ADAB MENUNTUT ILMU (BELAJAR)....

Oleh: Dede Alimuddin Dalam keseluruhan proses pendidikan di lembaga formal atau non formal kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Berhasil tidaknya mencapai tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh penuntut ilmu. Pandangan tradisional, ‘belajar’ adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. (Abu Ahmadi, 1991:14). Pendapat ini yang dipentingkan adalah pendidikan intelektual sehingga proses belajarnya dengan memberi para penuntut ilmu bermacam-macam mata pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya, terutama dengan bahan menghafal. Dalam kepustakaan psikologi, ‘belajar’ merupakan terjemahan dari “learning” yang secara sederhana diartikan sebagai “proses belajar” atau “learning process”. Learning process adalah merupakan aktivitas individu, sehingga belajar didefinisikan sebagai suatu perubahan yang terusmenerus terjadi dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. (Noehe Nasution, 1992:77) Sedangkan menurut Ahli Pendidikan Modern, ‘belajar’ adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, timbul dan berkembangnya sifat-sifat sosial, susila, dan emosional. Dari definisi-definisi di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Tentu saja yang diinginkan adalah perubahan yang berencana dan yang bertujuan. Belajar atau menuntut ilmu sebagai suatu proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan bisa berlangsung dengan dua metode sebagaimana yang sudah dibahas sebelumnya di atas. Pertama, ilmu diperoleh dengan upaya manusia——‘Ilm Al-Kasbi, Kedua, diperoleh tanpa upaya manusia ——‘Ilm Al-Mukasyafah. Tapi ada juga dengan sebutan “Ilmu Ladunni”. Yaitu proses mendapatkan ilmu dengan jalan mendekatkan diri (Taqarrub) kepada Allah secara total. Yakni dengan cara mensucikan diri, mendekatkan diri, beribadah kepada Allah dengan total untuk memperoleh ilmu. Kemudian dengan kedekatannya kepada Allah, maka Allah akan memberi apa yang ia minta. Sebenarnya metode ini biasa dilakukan oleh orang-orang khusus seperti para Nabi, Waliyu Allah (Kekasih Allah) dan Ulama-ulama Khos (Benar-benar Alim). Kedua metode tersebut mengandung pengertian bahwa proses belajar itu akan berhasil apabila terjadi interaksi harmonis, baik secara horizontal maupun vertikal, dan antara pribadi penuntut ilmu (intern) dan guru serta lingkungannya (ekstern). Oleh karena itu menurut Hadratu

Seperti menjauhkan diri dari akidah yang jelek. Waktu untuk membahas adalah waktu pagi. vHendaknya ia mensucikan hatinya dari segala macam sifat-sifat yang tidak terpuji. di tepi sungai. vHendaknya seorang penuntut ilmu bersifat qana’ah dalam makanan dan pakaian. menghidupkan syariat Islam. tidak akan berulang dan tidak akan berganti lagi. diantaranya sebagai berikut: I.H. mengamalkan ilmu. Konsep Tatakrama Penuntut Ilmu Dengan Dirinya Sendiri. dan di . vTempat yang paling baik untuk menghafal adalah ruangan khusus (kamar) dan tempat-tempat yang jauh dari keramaian.H. Dan waktu untuk muthala’ah dan mudzakarah adalah malam hari. dalam kitabnya “Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim”. Adapun konsep tatakrama (etika) bagi penuntut ilmu yang dikemukakan oleh Hadratu Syaikh K. lingkungan. Dan janganlah ia tertipu oleh banyak lamunan dan anganangan. Hasyim Asy’ari keberhasialan proses belajar sangat dipengaruhi oleh tatakrama (etika) penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri maupun guru.. bahkan