Cerpen Pendidikan: Sekolahku di Pedalaman

Cerpen Pendidikan Judul: Sekolahku di Pedalaman ---------------------------Sudah lima tahun aku belajar di sekolah “Budi Makmur” ini. Sekolahku berada di daerah pedalaman. Kondisi sekolahku sangat sederhana. Hanya ada tiga kelas. Dindingnya terbuat dari papan dan kulit kayu. Sementara atapnya terbuat dari daun sagu, atau sering disebut daun rumbia oleh suku pedalam. Meja dan tempat duduk kami terbuat dari papan yang dibuat memanjang. Papan tulis hitam berukuran 1x2 meter menggantung di depan kelasku. Se-kolahku hanya berlantaikan tanah. Kalau hujan turun, airnya akan masuk ke dalam kelasku hingga menjadi becek. Sekarang aku sudah kelas enam. Hanya ada empat orang murid di kelasku. Sedangkan guru yang mengajar di sekolahku hanya ada dua orang. Pak Nantan dan Pak Kurna, mengajar dari kelas satu sampai kelas enam. Dalam belajar, kami dan guru senang membaur. Seperti mengerjakan latihan misalnya, kami sering mengerjakan dan memecahkannya bersama-sama, dan tidak malu-malu bertanya kalau tidak paham. Kami dan guru terlihat sangat akrab sekali! Pulang sekolah hari ini aku dibonceng Pak Nantan naik sepeda ontel. Sedangkan Rizal, temanku, ikut dengan Pak Kurna. Kami sering dibonceng seperti ini karena rumah kami berdua paling jauh. Jarak rumah ke sekolahku empat kilo meter. Jam enam pagi aku sudah harus berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki melewati jalan setapak dan hutan belantara. “Pak Nantan hari ini mancing ke sungai lagi? Boleh Ujang ikut?” tanyaku. “Bapak hari ini memetik buah kelapa di kebun, Jang. Uang belanja sudah menipis. Besok kalau kelapa-kelapa itu sudah terjual, Bapak pasti akan ajak Ujang mancing di sungai!” janji Pak Nantan.

Kalau orang-orang di kampung ini sudah bisa membaca dan berhitung. Di rumah. Ah. “Pendidikan di kampung ini memang sangat menyedihkan. Wah… Bagaimana mungkin? Apa aku bisa? Ah. Sudah lelah mengajar di sekolah.” Air mataku menetes. Aku mengangguk. mereka hanya empat kali datang ke sekolahku. Setahun yang lalu ada dua orang guru bantu yang dipindahtugaskan dari kota ke kampungku. Tapi mana mungkin. Kedua orang tuaku tidak pandai membaca dan menulis. aku pun mengajari . Jang?” “Aku ingin jadi seperti Bapak!” jawabku mantap. tapi akhirnya kucoba juga. Setiap hari setelah pulang sekolah. Aku sedih sekali. Pak Nantan harus memanjat kelapa lagi sesampainya di rumah. Namun harapanku itu kemudian pupus. Tapi niat baiknya ingin memajukan kampungku supaya bebas buta huruf dan pandai berhitung memang patut diacungi jempol. keluarganya tidak bisa makan. Aku ingin semua orang bisa membaca dan berhitung. menulis dan berhitung. Suatu hari Pak Nantan pernah bertanya kepadaku tentang cita-citaku. karena Pak Nantan hanya tamat SMP.Aku sedih mendengarnya. Kalau tidak. Apalagi kebanyakan anak-anak seusiamu lebih memilih bekerja di ladang membatu orang tua mereka dari pada pergi ke sekolah. Malah suatu ketika Abah dan Emak memintaku untuk mengajari mereka membaca. Pak Nantan tak menerima gaji mengajar di sekolah. Tak ada guru-guru yang mau mengajar di kampung ini. Aku berharap kehadiaran mereka bisa memberikan kemajuan bagi sekolahku. Betapa gembiranya aku waktu itu. “Aku ingin membuat kampung ini menjadi maju. Sebulan mengajar. seharusnya Abah dan Emak bisa membimbingku belajar dan mengerjakan PR. mungkin mereka tak terbiasa dengan keadaan kampungku yang terpelosok jauh berada di pedalaman. pasti mereka bisa membangun kampung ini mejadi lebih maju!” Mata Pak Nantan tampak berkaca-kaca mendengar penuturanku. “Apa cita-citamu. “Menjadi guru?” Pak Nantan ter-senyum. Karena dengan menjual buah-buah kelapa itulah Pak Nantan bisa mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. mereka tak pernah datang-datang lagi ke sekolah. Bulan berikutnya.

ya. Emak dan Abahmu jadi tak bodoh lagi.” ujar Abah memujiku. Anak sekecil kamu sudah pandai mengajari Abah dan Emakmu membaca. “Abah bangga padamu. “Ini juga berkat Abah dan Emak yang mau menyekolahkanku hingga aku menjadi pintar dan bisa mengajari Abah dan Emak di rumah. hehe…” Abah dan Emak memelukku. kelak. menulis dan berhitung. menulis dan berhitung. Berkat kamu sekolah. Doakan aku. aku harus bisa membangun kampung ini menjadi lebih maju! Aku ingin semua orang di kampung ini bisa membaca. “Emak juga bangga.orang tuaku membaca. “Terima kasih. Jang. teman-teman! *** Sebuah cerpen pendidikan oleh: Surya Ismail Mahasiswa Bahasa Inggris UIN Suska Riau .” kata Emak lalu mencium kepalaku. Emak dan Abahmu sekarang sudah bisa membaca walaupun masih mengeja.” ucapku terharu. dan menciumi kedua pipiku dengan penuh rasa sayang dan cinta. Ah. menulis dan berhitung. Jang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful