yang monopluralis dan kebutuhan itu tertuang dalm moralitas pancasila(lihat p4).Jadi pancasila adalah harapan bangsa indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya,jadi untuk mewujudkan itu semua diperlukan pean seorang pemimpin,karena pemimpin akan menjadi panutan dan tauladan yang baik bagi rakyatnya Kesadaran moral adalah kesadaran yang akan selalu melibatkan akal manusia. Dengan kesadaran manusia dapat memahami prilaku dan tindakanya. Hanya saja untuk selalu bertindak dan berperilaku baik manusia harus memiliki tidak hanya kesadaran semata tetapi lebih dari itu. Dengan kesadaran moral manusia akan lebih mengurangi bahkan menghilangkan prilaku dan perbuatan yang kurang baikmenjadi sebuah pprilaku dan perbuatan yang baik dan atas dasar hati nurani nmereka sendiri dan tidak ada sedikitpun paksaan dari pihak manapun Tanggung jawab adalah sebuah prilaku berani mengakui dan berani menebus semua perbuatan dan kesalahan yang telah ia lakukan.Tidak hanya hak saja yang harus dituntut seseorang tetapi juga kewajiban sesorang yang harus dikerjakan karena hak dan kewajiban harus diseimbangkan. Kesemua itu tertera dan terlaksana dalam kehidupan manusia sehari-hari. Baik dari yang berperilaku baik hingga berperilaku tidak baik ke-semuanya itu

tergantung pada hati nurani manusia itu sebdiri dan apabila ia terbukti bersalah maka dengan berani ia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

RAGAM BUDAYA NUSANTARA

Disusun Oleh : 1. 2. 3. 4. Fitriana Nelvi Sugeng Wahyudi Ahmad Baihaqi Muhammad Fahmi (09650219) (09650214) (09650212) (09650206)

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB I PENDAHULUAN

 Latar belakang Indonesia siapa yang tak kenal dengan nama itu seluruh duniapun mengenal dengan nama tersebut.mengapa demikian? Karena Indonesia sangat

terkenal dengan bermacam-macam budayanya yang sangat kental. Banyak sekali kebudayaan yang dapat kita temukan di Indonesia dari pulau satu ke pulau yang lain. Banyaknya beragam budaya Indonesia itu banyak itu masyarakat kita pastinya mempunyai adat istiadat yang berbeda-beda. Sebagai negara yang kaya dengan kebudayaan kita harus menjaga bagaimana agar kebudayaan kita direbut oleh negara lain. Karena sudah banyak kebudayaan –kebudayaan Indonesia yang di akui oleh negara-negara lain. Di antaranya kebudayaan musik angklung yang ingin di akui oleh negara Malaysia kejadian itu seharusnya menjadi pelajaran bagi bangsa kita agar lebih menjaga dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang telah ada di Indonesia ini. Kebudayaan-kebudayaan yang ada di Negara kita tidak hanya semata-mata untuk adat istiadat. Namun dengan keanekaragaman budaya kita dapat mengundang atau menarik wisatawan-wisatawan asing untuk datang ke Indonesia. Karena secara tidak langsung, datangnya para wisatawan dari negara lain tersebut dapat menambah devisa negara. Dari sabang sampai merauke banyak sekali beribu-ribu kebudayaan yang dapat menarik para wisatawan. Namun dari sekian banyak budaya kita masih ada budaya-budaya yang belum diketahui oleh masyakat-masyakat kita karena budaya itu berada di pulau-pulau terpencil. Jadi kita harus belajar bagaimana cara kita mengenalkan semua budaya-budaya yang telah kita miliki pada seluruh dunia.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Kita sebagai penerus bangsa harus meneruskan adat-istiadat serta melestarikan budaya yang kita miliki agar budaya kita tidak runtuh dan perhatian dunia akan keragaman budaya Indonesia tetap terkenal. Adapun cara kita melestarikan budaya yang ada di Indonesia yaitu salah satunya dengan cara belajar dan mengenal budaya-budaya yang ada di Indonesia dan turut serta ikut serta dalam mejaga budaya yang ada di daerah sendiri.

 Rumusan masalah  Karena terdapat banyak kebudayaan yang ada di indonesia  Masih adanya budaya nusantara yang belum teridentifikasi  Adanya keinginan negara lain yang ingin mengatas namakan budaya kita karena belum memiliki hak paten.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB II KONSEPSI TEORI

6. PENGERTIAN Secara lahiriah, manusia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung pada manusia yang lain dalam melakukan kegiatan-kegiatan pribadi maupun kegiatan kemasyarakatan. Dengan adanya interaksi antar manusia tentunya akan membentuk suatu kebiasan-kebiasan yang di sengaja (pattern of behavior) atau tidak disengaja (pattern for behavior). budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu, buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (akal atau budi) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Ada pendapat lain mengatakan budaya berasal dari kata budi dan daya. Budi merupakan unsur rohani, sedangkan daya adalah unsur jasmani manusia. Dengan demikian, budaya merupakan hasil budi dan daya manusia. Berdasarkan study diatas, dapat kita simpulkan bahwa budaya adalah totalitas aktifitas manusia yang dilakukan secara berulang-ulang dan disepakati bersama-sama dalam suatu masyarakat tertentu. Negara Indonesia sebagai negara kepulauan tentunya memiliki beragam budaya. budaya tersebut dapat berupa adat istiadat, tradisi, kuliner yang beraneka ragam, serta pola kehidupan yang berbeda antara satu sama lain, dan juga

kesenian. Berbagai macam suku, ras, dan etnik budaya yang ada di Indonesia menimbulkan berbagai macam budaya yang secara tidak langsung memberikan dampak positif dan negatif bagi Indonesia itu sendiri.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Menjadi bangsa yang besar yang mempunyai banya pulau-pulau, yang membentang dari sabang hingga merauke, menjadikan bangsa indonenia menjadi bangsa yang kaya akan budaya yang nantinya daya tarik tersendiri bagi negara lain untuk melihat keragaman budaya kita. Itu merupakan salah satu dampak positif bagi Indonesia. Namun, dengan banyaknya budaya-budaya yang ada di Indonesia dapat menjadi bumerang sendiri bagi Indonesia, apabila masyarakatnya kurang dapat memahami antar budaya masing-masing. Dan itu tampaknya berlaku di Indonesia yang masih belum bisa saling memahami antar budaya masing-masing. Dan juga, pemerintah kita kurang dapat menjaga budaya-budaya yang masih belum memiliki hak paten atau hak milik bagi pemiliknya. Sehingga, banyak negaranegara lain yang dengan mudahnya ―mencuri‖ dan mengatas namakan budaya kita sebagai budaya mereka. Maka dari itu, harapan kita untuk pemerintah adalah lebih peka dan perhatian dengan budaya kita yang beraneka ragam. Dan juga bagi generasi penerus bangsa saat ini, haruslah lebih mencintai budaya kita sendiri.

7. MACAM-MACAM BUDAYA Berikut ini adalah beberapa macam budaya yang ada di Indonesia. Yaitu dapat berupa 59: 5. Tarian 6. Ritual 7. Ornamen 8. Motif Kain
59

http://paijomania.blogdetik.com/2009/08/28/perpustakaan-digital-budayaindonesia-ensiklopedi-budaya-nusantara/
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

9. Alat Musik 10. Cerita Rakyat 11. Musik dan Lagu 12. Data Makanan 13. Seni Pertunjukan 14. Produk Arsitektur 15. Pakaian Tradisional 16. Permainan Tradisional 17. Senjata dan Alat Perang 18. Naskah Kuno dan Prasasti 19. Tata cara Pengobatan dan Pemeliharaan Kesehatan

9. Tarian Tarian adalah ekspresi jiwa dalam bentuk gerak yang biasanya dipadu dengan alunan musik. Tarian terkait pula dengan momen, dapat melukiskan tentang suatu peristiwa: perang, suasana duka, penghormatan pada raja, atau pengejawantahan sebuah norma, misalnya seperti pengabdian seorang perempuan dalam budaya Jawa. Perkembangan tari di Indonesia berhubungan erat dengan perkembangan masyarakat. James R. Brandon (1967) membagi perkembangan pertunjukan di Asia Tenggara dapat dibagi menjadi 4 periode yaitu: 1. Periode pra-sejarah, sekitar 2500SM-100M. 2. Periode masuknya kebudayaan India, 100-1000. 3. Periode masuknya pengaruh Islam, 1300-1750. 4. Periode masuknya negara barat, 1750-akhir perang dunia ke-2.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Perkembangan

masyarakat

dan

keseniannya

tidak

merupakan

perkembangan yang terputus satu sama lain, melainkan saling berkesinambungan dan tidak terputus. Ini ditunjukkan dengan jumlah tarian yang semakin berkembang, terdapat 277 jenis tarian yang ada di Indonesia dan bali adalah pulau yang paling banyak tariannya, yaitu 67 tarian.

10. Ritual Sebagai pusat pertemuan bermacam masyarakat tradisi, Kepulauan Indonesia memiliki beragam sistem tata nilai lokal, yang diartikulasikan dalam ritual dan upacara yang ditujukan untuk melayani kebutuhan-kebutuhan sosial dan terutama, spiritual, masyarakat dan/atau entitas adat setempat. Terdapat 16 ritual yang ada di Indonesia.

11. Ornamen Salah satu obyek kultural yang lekat dengan keseharian manusia adalah ornamen. Ornamen di sini terdiri atas artefak-artefak budaya yang bertujuan untuk menghias atau mempercantik sebuah objek tertentu. Ornamen terdiri atas: Dekorasi, misalnya ukiran, furniture, hiasan dinding, taplak meja, dan lain sebagainya. Perhiasan, misalnya kalung, gelang, tato, anting-anting, tas, dan lain sebagainya.Terdapat banyak sekali ornamen yang ad di Indonesia. Secara khusus, penyusun melihat daerah bengkulu memiliki ornamen yang terbanyak.

12. Motif Kain Motif kain orang Indonesia sangat beragam sebagaimana memang digambarkan oleh keheterogenan masyarakatnya atas suku, agama, dan berbagai
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

kelas sosial mulai dari kelas ekonomi hingga pembagian tenaga kerja secara sosial (division of labor). Dalam hal ini, kita mengenal motif batik misalnya yang merupakan sebuah tradisi motif pakaian yang terkenal hingga ke berbagai penjuru dunia. Batik dikenal secara umum berasal dari kriya tekstil penduduk di kawasan pulau Jawa, baik yang berada di kawasan pedalaman maupun yang berada di kawasan pesisir pantai. Motif batik sendiri sangat beragam. Keragaman ornamentasi batik saja misalnya, sudah sangat tinggi. Sebagai sebuah kawasan kepulauan yang terdiri dari populasi ratusan suku bangsa, maka Indonesia memiliki berbagai ornamentasi motif pakaian yang luar biasa kuantitasnya. Sebut saja songket, ulos, dan berabagai motif pakaian lainnya. Pengumpulan data atas motif-motif pakaian ini sungguh merupakan sebuah hal yang sangat menarik dan jika mungkin merupakan sebuah hal yang luar biasa penting untuk menggambarkan bagaimana konsep estetika berpakaian orang Indonesia yang memang sangat beragam tersebut. Pohon Filomemetika dari Batik dapat dilihat pada gambar atas beberapa data saja yang layak untuk dianalisis dengan perangkat yang ada di kita saat ini.

13. Alat Musik Indonesia adalah merupakan sebuah gugus pulau yang terhampar luar, dari Sabang hingga Merauke. Wilayah yang sangat luas ditambah adanya faktor laut dan gunung, yang cenderung mengurangi interaksi antar daerah tersebut, mengakibatkan lahirnya variasi budaya yang luar bisa, termaksud seni musik tradisional. Seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari masyarakat pendukungnya. Hampir seluruh wilayah memiliki seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Untuk lebih mudah mengenalinya, ia dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yaitu:
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

 Instrumen Musik Perkusi Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik permainannya di pukul, (baik menggunakan tangan ataupun stik). Instrumen musik ini antara lain: Gamelan, Arumba, Kendang, kolintang, tifa, talempong, rebana, bedug, jimbe dan lain sebagainya.  Instrumen Musik Petik Instrumen musik ini antara lain: Kecapi, Sasando, Sampek dan lain sebagainya.  Instrumen Musik Gesek Instrumen musik ini antara lain adalah Rebab.  Instrumen Musik Tiup Instrumen Musik Tiup antara lain: Suling, Tarompet, Serompet, Selompret, dan lain sebagainya.

14. Cerita Rakyat Bagi sebagian besar penduduk di Asia, dominannya cerita rakyat terdiseminasi secara lisan. Meskipun demikian, tidak sedikit karya-karya intelektual Asia, yang sekalipun diukur dengan standar peradaban masa kini, dinilai memiliki gagasan dan tingkat kerumitan yang tinggi. Keluhuran ini juga ditemui dalam manuskrip intelektual proto-Indonesia. Inilah alasan penghimpunan sumber lisan dan non-lisan Budaya Indonesia. Tradisi lisan atau folklor lisan bisa berbentuk cerita, teka-teki, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat. Bentuk yang banyak digunakan adalah bentuk cerita dan fabel, misalnya cerita Nyai Roro Kidul atau Si Kancil. Mengapa penggunaan tradisi lisan menjadi penting? Tradisi lisan/folklore mencerminkan suatu aspek kebudayaan, baik yang langsung
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

maupun yang tidak langsung, dan tema-tema kehidupan yang mendasar, misalnya kelahiran, kehidupan keluarga, penyakit, kematian, penguburan dan malapetaka, atau bencana alam yang universal, seperti yang terdapat dalam cerita Nyai Roro Kidul, Malin Kundang dan Gretel dan cerita lainnya. Cerita tradisi lisan yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia yang berbeda ini mengandung normanorma kehidupan yang patut dijadikan contoh dalam kebiasaan dan kehidupan sehari-hari, tidak hanya di lingkungan sosial tertentu, tapi juga dalam lingkungan masyarakat luas pada umumnya. 15. Musik dan Lagu Musik dan lagu merupakan ekspresi perasaan manusia, baik dari sisi pembuat lagu maupun penikmat dari musik tersebut. Syair dan melodi/irama dar karya musik dapat mengungkap suatu peristiwa, karakter kolektif dari masyarakat, hingga proses akulturasi yang melatar belakanginya. Tiap suku dan identitas kolektif dari mereka yang tinggal di kepulauan Indonesia tentu memiliki lagu yang lahir dari interaksi sosial terkait tempat tinggal dan latar belakang suku yang menyertainya. Musik merupakan ekspresi jiwa dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal nada yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Lagu yang menurut orang Jawa Barat indah belum tentu menurut orang Batak indah. Begitu juga sebaliknya.

16. Makanan dan Minuman Terdapat banyak sekali variasi makanan dan minuman dari seluruh nusantara. Tapi ternyata makanan juga tak luput dari masalah klain dari negara lain. Contoh yang sudah sering kita dengar makanannya yaitu rendang dari Sumatra Barat di klaim oleh oknum WN Malaysia.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

17. Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan, kami artikan sebagai bentuk kompak artikulasi berkesenian manusia Indonesia yang disajikan dalam format "pementasan". Kategori ini diperlukan karena seringkali artefak kebudayaan spesifik yang kita kenal dalam bentuk tarian, nyanyian, ornamen, dsb merupakan bagian utuh dari suatu pentas pertunjukan. Seni pertunjukan (performance art) adalah karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Seni performance biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan seniman dengan penonton. Meskipun seni performance bisa juga dikatakan termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan seni mainstream seperti teater, tari, musik dan sirkus, tapi biasanya kegiatan-kegiatan seni tersebut pada umumnya lebih dikenal dengan istilah 'seni pertunjukan' (performing arts). Seni performance adalah istilah yang biasanya mengacu pada seni konseptual atau avant garde yang tumbuh dari seni rupa dan kini mulai beralih ke arah seni kontemporer.

18. Produk Arsitektur Kebutuhan manusia akan tempat tinggal dapat ditentukan oleh faktor lingkungan alamiah dan sosial. Desain arsitektur adalah salah satu produk budaya yang mencerminkan kelas-kelas masyarakat, pola hidup, cara pandang, serta tingkat adaptasi teknologi pemiliknya. Desain bangunan yang bersumber pada inspirasi bangunan rumah tradisional di berbagai tempat di Indonesia menunjukkan diversitas yang sangat tinggi. Variasi terjadi mulai dari struktur rumah apakah tergolong sebagai rumah panggung, bahan bangunannya, bentuk bangunan tersebut, dekorasi bangunan tersebut dan bagaimana bangunan tersebut diwarnai, eksploitasi spasial di sekitar bangunan tersebut, termasuk sejauh mana pengaruh luar memberikan dampak bagi desainnya secara umum.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

19. Pakaian Tradisional Kategori ini dibuat untuk menghimpun dan mengkaji penggunaan artefak-artefak budaya tertentu yang terartikulasi pada produk sandang manusia yang berkembang di Indonesia. Keberadaan pakaian yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan masyarakat, misalnya sebagai atribut status sosial, dengan sendirinya menjadikan artefak ini kaya inspirasi dan tentunya, informasi, akan Kebudayaan Indonesia.

20. Permainan Tradisional Sama seperti halnya cerita rakyat, mainan tradisional lahir sebagai bentuk pewarisan nilai dari para orangtua terhadap generasi muda. Ia juga lahir dari kondisi alam dan lingkungan sekitar. Keberadaannya sudah hampir ditinggalkan dengan berkembangnya zaman.

21. Senjata dan Alat Perang Senjata dan alat perang setiap daerah mampu memberikan penjelasan pada kita tentang sejauh mana masyarakat menyerap teknologi, seberapa sering masyarakat dihadapkan pada ancaman kedaulatan, serta nilai-nilai yang berlaku di dalamnya.

22. Naskah Kuno dan Prasasti Naskah kuno dan prasasti ini merupakn peninggalan zaman terdahulu. Namun, ada beberapa naskah kuno yang diklaim oleh negara lain, khususnya disini adalah Malaysia. Beberapa contoh naskah kuno yang telah diklaim yaitu
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia, naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia, naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia, dan naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia. Akan berapa banyak lagikah aset negara kita ―dicuri‖ oleh negara lain?

23. Tata cara Pengobatan dan Pemeliharaan Kesehatan Ketinggian nilai aset tata cara perawatan kecantikan dan kesehatan tradisional telah dibuktikan oleh para pakar kecantikan saat ini. Dengan mengeksplorasi kekayaan flora, serta mengkaji ramuan tradisional di berbagai belahan dunia, para pakar menghadirkan produk noninvasif dengan konsep yang harmonis dan memenuhi standar etika bisnis dan kemanusiaan.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB III STUDI KASUS DAN ANALISA Sudah banyak budaya kita yang diklaim oleh negara lain. Misalnya bamboo malay yang ternyata sangat mirip dengan angklung, klaim lagu Rasa Sayange rakyat Maluku, Lagu jali-jali, dan terakhir Batik. Banyak orang bilang bahwa Indonesia dinilai terlambat untuk mengklaim budayanya, sehingga hak cipta suatu budaya di Indonesia masih belum jelas. Walaupun sekarang Indonesia mulai tergerak pada hal itu, namun budaya Indonesia sudah banyak yang diklaim oleh Malaysia. Berikut contoh Batik Malaysia dengan Batik Malaysia 60.

<–Batik Malaysia

60

http://kupastuntas.wordpress.com/2007/11/21/budaya-indonesia-diklaimoleh-malaysia/
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

<–Batik Indonesia Tidak terlalu beda jauh basicnya. Artinya, Gambar Batik yang dibawah Malaysia-pun dapat/sudah diklaim sebagai Batik Malaysia, bukan Indonesia (walaupun Indonesia yang membuatnya). Baru-baru ini, juga terdengar bahwa Wayang Kulit sudah diklaim oleh Malaysia. Tapi hal ini masih merupakan kontroversi, karena asal mula Wayang Kulit masih belum jelas, entah dari Malaysia atau Indonesia. Beberapa waktu terakhir kita kembali dikejutkan dengan tingkah negeri tetangga Malaysia yang lagi-lagi mengklaim tari pendet Bali sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Malaysia mengumumkan ke luar negaranya bahwa tari pendet juga merupakan budaya mereka dan menjadikannya sebagai salah satu penarik kunjungan pariwisata ke negeri Jiran itu. Ini bukan pertama kalinya Malaysia melakukan hal yang sama, dan kali ini kita, Indonesia, juga belum bisa melakukan apa-apa! Di bawah ini adalah Daftar Klaim Negara Lain Atas Budaya Indonesia 61: 1. Batik dari Jawa oleh Adidas 2. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
61

http://astaqauliyah.com/category/opini/budaya-nusantara/
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

3. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia 4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia 5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia 6. Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia 7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda 8. Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda 9. Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda 10. Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing 11. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia 12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia 13. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia 14. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia 15. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia 16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia 17. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia 18. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia 19. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia 20. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

21. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris 22. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia 23. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika 24. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd 25. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia 26. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda 27. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang 28. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia 29. Kain Ulos oleh Malaysia 30. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia 31. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia 32. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia Memang, Malaysia adalah negara yang memiliki rekor tertinggi dalam hal klaim atas kekayaan budaya Indonesia, selain Belanda dan Jepang. Melihat hal yang telah terjadi di atas, Departemen Hukum dan HAM (Depkum HAM) dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) akan mendaftarkan ratusan ribu kebudayaan Tanah Air yang sampai saat ini masih belum terdaftar sebagai hak kekayaan intelektual. Hal tersebut dilakukan dua instansi tersebut sebagai langkah antisipasi adanya klaim atas kebudayaan Indonesia oleh negara lain.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

"Kami bekerja sama dengan BudPar untuk mendaftarkan budaya kita di HAKI. Ada ratusan ribu seperti reog ponorogo, kesenian, patung, arca, belum lagi cerita rakyat seperti malin kundang. Lama-lama nanti itu diklaim pula," ungkap Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Andi Mattalatta. Sebagai contoh, menurut Andi saat ini seluruh produk batik hasil industri dalam negeri sudah diwajibkan diberi logo batik Indonesia. "Sekarang untuk batik Indonesia ada logo batik Indonesia. Sekarang semua batik produksi Indonesia diwajibkan mengenakan logo batik Indonesia, di luar itu berarti palsu," imbuhnya. Berbeda pula reaksi terhadap kesenian Reog Ponorogo yang telah di-klaim oleh negara tetangga. Para sesepuh dan tokoh kesenian reog Ponorogo, Jawa Timur, kecewa dan akan berjuang mempertahankan kesenian reog Ponorogo yang kini diklaim sebagai kesenian asli oleh Malaysia. Salah seorang tokoh kesenian Reog Ponorogo, Ahmad Tobroni, Kamis, di Ponorogo, mengaku sangat kecewa saat mendengar kabar dari situs internet milik Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia yang mengklaim bahwa tarian Barongan yang mirip dengan kesenian reog Ponorogo tersebut adalah milik Pemerintah Malaysia. "Sebagai warga dan pecinta seni reog, saya meresa kecewa dengan sikap Malaysia dengan seenaknya mengklaim seni reog adalah miliknya. Untuk itu kami akan berjuang mempertahankan warisan budaya yang kami miliki," katanya. Menurut dia, dalam situs internet tersebut menyebutkan tari Barongan yang terdiri dari beberapa penari seperti dadak merak atau barong jathil, seorang raja dan bujangganong mirip dengan tarian kesenian reog Ponorogo. Selain itu di dalam portal tersebut dinyatakan tarian barongan ini adalah warisan melayu yang dilestarikan dan bisa dilihat di batu pahat Johor dan Selangor Malaysia. Beredarnya kabar tarian Barongan tersebut membuat warga Ponorogo dan instansi pemerintahan setempat sempat kaget. Pasalnya Pemerintah Kabupaten Ponorogo sendiri telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik kabupaten Ponorogo tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dan diketahui langsung oleh menteri hukum dan hak asasi manusia Republik Indonesia. Selain itu, kata Tobrani, sangat tidak relevan jika Malaysia mengklaim kesenian reog adalah miliknya karena selama ini untuk memiliki peralatan tersebut saja mereka membeli dari ponorogo. "Jadi tidak mungkin bila sebuah Negara memiliki kesenian kebudayaan dan tidak mampu membuat peralatannya sendiri," katanya. Untuk membuktikan hal itu, Tobroni juga sempat melakukan pengecekan ke beberapa perajin reog di Ponorogo dan hasilnya para perajin mengaku dalam tahun ini banyak mendapatkan order dari para pelangannya di Malaysia. "Itu adalah bukti bahwa Malaysia melakukan penjiplakan," katanya. 62

62

http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=150065
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB IV PENUTUP

4.1. KESIMPULAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beraneka ragam budaya. Baik yang telah diketahui maupun yang masih belum diketahui. Beudaya tersebut dapa berupa tarian, ritual, ornamen, motif kain, alat musik, cerita rakyat, musik dan lagu, makanan, seni pertunjukan, produk arsitektur, pakaian tradisional, permainan tradisional, senjata dan alat perang, naskah kuno dan prasasti, serta tata cara pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Dari begitu banyak budaya yang dimiliki oleh Indonesia, masih terdapat beberapa budaya yang belum memiliki hak paten terhadap budaya itu. Sehingga banyak negara lain memanfaatkan keadaan ini. Negara yang saat ini memiliki rekor terbanyak dalam meng-klaim budaya kita adalah Malaysia. Tugas kita sebagai penerus bangsa adalah mberussha menjaga serta melestarikan kepada keturuna-keturunan setelah kita. Jangan sampai pada suatu titik generasi, budaya kita telah habis ―dicuri‖ oleh negara lain yang mengintai kita saat ini.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

( Nilai – Nilai Budaya Nusantara ) Oleh: Kelompok 6 Iva Zuhriah Aditya Ramadhan Tri Hendry Andhika Hadi Sutrisno 09650225 09650205 09650211

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB I PENDAHULUAN

8. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Indonesia adalah salah satu bangsa yang memilki keragaman budaya yang terbanyak. Hal ini dikarenakan bangsa Indonesia terdiri dari beberapa pulau besar dan ribuan pulau-pulau kecil di sekitarnya, dan di setiap pulau itu mempunyai adat – istiadat sendiri, jadi setiap pulau yang satu dengan yang lainnya itu menjadi kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Setiap daerah di suatu pulau di Indonesia hampir memiliki bahasa daerah masing – masing. Misalnya di pulau jawa ada bahasa jawa, di pulau Madura ada bahasa madura dan banyak lagi di pulau - pulau yang lainnya yang ada di Indonesia. Dengan demikian banyaknya budaya – budaya yang ada di Indonesia, maka Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan keragaman budayanya. Tapi itu semua tidak menjadi masalah, dengan semua perbedaan – perbedaan itu seluruh bangsa Indonesia dapat disatukan dengan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Tapi, akhir – akhir ini kebudayaan nenek moyang kita yang seharusnya menjadi milik kita, bangsa Indonesia terancam akan hilang. Itu karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap budaya – budaya lokal yang merupakan warisan leluhur kita. Sehingga beberapa diantara budaya itu hilang, entah hilang karena tidak ada yang melanjutkan atau hilang karena telah diakui bangsa lain dan telah dipatenkan kepemilikan budaya tersebut. Masuknya kebudayaan barat juga mempengaruhi kebudayaan – kebudayaan yang sebelumnya telah ada. Kebudayaan yang masuk itu ada yang telah di

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

adaptasi dan ada juga yang telah diterima dengan tanpa merubah yang sudah ada. 9. Rumusan Masalah Dengan tersebarnya kebudayaan di Indonesia, Indonesia sebagai bangsa yang memiliki keragaman kebudayaan yang melimpah mempunyai masalah tersendiri bagaimana agar kita bisa menjaga dan melestarikan kebudayaan tersebut bisa menjadi bernilai dan juga agar tidak diakui oleh bangsa lain,sudah sewajarnya kita sebagai bangsa Indonesia bangga akan kekayaan tersebut. Meskipun kita berbeda-beda suku dan bahasa tetapi kita tetaplah satu Indonesia raya,berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Tetapi akhir-akhir ini,negara kita seolah kecolongan baik dalam masalah budaya atau pun wilayahnya. Masih hangat di telingga kita bahwa negara tetangga telah mengklaim budaya dan batas wilayah kita. Budaya warisan turun temurun leluhur kita dengan seenak hatinya di klaim sebagai budayannya. Sebagai generasi muda kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi,agar kelak anak cucu dapat menikmati warisan budaya leluhur mereka. 1.3 Tujuan    Mengetahui keragaman budaya yang ada di Indonesia Mengetahui ciri-ciri suatu kebudayaan daerah yang ada di Indonesia Mengetahui nilai-nilai budaya tersebut mempengaruhi pola tingkah laku masyarakat Indonesia pada umumnya dan di daerah budaya itu berasal pada khususnya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB II KONSEP TEORI

II.1 Pengertian Kebudayaan Indonesia Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi. Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan

Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagangpedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi. Kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama Islam oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan mereka menuju Tiongkok. Kedatangan penjelajah dari Eropa sejak abad ke-16 ke Nusantara, dan penjajahan yang berlangsung selanjutnya, membawa berbagai bentuk kebudayaan Barat dan membentuk kebudayaan Indonesia modern

sebagaimana yang dapat dijumpai sekarang. Teknologi, sistem organisasi dan politik, sistem sosial, berbagai elemen budaya seperti boga, busana, perekonomian, dan sebagainya, banyak mengadopsi kebudayaan Barat yang lambat-laun terintegrasi dalam masyarakat. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah CulturalDeterminism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:       meliputi:    sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur

pokok, yaitu: alat-alat teknologi sistem ekonomi keluarga kekuasaan politik Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang

anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya organisasi ekonomi alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)  organisasi kekuatan (politik)

II.2 Pengertian Nilai-nilai Budaya Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan atau organisasi. Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu : 24. (jelas) 25. Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata

tersebut 26. Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan

menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat). II.3 Budaya di Indonesia Yogyakarta masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Seni dan budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sejak masih kanak-kanak sampai dewasa, masyarakat Yogyakarta akan sangat sering menyaksikan dan bahkan, mengikuti berbagai acara kesenian dan budaya di kota ini. Bagi masyarakat Yogyakarta, di mana setiap tahapan kehidupan mempunyai arti tersendiri, tradisi adalah sebuah hal yang penting dan masih dilaksanakan sampai saat ini. Tradisi juga pasti tidak lepas dari kesenian yang disajikan dalam upacara-upacara tradisi tersebut. Kesenian
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

yang dimiliki masyarakat Yogyakarta sangatlah beragam. Dan keseniankesenian yang beraneka ragam tersebut terangkai indah dalam sebuah upacara adat. Sehingga bagi masyarakat Yogyakarta, seni dan budaya benar-benar menjadi suatu bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kesenian khas di Yogyakarta antara lain adalah kethoprak, jathilan, dan wayang kulit.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB III STUDI KASUS DAN ANALISIS

III.1 Konsep Nilai, Sistem Nilai, Dan Orientasi Nilai (Budaya) Kajian ilmu budaya dasar adalah nilai-nilai dasar manusia. Oleh karena itu, dalam proses pengkajiannya, permasalahan nilai tersebut perlu terlebih dahulu dimengerti dan dipahami. Hal lain yang pengting bahwa nilai itu merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia, Inheren – seseorang di dalam hidupnya tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai. Oleh karena itu , nilai – nilai sangat luas, dapat ditemukan pada berbagai perilaku yang terpilih dalam berbagai kehidupan yang luas dialam semesta ini (Robin M. Williams , 1972).

III.2 Konsep Nilai

Batasan nilai dapat mengacu kepada berbagai hal seperti minat, kesukaan, pilihan, tugas ,kewajiban agama, kebutuhan, hasrat, keengganan, atraksi (daya tarik), dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan perasaan dari orientasi seleksinya (Pepper, 1958). Sebagai bahan perbandingan dan untuk menambah wawasan pengertian tentang nilai, ada beberapa pendapat sebagai berikut : 1. Pepper (1958) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu

tentang yang baik atau yang buruk. 2. Perry (1954) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang

menarik bagi manusia sebagai subjek.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

3.

Kohler (1938) mengatakan bahwa manusia tidak berbeda didunia

ini. Semua tidak dapat berhenti hanya sengan sebuah pandangan faktual dari pengalaman yang berlaku. 4. Kluckhon (1951) mengatakan bahwa definisi nilai yang diterima

sebagai konsep yang diinginkan dalam literatur almu sosial adalah hasil pengaruh seleksi perilaku. Batasan nilai yang sempit adalah adanya suatu perbedaan penyusunan antara apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan dengan apa yang seharusnya dibutuhkan. Nilai-nilai tersusun secara hierarkis dan mengatur rangsangan kepuasan hati dalam mencapai tujuan

kepribadiaannya. Kepribadian dari sistem sosial budaya merupakan syarat dalam penyusunan kebutuhan rasa hormat terhadap keinginan yang lain atau kelompok sebagai suatu kehidupan sosial yang besar. Dari berbagai pendapat tentang nilai dapat dikemukakan sebuah batasan nilai, yaitu Nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai anstraksi, pandangan , atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat. Batasan bersifat universal, tetapi untuk suatu maksud pembicaraaan tertentu dapat mengacu pada salah satu batasan sebelumnya. Sebagai contoh pengertian nilai sosial dikemukakan oleh Alfin L. Bertrand (1967), Nilai Sosial adalah suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek, gagasan, atau orang. Pengertian Nilai Sosial ini, bila dikaitkan dengan batasan sebelumnya, maknanya akan berhubungan. Untuk mendapat rumusan yang jelas, Robin M. Williams (1972) mengemukakan bahwa ada empat buah kualitas nilai-nilai, yaitu : 1. Nilai mempunyai sebuah elemen konsepsi yang lebih mendalam

dibandingkan dengan hanya sekedar sensasi, emosi dan kebutuhan. Dalam hal ini nilai dianggap sebagai abstraksi yang ditarik dari pengalaman-pengalaman seseorang.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

2.

Nilai-nilai menyangkut atau penuh dengan semacam pengertian

yang memiliki suatu aspek amosi. Emosi disini mungkin diungkapkan sebenarnya atau merupakan potensi. 3. Nilai-nilai bukan merupakan tujuan kongkret dari tindakan, ttetapi

mempunyai hubungan dengan, tujuan, sebab nilai-nilai berfungsi sebagai kreteria dalam memiliki tujuan. Seseorang akan berusaha mencapai segala sesuatu yang menurut pandangannya memnpunyai nilai-nilai. 4. Nilai-nilai merupakan unsur penting, dan tidak dapat disepelekan

bagi orang yang bersangkutan. Dalam kenyataanya , nilai-nilai berhubungan dengan pilihan, dan pilihan merupakan persyaratan untuk mengambil suatu tindakan. Nilai-nilai adalah perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan ataupun yang diinginkan, atau tentang apa yang boleh atau tidak boleh. Jenis-jenis nilai, menurut intensitasnya, ada yang disebut nilai-nilai yang tercernakan dan nilai-nilai yang dominan. Nilai-nilai yang tercernakan (internalized values) merupakan suatu landasan bagi reaksi yang diberikan secara otomatis terhadap situasi-situasi tingkah laku eksistensi, sedangkan nilai-nilai tercernakan tidak dapat dipisahkan dari si individu, serta membentuk landasan bagi hati nuraninya. Apabila terjadi pemerkosaan terhadap nilai-nilai tersebut, maka akan timbul perasaan malu atau bersalah yang sulit dihapus. Nilai tercernakan bagi individu-individu artinya individu itu menghayati atau menjiwai suatu nilai sehingga akan memandang keliru pola perilaku yang tidak sesuai dengan nilai tersebut. Nilai yang dominan artinya nilai-nilai yang lebih diutamakan daripada nilai-nilai lain. Fungsi nilai dominan ialah sebagai suatu latar belakang atau kerangka patokan bagi tingkah laku sehari-hari. Kriteria apakah suatu nilai itu dominan, ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut :

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

1.

Luas tidaknya ruang lingkup pengaruh nilai tersebut dalam

aktivitas total dari sistem sosial. 2. 3. Lama tidaknya pengaruh nilai itu dirasakan oleh masyarakat. Gigih tidaknya (intensitas) nilai tersebut diperjuangkan atau

dipertahankan. 4. Prestise orang-orang yang menganut nilai, yaitu orang atau

organisasi yang dipacang sebagai pembawa. III.3 Sistem - Sistem Nilai Konsep sistem-sistem nilai budaya bermacam-macam, merupakan alternatif-alternatif, yang menunjukkan bahwa macam-macam nilai dapat mengandung suatu model menyeluruh untuk deskripsi dan studi perbandingan. Diasumsikan bahwa perbedaan macam-macam dan tingkatan-tingkatan nilai aturan-aturan khusus dan umum, cita-cita, norma-norma kriteria lainnya dalam sikap mengatur, penilaian dan sanksi-sanksi, semuanya menyusun suatu nilai budaya yang komplek (Ethel M. Albert, 1972)

III.4 Orientasi nilai budaya Sistem nilai budaya dalam masyarakat dimana pun didunia, secara universal menyangkut 5 masalah pokok kehidupan manusia, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Hakikat Hidup Manusia Hakikat Karya Manusia Hakikat Waktu Manusia Hakikat Alam Manusia Hakikat Hubungan Manusia

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah CulturalDeterminism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. III.5 Kebudayaan Indonesia Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam sukusuku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi. Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi. Kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama Islam oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan mereka
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

menuju Tiongkok. Kedatangan penjelajah dari Eropa sejak abad ke-16 ke Nusantara, dan penjajahan yang berlangsung selanjutnya, membawa berbagai bentuk kebudayaan Barat dan membentuk kebudayaan Indonesia modern sebagaimana yang dapat dijumpai sekarang. Teknologi, sistem organisasi dan politik, sistem sosial, berbagai elemen budaya seperti boga, busana, perekonomian, dan sebagainya, banyak mengadopsi kebudayaan Barat terintegrasi dalam masyarakat. III.6 Nilai-nilai Budaya Nusantara Keaneka ragaman budaya maupun makanan khas Nusantara sudah tidak terbantahkan lagi. Nilai-nilai yang kental dan membedakan dengan daerah lain merupakan suatu kekayaan yang tak terhingga nilainya. Kenyataan ini sudah dikenal di seluruh dunia dan sangat dihargai oleh pihak-pihak luar. Bahkan beberapa warisan budaya asli Nusantara sempat di klaim sebagai budaya bangsa lain. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa lain lebih menghargai budaya kita dari diri kita sendiri. Terkadang kita lupa untuk bersyukur dengan menjadi bangsa yang kaya akan warisan budaya tinggi nan luhur. Setelah kejadian peng-klaim-an budaya kita oleh bangsa lain, bangsa kita mulai sadar untuk ―kembali‖ mencintai budaya kita sendiri. Berbagai cara mulai dilakukan untuk sekedar ―menunjukkan‖ bahwa ―…inilah budayaku, asli milik Bangsa Indonesia..‖. Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

yang lambat-laun

Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan atau organisasi. Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu : 1 Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata (jelas) 2 Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto tersebut 3 Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB IV KESIMPULAN

Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam sukusuku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi. Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi. Kebudayaan di Indonesia dipengaruhi oleh kebudayaan baik dari timur maupun dari barat, sehingga kebudayaan di Indonesia mempunyai nilai yang lebih di bandingkan dengan kebudayaan yang mempengaruhinya.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

DAFTAR PUSTAKA http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&task=view&id=153&. .. http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai-nilai_budaya Sulaeman, M. Munandar, 1998, Ilmu Budaya Dasar,Bandung;PT. Uresco

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

ISLAM DAN BUDAYA KEJAWEN Oleh: Ria Virgis Arima (06550120)

Panji Dwi Saputro (09650198) Andhika Azhar (09650202)

Muhammad Jazuli (09650204)

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Waktu demi waktu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa nilai-nilai kebudayaan semakin luntur. Budaya Jawa adalah salah satunya. Budaya Jawa yang kita kenal dahulu adalah sebuah budaya yang sangat kaya, baik dari segi kesusastraanya dan juga dari segi mistik-mistiknya yang merupakan hasil dari kepercayaan nenek moyang yakni animisme dinamisme dan juga setelah masuknya Hindu. Sebenarnya yang melatarbelakangi saya selaku penulis untuk membuat makalah yang berjudul ― Islam dan Budaya Kejawen‖ ini adalah penulis hanya ingin sekedar merefresh dan menyegarkan kembali ingatan kita betapa kaya dan indahnya budaya kita dahulu. Terutama interaksi yang sangat indah dari budaya Jawa dan Islam, dimana kedua pihak saling membutuhkan. Dari interaksi inilah muncul sebuah budaya Jawa Baru dan tata bahasa Jawa yang biasa kita jumpai sehari-hari.