Tuhannya. vHendaknya penuntut ilmu memanfaatkan waktu mudanya dengan menggunakan seluruh waktunya untuk mencari ilmu. Tidak baik menghafal di bawah pohon.Syaikh K. perilaku kotor. vHendaklah penuntut ilmu dalam menuntut ilmu memiliki niat yang baik dengan mengharap ridha Allah Swt. hasud. dengki. membersihkan jiwa. dan sebagainya.. Waktu untuk menulis adalah tengah hari (siang hari). vPenuntut ilmu hendaklah dapat membagi waktu antara malam dan siang serta selalu memanfaatkan waktu dari umurnya. menerangi hatinya—— dengan berdzikir—. Hasyim Asy’ari. Sebab dengan sifat sabar dan qana’ah maka ia akan memperoleh keluasan ilmu dan dapat mengonsentrasikan hatinya untuk menggapai semua cita-cita dan pada gilirannya ia akan memperoleh sumber-sumber ilmu yang bermanfaat. vImam As-Syafi’i berkata “Tidak akan berbahagia (sukses) orang yang mencari ilmu dengan mengandalkan kemuliaan diri dan banyaknya harta tetapi akan sukses orang yang akan mencari ilmu dengan kehinaan diri dan sempitnya harta benda serta mengabdikan diri pada ulama”. dan mendekatkan diri kepada Allah Swt Penuntut ilmu wajib memiliki niat yang baik pada saat menuntut ilmu. vWaktu yang paling baik untuk menghafal adalah waktu sahur. Sebab waktu terus berjalan.. Maka apabila ia tergantung dengan kesibukan dan hal-hal yang menghambat dalam mencari ilmu maka hal tersebut akan memutuskan jalan mendapat ilmu. Karena umur seseorang itu tidak ternilai harganya.

II. Apabila mampu maka ia bisa mengurangi lagi. vPenuntut ilmu hendaknya meninggalkan bercanda. vDi dalam maqolah disebutkan “Sesungguhnya penyakit yang banyak kita lihat itu adalah disebabkan oleh makanan dan minuman”. vPenuntut ilmu hendaknya tidak banyak makan dan minum. sedikit perintah jeleknya serta suka mengingatkan apabila terlupa dan suka menolong. Apabila ia membutuhkan kawan maka carilah kawan yang baik (saleh) agamanya. sedikit makan adalah menyehatkan badan dan menolak berbagai macam penyakit badan. vPenuntut ilmu hendaknya selalu menanamkan dirinya untuk bersifat wara’ dan berhati-hati terhadap semua perilaku dan tingkah lakunya serta selalu mencari yang halal dari makanan. vSebelum penuntut ilmu menetapkan guru hendaklah ia berpikir dulu serta beristikharah kepada Allah untuk memilih orang yang akan memberi bimbingan (guru) dalam memperoleh ilmu kemudian memperlakukan guru dengan akhlaq yang baik dan sopan santun. ahli dalam bidang . banyak kebaikannya.tempat gaduh.. Supaya hatinya selalu terang dan dapat menerima ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Janganlah penuntut ilmu tidur lebih dari delapan jam sehari semalam. vPenuntut ilmu hendaknya mengurangi mengonsumsi makanan yang menyebabkan bodoh (pelupa) dan lemah hafalannya seperti makan sayur-sayuran dan minum khamr. Sebab bahaya dari bercanda adalah menyia-nyiakan waktu tanpa ada manfaatnya dan menghilangkan nilai agama pada dirinya. wira’inya. tempat tinggal dan dalam semua kebutuhannya. Sebab kekenyangan makan dapat menghambat kegiatan beribadah dan memberatkan badan. taqwanya. Lebih-lebih pada lawan jenis.. Konsep Tatakrama Penuntut Ilmu Dengan Guru. minuman. vTermasuk keuntungan atau faidah. vPenuntut ilmu hendaknya mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya bagi badan dan pikirannya.. vMakan sedikit juga menyebabkan sehatnya hati dari penyakit (durhaka) dan sombong. dan sebab banyaknya penyakit adalah karena banyak makan dan minum. Hendaklah ia memilih orang-orang yang profesional. pakaian.

