P. 1
Poposal PTK TK

Poposal PTK TK

4.5

|Views: 19,487|Likes:
Published by ruqhy TRAPSILO
PTK Paud / TK meningkatkan kemampuan membaca dengan metode bermain
PTK Paud / TK meningkatkan kemampuan membaca dengan metode bermain

More info:

Published by: ruqhy TRAPSILO on Nov 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

01/22/2014

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DENGAN METODE BERMAIAN PADA SISWA KELAS A-2 DI TK PERTIWI 1 BENDOAGUNG KECAMATAN KAMPAK KABUPATEN TRENGGALEK SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2010 - 2011
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas (IDIK 4008) Yang Dibimbing Oleh Dra. HennyIndreswari, M.Pd

Oleh MINTRI KUSUMAWATI NIM : 821346258

KMENTERIAN PENDIDIKAN NASIOANAL UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ - MALANG FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI S-1 PGSD POKJAR DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN TRENGGALEK

2010

A. Judul: MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DENGAN METODE

BERMAIAN PADA SISWA KELAS A-2 DI TK PERTIWI 1 BENDOAGUNG KECAMATAN KAMPAK KABUPATEN TRENGGALEK TAHUN PELAJARAN 2010 - 2011 B. Bidang Kajian Kemampuan membaca dan metode bermain C. Pendahuluan Sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 28, ayat 3 menyatakan bahwa Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) merupakan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal, yang bertujuan membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, kognitif, bahasa, fisik/motorik, dan seni untuk siap memasuki sekolah dasar. Sebagai lembaga pendidikan prasekolah, tugas utama TK adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap/perilaku, dan keterampilan agar anak dapat melanjutkan kegiatan belajar yang sesungguhnya di sekolah dasar. TK merupakan lembaga pendidikan pra-skolastik atau pra-akademik. Itu artinya, TK tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membelajarkan keterampilan membaca dan menulis. Substansi pembinaan kemampuan skolastik atau akademik ini haruslah menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan sekolah dasar. Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dengan praktik kependidikan baik di TK ataupun SD di Indonesia. Pergeseran tanggung jawab dalam membelajarkan kemampuan skolastik/akademik khususnya yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis ini seolah-olah telah bergeser dari sekolah dasar ke TK. Bahkan
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 2

SEMESTER I

terdapat SD yang dengan sengaja mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan menggunakan konsep akademik, terutama tes membaca dan menulis. Akibatnya banyak TK yang tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai tempat bermain yang menyenangkan bagi anak. Pada dasarnya, membelajarkan persiapan membaca dan menulis di TK dapat saja dilaksanakan selama dalam batas-batas aturan pengembangan pra-skolastik atau praakademik. Pembelajaran persiapan membaca dan menulis di TK hendaknya dapat diberikan secara terpadu dalam program pengembangan kemampuan dasar, dalam hal ini bidang pengembangan berbahasa dan motorik. Dalam rangka memenuhi kebutuhan dan masa peka anak pada aspek perkembangan membaca dan menulis ini dapat disusun berbagai bentuk kegiatan pembelajaran membaca dan menulis bagi anak TK. Berdasarkan Kompetensi membaca di tingkat pendidikan dasar merupakan salah satu kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Membaca merupakan awal dan dasar dari kemampuan seseorang. Apabila kemampuan membaca rendah dapat dipastikan bahwa kemampuan yang lain juga rendah, tidak mungkin memiliki kemampuan matemetik yang tinggi. Secara umum, upaya meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada diri siswa masih mengalami beberapa kendala yakni karena mahalnya bahan bacaan seperti buku, Koran dan majalah. Di samping itu, khususnya tayangan film asing ke dalam bahasa Indonesia. Merupakan salah satu penghambat untuk mengembangkan kebiasaan membaca. Sesungguhnya yang paling penting adalah kemudahan mendapatkan bahan bacaan dan timbul keniatan pada diri seseorang akan pentingnya membaca. Pada hakikatnya pendidikan anak TK adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan menyediakan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak. Pendidikan anak TK merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan baik koordinasi motorik (halus dan kasar), kecerdasan jamak (multiple intelegence), maupun kecerdasan spiritual. Sesuai dengan keunikan dan perumbuhan anak TK, Penyelenggaraan Pendidikan TK disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilaului oleh anak TK.

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 3

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. UU Sisdiknas (2003) pada pasal 1 ayat (14) menyatakan bahwa pendidikan anak TK/ Usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang diajukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Karakteristik tujuan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak memiliki lima bidang pengembangan yaitu: (1) pengembangan sikap dan nilai, (2) pengembangan bahasa, (3) pengembangan kognitif (4) pengembangan fisik dan motorik, dan (5) pengembangan seni. Untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, guru dapat menggunakan strategi / metode pembelajaran yang memungkinkan anak dapat mengembangkan keterampilan berbicara, mendengar, membaca dan menulis. Bersarkan karakteristik dan aspek pengembangan kebahasaan, pada usia TK kemampuan anak masih terbatas dalam memahami bahasa dari pandangan orang lain. Akselerasi perkembangan bahasa anak terjadi sebagai hasil perkembangan fungsi simbolis Hetherington (dalam Moeslichatoen, 1999: 18). Jika pengembangan simbol bahasa telah berkembang, maka hal ini memungkinkan anak memperluas kemampuan memecahkan persoalan yang dihadapi dan memungkinkan anak belajar dari sesuatu yang telah dibacanya. Semakin banyak dan sering anak membaca maka semakin berkembang pula keterampilan memahami kata. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila para ahli menyimpulkan, membaca merupakan dasar dari pada keterampilan bahasa lainnya Tarigan (dalam Tarigan 1987: 48) Pentingnya pemahaman terhadap suatu kata dalam interaksi komunikatif memang sangat nyata. Untuk dapat terlibat dalam suatu komunikasi, seseorang harus mampu memahami dan mereaksi apa yang baru saja dikatakan dan didengar. Konsekwensinya pembelajaran perlu melatih keterampilan membaca. Membaca adalah kemampuan memperluas cakrawala pengetahuan kita . Dengan mahir membaca akan
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 4

timbul keinginan menemukan bacaan , memahami dan menafsirkan apa yang dibaca. (Fawzia Aswin .H,1999). Untuk mencapai kegiatan membaca tersebut diperlukan metode yang tepat. Metode bermain merupakan salah satu metode yang banyak di pergunakan di Taman Kanak-Kanak. Metode bermain merupakan salah satu strategi pembelajaran yang menyenangkan karena anak mendapat pengalaman langsung yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak TK. Dengan latar belakang tersebut penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang pembelajaran kemampuan membaca dengan Metode Bermain. Penelitian ini penulis tuangkan dalam bentuk Proposal Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Membaca dengan Metode Bermain pada Siswa Kelompok A-2 di TK Pertiwi Bendoagung Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek Semester I Tahun Pelajaran 2010/2011”. D. Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah 1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, peneliti akan mencoba membuat rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana hasil pembelajaran kemampuan membaca dengan metode bermain pada siswa kelompok A-2 di TK Pertiwi Bendoagung Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek Tahun Pelajaran 2010/2011? 2. Bagaimana keaktifan siswa dalam pembelajaran kemampuan metode bermain pada siswa kelompok A-2 di TK Pertiwi Bendoagung Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek Tahun Pelajaran 2010/2011? 2. Pemecahan Masalah Siswa yang mendapatkan pengetahuan dari lingkungan secara langsung melalui pembelajaran yang menyenangkan lewat metode bermaian tentunya akan menghasilkan atau menguasai materi (dalam hal ini kemampuan membaca) yang lebih baik kerena materi didapat dengan permainan yang menyenangkan. 3. Hipotensis Hipotensis yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah :
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 5

Melalui metode bermain dapat meningkatkan kemampuan membaca pada siswa kelompok A-2 di TK Pertiwi Bendoagung Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek Tahun Pelajaran 2010/2011

E. Tujuan Peneliti 1. Tujuan Umum Guna meningkatkan kemampuan membaca pada siswa kelompok A-2 di TK Pertiwi Bendoagung Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek Tahun Pelajaran 2010/2011. 2. Tujuan Khusus Diharapkan siswa dapat menumbuh kembangkan kemampuan membaca mejadi sebuah minat, kegemaran, dan kebiasaan positif baik di sekolah, di keluarga maupun di lingkungan masyarakat. F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Bagi Siswa
a. Memberikan motivasi dan dorongan untuk kemampuan membaca baca pada

anak. b. Dengan kemampuan membaca pemahaman, siswa dapat berperan aktif dan bertanggung jawab dalam mengembangkan kemajuan belajar mereka sendiri. c. Meningkatkan kemampuan berfikir kognitif, efektif dan psikomotorik dalam konteks pembelajaran. 2. Manfaat Bagi Guru

a. Sebagai fasilitator, guru dapat menggunakan berbagai macam teknik, metode,

dan pendekatan dalam pembelajaran membaca. b. Dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang bersifat dinamis dan menyenangkan.
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 6

c. Mengevaluasi

hasil

akhir

pembelajaran

dengan

upaya

membina,

membimbing dan mengarahkan siswa agar terampil dalam membaca pemahaman secara baik, benar, efektif dan efisisen. 3. Manfaat Bagi Sekolah
a. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar.

b. Meningkatakan prestasi sekolah melalui peningkatan prestasi belajar siswa dan prestasi kinerja guru.

G. Kajian Pustaka 1. Karakteristik Tujuan Pembelajaran di TK Karakteristik tujuan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak memiliki empat bidang pengembangan yaitu:
a) pengembangan sikap dan nilai.

b) pengembangan bahasa
c) pengembangan kognitif

d) pengembangan fisik dan motorik
e) pengembangan seni

2. Kompetensi Dasar Membaca Sesuai dengan Standar Kompetensi Taman Kanak-kanak & Raudhatul Athfal (A) tentang membaca tertuang dalam Standar Kompetensi SK : 2. Anak mampu mendengarkan, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata dan mengenal simbol-simbol yang melambangkannya. Kompetensi Dasar (KD) : 2.2 Dapat menceritakan gambar (pra membaca), mengenal bahwa ada hubungan antara bahasa lisan dengan tulisan (pra membaca). (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas: 2003) 3. Karakteristik anak TK Anak taman kanak-kanak adalah anak yang sedang berada dalam rentang usia 4-6 tahun, yang merupakan sosok individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu proses evolusi manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri.
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 7

Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan dimana anak belajar menguasai tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek : gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi baik dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan hidupnya. Beberapa ahli dalam bidang pendidikan dan psikologi memandang periode usia dini merupakan periode yang penting yang perlu mendapat penanganan sedini mungkin. Maria Montessori (Elizabeth B. Hurlock, 1978:13) berpendapat bahwa usia 3-6 tahun merupakan periode sensitif atau masa peka pada anak, yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. Misalnya masa peka untuk berbicara pada periode ini tidak terlewati maka anak akan mengalami kesukaran dalam kemampuan berbahasa untuk periode selanjutnya. Masa-masa sensitif anak pada usia ini menurut Montessori mencakup sensitivitas terhadap keteraturan lingkungan, mengeksplorasi lingkungan dengan lidah dan tangan, berjalan, sensitivitas terhadap obyek-obyek kecil dan detail, serta terhadap aspek-aspek sosial kehidupan. Erik H. Erikson (Helms & Turner, 1994:64) memandang periode usia 4-6 tahun sebagai fase sense of initiative. Pada periode ini anak harus didorong untuk mengembangkan prakarsa, seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Jika anak tidak mendapat hambatan dari lingkungannya, maka anak akan mampu mengembangkan prakarsa, dan daya kreatifnya, dan hal-hal yang produktif dalam bidang yang disenanginya. Guru yang selalu menolong, memberi nasehat, dan membantu mengerjakan sesuatu padahal anak dapat melakukannya sendiri, menurut Erikson dapat membuat anak tidak mendapatkan kesempatan untuk berbuat kesalahan atau belajar dari kesalahan. Froebel (Roopnaire, J.L & Johnson, J.E., 1993:56) berpendapat bahwa masa anak merupakan suatu fase yang sangat penting dan berharga, dan merupakan masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia (a noble and malleable phase of human life). Oleh karenanya masa anak sering dipandang sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase inilah terjadinya peluang yang sangat besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang. Menurut Froebel, jika orang dewasa mampu menyediakan suatu “taman”
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 8

yang dirancang sesuai dengan potensi dan bawaan anak, maka anak akan berkembang secara wajar. Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak sangat aktif, dinamis, antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, seolah-olah tak pernah berhenti untuk belajar.

4. Metode Bermaian Anak TK Motivasi Intrinsik tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak. Pengaruh positif tingkah laku itu menyenangkan atau menggembirakan untuk dilakukan. Bukan dilakukan sambil lalu, tingkah laku itu bukan dilakukan sambil lalu. Cara/tujuan, cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya. Kelenturan, bermain itu perilaku yang lentur Fungsi bermain bagi anak TK. Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata. Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata. Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng. Untuk melepaskan dorongan yang tidak dapat diterima. Untuk kilas balik pesan-pesan yang biasa dilakukan. Mencerminkan pertumbuhan. Untuk mengembangkan sosial anak. Beberapa fungsi bermain : 
 

Mempertahankan keseimbangan Menghayati berbagai pengalaman yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari Mengantisipasi peran yang akan dijalani di masa yang akan datang. Menyempurnakan keterampilan-keterampilan yang dipelajari.. Menyempurnakan keterampilan-keterampilan yang dipelajari. Menyempurnakan keterampilan memecahkan masalah. Meningkatkan keterampilan berhubungan dengan anak lain.


  

5. Penggolongan Kegiatan Bermain Anak TK.

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 9

a. Penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan sosial anak. Gorden & Browne 1985, mengadakan penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan sosial anak dala bentuk : 1. Bermain secara soliter 2. Bermain secara paralel 3. Bermain asosiatif. 4. Bermain secara kooperatif. b. Kegiatan bermain berdasarkan pada kegemaran anak yaitu bermain bebas dan spontan : 1. Bermain bebas dan spontan. 2. Bermain pura-pura. Bermain pura-pura dapat dibedakan dalam bentuk: 3. Bermain dengan cara membangun atau menyusun. 4. Bertanding atau berolahraga. (http://yatna234.blogspot.com/2008/11/penggunaan-dan-pengertian-metodebagi.html, diakses 3 November 2010 ) 6. Implementasi Metode Bermain dalam pembelajaran Membaca di TK Permainan membaca anak TK meliputi kemampuan mendengar, melihat dan memahami, berbicara dan membaca gambar. a. Kemampuan Mendengar Kemampuan mendengar merupakan kemampuan untuk dapat mendeskripsi-kan alam sekitar dan mendengar pendapat orang lain dengan indera pendengaran. Kemampuan ini berkaitan dengan kesanggupan anak menangkap isi pesan dari orang lain secara benar. Termasuk dalam kelompok kemampuan ini adalah: 1) Menirukan kembali 2 s.d 4 urutan angka/kata. 2) Mengikuti beberapa perintah secara berurutan. 3) Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, berapa, mengapa, di mana, dan bagaimana. 4) Menjawab pertanyaan tentang cerita pendek 5 s.d. 6 kalimat yang sudah diceritakan guru. 5) Mendengar cerita dan menceritakan kembali secara sederhana 6) Melengkapi kalimat sederhana yang sudah dimulai guru.
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 10

7) Melanjutkan cerita/sajak sederhana yang sudah dimulai guru. 8) Mengenal suara huruf dari kata yang berarti, misalnya: bola, baju, batu, biji, dan sebagainya. 9) Mengenal bunyi huruf akhir dari kata-kata yang berarti, misalnya: kolam, malam, ayam, dan sebagainya. 10)Menyebutkan berbagai bunyi/suara tertentu. b. Kemampuan Melihat dan Memahami Kemampuan melihat merupakan kemampuan anak untuk dapat

menghayati dan mengamati alam dengan menggunakan indera penglihatan. Kemampuan ini merupakan bentuk kesanggupan anak melihat benda atau peristiwa serta memahami hal-hal yang berkaitan dengan benda atau peristiwa yang dilihatnya. Termasuk dalam kelompok kemampuan ini adalah: 1) Menunjuk, menyebut, dan memperagakan gerakan-gerakan sederhana, misalnya duduk, jongkok, berlari, makan, menangis, dan sebagainya. 2) Bercerita tentang kejadian di sekitarnya secara sederhana. 3) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri 4-6 gambar. 4) Menyebut sebanyak-banyaknya nama benda, binatang, dan tanaman yang mempunyai bentuk, warna atau menurut ciri-ciri tertentu. 5) Menyebutkan sebanyak-banyaknya kegunaan dari suatu benda. 6) Menceritakan gambar yang telah disediakan. 7) Bercerita tentang gambar yang telah dibuat sendiri.
8) Mengenai kata-kata yang menunjukkan posisi di dalam, di luar, di atas, di bawah.

9) Menghubungkan gambar/benda dengan kata.
10)

Menghubungkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambang-

kannya. c. Kemampuan Berbicara (Berkomunikasi) Kemampuan berbicara merupakan kemampuan anak untuk

berkomunikasi secara lisan dengan orang lain. Kemampuan ini memberikan gambaran tentang kesanggupan anak menyusun berbagai kosa kata yang telah dikuasai menjadi suatu rangkaian pembicaraan secara berstruktur. Termasuk dalam kelompok kemampuan ini adalah: 1) Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, berapa, di mana, mengapa, dan bagaimana secara sederhana.
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 11

2) Bicara lancar dengan kalimat sederhana. 3) Bercerita tentang kejadian di sekitarnya secara sederhana. 4) Memberikan keterangan atau informasi tentang suatu hal. 5) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri. 6) Melanjutkan cerita/sajak sederhana yang sudah dimulai guru. 7) Menyebutkan sebanyak-banyaknya kegunaan dari suatu benda. 8) Menceritakan gambar yang telah disediakan. 9) Menyanyikan beberapa lagu anak-anak. 10) Mengucapkan beberapa sajak sederhana. 11) Membuat sebanyak-banyaknya kata dari suku kata awal yang disediakan bentuk lisan. 12) Bercerita tentang gambar yang dibuat sendiri.

d. Membaca Gambar Kemampuan ini mengungkapkan kesanggupan anak membaca sesuatu dengan menggunakan gambar. Kemampuan ini sebagai tahap awal dalam membaca permulaan. Termasuk dalam kemampuan ini adalah: 1) Mengurutkan dan menceritakan isi gambar seri. 2) Bercerita tentang gambar yang dibuat sendiri. 3) Membaca gambar yan memiliki kata atau kalimat sederhana H. Rencana dan Prosedur Penelitian 1. Rencana Penelitian a) Tempat Penelitian Penelitian yang berjudul meningkatkan kemampuan membaca pada siswa kelompok A-2 diadakan di TK Pertiwi yang beralamat di Desa Bendoagung Kecamatan Kampak Kabupaten Trenggalek b) Subyek Penelitian Adapun subyek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas A-2 TK Pertiwi 1, yang berjumlah 12 siswa yang terdiri 7 orang siswa perempuan dan 5 orang siswa laki - laki.

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 12

Pemilihan subjek penelitian sebagai tempat dilaksanakannya penelitian didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu sebagai berikut. Pertama, tingkat kemampuan baca rendah. Kedua, peneliti merupakan salah seorang staf pengajar di TK Pertiwi 1, sehingga peneliti lebih memahami keadaan, karakteristik permasalahan yang dihadapi sekolah ini jika dibandingkan dengan mengadakan penelitian di sekolah lain. Ketiga, penelitian yang dilaksanakan tidak akan mengganggu tugas utama peneliti sebagai guru. Keempat, penelitian dilaksanakan di kelas sendiri dengan alasan tidak akan mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku. c) waktu Penelitian Penelitian berlangsung selama satu bulan yang dimulai tanggal 18 Oktober 2010 sampai 13 Nopember 2010. Waktu 24 hari efektif tersebut difokuskan pada kegiatan persiapan pengumpulan data, pengorganisasian, dan pengonsepan laporan. Penelitian dilakukan sesuai dengan jadwal yang berlaku di TK Pertiwi 1 terutama yang berkaitan dengan bidang pengembangan bahasa. d) Metode dan Desai Penelitian 1) Metode penelitian Penelitian yang penulis lakukan bercorak penelitian tindakan kelas, metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif sejalan dengan pendapat Atar Semi (1990: 23) yang mengatakan bahwa “Penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak mengutamakan pada angka-angka, tetapi mengutamakan hubungan antar konsep yang sedang dikaji secara empiris”. Hal ini sejalan pula dengan pendapat yang dikemukakan oleh Arikunto (1991: 195) menegaskan bahwa “Dalam penelitian kualitatif, data digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan”. Dasar pertimbangan lain digunakannya metode deskriptif kualitatif ini adalah seperti pendapat yang dikatakan Moleong (2004: 5) sebagai berikut: “Pertama menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda, kedua motode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden, ketiga metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap nilai yang dihadapi”.
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 13

Selain itu, dalam penelitian kualitatif juga perlu dipertimbangkan pendapat yang dikemukakan oleh Bog dan Taylor (Moleong, 2004: 3) menyatakan sebagai berikut: “Metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan”. 2) Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan mengacu pada bentuk desain bercorak Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), sehingga model penelitian yang digunakan adalah model daur (siklus) yang mencakup empat komponen, yaitu: rencana (pleanning), observasi (observation, tindakan (action) dan refleksi (reflection). Rancangan penelitian seperti tergambar dari bagan berikut ini.

Perencanaan

Refleksi

SIKLUS I

Pelaksanaan

Pengmatan

Perencanaan

Refleksi

SIKLUS II

Pelaksanaan

Pengamatan

Bagan 1 Riscct Aksi Model Kemmis dan Taggart (Wiriaatmaja, 2003: 19)

Penjelasan dari bagan tersebut adalah sebagai berikut :
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 14

Tahap 1: Menyusun Rancangan Tindakan (Planning) Dalam tahap ini penelitian dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dengan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah penelitian kolaborasi. Dalam penelitian kolaborasi, pihak yang melakukan tindakan adalah guru kelas A-2 sendiri, sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses/tindakan adalah observer (guru kelas A-1). Dalam hal tahap menyusun rancangan ini, peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen. Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (Acting) Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan pembelajaran di kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, dan harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Tahap 3: Pengamatan (Observation) Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat atau observer. Pengamatan ini tidak dapat dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan, pengamatan dilakukan pada waktu tindakan berlangsung. Tahap 4: Refleksi (Reflection) Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi pemantulan. Kegiatan refleksi inisangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi kekurangan atau kelebihan pembelajaran yang telah selesai dilaksanakan dan merencanakan rancangan tindakan selanjutnya. Bagian di atas dapat memperjelas bagaimana prosedur pelaksanaan penelitian dalam upaya memecahkan permasalahan. Untuk mengatasi setiap permasalahan yang muncuul atau mungkin terjadi dalam proses pembelajaran, guru harus selalu membuat perencanaan pembelajaran terlebih dahulu, baru kemudian pelaksanaan tindakan sebagai implementasi perencanaan tersebut. Pelaksanaan tindakan selalu disertai dengan pengamatan, baik oleh pelaku itu sendiri maupun oleh observer lain. Dalam hal ini observer yang dimaksud juga boleh siswa, rekan guru, kepala sekolah atau yang lainnya.
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 15

Observasi dilakukan sebagai upaya mengumpulkan data. Observer berperan melihat, mendengar dan mencatat segala yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung, baik dengan atau tanpa menggunakan alat bantu pengamatan. Observer hendaknya tidak menyalahkan tetapi bersigat mendukung, bukan menilai dan setelah diperoleh data sesegera mungkin dilakukan diskusi balikan. Dalam pelaksanaan diskusi tentang data yang diperoleh dari hasil pengamatan maupun dari tes akan diseleksi, disederhanakan, diorganisasikan secara sistematik dan rasional serta dengan teknik tri-angulasi akan diperoleh suatu kesimpulan. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan refleksi. Refleksi dilakukan secara bersama-sama untuk mengetahui hal-hal mana yang harus dipertahankan dan hal-hal mana yang masih harus ditingkatkan atau ditinggalkan. Jika kegiatan yang disebut refleksi ini dilakukan dengan benar telah melibatkan semua yang terkait, maka kegiatan pembelajaran atau pelaksanaan tindakan akan selalu bermuara pada hasil dari suatu tindakan yaitu penyusunan perencanaan dan tindakan perbaikan berikutnya. 2. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas(PTK). Tiap siklus meliputi 4 tahap yaituperencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Dari tiap siklus ini diamati kualitas proses pembelajaran yang terdiri dari aktifitas siswa dan guru, serta hasil belajar siswa yang diukur dari hasil test. 3. Metode Analisa Data Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif, dihitung nilai rata-rata kelas dan yang disajikan dalam bentuk tabulasi frekuensi, diagram batang. Analisis trend (analisis perkembangan) digunakan untuk mengetahui perkembangan kemampuan membaca siswa dalam bentuk hasil tes baik tulis maupun lisan.

I.

JADWAL PENELITIAN Oktober-November 2010 No. Kegiatan Minggu III
(18-23Oktober)

Minggu IV
(25-30 Oktober)

Minggu I
(1-6 Nopember)

Minggu II
(8-13 Nopember)

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 16

1.

Persiapan

2

Pelaksanaan

3

Pengolahan data

4

Pembuatan laporan

J. PERSONALIA

Peneliti Nama : Mintri Kusumawati NIM : 821 346 258 Jabatan : Guru TK A-1 Instansi : TK Pertiwi 1 Tanda tangan : Nama NIP Jabatan Instansi Tanda tangan

Observer : Minatun, A.Ma : 19621010 198504 2 003 : Guru TK A-2 : TK Pertiwi 1 :

J. KOMPONEN BIAYA Biaya yang diperlukan untuk penelitian ini, antara lain sebagai berikut. No. URAIAN BIAYA (Rp)

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 17

1.

Untuk Penyusunan: 1. Penyusunan Proposal 2. Penyusunan Instrumen 3. Pengumpulan Data 4. Pengolahan Data 5. Analisis Data 6. Penulisan Laporan Bahan: • Pembelian ATK Lain-lain: 1. Konsumsi 2. Foto copy 3. Penggandaan JUMLAH

75.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 100.000,00 10.000,00 50.000,00 10.000,00 75.000,00 400.000,00 Trenggalek, 13 Oktober 2010 Menyetujui, Kepala TK Pertiwi 1 Bendoagung

2. 3.

4.

MUJIADI,S.Pd NIP : 19601110 198112 2 012 K. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. (2001). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Aqib, Zaenal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.Bandung : Yrama Widya. Departemen Pendidikan Nasioanal, 2007. Persiapan Membaca dan Menulis melalui Permaianan di Taman Kana-Kanak. Jakarta: http://yatna234.blogspot.com/2008/11/penggunaan-dan-pengertian-metode-bagi.html, diakses 3 November 2010 Moleong, 2001 dalam Anonymous, 2007. Pedoman Penulisan Skripsi dan Laporan Penelitian. Tulungagung: Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pedidikan (STKIP) PGRI Tulungagung. Munandar, Utami, (1995). Dasar-dasar Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas: 2003. Standar Kompetensi Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak & Raudhatul Athfal. Jakarta
auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 18

Rachmawati, Yeni, & Kurniati, Euis. (2003). Strategi Pengembangan Kreativitas Anak Taman Kanak-kanak. Jakarta. Dikti.Jaruki, Muhammad. 2008. Bahasa Indonesia Kelas 1 .Jakarta : Grasindo. Departemen Pendidikan Nasional, 2003. UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20. Jakarta

auth : Ruky (CP : 081 331 022 555) Pokjar Dinas Pendidikan Kab. Trenggalek 19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->