LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOGNOSI

Disusun oleh: KELOMPOK 1 A 1. 2. 3. 4. SARTIKA NURUL LAYYIN HARIROH AYU FITRYANITA TRI AYU APRIYANI (G1F009001) (G1F009002) (G1F009003) (G1F009004)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2010 PERCOBAAN 1

PEMBUATAN SIMPLISIA

I.

Tujuan Percobaan Mampu membuat simplisia dengan kandungan zat berkhasiat tidak mengalami kerusakan dan dapat disimpan dalam waktu yang lama.

II.

Dasar Teori Obat tradisional bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum obat-obat kimia berkembang secara modern, nenek moyang kita umumnya menggunakan obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengatasi problem kesehatannya. Dari tumbuhan obat tersebut dapat dibuat berbagai produk yang sangat bermanfaat dalam menunjang industri obat tradisional, farmasi, makanan dan minuman. Ragam bentuk hasil olahannya, antara lain berupa simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi : 1. Simplisia nabati, yaitu simplisia yang berasal dari tanaman, dan kebanyakan simplisia berasal dari tanaman yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat (isi sel) tanaman. 2. Simplisia hewani, yaitu simplisia yang berasal dari hewan, dapat berupa madu, lemak atau bisa. 3. Simplisia pelikan (mineral), yaitu simplisia yang berasal dari mineral (Anonim,1985). Teknik pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut : 1. 2. Pengumpulan bahan baku Sortasi basah Penyortiran harus segera dilakukan setelah bahan selesai dipanen. 3. Pencucian Setelah disortir bahan harus segera dicuci sampai bersih. Pencucian harus menggunakan air bersih, seperti : air dari mata air, sumur atau PAM. 4. Perajangan Perajangan pada bahan dilakukan untuk mempermudah proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, penyulingan minyak atsiri dan penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan pada bahan yang

ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar rimpang, batang, buah dan lain-lain. 5. Penirisan dan Pengeringan Pengeringan bertujuan mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak sehingga dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama. Selain itu menghindari terurainya kandungan kimia karena pengaruh enzim. 6. Sortasi Kering Penyortiran dilakukan bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing yang terdapat pada simplisia, misalnya akar-akar, pasir, kotoran unggas atau benda asing lainnya. 7. Pengemasan Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah dikeringkan. Jenis kemasan yang di-gunakan dapat berupa plastik, kertas maupun karung goni. 8. 9. Penyimpanan Pengolahan Dalam pengolahan tanaman obat perlu diperhatikan teknik

pengolahan yang baik karena menyangkut standar mutu. Hal ini ada hubungannya dengan masalah kebersihan maupun bahan aktif. (Anonim 1985).

III.

Alat dan Bahan 1. Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah timbangan, pisau dapur, gunting, alumunium foil, tampah, plastik, label atau etiket dan kertas.

2.

Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini meliputi rimpang, daun, biji, buah, kulit buah, bunga, batang, dan ranting.

IV.

Cara Kerja 1. 2. Alat dan bahan disiapkan. Bahan baku simplisia yang telah disiapkan lalu ditimbang dengan seksama sebanyak kurang lebih 50 gram (catat beratnya).

3. 4. 5. 6.

Bahan baku simplisia ditempatkan diatas tampah/nampan. Dilakukan sortasi basah. Bahan baku simplisia dicuci. Bahan baku simplisia dirajang (rimpang, daun, herba), dikupas (buah, biji), dan dipotong (akar, batang, ranting).

7. 8.

Bahan baku simplisia ditempatkan kembali ke tampah. Dikeringkan dengan cara yang sesuai berdasarkan jenis bagian tanaman dan kandungan zat aktifnya.

9.

Dilakukan sortasi kering.

10. Ditimbang kembali dengan seksama. 11. Dicatat beratnya 12. Bahan baku simplisia dikepak dan dimasukkan kedalam kertas. 13. Disimpan. 14. Laporan dibuat.

V.

Hasil Bobot awal : 50 gram Bobot akhir : 4,6 gram    
Simplisia Bunga Sepatu (Hibiscus

Rosa Sinensis L)

Pada umumnya bahan (simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8-10%. Dengan jumlah kadar air tersebut kerusakanbahan dapat ditekan baik dalam pengolahan maupun waktu penyimpanan

VI.

Pembahasan Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelican (mineral). Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh,bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan tumbuhan liar (wild

tetapi bukan dengan tujuan untuk memproduksi simplisia. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya di hutan atau di tempat lain. Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi langsung.crop) tentu saja kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu ajeg (konstan) karena disadari adanya variable bibit. 3. tanaman obat dapat berupa tumbuhan liar atau berupa tumbuhan budidaya. serta aturan penstabilan (wadah. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab terhadap respon s biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia. atau tanaman yang sengaja ditanam dengan tujuan lain. penyimpanan dan transportasi). Dasar Pembuatan 1) Simplisia Dibuat dengan Cara Pengeringan . tempat tumbuh. dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk menyusun parameter standar mutu yaitu sebagai berikut : 1. Bahan Baku Sebagai sumber simplisia. Variabel tersebut juga dapat dikompensasi dengan penambahan/pengurangan bahan setelah sedikit prosedur analisis kimia dan sentuhan inovasi teknologi farmasi lanjutan sehingga tidak berdampak banyak pada khasiat produksi. kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis). yaitu Quality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat). serta proses pascapanen dan preparasi akhir. Usaha untuk menjaga variabel tersebut dianggap sebagai usaha untuk menjaga mutu simplisia. Pembuatan Simplisia a. kondisi (umum dan cara) panen. yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan (Anonim. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material). Walaupun ada juga yang berpendapat bahwa variable tersebut tidak berakibat besar pada mutu ekstrak nantinya. yaitu kebenaran jenis (identifikasi). iklim. b. Tanaman budidaya adalah tanaman tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan produksi simplisia. 2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk kefarmasian lainnya. misalnya sebagai tanaman hias. tanaman pagar. 2000) 1.

logam berat. dan sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. 2) Simplisia Dibuat dengan Proses Fermentasi Proses fermentasi dilakukan dengan saksama agar proses tersebut tidak berkelanjutan kearah yang tidak diinginkan. Untuk mencegah hal tersebut. 3) Simplisia Dibuat dengan Proses Khusus Pembuatan simplisia dengan cara penyulingan. Pengeringan dengan waktu lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang. kuman patogen. Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlalu tinggi akan mengakibatkan perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. tetapi pada suhu yang tidak terlalu tinggi. talk. pengeringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa simplisia yang dihasilkan harus memiliki mutu sesuai dengan persyaratan. Pengumpulan Bahan Baku Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda beda antara lain tergantung pada : 1) Bagian tanaman yang digunakan 2) Umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen 3) Waktu panen 4) Lingkungan tempat tumbuh Waktu panen sangat erat hubunganya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian tanaman yang akan dipanen. pengentalan eksudat nabati. bahan simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur perajangannya sehingga diperoleh tebal irisan yang pada pengeringannya tidak mengalami kerusakan. dan lain-lain (Anonim. Air yang digunakan harus bebas dari pencemaran racun serangga. Tahap Pembuatan a.1985) 2. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. 4) Simplisia pada Proses Pembuatan Memerlukan Air Pati. Senyawa aktif tersebut .Pembuatan simplisia dengan cara ini pengeringannya dilakukan dengan cepat.

Kayu Dari batang atau cabang. atau . Daun Tua atau muda (daerah pucuk). Buah Biji Masak. pisau. 8.secara maksimal di dalam bagian tanaman atau tanaman pada umur tertentu. dipotongpotong dengan ukuran tertentu. dipetik dengan tangan satu persatu. Tabel 1. 1. dipotong melintang dengan ketebalan tertentu 9. dikupas kulit buahnya dengan mengupas menggunakan tangan. hampir masak. dipetik dengan tangan (mengandung daun muda dan bunga). Bunga Kuncup atau bunga mekar atau mahkota bunga. 2. atau daun bunga. 5. Pucuk Pucuk berbunga. Tanaman Kulit batang Cara pengambilan Dari batang utama dan cabang. dibersihkan dari akar. Di samping waktu panen yang dikaitkan dengan umur. dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu. Cara pengambilan bagian tanaman untuk pembuatan simplisia dapat dilihat pada tabel 1. untuk kulit batang mengandung minyak atsiri atau golongan senyawa fenol digunakan alat pengelupas bukan logam. dipetik dengan tangan Buah dipetik. Bagian Tanaman dan Cara Pengumpulan Bagian No. dipotong kecil atau diserut (disugu) setelah dikelupas kulitnya. dipotong-potong dengan panjang tertentu dan dengan diameter cabang tertentu 3. Akar Dari bawah permukaan tanah. Rimpang Dicabut. perlu diperhatikan pula saat panen dalam sehari. Batang Dari cabang. dipetik dengan tangan. 7. 10. Dengan demikian untuk menentukan waktu panen dalam sehari perlu dipertimbangkan stabilitas kimia dan fisik senyawa aktif dalam simplisia terhadap panas sinar matahari. 4. 6.

daun. batang. 12. air dari sumuratau air PAM. b. dicuci. Sortasi Basah Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainya dari bahan simplisia sehingga tidak ikut terbawa pada proses selanjutnya yang akan mempengaruhi hasil akhir. bulbus dipisah dari daun dan akar dengan memotongnya. Pencucian dilakukan dengan air bersih.. Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan Perajangan tidak harus selalu dilakukan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan. rumput. Pencucian Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainya yang melekat pada bahan simplisia. Penyikatan diperbolehkan karena bahan yang berasal dari rimpang pada umumnya terdapat banyak lekukan sehingga perlu dibantu dengan sikat. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat. Pada dasarnya proses ini untuk mempermudah proses pengeringan. bahan-bahan seperti tanah. serta pengotor lainya harus dibuang. kulit buah dikumpulkan dan dicuci. Kulit buah Seperti biji. pengepakan dan penggilingan. misalnya air dari mata air. 11. kerikil. Perendaman tidak boleh terlalu lama karena zat-zat tertentu yang terdapat dalam bahan dapat larut dalam air sehingga mutu bahan menurun. biji dikupas dan dicuci. maka proses ini dapat diabaikan. d. Jika ukuran simplisia cukup kecil/tipis. Tetapi untuk bahan yang berupa daun-daunan cukup dicuci dibak pencucian sampai bersih dan jangan sampai direndam berlama-lama. Cara pencucian pada simplisia rimpang dapat dilakukan dengan cara merendam sambil disikat menggunakan sikat yang halus. Tanaman yang baru diambil jangan . akar yang telah rusak.menggilas. c. Bulbus Tanaman dicabut.

langsung dirajang tetapi dijemur dengan keadaan utuh selama 1 hari. Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan tujuan penggunaan pengemasaan. cara sortasi dan pemeriksaan mutu. Pengeringan alami dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari baik secara langsung maupun ditutupi dengan kain hitam. Pengeringan Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak. Sortasi kering Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. persyaratan gudang simplisia. e. sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotr-pengotor lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering. Dengan menurunkan kadar air hal tersebut dapat menurunkan reaksi enzimatik sehingga dapat di cegah terjadinya penurunan mutu atau pengrusakan simplisia. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau. Suhu pengeringan bergantung pada simplisia dan cara pengeringan. f. Sedangkan pengeringan secara buatan dilakukan dengan oven. g. dengan alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki. dapat melindungi dari kemungkinan kerusakan simplisia. serta cara pengawetanya. Bahan dan bentuk pengemasan harus sesuai. pembungkusan dan pewadahan. Pengepakan dan penyimpanan Pada penyimpaan simplisia perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat mengakibatkan kerusakan simplisia. yaitu cara pengepakan. Pengeringan dapat dilakukan antara suhu 30-900 C. dan dengan memperhatikan segi pemanfaatan ruang untuk keperluan . yaitu pengeringan secara alami dan secara buatan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara. Penyebab kerusakan pada simplisia yang utama adalah air dan kelembaban.

Penjelasan lebih lanjut mengenai parameter standardisasi simplisia sebagai berikut: a. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia seperti yang disebutkan dalam Buku Farmakope Indonesia.1985). 3. Jika belum diolah bahan dapat dikemas dengan menggunakan jala plastik. Pemeriksaan Mutu Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian dari pengumpul atau pedagang simplisia. tidak beracun.Sedangka penyimpanan simplisia sebaiknya di tempat yang kelembabannya rendah.(Anonim. bagian tanaman yang digunakan.pengangkutan maupun penyimpananya. nama/alamat penghasil dan berat bersih. Kontrol kualitas merupakan parameter yang digunakan dalam proses standarisai suatu simplisia .Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk ruang penyimpanan. tidak bocor. kelembaban udara serendah mungkin 65% dan gudang bebas dari hewan. Pengepakan simplisia dapat menggunakan wadah yang inert. Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik dilakukan dengan menggunakan indera manusia dengan memeriksa kemurnian dan mutu simplisia dengan mengamati bentuk . Pada kemasan jangan lupa beri label dan cantumkan nama bahan. Parameter standardisasi simplisia meliputi parameter non spesifik dan spesifik. yaitu gudang harus bersih. suhu gudang maksimal 30°C. Parameter nonspesifik lebih terkait dengan factor lingkungan dalam pembuatan simplisia sedangkan parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang ada di dalam tanaman. dan terlindung dari gangguan serangga maupun tikus. serangga maupun tikus dll. Kebenaran Simplisia Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan dengan cara organoleptik. terlindung dari sinar matahari. melindungi simplisia dari cemaran serta mencegah adanya kerusakan. no/kode produksi. Ekstra Farmakope Indonesia ataupum Materia Medika Indonesia Edisi terakhir. kertas maupun karung goni yang terbuat dari bahan yang tidak berracun/tidak bereaksi dengan bahan yang disimpan. makroskopik dan mikroskopik. ventilasi udara cukup baik.

meliputi uji terkait dengan pencemaran yang disebabkan oleh pestisida. jamur. aflatoxin. Jumlah kadar abu maksimal yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi. dll. b. Sebaiknya pemeriksaan mutu organoleptik dilanjutkan dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk menegaskan keaslian simplisia.    Tinggi rendahnya kadar abu didipengaruhi oleh : a) cemaran logam b) cemaran tanah 2) Penetapan susut pengeringan Susut menghilang pengeringan selama adalah persentase pemanasan senyawa (tidak yang hanya proses menggambarkan air yang hilang. susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air. seperti pisau yang digunakan telah berkarat).Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105°C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri). Parameter non spesifik. 1) Penetapan kadar abu Penentuan kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai diperoleh simplisia dan ekstrak baik yang berasal dari tanaman secara alami maupun kontaminan selama proses.dan ciri-ciri luar serta warna dan bau simplisia. tetapi juga senyawa menguap lain yang hilang).  Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap. Prinsip penentuan kadar abu ini yaitu sejumlah bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik yang tersisa. logam berat. yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmosfer    .

1995). Metode ini juga perlu pengamatan titik akhir titrasi yang bersifat relatif dan diperlukan sistem yang terbebas dari kelembaban udara (Anonim. Dengan demikian. Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : a) Metode Titrimetri Metode ini berdasarkan atas reaksi secra kuantitatif air dengan larutan anhidrat belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan ion hidrogen. . 1995). 3) Kadar air Tujuan dari penetapan kadar air adalah untuk mengetahui batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan.Kelemahan metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak tepat dan reprodusibilitas bergantung pada beberapa faktor seperti kadar relatif komponen pereaksi. penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Sistem yang digunakan tertutup dan tidak dipengaruhi oleh kelembaban (Anonim. 1995).dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.        c) Metode Gravimetri Dengan menghitung susut pengeringan hingga tercapai bobot tetap(Anonim. b) Metode Azeotropi ( Destilasi Toluena) Metode ini efektif untuk penetapan kadar air karena terjadi penyulingan berulang kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah adanya penguapan berlebih. sifat pelarut inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang digunakan pada penetapan tertentu. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%.

3. Kembang Sepatu berupa perdu tegak. untuk mengetahui jumlah mikroba/ bakteri dalam sampel. Penetapan dengan destilasi air dapat dilakukan karena minyak atsiri tidak dapat bercampur dengan air. untuk mengetahi cemaran aflatoksin yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus. 4. tempat tumbuh di daerah dataran rendah atau dataran tinggi / pegunungan.      5) Uji cemaran mikroba 2. Parameter Spesifik Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari simplisia. Uji angka kapang. Most probably number (MPN). untuk mengetahui seberapa banyak cemaran bakteri coliform (bakteri yang hidup di saluran pencernaan). untuk mengetahui adanya cemaran kapang. Bunga kembang sepatu digunakan dalam pembuatan simplisia.Uji kandungan kimia simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan senyawa tertentu dari simplisia. Uji aflatoksin. sehingga batas antara minyak dan air dapat terlihat dan diukur berapa banyak kadar minyak atsiri yang ada pada simplisia tersebut. 5.4) Kadar Minyak Atsiri Tujuan dari penetapan kadar minyak atsiri adalah untuk mengukur berapa banyak kadar minyak atsiri yang terdapat dalam simplisia. tinggi bisa mencapai 1-4 meter. Biasanya dilkukan dengan analisis kromatografi lapis tipis. Kembang sepatu biasa ditanam dipekarangan rumah yang berfungsi sebagai tanaman hias atau sebagai tanaman pagar. Uji angka lempeng total. Batasan angka lempeng total yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan yaitu 10^4 CFU/ gram. bercabang. Simplisia yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu Kembang Sepatu yang mempunyai nama ilmiah Hibiscus Rosa Sinensis L. Batasan angka lempeng total yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan yaitu 10^6 CFU/ gram. Bunga kembang sepatu berbentuk lonceng dengan tangkai . c.

kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. atau campuran.litbang. dan menormalkan siklus haid. merah jambu. Kesimpulan Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat. merah tua. 1985. keamanan maupun kegunaan simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. kecuali dipergunakan sebagai bahan obat. Bunganya sering digunakan untuk pengobatan batuk. VII. Kegunaannya. peluruh dahak. http://digilib. nabati. Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif. ungu.php?id=jkpkbppk-gdl-res-2000-drs1263-simplisia.depkes. Ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain bahan baku simplisia. cara pengepakan simplisia. kuning. 2000. Anonim. anti viral. ke bawah. disentri. Daunnya juga digunakan untuk obat bisul. . gondongan dan mimisan. Simplisia. Daftar Pustaka Anonim. Anonim. Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar bunga. Bunga dari berbagai jenis kultivar dan hibrida biasanya berupa bunga tunggal (daun mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis). atau menghadap ke samping. Mahkota bunganya dapat berwarna putih. baik yang masih segar atau yang telah dikeringkan mempunyai efek farmakologis sebagai obat anti radang. 1995. Simplisia terdiri dari simplsiia dikeringkan. hewani dan mineral. Bunga bisa mekar menghadap ke atas. Cara Pembuatan Simplisia. hewani dan mineral. Simplisia terdiri dari simplsiia nabati. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.id/go. proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia. Diakses 15 Mei 2010. infeksi saluran kencing dan haid tidak teratur. hingga 20 cm. Bunga berbentuk terompet dengan diameter bunga sekitar 5 cm. Bunganya berukuran besar dan tidak berbau. peluruh kencing. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia edisi IV. Kandungan bunga sepatu berupa flavonoida dan polifenol. mimisan. radang kulit.sari panjang.go. VIII.

http://toiusd. http://agribisnis. 2009. Diakses 15 Juni 2010. Diakses tanggal 13 Mei 2010.deptan.com/journal/item/62/Hibiscus_rosa-sinensis.Anonim. Siskhana. 2010.com/2010/01/pembuatan-dan-penetapankontrol.blogspot. Diakses 15 Mei 2010. http://siskhana.html. Pembuatan dan Penetapan Kontrol Kualitas Simplisia. . Anonim. http://tanamanobat. 2002.com/2009/09/teknologi-penyiapansimplisia. Kembang Sepatu. 2006.go.blogspot. 2004. Anonim. http://prezz507.id//.org/396/kembang-sepatu/.html. Hibiscus rosa sinensis. Diakses 15 Mei 2010 Anonim. Diakses 15 Juni 2010. Simplisia.multiply. Teknologi Pembuatan Simplisia.

2. dan bermanfaat. biologi. berguna/ berkhasiat dan obat/ sediaan selalu tetap mutunya. II. mutu dalam artian memenuhi syarat standar (kimia. Genetik (bibit) Lingkungan ( tempat tumbuh. Usaha menjaga keajegan mutu simplisia harus dilakukan control terhadap : 1. EFI. Tujuannya menjamin bahwa produk akhir (obat. 3. Mampu membedakan simplisia secara makroskopik (bentuk. perlakuan selama masa tumbuh) Panen (waktu dan pasca panen ) Syarat daripemeriksaan mutu simplisia yaitu : 1. MMI ) .ukuran. Dasar Teori Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat. Pemeriksaan mutu bertujuan agar simplisia memenuhi syarat FI. aman. Kontrol kualitas merupakan parameter yang digunakan dalam proses standarisasi suatu simplisia. EFI. Serangkaian parameter. dan farmasi). atau produk ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan (ajeg) menjadi bahan obat yang berkualitas. aman. iklim) Rekayasa agronomi (pemupukan. dan rasa). Simplisia yang akan dipergunakan untuk obat sebagai bahan baku harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam monografi Materia Medika Indonesia dan Farmakope Indonesia. ORGANOLEPTIK.ekstrak. Tujuan Percobaan 1. Bermaksud agar adanya keseragaman komponen aktif. Dapat melakukan standarisasi mutu dengan menentukan kadar air simplisia.PERCOBAAN 2 PERCOBAAN 2 PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK. MMI dan buku resmi yang disetujui pemerintah. Simplisia harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari buku-buku resmi Depkes RI ( FI. bau. DAN KADAR AIR I.kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.dan keadaan fisik lain yang spesifik) dan organoleptik (warna. prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma mutu kefarmasian.kecuali dipergunakan sebagai bahan obat. 4. 2.

2. sedangkan parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang ada dalam tanaman ( Anonim. ukuran dan warna simplisia uji. Simplisia dinilai culup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10 % (Anonim. Harus dilakukan pemeriksaan mutu fisis secara tepat (kadar air. penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. 1995 ) . untuk mengetahui kekhususan baud an rasa simplisia. Pemeriksaan Organoleptik Pemeriksaan organoleptik dilakukan dengan menggunakan panca indera. 4. Tersedianya contoh simplisia pembanding yang diperbaharui secara periodik. Parameter nonspesifik meliputi uji yang terkait dengan pencemaran yang disebabkan oleh pestisida. Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan tiga cara. Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. logam berat.2. Pemeriksaan lengkap ( Organoleptik. Parameter nonspesifik lebih terkait dengan faktor lingkungan dalam pembuatan simplisia. dan lain-lain. 2009 ). makroskopik. Pemeriksaan Makroskopik Pemeriksaan makroskopik biasanya menggunakan kaca pembesar atau dengan mata telanjang. 1. termakan serangga atau hewan lain. Tujuan dari penetapan kadar air adalah untuk mengetahui batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air didalam bahan.dan mikroskopik. Dengan demikian. alfatoksin. Tetapi disini hanya akan dijelaskan mengenai kadar air. 5. Beberapa penjelasan mengenai parameter spesifik misalnya . dilakukan untuk mencari kekhususan morfologi. Metode Titrimetri Metode ini berdasarkan atas reaksi secara kuantitatif air dengan larutan anhidrat belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan ion hydrogen. jamur. Kelemahan metode ini yaitu stoikiometri . yaitu : 1. 3. perubahan warna /bau). ada tidaknya pertumbuhan kapang / jamur . Parameter standart simplisia meliputi parameter non spesifik dan spesifik. pemeriksaan kimiawi fisika dan uji biologi ).

b.reaksi tidak tepat dan reprodusibilitas bergantung pada beberapa factor seperti kadar relative komponen pereaksi. System yang digunakan tertutup dan tidak dipengaruhi oleh kelembabankadar air. sifat pelarut inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang digunakan pada penetapan tertentu. 2. 2. Pemeriksaan Makroskopik a. III. Alat Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu adalah penggaris. Simplisia yang telah dibuat pada percobaan I disiapkan. Alat dan Bahan 1. Metode ini juga perlu pengamatan titik akhir titrasi yang bersifat relatif dan diperlukan system yang terbebas dari kelembaban udara ( Anonim. Cara Kerja 1. dan dilakukan pengukuran terhadap simplisia tersebut. Metode Azeotropi Metode ini efektif untuk menetapkan kadar air karena penyulingan berulang kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah adanya penguapan berlabihan. Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah simplisia yang telah dibuat pada percobaan 1. 2009). Hasilnya dicatat dalam tabel laporan percobaan II 2. Pemeriksaan Organoleptik . 3. IV. 1995). neraca. oven dan nampan. Metode Grafimetri Dengan menghitung susut pengeringan hingga tercapai bobot tetap (Anonim. Simplisia diamati warna dan bentuknya. c.

8 gr Bobot akhir = 4 gr         . b. V. 3. Simplisia yang telah disiapkan diperiksa dengan membau dan merasakan dengan lidah. Pengeringan dilanjutkan dan ditimbang pada jarak 1 jam sampai perbedaan antara dua penimbang berturut-turut tidak lebih dari 0. 3. Dikeringkan pada suhu 105ÛC selama 5 jam.5 cm : lonjong membulat : bergelombang Tepi mahkota bunga Ujung mahkota bunga : membulat Gambar mahkota bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L. b. Uji Kadar Air a. dimasukkan ke dalam chamber.a. Hasil 1.5 cm Lebar Bentuk : 2.) 2. Rasa Bau : sepat : menyengat Warna : kecoklatan kecuali di bagian pangkal berwarna ungu. c. Pemeriksaan Makroskopik Panjang : 6. Sebanyak 10 g ekstrak yang telah disiapkan dan ditimbang dalam wadah yang telah ditara.25 %. Pemeriksaan Kadar Air Bobot awal = 4. Pemeriksaan Organoleptik a. c. dan ditimbang. b. Hasilnya dicatat dalam tabel laporan percobaan II.

aman.biologi. mikroskopik. 4. agar menghasilkan bahan obat yang berkualitas . 4. makroskopik. yaitu : 1. dan Materia Medika Indonesia (MMI). 3. Untuk memenuhi persyaratan umum tersebut harus dilakukan pemeriksaan mutu fisis secara tepat. meliputi pemeriksaan organoleptik. Pembahasan Kebanyakan simplisia adalah berasal dari tumbuh-tumbuhan atau disebut dengan simplisia nabati. seperti Farmakope Indonesia. 2. Kebenaran jenis (identifikasi) Kemurnian (bebas kontaminasi kimia & biologi) Stabilitas (wadah. 3. Simplisia harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari bukubuku resmi Departmen Kesehatan RI. mutu dalam artian memenuhi syarat standart (kimia. 2.VI. serangga & binatang lainnya maupun kotoran hewan. Tujuan dari standarisasi yaitu untuk menjamin bahwa produk akhir (obat. perlu juga dilakukan pemeriksaan secara lengkap. yaitu : 1. penyimpanan. dan uji biologi. Beberapa persyaratan simplisia yang terdapat pada Farmakope Indonesia yaitu : 1. pemeriksaan kimiawi ± fisika. dan bermanfaat. prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigm mutu kefarmasian. ekstrak atau produk ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan (ajeg). Standarisasi (secara kefarmasian) adalah serangkaian parameter. transportasi) a. Tidak boleh mengandung organisme pathogen. Ekstra Farmakope Indonesia. 2. Trilogy produk kefermasian : Quality-Safety-Efficacy Spesifikasi kimia : komposisi (jenis & kadar) senyawa. . b. 3. Tidak boleh ada penyimpangan bau & warna. Harus bebas dari cemaran mikroorganisme. Kurang kering atau mengandung air Termakan serangga atau hewan lain Ada atau tidak pertumbuhan kapang Perubahan warna atau bau Selain itu. dan farmasi). Tidak boleh mengandung lender atau menunjukkan adanya kerusakan. Simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap konsumsi langsung harus memenuhi parameter mutu bahan.

5 cm. Simplisia dinilai culup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%. kecuali dinyatakan lain.ukuran dan warna simplisia. bentuk lonjong membulat. Hasil ini hamper sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa Bunga Hibiscus rosa-sinensis L. Pemeriksaan makroskopik. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10% (Anonim. sehingga udara di dalam wadah simplisia tersebut menjadi lembab dan kadar air simplisia kembali naik. Setiap simplisia mempunyai karakteristik dan sifat spesifik yang berbedabeda mencakup morfologi serta bau dan rasanya. Penetapan kadar air diperlukan untuk mengetahui batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air didalam bahan.5. Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. tepi mahkota bunga bergelombang. VII. aman. Bermaksud agar adanya keseragaman komponen aktif. .1985).) untuk mencari kekhususan morfologi .2009). Pada percobaan yang telah dilakukan mendapatkan hasil . panjang 6. Kesimpulan 1. dilakukan dengan mata telanjang mengamati keadaan morfologi dari simplisia uji yaitu daun kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis L. 2. rasa sepat. Kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak boleh lebih dari 2%.5 cm. Ketika pengepakan atau penyimpanan kurang teliti dan hati-hati. mendapatkan hasil. sehingga kandungan air di dalam bahan tidak menguap dengan maksimal. Pemeriksaan mutu bertujuan agar simplisia memenuhi syarat FI. bau menyengat. lebar 2. Waktu yang digunakan untuk pengeringan kurang lama. EFI. Sedangkan pada pemeriksaan organoleptik yang telah dilakukan. berguna/ berkhasiat dan obat/ sediaan selalu tetap mutunya 3. berbentuk terompet dengan diameter bunga sekitar 5 cm (Anonim. Hasil dari percobaan uji kadar air yang dilakukan tidak sesuai dengan pustaka yang ada. 2. beberapa faktor yang menyebabkan hal ini diantaranya yaitu : 1. Dengan demikian penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. MMI dan buku resmi yang disetujui pemerintah. warna kecoklatan kecuali daerah pangkalnya. dan ujung mahkota bunga membulat.

blogspot. 1995.blogspot. Diakses 15 Mei 2010. Teknologi Pembuatan Simplisia. Bayu. Teknologi Pengolahan Simplisia Hingga Menjadi Suatu Produk Farmasi.blogspot.html. http://prezz507.VIII. 2009. 2010. Anonim. Diakses tanggal 13 Mei 2010. Cara Pembuatan Simplisia. Pembuatan dan Penetapan Kontrol Kualitas Simplisia.com/2010/02/teknologi-pengolahansimplisia-hingga. Farmakope Indonesia Edisi IV. Diakses tanggal 13 Mei 2010. http://siskhana. . Siskhana.html. Anonim. 2010. 1985. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.com/2009/09/teknologi-penyiapansimplisia. Daftar Pustaka Anonim. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. http://lembarabangbayu.html. Abang.com/2010/01/pembuatan-dan-penetapankontrol.

PERCOBAAN 3 PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK BAHAN NABATI I. batang. pembuluh (pembuluh kayu dan pembuluh tapis) dan kambium pada tumbuhan dikotil. yaitu : 1. Anatomi tumbuhan biasanya di bagi menjadi tiga bagian berdasarkan hierarki dalam kehidupan. Organologi Organologi mengkaji bagaimana struktur dan fungsi suatu organ. termasuk tumbuhan tersusun atas organ-organ yang dibuntuk oleh jaringan. Permukaan seringkali terlindung oleh lapisan gabus tipis. kelenjar minyak. sel batu. yaitu bagian terkecil dari suatu organisme. epidermis. . parenkim. kristal Ca-oksalat. Bagiaan ujung akar memiliki jaringan tambahan yaitu tudung akar.1986). terhadap fragmen pengenal antara lain stomata. Akar Akar tersusun dari jaringan-jaringan seperti. kayu. Tujuan Percobaan 1. Mampu mengidentifikasi simplisia dengan menggunakan mikroskop serta meyebutkan ciri khas simpleks yang diperiksa (setelah melakukan praktikum) II. lapisan gabus. Sedangakan jaringan disusun oleh sel. daun. buanga. Pada praktikum kali ini akan akan dilakukan pemeriksaan mikroskopik dari simplisia. Mengetahui anatomi (irisan melintang dan membujur) bagian tumbuhan (akar. Ujung akar juga diselimuti oleh lapisan mirip lender yang disebut misel yang berperan penting dalanm perrtukaran hara serta interaksi dengan organism (mikroba) lain. Berikut adalah jaringan-jaringan dasar yang menyusun tiga organ pokok tumbuhan : a. buah dan biji) termasuk isi sel yang memiliki bentuk tertentu (sebelum melakukan praktikum) 2. Dasar Teori Seperti yang kita ketahui setiap makhluk hidup. endodermis. kelenjar rambut dan berkas pengangkut (Anonim.

3. sklerenkim (jaringan penyokong). kayu. floem (jaringan pembuluh/pengangkut). endodermis. kodo (jaringan pelindung). parnkim. fungsi dan sifat-sifat yang sama. Batang tersusun dari jaringan berikut. Helai daun sendiri memiliki urat daun yang tidak lain adalah kelanjutan dari jaringan penyusun batang yang berfungsi menyalurkan hara atau produk fotosintesis. Helai daun sendiri tersusun dari jaringan-jaringan dasar berikut: epidermis. parenkim (jaringan dasar). Jaringan adalah sekumpulan sel yang mempunyai bentuk. Sitologi Sitologi mengkaji fungsi berbagai sel dan organel-organel khas pendukung fungsi tersebut (Campbell. jaringan pembuluh dan cambium pada yumbuhan dikotil. jaringan bunga karang dan jaringan pembuluh. baik di batang utama. Struktur ini tidak bayak berubah. c.b. Secara garis besar jaringan dibedakan sebagai berikut : . jaringan tiang. cabang.Jaringan penyusun tumbuhan antara lain. maupun ranting. Permukaan batang berkayu atau tumbuhan berupa pohon seringkali dilindungi oleh lapisan gabus (suber) dan kutikula yang berminyak (hidrofobik). Histologi Histologi tumbuhan mengkaji jenis-jenis sel (berdasarkan bentuk dan fungsi) yang menyusun suatu jaringan.1999). ataupun tetesan air hujan. Daun Daun lengkap terdiri dari pelepah daun. xilem (jaringan pembuluh/pengangkut). Jaringan kayu pada batang dikotil atau monokotil tertentu dapat mengalami proses lignifikasi yang sangat lanjut sehingga kayu menjadi sangat keras. kolenkim (jaringan penyokong). 2. Batang Susunan batang tidak banyak berbeda dengan akar.Permukaan epidermis seringkali terlapisi oleh kutikula atau rambut halus (pilus) untuk melindungi daun dari serangga pemangsa. spora jamur. yaitu epidermis. tangkai daun serta helai daun.

8. : sistem jaringan pengangkut primer. 2. c) Diasitik. ukuranya sama. jumlah sel tetangga tiga atau lebih. terdiri dari felem (kearah dalam) dan feloderm (kearah luar). sel tetangga berbentuk pipih dan mengelilingi stomata dalam susunan berbentuk lingkaran. rambutnya bersekresi tipenya : y Asteraceae. jumlah sel tetangga dua. e) Aktinositik. bidang perskutuaan segaris dengan celah stomata. Jaringan muda primer berkembang dari protomeristem berbentuk: 1) Protoderm 2) Prokambium 3) Meristerm dasar b. terdiri dari satu sel pangkal yang lebar. terdiri dari satu deret sel tangkai dan dua baris sel kelenjar. jaringan dewasa yang meristemsatis lagi .1. 12 atau lebih sel. d) Parasitik. ada 6 tipe yaitu : a) Anomositik. 2) Trikoma. merupakan jaringan terluar yang melindungi organ dalam. satu sel jelas lebih kecil dari sel lainya. satu sama lain sukar dibedakan. 1) Kambium 2) Kambium gabus (felogen). y Labiataea. Jaringan pelindung (epidermis). ada 2 macam. yaitu : a) Non glanduler (tidak berkelenjar). b) Glanduler (berkelenjar). jumlah sel tetangga dua. dilapisi kutikula dan dapat selapis atau berlapis. Jaringan Dewasa a. : jariangan dasr parenkim. Jaringan muda sekunder. bidang persekutuaan meyilang celah stomata. b) Anisositik. jumlah sel tetangga tiga atau lebeih. 3) Sel motor (sel kipas) 4) Sel silica dan sel gabus . Derivatnya : 1) Stomata. : sistem epidermis. satu atau beberapa sel tangkai dan sebaris mendatar sel kelenjar sebanyak4. Jaringan Muda a. tidak bersekresi.

berbentuk segiempat atau lonjong. tersusun oleh sel-sel berdinding tebal dank eras karena mengalami lignifikasi (penebalan sekumder) dan tidak berkloroplas. trakeida. 2) Sklerenkim. air dan udara. Tipenya: a) Anguler. Jaringan Pengangkut 1) Xilem. tersusun rapat dan mengandung klorofil. terdapat berkas pembuluh. tersusn oleh sel-sel hidup yang plastis. berfungsi untuk member kekuatan dan perimbangan tumbuhan. untuk menyimpan makanan. Floem terdiri atas unsure tapis atau . d. c. merupakan jaringan yang terdapat di seluruh bagian tumbuhan. untuk fotosintesis.b. hanya terdapat pada satu sisi epidermis. terdapat pada kedua sisi epidemis. berfungsi untuk mengangkut hasil asimilasi dari daun keseluruh tubuh tumbuhan. bentuk dan ukuran tidak beraturan. mempunya ruang antar sel . Pada daun disebut jaringan mesofil yang terdiri dari : 1) Jaringan palisade. Jaringan ini ada dua macam. penebalan dinding terdapat pada bagian sudut sel. Sklerenkim terdiri dari sklereida dan serabut sklerenkim. c) Lakuner. tepatnya di sebelah dalam jaringan epidemis. penebalan dinding terdapat pada daerah tangensial. b) Parenkim penyimpan. Jaringan penguat. 2) Jaringan bunga karang. 2) Floem. Tipenya : a) Dorsiventaral. yaitu : 1) Kolenkim. serabut trakeida dan parenkim kayu. Xilem terdiri atas unsure trakeal atau vassal yang tersusun atas trakea. Berdasarkan fungsinya ada 2 macam yaitu : a) Parenkim asimilasi. Jaringan dasar (parenkim). Xilem ada dua macam yaitu protoxilem dan metaxilem. penebalan dinding terdapat pada daerah-daerang yang berbatasan dengan ruang antar sel. berfungsi untuk mengangkut air dan zat hara dari akar kedaun untuk proses fotosintesis. b) Isolateral. b) Lameler.

gelas objek. rekresi dan eksresi (Campbell. 4. . III. merupakan jaringan yang digunakan unruk proses penyisihan zat-zat hasil sekresi. 3. IV. berwujud putih bubuk. Pati atau amylum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air. Jenis-jenis amylum meliputi: 1. Kaempfreriae Rhizoma. Cardomoni Fructus dan Caryophyli Flos serta menggunakn larutan Kloralhidrat 70% LP.kribal yang tersusun oleh sklereida. serabut sklereida dan sel-sel parenkim. lampu spritus. b. tawar dan tidak berbau. Cara Kerja 1. Jaringan sekretori. Amati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (10 x 10) dan perbesaran kuat (10 x 40).2009). Sedian amylum diletakkan di atas kaca kaca objek dan ditetesi dengan air. Alat dan Bahan 1. Amylum Tritici dan Amylum Mannihot. Amylum yang nampak di bawah mikroskop lalu digambar. Serbuk simplisia yang terdiri dari : Guazuma Folium. Glycyrrhizae Radix. Amylum manihot (pati singkong) Amylum maydis (pati jagung) Amylum oryzae (pati beras) Amylum solani (pati kentang) (Riyanthi. gelas penutup. Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah mikroskop. 2. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Amylum serbuk yaitu : Amylum maizena. Pengamatan Amylum a. kertas saring. 2. c.1999). e.

2. c. e. Kaca objek dipanaskan di atas lampu bunsen atau lampu spritus dijaga jangan sampai kering kemudian tutup dengan gelas penutup. Tambahkan dengan larutan klorohidrat jika perlu. Serbuk simplisia yang nampak di bawah mikroskop lalu digambar. 1. d. Pengamatan Serbuk Simplisia a. Serbuk simplisia diletakan di atas kaca kaca objek dan ditetesi dengan kloralhidrat 70% LP. Hasil 1. apabila berlebih dihisap dengan kertas saring. b. Setelah dingin diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (10 x 10) dan jika perlu dengan perbesaran kuat (10 x 40). V. Amylum Maizena Perbesaran : 10 x 40 . Pengamatan Amylum No. Jenis Amylum dan Perbesarannya Amylum Mannihot Perbesaran : 10 x 10 Gambar 2.

Amylum Tritici Perbesaran : 10 x 40 2. Pengamatan Serbuk Sinplisia No.3. Glycyrrhizae Radix Perbesaran : 10 x 40 . 1. Jenis Serbuk Simplisia dan Perbesarannya Guazumae Folium Perbesaran : 10 x 10 Gambar 2.

Pembahasan Dari hasil pengamatan amylum dan serbuk simplisia di bawah mikroskop maka di dapatakan ciri-ciri mikroskopik dari masing-masing amylum dan sebuk simplisia. .3 Kaempferiae Rhizoma Perbesaran : 10 x 10 4 Cardomomi Fructus Perbesaran : 10 x 40 5 Caryophylli Flos Perbesaran : 10 x 10 VI.

Secara mikroskopik yaitu berupa butir bersegi banyak ukuran 2 µm sampai 5 µm. konsentris. terdiri dari 2 atau 3 butir tunggal yang tidak sama bentuknya. L. (familia Poaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih. ukuran 2 µm sampai 23 µm atau butir bulat dengan diameter 25 µm sampai 32 µm. Jika diamati dibawah cahaya terpolarisasi. tidak ada lamela. garis lurus atau bercabang tiga. Secara mikroskopik yaitu berupa butir bersegi banyak.2009). Amylum (Pati) a. bersudut. (familia Poaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih. tunggal atau majemuk bentuk bulat telur ukuran 10 µm sampai 20 µm. Amylum Maizena (Pati Jagung) Amylum maizena adalah pati yang diperoleh dari biji Zea mays. butir besar bergaris tengah 20 µm sampai 35 µm. tampak bentuk silang berwarna hitam. hilus tengah berupa titik. Amylum Manihot (Pati Singkong) Amylum manihot adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot utilissima. c. hilus ditengah berupa rongga yang nyata atau celah berjumlah 2 sampai 5. Pohl (familia Euphorbiaceae) yang berupa serbuk sangat halus dan putih.2009).1. . memotong pada hilus. Amylum Oryzae (Pati Beras) Amylum Oryzae adalah amylum yang diperoleh dari biji Oryza sativa. memotong pada hilus (Riyanthi. tidak ada lamela konsentris. Untuk identifikasi secara kimiawi sama dengan amylum manihot (Riyanthi. lamela tidak jelas. secara mikroskopik berupa butir tunggal.2009). L. butir majemuk sedikit. Identifikasi kimiawi yaitu dengan Iodium dimana akan terjadi biru tua yang hilang pada pemanasan dan timbul kembali pada pendinginan (Riyanthi. b. Jika diamati dibawah cahaya terpolarisasi tampak bentuk silang berwarna hitam. hilus di tengah tidak terlihat jelas. agak bulat atau bersegi banyak butir kecil dengan diameter 5µm sampai 10 µm.

Guazumae Folium Daun jati Belanda adalah daun Guazuma ulmifolia Lamk. glandulifera Wald. suku Leguminosae. trpica Reg. Serbuk Simplisia a. sel kepala lebih besar dari dua sel lainya. et Kit. terdiri dari beberapa rambut bersel tunggal yang berimpit pada bagian pangkalnya.1981). 3) Hablur kasium oksalat berbentuk prisma. suku Zingiberaceae. bau khas tebal pada lidah. Warna putih kecoklatan. b. sering kali terdapat hablur kalsium coklat di dalamnya.). Et Hard atau Glycyrrhiza glabra Linn.. ruang rambut berwarna coklat.2. berbau aromatic lemah. rasa agak kelat. Secara mikroskopik mempunyai beberapa fragmen pengenal yaitu : 1) Fragmen serat kayu dan serat kulit dengan hablur kalsium oksalat bentuk monoklin yang menempel padanya. warna coklat kekuningan atau coklat tua.. Secara mikroskopik yaitu serbuk berwarna hijau tua kecoklatan.1981). rasa manis agak tajam. 2) Rambut kelnjar terdiri dari 2 sampai 3 tangkai dan 3 sel kepala. 3) Fragmen trachea berwarna kuning dengan diameter mencapai 200 µm. pori berbatasan. 2) Fragmen parenkim berdinding jernih. Kadang-kandang terdapat trachea berbentuk jala dengan tracheid pendamping (Tampubolon. Liquiritiae Radix/Glycyrrhizae Radix Akar manis adalah akar dan batang di bawah tanah dari tumbuhan Glycyrrhiza glabra var. dinding tebal tidak berwarna. 5) Pembuluh kayu dengan penebalan tangga (Tampubolon. Mempunya fragmen pengenal yaitu : 1) Rambut penutup berbentuk bintang. 4) Fragmen epidermis atas dan epidermis bawah. suku Sterculiaceae. secara mikroskopik mempunyai fragmen pengenal antara lain : . c. bau khas. panjang berbeda-beda. var. Kaempferiae Rhizoma Rimpang dari tumbuhan kencur (Kaempferia ga¶anga L.

. 3) Fragmen parenkim dengan sel-sel minyak berwarna putih semu kuning. 6) Fragmen sel batu pada masokarp. bau khas aromatic.1997). Lamela dan hilus tidak jelas. ex Maton). berlapis-lapis (Tampubolon. bau aromatic kuat. non L. 2) Fragmen periderm dengan parenkim.1981). suku Myrtceae. d. Serbuk berwarna kelabu kekuningan. sklerenkim dari berkas pembuluh pada e. warna coklat. 7) Fragmen selaput biji. 3) Fragmen sklerenkim palisade yang terlihat tangansial berbentuk polygonal. Secara mikroskopik mempunya fragmen-fragmen pengenal sebagai berikut : 1) Fragmen tangkai sari dengan kristal kalsium oksalat berbentuk roset. . (Amomum compactum Soland.1) Butir pati. 8) Sel endoderm dengan hablur kalsium oksalat berbentuk prisma (Heyney. Caryophylli Flos Bunga cengkeh adalah kumncup bunga tumbuhan Eugenia caryophyllata Thunb. 5) Fragmen serabut mesokarp. umumnya tunggal. salah satu ujung mempunyai putin. 4) Fragmen periden dengan sel berbentuk hampir persegi panjang. suku Zingiberaceae. rasa khas pedas diikuti oleh rasa tebal pada lidah. 2) Fragmen lapisan sel yang mengandung minyak atsiri. 4) Fragmen farisperm yang penuh dengan butir pati kecil. Cardomomi Fructus Buah kapulaga adalah buah tumbuhan Amomun cardomomun Auct. besar berbentuk bulat telur/tidak beraturan. rasa agak pedas. secara mikroskopik mempunya fragmen-fragmen pengenal yaitu : 1) Fragmen epidermis kulit biji berdinding tebal bebentuk memanjang.

diding tebal berlignin. fungsi dan sifatsifat yang sama. 5) 15 sampai 20 µm 6) Trakhea mempunyai penebalan spiral. Simplisia tersebut menpunyai ciri yang khas baik dari segi mikroskopik maupun organoleptiknya. Sediaan Galenik. Uji mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat perbesaranya disesuikan dengan keperluaan. 1987. Campbell. 8) Parenkim mempunyai sel batu dengan bentuk yang khas (Heyney. berwujud putih bubuk. http://riyanthikedokteran. Daftar Pustaka Anonim. Setiap semplisia baik itu dari akar.T. kulit batang. semua organisme terdiri dari sel atau sekumpulan sel yang merupakan satuan struktural. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. VIII. Riyanthi.Yogyakarta : UGM Press. Jaringan yakni sekumpulan sel yang mempunyai bentuk. batang. Tjitrosoepomo. Diakses tanggal 8 Mei 2010. Tampubolon. 1986. 2003. biji. Heyney. paradermal maupun membujur atau berupa serbuk. lepas atau dalam jaringan. Tumbuhan Obat Bagi Pecinta Alam. 3) Kelenjar skizolisigen. 1999. kulit biji. 5. Menurut teori sel. 4) Pollen berbentuk tetrahedral. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. 2009. daun. Jakarta : Erlangga. radial. 7) Fragmen serabut dengan lumen yang tebal.blogspot. Simplisia yang di uji merupakan simplisia nabati. tawar dan tidak berbau. G. buah maupun bunga.1997). 2. dapat berupa sayatan melinyang.com/. 3. Jakarta : Penerbit Bharata Karya Aksara. fungsional dan penentu faktor genetik dari organisme. Morfologi Tumbuhan . O. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. . 1981.2) Fragmen kepala sari. K. VII. Pati atau amilum adalah karbohidrat komplek yang tidak larut dalam air. Kesimpulan 1. 4. rhizom. Tumbuhan Berguna Indonesia II. garis tengah. Praktikum Identifikasi Amylum dan Simplisia.

2. Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran pada laju yang berbeda.PERCOBAAN 4 IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA SECARA KLT I. terkadang dibantu oleh gravitasi atau tegangan listrik ( Skoog et al. Ketiganya menggunakan material tipis yang dilapisi gelas. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat (Clark. II. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida-lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. Metode kromatografi planar dibagi menjadi tiga. . Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dengan menggunakan sebuah lapis tipis silica atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran.. Mengetahui cara melakukan kromatografi lapis tipis. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan atau kombinasi padatan-cairan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). KLT juga berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom. 2007). 2004 ). analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom. plastik atau permukaan logam. Tujuan Praktikum 1. 2007). kromatografi kertas dan elektrokromatografi. Mengidentifikasi kandungan kimia dari bahan alam dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). yaitu kromatografi lapis tipis. Fase gerak bergerak melalui fase stasioner dengan kapilaritas. identifikasi senyawa kimia secara kromatografi dan isolasi senyawa murni dalam skala kecil (Rohman. Dasar Teori Kromatografi merupakan pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan.

hair dryer. maka nilai Rf tersebut akan berubah (Anonim. Senyawa yang memiliki Rf besar pasti memiliki polaritas yang rendah. pipet ukur. 2. Untuk membuat bercak-bercak menjadi tampak dengan jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan produk yang berwarna (Anonim. 2007). karena interaksinya dengan fase stasioner lebih besar dari fase gerak (Laurent. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. . dan ekstrak simplisia. gelas ukur. Namun. Data yang diperoleh dari KLT adala nilai Rf yang sangat berguna untuk identifikasi senyawa. Sebaliknya senyawa yang memiliki Rf kecil pasti memiliki polaritas yang tinggi. Pelaksanaan ini biasanya dalam pemisahan warna yang merupakan gabungan dari beberapa zat pewarna atau pemisahan dan isolasi pigmen tanaman yang berwarna hijau dan kuning (Rohman. fase diam pada sebuah lempengan tipis seringkali memiliki substansi yang ditambahkan ke dalamnya supaya menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar UV. jika kromatografi lapis tipis yang akan dideteksi pada substansi tidak berwarna dilakukan dengan cara pendarflour dan bercak secara kimia. Setiap warna akan selalu sama. Seperti yang telah disebutkan diatas. pensil. kloroform : etil asetat (1 : 1). Fase diam untuk KLT seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar UV. tabung reaksi. 2009). Rf atau Retention Factor atau Retardation Factor didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa dibagi jarak yang ditempuh oleh pelarut pada kromatografi. filler. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah asam asetat 15% : aquades (3 : 17). karena interaksinya dengan fase gerak lebih besar dari fase stasioner. 2007).Gel silica (alumina) merupakan fase diam.         Namun. Alat Dan Bahan 1. oven. III. jika terdapat perubahan akibat pengaruh suhu. komposisi pelarutan dan sebagainya. chamber. 2009). sinar UV 254. Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gel silica GF 254. penggaris. mikropipet.

Fase gerak1 Asam asetat 15% : aquades 0. V. tunggu sampai kering.75 ml asam asetat 15% dan 4. 4. Hasil 1. 3. Ukur jarak yang terbentuk oleh bercak simplisia dari garis start kemudian hitung Rf-nya. 6. Masukkan lempeng silica gel masing-masing satu ke dalam chamber1 dan chamber2 kemudian tutup rapat. 10. 7. 11. Tutup rapat chamber1 dan chamber2 kemudian tunggu hingga jenuh.25 ml aquades. Apabila eluen sudah jenuh keluarkan kertas saring dari chamber1 dan chamber2. Buat garis start dari tepi bawah dengan pensil pada masing-masing lempeng. 8. 9. Cara Kerja 1. Isi chamber2 dengan eluen campuran dari 2.5 ml kloroform dan 2. Buat garis front di atas garis start dengan jarak 8 cm.75 ml : 4. Untuk mengidentifikasinya jepit kertas saring di antara tutupnya. Buat dua buah titik dengan jarak tertentu pada garis start. Setelah eluen sampai di garis front angkat lempeng silica gel kemudian deteksi dengan sinar UV 12. 2. Biarkan hingga eluen naik sampai ke garis front. Isi chamber1 dengan eluen campuran dari 0.IV. Tetesi titik-titik pada garis start dengan ekstrak simplisia . Apabila warnanya masih pudar ulangi point di atas sampai warnanya terlihat jelas. Apabila kertas saring sedikit berembun/basah berarti larutan sudah jenuh.25 ml           . Masukkan dua buah lempengan silica gel GF254 ke dalam oven selama beberapa menit.5 ml etil asetat. 5.

Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar. kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom. Kebanyakan fase diam dikontrol keajegan ukuran partikel dan luas permukaannya (Rohman. dapat mengusir pelarut yang relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina (gel silica) (Rohman. selain kromatografi kertas dan elektroforesis. Pembahasan Kromatografi merupakan bentuk kromatografi planar. . vitamin. Eluen adalah fase gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorbent). Gel silica adalah bentuk dari silikon dioksida (silica). Namun.5 ml VI. 2007). 2007). 2007). hidrokarbon. Fase gerak2 Kloroform     : etil asetat       2. Gel silica dapat digunakan pada senyawasenyawa yang mengandung asam amino. 2007). Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada pengembanngan secara menurun (descending) (Rohman. sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol (Clark.2. Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Eluen dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorbsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silica. Fase diam yang digunakan dalam percobaan ini adalah gel silica yang memiliki mekanisme sorpsi adsorbsi. pada permukaan gel silica terdapat ikatan Si-OH selain Si-O-Si.5 ml : 2. Permukaannya sangat polar dan karenanya gugus OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai di sekitarnya. Meskipun demikian. dan alkaloid. Interaksi antara adsorbent dengan eluen sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen.

komponen-komponen yang berada dari campuran warna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai perbedaan bercak warna. maupun biologi.2-0. 2007). Penotolan ini lebih baik menggunakan pensil. Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang tidak berwarna.2-0. Percobaan diatas dapat menghasilkan kesimpulan bahwa percobaan dengan menggunakan fase gerak1 yang merupakan campuran dari asam asetat 15% dan aquades kurang optimal. Alasan untuk menutup chamber adalah untuk meyakinkan bahwa kondisi dalam chamber terjenuhkan oleh uap dari pelarut. volume sampel yang ditotolkan paling sedkit 0. .Sistem fase gerak KLT yang paling sederhana ialah campuran dua pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. fisika.8.8 untuk memaksimalkan pemisahan (Rohman. Daya elusinya pun harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0. pewarna dari tinta akan bergerak selayaknya kromatogram dibentuk (Rohman.5 µl. Hal ini dikarenakan fase gerak1 memiliki nilai Rf lebih dari 0. Untuk penentuannya dapat dilakukan secara kimia. 2007). Karena pelarut bergerak lambat pada gel silica. Jika volume sampel yang ditotolkan lebih besar dari 2-10 µl maka penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan dilakukan pengeringan antartotolan. sedangkan percobaan dengan menggunakan fase gerak2 yang merupakan campuran dari kloroform dan aetil asetat lebih optimal. gel silica ditempatkan dalam sebuah chamber bertutup berisi eluen. sementara fase gerak2 memiliki nilai Rf diantara 0. Untuk memperoleh reprodusibilitas. Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkan bercak yang menyebar dan puncak ganda. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT merupakan teknik yang sangat sensitif. Ketika bercak dari campuran itu mengering. Pelarut dapat mencapai sampai pada bagian atas dari gel silica akan memberikan pemisahan maksimal dari komponen-komponen yang berwarna untuk kombinasi tertentu dari pelarut dan fase diam.8. Karena jika penotolan dilakukan dengan menggunakan tinta.

bercak-bercak tersebut tidak tampak kembali (Rohman. tandai posisi-posisi dari bercak-bercak dengan menggunakan pensil dan melingkari daerah bercakbercak itu..1. Bagaimana senyawa melekat pada fase diam. Penunjukkan Bercak Secara Fisika Menggunakan Pendarflour Fase diam pada sebuah lempengan tipis seringkali memiliki substansi yang ditambahkan ke dalamnya. Penunjukkan Bercak Secara Kimia Membuat bercak-bercak menjadi tampak gelas dalam beberapa kasus dimungkinkan dengan jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan produk yang berwarna. Reagen yang digunakan sebagai penampak bercak dalam KLT dapat dibedakan menjadi 2. Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan. Itu berarti bahwa jika lempengan disinari sinar UV. Kita mengatakan bahwa sneyawa ini terjerap lebh kuat dari senyawa yang lainnya. Misalnya adalah kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam amino. akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan posisi bercak-bercak. Cepat lambatnya senyawa-senyawa dibawa bergerak ke atas pada lempengan tergantung pada : 1. 2. 2. Bercak tampak sebagai bidak kecil yang gelap. Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan melekat pada gel silica lebih kuat dibanding senyawa lainnya. Setelah sinar UV dimatikan. Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. 2008). supaya menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar UV. Penjerapan bersifat tidak permanen. Hal ini bergantung pada bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut. terdapat pergerakan yang tetap dari molekul antara . yaitu reagen umum (yang berlaku untuk hampir semua senyawa organik) dan reagen selektif (yang hanya mendeteksi jenis atau golongan senyawa tertentu). Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram berada. Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi pada permukaan. meskipun bercak-bercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat dengan mata. 2007). misalnya gel silica. Hal ini bergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan gel silica (Haqiqi.

Dalam kasus itu. KLT banyak digunakan untuk tujuan analisis. 2009). 3. Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak (Rohman. Ketika senyawa dijerap pada gel silica _untuk sementara waktu proses penjerapan berhenti. 2. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna fluoresensi. 2007). Bagaimanapun. atau dengan radiasi menggunakan sinar UV. 2007). Beberapa keuntungan KLT adalah : 1. Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending). 4. KLT merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dengan menggunakan sebuah lapis tipis silica atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras.dimana pelarut bergerak tanpa senyawa. perubahan pelarut dapat membantu dengan baik termasuk memungkinkan perubahan pH pelarut (Clark. Fase diam dapat berupa padatan atau kombinasi padatan-cairan dan bersifat menahan komponen canpuran. Itu berarti bahwa semakin kuat senyawa dijerap. atau dengan cara elusi dua dimensi. Senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut. semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan. Kesimpulan 1.yang terjerap pada permukaan gel silica dan yang kembali pada larutan dalam pelarut (Anonim. hal ini memungkinkan senyawa-senyawa tidak terpisahkan dengan baik ketika membuat kromatogram. menurun (descending). VII. Ini tidak hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan gel silica. . 2. Sedangkan fase gerak dapat berupa cairan atau gas dan bersifat melarutkan zat komponen campuran. 2007). Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan menjerap lebih kuat daripada yang hanya tergantung pada interaksi van der Waals sehingga bergerak lebih jauh pada lempengan (Clark. Terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan yang sama dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan yang sama pula. Atraksi antara senyawa dan pelarut juga merupakan hal akan mempengaruhi bagaimana mudahnya senyawa ditarik pada larutan keluar dari permukaan gel silica.

http://d4him. http://greenhati. Fundamentals of Analytical Chemistry.blogspot.wordpress. Rohman. Abdul. Daftar Pustaka Anonim.pdf. Kromatografi Lapis Tipis. Diakses tanggal 18 Juni 2010. Kimia Farmasi Analisis.chem-is- try. 2008. SR.H.org/materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi1/kromatografi_lapi s_tipis/. S. Diakses tanggal 18 Mei 2010. DM. Jim.com/2009_01_23_archive. DA. Sedangkan pada fase gerak2 cukup optimal karena 0. Thomson: United States of America. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. VIII. 2007. 2009. Apabila KLT tidak berwarna dapat dideteksi dengan cara pendarflour dan bercak secara kimia.2<nilai Rf<0. Diakses tanggal 26 Mei 2010. . Crouch. http://www. Holler. Daya pemisahan pada percobaan dengan menggunakan fase gerak1 kurang optimal karena nilai Rf >0. Kromatografi Lapis Tipis.com/2009/02/paper-kromatografi-lapistipis. Kromatografi Lapis Tipis. 2007. FJ.scribd.8.com/doc/22942198/Kromatografi-Lapis-Tipis.8.html. 2004. 4. Danny. West. Haqiqi. Laurent. 2009. Laporan Kimia Organik Kromatografi Lapis Tipis. Skoog.3. Diakses tanggal 26 Mei 2010.files. Clark. http://www.