P. 1
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD 1945

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD 1945

|Views: 1,025|Likes:
Published by Azis Arjoso

More info:

Published by: Azis Arjoso on Nov 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2014

pdf

text

original

1

2

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pemikiran dan Perjuangan Menegakkan Kembali UUD ‘45

Amin Arjoso

Penerbit: YAYASAN 2010 3

Pemikiran dan Perjuangan Menegakkan Kembali UUD ‘45
Copyright@Yayasan Kepada Bangsaku, 2010
Tim Penyusun Moch. Achadi Eddi Elison Roso Daras Azis Arjoso Giat Wahyudi Pengantar Prof. Dr. Sri Soemantri Desain Sampul Maryanto Desain Isi Junianto Bara ISBN: 978-979-96254-5-8 Penerbit Yayasan Jl. Taman Amir Hamzah 28, Menteng Jakarta Pusat Cetakan I: 2010

Amin Arjoso

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

4

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Sketsa Bung Karno oleh Basoeki Abdullah. Bung Karno adalah peletak dasar-dasar negara: Pancasila (idiil) dan UUD 1945 (konstitusionil).

5

Daftar Isi
Prakata Penerbit ............................................................................................. Sambutan Soetardjo Soerjogoeritno ........................................................... Pengantar Prof Dr Sri Soemantri ................................................................ 9 14 21

BAB I PEMIKIRAN
1. UUD 45 (Asli) Tolak Demokrasi Liberal ............................................... 2. UUD 1945 Hasil Amandemen I – IV Bertentangan dengan Falsafah dan Jati diri Bangsa ........................... 3. Menolak Konstitusi Baru ......................................................................... 4. Seruan Kepada Bangsaku ....................................................................... 5. Demokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia ............................................... 6. Jangan Sampai MPR Keblinger .............................................................. 7. Budiman Sudjatmiko: Restorasi UUD 1945 ......................................... 8. Rekam Jejak Perubahan UUD 1945 ....................................................... 9. Forum Perjuangan Pelurusan UUD 1945 ............................................. 65 71 77 83 87 101 109 121 131

BAB II PERJUANGAN
1. M. T. Tarigan, SE : Sejarah Amin Arjoso, Dulu dan Sekarang ........ 2. Abdul Madjid: Sempat Didamprat Megawati .................................... 3. Sri Edi Swasono: Amin Arjoso dalam Pusaran Perubahan Konstitusi .............................................................. 4. Sulastomo: Amin Arjoso dan UUD 1945 ............................................. 5. Moch. Achadi: Amin Arjoso dalam Dialektika, dan Romantika Perjuangan Mencapai Cita-cita Proklamasi ............................................................. 6. Saiful Sulun: Politisi tidak Boleh Obok-obok Konstitusi .................. 7. Haryanto Taslam: Amin Arjoso, Orang Keras Kepala Menolak Amandemen ............................................................................ 8. Ridwan Saidi: Amin Arjoso Pejuang UUD 1945 ................................ 9. Koesalah Soebagyo Toer: “Riungan” di Blok Q LP Salemba ........... 10. Soemarjati Arjoso: Gigih, Konsisten, tetapi Lembut .......................... 139 153 169 175

181 191 195 205 213 221

BAB III PUBLIKASI MEDIA
11. ASS Tambunan, SH: UUD 2002 Meniadakan Jati Diri Kita .............. 233 12. R. Soeprapto: MPR 1999 = Malin Kundang ........................................ 239

1

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

13 Suradi: Perubahan UUD 1945, Dialektika Sebuah Konstitusi ................................................................ 14 Adnan Buyun Nasution: Tidak Boleh Ada Kekosongan Konstitusi .................................................................. 15 Bantahan kepada “Sinar Harapan” ...................................................... 16 Moh. Isnaeni Ramdhan: Secara Hukum, UUD ‘45 Masih Berlaku ......................................................................... 17 Rikando Somba: Perjalanan Perubahan Konstitusi RI ...................... 18 Orang Amerika Serikat di Balik Amandemen UUD 1945? .............. 19 SBY Melaksanakan UUD tanpa Makna ...............................................

245 253 256 259 263 267 277

LAMPIRAN
1. Memorandum tentang Perubahan UUD 1945 oleh MPR 1999-2002 ................................................................................. 2. Pernyataan Sikap Kembali ke UUD 1945 ............................................. 3. Pernyataan Komponen Bangsa untuk Kembali ke UUD 1945 .................................................................. 4. Pernyataan Sikap Anggota MPR RI ...................................................... 5. Sikap Politik para Anggota MPR yang Menolak Masuknya DPD (Dewan Perwakilan Daerah) dalam Sistem dan Struktur Ketatanegaraan Kesatuan Republik Indonesia ................................................................. 6. Bentuk-bentuk Putusan Majelis dan Perubahan Peraturan Tata Tertib ........................................................... 7. Kronik Prosedur dan Mekanisme Pengumuman Pemberlakuan dan Pembatalan Konstitusi Republik Indonesia ......................................... 285 292 297 303

320 322

325

ALBUM BIODATA

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

2

8

Keluarga Soewardi Mintardjo. Amin Arjoso (di sini yang paling kecil) berfot bersama saudara-saudaranya. Masih ada dua adik Amin Arjoso yang tidak ikut berfoto karena masih terlalu kecil.
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

PRAKATA PENERBIT

Menggugat Cengkeraman Asing

A

tas desakan berbagai pihak, akhirnya H. Amin Arjoso, SH menyetujui penyusunan buku Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45. Semula buku ini diusulkan untuk disusun sebagai sebuah memoar, tetapi kemudian Drs. Moch. Achadi mengusulkan judul lain, seperti yang Anda baca. Buku ini bukan semata mengupas tentang diri pribadi mantan tokoh GMNI ini, melainkan lebih ditekankan pada unsur pemikiran dan perjuangan Amin Arjoso dalam menegakkan kembali UUD 1945, yang telah diamandemen secara semena-mena. Dalam buku ini juga disajikan bukti-bukti adanya manipulasi MPR RI 1999 - 2004 saat mengubah UUD 1945 dengan dalih amandemen. Amandemen itu sejatinya tak lain adalah sebuah upaya mengganti landasan konstitusi NKRI, yakni UUD 1945 menjadi konstitusi baru, yaitu UUD 2002, melalui risalah dan bukan keputusan MPR.
Prakata Penerbit

9

Risalah itu sendiri per tanggal 10 Agustus 2002. Penggantian konstitusi negara itu, pada dasarnya adalah sebuah maha bencana. Sebab, implikasi dari penggantian konstitusi negara tadi adalah sebuah ancaman keterpurukan, bahkan lebih tragis dapat menghancurkan NKRI Itu artinya, kita sebagai elemen bangsa, tanpa kecuali, harus menaruh concern yang tinggi atas persoalan ini. Segala daya dan upaya harus dikerahkan untuk kembalinya konstitusi negara kita, yakni UUD 1945. Bukan saja karena proses penggantian yang cacat hukum, lebih dari itu, dilakukan secara serampangan. Di atas itu semua, ternyata memuat kepentingan asing (baca: Amerika Serikat). Konsekuensi langsung maupun tak langsung yang sudah dan sedang kita rasakan saat ini adalah sebuah imperialisme dan kolonialisme dalam wujud baru. Sebuah kondisi yang sering disebutkan Bung Karno sebagai exploitation de l’homme par l’home dan menjadi tugas bersama untuk mengenyahkannya dari bumi Republik Indonesia yang merdeka. Ratusan tahun bangsa kita hidup dalam cengkeraman penjajahan Belanda, serta beberapa tahun lamanya menderita di bawah tekanan Jepang, adalah sebuah pelajaran berharga, bahkan teramat berharga untuk dilupakan. Bahwa akhirnya bangsa kita dengan gagah berani menyatakan kemerdekaan dan berjuang hingga tetes darah terakhir untuk mempertahankan kemerdekaan itu, tak lepas dari Rakhmat Tuhan Yang Maha Esa disertai dorongan luhur untuk menggapai tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdaulat, merdeka. Mengapa bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya dan membela kemerdekaan itu? Jawabnya adalah karena esensi merdeka adalah hidup dalam kemandirian. Karena hanya dengan kemerdekaanlah kita akan dapat 10
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

mewujudkan masyarakat adil dan makmur dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti dikatakan Bung Karno: “Indonesia-Merdeka hanyalah jembatan - sekalipun suatu jembatan emas!-- yang harus dilalui dengan segala keawasan dan keprayitnaan, jangan sampai di atas jembatan itu Kereta-Kemenangan dikusiri oleh orang lain selainnya Marhaen!” Bung Karno juga melanjutkan pesannya, “di seberang jembatan itu jalan pecah jadi dua: satu ke Dunia Keselamatan Marhaen, satu ke Dunia kesengsaraan Marhaen; satu ke Dunia Sama-rata-sama-rasa, satu ke dunia sama-ratap-sama-tangis”. (Dibawah Bendera Revolusi 1:315). Apa yang terjadi setelah bangsa kita memilah sejarah Indonesia dalam pembagian era, yakni era Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi? Yang terjadi adalah, sekarang Indonesia tidak lagi berdaulat di bidang politik, tidak lagi berdikari di bidang ekonomi, dan tidak lagi berkepribadian di bidang budaya. Orde Baru sejak 1967 telah membawa bangsa ini kembali ke cengkeraman asing. Orde Reformasi kemudian mengukuhkannya, antara lain melalui penggantian konstitusi kita, UUD 1945 diganti menjadi UUD 2002. Inilah pengukuhan atas kembalinya bangsa kita dalam pelukan cengkeraman asing. Nah, Amin Arjoso, adalah satu di antara sekian banyak anak bangsa yang dikenal sangat gigih dan konsisten dalam menentang penggantian UUD itu, dan tak kenal lelah dalam memperjuangkan kembali tegakknya UUD 1945 yang asli. Buku ini setidaknya, mencoba merekam dan menguraikan itu semua. Penerbit Yayasan

Prakata Penerbit

11

12

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Foto kenangan Amin Arjoso bersama Soetardjo Soerjogoeritno, yang sempat menuliskan Kata Sambutan untuk buku ini sebelum wafat.

13

SAMBUTAN Soetardjo Soerjogoeritno

Pintu Gerbang Penjajahan Baru

S

ebagai sahabat seideologi, saya bersama-sama Amin Arjoso berjuang tanpa pamrih di sidangsidang MPR 1999-2002, agar UUD 1945 tidak perlu diamandemen. Sebab ketika itu, karena PAH I BP MPR telah secara sadar melanggar 5 butir rambu atau kesepakatan mengenai amandemen UUD 1945 di antara 11 fraksi di dalam MPR, yaitu: 1. Tetap mempertahankan Pembukaan UUD 1945; 2. Tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 3. Tetap mempertahankan sistem Pemerintahan Presidensiil; 4. Hal-hal yang normatif di dalam Penjelasan akan dipindahkan ke dalam pasal-pasal UUD; 5. Perubahan dilakukan dengan cara addendum. Namun kenyataannya, akibat intervensi pihak asing 14
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

(baca: NDI-AS) dan umumnya ketidakmengertiannya secara umum anggota-anggota MPR tentang permasalahan konstitusi, selain sikap abstain dari 72 anggota FraksiABRI, otomatis mempermudah PAH I BP MPR membuat UUD baru dengan menyatakan bahwa: “Dengan menghilangkan Penjelasan, PAH I selain telah mengubah sistem UUD 1945, juga telah melenyapkan originalitas UUD 1945 dan menjadikannya sebagai UUD “saduran”. Dapat disimpulkan, bahwa MPR dengan sengaja telah merusak jiwa, semangat dan asas-asas dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. PAH I tampaknya (sengaja) tidak memahami fungsi dari Pembukaan. Tidak diketahui, bahwa Pembukaan UUD 1945 mendasari sistem konstitusi kita, sehingga mengingkari sistem kenegaraan kita. Dari itu semua secara jelas menunjukkan, bahwa PAH I sejak semula bermaksud membuat UUD baru, sehingga dengan demikian BP MPR telah mengingkari UUD 1945 sebagai UUD Proklamasi Kemerdekaan dan sebagai lambang perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.” Disebabkan kesalahan fatal yang dilakukan MPR tersebut telah mengantarkan konstitusi kita ke arah liberal. “UUD 2002” yang dikamuflase sedemikian rupa tanpa persetujuan rakyat, karena TAP MPR tentang Referendum lebih dulu dicabut, sementara pada saat terjadi “Peristiwa 1998” yang melengserkan Presiden Soeharto, rakyat sama sekali tidak menuntut dilakukannya perubahan konstitusi. Perubahan UUD 1945 sesuai strategi pihak asing, untuk dapat menguasai kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan pada bangsa Indonesia. Era reformasi kemudian menjadi pintu gerbang bagi penjajahan baru, ekonomi semakin mengarah pada praktek kapitalis. Pancasila sebagai dasar negara terpolusi sedemikian rupa, hanya menjadi “permainan lidah”, terutama oleh para pejabat negara dan politisi. Budaya dan jati diri bangsa luntur total, politisasi merambah ke semua
Sambutan Soetardjo Soerjogoeritno

15

sektor kehidupan bangsa, melahirkan pula politik kartel antara penguasa dan pengusaha, yang jelas mengancam keutuhan bangsa, sehingga masyarakat semakin kehilangan kepercayaan terhadap kaum politisi. Pemilu dan pilkada hanya merupakan pintu masuk bagi para koruptor, kaum avonturis dan komprador. Tidak heran, jika sampai saat ini Indonesia masih terdaftar sebagai negara terkorup di dunia oleh Transparansi Internasional dan PERC menetapkan pula Republik ini sebagai negara yang birokrasinya terbobrok kedua, setelah India. Sejarawan Prof Sartono Kartodirdjo menyusun rumusan kesadaran kebangsaan terdiri dari 4 fase sebagai berikut: Tahun 1900-an adalah masa simbolisasi untuk mencari identitas; Tahun 1920-an adalah masa konseptualisasi; Tahun 1940-an era revolusi adalah masa aktualisasi; Tahun 1960-an pasca revolusi adalah masa konsolidasi; Sebagai bangsa yang telah merdeka selama 65 tahun, kita menyadari sepenuhnya, bahwa negara dan bangsa sudah setengah abad lamanya masih saja berada dalam masa konsolidasi, artinya kita masih saja berada dalam kungkungan “obok-obokan” antara elit bangsa, sehingga gerak kemerdekaan mengalami stagnasi dalam melaksanakan Cita-cita Proklamasi. Keteladanan para pendiri negara dan bangsa ini, sejak dari Kebangkitan Nasional (1908), Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi Kemerdekaan (1945) hampir tak ada bekasnya, kalau kita melihat tingkah polah para elit bangsa hari ini. Pengkhianatan demi pengkhianatan terhadap kepentingan nasional menjadi gaya hidup para pejabat tinggi negara dari yang paling rendah sampai yang tertinggi, demikian juga komunitas politisi, bahkan 16
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

juga tidak ketinggalan para cendekiawan di semua bidang. Hal ini betapa pun tentu merisaukan kita. Setiap hari di semua mass-media (cetak atau elektronik) yang selalu menjadi berita utama adalah tentang korupsi yang terjadi hampir di semua instansi pemerintah dari kelurahan sampai Istana Negara. Belum lagi setiap hari terjadi demonstrasi, hanya karena soal sepele. Paradigma tiada hari tanpa demo menjalar ke seluruh pelosok Tanah Air. Tak ada instansi yang bisa mengelak dari aksi demo rakyat. Instansi penegak hukum justru jadi lahan subur bagi para markus (makelar kasus). Kenapa semua itu terjadi? Penyebab utamanya adalah hilangnya kepercayaan rakyat terjadap pemerintah, terutama para aparatnya, sebagai akibat diamandemennya UUD 1945. Apakah semua itu akan kita biarkan? Apakah rakyat yang selalu dieksploitasi demi kepentingan pribadi dan kelompok atau partai dengan melakukan penyuapan, baik di pemilu maupun Pemilukada, akan terus diperas moral kebangsaannya? Di sinilah peran Amin Arjoso tidak dapat dilihat dengan sebelah mata, karena sejak masih pemuda/anggota GMNI ia sudah mengalami pahit getirnya penjara selama 7 tahun oleh rezim Orba, selanjutnya setelah menjadi anggota DPR/MPR periode 1999-2004, ia terus berjuang menegakkan kembali UUD 1945. Perjuangan itu tidak pernah dihentikannya, meski ia tidak menjadi anggota DPR, sampai berkali-kali jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Puluhan judul buku melalui Yayasan Kepada Bangsaku diterbitkan dan diedarkannya secara cuma-cuma kepada masyarakat sebagai perjuangan menegakkan kembali UUD 1945. Sampai hari ini dalam kondisi kesehatan yang kurang mendukung, Amin terus berjuang tanpa pamrih.
Sambutan Soetardjo Soerjogoeritno

17

Oleh karena itu ketika saya diminta untuk memberikan Kata Sambutan, saya sempat trenyuh dan merenung dan bertanya; kapan Amin Arjoso berhenti memperjuangkan tegaknya UUD 1945? Jelas tidak ada yang dapat memberikan jawabannya, kecuali Amin Arjoso sendiri. Saya yakin buku ini cukup komprehensif mengenai segala hal terkait amandemen UUD 1945. Dengan mendalami materi buku ini, saya sangat mengharapkan dapat dicari suatu solusi yang tepat, agar bangsa ini segera dapat melaksanakan Cita-cita Proklamasi yakni mewujudkan masyarakat sejahtera lahir dan batin berdasar Pancasila. Untuk itu marilah kita bangkitkan kembali kesadaran menentang sistem penjajahan baru yang saat ini terus ditanamkan oleh imperialis/kapitalis asing dan dikembang-luaskan oleh para anteknya yang bersembunyi di balik baju nasional. Ingat kata Bung Karno: “Revolusi belum selesai”. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!” TETAP MERDEKA! Jakarta, 05 Juli 2010

18

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Amin Arjoso: “HIDUP ADALAH PERJUANGAN, PERJUANGAN ADALAH PENGABDIAN”

19

Amin Arjoso dan Kwik Kian Gie (kanan) saat Sidang Umum MPR 1999.

Amin Arjoso dan Theo Sambuaga (kanan) saat Sidang Umum MPR 1999.

20

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

PENGANTAR Prof Dr Sri Soemantri

MPR Melanggar Pembukaan UUD ‘45, Membuat UUD Baru

T

ulisan ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan amandemen-amandemen yang telah dibuat MPR terhadap UUD 1945 sejak tahun 1999 hingga tahun 2002, agar rakyat dapat mengetahui apa sebetulnya yang telah terjadi dan apa kemungkinan dampaknya terhadap kehidupan negara dan bangsa Indonesia. Disadari atau tidak, dengan amandemen-amandemen tersebut MPR telah mengadakan perubahan-perubahan yang sangat mendasar tehadap UUD 1945. Kalau dibandingkan negara lain, perubahan yang begitu mendasar sifatnya tidak dapat dilakukan dengan prosedur biasa tetapi harus melalui prosedur khusus. Masalah perubahan UUD bukanlah peristiwa biasa, sebab perubahan UUD menyangkut hari depan negara, bangsa dan seluruh rakyat yang bersangkutan. Oleh karena itu tiap negara mengadakan pengamanan agar tidak terjadi hal-hal yang didorong oleh kepentingPengantar Sri Soemantri

21

an-kepentingan sesaat atau hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan satu golongan tertentu saja. Selain itu ternyata bahwa amandemen-amandemen itu mengandung begitu banyak kontradiksi dan keanehan sehingga menimbulkan pertanyaan apa sebabnya hal itu bisa terjadi. Inilah yang dicoba dibahas dalam tulisan ini. Sebelum mengadakan amandemen-amandemen terhadap UUD 1945, pada awal sidang umum MPR tahun 1999 telah terjadi kesepakatan di kalangan anggota MPR yang tidak tertuang dalam keputusan resmi MPR. Inilah keanehan pertama, bagaimana bisa terjadi, kesepakatan yang begitu mendasar sifatnya tidak tertuang dalam keputusan resmi MPR, padahal kesepakatan itulah yang dimaksudkan hendak dijadikan landasan kerja MPR. Kesepakatan itu adalah sebagai berikut : 1. Mempertahankan Pembukaan UUD 1945 2. Mempertahankan Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia 3. Mempertahankan Sistem Pemerinahan Presidensiil 4. Memindahkan ketentuan-ketentuan normatif dalam Penjelasan ke dalam Pasal-Pasal UUD 1945 5. Perubahan dilakukan dengan cara addendum. Kesepakatan inilah yang oleh MPR akan dijadikan pedoman dalam mengamandemen UUD 1945. Ternyata semua kesepakatan itu dilanggar oleh MPR sendiri. Hal itu semua menjadi objek pembahasan dalam tulisan ini. Karena sempitnya waktu maka yang dikemukakan hanya yang pokok-pokok saja.

MPR memandang UUD hanya dari segi Yuridis-Formal
MPR melihat UUD 1945 hanya sebagai produk yuridis semata-mata, sehingga meninjaunya hanya dari kaca 22
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

mata Yuridis-Formal. Dengan begitu MPR menganut pengertian konstitusionalisme gaya lama. Inti ajaran konstitusionalisme adalah bahwa kekuasaan dapat dikuasai dan dibendung melalui hukum dan bahwa untuk itu UUD merupakan satu-satunya alat untuk membatasi dan mengontrol kekuasaan itu. Jadi fungsi UUD hanya bersifat yuridis-formal. Akan tetapi sejak nasib tragis yang dialami oleh UUD Republik Weimar yang oleh para ahli secara yuridis-formal dianggap sebagai UUD paling lengkap maka pandangan terhadap UUD berubah. Sebagaimana diketahui UUD Republik Weimar pada tahun 1934 telah menghasilkan pemerintahan diktator Hitler yang mengenai kekejamannya tidak ada taranya dalam sejarah. Sejak itu masyarakat umum dan juga tidak sedikit kaum ilmuwan tidak tertarik lagi pada masalah UUD. Terjadilah perkembangan di bidang teori konstitusi, pengaruh atau daya yuridis UUD semakin memudar karena makin menonjolnya peranan politisnya. Jadi, terjadilah pergeseran fungsi UUD. Kini UUD menjadi titik tolak baru yaitu teori fungsional mangenai konstitusi. UUD 1945 bukan hanya merupakan landasan yuridis bagi Negara RI, tetapi juga sebagai lambang hak bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, sebagai lambang perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaannya dan sebagai faktor integrasi bangsa. Dengan demikian UUD 1945 sarat dengan muatan politispsikologis. Dapat dikatakan bahwa terutama di Asia Afrika, UUD 1945 memelopori pemikiran mengenai konstitusi dan UUD. Tekanan bukan lagi pada dimensi dan problematik yang normatif-yuridis melainkan pada fungsi–fungsi dan dampak konstitusi kepada negara dan sistem politiknya. Teori integrasi yang terkandung dalam UUD 1945 menganut pengertian tentang negara dan konstitusi yang luas dan dinamis.
Pengantar Sri Soemantri

23

MPR masih terbelenggu oleh pemikiran gaya lama mengenai konstitusi atau UUD. Akibatnya MPR tidak memperdulikan dampak politis yang diakibatkan oleh serentetan amandemen yang dilakukannya terhadap UUD 1945.

MPR melanggar Pembukaan UUD 1945 dan telah membuat UUD baru
Walaupun dikatakan bahwa Pembukaan UUD 1945 akan dipertahankan, tetapi dalam kenyataannya pasalpasal yang merupakan penjabaran dari pembukaan diubah juga. Perubahan-perubahan yang terjadi secara terang-terangan bertabrakan atau menyimpang dari pembukaan. Berarti bahwa yang dimaksud mempertahankan adalah dalam arti harfiah. Dari situ dapat disimpulkan bahwa MPR tidak mengerti atau dengan sengaja tidak mau mengerti fungsi dari Pembukaan. Tidak semua UUD mempunyai preambule atau pembukaan. UUD 1945 adalah salah satu UUD yang memuat pembukaan yaitu suatu bagian dari UUD yang tertinggi tingkatannya, artinya bahwa preambule mendasari sistem konstitusi dan mengikat sistem kenegaraan. Dengan demikian, tingkatan Pembukaan UUD 1945 adalah di atas Batang Tubuh dan Penjelasannya. Hal-hal yang terdapat dalam Batang Tubuh dan Penjelasan UUD 1945 tidak boleh terlepas dari Pembukaan. Sistem konstitusi dan struktur bangunan Negara RI dibangun di atas landasan Pembukaan UUD 1945. Menurut bahasa UUD 1945, dalam Pembukaan terkandung pokok-pokok pikiran yang menguasai hukum dasar baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Menurut bahasa hukum, Pembukaan memuat asas-asas dasar, asas-asas, dan sendi-sendi pokok kehidupan Negara RI. Oleh karenanya perlu diketahui pokok-pokok pikiran apa saja yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. 24
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pembukaan hanya terdiri dari empat Paragraf atau alinea saja. Keempat alinea itu merupakan suatu kesatuan dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Pokok pikiran yang terkandung dalam alinea pertama adalah bahwa kemerdekaan itu adalah hak bangsa, yang mengandung arti bahwa negara adalah milik bangsa, milik seluruh rakyat Indonesia. Ini merupakan asas dasar yang membawa konsekuensi bahwa apabila timbul masalah mendasar yang menyangkut eksistensi dan kehidupan negara, maka rakyat wajib diberitahu dan rakyat berhak untuk bicara. Alinea kedua mengandung pokok pikiran yang isinya adalah bahwa Negara Indonesia merdeka adalah produk sejarah dan merupakan hasil perjuangan seluruh rakyat. Alinea kedua ini mengandung pesan agar generasi-generasi mendatang jangan sekali-kali melupakan sejarah perjuangan bangsa. Ini merupakan asas dasar pertama tadi. Konsekuensinya adalah bahwa sejarah perjuangan bangsa merupakan mata pelajaran wajib untuk sekolah-sekolah Indonesia. Pokok pikiran yang terkandung dalam alinea ketiga merupakan asas dasar yang mengalir dari asas dasar pertama dan kedua. Jadi, berhubungan erat dengan pokokpokok pikiran dari alinea pertama, kedua dan keempat, khususnya pokok-pokok pikiran kedua dan keempat yang terdapat dalam alinea keempat seperti akan diuraikan nanti. Perjuangan bangsa dan kemerdekaan bangsa dapat dicapai hanya berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa. Alinea ini membuktikan bahwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menyatu dengan UUD 1945 yang telah berhasil menyatukan bangsa Indonesia dan untuk membela serta menegakkannya rakyat rela mengorbankan segala-galanya. Selanjutnya alinea ini menggarisbawahi tekad dan keinginan rakyat Indonesia akan
Pengantar Sri Soemantri

25

berkehidupan kebangsaan yang bebas. Alinea keempat memuat pokok-pokok pikiran berupa asas-asas dasar yang paling mendasar yaitu falsafah dasar negara dan fungsi-fungsi negara. Dari asas-asas dasar yang termuat empat alinea dalam Pembukaan kemudian mengalir aspek-aspek dari teori bernegara bangsa Indonesia dan asas-asas yang menguasai kehidupan dan perkembangan negara. Ternyata masalah yang sangat mendasar ini tidak dipahami atau sengaja tidak mau dipahami oleh MPR. Maka terjadilah perubahan-perubahan yang bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945 yang pada hakikatnya telah mengubah UUD 1945 menjadi UUD 2002 dan perubahan ini dilakukan tanpa mandat khusus dari rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Dengan demikian MPR secara terang-terangan telah melakukan peyelewengan.

Pengertian kedaulatan menurut Pembukaan UUD 1945
Selain mengenai Pembukaan UUD 1945, MPR juga telah memanipulasi pengertian kedaulatan yang dianut UUD 1945. Mengenai masalah kedaulatan terdapat kesimpang-siuran dan salah pengertian di Indonesia. Di lembaga-lembaga pendidikan diajarkan bahwa kita menganut ajaran kedaulatan rakyat dari Jean Jacques Rousseau. Kesimpangsiuran ini telah dimanfaatkan oleh MPR untuk mencapai tujuannya yaitu melakukan amandemen terhadap UUD 1945. Dikatakan bahwa menurut sistem UUD 1945, MPR adalah pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat dengan kekuasaan yang tidak terbatas. Dengan demikian MPR telah mengambil alih kedaulatan rakyat sepenuhnya, artinya rakyat telah kehilangan kedaulatannya. Menurut MPR hal ini perlu diluruskan. Maka lahirlah 26
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

rumusan pasal 1 ayat (2) baru, seolah-olah dengan rumusan baru itu rakyat tidak kehilangan kedaulatannya. Masalah ini perlu diluruskan. Ajaran kedaulatan yang dianut UUD 1945 adalah unik karena telah merenovasi ajaran kedaulatan yang untuk pertama kali lahir di dunia Barat. Kalau kini di Barat orang sudah mulai menyangsikan kegunaannya sehingga mulai meninggalkannya, maka UUD 1945 sejak semula telah merevolusinya. Ajaran kedaulatan bermula di Gereja Roma Katolik yang mengatakan bahwa kekuasaan tertinggi adalah pada Tuhan Yang Maha Esa dan semua kekuasaan di dunia ini berasal dariNya. Terhadap ajaran ini kemudian timbul reaksi-reaksi. 1. Reaksi pertama datang dari seorang pembantu Raja Perancis bernama Jean Bodin mengatakan bahwa kekuasaan tertinggi ada pada raja. Dengan kekuasaan diartikannya sebagai kekuasaan tertinggi dalam negara yang bersifat original, bulat, dan tidak dapat dibagi. Jadi, Jean Bodin mengajarkan kedaulatan raja. 2. Kemudian timbul ajaran Jean Jacques Rousseau yang menggeser kekuasaan itu dari raja kepada rakyat. Lahirlah ajaran kedaulatan rakyat. Dalam ajarannya ini tidak ada tempat bagi segala yang berbau Tuhan dan Raja. 3. Menurut John Austin dari Inggris kedaulatan berada di tangan the King/Queen in Parliament. Menurut doktrin Inggris dalam parlemen mereka Raja/Ratu menyatu dengan kaum ningrat dan perwakilan rakyat biasa. 4. Kemudian di Jerman timbul ajaran yang mengatakan bahwa kedaulatan berada di tangan negara. 5. Kemudian lagi timbul ajaran mengenai kedaulatan hukum. Jadi, kekuasaan tertinggi bukan pada orang atau badan tertentu tetapi pada hukum.
Pengantar Sri Soemantri

27

Suasana Sidang Umum MPR 1999. Tampak Amin Arjoso melakukan diskusi, lobby, dan perdebatan dengan sesama anggota MPR terkait amandemen UUD 1945.

28

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pengantar Sri Soemantri

29

6. Selanjutnya James Madison dan Alexander Hamilton dari Amerika Serikat mengajarkan bahwa kedaulatan dapat dibagi (teori kedaulatan Pluralistik), dalam hal ini kedaulatan Amerika Serikat dibagi antara pusat dan negara-negara bagian. 7. Herman Dooyeweerd dari Belanda dan Harold Laski dari Inggris mengemukakan suatu variasi dari ajaran kedaulatan yang pluralistik. Dia mengatakan dalam negara terdapat orang, golongan atau kelompok seperti kelompok keagamaan, dan sebagainya, yang berdaulat dalam lingkungannya sendiri. Siapa pun, termasuk negara, tidak boleh campur tangan dalam urusan lingkungan itu (tentu kecuali kalau melanggar ketertiban dan keamanan umum). 8. Pada tahun 1958 di Perancis lahir ajaran bahwa kedaulatan adalah di tangan bangsa, dan dengan bangsa dimaksud selain rakyat yang ada sekarang, juga rakyat yang pernah hidup dan yang akan datang. Hal ini dimaksudkan supaya rakyat Perancis sekali-kali jangan melupakan sejarah bangsanya. Oleh karena itu kalau ada niat mengubah UUD-nya, rakyat harus ditanya terlebih dahulu. 9. Karena begitu banyak terdapat teori mengenai kedaulatan maka di Eropa pada tahun 1970-an timbul pendapat di antara para pakar, bahwa pengertian kedaulatan telah kedaluarsa atau setidaknya tidak terpakai lagi di bidang hukum tata negara. Para Bapak Pendiri Negara kita pada tahun1945 seolaholah sudah mengantisipasi perkembangan tadi sehingga sejak semula mereka membuat rumusan yang sama sekali berbeda. Pengertian kedaulatan yang dianut UUD 1945 terdapat dalam Pembukaan : Negara RI yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan 30
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pengertian itu mempunyai berbagai aspek yang dijabarkan lebih lanjut dalam Batang Tubuh dan Penjelasan sebagai berikut : - Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR. (Pasal 1 ayat 2). - Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. (Pasal 29 ayat 1). - MPR memegang kedaulatan Negara. (Penjelasan Pasal 3). - Negara Indonesia ialah Negara yang berdasar atas hokum (rechtsstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtssaat). (Penjelasan mengenai sistem Pemerintahan Negara). Kemudian dalam Pasal 28 dan Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 terdapat uraian mengenai kemerdekaan warga yang pada hakikatnya merupakan kedaulatan dalam lingkungan sendiri : - Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pendapat dengan lisan dan tertulis dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang. - Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Selain itu dalam Pembukaan UUD 1945 digunakan istilah bangsa dan rakyat secara bergantian dalam arti yang sama, yang berarti bahwa : - UUD 1945 juga menganut kedaulatan bangsa Jadi, ajaran-ajaran yang timbul di Barat tentang kedaulatan sangat beragam karena suatu ajaran hanya mengePengantar Sri Soemantri

31

nai salah satu aspek saja dari kedaulatan dan semua itu oleh UUD 1945 dipadukan sehingga dengan begitu telah terkandung dalam pengertian kadaulatan yang dianut UUD 1945. Berbagai aspek dari kedaulatan yang di Barat berdiri sendiri-sendiri, oleh UUD 1945 diintegrasikan dan dipadukan sehingga dikatakan bahwa UUD 1945 menganut ajaran kedaulatan yang terpadu. Pendapat yang dikemukakan oleh MPR tersebut di atas diambil dari rumusan Pasal 1 ayat (2), dihubungkan dengan Penjelasan Pasal 3. Jadi, ketentuan Pasal 1 ayat (2) dan Penjelasan Pasal 3 dilepaskan dari induknya yaitu rumusan yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 kepada kedaulatan rakyat. Dari rumusan mengenai kedaulatan ini sudah tampak secara jelas teori integrasi yang dianut UUD 1945 mengenai negara. Para Bapak Pendiri Negara kita tidak menghendaki negara demokrasi Indonesia didasarkan kedaulatan rakyat yang dilandasi individualisme. Dipandang dari sudut ini maka rumusan Pasal 1 ayat (2) baru, selain tidak sesuai juga bertentangan dengan Pembukaan.

Ketuhanan Yang Maha Esa
Telah dikatakan bahwa ajaran kedaulatan dari Rousseau terbatas dari segala yang berbau Tuhan dan raja, Hanya saja MPR menafsirkan Ketuhanan yang Maha Esa itu dari sudut salah satu agama sehingga tidak mengakui semua agama dan tidak ada tempat bagi kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa. Padahal kedaulatan rakyat berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung pengertian freedom of worship atau kebebasan beribadat menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, dan dalam hal ini negara tidak boleh campur tangan. Itu yang dinamakan kedaulatan dalam lingkungan sendiri. MPR mencampuradukan freedom of worship dan freedom 32
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

of thought. Dalam pasal 28E baru freedom of worship dipecah, dalam ayat (1) diuraikan kebebasan beragama dan dalam ayat (2) diuraikan kebebasan meyakini kepercayaan. Digambarkan seolah-olah hanya agama yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa sedangkan kepercayaan tidak demikian. Selain itu kebebasan beragama disatukan dengan kebebasan memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan dan memilih tempat tinggal. Dengan begitu digambarkan seolah-olah hanya menganut agama yang diberikan memilih pendidikan dan sebagainya. Sedangkan kebebasan meyakini kepercayaan disatukan dengan kebebasan menyatakan pikiran dan sikap. Selanjutnya dalam pasal 31 ayat (3) baru, dinyatakan bahwa pemerintah wajib menyelenggarakan sistem pendididkan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan yang berarti bahwa MPR menghendaki agar pemerintah menyelenggarakan pendididikan agama, sehingga dengan demikian pemerintah campur tangan dalam kebebasan beragama. Dengan lain perkataan Negara RI telah berubah menjadi negara agama. Hal ini secara terang-terangan bertentangan dengan pembukaan UUD 1945.

Persatuan Indonesia
Di atas telah diuraikan bahwa kedaulatan rakyat juga berdasarkan persatuan Indonesia. Dalam hubungan ini hendaknya perlu diingat bahwa bahasa yang digunakan UUD 1945 adalah bahasa Indonesia yang sedang dalam awal pertumbuhan. Persatuan berarti bersatu dalam satu kesatuan dan bukan dalam arti federalisme. Hal ini mengandung arti bahwa kedaulatan adalah terpusat dan tidak dapat dibagi seperti di Amerika Serikat. Dengan adanya Bab VII baru, dengan pasal 22C dan 22E baru, maka nampaknya kedaulatan telah terbagi antara pusat dan daerah. Dari rumusan pasal 22Cdan 22D
Pengantar Sri Soemantri

33

baru itu dapat diketahui bahwa pemerintah pusat tidak dapat melakukan tindakan atau pengaturan yang berkaitan dengan masalah daerah tanpa mengikutsertakan daerah, karena itu diadakan dewan perwakilan daerah. Hal ini merupakan federalisme secara terselubung. Jadi walaupun dikatakan negara kesatuan secara formal dipertahankan, tetapi dengan adanya pasal-pasal baru ini maka pada hakikatnya negara kesatuan Indonesia telah berubah menjadi Negara Serikat.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan
Kerakyatan menunjuk kepada demokrasi Indonesia. Menurut Prof. Robert A. Dahl teori mengenai demokrasi bukan hanya satu tetapi banyak. Ada teori demokrasi yang pluralistis, ada yang dinamakan elitis, ada demokrasi pasifikasi, ada teori demokrasi yang partisipatif. Dalam hubungan ini Prof. J.R. Lucas menambahkan bahwa each country regards its self as a democracy,and is indignant at the pretensions of it is rivals,which also describe themselves as democracies and maintain that every other country must be fraudulent in its claims. Intinya, tidak ada negara yang sama karena masingmasing negara mempunyai akar sejarah dan budaya yang berbeda-beda. Jadi kesimpulannya, Indonesia tidak harus dan tidak perlu mencontoh demokrasi dari negara lain seperti dilakukan oleh MPR dengan amandemennya. Demokrasi yang dianut dalam Pembukaan UUD 1945 adalah kerakyatan atau demokrasi kekeluargaan. Mengenai pengertian yang terkandung dalam istilah kerakyatan telah diuraikan di atas sehingga jelas bahwa demokrasi kita adalah asli Indonesia. Kalau membaca rumusan pasal-pasal dari Bab XA yaitu pasal 28A s/d pasal 28J baru, maka tidak pelak lagi 34
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

bahwa pasal-pasal itu menganut paham individualisme dan liberalisme seperti waktu UUDS 1950. Hal itu berarti bahwa Bab XA beserta pasal-pasalnya itu bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. MPR merupakan penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia. Para bapak pendiri negara kita menyadari bahwa masyarakat Indonesia akan mengalami modernisasi tetapi masyarakat pada umumnya akan bersifat tradisional. Mereka tidak menghendaki praktek jegal-menjegal dan lain-lain gejala seperti yang terjadi di Barat sebagai akibat falsafah individualisme. Mereka tidak mempertentangkan modernisasi dengan tradisi. Mereka secara naluriah telah mengantisipasi hasil penelitian para ahli pada tahun 1960-an yang berkesimpulan bahwa dalam negara-negara sedang berkembang peranan pemimpinnya sangat menentukan. Dalam masyarakat yang demikian itu aspirasi dan pendapat rakyat Indonesia akan disuarakan oleh pemimpin-pemimpin atau tokoh-tokohnya, yaitu pemimpin-pemimpin atau tokoh–tokoh politik, pemimpin atau tokoh-tokoh daerah (tokoh-tokoh adat dan tokoh panutan dari daerah lainnya yang bukan tergabung dalam partai politik) dan pemimpin-pemimpin atau tokoh-tokoh golongan fungsional. Pemikiran para bapak pendiri negara kita yang dirumuskan pada tahun 1945 itu kemudian pada tahun 1950 –an di dunia Barat golongan itu menjelma dalam golongan fungsional. Salah satu penjelmaan dari golongan ini adalah kelompok-kelompok kepentingan kini yang di dunia Barat mempunyai peranan penting dalam kehidupan negara. Di Perancis umpamanya di lingkungan golongan ini terdapat ratusan kelompok yang kepentingannya ditampung dalam Conseil d’Etat yang mempunyai empat seksi (section administrative) yaitu untuk urusan ekonomi, urusan dalam negeri, urusan pekerjaan umum, dan urusan sosial. Keempat seksi ini bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah Perancis mengenai pemPengantar Sri Soemantri

35

buatan RUU, RPP, dan rancangan keputusan lain. Kemudian menyusul Conseil Economie et Social (dewan ekonomi). Di Italia golongan-golongan itu ditampung dalam consiglio nazionale dell’ economia e del lavor (dewan ekonomi dan tenaga kerja). Di Belanda golongan–golongan itu terdiri dari lebih kurang 386 badan yang memberikan nasehat kepada Raad van State (DPA mereka). Di Amerika Serikat golongan–golongan itu menjelma menjadi pressure groups yang sering berhubungan langsung dengan kongres dan pemerintah. Melihat perkembangan–perkembangan di negara Barat maka golongangolongan ini secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan pemerintah atau dewan perwakilan rakyat. Di Indonesia golongan-golongan itu merupakan sebagian dari rakyat yang tergabung dalam MPR dan yang langsung ikut serta dalam penentuan arah dan perjalanan dan perkembangan negara. Jadi, kalau di Eropa golongan-golongan dari rakyat ditampung dalam berbagai lembaga yang berbeda-beda maka di Indonesia menurut UUD 1945 penjelmaan seluruh rakyat ditampung di MPR. Golongan-golongan itu diwujudkan oleh tokoh-tokoh politik dari yang ada di DPR, ditambah tokoh-tokoh dari daerah dan tokoh-tokoh golongan fungsional. Para tokoh ini berkumpul sekali dalam lima tahun untuk membahas perkembangan yang terjadi dan menentukan arah perjalanan negara dan bangsa selanjutnya. Hasil konsultasi mereka dituangkan dalam bentuk garis-garis besar daripada haluan negara yang berisikan rambu–rambu dan pedoman pelaksanaan nya. Selanjutnya pelaksanaannya dipercayakan kepada presiden yang masa jabatannya adalah lima tahun, disertai syarat bahwa pelaksanaannya harus didasarkan un36
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

dang-undang untuk mana presiden harus bekerjasama dengan DPR. Dan pelaksanaan itu presiden diawasi oleh DPR, DPA, BPK, Mahkamah Agung dan oleh rakyat itu sendiri. Apabila terjadi penyimpangan maka DPR wajib menegur presiden dan apabila tidak digubris maka DPR memanggil MPR bersidang untuk “mengadili“ Presiden. Itulah blue print system MPR menurut UUD 1945. Kalau itu dilaksanakan secara benar artinya semua pihak yang bersangkutan melaksanakan tugas kewajibannya akan terjadi pemerintahan yang stabil dan yang lebih penting lagi demokratis gaya Indonesia. Jadi rakyat sebagai pemilik negara mempercayakan pengelolaan kedaulatan rakyat kepada MPR sebagai manajer kedaulatan rakyat. MPR diberikan wewenang untuk apa saja yang diperlukan dengan catatan bahwa kalau mengenai masalah-masalah yang sifatnya sangat mendasar maka MPR harus bertanya kepada rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Dengan amandemen yang dilakukan oleh MPR yaitu melalui pasal 1 ayat (2) baru, maka rakyat telah kehilangan kedaulatannya. Dengan demikian pasal 1 ayat (2) baru ini bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. Di dunia Barat pada abad XVIII lahir pemikiran pertama mengenai bagaimana supaya kedaulatan dapat menjadi operasional yaitu melalui pemilihan umum. Kemudian lembaga referendum dan inisiatif rakyat (artinya rakyat berhak mengajukan RUU ke parlemen mereka yang kemudian harus membahasnya) masuk UUD Perancis tahun 1973. Dalam amandemen terhadap UUD 1945 hanya disebut pemilihan umum saja yaitu dalam Bab VIIB dengan pasal 22E baru. Hanya hak memilih saja diberikan kepada warga sedangkan hak pilih diberikan kepada partai politik untuk DPR dan hak perorangan untuk DPD. Pada zaman
Pengantar Sri Soemantri

37

Atas: Amin Arjoso (belakang tengah) berfoto bersama para anggota MPR RI peserta Sidang Paripurna MPR RI tahun 1999. Bawah: Amin Arjoso aktif berdiskusi dengan anggota MPR RI peserta sidang, 1999.

38

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Amin Arjoso giat menggalang dukungan para anggota MPR RI untuk menolak amandemen UUD 1945 yang merupakan upaya mengganti konstitusi NKRI dengan intervensi Amerika Serikat melalui NDI dan Cetro yang bekerja sama dengan berbagai kalangan “pengkhianat” di dalam negeri. Termasuk politisi, pers, LSM, dan akademisi. Dokumen tentang itu telah beredar luas.
Pengantar Sri Soemantri

39

UUDS 1950 hak memilih dan hak dipilih diberikan kepada perorangan. Jadi, amandemen yang dibuat MPR adalah lebih mundur. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan hanya diberikan hak memilih. Dengan demikian amandemen kembali ke zaman abad XVIII sewaktu demokrasi sedang di awal perkembangannya. Hal ini adalah tidak sesuai dengan pengertian demokrasi kekeluargaan yang dianut dalam pembukaan. Kesimpulannya, amandemen ini tidak sesuai dengan Pembukaan UUD 1945. Selain itu dapat dikatakan, kedaulatan rakyat telah berubah menjadi kedaulatan partai politik.

MPR pasca amandemen bukan lagi merupakan penjelmaan seluruh rakyat
Dengan rakyat kehilangan kedaulatannya maka MPR pasca amandemen bukan lagi merupakan penjelmaan seluruh rakyat sehingga tidak merupakan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat dan oleh karena itu tidak berhak menyandang sebutan majelis permusyawaratan rakyat. Dengan begitu pasal 2 ayat (1) baru, bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. Begitu juga rumusan pasal 3 baru ini bertentangan dan tidak sesuai dengan jiwa serta prinsip pembukaan yang menjelma dalam sistem UUD 1945. Dalam hubungan ini perlu dicatat bahwa mengubah dan menetapkan UUD baru, melantik presiden dan/atau wakil presiden, dan memberhentikan presiden dan/atau wakil presiden dalam masa jabatannya bukan merupakan pekerjaan rutin yang dikerjakan pada tiap sidang. Selain itu melantik dan mengambil sumpah presiden/atau wakil presiden tidak harus dilakukan oleh MPR-baru tetapi dapat dilakukan oleh Ketua Mahkamah Agung. Karenanya menjadi persoalan apa saja kerja MPR– baru dan para anggotanya selama masa jabatannya. Jadi, kalau hanya itu wewenang MPR pasca amandemen, 40
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

maka MPR–baru itu tidak perlu ada.

Masalah golongan minoritas
Masalah golongan minoritas merupakan masalah yang penting dalam demokrasi. Biasanya persoalan ini dipecahkan dengan memberikan kepadanya jatah tertentu dalam lembaga perwakilan seperti pernah terjadi di bawah naungan UUDS 1950. Dalam sistem menurut amandemen buatan MPR tidak ada tempat bagi golongan minoritas, dengan demikian golongan minoritas harus menerima saja apa yang dikehendaki golongan mayoritas. Dengan begitu yang berlaku adalah tirani mayoritas yang tidak sesuai dengan demokrasi kekeluargaan. Dalam sistem UUD 1945 hal itu tidak bisa terjadi. Seluruh rakyat mempunyai wakil di MPR dan mereka ikut serta dalam menentukan haluan negara. Dengan demikian sistem yang dibangun berdasarkan pasal 1 ayat (2) dihubungkan dengan pasal 2, 3, dan 22E baru adalah bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945.

Sistem pemerintahan presidensiil
Tidak jelas apa yang dimaksud oleh MPR dengan sistem presidensiil. Yang pasti adalah bahwa sistem ini mengenai hubungan antara parlemen dan presiden. Kalau ciri-ciri pokok dari sistem presidensiil ditentukan bahwa presiden dipilih untuk jangka waktu yang tetap dan antara parlemen dan presiden tidak ada garis hubungan pertanggungjawaban, dan menteri-menteri adalah pembantu presiden dan hanya bertanggung jawab kepada presiden. Kalau ini dijadikan pegangan maka Amerika Serikat, Perancis, dan Indonesia di bawah naungan UUD 1945 menganut sistem pemerintahan presidensiil. Mungkin dapat juga dimasukkan Portugal dalam kategori ini. Kalau mengikuti James Madison sebagaimana dikePengantar Sri Soemantri

41

mukakannya dalam The Federalist No. LI yaitu mengenai pengaturan pemerintahan by so contriving the interior sctructure of the government as that its several constituent part may, by their mutual relations,be the means of keeping each other in their proper places. Karenanya di Amerika Serikat kekuasaan kongres adalah pembentukan undang-undang yang terpisah secara tajam dari kekuasaan presiden yang terletak di bidang eksekutif saja, sehingga presiden dan para pembantunya tidak campur-tangan dalam urusan pembentukan undang-undang. Kalau itu yang dijadikan ukuran, maka sistem presidensiil hanya terdapat di Amerika Serikat. Menurut Madison pemisahan kekuasaan dan federalisme adalah demi terjaminnya kebebasan warga serta pemerintahan yang baik dan untuk menegakkan check and balances, sehingga mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Madison memusatkan perhatiannya kepada kongres dan presiden, walaupun antaranya harus terjalin kerja sama tetapi kedua lembaga itu adalah merdeka. Anggota kongres merupakan pilihan langsung rakyat dan demikian juga presiden dengan mengikuti pendapat Montesquieu bahwa yang terpenting adalah legislatif dan bahwa eksekutif menjalankan putusan legislatif, maka presiden harus menjalankan putusan kongres. Oleh karena itu kekuasaan membuat UU hanya pada kongres, presiden dan para menteri tidak ikut campur dalam pembahasan sesuatu RUU. Akan tetapi kalau suatu RUU telah disetujui oleh kongres maka sebelum dapat berlaku harus memperoleh tanda tangan presiden. Apabila isi RUU tidak sesuai dengan gagasan presiden dan partainya merupakan minoritas dalam kongres sehingga kalah suara, maka presiden dapat mem-veto RUU tersebut artinya dia tidak mau menandatangani dalam waktu dua hari yang diwajibkan. Dengan begitu RUU dikembalikan dan kongres harus mengulangi proses pembahasannya. Untuk dapat diaju42
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

kan kembali kepada presiden untuk ditanda-tangani, RUU itu harus memperoleh persetujuan dua pertiga dari jumlah suara di kedua kamar dari kongres dan hal itu tidak pernah terjadi. Selain itu presiden adalah commander-in-chief angkatan bersenjata dan dia mempunyai wewenang mengangkat pejabat-pejabat federal yang penting. Juga kekuasaan diplomatik berada di tangannya, tetapi untuk meratifikasi perjanjian-perjanjian dengan negara lain diperlukan mayoritas khusus yaitu dua-per-tiga jumlah suara di senat. Juga wewenang untuk menyatakan perang kepada negara lain berada dalam tangan kedua kamar kongres secara bersama-sama tetapi pihak eksekutif dapat melakukan tindakan-tindakan yang sedemikian rupa sehingga kongres terpaksa mengumumkan perang. Itulah inti dari sistem presidential dengan check and balances yang diterapkan di Amerika Serikat. Sistem presidensiil yang dianut Perancis sama sekali lain dari sistem presidensiil Amerika Serikat. Sama halnya dengan Amerika Serikat maka parlemen Perancis dan presidennya dipilih langsung oleh rakyat. Hal ini menyebabkan presiden selama masa jabataannya tidak dapat dijatuhkan oleh parlemen. Dia mengangkat perdana menteri yang memerlukan persetujuan parlemen. Presiden juga mengangkat para menteri atas usul perdana menteri setelah berkonsultasi tidak resmi dengan parlemen terutama partai-partai oposisi. Perdana menteri dan menteri-menteri tidak boleh merangkap keanggotaan parlemen. Kekuasaan legislatif dibagi dua. Kewenangan legislatif parlemen terbatas hanya pada hal-hal tertentu yang disebut dalam pasal 34 UUD1958,mengenai hal-hal lain termasuk pouvoir reglementair pemerintah. Dalam membahas RUU di parlemen menteri yang bersangkutan ikut serta. Produk legislatif parlemen dinamakan loi (UU) dan produk pemerintah disebut dekrit. Resminya kepala pemerintahan adalah Perdana Menteri tetapi kebijaksaPengantar Sri Soemantri

43

naan pemerintah ditentukan oleh Presiden. Pemerintah di bawah Perdana Menteri harus mendapat kepercayaan dari Presiden dan parlemen. Dalam keadaan biasa Perdana Menteri yang mengendalikan pemerintahan dan dia bertanggung jawab kepada parlemen, tetapi dalam keadaan luar biasa kendali pemerintahan berada di tangan Presiden. Apabila lembaga-lembaga negara, kemerdekaan bangsa dan pelaksanaan kewajibankewajiban Internasional tiba-tiba sangat terancam dan pelaksanaan tugas–tugas pemerintahan menjadi terhenti maka Presiden diberikan wewenang penuh untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan. Presiden yang menentukan apakah terdapat keadaan luar biasa itu setelah berunding dengan kedua Ketua dari Kamar Parlemen dan Mahkamah Konstitusi. Nasehat Mahkamah Konstitusi harus diumumkan dan Presiden harus memberitahukan kepada rakyat tentang keadaan luar biasa itu. Selama keadaan luar biasa itu, Presiden tidak diperkenankan membubarkan parlemen dan kekuasaan legislatif parlemen dibatasi hanya mengenai masalah–masalah yang tidak berhubungan dengan keadaan luar biasa itu. Presiden tidak bertanggung jawab kepada parlemen, dia wajib pertanggungjawaban hanya kalau terjadi haute traison (pengkhianatan besar) dalam rangka pelaksanaan tugasnya, tetapi tidak jelas apa yang dimaksud dengan pengkhianatan besar karena tidak ada presiden. Dengan adanya rumusan pasal 5 ayat (1) baru dihubungkan dengan pasal 20 baru dari amandemen ke-1 dan ke-2, maka MPR menganut sistem presidensiil campuran antara sistem Perancis dan sistem Amerika Serikat. Dengan demikian menjadi pertanyaan apa sebetulnya yang dimaksud dengan menegakkan prinsip check and balances. Yang jelas bahwa rumusan baru itu tidak mengikuti sistem check and balances. 44
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Selain itu yang jelas juga bahwa rumusan pasal 5 ayat (1) baru dihubungkan dengan pasal 20 baru tidak sesuai dan bertentangan dengan jiwa dan prinsip–prinsip yang terkandung dalam Pembukaan UUU 1945.

Pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat
Hal ini diatur dalam pasal 6A baru. MPR kurang menyadari bahwa cara pemilihan ini mengandung permasalahan yang sangat mendasar. Hubungan–hubungan yang dominan dalam masyarakat Indonesia adalah hubungan primer yang cenderung kepada “pemikiran hitam putih” kalau bukan kawan berarti lawan yang harus dihancurkan. Sistem pemilihan presiden langsung oleh rakyat dengan demikian akan menimbulkan polarisasi di lingkungan masyarakat sehingga akan menimbulkan perpecahan yang sulit untuk disembuhkan. Polarisasi pendapat ini terjadi pada pemilihan lurah di desa sehingga masyarakat desa terbelah yang walaupun memakan waktu lama tetapi masih dapat dipulihkan kembali karena terdapat hubungan tetangga dan kekerabatan yang terjalin di antara masyarakat pedesaan. Perpecahan juga terjadi waktu pertandingan sepakbola yang sering menimbulkan tawuran antara pendukung kesebelasan. Perpecahan ini sulit untuk disembuhkan. Masalah ini bertambah parah kalau terjadi dalam skala nasional seperti pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat. Belum lagi kalau diingat betapa banyak faktor disintegrasi yang tertanam secara dalam sekali dan permanen dalam tubuh Nusa dan Bangsa. Para bapak pendiri negara kita dan perumus UUD 1945 mengetahui betul keadaan tersebut sehingga mereka merumuskan ketentuan yang tercantum dalam pasal 6 ayat (2) asli/lama. Para anggota MPR diharapkan sudah dapat melepaskan diri dari kungkungan primordialisme. MenuPengantar Sri Soemantri

45

rut UUD 1945 (asli) program yang harus dikerjakan oleh presiden adalah program yang dibuat MPR sebagai penjelma seluruh rakyat Indonesia. Dan penilaian hasil kerja presiden didasarkan pada program itu. Kalau menurut sistem baru ini, presiden bekerja menurut yang dibuatnya sendiri dan di akhir masa jabatannya tidak perlu mempertanggungjawabkan pelaksanaan programnya itu. Dengan demikian rumusan pasal 6A baru ini bertentangan dan tidak sesuai dengan jiwa serta prinsip yang terkandung dalam pembukaan yang menjelma dalam sistematika UUD 1945.

Amandemen menjadikan DPA sebagai bawahan presiden
Amandemen dalam pasal 16 baru menjadikan DPA sebagai bawahan presiden. Tidak jelas pemikiran yang dijadikan sebagai alasan perubahan ini. Negara–negara di dunia mempunyai pola organisasi yang berbeda-beda, ada yang mencontoh Inggris seperti negara-negara commonwealth. Ada yang meniru sistem Amerika Serikat seperti negara-negara Amerika Selatan. Ada negara–negara yang mencontoh pola organisasi negara–negara Eropa Kontinental. Secara umum dapat dikatakan bahwa dalam hal DPA negara kita di bawah UUD 1945 mengikuti pola Eropa Kontinental. Memang tugas DPA adalah memberikan nasehat kepada presiden baik diminta maupun tidak diminta. Akan tetapi fungsi DPA yang sebenarnya adalah melakukan pengawasan tidak langsung terhadap presiden. Memang selama ini fungsi ini tidak jalan. Selama ini keanggotaan DPA dipilih berdasar tolok ukur politis sehingga para anggota DPA adalah “orang“ pemerintah atau setidaknya pro-pemerintah. Jadi, mereka tidak atau kurang independen dan hasil karyanya pada umunya bersifat politis. Dapatlah dimengerti timbulnya anggap46
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

an bahwa lembaga DPA tidak diperlukan. Seharusnya keanggotaannya didasarkan kepakaran dan keahlian di berbagai bidang yang diperlukan agar DPA dapat melaksanakan fungsinnya. Lihat saja umpamanya conseil d’etat (DPA-nya Perancis) yang banyak memberikan masukan kepada pemerintah. Begitu juga consiglio di stato Italia dan raad van state Belanda. Di Belanda umpanya semua perjanjian internasional yang memerlukan persetujuan parlemen mereka terlebih dahulu dikaji oleh DPA–nya Belanda. Juga dalam persiapan pembuatan RUU DPAnya Belanda mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karena bukan merupakan bawahan presiden maka DPA bersifat independen sehingga DPA dapat menegur presiden. Dengan demikian yang melakukan pengawasan terhadap presiden menurut UUD 1945 adalah DPR, DPA, BPK dan Mahkamah Agung bersifat teknis. Selain itu rakyat berhak juga melakukan pengawasan terhadap presiden. Dengan sistem pengawasan ini kemungkinan presiden melakukan penyelewengan dapat ditekan sampai tingkat yang seminimal mungkin. Sayang sekali bahwa sistem penugasan ini belum pernah berjalan karena perangkat undang-undangnya belum pernah ada. Oleh karena selama ini DPA dianggap tidak jelas tugasnya dan hasil karyannya maka DPA dianggap tidak perlu ada. Penghapusan DPA atau penurunan DPA menjadi pembantu presiden belaka adalah tidak sesuai dan bertentangan dengan sistem demokrasi kekeluargaan yang terkandung dalam pembukaan.

Amandemen menciptakan tirani DPR
Rumusan pasal 20 baru menciptakan supremasi dari DPR tanpa ada yang dapat menghalangnya. Hal ini menimbulkan tirani DPR sebab walaupun menurut penilaian keadaan yang dilakukan presiden kuranglah tepat waktunya untuk pemberlakuan suatu RUU, presiden dipaksa untuk tetap memberlakukannya dengan segala
Pengantar Sri Soemantri

47

Kegiatan lobby yang dilakukan Amin Arjoso dalam SU MPR 1999.

48

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Sebagai anggota DPR-MPR RI dari PDI Perjuangan, Amin Arjoso aktif mengikuti Sidang Umum MPR RI 1999.
Pengantar Sri Soemantri

49

resiko yang mungkin terjadi. Dengan begitu tidak ada sistem check and balances seperti yang disepakati oleh MPR. Check hanya berlangsung satu pihak saja yaitu dari pihak DPR dan tidak ada balance sebagai imbalannya. Dapat dikatakan bahwa dengan demikian DPR telah melakukan intervensi ke bidang kekuasaan presiden. Tirani dari DPR tampak lagi dalam rumusan pasal 23 ayat (3). Presiden harus menerima apa kehendak DPR. Pemaksaan kehendak DPR Nampak juga dalam pasal 11 baru, pasal 13 baru, dan pasal 14 ayat (2) baru. Kesimpulannya pasal-pasal baru tersebut bertentangan dengan jiwa dan semangat demokrasi kekeluargaan yang terkandung dalam pembukaan. Demokrasi kekeluargaan menghendaki keseimbangan dan kerja sama antara presiden dan DPR dan bukan pemaksaan kehendak.

Peranan kepala negara
Dari amandemen yang dilakaukan oleh MPR tidak jelas kedudukan presiden sebagai kepala Negara. Di tiap Negara,kepala negaralah yang merupakan lambang dari Negara dan bukan parlemen atau MPR atau lembaga Negara lain. Kepala Negaralah yang mengangkat dan meresmikan pengangkatan pejabat-pejabat negara. Yang memilih para anggota MPR dan DPR bisa saja rakyat tetapi yang mengangkat dan meresmikan keanggotaanya adalah presiden selaku kepala negara. Begitu juga halnya dengan para anggota Mahkamah Agung dan BPK, pengangkatan serta peresmiannya dilakukan oleh presiden selaku kepala negara. Apalagi kalau diingat bahwa pengangkatan itu mempunyai konskuensi keuangan negara. Tidak ada ketentuan dalam seluruh amandemen yang mengatur masalah yang sangat mendasar ini. 50
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Mahkamah Konstitusi
Kalau melihat kewenangan Mahkamah Konstitusi yang diuraikan dalam pasal 7B baru, maka semua kewenangan dari Mahkamah Konstitusi dapat dilakukan oleh Mahkamah Agung, untuk itu lingkungan Mahkamah Agung dibentuk kamar baru dan undang-undang yang ada mengenai peradilan perlu disempurnakan. Dengan demikian tidak perlu repot-repot membentuk suatu lembaga baru. Terdapat suatu keanehan mengenai Mahkamah Konstitusi ini yaitu diuraikan dalam pasal 17A baru. Ketentuan ini menggambarkan seolah-olah hanya presiden yang dapat melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela. Menurut hemat penulis hal-hal itu bisa juga dibuat oleh para naggota DPR dan pejabat-pejabat negara lainnya. Menurut penelitian penulis ketentuan mengenai peradilan pengkhianatan terhadap negara dan tindak pidana serupa terdapat di Perancis yaitu houte cour de justice (pengadilan tertinggi di Perancis yang mengadili tindakantindakan politik tertentu). Yang dimaksud yurisdiksinya bukan hanya presiden Perancis saja tetapi juga pejabatpejabat pemerintah dan para pesertanya (komplotannya) jadi, termasuk para anggota parlemen dan lain-lain. Agak mengherankan kalau hanya presiden yang dapat melakukan pengkhianatan terhadap negara. Rumusan yang terdapat dalam pasal tersebut berbau emosi dan mungkin “balas dendam“ dan bukan berdasar pemikiran rasional. Tak jelas urgensi pembentukan suatu Mahkamah Konstitusi yang berdiri sendiri. Ada kemungkinan bahwa MPR agak prihatin dengan keadaan dan kondisi serta prestasi para hakim sekarang. Kalau itu yang menjadi alasan maka tidak terjamin dan tidak tertutup kemungkinan bahwa penyakit yang menimpa para hakim sekaPengantar Sri Soemantri

51

rang ini juga akan menjangkiti para hakim Mahkamah Konstitusi. Kalau itu yang menjadi alasannya maka yang harus dilakukan adalah pembenahan dan pembaruan kebijakan pembentukan dan pembinaan para hakim.

MPR menghapus penjelasan UUD 1945
MPR menganggap UUD 1945 sudah ketinggalan zaman. UUD 1945 terlalu singkat sehingga tidak memuat hal-hal yang menurut MPR harus ada dalam UUD. Juga MPR berpendapat bahwa penjelasan UUD tidak perlu. Karena itu MPR telah memutuskan menghapus penjelasan UUD 1945 dan memasukkan materinya ke dalam batang tubuh UUD 1945. Hal itu dimulai antara lain dengan rumusan pasal 1 ayat (3) baru dalam amandemen III yang berbunyi negara Indonesia adalah negara hukum. Rumusan ini dicuplik dari penjelasan tentang sistem pemerintahan negara dan lengkapnya berbunyi bahwa Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechsstaat) tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Negara hukum merupakan suatu asas dan bukan aturan hukum sehingga tempatnya lebih tepat dalam penjelasan. Ditempatkan dalam penjelasan karena memberikan penjelasan mengenai asas yang terkandung dalam UUD 1945. Menurut teori konstitusi pembukaan memuat asas-asas dasar dan asas-asas mana lahir aturan-aturan hukum yang dirumuskan dalam batang tubuh UUD. Jadi, penjelasan UUD 1945 selain memuat uraian yang bersifat penjelasan mengenai hal-hal yang diatur dalam pasal-pasal UUD 1945, juga memuat uraian penjelasan mengenai asas-asas dasar-dasar dan asas-asas hukum yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945. Dengan demikian uraian–uaraian tersebut tidak mungkin untuk dipindah ke dalam batang tubuh. Sebagai contoh adalah mengenai cita hukum (rechtsdee) 52
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

yang merupakan salah satu masalah mendasar dalam hukum konstitusi. Dalam penjelasan dikatakan bahwa pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan menguasai hukum dasar tertulis dan tidak tertulis. Menurut teori cita hukum merupakan landasan berlakunya suatu konstitusi atau UUD. Contoh lain adalah cita UUD (grond wetside) yaitu suatu masalah mendasar lain dalam hukum konstitusi, yaitu mengenai hubugan UUD dengan konstitusi artinya halhal apa saja dari konstitusi yang harus dimuat dalam UUD. Cita UUD merupakan masalah penting dalam kehidupan ketatanegaraan. Hal ini jarang dipelajari di Indonesia. Dalam penjelasan UUD 1945 dapat dibaca kita harus hidup dinamis sehingga oleh karenanya janganlah tergesa-gesa memberi bentuk kepada pikiran–pikiran yang masih mudah berubah. Harus dijaga supaya sistem UUD jangan sampai ketinggalan zaman, supaya UUD jangan lekas usang (verouderd). Berhubung dengan itu hanya aturan-aturan pokok saja harus ditetapkan dalam UUD, sedangkan hal-hal yang perlu untuk menyelenggarakan aturan-aturan pokok itu harus diserahkan kepada undang–undang. Hal itu menggambarkan cita UUD kita yaitu hanya yang terpokok saja yang dimuat dalam UUD. Kemudian kalau kita mempelajari UUD 1945 maka akan ternyata bahwa yang dimaksud dengan yang terpokok itu adalah jiwa UUD, sendi–sendi atau asas-asas kehidupan negara dan bangsa yang menjelma dan sistematika UUD 1945. Perlu dicatat bahwa pengertian cita UUD yang di bahas oleh para bapak pendiri negara kita pada tahun 1945 ini kemudian pada tahun 1970-an dan 1980-an dibahas oleh para ahli konstitusi Barat. Umpamanya pakar dari Inggris Prof. Dr. K.C. Wheare mengatakan bahwa isi dari UUD adalah the very minimum, and that minimum to be rules of
Pengantar Sri Soemantri

53

law. Pakar dari Belanda Prof. Mr. M.C. Burkens mengatakan bahwa De grondwet moet berusten op gezonde beginselen (..) die moet blijken uit de in houd van de bidende regels voor staat en maatschappij,die uit die beginselen voorvloeien (UUD harus didasarkan asas yang sehat (...) yang dibuktikan oleh aturan–aturan hukum yang mengikat negara dan masyarakat, aturan–aturan mana mengalir dari asas-asas tersebut tadi). Contoh lain lagi adalah pengertian budaya nasional dan cita budaya yang terkandung penjelasan pasal 32 yaitu bahwa kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budaya rakyat Indonesia seluruhnya dan bahwa kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Selanjutnya bahwa usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, persatuan, dengan tidak menolak bahan–bahan baru dari kebudayaan asing. Jadi, UUD 1945 menghendaki dialog yang positif antara masa lalu dengan keadaan sekarang dan antara keadaan sekarang dengan masa yang akan datang. Contoh lain adalah pasal 6 ayat (1) dan (2) baru rumusan yang terdapat dalam ayat (1) dari pasal 6 baru ini pada hakekatnya hanya menjelaskan pengertian yang terkandung dalam ayat (1) asli. Dengan demikian lebih tepat kalau ditempatkan dalam penjelasan pasal 6 ayat (1). Demikian juga rumusan pasal 6 ayat (2) baru tidak perlu ditempatkan dalam batang tubuh UUD tetapi lebih tepat di dalam penjelasan pasal 6. Dengan menghilangkan penjelasan, MPR telah melenyapkan originalitas UUD 1945 dan menjadikannya UUD saduran. Kita tidak perlu risau karena UUD Negara lain tidak memakai penjelasan. Adanya penjelasan sama sekali tidak mengganggu, malahan bermanfaat karena menjelaskan hal-hal yang terkandung dalam pembukaan. Dapat disimpulkan bahwa MPR dengan sengaja telah 54
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

merusak jiwa, semangat dan asas-asas yang terkandung dalam pembukaaan UUD 1945. Dari itu semua secara jelas tampak bahwa MPR sejak semula bermaksud membuat UUD yang baru sehingga dengan demikian MPR telah mengingkari UUD 1945 sebagai UUD Proklamasi Kemerdekaan dan sebagai lambang perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

Desa yang merupakan benteng dalam revolusi kemerdekaan dilupakan oleh MPR
UUD 1945 secara khusus memberikan tempat bagi desa. Sejarah membuktikan bahwa desa dan masyarakat pedesaan telah menyelamatkan perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya. Tanpa desa tidak ada Republik Indonesia. Negara berhutang budi kepada desa. Seharusnya desa harus ditulis dengan tinta emas. Pemerintah RI bersandar atau bertumpu kepada pemerintahan desa. Seharusnya kemampuan pemerintahan desa dan keadaan masyarakat pedesaan menjadi barometer bagi keadaan Indonesia dan bukan kota, kabupaten dan provinsi. Tidak demikian halnya dengan amandemen yang dilakukan oleh MPR. Perjuangan rakyat pedesaan sama sekali tidak dihiraukan oleh MPR. Desa dimasukkan sebagai onderdil dari kabupaten. Seharusnya desa masuk ke dalam UUD. Selama desa masih dianak-tirikan maka selama itu tidak akan tercapai tujuan mendirikan negara Indonesia merdeka yaitu untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagian terbesar rakyat Indonesia hidup di daerah pedesaan.

Kepentingan daerah
Alasan dibentuknya DPD adalah karena selama ini kepentingan daerah terabaikan. Kalau demikian halnya
Pengantar Sri Soemantri

55

maka kesalahan seharusnya ditimpakan kepada DPR dan para anggotanya. Yang mengetahui dan menyelami kepentingan daerah adalah orang–orang daerah sendiri yaitu pemimpin-pemimpin masyarakat daerah sendiri dan mereka itu belum tentu anggota partai politik. Sistem pemilihan umum juga ikut bersalah dalam hal ini. Kepentingan daerah tidak terjamin dengan sistem proporsional dan sistem daftar. Supaya kepentingan daerah terperhatikan maka pemilihan umum harus dilakukan sistem distrik dan para pesertanya bisa siapa saja dengan persyaratan para calon harus setidak-tidaknya terakhir sekali tiga tahun berturut-turut secara nyata diam atau tinggal di distrik pemilihannya. Dengan begitu akan terpilih orang-orang yang oleh masyarakat daerah bersangkutan dipercayai mengerti serta mampu memperjuangkan kepentingan dan aspirasi masyarakat daerah. Menurut ketentuan pasal 22E ayat (4) baru anggotaanggota DPD ditentukan melalui pemilihan umum dan para pesertanya adalah perseorangan, cuma belum jelas bagaimana pelaksanaannya. Kalau yang digunakan masih tetap sistem yang lama maka belum ada jaminan kepentingan daerah akan diperhatikan. Akan tetapi berdasar ketentuan pasal 22D ayat (1), (2), dan (3) baru pemerintah pusat dan DPR tidak berwenang mengatur dan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan daerah kalau tanpa DPD. Disadari atau tidak, ketentuan ini mengandung pengertian adanya kedaulatan daerah di samping kedaulatan pusat. Dengan demikian rumusan pasal 22E baru itu secara terselubung menginginkan negara federal. Dengan sistem yang terkandung dalam amandemen dan dengan adanya lembaga DPR maka sudah secara lebar terbuka menuju negara serikat. Dengan demikian lembaga DPR mengandung bahaya yang riil bagi kelangsungan Negara Kesatuan Republik 56
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Indonesia.

Masalah pertahanan negara
Isi dari Pasal 30 baru secara praktis adalah sama dengan isi Ketetapan MPR No.VI dan No. VII/MPR/2000. Dalam UU No. 13 tahun 1961 tentang ketentuan-ketentuan pokok Kepolisian ditetapkan dalam Pasal 3 bahwa Polri adalah Angkatan Bersenjata. Hal ini kemudian dikukuhkan oleh UU no. 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara RI yang mengatakan ABRI terdiri dari TNI dan Polri. Pada tahun 2000 melalui ketetapan MPR No.VI/MPR/2000 Polri dipisahkan dari TNI. Yang menarik perhatian dari ketetapan ini adalah bahwa kedudukan TNI dan Polri ditentukan sama yaitu sebagai alat negara. Dengan demikian ketetapan ini sebetulnya telah mengubah UUD 1945 sebab menurut Pasal 10 UUD 1945 hanya TNI merupakan alat negara. Dalam hubungan ini kiranya perlu dicatat bahwa di negara mana pun Kepolisian adalah alat pembantu pemerintah baik Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Hal lain yang menarik adalah bahwa TNI ditetapkan hanya berperan dalam pertahanan negara dan Polri berperan memelihara keamanan. Dengan demikian masalah keamanan negara dipisah secara tajam dari masalah pertahanan negara. Keamanan negara ditujukan terhadap ancaman yang datang dari dalam negara dan pertahanan ditujukan terhadap ancaman dari luar. Perbedaan ancaman ini dianut negara-negara sebelum abad XX dan kini sudah lama ditinggalkan: ancaman terhadap eksistensi negara bisa datang dari luar dan juga bisa datang dari dalam negara. Sekarang ini cara lebih mudah yang digunakan oleh suatu negara untuk memaksakan kehendaknya atau menaklukkan negara lain tanpa resiko kehilangan nyawa prajuritnya adalah melalui subversi.
Pengantar Sri Soemantri

57

Kini yang digunakan sebagai pegangan adalah fungsifungsi negara yaitu (1) fungsi pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum, (2) fungsi pengurusan kesejahteraaan masyarakat, dan (3) fungsi pemeliharaan kelangsungan eksistensi negara. Khusus untuk Indonesia mengingat ekologi negara maka ditambah dengan fungsi integrasi. Polri terutama berperan dalam rangka fungsi negara yang pertama dan TNI terutama berperan dalam fungsi ketiga dan juga fungsi pertama dan keempat. Kekeliruan yang dibuat Ketetapan No.VI diteruskan oleh ketetapan No.VII/MPR/2000 dan amandemen UUD. TNI ditetapkan sebagai alat pertahanan negara saja sedangkan Polri berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberikan pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Rumusan peran Polri sebagaimana diuraikan agak menyesatkan, sebab pemeliharaan ketertiban dan keamanan masyarakat, memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat adalah tugas pemerintah, peran Polri hanya bersifat membantu pemerintah. Karena Polri ditetapkan menjadi alat negara maka pemerintah kehilangan alat untuk membantu melaksanakan tugas tersebut. Untuk itu terpaksa pemerintah membentuk alat tersendiri. Terjadilah doublures dan waste of money and energy. Selain itu menurut ketetapan ini TNI memberikan bantuan militer kepada Polri dalam rangka tugas keamanan dan bukan memberikan bantuan kepada pemerintah. Di negara manapun bantuan militer diberikan kepada pemerintah atau alat pemerintah. Keanehan yang terdapat dalam ketetapan ini adalah dengan meniru lembaga pertahanan nasional diadakannya lembaga kepolisian nasional. Tugas lembaga kepolisian nasional ini adalah membantu Presiden menetapkan arah kebijakan polri. Kalau ini diwujudkan maka Indonesia merupakan satu-satunya negara yang mempunyai lembaga semacam ini. 58
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Kekeliruan lain yang terdapat dalam Ketetapan No.VII ini adalah ditetapkannya bahwa prajurit TNI tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum. Mengenai ini ada beberapa catatan yang sifatnya mendasar sekali. Catatan pertama, perlu diketahui bahwa hukum militer diwujudkan oleh norma-norma hukum dari hukum nasional (yaitu hukum perdata, hukum pidana, hukum tata negara, hukum tata usaha negara, dan hukum internasional) yang mengenai kehidupan militer dan angkatan perang sehingga hukum militer terdiri dari hukum perdata militer, hukum pidana militer, hukum tata negara militer, hukum tata usaha negara militer, dan hukum perang. Selain itu hukum militer mengenal hukum disiplin militer yang tidak ada ekuavalensinya atau mitranya dalam hukum nasional. Dengan demikian rumusan anak kalimat menjadi problematis. Catatan kedua adalah bahwa dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana Militer (KUHPM) terdapat ketentuan dalam Pasal 1 dan 2 bahwa bagi militer berlaku juga hukum pidana umum selain hukum pidana militer. Malahan ajaran–ajaran umum mengenai hukum pidana yang diatur dalam KUHP dinyatakan berlaku juga bagi hukum militer. Catatan ketiga adalah bahwa dalam KUHPM terdapat banyak sekali ketentuan yang berlaku bagi siapa saja termasuk orang yang bukan militer. Jadi, orang sipil pun diadili oleh peradilan militer apabila melanggar ketentuan-ketentuan itu. Apabila Negara dalam keadaan bahaya peradilan militer dapat mengadili orang-orang sipil. Jadi, ketetapan ini telah memporakporandakan hukum dan hukum militer yang berlaku. Rupa-rupanya para anggota MPR tidak menguasai masalah hukum khuPengantar Sri Soemantri

59

susnya yang menyangkut hukum militer. Masalah lain yang menarik adalah bahwa anggota TNI dan Polri tidak diberikan hak pilih, suatu masalah yang sangat mendasar dalam negara demokrasi. Masalah pertahanan dan keamanan ini agak panjang dan lebar diuraikan di sini karena menyangkut eksistensi negara dan bangsa. Rupa-rupanya masalah yang sangat mendasar ini kurang dipahami atau dengan sengaja tidak mau dipahani oleh MPR. Masih ada satu catatan lagi, yaitu rumusan yang terdapat dalam Pasal 27 ayat (3) baru adalah salah tempat dan seharusnya masuk Pasal 30.

Cita UUD yang dianut MPR
Setelah mempelajari semua amandemen, bagi penulis tidak jelas cita UUD (grondwetsidee) yang dianut oleh MPR. Kalau cita yang dianut oleh UUD 1945 sebagai mana telah diutarakan sebelumnya adalah jenis: hanya pokok-pokoknya saja yang dimuat dalam UUD sedangkan hal-hal yang lain yang diperlukan untuk melaksanakannya diatur dalam undang-undang. Umpamanya ketentuan dari Pasal 6 dan pasal 6A baru pada hakekatnya merupakan materi yang lebih tepat ditempatkan dalam penjelasan Pasal 7 dan lebih lanjut diuraikan dalam UU tentang Kepresidenan yang hingga kini belum pernah ada. Itulah sebabnya presiden selama ini dapat berbuat sesuka hatinya. Secara umum dapat dikatakan di sini bahwa masalah-masalah yang berhubungan dengan persyaratan, pencalonan, pelantikan dan pemberhentian presiden dan wakil presiden lebih tepat kalau diatur dalam UU tentang Kepresidenan. Begitu pula rumusan Pasal 9 ayat (2) baru merupakan materi dari UU tentang Kepresidenan. Banyak rumusan–rumusan yang terdapat dalam amandemen merupakan materi dari undang-undang. 60
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Umpamanya, terlepas cocok-tidaknya rumusan dari pasal 28A s/d Pasal 28J baru tetapi isinya adalah materi dari Undang-undang.

MPR hendak menerapkan pemikiran James Madison di Indonesia?
Setelah mempelajari ulang Perubahan Pertama sampai dengan Perubahan Keempat UUD 1945 pada diri penulis timbul kesan seolah-olah MPR bermaksud hendak menerapkan pemikiran James Madison tentang check and balance di Indonesia. Pemikiran James Madison bertumpu pada empat (atau lima) unsur yaitu (1) pemisahan kekuasan, (2) kedaulatan yang dibagi antara pusat dan negara-negara bagian, (3) human rights, dan (4) nggota kongres dan presiden dipilih langsung oleh masyarakat. Unsur pertama terealisasi dengan Pasal 20 baru, unsur yang kedua tersirat dalam Pasal 22C dan 22E baru, unsur ketiga terurai dalam Bab X baru dengan Pasal 28 A sampai 28J baru, dan unsur keempat (dan kelima) menjelma dalam Pasal 6A baru.

Pengantar Sri Soemantri

61

Aktivitas Amin Arjoso, SH dalam Sidang Umum MPR RI, Oktober 1999.

62

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Bawah: Memasuki ruang sidang bersama Soebagyo Anam (alm).
Pengantar Sri Soemantri

63

BAB I Pemikiran

64

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

UUD ‘45 (Asli) Tolak Demokrasi Liberal

W

acana ditegakkannya lagi UUD 1945 kini bagai gayung bersambut, setelah beberapa ormas memperingati HUT ke-47 Dekrit Presiden Soekarno kembali ke UUD 1945 di Pelataran Tugu Proklamasi dan di Perpustakaan Nasional, 5 Juli 2006. Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla, Gubernur Lemhannas Muladi, Ketua DPR Agung Laksono, dan Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud bereaksi dengan opininya, Adnan Buyung Nasution “nimbrung” dengan artikel Kembali ke UUD 45, Antidemokrasi (Kompas, 7/7). Meski tidak secara spesifik menuduh tokoh yang ingin ditegakkannya UUD 1945 sebagai “antidemokrasi”, judul tulisan Buyung pada dasarnya menjurus ke sana.

Manipulasi hukum
Pertama, kami tidak menyatakan kembali ke UUD
UUD ‘45 (Asli) Tolak Demokrasi Liberal

65

1945. Keputusan MPR 1999-2004 secara prosedural tidak membatalkan Dekrit 5 Juli 1959, dan menurut ketentuan hukum, UUD 1945 masih berlaku. Sedangkan UUD 1945 yang diamandemen empat kali diberlakukan secara politis, padahal perubahannya menyimpang dari tata tertib yang ditetapkan MPR, apalagi tidak dicantumkan dalam Lembaran Negara. Kedua, UUD 1945 amandemen, oleh MPR dinamakan UUD Negara Republik Indonesia 1945. Istilah itu sama sekali tidak dikenal karena namanya tidak sesuai Dekrit Presiden dan telah diberlakukan MPRS melalui TAP MPRS No X/MPRS/1966 dan No X/MPRS/1966. Lalu MPR dalam Pasal 115 TAP MPR No I/ MPR/1978 menyatakan MPR tidak berkehendak dan tidak akan melakukan perubahan atas UUD 1945. Melalui TAP No III/MPR/ 2000 tentang Sumber Tertib Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan, MPR menyatakan, UUD 1945 merupakan hukum dasar tertulis negara RI. Dengan nama itu, MPR melakukan manipulasi hukum yang merupakan hasil konspirasi asing bekerja sama dengan eksponen tertentu di dalam negeri. Sebenarnya UUD 1945 amandemen lebih tepat disebut UUD 2002. Ketiga, persoalan utama yang ingin dikemukakan bukan untuk mendekritkan kembali UUD 1945 (asli), tetapi menegakkan konstitusi karena dilakukan empat kali perubahan, dibuat melalui prosedur yang salah, karena itu batal demi hukum. Dari segi substansi, “UUD 2002” bermuatan gagasan neoliberalisme yang terbukti menghancurkan tatanan sosial politik dan sosial ekonomi sejumlah negara berkembang, terutama Indonesia. Selain itu dengan amandemen, Indonesia tidak memiliki lagi GBHN sehingga arah dan konsep pembangunan tidak jelas. Karena itu kami mendukung pendapat Rektor UGM Prof Dr Sofian Effendi yang menyebut, andaikata Presiden SBY mau mendekrit, 66
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

yang didekritkan bukan kembali ke UUD 1945 (asli), tetapi membatalkan “UUD 2002” atau melalui referendum, sebab MPR sekarang bukan lagi referensi rakyat karena statusnya tidak Lembaga Tertinggi Negara. Keempat, demokrasi Indonesia berdasar UUD 1945 (asli) bertentangan dengan demokrasi liberal karena demokrasi Indonesia menganut sosio demokrasi, yaitu demokrasi politik dan demokrasi ekonomi sehingga para penganut UUD 1945 (asli) tidak benar jika disebut antidemokrasi. Para pendukung UUD 1945 (asli) jelas antidemokrasi liberal. Kelima, seperti dikatakan Prof Mr Soepomo, demokrasi Indonesia berbeda dengan demokrasi Barat. Bagi bangsa Indonesia, individu tak lepas dari masyarakat. Maka hak dan kewajiban yang dimiliki terkait fungsi di masyarakat. Berarti bertentangan dengan individualisme Demokrasi Barat, yang tidak mengenal asas kekeluargaan dan gotong-royong demi keadilan sosial.

Bukan lagi sementara
Keenam, lebih dari itu, empat perubahan UUD 1945 bertentangan dengan Pembukaan, Batang Tubuh UUD 1945 (asli), selanjutnya dengan menghapuskan Penjelasan sehingga benar-benar merupakan penerapan neoliberalisme. Artinya, “UUD 2002” menghapus peran golongan fungsional dan utusan daerah dalam MPR, padahal golongan fungsional merupakan 90 persen rakyat Indonesia (petani, buruh, nelayan, guru, pemuda, agamawan, TNI/Polri, cendekiawan, wartawan, dan lainnya). Apalagi dalam pengambilan keputusan, demokrasi Indonesia menekankan musyawarah dan mufakat untuk mencapai keadilan sosial, sedangkan demokrasi Barat selalu berpegang pada voting, di mana pemilik modal dengan mudah mengalahkan rakyat kecil (the winners get all, the loosers get nothing). Hal seperti itu jelas
UUD ‘45 (Asli) Tolak Demokrasi Liberal

67

menimbulkan kemiskinan struktural. Ketujuh, UUD 1945 (asli) adalah UUD sementara dan dapat diubah seperti dikatakan Bung Karno, 18 Agustus 1945. Namun, Bung Karno menginginkan perubahan melalui suara rakyat/pemilu. Bung Karno menginginkan pemilu bukan hanya untuk memilih anggota parlemen, tapi juga anggota konstituante yang bertugas menetapkan UUD. Kenyataannya Konstituante gagal menetapkan UUD sehingga untuk mencegah kemungkinan perpecahan antarbangsa, atas nama rakyat Indonesia, Presiden/ Panglima Tertinggi Angkatan Perang mendekritkan kembali ke UUD 1945, sekaligus dibuat Keppres No 150/ 1959 dan dicantumkan dalam Lembaran \Negara No 75/ 1959. Maka UUD 1945 tidak lagi berstatus sementara. Jika Dekrit 5 Juli 1959 disebut “permainan” sisa-sisa militer pendukung Soekarno, pantas juga ada pertanyaan, bagaimana dengan amandemen UUD 1945 (asli) yang tergambar demi kepentingan asing? Kedelapan, hal itu membuktikan Bung Karno amat demokratis dan tidak otoriter sebagaimana dituduhkan pihak asing dan pihak-pihak tertentu di dalam negeri. Kesembilan, kembali ke UUD 1945 (asli) tentu tak dapat dikatakan setback karena sejarah UUD 1945 (asli) ditetapkan 1945 (abad ke-20), sedangkan demokrasi Barat bersumber paham liberalisme. Artinya, dibanding dengan konstitusi negara mana pun di dunia, menurut ahli hukum tata negara Prof Dr ASS Tambunan SH, UUD 1945 (asli) adalah paling modern. Kesepuluh, khusus mengenai hak-hak asasi manusia (HAM) sudah dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945 (asli), tercermin dengan kalimat, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”, yang dijabarkan rinci Pasal 27 dan 33, diperkuat 68
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

sila kedua Pancasila sebagai dasar negara. Sementara “UUD 2002” mengutip Deklarasi HAM PBB yang dikeluarkan tahun 1948, berarti UUD 1945 (asli) sudah mendahului menetapkan HAM pada tahun 1945.
Oleh H. Amin Arjoso, SH Mantan Ketua Komisi II DPR 1999-2002 yang saat sidang MPR menentang amandemen Aktivis Yayasan Kepada Bangsaku; Alumnus GMNI

UUD ‘45 (Asli) Tolak Demokrasi Liberal

69

H. Amin Arjoso, SH intens berdiskusi tentang amandemen. Ia pelopor penolak amandemen terhadap UUD 1945.

70

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

UUD 1945 Hasil Amandemen I – IV Bertentangan dengan Falsafah dan Jati diri Bangsa

A

da sedikitnya 8 (delapan) alasan mengapa amandemen terhadap UUD 1945 adalah sebuah kekeliruan. Delapan alasan mendasar yang bisa dijadikan pegangan bahwa pada hakikatnya, perubahan konstitusi negara kita sejatinya adalah bertentangan dengan falsafah dan jati diri bangsa. Itu pula yang —disadari maupun tidak disadari— telah mengantarkan bangsa Indonesia ke tepi jurang kehancuran. Cita-cita kemerdekaan menuju terbentuknya masyarakat adil-makmur berdasar Pancasila, makin jauh panggang dari api. Berikut butir-butir alasan dimaksud: 1. Lahirnya Negara-Bangsa (Nation-State) Indonesia adalah hasil dari pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Perjuangan meraih kemerdekaan melalui perjalanan waktu yang sangat panjang, pahit, dan melelahkan, dengan cucuran darah dan air mata, dengan pengorbanan lahir-batin, harta dan jiwa.
UUD 1945 Hasil Amandemen I - IV Bertentangan dengan Falsafah dan Jati Diri Bangsa

71

2. Sebagai suatu negara merdeka dan berdaulat, yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 Indonesia memiliki falsafah hidup berbangsa dan bernegara serta hukum dasar sebagai pedoman bagi perjalanan hidup dan penyelenggaraan negaranya. Falsafah hidup bangsa Indonesia adalah Pancasila dan Hukum Dasar itu adalah UUD 1945 yang disepakati dan disahkan oleh para Pendiri Republik (Founding Fathers) pada 18 Agustus 1945. 3. Pancasila (Pembukaan UUD 1945) berikut Batang Tubuh serta Penjelasan UUD 1945 adalah bagian integral (yang tidak terpisahkan) dari perjuangan kemerdekaan, karena dihasilkan dalam dan melalui perjuangan kemerdekaan tersebut. Pancasila/UUD 1945 adalah kristalisasi dari hasil perenungan yang mendalam dan melalui proses panjang perjalanan perjuangan kemerdekaan, mulai dari Kebangkitan Nasional tahun 1908 melalui Sumpah Pemuda tahun 1928 dan mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945. 4. Oleh karena itu Pancasila/UUD 1945 adalah nilai otentik yang diwariskan oleh perjuangan kemerdekaan, sekaligus Jatidiri Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Nilai otentik dan jatidiri bangsa dan Negara Republik Indonesia ini harus senantiasa dipertahankan. Tidak boleh diubah atau diganti. Mengubah atau menggantinya dapat dianggap menutup mata dan tidak menghargai hasil perjuangan kemerdekaan, bahkan dapat dianggap meniadakan eksistensi bangsa dan negara RI hasil proklamasi kemerdekaan. 5. Agar bangsa dan Negara Proklamasi RI dapat sinkron dengan perkembangan zaman, UUD 1945 yang asli dapat disempurnakan misalnya dengan menambahkan melalui Addendum pada Batang Tubuh UUD 1945 yang asli. Dengan demikian falsafah serta jatidiri dan karakter bangsa dan negara tetap dipertahankan. Hal ini juga sesuai pesan Bung Karno dan para Pendiri 72
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Republik lainnya pada saat penyusunan UUD 1945 bahwa kelak di kemudian hari jika keadaan sudah memungkinkan UUD 1945 itu dapat disempurnakan. Tetapi bukan diubah atau diganti. Karena mengubah atau mengganti UUD 1945 yang asli berarti mengubah atau mengganti jatidiri bangsa, bahkan dapat berarti meniadakan eksistensi Negara Proklamasi Republik Indonesia. 6. Karakter dan jatidiri bangsa dan negara Proklamasi RI itu seperti dikemukakan oleh Pokok-Pokok Pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 seperti tercantum dalam Penjelasan UUD 1945 (yang asli), yaitu: - Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; - Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; - Negara yang berkedaulatan rakyat, berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan. Oleh karena itu sistem negara yang terbentuk dalam UUD harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan berdasar Permusyawaratan Perwakilan. Aliran ini sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia. - Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu UUD harus mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. 7. Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa UUD 1945 hasil Amandemen I – IV bertentangan dengan Falsafah dan
UUD 1945 Hasil Amandemen I - IV Bertentangan dengan Falsafah dan Jati Diri Bangsa

73

Jatidiri Bangsa. - Amandernen-amandernen tersebut bukan bersifat menyempurnakan tetapi sudah mengubah UUD 1945 yang asli. Perubahan tersebut telah mengubah karakter dan jatidiri bangsa. Bahkan dapat digantikan dikatakan telah mengganti UUD 1945 yang asli menjadi UUD baru yaitu UUD 2002. - Falsafah yang melandasai UUD hasil amandemen tersebut bukan lagi Pancasila tetapi Liberalisrne, kendati Pembukaan UUD 1945 yang asli masih dipertahankan, falsafah dan jatidiri bangsa berazaskan kekeluargaan dan Gotong royong diganti dengan liberalisme dan individualisme. - Dengan falsafah liberalisme dan individualisme yang melandasi UUD hasil amandemen tersebut (UUD 2002), maka: - Negara akan sulit melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia; - Negara akan sulit mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat; - Kedaulatan rakyat berdasarkan Permusyawaratan Perwakilan yang sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia ditiadakan, MPR tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara yang mewakili rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi ditiadakan. - Dengan dihapuskannya seluruh penjelasan UUD 1945 yang asli, maka nilai-nilai otentik perjuangan kemerdekaan yang diwariskan oleh para Pendiri Republik terhapus dari sejarah bangsa. 8. Oleh karena itu kami mengajak seluruh masyarakat bersama-sama menyelamatkan Negara Proklamasi Republik Indonesia. Caranya adalah kembali dulu ke 74
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pancasila dan UUD 1945 yang asli. Sesudahnya, jika diperlukan adanya Penyempurnaan atas UUD 1945 yang asli, dan saya berpendapat memang diperlukan, maka hal tersebut dilakukan melalui renungan dan pemikiran yang mendalam. Bentuk penyempurnaan melalaui ADDENDUM (Tambahan) pada UUD 1945 yang asli. Penyempurnaan tersebut harus tetap berpegang pada Falsafah dan Jatidiri Bangsa, yaitu Pancasila dengan berazaskan kekeluargaan dan Gotong Royong. Bukan Falsafah Liberalisme dan Individualisme atau falsafah lainnya yang bertentangan dengan Pancasila dan Jatidiri Bangsa.

UUD 1945 Hasil Amandemen I - IV Bertentangan dengan Falsafah dan Jati Diri Bangsa

75

Silaturahmi dengan Gus Dur sewaktu masih menjabat Presiden RI. Setelah lengser, keduanya tetap intens berhubungan, termasuk memperjuangkan Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso 76 Menegakkan Kembali UUD ‘45 kembalinya UUD 1945 (asli)

MENOLAK KONSTITUSI BARU
1. K.H. Abddurahman Wahid (Gus Dur) menanggapi pernyataan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri penutupan peringatan Hari Bangkit ke-5 Partai Bintang Reformasi (PBR) di Hotel Sahid (tgl 20/01/07), saat mana Presiden berkata “Saya mengajak sekali lagi, homatilah konstitusi, aturan main dan etika politik, ada regulasi dalam demokrasi dan sistem politik yang berlaku untuk semua dan mesti dipatuhi”. Gus Dur setuju dengan ajakan mentaati konstitusi, tetapi dengan pertanyaan, Konstitusi yang mana? 2. Manipulasi MPR 1999 saat melakukan Perubahan UUD 1945: 1) Rakyat tidak pernah memberi mandat khusus. 2) Intervensi Asing (baca: NDI = National Democratic Institutes), sebuah LSM dari Amerika Serikat. 3) Format putusan perubahan MPR 1999 - 2004 ke I, II, III, dan IV tidak sah. 4) Kesepakatan 11 fraksi MPR tidak pernah dijadikan TAP MPR, sehingga tidak memiliki kekuatan hukum. 3. Fakta: ada 2 konstitusi; a. Konstitusi UUD 1945 (asli). b. Konstitusi Baru = Perubahan I, II, III, dan IV UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 = UUD 2002.

Menolak Konstitusi Baru

77

4. Tidak punya dasar hukum; a. Konstitusi UUD 1945 (asli) mempunyai kekuatan hukum yang pasti : Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Format Keppres No: 150/1959 dan ditempatkan dalam LN No: 75/1959 Yo. Resolusi DPRGR tanggal 20 Juli 1959 Yo. Tap MPRS No:XX/1966. b.Perubahan Konstitusi Baru ( UUD 2002 ); (Perubahan I, II, III, dan IV Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 = UUD 2002, tidak mencabut Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959, Keppres No: 156/1959 Yo. LN No: 75/1959). 5. Konstitusi Baru hanya terdiri dari; a. Pembukaan. b. Batang Tubuh. 6. Konstitusi Baru = Perubahan I, II, III, dan IV UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 = UUD 2002. Batang Tubuh bertentangan dengan Pembukaan, dan Penjelasan “non exsist” (Penjelasan UUD 1945 sudah dicabut), sehingga terbuka multi tafsir. 7. Batang Tubuh Konstitusi Baru bertentangan dengan Pembukaan : a. Falsafah asas kekeluargaan gotong royong dan idealisme diganti dengan: materialisme, individualisme, dan pragmatisme. b. Ideologi Pancasila yang sesuai dengan hati nurani rakyat Indonesia dan umat manusia dengan moral gotong royong untuk masyarakat adil makmur, 78
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

diganti dengan faham liberalisme dengan sistim kapitalisme yang menguntungkan golongan ekonomi kuat. c. GBHN tidak lagi diperlukan oleh Konstitusi Baru, dengan demikian negara Indonesia itu kehilangan arah pembangunan (politik, ekonomi, sosial, budaya dan Hankamnas, tergantung siapa yang berkuasa). d. Bentuk Negara Kesatuan RI (Unitaris) diganti dengan bentuk negara Federal (Bicameral dengan adanya DPD). 8. Materi Penjelasan Konstitusi Baru “non exsist” (dihapus): a. Tidak ada penjelasan mengenai konsep falsafah seperti cita-cita negara dan cita-cita hukum. b. Tidak ada penjelasan pada Konstitusi Baru jalan pemikiran sekelompok elit politik MPR 1999 - 2004, yang ditentang 206 anggota MPR. c. ”Non exsist” arus transformasi dari ideologi Pancasila yang memproyeksikan khusus untuk kehidupan kenegaraan. d. “Non exsist” kebersamaan yang mendasari sistem kenegaraan Indonesia. e. “Non exsist” sistem Undang-Undang Dasar yang tersusun oleh 3 (tiga) komponen, yaitu aturan pokok yang diatur dalam UUD, aturan pelaksanaan diatur dalam UU dan moral penyelenggaraan negara. Kesimpulan; PAH I/BP MPR ataupun MPR sebagai lembaga negara
Menolak Konstitusi Baru

79

dalam melakukan amandemen terhadap UUD 1945, sama sekali telah mengabaikan Pembukaan maupun Penjelasan UUD 1945. 9. Batang Tubuh Konstitusi Baru bertentangan derngan Pembukaan, dan tidak ada Penjelasan, menimbulkan sumber krisis ketatanegaraan baru, antara lain : - Terjadi benturan antara Mahkamah Konstitusi (MK) dengan Presiden dan DPR mengenai UndangUndang. - Mahkamah Agung (MA) berlawanan dengan Komisi Yudisial (KY). - DPR dengan DPD. 10. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mewakili teritorial (daerah), bukan mewakili rakyat/warganegara, hal ini merupakan embrio bentuk negara Federasi dan bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 11. Dosa-dosa MPR : a. MPR 1999 - 2004 tidak menyabut Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Yo. Keppres No: 150/1959 (LN No: 75/ 1959), namun tetap melakukan amandemen terhadap UUD 1945 menjadi Konstitusi Baru. b. Niat dan tujuan pembuatan Konstitusi Baru diungkapkan oleh Wakil Ketua PAH I/BP MPR Slamet Effendi Yusuf, pada acara talk show 10 Agustus 2002 malam di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang diselenggarakan oleh TVRI, dalam rangka acara penutupan Seminar Uji Sahih Perubahan UUD 1945 yang diselenggarakan oleh KAGAMA. Berikut ini pernyataannya: “ Saya buka 80
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

rahasia, untuk membuat Undang-Undang Dasar Baru itu banyak tantangannya, karena itu di antara tanda kutip (sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan menggerak-gerakkan jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan dari kedua tangannya sebagai lambang dari tanda kutip), kita kesankan sebagai amandemen“, jadi logis motivasi melakukan Amandemen PAH I/BP MPR maupun MPR menginginkan Pembukaan UUD 45 dan Batang Tubuh dan mengabaikan Penjelasan UUD 45, karena bagi sebagian besar dari anggota PAH I/BP MPR, Pembukaan UUD 45 yang di dalamnya tercantum Pancasila, dasar negara Republik Proklamasi 45, dan Penjelasan UUD 45 yang muatannya adalah kesepakatan dan pemahaman pertama dari para pendiri negara Republik Proklamasi 45 merupakan masa lampau yang hendak mereka tinggalkan untuk selama-lamanya dan menggantikannya dengan Konstitusi Baru. Berarti mendirikan Negara Baru, dalam sistem Pemerintahan Baru, tanpa izin khusus dari rakyat yang Berdaulat. MPR 1999 – 2004 tanpa hak khusus melakukan amandemen UUD 45 menjadi UUD 2002 = Konstitusi Baru. Lebih lanjut Konstitusi Baru sinkron dengan konsep NDI (National Democratic Institutes): Constitutional Reform (Reformasi Konstitusi) (lihat: Raissa Tatad, program officer NDI, melalui email raissa.tatad@ndi.com). KESIMPULAN AKHIR: Penolakan terhadap Konstitusi Baru = Perubahan I, II, III, dan IV Undang-Undahg Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 = UUD 2002. karena memiliki prosedur amandemen vang bertentangan dengan hukum ketatanegaraan.

Menolak Konstitusi Baru

81

SOLUSI: Mendesak Presiden, agar membatalkan Konstitusi Baru = UUD Negara RI Tahun 1945/PERUBAHAN I, II, III dan IV = UUD 2002, sesuai dengan Sumpahnya, ketika dilantik sebagai Presiden yakni akan menjalankan peraturan selurus-Iurusnya. Jakarta, 7 Februari 2006

Eddi Elison Wakil Sekjen KOMITE NASI0NAL PENYELAMAT PANCASILA DAN UUD 1945

NOTE: Naskah ini merupakan hasil Rapat Presidium Komnas PP-UUD 45 (K.H. Abdurrahman Wahid, Soetardjo Soerjogoerito, Amin Aryoso, Ridwan Saidi yang disampaikan pada pertemuan pers 24 Januari 2007).

82

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

SERUAN KEPADA BANGSAKU
PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA PADA TANGGAL 17 AGUSTUS 1945, MENUJU INDONESIA YANG DICITA-CITAKAN SEBAGAIMANA TERMAKTUB DALAM PEMBUKAAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945, CITA-CITA PROKLAMASI KEMERDEKAAN SEHARUSNYA DIWUJUDKAN DALAM BINGKAI TRISAKTI, SEPERTI DIAMANATKAN OLEH PRESIDEN SOEKARNO: 1. 2. 3. BERDAULAT DIBIDANG POLITIK BERDIKARI Dl BIDANG EKONOMI BERKEPRIBADIAN DIBIDANG KEBUDAYAAN

KINI PELAKSANAAN CITA-CITA PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA MENJADI MUNDUR SEBAGAI AKIBAT PERILAKU SEBAGIAN MANUSIA INDONESIA YANG TELAH MENYELEWENGKAN AMANAT PROKLAMAS1 17 AGUSTUS 1945 DENGAN MENGHAMBA KEPADA PIHAK ASING. DIUBAHNYA UNDANG-UNDANG DASAR 1945 MENJADI “UUD 2002” ADALAH BENTUK INTERVENSI PIHAK ASING, YANG MENYEBABKAN KEHIDUPAN KENEGARAAN MENGARAH PADA INDIVIDUALISME, MATERIALISME, LIBERALISME, SEHINGGA MENJAUH DARI MASYARAKAT YANG ADIL DAN MAKMUR. OLEH KARENA ITU KEPADA SELURUH RAKYAT INDONESIA, MARI SELAMATKAN PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 UNTUK DIKUKUHKAN KEMBALI SEBAGAI FONDASI DALAM
Seruan Kepada Bangsaku

83

BERBANGSA DAN BERNEGARA, BERSAMA “KOMITE NASIONAL PENYELAMAT PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945” . JAKARTA, 5 DESMBER 2006 PRESIDIUM : KOMITE NASIONAL PENYELAMAT PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Riwan Saidi, Gus Dur, Amin Arjoso

84

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

KOMITE NASIONALPENYELAMAT PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945
PRESIDIUM : 1. K.H. Abdurrahman Wahid 2. Soetardjo Suryogoeritno 3. Amin Aryoso 4. Ridwan Saidi SEKJEN : H. Fachruddin Sekretaris : 1. Tjahjadi Nugroho 2. Eddi Elison 3. Ridwan A.Dalimunte BENDAHARA : Didiek Poernomo PLENO KOMITE NASIONAL : 1. R. Soeprapto (Penasehat) 2. Ali Sadikin (Penasehat) 3. Prof. Usep Ranawijaya (Penasehat) 4. Prof. A.S.S, Tambunan SH (Penasehat) 5. M. Achadi (Penasehat) 6. John Lumingkewas SH (Penasehat) 7. Harsudijono Hartas (Penasehat) 8. Drs, Kwik Kian Gie (Penasehat) 9. Prof. Sri Edi Swasono (Penasehat) 10. Abdul Madjid (Penasehat)

11. Djon Pakan (Penasehat) 12. M.Tahir (Anggota) 13. Nurhasanah AS (Anggota) 14. Suparwan G. Parikesil (Anggota) 15. Franky Sahilatua (Anggota) 16. Hardi (Anggota) 17. Subagio Anam (Anggota) 18. Masgarta Kartanegara ZH (Anggota) 19. Husni Ibrahim (Anggota) 20. Alexander Riung (Anggota)

Komite Nasional Penyelamat Pancasila dan UUD 1945

85

Amin Arjoso dan AM Fatwa

86

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Demokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia

K

ita maklumi bersama bahwa kata demokrasi memberikan pengertian bahwa kekuasaan ada di tangan rakyat, rakyatlah yang berkuasa. Demikianlah di bidang politik, kenegaraan dan pemerintahan, istilah demokrasi mempunyai arti bahwa pemerintahan harus dikuasai dan dipimpin dengan prinsip dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Prinsip tersebut tentulah sangat baik dan sangat menarik, sehingga menggelora ke seluruh dunia. Mendalami paham demokrasi serta praktek-praktek demokrasi yang nyata perlu sekali kita lakukan agar kita bisa memaklumi, bahwa demokrasi sebagai prinsip kekuasaan di tangan rakyat/rakyatlah yang bekuasa dalam pelaksanaannya mempunyai berbagai variasi, mempunyai berbagai bentuk praktek-praktek dan implementasinya di antara berbagai bangsa di Eropa Barat (sebgai sumbemya demokrasi) termasuk Amerika Serikat.
Demokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia

87

I. Sejarah Ringkas Demokrasi Barat
Revolusi Perancis yang berkobar dalam akhir abad 18 adalah menjadi awal perjuangan untuk menjebol pemerintahan yang berbentuk feodal untuk dirombak menjadi pemerintahan rakyat. Dengan doktrin Liberty, Egalite dan Fratemite, Revolusi Perancis menggelora dan menggelorakan seluruh dunia, merombak pemerintahan feodal di Eropa Barat yang juga menjalar ke seluruh dunia. Peristiwa politik yang begitu fundamental terjadi tentulah ada sebab-sebab fundamental yang mendorong atau menjadi landasan bagi kejadian tersebut. Perlu kita tandaskan bahwa feodalisme adalah sistim politik, kenegaraan dan pemerintahan di mana kekuasaan ada di tangan raja atau sistem kerajaan. Di dalam sistem feodal, negara dan isinya adalah milik raja khususnya tanah sebagai sumber kehidupan dan penghidupan negara dan rakyat. Raja sebagai pusat penguasa dan kekuasaan tersebut mendelegasikan kekuasaan kepada penguasa-penguasa wilayah-wilayah bawahannya dengan sanksi loyal kepada raja dan untuk itu harus menyetor upetiupeti serta membela kekuasaan raja, apabila ada yang menantang atau menentang raja dan kekuasaanya. Prinsip feodal ini menetapkan juga bahwa pergantian raja selalu atas dasar keturunan, sedangkan pergantian penguasa wilayah yang dilimpahkan oleh raja didasarkan kepada loyalitas kepada raja dan keturunannya yang sah. Dengan demikian itu maka kita bisa simpulkan atau tandaskan bahwa feodalisme adalah sistem di mana kekuasaan politik: negara dan pemerintah, adalah monopoli di tangan raja dan bawahan raja yang loyal, (yang terkait erat dengan penguasaan wilayah yang menjadi sumber penghidupan bangsa dan rakyat dalam negara tersebut). Pergantian-pergantian penguasa tersebut didasarkan pada keturunannya yang sah. Sistem feodal tersebut tentulah mencakupi kekuasaan di bidang ekonomi, karena 88
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

penguasaan wilayah tidak lepas dari pengelolaan-pengelolaan kekayaan alam di dalam wilayah-wilayah yang bersangkutan, dengan demikian feodalisme juga merupakan monopoli kekuasaan atas penghidupan rakyat dan masyarakat yang mengelola dan menggarap tanah-tanah dan kekayaan-kekayaan alam di wilayah-wilayah tersebut. Jadi feodalisme juga merupakan monopoli kekuasaan di bidang perekonomian oleh raja dan bawahan-bawahan raja (para penguasa wilayah), yang justru harus setor upeti dari kekayaan-kekayaan dan hasil perekonomian wilayahnya kepada raja sebagai salah satu bukti loyalitas kepada raja. Kita tentu juga memaklumi bahwa asal mulanya seseorang bisa menjadi raja dan memperoleh tahta kekuasaan tentulah karena mempunyai dukungan kekuatan terutama kekuatan fisik dan kekuatan bersenjata yang cukup untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya, dan menjaga kelestarian kekuasaannya. Di samping itu juga harus ada dukungan aparatur pemerintahan yang bisa mengelola pemerintahan dengan baik. Untuk kesemuanya itu tentulah sangat dibutuhkan dana dan harta yang cukup untuk pembiayaan-pembiayaannya. Demikianlah usaha-usaha pengerahan dana dan harta dalam berbagai upeti, pungutan, pajak, dan sebagainya perlu dilaksanakan. Kadang-kadang malah dilakukan peperangan dengan negara lain justru untuk memperebutkan sumber dana bagi kepentingan kerajaan. Dalam abad XVII dan XVIII kompetisi antara negaranegara barat untuk merebut superioritasnya, masingmasing Negara berlomba untuk meraih keuntungan yang paling besar dari perdagangan internasionalnya, yang terkenal dengan doktrin Merkantilisme. Dalam perlombaan atau kompetisi dagang tersebut akhimya masingmasing ingin menemukan sumber-sumbemya dari barang-barang dagangan yang paling menguntungkan, yaitu rempah-rempah dari Asia. Dengan armada-armada
Demokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia

89

dagang yang tangguh dan berpengalaman berlayar jarak jauh dengan dikawal kekuatan-kekuatan bersenjata akhirnya sampai di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pedagang-pedagang dari Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan Perancis aktif berebut mendapatkan rempahrempah anatara lain: pala, lada, cengkeh, kayu manis, sereh dan sebagainya yang sangat menguntungkan itu membawa munculnya kekuatan masyarakat baru yang tak kalah pentingnya bagi kerajaan dibandingkan para ningrat dan bangsawan yang memegang monopoli kekuasaan. Justru dari golongan-golongan pedagang besar inilah dana dan harta yang cukup besar bagi kepentingan raja dan pemerintahannya diperoleh. Di dalam kalangan pedagang-pedagang besar ini tentulah ada kegiatankegiatan dagang intemasional tersebut, juga pengalaman dalam kegiatan perdagangan internasional tersebut telah juga menjalin kekuatan-kekuatan bersenjata yang dikerahkan dan dibiayai untuk pengawalan armada-armada dagang, maupun untuk penguasaan wilayah di daerah untuk menguasai barang-barang dagang yang sangat menguntungkan. Pengusaha-pengusaha dagang Belanda dengan nama V.O.C menduduki Jakarta tahun 1601 dan mengganti nama Jakarta menjadi Batavia tahun 1609. Kekuatan-kekuatan baru inilah yang mulai menantang dan menyaingi para bangsawan dan ningrat dalam memegang monopoli kekuasaan dalam negara (politik). Kenyataannya memang bahwa kekuatan baru ini kaum borjuis sangat berpengaruh bagi kemakmuran dan kebesaran Negara waktu itu ingatlah semboyan: The Flag Follows The Trade. Ekses-ekses pemerintahan feodal telah menyakiti dan menindas rakyat dan masyarakat di luar para ningrat dan bangsawan puluhan tahun lamanya, karena otoriter dan kesewenang-wenengannya, karena pajak dan pungutanpungutan yang berat, hidup bermewah-mewah para 90
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

bangsawan di atas penderitaan dan kesengsaraan rakyat, dan sebagainya maka iklim ini sangat subur bagi gerakan perjuangan melawan monopoli kekuatan raja dan para ningrat. Demikianlah gerakan-gerakan dengan panji-panji Demokrasi–Kekuasaan Rakyat–untuk menjebol monopoli kekuasaan raja dan para bangsawan menjadi sangat menggelora. Walaupun demikian perjuangan menegakkan pemerintahan di tangan rakyat memakan waktu yang lama, walaupun Revolusi Perancis serta merta dapat menggulingkan kekuasaan raja, namun pemerintahan republik yang demokratis yang berbentuk Republik Perancis dengan sarana lembaga-lembaga yang demokratis tidak bisa dibangun langsung dengan munculnya Napoleon Bonaparte yang memegang pemerintahan militer dan otoriter dikarenakan merajalelanya eksesekses daripada Revolusi Perancis yang menjadi anarki. Di dalam menerapkan prinsip demokrasi, kekuatan rakyat dalam kehidupan politik: Negara dan pemerintahan di Eropa Barat, ternyata terdapat berbagai variasi bentuk dan mekanismenya. Negara ada yang berbentuk republik dan ada yang masih berbentuk kerajaan, di mana kepala negara yaitu raja, pergantiannya berdasarkan keturunan bukan pemilihan oleh rakyat. Sedangkan republik, kepala negara dipilih oleh rakyat. Dalam bentuk kerajaan tersebut memang ditetapkan bahwa raja tidak berkuasa, yang berkuasa adalah perdana menteri (kabinet) yang dibentuk oleh perwakilan rakyat. Pada kerajaan Inggris ada istilah, “The King/The Queen can do no wrong, the prime minister is responsible”. (Raja/Ratu tidak bisa disalahkan, yang bertanggung jawab adalah perdana menteri/kabinet). Perwakilan rakyat yang dipilih memalui pemilihan umum, yang akan membentuk pemerintahan yang berkuasa, ada yang berisikan wakil-wakil dari banyak partai politik (sistem multipartai) dan ada negara yang pewakilDemokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia

91

an rakyatnya hanya dibatasi oleh wakil-wakil dari dua partai. Berdasarkan demokrasi negara ada yang berbentuk negara kesatuan dan negara federal, sehingga bentuk lembaga-lembaga perwakilan rakyatnya juga berbeda: negara kesatuan punya satu lembaga perwakilan rakyat, sedangakan negara federal punya dua perwakilan rakyat, yaitu perwakilan dari partai hasil pemilu dan perwakilan dari negara bagian. Dalam hal pemilihan wakil-wakil rakyatpun (PEMILU) ada yang memakai sistim distrik, dan ada yang pemilihan sistim proporsionil. Dari pengamatan dan penghayatannya, demokrasi yang lahir dan berkembang di Eropa Barat, sebagaimana diungkapkan di atas, maka jelaslah bahwa peranan kekuatan-kekuatan yang menguasai kehidupan dan penghidupan perekonomian di negara-negara tersebut sangatlah kuat dalam pelaksanaan demokrasinya, yang mencakupi pengorganisasian masyarakat dalam parati piltik untuk bias aktif dalam menggalang suara dalam pemilihan umum untuk membeentuk perwakilan rakyat dan pemerintah. Jadi, kekuatan-kekuatan ekonomi sangatlah besar peranannya dalam kehidupan danpenghidupan demokrasi dan pemerintahan demokratis. Tentulah ini sangat nayat, karena negara-negara di Eropa Barat yang melahirkan dan mengembangkan pemerintahan demokrasi tidaklah lepas dari kepentingan-kepentingan pengembangan usaha dan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka. Coba renungkan, negara-negara Eropa Barat yang mendengungkan demokrasi justru negara-negara yang melakukan penjajahan atas bangsa lain, yang merupakan kelanjutan dari merkantilisme, yaitu menguasai dan mengeruk kekayaan alam negara atau bangsa lain bagi kepentingan dan kemakmuran bangsa dan negara sendiri (kolonialisme) yang mana mereka adalah penguasa-penguasa pemerintahan yang menjajah tersebut. Segi lain dari demokrasi yang dipraktekkan di Eropa 92
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Barat adalah individualisme, prinsip kepentingan perorangan, sehingga kepantingan orang peroranglah yang menetukan. Dengan demikian, keputusan-keputusan rapat diambil berdasarkan suara terbanyak, yaitu 50% ditambah 1 saja sudah menjadi penentu, mengalahkan yang 49% (suara yang 49% sama sekali tidak dihargai). Dari sinilah kita bisa simpulkan dengan tegas bahwa bukan kebersamaan yang diutamakan tetapi kepentingan orang per orangnya. Memang roh demokrasi barat adalah individualisme sebagai rohnya kapitalisme, dilahirkan imperialisme, mengejar keuntungan maksimal bagi modal bukan keuntungan bagi kepentingan masyarakat. Dari kesemua ungkapan tersebut, maka jelaslah prinsip kekuasaan politik, kekuasaan rakyat di bidang kenegaraan dan pemerintah di Eropa Barat adalah dipelopori dan dikendalikan oleh penguasa-penguasa kekuatankekuatan ekonomi (Business Corporation). Dengan demikian tidak mengherankan bahwa negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan tersebut berambisi untuk menguasai bangsa dan negara lain bagi kepentingan-kepentingan ekonominya. Jadi demokrasi di Eropa Barat adalah dilandasi oleh budaya dan peradaban untuk mengejar kepentingan dari penguasa-penguasa kekuatan ekonomi (kaum kapitalis) yang beroperasi global. Memang kebebasan berbicara, kebebasn berserikat, kebebasan berfikir, kebebasan pers, dan sebagainya dibiarkan karena kendali sudah dikuasai penguasa kekuatan-kekuatan ekonomi tersebut. Kebebasan-kebebasan tersebut dijadikan vebtilasi maupun petunjuk iklim dan arah angina (opini publik).

II.Demokrasi di Indonesia
Bagaimana dengan demokrasi yang cocok dengan kepribadian Indonesia? Untuk menjawab ini perlulah
Demokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia

93

kita tandaskan bahwa budaya dan peradaban Indonesia adalah gotong-royong sehigga kebersamaan menjadi prinsip serta cara-cara melaksanakan maupun menyelesaikan persoalan. Prinsip gotong-royong mengutamakan kebersamaan bukan orang perorang, tetapi mencakupi semua kepentingan orang. Di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita, dikalangan rakyat, melakukan gotong-royong dalam berbagai bentuk untuk menghadapi duka maupun suka, musibah maupun hajat dan pesta. Segalanya dibicarakan secara musyawarah mufakat dan menjaga kerukunan dan kekompakan masyarakat. Bahkan kalau ada makanan ataupun rezeki supaya dibagi dengan istilah jawa “Sitik Edang”, artinya sedikit-dikit tetapi dibagi rata, hal mana untuk memelihara kerukuna dan kebersamaan. Proklamasi kemerdekaan kita 17 Agustus 1945 menegaskan dengan kata-kata: “Atas nama Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia…..” Kalimat terakhir berbunyi: “Atas nama Bangsa Indonesia (tertanda) Soekamo-Hatta”. Dengan ini tegaslah bahwa kepentingan bangsa yang diutamakan bukan orang per orang, demikian juga untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang kita proklamasikan tersebut. Lebih jelas lagi ditandaskan dalam Mukadimah UUD 1945 yang berbunyi: “Bahwa sesungghnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa dan mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdeka94
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

annya”. “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Negara Republik Indonesia yang terbentuk dalam satu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhana Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Berdasarkan ketegasan-ketegasan tersebut di atas maka demokrasi yang cocok dengan Indonesia adalah yang bisa melaksanakan cita-sita Proklamasi tersebut, demokrasi yang mengabdi pada kebersamaan bukan kepentingan perorangan dan golongan, memperjuangkan agar penjajahan tidak kembali menimpa Indonesia walaupun bentuknya terselubung, demokrasi yang bisa menyatukan bangsa Indonesia sebagai satu enity termasuk membela negara kesatuan Republik Indonesia, demokrasi yang juga bisa meningkatkan kesejahteraan umum bukan kesejahteraan perorangan dan golongan, mencerdaskan kehidupan bangsa bukanorang perorangan atau go-longan tertentu. Mekanisme pengambilan keputusan yang membela kebersamaan hendaknya berbentuk musyawarah untuk mufakat bukan pengambilan voting. Partisipasi dalam pemerintahan hendaknya diikutkann golongan-golongan fungsional yang sehari-hari bergulat dengan bidangbidang kekaryaannya, misalnya buruh tani, guru, cendeDemokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia

95

kiawan, nelayan, veteran pejuang kemerdekaan, seniman dan budayawan, tokoh-tokoh agama, dan lain sebagainya, agar kegotongroyongan bukan dibatasi oleh kalangan parta-partai politik saja. Perhatikanlah bunyi sila keempat pada Pancasila “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan”, serta ayat kelima “Dengan Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Janganlah demokrasi Indonesia mengambil contoh demokrasi di Barat karena latar belakang dan arahnya berbeda dengan ideologi Bangsa Indonesia sebagaimana tertuang di atas. Jangan pula kita mengekor kehidupan dan peradaban Barat yang berkembang atas dasar individualisme dan penjajahan-penjajahan yang telah mereka lakukan berabad-abad walaupun dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kita perlu mengehar ketertinggalan kita sebagai bekas negara dan bangsa yang terjajah. Mengingat kesemuanya itu kita bangsa Indonesia hendaknya punya tolok ukur agar supaya demokrasi di Indonesia benar-benar cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia sehingga beberapa tolok ukur kita ungkapkan sebagai berikut : 1. Mengutamakan kebersamaan, kepentingan bangsa dan Cita-cita Proklamasi tercantum dalam Mukadimmah UUD 1945, di atas kepentingan perorangan dan kelompok/golongan. 2. UUD 1945 sebagai dasar untuk pengaturan negara dan pemerintahan untuk melaksanakan Cita-cita Proklamasi tidaklah bisa diubah dengan ketentuan-ketentuan dalam Mukadimmah dan Pancasila. Amandemen-amandemen dilaksanakan demi kejelasan pasalpasal yang diperlukan bagi pelaksanaannya serta amandemen hanya bisa dilakukan dalam rangka menerapkan pasal-pasal untuk disesuaikan dengan 96
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

perkembangan bagi suksesnya pelaksanaan-pelaksanaan dan pasal-pasal tersebut. Oleh karena itu amandemen-amandemen yang kelewat batas-batas tersebut perlu dicabut karena akan membahayakan arah dan Cita-cita Proklamasi. 3. Demokrasi Indonesia harus bisa memperkuat kekuatan-kekuatan politik yang konsekuen melaksanakan Cita-cita Proklamasi Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ejonomi dan Berkepribadian dalam Budaya dan menyisihkan kekuatan-kekuatan yang secara terang-terangan maupun terselubung menentang dan akan menyelewengkan pelaksanaan Cita-cita Proklamasi. 4. Demokrasi Indonesia harus bisa menimbuhkan pemimpin-pemimpin baru, kader-kader baru dari generasi muda penerus yang konsekuen memper-juangkan untuk mencapai Cita-cita Proklamasi. 5. Kerjasama negara, bangsa, maupun masyarakat Indonesia dengan pihak asing/negara, bangsa, ataupun masyarakatnya adalah perlu untuk saling menguntungkan dan meningkatkan daya dan kemampuan perjuangan bagi kepentingan pelaksanaan Cita-cita Proklamasi (“ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”).

III. Perintisan Demokrasi Indonesia
Perlu kita sadar diri bahwa sejarah perkembangan kehidupan politik yang tumbuh selama kebangkitan nasional selagi dalam penjajahan Belanda (tahun 1908-1942) adalah pengorganisasin kekuatan dan kemampuan politik demi Indonesia merdeka. Berbagai pengorganisasianpengorganisasian di bidang politik, sosial ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya telah dilaksanakan dengan arah serta perjuangan untuk Indonesia merdeka
Demokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia

97

bebas dari penjajahan. Sebagai contoh: Budi Utomo (pimpinan Dr. Sutomo, Dr. Wahidin), Serikat Dagang Islam–Partai Serikat Islam Indonesia (HOS. Cokroaminoto), Partai Komunis Indonesia (Alimin, Semaun, Tan Malaka), Indische Partai (Dr. Cipto Mangunkusumodan dr. Setia Budi), Partai Nasional Indonesia dan Partai Indonesia (Bung Kamo), Partai Pendidikan Nasional (Bung Hatta), Muhammadiyah (Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Kyai Haji Mas Mansyur), Taman Siswa (Ki Hajar Dewantara), Sumpah Pemuda: Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa, Permufakatan partaipartai Kebangsaan Indonesia, Kepanduan Bangsa Indonesia, dan sebagainya merupakan bukti nyata daripada jiwa arah dan idiologi perjuangan politik bangsa Indonesia menuju Indonesia merdeka, dan kesemuanya ini juga merupakan perintisan bagi Demokrasi Indonesia, dengan jiwa arah dan idiologi menuju Indonesia merdeka. Semua kekuatan-kekuatan perjuangan tesebut diatas adalah kekuatan-kekuatan yang melahirkan kekuatankekuatan untuk mampu melaksanakan Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan persiapan-persiapan seperti lahirnya Pancasila, Mukadimmah dan UUD 1945, ke-kuatan generasi penerus yang berhasil mempertahankan Proklamasi kemerdekaan melawan semua bentuk usahausaha bekas penjajah untuk menguasai Indonesia lagi. Sebenarnya kita sudah memaklumi kesemuanya itu dan bagi generasi muda perlu sekali hal ini untuk diresapi. Dalam membina dan mengembangkan demokrasi yang cocok dengan kepribadian Indonesia itu hendaknya selalu berpegang teguh kepada jiwa dan budaya arah dan ideologi perjuangan bangsa Indonesia. Proses dan bentuk-bentuk perjuangan hendaklah kita resapi karena sejarah adalah bekesinambungan, “History Is A Continuity” dan kita “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” (JAS MERAH). 98
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Menyimpulkan kesemuanya yang saya ungkapkan dalam seminar ini, maka demokrasi yang cocok di Indonesia ialah demokrasi yang mengemban misi perjuangan bangsa Indonesia yang ideologi perjuangan tersebut tercantum dalam Mukadimmah UUD 1945 dan Pancasila serta melaksanakan UUD 1945 secara tepat. Bukan menyelewengkan apalagi mengubah-ubah jiwa dan arah perjuangannya: jiwa gotong-royong dan kebersamaan, bukan individualisme. Selain itu, membela kesatuan bangsa dan negara bukan mengarah federasi suku-suku bangsa. Juga membina keserasian antara kepentingan nasional dan daerah, menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melaksanakan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwa-kilan, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan yang adil dan beradab.

Demokrasi Model Eropa Barat & Amerika Serikat Apakah Cocok untuk Bangsa Indonesia

99

100

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Jangan Sampai MPR Keblinger

S

etelah Konstituante gagal menyusun UUD Res Publica sesudah bersidang 2 tahun, 5 bulan 12 hari, Presiden Soekamo atas nama Pemerintah menganjurkan kepada Konstituante supaya menetapkan saja UUD 1945, dengan menempuh prosedur yang konstitusional dan legal berdasarkan pasal 134 UUDS yang berlaku pada waktu itu. Anjuran ini ditolak, yang berakibat gagal totalnya Konstituante menghasilkan UUD karena sidang-sidang Konstituante sesudah itu terus menerus tidak mencapai quorum, bahkan Konstituante tidak mungkin lagi bersidang, sehingga akhirnya Presiden mengambil tin-dakan ekstra parlementer yaitu mendekritkan kembali berlakunya UUD 1945 pada tangga15 Juli 1959 dengan dukungan para ahli hukum tata negara, angkatan bersenjata, partaipartai politik dan ormas-ormas, dan membubarkan Konstituante. Dekrit 5 Juli 1959 diundangkan dan ditempatkan dalam
Jangan Sampai MPR Keblinger

101

Lembaran Negara Tahun 1959 No. 75 dan kemudian mendapat dukungan DPR hasil Pemilihan Umum Tahun 1955 dan kemudian MPRS pada tahun 1966 melalui Ketetapannya No. XX/MPRS/1966 dijadikan sumber dari segala sumber hukum dalam Republik Indonesia. Dengan demikian UUD 1945 bukan saja UUD yang paling modern seperti diakui oleh Bung Hatta, tetapi dipandang dari sudut mana pun UUD 1945 sudah menjadi UUD yang tetap. Di sinilah esensi ke-keblinger-an pertama MPR hasil pemilu 1999 yang memaksakan perubahan UUD 1945 dengan berlindung di balik “Amandemen”. Padahal dalam Pemilu 1999 rakyat pemilih sama sekali tidak memberikan mandat kepada MPR untuk mengubah UUD 1945 atau menyusun UUD baru. Lebih menyedihkan lagi, karena perubahan yang disebut Amandemen UUD 1945 dan oleh MPR dinyatakan mulai berlaku 10 Agustus 2002 sesudah diamandemen 4 kali dilakukan atas intervensi LSM Asing yang ikut menghadiri sidang-sidang PAH I dan ikut memberikan fasilitas dan konsep-konsep selama proses penyusunan amandemen, untuk memastikan amandemen tersebut patut diduga keras sesuai dengan pemikiran “democratic values and American self-interest”. Seorang diplomat dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, setelah mengetahui bahwa saya menolak keras amandemen yang kebablasan menemui saya dan mengatakan bahwa pemikiran kelompok saya adalah konservatif. “Self-interest” adalah akar “individualisme” yang mungkin cocok untuk Barat termasuk Amerika Serikat, tetapi bertentangan dengan paham “kebersamaan” dan “asas kekeluargaan” (mutualisme/kolektivisme” dan “brotherhood”) yang dianut bangsa Indonesia! Adanya utusan-utusan dari daerah-daerah dan go-longan-golongan ditekankan oleh Bung Hatta sebagai ke102
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

lengkapan/keutuhan sistem perwakilan dalam MPR, dan MPR merupakan lembaga tertinggi negara. Bagi Bung Hatta, tidak menggeser/meniadakan utusanutusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, karena prinsip “semua dipilih” melalui Pemilihan Umum tidak menjamin bahwa “semua diwakili”. Dengan demikian MPR sebagai pelaku sepenuhnya dari kedaulatan rakyat memperoleh tempatnya yang rasional. Tapi setelah kemudian temyata amandemen banyak penentangnya, diplomat yang lain datang lagi menemui saya dan kali ini menyatakan keterkejutannya mengapa begitu banyak yang menentang amandemen. Sang diplomat akhimya mengakui bahwa UUD 1945 setelah mengalami amandemen 4 kali dan dinyatakan berlaku mulai 10 Agustus 2002, memang telah berubah (secara ideologis, struktural dan substansial) menjadi UUD 2002, bukan lagi UUD 1945, karena yang terjadi memang bukan sekedar amandemen, melainkan benar-benar perubahan UUD 1945. Tindakan MPR mengubah UUD 1945 lewat Amandemen untuk patut diduga keras disesuaikan dengan pemikiran dan campur tangan LSM Asing. Sangat melecehkan sejarah perjuangan dan idealisme bangsa, tetapi juga mengabaikan peringatan Founding Fathers. Para Founding Fathers telah berpesan supaya negara kita jangan sekali-kali menjiplak atau meng-copy bangsa lain, karena Indonesia mempunyai cita-cita, karakter dan pengalaman sejarahnya sendiri. Dengan sikap meniru-niru hanya akan membuat Indonesia bubrah. Kekhususan Indonesia yang menolak paham individualisme juga ditegaskan oleh Bung Hatta melalui paham “kerakyatan” dan “kebangsaan” Indonesia yang berdasarkan kebersamaan dan asas kekeluargaan (1932). Itulah sebabnya Bung Hatta adalah pembela dan penganjur Pancasila yang sangat gigih karena Pancasila memangku
Jangan Sampai MPR Keblinger

103

paham kerakyatan (demokrasi Indonesia) dan kebangsaan (nasionalisme Indonesia) serta secara tegas menolak individualisme dan liberalisme. Menurut pendapat saya amandemen yang dilakukan MPR hakekatnya hanya jiplakan dan copy pemikiran asing yang benar-benar menjadikannya Amandemen yang kebablasan karena merombak tata nilai yang menjadi jiwa UUD 1945, yang tidak lain adalah Hukum Dasar Negara yang tidak seharusnya dirombak-rombak, apalagi Hukum Dasar itu mengemban Amanat Proklamasi Kemerdekaan yang paling luhur, yaitu supaya menghantarkan rakyat Indonesia kepada perubahan menuju social justice. Kita tidak anti Barat, termasuk Amerika Serikat, tetapi secara prinsip pemikiran UUD/Hukum Dasar, karena kekhasan paham ideologi, sejarah, cita-cita dan budayanya, maka kita tidak bisa menjiplak begitu saja sistem negara lain. Akan menjadi fatal sekali jika amandemen yang mengubah jiwa Amanat Proklamasi Kemerdekaan untuk disesuaikan dengan sistem individualisme ala Barat dan mengkhianati sistem gotong royong (kebersamaan berdasarkan asas kekeluargaan) yang adalah kepribadian bangsa Indonesia yang telah berhasil mengantarkan kita kepada Kemerdekaan. Bukankah amandemen yang seperti itu benar-benar sudah kebablasan, bahkan keliru sekali ?! Amandemen yang tidak menjerumuskan bangsa, yaitu amandemen demi untuk penyempumaan yang murni, atau mempertegas dan memperjelas tentu saja dapat dilakukan dari waktu ke waktu, tapi tidak mengobrak-abrik tata nilai yang sudah mapan. Seperti bangsa Amerika yang sudah 200 tahun lebih kemerdekaannya tidak pemah mengubah Declaration of Independence dan Hukum Dasar negaranya yang mengatakan bahwa “men are born equal and has the same right for the pursuit of happiness”. Amerika Serikat memang melakukan amandemen104
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

amandemen atas UUD-nya, bahkan lebih 10 kali selama 225 tahun merdeka, tetapi dengan persetujuan rakyatnya berdasarkan prosedur yang berlaku, tapi tidak pemah merubah Hukum Dasarnya. Itu pun kita tidak harus meniru-niru Amerika Serikat. Untuk menjawab tantangan baru bisa saja ditampung dalam UU biasa yang mudah dirubah sesuai tuntutan zaman, bukan mengubah tata nilai atau Hukum Dasar dalam UUD. Maka menarik sekali dialog antara Bung Kamo dengan Presiden Kennedy ketika berkunjung ke Amerika, di mana Bung Kamo mengatakan kepada Kennedy: “I need your help - your money and technology, but regarding Indonesia do not teach me about Politics”. Bung Kamo menolak keras jika Amerika hendak mengajari kita tentang politik yang disesuaikan dengan pemikiran Amerika. Pembukaan UUD 1945 menekankan mutlaknya perlindungan kepada segenap bangsa dan wilayah Indonesia, dengan meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini sesuai dengan penjelasan pasal 33 UUD 1945, yaitu perekonomian dikelola berdasarkan demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua pihak, untuk semua, di bawah kepemimpinan atau kepemilikan anggota masyarakat. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu adalah koperasi. Kemakmuran masyarakat yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Penjelasan ini telah dihapus dalam amandemen. Dihapuskannya Penjelasan UUD 1945 ini adalah esensi keblingeran MPR. Amandemen itu juga katanya menghendaki keseimbangan kekuasaan antara Eksekutip dengan Legislatip. Tapi dalam kenyataannya justru yang terjadi ialah ketidak-seimbangan, karena dengan amandemen maka
Jangan Sampai MPR Keblinger

105

Kabinet Presidentil direduksi kekuasaannya dan diambil alih oleh legislatif. Ini adalah bentuk keblingeran MPR berikutnya. Pembukaan UUD 1945 juga menekankan prinsip kegotong-royongan sebagai asas Kedaulatan Rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara, dalam penjabarannya justru sekarang didegradasi oleh amandemen, sehingga kembali menunjukan betapa makin jauhnya bentuk keblingeran MPR. Semua keblingeran MPR itu harus diteliti oleh Komisi Konstitusi agar UUD tetap sesuai dengan kehendak rakyat yaitu UUD 1945 yang asli. Sesudah Bung Karno dan Bung Hatta tidak ada lagi, muncul orang-orang yang mau merevisi total paham demokrasi Indone sia yang secara utuh termaktub dalam UUD 1945 yang asli, dan bersedia masuk dalam Grand Strategy-nya kekuatan asing terhadap Indonesia. Bung Karno memang mengatakan dalam sidang pleno kontituante bahwa tidak perlu kita menutup pada dunia sekeliling kita, sebaliknya kita perlu mempelajari pengalaman-pengalaman mereka. Tapi tidak boleh mendorong kita menghasilkan satu UUD yang hanya merupakan copy belaka dari Konstitusi asing itu. Diperingatkan, 3 amanat penderitaan rakyat harus jelas tercermin dalam UUD kita, yaitu : 1. Penciptakan satu masyarakat yang adil dan makmur. 2. Bentuk satu negara kesatuan berdasarkan paham unitarisme. 3. Sistem musyawarah dalam satu badan atau sistem mono-kameral. 106
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Atas dasar pertimbangan ini maka Forum Kajian Ilmiah Konstitusi (FKIK) merasa terpanggil mengeluarkan pernyataan yang diterbitkan oleh yayasan Kepada Bangsaku ini, supaya bisa lebih luas dipahami rakyat termasuk input untuk Komisi Konstitusi (KK), sinkron dengan sikap politik 207 Anggota MPR, 7 November 2001. Jakarta, 10 Desember 2003

Jangan Sampai MPR Keblinger

107

108

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Budiman Sudjatmiko

[1]

Restorasi UUD 1945

S

emangat nasionalisme yang tinggi terbaca dalam pemikiran dan perjuangan Amin Arjoso. Hal itu terlihat dalam perjuangannya mengembalikan spirit Proklamasi yang tercermin dalam keinginan kembali menegakkan UUD 1945 (asli). Amin Arjoso menilai bahwa amandemen UUD 1945 sudah hampir kebablasan. Sebenarnya Amin Arjoso tidak menolak Amandemen an sich, tetapi menolak proses amandemen yang kebablasan. Amandemen UUD 1945 yang kebablasan cenderung malah akan menciptakan krisis konstitusi. Seperti jamak diketahui, pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang PPKI mengesahkan Undang-undang Dasar yang kini terkenal dengan UUD 1945. Rumusan Dasar Negara Pancasila yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 adalah sah dan benar, karena disamping mempunyai kedudukan konstitusional juga disahkan oleh suatu badan yang mewakili seluruh bangsa Indonesia (PPKI) yang berarti disepakati oleh seluruh rakyat IndoRestorasi UUD 1945

109

nesia. Hal itu berarti pilihan ideologis bangsa Indonesia yang tertuang dalam deklarasi kemerdekaan kita (Pembukaan UUD 1945) untuk mengusung tipe ideologi komunitarianisme demokratik. Hal ini karena deklarasi kemerdekaan kita menekankan pada upaya untuk “memajukan kesejahteraan umum”. Ini membedakannya dengan deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat yang lebih bersifat individualisme demokratik.[2] Sejalan dengan itu, Amin Arjoso dalam buku ini memiliki semangat yang sama bahwa segi lain dari demokrasi yang dipraktekan di Eropa Barat adalah individualisme, prinsip kepentingan perorangan, sehingga kepantingan orang peroranglah yang menetukan. Dengan demikian, menurutnya, keputusan-keputusan rapat diambil berdasarkan suara terbanyak, yaitu 50% ditambah 1 saja sudah menjadi penentu, mengalahkan yang 49% (suara yang 49% sama sekali tidak dihargai). Dari sinilah bisa disimpulkan dengan tegas bahwa bukan kebersamaan yang diutamakan tetapi kepentingan orang perorangnya. Memang roh demokrasi barat adalah individualisme sebagai rohnya kapitalisme, dilahirkan imperialisme, mengejar keuntungan maksimal bagi modal bukan keuntungan bagi kepentingan masyarakat. Saat ini, banyak elite politik kita telah mengganti semangat demokrasi, patriotisme, dan sosialisme dengan semangat pragmatisme ala neoliberal, plutokrasi (kekuasaan politik berdasarkan uang), bahkan kleptokrasi (kekuasaan politik berdasarkan kemampuan mencuri uang). Kehendak mulia para pendiri bangsa untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut menciptakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial kian digantikan oleh histeria spekulasi keuangan global kapitalistik. 110
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Alhasil, kita justru semakin jauh dari jiwa Pembukaan UUD 1945. Hak-hak ekonomi rakyat malah diingkari oleh sebagian besar elite politik dan ekonomi kita. Di antara indikasi dari pengingkaran itu adalah dikeluarkannya undang-undang yang memberangus kedaulatan rakyat atas sumber daya ekonomi bangsa. Oleh karena itu, kita perlu meletakan nasionalisme kembali kepada kerangka sejarahnya, sehingga selalu berkaitan dengan perubahan masyarakat, tidak dipandang sebagai sesuatu yang statis. Nasionalisme yang berurat-akar pada sejarah masyarakat Indonesia yang juga sebagai ikhtiar untuk mencari keberesan ekonomi dan keberesan politik. Ia sekaligus adalah negasi atas neoliberalisme yang mengakibatkan kesenjangan ekonomi masyarakat dan merusak pilar gotong-royong dalam perekonomian nasional. Menurut Bung Karno, konsep sosio-nasionalisme didefinisikan olehnya sebagai upaya:”...memperbaiki keadaan-keadaan di dalam masjarakat itu sehingga keadaan yang kini pintjang itu mendjadi keadaan jang sempurna, tidak ada kaum jang tertindas, tidak ada kaum jang tjilaka, tidak ada kaum jang papa-sengsara. Oleh karenanja, maka sosio-nasionalisme adalah nasionalisme Marhaen, dan menolak tiap tindak bordjuisme jang mendjadi sebabnja kepintjangan masjarakat itu.”[3] Dasar berjuang mendirikan nationale staat untuk mewujudkan apa yang kemudian oleh Pembukaan UUD 1945 disebut sebagai untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial; di mana kesemuanya itu dicapai dalam keadaaan merdeka. Yakni merdeka sebagai political independence yang merupakan Jembatan Emas menuju masyarakat adil dan makmur. Berkaca dari cermin sejarah, maka tak ada keraguan bahwa tiap-tiap pemerintahan yang didirikan di atas
Restorasi UUD 1945

111

Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini, maka tujuannya adalah untuk mewujudkan tujuan sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945 tersebut. Kita harus menempatkan kembali UUD 1945 di dalam konteks sejarahnya. Berarti, kita harus memperhatikan perkembangan masyarakat kita dan juga tuntutan dihari depan. Proses demokratisasi itu tidak bisa dihindari lagi, itu adalah bagian dari tuntutan konstitusi kita untuk mencerdaskan bangsa. Dan dalam pelaksanaan kedaulatan rakyat. Kita harus berdialog dengan landasan, untuk apa negara kita dirikan dan dengan melihat sistem dan perbuatan politik kita sekarang ini, apakah sudah sesuai belum dengan konstitusi kita.

Kaum Muda Menyoal UUD 1945
Dalam lansekap global kini, Indonesia tengah dikepung oleh tiga jenis krisis sekaligus, yakni krisis pangan, krisis energi, dan krisis finansial global. Sampai hari ini kapitalisme belum sampai pada tingkat zusammenbruch atau keruntuhan. Sekarang, harus dikembangkan oleh kaum muda Indonesia adalah oposisi terhadap cara berpikir dan paradigma pembangunan yang mengandalkan pada spekulasi dan transasksi finansial. Apapun rejim pemerintahannya, haruslah dikritik jika bersandar pada perekonomian judi yang tidak sesuai dengan visi ideologi nasional. Visi kedaulatan Nasional yang tak bisa dikangkangi oleh penjajah-penjajah dalam bentuk dan rupa yang baru. Kedaulatan inilah yang merupakan sebuah ungkapan hak kita menentukan nasib sendiri berdasarkan kepentingan-kepentingan Nasional kita yang tidak bertentangan nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya. Ini sudah sangat jelas diungkap dalam Mukadimah UUD 1945 yang menyuruh kita untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, bukan berdasarkan Pax Britanica 112
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

(ketertiban berdasarkan hegemoni Inggris) sebagaimana era kolonialisme klasik, ataupun Pax Americana (ketertiban berdasarkan hegemoni Amerika Serikat) sebagaimana era akhir Abad ke 20 atau awal Abad ke 21 ini. Saya mempercayai bahwa tenaga pendorong yang memungkinkan kita pernah menjadi bangsa pelopor di masa lampau adalah karena nasionalisme yang menjadi tenaga penggeraknya adalah nasionalisme yang berbasis kerakyatan. Inilah nasionalisme yang akan menghantarkan kita pada kedaulatan itu. Di lain pihak, saya juga percaya bahwa kita akan merosot menjadi bangsa pariah dan berserakan dalam pentas dunia, jika kita mengkhianati nasionalisme kerakyatan ini. Menurut Taufik Abdullah, kalau kita memahami UUD 1945 dalam sudut historis, bisa diumpamakan seperti rumput yang diletakan di mulut kuda, kuda akan selalu mengejar rumput itu, tetapi rumput pun akan ikut lari dengan kuda itu. Jadi apa pun yang akan kita lakukan akan selalu bersamaan dengan tujuan normatif kita itu. Kuda ingin memakan rumput, nah itulah cita-cita kita yang dulu dibuat oleh Bung Karno dulu bisa kita umpamakan sebagai rumput, dan kita sekarang ini menjadi kudanya, kita akan kejar terus rumput itu. Jadi, kita perlu pemahaman baru terhadap tuntutan nasionalisme kita. Dan pemahaman baru itu masuk dalam wilayah perdebatan, karena setiap jaman memerlukan pemahaman terhadap nasionalisme. Sampai saat ini, ideologi nasionalisme yang ada dalam UUD 1945 sampai sekarang dan sampai 10-20 tahun ke depan masih sangat relevan.[4] Pada mulanya, dokumen UUD 1945 terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh dan Penjelasan. Amandemen menghasilkan Pembukaan tetap, Batang Tubuh berubah di sana-sini, dan Penjelasan ditiadakan. Proses Amandemen ini sendiri mencakup 4 (empat) tahap perubahan, pertama (1999); kedua (2000); ketiga (2001); dan keempat (2002). Dari sekian banyak materi ketentuan dirumuskan
Restorasi UUD 1945

113

dalam naskah konsolidasi (consolidated text) UUD, ada beberapa materi masih asli, namun sebagian besar telah berubah secara mendasar jika dibandingkan naskah aslinya. UUD1945 memang memuat banyak sekali semangat proklamasi yang harus dilaksanakan dengan taat. Akan tetapi, UUD 1945 juga tidak luput dari kesalahan. Beberapa pasal yang mengatur pemerintahan justru membuka peluang cita-cita proklamasi itu tidak tercapai. Seperti misalnya ada hal yang memungkinkan presiden untuk dipilih lagi seumur hidup, karena Presiden tidak dipilih langsung oleh rakyat, tapi oleh MPR. Akan tetapi, apa yang terasa bila sesering apapun UUD 1945 di amandemen namun amanah Pembukaan UUD 1945 hingga sekarang saja belum terlaksana. Jika menatap Venezuela, terutama rakyat pekerja dan kaum miskinnya, sangat mencintai UUD mereka yang baru. Sebab merekalah yang membuat UUD itu. UUD itu dibuat bukan di dalam gedung-gedung parlemen yang mewah dan kantuk cepat datang tiba-tba, tapi melalui referendum, pemungutan pendapat rakyat secara Nasional. Dengan demikian, menurut Nurani Soyomukti, konstitusi Venezuela sangatlah berpihak pada orang miskin dan rakyat pekerja pada umumnya. 50% isi dari konstitusi ditulis sendiri oleh rakyat-lewat surat-surat dan jajak pendapat mengenai apa yang dibutuhkan rakyat. Konstitusi ini memenangkan 70% suara dalam referendum, mencakup hak-hak dasar demokratik, sosial dan hak-hak azasi manusia lainnya yang sangat luas diatas batas-batas demokrasi parlementer yang dangkal. Konstitusi Republik Bolivarian Venezuela adalah konstitusi hasil perubahan Venezuela hingga sekarang. Konstitusi ini disusun pada tahun 1999 oleh majelis konstitusional yang dipilih melalui referendum rakyat. Konstitusi 1999 ini diadopsi pada bulan Desember 1999, menggantikan Konstitusi tahun 1961-yang telah menjadi, dari 26 114
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

konstitusi yang digunakan Venezuela sejak merdeka pada tahun 1811, dokumen yang dipaksakan dalam waktu yang paling lama. Konstitusi tersebut lahir dari demokrasi rakyat, dan bukan dari diskusi elit atau tokoh. Konstitusi 1999 ini merupakan konstitusi pertama yang dibuat dan disetujui melalui referendum rakyat (popular referendum) dalam sejarah Venezuela, dan secara ringkas menandai apa yang dinamakan sebagai “Republik Kelima” Venezuela agar perubahan sosial ekonomi digariskan dan ditekankan dalam tiap-tiap halamannya, sebagaimana perubahan resmi terjadi di Venezuela dari Republik Venezuela (Republica de Venezuela) menjadi Republik Bolivarian Venezuela (Republica Bolivariana de Venezuela). [5] Perubahan utama dibuat dalam struktur pemerintahan dan pertanggungjawaban Venezuela, sedangkan banyak hak-hak asasi manusia diabadikan dalam dokumen yang dimaksudkan sebagai jaminan bagi rakyat Venezuelayang mencakup pendidikan bebas hingga tingkat ketiga (tertiary level), pelayanan kesehatan gratis, akses terhadap lingkungan bersih, hak-hak minoritas (terutama masyarakat pribumi, indiginous people) untuk menegakkan budaya, agama, dan bahasa serta tradisi mereka sendiri di antara kebudayaan lainnya. Konstitusi Venezuela 1999 yang berjumlah 350 ayat adalah yang paling panjang, lengkap, dan komprehensif. Kebijakan yang berawal dari penentangan terhadap penindasan neoliberalisme tentu saja merupakan antitesis yang tepat darinya. Neoliberalisme bertahan dengan segelintir elit yang berusaha mengeruk kepentingan pribadi dengan menjalankan ekonomi yang dikendalikan oleh keputusan sedikit orang (oligarki) dan mengorbankan rakyat mayoritas. Sumber-sumber ekonomi dikuasai oleh kaum modal, rakyat dianggap tidak memiliki dan hanya bekerja untuk kepentingan pemilik modal yang menjalankan kegiatan produksinya. Maka, upaya untuk
Restorasi UUD 1945

115

merebut hak-hak segelintir elit dan mengembalikannya pada mayoritas rakyat membawa dampak yang luas dalam hal perasaan solidaritas untuk berproduksi secara bersama dan hasilnya dinikmati bersama.[6] Memang, Indonesia bukan Venezuela, tetapi neoliberalisme bukan cuma memperparah kesenjangan berdasar kelas antara para pebisnis besar dengan kalangan buruh, tani, dan kalangan pengusaha kecil. Di sejumlah negeri Amerika Latin yang ditandai dengan banyaknya masyarakat suku Indian, segregasi itu juga berkait dengan pembagian masyarakat berdasar etnis. Kemakmuran para imigran Spanyol yang tinggal di dataran rendah sangat kontras dengan kaum Indian dan mestizo (campuran) yang banyak tinggal di dataran tinggi (altiplano). Maka, gerakan ekonomi kita harus dibarengi dengan keberanian politik yang bertumpu pada kedaulatan nasional. Dengan menuju bangsa yang berdaulat, kuat dan mandiri. Karenanya, kita harus mengacu kepada rumusan akhir dari nasionalisme kita. Karena nasionalisme Indonesia, memang sejak dulu selalu menjadi perdebatan, misalnya ada nasionalisme Jawa, Minangkabau, itu ada sejak dulu. Tetapi akhirnya kita menemukan suatu rumusan yang dipakai di dalam Pembukaan UUD 1945. Pada Pembukaan UUD 1945 dikatakan, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh karena itu kita berkeinginan untuk merdeka. Yang kedua, dikatakan maka sampailah perjuangan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan atas berkat rahmat Illahi. Dalam bagian lain konstitusi kita juga dikatakan, untuk apa kita mendirikan negara. Untuk mempertahankan bangsa dan tanah Indonesia dan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut serta dalam ketertiban dunia yang berdasarkan keadilan sosial. Ini adalah nasionalisme kita. Keempat-empatnya ini bersifat historis, setiap zaman 116
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

akan mengalami perubahan. Di sinilah kaum muda ditantang untuk cerdas dalam kerangka pertarungan pemikiran dan juga penguasaan atas teknologi dalam kerangka membangun peradaban. Konstribusi yang positif hanya akan memilikibobot ketika visi ideologi nasional Pancasila, bia dielaborasi lebih lanjut dalam dataran yang lebih operasional dan modern. Saat ini, Ada tiga hal yang justru berada dalam bahaya. Bangsa adalah status yang hanya bisa ada setelah (dialektika) sejarah (masyarakat) dan mesti ada sebelum negara politik berdiri. Dengan begitu, nasionalisme adalah ide yang telah menuntun agar bangsa melahirkan negara dan negara pada gilirannya hendak melindungi serta mensejahterakan segenap elemen bangsa. Namun begitu, persoalan tidak bisa kita hentikan begitu saja di sini. Pada gilirannya, konsep kebersamaan manusia sebangsa dan kesatuan bangsa dengan negara dalam kawalan nasionalisme lantas juga menuntut berlakunya praktik-praktik demokratis dalam penyelenggaraan ekonomi. Penyelenggaraan ekonomi ini merupakan organisasi bagi kegiatan produksi dan konsumsi kebutuhan barang dan jasa sebagai alas material kehidupan bersama (shared life). Dengan begitu, orangorang ini hendak diyakinkan bahwa hidup bersama dalam satu negara-bangsa akan menggenapi janji bahagia material dan spiritual. Pada urusan inilah yang Bung Karno sebut dengan Indonesia Merdeka sebagai jembatan emas menuju keadilan sosial dan kemakmuran! Semangat yang sama juga terdapat dalam percikan pemikiran Amin Arjoso dalam buku ini. Bahwa pilarpilar sejarah penyangga republik ini harus ditegakkan kembali. Hal itu harus menjadi pemahaman kolektif kita bersama bahwa perlu kembali membangun semangat republiken dan patriotik untuk mengawal cita-cita para founding fathers. Tentunya dengan kembali melibatkan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Ini adalah urusan
Restorasi UUD 1945

117

ideologis untuk sebuah kekuatan yang akan menjadi entitas pembentuk pemerintah negara Indonesia sekaligus sebagai jawaban atas gagalnya para pemimpin melakukan amanat Alinea ke IV Pembukaan UUD 1045 yaitu: “Untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

[1] Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan [2] Budiman Sudjatmiko,”Sosialisme, Jiwa Konstitusi Kita,” Kompas, Kamis, 5 Maret 2009 [3] Ir. Sukarno, Demokrasi-Politik dan Demokrasi-Ekonomi , Di Bawah Bendera Revolusi (Djilid Pertama Tjetakan keempat, 1965) h. 175 [4] Wawancara, Majalah Tempo, Edisi 25/02 – 21 Agustus 1997 [5] Nurani Soyomukti, “Revolusi Bolivarian: Hugo Chavez dan Politik Radikal,” diunduh pada 8 Juni 2010 dalam http:// amerikalatin.blogspot.com . [6] Ibid, selain ini, mengenai Amerika Latin dapat juga di lihat dalam Budiman Sudjatmiko, “Jalan Keadilan di Amerika Latin,” Kompas, 18 Desember 2006

118

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Bahkan setelah tidak lagi duduk di DPR/MPR RI, H. Amin Arjoso, SH tetap semangat menggalang dukungan bagi penolakan terhadap amandemen UUD 1945, serta menggalang gerakan kembali ke UUD 1945 (asli).

119

Aktif memperjuangkan kembalinya UUD 1945, baik melalui penggalangan dukungan dari para anggota DPR-MPR RI periode 20042009, hingga berbicara di forum-forum diskusi.

120

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Rekam Jejak Perubahan UUD 1945

P

erubahan UUD 1945 telah berlangsung. Praktik ketatanegaraan sebagaimana diatur dalam perubahan konstitusi kita telah berjalan. Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sudah dihapus. MPR pun bukan lagi sebagai lembaga tertinggi negara. Garis-garis besar haluan negara tidak lagi menjadi pedoman pembangunan nasional. Semua ini konsekuensi dari perubahan UUD 1945 yang dilakukan oleh MPR tahun 1999-2002. Di tengah masyarakat, baik dalam tata kehidupan berbangsa, bernegara dan berpemerintahan atas nama demokrasi yang berhasil mengubah UUD 1945; tampak jelas tidak selaras dengan cita-cita proklamasi sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Indikasinya, sejak perubahan UUD 1945 stabilitas prosedural (konsistensi menjalankan perundang-undangan) tidak berjalan, sebaliknya terjadi bongkar pasang undang-undang dalam waktu relatif singkat dan sangat membiRekam Jejak Perubahan UUD 1945

121

ngungkan masyarakat. Selain itu, konsolidasi demokrasi, yaitu terselenggaranya pemerintahan yang stabil untuk mewujudkan keadilan dan kesdejahteraan rakyat semakin jauh. Berbanding lurus dengan perkara tersebut, terjadi konflik kepentingan antara lembaga negara. Niscaya, baik dari tataran substansi perubahan UUD 1945, prosedur perubahan yang dijalankan, serta implikasinya dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan –sistem ketatanegaraan kita derwasa ini, mengalami apa yang disebut krisis konstitusi ketatanegaraan. Lantaran itu, Amin Arjoso dan kawan-kawan seperjuangan terus berjuang menegakan sistem konstitusi proklamasi. Memang, dalam setiap langkah perjuangan untuk menegakan UUD 1945 banyak rintangan. Bahkan sejak Amin Arjoso berada dalam pusaran perubahan konstitusi di MPR 11 tahun lalu –dalam kapasitasnya sebagai wakil ketua PAH III, ganjalan untuk menyelamatkan konstitusi proklamasi demikan kuat dan besar– bagaikan gelombang tsunami. Akan tetapi sebagai seorang aktivis dan pejuang sosok Amin Arjoso tidak berhenti dan letih untuk menegakkan UUD 1945. Bagiamana proses perubahan konstitusi proklamasi berjalan –yang semula dijadwalkan menggunakan pendekatan addendum (tambahan dalam satu lampiran), itu sebabnya Amin Arjoso berkenan menjadi wakil ketua PAH III dan menyetujui perubahan UUD 1945. Namun, begitu agenda perubahan berhasil dimasukan dalam sidang-sidang MPR –kesepakatan awal fraksi-fraksi MPR segera diabaikan. Peta politik pun segera berubah, MPR dikepung dengan pelbagai opini, tuntutan, demonstrasi yang semuanya mengarah pada perubahan UUD 1945 secara menyeluruh, itu sebabnya MPR sampai empat kali melakukan perubahan. Padahal opini dan tuntutan yang berlangsung 122
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

hanya aspirasi elit politik dan tokoh masyarakat tertentu yang kecil jumlahnya, namun menguasai akses komunikasi (media massa) dan dukungan logistik memadai dari donasi internasional yang berafiliasi dengan kekuatan neo-liberal. Dalam kepungan arus informasi yang didukung kekuatan neo-liberal, Amin Arjoso dan kawan-kawan terus menepis dan berjuang tak kenal lelah menjernihkan halihwal menegani perubahan UUD 1945 yang bukan saja kebablasan, tapi juga melanggar pelbagai aturan. Untuk itu, Amin Arjoso dituduh konservatif dan hendak memutar jarum sejarah, yaitu mengembalikan UUD 1945 yang otoriter. Demikian, cara-cara agen dan antek neo-liberal berargumentasi seraya memfitnah setiap potensi yang anti terhadap ideologi sekuler dan materialistik yang diusungnya. Agen dan antek-antek neoliberal dengan suka cita menjual negeri dan bangsa ini untuk kepentingan asing dengan dalil “demokrasi dan HAM”. Naifnya lagi, mereka sok tahu, sok pintar merasa paling tahu mengenai konstitusi. Sementara membedakan konstitusi yang masuk dalam lingkup hukum tata negara dan praktik kekuaan yang masuk dalam lingkup hukum tata usaha negara –sama sekali tidak tahu dan dicampur aduk begitu saja. Tak satu pun dari mereka, agen-agen neoliberal, baik yang bergerak di bidang partikelir (swasta), akademisi dan ilmuan sungguh-sungguh menelaah UUD 1945 secara saksama, cermat dan komprehensif –sehingga menemukan suatu formula teori tentang prosedur yang tepat dan memadai untuk mengubah UUD 1945 yang diperintah pasal 37 itu. Mereka hanya beropini gaya pokrol bambu, bahwa UUD 1945 sangat singkat, supel, multi tafsir dan otoriter. Satu-satunya tokoh yang telah dan berhasil melakukan
Rekam Jejak Perubahan UUD 1945

123

studi mendalam dan menemukan formulasi teori mengenai prosedur perubahan UUD 1945 adalah Sri Soemantri –pendiri Gerakan Mahasiswa Nasional Inbdonesia (GMNI) yang tentunya tidak tergolong dalam agen neoliberal. Dalam telaah yang dituangkan dalam desrtasinya tahun 1978, ia menemukan suatu teori yang disebut sebagai sidang khusus untuk mengubah UUD 1945 sebagaimana diamanatkan dalam pasal 37. Artinya perubahan UUD 1945 yang diserahkan kepada MPR dengan ketentuan kourum harus dilakukan dalam sidang yang hanya khusus membahas perubahan undang-undang dasar. Untuk sampai kearah sana, dalam pengembangan teorinya lebih lanjut, pakar hukum tata negara ini menyaratkan perlunya suatu grand desain, yaitu untuk apa kita melakukan perubahan dan pasal serta ayat apa saja yang akan diubah. Hal ini harus dilakukan lebih awal dan cermat oleh suatu komisi negara —sebelum melangkah kearah perubahan yang kan ditetapkan MPR. Kerangka terori yang telah dituangkan Sri Soemantri oleh Amin Arjoso kemudian dijadikan landasan untuk menelaah kembali perubahan UUD 1945. Untuk itu, bersama-sama dengan kelompok alumni HMI dan potensi kebangsaa lainnya, Amin Arjoso menyelengarakan diskusi-diskusi dan seminar yang intensif. Setelah itu telah dibentuk pula satu tim di bawah prakarsanya untuk menelusuri proses dan prosedur perubahan UUD 1945 sebagaimana yang terekam dalam risalah perubahan UUD 1945. Dalam studi pendahuluannya, tim bekerja meneliti risalah perubahan UUD 1945 yang dilakukan pada Sidang Umum MPR tahun 1999. Ada pun materi yang ditelusuri meliputi: Rapat ke-1 BP MPR RI (6 Oktober 1999), Rapat ke-2 BP MPR RI (6 Oktober 1999), Rapat ke3 BP MPR RI (14 Oktober 1999), Rapat Paripurna ke-7 Sidang Umum MPR RI (14 Oktober 1999), Rapat Sidang 124
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Paripurna ke-12 Sidang Umum MPR RI (19 Oktober 1999), Rapat Paripurna ke-12 (lanjutyan) Sidamng Umum MPR RI (19 Oktober 1999). Dari telaah itu ternyata perubahan UUD 1945 tidak dilakukan dalam sidang khusus, melainkan bersamaan dengan materi sidang pembuatan Tap MPR. Perhatikan agenda Rapat ke-3 BP MPR RI (14 Oktober 1999): 1. Rancangan Perubahan atas ketetapan MPR No. VII/ MPR/1973 tentang keadaan Presiden dan/atau Wakil Presiden Republik Indonesia berhalangan 2. Rancangan perubahan atau pencabutan atas ketetapan MPR no. III/MPR/ 1978 tentang kedudukan dan hubungan tata kerja lembaga tertinggi negara dengan /atau antar lembaga-lembaga tinggi negara. 3. Rancangan pencabutan atau perubahan atas ketetapan MPR no.III/MPR/1988 tentang pemilihan umum. 4. Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang pencabutan TAP MPRS Nomor XX/ MPRS/1966 tentang memorandum DPR GR mengenai sumber tertib hukum RI tata urutan peraturan perundangan RI. 5. Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Tata Cara Pertanggung Jawaban Presiden. 6. Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Peran TNI dalam Kehidupan Kenegaraan 7. Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Pembaharuan Hukum Agraria. 8. Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Rekonsiliasi Nasional 9. Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang KKN
Rekam Jejak Perubahan UUD 1945

125

10. Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Narkoba 11. Rancangan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Hutang Luar Negeri dan Peran IMF dihubungkan dengan prosedur pembuatan perjanjian dengan luar negeri. Ini berarti, perubahan undang-undang dasar yang diletakan setara dengan undang-undang dasar prosesnya berjalan sebagaimana mertumuskan dan menetapkan Tap MPR yang kedudukannya di bawah undang-undang dasar. Dalam pada itu, merujuk terori Sri Sumantri mengenai sidang khusus untuk mengubah UUD 1945, maka proses perubahan yang demikian, tidak sah. Menindak lanjuti temuan tersebut, diselenggarakan Seminasr Nasional “Tinjauan yuridis Terhadap Perubahan UUD 1845 (Kerarah Perumusan Addendum) pada 11 Nopember 2009 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, adapun hasilnya sebagai berikut:

Memorandum Kembali ke UUD 1945 Dengan Addendum
Bahwa sesungguhnya Perubahan UUD 1945 merupakan amanat konstitusional sebagaimana termaktub dalam Pasal 37. Perintah perubahan tersebut merupakan kebijakan politik (ketatanegaraan) yang kewenangannya diserahkan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. (MPR RI). Meski MPR RI diberi kewenangan mengubah dan menetapkan undang-undang dasar, bukan berarti dalam pelaksanaan tugas konstitusional tersebut —dapat dilakukan dengan mengabaikan segala bentuk peraturan (tata hukum) nasional yang meliputi kegiatan (kewenangan) MPR RI, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR 126
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

dan DPRD No. 4 Tahun 1999 dan Tata Tertib MPR RI Tahun 1998--2002. Selain itu, pasal-pasal dan ayat-ayat perubahan yang ditetapkan tidak boleh bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. Untuk itu, mengubah undang-undang dasar memerlukan grand desain terpadu. Nayatanya, dari hasil penelitian Panitia Pengarah Seminar Nasional Mengkritisi Perubahan UUD 1945 dan pembahasan ilmiah oleh beberapa narasumber yang dilaksanakan di Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya pada 11 Nopember 2009, menunjukkan : 1. Ada kesalahan prosedur, yaitu: dalam mengubah UUD 1945 MPR RI melanggar Undang-undang No. 4 Tahun 1999 dan Tata Tertib MPR RI Tahun 1998-2002; 2. Materi perubahan UUD 1945 sebagaimana tertuang dalam Pasal-pasal dan ayat-ayat perubahan bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. Maka, wajar perubahan UUD 1945 masih mengundang polemik. Seyogianya, UUD 1945 dengan perubahannya harus diterima secara bulat oleh seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Namun, qua realitas perubahan UUD 1945 masih mengundang polemik sampai hari ini. Sementara, sasaran dari perubahan UUD 1945 antara lain mendorong proses demokratisasi dalam format asas keseimbangan antar lembaga negara. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya tidak kurang dari 11 (sebelas) lembaga negara dan alat kelengkapan lembaga negara sebagaimana diamanatkan UUD 1945 hasil perubahan mengalami konflik kepentingan, seperti: Mahkamah Agung vs Komisi Yudisial; Komisi Pemilihan Umum vs Mahkamah Konstitusi, Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung vs Komisi Pemberantasan Korupsi, Badan Pemeriksa Keuangan vs 127

Bank Indonesia dan Menteri Keuangan, Mahkamah Agung vs Departemen Pendidikan Nasional. Fenomena ini menunjukan asas keseimbangan sebagaimana dimaksud dalam perubahan UUD 1945 tidak tercapai. Demikian, konflik-konflik tersebut membahayakan kelangsungan kehidupan kenegaraan kita. Pada bagian lain, proses demokratisasi belakangan ini semakin menjauhkan kita dari sistem hukum, budaya, politik dan ekonomi yang berlandasarkan Pancasila. Tampak, terang benderang proses demokrastisasi yang mendapat legitimasi konstitusi sebagaimana diatur dalam amandemen UUD 1945, merupakan usaha liberalisasi-liberalisme dalam kehidupan kenegaraan kita. Hal ini jelas bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. Ketika Pasal-pasal dan ayat-ayat perubahan UUD 1945 bertentangan dengan Pembukaan dan pada pelaksanannya, antara lain: melahirkan konflik kepentingan antar lembaga negara dan alat kelengkapan lembaga negara yang ada; sementara kepastian hukum dan keadilan tidak berpihak kepada rakyat sebagaimana dijamin oleh konstitusi —yang demikian menunjukan gejala krisis konstitusional sekaligus membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk mengakhiri hal tersebut, diperlukan upaya alternatif di lapangan ketatanegaraan, yaitu : 1. Melakukan addendum terhadap UUD 1945 sebagaimana ditetapkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. (PPKI), tanggal 18 Agustus 1945 -yang diberlakukan kembali melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 seperti tercantum dalam Lembaran Negara No. 75 Tahun 1959; 2. Sebelum UUD 1945 dengan addendumnya ditetapkan MPR RI dan didaftarkan pada. Lembaran Negara, sistem ketatanegaraan yang berlaku masih mengikuti aturan sebagaimana termaktub dalam Perubahan 128
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pertama, Kedua, Ketiga dan Keempat UUD 1945 yang dilakukan MPR RI pada tahun 1999-2002; 3. Setelah UUD 1945 dengan addendum ditetapkan MPR RI dan didaftarkan pada Lembaran Negara, maka Perubahan Pertama, Kedua, Ketiga. dan Keempat UUD 1945 dicabut (dinyatakan) tidak berlaku lagi; 4. Melalui cara ini kita telah kembali ke UUD 1945 dengan addendum; dan berarti kita telah dan sedang menegakkan prinsip-prinsip ketatanegaraan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang fundamental dengan tidak mengabaikan perkembangan zaman. 5. Proses perumusan addendum tidak boleh melanggar prosedur (tata hukum) yang berlaku; sedangkan materi (pasal-pasal dan ayat-ayat) yang akan dilampirkan (tambahan) dalam UUD 1945 tidak boleh bertentangan dengan Pembukaan, hal ini semata-mata dilakukan untuk dan demi kepentingan nasional; 6. Addendum UUD 1945 merupakan spirit dan etos konstitusionalisme sebagai koreksi-konstruktif terhadap Perubahan Pertama, Kedua, Ketiga dan Keempat UUD 1945 yang telah melahirkan krisis konstitusi ketatanegaraan – lantaran menyalahi prosedur dan bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. Demikian memorandum ini kami maklumkan ke segenap penjuru tanah air sebagai pertanggung jawaban politik-kebangsaan kami di tengah krisis konstitusi ketatanegaraan dewasa ini.

Rekam Jejak Perubahan UUD 1945

129

Spanduk “menolak UUD 2002”, istilah lain untuk hasil amandemen UUD 1945.

H. Amin Arjoso, SH pencetus istilah “UUD 2002” untuk membedakan dengan UUD 1945 yang asli.

130

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

FORUM PERJUANGAN PELURUSAN UUD 1945

SERUAN:
I. MENGAPA KITA MENOLAK AMANDEMEN UUD 1945 YANG KEBABLASAN, KARENA BERTENTANGAN DENGAN CITA-CITA PROKLAMASI 17 AGTUSTUS 1945 YANG MENUJU KE INDIVIDUALISME, LIBERALISME, KAPITALISME, DAN NEOIMPERIALISME. KARENA ITU: 1. Kembali ke UUD 1945 untuk menegakkan kedaulatan negara dan keutuhan teritorial (suvernity integrity dan teritorial integrity). 2. Amandemen kabablasan mengakibatkan penjajahan baru dengan melumpuhkan ekonomi nasional. 3. Menimbulkan krisis konstitusi karena locus kedaulatan rakyat, siapa yang mewakili kedaulatan rakyat tidak lagi jelas, karena MPR tidak lagi sepenuhnya mewakili rakyat. 4. Prinsip semua dipilih tidak sama dengan semua yang diwakili, sehingga Utusan Daerah dan Utusan Golongan semena-mena dihapus. Ini menyalahi demokrasi Indonesia yang berdasarkan sosio nasionalisme dan sosio demokrasi khas Indonesia, dengan demikian menghapus sejarah bangsa Indonesia. II. PROSES AMANDEMEN UUD 1945 YANG KEBABLASAN DENGAN DALIH REFORMASI DIDALANGI OLEH PIHAK ASING Tidaklah perlu diragukan lagi bahwa pihak asing bekerja sama dengan MPR pada tahun 1999-2004 melalui tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok politik tertentu di
Forum Perjuangan Pelurusan UUD 1945

131

Indonesia, secara nyata mengadakan amandemen UUD 1945 yang menyeleweng dari cita-cita Proklamasi dan menuju: INDIVIDUALISME, LIBERALISME, KAPITALISME, DAN NEOIMPERIALISME, yang menguntungkan pihak asing dan kaki tangannya yang berbangsa Indonesia dan mengorbankan kepentingan Negara, Bangsa, dan Rakyat Indonesia sendiri. Contoh-contoh dan bukti-bukti adalah sebagai berikut: 1. Penjelasan UUD 1945 dihapus 2. MPR tidak lagi berfungsi sebagai lembaga tertinggi Negara kedaulatan rakyat dengan dihapuskannya GBHN. 3. Dihapusnya perwakilan dari unsur-unsur golongan dan utusan daerah, pemilihan presiden dan wakil presiden oleh MPR, dan Presiden selaku mandataris MPR dicabut. 4. Dihapusnya Penjelasan pasal 33 UUD 1945 dan penambahan ayat-ayat tambahan. 5. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden langsung, membuka peranan orang-orang dan kelompokkelompok bermodal dalam pemilu. III. SERUAN PERJUANGAN UNTUK BANGSA DAN RAKYAT INDONESIA Marilah kita camkan pesan Bapak Pendiri Bangsa tentang TRISAKTI yaitu: terwujudnya kehidupan bernegara yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Untuk mencegah perkembangn situasi menjadi perpecahan bangsa yang mengarah pada terjadinya pertentangan di Indonesia, kami mendesak kepada seluruh Bangsa dan Rakyat Indonesia serta para Wakil Rakyat di MPR untuk mengerahkan segala bentuk jiwa juang dan 132
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

segenap tenaga kembali ke Pancasila dan UUD 1945. Jakarta, 5 Juli 2005 Forum Perjuangan Pelurusan UUD 1945 1. Ali Sadikin 2. H. Amin Arjoso 3. Sri-Edi Swasono 4. M. Achadi 5. Sutrisno 6. Chris Siner Key Timu 7. Sadjarwo Sukardiman 8. Alfian Husin

LAMPIRAN SERUAN FPP UUD 1945

Fakta Sejarah dan Proses Amandemen UUD ‘45 yang Kebablasan
PENGALAMAN SERTA FAKTA SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA
Khususnya semenjak Proklamasi 17-8-1945 dengan UUD 1945 yang berdasarkan Pancasila bangsa Indonesia selalu menghadapi tantangan-tantangan secara terbuka dan terselubung dari pihak-pihak asing bekas penjajah untuk merobohkan Indonesia Merdeka dengan UUD 1945 dan Pancasila, karena ingin menguasai Indonesia kembali. Beberapa bukti sejarah antara lain: 1. Dikeluarkannya Maklumat X bulan November 1945, yang mengesahkan berdirinya sistem multi partai dan sistem kabinet parlementer yang dipimpin Perdana Menteri. Hal ini adalah cara untuk memotong kepemimpinan Presiden/Proklamator digantikan oleh
Forum Perjuangan Pelurusan UUD 1945

133

Perdana Menteri sehingga memberikan kesempatan pihak asing tersebut untuk berperan di bidang Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya. 2. Operasi-operasi militer pihak asing/Belanda untuk menguasai NKRI proklamasi 17-8-1945 dengan membentuk negara-negara boneka antara lain; NIT (Negara Indonesia Timur), Negara Pasundan, Negara Sumatera Timur, Negara Jawa Timur, Negara Madura, dan sebagainya dengan membentuk pemerintahan federal B.F.O. (Bijeenkomst Federale Overleg). 3. Dengan menduduki Ibukota RI di Yogyakarta bulan Desember 1949, serta menangkap dan menahan Presiden, Wakil-Presiden dan Menteri-Menteri NKRI serta dibawa dan ditahan di Prapat dan Bangka (Sumatera), mengharapkan NKRI proklamasi 17-8-1945 bisa bubar dan digantikan dengan pemerintahan Indonesia boneka pemerintah asing Belanda. Rencana tersebut gagal total karena perang gerilya dari rakyat dengan TNI dan laskar-laskar perjuangan bersenjata terus-menerus bergerak, serta Perserikatan Banga Bangsa (PBB) lewat komisi tiga negara menyalahkan Belanda dan diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB) untuk mencari penyelesaian. 4. KMB menghasilkan pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS bukan NKRI), terdiri atas Republik Indonesia 17-8-1945 beserta negara-negara boneka pihak asing antara lain: NIT (Negara Indonesia Timur), Negara Pasundan, Negara Sumatera Timur, Negara Jawa Timur, Negara Madura, dan sebagainya. Setelah pengakuan Kemerdekaan Indonesia oleh PBB (hasil dari KMB), serta ditariknya semua pasukan Belanda dari Indonesia terjadilah pergolakan dan perjuangan rakyat menolak Republik Indonesia Serikat/RIS untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan UUDS 1950. 134
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

5. Pihak-pihak asing terus merongrong pemerintahan NKRI dengan berbagai bentuk; baik secara terbuka maupun terselubung, antara lain; pemberontakan KNIL di Makasar, disusul di Ambon dengan mendirikan RMS (Republik Maluku Selatan), pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), yang kemudian bergabung dengan DI (Darul Islam) di Jawa Barat, usaha-usaha pembunuhan (assasination) kepada Presiden NKRI Sukarno: Peristiwa Cikini, peristiwa Idul Adha, peristiwa Cendrawasih di Makasar, peristiwa penembakan dengan pesawat terbang ke Istana Merdeka dan peristiwa percobaan pembunuhan lainnya. Pemberontakan PRRI/PERMESTA (Perjuangan Semesta) di Sumatera Barat dan Sulawesi Utara yang didukung oleh Amerika Serikat. Lahirnya Orde Baru yang didukung oleh IGGI, CGI, World Bank, IMF, dll. Kesimpulan dari 1 - 5 di atas adalah pihak asing bekas penjajah ingin merobohkan NKRI 17-8-1945 yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan menggantikan pemerintahan yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan mereka (pihak asing).

PROSES AMANDEMEN UUD 1945 YANG KEBABLASAN DENGAN DALIH REFORMASI DIDALANGI OLEH PIHAK ASING
1. Pengakuan-pengakuan yang diungkapkan oleh NDI (National Democratic Institute for International Affaris) dengan CETRO sebagai mitra beserta LSM-LSM di Indonesia memberi petunjuk-petunjuk yang nyata akan adanya skenario pihak asing untuk mengubah tatanan politik, kepemimpinan politik dan kehidupan politik dan ekonomi yang mengikuti kepentingan pihak asing tersebut.
Forum Perjuangan Pelurusan UUD 1945

135

2. Berikut adalah: pengakuan tertulis dari pihak NDI tentang rencana kegiatan-kegiatan serta pembiayaan atas maksud-maksud di atas: “Democratic Reform since the opening of political space ini 1998, three democratic reform issues have come to forefront of Indonesia politics: constitutions reform, and decentraliszation or, as it is known in Indonesia is regional autonomy. Over the past three years, NDI has assisted Indonesian political leader move forward in these reform areas in a participatory manner. Since February 2000, NDI has been providing vital comperative materials and information on constitutional and electoral reforms to Indonesian lawmakers Involved in these issues, including members of the People’s Consultative Assembly (MPR), the highest political institution of the state and its mandated to determine the constitutions and to decree the guidelines of state policy. The materials provided by NDI have informed the MPR’s continuing issues. The Institute is also working closely with universities in Indonesia and civil society partners to encourage citizen in the reform process. 3. Tidaklah perlu diragukan lagi bahwa pihak asing bekerja sama dengan MPR pada tahun 1999-2004 melalui tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok politik tertentu di Indonesia, secara nyata mengadakan amandemen UUD 1945 yang menyeleweng dari cita-cita Proklamasi dan menuju; INDIVIDUALISME, LIBERALISME, KAPITALISME, DAN NEOIMPERIALISME, yang menguntungkan pihak asing dan kaki tangannya yang berbangsa Indonesia dan mengorbankan kepentingan Negara, Bangsa, dan Rakyat Indonesia sendiri. Contoh-contoh dan bukti-bukti adalah sebagai berikut: 1. Penjelasan UUD 1945 dihapus 2. MPR tidak lagi berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara kedaulatan rakyat dengan dihapusnya GBHN; 136
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

3. Dihapusnya perwakilan dari unsur-unsur golongan dan utusan daerah, pemilihan presiden dan wakil presiden oleh MPR, dan Presiden selaku mandataris MPR dicabut; 4. Dihapusnya Penjelasan pasal 33 UUD 1945 dan penambahan ayat-ayat tambahan; 5. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden langsung, membuka peranan orang-orang dan kelompok bermodal dalam Pemilu.

Forum Perjuangan Pelurusan UUD 1945

137

BAB II Perjuangan

138

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Amin Arjoso akrab dengan wartawan. Pers adalah salah satu alat perjuangan Amin Arjoso dalam menegakkan kembali UUD 1945.

139

Dua tokoh nasionalis, H. Amin Arjoso, SH dan Abdul Madjid ketika sama-sama dilantik menjadi Anggota DPR/MPR RI masa bhakti 1999 - 2004.

140

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Abdul Madjid

Sempat Didamprat Megawati

K

alau ada warga Indonesia yang paling berani menentang amandemen UUD 1945 dan paling gigih memperjuangkan kembalinya UUD 1945 adalah Amin Arjoso. Saya masih punya dokumen berisi pernyataan menolak amandemen lintas fraksi. Waktu itu, saya dan Amin Arjoso sama-sama masih duduk di Fraksi PDIP, DPR RI. Suatu hari, Amin Arjoso dan Sri-Edi Swasono datang membawa dokumen tersebut yang sudah ditandatangani kurang lebih 20 anggota DPR RI lintas fraksi. Sebagai anggota DPR yang sepaham, menolak aksi amandemen terhadap UUD 1945, saya tentu saja dengan senang hati menandatangani memorandum tersebut. Namun, ketika ia bersiap menuliskan nama dan menandatanganinya pada urutan terbawah, Amin Arjoso mencegah, “Bukan di situ… tapi di atas, nomor urut satu, sengaja dikosongkan buat pak Madjid.” 141

Sempat Didamprat Megawati

Begitulah, Abdul Madjid pun menandatanganinya di urutan kesatu. Tapi bukan berarti saya pelopornya, karena pelopornya ya Amin Arjoso. Bahwa saya diminta tanda tangan di urutan pertama, mungkin karena mereka menilai saya yang paling tua. Nah, tentang amandemen itu sendiri, PDIP sudah menentukan sikap sejak Kongres di Semarang tahun 2000. Ketika itu kongres memutuskan, setuju amandemen dengan beberapa catatan. Pertama, sesedikit mungkin pasal yang diamandemen. Kedua, tidak boleh mengubah hal-hal yang bersifat mendasar. Sayangnya, orang-orang PDIP sendiri banyak yang tidak taat terhadap keputusan Kongres, termasuk Megawati Soekarnoputri. Bahkan, pelopor amandemen di antaranya orang PDIP sendiri, yaitu Jacob Tobing. Dia yang menjadi ketua panita amandemen. Padahal, kalau konsisten, PDIP harusnya menolak amandemen itu. Sebab kembali kepada komitmen, bahwa

Dua orang Sukarnois: H. Amin Arjoso, SH dan Abdul Madjid.

142

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

amandemen harus sesedikit mungkin dan tidak mengubah hal-hal mendasar. Padahal, amandemen itu sendiri sangat bertentangan dengan kesepakatan PDIP, sebab amandemen yang terjadi justru sangat mendasar, termasuk mengubah sistem pemerintahan. Dulu satu kamar, sekarang menjadi dua kamar. Ini adalah perubahan besar. Padahal yang namanya NKRI adalah final. Dengan dua kamar, saya tidak bilang bahwa dengan begitu negara menjadi federasi, tetapi bahwa sistem itu membuka kemungkinan menjadi federasi. Satu hal lagi yang menurut saya mendasar adalah Penjelasan UUD 1945 dibuang. Alasannya, di negaranegara lain Undang Undang Dasar tidak pakai Penjelasan. Mereka lupa, bahwa tidak ada satu pun ketentuan yang mengatur sebaliknya, bahwa UUD tidak boleh ada Penjelasan. Padahal Bung Karno pernah menegaskan bahwa ini adalah Undang Undang Dasar untuk Indonesia, bukan untuk negara lain. Bung Karno juga mengatakan, kepada panitia penyusun UUD, untuk tidak menjiplak konstitusi negara mana pun.

Bukan UUD Sementara
Hal lain yang ketika itu sering dipakai pembenar oleh para kelompok pro amandemen adalah, bahwa Bung Karno pernah mengatakan, UUD yang dibuat waktu itu bersifat UUD Sementara. Kemudian dibentuklah Konstituante yang antara lain diberi tugas menyusun Undang Undang Dasar yang tetap. Itulah latar belakang Bung Karno mengatakan bahwa UUD itu bersifat sementara. Akan tetapi pernyataan Bung Karno itu sudah mati, sudah tidak valid, sudah tidak berlaku. Mengapa? Karena badan yang dibentuk menyusun Undang Undang Dasar telah gagal. Konstituante gagal menyusun UUD, hingga
Sempat Didamprat Megawati

143

lahirlah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Itu artinya, begitu Bung Karno selaku Presiden menyatakan dekrit kembali ke UUD 1945, maka UUD 1945 bukan lagi bersifat sementara, melainkan UUD yang sudah bersifat tetap, tidak ada lagi ada embel-embel sementara. Ada latar belakang lain mengapa Bung Karno pernah menyatakan bahwa UUD itu bersifat sementara. Hal itu karena konflik politik, tarik-menarik kepentingan antarkelompok begitu kuat. Jika tidak diambil langkah tegas, negara tidak akan memiliki landasan konstitusi. Karenanya Bung Karno menawarkan kepada semua faksi yang bersilang pendapat untuk menerima UUD 1945 dengan embel-embel sementara. Langkah selanjutnya adalah membentuk badan yang menyempurnakan UUDS tadi. Sejarah kemudian mencatat, konflik di Konstituante seperti tak berkesudahan. Tenggat waktu yang ditetapkan gagal mereka manfaatkan. Kepada Konstituante pun sudah ditawarkan untuk menerima dan mengesahkan saja UUDS menjadi UUD. Akan tetapi dalam pengambilan suara, tidak tercapai kesepakatan bulat. Negara pun terkatung-katung dalam konstitusi sementara. Bung Karno selaku Presiden lantas mengumpulkan seluruh perwakilan politik, angkatan perang, ahli tata negara untuk mengatasi deadlock konstitusi di Konstituante. Dengan kekuasaannya sebagai Kepala Negara demi menyelamatkan bangsa dan negara itulah Bung Karno kemudian mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1945. Sekali lagi saya tegaskan, bahwa sejak itu pula pernyataan Bung Karno yang menyebut UUD 1945 sebagai UUD Sementara sudah mati, sudah tidak berlaku. Sebab yang berlaku ya UUD 1945 itu, tanpa embel-embel Sementara. Kembali ke pokok soal, amandemen UUD 1945 oleh MPR 1999 – 2004. Ada skenario besar yang menunggangi proses perubahan konstitusi itu. Dalam suatu dokumen 144
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Panitia Ad Hoc ada keterangan yang menyebutkan bahwa blessing in disguise perubahan terhadap UUD 1945 boleh dilakukan terhadap semua, meliputi pembukaan, batang tubuh, dan penjelasan. Yang sangat disayangkan adalah, tidak ditulisnya kesepakatan Panitia Ad Hoc Amandemen UUD 1945 sebelum melakukan amandemen. Ada lima kesepakatan, antara lain, tidak boleh mengubah pembukaan, tidak boleh mengubah bentuk negara (NKRI), sistem presidential tetap, tetapi sayangnya tidak dituang dalam dokumen tertulis. Jacob Tobing sebagai ketua panitia pun tidak berinisiatif mengamankan kesepakatan itu menjadi dokumen tertulis, sebaliknya justru mendorong amandemen menjadi bebas sebebas-bebasnya. Fraksi PDIP sendiri suasananya cukup panas, mengingat hampir mayoritas anggota Fraksi berdiri di belakang Amin Arjoso menentang amandemen. Karenanya, keseluruhan proses amandemen nyaris tidak pernah diputuskan di tingkat fraksi. Dalam setiap rapat fraksi selalu terjadi benturan keras. Oleh Jacob Tobing, dengan kelicikannya ditengahi dengan kalimat, “Semua ditampung sebagai masukan”.

Paradoks Mega dan Bung Karno
Jacob Tobing kemudian menghadap sendiri ke Megawati Soekarnoputri, sebagai Ketua Umum PDIP maupun sebagai Presiden RI. Sebagai ketua panitia Ad Hoc amandemen UUD tentu saja dia bisa menghadap presiden kapan saja. Nah, kepada Megawati dilaporkan bahwa semua dalam keadaan kondusif. Bukan hanya itu, belakangan diketahui juga bahwa Jacob Tobing pun menakutnakuti Megawati dengan mengatakan, “Kalau amandemen gagal, Presiden bisa jatuh.” Sikap Mega pun menjadi lunak. Karenanya sejarah pun mencatat sebuah paradoks, konstitusi yang dilahirSempat Didamprat Megawati

145

kan pada era kepemimpinan bapaknya, justru diobrakabrik di era kepemimpinan anaknya. Sikap Megawati yang mendukung amandemen bahkan pernah mengakibatkan benturan langsung dengan saya. Dalam sebuah rapat kerja di Bogor, saya didamprat Megawati. Megawati sebagai Ketua Umum PDIP menginstruksikan kepada anggota Fraksi agar tidak boleh mengakibatkan rapat yang membahas amandemen di DPR RI itu deadlock, harus suara bulat. Seketika Abdul Madjid angkat tangan dan bicara, bahwa deadlock bukan hal tabu dalam sistem politik. Saat itulah Megawati marah seraya menegaskan, bahwa pada dasarnya dia pun tidak setuju amandemen, tetapi harus melihat situasi dan kondisi. Jika situasi dan kondisi mengharuskan terjadi amandemen, maka dia setuju. Belum selesai mendebat, Megawati sudah berpamitan dari arena rapat karena hendak menghadiri acara lain. Kemudian kalimat Mega yang mengatakan pada dasarnya tidak setuju amandemen, saya gunakan sebagai dasar menentang amandemen di rapat PDIP itu. Kemudian Sekjen PDIP waktu itu, Sucipto menjawab, “Ya, tapi Bu Mega juga bilang, tergantung situasi dan kondisi.” Jadi kesimpulan saya, Megawati memang menggantung sikapnya. Tidak tegas. Itu yang dimanfaatkan orang-orang pro amandemen seperti Sucipto dan lain-lain yang dikomandani Jacob Tobing. Yang “menggarap” Megawati juga Jacob Tobing. Sedangkan yang “menggarap” Jacob Tobing tentu saja NDI, seperti ditulis ASS Tambunan. NDI itu adalah kepanjangan tangan Amerika Serikat dengan maksud antara lain mengubah UUD 1945 sehingga Indonesia menjadi berpahamkan liberal, baik politiknya, maupun ekonominya. ASS Tambunan menguak itu semua dalam buku yang kemudian diedarkan secara luas. Memang, ada yang pernah bertanya kepada saya ihwal 146
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

isi buku ASS Tambunan itu. Jika saya ditanya apakah saya percaya dengan isi buku yang ditulis ASS Tambunan yang menguak konspirasi Amerika Serikat melalui NDI dan elite-elite politik dalam negeri dalam mengobrakabrik tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, saya tentu saja akan menjawab balik, bahwa faktanya tidak ada satu pun pihak yang menyanggah dan membantah isi buku Tambunan. Sepanjang tidak ada bantahan, bisa diartikan apa yang ditulis Tambunan adalah benar. Lepas dari apa yang berkembang sebagai wacana pro dan kontra terhadap amandemen Undang Undang Dasar 1945, yang terjadi sekarang ini adalah, kita sudah hidup dalam alam liberal, ya politiknya, ya ekonominya. Nilainilai yang terkandung dalam Pancasila yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 sudah diingkari, dinafikan. Padahal, pembukaan UUD 1945 itu adalah sebuah rumusan atas pidato Bung Karno. Dalam pembukaan itu pula tercantum cita-cita proklamasi. Apa itu cita-cita proklamasi? Dalam pembukaan UUD 1945 itu ada deklarasi mengenai cita-cita proklamasi. Ini yang selama ini tidak pernah diungkap. Pada kalimat ketiga, bukan alinea. Sebab alinea itu satu ruang di halaman, isinya bisa satu, dua, atau tiga kalimat bahkan lebih. Dalam pembukaan UUD 1945 tiap alinea isinya satu kalimat. Isinya berbunyi kalimat. Nah, kalimat ketiga itu berbunyi, “Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”. Itulah cita-cita proklamasi. Rakyat didorong keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas. Karena itulah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Jadi intinya, kehidupan kebangsaan yang bebas. Memang tidak dijelaskan, tetapi dari isi UUD 1945 itu bisa kita ketahui apa yang dimaksud dengan kehidupan
Sempat Didamprat Megawati

147

kebangsaan yang beas. Nah, dengan adanya amandemen, hal ini tidak dibahas. Sekarang ini negara mau dibawa kemana, tidak jelas. Citacita luhur bangsa Indonesia ketika merdeka, menjadi diabaikan. Amanat pembukaan konstitusi kita juga sudah sangat jelas menyebutkan bahwa sesunggunya kemerdekaan adalah hak segala bangsa, karena itu penjajahan harus hapus dari seluruh dunia, termasuk dari bumi Indonesia, dari bangsa Indonesia. Dus, bangsa Indonesia harus bebas dari segala bentuk penjajahan. Sedangkan nenek moyang penjajahan adalah kapitalisme, karenanya kita harus bebas dari kapitalisme. Itu adalah amanat konstitusi, tetapi tidak ada yang memperhatikan. Ada beragam kebebasan, bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas dari kebodohan, bebas menganut agama dan kepercayaan, bebas berbicara dan berpikir. Tetapi dilengkapi oleh Bung Karno, freedom to be free, bebas untuk merdeka. Itu bebas yang paling asasi. Di Pembukaan UUD 1945 sejatinya ada lima amanat. Amanat pertama adalah alinea pertama tadi, mengamanatkan supaya bebas dari kapitalisme dan imperialisme. Kedua, melindungi segenap bangsa dan tumpah darah. Ketiga, memajukan kesejahteraan umum. Empat mencerdaskan kehidupan bangsa. Kelima, mengatur ketertiban dunia. Inilah amanat pembukaan UUD 1945. Mengapa ini tidak dijadikan pokok program pembangunan kabinet? Dengan demikian, program pembangunan ada relnya, tidak ke kana dan ke kiri, semua kabinet harus berpedoman pada lima amanat tadi. Itu artinya, perjuangan Amin Arjoso dkk mengembalikan UUD 1945 sudah benar, karena hendak mengembalikan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai amanat konstitusi, amanat kemerdekaan, amanat cita-cita luhur bangsa ketika memerdekakan dirinya dari penjajahan, bebas dari imperialisme. 148
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Tak Jelas Arah
Sebab, dengan adanya amandemen terhadap konstitusi kita, bukan saja bangsa ini tidak jelas arahnya, tetapi yang lebih parah, terhadap landasan idiil Pancasila saja, pemahaman rakyat kita semakin hari semakin mengambang. Bayangkan apa yang terjadi ketika bangsa ini tidak lagi berpegang pada landasan konstitusi UUD 1945 dan landasan idiil Pancasila. Coba jawab, bangsa apa kita ini? Cita-cita pendiri bangsa adalah menjadikan bangsa ini bangsa yang Pancasilais yang berbangsa dengan landasan konstitusi UUD 1945. Seperti apakah warga negara yang Pancasilais itu? Apakah dia seorang yang feodal, kapitalis, dictator, federalis, atau apa? Mari kita baca pidato Bung Karno 1 Juni 1945, lahirnya Pancasila. Tentang sila, yang kalau diperas bisa menjadi tiga, yaitu ketuhanan Yang Maha Esa, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi. Kalau diperas menjadi satu, Gotongroyong. Jadi, seorang Pancasilais itu harus trisila, artinya dia harus berketuhanan yang Maha Esa, dia harus seorang sosio-nasionalis, dan seorang yang sosio-demokratis. Atau pendeknya, warga bangsa yang berjiwa gotong royong. Kalau seseorang tidak bertuhan, dia tidak bisa menjadi seorang Pancasilais. Kalau seseorang tidak berjiwa sosio-nasionalis, maka tidak tidak bisa menjadi Pancasilais. Kalau seseorang tidak berjiwa sosio-demokratis, dia tidak akan bisa menjadi seorang Pancasilais. Kalau seseorang tidak berjiwa gotong royong, maka dia bukan seorang Pancasilais. Bung Karno bahkan pernah bilang, nasionalisme tanpa keadilan sosial sama dengan nihilisme. Padahal yang menciptakan keadilan sosial itu adalah demokrasi. Bung Karno secara umum di luar negeri pernah bilang, rumusan demokrasi Indonesia secara universal adalah from the people, by the people, and for the people. Implementasi di Indonesia adalah begini, memang from the people dan by the
Sempat Didamprat Megawati

149

people itu penting, tetapi yang terpenting adalah for the people. Dalam konteks Pancasila, kalau kita bertanya, di mana sila demokrasi itu? Adanya di sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Itu benar, tetapi masih kurang. Meskipun, sila itu sendiri hebat, bahwa demokrasi itu dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan, kalau di luar negeri demokrasi dipimpin oleh cipoa, tak-tek… tak-tek hitung-menghitung, yang banyak yang menang. Jadi, dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan itu tidak ada di luar, di seluruh dunia hanya ada di Indonesia, Cuma kita yang ada, jadi sudah mulia banget. Akan tetapi kalau menurut Bung Karno itu pun belum lengkap. Sila 4 dan 5 itu harus dibaca satu nafas: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jadi artinya, meskipun sudah musyawarah dalam hikmat kebijaksanaan atau mufakat kalau tidak berbarengan dengan upaya mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, itu bukan demokrasi Indonesia. Lebih lengkap lagi, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, suatu keadilan sosial yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi seluruh rakyat Indonesia. Itulah demokrasi Indonesia. Jadi Bung Karno mengatakan bahwa demokrasi itu bukan hanya alat. Alat memilih kepala desa, memilih bupati-walikota, memilih gubernur atau bahkan presiden, tidak! Kalau istilah Bung Karno adalah, demokrasi harus menjadi “chelof”, atau penghayatan. Jadi demokrasi itu menjadi penghayatan. Maka Pancasila sebagai ideologi negara, demokrai Indonesia menjadi sub ideologi, 150
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

jadi bukan cuma alat yang diatur dengan undang-undang, tetapi harus menjadi naluri dari bangsa Indonesia. Sekali lagi, bukan demokrasi kalau muaranya bukan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Di Eropa muara demokrasi apa? Liberalisme dan individualisme. Di Amerika muaranya kapitalisme dan imperialisme. Demikian pula di Jepang, Belanda, ada bau-bau feodalisme. Di Rusia, di Cina muaranya demokrasi sentralisme. Di Indonesia muaranya jelas, terwujudnya suatu keadilan sosial yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi seluruh rakyat Indonesia. Nah, itu semua hilang dengan adanya amandemen terhadap UUD 1945. Padahal, seperti saya tegaskan di atas, amandemen itu tidak sah, karena Dekrit Presiden tidak pernah dibatalkan. Dalam hal ini yang kita pegang adalah UndangUndang Dasar 1945 yang asli, yang tidak diamandemen, karena amandemen telah membuang Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945. Padahal dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 terkandung penjelasan tentang Pokok-Pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang 1945. Dengan dihilangkannya Penjelasan oleh amandemen penafsiran makna dan hakikat Pembukaan UndangUndang Dasar 1945 dapat dilakukan secara sewenangwenang. Sedangkan pemahaman dan penghayatan amanat-amanat yang terkandung di dalamnya menjadi dangkal. Saya membaca bukunya pak A.S.S. Tambunan. Jelas tertulis, bahwa NDI (National Democratic Institute) terlibat dalam proyek amandemen konstitusi kita. Dan NDI itu arahnya adalah democratic reform dan constitutional reform. Pak Tambunan menulis itu. Bahwa ada keterlibatan asing dalam proses amamdemen. Di panitia ad hoc selalu ada orang asingnya untuk mengamat-amati.
Sempat Didamprat Megawati

151

Saya baca buku pak Tambunan, jelas dikatakan ini misi asing, misi Amerika Serikat. Dia tulis di buku. Buku itu sendiri tersebar luas. NDI dalam hal ini tidak pernah menggugat atau memprotes dan menolak. Dan kalau Tambunan bersalah atau menulis fakta yang tidak benar, kan dia bisa digugat dan dituntut secara hukum. Akan tetapi faktanya tidak ada gugatan dan tuntutan dari mana pun, termasuk NDI. Karena itu kesimpulan saya, pak Tambunan benar. Last but not least, upaya Sdr. Amin Arjoso mengembalikan UUD 1945 mutlak harus mendapat dukungan penuh segenap rakyat Indonesia, tanpa kecuali. Berjuang terus hingga titik darah penghabisan, sampai jalannya negara ini kembali ke rel konstitusi dan rel ideologi, yakni UUD 1945 (asli) dan Pancasila. Akan tetapi, menegakkan atau mengembalikan UUD 1945 yang asli memang bukan pekerjaan ringan, terlebih ada kekuatan besar, kekuatan asing yang ikut bermain di balik ini semua. Meski begitu, perjuangan harus terus dikobarkan. Perjuangan ini semata-mata bukan demi Amin Arjoso, bukan demi Abdul Madjid, ini semua demi masa depan bangsa dan negara sesuai cita-cita proklamasi kemerdekaan.

152

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Abdul Madjid (berbaju hitam) di antara Moch. Achadi dan Soetardjo Soerjogoeritno.

Abdul Madjid (paling kanan), bersama Moch Achadi, Soetardjo Soerjogoeritno dan segenap elemen nasionalis lain penentang amandemen UUD 1945.

153

154

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

155

156

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Sri Edi Swasono

Amin Arjoso dalam Pusaran Perubahan Konstitusi

Ketika perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) pada tahun 1999 -2002 berlangsung, saya aktif sebagai anggota MPR mewakili Utusan Golongan. Sementara sahabat saya Amin Arjoso adalah wakil ketua PAH III yang membidangi perubahan UUD 1945. Keberadaan Amin Arjoso jelas mewakili partainya yaitu: PDI Perjuangan yang waktu itu merupakan partai pemenang Pemilu”. Demikian ungkap guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. “Dalam kapasitas sebagai anggota MPR kami berdua dan bersama-sama dengan anggota MPR lainnya —yang mewarisi spirit kebangsaan dan kerakyatan, dari para pendiri negara bangsa, bahu membahu memperjuangkan perubahan UUD 1945 agar tidak keluar dari sistem konstitusi proklamasi”. Kenang penggemar musik klasik dan kerongcong itu. Tentang apa yang dimaksud dengan sistem konstitusi
Amin Arjoso dalam Pusaran Perubahan Konstitusi

157

proklamasi, dia menjelaskan, bahwa: UUD 1945 menganut demokrasi sosial, yaitu jaminan atas demokarsi politik dan demokrasi ekonomi; sedang sistem pemerintahannya adalah semi-presidensial (presiden merupakan mandataris dan harus bertanggungjawab pada MPR), sedang MPR sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat anggotanya terdiri dari anggota DPR, Utusan Golongan dan Utusan Daerah. “Memasuki perubahan demi perubahan, satu persatu jiwa dan karakter konstitusi proklamasi diamandemen dalam arti dihapus, bukan ditambah. Padahal kesepakat fraksi-fraksi MPR menyatakan perubahan UUD 1945 dilakukan dengan cara addendum (penambahan dalam satu lampiran). Tak terkecuali pasal 33 yang menjadi jiwa dari sistem perekonomian nasional dalam beberapa kesempatan akan diubah. Namun, atas perjuangan yang gigih dari seantero anggota MPR dan dukungan masyarakat pasal 33 tidak berhasil diubah –melainkan ditambah. Akan tgetapi, tambahan dalam pasal 33 itu justru pada akhirnya mengacaukan spirit dari sistem demokrasi sosial yang menjadi sendi perekonomian nasional,” ujar Sri Edi. “Tidak berehenti sampai di situ”, kenang guru besar fakultas ekonomi UI. “MPR sebagai lembaga tertinggi negara dipreteli, begitu pun dengan keanggotaanya – Utusan Golongan dihapus. Mereka sungguh tidak mengerti dan gegabah sekali, menghapus utusan golongan, berarti menghilangkan hak konstitusi sebagian besar dari jumlah potensi masyarakat yang harus diwakili dalam suatu lembaga yang menjadi penjelmaan dari kedaulatan rakyat,” tandasnya. Melihat gelagat yang sudah keluar dari konteks spirit dan karakter konstitusi proklamasi, menurut Sri Edi: Amin Arjoso, saya dan beberapa anggota MPR yang lain mengambil inisiatif membuat memorandum yang menolak dimasukannya Utusan Golongan dalam sistem 158
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

ketatanegaraan Indoensia melalui lembaga tersendiri – yang kelak menjadi Dewan Perwaklian Daerah (DPD). Penolakan kami ini mendapat dukungan sekitar 206 anggota. Seyogianya, gerakan ini dibaca sebagai langkah strategis menyelamatkan UUD 1945 dari agenda perubahan yang menyalahi aturan dan kesepakatan awal. Sayangnya, gejala ini tidak dibaca demikian, bahkan fraksi TNI/Polri yang seharusnya menjadi benteng konstitusi abstain. Andai fraksi TNI/Polri tidak bersikap banci UUD 1945 tidak amburadul seperti ini. Sri Edi mengakui: Perjuangan untuk menyelamatkan konstitusi proklamasi dalam pusaran perubahan UUD 1945, untuk sementara gagal, setidaknya kami kalah suara. Dan yang menyedihkan, kami dituduh antek rezim Suharto lantaran mengambil langkah-langkah kritis dan mendasar dalam menghadapi perubahan UUD 1945. Padahal, bagi kami perubahan UUD 1945 suatu keniscayaan, akan tetapi cara mengubah dan tujuan perubahannya harus dikerjakan secara saksama, cermat dan demi kepentingan nasional, tidak serampangan –apalagi terpengaruh oleh agenda politik dari negara-negara tertentu yang memiliki kekuatan ekonomi internasional”. “Kami merasakan dan melihat langsung bagaimana kepentingan asing turut berpatisipasi melalui beberapa LSM dan beberapa staf ahli yang menyusup dalam koridor lembaga tertinggi negara –untuk memberikan ekstra fuding dan rancangan-racangan tertentu kepada anggotaanggota MPR seraya menjaring opini publik melalui media massa akan pentingnya perubahan –bahkan kalau perlu membuat konstitusi baru. Gelagat yang demikian kami tentang dan Amin Arjoso lagi-lagi dengan gigih menghadapinya, bahkan tekanan demi tekanan dan terror menghampirinya; akhirnya dia jatuh sakit.” Demikian Sri Edi yang menantu Bung Hatta itu memberi kesaksian. Apakah perjuangan menegakan konstitusi proklamasi
Amin Arjoso dalam Pusaran Perubahan Konstitusi

159

berakhir? “Tidak,” kata Sri Edi penuh semangat. “Sampai hari ini, walau Amin Arjoso sakit nyatanya dia terus berjuang dan demikian pula dengan saya dan beberapa pejuang konstitusi proklamasi lainnya, bahu-membahu memberi pendidikan polkitik dan pencerahan kepada masyarakat –bahwa sistem ketatanegaraan kita dengan perubahan UUD 1945 telah menyimpang dari jiwa proklamasi dan Pembukaan UUD 1945”. “Diskusi, seminar, debat publik dan pengkajian mengenai perubahan UUD 1945 dan implikasinya terhadap praktik ketatanegaraa dewasa ini –terus kami lakukan. Kesimpulan kami adalah, kita harus kembali kepada UUD 1945 dan jika diperlukan untuk mengubahnya –kita sepakat akan melalukannya dengan cara addendum. Dengan demikian, kita tetap menjaga orsinalistas UUD 1945 seperti yang wasiatkan Bung Hatta”. Tandas Sri Edi Swasono menutup pendapatnya sebagai apresiasi untuk sahabatnya, Amin Arjoso.

___________________ Catatan: Artikel di atas disarikan dari beberapa tulisan Sri Edi Swasono dan kutipan-kutipan pendapatnya yang sempat direkam di pelbagai kesempatan seperti antara lain pada saat Seminar Nasional Perubahan UUD 1945 Dengan Addendum yang diprakarsai Amin Arjoso dan kawan-kawan, diselenggarakan di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. 160
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Dengan konsisten, H. Amin Arjoso, SH terus dan terus berjuang mengembalikkan UUD 1945, baik semasa menjadi anggota DPR-MPR RI maupun ketika tidak lagi menjadi anggota DPR-MPR RI.

161

H. Amin Arjoso, SH dalam salah satu acara bersama Sulastomo (kanan).

162

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Sulastomo, Koordinator Gerakan Jalan Lurus

Amin Arjoso dan UUD 1945
min Arjoso adalah salah satu tokoh yang amat gelisah dengan masa–depan bangsa ini, ketika UUD 1945 mengalami perubahan di tahun 2002. Ia berusaha untuk mencegah bahkan menolak perubahan itu, namun gagal. Amin Arjoso menilai, bahwa perubahan itu sudah menyimpang dari UUD 1945 (yang asli), sehingga tidak layak disebut UUD 1945 lagi. Perubahan UUD 1945 telah melahirkan UUD baru, yang disebutnya sebagai UUD 2002. Karena itu, iapun berusaha untuk mengembalikan UUD 1945 diberlakukan kembali. Dan tentu ia masih akan gelisah, sebelum cita–citanya terwujud. Amin Arjoso adalah seorang idealis dan nasionalis sejati.

A

Tanpa lelah
Dengan memperhatikan usia dan kondisi kesehatannya, Amin Arjoso telah mempertaruhkan dirinya sendiri
Amin Arjoso dan UUD 1945

163

bagi cita–citanya itu. Tidak saja dikala “sehat”, ketika terbaring di Rumah–Sakit pun, ketika terserang “stroke”, ia berpikir bagaimana mewujudkan cita–citanya itu. Ia bahkan menggelar “rapat” di rumah–sakit dengan teman–teman yang mengunjunginya dan merencanakan kegiatan yang diperlukan. Ia tidak mau sisa hidupnya diisi dengan berpangku tangan tanpa mengingatkan kita semua, bahwa bangsa ini telah memilih jalan yang keliru dengan melakukan perubahan UUD 1945 ditahun 2002. Pertaruhannya adalah masa–depan bangsa, masa–depan anak–anak dan cucu kita. Kepada istrinya yang seorang dokter dan sekarang angguta DPR, saya mengatakan, itulah obat bagi mas Amin. Amin Arjoso akan semakin sakit, kalau dilarang berbicara tentang cita–citanya, yaitu kembalinya UUD 1945 menjadi konstitusi negara ini. Namun, dalam pembicaraan lebih mendalam, Amin Arjoso sesungguhnya tidak semata–mata menolak perubahan UUD 1945. Ia menolak perubahan itu, disebabkan substansi perubahan itu yang sudah dianggapnya menyimpang dari UUD 1945 yang asli. Dan dari substansi pemikiran yang disampaikan kepada khalayak, alasannya (sebenarnya) sulit ditolak. Dari aspek susunan lembaga kenegaraan , kita telah kehilangan peran Majlis Permusyawaratan Rakyat ( MPR) yang bertugas menyusun Garis–garis Besar Haluan Negara (GBHN), yang mestinya menjadi arah penyelenggaraan negara jangka pendek, menengah dan panjang. Peran MPR sebagai lembaga tertinggi negara, yang memilih Presiden/Wakil Presiden juga dihapus. Presiden tidak lagi sebagai “mandataris“ MPR. Penyelenggaraan negara sepenuhnya akan tergantung pada program–program yang dijanjikan ketika kampanye pemilihan Presiden/ Wakil Presiden. Esensi “gotong–royong” melemah, disebabkan prinsip demokrasi langsung, yang cukup ditentukan oleh suara 50% plus satu. Demokrasi kita, secara substansi, tidak lagi merujuk pada demokrasi Pancasila, 164
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

sebagaimana termaktub dalam Sila Keempat Pancasila. Lebih jauh, perubahan UUD 1945 yang dinilai tidak sesuai dengan UUD 1945 (asli) itu, tentunya juga akan membuka peluang terbitnya berbagai perundangan dan kebijakan yang juga menyimpang dari cita–cita UUD 1945 yang asli, khususnya terkait upaya mewujudkan kesejahteraan. Hal ini terlihat dari berbagai perundangan dan kebijakan yang terkait dengan perekonomian rakyat, pengelolaan sumber daya alam, BUMN, usaha swasta dan koperasi. Perekonomian kita, bahkan sudah dinilai sebagai “neolib”, yang sangat membuka peluang peran “pasar–bebas”, sehingga ketergantungan Indonesia pada modal asing semakin tidak terelakkan. Cita–cita keadilan sosial juga semakin jauh, dimana terjadi peluang yang kaya semakin kaya, di tengah pergulatan mengentaskan kemiskinan yang justru disindir menambah kemiskinan. Semua itu, menurut Amin Arjoso hanya dapat diluruskan dengan kembali ke UUD 1945 (asli) terlebih dahulu. Perubahan UUD 1945 yang akan dilakukan tidak boleh menyimpang dari substansi UUD 1945, sehingga perubahan UUD 1945 itu lebih merupakan penyempurnaan UUD 1945 itu sendiri. Begitulah pemahaman saya terhadap cita–cita mas Amin Arjoso.

Titik temu
Dengan pemikiran seperti itu, saya merasakan ada titik temu dengan Gerakan Jalan Lurus, yang menilai UUD 1945 perlu “dipagari”, agar tidak ada peluang untuk menyimpang dari UUD 1945 itu sendiri. Misalnya, ada pembatasan masa jabatan Presiden, yang selama ini bisa multitafsir. Demikian juga tentang perwakilan “Utusan Golongan” dan “Utusan Daerah” dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat harus lebih mencerminkan “demokrasi perwakilan” sebagaimana Sila keempat Pancasila.
Amin Arjoso dan UUD 1945

165

Apa yang harus dilakukan? UUD 1945 hasil amandemen 2002, setuju atau tidak setuju, telah diberlakukan selama hampir 10 tahun. Perubahan itu berlangsung di MPR yang sah, sehingga (secara moral) selayaknya diakui sebagai keputusan bersama dan dengan demikian menjadi tanggung jawab bersama, meskipun kita tidak setuju. Demikian juga berbagai perundangan dan kebijakan penyelenggaraan negara. Cita–cita untuk kembali ke UUD 1945, dengan demikian juga harus menempuh jalan demokrasi, jalan konstitusional yang sudah kita miliki. Di sinilah urgensinya kita meyakinkan seluruh rakyat, membangun opini, bahwa jalan yang kita tempuh selama era reformasi ini perlu diluruskan kembali. Untuk itu, diperlukan langkah–langkah sebagai berikut : Melakukan kaji ulang jalannya reformasi, termasuk kaji ulang UUD 1945 hasil amandemen 2002. Langkah– langkah seperti itu hanya akan bisa berjalan kalau memperoleh dukungan yang luas, termasuk dari partai–partai politik dan lembaga Merumuskan “peta–jalan”, bagaimana mengoperasionalkan Pancasila/UUD 1945, sehingga “peta–jalan” itu mengandung prinsip–prinsip dasar di dalam menyusun Garis Besar Haluan Negara, yang akan mampu mewujudkan cita–cita buat apa negara ini didirikan dengan arah yang jelas, sehingga meyakinkan kita semua, bahwa Pancasila/UUD 1945 masih relevan dan bahkan diperlukan bangsa ini memasuki era globalisasi. Kedua langkah itu, harus bisa diselenggarakan secara simultans, sehingga cita–cita untuk kembali ke UUD 1945 (asli) tidak berarti kita berhenti dengan apa yang tertulis dalam naskah UUD 1945, tetapi juga membuka peluang perubahan kearah perbaikan UUD 1945 itu sendiri, agar tertutup kemungkinan penyimpangan UUD 1945 dan sebaliknya menjamin terbitnya perundangan dan kebijakan 166
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

yang sesuai dengan UUD 1945 itu sendiri. Di sinilah titik temu saya dengan mas Amin Arjoso. Meskipun kami berasal dari petarangan yang berbeda, yaitu HMI dan GMNI, tumbuhnya persahabatan dan pertemanan terbuka lebar. Kalau ada perbedaan, hal itu dapat diibaratkan sebagai kata–kata mutiara “banyak jalan ke Roma”. Bisa lewat Bangkok dan bisa lewat Jeddah. Tujuannya sama, yaitu ke Roma. Tujuannya sama, yaitu kembali ke semangat UUD 1945. Inilah catatan untuk mas Amin Arjoso. Semoga mas Amin Arjoso dapat selalu dan senantiasa menjaga kesehatannya. Amien. Jakarta, 1 Juni 2010

Amin Arjoso dan UUD 1945

167

Dari kiri ke kanan: Eddi Elison, Moch. Achadi, Amin Arjoso, Didik Poernomo

Moch. Achadi, Menteri Transmigrasi dan Koperasi pada Kabinet Dwikora, tampak hadir dalam kegiatan mengembalikan UUD 1945 (asli) bersama sejumlah tokoh: KH Abdurrahman Wahid, Guruh Soekarnoputra, dan Soetardjo Soerjogoeritno.

168

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Drs. Moch. Achadi

Amin Arjoso dalam Dialektika, dan Romantika Perjuangan Mencapai Cita-cita Proklamasi

B

ung Karno memberikan wasiat, : Jangan sekalikali meninggalkan sejarah, kalau tidak, maka akan kebingungan seperti kera di malam hari, kehilangan arah.

Sejak proklamasi 17 agustus 1945 dengan dasar tujuan Pancasila dan ketentuan ketatanegaraan tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, merupakan ukuran pokok, apakah sikap, pendirian, pemikiran dan langkah-langkah perjuangan kita adalah konsekuen, tidak menyimpang, menyeleweng ataupun bertentangan dan berkhianat kepada dasar tujuan perjuangan. Setelah dengan keuletan, keteguhan dan penyatuan kekuatan nasional perjuangan bangsa Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno – Hatta berhasil mematahkan segala bentuk agresi, intervensi , subversi asing penjajah, maka tahun 1949 Kemerdekaan Bangsa Indonesia diakui oleh PBB, dan sekitar tahun 1962 setelah kembali ke
Amin Arjoso dalam Romantika, Dialektika, dan Romantika Perjuangan Mencapai Cita-cita Proklamasi

169

Undang-Undang Dasar 1945, semua bentuk gejolak politik bisa diatasi dan tahun 1963 Irian Barat bisa disatukan ke dalam NKRI. Demikianlah kemerdekaan NKRI dari Sabang sampai Merauke berhasil dipertahankan. Sedang fase perjuangan bangsa yang tak kenal menyerah sejak Agustus 1945 sampai Januari 1963. Perjuangan yang penuh pengabidan dan penuh pengorbanan jiwa, raga, harta dan lain sebagainya dan persatuan serta kegotong-royongan nasional adalah cara untuk mencapai sukses-sukes tersebut. Dalam fase perjuangan setelah 1963, maka bangsa Indonesia yang meredeka dari Sabang sampai Merauke tersebut menghadapi medan perjuangan untuk cita-cita proklamasi sebagai berikut: 1. Memperjuangkan berdiri diatas kaki sendiri di bidang ekonomi ( berdiadri) 2. Mengganyang proyek Nekolim Malyasia yang telah menggagalkan kesepakatan Mafilindo (Malaya, Filipina dan Indonesia), sebagai penyatuan rumpun melayu (Komando Dwikora: bubarkan proyek Nekolim Inggris – Malaysia dan dukung Malaya merdeka, Kalimantan merdeka bebas dari penajahan Inggris) 3. Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) untuk menghimpun kekuatan bangsa-bangsa yang sudah merdeka bebas dari penjajahan beserta Negara Sosialis, untuk mematahkan garis hidupnya imperialisme di dunia (peningkatan dari Konferensi Asia Afrika, Asia Afrika – Amerika Latin, dan Non Blok). Tanpa menyadari dan mencermati medan perjuangan bangsa Indonesia tersebut (sekitar tahun 1964), maka kita sulit untuk bisa mengerti mengapa terjadi peristiwa G30-S dan penyalahgunaan Surat Pemerintah Presiden Soekarno tanggal 11 Maret 1966 kepada Jenderal Soeharto, 170
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

kejadian-kejadian mana membawa perubahan mendasar dan besar-besaran, diikuti korban dan penindasan serta pelanggaran HAM secara besar-besaran terhadap ratusan ribu warga Indonesia, untuk bisa mengubah Pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, yang didukung modal-modal/perusahaan-perusahaan raksasa asing (motor-motornya imperialisme di dunia) dan lembaga-lembaga ekonomi serta keuangan antara lain (IGGI, IMF, World Bank, ADB dan lain-lain) sebagai kesepakatan antara delegasi Indonesia dan mereka pada akhir tahun 1967 di Geneva- Swiss. Bangsa Indonesia yang merdeka, maka sejak 1967 sudah menjadi bangsa yang dikuasai oleh kekuatankekuatan ekonomi asing tersebut di atas. Perkembangan dan perubahan mendasar ini merupakan kontra revolusioner (kebalikan dasar tujuan) dari perjuangan membangun Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Perubahan kontra revolusioner ini ternyata formilnya tetap berpegang kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 Orde baru yang dibangun dengan dukungan asing seperti itu harus melaksanakan pemerintahan otoriter dan fasistis untuk menghancurkan dan melumpuhkan kepemimpinan dan kekuatan-kekuatan perjuangan bangsa Indonesia yang anti imperialisme dengan tujuan mengamankan masuknya dan peran asing di bidang politik, ekonomi dan sebagainya. Ternyata dukungan asing serupa itu tidaklah membawa manfaat bagi kesejahteraan bangsa, tetapi justru hanya menguntungkan asing dan kelompok–kelompok yang berkuasa beserta pendukung-pendukungnya, Utang Luar negeri bangsa dan rakyat terus meningkat. Krisis yang melanda tahun 1997-1998, dipicu oleh halhal tersebut di atas, maka berdirilah pemerintahan
Amin Arjoso dalam Romantika, Dialektika, dan Romantika Perjuangan Mencapai Cita-cita Proklamasi

171

dengan program reformasi untuk mengubah pemerintahan otoriter yang penuh dengan KKN dan pelanggaran HAM yang menyengsarakan rakyat dan bangsa Indonesia, Runtuhnya orde baru pada tahun 1998, yang merupakan hasil perjuangan rakyat Indonesia sebenarnya juga menjadi kehendak asing yang sudah mencengkeram ekonomi Indonesia. Mereka juga menginginkan mengubah tatanan politik dan kepemimpinan agar supaya lebih menjamin perkembangan mereka lebih lanjut, yang terhambat karena pemerintahan otoriter Penuh KKN dan Pelanggaran HAM. Dalam proses reformasi ternyata asing dengan kekuatan-kekuatan ekonomi dan politiknya, lewat mitra-mitra dan kaki tangannya dari bangsa Indonesia sendiri, bergerak terus sehingga bisa mengadakan perubahanperubahan terhadap Undang-Undang Dasar 1945. Perubahan terhadap konstitusi negara itu menjadikan kehidupan Politik Ekonomi Indonesia menjadi liberal, materialistis dan individualistis. Kondisi di atas, semua bermuara pada terkorbankannya kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. Fakta yang bisa kita liat antara lain, utang-utang negara dan bangsa terus meningkat, angka kemiskinan meningkat, dan kepercayaan diri dan kepribadian Indonesia merosot. Tidak heran jika kondisi tersebut mendatangkan gelombang tidak puas masyarakat. Sebagai bentuknya adalah unjuk rasa yang tidak pernah berhenti dari kalangan buruh, mahasiswa, guru-guru dan pedagangpedangan rakyat kecil. Sementara di sisi lain, penggusuran-penggusuran, sengketa tanah dan lain sebagainya terus berjalan sebagai tanda ketidakpuasan atas kehidupan mayoritas bangsa dan rakyat Indonesia. Belum lagi persoalan-persoalan korupsi yang merajalela melibatkan pejabat-pejabat, petinggi-petinggi 172
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

negeri di berbagai lapisan lembaga dan birokrasi yang belum bisa diatasi dan ditindak sebagaimana mestinya. Kesemuanya menjadi kenyataan yang benar-benar nyata. Bagaimana mengatasi hal ini? Jawabnya ialah bahwa kita sebagai bangsa dan rakyat Indonesia beserta generasi penerusnya harus tahu dan sadar akan penyebabnya, yaitu penyelewengan atas dasar dan tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia yang terjadi tahun 1967, dengan cara mengadakan kerjasama dengan raksasa-raksasa ekonomi asing untuk pembangunan dan pengelolaan ekonomi di Indonesia. Hal inilah yang merupakan awal pembelokan arah penggunaan bangsa dari berdikari ke menggantungkan kepada kekuatan-kekuatan politik ekonomi asing. Pada saat bersamaan, dikembangkan pemerintahan otoriter untuk menghancurkan kepemimpinan dan kekuatankekuatan perjuangan bangsa yang konsekuen berjuang untuk Indonesia merdeka yang benar-benar bebas dari segala bentuk penjajahan. Oleh karena itu kekuatan-kekuatan politik ekonomi dengan kepemimpinan yang handal harus dibangun untuk bisa membawa perubahan mendasar berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang asli melaksanakan perjuangan bagi kepentingan bangsa dan rakyat, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila) perjuangan mendasar yang harus kita laksanakan dengan juga estafet kepada generasi penerus. Dalam romantika, dialektika dan dinamika perjuangan bangsa Indonesia seperti diungkapkan di atas, maka Amin Arjoso, SH adalah salah satu dari Tokoh Nasionalis dan Pancasilais yang selalu konsekuen dengan dasar dan tujuan perjuangan bangsa. Juga sebagai salah satu tokoh GMNI sangat aktif dalam menghadapai gerakan-gerakan yang dimotori asing untuk penyelewengan perjuangan
Amin Arjoso dalam Romantika, Dialektika, dan Romantika Perjuangan Mencapai Cita-cita Proklamasi

173

bangsa dan mendongkel kepemimpinan Presiden Soekarno, sebagai akibatnya maka beliau juga mengalami ditahan oleh rezim Orde Baru selama sekitar 6 tahun, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Soekarnois lainnya. Setelah bebas dari tahanan, maka Amin Arjoso masih tetap aktif untuk menegakkan dasar tujuan perjuangan bangsa, dengan berbagai cara antara lain agar supaya peristiwa-peristiwa G-30-S dan penyalahgunaan Surat Perintah 11 Maret 1966 yang diselewengkan bisa diungkapkan kejadian yang sebenarnya. Dia juga concern untuk meluruskan ungkapan-ungkapan yang tidak benar. Oleh karena itu beliau juga aktif dalam forum-forum pelurusan sejarah, agar supaya bangsa dan raktyat tidak diracuni oleh keterangan-keterangan yang tidak benar tentang peristiwa tersebut, yang bisa mengadu-domba bangsa beserta akibat-akibatnya, yang menguntungkan penjajahan atas bangsa Indonesia. Sebagai pengacara terkenal beliau juga menjadi Tim Pengacaranya R. Subandrio, mantan Wakil Perdana Menteri I dan menteri luar negeri kabinet Dwikora juga mengambil inisiatif untuk menyusun buku tentang berhasilnya perjuangan menyatukan Irian Barat tahun 1963. Buku itu berhasil diluncurkan pada November 2000. Pada perisitiwa itu hadir dan ikut menyambut: Dr. Roeslan Abdulgani, Isnaeni dan Letjen TNI Soesilo Bambang Yudhoyono (Menteri Polkam dalam Kabinet Presiden Abudurrahman Wahid). Dengan Pemilu tahun 1999 Amin Aryoso, SH terpilih menjadi anggota DPR-RI dari fraksi PDI-P, dan pejabat sebagai ketua Komisi II (Bidang Hukum). Dalam posisi tersebut beliau terus aktif dalam meluruskan sejarah serta berperan dalam keluarnya Undang-Udang Keadilan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional, yang menyangkut dan menangani korban-korban G-30-S yang harus diselesaikan karena diskriminasi dan perlakukan yang tidak 174
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

benar terhadap bekas tahanan dan keluarganya. Sebagai anggota DPR terus aktif menyelenggarakan pertemuan-pertemuan untuk mendiskusikan berbagai masalah kehidupan bangsa akibat pengaruh globalisasi yang negatif, untuk bisa mengatasi hal tersebut. Yang paling gigih adalah perjuangan beliau menetang amandemen-amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang kebablasan sehingga menyimpang dari Pancasila dan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Amandemen-Amandemen tersebut yang berhasil pada tahun 2002, oleh beliau dinyatakan dengan amandemenamendemen seperti itu, maka sudah tidak lagi merupakan Undang-Undang Dasar 1945, tetapi sudah menjadi Undang-Undang Baru bagi Republik Indonesia, yaitu UUD 2002. Istilah UUD 2002 ini adalah meluncur dari kata-kata Amin Arjoso SH, sehingga menjadi istilah yang menyebar luas untuk bukti bahwa pihak-pihak asing telah berperanan dalan perubahan dan pembentukan UndangUndang Dasar 2002 yang kita pakai saat ini. Institusi Amerika yang disebut Nasional Democratic Institute For International Affairs (NDI), dengan dukungan United Agency For International Development (USAID) dengan dana-dananya, menggerakkan LSM-LSM asuhannya di Indonesia untuk mendorong terjadinya amandemen tersebut dengan mengembangkan diri melaksanakan program: Electroal Reform, Constitutional Reform, Otonomi, dimana mengaku bekerjasama dengan berbagai anggota dari DPR dan MPR untuk mensukseskan program tersebut. Hal-hal serupa itu oleh Amin Arjoso, SH diungkapkan dan disebarkan secara luas dalam pertemuan-pertemuan, forum-forum diskusi, penerbitan buku dan tabloid, serta wawancara di berbagai televisi. Karena gigihnya dalam menentang amandemen, serta dikecewakan oleh berhasilnya amandemen-amandemen
Amin Arjoso dalam Romantika, Dialektika, dan Romantika Perjuangan Mencapai Cita-cita Proklamasi

175

itu, dikarenakan kalah voting di DPR ( karena fraksi ABRI menyatakan abstain), maka hal ini menjadi salah satu sebab Amin Arjoso jatuh Sakit (stroke). Walaupun demikian, keluar dari rumah sakit beliau tetap berjuang untuk menegakkan kembali UUD 1945 ( Undang-Undang Proklamasi) dan mencabut atau menyatakan tidak berlakunya amandemen-amandemen atas UUD 1945 tersebut. Saya yang sering diajak mendampingi beliau di berbagai kesempatan, dengan menyaksikan sendiri sikap, pemikiran dan langkah perjuangannya, maka saya benarbenar mengagumi. Semoga kesemuanya itu akan membawa hasil yang benar-benar mengembalikan jalannya perjuangan bangsa kembali kepada dasar dan tujuan proklamasi 17 Agustus 1945 yaitu Indonesia merdeka yang benar-benar berdasakan Pancasila dan UUD 1945 asli. Hanya dengan begitu kita bisa mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Buku yang berjudul Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45 ini merupakan salah satu bukti tentang sikap, pemikiran dan langkah perjuangan beliau yang konsekuen dengan cita-cita proklamasi. Walaupun untuk itu harus menghadapi berbagai resiko. Bung Karno berpesan bahwa kita harus berjuang yang terpikul oleh alam dan memikul alam untuk kesuksesannya. Jakarta, 18 Mei 2010

176

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Karikatur-karikatur yang pernah dimuat Tabloid Cita Cita pimpinan H. Amin Arjoso, SH.

177

178

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Saiful Sulun

Politisi tidak Boleh Obok-obok Konstitusi

J

ika ada anak bangsa yang begitu gigih membela dan mempertahankan konstitusi, dialah H. Amin Arjoso, SH. Sejak amandemen terhadap UUD 1945 digulirkan oleh MPR RI periode 1999 – 2004, Amin Arjoso yang merupakan anggota MPR/DPR RI dari Fraksi PDIP periode yang sama, langsung melakukan gerakan penentangan. Ia tidak peduli jika dikatakan menentang arus. Ia bahkan tidak peduli jika harus menerjang bahaya. Itu sekelumit komentar pembuka Mayjen TNI (Pur) Saiful Sulun, tentang Amin Arjoso. Selanjutnya, ia mengisahkan ihwal awal perjuangan bersama Amin Arjoso, membela konstitusi kita. “Kalau tidak salah tanggal 14 Mei 2002, kami dari Foko menghadap pimpinan MPR untuk menyampaikan aspirasi terkait amandemen yang sudah dan sedang berlangsung. Nah, itulah kali pertama saya kenal Amin Arjoso dalam ajang perjuangan yang sama,” ujar Saiful. Foko atau Forum Komunikasi adalah sebuah lembaga
Politisi tidak Boleh Obok-obok Konstitusi

179

bersama tempat bernaung para purnawirawan ABRI. Ketika itu, para pensiunan ABRI menyampaikan aspirasi agar MPR membatalkan dua amandemen terdahulu (amandemen I, II, dan III), dan menghentikan amandemen keempat yang sedang berlangsung,” ujar mantan Pangdam V/Brawijaya itu. Sejarah kemudian mencatat, bahwa aspirasi para purnawirawan itu seperti angin yang berlalu. Bukan saja amandemen I, II, dan III tidak dibatalkan, tetapi amandemen IV juga dilanjutkan. “Kami waktu itu berprinsip, bahwa tidak mudah dan tidak boleh serampangan mengamandemen konstitusi,” tandasnya. Undang Undang Dasar, lanjut Saiful, adalah sebuah dasar negara yang tidak boleh diobok-obok semau-maunya. Lebih dari itu, Undang Undang Dasar tidak boleh diobok-obok oleh para politisi. Sebab, pada founding fathers memikirkan dasar negara juga tidak seram-pangan dan melalui pergulatan panjang. Mereka adalah para negarawan dan para ilmuwan. Dituturkan, bahwa dalam waktu bersamaan, ia tahu betul bahwa Amin Arjoso dan kawan-kawan juga terus bergerak melakukan penentangan terhadap amandemen UUD 1945. Sejak itu pula, hubungan Amin Arjoso dan Saiful Sulun semakin intens. “Setidaknya kami memikiki concern yang sama atas konstitusi kita,” tandas mantan Wakil Ketua DPR/MPR RI itu. Dalam pada itu, kata Saiful, para purnawirawan sepakat bahwa MPR RI memang memiliki kewenangan melakukan amandemen terhadap konstitusi. Akan tetapi, yang mengerjakan hendaknya bukan politisi, melainkan dibentuk tim yang terdiri atas para negarawan dan para ilmuwan, serta tidak bisa dilakukan hanya dalam satu periode waktu yang pendek. Sejak semula kelompok Foko sudah mengingatkan, pihaknya tidak semata-mata anti-amandemen. Pihaknya 180
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

justru memperingatkan, amandemen adalah sebuah gawe politik yang besar. Amandemen konstitusi tidak bisa dilakukan oleh politisi, dan tentu saja tidak bisa dilakukan dalam era euforia reformasi. Sedangkan para pendahulu kita merancang konstitusi dalam waktu yang lama, dan dilakukan para negarawan dan ilmuwan, jadi tidak bisa serampangan. Selain itu, dilakukan dalam suasana kebatinan yang tenang, bukan pada masa perang. Empat puluh lima hari sebelum proklamasi, para pendiri bangsa sudah merancang secara cermat. Sedangkan, amandemen UUD 1945 pada tahun 1999–2002 bisa dikatakan dilakukan pada masa “perang”. “Suasana pasca reformasi yang panas, mirip suasana perang. Tidak ada ketenangan, sehingga sangat tidak kondusif pada masa seperti itu digunakan untuk mengamandemen konstitusi,” papar Saiful pula. Saiful berpendapat, karena amandemen dilakukan oleh politisi serta dilakukan pada masa “perang”, tentu saja berakibat munculnya gerakan perlawanan dan penentangan, yang salah satunya dilakukan secara gigih oleh kelompok Amin Arjoso. Ia ingat, perjuangan Amin Arjoso dengan sejumlah elite PDI Perjuangan dan anggota DPR/MPR lain yang jumlahnya mencapai 206 orang adalah batalkan amandemen atau kembali ke UUD 1945. Selain itu, Saiful juga ingat bagaimana akhirnya Fraksi PDI-P sendiri tidak merestui gerakan Amin Arjoso Cs dalam menentang amandemen terhadap UUD 1945. Ia menduga, waktu itu suasana benar-benar kacau. Banyak politisi “bermain” dalam proses amandemen. Tidak heran jika elit partai politik besar seperti PDIP saja akhirnya tidak bisa satu suara. Mereka yang nota bene kader nasionalis sepertinya lupa, bahwa Bung Karno, Bung Hatta dan para negarawan ketika itu, sudah mendiskusikan mengenai konstitusi,
Politisi tidak Boleh Obok-obok Konstitusi

181

dasar negara, dan segala hal menyangkut Indonesia merdeka itu sejak tahun 1934. Sejak itu pula mereka sudah membahas tentang format atau bentuk negara, cita-cita negara, dan semua hal yang intinya berujung pada tekad dan niat mewariskan Indonesia yang merdeka, menuju terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. “Bayangkan, PDI-P saja tidak bisa satu suara menyikapi soal amandemen UUD 1945 itu. Padahal, harusnya mereka menolak tegas dengan dalih apa pun. Jika akhirnya sampai pecah suara, ada apa?” tanya Saiful. Namun, atas sikap yang berbeda dari fraksinya, Amin Arjoso tidak peduli. Ia terus saja melangkah, terus bergerak, terus berjuang menentang amandemen dan memperjuangkan kembalinya UUD 1945. Langkahnya mendapat apresiasi banyak pihak. Tidak heran jika sejak 2001 hingga hari ini, barisan yang ada di belakang Amin Arjoso semakin panjang. Sejak itu pula, Amin Arjoso tidak pernah lelah memperjuangkan kembalinya UUD 1945. Sekalipun, hal itu mengakibatkan ia terserang stroke.

Rakyat Mulai Sadar
Saiful Sulun mengagumi kegigihan Amin Arjoso dalam memperjuangkan keyakinannya. Ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi siapa pun, termasuk dirinya. Segala jerih payah dan upaya tak kenal lelah Amin Arjoso, seperti dijanjikan sebuah falsafah, bahwa ketekunan akan berbuah keberhasilan, maka tanda-tanda ke arah sana sudah mulai tampak. Sekarang, bertahun-tahun setelah amandemen dilakukan, rakyat mulai merasakan betapa konstitusi kita (hasil amandemen) tidak berpihak kepada rakyat banyak. Betapa konstitusi kita sekarang sama sekali tidak menjanjikan sebuah masyarakat yang adil dan makmur seperti cita-cita proklamasi. Bahwa konstitusi kita justru membuat perjalanan bangsa dan negara ini seperti tak 182
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

punya arah. Kesadaran itu bahkan mulai merasuk ke masyarakat, baik individu maupun kelompok yang barangkali dulu pernah berpendapat setuju terhadap amandemen. Kelompok yang dahulu menganggap bahwa amandemen itu bagus. Nah, kini mereka mulai mempertanyakan manfaat konstitusi. Mereka mulai menyadari bahwa amandemen justru makin merusak dan membuat jalannya negara tak tentu arah. Karenanya, kiprah perjuangan Amin Arjoso senantiasa akan aktual dan perlu didukung semua pihak. Ia pribadi, maupun bersama Foko (Forum Komunikasi) yang di antaranya ada Pepabri, PP AD, PP AL, PP AU dan lain-lain, senantiasa mendukung langkah Amin Arjoso demi kembalinya konstitusi atau apa pun istilahnya, agar arah negara menjadi semakin jelas dan terarah menuju citacita menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Saiful Sulun menengarai, amandemen UUD 1945 tidak lepas dari skenario global yang hendak menyeret Indonesia menginduk kepada salah satu blok. Amandemen konstitusi tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari guliran era reformasi, guliran otonomi daerah, guliran demokratisasi dan HAM versi Barat. Pasca amandemen, diyakini masih ada agenda global lain menuju tercerai-berainya bangsa ini menjadi berkepingkeping, sehingga menjadi lemah adanya. Sebelum mengamandemen, sebelum menggulirkan demokratisasi dan HAM, pihak asing dibantu elemen dalam negeri membuat berbagai publikasi dan pencitraan seolah-olah Presiden Soeharto otoriter, seolah-olah pemerintahan Soeharto tidak demokratis. Itu semua karena Presiden dan Pemerintahan Soeharto (baca: Orde Baru) didukung oleh konstitusi, UUD 1945. Karenanya, jika ingin Indonesia demokratis… jika ingin Indonesia menerapkan standar HAM… jika Indonesia ingin lepas dari
Politisi tidak Boleh Obok-obok Konstitusi

183

kepemimpinan seorang diktator,maka yang pertama kali harus dilakukan adalah mengamandemen konstitusi. Kita bisa membayangkan guliran isu dan pembentukan opini publik seperti itu ditangkap mentah-mentah oleh berbagai kalangan. Ada yang benci Soeharto, ada yang menghendaki pergantian rezim, ada yang menganggap demokrasi liberal itu baik. Siapa saja mereka? Mereka bisa dikategorikan kelompok “PKI”, “DI”, dan semua barisan sakit hati. Dalam situasi seperti itu, pasti ada harapan diterimanya kembali komunis sebagai dasar negara, Islam sebagai dasar negara, yang penting bukan Pancasila. Yang penting konstitusi kita bukan UUD 1945. Artinya, jika menghendaki negara kita menjadi lebih bagus, maka harus diganti konstitusinya. Jika menghendaki terciptanya demokratisasi dan kesejahteraan bagi rakyat, harus diamandemen konstitusinya. Begitulah mereka meniupkan opini publik, sehingga berbagai latar belakang elite bangsa termasuk kelompok yang sejatinya tidak mengerti apa-apa, terjerumus dalam gerakan ikut-ikutan menyetujui amandemen terhadap UUD 1945. Mereka, ditambah konspirasi asing, yang kemudian mematangkan situasi dan kondisi, termasuk situasi politik yang kondusif sehingga memperlancar proses amandemen UUD 1945. “Jadi sesungguhnya, tanpa sadar kita telah dipermainkan oleh asing,” tandas Saiful Sulun. Kepentingan asing, setelah mendapat angin segar, mulailah meniupkan agenda-agenda mereka, seperti misalnya konsep negara, dari kesatuan menjadi federasi. Dengan dalih negara yang begini besar, tidak bisa menggunakan sistem kesatuan, melainkan harus federasi seperti Amerika. “Nah, banyak yang tidak ngerti, bahwa Amerika itu satu land, China itu satu land… tidak masalah jika mereka menggunakan sistem federasi, tetapi Indonesia yang beribu-ribu pulau, tidak bisa!” tandas 184
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Saiful Sulun. Singkatnya, Undang-Undang Dasar 1945 adalah produk konstitusi asli Indonesia. “Sangat indah dan khas Indonesia, serta paling sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Kita harus tahu, bahwa konstitusi Amerika itu juga bagus, tetapi bagus untuk bangsa Amerika. UndangUndang Dasar Cina bagus, tapi bagus untuk bangsa Cina. Nah, UUD 1945 paling pas buat bangsa kita,” ujarnya. Di mana letak keindahan UUD 1945? Saiful Sulun menjawabnya sendiri, keindahan UUD 1945 terletak pada pembukaannya. Pembukaan UUD 1945 adalah ruh atau jiwa konstitusi kita. Apa, siapa bangsa Indonesia, dan mau ke mana kita, serta apa yang mau kita capai terumuskan dengan baik di pembukaan UUD 1945. Dan semuanya terilhami oleh Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Ditambahkan, pembukaan UUD 1945 adalah suatu cara untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Nah, bagaimana caranya, itulah yang terangkum dalam batang tubuh serta penjelasannya. Sekarang, setelah pasal-pasal yang ada diamandemen, maka arah menuju cita-cita kemerdekaan bisa bergeser. “Inilah yang berbahaya dari dampak amandemen yang serampangan,” kata Saiful. Contoh kecil dari kerusakan amandemen adalah dalam hal penerapan sistem demokrasi ala Barat. Padahal, demokrasi Indonesia adalah demokrasi perwakilan. Dampak dari demokrasi ala liberal semua tatanan kehidupan politik berubah. Money politics merajalela, konflik horizontal terjadi di mana-mana, kita menjadi bangsa individualistis dan tidak produktif. Selain itu, demokrasi liberal yang sekarang kita pakai, tidak menjamin lahirnya pemimpin berkualitas dan berintegritas. Tidak heran jika banyak di antara mereka yang berakhir di balik jeruji penjara. Mengapa hal itu terjadi? Dalam sistem demokrasi
Politisi tidak Boleh Obok-obok Konstitusi

185

seperti ini, siapa punya uang bisa berkuasa. Sebab, uang bisa digunakan membeli suara. Sementara, tokoh yang punya kualitas dan berintegritas tinggi tetapi tidak punya uang, akan terhambat, tidak akan bisa memegang kekuasaan untuk memajukan bangsa dan negara. “Ada lagi yang lebih parah… sudah bodoh, tidak punya uang… tapi punya cukong…. Nah, jika dia kemudian jadi pemimpin, bisa dibayangkan seperti apa kepemimpinannya,” kata Saiful, geram. Bangsa Indonesia benar-benar telah menjadi bulanbulanan bangsa asing. Negara yang memaksakan sistem demokrasi liberal seperti Amerika Serikat saja, sekalipun rakyatnya memilih langsung, tetapi hasil tetap menggunakan sistem electoral vote. Jadi dulu, Al Gore dipilih lebih banyak rakyat dalam pemilihan presiden, tetap kalah secara electoral vote dari George W. Bush. Beda dengan Obama yang menang dua-duanya. Sementara Indonesia menerapkan pilih langsung secara mentah dan mengabaikan sistem demokrasi perwakilan yang hingga saat ini masih sangat relevan buat bangsa kita. Demokrasi liberal adalah ciri bangsa yang menganut individualisme, sedangkan bangsa kita adalah bangsa kolektivisme. Makanya, sangat aneh jika sekarang kita mengagung-agungkan sistem luar yang sama sekali tidak sesuai dengan kondisi bangsa kita. Tidak heran jika di seluruh wilayah Indonesia, hampir setiap hari merebak kerusuhan, dari mulai masalah sengketa politik sampai alasan-alasan kecil yang tidak prinsip. Ini tidak lepas dari bergesernya tatanan sosial masyarakat akibat doktrin liberal yang dicekokkan pihak asing kepada bangsa kita. Terakhir Saiful Sulun mengingatkan, berbagai usaha intervensi asing tadi, termasuk dalam proses amandemen UUD 1945 tidak lain merupakan bagian dari desain besar pihak asing. “Grand design itu bermuara pada hancurnya Indonesia,” tandasnya. 186
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Haryanto Taslam

Amin Arjoso, Orang Keras Kepala Menolak Amandemen

T

idak terbantahkan, bahwa Undang-Udang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diberlakukan sekarang ini adalah produk monumental Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1999 – 2004. Undang-Undang Dasar (UUD) tersebut sengaja dilahirkan dari proses amandemen yang sejatinya adalah ‘pembantaian’ terhadap UUD 1945 yang dilakukan sebanyak empat kali dalam kurun waktu tahun 1999 sampai dengan tahun 2002 dengan dalih memenuhi tuntutan reformasi. Mungkin, karena UUD itu disusun dari proses ‘pembantaian’ terhadap UUD 1945, maka dengan naifnya MPR menamai dengan sebutan sebagai UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Padahal nyata-nyata UUD itu dibuat pada tahun 2002. Sehingga penamaan dan penyebutannya pun menjadi terkesan manipulatif, dan bahkan
Amin Arjoso, Orang Keras Kepala Menolak Amandemen

187

berkonotasi membodohi generasi anak cucu bangsa. Sebab, bagaimana pun pencantuman tahun di belakang penyebutan UUD itu jelas ada maksudnya, yaitu untuk memberi keterangan waktu kapan UUD itu dibuat. Namun sayangnya, sampai sekarang tidak ada penjelasan resmi, baik dari MPR maupun dari para ahli hukum tatanegara dan juga dari para ahli semantik, mengapa harus mencantumkan tahun 1945? Dan mengapa MPR tidak berani mencantumkan tahun 2002 saja supaya terasa lebih fair dan sesuai dengan kenyataannya? Nah, yang pasti, dan suka atau tidak suka, kehadiran dan pemberlakukan UUD produk MPR itu sejak awalnya memang sudah mengundang kontroversi berbagai pihak. Banyak orang yang menolaknya, dan menghendaki agar UUD 1945 asli sebagaimana yang ditetapkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 dan yang kemudian didekritkan pemberlakuannya kembali oleh Presiden Soekarno pada 5 Juli 1959, dinyatakan berlaku lagi untuk menyelenggarakan kehidupan bernegara Republik Indonesia. Di antara mereka yang selalu konsisten menyuarakan ketidak-setujuannya terhadap UUD produk MPR, dan meminta diberlakukannya kembali UUD 1945 asli, adalah Amin Arjoso dan kawan-kawan. Gerakan menolak UUD produk MPR dan kembali ke UUD 1945 asli yang dimotori oleh Amin Arjoso dkk, bukanlah sekadar retorika melawan arus perubahan zaman. Dan bukan pula sekadar mengagung-agungkan romantisme masa lalu. Sebagai anggota MPR dan sekaligus Ketua Panitia Ad-Hoc I (PAH-I) dalam persidangan MPR 1999, Amin Arjoso jelas terlibat aktif menyusun “konsensus nasional” yang menjadi dasar untuk melakukan amandemen terhadap beberapa pasal UUD 1945 yang dipandang perlu untuk dipertegas atau disempurnakan supaya tidak multi tafsir dan disalah-gunakan oleh penguasa, seperti yang pernah terjadi di era orde baru. Dalam konsensus itu disepakati, bahwa amandemen 188
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

yang dilakukan terhadap beberapa pasal itu bersifat addendum. Artinya, ketentuan baru yang merupakan penyempurnaan peraturan yang ada tidak langsung mengubah bunyi dan mengganti substansi pasal-pasal UUD 1945 asli, melainkan merupakan ketentuan tambahan yang menjadi bagian integral dari UUD 1945 tersebut. Sehingga format dan sistematika UUD 1945 pasca amandemen seharusnya menjadi; Pembukaan, Batang Tubuh yang terdiri 16 Bab dan 37 Pasal dengan 4 Aturan Tambahan dan 2 Aturan Peralihan, Penjelasan, dan Addendum. Tapi faktanya, amandemen dilakukan tidak lagi didasarkan pada konsensus dan sudah jauh kebablasan. Semua pasal, tanpa kecuali, langsung ‘dibantai’ habis. Diubah bunyinya, dan diganti substansinya. Termasuk bagian Penjelasan yang memuat pokok-pokok pikiran adiluhung para pendiri bangsa pun dimusnahkan. Ada Bab dan pasal yang dihilangkan. Tapi ada beberapa Bab dan puluhan pasal baru yang diduplikasi dan dijejalkan secara paksa hanya dengan pemberian kode A, B, C, D, dst. Sehingga format dan sistematika UUD produk MPR itu menjadi kacau dan tidak jelas, bahkan mungkin juga menjadi paling aneh di dunia. Ditambah lagi dengan kenyataan, bahwa amandemen yang dilakukan sebanyak empat kali itu justru terbukti selalu dikawal dan dipandu oleh pihak asing lewat LSM - National Democratic Institute (NDI) yang dibiayai oleh Amerika Serikat. Alhasil, amandemen yang kebablasan itu memang sejak awal sudah mengguratkan kekecewaan dan kecemasan pada sebagian anggota MPR. Puncaknya, dalam Sidang Tahunan MPR tahun 2001, secara terang-terangan, Amin Arjoso bersama 207 anggota MPR yang meliputi beberapa fraksi menyatakan “menolak dan tidak ikut bertanggungjawab terhadap usaha-usaha perombakan UUD 1945” dengan kedok amandemen tapi sejatinya akan menggantinya dengan UUD yang sama sekali baru.
Amin Arjoso, Orang Keras Kepala Menolak Amandemen

189

Amin Arjoso memang tergolong orang yang ‘keras kepala’ untuk urusan menolak amandemen dan sekaligus mempertahankan UUD 1945. Meski sudah tidak lagi jadi anggota MPR dan mengalami keterbatasan fisik karena terserang stroke beberapa waktu lalu, tapi ia pantang menyerah untuk mengembalikan UUD 1945. Dengan langkah kakinya yang tertatih-tatih, dan bicaranya pun tergagap-gagap, Amin Arjoso masih sering nekad keluyuran ke beberapa daerah untuk bertemu dengan tokoh atau teman-temannya di daerah yang sepemikiran dan sehaluan dengannya. Juga tidak jarang ia menggelar acara diskusi publik di berbagai tempat, dan mengadakan pertemuan-pertemuan di rumahnya dengan beberapa tokoh tua maupun muda. Adapun tema diskusi atau pertemuan-pertemuan itu selalu tidak pernah bergeser, yaitu “menolak amandemen dan menggugat UUD produk MPR tahun 2002 untuk kembali ke UUD 1945”. Bahkan beberapa waktu lalu, Amin Arjoso bersama beberapa rekan sempat pula membentuk Panitia Persiapan Kembali ke UUD 1945. Kelompok ini mencoba melakukan kajian-kajian empiris maupun akademis terhadap semua aspek berkonstitusi yang sesuai dengan ideologi dan falsafah hidup bangsa, kemudian mensosialisasikan ke berbagai lapisan masyarakat melalui berbagai penerbitan buku, jurnal, brosur, dan lain sebagainya. Termasuk berkirim surat maupun berkorespondensi dengan tokoh-tokoh politik, pimpinan-pimpinan organisasi kemasyarakatan seperti PPAD, DHN 45 dsb, serta pejabat-pejabat tinggi di pemerintahan. Dengan didorongkan oleh itikad baik dan niat yang tulus untuk menyelamatkan masa depan bangsa dan negara, Amin Arjoso bersama kawan-kawan tanpa ragu melangkahkan kaki ke Sekretariat Negara untuk menyampaikan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam surat itu, Amin Arjoso dkk menyam190
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

paikan pokok-pokok pemikiran dan argumentasi logis kepada presiden agar berani melakukan Dekrit yang pada prinsipnya mengenai dua hal. Pertama, membatalkan amandemen yang melahirkan UUD produk MPR tahun 2002 yang nyata-nyata sangat bersifat individualliberalistik sehingga tidak sesuai dengan falsafah hidup dan budaya bangsa Indonesia. Kedua, menyatakan diberlakukannya kembali UUD 1945 asli dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia, Pendek kata, tiada hari tanpa upaya menegakkan kembali UUD 1945. Meski sudah banyak yang dilakukan, nampaknya bagi Amin Arjoso memang tidak boleh ada aral yang melintang untuk terus berjuang, dan berjuang lagi kembali ke UUD 1945. Dan Amin Arjoso menikmati perjuangan itu sebagai bagian dari ibadahnya.

Amin Arjoso, Orang Keras Kepala Menolak Amandemen

191

Alm. Ali Sadikin atau yang akrab disapa Bang Ali, termasuk salah satu tokoh Petisi 50 yang aktif mendukung langkah Amin Arjoso dkk, mengembalikan UUD 1945 (asli).

192

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Ridwan Saidi

Amin Arjoso Pejuang UUD 1945

B

erbicara tentang UUD 1945 tentu saja UUD seperti ditetapkan oleh Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, bukan ‘UUD 1945’ yang telah diamandemen sebanyak empat kali.

Amin Arjoso, SH termasuk yang paling gigih berjuang untuk kembali kepada UUD 1945 dan menolak amandemen sejak ia masih menjadi anggota DPR/MPR 19992004. Ia orang yang tak dapat jeda sedikit pun dari suasana kejuangan meski pun terbaring di Rumah Sakit. Apa yang diperjuangkan Amin Arjoso, SH adalah menja-di keprihatinan banyak kalangan mengingat keadaan negeri semakin memprihatinkan semenjak memasuki era Reformasi. Reformasi seolah menjadi zaman baru karena para jubir reformasi mencela periode Presiden Soeharto dan Presiden Sukarno. Seseorang dapat memandang Presiden Sukarno dari sisi buruk. Ia membubarkan Masyumi, PSI, dan Murba.
Amin Arjoso Pejuang UUD 1945

193

Ia memenjarakan puluhan politisi yang punya jasa besar dalam perjuangan kemerdekaan tanpa proses pengadilan. Tetapi Presiden Sukarno telah membuat jasa yang amat besar. Ia seorang pahlawan pembebasan tanah air. Ia mengutuhkan wilayah NKRI dengan kembalinya Irian Barat, meski dengan cost tinggi. Ia menolak pelaksanaan isi perjanjian KMB 1949 yang amat memberatkan. Antara lain Indonesia harus membayar kerugian yang diderita Belanda akibat pemberontakan Diponegoro dan Perang Aceh, juga kerugian warga Belanda akibat pengambilalihan perusahaan-perusahaan tambang dan perkebunan. Pemberitaan koran-koran dan radio pada zaman Presiden Sukarno hanya menyangkut pidato Bung Karno dan para pembesar tentang Pancasila dan UUD 1945. Kemudian hari saya mencoba memahami Pancasila dan UUD 1945 itu secara hukum dan konstitusi. Pemahaman saya akan hukum terbentuk kerana kelak setamat SMA saya menjadi mahasiswa pada Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran tahun 1962-1963, dan sejak tahun 1963 menjadi mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia. Menyelesaikan studi pada tahun 1976 sebagai sarjana Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia. Setelah itu pada tahun 1977-1982 dan 1982-1987 menjadi anggota DPR RI mewakili Partai Persatuan Pembangunan. Dalam kesempatan itu saya menjadi anggota Badan Pekerja MPR, Wakil Ketua Komisi APBN, dan Wakil Ketua Komisi X bidang ilmu pengetahuan. Sebenarnya konstruksi berpikir hukum saya mulai terbentuk ketika usia remaja belajar Ilmu Fiqh pada Mu’alim Roji’un, kampung Pekojan, kemudian pada ayah di rumah. Kemudian berkat didikan guru-guru saya yakni: Mr Mohammad Rum, A. Dachlan Ranuwihardjo, SH, dan Prof Hamid S. Attamimi, SH, guru dan mitra debat dalam Pansus-pansus sejumlah RUU di DPR, konstruksi 194
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

berpikir hukum saya semakin kokoh. Di samping pengalaman saya kemudian hari selama enam bulan diperiksa Kejaksaan Agung, dan di Pengadilan Negeri pada tahun 1996 dalam perkara politik, ikut memantapkan konstruksi berpikir hukum saya. Karena itulah saya cenderung melihat tidak berhasilnya pemerintah-pemerintah hasil reformasi karena tidak tertibnya hukum dan konstitusi, bahkan mulai dari tahap pembentukan hukum dan perundang-undangan. Sejak terbit reformasi tahun 1998 Indonesia dilanda krisis ekonomi yang belum pulih hingga sekarang. Agenda perbaikan ekonomi tak pernah digarap dengan tekun oleh pemerintah-pemerintah reformasi. Mereka senantiasa sibuk pemilu dengan derivasinya pilpres dan pilkada. Maka, performa pemerintah yang dihasilkan, 1. Pemerintahan bukan sebuah sistem yang padu, baik dalam arti governance maupun administration. Dalam arti governance lembaga-lembaga tinggi negara merupakan kekuasaan yang mempunyai kedaulatan sendiri-sendiri dan bergerak dalam orbit masingmasing. Dan ini dimungkinkan oleh UUD Perubahan 2002. 2. Pemerintahan dalam arti administration, secara vertikal kerap kali mengalami gerak centrifugal. Bupati/ Walikota tak taat Gubernur, Wakil Gubernur tak taat Gubernur, Gubernur tak taat Presiden. 3. Korupsi makin meluas ke segala lapisan pemerintahan Saya anti PKI dan terlibat dalam aksi Angkatan 66, tetapi istilah kapitalis birokrat yang diciptakan PKI sungguh jenius. Indonesia tidak pernah punya akar kapitalis sejati seperti Blavatsky, Ford, Rockefeller, Bandar bin Sultan, keluarga Bin Laden, dan Onassis. Kecuali pada masa 1816 hingga 1942. Oei Tiong Ham per definisi adalah kapitalis sejati. Di samping sejumlah orang yang terlibat
Amin Arjoso Pejuang UUD 1945

195

dalam industri rokok kretek. Begitu juga owners ondeneming di Jawa dan Sumatera, dan mereka yang memiliki tanah particulier. Mereka tidak memakai uang Bank dengan kattabeletje pejabat pemerintahan. Sejak kemerdekaan, kapitalis-kapitalis Indonesia adalah rata-rata kapitalis birokrat. Pengecualian kecil sekali. Terlebih-lebih pada zaman Orde Baru dan Reformasi. Mereka menjadi kapitalis karena hubungan kroni dengan birokrasi. Skandal BLBI adalah contoh yang legendaris. Dan contoh-contoh makin banyak saja di era Reformasi. Tidak ada perang yang tak berbuntut kehancuran ekonomi. PD I dan PD II berbuntut kehancuran ekonomi dunia. Begitu juga perang Korea tahun 1952. Krisis Indonesia diperparah dengan krisis Global yang telah melibas Yunani dan Portugal. Krisis Global disebabkan karena Amerika Serikat mengeluarkan belanja perang yang amat tinggi. Perang Iraq dan Afghanistan setidaknya menelan biaya lebih dari 10 Trilyun dollar. Bahkan ada yang memperkirakan 15 Trilyun Dollar. Federal Reserve harus bertanggung jawab pada investor yang membeli obligasi. Maka diaturlah skenario bahwa krisis keuangan global disebabkan pasar modal yang jatuh. Kejatuhan pasar modal disebabkan karena jatuhnya saham-saham perumahan. Saham perumahan jatuh karena kredit macet. Omong kosong ini dibeli oleh ekonom Indonesia baik yang di pemerintahan maupun yang di luar. Hanya sejumlah kecil ekonom dan pengamat krisis yang tak mempercayai krisis pasar modal bibit krisis global. Akhirnya bau bangkai tak dapat ditutup-tutupi. Dalam beberapa kali pertemuan Menteri-menteri Keuangan dimulai sejak di Sao Paolo Brasil minggu pertama November 2008 terungkap bahwa semua negara mengalami krisis likuiditas, termasuk Amerika. Juga dalam beberapa kali pertemuan G-20 di Amerika, delegasi negara-negara 196
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Eropa bersikukuh mengatakan bahwa pemicu krisis keuangan global adalah krisis sektor keuangan Amerika. Tentu saja krisis ini akan makin berkepanjangan jika semua kita tidak menginsyafi bahwa mengubah UUD 1945 menyebabkan sistem kenegaraan tak dapat dipahami, apalagi dijalankan. Bahkan sekarang pelajaran Tata Negara sudah tidak diajarkan lagi di SMU karena guruguru mengalami kesulitan mengajarkan UUD 1945. Indonesia akan tetap dapat bangkit kembali sebagai bangsa. Paling tidak kita mempunyai tiga kekuatan untuk dapat melesat sebagai negara maju, yakni pertama kekayaan alam, kedua the power of history, kekuatan sejarah, dan yang ketiga adalah azas dan falsafah negara yang kita namakan Panca Sila, sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan silasila yang lain merupakan penggalian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia yang panjang. Tidak ada orang Indonesia yang menyembah batu, pohon-pohonan, atau benda apa pun juga. Di dalam teologi dibedakan antara God dan the idea of God. Itulah sebabnya bangsa Indonesia tidak menyukai kekerasan. Sepanjang sejarah Indonesia akan kita saksikan betapa penduduk negeri ini menolak kekerasan dalam segala bentuknya. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan mengandung makna bahwa kekuasaan adalah zat yang bersih yang tidak boleh dikotori oleh permainan kekuasaan. Dalam pandangan Panca Sila kekuasaan adalah sesuatu yang utuh yang fungsi-fungsinya dapat dibagikan, tetapi kekuasaan itu sendiri sebagai zat tidak terbagi. Kekuasaan itu utuh adalah pandangan kebudayaan yang sudah hidup di Indonesia ribuan tahun. Bahkan kekuasaan tidak diperebutkan karena asal kekuasaan itu bukan dari manusia tetapi dari Yang Kuasa. Itulah
Amin Arjoso Pejuang UUD 1945

197

sebabnya ketika Tarumanagara memerangi Salakanagara dan mereka disuruh takluk, mereka pun takluk. Juga ketika Majapahit diruntuhkan, tidak ada perlawanan sama sekali. Para menak dan hulun, pendukung, kerajaan meninggalkan Majapahit. Hal serupa terjadi ketika pelabuhan Kalapa dirampas dan Padjadjaran diruntuhkan. UUD 1945 merupakan sebuah susunan kesatuan hukum yang jelas yang didasarkan pada staatfundamentalsnorm seperti termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Staatfundamentalsnorm, norma dasar negara, adalah kelima sila yang tercantum dalam Pancasila. Kelima sila merupakan hogere optrekking, idealisasi tertinggi, dari segala ideologi yang dipergumulkan di banyak negara. Seperti yang dikatakan Ato Masuda, pergumulan ideide di Indonesia dipicu oleh kebangkitan bangsa-bangsa Asia yang disebabkan oleh kemenangan Jepang dalam perang terhadap Rusia di Manchuria pada tahun 1904. Inilah modal untuk bergerak ke depan sebagai bangsa. Meskipun hidup memerlukan fantasi, tetapi cita-cita ke depan untuk mencapai Indonesia Jaya sama sekali bukan fantasi, tetapi tantangan sejarah bagi putra-putra Indonesia. Rakyat harus bersatu untuk memutuskan rantai kemiskinan yang membelenggu dirinya. Kita adalah rakyat, dan harus bersama rakyat. Jangan dengan yang lain. Dengan yang lain mungkin kita dapat tidur satu bantal, tapi mimpi berlain-lainan. Dimana pun rakyat berada mimpinya sama: Perubahan kontan untuk Indonesia sejahtera. Untuk mencapai tujuan tersebut maka; 1. Diperlukan konstitusi yang dapat mengatur bekerjanya mekanisme kenegaraan secara benar, sehingga itu dapat menjadi kondisi bagi terselenggaranya perekonomian yang sehat dan mandiri untuk menyelamatkan kehidupan rakyat. Dan itu adalah UUD 1945 sebagaimana ditetapkan oleh sidang PPKI tanggal 18 Agustus 198
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

1945; 2. Diperlukan kepemimpinan Nasional yang memiliki visi futuristik dengan tetap berakar pada jangkar sejarah Indonesia. Demikianlah pandangan ringkas saya menyambut dan menghormati teman sejawat saya Amin Arjoso yang berjuang tak mengenal lelah untuk mengembalikan kedudukan UUD 1945 pada tempat yang semestinya.

Amin Arjoso Pejuang UUD 1945

199

H. Amin Arjoso, SH (di ujung meja berbaju batik kuning) menggelar sarasehan tentang amandemen UUD 1945 di kediamannya. Ini adalah salah satu acara yang digelar beberapa tahun lalu. Hadir antara lain Moch. Achadi, Soebagyo Anam (alm), Usep Ranawidjaya (alm), Hadori Yunus (alm), Haryanto Taslam, Ki Utomo Darmadi, John Pakan, Sutrisno, dan masih banyak tokoh nasionalis lainnya.

200

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Koesalah Soebagyo Toer

“Riungan” di Blok Q LP Salemba

B

ermula dari runtuhnya rezim Sukarno dan bangkitnya rezim Soeharto. Bersamaan itu pula, ribuan orang ditangkap oleh rezim baru. Di antara yang ribuan itu, satu di antaranya adalah Koesalah Soebagyo Toer, seorang guru dan dosen bahasa Rusia. Aksi penangkapan ribuan orang oleh rezim Orde Baru itu, bersamaan dengan momentum masuknya modal asing. Kiblat rezim Orde Baru yang mutlak ke Barat, mengakibatkan semua yang berbau “Timur” disingkirkan. Nah, kebetulan, Koesalah ini jebolan Universitas Moskow, sehingga ia patut dicurigai sebagai ekstrem kiri, karenanya harus ditangkap, bersama ribuan orang lain yang pada hakikatnya “berseberangan” dengan rezim Soeharto. Presiden RI kedua itu, pada awal kekuasaannya benar-benar memainkan sayap militernya (baca: Angkatan
“Riungan” di Blok Q LP Salemba

201

Darat) untuk membatasi ruang gerak lawan-lawan politik, bahkan mematikannya secara sosial. Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka diembel-embeli kode “ET” sebagai singkatan (Eks Tapol/Tahanan Politik). Pada awal Orde Baru berdiri, penangkapan terhadap lawan-lawan politik dikenal dengan istilah “Operasi Kalong”. Sebelum dijebloskan ke LP Salemba, ribuan tahanan politik itu ditahan di markas Opsus (Operasi Kalong) di Jl. Gunung Sahari V. Di sana, karena saking banyaknya tahanan, sampai-sampai banyak yang tidur di emperan kantor. “Kalau pas hujan, kami basah kuyup karena tampias,” kenang Koesalah. Ia mencatat, masa penahanan di Gunung Sahari sekitar empat bulan. Setelah itu, ribuan tahanan politik itu tidak langsung dimasukkan LP Salemba, melainkan “transit” di markas Lidiksus (Penyelidikan Khusus) Jl. Lapangan Banteng Barat. “Sama seperti di Gunung Sahari, di markas Lidiksus juga berjubel. Para tahanan pun tidur di emperan dan halaman kantor menggunakan tenda,” imbuhnya. Pada masa-masa penahanan inilah ia kemudian berbaur dengan banyak tawanan politik lain, dari berbagai latar belakang. Ada yang dituding terlibat langsung atau tidak langung dengan PKI serta terlibat pada organisasiorganisasi onderbouw seperti Lekra, BTI, dan lain-lain. Bahkan, sekalipun anggota PNI (Partai Nasionalis Indonesia), jika ditengarai “kiri”, tetap ditangkap. Nah, beberapa tokoh PNI yang dituding “kiri” dan ditangkap antara lain Amin Arjoso, Jhon Lumingkewas, Kartjono, Sitor Situmorang, dan lain-lain. Menyebut nama Kartjono, ia teringat bagaimana kedekatan hubungan dia dengan Amin Arjoso. Bahkan saking dekatnya, mereka juga pernah berseteru. “Saya tidak tahu sebab-musababnya… tapi suatu hari, mereka bertengkar dan tibatiba Kartjono marah kemudian mengangkat gelas berisi air dan menyiramkannya ke arah Amin Arjoso,” kenang 202
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Koesalah. Koesalah juga ingat, ketika itu, penangkapan besarbesaran memang terjadi di Tanah Air. Walhasil, dari ribuan tawanan politik itu memiliki latar belakang yang beragam. Ada yang PNS, militer, praktisi hukum, politisi, seniman, dan berbagai profesi lain. Ihwal Koesalah dan Amin Arjoso, sejatinya memiliki latar belakang yang jauh berbeda. Koesalah adalah pengajar bahasa Rusia di Akademi Bahasa Asing, di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (PDK), sementara Amin Arjoso adalah aktivis GMNI dan anggota PNI dengan latar belakang pendidikan hukum. “Saya sendiri kurang paham kapan Amin Arjoso ditangkap, dan bagaimana proses penahanannya. Yang pasti, perkenalan saya dengan Amin Arjoso terjadi di LP Salemba persisnya di Blok Q, bukan di Gunung Sahari dan bukan pula di Lapangan Banteng Barat,” tutur Koesalah. Karena itu, jalan dan kisah penangkapan keduanya juga berbeda. Koesalah ditangkap setelah kantornya melakukan skrining kepada semua pegawainya. Skrining dimaksudkan untuk menyaring (mencari) siapa-siapa yang diindikasikan terlibat langsung atau tidak langsung dengan PKI dan semua onderbouw-nya. Koesalah dan empat teman sejawat yang sama-sama lulusan Moskow, kontan dipecat. “Sekalipun SK-nya berbunyi diberhentikan dengan hormat dan berhak atas pensiun, tapi faktanya nol…. Kami dipecat dengan tidak hormat dan uang pensiun kami tidak pernah diberikan,” ujar Koesalah. Itu artinya, Koesalah ditangkap dan ditahan dalam status yang sudah dipecat dari kedudukannya sebagai dosen Bahasa Rusia di Akademi Bahasa Asing. Koesalah sendiri tidak langsung ditempatkan di Blok Q, yang disebutnya sebagai Blok “orang-orang penting” atau “blok elite”. Ia sempat ditempatkan di Blok C, kemu“Riungan” di Blok Q LP Salemba

203

dian pindah ke Blok G, Blok R, barulah ke Blok Q bersama tahanan penting lainnya, termasuk Amin Arjoso, Kartjono, Simonti Randa, Jhon Lumingkewas, dan lainlain. Ia berada satu Blok dengan Amin Arjoso. “Satu blok isinya sekitar seratus orang,” tambahnya. Pengalaman bersama Amin Arjoso, antara lain ya sebagai pendengar acara-acara ceramah yang diisi oleh para tahanan itu sendiri. Misalnya ceramah tentang kewartawanan diberikan oleh Satyagraha. Kemudian ceramah pertanian oleh Ir. Soetarso. Materi yang dibawakan oleh tawanan berlatar belakang militer juga tentang operasioperasi militer. Meski begitu, ceramah terbanyak berisi materi keagaman (lintas agama). “Yang saya heran, pak Arjoso seingat saya tidak pernah memberikan ceramah, padahal dia kan tergolong pintar. Jadi, saya lihat pak Amin jadi pendengar saja,” tambah Koesalah. Sebagai sesama tahanan, Amin Arjoso tidak berbeda dengan tahanan lain. Bangun pagi-pagi sekali untuk sholat shubuh. Setelah itu, menunggu jam kantor, jam 08.00. Ketika jam kantor sudah bunyi, para tahanan pun diperintahkan bekerja membersihkan kamar tahanan, halaman, menimba air, dan sebagainya.”Nah, jam sembilan, barulah diadakan acara-acara ceramah atau pengajian,” imbuhnya. Usai pengajian biasanya sudah menjelang jam makan siang. Makanan diantar ke setiap sel, dengan menu yang itu-itu saja, yakni nasi sedikit dengan sayur bergantiganti antara sayur bayam dan sayur kangkung. Nasinya itu kalau dikumpulkan sedikit sekali, tetapi kelihatan lebar selebar permukaan piring karena ditipiskan. Jadi dari kejauhan jatah makan itu tampak sebagai tumpukan piring-piring alumunium. Sedangkan sayur-sayurannya didapat dari hasil kebun di sekitar LP Salemba itu sendiri. Acara makan siang selesai, dilanjutkan “acara bebas”. 204
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Di situlah para tahanan boleh melakukan berbagai aktivitas. Ada yang memilih tidur, berolah-raga, ada yang membaca, ada yang mengikuti kursus-kursus, ada pula yang menekuni bidang-bidang tertentu. Motif beraktivitas di antara mereka tentu saja berbeda-beda. Ada yang sekadar membunuh waktu, ada pula yang memang dengan kesadaran ingin menguasai bidang-bidang baru, yang siapa tahu bisa menjadi bekal selepas dari penjara nanti. Satu hal lain yang ia kenang dari seorang Amin Arjoso adalah perawakannya. “Dulu dia itu kurus, tinggi,” ramping,” ujar Koesalah. Sebagai sesama tahanan, Amin Arjoso pun mengalami banyak kesamaan kehidupan dengan Koesalah. Salah satunya adalah tradisi “riungan”, yakni sebuah tradisi mengumpulkan makanan-makanan antaran keluarga. Dari makanan-makanan hasil “riungan” para tahanan “the have” tadi, kemudian dibagi-bagikan kepada para tahanan yang tergolong tidak mampu. Hari antaran makanan dari keluarga ditetapkan tiga hari dalam seminggu: Selasa, Kamis, dan Sabtu. Meski begitu, tidak semua tahanan mendapat antaran makanan di hari-hari tadi. “Ada yang seminggu sekali setiap hari Selasa. Atau ada yang dikirim setiap hari Kamis. Dan ada pula yang dalam seminggu menerima dua kali antaran. Bahkan ada juga yang tiap Selasa, Kamis, dan Sabtu menerima antaran, tapi jumlah tahanan yang seperti ini sangat sedikit. Saya tidak tahu, Amin Arjoso termasuk yang mana,” ujarnya. Meski tidak intens berhubungan dan melakukan kontak selama di tahanan, tetapi dua eks tahanan politik Orde Baru ini seperti memiliki ikatan. Bisa jadi karena ada satu benang merah, yakni sama-sama Sukarnois. Hubungan keduanya terjalin kembali manakala Amin Arjoso sempat bertandang ke kediaman Koesalah di
“Riungan” di Blok Q LP Salemba

205

Depok, diantar wartawan senior Tarigan. Ketika itu, Amin Arjoso sedang menyusun buku. Nah, ia meminta jasa Koesalah sebagai penyunting atau editor. Sebab, seperti dituturkan Koesalah, memang benar bahwa menyunting buku, apalagi yang terkait dengan sejarah, harus dilakukan oleh editor yang juga menguasai sejarah. Jalinan persahabatan yang terbina di penjara Salemba puluhan tahun lalu, kembali terjalin dalam sebuah kerja bersama penyusunan sebuah buku berdimensi sejarah. Koesalah menerima dengan baik permintaan Amin Arjoso, dan dia melakukan editing buku tadi, khususnya yang menyangkut data-data sejarah. “Pak Arjoso beberapa kali ke rumah saya, tapi saya justru yang belum pernah ke kediaman beliau di Taman Amir Hamzah,” ujar Koesalah sambil tersenyum. Sekalipun begitu, Koesalah mengaku pernah menghadiri acara yang diprakarsai Amin Arjoso, yang diselenggarkan di Taman Ismail Marzuki. “Waktunya saya lupa, tapi itu jelas membahas tentang gugatan terhadap amandemen UUD 1945 dan desakan untuk kembali ke UUD 1945. Itu memang concern Amin Arjoso, dan saya salut. Saya hadir waktu itu, dan saya ikuti pembicaraan Kwik Kian Gie, Ridwan Saidi, Sri Edi Swasono, dan lainlain,” ujar Koesalah. Di mata Koesalah, Amin Arjoso relatif pendiam. Bahkan ketika di penjara pun, Arjoso tidak pernah terlihat menjadi pembicara, sekalipun ia memiliki kapasitas untuk itu. Arjoso lebih menyukai diskusi terbatas dengan teman-temannya. Jadi, dia jarang bersinggungan dengan massa. “Itu kesan saya lho yaaa….,” kata Koesalah pula. Selebihnya, ia mengikuti dari jauh, sekalipun tidak intens. Termasuk ia bangga ketika mengetahui Amin Arjoso menjadi aktor penting di PDI Perjuangan, dan akhirnya bisa duduk menjadi anggota DPR-MPR RI periode 1999 - 2004. Salah satu perjuangan yang hingga 206
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

hari ini masih konsisten dilakukan adalah menentang amandemen UUD 1945 dan memperjuangkan kembalinya konstitusi UUD 1945 yang asli. “Saya hormat dan bangga terhadap beliau,” ujar Koesalah. Ini justru beda sekali dengan apa yang terjadi ketika Megawati Soekarnoputri memegang kekuasaan. Justru di era dia penyelewengan konstitusi itu terjadi dan dia tidak melakukan apa-apa. Bukan hanya itu, untuk membela dan mengembalikan nama baik dan ajaran-ajaran Bapaknya saja dia tidak mau. Sekarang, kita kembali tidak berkuasa manakala konstitusi diselewengkan demi masuknya paham neoliberalisme yang jelas-jelas akan mendorong bangsa ini ke jurang kehancuran. Karenanya, saya salut dengan Amin Arjoso yang sudah berjuang dan terus bekerja untuk mengembalikan keaslian konstitusi kita. Saya juga salut dengan para tokoh yang segaris dengan Arjoso, seperti Kwik Kian Gie, Ridwan Saidi, Sri Edi Swasono, dan banyak tokoh lain. “Sayang, ada kalanya dalam tulisan-tulisan orang-orang itu, masih tersirat paham neolib, dan saya sudah sampaikan ke pak Arjoso,” ujar Koesalah.

“Riungan” di Blok Q LP Salemba

207

Amin Arjoso dan keluarga, berwisata ke Pantai Prigi yang elok di Trenggalek - Jawa Timur tahun 2005.

208

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Soemarjati Arjoso

Gigih, Konsisten, tetapi Lembut

A

pa, siapa dan bagaimana tentang Amin Arjoso, saya sebagai istrinya tentu banyak memahami dan tahu, terutama tentang kehidupan pribadinya.

Amin Arjoso suami saya adalah seorang politisi yang punya pendirian keras dan konsisten memegang prinsip. Atas kepribadiannya itu, Amin Arjoso sering berbenturan pendapat dengan teman-temannya yang pendiriannya bertentangan. Memang, sikap atau kepribadian seseorang terbentuk selain karena genetika atau bawaan juga dipengaruhi faktor lingkungan dan pengalaman hidup. Tak bisa dipungkiri, pasti hal tersebut juga tercermin dalam kesehariannya di lingkungan keluarga. Namun Amin Arjoso –sebenarnya juga memiliki sisi lembut yang cukup menonjol. Amin Arjoso sangat menyayangi keluarga. Sewaktu
Gigih, Konsisten, tetapi Lembut

209

anak kami, Azis belum lahir, ia sering mengajak istri tercinta berwisata ke berbagai destinasi, baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam hal berwisata, kami merasa memiliki kesamaan. Dengan cara “jalan-jalan” itulah kami mengusir kejenuhan atas pekerjaan rutin yang sangat menyita tenaga dan pikiran, sekaligus belajar dari apa saja yang dilihat dan dialami. Ketika Azis beranjak besar, acara jalan-jalan bersama keluarga tetap dilaksanakan. Saya, mas Joso, Yuli, dan Azis sering berwisata ke berbagai daerah di Indonesia dan berkeliling Eropa bahkan kami juga sempat umrah bersama-sama. Begitulah antara lain sisi lembut Amin Arjoso. Beliau begitu perhatian dan mencintai kami, keluarganya. Memang, bentuk perhatian itu relatif. Apalagi jika disoal bahwa Amin Arjoso sebagai pengacara maupun politisi, memiliki tingkat kesibukan yang di atas rata-rata kepala rumah tangga pada umumnya. Bahkan jika dihitung jumlah jam dalam satu hari yang berbilang 24 jam, barangkali lebih dari separuhnya dihabiskan Amin Arjoso di luar rumah. Buat saya, hal itu tidak masalah. Sebab, saya sendiri bukannya tidak punya kesibukan. Status saya sebagai PNS Departemen Kesehatan dan juga pernah di Departemen Sosial dan terakhir di BKKBN Pusat sering kali mengharuskan beraktivitas di luar jam kantor, secara waktu barangkali sedikit, tetapi dari yang sedikit itu kami merasakan kehadiran Amin Arjoso sebagai suami maupun kepala rumah tangga lebih dari cukup. Karenanya nyaris tidak pernah ada komplain, baik dari saya maupun anak-anak. Kehidupan keluarga kami tetap harmonis. Masingmasing anggota keluarga tahu dan sadar posisi. Sekalipun begitu, saya mengakui bahwa dalam rumah tangga tentu saja ada persoalan. Saya rasa semua keluarga juga 210
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

pasti memiliki kisah-kisah seperti itu. Tidak ada yang terlalu istimewa, yang lebih penting adalah komitmen bersama saling menjaga dan saling menghormati serta tanggung jawab bersama.

Tidak saling ikut campur
Khusus hubungan saya dan suami, juga bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat. Kebetulan saya seorang birokrat, yang seperti suami, juga memiliki tipikal pekerja keras dan bertanggung jawab atas tugas-tugas. Menyadari kesibukan luar biasa antara saya dan suami, saya memilih sikap: Tidak saling ikut campur. Prinsip saya: Pekerjaan saya adalah urusan saya. Dalam beberapa hal, paling saya minta saran bila merasa perlu. Demikian pula sebaliknya, saya tidak ikut campur urusan suami baik di bidang politik maupun sebagai pengacara. Beliau pun tidak mencampuri pekerjaan saya sebagai birokrat. Tidak saling mencampuri juga tidak bisa diartikan sebagai saling “cuek” antara yang satu dan yang lain. Kami saling memberi perhatian, dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang besar. Nah, kebiasaan saling memperhatikan itulah yang membuat ia begitu merasa menyesal ketika dalam salah satu perayaan ulang tahun suaminya, saya tidak bisa hadir. Ceritanya begini. Pernah suatu kali suami saya berulang tahun, dirayakan teman-temannya di DPR, saya kebetulan harus dinas keluar kota, dan tidak tahu acara tersebut, tidak ada yang memberi tahu saya, jadi saya tidak hadir. Wah kalau ingat peristiwa itu, saya menyesal. Karena setiap perayaan ultahnya, saya senantiasa mendampinginya, setidaknya makan bersama keluarga, tumpengan, dan lain-lain. Oh ya, setiap berulang tahun saya selalu menerima kiriman bunga dari Mas Amin Arjoso. Akan tetapi, penyesalan (tidak menghadiri ultah
Gigih, Konsisten, tetapi Lembut

211

suami) itu biasanya tidak sampai berlarut. Terlebih harihari selanjutnya mereka sudah kembali menjalani rutinitas kerja. Saya sebagai birokrat, dan Amin Arjoso sebagai politisi yang memiliki kantor pengacara. Selama menjabat anggota DPR, beliau tidak aktif sebagai pengacara. Beliau tidak mau ada interest di antara dua profesi tersebut, sehingga banyak mendelegasikan kantor pengacaranya kepada partner. Selama mengisi fungsi sebagai legislator dan pengacara itulah saya makin melihat sosok suami yang gigih dan banyak ide. Terus terang, saya adalah pengagum Mas Amin Arjoso. Dan ternyata yang mengagumi Mas Amin Arjoso juga bukan cuma saya, pernah saya dalam perjalanan dinas ke New York transit di Bangkok. Kebetulan bertemu beberapa orang Indonesia, yang kemudian saya ketahui bahwa mereka itu para pengusaha, yang juga sedang transit. Kami sempat ngobrol. Saya perkenalkan bahwa saya adalah istri Amin Arjoso. Saya ‘surprise’ waktu seorang di antara mereka mengatakan ‘Amin Arjoso advokat terkenal. Saya heran kenapa mau menjadi anggota DPR?’.” Kekaguman saya kepada suami termasuk dalam hal kiprah politik yang kemudian mendapat pengakuan juga dari berbagai kalangan. “Wah”, kata berbagai pihak, “dulu kalau dengar Amin Arjoso bicara, pasti kami memilih untuk mendengarkannya”. Juga banyak politisi PDI Perjuangan yang mengaku, “Saya ini muridnya pak Amin Arjoso”. Pada waktu Sidang MPR yang melakukan amandemen UUD 1945, hampir setiap hari Mas Amin Arjoso menjadi pembicara di dalam setiap debat atau dialog di media massa. Bahkan pada waktu itu ada seseorang pemuda yang ditugaskan Bapaknya dari Belanda untuk meliput khusus kegiatan Amin Arjoso bahkan, pernah suatu hari –ketika Amin Arjoso sudah terkena stroke— 212
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

ada anak muda datang ke rumah. Anak muda itu mengemukakan maksud kedatangannya, “Saya diminta bapak saya (bapaknya seseorang yang terkemuka) untuk berguru politik ke pak Amin Arjoso.” Namun di antara kisah manis tadi, ada juga kisah lain, khususnya yang menyangkut status suami saya sebagai tokoh politik (GMNI) yang pernah ditahan rezim Orde Baru, sehingga membekaskan status “eks-Tapol” (tahanan politik). Tapi tidak menjadi masalah karena keluarga tidak mempermasalahkan hal tersebut, meski ada juga kerabat jauh yang bisik-bisik.

Status “eks Tapol”
Di luar keluarga, saya pun mengalami permasalahan terkait status suaminya. Di dunia ini ada saja orang yang “sentimen” dan memakai status eks Tapol suami untuk menghambat karier saya di Departemen Kesehatan. Bahkan kalau saya hendak ditugaskan ke luar negeri (kebetulan saya sering mendapatkan tugas itu) saya dilitsus (penelitian khusus oleh pertugas inspektorat jenderal). Sampai akhirnya saya tanyakan kenapa demikian? Mereka menjawab, ‘Karena Amin Arjoso pernah menjadi Tapol.’ Saya lalu menunjukkan bahwa hal tersebut tidak benar dengan bukti-bukti. Dan setelah itu semua beres, saya tidak di-litsus lagi setiap hendak keluar negeri dan jenjang karier saya berjalan. Pendeknya, mengarungi hidup besama Amin Arjoso, bagai mengarungi samudera luas, lengkap dengan keindahan panorama fatamorgana serta hempasan ombaknya yang dahsyat. Akan tetapi secara keseluruhan, saya menikmatinya sebagai sebuah kodrat indah karunia Allah dan saya mensyukuri semuanya. Satu hal lagi yang saya catat, sebagai catatan berkesan adalah manakala suami saya aktif dalam tim pembela kasus 27 Juli 1996 (penyerbuan maskas PDI Perjuangan di Jl.
Gigih, Konsisten, tetapi Lembut

213

Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa-pen). Saat-saat itu bisa dikatakan merupakan klimaks dari upaya rezim Orde Baru memberangus kebangkitan PDI Perjuangan yang mengangkat icon Megawati (baca: Bung Karno). Suami saya, sebagai anggota pengacara PDI-P, acap kedatangan tokoh-tokoh elit partai, termasuk Megawati Soekarnoputri. “Mbak Mega dan para elit PDI-P sering ke rumah, mengadakan rapat-rapat terkait tragedi 27 Juli itu. Sehingga ada kerabat yang menegur, ‘Mbak kan PNS, kok berani menerima Ibu Mega di rumah?’ Saya jawab, ‘Kan yang menerima suami saya’. Begitulah hingga roda zaman terus berputar, dan kehidupan pun berjalan pada rel yang sudah digariskan. Amin Arjoso pun terus berkutat dengan politik dan politik. Concern-nya terhadap kebangsaan begitu tinggi. “Beliau selain pekerja keras, juga merupakan sosok yang bersemangat. Sampai-sampai pernah suatu kali, saat kami mengadakan pesta pernikahan Juli, usai pesta dia langsung pamit pergi rapat bersama Kwik Kian Gie… yaaa… kami semua pun memakluminya”. Satu hal yang terkadang ia sesalkan adalah, kemauannya yang keras, semangatnya yang tinggi dan kesukaanya makan enak mengakibatkan sering lupa akan kesehatan. Manusia toh bukan mesin. Pada saat fisik dan pikiran diforsir, berat badan tidak terkendali dan kurang olah raga tentu ada gangguan kesehatan yang terganggu. Demikian juga kepada mas Amin Arjoso. Sebagai istri yang juga seorang dokter, saya wajib mengingatkan suami akan pentingnya menjaga kesehatan. Untuk keperluan check up kesehatan, saya pun membuatkan appointment dengan dokter spesialis pada hari dan jam tertentu, confirmed. Apa yang terjadi? “Pada hari dan jam yang sudah disepakati, eh… dia tidak datang, karena rapat, karena ini… karena itu…. Okelah, saya 214
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

arrange lagi di hari dan jam yang lain. Eh… dia tidak datang lagi karena kesibukannya… lama-lama saya jadi malu membuat janji temu dengan dokter….” Tak urung, saya sendiri yang acap turun merawat suami manakala sakit di rumah. Seperti saya contohkan tentang penyakit kakinya, reumatoid arthritis. Jika sakit itu kumat di pagi hari, maka saya langsung memberinya suntikan, sehingga mas Amin Arjoso bisa ke kantor dengan nyaman. “Tapi kalau sudah merasa baik, dia lupa berobat lagi,” katanya.

Suka makan enak
Mas Amin Arjoso suka makan enak di berbagai restoran. Referensi kulinernya luar biasa…. Jadi percuma di rumah diatur makannya, tetapi di luar sering makan di restoran. Akibatnya berat badan bertambah dan asam urat tinggi, tensi darah naik. Itu yang membuatnya terserang stroke. Alhamdulillah, meski terkena stroke, tapi otak masih berfungsi dengan baik. Berkat fungsi otak yang tetap baik, daya ingat yang masih tajam hingga buku ini disusun, membuat mas Amin Arjoso terus dan terus melahirkan ide dan merealisasikan keinginan-keinginan yang begitu banyak. Apalagi kalau memikirkan nasib UUD 1945 yang diamandemen secara semena-mena, emosinya selalu tergerak. Saya bahkan terkadang merasa harus berusaha “mengeremnya”. Dalam arti jangan sampai membuatnya stres, agar tidak memacu tekanan darahnya. Saya mengakui, pada dasarnya, saya dan suami memiliki karakter yang tidak sepenuhnya sama. Saya suka berterus terang, apa adanya. Saya tidak bisa mengatakan ‘ya’ untuk hal-hal yang memang harus saya katakan ‘tidak’. Kadang saya seperti menentang ide suami, dan mengatakan ‘tidak bisa’. Suami saya sering marah dan emosi. Tapi setelah beberapa lama dan dijelaskan dengan
Gigih, Konsisten, tetapi Lembut

215

baik, ia bisa memahami dan minta maaf atas kemarahannya. Apa yang disebutnya berbeda, bukan dalam konteks sikapnya atas amandemen terhadap UUD 1945 yang kemudian melahirkan “UUD 2002”. Saya mengaku mendukung sikap suami yang dengan gigih berada di garis depan membela UUD 1945 (yang asli), meski untuk itu ia tidak lagi dekat dengan PDI Perjuangan. Sekarang, mas Amin Arjoso sudah tidak lagi di DPR. Giliran saya yang menjadi anggota DPR, dari partai Gerindra. Mulanya saya tidak berkeinginan berpolitik, karena menurut saya, perilaku politik kita sering terlihat kurang fair dan tidak konsisten. Dan, itu berbeda dengan sifat saya yang apa adanya dan konsisten, dan kurang bisa berdiplomasi. Namun demi melihat visi dan misi Gerindra yang menyatakan ‘kembali ke UUD 1945, membela rakyat kecil, ekonomi kerakyatan dan mensejahterakan kehidupan bangsa’, saya menyatakan “ya” sewaktu ditawari masuk Gerindra, pada saat pendaftaran sudah hampir ditutup. Tentu visi dan misi tersebut mewarnai perjuangan saya di partai dan fraksi di DPR RI. Keputusan saya didukung oleh suami yang yang menyatakan “visi dan misi Gerindra bagus, silakan menerima tawaran tersebut. Dalam hal berpolitik, saya banyak belajar dari suami. Dalam hal belajar berpolitik setiap anggota DPR yang baru wajib hukumnya untuk belajar kepada yang senior, juga dari buku-buku dan berbagai pengalaman lainnya. Prinsipnya setiap orang harus belajar seumur hidup. Karakter mas Amin Arjoso yang bertanggung jawab, gigih, konsisten dalam ide dan menyayangi keluarga layak menjadi teladan para generasi muda. Dalam hubungan berkeluarga setiap permasalahan harus diselesaikan bersama sehingga keluarga selalu kompak dan harmonis. 216
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Saya mewarnai kehidupan bersama mas Amin Arjoso dengan toleransi dan doa di samping usaha. Saya selalu berusaha mendampingi suami untuk berdoa, menyampaikan rasa syukur atas apa yang dikaruniakan Allah SWT kepada keluarga, serta memohon ampunan atas segala kesalahan dan kekhilafan dan berharap selalu mendapatkan bimbingan agar berada di jalan yang diridhoiNya, selamat di dunia dan akhirat. Saya yakin apa pun yang terjadi, apa pun yang dihadapi dengan selalu berdoa, memohon ampunan dan memohon takdir yang terbaik dari Allah SWT kita dapat menjalani hidup ini dengan tentram, damai, dan bahagia. Semoga Allah SWT selalu meridhoi dan melindungi kita semua. Amin.

Merayakan ulang tahun secara sederhana di rumahnya. Sebelum momen potong tumpeng, Amin Arjoso menggelar sarasehan tentang amandemen UUD 1945 di ruang tengah kediamannya yang dihadiri puluhan peserta.
Gigih, Konsisten, tetapi Lembut

217

H. Amin Arjoso, SH beserta istri saat berada di Eropa.

218

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Gigih, Konsisten, tetapi Lembut

219

BAB III Publikasi Media

220

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

A.S.S. Tambunan, SH

UUD 2002 Meniadakan Jati Diri Kita

A

hli filsafat G.W. Hegel mengemukakan suatu filsafat, revolusi Prancis dengan asas-asasnya tentang kebebasan dan kesamaan (liberte & egalite) berakhirlah sejarah, dalam arti bahwa perkembangan pemikiran manusia mengenai pengaturan kehidupan yang paling khas telah mencapai titik akhir. Berdasarkan filsafat ini kemudian pada 1980 Francis Fukuyama mengemukakan suatu tesis dalam bukunya The End of History, dengan berakhirnya Perang Dingin antara Barat melawan Timur yang dimenangkan demokrasi kapitalisme, maka berakhirlah sejarah. Hal itu berarti, bahwa ideologi Barat beserta asas-asas dan lembaga-lembaga ketatanegaraan dan ekonominya, atau dengan lain perkataan, demokrasi dan ekonomi liberal merupakan titik akhir dari perkembangan kehidupan manusia. Tidak ada lagi persoalan kecuali masalahmasalah teknis yang dapat diselesaikan oleh para pakar. 221

UUD 2002 Meniadakan Jati Diri Kita

Satu-satunya tugas yang menanti adalah menerapkan perkembangan itu kepada seluruh dunia, agar dapat mencapai tingkat kemajuan masyarakat Barat. Dalam hubungan ini Thomas Fiedman mengatakan, dunia harus menerima demokrasi Barat sebagai suatu kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh negara di dunia, jika mau tetap survive. Selanjutnya dia mencatat, bahwa Futuyamas path-breaking book contained the most accurate insight about what was new – the triump of liberation and free market capitalism as the most effective way to organize society (terobosan yang dilakukan Fukuyama dalam bukunya mengandung penilaian yang paling akurat mengenai hal yang baru – kemenangan dari liberalisme dan kapitalisme pasar bebas sebagai sarana yang paling efisien untuk mengorganisir masyarakat). Pakar hukum tatanegara Belanda Prof. Mr. Dr. S. W. Couwenberg berkomentar, pendirian tersebut sesuai dengan aliran pikiran yang timbul di Barat, yang mengatakan, perkembangan budaya tertinggi adalah budaya Barat dan semua budaya di dunia akan menuju ke sana. Menurut Couwenberg aliran ini mendapat kritik, termasuk dari kalangan pemikir-pemikir di Barat sendiri. Ternyata di Indonesia pun banyak orang yang menganut pemikiran Fukuyama, termasuk banyak para anggota DPR dan MPR. Mereka semua menilai, budaya Baratlah yang paling maju, sehingga harus diikuti oleh Indonesia. Maka mereka dengan bangga mengubah UUD 1945 dan menggantinya dengan UUD 2002 (sesuai dengan tahun pembuatannya). Mereka dengan tenang dan senang hati menggantikan demokrasi Indonesia yang berdasarkan Pancasila dengan demokrasi liberal. Ekonomi kerakyatan diganti dengan ekonomi kapitalis (pasar bebas dan negara tidak boleh campur tangan). Kewajiban negara hanya menjaga, agar 222
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

pasar bebas tidak terganggu. Ketua MPR Prof. Dr. Amien Rais dengan bangga berkomentar, bahwa hasil karya MPR itu merupakan suatu lompatan besar. Kurang jelas maksudnya apakah lompatan dalam arti maju atau dalam arti mundur. Amien Rais tidak menyadari, bahwa MPR telah mengabaikan sejarah perjuangan bangsa. Dr. Adnan Buyung Nasution berpendapat, UUD 1945 adalah anti demokrasi. Dari komentar-komentar mereka secara jelas tergambar kekaguman mereka pada demokrasi Barat dan juga memperlihatkan, mereka sama sekali tidak memahami UUD 1945. Mereka mengabaikan komentar Bung Hatta yang mengatakan, bahwa UUD 1945 merupakan UUD yang termodern. Seharusnya mereka kagum dan bangga atas hasil karya bangsanya sendiri yang lahir dari rahim budaya bangsanya sendiri. *** Tidak semua UUD atau konstitusi mempunyai suatu Preambule atau Pembukaan. Menurut teori konstitusi, Pembukaan adalah bagian dari UUD atau konstitusi yang tertinggi tingkatannya yang mendasari sistem konstitusi dan struktur bangunan negara yang bersangkutan. Jadi, Preambule UUD 1945 mendasari sistem konstitusi dan mengikat sistem kenegaraan Indonesia. Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan menguasai hukum dasar, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Semua itu dikendalikan oleh falsafah dasar negara yaitu Pancasila. Kalau masyarakat Barat selama berabadabad berada di bawah kekuasaan raja-raja yang mutlak berkuasa, sehingga rakyatnya berjuang untuk kebebasan dan persamaan, maka rakyat Indonesia berjuang untuk melenyapkan penjajahan dari muka bumi. Tujuan yang hendak dicapai bangsa Indonesia dengan demikian adalah (1) ke dalam : (a) Persatuan bangsa dan Negara IndoUUD 2002 Meniadakan Jati Diri Kita

223

nesia (b) Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, (2) ke luar : (a) Menghapuskan penjajahan di atas bumi, (b) Tercapainya ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Oleh karena itu Deklarasi Universal PBB tentang hakhak manusia 1948 dan Konvensi Roma 1950 telah mengalami perkembangan. Para pengagum demokrasi Barat melupakan, bahwa hak-hak manusia yang diperjuangkan orang-orang Barat hanya bersifat perorangan dan hanya bersifat perdata, politis dan ekonomi saja. Sedangkan hak-hak manusia menurut UUD 1945 meliputi hak bangsa, hak daerah, hak golongan masyarakat, hak masyarakat, hak warga negara, hak orang Indonesia, hak tiap orang, hak untuk penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dan hak fakir miskin, sifatnya bukan hanya bersifat perdata, dan bukan hanya di bidang politik dan ekonomi saja, tetapi juga di bidang sosial dan budaya. Kalau di Barat pengertian demokrasi hanya bersifat formal atau prosedural, maka demokrasi yang dianut bangsa Indonesia berdasarkan UUD 1945 bukan hanya bersifat formal atau prosedural, tetapi juga bersifat materiil atau substansial, sehingga juga meliputi isi dan tujuannya. Istilah yang digunakan dalam Pembukaan UUD 1945 adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kata kerakyatan berasal dari brayat yang berarti keluarga. Kata keluarga berasal dari kata kawulo dan warga. Kawulo berarti abdi yang berkewajiban mengabdikan diri dan menyerahkan segenap tenaganya kepada yang olehnya dianggap tuannya. Warga berarti anggota yang berwenang ikut mengurus, ikut memimpin dan menetapkan segala apa yang diperlukan. Jadi, keluarga menggambarkan kedudukan yang ganda yaitu sebagai abdi, tetapi sekaligus sebagai tuan. 224
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Hal itu menggambarkan rasa kebersamaan yang mengandung arti bukan saja sama rata seperti di Barat, tetapi juga sama rasa. Dengan demikian pengertian kerakyatan atau demokrasi Indonesia mengandung keadilan sosial. Yang mengarahkan kehidupan negara dan bangsa adalah cita negara (staatsidee), cita UUD (grondwetsidee) dan cita hukum (rechtsidee). Cita negara yang dianut Indonesia adalah integrasi yang berarti, bahwa aspek kenyataan tidak dapat dipisahkan dari aspek yuridis, hal mana tergambar dalam kalimat pertama, kedua dan ketiga dari Pembukaan UUD 1945. Bangsa Indonesia sangat heterogen bersifat multi ras dan multi etnik dengan tradisi, budaya, bahasa, agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, yang tidak dilebur menjadi satu menurut dialektikanya G.W. Hegel tetapi menurut dialektikanya Pierre Joseph Proudhon, perbedaanperbedaan itu berjalan terus dalam suatu keseimbangan: Bhineka Tunggal Ika. Cita UUD yang dianut UUD 1945 adalah, keinginan untuk meletakkan masalah-masalah pokok tentang pengorganisasian kehidupan bernegara dalam suatu UUD, sehingga yang pokok-pokok saja yang dimuat dalam UUD, yang lainnya diatur dalam peraturan pelaksanaan. Cita hukum yang terkandung dalam Pembukaan adalah pandangan etis, filsafat dan politik bangsa Indonesia. Dari situlah kemudian disadur sendi-sendi dan asasasas yang menguasai dan mengarahkan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis dalam usaha-usaha bangsa mencapai cita-cita dan tujuan yang hendak dicapai. Jadi, cita hukum merupakan landasan berlakunya konstitusi Indonesia. *** UUD 2002 telah mematikan Pembukaan dalam arti, bahwa Pembukaan tidak berfungsi lagi, sehingga batang tubuh UUD 2002 tidak ada hubungannya dengan PembuUUD 2002 Meniadakan Jati Diri Kita

225

kaan. Hal itu berarti bahwa UUD 2002 telah menghilangkan Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan. UUD 2002 adalah penganut demokrasi liberal dan ekonomi kapitalis. Melalui UUD 2002, MPR telah menjadikan Indonesia sebagai penganut demokrasi Barat dengan liberalismenya dan kapitalismenya. Dengan UUD 2002 Indonesia telah kehilangan jati dirinya. Jakarta, 4 Agustus 2006 (Tabloid Cita Cita edisi Agustus 2006)

DATA PENULIS
Nama lengkap: Arifin Sari Surunganlan Tambunan. Lahir: Surabaya, 18 Maret 1924, menikah dengan Marie Sere Marthauli br. Sinaga, dikaruniai 5 anak, 11 cucu, 2 cicit. Pendidikannya dimulai dari Ika Daigaku di Singapura, Akdemi Militer di Brastagi sampai yang terakhir Program Pasca Sarjana S3 UI (1997). Di bidang kemiliteran pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI (Pur). Jabatan di bidang kemiliteran cukup banyak di berbagai daerah, di antaranya Jaksa Tentara di Surabaya, Kepala Kejaksaan Daerah Pertempuran Wil. Indonesia Timur, Kepala Inspeksi Kehakiman di Kodam V Brawijaya, Kepala Perundangundangan Dir.Kehakiman TNI-AD, Hakim Ketua Pengadilan Tentara Jakarta, Oditur Militer di Jakarta, Hakim Ketua Mahkamah Militer Luar Biasa Jakarta. Juga aktif di bidang sospol sebagai asisten khusus pimpinan MPRS, anggota DPR(GR)/MPRS (1968-1987), Paban Ur. Poldagri Dephankam, dosen di berbagai perguruan tinggi militer/swasta. Sekitar 32 karya tulisnya sudah dibukukan, selain ratusan tulisan yang diterbitkan oleh berbagai mass-media. Tanda penghargaan yang diterima; Bintang Gerilya, Bintang Sewindu, Bintang Eka Paksi Kl.III, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana Gerakan Operasi Militer VII, Satya Lencana Dwija Sisitha (3 kali berturut-turut), Satya Lencana Penegak dan Satya Cikal Bakal TNI.

226

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

R. Soeprapto

MPR 1999 = Malin Kundang
(Durhaka terhadap Founding Fathers)

P

ernyataan Ketua Dewan Harian Nasional (DHN) 45, R. Soeprapto seperti tersebut di atas tentu mengejutkan. Belum ada seorang pemimpin pun yang dengan gamblang mengucapkan kalimat demikian. Soalnya legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat itu, sudah begitu melekat di hati kebanyakan anak bangsa ini. Si Maling Kundang yang berasal dari keluarga miskin, tetapi setelah merantau kemudian menjadi orang kaya, lantas malu mengakui ibunya yang masih saja seperti dulu. Sang ibu kecewa atas perbuatan anaknya itu, sehingga ia meyumpahinya, agar Malin Kundang menjadi batu. Benar saja, Malin Kundang berikut kapalnya, akhirnya memang menjadi batu, kemudian terpuruk bagaikan pulau di Teluk Bayur. Mengapa sampai “wong Solo” yang lahir 12 Agustus 1924 itu mengambil kesimpulan demikian disampaikanMPR 1999 = Malin Kundang

227

nya kepada Tim CITA CITA yang sengaja mewawancarainya secara khusus di kantornya di Gedung Joang Menteng 31 beberapa waktu lalu, setelah menguraikan panjang lebar tentang perjalanan sejarah berdirinya Republik ini. Saat-saat mempertahankan, mengisi dan mengembang-tumbuhkannya. Dengan gamblang dan sistematis mantan Gubernur DKI Jaya (1982-1987) itu menyampaikan pula makna proklamasi, yakni nilai-nilai yang terkandung dalam proklamasi itu sendiri, nilai-nilai ideologi Pancasila, nilai-nilai Undang-Undang Dasar 1945 dan lain-lain yang terkait dengan mempertahankan, mengisi dan menumbuh-kembangkan kemerdekaan yang telah dicapai, karena toh kenyataannya kaum penjajah yang berhasil kita singkirkan tetap masih berusaha kembali menjajah, sehingga di mana terjadi perang fisik. Di saat-saat beginilah “watak” bangsa Indonesia menonjol, yakni sikap heroik “lebih baik mati daripada dijajah”, pantang menyerah, tanpa pamrih dan lain sebagainya yang semakin mengokohkan persatuan dan kesatuan bangsa, karena para pendiri bangsa telah menyiapkan “grand design”nya yakni UUD 1945 dan “grand strategy” (penuntunnya) – Pancasila. Pada era berikutnya yaitu mengisi kemerdekaan. Di saat inilah mulai kelihatan adanya pergeseran nilai-nilai, terutama menyangkut sikap tanpa pamrih. Perubahan nilai dan memaknai apa yang terkandung dalam tanpa pamrih, pada ujudnya malah lebih cenderung menjadi slogan kosong, terutama bangsa ini memasuki era reformasi. “Coba lihat sebagai negara demokrasi, tentunya kita pantas berbangga, karena Indonesia mampu melaksanakan pemilu langsung. Namun sangat disayangkan mereka yang dipilih langsung oleh rakyat justru tidak memperlihatkan sikap tanpa pamrih, tetapi yang menonjol 228
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

malah pamrihnya. Lihat saja begitu terpilih jadi anggota DPR yang diperjuangkan pertama adalah kedudukan dan rebutan jabatan ketua komisi, kenaikan honor, gaji dal fasilitas lainnya. Sikap demikian jelas sangat pamrih…,” tukas Pak Prapto yang pernah pula menjabat sebagai Wakil Ketua MPR (1987-1992), sehingga ia hafal dan tahu persis tentang seluk-beluk “permainan” di lembaga negara tersebut.

MPR MELANGGAR KEHENDAK RAKYAT
Ketika disinggung kembali masalah Malin Kundang, dengan penuh antusias purnawiran Letnan Jenderal TNI itu langsung merinci sebab musababnya, yang yang pada dasarnya sebagai akibat tidak adanya kesamaan visi dalam memaknai reformasi. Bahwa reformasi itu perlu, tidak usah dipersoalkan lagi, karena kaitannya adalah usaha perbaikan atau penyempurnaan dari sebuah sistem yang dinilai tidak sesuai lagi dengan perkembangan tata kehidupan masyarakatnya. Namun demikian ketika mahasiswa dan rakyat bangkit dilaksanakannya reformasi, yang dituntut adalah; pemberantasan KKN, penegakan hukum secara konsekuen dan di bidang ekonomi tidak tergantung pada kekuatan asing. “Rakyat sama sekali tidak menuntut dilakukannya amandemen atau perubahan mendasar atas landasan konstitusi kita, yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Nah, kalau rakyat menuntut, tapi kemudian MPR-nya melakukan perubahan justru pada frame yang menyatukan bangsa ini, bukankah itu namanya MPR telah melanggar kehendak rakyat? DPR pun tidak memintanya, apalagi pribadi-pribadi tokoh.” Nada suara bekas Pangdam Kodam Udayana (19701972) itu mendadak meninggi, ketika menyampaikan hal tersebut. Dan dengan tegas, laki-laki yang hampir berusia
MPR 1999 = Malin Kundang

229

82 tahun, tetapi masih sangat fit dan energik tersebut dengan lantang mengatakan: “Menurut penilaian saya, MPR 1999 itu adalah Malin Kundang. Anak durhaka terhadap Founding Fathers bangsa ini.” Selanjutnya bapak tujuh orang putra-putri yang menikah dengan RA Soeprapti Probodipuro itu menyinggung pula peran lembaga asing yang bisa mempengaruhi setiap keputusan dan kinerja MPR. Bahkan ia menyebut dengan tegas nama NDI dan Cetro (LSM-LSM dengan dukungan dana dari AS dan berorientasi menjalankan kebijakan AS) yang menjadi “biang kerok” dan mampu mempengaruhi para anggota MPR yang keblinger, padahal pada saat itu (7 November 2001), terdaftar 207 anggota MPR membikin pernyataan tertulis menolak amandemen tersebut. “Kalaupun ada perubahan bukan dengan amandemen, tapi cukup dengan addendum yang bertujuan untuk menyempurnakan pasal 7 saja,” tegas Pak Prapto. Pasal yang dimaksud menyangkut masa jabatan seorang presiden, menjadi hanya dua periode saja. Ketika ditanya, apakah ia setuju jika UUD 1945 didekritkan kembali, seperti dilakukan Bung Karno pada 5 Juli 1959, sambil tersenyum tokoh yang memulai karier militernya dari Shodancho PETA sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu, malah bertanya: “Siapa yang akan mendekritkannya?” “Sudah tentu Presiden, sesuai dengan hak prerogatif yang dimilikinya” tegas CITA CITA. Pak Prapto ketawa dan tidak memberi jawaban apaapa, selain hanya memberi signal melalui tangannya, yang bisa diartikan, rasanya apa yang dilakukan Bung Karno sulit bisa dilaksanakan saat ini.

230

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

KEHIDUPAN IDEOLOGI SAAT INI RETAK
Dampak dari tindakan MPR yang melanggar kehendak rakyat dan reformasi yang terimplikasi dengan euforia dan tanpa program itu, keadaan negara kita menurut Pak Prapto bisa dikategorikan sebagai “compang-camping”. Buktinya; Kehidupan ideologi = retak, ini bisa disaksikan bagaimana makna yang terkandung dalam Pancasila hanya dijadikan wacana, tidak diimplementasikan dalam sikap dan perbuatan; kehidupan politik = resah, karena saat ini bisa dirasakan adanya saling curiga antarparpol; kehidupan ekonomi = ganas, ini disebabkan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi “termakan” ekonomi liberal, apalagi peran modal asing semakin “buas”; kehidupan agama = rawan, karena di beberapa tempat pertentangan antara pemeluk agama yang berbeda semakin mencolok, contoh aktual adalah kasus-kasus di Poso; kehidupan sosial-budaya = gawat, hal ini bisa dilihat bagaimana dominannya pengaruh asing terhadap budaya bangsa dan perilaku kebanyakan generasi muda, sehingga tidak sedikit yang kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia, yang berbudaya sangat tinggi itu. Kenyataan tersebut bisa dilihat terutama dalam suguhan acara televisi swasta. R. Soeprapto yang pernah menempuh pendidikan kemiliteran di United States Command and General Staff College dan Senior Officer Preventive Maintenance Course di Amerika Serikat, kini berusaha keras membudayakan nilai-nilai kejuangan Angkatan ‘45 kepada generasi muda melalui kursus atau pendidikan khusus di perguruan tinggi, agar meskipun Angkatan ‘45 sebentar lagi akan habis, nilai-nilai kejuangan akan tetap hidup dan terpelihara, karena relevansinya tidak pernah akan basi atau sirna. Sekilas ia memaparkan aktivitasnya di bidang pendidikan. Cita-cita edisi Januari 2006
MPR 1999 = Malin Kundang

231

H. Amin Arjoso, SH didampingi Eddi Elison saat beraudiensi ke DHN ‘45 pimpinan R. Soeprapto. Amin Arjoso juga tercatat sebagai Anggota Dewan Paripurna DHN ‘45 periode 2006 - 2011.

232

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Suradi

Perubahan UUD 1945, Dialektika Sebuah Konstitusi
erubahan Undang-Undang dasar 1945 (UUD’45) masih dipersoalkan sebagian kelompok masyarakat. Suara penolakan atas perubahan itu makin nyaring dan mereka menginginkan agar perubahan itu ditinjau lagi karena tidak sesuai prosedur. Berangkat dari diskusi sehari di kantor Sinar Harapan bertema “Pro-Kontra kembali ke UUD’45 Asli” yang menghadirkan tokoh-tokoh yang pro dan kontra, laporan khusus kali ini menyoroti soal tersebut. “Hendaknya tidak ada komponen bangsa yang berpikir untuk mundur dengan cara memutar arah jarum jam sejarah kembali ke belakang, ke masa UUD’45 yang terdiri atas 37 pasal, dan telah kita ketahui praktik penyelenggaraan negara berlandaskan konstitusi tersebut”. Pernyataan tersebut dikemukakan Amien Rais empat tahun lalu. Tepatnya 1 Agustus 2002, saat membuka Sidang Tahunan MPR. Agenda penting sidang ini adalah pengesahan perubahan keempat UUD’45 dan pemPerubahan UUD 1945, Dialektika Sebuah Konstitusi

P

233

bentukan Komisi Konstitusi sebagai badan baru untuk menyempurnakan perubahan UUD’45. Amien Rais yang kala itu Ketua MPR dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) menyatakan, perubahan keempat UUD’45 ini akan menuntaskan, melengkapi dan menyempurnakan, sekaligus mengakhiri perjalanan rangkaian gerbong reformasi. Mengenai proses perubahan itu, Amien Rais menyatakan MPR menerapkan prinsip kehati-hatian, sistematis, komperehensif, dan berdasarkan kearifan yang tinggi. Di sisi lain, kita juga menerapkan kaidah bahwa hal-hal yang sangat fundamental dari UUD’45 tetap kita pertahankan. MPR ketika itu juga membentuk Komisi Konstitusi yang bertugas menyempurnakan hasil-hasil perubahan pertama hingga keempat. Dukungan penyelesaian proses akhir perubahan keempat UUD’45 datang dari mantan Presiden Megawati sehari sebelum pembukaan Sidang Tahunan. Megawati selaku Ketua Umum PDIP mengumpulkan seluruh Anggota Fraksi MPR dari PDIP dan menginstruksikan untuk mensukseskan perubahan UUD’45 ini. Mega bahkan menegaskan, perubahan UUD’45 ini memang harus dituntaskan saat ini sebelum waktunya semakin jauh dari sejarah pembentukannya pada tahun 1945. Perubahan UUD’45 ini merupakan implementasi dari tuntutan lama pejuang pro-demokrasi yang berujung pada gerakan reformasi 1998. Proses perubahan itu sendiri cukup panjang. Perubahan dimulai pertama pada Sidang MPR pertengahan Oktober 1999, dilanjutkan perubahan kedua pada tahaun 2000; perubahan ketiga tahun 2001; dan terakhir perubahan keempat pada Sidang MPR tahun 2002.

Konstitusi Baru
Meski secara politis perubahan UUD’45 mendapat 234
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

dukungan dari presiden, DPR, lembaga pemerintahan, dan berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam koalisi konstitusi baru, MPR periode 1999-2004 yang telah berhasil membuat “sejarah baru” atas UUD’45 ini menghadapi tekanan dan protes baik dari Anggota MPR sendiri maupun masyarakat yang tetap menginginkan UUD’45 asli digunakan sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Protes yang sangat nyaring disuarakan Forum Pembela Negara Kesatuan Republik Indonesia (FP NKRI) yang sebagian besar adalah Anggota MPR, seperti Amin Arjoso, ImamMuniat, Bambang Pranoto, Guruh Soekarnoputra, dan lain-lain. Belakangan Amin Arjoso membentuk Gerakan Nurani Parlemen dengan tujuan sama. Forum Kajian Ilmiah Konstitusi (FKIK) pimpinan Prof. Usep Ranawidjaya juga aktif menyuarakan penolakan. Terakhir Forum Komunikasi Purnawirawan TNI/Polri. Mereka yang aktif mendatangi pimpinan MPR menyuarakan penolakan, antara lain mantan Wapres Try Sutrisno, mantan Ketua MPR/DPR Kharis Suhud, mantan Menhankam Edy Sudrajat dan sejumlah purnawirawan. Penolakan dilakukan karena proses perubahan yang dilakukan MPR menurut mereka telah kebablasan karena telah meniadakan jati diri bangsa Indonesia dan mengancam kesatuan dan keutuhan NKRI. Perubahan itu telah menciptakan konstitusi baru. Untuk itu harus ada upaya untuk mengembalikan kembali UUD’45 seperti semula, sebab menurut mereka kesalahan bukan terletak pada konstitusi tapi pada pelaksanaannya. Empat tahun telah lewat, perubahan UUD’45 itu telah dipraktekan dalam kehidupan bernegara. Yang sangat menonjol adalah peranan DPR yang makin proses dalam proses legislasi, pemilihan presiden langsung yang demokratis, dan pemilihan kepala daerah (Pilkada)
Perubahan UUD 1945, Dialektika Sebuah Konstitusi

235

langsung di seluruh kabupaten dan provinsi seluruh Indonesia. Ekses Pilkada langsung dan konflik kelembagaan hasil perubahan membuat mereka yang selama ini menentang perubahan UUD’45 makin bersemangat untuk membuktikan bahwa perubahan UUD’45 itu tidak sesuai dengan kehidupan politik dan kenegaraan Indonesia.

Debat
Penolakan terus disuarakan. Mereka yang meninginkan kembali ke UUD’45 asli makin bertambah. Mungkin eksperimen politik hasil perubahan UUD’45 tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan yang membuat orang berfikir lebih baik seperti dulu sebelum ada perubahan. Harian sore Sinar Harapan membuka ruang bagi mereka yang menolak perubahan dan setuju perubahan, termasuk pelaku sejarah perubahan. Oleh karena itu, acara yang diberi nama “Pro-Kontra Kembali Ke UUD’45 Asli” pun digelar Rabu,, 8 September lalu di kantor SH. Praktisi hukum Adnan Buyung Nasution yang dikenal sangat mendukung perubahan, hadir. Rekan sepaham seperti mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan Pimpinan Panitia Adhoc Slamet Effendi Yusuf dan Hamdan Zoelva juga hadir. Dari mereka yang menentang nampak Amin Arjoso, John Pakan, Leo Soetawidjaya, Mohammad Isnaeni Ramdhan, Suparman Parikesit, dan Ridwan Saidi yang datang dengan membawa buku-buku konstitusi dan setunpuk dokumen. Diskusi dipandu Sugeng Sarjadi yang tak mau terlibat dalam pro-kontra namun lebih memilih mencari titik temu. Buyung yang pada tahun 1992 menulis disertasi The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia; A Soscio-Legal Study of Konstituante 1956-1959 menyatakan dirinya sejak lama mengusulkan perubahan UUD ’45 236
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

untuk menyesuaikan dengan perkembangan bangsa ini. “Bung Karni sendiri dalam dokumen yang saya baca di Belanda juga menyarankan agar kita membuat konstitusi yang sesuai pemikiran bangsa kita,” katanya. Tokoh Golkar Slamet Effendy Yusuf menegaskan, perubahan yang dilakukan berdasarkan addendum, yakni hanya beberapa pasal tertentu yang dinilai tidak relevan lagi, seperti pelaksanaan kedaulatan dikembalikan ke rakyat, masa jabatan presiden, dan sebagainya. “Jadi tidak mengubah konstitusi kita,” katanya. Praktisi hukum yang pada periode 1999-2004 ikut melakukan perubahan, Hamdan Zoelva juga menegaskan tidak ada yang keliru dalam perubahan UUD’45 ini. “Kita menggunakan UUD ’45, terutama pasal 37 ini untuk melakukan perubahan atas UUD ’45,” jelasnya untuk menjawab keraguan atas proses dan prosedur perubahan. Namun bagi Ridwan Saidi perubahan itu tetap saja tidak benar, sebab naskah asli UUD 1945 tidak dibatalkan, otomatis UUD 1945 masih berlaku, seharusnya, MPR membatalkan dulu yang lama. Tapi, itu tidak dilakukan sehingga menimbulkan masalah. “Saya melihat ini, ada double konstitusi. Ada UUD 1945 dan ada UUD oplosan (sebutan UUD ’45 hasil perubahan),” tegasnya. Mohammad Isnaeni Ramdhan dan Leo Sutawijaya melihat proses perubahan ini menyalahi prosedur dan teknis. Selain itu mereka menuduh perubahan itu sarat pengaruh dan kepentingan asing. “Apakah hasil perubahan itu menyejahterakan rakyat? Kan tidak juga. akyat hanya melakukan pencoblosan langsung presiden dan kepala daerah kok, ujar Leo sambil menambahkan perubahan itu tidak pas dengan cita-cita proklamasi. Kita bisa lihat, hasil perubahan itu sudah menyimpang dari pembukaan UUD 1945. bukan hanya menyimpang, tapi sudah bertolak belakang. (Sinar Harapan)
Perubahan UUD 1945, Dialektika Sebuah Konstitusi

237

H. Amin Arjoso, SH

238

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

H. Amin Arjoso saat masih aktif di DPR.

239

Begini gaya berpolitik H. Amin Arjoso, SH di DPR. Komunikatif dan sportif. Itu yang membuat kehadirannya di DPR disegani baik oleh kawan maupun lawan politiknya.

240

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Adnan Buyung Nasution

Tidak Boleh Ada Kekosongan Konstitusi

P

raktisi hukum senior Adnan Buyung Nasution pernah memimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) 1981 – 1983. Dalam disertasinya di Utrecht, Belanda, The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia: A Soscio-Legal Study of Konstituante 1956-1959, ia menyebutkan perubahan perlu dilakukan karena UUD 1945 memiliki kelemahan atau cacat konseptual bagi pegangan berbangsa dan bernegara. Berikut petikan wawancara wartawan SH, Tutut Herlina. Masih ada dua pendapat mengenai perlu atau tidaknya perubahan UUD 1945. Pendapat Anda? Ternyata mereka (Amien Rais dkk-red) lebih maju dari yang sebelumnya. Mereka tidak mau kembali ke UUD 1945 asli yang sebelumnya disakralkan. Cuma prosedurnya yang sekarang dianggap kurang tepat. Ke depan bisa
Tidak Boleh Ada Kekosongan Konstitusi

241

disempurnakan. Bagaimana dengan substansinya? Itu tinggal apa yang ingin dicapai. Diperbaiki substansi-substansi yang supaya tidak terjadi kontradiksi. Karena kalau kita mau lihat, UUD yang sekarang ini beberapa substansinya paling kontradiksi. Dimana kontradiksinya? Mungkin yang tepat bukan kontradiksi, tapi semacam tumpang tindih. Contohnya, HAM (Hak Asasi Manusia). Sangat banyak substansi yang menyebut soal itu. Satu dan yang satunya diulang-ulang. Secara sistemik itu tidak bagus. Pasal 28 diperpanjang dari a-i, jadinya tidak cantik. Kalau mau bagus mungkin bisa membuat bab sendiri tentang HAM. Atau dimasukkan tambahan perubahan ke dalam bab perubahan. Atau bagaimana tergantung kesepakatan bersama supaya cantik. Jika ada perubahan lagi, jadi pintu masuk kembali memasukkan Piagam Jakarta, pendapat anda? Itu tetap akan kita tolak. Kalau kita ke sana, akan ketinggalan. Itu mimpi dan tidak mungkin terjadi. Tokoh-tokoh Islam sudah meninggalkan pemikiran semacam itu. Karena jika itu mau dipaksakan, dasardasar fundamental kita akan rusak, juga merusak landasan berbangsa yang menyebutkan tanah air satu tanah air Indonesia, bangsa satu bangsa Indonesia, dan bahasa satu bahasa Indonesia. Ini tidak bisa dielakkan karena akan melawan arus sejarah. Kalau ada perubahan bagaimana pemberlakuannya? Jangan berfikir untuk menghentikan sementara berlakunya perubahan. Meski ada perubahan, UUD yang sudah diubah sebelumnya tetap harus digunakan. Kita tidak bisa memiliki kekosongan Konstitusi. Dilihat kewajarannya, negara hukum tidak bisa berjalan tanpa 242
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

konstitusi. Jadi UUD 1945 tidak harus dikeramatkan? Itu pandangan dogmatis yang mengkeramatkan UUD 1945. Bung Karno dan Bung Hatta saja dulu tidak begitu. Mereka bilang bahwa Indonesia harus memiliki konstitusi yang nantinya sesuai dengan kehendak rakyat, maka dibentuklah badan konstituante. Jadi itu sudah menjadi keharusan sejarah. (Sinar Harapan)

Tidak Boleh Ada Kekosongan Konstitusi

243

Kepada Yth, Pimpinan Redaksi Sinar Harapan di Tempat
Perihal: KAMI TETAP MENOLAK PERUBAHAN UUD 1945 Sehubungan dengan pemuatan berita berjudul “Perubahan UUD 45 Akhirnya Diterima” yang dimuat dalam Harian “Sinar Harapan” Halaman 1 Kolom 1-2 terbitan Kamis, 7 September 2006, terkait dengan dilaksanakannya Dialog Terbatas “Pro Kontra Kembali ke UUD 1945 Asli” oleh “Sinar Harapan”, dengan ini kami menyampaikan bantahan keras atas pemberitaan tersebut, karena sama sekali tidak mencerminkan fakta yang terjadi. Kejadian yang sebenarnya saat Dialog Terbatas tersebut adalah sbb: 1. Kami datang dalam diskusi tersebut sebagai satu tim yang dengan tegas menolak perubahan UUD ‘45 yang dilakukan oleh MPR pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002. 2. Alasan penolakan tersebut adalah: a. Perubahan tersebut dilakukan melalui prosedur yang tidak benar. b. Substansi perubahan bertentangan dengan Pembukaan UUD ‘45. Sehingga perubahan-perubahan UUD ‘45 tersebut tidak mengikat secara hukum. 3. Kami tidak pernah mensakralkan UUD ‘45 yang berarti perubahan UUD ‘45 itu dimungkinkan, asal melalui prosedur yang benar, dilakukan secara addendum dan 244
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

addendumnya merupakan penjabaran dari Pembukaan. Hal itu berarti, kalaupun kelak dilakukan perubahan, UUD ‘45 asli tetap utuh, yang terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh, dan Penjelasannya: perubahannya merupakan addendum. 4. Dalam Dialog Terbatas tersebut, sama sekali tidak dilahirkan kesimpulan atau keputusan apa pun, dan kedua belah pihak tetap pada pendirian masingmasing sehingga apa yang diberitakan oleh “Sinar Harapan” tersebut merupakan manipulasi yang dapat disamakan dengan menyesatkan pembaca. Hal tersebut terbukti dari tajuk rencana yang berjudul “Perdebatan mengenai UUD ‘45” yang dimuat pada hari yang sama. 5. Pemuatan berita bahwa Amin Arjoso, John Pakan, Isnaeni dan Leo H. Soetowidjojo, pada akhirnya menerima perubahan UUD ‘45, itu merupakan opini Sinar Harapan sendiri menjadi suatu fitnah dan pencemaran nama baik kami yang dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana. 6. Kami juga menyesalkan bahwa terdapat 2 (dua) isu penting yang mengemuka dalam diskusi tersebut tetapi tidak diberitakan. Isu tersebut adalah: a. Peranan asing dalam mempersiapkan dan membiayai perubahan UUD ‘45 (sedangkan bukti-bukti sudah kami sampaikan pada waktu itu), b. Dalam perdebatan pada saat itu, terbantahkan tuduhan Adnan Buyung Nasution bahwa UUD ‘45 dipengaruhi oleh Jepang. 7. Untuk membuktikan hal-hal yang kami ungkapkan di atas, kami memiliki rekaman audio visual Dialog Terbatas tersebut. 8. Besar harapan kami, sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik, bantahan ini dapat dimuat pada halaman dan
Surat Bantahan kepada Sinar Harapan

245

kolom yang sama dalam penerbitan berikutnya, dan kami meminta agar Sinar Harapan meralat berita yang tidak sesuai dengan fakta tersebut, oleh karenanya Sinar Harapan harus meminta maaf kepada kami. Bila tuntutan kami tersebut tidak dipenuhi, akan kami tempuh upaya hukum baik secara Perdata maupun Pidana. Jakarta, 6 September 2006 Kami yang membantah: 1. Amin Arjoso 2. John Pakan 3. Leo H. Soetowidjojo 4. Mohammad Isnaeni Ramdhan

246

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Moh Isnaeni Ramdhan

Secara Hukum, UUD ‘45 Asli Masih Berlaku

M

antan anggota Komisi Konstitusi, Mohamamad Isnaeni Ramdhan, yang menjadi salah satu narasumber diskusi, tetap berpendirian bahwa prosedur perubahan UUD’45 keliru. Berikut petikan wawancara wartawan SH, Daniel Duka Tagukawi, seusai diskusi. Bisa dijelaskan alasan penolakan terhadap hasil perubahan UUD 1945? Kita bicara dari prosedur perundangan dulu, ya.... Dari sisi ini saja, sebenarnya MPR tidak melakukan hal itu. Sesuai asas hukum, setiap produk hukum itu memiliki kekuatan mengikat atau dianggap sudah diketahui masyarakat, kalau sudah diundangkan dalam lembaran negara. Ini tidak dilakukan MPR. Secara teori hukum, perubahan UUD 1945 itu tidak mempunyai kekuatan mengikat.
Secara Hukum, UUD ‘45 Asli Masih Berlaku

247

Bukankah lembaran negara itu hanya pengumuman kepada publik? Iya. Itu juga disampaikan Pak Hamdan Zoelva. Tapi, itu saya kira keliru, karena suatu produk hukum memiliki kekuatan mengikat atau tidak tergantung apakah diundangkan dalam lembaran negara atau tidak. UUD 1945 itu ada dalam Lembaran Negara No 75 Tahun 1959. Jadi, harus diundangkan dalam lembaran negara. Secara teoretis, publik dianggap mengetahui kalau sudah diundangkan. Kalau tidak diundangkan berarti tidak mengikat, kan? Tapi, kenyataannya hasil perubahan UUD 1945 itu tetap berlaku? Memang secara politik, hasil perubahan itu sudah diberlakukan, misalnya, dengan adanya pemilihan presiden secara langsung. Itu secara politik. Tapi, kalau dari aspek yuridis, hasil perubahan itu tidak mengikat, karena prosedurnya sudah tidak benar. Secara hukum, UUD 1945 asli masih tetap berlaku. Maksudnya, baik UUD 1945 maupun perubahannya juga berlaku? Saya hanya lihat dari aspek yuridis, di mana UUD 1945 itu masih tetap berlaku. MPR tidak pernah mencabut atau membatalkan UUD 1945. Begitu juga, MPR tidak pernah memberlakukan hasil perubahan UUD 1945. Karena UUD 1945 yang diundangkan dalam lembaran negara, UUD 1945 yang berlaku. Meski ada ketentuan dalam UU No 10 tahun 2004, kalau UUD tidak perlu diundangkan, tapi itu menyalahi asas hukum. Seandainya prosedur dilakukan secara benar, apakah Anda menerima hasil perubahan? Begini ya, sekarang ini, ada UUD 1945 yang sah secara yuridis dan ada UUD yang diberlakukan karena men248
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

dapat dukungan politik. Kalau saya, ya, kembali saja dulu ke UUD 1945, karena itu yang sah. (Sinar Harapan)

Secara Hukum, UUD ‘45 Asli Masih Berlaku

249

250

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Rikando Somba

Perjalanan Perubahan Konstitusi RI

K

eberlakuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, atau disingkat UUD’45 sebagai konstitusi Negara Republik Indonesia telah mengalami pasang surut dalam perjalanan bangsa ini. Selain pernah tidak diberlakukan dan kemudian diberlakukan kembali, UUD’45 sebagai konstitusi juga telah mengalami perubahan untuk disesuaikan dengan tuntutan zaman sebagaimana hukum yang berlaku dinamis, selama 4 kali. Pada kurun waktu tahun 1999-2002, perubahan ini (amandemen) membawa implikasi berubahnya susunan lembaga-lembaga dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. Awalnya UUD ’45 disahkan sebagai undang-undang dasar negara oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. UUD ini terdiri atas Pembukaan, Batang Tubuh (16 Bab, 37 Pasal, 49 Ayat, 4 Pasal Aturan Peralihan, dan 2 Ayat
Perjalanan Perubahan Konstitusi RI

251

Aturan Tambahan), serta Penjelasan. Setelah dilakukan 4 kali perubahan, UUD 1945 memiliki 21 bab, 73 pasal, 170 ayat, 3 pasal Aturan Peralihan, dan 2 pasal Aturan Tambahan. Berikut beberapa pokok dan momentum sejarah yang terjadi pada konstitusi RI ini. Pada tanggal 22 Juli 1945, disahkan Piagam Jakarta yang kelak menjadi naskah Pembukaan UUD 1945. Sedang, naskah rancangan konstitusi Indonesia disusun pada waktu Sidang Kedua BPUPKI pada tanggal 10-17 Juli 1945. Pengesahan UUD ini terjadi pada 18 Agustus 1945 oleh PPKI mengesahkan UUD 1945 sebagai UndangUndang Dasar Republik Indonesia. Tak lama, UUD ini diganti konstitusi RIS (Republik Indonesia Serikat) sesuai dengan perubahan bentuk negara sejak tanggal 27 Desember 1945. Keberlakuan ini tak lama, karena sejak tanggal 17 Agustus 1950 di Indonesia berlaku UUDS (Sementara) 1950. Upaya konstituante untuk membuat UUD yang baru tak kunjung selesai dan gagal mencapai kesepakatan bulat. Situasi politik pada Sidang Konstituante 1959 lebih terfokus pada saling tarik-ulur kepentingan partai politik yang ada di Konstituante. Ini melatarbelakangi keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali memberlakukan UUD 1945. Secara aklamasi, DPR mengukuhkannya pada tanggal 22 Juli 1959. Tahun 1966 – 1988, Orde Baru menyatakan kembali manjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen. Pada masa ini, konstitusi menjadi sangat “sakral”, dengan adanya sejumlah aturan yang melegitimasinya. Di antaranya: Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang menyatakan bahwa MPR berketetapan untuk mempertahankan UUD 1945, tidak berkehendak akan 252
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

melakukan perubahan terhadapnya. Berikutnya ada pula Ketetapan MPR Nomor IV/ MPR/1983 tentang Referendum yang antara lain menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah UUD 1945, terlebih dahulu harus meminta pendapat rakyat melalui referendum. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1985 tentang Referendum, yang merupakan pelaksanaan Tap MPR Nomor IV/MPR/1983. Pasca Reformasi 1998, perubahan UUD 1945 terjadi. Periode rakyat dan kalangan politisi menyadari adanya berbagai penyimpangan dari pelaksanaan UUD 1945 sebelumnya. Perubahan yang mendasar diingini adalah melaksanakan demokrasi sepenuhnya dengan meletakkan kekuasaan tertinggi pada rakyat. Kekuasaan yang sebelumnya dinilai berfokus pada MPR diubah. Majelis ini bukan lagi sebagai lembaga tertinggi negara. Kedudukannya dijadikan setara dengan lembaga negara lainnya. Tujuan perubahan UUD ini menurut legislatif dan Komisi Konstitusi adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dan negara hukum serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Namun, perubahan ini tidak mengubah kedudukan UUD 1945 dengan tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Republik Indonesia, serta mempertegas sistem presidensiil. Perubahan UUD ’45 pertama dilakukan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR Oktober 1999 dan pengesahan perubahan terakhir pada Sidang Tahunan MPR 2002, tepatnya Sabtu (10/8) malam pukul 23.55. Perubahan ini dicantumkan dalam Risalah Sidang
Perjalanan Perubahan Konstitusi RI

253

Tahunan MPR Tahun 2002, yang menerbitkan UUD ’45 dalam satu naskah yang terdiri dari Naskah Perbantuan dan Kompilasi Tanpa Ada Opini.

254

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Laporan Diskusi 1, Harian Pelita 11 September 2002

Orang Amerika Serikat di Balik Amandemen UUD 1945?

S

akralisasi UUD 1945 tentu bukan zamannya lagi. Tapi sebaliknya, mengubah atau membuat UUD baru bukanlah suatu hal yang mestinya segampang yang ada dalam pemikiran LSM dan Anggota MPR periode 1999-2004. Menurut motor Gerakan Nurani Parlemen (GNP) yang juga anggota Deperpu DPP-PDIP Amin Arjoso, ada syarat-syarat yang harus ditempuh untuk melakukan perubahan atau membuat UUD tersebut. Pertama, jika pihak yang ngotot untuk mengubah atau mengganti UUD itu adalah aktivis LSM, tokoh atau non partisan lain, maka tak ada pilihan lain mereka harus membentuk parpol, ikut pemilu, memenangkan pemilu lalu mengusulkan perubahan UUD itu. Kedua, jika tak mau pilihan pertama, tapi mau mengubah atau mengganti UUD, silahkan bikin revolusi. Bagi kalangan anggota Majelis, perubahan atau
Orang Amerika Serikat di Balik Amandemen UUD 1945?

255

penggantian UUD 1945 harus pula didasarkan kepada amanat reformasi dan program masing-masing parpol yang dikampanyekan pada pemilu 1999. Idealnya, menurut Amin Arjoso, harus begitu. Amanat reformasi, katanya, tidak pernah mengamanatkan penggantian UUD 1945. Reformasi yang dicetuskan mahasiswa tahun 1998 adalah memperbaiki UUD 1945, bukan membuat UUD baru. Fakta juga mendukung bahwa tidak ada satu parpol (yang berhasil menempatkan wakil-wakilnya di DPR) yang memprogramkan mengubah (total) atau membuat UUD baru. Kecuali satu parpol yaitu PUDI pimpinan Sri Bintang Pamungkas, yang kala itu memang giat mengkampanyekan konstitusi baru. Tapi, apa yang terjadi sungguh mengherankan. Hanya dengan desakan-desakan segelintir orang, MPR rontok. Bahkan, kata Amin Arjoso, MPR tak segan-segan melanggar rambu-rambu kesepakatan fraksi-fraksi, yang mereka buat sendiri. Ada apa ini? begitu kemudian pertanyaannya. Adakah tangan-tangan ajaib yang ikut campur mempengaruhi proses amandemen ini dari awalnya? Siapa mereka, dan apa tujuan mereka? Amin Arjoso, tokoh vokal dalam proses amandemen UUD 1945 karena dianggap anti amandemen (kemudian dibantah Amin sendiri, “Saya bukan anti amandemen, hanya memang ada hal yang tidak dapat saya terima. Stempel sebagai anti amandemen itu sudah melekat kepada diri saya, ya sudah... mau apa lagi?”) membeberkan, tidak adanya suatu alasan yang kuat untuk membuat UUD baru (istilah yang lebih suka dipakai Amin), membuat dirinya berkesimpulan bahwa pasti ada “sesuatu” di balik proses amandemen tersebut. “Jika dilihat dari hasil amandemen UUD 1945 keseluruhan, saya berkesimpulan bahwa amandemen tersebut 256
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

mengandung dua tujuan yaitu tujuan politik sesaat yang nyambung dengan globalisasi yang tak lain adalah Amerikanisasi. Dalam konteks ini saya melihat ini bagian dari dekolonisasi, pengkapling-kaplingan ekonomi Indonesia,” kata Amin. Dekolonisasi? Globalisasi? Amerikanisasi? Boleh percaya, boleh tidak. Namun dari penjelasan Amin dalam diskusi yang diselenggarkan Forum Kajian Harian Pelita (FKHP) di Jakarta, Senin (9/9) lalu, beberapa poin bisa dijadikan bahan pemikiran. Mengutip Thomas L Friedman dalam bukunya Understanding Globalization, Amin Arjoso mengatakan, globalisasi mengandung tiga arti, yaitu penyebaran kapital tanpa batas negara, secara kultural adalah Amerikanisasi dan merupakan pembangunan kekuatan baru pasca perang dingin. Intinya globalisasi dihembuskan oleh AS sebagai upaya untuk memperkuat AS sebagai super power dalam semua bidang, dan di sisi lain terus berupaya untuk memperlemah posisi negara-negara lain. AS, menghendaki agar negara-negara lain itu menjadi subordinat mereka. Salah satu upaya untuk memperlemah itulah mereka bermain di arena proses amandemen UUD 1945, dengan mendorong terjadi pengacauan sistem ketatanegaraan Indonesia. Ujung-ujungnya adalah semakin besar kekuatan untuk mengkapling-kapling Indonesia secara ekonomi. “Saya pernah bertemu dengan Daniel S. Lev. Dia mengatakan kepada saya ‘Pak Amin, menurut saya sebaiknya Indonesia jangan menjadi negara kuat. Kalau kuat maka yang jadi korban adalah HAM’. Ini apa maksudnya? Maka saya bilang lagi ke dia supaya nasihat ini dialamatkan saja kepada AS, sebab AS ini kan super power,” kata Amin. Amin mengakui, sumbangan AS bagi perjalanan
Orang Amerika Serikat di Balik Amandemen UUD 1945?

257

kepemimpinan nasional di Indonesia tidak boleh dikatakan sedikit. Sebut saja lahirnya Perjanjian Renville, yang bisa terjadi akibat tekanan AS kepada Belanda supaya tidak menggunakan bantuan mereka untuk melakukan agresi ke Indonesia. Begitu juga dalam Konferensi Meja Bundar, dan lainnya. “Dalam tahun 1965 juga bantuan AS ini sangat besar. Dan masalahnya bantuan-bantuan itu punya imbalan. Contohnya adalah Freeport, itu adalah imbalan bagi AS yang diberikan Indonesia. Sejak itu kita sudah dikaplingkapling oleh AS. Masalahnya adalah Rekolonisasi itu semakin besar. Kalau pada masa penjajahan Belanda yang diambil itu adalah buahnya. Sekarang yang diambil semuanya ya buah, ya batang, ya daun, sampai akarnya,” sambung Amin. Tapi apa bukti permainan AS di balik amandemen UUD 1945 itu? Amin menyebut lembaga National Democratic Institute/NDI (for International Affairs) asal AS. Lembaga ini, menurut Amin, telah memainkan kepentingan AS dalam rangka monopolar, dengan dalih pengaturan demokrasi Indonesia. Agen yang mereka pergunakan di dalam negeri Indonesia tidak lain adalah Cetro (Center for Electoral Reform) yang merupakan bagian dari Koalisi Ornop untuk Konstitusi Baru, yang selama ini paling bersuara lantang dalam menggagas konstitusi baru. “Orang-orang NDI itu ada dari kalangan aktivis, pengamat, mahasiswa, wartawan bahkan anggota DPR/MPR. Saya tahu ada orang-orang NDI nongkrong di DPR!” kata dia. Bukti keterlibatan AS dalam proses amandemen UUD 1945 itu, makin terang setelah Amin Arjoso pada suatu kali dalam masa pembahasan amandemen UUD 1945 di Gedung DPR/MPR, ditemui oleh orang-orang Kedubes AS di Jakarta. “Dia mengatakan kepada saya mengapa 258
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

saya sangat konservatif mengenai amandemen UUD 1945 ini. Lha, ini mau apa? Saya bilang saja kepada mereka apa urusannya? Kenapa mereka ikut-ikutan?” tanya Amin Arjoso. Nah, kata Amin, “Saya jadi bertanya-tanya apakah teman-teman ini sadar telah menjadi bagian dari sebuah permainan besar AS?” Ini pula yang mendorong dia meminta kepada semua pihak untuk bertanya kepada hati nurani masing-masing, dan berjuang terus untuk mengembalikan keadaulatan ekonomi, politik dan kultural indonesia. Bomer Pasaribu sebagai kesamaan sikap bahwa UUD hasil amandemen UUD 1945 ternyata lebih menawarkan instabilitas daripada stabilitas. Fungsionaris DPP Partai Golkar yang mantan Menaker Bomer Pasaribu memberi penilaian bahwa amandemen UUD 1945 telah menyebabkan penyebaran, pembagian dan pemisahan kekuasaan dan wewenang menjadi terlalu luas dan cepat. Hal ini akan memperumit pembangunan sistem kelembagaan, pengembangan konstitusionalisme, manajemen kenegaraan kesatuan, manajemen potitik nasional baik supra maupun infrastruktur, manajemen pemerintahan eksekutif dan pembangunan budaya politik baru. “Jadi terbuka peluang krisis benturan kekuasaan, conflict of interest antar-lembaga, dan sulit menemukan penyelesaian cepat,” kata Bomer. Kesulitan lainnya, penyiapan transisi dan proses sosialisasi, pembelajaran dan pelembagaan, perangkat lunak dan keras yang dibutuhkan serta SDM pemerintahan, elit, politisi dan masyarakat. Karena itu Bomer membayangkan adanya kondisi yang lebih mengancam bangsa dan negara khususnya menjelang Pemilu 2004, sebab “Perubahan yang
Orang Amerika Serikat di Balik Amandemen UUD 1945?

259

demikian besar itu tidak diikuti dengan perubahan kultural politik”. Pandangan yang sama disampaikan oleh Amin Arjoso. Menurut anggota F-PDIP DPR/MPR ini, perubahan I, II, III, dan IV UUD 1945 oleh MPR telah mengubah struktur ketatanegaraan dari monokameral menjadi bikameral, dari Negara Kesatuan dicampur aneh dengan sistem Federal. MPR sebagai penjabaran demokrasi perwakilan plus perwakilan kepentingan dalam sistem perwakilan dirombak menjadi demokrasi perwakilan politik murni dan langsung. Demikian pula, sistem pemerintahan negara yang executive heavy ke legislative heavy yang tidak menjunjung prinsip checks and balance namun lebih mengedepankan kepada pelaksanaan sistem dan semangat parlementarisme. “DPR pasca amandemen UUD 1945 dengan segenap hak-hak yang ada padanya seperti hak interpelasi, hak angket (penyelidikan) dan hak menyatakan pendapat telah mengakibatkan tata kehidupan kenegaraan Indonesia menjadi legislative heavy dan unbatanced yang tiba gilirannya mengganggu stabititas politik dan menghambat pembangunan nasional”, begitu Arnin Arjoso. Berikut adalah pasal-pasal yang mengandung problem konstitusional pasca amandemen I, II, III, dan IV. Pasal 1 ayat (2), Pasal 3 ayat (1), ayat (2), ayat (3), Pasal 7C, Pasat 8 ayat (2), Pasal 22D ayat (2), Pasal 22A (1) dan Pasal 24 C (1), Pasal 2 ayat (1), Pasal 23D, Pasal 20 ayat (5), Pasal 28 ayat (1), Pasal 13 ayat (3), Pasal 20 ayat (1), Pasal 20 ayat (2), Pasal II Aturan Peralihan. Menurut Amin Arjoso, perubahan UUD 1945 mempergunakan kewenangan berdasarkan pasal 37 adalah manipulatif, karena kewenangan MPR untuk mengubah UUD sebagaimana dirumuskan dalam pasal 37 tidak terlepas dari rumusan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 asli 260
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

dimana MPR adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia dan merupakan Lembaga Tertinggi Negara, pemegang dan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat. Dengan demikian apabila Pasal 1 ayat (2) sudah diubah (melalui perubahan III) yaitu bahwa MPR tidak lagi memegang kedaulatan rakyat sepenuhnya dan bukan lagi penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. Maka, Pasal 37 telah kehilangan relevansinya untuk dipergunakan sebagai dasar hukum Perubahan UUD dalam Sidang MPR. Demikian pula penggunaan Pasal 3 UUD baru (hasil perubahan III) juga telah kehilangan relevansinya berkaitan dengan, telah berubahnya fungsi dan kewenangan MPR melalui amandemen III. Manipulasi itu sudah berulang kali diprotes dan diinterupsi oleh anggota MPR, tetapi tidak dihiraukan oleh Pimpinan MPR. Perubahan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 telah meniadakan fungsi MPR sebagai pemegang dan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat. Perubahan tersebut juga bertentangan dengan alinea IV Pembukaan UUD 1945. Yaitu mengubah sistem demokrasi perwakilan menjadi demokrasi langsung (representative democracy ke direct democracy). Menjadi tidak jelas locus of sofereignity dari kedaulatan negara, MPR bukan pemegang dan pelaksana kedaulatan rakyat. Pasal 3 mengenai kewenangan MPR, menurut Amin, tidak jelas landasan dan kewenangan MPR Pasca Amandemen III, karena MPR bukan lagi sebagai pelaksana kedaulatan rakyat tetapi anehnya diberi kewenangan seperti halnya lembaga konstituante. Yaitu berwenang mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar. Soal Pasal 7 C yaitu mengenai Presiden tidak dapat membekukan dan atau membubarkan DPR, bisa diartikan Presiden bisa membubarkan DPD. Demikian pula Pasal 8 ayat (2) yang mengatur dalam hal terjadi kekoOrang Amerika Serikat di Balik Amandemen UUD 1945?

261

songan Wapres, selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari MPR menyelenggarakan sidang untuk memilih Wapres dari dua calon yang diusulkan Presiden. “Pasal ini tidak sejalan dan rancu dengan sistem pemilihan Presiden secara langsung,” kata Amin Arjoso. Pasal 22 A (1) dan Pasal 24C (1) mengenai kewenangan MA, juga bisa terjadi MA menyatakan sebuah aturan di bawah UU tidak bertentangan dengan UUD, sementara Mahkamah Konstitusi menyatakan UU itu bertentangan dengan UUD.

262

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

263

264

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

SBY Melaksanakan UUD tanpa Makna

U

ndang-undang No.10 Tahun 2004 pasal 2 berbunyi: “Pancasila merupakan sumber dari sumber hukum Negara.” Penjelasannya; Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar ideologi negara sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara, sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Apakah pemerintah, termasuk Presiden telah melaksananakan amanat Undang-Undang tersebut? Suatu hal yang terjadi pada akhir-akhir ini, justru pengimplementasian dasar negara Pancasila, sangat dirasakan inkonsistensi, bila dikaitkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.
SBY Melaksanakan UUD tanpa Makna

265

Nah, untuk mencari titik solusi mengenai hal tersebut, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara (LPPKB) menggelar sebuah “Sarasehan Sehari LPPKB” di Gedung Granadi, Jakarta Selatan (6/12-06), yang mendapat dukungan penuh dari PT Granadi, Yayasan Dakab, Darmais, Damandiri dan Supersemar, selain lembaga lainnya. Tiga narasumber ditampilkan; Prof. Dr. H. R. Soeyadi SH dari UGM Yogyakarta, Drs. Ridwan Saidi (Komnas Penyelamat Pancasila dan UUD 1945) dan Dr. Maria Farida Indarti SH, MH (Universitas Indonesia). Panitia menyebutkan, bahwa peserta untuk sarasehan dibatasi hanya untuk 60 orang, sehingga yang hadir didominasi oleh orang-orang sepuh dan hanya satu dua orang saja dari kalangan anak muda. Tampak hadir mantan Menkeh Orba Oetojo Oesman, Irjen Pol (Pur) Putra Astaman sebagai Ketua Pepabri, mantan Mentraskop Kab. Dwikora M. Achadi, tokoh-tokoh pejuang Angkatan ‘45 dan lain-lain. Oleh karena membicarakan dan membahas masalah Pancasila sama sekali tidak bisa dilepaskan dari UUD 1945, dengan sendirinya sarasehan ini menjadi “ramai”. Prof. Soeyadi berurai tentang terjadinya perubahanperubahan terhadap UUD 1945 oleh MPR periode 19992004 dengan banyak mengutip pendapat dari beberapa pakar seperti Roscoe Pound, Nieuwenhuijs, Gustav Radbruch, Prof. Mochtar Kusumatmadja, Prof. Purnadi Purbacaraka, C.J.M. Schuijt, Prof. Harun Al Rasjid, Prof. Laica Marzuki, dan Dr. Ellydar Chaidir. Persis sebagaimana kebiasaan kaum akademisi yang lebih cenderung mengakui pendapat orang lain daripada pendapat sendiri, akhirnya tidak yakin secara tegas untuk menolak atau menerima perubahan terhadap UUD 1945 yang didekritkan Presiden Soekarno, 5 Juli 1959. Bahkan ia memberi solusi yang ngambang dengan mengatakan perlunya ditata ulang Perubahan UUD 1945, meskipun 266
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

minta dipulihkan kembali Penjelasan UUD 1945 yang dalam amandemen dihapuskan. Dengan kata lain, Prof Soeyadi menginginkan UUD ‘45 Amandemen, diamandemen kembali. Sikap tegas justru disampaikan oleh Ridwan Saidi. Mantan anggota DPR dan Ketua HMI itu dengan tandas berkata: “Saya menolak UUD ‘45 Amandemen, karena prosedurnya melanggar hukum, subtansinya “ngaco”, UUD 1945 (asli) tidak pernah dicabut atau dibatalkan, sehingga saat ini yang berlaku sebenarnya dua konstitusi, yakni UUD 1945 dan UUD ‘45 Amandemen yang lebih tepat disebut “UUD 2002”. Prof. Maria Farida ternyata lebih berani dalam bersikap, karena sebagai pakar dalam penyusunan undangundang, ia dapat merasakan ketidakberesan MPR saat membahas dan mengubah UUD 1945. Bahkan ia menyinggung dengan terus terang adanya intervensi asing. Bagi Dr. Maria “UUD 2002” yang meniadakan Penjelasan, merupakan UUD tanpa makna. Diuraikannya makna Penjelasan yang berpedoman pada pasal 149-UU No.10/ 2004; Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam Batang Tubuh. Oleh karena itu, Penjelasan hanya memuat uraian atau jabatan lebih lanjut dari norma yang diatur dalam Batang Tubuh. Dengan demikian, Penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam Batang Tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan. Dosen Pasca Sarjana tersebut mengungkapkan adanya pelanggaran yang dilakukan pemerintah daerah terhadap Pancasila dan UUD dengan menerbitkan Perda atau Surat Edaran Bupati/Walikota atau Gubernur. Dicatatnya ada 22 Perda yang bermotif syariah dan tidak sesuai Pancasila, 10 Surat Edaran, SK, Instruksi Kepala Daerah, ada 2 Kepala Desa yang menerbitkan Peraturan Desa dan
SBY Melaksanakan UUD tanpa Makna

267

“menabrak” Pancasila. Semua ini sebagai akibat lahirnya UU Otonomi Daerah yang ditafsirkan berbeda antara Pusat dan Daerah. Selesai sarasehan, ketika dihubungi CITA-CITA, Dr. Maria membenarkan, bahwa Presiden yang sekarang telah menjalankan UUD yang tidak punya makna atau cacat. Mungkin karena itu banyak pihak yang menghendaki Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendekritkan dibubarkannya “UUD 2002” yang cacat hukum dan tidak bermakna, karena dilahirkan akibat intervensi asing dan terburu-buru. Sayang, dalam kesimpulan Tim Perumus, setelah terjadi tanya jawab, tetapi hanya berkomentar, tidak tercantum tentang UUD 45 Amandemen yang tanpa makna dan “keanehan” kita dalam bernegara, yakni Presiden melaksanakan konstitusi yang tidak punya arti….

UUD ‘45 Asli Tetap Berlaku
Oleh: Abdulkadir Besar, SH Dengan ungkapan lain, perkenankan saya menyatakan, bahwa berhubung Perubahan I, II, III dan IV UUD 1945, yang berdasarkan 5 butir kesepakatan antara semua Fraksi dalam MPR dimaksudkan sebagai amandemen terhadap UUD 1945, dan diberlakukan secara berturutturut oleh MPR pada Sidang Tahunan 1999, 2000, 2001 dan 2002, tidak memiliki kekuatan hukum, maka berdasarkan teori hukum: UUD 1945 asli tetap berlaku. Atau, realitas MPR beserta PAH I/BP-MPR-nya yang 268
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

mengingkari Pembukaan UUD 1945, dan mengabaikan Penjelasan UUD 1945 dengan menghapuskannya dari naskah UUD 1945, memang suatu tindak logik yang sadar dilakukannya, karena sejak mula yang mereka akan lakukan memang bukan amandemen UUD 1945, tetapi pembuatan konstitusi baru. Niat pembuatan konstitusi baru ini dungkapkan oleh Wakil Ketua PAH I/BP MPR pada siaran talk show tanggal 10 Agustus 2002 malam di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh TVRI. Talk show tersebut diselenggarakan sebagai acara penutupan Seminar Uji Sahih Perubahan UUD 1945 yang diselenggarakan oleh KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada). Berikut ini pernyataan beliau: “Saya buka rahasia, untuk membuat undang-undang dasar baru itu berat tantangannya; karena itu, di antara tanda kutip (sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, dan menggerakgerakkan jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan dari kedua tangannya sebagai lambang “tanda kutip”, kita kesankan sebagai “amandemen”. Apabila pernyataan itu –meskipun dinyatakan sebagai hal yang berada di antara tanda kutip– memang benar adanya sebagai motivasi dalam melakukan “amandemen” (tanda kutip dari saya), maka menjadi logik sepenuhnya, bahwa PAH I/BP-MPR maupun MPR, mengingkari Pembukaan UUD 1945 dan mengabaikan Penjelasan UUD 1945, karena bagi bagian besar dari anggota PAH-I/BP-MPR dan bagian besar anggota MPR, Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya tercantum Pancasila dasar negara Republik Proklamasi 45, dan Penjelasan UUD 1945 yang muatannya adalah kesepakatan dan pemahaman pertama dari para pendiri Republik Proklamasi 1945, termasuk batang tubuh UUD 1945, merupakan masa lampau yang hendak mereka tinggalkan untuk selama-lamanya dan menggantinya dengan undangundang dasar baru.
SBY Melaksanakan UUD tanpa Makna

269

Apabila ini susbtansi sebenarnya dari Perubahan I, II, III, IV UUD 1945, maka seluruh proses pembuatan konstitusi baru, baik yang berlangsung dalam PAH I/BPMPR maupun yang berlangsung dalam Sidang Tahunan MPR 1999, 2000, 2001, 2002, adalah proses sembunyisembunyi menghindari pengetahuan rakyat berdaulat. Pembuatan konstitusi baru itu –karena berdefinisi seperti yang diungkapkan oleh Maxim yang saya kemukakan paling pertama dalam orasi ilmiah ini– berarti mendirikan Negara baru, dalam sistem pemerintahan demokrasi, harus mendapatkan izin khusus dari rakyat berdaulat. Sekurang-kurangnya izin itu didapatkan melalui pemilihan umum rekrutmen anggota MPR, dengan mengumumkan secara terbuka, bahwa MPR hasil pemilu tersebut akan membuat konstitusi baru. Tanpa izin khusus dari rakyat berdaulat, konstitusi baru tidak mendapat legitimasi rakyat dan karenanya batal demi hukum. Lebih-lebih konstitusi baru yang dibuat dengan sembunyi-sembunyi untuk tidak diketahui rakyat berdaulat, seperti yang dilakukan MPR angkatan 1999-2004, dengan sendirinya tidak memiliki kekuatan hukum; dengan sendirinya batal karena hukum. Apakah para elit politik Indonesia, terutama yang berstatus anggota MPR terpanggil untuk segera menyelenggarakan Sidang Umum MPR, khusus untuk memperbaiki Perubahan I, II, III, IV UUD 1945 yang terbukti tidak memiliki kekuatan hukum: atau membiarkan rakyat Indonesia berjalan sendiri dengan menaati UUD 1945 asli, sejarah politik Indonesia yang akan menentukan. (Tulisan ini dikutip khusus bagian solusinya dari orasi ilmiah oleh Abdulkdir Besar SH dalam Rapat Terbuka Senat Dies Natalis XXXVI & Wisuda 2001-2002, Universitas Pancasila tanggal 3 Oktober 2002 yang berjudul “Amandemen I, II, III dan IV UUD 1945 270
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Ditinjau dari Faham Konstitusionalisme”). Tabloid Cita Cita edisi Desember 2006

SBY Melaksanakan UUD tanpa Makna

271

Lampiran

272

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Memorandum tentang Perubahan UUD 1945 oleh MPR 1999-2002
Kami yang bertandatangan di bawah ini setelah mempelajari :

I. Perubahan Pertama UUD 1945 tanggal 19 Oktober 1999
Perubahan dilakukan dengan tanpa terlebih dahulu membatalkan dasar hukum pemberlakuan UUD 1945 yaitu : 1. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 sebagaimana diundangkan Keputusan Presiden No.150/1959 (Lembaran Negara No. 75/1959). 2. Ketetapan MPRS No. XX/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia.
Memorandum tentang Perubahan UUD 1945 oleh MPR 1999-2002

273

Format putusan Majelis tentang Perubahan Pertama UUD 1945 melanggar Pasal 90 Ketetapan MPR No. 11/ 1999 tentang Tata Tertib Majelis. Bentuk-bentuk putusan Majelisadalah Ketetapan dan Keputusan. Perubahan pertama UUD 1945 di luar ketentuan yang diatur Tap No. 19/1999. Dengan demikian perubahan pertama UUD 1945 suatu penyelundupan hukum, wet smokkelarij, yang menurut hukum tidak sah.

II. Perubahan Kedua UUD 1945 tanggal 18 Agustus 2000
Perubahan dilakukan dengan tanpa terlebih dahulu membatalkan dasar hukum pemberlakuan UUD 1945 yaitu : 1. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang diundangkan Keputusan Presiden No. 150/1959 (Lembaran Negara No. 75/1959). 2. Ketetapan MPRS No. XX/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia, sebagaimana diubah oleh TAP No. III/MPR/2000. Format putusan majelis tentang Perubahan Kedua UUD 1945 didasarkan pada TAP No. II/MPR/2000 dimana Pasal 90 tentang bentuk-bentuk putusan Majelis diubah dengan menambah judul Perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar sebagai suatu bentuk putusan Majelis, hal ini jelas bertentangan dengan TAP No. III/MPR/2000 tentang Tata Urutan Peraturan Perundangan yang tidak mengenal apa yang dinamakan Perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar. Dengan demikian perubahan kedua UUD 1945 suatu penyelundupan hukum, wet smokkelarij, yang menurut hukum tidak sah.

274

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

III. Perubahan Ketiga UUD 1945 tanggal 9 November 2001
Perubahan dilakukan dengan tanpa terlebih dahulu membatalkan dasar hukum pemberlakuan UUD 1945 yaitu : 1. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang diundangkan Keputusan Presiden No. 150/1959 (Lembaran Negara No. 75/1959). 2. Ketetapan MPRS No. XX/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia, sebagaimana diubah oleh TAP No. III/MPR/2000. Format putusan majelis tentang Perubahan Kedua UUD 1945 didasarkan pada TAP No. II/MPR/2000 dimana Pasal 90 tentang bentuk-bentuk putusan Majelis diubah dengan menambah judul Perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar sebagai suatu bentuk putusan Majelis, hal ini jelas bertentangan dengan TAP No. III/MPR/2000 tentang Tata Urutan Peraturan Perundangan yang tidak mengenal apa yang dinamakan Perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar. Dengan demikian perubahan ketiga UUD 1945 suatu penyelundupan hukum, wet smokkelarij, yang menurut hukum tidak sah.

IV. Perubahan Keempat UUD 1945 tanggal 10 Agustus 2002
Perubahan dilakukan dengan tanpa terlebih dahulu membatalkan dasar hukum pemberlakuan UUD 1945 yaitu : 1. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang diundangkan Keputusan Presiden No. 150/1959 (Lembaran Negara No. 75/1959).
Memorandum tentang Perubahan UUD 1945 oleh MPR 1999-2002

275

2. Ketetapan MPRS No. XX/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia, sebagaimana diubah oleh TAP No. III/MPR/2000 Format putusan majelis tentang Perubahan Kedua UUD 1945 didasarkan pada TAP No. II/MPR/2000 di mana Pasal 90 tentang bentuk-bentuk putusan Majelis diubah dengan menambah judul Perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar sebagai suatu bentuk putusan Majelis, hal ini jelas bertentangan dengan TAP No. III/MPR/2000 tentang Tata Urutan Peraturan Perundangan yang tidak mengenal apa yang dinamakan Perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar. Dengan demikian perubahan keempat UUD 1945 suatu penyelundupan hukum, wet smokkelarij, yang menurut hukum tidak sah.

V. Pembatalan Pemberlakuan Pasal, Ayat dan Penjelasan UUD 1945
Mengingat perubahan yang dilakukan MPR 1999-2002 adalah revisi redaksional pasal, penambahan pasal dan ayat baru, dan pembatalan pemberlakuan pasal-pasal dan ayat-ayat yang terdapat dalam batang tubuh UUD 1945, serta penjelasan UUD 1945, dan pembatalan pemberlakuan mana tidak dilakukan dalambentuk Putusan Majelis. Maka dengan demikian keseluruhan isi UUD 1945 sebagaimana disahkan PPKI tanggal 18 Agustus 1945, dan diberlakukan Makloemat Pemerintah RI, 1 November 1945: “Makloemat Politik” dalam berita Repoeblik Indonesia Tahun I, 17 November 1945 yang dimuat ulang dalam Berita Repoeblik Indonesia Tahun II/No.7, 15 Februari 1946, dan didekritkan pemberlakuannya kembali tanggal 5 Juli 1959 sebagaimana diundangkan Keppres No. 150/1959 (Lembaran Negara No. 75/1959), Dan dikuatkan lagi pemberlakuan sebagai Sumber Hukum oleh 276
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

keputusan MPRS No. XX/1966 tentang memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan tata, urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia sebagaimana diubah oleh TAP No. III/ MPR/2000, menurut hukum tetap berlaku sah.

Maka dengan ini menyatakan :
1. Mengingat perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar bukan Sumber Hukum dan tidak termasuk dalam Tata Urutan Peraturan Perundangan sebagaimana Tap MPRS No. XX/MPRS/1966 yang telah diubah oleh Tap III/MPR/2000, dan mengingat Dekrit Presiden tangga 5 Juli 1959 yang diundangkan Keputusan Presiden No. 150/1959 (LN No. 75/1959) tidak pernah dibatalkan, maka secara hukum Perubahan Pertama, Perubahan Kedua, Perubahan Ketiga dan Perubahan Keempat UUD 1945 yang dilakukan oleh MPR 1999-2004 suatu penyelundupan hukum yang menurut hukum tidak sah, dengan demikian Perubahan Undang-Undang Dasar tersebut batal demi hukum. 2. Mengingat MPR tahun 1999-2004 tidak melakukan secara sah perubahan Undang-Undang Dasar terhadap UUD 1945 maka dengan demikian Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana disahkan Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 dan didekritkan berlakunya lagi oleh Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 dan diundangkan Keppres No. 150/ 1959 (LN No. 75/1959) tetap sah dan berlaku bagi seluruh rakyat dan tumpah darah Indonesia. 3. Mengingat pada satu sisi Perubahan Pertama, Kedua, Ketiga dan Keempat Undang-Undang dasar Tahun 1945 tidak ditempatkan dalam Lembaran negara Republik Indonesia, dan pada sisi lain UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan pasal 3 ayat (2) berbunyi : “Undang-Undang
Memorandum tentang Perubahan UUD 1945 oleh MPR 1999-2002

277

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran negara Republik Indonesia”, dan ayat (3) berbunyi : “Penempatan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya”, yang di dalam penjelasannya berbunyi, Ayat (3) “Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.” Maka hal ini jelas merupakan skandal ketatanegaraan yang mengaburkan fungsi penempatan peraturan perundangan dalam Lembaran Negara. Di samping merusak sendi kenegaraan tentang azas pemisahan kekuasaan di mana MPR telah difungsikan sebagai lembaga yang memberlakukan peraturan perundangan. Diundangkannya Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 secara jelas telah melanggar azas hierarki demi pembenaran post factum perubahan UUD 1945. 4. Berhubung beredarnya barang cetakan berjudul Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam satu naskah, diterbitkan Mejelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Sekretariat Jenderal MPR RI, tahun 2005, yang isinya bertentangan dengan naskah asli UUD 1945, maka dengan ini kami meminta pihak berwajib untuk menarik barang cetakan tersebut dari peredaran untuk dimusnahkan. 5. Atas dasar pertimbangan tersebut diatas, maka bersama ini Kepada Presiden RI, MPR RI, DPR RI, Mahkamah Agung RI, kami meminta agar dalam tempo sesingkatsingkatnya untuk mengakhiri situasi hukum yang abnormal dengan menyatakan lagi berlakunya UUD 1945 dan menyatakan perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yang dilakukan MPR 1999-2004 tidak sah dan batal demi hukum. Kelalaian penyelengara negara dalam hal ini, membuka peluang bagi rakyat mengguna278
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

kan haknya untuk menyelamatkan konstitusi UUD 1945. Penandatangan Memorandum Tentang Perubahan UUD 1945 Oleh MPR 1999 – 2002
NAMA PARA PENANDATANGAN

Abdul Madjid Angg. MPR/DPR RI

H. A. Aryoso Angg. MPR/DPR RI

Sri Edi Swasono Angg. MPR S. Hartati Murdaya Angg. MPR

A.S.S Tambunan Mantan Angg. MPR/DPR RI Sadjarwo Sukardiman Angg. MPR/DPR RI

Prof. Dr. M. Ali, SH, Dip.Ed, M.Si Angg. MPR

H. Syahrul Azmir Matondang Angg. MPR/DPR RI

Bambang Pranoto Angg. MPR/DPR RI

Permadi Angg. MPR/DPR RI

Memorandum tentang Perubahan UUD 1945 oleh MPR 1999-2002

279

PERNYATAAN SIKAP KEMBALI KE UUD 1945
Kami yang bertanda tangan di bawah ini para mitra juang/komponen bangsa yang setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945, dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-62, dan sebagai tindak lanjut dari pernyataan kami tanggal 5 Juli 2007 yang telah disampaikan kepada pimpinan DPR-RI dan sudah diteruskan kepada Presiden Republik Indonesia; Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, apabila Presiden tidak mengambil keputusan terhadap materi Pernyataan tersebut, kami atas nama rakyat yang setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945 : MENYATAKAN MOSI TIDAK PERCAYA KEPADA PRESIDEN Semoga Tuhan yang Maha Kuasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, demi suksesnya perjuangan kembali ke UUD 1945 dan tercapainya cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Gedung Juang 45, Jakarta, 09 Agustus 2007 Atas nama rakyat yang setia Proklamasi 17 Agustus 1945

280

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

PENANDATANGAN PERNYATAAN SIKAP KEMBALI KE UUD 1945

Pernyataan Sikap Kembali ke UUD 1945

281

282

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

283

284

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

PERNYATAAN KOMPONEN BANGSA UNTUK KEMBALI KE UUD 1945
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Kami yang bertandatangan di bawah ini, sebagai eksponen bangsa baik perorangan maupun yang tergabung dalam berbagai organisasi, yang bercorak independen dan bersifat nasionalis, religius, profesional, humanis, populis/kerakyatan dalam berbagai aspek kehidupan bangsa, di bidang sosial ekonomi, dalam rangka memperingati kelahiran Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang ke-48, dengan ini menyatakan dengan khidmat, bahwa: 1. Cita-cita Proklamasi 1945, Pancasila, dan UUD 1945 sebagai Konstitusi yang ditetapkan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 18 Agustus 1945 dan dinyatakan berlaku kembali pada 5 Juli 1959 melalui Dekrit Presiden, sehingga Pancasila dan UUD 1945 merupakan hal yang sangat fundamental bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 2. Pancasila dan UUD 1945 yang pelaksanaannya telah dikhianati oleh elit-elit politik, bekerjasama dengan pihak asing yang membawa akibat sangat merugikan rakyat, menyusutkan kedaulatan negara dan memperlemah jati diri bangsa, tercermin dari kebijakan pementah mengembang-tumbuhkan liberalisme dan kapitalisme. 3. Empat kali amandemen yang dilakukan oleh MPR periode 1999-2004, selain melanggar hukum, karena tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan MPR sendiri, juga substansi dan filosofinya telah sangat menyimpang, tercermin dari Batang Tubuh UUD 1945 dirombak sedemikian rupa, sehingga bertentangan dengan Pembukaannya, menyebabkan terjadinya KRISIS KONSTITUSI. Apalagi tidak ada TAP MPR yang
Pernyataan Komponen Bangsa untuk Kembali ke UUD 1945

285

membatalkan atau mencabut UUD 1945 Dekrit Presiden 1959. 4. Krisis Konstitusi tersebut mengakibatkan Krisis Multi Dimensi yang meliputi Krisis Ketatanegaraan, Krisis Kepemimpinan, Krisis Moral, dan Krisis Budaya, yang keseluruhannya merugikan rakyat, bangsa dan negara. Atas dasar pertimbangan tersebut di atas, maka kami mendesak kepada Kepala Negara. agar dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mengatasi Krisis Konstitusi dengan memberlakukan kembali UUD 1945. Jakarta, 5 Juli 2007

286

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

PENANDATANGAN PERNYATAAN KOMPONEN BANGSA UNTUK KEMBALI KE UUD 1945

Pernyataan Komponen Bangsa untuk Kembali ke UUD 1945

287

288

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

289

290

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pernyataan Sikap Anggota MPR RI
A. Titik Tolak dan Sikap
1. MPR 1999-2004 telah gagal total mengamandemen UUD 1945. Dapat dikatakan demikian karena kebersamaan dengan ditetapkannya hasil amandemen termaksud melalui Rapat Paripurna Sidang Tahunan MPR tanggal 10 Agustus 2002, MPR juga membentuk Komisi Konstitusi. Komisi konstitusi ini bertugas melakukan pengkajian secara komprehensif dan penyempurnaan terhadap hasil amandemen. Dengan kata lain MPR mengakui bahwa hasil amandemen belum sempurna, namun UUD hasil amandemen telah diberlakukan, sehingga sekali lagi hasil amandemen oleh MPR merupakan suatu kegagalan dan sekaligus MPR tidak bertanggung-jawab. Dengan dibentuknya Komisi Konstitusi berarti MPR mengakui telah dan masih membuat kesalahan dalam melakukan amandemen. Dengan demikian posisi UUD yang masih mengandung ketidaksempurnaan kesalahan-kesalahan itu, seharusnya
Pernyataan Sikap Anggota MPR

291

tidak bisa ditetapkan sebagai berlaku sejak tanggal 10 Agustus 2002. Lagipula belum ditempatkan dalam Lembaran Negara. UUD yang masih harus diteliti dan disempurnakan semacam itu tidak memberikan akseptabilitas dan kepastian hukum, oleh karena itu seharusnya tidak boleh berlaku sampai benar-benar Komisi Konstitusi menghasilkan UUD yang bersifat permanen. Sementara itu, sambil menunggu hasil Komisi Konstitusi, seharusnya yang tetap berlaku adalah UUD 1945 asli. Sekarang ini bangsa Indonesia menyerahkan kepada Komisi Konstitusi suatu tanggungjawab yang sangat besar namun dengan wewenangnya yang terbatas. Bagaimana pun hasil ini juga patut kita syukuri mengingat anggota-anggota Komisi Konstitusi terdiri atas orang-orang terhormat yang memiliki intelektualisme tinggi. Oleh karena itu menjadi harapan bangsa Indonesia bahwa para anggota Komisi Konstitusi ini memegang teguh intellectual nobility-nya, sehingga dapat menggunakan kehormatan intelektualnya itu untuk mengoreksi penyelewengan oleh MPR dalam melakukan amandemen terhadap UUD 1945 asli. 2. UUD hasil amandemen MPR yang telah ditetapkan berlakunya tanggal 10 Agustus 2002 merupakan UUD hasil “amandemen kebablasan”. Mengapa dikatakan “amandemen kebablasan”, karena sebenarnya yang dilakukan bukanlah suatu amandemen, tetapi adalah perombakan dan perubahan UUD 1945 secara mendasar, yaitu yang mengubah sistem pemerintahan, memporak-porandakan makna demokrasi Indonesia dan ssistem konstitusi. Dengan amandemen yang kebablasan ini, maka MPR tidak lagi menjadi penjelmaan seluruh rakyat Indonesia sebagai wujud dari demokrasi khas Indonesia dan tidak lagi mencerminkan makna sosio demokrasi Indonesia, tetapi juga sekaligus MPR tidak lagi menjadi Lembaga Tertinggi Negara. (Patut diduga keras, peranan asing, khususnya NDI 292
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

yang mandate dan philosophy-nya adalah democratic value-nya American self-interest, telah mengaku berperan aktif atau bekerjasama dalam democratic reform yang menyangkut perpolitikan Indonesia, melalui anggotaanggota MPR, lembaga-lembaga tinggi perpolitikan, universitas-universitas, dan tak terkecuali dengan Departemen Dalam Negeri). Sebagai anggota-anggota MPR dan DPR dan sekaligus mewakili anggota-anggota MPR dan DPR yang menolak amandemen kebablasan tersebut, kami sekaligus menegaskan bahwa sikap anti amandemen kebabalasan tersebut ini tidak berarti anti amandemen. 3. Sebanyak 11 Fraksi MPR telah mencapai kesepakatan mengenai dasar-dasar melakukan amandemen UUD 1945, yaitu : (a). Tetap mempertahankan Pembukaan UUD 1945; (b). Tetap mempertahankan Negara Kesatuan RI; (c). Tetap mempertahankan sistem pemerintahan presidential; (d). Hal-hal yang normatif di dalam penjelasan akan dipindahkan ke dalam pasal-pasal UUD; (e). Perubahan dilakukan dengan cara addendum. Jika kita memperhatikan dengan seksama, maka kesepakatan butir 4 dan 5 itu telah dilanggar oleh MPR dan pelanggaran kedua butir ini menambah bobot kebablasannya hasil amandemen dan sekaligus hilangnya suatu keabsahan moral (hilangnya moral legitimacy) karena hilangnya suatu kesepakatan mulia. Pelanggaran kesepakatan tersebut berakibat antara lain Kesejahteraan Sosial (Bab XIV UUD 1945 asli) tereduksi makna mulianya sebagai filsafat dasar negara. 4. (a). Dalam Pemilu 1999 tidak ada partai-partai politik yang mengusulkan perubahan UUD 1945, semuanya
Pernyataan Sikap Anggota MPR

293

setuju UUD 1945 dan Pancasila dipertahankan (perkecualiannya hanya pada PUDI). (b). Pendapat Eksekutif tidak didengar oleh MPR dalam rangka musyawarah rutin ataupun tindakan awalnya, hal ini berarti MPR telah “jalan sendiri” dan mengabaikan partisipasi eksternal. (c). Kesalahan MPR dalam melakukan amandemen meliputi : - segi interprestasi pasal 37 UUD 1945 asli (dimana mengandung amanat agar kita berhati-hati merubah dan tidak gampang mengubah UUD 1945, tidak cukup hanya dengan suara terbanyak); - segi prosedural; - segi substansi; - segi moral legitimacy. (d). Para Anggota MPR melanggar sumpah jabatan mereka untuk memegang teguh Pancasila dan menegakkan UUD 1945.

B. Jalan Keluar
1. Melakukan koreksi total terhadap hasil amandemen. 2. Meminta pertanggungjawaban MPR terhadap kegagalan dan kesalahan yang dilakukan. Apabila pertanggungjawaban itu tidak dilakukan MPR perlu demisioner atau dibubarkan. 3. Secara khusus meminta pertanggungjawaban kepada para pimpinan MPR. Dengan dipisahkannya antara pimpinan DPR dengan pimpinan MPR. Dimaksudkan agar MPR dapat lebih berfungsi efektif untuk mengekspresikan diri sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, sebagai Lembaga Tertinggi Negara, sebagai locus dari kedaulatan rakyat Indonesia yang berdasar 294
Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

demokrasi khas Indonesia. Namun pimpinan MPR telah membiarkan peran MPR tersebut malah justru menyusut, sehingga MPR bukan lagi menjadi Lembaga Tertinggi Negara yang mewadahi kedaulatan rakyat sepenuh-penuhnya. Dengan demikian Pimpinan MPR bertanggungjawab dengan telah membiarkannya kedaulatan rakyat tidak jelas lagi locus-nya. Dengan dihilangkannya Utusan-utusan dari Golongan-golongan, maka tidak seluruh rakyat diwakili dalam MPR, karena perwakilan berdasarkan Pemilu oleh partai-partai sebagai kontestan, tidak identik perwakilan berdasarkan Golongan-golongan. Dengan demikian lengkaplah keporak-porandaan prinsip demokrasi Indonesia. 4. Mendorong dan mendukung sepenuhnya Komisi Konstitusi untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, untuk mengkoreksi total terhadap hasil amandemen UUD 1945 yang telah ditetapkan MPR itu. 5. Meminta kepada Komisi Konstitusi dengan segala intellectual nobility dan komitmennya terhadap Proklamasi Kemerdekaan dan masa depan Indonesia, untuk tidak membuat UUD baru. Namun Komisi Konstitusi diharapkan melakukan amandemen terhadap UUD 1945 dengan cara memberikan addendum, dalam pengertian: mempertegas makna kedaulatan rakyat Indonesia sesuai dengan Pancasila, memperjelas apa kiranya yang dapat diinterprestasikan secara keliru (menghindari multi interpretability), menambah hal-hal pokok yang tidak bisa diakomodasi oleh UU, dan memperbaharui apa yang usang (verouderd) agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Jakarta, 4 November 2003 Ttd.

Pernyataan Sikap Anggota MPR

295

296

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pernyataan Sikap Anggota MPR

297

298

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pernyataan Sikap Anggota MPR

299

300

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pernyataan Sikap Anggota MPR

301

302

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pernyataan Sikap Anggota MPR

303

304

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pernyataan Sikap Anggota MPR

305

306

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Pernyataan Sikap Anggota MPR

307

SIKAP POLITIK PARA ANGGOTA MPR YANG MENOLAK MASUKNYA DPD (DEWAN PERWAKILAN DAERAH) DALAM SISTEM DAN STRUKTUR KETATANEGARAAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 7 NOVEMBER 2001
Kami para anggota MPR lintas fraksi setelah mengikuti jalannya persidangan Komisi A ST MPR 2001 dengan cermat berpendapat bahwa: a. Ada usaha-usaha dengan sengaja untuk merubah system ketatanegaraan NKRI dengan cara mengintrodusir system bicameral dalam bentuk DPD (Dewan Perwakilan Daerah). b. Bahwa usaha tersebut diatas merupakan langkah yang bertentangan dengan prinsip dasar yang diatur oleh UUD 1945 sebagai negara unitaris yang hanya mengenal mono-kameral. c. Perombakan yang bertentangan dengan prinsip dasar demikian itu secara mendasar merusak keseluruhan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan negara. Sedangkan tugas MPR didalam Sidang Tahunan adalah untuk menyempurnakan UUD 1945 dalam rangka memperkukuh NKRI sesuai dengan tuntutan Reformasi – tidak untuk merombak UUD 1945 dan juga tidak untuk membentuk UUD baru. Untuk mengubah halhal yang sangat mendasar seperti mengubah sistem pemerintahan negara harus meminta izin lebih dahulu dari rakyat.

308

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

d. Berdasar alasan-alasan tersebut di atas, kami para anggota MPR Lintas Fraksi menyatakan menolak dan tidak bertanggungjawab atas usaha-usaha perombakan UUD 1945 seperti termaksud di atas.

Sikap Politik Anggota MPR

309

Bentuk-bentuk Putusan Majelis dan Perubahan Peraturan Tata Tertib
Periode MPR/MPRS 1960 - 1966 Peraturan Tata Tertib Sifat Pengaturan Bentuk Putusan Tap No. I/MPRS/1960 Tidak mengatur Ketetapan MPRS3 Tidak mengatur bentuk bentuk-bentuk 1 putusan putusan2 Perubahan Tap No. Idem dito I/MPRS/1960 Tidak mengatur bentuk putusan Ketetapan I/MPR/1973 MPR 1. Ketetapan MPRS 2. Keputusan MPRS 3. Resolusi4

1966 - 1973

1973-1978

1978-1983 1983-1988 1988-1993 1993-1998 1998-1999 1999-2004

Ketetapan MPR I/MPR/1978 Ketetapan MPR I/MPR/1983 Ketetapan MPR I/MPR/1988 Ketetapan MPR I/MPR/1993 Ketetapan MPR I/MPR/1998 1. Ketetapan MPR II/MPR/1999 2. Ketetapan MPR II/MPR/2000

No. Mengatur bentuk- 1. Ketetapan MPR, mengikat bentuk putusan ke dalam dan ke luar Majelis. 2. Keputusan MPR mengikat ke dalam majelis. No. Idem dito Idem dito No. Idem dito No. Idem dito No. Idem dito No. Idem dito No. Idem dito No. Idem ditto Idem dito Idem dito Idem dito Idem dito Idem dito 1. Perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar. 2. Ketetapan. 5 3. Keputusan. Idem ditto Idem ditto

3. Ketetapan MPR No. II/MPR/2003 4. Keputusan MPR Idem ditto No.7/MPR/2004 Sebagaimana telah diubah Idem ditto oleh Keputusan No. 13/MPR/ 2004

1 2 3

Almanak Lembaga-Lembaga Negara dan Kepartaian, Departemen Penerangan RI, Jakarta 1961 ibid Mengikat ke dalam dan ke luar Majelis (l ihat ringkasan Ketetapan MPRS-RI, MPRS-RI dan Departemen Penerangan RI, Jakarta, 1961) 4 Ketiga bentuk putus an mengi kat ke dal am dan ke luar Majelis (lihat has il SU MPRS IV, tahun 1966, Pradjna Parami tha, Jakarta 1971). 5 Keputusan sebagai Putusan Majelis tidak mengi kat ke luar Majelis

310

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Persidangan MPR tahun 2003 mengubah (lagi) Peraturan Tata tertib sebagaimana tertuang dalam TAP II/MPR/2003. Ketetapan sebgaimana tersebut, dalam Sidang MPR tanggal 26 September 2004 telah diubah formatnya menjadi Keputusan No.7/MPR/2004 sebagaimana telah diubah oleh Keputusan MPR No. 13/MPR/ 2004. Keputusan sebagai bentuk Putusan Majelis tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat ke luar Majelis. Maka bentuk Putusan Majelis berjudul Perubahan dan Penetapan Undang-Undang Dasar tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat seluruh rakyat dan tumpah darah Indonesia. Keputusan No. 7/MPR/2004 sebagaimana telah diubah oleh Keputusan No. 13/MPR/2004 tentang Peraturan Tata Tertib bukan format hukum pemberlakuan Undang-Undang Dasar. Apalagi MPR 19992004 menggunakan judul Perubahan Pertama, Perubahan Kedua, Perubahan Ketiga dan Perubahan Keempat yang tidak konsisten dengan Peraturan Tata Tertib Majelis yang diputuskannya sendiri (vide : Tap II?MPR/ 2000 yang diubah Tap II/MPR/2003 yang diubah Tus 7/MPR/2004) dimana judul bentuk Putusan Majelis yang digunakan adalah Perubahan Undang-Undang Dasar dan Penetapan, bukan Perubahan Pertama, Perubahan Kedua, Perubahan Ketiga, dan Perubahan Keempat. Situasi hukum yang abnormal semakin diperparah lagi dengan terbitnya buku Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Dalam Persandingan) disertai catatan oleh Forum Konstitusi – Perhimpunan Anggota Panitia Ad Hoc III (1999) dan Panitia Ad Hoc I (2000-2004) Badan Pekerja MPR RI – yang dalam bagian Catatan Atas Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain memuat pernyataan (No. 6) yang sangat brutal: Putusan MPR RI yang mengenai perubahan UUD 1945 mempunyai tingkatan yang sama dengan UUD 1945. Putusan perubahan UUD 1945 tidak diberi nomor
Bentuk-bentuk Putusan Majelis dan Perubahan Peraturan Tata Tertib

311

putusan oleh MPR RI. Hal ini berbeda dengan Ketetapan MPR RI yang diberi nomor dengan memakai angka romawi disertai tahun pembuatannya. Menurut ketetapan MPR RI No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan PerundangUndangan Republik Indonesia, bahwa dalam hierarki (tata urutan) perundang-undangan Republik Indonesia, Ketetapan MPR RI berada di bawah Undang-undang Dasar dan di atas Undang-Undang. Tap MPR RI No. III/MPR/2000 (maksudnya: Ketetapan MPR RI No. III/MPR/2000) tersebut sudah tidak berlaku lagi dan materi muatannya sudah ditampung dalam UU No. 10 Tahun 2004 (maksudnya: UU No. 10 Tahun 2004) tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dengan menghilangkan Ketetapan MPR. Oleh karena setelah Perubahan Keempat, tidak ada lagi kewenangan MPR mengeluarkan Ketetapan yang bersifat peraturan (regeling).

312

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Kronik Prosedur dan Mekanisme Pengumuman Pemberlakuan dan Pembatalan Konstitusi Republik Indonesia
Konstitusi
UUD 1945 (Tanpa Kata Keterangan Sementara)

Pengesahan/ Persetujuan
Persetujuan Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945

Pengumuman Pemberlakuan
Makloemat Pemerintah RI, 1 November 1945 : “Makloemat Politik” dalam Berita Repoeblik Indonesia Thn. I/No.1, 17 November 1945 dimuat ulang dalam Berita Repoeblik Indonesia Thn. II/No. 7, 15 Februari 1946.1 Keputusan Presiden RIS 31 Januari 1950 No. 48 (LN 50-3, 6 Februari 1950)4

Pembatalan/ Tidak Berlaku
Piagam Persetujuan Delegasi RI dan Delegasi BFO tanggal 29 Oktober 19492 yang membentuk Republik Indonesia Serikat. Maka wilayah hukum UUD 1945 hanya di negara (state) Republik Indonesia Ibukota Yogyakarta sebagai State Constitution sedangkan RIS adalah Federal Constitution. UUDS 1950 Pasal 1 : “Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat diubah menjadi UndangUndang Dasar Sementara Republik Indonesia, sehingga Naskahnya berbunyi sebagai berikut :

Keterangan
Makloemat adalah dokumen yang ditandatangani oleh Wakil Presiden Moh. Hatta yang disetujui BP KNIP. Makloemat dicantumkan langsung di bawah pengumuman tentang UUD, sedangkan Penjelasan ditempatkan di bawah Makloemat. UUD 1945 masih berlaku di negara (state) Republik Indonesia yang ibukotanya Yogyakarta dengan Acting Presiden Mr. Assaat dan Perdana Menteri Dr. Halim

Konstitusi Sementara RIS

UUD Sementara 1950

1. Piagam Persetujuan delegasi RI dan Delegasi BFO di Scheveningen dan Deg Haag, Belanda tanggal 29 Oktober 1949.3 2. Pasal 197 Konstitusi RIS : “Konstitusi ini berlaku pada saat pemulihan kedaulatan. Naskahnya diumumkan pada hari itu dengan keluhuran menurut cara yang akan ditentukan oleh pemerintah”. 1. Piaga m persetujuan Pemerintah RI – Pemerintah RIS tanggal 9 Mei 1950. 2. Persetujuan DPR RIS tanggal 14 Agustus 1950. 3. Persetujuan Rapat Gabungan DPR RIS dan Senat RIS

1. UU No. 7/1950, 15 Agustus 1950 (LN No. 56/1950)6 2. UUDS 1950 Bagian III Pasal 2 ayatt (1) : “Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia ini mulai berlaku pada

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang diundangkan Keppres No. 150/1959 (LN. No. 75/1959): “….dan tidak berlakunya lagi undangUndang Dasar Sementara.”

Dengan menyatunya negara (state) Republik Indonesia ibukota Yogyakarta ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka UUD 1945 tidak berlaku di seluruh tumpah darah Indonesia.

1 2 3 4

Marsilam Si manjunt ak, Pandangan Negara Integralist ik, Pust aka Utama Grafit i, Jakart a 1994. UUD 1945 masih berlaku di Negara (state) Republik Indonesia dengan Ibukota Yogyakarta. UUD RIS, Dua R, bandung, 1949. Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia (Civics), Depart emen P.P dan K, jakart a, 1960

Kronik Prosedur dan Mekanisme Pengumuman Pemberlakuan dan Pembatalan Konstitusi Republik Indonesia

313

Album

314

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

H. Amin Arjoso, SH saat masih aktif menjadi anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia. Tampak Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan.
Album

315

H. Amin Arjoso, SH sebagai advokat beraudiensi dengan Kapolri.

316

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Album

317

H. Amin Arjoso, SH memimpin delegasi DPR RI dalam kunjungan kerja ke Eropa.

318

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Amin Arjoso saat menunaikan ibadah haji.
Album

319

Amin Arjoso dan Aruan, dua sahabat karib sebagai advokat, saat mengikuti Fifth General Assembly of the ASEAN Law Associaction di Bali, Desember 1989.

320

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Foto Atas: H. Amin Arjoso, SH sebagai pimpinan Yayasan Kepada Bangsaku saat peluncuran buku Dr. H. Soebandrio. Tampak Amin Arjoso menyalami Ibu Soebandrio disaksikan Soebandrio (tengah). Foto Bawah: H. Amin Arjoso, SH memberi sambutan pada peluncuran buku “Meluruskan Sejarah Perjuangan Pembebasan Iran Barat” karya Dr. Soebandrio.

Album

321

H. Amin Arjoso, SH memberi cendera mata kepada mantan Gubernur Jawa Timur, M. Noer. Tampak Ridwan Saidi (kedua dari kanan) menyertai kunjungan Amin Arjoso ke Surabaya.

Amin Arjoso menghadiri peluncuran buku “Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer” karya Roso Daras, 2010.

322

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

323

Biodata

324

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

Nama Kelahiran Orangtua Istri Anak Pendidkan Organisasi

Pekerjaan

Perjuangan

Lain – lain

: Amin Arjoso : Jember, 14 Oktober 1937 : Ayah : Soewondo Soewardi Mintardjo Ibu : Aminah Anak kelima dari tujuh bersaudara : Dr. Soemarjati Arjoso SKM : 1. Yuli Widianarti 2. Azis Wira Andika : Mr/SH Th. 1961 Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung (1961) : 1. GMNI Th. 1957 – 1961 2. PNI Th. 1961 – 1967 3. PERADIN Th. 1977 – Sekarang 4. PDI-Perjuangan Th. 1996 : 1. Sekjen Grafika Th. 1961 – 1967 2. Pengacara Th. 1976 – Sekarang 3. Anggota DPR RI 1999 – 2004 : 1. Korban Orba, Tahanan Politik (1967-1975) 2. Memperjuangkan UUD 1945 asli mulai 2002 – sekarang : 1. Pimpinan Yayasan Kepada Bangsaku 2. Pendiri/Pemimpin Umum Tabloid Cita Cita 3. Tim Pembela Demokrasi Indonesia 4. Tim Pengacara Dr. Soebandrio (mantan Waperdam/Menlu Kabinet Dwikora) 5. Anggota Dewan Paripurna DHN ’45, 2006-2011 6. Ketua Pengawas Yayasan Universitas 17 Agustus 1945, 1998-Sekarang

325

326

Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ‘45

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->