BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masalah pembentukan kata merupakan objek kajian morfologi.

Proses morfologis membicarakan pembentukan kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Ada tiga proses morfologis dalam bahasa Indonesia, yaitu pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Verba adalah salah satu kategori kata yang termasuk ke dalam kelompok pertama yaitu kata penuh. Verba adalah kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan (KBBI, 2007: 1260). Alwi dkk. (2003: 98) menyatakan bahwa bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba, yakni (1) verba asal: verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis, dan (2) verba turunan: verba yang harus atau dapat memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa dan/atau pada posisi sintaksisnya. Verba turunan dibagi lagi menjadi tiga subkelompok, yakni (a) verba yang dasarnya adalah dasar bebas (misalnya, darat), tetapi memerlukan afiks supaya dapat berfungsi sebagai verba (mendarat), (b) verba yang dasarnya adalah dasar bebas (misalnya, baca) yang dapat pula memiliki afiks (membaca), dan (c) verba yang dasarnya adalah dasar terikat (misalnya, temu) yang memerlukan afiks (bertemu). Di samping ketiga subkelompok verba turunan itu, ada juga verba turunan yang berbentuk kata berulang (misalnya, makan-makan, berjalan-jalan) dan kata majemuk (misalnya, jual beli, bertanggung jawab).

B. TUJUAN Makalah ini kami buat dengan tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui apakah itu verba 2. Untuk mengetahui macam-macam verba 3. Untuk mengetahui fungsi verba.

tidak dapat diubah menjadi termati atau tersuka. membelikan. Verba. verba belajar dan meledak berfungsi sebagai inti kalimat. Bagian yang dicetak miring pada kalimat-kalimat di atas adalah predikat. Verba seperti mati atau suka. memberhentikan. naik haji. 2) Mereka sedang belajar di kamar 3) Bom itu seharusnya tidak meledak. y Verba perbuatan Adalah verba yang dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subjek? . Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. khususnya yang bermakna keadaan. Contoh: 1) Pencuri itu lari. tidak dapat diberi prefiks ter. mandi. y Verba proses . Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. B. Verba dari Segi Perilaku Semantisnya Tiap verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya. Verba mengandung makna inherren perbuatan (aksi).BAB II PEMBAHASAN A. proses. Contoh : mendekat . Dalam sedang belajar dan tidak meledak. misalnya. c. memukuli. Dan dapat dipakai dalam kalimat perintah. b. d. menakut-nakuti. mencuri. Batasan dan Ciri Verba Secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain karena cirri-ciri berikut: a. atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas. Tidak ada bentuk seperti agak belajar. dan bekerja sekali.yang berarti paling . sangat pergi.

Satu ciri yang umumnya dapat membedakan keduanya ialah bahwa prefiks adjektiva ter. Contoh : ü Dia medengar lagu itu à tidak sengaja ü Dia mendengarkan lagu itu à disengaja Verba yang tergolong dalam verba pengalaman : y tahu.= terdingin (paling dingin) = tersulit (paling sulit) : suka à Verba keadaan mati berguna y à à tidak dapat ditambahkan ( ter. mengering. ingat. mengecil. .Adalah verba yang dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang terjadi pada subjek? dan tidak dapat dipakai dalam kalimat perintah. Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu. y Verba keadaan Adalah verba yang mengandung makna keadaan umumnya tidak dapat menjawab kedua pertanyaan di atas dan tidak dapat dipakai untuk membentuk kalimat perintah. lupa. menyadari. terdampar. Contoh : Adjektiva sulit + ter: dingin + ter. Verba keadaan sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan. dan merasa.yang berarti paling dapat ditambahkan pada adjektiva. Contoh : mati. terbakar. melihat. tetapi tidak pada verba keadaan. kebanjiran. jatuh.) Verba pengalaman Adalah verba yang merujuk pada peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa kesengajaan. meninggal.

Objek dapat saja tidak dinyatakan secara eksplisit. memperbesar. Jadi. Objek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransitif dapat diubah fungsinya sebagai subjek dalam kalimat pasif. Perhatikan contoh berikut. tetapi yang tersirat di dalam kedua kalimat itu tetap menunjukkan adanya objek tadi. Verba dari Segi Perilaku Sintaktisnya Perilaku sintaksis seperti ini berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitifan verba. . dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. tetapi untuk orang lain. gelar. kalimat Saya sedang mencarikan pekerjaan mengandung arti bahwa pekerjaan itu bukan untuk saya. Masing-masing diikuti oleh nomina atau frasa nominal. a. julukan. merestui. 1. Sejumlah verba dwitransitif memiliki cirri semantic yang membedakan fungsi objek dari pelegkap yang berupa nama. atau kedudukan . membuktikan. satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap. Pemimipin yang jujur pasti dicintai oleh rakyatnya. Verba Dwitransitif Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina. Ketransitifan verba ditentukan oleh dua factor: (1) adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif dan. (2) kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Contoh: membawa. Verba Ekatransitif Verba ekatransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek. 2. Verba yang dicetak miring dalam contoh (1-2) adalah verba transitif.C. Nomina atau frasa nominal itu berfungsi sebagai objek yang dapat juga dijadikan subjek dalam kalimat pasif seperti y y Kamar itu sedang dibersihkan oleh ibu. y y Ibu sedang membersihkan kamar itu. mengerjakan. Rakyat pasti mencintai pemimpin yang jujur. Verba Transitif Verba transitif adalah verba yang memiliki nomina sebagai objek dalam kalimat aktif. yaitu kamar itu dan pemimpin yang jujur.

Contoh: makan. berlandaskan. Kedua. Contoh: beratap. Contoh verba dwitransitif: membawakan. Contoh verba taktransitif yang tak berpelengkap: berdiri. misalnya. menyebut. Mereka memanggil kamu si Botak dan Mereka memanggil kamu (bukan saya). Verba Semitransitif Verba semitransitif ialah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak. Di antara verba berpreposisi. Pertama. maka verba yang berpelengakap manasuka seperti itu disebut verba taktransitif berpelengkap manasuka. Verba Berpreposisi Verba berpreposisi ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu. Verba seperti memanggil dan menyebut. membaik. Jika pelengkap itu tidak selalu hadir.Sementara itu. berlari. Dengan demikian. berdasarkan. ada pula verba yang dapat berstatus dwitransitif. dalam bahasa yang tidak baku. tetapi dapat juga ekatransitif. dapat mempunyai satu atau dua nomina di belakangnya. Pelengkap tidak harus berupa nomina. tetapi masih mempertahankan preposisinya sehingga terjadi kesalahan. menuduh. b. ada yang sama atau hampir sama artinya dengan verba transitif. menulis menyimak. menyerahi. merasa. 3. berharga. orang sering menghilangkan preposisi pada verba yang taktransitif. Misalnya. c. orang sering memakai bentuk transitif. memburuk. berpakaian. berhenti. Verba Taktransitif Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. verba taktransitif dapat dibagi atas dua macam. Contoh verba taktransitif yang berpelengkap wajib: beratapkan. membusuk. Contoh: Berbicara tentang = membicarakan Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian verba berpreposisi. menugasi. yaitu verba yang berpelengkap dan verba yang tak berpelengkap. bersendikan. mencarikan. .

yakni: (1) verba asal: verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis. dan selenggara. dan pergi (2) dasar terikat ialah dasar yang kategori sintaksis ataupun maknanya baru dapat ditentukan setelah diberi afiks. reduplikasi (pengulangan). bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba. Berdasarkan kedua macam dasar di atas. bangun. yakni makna yang melekat pada kata telah dapat pula diketahui dari verba semacam itu. atau pemajemukan (pemaduan). verba asal ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. Verba Turunan Verba turunan adalah verba yang dibentuk melalui transposisi. Tidak adanya afiks ber. tetapi jika informal. Makna leksikal. baik dalam bahasa formal. pengafiksan. Dari nomina jalan. verba macam itu dapat dipakai. bergantung pada tingkat keformalan bahasa dan/atau pada posisi sintaktisnya.Akan tetapi. 1. Contoh: ada. maka bagian kalimat yang mengikutinya berubah fungsinya menjadi objek. jika verba berpreposisi yang bersangkutan diubah menjadi verba berafiks meng-. Jika gaya bahasanya formal. contoh: juang.dan meng.dipertahankan. 1. Ada juga sejumlah kata yang mempunyai cirri verba dan adjektiva sekaligus. Hal itu berarti bahwa dalam tataran yang lebih tinggi seperti klausa ataupun kalimat. temu. Dalam bahasa Indonesia jumlah verba asal tidak banyak. 1. dan (2) verba turunan: verba yang harus atau dapat memakai afiks. D. Pengafiksan adalah penambahan afiks pada dasar. maupun informal. seperti mengetahui (untuk menggantikan tahu akan). misalnya. contoh: marah. Verba dari Segi Bentuknya Ada dua macam dasar yang dipakai dalam pembentukan verba: (1) dasar bebas ialah dasar yang tanpa afiks apa pun telah memiliki kategori sintaksis dan mempunyai makna yang mandiri. diturunkan verba jalan. Verba Asal Seperti telah dinyatakan sebelumnya. Transposisi adalah suatu proses penurunan kata yang memperlihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaktis yang satu ke kategori sintaktis yang lain tanpa mengubah bentuknya. afiks ber. afiks itu dapat ditiadakan. darat. . cinta.dalam kalimat bergantung pada keformalan gaya bahasa yang dipakai.ataupun meng. 2. misalnya hancur dan pecah.

infiks. menghancurleburkan. Pemajemukan adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna. misalnya. verba turunan seperti digambarkan di atas dapat juga disebut verba majemuk. Contoh: Dasar Jual. Pengafiksan dan reduplikasi dapat terjadi pada verba majemuk. Proses Penurunan Verba Ada empat macam afiks atau imbuhan yang dipakai untuk menurunkan verba: prefiks.Contoh: Dasar beli darat Verba Turunan membeli mendarat Reduplikasi adalah pengulangan suatu dasar. Dengan demikian.. adalah afiks yang diletakkan di muka dasar. misalnya memperjualbelikan. bangun Verba Turunan jual beli jatuh bangun Kata turunan yang terbentuk melalui pemajemukan disebut kata majemuk. dan yang tidak begitu produktif lagi. Sufiks. yang juga disebut akhiran. konfiks. 1. sufiks. Dengan demikian. verba turunan seperti yang digambarkan di atasdapat juga disebut verba berulang. beli Jatuh. Contoh: Dasar Lari Makan Verba Turunan lari-lari makan-makan Kata turunan yang dibentuk dengan proses reduplikasi dinamakan kata berulang. a. . dan jatuh-jatuh bangun. pengafiksan dapat juga terjadi pada verba berulang. yang sering juga dinamakan awalan. Prefiks. Seperti terlihat pada contoh di atas. tembak-menembak dan menerka-nerka.

Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu dan kehadiran kedua afiks itu terpadu dan maknanya pun tak terpisahkan. Jika prefiks tertentu mutlak diperlukan untuk mengubah kelas kata dari dasar tertentu menjadi verba. keterpaduan antara prefiks dan sufiks bersifat mutlak.dan ber. Konfiks. 4. c.hanya dapat bergabung dengan sufiks an. dalam hierearki penurunan verba kedua afiks yang bersangkutan mempunyai tempat yang sama tingginya. Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu sedangkan hubungan antara sufiks dan dasar telah menumbuhkan makna tersendiri. adalah gabungan prefiks dan sufiks yang mengapit dasar dan membentuk satu kesatuan. (c) prefiks ber. artinya kedua afiks itu secara serentak dilekatkan pada dasar kata. 6. 2. Jika prefiks tertentu terdapat pada verba dengan dasar nomina yang bersufiks tertentu.untuk mengubah statusnya sebagai nomina menjadi verba. 1.tidak dapat bergabung dengan sufiks kan atau i (kecuali dalam dasar verba ketahui). Pertama. prefiks itu lebih tinggi letaknya daripada sufiks. maka tempat sufiks dalam hierarki penurunan verba lebih tinggi daripada prefiks. 3. adalah bentuk afiks yang ditempatkan di tengah dasar. ter-. maka maknalah yang kita anggap menentukan hierarki pembentukan verba. dan ditidak dapat bergabung dengan sufiks an. Urutan penurunan verba mengikuti kaidah urutan afiks berikut. (b) prefiks meng-.diletakkan di belakang dasar. Syarat kedua adalah bahwa pemisahan salah satu dari afiks itu tidak akan meninggalkan bentuk yang masih berwujud kata dan yang hubungan maknanya masih dapat ditelusuri. Ada prefiks yang secara waqjib memang diperlukan untuk menurunkan verba. Urutan Afiks Di antara prefiks itu sendiri terdapat pula urutan yang harus dipatuhi jika dua prefiks terdapat pada satu dasar yang sama.yang selalu menduduki . Infiks. Penggabungan Prefiks dan Sufiks Dalam pembentukan verba bahasa Indonesia (a) prefiks ke. yang juga dinamakan sisipan. per-. Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu dan gabungan keduanya bukan merupakan konfiks tetapi menentukan makna leksikal. dan dengan i pada kata ketahui. Urutan yang pertam adalah prefiks meng.tidak dapat bergabung dengan sufiks i. 5. dan (d) prefiks ke. Prefiks dan sufiks dapat membentuk konfiksjika dua syarat berikut terpenuhi. Dasar bebas seperti darat dan layar masing-masing perlu mendapat prefiks meng. dan penambahan prefiks itu tidak mengubah makan leksikalnya. b. prefiks itu tinggi letaknya dalam hierarki penurunan verba. 1.

o Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /c/./m n-/. 1. atau /w/. . c) Morfofonemik Prefiks berAda empat kaidah morfofonemik untuk prefiks ber-. bentuk meng.berubah menjadi menge. /s/. /p/.berubah menjadi mem.tetap meng.apabila ditambahkan pada bentuk dasar ajar.berubah menjadi meny. dan / /. o Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /b/.berubah menjadi men. / /./m m-/. bentuk meng. d. b) Morfofonemik Prefiks perAda tiga kaidah morfofonemik untuk prefiks per-.apabila ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/. y y y Prefiks per. /e/. /u/.berubah menjadi pe. /g/.sehingga terjadi bentuk memperdan member-.  Jika ditambahkan pada dasar yang bersuku satu. bentuk meng. / /.posisi paling kiri. o Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /l/. bentuk meng. y Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /a/. /j/. /r/. /i/. o Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /d/ atau /t/./m -/. a) Morfofonemik Prefiks mengAda delapan kaidah morfofonemik untuk prefiks meng-. atau /x/ bentuk meng.tidak mengalami perubahan bentuk bila bergabung dengan dasar lain di luar kaidah 1 dan 2 di atas. /k/. dasarnya diulangi dengan mempertahankan peluluhan konsonan pertamanya.atau ber.berubah menjadi pel. Morfofonemik Proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya dinamakan proses morfofonemis. /o/.  Jika verba yang berdasar tunggal direduplikasi. bentuk meng. /n/. atau /f/. bergantung pada frekuensi dan lamanya kata tersebut telah kita pakai. /y/. /h/.berubah menjadi me-. / /. Kemudian menyusul prefiks per./m /. /m/./m /.  Kata-kata yang berasal dari bahasa asing diperlakukan berbeda-beda. Prefiks per. Prefiks per.

ataun kalimat. Jika suku pertama kata dasar berakhir dengan bunyi / r/. E.jika ditambahkan pada dasar tertentu. Prefiks ber. f) Morfofonemik Sufiks -kan Sufiks kan tidak mengalami perubahan apabila ditambahkan pada dasar kata apa pun. . e) Morfofonemik Prefiks diDigabung dengan dasar apa pun. prefiks di. 1.berubah menjadi te. Di luar kedua kaidah di atas.jika ditambahkan pada dasar yang suku pertamanya berakhir dengan / r/. Prefiks ber. serta dapat berdiri sendiri dalam frasa.berubah menjadi bel.tidak mengalami perubahan bentuk.berubah menjadi be. h) Morfofoneemik Sufiks -an Sufiks an tidak mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan dasar kata apa pun. g) Morfofonemik Sufiks -i Sufiks i juga tidak mengalami perubahan jika ditambahkan pada dasar kata apa pun. 1. y y y Prefiks ter. ter.berubah menjadi be. klausa. fonem /r/ pada prefiks terada yang muncul dan ada pula yang tidak. d) Morfofonemik Prefiks terAda tiga kaidah morfofonemik untuk prefiks ter-.tidak berubah bentuknya bila digabungkan dengan dasar di luar kaidah 1-3 di atas.jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.tidak berubah bentuknya.jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.y y y y Prefiks ber. Prefiks ber. Verba Majemuk Verba majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain. Verba Majemuk Dasar Yang dimaksud dengan verba majemuk dasar ialah verba majemuk yang tidak berafiks dan tidak mengandung komponen berulang.

1. 1. (b) Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang dapat berdiri sendiri disebut verba majemuk bebas. Frasa verbal seperti makan dan minum serta menyanyi dan menari masing-masing mempunyai dua verba inti yang digabungkan dengan kata dan dan atau. (a) Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam kalimat disebut verba majemuk terikat. 1. (c) Verba majemuk berafiks yang komponennya telah berafiks terlebih dahulu.1. Frasa seperti itu disebut frasa endosentrik koordinatif. Frasa Verbal dan Fungsinya Verba dapat diperluas dengan menambahkan unsur-unsur tertentu. a. Pengertian Frasa Verbal Frasa verbal ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya tetapi bentuk ini tidak merupakan klausa. Verba majemuk berafiks dapat dibagi menjadi tiga kelompok. 2. Verba Majemuk Berulang Verba majemuk dalam bahasa Indonesia dapat direduplikasi jika kemajemukannya bertingkat dan jika intinya adalah bentuk verba yang dapat direduplikasi pula. Frasa Endosentrik Atributif Frasa verbal yang endosentrik atributif terdiri atas inti verba dan pewatas (modifier) yang ditempatkan di muka atau di belakang verba inti. frasa verbal terdiri atas verba inti dan kata lain yang bertindak sebagai penambah arti verba tersebut. 3. tidak harus pergi merupakan jenis frasa verbal yang berbentuk endosentrik atributif. Jenis-Jenis Frasa Verbal Dilihat dari konstruksinya. Verba Majemuk Berafiks Verba majemuk berafiks ialah verba majemuk yang mengandung afiks tertentu. 1. akan mendarat. tetapi hasil perluasan ini masih tetap ada pada tataran sintakis yang sama. F. Konstruksi seperti sudah membaik. . 2. Yang di muka dinamakan pewatas depan dan yang di belakang dinamakan pewatas belakang.

Dalam kalimat tersebut. b. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek Pada umumnya verba yang berfungsi sebagai subjek adalah verba inti. Fungsi Verba dan Frasa Verbal Jika ditinjau dari segi fungsinya. yang berfungsi sebagai objek ialah verba tidur lagi. tanpa pewatas depan ataupun pewatas belakang. Dia mencoba tidur lagi tanpa bantal. .Verba dan Frasa Verbal sebagai Pelengkap Verba dan frasa verbal beserta perluasannya dapat berfungsi sebagai pelengkap dalam kalimat. 3. d. e. Verba merokok berfungsi sebagai pelengkap dari predikat berhenti. verba (maupun frasa verbal) terutama menduduki fungsi predikat. Ibu sudah pergi berbelanja. Contoh: Dia sudah berhenti merokok. Verba dan Frasa Verbal Sebagai Predikat Telah dikemukakan bahwa verba berfungsi terutama sebagai predikat atau sebagai inti predikat kalimat. c. yang diikuti oleh keterangan tanpa bantal. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek Dalam kalimat berikut verba dan frasa verbal dengan perluasannya berfungsi sebagai objek. Verba dan Frasa Verbal sebagai Keterangan Dalam kalimat berikut verba dan perluasannya berfungsi sebagai keterangan. a.Wujud frasa endosentrik koordinatif sangatlah sederhana. yakni dua verba yang penghubung dan atau atau. 1.

Contoh: Anjing tidur tak boleh diganggu. Dengan demikian. Verba yang Bersifat Atributif Verba (bukan frasa) juga bersifat atributif. . mengajar. Contoh: Pekerjaannya. Verba yang Bersifat Apositif Verba dan perluasannya dapat juga bersifat apositif. Verba tidur bersifat atributif dalam frasa nominal anjing tidur. Konstruksi tersebut menambah keterangan pada nomina pekerjaan. Sebagaimana dapat dilihat. Verba dan perluasannya mengajar dalam kalimat di atas berfungsi sebagai aposisi. g. yaitu memberikan keterangan tambahan pada nomina. Verba tersebut menerangkan nomina inti anjing. yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan. f. Verba yang berfungsi atributif seperti ini meruapakan kependekan dari bentuk lain yang memakai kata yang.Dari contoh di atas tampak bahwa ada dua verba yang letaknya berurutan: yang pertama merupakan predikat dan yang kedua bertindak sebagai keterangan. verba (dengan perluasannya) yang berfungsi sebagai aposisi tersebut terletak diantara koma. bentuk panjangnya adalah (anjing) yang tidur. sudah ditanggalkan.

pelengkap. yakni (1) verba asal: verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis. (2003: 98) menyatakan bahwa bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba. 2007: 1260). perlu diperhatikan bahwa kategori sintaksisnya tetap verba. bergantung pada tingkat keformalan bahasa dan/atau pada posisi sintaksisnya. Alwi dkk. dan (2) verba turunan: verba yang harus atau dapat memakai afiks. Namun. Verba dapat berfungsi sebagai predikat.BAB III PENUTUP A. SARAN . perbuatan. dan atribut. subjek. objek. B. KESIMPULAN Verba adalah kata yang menggambarkan proses. aposisi. atau keadaan (KBBI. fungsinya saja yang berbeda. keterangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful