BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masalah pembentukan kata merupakan objek kajian morfologi.

Proses morfologis membicarakan pembentukan kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Ada tiga proses morfologis dalam bahasa Indonesia, yaitu pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Verba adalah salah satu kategori kata yang termasuk ke dalam kelompok pertama yaitu kata penuh. Verba adalah kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan (KBBI, 2007: 1260). Alwi dkk. (2003: 98) menyatakan bahwa bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba, yakni (1) verba asal: verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis, dan (2) verba turunan: verba yang harus atau dapat memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa dan/atau pada posisi sintaksisnya. Verba turunan dibagi lagi menjadi tiga subkelompok, yakni (a) verba yang dasarnya adalah dasar bebas (misalnya, darat), tetapi memerlukan afiks supaya dapat berfungsi sebagai verba (mendarat), (b) verba yang dasarnya adalah dasar bebas (misalnya, baca) yang dapat pula memiliki afiks (membaca), dan (c) verba yang dasarnya adalah dasar terikat (misalnya, temu) yang memerlukan afiks (bertemu). Di samping ketiga subkelompok verba turunan itu, ada juga verba turunan yang berbentuk kata berulang (misalnya, makan-makan, berjalan-jalan) dan kata majemuk (misalnya, jual beli, bertanggung jawab).

B. TUJUAN Makalah ini kami buat dengan tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui apakah itu verba 2. Untuk mengetahui macam-macam verba 3. Untuk mengetahui fungsi verba.

Dalam sedang belajar dan tidak meledak. y Verba perbuatan Adalah verba yang dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subjek? . Contoh : mendekat . menakut-nakuti. Verba. Batasan dan Ciri Verba Secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain karena cirri-ciri berikut: a. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Verba seperti mati atau suka. memukuli. sangat pergi. dan bekerja sekali.BAB II PEMBAHASAN A. y Verba proses . 2) Mereka sedang belajar di kamar 3) Bom itu seharusnya tidak meledak. proses. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. tidak dapat diberi prefiks ter. membelikan. Bagian yang dicetak miring pada kalimat-kalimat di atas adalah predikat. Contoh: 1) Pencuri itu lari. Dan dapat dipakai dalam kalimat perintah. B. Verba mengandung makna inherren perbuatan (aksi). memberhentikan. Verba dari Segi Perilaku Semantisnya Tiap verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya. tidak dapat diubah menjadi termati atau tersuka. c. verba belajar dan meledak berfungsi sebagai inti kalimat. Tidak ada bentuk seperti agak belajar. d. mencuri. atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas. misalnya.yang berarti paling . naik haji. b. khususnya yang bermakna keadaan. mandi.

menyadari. lupa. tetapi tidak pada verba keadaan. Contoh : Adjektiva sulit + ter: dingin + ter. kebanjiran. Satu ciri yang umumnya dapat membedakan keduanya ialah bahwa prefiks adjektiva ter.yang berarti paling dapat ditambahkan pada adjektiva. Contoh : mati. y Verba keadaan Adalah verba yang mengandung makna keadaan umumnya tidak dapat menjawab kedua pertanyaan di atas dan tidak dapat dipakai untuk membentuk kalimat perintah. Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu.) Verba pengalaman Adalah verba yang merujuk pada peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa kesengajaan. meninggal. . terbakar. terdampar. ingat. mengecil. mengering.Adalah verba yang dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang terjadi pada subjek? dan tidak dapat dipakai dalam kalimat perintah. Verba keadaan sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan. jatuh.= terdingin (paling dingin) = tersulit (paling sulit) : suka à Verba keadaan mati berguna y à à tidak dapat ditambahkan ( ter. dan merasa. Contoh : ü Dia medengar lagu itu à tidak sengaja ü Dia mendengarkan lagu itu à disengaja Verba yang tergolong dalam verba pengalaman : y tahu. melihat.

a. Rakyat pasti mencintai pemimpin yang jujur. mengerjakan. Verba Transitif Verba transitif adalah verba yang memiliki nomina sebagai objek dalam kalimat aktif. kalimat Saya sedang mencarikan pekerjaan mengandung arti bahwa pekerjaan itu bukan untuk saya. memperbesar. (2) kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Verba dari Segi Perilaku Sintaktisnya Perilaku sintaksis seperti ini berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitifan verba. julukan. . satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap. Jadi. Verba Dwitransitif Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina. Objek dapat saja tidak dinyatakan secara eksplisit. gelar. Contoh: membawa. Masing-masing diikuti oleh nomina atau frasa nominal. membuktikan. 1. Objek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransitif dapat diubah fungsinya sebagai subjek dalam kalimat pasif. tetapi untuk orang lain. Verba yang dicetak miring dalam contoh (1-2) adalah verba transitif. atau kedudukan . Perhatikan contoh berikut.C. dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Nomina atau frasa nominal itu berfungsi sebagai objek yang dapat juga dijadikan subjek dalam kalimat pasif seperti y y Kamar itu sedang dibersihkan oleh ibu. yaitu kamar itu dan pemimpin yang jujur. Sejumlah verba dwitransitif memiliki cirri semantic yang membedakan fungsi objek dari pelegkap yang berupa nama. merestui. tetapi yang tersirat di dalam kedua kalimat itu tetap menunjukkan adanya objek tadi. Pemimipin yang jujur pasti dicintai oleh rakyatnya. 2. Ketransitifan verba ditentukan oleh dua factor: (1) adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif dan. y y Ibu sedang membersihkan kamar itu. Verba Ekatransitif Verba ekatransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek.

Contoh: makan. berdasarkan. Verba Taktransitif Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. menulis menyimak. tetapi dapat juga ekatransitif. Verba Berpreposisi Verba berpreposisi ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu. tetapi masih mempertahankan preposisinya sehingga terjadi kesalahan. berlandaskan. Mereka memanggil kamu si Botak dan Mereka memanggil kamu (bukan saya). Jika pelengkap itu tidak selalu hadir. membusuk. dalam bahasa yang tidak baku. menugasi. menuduh. berlari. Pertama. b. Verba Semitransitif Verba semitransitif ialah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak. . Verba seperti memanggil dan menyebut. menyerahi. Contoh verba dwitransitif: membawakan. misalnya. Pelengkap tidak harus berupa nomina. Contoh verba taktransitif yang berpelengkap wajib: beratapkan.Sementara itu. c. Di antara verba berpreposisi. Contoh verba taktransitif yang tak berpelengkap: berdiri. verba taktransitif dapat dibagi atas dua macam. maka verba yang berpelengakap manasuka seperti itu disebut verba taktransitif berpelengkap manasuka. berhenti. 3. Misalnya. membaik. mencarikan. Contoh: Berbicara tentang = membicarakan Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian verba berpreposisi. memburuk. yaitu verba yang berpelengkap dan verba yang tak berpelengkap. merasa. Contoh: beratap. Kedua. berharga. Dengan demikian. orang sering memakai bentuk transitif. bersendikan. dapat mempunyai satu atau dua nomina di belakangnya. ada yang sama atau hampir sama artinya dengan verba transitif. menyebut. berpakaian. orang sering menghilangkan preposisi pada verba yang taktransitif. ada pula verba yang dapat berstatus dwitransitif.

1. diturunkan verba jalan. 2. Hal itu berarti bahwa dalam tataran yang lebih tinggi seperti klausa ataupun kalimat. contoh: marah. Berdasarkan kedua macam dasar di atas. 1. maupun informal. dan pergi (2) dasar terikat ialah dasar yang kategori sintaksis ataupun maknanya baru dapat ditentukan setelah diberi afiks. afiks ber. Verba Asal Seperti telah dinyatakan sebelumnya. Verba Turunan Verba turunan adalah verba yang dibentuk melalui transposisi. tetapi jika informal. Ada juga sejumlah kata yang mempunyai cirri verba dan adjektiva sekaligus. Dari nomina jalan. 1. bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba. misalnya. Transposisi adalah suatu proses penurunan kata yang memperlihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaktis yang satu ke kategori sintaktis yang lain tanpa mengubah bentuknya. Contoh: ada. Verba dari Segi Bentuknya Ada dua macam dasar yang dipakai dalam pembentukan verba: (1) dasar bebas ialah dasar yang tanpa afiks apa pun telah memiliki kategori sintaksis dan mempunyai makna yang mandiri. pengafiksan.dalam kalimat bergantung pada keformalan gaya bahasa yang dipakai. yakni: (1) verba asal: verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis.Akan tetapi. contoh: juang. dan selenggara. . misalnya hancur dan pecah. D. darat. Pengafiksan adalah penambahan afiks pada dasar. Jika gaya bahasanya formal. yakni makna yang melekat pada kata telah dapat pula diketahui dari verba semacam itu. atau pemajemukan (pemaduan). maka bagian kalimat yang mengikutinya berubah fungsinya menjadi objek. Tidak adanya afiks ber. bangun.dan meng. jika verba berpreposisi yang bersangkutan diubah menjadi verba berafiks meng-. seperti mengetahui (untuk menggantikan tahu akan). afiks itu dapat ditiadakan.dipertahankan. dan (2) verba turunan: verba yang harus atau dapat memakai afiks.ataupun meng. verba asal ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. baik dalam bahasa formal. Makna leksikal. verba macam itu dapat dipakai. reduplikasi (pengulangan). cinta. bergantung pada tingkat keformalan bahasa dan/atau pada posisi sintaktisnya. temu. Dalam bahasa Indonesia jumlah verba asal tidak banyak.

verba turunan seperti digambarkan di atas dapat juga disebut verba majemuk. 1. beli Jatuh. pengafiksan dapat juga terjadi pada verba berulang. Seperti terlihat pada contoh di atas. a. dan jatuh-jatuh bangun. Dengan demikian. misalnya memperjualbelikan. misalnya. menghancurleburkan.infiks. Pemajemukan adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna. sufiks. Contoh: Dasar Lari Makan Verba Turunan lari-lari makan-makan Kata turunan yang dibentuk dengan proses reduplikasi dinamakan kata berulang. Proses Penurunan Verba Ada empat macam afiks atau imbuhan yang dipakai untuk menurunkan verba: prefiks. bangun Verba Turunan jual beli jatuh bangun Kata turunan yang terbentuk melalui pemajemukan disebut kata majemuk. yang sering juga dinamakan awalan. konfiks. Pengafiksan dan reduplikasi dapat terjadi pada verba majemuk. . Sufiks. tembak-menembak dan menerka-nerka..Contoh: Dasar beli darat Verba Turunan membeli mendarat Reduplikasi adalah pengulangan suatu dasar. adalah afiks yang diletakkan di muka dasar. verba turunan seperti yang digambarkan di atasdapat juga disebut verba berulang. Prefiks. yang juga disebut akhiran. Dengan demikian. Contoh: Dasar Jual. dan yang tidak begitu produktif lagi.

c. dan (d) prefiks ke. Pertama. per-. 4. Urutan Afiks Di antara prefiks itu sendiri terdapat pula urutan yang harus dipatuhi jika dua prefiks terdapat pada satu dasar yang sama. adalah bentuk afiks yang ditempatkan di tengah dasar. prefiks itu tinggi letaknya dalam hierarki penurunan verba. dan dengan i pada kata ketahui. artinya kedua afiks itu secara serentak dilekatkan pada dasar kata. yang juga dinamakan sisipan. 1.tidak dapat bergabung dengan sufiks i. Syarat kedua adalah bahwa pemisahan salah satu dari afiks itu tidak akan meninggalkan bentuk yang masih berwujud kata dan yang hubungan maknanya masih dapat ditelusuri. Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu dan kehadiran kedua afiks itu terpadu dan maknanya pun tak terpisahkan. Infiks. adalah gabungan prefiks dan sufiks yang mengapit dasar dan membentuk satu kesatuan. ter-. Urutan penurunan verba mengikuti kaidah urutan afiks berikut. dalam hierearki penurunan verba kedua afiks yang bersangkutan mempunyai tempat yang sama tingginya. b.untuk mengubah statusnya sebagai nomina menjadi verba.diletakkan di belakang dasar. Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu sedangkan hubungan antara sufiks dan dasar telah menumbuhkan makna tersendiri. 1. Penggabungan Prefiks dan Sufiks Dalam pembentukan verba bahasa Indonesia (a) prefiks ke. (b) prefiks meng-.hanya dapat bergabung dengan sufiks an.tidak dapat bergabung dengan sufiks kan atau i (kecuali dalam dasar verba ketahui). Dasar bebas seperti darat dan layar masing-masing perlu mendapat prefiks meng. maka tempat sufiks dalam hierarki penurunan verba lebih tinggi daripada prefiks. Ada prefiks yang secara waqjib memang diperlukan untuk menurunkan verba. prefiks itu lebih tinggi letaknya daripada sufiks. 3. Konfiks. Jika prefiks tertentu mutlak diperlukan untuk mengubah kelas kata dari dasar tertentu menjadi verba.yang selalu menduduki . dan ditidak dapat bergabung dengan sufiks an. dan penambahan prefiks itu tidak mengubah makan leksikalnya. keterpaduan antara prefiks dan sufiks bersifat mutlak. 6. Urutan yang pertam adalah prefiks meng. Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu dan gabungan keduanya bukan merupakan konfiks tetapi menentukan makna leksikal. maka maknalah yang kita anggap menentukan hierarki pembentukan verba.dan ber. (c) prefiks ber. Jika prefiks tertentu terdapat pada verba dengan dasar nomina yang bersufiks tertentu. 5. Prefiks dan sufiks dapat membentuk konfiksjika dua syarat berikut terpenuhi. 2.

tidak mengalami perubahan bentuk bila bergabung dengan dasar lain di luar kaidah 1 dan 2 di atas. bentuk meng. /o/./m m-/. Prefiks per.  Jika verba yang berdasar tunggal direduplikasi. atau /f/. d. o Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /c/.berubah menjadi menge. a) Morfofonemik Prefiks mengAda delapan kaidah morfofonemik untuk prefiks meng-.sehingga terjadi bentuk memperdan member-. /g/./m -/.tetap meng. bentuk meng. atau /x/ bentuk meng. dan / /. /s/. /u/. y y y Prefiks per. /y/. / /. /j/. bentuk meng.berubah menjadi mem. bergantung pada frekuensi dan lamanya kata tersebut telah kita pakai. /n/. /h/.berubah menjadi men. /k/. o Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /d/ atau /t/. bentuk meng./m n-/.apabila ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/./m /. o Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /l/. /p/./m /. 1. /e/. Morfofonemik Proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya dinamakan proses morfofonemis. /i/. b) Morfofonemik Prefiks perAda tiga kaidah morfofonemik untuk prefiks per-. bentuk meng. .berubah menjadi pe. atau /w/.apabila ditambahkan pada bentuk dasar ajar. c) Morfofonemik Prefiks berAda empat kaidah morfofonemik untuk prefiks ber-. y Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /a/.berubah menjadi meny.atau ber.posisi paling kiri. Kemudian menyusul prefiks per. dasarnya diulangi dengan mempertahankan peluluhan konsonan pertamanya. / /. Prefiks per. /r/. /m/.berubah menjadi me-. o Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /b/. / /.  Jika ditambahkan pada dasar yang bersuku satu.  Kata-kata yang berasal dari bahasa asing diperlakukan berbeda-beda.berubah menjadi pel.

g) Morfofonemik Sufiks -i Sufiks i juga tidak mengalami perubahan jika ditambahkan pada dasar kata apa pun. ter. Verba Majemuk Verba majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain. E. Prefiks ber.berubah menjadi te.berubah menjadi bel. ataun kalimat. 1. d) Morfofonemik Prefiks terAda tiga kaidah morfofonemik untuk prefiks ter-. fonem /r/ pada prefiks terada yang muncul dan ada pula yang tidak. klausa.jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.y y y y Prefiks ber.jika ditambahkan pada dasar tertentu.tidak berubah bentuknya bila digabungkan dengan dasar di luar kaidah 1-3 di atas.jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/. 1.tidak berubah bentuknya. f) Morfofonemik Sufiks -kan Sufiks kan tidak mengalami perubahan apabila ditambahkan pada dasar kata apa pun. prefiks di. e) Morfofonemik Prefiks diDigabung dengan dasar apa pun. . h) Morfofoneemik Sufiks -an Sufiks an tidak mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan dasar kata apa pun. Verba Majemuk Dasar Yang dimaksud dengan verba majemuk dasar ialah verba majemuk yang tidak berafiks dan tidak mengandung komponen berulang.jika ditambahkan pada dasar yang suku pertamanya berakhir dengan / r/.tidak mengalami perubahan bentuk. serta dapat berdiri sendiri dalam frasa. Prefiks ber.berubah menjadi be. Di luar kedua kaidah di atas.berubah menjadi be. Prefiks ber. y y y Prefiks ter. Jika suku pertama kata dasar berakhir dengan bunyi / r/.

tidak harus pergi merupakan jenis frasa verbal yang berbentuk endosentrik atributif. 1. frasa verbal terdiri atas verba inti dan kata lain yang bertindak sebagai penambah arti verba tersebut. Pengertian Frasa Verbal Frasa verbal ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya tetapi bentuk ini tidak merupakan klausa. Verba Majemuk Berulang Verba majemuk dalam bahasa Indonesia dapat direduplikasi jika kemajemukannya bertingkat dan jika intinya adalah bentuk verba yang dapat direduplikasi pula. (c) Verba majemuk berafiks yang komponennya telah berafiks terlebih dahulu. Verba majemuk berafiks dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Frasa Verbal dan Fungsinya Verba dapat diperluas dengan menambahkan unsur-unsur tertentu. Verba Majemuk Berafiks Verba majemuk berafiks ialah verba majemuk yang mengandung afiks tertentu. a. 1. 3. Jenis-Jenis Frasa Verbal Dilihat dari konstruksinya. F. 2. tetapi hasil perluasan ini masih tetap ada pada tataran sintakis yang sama. 1. Yang di muka dinamakan pewatas depan dan yang di belakang dinamakan pewatas belakang. (b) Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang dapat berdiri sendiri disebut verba majemuk bebas. Frasa Endosentrik Atributif Frasa verbal yang endosentrik atributif terdiri atas inti verba dan pewatas (modifier) yang ditempatkan di muka atau di belakang verba inti. . Frasa seperti itu disebut frasa endosentrik koordinatif. Frasa verbal seperti makan dan minum serta menyanyi dan menari masing-masing mempunyai dua verba inti yang digabungkan dengan kata dan dan atau. 1.1. Konstruksi seperti sudah membaik. (a) Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam kalimat disebut verba majemuk terikat. akan mendarat. 2.

Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek Pada umumnya verba yang berfungsi sebagai subjek adalah verba inti. yakni dua verba yang penghubung dan atau atau.Wujud frasa endosentrik koordinatif sangatlah sederhana. tanpa pewatas depan ataupun pewatas belakang. b. Ibu sudah pergi berbelanja. c.Verba dan Frasa Verbal sebagai Pelengkap Verba dan frasa verbal beserta perluasannya dapat berfungsi sebagai pelengkap dalam kalimat. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek Dalam kalimat berikut verba dan frasa verbal dengan perluasannya berfungsi sebagai objek. e. Dia mencoba tidur lagi tanpa bantal. Verba merokok berfungsi sebagai pelengkap dari predikat berhenti. Contoh: Dia sudah berhenti merokok. d. . 1. a. Dalam kalimat tersebut. Verba dan Frasa Verbal Sebagai Predikat Telah dikemukakan bahwa verba berfungsi terutama sebagai predikat atau sebagai inti predikat kalimat. 3. yang diikuti oleh keterangan tanpa bantal. verba (maupun frasa verbal) terutama menduduki fungsi predikat. yang berfungsi sebagai objek ialah verba tidur lagi. Verba dan Frasa Verbal sebagai Keterangan Dalam kalimat berikut verba dan perluasannya berfungsi sebagai keterangan. Fungsi Verba dan Frasa Verbal Jika ditinjau dari segi fungsinya.

mengajar. Sebagaimana dapat dilihat. bentuk panjangnya adalah (anjing) yang tidur. yaitu memberikan keterangan tambahan pada nomina. verba (dengan perluasannya) yang berfungsi sebagai aposisi tersebut terletak diantara koma. Verba yang Bersifat Apositif Verba dan perluasannya dapat juga bersifat apositif. Contoh: Anjing tidur tak boleh diganggu. sudah ditanggalkan.Dari contoh di atas tampak bahwa ada dua verba yang letaknya berurutan: yang pertama merupakan predikat dan yang kedua bertindak sebagai keterangan. g. Verba yang Bersifat Atributif Verba (bukan frasa) juga bersifat atributif. . Dengan demikian. Contoh: Pekerjaannya. Verba yang berfungsi atributif seperti ini meruapakan kependekan dari bentuk lain yang memakai kata yang. Verba tidur bersifat atributif dalam frasa nominal anjing tidur. Konstruksi tersebut menambah keterangan pada nomina pekerjaan. Verba dan perluasannya mengajar dalam kalimat di atas berfungsi sebagai aposisi. yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan. Verba tersebut menerangkan nomina inti anjing. f.

keterangan. KESIMPULAN Verba adalah kata yang menggambarkan proses. 2007: 1260). (2003: 98) menyatakan bahwa bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba. perlu diperhatikan bahwa kategori sintaksisnya tetap verba. SARAN . aposisi. perbuatan. B. atau keadaan (KBBI. fungsinya saja yang berbeda.BAB III PENUTUP A. pelengkap. Verba dapat berfungsi sebagai predikat. yakni (1) verba asal: verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis. Namun. Alwi dkk. bergantung pada tingkat keformalan bahasa dan/atau pada posisi sintaksisnya. dan atribut. objek. dan (2) verba turunan: verba yang harus atau dapat memakai afiks. subjek.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful