P. 1
Pemilihan Umum

Pemilihan Umum

|Views: 643|Likes:
Published by gigaz701n

More info:

Published by: gigaz701n on Nov 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

Pemilihan Umum

1. Pengertian Pemilihan Umum Ciri negara demokratis di bawah Rule of Law adalah terselenggaranya kegiatan pemilihan umum yang bebas. Pemilihan umum sarana politik mewujudkan kehendak rakyat dalam memilih wakilwakil mereka di lembaga legislatif dan pemegang kekuasaan eksekutif baik presiden, wakil presiden dan kepala daerah. Pemilihan umum bagi negara demokrasi berkedudukan sebagai sarana menyalurkan hak asasi politik rakyat. Pemilihan umum memiliki arti penting yaitu: a. mendukung atau mengubah personel lembaga legislatif. b. Membentuk dukungan, mayoritas rakyat yang menentukan pemegang kekuasaan eksekutif untuk jangka waktu tertentu. c. Rakyat melalui perwakilannya secara berkala dapat mengoreksi/mengawasi kekuatan eksekutif. 2. Pemilihan Umum Sebagai Sarana Kedaulatan Rakyat Pemilihan umum diatur dalam UU No. 12 tahun 2003, diselenggarakan secara periodik setelah 5 tahun sekali oleh KPU. Bersifat Nasional, tetap dan mandiri. Berdasarkan asas LUBER dan Jurdil. y Sesuai penjelasan UU No. 12 tahun 20 03 tujuan pemilihan umum yaitu : a. memilih wakil rakyat dan wakil daerah b. membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat dan memperoleh dukungan rakyat, dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sebagaimana di amanatkan UUD 1945. y Secara Umum tujuan pemilihan Umum Yaitu: a. Melaksanakan Kedaulatan Rakyat b. Perwujudan hak asasi politik rakyat c. Memilih wakil-wakil rakyat, yang duduk di lembaga legislatif, memilih presiden dan wakil presiden. d. Melaksanakan pergantian personel pemerintahan secara aman, damai dan tertib e. Menjamin kesinambungan pembangunan Nasional. y Menurut Ramlan Surbakti, pemilihan Umum berkedudukan sebagai: a. Mekanisme menyeleksi para pemimpin dan alternatif kebijakan umum b. Mekanisme memindah konflik kepentingan masyarakat ke lembaga-lembaga perwakilan melalui wakil rakyat yang terpilih, sehingga integrasi masyarakat tetap terjaga. c. Sarana memobilisasikan dukungan rakyat terhadap negara dalam pemerintahan dengan jalan ikut serta dalam proses politik. Pemilihan umum diselenggarakan memilih lembaga-lembaga: a. Anggota DPR b. Anggota DPD c. Anggota DPRD Propinsi d. Anggota DPRD Kabupaten/Kota e. Presiden dan wakil presiden

3. Sistem Pemilihan Umum Sistem pemilihan Umum merupakan cara untuk menentukan siapa yang memenuhi syarat dalam menduduki jabatan di lembaga legislatif atau eksekutif. Dan merupakan cara rekruitmen para pejabat pemerintahan yang dilakukan secara nasional dan ditujukan untuk melakukan pergantian pemerintahan secara r eguler. Secara umum ada 3 (tiga) sistem pemilihan Umum, yaitu: a. Sistem Distrik (The single Member constituencies) Merupakan sistem pemilu dimana negara terbagi ke dalam beberapa daerah bagian (distrik) pemilihan yang jumlahnya sama dengan jumlah anggota DPR yang dikehendaki. Pada setiap distrik hanya diwakili oleh satu wakil yang memperoleh suara mayoritas. y Kelebihan Sistem Distrik 1. Rakyat mengenal baik orang yang mewakili distriknya 2. Wakil distrik mengenal daerah dan kepentingan rakyatnya. 3. Wakil distrik erat antara wakil distrik dengan rakyatnya. y Kekurangan Sistem Distrik 1. Suara dari peserta Pemilu yang kalah akan hilang (tidak digabungkan dengan suara dari distrik lain) 2. Bila dalam partai besar penguasa parlemen terdapat distrik yang kalah, maka suaranya tidak terwakili 3. wakil rakyat yang menang dalam satu distrik lebih mementingkan distriknya daripada kepentingan nasional. 4. golongan minoritas kurang terwakili. b. Sistem Proporsional (The Multi Member Constituencies) Merupakan sistem pemilihan berdasarkan prosentase pada kursi parlemen yang akan dibagikan kepada organisasi peserta pemilu (OPP). Setiap organisasi peserta pemilu akan memperoleh sejumlah kursi parlemen sesuai dengan jumlah suara pemilih yang diperoleh diseluruh wilayah negara. Misalnya bila diikuti 4 organisasi peserta pemilu, maka komposisi kursi parlemen sebagai berikut: 1. Partai A dengan 2 juta suara, berarti memperoleh 10 kursi 2. partai B dengan 36 juta suara, berarti memperoleh 180 kursi 3. Partai C dengan 5 juta suara, berarti memperoleh 25 kursi 4. Partai D dengan 7 juta suara, berarti memperoleh 35 kursi Dalam sistem ini, terbuka kemungkinan adanya penggabungan partai kecil untuk berkoalisi memperoleh kursi di DPR. Kelebihan: 1. Derajat proporsionalitas lebih merata karena semua partai dapat terwakili di parlemen 2. Tidak ada suara yang hilang karena semua digabung secara nasional 3. Badan perwakilan rakyat benar-benar menjadi wadah dan aspirasi seluruh rakyat Kekurangan: 1. Peranan pimpinan partai politik sangat menentukan dalam menetapkan daftar calon anggota DPR 2. Calon-calon yang diikutsertakan dalam pemilu kurang/tidak dikenai oleh pemilu

3.

Wakil-wakil rakyat yang duduk memperhatikan kepentingan daerah.

dipusat

kurang

memahami

dalam

C. Sistem Gabungan Merupakan sistem yang menggabungkan sistem distrik dan proporsional. Sistem ini membagi wilayah negara dalam beberapa daerah pemilihan. Sisa suara pemilihan tidak hilang, melainkan diperhitungkan dengan jumlah kursi yang belum terbagi. Sistem gabungan ini diterapkan di Indonesia sejak Pemilu tahun 1971 dalam memilih anggot a DPR dan DPRD (provinsi dan kabupaten/kota). Sistem ini disebut juga sistem proporsional berdasarkan stelsel daftar. 4. Asas-asas Pemilu Umum di Indonesia Asas pemilihan umum yang berlaku di Indonesia terdiri atas berikut ini: a. Asas langsung, berarti setiap pemilih secara langsung memberikan suaranya tanpa perantara dan tingkatan b. Asas Umum, berarti pemilihan itu berlaku menyeluruh bagi semua warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan tanpa diskriminasi c. Asas bebas, berarti warga negara yang berhak memilih dapat menggunakan haknya dan dijamin keamanannya untuk melakukan pemilihan menurut hati nuraninya tanpa adanya pengaruh, tekanan, dan paksaan dari siapapun dengan cara apapun. d. Asas Rahasia, berarti setiap pemilih dijamin tidak diketahui oleh siapapu n dengan jalan apapun siapa yang dipilih. e. Asas Jujur, berarti dalam penyelenggaraan Pemilu, penyelenggara/Pelaksana, pemerintah dan partai politik, peserta pemilu, pengawas dan pemantau pemilu serta semua pihak yang terlibat secara tidak langsung harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. f. Asas Adil, berarti setiap pemilih dan partai politik peserta pemilu mendapatkan perlakuan yang sama serta bebas dari kecurangan politik manapun.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->