PERANAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP KINERJA KEPALA DESA DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG

SKRIPSI Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( STISIP ) Muhammadiyah Sidenreng Rappang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Politik (S1) Pada Program Studi Ilmu Pemerintahan

OLEH

MUHAMMAD FAUZY SAAD
NPM. 43031016

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK ( STISIP ) MUHAMMADIYAH SIDENRENG RAPPANG 2007

PERANAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP KINERJA KEPALA DESA DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG.

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Keserjanaan

Program Studi Ilmu Pemerintahan

Disusun dan diajukan oleh MUH. FAUZY SAAD SIKIR

Kepada SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK MUHAMMADIYAH KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG 2007

i

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

PERANAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP KINERJA KEPALA DESA DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG.

DISUSUN DAN DIAJUKAN UNTUK DIPERTAHANKAN OLEH

N A M A NPM JURUSAN

: MUH. FAUZY SAAD SIKIR : 43031016 : ILMU PEMERINTAHAN

Rappang, Menyetujui / Mengesahkan Pembimbing I

Desember

2007

Pembimbing II

Dra. Hj. NURJANNAH NONCI, M.Si

MULIANI. S, S.IP,M.Si

Mengetahui An. Ketua STISIP Muhammadiyah Sidrap Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan

MULIANI. S, S.IP,M.Si

ii

K e t u a : : ……………………………….2 3. 3. Pada Hari ……………….3 : : ……………………………… : ……………………………… : ……………………………… Disahkan oleh Ketua STISIP Muhammadiyah Sidrap Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan Drs. sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan pada Program Studi Ilmu Pemerintahan..PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI Diterima oleh Panitia Ujian Skripsi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Muhammadiyah Kabupaten Sidenreng Rappang.IP.Si NBM : iii . Anggota 3. tanggal ……… Desember 2007.Si NBM : MULIANI. Tim Penguji 1. M. AHMAD MANNU. S.1 3. Sekretaris : ………………………………. M. 2. S.

4. M. Ibu Hj.SS. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada : 1. maka karya ilmiah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Bapak Ketua STISIP Muhammadiyah Kab. Ibu Muliani. penulis mengalami banyak kendala. 2. Rahmat dan KaruniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi persyaratan penyelesaian studi pada Sekolah Tinggi Ilmu sosial dan Ilmu Politik ( STISIP ) Muhammadiyah Sidenreng Rappang.Si selaku pembimbing yang sangat baik.M. M.IP.S. Andi Astinah Adnan. sehingga tidak menutup kemungkinan dalam karya ini terdapat banyak kekurangan. Namun oleh karena motivasi dan sumbangan pemikiran serta sumbangan yang berupa material. Hj.Si yang tiada hentinya memberikan bimbingan khusus. atas Berkah. Ibu Dra.Pd.Si selaku pembimbing sekaligus ketua program study Jurusan Ilmu Pemerintahan. 3. Bapak serta Ibu Dosen STISIP Muhammadiyah Sidrap yang telah banyak memberikan bimbingan selama mengikuti program study Ilmu Pemerintahan. Sidrap. Nurjannah Nonci.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Disadari bahwa dalam penelitian sampai pada penyusunan skripsi ini. Dengan segala kerendahan hati. S. S. iv . 5. penulis menyadari kemampuan dalam menuangkan ide dan konsep pemikiran sangat terbatas. kapan saja dan dimana saja ia berada .

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Saudaraku Andi Muzakkir S. Semoga semua bantuan dan partisipasinya mendapat imbalan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. 7.6. Pangkajene. Rekan-rekan sekalian yang senantiasa memberikan ide dan masukan selama proses penyusunan skripsi ini. Wadeng yang tiada bosan-bosannya memberikan kelengkapan data yang dibutuhkan selama dalam proses penelitian. Desember 2007 Penulis v .

. FAUZY SAAD. maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut : “Apakah faktor tingkat pendidikan berpengaruh terhadap kinerja Kepada Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang ?” . dan Muliani. Nurjannah Nonci. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas. ”Apakah ada perbedaan kinerja antara Kepala Desa yang berpendidikan SLTP kebawah dengan Kepala Desa yang berpendidikan diatas SLTP ?” Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peranan tingkat pendidikan terhadap kinerja Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. Serta yang tidak dapat dibantah pula bahwa disamping itu. Sidrap juga menghasilkan kinerja yang beragam dalam menjalankan pemerintahan di desa nya. dengan populasinya adalah seluruh Kepala Desa yang ada Kabupaten Sidenreng Rappang sebanyak 67 Orang. Peranan Tingkat Pendidikan Terhadap Kinerja Kepala Desa Di Kabupaten Sidenreng Rappang ( dibimbing oleh Hj. Implementasi dari peraturan pemerintah daerah tentang pemerintahan desa telah menunjukkan Kepala Desa khususnya di Kabupaten Sidrap memiliki latar belakang atau tingkat pendidikan yang berbeda-beda. dan mengetahui perbedaan kinerja antara Kepala Desa yang berpendidikan SLTP kebawah dengan Kepala Desa yang berpendidikan di atas SLTP. vi . 2007. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan. menganalisis peranan tingkat pendidikan terhadap kinerja Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan kepala desa di Kabupaten Sidenreng Rappang berperan sangat besar terhadap peningkatan kinerjanya. Disamping itu Kepala Desa yang memiliki tingkat pendidikan diatas SLTP memiliki kinerja lebih baik dibandingkan dengan Kepala Desa yang berpendidikan SLTP. Sampel dalam penelitian ini adalah sampel total (jenuh) yang sama jumlahnya dengan populasi. kepala desa di Kab.ABSTRAK MUH.S ).

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Rumusan Masalah C. Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN A. Kinerja 3. Lokasi Penelitian B. Kepala Desa B. Latar Belakang B. Kerangka Teori 1. Populasi dan Sampel D. Kerangka Pikir C. Jenis Penelitian C. Gambaran Umum Kabupaten Sidenreng Rappang B. Tingkat Pendidikan 2. Teknik Pengumpulan Data F. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Jenis dan Sumber Data E. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Karakteristik Responden ii iii iv vi vii 1 1 4 5 5 7 7 7 15 23 28 30 31 31 31 31 32 33 34 36 40 40 42 vii . Definisi Operasional Variabel G.

Pembahasan Hasil Analisis BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Deskripsi Penelitian D. Saran DAFTAR PUSTAKA 46 49 52 54 54 55 56 viii . Kesimpulan B.C. Pengujian Hipotesis E.

Upaya peningkatan Sumber Daya Aparatur yang berkualitas harus dimulai pada tingkat pemerintahan yang paling bawah. Salah satunya adalah Peraturan Daerah Kab. Provinsi. Sidenreng Rappang Nomor 1 s/d 10 Tahun 2007 tentang Desa. 1 . Usaha untuk mencapai pemerintahan yang baik ini melahirkan Peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan Pemerintahan di Desa.BAB I PENDAHULUAN A. maka akan berpengaruh pada kinerja pemerintahan pada tingkat Kabupaten. kita dihadapkan pada perubahan arah pembangunan yang bertumpu pada peningkatan sumber daya aparatur pemerintah sebagai kunci pokok tercapainya cita-cita bangsa yang merdeka dan berkembang. dalam hal ini dimulai pada tingkat Pemerintahan di Desa dengan asumsi bahwa tingginya kualitas aparatur pemerintah dalam menjalankan tugasnya sangat bergantung dari kualitas sumber daya manusianya. hingga Pusat. Latar Belakang Memasuki Era Reformasi. sehingga apabila Aparat Pemerintah pada tingkat Desa menunjukkan kinerja yang bagus dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kepala Desa yang merupakan kepala pemerintahan di tingkat desa diharapkan mampu menjalankan pemerintahan dengan performa yang baik dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat.

Dalam Perda Nomor 1 Tahun 2007 tentang Desa. maka tugas dan kewajiban yang lainnya sudah dapat terlaksana dengan baik pula. Pasal 14 ( persyaratan bakal calon kepala desa ) pada huruf “c” menyatakan “ berpendidikan paling rendah tamat SLTP dan/atau sederajat ”. maka Kepala Desa dituntut untuk menguasai bidang ilmu pemerintahan. Ilmu Pemerintahan yang dipelajari di bangku SLTP atau sederajat ada pada mata pelajaran PPKN. Bila ini dapat terlaksana dengan baik. Bidang Politik dan Keamanan. pada Pasal 5 dan Pasal 6 mengemukakan bahwa tugas dan kewajiban yang paling utama untuk Kepala Desa adalah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Sebab dalam Pemerintahan telah mencakup dan mengatur semua bidang. Bidang Ekonomi. baik itu Bidang Sosial Kemasyarakatan. Pelantikan dan Pemberhentian Kepala Desa. Kemudian di tingkat SMU yaitu pada mata pelajaran PPKN dan Tata Negara baru pada tingkat pengantar. maupun Bidang Hukum. Oleh karena Perda Nomor 5 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pencalonan Pemilihan. Pelantikan dan Pemberhentian Kepala Desa. namun pembahasannya baru pada tahap dasarnya saja. Sedangkan menurut Perda Nomor 5 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pencalonan Pemilihan. Berarti untuk dapat memimpin penyelenggaraan Pemerintahan dengan baik. Pasal 14 menyatakan bahwa “ Setiap warga masyarakat berhak memilih dan dipilih dalam pemilihan kepala desa. Lebih lanjut secara spesifik Ilmu Pemerintahan dibahas pada banyak mata kuliah di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu sosial dan ilmu politik. sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur didalam pasal 12 dan pasal 14 Peraturan 2 .

yaitu sekitar pukul 07. Serta yang tidak dapat dibantah pula bahwa disamping itu. mulai dari yang berpendidikan akhir SLTP atau sederajat sampai yang berpendidikan akhir Sarjana.30 pagi.30 pagi. sehingga orang yang menjadi Kepala Desa adalah yang telah dipercayakan oleh warga sebagai pemimpin dan pemegang kendali pemerintahan di Desa itu. padahal jam kerja sudah dimulai. kepentingan. bahkan dibeberapa tempat tidak ada sama sekali. dan karakteristik mereka secara umum. ” . Figur Kepala Desa dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat setempat. pengaruh. di mana pusat dari penyelenggaraan pemerintahan berlangsung.daerah ini. 3 . tingkat pendidikan. sering kita dapati kantor desa masih lengang di pagi hari. Keadaan ini sangat berbeda dengan yang terjadi di kantor Bupati. kepentingan.00-09. Hal tersebut dapat kita lihat dalam pelaksanaan pemerintahan sehari-hari di kantor desa. Jam kerja sudah dimulai hanya beberapa saat setelah apel pagi dilaksanakan. pola pikir. hubungan keluarga dan lain sebagainya.30 pagi. kekayaan. Sehingga terkadang masyarakat yang membutuhkan pelayanan lalu datang di pagi hari. Warga yang memilih Kepala Desa memiliki dasar dan berbagai alasan yang berbeda-beda. Pegawai desa akan mulai berdatangan baru sekitar pukul 09. Sidrap juga menghasilkan kinerja yang beragam dalam menjalankan pemerintahan di desa nya. masih untung kalau kita dapati satu atau dua orang. status sosial. Implementasi dari peraturan daerah diatas pada kenyataannya telah menunjukkan Kepala Desa khususnya di Kabupaten Sidrap memiliki latar belakang atau tingkat pendidikan yang berbeda-beda. sehingga pelayanan terhadap masyarakat dapat lebih optimal. kepala desa di Kab. mereka harus bersabar menunggu untuk dilayani hingga pukul 09. misalnya ada yang memilih menurut kharisma.

Pemberdayaan aparat pemerintahan di desa adalah menjadi tanggung jawab pemimpinnya. hal ini diindikasikan oleh penyetoran laporan pertanggung jawaban tahunan yang sering terlambat di Bagian Pemerintahan Desa Sekretariat Daerah Kabupaten. Apakah faktor tingkat pendidikan berpengaruh terhadap kinerja Kepada Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang ? 4 . Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas. Meskipun tidak seluruhnya demikian bagi kepala desa. Sehingga untuk memantau pelaksanaan program-program pembangunan di desa menjadi sangat sulit. maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. sehingga sangat dibutuhkan kemampuan yang besar untuk membina aparat desa agar memiliki kinerja yang lebih baik. Sehingga dari kenyataan diatas. maka penulis bermaksud mengadakan penelitian mengenai “ Peranan Tingkat Pendidikan terhadap Kinerja Kepala Desa di Kabupaten Sidrap ” . mungkin masih kita ragukan. namun sebagian besar hal tersebut terjadi. B. akan tetapi hal ini tidak bisa terlaksana tanpa didahului oleh upaya peningkatan kinerja pemimpinnya (kepala desa).Berbicara soal kinerja kepala desa. Padahal laporan pertanggung jawaban inilah menjadi salah satu indikator untuk mengukur kinerja kepala desa.

2.2. Tujuan Khusus 2.1. Tujuan Penelitian Adapun latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas dapat ditetapkan tujuan penelitian sebagai berikut : 1. Untuk menganalisis peranan tingkat pendidikan terhadap kinerja Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. Untuk mengetahui perbedaan kinerja antara Kepala Desa yang berpendidikan SLTP kebawah dengan Kepala Desa yang berpendidikan di atas SLTP. 2. Apakah ada perbedaan kinerja antara Kepala Desa yang berpendidikan SLTP kebawah dengan Kepala Desa yang berpendidikan diatas SLTP ? C. b.2. D. Manfaat Teoritis Sebagai sarana pembanding bagi dunia ilmu pengetahuan dalam memperkaya informasi tentang pengaruh tingkat pendidikan terhadap kinerja. Manfaat Penelitian. Terkait dengan tujuan penelitian. Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menjelaskan peranan tingkat pendidikan terhadap kinerja Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. maka penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat : a. Manfaat Praktis 5 .

1. 2. 6 . Memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang dalam upaya peningkatan kinerja aparat pemerintahan di masa mendatang. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintahan Desa khususnya Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang dalam upaya peningkatan kinerjanya di masa datang.

Kata “tingkat” pada kata “pendidikan” menunjukkan adanya proses yang berlangsung semakin 7 . Tingkat diartikan sebagai: 1. (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. tahap. dsb). 3. kejadian. Jakarta Tahun 2003). sempadan suatu peristiwa (proses. taraf. derajat. Tingkat Pendidikan a. kemajuan. Kerangka Teori 1. dsb). Dalam pembahasan ini yang dimaksudkan dengan pengalaman yang telah menghasilkan sebuah proses tersebut adalah pendidikan yang merupakan urutan dari bentuk-bentuk pengalaman seseorang dalam upayanya untuk mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya atau ingin mengetahuinya lebih mendalam lagi. Tingkat. tinggi rendah martabat (kedudukan. Kata “tingkat” dapat juga dimaknai sebagai susunan dan urutan dari sesuatu yang dilalui atau berupa pengalaman yang telah menghasilkan sebuah proses. kelas. pangkat. susunan yang berlapis-lapis atau berlenggek-lenggek seperti lenggek rumah. penerbit Balai Pustaka.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. babak(an). 2. jabatan. batas waktu (masa). tumpuan pada tangga (jenjang). peradaban.

mendalam dan berkelanjutan ini berlangsung pada proses belajar mengajar yang disusun sedemikian rupa menjadi sebuah sistem untuk belajar secara umum. baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Pendidikan. Pendidikan itu sendiri dapat dikelompokkan menurut sumber perolehannya. b. cara. Secara garis besar didefinisikan bahwa Tingkat Pendidikan merupakan jenjang Pendidikan Formal yang telah diselesaikan oleh seseorang yang dimulai dari Pendidikan Dasar atau lebih dikenal dengan 8 . Bentuk pendidikan informal yang telah diperoleh seseorang biasanya berupa nasihat. proses. 2. Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. hasil pengamatan. dan konsep-konsep pemikiran yang telah beredar di masyarakat. perbuatan mendidik. Pendidikan Informal Pendidikan Informal yaitu pendidikan atau pelatihan yang terdapat di dalam keluarga atau masyarakat dalam bentuk yang tidak terorganisasi. Seseorang bisa dengan bebas mendapatkan pendidikan informal dalam kehidupannya sehari hari. Pendidikan Formal Pendidikan Formal adalah segenap bentuk pendidikan atau pelatihan yang diberikan secara terorganisasi dan berjenjang. yaitu : 1.

kemudian Diploma (D III). Kemudian Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang biasa juga disebut Sekolah Menengah Umum (SMU). atau Akademi yang di beri gelar hingga Sarjana Strata Tiga (S3). Madrasah Tsanawiyah (MT). sampai pada tingkat perguruan tinggi atau biasa disebut Sekolah Tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Bagan Tingkat Pendidikan Formal sebagai berikut : 9 . kemudian Sarjana Strata Satu ( Sarjana S1). kemudian Sarjana Strata Dua ( Sarjana S2 ). Sekolah Menengah Atas (SMA). kemudian Diploma Satu (D I). Madrasah Ibtidaiyah (MI). Di negara kita Pendidikan Formal dimulai dari dasar yang biasa disebut Sekolah Dasar (SD). dan jenjang akademik yang tertinggi adalah Sarjana Strata Tiga (Sarjana S3). kemudian Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang juga biasa disebut Sekolah Menengah Pertama (SMP). Madrasah Aliyah (MA). Universitas. Kemudian Diploma Dua (D II).sebutan Sekolah Dasar atau sekolah yang mengajarkan pelajaran dalam bidang khusus yang disebut sederajat dengan Sekolah Dasar (Pesantren/Madrasah Ibtidaiyah).

Seseorang dapat dikatakan memiliki tingkat pendidikan tinggi atau berpendidikan tinggi apabila telah menyelesaikan pendidikan Sarjana Strata Satu (S1). Begitu juga seorang dapat dikatakan memiliki tingkat pendidikan sedang atau 10 . Sarjana Strata Tiga (S3).Dalam buku “ Sidrap dalam Angka Tahun 2007 “ di kemukakan acuan / pedoman untuk menilai tingkat pendidikan seseorang adalah dengan mengukur tingkat pendidikan formal (akademik) terakhir yang telah diluluskan atau diselesaikannya (lihat Bagan Tingkat Pendidikan Formal). Sarjana Strata Dua (S2).

namun tidak dapat dipungkiri bahwa seberapa tinggi tingkat pendidikan yang telah diluluskan atau diselesaikan oleh seseorang. Seseorang akan ditempatkan pada posisi bawah dalam struktural apabila ia memiliki tingkat pendidikan yang rendah atau sedang. seseorang akan ditempatkan pada posisi atas dalam struktural apabila ia memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. dan Diploma Tiga (DIII). Dan seseorang dapat dikatakan memiliki tingkat pendidikan rendah atau berpendidikan rendah apabila cuma dapat menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD). sedikit banyaknya mampu membekali pribadi seseorang dalam menguasai suatu bidang pekerjaan yang digeluti nya serta mampu menentukan posisi strukturalnya dimana dia bekerja. Begitu pula sebaliknya. meskipun tingkat pengetahuan dan kecerdasan yang dimilikinya setara dengan orang yang berpendidikan rendah atau sedang. Diploma Satu (DI). 11 . Meskipun tingkat pendidikan formal yang telah diluluskan atau diselesaikan oleh seseorang tidak dapat menunjukkan seberapa jauh tingkat pengetahuan dan kecerdasan yang dimilikinya. Makanya dalam perekrutan tenaga kerja atau Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) telah dibedakan kualifikasi jurusan sesuai dengan tingkat pendidikan. meskipun tingkat pengetahuan dan kecerdasan nya setara dengan orang yang berpendidikan tinggi.berpendidikan sedang apabila menyelesaikan pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau yang sederajat. Diploma Dua (DII). Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang sederajat.

Jenis kecerdasan tersebut antara lain sebagai berikut : 1. 2. kejujuran. kebijaksanaan. Kecerdasan emosi ini telah dianggap oleh banyak orang sangat menentukan keberhasilan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan kecerdasan seseorang dapat dikelompokkan kedalam beberapa jenis yang memiliki hubungan yang erat antara jenis yang satu dengan jenis yang lainnya.3. dan penguasaan diri atau sinergi. ketahanan mental. seperti : Integritas. 12 . komitmen. Kecerdasan Emosi Emotional Quotient atau Kecerdasan Emosi ini menyangkut halhal yang berkenaan dengan hati. keadilan. prinsip kepercayaan. Kecerdasan Otak Kecerdasan otak atau dikenal dengan sebutan IQ ( Intelligential Quotient ) merupakan bentuk kecerdasan yang bersumber dari pengetahuan kognitif atau berdasar pada pengetahuan faktual yang empiris. Bentuk pendidikan nonformal yang telah diperoleh seseorang biasanya dalam bentuk kursus dan pelatihan. kreativitas. Berbagai bentuk pendidikan yang telah diperoleh seseorang hasilnya biasa juga disebut kecerdasan. Hal tersebut juga telah terbukti secara ilmiah bahwa kecerdasan emosi memegang peranan yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan di segala bidang. visi. Pendidikan Nonformal Pendidikan Nonformal diartikan sebagai segenap bentuk pelatihan yang diberikan secara terorganisasi diluar Pendidikan Formal.

Kecerdasan Spiritual Kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient. The Ultimate Intelligence (London. yang merupakan temuan terkini secara ilmiah. Cooper Ph. dan keefektifan pribadi mengemukakan : “Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam.Robert K. menciptakan kerjasama.D. yaitu Daniel Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan emosi sangat berbeda dengan IQ. pembelajaran transformasi. Spiritual Quotient. 3. IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup. 2000). maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja. Sementara kemampuan yang murni kognitif relatif tidak berubah (IQ). pemarah atau sulit bergaul dengan orang lain sekalipun. atau tidak dapat. Tidak peduli orang itu peka atau tidak. kita dapat mempelajari dan menguasai kecakapan emosi tersebut. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar. diketahui oleh pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat. pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. seorang cendikiawan peneliti sistem kemanusiaan. mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. integritas dan komitmen. memimpin dan melayani. Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual yang dipaparkan Zohar dan Marshall dalam SQ. dengan motivasi dan usaha yang benar. dua 13 . pemalu.” Pakar EQ. masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif. Hati tahu hal-hal yang tidak.

tetapi juga menjadikannya lebih hebat. riset ahli psikologi/syaraf . Scott Fitzgerald menulis. Ramachandran dan tim nya dari California University. F. Wolf Singer pada era 1990-an atas The Binding Problem. Suatu jaringan syaraf yang secara literal “mengikat” pengalaman kita secara bersama untuk “hidup lebih bermakna”. Pada God-Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. yang menunjukkan ada proses syaraf dalam otak manusia yang berkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Sedangkan bukti kedua adalah riset ahli syaraf Austria. dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli syaraf V. 14 . Michael Persinger pada awal tahun 1990-an. dan tidak hanya mempertahankan kemampuan berfungsi. Kecerdasan tingkat tinggi memadukan kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan otak (IQ).S.” Sesungguhnya ini masih dapat kita sederhanakan. Ini sudah build-in sebagai pusat spiritual (spiritual centre) yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. “Ukuran paling tepat untuk menguji kecerdasan tingkat tinggi adalah kemampuan menyimpan dua gagasan berlawanan dalam pikiran secara bersamaan.diantaranya adalah : Pertama. namun masih mempunyai kemampuan untuk berfungsi. yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia.

2. Kinerja Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, penerbit Balai Pustaka, Jakarta Tahun 2003, Kinerja diartikan sebagai berikut : 1. Sesuatu yang dicapai / dihasilkan; 2. Prestasi yang diperlihatkan; 3. Kemampuan untuk bekerja; Sementara dalam Bahasa Inggris kinerja adalah performance yang menurut Gasperz (1998 :287) performance adalah pemberian pelayanan yang produktif (Efektif dan efisien) serta berkualitas berupa pengendalian terus menerus dari manajemen pemerintah sehingga dapat meningkatkan kelancaran dan ketetapan pelaksanaan tugas-tugas pemerintah dan pembangunan. Para ahli memberikan pengertian kinerja sebagai berikut : Darma (1990:11) mengemukakan bahwa Kinerja atau prestasi kerja adalah suatu yang dikerjakan atau jasa yang dihasilkan atau diberikan oleh seseorang atau kelompok orang. Kinerja tersebut dapat diukur atau dinilai pada manusia pekerja atau keadaan suatu organisasi. Untuk mengukur keefektifan kinerja dari manusia sukar, karena manusia merupakan makhluk yang selalu berubah dan penuh keterbatasan. Oileh karena itu, prestasi yang ditunjukkan sekarang ini akan berbeda dengan prestasi yang dicapai pada masa yang akan datang. Dengan demikian keefektifan manusia dalam hal ini kepala desa akan berubah dari waktu ke waktu. Untuk melakukan penelitian terhadap keefektifan kinerja, James L Gibson, John H Ivancevich, James H. Donelly dalam Latief (2001 : 28 ) mengemukakan

15

sebagai berikut : “penelitian yang kita buat sehubungan dengan prestasi individu, kelompok, organisasi, makin dekat dengan prestasi kerja terhadap prestasi yang diharapkan, makin efektif kita menilai mereka.” Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keefektifan individu akan menghasilkan keefektifan kelompok dan keefektifan kelompok akan menghasilkan keefektifan organisasi. Karena itu, masalah kinerja aparatur pada pokoknya menyangkut prestasi dan keefektifan kerja. Prestasi dan keefektifan kerja ini intinya adalah pada prestasi dan keefektifan individu. Selanjutnya pengertian kinerja dikemukakan oleh Musanef (1993;34) sebagai berikut : ‘”prestasi kerja atau kinerja adalah kemampuan seseorang dalam usaha mencapai hasil kerja yang lebih baik, yang lebih menonjol kearah tercapainya tujuan organisasi.” Prestasi kerja atau kinerja itu hanya dapat dimiliki oleh orangorang yang berkemauan keras atau memiliki jiwa serta merupakan type manusia unggul yakni orang-orang yang memiliki etos kerja yang maksimal dan menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu mempersepsi pekerjaannya agar mempunyai makna dan dapat dilakukan dengan penuh kesungguhan untuk memenangkan suatu persaingan pekerjaan dalam arti persaingan positif. Orang-orang yang berprestasi tersebut selanjutnya dipaparkan oleh Tasmara (1990 ; 20 ) bahwa : ‘Orang-orang yang berprestasi, serta memiliki etos kerja yang tinggi, adalah tipe manusia yang selalu ingin menjadi orang yang lebih unggul, secara dunia maupun prestasi batin. Dia tidak pernah puas untuk hanya sekedar kelas menengah, ada ambisi, ada dorongan untuk selalu berkompetisi.” Menurut Tasmara bahwa ciri-ciri orang yang mempunyai etos kerja dan menghayati akan tampak dalam

16

sikap dan tingkah laku seseorang yang dilandasi pada suatu keyakinan bahwa pekerjaan itu merupakan ibadah yakni suatu panggilan dan perintah Allah yang akan memuliakan diri seseorang, memanusiakan dirinya sebagai bagian dari manusia pilihan yang memiliki jiwa kepemimpinan (leadership) yaitu orang yang mempunyai personalitas yang tinggi dan mau menerima kritik yang bersifat membangun demi kebaikan bersama dan senantiasa menghargai waktu yang ada. Dari beberapa defenisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan umum bahwa kinerja adalah : a. Adanya tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. b. Memiliki keterampilan dan pengetahuan. c. Mencapai hasil kerja yang efektif dan efisien. d. Meliputi mental, moral dan rasa pengabdian yang tinggi. Orang bekerja untuk mencapai prestasi dalam hidupnya dapat melakukan berbagai cara yang dianggap baik sesuai dengan nilai-nilai agama, adat istiadat dan organisasi yang ditempati bekerja sesuai dengan kemampuan dan keterampilan serta pengalaman kerja yang dimiliki. Pegawai yang memegang teguh prinsip-prinsip berprestasi, akan mudah mencapai tujuan organisasi. Pencapaian tujuan organisasi pada intinya adalah bagaimana merealisasikan program-program kerja organisasi dalam bentuk kinerja atau pelaksanaan tugas dari tugas-tugas rutin. Kemampuan berprestasi memberikan pernyataan bahwa manusia pada hakikatnya mempunyai kemampuan untuk berprestasi diatas kemampuan orang lain,. Kemampuan itu hanya dapat dimiliki bila mana kepala desa mempunyai pendidikan yang tinggi, pengalaman, mental yang baik, dan moral yang baik. Akan

17

rasakan dan kerjakan. taburlah perbuatan petiklah kebiasaan. petiklah nasib. Pendapat ini sekiranya bisa menegaskan bahwa hakikat dari suatu kecakapan bukanlah hanya suatu pemahaman atau pengetahuan. agar suatu tugas terlaksana. petiklah karakter. taburlah karakter. Ada suatu pandangan tentang penciptaan karakter menurut buku Stephen R. dalam buku tersebut diungkapkan bahwa: “Taburlah gagasan. maka hal itu tidak akan menghasilkan atau mencapai kinerja yang baik atau tidak terwujudnya manajemen yang produktif. Kinerja bersumber dari kecakapan seseorang. Covey yang bisa dijadikan acuan. petiklah perbuatan. Proses ini dapat kita lihat dari bagan sebagai berikut : 18 .” Artinya untuk membangun karakter yang nantinya mampu mempengaruhi nasib seseorang. Karakter seseorang juga dibentuk melalui proses yang berkesinambungan. maka harus dimulai dari pengetahuan yang akan menghasilkan sebuah ide atau gagasan. kecakapan pada hakikatnya dapat dipandang sebagai sekumpulan kebiasaan yang terkoordinasi. tetapi merupakan metode internalisasi kebiasaan dan karakter. walaupun tempat kerjanya sudah tepat. apa yang kita pikirkan. taburlah kebiasaan. atau wujud usaha seseorang dalam mencapai tujuannya.tetapi bila kesanggupan dalam memangku jabatan tidak ada. kinerja dimaksudkan sebagai hasil dari usaha yang telah dilakukan oleh seseorang. dapat juga dikatakan sebagai prestasi kerja. Dalam pembahasan ini.

kemudian pengetahuan itu akan menghasilkan Ide-ide atau gagasan. Berawal dari pengetahuan yang dimilikinya.Bagan diatas menunjukkan bagaimana kinerja seseorang tercipta dari dalam dirinya. lalu dari gagasan tersebut seseorang akan mengambil sikap atau melakukan suatu tindakan/perbuatan. Dari kebiasaan yang menjadi karakter tersebut akan melahirkan kecakapan. dan hasilnya disebut sebagai Kinerja seseorang. tentang apa yang kita pikirkan atau bagaimana pola pikir kita. sehingga perbuatan yang dilakukannya secara terus menerus kemudian akan menciptakan kebiasaan. Dengan lebih spesifik lagi. menurut Amin Wijaya (1995 : 48) kinerja adalah prestasi kerja pegawai dan profesi pengembangan dimasa datang dilakukan dengan sistematis dan formal. Menurut Mustopadidjaya AR (1993: 3) kinerja adalah 19 . atau pendidikan informal. pendidikan formal. pengetahuan diperoleh dari pendidikan baik itu pendidikan nonformal.

tujuan misi dan visi organisasi. dan etos kerja mereka. dinyatakan akuntabilitas kinerja adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan misi organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. bahwa pendidikan. dalam kajian ini juga dipengaruhi oleh sikap pegawai . secara signifikan mempunyai hubungan yang positif dengan pelaksanaan tugas-tugas mereka. Hasil penelitian menunjukkan. Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah diartikan oleh Mustopodidjaya (1999: 4) adalah instrumen pertanggungjawaban keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta misi organisasi. Sedangkan 20 . kegiatan pelatihan dalam bentuk pelatihan penjenjangan. 2004: 39 ). pelatihan teknis fungsional. Didalam Instruksi Presiden Nomor : 7 Tahun 1999 tanggal 15 Juni 1999. Pengukuran kedua variabel terkait hanyalah dilihat dari aspek pelaksanaan pendidikan bagi aparatur. melalui pendidikan formal dan nonformal. dan kegiatan pengembangan melalui promosi dan mutasi pegawai. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kinerja aparatur. serta pelaksanaan tugas-tugas pokok dalam lingkungan kerja. adalah antara lain program peningkatan kualitas sumber daya aparatur.gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan / program / kebijakan dalam mewujudkan sasaran. tingkat motivasi. program pelatihan dan pengembangan aparatur. pelatihan dan pelaksanaan tugas pokok ada pengaruhnya terhadap kinerja aparatur ( hasil penelitian Luther Taruk. Hubungan antara variabel peningkatan kualitas sumber daya aparatur dengan pelaksanaan tugas pokok mereka.

21 . Menjadi masukan dan umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka meningkatkan rangka meningkatkan kinerja instansi pemerintahan. d. kebijaksanaan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Mendorong instansi pemerintahan untuk menyelenggarakan tugas umum pemerintah dan pembangunan secara baik dan benar (good governance) yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.laporan penilaian terhadap kinerja instansi pemerintahan adalah media pertanggungjawaban yang berisi informasi mengenai kinerja instansi pemerintah. efektif. dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungannya. b. Dalam Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor :589/IX/6/Y/99 Tanggal 20 September 1999 mengatakan bahwa pengertian akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang atau badan hukum. dan bermanfaat antara lain untuk : a. Terpeliharanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. c. Menjadikan instansi pemerintah yang akuntabel sehingga dapat beroperasi secara efisien.

keluaran (Output). transparan dan innovation sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutahiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas. e. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Harus jujur. manfaat dan dampak. b. dengan memperhitungkan indikator masukan (input). d. outcomes. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumbersumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan yang berlaku. objektif. Instansi Pemerintah disini termasuk juga pemerintahan desa yang dijalankan oleh seorang kepala desa. Dan indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. c. Harus ada dari pimpinan dan seluruh staf instansi pemerintah yang bersangkutan. Kinerja Pemerintahan Desa tidak dapat terlepas dari kinerja kepala desa sebagai pemimpin penyelenggaraan Pemerintahan di Desa.Adapun prinsip-prinsip pelaksanaan akuntabilitas kinerja instansi pemerintahan yang harus memperhatikan antara lain sebagai berikut : a. 22 . Harus berorientasi pada pencapaian pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh.

Kepala Desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan. Yang dimaksud dengan “ Urusan Pemerintahan “ antara lain pengaturan kehidupan masyarakat sesuai dengan kewenangan desa seperti pembuatan 23 .Pasal 14. sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. Kepala Desa Desa atau yang disebut dengan nama lain . Sesuai Pasal 14 hingga Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2006 tentang Desa pada paragraf 2 menyatakan : Tugas dan Kewajiban Kepala Desa adalah sebagai berikut : . pembangunan. Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. dan kemasyarakatan. selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. 1. berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.3. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang dimaksud dengan urusan kemasyarakatan antara lain pemberdayaan masyarakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat seperti bidang kesehatan.peraturan desa. d) Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai APB Desa untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD. pasar desa. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Yang dimaksud dengan secara partisipatif mengkoordinasikan memfasilitasi pembangunan desa dalam perencanaan. f) Membina perekonomian desa. g) Mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif. adat istiadat. 2. e) Membina kehidupan masyarakat desa. irigasi desa. Kepala Desa mempunyai wewenang : a) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD. kerja sama antar desa. b) Mengajukan rancangan peraturan desa. pembentukan Badan Usaha Milik Desa. pembentukan lembaga kemasyarakatan. pendidikan. Yang dimaksud dengan “Urusan Pembangunan” antara lain pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana prasarana fasilitas umum desa seperti jalan desa. adalah 24 . c) Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD.

25 . h) Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik. . melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Korupsi. kepala desa mempunyai kewajiban : a) Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila. pengembangan. b) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat. i) Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. c) Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 . d) Melaksanakan kehidupan demokrasi . dan Nepotisme. f) Menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahan desa.Pasal 15 1. pemanfaatan. dan pelestarian pembangunan di desa. h) Mewakili desa nya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.pelaksanaan. g) Menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundangan-undangan. e) Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari Kolusi.

pemerintah provinsi. l) Mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa. Yang dimaksud dengan “Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa” adalah laporan semua kegiatan desa berdasarkan kewenangan desa yang ada. m) Membina. mengayomi an melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat. n) Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa. 26 . Kepala Desa mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan sumber daya alam dan melestarikan pemerintahan desa kepada Bupati/Walikota. serta tugas-tugas dan kewenangan dari pemerintah. kepala desa dapat dibantu oleh lembaga adat desa. pemerintah kabupaten / kota. memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD. j) Melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa.i) Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan desa. serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat. k) Mendamaikan perselisihan masyarakat di desa. dan o) Mengembangkan potensi lingkungan hidup. 2. Selain kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Untuk mendamaikan perselisihan.

Laporan Penyelenggaraan pemerintahan desa sebagaimana dimaksud ayat (2) disampaikan kepada Bupati / Walikota melalui Camat 1 (satu) kali dalam satu tahun.Yang dimaksud dengan “ memberikan adalah keterangan seluruh termasuk APB Desa keterangan pertanggungjawaban” peraturan-peraturan desa proses pelaksanaan Yang dimaksud dengan “menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat” adalah memberikan informasi berupa pokok-pokok kegiatan. 6. Laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan 1 (satu) kali dalam satu tahun dalam musyawarah BPD. 27 . BPD dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis atas laporan keterangan penanggung jawaban Kepala Desa tetapi tidak dalam kapasitas menolak atau menerima. dapat berupa selebaran yang ditempelkan pada papan pengumuman atau diinformasikan secara lisan dalam berbagai pertemuan masyarakat desa. 5. radio komunikasi atau media lainnya. Menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2). laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan oleh Bupati/Walikota sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan desa dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut. 3. 4.

7. berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berada pada wilayah Pemerintahan Kabupaten / Kota. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kepala desa yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah orang yang terpilih untuk memimpin dalam kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Laporan akhir masa jabatan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui Camat dan kepada BPD. Laporan penyelenggaraan pemerintahan desa disampaikan kepada Bupati/Walikota dan BPD selambat-lambatnya 3(tiga) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan. dapat kita gambarkan melalui bagan sebagai berikut : 28 . Yang dimaksud dengan “laporan akhir masa jabatan” adalah laporan penyelenggaraan pemerintahan desa. Hal ini melahirkan sebuah teori bahwa “Tingkat Pendidikan Kepala Desa mampu mempengaruhi kinerjanya”.Yang dimaksud pembinaan dapat berupa pemberian sanksi dan / atau penghargaan. Kerangka Pikir Dari pembahasan diatas dapat dikemukakan adanya peranan Tingkat Pendidikan dalam mempengaruhi Kinerja Kepala Desa meskipun belum dapat dipastikan seberapa besar peranannya. B. Untuk lebih menjelaskan bagaimana teori ini lahir.

kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). kemudian pendidikannya menghasilkan pengetahuan atau ilmu. Pendidikan yang dimiliki seorang Kepala Desa berupa pendidikan informal. Kecerdasan tersebut akan melahirkan gagasan/ide.Bagan Kerangka Teori Bagan diatas menunjukkan bagaimana peranan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seorang Kepala Desa mampu mempengaruhi kinerjanya. Dari pengetahuan tersebut akan dikembangkan kecerdasan. kecerdasan dapat digolongkan kedalam kecerdasan otak (IQ). gagasan 29 . pendidikan formal dan pendidikan nonformal.

perbuatan yang dilakukan secara terus menerus kemudian akan menjadikannya kebiasaan. 30 . C. sehingga hipotesis ini dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. semangat kerja. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang akan membentuk karakter dirinya dan menghasilkan kecakapan. berperan signifikan terhadap Kinerja Kepala Desa Kabupaten Sidenreng Rappang. Bahwa faktor Tingkat Pendidikan. etos kerja. perumusan masalah yang didukung dengan kajian teoritis yang dilengkapi juga dengan kerangka pikir hubungan fungsi variabel independen dengan variabel dependen.akan mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan/tindakan. Kecakapan inilah yang melahirkan kinerja seseorang misalnya berupa disiplin kerja. Bahwa ada perbedaan Kinerja antara Kepala Desa yang berpendidikan SLTP kebawah dengan Kepala Desa yang berpendidikan di atas SLTP. 2. dan produktifitas. Hipotesis Berdasarkan pengkajian dari uraian pada latar belakang masalah.

objek. Memerlukan kemampuan berteori. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif. benda mati. dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan sentra kegiatan agribisnis di provinsi Sulawesi Selatan. banyaknya kartu catalog di lemari catalog. Penelitian ini menjelaskan hubungan casual antara variabel tertentu melalui pengujian hipotesis. jajaran kartu catalog. Populasi dalam penelitian 31 . C. benda hidup. bisa orang. yaitu pembahasan dengan menggunakan penjelasan-penjelasan dan menggunakan statistik sederhana. jumlah kutipan ilmiah di tulisan-tulisan ilmiah pada jurnal. Populasi Dan Sampel Populasi adalah jumlah keseluruhan subjek. Yang berupa orang misalnya jumlah penduduk yang ada di suatu tempat pada suatu saat.BAB III METODE PENELITIAN A. serta menghubungkan teori dan berasumsi. sedangkan untuk barang berupa jumlah koleksi suatu perpustakaan. 2007: XIV: 1 ). B. huruf-huruf di surat kabar. Yusup. atau sesuatu yang ada. dsb ( Pawit M. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Kabupaten Sidenreng Rappang. dsb. sehingga perlu diteliti peningkatan sumber daya aparatur pemerintah daerah tersebut.

Data Tingkat Pendidikan para Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. Jadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 67 Orang. terutama jika populasinya sangat besar. Jenis Dan Sumber Data Jenis dan sumber data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Data Primer yaitu data yang dihimpun secara langsung di kumpulkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan melalui responden.ini adalah semua kepala desa di Kabupaten Sidenreng Rappang yang berjumlah 67 orang. yakni metode atau teknik pengambilan unit analisis dari populasi untuk dijadikan bahan studi lebih lanjut. akan bisa mewakili semua unsur dalam populasi. sama jumlahnya dengan populasi. maka sampel yang akan digunakan adalah sampel total. misalnya jumlah penduduk satu kabupaten. D. atau bahkan satu negara. diharapkan jumlah atau besarnya ukuran sampel yang ditetapkan. Oleh karena populasi dalam penelitian ini tidak terlampau besar. Namun itu sering tidak mungkin dilaksanakan. artinya jumlah sampel sebanding dengan jumlah populasi. satu provinsi. Idealnya kita meneliti semua unit analisis dalam populasi. Data yang dimaksud adalah : Daftar nama-nama Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. Meskipun hanya diambil sebagian. 32 . Untuk itu dilakukan sampling.

Bagian Pemerintahan Desa dan Bagian Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang atau pada Pejabat/Instansi yang terkait didalamnya. maka teknik pengumpulan data di pergunakan adalah sebagai berikut : 1. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang valid dalam penelitian ini. Informasi tentang laporan pelaksanaan kegiatan-kegiatan Kepala Desa yang terdapat di Kantor Kecamatan. 2. yaitu pengumpulan data dengan menyebarkan angket pada responden dengan membuat daftar pertanyaan yang dilengkapi dengan alternatif jawaban (bersifat tertutup) kemudian dibagi-bagikan kepada sejumlah responden. Questioner. 3. E. Observasi.2. data yang diperoleh dari penelusuran kepustakaan yang relevan. Untuk wawancara. dan informasi dari pejabat atau instansi yang terkait dengan obyek yang diteliti. Data sekunder yaitu. Wawancara. Daftar pertanyaan yang berisikan pertanyaan untuk memperoleh 33 . ditujukan kepada para informan yang berasal dari instansi yang terkait dengan obyek penelitian. yaitu tanya jawab secara langsung dengan informan atau responden dengan daftar pertanyaan. Data yang dimaksud adalah : Gambaran Umum dari Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. yaitu pengumpulan data dengan mengamati langsung serta memahami kondisi objektif lokasi penelitian.

Variabel tergantung (Y) yaitu jumlah rata-rata prestasi kerja (Kinerja) Kepala Desa yang diukur selama 1 tahun terakhir dari masa kerjanya. 3. Variabel perancu yaitu variabel yang ikut mempengaruhi Kinerja. gaya kepemimpinan. maka variabel-variabel dalam penelitian ini perlu didefinisikan dengan jelas penggunaannya secara rinci serta diberikan beberapa indikator pengukurannya. Variabel bebas atau independent variabel (X) adalah Pendidikan Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. tujuan penelitian dan hipotesis yang diajukan. Variabel tergantung atau dependent variabel (Y) adalah Kinerja Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. Defenisi Operasional Variabel Berdasarkan pokok permasalahan.data dari para responden Kepala Desa yang ada di kabupaten Sidenreng Rappang. F. maka dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Library Research. Variabel ini Variabel Tingkat 34 . yang terdiri dari : desain pekerjaan. 2. Variabel dimaksud adalah sebagai berikut : 1. yaitu pengumpulan data yang bersumber dari kajian pustaka dan berbagai literatur. 4. Untuk menghindari salah pengertian dalam interpretasi variabel yang mengakibatkan menyimpang dari tujuan penelitian. namun dalam hal ini tidak diteliti. iklim organisasi dan lingkungan geografis.

Kemampuan kerja sama Kepala Desa dengan rekan sekerja dalam pemerintahan Desa untuk meningkatkan prestasi kerja (Y.5) f.4) e.dinyatakan dalam bentuk skor kinerja Kepala Desa yang sudah dicapai. Tingkat tanggung jawab yang sesuai dengan kewenangan dalam meningkatkan prestasi kerja Kepala Desa (Y. Tingkat ketaatan dalam menjalankan tugas/kerja Kepala Desa (Y. Kemampuan memimpin kerja dalam meningkatkan prestasi kerja Kepala Desa (Y.1) b. Adapun kriteria penilaian yang dilakukan oleh setiap Camat di Kecamatan terhadap Kinerja Kepala Desa yang ada dalam lingkungannya 35 . Kesetiaan Kepala Desa terhadap atasan dan rekan sekerjanya (Y. Kejujuran terhadap tugas/kerja Kepala Desa (Y. dicari dengan menghitung rata-rata skor indikator yang akan digunakan dengan formula sebagai berikut : Kriteria penilaian diukur berdasarkan ketentuan yang ada ditiap Kecamatan yang menjadi objek penelitian.3) d.2) c.6) g. Kemampuan berinisiatif/prakarsa dalam peningkatan prestasi kerja Kepala Desa (Y.7) Untuk mendapatkan nilai total Prestasi kerja atau kinerja Kepala Desa. Indikator dari prestasi kerja adalah : a.

36 . X. Model ini dipilih karena ingin mengetahui besarnya kontribusi pengaruh variabel independen terhadap dependen. Dari masingmasing indikator tersebut di atas diberi skor nilai dalam kategori sebagai berikut : a. maka digunakan model analisis korelasi linear sederhana (Simply Correlate Linear). c. b. Tamat Diploma Perguruan tinggi (PTN/PTS) = 12 d.2. Variabel Pendidikan (X). Memuaskan diberi skor 3. X.adalah diamati dan dinilai langsung oleh Camat yang bersangkutan.4.3. tamat Diploma dan S1. Cukup memuaskan diberi skor 2. Tamat S1 Perguruan tinggi (PTN/PTS) = 15 G. Misalnya tamat SMP atau yang setara dengan itu. d. Setelah data diolah dan dianalisis secara kuantitatif kemudian dilakukan analisis kualitatif untuk memberikan penjelasan/makna dari hasil analisis kuantitatif. Sangat memuaskan diberi skor 4. Indikatornya adalah sebagai berikut : a.1. Sangat kurang memuaskan diberi skor 0. Tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) = 9 c. 2. Kurang memuaskan diberi skor 1. Tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) = 6 b. e. yaitu pernyataan responden yang berkaitan dengan tingkat pendidikan yang pernah ditempuh dan berijazah sebagai syarat menjadi Kepala Desa. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui arah dan kuatnya hubungan antar tingkat pendidikan dengan kinerja kades. X. tamat SLTA. X.

Koefisien korelasi memiliki rentang nilai antara -1 sampai 1. sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan. sebaliknya jika hubungan antara 2 variabel memiliki korelasi 0 berarti tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka kinerja yang dihasilkan akan semakin meningkat. maka kinerja yang dihasilkan semakin menurun. Arah dinyatakan dalam bentuk hubungan positif (+) atau negatif (-). Sebagai contoh adalah hubungan tingkat pendidikan dengan kinerja. sebaliknya jika nilai variabel tersebut diturunkan maka akan menaikkan nilai variabel yang lain. 37 . Hubungan dua variabel dinyatakan positif jika nilai suatu variabel ditingkatkan maka akan meningkatkan nilai variabel lainnya. sedangkan kuatnya hubungan dinyatakan dengan besarnya koefisien korelasi. Jika hubungan antara 2 variabel memiliki korelasi -1 atau 1 berarti kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang sempurna. sebaliknya semakin kecil tingkat serangan hama maka produksinya semakin besar. Semakin tinggi tingkat serangan hama maka produksinya akan semakin kecil. Sebagai contoh adalah hubungan tingkat serangan hama dengan produksi. Hubungan dua variabel dinyatakan negatif jika nilai suatu variabel ditingkatkan maka akan menurunkan nilai variabel lainnya.Korelasi merupakan angka yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan antar dua variabel (atau lebih). Kuatnya hubungan antar variabel dinyatakan dengan besarnya koefisien korelasi. sebaliknya jika nilai variabel tersebut diturunkan maka akan menurunkan nilai variabel yang lain.

00 . maka tingkat hubungannya dinyatakan rendah.0. maka tingkat hubungannya dinyatakan sangat rendah. apabila interval koefisien nya bernilai 0. 2005). apabila interval koefisien nya bernilai 0. Pengujian Hipotesis Pertama Untuk membuktikan kebenaran dari hipotesis pertama maka hasil perhitungan koefisien korelasi Variabel X terhadap Variabel Y didasarkan pada tabel berikut (Sugiyono. apabila interval koefisien nya bernilai 0.0.399.199.799. maka 38 .Koefisien korelasi linier (Pearson product moment correlation coefficient) antara dua variabel dapat dicari dengan persamaan berikut: Keterangan : Rxy = Koefisien Korelasi X = Variabel Tingkat Pendidikan Y = Variabel Kinerja 1.40 . maka tingkat hubungannya dinyatakan sedang.0. Apabila hasil perhitungan koefisien korelasi diperoleh interval koefisien bernilai 0.20 .599.60 s/d 0.

tingkat hubungannya dinyatakan kuat. b. Hasil selisih antara rata-rata perolehan kinerja kades akan menunjukkan tingkat perbedaan kinerja dengan kriteria pengujian sebagai berikut (Samsudin. maka dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan Kinerja antara Kades yang berpendidikan SLTP dengan Kades yang berpendidikan di atas SLTP. Pengujian Hipotesis Kedua Untuk membuktikan kebenaran hipotesis kedua digunakan perhitungan perolehan kineja secara parsial (terpisah) antara Kades yang berpendidikan SLTP dengan Kades yang berpendidikan diatas SLTP yang dinyatakan dalam α.80 . maka dinyatakan bahwa ada perbedaan Kinerja antara Kades yang berpendidikan SLTP dengan Kades yang berpendidikan di atas SLTP. 2003) : a.1. maka tingkat hubungannya dinyatakan sangat kuat.000 . Apabila hasil perhitungan diperoleh α = 0.000. 2. 39 .000 . dan apabila interval koefisien nya bernilai 0. Apabila hasil perhitungan diperoleh α < 0.

berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Luwu. berbatasan dengan Kabupaten Soppeng dan Barru. air bersih.5 jam. listrik. Kabupaten Sidenreng Rappang dengan ibu kota Pangkajene. Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki 11 (sebelas) Kecamatan. Di bagian Sebelah Barat. hotel/penginapan dan restoran. 40 . Sedangkan di bagian selatan. Jarak ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat hanya sekitar 3. pasar. Fasilitas perkantoran umumnya berada di pusat-pusat kota. Posisi wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang dapat dilihat pada koordinat 1200 101 Bujur Timur dan 40 091 derajat Lintang Selatan – lintas menuju Kabupaten Wajo. Kabupaten Sidenreng Rappang. Dengan hamparan wilayah yang mencapai 1. gedung olahraga. dan Enrekang. seperti telepon.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Soppeng. Enrekang dan Luwu. berbatasan dengan wilayah Pare-Pare dan Pinrang. Sarana dan prasarana umum juga tak ketinggalan. 38 (tiga puluh delapan) Kelurahan. Dan di bagian sebelah Timur. Sidenreng Rappang Secara geografis Kabupaten Sidenreng Rappang berada tepat di tengahtengah wilayah provinsi Sulawesi Selatan. rumah sakit. di bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Pinrang. mempunyai jarak ke Makassar ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan sepanjang 182 km.25 Km2.883. Gambaran Umum Kab. 65 (enam puluh lima) Desa dan terdapat 2 (dua) Desa Persiapan. Pinrang.

Kecamatan MaritengngaE Tellu LimpoE Panca Lautang Watang Sidenreng Pitu Riawa Dua PituE Pitu Riase Panca Rijang Kulo Baranti Wattang Pulu Jumlah Jumlah Desa 5 3 7 5 10 7 11 4 6 4 5 67 Dari tabel IVb.1 di bawah ini : TABEL IVa.1 : Jumlah Desa menurut Kecamatan di Kab. 9. Jumlah tersebut terbagi atas 117. 2. Selanjutnya Kecamatan yang mempunyai jumlah Desa terkecil adalah Kecamatan Tellu LimpoE sebanyak 3 Desa. 1.067 jiwa. 5. 6. 4. Kemudian disusul oleh Kecamatan Pitu Riawa yang berjumlah 10 Desa. Untuk lebih jelasnya jumlah Desa/Kelurahan tersebut dapat dilihat pada tabel IVb.1 di atas terlihat bahwa Kecamatan yang mempunyai Desa terbanyak adalah Kecamatan Pitu Riase yaitu 11 Desa. 7. 10.Adapun jumlah Desa yang berstatus Pemerintah menurut Kecamatan di Kabupaten Sidenreng Rappang ini adalah sebanyak 150 yaitu terdiri dari 143 Desa dan 7 Kelurahan. Sidrap No. 11. 3.149 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 127.918 jiwa berjenis kelamin perempuan. 8. Angka 41 . Sidenreng Rappang sesuai data Badan Pusat Statistik tahun 2007 mencapai 245. Total penduduk Kab.

menyebabkan penduduknya dominan hidup dari usaha pertanian. Selebihnya beragama Kristen dan menganut kepercayaan taulotang yang umumnya berdomisili di Kec. dan lama bertugas/masa kerja Kepala Desa yang dapat dijadikan masukan bagi beberapa variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Sebagian kecil diantaranya adalah PNS. pekerja sektor jasa bangunan dan pegawai swasta. Panca Rijang yang mencapai 717 jiwa / km2 . Rata-rata penduduknya hanya didiami antara 101 sampai 200 / km2 . Karakteristik Responden Berdasarkan hasil survei di lapangan diperoleh data responden mengenai tingkat umur. Sedang terendah ditempati Kec. Pitu Riawa. Kecamatan tertinggi kepadatan penduduknya adalah Kec. 42 . daerah yang berpenduduk jarang berada di Kec. Daerah paling padat penduduknya berada di Kec. rata-rata hanya berkisar 0. Wattang Pulu.11 % per tahun. MaritengngaE dan Kec. Pitu Riase. Tellu LimpoE. Panca Rijang yang mencapai antara 500 sampai 700 jiwa / km2 . Kondisi alam yang dominan tanahnya datar ditunjang irigasi tehnis yang memadai. tingkat pendidikan. Sedangkan kepadatan penduduk rata-rata 128 jiwa / km2 . dan Kulo. Adapun penyebaran penduduk belum merata disemua wilayah.pertumbuhan penduduk pada periode 5 tahun terakhir tergolong kecil. Penduduk Sidenreng Rappang umumnya beragama Islam. B. Tellu LimpoE. Panca Lautang. pedagang. Pitu Riase dengan kepadatan hanya 22 jiwa / km2 .

5. Sementara dari mereka yang tergolong berumur muda hanya 43 .Data responden ini diperoleh dari data primer yang dapat dideskripsikan sebagai berikut : 1.35 36 .1 : Jumlah responden berdasarkan kelompok umur di Kab. Jumlah responden berdasarkan umur Kepala Desa sebagai pejabat pemerintahan Desa di Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang yang berumur 27 s/d 60 tahun ke atas dirincikan dalam tabel IVb1. 2. berikut ini: TABEL IVb. Sidrap No. 3. 10. Artinya Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang didominasi oleh orang yang sudah lanjut usia yaitu 35 orang atau 52. 11. 4. 8. Kecamatan MaritengngaE Tellu LimpoE Panca Lautang Watang Sidenreng Pitu Riawa Dua PituE Pitu Riase Panca Rijang Kulo Baranti Wattang Pulu Jumlah 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 1 5 1 3 1 2 1 1 19 Kelompok Umur (tahun) < 30 30 . 6. 9. 1.2% dari 67 Kades di 11 Kecamatan.40 > 40 1 2 2 1 3 2 3 5 7 2 3 3 4 35 Jumlah 5 3 7 5 10 7 11 4 6 4 5 67 11 Dilihat dari tabel diatas menurut Kecamatan nya bahwa rata-rata yang menjabat sebagai Kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang adalah mereka yang berumur 40 tahun keatas. 7.

2. 1.9%. 6. 8. Kecamatan MaritengngaE Tellu LimpoE Panca Lautang Watang Sidenreng Pitu Riawa Dua PituE Pitu Riase Panca Rijang Kulo Baranti Wattang Pulu Jumlah 5 2 1 1 1 Tingkat Pendidikan SMA Diploma Sarjana 2 3 4 4 9 4 6 4 3 2 3 44 1 1 1 4 1 1 2 3 2 2 1 14 3 Jumlah 5 3 7 5 10 7 11 4 6 4 5 67 SLTP Dari data pada tabel IVb.2 diatas ternyata bahwa jumlah responden yang berpendidikan Sarjana adalah sebanyak 14 orang dari 67 responden atau 20.sebanyak 32 orang atau 47. 9. 3. 4. Sidrap No.2 sebagai berikut : TABEL IVb. 11. Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan Berdasarkan hasil survei di lapangan terdapat data responden mengenai tingkat pendidikan yang bervariasi yaitu dari tingkat SLTP sampai ke tingkat Perguruan Tinggi. 5. 2.2 : Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan di Kab. Rincian data tingkat pendidikan responden (Kades) tersebut dapat dilihat pada tabel IVb. sementara yang berpendidikan SLTP dan SMA masing-masing 5 orang atau 7. dan yang berpendidikan Diploma adalah sebanyak 4 orang dari 67 responden atau 5.4% 44 . 7.7% dari 67 Kades di 11 Kecamatan Kabupaten Sidenreng Rappang.9%. 10.

11. 10.3 diatas ternyata bahwa jumlah Kades yang mempunyai masa kerja < 3 tahun adalah sebanyak 10 orang dari total 67 responden atau 14. Masa kerja responden menurut Kecamatan tempat ia bekerja terdapat datanya seperti pada tabel IVb.dan 44 orang atau 45. Jadi para Kades di Kabupaten Sidenreng Rappang menurut kecamatan nya adalah sebagian besar berpendidikan SMA. 2. 8.3 : Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan di Kab. 6.3 berikut ini : TABEL IVb. 7.9% dan jumlah responden yang bekerja selama 4 sampai 6 tahun adalah 45 . 5. 9. 3. 3. mulai dari 3 tahun kebawah sampai kepada 16 tahun keatas. 4. Kecamatan MaritengngaE Tellu LimpoE Panca Lautang Watang Sidenreng Pitu Riawa Dua PituE Pitu Riase Panca Rijang Kulo Baranti Wattang Pulu Jumlah 1 1 2 10 Masa Kerja (tahun) <3 4-6 >7 1 2 1 1 1 4 1 7 4 9 3 11 3 5 3 3 53 Jumlah 5 3 7 5 10 7 11 4 6 4 5 67 3 1 4 Dilihat dari tabel IVb. Sidrap No. 1.7%. Jumlah responden berdasarkan Masa Kerja/jabatan Dilihat dari masa kerja Kades di Kabupaten Sidenreng Rappang ini sangat bervariasi.

Deskripsi Penelitian Setelah melakukan penelitian di Kabupaten Sidenreng Rappang selama 2 bulan dari bulan Agustus s/d September 2007 telah diperoleh data primer dan data sekunder yang diperlukan sebagai informasi yang akurat dan faktual tentang variabel penelitian yaitu kinerja dan tingkat pendidikan Kepala Desa.sebesar 53 orang atau 79. C. Berdasarkan data lapangan yang diperoleh peneliti. 1. Variabel kinerja Kepala Desa (Y) Berdasarkan definisi operasional variabel bahwa yang disebut dengan kinerja (prestasi kerja) adalah rata-rata hasil kerja yang dicapai oleh Kades selama satu tahun terakhir yaitu Agustus 2006 s/d Juli 2007 dibandingkan dengan perkiraan harapan pemerintah Desa.1%. serta yang bekerja diatas 7 tahun hanya 4 orang atau 5. kurang memuaskan.9% saja. memuaskan. cukup memuaskan. maka prestasi kerja (kinerja) Kepala Desa dapat diklasifikasikan berdasarkan ketentuan Target Pencapaian Kinerja yang ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang menjadi 5 kategori yaitu : sangat memuaskan. sangat kurang memuaskan seperti yang dirincikan pada tabel berikut ini : 46 .

kurang memuaskan 2.7% cukup memuaskan. Tanggung jawab seorang kades adalah 64. Diploma dan Sarjana. Ketaatan adalah 32. 2.9% kurang memuaskan. 2.. dalam definisi operasional tingkat pendidikan yang pernah ditempuh oleh responden berdasarkan standar formal 47 . Kesetiaan sebesar 56.7% cukup memuaskan.9% sangat memuaskan. 28. 1. Indikator Kepemimpinan Tanggung Jawab Kesetiaan Ketaatan Kejujuran Inisiatif / Prakarsa Kerjasama Kategori M CM KM 36 43 38 22 39 37 17 24 19 27 36 23 28 38 7 5 2 3 5 2 10 Jumlah 67 67 67 67 67 67 67 SM 2 SKM - Dari tabel IVc.2% memuaskan.1% memuaskan.8% memuaskan.4%.1 : Klasifikasi Kinerja Kepala Desa di Kab. Sidrap No.7% cukup memuaskan.2% memuaskan.2%.8% cukup memuaskan dan 10.3% cukup memuaskan. 41. Variabel Tingkat Pendidikan (X) Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mulai dari tingkat SMP/SLTP. dan kurang memuaskan 4.9% kurang memuaskan. Inisiatif adalah 55. 3. 25.7% memuaskan.7% memuaskan dan cukup memuaskan 40. 6. 34.4% kurang memuaskan.3% memuaskan. 7. SMA/SLTA. dan kurang memuaskan 7.3% cukup memuaskan. 53. 4. Kejujuran adalah 58.1 diatas terlihat bahwa kepemimpinan seorang kades adalah 53. Kerja sama adalah 2. 7.9%.TABEL IVc. 2.4%. 5. 35. 56.4% kurang memuaskan. 14.

2 : Klasifikasi Tingkat Pendidikan Kepala Desa di Kab.2 berikut ini : TABEL IVc.67% dari jumlah responden yang ada. 48 .6% dari 67 responden. SLTA. dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel IVc.6 65.6 6 20.2 diketahui bahwa responden penelitian yang berpendidikan SLTP sejumlah 5 orang atau 7. Sidrap Tingkat Pendidikan SLTP SMA Diploma Sarjana Jumlah Frekuensi 5 44 4 14 67 Persentase (%) 7.yang telah ditetapkan oleh pemerintah adalah SD/sederajat. Diploma dan Sarjana cukup bervariasi. yang berpendidikan Diploma berjumlah 4 orang atau 6% dari 67 responden penelitian dan yang berpendidikan Sarjana 14 orang atau 20. SLTP/sederajat. mayoritas responden adalah mereka yang berpendidikan SMA dan disusul oleh mereka yang berpendidikan Sarjana dari total 67 responden.8%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini.0 Dari tabel IVc. Diploma/sederajat dan Sarjana (S1).8 100. yang berpendidikan SMA sejumlah 44 orang atau 65. Menurut hasil penelitian di lapangan ternyata bahwa data responden yang berpendidikan setingkat SLTP. SLTA/sederajat.

2857 2162.2857 15.8776 150.8571 663.2857 165.4286 1065.5714 486.1818 Yi 12.5844 Xi 2 Yi 2 3969 729 3600 2601 7569 5184 13689 1296 4761 2304 2916 48618 4419.2282 49 .7143 3175.2857 1064. Koefisien korelasi memiliki rentang nilai antara -1 sampai 1.4286 11721.2857 619.4286 10.D.8182 150.1633 736.7347 105. Pengujian Hipotesis Pertama Untuk mengetahui kuatnya hubungan antar variabel dinyatakan dengan besarnya koefisien korelasi.5102 260.4490 617.1429 24. Berikut ini adalah perhitungan korelasi linier sederhana hasil pengamatan tingkat pendidikan (X) terhadap kinerja kepala desa (Y): Tabel IVd.2857 15. Pengujian Hipotesis Untuk menguji kebenaran Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini digunakan model analisis korelasi linear sederhana untuk hipotesis pertama serta uji beda dua rata-rata untuk hipotesis ketiga.9388 53.1429 10.0408 102.2857 16.8776 284.7143 370.8571 27. n 1 MaritengngaE 2 Tellu LimpoE 3 Panca Lautang 4 Watang Sidenreng 5 Pitu Riawa 6 Dua PituE 7 Pitu Riase 8 Panca Rijang 9 Kulo 10 Baranti 11 Wattang Pulu Jumlah Rata-rata Xi 63 27 60 51 87 72 117 36 69 48 54 684 62. 1.1a : Hasil Perhitungan korelasi linier sederhana hasil pengamatan tingkat pendidikan (X) terhadap kinerja kepala desa (Y).8571 16.5714 1213.7959 238.Yi 774 196.5714 12.9388 2862.6122 147.1429 12.0260 Xi.2857 7.7143 994.0816 274.

950675619821896 Rxy = 0. Sidenreng Rappang 50 . Tabel IVd.2857)2]}0. 2005).5 Rxy = 0. 11721.9506 Untuk memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang didapat.Dengan menggunakan formula : dimana Rxy = Koefisien Korelasi n = Jumlah Sampel (menurut kecamatan) X = Variabel Tingkat Pendidikan Y = Variabel Kinerja Sehingga diperoleh perhitungan : Rxy = [11.2857] / {[11.1b : Tolak Ukur Koefisien korelasi antara tingkat pendidikan dengan kinerja kepala desa di Kab. maka dapat dipedomani tabel berikut (Sugiyono.5102(165. 2862.4286-684.[11. 48618-(684)2] . 165.

4192 2.4708 serta hasil beda rata-rata kinerja (α) adalah -0. Pengujian Hipotesis Kedua Untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan kinerja antara kades yang berpendidikan SLTP dengan kades yang berpendidikan diatas SLTP. maka dilakukan perhitungan tingkat perolehan kinerja secara parsial (terpisah) sehingga diperoleh hasil seperti terlihat dalam tabel dibawah ini : Tabel IVd. Dengan demikian maka hipotesis pertama terbukti benar.4708 -0.Jadi hubungan antara tingkat pendidikan dengan kinerja kades bernilai positif (+) dengan tingkat peranan yang sangat kuat. 2. 1 2 Pendidikan SLTP Kebawah Diatas SLTP Beda rata-rata Kinerja = Rata-rata Kinerja 2.1 : Hasil perhitungan kinerja antara Kades pendidikan SLTP dan Kades yang pendidikan diatas SLTP di Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2007. No.1 diatas menunjukkan bahwa rata-rata prestasi kerja (kinerja) Kades yang berpendidikan SLTP adalah sebesar 2.4192 dan kinerja Kades yang berpendidikan diatas SLTP sebesar 2. sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua yang mengatakan ada 51 .0516 Dari tabel IVd.0516.

Pembahasan Hasil Analisis 1. E. nilai ini berada pada level interval penafsiran 0. (Suprihanto. Teori yang mengatakan bahwa kinerja karyawan itu merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diembankan kepadanya. 2000:7). Peranan tingkat pendidikan terhadap kinerja Kepala Desa Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diatas membuktikan bahwa tingkat pendidikan mempunyai peranan yang signifikan terhadap kinerja Kades di Kabupaten Sidenreng Rappang. hal ini berarti semakin tinggi tingkat pendidikannya. Hal tersebut dibuktikan oleh nilai Koefisien Korelasi Rxy = 0. maka kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang hendaknya dapat meningkatkan kinerja dengan upaya meningkatkan kualitas SDM melalui peningkatan taraf pendidikan.. Disamping itu pula.9506. koefisien korelasi antara tingkat pendidikan terhadap kinerja kades di Kabupaten Sidenreng Rappang bernilai positif (+).perbedaan Kinerja antara Kades yang berpendidikan SLTP kebawah dengan Kades yang berpendidikan diatas SLTP terbukti benar. Kaitannya dengan keinginan berprestasi tinggi diatas.000 yang berarti peranannya sangat kuat. Upaya tersebut misalnya dengan memberikan bantuan dana kepada yang ingin meningkatkan mutu SDM baik dalam implementasi pendidikan maupun pelatihan.80 – 1. Hal ini apa yang harus dihadapi dan dijawab oleh organisasi bukanlah apakah akan melakukan investasi bagi 52 . maka kinerja yang dapat ditunjukkan akan semakin meningkat pula.

Hasil uji parsial kinerja Kades yang berpendidikan SLTP kebawah dengan Kades yang berpendidikan diatas SLTP Menurut hasil uji secara parsial yang ditunjukkan pada Tabel IVd. maka besarnya kemampuan sumbangan tingkat pendidikan terhadap kemampuan kerja masih lemah. bahwa Kades yang berpendidikan SLTP kebawah dengan Kades yang berpendidikan diatas SLTP mempunyai beda rata-ratanya sebesar = -0. 3.1 diatas. < α = 0. jauhnya jarak tempuh dari Kecamatan dan Kabupaten. Pemberian Reward misalnya berupa kenaikan upah atau gaji.0516. Khususnya bagi para Kepala Desa yang ada di lingkungan Kabupaten Sidenreng Rappang yang dalam hal ini merupakan wewenang Bupati setempat. insentif atau sejenis lainnya yang bisa mendatangkan hasrat kerja yang tinggi bagi karyawan. Jika dilihat dari luasnya wilayah Desa.000 yang berarti bahwa kepala desa yang berpendidikan diatas SLTP memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan kepala desa yang tamat SLTP. 53 .pengembangan SDM yang dimiliki acuan atau rangsangan kerja yang tinggi. Oleh karenanya perlu dilakukan peningkatan pengembangan mutu SDM melalui pendidikan di lingkungan Kabupaten Sidenreng Rappang di masa datang.

Menurut hasil uji secara terpisah (parsial). ternyata menunjukkan bahwa kinerja Kades yang berpendidikan SLTP kebawah berbeda dengan kinerja Kades yang berpendidikan diatas SLTP.000. Dengan demikian hipotesis ketiga diterima. 2. hal ini ditunjukkan oleh nilai Koefisien Korelasi (Rxy) = 0.80 – 1. Hasil perhitungan koefisien korelasi dapat membuktikan bahwa tingkat pendidikan berperan secara signifikan terhadap peningkatan kinerja kepala Desa di Kabupaten Sidenreng Rappang. nilai ini berada pada level interval penafsiran 0. maka kinerja yang dapat ditunjukkan akan semakin meningkat pula Dengan demikian hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima.0516 lebih kecil dari nilai α = 0. hal ini berarti semakin tinggi tingkat pendidikannya.. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada Bab terdahulu. maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.9506. Disamping itu pula. koefisien korelasi antara tingkat pendidikan terhadap kinerja kades di Kabupaten Sidenreng Rappang bernilai positif (+). 54 .BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. hal ini ditunjukkan oleh nilai beda rata-rata = -0.000 yang berarti peranannya sangat kuat.

Disarankan kepada Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang agar meningkatkan kepedulian terhadap pengembangan sumber daya manusia di daerahnya melalui pendidikan.06% yang berarti masih bersisa 4. pelatihan dan memberikan motivasi yang lebih baik lagi dimasa depan. 4. 2. Kepada para pembaca yang melihat masih banyaknya kelemahan-kelemahan dalam penelitian ini untuk memberikan kritik. memperbanyak pelatihan. 55 .9506 atau 95.94% lagi dipengaruhi oleh faktor lain diluar model. Saran Dengan melihat prospek kedepan. 3. kursus atau studi banding ke daerah lain untuk menambah keahlian. dan untuk itu kepada para peneliti disarankan untuk memasukkan variabel lain yang masih mempengaruhi kinerja Kades di Kabupaten Sidenreng Rappang ini. terutama mengenai mutu dan kualitas sumber daya manusia (SDM) khususnya di Kabupaten Sidenreng Rappang. Disarankan kepada para Kepala Desa baik yang berada di Kabupaten Sidenreng Rappang maupun di luarnya agar meningkatkan prestasi kerjanya melalui upaya peningkatan taraf pendidikan ketingkat yang lebih tinggi. Dengan besarnya pengaruh dari variabel tingkat pendidikan Kades di Kabupaten Sidenreng Rappang pada penelitian ini sebesar 0. sumbang saran yang dapat dijadikan masukan dalam penyempurnaan penulisan ini.B. maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut : 1. pengetahuan dan kemampuan berkinerja tinggi di bidang kepemerintahan Desa.

Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Enrekang. . Departemen Pendidikan Nasional. 2004. 2004.DAFTAR PUSTAKA Amran Oppeng. Ary Ginanjar Agustian. 2003.. Skripsi. dan Usman Nukma. 2005. Tana Toraja. Analistat. diajukan kepada STISIP Muhammadiyah Kab. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan. H.! http://analistat.com statistik Solusi anda. Pengaruh Pembinaan Pegawai Negeri Sipil terhadap Kinerja Aparat di Kantor Pertanahan Kab. Jakarta. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Sidrap program Sarjana (S1). Korelasi mudah Linear untuk Sederhana. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Kinerja Aparatur Pemerintah di Kecamatan Rantetayo Kab. ESQ. 56 . Jakarta. 2001. diajukan kepada STISIP Muhammadiyah Kab. masalah @nalistat. Pelita Pustaka. Penerbit Arga. 2007 Aris Asnawi. Luther Taruk.Com. Sidrap program Sarjana (S1).php. Balai Pustaka. Mengapa Sidrap ?.com/regresi/korelasilinier. Makassar. Skripsi. Emotional Spritual Quotient.

centrin. Nasution. populasi dan sampling. A. Universitas Gadjah Mada. M. M. 1988. Bumi Aksara. RajaGrafindo Persada. Dr. Skripsi... Sumadi Suryabrata. Drs. 1994. Universitas Airlangga.id/pawitmy/. Samsudin.Siagian. MA. Ph. Yusup. 2003.Peraturan Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang Nomor 1-10 Tahun 2007 tentang Pengaturan Desa. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif.. Pawit M.D. S. BA. Metodologi Penelitian.S. Manajemen Sumber Daya Manusia. Faktor yang mempengaruhi Kinerja Kepala Desa dalam pelaksanaan tugas pemerintahan desa di Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah. Jakarta. 57 . Modul 14. Bandung. Prof.net. Jakarta. Ed.pdf. Modul kuliah MPS. Dr. Prof. Sondang P. PT. 1983. MPA. Drs. http://bdg. Tarsito. 2007.S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful