PERILAKU MENYIMPANG PELAJAR DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Oleh : ……………………… NIM. : …………….

Abstrak Perilaku menyimpang pelajar adalah salah satu dari masalah sosial karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Ada hubungan sebab akibat antara disorganisasi sosial dalam keluarga dengan perilaku menyimpang pelajar. Artinya adanya disorganiasi sosial dalam keluarga memberi peluang pelajar untuk melakukan perilaku menyimpang. Sebaliknya bagi pelajar yang keluarganya harmonis dan utuh maka kemungkinan melakukan perilaku menyimpang sangat kecil. A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Anonymous menulis “Ada seorang Ibu yang tinggal di Jakarta bercerita bahwa sejak maraknya kasus tawuran pelajar di Jakarta, Beliau mengambil inisiatif untuk mengantar dan menjemput anaknya yang sudah SMU, sebuah kebiasaan yang belum pernah Beliau lakukan sebelumnya. Bagaimana tidak ngeri, kalau pelajar yang tidak ikut-ikutan pun ikut diserang. Mengapa para pelajar itu begitu sering tawuran, seakan-akan mereka sudah tidak memiliki akal sehat, dan tidak bisa berpikir mana yang berguna dan mana yang tidak ? Mengapa pula para pelajar banyak yang terlibat narkoba dan seks bebas, dan hal lainnya yang menyimpang? Apa yang salah dari semua ini?

Tetapi perilaku menyimpang bukanlah kondisi yang perlu untuk menjadi seorang penyimpang. Penyimpang adalah orang-orang yang mengadopsi peran penyimpang. Perilaku pelajar yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang. baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Kenakalan pelajar dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Orang yang dianggap menyimpang berarti melakukan perilaku menyimpang. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Dalam perspektif sosiologi perilaku menyimpang pelajar terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Pelajar akan mengalami periode perkembangan fisik dan psikis sebagai berikut : masa pra-pubertas (12 – 13 tahun). atau yang disebut penyimpangan sekunder. dan emosi yang begitu cepat. berusia antara 12 – 21 tahun. dengan perkembangan fisik. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat. (17 – 18 tahun). Dan perilaku menyimpang pelajar adalah kenakalan pelajar yang biasanya dilakukan oleh pelajar-pelajar yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya. . masa pubertas (14 – 16 tahun).Adalah sulit untuk menentukan suatu penyimpangan karena tidak semua orang menganut norma yang sama sehingga ada perbedaan mengenai apa yang menyimpang dan tidak menyimpang. psikis. Istilah pelajar dalam makalah ini adalah mereka yang menurut Kartini Kartono. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. atau telah terjadi kenakalan pelajar. masa akhir pubertas. (2007:27).

di mana penyimpangan itu adalah terlarang bila diketahui dan mendapat sanksi. kondisi dan individu.(Jokie M. 1988:26). bukan menyetujui apa yang dipahami oleh penyimpang.Hal yang relevan untuk memahami bentuk perilaku mengapa seorang pelajar melakukan penyimpangan. dan normatif yang membedakannya dari kedua sudut pandang lainnya. tetapi terkadang pada kebanyakan orang tidak menjadi berwujud penyimpangan. Penyimpangan dapat didefinisikan secara statistik. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi dan adanya kesempatan tertentu. reaktifis. absolut. sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Tidak satu teknik pun yang menjamin bahwa penyimpang dapat hidup di dunia yang menolaknya. Perbedaan yang menonjol dari keempat sudut pandang pendefinisian itu adalah pendefinisian oleh para reaktifis. Teknik-teknik yang digunakan oleh . Untuk menghargai penyimpangan adalah dengan cara memahami. dan normatif. Cara-cara para penyimpang menghadapi penolakan atau stigma dari orang non penyimpang disebut dengan teknik pengaturan. 2008). Dasar pengakategorian penyimpangan didasari oleh perbedaan perilaku. Karena norma berubah maka penyimpangan berubah. Penyimpangan biasanya dilihat dari perspektif orang yang bukan penyimpang. mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian.S. Becker (Soerjono Soekanto. Siahaan. Pengertian yang penuh terhadap penyimpangan membutuhkan pengertian tentang penyimpangan bagi penyimpang. Jumlah dan macam penyimpangan dalam masyarakat adalah relatif tergantung dari besarnya perbedaan Penyimpangan adalah relatif terhadap norma suatu kelompok atau masyarakat. Penyimpangan secara normatif didefinisikan sebagai penyimpangan terhadap norma.

penulis menitikberatkan pada pendekatan sistem. rasionalisasi. maka norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. 2. Selanjutnya dalam pembahasan ini.penyimpang adalah kerahasiaan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya para pelajar yang mengalami gejala disorganisasi sosial dalam keluarga misalnya. Mengidentifikasi faktor-faktor pendorong timbulnya perilaku penyimpangan yang dilakukan para pelajar. manipulasi aspek lingkungan fisik. Tujuan Penulisan Berdasarkan latar belakang di atas. maka tujuan penulisan ini adalah: 1. Karena itulah dalam membahas perilaku penyimpangan pelajar. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah. Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial dengan menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu. Oleh sebab itu. partisipasi dalam subkebudayaan menyimpang dan berubah menjadi tidak menyimpang. yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah. 2. . kondisi kehidupan lingkungan tersebut akan sangat mewarnai dan mempengaruhi input dan pengetahuan yang diserap oleh setiap pelajar. istilah perilaku menyimpang diidentikkan dengan kenakalan. sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilakunya. Untuk mengetahui hubungan antara perilaku menyimpang pelajar dengan disorganisasi sosial.

Gumarso (1988 : 19). perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. dijelaskan bahwa dalam pemikiran perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal.B. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal atau jahat yaitu perilaku yang disengaja sehingga menimbulkan keresahan pada masyarakat. pernah membahas tentang normal tidaknya perilaku menyimpang atau perilaku kenakalan. Faktor-Faktor Pendorong Pada dasarnya perilaku menyimpang atau kenakalan pelajar adalah hal-hal yang dilakukan oleh pelajar sebagai individu dan yang tidak sesuai dengan norma-norma hidup yang belaku di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988 : 93) mengatakan pelajar yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan . Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat. mengatakan dari segi hukum kenakalan pelajar digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum . sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan dianggap terjadi hal yang menyimpang atau “kenakalan”. 1985 : 73). Emile Durkheim (Soerjono Soekanto. PERILAKU MENYIMPANG PELAJAR 1. dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Singgih D.

orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pendidikan Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak. 2. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. maka pelajar kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu . orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya. Kawan Sepermainan Di kalangan pelajar. Kenakalan pelajar dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan . Namun jika si anak akan mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi. makin tinggi nilai mereka di mata temantemannya. seperti : 1. Masih sering terjadi dalam masyarakat. Di jaman sekarang.hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. Makin banyak kawan. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai. memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Oleh karena itu. pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si pelajar saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. orangtua para pelajar hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. obat terlarang. Ketika anak memasuki usia sekolah terutama perguruan tinggi. dan lain sebagainya.

bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si pelajar. . frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Oleh karena itu. akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Apabila si pelajar melakukan kegiatan yang positif. pada si pelajar akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut. Sebab dalam masyarakat. jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. tidak ada kegiatan. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. 3. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya. Penggunaan Waktu Luang Kegiatan di masa pelajar sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah. Akhirnya ia terjerumus. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak.kekecewaan. Sebab. ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. selain itu mereka bebas. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para pelajar untuk menarik perhatian lingkungannya. pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. waktu luang yang dimiliki pelajar dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. hal ini tidak akan menimbulkan masalah. tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa. Namun. Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan pelajar.

Akibatnya. sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang didapat. Jangan berlebihan. dan 3. Akibatnya. Anak menjadi boros 2. Namun. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. 5. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa pelajar. kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. para pelajar saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. di jaman ini banyak pelajar yang putus sekolah karena hamil. merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Pemberian uang saku kepada pelajar memang tidak dapat dihindarkan. bagi mereka.4. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum. Uang Saku Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Anak malas belajar. Perilaku Seksual Pada saat ini. dalam masa pacaran. Pelajar atau anak hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Pacar. Oleh karena itu. Para pelajar dengan bebas dapat bergaul antar jenis. anak hendaknya . Yaitu: 1. Anak tidak menghargai uang. di kalangan pelajar kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan.

terutama masalah dalam keluarga. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menilai ada tidaknya hubungan antara perilaku menyimpang atau kenakalan pelajar dengan disorganisasi sosial. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat. sering melakukan kenakalan khusus. . Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah. Perilaku pelajar sebagai individu yang dianggap menyimpang dan merupakan sebagai masalah sosial.com/2008). Namun. 2. Apabila usia makin meningkat.maka norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat.diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Mereka yang orang tuanya otoriter. Hal ini dapat dilihat bahwa pada umumnya para pelajar yang mengalami gejala disorganisasi sosial seperti masalah dalam keluarga. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan agama dan aturan yang berlaku. pada dasarnya bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah. Hubungan Perilaku Menyimpang Pelajar dengan DisorganisasiSosial. dan tidak memperhatikan sama sekali pendidikan anaknya. tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilakunya. yaitu : 1. orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. . Hubungan dengan sikap orang tua dalam pendidikan Salah satu sebab kenakalan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. (Masngudin HMS : wordpress.

menyalahgunakan narkotika. pemerkosaan. Namun jika dilihat dari keutuhan dalam interaksi. Hubungan dengan pekerjaan orang tua Untuk mengetahui apakah perilaku menyimpang atau kenakalan juga ada hubungannya dengan pekerjaan orangtuanya. artinya tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Artinya semakin tidak serasi hubungan atau interaksi dalam keluarga tersebut tingkat kenakalan yang dilakukan semakin berat. Hubungan dengan keutuhan keluarga Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap kenakalan pelajar. Jadi ketidak berfungsian keluarga untuk menciptakan keserasian dalam interaksi mempunyai kecenderungan anak pelajarnya melakukan kenakalan. karena kesibukannya dalam pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. seperti hubungan seks di luar nikah. baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga. . Hal ini perlu diketahui karena dalam keseharian orang tua terkadang tidak mampu dan melalaikan tugas sosial keluarga. guna memenuhi kebutuhan keluarganya. yaitu pada kenakalan khusus. Karena pekerjaan orangtua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi.ternyata peranan keluarga dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak. Artinya banyak terdapat anak-anak pelajar yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh. kumpul kebo. 2. terlihat jelas bahwa yang melakukan kenakalan khusus berasal dari keluarga yang interaksinya kurang dan tidak serasi. serta menggugurkan kandungan. 3. kasus pembunuhan. namun ketidakutuhan struktur keluarga bukan jaminan bagi anaknya untuk melakukan kenakalan.

dengan tetangga atau lingkungan sosialnya. Menurut teori Durkheim kenakalan pelajar disebabkan ketidak berfungsian sebuah organisasi yang dalam hal ini adalah organisasi keluarga. yaitu menerapkan proses sosialisasi yang baik bagi anak-anaknya. Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. akan terhindarkan. demikian juga sebaliknya. Apabila hal itu dapat diciptakan. Hal ini berarti bahwa bagi keluarga yang taat menjalankan kewajiban agamanya kecil kemungkinan perilaku anaknya menyimpang. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik. Dengan demikian ketaatan dan tidaknya beragama bagi keluarga sangat berhubungan dengan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Hubungan dengan kehidupan beragama keluarga Kehidupan beragama keluarga juga merupakan salah satu ukuran untuk melihat hubungan perilaku penyimpangan pelajar dengan disorganisasi sosial dalam keluarga. oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lingkungan sosialnya. baik kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan maupun kenakalan khusus. Adapun yang diharapkan dari hubungan tersebut adalah serasi. karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan ketenteraman. maka anak-anaknyapun akan melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama. maka kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus. 5. untuk itu solusi yang diambil yaitu memfungsikan kembali organisasi itu atau keluarga untuk mencegah tingkat . Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik.4. berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik.

maka perlu kiranya orangtua menjaga dan mempertahankan keutuhan keluarga dengan mengoftimalkan fungsi sosial keluarga melalui programprogram kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan lingkungannya. Untuk menghargai penyimpangan adalah dengan cara memahami. KESIMPULAN Berdasarkan analisis di atas. besar kemungkinan untuk melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang. kegagalan dalam pendidikan. pengenalan agama lebih dini dan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. apalagi kenakalan khusus. 2007:324). bukan menyetujui apa yang dipahami oleh penyimpang. . Dan pada dasarnya keluarga memang adalah organisasi pertama sebagai pembentuk watak dan kepribadian anak atau pelajar. maka akan melakukan perilaku menyimpang atau kenakalan pada tingkat tertentu. Penyimpangan biasanya dilihat dari perspektif orang yang bukan penyimpang. baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. (Soerjono Soekanto. Demikian juga dari adanya disorganiasi sosial dalam keluarga yang dialami oleh pelajar. pemberian uang saku yang berlebihan. adanya pengaruh kawan sepermainan. Berdasarkan kenyataan di atas.kenakalan pelajar tersebut. Sebaliknya bagi keluarga yang harmonis dan utuh maka kemungkinan anak-anaknya melakukan perilaku menyimpang sangat kecil. C. Pelajar yang demikian. Kenakalan pelajar dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor antara lain. maka untuk memperkecil tingkat perilaku menyimpang pelajar. banyaknya waktu luang. jadi keberfungsian keluarga sangat menentukan masa depannya. ditemukan bahwa perilaku menyimpang pelajar adalah kenakalan pelajar yang biasanya dilakukan oleh pelajar-pelajar yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya. dan pergaulan sex bebas.

Kartini. Jakarta. Psikologi Pelajar. Praktek Pekerjaan Sosial I. 2007. Jakarta. 1988.Daftar Pustaka Achlis. Bandung. Jakarta. 1988. Rajawali. Rajawali. BPK Gunung Mulya. Bandung. Kenakalan Pelajar. Raja Grafindo Persada. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. . . _______________. _______________. Kartono. Gunarsa. Singgih D. Jakarta. Sosiologi Penyimpangan. Psikologi Sosial 2. _________________. Mandar Maju. Psikologi Anak. Rajawali.1986. Soerjono Soekanto. 1985 Perubahan Sosial. 2007. STKS . 1992.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful