PERILAKU MENYIMPANG PELAJAR DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI

Oleh : ……………………… NIM. : …………….

Abstrak Perilaku menyimpang pelajar adalah salah satu dari masalah sosial karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Ada hubungan sebab akibat antara disorganisasi sosial dalam keluarga dengan perilaku menyimpang pelajar. Artinya adanya disorganiasi sosial dalam keluarga memberi peluang pelajar untuk melakukan perilaku menyimpang. Sebaliknya bagi pelajar yang keluarganya harmonis dan utuh maka kemungkinan melakukan perilaku menyimpang sangat kecil. A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Anonymous menulis “Ada seorang Ibu yang tinggal di Jakarta bercerita bahwa sejak maraknya kasus tawuran pelajar di Jakarta, Beliau mengambil inisiatif untuk mengantar dan menjemput anaknya yang sudah SMU, sebuah kebiasaan yang belum pernah Beliau lakukan sebelumnya. Bagaimana tidak ngeri, kalau pelajar yang tidak ikut-ikutan pun ikut diserang. Mengapa para pelajar itu begitu sering tawuran, seakan-akan mereka sudah tidak memiliki akal sehat, dan tidak bisa berpikir mana yang berguna dan mana yang tidak ? Mengapa pula para pelajar banyak yang terlibat narkoba dan seks bebas, dan hal lainnya yang menyimpang? Apa yang salah dari semua ini?

atau yang disebut penyimpangan sekunder. (2007:27). . (17 – 18 tahun). Dalam perspektif sosiologi perilaku menyimpang pelajar terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. berusia antara 12 – 21 tahun. masa pubertas (14 – 16 tahun). Dan perilaku menyimpang pelajar adalah kenakalan pelajar yang biasanya dilakukan oleh pelajar-pelajar yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya. Tetapi perilaku menyimpang bukanlah kondisi yang perlu untuk menjadi seorang penyimpang. Orang yang dianggap menyimpang berarti melakukan perilaku menyimpang. Penyimpang adalah orang-orang yang mengadopsi peran penyimpang. dengan perkembangan fisik. Kenakalan pelajar dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. psikis. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat.Adalah sulit untuk menentukan suatu penyimpangan karena tidak semua orang menganut norma yang sama sehingga ada perbedaan mengenai apa yang menyimpang dan tidak menyimpang. atau telah terjadi kenakalan pelajar. baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. dan emosi yang begitu cepat. Pelajar akan mengalami periode perkembangan fisik dan psikis sebagai berikut : masa pra-pubertas (12 – 13 tahun). Perilaku pelajar yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang. Istilah pelajar dalam makalah ini adalah mereka yang menurut Kartini Kartono. masa akhir pubertas.

Cara-cara para penyimpang menghadapi penolakan atau stigma dari orang non penyimpang disebut dengan teknik pengaturan. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi dan adanya kesempatan tertentu. kondisi dan individu. Teknik-teknik yang digunakan oleh . dan normatif yang membedakannya dari kedua sudut pandang lainnya. Becker (Soerjono Soekanto. 2008). Penyimpangan dapat didefinisikan secara statistik. Pengertian yang penuh terhadap penyimpangan membutuhkan pengertian tentang penyimpangan bagi penyimpang. di mana penyimpangan itu adalah terlarang bila diketahui dan mendapat sanksi. bukan menyetujui apa yang dipahami oleh penyimpang. Dasar pengakategorian penyimpangan didasari oleh perbedaan perilaku. Tidak satu teknik pun yang menjamin bahwa penyimpang dapat hidup di dunia yang menolaknya.S. Penyimpangan biasanya dilihat dari perspektif orang yang bukan penyimpang.Hal yang relevan untuk memahami bentuk perilaku mengapa seorang pelajar melakukan penyimpangan. absolut. Untuk menghargai penyimpangan adalah dengan cara memahami. Penyimpangan secara normatif didefinisikan sebagai penyimpangan terhadap norma. tetapi terkadang pada kebanyakan orang tidak menjadi berwujud penyimpangan. reaktifis. mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian.(Jokie M. Jumlah dan macam penyimpangan dalam masyarakat adalah relatif tergantung dari besarnya perbedaan Penyimpangan adalah relatif terhadap norma suatu kelompok atau masyarakat. Karena norma berubah maka penyimpangan berubah. Perbedaan yang menonjol dari keempat sudut pandang pendefinisian itu adalah pendefinisian oleh para reaktifis. 1988:26). Siahaan. sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. dan normatif.

Selanjutnya dalam pembahasan ini. maka norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Karena itulah dalam membahas perilaku penyimpangan pelajar. manipulasi aspek lingkungan fisik. rasionalisasi. Untuk mengetahui hubungan antara perilaku menyimpang pelajar dengan disorganisasi sosial.penyimpang adalah kerahasiaan. Tujuan Penulisan Berdasarkan latar belakang di atas. 2. Mengidentifikasi faktor-faktor pendorong timbulnya perilaku penyimpangan yang dilakukan para pelajar. . sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilakunya. kondisi kehidupan lingkungan tersebut akan sangat mewarnai dan mempengaruhi input dan pengetahuan yang diserap oleh setiap pelajar. yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah. penulis menitikberatkan pada pendekatan sistem. Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial dengan menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu. partisipasi dalam subkebudayaan menyimpang dan berubah menjadi tidak menyimpang. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah. maka tujuan penulisan ini adalah: 1. 2. Oleh sebab itu. istilah perilaku menyimpang diidentikkan dengan kenakalan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya para pelajar yang mengalami gejala disorganisasi sosial dalam keluarga misalnya.

Gumarso (1988 : 19). Singgih D. mengatakan dari segi hukum kenakalan pelajar digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum . sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan dianggap terjadi hal yang menyimpang atau “kenakalan”. Faktor-Faktor Pendorong Pada dasarnya perilaku menyimpang atau kenakalan pelajar adalah hal-hal yang dilakukan oleh pelajar sebagai individu dan yang tidak sesuai dengan norma-norma hidup yang belaku di dalam masyarakatnya. (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan . pernah membahas tentang normal tidaknya perilaku menyimpang atau perilaku kenakalan. Kartini Kartono (1988 : 93) mengatakan pelajar yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Emile Durkheim (Soerjono Soekanto. PERILAKU MENYIMPANG PELAJAR 1. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal atau jahat yaitu perilaku yang disengaja sehingga menimbulkan keresahan pada masyarakat. perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. dijelaskan bahwa dalam pemikiran perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal. dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat.B. 1985 : 73). Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat.

Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu . Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan . makin tinggi nilai mereka di mata temantemannya. Apabila timbul frustrasi. orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. maka pelajar kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik. orangtua para pelajar hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Di jaman sekarang. Kenakalan pelajar dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor. dan lain sebagainya. seperti : 1. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai. obat terlarang. 2. orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si pelajar saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Kawan Sepermainan Di kalangan pelajar. Namun jika si anak akan mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Oleh karena itu. Pendidikan Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak. Makin banyak kawan. Ketika anak memasuki usia sekolah terutama perguruan tinggi. anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya. memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Masih sering terjadi dalam masyarakat.hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.

waktu luang yang dimiliki pelajar dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa. jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. 3. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si pelajar. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya. bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang. hal ini tidak akan menimbulkan masalah. pada si pelajar akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut. tidak ada kegiatan.kekecewaan. Apabila si pelajar melakukan kegiatan yang positif. Namun. . Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para pelajar untuk menarik perhatian lingkungannya. Penggunaan Waktu Luang Kegiatan di masa pelajar sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah. Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan pelajar. frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. selain itu mereka bebas. akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Sebab. Sebab dalam masyarakat. Akhirnya ia terjerumus. ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Oleh karena itu.

para pelajar saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.4. kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa pelajar. sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang didapat. Pacar. sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. 5. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum. Uang Saku Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Perilaku Seksual Pada saat ini. Yaitu: 1. Jangan berlebihan. di kalangan pelajar kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Anak malas belajar. Akibatnya. Pelajar atau anak hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. anak hendaknya . Anak tidak menghargai uang. Anak menjadi boros 2. bagi mereka. dalam masa pacaran. Pemberian uang saku kepada pelajar memang tidak dapat dihindarkan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. Akibatnya. Para pelajar dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Oleh karena itu. dan 3. merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Namun. di jaman ini banyak pelajar yang putus sekolah karena hamil.

Hal ini dapat dilihat bahwa pada umumnya para pelajar yang mengalami gejala disorganisasi sosial seperti masalah dalam keluarga. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita. Mereka yang orang tuanya otoriter. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan agama dan aturan yang berlaku. Hubungan Perilaku Menyimpang Pelajar dengan DisorganisasiSosial.com/2008). yaitu : 1. sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilakunya. sering melakukan kenakalan khusus.maka norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat.diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. . Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah. Hubungan dengan sikap orang tua dalam pendidikan Salah satu sebab kenakalan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menilai ada tidaknya hubungan antara perilaku menyimpang atau kenakalan pelajar dengan disorganisasi sosial. Apabila usia makin meningkat. dan tidak memperhatikan sama sekali pendidikan anaknya. 2. Namun. . orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. terutama masalah dalam keluarga. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat. tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. pada dasarnya bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah. Perilaku pelajar sebagai individu yang dianggap menyimpang dan merupakan sebagai masalah sosial. (Masngudin HMS : wordpress.

Artinya banyak terdapat anak-anak pelajar yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh. artinya tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. yaitu pada kenakalan khusus. Namun jika dilihat dari keutuhan dalam interaksi. 3. baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga. seperti hubungan seks di luar nikah. menyalahgunakan narkotika. Jadi ketidak berfungsian keluarga untuk menciptakan keserasian dalam interaksi mempunyai kecenderungan anak pelajarnya melakukan kenakalan. serta menggugurkan kandungan. Karena pekerjaan orangtua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi. 2. . Artinya semakin tidak serasi hubungan atau interaksi dalam keluarga tersebut tingkat kenakalan yang dilakukan semakin berat. karena kesibukannya dalam pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. kasus pembunuhan. terlihat jelas bahwa yang melakukan kenakalan khusus berasal dari keluarga yang interaksinya kurang dan tidak serasi.ternyata peranan keluarga dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak. Hubungan dengan keutuhan keluarga Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap kenakalan pelajar. Hal ini perlu diketahui karena dalam keseharian orang tua terkadang tidak mampu dan melalaikan tugas sosial keluarga. guna memenuhi kebutuhan keluarganya. kumpul kebo. namun ketidakutuhan struktur keluarga bukan jaminan bagi anaknya untuk melakukan kenakalan. pemerkosaan. Hubungan dengan pekerjaan orang tua Untuk mengetahui apakah perilaku menyimpang atau kenakalan juga ada hubungannya dengan pekerjaan orangtuanya.

5. Hubungan dengan kehidupan beragama keluarga Kehidupan beragama keluarga juga merupakan salah satu ukuran untuk melihat hubungan perilaku penyimpangan pelajar dengan disorganisasi sosial dalam keluarga. Hal ini berarti bahwa bagi keluarga yang taat menjalankan kewajiban agamanya kecil kemungkinan perilaku anaknya menyimpang. berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik. akan terhindarkan. Dengan demikian ketaatan dan tidaknya beragama bagi keluarga sangat berhubungan dengan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. demikian juga sebaliknya. Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. dengan tetangga atau lingkungan sosialnya. Menurut teori Durkheim kenakalan pelajar disebabkan ketidak berfungsian sebuah organisasi yang dalam hal ini adalah organisasi keluarga.4. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik. yaitu menerapkan proses sosialisasi yang baik bagi anak-anaknya. Adapun yang diharapkan dari hubungan tersebut adalah serasi. maka anak-anaknyapun akan melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama. maka kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus. oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lingkungan sosialnya. baik kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan maupun kenakalan khusus. untuk itu solusi yang diambil yaitu memfungsikan kembali organisasi itu atau keluarga untuk mencegah tingkat . Apabila hal itu dapat diciptakan. karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan ketenteraman.

Berdasarkan kenyataan di atas. Penyimpangan biasanya dilihat dari perspektif orang yang bukan penyimpang. KESIMPULAN Berdasarkan analisis di atas. pengenalan agama lebih dini dan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. Pelajar yang demikian. jadi keberfungsian keluarga sangat menentukan masa depannya. besar kemungkinan untuk melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang. maka perlu kiranya orangtua menjaga dan mempertahankan keutuhan keluarga dengan mengoftimalkan fungsi sosial keluarga melalui programprogram kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan lingkungannya. Kenakalan pelajar dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor antara lain. maka untuk memperkecil tingkat perilaku menyimpang pelajar. (Soerjono Soekanto. apalagi kenakalan khusus. ditemukan bahwa perilaku menyimpang pelajar adalah kenakalan pelajar yang biasanya dilakukan oleh pelajar-pelajar yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya.kenakalan pelajar tersebut. banyaknya waktu luang. 2007:324). maka akan melakukan perilaku menyimpang atau kenakalan pada tingkat tertentu. Sebaliknya bagi keluarga yang harmonis dan utuh maka kemungkinan anak-anaknya melakukan perilaku menyimpang sangat kecil. dan pergaulan sex bebas. adanya pengaruh kawan sepermainan. Untuk menghargai penyimpangan adalah dengan cara memahami. kegagalan dalam pendidikan. pemberian uang saku yang berlebihan. bukan menyetujui apa yang dipahami oleh penyimpang. baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Dan pada dasarnya keluarga memang adalah organisasi pertama sebagai pembentuk watak dan kepribadian anak atau pelajar. . Demikian juga dari adanya disorganiasi sosial dalam keluarga yang dialami oleh pelajar. C.

1988. _______________. Jakarta. Kartini. Rajawali. Soerjono Soekanto. Praktek Pekerjaan Sosial I. 1985 Perubahan Sosial. STKS . 2007. _________________. Sosiologi Penyimpangan. Mandar Maju. Psikologi Anak. Bandung. Bandung. . 1992. Jakarta. Kartono. Jakarta. Gunarsa. Psikologi Pelajar. Kenakalan Pelajar. .Daftar Pustaka Achlis. Jakarta. Sosiologi Suatu Pengantar.1986. Jakarta. Rajawali. Rajawali. 1988. Singgih D. 2007. BPK Gunung Mulya. _______________. Raja Grafindo Persada. Psikologi Sosial 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful