SEJARAH

DOGMA

TENTANG

DOSA

DAN

KESELAMATAN PADA GEREJA LAMA (ISTIMEWA AUGUSTINUS DAN PELAGIUS)
SEJARAH DOGMA TENTANG DOSA DAN KESELAMATAN PADA GEREJA LAMA (ISTIMEWA AUGUSTINUS DAN PELAGIUS) 1. PENDAHULUAN Berbicara mengenai sejarah dogma tentang dosa dan keselamatan pada Gereja Lama, maka pasti akan berbicara mengenai paham-paham tentang dosa yang dianut oleh para tokoh Kristen pada masa Gereja Lama tersebut. Jika mengulas semua paham yang dianut oleh para Bapa Gereja, maka akan ditemukan perdebatan-perdebatan mereka tentang ajaran dosa dan keselamatan. Sebut saja dari mereka yang berdebat adalah Augustinus dan Pelagius. Dua tokoh ini sangat banyak mempengaruhi perkembangan iman Kekristenan pada abad-abad berikutnya. 2. PENGERTIAN UMUM 2.1 TENTANG DOSA Alkitab menggunakan beraneka macam istilah untuk dosa. Istilah paling lazim dalam Perjanjian Lama (PL) adalah ‘khatta’ [pelanggaran] (Keluaran 32:30). Kata ini muncul ratusan kali dalam Perjanjian Lama dan mengungkapkan pikiran yang memilih jalan sesat. Istilah lain yang dipakai adalah pesya (pemberontakan) yaitu memberontak terhadap kekuasaan yang sah (1 Raja 12:9; 2 Raja 8:20) atau pemberontakan terhadap hukum-hukum Tuhan (Hos. 8:1), dan awon [perbuatan tidak senonoh] ( 1 Raja-Raja 17:18 ).[1] Awon mengacu pada rasa bersalah yang dihasilkan dosa. Secara umum dalam PL, dosa itu dimengerti sebagai “ketidaktaatan” umat Allah kepada Allah.

Lebih dalam lagi dosa dalam PL sering diartikan sebagai kehilangan (Kel. 20:20 ; Ams. 8:36). Artinya manusia kehilangan tujuannya atau tidak mencapai tujuannya, sebab ia tidak memperhatikan peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan. Selanjutnya, dosa disebut juga sebagai “bengkok, keliru, menyimpang dari jalan“. Artinya ada kesengajaan melakukan dosa dan pelanggaran tersebut.[2] Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pengertian dosa dalam PL dikategorikan menjadi empat kelas yaitu: (1) penyimpangan dari jalan yang benar; (2) perubahan penyebaran status (berdosa); (3) pemberontakan melawan yang lebih baik atau ketidakpercayaan pada perjanjian; (4) beberapa karakterisasi kualitas tindakan itu sendiri.[3] Di dalam Perjanjian Baru (PB) kata utama untuk dosa adalah ‘hamartia’ (Matius 1:21). Kata ini mempunyai makna tidak kena sasaran dan meliputi gagasan kegagalan, salah dan perbuatan jahat. ‘Adikia’ (1 Korintus 6:8) berarti ketidakjujuran atau ketidakadilan. ‘Parabasis’ (Roma 4:15) mengenai pelanggaran hukum. ‘Asebeia’ (Titus 2:12) mengandung arti kuat mengenai tidak mengenal Allah, sedangkan ptaisee lebih berarti tergelincir secara moral (Yakobus 2:10). Dosa itu juga disebut sebagai pelanggaran hukum Allah (1 Yoh. 3:4), atau menurut aslinya: anomia, yaitu perbuatan yang tanpa kasih (1 Yoh. 4:8) atau kejahatan (1 Yoh. 5:17). Ungkapanungkapan yang lain ialah: ketidaktaatan, ketidaksetiaan, tidak percaya, dan lain sebagainya. Semua ungkapan itu menunjukkan, bahwa ada sesuatu yang hilang karena dosa.[4] Aspek yang paling khas dari dosa adalah bahwa dosa bertujuan melawan Allah (bandingkan dengan Mazmur 51:6; Roma 8:7; Yakobus 4:4). Setiap usaha untuk mengurangi ini, misalnya dengan mengartikan dosa sebagai sifat mementingkan diri, sangat meremehkan kegawatannya. Ungkapan dosa yang paling jelas ialah saran Iblis bahwa manusia dapat merampas tempat Penciptanya, “kamu akan menjadi seperti Allah…” (Kejadian 3:5). Dalam peristiwa kejatuhan, manusia berusaha meraih persamaan dengan Allah (bnd. Flp. 2:6), mencoba memberlakukan kemerdekaan dari Allah serta mempertanyakan integritas Sang Pencipta dan pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Ia memberi penghormatan kepada musuh Allah dan juga memperhatikan ambisi-ambisinya sendiri.

baik rohani maupun jasmani. Kata ini bernada positif. 2:20. demikian juga dalam PB. Yahweh akan memberikan syalom kepada Israel setelah penghukuman (Yer. Konsep keselamatanan yakni keadaan selamat dan damai sejahtera (soteria dan eirene) yang dianugerahkan Allah kepada manusia dihubungkan secara . 29:11. Dalam arti absolut. 8:9). keselamatan itu dipahami sebagai “rahmat” saja. subur).[5] Syalom itu merupakan sesuatu yang kongret. syalom mencakup segala sesuatu yang berupa kebahagiaan manusia seluruhnya dan seutuhnya. 18:23.[6] Dalam kitab-kitab Nabi. Syalom juga diartikan dengan kesehatan (Kej. keadaan yang menguntungkan (2 Sam. bahkan seluruh alam di sekitarnya ikut dan termasuk dalam keadaan bahagia itu (Hos. 11:31). istilah keselamatan belum mempunyai sebuah istilah teknis-teologis.13. 11:7 = syalom perang: keadaan perang yang menguntungkan). Yes. Yesaya menghubungkan syalom dengan “Raja Selamat” (Yes. 57:19). Hak. Yes. Kata Ibrani syalom tersebut belum menjadi istilah teknis-teologis. 29:6). 54:10. Istilah syalom begitu kaya akan arti sehingga hampir tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa lain.[7] Sama seperti dalam PL.2 TENTANG KESELAMATAN Dalam teologi Kristen ajaran tentang keselamatan ini beraneka ragam. baik sebagai orang perorangan maupun sebagai persekutuan (Kel. Kata yang paling sering dipakai sehubungan dengan apa yang dimaksud dengan “keselamatan” ialah soteria (penyelamatan). 122. 76. Bagi kalangan Skolastik. mengungkapkan sesuatu yang baik. Yehezkiel menyebutkan syalom sebagai unsur dari “Kerajaan Selamat” di mana binatang buas tidak lagi merupakan hal yang menakutkan manusia. PL sering menggambarkan keadaan manusia yang selamat atau dirahmati itu dengan keadaan “damai sejahtera” (syalom). khususnya umat Israel (1 Raja 5:4) serta pusatnya Yerusalem/Sion (Mzm. 9:5). kesuburan (Za. syalom itu mengandung perspektif masa depan yang besar. Kata soteria mempunyai konotasi negatif (penyelamatan dari sesuatu yang buruk) dan pertama-tama menunjuk kepada tindakan yang menyelamatkan dari yang buruk itu. 8:12: syalom dalam benih: yaitu benih tumbuh dengan baik.2. 125). yang dapat diraba dan dilihat. 11:6-9). sedangkan para Reformator melihat keselamatan itu bukan hanya berfokus pada rahmat saja namun melihat keselamatan itu lebih dalam dan luas dengan mengambil perspektif “pembenaran”.

2:29-32). namun ia ingin pergi ke Roma karena yakin bahwa di sanalah para ahli retorika yang terbaik dan paling cerdas berlatih. Patricius seorang kafir. yang dirasakannya . sehingga dia merasa damai sejahtera (eirene) untuk mati (Luk. Di Karthago ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang selama lebih dari sepuluh tahun dijadikannya sebagai istri gelapnya. dalam Manikheisme ada unsur gnostis yang menyatakan bahwa penyelamatan manusia dikarenakan pengetahuan yang khusus. dan dibaptiskan di Italia. Ia mengajar di Tagaste dan Karthago. Keyakinan ini sudah nyata dalam cara Simeon menyalami bayi Yesus. yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Kedua. Pada masa mudanya. Keselamatan itu malah mencakup alam semesta. yakni sebagai “keselamatan (soteria) yang dari Allah”. Keselarasan antara kelompok-kelompok dan golongan itu pada dasarnya merupakan hasil karya Kristus. seni persuasi dan bicara di depan publik.3 SEKILAS TENTANG AUGUSTINUS[10] Augustinus anak tertua dari Monika lahir pada 13 November 354 di provinsi Numidia (sekarang meliputi kawasan Aljazair dan Tunisia) di kota kecil yang bernama Tagaste (sekarang Souk Ahras di Aljazair Timur). 2. Namun demikian Augustinus kemudian kecewa dengan sekolah-sekolah di Roma. tetapi juga antara kelompok-kelompok manusia. namun Augustinus mengikuti agama Manikhean[11]. Konsep keselamatan dalam PL digenapi dalam PB di dalam diri Yesus Kristus. ayahnya.[9] Keselamatan (damai-sejahtera) tidak hanya mencakup hubungan antar manusia secara perorangan. Ibunya seorang Katolik yang saleh. Artinya: keselamatan mempunyai dimensi politis. Ia dibesarkan dan dididik di Karthago.tegas dengan diri Yesus Kristus dan dengan karya Roh Kudus. Augustinus hidup dengan gaya hedonistik. Ada beberapa hal yang membuat Augustinus tertarik pada ajaran Manikheisme yaitu: Pertama.[8] Artinya sifat keselamatan itu mendapat arti lebih dalam dibandingkan dalam PL. sebuah kota di Algeria Afrika Utara yang merupakan wilayah Romawi saat itu. sehingga mempunyai ciri kosmis. Manikheisme merupakan aliran agama dualistis yang bertitik tolak dari dua kerajaan yang sama kuat kekuasaannya. Pendidikan dan karier awalnya ditempuhnya dalam filsafat dan retorika. Keselamatan itu juga menyangkut hubungan timbal-balik antara Allah dan manusia.

Ambrosius adalah seorang jagoan retorika seperti Augustinus sendiri. Pemuda dari desa ini mendapatkan pekerjaan itu dan berangkat ke utara untuk menerima jabatan itu pada akhir tahun 384. Sahabat-sahabatnya yang beragama Manikheanis memperkenalkannya kepada kepala kota Roma. dan studi-studinya yang lain. setelah membaca riwayat hidup St. Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam bukunya yang terkenal Pengakuan-pengakuan Augustinus (Confessiones) yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra . Augustinus mendapatkan kedudukan akademik yang paling menonjol di dunia Latin. Simakhus. bahwa seorang pengemis mabuk yang dilewatinya di jalan ternyata hidupnya tidak begitu diliputi kecemasan dibandingkan dirinya. membuat Augustinus beralih dari Manikheanisme. Sebuah pengalaman penting yang mempengaruhi pertobatannya ini adalah suara dari seorang gadis kecil yang didengarnya pada suatu hari menyampaikan pesan kepadanya melalui sebuah nyanyian kecil untuk “Ambillah dan bacalah” (tolle. Ia meninggalkan kariernya dalam retorika. yang telah diminta untuk menyediakan seorang dosen retorika untuk istana kerajaan di Milano. namun lebih tua dan lebih berpengalaman. dan mengatakan bahwa selama beberapa waktu ia merasakan bahwa ia benar-benar mengalami kemajuan di dalam pencariannya. Augustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Pada usia 30 tahun. Pengaruh uskup Milano. Ambrosius. Pada musim panas tahun 386. tetapi ia malah mengambil pendekatan Neoplatonis kafir terhadap kebenaran. Namun demikian. sangat banyak mempengaruhi hidupnya.menyedihkan. Antonius dari Padang Pasir yang sangat memukaunya. Augustinus merasakan ketegangan dalam kehidupan di istana kerajaan. Suatu hari ia mengeluh ketika sedang duduk di keretanya untuk menyampaikan sebuah pidato penting di hadapan kaisar. Pengaruh khotbah-khotbah Ambrosius. meskipun pada akhirnya ia justru menjadi seorang skeptik. termasuk selibat. dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Allah dan praktik imamat. melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano. Namun bukannya menjadi Katolik. pada saat ketika kedudukan demikian memberikan akses ke jabatan-jabatan politik. Pada saat itu ia membuka Alkitab dengan sembarangan dan menemukan sebuah ayat dari Paulus. lege) Alkitab.

di Aljazair). sehingga ia praktis sendirian di dunia tanpa keluarga. Yang ada sekarang harus ditinggalkan bukan diperbaharui. Dengan demikian pemikiran Augustinus sangat Platonis. Sepanjang hidupnya Augustinus banyak menulis. dan suatu kumpulan dialog filosofis. Dalam perjalanan ke Afrika ibunya meninggal. Ia menjadi seorang pengkhotbah terkenal (lebih dari 350 khotbahnya yang terlestarikan diyakini otentik). dan (2) Gereja yang tidak kelihatan . dan dicatat karena melawan ajaran sesat Manikheanisme. De Trinitate terdiri dari lima belas buku. Proses mengalahkan kerajaan dunia menjadi kerajaan Allah disebut dengan masa pengembaraan (Civitas Penegerire). Kota Allah akan mengalahkan kota dunia. Bagi Agustinus gereja terdiri dari dua bagian yaitu: (1) Gereja yang kelihatan (Visible Church) – gereja yang tidak sempurna – yang penuh cacat dan cela. Pada 391 ia ditahbiskan menjadi seorang imam di Hippo Regius. (kini Annaba. Di dalamnya diceritakan riwayat hidup sampai pertobatannya. imam praja yang hidup dengan aturan-aturan biara. dan tak lama kemudian anak laki-lakinya. ia membangun sebuah biara di Tagaste untuk dirinya sendiri dan sekelompok temannya. Ia meninggalkan biaranya. di mana ia meninjau kembali karya literernya.dunia. khotbah-khotbah. dan tak lama sesudah itu pada 388 ia kembali ke Afrika. Tulisannya yang berjudul Confessiones ditulisnya sebelum tahun 400. namun tetap menjalani kehidupan biara di kediaman resminya sebagai uskup. Kota Dunia adalah kerajaankerajaan dunia ini. Ambrosius membaptiskan Augustinus pada hari Paskah pada 387.” artinya. Karya besarnya yang lain adalah De Civitate Dei (Kota Allah) dan De Trinitate (Trinitas). Pada 396 ia diangkat menjadi pendamping uskup di Hippo dan tetap sebagai uskup di Hippo hingga kematiannya pada 430. Dua belas buku berikutnya menguraikan tentang perjuangan kota Allah (Civitas Dei) dengan kota dunia (Civitas Terrena). Artinya Civitas Dei bukan turun ke dunia. Sepuluh buku pertama menguraikan tentang iman Kristen. De Civitate Dei terdiri dari 22 buku. Setelah kembali ke Afrika Utara. khususnya kekaisaran Roma. Ia meninggalkan sebuah Buku Aturan (bahasa Latin Regula) untuk biaranya yang membuat ia digelari sebagai “santo pelindung dari rohaniwan biasa. yang pernah dianutnya. Tidak lama sebelum kematiannya ia menerbitkan bukunya yang berjudul Retractations. Sebagian besar merupakan kumpulan surat-surat.

meskipun tidak ada bukti bahwa ia terkait dengan ordo monastik manapun (gagasan tentang komunitas biara masih agak baru pada zamannya.’ Kutipan ini membuat Pelagius prihatin karena tampaknya di sini Augustinus mengajarkan doktrin yang bertentangan dengan pemahaman-pemahaman Kristen tentang anugerah dan kehendak bebas. 2. . tempat kelahirannya yang pasti tidak diketahui.” “Eclogarum ex divinis Scripturis liber primus. Pengakuan-pengakuan. dan mengubah manusia menjadi robot saja. Malangnya. Ia menjadi lebih terkenal sekitar tahun 400 ketika ia pindah ke Roma untuk menulis dan mengajar tentang praktik asketisismenya. kebanyakan dari karya-karyanya bertahan hanya dalam kutipan-kutipan oleh lawan-lawannya. Ia mempersalahkan hal ini pada teologi anugerah ilahi yang diajarkan. ‘Berikan kepadaku apa yang Engkau perintahkan. orang lebih lazim mempraktikkan asketisisme sendiri) atau bahwa ia ditahbiskan menjadi imam. Di sana Pelagius menyebarkan ajaran-ajarannya serta mendapat banyak pengikut.” dan “Commentarii in epistolas S. Jenazahnya kemudian dibawa ke Pavia di Italia Utara. Ketika Alarik bersama suku bangsa Goth Timur mengepung kota Roma pada tahun 410. Pauli. Pelagius dan pengikutnya yang terdekat Coelestinus melarikan diri ke Karthago.[12] Augustinus meninggal dan dikebumikan pada 28 Agustus 430 di Hippo akibat kekejaman bangsa Vandal.4 SEKILAS TENTANG PELAGIUS[13] Pelagius dilahirkan sekitar 354. Gereja yang kelihatan adalah bayangbayang dari gereja yang tidak kelihatan. Lengan kanannya yang seumur hidupnya menulis dan memberkati. Di sana ia menulis sejumlah karya penting — “De fide Trinitatis libri III. dan perintahkan kepadaku apa yang Engkau inginkan. dan di sana ia melanjutkan karyanya dan berjumpa dengan Augustinus secara pribadi. Di Roma.(Invisible Church) – gereja yang sempurna atau ideal. Bahkan Coelestinus sempat ditahbiskan menjadi presbiter di Karthago. antara lain. Pada umumnya disepakati bahwa ia dilahirkan di Britania. oleh Augustinus. konon Pelagius mendengar sebuah kutipan dari karya Augustinus. Ia disebut sebagai “biarawan” oleh orang-orang sezamannya. disimpan dan dihormati di katedral Hippo. namun di luar itu.” sebuah tafsiran atas surat-surat Paulus. Sekitar tahun 405. Pelagius merasa prihatin tentang kehidupan moral masyarakat yang kendur.

seorang uskup yang cakap sekali. Gnostisisme menekankan bahwa penciptaan Adam sebagai gambar Allah tidak melingkupi kesempurnaan etisnya tetapi hanya kesempurnaan moral di dalam kodratnya. Irenaeus berpendapat bahwa tujuan umum dari ciptaan dan peran sang penebus adalah membawa semua makluk ciptaan yang tidak sempurna ini pada kesempurnaannya. dengan munculnya ajaran Pelagius dan Augustinus. Pengertian seperti ini akan menyingkirkan dosa dari karakter etisnya. Hal paling penting diperhatikan adalah praktek Kekristenan. karena itu pula ia mudah disesatkan oleh pendusta. Gagasan Origenes tentang pra-eksistensi jiwa ditolak Gereja tetapi penekanannya atas kejatuhan sebagai sumber ketidaksempurnaan manusia diterima. maka permasalahan lain yang muncul di Gereja Barat adalah perdebatan tentang dosa dan anugerah. 3.[15] Origenes berusaha menjelaskan pengertiannya dengan menggunakan teori pra-eksistensinya. Perilaku mereka atas pekerjaan penebusan lebih diutamakan daripada permasalahan Kristologi itu sendiri. Artinya pertemuan antara jiwa manusia dan materi segera dianggap sebagai dosa. maka jiwa itu sudah berdosa. Namun ajarannya hidup terus di bawah pimpinan Julianus dari Eclanum. Bagi Origenes kejatuhan pra-historis itu bukan hanya menerangkan . tetapi ini bukanlah dosa itu sendiri dan juga bukan termasuk dosa seluruh umat manusia.Pelagius meninggal dunia barangkali tahun 419.[14] Pandangan mereka atas dosa sangat dipengaruhi oleh perlawanan mereka terhadap Gnostisisme yang mengganggap bahwa kejahatan melekat pada materi dan penolakan atas kehendak bebas. Mereka juga memahami bahwa tidak ada dosa asli. SEJARAH DOGMA TENTANG DOSA DAN KESELAMATAN PADA GEREJA LAMA Ketika perdebatan Kristologi masih merisaukan Gereja Timur. kehendak bebas dan predestinasi. Dengan diciptakan menurut citra Allah. Namun mereka juga menghadapi dualisme pandangan tentang dosa dan anugerah yang membawa kebingungan lebih besar. Ia merumuskan ajaran-ajaran Pelagius dengan sangat sistematis. Kejahatan tubuh (materi) semakin bertambah di dalam manusia. pengertiannya belumlah sempurna. manusia belum sempurna seperti Allah. Perhatian utama pada Bapak Gereja sebenarnya adalah mengenai Teologi dan Kristologi. Irenaeus berpendapat bahwa manusia adalah anak-anak. Menurut Origenes jiwa-jiwa manusia sudah berdosa dalam masa pra-eksistensi dan ketika jiwa itu masuk ke dalam dunia.

Menurutnya. Kekuatan Allah bekerjasama dengan kehendak manusia dan memampukan manusia menjauhi setan dan melakukan kehendak Allah. tradux peccati. artinya perkembangan jiwa meliputi penyebaran dosa. keturunan mereka “tidak lagi hidup di dalam Firdaus. tetapi mengalami kesengsaraan hidup di luar Firdaus. bukan suatu peristiwa pra-historis.[16] Origenes yang terpengaruh filsafat Yunani tidak melihat adanya hubungan antara dosa Adam dan dosa keturunannya. bukan berarti dia tidak dapat mati tetapi dia memiliki kesanggupan untuk hidup yang kekal. tetapi merupakan sesuatu penyangkalan atau keadaan yang serba kurang. Manusia diciptakan untuk kekal. dan karena itu setiap individualisasi dari kodrat itu juga berdosa.[17] Tertullianus mengajarkan bahwa keadaan kita yang berdosa adalah akibat dari kejatuhan Adam. karena itu seluruh manusia berdosa ketika Adam berdosa dan menjadi tercemar karena Adam tercemar. Tetapi dia .keterbatasan kefanaan manusia. Kehendak bebas manusia melakukan inisiatif untuk mendapatkan keselamatan. selanjutnya mati dan hancur.1 TENTANG DOSA Augustinus tidak memandang dosa sebagai sesuatu yang positif. Oleh karena dosa Adam dan Hawa. AJARAN AUGUSTINUS 4. keadaan manusia dari posse non peccare et mori (mampu untuk tidak berdosa dan mati) dia akan melewati keadaan non posse peccare et mori (tidakmampu untuk berdosa dan mati). memandang kisah kejatuhan dalam Kejadian sebagai suatu peristiwa historis. Mereka lebih menekankan kehendak bebas daripada anugerah itu sendiri.[19] 4. Pendapat Athanasius yang ditulisnya dalam The Incarnation of the Word of God. Tertullianus menyatukan ajaran Tradusianisme dengan teori realisme. melainkan juga realitas keberdosaan manusia: “Semua manusia menurut hakikatnya sangat jelas cenderung berdosa”. Akan tetapi doktrin tentang dosa Adam yang mengakibatkan dosa seluruh keturunannya sama sekali belum pernah mereka sebutkan. Tradux animae. Artinya keseluruhan umat manusia secara potensial dan numerik ada dalam diri Adam.[18] Tentang ajaran anugerah dan keselamatan sebenarnya para Bapa Gereja masih banyak dipengaruhi oleh konsepsi dosa. namun pekerjaan manusia itu sendiri tidak sempurna tanpa bantuan anugerah. Dalam peribahasanya yang terkenal. Kodrat manusia secara keseluruhan berdosa di dalam Adam.

4. yang hanya mendapat kebebasan manakala dibebaskan oleh rahmat ilahi: . adalah tema pokok dari Kitab Kesepuluh yang sudah mengimplikasikan bahwa hukum itu sendiri adalah tidak memadai untuk mengubah hati. Dan Allah menyatakan kasih-Nya kepada beberapa jumlah manusia dari antara mereka itu semuanya. Tak satu pun perbuatan manusia yang dapat mematahkan belenggu dosa. karena kasih karunia-Nya semata-mata.[20] Augustinus menggambarkan dosa sebagai yang hakiki melekat pada keberadaan manusia. Oleh karena itu kutuk Allah ada padanya dan hidupnya menuju kepada maut yang kekal. Siapa saja yang dipilih tentu selamat. “Lakukanlah apa yang engkau perintahkan. bukan opsional. Sebab bagaimanapun orang yang dipilih akhirnya akan bertobat. Di dalam ajaran Augustinus ini semua manusia dipandang sebagai telah dalam alam kebinasaan.[21] Augustinus mengajarkan bahwa manusia setelah Adam jatuh ke dalam dosa telah menjadi “kaum kebinasaan”. Manusia dengan cara dan kemampuannya sendiri tidak pernah dapat masuk ke dalam suatu hubungan dengan Allah. sekalipun ia mungkin melakukan dosa yang besar. Manusia telah berada di dalam lumpur kebinasaan. Akan tetapi Tuhan Allah. Jadi nasib kekal manusia telah ditentukan sebelum ia dilahirkan. [22] Pemilihan Allah atas sejumlah manusia untuk diselamatkan inilah yang disebut predestinasi (dari pre = sebelumnya. dari keberadaan kita. dan destinatio = ketentuan. Augustinus dalam proses pertobatannya sendiri menyatakan kelemahan kehendak. keputusan atau juga tujuan).2 TENTANG KESELAMATAN Buku Confessiones membahas banyak hal tentang keterbatasan kebebasan manusia dan perlunya rahmat ilahi. sedang sisanya dibiarkan dalam kebinasaannya atau dalam lumpur kebinasaan itu. Jadi di dalam predestinasi ini kasih Allah terhadap para orang yang dipilih tampak bersinar-sinar. telah memilih sejumlah manusia tertentu untuk diselamatkan. Tiada seorangpun yang dapat menentang/menggagalkan pilihan Allah ini. artinya: ia sudah menjadi budak dosa dan tidak dapat berbuat baik lagi. Karenanya Allah turut campur dalam dilema manusia. dan perintahkan apa yang engkau inginkan”.berdosa dan konsekuensinya memasuki keadaan non posse non peccare et mori (tidakmampu untuk tidak berdosa dan mati). Dosa merupakan suatu aspek yang integral.

Augustinus menekankan bahwa sumber keselamatan itu terletak di luar manusia.1 TENTANG DOSA Pelagius mengajarkan. Kuasa dosalah yang disebut “dosa asal”. membelenggu dan memperbudak manusia. Secara harafiah manusia berada dalam kuasa setan.Tetapi Kau. Tindakan Allah itulah yang oleh Augustinus disebut “rahmat”. hanya mengukuhkan saja perbudakannya terhadap dosa. Tiada dosa turunan misalnya: tidak ada dosa yang diwariskan dari generasi dari keturunan .1)[23] Pandangan Augustinus tentang keselamatan (rahmat) hanya dapat dipahami kalau mengingat pandangannya mengenai dosa. bahwa setelah Adam jatuh ke dalam dosa tabiat manusia masih tetap baik.[24] Dengan demikian. Augustinus melihat rahmat sebagai pengaruh langsung dari Allah dalam hati dan jiwa manusia yang dikuasai dosa. melainkan merupakan sesuatu yang harus diperbuat untuk kita. yakni sebagai suatu kuasa yang mengurung. Allah yang empunya inisiatif untuk melakukan proses penyelamatan itu. biarpun perbuatan konkret itu dilakukannya secara bebas dan atas tanggung jawab sendiri. Dan. Hal itu bukanlah sesuatu yang dapat kita raih dengan usaha kita sendiri. Dari dalam kebebasan cinta kasih-Nya Allah masuk ke dalam hati manusia dan mengubahnya secara radikal. Engkau baik dan penuh kemurahan. Yang diperlukan ialah supaya aku tidak menghendaki apa yang kuhendaki dan supaya kuhendaki apa yang dikehendaki oleh-Mu. di dalam Allah sendiri.[25] 5. Kauduga dengan tangan-Mu dan Kaulihat kedalaman kematianku dan dari dasar hatiku Kaukosongkan jurang kerusakan. Allah memang membebaskan manusia dari “lingkaran setan” itu. Namun. apa saja yang secara konkret diperbuat oleh manusia.9:1. bukan manusia. manusia sudah masuk ke dalam lingkaran setan yang mengurungnya. Istilah rahmat dipakainya karena tindakan Allah itu bukan karena jasa atau hak manusia. Dari dirinya sendiri manusia tidak dapat keluar dari lingkaran ini. Yang dapat menyelamatkan manusia dari kuasa dosa itu hanyalah Allah. ya Tuhan. Artinya. Karena dosa Adam. melainkan semata-mata karena anugerah bebas dari Allah yang diberikanNya dengna cuma-cuma. di mana kemauanku yang bebas itu selama sekian tahun dan dari dasar tempat perasingan dalam yang manakah kemauanku itu dipanggil dalam sekejap …? (Co. AJARAN PELAGIUS 5.

tetapi dalam keadaan moral yang seimbang. kecuali bahwa mereka dihalangi oleh contoh buruk yang mereka lihat di sekitar mereka. Sejauh dosa hanya terkait pada tindakan yang terpisah dari kehendak manusia.[26] Manusia dilahirkan seperti kertas putih yang masih belum ditulis. Anak-anak dilahirkan dalam keadaan netral. Keputusan ini tidak tergantung pada karakter moral manusia. Masa depan mereka harus ditentukan oleh pilihan bebas mereka. Tetapi dosa dilihat sebagai peniruan dan menjadi . Pelagius memulai dari kemampuan alamiah manusia. juga tidak ada karakter dosa. Jika memang kodrat manusia yang berdosa memang ada. atau yang jahat. Hal ini berarti bahwa manusia memiliki kehendak bebas dalam arti kata yang mutlak. Oleh karena itu manusia dengan amal-amal dan kebajikannya tentu dapat mendapatkan keselamatan. Baik dan jahat ditempatkan pada tindakan manusia yang terpisah. Bahwa manusia dalam kenyataannya berdosa. sebab semua pengalaman mengakui akan hal itu. Pernyataan dasarnya adalah: Allah telah memerintahkan manusia melakukan apa yang baik. Apakah manusia akan melakukan apa yang baik atau jahat tergantung pada apapun. Dari sini tentu saja kemudian muncul bahwa perkembagan moral individual itu sebenarnya tidak ada. karena itu manusia harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. gagasan tentang perkembangan dosa melalui kelahiran adalah absurd. Dosa selalu merupakan pilihan berbuat jahat kehendak yang sepenuhnya bebas dan kehendak ini juga bisa memilih untuk melakukan kebaikan. dan memberikan pengajaran PL serta ajaran dan teladan Tuhan Yesus Kristus. sehinga ia mungkin memutuskan untuk melakukan sesuai atau bertentangan dengan apa yang baik dan juga melakukan apa yang baik. hal itu disebabkan karena contoh-contoh yang tidak baik dari dunia sekitarnya. akan tetapi ia lebih memilih kejahatan dan karena itu ia berdosa. Tidak ada dosa asal. Akan tetapi jika memang demikian. Keadaan Adam adalah keadaan moral yang netral. tetapi pada kehendaknya. mungkin saja diturunkan kepada keturunannya.pertama kepada keturunan generasi mendatang sehingga mereka mendapatkan hukuman. maka kesimpulannya adalah bahwa Adam tidak diciptakan dalam keadaan kesucian yang sempurna. dan karena itu tidak memiliki karakter moral. Ia tidak baik. juga tidak jahat. dimulai sejak Adam. Dosa bukan terletak pada tabiat manusia. bahwa Ia memberikan kehendak yang bebas kepada manusia.[27] Pandangan Pelagius tentang dosa sangat berbeda sekali dengan konsep Alkitab dan juga pandangan Augustinus. Tidak ada kodrat manusia yang berdosa. sebab kehendak sama sekali tidak menentukan. Universalitas dosa diakui. Kasih karunia Allah kepada manusia terdiri dari hal ini.

Keselamatan manusia berdasarkan keputusannya sendiri. . dua-duanya kemudian menjadi pemimpin religius dengan kekuatan rohani yang amat besar. Allah bergantung kepada kehendak dan keputusan manusia. Sebenarnya manusia tidak perlu binasa. tentang keselamatan atau kebinasaan. sebab Allah berkehendak bahwa semua orang diselamatkan (1 Tim. ditambah dengan teladan Yesus. 2 :4 . Pelagius kemungkinan besar datang ke sana untuk mengejar karier duniawi. Lalu manusia bebas untuk memutuskan apakah mau percaya atau tidak.1 PERTIKAIAN TENTANG DOSA Ketika Augustinus dan Pelagius tiba di Roma pada dasawarsa 380-an. Namun.kebiasaan berdosa. Anugerah berarti bahwa Allah memberikan kepadanya kemampuan untuk hidup baik. biar Allah mengetahui keputusan manusia sebelumnya. Dari belakang Allah memilih orang yang sudah memutus untuk percaya. Si manusia harus dapat kesempatan memilih secara bebas lebih dahulu: menerima atau menolak keselamatan. Pelagius dari Inggris. Keduanya dari Provinsi.[28] 5. Tidak ada pembuangan sebagai keputusan kekal. Augustinus dari Thagaste di Afrika Utara. Asal manusia diajak dan didorong dengan cukup kuat. tetapi hanyalah tindakan-tindakan dosa yang terpisah-pisah. PERTIKAIAN AUGUSTINUS DAN PELAGIUS TENTANG DOSA DAN KESELAMATAN 6. manusia sendiri bertabiat yang sehat. Lebih dalam Pelagius berpendapat bahwa anugerah Allah berarti bahwa Allah hanya membuka kemungkinan keselamatan bagi manusia.[29] Jadi manusia sendirilah yang memutuskan tentang kepercayaan dan keselamatannya (free will)! Keputusan Allah tergantung kepada keputusan manusia. 1 Yoh. maka ia akan percaya. Sama seperti Augustinus. mereka mempunyai banyak kesamaan. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dari sudut Pelagius sebenarnya tidak ada orang berdosa. Kehidupan rohani manusia melebihi kuasa Allah.2 TENTANG KESELAMATAN Menurut Pelagius. Kehendak manusia itu bebas untuk memutus tentang percaya atau menolak. 1 :10). Semua orang bisa menjadi percaya. 6.

melainkan dikaruniakan semata-mata oleh rahmat Tuhan saja. Inilah ajaran Paulus yang hampir tak diingat lagi pada masa itu. namun tradisi pertobatan radikal kepada kehidupan Kristen yang sejati dalam pengabdian dan kesempurnaan. 5:12). Lebih dalam Augustinus berpendapat bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dengan sempurna. Tuhan mengajak dia berbuat yang baik saja. meskipun Gereja pada akhir abad keempat berkembang pesat dari agama minoritas yang dianiaya menjadi agama negara. Ia jatuh ke dalam dosa oleh salahnya sendiri. Augustinus membuka matanya terhadap kebenaran Injili. Itulah sebabnya Adam dapat tidak berdosa. Anehnya. . pertolongan rahmat telah hilang. Inilah ajaran “predestinasi” (artinya: tujuan hidup atau nasib kekal manusia sudah ditentukan atau ditakdirkan oleh Tuhan sebelum manusia lahir). yaitu bahwa iman bukanlah suatu perbuatan atau jasa dari manusia sendiri. atau harus berdosa saja. Segenap umat manusia tak lain daripada suatu “kaum kebinasaan”. Sekarang ia dikuasai oleh dosa. Di dalam Adam segala keturunannya berdosa juga (Rm. Augustinus bertobat kepada kehidupan Kristen sejati itu. serta mengaruniakan kepadanya pertolongan rahmat-Nya. Ketegangan perpisahan radikal dengan masa lampau dapat dilihat dalam buku kedelapan Confessiones. Di antara segala Bapa Gereja barulah Augustinus yang membangun teologinya atas dasar ajaran Paulus itu. Kaum pilihan itu tak dapat melawan pekerjaan rahmat Tuhan dalam batinnya. Adam diberi kehendak yang bebas. karena ia tidak suka menuruti kehendaknya sendiri. Tetapi syukur bagi Allah! Tuhan sayang kepada makhluk-Nya. mereka hidup pada kurun sejarah yang sama.[30] Dalam pengalaman hidupnya. malahan mulai saat itu ia tidak dapat tida berdosa. sehingga ia dapat memilih sendiri jalan yang mana yang akan diturutinya: taat dan patuh kepada Tuhan atau menuruti kesukaan hati dan kehendaknya sendiri. yang turun-temurun dari orang tua kepada anak-anaknya. Tubuh dan jiwa tiap-tiap manusia telah diracuni oleh dosa turunan. sehingga dikutuki oleh Tuhan dan menuju kepada maut yang kekal.Di atas semuanya. yang tak sanggup berbuat baik. Akan tetapi Adam tidak mempergunakan kemungkinan ini. tetap saja kuat. persekutuannya dengan Tuhan terputus. Sejumlah manusia yang tertentu dipilih oleh Tuhan untuk mendapat rahmat-Nya supaya diselamatkan kelak. ia menjadi hamba keinginan badannya dan harus mati. Akibatnya sangat mengerikan. Tak dapat ia berbuat baik lagi.

tetapi memiliki kapasitas untuk memilih yang baik dan yang jahat. bapa. Tiap kali kalau kehendak manusia bermaksud berbuat jahat.’ Teologinya adalah seperti berikut: Adam sebagai ciptaan Allah tidak memberikan kekudusan positif. bagaimanakah pandangan Augustinus tentang segala manusia yang tak terpilih lagi? Adakalanya ia mengaku bahwa mereka itu dipredestinasikan untuk kebinasaan. Jadi dosa turunan tidak diakuinya. [31] Lawan Augustinus yang paling besar. ketika itulah manusia berdosa. sebab ia melihat dan meniru contoh yang kurang baik dari orang sekelilingnya: ibu. Dan tidak diwariskan turun-temurun. Pun mereka itu akan sampai akhirnya. ‘Berikan kepadaku apa yang Engkau perintahkan.[33] Dosa Adam tidak menghilangkan kehendak bebas manusia. mereka akan mencapai tujuan yang telah ditentukan baginya. Pelagius. Kematian bukanlah akibat dosa atau hukuman dari Tuhan. sama seperti Adam di Firdaus. akhirnya mereka dialahkan juga oleh kuasa rahmat. tetapi akhirnya. dalam hal ini. Dengan demikian tiap-tiap manusia mulai berdosa. Keselamatan yang kekal itu diperoleh manusia selaku pahala karena amal dan kebajikannya yang dilakukan manusia menurut kehendaknya yang bebas itu. menyangkal adanya hubungan antara dosa Adam dan dosa keturunannya. Apalagi. Jadi secara teori mungkin juga seorang manusia sama sekali tidak berdosa seumur hidupnya.[32] Pelagius sangat berkeberatan terhadap ucapan Augustinus dalam “Confessiones”. . Hendaknya tiap-tiap orang Kristen berjuang untuk membuktikan dengan kebajikan dan amalannya bahwa ia sudah terpilih untuk keselamatan. saudaranya dan sebagainya. dan perintahkan kepadaku apa yang Engkau inginkan. tetapi termasuk hukum alam. Duduknya dosa bukannya di dalam tabiat manusia. kata Augustinus. Kalau begitu. kendati pun mereka digodai oleh iblis dan banyak kali jatuh lagi dalam dosa. melainkan dalam kehendaknya. Tetapi hal itu biasanya tidak dititik-beratkannya. tetapi teladan Adam yang jahat itu ditiru oleh anak-anaknya.meskipun mereka mau menolak kasih Tuhan itu. Pelagius melihat bahwa penyebaran dosa dari satu generasi ke generasi berikutnya didasarkan di dalam teori Tradusianisme tentang asal mula jiwa. Kondisi aslinya adalah netral. Ia menganggapnya sebagai kesalahan para bidat. apakah ia terpilih untuk keselamatan atau kebinasaan. Tiap-tiap manusia lahir dengan dengan tidak bercacat. Dia memiliki kebebasan yang tidak dapat ditentukan untuk memilih yang baik maupun yang jahat. manusia belum mengetahui. dan menyebarnya dosa Adam pada setiap orang kecuali Adam akan bertentangan dengan kejujuran ilahi. bisa dalam keadaan kudus maupun berdosa.

Hati nurani segera meneriakkan rasa tidak setujunya terhadap pandangan seperti ini. Keadaan mendasar di mana manusia harus bertanggung jawab kepada Tuhan hanya atas apa yang mampu ia lakukan. dan dari sekian ketidaksetujuan itu. pengajaran PL dan pengajaran dan teladan Tuhan Yesus. tetapi Paulus melihat bahwa mereka layak mengalami maut. Suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal adalah bahwa semakin manusia berdosa. Jadi rahmat tidak dianggapnya sebagai suatu kuasa rohani dari sorga yang bekerja dalam hati manusia.[35] .[34] 2. Menurut teori yang sedang kita bicarakan ini maka ketidakmampuan berbuat baik juga akan makin memperkecil tanggung jawab itu. Manusia itu akan makin menjadi budak dosa. Kemungkinan yang hanya abstrak saja tentang dosa manusia kendatipun jika diperkuat oleh contoh yang jahat.Rahmat Tuhan hanya terdiri dari pemberian kehendak yang bebas itu. Paulus tidak berkata bahwa ia mengeraskan orang berdosa sebagaimana yang ditulisnya dalam Roma 1:18-32 jelas tanpa tanggung jawab. Menurut Louis Berkhof. Contoh buruk dari orang tua tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. Teori Pelagius tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan tentang universalitas dosa.22. Bagaimana mungkin dikatakan bahwa kehendak manusia akan kemudian membelok ke arah dosa dan tidak pernah meuju ke arah yang lain ? Jauh lebih wajar jika kita memikirkan tentang sifat dari dosa itu sendiri. maka kemampuannya melakukan kebaikan akan makin kecil. beberapa di antaranya adalah: 1.43). dan akan mati dalam dosadosa mereka (Yoh.34. dan mereka adalah budak dosa. tetap tidak menjelaskan bagaimana dapat terjadi manusia sesungguhnya berdosa. ada banyak yang tidak setuju terhadap pandangan Pelagius tentang dosa ini. tetapi menunjukkan kejahatan mereka yang luar biasa dengan usaha untuk membunuh Dia. tidak tahu apa yang Ia katakan. sebab mereka tidak dapat mendengar Firman-Nya. Tuhan Yesus mengatakan tentang orang Yahudi yang memuliakan kebebasan mereka. Tetapi dengan demikian bisa pula dikatakan bahwa dosa itu makin lama makin membebaskan korbannya dengan cara membebaskan mereka dari tanggung jawab yang dituntut daripadanya. jelas bertentangan dengan pengakuan hati nurani dan Firman Tuhan. 8:21.

Rahmat bagi Augustinus merupakan kegemaran akan kebaikan. jika orang Kristen memiliki keberanian untuk mengikuti teladan Yesus.2 PERTIKAIAN TENTANG KESELAMATAN Berkaitan dengan keselamatan. Kehendak seseorang merupakan penjara untuk dirinya sendiri. Biarpun ajaran Kristus sudah tentu merupakan juga rahmat eksternal maupun publik. Bagi Augustinus. kemampuan yang kita terima dari Allah untuk memilih antara baik dan buruk. Belenggu eksternal dosa. baik dosa masa lampau pribadi seseorang maupun dosa lingkungan yang lebih luas. orang secara lebih khusus memiliki rahmat ajaran Kristus serta teladan-Nya. sebab hal ini memisahkan pandangan-pandangan yang jelas dan tegas dari pengalaman serta pandangan hidup para penganutnya. Ajaran-ajaran yang bertentangan ini masing-masing sesungguhnya mewakili suatu aspek dari jawaban utuh terhadap . Pelagius melihat rahmat Allah dalam hukum-Nya. sebuah bentuk baru kebebasan yang menuntut pembaharuan internal kehendak manusia. Dalam agama Kristen. jika ia tidak ingin ikut. namun hasrat dan perasaan umat manusia terjerat dosa. rahmat harus pertamatama merupakan kekuatan internal. Namun demikian pemahaman rahmat di antara mereka berdua saling berbeda satu sama lain. Adat-istiadat serta kebiasaan dosa pribadi memenjarakan pilihan bebas di dalam tembok-tembok sempit pencarian kepentingan diri. meskipun pilihan bebas tetap ada. pertama kalinya di Carthago pada tahun 418 dan akhirnya oleh konsili di Efesus (431). rahmat pertama-tama merupakan kebebasan manusiawi kita sendiri.[36] 6. Bagi Augustinus. Roger Haight melihat Augustinus dan Pelagius sama-sama mengakui adanya keselamatan atau rahmat. namun hanya orang-orang yang dipanggil dan diberikan kekuatan internal untuk menjawab dapat diselamatkan. Tak seorang pun sebelum Augustinus sungguhsungguh menyatakan apapun juga yang agak mirip dengan kebutuhan akan campur tangan Allah ini di dalam kebebasan. sebab dosa membelenggu seseorang dari dalam. Inilah pusat pandangan Augustinus tentang rahmat dan justru merupakan titik perbedaan antara dia dengan Pelagius.[37] Lebih dalam Haight mengatakan bahwa mengupas ajaran-ajaran Augustinianisme dan Pelagianisme mengandung bahaya.Ajaran Pelagius ini ditolak oleh Gereja. dapat dilepaskan. Bagi Pelagius. Rahmat eksternal ini menantang kebebasan manusia dan orang tidak dapat ikut.

akan tetapi dosa mempengaruhi orang-orang terutama melalui mekanisme eksternal pengaruh-pengaruh sosial. Bagi Pelagius. Dosa mencengkeram hidup manusia dari dalam dan di dalam. Namun bahaya-bahaya padangan Augustinus menurut Haight lebih halus tetapi sama riilnya. kepada yang lebih tinggi dan yang rohani. Sebaliknya. Seorang dapat menjawab panggilan Allah kapan saja. yaitu seorang ahli waris yang dibebaskan dan kini bertanggung jawab. Dosa sudah barang pasti tersebar. Nilai kedua yang mendasari ajaran Pelagius ialah soal kemungkinan universal bagi keselamatan. Agama Kristen tidak lagi membebaskan. Satu cara menyelami ajaran-ajaran ini ialah mencari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan yang menjadi dasarnya.dunia dari dalam iman Kristen. kelihatannya menjadikan Allah seorang tiran.[39] Haight juga melihat hal-hal ekstrem yang berbahaya dalam pandangan Augustinus dan Pelagius ini. Allah tidak pilih kasih. Augustinus jadi sadar bahwa rahmat Allah sama sekali cuma-cuma dan ini dituangkan ke dalam ajaran tentang pemilihan dan predestinasi. Pelagius menginginkan seluruh Gereja menjalani kehidupan asketis ala biarawan. Sebaliknya. Akhirnya. Dan akal sehat mengajarkan dia. nilai utama yang mendasari ajaran Augustinus adalah pengalamannya akan kemutlakan Allah serta ketergantungan total manusia pada-Nya. Ajaran itu pada akhirnya tidak saja menyakiti perasaan manusia tetapi juga merusakkan pandangan Kristen . yang tidak mengganggu kodrat batin dan inti kebebasan seorang pribadi. Nilai utama yang mendasari pandangan Pelagius adalah kebebasan suatu pribadi.[38] Haight melihat perbedaan di antara Augustinus dengan Pelagius dari sudut nilai-nilai. Peranan utama hukum dan penekanan berlebihan atas hukum dapat dengan gampang merosot menjadi legalisme yang hendak diatasi oleh Injil. Sebaliknya ia menjadi sesuatu yang mengerikan. tetapi juga bagi Allah. Pelagianisme dipertalikan dengan tradisi Stoisisme. Jika orang-orang terbuka kepada Yang Baik. Pandangan Pelagius jauh lebih luas dan global daripada pandangan Augustinus. Penekanan Pelagius atas kebebasan manusia untuk taat. bahwa penghukuman abadi bagi bayi-bayi yang tidak dibaptis merupakan penghinaan bukan saja bagi umat manusia. memilih sebagian dan bukan yang lain. Pelagius tidak dapat menerima massa damnata (umat manusia terhukum). orang Kristen dewasa seharusnya menjadi “anak Allah”. kekuatan untuk menentukan diri sendiri. ini terjadi sebagai suatu gerakan sekonyong-konyong dan spontan yang tidak dikendalikan oleh orang-orang itu. tekanan Pelagius pada kebebasan dan otonomi manusia terlalu besar. Ajarannya mengenai takdir tidak boleh tidak membuat orang berkecil hati.

Kehidupan Kristen dilihat sebagai kesaksian dan tanda tentang Allah serta rahmatNya kepada kekaisaran kafir dunia ini. Dia menginginkan Gereja menjadi asketis. Akan tetapi kesadaran akan Kekristenan runtuh. keputusan-keputusan Augustinus sepertinya mendukung toleransi terhadap cara hidup Kristen yang lali. Otonomi yang menurut keyakinan orang Kristen dikukuhkan oleh Allah dan dijamin oleh rahmat-Nya. Sebaliknya. Kekristenan merangkul dan mencaplok seluruh kekaisaran dan mulai menciptakan masyarakat Kristen abad Pertengahan. Dan akibatnya ialah penyamaran seluruh kesaksian Kristen dengan standar umum orang biasa. Tema pertama adalah Idealisme Pelagius jangan kita tafsirkan sebagai naturalisme. Pandangan Augustinus membayangkan Gereja sebagai agama mayoritas. Pelagianisme dapat saja dipandang sebagai asketisme yang ketat atau perfeksionisme. Orang Kristen pada hakikatnya adalah “orang yang baru sembuh dari sakit”. Gereja “masyarakat Kristen”. Tema kedua berkaitan dengan soal antropologi Kristen dan Gereja. Masing-masing pandangan mempunyai akibat-akibatnya baik dulu maupun sekarang. Pandangan Augustinus memperbolehkan di dalam Gereja semua kesalahan manusia yang kita temukan di luar Gereja. namun tidak demikian dalam Gereja minoritas. Dan tema ketiga bersangkutan dengan penilaian Kristen tentang sejarah manusia yang berkembang di luar batas pewahyuan Kristen yang eksplisit. Orang yang baru bertobat dan dibaptis. dibarui karena rahmat Allah. otonomi manusia sesungguhnya dibahayakan. Hidupnya diselamatkan. Dalam jangka panjang. Pelagius puas dengan kelompok kecil macam ini.tetang Allah. Biarpun hal ini sama sekali tidak riil dalam konteks Gereja massa. Hal ini membenarkan standar ganda: Kekristenan nominal bagi orang-orang biasa dan Kekristenan “riil” yang mendorong orang-orang melarikan diri ke biarabiara.[40] Namun Haight juga melihat adanya tema-tema yang lebih besar dalam pandangan Augustinus dan Pelagius ini. Di belakang pembaruan Pelagius terletak pemahaman tentang Gereja. Gereja negara dan Gereja massa. Sekalipun Pelagius . Gereja segelintir orang yang penuh pengabdian. Pelagius percaya akan rahmat Allah. Pelagius tidak menginginkan seorang individu menjadi seorang asketis di luar Gereja. Optimisme Pelagius dapat dituangkan ke dalam pandangan positif tentang sejarah tersebut. Penekanan Pelagius pada kebebasan hendaknya jangan disamakan dengan individualisme. tetapi ia tetap “sakit”.

pada akhirnya semu. Sebab perbuatan-perbuatan baik itu tidak membawa orang-orang kafir lebih dekat kepada persekutuan dengan Allah. Ajaran Pelagius ini menutup pintu bagi ‘yang lemah’. Ef. Jika diperluas. rahmat sama sekali gratis. kendati kelihatan mempunyai nilai. Bagi Augustinus. Paulus dalam Kis. maka orang itu ditangkap dan tidak bisa melawan lagi (bnd. walaupun dalam manusia itu sebenarnya tidak terdapat apa-apa yang layak untuk mendapat cinta-kasih Tuhan itu. interpretasi macam ini mendorong seseorang menerima kemungkinan sejarah manusia yang dapat bergerak menuju Allah. dan .[42] Jelaslah bagi kita bahwa teologi Augustinus semata-mata berpusat pada rahmat Tuhan yang bebas. pendirian dan kelakuan kaum Kristen pada zaman itu. maka memihak ‘yang kuat’. dan sama sekali tidak pantas bagi prakarsa yang diambil Allah untuk mengubah kehendak buruknya menjadi kehendak baik”. Namun Augustinus kurang optimis dengan dunia ini beserta sejarahnya. tidak sesuai sama sekali dengan Alkitab (Roma 3:6-8. melainkan keselamatan sendiri yang diberikan Tuhan. askese. Ajaran Pelagius ini mematikan orang lemah.[41] Pendapat lain yang menentang pandangan Pelagius dikemukanan oleh CJ. Alkitab mengatakan bahwa anugerah itu bukan kemungkinan. Ajaran Pelagius ini meniadakan setiap harapan akan pengampunan. lalu manusia bebas memilih apakah percaya atau tidak. tanpa bantuan Kekristenan eksplisit.menganjurkan asketisme yang ketat atau keras. perbuatan-perbuatan baik orang kafir. Bagi Augustinus. Sebab tidak gampang dimengerti bagaimana pembangunan kota duniawi dapat membuat banyak perbedaan bagi hasil akhir sejarah”. “sebab rahmat datang kepada manusia yang secara radikal berdosa. Ajaran Pelagius rupanya manis dan menekankan bahwa Allah mengasihi hanya secara umum. Karena masa itu yang diutamakan ialah amal yang membawa kepada mistik. dan anugerah. “Baginya tugas-tugas duniawi tidak dapat memiliki makna definitif.9).Haak. memadamkan harapan orang yang letih lesu dan menolak orang yang ingin lari kepada Tuhan dengan menyesal karena dosanya. ia memandang kebebasan kodrat manusia untuk membuat yang baik sebagai tetap utuh. Ajaran ini memang sangat bertentangan dengan pikiran. 2:1). Apabila Tuhan datang dengan Injil-Nya dan seseorang mau bertobat. yang mau mencari dan menyelamatkan manusia. kemurahan. Menurutnya pandangan Pelagius yang mengatakan bahwa anugerah Allah berarti bahwa Allah hanya membuka kemungkinan keselamatan bagi manusia. Pelagius telah menjadikan Allah yang penuh kasih itu menjadi seorang raja yang membunuh dengan sewenang-wenang. yang berdosa.

Allah semata-mata hanya menunjukkan apa yang harus dilakukan kalau keselamatan itu akan diperoleh dan kemudian membiarkan manusia memenuhi syarat-syarat itu tanpa bantuan dari luar. Menarik sekali.[43] Dalam perdebatan selanjutnya di dalam Gereja Barat. Pada hemat Gereja. sudah jatuh dan tidak berdaya. hakikat manusia adalah otonom dan dapat mencukupi dirinya. Teori Augustinus dikembangankan oleh Thomas Aquinas. TANGGAPAN HISTORIS Apa yang menjadi perdebatan Augustinus dan Pelagius ini masih diteruskan oleh pengikutpengikutnya. rahmat yang mengangkat juga menyucikan. hakikat manusia adalah lemah. Bagi Augustinus adalah mutlak perlu bergantung pada Allah untuk keselamatan. Dua konsili yang penting menegaskan pandangan-pandangan Augustinus sebagai pandangan yang normatif (resmi). yaitu Konsili Karthago (418) dan Kosili Orange II (529). 7. gratis. bagi Pelagius. Aquinas mengembangkan teori rahmat Augustinus tersebut. Rahmat merupakan partisipasi dalam kebaikan Allah dan partisipasi dalam kodrat Allah. sedangkan pokok-pokok lain di dalam sistemnya didukung dengan sangat entusias. Menurut Aquinas rahmat dipahami sebagai mengangkat. bagi Pelagius. keselamatan adalah upah yang pantas diterima. Dengan cara ini. Bagi Augustinus. bagi Pelagius. keselamatan adalah suatu anugerah tanpa jasa dari manusia. Sebab itu Gereja mengajak anggotanya untuk membuat banyak pekerjaan yang baik supaya nanti diganjari oleh Tuhan. Artinya melalui rahmat manusia berpartisipasi dalam kehidupan Allah sendiri. membenarkan dan menyucikan. Martin Luther dan Johannes Calvin. adikodrati. yang diciptakan. Bagi Augustinus. Jelaslah bahwa kedua teologi yang berbeda itu mempunyai pengertian-pengertian yang sangat berbeda pula tentang hakikat manusia. pandangan Augustinus dianggap benarbenar Kristiani dan pandangan-pandangan Pelagius dikecam sebagai bidat. bahwa nasib manusia ditentukan oleh takdir atau “fatum”. pandanganpandangan Augustinus mengenai predestinasi tidak begitu disambut. Sampai pada waktu itu Gereja selalu melawan pandangan kafir.[44] .kerahiban. Tidak mengherankan bahwa Augustinus mendapat perlawan keras dari pihak rahib. kebiasaan. manusia berkehendak bebas dan bergantung jawab sendiri. Rahmat itu kebiasaan yang tercipta di dalam jiwa karena partisipasi Allah.

yang berarti bahwa Augustinus meletakkan rahmat dalam manusia (teologi bersifat antropologi). Sementara Pelagius mengatakan bahwa kita ini bukan robot. Luther tidak menghendaki antropologi. Luther berbicara tentang simul iustus et peccator (serentak orang benar dan pendosa). “Maka dari itu dosa aktual sebenarnya merupakan pekerjaan dan buah dosa. Dan dosa itu sendiri adalah nafsu dan konkupiensi. dan memilih. sedangkan menurut Augustinus manusia sungguh benar sesudah pembenarannya oleh Allah. Itulah yang disebut dengan Semi Pelagianisme (Sinergisme). yakni kedosaan manusia dan kerahiman Allah. Namun Calvin selanjutnya mengembangkan pemahaman dan ajaran tentang keselamatan ini dalam suatu wawasan yang biasa dikenal dengan istilah predestinasi. tetapi teologi radikal: rahmat diletakkannya seluruhnya dalam Allah. kita sudah berakal budi dan diberi kebebasan untuk berpikir. Pusat perhatian Gereja Timur bukan bagaimana supaya aku orang berdosa diselamatkan tetapi bagaimana supaya aku memiliki pengetahuan untuk hidup yang baka. Dalam perkembangan selanjutnya di Gereja Barat menempuh jalan mengkombinasikan ajaran Augustinus dan Pelagius ini. Jika kita bertanya mana yang lebih alkitabiah dari antara mereka? Pada dasarnya mereka berdua sama-sama alkitabiah. Dia menulis.[46] Setelah Augustinus dan Pelagius meninggal. kesamaannya ialah titik tolak ajaran keselamatan. Sebab di Gereja Timur perdebatan seperti ini tidak kita temukan di Gereja Timur. Karena itu mereka sama-sama melancarkan protes terhadap Gereja Katolik Roma (GKR) yang memahami keselamatan sebagai hasil kerjasama antara karunia Allah dan perbuatan baik manusia. Augustinus mengatakan kita tergantung sepenuhnya pada rahmat Allah karena kita sebelumnya sudah ditentukan untuk selamat (predestinasi). Perdebatan di Gereja Barat adalah bagaimana supaya aku orang berdosa bisa selamat dan apa yang harus kuperbuat. sangat menekankan keyakinan bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih karunia melalui iman (sola gratia. Dalam kuliahnya tentang surat Paulus kepada jemaat di Roma (15151516) Luther mengidentikkan dosa dengan konkupisensi. atau kecenderungan kepada yang jahat dan penolakan terhadap yang baik…” Membandingkan Luther dengan Augustinus yang berpengaruh kepadanya. bahkan terjadi reparatio naturae (pembetulan kodrat). Perbedaannya menyangkut jawaban atas masalah kedosaan. Semi Pelagianisme menganggap keadaan manusia yang .Baik Luther maupun Calvin. maka pertikaian teologis di Gereja Barat semakin hebat. Sejak kita diciptakan. dan sola fide).[45] Perhatian utama Luther pada rahmat berpusat pada keberadaan dosa manusia.

Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat. DAFTAR PUSTAKA Aland. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pertikaian Augustinus dan Pelagius ini bukan hanya pertikaian Gereja Lama saja. 1991. Wesleyan. Vol. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Untuk disembuhkan ia memang memerlukan rahmat Allah. 1985.[47] 8. Jan S. 1995. dan lain-lain) yang murni. Berbagai Aliran Di Dalam dan Sekitar Gereja. Pengakuan-Pengakuan. . tetapi sekali sembuh. Dieter. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Ajaran inilah yang dianut oleh Katolik hingga sekarang. Baik Augustinus maupun Pelagius. Artinya pengajaran gereja yang ada sekarang sangat dipengaruhi oleh banyak aliran pengajaran yang ada disekitar gereja itu sendiri. Karenanya sangatlah kurang pas jika sebuah gereja terlampau berani mengatakan diri sebagai gereja yang menganut aliran-aliran gereja (misalnya: Lutheran. Augustinus.telah jatuh itu bukan sebagai mati (Augustinus) dan bukan juga sebagai segar-bugar (Pelagius). ia dapat menjalankan kehidupan Kristiani dengan kekuatannya sendiri.. Kurt. apakah pengajaran gerejagereja masa kini didasarkan pada pengalaman dan hasil studi-studi gereja? Bisa saja gereja memiliki pengalaman-pengalaman dan hasil studi-studi tertentu dalam menentukan pengajaran dan dogma gereja masing-masing. tanpa rahmat Allah. Jakarta & Yogyakarta: BPK Gunung Mulia & Kanisius. Sebab di gereja Protestan diberi kebebasan untuk memilih mana yang baik dan benar.I. Calvinis. A History Of Christianity. melainkan sebagai sakit. Jika memang mereka mendasarkan pengajaran mereka pada pengalaman dan studi-studi mereka. Philadelphia: Fortress Press. dalam memahami Alkitab selalu didasarkan pada pengalaman dan hasil studi-studi mereka. Anglikan. 1997 Becker. maka timbul pertanyaan. tetapi perdebatan ini masih bahagian perdebatan teologi masa kini. Sebaliknya bagi Protestan tidak sepenuhnya mengacu pada Augustinus. Aritonang. walaupun pada momen-momen tertentu menekankan rahmat.

Erickson. L. 1989. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1983. Teologi Sistematika: Ekonomi Keselamatan. Berkhof. Dister. Carl F. Jakarta: BPK Gunung Mulia.B. (ed. Haight. Grand Rapids. Grand Rapids. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Jakarta: BPK Gunung Mulia. New York: Continuum. Diepen. Harun. Pemilihan: Ajaran Alkitab menurut Pengakuan-pengakuan Iman Reformasi. 1990 Henry. Yogyakarta: Kanisius. . 1976 volume 2.). (Flores: Nusa Indah. 1953. Augustinus Tahanan Tuhan. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen.. 2005. 1996. Johnson.van.. 1992. Mgr. Lohse. J. C. Jakarta: BPK Gunung Mulia.. Tanpa Penerbit. Curtis dkk. Reading in Christian Theology: Man’s Need and God’s Gift. Michigan: Baker Book House. CJ.. Michigan: Wm.H. & I.Eerdmans Publishing Company. H. Roger.). Soteriologi Alkitabiah: Keselamatan yang Diberitakan Alkitab.H. (ed. Yogyakarta: Kanisius. Hadiwijono. The History of Christian Doctrines. Sejarah Gereja. Pengantar Sejarah Dogma Kristen. Grand Rapids. Michigan: Baker Book House. The Evolution of Christianity: Twelve Crises That Shaped The Church. Basic Christian Doctrines. 1988.Berkhof. 1999. Haak. Groenen. Teologi Rahmat Dari Masa Ke Masa. jilid 2. Yogyakarta: Kanisius.. A. 1994. Tony. Runtut Pijar.P. 2000. 2006. Nico Syukur.. Lane.Kenneth. Marshal D.. Iman Kristen. Bernhard. 2004.Enklaar.

Keselamatan Masa Kini. hlm. hlm. Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat.235. Iman Kristen. [5] Nico Syukur Dister. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. “Old Testament Terminology for Sin”. hlm. [3] H. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Teologi Sistematika ….101. dkk. [9] Ibid. Teologi Sistematika: Ekonomi Keselamatan. C. hlm. [6] TB. Jakarta: BPK Gunung Mulia.11.235. [8] Nico Syukur Dister. 2002.). Reading in Christian Theology: Man’s Need and God’s Gift.45-55. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 1976). [4] Harun Hadiwijono. Richard. jilid 2. hlm. dalam Millard J. hlm.Simatupang. bnd. Keselamatan Masa Kini. . Agustinus. hlm. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. Wellem.Groenen. [2] Harun Hadiwijono. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen. 2004).103-105. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. (Yogyakarta: Kanisius. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1973). dkk. Urban. Michigan: Baker Book House. 1993. Iman Kristen …. (Jakarta: BPK Gunung Mulia.235. hlm. hlm. Keselamatan Masa Kini …. 1989). bnd. (Grand Rapids. [1] Lihat Dieter Becker.134.D.Erickson (ed.. Simatupang. Soteriologi Alkitabiah: Keselamatan Yang Diberitakan Alkitab. volume 2.Wheeler Robinson.. dkk. Alister E. Harun Hadiwijono. 1991).. 141. 2003. 1990).McGrath.12. Iman Kristen ….129. hlm. TB. Linwood. Price.. (Yogyakarta: Kanisius. Sejarah Pemikiran Reformasi.Simatupang. 1973. Jakarta: BPK Gunung Mulia. [7] TB. F. 2000.

(Jakarta: BPK Gunung Mulia.176-177. 15-30. 211-212. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen. Mani dari Persia.van Diepen. Richard Price.135-140. [13] F. hlm. Riwayat Hidup …. and Inability“. [11] Sekte Manikheisme namanya diambil dari seorang guru “kebatinan”. 21-41. (Grand Rapids. hlm. The Evolution of Christianity: Twelve Crises That Shaped The Church. Santam. Sejarah Gereja. The History of …. 2006). [14] L.138.[10] F.D.131. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. H. 39-45. [20] Ibid. 30-33. (Yogyakarta: Kanisius. 2005). [18] L.2003). Empat nota eklesia bagi gereja yang tidak kelihatan yaitu: Esa.Eerdmans Publishing Company. hlm.B. Imputation. Wellem. The History of Christian Doctrines.P. 1996).H.Berkhof.Berkhof & I. Am. [19] Ibid. Runtut Pijar.Enklaar. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. dalam Marshall D. Apostolikam). (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1953). hlm. A. hlm. Cornelius Van Til. 26-27. Bernhard Lohse. hlm.Kenneth Curtis dkk. Tony Lane. Michigan: Wm. 1992). (Jakarta: BPK Gunung Mulia. hlm. hlm. hlm. hlm. dan Rasuli (Unam. . Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. 1994).Berkhof. 2000). 1993). [15] Linwood Urban. hlm. [12] Bnd. [16] Ibid. Wellem. [17] Ibid. Augustinus Tahanan Tuhan.D. Kudus. 62-71. hlm. (Yogyakarta: Kanisius. Agustinus. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. (New York: Continuum. Pengantar Sejarah Dogma Kristen..59-67. hlm. 2000). Mgr.Johnson. „Original Sin. Catolicam.133. (Jakarta: BPK Gunung Mulia.

1997).Enklaar.Berkhof. Lih. bnd. [30] Roger Haight. Pengakuan-Pengakuan. Iman Kristen …. [32] Louis Berkhof.243-244.121 .93. 38. hlm. Pemilihan: Ajaran Alkitab menurut Pengakuan-pengakuan Iman Reformasi..H.McGrath. hlm. Teologi Sistematika …. hlm. Sejarah Pemikiran Reformasi. [24] Nico Syukur Dister. The History of ….).153. bnd. [34] Louis Berkhof. Augustinus.119-120 [35] Ibid.Erickson (ed. hlm. Teologi Sistematika ….[21] Alister E. Sejarah Pemikiran ….289. [23] Richard Price. [33] L. 2002). hlm. hlm. (Jakarta & Yogyakarta: BPK Gunung Mulia & Kanisius. [31] H.Berkhof & I.155-156. 69. (Flores: Nusa Indah. (Jakarta: BPK Gunung Mulia.Haak.94. Sejarah …. Michigan: Baker Book House. 68. Teologi Sistematika…. hlm. 113. “The Pelagian View of Original Sin”.). The History of …. Agustinus.125-127. [26] Gustave F. [22] L. Basic Christian Doctrines.Berkhof. hlm. hlm. (Grand Rapids. hlm. hlm. hlm. hlm. (Tanpa Penerbit. Carl F. 1983).McGrath. 1999). hlm. hlm. [28] Louis Berkhof.H. L.139. hlm. Teologi Rahmat Dari Masa Ke Masa.Wiggers. dalam Millard J.135. [29] CJ. [27] Harun Hadiwijono. hlm. hlm.136. Teologi ….Berkhof. 38.Henry (Ed. 1988).118-119. The History of …. Reading in Christian …. [25] Alister E.

42-43. 40-41. [45] Jan S. [39] Roger Haight. Teologi Rahmat …. Sejarah Pemikiran …. Teologi Rahmat …. 65. hlm. 1985. Philadelphia: Fortress Press. hlm. hlm. Teologi Rahmat …. . Vol. 67-72. 41-42. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. [42] CJ.204-212 [37] Roger Haight.180..[36] Lih. [41] Roger Haight.Haak. 44-46. hlm. Teologi Rahmat ….I. A History Of Christianity. Pemilihan: Ajaran …. hlm. hlm. 42.Aritonang. hlm. 44. [46] Nico Syukur Dister. 94. Berbagai Aliran Di Dalam dan Sekitar Gereja. Teologi …. [40] Roger Haight. hlm.McGrath. 1995). [43] Alister E. hlm. Teologi Rahmat …. [38] Ibid. [44] Roger Haight. [47] Misalnya Gereja-Gereja Batak di Sumatera tidak bisa mengklaim diri sebagai gereja Lutheran murni karena di dalam ajaran gereja-gereja Batak tersebut tidak seutuhnya mengadopsi ajaran Matin Luther. hlm. Kurt Aland. hlm.