Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Perbandingan Melalui

Model Pembelajaran Kooperatif T
A. Judul : Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari Pada Pokok Bahasan Perbandingan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams ± Games ± Tournament (TGT) B. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan merupakan salah satu cara pembentukan kemampuan manusia untuk menggunakan rasional seefektif dan seefisien mungkin sebagai jawaban dalam menghadapi masalah ± masalah yang timbul dalam usaha menciptakan masa depan yang baik. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, antara lain dengan perbaikan mutu belajar mengajar. Belajar mengajar di sekolah merupakan serangkaian kegiatan yang secara sadar telah terencana. Dengan adanya perencanaan yang baik, akan mendukung keberhasilan pengajaran. Usaha perencanaan pengajaran diupayakan agar peserta didik memiliki kemampuan maksimum dan meningkatkan motivasi, tantangan dan kepuasan sehingga mampu memenuhi harapan baik oleh guru sebagai pembawa materi maupun peserta didik sebagai penggarap ilmu pengetahuan. Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam belajar mengajar, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekedar mengkomunikasikan pengetahuan agar dapat belajar, tetapi mengajar juga berarti usaha menolong sipelajar agar mampu memahami konsep±konsep dan dapat menerapkan konsep yang dipahami. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai sangat memegang peranan penting karena matematika dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien. Oleh karena itu dipandang penting agar matematika dapat dikuasai sedini mungkin oleh para siswa. Salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Hasil survei dari asosiasi penilaian pendidikan internasional The Third Internasional Mathematics and Science Study pada tahun 1999 menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika anak Indonesia untuk SMP berada pada urutan 34 dari 38 Negara, dimana Malaysia diurutan ke-14 dan Singapura diurutan teratas (Hartadji, 2001:4). Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan observasi di SMP Negeri 9 Kendari pada tanggal 23 Agustus 2006 dan diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika siswa kelas VII di sekolah tersebut masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian siswa hanya mencapai 4,9. nilai rata-rata ini jika dibandingkan dengan ketuntasan belajar menurut kurikulum, yakni sebesar 6,5 atau 65 % dapat dikatakan bahwa nilai tersebut berada di bawa standar ketuntasan yang diharapkan. Dari hasil wawancara ini pula diperoleh informasi dari guru matematika bahwa pokok bahasan yang dianggap sulit untuk dipahami oleh siswa

dari hasil wawancara lebih lanjut yang dilakukan penulis pada tanggal 28 Agustus 2006 terhadap guru matematika. diharapkan dapat teratasi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament. maka peneliti tertarik untuk mencobakan suatu tindakan alternatif untuk mengatasi masalah yang ada berupa penerapan model pembelajaran lain yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Turnamen ini memungkinkan tingkat untuk menyumbangkan skor-skor bagi kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. TGT menekankan adanya kompetisi yang dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antara anggota kelompok/tim dalam suatu bentuk ³turnamen´. Atas dugaan di atas. Menurut Wartono dkk (2004:16) Teams-Games-Tournament (TGT) atau PertandinganPermainan-Tim merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang masih berkait dengan STAD yang merupakan tipe lainnya dari pembelajaran kooperatif. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelas kooperatif tipe TGT menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Permasalahan siswa tersebut di atas. siswa bekerja di kelompok untuk belajar dari temannya serta mengajar temannya. tanya jawab dan sebagainya. tugas dan resitasi. studi studi eksperimen yang dilakukan oleh Moersetyo Rahadi di SMU Negeri 1 Garut. diperoleh keterangan bahwa siswa-siswi kelas VII7 merupakan siswa-siwi dengan prestasi belajar terendah di kelas VII. Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap peneliti dapat memotivasi siswa dalam peran aktif mengikuti proses belajar mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Team-Games-Tournament (TGT). 1995) Selain itu. Dalam hal ini siswa sering kali mengalami kesulitan dan kekeliruan dalam menyelesaikan soal-soal latihan. Siswa cenderung diam dan engan dalam mengemukakan pernyataan maupun pendapat. diskusi. siswa masih belum aktif dalam proses belajar. Lebih lanjut Wartono dkk (2004:16) menjelaskan bahwa dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh pembahasan skor pada tim mereka. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif. Penelitian menduga model pembelajaran inilah yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa khususnya siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari. Tiap wakil dari kelompok-kelompok tersebut akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan hasil belajar siswa yang belajarnya . berdasarkan nilai matematikanya saat awal pendaftaran di sekolah tersebut. (Slavin. Dari hasil observasi lebih lanjut. Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe. Selanjutnya. Sedangkan dalam STAD. tanggal 25 Agustus 2006 terlihat bahwa model pembelajaran yang digunakan guru matematika di SMP Negeri 9 Kendari khususnya di kelas VII7 lebih didominasi oleh model pembelajaran langsung dengan menggunakan kombinasi beberapa metode yaitu ceramah. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Hulten dan De Vries pada tahun 1976 di Suburban MD yang meneliti pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament terhadap prestasi belajar siswa. Namun demikian. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk aktif dalam proses belajar mengajar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditulis pada kartukartu yang diberi angka yang dimainkan pada meja turnamen yang diisi wakil-wakil kelompok yang berbeda namun mempunyai kemampuan yang setara yang ditunjuk oleh guru.mengajar. Permainan ini disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan pengetahuan siswa.adalah pokok bahasan perbandingan.

dan individu lingkungannya. Menurut W. C. Hudoyo (1988:1) menjelaskan bahwa seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan bahwa . Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1.05 hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan model belajar TGT lebih baik dari siswa yang menggunakan model konvensional. Respon siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari terhadap pembelajaran konsep perbandingan melalui model kooperatif tipe TGT? E. H Borton dalam Usman (1993:4). Bagaimana respon siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari terhadap pembelajaran konsep perbandingan melalui model kooperatif tipe TGT? D. 2. Http: // TGT. Sebelum membahas mengenai belajar dan mengajar matematika. Setelah diuji pada taraf signifikan P = 0. maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1.menggunakan belajar kooperatif TGT dengan siswa yang dengan pembelajarannya menggunakan cara biasa (konvensional). 2. (Rahardi. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas. sehingga materi pelajaran matematika yang dianggap sulit bagi siswa dapat dipahami lebih mudah oleh siswa. saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain dalam keberhasilan proses belajar mengajar. maka penulis berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul ³Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada Pokok Bahasan Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams ± Games ± Tournament (TGT)´. Kajian Pustaka 1. F. khususnya pada pokok bahasan perbandingan. Belajar dan Mengajar Matematika Istilah ³belajar´ dan ³mengajar´ adalah dua peristiwa yang berbeda akan tetapi diantara keduanya terhadap hubungan yang sangat erat. khususnya pengertian belajar dan mengajar secara utuh. belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu. Apakah pembelajaran melalui model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada pokok bahasan perbandingan. perlu lebih dahulu dikemukakan mengenai proses belajar mengajar. Bagi sekolah: Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada khususnya. Com) Atas alasan yang telah dikemukakan. Bagi siswa dapat meningkatkan prestasi belajar matematikanya. Apakah pembelajaran melalui model kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari pada pokok bahasan perbandingan? 2. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah : 1. 3. Bagi guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas.

Artinya . Hamalik (2001:48) mendefinisikan bahwa mengajar merupakan usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa. Berdasarkan pengertian belajar dan mengajar di atas. Karena materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur maka dalam belajar matematika. mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik melakukan proses belajar. dan terjadi karena adanya usaha orang tersebut. dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Dari beberapa definisi mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu proses. yaitu proses pengatur. emosional. materi matematika bersifat hirarkis dan terstruktur dan dalam mempelajari matematika dibutuhkan ketekunan. Perubahan tingkah laku tersebut berlaku dalam relatif lama. apresiasi. Roestiyah (1994:36) menekankan bahwa hasil dari pengajaran bukan merupakan hasil mengajar artinya bukan terutama untuk kepentingan guru. sebelum mempelajari konsep kekongruenan terlebih dahulu perlu dipahami konsep kesebangunan. Hamalik (2001:30) mengemukakan bahwa bukti dari seseorang yang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dalam aspek-aspek tertentu seperti pengetahuan. perlu mendahulukan belajar tentang konsep matematika yang mempunyai daya bantu terhadap konsep matematika yang lain. pengertian. sedangkan mengajar merupakan proses pengaturan agar perubahan itu terjadi. Belajar merupakan proses perubahan. perubahan terjadi relatif menetap dan terjadi karena adanya usaha diri individu yang belajar pada materi yang telah diajari oleh guru. Misalnya. guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang segar agar aktivitas belajar menuju yang serasi agar aktivitas belajar menuju kearah sasaran yang diinginkan. tapi untuk kepentingan siswa yang belajar. tanpa usaha walaupun terjadi perubahan tingkah laku. sehingga menimbulkan proses belajar pada diri siswa. Dengan kata lain. dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar dan mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mengajar didefinisikan oleh Sudjana dalam Zain (2002:45) sebagai suatu proses. Sejalan dengan pendapat Usman yang telah dikemukakan di atas. etis atau budi pekerti dan sikap. tidak boleh terputus-putus dan urutan materi harus diperhatikan. Proses belajar mengajar untuk mata pelajaran matematika harus memperhatikan karakteristik matematika. Usman (1993:6) mendefinisikan mengajar sebagai suatu usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik. Pemberian simbol penting untuk menjamin adanya komunikasi. Sumarno (2002:2) mengemukakan beberapa karakteristik yaitu: materi matematika menekankan penalaran yang bersifat deduktif. . Belajar merupakan proses dan mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. keterampilan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses dan di dalam proses itu terjadi perubahan tingkah laku pada aspek-aspek tingkah laku. yaitu proses pengorganisasian lingkungan disekitar siswa.diri orang itu terjadi sesuatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar untuk mencapai tujuan yang optimal. kebiasaan. hubungan sosial. dan bahan pengajaran. bukanlah belajar . keuletan. serta rasa cinta terhadap matematika. Jadi. jasmani. guru juga bertindak selaku organisator belajar siswa sehingga tujuan belajar dapat tercapai secara optimal. Bruner dalam Hudoyo (1988:56) berpendapat bahwa belajar matematika ialah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur matematika itu.

Menurut Dienes dalam Russefendi (1980:135) konsep struktur dalam matematika dapat dipelajari dengan baik. seorang guru matematika hendaklah berpedoman pada bagaimana mengajar matematika itu sehingga siswa dapat belajar matematika dengan baik. STAD. dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang telah dicapai oleh seseorang. Akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri. Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar matematika. pembelajaran kooperatif merujuk pada kaidah pengajaran yang memerlukan siswa dari kemampuan yang heterogen untuk bekerja sama dengan kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. prestasi berarti hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu. Prestasi Belajar Matematika Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2001:895) Prestasi diartikan sebagai yang telah dicapai (telah dilakukan. terlebih dahulu konsep-konsep matematika yang terdapat dalam materi yang sedang dipelajari harus dipahami. dalam bidang keterampilan. Alasannya karena dengan melihat berbagai contoh memungkinkan siswa menerapkannya konsep tersebut kesituasi yang lain. Menurut Arifin (1991:3). banyak latihan. Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi pembelajaran atau prinsip pembelajaran. Belajar bersama (Learning Together). 4. dikerjakan dan sebagainya). Oleh sebab itu seorang guru matematika dalam mengajar perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) Urutan materi pelajaran. dengan menggunakan suatu alat evaluasi. Pemprosesan kelompok. dapat diukur prestasinya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut pada kurun waktu tertentu. kemudian berusaha menemukan hubungan antara konsep-konsep matematika itu. Saling bergantung satu sama lain secara positif. (3) mengarahkan siswa untuk menemukan hubungan antara konsep-konsep matematika. Jadi agar seorang siswa dapat belajar matematika dengan baik. (2) memberikan contoh kongkrit kemudian membimbing siswa itu mencari sendiri. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Games-Tournament (TGT) Konsep model pembelajaran pertama kali dikembangkan oleh Bruce dan koleganya. Saling berinteraksi secara langsung. nilai dan sikap. Lima unsur asas pembelajaran kooperatif menurut Slavin dalam Allyn dan Bacon (1999) adalah: 1. Dalam beberapa pendapat di atas. 2. Dalam hubungannya dengan usaha belajar. belajar secara kontinu dan mengetahui penerapan materi dalam situasi nyata. dapat menambah pemahaman siswa tersebut. jigsaw TGT. Dalam mengajar matematika. Beberapa cara pembelajaran kooperatif telah dikembangkan tokoh-tokoh pendidikan misal. sedang prestasi be lajar adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu. 3. bila representasinya dimulai dengan benda-benda konkret yang beraneka ragam. 5. Prestasi belajar siswa mampu memperlihatkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman. Mempersiapkan diri sebelum belajar. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis model pembelajaran yang menggunakan kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Jadi prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi (tes). Menurut Slavin dalam Allyn dan bacon (1999). Kemahiran kooperatif. (4) memberikan contoh-contoh penerapan materi dalam situasi nyata dan (5) memberikan latihan soal-soal. prestasi berarti hasil usaha. NHT (Numbered Heads Together) . 3. 2.

dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok yang menunjukkan siswa memperoleh prestasi belajar yang lebih baik. Berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosial. e. Pertanyaan-pernyatan yang dimaksud adalah pernyataan-pernyataan yang relevan dengan materi pelajaran yang dirancang untuk mengetes kemampuan siswa dari penyampaian pelajaran siswa di kelas. 2004:16). Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Teams-Games-Tournament (TGT) (Wartono. Berkaitan dengan penerimaan terhadap individu. Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen. hal ini sangat penting karena saat ini sebagai lapangan kerja dilakukan dalam organisasi yang membutuhkan kerja sama dengan orang lain. f. De Vries dan Slavin dalam Alkrismanto (2004:16) menjelaskan bahwa model pembelajaran tipe TGT menekankan adanya kompetisi yang dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan antar anggota tim dalam suatu bentuk ³turnamen´. b. tujuan dan langkah-langkah pelaksanaan yang telah dilakukan. Setiap wakil kelompok akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Lebih lanjut Nur dkk (2000:7). Membimbing kelompok belajar untuk menemukan penyelesaian suatu masalah. Fase II Menyampaikan informasi atau materi pelajaran Guru menyampaikan informasi atau materi pelajaran kepada siswa dengan cara demonstrasi atau lewat bahan bacaan. c. Fase III Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok agar melakukan transisi secara efisien dalam belajar. salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Menyajikan informasi. Melakukan evaluasi. Memberikan penghargaan. Berkaitan dengan hasil belajar akademik.dan Meja Bulat (Round Tab le). pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa keterampilan kerja sama. Permainan ini berupa pernyataan-pernyataan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. mengemukakan tiga tujuan dalam pembelajaran kooperatif. Fase IV . Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. c. d. Berdasarkan asas pembelajaran kooperatif. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. dkk (2004:16) menjelaskan dalam Teams-Games-Tournament atau pertandingan-permainan-tim siswa memainkan permainan pengacakan kartu dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh poin pada skor tim mereka. Selanjutnya Wartono. pembelajaran kooperatif bertujuan untuk melatih siswa menghargai satu sama lain dalam keadaan perbedaan latar belakang dan kondisi yang ada pada siswa. dibanding model pembelajaran yang lama. Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif menurut Ismail (2000:23) adalah sebagai berikut: a. Adapun sintaks model pembelajaran kooperatif Tipe TGT dapat dilihat pada tabel berikut ini : Fase-fase Pembelajaran Tingkah laku Guru Fase I Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. b. yaitu: a.

Terdapat dua macam perbandingan.000cm pada jarak sebenarnya. (Sumadi. dkk. Pembelajaran Konsep Perbandingan di SMP. Menurut Kusrini. 0 (Sukino dan Simangunsong. menentukan skor individual dan kemajuannya. Perbandingan dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan sederhana. Siswa dapat memberikan contoh masalah sehari-sehari yang merupakan perbandingan seharga (senilai) dan berbalik harga (nilai). (Ibrahim. 2000:10) 4. Siswa dapat menghitung faktor perbesaran dan pengecilan pada gambar pada gambar berskala. 2005:94). skala amoeba tersebut menjadi 200 : 1 artinya benda yang sesungguhnya diperbesar menjadi 200 kali. Menurut Kusrini. Jadi. Sebagai contoh skala adalah misalnya diberikan suatu peta Provinsi Sulawesi Tenggara dengan skala 1 : 3. Dengan melihat indikator pencapaian hasil belajar. dkk (2003:118).150. Fase VI Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. Misal besaran a kita bandingkan dengan besaran b perbandingan dapat ditulis dengan ³a : b´ atau ³ ´. Sedangkan faktor pengecil pada skala.Membimbing kelompok belajar dan belajar serta turnamen Guru membimbing kelompokkelompok belajar pada saat mengajarkan tugas bersama serta memandu siswa memainkan suatu permainan sesuai dengan struktur pembelajaran kooperatif tipe TGT. maka skala merupakan salah satu sub pokok bahasan dari materi perbandingan. artinya gambar sesungguhnya diperkecil 3. Sebagai contoh misalkan Ali mempunyai 9 buku dan Lia mempunyai 6 buku. Faktor perbesaran pada skala bisa dapat kita lihat pada gambar bakteri maupun amoeba yang diperbesar menjadi 200 kali sehingga amoeba akan tampak besar.{b Perbandingan dua besaran sejenis yaitu perbandingan dua besaran yang satuannya sama.000. terlebih dahulu menyamakan satuannya dan kemudian dapat menyederhanakan perbandingan tersebut. seperti skala pada peta Sulawesi Tenggara yang ditulis 1 : 3. menentukan skor rata-rata kelompok. Skala adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak sebenarnya atau dapat dituliskan: Skala = Skala memiliki faktor perbesaran dan pengecilan.000 kali.150. ³a : b´ dibaca ³ a berbanding b´ dan a : b = . Perbandingan dapat dinotasikan dengan ³ : ´ atau ³ ± ³.150. sehingga apabila satuan dua besaran yang akan dibandingkan belum sama. perbandingan banyaknya buku Ali terhadap banyaknya buku Lia adalah 3 : 2 dan perbandingan banyaknya buku Lia terhadap banyaknya buku Ali adalah 2 : 3. Perbandingan senilai adalah kesamaan dari dua perbandingan yang secara umum dapat dituliskan dengan: . Berdasarkan GBPP matematika kurikulum tingkat satuan pendidikan kelas VII semester I tahun 2006 indikator pencapaian hasil belajar dan materi perbandingan yaitu: Siswa dapat menjelaskan pengertian skala sebagai suatu perbandingan. yaitu perbandingan senilai dan perbandingan berbalik nilai.150. Fase V Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar siswa. Hal ini berarti 1 cm pada peta mewakili 3. perbandingan adalah membandingkan dua besaran atau lebih.000. dkkk (2003:108). 1995:2).

Apabila gula-gula tersebut dibagikan kepada 3 orang anak. . Perbandingan berbalik nilai berkaitan dengan berbanding terbalik. 1995:8). 3. Lebih lanjut Sumadi. Nilai adalah kebalikan dari . Adapun bentuk grafik dari perbandingan senilai yaitu berupa titik-titik yang sejenis sedangkan grafik perbandingan berbalik nilai yaitu berupa titik-titik yang terletak pada sebuah garis lengkung yang disebut hiperbola. nilai kebalikan dari . Kemudian memaparkan beberapa penggunaan dan aplikasi perbandingan dalam kehidupan sehari-hari. 4. 2. Perbandingan banyak gula-gula yang diterima pada baris pertama dan baris ke dua adalah 30 : 20 = . Kerangka pembelajaran konsep perbandingan melalui kooperatif tipe TGT Pembelajaran konsep perbandingan melalui kooperatif tipe TGT akan dilakukan dalam tiga tahapan. 2). 2005:97). Perbandingan banyak bagian gula-gula pada baris ke-2 dan baris ke-3 adalah 20 : 15 = . (Sumadi. Menjelaskan pengertian skala sebagai suatu perbandingan. jika dibagikan kepada 3 orang anak. Memberikan contoh masalah sehari-hari yang merupakan perbandingan seharga dan berbalik harga. Dengan demikian dikatakan terdapat perbandingan berbalik nilai antara banyak anak dan banyak gula-gula yang diterima. 5. demikian seterusnya. 5. Perbandingan banyak anak pada baris ke-1 dan baris ke-2 adalah 2 : 3 atau . Pada tahap awal. Ini merupakan suatu bentuk motivasi sehingga menambah keingintahuan siswa untuk lebih memperhatikan pembelajaran selanjutnya. Perbandingan banyak anak pada baris ke-2 dan baris ke-3 adalah 3 : 4 = . Jumlah anak dan bagian gula-gula yang diterima dapat dilihat pada tabel berikut: Banyak anak Banyak bagian gula-gula yang diterima 2 3 4 5 6 30 20 15 12 10 1). waktu tahap awal. dkk (2005:98 ± 104) menjelaskan bahwa untuk melakukan perhitungan perbandingan senilai dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menghitung perbandingan berbalik nilai dapat dilakukan melalui hasil kali atau melalui perbandingan. Menjelaskan hubungan perbandingan dan pecahan. Kemudian guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa tahu akan arah pembelajaran mereka. tahap inti dan tahap akhir. guru memulai pelajaran dengan menyampaikan materi perbandingan melakukan operasi dengan materi yang dipelajari. Menyelesaikan soal yang melibatkan perbandingan seharga dan berbalik harga. maka masing-masing menerima 20 butir. maka masing-masing menerima 30 butir. Indikator pencapaian hasil belajar yang ditetapkan berdasarkan kurikulum 2004 untuk pokok bahasan perbandingan yaitu: 1. dkk. Sebagai contoh Ibu mempunyai 1 kantong gula-gula yang dibelinya di pasar. Menghitung faktor pembesaran dan pengecilan pada gambar berskala.Perbandingan senilai ini berkaitan dengan berbanding lurus atau berbanding langsung sebagai contoh: perbandingan banyak kain batik dan perbandingan besar harga (Sukino dan Simangunsong.

Kemudian guru mengelompokkan siswa menjadi beberapa kelompok.6. Memberi skor untuk masing-masing kelompok sesuai dengan jawaban mereka Memperhatikan Memberikan penghargaan pada kelompok yang memperoleh skor tertinggi Siswa mengikuti petunjuk guru untuk berkumpul dengan anggota kelompoknya Menerima LKS Secara berkelompok menyelesaikan LKS Aktif dalam kelompoknya ketika diskusi Siswa yang ditunjuk guru mewakili kelompoknya menuju meja turnamen Melakukan permainan Menerima skor Ceramah . Pada tahap inti. dan terakhir memberikan evaluasi. Secara acak guru menunjuk wakil dari kelompok menuju meja turnamen dan meminta setiap wakil kelompok melakukan permainan di meja turnamen dengan mengambil sebuah kartu yang telah diacak dan diberi angka kemudian meminta wakil kelompok mempersentasikan jawabannya. guru memulai dengan menyajikan informasi atau materi pembelajaran. Pada tahap inti. Kerangka Kerja Pembelajaran Tahap Pembelajaran Aktifitas Guru Aktifitas siswa Sarana Metode Alokasi Waktu (menit) Memberikan motivasi Pendahuluan Menyampaikan tujuan pembelajaran Mengingatkan kembali tentang materi yang sudah dipelajari yang ada hubungannya dengan materi yang akan dipelajari Memperhatikan Tanya jawab 15 menit Memberikan materi pelajaran Pokok/inti Mengelompokkan siswa secara heterogen Membagi LKS kepada masing-masing kelompok Meminta setiap kelompok menyelesaikan soal-soal kelompok Memantau kerja kelompok selama diskusi berlangsung Menunjuk wakil dari kelompoknya menuju meja turnamen Meminta setiap wakil kelompok melakukan permainan Meminta wakil tiap kelompok mempresentasikan jawabannya. Siswa mengerjakan soal-soal LKS secara berkelompok yang dipantau oleh guru. Setelah itu guru membagi LKS kepada masing-masing kelompok. memecahkan masalah yang melibatkan perbandingan. siswa diarahkan pada penyimpanan dari soal-soal LKS yang telah diselesaikan bersama-sama anggota kelompok.

Diskusi 85 menit Memberikan siswa untuk membuat rangkuman Penutup Memberi penekanan pada hal-hal penting Mencoba membuat rangkuman dari soal-soal yang dikerjakan Memberikan soal tes Memperhatikan penjelasan guru Menyelesaikan soal tersebut secara individual. Siswa yang diambil sebagai subjek penelitian adalah 5 orang siswa dengan pertimbangan agar memudahkan fokus perhatian dan pengamatan sehingga tercapai refleksi mendalam. Sekolah ini dipilih sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut: 1. S. Pemilihan subjek penelitian ditentukan berdasarkan pada hasil tes awal dan pertimbangan dari guru mata pelajaran matematika yang mudah diajak berkomunikasi dan bekerja sama. Terbuka kemungkinan untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut. 3. Dalam penelitian ini yang bertindak sebagai pengajar adalah guru matematika kelas VII7 SMP Negeri 9 Kendari yang bernama Ratna Palapasari. Hal ini diambil dengan pertimbangan bahwa jika siswa yang berkemampuan rendah dapat berhasil dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT . Sumber data pada penelitian ini adalah guru matematika dan siswa kelas VII¬7 SMP Negeri 9 Kendari tahun pelajaran 2006/2007 Semester I. Tanya jawab 20 menit G. Siswa mengalami kesulitan tentang materi perbandingan. penganalisis data dan pelapor penelitian. Belum pernah dilaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament. Data dan Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini mencakup: (1) Hasil tes awal dan tes akhir (2) Hasil observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pd. (3) Hasil wawancara terhadap subjek penelitian. Kelima siswa tersebut ditentukan dengan cara yang mendapat skor paling rendah dalam hasil tes awal. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 9 Kendari yang beralamat di Jalan Saranani Kecamatan Mandonga Kota Kendari. pengumpul data. perancang. karena peneliti bertindak sebagai instrument kunci dalam penelitian ini. 3. (4) Hasil catatan lapangan. 2. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Peneliti sebagai perencana. Metode Penelitian 1. 2. 4. Ciri utama dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar di kelas. Kehadiran Peneliti Kehadiran peneliti mutlak diperlukan. dan (5) Hasil angket siswa.

Faktor siswa. (3) menyusun tes akhir tindakan. (2) wawancara. Tahap-tahap Penelitian Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan tindakan. Perencanaan. Refleksi awal Pada tahap ini dilakukan kegiatan (1) membuat soal tes awal. (3) pengamatan. Tes yang akan dilakukan pada penelitian ini berupa tes awal dan tes akhir tindakan. 5. 4. kegiatan yang dilakukan adalah (1) menentukan tujuan pembelajaran. ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor guru. yaitu: (1) tes. Observasi dilakukan peneliti dengan menggunakan lembar observasi. Menyusun rencana pembelajaran. yaitu melihat apakah sumber pelajaran dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang akan dipelajari.terhadap materi perbandingan. Faktor sumber belajar. 3. (2) menyusun kegiatan pembelajaran melalui model pembelajaran tipe TGT terhadap materi perbandingan. Kegiatan yang diamati meliputi aktivitas guru matematika sebagai pengajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Menetapkan dan merumuskan rancangan tindakan Pada tahap ini. yaitu melihat minat dan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika. kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi: 1. Wawancara dilaksanakan pada setiap akhir tindakan dan direkam dengan tipe recorder. wawancara dilakukan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran. 1. Tes awal dan tes akhir tindakan. (1) menentukan sumber data. Faktorfaktor tersebut adalah: a. Observasi dimaksudkan untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan serta untuk menjaring data aktivitas siswa dalam berdiskusi. berarti siswa yang berkemampuan tinggi dan sedang juga dapat berhasil dalam pembelajaran tersebut. 6. Pencatatan lapangan dimaksudkan untuk melengkapi data yang tidak tercatat dalam lembar observasi. yaitu melihat bagaimana materi pelajaran disiapkan. dengan tujuan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat yang telah dimiliki siswa dan untuk mengetahui tercapainya tes akhir tindakan. 2. Faktor yang Diselidiki Untuk menjawab permasalahan yang timbul. . Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini. b. (4) menentukan subjek penelitian. Tahap perencanaan meliputi kegiatan a. Selain itu. yang diberikan kepada siswa. Dan angket. Dengan demikian diharapkan tidak ada data penting yang terlewatkan dalam kegiatan penelitian ini. dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru matematika. teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT). (3) melakukan tes awal. Wawancara dilakukan untuk menelusuri dan mengetahui pemahaman siswa dalam memecahkan masalah-masalah perbandingan. c. 7. 1. 2. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan di kelas selama kegiatan pembelajaran. dan (4) pencatatan lapangan. Tahap pelaksanaan tindakan a. b. khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan perbandingan.

Bandung . 1991. d. Hamalik. dilakukan pengamatan dengan lembar observasi untuk mengumpulkan data. 2001. Bandung. Indikator Kinerja Sebagai indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah minimal 80% siswa telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan. Seorang siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar secara perorangan apabila siswa tersebut telah memperoleh nilai minimal 6. maka dilakukan wawancara terhadap subjek penelitian. Mengkoordinasikan program kerja dalam pelaksanaan tindakan dengan guru matematika b. Oemar. Untuk menindaklanjuti hasil observasi dan hasil tes. www. 3. disesuaikan dengan rencana yang telah disusun dalam rencana pembelajaran. c. Adapun tahap pelaksanaan tindakan yang diadaptasi dari Tim PPPG Matematika Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai berikut: 8. Diaskes 3 Februari 2006).2. Menyiapkan materi pembelajaran yang akan disajikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Observasi ini dilakukan oleh peneliti. Proses Belajar Mengajar.Google Com. Zainal. 2001. Bumi Aksara. Remaja Rosdakarya. 4. Evaluasi Instruksional. Kooperatif. Arifin. Anonym. Coperatif Learning Theory Rosearch Practice.0 (ketentuan dari sekolah). Balai Pustaka. Adapun yang akan diamati meliputi aktivitas siswa dengan guru selama pembelajaran berlangsung. DAFTAR PUSTAKA Allyn dan Bacon. Refleksi Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tindakan untuk menjelaskan dan mengambil kesimpulan apakah perlu mengulang siklus (dengan perbaikan) atau melangkah ke tahap selanjutnya berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Observasi Selama pembelajaran. Menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan pada saat mengobservasi pelaksanaan pembelajaran. Pelaksanaan Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini. (Onlinb. Jakarta. 1999.

Muhamad dkk. Wartono. Universitas Negeri Surabaya : University Perss. dkk. Materi Penelitian Terintegrasi Sains. Hudoyo. 1979. 1995. Ismail. Depdiknas. Penelitian Tindakan Kelas (Diklat Guru Inti Matematika SMP di Daerah Tahun 2005). Jakarta. Depdiknas. Pembelajaran Kooperatif . Ibrahim. Strategi Belajar Mengajar. 2002. Matematika Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Kelas I. Tim PPPG Matematika. Asdi Mahasatya. N. Pengembangan dan Uji Coba Perangkat CTL. Depdiknas. Belajar Mengajar Matematika. dkk. Dkk. P2 LPTK. Surakarta. Nur. 2000. 2000. Jakarta. www Google. Jakarta. Com (Http:// TGT. M. Herman. Bandung. Matematika dalam Kehidupan Kita. University Press UNESA.Hartadji. Sumadi. 2005. Roestiyah. Surabaya. Rahardi. Russefendi. Tarsito.Com). Moersetyo. Pengajaran Matematika Modern. Depdiknas. Jakarta. . Aswan. 2005. 2002. Erlangga. Jakarta. dkk.1994. Jarkarta. Jakarta. Masalah Pengajaran Sebagai Suatu Sistem. K. 2001. Matematika SLTP 2 B. Pembelajaran Kooperatif. 2003. Rineka Cipta. Wilson. 2004. Nursyafi¶i. 1988. Kusrini. Model-Model Pembelajaran. Penerapan Model Belajar Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Dalam Pembelajaran Matematika Sekolah Menengah Umum Conline. E. Yogyakarta. Zain. CV Anak Cerdas Nusantara. Jakarta. Sukino dan Simangunsong. Depdiknas. T.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.