Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali

KATA PENGANTAR Puji syukur Tim Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dalam waktu yang relatif singkat Tim berusaha menyelesaikan makalah ini. Semoga dengan kehadiran makalah ini dapat membantu untuk memudahkan para mahasiswa dalam memahami tentang upacara adat ngaben yang merupakan salah satu bentuk pelaksanaan upacara pitra yajna yang diyakini sebagai salah satu sarana untuk mengembalikan unsur-unsur Pancan Mahabhuta kepada asalnya. Tim Penulis menyadari sepenuhnya atas keterbatasan waktu, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki serta masih langkanya literatur atau bahan pustaka yang dimiliki, sehingga masih banyak mempunyai kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, Tim Penulis mengharapkan sumbangan-sumbangan pemikiran, kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini yaitu dengan tema ”Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali”. Akhirnya Tim penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas semua sumbangan yang diberikan, baik berupa saran maupun kritik. Palu, Juni 2009

Tim Penulis BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kematian atau seseorang meninggal, berarti hubungan dengan dunia nyatanya telah putus, ia dikatakan kembali ke alam baka / ke akhirat. Ida hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa, sang pencipta kelahiran dan kematian yang berwenang menentukan status batas usia, yang tidak dapat diramal oleh manusia biasa, kapan waktunya yang tepat seseorang berpulang kedunia akhirat. Didalam perjalanan kematian tersebut diatas tidak ada ketentuan yang pasti terhadap seseorang tidak ada pilih kasih, tidak ada perbedaan kaya ataupun miskin, juga perbedaan pejabat atau bukan pejabat, ayah apa anak, kakek apa cucu, dokter apa pasien, semuanya akan berjalan kelak menuju kearah kematian sesuai dengan kehendak takdir, yang diembel-embeli pula dengan perbuatan serta karmanya. Jadi mati adalah suatu keharusan dari hidup manusia yang kemudian masing-masing bangsa, masing-masing agama, masing-masing suku mempunyai cara-cara tersendiri

Oleh karenanya ngaben tidak bias ditunda-tunda. menunggu dewasa (hari baik) menurut sasih dll. Agama Hindu di India sudah menerapkan cara ini sejak dulu kala. Ia akan dapat kembali pada alamnya. Dan proses pengembalian Panca Maha Bhuta terutama Unsur Prthiwinya akan berjalan dalam upacara mependhem ini. sawa pun dibuatkan upacara-upacara tirta pengentas. kayu-kayu harum sebagai kayu apinya dan tampak mantram-mantram atau kidung yang terus mengalun. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran secara ringkas dan jelas tentang segala sesuatu mengenai Upacara adat Ngaben. yakni alam Pitra. Cuma saja masih memberikan alternatif untuk menunggu sementara. artinya berlebihan. Sementara menunggu waktu setahun untuk diaben. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya. sawa (jenasah / jasad / badan kasar orang yang sudah meninggal) harus dipendhem (dikubur) disetra (kuburan). karena tanpa biaya besar kerap tidak bisa ngaben. B. tetapi tidak boleh lewat dari setahun. Agama Hindu di Bali juga pada prinsipnya mengikuti cara-cara ini. mempunyai upacara yang khas dalam penyelenggaraan jazad seseorang yang berpulang yang disebut Pitra Yajna dimana rangkaian dari upacara ini biasa dikenal dengan Istilah Ngaben / Palebon / Pralina dll. mestinya begitu meninggal segera harus diaben. BAB II PERMASALAHAN Ngaben selalu berkonotasi pemborosan. sesungguhnya ngaben akan dapat dilaksanakan oleh siapapun dan dalam keadaan bagaimana juga. Untuk tidak menimbulkan sesuatu hal yang tidak diinginkan. Tetapi sebenarnya dengan mengambil jenis ngaben sederhana yang telah ditetapkan dalam Lontar. mungkin dimaksudkan untuk berkumpulnya para sanak keluarga. Dari sini muncul pendapat yang sudah tentu tidak benar yaitu : Ngaben berasal dari kata Ngabehin. dimana dalam waktu yang singkat sudah diaben. orang . Kemudian yang menjadi tujuan upacara ngaben adalah agar ragha sarira (badan / Tubuh) cepat dapat kembali kepada asalnya. Khususnya di Bali dengan umat yang memeluk Agama Hindu yang menganut kepercayaan adanya roh masih hidup setelah badan kasar tak bergerak dan terbentang kaku. Secara garis besarnya Ngaben itu dimaksudkan adalah untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma (Roh) kealam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu.untuk memberikan penghormatan terakhirnya sebagai manusia yang memiliki peradaban budaya. yaitu Panca Maha Bhuta di alam ini dan Atma dapat selamat dapat pergi kea lam pitra. tidak ada upacara yang menjelimet. hanya perlu Pancaka tempat pembakaran. dan disesuaikan dengan tingkat dan kedudukan seseorang yang bernilai “Desa-Kala-Patra-Nista-Madya-Utama”. Jadi tanpa mempunyai dana berlebihan. Yang penting tujuan utama upacara ngaben dapat terlaksana.

di kalimantan yang disebut tiwah. Ada beberapa jenis ngaben yang justru sangat sederhana. Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek. atau juga atiwa-atiwa. bila ngaben tidak selalu merupakan pemborosan. maka timbulah beberapa permasalahan.tidak akan berani ngaben. kendatipun dari asal-usul etimologi. terdapat juga berbagai jenis upacara yang tergolong besar. Demikian juga di Batak kita dengar dengan sebutan tibal untuk menyebutkan upacara setelah kematian itu. Anggapan keliru ini kemudian mentradisi. Namun demikian. itu kurang tepat. Kata atiwa inipun belum dapat dicari asal usulnya kemungkinan berasal dari bahasa asli Nusantara (Austronesia). BAB III PEMBAHASAN A. Banyak sastra yang mengatakan semua jenis ngaben tersebut merupakan suatu yang utama. Sebab ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal. Berdasarkan hal tersebut diatas. Pranawa dan Swasta. menjadi ngaben. Akibatnya leluhurnya bertahun-tahun dikubur. Ngaben-ngaben jenis ini antara lain Mitrayadnya. Pengertian Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat. Sebab itu merupakan usaha penyucian sehingga kembali ke asalnya. Semua jenis ngaben ini. Apa sesungguhnya ngaben itu ? 2. Akhirnya banyak umat Hindu yang tidak bisa ngaben. Upacara ngaben atau meyanin. Apakah ngaben selalu menggunakan dana yang besar ? 3. Mengapa tidak semua orang dapat diaben ? 5. akan Tim coba uraikab dalam makalah ini sehingga pembaca mendapatkan gambaran. mengingat upacara sejenis ini juga kita jumpai pada suku dayak. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep dasar dari upacara ngaben itu. untuk umat Hindu di pegunungan Tengger dikenal dengan nama entas-entas. Apakah landasan filosofi dari upacara ngaben? 6. Boleh juga disebut Ngabeyain. Ngaben atau meyanin dalam istilah baku lainnya yang disebut-sebut dalam lontar adalah atiwa-atiwa. ngaben ternyata tidak selalu besar. Kata meyanin sudah menjadi bahasa baku untuk menyebutkan upacara sawa wadhana. antara lain : 1. Apakah tidak ada jenis ngaben yang dapat dilakukan dengan penyediaan dana yang kecil ? 4. Kata entas mengingatkan kita pada upacara . Ngaben juga bisa dilakukan secara sederhana. lantaran biaya yang terbatas. Apa maksud dan tujuan diadakannya upacara ngaben? Dari beberapa penelusuran terhadap berbagai lontar di Bali. kata beya ini dalam kalimat aktif (melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. seperti sawa prateka dan sawa wedhana.

ternyata yang lebih tinggi nilainya dan mutlak penting adalah api niskala atau api praline yang muncul dari sang Sulinggih. Itu berarti atma sang mati melalui upacara ritual Ngaben akan menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam Mencipta (utpeti). ngaben itu disebut Palebon yang berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Proses ini disebut “mralina”. Lepas dari persoalan api mana yang lebih penting. Namun cara membakar adalah yang paling cepat. Dalam bahasa lain di Bali. Sesungguhnya ada dua jenis api yang dipergunakan dalam upacara Ngaben yaitu Api Sekala (kongkret) yaitu api yang dipergunakan untuk membakar jasad atau pengawak sang mati dan Api Niskala (abstrak) yang berasal dari Weda Sang Sulinggih selaku sang pemuput karya yang membakar kekotoran yang melekati sang roh. Sang Sulinggih (sang muput) akan memohon kepada Dewa Siwa agar turun memasuki badannya (Siwiarcana) untuk melakukan “pralina”. Dewi Durga yang bersthana di Tunon ini. dibeberapa daerah pegunungan di Bali ada pelaksanaan upacara Ngaben yang tanpa harus membakar mayat dengan api. Sedangkan pemasmian berasal dari kata basmi yang berarti hancur. yang berkonotasi halus. Tunon lain katanya adalah setra atau sema. melainkan cukup dengan menguburkannya. Setra artinya tegal sedangkan sema berasal dari kata smasana yang berarti Durga. Jadi ternyata ada juga upacara Ngaben tanpa mengunakan api (sekala). Kata api mendapat presfiks “ng” menjadi “ngapi” dan mendapat sufiks “an” menjadi “ngapian” yang setelah mengalami proses sandi menjadi “ngapen”. Diantara pendapat diatas. Bahwa kata Ngaben itu berasal dari kata “api”. Upacara Ngaben jenis ini disebut “bila tanem atau mratiwi”. ada satu pendapat lagi yang terkait dengan pertanyaan itu. Dan karena terjadi perubahan fonem “p” menjadi “b” menurut hukum perubahan bunyi “b-p-m-w” lalu menjadi “ngaben”.pokok ngaben di Bali. Tunon berasal dari kata tunu yang berarti membakar. Tetapi api niskala/api praline tetap digunakan dengan Weda Sulinggih dan sarana tirtha praline serta tirtha pangentas. Di antara dua jenis api dalam upacara Ngaben itu. Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanamkan kedalam tanah. Yakni Tirta pangentas yang berfungsi untuk memutuskan hubungan kecintaan sang atma (roh) dengan badan jasmaninya dan mengantarkan atma ke alam pitara. Adapun yang dimaksud api di sini adalah Brahma (Pencipta). Dengan demikian Palebon berarti menjadikan prathiwi (abu). Khusus tentang kehadiran api sekala adalah berfungsi sebagai sarana yang akan mempercepat proses peleburan sthula sarira . Dengan demikian kata Ngaben berarti “menuju api”. Mungkin karena api praline dipandang lebih mutlak/penting. Tempat untuk memproses menjadi tanah disebut pemasmian dan arealnya disebut tunon.

Landasan Filosofis Manusia terdiri dari dua unsur yaitu Jasmani dan Rohani. . dan Antahkarana Sarira.(badan kasar) yang berasal dari Panca Mahabutha untuk menyatu kembali ke Panca Mahabhuta Agung yaitu alam semesta ini. Disamping Panca Maha Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin ikut juga Panca Tan Matra. Suksma Sarira adalah badan astral. dalam asyiknya menikmati rasa. Proses terjadinya Ragha Sarira atau badan kasar adalah sebagai berikut : sari-sari Panca Maha Bhuta yang terdapat pada berbagai jenis makanan terdiri dari enam rasa yang disebut sad rasa yaitu Madhura (manis). Kothuka (pedas) . Menurut Agama Hindu manusia ituterdiri dari tiga lapis yaitu Raga Sarira. Percampuran kedua kama ini dapat menjadi janin. Unsur-unsur tersebut disebut Suksma Sarira. yaitu nafas. Suksma Sarira. dimana didalam tubuh diproses disamping menjadi tenaga. bayu. Tikta (pahit). Manah. Alam transparan ini dapat merekam dan menampung hasil-hasil yang dikerjakan oleh badan atas pengendali Citta tadi. bilamana atma masuk atau turun kedalamnya. Sisanya menjadi air nyom. Raga Sarira adalah badan kasar. kelenjar. yakni bagian-bagian badan yang padat. Antahkarana Sarira adalah yang menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma (Roh). kuku. atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran. Tentunya setelah melalui upacara “mamukur” yang merupakan kelanjutan dari “Ngaben”. Bayu adalah angin. yakni Citta. Dalam pesanggamaan kedua kama ini bertemu dan bercampur melalui pengentalan menjadilah ia janin. dan akasa. apah adalah Zat Cair. Indriya dan Ahamkara). Sad rasa tersebut dimakan dan diminum oleh manusia. Citta terdiri dari tiga unsur yaitu disebut Tri Guna. B. Amla (asam). Proses percepatan pengembalian unsure-unsur Panca Mahabhuta ini tentunya akan mempercepat pula proses penyucian sang atma untuk bisa sampai di alam Swahloka (Dewa Pitara) sehingga layak dilinggihkan di sanggah/merajan untuk disembah. Tama. Konon atma ini masuk kedalam unsur kama yang bercampur ini. yaitu Sattwam. yakni unsur badan yang terhalus yang menjadikan rambut. Bekas-bekas ini nantinya merupakan muatan bagi si Atma (roh) yang akan pergi ke alam pitra. ketika ibu dan bapak dalam keadaan lupa. darah lamas (kakere) dan ari-ari. perasaan. badan bayi. seperti darah. keringat. Ketiga unsur ini membentuk akhlak manusia. air susu dll. teja. Manah. Kama bang (Ovum / sel telur) dan kama putih (sperma). dan nafsu (Cinta. Teja adalah api yakni panas badan (suhu). keinginan. Rajas. kyasa (sepet) dan lawana (asin). indriya alam keinginan dan ahamkara adalah alam keakuan. Indriya dan Ahamkara. yakni bagian-bagian badan yang cair . yakni benih halus dari Panca Maha Bhuta itu. Panca Tan Matra ini dalam janin bayi juga memproses dirinya menjadi Suksma Sarira. Prthiwi adalah unsur tanah. ia menjadi kama. Manah adalah alam pikiran dan perasaan. Badan yang dilahirkan karena nafsu (ragha) antara ibu dan bapak. apah. emosi. Ragha sarira atau badan kasar manusia terdiri dari unsur panca mahabhuta yaitu prthiwi. Dan yang Akasa adalah ether.

Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan Sarira. Landasan pokok ngaben adalah lima kerangka agama Hindu yang disebut Panca Sradha atau lima keyakinan itu adalah : 1. Hal ini merupakan penderitaan bagi Atma (roh). seperti dijelaskan : “Yan wwang mati mapendhem ring prathiwi salawasnya tan kinenan widhi-widhana. konsep Agama Hindu adalah untuk kembali menyatu dengan sang pencipta (Brahman / Tuhan). Suatu sat setelah tiba waktunya. Atman (roh) : Keyakinan akan adanya Atma pada masing-masing badan manusia. etemahan gadgad” Artinya “kalau orang mati ditanam pada tanah. Dimana Moksa dapat diartikan sebagai proses menyatunya Atma dengan Brahman atau dengan istilah Atman Brahman Aikyam. termasuk manusia. Proses inilah yang disebut Ngaben. Untuk tidak terlalu lama atma terhalang perginya . 2. byakta matemahan rogha ning bhuana. Ia yang menghidupkan semua mahkluk termasuk manusia. upacara tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan semua unsur yang menjadikan manusia ke asalnya. Kalau upacara ngaben tidak dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup lama. Atma merupakan setetes kecil (atum) dari Brahman. Demikian juga bagi sang atma perlu dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitra dan memutuskan keterikatannya dengan badan kasarnya. dan Atmanya akan mendaptkan Neraka. lantaran beberapa bagiannya sudah rusak. atas kungkungan Suksma Sarira. lampiran 5a). badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit. Ketuhanan / Brahman : Brahman merupakan asal terciptanya alam semesta beserta isinya. menjadi gadgad (tubuhnya) …. Berdasarkan atas keyakinan inilah. dimana Tuhan merupakan asal semua kehidupan. Beliau juga merupakan tujuan akhir kembalinya semua ciptaan itu. Sebagaimana juga tujuan dari Agama Hindu yaitu Moksartham Jagad Hita Ya Ca Iti Dharma yang berarti bahwa tujuan tertinggi agama Hindu adalah mencapai Moksa. kacau sakit mrana di dunia. sungguhnya akan menjadi penyakit bumi. sulit sekali meninggalkan badan itu. ia pun akan . Dalam Kekawin Arjuna Wiwaha dirumuskan secara singkat dengan kalimat Sang Sangkan Paraning Dumadi artinya beliau sebagai asal dan kembalinya alam semesta beserta semua isinya.”(lontar Tatwa Loka Kertti. perlu badan kasarnya di upacarakan untuk mempercepat proses kembalinya kepada sumbernya dialam yakni Panca Maha Bhuta. yang disebut Bhuta Cuwil. haro haro gering mrana ring rat.Ketika manusia itu meninggal Suksma Sarira dengan Atma akan pergi meninggalkan badan. Padahal badan sudah tidak dapat difungsikan. selamnya tidak diupacarakan diaben.

Kerja yang buruk (Asubha karma) akan berakibat keburukan pula. memukur dan terakhir Ngalinggihang Dewa Hyang pada sanggah Kamulan atau Ibu Dengen. Samsara : artinya penderitaan. Bagi para Yogi ia mampu membebaskan dosa-dosanya tanpa bantuan sarana dan prasarana orang lain. ia memerlukan pertolongan. Hal-hal inilah yang menyebabkan perlunya upacara Ngaben itu. Inilah menjadi konsep dasar upacara ngaben. kemudian terakhir Ia harus dipersatukan dengan sumbernya. Proses pengantaran atma ke alam pitra merupakan prinsip utama yang lalu dituangkan melalui symbol berupa upacara yang disebut Ngaben. Ia merupakan beban atma yang akan menghempaskan ke alam bawah (Neraka). 4. Unsur Metafisika dalam Ngaben Setelah mengetahui maksud dan tujuan serta landasan filosofis.kembali kepada asalnya yang suci. dan ke gramatologisentris. Pendekatan itu berkembang dari model pemikiran kosmosentris. Moksa : artinya kebahagiaan abadi. Telah ditetapkan bahwa dalam upacara ngaben dianggap sebagai “simbolis pengantar atma (jiwa) ke alam pitra (baka)”. Kerja yang baik (Subha karma) berpahala baik pula. atma harus disucikan. Realitas yang mendasar yang diyakini sebagai sumber dan makna itu oleh Sontag (1970:4) disebut sebagai “prinsip utama” ( the first principle ). Oleh karena itu perlu dilaksanakan upacara ngaben. C. yang salah satu aspeknya akan menebus dan menyucikan dosa-dosa itu. Adalah sangat menderita kalau lahir menjadi binatang. Hal ini mengandung arti Atma bersatu dengan sumbernya (Kamulan Kawitan) atau kata lain mencapai Moksa (kendatipun ini hanyalah usaha dan khayalan pretisantana). logosentris. atau setidak-tidaknya menjadi manusia. Masing-masing memiliki watak. Karma : Manusia hidup tidak bisa lepas dari kerja. 5. 3. Oleh karena itu manusia perlu berusaha untuk membebaskannya. dan lain-lain. Hal inilah yang memerlukan upacara. Setiap filsuf atau aliran dalam memahami prinsip pertama menggunakan cara-cara yang berbeda. dan orientasi yang berbeda. Indria. dan Aharalagawa) setiap kerja akan berpahala. Keterikatannya dengan duniawi harus diputus. atma perlu disucikan. recedana. . yang salah satu tujuannya adalah untuk melepaskan atma untuk dapat kembali ke asalnya. Demi tercapainya moksa itu. titik pijak. Berangkat dari ontologi (metafisika umum) yang berusaha menjawab persoalan dan menggelar gambaran umum tentang struktur yang ada atau realitas berlaku mutlak untuk segala jenis realitas (yang ada). Manah. Pahala karma ini akan menjadi beban atma akan kembali keasalnya. oleh karena itu dalam pemikiran filsafat kita menemukan beberapa model pendekatan. Kerja itu ada atas dorongan suksma sarira (Budi. Atma lahir berulang-ulang ke dunia ini. Dosa-dosanya harus dibebaskan. Penulis akan mencoba mengungkapkan unsur metafisika yang terdapat dalam upacara ngaben. Tapi bagi manusia biasa. dari yang tradisional sampai yang paling kontemporer. theosentris. Dan inilah menjadi tujuan Agama Hindu. perspektif. Lebih-lebih buah karma yang buruk. Syukur kalau lahirnya menjadi manusia utama. Inilah yang menjadikan tumpuan harapan semua manusia. antroposentris. Hal ini disimbolkan dengan tirtha pangentas dan aksara-aksara kelepasan lainnya seperti rurub kajang.

Pitra Yajna berasal dari kata Pitr yang artinya leluhur. Dititipkan pada Dewi penghuluning Setra (Dewi Durga). yajna berarti korban suci. Ibu dan Bapak ada karena Kakek dan Nenek. buyut.82). Namun perlu diingatkan bahwa pada prinsipnya setiap orang mati harus segera di aben. yajna yang berasal urat kata yaj yang berarti berkorban. kakek. Upacara menghormati leluhur dalam Agama Hindu di kenal dengan istilah Sradha. Di muka dijelaskan bahwa ngaben di Bali masih diberikan kesempatan untuk ditunda sementara. Namun diluar itu masih ada alasan yang bersifat filosofis lagi. Istilah ini dipakai untuk menyebutkan jenis ngaben yang diajarkan pada Lontar Yama Purwana Tattwa. E. Kita ada karena ibu dan Bapak. begitu seterusnya.S. Hal inilah yang menjadi dasar hukum dari pada Pitra Yajna itu.Oleh karena itu “proses pengantaran atma (jiwa) ke alam pitra (baka)” tersebut merupakan prinsip pertama dalam ontologi upacara ngaben.” (M. Dimana yang dimaksud dengan Pitra Yajna adalah persembahan suci kepada leluhur. Bagi mereka yang masih memerlukan waktu menunggu sementara maka sawa (jenasah) itu harus di pendhem (dikubur) dulu. Ngaben itu menurut ucap lontar Yama Purwana Tattwa merupakan Sabda Bhatara Yama.I. membayar utang kepada leluhur dengan melaksanakan pitra yajna. yang didalam naskah lontar belum diketemukan. Jenis – jenis Ngaben Sederhana 1. Yang secara ethis dilukiskan agar mereka dapat mencium bunda prthiwi. Mendhem Sawa Mendhem sawa berarti penguburan mayat. 2. Hutang ini harus dibayar. Mungkin saja alasan ini dikarang yang dikaitkan dengan landasan atau latar belakang filosofis adanya kehidupan ini. Hutang kepada leluhur disebut Pitra Rna. Hal ini dijelaskan dalam Menawa Dharma Sastra sebagai berikut : “Upacara Pitra Yajna yang harus kamu lakukan Hendaknya setiap harinya melakukan sraddha dengan mempersembahkan nasi atau dengan air dan susu. Leluhur dimaksud adalah Ibu Bapak. Dan dengan demikian Ia menyenangkan para leluhur. Kita telah berhutang kepada mereka. Alasannya adalah agar ragha sarira yang berasal dari unsur prthiwi sementara dapat merunduk pada prthiwi dulu. Jadi kita ada atas jasa mereka.D. yang menurunkan kita. D. karena tidak disebutkan namanya yang pasti. dengan umbi-umbian . dengan alasan berbagai hal seperti yang telah diuraikan. Dasar Hukum Ngaben merupakan salah satu upacara adat Umat Hindu yang masuk ke dalam ruang lingkup upacara Pitra Yajna. dan lain-lain yang merupakan garis lurus ke atas. Pitra artinya leluhur. Dalam warah-warah itu tidak . Ngaben Mitra Yajna Berasal dari kata Pitra dan Yajna. Jadi pitra yajna merupakan suatu pembayaran hutang kepada leluhur.

4. Ngasti sampai ngirim juga sama dengan ketentuan ngaben amranawa sawa baru meninggal. Dimana Ngaben Sawa Bhuanakosa bagi orang yang baru meninggal walaupun pernah ditanam. Adalah nama jenis ngaben yang sawanya (mayatnya) tidak ada (tan kneng hinulatan). lama di setra. ambengan (jerami) sebagai pikiran. Tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara ngulapin. Pranawa Bhuanakosa merupakan ajaran Dewa Brahma kepada Rsi Brghu. dan uttama sebagai badan (sarira) orang yang mati disimbolkan dengan Dyun (tempayan) sebagai kulit. Kalau mau mengupakarai sebagai jalan dengan Bhuanakosa Prana Wa. Swasta Swasta artinya lenyap atau hilang. air sebagai daging. Pejati dan pengulapan di Jaba Pura Dalem dengan sarana bebanten untuk pejati. maka ngaben ini diberi nama Mitra Yajna. . seperti yang telah diuraikan. Upacara ngaben sarat ini memerlukan dukungan dana dan waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. benang 12 iler sebagai otot. 3. dan lain-lainnya. Walaupun orang hina. Recafana sebagai urat. Pranawa Pranawa adalah aksara Om Kara. 5.disebutkan nama jenis ngaben ini. Dimana pada mayat yang telah dikubur tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara Ngeplugin atau Ngulapin. Ngaben sarat dilakukan baik terhadap sawa yang baru meninggal maupun terhadap sawa yang telah dipendem. upacara pengulapan. Pranawa Bhuanakosa. Pelaksanaan Atiwa-atiwa / pembakaran mayat ditetapkan menurut ketentuan dalam Yama Purwana Tattwa. meninggal didaerah kejauhan. Tulangnya dibawah jemeknya diatas. Kemudian berlaku ketentuan seperti amranawa sawa yang baru meninggal. Ketika hari pengabenan jemek dan tulangnya dipersatukan pada pemasmian. F. semuanya dapat dilakukan dengan ngaben jenis swasta. Pranawa sebagai suara. Ngaben Sarat Ngaben Sarat adalah Ngaben yang diselenggarakan dengan semarak. balung cendana 18 potong. dapat dilakukan diperempatan jalan. Ngaben sarat terhadap sawa yang baru meninggal disebut Sawa Prateka. tidak dapat dilihat. disetra. biasa. yang penuh sarat dengan perlengkapan upacara upakaranya. terutama mengenai upakara dan dilaksanakan di dalam tujuh hari dengan tidak memilih dewasa (hari baik). bagi yang meninggal di kejauhan yang tidak diketahui dimana tempatnya. Dan bagi yang lama di pendhem yang tidak dapat diketahui bekasnya pengulapan dapat dilakukan di Jaba Pura Dalem. ongkara sebagai lingga hidup. Adalah nama jenis ngaben yang mempergunakan huruf suci sebagai simbol sawa. Untuk membedakan dengan jenis ngaben sedehana lainnya.

Pemahaman terhadap Agama Hindu sangat rendah. Setiap orang mati kebanyakan diaben. Semua itu dipersiapkan dalam kurun waktu yang panjang serta memerlukan tenaga penggarap yang besar. Khususnya Bali adalah Industri Pariwisata. 1. Lebih-lebih ketika itu. Akibat dari semua itu.Sedangkan ngaben sarat terhadap sawa yang pernah dipendem disebut Sawa Wedhana.Kondisi umat Hindu masa sekarang. adalah penyempitan waktu. Namun secara kolektif. Akibatnya pemahaman Agama Hindu sangat rendah. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip ngaben. tanpa diundang dia datang untuk membantu bekerja. Disisi lain akibat dari dampak pengaruh industri pariwisata. Banjar adalah suatu lembaga adat yang andal untuk mempertahankan kebersamaan dan gotong-royong. Bagi Agama Hindu melaksanakan upacara agama termasuk ngaben kelihatan makin semarak saja. pelaksanaan upacara menjadi semakin semarak. Ada yang mengambil ngaben sederhana dan ada juga yang mengambil jenis pengabenan sarat. Sebagai masyarakat Agraris mereka berpenghasilan sangat rendah. Melalui banjar umat Hindu yang ngaben dapat mengharapkan bantuan warganya. Umat tidak mengenal ada bentuk ngaben sederhana. baik dengan cara ngiring (ikut / numpang) pada puri atau pun geria. ajaran Agama masih tabu untuk dipelajari secara umum. Motto away wera yang disalahtafsirkan menghantui pikiran umat. Kalau toh diminta paling-paling bisa membantu 1 s/d 2 kali saja. Syukurlah masyarakat Hindu di Bali masih mempunyai Banjar. Hanya beberapa kali mereka dapat meminta gotong-royong banjar. Masyarakat sekarang telah measuki era Industrialisasi. 2. v Jenis-jenis Ngaben Sarat : . Dengan pendapatan yang tinggi maka semakin bergairah dalam melaksanakan ibadah agamanya. Biasanya disponsori oleh banjar. Kondisi Umat Hindu dimasa lalu Pada masa lalu. Kalau tidak mempunyai dana yang besar umat tidak akan berani ngaben. Kalau ada tetangga yang ngaben. Tapi sekarang tanpa di undang ia tidak akan datang. golongan menak. keluarga Puri. Bertahuntahun bahkan puluhan tahun. Lalu mereka jarang sekali ngaben. lebih-lebih sebelum masa kemerdekaan. Baik sawa prateka maupun sawa wedhana memerlukan perlengkapan upacara bebanten dan sarana penunjang lainnya yang sangat besar atau banyak. Karena itulah terhadap kedua jenis ngaben ini disebut Ngaben Sarat. Hidup gotong royong seperti masa lalu mulai terancam. sawa leluhur lama terpendam. melaksanakan ngaben kolektif yang disebut Ngagalung. Sewaktu-waktu umat kebanyakan juga ikut ngaben. Pengertian Ngaben disalah artikan dimana Ngaben adalah identik dengan Ngabehin. Ternyata lembaga banjar ini masih sangat efektif untuk membantu pelaksanaan ngaben. kadang kala dari masyarakat yang berpikiran agak maju. atau Geria. Masyarakat Industri adalah masyarakat yang penuh dengan kesibukan. Pemahaman terhadap ajaran agama juga semakin meningkat. Pendapatan masyarakat semakin meningkat. Kalau toh ada ngaben mereka pasti golongan mekel. umat Hindu kondisinya sangat lemah.

baik dengan cara pembekuan (es). dititipkan pada tanah. Upacara ini langsung dilakukan setelah orang itu meninggal. karena urusan biaya. Pengawak ini disebut sawa karsian. Bilamana sawa yang diupakarakan itu baru meninggal disebut Sawa Prateka. akan di kubur terlebih dulu. Atma itu dipegang oleh Bhatari Durga. Bila disimpulkan yaitu begitu atma atau urip meninggalkan badan. Ngaben Massal (ngerit) Seperti namanya ngaben masal dilakukan secara bersama-sama dengan banyak orang. Tawulan ini tidak ikut diupacarakan lagi tawulan ini diganti dengan pengawak. Sawa Prateka adalah jenis ngaben untuk sawa (mayat) yang baru meninggal belum sempat diberikan upacara penguburan. Ada yang melakukan setiap 3 tahun sekali. Sedangkan terhadap sawa yang telah pernah dikubur (di pendhem) lalu di aben disebut Sawa Wedhana. Dan lebarnya empat jari. Ngaben Langsung Ngaben Langsung Artinya. Sementara itu biasanya mayat dari orang yang meninggal akan diawetkan terlebih dahulu. Ini biasanya dilakukan bagi mereka yang boleh dikatakan mampu untuk urusan ekonominya. diperciki tirta pemanah. G. ini adalah pilihan yang sangat bijaksana. adapula pembagian ngaben dilihat dari cara pelaksanaannya yaitu : 1.Jenis-jenis Ngaben Sarat tergantung jenis sawa (jenasah) yang diupakarakan yaitu Sawa Prateka dan Sawa Wedhana. Sawa Wedhana adalah jenis ngaben yang dilakukan untuk mayat yang telah mendapatkan upacara penguburan (ngurug). sangat bisa diminimalkan. Sawa yang telah pernah dipendhem disebut tawulan. yang terbuat dari kayu cendana atau kayu mejegau yang panjangnya satu lengkat satu hasta. Tiga hari menjelang pengabenan ada upakarannya yang disebut ngulapin. sawanya lalu diupacarakan di rumah seperti dimandikan. Pada saat acara ngaben masal . ada juga setiap 5 tahun dan mungkin ada yang lainnya. Biasanya mereka yang mempunyai keluarga meninggal dunia. Pada umumnya upacara ngaben dari persiapannya membutuhkan waktu yang agak lama. Pada Waktu pengupacarakan sawa itu namanya sawa Wedhana. 1. minimal kira-kira 10 hari. Di masing-masing desa di Bali biasanya mempunyai aturan tersendiri untuk acara ini. Upacara ngaben jenis ini juga disebut Sawa Rsi. dengan lebih dulu atma itu disuruh kembali sementara pada badannya terdahulu. dihidangkan saji tarpana. 2. Cendana ini digambari orang-orangan sebagai pengganti sawa. 2. Pembagian Ngaben Menurut Caranya Selain pembagian ngaben menurut jenis ngaben diatas baik ngaben sederhana maupun ngaben sarat. Adapun sawa yang telah ditanam di Setra namanya makingsan. Pimpinan setra. Demikian prihalnya sawa yang ditanam. Jadi di rumah betul sawanya yang diupakarakan. Bagi masyarakat yang kurang mampu. itupun jika “hari baik” berdasarkan hitungan kalerder Bali sudah dapat ditentukan / dipilih. atau dengan zat kimia lainnya. Inilah yang disebut Sawa Prateka.

Bergeraknya matahari ke utara atau keselatan dari bulatan bumi yang sesuai dengan penglihatan manusia. disamping fungsinya untuk memuja tuhan juga untuk memuja para leluhurnya. Dan pesasihan merupakan dasar pokok dari dewasa. sesuai dengan petunjuk dalam lontarlontar di Bali. Konon ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau sangat harum. Bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untuk mendatangi sumber bau. Di sanalah kemudian mereka kawin dan secara kebetulan disaksikan oleh penduduk desa hutan Landung yang sedang berburu. lahir bathin. Di Trunyan. Bergeraknya matahari inilah yang menjadi patokan pesasihan dalam ilmu wariga itu. Sebelum meresmikan pernikahan. setelah pembakaran mayat. Upacara Adat Ngaben di Desa Trunyan Bali. sebelum akhirnya ditempatkan di pura keluarga masing-masing. I. melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan. Bila kita perhatikan keadaan sasih yang disebabkan pergeseran matahari ke utara ke selatan (secara pandangan manusia) maka akan terlihatlah bagian-bagian sasih-sasih itu serta kegunaannya untuk upacara apa tepatnya. Disinilah biasanya seperti dijelaskan dihalaman lain tentang pura keluarga masyarakat hindu di Bali. seperti dapat dilihat sepanjang tahun membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan di Bumi. Terletak di pinggir Danau Batur dan dikelilingi tebing bukit. H. khususnya dewasa ngaben sarat. Taru Menyan itulah yang telah berubah menjadi seorang dewi yang tidak lain adalah istri dari Ida Ratu Pancering Jagat. akan dikumpulkan dan selanjutnya dibakar. kuburan itu digali lagi untuk mengumpulkan sesuatu yang tersisa dari mayat tersebut. Adanya pengaruh alam besar terhadap kehidupan manusia serta akibat dari pengaruh saling berhubungan itu betul-betul diperhatikan oleh setiap umat Hindu dalam melakukan usaha terutama dalam melakukan upacara yajna. Ternyata tidak semua umat Hindu di Bali melangsungkan upacara ngaben untuk pembakaran jenasah. Trunya memiliki banyak keunikan dan yang daya tariknya paling tinggi adalah keunikan dalam memperlakukan jenasah . Dilanjutkan dengan upacara penjemputan arwah di laut tersebut. Hari Baik atau Dewasa Ngaben Pada hakekatnya saat yang baik (dewasa) adalah merupakan repleksi dari adanya pengaruh alam besar (Buana Agung) terhadap kehidupan alam kecil dengan alam besar (Makrokosmos) itu.inilah. Sisa tulang atau yang lain. Daerah Tingkat II Bangli. jenasah tidak dibakar. Desa Trunyan memiliki banyak keunikan sebagai sebuah desa kuna dan Bali Aga (Bali asli). dalam hal ini ngaben. Prosesi upacara ngaben selanjutnya. Ratu Gede mengajak orang-orang desa Cemara Landung untuk mendirikan sebuah desa bernama Taru Menyan yang lama kelamaan menjadi Trunyan. Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar pohon-pohon hutan cemara Landung. Trunyan adalah desa kuna yang dianggap sebagai desa Bali Aga (Bali asli). abunya kemudian dibuang ke laut. Desa ini berada di Kecamatan Kintamani.

upacara kematian tradisi desa Trunyan pada prinsipnya sama saja dengan makna dan tujuan upacara kematian yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali lainnya. jenasah yang lama dinaikkan dari lubang dan jenasah barulah yang menempati lubang tersebut. Meski disebut dikubur.warganya. Jenazah yang dikuburkan pada kuburan suci ini hanyalah jenazah yang jasadnya utuh. tidak terkubur tanah. Di Setra Wayah ini terdapat 7 liang lahat terbagi menjadi 2 kelompok. Jenasah tersebut hanya dibatasi dengan ancak saji yang terbuat dari sejenis bambu membentuk semacam kerucut. khusus untuk jenasah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati maupun ulah pati (meninggal secara tidak wajar misalnya kecelakaan. Kuburan yang kedua disebut kuburan muda yang khusus diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Jenasah lama. tahap pertama dibayarkan dengan perilaku yang baik ketika orang tua masih hidup dan tahap kedua pada waktu orang tua meninggal serangkaian dengan prilaku ritual dalam bentuk upacara kematian. Dua liang untuk penghulu desa yang jenasahnya tanpa cacat terletak di bagian hulu dan masih ada 5 liang berjejer setelah kedua liang tadi yaitu untuk masyarakat biasa. digunakan untuk memagari jenasah. Untuk membawa jenasah ke kuburan harus menggunakan sampan kecil khusus jenasah yang disebut Pedau. Kuburan yang ketiga disebut Sentra Bantas. dibiarkan terbuka. Kuburan utama adalah yang dianggap paling suci dan paling baik yang disebut Setra Wayah. keutuhan jenasah dan cara penguburan yaitu : 1. ditaruh begitu saja di pinggir lubang. Upacara dilangsungkan untuk membayar hutang jasa anak terhadap orang tuanya.klasifikasikan berdasarkan umur orang yang meninggal. tidak cacat. Jika semua liang sudah penuh dan ada lagi jenasah baru yang akan dikubur. Namun tetap dengan syarat jenasah tersebut harus utuh dan tidak cacat. Sebagian badannya dari bagian dada ke atas. 2. ketiga jenis kuburan itu di. 3. Jadi jangan kaget jika di setra wayah berserakan tengorak-tengkorak manusia yang tidak boleh ditanam maupun dibuang. Trunyan memiliki tiga jenis kuburan yang menurut tradisi desa Trunyan. Kuburan ini berlokasi sekitar 400 meter di bagian utara desa dan dibatasi oleh tonjolan kaki tebing bukit. BAB IV . namun cara penguburannya unik yaitu dikenal dengan istilah mepasah. Jenasah yang telah diupacarai menurut tradisi setempat diletakkan begitu saja di atas lubang sedalam 20 cm. bunuh diri). Dari ketiga jenis kuburan tersebut yang paling unik dan menarik adalah kuburan utama atau kuburan suci (Setra Wayah). Meski tidak dilakukan dengan upacara Ngaben. dan jenasah yang proses meninggalnya dianggap wajar (bukan bunuh diri atau kecelakaan). Hutang itu dibayarkan melalui dua tahap.

Ngaben dapat dibagi dua yakni ngaben sarat dan ngaben sederhana yakni ngaben yang dilakukan dengan cara sangat sederhana. Ngaben adalah merupakan swadharma pretisantana untuk menunukkan rasa bakti yang mendalam terhadap leluhurnya. Meninggal yang tidak wajar dalam umat Hindu dikenal dengan istilah Salah Pati (dicari mati seperti contohnya : kecelakaan). Ngaben sarat ini terdiri dari dua jenis yakni sawa prateka dan sawa wedhana. . Demikianlah penjelasan tentang upacara ngaben yang merupakan suatu proses ritual yang dilakukan oleh masyarakat bali. Dari penjelasan di atas kita dapat melihat penjelasan etimologi dan terminologi. adalah merupakan simbol-simbol yang bermakna. dll. maksud. Upacara ngaben dilandasi oleh pemikiran akan hakekat kehidupan sebagai manusia.PENUTUP Dari semua uraian dan penjelasan Upacara Ngaben. Semua peralatan dan sarana Ngaben terutama sekali pada Ngaben Sarat. maupun manfaat kedua jenis ngaben ini sama saja (utama juga ia. Kendatipun ada perbedaan dalam materi. Untuk tercapainya tujuan Ngaben dengan semaksimal telah ditentukan adanya hari-hari baik (dewasa). Ngaben sarat adalah ngaben yang penuh sarat dengan perlengkapanperlengkapan upakara bebanten dan peralatan lainnya. wenang ingangge der sang catur janma). tujuan. Swasta. sebagai penutup dapatlah disimpulkan sebasgai berikut : Ngaben adalah upacara pemberian beya atau bekal bagi roh untuk kembali kepada asalnya. dan pembakaran mayat. landasan folosofis dan unsur metafisika dalam upacara dan proses ngaben. Pranawa. dan Ulah Pati (mencari mati seperti contohnya bunuh diri). tawulan atau awak-awakan Sawa (jenasah) untuk mempercepat proses kembalinya unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya. Ngaben ini terdiri dari : Mitra Yajna. yang berasal dari Tuhan untuk kembali kepada Tuhan.