B. Rumusan Masalah Masalah yang dibahas pada makalah ini dirumuskan sebagai berikut ini: 1. Apakah pengertian dari Kejawen dan bagaimana konsepnya ? 2. Bagaimana sejarah awal mula hubungan Kejawen dengan Islam ? 3. Bagaimana interaksi antara Islam dengan budaya Kejawen dan apa manfaat atau dampaknya bagi keduanya ?
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

C. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk : 1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Kejawen dan bagaimana konsep dari kejawen tersebut. 2. Mengetahui sejarah awal mula hubungan Kejawen dengan Islam. 3. Mengetahui interaksi antara Islam dengan budaya Kejawen dan mengetahui manfaat atau dampaknya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsepsi Teori 1. Pengertian Kejawen Ada analisa budaya tentang "kejawen" yang terkenal sarat dengan berbagai mitos mistik didalamnya. "kejawen" bukanlah sebuah sindikat ataupun lembaga keagamaan yang mempunyai anggota resmi lengkap beserta perangkatperangkat lainnya, layaknya sebuah organisasi atau lembaga. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari "http://id.wikipedia.

org/wiki/"kejawen"". "Kejawen" merupakan sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama, yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. "kejawen" pun bukan merupakan sebuah agama yang terorganisir sebagaimana agama Islam dan Kristen semisal. Ciri khas utama agama "kejawen" ini adanya perpaduan animisme, agama hindu dan budha, bahkan juga seluruh agama di Indonesia. Akulturasi budaya di Indonesia yang menyebabkan banyaknya aliran agama yang timbul. Sebut saja perbedaan – perbedaan yang kecil dalam puasa di agama Islam. Bisa jadi hal ini merupakan produk budaya baru, hasil dari akulturasi budaya yang sudah ada. Bahkan bukan saja berbentuk asimilasi, tetapi lebih rumit lagi. Menurut Yos Rizal dalam artikelnya yang bartajuk ―Kesusastraan Islam Melayu dan "kejawen" di Indonesia‖, mengungkap Islam masa lampau. Beliau menyebutkan bahwa jika ditilik ulang mengenai sejarah, maka sejarah datangnya Islam pada abad ke- 13 masehi, atau mungkin sebelumnya, menunjukan bahwa agama Islam yang tersiar di Indonesia adalah Islam yang mentradisi, yang telah surut pemikirannya. Artinya Islam yang
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

datang adalah Islam kelas dua, disiarkan dan dikelola ulama-ulama kelas tabi'63 bukan kelas mujtahid. Maka wajar hingga abad ini, dimana Islam telah menyebar selama berabad-abad di Indonesia, belum bisa melahirkan seorang mujtahid ulung. Dan hingga kini pendidikan Islam masih mengutamakan kuantitas, bukan kualitas. Masih juga menurut Yos Rizal, salah satu penyebab timbulnya hal ini dikarenakan, pegangan para ulama terdahulu Indonesia adalah kitab-kitab sastra budaya ekspresif, yang irrasional, berdasarkan perasaan, intuisi dan imajinasi. Sedangkan sastra budaya Islam (kitab-kitab agama) yang bermuatan progresif dan ilmiah belum mendominasi pendidikan agama. "Kejawen" yang merupakan sebuah produk percampuran dari berbagai agama, sudah mentradisi dan melekat dalam sebuah kepercayaan baru, khususnya bagi orang jawa, atau orang luar jawa yang hidup di sekitar pulau jawa. "Kejawen" yang disebut oleh Clifford Geertz64 the religion of java atau "Agami Jawi" ini bukan saja merupakan sebuah aliran kepercayaan, namun khsusunya bagi orang jawa, "kejawen" merupakan gaya hidup dan sebuah aturan norma yang sakral. Pada kenyataannya, "kejawen" ini banyak bersinggungan dengan agama-agama, dan lebih melekat dengan budaya Islam. Yakni berdasarkan pada percampuran Islam dan budaya "kejawen" yang dianut oleh orang jawa. Hal ini memang melahirkan suatu budaya baru, yang 'mengeruhkan' budaya-budaya awal. Sehingga tidak dapat diketahui siapa yang hitam dan siapa yang putih, karena "kejawen" berwarna abu-abu. Jadi jikalau kita menghendaki warna yang hitam, maka salah satu dari 2 pilihan harus kita hilangkan. Dan kejawen adalah pilihan warna ketiga yaitu abu-abu, dimana kejawen adalah percampuran dari warna hitam dan putih.

63

Kelas pengikut Seorang ahli antropologi Amerika Serikat Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

64

2. Konsep Kejawen Dipandang Dari Berbagai Segi Kehidupan a. Kepercayaan Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendak-Nya. b.SudutPandang Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan Numinus antara alam nyata, masyarakat dan alam adikodrati65 yang dianggap keramat. Alam adalah ungkapan kekuasaan yang menentukan kehidupan. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya,mereka hanya menjalankan saja. Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu, atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius. Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta, yang mengandung kekuatan-kekuatan supranatural (adikodrati). Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan keselarasan mikrokosmos.
65

atau

keseimbangan

antara

kehidupan

makrokosmos

dan

Supranatural Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Dalam makrokosmos pusat alam semesta adalah Tuhan. Alam semesta memiliki kirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang alam kehidupan dan adanya tingkatan dunia yang semakin sempurna (dunia atas – dunia manusia dunia bawah). Alam semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.

c. Pandangan Hidup Sikap dan pandangan terhadap dunia nyata (mikrokosmos) adalah tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, susunan manusia dalam masyarakat, tata kehidupan manusai sehari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam menghadapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia ini tergantung pada kekuatan batin dan jiwanya. Bagi orang Jawa dahulu, pusat dunia ini ada pada pimpinan atau raja dan keraton, Tuhan adalah pusat makrokosmos sedangkan raja dianggap perwujudan wakil Tuhan di dunia ,sehingga dalam dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan dari dua alam. Jadi raja dipandang sebagai pusat komunitas di dunia seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari wakil Tuhan dengan keraton sebagi tempat kediaman raja. Keraton merupakan pusat keramat kerajaan dan bersemayamnya raja karena rajapun dianggap merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah kedaulatannya dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan wilayah. Hal hal diatas merupakan gambaran umum tentang alam pikiran serta sikap dan pandangan hidup yang dimiliki oleh orang Jawa pada jaman kerajaan. Alam pikiran ini telah berakar kuat dan menjadi landasan falsafah dari segala perwujudan yang ada dalam tata kehidupan orang Jawa.

d. Religius Orang Kejawen
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Menurut kamus bahasa Inggris istilah kejawen atau kejawaan adalah Javanism, Javaneseness ; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang

mendefisikannya sebagai suatu kategori khas. Javanisme yaitu agama beserta pandangan hidup orang Jawa, yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu dibawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta alam. Neils Mulder memperkirakan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu – Budha dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Sistem pemikiran Javanisme adalah lengkap pada dirinya, yang berisikan kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik dan sebagainya yang menimbulkan anthropologi Jawa tersendiri, yaitu suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan masyarakat, yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi dan gaya Jawa. Singkatnya Javanisme memberikan suatu alam pemikiran secara umum sebagai suatu badan pengetahuan yang menyeluruh, yang dipergunakan untuk menafsirkan kehidupan sebagaimana adanya dan rupanya. Jadi kejawen bukanlah suatu katagori keagamaan, tetapi menunjukkan kepada suatu etika dan gaya hidp yang diilhami oleh cara berpikir Javanisme. Dasar pandangan manusia jawa berpendapat bahwa tatanan alam dan masyarakat sudah ditentukan dalam segala seginya. Mereka menganggap bahwa pokok kehidupan dan status dirinya sudah ditetapkan, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya, jadi mereka harus menanggung kesulitan hidupnya dengan sabar. Anggapan – anggapan mereka itu berhubungan erat dengan kepercayaan mereka pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek moyang yang seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan dan rasa aman.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Kejawaan atau kejawen dapat diungkapkan dengan baik oleh mereka yang mengerti tentang rahasia-rahasia kebudayaan Jawa, dan bahwa kejawen ini sering sekali diwakili yang paling baik oleh golongan elite priyayi lama dan keturunan-keturunannya yang menegaskan adalah bahwa kesadaran akan budaya sendiri merupakan gejala yang tersebar luas di kalangan orang Jawa. Kesadaran akan budaya ini sering kali menjadi kebanggaan dan identitas kultural. Orang-orang inilah yang memelihara warisan budaya Jawa secara mendalam yang dapat dianggap sebagai Kejawen.

e. Budaya dan Kultur Budaya Jawa Kejawen memahami kepercayaa pada pelbagai macam roh-roh yang tidak kelihatan yang dapat menimbulkan bahaya seperti kecelakaan atau penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak hati-hati. Untuk melindungi semua itu, orang Jawa kejawen memberi sesajen atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Sesajen yang digunakan biasanya terdiri dari nasi dan aneka makanan lain, daun-daun bunga serta kemenyan. Contoh kegiatan religius dalam masyarakat Jawa, khususnya orang Jawa Kejawen adalah puasa atau siam. Orang Jawa Kejawen mempunyai kebiasaan berpuasa pada hari-hari tertentu misalnya : Senin – Kamis atau pada hari lahir, semuanya itu merupakan asal mula dari tirakat. Dengan tirakat, orang dapat menjadi lebih tekun dan kelak akan mendapat pahala. Orang Jawa kajawen menganggap bertapa adalah suatu hal yang penting. Dalam kesusastraan kuno orang Jawa, orang yang berabad-abad bertapa dianggap sebagai orang keramat karena dengan bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan tinggi serta mampu menahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat tercapai. Kegiatan orang Jawa Kejawen yang lainnya adalah
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

meditasi atau semedi, menurut Koentjaraningrat meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempattempat yang dianggap keramat misalnya di Gunung, Makam leluhur, ruang yang mempunyai niali keramat dan sebagainya. Pada umumnya orang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan.

f. Konsep Ilmu Ghaib Kejawen  Ilmu Ghaib Sebelum membahas Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen, kita akan memperjelas dulu pengertian Ilmu Gaib yang kita pakai sebagai istilah di sini. Ilmu Gaib adalah kemampuan melakukan sesuatu yang tidak wajar melebihi kemampuan manusia biasa, sering juga disebut sebagai Ilmu Metafisika, Ilmu Supranatural atau Ilmu Kebatinan karena menyangkut hal-hal yang tidak nampak oleh mata. Beberapa kalangan menganggap Ilmu Gaib sebagai hal yang sakral, keramat dan terlalu memuliakan orang yang memilikinya, bahkan menganggap wali atau orang suci. Bahwa keajaiban atau karomah yang ada pada Wali (orang suci kekasih Tuhan) tidak sama dengan Ilmu Gaib yang sedang kita pelajari. Wali tidak pernah mengharap mempunyai keajaiban tersebut. Karomah itu datang atas kehendak Allah karena mereka adalah orang yang sangat saleh dan rendah hati. Sementara kita adalah orang yang meminta kepada Allah agar melimpahakan kekuasaan-Nya untuk keperluan kita. Dalam hasanah perkembangan Ilmu Gaib di Indonesia, kita mengenal dua aliran utama yaitu Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen. Aliran Hikmah berkembang di kalangan pesantren dengan ciri khas doa/mantra yang murni berbahasa Arab (kebanyakan bersumber dari Al-Quran). Sedangkan aliran Kejawen yang ada sekarang sebetulnya sudah tidak murni kejawen lagi,
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

melainkan sudah bercampur dengan tradisi islam. Mantranya pun kebanyakan diawali dengan basmalah kemudian dilanjutkan dengan mantra jawa. Oleh kerena itu, saya menyebutnya Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen.

Ilmu Ghaib Aliran Islam Kejawen

Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen bersumber dari alkulturasi66 budaya jawa dan nilai-nilai agama Islam. Ciri khas aliran ini adalah doa-doa yang diawali basmalah dan dilanjutkan kalimat bahasa jawa, kemudian diakhiri dengan dua kalimat sahadad. Aliran Islam Jawa tumbuh syubur di desa-desa yang kental dengan kegiatan keagamaan (pesantren yang masih tradisional).

Awal mula aliran ini adalah budaya masyarakat jawa sebelum islam datang yang memang menyukai kegiatan mistik dan melakukan ritual untuk mendapatkan kemampuan suparantural. Para pengembang ajaran islam di Pulau Jawa (Wali Songo) tidak menolak tradisi jawa tersebut, melainkan memanfaatkannya sebagi senjata dakwah. Para Wali menyusun ilmu-ilmu Gaib dengan tatacara lelaku yang lebih islami, misalnya puasa, wirid mantra bahasa campuran arab-jawa yang intinya adalah do'a kepada Allah. Mungkin alasan mengapa tidak disusun mantra yang seluruhnya berbahasa Arab adalah agar orang jawa tidak merasa asing dengan ajaran-ajaran yang baru mereka kenal. Di Indonesia, khususnya orang jawa, pasti mengenal Sunan Kali Jaga (Raden Said). Beliau inilah yang paling banyak mewarnai paham Islam-kejawen yang dianut orang-orang jawa saat ini. Sunan Kali jaga menjadikan kesenian dan budaya sebagai kendaraan dakwahnya. Salah satu kendaran Sunan Kali Jaga

66

Penggabungan Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dalam penyebaran ajarannya adalah melalu tembang / kidung. Kidung-kidung yang diciptakannya mengandung ajaran ketuhanan dan tasawuf yang sangat berharga. Ajaran islam yang luwes dan menerima berbagai perbedaan. Bahkan Sunan Kali Jaga juga menciptakan satu kidung "Rumeksa Ing Wengi" yang menurut saya bisa disebut sebagai Ilmu Gaib atau Ilmu Supranatural, karena ternyata orang yang mengamalkan kidung ini memiliki berbagai kemampuan supranatural. Setiap perilaku manusia akan menimbulkan bekas pada jiwa maupun badan seseorang. Perilaku-perilaku tertentu yang khas akan menimbulkan bekas yang sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Perilaku tertentu ini disebut dengan tirakat, ritual, atau olah rohani. Tirakat bisa diartikan sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan suatu ilmu. Penabungan Energi Karena setiap perilaku akan menimbulkan bekas pada seseorang maka ada suatu konsep yang khas dari ilmu Gaib Aliran Islam Jawa yaitu Penabungan Energi. Jika badan fisik anda memerlukan pengisian 3 kali sehari melalui makan agar tetap bisa beraktivitas dengan baik, begitu juga untuk memperoleh kekuatan supranatural, perlu mengisi energi. Hanya saja dalam Ilmu Gaib pengisian energi cukup dilakukan satu kali untuk seumur hidup. Penabungan energi ini dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam tergantung jenis ilmu yang ingin dikuasai. Cara-cara penabunganenergi lazim disebut Tirakat. Tirakat Aliran Islam Kejawen mengenal tirakat (syarat mendapatkan ilmu) yang kadang dianggap kontroversial oleh kalangan tertentu. Tirakat tersebut bisa berupa bacaan doa. wirid tertentu, mantra, pantangan, puasa atau penggabungan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dari kelima unsur tersebut. Ada puasa yang disebut patigeni (tidak makan, minum, tidur dan tidak boleh kena cahaya), nglowong, ngebleng dan lain-lain. Biasanya beratnya tirakat sesuai dengan tingkat kesaktian suatu ilmu. Seseorang harus banyak melakukan kebajikan dan menjaga bersihnya hati ketika sedang melakukantirakat. Khodam Setiap Ilmu Gaib memiliki khodam. Khodam adalah mahluk ghaib yang menjadi "roh" suatu ilmu. Khodam itu akan selalu mengikuti pemilik ilmu. Khodam disebut juga Qorin, ialah mahluk ghaib yang tidak berjenis kelamin artinya bukan pria dan bukan wanita, tapi juga bukan banci. Dia memang diciptakan semacam itu oleh Allah dan dia juga tidak berhasrat kepada manusia. Hal ini berbeda dengan Jin yang selain berhasrat kepada kaum jin sendiri kadang juga ada yang "suka" pada manusia. B. Pembahasan 1. Sejarah Hindu Kejawen dan Masuknya Islam Bukti-bukti tertua adanya negara-negara Hindu Jawa berupa prasasti-prasati dai batu yang ditemukan di pantai utara Jawa Barat, kurang lebih 60 km sebelah timur kota Jakarta di lembah sungai Cisadane. Walaupun tidak ada tanggal pada prasati tersebut, tetapi dilihat dari bentuk dan gaya huruf India Selatan dan tulisannya dapat diketahui bahwa prasati itu merupakan disripsi mengenai beberapa upacara yang dilakukan oleh seorang raja untuk merayakan peresmian bangunan irigasi dan bangunan agama dalam abad 4-masehi. Raja ini adalah orang Indonesia yang berusaha meniru gaya hidup India, dengan memakai nama-nama Hindu dan mengundang orang-orang Brahmana dari India sebagai konsultan yang dapat memperkenalkan peradaban intelektual dan kesusastraan Hindu di istananya (Coedes 1948). Petunjuk dari para Brahmana tersebut adalah mengenai organisasi upacara kerajaan, sebagai dasar dari suatu system kerajaan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

yang diperintah oleh seorang raja keramat. Kebudayaan intelektual Hindu itu mungkin telah mendominasi hampir seluruh Asia Tenggara pada waktu itu, tetapi pengaruhnya terbesar adalah terhadap masyarakat istana; sedangkan konsep-konsep Hindu hanya sedikit yang mempengaruhi masyarakat petani di daerah pedesaan, yang cara hidupnya barangkali tidak banyak berubah sejak berabad-abad yang lalu. (Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, hal 38). Jadi pada abad ke-4 masehi suku Jawa telah mengenal huruf dan kebudayaan intelektual India Selatan. Dan kebudayaan intelektual India itu dengan filsafat kenegaraan dan mitologi dewa-dewanya telah disadap untuk memperluas kekuasaan raja dan melahirkan lapisan cendikiawan priyayi dan lingkungan istana. Pada abad ke-8 dan ke-9 budaya intelektual kejawen terus menanjak dan ini tampak pada relief-relief bangunan keagamaan candi Borobudur dan Prambanan. Suatu hal yang perlu adalah Hinduisme itu mempunyai dasar pemikiran yang sejalan dengan religi animisme-dinamisme. Yakni bahwa menusia bisa menjalin hubungan langsung dengan dewa-dewa dan roh-roh halus, bahkan dengan laku tapa(Tapak Brata) manusia bisa jadi sakti dan mengalami bersatu dengan dewanya. Jadi pengaruh Hinduisme justru menyuburkan dan

meningkatkan laku keprihatinan para dukun dalam mempengaruhi roh-roh dan gaya ghaib. Kebudayaan intelektual Hindu-Budha yang disadap dan diolah oleh para cendekiawan Jawa memang berkuminasi pada filsafat mistik yang patheis. Yakni yang memandang bahwa manusia merupakan jagad cilik dan merupakan pencerminan atau bentuk mini bagi jagad gedhe 67 dan Tuhan (Brahman). Ciri utama dari setiap ajaran mistik pasti menyuburkan pada kepercayaan yang berbentuk mitologi dan system pendidikan yang guruisme. Maka mistik
67

Alam semesta Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Hinduisme dan Budhisme memberikan dukungan pengukuha wibawa raja-raja Jawa dengan konsep Raja Titising Dewa. Cerita mitologi pewayang ini merupakan sarana yang paling halus dan paling efisien untuk memperluas kekuasaan dan mempropagandakan kekeramatan sang raja beserta kelas para priyayi pendukung utamanya. Maka mudah dibayangkan bahwa filsafat mistik beserta cerita-cerita mitologis amat mengakar dalam budaya kejawen yang sangat ekspresif, yang mereka nilai sangat halus dan adi-luhung. Islam yang mulai menyebar ke Indonesia semenjak abad ke-13 M, ternyata pada mulanya sulit menembus dan diterima di lingkungan tradisi besar budaya Hindu Kejawen yang berpusat di istana kerajaan pedalaman. Oleh karena itu perpaksa harus mulai dengan bekerja keras meng-Islamkan masyarakat petani pedesaan, terutama di sepanjang pesisir utara pulau Jawa. Daerah-daerah pedesaan yang semula merupakan tradisi kecil dengan masyarakat yang buta huruf akhirnya bisa disulap jadi tradisi besar tandingan bagi budaya HinduKejawen. Yakni dengan mengembangkan sastra budaya agama terutama yang berbahasa Arab. Naskah Jawa tertua yang bisa diselamatkan oleh pelayaran Belanda, dalam pembahasan ilmiah kemudian terkenal dengan nama Het Boek van Bonang. Naskah Islam yang diperkirakan ditulis di Tuban pada abad ke-16 M ini disebutkan bahwa sumbernya dari Ihya‘ Ulum al-Din dan Tauhid. Jadi kitab Ihya‘ yang merupakan kitab tasawuf yang paling besar dan masyur telah dikenal di Jawa. Sehingga mudah dibayangkan pada abad tersebut baik secara politik (berdirinya kerajaan Jawa-Islam di Demak), ataupun dalam sastra budaya pesantren, telah menjadi tradisi besar tandingan bagi budaya Hindu Kejawen yang berpusat di majapahit saat itu. Bahkan kemudian kerajaan Majapahit jatuh dan kekuasaan politik beralih ke kerajaan Jawa-Islam Demak. Menurut sejarah, Islam yang datang dan menyebar ke Indonesia memang Islam yang telah dipengaruhi oleh ajaran mistik. Yakni Islam sufi bukan Islam sunni yang syar‘i. Memang semenjak abad ke 13 yaitu sejak surutnya kebesaran kota Baghdad sebagai pusat kebudayaan Islam Sunni (Syar‘i) maka bermulalah dominasi
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Isalm sufi. Karena yang menyebar ke Indonesia adalah Islam sufi, maka ajarannaya telah dimistikkan inti tentu punya dasar pemikiran yang sejajar dengan religia asli animisme dan dinamisme. Bahkan dengan ajaran HinduKejawen yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan Jawa pedalamannya, juga sama-sama mistik, tentu punya dasar pemikiran yang sejalan., yaitu bahwa manusia bisa menjalin hubungan langsung dengan daya-daya dan roh-roh

ghaib. Dan melalui samadi atau dengan perantaraan dzikir manusia dikatakan bisa makrifat(bersatu) kembali dengan Tuhannya. Maka tidak ada masalah bagi para petani pedesaan untuk meningktkan pemujaan mereka dari roh-roh ghaib kepada roh wali-wali yang sakti, semisal Syeh Abdul Qadir al-Jailani dan lainnya. Demikian pula priyayi penganut tradisi budaya Kejawen tidaka ada masalah menyadap dan mengolah unsure-unsur filsafat mistik Islam untuk dipadukan dengan warisan tradisi budaya Hindu-Kejawen. Bagi mereka hanya menambah dan menyempurnakan ataupung mengganti objek mitologinya dari dewa-dewa Hindu kepada wali-wali dalam Islam. Bagi para priyayi Jawa sejak dulu yang penting dan nomor satu adalah kedudukan atau kekuasaan politik, dan bukan agama.Oleh karena itu sewaktu kekuasaan negara berpindah dari kerajaan Majapahit ke kesultanan Demak, para pujangga Jawa segera menyodorkan konsep peralihan zaman. Yakni dari zaman Kabudan (zaman Hindu-Kejawen) ke zaman Kewalen. Realisasi peralihan zaman ini diikuti perekayasaan penyusunan dongeng
68

wali Sanga

untuk

mengganti

mitologi tentang

Jawata Sanga zaman jawa-Hindu. Dan melakukan upaya mengolah unsureunsur Islam bagi peningkatan dan pengayaan serta penghalusan warisan budaya pra-Islam. Inilah proses kegiatan Jawanisasi unsur-unsur Islam.

68

Pimpinan para dewa Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Pada zaman Mataram terjadilah puncak kebesaran sastra budaya Kejawen, dari yang bersifat moralis dan mitologis seperti ―Babad Tanah Jawa‖,‖Babad Demak‖, ―Babad Giyanti‖, ―Serat Ambiya‖, ―Tapel Adam‖, dan lain-lain. Demikian pula puncak kehalusan bahasan dan sastra Jawa yang berwatak feodalis adalah hasi dari zaman itu, sedang zaman Jawa pertengahan dan kuno, bahasanya lebih sederhana dan demokratis. Karena menanjaknya kehalusan sastra Jawa itu berkaitan dengan hilangnya kekuasaan zaman penjajahan pada era Surakarta, maka puncak sastra adalah sangat mistis dan feodalis. Hal ini merupakan kompensasi untuk mempertahankan wibawa raja-raja Jawa. Yakni melalui pengkramatan, pemitosan dengan sarana konsep-konsep mistik. Jadi ilmu Kejawen atau Islam Kejawan itu sangat kompleks. Dari kepercayaan animisme-dinamisme denga system pedukunannya, yakni dukun prewang ataupun kesurupan roh-roh halus, sampai konsep-konsep mistik Hinduisme, terpadu menjadi satu. Masyarakat pesantren juga banyak mengadopsi tradisi dan kepercayaan animisme-dinamisme dengan ilmu jampijampi ataupun tenungnya. Demikian budaya Islam Kejawen yang KeHinduan yang dikembangkan para priyayi Jawa di lingkungan istana, tradisi-tradisi dan kepercayaan animisme-dinamisme beserta mistik kejawennya tetap

dikembangkan demi mendukung tegaknya kerajaan dan wibawa kelas priyayi. Dalam masyarakat pesantren tersusupi kepercayaan-kepercayaan dan tradisi animisme-dinamisme. Sebaliknya dalam tradisi besar budaya Kejawen yang terjadi adalah proses Jawanisasi unsure-unsur Islam, terutama unsur-unsur sufismenya.

2. Interaksi Islam dan Budaya Jawa Dari beberapa uraian sebelumnya, jelaslah bahwa tidak ada benturan yang berate antara Islam dan budaya Jawa. Antara kedua belah pihak saling
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

mendukung dan saling membutuhkan. Para penyebar Islam yang umumnya dipimpin para sufi tidak punya ilmu untuk memerintah dan tidak ingin merebut pemerintahan dari tangan raja-raja Jawa. Mereka hanya membutuhkan perlindungan ataupun bantuan dari pemerintah. Demikian pula para raja-raja Jawa sangat membutuhkan dukungan umat Islam sejak berakhirnya kerajaan Majapahit. Bagi masyarakat pesantren, agama adalah nilai nomor satu dan segalanya, sebaliknya para penguaasa dan pendukung sastra budaya Jawa kedudukan dan kekuasaan politik yang nomor satu. Maka sesudah Sultan Agung berhasil mematahkan kesultanan pesisiran yang mendapat dukungan masyarakat pesantren, segera menyadari perlunya menetapkan strategi budaya untuk menghubungkan dua lingkungan budaya. Yakni lingkungan budaya pesantren dengan sastra budaya agama yang berbahasa Arab, dan lingkungan budaya Kejawen dengan sastra budaya Jawa yang berpusat dalam lingkungan istana kerajaan-kerajaan Jawa. Strategi ini dimulai dengan mengganti perhitungan tahun Saka yang berdasar perjalanan matahari, menjadi perhiutngan tahun Jawa yang berdasar perjalanan bulan, dan disesuaikan dengan perhitungan tahun Hijriah. Mingguan Hijriyah yang terdiri dari tujuh hari, diintegrasikan dengan Mingguan Jawa yang terdiri dari lima harian, menjadi Senen Wage, Selasa Kliwon, dan seterusnya. Demikian nama bulan Jawa disesuaikan dengan nama bulan Hijriah, menjadi Sura, Mulud, dan seterusnya. Strategi yang dicangkan Sultan Agung diatas ternyata menggairahkan para sastrawan Kejawen untuk menekuni pokok-pokok ajaran Islam untuk menyusun karya-karya baru dengan menyadap dan mengolah unsur-unsur ajaran Isalm untuk memperkaya sastra Jawa. Dari ketekunan ini para sastrawan Jawa segera mengenal bahwa ajaran Islam telah berkembang cukup kompleks. Dari aspek syariat formal yang sering mereka nilai kaku dan formalis legalis, ternyata juga memiliki aspek ajaran filsafat sufisme yang amat halus dan kaya-raya. Dan kemudian aspek filsafat mistik sufisme yang sangat menarik perhatian mereka,
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

mereka sadap dan mereka olah untuk memperhalus dan memperkaya sastra mereka. Usaha ini berhasil mencuatkan perkembangan sastra Jawa baru, dimana bahasa dan sastra Jawa menjadi lebih bergaya feudal dengan menciptakan bahasa Jawa Ngoko untuk kelas rendahan, Kromo untuk menghormati orangorang yang lebih tua, dan Kromo inggil untuk menghormati para priyayi. Penciptaan cerita mitos tentang Walisanga, sekaligus menyodorkan proses peralihan zaman, dari zaman Kabudan(zaman Majapahit, Hindu) ke zaman Kewalen(zaman Islam). Maka pada zaman Kewalen apabila ada seorang priyayi atau orang bertapa yang memberi wangsit(wahyu) bukan lagi dewa-dewa melainkan Sunan Kalijaga(Wali). Dan wayang yang ceritanya bersumber dari serat Mahabarata dan Ramayana yang jelas Hinduisme dicoba untuk diIslamkan, yakni dengan mengatakan bahwa wayang itu bikinan para Wali, dan bahwa raja Ngamarta punya azimat yang sangat keramat, yaitu serat Kalimasada yang ternyata isinya adalah Kalimat Syahadad.

3. Analisis Hubungan Islam dan Kejawen awal mulanya terjadi pada saat Islam masuk ke Tanah Jawa yaitu pada abad ke-13M. Sebenarnya Islam yang tersebar pertama kali di Tanah Jawa tersebut adalah Islam Sufi, yaitu Islam yang sudah dipengaruhi oleh ajaran mistik. Penyebarannya pertama kali dilakukan di sekitar pesisir pantai. Ternyata agama Islam mendapat respon yang positif dari rakyat, rakyat tertarik karena dalam Islam tidak ada ajaran kasta yang membeda-beda manusia pada kelas-kelas yang tentu sangat tidak manusiawi. Dan menurut sejarah ada factor lain yang menyebabkan penyebaran Islam sangat lancar, factor tersebut adalah ajaran-ajaran mistik yang terkandung dalam Islam Sufi tersebut. Karena yang menyebar ke Indonesia adalah Islam sufi, maka
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

ajarannaya telah dimistikkan ini tentu punya dasar pemikiran yang sejajar dengan religi asli animisme dan dinamisme. Bahkan dengan ajaran HinduKejawen yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan Jawa pedalamannya, juga sama-sama mistik, tentu punya dasar pemikiran yang sejalan. Sebenarnya pada saat itu Islam dan budaya Kejawen tidak

bertentantangan, malah bisa dikatakan Islam sangat membutuhkan budaya Kejawen dalam penyebarannya. Hal ini terlihat jelas dalam metode-metode yang dipakai oleh para Wali dalam menyebarkan Islam. Contoh yang sangat nyata menurut sejarah adalah pengubahan nilai-nilai dalam wayang yang dulunya sarat dengan Hindu-kejawen dengan nilai-nilai Islam dan melakukan pagelaran wayang tersebut di halaman masjid. Salah satu nilai tersebut dalam lakon Wayang adalah ‗Sastra Jendra‘ yang dikenal sebagai ilmu pamungkas yang sangat sakti. Ilmu ‗Sastra Jendra‘ ini adalah ilmu Makrifat yang hanya didapat setelah"LELAKU". Sastra Jendra inilah yang wahyu pertama kali diterima oleh Baginda Rosullulah Muhammad SAW di gua hira. ―IQRA‖ itulah sastra jendra. Sastra Jendra artinya adalah Ayat Allah. Sastra=ayat, Jendra=Tuhan/Allah Siapa yang menguasai Sastra Jendra, dalam lakon wayang akan mengetahui ilmu rahasia di alam semesta. Dia akan dapat berkomunikasi dengan Tuhan sehingga segala tabir ato hijab akan disingkapkan. Dan Sastra Jendra ini sangat mungkin untuk dicapai oleh semua manusia yang melakukan disiplin spiritual secara khusyuk dan istiqomah .Untuk itu, akulturasi budaya yang diberikan untuk mencapai Iqra, adalah untuk menguasai Sastra Jendra diberikan dalam huruf Jawa. Setelah runtuhnya Majapahit, kekuatan Islam di tanah Jawa meningkat dan mangalami puncaknya pada masa kerajaan Mataram. Para sastrawan Jawa saat itu pula mulai dikenalkan dengan ajaran Islam. Hasil akulturasi sastra Jawa dan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Islam ini menghasilkan sebuah sastra budaya Jawa Baru yang lebih halus, dengan salah satu hasilnya adalah terciptanya bahasa Jawa ngoko, kromo dan kromo inggil. Poin penting yang bisa kita lihat dalam interaksi Islam dan budaya Kejawen disini adalah keuntungan pada kedua belah pihak. Islam bisa tersebar luas di tanah Jawa berkat mengadopsi budaya Kejawen, dan berkat masuknya Islam sastra Jawa bisa bertambah kaya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB IV STUDI KASUS

A. Studi Kasus Dalam makalah ini saya akan mengambil studi kasus di desa saya sendiri. Desa Banjarejo Kecamatan Pagelaran – Malang. Di desa saya ini masih terdapat beberapa budaya Islam-Kejawen yang masih melekat kuat. Beberapa diantaranya adalah adanya kegiatan jamaah tahlil. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Kamis malam Jumat setelah sholat Isya‘ dan untuk tempatnya bergilir dari satu rumah ke rumah yang lain dalam lingkup satu RT. Kegiatan tahlil ini dipimpin oleh seorang Kyai, sebagai sosok yang paling dihormati di desa saya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Gambar. Kegiatan tahlil yang diadakan di salah satu rumah warga

Salah satu alasan yang bisa saya tangkap dari latar belakang kegiatan tahlil ini adalah untuk mendoakan keluarga yang punya rumah dan juga orang-orang yang telah meninggal dalam keluarga tersebut. Karena warga desa saya khususnya percaya bahwa nyawa orang-orang yang telah meninggal akan kembali ke rumah mereka masing-masing pada malam Jumat. Nyawa orangorang tersebut akan mengawasi rumah mereka dari luar untuk mengetahui apaapa yang dilakukan anggota keluarganya, jika anggoa keluarganya sedang melakukan ibadah dan mendoakannya maka ia akan segera kembali ke alam kubur dengan bahagia dan tenang akan tetapi jika sebaliknya maka arwah tersebut akan bersedih dan terus menangis sambil kembali pulang ke alam kubur. Maka dari itu kegiatan tahlil yang merupakan warisan dari Walisanga ini dilaksanakan untuk membantu yang punya rumah untuk mengirim doa kepada famili yang telah meninggal agar bisa tenang dan bahagia di alam kubur. Untuk keluarga yang lain bisa mengikuti tahlil setelah sholat Maghrib di masjid- masjid ataupun musholla, yang tujuannya sama dengan yang telah dipaparkan di atas.

B. Analisis Studi Kasus Saya akan mengalisa studi kasus diatas dengan sudut pandang dari beberapa segi, antara lain :

a. Segi Agama
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Kegiatan tahlil ini jika dilihat dari kacamata Islam maka bisa dikelompokkan kedalam bid‘ah. Bid‘ah adalah segala sesuatu yang tidak atau belum ada pada masa Rasulullah SAW. Bid‘ah sendiri dibagi menjadi bid‘ah yang dilarang agama dan bid‘ah yang diperbolehkan, bid‘ah yang dilarang tentu saja bid‘ah yang melenceng dari syara‘ Islam dan adapun yang diperbolehkan adalah selama bid‘ah itu tidak melenceng dari syara‘ ataupun aqidah Islam. Jika kita melihat faedah dari kegiatan tahlil ini, maka dengan jelas ini adalah bid‘ah yang diperbolehkan, karena dengan adanya kegiatan ini anggota keluarga bisa terbantu dalam mengirim doa kepada anggota keluarga yang telah meninggal. Tentu kita tahu bahwa doa banyak orang akan lebih baik daripada doa sendirian. Apalagi jika jika doa itu dikirim oleh 40 orang ataupun lebih, maka doa itu mempunyai kekuatan seperti doa nabi ataupun wali.

b. Segi Sosial Dari segi sosial jelas kegiatan tahlil ini mempunyai banyak faedah positif. Beberapa yang paling utama adalah kegiatan ini bisa memupuk rasa persatuan dan kebersamaan warga. Warga dengan kegiatan ini bisa tetap menjaga tali silaturrahmi satu sama lain dan tetap bisa menjaga komunikasi antar warga. Kegiatan ini juga bisa menumbuhkan rasa persamaan antar warga, karena kegiatan ini dilaksanakan pada setiap rumah warga secara bergilir dan tidak mengindahkan itu rumah orang kaya atau miskin dan ini secara langsug atau tidak langsung akan mengurangi kesenjangan sosial. c.Segi Politik Setelah acara tahlil biasanya jika ada urusan tentang desa yang sangat penting maka akan diadakan diskusi singkat antara warga, tokoh masyarakat dan ketua RT. Biasanya masalah yang dibahas mengenai sarana dan prasarana desa
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

seperti masalah lampu penerangan jalan atau masalah kebersihan desa. Jika dilihat secara seksama maka kegiatan ini juga bisa memupuk rasa kebersamaan antara penguasa (ketua RT) dengan masyarakat. Kegiatan ini juga bisa melahirkan seorang penguasa yang mengerti akan keinginan masyarakat.

d. Segi Budaya Tahlil pertama kali diciptakan oleh para Walisanga dalam mensy‘arkan agama Islam. Kegiatan tahlil mungkin tidak akan ditemui di negara-negara Islam lain ataupun secara khusus di pulau-pulau luar Jawa. Tahlil telah menjadi salah satu ciri umat Islam Jawa yang mungkin tidak akan ditemui di tempat lain. Budaya tahlil sendiri sekarang sudah merupakan budaya yang hampir hilang, karena kita tahu generasi muda sekarang sudah banyak yang melupakannya. Jika dilihat dari banyaknya manfaat sudah sepatutnyalah kita melestarikan kembali budaya tahlil ini.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB IV PENUTUP

A. Simpulan Kesimpulan yang bisa diambil dari makalah ini adalah bahwa Islam dan budaya Kejawen tidak ada benturan sama sekali. Poin penting yang bisa kita lihat dalam interaksi Islam dan budaya Kejawen disini adalah keuntungan pada kedua belah pihak. Islam bisa tersebar luas di tanah Jawa berkat mengadopsi budaya Kejawen, dan berkat masuknya Islam sastra Jawa bisa bertambah kaya. Adapun manfaat dari akulturasi Islam dan budaya Kejawen, khususnya bagi sastra Jawa adalah : 1. Menambah kekayaan sastra Jawa denga munculnya berbagai suluk Jawa, semisal ―Suluk Quthub‖, ―Suluk Sukma Lelana‖, Suluk She Amongraga‖. 2. Munculnya serat babad, seperti ―Babad Demak‖, Babad Tanah Jawa‖, ―Babad Tapel Adam‖, dan lainya. 3. Kebangkitan sastra budaya Jawa Baru, dengan salah satu hasilnya adalah terciptanya bahasa Jawa ngoko, kromo dan kromo inggil.

B. Saran Berdasarkan kesimpulan dari makalah ini, maka makalah ini disarankan kepada: 1. Para pemerharti budaya. 2. Masyarakat umum, khususmya masyarakat Jawa. 3. Seluruh mahasiswa-mahasiswi pecinta budaya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

DAFTAR PUSTAKA

Simuh.2000. Keunikan Interaksi Islam dan Budaya Jawa.diluncurkan pada acara Seminar Pengaruh Islam Terhadap Budaya Jawa, 31 Nopember 2007.

http://netlog.wordpress.com/home/falsafah-Jawa-kejawen-dan-Islam<<Marimemahami-lebih-baik.htm diakses tanggal 18 Desember 2007.

http://aindra.blogspot.com/search/label/Budaya.htm diakses tanggal 18 Desember 2007.

http://www.albarokah.or.id/ Asyura'-Dalam-Perspektif-Islam,Syi'ah-danKejawen.htm diakses tanggal 18 Desember 2007.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

( Pertemuan Islam dan Budaya Nusantara ) Lilik Shofiyatin Okvan Dwi Laksono .S Syaiful Bahri Aang Khunaefi (06550102) (09650203) ( 09650207 ) ( 09650216 )

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah banyak memberikan inspirasi kepada penyusun sehingga terselesaikanlah tugas makalah ini, walaupun masih banyak kekurangan atas semuanya dalam makalah ini. Sebagaimana kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”, makalah ini sangatlah jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. Akhir kata, penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyelesaian dalam makalah ini. Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada Ibu Ni‘matuzzuhroh, M.Si selaku dosen mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD).

Malang,

September 2009

Penyusun

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Daftar isi

Kata pengantar .............................................................................................................. 1 Daftar isi ....................................................................................................................... 2

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang .................................................................................................. 3 B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 5

Bab II Konsepsi Teori A. Pengertian Agama ............................................................................................. 6 B. Agama dan Budaya ........................................................................................... 7 C. Agama dan Budaya Indonesia ........................................................................... 9 D. Proses masuknya Islam Ke Indonesia .............................................................. 11 E. Pertemuan Islam dan Budaya Nusantara .......................................................... 21 F. Eksklusivisme Islam menuju Inklusivisme ...................................................... 24

Bab III Studi Kasus .................................................................................................. 28

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Bab IV Analisa dan Kesimpulan .............................................................................. 30

Daftar Pustaka .......................................................................................................... 33

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak abad ke-1 Hijriah atau abad ke-7 Masehi, kawasan Asia Tenggara mulai berkenalanan dengan ―tradisi‖ Islam, meskipun frekuensinya tidak terlalu besar. Pengenalan ini berlangsung sejalan dengan munculnya para saudagar Muslim di beberapa tempat di Asia Tenggara. Bukti tertua adanya ―komunitas‖ Muslim di Asia Tenggara adalah dua buah makam yang bertarikh sekitar abad ke5 Hijriah/ke-11 Masehi di Pandurangga (kini Panrang, Viet Nam) dan di Leran (Gresik, Indonesia). Kehadiran Islam secara lebih nyata di Indonesia terjadi pada sekitar abad ke-13 Masehi, yaitu dengan adanya makam dari Sultan Malik as-Saleh yang mangkat pada bulan Ramadhan 696 Hijriah/1297 Masehi. Ini berarti bahwa pada abad ke-13 Masehi di Nusantara sudah ada institusi kerajaan yang bercorak Islam. Para saudagar Muslim sudah melakukan aktivitas dagangnya sejak abad ke-7 Masehi. Beberapa kerajaan Hindu dan Buddha di Nusantara sudah
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

melakukan hubungan dagang dan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Islam di Timur Tengah. Bukti-bukti arkeologis yang mendukung ke arah itu ditemukan di Laut Jawa dekat Cirebon. Di antara komoditi perdagangan yang asalnya dari Timur Tengah ditemukan indikator ―keIslaman‖ yang berupa sebuah cetakan tangkup (mould) yang bertulisan asma‗ul husnah. Meskipun sebagian besar masyarakat Indonesia menganut paham Sunni, namun pada prakteknya saat ini di Sumatra dan Jawa menganut paham Syi‗ah. Data arkeologis menunjukkan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari Persia melalui Gujarat, kemudian dibawa oleh para saudagar ke Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Semenanjung Tanah Melayu. Sejak awal perkembangannya, Islam di Indonesia telah menerima akomodasi budaya. Karena Islam sebagai agama memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya, dan Islam sebagai realitas budaya. Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga Islamicate, bidang-bidang yang ―Islamik‖, yang dipengaruhi Islam.

Tradisi besar (Islam) adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen, atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola bertindak umat Islam. Tradisi-tradisi ini seringkali juga disebut dengan center (pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri (pinggiran).
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Tradisi kecil (tradisi local, Islamicate) adalah realm of influence- kawasankawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Tradisi local ini mencakup unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi konsep atau norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karyakarya yang dihasilkan masyarakat. Dalam istilah lain proses akulturasi antara Islam dan Budaya local ini kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local genius, yaitu kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik, yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Pada sisi lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar; mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asliu; dan memilkiki kemampuanmengendalikan dan memberikan arah pada

perkembangan budaya selanjutnya. Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Di sisi lain budaya-budaya local yang ada di masyarakat, tidak otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya local ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan ini kemudian melahirkan ―akulturasi budaya‖, antara budaya local dan Islam. B. Rumusan Masalah
  

Kapan Islam masuk ke Indonesia? Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia? Bagaimana implikasi masuknya Islam terhadap budaya di Indonesia?
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

 

Bagaimana proses asimilasi Islam dengan masyarakat Indonesia? Bagaimana proses terjadinya akulturasi antara Islam dan budaya Nusantara?

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB II KONSEPSI TEORI A. Pengertian Agama Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti tidak dan gama berarti kacau. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Jadi fungsi agama dalam pengertian ini memelihara integritas dari seorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam sekitarnya tidak kacau. Karena itu menurut Hinduisme, agama sebagai kata benda berfungsi memelihara integritas dari seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas tertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya. Ketidak kacauan itu disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas,nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang, dimaknai dan diberlakukan. Pengertian itu jugalah yang terdapat dalam kata religion (bahasa Inggris) yang berasal dari kata religio (bahasa Latin), yang berakar pada kata religare yang berarti mengikat. Dalam pengertian religio termuat peraturan tentang kebaktian bagaimana manusia mengutuhkan hubungannya dengan realitas tertinggi (vertikal) dalam penyembahan dan hubungannya secara horizontal. 69 Agama itu timbul sebagai jawaban manusia atas penampakan realitas tertinggi secara misterius yang menakutkan tapi sekaligus mempesonakan Dalam pertemuan itu manusia tidak berdiam diri, ia harus atau terdesak secara batiniah untuk merespons.Dalam kaitan ini ada juga yang mengartikan religare dalam arti melihat kembali kebelakang kepada hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan tuhan yang harus diresponnya untuk menjadi pedoman dalam hidupnya.

69

Mulyono Sumardi, Penelitian Agama, Masalah dan Pemikiran, hal. 71 Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Islam juga mengadopsi kata agama, sebagai terjemahan dari kata Al-Din seperti yang dimaksudkan dalam Al-Qur‘an surat 3 : 19 ( Zainul Arifin Abbas, 1984 : 4). Agama Islam disebut Din dan Al-Din, sebagai lembaga Ilahi untuk memimpin manusia untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Secara fenomenologis, agama Islam dapat dipandang sebagai Corpus syari‘at yang diwajibkan oleh Tuhan yang harus dipatuhinya, karena melalui syari‘at itu hubungan manusia dengan Allah menjadi utuh. Cara pandang ini membuat agama berkonotasi kata benda sebab agama dipandang sebagai himpunan doktrin.

Komaruddin Hidayat seperti yang dikutip oleh muhammad Wahyuni Nifis (Andito ed, 1998:47) lebih memandang agama sebagai kata kerja, yaitu sebagai sikap keberagamaan atau kesolehan hidup berdasarkan nilai-nilai ke Tuhanan. Walaupun kedua pandangan itu berbeda sebab ada yang memandang agama sebagai kata benda dan sebagai kata kerja, tapi keduanya sama-sama memandang sebagai suatu sistem keyakinan untuk mendapatkan keselamatan disini dan diseberang sana. Dengan agama orang mencapai realitas yang tertinggi. Brahman dalam Hinduisme, Bodhisatwa dalam Buddhisme Mahayana, sebagai Yahweh yang diterjemahkan ―Tuhan Allah‖ (Ulangan 6:3) dalam agama Kristen, Allah subhana wata‘ala dalam Islam. Sijabat telah merumuskan agama sebagai berikut: ―Agama adalah keprihatinan maha luhur dari manusia yang terungkap selaku jawabannya terhadap panggilan dari yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. Keprihatinan yang maha luhur itu diungkapkan dalam hidup manusia, pribadi atau

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

kelompok terhadap Tuhan, terhadap manusia dan terhadap alam semesta raya serta isinya‖. Uraian Sijabat ini menekankan agama sebagai hasil refleksi manusia terhadap panggilan yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. Hasilnya diungkap dalam hidup manusia yang terwujud dalam hubungannya dengan realitas tertinggi, alam semesta raya dengan segala isinya. Pandangan itu mengatakan bahwa agama adalah suatu gerakan dari atas atau wahyu yang ditanggapi oleh manusia yang berada dibawah.

B. Agama dan Budaya Budaya menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. 70 Jadi budaya diperoleh melalui belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari antara lain cara makan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berrelasi dalam masyarakat adalah budaya. Tapi kebudayaan tidak saja terdapat dalam soal teknis tapi dalam gagasan yang terdapat dalam fikiran yang kemudian terwujud dalam seni, tatanan masyarakat, ethos kerja dan pandangan hidup. Yojachem Wach berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang immaterial bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan. Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan Tuhan, menghayati dan membayangkan Tuhan.

70

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, hlm. 170 Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Lebih tegas dikatakan Geertz, bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara, ukiran, bangunan. 71 Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif. Faktor kondisi yang objektif menyebabkan terjadinya budaya agama yang berbeda-beda walaupun agama yang mengilhaminya adalah sama. Oleh karena itu agama Kristen yang tumbuh di Sumatera Utara di Tanah Batak dengan yang di Maluku tidak begitu sama sebab masing-masing mempunyai cara-cara pengungkapannya yang berbeda-beda. Ada juga nuansa yang membedakan Islam yang tumbuh dalam masyarakat dimana pengaruh Hinduisme adalah kuatdengan yang tidak. Demikian juga ada perbedaan antara Hinduisme di Bali dengan Hinduisme di India, Buddhisme di Thailan dengan yang ada di Indonesia. Jadi budaya juga mempengaruhi agama. Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya (Andito,ed,1998:282).Tapi hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentukbentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan kriteria agama. Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan insan yang

71

Geertz, Clifford, Kebudayaan dan Agama, 1992, hlm. 13 Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan pelbagai objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama. C. Agama dan budaya Indonesia Jika kita teliti budaya Indonesia, maka tidak dapat tidak budaya itu terdiri dari 5 lapisan. Lapisan itu diwakili oleh budaya agama pribumi, Hindu, Buddha, Islam dan Kristen. 72 Lapisan pertama adalah agama pribumi yang memiliki ritus-ritus yang berkaitan dengan penyembahan roh nenek moyang yang telah tiada atau lebih setingkat yaitu Dewa-dewa suku seperti sombaon di Tanah Batak, agama Merapu di Sumba, Kaharingan di Kalimantan. Berhubungan dengan ritus agama suku adalah berkaitan dengan para leluhur menyebabkan terdapat solidaritas keluarga yang sangat tinggi. Oleh karena itu maka ritus mereka berkaitan dengan tari-tarian dan seni ukiran, Maka dari agama pribumi bangsa Indonesia mewarisi kesenian dan estetika yang tinggi dan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat luhur. Lapisan kedua dalah Hinduisme, yang telah meninggalkan peradapan yang menekankan pembebasan rohani agar atman bersatu dengan Brahman maka dengan itu ada solidaritas mencari pembebasan bersama dari penindasan sosial untuk menuju kesejahteraan yang utuh. Solidaritas itu diungkapkan dalam kalimat Tat Twam Asi, aku adalah engkau. Lapisan ketiga adaalah agama Buddha, yang telah mewariskan nilai-nilai yang menjauhi ketamakan dan keserakahan. Bersama dengan itu timbul nilai pengendalian diri dan mawas diridengan menjalani 8 tata jalan keutamaan.

72

Andito, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik, 1998, hlm. 77-79 Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Lapisan keempat adalah agama Islam yang telah menyumbangkan kepekaan terhadap tata tertib kehidupan melalui syari‘ah, ketaatan melakukan shalat dalam lima waktu,kepekaan terhadap mana yang baik dan mana yang jahat dan melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar) berdampak pada pertumbuhan akhlak yang mulia. Inilah hal-hal yang disumbangkan Islam dalam pembentukan budaya bangsa. Lapisan kelima adalah agama Kristen, baik Katholik maupun Protestan. Agama ini menekankan nilai kasih dalam hubungan antar manusia. Tuntutan kasih yang dikemukakan melebihi arti kasih dalam kebudayaan sebab kasih ini tidak menuntutbalasan yaitukasih tanpa syarat. Kasih bukan suatu cetusan emosional tapi sebagai tindakan konkrit yaitu memperlakukan sesama seperti diri sendiri. Atas dasar kasih maka gereja-gereja telah mempelopori pendirian Panti Asuhan, rumah sakit, sekolah-sekolah dan pelayanan terhadap orang miskin. Dipandang dari segi budaya, semua kelompok agama di Indonesia telah mengembangkan budaya agama untuk mensejahterakannya tanpa memandang perbedaan agama, suku dan ras. Disamping pengembangan budaya immaterial tersebut agama-agama juga telah berhasil mengembangkan budaya material seperti candi-candi dan biharabihara di Jawa tengah, sebagai peninggalan budaya Hindu dan Buddha. Budaya Kristen telah mempelopori pendidikan, seni bernyanyi, sedang budaya Islam antara lain telah mewariskan Masjid Agung Demak (1428) di Gelagah Wangi Jawa Tengah. Masjid ini beratap tiga susun yang khas Indonesia, berbeda dengan masjid Arab umumnya yang beratap landai. Atap tiga susun itu menyimbolkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini tanpa kubah, benar-benar has Indonesia yang mengutamakan keselarasan dengan alam.Masjid Al-Aqsa Menara Kudus di Banten bermenaar dalam bentuk perpaduan antara Islam dan Hindu. Masjid Raorao di Batu Sangkar merupakan perpaduan berbagai corak kesenian dengan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

hiasan-hiasan mendekati gaya India sedang atapnya dibuat dengan motif rumah Minangkabau.73 Kenyataan adanya legacy tersebut membuktikan bahwa agama-agama di Indonesia telah membuat manusia makin berbudaya sedang budaya adalah usaha manusia untuk menjadi manusia. Dari segi budaya, agama-agama di Indonesia adalah aset bangsa, sebab agama-agama itu telah memberikan sesuatu bagi kita sebagai warisan yang perlu dipelihara. Kalau pada waktu zaman lampau agama-agama bekerja sendiri-sendiri maka dalam zaman milenium ke 3 ini agama-agama perlu bersama-sama memelihara dan mengembangkan aset bangsa tersebut. Cita-cita ini barulah dapat diwujudkan apabila setiap golongan agama menghargai legacy tersebut Tetapi yang sering terjadi adalah sebaliknya sebab kita tidak sadar tentang nilai aset itu bagi bagi pengembangan budaya Indonesia. Karena ketidak sadaran itu maka kita melecehkan suatu golongan agama sebagai golongan yang tidak pernah berbuat apa-apa. Kalaupun besar nilainya, tapi karena hasil-hasil itu bukan dari golonganku, maka kita merasa tidak perlu mensyukurinya. Lebih buruk lagi, jika ada yang berpenderian apa yang diluar kita adalah jahat dan patut dicurigai. Persoalan kita, bagaimana kita dapat menghargai monumen-monumen budaya itu sebagai milik bangsa, untuk itu kita perlu:

1. Mengembangkan religius literacy.

73

Tule, Philipus, Wilhelmus Julie, ed Agama-agama, Kerabat Dalam Semesta, hlm. 159. Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Tujuannya

agar

dalam

kehidupan

pluralisme

keagamaan

perlu

dikembangkan religious literacy, yaitu sikap terbuka terhadap agama lain yaitu dengan jalan melek agama. Pengembangan religious literacy sama dengan pemberantasan buta huruf dalam pendidikan. Kita akui bahwa selama ini penganut agama buta huruf terhadap agama diluar yang dianutnya. Jadi perlu diadakan upaya pemberantasan buta agama, Karena buta terhadap agama lain maka orang sering tertutup dan fanatik tanpa menh\ghiraukan bahwa ada yang baik dari agama lain. Kalau orang melek agama, maka orang dapat memahami ketulusan orang yang beragama dalam penyerahan diri kepada Allah dalam kesungguhan. Sikap melek agama ini membebaskan umat beragama dari sikap tingkah laku curiga antara satu dengan yang lain. Para pengkhotbah dapat berkhotbah dengan kesejukan dan keselarasan tanpa bertendensi menyerang dan menjelekkan agama lain.

2. Mengembangkan legacy spiritual dari agama-agama. Telah kita ungkapkan sebelumnya tentang legacy spiritual dari setiap agama di Indonesia. Legacy itu dapat menjadi wacana bersama menghadapi krisis-krisis Indonesia yang multi dimensi ini. Masalah yang kita hadapi yang paling berat adalah masalah korupsi, supremasi hukum dan keadilan sosial. Berdasarkan legacy yang tersebut sebelumnya, bahwa setiap agama mempunyai modal dasar dalam menghadapi masal-masalah tersebut, tetapi belum pernah ada suatu wacana bersama-sama untuk melahirkan suatu pendapat bersama yang bersifat operasional. Agaknya setiap kelompok agama di Indonesia sudah waktunya bersamasama membicarakan masalah-masalah bangsa dan penanggulangannya.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

D. Proses masuknya Islam Ke Indonesia Berbicara tentang Islamisasi di Nusantara, pertanyaan kita adalah bilamana Islam masuk ke Nusantara dan siapa yang membawa atau menyebarkannya. Pertanyaan kemudian, Islam seperti apa yang masuk dan bagaimana bentuknya yang sekarang? Pertanyaan pertama dan kedua dapat dijawab secara teoritis melalui bukti-bukti arkeologi mutakhir yang sampai kepada kita, sedangkan pertanyaan berikutnya dapat dijawab melalui kacamata budaya yang masih dapat disaksikan di beberapa tempat di Nusantara.

Hingga saat ini tidak ada satupun bukti tertulis yang secara tersurat menyatakan bahwa Islam masuk di Nusantara pada tahun atau abad sekian dan yang membawa masuk adalah si Nasruddin (misalnya). Kajian mengenai dugaan masuknya Islam di Nusantara hingga saat ini baru didasarkan atas bukti tertulis dari nisan kubur serta beberapa naskah yang menuliskan para pedagang Islam. yang ditemukan di beberapa tempat di Nusantara, seperti di Aceh, Barus (pantai barat Sumatra Utara) dan Gresik (Jawa Timur). Islamisasi di Nusantara erat kaitannya dengan sejarah Islam yang hingga kini penulisannya belum ―lengkap‖ dan sifatnya masih parsial. Keadaan seperti ini jauh-jauh hari sudah disinyalir oleh Presiden Soekarno yang menyatakan bahwa sikap ulama Indonesia kurang atau bahkan tidak memiliki pengertian perlunya penulisan sejarah. Di samping sikap ulama Indonesia tersebut, masih ada kendala lain untuk menuliskan sejarah. Kendala itu antara lain kurangnya data atau

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

sumber-sumber tertulis, serta luasnya geografis Indonesia sehingga untuk mengintegrasikan data dari berbagai daerah juga sulit. Mengenai darimana Islam masuk Nusantara, ada beberapa pendapat dengan argumennya masing-masing. Ada yang berteori bahwa Islam datang dari Arab, Persia, India, bahkan ada yang menyatakan dari Tiongkok. Meskipun pendapat mengenai asalnya Islam berbeda-beda, namun ada kesamaan bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui ―perantaraan‖ kaum saudagar. Mereka berniaga sambil menyebarkan syi‗ar Islam. Hal ini sesuai dengan Hadist: ―Sampaikanlah dari saya ini walau hanya satu ayat‖. Kemudian sesampainya di Nusantara, barulah disebarkan oleh ulama-ulama lokal atau para wali seperti di Tanah Jawa ada Wali Songo. Tidak ada satupun pendapat yang pasti mengenai kapan masuknya Islam di Nusantara jika mengingat hubungan kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan Timur Tengah, Persia, India, dan Tiongkok sudah berlangsung lama. Para saudagar dari tempat-tempat tersebut membawa dan mengambil komoditi perdagangan dari dan ke Nusantara. Dari Nusantara mereka membawa hasil-hasil hutan yang laku dijual di pasaran, seperti kapur barus, kemenyan, dan rempahrempah. Dari tempat asalnya mereka membawa barang-barang kaca, keramik, kain sutra/brokat, batu-batu mulia dan barang-barang perunggu. Sebelum Islam ada, para pedagang, pendeta, dan bhiksu menyebarkan budaya India di Nusantara, termasuk penyebaran agama Hindu dan Buddha. Pada masa abad ke-7-10 Masehi, Śrīwijaya pernah menjadi pusat pengajaran agama Buddha. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa Islam masuk ke Nusantara juga dibawa oleh para saudagar.

Baru-baru ini, sektar tahun 2004 di perairan laut Jawa sebelah utara Cirebon ditemukan runtuhan sebuah kapal yang diduga tenggelam karena
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

kelebihan

muatan.

Berdasarkan

pertanggalan

keramik

dan

teknologi

pembuatannya, kapal yang tenggelam tersebut berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi. Muatannya bermacam-macam yang berasal dari berbagai tempat di luar Nusantara. Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, dapat diduga bahwa barang-barang muatan kapal tersebut berasal dari daerah Timur Tengah, India, dan Tiongkok. Sebagian besar merupakan barang dagangan, dan sebagaian lagi merupakan barang-barang untuk upacara keagamaan atau benda-benda keagamaan. Dalam tulisan singkat ini, saya hendak mengungkapkan tentang salah satu cara masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara pada satu kurun waktu sekitar abad ke-10 Masehi. Data untuk bahan kajian berasal dari artefak-artefak yang ditemukan dari kapal yang tenggelam di perairan Cirebon serta data lain yang ditemukan dari hasil penelitian arkeologi. Dari data tersebut kemudian akan ditarik pada budaya Islam di Nusantara dalam konteks kekinian. Timbul dan berkembangnya suatu aliran atau mazhab tertentu dapat tergantung darimana asalnya aliran tersebut. Pada masa kini, sebagian masyarakat yang beragama Islam di Indonesia menganut tradisi Suni. Namun tidak tertutup kemungkinan ada juga yang menganut tradisi Syi‗ah. Kedua tradisi tersebut bermazhab Syafi‗i.

1. Pelayaran dan Perdagangan Sumber-sumber tertulis (sejarah) yang merupakan catatan harian dari orang-orang Tionghoa, Arab, India, dan Persia menginformasikan pada kita bahwa tumbuh dan berkembangnya pelayaran dan perdagangan melalui laut antara Teluk Persia dengan Tiongkok sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah, disebabkan karena dorongan pertumbuhan dan perkembangan imporiumimporium besar di ujung barat dan ujung timur benua Asia. Di ujung barat terdapat emporium Muslim di bawah kekuasaan Khalifah Bani Umayyah (660Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

749 Masehi) kemudian Bani Abbasiyah (750-870 Masehi). Di ujung timur Asia terdapat kekaisaran Tiongkok di bawah kekuasaan Dinasti T‗ang (618-907 Masehi). Kedua emporium itu mungkin yang mendorong majunya pelayaran dan perdagangan Asia, tetapi jangan dilupakan peranan Śrīwijaya sebagai sebuah emporium yang menguasai Selat Melaka pada abad ke-7-11 Masehi. Emporium ini merupakan kerajaan maritim yang menitik beratkan pada pengembangan pelayaran dan perdagangan. Muatan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon dapat menunjukkan asalnya, genta, ujung tongkat pendeta, wajra, dan arca mungkin dari India. Bendabenda ini merupakan alat-alat upacara yang dimiliki oleh kelompok pemeluk agama Buddha. Nama Persia yang sekarang disebut Iran, menurut catatan harian Tionghoa adalah Po-sse atau Po-ssu yang biasa diidentifikasikan atau dikaitkan dengan kapal-kapal Persia, dan sering pula diceriterakan sama-sama dengan sebutan Tashih atau Ta-shih K‗uo yang biasa diidentifikasikan dengan Arab. Po-sse dapat juga dimaksudkan dengan orang-orang Persia yaitu orang-orang Zoroaster yang berbicara dalam bahasa Persi –orang-orang Muslim asli Iran—yang dapat pula digolongkan pada orang-orang yang disebut Ta-shih atau orang-orang Arab. Orang Zoroaster dikenal oleh orang Arab sebagai orang Majus yang merupakan mayoritas penduduk Iran setelah peng Islaman. Bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan kehadiran pedagang Po-sse di Kehadiran orang-orang Po-ssu bersama-sama dengan orang-orang Ta-shih di bandar-bandar sepanjang tepian Selat Melaka, pantai barat Sumatera, dan pantai timur Semenanjung Tanah Melayu sampai ke pesisir Laut Tiongkok Selatan diketahui sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah. Mereka dikenal sebagai pedagang dan pelaut ulung. Sebuah catatan harian Tionghoa yang meceriterakan perjalanan pendeta Buddha I-tsing tahun 671 Masehi dengan menumpang kapal Po-sse dari Kanton ke arah selatan, yaitu ke Fo-shih (Śrīwijaya). Catatan harian
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

itu mengindikasikan kehadiran orang-orang Persia di bandar-bandar di pesisir laut Tiongkok Selatan dan Nusantara. Kemudian pada tahun 717 Masehi diberitakan pula tentang kapal-kapal India yang berlayar dari Srilanka ke Śrīwijaya dengan diiringi 35 kapal Po-sse. Tetapi pada tahun 720 Masehi kembali lagi ke Kanton karena kebanyakan dari kapal-kapal tersebut mengalami kerusakan. 74 Hubungan pelayaran dan perdagangan antara bangsa Arab, Persia, dan Śrīwijaya rupa-rupanya dibarengi dengan hubungan persahabatan di antara kerajaan-kerajaan di kawasan yang berhubungan dagang. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya beberapa surat dari Mahārāja Śrīwijaya yang dikirimkan melalui utusan kepada Khalifah Umar ibn ‗Abd. Al-Aziz (717-720 Masehi). Isi surat tersebut antara lain tentang pemberian hadiah sebagai tanda persahabatan. Nusantara (Śrīwijaya dan Mālayu) adalah ditemukannya artefak dari gelas dan kaca berbentuk vas, botol, jambangan dll di Situs Barus (pantai barat Sumatera Utara) dan situs-situs di pantai timur Jambi (Muara Jambi, Muara Sabak, Lambur). Barang-barang tersebut merupakan komoditi penting yang didatangkan dari Persia atau Timur Tengah dengan pelabuhan-pelabuhannya antara lain Siraf, Musqat, Basra, Kufah, Wasit, al-Ubulla, Kish, dan Oman. Dari Nusantara para pedagang tersebut membawa hasil bumi dan hasil hutan. Hasil hutan yang sangat digemari pada masa itu adalah kemenyan dan kapur barus. Hubungan pelayaran dan perdagangan yang kemudian dilanjutkan dengan hubungan politik, pada masa yang kemudian menimbulkan proses islamisasi. Dari proses islamisasi ini pada abad ke-13 Masehi kemudian muncul kerajaan Islam Samudera Pasai dengan sultannya yang pertama adalah Malik as-Saleh yang mangkat pada tahun 1297 Masehi. Menurut kitab Sejarah Melayu, Hikayat Rajaraja Pasai, dan catatan harian Marco Polo yang singgah di Peurlak tahun 1292
74

Poerbatjaraka, R, Ng, 1952, Riwayat Indonesia I, hlm. 31-32 Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Masehi, Samudera Pasai bukan hanya kerajaan Islam pertama di Nusantara, tetapi juga di Asia Tenggara. Kehadiran kerajaan Islam ini semakin mempererat hubungan antara Sumatera dan negara-negara di Arab dan Persia. Pada pertengahan abad ke-14 Masehi Ibn Batuta singgah di Pasai yang pada waktu itu diperintah oleh Sultan Malik al-Zahir. Dalam catatan hariannya disebutkan bahwa Sultan adalah seorang penganut Islam yang taat dan ia dikelilingi oleh para ulama dan dua orang Persia yang terkenal, yaitu Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraz dan Taj ad-Din dari Isfahan. Ahli-ahli tasawwuf atau kaum sufi yang datang ke Samudera Pasai dan juga ke Melaka dimana para sultan menyukai ajaran ―manusia sempurna/Insan al-Kamil‖ mungkin sekali dari Persia. Beberapa ratus tahun sebelum Kesultanan Samudera Pasai, di wilayah Aceh sudah ada kerajaan yang bercorak Islam, yaitu Kerajaan Peurlak. Kerajaan ini berdiri pada tahun 225 Hijriah atau 845 Masehi dengan rajanya Sultan Sayid Maulana Abdal-Aziz Syah keturunan Arab-Quraisy yang berpaham Syi‗ah. Tingginya intensitas hubungan perdagangan antara Persia dan kerajaan di Nusantara demikian tinggi. Tidak mustahil di beberapa tempat yang dikunjungi pedagang Persia, tinggal dan menetap pula orang-orang Persia. Di tempat ini timbul juga kontak budaya antar dua budaya yang berbeda, dan tidak mustahil ada juga penganut Islam Syi‗ah. Hal ini dapat dideteksi dari adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan oleh kaum Syi‗ah.

2. Tinggalan Budaya Pada sekitar abad ke-7 Masehi para pedagang Muslim dari Timur Tengah dan Persia giat melakukan aktivitas perdagangan. Berdasarkan suatu keyakinan bahwa setiap insan dalam pandangan Islam termasuk pedagang Muslim memCopyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

punyai kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam kepada siapapun sesuai dengan cara yang baik dan persuasif, sejalan dengan urusan perdagangan menyebar pula agama Islam. Berawal dari pengislaman daerah pesisir Anak Benua India, kemudian memicu/merangsang bukan saja hubungan dagang tetapi juga berbagai bentuk hubungan dan pertukaran keagamaan, sosial, politik, dan kebudayaan. Sebenarnya sejak abad-abad pertama terjadinya perdagangan internasional melalui laut, bukan hubungan perdagangan semata, tetapi juga hubungan politik dan kebudayaan. Meskipun menganut mazhab yang berbeda dengan mayoritas penduduk Indonesia (Sunnah wal Jamaah mazhab Syafi‗i), bangsa Persia sedikit banyak telah berjasa dalam penyebaran dan pengembangan Islam di Nusantara. Hal ini terbukti dengan tinggalan budayanya baik yang berupa kebendaan (tangible), maupun yang bukan (intangible). Tinggalan budaya tersebut masih dapat ditemukan di berbagai tempat di Nusantara, terutama di nusantara sebelah barat, seperti di Sumatera dan Jawa.

2.1 Kargo Cirebon Di antara runtuhan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon, ada beberapa jenis benda yang mungkin tidak termasuk dalam barang komoditi. Beberapa jenis barang tersebut adalah sebuah benda berbentuk tanduk yang dibuat dari logam berlapis emas, sebuah benda berbentuk cumi-cumi (sotong) dari kristal, cetakan tangkup (mould) dari batu sabun (soapstone), serta benda-benda perunggu yang berfungsi sebagai alat-alat upacara agama Buddha/Hindu. Orang-orang di dalam sebuah kapal merupakan satu komunitas tersendiri, ada nakhoda, kelasi, dan penumpang. Semuanya itu dipimpin oleh seorang nakhoda. Dialah yang memegang kendali di kapal. Demikian juga penumpang
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

kapal yang terdiri dari bermacam status sosial dan profesi. Ada golongan pedagang, mungkin ada bangsawan dan pendeta/bhiksu, dan ada juga penumpang biasa. Semua itu dapat diketahui dari benda-benda yang disandangnya. Ibn Khordadhbeh, seorang pejabat yang dilantik khalifah Dinasti Abassiyah pada sekitar abad ke-9 Masehi, adalah seorang pedagang yang pernah berkunjung ke Zabag (Śrīwijaya). Dia menulis sebuah buku yang berjudul Kitab al-masalik wa-l-mamalik (Buku tentang Jalan-jalan dan Kerajan-kerajaan). Buku ini berisi tentang semua pos-pos pergantian dan jumlah pajak di setiap tempat yang dikunjunginya. Sebagai seorang pejabat yang dilantik oleh Khalifah tentunya mempunyai tanda legitimasi dan atribut lain yang dibawa dan disandangnya.

Cetakan tangkup yang dibuat dari batusabun (soapstone) berbentuk empat persegi panjang (4,2 x 6,7 cm). Pada salah satu sisinya terdapat kalimat yang ditulis dalam aksara Arab bergaya kufik: ―al-malk lillah; al-wahid; al-qahhar‖ yang berarti ―Semua kekuasaan itu milik Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa‖ dalam dua buah bingkai empat persegi. Kalau diterjemahkan secara harfiah, maka kalimat itu mengandung asma‗ul husna, tepatnya merupakan sifat yang dimiliki mausuf (Allah) yang memiliki kekuasan. Melihat gaya tulisan kufik yang dipakai tampaknya masih kaku jika dibandingkan dengan gaya tulisan kufik pada batu nisan Malik as-Saleh (wafat 1297 Masehi) dari Samudra Pasai (Aceh). Bentuk tulisan ini diduga berasal dari sekitar abad ke-9-10 Masehi yang dikembangkan di daerah Kufah pada masa pemerintahan kekhalifahan Bani Abassiyah (750-870 Masehi).

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Sebuah cetakan (mould) dengan ciri-ciri antara lain tulisan digoreskan pada bidang segi empat dalam bentuk negatif. Bidang segi empat yang bertulisan tersebut ada dua buah dibentuk dengan cara ―dikorek‖ sedalam kurang dari 0,5 mm. Dari bagian sisi bawah (dilihat dari bentuk tulisan/aksara) dari bidang segi empat tersebut terdapat garis yang bertemu pada satu titik. Pada titik pertemuan kemudian melebar membentuk corong. Garis berpotongan tersebut mempunyai ukuran lebar 1 mm. dan dalam kurang dari 0,5 mm. Bagian yang membentuk corong berukuran lebar 1-3 mm. Di bagian bawah bidang empat persegi, terdapat dua buah tonjolan yang bergaristengah sekitar 5 mm. dan tinggi sekitar 3 mm. Di bagian atas bidang segiempat terdapat garis yang dibentuk dengan cara dikorek, kemudian permukaan lainnya lebih tinggi dari permukaan atas dua bidang segiempat. Apabila diperhatikan dengan seksama, benda ini merupakan semacam cetakan untuk logam mulia, seperti emas dan perak. Seharusnya ada sepasang yang saling menangkup, tetapi bagian yang satunya tidak ditemukan. Dua tonjolan bulat yang ada pada permukaan benda tersebut, merupakan semacam pasak pengunci agar tidak bergerak ketika proses pengecoran. Bagian yang berlubangnya seharusnya terdapat pada bagian tangkupan yang hilang. Garis-garis yang bersilang dan bertemu pada satu bentuk corong merupakan tempat mengalirnya cairan logam yang memenuhi bidang segiempat. Tempat memasukan cairan pada bagian yang membentuk corong. Hasil dari logam yang dicor tersebut berupa lempengan tipis dengan kalimat-kalimat asma‗ul husna yang timbul. Kalimat-kalimat tersebut dikelilingi bingkai empat persegi dengan hiasan titik-titik seperti umumnya terdapat pada mata-uang logam. Bagian yang memanjang, dapat dipotong dan dapat pula tidak. Saya belum dapat memastikan fungsi dari benda yang dicetak tersebut. Berdasarkan perbandingan yang diketahui, benda semacam ini berfungsi sebagai jimat dengan tulisan asma‗ul husna. Memang dalam keyakinan Islam tidak
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

dikenal jimat, tetapi dalam kenyataannya sebagian umat Islam memandangnya sebagai jimat yang bertulisan asma‗ul husna. Kalau ditelaah dari stempel yang beraksara Arab tersebut, kapal asing yang tenggelam bersama kargonya di perairan Cirebon, diduga kapal yang berasal dari pelabuhan Kufah atau Basra yang sekarang termasuk wilayah Republik Irak. Ini berarti bahwa kapal bersama kargonya berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi. Dalam pelayarannya ke arah timur (mungkin ke Kambangputih, Tuban) di perairan Cirebon tertimpa musibah dan tenggelam bersama kargonya. Dilihat dari posisinya di dasar laut, kapal ini tenggelam karena kelebihan muatan. Bagian ruang nakhoda masih tampak utuh (tidak terlalu porak poranda). Artefak yang berbentuk tanduk pada bagian yang lurus berukuran panjang sekitar 10 cm. Bagian pangkalnya berbentuk segi delapan dengan garis tengah 4 cm. Bagian yang melengkung diberi hiasan berupa ukir-ukiran sulur daun. Bagian pangkalnya berbentuk helaian teratai. Berdasarkan perbandingan dengan benda yang sama dan menjadi koleksi Museum Nasional, benda tersebut merupakan hulu sebuah pedang. Hulu pedang koleksi Museum Nasional tersebut ditemukan di Cirebon dan berasal dari sekitar abad ke-8-9 Masehi. Ada kemungkinan lain artefak ini berfungsi sebagai hulu pedang (pendek). Cirinya tampak pada sebuah lubang empat persegi panjang pada bagian pangkalnya. Lubang empat persegi panjang ini berfungsi sebagai tempat untuk memasukan bilah senjata tajam pada pegangan. Apabila difungsikan sebagaimana layaknya pedang, pegangan ini terasa tidak nyaman. Mungkin saja senjata tajam dengan gagangnya dari emas berhiasan ukiran ini berfungsi sebagai simbol status dari pemiliknya. Benda lain yang diduga merupakan hulu pisau atau senjata tajam adalah benda dari kristal yang berbentuk seperti cumi-cumi (sotong). Bagian untuk
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

memasukan bilah senjata berdenah bulat panjang. Pada foto tampak samar-samar lubang yang memanjang dari ujung ke bagian tengah. Bagian atas (lihat foto) ditempatkan melekat pada telapak tangan, sedangkan bagian bawah melekat pada jari-jari tangan. Hampir seluruh artefak yang diangkut tersebut bukan produk salah satu kerajaan di Nusantara. Ada yang berasal dari Timur Tengah dan India, dan ada pula yang berasal dari Tiongkok. Meskipun demikian, artefak tersebut manfaatnya sangat besar bagi sejarah kebudayaan Indonesia, khususnya sejarah masuknya Islam di Indonesia. Berdasarkan sumber-sumber tertulis para sejarahwan berteori bahwa masuknya Islam di Indonesia dibawa oleh kaum pedagang Islam. Dengan ditemukannya artefak-artefak yang berasal dari negeri-negeri yang beragama Islam dalam konteksnya dengan barang dagangan, teori tersebut semakin mendekati kebenaran. Cetakan beraksara Arab dengan menyebutkan nama-nama Allah, merupakan bukti kuat bahwa Islam masuk melalui ―perantara‖ para pedagang Islam.

2.2 Jejak Persia Hubungan perdagangan antara Persia dan Nusantara (pada waktu itu dengan Śrīwijaya) berlangsung pada sekitar abad ke-7 Masehi. Pada waktu itu komoditi perdagangan dari Persia berupa barang-barang yang terbuat dari kaca atau gelas yang dikenal dengan sebutan Persian Glass. Benda-benda ini berbentuk vas, karaf, piala, dan mangkuk. Dari Śrīwijaya yang salah satu pelabuhannya adalah Barus (Fansur), para pedagang Persia dan Timur Tengah membawa kapur barus, kemenyan, dan getah damar. Komoditi perdagangan ini sangat digemari di Timur Tengah, Persia, dan India sebagai bahan wangi-wangian.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Persian Glass ditemukan di situs-situs arkeologi yang diduga merupakan bekas pelabuhan kuna. Sebuah penelitian arkeologis di Situs Labo Tua, Barus berhasil menemukan sejumlah besar temuan barang-barang kaca Persia dalam bentuk pecahan dan utuhan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, benda-benda itu mungkin sekarang di tempat asalnya sudah tidak diproduksi lagi. Pelabuhan tempat barang tersebut dikapalkan antara lain dari Siraf yang letaknya di pantai timur teluk Persia. Masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara melahirkan kerajaan yang bercorak Islam. Salah satu di antaranya adalah Kesultanan Samudera Pasai yang lahir pada sekitar abad ke-13 Masehi dengan sultannya yang pertama adalah Sultan Malik as-Saleh (mangkat 1297 Masehi). Jejak adanya kerajaan ini dapat ditelusuri dari tinggalan budayanya yang berupa batu nisan Sultan Malik as-Saleh. Ada dua hal yang dapat dicermati pada batu nisan ini dan merupakan indikator Persia. Aksara yang dipahatkan pada batu nisan merupakan aksara shulus yang cirinya berbentuk segitiga pada bagian ujung. Gaya aksara jenis ini berkembang di Persia sebagai suatu karyaseni kaligrafi. Kalimat yang dipahatkan bernafaskan sufi, misalnya ―Sesungguhnya dunia ini fana, dunia ini tidaklah kekal, sesungguhnya dunia ini ibarat sarang laba-laba‖. Indikator Persia lain ditemukan pada batu nisan Na‗ina Husam al-Din berupa kutipan syair yang ditulis penyair kenamaan Persia, Syaikh Muslih al-din Sa‗di (1193-1292 Masehi). Ditulis dalam bahasa Persia dengan aksara Arab, merupakan satu-satunya syair bahasa Persia yang ditemukan di Asia Tenggara. Batu nisan ini bentuknya indah dengan hiasan pohon yang distilir (disamarkan) dan hiasan-hiasan kaligrafi yang berisikan kutipan syair Persia dan kutipan al‗Quran II: 256 ayat Kursi. 2.3 Wali Sanga dan Tasawwuf

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Wali Sanga di tanah Jawa dikenal sebagai sembilan orang Wali-Ullah yang dianggap sebagai penyiar-penyiar terkemuka agama Islam. Mereka ini sengaja dengan giat menyebarkan dan mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam. Waktu penduduk tanah Jawa masih berkepercayaan lama yang percaya dengan hal-hal gaib, para wali tersebut dipercaya mempunyai kekuatan gaib, mempunyai kekuatan batin yang berlebih, dan mempunyai ilmu yang tinggi. Karena itulah mereka itu dipercaya sebagai pembawa dan penyiar agama Islam ahli dalam tasawwuf. Wali Sanga jumlahnya ada sembilan orang, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Syekh Siti Jenar. Kebanyakan dari gelar-gelar ini diambil dari nama tempat mereka dimakamkan, misalnya Gunung Jati di dekat Cirebon, Drajat dekat Tuban, Muria di lereng Gunung Muria, Kudus di Kudus dsb. Dalam masa hidupnya mereka menyebarkan agama Islam di daerah tempatnya bermukim. Di wilayahnya itu mereka juga membangun masjid sebagai tempat beribadah. Di daerah sekitar kaki selatan Gunung Muria, banyak ditemukan tinggalan makam para Wali dan masjid tinggalannya, yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Kudus. Masjid yang dibangun adalah Masjid Demak dan Masjid Kudus. Walaupun di Indonesia dikenal mazhab Syafi‗i dan menganut Sunnah wal Jamaah, namun di kalangan masyarakat di beberapa tempat di Nusantara masih ditemukan jejak-jejak Syi‗ah yang semula dikenal pusatnya di Persia (Iran). Di Timur Tengah dan di Persia, penganut Sunnah wal Jamaah dan penganut Syi‗ah tidak sepaham, terutama dalam hal sumber hukum Islam (ijma= kesepakatan para alim ulama). Dalam aliran ini sudah dimulai politisasi agama, terutama pada dasar hukum ijma. Kaum Syi‗ah menganggap bahwa yang berhak menjadi Khalifah
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

adalah yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Ijma, dimungkinkan yang bukan keturunan Nabi Muhammad SAW dapat menjadi Khalifah. Karena itulah yang kaum Syi‗ah menganggap al-Qur‗an dan Hadist saja yang menjadi dasar hukum agama Islam, sedangkan Ijma dan Qiyash (= perumpamaan) tidak perlu. Runtuhnya kesultanan Syi‗ah tidak menyurutkan ajaran yang ―terlanjur‖ berkembang di masyarakat. Berbagai ritual Syi‗ah menjelma menjadi tradisi yang masih ditemukan di beberapa daerah di Nusatara. Di Indonesia penganut Syi‗ah jumlahnya tidak banyak (sekitar 1 juta), namun di beberapa tempat tradisi yang biasa dilakukan umat Syi‗ah masih dapat ditemukan, dan secara kontinyu dilakukan oleh kelompok masyarakat tersebut. Dapat dikemukakan sebagai contoh tentang tradisi Syi‗ah,

misalnya:Perayaan Tabot, peringatan Hari Arbain atau hari wafatnya Husein bin Ali (cucu Nabi Muhammad) oleh kaum Syiah dalam bentuk perayaan tabot (tabut). Tabot dibuat dari batang pisang yang dihiasi bunga aneka warna, diarak ke pantai, diiringi teriakan ―Hayya Husein hayya Husein‖ yang artinya ―Hidup Husein, hidup Husein‖. Pada akhir upacara tabot ini kemudian dilarung di laut lepas. Benda yang disebut tabot melambangkan keranda mayat. Perayaan Tabot masih dilakukan masyarakat pada setiap tanggal 10 Muharram di Bengkulu, Pariaman, dan Aceh. Asyura di Jawa dalam sistem pertanggalan Jawa berubah menjadi bulan Suro, sebutan untuk bulan Muharram (bulan wafatnya Husein). Peringatan Asyura belakangan dikenal dengan istilah ―Kasan Kusen‖. Di Aceh, Asyura diistilahkan dengan Bulan Asan Usen. Di Makassar Asyura dimaknai sebagai perayaan kemenangan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW, sehingga masyarakat merayakannya dengan sukacita. Mereka membuat bubur tujuh warna dari warna dasar merah, putih, dan hitam.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Peringatan Hari Arbain dirayakan juga di

Desa Marga Mukti,

Pengalengan, Jawa Barat. Ratusan umat Islam Syi‗ah memenuhi Masjid alAmanah untuk melakukan nasyid, doa persembahan kepada Imam Husein, dan ziarah Arbain, doa untuk keluarga Ali bin Abi Thalib. Debus. Adalah pertunjukan yang hubungannya erat dengan tarekat Rifa‗iyah. Tarekat ini didirikan oleh Ahmad al-Rifa‗i yang wafat pada tahun 1182 Masehi. Tarekat ini pandangannya lebih fanatik dengan ciri-ciri melakukan penyiksaan diri, mukjizat-mukjizat seperti makan beling, berjalan di atas bara api, menyiramkan air keras (HCl) ke tubuhnya, dan menusuk-nusuk tubuh dengan benda tajam. Penganut Rifa‗iyah dengan debus-nya terdapat di Aceh, Kedah, Perak, Banten, Cirebon, dan Maluku bahkan sampai masyarakat Melayu di Tanjung Harapan Afrika Selatan.

E. Pertemuan Islam dan Budaya Nusantara Sejak awal perkembangannya, Islam di Indonesia telah menerima akomodasi budaya. Karena Islam sebagai agama memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya, dan Islam sebagai realitas budaya. Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga Islamicate, bidang-bidang yang ―Islamik‖, yang dipengaruhi Islam. 75

75

Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam, hal. 13. Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Tradisi besar (Islam) adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen, atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola bertindak umat Islam. Tradisi-tradisi ini seringkali juga disebut dengan center (pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri (pinggiran). Tradisi kecil (tradisi local, Islamicate) adalah realm of influence- kawasankawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Tradisi local ini mencakup unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi konsep atau norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karyakarya yang dihasilkan masyarakat. Dalam istilah lain proses akulturasi antara Islam dan Budaya local ini kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local genius, yaitu kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik, yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Pada sisi lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar; mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asli; dan memiliki kemampuan mengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya. 76 Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia.
76

Soejanto Poespowardojo, Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam modernisasi, kepribadian budaya bangsa (local genius), hal. 28 Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Di sisi lain budaya-budaya local yang ada di masyarakat, tidak otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya local ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan ini kemudian melahirkan ―akulturasi budaya‖, antara budaya local dan Islam. Budaya-budaya local yang kemudian berakulturasi dengan Islam antara lain acara slametan (3,7,40,100, dan 1000 hari) di kalangan suku Jawa. Tingkeban (nujuh Hari). Dalam bidang seni, juga dijumpai proses akulturasi seperti dalam kesenian wayang di Jawa. Wayang merupakan kesenian tradisional suku Jawa yang berasal dari agama Hindu India. Proses Islamisasi tidak menghapuskan kesenian ini, melainkan justru memperkayanya, yaitu memberikan warna nilainilai Islam di dalamnya.tidak hanya dalam bidang seni, tetapi juga di dalam bidang-bidang lain di dalam masyarakat Jawa. Dengan kata lain kedatangan Islam di nusantara dalam taraf-taraf tertentu memberikan andil yang cukup besar dalam pengembangan budaya local. Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat dilihat misalnya: bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang, berbatu tebal, bertiang saka, dan sebagainya benar-benar menunjukkan ciri-ciri arsitektur local. Sementara esensi Islam terletak pada ―ruh‖ fungsi masjidnya. Demikian juga dua jenis pintu gerbang bentar dan paduraksa sebagai ambang masuk masjid di Keraton Kaibon. Namun sebaliknya, ―wajah asing‖ pun tampak sangat jelas di kompleks Masjid Agung Banten, yakni melalui pendirian bangunan Tiamah dikaitkan dengan arsitektur buronan Portugis,Lucazs Cardeel, dan pendirian menara berbentuk mercu suar dihubungkan dengan nama seorang Cina: Cek-ban Cut.9 Dalam perkembangan selanjutnya sebagaimana diceritakan dalam Babad Banten, Banten kemudian berkembang menjadi sebuah kota. Kraton Banten sendiri dilengkapi dengan struktur-struktur yang mencirikan prototype kraton
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

yang bercorak Islam di Jawa, sebagaimana di Cirebon, Yogyakarta dan Surakarta. Ibukota Kerajaan Banten dan Cirebon kemudian berperan sebagai pusat kegiatan perdagangan internasional dengan ciri-ciri metropolitan di mana penduduk kota tidak hanya terdiri dari penduduk setempat, tetapi juga terdapat perkampunganperkampunan orang-orang asing, antara lain Pakoja, Pecinan, dan kampung untuk orang Eropa seperti Inggris, Perancis dan sebagainya. Dalam bidang kerukunan, Islam di daerah Banten pada masa lalu tetap memberikan perlakuan yang sama terhadap umat beragama lain. Para penguasa muslim di Banten misalnya telah memperlihatkan sikap toleransi yang besar kepada penganut agama lain. Misalnya dengan mengizinkan pendirian vihara dan gereja di sekitar pemukiman Cina dan Eropa. Bahkan adanya resimen non-muslim yang ikut mengawal penguasa Banten. Penghargaan atau perlakuan yang baik tanpa membeda-bedakan latar belakang agama oleh penguasa dan masyarakat Banten terhadap umat beragama lain pada masa itu, juga dapat dilisaksikan di kawasan-kawasan lain di nusantara, terutama dalam aspek perdagangan. Penguasa Islam di berbagai belahan nusantara telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa Cina, India dan lain sebagainya sekalipun di antara mereka berbeda keyakinan. Aspek akulturasi budaya local dengan Islam juga dapat dilihat dalam budaya Sunda adalah dalam bidang seni vokal yang disebut seni beluk. Dalam seni beluk sering dibacakan jenis cirita (wawacan) tentang ketauladanan dan sikap keagamaan yang tinggi dari si tokoh. Seringkali wawacan dari seni beluk ini berasal dari unsur budaya local pra-Islam kemudian dipadukan dengan unsur Islam seperti pada wawacan Ugin yang mengisahkan manusia yang memiliki kualitas kepribadian yang tinggi. Seni beluk kini biasa disajikan pada acara-acara selamatan atau tasyakuran, misalnya memperingati kelahiran bayi ke-4- hari (cukuran), upacara selamatan syukuran lainnnya seperti kehamilan ke-7 bulan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

(nujuh bulan atau tingkeban), khitanan, selesai panen padi dan peringatan harihari besar nasional. Akulturasi Islam dengan budaya-budaya local nusantara sebagaimana yang terjadi di Jawa didapati juga di daerah-daearah lain di luar Jawa, seperti Sumatera Barat, Aceh, Makasar, Kalimantan, Sumatera Utara, dan daerah-daerah lainnya. Khusus di daerah Sumatera Utara, proses akulurasi ini antara lain dapat dilihat dalam acara-acara seperti upah-upah, tepung tawar, dan Marpangir.

F. Eksklusivisme Islam menuju Inklusivisme Jika dalam wilayah non-teologis atau sosial kemasyarakatan Islam begitu sangat akomodatif terhadap budaya local, berbeda halnya dengan wilayah-wilayah lainnya, terutama berkenaan dengan aspek teologis (aqidah). Dalam masalah teologis ini Islam menarik garis demarkasi secara tegas. Islam tampil dengan wajah yang sangat eksklusif. Penegasan Islam ini termaktub di dalam Alquran surah Al-Ikhlas, dan surah Al-Kafirun yang tercermin dalam dua kalimah sahadah. Inilah doktrin sentral Islam yang kemudian disebut dengan tauhid; pengakuan kemahakuasaan dan kemutlakan Tuhan serta penegasan bahwa Muhammad nabi terakhir yang diutus Tuhan bagi umat manusia di muka bumi. Klaim-klaim eksklusif Islam sebagaimana tercermin dalam doktrin teologis tersebut tidak berarti umat Islam menjadi umat yang eksklusif yang menafikan pluralisme. Karena Islam juga sangat menekankan inklusivisme, sebagaimana dinyatakan dalam sumber-sumber primer Islam (misalnya Q.S alKafirun:6, Q.S.al-Hujarat:13) dan sebagaimana pula yang telah dipraktikkan dalam sejarah awal pembentukan masyarakat Islam.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Gambaran ideal tentang kerukunan antara umat Islam dan non-Islam sebagaimana yang dicontohkan nabi dan yang kemudian menjadi model bagi tata laku kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini secara original dapat dilihat dalam butir-butir ―Piagam Madinah‖. Dalam piagam ini hak-hak penganut agama Yahudi untuk hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam dinyataan secara tegas. Harkat dan martabat kaumYahudipun kemudian terangkat dari sekedar klien kesukuan menjadi warga negara yang sah sebagaimana yang dialami oleh kaum muslimin. Tidak ada perbedaan perlakuan antara keduanya. Posisi demikian ini tidak pernah dimiliki kaum Yahudi sejak invasi Babilonia pada 586 SM. Dalam bingkai negara Madinah inilah kaum Yahudi dapat menjalankan ajaran agamanya sesuai dengan ajaran Taurat. Tidak hanya itu, negara Madinah juga menjamin dan memikul tanggung jawab tentang ke-Yahudian itu. Perlakuan negara Madinah yang demikian adil tanpa diskriminasi, khususnya terhadap komunitas Yahudi ini mengantarkan peradaban Yahudi dengan berbagai aspeknya mencapai masa ―keemasannya‖ di bawah pemerintahan Islam. Situasi dan kondisi yang istimewa tersebut juga dialami oleh kaum Nasrani, terutama pasca ―futuhat‖ Makkah. Kaum Kristen Najran Yaman mendatangi Nabi untuk memperjelas posisi mereka vis-à-vis negara Islam. Delegasi mereka ini diterima dengan baik oleh Nabi. Sebagian mereka kemudian memeluk agama Islam. sementara yang lain tetap pada keyakinan agamanya di dalam kerangka negara Islam. Nabi kemudian mengukuhkan posisi mereka sebagai ummah yang khas, sebagaimana halnya yang dialami oleh kaum Yahudi. Praktik kerukunan sebagaimana yang dicontohkan nabi Muhammad diteruskan oleh para sahabat nabi sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab ketika melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Bizantium Kristen. Ketika wilayah ini ditaklukkan, Umar mengadakan perjanjian dengan uskup setempat yang berisi tentang jaminan Islam akan eksistensi Kristen di dalam kekuasaan Islam.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Prinsip persamaan, keadilan dan kebebasan yang diberikan oleh penguasa Islam kepada umat-umat lain ini yang kemudian menyebabkan umat Kristen tumbuh dan berkembang secara luas. Bahkan pada abad-abad pertama hijriah, mayoritas penduduk di dalam entitas politik Muslim adalah penganut Kisten. Situasi demikian tidak mereka dapati pada masa-masa sebelumnya seperti pada masa kekuasaan Roma Kristen maupun Bizantium Yunani. Prinsip prinsip luhur kerukunan tersebut juga dapat dijumpai pada hampir di wilayah-wilayah kekuasaan Islam lainnya, seperti di anak Benua India. Di wilayah ini para penganut, Hindu dan Budha mendapat hak yang sama sebagaimana yang diperoleh kaum Yahudi dan Nasrani. Ketika kekuasaan Islam berakhir, masyarakat tetap berada pada keyakinan semula. Hal ini membuktikan bahwa prinsip toleransi atau kerukunan tetap menjadi pegangan bagi para penguasa muslim.

Bahkan perkembangan peradaban Islam yang mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah antara lain disebabkan oleh pengembangan teologi kerukunan ini. Sukar dibayangkan bahwa kemajuan ilmu dan peradaban Islam tanpa peran serta dari penganut umat beragama lain. Dalam tahapan perkembangan kebudayaan Islam dengan segenap aspeknya hampir selalu berpijak pada akar kerukunan. Perkembangan sains dan teknologi pada masa Abbasiyah yang melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan diawali dengan keterlibatan ahliahli dari non Islam yang diawali dengan proses penterjemahan besar-besaran seperti dari Nasrani dan Persia. Sementara itu dialog-dialog ataupun tukar fikiran antara kaum Nasrani dengan umat Islam sebagaimana dicatat Annemarie Schimmel juga sudah mulai berjalan. Dialog-dialog tersebut umumnya dilaksanakan di istana-istana para
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

penguasa muslim, sekalipun saling pengertian dan kerukunan timbal balik tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan. Hal ini disebabkan masih adanya prasangka-prasangka negatif dari masing-masing pihak. Para teolog muslim misalnya mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk menyanggah Ketuhaan Yesus, dan penyalipan Yesus, serta menuduh kaum Nasrani telah menyelewengkan kitab sucinya. Sementara di pihak lain, kaum Nasrani mempelajari Islam hanya untuk membuktikan bahwa Islam hanyalah agama bidat dan anti Kristus. Hubungan antara Islam dan Kristen selama masa tersebut memang tidak selalu berjalan dalam keadaan ko-eksistensi damai. Karena sejak abad IX M telah mulai tampak benih-benih ketidakharmonisan itu. Hal ini disebabkan antara lain perkembangan sosial politik di dalam kekuasaan Islam sendiri yang telah memperlihatkan perpecahan. Ketidakstabilan dalam bidang politik ini pada gilirannya mengganggu hubungan Islam-Kristen. Perbedaan doktinal antara Kristen dan Islam tidak selalu mudah untuk didamaikan,bahkan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang musykil. Misalnya perbedaan antara Islam dan Kristen tentang Ketuhanan Yesus, khususnya tentang penyalibannya. Pihak Islam umumnya meyakini bahwa tidak ada penyaliban terhadapYesus (nabi Isa). Sementara umat Kristiani penyaliban Yesus sebagai sesuatu keyakinan yang sudah final. Demikian pula doktrin tentang kerasulan Muhammad. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad sebagai Nabi terakhir, akan tetapi umat Kristen tidak mengakui hal ini. Kedua agama ini masing-masing tidak mengakui adanya keselamatan di luar agamanya. Inilah beberapa prinsip fundamental yang membedakan keduanya, sehingga sulit untuk disatukan.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Selain perbedaan-perbedaan doctrinal secara teologis, perbedaan lain yang menempatkan Islam sebagai ajaran eksklusif adalah ajaran Islam tentang larangan memakan hewan tertentu.(Q.S.al-Maidah:3).Ajaran ini bagi Islam tidak bisa ditawar-tawar lagi sebagai hal yang mutlak yang harus dipatuhi. Sementara dalam agama lain, terutama Kristen larangan tentang memakan hewan tertentu (babi dan anjing) tidak ada. Di pihak lain agama Hindu (India) ada larangan untuk memakan hewan tertentu, sementara Islam justru menganjurkannya sebagai binatang kurban, misalnya binatang sapi. Perbedaan merupakan realitas kehidupan manusia yang sengaja diciptakan Tuhan agar umat manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik.(Q.S.49:13) Karena jika Tuhan berkehendak, tentu ia akan menjadikan umat manusia menjadi satu umat saja tanpa perbedaan satu sama lain. Dengan demikian, agama dan budaya harus dapat menjadi instrumen bagi pengembangan kebudayaan dan budaya seharusnya dapat berjalan seiring dalam rangka memperkuat kerukunan antar umat beragama Jadi kerukunan beragama bukanlah berarti penyatuan konsep-konsep teologis sentral dari masing-masing agama, melainkan adanya saling memahami dan saling pengertian terhadap adanya perbedaan-perbedaan doctrinal mendasar itu. Kerukunan dalam arti penyatuan hanya bisa dimungkinkan pada wilayahwilayah non teologis, seperti sosial budaya dengan segenap unsur-unsur di dalamnya. Kerukunan dalam makna inilah yang disebut dengan akulturasi budaya. Hal inilah yang dilakukan umat Islam pada masa itu sehingga melahirkan kebudayaan yang sangat tinggi yang dikenal dengan zaman keemasan Islam yang mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB III STUDI KASUS Keragaman budaya menjadi salah satu ciri utama yang dimiliki masyarakat Indonesia. Dari zaman ketika kerajaan-kerajaan masih hadir menghidupi ruang sejarah negeri ini hingga era modern seperti kini, keragaman itu tetap ada, bahkan nampak semakin bertambah. Ketidaksamaan itu kini tidak lagi memonopoli perkotaan besar yang biasanya menjadi tempat bermuaranya berbagai macam budaya dan agama. Di setiap penjuru nusantara ini, telah diisi dengan berbagai rupa-rupa yang berbeda begitulah Indonesia perjalanan panjang sebagai sebuah bangsa yang majemuk, membekaskan sebuah citraan pada diri tubuh multikultur ini. Indonesia merupakan salah satu tempat bersinggungan berbagai macam budaya dan agama. Proses asimilasi atau akulturasi sering nampak dalam gerakgerak praktis nuansa kehidupan yang ada di dalamnya. Sebut saja misalnya budaya Islam Jawa. Gerak hidup Islam di Jawa memiliki keunikan tersendiri disbanding dengan Islam lainnya di negeri ini, meskipun hal ini tidak mutlak dapat dijadikan pijakan, namun setidaknya Islam Jawa memiliki karakteristik tertentu di antara yang lain. Bahkan Gertz seorang antropolog terkenal dunia sampai melakukan studi penelitian dalam waktu cukup lama untuk membaca wajah Islam di Jawa. Dengan sampling masyarakat Islam Mojokuto, Gertz berkesimpulan bahwa Islam Jawa memiliki tiga strata dalam praktiknya, santri, abangan, dan priyayi. Meskipun banyak mendapat kritik, dalam beberapa hal saya piker Gertz memang benar. Bukankah studi antropologi memang tidak pernah menyatakan adanya objektifitas dalam hasil yang diperoleh. Yang kemungkinan bisa muncul adalah intersubjektifitas dari sebuah fenomena. Begitulah kiranya Gertz yang mampu membaca Islam Jawa dari sudut pandang yang tak tentu sama dengan kita, dan lagi-lagi itu membawa kebenarannya sendiri.
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Keunikan Islam Jawa menurut tesis Gertz menurut saya terletak pada gerak spritualitas yang dilakukan oleh Golongan Abangan. Di akar budaya yang dimiliki oleh golongan ini, kekerasan budaya tidaklah nampak begitu menonjol. Bahkan dalam pertemuan antara Islam dan budaya Jawa dalam diri mereka terlihat begitu mesra. Baik unsure Islam maupun Jawa, terlihat ada saling mengerti. Gerusan-gerusan yang mungkin dapat dikatakan sebagai sinkretisme budaya ini berjalan pelan dan akhirnya menjadi sinergi. Contoh menarik adalah peringatan tahun baru 1429 hijriah beberapa waktu lalu di daerah Sragen, Jawa Tengah. Acara menarik itu dilakukan di komplek makam Pangeran Samudera. Seorang tokoh keramat bagi masyarakat setempat. Sejarah pasti budaya memohon berkah di tempat ini masih nampak kabur. Yang jelas budaya ini ada sebagai bentuk akulturasi budaya Jawa dan Islam. Nuansa kedua unsure ini begitu kental, bercampur memunculkan satu tradisi baru yang tidak meninggalkan akar rumput yang dimilikinya. Acara itu sendiri merupakan ritual pergantian selambu yang menyelubungi makam Pangeran Samudera. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap pergantian tahun baru Jawa maupun Islam yang memang diperingati berbarengan Pergantian selambu makam ini menjadi menarik karena serangkaian ceremonial yang ada di dalamnya. Setelah selambu menyelubungi makam selama setahun dibuka, acara dilanjutkan ke Waduk Kedung Ombo. Di waduk yang juga dianggap keramat ini, selambu tadi dicelupkan, satu lambing penyucian diri seperti halnya tubuh manusia yang perlu dibersihkan. Ketika selambu telah selesai dibasahi dengan air Waduk ini, kain inipun segera dibawa kembali ke komplek makam. Biasanya para warga yang mengharapkan berkah, segera berebut tetesan air selambu yang baru saja direndam tadi. Tetesan air itu biasanya digunakan untuk mengusap wajah atau bagian tubuh lainnya. Ketika sampai kembali ke komplek makam, acara berikut dilanjutkan dengan ritual pembilasan. Air yang digunakan untuk membilas selambu ini,
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

adalah air yang berasal dari tujuh mata air disekitar komplek makam Pangeran Samudera. Tujuh air ini ditempatkan di tujuh tong yang berbeda. Dan secara bergantian ketujuh tong tadi menjadi tempat pembilasan selambu. Acara diakhiri dengan do‘a yang bernafaskan Islam, disinilah bentuk akulturasi itu muncul. Ritual semacam ini yang sebelum kedatangan Islam diisi dengan do‘a-do‘a Hindu atau Budha, setelah Islam dating diganti dengan do‘a-do‘a yang bersumber dari kitab suci Islam.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

BAB IV ANALISISA DAN KESIMPULAN Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia membawa perubahanperubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Candi dan petirtaan tidak dibangun lagi, tetapi kemudian muncul mesjid, surau, dan makam. System kasta di dalam masyarakat dihapus, arca dewa-dewa serta bentuk-bentuk zoomorphic tidak lagi dibuat. Para seniman ukir kemudian menekuni pembuatan kaligrafi, mengembangkan ragam hias flora dan geometris, serta melahirkan ragam hias stiliran. Kota-kota mempunyai komponen dan tata ruang baru, bahkan pada abad XVII M Sultan Agung memunculkan kalender Caka dan Hijriah. Akan tetapi, pada sisi lain budaya tidak dapat dikotak-kotakkan, sehingga terjadi pula kesinambungan-kesinambungan yang inovatif sifatnya. Masjid dan cunggup makam mengambil bentuk atap tumpang, seperti mesjid Agung Demak, yang bentuk dasarnya sudah dikenal pada masa sebelumnya sebagaimana tampak pada beberapa relief candi. Demikian pula menara mesjid tempat muazin menyerukan azan, seperti menara di Masjid Menara di Kudus. Bentuk dasarnya tidak jauh berbeda dari candi gaya Jawa Timur yang langsing dan tinggi, tetapi detailnya berbeda. Bagian kepalanya berupa bangunan terbuka, relung-relungnya dangkal karena tidak berisi arca, dan hiasan relief diganti dengan tempelan piring porselin. Bangunan makam Islam merupakan hal baru di Indnesia kala itu, karenanya tercipta nisan, jirat, dan juga cungkub, dalam berbagai bentuk karya seni. Nisan makam-makam tertua di Jawa, seperti makam Fatimah bin Maimun dan Makam Malik Ibrahim, menurut penelitian merupakan benda yang diimpr dalam bentuk jadi, sebagaimana tampak dari gaya tulisan Arab pada prasastinya dan jenis ornamentasi yang digunakan. Namun, nisan makam-makam berikutnya dibuat di Indonesia oleh seniman-seniman setempat. Hal ini antara lain tampak dari ragam hias yang digunakan, misalnya lengkung kurawal, patra, dsb. Bahkan
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

di pemakaman raja-raja Binamu di Jeneponto (Sulawesi Selatan) di atas jirat ada patung orang yang dimakamkan. Ini adalah suatu hal yang tidak pernah terjadi di tempat lain. Pada tata kota, terutama kota kerajaan di jawa, juga dapat dilihat adanya perubahan dan kesinambungan. Di civic centre kota-kota tersebut ada alun-alun, kraton, masjid agung, dan pasar yang ditata menurut pola tertentu. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan lain, serta pemukiman penduduk yang juga diatur berkelompok-kelompok sesuai dengan jenis pekerjaan, asal, dan status social.

Di dalam perjalanannya, suatu kebudayaan memang lazim mengalami perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu, corak kebudayaan di suatu daerah berbeda-beda dari jaman ke jaman. Perubahan itu terjadi karena ada kontak dengan kebudayaan lain, atau dengan kata lain karena ada kekuatan dari luar. Hubungan antara para pendukung dua kebudayaan yang berbeda dalam waktu yang lama mengakibatkan terjadinya akulturasi, yang mencerminkan adanya pihak pemberi dan penerima. Di dalam proses itu terjadi percampuran unsureunsur kedua kebudayaan yang bertemu tersebut. Mula-mula unsure-unsurnya masih dapat dikenali dengan mudah, tetapi lama-kelamaan akan muncul sifat-sifat baru yang tidak ada dalam kebudayaan induknya. Rupanya proses seperti diuraikan di atas berulang kali terjadi di Indonesia, termasuk ketika Islam masuk dan berkembang di Indonesia. Pertemuan dan akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha, Prasejarah, dan Islam (kemudian juga kebudayaan Barat) terjadi dalam jangka waktu yang panjang, dan bertahap. Tidak dipungkiri bahwa selama itu tentu terjadi ketegangan serta konflik. Akan tetapi hal tersebut adalah bagian dari proses menuju akulturasi. Factor pendukung terjadinya akulturasi adalah kesetaraan serta kelenturan kebudayaan pemberi dan penerima, dalam hal ini
Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

kebudayaan Islam dan pra-Islam. Salah satu contohnya adalah bangunan mesjid. Akulturasi juga memicu kreativitas seniman, sehingga tercipta hasil-hasil budaya baru yang sebelumnya belum pernah ada, juga way of life baru. Setelah mengetahui bahwa terjadi akulturasi dan perubahan sehingga terbentuk kebudayaan Indonesia-Islam, maka perlu dipikirkan bagaimana pengembangannya pada masa kini dan masa mendatang. Dalam hal budaya materi memang harus dilakukan pengembangan-pengembangan sesuai dengan kemajuan teknologi, supaya tidak terjadi stagnasi, tetapi tanpa meninggalkan kearifankearifan yang sudah dihasilkan. Hasil akulturasi menunjukkan bahwa Islam memperkaya kebudayaan yang sudah ada dengan menunjukkan kesinambungan. Namun, tetap dengan cirri-ciri tersendiri. Hasil akulturasi juga memperlihatkan adanya mata rantai-mata rantai dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. Supaya mata rantai-mata rantai tersebut tetap kelihatan nyata, harus dilakukan pengelolaan yang terintegrasi atas warisan-warisan budaya Indonesia. Hal ini perlu dikemukakan dan ditekankan, mengingat banyak warisan budaya yang terancam keberadaannya, terutama karena kurangnya kepedulian dan pengertian masyarakat Indonesia sendiri. Hubungan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan Persia (Iran) diduga sudah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah. Dari hubungan perdagangan ini, kemudian berdampak pada pemikiran keagamaan terutama sufisme atau tasawwuf dengan tarekat-tarekatnya. Selain itu berdampak juga pada unsur-unsur kebudayaan. Beberapa tradisi Syi‗ah dan tarekatnya masih tetap dipelihara oleh kelompok masyarakat tertentu di Indonesia. Dalam susastra dan bahasa beberapa karya sastra yang berbau Sufi dan kosa kata Persia diadopsi pada karya sastra Melayu dan kosa kata dalam bahasa Indonesia.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

Mungkin masih banyak lagi unsur kebudayaan lainnya yang belum terekam dalam kehidupan bangsa Indonesia yang mendapat pengaruh Persia. Semua ini memerlukan penelitian dari berbagai disiplin ilmu-ilmu humaniora dan sosial, seperti arkeologi dan sejarah, antropologi, sosiologi, agama, linguistik, dan kesusasteraan. Ada satu hal yang patut kita syukuri dalam kehidupan beragama di Tanah Air Indonesia. Di Tanah Air umat Islam dari berbagai aliran dapat hidup rukun. Keadaan seperti ini sudah ―tercipta‖ sejak masa awal kedatangan Islam di Nusantara. Para penyiar agama melakukan penyampaian dengan cara persuasif dan menyesuaikan dengan budaya setempat, misalnya Wali Sanga menyampaikan syiar Islam dengan cara menggunakan sarana wayang. Tidak ada sedikitpun unsur pemaksaan. Sementara itu di belahan dunia lain, kita lihat bagaimana Libanon, Irak, dan Afghanistan sampai hancur-hancuran sebagai akibat pertikaian sesama umat Islam yang mungkin disebabkan karena adu domba pihak lain.

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

DAFTAR PUSTAKA

Poerbatjaraka, R, Ng, 1952, Riwayat Indonesia I, Yayasan Pembangunan: Jakarta

Azyumardi Azra, 1999, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam, Paramadina: Jakarta

Hasan Muarif Ambary, 1998, Menemukan Peradaban Islam: Arkeologi dan Islam di Indonesia: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional: Jakarta

Koentjaraningrat, 1980, Pokok-Pokok Antropologi Sosial, Penerbitan Universitas: Jakarta

Soerjanto

Poespowardoyo,

1986,

Pengertian

Local

Genius

dan

Relevansinya Dalam Modernisasi, ―Kepribadian Budaya Bangsa (local genius)‖, Pustaka Jaya: Jakarta
 

Geertz, Clifford, 1992, Kebudayaan dan Agama, Kanisius: Yogyakarta Andito, 1998, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik, Pustaka Hidayah: Bandung

Mulyono Sumardi, 1982, Penelitian Agama, Masalah dan Pemikiran, Pustaka Sinar Harapan: Jakarta

Badri Yatim, 2006, Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada: Jakarta

Hamka, 1975, Sejarah Umat Islam IV, Bulan Bintang: Jakarta

Copyright by Rismalil Ismi Afida ismi_afida@yahoo.com riezma.afida@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->