ketika ia memasuki rumahnya. hendaknya ia bersikap yang baik dan berbusana yang baik ——menurut Islam—. vPenuntut ilmu hendaknya memandang guru dengan penuh kehormatan dan keagungan terhadapnya. menaruh rasa hormat kepadanya. “Barang siapa belajar dari pinggir-pinggirnya kitab maka ia menyia-nyiakan hukum”. Dan meyakini akan besarnya derajat kesempurnaan seorang guru. dan janganlah duduk atau pergi kecuali atas izin guru. Sebab keterangan tersebut akan lebih dekat terhadap manfaat ilmu yang diperolehnya.keilmuannya. Ketika penuntut ilmu hendak berkunjung ke kediamannya maka ucapkanlah salam tidak lebih dari tiga kali dan apabila mengetuk pintu maka ketuklah dengan pelan-pelan. vPenuntut ilmu hendaknya harus bersabar dalam menghadapi guru yang berwatak keras dan kurang baik dan janganlah menolaknya dengan kasar sebab sifat kerasnya seorang guru semata-mata karena sayangnya guru kepada muridnya dalam membimbing dan memberi petunjuk kepada penuntut ilmu. vPenuntut ilmu hendaknya jangan masuk ke tempat atau kediaman guru kecuali atas izinnya dan janganlah lewat dihadapannya baik ketika ia sendiri atau bersama orang lain tanpa izin darinya. penuntut ilmu juga seyogyanya menjaga keluarga guru serta kerabat dan orang yang dikasihi guru. Penuntut ilmu hendaknya sering berziarah ke makam gurunya apabila ia sudah meninggal dan memohonkan ampun untuknya serta bersedekah baginya. “Ilmu itu adalah agama maka lihatlah (angan-anganlah) dari siapa engkau memperoleh (mengambil) agamamu”. bersih dan rapi terlebih ketika hendak menuntut ilmu. Jangan berasal dari orang yang memperoleh ilmu hanya sebatas kulitnya. . Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati. vPenuntut ilmu harus bersungguh-sungguh memilih guru yang mengerti benar tentang syari’at. Imam As-Syafi’i berkata. dan bisa dipercaya kemahiran ilmunya (hukum syari’atnya). “Barang siapa yang tidak meyakini keagungan gurunya maka ia tidak akan sukses”. Apabila guru itu sedang istirahat maka sabarlah menunggu sampai terbangun. memiliki rasa kasih sayang. disertai mendekatkan diri kepada Allah dalam berkhidmat kepada guru. vHendaklah penuntut ilmu mengerti hak-hak guru dan jangan lupa mengutamakannya. tampak kewibawaannya dan tampak jelas perilakunya. Sebaiknya penuntut ilmu mengenang guru pada waktu hidup atau sesudah mati. Penuntut ilmu juga harus menjaga untuk tidak memulai berbicara sebelum diperintahkan. Abu Yusuf berkata. Sebagaimana ulama salaf berkata. vPenuntut ilmu hendaknya patuh dan taat kepada gurunya.

kecuali bila ada keperluan lain.a. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. penuntut ilmu jangan menoleh sekalipun mendengar sesuatu kecuali bila ada keperluan lebih-lebih ketika membahas tentang ilmu. “Sesungguhnya aku tetap akan mendengarkan hadis dari orang lain sekalipun aku lebih tahu (alim) dari orang tersebut”. Karena pada hakikatnya menghormati mereka berarti menghormati guru. Apabila bertemu dengan guru di jalan maka ucapkanlah salam tetapi bila jaraknya jauh jangan memanggil. Dan hendaknya penuntut ilmu berhadapan dengan guru dengan wajah berseri-seri. jangan pula membarengi guru dalam berkata. Imam Atho’ r.vKetika penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya hendaklah ia memilih adab tatakrama. Sehingga guru tidak kesulitan untuk membacanya. di tempat tidurnya dan jangan pergi dari sisinya kecuali ada izin darinya. Penuntut ilmu harus memuliakan dan menghormati kerabat. vApabila guru memberi sesuatu. Dan jangan menyimpan sesuatu yang ada di dalam buku. teman dari guru. jangan mengucapkan salam dan jangan memberi isyarat. di mushallanya. jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. vHendaknya penuntut ilmu selalu berbicara yang sopan dan baik. maka terimalah dengan tangan kanan. . Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya. vApabila mendengar keterangan guru tentang masalah-masalah hukum atau berita-berita maka dengarkan dengan penuh perhatian sekalipun ia sudah mendengar sebelumnya. Apabila hendak berteduh dan berbincang-bincang dengan guru maka hendaknya penuntut ilmu berada di sebelah kanan guru. berkata. dan hendaklah ia seperti saat tasyahud pada waktu shalat atau duduk bersila dengan penuh tawadhu’. akan tetapi dengan menundukan kepala. bila guru meminta buku untuk dibaca maka berikan buku itu dalam keadaan siap dibaca. Termasuk menghormati guru adalah jangan duduk di tempat guru. vHendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan. tenang dan khusyu’. Apabila penuntut ilmu berjalan bersama guru maka hendaklah ia berada di depan guru pada malam hari dan di belakang guru pada siang hari.

Penuntut ilmu harus berusaha menghindari lupa dan alpa dari sesuatu yang telah dihafalkan dengan tetap selalu setor hafalan kepada guru. memegang teguh prinsip-nya dan selalu rutin membaca-nya. Penuntut ilmu hendaknya selalu wira’i atau menjaga adab sopan santun terhadap gurugurunya lebih-lebih guru agama. yaitu : 1) Ilmu Tauhid tentang hal-hal yang berhubungan dengan dzat Tuhan (Hakikat Tuhan/ Tauhid) 2) 3) 4) Ilmu tentang sifat-sifat wajib bagi Tuhan yang dua puluh dan sifat-sifat mustahil-nya Ilmu Fiqih yang membahas tata cara ibadah. nahwu. dan puasa Ilmu tentang sikap dan tingkah laku serta maqam-maqam (tingkat kedudukan) ibadah dan hal-hal yang memengaruhi jiwa manusia baik pengaruh negatif maupun positif. B. shalat. Demikian pula penuntut ilmu menghindari memulai belajar atau membaca bermacam-macam yang berbeda-beda karena hal tersebut menyia-nyiakan umur dan membuat orang tidak mempunyai pendirian. memahami tafsirnya dan semua ilmu-ilmu yang berkaitan dengan AlQur’an. Penuntut ilmu selalu berusaha sekuat tenaga untuk menghafal dan mencari penjelasan tanpa mengenal lelah dan bosan. Apabila guru memulai sesuatu dengan masalah-masalah khilafiyah maka menurut Imam al-Ghazali sebaiknya penuntut ilmu menghindar darinya karena hal tersebut lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. A. Tetapi harus berpegang kepada semua jenis ilmu dan mendalaminya. Tetapi jangan sampai meninggalkan mempelajari Al-Qur’an. ilmu ushul.. Setelah penuntut ilmu memahami apa yang telah dibacanya maka hendaknya ia . seperti thaharah. C.. Penuntut ilmu hendaknya menghafalkan ilmu pendukung Al-Qur’an terdiri dari hadis.III. Hal tersebut menyebabkan membingungkan akal dan menyusahkan hati. Konsep Tatakrama Penuntut Ilmu Dalam Memilih Pelajaran dan Teman Belajar.. tetapi mulailah dengan satu macam kitab melalui pembahasan dengan guru. dan sharaf. Penuntut ilmu hendaknya menghindari berpindah-pindah membahas kitab sebelum terlebih dahulu ia memahami dengan sempurna. ilmu hadis. D. Penuntut ilmu hendaknya selalu melaksanakan sesuatu yang telah diwajibkan dengan belajar Al-Qur’an. Hendaknya penuntut ilmu menghindari hanya berpegang atau terpaku pada satu ilmu saja. Hendaknya penuntut ilmu menghindari pelajaran tentang masalah-masalah khilafiyah (beda pendapat). dan bersikap kasih sayang padanya. Mulailah dengan pelajaran yang penting terlebih dahulu kemudian jangan lupa untuk menghafalkannya. Sebab Al-Qur’an adalah induk dan sumber berbagai macam ilmu. Ketika belajar penuntut ilmu hendaknya mendahulukan pelajaran yang wajib.

dan waktu senggang sebelum datangnya hal-hal yang mengahambat. Hendaknya penuntut ilmu belajar bersama guru dan bersama teman bila memungkinkan. Pelajarilah hadis beserta ilmu hadis. Dan janganlah menyia-nyiakan waktu. Imam As-Syafi’i berkata. sebaik-baik dasar fiqih adalah kitab-kitab hadis. Kemudian ia menghafalkannya dengan baik.mentashihnya kepada guru atau kepada orang yang dipercaya.a. Janganlah ia puas dengan ilmu yang sedikit dan jangan menunda-nunda mencari ilmu karena menunda-nunda waktu belajar itu sangat berbahaya baginya. Apabila tidak mampu maka carilah ilmu yang terpenting saja. Dan memisahkan hukum-hukum yang subhat (yang belum jelas). sebab hadis adalah ilmu syari’at dan dasar pokok dari sendi-sendi ilmu yaitu Al-Qur’an. Karena sifat itu menunjukan kebodohan dan kedangkalan pada dirinya. tata bahasa dan sejarah hadis. Terlebih ketika memulai belajar hadis. penuntut ilmu tidak cukup memiliki ilmu yang sedikit kalau masih mungkin baginya ilmu yang banyak. Hendaknya penuntut ilmu selalu berusaha untuk mengabdi kepada guru. Apabila penuntut ilmu hendak menjelaskan suatu materi pelajaran atau meringkas materimateri tersebut maka hendaknya mengambil dari pembahasan kitab-kitab besar (kitab yang luas pembahasannya) dengan melalui muthala’ah dan menggali masalah-masalah yang penting serta mengupas masalah-masalah yang sulit. janganlah penuntut ilmu mengurangi jam pelajaran. hukum. waktu sehat. Janganlah memotong materi hadis kemudian pindah ke materi lain. apabila meninggalkan belajar dan menganggap ia lebih mampu. sebab pengabdian itu adalah suatu kemuliaan. E. G. “Barang siapa mempelajari hadis maka kuat hujjahnya (hadisnya/wacananya)”. Mulailah dengan mempelajari hadis Bukhari dan Muslim. Kemudian hadis-hadis yang lain yang masyhur dan mu’tamad seperti Muaththo’ dan Ashabus Sunan. Sebab kebersamaan tersebut akan menambah kebaikan. setelah ia menghafalkan hendaknya ia mengulangi dan sebaiknya penuntut ilmu memahami pelajaran dengan sempurna dan menguasai bahasanya seperti i’rabnya. pergunakanlah waktu luang. sanad. Hendaknya penuntut ilmu belajar tepat pada waktunya. “Seseorang itu disebut alim selagi selalu belajar. Hendaknya penuntut ilmu memiliki kemampuan dan semangat yang tinggi. penuntut ilmu selalu mendiskusikan kembali sesuatu yang dijelaskan guru karena diskusi . berkata. F. waktu muda. Bahkan bila mampu selalu berusaha mencari ilmu. Seyogyanya penuntut ilmu selalu membiasakan diskusi bersama teman. faedah. Dan hindarilah menganggap dirinya lebih sempurna dari pada gurunya. Sayyid said bin Jubair r. maka ia sebodohbodohnya manusia”. tatakrama dan keutamaan. Pada saat berdialog dengan guru dengan tujuan mencari manfaatnya pada dasar hukum tersebut.

berkata.a. Apabila penuntut ilmu tidak ada teman untuk berdiskusi hendaknya ia mengulang-ngulang pelajarannya sendiri dengan memperdalam apa yang telah didengar sehingga benar-benar tertanam dalam akal pikiran dan hatinya. “Wanita-wanita Anshar itu tidak malu bertanya ketika berbicara tentang masalah agama”. atau sedang susah dan lain-lain. J. Janganlah memulai membaca kecuali setelah mendapat izin dari guru. Kecuali bila diperintahkan oleh gurunya untuk maju (berdiri). maka ia berhak menempati tempat yang dekat dengan guru. tetapi duduklah di tempat dimana ia berada. “Barang siapa takut ketika bertanya maka tampak kurangnya ketika berkumpul dengan orang lain”. Ketika penuntut ilmu hadir di Majlis Ta’lim hendaknya mengucapkan salam yang didengar oleh hadirin. Sunan Khatib Al-Baghdadi berkata. khususnya kepada guru demi penghormatan dan memuliakan. bosan. Demikian pula ketika hendak meninggalkan majlis ta’lim maka ia harus mengucapkan salam. tapi ia tergesa-gesa untuk maju dan tahu ada orang lain yang datang lebih awal maka hendaknya ia minta izin terlebih dahulu kepada orang tersebut atau izin dari gurunya”. Ketika ia mengucap salam dan berjalan maka janganlah ia melangkahi hadirin untuk mendekati guru. “Tidak belajar orang yang pemalu dan sombong”. berkata. . apabila ia datang terlebih dahulu. Hendaknya kitab yang akan dibaca sudah dalam keadaan siap -ketika membaca hendaknya kita jangan meletakan kitab di tanah——di bawah— tetapi peganglah dengan tangan.a. K. kata-kata sopan dan adab bertanya. Diceritakan bahwa jama’ah Ulama Salaf memulai diskusi (musyawarah) mulai dari waktu Isya’ dan terkadang mereka tidak berhenti sampai akhirnya mendengar adzan subuh. marah. Imam Khatib berkata. Diceritakan. Hendaknya penuntut ilmu menjaga kesempatan dan janganlah mendahului kesempatan orang lain tanpa izin. Hendaknya penuntut ilmu bertanya sesuatu yang belum jelas dan minta penjelasan sesuatu yang tidak masuk akal dengan cara yang halus. Demikian pula apabila ada orang datang terakhir. Janganlah membaca ketika guru dalam keadaan sedih. “Disunnahkan bagi orang yang datang lebih awal untuk maju terlebih dahulu kemudian giliran orang yang datang berikutnya. H. maka yang terdepan itu ditentukan oleh kehadiran seseorang. I. Imam Mujahid r. “Sebaik-baik waktu diskusi adalah diskusi di waktu malam”. Kesempatan untuk menempati tempat di depan. Dewi Aisyah r. Tempat duduk penuntut ilmu hendaknya di hadapan guru dengan jarak yang pantas -memerhatikan adab sopan santun.banyak manfaatnya.

kita dapat menilai bahwa tulisan beliau mengandung pernyataan yang secara dramatik memperlihatkan dobrakan yang sangat radikal tentang etika menuntut ilmu. Penuntut ilmu hendaknya berpegang teguh pada suatu kitab dan jangan sampai meninggalkannya. menampakan rasa kasih sayang dan penghormatan. Penuntut ilmu hendaknya tetap berada di suatu negara——satu tempat lembaga pendidikan— dan janganlah pindah-pindah ke tempat lain kecuali darurat. Secara garis besar kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim mengandung pokok-pokok pikiran mendasar sebagai berikut: 1. hasud. dan ahli kebatilan. Penuntut ilmu hendaknya memuliakan teman-teman lain dengan mengucapkan salam. dan lingkungan sebagai perwujudan status kekhalifahan manusia maupun terhadap Allah sebagai status kehambaan manusia. Nilai-nilai adab dalam tulisan K. menutupi aib mereka. teman.H. Hasyim Asy’ari itu mengandung elemen fundamental yang bersifat Theologies Spiritual dalam arti keberadaannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk dan .H. guru.. hindarilah ghibah. dan nasihat-nasihat serta peringatan. serta penuntut ilmu menjaga hak-hak persahabatan. dan permusuhan. . Dengan demikian hati akan lebih senang dan ilmunya akan diberkahi serta besar pahalanya. . adab dalam kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim. Hendaknya penuntut ilmu menjauhi orang-orang yang banyak bicara. M. Dan. Hasyim Asy’ari secara mendetail mempunyai hubungan yang erat dan tak terpisahkan dari pandangan ke-tuhan-an (akidah) sebagai moral dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Memahami pemikiran Hadratus Syeikh K. Bahwa konsep etika dalam tulisan K. Sebab berpindah-pindah tempat itu menyusahkan hati dan menyia-nyiakan waktu. Penuntut ilmu hendaknya memberi dorongan semangat kepada teman-teman lain dan mengajak serta menunjukan mereka untuk serius mencari ilmu dan mengajak mereka untuk meninggalkan dan memudahkan (membantu) mereka. Mengingatkan mereka untuk selalu mencari sesuatu yang berfaedah dengan menggali hukum-hukum. Berpegang pada satu macam ilmu dan jangan sibuk dengan cabang ilmu yang lain sebelum benar-benar yakin dengan yang pertama. baik pada diri sendiri. dan lain-lain. Hasyim Asy’ari tentang etika.H. pertama-tama ditentukan oleh eksistensi keimanan kepada ke-Esaan Tuhan (monotheisme) dan kepada kebenaran wahyu. Penuntut ilmu hendaknya tawakkal kepada Allah.. kaidah-kaidah. Penuntut ilmu juga hendaknya melupakan kekurangan mereka dan memaafkan kesalahan mereka. ahli kemaksiatan. Janganlah menyesal dan mengeluh masalah rezeki. Sebab mendekati mereka pasti akan membawa dampak terhadap pribadinya.L. Penuntut ilmu jangan berdebat dan bertengkar dengan orang lain karena akan menyebabkan dendam.

Sehingga terwujud hubungan harmonis baik secara vertikal (dengan Tuhannya) maupun secara horizontal (dengan sesama manusia) 4. Secara substansial kalau kita kaji lebih mendalam orientasi pemikiran K. Imam An-Nawawi dalam Muroqi Al-‘Ubudiyah. 2. dengan guru. kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim merupakan adaptasi dari karya Ibnu Jama’ah Alkinani yang bertajuk Tadzkirât Al Samî’ wa Al-Mutakallim.akibat langsung dari perbuatan itu sendiri melainkan juga oleh situasi batin dan motivasi pelakunya. 3. metodologi pembahasan. Pada prinsipnya orientasi pemikiran kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim bersumber dari pola pikir sufistik yang rasional (walau terkadang tidak rasional) dan radikal. kelugasan dan kedalaman isinya disajikan lebih tertib berdasarkan urutan yang lebih sistematik. Melalui ayat-ayatnya sendiri Al-Qur’an telah dengan tegas menyatakan diri sebagai petunjuk jalan yang mengarahkan pesan-pesan-nya kepada segenap manusia.H. dan Imam Al-Zarnuji dalam Ta’lim Al-Muta’allim sekalipun. . dan penuntut ilmu dengan lingkungannya. Hayim Asy’ari dalam kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim sejalan dengan pemikiran ulama-ulama terdahulu bahkan terkesan kitab beliau sebagai wujud ringkasan sistematik dari pemikiran Imam AlGhazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin. Bahwa ukuran tertinggi dan evaluasi moral dalam kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim adalah bersumber dari ketentuan-ketentuan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadis serta dalil-dalil aqli. Sebab Al-Qur’an dan Sunnah Nabi merupakan konsep yang komprehensif. Bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kitab tersebut berisikan tentang nilai moral yang komprehensif dan mengatur hubungan antara penuntut ilmu dengan Tuhan. Menurut Ishom Hadziq.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful